<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>gunung-slamet &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/gunung-slamet/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "gunung-slamet"</description>
	<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 04:17:26 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[MENDAKI PUNCAK GUNUNG SLAMET]]></title>
<link>http://cuenk86.wordpress.com/2009/11/05/mendaki-puncak-gunung-slamet/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 16:17:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>sugeng prayitno</dc:creator>
<guid>http://cuenk86.wordpress.com/2009/11/05/mendaki-puncak-gunung-slamet/</guid>
<description><![CDATA[Gunung slamet terletak di perbatasan Kabupaten Brebes, Purbalingga, Purwokerto, dan Kabupaten Pemala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://cuenk86.wordpress.com/files/2009/11/pendakian-perdana-slamet-angkatan-251.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-403" title="PENDAKIAN PERDANA SLAMET ANGKATAN 25" src="http://cuenk86.wordpress.com/files/2009/11/pendakian-perdana-slamet-angkatan-251.jpg" alt="" width="548" height="383" /></a></p>
<p><a href="http://cuenk86.wordpress.com/files/2009/11/plawangan.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-404" title="plawangan" src="http://cuenk86.wordpress.com/files/2009/11/plawangan.jpg" alt="" width="546" height="409" /></a></p>
<p><a href="http://cuenk86.wordpress.com/files/2009/11/larepa1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-405" title="larepa1" src="http://cuenk86.wordpress.com/files/2009/11/larepa1.jpg" alt="" width="548" height="365" /></a></p>
<p><a href="http://cuenk86.wordpress.com/files/2009/11/puncak.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-406" title="puncak" src="http://cuenk86.wordpress.com/files/2009/11/puncak.jpg" alt="" width="547" height="410" /></a></p>
<p><span style="color:#000000;">Gunung slamet terletak di perbatasan Kabupaten Brebes, Purbalingga, Purwokerto, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, yang meru</span>pakan gunung tertinggi ke-2 di pulau Jawa setelah gunung Semeru. Ketinggian gunung slamet mencapai 3.432 m dpl sehingga tidak ada hujan di ketinggian itu karena karena awan berada lebih rendah dari puncak gunung. Di sana tidak ada tanaman apa-apa yang ada hanya pasir dan batuan berwarna merah mungkin batuan itu berasal dari lava pijar yang mendingin sehingga warnanya merah. Jalur pendakian setahu saya ada 3 yaitu: jalur Baturaden, Blambangan, dan tegal. Yang paling mudah didaki adalah jalur Blambangan.</p>
<p>Sekitar tahun 2001 saya dan kawan-kawan Larepa (lingkungan Anak Remaja Pecinta Alam) ekstrakulikuler pecinta alam SMA 1 Cilacap melakukan pendakian perdana di gunung Slamet. Namanya juga pendakian perdana tentunya kami belum punya pengalaman apa-apa tentang mendaki gunung yang kami tahu hanya teori-teori yang biasa kami dapatkan di hari kamis pada latihan rutin kita. Kami berangkat dari Cilacap ke Purwokerto naik bus begitu juga dari Purwokerto ke desa Blambangan.</p>
<p>Kami melakuan pendakian pada malam hari, kebetulan waktu itu hujan jadi medannya bertambah berat. Untung peralatan yang kami bawa lumayan lengkap. Peralatan yang harus disiapkan oleh seorang pendaki gunung adalah:</p>
<ol>
<li>Tas ransel/carrier. digunakan untuk menampung perbekalan dan pakaian selama mendaki gunung. Klo bisa antara barang-barang didalam ransel dilapisi plastic sehingga barang-barang tidak basah ketika terkena air. Letakan barang yang paling sering dibutuhkan di tempat paling atas.</li>
<li>Tenda kemah/tenda dom</li>
<li>Perlengkapan jalan: sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas hujan, dll.</li>
<li>Perlengkapan tidur : sleeping bag, matras dll.</li>
<li>Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek dll.</li>
<li>Perlengkapan pribadi : obat pribadi, sikat, toilet paper / tissu, dll.</li>
<li>perlengkapan lain klo ada: kompas, peta, tabung oksigen ukuran kecil, walkie talkie, dll.</li>
</ol>
<p>Selain peralatan persiapan fisik dan mental tidak kalah penting. Persiapan fisik bisa berupa latihan rutin, pemanasan dll. Persiapan mental diantaranya pengetahuan tentang medan, pengetahuan mendaki gunung, pengetahuan survival, dll.</p>
<p>Kembali ke cerita saat itu kami mendaki dari pos 1 dan berhenti di pos terakhir. Disana kami membangun tenda untuk istirahat karena klo nggak salah sampai di sana sudah tengah malam. Kami beristirahat untuk persiapan mendaki ke puncak di pagi harinya. Pelawangan adalah nama pos terakhir pendakian dan merupakan tempat terakhir yang terdapat air, setelah itu tidak akan lagi bisa ditemukan selama pendakian menuju ke puncak yang ada hanya pasir dan batu dari ukuran kerikil sampai dengan ukuran gajah. Medan antara Pelawangan menuju puncak sangat berat, sudut pendakian lebih dari 45% sehingga sangat menguras tenaga. Kami berangkat dari pelawangan kira-kira jam 6 pagi, pelan-pelan kami mendaki Alhamdulillah sampai juga kami di Puncak. Subahanalloh betapa indahnya ciptaan Alloh Robbil ‘alamin. Diatas puncak kami bisa melihat awan-awan yang bertaburan dibawah kami. Kami benar-benar berada di atas awan waktu itu ini bukan idiom loh…. Ini kenyataan. Melihat kawah slamet, melihat puncak gunung sindoro, sumbing, merapi, cerme. Melihat pemandangan kota dari atas, hijaunya hutan pokoknya keren abizlah. Apalagi klo bisa melihat sunrice or sunset di sana akan lebih lengkap lagi keindahan itu. Kami tidak bisa berlama-lama di puncak  karena kawah slamet akan mengeluarkan gas berbahaya pada siang hari.</p>
<p>Tidak seperti mendaki perjalanan menurunin gunung tidak begitu berat. kami turun dengan membawa pengalaman baru, pengalaman mendaki gunung yang nanti kita bisa ceritakan semuanya ketika kami sudah sampai di Cilacap. Kira-kira maghrib kami sampai di basecamp desa blambangan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Haliaster dan Gunung Slamet]]></title>
<link>http://haliaster.wordpress.com/2009/10/21/haliaster-dan-gunung-slamet/</link>
<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 16:04:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>haliaster</dc:creator>
<guid>http://haliaster.wordpress.com/2009/10/21/haliaster-dan-gunung-slamet/</guid>
<description><![CDATA[Gunung Slamet secara administratif terletak di perbatasan Kabupaten Brebes, Pemalang, Purbalingga, d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><a href="http://haliaster.wordpress.com/files/2009/10/gunung slamet.jpg?w=300"><img class="alignleft size-medium wp-image-132" title="gunung slamet" src="http://haliaster.wordpress.com/files/2009/10/aaaaaa.jpg?w=300" alt="aaaaaa" width="300" height="215" /></a>Gunung Slamet secara administratif terletak di perbatasan Kabupaten Brebes, Pemalang, Purbalingga, dan Banyumas. Secara astronomi berada pada koordinat 7<sup>0</sup>14’30”LS, 109<sup>0</sup>12’30”BT dengan ketinggian 3432mdpl. Merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah dan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru yang berada di Jawa Timur. Gunung Slamet juga salah satu gunung berapi yang masih aktif dengan luas kawah 11ha dan yang saat ini mulai aktif seluas ½ ha dengan lava pijar yang terkadang dapat terlihat pada waktu malam. Dengan aktifnya kawah membuat status gunung ini meningkat menjadi waspada sehingga belum diperbolehkan untuk didaki. Ada 3 jalur pendakian yang dapat digunakan oleh para pendaki untuk mencapai puncak Slamet yaitu jalur Bambangan, Baturaden, dan jalur Guci. Karena Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah dengan demikian banyak para pendaki yang berusaha untuk menjejakkan kakinya di puncak tertinggi Jawa Tengah ini.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://haliaster.wordpress.com/files/2009/10/pemberangkatan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-134" title="pemberangkatan" src="http://haliaster.wordpress.com/files/2009/10/pemberangkatan.jpg?w=300" alt="pemberangkatan" width="285" height="191" /></a>Jumat 16 Oktober 2009 Haliaster yang bekerja sama dengan Philar (pecinta alam elektro) mengadakan kegiatan Pendakian Massal Gunung Slamet 3432mdpl 2009. Hari itu kita sedang bersiap untuk berangkat ke Bambangan Purbalingga dengan menggunakan sebuah truk. Kegiatan yang diikuti oleh 26 orang dengan panitia berjumlah 7 orang dan peserta 19 orang dari bebagai organisasi pecinta alam dan beberapa simpatisan berangkat dari GSG Undip pukul 16.30 Wib. Perjalanan menuju Bambangan ditempuh selama 6 jam melalui jalur tengah melintasi beberapa kota antara lain Magelang, Temanggung, Wonosobo, dan Banjarnegara. Sabtu pagi pukul 07.00 WIB pendakian dimulai dari basecamp Bambangan yang berada pada ketinggian 1500mdpl dipimpin oleh Unggul. Perjalanan pendakian diawali dengan melewati gapura pendakian Gunung Slamet jalur Bambangan yang berada di perbatasan desa dengan perkebunan.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://haliaster.wordpress.com/files/2009/10/puncak.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-139" title="puncak" src="http://haliaster.wordpress.com/files/2009/10/100_1324.jpg?w=300" alt="puncak" width="300" height="225" /></a>Pendakian melalui jalur Bambangan terdiri dari 7 pos pendakian. Perjalanan dari basecamp menuju pos 1 ditempuh kurang lebih selama 2jam melalui kebun dan hutan pinus dengan trek yang cukup terjal. Pos 1 terletak di ketinggian 1900mdpl dengan bentuk sebuah bangunan yang terletak tepat di batas hutan alam. Memasuki hutan alam perjalanan dimulai dengan beberapa trek cukup terjal melewati akar-akar dan beberapa tumbuhan, bahkan terkadang kita harus sedikit merangkak ataupun memanjat untuk dapat melewati jalur ini. Pos 2 berada di tengah hutan dengan tanah yang cukup lapang. Beberapa fauana seperti burung cukup melimpah di kawasan hutan Gunung Slamet bahkan beberapa burung pemangsa seperti Elang-ular bido sering kali terlihat sedang melintasi hutan. Pos 3 yaitu pondok cemara ditempuh selama 1 jam dari pos 2 dan perjalanan menuju pos 4 pondok samarantu ditempuh hanya 45 menit dari pos 3. Sepanjang perjalanan di hutan ini ada beberapa buah-buahan yang dapat dimakan oleh para pendaki walaupun hanya sebagai penambah energi dan pengganjal perut. Pos 5 di jalur Bambangan ini berupa sebuah rumah untuk tempat berteduh para pendaki dari hujan maupun kabut yang sering muncul di gunung ini. Dekat pos 5 terdapat mata air dari sungai, namun pada saat pendakian ini mata air masih kering dan hanya berupa sedikit genangan air. Tempat ini juga merupakan perbatasan antara hutan heterogen dengan hutan homogen yang hanya berupa semak. Pos 5 ini berada pada ketinggian kurang lebih 2800mdpl.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://haliaster.wordpress.com/files/2009/10/sun-rise.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-137" title="sun rise" src="http://haliaster.wordpress.com/files/2009/10/sun-rise.jpg?w=300" alt="sun rise" width="300" height="225" /></a>Perjalanan berlanjut sekitar 1jam untuk mencapai pos 7 dimana biasanya para pendaki mendirikan tenda untuk beristirahat sebelum menuju puncak. Perjalanan menuju puncak dilakukan Minggu pagi sekitar pukul 05.30 WIB kita berangkat dari pos 7 dengan ketinggian kurang lebih 3000mdpl menuju puncak yang memiliki ketinggian 3432mdpl. Di tengah perjalanan terlihat begitu indah sun rise yang keluar dari puncak Gunung Sumbing. Begitu indah pemandangan matahari terbit saat itu. Sampai di Pelawangan trek berubah dengan bebatuan yang masih labil sehingga bila diinjak dapat berguguran dan sangat berbahaya bagi para pendaki yang berada di bawah kita. Angin yang berhembus cukup kuat saat perjalanan menuju puncak, kecepatannya mencapai 1120m/s sehingga tubuh serasa mau terbawa terbang oleh angin. Dengan suhu mencapai 8<sup>0</sup>C dan ketinggian di atas 3000mdpl membuat nafas terasa agak sesak karena oksigen semakin menipis, sungguh pengalaman yang luar biasa bisa menginjakkan kaki di puncak tertinggi Jawa Tengah.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[IA ADA DI BUKIT PEMBARISAN ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/09/05/ia-ada-di-bukit-pembarisan/</link>
<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 02:20:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/09/05/ia-ada-di-bukit-pembarisan/</guid>
<description><![CDATA[Temuan besar diperoleh LSM Peduli Karnivor Jawa (PKJ), LSM Raksa Bumi Citapen, dan Universitas Kunin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2428" title="macan tutul 01" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/09/macan-tutul-01.jpg?w=99" alt="macan tutul 01" width="99" height="150" />Temuan besar diperoleh LSM Peduli Karnivor Jawa (PKJ), LSM Raksa Bumi Citapen, dan Universitas Kuningan (Uniku) serta didukung oleh Yayasan Mukti Mandiri (YMM). Mereka berhasil mengabadikan macan tutul yang selama ini disebut-sebut sudah punah dalam sebuah potret.</p>
<p>Macan tutul itu dijepret di Bukit Pembarisan, Kuningan Selatan. Berbekal temuan tersebut, mereka menduga bahwa macan tutul (Panthera pardus) masih eksis di kawasan itu. Para peneliti tersebut mempresentasikan temuan mereka di Graha Pena Cirebon pada Selasa malam (1/9).</p>
<p>Didik Raharyono Ssi dari PKJ mengungkapkan, salah satu misi penelitian tersebut adalah membuktikan eksistensi harimau Jawa yang diduga telah lama punah. Berdasarkan pengakuan warga yang pernah melihat karnivor besar itu, membuat Bukit Pembarisan dijadikan sasaran penelitian.</p>
<p>“ Menurut pengamatan kami di Bukit Pembarisan, wilayah Kuningan Selatan, karnivor besar memang hidup disana, “ katanya.</p>
<p>Karena berupaya mendalami asumsi tentang adanya karnivor besar di Bukit Pembarisan, pertengahan 2009, Didik dan rekannya memulai penelitian di hutan Desa Citapen, Kecamatan Hantara. Penelitian diawali dengan investigasi ke masyarakat mengenai karnivor besar yang sering terlihat secara tidak sengaja.</p>
<p><!--more-->Setelah mendapatkan data yang cukup, penyisiran habitat dilakukan. Penyisiran tersebut melibatkan beberapa anggota. Yakni, Didik Raharyono Ssi dan Dewi Kurnianingsih SPd dari PKJ, Deni dan Edi Junaedi dari Uniku, serta Didik Uhadi dari Raksa Bumi.</p>
<p>Tim berhasil menemukan bukti adanya karnivor besar jenis macan tutul. Indikasinya adalah jejak kaki, kotoran, cakaran pada pohon, dan bulu mangsa. Setelah diteliti, bulu mangsa itu merupakan bagian rambut surili, lutung dan kijang.</p>
<p>“ Jejak macan tutul yang ditemukan berumur dua dan tiga hari. Tim kemudian memasang kamera trap di beberapa jalur yang diduga kerap dilintasi macan tutul. Umpan anjing dan daging kambing tak lupa ikut dipasang guna mengundang kehadiran karnivor, “ papar Didik.</p>
<p>Rupanya, rencana pengambilan gambar melalui kamera trap tidak berjalan mulus. Jasil yang diharapkan tidak kunjung tampak. Selain lokasi lintasan yang tidak bisa dipastikan, umpan yang ditawarkan tampaknya tidak menarik perhatian.</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2429" title="macan tutul" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/09/macan-tutul.jpg?w=150" alt="macan tutul" width="150" height="95" />Pada tanggal 5 Agustus 2009, sebuah kamera berhasil mengambil gambar yang dinantikan. Tubuh seekor macan tutul yang melintasi infrared tertangkap kamera. Didik menjelaskan bahwa kamera trap baru dipasang sekitar dya minggu di antara waktu sebulan yang direncanakan. “ Berdasar penunjuk waktu, macan tutul tersebut terfoto pukul 22.13. Setelah diteliti, jenis kelaminnya jantan dengan panjang 80 sampai 90 cm dan tinggi 45 cm, “ paparnya.</p>
<p>Dengan bukti otentik melalui jepretan kamera trap itu, Didik yang telah 12 tahun bergumul dengan penelitian karnivor besar mengungkapkan, biasanya dalam sekawanan macan tutul terdapat empat hingga lima ekor anggota kelompok. Tapi, hingga saat ini, tim Didik belum bisa memetakan jumlah pasti populasi macan tutul di Bukit Pembarisan, Kuningan. “ Kami masih memerlukan penelitian lanjutan. Yang pasti, berdasar informasi dari masyarakat, ada banyak, “ katanya.</p>
<p>Bukit Pembarisan masuk dalam wilayah empat kabupaten. Yakni, Kuningan, Brebes, Ciamis, dan Cilacap. Dosen Fakultas Kehutanan Uniku Deni menerangkan, Bukit Pembarisan berpeluang besar dihuni karnivor besar. Sebab, daerah hutan di Bukit Pembarisan menyambung dengan hutan Gunung Slamet di Jawa Tengah.</p>
<p>Menurut dia, penemuan habitat macan tutul di hutan Desa Citapen secara langsung bersinggungan dengan lahan milik Perhutani yang sebagian telah siap dipanen. Bila tidak diantisipasi sejak dini, terutama oleh kalangan birokrat yang berwenang, hal tersebit akan berpotensi mengakibatkan konflik keterbatasan lahan.</p>
<p>“ Ujung-ujungnya, kalau lahan hutan terus digarap menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang tak berkesudahan, otomatis ruang gerak karnivor besar akan semakin tersudut. Satwa mangsa macan tutul akan langka. Kemungkinan besar, karnivor besar akan memangsa hewan milik penduduk, “ paparnya.</p>
<p>Selain di hutan Desa Citapen, menurut Deni, penyebaran karnivor besar di Kuningan juga terjadi di Cibinbin, Gunung Pojok Tilu, dan Gunung Bongkok. Pemanfaatan lahan hutan tentu tidak lepas dari aktifitas masyarakat setempat dalam mengelola berbagai hasil pertanian dan perkebunan.</p>
<p>Didik Uhadi dari Raksa Bumi Citapen ingin agar kawasan Bukit Pembarisan dimasukkan dalam zona ekosistem karnivor besar yang dilindungi. Pemerintah dan pihak terkait harus memikirkan kontribusi lain terhadap pemenuhan penghasilan masyarakat yang selama ini bergantung dari hutan. “ Eksistensi macan tutul terbukti ada. Maka, perlu ada reward pada masyarakat setempat agar pemahaman mereka untuk ikut melindungi satwa langka tersebut juga terbentuk dengan baik, “ jelasnya.</p>
<p>Didik menuturkan, persoalan pemburu tak kalah pelik. Saat memburu babi hutan atau bagong, mereka biasanya juga memburu kijang yang jadi mangsa macan tutul. “ Pemahaman untuk masyarakat setempat tak kalah penting dengan penemuan habitat macan tutil di hutan Desa Citapen. Kita tentu mesti menjaga habitat macan tutul agar jangan sampai dirusak, “ tegasnya.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Dapat Potretnya saat Melintas di Bukit Pembarisan, Kuningan – M. Rona Anggie<br />
Jawa Pos, 03.09.2009</p>
<p>Gambar : LSM Peduli Karnivor Jawa</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gunung Slamet]]></title>
<link>http://bagusbike.wordpress.com/2009/08/20/gunung-slamet/</link>
<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 13:20:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>bagusbike</dc:creator>
<guid>http://bagusbike.wordpress.com/2009/08/20/gunung-slamet/</guid>
<description><![CDATA[Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah dan merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau J]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://www.friendster.com/photos/67992790/2/603401892"><img border="0"></a></p>
<p>Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah dan merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.432 mdpl. Pada masa penjelajahan dunia yang pertama Sir Frances Drake ketika melihat Gunung Slamet, segera mengarahkan perahunya dan berlabuh di Cilacap.</p>
<p>Gn. Slamet dapat didaki melalu 3 jalur, lewat jalur sebelah Barat Kaliwadas, lewat jalur sebelah selatan Batu Raden dan lewat jalur sebelah timur Bambangan. Dari ketiga jalur tersebut yang terdekat adalah lewat Bambangan, selain pemandangannya indah juga banyaknya kera liar yang dapat ditemui dalam perjalanan menuju ke puncak slamet.</p>
<p>JALUR BAMBANGAN</p>
<p>Jalur Bambangan adalah jalur yang sangat populer dan merupakan jalur yang paling sering didaki. Route Bambangan merupakan route terpendek dibandingkan route Batu Raden dan Kali Wadas. Dari kota Purwokerto naik bus ke tujuan Purbalingga dan dilanjutkan dengan bus dengan tujuan Bobot sari turun di Serayu. Perjalanan disambung menggunakan mobil bak angkutan pedesaan menuju desa Bambangan, desa terakhir di kaki gunung Slamet.</p>
<p>Di dusun yang berketinggian 1279 mdpi ini para pendaki dapat memeriksa kembali perlengkapannya dan mengurus segala administrasi pendakian. Selepas dari jalan aspal perkampungan belok ke kanan, Pendaki akan menyeberangi sungai dengan cara melompat dari satu batu ke batu yang lain, bila sedang musim hujan aliran air deras akan menutupi batu-batuan ini. Selanjutnya akan melewati ladang penduduk selama 1 jam menuju pos Payung dengan keadaan medan yang terjal.</p>
<p>Pos Payung merupakan pos pendakian yang menyerupai payung raksasa dan masih berada di tengah-tengah perkebunan penduduk. Selepas pos Payung pendakian dilanjutkan menuju pondok Walang dengan jalur yang sangat licin dan terjal di tengah-tengah lingkungan hutan hujan tropis, selama kurang lebih2 jam. Selepas pondok Walang, medan masih seperti sebelumnya, jalur masih tetap menanjak di tengah panorama hutan yang sangat lebat dan indah, selama kira-kira 2 jam menuju Pondok Cemara.</p>
<p>Sebagaimana namanya, pondok Cemara dikelilingi oleh pohon cemara yang diselimuti oleh lumut. Selepas pondok Cemara pendakian dilanjutkan menuju pos Samaranthu. Selama kira-kira 2 jam dengan jalur yang tetap menanjak dan hutan yang lebat. Samaranthu merupakan pos ke 4. Kira-kira 15 menit dari pos ini terdapat mata air bersih yang berupa sungai kecil. Selepas Samaranthu, medan mulai terbuka dengan vegetasi padang rumput. Pendaki akan melewati Sanghiang Rangkah yang merupakan semak-semak yang asri dengan Edelweiss di sekelilingnya, dan sesekali mendapati Buah Arbei di tengah-tengah pohon yang menghalangi lintasan pegunungan. Pendaki juga akan melewati Sanghiang Jampang yang sangat indah untuk melihat terbitnya matahari.</p>
<p><!--more-->Kira-kira 30 menit kemudian pendaki akan tiba di Plawangan. Plawangan (lawang = pintu) merupakan pintu menuju puncak Slamet. Dari tempat ini pendaki akan dapat menikmati panorama alam yang membentang luas di arah timur. Selepas Plawangan lintasan semakin menarik sekaligus menantang, selain pasir dan bebatuan sedimentasi lahar yang mudah longsor pada sepanjang lintasan, di kanan kiri terdapat jurang dan tidak ada satu pohon pun yang dapat digunakan sebagai pegangan.</p>
<p>Di daerah ini sering terjadi badai gunung, oleh karena itu pendaki disarankan untuk mendaki di pagi hari. Kebanyakan pendaki meninggalkan barang-barang mereka di bawah, untuk memperingan beban. Dari Plawangan sampai di puncak dibutuhkan waktu 30- 60 menit. Dari sini pendaki dapat melihat puncak Slamet yang begitu besar dan hamparan kaldera yang sangat luas dan menakjubkan, yang biasa disebut dengan Segoro Wedi. Apabila kita ingin turun menuju jalur lain, misalnya Guci, pendaki harus melewati kompleks kawah untuk memilih jalur yang diinginkan.</p>
<p>JALUR KALIWADAS</p>
<p>Kaliwadas merupakan sebuah dusun yang berketinggian 1850 mdpi dan masuk wilayah Desa Dawehan, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, atau tepatnya berada pada barat daya lereng Gunung Slamet. Untuk menuju Kaliwadas dapat ditempuh dari kota Bumiayu menuju Pangasinan dengan menggunakan Angkutan Pedesaan jenis Colt yang memakan waktu 2 jam. Setiba di Pasar Pangasinan, perjalanan dilanjutkan menuju Kaliwadas dengan menggunakan Jeep Hardtop atau menggunakan angkutan umum jenis kendaraan terbuka yang beroperasi hingga pukul 18.00.</p>
<p>Pendaki dapat menyiapkan segala perbekalan dan perizinan dari Kaliwadas ini. Kira &#8211; kira 300 m selepas jalan desa, pendaki diarahkan menuju jalan setapak. Satu jam kemudian pendaki akan melewati Tuk Suci yang oleh penduduk setempat diartikan sebagai mata air suci. Di Tuk Suci ini terdapat aliran air yang dibendung, yang berfungsi sebagai pengairan desa di bawahnya. Selepas Tuk Suci, medan mulai menanjak menembus lorong-lorong tumbuhan Bambu yang berukuran kecil. Penduduk sekitar menyebutnya Pringgodani. Enam puluh menit kemudian pendaki akan tiba di pondok Growong.</p>
<p>Pondok Growong merupakan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Di sekitar area ini banyak ditemukan pohon besar yang di bawahnya terdapat lubang berukuran cukup besar. Selepas pondok Growong lintasan relatif datar sampai pada sebuah jembatan kecil yang bemama taman Wlingi, yang berada di ketinggian 1953 mdpl. Di daerah ini terdapat persimpangan, lintasan yang lurus dan lebar menuju ke Sumur Penganten. Berjarak 500 m dari area terdapat sumber air, yang juga merupakan sebuah tempat keramat di mana banyak peziarah yang datang untuk meminta berkah.</p>
<p>Jalur ke kiri merupakan lintasan yang menuju ke puncak. Keadaan lintasan semakin menanjak. Di sepanjang lintasan mulai banyak dijumpai pohon tumbang dan pohon penyengat. Lintasan kadang tertutup oleh semak belukar sehingga pendaki harus waspada agar tidak tersesat. Lintasan mulai kembali melebar ketika pendaki melewati persimpangan Igir Manis yang berada di ketinggian 2600 mdpl. Di sekitar area ini akan didapati tetumbuhan Adelweiss dan tetumbuhan Arbei. Setelah itu pendaki akan sampai di Igir Tjowek yang berada di ketinggian 2750 mdpl. Daerah ini masuk kawasan Gunung Malang. Di sini terjadi pertemuan jalaur ini dengan jalur Baturaden. Beberapa meter kemudian barulah pendaki tiba di Plawangan.</p>
<p>Plawangan merupakan sebuah tanah yang cukup datar di daerah terbuka, sekaligus merupakan batas vegetasi. Untuk menuju puncak dibutuhkan waktu kira-kira 2 jam. Pendaki dapat berangkat pagi agar dapat menikmati keadaan puncak dan sekitamya dalam keadaan cuaca cerah. Selepas Plawangan lintasan semakin tajam hingga mencapai sudut pendakian 60. Selanjutnya keadaan lintasan semakfn parah dengan medan bebatuan vulkanik yang mudah longsor. Bau belerang terasa menyengat dari kawah ketika pendaki tiba di puncak bayangan. Setiba di daerah ini, pendaki tinggal melipir pada gigir kawah menuju arah timur.</p>
<p>Setelah melewati Tugu Surono yang berupa tumpukan batu, pendaki akan sampai di puncak tertinggi Gunung Slamet yang ditandai dengan patok triangulasi dan tower. Dulu tempat ini juga digunakan sebagai pemantauan aktivitas gunung api ini. Di puncak tertinggi kedua se-Jawa ini pendaki dapat menyaksikan pemandangan pada arah timur. Tampak beberapa puncak seperti Gunung Sumbing, Sundoro, Merbabu, Merapi, dan puncak Ciremai di arah barat. Semuanya berdiri kokoh sekan-akan menjadi pasak bumi Pulau Jawa.</p>
<p>JALUR BATU RADEN</p>
<p>Dari kota Purwokerto menuju tempat wisata Batu Raden menempuh jarak 15 km arah utara dan dapat ditempuh selama 30 menit dengan menggunakan Angkutan umum. Batu Raden yang merupakan daerah wisata yang terkenal dengan Pancuran Telu dan Pitu ini berada di ketinggian 760 mdpl. Pancuran tersebut merupakan aliran mata air panas yang mengandung belerang. Jalur ini merupakan jalur tersulit dan jarang dilalui pendaki.</p>
<p>Selepas pal Taman Wisata Batu Raden, lintasan berbelok ke kanan dan menurun. Dalam perjalanan menuju pos I banyak ditemui cabang lintasan, yang merupakan jalan tikus yang banyak dibuat oleh penduduk setempat. Di tengah perjalanan pendaki akan melewati sebuah sungai. Setelah itu lintasan kembali datar dengan sajian jurang yang menganga pada sisi kanan lintasan. Untuk sampai di pos I dibutuhkan waktu selama 3 jam.</p>
<p>Selepas pos I lintasan mulai menanjak dengan sajian hutan yang rimbun dan asri, selama 2 jam. Untuk sampai di pos III dibutuhkan waktu selama 3 jam dengan lintasan yang tidak begitu menanjak. Vegetasi di pos III masih dalam kungkungan hutan hujan Tropis. Selepas itu pendaki akan melipir pada sebuah punggungan tipis yang berada di ketinggian 1664 mdpl. Daerah tersebut bemama Igir Leiangar. Selepas pos IV, tepatnya di puncak Gunung Malang, akan ditemui persimpangan dengan jalur Kaliwadas. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju ke Plawangan, lalu berbelok ke kanan menuju puncak Slamet.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[LA19]]></title>
<link>http://glassartwork.wordpress.com/2009/07/30/la19/</link>
<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 05:31:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>glassartwork</dc:creator>
<guid>http://glassartwork.wordpress.com/2009/07/30/la19/</guid>
<description><![CDATA[Kode : LA19 Title : Gunung Slamet 2 Year : 2008 Size : 40 x 50 cm Price : Rp. 2.500.000,- Frame : Fr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://glassartwork.wordpress.com/files/2009/07/baru-8.jpg" alt="Gunung Slamet 2" width="344" height="254" /></p>
<p>Kode : LA19</p>
<p>Title : Gunung Slamet 2</p>
<p>Year : 2008</p>
<p>Size : 40 x 50 cm</p>
<p>Price : Rp. 2.500.000,-</p>
<p>Frame : Frame Kayu Natural</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[LN17]]></title>
<link>http://glassartwork.wordpress.com/2009/07/29/ln17/</link>
<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 09:17:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>glassartwork</dc:creator>
<guid>http://glassartwork.wordpress.com/2009/07/29/ln17/</guid>
<description><![CDATA[Kode : LN17 Title : Gunung Slamet 2 Year : 2008 Size : 40 x 50 cm Price : Rp. 2.000.000,- Frame : Fr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://glassartwork.wordpress.com/files/2009/07/landscape-17.jpg" alt="Gunung Slamet" width="346" height="202" /></p>
<p>Kode : LN17</p>
<p>Title : Gunung Slamet 2</p>
<p>Year : 2008</p>
<p>Size : 40 x 50 cm</p>
<p>Price : Rp. 2.000.000,-</p>
<p>Frame : Frame Kayu Natural</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antara Gunung Slamet dan Pemalang (Part III: Weird Feel)]]></title>
<link>http://uneganakanak.wordpress.com/2009/07/19/antara-gunung-slamet-dan-pemalang-part-iii-weird-feel/</link>
<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 03:23:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>ammarmahardika</dc:creator>
<guid>http://uneganakanak.wordpress.com/2009/07/19/antara-gunung-slamet-dan-pemalang-part-iii-weird-feel/</guid>
<description><![CDATA[(sebelumnya: Ian, Rini, dan Syukur mencari bus yang bertujuan ke Pemalang atau sekitarnya, namun sam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><em>(</em></strong><em>sebelumnya: Ian, Rini, dan Syukur mencari bus yang bertujuan ke Pemalang atau sekitarnya, namun sampai larut malam mereka belum juga berangkat dari terminal karena berbagai alasan. Akhirnya, mereka mendapatkan bus yang bertujuan Pemalang. Adakah petualangan-petualangan menarik lainnya pada mereka? Kita baca lanjutannya berikut ini!)</em></p>
<p>Jam 5.15 pagi. “Yak, terima kasih. Terima kasih telah menggunakan jasa transportasi kami. Semoga berkenan di hati penumpang, silahkan menikmati perjalanan anda&#8230;!” kata sang kondektur beberapa meter setelah keluar dari gerbang terminal Kampung Rambutan. Hal seperti ini biasa terjadi, terutama pada bus AKAP. Sementara para penumpang lain tenang, Ian, Rini, dan Syukur justru asyik sendiri. “Ini nih, no. 5, lawan kata pro, 6 huruf&#8230;” kata Syukur sambil menelaah kata perkata yang ada pada buku TTS. “Ah, gua tau! Kontra!” sahut Ian bersemangat membuat para penumpang seketika melirik mereka bertiga. Sedangkan Rini yang bertugas sebagai pencatat segala jawaban yang mereka temukan.</p>
<p>Jam 7 pagi. Tidak terasa, sekarang posisi sudah sampai di tol Cikampek-Bandung, tepatnya masih di daerah kota Bekasi. Karena hari kerja, pagi hari mereka terjebak macet di jalan menuju tol. “Gak kerasa udah sampai sini!” sahut Ian yang sepertinya merasa puas, setelah berhari-hari lamanya menunggu hal ini. “Cuy, gak kerasa udah setengah buku TTS kita&#8230;” sahut Syukur sambil memperlihatkan buku TTS pembeliannya yang TTS-nya sudah dijawab mencapai setengah dari seluruh halaman buku tersebut kepada Ian dan Rini. “Seru juga kalau begini terus! Hahaha&#8230;” seru Ian sambil tertawa bersama Rini dan Syukur.</p>
<p>Jam 9 pagi. Menuju keluar gerbang tol Cikampek-Subang. Para penumpang lain mulai menampakkan kejenuhan mereka, namun Ian, Rini, dan Syukur belum selesai dengan aktivitas gilanya yang sepertinya sangat menggangu penumpang lain. “Udah ah, capek nih gua!”, kata Rini yang tangannya mulai letih menulis jawaban di buku TTS pembelian Syukur. “Ya udah. Sekarang mau ngapain lagi?” tanya Ian yang berusaha mengisi waktu di bus. “Istirahat dulu deh!” cetus Syukur dengan semangat yang mulai menurun. “Kalau begitu, nih!”, sahut Rini sambil mengeluarkan sebotol minuman penyegar. “Gua udah bawa 3 dari rumah!” katanya dengan bangga. Dibagikannya minuman itu. Serentak mereka meminumnya membuat mereka tidak lagi dahaga.</p>
<p>Jam 10 pagi. Masih di daerah kabupaten Subang. Ian memperhatikan aktivitas penduduk sekitar melalui jendela bus. Ada yang masih menjajakan makanan, atau para murid sedang melakukan kegiatan belajar-mengajar. Sementara Ian melihat sekitar, tiba-tiba bus mengerem mendadak. CIIT!!! “Ada apa ini!?” seru penumpang yang terbangun dari tidurnya di bus. “Ya, ada apa ini!?” tanya penumpang lain yang mulai menanyakan apa yang terjadi. Hati Ian mulai bertanya,  “aduuh, aman gak ya perjalanan kita nanti?”. Setelah diizinkan, para penumpang turun. Bahkan mereka tidak percaya apa yang mereka lihat. Sebuah truk gandeng yang membawa produksi pabrik terguling menabrak sisi jalan sejauh hampir 1 kilometer dari arah berlawanan. Setelah dikonfirmasi, para saksipun tidak tahu sebab kecelakaan ini. Supir dan semua penumpangnya dipastikan tewas. “Waw, gila bener&#8230;!” seru Syukur yang turut keluar dari bus untuk melihat kejadian. Dan pasti, para pengguna jalan tertahan berjam-jam di TKP.</p>
<p>Jam 11.30 pagi menjelang siang. Polisi, pemadam kebakaran, dan para wartawan seketika mengumpul bak semut. Otomatis antrian panjang menjulang, mungkin kira-kira sampai hampir 15 kilometer. Segera Syukur mengambil kamera kesayangannya dan mendekati TKP lalu memotret apa yang bisa dipotretnya. Mungkin hal itu dilakukan Syukur untuk numpang masuk TV. “Aduh, mulai panas nih!” keluh Rini sambil mengipasi dirinya. Sementara penduduk sekitar dan pengguna jalan heboh dengan peristiwa aneh tersebut, Ian dan Syukur memilih untuk makan di warung tegal dekat dengan tempat busnya tertahan. “Ah, emang paling enak <em>ngaso</em> di warteg&#8230;” kata Ian dengan salah satu kaki di atas kursi, gaya klasik kalau makan di warteg. Syukurpun tak jauh beda dengan Ian. “Setuju! Semoga masih lama!” katanya sambil meminum es teh pembeliannya di warteg itu. Sementara itu Rini mencari mereka berdua. “Ian? Syukur? Dimana lu?” sahut Rini mencari mereka berdua. Untungnya tidak jauh dari bus, langsung Rini mendatangi mereka.</p>
<p>“Kemana aja lu!?” gerutu Rini kesal karena dirinya ditinggali oleh kedua sepupunya. “Sabar dong! Lagi enak-enak juga&#8230;” protes Syukur yang meminta tambah es tehnya, saking panasnya cuaca di sana. Sambil menyiapkan minum, mereka ditanya oleh sang empunya warteg, “mau pada kemana toh nak?”. “Ng, anu, kami mau pergi mendaki ke gunung slamet&#8230;” jawab Ian. “Lho? Kamu gak lihat di TV sekarang kalau gunung Slamet sekarang statusnya siaga?” tanya sang empunya warteg. Dengan ragu, Ian menjawab “ng, Insyaallah gak ada apa-apa&#8230;”.</p>
<p>Jam 12.00 siang. Setelah kasus ini diambil alih dan ditindaklanjuti oleh polisi, maka jalur dari arah Jakarta terpaksa dialihkan ke jalur yang ke arah Jakarta. “Yak penumpang yang dari arah Pemalang diharap segera berkumpul dan duduk di tempat masing-masing!” teriak sang kondektur dari bis yang ditumpangi Ian, Syukur, dan Rini. “Akhirnya berangkat juga&#8230;” lega Rini yang sepertinya hanya menginginkan dinginnya <em>AC</em> daripada perjalanannya. Di saat lega seperti itu, tiba-tiba Syukur menyelak, “eh, tapi kalau yang dikatakan Ibu yang jaga warteg itu benar gimana?”. “Bener juga tuh!”, jawab Rini. “Eh, kok lu berdua jadi gak yakin gitu sih!? Yang penting kita punya niat untuk ke sana! Yang begini udah gak bisa ditunda!” teriak Ian dengan nada emosi. “Kalau gitu kapan-kapan harus siap beli koran tiap hari nih&#8230;” cela Syukur yang berusaha menenangkan suasana.</p>
<p>Jam 14.00. tak terasa sudah mencapai Losari. Dalam perjalanan, setelah konfrontasi sengit antara 3 saudara tadi, suasana menghening. Mereka bertiga memilih diam sambil tidur daripada menguras energi lebih banyak lagi. Sang supir yang jenuh akan kemacetan truk di Losari, mulai menyetel lagu kesukaannya lewat HP, yang kebanyakan diisi oleh lagu Campursari. “Selamat datang di Jawa Tengah&#8230;” sahut Ian dengan pelan kepada kedua sepupunya.</p>
<p>“Akhirnya! Sampai juga di Jawa Tengah!” teriak Syukur dengan rasa puas. Sementara Rini mengakses <em>Facebook</em>-nya lewat HP. Ketika Rini sibuk dengan HP-nya dan Syukur sibuk dengan kameranya, Ian bertanya kepada penumpang disebelahnya. “Misi mas, mas ini tujuannya kemana ya?”. “Oh, saya mau pulang kampung.” jawab pemuda yang ditanya oleh Ian. “Dimana ya kampungnya mas?”. “Kampung saya di Randudongkal&#8230;” jawab pemuda itu dengan logat halus khas Purwokerto. “Randudongkal itu dimana ya mas?” tanya Ian yang belum bosan. “Setelah kota, lurus terus, sampai bertemu hutan. Ikuti saja hutan itu. Patokannya terminal Randudongkal deh mas.” jawab pemuda tersebut dengan sedetil-detilnya. “Oh, terima kasih ya&#8230;” balas Ian. “Sama-sama.” jawab sang pemuda.</p>
<p>Jam 15.30. Sudah di perbatasan Tegal. “Subhanallah,  keren banget lautnya!” seru Syukur memandangi tepi jalan yang kebetulan laut. Sementara Ian masih gelisah dengan apa yang dikatakan oleh sang penjaga warteg waktu mereka di Cirebon. “Apa benar ya yang dikatakan ibu tadi?” gumamnya sambil gelisah. “Yah ampun, baterai gua habis!” gerutu Rini secara kasar. “Ngerepotin aja nih HP! Dipakai internet-an sebentar habis!”. “Udah udah, gak enak dilihat orang&#8230;” bisik Ian ke telinga Rini. “Dari tadi kita mulu yang berisik&#8230;” lanjutnya. Akhirnya, dengan sedikit perlahan emosi Rini mulai mereda.</p>
<p>Jam 16.30. para rombongan bus berhenti di SPBU di dekat kota Tegal sekaligus untuk istirahat. “Laper nih! Cari makan yuk?” sahut Syukur yang mulai memegang perutnya. “Duh, tapi gua ke kamar mandi. Kalau gitu, lu cari tempat duduknya yang deket sama kamar mandi. Biar gampang ketemunya. OK?” usul Rini. “Ya udah deh&#8230; yang penting makan&#8230;” jawab Ian yang juga mulai lapar.</p>
<p>Setelah mencari dan memilih makanan serta memilih tempat duduk, Ian dan Syukur menyantap makan siang mereka. Sementara itu, Rini masih mencari Ian dan Syukur. “Aneh nih dua orang itu! Katanya di kamar mandi, tapi kok gua cari gak ada ya&#8230;?”. Tiba-tiba, Rini melihat kedua sepupunya di dekat tempat memesan makanan. “Yah ampun, katanya mau di deket kamar mandi, kok disini!?” gerutu Rini. “Lho, kata lu di deket kamar mandi, kita udah di deket kamar mandi&#8230;” jawab Syukur dengan santai sambil menunjuk plang yang ada dibelakangnya. “YA AMPUN!!! Lu tuh bego apa bego sih!? Maksud gua tuh kamar mandi CEWEK!!!” teriaknya dengan rasa kesal yang makin menjadi. Mendengar kemarahan sepupu perempuannya, Ian dan Syukur justru tertawa keras.</p>
<p>“Hahaha&#8230;! dikerjain mau aja. Selamat ulang tahun ya!!!” seru kedua sepupunya.</p>
<p>Ternyata, hari itu adalah ulang tahun Rini. Sambil terharu, Rini membalas ucapan dari kedua sepupunya itu. “Makasih ya&#8230;! dikirain emang pada blo’on beneran, ternyata cuma ngerjain aja toh&#8230;” dengan mata berkaca-kaca. “Maaf ya kalau kita gak bisa ngasih kado bagus, soalnya duit lagi pas-pasan nih&#8230; hehehe&#8230;” kata Ian. “Sebagai gantinya, gimana kalau kita traktir makan disini?” sambung Syukur. “Apapun yang lu kasih, bagi gua itu yang terbaik&#8230;!” kata Rini layaknya seorang pujangga.</p>
<p>Akhirnya mereka bertiga bersenang-senang. Namun tiba-tiba perasaan aneh menimpa Ian, Rini, dan Syukur. Jantung terasa berdebar, syaraf menjadi kaku, nafas semakin tegang. Apakah yang terjadi?? <strong>(bersambung)</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antara Gunung Slamet dan Pemalang (Part II: From Jakarta)]]></title>
<link>http://uneganakanak.wordpress.com/2009/07/19/antara-gunung-slamet-dan-pemalang-part-ii-from-jakarta/</link>
<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 03:21:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>ammarmahardika</dc:creator>
<guid>http://uneganakanak.wordpress.com/2009/07/19/antara-gunung-slamet-dan-pemalang-part-ii-from-jakarta/</guid>
<description><![CDATA[(sebelumnya: Ian, Rini, dan Syukur adalah tiga mahasiswa-mahasiswi jurusan geologi yang ingin menyel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>(sebelumnya: Ian, Rini, dan Syukur adalah tiga mahasiswa-mahasiswi jurusan geologi yang ingin menyelesaikan skripsinya masing-masing. Dalam rangka mewjudkan hal tersebut, maka mereka memutuskan untuk menyelesaikan skripsi mereka bersama-sama. Mereka memutuskan untuk menyelesaikan skripsinya di gunung Slamet, di daerah Jawa Tengah.)</em></p>
<p>Sambil mengeluh dan keringetan karena kepanasan, mereka mencari-cari bus jurusan Pemalang atau sekitarnya, namun mereka belum dapat menemukannya. “Aduuh, Ian! Kok gak ketemu&#8230;?”, gerutu Syukur sambil mengelus-elus perut buncitnya karena kekenyangan. Dengan sesekali mengusap keringat di dahi, Ian menjawab, “kalau begini, kita tanya aja deh!”. Ditemuilahnya penjaga WC umum di pojokan terminal itu. “Misi bu,”, tanya Rini dengan nada yang sopan. “Ada tidak bus tujuan Pemalang?”. “Biasanya, kalau bus itu ada tulisan tujuannya. Coba Eneng cari lagi&#8230;”, jawab Ibu tersebut. Dengan raut muka yang tidak puas, mereka bertiga mencoba mencari lagi. Karena tidak menemukan apa yang mereka cari, mereka memutuskan untuk duduk-duduk sejenak di tempat tunggu. Sampai sorepun mereka hanya termenung di tempat tunggu.</p>
<p>“Heeh! Kayaknya itu tuh bus-nya!”, seru Syukur memecah keheningan diantara mereka bertiga. “Mana? Jangan bohong lu!”, tanya Rini yang selalu tidak percaya kepada Syukur. “Tuh, bener kan!?”, kata Syukur sambil menunjuk bus berwarna oranye dengan bertuliskan “Jakarta—Pemalang, via Tol.” di kaca bagian belakangnya. Dengan raut wajah yang capek, Ian menyela, “kalau gitu susul aja deh, lagian ini bukan tempat untuk keberangkatan&#8230;”. Tanpa berfikir panjang, mereka langsung menyusul bus yang mereka cari sejak siang. “Mas, tunggu!”, teriak Ian. “Kami ingin naik!”, ujarnya lagi. Berhentilah bus tersebut. Lalu sang kondektur turun, menghampiri mereka bertiga, dan berkata, “maaf mas, tempatnya sudah penuh. Kami bisa paksakan, kalau mau, kalian semua berdiri&#8230;”. “Gimana lu semua? Mau pada berdiri?”, tanya Ian. “Daripada di jalan bukannya nyenyak malah pegel, mending kita nunggu bus lain aja deh&#8230;”, kata Syukur dengan sedikit kecewa karena penantiannya sia-sia.</p>
<p>Jam 10 malam. Belum ada tanda-tanda kedatangan bus dari atau ke arah Pemalang. Tiba-tiba klakson berderu kencang memekakkan telinga Ian, Rini, dan Syukur yang khusus menunggu di depan gerbang terminal Kampung Rambutan. “Heeh! Ini dia bus dari Pemalang!”, seru Rini kegirangan bukan main. Bagaimana tidak, setelah menunggu dari siang, akhirnya mereka mendapat apa yang mereka cari. “Dan kosong!”, lanjut Syukur yang semangatnya seperti euforia kesebelasan sepakbolanya memenangi pertandingan. “Kalau begitu, kita datangi saja, biar gak penasaran.”, kata Ian mengajak sepupu-sepupunya. Setelah dikejar, bus itu parkir di pojokan, dekat dengan WC umum tempat Rini bertanya. Sang supir bus keluar, lalu menuju tempat di seberang bus tersebut, yaitu sebuah warteg yang cukup besar dan ramai untuk ukuran terminal. Setelah masuk ke warteg itu, supir dan teman-temannya memesan makanan. Dengan sedikit menggangu, Ian bertanya, “Permisi pak, mau tanya, kalau keberangkatan ke Pemalang itu jam berapa ya?”. “Haduh nak, sekarang sudah larut malam, jadi bus ke Pemalang itu berangkat besok&#8230;”. “Oh, ya sudah. Terima kasih bapak!”, sapa Ian, dengan sedikit memberi senyum simpul kepada supir tersebut. “Sama-sama&#8230;”, kata supir tersebut. Setelah keluar dari warteg itu, Rini dan Syukur langsung menghampiri Ian. “Kenapa lu Ian? Berangkatnya kapan?”, tanya Rini yang terkesan nafsu. “Besok&#8230;”, jawab Ian yang sangat lesu atas jawaban supir tadi. “Wekz!? Gila aja lo! Skripsi tinggal dua bulan lagi juga!”, gerutu Rini, marah besar tidak karuan. “Yah ampun, lebai lo! Cuma kelewat semalam ini, lagipula besok pasti cepet kelar&#8230;”, balas Syukur yang percaya diri tugas skripsinya cepat selesai.</p>
<p>Setelah selesai berdebat seperti itu, tidak terasa penglihatan mereka mulai memudar. Ya, mereka mengantuk dan mengalami capek yang hebat setelah mengitari terminal layaknya mengitari bukit Shofa dan Marwa selama 7 kali tiada henti. “Tidur dimana nih?”, tanya Rini yang paling tidak suka kalau tidur di tempat yang menjijikkan. “Mau tidur dimana lagi, ya disinilah!”, sahut Syukur dengan keras, sambil menunjuk kursi di halte utama. “Jam segini Mama gua gak bakal bukakan pintu!”, lanjutnya. Ya, Rini mau tidak mau harus memakluminya. “Sekarang&#8230; cari kursi yang paling nyenyak untuk tidur!”, seru Ian, yang tidak seperti biasanya semangat untuk tidur. Biasanya, Ian lebih suka begadang untuk menyelesaikan tugas atau sekedar menonton TV, juga jika ada pertandingan sepakbola.</p>
<p>Jam 3 dini hari. Empat jam setelah mereka mencari “tempat tidur” di terminal, terhitung dari jam 11 malam. Tidak seperti sepupu lelakinya yang langsung tertidur pulas, Rini terbangun di tusukan angin malam yang cukup jahat dan mencekam itu. Segeranya membuka tas, lalu mengambil arlojinya. “Huuh, masih jam tiga&#8230;”, gumam dirinya. Melihat sekeliling dahulu, lalu ia mengobok-obok isi tasnya. Diambilnya sebuah buku kecil berwarna merah jambu digembok kecil berjudul “DIARY”. Dengan pulpen bertinta hitam ini, Rini mencatat segala kejadian di buku tersebut. Hobi Rini adalah mencatat pengalaman harian di buku harian. Baginya, mencatat di buku harian itu sangat aspiratif, mengeluarkan semua uneg-unegnya, dan juga menjadi teman di kala suka maupun duka.</p>
<p>Jam 4.30 pagi.  “Huamm, masih ngantuk nih&#8230;”, kata Ian sambil menutup mulutnya yang sedang menguap. Sementara Syukur mendapati dirinya berada di lantai. “Hmm&#8230; pasti gua jatuh lagi, kebiasaan nih!”, gerutu Syukur. “Ayo, busnya kan berangkat jam 5, sebelum itu, kita makan dulu aja!”, ajak Rini. “Sembari menunggu penumpang yang lainnya!”, lanjutnya. “Daripada telat, kita beli nasi bungkus, lalu kita langsung ke bus sekarang&#8230;”, cetus Syukur, yang sepertinya otaknya lagi jernih. “Mmm, ya udah.”, kata Ian yang perutnya juga membutuhkan makanan. Setelah sibuk membeli makanan sekaligus membeli peralatan darurat, mereka menuju ke bus yang mereka tuju. Untungnya di bus itu sudah dihuni oleh supir dan kondektur.</p>
<p>Kesan pertama pada busnya? Ber-AC, tempat duduk dari busa, biarpun sedikit terkelupas oleh para tangan jahil, lalu ada kamar mandi, yang terkadang setelah dipakai terasa bau tidak menyenangkan. Namun biarpun begitu, mereka memberi senyuman yang cukup lebar pada bus ini. Segeranya mereka masuk, mencari tempat duduk yang paling enak, tentunya yang satu bangku tiga orang, serta menyantap hidangan yang mereka beli, yaitu nasi bungkus. Seketika para penumpang berdatangan layaknya orang mencari harta karun terpendam. Berdesak-desakan, membuat para penumpang yang lebih dulu tiba di bus ini merasa tidak nyaman. “Gila! Yang mau ke Pemalang banyak banget!?”, protes Rini. “Lha, Pemalang itu kan katanya banyak yang kerja di Jakarta, khusunya jadi PRT&#8230;”, jawab Syukur. “Ohh, gitu ya Kur”, kata Rini sambil berfikir keras. “Eh, daripada bengong, enaknya ngapain ya?”, tanya Ian, yang ingin mengusir rasa penatnya de dalam bus, karena sudah menunggu lama sekali sebelum akhirnya bisa naik bus tujuan. “Untung gua udah beli ini&#8230;!”, seru Syukur sambil merogoh plastik hitamnya yang berisi barang yang dibeli di warung di terminal, yaitu buku TTS. “Tapi, gua lupa bawa pulpen&#8230;”, keluh Syukur. “Tenang Kur, kali ini gua berbaik hati sama elu, nih!”, kata Rini sembari diberikannya pulpen hitamnya. “Thanks. Oleh karena itu, kita jawab bareng-bareng ya?”, tanya Syukur. “Ok deh!”, seru Ian dan Rini. Setelah ini mesin bus dinyalakan. Dengan suara mesin diesel yang khas, perjalanan mereka bertigapun dimulai. <strong>(bersambung)</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Slamet Part#3: Api abadi di tengah2 pulau Jawa]]></title>
<link>http://engineear.net/2009/07/15/slamet-part3-api-abadi-di-tengah2-pulau-jawa/</link>
<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 13:58:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>panghalusnya</dc:creator>
<guid>http://engineear.net/2009/07/15/slamet-part3-api-abadi-di-tengah2-pulau-jawa/</guid>
<description><![CDATA[Catatan Pendakian Gn. Slamet (3428 mdpl), part 3 (go home) Hampir semua pendaki yang ingin turun dar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Catatan Pendakian Gn. Slamet (3428 mdpl), part 3 (go home) Hampir semua pendaki yang ingin turun dar]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Slamet Part#2: Api abadi di tengah2 pulau Jawa]]></title>
<link>http://engineear.net/2009/07/15/slamet-part2-api-abadi-di-tengah2-pulau-jawa/</link>
<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 13:57:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>panghalusnya</dc:creator>
<guid>http://engineear.net/2009/07/15/slamet-part2-api-abadi-di-tengah2-pulau-jawa/</guid>
<description><![CDATA[Catatan Pendakian Gn. Slamet (3428 mdpl), part 2 (pendakian) Jumat, 21 Maret 2008, 06:00 Di dusun Ba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Catatan Pendakian Gn. Slamet (3428 mdpl), part 2 (pendakian) Jumat, 21 Maret 2008, 06:00 Di dusun Ba]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Slamet Part#1: Api abadi di tengah2 pulau Jawa]]></title>
<link>http://engineear.net/2009/07/15/gunung-slamet-api-abadi-di-tengah-tengah-pulau-jawa/</link>
<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 08:08:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>panghalusnya</dc:creator>
<guid>http://engineear.net/2009/07/15/gunung-slamet-api-abadi-di-tengah-tengah-pulau-jawa/</guid>
<description><![CDATA[Catatan Pendakian Gn. Slamet (3428 mdpl), part 1 (perjalanan) Rabu, 19 Maret 2008, 18:30 Libur dua h]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Catatan Pendakian Gn. Slamet (3428 mdpl), part 1 (perjalanan) Rabu, 19 Maret 2008, 18:30 Libur dua h]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[GEMURUH LETUSAN GUNUNG SLAMET]]></title>
<link>http://kontansukses.wordpress.com/2009/06/09/gemuruh-letusan-gunung-slamet/</link>
<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 13:46:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Risno</dc:creator>
<guid>http://kontansukses.wordpress.com/2009/06/09/gemuruh-letusan-gunung-slamet/</guid>
<description><![CDATA[Pada malam hari kurang lebih pukul 19:30 WIB terdengar suara gemuruh cukup keras berulang kali yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pada malam hari kurang lebih pukul 19:30 WIB terdengar suara gemuruh  cukup keras berulang kali yang berasal dari letusan gunung Slamet. Selain itu juga dirasakan getaran bersamaan dengan suara gemuruh tersebut. Warga Dusun Krete Desa Siwarak kecamatan Karangreja kabupaten Purbalingga yang mendengar dan merasakan hal tersebut memilih untuk berjaga-jaga di luar rumah sambil terus memperhatikan situasi dan kondisi gunung Slamet.<br />
Dilihat dari letak geografis dusun tersebut cukup jauh dari gunung Slamet namun dapat mendengar cukup keras gemuruhnya, ini menandakan aktifitas gunung tersebut melebihi dari biasanya. Memang dari peristiwa-peristiwa sebelumnya belum pernah terdengar gemuruh sekeras saat ini.<br />
Sampai postingan ini diterbitkan belum ada berita dari media yang mengabarkan tentang gemuruh yang baru saja dan masih berlangsung , semoga pihak pemantau segera mengantisipasinya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan dan tak lupa kita selalu berdoa untuk keselamatan kita bersama, Amin.<br />
<a href="http://tugu-monas.com/?info=firsty"><img src="http://kontansukses.wordpress.com/files/2009/06/tugu-monas4-125x125.gif" alt="tugu-monas4-125x125" title="tugu-monas4-125x125" width="125" height="125" class="aligncenter size-full wp-image-69" /></a></p>
<p>Bagi Kaum Muslimin/muslimat yang hendak beramal silahkan <a href="http://baitulkarim.wordpress.com">klik di sini</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antara Gunung Slamet dan Pemalang (Part I)  ]]></title>
<link>http://uneganakanak.wordpress.com/2009/06/05/antara-gunung-slamet-dan-pemalang-part-i/</link>
<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 00:48:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>ammarmahardika</dc:creator>
<guid>http://uneganakanak.wordpress.com/2009/06/05/antara-gunung-slamet-dan-pemalang-part-i/</guid>
<description><![CDATA[Sembari mengecek peralatannya, Ian mencoba menghubungi kedua sepupunya, Rini dan Syukur. “Rin, jadi ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sembari mengecek peralatannya, Ian mencoba menghubungi kedua sepupunya, Rini dan Syukur. “Rin, jadi gak nih? Gua sudah mengemas peralatannya!” seru Ian dengan nada agak tidak sabaran. “Iya, iya. Gua juga udah mengecek peralatan. Tapi Syukur dari tadi gak bisa dihubungi!” jawab Rini. “Ya udah, berarti nanti kita datangi rumahnya saja&#8230; emang ngerepotin tuh anak!”, kata Ian dengan menggerutu kesal.</p>
<p>Ian, Rini, dan Syukur adalah mahasiwa-mahasiwi bersaudara jurusan geologi yang sedang menyelesaikan tugas skripsi mereka yang notabene tinggal dua bulan lagi.</p>
<p> </p>
<p>Mewarisi hobi dan pekerjaan bapaknya yang seorang <em>hiker</em>, Ian sangat antusias jika mendengar hal yang berhubungan dengan gunung. Baginya, memanjat gunung sudah seperti santapan setiap bulan. Berbagai gunung di Jawa Barat sudah ia daki semasa kecil bersama bapaknya, seperti gunung Salak, Ciremai, atau gunung Tangkuban Perahu. Namun, mendaki di Jawa Tengah, khusunya di sisi utara merupakan hal baru baginya. Mungkin karena trauma oleh kematian bapaknya saat mendaki gunung di Jawa Tengah. Sementara bagi Rini dan Syukur, ini yang pertama kalinya mereka mendaki gunung yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka masing-masing.</p>
<p>Bel rumah Syukur berbunyi. Di hari daerah rumahnya yang cukup panas tersebut, datanglah dua orang berjaket tebal menghampiri rumahnya. “Permisi!”, sapa Ian dengan sesekali memencet bel. Terdengar suara lembut menjawab. “Oh, nak Ian dan dek Rini! Ada apa ya?”, kata mbok Imah, pembantu yang sejak kecil bekerja di rumah Syukur. “Anu Mbok, saya ingin mencari Syukur. Ada tidak?”, tanya Ian yang mulai memerah mukanya karena kepanasan. “Mas Ian belum bangun&#8230;”, jawab mbok Imah yang <em>kemayu</em> jika berbicara. “Apa!? Dari tadi belum bangun!?”, kesal dan menggerutulah Ian. “Gila tuh orang! Kita sampai keringetan, dia belom bangun juga!”. “Ya udah, kita masuk ya mbok?”, kata Rini sambil membawa Ian yang masih terbawa emosi.</p>
<p>Dari pintu kamar Syukur terdengar suara ketukan dan perkataan yang terkesan nafsu. “Kur, bangun lo! Mau dapet kendaraan jam berapa!? Lu mau nginep di gunung? Belom lagi kalo nyasar Kur&#8230; BANGUN!!!”. Dalam hatinya sudah menebak bahwa itu adalah teriakan Ian. Bangunlah Syukur, ternyata sudah ada dua “malaikat pencabut nyawa” di hadapannya, namun kali ini memakai jaket berwarna warni dan membawa koran yang digulung-gulung menjadi layaknya sebuah pentungan, sesuai khayalan Syukur. “Ampun malaikat, hutang saya masih banyak, belum punya istri, dosa berat semua&#8230; jangan cabut sekarang ya&#8230;?”, kata Syukur meminta ampun dari sang “malaikat pencabut nyawa” ini. Bukannya terdengar tebasan darah atau teriakan, justru terdengar bisikan, ”NYADAR! Mau berangkat jam berapa??”. Ternyata bisikan itu berasal dari kedua sepupunya. “Sekarang deh,”, jawab Syukur. “Maaf kalau bikin telat&#8230;”. Dalam hati, Ian berkata, “ya iyalah, lu kan jagoan bangun siang!”. “Gara-gara dia mulu kita telat&#8230;”, keluh Rini, “lain kali berangkat jam 4 pagi aja kali ya biar gak telat??”, lanjutnya.</p>
<p>Akhirnya, setelah mandi dan berkemas, Syukur langsung berbaur dengan rencana yang dibuat oleh Ian. “Jadi, pertama mau naik kereta atau bus?”, tanya Ian. “Bus!”, syahut Syukur. “Tapi gua maunya kereta!”, tolak Rini. “BUS!”, “KERETA!”, “BUS!”, “KERETA!”. Mereka berdebat layaknya anggota dewan yang tidak mau mengalah, berbalas pantun layaknya puitis. “BERHENTI!!!”, teriak Ian. “Kita ini sudah terlambat, kalau masih mikirin debat begini, gimana mau sampai!? Mikir dong!”, marah Ian, karena memang dia paling tidak suka terlambat. “Udah, gua aja yang nentuin!”, seru Ian. “Kita naik bus! Gua pilih bus karena selain menghemat biaya, menghemat waktu jika di sini ke terminal&#8230;”. “Apa?”, teriak Rini dengan nada kecewa. “Yes! Bisa ngehemat trus belanja-belanja deh!”, seru Syukur seperti orang gila. “Heh Syukur, berarti kalau bawa uang banyak traktir gua ya?”, pinta Rini. “Sama keluarga, sepupu, dan ponakan gua tentu!”. “Udah ah, kalau mau belanja, gua turunin di Brebes aja ya, beli telor asin, kalau nggak di Tegal&#8230;”, kata Ian. Setelah masalah transportasi selesai, mereka membicarakan rute yang akan dilalui. “Kita mau lewat mana? Mau langsung ke Banyumas atau lewat Pemalang?”, tanya Ian. “Hah? Pemalang, apaan tuh?”, tanya Rini dengan sedikit kaget, sepertinya kata ini terdengar asing untuknya. “Pemalang, alat untuk kita mengambang di dalam air&#8230;!”, kata Syukur yang sepertinya memberi tebakan. “Itu sih namanya pelampung, Kur! Jangan berlagak pilon deh!”,  jawab Rini yang kesal dengan salah satu sepupunya yang paling bandel sendiri saat dia kecil, khususnya untuk menjahili Rini. “Pemalang itu salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Tapi kayaknya ini sih kota kecil, fasilitas pariwisatanya sedikit, namun lewat sini rutenya cukup murah. Gimana semuanya?”, tanya Ian. “Terserah kamu aja deh&#8230;”, sahut mereka berdua. “Yang penting kita selamat di sana, amiin&#8230;”.</p>
<p>Setelah selesai dengan rencana mereka, mereka berdoa, agar mereka selamat sampai di tujuan. “Mari kita berdoa agar sampai tujuan dengan selamat, berdoa mulai!”. Setelah berdoa dengan khusyuk, mulailah pejalanan mereka. Karena rumah Syukur yang tidak jauh dengan terminal Kampung Rambutan, maka dengan bejalan kaki selama 20 menit, akhirnya mereka sampai di terminal tersebut.</p>
<p>“Aduh, sumpek banget sih! Gak kuat nih!”, keluh Rini yang memang hidupnya cukup bersih. “Lu kuat tiap hari bau terus Kur?”, tanya Rini sambil menutupi hidungnya dengan sarung tangan. “Ya ampun, begini aja masa’ gak kuat? Emang cewek ngerepotin ya?”, ejek Syukur. Sementara kedua sepupunya bersitegang, Ian duduk di kursi tunggu dekat kios minuman terngiang kata-kata bapaknya sebelum meninggal sambil memegang mendiang bapaknya, “nak, yang penting kamu harus hidup bahagia, tentram, dan sukses. Dan jangan pernah patah semangat!”. Dengan memegang foto mendiang bapaknya, tanpa sadar air matanya jatuh sedikit-sedikit ke permukaan tanah dengan sedikit perasaan pilu di hati.</p>
<p> </p>
<p>Sementara Rini dan Syukur bersitegang, mereka baru ingat, “eh, si Ian mana?”, seru Rini yang orangnya gampang panikan. “Gak tau. Lu aja gak tau, apalagi gua&#8230;”, jawab Syukur dengan nada tinggi. “Lu sih! Coba lu gak ngajak ribut gua, gak lama nih cerita!”, bentak Rini kepada Syukur. “Enak aja lu nyalahin gua! Lagian begitu aja gampang ngambek!”, balas Syukur yang membela dirinya sendiri. “Makanya, dari dulu tuh gua males kalau jalan sama elo!”, gertak Rini yang amarahnya langsung naik drastis. “Ok, ok! Lebih baik sebelum mencari kita beli minuman dulu? Ok?”, kata Syukur yang mempunyai ide. “Ya dah, tapi lu beliin gua minum ya?”. Kata Rini. “Duit gua mau dihemat dulu. Biar bisa bayar kos-kosan&#8230; Ok?”. Lalu Syukur menjawab, “ya ya. Oce deh!”. Setelah mencari sekian lamanya, merekapun mendapat apa yang mereka inginkan. “Tapi kan sekarang sudah Dzuhur, kita sekalian makan ya?”, pinta Rini yang berharap ditraktir makanan dari Syukur. Dengan mengeluh, Syukur mengiyakannya. “Huuh, ya udah!”. Ternyata, saat mau ke resto yang katanya paling enak di terminal ini, bertemulah sosok berjaket dengan tas besar di sisinya. “Eh, lihat deh! Itu siapa? Kayak Ian?”, tanya Rini ke Syukur. Setelah diteliti secara seksama, ternyata&#8230; “Ian!”, sahut mereka berdua. “Kemana aja lo? Padahal kita baru mau makan di sini!”, tanya Syukur. “Mmm&#8230; gak apa-apa, tadi habis beli minum. Yok kita mulai perjalanan kita!”, sahut Ian yang penuh semangat, berputar 180<sup>o</sup> dengan keadaan sebelumnya. “Ya ampun, sekarang matahari udah ada di atas kepala persis, kalau gak makan dulu bisa pingsan kita-kita!”, gerutu Rini. “Huuh, ya udah kita makan dulu!”, kata Ian. “Yes, kita katanya mau ditraktir sama Syukur!”, seru Rini. Dengan nada menolak, Syukur membantah, “gila aja lu! Duit gua habis gara-gara beginian lagi&#8230; kalo gak bawa apa-apa dari luar kota nanti pada dendaman lagi&#8230;”. “Ya ampun, daripada ribut lagi, gua aja deh yang traktir!”, kata Ian.</p>
<p>Sesudah kenyang di resto yang katanya paling enak di terminal Kampung Rambutan, semua bersiap menuju ke gunung Slamet. “Ok! Let’s go!”, seru Ian yang keliatannya semangat biarpun harus merogoh kocek lebih dalam, sementara Syukur justru lemas tak berdaya setelah kekenyangan dan mulas sedikit-sedikit. “Sudahlah, kalau rasa kayak gitu mah bisa hilang sendiri&#8230;”, bujuk Rini. “Ya udah deh&#8230; huuh&#8230;”, kata Syukur yang rasa mulasnya semakin mengerucut. <strong>(bersambung)</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sejarah Baturaden]]></title>
<link>http://dodydwiyatmoko1986.wordpress.com/2009/05/27/sejarah-baturaden/</link>
<pubDate>Wed, 27 May 2009 09:28:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>dodydwiyatmoko1986</dc:creator>
<guid>http://dodydwiyatmoko1986.wordpress.com/2009/05/27/sejarah-baturaden/</guid>
<description><![CDATA[LETAK GEOGRAFIS BATURRADEN Baturraden dikenal sebagai tempat pariwisata atau peristirahatan pegunung]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignnone size-full wp-image-100" title="gerbang20lokawisata" src="http://dodydwiyatmoko1986.wordpress.com/files/2009/05/gerbang20lokawisata.jpg" alt="gerbang20lokawisata" width="500" height="375" /></p>
<p><strong>LETAK GEOGRAFIS BATURRADEN<br />
Baturraden dikenal sebagai tempat pariwisata atau peristirahatan pegunungan sejak tahun 1928 yang memiliki hawa yang sejuk dan cenderung sangat dingin dengan suhu 18°C-25°C. Baturraden terletak di sebelah selatan di kaki gunung Slamet dengan ketinggian 3.428 meter, merupakan gunung berapi terbesar serta gunung tertinggi kedua di Jawa.<br />
Baturraden terletak pada ketinggian sekitar 640 meter diatas permukaan laut dan berjarak hanya 14 km dari pusat kota Purwokerto yang dihubungkan dengan jalan yang memadai. Untuk mencapai taman wisata Baturraden yang terletak di daerah Banyumas dapat menggunakan transportasi darat yang dapat dilakukan dengan berbagai Armada Angkutan Darat: Kereta Api, Bus Antar Propinsi, Bus Antar Kota yang menghubungkan kota-kota diseluruh Pulau Jawa terutama tujuan Jakarta, Bandung, Solo, Surabaya, Yogyakarta, Semarang.<br />
Kota Purwokerto merupakan ibukota kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Wilayah Kabupaten Banyumas terletak di sebelah Barat Daya dan merupakan bagian dari Propinsi Jawa Tengah. Terletak di antara garis Bujur Timur 108° 39′ 17” sampai 109° 27′ 15” dan di antara garis Lintang Selatan 7° 15′ 05” sampai 7° 37′ 10” yang berarti berada di belahan selatan garis khatulistiwa.Bagian utara Kabupaten Banyumas, yakni berbatasan dengan Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, dan Purbalingga, merupakan kawasan pegunungan yang merupakan ujung barat Pegunungan Serayu Utara. Puncak tertingginya adalah Gunung Slamet (3.428 meter dpl), di samping terdapat puncak lain seperti Gunung I Kucing (1.520 meter) dan Gunung I Manis (2.163 meter). Perbukitan yang terdapat di bagian barat merupakan perpanjangan dari Depresi Bandung di Jawa Barat. Sedangkan pegunungan yang terdapat di bagian tenggara adalah ujung barat dari Pegunungan Serayu Selatan, dengan puncaknya Gunung Jampang (809 meter) di perbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara. Luas wilayah Kabupaten Banyumas sekitar 1.327,60 km2 atau setara dengan 132.759,56 ha. Batas-batas Kabupaten Banyumas, yaitu :<br />
1. Sebelah Utara : Gunung Slamet, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang<br />
2. Sebelah Selatan :Kabupaten Cilacap<br />
3. Sebelah Barat : Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes<br />
4. Sebelah Timur : Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banjarnegara.</strong><br />
<!--more--><br />
<strong>SEJARAH BATURRADEN<br />
Sejarah atau cerita yang berhubungan dengan nama Baturraden itu ada dua versi, yaitu versi Kadipaten Kutaliman dan versi Syekh Maulana Maghribi.<br />
Baturraden berasal dari dua kata yaitu ‘Batur’ yang dalam bahasa Jawa berarti Pembantu, Teman, atau Bukit dan ‘Raden’ yang dalam bahasa juga berarti Bangsawan. Dilihat dari susunan kata-katanya, maka nama Baturraden terdiri dari kata :<br />
a. Batur – Radin, yang artinya tanah datar<br />
b. Batur – Adi, yang artinya tanah yang indah<br />
Dua macam nama tersebut bukan sesuatu nama yang berdiri sendiri tanpa ada kaitannya dengan wilayah lain sepanjang lereng Gunung Slamet dari arah barat ke timur sampai Dieng plateau (dataran tinggi Dieng). Disekitar Baturraden juga terdapat beberapa nama diawali dengan kata ‘Batur’, seperti; Batur Agung, Batur Golek, Batur Semende, Batur Sengkala, Batur Macan, Batur Duwur, Batur Wadas Galengan dan Batur Begalan.</strong></p>
<p><strong>Versi Kadipaten Kutaliman<br />
Pada Ratusan tahun silam konon terdapat sebuah Kadipaten ‘KUTALIMAN’ yang terletak 10 km disebelah Barat Baturraden. Adipatinya mempunyai beberapa anak perempuan dan seorang ‘gamel’ (pembantu yang menjaga kuda). Salah satu anak perempuannya jatuh cinta dengan gamel. Cinta mereka dilakukan secara sembunyi-sembuyi. Sesudah mendengar berita, bahwa anak perempuannya jatuh cinta dengan pembantunya, sang Adipati marah dan mengusir gamel dan anak perempuannya dari rumah. Diperjalanan dia melahirkan bayi didekat sungai, kemudian mereka menamakannya sungai ‘Kaliputra’. (Kali berarti Sungai dan Putra berarti anak laki-laki). Letaknya kira-kira tiga kilometer sebelah utara Kutaliman. Akhirnya mereka menemukan tempat yang indah dan memutuskan untuk tinggal di tempat yang sekarang dikenal dengan nama ‘Baturraden’. Berdasarkan versi pertama tersebut nama Baturaden seharusnya ditulis dengan dua ‘R’ karena versi tersebut berasal dari kata ‘Batur’ dan ‘Raden’ menjadi ‘BATURRADEN’.</strong></p>
<p><strong>Versi Syekh Maulana Maghribi<br />
Konon di Negara Rum, bertahta seorang Pangeran bernama Syekh Maulana Maghribi berasal dari Turki yang memeluk agama Islam dan dia adalah seorang ulama. Pada waktu fajar menyingsing, setelah beliau melakukan kewajibannya selaku orang muslim, terlihatlah oleh beliau cahaya terang misterius bersinar disebelah timur menjulang tinggi di angkasa. Terdorong oleh perasaan ingin mengetahui tempat darimana cahaya terang misterius itu datang dan makna dari cahaya terang tersebut, maka timbullah niat dan itikad yang kuat di dalam sanubarinya dan mencari tempat yang dimaksud. Seorang sahabatnya bernama Haji Datuk dipanggil dan diperintahkan supaya para hulubalang dan balatentaranya menyiapkan armada dengan segala perlengkapannya untuk berlayar menuju kearah datangnya cahaya misterius tersebut. Maka,berangkatlah si Pangeran bersama-sama dengan sahabatnya itu 298 (dengan dua ratus sembilan puluh delapan) orang pengikutnya mengarungi samudera menuju kearah terlihatnya cahaya itu memancar selama 40 malam.<br />
Kemudian sampailah mereka di ujung timur sebuah pulau yang bernama dengan Pulau Jawa. Adapun tempat dimana mereka membuang sauh dewasa ini terkenal dengan nama Pantai Gresik. Meskipun mereka telah lama menempuh perjalanan penuh dengan berbagai kesulitan dan penderitaan serta menghadapi bermacam-macam marabahaya, mereka belum mencapai apa yang menjadi cita-cita atau tujuannya karena cahaya terang misterius tersebut tampak disebelah barat. Pada suatu waktu terlihat kembali cahaya terang yang sedang dicarinya itu disebelah barat dan mereka mengambil keputusan kembali karah barat dengan menempuh jalan di laut Jawa di pantai Pemalang Jawa Tangah, dimana mereka berlabuh sambil sekedar melepas lelah. Ditempat ini Syekh Maulana Maghribi meminta para armadanya untuk pulang ke negerinya, sedangkan Syekh Maulana Maghribi ditemani oleh Haji Datuk dan untuk sementara bermukim ditempat itu.<br />
Karena mereka mempunyai kepercayan pada Yang Maha Pencipta, mereka dijiwai oleh kekuatan Gaib yang tiada kunjung padam dan berketetapan hati akan melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki menuju kearah Selatan sambil menyebarkan agama Islam. Dari Pemalang mereka menuju ke selatan menyusuri hutan belantara tanpa mengenal bahaya yang dihadapinya karena tertarik sinar cahaya misterius yang sekarang terlihat di Timur Laut. Berhubung jalur yang ditempuhnya itu meletihkan, maka mereka berhenti sejenak untuk melepaskan lelahnya sambil termenung merasakan kisah perjalanannya serta kewajibannya yang dibebankan diatas pundaknya untuk menyebarluaskan agama Islam. Tempat dimana mereka beristirahat dengan diliputi pikiran-pikiran (gagasan-gagasan) dan perasaan-perasaan yang memenuhi hati sanubarinya diberi nama ‘Paduraksa’ yang artinya bertengkar didalam kalbu atau rasa.<br />
Dari tempat itu mereka meneruskan perjalanannya ke selatan lagi dan sampailah mereka di hutan belukar dan untuk melepaskan lelahnya mereka singgah diatas tonggak randu yang tumbang dan tempat tersebut mereka beri nama ‘Randudongkal’. Dari tempat peristirahatannya itu, cahaya terang masih kelihatan ada di timur laut, dan mereka meneruskan perjalanannya menuju arah cahaya tadi. Dan sebelum mereka sampai ketempat yang menjadi tujuannya mereka berhenti untuk beristirahat di dekat Sendang (kolam) untuk melakukan ibadah Sholat, dan sesudahnya tempat tersebut diberi nama ‘Belik’. Setelah melakukan Sholat, maka perjalanan diteruskan kearah timur dan sampailah disuatu tempat, dimana terdapat banyak batu-batuan dan di tempat tersebut mereka beristirahat lagi sambil memikirkan bagaimana cara mereka dapat menjangkau tempat kedudukan cahaya yang dicarinya, karena cahaya terang tersebut terlihat ada dipuncak Gunung. Tempat dimana mereka beristirahat dan terdapat banyak batu-batuan itu diberi nama ‘Watu Kumpul’.<br />
Karena tekadnya yang kuat, pendakian itu dilakukan hingga akhirnya sampailah mereka di tempat yang dituju. Terlihat oleh mereka seorang pertapa yang menyandarkan dirinya pada sebatang pohon jambu yang mengeluarkan sinar yang bercahaya menjulang tinggi ke angkasa. Perlahan-lahan Syekh Maulana Maghribi dan Haji Datuk menuju mendekati tempat tersebut sambil mengucapkan salam ‘Assalamu’alaikum’, tetapi tidak dijawabnya oleh si petapa meskipun berulangkali diucapkan. Setelah ternyata salamnya tidak mendapat jawaban, maka Haji Datuk berkata pada Syekh Maulana Maghribi : ‘Kiranya pertapa itu adalah seorang Budha’. Mendengar perkataan tersebut, si petapa itu lalu menjawab : ‘Sesungguhnya saya ini adalah orang Budha yang Sakti’. Mendengar kata-kata sakti maka Syekh Maulana Maghribi meminta kepada pemeluk agama Budha tadi, bahwa beliau ingin melihat atau menyaksikan kesaktiannya,maka diambillah tutup kepalanya yang berupa kopiah itu dapat terbang di angkasa. Syekh Maulana Maghribi tergolong orang yang mempunyai kesaktian dan didorong oleh rasa ingin mengimbangi kemukjizatan si pertapa itu, lalu melepaskan bajunya dan dilemparkan keatas, ternyata baju tersebut dapat terbang di udara dan selalu menutupi kopiah si pertapa yang menandakan bahwa kesaktiannya lebih unggul dari kesaktian orang Budha itu,tetapi ia belum mau menyerah dan masih akan mempertontonkan lagi kepandaiannya yang berujud menyusun telur setinggi langit. Melihat keadaan tersebut diatas Syekh Maulana Maghribi merasa heran, namun demikian ia tidak mau dikalahkan begitu saja, maka dengan tenangnya diperintahkan kepada si pertapa agar ia mau mengambil telur itu satu persatu dari bawah tanpa ada yang jatuh. Ternyata pertapa itu tidak sanggup melakukannya. Karena si pertapa sudah benar-benar tidak melakukannya hal tersebut, maka Syekh Maulana Maghribi mengambil tumpukan telur tadi dimulai dari bawah sampai selesai dengan tidak ada satupun yang jatuh.<br />
Syekh Maulana Maghribi masih merasa belum puas dan masih meneruskan perjuangannya sekali lagi dengan memperlihatkan pemupukan periuk-periuk berisi air sampai menjulng tinggi. Lalu, Syekh Maulana Maghribi berkata : ‘Ambillah periuk-periuk itu satu demi satu dari bawah tanpa ada yang berjatuhan’. Setelah ternyata tidak ada kesanggupan daari si pertapa, maka beliau sendirilah yang melakukannya dan periuk yang terakhir itu pecah dan airnya memancar kesegala penjuru.<br />
Akhirnya si pertapa yang mengaku bernama ‘Jambu Karang’ (nama tersebut berasal dari pohon sandarannya, yaitu sebatang pohon jambu dimana disekelilingnya terdapat batu-batuan) menyerah kalah serta berjanji akan memeluk agama Islam. Janji tersebut diterima oleh Syekh Maulana Maghribi dan Jambu Karang diperintahkan untuk memotong rambut dan kukunya dan selnjutnya dikubur di ‘Penungkulan’ (tempat dimana si pertapa menyerah kalah). Kemudian dilakukan upacara penyucian dengan air zam-zam yng dibawa oleh Haji Datuk dari Tanah Suci atas perintah Syekh Maulana Maghribi dengan mempergunakan tempat dari bambu (bumbung). Setelah upacara penyucian selesai, bumbung berisikan sisa air disandarkan pada pohon waru, tetap karena kurang cermat menyandarkannya maka robohlah bumbung tadi dan pecah sehingga air sisa tersebut berhamburan dan di tempat tersebut konon kabarnya menjadi mata air yng tidak mengenal kering dimusim kemarau.<br />
Setelah pertapa disucikan menjadi pemeluk agama Islam, maka namanya diubah menjadi ‘Syekh Jambu Karang’. KemudianSyekh Jambu Karang akan mendapatkan wejangan (bai’at), beliau menunjukkan suatu tempat yang serasi dan cocok untuk upacara bai’at tersebut yaitu diatas bukit ‘Kraton’. Sesaat setelah Syekh Jambu Karang menerima wejangan, turun hujan lebat disertai dengan angin ribut yang mengakibatkan pohon-pohon disekeliling tempat itu menundukkan dahan-dahannya seperti sedang menghormati Gunung Kraton yaitu tempat dimana Syekh Maulana Maghribi sedang memberikan wejangan (membai’at) Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim. Menurut hikayatnya, Syekh Jambu Karang mempunyai seorang putri bernama ‘Rubiah Bhakti’ yang dipersunting oleh Syekh Maulana Maghribi, setelah Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim dengan mas kawin berupa mas merah setanah Jawa. Setelah memperistrikan putri Syekh Jambu Karang, Syekh Maulana Maghribi berganti nama menjadi ‘Atas Angin’. Dari perkawinannya tersebut menurunkan lima orang putera dan puteri, yaitu :</strong></p>
<p><strong>1. Makdum Kusen (Makam di Rajawana)<br />
2. Makdum Medem (Makam di Cirebon)<br />
3. Makdum Umar (Makam diKarimun Jawa)<br />
4. Makdum (yang menghilang atau murca)<br />
5. Makdum Sekar (Makam di Gunung Jembangan)</strong></p>
<p><strong>Adapun Syekh Jambu Karang tetap bermukim di Gunung Kraton, dan setelah wafat dimakamkan ditempat itu pula dan tempat pemakamannya disebut ‘Gunung Munggul’ (puncak yang tertinggi didaerah itu).<br />
Syekh Maulana Maghribi yang terkenal dengan ‘Mbah Atas Angin’ selama empat puluh lima tahun bermukim disuatu tempat atau pedukuhan yang bernama ‘Banjar Cahayana’ (mungkin tempat tersebut didiami setelah menemukan cahayanya). Di tempat tersebut Mbah Atas Angin menderita penyakit gatal-gatal yang susah disembuhkan. Hal ini menimbulkan keprihatinan disertai dengan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya diberi rahmat serta berkah terhindar dari penyakitnya itu.<br />
Sesudah sholat Tahajud.dia mendapat Ilham bahwa dia harus pergi ke Gunung ‘Gora’ dimana ia akan mendapatkan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Kemudian pagi-pagi waktu Shubuh Mbah Atas Angin bersama Haji Datuk pergi kearah barat dan pada siang hari sampailah mereka dilereng Gunung Gora. Sesudah sampai di lereng Gunung Gora beliau meminta Haji Datuk untuk meninggalkannya dan beristirahat sambil menunggu di tempat yang datar, sebab Mbah Atas Angin akan meneruskan perjalanannya kearah suatu tempat yang mengepulkan asap. Ternyata disitu ada sumber air panas dan Syekh Maulana Maghribi menyebutnya ‘Pancuran Pitu’ yang artinya sebuah sumber air panas yang mempunyai tujuh mata air. Setiap hari Syekh Maulana Maghribi mandi secara teratur di tempat itu, dengan begitu dia sembuh dari penyakit gatalnya. Sesudahnya beliau memanjatkan do’a syukur kehadirat Illahi serta mengucap syukur bahwasanya ia telah dikaruniai sembuh dari sakitnya yang telah sangat lama dideritanya. Setelah ia kembali ketempat dimana Haji Datuk menunggu, ia berkata : Saksikanlah, saya sekarang telah sembuh dari sakitku dan telah terhindar dari penderitaan. Selanjutnya Dia mengganti nama Gunung Gora itu menjadi ‘Gunung Slamet’. Slamet dalam bahasa Jawa berarti aman. Selama Syekh Maulana Maghribi berobat di Pancuran Pitu, Haji Datuk tetap dan taat menunggu ditempat yang ditunjuk semula dan kepadanya diberi julukan ‘Haji Datuk Rusuladi’. Rusuladi artinya ‘Batur Yang Baik’ (Adi). Dan konon kabarnya tempat tersebut oleh penduduk sekitarnya hingga kini disebut dengan ‘BATURRADEN’.</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mitos Gunung Slamet]]></title>
<link>http://rantauget.wordpress.com/2009/05/16/mitos-gunung-slamet/</link>
<pubDate>Sat, 16 May 2009 11:34:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>Arief Rantau</dc:creator>
<guid>http://rantauget.wordpress.com/2009/05/16/mitos-gunung-slamet/</guid>
<description><![CDATA[Tahukah Kamu &#8211; Rantauget Kearifan lokal Kompas.Com . Dalam perkembangannya, sistem kepercayaan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Tahukah Kamu &#8211; Rantauget</strong></p>
<p><strong>Kearifan lokal </strong></p>
<p><strong>Kompas.Com</strong> . Dalam perkembangannya, sistem kepercayaan masyarakat sekitar Gunung Slamet ini menciptakan kearifan-kearifan lokal untuk menjaga kelestarian alam Gunung Slamet. Tujuannya, agar sang penunggu gunung tidak marah, sehingga mengamuk dengan mengeluarkan material vulkaniknya.</p>
<p>Ketua Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden, Deskart Setyo Djatmiko, mengatakan, kuatnya kepercayaan lokal terhadap kekuatan supranatural Gunung Slamet ini yang membuat kelestarian hutan di Gunung Slamet hingga saat ini masih relatif terjaga. Hutan-hutan di lereng Slamet relatif masih terpelihara dengan baik dibanding kawasan pegunungan lain di Jawa seperti Gunung Merapi, Semeru, maupun Dieng.</p>
<p>Lingkungan alam yang masih relatif alami ini membuat Gunung Slamet sangat menantang untuk pendakian dan wisata petualangan. &#8220;Ketidakhati-hatian, saat memasuki kawasan ini sangat berbahaya. Banyak kasus pendaki tersesat atau meninggal dunia dalam pendakian,&#8221; ujar Djatmiko.</p>
<p>Samsuri (81), juru kunci Gunung Slamet, mengatakan, Gunung Slamet adalah gunung yang wingit. Mendaki gunung ini tidak boleh dilakukan sembarangan. Jiwa yang bersih adalah prasyarat utama sebelum mendaki, agar selamat. &#8220;Jangankan membawa barang curian, punya niat buruk saja, misalnya, mau mengambil benda-benda di gunung ini tanpa izin, bisa celaka. Selama puluhan tahun menjadi juru kunci di gunung ini, banyak kejadian seperti itu,&#8221; tutur Samsuri yang akrab dipanggil Mbah Samsuri oleh warga sekitar.</p>
<p><span style="color:#000000;">Orang tak boleh berbuat sembarangan, seperti menebang pohon atau memakai </span>mata air tanpa izin. Ada tujuh &#8220;penunggu&#8221; gunung ini yang diyakini masyarakat sekitar, yakni Mbah Renti, Mbah Atas Angin, Mbah Tapak Angin, Mbah Semput, Mbah Brantayuda, Mbah Sapujagat, dan Mbah Raga. Jika melakukan sesuatu di gunung ini, harus seizin mereka dan tak melampaui batas.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibu Sabariyah]]></title>
<link>http://trahmochas.wordpress.com/2009/05/06/ibu-sabariyah/</link>
<pubDate>Wed, 06 May 2009 05:08:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abdul Cholik</dc:creator>
<guid>http://trahmochas.wordpress.com/2009/05/06/ibu-sabariyah/</guid>
<description><![CDATA[Ibu Sabariyah adalah anak bungsu Eyang Mochamad Chasan dan Eyang Tuminah . Beliau dilahirkan di Kaum]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-97" title="bu-sabariyah" src="http://trahmochas.wordpress.com/files/2009/05/bu-sabariyah.jpg?w=131" alt="bu-sabariyah" width="131" height="150" />Ibu Sabariyah adalah anak bungsu Eyang Mochamad Chasan dan Eyang Tuminah . Beliau dilahirkan di Kauman Purwokerto pada hari Sabtu tanggal 28-12-1928 malam hari. Putri ke 10 dari pasangan Muhammad Chasan dan Eyang Tuminah ini menghabiskan masa kecilnya dialam penjajahan dalam suasana penuh keprihatinan. Namun semua itu dijalaninya dengan penuh kesabaran yang merupakan refleksi dari namanya :<strong> <em>- Sabariyah -</em></strong></p>
<p style="text-align:left;"><em><br />
</em>Dijajah Belanda &#38; Jepang tidak berarti pasrah dengan keadaan. Sabariyah berusaha menuntut ilmu sesuai kemampuannya. Lebih dari 3 sekolahan telah dilalapnya ( lihat juga profil beliau di Blog Keluarga Sabariyah &#8211; <a href="http://keluargasabariyah.blogspot.com/">http://keluargasabariyah.blogspot.com/</a> )<br />
<!--more--><br />
Semasa sekolah Ibu Sabariyah dengan Soeyitno putra dari Bapak Darono seorang Kepala Stasiun. Pak Soeyitno ini mempunyai seorang kakak bernama Soewarto. Tampaknya hubungan pertemanan antara Ibu Sabariyah dengan Pak Soeyitno akan ditingkatkan menjadi hubungan persaudaraan. Ibu <img class="alignright size-thumbnail wp-image-99" title="ibu-sabariyah-dan-pak-soewarto-waktu-remaja" src="http://trahmochas.wordpress.com/files/2009/05/ibu-sabariyah-dan-pak-soewarto-waktu-remaja.jpg?w=121" alt="ibu-sabariyah-dan-pak-soewarto-waktu-remaja" width="121" height="150" />Sabariyah bertemu dengan Pak Soewarto sekitar tahun 1940 an. Pada tanggal 1 Juni 1950 Ibu Sabariyah menikah dengan Pak Soewarto yang kala itu telah menjadi seorang bintara Polisi Militer. Pernikahan Ibu Sabariyah termasuk melangkahi kakak tercintanya yaitu Bapak Dawoed. Ini memang sudah merupakan janji Bapak Dawoed bahwa beliau akan menikah setelah adik-adiknya mentas dan menikah. Bapak Dawoed baru menikah setelah Ibu Sabariyah mempunyai dua orang putri.</p>
<p>Pasangan Ibu Sabariyah dengan Bapak Soewarto dikaruniai 2 putra dan 4 orang putri.</p>
<p>1. Anita Purwati menikah dengan Brigjen TNI (Pur) Abdul Cholik,M.Sc dan dikarunia 2 orang putri dan 3 orang cucu. (Lihat profil Abdul Cholik di Blog Laskar-74 &#8211; <a href="http://laskar74.blogspot.com/">http://laskar74.blogspot.com/</a> ,atau Blog Mbah Galaxi -http://mbahgalaxi.blog.friendster.com, serta di Blog Disiplin itu indah &#8211; <a href="http://disiplinpentingkok.blogspot.com/">http://disiplinpentingkok.blogspot.com/</a> )</p>
<p>2. Budi Purwanti menikah dengan Kolonel Cpm (Pur) Hendragiri Waspada Jati dan dikaruniai 3 orang putri dan 1 orang cucu.</p>
<p>3. Chris Hary Puryanto. B.Sc menikah dengan Mukhyati,SE dan dikaruniai 2 orang putri dan 1 orang putra.</p>
<p>4. Diah Ayu Puruita menikah dengan Ir. Antono Fajar Satrio ( telah meninggal dunia )</p>
<p>5. Dra. Erna Devi Purbani menikah dengan Drs. Frans Masse Pakpahan, M.Sc dan dikarunai 2 orang putra-putri.</p>
<p>6. Mochamad Agus Fatwa meninggal dunia semasa balita karena sakit.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-100" title="foto-klg-f17" src="http://trahmochas.wordpress.com/files/2009/05/foto-klg-f17.jpg" alt="foto-klg-f17" width="149" height="118" /></p>
<p><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-103" title="fatwa-magus" src="http://trahmochas.wordpress.com/files/2009/05/fatwa-magus.jpg?w=150" alt="fatwa-magus" width="150" height="93" /><br />
Semasa penjajahan Ibu Sabariyah kenyang dengan kegiatan &#8220;mengungsi&#8221;. Tentu pengungsian jaman dulu lain dengan pengungsian jaman sekarang. Dahulu mengungsi berarti long mars, berjalan kaki puluhan kilometer dengan berjalan kaki. Bersama kakak beliau-Pak Ismail- pernah mengungsi menyusuri lereng Gunung Slamet berkilo-kilo meter jauhnya. Ibu Sabariyah juga pernah pontang-ponting bersama kakak pertamanya-Ibu Marsinah diantara suara tembakan musuh sampai beliau terdampar di Stasiun Gubeng-Surabaya. Padahal tujuannya adalah Wonokromo. Beliau bersama Ibu Marsinah dan pengungsi lainnya disuruh segera meninggalkan stasiun Gubeng menuju arah Kapas Krampung yang tentu saja berlawanan arah dengan tujuan semula<em> (lihat Buletin Trah Mochamad Chasan Edisi Perkenalan)</em></p>
<p>Ibu Sabariyah juga pernah mengikuti latihan dasar kemiliteran yaitu sebagai anggota Sukwati sekitar tahun 1966 an.</p>
<p>Sebagai anak bungsu tentu beliau disayangi oleh kakak-kakaknya. Pak Ismail yang bekerja di SDS-Sedajoe Dal Stroom Spoor (Perusahaan Kereta Api milik orang-orang Belanda) dikala libur sekolah mengajak Ibu Sabariyah dan pak Soeroto ( putra Pak Ismail ) nglencer naik kereta api hingga Wonosobo dan Maos.</p>
<p>Uniknya, sebagai anak bungsu dari Eyang Mochamad Chasan beliau mempunyai banyak keponakan yang usianya jauh lebih tua. Mereka adalah Ibu Soemarti, Ibu Soeryati, Ibu Soertinah, Bapak Soeloso,Bapak Soeparjo, Bapak Soeroto,Ibu Sulbiyah,Bapak Hartono,Bapak Soeprapto, dan Ibu Sudinah. Secara bergurau beliau mengatakan:<em>&#8220;Lha wong ibu saya melahirkan dan anaknyapun ada yang melahirkan , jadi ya punya anak dan barengan punya cucu&#8221;.</em></p>
<p style="text-align:left;">Kesabaran Ibu Sabariyah diuji lagi dengan wafatnya Pak Soewarto pada tahun 1983. Kini Ibu Sabariah menetap di Cimahi bersama beberapa putri dan cucunya.</p>
<p style="text-align:center;">
<img class="aligncenter size-full wp-image-101" title="ibu-sabariyah-dan-putra-putri" src="http://trahmochas.wordpress.com/files/2009/05/ibu-sabariyah-dan-putra-putri.jpg" alt="ibu-sabariyah-dan-putra-putri" width="450" height="327" />Ibu Sabariyah bersama putra-putri yang sudah &#8220;mentas&#8221;</p>
<p><em> </em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PENINGKATAN AKTIVITAS GUNUNG SLAMET]]></title>
<link>http://smkdarunnajah.wordpress.com/2009/05/03/peningkatan-aktivitas-gunung-slamet/</link>
<pubDate>Sun, 03 May 2009 16:41:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>dinocerata</dc:creator>
<guid>http://smkdarunnajah.wordpress.com/2009/05/03/peningkatan-aktivitas-gunung-slamet/</guid>
<description><![CDATA[Rabu, 29 April 2009 Status Gunung Slamet meningkat Antisipasi kebakaran, Perhutani siapkan ilaran PU]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Rabu, 29 April 2009</p>
<p align="justify"><span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:small;"><strong>Status Gunung Slamet meningkat<br />
Antisipasi kebakaran, Perhutani siapkan ilaran</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:x-small;"><strong>PURWOKERTO</strong> &#8211; Menyusul peningkatan status Gunung Slamet, pihak Perhutani Jateng dalam waktu dekat ini akan menyiapkan ilaran (parit-parit) sebagai langkah antisipasi terhadap kebakaran yang mungkin ditimbulkan oleh semburan lahar Gunung Slamet.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:x-small;">Penyataan tersebut disampaikan Wakil Kepala ADM Perhutani Jateng, Bambang Budiarto usai menghadiri serah terima jabatan Kepala ADM Perhutani Banyumas Timur di Purwokerto, Selasa (28/4).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:x-small;">Menurutnya, langkah antisipasi ini perlu segera dilakukan, karena jika terjadi kebakaran di hutan milik Perhutani, api akan dengan cepat meluas. Mengingat di wilayah tersebut banyak terdapat semak-semak kering yang mudah terbakar. Terlebih lagi semprotan lahar Gunung Slamet panasnya diperkirakan hingga 300 derajat celcius.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:x-small;">&#8220;Untuk mencegah meluaskan api, jika terjadi kebakaran, kami akan siapkan ilaran di sekitar kawasan hutan. Ilaran ini akan dibuat antara lain di wilayah Perhutani KPH Pekalongan dan Banyumas Timur,&#8221; ujarnya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:x-small;">Bambang menjelaskan, sedikitnya ada 70.000 hektar rimba campur milik Perhutani yang harus diwaspadai jika terjadi semprotan lahar panas dari Gunung Slamet. Sementara untuk memantau perkembangan Gunung Slamet, setiap hari Perhutani mengirimkan tiga petugas untuk memantau kondisi hutan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:x-small;">&#8220;Salah satu efek dari peningkatan status Gunung Slamet ini yang sangat kami khawatirkan adalah jika terjadi kebakaran. Karena kondisi hutan campur yang juga banyak terdapat semak- semak kering sangat rawan terhadap kebakaran. Karena itu kita terus memantau perkembangan dengan mengirimkan tiga petugas setiap harinya, &#8221; katanya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:x-small;">Sementara itu, dalam serah terima jabatan, Kepala KPH Banyumas Timur Subroto Widiatmoko digantikan oleh Andi Wiyono. Sementara kepala KHP Perhutani Banjarnegara, Fauzi Mohammad digantikan oleh Agus Ruhiana. <em>hef-ip</em></span></p>
<p align="justify"><strong>http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&#38;task=view&#38;id=30238&#38;Itemid=53</strong></p>
<p align="justify">
<span class="date">29 April 2009</span><br />
<span class="links2">Baturraden Lebih Rawan Terkena Lava</span></p>
<p><span style="font-weight:bold;">PURBALINGGA</span>- Berdasarkan peta kawasan rawan bencana Gunung Slamet dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, untuk wilayah Bambangan dan sekitarnya diperkirakan relatif lebih aman.</p>
<p>Justru yang lebih rawan adalah daerah Guci (Tegal), Jurangmangu (Pemalang), dan Baturraden. Daerah ini bisa terkena lava, gas beracun, dan awan panas.</p>
<p>’’Kalau melihat peta rawan bencana Gunung Slamet, wilayah Guci, Jurangmangu, dan Baturraden lebih rawan bila dibandingkan wilayah Bambangan dan sekitarnya,’’ kata pengelola Pos Pendakian Gunung Slamet Jalur Bambangan, Sugeng Riyadi, kemarin.<br />
Ada tiga kategori kawasan rawan bencana Gunung Slamet. Pertama kawasan rawan III.</p>
<p>Daerah ini berada pada radius 2 kilometer dan bisa mendapat lontaran batu pijar serta hujan abu lebat.<br />
Kemudian kawasan rawan bencana II berada pada radius 4 kilo meter. Kawasan ini berpotensi terkena hujan abu lebat dan lontaran batu pijar.</p>
<p>Sedangkan kawasan rawan bencana I berada pada radius 8 kilo meter (berpotensi terhadap hujan abu dan kemungkinan dapat terkena lontaran batu pijar.<br />
<br style="font-weight:bold;" /><span style="font-weight:bold;">Ikut Alur Sungai</span></p>
<p>Kondisi itu juga dibenarkan Camat Karangreja, Teguh Purwanto.<br />
Menurutnya, kalau Gunung Slamet mengeluarkan aliran lava pijar, kemungkinan besar akan mengarah ke kawasan Baturraden karena mengikuti alur sungai.<br />
Sedangkan di wilayah Bambangan relatif lebih aman karena hampir tidak ada aliran sungai dari puncak gunung.</p>
<p>Sugeng menambahkan, untuk mengantisipasi dampak terjadinya hujan abu vulkanik, Pemkab Purbalingga melalui Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) telah mengirimkan masker sebanyak 2.000 unit untuk warga Bambangan.</p>
<p>Selain itu juga mengirimkan sejumlah obat-obatan. Sementara itu Mbah Daryono yang sejak Minggu (26/4) malam naik ke puncak gunung didampingi sejumlah warga dan Tim SAR, Senin (27/4) sore sudah kembali turun dengan selamat.</p>
<p>’’Selama mendaki cuaca cerah, sehingga kami dengan mudah mencapai puncak dan turun dengan selamat,’’ ungkapnya.<br />
Slamet, anggota Tim SAR Purbalingga di Pos Bambangan mengatakan, kondisi di puncak gunung suhunya cukup panas akibat awan panas.</p>
<p>Hawa panas itu mulai terasa pada kawasan batas vegetasi.  Selain itu di puncak juga terlihat dengan jelas letupan asap yang disertai dengan batu hingga ketinggiannya mencapai ratusan meter.</p>
<p>’’Lava pijar yang keluar dari kawah terlihat dengan jelas. Lava itu juga disertai dengan lontaran batu hingga ketinggian ratusan meter, namun masih berada di sekitar kawah dan tidak sampai turun,’’ ujarnya.(H48-74)</p>
<p align="justify"><strong>http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&#38;id_beritacetak=61400</strong></p>
<p align="justify">
<span class="date">01 Mei 2009</span><br />
<span class="links4">Deteksi Aktivitas Gunung Slamet</span><br />
<span class="links2">Dipasang, Alat Perekam Gempa Vulkanik</span></p>
<p><span style="font-weight:bold;">PURWOKERTO</span>-Petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung, kemarin memasang seismometer (perekam gempa vulkanik) di Pancuran Pitu Baturraden untuk merekam gempa vulkanik menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Slamet yang kini dalam starus Siaga.</p>
<p>Alat perekam gempa tersebut, selain dipasang di Pancuran Pitu, juga dipasang di Bambangan serta di daerah Guci. Seismometer di Pancuran Pitu dipasang di kawasan hutan berketinggian 900 mdpl.</p>
<p>Menurut Iyan Mulyana, anggota Tim Tanggap Darurat Gunung Slamet dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi seismometer yang dipasang di tiga tempat tersebut merupakan alat tambahan untuk mendukung alat yang sudah di pasang di Pos Gambuhan yang ada di bagian utara</p>
<p>Tiga seismometer itu dipasang di sisi selatan Gunung Slamet di Pancuran Pitu, sisi timur di Bambangan dan sisi barat di Guci. Alat tersebut, akan merekam gempa vulkanik selama aktivitas Gunung Slamet meningkat. Alat ditanam di tanah. Setiap getaran vulkanik sekecil apapun akan terekam. Alat tersebut akan merekam setiap getaran yang terjadi dan datanya akan tersimpan.</p>
<p>’’Setiap beberapa hari sekali akan dicek dan diambil hasil rekaman gempanya. Alat tersebut, akan dipasang hingga aktivitasSlamet kembali pada status normal,’’ jelas Iyan yang didampingi Sudrajat pengamat gunung berapi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.<br />
<br style="font-weight:bold;" /><span style="font-weight:bold;">Sudah Meletus</span></p>
<p>Kedua petugas dari Pusat Vulkanologi mengatakan, dari pengamatan dan rekaman alat yang dipasang menunjukkan bahwa Gunung Slamet sudah meletus. Selama hampir tujuh hari terjadi 300 kali letusan setiap harinya.<br />
’’Kalau melihat kebiasaan letusan Gunung Slamet, material letusan berupa lava dan batu pijar tidak sampai muntah keluar dari kawah.</p>
<p>Material letusan yang keluar jatuh kembali ke kawah. Luas kawah Gunung Slamet mencapai 12 hektare dan membentuk cekungan. Sepanjang kawah yang ada masih bisa menampung material letusan, maka letusan Slamet tidak sampai keluar dari kawah,’’ jelas Sudrajat.</p>
<p>Kalaupun keluar kawah, hanya berupa batu pijar yang jatuhnya pun hanya di puncak gunung, tidak sampai ke hutan lindung. Melihat posisi bibir kawah yang ada di puncak Slamet, bila material letusan sampai muntah dari kawah, yang berpotensi rawan kena awan panas dan muntahan material kawah ada di sebelah barat. Sedangkan untuk hujan abu, kawasan sekitar Gunung Slamet banyak yang terkena karena menyebar ditiup angin.</p>
<p>’’Mudah-mudahan saja material letusan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir masih bia tertampung oleh kawah Gunung Slamet sehingga tidak keluar atau muntah dari kawah,’’ jelasnya. (G23,H48-55)</p>
<p align="justify">
<strong>http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&#38;id_beritacetak=61738</strong></p>
<p align="justify"><span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:x-small;"><em><br />
</em></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peningkatan Status kegiatan Gunung Slamet dari Waspada menjadi Siaga]]></title>
<link>http://gunungslamet.wordpress.com/2009/04/25/peningkatan-status-kegiatan-gunung-slamet-dari-waspada-menjadi-siaga/</link>
<pubDate>Sat, 25 Apr 2009 14:07:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>birukehijauan</dc:creator>
<guid>http://gunungslamet.wordpress.com/2009/04/25/peningkatan-status-kegiatan-gunung-slamet-dari-waspada-menjadi-siaga/</guid>
<description><![CDATA[Diambil dari Badan Geologi Departemen ESDM RI berikut informasi terkini dan berguna tentang Gunung S]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Diambil dari Badan Geologi Departemen ESDM RI berikut informasi terkini dan berguna tentang Gunung Slamet (Per 23 APRIL 2009)<br />
 Langsung Aja:</p>
<p><strong>I. Pendahuluan</strong><br />
Gunungapi Slamet adalah gunungapi strato berbentuk kerucut, dengan tinggi puncaknya 3432 m dpl. Lokasi Gunungapi Slamet secara administratif masuk  ke dalam 5 wilayah Kabupaten yaitu Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Purbalingga, Propvinsi Jawa<br />
Tengah. Secara geografis terletak pada posisi 7o14’30” Lintang Selatan dan 109o12’30” Bujur Timur. Pada tanggal 21 April 2009, pukul 12:00 WIB, dalam status Waspada.<br />
<strong>II. Kegempaan</strong><br />
•  19 April 2009 terekam 49 kejadian Gempa Hembusan (permukaan) dengan amplituda maksimum 3 – 8 mm.<br />
•  20 April 2009, terekam tidak menerus Gempa Tremor Vulkanik dengan amplituda maksimum 0.5 – 1 mm, 97 kejadian gempa hembusan (permukaan) dengan amplituda maksimum 3 – 10 mm dan lama gempa 5 – 15 detik.<br />
•  21 April  2009 mulai pukul  06:15 – 09:25 WIB  terekam secara menerus Gempa  Tremor Vulkanik, dengan amplituda maksimum berkisar antara 0.5 – 10 mm.<br />
•  22 April 2009, terekam 163 kejadian gempa Hembusan (permukaan) dengan amplituda maksimum 3 – 11 mm, lama gempa 5 – 55 detik. Terekam gempa tremor menerus pkl. 00.00 -09.15 WIB dengan amplituda maksimum 0.5 – 1mm dan pkl. 04.15 – 24.00 WIB dengan amplituda maksimum 0.5 – 20 mm.<br />
•  23 April 2009 hingga pkl 16.13 WIB, terekam 52 kejadian Gempa Hembusan (permukaan) dengan amplituda maksimum. 3 – 10 mm dengan lama gempa 5 – 55 detik. Gempa Tremor menerus pkl. 00.00 – 16.13 WIB. Dengan amplituda maksimum 0.5 – 6 mm.<br />
<strong>III. Visual</strong><br />
•  20 April 2009, sejak pukul 21:00 WIB – 24:00 WIB, cuaca cerah, angin tenang, dari  puncak G. Slamet terlihat hembusan asap putih tipis dengan tinggi  ± 50 meter, bertekanan lemah &#8211; sedang.<br />
•  21 April 2009, <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ukul 00.00 – 06:00 WIB, cuaca cerah, angin tenang, dari  puncak G. Slamet terlihat hembusan asap putih tipis dengan tinggi  ± 50 meter. Pukul 06:00  &#8211;  08:00 WIB, cuaca cerah,  hembusan asap putih kecoklatan tebal dengan tinggi ± 50 – 300 m, bertekanan lemah &#8211; sedang, bergerak cenderung ke arah barat . Sejak pukul 08:00 WIB, gunung tertutup kabut.<br />
•  22 April 2009 Pukul 00.00 – 09.00 WIB, cuaca cerah – mendung, angin lemah, asap<br />
putih tipis dengan tinggi  ± 100 meter, bertekanan sedang &#8211; kuat. Pukul 09.00 – 18.00 WIB Gunung tertutup kabut Pukul 18.00 – 24.00 WIB, teramati asap putih tipis &#8211; kecoklatan dengan tinggi  ± 100 &#8211; 800 meter, bertekanan sedang &#8211; kuat.<br />
•  23 April 2009, : Pukul 00.00 – 06:00 WIB, cuaca cerah, angin tenang, dari  puncak G. Slamet terlihat asap putih tebal kecoklatan dengan tinggi  100 – 500<br />
meter, bertekanan kuat.<br />
o<br />
Pukul 06:00  &#8211;  16:13 WIB, cuaca cerah,  asap putih kecoklatan tebal<br />
dengan tinggi 100 – 800 m, bertekanan kuat, bergerak cenderung ke<br />
arah barat.<br />
IV. Suhu Air Panas<br />
•  17 April 2009 pukul  08:30 WIB, pengukuran temperatur air panas masing-<br />
masing  di Pandansari  ± 42.2  °C.  dan  di Pasepuhan  ± 61.6  °C<br />
•  21 April 2009 pukul 10:30 WIB, pengukuran temperatur air panas masing-<br />
masing di Pandansari ± 45,7 °C dan di Pasepuhan ± 63 °C.<br />
•  22 April 2009, Pengukuran temperatur air panas masing-masing di<br />
Pandansari ± 43,9 °C dan di Pasepuhan ± 63.9 °C.<br />
V. Kesimpulan<br />
•  Terjadi peningkatan kegiatan G. Slamet yang ditandai oleh peningkatan<br />
Gempa Permukaan dan Gempa Tremor Vulkanik, temperatur air panas dan<br />
kejadian letusan asap.<br />
•  Berdasarkan data  visual, kegempaan dan temperatur air panas maka<br />
terhitung<br />
sejak 23 April  2009, pukul 18:00 WIB, status G. Slamet dinaikan<br />
dari WASPADA (Level II) menjadi SIAGA (Level III).<br />
Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi kegiatan G. Slamet<br />
dan kami  tetap berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat. Apabila<br />
aktivitas G. Slamet  kembali menurun atau meningkat, maka status G.Slamet,<br />
diturunkan atau dinaikan kembali, sesuai dengan tingkat kegiatannya.<br />
VI. Bahaya Letusan<br />
Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental, maka potensi bahaya<br />
letusan Gunungapi Slamet adalah sebagai berikut:<br />
•  Berpotensi terlanda hujan abu di Kecamatan Bojong dan Kecamatan<br />
Bumijawa, Kabupaten Tegal.<br />
•  Berpotensi hujan abu di Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.<br />
 •  Abu letusan dapat merusak tanaman, jika terhirup oleh manusia dapat<br />
menyebabkan insfeksi saluran pernapasan atas (ISPA).<br />
VII. Rekomendasi<br />
Sehubungan dengan peningkatan status G. Slamet menjadi<br />
Siaga (Level III)<br />
,<br />
kami merekomendasikan sebagai berikut :<br />
•  Tidak melakukan pendakian ke puncak  G. Slamet.<br />
•  Jika terjadi hujan abu lebat, masyarakat dianjurkan menggunakan masker<br />
penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran<br />
pernapasan<br />
•  Belum perlu dilakukan pengungsian<br />
•  Jika terjadi hujan abu lebat penduduk harap menutup sumber air agar tidak<br />
tercemar abu vulkanik.<br />
•  Pemerintah Daerah hendaknya mensosialisaikan rekomendasi ini kepada<br />
masyarakat di sekitar G. Slamet<br />
•  Masyarakat di sekitar G. Slamet diharap tenang dan tetap Siaga, tidak<br />
terpancing isyu-isyu tentang letusan G. Slamet. Pusat Vulkanologi dan<br />
Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Propinsi<br />
Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten (Pemalang, Banyumas, Brebes,<br />
Tegal, Purbalingga) tentang aktivitas G.Slamet. Masyarakat harap selalu<br />
mengikuti arahan dari aparat Pemerintah Daerah.<br />
•  Pemerintah Daerah senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan<br />
G. Slamet  di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang<br />
atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.<br />
(<br />
Hasil evaluasi kegiatan G.Slamet ini dapat di “<br />
down-load<br />
” di</p>
<p>http://www.vsi.esdm.go.id).</p>
<p>Demikian kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.<br />
a.n. Kepala Badan Geologi,<br />
Kepala Pusat Vulkanologi<br />
dan Mitigasi Bencana Geologi<br />
Dr. Surono<br />
NIP 100008418</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Informasi terkini seputar gunung slamet]]></title>
<link>http://gunungslamet.wordpress.com/2009/04/25/informasi-terkini-seputar-gunung-slamet/</link>
<pubDate>Sat, 25 Apr 2009 13:37:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>birukehijauan</dc:creator>
<guid>http://gunungslamet.wordpress.com/2009/04/25/informasi-terkini-seputar-gunung-slamet/</guid>
<description><![CDATA[blog ini akan memberikan anda sebisa mungkin informasi terkini tentang perkembangan gunung slamet ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>blog ini akan memberikan anda sebisa mungkin informasi terkini tentang perkembangan gunung slamet yang sekarang sedang mulai bergejolak atau terjadi peningkatan aktivitas vulkanik</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Masyarakat lalai, Gunung Slamet siap berteriak]]></title>
<link>http://rantauget.wordpress.com/2009/04/24/gunung-slamet/</link>
<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 15:07:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Arief Rantau</dc:creator>
<guid>http://rantauget.wordpress.com/2009/04/24/gunung-slamet/</guid>
<description><![CDATA[Kabar Sweeru &#8211; Rantauget KOMPAS.com- SETELAH sekian lama tidur, Gunung Slamet kembali membahan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Kabar Sweeru &#8211; Rantauget</p>
<p></strong></p>
<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-642" title="gunung-slamet" src="http://rantauget.wordpress.com/files/2009/04/gunung-slamet.jpeg" alt="gunung-slamet" width="150" height="113" />KOMPAS.com-</strong> SETELAH sekian lama tidur, Gunung Slamet kembali membahana. Meningkatnya aktivitas vulkanik gunung tertinggi kedua di Jawa itu seolah mengingatkan bahwa alam pun memiliki dunia pikir dan tindak terkait hubungan mereka dengan kehidupan manusia di sekitarnya. Sebuah dunia yang semestinya dimaknai positif agar manusia kembali sadar akan pentingnya menjaga keseimbangan alam.</p>
<p>Gunung Slamet merupakan gunung api dengan bentang terluas di Jawa. Berdiri kokoh di empat wilayah kabupaten di Jawa Tengah bagian barat, yakni Banyumas, Purbalingga, Pemalang, dan Tegal, gunung ini mempunyai posisi yang sangat penting secara kosmologis, geografis, budaya, sosial, ekonomi, hingga historis bagi wilayah-wilayah di sekitarnya.</p>
<p>Dari gunung setinggi 3.432 meter di atas perm ukaan laut itu bermula ratusan, bahkan ribuan sumber air yang bermanfaat bagi kehidupan di bawahnya. Ribuan sumber air inilah yang menghubungkan Slamet dengan simbol kosmologi lain masyarakat di bawahnya, yakni bengawan dan laut.</p>
<p>Ke arah selatan, Gunung Slamet dihadapkan secara alam dengan Sungai Serayu yang berkelok laksana ular raksasa dan mengalir ke laut selatan, Samudera Indonesia. Hubungan keduanya bak sintesa dan antitesa yang saling memengaruhi. Hubungan yang berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia di sekitarnya.</p>
<p>Ke arah utara, Gunung Slamet berhadapan dengan wilayah pantai utara. Hampir semua anak sungai yang mengalir melalui Tegal dan Brebes menuju pantai utara bersumber dari Gunung Slamet.</p>
<p>Pada sumber-sumber air inilah beraneka macam kehidupan dan penghidupan manusia di lereng Slamet hingga yang jauh di ujung muara bergantung seperti irigasi persawahan, air bersih, peternakan, perikanan darat, hingga pariwisata.</p>
<p>Bukan hanya di zaman modern, sejak zaman purba ketergantungan terhadap alam Slamet ini sudah terjadi. Perasaan masyarakat setempat dan peran yang ada pada gunungnya dalam sistim kepercayaan dan kehidupan masyarakat pun memengaruhi cara pandang mereka memahami alam sekitarnya.</p>
<p>Orang sekitar pun percaya gunung ini adalah tempat sakral dan didiami oleh makhluk halus, roh-roh leluhur, atau dewa. Kosmologi semacam itu menempatkan Slamet pada posisi yang sangat penting dalam penciptaan keseimbangan alam. Dan, gunung menjadi kosmos hidup yang memiliki daya magis besar.</p>
<p>Daya magis Slamet ini pula yang konon membuat pasukan Majapahit senantiasa menghindari melalui wilayah kaki gunung Slamet untuk menembus batas wilayah Pajajaran di masa jayanya dulu. Konon, di zaman itu, Gunung Slamet banyak dihuni para pendeta Bhairawa, sekte dalam ajaran Hindu yang memuja Durga. Jin, setan, dhemit, pripayangan, dipercayai banyak bersemayam di wilayah sekitar gunung di atas Kadipaten Pasirluhur ini dulunya.</p>
<p>Orang Majapahit lebih memilih lewar Caruban Larang (kini Cirebon dan Brebes) di utara atau Kabumian (Kebumen) di selatan. Tak pelak, Banyumas dan Purbalingga pun menjadi wilayah mancanegara bagi Majapahit dan Pajajaran karena tak tersentuh.</p>
<p>Hal ini berdampak kepada tumbuh berkembangnya budaya khas masyarakat Jawa di lereng Gunung Slamet yang berbeda dengan Jawa <em>mainstream</em>, seperti dialek ngapak, karakter masyarakatnya yang terbuka atau blakasuta, hingga kesenian tradisional yang tak ditemukan di Jawa bagian timur.</p>
<p>baca juga : <em>Selengkapnya </em><br />
<a href="http://rantauget.wordpress.com/?p=655">ALih fungsi Hutan</a><br />
<a href="http://rantauget.wordpress.com/?p=646">Mitos Gunung Slamet</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[GUNUNG SLAMET MELETUS]]></title>
<link>http://kontansukses.wordpress.com/2009/04/23/gunung-slamet-meletus/</link>
<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 11:29:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>Risno</dc:creator>
<guid>http://kontansukses.wordpress.com/2009/04/23/gunung-slamet-meletus/</guid>
<description><![CDATA[Abu Vulkanik menyembur dari kawah Gunung Slamet Tampak asap tebal keluar dari kawah Gunung Slamet, k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'></p>
<div class="mceTemp">
<dl class="wp-caption alignnone">
<dt class="wp-caption-dt"></dt>
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://www.Mandiripro.com/?id=kontani"><img class="size-medium wp-image-13" title="gunung-slamet-tampak-dari-timur" src="http://kontansukses.wordpress.com/files/2009/04/gunung-slamet-tampak-dari-timur.jpg?w=300" alt="Asap keluar dari Gunung Slamet" width="445" height="308" /> </a></dt>
<dt class="wp-caption-dt">Abu Vulkanik menyembur dari kawah Gunung Slamet </dt>
</dl>
</div>
<p>Tampak asap tebal keluar dari kawah Gunung Slamet, kali ini berbeda dari biasanya asap yang keluar lebih tebal di sertai hujan abu. Gambar di ambil pada hari Kamis Pukul 17:30 WIB dari sebuah lokasi di Dusun Krete Desa Siwarak Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah.</p>
<p>Pihak berwenang setempat memberlakukan status <a href="http://www.tvone.co.id/berita/view/12119/2009/04/21/badan_geologi_tingkatkan_status_gunung_slamet">waspada</a> dan menutup sementara ijin pendakian. Penduduk sekitar juga menemukan lapisan abu di atas dedaunan semenjak dua hari yang lalu. Kejadian seperti ini jarang di temui akhir-akhir ini dan penah terjadi pada tahun 1980-an.</p>
<p>Belum di pastikan apakah aktifitas Gunung  Slamet ini akan meningkat dan membahayakan atau meletus, kita berdoa saja semoga itu tidak terjadi.</p>
<p><a href="http://www.Mandiripro.com/?id=kontani"></p>
<p>   <img border="0" src="http://mandiripro.com/images/bannerkecil2.gif" width="125" height="125"> <a href="http://www.Asiabersama.com/firsty"></p>
<p>   <img border="0" src="http://mr.denny.ganteng.googlepages.com/bannersejutal.gif" width="125" height="125"></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gunung Slamet .... AKTIF !!!]]></title>
<link>http://ongrosyadi.wordpress.com/2009/04/23/gunung-slamet-aktif/</link>
<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 05:34:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ong Rosyadi</dc:creator>
<guid>http://ongrosyadi.wordpress.com/2009/04/23/gunung-slamet-aktif/</guid>
<description><![CDATA[Foto Gunung Slamet tadi pagi seempat mengeluarkan asap dari kawahnya terlihat mengepul dari jauh ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Foto Gunung Slamet tadi pagi seempat mengeluarkan asap dari kawahnya terlihat mengepul dari jauh ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Slamet Xpedition]]></title>
<link>http://bongo90.wordpress.com/2009/03/07/slamet-xpedition/</link>
<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 10:47:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ariff</dc:creator>
<guid>http://bongo90.wordpress.com/2009/03/07/slamet-xpedition/</guid>
<description><![CDATA[gunung slamet Sebenernya perjalanan ini waktu saya kelas 3 STM SMK (saya ga prnh SMA ). Perjalanan i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[gunung slamet Sebenernya perjalanan ini waktu saya kelas 3 STM SMK (saya ga prnh SMA ). Perjalanan i]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gunung Slamet Purwokerto Central Java]]></title>
<link>http://banyumasart.wordpress.com/2009/02/18/gunung-slamet-purwokerto-central-java/</link>
<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 03:47:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>dyandepe</dc:creator>
<guid>http://banyumasart.wordpress.com/2009/02/18/gunung-slamet-purwokerto-central-java/</guid>
<description><![CDATA[Slamet mountain is a mountain located in the district Purbalingga, Brebes and Banjarnegara. Precisel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="aligncenter size-full wp-image-34" title="94944962" src="http://banyumasart.wordpress.com/files/2009/02/94944962.jpg" alt="94944962" width="450" height="277" /></p>
<p>Slamet mountain is a mountain located in the district Purbalingga, Brebes and Banjarnegara. Precisely in the west of the city and the North Purbalingga Purwokerto city in the height of this mountain to reach 3432 m dpl and including the highest volcano in Java has 4 units with the active crater, located in the peak, so it is recommended to climb the peak before 10 o&#8217;clock the morning to avoid the gas toxic. Peak can be seen from the mountains in central java, such as mountain Sumbing, Sindoro, Merbabu, even if Merapi are can see the bright mountain Lawu.</p>
<p>In the months in a certain mountain weather is very extreme and often occur in the storm peak, with the temperature down drastically mengantisipasinya do not forget to bring warm clothes, rain jacket and sleeping bag that is not affected hipotermia if you want to climb this mountain. Some routes are very steep incline and on the rainy season, the climb becomes more serious because the path is filled by water.</p>
<p>Some people believe that it is the center of Mount Slamet from Java. They also mention the name of this mountain mountain Lanang. Moreover, they also believe that this mountain is a mountain that haunted, inhabited by many of being smooth. Apart from the myths and beliefs that have, this mountain is a beautiful mountain, especially in the area before Pelawangan peak.</p>
<p>There are several entrances to climb this mountain, namely through Bambangan, Batu Raden, Kaliwadas and Randudongka. But it is through authorized channels Bambangan, the other channels have been closed for safety. Met at the entrance through Bambangan enough variety, from the entrance of the plantation dominate travel route, and switch to the tropical rain forest, near the top of the switch with a scrub bush, and the peak form of stones and sand. Path that be quite difficult with an average slope of more than 400.</p>
<p>Climbing routes</p>
<p>Channel Bambangan:<br />
Bambangan is a village located on the slopes of Mount Slamet.<br />
From this village to post the first through the vegetable crops that are still with the motor can be up to the post Pesanggrahan Perum Perhutani Serang, after the journey must proceed on foot. Usually climber launch trip in the afternoon to avoid the summer sun sengatan when running garden the open.</p>
<p>Ds. Bambangan -&#62; Serang -&#62; Mount Malang-&#62; Pondok Gembirung -&#62; Pondok Walang -&#62; Pondok Cemara -&#62; Samarantu -&#62; Samyang Rangkah -&#62; Samyang Ketebonan -&#62; Batur -&#62; Samyang Jampang -&#62; Samyang girdle -&#62; Pelawangan -&#62; Peak</p>
<p><em>source : Gaspala</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
