<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>formalin &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/formalin/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "formalin"</description>
	<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 06:34:09 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Teknologi - Pasar - Pendidikan]]></title>
<link>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2009/11/26/teknologi-pasar-pendidikan/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 08:11:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>rumahbelajaribnuabbas</dc:creator>
<guid>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2009/11/26/teknologi-pasar-pendidikan/</guid>
<description><![CDATA[Abu Khaulah Zainal Abidin Dahulu kala manusia harus berenang untuk menyeberangi hanya sebuah sungai.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;">Abu Khaulah Zainal Abidin</p>
<p style="text-align:justify;"><em> Dahulu kala manusia harus berenang untuk menyeberangi hanya sebuah sungai. Mereka harus -dan hanya bisa- berlari sekencang-kencangnya untuk tiba segera di tempat yang dituju. Bersusah payah melompat setinggi-tingginya hanya untuk meraih buah yang hendak dipetik. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Kini mereka mampu berlayar bahkan mengarungi samudra. Cukup memacu kendaraannya untuk tiba di tempat dalam sekejap. Terbang bahkan menembus awan dengan pesawat. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Semua itu karena manusia tak henti berupaya; <strong>mengatasi tantangan</strong>,  <strong>mempermudah cara</strong>, dan <strong>meningkatkan hasil</strong>. Berbagai ilmu mereka kembangkan, berbagai cara mereka lakukan, dan berbagai alat mereka ciptakan. Itulah teknologi.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> Teknologi</strong>…</p>
<p style="text-align:justify;">adalah yang juga hewan telah mengenalnya sejak awal, jauh sebelum istilah itu diciptakan. Hewan memanipulasi dirinya di dalam rangka menghadapi tantangan alam yang mengancam kehidupannya. Mereka berupaya mempermudah cara untuk melanjutkan kehidupannya,  bahkan bersiasat untuk meningkatkan hasil buruannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, teknologi bukan monopoli manusia,  apalagi harus identik dengan moderen. Ya, fitrah makhluq hidup -yang punya keinginan; mengatasi tantangan atau rintangan, mempermudah cara, dan  meningkatkan hasil atau kualitas hidup- itulah yang menjadi sebab mengapa teknologi ada,  sesederhana apapun bentuk dan cara kerjanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia berupaya mengatasi tantangan, sehingga  menjadi punya dari sebelumnya tak punya, menjadi bisa dari sebelumnya tak bisa. Setelah itu, manusia berupaya mempermudah berbagai cara, sehingga lebih mudah untuk punya, lebih mudah untuk bisa, serta lebih mudah meraih hasrat dan menyampaikan maksud,. Tidak cukup sampai di situ, kemudian manusia berupaya meningkatkan apa yang telah  dihasilkan atau diperolehnya, sehingga hidupnya menjadi lebih baik;  tidak sekedar punya…, tidak sekedar bisa….<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Dan ketika tahap <em>meningkatkan hasil</em> telah manusia lampaui, ia akan menemukan lagi<em> tantangan</em> baru yang harus <em>diatasi</em>, begitu seterusnya. Juga boleh jadi apa yang bagi seseorang sebagai <em>upaya meningkatkan hasil</em> ternyata bagi yang lain sebagai<em> upaya</em> <em>mengatasi tantangan</em>. Ya, karena dunia senantiasa berubah dan manusia berbeda di dalam kesempatan atau kemampuan. Akan tetapi prioritasnya tetap. Mengatasi tantangan, mempermudah cara, -terakhir-, meningkatkan hasil. Inilah yang logis dan berlaku di dalam segala urusan; makan, pakaian, tempat tinggal, pekerjaan, kesehatan, pendidikan, informasi, transportasi, telekomunikasi, dan….</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> Pasar…</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">adalah tempat bertemunya pembeli dengan penjual. Pasar hidup karena penawaran bertemu dengan permintaan.  Pasar hidup selagi pembeli dan penjual sama-sama untung.</p>
<p style="text-align:justify;">Persaingan adalah nafas pasar, sedangkan tawar-menawar denyut nadinya. Dan produk-produk teknologi -ketika masuk pasar- juga tidak luput darinya; persaingan dan tawar-menawar.  Tentu saja pada asalnya pembeli menginginkan  produk  yang:</p>
<ol>
<li>Paling Tinggi atau Besar Kemampuannya.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Teknologi yang paling tinggi / besar kemampuannya adalah jawaban untuk mengatasi tantangan, mempermudah cara, dan meningkatkan hasil. Setiap orang menginginkannya dan setiap penjualpun menjanjikannya. Di dalam perkara inilah produk teknologi pertama kali saling bersaing. Tetapi yang menikmati persaingan di tingkat ini hanya segelintir orang yang memang sudah mengerti produk dan sudah waktunya untuk menikmati. Selebihnya, hanya yang terbawa arus  menjadi korban peradaban.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Paling Mudah Mengoprasionalkannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Paling mudah menggunakannya, ringan, atau praktis menjadi alasan berikutnya. Dan para produsen -setelah sama unggul dalam hal kualitas-  berlomba di dalam hal ini. Yang rumit, berat, <em>lemot</em>, dan <em>ribet </em> akan dicampakkan dan tak akan laku di pasaran. Alasan pembeli di dalam perkara ini sangat logis.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Paling Murah Harganya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bahwa  lebih banyak  yang  memiliki kendala daya beli dari pada yang tidak itulah asal mula prinsip ini. Kalau bukan karena mantera para pedagang, manusia tak akan mabuk barang-barang mewah dan lupa dengan kemampuan daya belinya. Iklan dan promosi yang menyesatkan telah menyihir mereka sehingga tidak lagi berpikir &#8220;murah&#8221;, bahkan berpikir &#8220;pokoknya mahal&#8221;, karena yang mahal itu pasti bagus!</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi tetap saja yang terbanyak adalah para pecinta barang murah. Terbukti, banyak sekali yang gampang terpancing membeli barang &#8220;asal murah&#8221;, meski mereka belum terlalu -bahkan mungkin tidak- membutuhkannya.  Karena alasan &#8220;murah&#8221; pula lah terkadang pembeli menjadi tidak terlalu rewel terhadap masalah praktis-tidaknya barang.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Paling Aman atau Sedikit Efek Sampingannya</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berpikir tentang efek sampingan bukan monopoli karakter manusia &#8220;<em>posmo</em>&#8220;. Orang jaman <em>baheula</em> pun punya kearifan itu. Teknologi yang mereka ciptakan, mulai dari rumah sampai ke persenjataan,  menunjukkan hal itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya saja &#8220;moderenisasi&#8221; telah membius manusia menjadi tak lagi peka, Selama lebih dari satu abad manusia moderen sempat dibuat mati rasa oleh slogan &#8221; <em>stronger and faster</em>&#8220;. Sampai akhirnya ketika berbagai dampak mulai tampak, dan manusia berpikir, &#8220;<em>Ada</em><em> yang salah dengan moderenisasi selama ini</em>&#8220;, kesadaran dan kearifan itu pun pulih.</p>
<p style="text-align:justify;">Mulailah &#8220;<em>Back to nature</em>&#8220;. Dari makanan, pakaian, rumah, sampai ke teknologi kedokteran dan pengobatan. Orang mulai memilih minum obat-obat herbal sebelum memutuskan untuk ke dokter, mencoba dibekam dulu sebelum menyerahkan diri ke rumah sakit.</p>
<p style="text-align:justify;">Teknologi Ramah Lingkungan pun menjadi pilihan penting. Daun pisang kembali dilirik untuk mengambil alih fungsi Styrofoam sebagai pembungkus makanan, emisi otomotif mulai dipersoalkan, sampai ke alat tulis dan mainan anak-anak menjadi harus yang non-toxin.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi untuk kebanyakan orang kesadaran ini terlalu mewah dan dianggap mengada-ada, meski samar-samar mereka telah mendengar Borax, Formalin, atau Formaldehyde serta bahayanya.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Paling Bagus atau Indah Penampilannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Logisnya ini adalah pertimbangan yang terakhir setelah empat prinsip terdahulu. Tetapi kenyataannya malah ini yang sering mendominasi pertimbangan. Wajar saja, karena yang pertama kali dilihat orang adalah penampilan, karena kebanyakan manusia suka bermegah-megah, suka dilihat dan dipuji. Sifat semacam inilah yang dimanfaatkan para produsen dan pedagang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, kira-kira begitulah urutan logis -alasan masyarakat- memilih sebuah produk. Maka jika semua produk bersaing secara sehat, tentu yang laku adalah yang paling canggih, paling praktis, paling murah, paling aman, dan paling indah. Ini artinya kemenangan bagi pembeli.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi, pembeli tidak boleh jadi pemenang. Dan iklan, promosi, serta cara pembayaran telah menjadi perkara yang tidak bisa dipisahkan dari pasar, bahkan sangat menentukan, sehingga mampu mengubah-ubah urutan di atas sesuai dengan kemauan penjual.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasar memang -dan selalu- berpihak kepada pembeli, dan pembeli adalah &#8220;raja&#8221; bagi mereka. Hanya sayang, &#8220;raja&#8221; ini sering tak berdaya menghadapi kepandirannya sendiri dan kecerdikan (baca: kelicikan) para &#8220;pelayannya&#8221;, pedagang. Gempuran bertubi-tubi iklan yang memikat dan menyilaukan, bujuk rayu promosi yang menggiurkan -mulai dari diskon, hadiah, sampai ke <em>layanan purna jual</em>-, ditambah lagi dengan kemudahan pembayaran lewat cara-cara angsuran telah membuat &#8220;raja&#8221; tak lagi mampu berpikir logis dan murni berpihak kepada kebutuhannya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih dari itu, para pelayan (baca: pedagang) -yang kelihatannya berseteru dan saling bersaing- ini ternyata punya kepentingan bersama; memaksa &#8220;raja&#8221; melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya. Mereka menjadikan iklan bukan lagi semata alat untuk membuat produk jadi terkenal. Lebih dari itu, mereka menjadikannya alat untuk mempengaruhi sistim nilai sang &#8220;raja&#8221; dan mengarahkannya kepada gaya hidup tertentu. Maka jadilah &#8220;raja&#8221; -yang tertawan ini- ibarat pemabuk yang keburu <em>teler</em> sebelum minum. Meski jasadnya masih di tahap &#8220;<em>mengatasi tantangan</em>&#8220;, namun jiwanya sudah jauh melayang ke tahap &#8220;<em>meningkatkan hasil&#8221;.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, kualitas, <em>brand image, </em>dan alasan gaya hidup telah membuat &#8220;raja&#8221; meremehkan harga dan skala prioritas. &#8220;<em>Murah dan Praktis</em>&#8221; membuat &#8220;raja&#8221; tak mempedulikan faktor keamanan atau efek sampingan, juga  telah menyihirnya membeli produk yang belum tentu ia butuhkan. Dan sebodoh-bodoh &#8220;raja&#8221; adalah yang tertipu oleh kemasan. Ya, di dalam budaya pasar semacam inilah kita dibesarkan dan dibiasakan.</p>
<p><strong> Pendidikan…</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">adalah upaya menjadikan yang dididik bisa berprilaku sesuai dengan harapan terbaik dan cita-cita termulia. Karenanya, pendidikan selalu punya harapan dan keyakinan, bahwa setelah melalui proses pendidikan seseorang akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lewat pendidikan manusia berharap bisa mengatasi tantangan, mempermudah, dan meningkatkan kualitas hidupnya. Untuk itu, berbagai ilmu tentangnya dikembangkan, berbagai cara dilakukan, dan berbagai alat diciptakan. Maka lahirlah teknologi pendidikan (-walaupun lebih tepat kalau saya katakan teknologi pengajaran-).</p>
<p style="text-align:justify;">Jadilah kemudian; gedung, kelas, jejeran bangku menghadap papan tulis, termasuk taman bermain dengan ayunan berwarna-warni, juga pakaian seragam. Diadakanlah kemudian sekolah, kursus, seminar, atau pelatihan-pelatihan. Disusunlah kurikulum, dicetaklah buku-buku pegangan, disiapkan alat peraga dan laboraturium, diciptakan berbagai metode pembelajaran, serta dibuat alat pengukur hasil belajarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ketika teknologi pendidikan ini -dalam bentuk perangkat keras dan lunaknya- ditawarkan (baca: dipasarkan) , ia berhadapan dengan harapan-harapan masyarakat -yang sama seperti harapan mereka terhadap produk-produk teknologi lainnya- selama ini: yang paling berkualitas, paling murah, paling mudah, paling aman, dan paling cantik.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan lagi-lagi budaya pasar ikut bermain. Bukan pedagang namanya kalau tak punya jurus menaklukkan pembeli. Mulai dari brosur serta pamplet bergambar gedung megah dan suasana belajar yang menyenangkan, bermacam-macam pelayanan, sampai ke janji-janji prestasi dan kemudahan mencari lapangan kerja selepas masa belajar menjadi bagian dari promosi pendidikan. Dan sebagaimana slogan &#8220;<em>Kesehatan itu Mahal</em>&#8221; telah dijadikan pembenaran filosofis mahalnya berobat, &#8220;<em>Pendidikan Itu Mahal</em>&#8221; juga dijadikan pembenaran filosofis ; pendidikan adalah komoditi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, sekarang giliran orang tua murid menjadi &#8220;raja&#8221;.  Dibujuk untuk melompat jauh dari tahap &#8220;<em>mengatasi tantangan</em>&#8221; langsung ke tahap &#8220;<em>meningkatkan hasil</em>&#8220;, padahal belum waktunya. Terhuyung-huyung menapakkan langkahnya di bumi yang baru. Terbius oleh slogan-slogan atau <em>brand image</em> yang membuatnya tak punya pilihan selain menerima gaya hidup yang ditawarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong> Tanggung Jawab Para Pendidik…</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">dewasa ini bukan hanya mempersiapkan generasi terpelajar. Para pendidik juga bertanggung jawab membebaskan &#8220;raja&#8221; dari tawanan para pelayannya (pedagang), bukan malah ikut-ikutan menggiring &#8220;raja&#8221; masuk ke dalam budaya pasar. Mereka bertanggung jawab; mengajak &#8220;raja&#8221; kembali menapaki buminya sendiri, memulihkan kesadaran dan rasa percaya dirinya, mengajarinya kembali cara melihat skala prioritas -sebagaimana fitrah telah mengajarinya- agar bisa mengambil keputusan sesuai dengan kebutuhan dan hati nuraninya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya budaya pasar ini telah menelan banyak korban; terfitnahnya ketulusan belajar-mengajar, pengharapan yang berlebihan kepada lembaga pendidikan, dan   -yang terparah-  berapa banyak cita-cita telah ditenggelamkan dan bakat-bakat telah dibunuh olehnya. Maka membebaskan pendidikan dari budaya pasar bukan semata bertujuan menghindari komersialisasi pendidikan.  Lebih penting dari itu, membangun budaya tulus di dalam belajar-mengajar, menghilangkan ketergantungan kepada lembaga pendidikan, serta menyelamatkan bakat dan cita-cita generasi masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, ini adalah tanggung jawab para pendidik. Dan tentu saja masih banyak orang-orang tulus, yang tidak berniat sama sekali menjadikan pendidikan sebagai komoditi. Namun kebanyakan mereka terikat secara sistim, bahkan terbelenggu secara struktural. Apalagi terbukti bahwa tidak ada satupun model lembaga pendidikan dewasa ini yang aman dari sergapan budaya pasar; tidak sekolah, tidak pesantren, tidak juga <em>home schooling</em>, apalagi sekedar lembaga kursus. Karenanya para pendidik juga harus pandai-pandai menjaga jarak dari perangkap pasar. Ya, jika kurang waspada dan tak menjaga jarak, tidak mustahil setiap usaha mulia ini (pendidikan) akan ditangkap oleh para &#8220;<em>Impresario</em>&#8221; untuk kemudian disulap jadi peluang bisnis.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ “BORAKS DAN FORMALIN PADA MAKANAN”]]></title>
<link>http://uwityangyoyo.wordpress.com/2009/10/09/%e2%80%9cboraks-dan-formalin-pada-makanan%e2%80%9d/</link>
<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 22:32:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>uwityangyoyo</dc:creator>
<guid>http://uwityangyoyo.wordpress.com/2009/10/09/%e2%80%9cboraks-dan-formalin-pada-makanan%e2%80%9d/</guid>
<description><![CDATA[AAN KURNAIN PUTRA ABSTRAKSI Karya tulis ini menjelaskan tentang bagaimana sekarang ini banyak kejadi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">AAN KURNAIN PUTRA</span></strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong>ABSTRAKSI</strong></p>
<p>Karya tulis ini menjelaskan tentang bagaimana sekarang ini banyak kejadian penggunaan boraks dan formalin sebagai bahan pengawet makanan. Di mana kedua bahan tersebut sangat dilarang digunakan sebagai bahan baku makanan. Dan jika penggunaannya terus dilakukan dan dikonsumsi dapat menyebabkan berbagai penyakit terutama kanker dan bahkan kematian untuk tingkat yang lebih lanjut. Hal ini telah menjadi hal yang cukup serius dan menjadi suatu masalah yang berusaha diselesaikan dengan baik oleh berbagai pihak terutama pemerintah.<br />
Sebagai pusat utama kelangsungan negara, pemerintah harus dapat dengan bijak memutuskan dan bertindak bagaimana penanganan kasus tersebut. Terutama kasus pada pembuatan bakso dengan bahan pengawet boraks dan berbagai makanan seperti ikan asin serta tahu yang diawetkan dengan menggunakan formalin. Berbagai solusi kami tuliskan di sini. Tetapi solusi tersebut tidaklah semuanya dapat dijalankan dengan hasil yang cepat dan ada kemungkinan banyak faktor yang menyebabkan penyelesaian masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Karena masalah ini harus kembali lagi kepada masyarakatnya yang terlibat langsung.<!--more--></p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Pada bab I ini akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian, hipotesa dan manfaat.</p>
<p><strong>1.1 Latar Belakang Masalah</strong></p>
<p>Sekarang ini banyak sekali bahan kimia dan berbagai campuran-campuran lain dibuat dan diciptakan untuk membuat pekerjaan manusia dalam membuat makanan lebih efektif dan efisien. Tetapi di samping untuk makanan dibuat juga bahan kimia untuk pembuatan kebutuhan lain. Di mana bahan kimia tersebut tidak boleh dipergunakan dalam pembuatan makanan dan dapat berakibat fatal.<br />
Hal ini sangat penting dan juga memprihatinkan. Fenomena ini merupakan salah satu masalah dan kebobrokan bangsa yang harus diperbaiki. Janganlah sampai membiarkan hal ini terus berlarut dan akhirnya akibat menumpuk di masa depan. Oleh karena itu, kami berusaha merangkum sedemikian rupa dan mencoba membedah apa saja yang seharusnya dilakukan dan mengapa hal ini menjadi hal yang sangat penting.<br />
<strong>1.2 Pembatasan Masalah</strong></p>
<p>Boraks adalah bahan kimia yang digunakan sebagai pengawet kayu, antiseptik kayu dan pengontrol kecoa. Sedangkan formalin adalah bahan kimia yang digunakan sebagai desinfektan, pembasmi serangga dan dalam industri tekstil serta kayu lapis.<br />
Kedua bahan kimia tersebut memang berguna jika digunakan sesuai fungsinya, tetapi menjadi sangat berbahaya bila digunakan dalam pembuatan pangan. Di mana pangan itu merupakan segala sesuatu yang menjadi bahan makanan manusia. Dan akibat dari penggunaan bahan-bahan kimia tersebut bisa jadi sangatlah fatal, dari kanker hingga menyebabkan kematian.</p>
<p>Dalam karya tulis ini kami akan berusaha membahas pendeskripsian sedetail mungkin dari boraks dan formalin itu sendiri serta bagaimana kedua bahan kimia tersebut dapat digunakan sebagai salah satu bahan baku pembuatan pangan. Begitu pula dengan berbagai akibat dari penggunaan boraks dan formalin pada pangan tersebut serta bagaimana solusi yang harus dilakukan demi membasmi hal ini dan mencegah terjadi lagi.<br />
<strong>1.3 Perumusan Masalah</strong></p>
<ol>
<li>Apa faktor yang mendorong pihak-pihak tertentu untuk menggunakan boraks atau formalin pada pangan yang diproduksinya?</li>
<li>Jenis pangan apa saja yang menjadi sasaran penggunaan boraks atau formalin pada proses pembuatannya?</li>
<li>Bagaimana mengetahui suatu pangan dibuat dengan bahan pengawet dari boraks atau formalin?</li>
<li>Apa akibat dari penggunaan boraks atau formalin pada produk pangan?</li>
<li>Bagaimana penanganan penggunaan boraks dan formalin pada produk pangan ini supaya dapat dibasmi secara tuntas?</li>
</ol>
<p> </p>
<p><strong>1.4 Tujuan Penulisan</strong></p>
<p><strong>Mengetahui pengertian boraks dan formalin.</strong></p>
<p>Mengetahui jenis-jenis pangan yang menjadi sasaran penggunaan boraks dan formalin pada proses pembuatannya. Mengetahui dampak negatif dari penggunaan boraks dan formalin pada produk pangan.</p>
<p>Mengetahui peranan pemerintah dalam memberantas penggunaan formalin dan boraks pada makanan.<br />
<strong>1.5 Metode Penulisan</strong></p>
<p>Pada penulisan karya tulis ini kami menggunakan satu metode, yaitu dengan angket. Di mana angket akan kami sebarkan dengan jumlah 40 lembar. Di mana angket itu berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai boraks dan formalin pada makanan mengacu pada tujuan yang telah ada.<br />
<strong>1.6 Hipotesa</strong></p>
<ol>
<li>Boraks dan formalin merupakan bahan pengawet yang umumnya digunakan untuk industri tekstil, kayu, dsb. Dapat juga digunakan sebagai pembasmi serangga dan hal-hal lain yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan makanan.</li>
<li>Jenis pangan yang menjadi sasaran penggunaan boraks atau formalin pada proses pembuatannya adalah tahu, tempe, bakso dan ikan asin.</li>
<li>Akibat dari penggunaan boraks atau formalin pada produk pangan adalah berbagai gangguan pada saluran pencernaan, hati, saraf, otak, serta pada organ-organ yang berselaput yang terkena secara langsung. Dan bila terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan kanker bahkan kematian.</li>
<li>Sebenarnya pemerintah telah berperan dalam pemberantasan penggunaan boraks dan formalin pada produk makanan. Tetapi tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah kurang tegas dan tidak tepat mengenai sasaran. Sehingga hingga sekarang kita masih sering melihat orang-orang yang keracunan atau terkena penyakit lainnya, disebabkan memakan makanan yang mengandung boraks atau formalin.</li>
</ol>
<p><strong>1.7 Manfaat</strong></p>
<p>Dapat mengetahui cirri-ciri makanan dengan bahan baku boraks atau formalin sebagai pengawet sehingga dapat menghindarinya.</p>
<p>Dapat menghindari secara langsung penggunaan boraks dan formalik pada produk pangan. Dapat menambah wawasan dengan mengetahui dampak yang diakibatkan dari penggunaan boraks dan formalin pada produk pangan.<br />
Dapat membantu pencegahan dan pemberantasan penggunaan boraks dan formalin dengan berbagai solusi yang telah dipikirkan.</p>
<p><strong>LANDASAN TEORI</strong></p>
<p>Boraks merupakan garam natrium yang banyak digunakan di berbagai industri nonpangan, khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Boraks biasa berupa serbuk kristal putih, tidak berbau, mudah larut dalam air, tetapi boraks tidak dapat larut dalam alkohol. Boraks biasa digunakan sebagai pengawet dan antiseptic kayu. Daya pengawet yang kuat dari boraks berasal dari kandungan asam borat didalamnya.</p>
<p>Asam borat sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika. Misalnya, larutan asam borat dalam air digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung, dan salep luka kecil. Namun, bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada luka luas, karena beracun ketika terserap masuk dalam tubuh. Berikut beberapa pengaruh boraks pada kesehatan.<br />
<strong>a. Tanda dan gejala akut :</strong></p>
<p>Muntah-muntah, diare, konvulsi dan depresi SSP (Susunan Syaraf Pusat)<br />
<strong>b. Tanda dan gejala kronis</strong></p>
<p>-         Nafsu makan menurun</p>
<p>-         Gangguan pencernaan</p>
<p>-         Gangguan SSP : bingung dan bodoh</p>
<p>-         Anemia, rambut rontok dan kanker.</p>
<p>Sedangkan formalin merupakan cairan tidak berwarna yang digunakan sebagai desinfektan, pembasmi serangga, dan pengawet yang digunakan dalam industri tekstil dan kayu. Formalin memiliki bau yang sangat menyengat, dan mudah larut dalam air maupun alkohol. Beberapa pengaruh formalin terhadap kesehatan adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Jika terhirup akan menyebabkan rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan , sukar bernafas, nafas pendek, sakit kepala, dan dapat menyebabkan kanker paru-paru.</li>
<li>Jika terkena kulit akan menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal, dan kulit terbakar</li>
<li>Jika terkena mata akan menyebabkan mata memerah, gatal, berair, kerusakan mata, pandangan kabur, bahkan kebutaan</li>
<li>Jika tertelan akan menyebabkan mual, muntah-muntah, perut terasa perih, diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit membiru, hilangnya pandangan, kejang, bahkan koma dan kematian.</li>
</ol>
<p>Boraks dan formalin akan berguna dengan positif bila memang digunakan sesuai dengan seharusnya, tetapi kedua bahan itu tidak boleh dijadikan sebagai pengawet makanan karena bahan-bahan tersebut sangat berbahaya, seperti telah diuraikan diatas pengaruhnya terhadap kesehatan. Walaupun begitu, karena ingin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, banyak produsen makanan yang tetap menggunakan kedua bahan ini dan tidak memperhitungkan bahayanya. Pada umumnya, alasan para produsen menggunakan formalin dan boraks sebagai bahan pengawet makanan adalah karena kedua bahan ini mudah digunakan dan mudah didapat, karena harga nya relatif murah dibanding bahan pengawet lain yang tidak berpengaruh buruk pada kesehatan. Selain itu, boraks dan formalin merupakan senyawa yang bisa memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus, misalnya bakso dan kerupuk. Beberapa contoh makanan yang dalam pembuatannya sering menggunakan boraks dan formalin adalah bakso, kerupuk, ikan, tahu, mie, dan juga daging ayam.</p>
<p>Formalin dan boraks merupakan bahan tambahan yang sangat berbahaya bagi manusia karena merupakan racun. Bila terkonsumsi dalam konsentrasi tinggi racunnya akan mempengaruhi kerja syaraf. Secara awam kita tidak dapat mengetahui seberapa besar kadar konsentrat formalin dan boraks yang digunakan dalam suatu makanan. Oleh karena itu lebih baik hindari makanan yang mengandung formalin dan boraks. Berikut adalah beberapa cara mengidentifikasi makanan yang menggunakan formalin dan boraks.</p>
<p>-         Bakso yang menggunakan boraks memiliki kekenyalan khas yang berbeda dari kekenyalan bakso yang menggunakan banyak daging.</p>
<p>-         Kerupuk yang mengandung boraks kalau digoreng akan mengembang dan empuk, teksturnya bagus dan renyah.</p>
<p>-         Ikan basah yang tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar, insang berwarna merah tua dan tidak cemerlang, dan memiliki bau menyengat khas formalin.</p>
<p>-         Tahu yang berbentuk bagus, kenyal, tidak mudah hancur, awet hingga lebih dari<br />
3 hari, bahkan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es, dan berbau menyengat khas formalin.</p>
<p>-         Mie basah biasanya lebih awet sampai 2 hari pada suhu kamar (25 derajat celcius), berbau menyengat, kenyal, tidak lengket dan agak mengkilap.</p>
<p><strong>METODE PENELITIAN</strong></p>
<p>Pada bab 3 ini akan dijelaskan mengenai jenis penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data dan teknik analisa data.</p>
<p><strong>3.1 Jenis Penelitian</strong></p>
<p>Jenis penelitian yang kami gunakan adalah penelitian korelatif. Yang di maksud dengan penelitian korelatif adalah penelitian yang menghubungkan data-data yang ada. Sesuai dengan pengertian tersebut kami menghubungkan data-data yang kami dapat antara yang satu dengan yang lain. Selain itu kami juga menghubungkan data-data yang ada dengan landasan teori yang kami gunakan. Sehingga diharapkan penelitian kami bisa menjadi penelitian yang benar dan tepat.</p>
<p><strong>3.2 Sumber data</strong></p>
<p>Sumber data kami adalah beberapa siswa SMA Kanisius, yang kira-kira kami ambil sampel adalah 40 siswa.</p>
<p><strong>3.3 Teknik Pengumpulan Data</strong></p>
<p>Adapun teknik pengumpulan data yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah dengan angket. Dengan angket kami dapat menyimpulkan, melalui jumlah koresponden yang menjawab pertanyaan tertentu dan membandingkan jumlah koresponden yang menjawab dengan jawaban yang berbeda pada pertanyaan yang sama. Dan setiap dari pertanyaan itu akan saling berkaitan.</p>
<p><strong>3.4 Teknik Analisis Data</strong></p>
<p align="center">Cara kami dalam menganalisis data yang kami dapat yaitu dengan pertama-tama memastikan bahwa semua data dan landasan teori yang diperlukan telah diperoleh dengan baik. Lalu kami mulai menghitung jumlah data, setelah itu kami mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari tiap pertanyaan pada angket berdasarkan jumlah responden yang memilih. . Langkah berikutnya, sesuai dengan jenis penelitian kami, kami menghubungkan data-data yang satu dengan yang lain dan juga dengan landasan teori yang ada. Langkah terakhir, kami menuangkannya dalam karya tulis ini.</p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>PEMBAHASAN</strong><br />
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai apa itu boraks dan formalin, dampak penggunaan boraks dan formalin pada makanan dan jenis-jenis makanan yang mengandung boraks dan formalin yang kesemuanya itu dilengkapi dengan hasil angket sebelumnya.<br />
<strong>4.1 Pengetahuan akan Boraks dan Formalin</strong></p>
<p>Menurut hasil angket kami, didapatkan bahwa yang mengetahui secara pasti apa itu boraks dan formalin adalah 29 orang dan yang tidak mengetahui begitu pasti apa itu boraks dan formalin adalah 11 orang, dari total 40 angket yang dibagikan.<br />
Hal itu menunjukkan bahwa responden yang mengetahui secara persis apa itu boraks dan formalin lebih banyak daripada yang tidak mengetahui secara pasti. Jika dimasukkan dalam persen maka 72,5 % responden menyatakan mengetahui boraks dan formalin, sedangkan 27,5 % lainnya tidak begitu mengetahui tentang boraks dan formalin.</p>
<p>Hasil ini menunjukkan bahwa penyuluhan dan pengetahuan akan boraks dan formalin harus lebih sering disosialisasikan, agar diharapkan kita semua mengetahui secara pasti apa itu boraks dan formalin, sehingga dapat menggunakannya secara benar, sesuai dengan fungsinya. Maka diharapkan juga dengan pengetahuan akan boraks dan formalin tersebut, kasus penggunaan boraks dan formalin pada bahan makanan dapat dikurangi bahkan menghilang dari masyarakat.<br />
<strong>4.2 Dampak Penggunaan Boraks dan Formalin Pada Makanan</strong></p>
<p>Melalui hasil angket yang telah kami sebarkan sebelumnya, didapat hasil bahwa jumlah responden yang mengerti akan dampak angket hamper sama dengan responden yang tidak begitu tahu tentang dampak boraks dan formalin pada makanan. Adapun jumlah responden yang tahu dampak boraks dan formalin pada makanan adalah 18 orang dan yang tidak begitu tahu sebanyak 20 orang sedangkan yang sama sekali tidak tahu ada 2 orang. Jika dituangkan dalam presentasi adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Jawaban A : 45%</li>
<li>Jawaban B : 5%</li>
<li>Jawaban C :50%</li>
</ol>
<p>Dari hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar responden masih rancu atau bingung tentang apa dampak boraks dan formalin bagi tubuh tersebut.</p>
<p>Lalu apa sebenarnya dampak boraks dan formalin dalam makanan bila dikonsumsi tubuh kita?<br />
<strong>a. Formalin</strong></p>
<p>Formalin tidak boleh digunakan sebagai bahan pengawet untuk pangan. Akibatnya jika digunakan pada pangan dan dikonsumsi oleh manusia akan menyebabkan beberapa gejala diantaranya adalah tenggorokan terasa panas dan kanker yang pada akhirnya akan mempengaruhi organ tubuh lainnya,serta gejala lainnya.</p>
<p>Pengaruh Formalin Terhadap Kesehatan :</p>
<p>-         Jika terhirup</p>
<p>Rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan , sukar bernafas, nafas pendek, sakit kepala, kanker paru-paru.</p>
<p>-         Jika terkena kulit</p>
<p>Kemerahan, gatal, kulit terbakar</p>
<p>-         Jika terkena mata</p>
<p>Kemerahan, gatal, mata berair, kerusakan mata, pandangan kabur, kebutaan</p>
<p>-         Jika tertelan</p>
<p>Mual, muntah, perut perih, diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit membiru, hilangnya pandangan, kejang, koma dan kematian.</p>
<p><strong>b. Boraks</strong></p>
<p>Efek toksiknya akan terasa bila boraks dikonsumsi secara kumulatif dan penggunaannya berulang-ulang. Pengaruh terhadap kesehatan :</p>
<p>-         Tanda dan gejala akut :</p>
<p>Muntah, diare, merah dilendir, konvulsi dan depresi SSP (Susunan Syaraf Pusat)</p>
<p>-         Tanda dan gejala kronis</p>
<p>-         Nafsu makan menurun</p>
<p>-         Gangguan pencernaan</p>
<p>-         Gangguan SSP : bingung dan bodoh</p>
<p>-         Anemia, rambut rontok dan kanker.</p>
<p>Formalin dan boraks merupakan bahan tambahan yang sangat berbahaya bagi manusia karena merupakan racun. Bila terkonsumsi dalam konsentrasi tinggi racunnya akan mempengaruhi kerja syaraf. Secara awam kita tidak tahu seberapa besar kadar konsentrat formalin dan boraks yang dianggap membahayakan. Oleh karena ada baiknya kita hindari makanan yang mengandung formalin dan boraks. Jauhkan anak-anak dari makanan yang mengandung boraks dan formalin. Formalin dan boraks tidak boleh digunakan dalam makanan.</p>
<p><strong>4.3  </strong><strong>Makanan yang Biasanya Mengandung Formalin atau Borak</strong></p>
<p>Berdasarkan hasil penelitian melalui angket yang telah kami sebarkan, jumlah responden yang menganggap bahwa tahu dan bakso adalah makanan yang paling sering diberi formalin sebanyak 33 orang, sedangkan yang memilih ikan sebanyak 6 orang, dan 1 orang memilih kerupuk. Sedangkan menurut makanan-makanan yang biasa mengandung boraks dan formalin yang biasanya mereka konsumsi, jumlah responden yang memilih tahu dan bakso sebanyak 28 orang, 10 orang memilih ikan dan 2 orang memilih kerupuk.</p>
<p>Data ini menunjukkan bahwa kebanyakan siswa SMA Kanisius beranggapan bahwa tahu dan bakso merupakan makanan yang biasanya diberi formalin atau boraks. Tahu dan bakso memang cukup dikenal sering diberi formalin maupun boraks, namun bukan mereka makanan yang paling sering diberi formalin maupun boraks. Berdasarkan penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia tahun 2005, penggunaan boraks formalin pada ikan dan hasil laut menempati peringkat teratas. Yakni, 66 persen dari total 786 sampel. Sementara mi basah menempati posisi kedua dengan 57 persen. Tahu dan bakso berada di urutan berikutnya yakni 16 persen dan 15 persen. Dan dari pertanyaan nomor tiga pada angket ternyata responden banyak menjawab bahwa mereka paling sering mengkonsumsi tahu dan bakso. Padahal, menurut kebanyakan dari mereka tahu dan bakso adalah makanan yang biasanya mengandung boraks atau formalin. Mengapa mereka masih tetap sering mengonsumsinya meskipun menganggap bahwa tahu dan boraks yang paling sering mengandung formalin dan boraks? Mungkin hal ini disebabkan karena siswa SMA Kanisius percaya bahwa para pedagang di Kanisius pasti tidak memberikan formalin maupun boraks pada dagangannya, maka mereka tidak takut untuk mengonsumsinya.<br />
Namun tetap saja, boraks dan formalin sangatlah berbahaya bila termakan. Walaupun berdasarkan hasil penelitian Badan Pengawasan Obat dan Makanan Indonesia tahun 2005 penggunaan boraks dan formalin paling banyak adalah pada ikan dan hasil laut, namun jumlah 16 persen dan 15 persen tetap merupakan jumlah yang besar. Kita harus berhati-hati dalam memilih makanan yang akan kita makan, terutama makanan-makanan yang sedang marak diberi boraks maupun formalin.<br />
Oleh karena itu, di bawah ini kami paparkan mengenai ciri-ciri dari beberapa makanan yang diberi boraks maupun formalin:<br />
<strong>a. Mi basah</strong></p>
<p>Penggunaan formalin pada mi basah akan menyebabkan mi tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius). Baunya agak menyengat, bau formalin. Tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal. Penggunaan boraks pada pembuatan mi akan menghasilkan tekstur yang lebih kenyal.<br />
<strong>B. Tahu</strong></p>
<p>Tahu merupakan makanan yang banyak digemari masyarakat, karena rasa dan kandungan gizinya yang tinggi. Namun dibalik kelezatannya kita perlu waspada karena bisa saja tahu tersebut mengandung bahan berbahaya. Perhatikan secara cermat apabila menemukan tahu yang tidak mudah hancur atau lebih keras dan kenyal dari tahu biasa, kemungkinan besar tahu tersebut mengandung bahan berbahaya, bisa formalin maupun boraks. Selain itu, tahu yang diberi formalin tidak akan rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius). Tahu juga akan terlampau keras, namun tidak padat. Bau agak mengengat, bau formalin.<br />
<strong>C. Bakso</strong></p>
<p>Bakso tidak rusak sampai lima hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius). Teksturnya juga sangat kenyal.<br />
<strong>D. Ikan segar</strong></p>
<p>Ikan segar yang diberi formalin tekstur tubuhnya akan menjadi kaku dan sulit dipotong. Ia tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius). Warna insang merah tua dan tidak cemerlang, bukan merah segar dan warna daging ikan putih bersih.<br />
<strong>E. Ikan asin</strong></p>
<p>Ikan asin yang mengandung formalin akan terasa kaku dan keras, bagian luar kering tetapi bagian dalam agak basah karena daging bagian dalam masih mengandung air. Karena masih mengandung air, ikan akan menjadi lebih berat daripada ikan asin yang tidak mengandung formalin. Tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius). Tubuh ikan bersih, cerah.</p>
<p> </p>
<p><strong>4.4  </strong><strong>Peran pemerintah dalam memberantas boraks dan formalin di Indonesia</strong></p>
<p>Walaupun penyebaran boraks dan formalin di Indonesia sudah luas sekali dan sudah menjadi umum, pemerintah masih tidak mengambil langkah yang tegas dalam menangani hal ini. Buktinya bisa didapat, bahwa ternyata penggunaan formalin dan boraks sebagai bahan pengawet makanan masih merajalela.</p>
<p>Sebenarnya, pemerintah sudah berusaha mengambil tindakan, yaitu dengan melalui Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Beberapa langkah sudah diambil oleh BPOM, seperti : melarang panganan permen merek white rabbit creamy, kiamboy, classic cream, black currant, dan manisan plum; mengeluarkan permenkes no. 722/1998 tentang bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam pangan; dan melakukan sosialisasi penggunaan bahan tambahan makanan yang diizinkan dalam proses produksi makanan &#38; minuman sesuai UU No. 23/1992 untuk aspek keamanan pangan, &#38; UU No. 71/1996. Tetapi upaya yang dilakukan Badan POM tersebut, hanya dianggap gertakan oleh para pedagang, karena Badan POM hanya mengeluarkan undang-undang dan aturan. Tetapi Badan POM tidak melakukan tindakan tegas seperti memberi sanksi tegas bagi pedagang yang masih menggunakan boraks dan formalin, bahkan badan ini masih kurang gencar dalam melakukan razia.<br />
Dari data angket yang kami sebarkan ke beberapa responden, terdapat pertanyaan : “Menurut anda apakah peran pemerintah sudah ada dalam pemberantasan formalin? “ Dan dari pertanyaan itu, sebanyak 4 orang menjawab upaya pemerintah sudah banyak, sebanyak 17 orang menjawab upaya pemerintah sudah lumayan, dan terakhir 19 orang menjawab upaya pemerintah tidak ada sama sekali.<br />
Dari hasil angket diatas, dapat disimpulkan bahwa upaya pemerintah masih kurang, karena lebih banyak orang yang beranggapan bahwa upaya pemerintah masih sangat kurang. Ini mungkin disebabkan karena memang pemerintah kurang serius / tegas dalam menangani masalah ini, padahal ini adalah masalah yang serius, karena dapat membahayakan kesehatan manusia. Pemerintah seharusnya lebih gencar dalam menangani masalah ini.</p>
<p><strong>PENUTUP</strong></p>
<p>Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan dan saran.</p>
<p><strong>5.1  </strong><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Berdasarkan uraian pada bab IV dapat disimpulkan bahwa:</p>
<ol>
<li>Sebagian besar dari kita telah mengetahui tentang boraks dan formalin secara pasti, tetapi ada juga sebagian kecil lainnya yang belum begitu mengetahui apa itu boraks dan formalin.</li>
<li>Masih ada sebagian dari kita yang belum mengetahui secara pasti dampak penggunaan boraks dan formalin pada produk makanan, walaupun sebagian ada yang mengetahui secara pasti.</li>
</ol>
<ol>
<li>Menurut responden tahu dan bakso adalah makanan yang paling sering menjadi sasaran penggunaan boraks dan formalin. Tetapi menurut penelitian BPOM pada tahun 2005, ikan adalah bahan makanan yang paling sering menjadi sasaran boraks dan formalin.</li>
<li>Pemerintah masih sangat kurang dan tidak tegas dalam mengatasi masalah penggunaan boraks dan formalin, sehingga masih banyak kasus mengenai hal ini terjadi.</li>
</ol>
<p><strong>5.2  </strong><strong>Saran</strong></p>
<p>Berdasarkan kesimpulan dan keseluruhan makalah ini kami ingin memberikan beberapa saran sebagai berikut:</p>
<p>      Berikan penyuluhan lebih lanjut kepada masyarakat mengenai boraks dan formalin, pengertian, fungsinya, serta dampaknya apabila tidak digunakan sesuai fungsinya.</p>
<p>      Pengawasan yang lebih ketat oleh pemerintah dan pengambilan tindakan tegas, seperti mengirimkan pengawas-pengawas pemerintah ke daerah-daerah tertentu dan membuat undang-undang mengenai boraks dan formalin.</p>
<p>      Masyarakat harus lebih jeli dalam memilih makanan dan tidak membelinya bila sepertinya mengandung bahan formalin maupun boraks.</p>
<p>      Kesadaran dari masyarakat untuk membantu pemberantasan dan pencegahan penggunaan boraks dan formalin pada bahan makanan. Seperti melaporkan kepada yang berwajib jika melihat ada orang lain yang sengaja menggunakan boraks dan formalin pada makanan yang dijualnya, dan juga tidak secara sembarangan menjual boraks dan formalin, tanpa mengetahui latar belakang pembeliannya.</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>http://www.beritaindonesia.co.id<br />
http://www.depkes.go.id<br />
http://www.disnakkeswan-lampung.go.id<br />
http://id.wikipedia.org<br />
http://www.gizi.net</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anna-tomized]]></title>
<link>http://annasbones.com/2009/10/06/anna-tomized/</link>
<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 23:14:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>annabones</dc:creator>
<guid>http://annasbones.com/2009/10/06/anna-tomized/</guid>
<description><![CDATA[The blue coated man looked up with an air of  faked surprise: &#8220;oh, what do we have here? .. it]]></description>
<content:encoded><![CDATA[The blue coated man looked up with an air of  faked surprise: &#8220;oh, what do we have here? .. it]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PERLU KEBIJAKAN BERANI]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/08/27/perlu-kebijakan-berani/</link>
<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 03:50:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/08/27/perlu-kebijakan-berani/</guid>
<description><![CDATA[Perlu ada kebijakan berani dari pemerintah untuk menghentikan impor bahan pangan secara bertahap. Ta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2292" title="picz articlez" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/08/picz-articlez3.jpg?w=150" alt="picz articlez" width="150" height="137" />Perlu ada kebijakan berani dari pemerintah untuk menghentikan impor bahan pangan secara bertahap. Tanpa itu, selamanya Indonesia berkubang dengan impor pangan. Dalam kasus ini, komoditas beras bisa dijadikan pelajaran berharga.</p>
<p>“ Kalau tidak ada keberanian dari pemerintah, apalagi kalau hanya saling menyalahkan antarmenteri maupun departemen, dalam lima tahun ke depan tidak akan tercapai keinginan untuk swasembada pangan, “ ujar Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia MS Hidayat, di Jakarta (24/8).</p>
<p>Indonesia kini tergantung cukup dalam impor pangan. Lebih dari 5 miliar dollar AS atau setara Rp 50 triliun lebih devisa dikeluarkan untuk mengimpor pangan. Indonesia, yang punya panjang pesisir 95.181 kilometer dengan luas perairan 5,7 kilometer persegi dari luas sekitar 8 juta kilometer persegi, bahkan harus mengimpor 1,58 juta ton garam per tahun senilai Rp 900 miliar. Indonesia juga mengimpor ikan kembung.</p>
<p>Keberanian itu, kata Hidayat, bisa dalam bentuk penghentian kebijakan impor bahan pangan secara bertahap. “ Atau dengan memberikan disinsentif terhadap importir. Kalau itu dilakukan, tahun-tahun mendatang, saya yakin satu demi satu swasembada akan tercapai, “ katanya.</p>
<p>“ Saya ingat ketika bangsa kita ada masalah dengan impor beras. Kemudian kita bertekad impor distop dan Bulog di beri kewenangan penuh (membeli beras dalam negeri). Ada upaya bersama antar departemen dan akhirnya berhasil swasembada dan ekspor, “ katanya.</p>
<p><!--more-->Hidayat juga mengungkapkan rasanya malu sebagai negara maritim Indonesia harus mengimpor garam dan ikan. Padahal, laut terbentang luas dan kalau mau, kita mampu melakukannya.</p>
<p>Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati menegaskan, kondisi pangan dalam negeri tidak separah yang diberitakan.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-2293" title="perlu kebijakan berani" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/08/perlu-kebijakan-berani.jpg" alt="perlu kebijakan berani" width="500" height="296" /></p>
<p>Menurut Sri Mulyani, hal itu karena pemerintah sudah memiliki sejumlah program prioritas yang dilakukan untuk mengamankan pasokan dan memperkuat industrinya, yakni untuk komoditas daging sapi dan kedelai.</p>
<p>“ Pemerintah sudah memiliki program mendorong produksi daging sapi dan kedelai menjadi prioritas di Departemen Pertanian. Lalu pemberian subsidi bunga kepada peternak sapi dan petani kedelai. Itu adalah kebijakan pemihakan. Memang pada saat harga di luar tinggi, petani akan bersemangat bertahan di komoditas ini. Namun, pada saat harga turun, para petani juga memiliki persepsi risiko terhadap harga itu, “ ujarnya.</p>
<p>Berdasarkan catatan Kompas, program peningkatan populasi sapi dilakukan dengan memberikan bantuan subsidi bunga kredit. Anggaran yang diberikan Rp 145 miliar. Ada pun impor daging dan jeroan sapi per tahun mencapai Rp 4,8 triliun.</p>
<p>Begitu pula target peningkatan produksi kedelai Departemen Pertanian pada tahun 2008 dan 2009 tidak pernah tercapai. Nilai impor kedelai per tahun mencapai 595 juta dollar AS atau setara Rp 5,95 triliun.</p>
<p>Guru besar ekonomi pertanian Universitas Negeri Lampung, Bustanul Arifin, mengungkapkan, Indonesia tidak tepat mendesain kebijakan politik pertanian selama ini.</p>
<p>Sejak gerakan revolusi hijau dimulai, negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, tahun 1970-1980, mengadopsi desain kebijakan politik pertanian negara maju dengan alih teknologi yang melupakan kearifan lokal.</p>
<p>Di satu sisi Indonesia berhasil meningkatkan produksi beras secara tajam, tetapi rupanya adopsi teknologi tak pernah sampai di level paripurna. Saat negara maju sampai di level aman karena kebutuhan pangan bisa dipenuhi dari dalam negeri, Indonesia tak sanggup mewujudkannya. Strategi mekanisasi produksi pangan tidak sesuai dengan kearifan lokal bangsa yang mengutamakan sistem kekerabatan. Akibatnya, Indonesia harus tertinggal.</p>
<p>“ Cara mereka (negara maju) agak sulit dipaksakan di sini sehingga kita sulit menyamai negara-negara yang sudah aman dalam pangan. Karena itu, kita tak bisa melepaskan masalah-masalah yang dirancang dari kacamata mereka, “ ujar Bustanul.</p>
<p><strong>Impor ikan kembung</strong></p>
<p>Selain mengimpor garam, Indonesia dengan luas laut 5,7 juta kilometer persegi juga masih mengimpor ikan kembung. Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Number, mengakui, industri perikanan di Indonesia mengimpor beberapa komoditas yang sebenarnya bisa diproduksi oleh pelaku usaha di dalam negeri, di antaranya ikan kembung. Padahal, Indonesia juga mencatat sebagai pengekspor komoditas serupa.</p>
<p>“ Pasti ada kebutuhan-kebutuhan terhadap produksi. Memang kita harus share (impor) juga, tetapi seberapa jauh impor harus kita pertanyakan juga, “ ujar Freddy.</p>
<p>Besaran impor, ujar Freddy, harus dipantau untuk tetap menjaga pasar dalam negeri. Karena itu, pihaknya akan melakukan koordinasi, dengan instansi, di antaranya Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan.</p>
<p>“ Pembatasan impor produksi perikanan perlu memikirkan dampak terhadap industri dan tenaga kerjanya. Karena itu, diperluka solusi yang paling tepat, “ ujar Freddy.</p>
<p>Impor produk perikanan menunjukan tren meningkat. Tahun 2008, volume impor produk perikanan 280.179,34 ton dengan nilai 268 juta dollar AS. Nilai impro itu naik 68 persen dibandingkan dengan tahun 2007 yang hanya 160 juta dollar AS dengan volume impor 120.000 ton.</p>
<p>Kenaikan impor perikanan antara lain dari produk ikan segar dan beku yang naik 150 persen dibandingkan dengan tahun 2007.</p>
<p>Tahun 2008, produk ikan kembung yang diimpor dari Pakistan yang beredar di pasaran domestik terbukti mengandung formalin.</p>
<p>Menurut Direktur Pemasaran Luar Negeri Departemen Kelautan dan Perikanan Saut Hutagalung, pemerintah hingga kini belum menerbitkan aturan tentang impor produk perikanan sebagai katup pengendali impor.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Perlu Kebijakan Berani &#124; Kompas, 25.08.2008</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PERANGKAP IMPOR PANGAN ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/08/27/perangkap-impor-pangan/</link>
<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 03:47:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/08/27/perangkap-impor-pangan/</guid>
<description><![CDATA[Fantastis ! Kesan itu segera tersirat begitu melihat statistik nilai impor tangan kita. Setiap tahun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2303" title="pics articles 2" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/08/pics-articles-25.jpg?w=150" alt="pics articles 2" width="150" height="137" />Fantastis ! Kesan itu segera tersirat begitu melihat statistik nilai impor tangan kita. Setiap tahun kita harus menguras Rp 50 triliun untuk impor.</p>
<p>Angka ini melampaui total anggaran sektor pertanian yang tahun ini hanya Rp 40 triliun. Andai saja anggaran sebesar itu dialokasikan untuk investasi di bidang pertanian, sistem budidaya produksi, serta memperbaiki nasib petani, mungkin kondisi itu tak akan terjadi.</p>
<p>Tren impor yang terus meningkat sehingga memunculkan potensi rawan pangan sudah lama jadi keprihatinan kita. Sekarang ini, menurut Departemen Pertanian, ada tujuh komoditas pangan pokok yang harus diimpor, tak termasuk komoditas seperti garam, hortikultura, dan pangan olahan.</p>
<p>Untuk kedelai, porsi impor sekitar 70 persen, dan gandum hampir seluruhnya impor. Defisit neraca pangan pokok ini menunjukan pertumbuhan permintaan tak mampu mengimbangi pertumbuhan penyediaan.</p>
<p>Angka-angka ini menyadarkan kita bahwa pekerjaan rumah di sektor pertanian dan ketahanan pangan masih jauh dari selesai. Tingginya ketergantungan pada impor dan rapihnya ketahanan pangan tak bisa dilepaskan dari kurangnya perhatian pada pembangunan sektor pertanian. Minimnya alokasi anggaran hanya satu indikator.</p>
<p><!--more-->Ada pekerjaan rumah yang tak dikerjakan sehingga produksi domestik stagnan dan dalam kasus seperti garam atau komoditas lain, petani tak pernah keluar dari perangkap mutu produksi yang rendah. Jika persoalannya kualitas, justru di situlah peran pemerintah, lembaga akademis, dan lembaga lain untuk memberikan pendampingan kepada petani.</p>
<p>Selama ini kita cenderung memilih langkah gampang dengan mengimpor, tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. Ketergantungan pada impor ini hendaknya menyadarkan kita untuk tidak cepat berpuas diri dan terninabobokan oleh apa yang sudah kita capai.</p>
<p>Untuk beras, kita bersyukur tahun lalu kita swasembada, bahkan ekspor dalam jumlah kecil. Tetapi sampai kapan ? Fokus pada kananan pokok beras jendaknya juga jangan membuat kita lantas alpa membangun komoditas pangan penting lain yang saat ini masih kita impor.</p>
<p>Untuk subsektor perikanan dan perkebunan, kita masih surplus. Namun, jika tidak hati-hati, bukan tak mungkin kasus gula dan beberapa komoditas lain (di mana kita pernah swasembada) terulang. Indikasi ikan kita dicuri dari laut kemudian diformalin di negara lain dan diekspor kembali ke Indonesia harus jadi peringatan.</p>
<p>Di sini pentingnya komitmen kebijakan yang kuat karena, kalau tidak, kita hanya akan terseret politik perdagangan pangan global.</p>
<p>Banyak contoh negara yang semula mampu mandiri secara pangan kemudian jadi tergantung pada impor. Ini sangat berbahaya karena menyangkut fondasi kelangsungan bangsa jangka  panjang, khususnya untuk negara berpenduduk besar seperti kita.</p>
<p>Sumber :</p>
<p>Tajuk Rencana : Perangkap Impor Pangan &#124; Kompas, 25.08.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ini pake formalin??]]></title>
<link>http://sitarigan.wordpress.com/2009/08/23/ini-pake-formalin/</link>
<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 11:44:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>ganesya</dc:creator>
<guid>http://sitarigan.wordpress.com/2009/08/23/ini-pake-formalin/</guid>
<description><![CDATA[Dulu, jaman-jamannya makanan di indonesia lagi nge trend pake formalin, keluarga saya langsung pada ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dulu, jaman-jamannya makanan di indonesia lagi nge trend pake formalin, keluarga saya langsung pada waspada. Tiap-tiap mau beli makanan, pasti si abang tukang jualan (bukan cuma abang tukang bakso) ditanya &#8220;nganggo formalin teu? kang.&#8221; (indo : pake pormalin kaga ini!?)</p>
<p>Jadilah kegiatan jajan di luar menjadi sesuatu yang mendebarkan, macem kita diundi kuis gitu, &#8220;dapet ga ya, dapet ga ya!?&#8221; sambil harap2 cemas, mudah2an kita masi hoki ngga kebagian formalin. Kan bisa aja, si mang jualan bilang ga pake formalin, padahal mah make,,bukan saya menuding tukang jualan itu tidak jujur, atau di tukang boong, tapi coba anda simak dan pikirkan kemungkinan ilustrasi berikut </p>
<p>di siang hari yang adem ayem,,<br />
saya : &#8220;aduh euy,,lapar cuy,,&#8221;<br />
sodara : &#8220;a, ada cuanki tuh,,&#8221;<br />
saya : &#8220;mana sod!? (sodara, nama disamarkan)<br />
sodara : &#8220;itu a,,kedengeran suaranya,,&#8221;<br />
saya : heran..hebat juga si sodara teh,,&#8221;sok atuh dipanggil,,ngeunah sigana (enak kayaknya)&#8221;</p>
<p>sodara keluar,,tereak2 manggil abang cuanki,,si sodara masup,,</p>
<p>sodara : &#8220;mau brapa porsi a??&#8221;<br />
saya : &#8220;tilu (tiga)!&#8221;,,saya dengan perut kalap<br />
sodara : &#8220;siap a!&#8221;</p>
<p>ga berapa lama, si sod masup, bawa mangkok cuanki.</p>
<p>sodara : &#8220;a ini,,&#8221;<br />
saya : &#8220;dieu (sinih),,&#8221;makan dengan kalap,,bukan dengan lalab ya,,</p>
<p>di tengah makan,,</p>
<p>saya : &#8220;naha rasa na teh aneh euy,,siga ager ini bakso na,,(knapa rasanya aneh, kayak ager ini bakso)<br />
sodara : &#8220;wah&#8221;<br />
saya : &#8220;heu euh,,asa aneh,,make formalin meureun?? baelah, enak!! (iya, aneh rasanya. formalin kali, bodo amat dah!!enak!!)<br />
sodara : &#8220;aduh,,yang bener a??&#8221;<br />
saya : &#8220;iya,,ga enak perut gini,,tanya gih sod,,&#8221;</p>
<p>sodara keluar,,balik lagih,,</p>
<p>sodara : &#8220;ngga a,,&#8221;<br />
saya : masi ragu,,&#8221;cik ambil si emeng&#8221; (kucing) </p>
<p>saya pernah ntn di tipi,,katanya kucing bisa dipake buat ngetes formalin,,</p>
<p>sodara : &#8220;ni a,,si dasen aja yaa (kucing perang saya punya)<br />
saya : ngasi satu bakso ke si dasen,,&#8221;EDAN!! kamu puasa meng!? apa emang ga doyan!?&#8221;</p>
<p>hati saya bimbang,,jangan2 make formalin ni,,</p>
<p>saya : &#8220;sod,,cik tanya lagi ke si emang,,pake formalin ngga??&#8221;<br />
sodara keluar,,balik lagi ke dalam,, : &#8220;ngga a,,&#8221;<br />
saya : &#8220;kamu tanya gimana??&#8221;<br />
sodara : &#8220;mang, nganggo formalin teu?? gitu a&#8221;<br />
saya : &#8220;terus&#8221;<br />
sodara : &#8220;ngga cep&#8221;<br />
saya keluar dengan hati penasaran,,&#8221;mang nganggo formalin teu??&#8221;<br />
si emang : &#8220;nteu cep&#8221;<br />
saya : heran..&#8221;hmm,,ari pormalin nganggo!?&#8221;<br />
si emang : &#8220;oh,,sedikit cep&#8221;<br />
saya : &#8220;WAT!!!&#8221;</p>
<p>udah gitu, saya ga nerusin makan baksonya. si emang dikasi pencerahan.<br />
dia berjanji ga akan makein pormalin a.k.a formalin lagi ke dalem makanan.</p>
<p>siplah mang..</p>
<p>NB : waspadalah, waspadalah,,anda sedang berada di Indonesia</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PENTING: Kemasan/Peralatan Makanan]]></title>
<link>http://triyanifajriutami.wordpress.com/2009/08/04/kemasan-atau-peralatan-makanan/</link>
<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 23:19:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>yani</dc:creator>
<guid>http://triyanifajriutami.wordpress.com/2009/08/04/kemasan-atau-peralatan-makanan/</guid>
<description><![CDATA[Jadi ingat niy masa kuliahku dulu di teknologi pangan Sekarang walau aku tak berkecimpung di dunia p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Jadi ingat niy masa kuliahku dulu di teknologi pangan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Sekarang walau aku tak berkecimpung di dunia pangan lagi, bukan berarti aku melupakan hal-hal penting tentang makanan, salah satunya adalah kemasan/peralatan makanan. Hati-hati terhadap kemasan makanan plastik, <em>styrofoam</em> dan peralatan &#8220;melamin&#8221;!<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tulisan ini aku ingin melengkapi dan menelusuri beberapa keterangan pers dan peringatan publik dari BPOM RI (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia) tentang kemasan/peralatan makanan. Sebenarnya peringatan dan berita dari BPOM ini termasuk lambat muncul  bagi siapa saja yang tahu tentang ilmu pangan, namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali tho? Salah seorang teman <em>blogwalking </em>(<a href="http://agoesman120.wordpress.com/2009/07/29/%e2%80%9cjangan-gunakan-kantung-plastik-kresek-untuk-wadah-makanan-siap-saji%e2%80%9d/" target="_blank">pak Agus</a>) sudah menuliskan tentang salah satu artikel di Kompas tentang Kenali Plastik Sebelum Makan serta <em>public warning</em> dari BPOM RI tentang kantong plastik &#8216;kresek&#8217; sebagai pengemas makanan siap saji.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut yang kudapatkan dari situs <a href="http://pom.go.id/" target="_blank">BPOM RI</a> (<em>file</em> lengkap bisa di <em>download </em>di akhir tulisan):</p>
<h3 style="text-align:justify;"><strong>Peringatan/<em>Public warning</em> (No: KH.00.01.1.23.2258) tentang  Peralatan Makan &#8220;Melamin&#8221;  &#8211; tertanggal 1 Juni 2009</strong></h3>
<ul>
<li>Bahwa  Badan  POM  RI  telah  melakukan  pengujian  laboratorium  terhadap 62 sampel peralatan makan ”Melamin”. Dari hasil pengujian tersebut ditemukan 30 positif melepaskan formalin.</li>
<li>Bahwa 30 jenis peralatan makan “Melamin” yang melepaskan formalin berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan bila digunakan untuk mewadahi  makanan yang berair atau berasa asam, terlebih dalam keadaan panas.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Berikut gambar lengkap tentang 30 jenis peralatan makan &#8216;Melamin&#8217; yang <strong>berbahaya</strong> itu:</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1957" title="melamin 1-2" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/melamin-1-2.jpg" alt="melamin 1-2" width="595" height="276" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1958" title="melamin 3-4" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/melamin-3-4.jpg" alt="melamin 3-4" width="595" height="344" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1959" title="melamin 5-6" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/melamin-5-6.jpg" alt="melamin 5-6" width="595" height="365" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1960" title="melamin 7-8" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/melamin-7-8.jpg" alt="melamin 7-8" width="594" height="410" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1961" title="melamin 9-10" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/melamin-9-10.jpg" alt="melamin 9-10" width="590" height="418" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1962" title="melamin 11-12" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/melamin-11-12.jpg" alt="melamin 11-12" width="595" height="410" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1963" title="melamin 13-14" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/melamin-13-14.jpg" alt="melamin 13-14" width="594" height="271" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1964" title="melamin 15-16" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/melamin-15-16.jpg" alt="melamin 15-16" width="595" height="410" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1965" title="melamin 17-18" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/melamin-17-18.jpg" alt="melamin 17-18" width="595" height="473" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1966" title="melamin 19-20" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/melamin-19-20.jpg" alt="melamin 19-20" width="596" height="419" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1967" title="melamin 21-22" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/melamin-21-22.jpg" alt="melamin 21-22" width="594" height="402" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1968" title="melamin 23-24" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/melamin-23-24.jpg" alt="melamin 23-24" width="597" height="435" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1969" title="melamin 25-26" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/melamin-25-26.jpg" alt="melamin 25-26" width="594" height="395" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1970" title="melamin 27-28" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/melamin-27-28.jpg" alt="melamin 27-28" width="596" height="426" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1956" title="melamin 29-30" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/melamin-29-30.jpg" alt="melamin 29-30" width="595" height="415" /></p>
<p style="text-align:justify;">Hati-hati ya saat membeli peralatan makan <em>melamin</em>, karena sudah umum kita temukan banyak peralatan <em>melamin</em> di supermarket ataupun toko grosir barang pecah belah. Waspada! Formalin sangat berbahaya untuk kesehatan, karena dalam tubuh manusia, formalin dikonversi menjadi asam format yang meningkatkan keasaman darah, tarikan nafas menjadi pendek, hipotermia, sehingga mengakibatkan  koma, bahkan sampai menyebabkan kematian. Formalin ini kan memang bukan diperuntukkan untuk makanan, karena seharusnya digunakan untuk industri kimia, misalnya sebagai pengawet mayat, pembasmi lalat dan serangga pengganggu lainnya, bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea, bahan untuk pembuatan produk parfum, bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku, dan lain-lain (sumber: <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Formaldehida" target="_blank">Wikipedia</a>).</p>
<h3 style="text-align:justify;"><strong>Keterangan pers/<em>Press Release</em> (No: KH.00.02.1.55.2888) tentang Kemasan Makanan &#8220;Styrofoam&#8221;  &#8211; tertanggal 14 Juli 2009</strong></h3>
<ul>
<li>Istilah ’styrofoam’ sebenarnya merupakan merek dagang pabrik Dow Chemicals dari foamed polystyrene atau expandable polystyrene (EPS).</li>
<li>Residu monomer stiren yang tidak ikut bereaksi dapat terlepas ke dalam makanan yang berminyak/berlemak atau mengandung alkohol, terlebih dalam keadaan panas.</li>
<li>Sejauh ini tidak ada satu negarapun di dunia yang melarang penggunaan ’styrofoam’ atas dasar pertimbangan kesehatan. Kebijakan pelarangan di sejumlah negara berkaitan dengan masalah pencemaran lingkungan. Menurut JECFA-FAO/WHO monomer stiren tidak mengakibatkan gangguan kesehatan jika residunya tidak melebihi 5000 ppm.</li>
<li>Pada saat ini Badan POM RI telah melakukan sampling dan pengujian terhadap 17 jenis kemasan makanan ’styrofoam’. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua kemasan tersebut memenuhi syarat.</li>
<li>Sekalipun demikian, dalam rangka melaksanakan tindakan kehati-hatian, masyarakat dihimbau untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
<ul>
<li>Umumnya kemasan makanan ‘styrofoam’ dapat dikenali dari logo <img class="size-full wp-image-1974 aligncenter" title="kode styrofoam" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/kode-styrofoam.jpg" alt="kode styrofoam" width="56" height="59" /></li>
<li>Jangan gunakan kemasan ‘styrofoam’ dalam microwave.</li>
<li>Jangan gunakan kemasan ‘styrofoam’ yang rusak atau berubah bentuk untuk mewadahi makanan berminyak/berlemak apalagi dalam keadaan panas.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Berikut adalah 17 jenis kemasan makanan <em>styrofoam</em> yang <strong>aman</strong> (dengan pengecualian <span style="text-decoration:underline;">&#8216;dua jangan&#8217;</span> di atas) menurut hasil uji BPOM RI:</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1976" title="styrofoam 1" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-1.jpg" alt="styrofoam 1" width="654" height="314" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1977" title="styrofoam 2" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-2.jpg" alt="styrofoam 2" width="653" height="242" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1978" title="styrofoam 3" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-3.jpg" alt="styrofoam 3" width="652" height="318" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1979" title="styrofoam 4" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-4.jpg" alt="styrofoam 4" width="655" height="228" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1980" title="styrofoam 5" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-5.jpg" alt="styrofoam 5" width="655" height="228" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1981" title="styrofoam 6" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-6.jpg" alt="styrofoam 6" width="655" height="204" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1982" title="styrofoam 7" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-7.jpg" alt="styrofoam 7" width="655" height="150" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1983" title="styrofoam 8" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-8.jpg" alt="styrofoam 8" width="655" height="108" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1984" title="styrofoam 9" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-9.jpg" alt="styrofoam 9" width="655" height="208" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1985" title="styrofoam 10" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-10.jpg" alt="styrofoam 10" width="655" height="238" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1986" title="styrofoam 11" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-11.jpg" alt="styrofoam 11" width="655" height="224" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1987" title="styrofoam 12" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-12.jpg" alt="styrofoam 12" width="655" height="224" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1988" title="styrofoam 13" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-13.jpg" alt="styrofoam 13" width="655" height="108" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1989" title="styrofoam 14" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-14.jpg" alt="styrofoam 14" width="655" height="273" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1990" title="styrofoam 15" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-15.jpg" alt="styrofoam 15" width="655" height="242" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1991" title="styrofoam 16" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-16.jpg" alt="styrofoam 16" width="655" height="261" /><img class="aligncenter size-full wp-image-1975" title="styrofoam 17" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/styrofoam-17.jpg" alt="styrofoam 17" width="655" height="298" /></p>
<h3 style="text-align:justify;"><strong>Keterangan pers/<em>Press release</em> (N0:  KH.00.02.1.55.2889) tentang Kemasan Makanan dari Plastik Polietilen (PE) dan Polipropilen (PP)  &#8211; tertanggal 14 Juli 2009</strong></h3>
<ul>
<li>PE terbuat dari monomer etilen dengan logo<img class="alignnone size-full wp-image-1993" title="PE" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/pe.jpg" alt="PE" width="39" height="36" /> untuk High Density Polyethylene atau<img class="alignnone size-full wp-image-1994" title="PE 2" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/pe-2.jpg" alt="PE 2" width="34" height="36" />untuk Low Density Polyethylene, sedangkan PP terbuat dari monomer propilen dengan logo <img class="alignnone size-full wp-image-1995" title="PE 3" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/pe-3.jpg" alt="PE 3" width="35" height="35" /></li>
<li>Kedua jenis plastik ini mempunyai sifat yang sangat mirip. Dari seluruh jenis kemasan makanan plastik, PE dan PP paling banyak digunakan, dan paling aman dibandingkan dengan jenis kemasan plastik lainnya.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Berikut Kode Jenis Plastik yang lazim digunakan untuk makanan (biasanya dulu banyak beredar di milis-milis nih) &#8211; cek saja kemasan plastik yang mewadahi makanan yang anda beli, biasanya di bagian bawah:</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1996" title="Kode plastik" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/kode-plastik.jpg" alt="Kode plastik" width="655" height="479" /></p>
<p style="text-align:justify;">Kalau yang ini merupakan logo kemasan plastik yang diijinkan untuk mewadahi makanan di kawasan Uni Eropa yang juga digunakan oleh sejumlah negara:</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1999" title="logo" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/logo.jpg" alt="logo" width="76" height="79" />atau tulisan berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-2000" title="for food use" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/for-food-use.jpg" alt="for food use" width="131" height="32" /></p>
<h3 style="text-align:justify;"><strong>Peringatan publik/<em>Public warning</em> (No:  KH.00.02.1.55.2891) tentang Kemasan Makanan dari Plastik Polivinil Klorida (PVC) &#8211; tertanggal  14 Juli 2009 </strong></h3>
<ul>
<li>PVC dibuat dari monomer vinil klorida (VCM). Monomer vinil klorida yang tidak ikut bereaksi dapat terlepas ke dalam makanan terutama yang berminyak/berlemak atau mengandung alkohol terlebih dalam keadaan panas.</li>
<li>Dalam pembuatan PVC ditambahkan penstabil seperti senyawa timbal (Pb), kadmium (Cd), timah putih (Sn) atau lainnya, untuk mencegah kerusakan PVC. Kadang-kadang agar lentur atau fleksibel ditambahkan senyawa ester ftalat, ester adipat, dll.</li>
<li>Residu VCM, Pb, Cd dan ester ftalat berbahaya bagi kesehatan
<ul>
<li>VCM terbukti mengakibatkan kanker hati</li>
<li>senyawa Pb merupakan racun bagi ginjal dan syaraf</li>
<li>senyawa Cd merupakan racun bagi ginjal, dan dapat mengakibatkan kanker paru</li>
<li>senyawa ester ftalat dapat menganggu sistem endokrin</li>
</ul>
</li>
<li>Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI telah melakukan sampling dan pengujian laboratorium terhadap 11 jenis kemasan makanan dari plastik PVC, dan hasilnya 1 jenis tidak memenuhi syarat.</li>
<li>Untuk kehati-hatian, masyarakat dihimbau untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut :</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;">a.  Umumnya kemasan makanan PVC dapat dikenali dari logo:</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;"><img class="aligncenter size-full wp-image-2001" title="PVC" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/pvc.jpg" alt="PVC" width="60" height="69" />b. Jangan menggunakan kemasan makanan dengan PVC untuk makanan yang berminyak/berlemak atau mengandung alkohol terlebih dalam keadaan panas</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut merupakan hasil uji dari BPOM RI tentang kemasan makanan PVC yang <strong>berbahaya</strong>:</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-2002" title="uji PVC" src="http://triyanifajriutami.wordpress.com/files/2009/08/uji-pvc.jpg" alt="uji PVC" width="647" height="284" /></p>
<h3 style="text-align:justify;"><strong>Peringatan publik/<em>Public warning</em> (No: KH.00.02.1.55.2890) tentang Kantong Plastik &#8220;Kresek&#8221;  &#8211; tertanggal  14 Juli 2009 </strong></h3>
<ul>
<li>Kantong plastik kresek berwarna  terutama hitam kebanyakan merupakan produk daur ulang yang sering digunakan untuk mewadahi makanan.</li>
<li>Dalam proses daur ulang tersebut riwayat penggunaan sebelumnya tidak diketahui, apakah bekas wadah pestisida, limbah rumah sakit, kotoran hewan atau manusia, limbah logam berat,  dll. Dalam proses tersebut juga ditambahkan berbagai bahan kimia yang menambah dampak bahayanya bagi kesehatan.</li>
<li>Jangan menggunakan kantong plastik  kresek daur ulang tersebut untuk mewadahi langsung makanan siap santap.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Aku sering lihat sendiri banyak pedagang yang membungkus makanan (misal sup panas, bubur panas dan lain-lain) menggunakan kantong plastik kresek. Bahaya! Oleh karena itu, sebagai konsumen kita harus menyebarluaskan peringatan ini kepada para pedagang yang mungkin belum mengerti tentang bahaya plastik, terutama plastik kresek.</p>
<p style="text-align:justify;">Oya, tak jarang juga pedagang gorengan membungkus gorengan yang panas dengan kertas koran bekas. Ini juga berbahaya lho! (tapi sepertinya belum ada peringatan dari BPOM RI tentang kemasan kertas koran ini).</p>
<p style="text-align:justify;">Secara tidak sadar kertas koran ini mengandung tinta yang bersifat larut. Padahal tinta tersebut banyak mengandung timbal (Pb) yang sangat bahaya bagi kesehatan. Bila timbal tersebut terakumulasi dalam tubuh maka akan menyebabkan gangguan saraf dan bahkan dapat menyebabkan kanker. Pada suatu penelitian, wanita hamil yang banyak terakumulasi timbal ini akan menyebabkan cacat bawaan pada janin dan merusak otak sehingga akan mempunyai kecerdasan yang rendah. Pada laki-laki, timbal akan menyebabkan penurunan kualitas sperma sehingga dapat menyebabkan kemandulan (sumber: <a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0402/02/ragam3.htm" target="_blank">Bahaya, Kemasan Makanan yang Tidak Cocok</a>).</p>
<p>Kemudian ada ancaman lain yang mengintai, yaitu kertas sering digunakan di dalam teh celup. Kertas ini berbahaya karena sudah ditambahkan bahan pemutih (chlorine). Bila terkena suhu tinggi akan menghasilkan dioksin, suatu senyawa racun yang berbahaya bagi kesehatan kita. Tahun 1998 WHO menetapkan ambang batas aman konsumsi dioksin, yaitu 1-4 pikogram (sepertriliun gram) dioksin per-kilogram berat badan. Dalam jumlah sedikit saja sudah sangat berbahaya, apalagi bila dalam jumlah besar maka dioksin akan bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker). Konsentrasi lebih tinggi lagi akan menyebabkan penyakit kulit chloracne (jerawat yang parah disertai dengan erupsi kulit dan kista). Selain itu dioksin juga akan menyebabkan penurunan hormon reproduksi pria hingga 50% dan menyebabkan kanker prostat dan kanker testis. Pada wanita dioksin akan menyebabkan kanker payudara dan endometriosis, yakni jaringan selaput lendir rahim yang masih berfungsi tumbuh di luar rongga rahim. Oleh karena itu untuk menghindarkan hal-hal di atas bila tidak terpaksa gunakan teh (teh tubruk) secara langsung, dan gunakan pembungkus yang aman seperti daun pisang dan aluminium foil (sumber: <a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0402/02/ragam3.htm" target="_blank">Bahaya, Kemasan Makanan yang Tidak Cocok</a>).</p>
<p style="text-align:justify;">Mudah-mudahan BPOM RI selalu mengawasi perkembangan kemasan makanan di Indonesia, tentu saja sosialisasinya harus gencar, serta harus saling bahu-membahu antara konsumen dan pedagang (konsumen tetap sehat dan pedagang tetap laris manis tanpa &#8216;dosa&#8217;) <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;"><strong>DOWNLOAD</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.mediafire.com/?tlytmatehen" target="_blank"><strong>Peringatan Publik tentang Peralatan Makan <em>Melamin</em></strong></a></li>
<li><a href="http://www.mediafire.com/?hnhjewz3dtl" target="_blank"><strong>Hasil Uji Kemasan Makanan <em>Styrofoam</em></strong></a></li>
<li><a href="http://www.mediafire.com/?ny4mnzym5zr" target="_blank"><strong>Kode Jenis Plastik untuk Kemasan Makanan</strong></a></li>
<li><a href="http://www.mediafire.com/?tkjtqk2dnyi" target="_blank"><strong>Peringatan Publik tentang Kemasan Makanan dari Plastik Polivinil Klorida (PVC)</strong></a></li>
<li><a href="http://www.mediafire.com/?jdn2jdnvzhd" target="_blank"><strong>Peringatan Publik tentang Kantong Plastik Kresek</strong></a></li>
</ul>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Daftar Kosmetik yang berbahaya]]></title>
<link>http://fajarbaguswp.wordpress.com/2009/07/28/daftar-kosmetik-yang-berbahaya/</link>
<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 09:13:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>jargus</dc:creator>
<guid>http://fajarbaguswp.wordpress.com/2009/07/28/daftar-kosmetik-yang-berbahaya/</guid>
<description><![CDATA[Public Warnig Kosmetik Berbahaya Pada tanggal 11 juni 2009 yang lalu BPOM kembali mengeluarkan Publi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Public Warnig Kosmetik Berbahaya Pada tanggal 11 juni 2009 yang lalu BPOM kembali mengeluarkan Publi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bio 11 - Botany - Exercise 14 - Respiration]]></title>
<link>http://sctambay.wordpress.com/2009/07/20/bio-11-botany-exercise-14-respiration/</link>
<pubDate>Mon, 20 Jul 2009 10:26:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>sctambay</dc:creator>
<guid>http://sctambay.wordpress.com/2009/07/20/bio-11-botany-exercise-14-respiration/</guid>
<description><![CDATA[A. Release of Heat Energy during Respiration 1. Place germinating mung bean seeds previously soaked ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>A. Release of Heat Energy during Respiration</strong></p>
<p>1. Place germinating mung bean seeds previously soaked in distilled water overnight inside a thermos flask or Dewar bulb and suspend a vial containing 20% solution of potassium hydroxide. Stopper the flask with a cork through which a thermometer is inserted. Similarly prepare another flask as control using boiled seeds previously soaked overnight in 5% formalin.</p>
<p style="padding-left:30px;">1.2 Why is potassium hydroxide used?</p>
<p style="padding-left:60px;">Used to absorb CO2</p>
<p><strong>B. Release of CO2</strong></p>
<p>2. Fill an Erlenmeyer flask with yeast suspension and two other flasks with saturated barium hydroxide solution. One flask with the barium hydroxide solution is tightly sealed with a rubber stopper while the other two are provided with tight fitting rubber stoppers., each with one hole so as to connect the two flasks with a bent glass tubing. The connection is made alright by sealing the holes with melted candles or vaseline. Observe the results after 24 hours.</p>
<p style="padding-left:30px;">2.1 From the set-up, what observations indicate that a reaction has occurred?</p>
<p style="padding-left:60px;">White precipitate forms in the flask with barium hydorxide solution that is connected to the flask with yeast.</p>
<p style="padding-left:30px;">2.2 Explain your results</p>
<p style="padding-left:60px;">CO2 + Ba(OH)2 -&#62; BaCO3 + H2O</p>
<p style="padding-left:60px;">
<p><strong>C. Necessity of oxygen in Aerobic Respiration</strong></p>
<p>3. Place 10-20 bean seeds, previously soaked in water overnight, on two wads of moist cotton. Wrap each wad with gauze. Suspend one in a corked bottle containing a little water, the other in a similar bottle containing alkaline pyrogalllol solution. keep the bottles in a dark warm place for 48 hours.</p>
<p style="padding-left:30px;">3.1 Compare the development of the seeds in each of the bottles. Explain your results.</p>
<p style="padding-left:60px;">Alkaline pyrogallol absorbs H2O and O2. Seeds did not germinate in the bottle with alkaline pyrogallol.</p>
<p style="padding-left:60px;">
<p><strong>D. Factors Affecting the Rate of Anaerobic Respiration (Fermentation)</strong></p>
<p>4. Obtain 3 clean fermentation tubes. Fill the first with 10 ml yeast-glucose suspension, the second with yeast suspension and the third with glucose solution.</p>
<p style="padding-left:30px;">4.1 Observe the amount of gas produced at half hour intervals during the experiment. Compare the volume of gas displaced in each fermentation tube.</p>
<p style="padding-left:30px;">4.2 Account for differences observed</p>
<p style="padding-left:60px;">Yeast uses glucose for fermentation therefore the yeast-glucose suspension produces more gas due to fermentation.</p>
<p>5. Fill 3 fermentation tubes with 10 ml of yeast-glucose solution. Place 1 tube in a water bath of 4 degrees Celsius, the second in a  beaker of ice water and the third at room temperature.</p>
<p style="padding-left:30px;">5.2 Explain the differences in the amount of gas produced in the tubes.</p>
<p style="padding-left:60px;">Temperature is directly proportional to rate of fermentation.</p>
<p><strong>Note:</strong></p>
<p>Some answers differ for each class/group. You need to do the experiment.</p>
<p>For 1.1, 1.3, Table 14.1 and Table 14.2, you need your group&#8217;s data.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tak Percaya Isu, Produk Melamin Masih Laris]]></title>
<link>http://indonesianic.wordpress.com/2009/07/18/tak-percaya-isu-produk-melamin-masih-laris/</link>
<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 18:24:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>hotelmalang</dc:creator>
<guid>http://indonesianic.wordpress.com/2009/07/18/tak-percaya-isu-produk-melamin-masih-laris/</guid>
<description><![CDATA[Larangan produk pecah belah berbahan melamin ternyata tidak menyurutkan volume penjualannya. Terbukt]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://indonesianic.wordpress.com/files/2009/07/melamin.gif" alt="Melamin" title="Melamin" width="200" height="133" class="alignleft size-full wp-image-6310" />Larangan produk pecah belah berbahan melamin ternyata tidak menyurutkan volume penjualannya. Terbukti produk berbahan melamin di pasaran masih tetap diburu konsumen.</p>
<p>Sales Toko Grosir Laut Gede, Aminah menjelaskan informasi yang beredar memang sempat membuat konsumen meragukan produk berbahan melamin yang beredar di pasaran. </p>
<p>Tetapi setelah mendapat penjelasan jika produk melamin yang beredar saat ini sudah dicampur dengan bahan plastik dan lebih aman, konsumen kembali percaya dan tetap memilih menggunakan produk tersebut. <!--more--></p>
<p>“Penjualan produk pecah belah berbahan melamin tetap normal. Pasalnya untuk produk yang saat ini berada di pasaran tidak menggunakan bahan 100 persen melamin yang disebut-sebut berbahaya karena dicampur dengan formalin. Produk yang dipasaran merupakan campuran plastik dan melamin yang tentunya aman digunakan,” terang Aminah pada <a href="http://malangraya.web.id">Malang Post</a>, kemarin.</p>
<p>Tingginya permintaan produk pecah belah berbahan melamin campuran ini karena harganya yang lebih miring dibanding dengan pecah belah keramik. Aminah menyebutkan, untuk mangkok atau piring dengan ukuran standart, perbijinya dibandrol dengan harga mulai dari Rp 3.000.</p>
<p>Selain harganya yang miring, motif pada produk melamin campuran juga lebih variatif dan mengikuti perkembangan tren. Corak yang bervariasi ini jugalah yang membuat produk melamin campuran banyak digunakan oleh rumah makan, seperti depot, kafe dan resto, serta usaha <a href="http://invest.any.web.id/index.php/tag/bisnis">bisnis</a> katering lainnya.<br />
“Pengusaha rumah makan lebih suka menggunakan produk melamin campuran karena murah dan tampilannya cantik. Ini juga diikuti oleh pengusaha catering,” lanjut Aminah.</p>
<p>Untuk daya tahannya, Aminah mengakui jika produk melamin campuran tidak sekuat keramik. Tetapi jika penggunaanya tepat, maka produk ini bisa lebih awet karena tidka mudah pecah seperti keramik.</p>
<p>“Minimal jangan meletakkan makanan panas. Cukup makanan hangat saja. Sebab panas makanan akan membuat corak pada produk ini memudar. Tetapi untuk produknya sendiri tidak mudah pecah seperti keramik,” tutupnya.(nda/eno/malangpost)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[8057 Ada di Alat Makan Anda]]></title>
<link>http://asamihishochi.wordpress.com/2009/06/17/8057-ada-di-alat-makan-anda/</link>
<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 07:23:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>kyasmini</dc:creator>
<guid>http://asamihishochi.wordpress.com/2009/06/17/8057-ada-di-alat-makan-anda/</guid>
<description><![CDATA[Bicara soal makan, kurang lengkap rasanya jika tidak menyinggung tentang peralatan makan. Piring, ma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bicara soal makan, kurang lengkap rasanya jika tidak menyinggung tentang peralatan makan. Piring, ma]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MENJADI KONSUMEN CERDAS ADALAH KEWAJIBAN DI TENGAH SERBUAN PRODUSEN LICIK NAN CURANG]]></title>
<link>http://restlessangel.wordpress.com/2009/06/12/menjadi-konsumen-cerdas-adalah-kewajiban-di-tengah-serbuan-produsen-licik-nan-curang/</link>
<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 01:01:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>restlessangel</dc:creator>
<guid>http://restlessangel.wordpress.com/2009/06/12/menjadi-konsumen-cerdas-adalah-kewajiban-di-tengah-serbuan-produsen-licik-nan-curang/</guid>
<description><![CDATA[*tulisan ini ngendon beberapa tahun di hardisk kompie. teringat dan berniat untuk mempublikasikan ka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[*tulisan ini ngendon beberapa tahun di hardisk kompie. teringat dan berniat untuk mempublikasikan ka]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PERALATAN MAKAN MENGANDUNG FORMALIN]]></title>
<link>http://celotehbandung.wordpress.com/2009/06/11/peralatan-makan-mengandung-formalin/</link>
<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 15:45:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>prathez</dc:creator>
<guid>http://celotehbandung.wordpress.com/2009/06/11/peralatan-makan-mengandung-formalin/</guid>
<description><![CDATA[PERINGATAN YANG DIKELUARKAN OLEH BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN ATAU BPOM PUSAT YANG MENYEBUTKAN AD]]></description>
<content:encoded><![CDATA[PERINGATAN YANG DIKELUARKAN OLEH BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN ATAU BPOM PUSAT YANG MENYEBUTKAN AD]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peralatan Makanan Melamin yang melepaskan Formalin]]></title>
<link>http://fajarbaguswp.wordpress.com/2009/06/10/peralatan-makanan-melamin-yang-melepaskan-formalin/</link>
<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 06:08:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>jargus</dc:creator>
<guid>http://fajarbaguswp.wordpress.com/2009/06/10/peralatan-makanan-melamin-yang-melepaskan-formalin/</guid>
<description><![CDATA[Peralatan makan dari melamin yang mengandung formalin Pagi ini saya dapet email dari seorang temen d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Peralatan makan dari melamin yang mengandung formalin Pagi ini saya dapet email dari seorang temen d]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perabot Melamin Picu Kanker dan Gagal Ginjal]]></title>
<link>http://aespee.wordpress.com/2009/06/08/perabot-melamin-picu-kanker-dan-gagal-ginjal/</link>
<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 03:37:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>aespee</dc:creator>
<guid>http://aespee.wordpress.com/2009/06/08/perabot-melamin-picu-kanker-dan-gagal-ginjal/</guid>
<description><![CDATA[Meski terlihat menarik dan harganya murah, perabotan rumah tangga berupa piring dan gelas melamin di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Meski terlihat menarik dan harganya murah, perabotan rumah tangga berupa piring dan gelas melamin di]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Melamin dan Formalin]]></title>
<link>http://mauinfo.wordpress.com/2009/06/04/melamin-dan-formalin/</link>
<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 04:34:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>lunard09</dc:creator>
<guid>http://mauinfo.wordpress.com/2009/06/04/melamin-dan-formalin/</guid>
<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu masyarakat ribut soal peralatan rumah tangga yang terbuat dari melamin. hal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu masyarakat ribut soal peralatan rumah tangga yang terbuat dari melamin. hal]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Awas! Separuh dari Peralatan Bermelamin Melepaskan Formalin]]></title>
<link>http://apasajalah.wordpress.com/2009/06/04/awas-separuh-dari-peralatan-bermelamin-melepaskan-formalin/</link>
<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 02:37:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>retdew</dc:creator>
<guid>http://apasajalah.wordpress.com/2009/06/04/awas-separuh-dari-peralatan-bermelamin-melepaskan-formalin/</guid>
<description><![CDATA[Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah melakukan pengujian laboratorium terhadap 62 sampel per]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah melakukan pengujian laboratorium terhadap 62 sampel peralatan makan dan minum (tableware) melamin yang beredar di sejumlah pasar di Jakarta.Dari pengujian tersebut ditemukan 30 sampel positif melepas formalin.</p>
<p>Untuk itu, BPOM mengusulkan agar Departemen Perdagangan menghentikan impor produk perlengkapan makan dan minum (tableware) yang mengandung melamin. ”Sebab peralatan makan yang mengandung melamin terbukti melepaskan formalin sehingga menyebabkan gangguan kesehatan seperti kanker, batu ginjal, dan gangguan kandungan kemih,” kata Ketua BPOM Husniah Rubiana Thamrin dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin.</p>
<p>Menurut dia, pengujian laboratorium itu mencakup peralatan makan berupa gelas, piring, mangkok, sendok, garpu, dan sodet yang sebagian besar diimpor dari Tiongkok, dan sebagian kecil produksi lokal. Sejumlah merek yang sudah teruji positif melarutkan formalin antara lain Sayota Melamine Ware, Mei Shing Melamine, Huamei, dan VGS 4-05A.</p>
<p>Berdasarkan hasil pengawasan terhadap peralatan makan yang mengandung melamin, kata dia, BPOM mengeluarkan peringatan publik (public warning). Dalam peringatan itu disebutkan, 30 jenis peralatan makan bermelamin berpotensi melepaskan formalin yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan jika digunakan untuk mewadahi makanan yang berair atau berasa asam, terlebih lagi dalam keadaan panas.</p>
<p>Namun, kata dia, BPOM tidak dapat melakukan pelarangan karena izin impor atau produksi dikeluarkan oleh Depdag atas rekomendasi Depperin. Karena itu, BPOM mengusulkan agar Depdag menghentikan impor produk-produk yang mengandung melamin. BPOM juga meminta Depdag agar memberi pembinaan kepada produsen lokal. (izn)</p>
<p>Sumber: PdPersi</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BPOM Temukan peralatan makan melamin berbahaya]]></title>
<link>http://sunarta97.wordpress.com/2009/06/02/bpom-temukan-peralatan-makan-melamin-berbahaya/</link>
<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 00:57:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>sunarta</dc:creator>
<guid>http://sunarta97.wordpress.com/2009/06/02/bpom-temukan-peralatan-makan-melamin-berbahaya/</guid>
<description><![CDATA[Sebanyak 30 peralatan makan melamin yang dijual dan beredar di masyarakat ternyata positif melepaska]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sebanyak 30 peralatan makan melamin yang dijual dan beredar di masyarakat ternyata positif melepaska]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tahu, Protein yang Kaya Kalsium]]></title>
<link>http://kautsarku.wordpress.com/2009/05/29/tahu-protein-yang-kaya-kalsium/</link>
<pubDate>Fri, 29 May 2009 04:54:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ummu Kautsar</dc:creator>
<guid>http://kautsarku.wordpress.com/2009/05/29/tahu-protein-yang-kaya-kalsium/</guid>
<description><![CDATA[Tahu adalah makanan yang empuk, lezat dan bergizi.  Sangat disukai anak-anak karena kelembutannya. A]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tahu adalah makanan yang empuk, lezat dan bergizi.  Sangat disukai anak-anak karena kelembutannya. Amat tepat sebagai teman bersantap di kala berbuka puasa dan sahur.</p>
<p>Kelembutan teksturnya menyebabkan tahu mudah dikunyah ibarat daging tanpa tulang.  Karena tahu terbuat dari kedele, maka kandungan proteinnya sangat berkualitas.  Daya cernanya mencapai 85% &#8211; 98%, dan total protein yang dapat dimanfaatkan tubuh sebesar 65%.</p>
<p><!--more-->Sebagai makanan rakyat, tahu mudah dijumpai di pasaran.  Harganya relatif murah dan dapat dimasak dengan aneka cara seperti digoreng, dibacem, atau bahkan hanya direbus. Masyarakat menyukai tahu sebagai lauk-pauk dan cemilan.</p>
<h4><strong>Kandungan gizi tahu </strong></h4>
<p>Protein tahu tidak terlalu tinggi, hal ini disebabkan oleh kadar airnya yang sangat tinggi (84,8%). Makanan-makanan yang berkadar air tinggi umumnya mengandung protein agak rendah.</p>
<p align="center">Kandungan Gizi Tahu per 100 g</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="156" valign="top">Kandungan Gizi</td>
<td width="158" valign="top">
<p align="center">Jumlah</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="156" valign="top">Energi (Kal)</p>
<p>Protein (g)</p>
<p>Lemak (g)</p>
<p>Kalsium (mg)</p>
<p>Air (g)</td>
<td width="158" valign="top">
<p align="center">68</p>
<p align="center">7,8</p>
<p align="center">4,6</p>
<p align="center">124</p>
<p align="center">84,8</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Lauk-pauk hewani umumnya mengandung protein lebih tinggi, misalnya telur 12%, daging 18%-20%, ikan 20%, ikan asin 40% dll.   Namun, dengan harga yang lebih mahal membuat masyarakat tidak dapat mengonsumsi lauk-pauk hewani secara rutin setiap hari.  Oleh sebab itu pangan berbahan baku kedele menjadi alternatif lain, selain murah juga memenuhi syarat gizi seperti tahu atau tempe.</p>
<h4><strong>Kaya kalsium</strong></h4>
<p>Kalsium tahu jumlahnya cukup tinggi (124 mg)&#8212;hampir setara dengan kandungan kalsium susu. Kalsium sangat dibutuhkan terutama pada masa kanak-kanak hingga dewasa muda. Pada rentang usia ini, massa tulang mengalami pemadatan karena pengaruh asupan gizi dan olahraga. Membiasakan konsumsi pangan sumber kalsium (termasuk tahu) akan mendukung terbentuknya kerangka tulang yang baik, sehingga di masa tua terhindar dari osteoporosis.</p>
<p>Di negara Barat, kontribusi kalsium terutama bersumber pada <em>dairy products</em> (susu, mentega, es krim, keju dll).  Di negara berkembang seperti Indonesia, kontribusi kalsium dari susu masih sangat rendah.  Masyarakat masih mengandalkan kalsium dari pangan nabati seperti tahu, tempe, dan sayuran.</p>
<h4><strong>Cocok untuk Anak</strong></h4>
<p>Anak-anak balita dipastikan menyukai tahu. Sebagian anak mengalami kesulitan ketika mengunyah makanan bertekstur keras. Tahu memenuhi syarat karena tekstur yang lembut dan rasa yang netral (tergantung bumbunya). Kreasikan tahu dalam berbagai menu dengan aneka bumbu sehingga anak-anak dapat menikmati.</p>
<p>Di negeri Cina, tahu telah menjadi makanan populer sejak 2000 tahun yang lalu. Tahu sering dijadikan sebagai daging tiruan karena tidak bertulang. Bahkan di Perancis tahu digunakan sebagai pengganti susu dan telur dalam pembuatan kue.  Kepopuleran tahu yang mulai menyebar keman-mana adalah akibat adanya tuntutan konsumen untuk mendapatkan makanan yang segar, sehat, berkalori rendah, dan bercita rasa netral.</p>
<p>Sebagai makanan yang kandungan airnya tinggi, maka tahu cepat mengalami penyimpangan bau maupun rasa.  Namun, untungnya penjual tahu keliling, pasar tradisional, atau pasar swalayan setiap hari menjual tahu yang masih segar sehingga konsumen dapat memperoleh tahu baru dan tidak perlu menyimpan berlama-lama di kulkas.</p>
<h4><strong>Menjaga Kualitas Tahu</strong></h4>
<p>Cita rasa tahu dan awet tidaknya sangat tergantung pada kualitas kedele, sumber air untuk pembuatannya, sanitasi alat-alat pembuatan tahu, dan pekerjanya. Selama semua unsur tersebut diperhatikan, maka kualitas tahu dapat dipertahankan selama 1-2 hari dengan menyimpannya di kulkas.</p>
<h4>Menyimpan tahu:</h4>
<ul>
<li>Rendam tahu dalam air bersih untuk mencegah terjadinya pengeringan dan menghalangi pencemaran mikroba pembusuk dari udara. Bila air perendamnya tidak higienis, justru akan lebih mempercepat kerusakan tahu</li>
<li>Rebus tahu selama 30 menit, setelah itu rendam dalam air matang.  Keawetan tahu rebusan ini dapat mencapai 4 hari.</li>
</ul>
<h4><strong>Hati-hati formalin</strong></h4>
<p>Saat ini diketahui adanya produk tahu yang menggunakan pengawet berbahaya (formalin). Hal ini mengindikasikan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap produk makanan yang menjadi hajat hidup orang banyak. Kadar formalin yang dicampurkan mungkin tidak terlalu banyak sehingga konsumen tidak bisa membedakan tahu berformalin atau tanpa formalin. Namun mengingat formalin adalah bahan yang dilarang, maka betapapun kecilnya kandungan formalin dalam tahu, harus tetap dianggap sebagai unsur yang membahayakan kesehatan.</p>
<p>Penelitian yang dilakukan Tresniani (2003) lulusan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga IPB mengungkapkan bahwa dari 11 industri tahu kuning dan 9 industri tahu putih di Tangerang, semuanya terindikasi menggunakan formalin sebagai pengawet.  Tahu kuning mengandung formalin 3,79 ppm – 27,48 ppm, sedangkan tahu putih 5,15 ppm – 42,44 ppm.</p>
<p>Penelitian tentang keberadaan formalin dalam tahu telah sejak beberapa tahun lalu dilakukan.  Mena (1994) meneliti di DKI Jakarta dan Untayana (1996) di Bogor.  Semuanya menunjukkan bahwa tahu positif mengandung formalin.</p>
<p>Penggunaan formalin untuk makanan jelas dilarang sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1168/Menkes/Per/X/1999. Hal ini mengingat bahaya serius yang akan dihadapi bila formalin masuk ke dalam tubuh. Formalin akan menekan fungsi sel, menyebabkan kematian sel dan keracunan.</p>
<p>Pada binatang percobaan, formalin diperkirakan akan menyebabkan timbulnya kanker. Selain itu organ-organ tubuh hewan juga bakal mengalami kerusakan akibat <em>intake</em> formalin. Dosis 30 ml formalin dapat menyebabkan kematian pada manusia, seseorang mungkin hanya mampu bertahan 48 jam setelah mengkonsumsi formalin dalam dosis fatal. Keracunan formalin menyebabkan radang, iritasi lambung, muntah, diare bercampur darah, kencing bercampur darah, dan gagalnya peredaran darah.</p>
<p>Masalah keamanan pangan di tingkat industri rumah tangga memang sudah sangat kronis. Mereka adalah pelaku-pelaku bisnis yang tidak memperhatikan keselamatan konsumen, karena prinsip dagang yang dipegang adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya produksi minimal.</p>
<p>Kita semua berharap pemerintah menindak tegas industri-industri tahu yang diketahui menggunakan formalin. Dengan demikian masyarakat tidak perlu was-was dalam mengonsumsi tahu sebagai makanan yang enak dan bergizi serta cocok untuk semua anggota keluarga.</p>
<p>Sumber : anakku.net</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bahaya Formalin]]></title>
<link>http://isengajayaka.wordpress.com/2009/05/26/bahaya-formalin/</link>
<pubDate>Tue, 26 May 2009 02:59:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>isengajayaka</dc:creator>
<guid>http://isengajayaka.wordpress.com/2009/05/26/bahaya-formalin/</guid>
<description><![CDATA[Formalin Adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk.di dalam formalin terkandung s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Formalin Adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk.di dalam formalin terkandung sekitar 37 persenformaldehid dalam air, biasanya ditambah methanol hingga 15 persen sebagai pengawet. Formalin dikenal sebagai bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dalam industri.</p>
<p>Nama lain Formalin :<br />
- Formol – Methylene aldehyde – Paroforin<br />
- Morbicid-Oxomethane – Polyoxymethylene glycol<br />
- Methanal- Formoform- Superlysoform<br />
- Formic aldehyde- Formalith- Tetraoxymethylene<br />
- oxyemethylene- methyylene</p>
<p><strong>Penggunaan Formalin</strong><br />
1. Pembunuh kuman sehingga digunakan sebagai pembersih : lantai, gudang , pakaian dan kapal<br />
2. Pembasmi lalat dan serangga lainnya<br />
3. Bahan pembuat Sutra buatan, Zat pewarna, cermin kaca dan bahan peledak<br />
4. Dalam dunia Fotografi biasanya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas<br />
5. Bahan pembentuk pupuk berupa Urea<br />
6. Bahan pembuatan produk parfum<br />
7. Bahan pengawet produk kosmetik dan pengeras kuku<br />
8. Pencegah korosi untuk sumur minyak<br />
9. Bahan untuk isulasi busa<br />
10. Bahan perekat untuk produk kayu lapis (playwood)<br />
11. Dalam <strong>konsentrasi yang sangat keci</strong>l ( &#60; 1 persen ) digunakan sebagai <strong>pengawet, Untuk berbagai barang konsumen, seperti pembersi rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, Shampo mobil, lilin dan karpet</strong><br />
12. Methyl Oxide- karsan- Trioxane</p>
<blockquote><p>denger2 formalin pada bakso juga termasuk salah satu penyalahgunaan formalin pada industri makanan, wah gawat <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> , makanan kesukaan ku,,hoohhh<br />
btw penggunaan formalin diatas, hanya sebagai agar kita lebih waspada dan mengerti sama penggunaanya saja..n jangan sampe ga mao ngepel bagi kaum cewe ato ga nyuci piring..hahahaha&#8230;ato malah ga mao dandan..hehehe..
</p></blockquote>
<p><strong>Bahaya bila terpapar oleh Formalin</strong><br />
Bahaya utama<br />
Formalin sangat berbahaya bila terhirup, mengenai kulit dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa : Luka baker pada kulit, Iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia.</p>
<p><strong>Tindakan Pencegahan :</strong><br />
1. Terhirup<br />
Untuk mencegah agar tidak terhirup gunakan alat pelindung untuk pernafasan seperti masker, kain atau alat pelindung lainnya yang dapat mencegah kemungkinan masuknya formalin kedalam hidung atau mulut Lengkapi alat ventilasi dengan penghisap udara ( exhaust fan )yang tahan ledakan<br />
2. Terkena Mata<br />
Gunakan pelindung mata / kaca mata,penahan yang tahan terhadap percikan Sediakan kran air untuk mencuci mata ditempat kerjayang berguna apabila terjadi keadaan darurat<br />
3. Terkena Kulit<br />
Gunakan pakaian pelindung bahan kimia yang cocok Gunakan sarung tangan yang tahan bahan kimia<br />
4. Tertelan<br />
Hindari makan,minum dan merokok selama berkerja, cuci tangan sebelum makan</p>
<p><strong>Tindakan Pertolongan Pertama</strong></p>
<p>1. Bila Terhirup<br />
Jika aman memasuki daerah paparan,pindahkan penderita ketempat yang aman bila perlu gunakan masker berkatup atau peralatan sejenis unuk melakukan pernafasan buatan Segera hubungi Dokter.<br />
2. Bila terkena Mata<br />
Bilas mata dengan air mengalir yang cukup banyak sambil mata dikedip-kedipkan pastikan tidak ada lagi sisa formalin di mata Aliri mata dengan larutan dengan larutan garam dapur 0,9 persen ( seujung sendok the garam dapur dilarutkan dalam segelas air ) secara terus menerus sampai penderita siap dibawa ke Rumah Sakit Segera bawa ke Dokter.<br />
3. Bila terkena Kulit<br />
Lepaskan pakaian, perhiasan dan sepatu yang terkena Formalin,Cuci kulit selama 15- 20 menit dengan sabun atau deterjen lunak dan cair yang banyak dan dipastikan dan dipastikat sudah tidak ada lagi bahan yang tersisa dikulit ,pada bagian yang terbakar ,lindungi luka dengan pakian yang kering ,steril dan longgar,bila perlu segera hubungi dokter.<br />
4. Bila tertelan<br />
Bila diperlukan segera hubungi dokter atau dibawa ke rumah sakit.</p>
<p><strong>Cara penyimpanan Formalin :</strong><br />
- Jangan di simpan di lingkungan bertemperatur di bawah150C.<br />
- Tempat penyimpanan harus terbuat dari baja tahan karat,alumunium murni,polietilen atau polyester yang dilapisi fiberglass.<br />
- Tempat penyimpanan tidak boleh terbuat dari baja besi,tembaga,nikel atau campuran seng dengan permukaan yang tidak dilindungi/dilapisi.<br />
- Jangan menggunakan bahan alumunium bila temperatur lingkungan berada di atas 60 derajat celcius</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kita dan Kantin Sekolah]]></title>
<link>http://tukangobatbersahaja.wordpress.com/2009/05/25/kita-dan-kantin-sekolah/</link>
<pubDate>Mon, 25 May 2009 06:48:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>tukangobatbersahaja</dc:creator>
<guid>http://tukangobatbersahaja.wordpress.com/2009/05/25/kita-dan-kantin-sekolah/</guid>
<description><![CDATA[Terkadang saya kangen banget dengan  ajanan kantin sewaktu sekolah.  Saya bisa membeli harum manis y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Terkadang saya kangen banget dengan  ajanan kantin sewaktu sekolah.  Saya bisa membeli harum manis y]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengenal Formalin Dan Bahayanya]]></title>
<link>http://supermilan.wordpress.com/2009/05/11/mengenal-formalin-dan-bahayanya/</link>
<pubDate>Sun, 10 May 2009 18:38:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Widya Wicaksana</dc:creator>
<guid>http://supermilan.wordpress.com/2009/05/11/mengenal-formalin-dan-bahayanya/</guid>
<description><![CDATA[Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam formalin terkandung ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam formalin terkandung ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Telang berformalin ?]]></title>
<link>http://unanik.wordpress.com/2009/04/26/telang-berformalin/</link>
<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 07:09:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>a2karim09</dc:creator>
<guid>http://unanik.wordpress.com/2009/04/26/telang-berformalin/</guid>
<description><![CDATA[Begitu ramainya siaran di TV-TV dan media masa tentang abon daging sapi yang dioplos dengan daging b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span>Begitu ramainya siaran di TV-TV dan media masa tentang abon daging sapi yang dioplos dengan daging babi/celeng, saya tersentak dengan <em>ikan kering telang</em> yang saya makan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">Awal bulan Januari 2009, saya membeli ikan telang kering di pasar Martapura (Kabupaten Banjar) dan waktu itu habis dimakan selama satu bulan. <!--more-->Saya sempat berpikir “kenapa sampai potongan terakhir tidak ada ulatnya. Padahal tidak pernah dijemur (hanya disimpan dalam lemari dalam bungkus plastik)”. Timbul dibenak “kemungkinan ikan tsb mengandung formalin, tetapi kenapa selama saya memakan ikan telang kering tsb tidak ada keluhan kesehatan. Saya berpikir lagi mungkin ada bahan pengawet lain yang difungsikan agar daging ikan tsb tidak rusak (berulat, busuk) dan tahan lama. Saya berpikir positif saja.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><img class="aligncenter size-full wp-image-69" title="telang26042009-k01dlm1" src="http://unanik.wordpress.com/files/2009/04/telang26042009-k01dlm1.jpg" alt="telang26042009-k01dlm1" width="550" height="416" /><!--[if gte mso 9]&#62;    &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE                           &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;                                                                                                                                            &#60;![endif]--> <span style="color:red;">Lingkaran merah </span>menunjukkan adanya ulat (N73; 26042009).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">Bulan Pebruari 2009, saya beli lagi ikan telang kering tsb (maklum kantongnya pas2an) di tempat (warung) yang sama. <span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:Calibri;">Harga 1 ekor atau dagingnya saja Rp.80.000,-/kg. </span>Hari ini (26 April 2009) ikan kering telang tsb saya lihat tinggal 2 potong, saya temukan/terlihat ada beberapa ekor ulat (ada 1, 2 4, 5 letaknya sporadis), kecil <span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:Calibri;">(ukurannya lebih kecil dari ulat beras) </span>dan gerakannya tidak lincah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><img class="aligncenter size-full wp-image-71" title="telang26042009-k01luar" src="http://unanik.wordpress.com/files/2009/04/telang26042009-k01luar.jpg" alt="telang26042009-k01luar" width="550" height="377" /><span style="color:red;">Lingkaran merah </span>menunjukkan adanya ulat (N73; 26042009).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">Dagingnya berwarna memerah, tidak keras/kaku, agak basah (seperti mengeluarkan cairan) mungkin karena tidak dijemur. Dugaan saya sementara bahwa ikan telang kering yang saya beli mengandung bahan pengawet (<em>formalin </em>?) dengan konsentrasi yang sangat kecil dan dengan membasahnya daging ikan itu menyebabkan konsentrasinya menjadi sangat-sangat kecil sekali, sehingga dalam jangka waktu tertentu (pengalaman saya lebih-kurang 3 bulan, yang pasti 2 bulan lebih) memungkinkan timbulnya ulat-ulat tsb. Adakah bahan pengawet ikan yang dikeringkan selain formalin untuk disimpan sekian lama tanpa dijemur sehingga tidak busuk/rusak dan berulat ? Bila tidak ada, berarti kecenderungan bahan pengawet tsb adalah formalin.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><img class="aligncenter size-full wp-image-73" title="telang26042009-e01dlm" src="http://unanik.wordpress.com/files/2009/04/telang26042009-e01dlm.jpg" alt="telang26042009-e01dlm" width="550" height="467" /><span style="color:red;">Lingkaran merah </span>menunjukkan adanya ulat (N73; 26042009).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">Jauh sebelumnya saya pernah membeli ikan telang kering di lain tempat (yang disimpan dalam gudang ikan kering), di rumah saya disimpan dalam plastik tanpa dijemur, setelah 1 minggu (memang memakannya tidak tiap hari), woow ulatnya besar-besar, lumayan banyak dan gerakkannya lincah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><img class="aligncenter size-full wp-image-76" title="telang26042009-e01luar1" src="http://unanik.wordpress.com/files/2009/04/telang26042009-e01luar1.jpg" alt="telang26042009-e01luar1" width="550" height="453" /><span style="color:red;">Lingkaran merah </span>menunjukkan adanya ulat (N73; 26042009).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">Saya tidak mengatakan ikan telang kering tsb mengandung formalin. tapi dugaan kuat menggunakan bahan pengawet. Saya juga tidak menyalahkan penjual, karena pasti dia beli-jual.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-78" title="telang27042009-lemari01p11" src="http://unanik.wordpress.com/files/2009/04/telang27042009-lemari01p11.jpg" alt="telang27042009-lemari01p11" width="550" height="412" /><span style="color:#ff0000;">Panah merah</span> menunjukkan letak ikan telang kering dalam kantong plastik (N73; 26042009).</p>
<p>Di lemari tsb saya menyimpan ikan telang kering tsb selama 2 bulan lebih tanpa dijemur.</p>
<p>Dari hasil temuan yang tak sengaja ini, saya berharap pada instansi terkait di Kabupaten Banjar, mau menelisik ke pasar apakah benar bahwa ikan kering (terutama yang ukuran besar) menggunakan bahan pengawet lain (bukan formalin). Maksudnya tidak termasuk garam, karena garam sudah jelas; namanya aja <em>ikan kering</em>. <span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:Calibri;">Mungkin kita masih ingat tentang “tahu yang diformalin”.</span>Saat konsentarsinya kecil/sangat kecil seperti tidak berbahaya, tetapi begitu besar konsentrasinya membahayakan kesehatan. Tapi yang jelas formalin merupakan bahan kimia yang bukan untuk dikonsumsi, bahkan tidak dijual bebas.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:Calibri;">Justru sebenarnya </span>instansi yang terkait dengan kesehatan, keyakinan (agama) atau instansi lainnya mempunyai jadwal tertentu untuk menilisik tentang kondisi pasar; jangan hanya menunggu &#8220;bola&#8221;. Dalam menelisik tidak perlu boyongan alias rame-rame dengan pakai dinas, tapi cukup melalui petugas yang dipercaya/jujur untuk mengambil contoh (sample).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">Yaaa kalau memang memerlukan dana, bisa dianggarkan lebih dulu, terutama untuk uji clinis. Atau kalau memang perlu kerja-bakti, kenapa tidak, demi kesehatan masyarakat yang utama.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">Saya berharap temuan saya ini tidak benar (karena hanya bermodal kasat mata &#38; karya pikir; bukan uji clinis), dalam artian bahwa kalau memang benar menggunakan bahan pengawet tapi masih dalam batas wajar (konsentasinya), tidak membahayakan kesehatan dan masih diperkenankan menurut bidang kesehatan. Semoga,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">A2Karim; <em>admin</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pentingnya Mengkonsumsi Suplemen Makanan]]></title>
<link>http://pjalghuroba.wordpress.com/2009/04/25/pentingnya-mengkonsumsi-suplemen-makanan/</link>
<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 23:17:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bang Fajar</dc:creator>
<guid>http://pjalghuroba.wordpress.com/2009/04/25/pentingnya-mengkonsumsi-suplemen-makanan/</guid>
<description><![CDATA[Marilah kita simak tiga artikel berikut ini tentang pentingnya suplemen makanan, terutama jelas yang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Marilah kita simak tiga artikel berikut ini tentang pentingnya suplemen makanan, terutama jelas yang]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ada Apa dengan Bahan Tambahan Makanan?]]></title>
<link>http://apwardhanu.wordpress.com/2009/04/21/ada-apa-dengan-bahan-tambahan-makanan/</link>
<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 02:23:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>adha panca wardhanu</dc:creator>
<guid>http://apwardhanu.wordpress.com/2009/04/21/ada-apa-dengan-bahan-tambahan-makanan/</guid>
<description><![CDATA[Dalam kehidupan sehari-hari Food Additive sudah banyak digunakan secara umum oleh masyarakat, baik o]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dalam kehidupan sehari-hari Food Additive sudah banyak digunakan secara umum oleh masyarakat, baik o]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
