<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>gamping &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/gamping/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "gamping"</description>
	<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 15:49:37 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Gamping, 2009, dan Sebuah Rencana yang Diselimuti Debu]]></title>
<link>http://antivetsin.wordpress.com/2009/08/05/gamping-2009-dan-sebuah-rencana-yang-diselimuti-debu/</link>
<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 07:52:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>n a n a</dc:creator>
<guid>http://antivetsin.wordpress.com/2009/08/05/gamping-2009-dan-sebuah-rencana-yang-diselimuti-debu/</guid>
<description><![CDATA[Dua ribu sembilan sudah terlewati lebih dari setengahnya. Dan hari-hariku pun berlalu, berganti dari]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dua ribu sembilan sudah terlewati lebih dari setengahnya. Dan hari-hariku pun berlalu, berganti dari]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kopi Gula Cokot!  ]]></title>
<link>http://trihatmaningsih.wordpress.com/2009/06/24/kopi-gula-cokot/</link>
<pubDate>Tue, 23 Jun 2009 17:56:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>trihatmaningsih</dc:creator>
<guid>http://trihatmaningsih.wordpress.com/2009/06/24/kopi-gula-cokot/</guid>
<description><![CDATA[Inilah Java Coffee asli Indonesia yang kesohor itu (foto by Habiburrohman) KOPI? Dahulu saya sangat ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://trihatmaningsih.wordpress.com/files/2009/06/java-coffee-yang-sohor-itu-foto-by-habiburrohman.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-98" title="JAVA COFFEE YANG SOHOR ITU (FOTO BY HABIBURROHMAN)" src="http://trihatmaningsih.wordpress.com/files/2009/06/java-coffee-yang-sohor-itu-foto-by-habiburrohman.jpg?w=300" alt="JAVA COFFEE YANG SOHOR ITU (FOTO BY HABIBURROHMAN)" width="300" height="198" /></a>Inilah Java Coffee asli Indonesia yang kesohor itu (foto by Habiburrohman)</p>
<p><strong>KOPI? </strong>Dahulu saya sangat menyukai minuman yang satu ini. Hitam kelam sungguh menghanyutkan. Di keluarga saya, kopi bukan minuman yang tabu. Bahkan, bagi anak sejecil saya yang masih duduk di sekolah dasar. Dan saya benar-benar terpikat dengan aroma kopi yang menurut saya sensasinya sangat seksi <em>(kok seksi sih) </em>ketika mengelus lidah sekaligus menyapu indra penciuman saya. <!--more--></p>
<p>Namun saya tidak pernah mengetahui persis jenis kopi yang semenjak kecil sudah menjadi minuman kesayangan saya ketimbang susu itu. Apakah itu jenis kopi Arabica, robusta, ataukah kopi luwak yang sangat sohor ke seluruh dunia itu.</p>
<p>Yang saya tahu, keluarga saya mendapatkan kopi yang harum itu di toko khusus kopi yang ada di Pasar Klojen Kota Malang. Kini, toko itu masih tetap berdiri, nyaris tidak berubah sama sekali. Di toko inilah kopi baru digiling begitu ada pembeli. Jadi, aromanya benar-benar terjaga.</p>
<p>Nah, dalam keluarga saya mengenalnya sebagai kopi tubruk. Kopi bubuk yang langsung diseduh dengan air mendidih. Selain itu masih ada juga <em>kopi gula</em> <em>cokot.</em> Kopi ini khusus dibuat untuk sesaji di malam jumat. Ini kebiasaan lama Mbah Putri saya yang masih rutin melakukan ritual turun temurun ini.</p>
<p>Awalnya saya tidak tahu mengenai kebiasaan Mbah Putri yang oleh anak dan cucunya biasa disapa Mbah Ireng ini. <em>Sajen </em>atau sesaji buatan Mbah Ireng biasanya terdiri dari beragam bunga (ada kenanga, melati, mawar) yang direndam dalam segelas air. Lalu segelas kopi kental dengan sebongkah gula Jawa yang ada persis di samping gelas. Ah masih ada lagi, sepiring perlengkapan <em>nginang</em> atau <em>nyusur</em>.</p>
<p>Biasanya terdiri dari daun sirih, pinang atau <em>jambe</em>, tembakau susur, dan <em>enjet</em> atau <em>gamping </em>yang sudah direndam dengan air. <em>Gamping</em> ini adalah dari kapur yang biasanya dipakai untuk melabur atau memoles dinding agar cerah dan putih. Tetapi sayangnya, warna putihnya ini juga membawa bencana lantaran bisa berpindah ke celana, baju atau bagian badan jika saya bersandar di sana.</p>
<p>Saya tidak pernah tahu, untuk siapa tepatnya <em>sajen</em> tersebut dibuat. Biasanya <em>sajen</em> itu disuguhkan pada sore hari dan baru boleh dibuang pada pagi harinya. Ternyata saya menyukai kopi kental dingin ini dengan diseruput sembari menggigit sebongkah besar gula jawa. Dan membiarkan keduanya bercampur di dalam mulut. <em>Hmmm… </em>sensasinya ternyata berbeda jika kopi sudah dicampur dengan gula di dalam gelas.</p>
<p>Nah, kebiasaan sesaji ala Mbah Ireng ini kelak pada saat saya besar akhirnya sudah beliau lupakan. Mungkin sudah bosan atau terlalu marah setelah saya goda dengan mengatakan,<em> “Mbah, sajennya sudah terkabul. Lihat gelas kopinya sudah kosong.”<br />
</em><br />
Maklum, segelas kopi <em>sajen</em> itu sayalah yang menghabiskannya. Gak habis satu gelas sih, kadang cuma separonya saja. Hahaha… tapi mampu membuat Mbah Ireng sewot!</p>
<p>Lantaran sejak kecil doyan minum kopi itulah saya akhirnya mendapat nama panggilan persis seperti Mbah Ireng saya. <em>Ireng </em>artinya kan hitam. Itu juga lantaran semenjak kecil saya bukan sosok anak perempuan berkulit putih. Meski berkulit hitam, <em>suprit</em> saya lumayan manis <em>kok… </em></p>
<p>Meski sudah mendapat nama tambahan Ireng yang masih diingat –setidaknya oleh seluruh anggota keluarga hingga sekarang– saya gak kapok, atau menghentikan kebiasaan minum kopi. Bahkan makin menjadi-jadi. Saya menjadi ketagihan minum kopi kental tanpa gula. Apalagi waktu itu saya memiliki kebiasaan jelek lainnya, merokok! Jadi klop kan!</p>
<p>Setiap kali minum kopi akhirnya saya meniadakan imbuhan gula sama sekali. Namun anehnya, begitu saya pindah dari Kota Malang ke Surabaya karena saya diterima bekerja di <em>Harian Surya,</em> kebiasaan tersebut mendadak hilang sama sekali. Kalau pun saya masih ngopi, hanya sebatas ingin. Itupun tidak setiap hari.</p>
<p>Makanya, ibu saya menjadi aneh dan terheran-heran ketika saya tidak ngopi, apalagi merokok lagi. Bahkan, empat adik lelaki saya yang malahan tidak merokok sama sekali ikut berkomentar meski jauh dari kesan menghakimi, <em>“Ternyata bisa gitu lho gak merokok!” </em></p>
<p>Memang bisa kok! Hehehe… ***</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Padalarang RE-VISIT!]]></title>
<link>http://jalankita.wordpress.com/2009/03/30/padalarang-re-visit/</link>
<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 06:58:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>agn</dc:creator>
<guid>http://jalankita.wordpress.com/2009/03/30/padalarang-re-visit/</guid>
<description><![CDATA[Minggu kemarin, saya dkk kembali melakukan kunjungan singkat (1 hari) ke wilayah Padalarang dimana d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Minggu kemarin, saya dkk kembali melakukan kunjungan singkat (1 hari) ke wilayah Padalarang dimana d]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bubur Gamping]]></title>
<link>http://citarasa.wordpress.com/2008/08/18/bubur-gamping/</link>
<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 21:00:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>citarasa</dc:creator>
<guid>http://citarasa.wordpress.com/2008/08/18/bubur-gamping/</guid>
<description><![CDATA[Bahan: 500 gram singkong, kuras, cuci, potong dadu. 1500 cc air. 200 gram gula pasir. 10 sdm sirop m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://citarasa.files.wordpress.com/2008/08/buburgamping.jpg?w=225&#038;h=270" alt="Bubur Gamping" hspace="10" width="225" height="270" align="right" />Bahan:</p>
<ul>
<li>500 gram singkong, kuras, cuci, potong dadu.</li>
<li>1500 cc air.</li>
<li>200 gram gula pasir.</li>
<li>10 sdm sirop mawar.</li>
<li>2 lembar daun pandan.</li>
<li>100 gram tepung sagu, cairkan dengan air.</li>
<li>500 santan kental.</li>
<li>1 sdt garam.</li>
<li>1 sdm tepung maizena, cairkan.</li>
</ul>
<p>Cara membuat:</p>
<ol>
<li>Rebus singkong dengan air hingga matang.</li>
<li>Masukkan gula, sirop, dan daun pandan. Aduk terus hingga tercampur rata.</li>
<li>Masukkan cairan tepung sagu. Angkat.</li>
<li>Berikutnya:</li>
</ol>
<p><!--more--></p>
<ul>
<li>Kuah: rebus santan, garam, dan daun pandan, tambah dengan 1 sdm maizena cair, aduk rata.</li>
<li>Sajikan bubur dengan kuahnya.</li>
</ul>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dilarang Utang]]></title>
<link>http://sungguhterjadi.wordpress.com/2008/02/20/dilarang-utang/</link>
<pubDate>Wed, 20 Feb 2008 01:31:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>sstkr</dc:creator>
<guid>http://sungguhterjadi.wordpress.com/2008/02/20/dilarang-utang/</guid>
<description><![CDATA[17/02/2008 05:52:19 JIKA Anda masuk warung kupat tahu di lokasi parkir bus kota di Gamping (Jl Wates]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span class="date2">17/02/2008 05:52:19</span> <span style="margin-right:5px;padding:5px;"><b>JIKA</b> Anda masuk warung kupat tahu di lokasi parkir bus kota di Gamping (Jl Wates Km 5), Yogya, jangan terkejut. Di dinding tertempel tulisan begini: Dilarang Utang!.— <i>(Kiriman: Drs Krismanto, Guru SMA Purnama Gombong, Jl Merbabu 413, Wero, Gombong 54416, Jateng).-f</i></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
