<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>flp &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/flp/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "flp"</description>
	<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 04:46:03 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[FLP ONLY !!]]></title>
<link>http://aajaka.wordpress.com/2009/12/24/flp-only/</link>
<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 02:00:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>aajaka</dc:creator>
<guid>http://aajaka.wordpress.com/2009/12/24/flp-only/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://aajaka.wordpress.com/files/2009/12/flp-fresiden-301.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-548" title="FLP &#38; FRESIDEN 301" src="http://aajaka.wordpress.com/files/2009/12/flp-fresiden-301.jpg" alt="Dukung FLP dengan Vot FRESIDEN 301" width="604" height="469" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[B O B O FLP]]></title>
<link>http://aajaka.wordpress.com/2009/12/18/b-o-b-o-flp/</link>
<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 06:22:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>aajaka</dc:creator>
<guid>http://aajaka.wordpress.com/2009/12/18/b-o-b-o-flp/</guid>
<description><![CDATA[Entah mengapa, Hari ni aku merasa FLP ini ajaib sekali. Begitu takjubnya aku. Kagum, luar biasa. Bes]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Entah mengapa,<br />
Hari ni aku merasa FLP ini ajaib sekali.<br />
Begitu takjubnya aku.<br />
Kagum, luar biasa.</p>
<p>Besar,<br />
Meski tak terdefinisikan.<br />
Ada,<br />
Meski tak tergambarkan.<br />
Terdengar,<br />
Meski tak terkatakan.</p>
<p>Hari ini aku merasakan ruh FLP.<br />
Sebuah gelombang dalam dimensi ketujuh.<br />
Yang aku tidak tahu.</p>
<p><!--more--></p>
<p style="text-align:left;">*</p>
<p style="text-align:left;">*</p>
<p style="text-align:left;">*</p>
<p style="text-align:left;">*</p>
<p style="text-align:left;">*</p>
<p style="text-align:left;">Puisi ini dibuat pada maghrib, tahun baru 1432 Hijriah di serambi timur Salman.<br />
Dalam remang cahaya kulihat Kang Wildan berdiri,<br />
Kang Veejay bersama 2 kawan dari FLP Jogja (Mbak Zahra &#38; Mbak Desi) dan beberapa kawan lain melingkar,<br />
Saya bersama 2 tamu dari luar (Faisala Syahreza &#38; Yoga), dan beberapa kawan lain dalam lingkaran yang lain,<br />
dan beberapa akhwat dalam lingkaran yang lain lagi.<br />
Ada nuansa yang jarang kutemui, FLP !</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apa yang kita dapatkan dengan menulis?]]></title>
<link>http://sintayudisia.wordpress.com/2009/11/09/apa-yang-kita-dapatkan-dengan-menulis/</link>
<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 12:45:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>sintayudisia</dc:creator>
<guid>http://sintayudisia.wordpress.com/2009/11/09/apa-yang-kita-dapatkan-dengan-menulis/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp;             Tulisan ini saya peruntukkan bagi mereka yang pikir-pikir mau menulis, ragu-ragu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#160;</p>
<p>            Tulisan ini saya peruntukkan bagi mereka yang pikir-pikir mau menulis, ragu-ragu mau menulis, mencoba menulis, patah arang dalam menulis atau yang sudah memantapkan diri di dunia tulis menulis, especially women, makhluk unik yang diciptakan Allah SWT untuk mengemban tugas penting sebagai pencipta peradaban dunia.</p>
<p>            Banyak adik-adik yang bertanya via sms, imel, fb dan blog yang bertanya : kak/bunda/mbak/bu&#8230;bagaimana sih menulis yang baik? Pertanyaan singkat yang membutuhkan jawaban yang amat-sangat-panjang.</p>
<p>            Sebelum saya berbagi ilmu saya yang sedikit tentang tulis menulis, ada baiknya kita semua memahami apa sih sebetulnya yang kita dapatkan dari dunia kepenulisan ini.</p>
<p>            Baiklah, apapun profesi anda saat ini (pengangguran, ibu RT, mahasiswa, pelajar, dokter, polisi, pembantu, buruh, dsb), apapun niatan anda saat pertama kali menulis , mungkin berikut ini akan memberi sedikit gambaran.</p>
<p>            Apa yang akan kita dapatkan dari menulis baik di media cetak, penerbit, blog dst adalah :</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li><strong>Penghasilan / royalti *****</strong></li>
</ol>
<p>&#160;</p>
<p>Waduh, bunda kita yang satu ini matre banget J !!</p>
<p>Tunggu dulu, bukankah ini yang pertama kali bermain-main di benak saat melatih jemari kita menari di atas kertas? Royalti, penghasilan, uang. Halal pula. Hm, senangnya&#8230;..</p>
<p>Rekan-rekanku sayang , menulis memang punya efek ekonomis apalagi yang sudah secara rutin menulis sehingga mendapatkan royalti per 3 bulan, 4, 6 bulan.</p>
<p>Tetapi tahukah anda berapa nilai uang anda sebenarnya?</p>
<p>Nilai uang anda sesungguhnya kecil sekali dibandingkan dengan&#8230;..</p>
<p>Deg-degan lagi ! Dibandingkan dengan apa? Laptop, hape, sepeda motor, rumah, buku-buku, uang sekolah, tabungan, biaya pendidikan, haji, dll?</p>
<p>&#160;</p>
<p>Ow, kalau hanya itu daftar kebutuhan kita, mungkin dengan menulis selama 3-4 tahun daftar itu sudah dapat dipenuhi. Silakan saja kalkulasi sendiri jika 1 artikel/1 cerpen dihargai 200 ribu dan 1 buku flat putus dihargai sekian juta. Kalau setahun produktif menulis berapa uang di kantong? Lumayan J</p>
<p>&#160;</p>
<p>Tetapi sekali lagi rekan-rekanku &#38; adik-adikku sayang,</p>
<p>ibuku yang bijak pernah memberi nasehat ” Sinta, tugasmu mungkin mencari uang sebanyak-banyaknya tapi tidak untuk menghabiskan sebanyak-banyaknya.”</p>
<p>Artinya, kadang uang itu begitu mudah diraih oleh sepasang tangan kita tetapi ternyata daftar antrian yang menunggu di belakang sudah sangat banyaknya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Pernahkah anda ketika 1 cerpen dimuat seharga 200 ribu lalu tiba-tiba saudara mendapat musibah, berita duka di sana-sini, ibu sakit, adik minta bantuan uang sekolah dan seterusnya? Begitulah harta ujian. Yang duaratus ribu itu belum tentu kita pakai untuk keperluan konsumtif atau untuk <em>saving</em>, tetapi sudah menunggu tangan-tangan tengadah membutuhkan bantuan.</p>
<p>Suatu saat nanti ketika royalti kita mencapai jutaan, jangan hanya berpikir menumpuk harta yang kita idam-idamkan sekian lama selama bertahun-tahun. Seringkali ketika uang ada di tangan, datanglah permintaan-permintaan yang tak dapat ditolak oleh nurani kita sebagai manusia. Memangnya anda dapat menolak permintaan pembantu anda yang anaknya membutuhkan obat karena sakit atau ingin sekolah? Atau tukang rujak langganan menangis tak punya modal sementara jumlahnya dapat ditanggulangi oleh jumlah royalti yang ada di tangan sebagai rahmat rizqi dari Allah SWT?</p>
<p>&#160;</p>
<p>            Jadi bersiaplah, para penulis berbakat, bahwa royalti anda nanti  tak seperti harta karun yang tiba-tiba didapat dari mengirimkan sms. Karena apa? Ketika kita menulis , memulai dengan niat baik; ternyata ujian keikhlasan itu ada sejak awal, pertengahan hingga akhir sebuah amal. Capek, lelah, letih anda menyelesaikan sebuah novel lalu sekian jumlah uang yang rencananya di <em>saving</em> untuk keperluan masa depan ternyata orang-orang terdekat membutuhkan bantuan segera.</p>
<p>            Catat baik-baik dalam ingatan : yang melapangkan rizqi  termasuk mudahnya tulisan kita menembus media manapun seringkali tergantung seberapa besar niat baik kita. Tetapi begitu tulisan kita laku maka royalti itu ternyata tak sepenuhnya menjadi hak milik kita bahkan suatu masa hanya tercetak di slip tabungan untuk selanjutkan didistribusikan kepada kantong-kantong kaum muslimin.</p>
<p>            Kecewa? Rugi? Tentu tidak karena Allah Maha Kaya dan akan diganti dengan yang jauh lebih baik dari itu. Dan rezeki yang halal, sedikitpun akan terasa</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li>Ketangguhan &#38; Kekuatan *****</li>
</ol>
<p>&#160;</p>
<p>Yang akan anda dapatkan dari dunia kepenulisan adalah ketangguhan dan kekuatan. Disini kita akan belajar bagaimana sedikit demi sedikit menempa diri, mental, jiwa membaja selapis demi selapis. Satu tulisan kita tak laku, ditolak, dikritisi habis-habisan. Begitu pula tulisan yang ke 2, 31, 104. Anda mungkin putus asa di tahap-tahap awal tetapi jika anda punya komunitas (seperti FLP misalnya) kesulitan itu akan punya nilai tersendiri. Digigit semut, tertusuk duri, terinjak paku lama-lama tak ada bandingnya jika disetarakan dengan pukulan godam. Lama-lama anda akan terbiasa dikritik dan diejek, tetap bangkit dan melaju bangun, memperbaiki diri.</p>
<p>Satu demi satu teman-teman berhasil menulis, anda akan iri. Iri yang baik kan? Lalu kita semakin memperbaiki diri, belajar dari sana-sini, memburu informasi, bertanya tak kenal lelah hingga suatu saat tulisan kita terbit dan dibaca sekian ribu kepala.</p>
<p>Bukan main bahagia dan bangga, sebab satu ide pikiran kita dapat ditransfer ke sekian banyak orang, dibaca, diresapi, dimaknai. Mungkin saja tulisan itu akan mengendap dan menjadi sejarah berharga bagi orang-orang kemudian.</p>
<p>Baja.</p>
<p>Hati sekeras itu yang membuat kita tangguh menghadapi sekian macam kesulitan.</p>
<p>Menulis, adalah satu profesi yang melatih kita untuk punya sikap mental yang tangguh, tak cepat melempem.</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li><strong>Ilmu Pengetahuan *****</strong></li>
</ol>
<p>&#160;</p>
<p>Menulis, menulis, menulis. Anda akan belajar banyak tentang dunia tulis menulis hingga menjadi bisa dan mahir. Sesudah tulisan demi tulisan terbit, anda akan seamkin dahaga dan haus untuk menimba banyak pengetahuan. Maka anda akan melengkapi diri dengan banyak membaca dan terus membaca. Melahap setiap suku, frase, kata, kalimat, bait, bab, hingga sekian banyak buku dikunyah-kunyah tanpa sisa.</p>
<p>            Saya pribadi, dahulu adalah seorang ibu rumah tangga yang baik J</p>
<p>            Bangun sebelum Shubuh, mencuci, memasak, membersihkan rumah dan begitulah seterusnya. Lalu dunia tulis menulis membuat saya jatuh cinta, begitupun dunia pengetahuan yang terkuak dengan terus membaca dan membaca.</p>
<p>            Lalu apalagi?</p>
<p>            Kliping, buku, internet, makalah, handout, semua diburu untuk melengkapi pengetahua. Tibalah pada satu titik : saya tak bisa terus menulis jika tetap sekerdil ini! Apa lagi saya mulai mencintai satu genre tulisan : sastra sejarah &#38; sastra budaya.</p>
<p>            Aduh, bagaimana ini? terlebih saya kan hanya seorang perempuan&#8230;.</p>
<p>            Kesempatan itu datang ketika seseorang menawarkan beasiswa ke fakultas negeri paling bergengsi di negeri ini, saya ditawari karena pernah, Alhamdulillah, menjuarai beberapa lomba tingkat nasional.</p>
<p>            Tapi bagaimana? Saya kan ikut suami dan baru pindah ke Surabaya. Sayangnya&#8230;.padahal suami baru saja menolak pindah tugas ke Jakarta karena memang kami baru hijrah ke Surabaya.</p>
<p>            Saya sedih. Beasiswa itu tak jadi saya dapatkan akrena saya seorang ibu istri, perempuan yang terikat ’kontrak kerja surga’ dengan suami. tetapi cita-cita itu terus memburu. Alhamdulillah, Alalh SWT senantiasa membantu hambaNya. Saya memberanikan diri mengajukan beasiswa ke UNTAG dengan membawa beberapa sertifikat dan saya pun kuliah lagi di Psikologi.</p>
<p>            Menulis, membaca, memburu ilmu pengetahuan.</p>
<p>            Tak habisnya saya syukuri kesempatan ini datang di usia saya yang ke 35.</p>
<p>            Setiap pagi, dengan target untuk mencuci, memasak, mengisi buku laporan anak-anak, mengecek perlengkapan mereka , saya juga harus menyiapkan diri mengikuti Psi, Faal, Psi Klinis, Psi. Sosial dst yang harus diikuti dengan hati dan pikiran serius. Ketika sepeda motor saya melaju membelah udara pagi yang sejuk, daun-daun berembun, udara berkabut, burung bercicit; saya melaju bersama mereka yang berseragam putih merah, putih biru dan putih abu-abu. Kami sama-sama memburu ilmu pengetahun, makanan paling nikmat yang dikunyah akal sesudah Quran dan Sunnah nabiNya.</p>
<p>            Beapa indahnya dunia menulis, membayar saya dengan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekedar tumpukan uang dan royalti ; saya punya kesempatan melengkapi diri saya sebagai ibu, istri, perempuan, muslimah &#38; daiyah</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li>Pengalaman berharga *****</li>
</ol>
<p>&#160;</p>
<p>Sesuatu yang tak dapat dibelia dalah pengalaman. Pengalaman memperkaya batin kita, tak dapat dibeli di bangku sekolah atau toko manapun. Pengalaman bertemu orang, pengalaman menjumpai peristiwa, pengalaman memaknai sesuatu.</p>
<p>            Dengan menulis saya bertemu adik2 FLP yang ada di Sumenep, Pamekasan, Bondowoso, Malang, Ciputat, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi&#8230;..ribuan orang yang terkontak lewat dunia maya. Mereka memberi saya pengetahuan yang demikian berharga.</p>
<p>            Bukan itu saja, menulis membuat saya harus mendalami karakter.</p>
<p>            Itulah yang menghantarkan saya bertemu buruh di rumah susun, anak-anak Dolly, para pelacur. Saya juga berkesempatan bedah buku di isntansi-instansi besar. Saya belajar memaknai dua dunia berbeda : ada komunitas intelektual di Indosat, Telkom, Kantor Pajak, lembaga2 lain. Ada komunitas kelam di sepanjang Dukuh Kupang, Dolly, Putat.</p>
<p>Saya belajar banyak tentang manusia. Saya belajar banyak tentang diri saya sendiri.</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li>Menimbun kekayaan hingga ajal nanti</li>
</ol>
<p>Inilah kekayaan berharga yang dapat ditimbun, dihitung, dibagikan kepada siapa dan tak akan berkurang jumlahnya.Dengan menulis kita menumpuk kekayaan yang tak hanya berupa uang tapi juga handai tolan, teman, rekan, pengalaman, pembelajaran, ilmu dan masih banyak lagi.</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li>Banyak dan banyak lagi&#8230;&#8230;&#8230;</li>
</ol>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>Nah, dengan imbalan sebanyak ini apakah anda masih ragu untuk memeras keringat dengan menulis?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Abu Omar come l'Achille Lauro?]]></title>
<link>http://byebyeunclesam.wordpress.com/2009/11/09/abu-omar-come-lachille-lauro/</link>
<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 07:29:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>byebyeunclesam</dc:creator>
<guid>http://byebyeunclesam.wordpress.com/2009/11/09/abu-omar-come-lachille-lauro/</guid>
<description><![CDATA[Il “caso Abu Omar”, ossia la vicenda del rapimento, a Milano ed in pieno giorno, del predicatore int]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://byebyeunclesam.wordpress.com/files/2009/11/achillelauro.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3843" title="achillelauro" src="http://byebyeunclesam.wordpress.com/files/2009/11/achillelauro.jpg?w=300" alt="achillelauro" width="300" height="230" /></a></p>
<p>Il <a href="http://byebyeunclesam.wordpress.com/category/versione-italiana/abu-omar-versione-italiana/">“caso Abu Omar”</a>, ossia la vicenda del rapimento, a Milano ed in pieno giorno, del predicatore integralista islamico da parte di un commando della CIA, presenta caratteristiche di simmetria e specularità con un caso ancora più clamoroso, conseguenze incluse, che appassionò il mondo ventiquattro anni fa, il sequestro della nave Achille Lauro.<br />
Ricordiamolo per sommi capi.<br />
Il 7 ottobre del 1985, un gruppo di palestinesi armati nascosti a bordo sequestra l’ ammiraglia della flotta turistica italiana, appena salpata da Alessandria d’Egitto, con tutto l’equipaggio e 450 passeggeri a bordo, di varie nazionalità. A quale scopo, ci si chiede subito…? Allo scopo, rispondono i sequestratori, che Israele liberi 52 detenuti palestinesi: viceversa, l’Achille Lauro salterà in aria. Figuriamoci.<br />
Un curioso sistema, da parte di un commando terrorista ritenuto “vicino” al Fronte di Liberazione Popolare, di ottenere lo scopo: attaccando militarmente cioè, nel piroscafo (che ne fa parte integrale ai fini del diritto di navigazione) il territorio di un paese naturalmente amico della causa palestinese; e per di più allora guidato da un governo “Craxi-Andreotti” che ancor oggi il sito “liberali per Israele” designa ingiustamente come “amico dei terroristi”. Che tale non era affatto, naturalmente: ma bensì desideroso di contribuire alla pace in Medio Oriente, risolvendolo alla stregua delle risoluzioni ONU che prevedono la costituzione di uno Stato Palestinese sulle terre occupate da Israele durante l’attacco bellico del giugno 1967, Cisgiordania in primis. E in questa chiave aveva accolto in Italia, con protocollo da Capo di Stato incluso discorso in Parlamento, Yasser Arafat nel 1983.<br />
Agli occhi di qualcuno, una colpa imperdonabile&#8230;<br />
Bene, dopo due giorni di sequestro, e di frenetiche trattative triangolari fra Italia, Egitto, OLP di Arafat e Abu Abbas capo del FLP residente in Egitto, al quale gruppo risulta aderente l’autolesionista commando di sequestratori, gli stessi cedono: otterranno un salvacondotto per giungere in Italia ove saranno giudicati dalla giustizia italiana, perché i ponti, le cabine, la tolda di una nave italiana sono territorio nazionale a tutti gli effetti. Garanti della mediazione con il governo italiano sono il Presidente egiziano Hosni Mubarak ed il capo dell’OLP Yasser Arafat, che ne rispondono alle opinioni arabe se qualcuno tradisse il compromesso stesso.<br />
Il 9 ottobre il commando abbandona la nave, non senza aver firmato la provocazione con un delitto gratuito ed odioso, solo apparentemente “inutile”: l’assassinio a sangue freddo, e senza giustificazione di alcun tipo, di un solo passeggero. Leon Klinghoffer, un crocerista paralitico di appartenenza ebraica, con passaporto USA.<br />
La vicenda, fin qui solo “drammatica”, allora assume di colpo un profilo “tragico” ed emozional-mediatico che ribalta completamente quello “solo” giuridico: ai fini del quale invece, non cambia nulla; solo un altro reato, il più grave peraltro (l’omicidio in forma abbietta), si aggiunge alla lista di quelli addebitabili al commando in sede penale. E coinvolge, insieme dalla stessa parte, Stati Uniti e Israele contro l’Italia: perché il governo, ad onta dello scandalo, intende mantener dritta la barra del compromesso stipulato con garanti così autorevoli che rischierebbero grosso in caso opposto. “Bruciare” politicamente Mubarak ed Arafat agli occhi arabi &#8211; come responsabili di un accordo tradito dall’ Italia, che dovrebbe, negli intenti israelo-USA, consegnare loro i sequestratori &#8211; lo Stato italiano questo non può farlo.<br />
A questo punto entrano in scena i “diversori” per linee interne: <!--more-->in primis Michael Ledeen, un personaggio dei servizi “non solo USA” coinvolto negli affari più sporchi degli ultimi trent’anni, Iran-Contras incluso; con gravi condanne a carico che gli impediscono ancor oggi di accostarsi al nostro Paese, pontificandone sui nostri media stando bene al sicuro nella sua Langley.<br />
Allora introdottissimo presso Palazzo Chigi grazie a Claudio Martelli garante, e Giuliano Ferrara suo sodale. Questi era allora, di grande famiglia comunista-togliattana dopo nonno liberal-massone, un “neo-convertito” al craxismo: perché aveva abbandonato il PCI due anni prima, dopo avere schiaffeggiato, in consiglio comunale torinese, l’assessore-compagno alla Cultura, il filo-sionista Giorgio Balmas, perché aveva rifiutato di dedicare ai bambini massacrati a Sabra e Chatila un concerto di “Settembre Musica”.<br />
A posteriori, un modo di “accreditarsi”: talché a raccoglierne gli umori apparentemente fumantini, furono Alberto Ronchey, “amico di famiglia” fino dai tempi di una comune residenza moscovita che gli fece ottenere “Bretelle Rosse”, rubrica politica fissa sul Corsera; ed Antonio Ghirelli, antico animatore di Radio Napoli nel 1943 per conto del PWB* inglese, che lo volle notista al TG2.<br />
Lui e Martelli, insieme con il leader di Lotta Continua Adriano Sofri ed il capo del servizio d’ordine di quel medesimo gruppo, il sociologo sardo-trentino Luigi Manconi, editavano, coi soldi chiesti a Silvio Berlusconi, il quotidiano “Reporter”, una specie di ante-Foglio, assai pubblicizzato in TV dall’ennesimo Lottacontinuista di questa vicenda: Dagospia, allora solo Roberto d’Agostino, che lo inseriva nel suo angolino, la rubrica del look “fico” e reaganiano, inserendolo nelle tasche dei vari testimonial che si prestavano al gioco, del fortunatissimo “Quelli della notte” di Renzo Arbore, in onda giusto giusto la primavera del 1985, tre mesi prima del “caso Lauro”.<br />
Insomma: gente di cui fidarsi ad occhi chiusi!</p>
<p><a href="http://byebyeunclesam.wordpress.com/files/2009/11/abbas.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3844" title="abbas" src="http://byebyeunclesam.wordpress.com/files/2009/11/abbas.jpg?w=300" alt="abbas" width="300" height="147" /></a></p>
<p>E invece no: perché Michael Ledeen ha recentemente rivelato che in quelle notti convulse di passioni, liti e scenate telefoniche ai due capi dell’Oceano, tra <a href="http://byebyeunclesam.wordpress.com/2009/08/12/quando-i-carabinieri-circondarono-le-delta-force/">Craxi che difendeva i patti stipulati con onore, perfino difendendo coi Carabinieri schierati in pista, a Sigonella, il B737 che traduceva i banditi dall’assalto della Delta Force</a>; e pure a Fiumicino, ove poi giunto inseguito dai caccia USA, ingiunse immediatamente, carabinieri con i mitra spianati, agli aerei stello-strisciati di “sloggiare” dalla pista di decollo… Ebbene ad attizzare i due l’un contro l’altro, perché vieppiù confliggessero &#8211; e con essi i due Paesi alleati &#8211; fino alla inevitabile soccombenza del più debole, furono le traduzioni telefoniche del Ledeen (che fa nome “Levi” in verità), sbagliate apposta per farli litigare. E pensare che Claudio Martelli lo aveva chiamato d’ urgenza apposta a Palazzo, cornetta in mano, per quella emergenza. Consigliando Bettino, da fedelissimo suo VicePresidente, di non fidarsi degli interpreti ufficiali, date le circostanze eccezionali!<br />
Bene. Ad interfaccia dell’“agente Marte”, come viene definito dagli uffici suoi stessi, interviene Spadolini, intransigentissimo atlantista che ricopriva, abbondantemente, la poltrona di Ministro della Difesa. Un buffo panzone di taglia gigantesca ma con vocina esile e stridula da zitellina del famoso asilo di Dorsoduro a Venezia, che Forattini disegnava sempre nudo, con uno spadolino microscopico sul davanti, come fosse un eunuco… (Ha lasciato ad un erede, e pur si vede, tutte queste sue caratteristiche). Giovanni Spadolini si dimette dalla sua carica-chiave, costringendo alle inevitabili dimissioni anche il premier Bettino. Questi lo fece con un memorabile discorso alla Camera, ove rivendicò virilmente le Responsabilità di Stato, mantenute a dispetto di ogni pressione straniera (la parola data a Capi di Stato amici non si rinnega), ed a costo di dimettersi. Un discorso che commosse perfino l’allora scalfariano Giampaolo Pansa, che, su “La Repubblica”, forse perché era caduto, disse che lo aveva comunque fatto da “Hombre Vertical”.<br />
Ecco, è questo il succo del ”caso Lauro”: le dimissioni, in Italia, di un Capo di Governo “sovranista e nazionale” contro ogni pretesa del Grande Fratello Atlantico in questioni di merito interno, seppure di emozione mondiale.<br />
Non erano ancora i tempi dei Veltroni, che esalta la missione civilizzatrice degli eserciti USA alla conquista del mondo “per esportare la democrazia” (discorso al Circo Massimo, maggio 2007); o dei D’Alema, che nel suo discorso di insediamento a premier per la breve esperienza di Palazzo Chigi dietro ribaltone parlamentare, giurò che mai l’Italia avrebbe partecipato a guerre di aggressione, per poi levare i cacciabombardieri su Belgrado, e mobilitare 18.000 uomini, da mettere agli ordini del comando USA d Wesley Clark, per l’invasione in Kosovo…<br />
Non erano né i tempi né gli uomini, ma quella prima caduta di Bettino Craxi fu decisiva a preparare quella successiva del 1992. Ed a determinare questi tempi e questi uomini che adesso scontiamo.</p>
<p>Questa premessa assolutamente indispensabile per capire quale anche è il succo del caso Abu Omar. La caduta di un Capo dei Servizi di palese appartenenza nazionale, pur nella doverosa fedeltà ai supernazionali Patti che lo costrinsero, bongré malgré, a “dare una mano” al nutrito gruppo di agenti CIA delegati al sequestro dell’“estremista islamico”. Il quale rapimento di Abu Omar fu effettuato in pieno centro ed in pieno giorno, facendo il maggiore baccano possibile, davanti a quanti più testimoni stupefatti perché ben si imprimessero in testa tutte le circostanze, a futura memoria: che inguaierà poi il solo Pollari. Costretto anch’egli a lasciare una carica, quella di Capo dei Servizi, che nelle circostanze attuali vale più di cento “premier”, che sono affatto privi di qualunque potere effettivo. Visto che l’affollatissimo gruppo di “condannati” della CIA, a partire dal caposcalo Robert Seldon &#8220;Lady&#8221; (però: chissà…), son tutti uccel di bosco, e mai sconteranno neppure un minuto, benché la sentenza, peraltro doverosa ed onorevole, che fa davvero onore al giudice Oscar Magi che l’ha emessa dopo tanto tormento, inasprirà ulteriormente i rapporti già non buoni tra Italia e USA. Che gli USA, ed altri, vogliono ad ogni costo impedire la nostra sovranità energetica quale discende dai contratti stipulati dall’ENI con Gazprom-Russia, con Nyoc-Libia, con Sonatrach-Algeria; per ovviare nei decenni a venire le necessità di energia pulita, cioè il metano di quei sottosuoli.<br />
Pollari, dunque, è stato il solo a pagare. Se poi si vede chi è il suo successore, da dove venne nel lontano 1984 con al guinzaglio la “mina a tempo” Masino Buscetta, e per fare che cosa, forse ben si capisce tutto il senso di questa operazione, Abu Omar incluso.<br />
Già, Abu Omar, chi era costui? Forse in “essenza” non lo sapremo mai.<br />
Ma è interessante, come si fa con le particelle nella fisica nucleare, “tracciarne” il percorso più interamente che in quell’attimo “puntuale” del ratto, il 17 febbraio 2003, in ora di punta.<br />
Egli giunse per la prima volta in Italia nel 1999, con intenzione di stabilirvisi nel cuore della sua comunità, libero come un fringuello, da Kosovo e da Bosnia, ove era militante dei gruppi più fanatici anti-serbi, finanziati e nutriti da chissà chi. Kosovo e Bosnia “liberate” dalla Jugoslavia e date in pasto a quell’“integralismo islamico” che proprio in quei tempi, inventato da Brzezinski nei lontani Settanta per attaccare le frontiere di Russia, saliva al potere finalmente a Kabul, nel cuore geopolitico d’EurAsia: i talebani del 1997, insediati colà dalle ISI pakistane guidate dalla CIA e dal FBI… E finanziati a pié di lista (“per estirpare il papavero”) dall’ex-deputato dalemiano (adesso dipietrista) Pino Arlacchi (il noto mafiologo de “La Repubblica”, che oggi dirige “Intelligence”), quando la Albright lo fece nominare Capo del Dipartimento ONU per la lotta alla droga. Coi risultati che si videro, già dall’inizio, era il 1997… Come si vede, poi giungendo, l’integralismo islamico da combattere con sempre più truppe, via Kosovo reso indipendente dagli “Alleati” Wesley Clark&#38;D’Alema, fino a Montenapoleone, oltre Belgrado: al quale assedio compiuto dai turchi all’epoca di Giuseppe II Imperatore d’Asburgo, Wolfgang Amadeus Mozart dedicò il suo sarcastico “rondò” (Marcia alla Turca) che incomparabilmente chiude la Sonata per piano solo K331, reso famoso dalla pubblicità televisiva…<br />
Anche qui c’è da ridere, infatti. Perché questo Abu Omar, naturalmente uno pseudonimo di chissà chi, dopo una strana detenzione ad Aviano, viene più volte spedito e rispedito, riarrestato e rilasciato, via Cairo, avanti-indietro, fino a liberazione definitiva con tante scuse e danni da risarcire da parte del governo italiano: un milione di euro, al Cairo sei nababbo. Nel frattempo dice di aver subito orribili torture, di cui non porta alcuna traccia. Insomma, un fortunato. Anzi, un predestinato, come ci spiega Pirandello nel memorabile breviario de “Il Gioco delle Parti”, tra opposti coordinati.<br />
A Napoli si recita così: due compari, ad un angolo di strada, iniziano furiosamente a litigare, trascinando in mezzo alla lite un passante qualunque. Con la scusa di menarsi, gliele suonano di santa ragione a lui che è imprigionato tra di loro, gli fregano l’orologio ed il portafogli, e lo lasciano pesto in terra e sanguinante, fuggendo via col bottino, in un posto sicuro per spartirselo.<br />
E meno male che sia il governo Prodi, come quello Berlusconi, hanno opposto “Segreto di Stato” per salvaguardare il nostro Pollari dalle liti “loro”, naturalmente suscitando lo sdegno de “La Repubblica” che invece lo voleva bruciato per sempre…<br />
Ecco, sia Pirandello col raffinato “Gioco delle Parti”, sia Napoli con quello più ruspante dei “Compari”, ci ricordano tanto sia il “caso Abu Omar” che quello “Achille Lauro”.<br />
E soprattutto la Guerra al Terrorismo, proprio quello, portato ieri “al comando”, da quegli stessi che oggi gliela proclamano contro, soprattutto combattendola attraverso “soggetti terzi &#60;messi in mezzo&#62;  dai primi due”.<br />
Come da manuale. Anche quello di Samuel Huntington, reso famoso grazie all’11 settembre, “Lo Scontro delle Civiltà”, cristiani contro islamici, come dice il proverbio. Che a ben vedere questo strombazzatissimo “The Clash” è proprio un manuale pratico, di istruzioni anche un po’ elementari.<br />
Perché fra due litiganti c’è sempre un terzo che ogni volta ne gode. Lo dice proprio piatto e rotondo il grande tragico inglese che ben se intendeva, Christopher Marlowe**, in un suo capolavoro che analizza con preveggente acume le guerre cristiano-islamiche nel Mediterraneo di quell’epoca, ed intestato ad un signore “…di Malta”, che si chiamava Barabba, sembra un “nom de plume”.<br />
Chissà, forse era già “Abu Omar”.<br />
<strong><em>Gianni Caroli</em></strong></p>
<p>* Psychological Warfare Branch, ufficio di alto spionaggio e propaganda delle Forze di occupazione angloamericane in Italia, in funzione ininterrottamente fino dal 9 luglio 1943 (sbarco in Sicilia, poi Salerno), con prima sede stabile in Piazza delle Borsa a Napoli</p>
<p>** Christopher Marlowe, <em>Tutto il Teatro</em>, Adelphi</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[FLP Jatim &amp; 7 November : Pahlawan Baru Kami]]></title>
<link>http://sintayudisia.wordpress.com/2009/11/06/flp-jatim-7-november-pahlawan-baru-kami/</link>
<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 06:56:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>sintayudisia</dc:creator>
<guid>http://sintayudisia.wordpress.com/2009/11/06/flp-jatim-7-november-pahlawan-baru-kami/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp;             10 November Indonesia tentu masih mengingat kisah hari Pahlawan yang terkait deng]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#160;</p>
<p>            10 November Indonesia tentu masih mengingat kisah hari Pahlawan yang terkait dengan satu persitiwa sejarah di Surabaya. Esok, tepatnya 7 November, sebelum hiruk pikuk perayaan hari Pahlawan, di rumah ku yang sederhana tetapi nyaman karena berada tepat di depan masjid Rungkut Jaya rekan-rekan FLP Cabang akan berkumpul kembali.</p>
<p>            Apa sih yang akan kami lakukan?</p>
<ol>
<li><strong>Silaturrahim</strong> : mengingat sejak MUNAS II kami belum pernah lagi bertatap muka maka kerinduan ini harus tertuntaskan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' />  Kenapa mengambil moment 7 November? Selain masih tanggal muda, bulan ini relatif agak jauh jaraknya dari lebaran yang pastinya menyita waktu, tenaga&#8230;.<em>and money of course</em>. Kita semua tahu, para pejuang FLP tak pernah mendapatkan kucuran dana yang cukup untuk membantu mereka senantiasa terus menjalankan roda pemerintahan FLP. Setidaknya, hari-hari ini cukup realistis bagi kami semua untuk berkumpul, paling tidak masih tersedia dana di kantong sekalipun&#8230;Allah Maha Mencukupi.</li>
<li><strong>Konsolidasi</strong> :  dalam mencapai target-target yang tinggi, mulia, bermanfaat untuk ummat mungkinkah semua dilaksanakan oleh satu kepala, satu tubuh, satu semangat saja? Kita membutuhkan <strong><em>winning value, winning concept, winning system, winning team, winning goal</em></strong><em>.</em> Tanpa perencanaan-perencanaan matang, SDM, dan semua <em>resource</em> yang didayagunakan semaksimal mungkin; mustahil FLP yang kita harapkan menjadi salah satu kontributor peradaban Islami ini dapat meraih capaian-capaian gemilang. Harapan kami FLP dapat menjadi <strong><em>winning team</em></strong> yang semakin menghasilkan karya &#38; penulis (pejuang da’wah) cemerlang.</li>
<li><strong>Musyawarah</strong> : syuro adalah hal yang sangat utama dalam agama ini. Banyak langkah dan keputusan perlu diambil dengan melihat kapasitas masing-masing daerah.</li>
<li><strong>Sharing</strong> : Malang, Jombang, Surabaya, Blitar, Jember, Pamekasan, Sumenep adalah cabang yang cukup handal dalam menjaring peminat dan menjalankan program-program FLP. Cabang2 lain yang tak kalah semangatnya perlu mendapat tambahan ilmu dan pengalaman dari rekan-rekan mereka yang sudah lebih dahulu maju.</li>
<li><strong>Little Gift </strong>: kami, FLP Wilayah belum dapat memberikan <em>reward</em> yang layak. Memang, FLP lahir dari rahim da’wah dan selamanya akan dibesarkan oleh da’wah. Da’wah juga yang membuat kita tetap berjaya hingga sekarang. Tak pantas kita mencari kepentingan pribadi dari FLP, seharusnya kita yang memberikan harta terbaik kita bagi da’wah termasuk da’wah FLP. Tetapi bagaimanapun, manusia memiliki jiwa yang unik. Sedikit saja mereka mendapatkan penghargaan dan perlakuan istimewa, sedikit saja kita menghargai jerih payah mereka, maka hati-hati mereka yang telah letih berdarah-darah besama jalan da’wah ini akan kembali bertunas, tumbuh, berseri dan siap memikul jalan da’wah kembali. Rasanya, saya pribadi ingin memberikan <em>reward</em> yang pantas bagi para pejuang FLP. Kita pasti bisa membayangkan berapa <em>cost</em> Blitar-Surabaya PP dan daerah2 lain. Semua ditanggung sendiri, wilayah hanya menyediakan tempat sederhana (rumah saya J ) dan makanan ala kadarnya. Selebihnya mereka menanggung pembiayaan sendiri. Saya ingin memberikan gift kecil , mungkin buku, modul, pin, dll sebagai tanda cinta bagi mereka ; adik-adikku yang tak pernah lelah membantu berjuang bersama FLP</li>
<li><strong>Menguatkan semangat </strong>: tak dapat dipungkiri, banyaknya permasalahan pastilah mengikis ketangguhan kepribadian kita. Pertemuan ini insyaAllah selain menguatkan niat, semangat, harapan juga merapikan langkah-langkah ke depan. Bertemu dan melihat wajah orang-orang sholih –adik-adikku ini – rasanya sudah cukup mengobati semua dukalara. Apalagi mendengar sepakterjang kisah mereka yang juga memeras keringat membanting tenaga (kadang membanting harga diri!) di daerah masing-masing. Mereka exist. Mereka ada. Mereka bertahan. Mereka terus bergerak. Mereka akan berhenti nanti jika waktu yang menghentikan.</li>
</ol>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>Mohon doa dari semua agar acara esok, 7 November 2009, berjalan lancar.</p>
<p>Dalam sujud malam nanti dan esok Dhuha, dalam kesempatan wirid dan dzikir malam ini, selipkan nama-nama kami FLP Wilayah Jawa Timur di doa anda, para pembaca. Semoga , FLP  ini adalah salah satu amal yang dapat kita banggakan di yaumil akhir kelak.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ketika Cinta Bertasbih Episode 2]]></title>
<link>http://terikpagi.wordpress.com/2009/11/02/ketika-cinta-bertasbih-episode-2/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 09:44:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>terikpagi</dc:creator>
<guid>http://terikpagi.wordpress.com/2009/11/02/ketika-cinta-bertasbih-episode-2/</guid>
<description><![CDATA[Ketika Cinta Bertasbih Episode 2 Habiburrahman El Shirazy Afiliasi FLP Harga Rp 49.500 disc 20% jadi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ketika Cinta Bertasbih Episode 2 Habiburrahman El Shirazy Afiliasi FLP Harga Rp 49.500 disc 20% jadi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jodoh Untuk Adel]]></title>
<link>http://terikpagi.wordpress.com/2009/11/02/jodoh-untuk-adel/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 09:20:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>terikpagi</dc:creator>
<guid>http://terikpagi.wordpress.com/2009/11/02/jodoh-untuk-adel/</guid>
<description><![CDATA[Jodoh Untuk Adel Lina Liana Anggota Forum Lingkar Pena Harga Rp 17.800 disc 20% jadi Rp 14.000 saja ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Jodoh Untuk Adel Lina Liana Anggota Forum Lingkar Pena Harga Rp 17.800 disc 20% jadi Rp 14.000 saja ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gue Bisa Jadi Yang Gue Mau]]></title>
<link>http://terikpagi.wordpress.com/2009/10/21/gue-bisa-jadi-yang-gue-mau/</link>
<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 14:03:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>terikpagi</dc:creator>
<guid>http://terikpagi.wordpress.com/2009/10/21/gue-bisa-jadi-yang-gue-mau/</guid>
<description><![CDATA[Gue Bisa Jadi Yang Gue Mau A Adenata Afiliasi: FLP Harga Rp 17.500 disc 20% jadi Rp 14.000 Berat 100]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Gue Bisa Jadi Yang Gue Mau A Adenata Afiliasi: FLP Harga Rp 17.500 disc 20% jadi Rp 14.000 Berat 100]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[How To Be Smart Writter]]></title>
<link>http://terikpagi.wordpress.com/2009/10/21/how-to-be-smart-writter/</link>
<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 13:19:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>terikpagi</dc:creator>
<guid>http://terikpagi.wordpress.com/2009/10/21/how-to-be-smart-writter/</guid>
<description><![CDATA[How To Be Smart Writter Afifah Afra Afiliasi: FLP Harga Rp 22.500 disc 20% jadi Rp 18.000 Berat 200 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[How To Be Smart Writter Afifah Afra Afiliasi: FLP Harga Rp 22.500 disc 20% jadi Rp 18.000 Berat 200 ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mom &amp; Me]]></title>
<link>http://terikpagi.wordpress.com/2009/10/21/jual-buku-mom-me/</link>
<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 08:55:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>terikpagi</dc:creator>
<guid>http://terikpagi.wordpress.com/2009/10/21/jual-buku-mom-me/</guid>
<description><![CDATA[Mom and Me Pipit Senja-Adzimattinur Siregar Harga Toko Rp 24.500 discount 20% jadi Rp 19.000 Berat 2]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Mom and Me Pipit Senja-Adzimattinur Siregar Harga Toko Rp 24.500 discount 20% jadi Rp 19.000 Berat 2]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Egy újabb szép emlék]]></title>
<link>http://hooliesceneblog.wordpress.com/2009/10/18/steiner-kristof-es-en-sexualisan-tulfutottuk-a-tegnapi-ejjelt-koszil/</link>
<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 11:48:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>hooliescene</dc:creator>
<guid>http://hooliesceneblog.wordpress.com/2009/10/18/steiner-kristof-es-en-sexualisan-tulfutottuk-a-tegnapi-ejjelt-koszil/</guid>
<description><![CDATA[A 7végém förtelmes volt, de a végére rettenetesen jól éreztem magam! Kezdjünk mindent csak szép sorj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>A 7végém förtelmes volt, de a végére rettenetesen jól éreztem magam! Kezdjünk mindent csak szép sorjában.<br />
<!--more--></p>
<p>Szombaton hajnalban keltünk Wiwiennel, és elindultunk hajnali 5-kor Budapestre, felértünk 9-re, ahol már várt minket Betty. Elvittük a cuccokat hozzá, de nekem már szinte indulnom is kellett vissza a Határ útra, hiszen megbeszéltem Wiktorral, hogy személyesen szeretném lezárni Vele a kapcsolatomat, hiszen mégis így evidens. <strong>11:30-</strong>ra pontban ott voltam, Ő viszont szokásával ellentétben már 11 óta ott volt. Megláttam és hirtelen köpni nyelni nem tudtam, lassan 1 hónapja nem láttam, és szívem szerint odaléptem volna, megszorongattam volna, és odasúgtam volna neki, hogy szeretlek. De az eszemre halgattam, és csak simán köszöntem, hogy : Szervusz. Elmentünk venni csokit, mert nekem gyomorgörcsöm volt, persze ezt nem mondtam neki. Majd megáltunk EuroPark oldalánál, és végül az ész győzött! Nem szabadott elgyengülnöm a szemeitől. A nyakában ott lógott a <strong>H-betűs híres nyakláncom</strong>, amit egy évig nem vettem le a nyakamból, majd augusztus végén levettem és a nyakába akasztottam, hogy hordja addig míg engem szeret. És még ekkor is rajta volt! De persze ez csak az agyamban futatott gondolatok menete volt. Hiszen kimondani nem mondtam, neki hogy valószínűleg szeretsz még. <strong>Ő viszont mondta hogy szeret,</strong> én meg, hogy nekem ez nem megy, hiszen nekem sokkal több szeretetre van szükségem, ha kapcsolatban vagyok. Ha csak érzelemmentes sexről lenne szó nem lelkiznék ennyit. Fél óra volt össz-vissz amit együtt tötltöttünk, majd Ő is és én is elhagytuk a találka helyet, ő jobbra én balra. Ahogy elfordultam elkezdtek potyogni a könnyeim, neki már akkor mikor kimondtam, hogy <strong>szeretem de legyen vége.</strong></p>
<p><strong>Elindultam vissza Bettyhez,</strong> odaértem, elkezdtem ebédelni, de már rohannom is kellett tovább hiszen találkozóm volt Valakivel 14 órakor Boráros téren. Pár perces elkerülés után megtaláltuk egymást, és egy kellemes órát együtt töltöttünk. Nem publikálok erről semmit. Később 15:30 kor csatlakozott hozzánk Antsi, Dina, Boti, Wiwienn, és Rajreni. (L) Ezután Ők westendbe, mi Vele, felmentünk hozzá. Ottvoltunk egy órát. Majd mi is beugrottunk Westendbe hogy láthassam Életem Szerelmét Dancsit. <strong>Pár percre láthattam csak, ami olyan rossz:( </strong>na mindegy, Ezek után elmentünk ismét Bettyhez, mert az apukája meghívott egy előadót egy bizonyos munkalehetőséggel kapcsolatban, hogy előadást tartson. És Wiwienn és én végighalgattuk az egy órás prezentációt.</p>
<p>Utána rohantunk este 9-re megint a Borárosra, ahol Eryk várt minket, akivel ádám szülinapjára mentünk a <strong>Bora Bora </strong>nevű Billiárd szalonba, ahol állítólag asztalt foglaltattak. Eryk mire a Borárosra értünk, részegen kóvájgott. Kiábrándító volt. Nem csalódtam sohasem ekkorát az utóbbi időben. Na mindegy, azért elmentünk Pesterzsébetre a halál f**zára, hogy Ádámot felköszöntsük. Mire odaértünk a biztonsági őrök, szinte a tahóság és alpáriság határát súrolva viselkedtek. Etikátlan egy színvonalas helytől. Lényegtelen. Bementünk és sehol senki. Vártunk vártunk, majd már emiatt a kitérő miatt lekéstünk arról, hogy ingyen bemehessünk a Glam nevű helyre, hiszen oda készültünk a <strong>Chic</strong> nevű partyra este. Ekkor köszönés nélkül fogtuk magunkat <strong>Niki(L),Wiwienn(L), Betty szivem(L) </strong>és én, és elhagytuk a helyet. Mekibe beugorva vettem csibeburgert amit ajánlok mindenkinek, mert az a legfinibb kajcsi. Aztán elhangzott a padon ülőktől egy <strong>FASZOK </strong>beszólás, ők tudják kicsodák.<strong> Sosem bocsájtom meg.!</strong> Elmentünk a Glambe azért, annak ellenére, hogy tudtuk, hogy nem ingyenes már, de Bettyt és engem ingyen beengedtek, hisz Hoolie Scene vagyok.</p>
<p><strong>Glam</strong> miatt új bekezdést kell nyitnom. Tele leszbikusokkal, akik eleinte nem voltak számomra szimpatikusak, mert olyan agresszívnek tüntek, de sohasem gondoltam, hogy ennyire kedvesek és közvetlenek is tudnak lenni. Karaoke és Dance terem van a helyen minden szombaton. Egyszer csak a tömegben <strong>megpillantottam egykori példaképem Steiner Kristófot.</strong> Ledöbbentem, szóltam bettyéknek akik elalélva áradoztak Róla. Majd bementünk a karaoke kisterembe, s Kristóf következett a már Tőle megszokott Hungária dallal. természetesen mostis pörfektül adta elő. Vele volt egykori szerelme Frenkó Zsolti. Természetesen Kristóf is látott, de direkt nem köszöntem neki, hisz ami volt köztünk nem épp nevezhető szép elválásnak. Na mindegy. Aztán odaléptem hozzá erőt véve magamon, és adtam neki két puszit. Majd elkezdtünk beszélgetni, bemutatta Zsoltit akivel személyesen még nem volt alkalmam találkozni, pedig már 7 éve ismerem. Ekkor mi következtünk egy Cozombolis dallal amit Bettyvel kértünk, s bekell vallani mindenki tombolt a Zenétől felforr a véremre! Utána Kristóf ismét odalépett hozzám és elkezdtünka régi szép időkről beszélgetni amiket együtt éltünk meg, majd megkérdeztem hogy nincs-e kedve egy karaoke párbajra közte és köztem? Mire bólintott, és közösen kitaláltuk, hogy elénekeljük közösen a <strong>Grease Summer nights</strong> c. dalát. A közönség tombolt a dalra, és akkora dalpárbajt rendeztünk, hogy csak na. És mint régen végigökörködtük mosolyogva közösen a dalt. Fenomenális volt. <strong>Karaoke</strong> után kezdődött az éjféli műsor(travi), amire átkellett menni a nagyterembe, átmentem Bettyékkel, mire Kristóf egyszercsak odajött mellénk és megölelt. Furcsa volt és nem is értettem a miértjét. Majd kifiguráztuk a dolgokat, hiszen egy előadó volt csak és megint előkerült az első találkozásunk emléke is, mely megkönnyeztetett minket, hogy mostmár <strong>7 éve ismerjük egymást</strong>. A show végén elkezdődött az igazi party, és Kristóf és én, mint régen ismét lenyűgözve az ottlevőket, olyan közös táncot nyomtunk egy órán keresztül megállás nélkül Madonnától, Akon-David Guettán át, Britney-ig mindenre, hogy a hajamból csöpögött az izzadtság! Kicsit sexuálisan túlfütöttük és éreztük, hogy a szemek megint csak minket figyelnek.<strong> &#8220;javított rész&#8221;</strong>. Majd Ő elment megkeresni Zsoltit, Utána pedig elköszönt, de mondta, hogy jelenleg 3 hétigtartózkodik itthon, majd megy vissza Izraelbe, s hogy még muszáj öszefutnunk. Én bólintottam, Zsoltinak is köszöntem és elmentek. Ezután már csak a csajokkal karaokeztunk. És hajnali 4-kor elhagytuk a Glamet.</p>
<p>Na ekkor még mindig nincs vége a sztorinak! Kiálltunk a villamosmegállóba a csajszikkal, és egyszercsak odanézek, ott van <strong>Tomi(AFC) ott mennek,</strong> És épp odanéztek intettem, mire Tomi, visszaintett, és mint aki nem hisz a szemének, még párszor odanézett megállt és mégjobban nekiállt integetni, a fiukkal együtt. Ekkor mondom OKÉ, odamegyek hozzájuk, jöttek a csajok, kézfogás.puszi-puszi. Mire kiderült akkor értek haza Békéscsabáról, hiszen koncertezni voltak. Aztán rövidre fogtuk a beszélgetést, mert ők is nagyon fáradtak voltak, s mi is. aztán mentem bettyhez, ahol megfagyásután az apukája visszahozott a buszhoz hajnali 6:30-ra és az utat végigaludva most ittvagyok. És blogot írok a házavató kellős közepén.</p>
<p>Rettenetesen jóléreztem magam. Köszönöm a csajoknak, Krityának, Zsoltinak, Betty apujának stb. De sjanálom, hogy nem volt ott Dancsi:(</p>
<p>pusz HS.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Effective Results Can Be Had With A Defective Trust]]></title>
<link>http://floridadomicileman.wordpress.com/2009/10/06/effective-results-can-be-had-with-a-defective-trust/</link>
<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 07:44:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>mikekilbourn</dc:creator>
<guid>http://floridadomicileman.wordpress.com/2009/10/06/effective-results-can-be-had-with-a-defective-trust/</guid>
<description><![CDATA[The IRS recently put its blessing on a family wealth planning tool known as Intentionally Defective ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>The IRS recently put its blessing on a family wealth planning tool known as Intentionally Defective Grantor Irrevocable Trusts (IDGITs). Intentionally defective? What&#8217;s going on here?</p>
<p>If you&#8217;re fortunate enough to have substantial assets, and children, you can reduce your estate tax liabilities, and theirs, by using this tool along with other planning strategies. An IDGIT enables you to transfer ownership, but not control, of assets to your chosen heirs, thereby avoiding federal inheritance taxes at the time of your death.</p>
<p>While the assets in the trust are out of your estate for estate tax purposes, the income generated by the assets in the trust is included on your personal income tax return &#8211; while you&#8217;re alive &#8211; which is where the &#8220;intentionally defective&#8221; part comes in.</p>
<p>Essentially, you pay your heirs&#8217; income tax on the trust income without having to be concerned that the IRS will claim that those payments are taxable gifts. Here are four ways to use an IDGIT in your estate plan:</p>
<ol>
<li><strong>Straight Gift: </strong>Gift income-producing real estate valued at $2 million (the limit of most married couples combined lifetime gift tax exemption) to the trust. Paying the income tax on the income generated by the real estate is equivalent to making a gift (in the amount of the taxes) without the money counting as a gift for gift tax purposes.</li>
<li><strong>Leveraged Gift:</strong> Gift income-producing real estate valued at $3 million ($1 million more than a typical couple&#8217;s combined lifetime gift tax exemption) by leveraging combined exemptions. To obtain the leverage, one would first transfer the real estate to an FLP (Family Limited Partnership), and then gift limited partnership shares to the trust (valuing the limited partnership shares at a 33 percent discount). This would not only increase the amount of real estate that could be transferred to the trust, but also leave the grantors in complete control of assets, as they would remain general partners during their lifetime.</li>
<li><strong>Sale:</strong> Sell income-producing real estate valued at $3 million (or more). Since this is a sale, there is no gift tax. The IRS tax rules surrounding the sale of assets to an IDGIT are favorable to the grantor in that there is no capital gains tax (the transaction is treated like you are selling an asset to yourself, thus, no tax), and no tax on the interest the trust pays to the grantor on the note.</li>
<li><strong>Leveraged Sale: </strong>Leverage $3 million worth of assets sold to the trust by first transferring the assets to a FLP and then selling limited partnership shares to the trust at a discount. Based on a discount of 33 percent, the note back to the grantor would be for $2 million.</li>
</ol>
<p>The assets available to the trust could be used to purchase insurance on the grantors and substantially leverage the amount they can leave to heirs. Set up properly, the trust could provide benefits to more than one generation of heirs, and avoid gift, estate or generation skipping transfer tax at each generation.</p>
<p>Detailed information about the IDGIT can be read in Chapter 13 of <em>Disinherit the IRS</em> by Wealth Strategies columnist Mike Kilbourn. Call Mike at (239) 261-1888 to discuss how your estate plan can benefit from this tool and receive a free copy of the book.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Biarkan Harta Kita Bicara! (untuk Sdr. Nurkholis FLP Aceh &amp; gempa Padang)]]></title>
<link>http://sintayudisia.wordpress.com/2009/10/03/biarkan-harta-kita-bicara-untuk-sdr-nurkholis-flp-aceh-gempa-padang/</link>
<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 00:38:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>sintayudisia</dc:creator>
<guid>http://sintayudisia.wordpress.com/2009/10/03/biarkan-harta-kita-bicara-untuk-sdr-nurkholis-flp-aceh-gempa-padang/</guid>
<description><![CDATA[Assalamu’alaikumwrwb.   rekan-rekan FLP Jawa Timur tercinta… usai Ramadhan yang berkesan, Syawal yan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Assalamu’alaikumwrwb.</p>
<p> </p>
<p>rekan-rekan FLP Jawa Timur tercinta…</p>
<p>usai Ramadhan yang berkesan, Syawal yang hangat karena silaturrahim, rupanya Allah SWT menagih sesuatu amalan kepada kita.</p>
<p> </p>
<p>Seorang ustadz pernah menyampaikan di sholat tarawih :</p>
<p>“….saya, anda, kita semua itu bakhil! Pelit! Kikir! Nggak ada orang yang pada dasarnya suka berbagi dan memberi. Akui saja, nggak ada manusia itu yang nggak cinta sama hartanya. Tetapi sekali lagi, Allah ingin memberikan kesempatan kepada kita untuk menyucikan diri, menyucikan harta. Tahukah Anda bahwa ketika harta itu diinfaq kan, ia akan berkata 4 hal ; jauh sebelum harta itu sampai ke tangan si penerima :</p>
<p><em>aku fana, lalu kau kekalkan</em></p>
<p><em>aku sedikit, lalu kau banyakkan</em></p>
<p><em>aku kecil, lalu kau besarkan</em></p>
<p><em>aku dulu kau jaga, sekarang aku yang menjagamu.</em>”</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>            Teman-teman&#8230;</p>
<p>ucapan ustadz ini menggetarkan saya. Semoga kali ini tidak riya. Usai mendengar cerita beliau, saya sisihkan sedikit terutama kalau pas dapat lembar uang yang bagus. Diam-diam saya infaq kan. Nggak mesti jumlahnya, kadang 5 ribu kadang 10 ribu, kadang 50 ribu.</p>
<p> </p>
<p>            Teman-teman,</p>
<p>ternyata memang harta itu berbicara. Allah Maha Kaya dan Maha Membalas. Inilah balasannya di ramadhan kemarin :</p>
<p>                  DP novel yg biasanya hanya berjumlah x tiba-tiba jadi 5x!</p>
<p>                  royalti sebuah novel yang lamaaaa saya tunggu tiba-tiba turun</p>
<p>                  menjelang Idul Fitri seorang teman meng sms : ”mbak, naskah mbak ada royaltinya tuh di antologi XX. Mbak ngirim 2 naskah kan?”</p>
<p> </p>
<p>Subhanallah&#8230;.</p>
<p> </p>
<p>teman-temanku tercinta&#8230;</p>
<p>Sisihkan uang kita untuk saudara kita tercinta Nurkholis, FLP Aceh yang tertimpa musibah kecelakaan menjelang lebaran kemarin hingga koma dan harus diamputasi.</p>
<p>Sisihkan uang kita untuk saudara-saudara kita di Padang, Sumbar.</p>
<p>Rp 1000, Rp 2000, Rp 5000, Rp 10.000, berapapun.</p>
<p>Allah tahu isi kantung kita. Kalau kita tak mampu 10 ribu, toh kita masih punya seribu. Kalau yang seribu pun tak ada, ajaklah orang-orang sekeliling anda.</p>
<p> </p>
<p>With Love&#8230;</p>
<p>Semoga sedekah kita selain diganti berlipat ganda, membuat kita dijauhkanNya dari musibah. Siapa yang dapat memastikan gempa tidak menimpa Surabaya, Jember, Malang, Jombang, atau kota-kota lain di Jawa Timur?</p>
<p> </p>
<p>Kirimkan bantuan anda ke :</p>
<p> </p>
<p>Aferu Fajar Nadari BCA  cab. Tangerang  6030115102                          (08179376664)</p>
<p>Rumanti Dyan Cahyani Bank Muamalat cab. Madiun 9148885499              (085649118656)   </p>
<p>Sinta Yudisia    BRI cabang Tegal 0101-01-009291-50-9                         (08563229782)</p>
<p>(Silakan pilih yang termudah)</p>
<p> </p>
<p>Tolong konfirmasikan ke nomer <em>handphone</em> yang bersangkutan, jumlah dan peruntukannya (Sdr. Nurkholis atau Gempa Padang); insyaAllah akan dilaporkan secara transparansi &#38; accountable.</p>
<p>Jazakumullah Khoiron Katsiron.</p>
<p> </p>
<p>Wassalamwrwb</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naturalmedicine for Osteo-Arthritis]]></title>
<link>http://marcochristen.wordpress.com/2009/09/18/naturalmedicine-for-osteo-arthritis/</link>
<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 08:14:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>marcochristen</dc:creator>
<guid>http://marcochristen.wordpress.com/2009/09/18/naturalmedicine-for-osteo-arthritis/</guid>
<description><![CDATA[Forever Freedom Aloe Vera, known for thousands of years for its healing properties, contains over 75]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="left"><strong>Forever Freedom</strong></p>
<p>Aloe Vera, known for thousands of years for its healing properties, contains over 75 known ingredients.  It acts as a natural anti-inflammatory through its action on epithelial cells, which line the skin, digestive system, respiratory and urinary-genital tracts.  It also helps to balance the immune system if taken internally.  If you have Aloe Vera in high enough concentration you give ordinary products extra-ordinary benefits, to the body, both human and animal.</p>
<p>Essential Maintenance for joints</p>
<p>This breakthrough formula combines the most complete team of nutrients on the market today, essential for the maintenance of healthy joint function and mobility – Glucosamine Sulphate, Chondroitin Sulphate, MSM and Vitamin C – with the rich nutrients of our stabilised Aloe Vera Gel for a product like no other!</p>
<p>Glucosamine and Chondroitin, which occur naturally in the body, form your first line of defence against any joint deterioration by working together to build cartilage and maintain its health. To complete this exceptional formula, we’ve added MSM, an anti-inflammatory agent and primary source of bio-available sulphur that the body needs to maintain healthy connective tissue and joint function. Plus Vitamin C, critical for collagen production and the ongoing maintenance of healthy cartilage.</p>
<p>Just a daily drink of Forever-Freedom gives you a delicious way to support healthy joint function and mobility.</p>
<p><strong>ALL THE BENEFITS OF ALOE GEL:</strong></p>
<ul>
<li>Superb general tonic being rich in vitamins, mineral and important trace elements</li>
<li>Natural pain killer</li>
<li>Natural anti-inflammatory</li>
<li>Has a positive effect on the immune system</li>
<li>Maintains healthy skin and membranes, improves digestion and food absorption</li>
</ul>
<p><strong>BENEFITS OF FOREVER FREEDOM:</strong></p>
<ul>
<li>Protects against damage to cartilage</li>
<li>Promotes formation of new healthy cartilage</li>
<li>Ingredients know to relive the symptoms of arthritis and muscular rheumatism</li>
<li>Safely combines with conventional drugs</li>
<li>Powerful and fast acting</li>
<li>Suitable for those suffering from joint inflammation, also sports people wishing to prevent wear and tear</li>
</ul>
<p>Begin to experience <strong>Freedom</strong> today and <strong>FOREVER </strong></p>
<p> <strong>Key ingredients have been shown to:</strong></p>
<ul>
<li><strong>Relive pain</strong></li>
<li><strong>Reduce inflammation</strong></li>
<li><strong>Restore mobility</strong></li>
</ul>
<p><strong>Glucosamine Sulphate</strong></p>
<p>A natural component of cartilage. It can be proved that oral Glucosamine definitely finds its way into joint cartilage. It is safe and very powerful in that research has shown that 1500mg of Glucosamine Sulphate (found in one 120ml serving of Forever Freedom) is equivalent in pain killing terms to 1200mg (the recommended daily amount) of Ibuprofen the popular NSAID (NON Steroidal Anti-inflammatory Drug)</p>
<p><strong> Chondroitin Sulphate</strong></p>
<p>Again a naturally occurring substance in cartilage that forms its matrix and so works in combination with Glucosamine to make this healthy and strong shock absorber. Chondroitin also helps maintain the viscosity of the synovial fluid in the joint so it works like thick oil in an engine preventing the moving parts from being ground down by each other.</p>
<p> </p>
<p><strong>MSM (Methylsulphonylmethane)</strong></p>
<p>This naturally occurring sulphur compound is found in every cell in the body and is necessary for the manufacture of proteins. Alone, it is a strong analgesic and anti-inflammatory and has been used for many years in successfully treating injured horses.</p>
<h3><strong>FOREVER FREEDOM ; FAQ’s<em> </em></strong></h3>
<p> <strong>What is Forever Freedom?</strong></p>
<p>An orange flavoured nutritional drink specially formulated by Forever Living Products for aiding in the maintenance of proper joint function.</p>
<ol>
<li><strong>What are the main ingredients in Forever Freedom?</strong></li>
</ol>
<p>Forever Freedom’s primary ingredient is our patented stabilised Aloe Vera Gel.</p>
<p>A 4 fluid ounce (120 mls) drink of Forever Freedom contains:  1500 mgs of Glucosamine, 1200 mgs Chondroitin, 720 mgs MSM and 250 mgs Vitamin C.</p>
<ol>
<li><strong>What is Glucosamine?  Chondroitin?  MSM?</strong></li>
</ol>
<p>-          Glucosamine is a substance found naturally in the body.  It is a form of amino sugar, known to assist in cartilage formation and repair.  It is also known for rebuilding damaged joints, tendons, cartilage and soft tissue.</p>
<p>-          Chondriotin is one of the most vital of the compounds in connective tissue, which is responsible for building and supporting the cartilage. As a nutritional supplement, this naturally occurring compound provides potent support for strong, healthy cartilage and joints.</p>
<p>-          MSM, also known as methyl-sulfonyl-methane, is an organic sulphur.  Sulphur is the fourth most abundant mineral in the body found in every cell.  It is found in food but is lost when washed, cooked or steamed.  The body uses MSM to create new healthy cells as well as other health benefits.</p>
<ol>
<li><strong>Can I overdose on Glucosamine, Chondriotin and MSM?</strong></li>
</ol>
<p>No.  Because all three elements occur naturally in the body, your body uses what is needed and flushes any excess out.</p>
<ol>
<li><strong>Are there any side effects?</strong></li>
</ol>
<p>There have been no negative side effects reported. MSM has been used as a dietary supplement for many years with no reports of negative reactions.  Glucosamine and Chondroitin have no known negative side effects.  Be sure to consult your physician if you have any concerns or if you are pregnant or nursing.</p>
<ol>
<li><strong>How much should I drink a day?</strong></li>
</ol>
<p>Because your body uses these natural components (Glucosamine, Chondriotin and MSM) daily, we recommend you drink Forever Freedom every day.  Consumption may vary based on body size, age and type of condition you currently might be experiencing.  We recommend you start with 4 fluid ounces daily and then later adjust to what best works for you.</p>
<ol>
<li><strong>When will I see results?</strong></li>
</ol>
<p>Everyone’s body will respond differently.  You may experience relief within days, while others can take weeks or months.  Based on some of our personal testimonials, people experienced relief within days of drinking Forever Freedom.  The body will always gain from the benefits that Forever Freedom provides, but in different ways for different people.</p>
<ol>
<li><strong>What is the difference between Forever Freedom and Aloe Vera Gel?</strong></li>
</ol>
<p>Although both of these wonderful drinks contain our 100% pure stabilised aloe vera gel, the benefits of each are different.  Our Aloe Vera Gel drink is rich in vitamins and minerals and helps boost energy and stimulate the metabolism.  While our new Forever Freedom, which also contains Glucosamine, Chondriotin, MSM and Vitamin C, primarily focuses on the alleviation of aching bones and joints.  It also helps maintain healthy cartilage and joints.  While you can enjoy some of the same benefits in each drink, they both have their distinct functions.  Many people choose to take both.</p>
<ol>
<li><strong>What are the benefits of drinking Freedom?</strong></li>
</ol>
<p>Forever Freedom helps the body, therefore, not only do you receive relief from aching joints but it also promotes healthy cells, skin, nails and hair.</p>
<ol>
<li><strong>Who should I share Forever Freedom with?</strong></li>
</ol>
<p>Everyone!  It can be used to aid or for prevention.</p>
<p>To buy, go to <a href="http://www.naturalmedicine.myflpbiz.com/">www.naturalmedicine.myflpbiz.com</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Os benefícios da babosa ou Aloe Vera]]></title>
<link>http://empreededoresonline.wordpress.com/2009/09/15/5/</link>
<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 00:14:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>Portal Romanegócios</dc:creator>
<guid>http://empreededoresonline.wordpress.com/2009/09/15/5/</guid>
<description><![CDATA[Para problemas digestivos, queimaduras, cortes e feridas, artrites sinusite, dores musculares, cabel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><a href="http://www.foreverliving.com.br/distribuidor/597/jef.tex/"><img class="alignright" title="aloe-vera" src="http://romanegocios.files.wordpress.com/2009/09/aloe-vera1.jpg?w=126&#038;h=115#38;h=273" alt="aloe-vera" width="126" height="115" /></a><span style="color:#000000;">Para problemas digestivos, queimaduras, cortes e feridas, artrites sinusite, dores musculares, cabelos danificados, varizes e hemorróidas; a lista de <strong>aplicações da Aloe Vera </strong>é de não acabar mais, e continua crescendo ao longo de quase três décadas de pesquisas. Muito se fala do Aloe Vera, mas quais são mesmo os princípios ativos que a fazem ter tantos benefícios?</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><!--more--></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Ou para proteger contra o envelhecimento, prevenindo o aparecimento, de rugas e manchas nas mãos;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Ajudar no tratamento dos problemas como a psoriase, eczemas, queimaduras, herpes, entre outros;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Acelerar a cicatrização.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Mais energia e sistema imunitário reforçado</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Mas as boas notícias não ficam por aqui! Graças à biodisponibilidade dos seus fitonutrientes, entre eles os antioxidantes, o nosso organismo ganha um aliado na eliminação das toxinas que inalamos e que ingerimos através dos alimentos.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Em alguns países, como é o caso do Brasil, as bebidas com Aloé Vera surgiram, já há algum tempo, como um complemento saudável à alimentação e uma bebida tonificante para todos os que se preocupam com a saúde.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Estas bebidas, aumentam a hidratação do corpo, reforçam as defesas naturais do organismo, aumentam a vitalidade e a energia para as tarefas diárias. As propriedades naturais existentes no gel, extraído das suas folhas pontiagudas, guardam uma riqueza nutritiva sem igual, ajudando o organismo a restabelecer-se e a resistir melhor às doenças e infecções.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Mas quais os segredos do aloé vera?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">É rico em potássio, que estimula o fígado e os rins, principais órgãos de desintoxicação;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Tem grande porção de cálcio, importante para o bom funcionamento do sistema nervoso e para a acção muscular;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">É uma fonte de ferro, que leva o oxigénio ao sangue e aumenta a resistência a infecções;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Aporta enzimas em grande quantidade, que actuam ao nível do sistema digestivo, convertendo as proteínas em aminoácidos, os hidratos de carbono em glicose e as gorduras em ácidos gordos;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Inclui vitamina A, B1, B2, B6, B12, C e E, ácido fólico e niacina (vitamina B3) que fortalecem o sistema imunitário, defendendo o organismo contra os radicais livres responsáveis pelo envelhecimento precoce;<br />
tem aminoácidos essenciais que o organismo não consegue produzir, mas que são fundamentais para as funções cerebrais.</span></p>
<h2 style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">10 razões para consumir aloé vera</span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Quase que podemos perguntar, o que é que o Aloé Vera não tem! Esta planta da família Aloaceae, tem um forte parentesco com as plantas da família Lily (Liliaceae), ou seja, o alho, a cebola e os espargos, ambos também com reconhecidas propriedades medicinais. Há muito que se conhece a riqueza nutricional e os benefícios para a saúde desta planta de folhas compridas e pontiagudas.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Resta agora conhecer as razões para consumi-la com regularidade em sumos, chá ou bolachas:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>1 –</strong> <em>Contribui para a saúde e higiene da sua boca;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>2 –</strong> <em>Aumenta as defesas do organismo de uma forma natural;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>3 –</strong> <em>Ajuda a regular o peso e os níveis de energia, pois auxilia a libertação de toxinas;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>4 –</strong> <em>Ajuda a digestão, auxiliando a absorção dos nutrientes ingeridos, através da absorção pela corrente sanguínea;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>5 –</strong> <em>Potencia a manutenção e elasticidade da pele e os níveis saudáveis de colagénio;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>6 –</strong> <em>Contribuição para a ingestão da dose diária recomendada de sais minerais (cálcio, sódio, ferro, potássio, magnésio, crómio, manganésio…);</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>7 –</strong> <em>A polpa da Aloé Vera também potencia a ingestão de vitaminas A, B1, B2, B6, B12, C e E, bem como ácido fólico e niacina (vitamina B3);</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>8 –</strong><em> As propriedades anti-inflamatórias actuam reduzindo a inflamação sem potenciar efeitos secundários;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>9 –</strong> <em>O consumo diário de Aloé Vera permite a ingestão de aminoácidos, essenciais ao bom funcionamento do organismo;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>10 –</strong></span><em><span style="color:#000000;"> Ajuda a atenuar o ardor e acelera a cicatrização da pele em caso de queimaduras.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Conheça mais sobre esta maravilhosa planta e sobre a melhor oportunidade através do site: <a href="http://www.foreverliving.com.br/distribuidor/597/jef.tex/" target="_blank">http://www.foreverliving.com.br/distribuidor/597/jef.tex/</a></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong><span style="color:#000000;">fonte:</span> </strong> <span style="color:#ff0000;"><a href="http://romanegocios.wordpress.com" target="_blank">Romanegocios</a></span><strong><br />
</strong></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gelul cu aloe vera]]></title>
<link>http://cristinapericle.wordpress.com/2009/09/15/gelul-aloe-vera/</link>
<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 12:03:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Cristina</dc:creator>
<guid>http://cristinapericle.wordpress.com/2009/09/15/gelul-aloe-vera/</guid>
<description><![CDATA[Later update: cineva azi, mi-a sugerat ca nu conteaza cate e-uri au cremele. Trebuie sa va spun ca a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Later update: cineva azi, mi-a sugerat ca nu conteaza cate e-uri au cremele. Trebuie sa va spun ca a]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berbuka bersama anak-anak para PSK &amp; Mucikari]]></title>
<link>http://sintayudisia.wordpress.com/2009/09/11/berbuka-bersama-anak-anak-para-psk-mucikari/</link>
<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 03:39:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>sintayudisia</dc:creator>
<guid>http://sintayudisia.wordpress.com/2009/09/11/berbuka-bersama-anak-anak-para-psk-mucikari/</guid>
<description><![CDATA[          Mata anakku, Inayah, 2  SMP basah memandang foto-foto oleh-olehku dari Dolly. Jajaran waja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> <img class="alignnone size-full wp-image-590" title="DSC03508" src="http://sintayudisia.wordpress.com/files/2009/09/dsc03508.jpg" alt="DSC03508" width="450" height="337" />   <img class="alignnone size-thumbnail wp-image-591" title="DSC03517" src="http://sintayudisia.wordpress.com/files/2009/09/dsc03517.jpg?w=150" alt="DSC03517" width="150" height="112" />   <img class="alignnone size-thumbnail wp-image-592" title="DSC03525" src="http://sintayudisia.wordpress.com/files/2009/09/dsc03525.jpg?w=150" alt="DSC03525" width="150" height="112" />   <img class="alignnone size-thumbnail wp-image-593" title="DSC03541" src="http://sintayudisia.wordpress.com/files/2009/09/dsc03541.jpg?w=150" alt="DSC03541" width="150" height="112" /></p>
<p>Mata anakku, Inayah, 2  SMP basah memandang foto-foto oleh-olehku dari Dolly. Jajaran wajah lucu menggemaskan dengan latar belakang rumah-rumah wisma yang di hari-hari bisa dipenuhi pekerka seks komersial (PSK). PSK yang memiliki hubungan darah dengan mereka : ibu, kakak, atau bibi. Atau juga orangtua mereka justru yang penyedia wisma alias induk semang atau mucikari.</p>
<p>Sebetulnya aku tidak menyambangi Girilaya dengan gang Dolly-nya yang terkenal. Banyak sekali gang di daerah Jarak yang menyediakan sarana kenikmatan. Salah satu yang kami kunjungi adalah Putat Jaya 2 A, daerah yang terkenal dengan beraneka ragam Wisma Kenikmatan. Tetapi daerah di sekitar Jarak memang lebih akrab disebut Dolly.</p>
<p>            Sejak di depan gang Putat Jaya 2 A, telah ditandai dengan larangan : TUTUP.</p>
<p>            Di gang itu banyak bertebaran neon box bertuliskan : Dilarang masuk bagi pengemis, pemulung, anjal dan banci.</p>
<p>            Sepanjang gang tersebut yang terdiri kurang lebih 50 rumah, mungkin sekitar 10 rumah yang bukan Wisma Kenikmatan. Di tiap jendela lebar seperti akuarium dan pintu tertulis larangan di atas kertas secara rapi ; TUTUP. Sekalipun duduk-duduk di depan gang wanita-wanita berbusana ketat dengan paha mulus terbuka.</p>
<p>            Disanalah aku mengenal Oka, Dimas, Riki, Degrit, Nanda, Angga, Riska, Ayu, Dwi, Oka, Dharma, Della, Nane, Catur, Guntur, Febri, Nadya dan masih banyak lagi.</p>
<p>            Anak-anak cantik.</p>
<p>            Anak-anak tampan.</p>
<p>            Anak yang molek.</p>
<p>            Anak siapa mereka?</p>
<p>            “Ayo, siapa nama nabi kalian?</p>
<p>            “Allaaaaah….”</p>
<p>            “Siapa nama malaikat?”</p>
<p>            “Rasuuuul…”</p>
<p>            “Sholat Shubuh ada berapa rokaat?”</p>
<p>            “Lima rokaat!”</p>
<p>            Jika anak TK yang menjawab, kita akan maklum.</p>
<p>            Tapi usia mereka sebagian kelas 6, kelas 5. Hanya beberapa yang masih balita. Jangankan mengenal syariat Islam seperti tuntunan sholat dan puasa. Mereka bahkan tak mengenal siapa Tuhan dan Nabi mereka sendiri. Kemana saja orangtua kalian, Nak?</p>
<p>            Kadang anak-anak itu tak terkendali. Kadang mereka begitu liar. Tetapi sekali waktu wajah mereka demikian lapar, haus, kering, ketika kami mengajarkan surat al Fatihah dan doa mau makan.</p>
<p>            Pak Kartono aktivis taman bacaan Kawan Kami banyak bercerita tentang kondisi Putat Jaya 2A.</p>
<p>            “Di sini memang berbeda dengan Dolly sana, Mbak,” paparnya. Dolly lebih ditekankan pada kawasan bisnis dengan sistem layanan perjam, minimal 80 ribu tiap 1,5 jam. Dolly juga termasuk kawasan bisnis elit sementara yang masuk gang seperti Putat Jaya 2 A termasuk hanya kelas menengah. “Semalam ada yang tipnya sampai 1 juta, karena memang cantik sekali.”</p>
<p>            Putat Jaya tidak ditekankan sistem perjam tetapi layanan sepuasnya.</p>
<p>            Bayanganku tentang kamar-kamar seperti hotel lenyap seketika.</p>
<p>            Putat Jaya (Puja) lebih mirip rusun (rumah susun) Penjaringan atau Wonorejo. Rumahnya kecil dengan ukuran 5 x 10 . Kamar-kamarnya juga kecil dengan pintu yang tidak selalu bisa terkunci rapat. Yang kupikirkan adalah bagaimaa puluhan anak-anak yang lalu lalang di situ menangkap pemandangan para ibu mereka berkasih-kasihan dengan pasangan bergonta ganti?</p>
<p>            ”Wah, itu sudah biasa, Mbak,” ungkap pak Kartono. ”Mereka sering melihat ibu mereka hanya pakai handuk sedang melayani tamu.”</p>
<p>            Aku menelan ludah, kering.</p>
<p>            Padahal beberapa waktu lalu kubaca bahwa pornografi merusak salah satu pusat keseimbangan di otak secara hormonal. Pantas saja anak-anak itu kadangkala begitu liar seperti hewan buruan.</p>
<p>            Persoalan pelacuran bagaikan benang ruwet, tumpang tindih, saling silang, berkelindan jalin menjalin , tiada tahu ujung pangkalnya. Debat panjang siapa yang harus mengentaskan : para ulama, pemerintah, LSM, aktivis, PSK atau mucikari itu sendiri; menjadi perdebatan panjang. Aku sendiri mendapatkan tanggapan pro dan kontra tentang keinginanku berkecimpung di Dolly.</p>
<p>            ”Percuma, menghabiskan tenaga.”</p>
<p>            ”Yang paling bertanggung jawab pemerintah.”</p>
<p>            ”Dasar perempuannya aja yang sudah gatel, keenakan. Nggak bakal mau kerja baik-baik karena sudah biasa dapat uang banyak.”</p>
<p>            Silang pendapat ini  kadang membuatku pepat, sedih, marah, kecewa. Entah pada siapa, mungkin pada diriku sendiri. Aku marah karena aku tidak bisa berbuat apa-apa juga. Yang lebih kupikirkan bukan para PSK tetapi anak-anak mereka. Memang itu ulah ibu mereka yang nista dengan lelaki yang aib pula, tetapi anak-anak itu tidak bersalah kan? Kita tidak menganut dosa turunan tetapi lingkungan yang diwariskan, memang iya.</p>
<p>            Aku senang bertemu pak Kartono.</p>
<p>            ”Saya melakukan apa yang saya bisa, Mbak.”</p>
<p>            Ia mengontrak 3 kamar di Puja, satu buat kamar tidur dan dua buat rumah baca Kawan Kami. Ia juga bergabung di Plan dan Indonesian ACTS (<em>Against Child Trafficking</em>). Selain mengumpulkan anak-anak, ia juga menjaring para remaja untuk ikut andil dalam Stop! Perdagangan Anak. Pak Kartono mengakui,  betapa sulitnya menutup Dolly tetapi ia berusaha semampu mungkin memutus rantai PSK.</p>
<p>            “Kalau ada yang masuk kemari nggak boleh di bawah umur lalu kami beri arahan untuk bekerja di bidang lain. Tapi kalau nggak mau ya bagaimana lagi,” akunya. Pak KArtono ingin Dolly suatu saat seperti Kramat Tunggak yang menjadi Islamic Centre.</p>
<p>            Ada satu cerita yang aneh, unik, menggeramkan dari pak Kartono yang membuat kita beristighfar dan mengambil hikmah. Sebanyak apapun PSK melayani lelaki, ternyata kebutuhan afeksi mereka kurang sehingga tetap saja punya pasangan atau pacar ‘peliharaan’. Ini memakan biaya besar.</p>
<p>            “Saya sering ajari ibu-ibu supaya mereka menabung  dan menyekolahkan anak-anak setinggi-tingginya. Saya nggak tau itu uang haram atau nggak ya Mbak, pokoknya saya bilang ‘<em>kalau kamu sudah susah seperti ini jangan sampai anakmu ikut susah</em>’. Soalnya, banyak Mbak, PSK yang malah punya pacar dan duitnya habis buat melihara si lelaki ini sehingga anak-anaknya terlantar.”</p>
<p>            Jadi begitulah kenapa seperti lingkaran setan yang makin lama makin menyempit tidak selesai-selesai. Cari uang waktu masih muda dan cantik, haus kesepian, cari lelaki (pastilah lelaki yang juga tidak berniat mengayomi), perlu banyak biaya untuk mengelola hubungan (mungkin perselingkuhan, atau juga di perempuan mengimingi harta karena haus kasih sayang), punya anak (kecelakaan atau memang keinginan), perlua keluar uang untuk memelihara kecantikan fisik, begitu seterusnya.</p>
<p>            “Kalau hanya keluar dari sini untuk jadi pembantu atau pelayan toko…wah, pasti balik lagi.”</p>
<p>            Agama. Syariat. Ketrampilan. Perlindungan hukum. Kesadaran. Semangat untuk berubah. Masyarakat yang kondusif. Lapangan Kerja. Betapa banyak PR kita.</p>
<p>            “Siapa sih yang paling banyak menyambangi PSK?” tanyaku ingin tahu.</p>
<p>            “Paling banyak lelaki yang punya masalah di rumah tangga,” kata pak Kartono.</p>
<p>            Hm, tambah lagi PR buat para wanita dan kaum ibu : jaga diri kalian baik-baik seutuhnya mencakup fisik, komunikasi, agama, keluarga. Up grade diri agar suami tidak berpaling!</p>
<p>            Kami bercerita tentang Masjid yang Bersedih (aku), Biola Tua (Aferu Fajar), Janji Cici (Citra Widuri). Kami berbagi minum, ta’jil kolak, nasi kotak dan bingkisan dari bu Diah Katarina (istri pak Bambang DH). Anak-anak itu berbaris usai sholat magrib yang berdesakan.</p>
<p>            “Bunda, kenapa kok anak laki-laki di depan sih?”</p>
<p>            Tidak tahukah kamu, Sayang, bahwa demikian shof orang sembahyang terutama di masjid?</p>
<p>            ”Siapa yang berpuasa?”</p>
<p>            Nyaris tak ada yang mengacungkan jadi.</p>
<p>            ”Siapa sholat tarawih?”</p>
<p>            Sepi.</p>
<p>            ”Siapa sholat 5 waktu?”</p>
<p>            Tak ada yang bereaksi.</p>
<p>            ”Siapa yang tadi pagi sholat Shubuh?”</p>
<p>            Beberapa orang ingin mengangkat tangan tapi ragu.</p>
<p>            Ketika magrib menjelang kami berbuka dengan tenggorokan kering, sakit, kehabisan suara. Dimas (entah anak siapa) mengumandangkan adzan dengan merdu. Mereka menatapku dengan mata bercahaya dan mulut tersenyum.</p>
<p>           </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>            “Bunda habis ini pulang?” tanya mereka.</p>
<p>            Aku mengiyakan.</p>
<p>            Wajah mereka sedih. Aku berpamitan. Aku menyalami para PSK dan mucikari juga orang-orang kampung sembari meminta maaf karena kami sudah menyebabkan banyak kegaduhan. Wajah mereka tentu saja menyimpan kehatian-hatian.</p>
<p>            Aku berjalan pulang meninggalkan gang Putat Jaya, meninggalkan dunia antah berantah yang jauuuuuh sekali dari kehidupanku yang normal, bahagia, bersama anak-anakku yang sehat &#38; lucu. Di ujung gang aku menyapa Nanda dan Risma.</p>
<p>            “Nanda, rumah kamu di mana?”</p>
<p>            Ia menunjuk sebuah rumah biru dengan kaca lebar jernih dengan lampu-lampu menyala. Ada tulisan Wisma. Ada juga tempelan berbunyi : TUTUP.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[101. Friday, September 4, 2009. JMae Graduates.]]></title>
<link>http://stoptimeproject.com/2009/09/04/101/</link>
<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 04:00:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>Claudette</dc:creator>
<guid>http://stoptimeproject.com/2009/09/04/101/</guid>
<description><![CDATA[Proud. BFFE. Queso. Lucy B. $100. Product. Thunder storm. Rain. Product. Party. FLP. Argue. Red Eyed]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/5qzRKnMPttc&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/5qzRKnMPttc&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p style="text-align:center;">Proud. BFFE. Queso. Lucy B. $100. Product. Thunder storm. Rain. Product. Party. FLP. Argue. Red Eyed Fly.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Si avvia al termine la campagna di criminalizzazione dei dipendenti pubblici da parte del Governo????]]></title>
<link>http://fiscab.wordpress.com/2009/08/27/si-avvia-al-termine-la-campagna-di-criminalizzazione-dei-dipendenti-pubblici-da-parte-del-governo/</link>
<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 16:14:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Antonio Conte</dc:creator>
<guid>http://fiscab.wordpress.com/2009/08/27/si-avvia-al-termine-la-campagna-di-criminalizzazione-dei-dipendenti-pubblici-da-parte-del-governo/</guid>
<description><![CDATA[Notizie dalla Segreteria Confederale FLP-CSE Dall’ultimo decreto legge arrivano segnali contrastanti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Notizie dalla Segreteria Confederale FLP-CSE</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dall’ultimo decreto legge arrivano segnali contrastanti: ripristinate le vecchie fasce di reperibilità sulla malattia e prorogate al triennio 2010-2012 le stabilizzazioni dei precari. Ma torna la norma sul licenziamento dopo 40 anni di contribuzione.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Non c’è che dire: questo governo, in tema di pubblico impiego riesce sempre a stupire, nel bene e nel male.<br />
Non si è infatti ancora spenta l’eco delle ultime dichiarazioni del Ministro Brunetta a stampa e Tv sulle assenze nella pubblica amministrazione che arrivano le misure contenute nel decreto legge, approvato venerdì scorso dal Consiglio dei Ministri e non ancora pubblicato in Gazzetta Ufficiale, che sembrano costituire una parziale marcia indietro rispetto alla continua criminalizzazione dei dipendenti pubblici intrapresa dal Ministro per la P.A. nell’ultimo anno e mezzo.
</p>
<p style="text-align:justify;">Infatti, <strong>forse accortosi dell’incostituzionalità di una norma che introduceva disparità di trattamento tra pubblico e privato, il governo abroga le fasce di reperibilità in caso di malattia dalle 8 alle 13 e dalle 14 alle 20</strong> <span style="color:#ff0000;"><strong>e le riporta alle precedenti 10-12 e 17-19</strong></span> e sancisce che le visite mediche fiscali devono essere pagate dalle ASL e non dalle amministrazioni richiedenti la visita fiscale; inoltre viene abrogato l’articolo 71, comma 5 della legge 133/2008, che sottraeva salario accessorio ai lavoratori che usufruissero di permessi retribuiti.</p>
<p style="text-align:justify;">Importante cambio di rotta anche a proposito della stabilizzazione dei precari che, con il nuovo decreto legge, è consentita per tutto il triennio 2010-2012. Anche qui il governo deve essersi reso conto che non è possibile in un momento di crisi economica chiedere ottimismo a imprenditori e lavoratori dipendenti e poi mandare a casa centinaia di migliaia di precari storici della pubblica amministrazione.<br />
Certo non tutti i segnali sono positivi perché ricompare la norma che prevede la possibilità per le pubbliche amministrazioni di mandare in pensione forzosamente i propri dipendenti al raggiungimento di 40 anni di contribuzione. In questo caso il governo ha dimostrato la propria scarsa sintonia con il parlamento che solo pochi mesi fa aveva corretto la norma contenuta nella Legge 133/2008 e previsto che il pensionamento potesse avvenire solo in caso di 40 anni di servizio effettivo.<br />
Comunque, segnali incoraggianti seppur contrastanti arrivano dal governo.<br />
Per capire però se la compagine governativa ha deciso di cambiare rotta definitivamente o meno bisognerà aspettare l’approvazione del famigerato decreto Brunetta che giace alle Camere in attesa dei pareri delle commissioni parlamentari e sul quale lo scorso 25 giugno FLP e CSE sono stati ricevuti in audizione dalla Commissione affari costituzionali del senato.<br />
Solo una domanda ci resta da fare: perché quando sono state introdotte certe norme, come la reperibilità di 11 ore al giorno in caso di malattia, lo si è fatto con le &#8220;fanfare&#8221;, tuonando contro i dipendenti pubblici assenteisti e fannulloni e oggi che fa marcia indietro il Ministro Brunetta non rilascia nemmeno una misera dichiarazioncina alla stampa????</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Filipa Pato - Vinhos de Autora]]></title>
<link>http://falandodevinhos.wordpress.com/2009/08/25/filipa-pato-vinhos-de-autora/</link>
<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 12:58:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>João Filipe Clemente</dc:creator>
<guid>http://falandodevinhos.wordpress.com/2009/08/25/filipa-pato-vinhos-de-autora/</guid>
<description><![CDATA[Nunca tinha estado frente a frente com Filipa Pato, mas muito já tinha ouvido falar. Sou consumidor ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Nunca tinha estado frente a frente com Filipa Pato, mas muito já tinha ouvido falar. Sou consumidor ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Foto-foto dari MUNAS FLP II di Solo, 14-16 Agustus 2009]]></title>
<link>http://sintayudisia.wordpress.com/2009/08/18/foto-foto-dari-munas-flp-ii-di-solo-14-16-agustus-2009/</link>
<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 01:59:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>sintayudisia</dc:creator>
<guid>http://sintayudisia.wordpress.com/2009/08/18/foto-foto-dari-munas-flp-ii-di-solo-14-16-agustus-2009/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignnone size-large wp-image-569" title="DSC03220" src="http://sintayudisia.wordpress.com/files/2009/08/dsc03220.jpg?w=1024" alt="DSC03220" width="1024" height="576" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jadi penulis itu menyenangkan]]></title>
<link>http://mastorry.wordpress.com/2009/08/11/jadi-penulis-itu-menyenangkan/</link>
<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 06:19:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>tutuko</dc:creator>
<guid>http://mastorry.wordpress.com/2009/08/11/jadi-penulis-itu-menyenangkan/</guid>
<description><![CDATA[Menulis adalah aktivitas menyenangkan. Dengan menulis, kita bisa mendapatkan 2 keuntungan yaitu pert]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Menulis adalah aktivitas menyenangkan. Dengan menulis, kita bisa mendapatkan 2 keuntungan yaitu pert]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Asyiknya Writing Camp &gt;_&lt; !]]></title>
<link>http://drizzletrouble.wordpress.com/2009/08/11/asyiknya-writing-camp-_/</link>
<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 01:43:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>Nisa</dc:creator>
<guid>http://drizzletrouble.wordpress.com/2009/08/11/asyiknya-writing-camp-_/</guid>
<description><![CDATA[* sekadar catatan perjalanan kecil Nisa.. * Alhamdulillah&#8230; Tanggal 25-26 Juli 2009 lalu, saya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[* sekadar catatan perjalanan kecil Nisa.. * Alhamdulillah&#8230; Tanggal 25-26 Juli 2009 lalu, saya ]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
