<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>gangguan-pendengaran &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/gangguan-pendengaran/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "gangguan-pendengaran"</description>
	<pubDate>Tue, 21 May 2013 10:00:18 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Pendengaran pada Bayi]]></title>
<link>http://blogbukamatadantelinga.wordpress.com/2013/05/21/pendengaran-pada-bayi/</link>
<pubDate>Tue, 21 May 2013 01:44:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>bukamatadantelinga</dc:creator>
<guid>http://blogbukamatadantelinga.wordpress.com/2013/05/21/pendengaran-pada-bayi/</guid>
<description><![CDATA[Pendengaran adalah modalitas sensoris utama untuk perkembangan bicara dan bahasa. Gangguan pendengar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pendengaran adalah modalitas sensoris utama untuk perkembangan bicara dan bahasa. Gangguan pendengaran pada masa bayi akan menimbulkan efek yang buruk pada perkembangan bicara dan bahasa. Diagnosis seringkali terlambat dan biasanya diketahui oleh orang tua si anak secara tidak sengaja, seperti anak belum bisa bicara atau tidak memberikan respon terhadap suara keras. Berikut ini adalah tahapan perkembangan bicara dan bahasa pada anak:</p>
<p><b><i>Reflex</i></b><b><i> vocalization</i></b></p>
<p>                Bayi normal yang baru saja dilahirkan sampai kurang lebih berusia tiga minggu semua perbuatannya masih bersifat refleks. Suara-suara yang dihasilkan atau tangisan yang dibuat benar-benar tidak disadari /tanpa kehendak, dan bukan menanggapi rangsangan apapun dari sekelilingnya. Setelah berusia &#62; 3 minggu suara tangisan yang terjadi walau masih bersifat refleks tetapi sudah dapat dibedakan, misalnya tangisan rasa lapar akan berbeda dengan tangisan jika bayi tersebut merasa kedinginan atau merasa sakit, biasanya ibu bayi dapat membedakan macam tangisan tersebut.</p>
<p><b><i>Babbling</i></b></p>
<p>                Secara hampir pasti bayi usia 2 bulan banyak mengeluarkan bunyi-bunyi yang mirip dengan orang berkumur. Mirip dengan bunyi /a/ atau bunyi vokal lainnya dengan nada dan kenyaringan yang berlainan. Bunyi tersebut biasanya disuarakan dengan bunyi pendek atau panjang. Pada minggu-minggu selanjutnya terdengar bunyi konsonan seperti /p/. /b/. /j/. /g/. /n/. Yang dilakukan berulang-ulang dan dikombinasikan dengan bunyi mirip vokal /a/ tadi à contoh : papapa……..gagagaga…….jajajajaà bunyi yang diproduksi ini masih berupa refleks dan terus berjalan sampai usia 5-6 bulan. Tanpa disadari bayi melatih otot artikulasi.</p>
<p><b><i>Lalling</i></b></p>
<p>                Masa ini bayi berusia ± 6 bulan, dan sudah banyak perkembangan pada otaknya, pada masa ini menunjukan pengulangan bunyi yang terjadi bukan berdasarkan refleks, bunyi tersebut seperti ba&#8230;.ba&#8230;..ma&#8230;..ma, hal ini karena bayi benar-benar mendengar dan seterusnya senang melakukan pengulangan-pengulangan.</p>
<p><b><i>Echolallia</i></b></p>
<p>                Terjadi pada masa bayi berumur 10 bulan. Pada masa ini terjadi pengulangan-pengulangan lebih banyak lagi mengenai kata-kata, pengulangan tersebut terjadi karena bayi mendengar dari lingkungan dan berusaha menirukan.</p>
<p> <b><i>True speech</i></b></p>
<p>                Usia yang umum bayi telah bisa bicara dengan benar adalah usia 18 bulan atau 1,5 tahun. Anak pada usia ini pola bicaranya sudah dapat dimengerti maksudnya, walaupun kemampuan pengucapannya belum memadai. Anak dapat merangkai dua sampai tiga kata. Anak dapat mengerti pembicaraan orang lain sebatas pengalaman yang didapat dari lingkungan. </p>
<p align="center"><b>“Jika seorang anak belum mengoceh atau menirukan suara </b></p>
<p align="center"><b>pada umur 10-12 bulan, harus diwaspadai adanya gangguan bicara”</b></p>
<p><i>Joint Committee on Infant Hearing</i> 2007 menetapkan beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan ketulian pada bayi, diantaranya adalah riwayat keluarga mengenai tuli saraf, perawatan di ruang rawat intensif bayi lebih dari 5 hari, perawatan yang disertai dengan alat ventilasi mekanik, pemberian obat-obatan tertentu, hiperbilirubinemia (kuning pada bayi) yang memerlukan tindakan tranfusi, infeksi saat ibu hamil, kelainan anatomi atau bayi dengan sindrom yang berhubungan dengan tuli sensorineural dan infeksi setelah kelahiran.Pada 6 bulan pertama setelah bayi lahir saat perkembangan bahasa dan bicara dimulai, pendengaran yang normal merupakan faktor yang sangat penting.</p>
<p>Gangguan pendengaran karena kerusakan saraf di kedua telinga dapat mengenai 3 dari setiap 1.000 bayi lahir hidup dan 2-4 dari setiap 100 bayi yang pernah dirawat di ruang rawat intensif.<i>Joint Committee on Infant Hearing</i> 2007 merekomendasikan pemeriksaan skrining pendengaran pada semua bayi lahir dalam 1 bulan pertama kehidupan, sehingga diagnosis dan penatalaksaan dini terhadap gangguan pendengaran pada bayi dapat dilakukan sebelum usia 6 bulan.Bayi yang tidak lulus pada skrining tahap pertama diperiksa kembali dalam waktu 3 bulan berikutnya. Bayi yang memiliki risiko terkena gangguan pendengaran (seperti yang telah dijelaskan sebelumnya), yang lulus skrining pada tahap pertama, diperiksa kembali 6 bulan kemudian  dan dilakukan pemeriksaan pendengaran<i> </i>berkala tiap 6 bulan hingga usia 3 tahun.</p>
<p> Pemeriksaan pendengaran untuk skrining meliputi pemeriksaan liang telinga sampai gendang telinga dengan alat otoskop, pemeriksaan impedans untuk evaluasi keadaan telinga tengah, <i>behavioral observation audiometry, </i>dilanjutkan pemeriksaan <i>automated auditory brainstem responses </i>(<i>AABR/BERA</i>) dan emisi otoakustik (OAE).Ketepatan OAE untuk pemeriksaan skrining pendengaran pada bayi di usia 3-4 hari mencapai &#62; 95%. Pemeriksaan-pemeriksaan ini hanya membutuhkan keadaan bayi yang tenang atau dalam kondisi tidur. Untuk mempermudah pemeriksaan terkadang dokter akan memberikan obat agar membantu bayi untuk dapat tidur lebih tenang, dengan dosis yang aman dan sesuai dengan kebutuhan bayi atau anak.</p>
<p><strong>dr. Kartika Dwiyani, SpTHT</strong></p>
<p> <a href="http://blogbukamatadantelinga.files.wordpress.com/2013/05/img02287-20100420-1447.jpg"><img class="size-full wp-image" id="i-88" alt="Image" src="http://blogbukamatadantelinga.files.wordpress.com/2013/05/img02287-20100420-1447.jpg?w=94&#038;h=123" width="94" height="123" /></a></p>
<p> </p>
<p><b><sup> </sup></b></p>
<p> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hari Ulang Tahun ke-10, 5 November 2012]]></title>
<link>http://kakakmenur.wordpress.com/2012/11/09/hari-ulang-tahun-ke-10-5-november-2012/</link>
<pubDate>Fri, 09 Nov 2012 12:48:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kakak Menur</dc:creator>
<guid>http://kakakmenur.wordpress.com/2012/11/09/hari-ulang-tahun-ke-10-5-november-2012/</guid>
<description><![CDATA[Hari senin tanggal 5 November kemarin Menur berulang tahun ke 10. Ulang tahun ini disyukuri dengan d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari senin tanggal 5 November kemarin Menur berulang tahun ke 10. Ulang tahun ini disyukuri dengan doa bersama di dalam kelas 3E oleh teman-teman sekelas Menur dan dipimpin oleh Mr. Permana selaku wali kelas serta diikuti juga oleh Ms. Murni selaku guru kelas.</p>
<p>Setiap ulang tahun saya selalu melakukan kilas balik tentang apa saja yang sudah saya perbuat untuk Menur, apa saja kemajuan yang sudah dicapai Menur, dan apalagi yang harus saya lakukan untuk Menur. Hal ini harus saya lakukan mengingat Menur adalah penyandang gangguan pendengaran sangat berat (profoundly hearing impairment) yang menggunakan alat bantu dengar (abd) dan bersekolah di sekolah umum dengan sistem mainstreaming.</p>
<p>Harapan saya adalah Menur terus dapat mengikuti pelajaran dan mendapatkan nilai terbaik. Menur terus lebih baik dan lebih baik lagi dalam segala hal. Dapat berguna dan tetap menginspirasi orang lain. Tambah sayang pada ayah, ibu, dan keluarga serta semua orang. Dapat mencapai segala cita-citanya. Dan selalu dimudahkan Allah dalam segala kebaikan. Aamiin.</p>
<p>Setelah semua pencapaian yang telah Menur capai, what else could I ask for more? I thank God for everything He gave to me&#8230;. Alhamdulillah&#8230;.</p>
<p>Jakarta, 9 November 2012<br />
Dion Ibunya Menur</p>
<p><a href="http://kakakmenur.files.wordpress.com/2012/11/img-20121105-00421.jpg"><img class="alignnone size-full" title="IMG-20121105-00421.jpg" alt="" src="http://kakakmenur.files.wordpress.com/2012/11/img-20121105-00421.jpg?w=2560&#038;h=1920" height="1920" width="2560" /></a></p>
<p class="post-sig">Posted from WordPress for BlackBerry.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Undangan Sharing Parents with Hearing Impairment Children, Hari Minggu 11 November 2012]]></title>
<link>http://kakakmenur.wordpress.com/2012/10/31/undangan-sharing-parents-with-hearing-impairment-children-hari-minggu-11-november-2012/</link>
<pubDate>Wed, 31 Oct 2012 11:41:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kakak Menur</dc:creator>
<guid>http://kakakmenur.wordpress.com/2012/10/31/undangan-sharing-parents-with-hearing-impairment-children-hari-minggu-11-november-2012/</guid>
<description><![CDATA[Yayasan AKRAB bekerjasama dengan BIMA edrea Hearing mengadakan Sharing Orang Tua yang memiliki anak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Yayasan AKRAB bekerjasama dengan BIMA edrea Hearing mengadakan Sharing Orang Tua yang memiliki anak dengan gangguan pendengaran yang akan diadakan pada<br />
Hari: minggu, 11 November 2012 jam 10.00.<br />
Bertempat di Taman Bunga Wiladatika Cibubur &#8211; Saung Seruni.<br />
Tema: Sharing Pengalaman dengan Ibu Peni, orang tua dari Meutia Rin Diani, ST. Pengguna Alat Bantu Dengar lulusan Teknik Arsitektur UI 2011 dengan predikat cum laude.</p>
<p><strong>Acara ini Gratis.</strong></p>
<p>Untuk keterangan hubungi: Bu Dion 0811150315 atau Bu Tria 085881248003.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bagaimana Mendengar dan Berbahasa Yang Baik Pada Anak Dengan Gangguan Pendengaran, Tema Pertemuan AKRAB Hari Minggu 14 November 2010]]></title>
<link>http://kakakmenur.wordpress.com/2012/10/15/bagaimana-mendengar-dan-berbahasa-yang-baik-pada-anak-dengan-gangguan-pendengaran-tema-pertemuan-akrab-hari-minggu-14-november-2010/</link>
<pubDate>Mon, 15 Oct 2012 12:13:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kakak Menur</dc:creator>
<guid>http://kakakmenur.wordpress.com/2012/10/15/bagaimana-mendengar-dan-berbahasa-yang-baik-pada-anak-dengan-gangguan-pendengaran-tema-pertemuan-akrab-hari-minggu-14-november-2010/</guid>
<description><![CDATA[Pada hari minggu tanggal 14 November 2010 kemarin Yayasan AKRAB kembali mengadakan sharing parents d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pada hari minggu tanggal 14 November 2010 kemarin Yayasan AKRAB kembali mengadakan sharing parents dengan tema: Bagaimana Mendengar dan Berbahasa Yang Baik Pada Anak Dengan Gangguan Pendengaran. Materi ini disampaikan oleh Ibu Ir. Nora Amelda Rizal, M.Sc., M.M. Ibu Ola saat ini bekerja sebagai Dosen Tetap Fakultas Manajemen Bisnis, Institut Manajemen Telkom di Bandung. Beliau juga dikaruniai seorang anak dengan gangguan pendengaran yang berusia tiga tahun.</p>
<p>Berikut adalah sekilas tentang latar belakang pendidikan dan pekerjaan dari Mama Yasmin:</p>
<p>LATAR BELAKANG PENDIDIKAN</p>
<p>1.    Aerospace Engineering, Technische Universiteit te Delft (Bachelor and Master Degree), Delft, Belanda</p>
<p>2.    Magister Manajemen (Masgister), Universitas Padjadjaran, Bandung Indonesia</p>
<p>PEKERJAAN</p>
<p>            A. Non Pendidikan</p>
<p>1.    1993-2000 Karyasiswa, PT. Dirgantara Indonesia Bandung Indonesia</p>
<p>2.    1997-1998 Stagiaire, Fokker Control System, Fokker BV, Schipholl, The Netherlands</p>
<p>3.    2002-2003 Staff Engineer PT. Dirgantara Indonesia, Bandung</p>
<p>            B. Pendidikan</p>
<p>1.    2000-2001         Assisten Dosen, Fakultas Teknik Mesin, Universitas Trisakti, Jakarta</p>
<p>2.    2000-2001         Dosen LB Fakultas Teknik Penerbangan, Universitas Suryadharma Halim, Jakarta.</p>
<p>3.    2003-2009         Dosen LB Fakultas Teknik Informatika, Universitas Nasional PASIM, Bandung</p>
<p>4.    2009-Sekarang    Dosen Tetap Fakultas Manajemen Bisnis, Telekomunikasi dan Informatika, Institut Manajemen Telkom, Bandung</p>
<p>5.    2004-Sekarang    Pemilik dan Pengajar Lembaga Pendidikan Non-Formal, Delft’s Education, Cimahi<br />
                                (pengajar Bahasa Inggris dan Matematika untuk anak-anak dan Dewasa)</p>
<p>Bagaimana Mendengar dan Berbahasa Yang Baik Pada Anak Dengan Gangguan Pendengaran</p>
<p>     Telinga manusia dapat mendengar suara dari frekuensi 20 – 20.000 hertz. Apakah frekuensi itu? Frekuensi adalah ukuran yang dipakai untuk menyatakan tinggi rendahnya suara. Contohnya, suara laki-laki dan perempuan. Suara laki-laki dibedakan menjadi tenor, bariton, dan bas. Sedangkan suara perempuan dapat dibedakan menjadi alto, messo sopran, dan sopran.</p>
<p>     Bagian atau area dari otak yang bertanggung jawab untuk produksi suara, pengolahan bahasa, pemahaman bahasa, dan mengontrol syaraf-syaraf di wajah disebut Area Broca. Area Broca terletak di lobus frontalis korteks otak besar. Area Broca ini mulai bekerja ketika syaraf pendengaran terbentuk dan mendengar suara. Sedangkan syaraf pendengaran mulai terbentuk ketika janin berusia tiga bulan di dalam kandungan. Ini berarti janin yang berusia tiga bulan dalam kandungan sudah dapat mendengar suara ibunya. Suara dan bahasa ibunya ini menjadi bahasa pertama anak tersebut. Sejak janin usia tiga bulan inilah Area Broca mulai bekerja memproses bahasa.</p>
<p>     Pembentukan otak bersamaan dengan penerimaan bahasa membuat Area Broca siap menerima pemahaman lebih lanjut terhadap bahasa ketika bayi sudah keluar dari perut ibu. Ketika lahir bayi tidak langsung bisa paham akan bahasa dan tidak langsung bisa bicara. Bayi masih membutuhkan waktu selama kurang lebih satu tahun untuk dapat bicara, walaupun sudah mendengar suara ketika usia tiga bulan dalam kandungan. Ini berarti anak mendengar membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk dapat berbicara, sejak terbentuknya Area Broca hingga berusia satu tahun.</p>
<p>Lantas, bagaimana dengan pembelajaran mendengar dan bahasa pada anak dengan gangguan pendengaran?</p>
<p>     Anak dengan gangguan pendengaran tidak sama dengan anak yang dapat mendengar normal. Area Broca yang seharusnya terbuka sejak janin usia tiga bulan baru akan terbuka ketika anak itu mulai memakai ABD yang TEPAT. Makna tepat disini adalah sesuai dengan tingkat pendengaran yang dibutuhkan dan selalu dipakai selama anak ini terjaga. Berarti apabila seorang anak mulai memakai ABD pada usia satu tahun, maka usia pendengarannya adalah nol bulan. Dan apabila disamakan dengan anak yang dapat mendengar normal, ia juga membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk dapat belajar menangkap suara, mendengar, menirukan, menangkap makna, dan berbahasa dengan baik.</p>
<p>     Bagi anak dengan gangguan pendengaran, bahasa pertamanya adalah sunyi, sehingga bahasa yang kemudian kita ajarkan menjadi bahasa keduanya. Bagaimana cara mengajarkan bahasa yang biasa kita gunakan kepada anak kita yang mengalami gangguan pendengaran sebagai bahasa keduanya? Sama seperti mengajarkan bahasa pada anak yang tidak mengalami gangguan pendengaran, prosesnya adalah mendengar &#8211; memimik &#8211; memproduksi &#8211; berbahasa. Mendengar suara pengajar. Meniru suara pengajar. Apabila salah akan dibetulkan oleh pengajar. Meniru lagi dengan dialek dan pengucapan yang benar. Dibetulkan lagi oleh pengajar. Begitu berulang-ulang dan berulang-ulang.</p>
<p>     Apabila kita mendapati anak kita mengalami gangguan pendengaran, hal pertama yang harus dilakukan adalah memakaikan ABD yang sesuai dengan kebutuhan. ABD ada dua macam, analog dan digital. ABD analog bekerja dengan memperkeras suara di semua frekuensi, termasuk noise-nya. Namun dengan kemajuan teknologi sekarang ini, noise sudah bisa dikurangi. ABD digital berbeda dengan ABD analog. Pada ABD digital terdapat fitur noise canceller, sehingga noise bisa direduksi dan suara yang dihasilkan bisa lebih bersih. Selain itu juga terdapat pembagian channel sehingga ABD bisa di-setting sesuai dengan hasil pemeriksaan ASSR.</p>
<p>     Bagaimana kita mengetahui bahwa anak kita bisa diberikan ABD analog? Yaitu apabila hasil ASSR anak kita rata di semua frekuensi. Misalnya hasil pemeriksaan menunjukkan angka 80dB di semua frekuensi. Sedangkan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan hasil yang berbeda pada setiap frekuensi pemeriksaan, maka sebaiknya diberikan ABD digital, agar bisa disetting sesuai hasil pemeriksaan. Misalkan: 80dB di 500Hz, 100dB di 1000Hz, 70dB di 2000Hz, dlsb.</p>
<p>     Setelah anak memakai ABD yang tepat, beri kesempatan anak untuk mendengar secara alami. Sama seperti orang yang mendengar normal, yang memerlukan waktu kurang lebih 1,5 tahun untuk dapat berbahasa dengan baik. Harus diingat bahwa bahasa pertamanya adalah sunyi. Bahasa yang kita ajarkan adalah bahasa kedua.  Dan sama seperti orang yang tidak mengalami gangguan pendengaran, mempelajari bahasa kedua adalah dengan mendengar à memimik à memproduksi à barulah berbahasa. Artinya anak dengan gangguan pendengaran tidak akan langsung bisa berbahasa dalam waktu tiga bulan saja, walaupun sudah memakai alat bantu dengar yang tepat, baik yang ditanam maupun yang di belakang telinga.</p>
<p>Demikian, semoga bermanfaat.</p>
<p>Sumber: <a href="http://menurntik.multiply.com/journal/item/64/Bagaimana-Mendengar-dan-Berbahasa-Yang-Baik-Pada-Anak-Dengan-Gangguan-Pendengaran-Tema-Pertemuan-AKRAB-Pada-Hari-Minggu-14-November-2010" rel="nofollow">http://menurntik.multiply.com/journal/item/64/Bagaimana-Mendengar-dan-Berbahasa-Yang-Baik-Pada-Anak-Dengan-Gangguan-Pendengaran-Tema-Pertemuan-AKRAB-Pada-Hari-Minggu-14-November-2010</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tidak Ada Yang Instant, Prosesnya Sama]]></title>
<link>http://kakakmenur.wordpress.com/2012/10/15/tidak-ada-yang-instant-prosesnya-sama/</link>
<pubDate>Mon, 15 Oct 2012 11:53:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kakak Menur</dc:creator>
<guid>http://kakakmenur.wordpress.com/2012/10/15/tidak-ada-yang-instant-prosesnya-sama/</guid>
<description><![CDATA[Dalam kurun waktu 3 tahun (Juli 2002 &#8211; November 2005) telah dilakukan pemasangan implan koklea]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kurun waktu 3 tahun (Juli 2002 &#8211; November 2005) telah dilakukan pemasangan implan koklea pada 24 penderita tuli saraf berat. Dari evaluasi yang dilaksanakan pada ke-24 pasien tersebut yang menjalani pemasangan implant koklea (satu pasien reimplantasi), didapatkan hasil sebagai berikut :</p>
<p>- Mampu menyadari suara lingkungan, membedakan suara lingkungan dan membedakan suara bicara pada 19 pasien dalam jangka waktu 6 bulan. </p>
<p>- Mampu memahami pembicaraan sehari &#8211; hari setelah menggunakan implant koklea selama 2 tahun. </p>
<p>- Memahami percakapan timbal balik dan berkomunikasi menggunakan telepon pada 8 pasien setelah 2 tahun menggunakan implant koklea.</p>
<p>Implan kokhlea merupakan salah satu pilihan untuk mengatasi tuli saraf berat, dan diperlukan adanya kerjasama tim dan dukungan yang kuat dari keluarga untuk mendapatkan hasil yang optimal. </p>
<p>*berarti tahapan mendengar &#38; berbicara pada pengguna CI sama dengan pada pengguna ABD. Tidak ada yang instant&#8230;.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.pikhospital.co.id/enews3.htm" rel="nofollow">http://www.pikhospital.co.id/enews3.htm</a></p>
<p>Pindahan dari: <a href="http://menurntik.multiply.com/journal/item/74/Tidak-Ada-Yang-Instant-Prosesnya-Sama" rel="nofollow">http://menurntik.multiply.com/journal/item/74/Tidak-Ada-Yang-Instant-Prosesnya-Sama</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TIPS MEMAKSIMALKAN TERAPI PADA ANAK DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN]]></title>
<link>http://kakakmenur.wordpress.com/2012/10/15/memaksimalkan-terapi-pada-anak-dengan-gangguan-pendengaran/</link>
<pubDate>Mon, 15 Oct 2012 11:32:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kakak Menur</dc:creator>
<guid>http://kakakmenur.wordpress.com/2012/10/15/memaksimalkan-terapi-pada-anak-dengan-gangguan-pendengaran/</guid>
<description><![CDATA[Setelah anda memberikan alat bantu dengar (ABD) / cochlear implant (CI) pada anak anda dan anak anda]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p> Setelah anda memberikan alat bantu dengar (ABD) / cochlear implant (CI) pada anak anda dan anak anda memakainya sepanjang terjaga, langkah berikutnya adalah memberikan terapi yang sesuai dengan kebutuhannya. Ada beberapa macam terapi yang dapat diberikan untuk anak dengan gangguan pendengaran, yaitu: Terapi Wicara (TW) / Speech Therapy, Auditory Verbal Therapy (AVT) / Terapi Mendengar, dan Natural Auditory Oral (NAO). Semuanya memiliki tujuan akhir yang sama, yaitu membuat anak dengan gangguan pendengaran dapat berbicara dan berkomunikasi.<br />
        Manakah terapi yang paling baik untuk anak dengan gangguan pendengaran? Tidak ada terapi yang paling baik! Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Keberhasilan dari terapi yang dipilih bukan berdasarkan jenis terapinya atau siapa terapisnya, tetapi berdasarkan keterlibatan orang tua dengan terapisnya dan penerapan materi terapi di luar sesi terapi. Anda adalah terapis yang terbaik bagi anak anda!</p>
<p>Berikut adalah beberapa tips bagi orang tua agar bisa mendapatkan manfaat maksimal dari terapi yang dipilih:</p>
<p>1.  Pilihlah terapis yang bisa dan mau bekerja sama dengan anda sebagai orang tua. Bekerja sama berarti</p>
<p>Terapis menginginkan orang tua berada dalam ruangan terapi dalam sesi terapi. Dengan berada dalam ruang terapi, orang tua akan mengetahui apa saja yang dilakukan terapis terhadap anaknya. Dengan demikian diharapkan orang tua dapat melakukan hal yang sama di rumah.<br />
Terapis memberikan laporan atas setiap sesi terapi yang sudah berlangsung dengan menjelaskan tujuan dari setiap kegiatan dalam sesi terapi tersebut.<br />
Terapis memberikan home program (semacam pekerjaan rumah) kepada orang tua agar dapat melakukan kegiatan serupa di rumah.</p>
<p>Apabila anda mendapati terapis yang sekarang tidak memenuhi kriteria di atas, jangan segan-segan untuk mencari terapis yang lain. Kerjasama antara terapis dengan anda sangat menunjang kemajuan anak anda.</p>
<p>2.  Orang tua melakukan home program yang diberikan oleh terapis dalam kegiatan sehari-hari. Komitmen orang tua untuk terlibat dalam mengerjakan program di luar sesi terapi sangat mendukung perkembangan anak.</p>
<p>Melatih anak selama lima menit setiap sesi setiap hari memberi hasil yang luar biasa terhadap perkembangan mendengar dan bicara anak.<br />
Sangat penting untuk melakukan setiap sesi antara orang tua dengan anak secara singkat. Sesi singkat tapi dengan frekuensi yang sering memberi hasil yang jauh lebih baik daripada sesi yang panjang tapi jarang dilakukan.</p>
<p>3.  Orang tua YAKIN bahwa anaknya bisa mencapai target yang sudah ditetapkan. Keyakinan mendorong semangat orang tua untuk melakukan latihan secara terarah dan teratur. Apabila orang tua tidak memiliki keyakinan bahwa anaknya akan bisa mencapai target yang ditetapkan maka tidak akan ada semangat untuk melakukan latihan.</p>
<p>Akhirnya didapat kesimpulan bahwa yang memegang peranan penting akan keberhasilan anak adalah orang tua, bukan terapis maupun jenis terapi yang diikuti. Andalah penentu keberhasilan anak anda.<br />
Demikian sekedar rangkuman tips dari saya. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Salam,<br />
Dion/Ibunya Menur<br />
*Dirangkum dari berbagai sumber + pengalaman pribadi*</p>
<p>Sumber: <a href="http://menurntik.multiply.com/journal/item/78/TIPS-MEMAKSIMALKAN-TERAPI-PADA-ANAK-DENGAN-GANGGUAN-PENDENGARAN" rel="nofollow">http://menurntik.multiply.com/journal/item/78/TIPS-MEMAKSIMALKAN-TERAPI-PADA-ANAK-DENGAN-GANGGUAN-PENDENGARAN</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penjelasan Untuk Guru di Sekolah Umum]]></title>
<link>http://kakakmenur.wordpress.com/2012/10/10/penjelasan-untuk-guru-di-sekolah-umum/</link>
<pubDate>Wed, 10 Oct 2012 10:51:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kakak Menur</dc:creator>
<guid>http://kakakmenur.wordpress.com/2012/10/10/penjelasan-untuk-guru-di-sekolah-umum/</guid>
<description><![CDATA[Posting berikut dipublish ketika Menur naik ke kelas 2 di SD GIS (Global Islamic School) di Condet,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Posting berikut dipublish ketika Menur naik ke kelas 2 di SD GIS (Global Islamic School) di Condet, Jakarta Timur. Sekarang Menur sudah kelas 3.</p>
<p>Jumat, 15 Juli 2011</p>
<p>Hari ini adalah hari pertama Menur masuk di kelas 2 Primary GIS.  Dan seperti biasanya, setiap kenaikan kelas saya harus menerangkan kembali kepada guru kelas yang baru tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kekhususan Menur.  Di Primary GIS ini Menur adalah murid <em><span style="text-decoration:underline;">pertama dan satu-satunya</span></em> yang mengalami gangguan pendengaran dan memakai alat bantu dengar (abd) hingga saat ini.</p>
<p>Lantas, apa yang harus saya terangkan kepada guru-gurunya Menur? Pertama-tama, saya selalu tanya apakah para guru tersebut pernah punya kenalan atau keluarga yang tuli. Istilah “tuli” ini saya pergunakan karena istilah yang lebih halus yaitu “gangguan pendengaran” belum umum digunakan. Dan hasilnya adalah bahwa sebagian besar dari para guru tersebut belum pernah berhubungan dengan orang yang mengalami gangguan pendengaran.   Nah, kalau berhubungan dengan orang yang mengalami gangguan pendengaran saja belum pernah, bagaimana mereka tahu tentang abd dan FM system?</p>
<p>Dengan demikian saya menyimpulkan bahwa penjelasan yang akan saya berikan harus se-awam mungkin dan tidak menggunakan istilah-istilah yang sering digunakan dalam dunia kedokteran dan audiology yang memang berhubungan dengan dunia gangguan pendengaran.</p>
<p>Satu hal lagi, <span style="text-decoration:underline;">jangan pernah menyebutkan harga dari abd dan FM yang anak kita pakai.</span> Dengan demikian guru tidak akan merasa terbebani untuk melindungi abd dan FM yang dipakai anak kita. Karena harganya memang ‘lumayan’ tinggi (buat saya). Lantas, bagaimana caranya agar guru ikut melindungi abd dan FM anak kita? Kalau saya dengan cara memberi kesadaran bahwa abd dan FM itu sangat penting bagi anak kita. Caranya dengan meminta guru untuk menggunakan stetosklip yang dihubungkan ke abd dan FM.</p>
<p>Wali kelasnya Menur terkejut dengan ‘hasil pendengaran’ beliau ketika memakai stetosklip yang dihubungkan ke abd dan FM. Beliau kagum akan kejernihan suara yang didengarkan melalui stetosklip yang terhubung ke abd, dan bertanya: apakah Menur bisa mendengar tanpa abd ini? Owh, jawabannya sudah pasti: tidak bisa L</p>
<p>Ada lima halaman (saja) yang saya ‘terangkan’ kepada wali kelasnya Menur. Dan keterangan yang saya berikan hanya memakan waktu tidak lebih dari 5 menit. Tanya jawab antara saya dan para guru juga hanya berlangsung tidak lebih dari 5 menit. Memang saya sengaja tidak membuat presentasi yang panjang lebar agar para guru tidak merasa bahwa kehadiran Menur sebagai anak dengan gangguan pendengaran akan menjadi beban bagi mereka dan akan menyita waktu mereka.</p>
<p>Halaman pertama berisi gambar anatomi telinga. Dari halaman ini saya menerangkan telinga terdiri dari tiga bagian. Suara masuk ke telinga ditangkap dari daun telinga hingga bisa sampai ke rumah siput dan diubah menjadi getaran untuk disampaikan ke otak. Dari halaman pertama ini saya menerangkan bahwa gangguan pendengaran Menur ada pada hair cells di rumah siputnya.</p>
<p>Halaman kedua berisi gambar bagan audiometry dan dibawahnya saya tambahkan hasil ASSR Menur. Dari gambar ini saya menjelaskan tentang pengertian frekwensi, desibel, kita yang tidak mengalami gangguan pendengaran ada pada posisi maksimal 20 desibel, letak suara yang ada pada gambar, dan sisa pendengarannya Menur sesuai dengan hasil ASSR yang ada di bawahnya. Juga saya jelaskan bahwa suara yang dapat kita dengarkan adalah suara yang berada pada desibel yang lebih keras.</p>
<p>Halaman ketiga berisi gambar alat bantu dengar lengkap dengan bagian-bagiannya. Saat menjelaskan tentang abd ini saya meminjam sebuah abd pada Menur agar para guru dapat melihat dan memegang abd yang ‘real’. Pada bagian ini saya juga menjelaskan pantangan bagi abd. Sebagaimana alat elektronik pada umumnya, pantangan bagi abd adalah basah dan jatuh/terbanting.</p>
<p>Halaman keempat berisi tips cara berkomunikasi dengan pengguna abd. Kebanyakan orang mengira bahwa berbicara dengan orang yang pakai abd itu harus keras. Kenyataannya itu hanya akan menyebabkan distorsi pada suara yang dihasilkan oleh abd.</p>
<p>Halaman kelima berisi tentang teaching strategis bagi penempatan anak yang memakai abd di dalam lingkungan mainstreaming.</p>
<p>Perlengkapan yang harus kita siapkan dalam penjelasan ini selain lima halaman di atas adalah stetosklip. Tanpa stetosklip ini guru tidak akan dapat membayangkan seperti apa kerja abd (dan FM) yang dipakai oleh anak kita.</p>
<p>Mungkin bagi kita ini adalah hal yang sudah biasa. Namun tidak demikian bagi guru yang pertama kali menerima anak yang memakai abd di kelasnya.</p>
<p>Semoga dapat membantu.</p>
<p>Dan ini adalah lembaran presentasi saya kepada guru kelasnya Menur:</p>
<p>1. <a href="http://kakakmenur.files.wordpress.com/2012/10/penempatan-anak-dengan-abd-di-kelas-reguler.pdf">Penempatan Anak dengan ABD Di Kelas Reguler</a><a href="http://kakakmenur.files.wordpress.com/2012/10/berkomunikasi-dengan-pengguna-abd.pdf"><br />
</a></p>
<p>2. <a href="http://kakakmenur.files.wordpress.com/2012/10/berkomunikasi-dengan-pengguna-abd.pdf">Berkomunikasi dengan Pengguna ABD</a></p>
<p>3. <a href="http://kakakmenur.files.wordpress.com/2012/10/anatomi-telinga-audiogram.pdf">ANATOMI TELINGA &#38; AUDIOGRAM</a></p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p>Sumber: <a href="http://menurntik.multiply.com/journal/item/80/Penjelasan-Untuk-Guru-Kelas-2-SD-nya-Menur">http://menurntik.multiply.com/journal/item/80/Penjelasan-Untuk-Guru-Kelas-2-SD-nya-Menur</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tips Memilih Toko Alat Bantu Dengar]]></title>
<link>http://kakakmenur.wordpress.com/2012/10/10/tips-memilih-toko-alat-bantu-dengar/</link>
<pubDate>Wed, 10 Oct 2012 10:03:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kakak Menur</dc:creator>
<guid>http://kakakmenur.wordpress.com/2012/10/10/tips-memilih-toko-alat-bantu-dengar/</guid>
<description><![CDATA[Setelah mengetahui anak anda mengalami gangguan pendengaran, biasanya anda akan disarankan untuk mem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah mengetahui anak anda mengalami gangguan pendengaran, biasanya anda akan disarankan untuk memakaikan alat bantu dengar (ABD) pada anak anda. Sebagai orang yang baru saja memasuki dunia ketunarunguan (kecuali bila disebabkan oleh faktor genetik) anda pasti bingung untuk menentukan harus membeli ABD yang seperti apa dan membeli dimana.</p>
<p>Mengapa memilih toko ABD menjadi sangat penting?</p>
<p><strong><em>“Ketepatan memilih ABD menentukan keberhasilan anak kita untuk belajar mendengar, bicara, berkomunikasi, menerima pelajaran di sekolah, dan pada akhirnya adalah menentukan keberhasilannya di masa datang.”</em></strong></p>
<p>Berikut ada sedikit tips berdasarkan  pengalaman saya dan beberapa curhat orang tua lainnya:</p>
<p><strong><em>1.  </em></strong>Banyak-banyaklah mencari informasi kepada orang tua yang telah lebih dulu memiliki anak dengan gangguan pendengaran. Carilah informasi di internet. Ikutlah forum sharing atau kumpulan orang tua yang telah memiliki anak yang mengalami gangguan pendengaran sebelumnya dan telah sukses membesarkannya. Adanya sharing dengan orang tua lain akan sangat membuka wawasan kita tentang bagaimana menentukan toko ABD, pentingnya ABD bagi anak kita, apa saja yang perlu dilakukan setelah pemakaian ABD, dan masih banyak lagi. <strong><em>Termasuk tentang toko ABD yang direkomendasikan dan alasannya.</em></strong></p>
<p><strong><em>2.  </em></strong>Tanyakan kepada petugas toko ABD yang anda datangi, tunjukkan hasil ASSR anak anda, dan tanyakan pendapatnya tentang ABD yang sesuai. Tanyakan juga apakah ABD tersebut dapat mengcover kebutuhan mendengar anak anda. Setelah petugas memberikan jawaban, tanyakan spesifikasi dari ABD yang ditawarkan dan mintalah penjelasan dari petugas tersebut. <strong><em>Apabila jawaban petugas hanyalah “Ini sudah sesuai untuk anak bapak/ibu.” Maka sebaiknya anda tidak membeli di toko itu.</em></strong></p>
<p><strong><em>3.  </em></strong>Tanyakan pada petugas tersebut apakah ABD tersebut bisa di setting sesuai dengan hasil ASSR anak anda. Apabila petugas menjawab bisa, tanyakan lagi fitur apa saja yang bisa disetting pada ABD yang disarankan. Bisakah anda melihat layar monitor komputer petugas tersebut untuk mengetahui apa saja yang bisa di-setting pada ABD tersebut dan proses fittingnya. <strong><em>Apabila petugas tidak bisa menerangkan apa yang ingin anda ketahui, maka lebih baik anda tidak membeli di toko itu!</em></strong></p>
<p><strong><em>4.  </em></strong>Tanyakan pada petugas tersebut: garansi toko atas ABD tersebut dan apa saja yang tercover dari garansi tersebut.</p>
<p><strong><em>5.  </em></strong>Tanyakan pada petugas tersebut, apa saja prosedur audiologis yang perlu dijalani oleh anak anda, berapa lama setelah memakai ABD, apakah perlu fitting ulang ABD anak anda, fitting ulang tersebut berdasarkan apa saja, apakah prosedur audiologis tersebut bisa dilakukan di toko tersebut, dan apakah dikenakan biaya atas semua proses yang akan dijalani. <strong><em>Apabila salah satu jawabannya adalah tidak, lebih baik anda tidak membeli ABD di toko tersebut.</em></strong></p>
<p>Masih banyak pertimbangan lain untuk memilih toko ABD. Untuk itu carilah rekomendasi atau berkumpullah dengan orang tua yang sama-sama memiliki anak dengan gangguan pendengaran.</p>
<p>Tulisan ini dibuat berdasarkan cerita para orang tua yang “merasa menyesal” karena memilih toko ABD yang salah. Jangan sampai hal ini terjadi lagi pada orang tua lainnya.</p>
<p>Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan dapat membantu.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Dion, Ibunya Menur</p>
<p>Sumber: <a href="http://menurntik.multiply.com/journal/item/76/Tips-Memilih-Toko-Alat-Bantu-Dengar">http://menurntik.multiply.com/journal/item/76/Tips-Memilih-Toko-Alat-Bantu-Dengar</a></p>
<p><a href="http://kakakmenur.files.wordpress.com/2012/10/img00742-20110321-0700.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-20" title="Alat Bantu Dengar" src="http://kakakmenur.files.wordpress.com/2012/10/img00742-20110321-0700.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bahaya Infeksi Rubella Pada Kehamilan]]></title>
<link>http://arnoldfranscornellius.wordpress.com/2012/06/21/bahaya-infeksi-rubella-pada-kehamilan/</link>
<pubDate>Thu, 21 Jun 2012 04:21:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>arnold frans</dc:creator>
<guid>http://arnoldfranscornellius.wordpress.com/2012/06/21/bahaya-infeksi-rubella-pada-kehamilan/</guid>
<description><![CDATA[Cuaca mendung di Sabtu sore itu semakin menambah kesedihan yang tengah melanda Yenny karena putri pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Cuaca mendung di Sabtu sore itu semakin menambah kesedihan yang tengah melanda Yenny karena putri pertamanya dinyatakan dokter mengalami gangguan pendengaran alias tuli. Dia tidak menyangka bahwa putrinya mengalami gangguan pendengaran, karena semenjak lahir hingga kini berusia hampir 3 bulan sepertinya tidak ada masalah dengan kesehatannya.<br />
Yenny tidak menyangka kalau gejala ruam-ruam merah yang pernah dialami saat usia kehamilannya sekitar 4 bulan, berdampak pada putri yang sangat didambakannya.</p>
<p><!--more--><br />
<strong>Bahaya Infeksi Rubella Pada Kehamilan</strong></p>
<p>Sebagaimana “anggota” TORCH lainnya (TORCH: Toksoplasma, Rubella, Cytomegalo Virus, Herpes), infeksi Rubella pada kehamilan dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir mati dan kelainan kongenital atau kelainan bawaan yang dalam istilah medisnya disebut Sindrom Rubella Kongenital atau Congenital Rubella Syndrome disingkat CRS. Berdasarkan data dari WHO, paling tidak 236.000 kasus CRS terjadi setiap tahun di negara-negara berkembang dan meningkat 10 kali lipat pada saat terjadi epidemi.</p>
<p>CRS merupakan gabungan dari beberapa abnormalitas fisik yang berkembang pada bayi sebagai akibat dari infeksi Rubella pada ibu hamil yang ditularkan pada janin melalui plasenta. CRS pertama kali dilaporkan tahun 1941 oleh Norman Greg, seorang dokter ahli mata dari Australia. Norman menemukan katarak bawaan pada bayi yang ibunya mengalami infeksi Rubella di awal kehamilannya. Selain katarak, gejala CRS dapat berupa gangguan pendengaran atau tuli, gangguan jantung dan pembuluh darah, kerusakan otak, dan lain-lain. Disamping itu, bayi dengan CRS berisiko lebih besar untuk terkena Diabetes Melitus, gangguan tiroid, gangguan pencernaan dan gangguan syaraf (pan-encephalitis). Kondisi ini disebabkan oleh infeksi virus yang menetap atau karena respon autoimun.</p>
<p><strong>Mendeteksi Infeksi Rubella Pada Ibu Hamil &#38; Janinnya</strong></p>
<p>Lebih dari 50% kasus infeksi Rubella pada ibu hamil bersifat sub-klinis atau tanpa gejala sehingga sering tidak disadari. Karena dapat berdampak negatif bagi janin yang dikandungnya, maka deteksi infeksi Rubella pada ibu hamil yang belum memiliki kekebalan terhadap infeksi Rubella sangat penting.</p>
<p>Ada beberapa pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi infeksi Rubella, yang lazim dilakukan adalah pemeriksaan anti-Rubella IgM dan anti-Rubella IgG pada contoh darah dari ibu hamil.</p>
<p>Risiko tertularnya janin yang dikandung oleh ibu terinfeksi Rubella bervariasi, tergantung kapan ibu terinfeksi. Jika ibu hamil terinfeksi saat usia kehamilannya &#60; 12 minggu maka risiko janin tertular 80-90%. Jika infeksi dialami ibu saat usia kehamilan 15-30 minggu, maka risiko janin terinfeksi turun yaitu 10-20%. Namun, risiko janin tertular meningkat hingga 100% jika ibu terinfeksi saat usia kehamilan &#62; 36 minggu. Janin yang tertular berisiko mengalami Sindrom Rubella Kongenital, terutama bila infeksi terjadi pada usia janin &#60; 4 bulan. Meskipun infeksi dapat terjadi sepanjang kehamilan, namun jarang terjadi kelainan bila infeksi terjadi setelah usia kehamilan &#62; 20 minggu.</p>
<p>Untuk memastikan apakah janin terinfeksi atau tidak maka dilakukan pendeteksian virus Rubella dengan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Bahan pemeriksaan diambil dari air ketuban (cairan amnion) atau darah janin. Pengambilan sampel air ketuban atau pun darah janin harus dilakukan oleh dokter ahli kandungan &#38; kebidanan, dan hanya dapat dilakukan setelah usia kehamilan di atas 22 minggu.</p>
<p><strong>Mencegah Sindroma Rubella Kongenital</strong></p>
<p>Untuk perlindungan terhadap serangan virus Rubella telah tersedia vaksin dalam bentuk vaksin kombinasi yang sekaligus digunakan untuk mencegah infeksi campak dan gondongan, dikenal sebagai vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella). Vaksin Rubella dapat diberikan kepada anak yang sistem kekebalan tubuhnya sudah berkembang yaitu pada usia 12-18 bulan. Bila pada usia tersebut belum diberikan, vaksinasi dapat dilakukan pada usia 6 tahun. Sedangkan vaksinasi ulangan dianjurkan pada usia 10-12 tahun atau 12-18 tahun (sebelum pubertas).</p>
<p>Infeksi Rubella, pada umumnya merupakan penyakit ringan. Gejala klinis yang mencolok adalah timbulnya ruam kemerahan yang bersifat sementara. Namun bila menjangkiti ibu hamil terutama pada awal kehamilan, dapat mendatangkan petaka bagi janin yang dikandungnya. Dapat terjadi abortus (keguguran), bayi meninggal pada saat lahir, atau mengalami sindrom Rubella Kongenital. Oleh karena itu, sebelum hamil pastikan bahwa Anda telah memiliki kekebalan terhadap virus Rubella dengan melakukan pemeriksaan anti-Rubella IgG dan anti-Rubella IgM.</p>
<p>Jika hasil keduanya negatif, sebaiknya Anda ke dokter untuk melakukan vaksinasi. Namun Anda baru diperbolehkan hamil 3 bulan setelah vaksinasi.</p>
<p>Jika anti-Rubella IgM saja yang positif atau anti-Rubella IgM dan anti-Rubella IgG positif, dokter akan menyarankan Anda untuk menunda kehamilan.</p>
<p>Jika anti-Rubella IgG saja yang positif, berarti Anda pernah terinfeksi dan antibodi yang terdapat dalam tubuh Anda dapat melindungi dari serangan virus Rubella. Bila Anda hamil, bayi Anda pun akan terhindar dari Sindroma Rubella Kongenital.</p>
<p>Bila Anda sedang hamil dan belum mengetahui apakah tubuh Anda telah terlindungi dari infeksi Rubella maka Anda dianjurkan melakukan pemeriksaan anti-Rubella IgG dan anti-Rubella IgM :</p>
<p>Jika Anda telah memiliki kekebalan (anti-Rubella IgG positif), berarti janin Anda pun terlindungi dari ancaman virus Rubella.</p>
<p>Jika belum memiliki kekebalan (anti-Rubella IgG dan anti-Rubella IgM negatif) maka :</p>
<p>Sebaiknya Anda rutin kontrol ke dokter,<br />
Tetap menjaga kesehatan dan tingkatkan daya tubuh,<br />
Menghindari orang yang dicurigai terinfeksi Rubella,<br />
Segera memeriksakan diri bila diduga terinfeksi.<br />
Jika Anda diduga terinfeksi Rubella (anti-Rubella igM positif atau keduanya positif), sebaiknya Anda segera konsultasi dengan dokter kandungan Anda. Dokter akan memberikan anjuran dan memantau kesehatan janin Anda.<br />
Bayi yang lahir sehat tanpa cacat merupakan idaman semua ibu hamil. Karena itu, ibu hamil perlu merawat kehamilannya sejak dini dengan memeriksakan diri secara teratur ke dokter, menjaga kebersihan dan mengonsumsi makanan bergizi. Namun, mengingat infeksi Rubella pada saat hamil dapat membahayakan janin yang dikandungnya, maka pemeriksaan status infeksi dan kekebalan terhadap Rubella penting untuk membantu dokter Anda dalam menentukan tindakan yang tepat agar bayi tidak mengalami Sindrom Rubella Kongenital.</p>
<p><em>Referensi :</em></p>
<p><em>Prodia Official Site</em></p>
<p><em>Washington State of Health. Reporting and Surveillance Guidelines. Oktober 2002. <a href="http://www.co.jefferson.wa.us" rel="nofollow">http://www.co.jefferson.wa.us</a></em></p>
<p><em>US Department of Health and Human Service Center for Disease Control and Prevention (CDC). Morbidity and Mortality Weekly Report. July 2001; vol 50/No.RR-12 : 1-23.</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anakku &amp; Les Piano-nya]]></title>
<link>http://eeboomenarique.wordpress.com/2011/09/17/anakku-les-piano-nya/</link>
<pubDate>Sat, 17 Sep 2011 15:28:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>audiyanti</dc:creator>
<guid>http://eeboomenarique.wordpress.com/2011/09/17/anakku-les-piano-nya/</guid>
<description><![CDATA[Awalnya ingin memberikan wawasan musik untuk anakku dan juga berharap untuk meningkatkan kemampuan p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Awalnya ingin memberikan wawasan musik untuk anakku dan juga berharap untuk meningkatkan kemampuan pendengarannya. Lalu dengan nekat ikut les piano dan karena anakku Icha juga semangat sekali walaupun kita tidak punya piano di rumah.<br />
Disitu pulalah aku belajar banyak tentang adaptasi otak anak yang masih kecil terhadap sensasi apapun yang diterima-nya.<br />
Di awal les piano-nya aku selalu mendampingi Icha ke dalam ruangan les dan melihat bahwa Icha berusaha keras mengerti yang diajarkan dan melaksanakannya berdasarkan teori yang diberikan,belum melibatkan indera pendengarannya sama sekali.<!--more--><br />
Perlahan &#8211; lahan guru pianonya mulai menuntun agar Icha mempercayai pendengarannya dan aku pun mulai diminta tidak menunggu di dalam.<br />
Lalu aku mulai mengamati saat Icha latihan di rumah menggunakan portasound (keyboard kecil) terlihat Icha lebih dapat mengetahui jika dia memainkan lagunya dengan kurang sempurna. Artinya pendengarannya mulai terlatih membedakan nada dan aku sangat gembira.<br />
Apalagi saat akhirnya Icha layak konser dan menyelesaikan lagunya dengan baik dengan kecepatan dan birama yang tepat pula.<br />
Paling bangga adalah saat Icha menyelesaikan ujian kenaikan tingkatnya dengan nilai A+ dengan pujian. Terbuktilah bahwa implan pendengaran telah membuka dunia Icha dan kemampuan adaptasi otak-nya lah yang akhirnya membuat Icha mampu terus menerus memperbaiki kemampuan mendengarnya yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hidupnya,amin.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anakku &amp; Active Learning]]></title>
<link>http://eeboomenarique.wordpress.com/2011/09/17/anakku-active-learning/</link>
<pubDate>Sat, 17 Sep 2011 06:03:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>audiyanti</dc:creator>
<guid>http://eeboomenarique.wordpress.com/2011/09/17/anakku-active-learning/</guid>
<description><![CDATA[Awal aku mendaftarkan Icha,anak sulungku ke Sekolah Al Fath BSD hanya dengan alasan klasik,dekat dar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Awal aku mendaftarkan Icha,anak sulungku ke Sekolah Al Fath BSD hanya dengan alasan klasik,dekat dari rumah.<br />
Namun perjalanan akhirnya menunjukkan bahwa pilihan itu ternyata memang tepat untuk Icha.<br />
Ketika Icha mengalami Sudden Deafness,ternyata memang Al Fath yang akhirnya bisa mengakomodir hal &#8211; hal yang Icha butuhkan.<br />
Dari mulai jumlah siswa yang tidak terlalu banyak dalam 1 kelas, rasio murid &#38; guru yang cukup (1 : 12) dan yang paling penting adalah metoda active learning dengan segala kelebihannya.<!--more--></p>
<p>Mengapa active learning menjadi tepat bagi seorang pemakai Implan Pendengaran seperti Icha?<br />
Banyak hal yang sangat mendukung,yaitu antara lain :</p>
<p>1. Cara belajar yang tidak statis. Mata pelajaran diajarkan dengan bermain dan aktivitas dilakukan di atas karpet dgn format bebas. Sehingga tidak ada pengaturan tempat duduk yg kaku sehingga Icha bisa selalu mendekat kepada guru jika yang dikatakan gurunya kurang terdengar dengan jelas.</p>
<p>2. Hampir seluruh materi diberikan dengan bermain dan roleplay sehingga porsi mendengarkan dengan konsentrasi penuh tidak menjadi terlalu penting. Akhirnya Icha dapat menyerap materi pelajaran dengan maksimal dan terbukti dengan prestasi akademisnya yang selalu 5 besar</p>
<p>3. Materi pelajaran yang terintegrasi sehingga satu hal akan diajarkan berulang dengan format yg berbeda sehingga Icha tidak akan terlewat materi yang penting. Misalnya tentang tata surya diajarkan di materi science,english,language bahkan religion.</p>
<p>4.Lingkungan pengajaran yang memiliki multi bahasa yaitu bahasa indonesia, bahasa inggris dan bahasa arab walaupun tidak terlalu mendalam. Akibatnya Icha terbiasa untuk menerima bunyi2 asing / berbeda dan dapat beradaptasi terhadap berbagai bunyi yang harus dapat dia pahami</p>
<p>5. Kerjasama guru dan orangtua yang sangat erat dan saling mendukung karena active learning byk sekali melibatkan orangtua dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian sangat mudah untuk bekerjasama dengan guru dalam mengatasi kesulitan2 yg mungkin dihadapi Icha dalam menerima materi pelajaran</p>
<p>Hal inilah yang amat sangat menunjang pembentukan karakter Icha hingga sekarang dan menjadikannya amat percaya diri dengan segala kelebihan dan keterbatasannya sebagai anak dengan gangguan pendengaran yang menggunakan implan pendengaran,alhamdulillah.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengobatan Aurikuloterapi untuk Gangguan Pendengaran (Hearing Disorders)]]></title>
<link>http://aurindo.wordpress.com/2011/05/05/pengobatan-aurikuloterapi-untuk-gangguan-pendengaran-hearing-disorders/</link>
<pubDate>Wed, 04 May 2011 23:44:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>jipiyanuar</dc:creator>
<guid>http://aurindo.wordpress.com/2011/05/05/pengobatan-aurikuloterapi-untuk-gangguan-pendengaran-hearing-disorders/</guid>
<description><![CDATA[Protokol pengobatan Aurikuloterapi untuk Gangguan Pendengaran (Hearing Disorders) meliputi: Sensorin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Protokol pengobatan Aurikuloterapi untuk Gangguan Pendengaran (Hearing Disorders) meliputi:</p>
<p><strong>Sensorineural Deafness (Tuli Syaraf)</strong></p>
<p>Titik Primer:<br />
Inner Ear.C (80 Hz)<br />
External Ear.C (20 Hz)<br />
Auditory nerve (2,5 Hz), letak di dalam pada dinding Concha<br />
Temporal Cortex (80 Hz)<br />
Auditory line (80 Hz)<br />
Adrenal Gland.C (20 Hz)<br />
Adrenal Gland.E (10 Hz), letak di dalam pada dinding Concha<br />
Kidney.C (10 Hz)<br />
Shen Men (10 Hz)<br />
Point Zero (10 Hz)<br />
Master Sensorial (80 Hz)<br />
Occiput (10 Hz)<br />
San Jiao (20 Hz)</p>
<p>Pengobatan pada empat dinding dari saluran telinga dilakukan langsung dengan probe atau jarum. Atau saluran telinga itu diberi bubuk/larutan garam dan menempelkan monopolar auricular probe. Dengan metode ini pengobatan dilakukan dalam rentang frekuensi antara 1 Hz sampai 320 Hz. Stimulasi tiap titiknya diberi arus 150 μA selama 30 detik.<br />
Diobati juga titik-titik reflex telinga aktif sepanjang garis auditori (auditory line) dari lobus inferior ke arah antitragus, dan 8 titik di area kepala yang mengitari telinga. Pasien penderita tuli membutuhkan paling sedikit 20 kali sesi pengobatan dengan waktu minimal 30 menit per-sesinya.</p>
<p><a href="http://aurindo.files.wordpress.com/2011/05/sensorial-deafnes-and-tinnitus.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-206" title="Sensorial Deafnes and Tinnitus" src="http://aurindo.files.wordpress.com/2011/05/sensorial-deafnes-and-tinnitus.jpg?w=570&#038;h=330" alt="" width="570" height="330" /></a></p>
<p><strong>Tinnitus (Telinga Berdering/mendenging)</strong></p>
<p>Titik Primer:<br />
Inner Ear.C (80 Hz)<br />
External Ear.C (20 Hz)<br />
Auditory nerve (2,5 Hz), letak di dalam pada dinding Concha<br />
Kidney.C (10 Hz)<br />
Point Zero (10 Hz)<br />
Shen Men (10 Hz)<br />
Master Sensorial (80 Hz)<br />
San Jiao (20 Hz)</p>
<p>Titik Suplemen:<br />
Cervical Spine (10 Hz)<br />
Master Oscillation (2,5 Hz), letak di dalam pada dinding Concha<br />
Adrenal Gland.C (20 Hz)<br />
Adrenal Gland.E (10 Hz), letak di dalam pada dinding Concha<br />
Occiput (10 Hz)<br />
Shoulder (10 Hz)<br />
Lesser Occipital nerve (10 Hz)</p>
<p><strong>Dizziness, vertigo (Pening, Pusing Berputar)</strong></p>
<p><a href="http://aurindo.files.wordpress.com/2011/05/dizziness-and-vertigo.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-207" title="Dizziness and Vertigo" src="http://aurindo.files.wordpress.com/2011/05/dizziness-and-vertigo.jpg?w=381&#038;h=392" alt="" width="381" height="392" /></a></p>
<p>Titik Primer:<br />
Dizziness point (10 Hz), letak di dalam pada dinding Concha<br />
Inner Ear.C (80 Hz)<br />
Inner Ear.E (2,5 Hz), letak di dalam pada dinding Concha<br />
Cerebellum (10 Hz)<br />
Occiput (10 Hz)<br />
Lesser Occipital nerve (10 Hz)<br />
Point Zero (10 Hz)<br />
Master Sensorial (80 Hz)</p>
<p>Titik Suplemen:<br />
Shen Men (10 Hz)<br />
Thalamus point (80 Hz), letak di dalam pada dinding Concha<br />
Forehead (10 Hz)<br />
Liver (5 Hz)<br />
Kidney.C (10 Hz)</p>
<p><strong>Mutism, stuttering, difficulty speaking (Kebisuan, Lidah Kelu, Sulit Bicara)</strong></p>
<p><a href="http://aurindo.files.wordpress.com/2011/05/mutism-and-stuttering.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-208" title="Mutism and Stuttering" src="http://aurindo.files.wordpress.com/2011/05/mutism-and-stuttering.jpg?w=377&#038;h=392" alt="" width="377" height="392" /></a></p>
<p>Titik Primer:<br />
Mutism (2,5 Hz), letak di dalam pada dinding Concha<br />
Inner Ear.C (80 Hz)<br />
Tongue.C (80 Hz)<br />
Tongue.E (80 Hz)<br />
Kidney.C (10 Hz)<br />
Master Oscillation (2,5 Hz), letak di dalam pada dinding Concha<br />
Point Zero (10 Hz)<br />
Shen Men (10 Hz)<br />
Thalamus point (80 Hz), letak di dalam pada dinding Concha<br />
Heart.C (5 Hz)</p>
<p>Titik Suplemen:<br />
External Ear.C (20 Hz)<br />
Master Cerebral (160 Hz)</p>
<p>Protokol Aurikuloterapi untuk Penyakit-penyakit Gangguan Pendengaran (Hearing Disorders) juga meliputi pengobatan:</p>
<p><strong>Ear infection, earache (Infeksi Telinga, Telinga nyeri)</strong><br />
Titik Primer: Inner Ear.C. Inner Ear.E, External Ear.C, Kidney.C, Point Zero. Shen Men.<br />
Titik Suplemen: Master Oscillation, Master Cerebral, Adrenal Gland.C. Occiput, San Jiao, Apex of Ear.</p>
<p><strong>Impaired hearing (Pendengaran tidak Seimbang)</strong><br />
Titik Primer: Inner Ear.C, Inner Ear.E, External Ear.C, Kidney.C, Occiput. Point Zero, Shen Men.</p>
<p><strong>Motion sickness, ear sickness, sea sickness (Telinga pekak)</strong><br />
Titik Primer: Inner Ear.C, Inner Ear.E, Stomach. Occiput. Point Zero. Shen Men, Lesser Occipital nerve, Master Oscillation.</p>
<p><strong>Sudden deafness (Tuli mendadak)</strong><br />
Titik Primer: Inner Ear.C, Inner Ear.E. Brain, Brainstem, Point Zero, Shen Men, Thalamus point.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Terapi Lintah untuk Mengatasi Gangguan Pendengaran]]></title>
<link>http://terapilintahjakarta.wordpress.com/2011/04/15/terapi-lintah-untuk-mengatasi-masalah-telinga-dan-pendengaran/</link>
<pubDate>Fri, 15 Apr 2011 06:18:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid>http://terapilintahjakarta.wordpress.com/2011/04/15/terapi-lintah-untuk-mengatasi-masalah-telinga-dan-pendengaran/</guid>
<description><![CDATA[Terapi Lintah dapat membantu menyembuhkan tiga masalah pendengaran dan telinga paling umum Yaitu Keh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Terapi Lintah dapat membantu menyembuhkan tiga masalah pendengaran dan telinga paling umum Yaitu <strong>Kehilangan Pendengaran Mendadak</strong>, <strong>Tinnitus</strong> dan <strong>Otitis Media (Congek)</strong>.</p>
<p><a href="http://www.hirudomedicinalis.co.cc/wp-content/uploads/2011/04/gendangtelinga.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-297" title="gendangtelinga" src="http://www.hirudomedicinalis.co.cc/wp-content/uploads/2011/04/gendangtelinga-300x232.jpg" alt="" width="300" height="232" /></a></p>
<p><strong>Gangguan pendengaran  yang  terjadi  tiba-tiba (Mendadak)</strong>. Kondisi ini dapat berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari dan meskipun ada beberapa penyebab diketahui  seperti masalah vaskular atau masalah sistem kekebalan tubuh, namun kebanyakan penyebabnya tidak diketahui.</p>
<p><strong>Tinnitus</strong> sering digambarkan sebagai dering atau suara mendesis-desis di telinga. Hal ini dapat disebabkan oleh infeksi, penyakit telinga bagian dalam, efek samping dari obat atau paparan terhadap kebisingan tiba-tiba dan sangat keras.</p>
<p><strong>Otitis media</strong> (congek)atau infeksi telinga tengah adalah masalah telinga yang paling umum dijumpai, tidak hanya terjadi pada anak-anak tetapi juga pada orang dewasa. penumpukan Fluida, peradangan, atau pembengkakan posterior ke gendang telinga yang diakibatkan oleh suatu bakteri atau infeksi virus.Pernah diketahui juga bahwa flu dan masalah pernafasan juga dapat menyebabkan Otitis Media.</p>
<p>Lalu bagaimana Terapi Lintah atau Hirudo TherapyLeech dapat membantu mengatasi  Masalah gangguan Telinga dan Pendengaran?</p>
<p>Orang yang menderita  penyakit di atas sangat bisa mendapatkan manfaat dari terapi lintah, terutama ketika masalah telinga dan pendengaran disebabkan oleh infeksi atau masalah pembuluh darah.</p>
<p>Pertama, lintah mengeluarkan enzim anestesi untuk menurunkan kadar  sensitifitas  daerah tersebut dan kemudian akan melepaskan enzim bermanfaat dan komponen ke dalam aliran darah yang akan bekerja untuk mencegah pembekuan darah dan melarutkan bekuan darah.</p>
<p>pembuluh darah akan membesar oleh enzim, sehingga menghasilkan sirkulasi yang baik. enzim antibakteri juga akan dirilis untuk membunuh bakteri yang menyebabkan masalah pada telinga.  Enzim anti bakteri juga akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan melawan infeksi lebih lanjut.</p>
		<div id="geo-post-321" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">0.000000</span>
			<span class="longitude">0.000000</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KESULITAN BELAJAR   DISEBABKAN OLEH GANGGUAN PENDENGARAN]]></title>
<link>http://makkita.wordpress.com/2011/01/27/kesulitan-belajar-disebabkan-oleh-gangguan-pendengaran/</link>
<pubDate>Thu, 27 Jan 2011 22:38:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Makkita Daeng Makkita</dc:creator>
<guid>http://makkita.wordpress.com/2011/01/27/kesulitan-belajar-disebabkan-oleh-gangguan-pendengaran/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Musyarrafah DM (Makkita), Novita Maulidya Djalal. A. Definisi Gangguan Pendengaran Tunarungu d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh:<br />
Musyarrafah DM (Makkita), Novita Maulidya Djalal.</p>
<p>A.	Definisi Gangguan Pendengaran<br />
Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai rangsangan, terutama melalui indera pendengarannya (Somantri, 2006).<br />
Dwidjosumarto (Somantri, 2006) menambahkan bahwa ketunarunguan dibedakan dua kategori, yaitu tuli (deaf) dan kurang tuli (low of hearing), dimana<br />
1.	deaf adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengarannya tidak berfungsi.<br />
2.	Hard of hearing adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan tetapi masih berfungsi untuk mendengar, baik menggunakan maupun tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing aids).<br />
Salim (Somantri, 2006) juga menyimpulkan bahwa anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya.<br />
Dari definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa tunarungu adalah mereka yang kehilangan pendengaran baik sebagian (hard of hearing) maupun seluruhnya (deaf) yang menyebabkan pendengarannya tidak memiliki nilai fungsional di dalam kehidupan sehari-hari.<br />
B.	Valensi Anak Tunarungu<br />
Tafsiran tentang jumlah anak penderita gangguan pendengaran sangat banyak. Seperti halnya perbedaan dalam definisi, studi  populasi, dan ketelitian pengujian konstribusi yang bermacam-macam figur. Departemen Pendidikan Amerika melaporkan bahwa 17 % apa dari individu-individu preschool sampai individu kelas 12. Walaupun Departemen pendidikan Amerika tidak melaporkan secara detil beberapa figur dalam kategori  deaf dan Hard of hearing, beberapa ahli percaya bahwa banyak anak penderita sulit mendengar yang dapat kepentingan dari layanan pendidikan khusus ternyata tidak dilayani (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
C.	Klasifikasi Anak Tunarungu<br />
Banyak klasifikasi dari anak tunarungu. Gangguan pendengaran ini biasanya dibagi ke dalam dua divisi yaitu deaf dan low of hearing. Selain itu, juga ditemukan perbedaan yang penting dari kedua kategori itu yakni perbedaan orientasi pendidikan dan perbedaan orientasi psikologisnya (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Klasifikasi anak tunarungu juga dikategorikan berdasarkan taraf kemampuan mendengarnya. Anak-anak yang tidak mampu mendengar suara dengan lefel frekuensi normal atau frekuensi di atasnya disebut deaf atau seseorang yang dianggap telah mengalami kehilangan total pendengarnya. Sensitifitas pendengaran diukur dalam satuan desibel dB. 0 dB menandakan kapasitas anak yang normal pendengarannya, dimana anak yang normal mampu mendengar suara yang sangat kecil. Orang-orang yang memiliki kemampuan pendengaran 90 dB ke atas dianggap sebagai anak yang mengalami gangguan pendengaran pada level tuli tetapi masih mampu mendengar sedikit (low of hearing) (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Anak tunarungu dapat digolongkan menjadi anak tunarungu saat kelahiran dan anak tunarungu setelah masa kelahirannya. Kedua hal tersebut memberi dampak pada perkembangan bahasa.  Prelingual deafness adalah ketulian yang diperoleh pada saat kelahiran atau muncul cepat dalam kehidupan individu sebelum masa pemahaman akan bahasa dan komunikasi. Sedangkan postlingual deafness adalah ketulian yang diperoleh pada saat kelahiran atau muncul dalam kehidupan individu setelah masa pemahaman akan bahasa dan komunikasi (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
D.	Pendidikan Anak Tunarungu<br />
Pendidikan anak-anak tunarungu juga memperhatikan tingkat atau batas kemampuannya dalam rangka mempengaruhi pengembangan komunikasi dan bahasanya. Hal ini disebabkan ada hubungan antara hilangnya kemampuan mendengar dengan  terhambatnya perkembangan bahasa (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Pendidik memperhatikan waktu mulai (age of onset) dari gangguan pendengaran. Selanjutnya, terdapat hubungan antara hilangnya kemampuan mendengar dengan hambatan kemampuan berbahasa. Semakin cepat seseorang mengalami gangguan pendengaran akan berdampak pada kehidupan anak tersebut. Gangguan pendengaran pada diri seseorang menjadi syarat sulitnya seseorang mengembangkan bahasanya. Dengan kata lain adalah anak yang menderita tunarungu mempunyai masalah dalam berkomunikasi (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diberikan pendidikan komunikasi untuk anak tunarungu, dimana dalam pendidikan tersebut terdapat tiga pendekatan umum, yaitu auditory training, speechreading, serta sign language (bahasa isyarat) dan finger spelling (isyarat gerak tangan) (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).</p>
<p>1.	Oralisme versus Manualisme<br />
Secara garis besar pendekatan dalam pendidikan bahasa dibedakan atas dua, yaitu pendekatan oral dan pendekatan manual. speech reading berhubungan dengan pendekatan tradisional; finger spelling disebut sebagai pendekatan manual (isyarat yang menggunakan gerak tangan) (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Beberapa tahun metode oral dan manual tampil sebagai pendekatan yang berbeda di sekolah. Beberapa sekolah yang menggunakan metode oral melarang anak-anak untuk menggunakan isyarat tangan (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Pelopor dari manualisme percaya, bagaimanapun, sangat sedikit orang-orang yang digolongkan menderita deaf dapat dilatih untuk bisa berkomunikasi dalam linngkungan sosial. Penekanan mereka terhadap bahasa isyarat juga akan memberikan sebuah tanda/isyarat komunikasi yang dapat digunakan seorang anak yang tuli dengan anak yang tuli lainnya dan juga terhadap gurunya (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Manualisme adalah metode yang disukai sampai pertengahan abad 19 ketika oralisme mulai popular kembali. Sejak oralisme membentuk sebuah kombinasi dari dua pendekatan yang kemudian disebut sebagai pendekatan komunikasi maka banyak yang menjadikan pendekatan komunikasi itu sebagai sebuah pilihan (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Ada dua faktor yang menjadi penyebab dikombinasikannya manualisme dengan oralisme, yaitu (Hallahan &#38; Kauffman, 1980):<br />
a.	Dari penelitian ditemukan bahwa anak yang deaf dari orangtua yang deaf  telah menggunakan metode manual kemudian dibandingkan dengan anak yang deaf namun orangtua tidak deaf dimana lebih baik dalam kemampuan akademik, membaca, menulis, interaksi sosial. Tidak ditemukan perbedaan dalam berbicara antara dua kelompok tersebut.<br />
b.	Di akhir tahun 1960 metode oral dianggap kurang efektif.</p>
<p>2.	Oral Techniques – Auditory Training and Speechreading<br />
Pelatihan mendengarkan adalah prosedur dari belajar anak-anak yang deaf dan hard-of hearing diamana anak-anak tersebut menggunakan apa yang mereka dengarkan. Para advocate mengklaim itu semua sangat sedikit dari keseluruhan anak-anak yang deaf dapat mendapatkan manfaat dari training auditori. Manfaat dari training auditori adalah menambah kamajuan teknologi dalam pengembangan alat bantu mendengarkan (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Speechreading, kadang-kadang disebut lipreading (memahami kata-kata orang dengan melihat gerak-gerik bibirnya menggunakan teknik visualisasi agar mereka mengerti apa yang dikatakan orang-orang padanya. Speechreading lebih akurat dari lipreading karena tulisan mengarahkan untuk hanya menggunakan tanda visual dari gerakan mulut dalam berbicara. Stimulus visual lainnya dalam lingkungan, bagaimanapun, dapat membantu hambatan mendengarkan seseorang untuk memahami pesan yang ucapkan (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Ada banyak pertentangan terhadap pendekatan oral tentang berapa banyak penekanannya terhadap auditory training dengan berapa banyak penekanan terhadap speechreading (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
a.	Auditory Training<br />
Tujuan utama dari auditory training, yaitu (Hallahan &#38; Kauffman, 1980):<br />
1.	Mengembangkan kesadaran akan suara<br />
2.	Mengembangkan kemampuan untuk membuat perbedaan yang mencolok diantara suara lingkungan.<br />
3.	Mengembangkan kemampuan membedakan diantara suara pembicaraan. </p>
<p>b.	Speechreading<br />
Speechreading merupakan bentuk pengajaran terhadap anak-anak tuna rungu dengan cara menggunakan informasi visual untuk dapat memahami apa yang dikatakan kepadanya. Metode ini kadang-kadang disebut sebagai lipreading yaitu memahami pembicaraan orang lain dengan cara memperhatikan dan membaca gerak bibir.<br />
E.	Pengaruh Pendengaran Pada Perkembangan Bicara dan Bahasa<br />
Bahasa merupakan alat komunikasi yang dipergunakan manusia dalam mengadakan hubungan dengan sesamanya. Tanpa mengenal bahasa yang digunakan suatu masyarakat, kita sukar mengambil bagian dalam kehidupan mereka. Dengan demikian, bila seorang anak memiliki kemampuan  bahasa, mereka akan memiliki sarana untuk mengembangkan sosial, emosional, maupun intelektual mereka. Namun, tidak demikian halnya dengan anak-anak tunarungu. Dengan kemampuan pendengaran mereka, membuat minimnya peluang untuk mendengar dan meniru kosa kata untuk berbahasa, sehingga untuk berkomunikasi diperlukan cara-cara tertentu (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Perkembangan bahasa dan bicara berkaitan erat dengan ketajaman pendengaran. Akibat terbatasnya ketajaman pendengaran, anak tunarungu tidak mampu mendengar dengan baik. Dengan demikian pada anak tunarungu tidak terjadi proses peniruan suara, proses peniruannya hanya terbatas pada peniruan visual. Selanjutnya, dalam perkembangan bicara dan bahasa, anak tunarungu memerlukan pembinaan secara khusus dan intensif sesuai dengan kemampuan dan taraf ketunarunguannya (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Perkembangan kemampuan bahasa dan komunikasi anak tunarungu terutama yang tergolong tunarungu total tentu tidak mungkin untuk sampai pada penguasaan bahasa melalui pendengarannya, melainkan harus melalui penglihatannya dan memanfaatkan sisa pendengarannya. Oleh sebab itu, komunikasi bagi anak tunarungu mempergunakan segala aspek yang ada pada dirinya (Hallahan &#38; Kauffman, 1980). Adapun berbagai media yang dapat dipergunakan anak tunarungu dalam berkomunikasi antara lain (Hallahan &#38; Kauffman, 1980):<br />
1.	Bagi anak tunarungu yang masih mampu berbicara, tetap menggunakan bicara sebagai media dan membaca ujaran sebagai sarana penerimaan dari pihak anak tunarungu.<br />
2.	Menggunakan media tulisan dan membaca sebagai sarana penerimaannya.<br />
3.	Menggunakan isyarat sebagai media.</p>
<p>F.	Perkembangan Kognitif Anak Tunarungu<br />
Pada umumnya intelegensi anak tunarungu secara potensial sama dengan anak yang normal, tetapi secara fungsional perkembangannya dipengaruhi oleh tingkat kemampuan berbahasanya, keterbatasan informasi, dan kiranya daya abstraksi anak. Akibat ketunarunguannya menghambat proses pencapaian pengetahuan yang lebih luas. Dengan demikian perkembangan intelegensi secara fungsional terhambat. Perkembangan kognitif anak tunarungu sangat dipengaruhi oleh perkembangan bahasa, sehingga hambatan pada bahasa akan menghambat perkembangan intelegensi anak tunarungu (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Kerendahan intelegensi anak tunarungu bukan berasal dari hambatan intelektualnya yang rendah, melainkan secara umum intelegensinya tidak memperoleh kesempatan untuk berkembang. Pemberian bimbingan yang teratur terutama dalam kecakapan berbahasa akan dapat membantu perkembangan intelegensi anak tunarungu. Tidak semua aspek intelegensi anak tunarungu terhambat. Aspek intelegensi yang terhambat perkembangannya ialah yang bersifat verbal, misalnya merumuskan pengertian, menghubungkan, menarik kesimpulan, dan meramalkan kejadian (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Aspek intelegensi yang bersumber dari penglihatan dan yang berupa motorik tidak banyak mengalami hambatan tetapi justru berkembang lebih cepat. Cruickshank (Somantri:2006) mengemukakan bahwa anak-anak tunarungu sering memperlihatkan keterlambatan dalam belajar dan terkadang tampak terbelakang. Keadaan ini tidak hanya disebabkan oleh derajat gangguan pendengaran yang dialami anak tetapi juga tergantung pada potensi kecerdasan yang dimiliki, rangsangan mental, serta dorongan dari lingkungan luar yang memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kecerdasan itu (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Furth Somantri:2006 mengungkapkan bahwa anak-anak tunarungu mengalami hambatan dalam hal konsep yang berlawanan, dimana konsep yang berlawanan juga bergantung pada kemampuan bahasa seseorang seperti panas-dingin (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).</p>
<p>G.	Perkembangan Emosi Anak Tunarungu<br />
Kekurangan akan pemahaman bahasa lisan dan tulisan seringkali menyebabkan anak tunarungu menafsirkan sesuatu secara negatif atau salah dan menjadi penyebab terjadinya tekanan terhadap emosinya. Tekanan yang terjadi pada emosi anak dapat menghambat perkembangan pribadi anak tunarungu, sehingga seringkali anak menutup diri, agresif, atau sebaliknya menampilkan kebimbangan dan keragu-raguan (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Emosi anak tunarungu selalu bergolak di satu pihak karena kemiskinan bahasanya dan di pihak lain karena pengaruh dari luar yang diterimanaya. Anak tunarungu bila ditegur oleh orang yang tidak dikenalinya akan tampat resah dan gelisah (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
H.	Perkembangan Sosial Anak Tunarungu<br />
Manusia sebagai makhluk sosial selalu memerlukan kebersamaan dengan orang lain. Demikian pula anak tunarungu, ia tidak lepas dari kebutuhan tersebut. Akan tetapi, akrena mereka memiliki kelainan dari segi fisik, biasanya akan menyebabkan suatu kelainan dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan. Pada umumnya lingkungan melihat mereka sebagai seseorang yang kurang berkarya. Dengan penilaian lingkungan yang demikian, anak tunarungu merasa benar-benar kurang berharga. Dengan penilaian dari lingkungannya yang demikian juga memberikan pengaruh yang benar-benar besar terhadap perkembagan fungsi soasialnya. Dengan adanya hambatan dalam perkembangan sosial ini mengakibatkan pula pertambahan minimnya penguasaan bahasa dan kecenderungan menyendiri serta memiliki sifat egosentris (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Faktor sosial dan budaya meliputi pengertian yang sangat luas, yaitu meliputi lingkungan hidup dimana anak berinteraksi yaitu interaksi antar individu dengan individu, dengan kelompok, keluarga, dan masyarakat. Untuk kepentingan anak tunarungu, seluruh anggota keluarga, guru, serta masyarakat di sekitarnya hendaknya berusaha mempelajari dan memahami keadaan mereka karena hal tersebut dapat menghambat perkembangan kepribadian yang negatif pada diri anak tunarungu (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Anak tunarungu banyak dihinggapi kecemasan karena menghadapi lingkungan yang beraneka ragam komunikasinya, hal seperti ini akan membingungkan anak tunarungu. Anak tunarungu sering mengalami berbagai konflik, kebingungan, dan ketakutan karena ia sebenarnya hidup dalam lingkungan yang bermacam-macam (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
I.	Perkembangan Perilaku Anak Tunarungu<br />
Kepribadian pada dasarnya adalah keseluruhan dari sifat dan sikap dari seseorang yang menentukan cara-cara yang unik dalam penyesuaiannya dengan lingkungan. Oleh karena itu, banyak ahli berpendapat perlu diperhatikannya masalah penyesuaian seseorang agar kita mengetahui bagaimana kepribadiannya. Demikian pula anak tunarungu, untuk mengetahui kepribadiannya, perlu kita mengetahui bagaimana penyesuaian diri mereka (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
Perkembangan kepribadian banyak dipengaruhi oleh interaksi kita dengan individu lainnya. Pertemuan antar faktor-faktor dalam diri anak tunarungu yaitu ketidakmampuan menerima rangsangan pendengaran, kemiskinan berbahasa, ketidaktepatan emosi, dan keterbatasan intelegensi dihubungkan dengan sikap lingkungan terhadapnya menghambat perkembangan kepribadiannya (Hallahan &#38; Kauffman, 1980).<br />
J.	Sumber<br />
Hallahan, D.P., &#38; Kauffman, J.M. 1988. Exceptional Children: Introduction to Special Education. New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs.<br />
Somantri, T. Sutjihati. 2006. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT Refika Aditama.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pendengarannya Hilang Usai Ciuman Mesra]]></title>
<link>http://jadiberita.wordpress.com/2011/01/16/pendengarannya-hilang-usai-ciuman-mesra/</link>
<pubDate>Sun, 16 Jan 2011 12:06:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://jadiberita.wordpress.com/2011/01/16/pendengarannya-hilang-usai-ciuman-mesra/</guid>
<description><![CDATA[Ketika cinta hadir, ciuman bibir seringkali menjadi elemen penting untuk mengungkap rasa. Semua terj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ketika cinta hadir, ciuman bibir seringkali menjadi elemen penting untuk mengungkap rasa. Semua terj]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anak saya tidak mau memakai Alat Bantu Dengarnya....]]></title>
<link>http://yayasanaurica.wordpress.com/2010/02/25/anak-saya-tidak-mau-memakai-alat-bantu-dengarnya/</link>
<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 03:21:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>yayasanaurica</dc:creator>
<guid>http://yayasanaurica.wordpress.com/2010/02/25/anak-saya-tidak-mau-memakai-alat-bantu-dengarnya/</guid>
<description><![CDATA[Biasanya anak-anak memang tidak selalu mau memakai alat bantu dengarnya pada awalnya. Namun memang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Biasanya anak-anak memang tidak selalu mau memakai alat bantu dengarnya pada awalnya. Namun memang ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gangguan Pendengaran Pada Anak]]></title>
<link>http://d132a.wordpress.com/2008/11/19/gangguan-pendengaran-pada-anak/</link>
<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 06:55:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>d132a</dc:creator>
<guid>http://d132a.wordpress.com/2008/11/19/gangguan-pendengaran-pada-anak/</guid>
<description><![CDATA[Gangguan pendengaran pada anak harus mendapat perhatian serius karena akan sangat berhubungan dengan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Gangguan pendengaran pada anak harus mendapat perhatian serius karena akan sangat berhubungan dengan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Terapi Gen Atasi Gangguan Pendengaran]]></title>
<link>http://hurtles.wordpress.com/2008/10/24/terapi-gen-atasi-gangguan-pendengaran/</link>
<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 15:42:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>ninewar123</dc:creator>
<guid>http://hurtles.wordpress.com/2008/10/24/terapi-gen-atasi-gangguan-pendengaran/</guid>
<description><![CDATA[&lt;!&#8211;&#8211;&gt;Telinga merupakan salah satu indera yang sangat vital. Sayang, ada beberapa o]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>&#60;!&#8211;<span></span>&#8211;&#62;Telinga merupakan salah satu indera yang sangat vital. Sayang, ada beberapa orang yang kurang beruntung karena kehilangan pendengaran, baik sejak lahir maupun karena usia lanjut. Beruntung, saat ini banyak upaya untuk membantu orang-orang yang bermasalah dengan pendengaran. Salah satunya, dengan terapi gen.</p>
<p>Terapi gen ini ditemukan oleh sebuah tim dari Universitas Oregon. Terapi gen yang dimaksud adalah mentransfer gen untuk menghasilkan sel rambut yang berfungsi penting bagi telinga bagian dalam untuk menginterpretasikan suara. Terapi gen ini telah diujicobakan pada tikus. Pada tikus yang belum lahir, terapi gen dapat digunakan untuk mendorong sel lain menjadi sel rambut.</p>
<p>Terapi ini tidak mengunakan virus yang berbahaya untuk meyisipkan copy gen kunci ke dalam sel yang kemudian dapat memperbanyak diri. Penelitian John Brigande dan timnya ini mengunakan gen kunci <em>atohl</em>. Kunci gen ini sangat penting untuk perkembangan sel rambut dimana sel rambut tersebut dapat berfungsi seperti sel rambut asli. Perlu diketahui, hilangnya sel rambut di dalam bagian dalam telinga memang dapat menyebabkan gangguan pendengaran.</p>
<p>Namun, menurut profesor a<em>uditory cell biology</em> dan penasihat Deafness Research Inggris, Andy Forge, penelitian semacam ini masih jauh dari selesai. Masih diperlukan banyak percobaan dan pengembangan agar hasilnya pada manusia bisa maksimal.</p>
<p>Tentu saja, kita harapkan penelitian-penelitian untuk mengembangkan terapi gen dapat terus berlanjut sehingga dapat menolong orang-orang yang mengalami gangguan pendengaran. Semoga.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gangguan pendengaran]]></title>
<link>http://hydroxygenplusblog.wordpress.com/2008/09/15/gangguan-pendengaran/</link>
<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 03:51:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>hydroxygenplusblog</dc:creator>
<guid>http://hydroxygenplusblog.wordpress.com/2008/09/15/gangguan-pendengaran/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='' alt='' /></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PENGLIHATAN &amp; PENDENGARAN JADI JELAS-TIDUR LEBIH NYENYAK]]></title>
<link>http://hydroxygenplusblog.wordpress.com/2008/09/08/penglihatan-pendengaran-jadi-jelas-tidur-lebih-nyenyak/</link>
<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 04:21:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>hydroxygenplusblog</dc:creator>
<guid>http://hydroxygenplusblog.wordpress.com/2008/09/08/penglihatan-pendengaran-jadi-jelas-tidur-lebih-nyenyak/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Annie Riwayat penyakit/keluhan : gangguan penglihatan, pendengaran &amp; tidur Kami pergi ke]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Annie</p>
<p><strong>Riwayat penyakit/keluhan : gangguan penglihatan, pendengaran &#38; tidur</strong>
<div align="justify"> Kami pergi ke rumah Ny.Green untuk acara makan malam. Anak perempuannya, Betty dan wanita lain yang namanya tidak saya ingat pada saat itu, sangat memuji <strong>Hydroxygen Plus.</strong></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Brenda baru saja menerima kiriman 2 botol dan dia menjualnya 1 botol kepada saya. Saya mulai menggunakannya sesaat setelah pulang ke rumah. Pertama kali yang di lakukan Hydroxygen adalah membersihkan diriku ! Wow !! Kemudian saya mulai merasakan hal-hal kecil seperti pengelihatan menjadi lebih jelas dan pendengaran yang lebih baik. Saya membutuhkan transplantasi jantung, dan mengkonsumsi obat untuk menjaga tekanan darah tetap rendah, sehingga jantung tidak bekerja terlalu keras. </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Saya berpikir bahwa saya sedang membayangkan beberapa hal sampai saya membaca beberapa testimonial dan ternyata bahan-bahan dalam Hydroxygen adalah bahan-bahan yang menakjubkan ! Saya juga mengalami gangguan tidur. Sejak memakai Hydroxygen, saya tidur lebih baik dan bangun dengan rasa menyegarkan ! </div>
<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='' alt='' /></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Terapi Wicara untuk Tuna Rungu vs Non Tuna Rungu]]></title>
<link>http://tunarungu.wordpress.com/2008/03/10/terapi-wicara-untuk-tuna-rungu-vs-non-tuna-rungu/</link>
<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 09:35:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>gee</dc:creator>
<guid>http://tunarungu.wordpress.com/2008/03/10/terapi-wicara-untuk-tuna-rungu-vs-non-tuna-rungu/</guid>
<description><![CDATA[Keywords: terapis, terapi wicara, tuna rungu, autis, pasca stroke, terapi mendengar, gangguan bicara]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Keywords: terapis, terapi wicara, tuna rungu, autis, pasca stroke, terapi mendengar, gangguan bicara]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengapa Gangguan Pendengaran Berpengaruh Pada Kemampuan Mendengar dan Berbicara]]></title>
<link>http://akubisadengar.wordpress.com/2008/02/01/mengapa-gangguan-pendengaran-berpengaruh-pada-kemampuan-mendengar-dan-berbicara/</link>
<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 22:21:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>akubisadengar</dc:creator>
<guid>http://akubisadengar.wordpress.com/2008/02/01/mengapa-gangguan-pendengaran-berpengaruh-pada-kemampuan-mendengar-dan-berbicara/</guid>
<description><![CDATA[Ternyata walaupun sudah memakai alat bantu dengar, bukan berarti buah hati kita dapat mendengar dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata walaupun sudah memakai alat bantu dengar, bukan berarti buah hati kita dapat mendengar dan menangkap pembicaraan dengan baik seperti anak normal. Ada tiga masalah yang dihadapi, yaitu :</p>
<ol>
<li>Hanya dapat menangkap sebagian dari percakapan. Tidak dapat secara utuh.</li>
<li>Jarak antara pemakai abd dan pembicara. Semakin jauh jaraknya, semakin sedikit yang dapat diterima.</li>
<li>Suara latar yang bising. Fungsi abd adalah membuat suara lebih keras (mengamplifikasi), termasuk suara latar yang bising. Itulah sebabnya mengapa gangguan pendengaran selalu membuat perbedaan antara buah hati kita dengan anak yang dapat mendengar normal.</li>
</ol>
<p>Usaha kita akan bisa membuat anak kita mammpudan memiliki semangat untuk dapat berlatih berbicara dan semakin senang menggunakan alat dengar.  Sering terjadi pad anak-anak kita yang masih kecil, mereka membuang alat degar mereka apabila kesal ataupun ngambek.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
