<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>habatahon &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/habatahon/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "habatahon"</description>
	<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 02:29:10 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Video - Cruisin' Around The Heart Of Eden]]></title>
<link>http://tongginghill.wordpress.com/2008/07/15/cruisin/</link>
<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 15:02:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>Si Pikki</dc:creator>
<guid>http://tongginghill.wordpress.com/2008/07/15/cruisin/</guid>
<description><![CDATA[Ini adalah video perjalanan ke Samosir pada bulan February 2008 bersama Bismark Sianipar (abangku), ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ini adalah video perjalanan ke Samosir pada bulan February 2008 bersama Bismark Sianipar (abangku), Suhunan Situmorang (penulis/pengacara), Charlie Sianipar (fotografer/pengusaha), Laurent Horas Petricola (laeku) dan Ganda Simanjuntak (donganhu) dalam rangka sosialisasi TobaDream Conservation Program (TCP) di desa Martoba, Simanindo. Kenapa aku gak ada gambarnya? Well, I&#8217;m the camera man!<!--more--> <strong></strong></p>
<p><strong>Part 1</strong> <span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/m1EILIDJW30&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/m1EILIDJW30&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span>  <strong></strong></p>
<p><strong>Part 2</strong> <span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/nn4qtKfxRfM&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/nn4qtKfxRfM&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sitti Djaoerah, Potret Perempuan Batak Yang Independen (2)]]></title>
<link>http://tobadreams.wordpress.com/2008/05/24/sitti-djaoerah-potret-perempuan-batak-yang-independen-2/</link>
<pubDate>Fri, 23 May 2008 20:55:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>tobadreams</dc:creator>
<guid>http://tobadreams.wordpress.com/2008/05/24/sitti-djaoerah-potret-perempuan-batak-yang-independen-2/</guid>
<description><![CDATA[…perlu diperhatikan apa yang berlangsung pada tahun 1920-an hingga 1930-an di rantau, seperti di Del]]></description>
<content:encoded><![CDATA[…perlu diperhatikan apa yang berlangsung pada tahun 1920-an hingga 1930-an di rantau, seperti di Del]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ternyata Batak Itu Keren!]]></title>
<link>http://tongginghill.wordpress.com/2008/05/05/ternyata-batak-itu-keren/</link>
<pubDate>Sun, 04 May 2008 18:27:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>Si Pikki</dc:creator>
<guid>http://tongginghill.wordpress.com/2008/05/05/ternyata-batak-itu-keren/</guid>
<description><![CDATA[Aku ingin share sedikit tentang pengalamanku dulu jadi orang yang anti Batak. Memalukan sih, tapi mu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Aku ingin share sedikit tentang pengalamanku dulu jadi orang yang anti Batak. Memalukan sih, tapi mungkin dapat bermanfaat untuk anak muda Batak kelahiran Jakarta yang lain.<!--more-->Sejak kecil (hingga sekarang) aku tinggal di daerah pemukiman kampung Betawi di bilangan Jakarta Selatan, di sebuah gang semit yang rumahnya kecil-kecil dan saling berdempetan satu dengan lainnya.</p>
<p>Bahasa pengantar kami sehari-hari di rumah adalah Bahasa Indonesia. Walaupun ibuku orang Sunda, namun dia pandai sekali berbahasa Batak. Ayah dan ibuku berbahasa Batak hanya jika ada hal-hal rahasia yang mau dibicarakan diantara mereka supaya anak-anaknya tidak bisa mengerti.</p>
<p>Karena keterbatasan dana orang tua pada saat itu aku disekolahkan di satu sekolah dasar swasta dekat rumah yang mayoritas murid-muridnya juga penduduk sekitar. Tidak ada orang Bataknya sama sekali.</p>
<p>Ketika teman-temanku mengetahui bahwa aku ini orang Batak, aku mulai diejek-ejek dengan menirukan gaya bicara seperti logat Batak yang ada media-media elektronik itu. Awalnya aku cuek aja, tapi lama-lama jengkel juga. Aku coba cari cara untuk membela dengan berusaha mencari sesuatu yang dapat dibanggakan dari suku Batak. Dengan segala keterbatasan pengetahuanku, aku tidak mendapatkannya. Pada saat itu yang kutahu tentang Batak adalah pesta Bona Taon yang lama dan membosankan, cara bicara saudara-saudara dari Medan yang keras dan cenderung kasar, musik tolu batu dengan vokal trio yang melengking-lengking, pesta adat perkawinan yang penataan makanannya jorok membuatku mual setiap kali menghadirinya.Jadi apa yang dapat kubanggakan dari Batak untuk bikin teman-temanku&#8221;ange&#8221;. Gak Ada!</p>
<p>Aku pun jadi kaum minoritas di sekolah. Dan aku benci itu. Alhasil aku menjadi sulit bergaul. Pernah suatu saat aku lewat di tengah halaman sekolah yang ramai, salah satu kakak kelas berteriak mengejeku, &#8220;woi, Batak.. mau kEmana kau? mEnarik MEtro Mini ya..Gorogol! TEbEt!&#8221; Semua anak di halaman itu tertawa terbahak-bahak sambil melihat kearahku. Aku malu sekali saat itu.</p>
<p>Mulai saat itu, bagiku kata &#8220;Batak&#8221; adalah hinaan. Aku pun mulai menyesali kenapa aku dilahirkan jadi orang Batak. Sejak saat itu, aku menyebut diriku orang Jakarta. Toh aku lahir dilahirkan di kota ini. Akupun tidak pernah lagi mau mencantumkan marga dibelakang namaku.</p>
<p>Di masa SMA, aku bersekolah di sekolah Katholik yang mayoritas Cina. Hal serupa terjadi lagi. Ada guru Sejarah bernama Pak Giyanto yang sangat kagum pada orang Batak. Setiap masuk kelas pertama kali, beliau selalu mencari orang Batak, &#8220;ada si ucok disini?&#8221; Aku takut sekali dan tidak mau mengangkat tanganku. Tetapi karena teman-teman satu kelas menolehkan pandangannya ke arahku, mau tidak mau akupun mengangkat tangan. Kembali aku jadi bahan pembicaraan orang banyak. Menyebalkan! Semakin besarlah rasa maluku menjadi orang Batak. Sampai-sampai pernah aku naksir cewe namun langsung <em>hilfil</em> begitu tau cewe itu boru Batak. (itu dulu lho&#8230;.)</p>
<p>Untung saja di masa itu aku anak band yang sering tampil di acara-acara pensi sekolah, jadi masih banyak juga teman-teman yang respek denganku, terutama cewe-cewenya..hehehe. Untungnya lagi, teman-teman Cinaku tidak masalah dengan kebatakanku. Jadinya pada saat itu aku lebih nyaman bergaul di komunitas Cina daripada pribumi. Aku pun selalu menghindar dari punguan naposo marga dan menghindar di setiap pembicaraan-pembicaraan tentang Batak.</p>
<p>Jadilah aku anak muda Batak yang terlepas dari akarnya. Sok menjadi orang Amerika. Padahal orang Amerika sendiri tidak menganggap aku bagian dari mereka. Mengambanglah aku ditengah-tengah Seperti rumput Danau Toba yang putus dari akarnya. Mengapung-apung di permukaan air terbawa arus. Kadang dia terbawa ke Balige, kadang terbawa ke Tongging, kadang terbawa ke Pangururan, sampai lama kelamaan busuk sendiri.</p>
<p>Selepas SMA, aku menjadi pemain band kafe di bilangan kemang dan menteng dan sangat fanatik dengan lagu-lagu barat modern, yang kemudian rekaman album pop/rock Indonesia.</p>
<p>Di tahun 2000, ayahku minta aku untuk mengaransemen lagu Batak &#8220;Anakku Na Burju&#8221;. Jelaslah kutolak mentah-mentah. Setauku lagu Batak itu sangatlah kampungan. Dengan pembagian suara &#8220;do mi sol&#8221;, selalu bervibrasi over dan melengking, kord apa adanya, dan hal-hal jelek lainnya. Mendengarnya saja aku sudah mau muntah. Kalau aku bikin lagu Batak, apa kata dunia nanti&#8230; bisa malu lah aku. Namun ayahku tetap membujuk-bujuk terus tanpa henti-hentinya. Aku baru mau mengerjakannya setelah di janjikan ayahku akan di belikan peralatan rekaman digital yang baru, digital Sequencer Roland VS-880. Maka kukerjakanlah aransemen lagu &#8220;Anakku Na Burju&#8221; dengan malas-malasan. Tak pernah kudengarkan hasil aransemen itu setelah selesai. Namun ayahku sangat menyukainya. CDnya itu diputarnya berulang-ulang di kantor dan di mobil.</p>
<p>Di tahun 2001, ayahku dengan Yayasan Perhimpunan Pencinta Danau Toba (YPPDT) membuat suatu konser musik &#8220;Save Lake Toba&#8221; dalam rangka kampanye lingkungan Danau Toba yang sudah rusak. Mereka membuat konsep konser musik untuk anak muda. Dimintanyalah aku sebagai music directornya. Kembali aku menolak habis-habisan. Apa kata kawan-kawanku nanti, si Viky konser lagu Batak. Matilah aku!</p>
<p>Karena dibujuk terus oleh ayahku dan show directornya, Toni Sianipar, akhirnya akupun mau menerima jabatan itu dengan syarat dibayar secara professional. Mulailah aku mengeksplor lagu Batak dengan perasaan jijik pada awalnya.</p>
<p>Lagu pertama yang kubuat adalah &#8220;O Tano Batak&#8221;. Aku tau ini lagu kebangsaannya orang Batak. Kubuatlah lagu itu dengan irama Rock sebagai rasa protesku, dengan harapan aku langsung dipecat. Ternyata dugaanku salah. Mereka malahan menyukainya (<a title="Dengar O Tano Batak" href="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/05/o-tano-batak.mp3" target="_self">Itulah aransemen O Tano Batak di TobaDream 1</a>).</p>
<p>Dengan jengkel ku kerjakan lagi lagu kedua yaitu &#8220;Tano Toba&#8221;-nya Christine Panjaitan. Aransemen seperti <a title="Tano Toba - Christine Panjaitan (YouTube.com)" href="http://www.youtube.com/watch?v=i6iN51kROVI" target="_blank"><strong>ini</strong></a> yang diperdengarkannya padaku. Mendengarkan intronya saja aku sudah tertawa terbahak-bahak. Dengan semangat protesku kubuatlah aransemennya sesuai seleraku. Aku tidak memikirkan maksud dan tujuan lagu tersebut. Setelah mendengar hasilnya, mereka kembali suka sekali dengan aransemennya, malahan jadi terharu. (<a title="Dengar Tano Toba" href="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/05/tano-toba.mp3" target="_self">aransemen Tano Toba itulah yang juga ada di Tobadream1</a>).</p>
<p>Aku jadi bingung. Begitu juga lagu karo &#8220;Terang Bulan&#8221; yang kubikin sedikit kocak dan &#8220;bluesy&#8221;. Amang Tarkelin Tarigan, salah satu produser konser &#8220;Save Lake Toba&#8221; sangat menyukainya. Usahaku supaya dipecat gagal total. Lanjutlah aku mengerjakan lagu-lagu yang lain sebanyak 18 buah lagu.</p>
<p>Aku jadi stress dan jadi bosan mengaransemen lagu Batak. Untuk menghindari kebosanan, aku minta ikut berangkat dengan tim audio visual yang hendak membuat video footage ke Danau Toba. Aku sudah sering ke Danau Toba sewaktu kecil namun hanya seputar Parapat dan Tuktuk. Kali ini kami pergi ke Sidikalang, Tele, Simanindo, Simarjarunjung, dan Tongging. Selama perjalanan itu barulah kulihat Danau Toba yang sebenarnya. Betul-betul aku takjub akan keindahannya.</p>
<p>Di Tongging, kami naik ke satu bukit tertinggi disana. Tidak sembarang dapat naik kebukit itu. Kebetulan salah satu dari tim audio visual adalah menantu dari marga Silalahi, salah satu pemilik tanah di bukit tersebut. Jadi kami diperbolehkan naik keatas bukit dengan mengendarai mobil garden dobel.</p>
<p>Di puncak bukit yang sangat tinggi itu aku duduk sendirian. Dari sana, hampir seluruh danau indah itu kelihatan. Bahkan samar-samar aku dapat lihat pesisir pantai Balige. Sungguh menakjubkan. Aku memandang jauh ke bawah, ke huta Tongging yang tenang dan damai, seolah tidak perduli akan pergolakan dunia luar. Kubayangkan lah dulu nenek moyangku berjalan di bawah sana, bertani, bersendra gurau, martandang, dll. Sungguh mataku tak berkedip sedikitpun menatap pemandangan yang sungguh luar biasa indah itu. Barulah kutemukan pertama kali yang dapat dibanggakan dari orang Batak, yaitu keindahan kampungnya. Sayang teman-teman SDku itu tidak ada disini. Mereka pasti akan menyesal kenapa tidak dilahirkan sebagai orang Batak.</p>
<p>Sementara tim audio visual sibuk melakukan tugasnya, aku tetap duduk di puncak bukit itu seorang diri menikmati kampung halaman leluhurku yang menakjubkan itu. Sekilas terngiang alunan-alunan nada indah di benakku yang langsung memicuku untuk memainkan musik. Sayang aku tidak membawa alat musik apapun saat itu.</p>
<p>Barulah aku mengerti saat itu, mengapa banyak seniman besar lahir dari tempat ini. Danau Toba memang telah banyak menginspirasikan manusia-manusia besar Batak. Disanalah pertama kali timbul kebanggaanku menjadi orang Batak. Melalui alam yang indah, seakan Tuhan memberikan berkat yang luar biasa terhadap orang Batak. Kukira Tuhan hanya tersenyum waktu menciptakan tanah Sunda. Rupanya Dia menciptakan Danau Toba bahkan dengan tawa ceria.</p>
<p><a href="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/05/tongginghilll.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-116" src="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/05/tongginghilll.jpg" alt="" width="497" height="221" /></a></p>
<p>Walaupun sejak kecil sudah sering ke Parapat dan Tuktuk, aku merasakan seperti jatuh cinta pada pandangan pertama pada Danau Toba. Itulah sebabnya aku menciptakan lagu <a title="Lihat Video Klip Tongginghill" href="http://www.youtube.com/watch?v=2Xjd3Kiz8lI" target="_self">Tongging Hill</a>, bukit impianku di Tongging. Lagu itu menceritakan tentang seorang putra daerah yang pulang kampung untuk pertama kali dan jatuh cinta pada tanah leluhurnya itu. Itu juga kata-kata pertama yang terlintas di benakku sewaktu membuat url address blog ini.</p>
<p>Sepulangnya ke Jakarta, kulanjutkan pekerjaanku dengan penuh sukacita. Dengan penuh bangga menjadi orang Batak. Aku jadi makin semangat mengeksplor alat musik tradisional Batak seperti Taganing, Sarune, Sulim, Hasapi, dll.</p>
<p>Singkat cerita, konser &#8220;Save Lake Toba&#8221; itupun sukses besar. Aku semakin ketagihan untuk mengenal musik dan lagu-lagu Batak yang lain. Bahkan aku jadi malas untuk main lagu-lagu pop Indonesia lagi, karena ketagihan dengan musik dan lagu Batak. Ternyata lagu-lagunya pun luar biasa keren-keren. Lirik dan notasinya dahsyat. Tidak kalah dengan lagu-lagu barat.</p>
<p>Maka resmilah aku jadi orang Batak LAGI tahun 2002. Ternyata Batak itu keren choi&#8230;!!!<br />
(cerita ini berhubungan ke The Journey part 1 dan part 2)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Injil dan Adat Batak ]]></title>
<link>http://paultobing.wordpress.com/2008/04/23/injil-dan-adat-batak-dicapture-httpmanikwebid/</link>
<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 12:41:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>paultobing</dc:creator>
<guid>http://paultobing.wordpress.com/2008/04/23/injil-dan-adat-batak-dicapture-httpmanikwebid/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Henry James Silalahi (dari buku : Injil dan Adat Batak) Struktur Dalihan Na Tolu menempatkan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Oleh : Henry James Silalahi (dari buku : Injil dan Adat Batak)</p>
<p>Struktur Dalihan Na Tolu menempatkan seseorang sebagai wakil dari roh-roh sembahan leluhurnya. Hulahula mewakili Batara Guru, Dongan Sabutuha mewakili Mangala Sori, dan Boru mewakili Mangala Bulan. Prinsip perwakilan ini dapat kita bahas dari istilah “representation” yang dipakai oleh DR. Philip. O. Tobing di dalam menjelaskan hubungan Dalihan Na Tolu, dengan dunia dewa orang Batak.<br />
<a id="more-33"></a><!--more--><br />
Apakah artinya “mewakili” itu? Kamus Webster mendefinisikan representation sebagai to present again (menyajikan atau memperkenalkan kembali, atau dapat pula diartikan “re-present” someone (menghadirkan seseorang kembali). Wakil adalah seseorang yang menghadirkan kembali pribadi dan kehendak orang yang diwakilinya. Contohnya, Hulahula merupakan wakil dari Batara Guru, berarti dialah yang menghadirkan pribadi dan kehendak roh Batara Guru di dunia (banua tonga).</p>
<p>Status hulahula sangat penting sekali dalam kehidupan orang Batak, karena seluruh berkat yang berada di alam semesta turun melalui Batara Guru. Batara Gurulah yang menjadikan segala jenis tumbuhan dan hewan yang ada di muka bumi. Batara Gurulah yang memiliki hikmat kebijaksanaan (hahomion) Debata. Sebagai masyarakat agraris, yang hidup dari hasil pertanian dan peternakan yang digarap secara sederhana, maka keberhasilan dalam kedua bidang usaha ini menjadi sangat penting. Hal ini sesuai dengan ungkapan Batak: “gabe na niula, sinur pinahan”. Keberhasilan dalam kedua bidang usaha ini, sangat tergantung kepada berkat yang turun dari Batara Guru.</p>
<p>Karena itu, berkat dari roh sembahan ini sangat penting bagi keberhasilan orang Batak dalam segala usaha yang dikerjakannya. Karena Hulahula merupakan orang yang mewakili Batara Guru untuk memberkati manusia, maka peranannyapun menjadi penting sekali. Segala kemuliaan, kekayaan, dan keberhasilan dalam usaha didapatkan didapatkan oleh orang Batak melalui berkat Debata yang diturunkan dengan perantaraan hulahula. Hulahula meru pakan sumber berkat dan tuah kehidupan (pangalapan pasupasu, pangalapan tua).</p>
<p>Karena itu orang Batak sangat takut dan sangat hina jikalau dia tidak mempunyai Hulahula. Mereka berusaha keras agar hubungannya dengan sang Hulahula berjalan baik, walaupun banyak tingkah hulahulanya yang tidak menyenangkan. Kondisi ini tercermin dalam ungkapan: “pitu hali hulahula marsala, alai sintong doidaon” (tujuh kali hulahula melakukan kesalahan, namun dia tetap dipandang benar). Hulahula dinyatakan sebagai matahari yang tidak dapat ditentang (mata ni ari so suharon). Semuanya bertujuan agar sahala hulahula itu jangan tarrimas (marah) dan dengan demikian dapat memberkati mereka.</p>
<p>Jikalau seseorang memiliki masalah tertentu dan ingin mendapatkan berkat dari debata untuk menyelesaikan persoalan itu, maka dia terlebih dahulu harus memberikan persembahan makanan kepada debata. Karena hulahula adalah perwakilan dari debata (debata na ni ida), maka dialah yang mewakili debata dalam menerima persembahan makanan itu. Persembahan seseorang kepada debata melalui Batara Guru dilakukan dengan memberikan tudu-tudu sipanganon atau namargoar kepada hulahulanya. Tudu-tudu sipanganon adalah makanan persembahan yang ditentukan oleh Mulajadi Nabolon untuk diberikan kepadanya.</p>
<p><strong>Penyembahan kepada debata dilakukan dengan cara:<br />
1. Menyerahkan makanan persembahan kepada hulahula<br />
2. Meletakkan tangan pada pinggir dari nampan yang berisikan makanan persembahan (tudutudu sipanganon)<br />
3. Membungkukkan badan penyembah (boru) menghadap hulahula</strong></p>
<p>Penyembahan dengan cara membungkukkan badan ini merupakan simbol penaklukan sang boru ke bawah kuasa dan berkat dari hulahula. Artinya, boru menyatakan penyembahan dan penaklukannya kepada kuasa dari Batara Guru untuk memberkati seluruh hidup mereka. Inilah pelaksanaan dari prinsip Dalihan Na Tolu “Somba Marhulahula”. Sehingga penyerahan tudutudu sipanganon merupakan cara dalam agama Batak untuk menyembah kepada roh sembahan leluhur, yaitu Mulajadi Nabolon yang dilakukan melalui hulahula.</p>
<p>Penyerahan na margoar ini merupakan inti dari penyembahan kepada Mulajadi Nabolon. Mengapa upacara adat itu sulit ditinggalkan oleh orang Batak? Salah satu jawabnya adalah karena di dalam upacara adat itu terdapat inti dari agama Batak, yaitu penyembahan kepada Debata Mulajadi Nabolon. Penyembahan kepada Mulajadi Nabolon dilakukan melalui perantaraan Hulahula yang mewakili Batara Guru di dunia. Menyembah Mulajadi Nabolon dilakukan dengan menyembah hulahula.</p>
<p>Penyembahan dilakukan dengan cara pihak boru (penyembah) menyerahkan makanan persembahan (tudutudu sipanganon) kepada Hulahula (yang disembah). Inilah cara menyembah dewa yang unik dalam agama Batak yang ditetapkan oleh malaikat iblis. Seluruh rangkaian upacara adat yang diajarkan iblis kepada leluhur pada hakikatnya bertujuan agar mereka me nyembah kepada iblis melalui cara yang telah ditetapkannya.</p>
<p>Dalam tarian (tortor) Batak, penyembahan kepada Mulajadi Nabolon juga dilakukan oleh pihak boru dengan cara merapatkan kedua tangan di dada dan kemudian membuat gerakan penyembahan kepada hulahula. Tarian tortor pada hakikatnya bukanlah merupakan pementasan seni tari. Tarian tortor adalah tarian yang diperuntukkan bagi upacara agama Batak. Karena itulah dalam pelaksanaan tarian itu tidak diperkenankan siapapun juga melakukannya dengan tertawa. Setiap orang yang ambil bagian dalam tarian itu harus melakukannya dengan sikap serius dan hening.</p>
<p>Pengecualiannya hanya terdapat dalam beberapa bentuk tortor muda-mudi saja. Pelaksanaan tortor asli yang serius ini masih dapat kita lihat dalam upacara adat yang dilakukan oleh aliran “Parmalim”, yang masih ada di beberapa wilayah Batak. Penulis pernah menyaksikan suatu video upacara adat “Parmalim”, yang biasanya tidak bisa diikuti orang luar, dan tidak boleh diliput. Hanya karena pendekatan baik dari seseorang peneliti Eropa, acara itu dapat diliput dari jauh dengan mempergunakan fasilitas “zoom” kamera. Keseriusan mereka dalam melaksanakan tortor sangat terlihat sekali disepanjang upacara itu.</p>
<p>Karena upacara adat merupakan pusat penyembahan kepada Mulajadi Nabolon, maka iblis akan berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankan eksistensi upacara agama Batak itu. Iblis akan menaruh berbagai pikiran, gagasan, argumentasi di dalam diri orang-orang yang dikuasainya untuk mempertahankan keberadaan upacara itu. Iblis sangat mengerti, jikalau upacara adat itu ditinggalkan oleh orang Kristen, maka dia akan kehilangan penyembahan dari orang-orang Kristen. Hanya saja, kebanyakan orang Batak Kristen tidak memahami strategi iblis ini. Dengan cara seperti itu iblis masih dapat memperoleh penyembahan dari orang Batak yang sudah beragama Kristen. Upaya itu dilakukan melalui orang-orang yang terikat kuat dalam belenggu upacara agama itu, apalagi bila orang itu memiliki posisi kuat di gereja.</p>
<p>Perwakilan hulahula atas Batara Guru berlangsung dalam dua arah. Pertama, dia mewakili Batara Guru dalam menerima persembahan dari manusia yang ingin beroleh berkat darinya (pihak boru), biasanya berupa tudutudu sipanganon (na margoar), piso-piso (uang) dan minuman tuak. Pada masyarakat Simalungun, hewan yang dipersembahkan biasanya berupa ayam dan disebut dengan “dayok binatur”. Kedua, Hulahula mewakili Batara Guru di dalam memberikan berkat kepada orang yang telah memberikan persembahan kepadanya, yaitu dengan memberikan ulos, dengke arsik, dan pidato pemberkatan.</p>
<p>Pada waktu seorang hulahula memberkati borunya, maka dia sedang menjadi wakil dari Batara Guru untuk memberkati, melalui ulos, dengke, dan hata pasupasu yang diucapkannya. Dalam tortor hulahula juga memberkati boru melalui gerakan tangan yang diangkat dengan telapak tangan terbuka ke arah pihak boru. Pada waktu rombongan boru sudah berada di hadapannya, maka hulahula memberkati dengan mengarahkan tapak tangannya pada bagian kepala boru.</p>
<p>Perwakilan itu dilakukan karena orang Batak tidak dapat melihat keberadaan roh sembahannya yang berada di alam gaib. Prinsip perwakilan inilah yang menjadi dasar bagi ungkapan yang menyatakan bahwa hulahula itu adalah tuhan yang dapat dilihat (debata na ni ida). Dengan memberikan makanan persembahan kepada hulahula, maka boru telah memberikan persembahan kepada debata Batara Guru. Demikian juga sebaliknya, dengan menerima ulos, dengke arsik, dan pidato berkat dari hulahula, maka mereka telah menerima berkat dari debata.</p>
<p><strong>Jadi upacara adat Batak merupakan bentuk ibadah dalam agama Batak yang ditujukan kepada penyembahan Debata Mulajadi Nabolon.</strong></p>
<p>Karena setiap orang Batak menduduki status hulahula terhadap pihak pengambil gadis mereka, maka setiap orang Batak juga menjadi wakil dari Batara Guru dalam menerima persembahan dan memberikan berkat kepada borunya. Karena itu, setiap orang Kristen yang masih terlibat dalam aktivitas adat juga telah menjadikan dirinya sebagai wakil dari roh sembahan leluhur, yaitu wakil dari Batara Guru, wakil dari Mulajadi Nabolon.</p>
<p>Inilah salah satu bentuk peniruan dan pemalsuan kebenaran Tuhan yang telah dibangun oleh iblis, jauh sebelum Injil sampai kepada orang Batak. Pada waktu manusia dicipta, maka dia dicipta sesuai gambar, citra, atau peta Tuhan.<br />
<strong>“Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, dan atas ternak dan atas seluruh bumi, dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi”. Maka TUHAN menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Tuhan diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”. (Kejadian 1:26,27)</strong></p>
<p>Kesepetaan itu menjadikan manusia sebagai wakil TUHAN dalam mengelola alam semesta. Adam merupakan manager, pembantu atau pengurus TUHAN yang diserahi tugas untuk memelihara dan melindungi bumi. Segala yang dikerjakannya akan ditopang oleh hikmat, anugerah dan kuasa TUHAN, dan hasilnya akan memberikan kemuliaan kepada TUHAN itu sendiri. Segala tindakan manusia di bumi akan dipertanggungjawabkan kembali di hadapan TUHAN pada waktunya. Hikmat anugerah dan kuasa yang diberikan-Nya melalui persekutuan dengan manusia merupakan sarana yang akan menjamin tercapainya tujuan di atas. Inilah rancangan TUHAN yang indah bagi manusia, hanya kemudian dosa telah merusak rancangan yang baik itu.</p>
<p>Apakah artinya “mewakili Tuhan” itu? Wakil adalah seseorang yang menghadirkan kembali kehendak orang yang diwakilinya. Seorang wakil TUHAN adalah orang yang menghadirkan Tuhan kembali atau menghadirkan kembali kehendak-Nya melalui seluruh perkataan dan tindakannya di bumi.</p>
<p>Perjanjian baru juga mengajarkan kebenaran yang sama bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Paulus menegaskan bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya adalah Utusan atau Duta Kristus.<br />
<strong>“Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Tuhan menasehati kamu dengan perantaraan kami”. (II Korintus 5:20)</strong></p>
<p>karena itu Tuhan Yesus dan kuasa-Nya menyertai setiap gerak langkah orang yang beriman kepada-Nya. Jadi melalui iman kepada Yesus Kristus, seseorang menjadi utusan yang mewakili kepentingan Kristus di bumi ini. Dia hidup untuk melakukan segala kehendak dan rancangan Kristus di sepanjang sejarah. Karena itu, melalui dia kehendak Tuhan Yesus dikerjakan di bumi.</p>
<p>Demikian pula, bagi orang yang menjalankan peranan sebagai Hulahula, Boru, atau Dongan Sabutuha, mereka sedang menghadirkan kembali pribadi dan kehendak sembahan yang diwakilinya dalam acara itu, yaitu: Batara Guru, Mangala Sori, dan Mangala Bulan. Persoalannya, bagaimanakah seorang Kristen Batak yang adalah wakil atau duta Tuhan, dapat menjadi wakil roh-roh jahat yang menjadi sembahan leluhurnya dahulu kala? Kondisi itu hampir sama seperti seorang mata-mata yang berlaku sebagai agen ganda dalam dunia intelijen. Di Kerajaan Sorga tidak ada mata-mata, atau agen ganda, karena mereka hidup dalam kekudusan.</p>
<p>Seorang Bapak Kristen yang bertindak sebagai hulahula terhadap borunya mengatakan, bahwa berkat bukan berasal dari dia. Berkat itu datangnya dari Tuhan Yesus. Namun ketika dia melaksanakan kedua fungsi hulahula di atas, dia telah melaksanakan fungsi perwakilan Batara Guru. Jadi secara ucapan kita mengaku Yesus sebagai satu-satunya sumber berkat, tetapi dalam pelaksanaan kita menyalurkan berkat dari Batara Guru kepada pihak boru kita. Secara teologis kita mengakui Yesus, secara praktis, kita mengakui Batara Guru, dan dengan demikian telah menyangkali pengakuan teologis kita sendiri.</p>
<p>Sinkretisme sperti inilah yang ditegur keras oleh Firman Tuhan, seperti kasus orang Kreta yang ditulis dalam surat Titus 1:13-14<br />
<strong>“Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman, dan tidak lagi mengindahkan dongeng-dongeng Yahudi dan hukum-hukum manusia yang berpaling dari kebenaran.”</strong></p>
<p>Ayat 16 mengatakan: “Mereka mengaku mengenal Tuhan, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.”</p>
<p>Kalau kita benar-benar mengakui dan meyakini bahwa Yesus sebagai satu-satunya sumber berkat, maka kita benar-benar harus mengerti cara-cara Yesus memberikan berkat kepada orang yang percaya kepada-Nya. Mulajadi Nabolon memiliki cara-cara khusus dalam memberkati orang yang percaya kepadanya. Demikian juga Tuhan Yesus memiliki cara-cara tersendiri dalam memberkati umat-Nya. Cara Mulajadi Nabolon berbeda dengan cara Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak mau menyalurkan berkatnya dengan meniru-niru cara musuh-Nya. Pelaksanaan cara pemberkatan model Mulajadi Nabolon dalam kekristenan sama dengan menyangkali kebenaran Tuhan Yesus, dan Titus mengatakan iman yang seperti itu tidak sehat alias sakit.</p>
<p>Alkitab memberikan cara-cara yang ditentukan oleh Tuhan Yesus dalam memberkati umat manusia (anugerah umum), dan memberkati setiap orang yang percaya dan mentaati firman-Nya (anugerah khusus). Alkitab menolak dongeng- dongeng bangsa Yahudi, walaupun mereka adalah bangsa Tuhan. Apalagi terhadap dongeng-dongeng bangsa Batak yang berasal dari zaman Hasipelebeguon. Alkitab menolak segala hukum manusia yang berpaling dari kebenaran, apalagi terhadap hukum atau perintah leluhur yang nyata -nyata berasal dan berisikan nilai-nilai Hasipelebeguon, dan bahkan menentang Injil.</p>
<p>Kekudusan menutup seluruh kemungkinan bagi seorang Kristen untuk melaksanakan fungsi ganda seperti itu. Kekudusan memisahkan seorang Kristen dari segala nilai, paradigma, norma, cara dan persekutuan hidup dengan berbagai roh-roh yang berasal dari iblis. Kalau peranan ganda itu terjadi juga, kemungkinan satu-satunya adalah orang itu telah mengorbankan kekudusannya untuk dapat menjadi wakil dari debata sembahan leluhur dahulu kala. Dalam dunia politik orang seperti itu biasanya dicap sebagai pengkhianat negara.</p>
<p>Dengan melaksanakan ketiga fungsi dalam struktur Dalihan na Tolu, seseorang sah sebagai wakil dari ketiga dewa Batak. Dengan demikian Iblis mempunyai dasar yang sah (legitimated) dihadapan TUHAN untuk mengklaim orang itu sebagai miliknya, dan Tuhan harus membiarkan iblis hadir dan mengendalikan kehidupan orang itu. Karena itu para roh sembahan leluhur dapat bebas keluar masuk dari dalam hati orang itu.</p>
<p>Iblis dengan mudah dapat menanamkan di hati orang itu keinginan yang kuat untuk mempertahankan adat Batak dan ketakutan yang besar untuk keluar dari adat itu. Kehadiran roh itulah yang memunculkan keinginan kuat di hati orang Batak untuk tetap melakukan berbagai upacara adat, bukan dorongan Roh Kudus. Inilah salah satu penjelasan rohani mengapa adat Batak sangat terikat kuat pada adatnya.</p>
<p>Kembali pada masalah pembenaran upacara adat melalui doa dan umpasa yang dibungkus secara kristiani. Acara yang dilakukan karena dorongan roh sembahan leluhur sekalipun dibungkus dengan doa kristiani yang tidak pernah memenuhi keinginan hati Tuhan. Tindakan itu bertentangan dengan prinsip ibadah yang pernah diajarkan Yesus Kristus yang berbunyi:<br />
<strong>“Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Tuhan itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”(Yoh 4:23-24)</strong></p>
<p>Today English Version menuliskan ayat ke 24:<br />
<strong>“God is Spirit, and only by the power of his Spirit can people worship him as he really is.”</strong></p>
<p>Ibadah yang benar, yang memuaskan hati Tuhan adalah yang menjadikan Bapa, dalam Yesus, sebagai pusat penyembahan. Bukan Mulajadi Nabolon ataupun ketiga putranya. Kita juga dilarang menyembah hula-hula sebagai wakil Mulajadi Nabolon (debata na ni ida), Yesus menegaskan:<br />
<strong>“Enyahlah iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah TUHAN<br />
(Yahowa), Tuhanmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” (Matius 4:10)</strong></p>
<p>Penyembahan kepada Bapa (TUHAN = Yahowa) hanya akan didorong dan dikerjakan oleh (only by the power) kuasa Roh Kudus. Segala ibadah yang dikerjakan oleh Roh Kudus tunduk sepenuhnya pada kebenaran Tuhan, tidak ada satu bagianpun dari Firman yang dilanggar.</p>
<p>Segala ibadah yang tidak digerakkan oleh Roh Kudus tidak pernah berkenan kepada TUHAN. Segala bentuk ibadah yang didorong oleh keinginan hati manusia saja tidak akan pernah memuaskan hati Tuhan, karena manusia telah jatuh ke dalam dosa. Karena itu, ibadah sinkretis seperti dalam upacara adat Batak tidak pernah didorong dan dikerjakan oleh Roh Kudus, karena banyak melanggar prinsip &#8211; prinsip Firman Tuhan.</p>
<p>Tabel dibawah ini memperlihatkan perbedaan antara ibadah agama batak dengan Injil Kristus<br />
<img src="http://manik.web.id/wp-content/uploads/bab2-21.jpg" alt="Gambar 2" /><br />
Dorongan membungkus upacara adat dengan doa kristiani sepenuhnya berasal dari roh sembahan leluhur yang belum disangkali dan diusir dari dalam hati seorang yang beragama Kristen. Tujuannya agar orang-orang Kristen Batak tetap melakukan penyembahan kepada malaikat iblis Mulajadi Nabolon, dengan jalan menduakan Tuhan. Sehingga secara rohani orang Kristen itu tidak bisa mengalami kemajuan rohani dalam mengenal kasih dan kuasa Yesus, karena kuasa-Nya tidak akan menopangnya lagi. Kecuali Tuhan memberikan anugerah untuk bertobat.</p>
<p>Lalu, bagaimanakah Yesus akan mengakui di hadapan Bapa bahwa orang itu memang benar-benar adalah pengikut-Nya, sementara dia beribadah dengan cara &#8211; cara yang tidak tunduk kepada Firman TUHAN ?<br />
Yesus mengatakan :<br />
<strong>“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku (bukan suara sembahan leluhur), dan Aku mengenal mereka (bukan sekedar mengaku percaya Yesus, tetapi diakui oleh Tuhan Yesus) dan mereka mengikut Aku” (bukan ajaran leluhur) (Yohanes 10:27).”</strong></p>
<p>Sumber: <strong>Injil dan Adat Batak</strong><br />
<strong>karya James Silalahi</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Samosir HANYA sebuah Pulau Biasa?]]></title>
<link>http://tongginghill.wordpress.com/2008/03/20/93/</link>
<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 16:03:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Si Pikki</dc:creator>
<guid>http://tongginghill.wordpress.com/2008/03/20/93/</guid>
<description><![CDATA[Coba perhatikan betul-betul peta diatas ini. Apakah Samosir itu adalah sebuah pulau? Ya, sejak tahun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/03/peta-sumut.jpg" alt="peta-sumut.jpg" /></p>
<p>Coba perhatikan betul-betul peta diatas ini. Apakah Samosir itu adalah sebuah pulau?</p>
<p>Ya, sejak tahun 1900an Samosir resmi sebagai pulau karena Belanda telah membuat terusan di Tano Ponggol yang memisahkan Samosir dengan daratan Sumatera. Mengapa Belanda melakukan itu?</p>
<p>Menurut buku-buku budaya Batak, Tano Ponggol di &#8220;potong&#8221; belanda dengan dua alasan. Yang pertama, untuk memperlancar transportasi air. Yang kedua, secara psikologis Belanda ingin memecah belahkan Bangso Batak. Anda percaya itu?<!--more--></p>
<p>Coba tutup mata anda dan bayangkan samosir. Spontan di benak kita pasti membentuk imagi seakan-akan kita berdiri dari Siantar atau Parapat memandang ke arah Samosir. Karena memang akses ke Samosir sejak satu abad ini harus melalui pesisir barat, Sumatera. Sori, tapi ini adalah pandangan yang salah terhadap Samosir. Tapi mau bilang apa. Lagi-lagi kerjaannya Belanda yang memindahkan kesibukan Sumatera Utara dari pesisir barat ke pesisir timur pada akhir abad ke-19. Sekarang pesisir barat itu mati.</p>
<p><a title="Samosir Dari Timur.jpg" href="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/03/samosir-sekarang.jpg"><img src="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/03/samosir-sekarang.jpg" alt="Samosir Dari Timur.jpg" /></a></p>
<p>Padahal sejak ribuan tahun lalu, Barus, yang terletak di pesisir barat Sumatera Utara, merupakan salah satu pelabuhan tersibuk di dunia. Kemenyan dari Danau Toba adalah kemenyan terbaik di Dunia. Orang-orang dari seluruh penjuru dunia berdatangan ke Barus untuk mendapatkan kemenyan. Kesibukan ini terus berlangsung sampai akhir abad ke-19 sampai Belanda membangun Belawan dan meramaikan perairan Selat Malaka.</p>
<p>Nah, anggaplah kita hidup di jaman sebelum abad ke-19. Sekarang tutup lagi mata anda, dan bayangkan Samosir. Di benak anda pasti terbentuk gambaran tentang Samosir dari sisi barat. Seakan-akan anda berdiri di puncak bukit Tele, memandang ke arah Samosir. Bagi yang pernah ke Tele, anda pasti mengerti maksudku. Inilah imagi terhadap Samosir yang BENAR!</p>
<p>Pandangan terhadap Samosir akan jauh berbeda jika memandangnya dari barat. Ditambah lagi pada masa itu Tano Ponggol belum terpotong. Sehingga Samosir dan Pulau Sumatera menjadi satu kesatuan dengan satu pintu masuk. The Golden Gate: Tano Ponggol. The only one!</p>
<p>Mungkin anda menyetujui hal ini namun tetap bertanya, and then what..??</p>
<p>Coba perhatikan baik-baik gambar Google Earth dibawah ini:</p>
<p><a title="Samosir dari Barat" href="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/03/samosir-entry.jpg"><img src="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/03/samosir-entry.jpg" alt="Samosir dari Barat" /></a></p>
<p>Kalu anda cerdas, anda tidak akan hanya melihat Samosir itu pulau biasa.</p>
<p>Ingat bentuk istana kerajaan-kerajaan Eropa sana yang digambarkan film-film Hollywood? Suatu tempat sakral dikelilingi parit air buatan, dengan satu pintu masuk megah di bagian depannya. Biasanya di pintu masuknya itu dijaga ketat oleh prajurit-prajurit perang terbaik kerajaan tersebut.</p>
<p>Coba kembali ke pandangan Samosir dari barat ini. Mirip dengan gambaran Samosir yang sebenarnya. Suatu tempat dikelilingi Danau Toba dengan pintu masuk Tano Ponggol dan di jaga oleh Pusuk Buhit.</p>
<p>Nah, apa itu Pusuk Buhit? Ini adalah tempat memanjatkan sembah dan pujian terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa (baca: Gunung Suci Pusuk Buhit). Tidak sembarang orang dapat naik ke puncaknya. Untuk menyampaikan sembah pujian pada Tuhan di puncak Pusuk Buhit, hati kita harus bersih, kosong, dan tidak punya niat lain kecuali ingin memuliakan Sang Pencipta. Berdoa di Pusuk Buhit haruslah meninggalkan ambisi duniawi. Itulah kegiatan spiritual yang paling tinggi. Sulit memang.</p>
<p>Kembali ke gambar, jelaslah sudah, bahwa untuk memasuki Samosir, anda harus mendekatkan diri dulu pada Tuhan Allah. Bukan sekedar doa kata-kata, namun harus secara spiritual melakukan hubungan vertikal yang suci. Barulah pintu Tano Ponggol terbuka lebar untuk anda dan Samosir menyambut dengan seyuman ceria dibalik pintu itu.</p>
<p>Dengan kontur alam Danau Toba dan sekitarnya yang seperti itu, dan fungsi Pusuk Buhit yang menjaga Samosir di depannya, Pertanyaannya sekarang adalah:</p>
<p>JADI APAKAH SEBENARNYA SAMOSIR INI?</p>
<p>MENGAPA BELANDA MEMOTONG TANO PONGGOL DAN MEMINDAHKAN KESIBUKAN DARI PESISIR BARAT KE PESISIR TIMUR?</p>
<p><img src="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/03/samosir-enterance.jpg" alt="Holly Samosir" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gunung Suci Pusuk Buhit]]></title>
<link>http://tongginghill.wordpress.com/2008/03/20/gunun-suci-pusuk-buhit/</link>
<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 03:03:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>Si Pikki</dc:creator>
<guid>http://tongginghill.wordpress.com/2008/03/20/gunun-suci-pusuk-buhit/</guid>
<description><![CDATA[Ada sebuah gunung keren di sisi barat Samosir. Namanya Pusuk Buhit. Bentuknya seperti piramida yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/03/pusuk-buhit-wide.jpg" alt="pusuk-buhit-wide.jpg" /></p>
<p>Ada sebuah gunung keren di sisi barat Samosir. Namanya Pusuk Buhit. Bentuknya seperti piramida yang anggun menjulang tinggi ke awan. Jarang sekali kita dapat melihat puncak gunung dengan ketinggian 2.100 m DPL ini karena selalu terselubung awan. Namun sesekali dia menampakkan wajahnya yang menawan itu, seakan ingin melihat keindahan sekelilingnya, kemudian bersembunyi lagi.</p>
<p>Banyak cara kita dapat menikmati kehebatan Pusuk Buhit ini. Antara lain:<!--more--></p>
<p>Dari segi keindahan mata, tentu saja, siapa yang tidak tercengang kalau kita memandang dari menara penatapan Tele. Dalam satu pandangan mata, kita dapat melihat gunung kerucut megah ini yang di sekelilingnya terdapat danau nan indah, perkampungan tua, bukit-bukit hijau yang berbaris rapih, air terjun deras yang keluar dari salah satu tebing terjal bukit-bukit itu, burung elang yang terbang santai mencari mangsa dan hutan perawan indah Tele. Belum tentu setiap negara punya suatu pemandangan dahsyat yang lengkap seperti ini.</p>
<p>Dari segi sains, menurut beberapa penelitian para ahli, gunung inilah yang tidak meletus dari rangkaian beberapa gunung Toba yang mengalami ledakan mega vulkano 75.000 tahun yang lalu. Hal ini membuktikan energi kuat masih tersimpan di gunung tersebut.</p>
<p>Secara mitos, banyak sekali orang membuat konsep-konsep tertentu mengenai pusuk buhit ini. Ada mitos Batak yang mengatakan dari sanalah asal-usul nenek moyangnya yang turun dari banua ginjang dan kemudian beranak pinak. Yeah right&#8230; plis deh..!!</p>
<p>Yang terakhir, Secara spiritual. Dengan berada di sekitar gunung ini, kita akan merasakan pengalaman spiritual yang berbeda dengan tempat-tempat lain di muka bumi ini. Walau belum tertarik untuk naik ke puncak gunung ini, aku meyakini ada sesuatu di atas sana, entah apa. Namun hal itu telah menjadikan pusat perhatian para paranormal di seluruh dunia. Maka lihirlah berbagai macam teori-teori spiritual dari mereka mengenai gunung sakral ini.</p>
<p>Tidak sedikit orang asing yang telah meneliti kekuatan energi dari Pusuk Buhit. Namun belum ada dari mereka yang berhasil mengetahui apa rahasia dibaliknya. Terus terang, hal ini juga merambah perhatianku untuk mengetahui lebih lanjut apa rahasia itu.</p>
<p>Ada beberapa orang mempercayai manusia dapat memanfaatkan kekuatan energi dari gunung ini. Mereka umumnya meminta kekayaan, keturunan, kekuasaan, dan kemampuan-kemampuan gaib tertentu. Katanya kita harus mendaki sampai puncak dengan membawa ayam putih, ayam hitam, kambing, dll, sebagai persembahan atau imbalan atas permintaan kita. Itulah saratnya supaya ‘ompung itu&#8217; atau roh-roh yang bermukim disana mau mengabulkan permintaan kita. Bodo kali lah manusia ini, kupikir. Mau pula dia disuruh-suruh sama roh-roh itu. Padahal manusia itu makhluk Tuhan paling tinggi yang berkuasa terhadap mahkluk lain.</p>
<p>Aku ini orang yang penakut pada begu dan hal-hal gaib (hehehe buka kartu nih&#8230;). Oleh karena itu awalnya aku pun menjadi agak antipati dengan Pusuk Buhit. Dengan memandangi puncaknya saja dari jauh, langsung mengingatkanku pada hal-hal pardatuan yang tidak sesuai dengan iman kepercayaanku. Jadinya aku selalu takut untuk dekat-dekat dengannya bahkan membicarakannya saja aku tidak mau (baca: The Journey -Part 1).</p>
<p>Namun karena seringnya aku berkunjung ke daerah sekeliling Pusuk Buhit, rasa ingin tahu itu semakin besar, semakin besar dan semakin besar. Sampai akhirnya aku coba untuk &#8220;menyamakan frequensiku&#8221; dengan alam Bona Pasogit, menggunakan hati dan pikiran yang berlandaskan pada iman percayaku pada Tuhan. Ternyata aku mendapat jawabannya yang jika dirangkup dalam satu kalimat pendek adalah: &#8220;Tuhan itu sungguh luar biasa Maha Agung&#8221;. Dialah Allah yang Maha Satu. Kreator Yang Maha Sempura. Benar-benar manusia tidak lebih dari sebuah debu di hadapan-Nya.</p>
<p>Hal ini membuat paradigmaku terhadap Pusuk Buhit bergeser 180 derajat. Dari paradigma tentang ilmu-ilmu gaib dan perdatuan, sekarang aku memandang Pusuk Buhit mirip dengan pandangan orang terhadap Gunung Sinai. Bagiku, Pusuk Buhit adalah suatu tempat paling suci di seluruh muka bumi ini. Kekuatan energinya memudahkan manusia merasakan hubungan vertikal secara langsung dengan Penciptanya.</p>
<p>Sejak puluhan ribu tahun yang lalu, manusia-manusia dulu memanjatkan puji-pujian kepada Tuhan Yang Maha Kuasa di puncak gunung ini. Hanya DIA, Sang Pencipta. Tidak ada yang lain.</p>
<p>Orang-orang itu adalah manusia-manusia pilihan yang berasal dari suatu ras tertentu yang jauh berbeda dari ras-ras keturunan Adam lainnya. Mereka datang dari tanah yang sangat jauh dengan sampan, ditempatkan dan dilindungi Tuhan di taman pertama yang diciptakan Tuhan sendiri yang bernama Eden. Dipintu masuk taman itu terdapat Bait Allah tempat penghuni Eden memanjatkan sembah pujian terhadap Tuhan. Taman itu sekarang bernama Samosir. Bait Allah itu sekarang bernama Pusuk Buhit. dan keturunan orang-orang itu sekarang, yang telah bercampur darah dengan ras lain, menamakan dirinya Batak.</p>
<p>Namun, sebagai bangsa pilihan, orang Batak sendiri tidak menyadarinya bahkan cenderung untuk malu mengakuinya. Secara Turun-menurun, kepercayaan pada Tuhan ini telah terkikis dan makin memudar. Manusa Batak mulai menduakan Tuhan Debatanya dengan pergi ke datu-datu dan lebih menyukai pertolongan roh-roh sesat ketimbang lansung ke pencipta-Nya. Sehingga kekuatan energi alam Pusuk Buhit ini telah disalah gunakan sebagai tempat penyembahan berhala. Untuk sebagian orang, Pusuk Buhit telah berubah fungsi secara drastis dari Bait Allah menjadi tempat penyembahan berhala. Menurut informasi dari penduduk yang bermukim di kaki Pusuk Buhit, tidak sedikit orang Batak mulai dari rakyat biasa sampai pejabat tinggi pemerintahan yang mendaki Pusuk Buhit untuk minta kekuasaan dan kekayaan. Mereka meminta kepada roh-roh sesat yang mengaku-ngaku dirinya leluhur orang Batak.</p>
<p>Tidak hanya di masa kini. Sejak awal masehi inipun sebagian dari ompung-ompung kita banyak yang melakukan penyelewengan itu. Karena mereka dijanjikan oleh roh-roh sesat itu hal yang instan, yang dapat langsung dirasakan hasilnya, ketimbang mengikuti perintah Tuhan Debata yang terlihat sulit untuk dijalani dan lama khaisatnya. Namun alam itu adalah hukum. Tuhan adalah Allah yang cemburu. Hukuman pun datang kepada bangsa pilihan ini berupa kemiskinan, bencana, percerai-beraian keluarga dan keturunan, pertikaian antar saudara, tertindas ras manusia lain, dan hukuman lainnya.</p>
<p>Namun, sebagai bangsa pilihan, Tuhan sudah terlanjur memberikan berkat berlimpah terhadap ras ini. Jadi tidak heran jika setiap manusia Batak dikaruniai Talenta yang lebih dari pada manusia lain. Janji Tuhan adalah abadi.  Hal ini terbukti dari banyaknya bidang-bidang profesi yang diisi oleh orang Batak. Mulai dari pengacara, dokter, seniman, IT, akuntan, sampai kepada level tinggi pemerintahan. Hampir tidak mungkinlah di suatu perusahaan besar tidak ada orang Bataknya yang menduduki posisi tinggi.</p>
<p>Bahkan, menurut seorang sumber terpercaya, badan intelegen Amerika telah mengetahui hal ini dan telah memperhitungkan ras Batak sebagai ras yang tidak dapat di pandang enteng. Mereka bahkan memanfaatkan hal ini. Sehingga mudah sekali bagi orang Batak untuk bekerja di Amerika. Jarang sekali ada orang Batak yang hanya menjadi tukang cuci piring atau pekerja kasar di negeri Paman Sam itu.</p>
<p>Ada satu lagi penyelewengan yang dilakukan manusia Batak. Walau mereka tetap meyakini iman kepada Satu Tuhan, mereka tidak memelihara tanah perjanjian yang diberikan Tuhannya kepada mereka. Malahan taman itu diabaikan begitu saja, tidak diperhatikan seolah-olah Samosir adalah sebuah tempat biasa yang menyerupai pulau dengan pohon-pohon didalamnya dan menghilangkan kesuciannya.</p>
<p>Hal ini terbukti tidak adanya peranan &#8220;gereja-gereja manusia Batak&#8221; dan mesjid-mesjid manusia Batak&#8221; yang mempunyai program-program pelayanan berupa pemeliharaan lingkungan. Bagi mereka, pengertian pelayanan itu adalah melayani Tuhan dengan terus menerus beribadah sesering mungkin supaya Tuhan lihat mereka ini orang yang saleh dengan harapan bisa masuk Sorga.</p>
<p>Aku pernah tersentak dengan komentar anak berumur 4 tahun setelah guru sekolah minggunya menjelaskan topik tentang &#8220;pelayan Tuhan&#8221;. Dengan polosnya anak itu mengomentari guru sekolah minggunya, &#8220;Kalo Tuhan kan sudah Maha Sempurna, kok masih perlu dilayani lagi ya&#8230;. Yang perlu dilayani itukan mahluk ciptaan Tuhan yang masih perlu bantuan&#8221;. Guru sekolah minggu itu pun diam tak berkata-kata. No komenlah.</p>
<p>Disamping itu, ada juga manusia Batak yang walaupun tetap percaya Tuhan itu Satu, menanggap Pusuk Buhit itu tempat keramat yang penuh dengan roh jahat. Hal ini terbukti dari masih saja ada suara menentang ketika Uskup Sinaga menggelar Paskah Raya di Pusuk Buhit, bukannya di Tarutung tempat misionaris German itu bermukim.</p>
<p>He..eh tahe! Terserahlah orang mau bilang apa terhadap pusuk buhit ini. Bagiku, Pusuk Buhit adalah Gunung yang sangat indah menawan. Suatu tempat tertinggi di Danau Toba yang merupakan spot terbaik untuk melihat keindahan alam Danau Toba dan sekitarnya. Juga Gunung yang suci. Tempat manusia mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa. Tempat memanjatkan sembah syukur kepada Tuhan. Tuhan yang mana? Tuhan yang menciptakan alam semesta ini.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Manusia untuk Adat atau Adat Untuk Manusia ?]]></title>
<link>http://paultobing.wordpress.com/2008/03/19/manusia-untuk-adat-atau-adat-untuk-manusia/</link>
<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 01:21:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>paultobing</dc:creator>
<guid>http://paultobing.wordpress.com/2008/03/19/manusia-untuk-adat-atau-adat-untuk-manusia/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Paul L. Tobing (Sudah dimuat pada Harian Batak Pos, 12-13 September 2007)  Posisi fundamental]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center"><b><font face="Times New Roman">Oleh : Paul L. Tobing</font></b></p>
<p align="center"><b><span><font face="Times New Roman">(Sudah dimuat pada Harian Batak Pos, 12-13 September 2007)</font></span></b><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span></span><font face="Times New Roman">Posisi fundamental adat Batak dalam kehidupan masyarakat Batak (dalam tulisan ini dibatasi untuk Batak Toba) atau pelakunya, merupakan salah satu referensi dan determinan pemahaman, sikap dan perilaku masyarakat Batak <span> </span>terhadap kepatuhan dan pelaksanaan adat Batak itu sendiri. <span>Posisi ini juga menentukan apakah adat Batak dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi dan semangat dalam berperan dan berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa atau hanya sekedar ritual yang dijalankan untuk sekedar ”memenuhi syarat adat” dalam berbagai siklus kehidupan manusia.</span></font><span><font face="Times New Roman"> <!--more--></font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman">Kedatangan agama monoteisme ke daerah Tapanuli telah memposisikan masyarakat Batak dalam kondisi yang potensial ambivalen, yaitu sebagai penganut agama monoteis di satu sisi, dan sekaligus juga mewarisi adat istiadat yang dibangun nenek moyangnya yang masih hidup dalam kepercayaan lama atau dalam zaman agama Batak di sisi lainnya. Mayoritas masyarakat Batak masih memenuhi kewajiban agama dan adatnya sekaligus walau dengan tingkat kepatuhan yang berbeda. Bahkan tidak sedikit terjadi perbenturan antara keduanya karena adanya pandangan dari kedua sisi ekstrim yang berbeda dari raja (atau yang dirajai?) adat maupun dari golongan puritan agama monoteisme/Kristen.</font></span><span><font face="Times New Roman"><span> </span></font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman"><span></span></font></span><span><font face="Times New Roman">Realita ini menimbulkan suatu penggolongan yang bersifat hipotesis terhadap posisi adat dalam pandangan dan kehidupan masyarakat Batak. Karakteristik pembeda dari penggolongan ini adalah berdasarkan posisi relatif agama dan adat dalam kehidupan subjektif masyarakat Batak. Apakah posisi adat lebih atau sama dengan agama yang dianut oleh masyarakat Batak atau lebih rendah dari itu. </font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman">Golongan yang pertama, adalah masyarakat Batak yang memposisikan adat sama dengan atau lebih tinggi tingkatannya dari keyakinan religiusnya. <span> </span>Pada tingkatan tersebut, <span> </span>golongan masyarakat Batak ini dapat kita samakan atau kita katagorikan sebagai ”penganut” adat batak. Golongan masyarakat ini sudah hidup untuk adat, dan mereka meyakini bahwa manusia hidup untuk adat bukan adat untuk manusia.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Penganut adat Batak dalam golongan pertama ini, akan bersikeras untuk menerapkan adat secara lengkap pada berbagai siklus kehidupan manusia, mulai dari kelahiran sampai kepada kematian. Golongan ini akan merasa kurang klop atau kurang sejahtera jika ada ritual dan asesori adat yang tidak lengkap. Golongan ini rela untuk mengorbankan banyak hal demi pelaksanaan adat, seperti mencegah, membatalkan dan menghalangi anak-anaknya untuk menikah karena masalah adat, atau mengucilkan golongan masyarakat Batak lainnya atau kerabatnya karena tidak melakukan adat.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Golongan kedua dari masyarakat Batak, adalah orang-orang yang memposisikan adat sebagai alat atau sarana. Pada posisi ini adat Batak berada di bawah keyakinan religius yang dianutnya dan hanya menerapkan ritual dan nilai-nilai ada yang tidak bertentangan dengan keyakinan agamanya. Golongan masyarakat seperti ini saya sebut sebagai pelaku adat Batak. Golongan masyarakat seperti ini memposisikan adat sebagai sarana untuk menunjukkan holong/kasih kepada pemilik ulaon (atau yang mengadakan perhelatan adat), tidak lebih dari pada itu. Golongan masyarakat seperti ini tidak mau pusing dan tidak sudi mengeluarkan emosinya untuk memprotes atau mempermasalahkan kalau pelaksanaan adat kurang sempurna <span> </span>atau kalau ada ”ketidak adilan” dalam pembagian jambar, ulos dan sebagainya, pada intinya mereka memposisikan adat hanya sebagai instrumen untuk menunjukkan holong dan sebagai media untuk berinteraksi dengan sesama atau kerabatnya. Golongan ini juga tidak akan sakit hati atau kecewa<span>  </span>apabila ada pihak lain yang tidak memenuhi kewajiban adatnya kepada mereka.<span>  </span>Golongan ini tidak akan dendam misalnya dengan tidak menghadiri ulaon yang dilaksanakan oleh orang yang tidak memenuhi kewajiban kepada mereka pada masa lalu.</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Golongan ketiga adalah golongan ekstrim yang berseberangan dengan golongan pertama, yaitu golongan yang cenderung memusuhi dan membenci pelaksanaan adat dalam segala bentuknya. Golongan ini memposisikan adat sebagai antitesis dari keyakinan religiusnya. Golongan ini meyakini agama harus dijalankan dengan murni dan tidak boleh dicampur adukkan dengan adat yang mereka yakini merupakan warisan dari leluhur yang masih hidup dalam zaman kegelapan. Mereka meyakini, mencampur adukkan agama dan adat dalam ritual-ritual kehidupan akan mencemari kehidupan spiritualnya. Mereka berpendapat bahwa waktu, uang dan tenaga yang dikerahkan untuk melaksanakan adat merupakan sesuatu yang sia-sia. Golongan ini hanya berkonsentrasi melaksanakan kewajiban agamanya secara murni dalam berbagai siklus kehidupannya dan tidak bersedia mengikuti kegiatan adat dalam segala bentuknya.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span></span><b><span><font face="Times New Roman">Penyelarasan Adat Batak dengan Kekristenan</font></span></b></p>
<p><b><span></span></b><span><font face="Times New Roman">Pada kenyataannya pelaksanaan adat saat ini sudah mengalami banyak pergeseran. Sosok dan status sosial dan ekonomi<span>  </span>yang marulaon (pemilik perhelatan) sangat mempengaruhi kemeriahan pelaksanaan adat. Orang yang lebih kaya dan memiliki ketokohan cenderung akan melaksanakan adat yang lebih kompleks dan lebih meriah, hal ini disebabkan begitu banyaknya kerabat dan ale-ale/relasi yang ingin tampil berpartisipasi dalam adat tersebut. Akhirnya yang mangulosi dan yang mendapat ulos lebih dari yang seharusnya, serta pilihan gondangnya juga lebih banyak, konsekuensinya durasi acara adatnya juga cenderung atau bisa molor sampai larut malam.</font></span><span><font face="Times New Roman"><span> </span></font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman"><span></span></font></span><span><font face="Times New Roman">Perlu diakui bahwa pelaksanaan adat Batak sering membuat pusing dan repot para pelakunya. Perlu usaha-usaha dari pemuka adat dan agama serta kaum intelektual orang Batak untuk melakukan penyesuaian, memoderasi dan menyederhanakan pelaksanaan adat Batak serta melakukan penyesuaian-penyesuaian seperlunya agar tidak berbenturan dengan ajaran agama dan kondisi sosial yang aktual saat ini. </font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Adat suku manapun sering dibangun dari kepercayaan atau agama yang dianut mayoritas suku itu, jadi adalah wajar bahwa adat Batak sangat dipengaruhi bahkan diyakini dibangun pada fondasi keyakinan nenek moyang orang Batak pada zaman dahulu kala. Namun, disaat mayoritas suku Batak Toba lebih dari satu abad terakhir ini sudah menganut kepercayaan yang baru (Kristen), belum terlihat usaha yang sistematis dan konsisten dari kalangan gereja untuk memberikan semacam panduan kepada jemaatnya agar pelaksanaan adat tidak melenceng dari nilai-nilai kekristenan. Akibatnya saat ini banyak yang ragu-ragu melaksanakan adat bahkan menentangnya.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Sebenarnya usaha-usaha penaklukan adat Batak ini kepada kekristenan sudah dimulai pada saat awal-awal masuknya kekristenan ke Tano Batak, namun upaya ini berhenti sekitar tahun 1920 an dan dapat dikatakan berhenti total sejak Jerman menginvasi Belanda pada perang Dunia II, yang berdampak kepada penginterniran tenaga-tenaga penginjil yang berkebangsaan Jerman dan penyerahan tampuk kepemimpinan HKBP kepada suku Batak asli. Peralihan kepemimpinan ini ternyata bukan membuat usaha-usaha penyelarasan adat Batak dan iman Kristiani ini makin intensif, justru otoritas gereja Batak dalam pelaksanaan adat Batak dirasakan semakin melemah dan bahkan akhir-akhir ini ada kesan bahwa gereja sudah lepas tangan dan tidak mau tahu dengan pelaksanaan adat Batak yang dilaksanakan sebagian besar jematnya.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Selama ini perbenturan antara adat dan agama inilah yang paling potensial sebagai sumber perbedaan dalam pemahaman adat. Bahkan ada kesan bahwa sebagian besar pendeta-pendeta Batak juga sangat menikmati acara-acara adat, sementara sebagian pemuka/umat gereja atau persekutuan lainnya dengan tegas tidak sudi ”menajiskan” diri dengan mengikuti upacara-upacara adat yang menurut mereka penuh ”kuasa-kuasa lain” dan sarat dengan kesia-siaan. Adanya panduan yang jelas dari gereja akan membuat umatnya dapat mengikuti adat (yang sudah sesuai ajaran kekristenan) dengan sepenuh hati, tanpa ragu atau setengah hati atau terpaksa.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span></span><b><span><font face="Times New Roman">Jalan Tengah</font></span></b><b><span><font face="Times New Roman"> </font></span></b></p>
<p><b><span></span></b><span><font face="Times New Roman">Kembali kepada ketiga posisi adat yang disebutkan dalam awal tulisan ini. Posisi adat manakah yang kita pilih dari ketiga stream yang ada ? Jalan tengah sering menjadi solusi yang paling efektif karena jalan tengah biasanya mampu mempertemukan dua sisi ekstrim yang ada. Dari sisi nilai-nilai, jalan tengah juga lebih kaya karena mempertemukan esensi-esensi yang ditekankan masing-masing dua sisi ekstrim yang ada. Pilihan jalan tengah juga akan memosisikan adat sebagai alat pemersatu dan meminimalkan potensi perpecahan yang ditimbulkan oleh kedua sisi ekstrim yang ada.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Adalah sangat sulit untuk mengabdi kepada dua tuan yang memiliki kekuasaan yang sejajar. Bagaimanapun harus ada jalan keluar, yang satu harus lebih diutamakan dari yang lain. Yang bersifat mandatory/wajib itu biarlah diberikan terhadap agama karena sebenarnya posisi adat sebagai tertib sipil yang harus dipatuhi sudah semakin melemah terutama sesudah tanah Batak menjadi bagian dari koloni Belanda dan negara republik Indonesia. Disamping itu, <span> </span>kepercayaan terhadap agama merupakan sesuatu yang bersifat pribadi yang harus dihormati semua pihak. Sedangkan adat lebih berisifat kolektif ”masiharaan”, yang sebaiknya ditempatkan di bawah posisi agama dan menempatkannya sebagai instrumen untuk menunjukkan holong/kasih, untuk menyapa dan berinteraksi dengan sesama dan tidak efektif lagi jika digunakan untuk menghukum atau pabalihon terutama untuk masyarakat Batak yang sudah tinggal di perkotaan. </font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman">Dengan demikian adat bukan segala-galanya atau tujuan hidup orang Batak,<span>  </span>bukan juga menjadi sarana bagi kita untuk memperoleh pengakuan, dan rasa kagum <span> </span>dari sesama. Biarlah kita hidup untuk Tuhan dan Tanah Air (Pro Deo et Patria).</font></span><span><font face="Times New Roman">Paul L.Tobing (Pemerhati Masalah Sosial dan Penulis Buku <i>Knowledge Management : Konsep, Arsitektur dan Implementasi</i>)<span>  </span></font></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Si Pikki Merusak Musik Batak??]]></title>
<link>http://tongginghill.wordpress.com/2008/02/25/esensi-musik-tradisional-dan-lagu-batak/</link>
<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 16:47:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>Si Pikki</dc:creator>
<guid>http://tongginghill.wordpress.com/2008/02/25/esensi-musik-tradisional-dan-lagu-batak/</guid>
<description><![CDATA[Lima Tahun belakangan ini banyak sekali pertanyaan dan pernyataan bahwa MUSIK VIKY SIANIPAR SUDAH HI]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal"><a href="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/02/foto-palti.jpg" title="Photo by Palty Silalahi"><img src="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/02/foto-palti.jpg" alt="Photo by Palty Silalahi" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Lima Tahun belakangan ini banyak sekali pertanyaan dan pernyataan bahwa<br />
MUSIK VIKY SIANIPAR SUDAH HILANG KEASLIAN BATAKNYA&#8230;??<br />
VIKY SIANIPAR MEROBEK WIBAWA MUSIK BATAK!!<br />
VIKY SIANIPAR TERLALU ASIK BERIMPROVISASI!!</span></p>
<p>Stress gak sih gue&#8230;hehehe</p>
<p>Mau mengomentarin apa aja tentang musikku ya silahkan..<!--more--><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> dengan senang hati aku menampung&#8230;<br />
Tapi Biar aku jelaskan sedikit..</span></p>
<p>Yang Pertama, Viky Sianipar juga manusia.. hehehe</p>
<p>Aku memang lahir di Jakarta dan gak bisa bahasa Batak (lagi belajar sih.. <span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">les privat sama Suhunan Situmorang). Aku gak suka dengan musik dan lagu Batak pada awalnya. Setelah aku telusuri ternyata Lagu Batak itu gak kalah kerennya dengan musik Indo ataupun Barat. Menurut pendapat aku Bahasa Batak lebih &#8220;ekspresif&#8221; dari bahasa Indonesia.</span></p>
<p>Sebelum pembuatan album TobaDream yang pertama, aku melakukan riset kecil2an terhadap musik Batak.</p>
<p>Ceritanya Gini:</p>
<p>Musik Batak sudah ada sejak jaman Toba Kuno di jaman dinasti Tuan Sorimangaraja (Pahompu-nya Si Raja Batak) Berawal dari musik Raja-raja. Bukan musik untuk Raja, tetapi musik yang dimainkan oleh Raja. Makanya mainnya boleh berdiri. Lain halnya dengan musik tradisi suku lain seperti Afrika, India, Jawa, dll, yang merupakan musik Rakyat, sehingga kebanyakan bermusiknya sambil duduk.</p>
<p>Musik Batak awalnya diciptakan untuk upacara ritual yang dipimpin pada Datu (dukun) pada masa itu untuk penghormatan leluhur, minta panen yang sukses kepada Mula Jadi Nabolon, dll. Kemudian Berkembang menjadi Musik ritual di Pesta Adat. Pemainnya dinamakan pargonsi (baca Pargosi atau Pargoci) Pargonsi mempunyai kedudukan yang sangat penting, ruma bagian atas. Karena yang memainkannya Raja. Jadi gak heran kalo Batak itu suku yang musikal karena dari jaman dulu Rajanya aja suka main musik <span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"><!--[if gte vml 1]&#38;gt;                                                  &#38;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/Toshiba/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt=")" border="0" height="20" width="20" /><!--[endif]--></span><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">. Musik Batak untuk ritual ini adalah yang disebut Gondang Sabangunan yang terdiri dari 5 Ogung, 5 Gondang, Sarune Bolon lubang 5.</span></p>
<p>Namun para Rakyat juga ingin main musik, maka berkembanglah musik batak ini di kalangan rakyat dengan format Taganing, Garantung, Hasapi, Seruling dan Sarune Etek. Dengan alat-alat musik inilah tercipta banyak sekali lagu rakyat yang bernuansa pentatonis (Do Re Mi Fa Sol, kadang2 ada juga La) dan susunan nada (licks)-nya sangat khas tidak didapati di musik suku lain.</p>
<p>Di era tahun 1930an, Tilhang Gultom banyak mengembangkan musik ini dengan lagu-lagu ciptaanya yang sangat kental dengan notasi Batak asli melalui Opera Batak-nya. (Tilhang Gultom is my most favorite Batak Composer!)</p>
<p>Karena pengaruh perkembangan musik di barat pada tahun 50an, lahirlah nama-nama terkemuka seperti Nahum Situmorang, S-Dis, dll, yang memperkenalkan notasi musik barat dengan bahasa Batak (Toba). Nahum dkk, kebanyakan mengambil jenis musik latin (Cha-cha, Jazz Bosas, Waltz, dll) dengan menggunakan alat musik Gitar, Upright Bass dan perkusi latin (kebanyakan Conga dan Bongo).</p>
<p>Sejak masa itu pencinta musik batak terbagi dua kubu yaitu, aliran musik modern-nya Nahum dkk, dan aliran musik tradisinya model Tilhang Gultom yang selalu mempertahankan keasliannya dengan menggunakan instrumen tradisi Batak.</p>
<p>Di tahun 70an, Trio Lasidos memperknalkan konsep baru yang menggabungkan kedua jenis musik ini dan dinyanyikan dengan vocal TRIO. Meledak! banyak yang suka, sehingga diikuti oleh trio-trio yang lain seperti Trio Maduma, Trio Amsisi, Trio Ambisi,dll.</p>
<p>Sampai detik ini, tahun 2000an, masih saja banyak Produser Musik Batak yang tetap mempertahankan konsep yang sama yaitu Trio model Trio Lasidos itu.</p>
<p>Walau jenis musik Batak modern itu (yang kebanyakan sudah meninggalkan instrumen asli Batak) masih juga diminati oleh orang-orang Batak, namun untuk Naposo2 Batak yang sudah lahir diperantauan sepertinya sudah tidak &#8220;kena&#8221; lagi. Karena pengaruh musik barat yang berkembang sangat pesat melalui media2 TV dan Radio, anak2 Batak kelahiran kota besar lebih tertarik dengan Linkin&#8217; Park, Mariah Carrey, Withney Houston, Robbie Williams, Baby Face, dll. Mereka sulit sekali dapat mengapresiasikan konsep musik &#8220;tolu batu&#8221; Batak itu.</p>
<p>Secara tidak sengaja telah terbentuk dua jenis musik Batak yaitu Musik Tradisi dan musik Pop Batak.</p>
<p>Nah, Jadi dimana letak keaslian musik Batak??</p>
<p>kalo menurut aku sih, ya yang namanya Gondang, Sarune, Ogung, Hasapi, Garantung, Sulim itu. ITULAH YANG AKU PERTAHANKAN!!</p>
<p>Jadi jangan anda salah mengerti. Keaslian musik Batak bukanlah Nyanyi TRIO, Suara melengking nada tinggi, cord tiga batu, dan Saxophone menjerit-jerit. Itu semua adalah HASIL ARANSEMEN MODERN. Kalo mereka itu mengaransemen lagu Batak dengan gaya mereka, ya aku juga boleh dong.. ikut aransemen dengan gaya aku sendiri.</p>
<p>Jadi yang aku &#8220;keep&#8221; dari keaslian musik Batak adalah:<br />
1. Instrumen tradisi beserta style aslinya<br />
2. NOTASI VOCAL dan LIRIK lagu yang dibuat oleh penciptanya (Tilhang Gulom, Nahum Situmorang, S-Dis, dll.)</p>
<p>Mengenai arransemen, ya bebas lah.. SELAMA ESENSI LAGU TERSEBUT TIDAK HILANG!!!. Jadi tetap haruslah tanggung jawab. Kita harus mengerti apa perasaan yang dialami sipencipta sewaktu lagu tersebut ditulis. Itu dapat dilacak dari notasi yang dipilih dan lirik. Baru kita tentukan jenis musik apa yang cocok. Perlu diketahui bahwa tidak selamanya instrumen tradisional Batak bisa cocok dalam setiap lagu. Kalau dipaksakan akan keliatan Maksa dan asal nempel. Itulah makanya dalam lagu yang aku aransemen tidak semuanya memakai instrumen tradisional Batak.</p>
<p>Begitulah Ceritanya. Mudah-mudahan bisa dimengerti. Mungkin aku salah, ya maaf lah ya.. <span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">karena aku juga masih belajar mengenai musik Batak. But I&#8217;am Proud to Play Batak Musik!!</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Re-Thinking Adat Batak]]></title>
<link>http://paultobing.wordpress.com/2008/02/21/re-thinking-adat-batak/</link>
<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 09:39:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>paultobing</dc:creator>
<guid>http://paultobing.wordpress.com/2008/02/21/re-thinking-adat-batak/</guid>
<description><![CDATA[Disamping masalah agama, masalah lain adalah kondisi sosial dan kehidupan zaman dahulu dan zaman sek]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span><font face="Times New Roman">Disamping masalah agama, masalah lain adalah kondisi sosial dan kehidupan zaman dahulu dan zaman sekarang sudah sangat berbeda. Dunia sudah beberapa kali mengalami pergantian zaman yang radikal, mulai dari zaman batu, pertanian, industri, informasi dan saat ini zaman pengetahuan, yang semuanya mempengaruhi nilai-nilai kehidupan masyarakat termasuk masyarakat Batak.<span>  </span>Kehidupan post modernism dan kompetisi bisnis yang semakin sengit belakangan ini, menuntut efisiensi dan simplifikasi dalam berbagai hal, termasuk dalam pelaksanaan adat. Tidak saatnya lagi adat mengikat para profesional Batak dengan ”memaksa” mereka untuk mengikuti acara adat secara kaku, bertele-tele dan ”penuh” sehari suntuk, karena peran mereka sangat ditunggu di tempat kerjanya untuk berkarya dengan optimal.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Zaman ini juga ditandai dengan adanya gerakan feminisme, </font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman"><!--more-->yang menuntut kesetaraan jender. Adat Batak dipandang kurang ramah dalam menyongsong kesetaraan ini. Penilaian berbasis adat terhadap keberhasilan seseorang sering kurang menghargai jender perempuan. Orang yang tidak menikah atau menikah tetapi tidak memiliki keturunan yang lengkap laki-laki dan perempuan sering mendapat diskriminasi dalam pelaksanaan adat Batak.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Disatu sisi, saat ini semakin banyak pria atau wanita Batak yang usia menikahnya semakin tinggi atau bahkan semakin banyak jumlah orang yang sama sekali memilih atau terpaksa tidak menikah, dengan berbagai alasan dan situasi. Disamping itu, kalaupun menikah, pasangan suami istri saat ini membutuhkan <span> </span>waktu yang lebih lama untuk memiliki anak, bahkan semakin banyak pasangan yang secara sengaja melakukan pembatasan atau pengaturan jumlah anak yang mereka miliki, sebagai akibatnya banyak pasangan yang hanya memiliki 1, 2 atau 3 anak saja, dan tidak sedikit dari pasangan ini yang hanya memiliki anak-anak perempuan saja, dimana kondisi seperti ini akan mengalami diskriminasi dalam paradaton. </font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Sering terjadi, orang-orang Batak yang tidak menikah, betapapun sangat berperan dan berprestasi dalam kehidupan masyarakat tidak diperhitungkan dan tidak memiliki hak untuk duduk (hundul) dalam acara adat. Hal ini menurut saya perlu dikoreksi, perlu dilakukan penyesuaian parameter dan syarat penilaian yang mendorong agar adat Batak mempertimbangkan faktor-faktor kontribusi dan peran seseorang dalam kehidupan sosial. Bahkan kontribusi sosial ini perlu lebih ditekankan atau diutamakan dari pada status perkawinan (termasuk jumlah keturunan, kelengkapan jender keturunannya) dan status ekonomi seseorang.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Adat yang mengapresiasi kontribusi sosial seseorang akan mendorong masyarakat<span>  </span>Batak untuk berprestasi dan berkontribusi dalam kehidupan masyarakat dan bangsanya. Seandainya pionir seperti Butet boru Manurung yang mengajar di kalangan suku pedalaman (suku Kubu) atau seorang penerima hadiah Kalpataru mendapat terhormat dalam adat Batak walaupun mungkin mereka belum menikah, maka hal itu akan memicu masyarakat Batak lainnya untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat dan bangsanya, dan tidak lagi hanya sekedar mencari hamoraon atau hagabeon agar diakui dalam tata laksana paradaton.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><font face="Times New Roman">Paul L.Tobing (Pemerhati Masalah Sosial dan Penulis Buku <i>Knowledge Management : Konsep, Arsitektur dan Implementasi</i>)<span>  </span></font></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Trilogy Has Finally Done!]]></title>
<link>http://tongginghill.wordpress.com/2007/12/03/the-trilogy-has-finally-done/</link>
<pubDate>Mon, 03 Dec 2007 15:03:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>Si Pikki</dc:creator>
<guid>http://tongginghill.wordpress.com/2007/12/03/the-trilogy-has-finally-done/</guid>
<description><![CDATA[Dengan hati berdebar, detik-detik kemenangan itu sangat kunikmati pagi dini tadi. Tak henti-hentinya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal"><a href="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/01/cover-td3.jpg" title="cover-td3.jpg"><img src="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/01/cover-td3.jpg" alt="cover-td3.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Dengan hati berdebar, detik-detik kemenangan itu sangat kunikmati pagi dini tadi. Tak henti-hentinya kupandangi layar komputer yang sedang menampilkan proses pembakaran CD Master. Begitu proses menunjukan persentase seratus persen, Indra Qadarsih, mastering engineer TobaDream-3, mengeluarkan CD tersebut dari komputer mastering-nya, memasukan ke sebuah CD cover, kemudian menyerahkannya ke tanganku.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Langsung aku berlari ke luar studio yang terletak di daerah Cempaka Putih Utara, Jakarta itu. Kuangkat CD master itu tinggi-tinggi ke arah langit sambil menyorakkan kemenangan, sambil bersorak: “Yeeaaah…, nungnga sae be Ompung! Mauliate godaaaang da Debata Mulajadi Nabolon! Horas.., horas.., hooorasss!” (Yeah.., akhirnya selesai sudah, Ompung! Terimakasih yang tak terhingga, O, Sang Pencipta!)</span><span style="font-size:8pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Beberapa crew studio dan anak-anak band yang sedang nongkrong di sekitar studio keheranan. Setelah mereka mengerti alasanku bersorak, mereka ikut-ikutan bertepuk tangan, juga bersorak, turut merasakan kegembiraan yang kurasakan.</span><span style="font-size:8pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Setelah 12 jam sehari berkutat di studio selama kurang lebih 12 bulan, tidur hanya sekitar tiga jam seminggu terakhir di BigKnob Mixing Studio dan di IQALA Mastering Studio, akhirnya semua terbayar. Master Album TobaDream-3 selesai tanggal 3 Desember 2007, pukul 03:03 dini hari. Genaplah “nubuat” trilogi TobaDream.</span><span style="font-size:8pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Tiga pesan tergabung dalam satu esensi;</span><span style="font-size:8pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">tiga pondasi dasar untuk menjalankan satu misi besar;</span><span style="font-size:8pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">tiga <i>dalihan</i> untuk menopang satu <i>tungku</i>.</span><span style="font-size:8pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">TobaDream-1 </span></b><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">adalah sebuah alternatif aransemen musik pop Batak, semacam paradigma baru, yang mencoba menawarkan warna lain dari penggarapan musik dan notasi, termasuk instrumen musik yang digunakan mengiringi sebuah komposisi lagu Batak. Meski oleh sebagian orang dianggap “menyimpang”, kreativitas dan keberanianku menyuguhkan warna lain itu sebenarnya bentuk penghormatan yang tak tertakar isinya terhadap nilai-nilai budaya Batak. Juga sebagai wujud penghormatan atas kaedah adat Batak ‘Dalihan Natolu’ yang kuyakini maknanya: <i>Somba marhula-hula</i>.</span><span style="font-size:8pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">TobaDream-2</span></b><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> wujud konsistensiku untuk lebih meyakinkan kaum muda Batak dan non-Batak bahwa proses kreatif dan upaya yang kulakukan untuk merevitalisasi musik Batak, bukanlah proyek coba-coba yang tak mengindahkan kaedah bermusik. Ada keseriusan berkarya yang sangat intens dan pengorbanan besar di dalamnya. Sikap dan pandangan tersebut berasal dari keyakinanku bahwa musik dan lagu Batak adalah bagian penting dari budaya; bukan semata-mata komoditas hiburan yang menjadi permainan industri musik belaka. Harapan yang kubangun, lewat album ini, unsur dan ajaran ‘Dalihan Natolu’ <i>Manat mardongan tubu</i> itu tetap terjaga melalui kehati-hatian memilih dan mengangkat setiap komposisi lagu yang kuaransemen. </span><span style="font-size:8pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">TobaDream-3 </span></b><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">merupakan<b> </b>manifestasi dari tuntutan yang dibebankan pada seorang yang berposisi sebagai ‘Parhobas’, yang terus ditantang berkarya, tanpa kenal lelah dan keluh-kesah. Dan ternyata menjadi ‘Parhobas’ itu sungguhlah tidak mudah. Ia dituntut membuat karya sempurna, seperti apapun kondisi, situasi, atau kesulitannya. Karenanya, proses pembuatan album ini merupakan yang tersulit dibanding dua episode sebelumnya. Banyak pergumulan, juga rintangan, yang seakan bermaksud menggagalkan penyelesaian album ini. Namun demikian, proses pembuatan album yang terakhir ini kujadikan semacam cermin, juga penyemangat untuk bekerja keras tanpa pamrih, yang semoga bisa menggugah dan menginspirasi kaum muda agar terus mencintai musik, ekosistem, dan budaya Batak, seperti halnya <i>Mangelek boru</i> dalam ajaran ‘Dalihan Natolu’.</span><span style="font-size:8pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Aku tak bisa memastikan seperti apa hasil akhir yang akan dimunculkan ketiga album ini. Yang selama ini kurasakan adalah: ada keterpanggilan untuk melakukan sesuatu terhadap musik (dan budaya) Batak. Masih banyak yang harus dilakukan untuk melestarikan budaya Batak, trilogi TobaDream ini hanya sebuah cara, medium, atau alat, untuk melangkah lebih jauh. Namun kurasakan, pembuatan ketiga album ini telah mengakhiri satu babak yang amat penting dalam episode kehidupanku, sebelum memasuki babak lain yang masih panjang.</span><span style="font-size:8pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;"> satu hal yang sangat ingin kutegaskan. Ketiga album TobaDream bukan hanya milik “si Piki Sianipar”, tetapi dengan tulus kuserahkan sebagai milik <b>semua</b> generasi muda Batak, di mana pun lahir dan kini berada. Hanya melalui karya semacam inilah yang bisa kupersembahkan sebagai salah satu alat untuk menggugah kaum muda Batak dan Indonesia, agar lebih mencintai budayanya sendiri ketimbang budaya asing.</span><span style="font-size:8pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><i><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Ai ido tona ni ompui </span></i></b><span style="font-size:8pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><i><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">I am just a messanger</span></i></b><span style="font-size:8pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8pt;font-family:Verdana;">Horas!</span><span style="font-size:8pt;"></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
