<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>globalisasi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/globalisasi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "globalisasi"</description>
	<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 20:45:22 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[GLOBALISASI DAN JEBAKAN EKONOMI]]></title>
<link>http://marconilobe.wordpress.com/2009/12/21/globalisasi-dan-jebakan-ekonomi/</link>
<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 19:57:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>marconilobe</dc:creator>
<guid>http://marconilobe.wordpress.com/2009/12/21/globalisasi-dan-jebakan-ekonomi/</guid>
<description><![CDATA[Perubahan mekanisme dunia menuju pasar bebas yang telah di ungkap oleh Ronald Reagan dan Margaret Th]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Perubahan mekanisme dunia menuju pasar bebas yang telah di ungkap oleh Ronald Reagan dan Margaret Thatcher telah menjadi suatu mekanisme dominan terhadap proses hubungan antar negara, sehingga negara tersebut harus bisa terpacu untuk berkompetisi, kompitisi yang tidak sehat sering mewarnai dalam proses ekonomi, sehingga sering terjadi proses protek-memprotek, klaim-mengklim hasil produk, dan yang paling nyata adalah negara berkembang sering dirugikan karena prosesnya, proses tersebut melalui mekanisme yang di buat oleh lembaga internasional dalam hal ini WTO.</p>
<p>Globalisasi sangat dipengaruhi oleh pemikiran kapitalisme yang mempunyai pandangan filsafat ekonomi klasik, tokoh yang sangat berpengaruh dalam pandangan ini adalah Adam Smith dan dua pemikir yang tidak kalah pentingnya dalam pembentukan pandangan ini, yaitu David Ricardo dan Thomas Robert Maltus serta sangat di elu-elukan oleh dua pemikir pada jaman sekarang, yaitu Francis Fukuyama dan Thomas L. Friedman yang memberikan tesisnya tentang globalisasi, liberalisme, privatisasi, dan kapitalisme sebagai akhir sejarah.</p>
<p>Realitas yang terjadi adalah Indonesia merupakan dari negara dunia ketiga yang belum mampu membendung pasar bebas dan hal tersebut merupakan suatu keniscayaan serta sewaktu-waktu akan siap membinasakannya. Dalam hal pertanian pun negara kita belum bisa mampu membendung produk-produk dari luar yang mempunyai nilai kompetitif lebih dibandingkan dengan produk pertanian negara kita, maka kita sering menjumpai buah-buahan import, padi import, kedelai import dan produk pertanian import lainnya di sekitar kita sampai-sampai di pasar tradisional pun ada, sehingga pertanyaan kita, apakah pemerintah telah menciptakan pembangunan yang berbasiskan pada kerakyatan</p>
<p>Tidak menamfikan, pengaruh globalisasi di bidang ekonomi sangat menguntungkan negara-negara maju, karena dalam misinya yaitu untuk memperbaiki ekonomi negara-negara yang berkembang, terdapat unsur politik dan idiologi suatu negara yaitu AS yang berada dibalik lembaga bantuan peminjaman seperti IMF (Dana Moneter Internasional) dan Bank Dunia (World Bank) yang memberikan syarat bagi negara penerima bantuan seperti Indonesia yang harus menerima prinsip pasar<br />
bebas, yang mengakibatkan Indonesia hanya dijadikan negara koloni yaitu menjandikan Indonesia sebagai pasar barang dan sebagai tempat pemasaran hasil industri oleh negara-negara maju. Karena terdapat unsur keberpihakan pada negara-negara maju, maka dampak globalisasi bagi Indonesia menyebabkan keterpurukan ekonomi yg disebabkan oleh ketidak mampuan kita dalam bersaing secara cepat pada hasil-hasil produksi di tanah air dan ketergantungan kita karena secara tidak sadar sudah mengikat secara politik yang mengusung pada Kapitalis dan pemikiran Liberal.</p>
<p>Kemiskinan dan globalisasi memang sudah lama menjadi bahan perdebatan, bukan hanya di kalangan ekonom-ekonom dalam negeri, tapi juga dunia. Perdebatannya pun tak pernah jauh-jauh dari bagaimana dampak globalisasi terhadap kemiskinan; menekan kemiskinan atau justru memperbesar kemiskinan.</p>
<p>Sejak proses globalisasi mulai berlangsung, kondisi kehidupan di hampir semua negara terkesan meningkat, apalagi jika diukur dengan indikator-indikator lebih luas. Namun, seringkali pula peningkatan itu hanya ada dalam hitung-hitungan di atas kertas. Negara-negara maju dan kuat memang bisa meraih keuntungan, tapi tidak negara-negara berkembang dan miskin.<br />
Pengalaman sudah membuktikan sejak proses globalisasi bergulir muncul pula isu-isu seperti perdagangan global yang tidak fair, juga sistem keuangan global yang labih yang menelorkan krisis. Dalam kondisi tersebut, negara-negara berkembang dan miskin berulang kali terjebak jeratan utang yang justru jadi beban. Belum lagi bermunculan rezim hak properti intelektual, yang malah menghabisi akses masyarakat miskin untuk mendapat obat-obatan dengan harga terjangkau.<br />
Dalam proses globalisasi, seharusnya uang mengalir dari negara kaya ke negara miskin. Tapi, dalam beberapa tahun terakhir, yang terjadi justru sebaliknya. Sementara negara-negara kaya memiliki kemampuan untuk menahan risiko fluktuasi kurs dan suku bunga, negara-negara berkembang dan miskin menanggung beban fluktuasi tadi.</p>
<p>Sebagai salah satu dari negara berkembang, maka Indonesia tidak lepas dari hegemoni globalisasi ekonomi yang dilatarbelakangi kepentingan negara maju. Negara maju –melalui tiga pilar utamanya: WTO, IFIs dan MNCs—telah mencengkeram penghidupan masyarakat di negara miskin dan berkembang. Melalui standarisasi perdagangan internasional yang diatur dalam WTO dalam bentuk Perjanjian sektor pertanian (AoA-Agreement on Agriculture); Perjanjian sektor jasa (GATS-General Agreement on Trade in Services); Perjanjian mengenai Hak-hak Kekayaan Intelektual yang terkait dengan Perdagangan (TRIPs-Trade Related Intellectual Property Rights); dan Perjanjian akses pasar produk-produk non-pertanian (NAMA-Non-Agricultural Market Access), mendorong pertumbuhan arus barang dan jasa antar negara dengan mengurangi dan menghapus berbagai hambatan perdagangan, tarif dan non-tarif (subsidi, bantuan ekspor, aturan-aturan yang menghambat ekspor negara lain, dll). Akibatnya produk-produk Indonesia kalah bersaing dengan produk luar, seperti terlihat dalam nilai ekspor – impor barang.<br />
Monopoli pasar dunia dilakukan oleh MNCs. Lihat saja misalnya hanya 10 MNCs menguasai 53% perdagangan farmasi dunia. Sepertiga dari total 23 miliar USD pasar benih komersial dikuasai oleh 10 MNCs. 80 persen perdagangan dunia pestisida senilai 27,8 miliar USD dikuasai oleh hanya 10 perusahaan. Akumulasi penghisapan dapat terlihat dari kekayaan MNCs yang fantastik, bahkan bisa melebihi kekayaan suatu negara. Dari 50 entitas kaya di dunia 14 diantaranya diduduki oleh MNCs. Kekayaan Wallmart diatas Swedia, Austria dan Norwegia. Sementara Exxon mobil di atas Denmark.</p>
<p>Kehidupan 2,8 milyar orang yang berada di 182 negara ini ternyata dibawah kontrol dan hegemoni negara-negara maju yang tergabung dalam G7 (Amerika Serikat, Jepang, Perancis, Kanada, Italia, Inggris dan Jerman). Di mana keputusan-keputusan yang menyangkut hajat hidup penduduk dunia tidak lagi ditentukan oleh warga negara dari negara-negara tersebut, tetapi mengikuti keputusan-keputusan yang sudah ditetapkan dalam WTO, Bank Dunia, IMF, ADB maupun MNCs.</p>
<p>Melalui resep mereka: deregulasi, privatisasi dan liberalisasi segera terjadi eksploitasi terhadap sumber daya alam yang menguntungkan MNCs (sementara negara cukup puas dengan pajak dari aktivitas MNCs), tetapi menyisakan kerusakan lingkungan dan konflik sumber daya alam yang tidak berkesudahan. Serta mencerabut sumber kehidupan masyarakat setempat. Dalam konteks Indonesia sebut saja kasus Freeport, Newmont batu hijau, kebakaran hutan dan banjir karena illegal logging. Tingkat kerusakan hutan telah mencapai 2,4 juta per tahun dan hampir 70% terumbu karang dalam kondisi rusak.</p>
<p>Lapangan kerja yang tersedia hanya 1,3 juta tetapi jumlah pertambahan tenaga kerja mencapai 1,8 juta jiwa pertahunnya (Suara Pembaruan 5 Juni 2006). Defisit 500,000 penganggur tersebut dan hilangnya basis hidup di desa mendorong lahirnya pekerja migran yang tidak semuanya terlindungi. Biasanya mereka mencari pekerjaan di kota, menjadi pekerja rumah tangga, buruh pabrik ataupun buruh kontrak lainnya. Sering mereka menempuh resiko untuk bekerja ke luar negeri. Angka pekerja migran semakin tinggi, namun perlindungan negara terhadap mereka belum memadai.</p>
<p>Fungsi negara untuk memenuhi kebutuhan warganya semakin dilemahkan dengan menyerahkan hampir seluruh isu publik ke tangan swasta melalui mekanisme privatisasi. Globalisasi bersifat lintas batas, dan tidak peduli akan keadilan, siapa kuat dia menang.Negara sepertinya kehilangan kekuasaan di depan korporatokrasi global. Bahkan menjadi alat penindas rakyatnya sendiri, melalui peraturan yang sangat tidak memihak pada rakyat.<br />
TUGAS INDIVIDU PEMIKIRAN POLITIK NEGARA BERKEMBANG</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Around the World with Joseph Stiglitz: Kegelisahan Stiglitz dalam Sinema]]></title>
<link>http://muaramata.wordpress.com/2009/12/10/around-the-world-with-joseph-stiglitz-kegelisahan-stiglitz-dalam-layar/</link>
<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 19:44:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>muaramata</dc:creator>
<guid>http://muaramata.wordpress.com/2009/12/10/around-the-world-with-joseph-stiglitz-kegelisahan-stiglitz-dalam-layar/</guid>
<description><![CDATA[washingtonnote.com &#8220;Dunia,&#8221; kata Gandhi pada suatu ketika, &#8220;menyediakan semua kebu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div class="wp-caption alignright" style="width: 176px"><img src="http://www.thewashingtonnote.com/twn_up_fls/joe%20stiglitz%20lincoln%20center%20twn.jpg" alt="" width="166" height="166" /><p class="wp-caption-text">washingtonnote.com</p></div>
<p>&#8220;Dunia,&#8221; kata Gandhi pada suatu ketika, &#8220;menyediakan semua kebutuhan manusia, tapi tidak keserakahan manusia.&#8221; Dan Joseph Eugene Stiglitz, tampak ingin membuktikan ucapan Gandhi tersebut dengan berkeliling dunia.</p>
<p>Tapi Joseph Stiglitz &#8220;hanyalah&#8221; seorang profesor ekonomi dan peraih Nobel bidang Ekonomi dari Amerika Serikat. Adakah hal menarik dalam mengikuti perjalanan keliling dunia seorang warga dari negara yang dicap sebagai sumber keserakahan? Seorang sutradara bernama Jacques Sarasain mencoba menjawab dengan sebuah film dokumenter: Around The World with Joseph Stiglitz (2009).</p>
<p>Dalam film berdurasi 88 menit ini, Sarasin berusaha mengeksplorasi keresahan Stiglitz terhadap globalisasi yang dianggap tidak berjalan sebagaimana mestinya. Globalisasi, bagi Stiglitz, selalu menguntungkan negara maju dan merugikan negara berkembang&#8211;bila kita enggan menyebutnya negara miskin.</p>
<p>Dari Ekuador, Stiglitz memperlihatkan bahwa kekayaan alam sering kali hanya menguntungkan pemilik modal besar. Ironisnya, dengan kebijakan pemerintah yang salah, malah hanya menimbulkan kesengsaraan masyarakat setempat. Dalam hal ini, Stiglitz memotret kegiatan pertambangan yang dilakukan perusahaan Texaco dengan keuntungan besar yang diperoleh, sedangkan masyarakat sekitar pertambangan menjadi korban dari &#8220;natural resources curse&#8221;: Kutukan akibat kekayaan alam, karena pencemaran lingkungan dan eksploitasi, tanpa pernah menikmati kekayaan alamnya yang melimpah.</p>
<p>Di sebuah negara kecil di Afrika bernama Botswana, Stiglitz memperlihatkan kekayaan alam malah menyebabkan penduduk sekitar diusir dari tanah leluhurnya. Dengan dalih penambangan berlian pemerintah setempat meminta penduduknya mengosongkan wilayah pada radius lima kilometer. Dengan dalih konservasi alam liar, penduduk setempat malah harus meninggalkan pohon-pohon yang padahal telah dipercaya sebagai reinkarnasi leluhur dan moyang mereka.</p>
<p>Lain lagi dengan yang terjadi di India. Penduduk suatu desa sampai dijerat kemiskinan yang menyebabkan mereka berkorban untuk menjual ginjal, parahnya, secara massal. Ironisnya, ini bukan disebabkan gagalnya panen kapas yang menjadi pencaharian. Malahan mereka harus menumpuk kapas hingga dalam rumah, karena kapasnya hanya laku dijual dengan harga murah. Penyebabnya: subsidi terhadap petani kapas di Amerika Serikat menyebabkan pasokan kapas dunia dari Amerika melimpah, harga kapas di India jatuh.</p>
<p>Menariknya, Stiglitz memulai keliling dunia yang nestapa akibat globalisasi ini dari kota asalnya: Gary, Indiana, Amerika Serikat. Ketika masih menjadi pusat industri baja, Gary bersolek menjadi kota yang cantik. Namun setelah industri jatuh, Gary pun terlihat renta dan hanya menjadi kota penuh reruntuhan, meninggalkan kecantikan masa lalunya. Sampai ketika pengusaha baja bernama Mittal datang, Gary pun berusaha bangkit.</p>
<p>Sarasin melakukan sejumlah adegan puitis dengan perenungan Stiglitz di tengah reruntuhan Gary. Gambar ini seolah mengungkapkan keresahan Stiglitz: &#8220;Hei, bahkan Amerika pun korban dari globalisasi.&#8221;</p>
<p>Perjalanan Stiglitz keliling dunia tentu tidak semenarik perjalanan Phileas Fogg dalam novel Jules Verne, Around the World in 80 Days. Petualangan Stiglitz pun kalah seru dibandingkan yang dilakukan Indiana Jones atau Lara croft.</p>
<p>Di film ini Stiglitz berusaha menularkan kegelisahan: Bagaimana agar globalisasi bekerja.</p>
<p>Sebagai sebuah film, tentu ini bukan sebuah aksi yang melahirkan solusi. Namun, tentu yang dilakukan Stiglitz menjadi sebuah pemicu aksi terciptanya masa depan yang lebih baik, terutama untuk para pengambil kebijakan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemerintah-pemerintah baru dunia]]></title>
<link>http://hikmatun.wordpress.com/2009/12/04/pemerintah-pemerintah-baru-dunia/</link>
<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 20:11:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ahmad Nizam</dc:creator>
<guid>http://hikmatun.wordpress.com/2009/12/04/pemerintah-pemerintah-baru-dunia/</guid>
<description><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum w.b.t&#8230;&#8230;. Berikut adalah video-video yang tajuk asalnya ialah The]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Assalaamu&#8217;alaikum w.b.t&#8230;&#8230;. Berikut adalah video-video yang tajuk asalnya ialah The]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Globalisasi dan Paramida Korban Manusia]]></title>
<link>http://mharunalrasyid.wordpress.com/2009/12/03/globalisasi-dan-paramida-korban-manusia/</link>
<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 01:36:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>mharunalrasyid</dc:creator>
<guid>http://mharunalrasyid.wordpress.com/2009/12/03/globalisasi-dan-paramida-korban-manusia/</guid>
<description><![CDATA[Pendahuluan Buku Peter Berger yang berjudul Pyramids of Sacrifice (1974) &#8212; dalam bahasa Indone]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Buku Peter Berger yang berjudul <em>Pyramids of Sacrifice</em> (1974) &#8212; dalam bahasa Indonesia, Piramida Kurban Manusia Etika Politik dan Perubahan Sosial—merupakan salah satu buku penting yang membahas perubahan sosial dan pembangunan<a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftn1">[1]</a>. Pandangan Berger menjadi bahan rujukan dan dibaca luas oleh kalangan peminat masalah-masalah pembangunan. Isu yang menarik dari buku ini adalah posisi Berger yang netral ketika membahas  sosialisme dan kapitalisme. Berger mengatakan bahwa kedua ideologi tersebut senantiasa menampakkan dua wajah yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, jalan menuju kemakmuran dan di sisi lain merupakan pilihan yang menyedihkan. Sebagai jalan menuju modernisasi keduanya telah meminta korban-korban manusia untuk menyangga &#8220;pembangunan&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal menarik dari pemikiran Berger adalah bahwa sebuah kebijakan pembangunan haruslah memperhatikan dua gagasan penting di dalamnya, yaitu <em>calculus of meanings</em> (perhitungan makna) dan <em>calculus of pains</em> (perhitungan penderitaan). Makna perubahan yang dialami oleh masyarakat menjadi fokus dari perhatian dan pembahasan Berger selanjutnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong>Pembangunan, Kapitalisme dan Sosialisme</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>Piramida Kurban Manusia</em>, Berger mengatakan, “Biaya-biaya manusiawi yang paling menekan adalah yang berkenaan dengan kekurangan dan penderitaan fisik. Tuntunan moral yang paling mendesak dalam pengambilan kebijaksanaan politik adalah suatu <em>perhitungan kesengsaraan</em>.” <a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftn2">[2]</a> Semakin terbelakang suatu negara, tampaknya semakin banyak paksaan yang diperlukan. Elit yang menjalankan modernisasi, dengan cukup cerdik, bersikap diam terhadap perusakan kreatif yang mengerikan, atau apa yang disebut Peter Berger sebagai “piramida kurban manusia”. Terjadinya “pirmaida kurban manusia” diakibatkan oleh ideologi pembangunan yang dianut oleh masing-masing Negara. Berger melihat, baik kapitalisme dan sosialisme, tidak semata-mata melahirkan kesejahteraan, justeru yang terjadi adalah penderitaan yang dialami sebagian manusia akibat pilihan ideologi yang diambil oleh elit negaranya.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Sistem kapitalisme,<a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftn3">[3]</a> menurut Ebenstein, merupakan suatu sistem perekonomian yang bersumber pada modal pribadi (swasta) dengan ciri pasar bebas. Kapitalisme berorientasi pada pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya yang ditentukan oleh pasar bebas dan persaingan antara kaum bermodal. Dalam persaingan yang keras ini kaum lemah akan disingkirkan dari arena pergulatan hidup, sebab mereka tak sanggup bersaing. Konsekuensi dalam pembangunan kapitalis adalah orang bermodal lemah akan digeser. Dalam hal ini masyarakat pada umumnya menjadi korban persaingan.<a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ide kapitalisme kemudian menyebar dan dianut oleh berbagai negara sebagai dasar dalam kebijakan politik dan ekonomi. Kapitalisme tidak hanya memberikan harapan adanya kesejahteraan, namun di sisi lain muncul ekses yaitu kemiskinan dan pengangguran (terbuka maupun setengah pengangguran) yang semakin massif. Lebih jauh, dampak setelah hampir satu dekade peran WTO mengemuka, maka terjadilah piramida kurban manusia &#8211;meminjam istilah Peter Berger&#8211; di tingkat global, yakni mayoritas negara-negara miskin yang tidak manjalankan ekonomi pasar kapitalis dan kurang bersahabat secara politik dengan AS, menjadi &#8221;kaum proletar&#8221; secara berkelanjutan. Sementara, yang berada di puncak dari piramida tersebut adalah negara supermakmur yang memiliki segalanya: kekuatan ekonomi, politik, dan militer, yakni AS, kemudian disusul Jepang dan Uni Eropa.</p>
<p style="text-align:justify;">Terhadap ideologi pembangunan kapitalis, Berger mengkritisi dengan mengedepankan pertanyaan fundamental. Siapa yang dapat meraup keuntungan dari kebijakan yang ditempuh dan siapa yang mengambil keputusan itu? Secara mendasar Berger memperlihatkan bahwa ideologi kapitalis memperlebar jurang antara sang kaya dengan si miskin. Sang kaya akan menjadi lebih konglomerat dan yang si miskin akan terus terpuruk dalam kemiskinannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Uraian diatas bukanlah sebuah ungkapan untuk mengkampanyekan anti-ekonomi pasar dan menolak langkah menciptakan daya saing ekonomi dalam kerangka interdependensi ekonomi global. Kompetisi ala kapitalisme (Liberalisme) yang ketat menimbulkan pertanyaan besar, akan dikemanakan mereka yang kalah ? Misalnya petani Indonesia yang produknya jauh lebih mahal dari Cina atau Vietnam, bagaimana nasib mereka ? Bilamana konsisten tanpa bea masuk, seperti anjuran perdagangan bebas yang diamanatkan neo liberal, lalu bagaimana nasib jutaan petani di Indonesia. Bila terus bertani, jelas rugi besar, bila beralih sektor lain, mereka tak punya skill atau keahlian lain. Namun yang jelas, mereka harus menghidupi keluarganya. Pertanyaan tentang bagaimana nasib mereka yang kalah  terus menggantung. </p>
<p style="text-align:justify;">Salah seorang ekonom yang berasal dari Hongaria, Karl Polanyi secara terang-terangan menentang praktek pasar bebas ala neoliberalisme. Dalam <em>The Great Transformation</em>, Polanyi membahas sejarah perkembangan pasar dan pengaruhnya terhadap masyarakat. Melalui buku ini, Polanyi mengatakan bahwa pemerintah dengan kekuatan politik dan ekonomi yang dimilikinya telah menggadaikan kehidupan rakyat kepada praktik pasar bebas dan menghancurkan kehidupan sosial. <a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Atas kondisi ini, Polanyi menawarkan sebuah solusi bahwa kontrol sosial atas pasar harus dikembalikan dan tidak membiarkan pasar yang menguasai masyarakat. Polanyi menyoroti <em>self-regulating market</em> sebagai hal yang secara nyata-nyata menjadi kekuatan destruktif yang merampas nilai-nilai kemanusiaan. <em>Self-regulating market</em> diiringi sistem kekuasaan, standar emas, dan segala unsur kapitalisme yang menempatkan hak-hak atas kepemilikan sebagai hal yang utama telah menempatkan buruh semata-mata sebagai komoditas. <a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Pesan penting yang disampaikan Polanyi dari analisis terhadap pengalaman Eropa Barat setelah Perang Dunia I adalah, membawa kembali masyarakat dan tatanan sosial untuk diperhitungkan dalam memahami tindakan-tindakan ekonomi. Polanyi menemukan jawaban terhadap masalah-masalah ekonomi, dalam hubungan-hubungan sosial yang tidak terhancurkan. Tindakan ekonomi pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari relasi-relasi sosial dan relasi-relasi kekuasaan. Menurut Polanyi, sistem ekonomi hanyalah merupakan fungsi dari organisasi sosial.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan penyelamatan dalam versi sosialis adalah pembebasan dari kapitalis, persamaan hak, dan kesetiakawanan, kolektivisme dan penghapusan milik pribadi, penghapusan ketidakadilan. Singkatnya mereka mendambakan pembebasan melalui revolusi sosialis. I Dalam ideologi pembangunan sosialis ini pertanyaan kritis yang diajukan Berger, antara lain, kalau betul sosialisme mencita-citakan pembebasan dan penyelamatan, mengapa di balik revolusi terjadi pembantaian manusia yang tidak bersalah secara membabibuta ?</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bingkai itulah, Berger berpendapat bahwa revolusi sosialis membebankan biaya-biaya manusiawi: menyembunyikan kepentingan orang yang berkuasa dalam sistem sosialis, ideologi pembangunan sosialis lebih menampilkan kebengisan tiada taranya ketimbang usaha-usaha pembebasan seperti yang didengungkan. Itulah tuduhan Berger yang cukup beralasan dan kritiknya yang menggugat akan eksistensi pembangunan.</p>
<p style="text-align:justify;">Berger tidak antipati dengan pembangunan. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam mengejawantakan pembangunan (kapitalis dan sosialis) manusia kebanyakkan yang menjadi korban. Selain itu, hasil yang dicapai dari pembangunan adalah kemiskinan, penggusuran tanah warga tanpa ganti rugi yang layak, ketidakadilan yang mencekik rakyat banyak dan ketidakmerataan pendapatan bagi kebanyakkan warganya. Dalam kerangka itulah yang menjadi titik berangkat Berger mengkritisi ideologi pembangunan. Pemikiran Berger ini merangsang pemikiran dan membuka cakrawala para perancang pembangunan, agar sungguh memperhitungkan nilai-nilai universal kemanusiaan dalam setiap pembangunan.</p>
<p style="text-align:justify;"> <strong>Globalisasi dan Perubahan Sosial </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Selain buku Piramida Kurban Manusia,  Peter Berger bersama Samuel Huntington mengedit buku yang berjudul <em>Many Globalization: Cultural Diversity in Contemporary Wo</em>rld <a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftn7">[7]</a> yang menampilkan hasil riset beberapa orang ahli di berbagai negara. Seperti dikatakan oleh buku ini bahwa globalisasi itu sebenarnya tidak berjalan satu arah, atau berjalan secara monolitik. Artinya, bergerak dari pusat ke pinggiran. Gerakan itu seperti gerakan terpusat yang digerakkan oleh  kapitalisme mutakhir.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam  kata pengantarnya, Berger membicarakan tentang empat macam kebudayaan global, yaitu yang disebut <em>business culture, faculty club culture, popular culture, </em>dan<em> social movement</em>. Pertama, <em>business culture</em> atau yang sering disebut <em>Davos culture</em>, mengacu pada sebuah kota di Swiss yang setiap awal tahun dipakai untuk pertemuan pebisnis atau <em>endowment</em> besar seluruh negara bersama semua pemimpin negara besar untuk berbicara tentang ekonomi dunia. <a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Kelompok ini bergerak di bidang globalisasi ekonomi yang rutin mendiskusikan masalah ekonomi tingkat dunia. Mereka berbicara bagaimana mencegah resesi dunia, tentang investasi, tentang <em>capital flows</em>, dan lain sebagainya. Anggota  kelompok ini adalah semua pelaku bisnis; entah dari tingkat global atau lokal sejauh mereka terlibat dalam bisnis yang tidak bisa tidak bergerak ditingkat global.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, <em>faculty club culture</em>, istilah ini mengacu pada jaringan-jaringan yang dibentuk oleh intelegensia termasuk juga jaringan NGO internasional. Sebagaimana kita tahu, dari NGO internasional itu juga banyak sekali orang-orang yang mendapatkan pendidikan di universitas bahkan memperoleh gelar tertinggi dari universitas. Mereka membentuk sebuah kebudayaan sendiri dan rupanya juga mengacu pada perilaku yang sama, memakai kode etik yang kurang lebih sama, mereka juga memakai jargon-jargon yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga, <em>popular culture</em>. Istilah <em>popular culture</em> mengacu pada perilaku yang sekarang sedang diminati oleh orang biasa atau rakyat jelata. Misalnya hampir semua masyarakat suka dengan McDonald, Pizza Hut, coca-cola, Jeans itu sudah masuk dalam <em>popular culture</em>. Keempat, <em>social movement</em>. Istilah ini mengacu pada semua orang yang bergerak dan para aktivis pada tingkat global yang mengadakan gerakan-gerakan global dengan memakai fasilitas-fasilitas global seperti telpon, internet, dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Peter L. Berger melihat bahwa gerak ini bukan melulu satu arah. Dia menyebut proses <em>localization</em>.<a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftn9">[9]</a> Misalnya, McDonalds di Amerika dirancang sebagai restoran cepat saji. Tapi kalau sudah di luar Amerika malah menjadi tempat nongkrong berlama-lama tidak cepat makan kemudian pergi. Kemudian dia juga mencoba untuk menawarkan istilah lain yaitu <em>hybridization</em>, percampuran antara yang global dan yang lokal.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam buku <em>Many Globalization,</em> Berger terkesan melakukan pembelaan yang gigih terhadap globalisasi yang lebih banyak disuarakan oleh negara yang  menganut paham liberalisme ekonomi (kapitalisme). Berbeda dengan buku lama yang berjudul “Piramida Kurban Manusia Etika Politik dan Perubahan Sosial”, Berger melakukan kritikan yang tajam terhadap gejala globalisasi yang hanya menguntungkan sekelompok kecil orang yang menikmatinya. Di sisi lain, pandangan Berger ini berpaut dengan pemikiran seorang Filosof Eropa, Karl R. Popper. Popper berpendapat bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang terbuka atau <em>The open society</em>. Ciri masyarakat terbuka menurut Popper adalah kesediaannya untuk menerima koreksi dan ide dari manapun. Sehingga, meski banyak mengalami instabilitas, masyarakat yang terbuka pada dunia luar mampu melakukan pencapaian-pencapaian yang tinggi. Tesis Popper ini merupakan anti-dot terhadap sistem komunisme yang ada di negaranya, Polandia.<a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align:justify;">“Keterbukaan” dan bukan menutup diri yang dipercaya bisa membawa kemakmuran suatu negara. Keberhasilan Jepang tidak terlepas dari restorasi yang tidak lain adalah: membuka diri terhadap kemajuan Eropa dan Amerika. Lebih menakjubkan lagi, Jepang tidak kehilangan identitasnya sebagai sebuah bangsa. Sebaliknya, Jepang adalah bangsa yang kuat dalam memegang tradisi, namun bukan dalam pengertian yang reaksioner. Secara tidak langsung kasus Jepang mematahkan kekhawatiran mereka yang phobia dengan globalisasi budaya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Belajar dari kemajuan yang telah dicapai bangsa Jepang, menunjukkan bahwa mereka bisa bertahan, bukan karena pertolongan pasar, tapi karena jaringan sosialnya yang dibentuk budaya, keyakinan, etika atau filosofinya. Keuntungan tidak selalu dalam keuntungan akuntansi, yaitu selisih antara pemasukan dan biaya. Ukuran kemajuan ekonomi tidak selalu ditunjukkan oleh angka kuantitatif, moneter, finansial, atau angka agregat. Permainan mekanisme pasar yang buta hati itu bisa menimbulkan matinya berbagai fungsi produksi yang sebenarnya merupakan kerugian besar bagi ekonomi riil.<a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftn11">[11]</a> </p>
<p style="text-align:justify;">Globalisasi kapitalisme tidak serta merta membawa kemakmuran dengan cepat. Selalu ada pergulatan yang timbul, dan tidak menutup kemungkinan juga ada harga mahal yang harus dibayar. Kesenjangan sosial dan tidak meratanya pendapatan adalah efek langsung dari globalisasi. Tetapi hal tersebut lebih parah terjadi di negara-negara yang anti dengan “keterbukaan”. China, Jepang, Korea, Singapura dan beberapa Negara lain yang sudah maju atau “naik daun” mengalami hal serupa.</p>
<p style="text-align:justify;">Ideologi pasar bebas percaya bahwa mekanisme pasar akan mengoreksi kesalahannya sendiri, tidak terbukti dalam kenyataan. Kegagalan pasar bebas sama sekali tidak berarti pasar bebas tidak lagi diperlukan. Pasar bebas harus diterapkan, tapi ruang bagi pemerintah harus tetap ada agar pasar berjalan tertib, <em>fair</em>, dan tidak distortif. Kalau semuanya hanya dibiarkan seperti sekarang, di mana mekanisme pasar bebas dan kompetisi dibiarkan begitu saja, agaknya ramalan Polanyi tentang realitas dunia yang menuju pada &#8220;<em>demolition of society”</em> akan terbukti kebenarannya &#8221; . </p>
<p style="text-align:justify;"> <strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Berger, Peter L. 2005, <em>Piramida Kurban Manusia: Etika Politik dan Perubahan Sosial,</em> Jakarta, LP3ES</li>
<li>Berger, Peter L. and Huntington, Samuel P., eds. <em>Many Globalizations: Cultural Diversity in the Contemporary World</em>. New York: Oxford University Press, 2002.</li>
<li>Ebenstein, <em>Isme-Isme Dewasa Ini</em>, (terjemahan), Erlangga, Jakarta, 1990.</li>
<li>Ebenstein, <em>Great Political Thinkers, </em>Holt, Rinehart and Winstons, 1960</li>
<li>Held, David, Demokrasi dan Tatanan Global Dari Negara Modern hingga Pemerintahan Kosmopolitan, Pustaka Pelajar:Yogyakarta. 2004</li>
<li>Polanyi,  Karl, <em>The Great Transformation</em>, Beacon Press, Boston, 1957.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftnref1">[1]</a> Peter L. Berger  dalam buku Piramida Kurban Manusia, 1982, mengaitkan pembangunan dengan kondisi ketidakberesan (penderitaan: kemiskinan, penyakit, penggusuran, diskriminasi, upah tak adil, penindasan) sebagai kondisi negatif pencapaian pembangunan, yang dialami negara-negara berkembang. Karena itu, ia mendefinisikan pembangunan sebagai ikhtiar membebaskan manusia dari penderitaan; pembangunan, katanya, bertujuan mengatasi atau paling kurang membatasi penderitaan manusiawi dalam segala bentuk dan dimensinya</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftnref2">[2]</a> Peter L. Berger, Ibid, hal. xv.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftnref3">[3]</a> Robert E. Lerner dalam Western Civilization (1988) menyebutkan bahwa revolusi komersial dan industri pada dunia modern awal dipengaruhi oleh asumsi-asumsi kapitalisme dan merkantilisme. Direduksi kepada pengertian yang sederhana, kapitalisme adalah sebuah sistem produksi, distribusi, dan pertukaran di mana kekayaan yang terakumulasi diinvestasikan kembali oleh pemilik pribadi untuk memperoleh keuntungan. Kapitalisme adalah sebuah sistem yang didisain untuk mendorong ekspansi komersial melewati batas-batas lokal menuju skala nasional dan internasional. Pengusaha kapitalis mempelajari pola-pola perdagangan internasional, di mana pasar berada dan bagamana memanipulasi pasar untuk keuntungan mereka. Penjelasan Robert Learner ini paralel dengan tudingan Karl Marx bahwa imperialisme adalah kepanjangan tangan dari kapitalisme.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftnref4">[4]</a> Dalam buku <em>Great Political Thinkers</em>, Ebenstein mengakui bahwa Adam Smith melalui bukunya <em>The Wealth of Nations</em> (1776), adalah tonggak utama kapitalisme klasik yang mengekspresikan gagasan &#8220;<em>laissez faire</em>&#8221; dalam ekonomi. Bertentangan dengan merkantilisme yaitu adanya intervensi pemerintah dalam urusan negara, Smith berpendapat bahwa jalan yang terbaik untuk memperoleh kemakmuran adalah dengan membiarkan individu-individu mengejar kepentingan-kepentingan mereka sendiri tanpa keterlibatan negara.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftnref5">[5]</a> Karl Polanyi,  The Great Transformation, Beacon Press, Boston, 1957. P. 68 78</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftnref6">[6]</a> Ibid. Halm 68- 78</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftnref7">[7]</a>. Buku ini pernah didiskusikan di Freedom Institute tahun 2005 yang mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan yang memiliki minat terhadap masalah-masalah pembangunan. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti  menulis Pengantar dalam buku ini, ia mengatakan  dibanding dengan karya klasik Schumpeter yang menjadi textbook wajib dalam memahami kapitalisme dan sosialisme &#8212; Capitalism, Socialism and Democracy (1942) &#8212; buku Berger ini lebih mudah dibaca, sekaligus tentu saja lebih mutakhir.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftnref8">[8]</a> Rekaman transkrip diskusi bulanan dengan Igantius Wibowo di Freedom Institute, Oktober 2005</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftnref9">[9]</a> kata ini kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi tidak pas karena menjadi lokalisasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftnref10">[10]</a> Karl Polanyi. Op.Cit.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://mharunalrasyid.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235-syntaxhighlighter2.3.3#_ftnref11">[11]</a> Held, D., et. al. Global Transformations: Politics, Economics and Culture. Polity Press, 1999</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[GLOBALISASI DAN TINJAUAN ANALISIS TERHADAP IMPLIKASINYA BAGI NEGARA BERKEMBANG]]></title>
<link>http://17hari.wordpress.com/2009/11/27/globalisasi-dan-tinjauan-analisis-terhadap-implikasinya-bagi-negara-berkembang/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 18:34:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>17hari</dc:creator>
<guid>http://17hari.wordpress.com/2009/11/27/globalisasi-dan-tinjauan-analisis-terhadap-implikasinya-bagi-negara-berkembang/</guid>
<description><![CDATA[Ditulis oleh : Abdul Rokhim Pendahuluan Globalisasi, mungkin kata itu sering kita dengarkan di telev]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ditulis oleh : Abdul Rokhim</p>
<p><strong>Pendahuluan</strong><br />
Globalisasi, mungkin kata itu sering kita dengarkan di televisi, radio, surat kabar ataupun percakapan sehari-hari. Kata globalisasi sendiri muncul pada dekade akhir abad ke-20. Globalisasi telah menjadikan pertukaran barang dan jasa dengan mudah terjadi melewati batas-batas territorial Negara. Globalisasi menjadikan dunia seperti Global Village. Dengan adanya Globalisasi, negara-negara dapat dengan mudah melakukan suatu interaksi, bahkan individu dalam suatu negara dengan individu di negara lain dapat dengan mudah melakukan suatu interaksi, baik dalam hal komunikasi, pertukaran komoditi, pertukaran informasi, dll. Hal tersebut menjadikan globalisasi sebagai arah baru bagi perkembangan negara-negara selanjutnya. Tapi apakah globalisasi benar-benar sesuai dengan yang selalu digembar-gemborkannya?<br />
Sejak berakhirnya perang dingin, dunia dilanda oleh suatu arus perubahan<br />
yang bersifat global. Pada mulanya wujud daripada perubahan tersebut terutama sekali terlihat dalam perkembangan sistem informasi dan transportasi dengan fenomena yang mempersingkat jarak didalam hubungan antara negara atau antara wilayah, baik dalam arti ruang maupun waktu. Jelas sekali bahwa perkembangan yang demikian telah dimungkinkan oleh terjadinya kemajuankemajuan yang menakjubkan dalam bidang Iptek. Tentu saja kemajuan-kemajuan Iptek tersebut telah tercapai berkat adanya kemampuan ekonomi untuk mendukungnya Adanya keterkaitan antara kedua faktor ini menimbulkan peruhahan-perubahan yang luar biasa didalam masyarakat.<br />
Sekarang ini keterbukaan semakin kuat berembus, dengan dipayungi oleh globalisasi yang berarti menjadikan segala sesuatunya global, meraksasa menjangkau seluruh dunia, keterbukaan dan globalisasi sepertinya menjadi pasangan yang sangat ideal, tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Globalisasi kemungkinan besar tidak akan ada bila keterbukaan tidak muncul dan begitu sebaliknya. Seluruh entitas yang mewarnai kehidupan masyarakat dunia tidak ada lagi yang tidak terpengaruh oleh sihir globalisasi. Produk, teknologi, kebudayaan sampai informasi merasuk jauh pada kehidupan masyarakat, tidak hanya di negara asalnya tetapi sampai ke seluruh negeri.</p>
<p><strong>Implikasi Globalisasi terhadap negara berkembang</strong></p>
<p>Era globalisasi adalah sebuah era di mana proses integrasi dalam bidang ekonomi demikian jelas sehingga sistem ekonomi nasional harus mengintegrasikan diri dengan sistem ekonomi global berdasarkan keyakinan pada perdagangan bebas yang telah dicanangkan pada era sebelumnya, baik era kolonialisme maupun neo-kolonialisme. Dengan masuknya era global seperti itu, yang terjadi kemudian adalah adanya dominasi global atas Negara-negara Selatan (khususnya) seperti Indonesia pada sistem ekonomi, politik, dan budaya. Negara-negara Utara sebagai Negara pemberi utang. Ideologi TNCs (Trans National Corporations) adalah buah paling mutakhir dari sistem global ekonomi dunia, sehingga pasar bebas menjadi ideologi tunggalnya.<br />
Efek langsung dari globalisasi adalah bidang ekonomi. Ekonomi suatu negara akan diintegrasikan kedalam sistem ekonomi global. Barang-barang luar negeri akan dengan sangat mudah masuk ke dalam suatu negara (tidak ada intervensi negara dalam pasar karena pasar sudah ter-integrasi kedalam pasar global). Melalui berbagai perjanjian internasional dan adanya organisasi internasional yang mengatur kebijakan ekonomi dunia (IMF dan World Bank), dominasi negara dalam pasar terus-menerus digerus oleh berbagai kebijakan-kebijakan IMF dan World Bank. Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia karena ekonomi Indonesia belum siap untuk menghadapi arus Globalisasi. Jika Indonesia memaksakan diri, maka kemungkinan produk-produk local akan disingkirkan oleh produk luar negeri dan menjadikan negara ini sebagai negara konsumen. Jika hal itu terjadi maka efek domino terhadap kondisi social-politik di Indonesia akan terjadi. Jika produk-produk Indonesia tidak bisa bersaing maka perusahaan local dapat mengalami kerugian dan mengadakan PHK terhadap karyawannya.<br />
Imbas dari globalisasi bukan hanya hal-hal yang berhubungan dengan ekonomi, tetapi masuk kedalam bidang social. Globalisasi membuat arus masuk informasi menjadi tanpa batas, termasuk pornografi, pelecehan seksual dan kekerasan yang dapat mempengaruhi generasi muda bangsa. Dengan adanya televisi, internet, email dan layanan komunikasi lainnya yang merupakan imbas dari globalisasi membuat informasi bagi remaja dan anak-anak tidak terkontrol.<br />
Globalisasi berimbas juga pada masalah lingkungan. Dengan masuknya modal tanpa batas, perusahaan pertambangan asing akan berlomba untuk mengeksploitasi alam Indonesia. Dengan masuknya perusahaan tambang asing, maka pencemaran lingkungan pasti tidak akan bisa dihindarkan. Kebijakan pemerintah mengizinkan operasi pertambangan pada kawasan hutan lindung dan konservasi, sudah pasti akan mempercepat lenyapnya hutan Indonesia. “Industri keruk” tambang akan mengubah hamparan hutan hijau Indonesia menjadi padang pasir kekuningan dengan lubang-lubang beracun didalamnya. Saat ini saja terdapat 150 perusahaan yang telah mengantongi izin Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mrmbuka tambang. Mereka akan beroperasi pada kawasan hutan seluas 11.441.852 hektar. Tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Pada dasarnya  segala hal yang diciptakan manusia mempunyai efek baik dan buruk bagi manusia itu sendiri. Globalisasi juga mempunyai sifat seperti itu. Globalisasi disatu sisi menawarkan kebaikan tapi disisi lain juga kita akan terjebak pada keterpurukan jika tidak mewaspadainya. Pengaruh globalisasi juga harus dilihat dari ‘siapa yang memprakarsainya’ yaitu negara-negara Barat. Hal ini patut diwaspadai karena sumber daya alam kita yang melimpah dan bukan tidak mungkin negara-negara tersebut juga mengincarnya dengan mempengaruhi masyarakat kita tentang ‘betapa baiknya globalisasi’. Rakyat (elit penguasa dan rakyat biasa) harus meng-counter efek buruk dari globalisasi. Jika hanya rakyat biasa saja yang mencoba meng-counter-nya maka hal itu hanya akan sia-sia. Apapun taktik dan strategi yang akan dipakai untuk meng-counter efek buruk dari globalisasi akan sia-sia jika tidak ada dukungan  elit penguasa dan rakyat biasa.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Buku<br />
Abrahamsen, Rita. 2004, ‘Sudut Gelap Kemajuan Relasi Kuasa Dalam Wacana Pembangunan’,   Lafadl Pustaka, Jogjakarta.</p>
<p>Dwi Putro, Widodo dan Farid Tolomundu. 2006, ‘Menolak Takluk<br />
Newmont versus Hati Nurani’ Titik Koma, Mataram.</p>
<p>Website</p>
<p>http://www.walhi.or.id/kampanye/energi/050714_glob-psrbbs-bbm_cu/</p>
<p>http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1995/10/25/0003.html</p>
<p>http://ekisonline.com/index.php?option=com_content&#38;task=view&#38;id=22&#38;Itemid=28</p>
<p>http://arsip.info/kriminal/penjajahan/baru/globalisasi/ekonomi/08_07_05_001543.html</p>
<p>Jurnal<br />
Susanto, Joko, “Kajian Teoritik tentang Pengaruh Globalisasi terhadap Proses Demokratisasi,” Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, Th XIII, No 2, April 2000</p>
<p>Qodir, Zuly, ‘Globalisasi, Neoliberalisme dan the New Sosial Movement <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> engalaman Muhammadiyah’, Jurnal Mandatory Edisi 4/Tahun 4/2008 © Institute for Research and Empowerment (IRE), Yogyakarta</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Baut RI Melenceng dari Mur Globalisasi]]></title>
<link>http://iswekon.wordpress.com/2009/11/22/baut-ri-melenceng-dari-mur-globalisasi/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 03:21:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>Indah Sri Wulandari</dc:creator>
<guid>http://iswekon.wordpress.com/2009/11/22/baut-ri-melenceng-dari-mur-globalisasi/</guid>
<description><![CDATA[Minggu, 22 November 2009 | 03:29 WIB Simon Saragih http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/22/03292]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Minggu, 22 November 2009 &#124; 03:29 WIB<br />
Simon Saragih</p>
<p><a href="http://www.kompas.com/data/css/newcetak/images/logo_kompas_white.png"><img class="alignnone size-full wp-image-2212" title="kompas_white" src="http://iswekon.wordpress.com/files/2009/11/kompas_white5.png" alt="" width="160" height="30" /></a></p>
<p><a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/22/03292239/baut.ri.melenceng.dari.mur.globalisasi">http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/22/03292239/baut.ri.melenceng.dari.mur.globalisasi</a></p>
<p>Mudah-mudahan semua keterangan di bawah ini tidak benar adanya. Akan tetapi, tanpa penelitian mendalam pun rakyat sudah merasakan ada banyak hal yang tidak benar dalam perjalanan bangsa ini. Banyak sekali faktor yang menunjukkan Indonesia tidak menyesuaikan diri dengan tekstur mur-mur globalisasi sehingga membuat Indonesia tak berputar sesuai dengan irama globalisasi itu.</p>
<p>Salah satu contoh untuk memudahkan pemahaman adalah konteks pembangunan China, yang tidak kunjung menggugah teknokrat dalam menyusun strategi pembangunan. Setelah sukses mereformasi sektor pertanian, di mana para petani bebas menanam dan menabung sendiri hasil sektor pertaniannya, para petani China menjadi sumber daya beli.<br />
<!--more--><br />
Tak puas dengan reformasi pertanian, di mana teknologi pertanian mencapai terobosan besar, mulai dari pembibitan dan pengembangan sarana di pedesaan, China mencanangkan diri menjadi negara dengan ekonomi yang didorong ekspor.</p>
<p>Saat mencanangkan diri menjadi eksportir, tentu dengan segala masalah yang juga muncul, China benar-benar menjadikan investor asing raja-raja yang harus dilayani. Sejumlah wilayah atau provinsi berlomba menjadikan dirinya sebagai lokasi yang layak sebagai tempat berusaha.</p>
<p>Perizinan pun dirampingkan demikian pula sarana jalan dan listrik disiapkan sesuai dengan kebutuhan investor. Maka tidak heran jika China mengalahkan negara mana pun soal arus masuk investasi asing.</p>
<p>Jika disandingkan dengan konteks Indonesia, jelas Indonesia baru sekadar bisa berbicara soal globalisasi. Kenyataan di lapangan menunjukkan Indonesia tidak melayani investor asing.</p>
<p>Masih mau membantah juga? Ambil contoh listrik, hal vital bagi investasi misalnya, tak bisa kita sediakan di tengah keberadaan sumber daya energi yang memajukan industri di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan kini China. Jika kita bicara soal sarana jalan, kemacetan besar terjadi di sentra-sentra industri karena pembangunan sarana jalan tak sesuai dengan kebutuhan pembangunan.</p>
<p>Hal ini, misalnya, telah disampaikan Menteri Perdagangan Inggris Lord Davies of Abersoch, yang juga mantan Ketua Standard Chartered Bank (SCB), bank Inggris yang fokus ke Asia. Ketidaknyamanan soal perizinan dan minimnya insentif investasi juga sudah disampaikan Dubes Inggris untuk RI Martin Hatfull.</p>
<p>Hal ini membuat Indonesia tidak lebih menarik sebagai lokasi investasi asing dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, Vietnam, apalagi Singapura. Buktinya, banyak warga Indonesia yang harus mencari nafkah di luar negeri karena minimnya kesempatan kerja.</p>
<p>Faktor lain yang memperlihatkan Indonesia melenceng dari mur-mur globalisasi adalah pemanfaatan rakyat sebagai aset, yang lambat atau cepat akan menjadi pendorong ekonomi. Jika kita masih ingat, AS memiliki ekonomi yang besar karena generasi baby boomers, yang kini sudah memasuki masa pensiunan.</p>
<p>AS memiliki kebijakan yang berpihak pada bisnis kecil dan rakyat kecil. AS memiliki apa yang dinamakan sebagai Sherman Act, salah satu undang-undang yang menjamin eksistensi usaha kecil sehingga tidak tergilas usaha besar. Hal ini setidaknya mampu membuat kemajuan usaha kecil menjadi besar, seperti pernah dialami Xerox dan US Airways.</p>
<p>Demikian pula siswa dan mahasiswa, yang di AS pernah tertolong dengan paket social benefit. Hal ini, misalnya, pernah dilakukan dengan memberi keringanan kepada mahasiswa kurang mampu. Bahkan perbankan pun didorong memberi pinjaman kepada mahasiswa yang kemudian membayar pinjaman itu setelah bekerja. Fasilitas pinjaman seperti inilah yang membuat Presiden AS Barack Obama bisa kuliah, termasuk berkat food stamp (kupon makanan).</p>
<p>Kita harus bertanya, apakah Indonesia sudah melakukan itu. Bukankah Indonesia mirip dengan negara yang antisosial dengan kenaikan biaya-biaya sekolah, termasuk biaya-biaya kuliah, dengan program otonomi pendidikan?</p>
<p>Benar bahwa banyak beban bagi Pemerintah Indonesia. Dengan sekian banyak penduduk dan luasnya wilayah, tentu menangani pembangunan di Indonesia jauh lebih kompleks ketimbang menangani Malaysia, Thailand atau Vietnam.</p>
<p>Tentunya Pemerintah Indonesia tidak bisa diharapkan menyelesaikan masalah sedemikian besar dengan wilayah sedemikian luas. Namun, kita tidak usah terlalu rumit memikirkan itu. Di dalam perekonomian, sudah diketahui bahwa pelaku ekonomi bukan hanya pemerintah, melainkan juga investor dan konsumen.</p>
<p>Masalahnya hanyalah agar Pemerintah Indonesia menjadikan dirinya sebagai katalisator, fasilitator pembangunan. Dengan demikian, pembangunan di wilayah seluas Indonesia bisa dilakukan secara bahu-membahu antara pemerintah, investor, dan konsumen.</p>
<p>Pertanyaannya adalah apakah birokrat sudah menjadi katalisator? Jika demikian, mengapa ada kisruh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berseberangan dengan Kepolisian RI?</p>
<p><strong>Efek jera</strong></p>
<p>Mengapa pula ada kasus Bank Century, yang rasanya begitu penting untuk diselamatkan dengan biaya triliunan rupiah. Apakah masalah Bank Century lebih urgen ketimbang pembangunan kapasitas listrik untuk mencegah pemadaman bergilir?</p>
<p>Jangan dilupakan, unsur korupsi, kolusi, dan nepotisme menjadi penghambat munculnya talenta terbaik dalam menggerakkan perekonomian.</p>
<p>Indonesia tidak sendirian dalam masalah korupsi. Hal ini pun menimpa banyak negara lain. Namun dalam konteks globalisasi, jika Indonesia ingin meraih manfaat globalisasi, hal-hal negatif seperti itu harus diatasi.</p>
<p>Maka tidak heran jika Pemerintah Vietnam mengganti semua pejabat Departemen Perhubungan sehubungan dengan penggelapan sejumlah dana pembangunan proyek infrastruktur. China juga melakukan hal serupa dengan memberi efek jera kepada para pejabat yang terlibat korupsi.</p>
<p>China tidak saja menembak koruptor, tetapi juga anak-istri dari pejabat korupsi dengan tujuan memberi efek jera kepada para pejabat lainnya.</p>
<p>Kembali kepada rakyat, termasuk para petani, kita juga harus menelaah dan mempertanyakan kembali, apakah mereka diberdayakan sehingga menjadi kekuatan atau memiliki daya beli sehingga bisa mendorong perekonomian?</p>
<p>Banyak lahan pertanian yang kini dikuasai dalam bentuk konglomerasi. Hal ini membuat kenaikan harga komoditas sawit dinikmati konglomerat, walau dalam porsi lebih kecil juga dinikmati perkebunan rakyat.</p>
<p>Di AS dan Eropa, Jepang dan Korea Selatan, pemerintah rela mengeluarkan ratusan miliaran dollar AS dana untuk memberi subsidi untuk hasil pertanian untuk memberdayakan ekonomi para petani.</p>
<p>Benar, anggaran negara, dengan asumsi penerimaan sedikit, tidak akan membuat pemerintah mampu melakukan hal serupa. Akan tetapi kita harus bertanya, mengapa Korea Selatan dan Jepang bisa melakukan itu, padahal negara ini tidak memiliki kekayaan alam seperti gas, minyak, dan emas yang amat bernilai. Mengapa Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini tidak mampu menjadikan kekayaannya untuk memberdayakan para petani?</p>
<p>Hal yang terjadi adalah kemiskinan yang melilit sekitar 100 juta penduduk Indonesia. Seperti kata ekonom asal Peru, Hernando de Soto, kemiskinan menjadi sarang yang rawan memunculkan terorisme. Dan Indonesia pun termasuk negara yang terkenal dengan aksi-aksi terorisme.</p>
<p>Ini hanyalah sekadar pengingat bahwa kita memiliki masalah yang harus diatasi. Masalah ini tidak akan teratasi tanpa keseriusan dari semua pihak. Keharuman Indonesia bukan diukur dengan pujian semu dari dunia luar terhadap pemerintah Indonesia, tetapi bergantung pada pemahaman kita terhadap masalah mendasar yang muncul, untuk kemudian diatasi.</p>
<p>Jangan lupa semua gambaran ini juga terekam dalam laporan World Competitiveness Report 2009, yang diluncurkan Oktober lalu. Hasilnya, peringkat Indonesia tidak membanggakan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[generasi terbarukan:  perpaduan globalisasi dan kearifan lokal]]></title>
<link>http://komatanpatitik.wordpress.com/2009/11/20/generasi-terbarukan-perpaduan-globalisasi-dan-kearifan-lokal/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 15:52:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>arifakbarjp</dc:creator>
<guid>http://komatanpatitik.wordpress.com/2009/11/20/generasi-terbarukan-perpaduan-globalisasi-dan-kearifan-lokal/</guid>
<description><![CDATA[Setiap manusia mempunyai keinginan untuk memiliki keturunan sehingga eksistensi namanya di dunia bis]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Setiap manusia mempunyai keinginan untuk memiliki keturunan sehingga eksistensi namanya di dunia bisa bertahan lebih lama. Keturunan tersebut diharapkan untuk menyamai kapabilitas orang tua, bahkan lebih baik. Pengharapan seperti itu membentuk pola pendidikan yang dilakukan oleh orang tua terkesan otoriter. Orang tua mengharapkan apa yang telah mereka dapatkan dari orang tua mereka juga dimiliki oleh anaknya.</p>
<p>Pola transfer perilaku, kebudayaan, pemikiran, dan tradisi dari setiap generasi tidak akan pernah sama. Praktik kehidupan sehari-hari pun pola transfer yang dibentuk dari pola komunikasi menjelaskan bahwa pesan tersebut tidak akan tersampaikan seratus persen. Gangguan yang menyebabkan penyamapaian pesan secara tidak sempurna ada berbagai macam hal. Salah satunya adalah globalisasi.</p>
<p>Definisi dari globalisasi yang dimaksudkan adalah globalisasi yang erat kaitannya dengan kekuasaan kapital dan pemujaan perdagangan bebas. Penyamaan paradigma dalam globalisasi ini penting agar tidak terjadi bias pemahaman. Globalisasi dengan berbagi macam serangan kapitalisme beserta ”antek” pemerintahannya melakukan penggelontoran arus informasi yang luar biasa.</p>
<p>Arus informasi ini digunakan untuk meluaskan paham internasionalisme dengan maksud penghapusan batas-batas <em>nation-state</em>. Penghapusan batas-batas tersebut melintasi bahkan menghapuskan batas-batas kebudayaan, perilaku, dan nilai-nilai kearifan lokal.</p>
<p>Keturunan kita selanjutnya akan mendapati perbenturan paham baik yang berbasis kebudayaan maupun arus massa modernitas. Generasi selanjutnya dari keturunan kita juga akan mendapati permasalahan yang sama. Meskipun dengan permasalahan yang sama, setiap generasi mempunyai cara adaptasi tersendiri terhadap perkembangan zaman. Oleh karena itu, setiap generasi selalu terbarukan atas paham, perilaku, dan pola pikir. Sehingga setiap generasi bisa disebut dengan generasi yang terbarukan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[GLOBALISASI DAN TENAGA KERJA LOKAL]]></title>
<link>http://testiani170885.wordpress.com/2009/11/19/globalisasi-dan-tenaga-kerja-lokal/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 09:25:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>testiani makmur</dc:creator>
<guid>http://testiani170885.wordpress.com/2009/11/19/globalisasi-dan-tenaga-kerja-lokal/</guid>
<description><![CDATA[Pendahuluan Hampir di semua negara saat ini, problema ketenagakerjaan atau perburuhan selalu tumbuh ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pendahuluan Hampir di semua negara saat ini, problema ketenagakerjaan atau perburuhan selalu tumbuh ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PR Globalisasi ver.1 bagian 2]]></title>
<link>http://alwaysayumi.wordpress.com/2009/11/14/pr-globalisasi-ver-1-bagian-2/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 05:44:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>irixae</dc:creator>
<guid>http://alwaysayumi.wordpress.com/2009/11/14/pr-globalisasi-ver-1-bagian-2/</guid>
<description><![CDATA[Lalu, apa saja yang ditimbulkan globalisasi terhadap nasionalisme kita? Kalau melihatnya dari sudut ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Lalu, apa saja yang ditimbulkan globalisasi terhadap nasionalisme kita?</p>
<p>Kalau melihatnya dari sudut pandang positif,  <em>mungkin</em> ada beberapa, yaitu:</p>
<ol>
<li>Pemerintah      yang bersih dan berdaulat dan dijalankan secara terbuka dan demokratis.</li>
<li>Terbukanya  pasar internasional meningkatkan      kesempatan kerja dan membuat angka pengangguran rendah. Ini juga      meningkatkan devisa negara. Dengan adanya itu, hal tersebut akan      meningkatkan kehidupan ekonomi suatu negara.</li>
<li>Kita      juga dapat meniru pemikiran yang baik, seperti etos kerja yang baik dan      disiplin, supaya negara kita juga termasuk negara yang rajin bekerja. Kita      boleh meniru dari negara lain yang telah maju sebelum kita dan akhirnya      akan membuat negara kita maju, dan akan membuat rasa nasionalisme yang      lebih.</li>
</ol>
<p>&#160;</p>
<p>Inilah temannya si positif, yang melihat dari sisi negatifnya (yang <em>mungkin</em> terjadi):</p>
<ol>
<li>Meyakinkan      masyarakat Indonesia      bahwa liberalisme dapat membawa negara kita menjadi makmur dan maju,      sehingga berubah arah dari ideologi Pancasila menjadi  ideologi liberal.</li>
<li>Kita      juga hilang rasa bangga dan cinta terhadap produk dalam negeri, karena      banyaknya produk-produk luar negeri.</li>
<li>Akan      lupa identitas kita sebagai warga negara Indonesia      karena gaya      hidup yang modern dan kebarat-baratan</li>
<li>Adanya      kesenjangan sosial diantara kaum kaya dan miskin, sehingga menimbulkan      banyak pertentangan dan mengganggu kehidupan nasional bangsa.</li>
<li>Dan      munculnya sikap individualisme, tidak memedulikan orang lain.</li>
</ol>
<p>&#160;</p>
<p>Karena banyaknya warga yang melihat dari sisi negatifnya, banyak yang memulai aksi antiglobalisasi. Banyak kelompok yang menentang globalisasi. Tetapi orang-orang yang dicap “antiglobalisasi” tidak ingin disebut begitu, namun memberi nama seperti Gerakan Keadilan Sosial, Gerakan dari Semua Gerakan dan lain-lain.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Mulanya gerakan antiglobalisasi adalah pada akhir abad ke-20, untuk melawan pasar bebas. Biasanya, para pengunjuk rasa percaya bahwa lembaga-lembaga keuangan internasional merusakkan metode-metode keputusan dari dalam negeri, sehingga dianggap memaksakan suatu monokultur global.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Banyak pihak menganggap gerakan ini sebagai anggapan yang sangat tajam terhadap pengembangan neoliberalisme, dan berpendapat bahwa peningkatan perdagangan bebas akan membawa hal-hal yang baik dan positif bagi negara-negara miskin. Dan para pemuda antiglobalisasi berpendapat bahwa neoliberal hanya menyebabkan kehilangan kedaulatannya lembaga-lembaga demokratis.</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Ayumi berpendapat…</em></p>
<p>Globalisasi seharusnya dilihat dari nilai positifnya. Kalau semuanya berpikir negatifnya, semua efek bagusnya globalisasi akan hilang dari kepala kita. Namun terkadang kita juga harus melihat dari sudut pandang yang lain.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Kalau kita tidak menyetujui adanya globalisasi, akan ada sesuatu yang menghalangi kita dalam mencapai kemakmuran, karena kita tidak menginginkan pendapat orang/negara lain.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Juga, kalau kita ingin mengembangkan sesuatu, kita harus melihat contoh produk yang dianggap lebih bagus, bukankah begitu? Seperti negara kita. Supaya tingkat pengangguran menjadi lebih rendah, apa yang harus kita lakukan, misalnya? Lihat negara-negara yang angka penganggurannya rendah, dan lihat solusi apa yang bisa digunakan untuk negeri kita.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Bagi saya, demo adalah hal yang tak perlu. Kita bisa merundingkannya satu sama lain. Lihat para pemuda di atas, mereka pikir mereka melawan hal yang buruk, dan beranggapan bahwa mereka adalah yang benar, tetapi, apakah benar? Mereka merusak fasilitas umum dengan coretan-coretan graffiti mereka.</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>Jadi, hikmahnya, ambil yang positif, tapi tetap pikirkan yang negatif adalah yang negatif, dan tak perlu semuanya ditiru, kok. Tapi aku tidak pernah bilang “Globalisasi itu baik” atau “Globalisasi itu buruk”. Karena itu adalah pendapat, bukan fakta. Kita tidak boleh memaksakan pendapat kita, tetapi memberikan semua informasi dan menyerakhkan keputusan kepada orang itu. Terserah kamu kalau mau berpikir secara negatif, tetapi sebaiknya berpikir positiflah. Jangan selalu berpikir satu hal itu tak ada baiknya. Jangan berpikir kita saja yang benar.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PR Globalisasi ver.1]]></title>
<link>http://alwaysayumi.wordpress.com/2009/11/13/pr-globalisasi-ver-1/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 13:21:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>irixae</dc:creator>
<guid>http://alwaysayumi.wordpress.com/2009/11/13/pr-globalisasi-ver-1/</guid>
<description><![CDATA[Apa itu globalisasi? Menurut Wikipedia, globalisasi adalah istilah yang memiliki hubungan dengan pen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Apa itu globalisasi? Menurut Wikipedia, globalisasi adalah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu Negara menjadi bias. Kalau dikatakan dalam kalimat yang lebih simpel, globalisasi adalah jika semua bangsa dan negara di dunia saling terikat satu sama lain, dan menyinkirkan semua budaya dan batas-batas territorial.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Awal mula istilah globalisasi pertama kali digunakan oleh Theodore Levitt pada tahun 1985 yang menunjuk kepada dunia politik dan ekonomi, khususnya perdagangan bebas dan transaksi keuangan. Katanya, akar munculnya globalisasi adalah revolusi elektronik yang terus maju dan pemikiran negara-negara komunis. Revolusi elektronik mempermudahkan dan mempercepat komunikasi, transportasi, produksi, dan informasi.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Ada yang mengartikan globalisasi sebagai hal yang positif, memikirkannya sebagai alat bantu untuk membuat negaranya terus maju dalam semua bidang. Namun ada juga yang berpikir ke arah yang lebih buruk atau negatif, dan curiga terhadapnya karena beberapa hal. Negara kecil yang tidak berdaya akan dikendalikan oleh negara besar dan maju yang memiliki kekuatan ekonomi dan sosial, sehingga negara kecil tak mampu untuk bersaing dalam hal-hal itu. Sesudah hal itu, ada yang khawatir karena globalisasi tetap mempengaruhi nilai-nilai budaya dan agama.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Kalau kita ingin mengetahui, apa sih ciri-ciri adanya globalisasi di Indonesia? Sangatlah mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Berapa cabang KFC yang ada di kotamu? Berapa cabang McDonalds? Di warung-warung kecil, ada tidak merek soft-drink Coca-cola, Sprite, atau Fanta? ‘Kembaran’ merek yang dibuat oleh Indonesia tentu saja berawal dari merek luar. Contohnya, aku pernah datang ke pasar, dan banyak sekali merek palsu yang namanya mirip sekali dengan merek luar. Addidas kek, Klarks, pokoknya banyak banget. Semua orang yang ingin gengsi memakai merek baju apa? Pasti mereka membeli dari distro atau merek luar negeri. Padahal bahan-bahannya, kainnya di export dari Indonesia dan impor ke sini lagi untuk dijual dengan harga selangit. Banyak kalangan menengah ke bawah juga ingin membeli produk-produk ini untuk bergengsi, sehingga banyak masalah yang ditimbulkan.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Dan secara komunikasi, kita bisa melihat warnet dan wartel tersebar dimana-mana. Jumlah warnet dalam satu jalan bisa saja tidak bisa dihitung dengan tangan. Sekarang, banyak sekali yang memiliki telepon rumah, telepon genggam, televisi kabel dan internet di rumah mereka. Ini akan mempermudah adanya globalisme.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Kalau dalam segi ekonomi, semua pasar dan produksi ekonomi dari negara-negara yang berbeda akan bergantung kepada pengaruh perusahaan besar internasional, multinasional, dan dominasi organisasi semacam IMF, Bank Dunia, dan WTO (World Trade Organization), lembaga-lembaga dunia yang baru-baru ini mendapat kritik sangat tajam dari Dennis Kucinich, calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, karena lembaga-lembaga itu mencerminkan ketidakadilan global.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Semua program dari perusahaan di atas telah menjadi alat yang sangat ampuh dari kapitalisme Barat.</p>
<p>Semua itu akan menimbulkan banyak masalah dan pertikaian, baik besar atau kecil, misalnya pada lingkungan di sekitar, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Sekarang, apa dampak positif dari globalisasi? Tentu, kita bisa memperoleh informasi secara mudah. Kalau ada pekerjaan rumah tentang pekerjaan Presiden Indonesia contohnya, kita tidak perlu lagi membuka atau membeli buku yang tebal. Kita bisa online dan mencarinya di Om Google. Kita juga dengan cepat dan instan melakukan komunikasi. Kalau kita ingin menelpon keluarga kita di Cina, misalnya, kita tak perlu lagi mendatangi mereka, tetapi bisa langsung *tek tek tek* telpon. Kalau kangen dengan wajah mereka, bisa menggunakan hape 3G atau memakai webcam.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Bepergian juga mudah. Bayangkan jika kita berjalan kaki ke kantor atau sekolah yang berada di kota lain. Nanti kapan sampainya? Inilah fungsi mobil dan kendaraan yang di impor.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Kita juga mampu bersaing dalam globalisasi. Dan kita juga bisa menaikkan dan meningkatkan kualitas diri, dan melihat apa ciri-ciri positif dari negara maju dan mengubah Indonesia menjadi negara yang makmur. Tata hidup menjadi lebih bersih dan lebih baik, dan tingkat pengangguran menjadi lebih rendah karena adanya lebih banyak lowongan kerja untuk bekerja di sebuah perusahaan atau penelitian teknologi.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Tuhan menciptakan dunia ini berpasang-pasangan. Cowok temannya cewek. Lalu, kalau ada positif, tentu ada temannya, negatif. Menurut sebagian besar orang, lebih banyak dampak negatifnya daripada positifnya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Informasi yang kita dapatkan dengan sangat mudah tak lagi tersaring. Banyak gambar-gambar dan situs-situs di Internet yang tidak pas untuk budaya kita. Banyak yang melanggar moral bangsa, bahkan moral dunia. Pornografi di Internet adalah hal yang biasa dijumpai, situs perjudian yang meledak, dan kata-kata sindiran yang sering ditiru.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Dan nilai budaya mulai tergeser. Anak-anak sekarang lebih suka mengurung diri di kamar, berbincang-bincang tentang pacarnya misalnya, daripada bersosialisasi dengan orangtuanya. Mereka juga meremehkan peraturan supaya terlihat lebih keren. Nilai agama sekarang juga hampir menghilang atau tidak ada. Banyak orang yang di KTPnya tertulis beragama Islam, tetapi mereka memakai celana pendek yang tidak sampai ke lutut, dan berboncengan dengan cowok yang bukan muhrimnya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Semua ini menimbulkan adanya garis pemisah antara orang yang mampu dan mau mengikuti modernisasi dengan orang yang tidak mampu mengikutinya. Orang-orang juga sering lupa mereka adalah makhluk sosial, dan tidak mempedulikan orang lagi karena saking hebatnya teknologi sekarang.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Interupsi Globalisasi terhadap Bahasa Indonesia]]></title>
<link>http://andienchandra.wordpress.com/2009/11/11/interupsi-globalisasi-terhadap-bahasa-indonesia/</link>
<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 07:16:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>andienchandra</dc:creator>
<guid>http://andienchandra.wordpress.com/2009/11/11/interupsi-globalisasi-terhadap-bahasa-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Globalisasi, suatu proses yang memang tidak akan dapat dihindari dengan majunya tekhnologi masa kini]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Globalisasi, suatu proses yang memang tidak akan dapat dihindari dengan majunya tekhnologi masa kini. Internet menjadi salah satu pintu globalisasi yang hingga kini selalu diperdebatkan sisipositif dan negatifnya. Sejalan dengan terbukanya pintu dunia maya dan kesempatan untuk bertemu begitu banyak jenis orang dari seluruh dunia, membuat kita mulai terpengaruh bahasa dunia, dan mulai melupakan kosa kata bahasa kita, Bahasa Indonesia.</p>
<p>Dewasa ini, lapisan generasi terutama generasi muda mulai menggunakan bahasa asing di tiap percakapannya. Tentu saja hal ini berkaitan dengan globalisasi yang sedang terjadi saat ini. Kemampuan bahasa asing akan selalu dibutuhkan dalam tiap aspek kehidupan, muda maupun tua. Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Bahasa Jerman, Bahasa Mandarin, dan bahasa – bahasa lainnya perlahan – lahan merebut posisi Bahasa Indonesia pada perhatian dan prioritas pembelajaran masyarakat terhadap kebahasaan.</p>
<p>Bermacam – macam kelas bahasa asing dibuka, mendukung semangat globalisasi ini. Tentu saja bukan kelas Bahasa Indonesia, melainkan kelas bahasa asing : bahasa yang digunakan dalam era globalisasi . Masyarakat mulai mengejar dan mempelajari bahasa asing, belajar menggunakannya baik lisan maupun tertulis dengan berbagai cara kapanpun, di manapun, dan pada akhirnya menyisihkan Bahasa Indonesia dalam kamus mereka. Maka secara perlahanpun kosa kata yang dilafalkan dalam bahasa asing akan mengambil alih kosa kata Bahasa Indonesia. Tidak melupakan fakta, bahwa sebagian besar (bahkan hampir seluruhnya) kosa kata Bahasa Indonesia merupakan kosa kata serapan dari Bahasa Asing, baik bahasa negara lain ataupun bahasa daerah yang terdapat di Indonesia. Seperti ”unduh” dan ”unggah”, dua kosa kata Bahasa Indonesia yang kini sudah terlupakan oleh hampir seluruh kawula muda. Penggunaan ”download” dan ”upload” yang biasa menjadi opsi dalam penggunaan internet ini telah merampas kosa kata ”unduh” dan ”unggah” yang ada dalam kamus Bahasa Indonesia. Perlu diingat bahwa dua kosa kata tersebut hanyalah sebagian kecil dari semua interupsi bahasa asing terhadap bahasa kita. Jika hal ini terus terjadi, maka tidaklah tidak mungkin bahwa suatu hari nanti, kosa kata dalam kamus Bahasa Indonesia akan sama persis dengan kosa kata dalam kamus bahasa asing saat ini.</p>
<p>Perlu kita sadari, bahasa merupakan identitas suatu bangsa. Bahasa Indonesia sudah lama menjadi traktat persatuan di antara individu – individu Indonesia yang berasal dari berbagai macam daerah. Sudah sepatutnya kita sebagai pelajar menyadari dan mengevaluasi bahasa yang kita gunakan sehari – hari. Bila memang kita gunakan bahasa asing lebih sering daripada bahasa ibu kita, maka janganlah kita kesampingkan semua bahasa dan tata bahasa lisan budaya Indonesia. Baik kosa kata, etika, dan estetika dari segala letak koma, titik, dan tanda baca lain dalam Bahasa Indonesia. Pembiasaan yang berkelanjutan akan menghambat ”penjajahan” identitas ini. Era globalisasi telah datang dengan segala jenis tawaran menggiurkannya, dengan segala keanekaragamannya, tapi pada akhirnya kita harus selalu ingat siapa kita, dan apa bahasa kita sesungguhnya.</p>
<p>-ini tugas bahasa,, hahaa..tolong di komen, saya kok ngrasa ada yang kurang, ada yg g pas..-</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[OPEN SOURCES TOOL : UNTUK LAYANAN GRATIS PERPUSTAKAAN]]></title>
<link>http://testiani170885.wordpress.com/2009/11/03/open-sources-tool-untuk-layanan-gratis-perpustakaan/</link>
<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 01:46:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>testiani makmur</dc:creator>
<guid>http://testiani170885.wordpress.com/2009/11/03/open-sources-tool-untuk-layanan-gratis-perpustakaan/</guid>
<description><![CDATA[Globalisasi mempengaruhi berbagai aspek dan tuntunan hidup masyarakat informasi maka dampak dari glo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Globalisasi mempengaruhi berbagai aspek dan tuntunan hidup masyarakat informasi maka dampak dari glo]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Bawa Musuh - Jangan Bunuh Budaya Tempatan]]></title>
<link>http://papanputih.wordpress.com/2009/11/02/jangan-bawa-musuh-jangan-bunuh-budaya-tempatan/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 14:58:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>Papan Putih</dc:creator>
<guid>http://papanputih.wordpress.com/2009/11/02/jangan-bawa-musuh-jangan-bunuh-budaya-tempatan/</guid>
<description><![CDATA[CIRI DAN WATAK MANUSIAWI KETIKA BERJUAL BELI GEDUNG RAKSASA MENGAUT UNTUNG (TESCO, GIANT, CARREFOUR)]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>CIRI DAN WATAK MANUSIAWI KETIKA BERJUAL BELI</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/_snvxpmtrq20/St4DYnamWrI/AAAAAAAABH0/1xPubPavlWo/s1600-h/PasarSitiKhadijah.jpg"><img class="aligncenter" src="http://1.bp.blogspot.com/_snvxpmtrq20/St4DYnamWrI/AAAAAAAABH0/1xPubPavlWo/s320/PasarSitiKhadijah.jpg" border="0" alt="" width="320" height="214" /></a></p>
<p>GEDUNG RAKSASA MENGAUT UNTUNG (TESCO, GIANT, CARREFOUR)</p>
<p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-162 aligncenter" title="Supermarket" src="http://papanputih.wordpress.com/files/2009/10/supermarket21.jpeg?w=300" alt="Supermarket" width="300" height="247" /></p>
<p style="text-align:justify;">PENIAGA KECIL MENCARI MAKAN</p>
<p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-167 aligncenter" title="pasar" src="http://papanputih.wordpress.com/files/2009/11/pasar3.jpg?w=300" alt="pasar" width="300" height="200" /></p>
<p style="text-align:justify;">PENIAGA KECIL YANG AKAN MENJADI MANGSA</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-168" title="pasar2" src="http://papanputih.wordpress.com/files/2009/11/pasar4.jpg?w=225" alt="pasar2" width="225" height="300" /></p>
<p>MATA YANG SONGSANG</p>
<p>Dari negara atas angin &#8211; ianya datang dengan angkuh sekali. Besar tersergam &#8211; besarnya lebih besar dari semua yang besar. Orang ramai – orang ulu dan orang bandar &#8211; tercengang melopong – masuk lalat keluar cacing. Lalu orang ulu dan orang bandar berlabon sesama sendiri tentang betapa besarnya ‘unggun’ ini.</p>
<p>Orang ulu dan orang bandar tidak pernah melihat gunung yang sebesar ini. Mereka tidak pernah melihat pintu yang seluas ini. Maka mereka terus melangok dan melopong. Lalu orang ulu dan orang bandar ini mengheret anak anak mereka untuk turut sama menebeng dan melangok.</p>
<p>Datuk Bandar tersenyum apabila melihat orang ulu dan orang bandar berduyun duyun datang untuk menyembah ‘unggun’ besar ini. Juak juak istana pun berkata inilah kejayaan yang telah di bawa. Inilah dia apa yang dipanggil pembangunan. Inilah dia kejayaan.</p>
<p>Jangan lupa wahai orang ulu dan orang bandar lima tahun lagi undilah aku sekali lagi.</p>
<p>Adalah seorang Mamat yang telah melihat ‘unggun’ ini. Dalam tercengang dan terlopong. Si Mamat ini hampir tidak percaya apa yang dilihat. Maka dianya pun berlari lari pulang ke kampongnya yang maha jauh di hulu. Maka apabila si Mamat sampai ke sebuah pekan di hulu maka dia pun bercerita pada kawan dan taulan. Maka ramailah anak muda melopong dan ternganga apabila mendengar kesah ‘unggun’ yang besar dari negara atas angin ini.</p>
<p>Maka cerita dan kesah ini sambung menyambung. Maka sampailah cerita ini kepada Tok Sidang lalu Tok Sidang membawa kepada Tok Khatib lalu di bawa kepada Tok Penggawa lalu di bawa kepada Tok Guru. Tok Guru yang belum pernah melihat ‘unggun’ yang begini besar seperti yang di kesahkan amat amat berahi. Maka si Tok Guru telah menghantar wakil untuk menjemput tuan empunya ‘unggun ‘ agar datang membawa unggun ini ke kampongnya.</p>
<p>Demikianlah kesah adanya:</p>
<p>Hari ini kita semakin diasak oleh kaum pemodal antarabangsa untuk membuka pasaran dalaman negara kita. Dengan licik sekali kaum pemodal antarabangsa melalui jaringan badan-badan dan lembaga dunia seperti World Trade Organisation, FTA, APEC, Bank Dunia telah memaksa negara-negara di Asia, Afrika dan Latin Amerika untuk membuka pasaran mereka. Semua dilakukan berasaskan akidah dan firman : perdagangan bebas.</p>
<p>Justeru – hasilnya &#8211; negara kita sedang dilanggar oleh bencana unggun besar dari gedung Carrefour , Tesco dan Giant.</p>
<p>Gedung-gedung membeli belah ini sebenarnya adalah musuh kepada kita semua – musuh yang datang dari negeri atas angin.</p>
<p>Memang sekali pandang kita akan melihat gedung-gedung memberi khidmat kepada pelanggan. Ini adalah pandangan yang amat juling dari mata yang bula. Pandangan juling ini lahir dari sesiapa sahaja yang tidak memiliki fikrah atau fikrah yang telah bonsai.</p>
<p>Amat disedari bahawa ramai warga berbangga dengan wujudnya gedung gedung ini yang dikatakan memberi khidmat dan keselesaan kepada mereka. Tetapi pendapat ini adalah pandangan juling berjangka pendek – sependek keupayaan otak mereka berfikir.</p>
<p>Betul – sekali pandangan – gedung ini sedang melambakkan bahan-bahan keperluan harian dari sayur mayur, ikan, daging, keperluan dapor, pakaian, pinggan mangkok, perhiasan rumah &#8211; malah semuanya ada untuk keselesaan para pembeli. Hanya gajah dan telor naga sahaja tidak ada – yang lain semua ada.</p>
<p>Disebalik semua keselesaan ini – ada racun ekonomi &#8211; yang sedang di bawa oleh gedung membeli belah ini. Racun ini meresap dengan perlahan-lahan tetapi yakinlah ianya akan membawa porak peranda ke atas ekonomi kita.</p>
<p>Dalam masa berjangka panjang gedung-gedung ini adalah pemusnah asas ekonomi negara bangsa. Dalam jangka panjang gedung-gedung ini akan menindih, menghimpit dan akhirnya akan mematikan perniagaan tempatan. Dalam jangka panjang gedung gedung ini akan membunuh kedai-kedai kecil. Akan mematikan petani kecil. Akan melupuskan Tok Peraih. Akan mengkebumikan kedai-kedai anak beranak – kedai adik beradik &#8211; yang berniaga di pekan dan badar yang menjadi watak pekan pekan kecil kita semenjak beratus tahun.</p>
<p>Ini bukan pandangan orang politik. Orang politik hanya dapat melihat dengan adanya bangunan tegak berdiri maka dengan bangganya mereka menjerit dan melolong &#8211; inilah dia pembangunan yang mereka bawa. Para politikus inilah yang membenarkan gedung gedung ini semakin berselirat di tanah air kita.</p>
<p>Wajib kita sedar &#8211; ramai orang politik ini tidak faham tentang ekonomi politik. Ilmu politikal ekonomi mereka amatlah kontot lagi cetek. Pembacaan dan pengkajian ekonomi mereka amatlah terhad. Tetapi mulut dan poket mereka amatlah besar. Kerana mulut besar dan akal kontot maka mereka tidak memiliki keupayaan untuk membuat kerja-kerja lain. Yang terbuka hanya menjadi orang politik atau macai politik atau menjadi rakan tidur kaum pemodal antarabangsa.</p>
<p>Orang politik yang tidak memiliki kesedaran ekonomi ini telah dilobi dan dirasuah oleh tuan empunya gedung. Orang-orang politik ini dijadikan orang depan – mungkin diberi saham/mungkin diberi menjadi ahli lembaga pengarah/mungkin diberi amoi &#8211; untuk melobi pengelulusan lesen-lesen agar gedung-gedung ini dapat membeli tanah-tanah di kawasan yang stratejik untuk beroperasi dalam tanah air kita.</p>
<p>Memang betul – sekali imbas – dilihat gedung-gedung ini memberikan harga yang murah berbanding dengan kedai runcit di pekan kecil. Memang betul dibawah bumbung gedung ini kita dapat memilih semua yang kita perlukan. Memang betul kita selesa dengan kesejukan hawa dingin ketika membeli belah dalam gedung gedung ini.</p>
<p>Tetapi waspada. Gedung berjaya meletakan harga yang murah kerana mereka menjual dengan volume/jumlah yang amat banyak. Ini dapat dilakukan kerana gedung ini datang dengan modal yang mengunung. Gedung-gedung ini bukan lagi membeli barangan dari Tok Peraih dari kampong sana dan kampong sini. Gedung ini memiliki segala macam gudang untuk mengeluarkan barangan yang akan dijual digedung mereka sendiri.</p>
<p>Untuk gula – gedung ini bukan hanya memiliki kilang gula malah memiliki ladang gula. Bagitu juga untuk tepong – bukan hanya kilang malah ladang gandum sendiri dimiliki oleh gedung ini. Bagitu juga untuk ayam , daging, sayur dan barangan dalam tin atau kotak. Semua adalah milik gedung ini.</p>
<p>Jika kilang itu bukan milik gedung ini seratus peratus besar kemungkinan tuan empunya gedung ini memiliki saham dan kepentingan dalam apa sahaja barangan lain yang akan di jual di dalam gedung. Banyak bahan bahan yang dijual datang dari negara atas angin. Justeru kapal laut dan kapal terbang juga dimiliki oleh gedung ini untuk menghantar barang-barang.</p>
<p>Tesco adalah syarikat membeli belah yang ketiga besarnya dalam dunia. Jaringan kepentingan gedung ini berselirat diseluruh dunia. Kerana ianya bagitu besar maka syarikat ini boleh menentukan harga barangan yang ingin dibelinya. Gedung ini boleh menekan harga bahan yang ingin mereka beli. Ini berlaku apabila mereka telah memonopoli pasaran.</p>
<p>Akan sampai satu ketika di mana kedai kedai kecil tempatan akan lupus kerana tidak dapat menandingi gedung gedung ini. Kedai-kedai runcit di pekan kecil akan tutup. Tok Peraih dan peniaga kecil – pekebun yang bejaja sendiri – akan lupus. Mak Cik penjual sayur, Pak Cik penjual ikan, Abang penjual daging di Pasar Khatijah akan hilang dengan sendirinya apabila Tesco muncul di Kota Bahru. Pasar borong Selayang atau Pasar Chow Kit akan terkapai kapai apabila gedung –gedung ini terus dibiarkan berkembang.</p>
<p>Gedung-gedung ini sedang membunuh pekan pekan kecil. Gedung-gedung ini yang akan mengambil tanah yang amat luas untuk dijadikan tempat letak kereta. Perhatikan rupa bentuk gedung ini. Ianya tidak memiliki nilai-nilai estetika tempatan langsung. Ianya bukan pekan atau bandar. Gedung ini adalah unggun yang menyesakkan pandangan.</p>
<p>Tidakkah disedari bahawa gedung ini tidak akan melahirkan silatulrahim antara pembeli dengan penjual. Tidak ada hubungan kemanusiaan antara si pembeli dengan si penjual – kerana yang menjual hanya kuli-kuli yang diupah seperti robot. Ini amat berbeza dengan hubungan kemanusian antara Mak Cik menjual sayur di pasar Khadijah dengan si pelanggannya. Mereka berkenal suai. Mereka berbual. Mereka merayakan diri mereka sebagai manusia. Mereka bukan hanya robot yang kerjanya hanya membeli sebagai konsumer.</p>
<p>Sedarlah &#8211; di kota-kota tradisional di Eropah – gedung-gedung ini dilarang untuk menjalankan perniagaan didalam badar. Mereka dinyahkan ke luar kota. Gedung ini tidak dibenarkan merosakan rupa bentuk kota asli. Kota San Sebastian di utara Sepanyol terus tidak membenarkan gedung ini dibuka didalam pekan. Gedung-gedung ini dilihat sebagai pemusnah budaya tradisional Sepanyol.</p>
<p>Dalam negara kita – kita amat juling – kita amat songsang. Kita gagal untuk melihat mudarat yang dibawa oleh gedung gedung ini. Kita dengan tidak tentu hala – tidak senereh harah mengikut kata orang Negeri Sembilan &#8211; merasa bangga kerana wujudnya ‘unggun’ ini di sebelah kawasan rumah kita. Inilah contoh fikrah yang bonsai. Inilah contoh slogan lompong : rakyat didahulukan. Tetapi sebenarkan orang yang berslogan – rakyat didahukukan itu sedang medahulukan kepentingan pemodal antarabangsa.</p>
<p>Tidakah ada kesedaran bahawa gedung ini sedang mengambil alih pekan pekan kita. Tidakkah disedari gedung gedung ini akan membunuh pasar malam kita.(TT)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bagaimana Nama Baru Domain Internet Mengubah Web? ]]></title>
<link>http://scbsradiolombok.wordpress.com/2009/10/31/bagaimana-nama-baru-domain-internet-mengubah-web/</link>
<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 00:58:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hana</dc:creator>
<guid>http://scbsradiolombok.wordpress.com/2009/10/31/bagaimana-nama-baru-domain-internet-mengubah-web/</guid>
<description><![CDATA[Akhirnya, World Wide Web akan hidup dan berkembang sesuai namanya. Organisasi penamaan dan penomeran]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Akhirnya, World Wide Web akan hidup dan berkembang sesuai namanya. Organisasi penamaan dan penomeran]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[GLOBALISASIKAN PANGGILAN PELAYANANMU]]></title>
<link>http://sinodegidi.wordpress.com/2009/10/28/globalisasikan-panggilan-pelayananmu/</link>
<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 01:15:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>departemenmisi</dc:creator>
<guid>http://sinodegidi.wordpress.com/2009/10/28/globalisasikan-panggilan-pelayananmu/</guid>
<description><![CDATA[Menjangkau dunia bagi Kristus merupakan bagian dari tujuan gereja. Gereja mempunyai banyak program t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Menjangkau dunia bagi Kristus merupakan bagian dari tujuan gereja. Gereja mempunyai banyak program tetapi hanya mempunyai satu tujuan yaitu membawa jiwa kepada Tuhan melalui pemberitaan Injil dan kesaksian hidup orang yang sudah percaya Yesus. Tetapi Penginjilan bukanlah program sebuah organisasi gereja atau kelompok tertentu tetapi program yang keluar dari hati Allah sendiri. Setiap orang/kelompok dapat kesempatan untuk menangkap visi dan missi Allah lalu menjadikan visi itu sebagai program utama dalam kehidupan manusia.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Program lain seperti : pemuridan, pengembalaan, diakonia, pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi selalu berhubungan dengan kehidupan manusia saat ini didunia dan akan berakhir tetapi penginjilan berbicara untuk kehidupan hari besok setelah kehidupan ini berakhir dan dibicarakan, dikerjakan saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Gereja Injili Di Indonesia adalah gereja yang lahir sebagai hasil penginjilan dan bukan sebagai penyebaran organisasi dari gereja induk sehingga memiliki cirri khas dan keunikan dalam segala aspek kehidupan anggotanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Anggota GIDI saat ini di Papua adalah anak-anak Missionaris dan cucu-cucu missionaries sehingga seharusnya tanpa ada programpun semua anggota GIDI memiliki sifat Injili dalam perkataan, perbuatan, dan semua segi kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[GLOBALIASI DAN MIGRASI ANTARA NEGARA]]></title>
<link>http://testiani170885.wordpress.com/2009/10/26/globaliasi-dan-migrasi-antara-negara/</link>
<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 04:07:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>testiani makmur</dc:creator>
<guid>http://testiani170885.wordpress.com/2009/10/26/globaliasi-dan-migrasi-antara-negara/</guid>
<description><![CDATA[Arus migrasi globalisasi di Indonesia tidak jelas kapannya tetapi pastinya globalisasi telah tertana]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Arus migrasi globalisasi di Indonesia tidak jelas kapannya tetapi pastinya globalisasi telah tertana]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dampak Globalisasi??]]></title>
<link>http://elrianjani.wordpress.com/2009/10/24/globalisasi/</link>
<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 05:47:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>elrianjani</dc:creator>
<guid>http://elrianjani.wordpress.com/2009/10/24/globalisasi/</guid>
<description><![CDATA[Yups, hari ini mata kuliah kewarganegaraan membahas hal itu. Bagaimana pengaruh dan dampak globalisa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Yups, hari ini mata kuliah kewarganegaraan membahas hal itu. Bagaimana pengaruh dan dampak globalisasi terhadap bidang ekonomi, sosial budaya, politik, dan hankam. Ternyata banyak dan beragam hal yang bisa dibahas mengenai dampak globalisasi. Dari mulai kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, asimilasi budaya, dan menyangkut kedaulatan di negeri ini. Tapi ternyata dampak negatif pun tak kalah banyaknya, kesenjangan sosial, penjajahan ekonomi, hingga kemerosotan moral. Lalu apa dampak globalisasi terhadap instansi kita? Bea dan cukai?!! Tunggu postingan berikutnya. He..He..</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Globalisasi dan Kemiskinan]]></title>
<link>http://allaboutgoodlifestyle.wordpress.com/2009/10/22/globalisasi-dan-kemiskinan/</link>
<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 09:00:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid>http://allaboutgoodlifestyle.wordpress.com/2009/10/22/globalisasi-dan-kemiskinan/</guid>
<description><![CDATA[Banyak petani yang tumbuh secara tradisional dan kacang-kacangan dan padi millets telah terpikat ole]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Banyak petani yang tumbuh secara tradisional dan kacang-kacangan dan padi millets telah terpikat oleh perusahaan-perusahaan benih kapas hibrida untuk membeli bibit dan tanaman GM lainnya, yang seharusnya untuk membuat hidup mereka lebih mudah dan lebih kaya. Sebaliknya mereka menghadapi kebangkrutan dan kehancuran.<br />
<!--more--><br />
Bibit asli mereka telah mengungsi dengan hibrida baru yang tidak dapat disimpan dan harus dibeli setiap tahun pada biaya tinggi. Hibrida juga sangat rentan terhadap serangan hama. Semua pestisida harus dibeli dari perusahaan yang menjual bibit mereka; ada laporan tentang pencatutan menyolok dari perusahaan-perusahaan tersebut.</p>
<p>Ini adalah pengalaman seperti ini yang mengatakan bahwa kita sangat salah untuk menjadi sombong tentang ekonomi global yang baru. Ini adalah waktu untuk berhenti dan berpikir tentang dampak globalisasi pada kehidupan orang biasa. Ini penting jika kita ingin mencapai keberlanjutan.</p>
<p>Kita berulang kali mengatakan bahwa tanpa rekayasa genetika dan globalisasi dunia pertanian akan kelaparan, itu selalu dipromosikan sebagai satu-satunya alternatif yang tersedia untuk memberi makan yang kelaparan.</p>
<p>Di mana-mana, produksi pangan menjadi ekonomi negatif, dengan petani mahal menghabiskan lebih banyak membeli input untuk produksi industri daripada harga yang mereka terima untuk produk mereka. Konsekuensinya adalah meningkatnya utang dan epidemi bunuh diri di kedua negara kaya dan miskin. Sapi di Uni Eropa menerima rata-rata $ 2 per hari di subsidi. Lebih dari 1 milyar orang hidup di dunia kurang dari $ 1 dolar per hari.</p>
<p>Petani di Dunia Ketiga didorong oleh IMF dan Bank Dunia untuk menghasilkan tanaman untuk ekspor. Biasanya ada komoditas yang dapat dengan mudah dibeli dan dijual di Pasar Dunia. Dengan harga dunia berfluktuasi, Fair perdagangan adalah apa yang dapat menyeret para petani dan masyarakat keluar dari kemiskinan. Di beberapa negara Afrika lebih murah untuk membeli gula dan kopi Amerika daripada membeli barang-barang yang diproduksi secara lokal. Hal ini karena lebih dari produksi dan subsidi di Barat yang berarti bahwa mereka kemudian membuang barang-barang ini di Afrika menghancurkan pasar lokal.</p>
<p>Ketika paten diberikan kepada perusahaan untuk bibit dan tanaman, seperti dalam kasus basmati, tabungan dan berbagi benih pencurian didefinisikan sebagai kekayaan intelektual. Perusahaan yang memiliki paten luas pada tanaman-tanaman seperti kapas, kacang kedelai dan mustard menggugat petani untuk benih-tabungan dan menyewa agen detektif untuk mencari tahu apakah petani sudah menyimpan benih atau berbagi dengan tetangga.</p>
<p>Seperti Gandhi mengingatkan kita, &#8220;Bumi cukup untuk semua orang memiliki kebutuhan, tetapi tidak untuk beberapa orang keserakahan.&#8221;</p>
<p><a href="http://allaboutgoodlifestyle.wordpress.com/">Good Lifestyle</a><br />
From articlecircle</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Globalisasi]]></title>
<link>http://bondankhudori.wordpress.com/2009/10/13/globalisasi/</link>
<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 04:36:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>bondankhudori</dc:creator>
<guid>http://bondankhudori.wordpress.com/2009/10/13/globalisasi/</guid>
<description><![CDATA[Istilah Globalisasi, pertama kali digunakan oleh Theodore Levitt tahun 1985 yang menunjuk pada polit]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2>Istilah Globalisasi, pertama kali digunakan oleh Theodore Levitt tahun 1985 yang menunjuk pada politik-ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan. Menurut sejarahnya, akar munculnya globalisasi adalah revolusi elektronik dan disintegrasi negara-negara komunis. Revolusi elektronik melipatgandakan akselerasi komunikasi, transportasi, produksi, dan informasi. Disintegrasi negara-negara komunis yang mengakhiri Perang Dingin memungkinkan kapitalisme Barat menjadi satu-satunya kekuatan yang memangku hegemoni global. Itu sebabnya di bidang ideologi perdagangan dan ekonomi, globalisasi sering disebut sebagai Dekolonisasi (Oommen), Rekolonisasi ( Oliver, Balasuriya, Chandran), Neo-Kapitalisme (Menon), Neo-Liberalisme (Ramakrishnan). Malahan Sada menyebut globalisasi sebagai eksistensi Kapitalisme Euro-Amerika di Dunia Ketiga.</h2>
<p><!-- start main content -->Secara sangat sederhana bisa dikatakan bahwa globalisasi terlihat ketika semua orang di dunia sudah memakai celana Levis dan sepatu Reebok, makan McDonald, minum Coca-Cola. Secara lebih esensial, globalisasi nampak dalam bentuk Kapitalisme Global berimplementasi melalui program IMF, Bank Dunia, dan WTO; lembaga-lembaga dunia yang baru-baru ini mendapat kritik sangat tajam dari Dennis Kucinich, calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, karena lembaga-lembaga itu mencerminkan ketidakadilan global.</p>
<p>Program-program dari lembaga-lembaga itu telah menjadi alat yang ampuh dari kapitalisme Barat yang mengguncangkan, merontokkan dan meluluh-lantakkan bukan hanya ekonomi, tetapi kehidupan negara-negara miskin dalam suatu bentuk pertandingan tak seimbang antara pemodal raksasa dengan buruh gurem. Rakyat kecil tak berdaya di negara-negara miskin, menjadi semakin terpuruk dan merana.</p>
<p>Jadi walaupun ada dampak positif globalisasi seperti misalnya hadirnya jaringan komunikasi dan informasi yang mempermudah kehidupan umat manusia, ditinjau dari sudut kepentingan masyarakat miskin, globalisasi lebih banyak dampak negatifnya. Kita melihat aspek negatif itu dalam ketidak-adilan perdagangan antar-bangsa, akumulasi kekayaan dan kekuasaan di tangan para kapitalis negara-negara maju yang mengakibatkan kemelaratan yang tak terbayangkan di negara-negara miskin, termasuk di Indonesia. Menurut Kucinich, Negara-negara miskin telah diperas lewat pembayaran beban utang ke lembaga global . Dicontohkan, setiap tahun 2,5 miliar dolar AS dana mengalir dari sub-Sahara Afrika ke kreditor internasional, sementara 40 juta warga mereka kurang gizi.</p>
<p>Respons</p>
<p>Saya tidak bermaksud membicarakan artiglobalisasi yang sangat luas ini. Saya hanya ingin menekankan bahwa sebenarnya kita tidak bisa begitu saja latah berbicara tentang globalisasi kalau kita tidak mengetahui secara persis apa yang kita maksudkan dengan istilah itu. Kini istilah globalisasi telah mencakup pengertian yang menggambarkan sutau proses atau gerakan multi-dimensi yang bersifat simultan, terutama dalam bidang ekonomi, politik dan budaya. Walaupun demikian globalisasi terutama nampak dalam gerakan ekonomi-moneter yang membuat dunia semakin menyatu dan membawa dampak positif maupun negatif bagi kemanusiaan. Karena itu, saya ingin menekankan pada saat ini bagaimana respons iman kristiani terhadap dampak globalisasi baik yang positif maupun yang negatif.</p>
<p>Dari sudut positif, kita harus mampu memberdayakan diri kita sebagai masyarakat untuk memanfaatkan peluang dari arus globalisasi, misalnya dalam hal kemampuan bersaing dalam perdagangan bebas, tentu saja sesuai dengan nilai-nilai luhur, seperti kejujuran dan akuntibilitas di atas dasar keadilan dan kebenaran. Dua kata ini dalam konsep agama, misalnya dalam Alkitab selalu mempunyai makna yang sama: keadilan dan kebenaran Allah adalah Allah sendiri. Dua nilai ini penting dalam menyikapi dan menyiasati arus globalisasi, sebab gejala persaingan dunia bisnis di arena globalisasi ini semakin dilanda oleh ketidakjujuran sebagai akibat persaingan yang semakin ketat.</p>
<p>Globalisasi tidak hanya terkait dengan masalah ketidak-adilan ekonomi, tetapi ibarat kanker, telah menjalar dan menyusupi semua aspek kehidupan umat manusia. Bukan saja masalahnya adalah persoalan ketidak-adilan dalam bidang ekonomi moneter, tetapi globalisasi telah menimbulkan begitu banyak masalah, dengan kemajuan yang luarbiasa di bidang informasi dan interaksi manusia. Stackhouse menyebutkan adanya tiga dewa globalisasi yaitu dewa Mammon (materialisme), Mars (perang/kekerasan) dan Eros (pornografi). Tiga dewa ini seringkali berkolaborasi dalam kehidupan etika dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga etika dan kemanusiaan pada umunya tidak bermakna lagi sebagai norma kehidupan.</p>
<p>Materialisme misalnya, telah menciptakan &#8220;malaekat&#8221; pembangunan yang mendorong orang ingin terus berproduksi dan mengonsumsi supaya materi semakin menguasai kehidupan kita. Dewa Mammon mungkin dapat dianggap sebagai dewa tertinggi dari dewa-dewi ini karena dialah yang paling berjasa melahirkan dua dewa lainnya, bahkan masih banyak lagi dewa-dewi globalisasi yang sedang lahir dan bermunculan, misalnya dewa Hedonisme dan dewa Konsumerisme.</p>
<p>Mammonisme telah menjadi dewa yang paling menguasai umat manusia. Sekarang ini materi seolah telah menjadi ukuran segala sesuatu. Apa saja harus dibeli dan bisa di beli. Mereka yang tidak bisa dibeli dan membeli adalah ateis yang tak bertuhan. Dalam masyarakat mammonistik, agama resmi tinggal menjadi formalistik dan seremonistik. Nilai agama itu telah diganti menjadi nilai Mammon, nilai uang. Tanpa uang Anda tidak bisa menikmati sesuatu dan tanpa nikmat hidup menjadi seolah hampa. Itulah hedonisme, suatu bentuk kehidupan yang mengagungkan kesenangan dan kenikmatan belaka. Membeli dan dibeli, menikmati dan dinikmati, itulah tujuan hidup mammonisme yang telah menyingkirkan semua tujuan hidup lainnya. Akibatnya, hubungan kemanusiaan tidak lain dari hubungan materi. Tanpa materi, hubungan dengan sesama manusia seolah tidak bernilai. Hubungan kemanusiaan seolah hanya ditandai dengan &#8220;transaksi&#8221;.</p>
<p>Baru-baru ini, seorang teman di Belanda menulis kepada mitra kerjanya di Indonesia dengan kata-kata yang sangat dalam menggambarkan situasi ini. &#8220;Janganlah hubungan kemitraan kita dilihat seperti sebuah transaksi perbankan sehingga seluruh relasi diukur hanya dengan sejumlah cash&#8221;. Pernyataan itu sungguh menggugah rasa kemanusiaan kita di arus kuat globalisasi dengan dewa Mammon-nya. Kiranya seluruh relasi kemanusiaan kita perlu dievaluasi dan direnungkan kembali sesuai dengan nilai-nilai luhur agama.</p>
<p>Keserakahan</p>
<p>Dewa Mars adalah dewa yang kedua, yang merajalela. Perang hanyalah salah satu wujud dari simbol Mars yang sesungguhnya. Mars adalah dewa kekerasan dalam mitologi Yunani. Keperkasaannya selalu menjadi momok baik bagi dewa lain maupun bagi manusia, karena kebengisan yang tercermin dari wajahnya. Bukankah teror yang sekarang ini menjadi kata terpopuler di dunia menjadi wujud paling nyata dari dewa Mars globalisasi? Kekerasan di mana-mana, teror di mana-mana, bukan hanya dalam bentuk bom yang meledak di mana-mana, tetapi dalam bentuk lain seperti perampokan, pembunuhan, penculikan dan semua bentuk kekerasan yang seolah sah dan wajar dalam kehidupan manusia masa kini.</p>
<p>Kekerasan bukan hanya terhadap sesame manusia tetapi juga terhadap lingkungan hidup kita. Kalau kita misalnya merenungkan peristiwa banjir bandang dan longsor yang menelan ratusan korban di Sumatera Utrara, maka nyatalah bahwa itu terjadi sebagai akibat kekerasan manusia terhadap alam. Perambahan hutan sebagai salah satu bentuk kekerasan manusia terhadap lingkungan telah membawa akibat yang sangat fatal.</p>
<p>Dewi Eros sesungguhnyalah pembawa cinta dan damai dalam hidup manusia. Tetapi kini, erotisme seluruh dunia merupakan anak kandung dari mammonisme yang menghalalkan segala cara mendapatkan uang. Cyber-porno merupakan salah satu bisnis mengeksploitasi umat manusia demi uang. Kalau ia hanya menjadi bisnis, mungkin tidak terlalu menjadi persoalan. Tetapi pornografi telah merusak moral banyak manusia di dunia dengan penggambaran-penggambaran yang tidak sehat dan tidak mendidik. Apa yang ditonjolkannya hanyalah hedonisme dan kekerasan. Inilah dampak globalisasi yang menyusup melalui komunikasi dan informasi di dunia maya yang melahirkan dewa baru bernama Eros. Pemujuaan terhadap seks di dunia maya ini membawa nilai baru dalam hubungan rumah tangga, hubungan laki-laki dan perempuan dan hubungan antar- manusia seolah tanpa penghormatan terhadap gender.</p>
<p>Pada suatu siang, dua remaja yang sedang cekikikan di depan monitor komputer memanggil semua saudara mereka sejumlah 6 orang, laki-laki dan perempuan remaja dan anak-anak berusia 8 tahun. Apa yang mereka tertawakan dengan nikmat? Gambar hati tertembus (maaf) penis, yang baru saja diterima dari seorang rekannya. Tidak ada dunia yang tidak dilanda pornografi, mulai dari internet sampai kepada tampilan handphone yang mini bisa menjadi ajang menikmati pornografi. Dewi Eros (erotica) tak pelak lagi menjadi dewi yang397aling berkuasa di era globalisasi saat ini.</p>
<p>Rupanya memang telah terjadi pergeseran paradigma dalam soal agama. Agama lama yang masih formal diakui umat manusia dan Allah atau Tuhan yang benar, sedang dimarginalisasi oleh dewa-dewi baru, yang ternyata lebih menarik dan lebih meyakinkan banyak manusia di dunia. Materi, kenikmatan, kekerasan dan erotisme sedang menguasai sanubari kita dan ternyata semua itu tidak membuat kita menjadi manusia bebas melainkan menjadi manusia yang semakin terpenjara dan terbelenggu. Karena itu, globalisasi dalam bentuk dewa-dewi baru itu tidak lebih dari dewa-dewi palsu (pseudo-lords) yang menyesatkan; yang karenanya seharusnya diwaspadai dan disiasati.supaya tidak memerangkap kehidupan kita. Kita harus kembali memberi tempat pada Tuhan yang asli dalam kehidupan kita, dalam relasi-relasi kita, baik relasi dengan sesama manusia maupun dengan lingkungan hidup kita. Dengan memberi tempat pada Tuhan yang asli dalam sanubari kita, maka relasi-relasi kemanusiaan kita yang asli dan hakiki akan pulih dan akan memberikan kebebasan dan kemerdekaan yang sejati kepada kita.</p>
<p>Dengan mengembalikan Tuhan bertahta dalam hidup kita, maka dewa-dewi globalisasi yang destruktif akan menyingkir dari kehidupan kita. Kita harus mensyukuri keberadaan kita sebagai orang beragama dan ber-Tuhan, karena selalu tersedia kesempatan untuk mengelakkan diri dari pengaruh buruk globalisasi dengan pendampingan dari agama asli yang kita yakini.</p>
<p>Kita sedang merayakan nikmat ibadah Puasa yang sedang dijalani oleh umat Islam di seluruh dunia. Kita menghargai nikmat Allah ini sebagai salah satu wadah yang diberikan Tuhan untuk mengevaluasi pengaruh materi, emosi dan seks dalam hidup kita, sehingga mampu mengendalikan diri dan tidak dikuasai. Itulah hakikat keberagamaan yang dapat menjadi salah satu wadah mengalahkan godaan globalisasi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dampak Globalisasi]]></title>
<link>http://dhidik.wordpress.com/2009/10/12/dampak-globalisasi/</link>
<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 23:08:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>dhidikp</dc:creator>
<guid>http://dhidik.wordpress.com/2009/10/12/dampak-globalisasi/</guid>
<description><![CDATA[Dampak globalisasi sangat terasa di setiap aspek kehidupan. Globalisasi sendiri merupakan proses ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dampak globalisasi sangat terasa di setiap aspek kehidupan. Globalisasi sendiri merupakan proses ber]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pesantren Masa Kini, Dari Laundry Hingga Batur ]]></title>
<link>http://lafadl.wordpress.com/2009/10/12/pesantren-masa-kini-dari-laundry-hingga-batur/</link>
<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 15:03:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>lafadl</dc:creator>
<guid>http://lafadl.wordpress.com/2009/10/12/pesantren-masa-kini-dari-laundry-hingga-batur/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Tata Khoiriyah Semua orang sepakat bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Tata Khoiriyah Semua orang sepakat bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indo]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Globalization and Human Security]]></title>
<link>http://perpushi.wordpress.com/2009/10/10/globalization-and-human-security/</link>
<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 02:59:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>perpushi</dc:creator>
<guid>http://perpushi.wordpress.com/2009/10/10/globalization-and-human-security/</guid>
<description><![CDATA[Pages : 265 Author : Paul Battersby and Joseph M. Siracusa Copyright @ 2009 by Rowman &amp; Littlefi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><div id="attachment_277" class="wp-caption alignleft" style="width: 102px"><a href="http://perpushi.wordpress.com/files/2009/10/globalization-and-human-security.jpg"><img src="http://perpushi.wordpress.com/files/2009/10/globalization-and-human-security.jpg?w=92" alt="Pages : 265" title="Globalization and Human Security" width="92" height="150" class="size-thumbnail wp-image-277" /></a><p class="wp-caption-text">Pages : 265</p></div> Author : <strong>Paul Battersby </strong>and <strong>Joseph M. Siracusa</strong><br />
Copyright @ 2009 by Rowman &#38; Littlefield Publishers, Inc.</p>
<p><strong>CONTENTS :</strong></p>
<p>Introduction<br />
1 Globalizing National Security: Envisioning Security beyond the Nation-State<br />
2 The Alchemy of Peace: Elementary Studies on Humans and Security<br />
3 ‘‘Black Hawk Down’’: The Limits to Intervention<br />
4 A Global Web of Risk: Complex Crises in a Globally Networked World<br />
5 Human Rights and Human Security: Pragmatic Perspectives on Human Rights <!--more--><br />
6 Averting Nuclear Armageddon: Reality Checks and Nuclear Balances<br />
7 Roadmaps and Roadblocks: Securing Humanity in the Twentyfirst Century</p>
<p>Notes<br />
Bibliographical Essay<br />
Index<br />
About the Authors </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SISTEM PENGAWASAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA]]></title>
<link>http://piranhamas.wordpress.com/2009/10/22/sistem-pengawasan-keselamatan-dan-kesehatan-kerja/</link>
<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 05:35:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Agus Setiyawan</dc:creator>
<guid>http://piranhamas.wordpress.com/2009/10/22/sistem-pengawasan-keselamatan-dan-kesehatan-kerja/</guid>
<description><![CDATA[SISTEM PENGAWASAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA 1. PENDAHULUAN ~ PROSES GLOBALISASI . PERSYARATAN ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>SISTEM PENGAWASAN<br />
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA</p>
<p>1.	PENDAHULUAN</p>
<p>~ PROSES GLOBALISASI<br />
. PERSYARATAN ARUS PERDAGANGAN SEMAKIN KETAT<br />
. PERSYARATAN SISTEM PROSES PRODUKSI SEMAKIN<br />
KETAT<br />
. TUNTUTAN PASAR/KONSUMEN PRIORITAS UTAMA<br />
. FENOMENA PERUBAHAN KONSEPSI PEMIKIRAN<br />
MASYARAKAT<br />
~ PROSES INDUSTRIALISASI<br />
. PERUBAHAN SKALA KECEPATAN DAN KEDALAMAN PENERAPAN<br />
TEKNOLOGI SEMAKIN BESAR DAN KOMPLEK<br />
. KONDISI OPERASI SEMAKIN EKSTRIM<br />
. UNIT OPERASI/KEGIATAN SEMAKIN TERINTEGRASI<br />
. ENERGI/UTILITAS SEMAKIN BESAR<br />
. RISIKO SEMAKIN TINGGI</p>
<p>2. TUNTUTAN  K3<br />
	KOMPLEK DAN DINAMIS<br />
	TINJAUAN SISTEM (SYSTEM SAFETY)<br />
	INTEGRASI PERUSAHAAN (BUILT-IN-SYSTEM)<br />
	TANGGUNG JAWAB SEMUA PIHAK<br />
	KETERLIBATAN PIMPINAN<br />
	JAMINAN KELANGSUNGAN PERUSAHAAN</p>
<p>3. PEMAHAMAN K3<br />
U U  NO. 1 / ’70<br />
a. MODEL K3 ADALAH  PENCEGAHAN KECELAKAAN<br />
b. KONSEPSI PENGENDALIAN UNSUR-UNSUR KECELAKAAN DI<br />
TEMPAT KERJA (SEBAB-AKIBAT-BAHAYA)</p>
<p>c. TEMPAT KERJA<br />
. TENAGA KERJA<br />
. USAHA/PEKERJAAN<br />
. SUMBER ATAU  SUMBER-SUMBER BAHAYA</p>
<p>UNSUR TEMPAT KERJA = UNSUR KECELAKAAN<br />
BERLAKU SYARAT-SYARAT K3</p>
<p>d. PENERAPAN DAN PELAKSANAAN SYARAT-SYARAT K3<br />
. PENERAPAN<br />
- DESIGN<br />
- CONSTRUCTION<br />
- START UP/ COMMISIONING<br />
- OPERATION ( MAINTENANCE, REPAIRING, MODIFICATION ETC )<br />
- DEMOLITION<br />
. PELAKSANAAN : KONSISTEN SEPANJANG DAUR HIDUP SISTEM</p>
<p>4. PENILAIAN K3</p>
<p>	KESISTEMAN<br />
	 INTEGRATED<br />
	TANGGUNGJAWAB SEMUA UNSUR<br />
	TANGGUNGGUGAT PUCUK PIMPINAN<br />
	ASSESSMENT / AUDIT</p>
<p>5. SISTEM PENGAWASAN K3<br />
SISTEM PENGAWASAN K3 ADALAH SERANGKAIAN KEGIATAN /TINDAKAN BESERTA KELENGKAPANNYA YANG TERSTRUKTURKAN SEDEMIKIAN RUPA DALAM RANGKA MENGAWASI DITAATINYA PERATURAN PERUNDANGAN DI BIDANG K3 SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN TUJUAN K3 MELALUI PENDEKATAN KESISTEMAN YANG TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN TEMPAT KERJA DAN DILAKUKAN SEPANJANG DAUR HIDUP SISTEM</p>
<p>e. SIFAT : PROACTIVE ACTION</p>
<p>f. TUJUAN K3 :<br />
	   MENJAMIN AGAR TENAGA KERJA DAN ORANG LAIN YANG<br />
BERADA DI TEMPAT KERJA DALAM KEADAAN SELAMAT<br />
DAN SEHAT<br />
	    MENJAMIN AGAR PROSES PRODUKSI BERLANGSUNG<br />
SECARA AMAN DAN LANCAR<br />
	    MENJAMIN PERLINDUNGAN TERHADAP MASYARAKAT<br />
MASYARAKAT LUAS DAN LINGKUNGANNYA</p>
<p>g. PENDEKATAN K3 MELALUI PENAKARAN RISIKO (RISK<br />
ASSESSMENT BAGIAN DARI RISK MANAGEMENT)<br />
. KUALITATIF / PENGRENGKINGAN<br />
. KUANTITATIF / KRITERIA<br />
. TARGET DAN SASARAN<br />
. PROAKTIF<br />
. SISTEM</p>
<p><a href="//www.socialmarker.com/?link='+encodeURIComponent (location.href)+'&#38;title='+encodeURIComponent( document.title);"><img src="http://www.socialmarker.com/bookmark.gif" border="0" alt="share" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
