<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>hadis &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/hadis/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "hadis"</description>
	<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 14:09:27 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Jangan Potong Rambut/Kuku Hingga Qurban Dilaksanakan]]></title>
<link>http://islamkitasemua.wordpress.com/2009/11/25/jangan-potong-rambutkuku-hingga-qurban-dilaksanakan/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 01:16:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>Fariz Andri Bakhtiar</dc:creator>
<guid>http://islamkitasemua.wordpress.com/2009/11/25/jangan-potong-rambutkuku-hingga-qurban-dilaksanakan/</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Penulis: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin</em></p>
<tr>
<td><span class="fnu">عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا</span>Dari Ummu Salamah, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabada: ”Apabila telah masuk sepuluh (hari pertama bulan Dzulhijjah), salah seorang di antara kalian ingin berqurban, maka janganlah sedikit pun ia menyentuh (memotong) rambut (bulu)nya dan mengupas kulitnya.”
<p>&#160;</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya no. 25269, Al-Imam Muslim no. 1977, Al-Imam An-Nasa`i, 7 hal. 212, Al-Imam Abu Dawud 3/2793, Al-Imam At-Tirmidzi 3/1523, Al-Imam Ibnu Majah 2/3149, Al-Imam Ad-Darimi no. 1866. (CD Program, Syarh An-Nawawi cet. Darul Hadits)</p>
<p><!--more--><strong>Jalur Periwayatan Hadits </strong></p>
<p><span class="fnu">Hadits tersebut diriwayatkan dari jalan Sa’id bin Musayyib dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Dalam riwayat hadits ini terdapat seorang rawi yang diperselisihkan penyebutan namanya, yaitu ‘Umar bin Muslim Al-Junda’i. Ada yang menyebutnya ‘Umar bin Muslim dan ada pula yang menyebutnya ‘Amr bin Muslim.Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menerangkan, riwayat ‘Umar bin Muslim dari Sa’id bin Musayyab, pada nama عمر kebanyakan riwayat menyebutnya dengan mendhammah ‘ain (عُمر) ‘Umar, kecuali riwayat dari jalan Hasan bin ‘Ali Al-Hulwani, menyebutkan dengan memfathah ‘ain (عَمرو) ‘Amr. Dan ulama menyatakan bahwa keduanya ada penukilannya. (lihat Syarh Al-Imam An-Nawawi, 7/155)Sebaliknya, Al-Imam Abu Dawud rahimahullahu menyatakan, telah terjadi perselisihan dalam penyebutan ‘Amr bin Muslim. Sebagian menyatakan ‘Umar dan kebanyakan menyatakan ‘Amr. Beliau sendiri menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa dia adalah ‘Amr bin Muslim bin Ukaimah Al-Laitsi Al-Junda’i. (lihat ‘Aunul Ma’bud, 5/224, cet. Darul Hadits)Al-Hafizh Syamsuddin Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan: “Telah terjadi perselisihan pendapat di kalangan manusia terhadap hadits ini, baik dari sisi riwayat maupun dirayah (kandungan maknanya). Sebagian berkata: Tidak benar kalau hadits ini kedudukannya marfu’ (sampai kepada nabi), yang benar ialah mauquf (hanya sampai kepada shahabat).</p>
<p>Ad-Daruquthni rahimahullahu berkata dalam kitab Al-‘Ilal: Telah meriwayatkan secara mauquf Abdullah bin ‘Amir Al-Aslami, Yahya Al-Qathan, Abu Dhamrah, semuanya dari Abdurrahman bin Humaid, dari Sa’id. ‘Uqail meriwayatkan secara mauquf sebagai ucapan Sa’id. Yazid bin Abdillah dari Sa’id dari Ummu Salamah, sebagai ucapan Ummu Salamah. Demikian pula Ibnu Abi Dzi`b meriwayatkan dari jalan Al-Harts bin Abdurrahman, dari Abu Salamah, dari Ummu Salamah, sebagai ucapannya. Abdurrahman bin Harmalah, Qatadah, Shalih bin Hassan, semuanya meriwayatkan dari Sa’id, sebagai ucapannya. Riwayat yang kuat dari Al-Imam Malik, menyatakan mauquf. Dan Al-Imam Ad-Daruquthni berkata: “Yang benar menurut saya adalah pendapat yang menyatakan mauquf.”</p>
<p>Pendapat kedua menyatakan yang benar adalah marfu’. Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah Al-Imam Muslim ibn Hajjaj rahimahullahu, seperti yang beliau sebutkan dalam kitab Shahih-nya. Demikian pula Abu ‘Isa At-Tirmidzi rahimahullahu berkata: “Hadits ini hasan shahih.” Ibnu Hibban rahimahullahu juga meriwayatkan dalam Shahih-nya.</p>
<p>Abu Bakr Al-Baihaqi rahimahullahu berkata: “Hadits ini telah tetap/kuat sebagai hadits yang marfu’ ditinjau dari beberapa sisi. Di antaranya: Tidak mungkin orang yang seperti mereka (para ulama yang menshahihkan) salah. Al-Imam Muslim rahimahullahu telah menyebutkan dalam kitabnya. Selain mereka juga masih ada yang menshahihkannya. Telah meriwayatkan secara marfu’ Sufyan bin Uyainah dari Abdurahman bin Humaid dari Sa’id dari Ummu Salamah dari Nabi, dan Syu’bah dari Malik dari ‘Amr bin Muslim dari Sa’id dari Ummu Salamah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidaklah kedudukan Sufyan dan Syu’bah di bawah mereka yang meriwayatkan secara mauquf. Tidaklah lafadz/ucapan hadits seperti ini merupakan ucapan dari para shahabat, bahkan terhitung sebagai bagian dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti sabda beliau (لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ) Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian dan yang semisalnya.” (lihat ‘Aunul Ma’bud, 5/225 cet. Darul Hadits, Mesir)</p>
<p><strong>Penjelasan Hadits</strong></p>
<p>(إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ) artinya, apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.</p>
<p>Makna ini dipahami dari riwayat lain yang menyebutkan:</p>
<p>إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الْحِجَّةِ</p>
<p>”Apabila kalian telah melihat hilal di bulan Dzulhijah.”</p>
<p>atau:</p>
<p>فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِي الْحِجَّةِ</p>
<p>”Apabila telah terlihat hilal bulan Dzulhijjah.”</p>
<p>(وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ) artinya, salah seorang di antara kalian ingin berqurban.</p>
<p>Pada sebagian riwayat terdapat tambahan lafadz (وَعِنْدَهُ أُضْحِيَّةٌ), di sisinya (punya) hewan sembelihan. Pada lafadz yang lain (مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ), barangsiapa punya hewan sembelihan yang akan dia sembelih.</p>
<p>(فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا) artinya, janganlah sedikitpun ia menyentuh (memotong) rambut (bulu) nya dan mengupas kulitnya.</p>
<p>Pada riwayat yang lain terdapat lafadz (فَلاَ يَأْخُذَنَّ شَعْرًا وَلاَ يَقْلِمَنَّ ظُفْرًا), Janganlah sekali-kali ia mengambil rambut dan memotong kuku.</p>
<p>Pada lafadz yang lain:</p>
<p>(فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ) Hendaknya ia menahan dari memotong rambut dan kukunya.</p>
<p>Dalam lafadz yang lain:</p>
<p>فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ</p>
<p>Janganlah sekali-kali ia mengambil rambut dan memotong kukunya sedikitpun, hingga ia menyembelih.</p>
<p><strong>Sunnah yang Terabaikan</strong></p>
<p>Termasuk sunnah yang terabaikan bagi seorang yang telah memiliki hewan qurban yang akan ia sembelih adalah tidak ada pengetahuan tentang apa yang harus ia perbuat apabila telah masuk tanggal 1 hingga 10 Dzulhijjah (hari raya qurban tiba)! Tidak/belum sampainya suatu ilmu seringkali menjadi penyebab terabaikannya sekian banyak sunnah (kebaikan) baik berupa perintah atau larangan. Oleh sebab itu, sepantasnya bahkan wajib bagi setiap muslim, laki-laki maupun wanita untuk membekali kehidupan ini dengan ilmu agama yang benar, hingga tidak berujung penyesalan hidup di kemudian hari.</p>
<p>Hadits yang tersebut di atas membimbing kita, terutama bagi seorang muslim yang telah mempersiapkan hewan qurban untuk disembelih pada hari raya qurban atau setelahnya pada hari-hari Tasyriq (tanggal 11,12,13 Dzulhijjah). Apabila telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah, hendaknya ia menahan diri untuk tidak mencukur atau mencabut rambut/bulu apapun yang ada pada dirinya (baik rambut kepala, ketiak, tangan, kaki, dan yang lainnya). Demikian pula tidak boleh memotong kuku (tangan maupun kaki) serta tidak boleh mengupas kulit badannya (baik pada telapak tangan maupun kaki, ujung jari, tumit, atau yang lainnya). Larangan ini berlaku bagi yang memiliki hewan qurban dan akan berqurban, bukan bagi seluruh anggota keluarga seseorang yang akan berqurban. Larangan ini berakhir hingga seseorang telah menyembelih hewan qurbannya. Jika ia menyembelih pada hari yang kesepuluh Dzulhijjah (hari raya qurban), di hari itu boleh baginya mencukur rambut/memotong kuku. Jika ia menyembelih pada hari yang kesebelas, keduabelas, atau yang ketigabelas, maka di hari yang ia telah menyembelih hewan qurban itulah diperbolehkan baginya untuk mencukur rambut atau memotong kuku.</p>
<p>Dalam sebuah riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim, ‘Amr bin Muslim pernah mendapati seseorang di kamar mandi sedang mencabuti bulu ketiaknya menggunakan kapur sebelum hari raya qurban. Sebagian mereka ada yang berkata: “Sesungguhnya Sa’id bin Musayyib tidak menyukai perkara ini.”</p>
<p>Ketika ‘Amr bin Muslim bertemu dengan Sa’id bin Musayyib, ia pun menceritakannya. Sa’id pun berkata: “Wahai anak saudaraku, hadits ini telah dilupakan dan ditinggalkan. Ummu Salamah radhiyallahu &#8216;anha, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan kepadaku, ia berkata: Nabi telah bersabda, seperti hadits di atas.”</p>
<p>Kalau manusia di zaman beliau demikian keadaannya, bagaimana dengan di zaman kita sekarang?!</p>
<p>Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang menghidupkan Sunnah Nabi-Nya dan bukan menjadikan sebagai orang yang memadamkan/mematikannya.</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi larangan dalam perkara ini. Ada yang memahami sesuai dengan apa yang nampak dari lafadz hadits tersebut, sehingga mereka berpendapat haram bagi seseorang untuk melakukannya (wajib untuk meninggalkannya). Di antara mereka adalah Sa’id bin Musayyib, Rabi’ah bin Abi Abdirrahman, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, dan sebagian dari pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i. Adapun Al-Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya berpendapat makruh (tidak dikerjakan lebih utama), bukan diharamkam. Dan yang berpendapat semisal ini adalah Al-Imam Malik dan sebagian pengikut Al-Imam Ahmad seperti Abu Ya’la dan yang lainnya.</p>
<p>Pendapat lain dalam hal ini adalah mubah (tidak mengapa melakukannya). Pendapat ini dianut oleh Abu Hanifah dan pengikutnya.</p>
<p><strong>Peringatan</strong></p>
<p>Sebagian orang ada yang memahami bahwa larangan mencukur rambut/bulu, memotong kuku, dan mengupas/mengambil kulit, kata ganti dalam hadits di atas (-nya &#8211; bulunya, kukunya, kulitnya) kembali kepada hewan yang akan disembelih.</p>
<p>Jika demikian, hadits di atas akan bermakna: “Apabila telah masuk 10 hari awal Dzulhijjah, dan salah seorang di antara kalian akan berqurban, maka janganlah ia mencukur bulu (hewan yang akan dia sembelih), memotong kuku (hewan qurban), dan jangan mengupas kulit (hewan qurban).”</p>
<p>Tentunya bukanlah demikian maknanya. Makna ini juga tidak selaras dengan hikmah yang terkandung di dalam hadits itu sendiri.</p>
<p><strong>Hikmah yang Terkandung</strong></p>
<p>Di samping sebagai salah satu bentuk ketaatan dan mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hikmah dari larangan tersebut adalah agar seseorang tetap utuh anggota badannya kala ia akan dibebaskan dari panasnya api neraka.</p>
<p>Sebagian ada yang berpendapat, hikmahnya adalah agar seorang merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji atau diserupakan dengan seorang yang telah berihram, sehingga mereka juga dilarang dari mencukur rambut, memotong kuku, mengupas kulit, dan sebagainya.</p>
<p>Namun pendapat terakhir ini ada yang tidak menyetujuinya, dengan alasan, bagaimana diserupakan dengan seorang yang menunaikan haji, sementara ia (orang yang akan berqurban) tidak dilarang dari menggauli istrinya, memakai wewangian, mengenakan pakaian dan yang lainnya. (lihat ‘Aunul Ma’bud 5/224-226, cet. Darul Hadits, Syarh An-Nawawi 7/152-155, cet. Darul Hadits)</p>
<p><strong>Hadits-hadits Lemah dalam Berqurban</strong></p>
<p>1.	Kesempurnaan sembelihan</p>
<p>عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُمِرْتُ بِيَوْمِ اْلأَضْحَى عِيْدًا جَعَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ. قَالَ الرَّجُلُ: أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ أَجِدْ إِلاَّ أُضْحِيَّةً أُنْثَى أَفَأُضَحِّي بِهَا؟ قَالَ: لاَ، وَلَكِنْ تَأْخُذُ مِنْ شَعْرِكَ وَأَظْفَارِكَ وَتَقُصُّ شَارِبَكَ وَتَحْلِقُ عَانَتَكَ فَتِلْكَ تَمَامُ أُضْحِيَّتِكَ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ</p>
<p>Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintahkan pada hari Adha sebagai hari raya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menghadiahkannya untuk umat ini.” Seorang sahabat bertanya: “Bagaimana pendapatmu (kabarkan kepada saya) jika aku tidak mendapatkan kecuali sembelihan hewan betina, apakah aku menyembelihnya?” Beliau menjawab: “Jangan. Akan tetapi ambillah dari rambut dan kukumu, cukur kumis serta bulu kemaluanmu. Itu semua sebagai kesempurnaan sembelihanmu di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Abu Dawud no. 2786)</p>
<p>Al-Mundziri rahimahullahu menjelaskan: “Hadits ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa`i. Sanad hadits ini lemah di dalamnya terdapat seorang rawi yang bernama ‘Isa bin Hilal Ash-Shadafi. Tidak ada yang menguatkan kecuali Ibnu Hibban.”</p>
<p>Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mendhaifkannya dalam Dha’if Abi Dawud. (lihat ‘Aunul Ma’bud 5/222)</p>
<p>2.	Sembelihan dikhususkan untuk orang yang sudah meninggal</p>
<p>عَنْ حَنَشٍ قَالَ: رَأَيْتُ عَلِيًّا يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ فَقُلْتُ لَهُ: مَا هَذَا؟ فَقَالَ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَانِي أَنْ أُضَحِّيَ عَنْهُ فَأَنَا أُضَحِّي عَنْهُ</p>
<p>Dari Hanasy ia berkata: “Aku melihat ‘Ali bin Abi Thalib sedang menyembelih dua ekor domba. Kemudian aku bertanya: ‘Apa ini?’ Ali pun menjawab: ‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepadaku agar aku menyembelih hewan qurban untuknya, dan akupun menyembelihkan untuknya.” (HR. Abu Dawud no. 2786, At-Tirmidzi no. 1495)</p>
<p>Sanad hadits ini lemah, terdapat di dalamnya seorang rawi yang bernama Abul Hasna`, yang dia tidak dikenal. (lihat ‘Aunul Ma’bud 5/222)</p>
<p>3.	Pahala bagi orang yang berqurban</p>
<p>فِي اْلأُضْحِيَّةِ لِصَاحِبِهَا بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pada setiap hewan qurban, terdapat kebaikan di setiap rambut bagi pemiliknya.” (HR. At-Tirmidzi. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Hadits ini maudhu’ (palsu).”)</p>
<p>4. Hewan qurban adalah tunggangan di atas shirath</p>
<p>اسْتَفْرِهُوْا ضَحَايَاكُمْ، فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ عَلىَ الصِّرَاطِ</p>
<p>“Perbaguslah hewan qurban kalian, karena dia adalah tunggangan kalian di atas shirath.”</p>
<p>Hadits ini lemah sekali (dha’if jiddan). Dalam sanadnya ada Yahya bin Ubaidullah bin Abdullah bin Mauhab Al-Madani, dia bukanlah rawi yang tsiqah, bahkan matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan oleh para ulama). Juga ayahnya, Ubaidullah bin Abdullah, adalah seorang yang majhul. Lihat Adh-Dha’ifah karya Al-Albani rahimahullahu (2/14, no. hadits 527, dan 3/114, no. hadits 1255), Dha’iful Jami’ (no. 824). (Ahkamul Udh-hiyyah hal. 60 dan 62, karya Abu Sa’id Bal’id bin Ahmad)</p>
<p>عَظِّمُوا ضَحَايَاكُمْ فِإِنَّهَا عَلَى الصِّرَاطِ مَطَايَاكُمْ</p>
<p>“Gemukkanlah hewan qurban kalian, karena dia adalah tunggangan kalian di atas shirath.”</p>
<p>Hadits dengan lafadz ini tidak ada asalnya. Ibnu Shalah rahimahullahu berkata: “Hadits ini tidak dikenal, tidak pula tsabit (benar datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Ahkamul Udh-hiyyah hal. 64, karya Abu Sa’id Bal’id bin Ahmad)</p>
<p>5. Darah sembelihan jatuh di tempat penyimpanan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala</p>
<p>أَيُّهَا النَّاسُ، ضَحُّوْا وَاحْتَسِبُوْا بِدِمَائِهَا، فَإِنَّ الدَّمَ وَإِنْ وَقَعَ فِي اْلأَرْضِ فَإِنَّهُ يَقَعُ فِي حِرْزِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ</p>
<p>“Wahai sekalian manusia, berqurbanlah dan harapkanlah pahala dari darahnya. Karena meskipun darahnya jatuh ke bumi namun sesungguhnya dia jatuh ke tempat penyimpanan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Ausath)</p>
<p>Hadits ini maudhu’ (palsu). Dalam sanadnya ada ‘Amr bin Al-Hushain Al-’Uqaili, dia matrukul hadits, sebagaimana dinyatakan Al-Haitsami rahimahullahu. Lihat Adh-Dha’ifah karya Al-Albani rahimahullahu (2/16, no. hadits 530). (Ahkamul Udh-hiyyah hal. 62, karya Abu Sa’id Bal’id bin Ahmad)</p>
<p>Wallahu ta’ala a’lam.</p>
<p>&#160;</p>
<p></span></p>
<p>&#160;</p>
</td>
</tr>
<p><em>Sumber:<br />
<a href="http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&#38;id_online=579"><strong>AsySyariah</strong><br />
(Sunnah yang Terabaikan Bagi Seseorang yang Mau Berqurban)</a></em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kur'ân'ın Allah Kelamı Olduğunu İspatta Bediüzzaman Said Nursi'nin Orijinal Bir Usûlü ]]></title>
<link>http://risaleoku.wordpress.com/2009/11/22/kuranin-allah-kelami-oldugunu-ispatta-bediuzzaman-said-nursinin-orijinal-bir-usulu-2/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 16:59:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahmetturkan</dc:creator>
<guid>http://risaleoku.wordpress.com/2009/11/22/kuranin-allah-kelami-oldugunu-ispatta-bediuzzaman-said-nursinin-orijinal-bir-usulu-2/</guid>
<description><![CDATA[İcaz-ı Kur&#8217;ân disiplini, Kur&#8217;ân-ı Kerim&#8217;in Allahkelamı olup, benzeri bir söz söyle]]></description>
<content:encoded><![CDATA[İcaz-ı Kur&#8217;ân disiplini, Kur&#8217;ân-ı Kerim&#8217;in Allahkelamı olup, benzeri bir söz söyle]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengungkap Kebodohan dan Kedustaan Syaikh Al Albani dan Pengikutnya Abul Jauzaa : Tuduhan Dusta Terhadap Syaikh Al Musawi]]></title>
<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/11/22/mengungkap-kebodohan-dan-kedustaan-syaikh-al-albani-dan-pengikutnya-abul-jauzaa-tuduhan-dusta-terhadap-syaikh-al-musawi/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 13:48:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>secondprince</dc:creator>
<guid>http://secondprince.wordpress.com/2009/11/22/mengungkap-kebodohan-dan-kedustaan-syaikh-al-albani-dan-pengikutnya-abul-jauzaa-tuduhan-dusta-terhadap-syaikh-al-musawi/</guid>
<description><![CDATA[Syaikh Al Albani dalam kitabnya Silsilah Ahadiits Ash Shahihah no 2487 telah menyatakan tuduhan dust]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Syaikh Al Albani dalam kitabnya <em>Silsilah Ahadiits Ash Shahihah</em> no 2487 telah menyatakan tuduhan dusta kepada <em>Syaikh Syarafuddin Al Musawi penulis kitab Al Muraja’at [Dialog Sunni-Syiah]</em>. Syaikh Al Albani menyatakan kalau <em>Syaikh Al Musawi telah memanipulasi atau mengubah hadis</em>. Tuduhan dusta ini diikuti pula oleh pengikut salafy Abul Jauzaa&#8217; dalam salah satu tulisannya. Abul Jauzaa&#8217; terang-terangan membuat judul tulisan yang provokatif yaitu <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Mengungkap Kebodohan dan Kedustaan Abdul Husain Asy Syi’i Dalam Kitab Al Muraja’at – Manipulasi Hadits</em></span></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini adalah studi kritis terhadap tulisan saudara Abul Jauzaa tersebut sebagai bantahan terhadapnya dan Syaikhnya yang terhormat yaitu Syaikh Al Albani. Insya Allah akan diungkapkan siapa sebenarnya yang bodoh dan dusta itu.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis yang dibicarakan itu adalah <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>hadis Rasulullah SAW dimana Imam Ali dikatakan akan berperang dalam penafsiran Al Qur’an sebagaimana Rasul SAW berperang dalam penurunan Al Qur’an</em></span></span>. Hadis tersebut adalah hadis yang shahih sebagaimana telah diakui oleh Syaikh Al Albani dan pengikutnya. Kami katakan pernyataan mereka bahwa hadis ini shahih adalah pernyataan yang benar dan tidak ada alasan bagi kami untuk menolaknya.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1479" src="http://secondprince.wordpress.com/files/2009/11/abul-jauzaa-ali-diperangi.jpg" alt="" width="468" height="339" /></p>
<p style="text-align:justify;">Kami akan memberikan catatan ringkas mengenai kutipan di atas. Hadis yang ditakhrij oleh Syaikh Al Albani itu memiliki lafaz yang berbeda-beda. Lafaz yang ditulis Syaikh adalah lafaz Ahmad dalam <em>Musnad</em>-nya 3/82 no 11790. Sedangkan Lafaz Ahmad dalam <em>Musnad</em>-nya 3/33 no 11307 adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>“dan berdirilah  Abu bakar dan Umar”</em></span>.  lafaz An Nasa’i dalam <em>Al Khasa’is </em>no 55 tidak dengan lafaz <span style="text-decoration:underline;"><em>“dan diantara kami ada Abu Bakar dan Umar”</em></span> tetapi dengan lafaz <span style="text-decoration:underline;"><em>“Abu Bakar berkata ‘saya kah?’ Rasulullah SAW menjawab “tidak”, Umar berkata ‘saya kah?’ Rasulullah SAW menjawab “tidak”</em></span>. Begitu pula lafaz yang ada pada kitab <em>Musnad Abu Ya’la</em> no 1086. Perbedaan lafaz itu adalah hal yang biasa dan tidak ada masalah dalam pengutipan hadis jika seseorang mengeluarkan salah satu lafaz saja dari hadis-hadis tersebut. Yang aneh bin ajaib adalah jika menuduh dusta atau menuduh seseorang memanipulasi hadis hanya karena lafaz hadis yang berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1480" src="http://secondprince.wordpress.com/files/2009/11/abul-jauza-ali-diperangi.jpg" alt="" width="468" height="355" /></p>
<p style="text-align:justify;">Kami katakan memang benar Syaikh Al Musawi keliru tetapi kekeliruannya disini karena ia mengikuti apa yang tertera dalam kitab <em>Al Kanz </em>Ali Mutaqqi Al Hindi. Penyebutan Said bin Manshur oleh Syaikh Al Musawi disebabkan syaikh hanya membaca apa yang tertulis dalam kitab Al Kanz tanpa menelitinya kembali. Sedangkan kesalahan Syaikh soal penulisan kitab Abu Ya’la, memang benar Abu Ya’la tidak memiliki kitab Sunan dan kitab yang dimaksud adalah <em>Musnad Abu Ya’la</em>. Walaupun begitu Syaikh Al Musawi sendiri di tempat yang lain yaitu dalam Al Muraja&#8217;at catatan kaki dialog no 44 ketika mengutip hadis ini, ia memang menyebutkan kitab <em>Musnad Abu Ya’la </em>bukan<em> Sunan</em></p>
<h2 style="text-align:right;">أخرجه الامام أحمد بن حنبل من حديث أبي سعيد في مسنده، ورواه الحاكم في مستدركه، <span style="color:#0000ff;">أبو يعلى في المسند</span></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dikeluarkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari Hadis Abu Sa’id di dalam Musnadnya dan diriwayatkan Al Hakim dalam Al Mustadraknya dan <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Abu Ya’la di dalam Al Musnad</span></span>.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kalau memang kesalahan Syaikh Al Musawi ini disebut sebagai kebodohan maka kami katakan <span style="text-decoration:underline;"><em>orang pertama yang harus dikatakan begitu adalah penulis Kitab Al Kanz</em></span>. Karena kesalahan tersebut bersumber dari kode yang ada di kitab tersebut. Bagi kami pribadi kesalahan tersebut adalah hal yang lumrah, cukup banyak para ulama yang melakukan kesalahan seperti itu. Anehnya baik Syaikh Al Albani maupun pengikutnya Abul Jauzaa hanya bersemangat untuk merendahkan Syaikh Al Musawi saja, dan tidak berkomentar apapun mengenai penulis kitab Al Kanz. Kenapa? <span style="text-decoration:underline;"><em>Apakah karena Syaikh Al Musawi itu syiah sedangkan penulis kitab Al Kanz itu Sunni maka yang berdusta hanya Syiah sedangkan yang Sunni tidak, walaupun sebenarnya yang Syiah hanya mengutip dari yang Sunni?</em></span> Mereka mengatakan bahwa ada kesalahan penulisan dalam kitab Al Kanz maka mengapa pula tidak bisa dikatakan ada kesalahan penulisan dalam kitab <em>Al Muraja’at</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1481" src="http://secondprince.wordpress.com/files/2009/11/abul-jauza-ali-diperangi2.jpg" alt="" width="468" height="257" /></p>
<p style="text-align:justify;">Kutipan diatas inilah yang menunjukkan kebodohan dan kedustaan Syaikh Al Albani dan pengikutnya Abul Jauzaa’. <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em>Tuduhan mereka bahwa Syaikh Al Musawi yang mengganti lafaz tersebut adalah dusta</em></span></span>. Syaikh Syarafuddin Al Musawi hanya menyalin apa yang tertulis dalam Kitab <em>Al Kanz</em>. Berikut hadisnya dalam Kitab<em> Al Kanz</em> no 36351</p>
<h2 style="text-align:right;">مسند أبي سعيد } قال كنا جلوسا في المسجد فخرج رسول الله صلى الله عليه و سلم فجلس إلينا ولكأن على رؤسنا الطير لا يتكلم منا أحد فقال : إن منكم رجلا يقاتل الناس على تأويل القرآن <span style="color:#0000ff;">كما قوتلتم على تنزيله</span> فقام أبو بكر فقال : أنا هو يا رسول الله ؟ قال : لا فقام عمر فقال : أنا هو يا رسول الله ؟ قال : لا ولكنه خاصف النعل في الحجرة فخرج علينا علي ومعه نعل رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلح منها</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Musnad Abu Sa&#8217;id : Ia berkata &#8220;kami duduk-duduk di dalam masjid kemudian Rasulullah SAW datang dan ikut duduk bersama kami. Seolah-olah di atas kepala kami ada burung-burung hingga tak seorangpun diantara kami yang berbicara. kemudian Rasulullah SAW bersabda &#8220;Diantara kamu ada seseorang yang berperang atas penafsiran Al Qur&#8217;an <span style="color:#0000ff;">sebagaimana kamu diperangi dalam penurunannya</span>. Maka berdirilah Abu Bakar dan berkata &#8220;sayakah orangnya wahai Rasulullah?. Beliau SAW menjawab &#8220;bukan&#8221;. Umar pun berdiri dan berkata &#8220;sayakah orangnya wahai Rasulullah?. Beliau SAW menjawab &#8220;bukan, dia adalah yang sedang menjahit sandal &#8220;. kemudian Ali datang kepada kami bersama sandal Rasulullah SAW yang sudah diperbaikinya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Silakan perhatikan kata-kata yang dicetak biru. Itulah lafaz hadis yang menurut Syaikh Al Albani dan pengikutnya Abul Jauzaa’ telah dirubah atau diganti oleh Syaikh Al Musawi. Penulis kitab <em>Al Kanz</em> Ali Al Hindi memang menuliskan hadis tersebut dengan lafaz seperti itu. Jika memang hal ini disebut kedustaan maka seharusnya yang mereka tuduh melakukan kedustaan adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>penulis kitab Al Kanz bukan Syaikh Al Musawi</em></span>. Kami yakin Syaikh Al Albani telah membaca kitab Al Kanz buktinya<span style="text-decoration:underline;"><em> ia bisa mengetahui adanya kesalahan kode dalam kitab tersebut tetapi entah mengapa ia tetap menuduh Syaikh Al Musawi yang mengubah lafaz hadisnya</em></span>. Maka siapakah yang sebenarnya berdusta?.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://secondprince.wordpress.com/files/2009/11/al-mushannaf-ibnu-abi-syaibah.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1482" title="Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah" src="http://secondprince.wordpress.com/files/2009/11/al-mushannaf-ibnu-abi-syaibah.jpg" alt="" width="434" height="652" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Hal lain yang menunjukkan kebodohan dan kedustaan Syaikh Al Albani dan pengikutnya Abul Jauzaa’ adalah hadis dengan lafaz seperti itu ternyata memang terdapat di dalam kitab lain yaitu <em>Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah</em> no 32618 dengan sanad yang shahih. Berikut kutipannya</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://secondprince.wordpress.com/files/2009/11/hadis-ali-diperangi.jpg"><span style="color:#000000;"> </span></a><img class="aligncenter size-full wp-image-1483" src="http://secondprince.wordpress.com/files/2009/11/hadis-ali-diperangi.jpg" alt="Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah" width="468" height="221" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Ghaniyyah dari Ayahnya dari Isma&#8217;il bin Rajaa&#8217; dari Ayahnya dari Abu Sa&#8217;id Al Khudri RA yang berkata &#8220;kami duduk-duduk di dalam masjid kemudian Rasulullah SAW datang dan ikut duduk bersama kami. Seolah-olah di atas kepala kami ada burung-burung hingga tak seorangpun diantara kami yang berbicara. kemudian Rasulullah SAW bersabda &#8220;Diantara kamu ada seseorang yang berperang atas penafsiran Al Qur&#8217;an <span style="color:#0000ff;">sebagaimana kamu diperangi dalam penurunan Al Qur&#8217;an</span>. Maka berdirilah Abu Bakar dan berkata &#8220;sayakah orangnya wahai Rasulullah?. Beliau SAW menjawab &#8220;bukan&#8221;. Umar pun berdiri dan berkata &#8220;sayakah orangnya wahai Rasulullah?. Beliau SAW menjawab &#8220;bukan, dia adalah yang sedang menjahit sandal &#8220;. kemudian Ali datang kepada kami bersama sandal Rasulullah SAW yang sudah diperbaikinya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis tersebut bersanad shahih dengan syarat Muslim karena semua perawinya adalah perawi tsiqat dan perawi Muslim.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">Ibnu Abi Ghaniyyah adalah Yahya bin Abdul Malik bin Humaid bin Abi Ghaniyyah.</span> Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam <em>At Tahdzib</em> juz 11 no 406 bahwa<span style="text-decoration:underline;"><em> ia adalah perawi Bukhari Muslim dan dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ma’in, Al Ajli, Ibnu Hibban, Abu Dawud dan Daruquthni</em></span>. Disebutkan dalam <em>Tahrir At Taqrib</em> no 7598 kalau<span style="text-decoration:underline;"><em> ia seorang yang tsiqat</em></span>.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Ayah Ibnu Abi Ghaniyyah adalah Abdul Malik bin Humaid bin Abi Ghaniyyah.</span> Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam <em>At Tahdzib</em> juz 6 no 743, <span style="text-decoration:underline;"><em>ia juga adalah perawi Bukhari dan Muslim dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban dan Al Ajli</em></span>. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/615 menyatakan<em> ia tsiqat.</em></li>
<li><span style="color:#0000ff;">Ismail bin Rajaa’ Az Zubaidi </span>adalah perawi Muslim, Ibnu Hajar menyebutkan dalam <em>At Tahdzib</em> 1 no 548 kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>ia dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, Ibnu Ma’in, An Nasa’i dan Ibnu Hibban</em></span>. Ibnu Hajar dalam<em> At Taqrib</em> 1/94 menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia tsiqat</em></span>.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Rajaa’ bin Rabi’ah Az Zubaidi Abu Ismail Al Kufi</span> adalah Ayah Ismail seorang perawi Muslim, Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib</em> juz 3 no 501 menyatakan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hibban dan Al Ajli.</em></span> Ibnu Hajar dalam<em> At Taqrib</em> 1/298 menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia shaduq.</em></span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu hadis dengan lafaz seperti itu memang shahih dan justru <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>orang yang mengatakan dusta itulah sebenarnya yang menunjukkan kebodohan dan melakukan kedustaan</em></span></span>. Jika memang tidak suka dikatakan bodoh dan dusta maka jangan seenaknya menuduh orang lain bodoh dan dusta. Semoga Allah SWT mengampuni kita semua. Wassalam</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Catatan : </em></p>
<ul>
<li style="text-align:justify;"><em>Judul tulisan sepertinya hanya disesuaikan dengan tulisan yang dibantah </em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> <em><br />
</em></li>
<li style="text-align:justify;"><em>Jika ada yang berkeberatan terhadap judul tersebut silakan diberi tanggapan dan masukan. Insya Allah jika kami keliru akan diperbaiki</em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mutiara Kata Harian]]></title>
<link>http://cintahakiki.wordpress.com/2009/11/20/mutiara-kata-harian-8/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 15:26:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>cintahakiki</dc:creator>
<guid>http://cintahakiki.wordpress.com/2009/11/20/mutiara-kata-harian-8/</guid>
<description><![CDATA[Senyuman itu merupakan satu sedekah dan ia mampu merapatkan silaturrahim.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://cintahakiki.wordpress.com/files/2009/11/bayi-islam1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-145" title="Bayi Islam" src="http://cintahakiki.wordpress.com/files/2009/11/bayi-islam1.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><strong>Senyuman </strong>itu merupakan satu sedekah dan ia mampu merapatkan silaturrahim.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sujud Syukur]]></title>
<link>http://cintahakiki.wordpress.com/2009/11/20/sujud-syukur/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 15:19:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>cintahakiki</dc:creator>
<guid>http://cintahakiki.wordpress.com/2009/11/20/sujud-syukur/</guid>
<description><![CDATA[Sujud Syukur (satu kali) merupakan ibadah sunat yang dilakukan di luar solat. Tidak harus Sujud Syuk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Sujud Syukur (satu kali)</strong> merupakan ibadah sunat yang dilakukan di luar solat. Tidak harus Sujud Syukur di dalam solat, bahkan haram jika dilakukan.</p>
<p>Disunatkan Sujud Syukur bagi mereka yang <strong>mendapat nikmat daripada Allah SWT</strong> iaitu nikmat zahir misalnya mendapat anak, naik pangkat, mendapat kekayaan yang halal, beroleh kemenangan , mendapat hujan setelah lama kemarau, sembuh daripada penyakit, dan seumpamanya.<br />
Amalan ini adalah <strong>sunnah Rasullah SAW</strong> mengikut riwayat sebuah hadis Abu Daud<strong>.</strong></p>
<p><strong>Cara2 melaksanakan Sujud Syukur:</strong></p>
<p>1)Niat serta Takbiratul-Ihram (angkat kedua tangan dan menyebut Allahu Akbar)</p>
<p>2)Terus sujud (satu kali) baca Allahu Akbar ketika bergerak sujud dan ketika bangun dari sujud.</p>
<p>3)Bacaan semasa sujud maksudnya:</p>
<p><em>Sujudlah muka dan seluruh diriku kepada Allah yang telah menciptakannya dan membentuk rupanya, juga yang telah menciptakan pendengaran dan penglihatannya (dengan perantaraan telinga dan mata) dengan kuasa Allah jugalah (pendengaran dan penglihatanku terpelihara dengan selamatnya).</em></p>
<p>4) Memberi salam<em><br />
</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BAYRAMINIZ  MÜBAREK OLSUN]]></title>
<link>http://alimsi.wordpress.com/2009/11/18/bayraminiz-mubarek-olsun/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 18:34:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>alimsi</dc:creator>
<guid>http://alimsi.wordpress.com/2009/11/18/bayraminiz-mubarek-olsun/</guid>
<description><![CDATA[İnsanın  hayalleri  olmalı  cennetten  bir bahçe gibi   özlemleri olmalı  açan çiçeklergibi  birde  ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://alimsi.wordpress.com/files/2009/11/kapadokya1.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1378" title="kapadokya1" src="http://alimsi.wordpress.com/files/2009/11/kapadokya1.jpg" alt="" width="353" height="382" /></a>İnsanın  hayalleri  olmalı  cennetten  bir bahçe gibi   özlemleri olmalı  açan çiçeklergibi  birde  rabbine  sığınacağı  günü olmalı   ,;bayramlar  gibi,   bayramınız   şimdiden mübarek olsun,;  h.ali elmacı.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AGAMA ADALAH NASIHAT]]></title>
<link>http://abahzacky.wordpress.com/2009/11/19/agama-adalah-nasihat/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 17:14:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abah Zacky as-Samarani</dc:creator>
<guid>http://abahzacky.wordpress.com/2009/11/19/agama-adalah-nasihat/</guid>
<description><![CDATA[عَنْ تَمِيْمٍ الدَّارِي رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى اله عليه وسلم قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><blockquote><p>عَنْ تَمِيْمٍ الدَّارِي رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى اله عليه وسلم قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، قُلْنَا لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ للهِ وَ لِكِتَابِهِ وَ لِرَسُوْلِهِ وَ لأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ عَامَّتِهِمْ (رواه البخاري و مسلم و الترمذي)</p>
<p>Dari Tamim ad-Dari ra. bahwasannya Nabi saw bersabda: Agama itu adalah nasehat. Kita (para sahabat) bertanya, “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, dan bagi para pemimpin kaum muslimin dan umat Islam”
</p></blockquote>
<p>Rasulullah saw menjelaskan bahwa Islam dengan segala ajarannya adalah nasehat. Dalam pengertian umum, kata nasihat merupakan sebuah kata singkat penuh isi, maksudnya ialah segala hal yang baik. Dalam bahasa arab tidak ada kata lain yang pengertiannya setara dengan kata nasihat.<br />
Jika dikatakan, seseorang memberikan nasihat, maka maknanya adalah dengan sikap tulus seseorang menginginkan kebaikan pada orang yang diberi nasihat. Dari pengertian itu difahami bahwa orang yang memberi nasihat adalah orang yang menginginkan agar yang dinasihati berada dalam keadaan baik.<br />
<!--more--><br />
Kalimat, “Agama adalah Nasihat” maksudnya nasihat adalah tiang utama dan penopang pokok agama, sebagaimana sabda Rasulullah, “Haji adalah arafah”, maksudnya wukuf di arafah adalah bagian terpenting dalam ibadah haji. Adapun Islam sebagai agama nasihat maknanya adalah agama yang menginginkan agar semua pihak dalam keadaan baik, maka diajarkannya sikap yang benar. </p>
<p>Adapun perwujudan dari nasihat ini sangat berfariasi sesuai dengan obyek tujuan nasihat, antara lain;</p>
<p>1. Nasihat bagi Allah; maksudnya beriman kepada-Nya dengan benar sesuai petunjuk di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah, menjauhkan diri dari syirik dan sikap ingkar terhadap sifat-sifat-Nya, memberikan kepada Allah sifat-sifat sempurna dan segala keagungan, mensucikan-Nya dari segala sifat kekurangan, menaati-Nya, menjauhkan diri dari perbuatan dosa, mencintai dan membenci sesuatu semata karena-Nya, berjihad menghadapi orang-orang kafir, mengakui dan bersyukur atas segala nikmat-Nya, berlaku ikhlas dalam segala urusan, mengajak melakukan segala kebaikan, menganjurkan orang berbuat kebaikan, bersikap lemah lembut kepada sesama manusia. Khathabi berkata : “Secara prinsip, sifat-sifat baik tersebut, kebaikannya kembali kepada pelakunya sendiri, karena Allah tidak memerlukan kebaikan dari siapapun” </p>
<p>Berkata Abu ‘Amru bin Ash-Sholah: ”Nasehat kepada Allah adalah mentauhidkan-Nya, menshifati-Nya sesuai dengan shifat-shifat-Nya yang lengkap dan sempurna, meninggalkan perbuatan maksiat kepada-Nya, melaksanakan keta’atan dan kecintaan kepada-Nya dengan cara mengikhlashkan ibadah kepada-Nya, cinta dan benci karena-Nya”. </p>
<p>2. Nasihat bagi kitab-Nya; yaitu mengagungkan, mencintai dan menghormati Alqur’an dalam kedudukannya sebagai wahyu Allah, mengakui bahwa itu semua tidak sama dengan perkataan manusia dan tidak pula dapat dibandingkan dengan perkataan siapapun,. Kemudian sebagai perwujudannya adalah membacanya, mempelajarinya untuk memahami maknanya, memikirkan isinya, dan sekuat tenaga mengamalkan pesan-pesannya. Alqur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, maka sudah selayaknya jika diamalkan, Firman Allah</p>
<p>Alqur’an adala kitab yang Kami turunkan kepadamu, supaya kamu dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.</p>
<p>Imam Al-Khothobiy berkata: “Nasehat kepada kitab-Nya adalah kita mengimaninya dan menjalankan apa-apa yang ada padanya”.</p>
<p>Berkata Imam Muhammad Ibn Nashir Al-Mawarzi di dalam kitabnya Ta’zhimu Qadris Sholah (II/693):”Sedangkan nasehat kepada kitab Allah adalah dengan mengagungkan dan mencintainya, karena Al-Qur’an adalah kalamullah. Lalu, memiliki perhatian dan keinginan yang kuat untuk memahaminya, mempelajari dengan didasari rasa cinta kepadanya, serius dan penuh kosentrasi disaat membacanya agar dapat memahami sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Selanjutnya ia dituntut mengamalkan seluruh isi Al-Qur’an, berakhlaq dengan akhlaqnya dan beradab dengan adabnya setelah itu ia harus menyebarluaskannya kepada manusia apa yang telah ia fahami”.</p>
<p>Dan untuk memahami Al-Qur’an dengan pemahaman yang benar haruslah memahami metode yang benar pula. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam muqoddimah kitab tafsirnya menerangkan:”Sebenar-benar metode tafsir adalah penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, penafsiran Al-Qur’an dengan As-Sunnah, penafsiran Al-Qur’an dengan perkataan para sahabat, dan penafsiran Al-Qur’an dengan perkataan para tabi’in.</p>
<p>Adapun penafsiran dengan ra’yu (akal) semata hukumnya adalah haram. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Al-Muqaddimah Fii Ushulit Tafsir.</p>
<p>3. Nasihat bagi Rasulullah; Ketika beliau saw masih hidup diwujudkan dalam bentuk mengimani beliau, mencintainya dengan sepenuh hati, membantu perjuangan beliau dengan ikhlas, dan mentaatinya baik dalam keadaan mudah maupun susah. Para sahabat telah mempraktikkan tindakan yang mencerminkan sikap nasihat kepada Rasul saw, sehingga mereka layak menjadi contoh bagi kita dalam sikap ini. </p>
<p>Adapun sepeninggal beliau saw, nasihat kepada Rasulullah tidak dapat kita lakukan seperti yang dilakukan oleh para shahabat. Karena itu untuk hal-hal yang tak mungkin dilakukan lagi seperti berjuang bersama Rasul tentu tidak menjadi tuntutan lagi. Yang menjadi tuntutan untuk dilakukan adalah mempelajari perilaku kehidupan (siroh) beliau dan juga sunnah-sunnahnya, selanjutnya meneladaninya, mempercayai kebenaran yang beliau ajarkan, menjaga kemurnian sunnahnya, mencontoh dan mengikuti akhlaknya yang mulia. Allah berfirman;</p>
<p>Sungguh pada diri Rasulullah telah ada teladan yang baik bagi kalian, bagi orang-orang yang mengharap (ridha) Allah dan (keberuntungan) di hari akhirat dan banyak menggingat Allah (Al-Ahzab:21)</p>
<p>4. Nasihat kepada para imam (pemimpin). Berkata Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi: ”Yang dimaksud para pemimpin muslim adalah para penguasa kaum muslimin. Seorang muslim haruslah menerima, mendengar dan taat kepada para penguasa selama yang dipeintahkan bukan hal maksiat. Sebab tidak boleh taat kepada makhluk dalam hal kemaksiatan terhadap Allah. </p>
<p>Berpijak pada penjelasan tentang imam tersebut, maka upaya untuk mewujudkannya adalah dengan mentaati perintahnya yang tidak dalam maksiat kepada Allah, membantu perjuangannya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, dan menyampaikan peringatan kepada jika mereka melakukan pelanggaran atau penyimpangan. </p>
<p>Thaat adalah hak pemimpin, akan tetapi kethaatan itu hanyalah pada sesuatu yang bukan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika pemimpin memerintahkan kemaksiatan maka secara otomatis perintah itu batal, tidak perlu diikuti. Justru dengan itu sebagai bentuk nasihatnya yang paling utama adalah memberi peringatan kepada pemimpin.</p>
<p>5. Nasihat kepada umat Islam pada umumnya. Bagi pemimpin, ia harus berbuat adil dan amanah, memikirkan kesejahteraan ummat Islam serta berusaha selalu membimbing mereka ke arah jalan yang benar, jalan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan bagi pribadi mukmin, hendaklah memelihara ukhuwah, sebab pada hakekatnya mereka bersaudara, sebagaimana firman Allah swt.</p>
<p>Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara maka perbaikilah persaudaraan antara kalian (al-Hujurat:10)</p>
<p>Selain itu henaklah saling mengasihi, dan menyayangi, seperti sabda Rasul saw.</p>
<p>مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ اِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ اْلأَعْضَاءِ بِالْحُمَى وَالسَّهَرِ</p>
<p>“Perumpamaan orang-orang mukmin di dalam saling menyayangi, saling mengasihi seperti satu tubuh apabila ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh anggota akan ikut merasakan dengan panas dan tidak bisa tidur.</p>
<p>Kemudian juga harus selalu memelihara sikap tolong menolong dalam kebaikan, mencegah terjadinya kemungkaran, dan mengajak dalam kebaikan<br />
Dan tolong menolonglah kalian dalamkebaikan dan jangan tolong menolong dalam dowa dan permusuhan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Download Ensiklopedi Hadits Digital versi 1.o]]></title>
<link>http://ensiklopedihadits.wordpress.com/2009/11/18/download-ensiklopedi-hadits-digital-versi-1-o/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 15:15:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>ensiklopedihadits</dc:creator>
<guid>http://ensiklopedihadits.wordpress.com/2009/11/18/download-ensiklopedi-hadits-digital-versi-1-o/</guid>
<description><![CDATA[Download Ensiklopedi Hadits Digital versi 1.o Alhamdulillah, semenjak launchingnya Ensiklopedi Hadit]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Download Ensiklopedi Hadits Digital versi 1.o Alhamdulillah, semenjak launchingnya Ensiklopedi Hadit]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hadis Keadaan Imam Ali Sepeninggal Nabi SAW dan Kelalaian Syaikh Al Albani]]></title>
<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/11/18/hadis-keadaan-imam-ali-sepeninggal-nabi-saw-dan-kelalaian-syaikh-al-albani/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 14:15:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>secondprince</dc:creator>
<guid>http://secondprince.wordpress.com/2009/11/18/hadis-keadaan-imam-ali-sepeninggal-nabi-saw-dan-kelalaian-syaikh-al-albani/</guid>
<description><![CDATA[Hadis Keadaan Imam Ali Sepeninggal Nabi SAW Rasulullah SAW melalui lisan sucinya telah mengabarkan k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Keadaan Imam Ali Sepeninggal Nabi SAW</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah SAW melalui lisan sucinya telah mengabarkan kepada Imam Ali, bagaimana kondisi Imam Ali sepeninggal Beliau SAW. Beliau SAW mengatakan bahwa Imam Ali akan mengalami kesukaran atau kesulitan sepeninggal Beliau SAW. Hal ini diriwayatkan dalam kabar shahih yang tercatat dalam kitab <em>Al Mustadrak Al Hakim</em> 3/151 no 4677<!--more--></p>
<h2 style="text-align:right;">أخبرنا أحمد بن سهل الفقيه البخاري ثنا سهل بن المتوكل ثنا أحمد بن يونس ثنا محمد بن فضيل عن أبي حيان التيمي عن سعيد بن جبير عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم لعلي أما أنك ستلقى بعدي جهدا قال في سلامة من ديني ؟ قال : في سلامة من دينك</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sahl seorang faqih dari Bukhara yang berkata telah menceritakan kepada kami Sahl bin Mutawwakil yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Abi Hayyan At Taimi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas RA yang berkata Nabi SAW berkata kepada Ali <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">“Sesungguhnya kamu akan mengalami kesukaran (bersusah payah) sepeninggalKu”.</span></span> Ali bertanya “apakah dalam keselamatan agamaku?”. Nabi SAW menjawab “dalam keselamatan agamamu”.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedudukan Hadis</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Shahih</strong>. Hadis ini telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan perawi Bukhari dan Muslim sehingga bisa dikatakan sanadnya shahih sesuai persyaratan Bukhari dan Muslim. Al Hakim setelah meriwayatkan hadis ini berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Hadis ini shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim tetapi mereka tidak meriwayatkannya.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Adz Dzahabi dalam <em>Talkhis Al Mustadrak</em> 4/238 hadis no 4677 juga mengakui kalau hadis ini shahih sesuai dengan persyaratan Bukhari Muslim. Berikut keterangan mengenai para perawinya</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;">Ahmad bin Sahl Abu Nashr</span> yaitu seorang faqih dari Bukhara, Al Hakim menyebutnya sebagai Imam dan<span style="text-decoration:underline;"><em> ia telah dinyatakan tsiqat oleh Al Khalili </em></span>dalam <em>Al Irsyad</em> 3/190</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Sahl bin Mutawwakil Al Bukhari</span> adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>seorang yang tsiqah</em></span>. Ibnu Hibban memasukkannya dalam <em>Ats Tsiqat</em> juz 8 no 13521 dan Abu Ya’la Al Khalili dalam <em>Al Irsyad</em> 3/182 juga menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia tsiqat</em></span>.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Ahmad bin Yunus</span> dia seorang <span style="text-decoration:underline;"><em>Imam Hujjah dan Al Hafiz yang tsiqah </em></span>sebagaimana disebutkan Adz Dzahabi dalam<em> Siyar ‘Alam An Nubala</em> 10/457 no 151. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam <em>At Tahdzib </em>juz 1 no 87, ia perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan dan <span style="text-decoration:underline;"><em>telah dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, Nasa’i, Al Ajli, Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban dan Ibnu Qani’</em></span>. Dalam <em>At Taqrib</em> 1/39 ia disebut <span style="text-decoration:underline;"><em>seorang hafiz yang tsiqat</em></span>.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan</span> adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>seorang syiah yang dikenal tsiqat</em></span>. Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib</em> juz 9 no 660 menyebutkan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>ia seorang perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan yang dinyatakan tsiqat oleh Ali bin Madini, Yaqub bin Sufyan, Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Al Ajli, Ibnu Hibban dan Ibnu Syahin</em></span>. Dalam <em>At Taqrib </em>2/125 Ibnu Hajar menyebutnya<span style="text-decoration:underline;"><em> shaduq dan tasyayyu’.</em></span> Sebenarnya ia seorang yang tsiqah seperti yang dinyatakan Adz Dzahabi dalam <em>Al Kasyf</em> no 5115 oleh karena itu pernyataan Ibnu Hajar dikoreksi dalam <em>Tahrir At Taqrib </em>no 6227 bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Muhammad bin Fudhail tsiqat.</em></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;">Yahya bin Said bin Hayyan</span> atau yang dikenal Abu Hayyan At Taimi. Ibnu Hajar menyebutkan dalam <em>At Tahdzib</em> juz 11 no 357 bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>ia seorang perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan dan telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, An Nasa’i, Al Fallas, Yaqub bin Sufyan, Al Ajli dan Ibnu Hibban</em></span>. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib </em>2/303 menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>ia tsiqat.</em></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;">Sa’id bin Jubair</span> adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>seorang tabiin yang dikenal tsiqat dan dijadikan hujjah oleh Bukhari dan Muslim</em></span> sebagaimana yang disebutkan Ibnu Hajar dalam <em>At Tahdzib</em> juz 4 no 14. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/349 menyatakan<span style="text-decoration:underline;"><em> ia tsiqat tsabit.</em></span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Jadi hadis ini tidak diragukan lagi keshahihannya dan <span style="text-decoration:underline;"><em><span style="color:#0000ff;">shahih sesuai persyaratan Bukhari Muslim</span></em></span>. Dan seperti biasa salafiyun suka mencari-cari dalih untuk mencacatkan hadis yang memberatkan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kelalaian Syaikh Al Albani</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Al Albani memasukkan hadis ini dalam kitabnya <em>Silsilah Ahadits Adh Dhaifah </em>10/556 no 4906. Tentu saja hal ini merupakan keanehan luar biasa yang muncul dari Syaikh. Syaikh menyatakan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis ini dhaif karena Sahl bin Mutawwakil perawi yang majhul dan tidak ada keterangannya dalam kitab biografi perawi hadis.</em></span> Kami katakan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Syaikh Al Albani benar-benar keliru</em></span>, seandainya ia membuka kitab <em>Ats Tsiqat</em> Ibnu Hibban dan kitab <em>Al Irsyad </em>Abu Ya’la Al Khalili maka ia akan menemukan kalau <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Sahl bin Mutawwakil itu seorang yang tsiqah</em></span></span>. Sungguh kami dibuat terheran-heran, bagaimana mungkin kami yang bodoh ini bisa menemukan keterangan tentang Sahl bin Mutawwakil tetapi Syaikh pujaan hujjah salafy itu mengaku tidak menemukannya. Sungguh kelalaian menimbulkan kemungkaran.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penjelasan Singkat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis tersebut menjelaskan bahwa setelah Rasulullah SAW wafat, <em>Imam Ali akan mengalami kesukaran atau kepayahan </em>dan memang terbukti dalam sejarah bahwa setelah Rasulullah SAW wafat dimulai kezaliman pertama kepada Ahlul Bait yaitu <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>ancaman pembakaran rumah Imam Ali.</em></span></span> Sungguh sukar dimengerti <em>bagaimana mereka yang mengaku mencintai Rasulullah SAW</em> bisa menunjukkan tingkah yang keji seperti itu kepada Ahlul Bait Rasulullah SAW. Kesedihan Ahlul Bait karena ditinggal pergi Rasul SAW kini ditambah dengan perlakuan yang sangat tidak baik kepada mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami tidak menafikan bahwa diantara yang berbuat tidak baik itu <em>ada sahabat yang berjasa dalam perjuangan islam</em>. Tetapi jasa tersebut tidaklah membuat sahabat menjadi kebal hukum. Sahabat tetaplah orang yang perbuatannya harus ditimbang dengan kacamata syariat. Sebagaimana telah disepakati bahwa para sahabat tidaklah maksum, mereka bisa saja berbuat kesalahan bahkan kesalahan yang fatal. Oleh karena itu tidak ada alasan sedikitpun untuk membela perbuatan sahabat yang tidak baik kepada Ahlul Bait Rasul SAW. <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Ahlul Bait sudah seharusnya dijadikan pegangan oleh sahabat agar tidak tersesat, siapapun yang berbuat buruk dan menyusahkan Ahlul Bait atau menentang Ahlul Bait maka dia sudah menyimpang dari jalan yang lurus.</em></span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kepalsuan Kisah Hindun Memamah Hati Hamzah]]></title>
<link>http://peribadirasulullah.wordpress.com/2009/11/17/kepalsuan-kisah-hindun-memamah-hati-hamzah/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 13:55:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>peribadirasulullah</dc:creator>
<guid>http://peribadirasulullah.wordpress.com/2009/11/17/kepalsuan-kisah-hindun-memamah-hati-hamzah/</guid>
<description><![CDATA[Dipetik dengan sedikit ubahsuai dari buku ‘IBNU ISHAK – Peranannya dalam penyebaran fahaman Syi’ah d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#000000;"><em>Dipetik dengan sedikit ubahsuai dari buku ‘IBNU ISHAK – Peranannya dalam penyebaran fahaman Syi’ah di kalangan ummah’ karangan Maulana Muhammad Asri Yusoff.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> </em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sebuah kisah yang boleh dikatakan tiada sebuah buku sirah pun yang ditulis kemudian tidak menyebutkannya ialah kisah Hindun memamah, mengunyah atau memakan hati Sayyidina Hamzah semasa atau selepas peperangan Uhud.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kisah ini adalah ciptaan dan rekaan Ibnu Ishaq. Dialah orang yang mula-mula sekali di dalam dunia ini yang mengemukakan kisah tersebut. Kemudian At Thabari menyebarkannya tetapi melalui jalan riwayat Ibnu Ishaq. Ringkasnya Ibnu Ishaqlah merupakan satu-satunya paksi dalam meriwayatkan kisah ini.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ibnu Ishaq berkata, “ mengikut cerita yang sampai kepada saya menerusi Saleh bin Kaisan, Hindun Binti Utbah dan perempuan-perempuan lain bersamanya melakukan ‘mutslah’ terhadap sahabat-sahabat Rasulullah saw yang terbunuh.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Mereka memotong telinga-telinga dan hidung-hidung (sahabat-sahabat yang terbunuh itu ) sehingga Hindun menyucuk telinga-telinga dan hidung-hidung orang-orang yang terbunuh itu untuk dijadikan sebagai gelang kaki dan kalung-kalung. Dia memberikan gelang kaki, kalung dan subangnya(anting-anting) kepada Wahsyi, hamba Jubair Bin Muth’im. Dia membelah perut Hamzah dan mengambil hatinya lalu dikunyahnya tetapi tidak dapat ditelannya kerana itu dia memuntahkannya keluar”. ( Lihat Sirah Ibnu Ishak m.s. 385, Sirah Ibn Hisyam jilid 3 m.s. 36).</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;">Ibnu Jarir at-Thabari pula meriwayatkan dari Muhammad Bin Humaid, dia mengambil cerita ini dari Salamah Al Abrasy. Salamah pula mengambil dari Ibnu Ishaq. Ibnu Ishaq mengatakan, “Saleh Bin Kaisan menceritakan kepadanya”. (Lihat Tarikh al-Umam Wa al-Muluk-at-Thabari jilid 2 m.s. 204). </span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Salah seorang yang tersebut dalam isnad ini ialah Muhammad Bin Humaid ar Razi. Beliau ialah penduduk Ray. Dia selalu menukilkan riwayat dari Ya’kub al-Qummi ( seorang penulis kitab-kitab Syiah dan selainnya ).</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ya’kub bin Syaibah berkata, “Dia selalu mengemukakan riwayat-riwayat yang sangat mungkar”. Imam Bukhari berkata, “Kedudukannya dipertikaikan.”. Abu Zura’ah ar-Razi seorang alim senegeri dengannya berkata, “ Dia seorang pendusta besar.” Fadlak ar-Razi juga seorang alim senegeri dengannya berkata, “Saya mempunyai 50,000 riwayat Muhammad bin Hummaid ar-Razi tetapi satupun darinya tidak saya kemukakan kepada orang ramai.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pernah Ibnu Kharasy mengemukakan riwayat Muhammad bin Humaid lantas dia berkata, “Demi Allah! Dia berbohong.” Ulama’ hadis yang lain berkata bahawa dia selalu mengambil hadis-hadis orang-orang tertentu kemudian menisbahkannya kepada orang lain. Imam Nasa’i berkata, “Dia seorang yang lemah.” Saleh Jazarah berkata, “Tidak pernah saya lihat dalam hidup saya seorang yang lebih mahir berbohong dari dua orang iaitu pertama, Muhammad bin Humaid (ahli sejarah) dan kedua, Sulaiman as-Syazkumi.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Imam Fadhlak ar-Razi pernah menceritakan bahawa, “Saya pernah pergi kepada Muhammad bin Humaid. Ketika itu dia sedang mereka sanad-sanad cerita-cerita palsu.” Imam Zahabi berkata, “Muridnya Muarrikh (sejarawan) at-Thabari telah menulis dengan penuh yakin bahawa Muhammad bin Humaid tidak ingat al-Quran.”. Di akhir hayatnya hanya dua orang yang menerima riwayat-riwayat darinya iaitu:</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">1)   Abul Qasim Baghawi</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">2)   Muhammad bin Jarir at-Thabari</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ibnu Humaid meninggal dunia pada tahun 248 H – (Lihat Mizanu al-I’tidal jilid 3 halaman 530, Tahzibu al-Kamal jilid 6 m.s. 286-287).</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Seorang lagi yang ada dalam isnad Ibnu Ishak ini ialah Salamah al-Abrasy yang nama penuhnya Salamah bin Fadhl. Dia terkenal dengan gelaran al-Abrasy. Pernah menjadi qadhi di Ray kerana itulah dia dinisbahkan dengan ar-Razi. Kuniahnya ialah Abu Abdillah. Dia terkenal sebagai sejarawan di zamannya selain dianggap sebagai salah seorang perawi penting Maghazi Ibnu Ishaq. Pandangan ulama’ hadis dan rijal terhadapnya dapat dilihat melalui nukilan Imam Zahabi. Beliau menulis, “………Ishaq bin Rahawaih berkata, “Dia seorang dhaif”. Bukhari berkata, “Sesetengah hadisnya mungkar”. Imam Nasa’i berkata, “ Dia seorang dhaif”. Ali Ibnu Madini menceritakan, “Setelah kami pulang dari Ray, riwayat-riwayat yang pernah kami dengar dari Salamah kami buangkan dengan anggapan ia adalahn karut dan dusta”.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Yahya bin Ma’in berkata, “Salamah al-Abrasy ar-Razi adalah seorang Syiah.” Abu Hatim ar-Razi berkata, “Dia tidak boleh dijadikan hujjah.” Abu Zur’ah ar-Razi berkata, “Penduduk Ray sama sekali tidak suka kepadanya, lantaran fahamannya yang salah. Sebagai seorang qadhi, beliau selalu berlaku zalim terhadap orang ramai meskipun dia bersembahyang dengan khusyuk’. Sebelum menjadi qadhi belaiu mengajar kanak-kanak dan beliau meningggal dunia pada tahun 191 H – ( Mizanu al-I’tidal jilid 2 m.s. 12, Tahzibubu al-Kamal jilid 3 m.s. 252-253)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ibnu Ishaq mendakwa riwayat ini diambilnya dari Saleh Bin Kaisan. Siapakah Saleh Bin Kaisan itu? Beliau ialah seorang tabi’i kecil dan tsiqah (perawi yang boleh dipercayai) tetapi beliau adalah kelahiran selepas 70H dan meninggal dunia pada tahun 140H. Dia lebih tua sedikit dari Muhammad Bin Ishaq sedangkan peristiwa peperangan Uhud telah berlaku 70 tahun sebelum kelahirannya. Siapakah pula yang menceritakannya kepada Saleh? Tentu sekali beliau bukan merupakan penyaksi peristiwa itu dengan mata kepala sendiri. Sudah tentu sekurang-kurangnya seorang yang ‘ghaib’ dalam isnad ini menjadikannya riwayat munqati’. Sepertimana dimaklumi riwayat munqati’ tidak boleh diterima (sebagai hujah).</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sebenarnya Saleh Bin Kaisan tidak pun meriwayatkan kisah ini. Ibnu Ishaq sahaja yang mengaitkannya dengan Saleh. Selain dari Ibnu Ishaq tidak ada sesiapapun mengambil cerita ini baik dari Saleh Bin Kaisan atau orang lain sepanjang pengetahuan sejarah. Di antara sekian ramai anak murid Ibnu Ishaq pula, tidak ada yang meriwayatkan cerita ini darinya selain Salamah al-Abrasy. Kemudian tidak ada seorang pun yang meriwayatkan dari Salamah al Abrasy selain Muhammad Bin Humaid ar Razi. Seterusnya tidak ada seorang pun yang meriwayatkan dari Muhammad bin Humaid ar Razi selain dari Ibnu Jarir at Thabari.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Thabari meninggal dunia pada tahun 310H. Ini bermakna dari tahun 70H hingga tahun 310H, disetiap peringkat hanya ada seorang sahaja yang meriwayatkan kisah ini, seolah-olah ia suatu perkara yang sulit dan perlu dirahsiakan hanya boleh diterima dari setiap generasi, seorang sahaja!</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sekiranya peristiwa ini benar-benar berlaku dan ia mempunyai saksi yang melihatnya dengan mata kepala, tentu sekali ia tersebar lebih awal dari itu dan sepatutnya perawi-perawi cerita ini semakin ramai dari satu generasi ke generasi selepas itu. Terbuktilah bahawa kisah inni tidak popular kecuali setelah masyarakat Islam menerima apa sahaja riwayat yang dikemukakan oleh Ibnu Ishaq dan at Thabari dengan membuta tuli. Kisah ini sebetulnya tidak diketahui oleh sesiapapun sebelum tahun 70H.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>PENILAIAN LOGIK</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Dari segi Logiknya, bagaimana Ibnu Ishak hanya nampak Hindun sahaja melakukan perbuatan keji ini dan menuding jari kepadanya sedangkan ramai lagi perempuan-perempuan lain yang turut serta dalam peperangan Uhud selain Hindun seperti Ummu Hakim binti al Harits Bin Hisyam, Barzah (isteri kepada Safwan bin Umayyah), Barrah binti Mas’ud bin Amar bin Umair as Saqafiyyah (ibu kepada Abdullah Bin Safwan), Buraithah binti Munabbih bin al Hajjaj (isteri kepada Amar bin al’As dan ibu kepada Abdullah bin Amar bin al As). Sulafah binti Saad, Khunas binti Malik dan Amrah binti Al Qamah dan lain-lain lagi. Dalam kesibukan perang dan hingar bingar kedua-dua pasukan yang berperang itu, bagaimana kelihatan kepada Ibnu Ishaq Hindun sedang memakan hati Hamzah dan menjadikan telinga, hidung dan lain-lain anggota Hamzah sebagai gelang kakinya di samping menghadiahkan pula kalung dan subangnya kepada Wahsyi yang telah mensyahidkan Hamzah.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Untuk mengetahui semua tindakan Hindun dengan sah dan tepat, seolah-olahnya Ibnu Ishaq telah mengutus wartawan-wartawan dan juru-juru kamera yang tidak terbabit langsung dalam peperangan, tugas mereka hanyalah menyaksikan dan merakamkan apa yang berlaku dalam peperangan itu lalu melaporkannya kepada Ibnu Ishaq dan menyerahkan pula gambar-gambar sebagai bukti sokongan kepada apa-apa yang disampaikan oleh mereka itu. Untuk mendapat kepastian sedemikian rupa semestinya Ibnu Ishaq dibantu oleh orang-orang tadi. Ini kerana tidak pula orang-orang yang ikut serta secara langsung sama ada dari kalangan orang-orang Islam atau mereka yang ada di pihak orang-orang kafir tetapi kemudiannya memeluk Islam menceritakan sepertimana yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Perempuan-perempuan yang dikatakan oleh Ibnu Ishaq telah bersama-sama dengan Hindun melakukan mutslah (memotong-motong anggota orang yang telah mati dengan maksud melepaskan geram dan dendam) juga tidak menceritakan seperti mana yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq itu. Maka bagaimana kita akan menerima riwayat yang melaporkan kisah tersebut menerusi Saleh Bin Kaisan yang lahir setelah lebih 70 tahun berlakunya peristiwa ini dan mengenepikan pula saksi-saksi mata kepala yang turut serta dalam peperangan ini sama ada dari kalangan orang-orang Islam atau dari kalangan orang-orang kafir.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Wahsyi yang diketahui dan diterima oleh semua sebagai pembunuh Sayyidina Hamzah kemudiannya telah memeluk agama Islam. Jubair bin Muth’im tuan kepada Wahsyi kemudiannya juga memeluk agama Islam. Hindun binti Utbah, isteri Abu Suffian, ibu kepada Sayyidina Muawiyah yang dikatakan oleh Ibnu Ishaq telah memakan hati Hamzah, kemudiannya juga telah memeluk agama Islam. Semua mereka ini tidak ada pun menceritakan apa yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq pada hal merekalah orang-orang yang terlibat secara langsung dalam peristiwa ini dan paling patut dirujuk dan diselidiki penjelasan mereka.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>SIKAP IMAM BUKHARI</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Imam Bukhari jauh berbeza dari Ibnu Ishaq kerana meriwayatkan kisah pembunuhan Sayyidina Hamzah, melalui pembunuhnya sendiri bukan melalui orang yang lahir 70 tahun selepas peristiwa itu berlaku. Menurut metod ilmu riwayat, riwayat yang dikemukakan oleh Imam Bukhari lebih wajar diterima kerana beliau mengambil dari orang yang terlibat secara langsung dalam peristiwa itu. Mari kita perhatikan riwayat Imam Bukhari dalam Sahihnya berhubung peristiwa itu.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>RIWAYAT IMAM BUKHARI</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Imam Bukhari menukilkan dari Ja’far bin Amar bin Umaiyyah ad Dhamri dia berkata, “Saya telah berangkat untuk satu perjalanan dengan Ubaidullah bin Adiy bin al Khiyar. Bila kami sampai di Hims, Ubaidullah bin Adi bertanya kepada saya, “Mahukah engkau berjumpa dengan Wahsyi? Boleh kita tanya kepadanya tentang pembunuhan Sayyidina Hamzah”. Saya berkata, “Tentu sekali”.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pada hari-hari itu Wahsyi menetap di Hims. Kami bertanya seseorang, “Di mana rumah Wahsyi?”. Orang itu menceritakan, “Itu dia Wahsyi sedang duduk di bawah naungan (bayang) rumahnya. Bila kami ternampak dia dalam rupanya yang gemuk dan tidak berambut itu tak ubah seperti sebuah gereba. Kami berdiri sejenak setelah sampai di hadapannya lalu kami memberi salam kepadanya. Beliau menjawab salam kami. Perawi berkata, “Ketika itu Ubaidullah bin Adi bin al Khiyar menutup muka dan kepalanya dengan serban. Wahsyi tidak nampak apa-apa darinya melainkan dua mata dan kakinya sahaja.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ubaidullah pun bertanya Wahsyi, “Kamu kenalkah siapa saya?”. Wahsyi mengangkat pandangannya ke arah Ubaiullah, kemudian dia berkata, “Demi Allah, Tidak! Ya, Cuma saya tahu bahawa Adi bin Al Khiyar telah berkahwin dengan seorang perempuan dipanggil Ummul Qital binti Abi al-‘Is. Dengannya Adi bin Al Khiyar telah mendapat seorang anak lelaki. Sayalah yang telah mencari seorang pengasuh untuk anaknya itu dan saya dengan ibunya membawakan anak itu untuk diserahkan kepada pengasuh tersebut. Sekarang saya sedang memerhatikan kaki awak. Saya rasa engkaulah anak itu”. Ubaidullah pun mengalihkan kain dari mukanya. Dia bertanya Wahsyi, “Bolehkah kamu ceritakan kepada kami tentang pembunuhan Hamzah?”. Wahsyi menjawab, “Ya, tentu boleh. Ceritanya begini : Hamzah telah membunuh Thu’aimah bin Adi bin Al Khiyar dalam peperangan Badar. Tuan saya Jubair Bin Mut’im berkata kepada saya, “Kalau engkau dapat membunuh Hamzah, engkau merdeka”.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Bila saya keluar untuk berperang pada tahun ‘Ainain’ (Ainain ialah salah satu bukit di Uhud, di hadapannya terletak Wadi Uhud), saya juga keluar bersama orang lain untuk berperang. Bila masing-masing pasukan telah membetulkan saf, maka Siba’ bin Abdul Uzza pun tampil kehadapan seraya berkata, “Adakah sesiapa yang akan berlawan?”. Wahsyi menceritakan, “Dari kalangan pihak lawan, Hamzah bin Abdul Muthalib tampil kehadapan seraya berkata, “Oh Siba’!Oh anak Ummu Anmar! Mudim anak-anak perempuan, adakah engkau memerangi Allah dan Rasulnya?”. Kemudian dengan pantas Hamzah menyerang lalu dia (Siba’) menjadi seperti kelmarin yang telah berlalu (terus mati). Wahsyi berkata, “Saya ketika itu bersembunyi di sebalik satu batu besar sambil mengintai-intai Hamzah. Bila dia lalu dekat saya, terus saya membaling lembing saya ke arahnya. Lembing itu mengenai bahagian pusatnya lalu menembusi belakangnya. Itulah pertemuan saya yang terakhir dengannya. Bila semua orang pulang dari medan perang, saya juga pulang bersama mereka dan terus menetap di Mekah (selepas merdeka) sehingga Islam tersebar di sana, kemudian saya pun keluar ke ta’if”.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Bila orang Ta’if menghantarkan utusan-utusan kepada Rasulullah s.a.w. maka ada orang berkata kepada saya, “Nabi tidak mengganggu utusan,” kerana itu saya pun menyertai golongan utusan itu untuk mengadap Nabi s.a.w. Bila Nabi saw melihat saya, Baginda pun bertanya, “Adakah engkau Wahsyi?”. Saya menjawab, “Ya”. Baginda saw bertanya lagi, “Engkaukah yang telah membunuh Hamzah?”. Saya menjawab, “Berita yang sampai kepada tuan itu adalah benar”. Nabi saw pun bersabda, “Bolehkah engkau sembunyikan mukamu dari pandanganku?”. Wahsyi berkata, “Aku pun pergi dari situ”.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Selepas kewafatan Rasulullah s.a.w. Musailamah al Kazzab memberontak. Saya berfikir dalam hati saya bahawa seharusnya saya keluar untuk menentang Musailamah. Boleh jadi saya akan dapat membunuhnya dengan itu terbalaslah (terbayarlah) pembunuhan Hamzah oleh saya. Setelah terfikir begitu saya pun keluar bersama orang ramai untuk berperang. Tiba-tiba (dalam peperangan) saya ternampak seorang sedang berdiri di celah tembok. Dia kelihatan seperti unta yang kehitaman warnanya. Rambutnya berselerak. Saya lepaskan lembing saya ke arahnya dan tepat mengenai dadanya sehingga menembusi belakangnya. Selepas itu tampil seorang Ansar Madinah lalu menetak kepalanya. Abdullah Bin al-FAdhl menceritakan bahawa Sulaiman bin Yasr menceritakan kepada saya bahawa beliau mendengar Ibnu Umar berkata, “Seorang perempuan yang ketika itu berdiri di atas bumbung rumah lantas berteriak mengatakan, “Demi Amirul Mukminin (Musailamah al Kazzab)! Dia telah dibunuh oleh budak Habsyi.( Lihat Sahih Bukhari jilid 2 m.s. 583)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Demikianlah kedudukan sebenar kisah ini mengikut cerita dari mulut pembunuh Sayyidina Hamzah sendiri. Dari riwayat ini dapat disimpulkan beberapa perkara seperti berikut ;</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;">1. Wahsyi adalah hamba kepada Jubair bin Muth’im. Jubair bin Muth’imlah yang mendorongnya membunuh Hamzah dengan janji akan memerdekakannya jika dia berjaya membunuh Hamzah. Di dalam riwayat ini tidak ada isyarat pun tentang campurtangan Hindun dalam pembunuhan Hamzah. Bukan Hindun yang mendorong Wahsyi supaya membunuh Hamzah, bukan juga Hindun yang dapat memerdekakan Wahsyi kerana Wahsyi bukan hambanya, malah dalam riwayat Ibnu Ishaq sendiri pun Wahsyi adalah hamba Jubair bin Muth’im.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;">2. Di dalam riwayat ini juga tidak tersebut Hindun memberikan gelang kaki, kalung dan subangnya kepada Wahsyi kerana kejayaannya membunuh Hamzah. Bahkan Wahsyi tidak mendapat apa-apa hadiah dari sesiapa pun selain dari hadiah kemerdekaan yang dijanjikan tuannya Jubair bin Muth’im. Sekiranya ada, maka tidak ada sebab kenapa Wahsyi menyembunyikannya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;">3. Wahsyi ikut serta dalam peperangan Uhud dari awal hingga akhir di pihak orang-orang kafir Quraisy dan akhir sekali beliau pulang ke rumah bersama orang-orang lain. Di dalam riwayat Bukhari ini beliau tidak menyebutkan cerita perempuan-perempuan membuat kalung dari anggota orang-orang Islam yang syahid yang telah dipotong oleh mereka. Tidak ada juga beliau menyebutkan kisah sesiapa memakan hati sesiapa. Jika diandaikan beliau tidak melihat apa yang dilakukan oleh perempuan-perempuan Quraisy terhadap orang-orang Islam yang mati syahid dalam peperangan Uhud itu terutamanya Hindun sekalipun tetap berkemungkinan juga beliau mendengar cerita itu di Mekah setelah pulang tetapi tiadanya cerita Wahsyi ini daripada perbuatan-perbuatan perempuan tersebut menunjukkan bahawa semua itu tidak benar.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;">4. Kerana Wahsyi telah membunuh Hamzah yang begitu disayangi oleh Rasulullah saw, Nabi saw meminta beliau supaya tidak bersemuka dengannya. Tetapi Jubair bin Muth’im, pada ketika pembukaan Mekah tidak pula diminta oleh Rasulullah saw supaya tidak bersemuka dengannya seperti Wahsyi. Apa yang dilakukan oleh Wahsyi, jika benar seperti yang didakwa oleh Ibnu Ishaq, bahawa Hindun telah membelah perut Hamzah dan mengunyah hatinya – maka kelakuan itu lebih dasyat daripada apa yang dilakukan oleh Wahsyi terhadap Hamzah, kerana sudah lumrah dalam peperangan seseorang membunuh pihak lawannya. Tetapi adalah sesuatu yang luar biasa seseorang membelah perut orang yang telah mati dalam peperangan lalu memotong hatinya untuk dikunyah atau dimakan. Sepatutnya Rasulullah saw juga tidak sanggup bersemuka dengan Hindun sama seperti Wahsyi tetapi sebaliknya apabila Nabi saw menakluk Mekah, di samping Baginda saw mengisytiharkan damai, Baginda saw juga telah mengisytiharkan nama-nama orang yang perlu dihukum bunuh.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pada ketika itu Hindun tidak tersenarai dalam orang-orang yang perlu dihukum bunuh. Tidak juga Nabi saw menyatakan kebencian dan dendamnya kepada Hindun malah sebaliknya mengisytiharkan kepada umum bahawa sesiapa yang masuk ke dalam rumah Abi Sufyan (juga merupakan rumah Hindun) untuk menyelamatkan dirinya, dia terselamat dan mendapat keamanan. Pengisytiharan seperti ini membuktikan dengan sejelas-jelasnya  bahawa Hindun atau Abu Sufyan tidak terlibat sama sekali dalam pembunuhan Sayidina Hamzah apa lagi untuk dikatakan beliau telah membelah perut Hamzah lalu memakan hatinya. Hindun seperti juga ramai orang-orang Quraisy yang lain telah memeluk agama Islam, selepas berbai’ah dengan Nabi saw dalam keadaan bersemuka dengan Nabi s.a.w., beliau secara terbuka menyatakan perasaannya setelah memeluk Islam terhadap Nabi saw. Kata beliau, “Wahai Rasulullah! Dulu tidak ada manusia yang berkhemah di atas muka bumi ini lebih dipandang hina olehku darimu tetapi hari ini tidak ada orang yang berkhemah di muka bumi ini lebih ku kasihi darimu.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Lihatlah bagaimana beliau menyatakan isihatinya terhadap Nabi saw dengan bersemuka dan lihatlah pula apa jawapan Nabi saw dan bagaimana Nabi saw menyambut kata-katanya itu. Dari kata-kata Nabi saw itu kiranya sirnalah segala tuduhan yang dilemparkan oleh musuh-musuh Islam terhadap Hindun, ibu mertua Nabi saw, ibu kepada Ummu Habibah dan juga ibu kepada Sayyidina Mu’awiyah. Baginda saw lantas bersabda, “Ya, demikian juga aku. Demi Tuhan yang nyawaku berada ditanganNya” ( Lihat Sahih Bukhari jilid 1 m.s. 539)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ini bermakna Nabi saw juga kasih kepada Hindun seperti mana Hindun mengasihinya. Malah untuk menyatakan kasihnya yang sungguh-sungguh itu, Baginda saw bersumpah dengan Tuhan yang nyawanya berada ditanganNya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;">5. Daripada dua riwayat berlainan kandungannya yang dikemukakan oleh dua orang tokoh, Ibnu Ishaq dan Imam Bukhari, tergambar dengan jelas aliran pemikirandan aqidah masing-masing. Yang pertama berfahaman Syi’ah yang sememangnya membenci para sahabat dan memusuhi mereka sementara yang kedua pula mengasihi sahabat seperti Rasulullah s.a.w. sendiri mengasihi mereka.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;">6. Ibnu Ishaq mendakwa mendapat cerita yang dikemukakannya dari Saleh bin Kaisan yang lahir 70 tahun selepas peristiwa peperangan Uhud itu berlaku. Imam Bukhari pula menerima riwayat yang dikemukakannya dengan sanad yang bersambung-sambung dan tidak terputus. Perawi-perawinya terdiri dari orang-orang yang kuat dengan isnad yang kuat dan tidak terputus-putus. Imam Bukhari mengambil riwayat tentang pembunuhan Hamzah dari pembunuhnya sendiri iaitu Wahsyi. Siapakah yang lebih boleh dipercayai? Seorang yang mengambil riwayat dari orang yang lahir 70 tahun selepas kejadian atau orang yang meriwayatkan sesuatu peristiwa dari orang yang menyaksikan sendiri peristiwa itu malah terlibat secara langsung dalam peristiwa itu?</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;">7. Ibnu Ishaq dan kuncu-kuncunya sebenarnya mahu menanam rasa benci di dalam hati ummah terhadap Sayyidina Muawiyyah yang telah memusnahkan pergerakan musuh Islam selama pemerintahannya 20 tahun sebagai Gabenor dan 20 tahun sebagai khalifah. Dia seolah-olahnya menghujah para pembaca riwayatnya dengan cerita yang dikemukakan itu, iaitu Sayyidina Muawiyah adalah seseorang yang jahat, kejam dan tidak berperikemanusiaan. Kejahatan dan kekejaman itu bukanlah suatu yang baru bahkan ia adalah suatu yang turun temurun diwarisinya dari ibunya yang telah sanggup membelah perut Hamzah dan mengunyah hatinya, juga diwarisi dari ayahnya yang merupakan kepala kafir Quraisy dalam peperangan Uhud itu. Inilah sebenarnya motif yang telah melahirkan cerita ini ke alam nyata.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;"> </span><span style="color:#000000;">8. Ibnu Ishaq sebetulnya mahu mencabar fikiran ummah dengan suatu alasan di sebalik cerita yang dipersembahkan itu. Bahawa jika Wahsyi yang telah melakukan suatu perkara yang lumrah berlaku dalam sesuatu peperangan pun diminta oleh Nabi saw supaya tidak menunjukkan mukanya kepada Baginda saw, bagaimanakah pula dengan orang yang telah membelah perut Sayyidina Hamzah lalu mengunyah hatinya? Adakah mungkin Rasulullah saw dapat menerima orang seperti itu? Kalau pun orang itu kemudiannya memeluk agama Islam dan berbai’ah dengan Nabi saw tetap juga ada kemungkinan bahawa Nabi saw menerima keislamannya secara taqiyyah!</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">Imam Bukhari mengemukakan hadis, “Hindun menyatakan isihatinya kepada Rasulullah s.a.w. secara terbuka dan bersemuka dengan Rasulullah s.a.w. seperti disebutkan tadi di bawah bab ‘kelebihan Hindun Binti Utbah’. Apa yang Imam Bukhari mahu abadikan melalui bab ini ialah Hindun bukan sahaja telah diterima keIslamannya, bahkan beliau mempunyai kelebihan dan keistimewaannya tersendiri. Apa yang dapat difahami secara mudah ialah sekurang-kurangnya beliau merupakan mertua kepada Nabi s.a.w. dan ibu kepada Amirul Mukminin Sayyidina Mu’awiyah bin Abu Sufyan itu sahaja pun bagi umat Islam bukan alang kepalang keistimewaannya<br />
</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kekacauan Salafy Dalam Membela Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk”]]></title>
<link>http://secondprince.wordpress.com/2009/11/17/kekacauan-salafy-dalam-membela-hadis-%e2%80%9cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%e2%80%9d/</link>
<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 20:18:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>secondprince</dc:creator>
<guid>http://secondprince.wordpress.com/2009/11/17/kekacauan-salafy-dalam-membela-hadis-%e2%80%9cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%e2%80%9d/</guid>
<description><![CDATA[Kekacauan Salafy Dalam Membela Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk”. Tulisan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><strong>Kekacauan Salafy Dalam Membela Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk”</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan kali ini dibuat untuk membantah pembelaan saudara salafi yang nashibi yang dapat dilihat  dalam komentarnya di tulisan saudara Abul Jauzaa itu. Seperti biasa pembelaan yang ngawur bin ajaib itu cukup sebagai bukti sikap keras kepala yang tidak mengherankan muncul dari orang-orang yang ngakunya salafy. Komentar asal-asalan penulis itu dikutip dan dicetak biru.<!--more--></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Pada asalnya, tashhih seorang muhaddits maknanya tashhiih li-dzaatihi. Maknanya, hadits tersebut telah memenuhi persyaratan shahih. Termasuk dalam hal ini persyaratan perawi yang include di dalamnya persyaratan ‘adaalah. Konsekuensinya, para perawi yang menyusun sanad hadits adalah ‘adil menurut penilaian muhaddits tersebut. Kecuali jika disebutkan dari muhaddits tersebut (baik secara langsung atau tidak langsung) bahwa hadits yang ia tashhiih terdapat cacat (baik dari faktor perawi, kebersambungan sanad, atau yang lainnya), maka tashhiih yang ia berikan adalah tashhiih li-ghairihi. Ini kaedah umumnya…&#8230; </em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lucu saudara kita yang nasibi ini, ia terlalu banyak berbicara metode yang tidak ia pahami dengan benar atau sebenarnya ia paham tetapi memang tidak mau mengakui kesalahannya. Kita tidak sedang berbicara kaidah yang umum. Kita membicarakan kredibilitas seorang perawi yang bernama Abdurrahman bin ‘Aaisy. Kalau saudara itu menukil pernyataan Bukhari yang menghasankan hadisnya lalu akan ia kemanakan bukti nyata kalau hadis tersebut mudhtharib yang bahkan diakui oleh Bukhari sendiri. Bisa saja dikatakan penghasanan Bukhari itu bukan penta’dilan kepada Ibnu ‘Aaisy tetapi penguatan Bukhari terhadap hadis tersebut dengan bantuan hadis-hadis lain sama halnya yang Bukhari lakukan terhadap hadis Asbath Al Bashri. Siapa yang menolak kaidah yang saudara sampaikan, pembahasan saya justru menunjukkan kalau kaidah tersebut tidak relevan dijadikan hujjah untuk menta’dil Ibnu ‘Aaisy. Kalau ia bersikeras berpegang pada penshahihan Bukhari, orang lain juga dapat berpegang pada pernyataan Bukhari bahwa hadis Ibnu ‘Aaisy mudhtharib. Anehnya sejak kapan hadis mudhtharib itu menjadi hadis shahih. Atau yang bersangkutan merasa bisa menjungkirbalikkan seenaknya ilmu hadis hanya karena pembelaan yang membabibuta, silakan saja kita tidak peduli dengan itu <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Dan yang saya sebutkan dalam tulisan saya di atas adalah kaedah umum ini dimana teman Rafidlah kita itu tidak perlu miris terhadapnya. Sama halnya ketika disebutkan tingkatan hadits shahih yang keempat sampai keenam : Hadits yang sesuai persyaratan Al-Bukhari dan Muslim – sesuai persyaratan Al-Bukhari saja – sesuai persyaratan Muslim. Apa makna sesuai persyaratan Al-Bukhari dan/atau Muslim ? Maknanya hadits tersebut diriwayatkan dari jalur para perawi yang terdapat di dua kitab (Shahih l-Bukhari dan Shahih Muslim) atau salah satunya. Ini juga kaedah umum. Apakah kaedah umum ini berlaku secara mutlak ? Tentu saja tidak…. Sebagaimana beberapa kaedah yang ma’ruf dalam ilmu hadits, ushul fiqh, dan fiqh, ada exception2-nya……</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda tidak perlu berbicara banyak hal seolah menunjukkan <em>kelimuan anda yang seolah pula tahu banyak hal.</em> Hal yang seperti itu cukup dikenal dikalangan mereka para penuntut ilmu. Justru yang jadi masalah adalah orang-orang yang sok berpegang pada kaidah umum untuk membela kekeliruannya padahal tidak ada celah baginya untuk menjadikan kaidah umum tersebut sebagai hujjah.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Ada beberapa hadits – walau ia memakai jalur perawi yang dipakai oleh Al-Bukhari dan/atau Muslim – berkualitas dla’if. Kenapa ? Telah ma’ruf di kalangan ahli hadits bahwa tidak semua perawi dalam Shahihain selamat dari kritik. Diantara mereka dinyatakan jumhur sebagai perawi dla’if. Contohnya,…. Ismaa’iil bin ‘Abdillah bin ‘Abdillah bin Uwais, Qathn bin Nusair, Asbaath bin Nashr, dan lain-lain. Ini mah tidak usah dibahas………. Karena dah ma’ruf.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Aduhai saudara, kalau memang merasa sudah ma’ruf maka tidak ada gunanya saudara memaksakan untuk menta’dil seseorang dari mereka atau yang seperti mereka hanya karena hadis mereka dimasukkan dalam kitab shahih atau dishahihkan oleh ulama tertentu. Yang jadi pokok permasalahan itu adalah kedudukan hadis Ibnu ‘Aaisy. Hadis Ibnu ‘Aaisy ini jelas mudtharib dan tidak ada gunanya penshahihan yang tidak memiliki dasar. Aneh bin ajaib justru <em>penshahihan tidak berdasar</em> itu dijadikan hujjah akan <em>penta’dilan Ibnu ‘Aaisy</em> yang ujungnya nanti dijadikan <em>hujjah untuk menshahikan hadis tersebu</em>t. Ini lingkaran setan yang tidak pernah bisa dipahami oleh salafy yang memang tidak mempelajari logika berpikir dengan baik. Ia hanya sibuk dengan kitab-kitab rijal dan perkataan ulama ini itu tanpa menelaahnya dengan kritis.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Oleh karena itu, orang Rafidlah tersebut tidak perlu menolak kaedah umum yang saya sampaikan. Kalau mau menanggapi, seharusnya komentarnya adalah : “itu tidak berlaku mutlak…..” atau : “itu ada perinciannya….”. Ini baru benar…………</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silakan saja membual sesuka hati anda, kapan saya menyatakan menolak kaidah tersebut. Saya pribadi tidak mempermasalahkan kaidah itu, justru andalah yang tidak tahu juntrungannya berhujjah dengan kaidah yang sangat tidak relevan digunakan disini. Apakah anda membaca pembahasan saya panjang lebar soal kekacauan mereka para ulama mengenai hadis Ibnu ‘Aaisy?. Mungkin anda membaca tetapi maaf anda tidak mampu untuk memahaminya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Orang Rafidlah tersebut menolak ta’dil ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy (yang sebelumnya ia ingin menyanggap kaedah umum yang saya sampaikan), bahwa tashhih Al-Bukhari tidak menunjukkan ta’dil beliau terhadapnya. Ia lalu menyampaikan contoh Asbaath bin Abil-Yasa’ Al-Bashri dan Katsiir bin ‘Abdillah bin ‘Amr. Lah,… yang aneh…. contoh ini justru menjadi hujjah saya atas dirinya, bukan hujjah dirinya terhadap saya. Tentu saja jika dihubungkan dengan apa yang saya tulis di awal. Asbaath dikatakan majhul oleh Abu Haatim dan Ibnu Hajar. Penilaian mereka berdua sebenarnya dilandaskan oleh penilaian Al-Bukhari terhadap Asbaath dalam At-Taariikh Al-Kabiir. Perlu diketahui, kitab At-Taariikh Al-Kabiir merupakan ushul dari kitab Al-Jarh wat-Ta’dil dengan beberapa penambahan.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saudara yang nasibhi itu ternyata pandai bersilat lidah. Apanya yang  menjadi <em>hujjah dirinya</em>, jika dia memahami maksud saya maka tidak mungkin dia akan berbicara seperti itu. Jelas contoh yang saya sampaikan menunjukkan hujjah <em>bahwa pentashihan Bukhari tidak selalu berarti pernyataan tsiqah Bukhari terhadap perawi tersebut</em>. Perhatikan saja Asbath itu apa Bukhari menyatakan ia tsiqah?.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Dalam kitab taariikh-nya, Al-Bukhariy berdiam diri (tidak memberikan penilaian, baik jarh maupun ta’dil) terhadap Asbaath. Sebagian ahli hadits menilai bahwa diamnya Al-Bukhariy menandakan perawi tersebut adalah majhul (menurut beliau). Sedangkan yang lain (seperti Adz-Dzahabi dalam Al-Muuqidhah) menyatakan sedikit memberikan penekanan dan penajaman, bahwa perawi yang tidak mendapat jarh maupun ta’dil namun dipakai hujjah oleh Al-Bukhariy dan Muslim atau salah satu di antara keduanya dalam Shahih-nya, maka statusnya adalah tsiqah, dan haditsnya qawiy (kuat).</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lihatlah akhirnya saudara nasibhi itu berbicara melebar kemana-mana. Ia berkata <em>sebagian ulama berkata seperti ini</em>, <em>sebagian ulama berkata seperti itu</em>. Entah mau kemana arah pembicaraannya. Saudara ini terlalu sibuk dengan pembelaan tanpa memahami esensi pembicaraan. Anehnya ia malah menuduh kami yang tidak mengerti pembicaraan. Begitulah tabiat orang yang terbiasa menuduh orang lain sehingga lupa memperhatikan keadaan dirinya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Jadi hadits Asbaath itu qawiy (kuat) lidzaatihi berdasarkan kaedah yang diterangkan Adz-Dzahabiy karena Al-Asbaath ini tsiqah.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maaf saya sarankan anda tidak perlu banyak berbicara ini itu, anda sok berhujjah dengan kaidah umum dari Adz Dzahabi padahal Adz Dzahabi sendiri baik dalam <em>Al Mizan</em> maupun <em>Al Kasyf</em> tidak pernah menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>Asbath tsiqah</em></span>, sebaliknya Adz Dzahabi mengikuti pernyataan Abu Hatim kalau ia majhul. Kalau memang Adz Dzahabi konsisiten mengikuti metode yang anda sampaikan itu maka tidak ada halangan baginya untuk menyatakan Asbath itu tsiqah. Faktanya itu tidak terjadi, hal ini justru menjadi petunjuk bahwa metode-metode umum itu tidak bisa dijadikan hujjah semaunya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Atau……ia shahih dengan mutaba’ah dari Muslim bin Ibraahiim jika kita tetap menganggap status Asbaath ini majhul jika kita ingin menetapkan berdasarkan perkataan Ibnu Hajar.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada kata <em>“jika”</em> dalam masalah ini, hadis Asbath itu memang shahih dengan mutaba’ah. Nah sebenarnya yang lebih dekat ke pembahasan kita ini adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>apakah dengan penshahihan hadis Asbath itu maka berarti penta’dilan terhadap Asbath atau menghapus status majhulnya</em></span>. Memang inilah masalah besar bagi para pentaklid dari kalangan salafy, mereka dengan mudah meloncat-loncat dari ulama yang satu ke ulama yang lain asalkan bisa membela kepentingan mahzabnya. Padahal tidak setiap perkataan ulama itu menjadi hujjah.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Contoh kedua yang dibawakan adalah Katsiir bin ‘Abdillah bin ‘Amr. Di situ justru memperjelas permasalahan yang saya sampaikan. Al-Bukhariy mentashhih hadits Katsiir dari ayahnya dari kakeknya. Ia menghasankan riwayat Katsir karena Yahya bin Sa’iid Al-Anshariy – dengan keimaman beliau – telah meriwayatkan hadits darinya. Al-Bukhariy memberikan tashhih hadits Katsiir mengenai waktu yang diharapkan di hari Jum’at karena ia menganggap hadits Katsiir ini hasan dengan alasan yang telah dituliskan.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Alasan apa yang anda maksud, dimana letak alasan Bukhari menghasankan hadis tersebut. Bukankah dari penukilan Tirmidzi itu <em>Bukhari justru mengutip pernyataan dhaif dari Ahmad bin Hanbal dan periwayatan Yahya bin Sa’id</em>. Mana alasan penghasanan Bukhari. Apakah Bukhari menghasankan hadis tersebut karena penta’dilan terhadap Katsir atau karena memang ada hadis lain yang menguatkannya?. Lagipula hal yang lebih utama adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>penghasanan Bukhari ini jelas tidak ada artinya atau tidak bernilai hujjah karena perawi yang dimaksud memang sangat tercela kedudukannya.</em></span> Kalau memang penghasanan Bukhari tidak bernilai hujjah maka tidak ada gunanya menjadikan penghasanan ini sebagai ta’dil terhadap Katsir bin Abdullah. Apakah harus dijelaskan dengan panjang lebar seperti ini baru anda mengerti. Silakan dibuka sedikit pikirannya biar kebenaran itu bisa masuk pelan-pelan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Maka tidak ada hubungannya dengan perkataan Ahmad, Ibnu Ma’in, dan jama’ah ahli hadits yang mendla’ifkannya, karena yang saya tekankan di sini adalah tashhih hadits include terhadap tashhih sanadnya . Jelasnya, ketika Al-Bukhari men-tashhih hadits Katsir tentang hari Jum’at itu, maka ia men-ta’dil Katsir.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa hubungannya pula sebelumnya anda membawa-bawa keimaman Yahya bin Sa’id. Kalau anda hendak mengatakan Bukhari sekedar taklid kepada Yahya bin Sa’id maka penghasanan tersebut jauh lebih tidak berarti. Jika Yahya menta’dilkan Katsir maka ada banyak Imam lain yang menjarhnya dengan keras. Kalau Bukhari hanya sekedar taklid kepada Yahya maka apalah artinya penghasanan tersebut. Heh bangun dong sampai kapan anda mau membutakan diri dengan pembelaan yang tidak tahu kemana arahnya. Kalau untuk seorang Katsir Bukhari hanya sekedar taklid kepada Yahya padahal banyak Imam yang mencacatnya dengan keras maka baik Bukhari maupun Yahya itu tidak benar penilaiannya. Kalau memang terbukti terdapat alasan yang cukup dalam mencacatkan seorang perawi maka tidak ada artinya penta’dilan dengan dalih penshahihan seorang ulama yang tidak ada dasarnya. Justru penshahihan ulama tersebut mesti ditolak. Nah inilah yang terjadi dengan kasus Ibnu ‘Aaisy, terdapat alasan yang cukup untuk mencacatkan dirinya dimana ia memiliki satu hadis yang mudhtharib sehingga tidak berlebihan untuk dikatakan ia <span style="text-decoration:underline;"><em>mudhtharib al hadis</em></span>. Jika memang hadis tersebut terbukti mudhtharib maka tidak ada alasan menerima penshahihan yang tidak berdasar.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Kembali pada ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy. Ketika Al-Bukhariy men-tashhih haditsnya dari jalur Maalik bin Yakhaamir, dari Mu’aadz bin Jabal secara marfu’; maka ia juga men-tashhih sanadnya dan juga memberikan ta’dil kepada perawinya. Kita ingin tanya kepada teman Rafidlah kita itu : “Ada gak perkataan Al-Bukhariy yang men-jarh ‘ secara jelas pada Abdurrahman bin ‘Aaisy ?”.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Begitulah saudara kita yang nashibi itu tidak dapat mengambil faedah dari pembahasan orang lain. Ia hanya sibuk melakukan pembelaan. Justru yang kita tanyakan pada Bukhari dan dirinya, <span style="text-decoration:underline;"><em>apa dasarnya menyatakan hadis tersebut shahih?.</em></span> Nama besar Bukhari tidak membuahkan apa-apa jika memang hujjahnya tidak berdasar. Bukhari adalah manusia yang tidak lepas dari salah, tidak lepas dari taklid dan sebagainya yang membuat penilaian shahihnya ini patut dipertanyakan apalagi hadis tersebut terbukti mudhtharib.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Al-Bukhariy hanya mengatakan bahwa ‘Abdurrahman ini hanya mempunyai satu hadits dimana para ulama menganggap haditsnya tersebut mudltharib. Tentu saja lain jika Al-Bukhari mengatakan : “mudltharibul-hadiits”. Tapi di sini tidak… Ini bukan jarh.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ternyata semakin lama saudara kita yang nasibhi ini semakin ngawur saja. Jadi jika <span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu ‘Aaisy hanya punya satu hadis dan hadis tersebut mudhtharib</em></span> maka itu bukan jarh. Kalau anda mengakui pernyataan Bukhari itu maka saya kembalikan kepada anda, <span style="text-decoration:underline;"><em>bukankah hadis Ibnu ‘Aaisy itu mudhtharib, nah sejak kapan hadis mudhtharib itu bisa dikatakan shahih</em></span>. Pernyataan anda bahwa itu bukan jarh adalah hal paling menggelikan dari sekian banyak keanehan anda. Kita ganti sedikit bahasanya. <span style="text-decoration:underline;"><em>Kalau seorang perawi dikatakan hanya punya satu hadis dan hadis tersebut munkar, maka apakah itu bukan jarh?</em></span>. Apakah <span style="text-decoration:underline;"><em>&#8220;lahu manakiir&#8221;</em></span> itu bukan pernyataan jarh?. Cukup cukup, semakin terlihat kualitas anda <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Sebab, seorang yang tsiqah juga bisa mempunyai hadits mudltharib. Contohnya banyak…. Lantas, apa itu sangat musykil bagi teman Rafidliy kita ini jika tashhih beliau dibawa kepada tashhih sanad – sesuai keumuman kaedah &#8211; ?</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Halah tidak hanya orang tsiqah kalee, orang dhaif, majhul bahkan pendustapun bisa mengalami mudhtharib. Tidak ada korelasi linier bahwa mudhtharib harus bersesuaian dengan pentsiqahan. Terus saja bicara yang umum, hal yang membuat anda semakin jauh dari kebenaran</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Lantas bagaimana dengan perkataan Abu Zur’ah bahwa ia tidak dikenal (laisa bi-ma’ruuf). Ini memang kalimat jarh, namun sifatnya muqayyad. Jika ada seorang ulama/muhaddits yang diakui memberikan ta’dil kepadanya atau menegaskan bahwa ia seorang yang ma’ruf, maka sifat tidak dikenal (majhul) ini hilang, karena orang yang mengetahui menjadi hujjah bagi orang yang tidak mengetahui. Dan ini telah diisyaratkan terhadap tashhih Al-Bukhariy.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tidakkah saudara itu memahami bahwa justru perkataan Abu Zur’ah disini lebih mendekati kebenaran. Ibnu ‘Aaisy itu keberadaannya hanya dikenal melalui satu hadis ini saja. Padahal satu hadis ini terbukti mudhtharib, ini sudah menjadi hujjah yang cukup untuk menguatkan pernyataan Abu Zur’ah dan menyatakan kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>penshahihan terhadap hadis ini keliru</em></span>. Bahkan kita dapat bertanya kepada mereka yang menshahihkan hadis ini, <span style="text-decoration:underline;"><em>apa dasarnya menyatakan hadis ini shahih?.</em></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Juga dengan tashhih Ahmad bin Hanbal. Tidak ternukil sama sekali ia men-jarh ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy. Bahkan ada dua riwayat darinya yang men-tashhih riwayat ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy. Pertama, dalam Tahdziibul-Kamaal (17/203) : “Abu Zur’ah Ad-Dimasyqiy juga berkata : ‘Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal : ‘Sesungguhnya Ibnu Jaabir telah menceritakan sebuah hadits dari Khaalid bin Al-Lajlaaj, dari ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Aku telah melihat Rabb-ku dalam sebaik-baik bentuk’. Qatadah juga menceritakan hadits tersebut dari Abu Qilaabah, dari Khaalid bin Al-Lajlaaj, dari ‘Abdullah bin ‘Abbaas; mana di antara keduanya yang lebih engkau cintai ?’. Ahmad menjawab : ‘Hadits Qatadah itu tidak ada apa-apanya. Dan perkataan (yang dianggap/shahih) di sini adalah yang dikatakan Ibnu Jaabir” [selesai]. Kedua, dalam Tahdziibul-Kamaal (17/206) : “Diriwayatkan oleh Abu Ahmad bin ‘Adiy, dari Al-Fadhl bin Hubaab, dari Al-Khuzaa’iy, kemudian ia berkata : Hadits ini mempunyai beberapa jalan. Dan aku melihat bahwa Ahmad bin Hanbal menshahihkan riwayat yang dibawakan oleh Musaa bin Khalaf, dari Yahyaa bin Abi Katsiir. Ia (Ahmad) berkata : ‘Hadits ini adalah yang paling shahih”[selesai].</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Walaupun telah ditunjukkan kekeliruannya, saudara nashibi itu tetap tidak mau memperhatikan. Ahmad bin Hanbal tidak memberi tautsiq kepada Ibnu ‘Aaisy. Jika memang Ahmad menshahihkan hadis tersebut maka yang ia lakukan pada dasarnya sama seperti Ibnu Hibban yaitu <span style="text-decoration:underline;"><em>merasa-rasa bahwa Ibnu ‘Aaisy itu sahabat</em></span>. Dan sahabat memang sesuai kaidah kontroversial ilmu hadis<em>[yang saya yakin diyakini oleh Ahmad bin Hanbal]</em> selalu tsiqah. Nah kalau memang penulis itu mengakui Ibnu ‘Aaisy bukan sahabat maka tidak ada gunanya ia mengambil hujjah dengan ta’dil Ahmad. Lihat saja hadis yang katanya dishahihkan oleh Ahmad itu adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis Ibnu ‘Aaisy dari Rasulullah SAW. </em></span>Betapa lucunya cara ia berhujjah</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Teman kita ini merasa aneh dengan perbedaan hadits yang di-tashhih antara Al-Bukhariy dan Ahmad (ia hanya memandang satu perkataan Ahmad saja). Saya juga bingung, apa yang dianehkan ? aneh-aneh saja……….. Tidak ada masalah jika ada perbedaan tashhih antara Al-Bukhariy dengan Ahmad, karena yang sedang kita perbincangkan adalah sisi ta’dil atas ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maaf saja, sudah berulang kali anda menunjukkan sikap selalu menganggap normal hal-hal aneh yang ada pada diri anda. Yah mana ada maling ngaku maling. Cukuplah anda lihat dengan baik apa yang sudah saya sebutkan. <span style="text-decoration:underline;"><em>Penshahihan Bukhari tidak ada artinya apalagi anda gabungkan dengan penshahihan Ahmad yang justru menentang Bukhari</em></span>. Penshahihan Ahmad berdasar pada anggapannya kalau Ibnu ‘Aaisy itu sahabat<em>[kalau Ahmad tidak menganggap Ibnu ‘Aaisy sahabat pasti ia mengatakan hadis itu mursal]</em>, hal yang bahkan ditolak oleh Bukhari. Kalau anda merasa tidak aneh maka itu adalah hal yang biasa muncul dari diri anda.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;">Kelihatannya, teman Rafidlah kita tidak memahami esensi yang dibicarakan.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;">Ta’dil terhadap ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy ini dikuatkan lagi oleh beberapa faktor (sebagian telah saya sebutkan) :</span></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Keadaan yang sebenarnya adala saudara nashibi itu tidak memahami esensi yang dibicarakan, ia berbicara panjang lebar tak tentu arah, berhujjah dengan hujjah yang justru untuk membahasnya maka pembahasan kita pun jadi meluas kemana-mana. Lihatlah bahkan sekarang ia menambahkan faktor yang mengada-ada hanya untuk melakukan pembelaan membabi buta.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>1. Ibnu Hibban telah mencantumkannya dalam Ats-Tsiqaat &#8212;- ingat, saya tidak sedang bergantung semata-mata dari tautsiq Ibnu Hibban, namun ini merupakan penguat dari qarinah2 yang ada.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kira-kira orang seperti apa yang jika telah ditunjukkan kalau ia terbukti keliru ia tetap keras kepala dengan pendiriannya. Kita telah tunjukkan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu Hibban menganggap Ibnu ‘Aaisy seorang sahabat</em></span> maka dari itu Ibnu Hibban pasti memasukkannya kedalam <em>Ats Tsiqat</em>. Ibnu Hibban jelas beranggapan semua sahabat itu tsiqah makanya ia memasukkan Ibnu ‘Aaisy dalam kitabnya <em>Ats Tsiqat</em>. Sedangkan saudara nashibi kita ini telah mengakui <span style="text-decoration:underline;"><em>kalau Ibnu Aaisy bukan sahabat</em></span> so tidak ada celah baginya berhujjah dengan <em>Ats Tsiqat</em>-nya Ibnu Hibban.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>2. Walaupun pendapat yang kuat adalah pendapat yang mengatakan ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy bukan termasuk shahabat, namun dengan dimasukkannya ia oleh sebagian muhaddits dalam thabaqah shahabat, maka ini petunjuk akan ke-‘adalah-annya.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kuat berdasarkan apa?. Kalau berdasarkan hadisnya mudhtharib maka benar ia bukan sahabat dan hadis penyimakan itu tergolong mudhtharib. Tetapi kalau berdasarkan perkataan ulama semisal Bukhari dan sebagainya maka jawaban Ibnu Hajar dalam Al Ishabah jauh bernilai dan lebih kuat dibanding mereka. Lha jelas sekali bagi <span style="text-decoration:underline;"><em>mereka yang beranggapan Ibnu ‘Aaisy sahabat</em></span> maka ia adalah tsiqah karena <span style="text-decoration:underline;"><em>sahabat itu kan katanya semuanya adil dan tsiqah</em></span>. Terus kalau saudara kita ini, bukankah dia mengatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu ‘Aaisy bukan sahabat</em></span> lantas dari mana dasarnya mau mengatakan tsiqah. Pahami dulu bantahan orang lain sebelum balas membantah <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>[adapun pertanyaan teman Rafidlah kita : “Mengapa saya berpegang pada tautsiq Ibnu Hibban, namun tidak berpegang pada perkataannya bahwa Ibnu ‘Aaisy bukan seorang shahabat; maka saya jawab : Jelas beda antara tautsiq dengan thabaqah perawi, tidak ada korelasi linear antara keduanya. Ia menyangka jika kita melemahkan pendapat seorang muhaddits tentang peletakan thabaqah perawi (apakah ia shahabat, tabi’iin, atau tabi’ut-taabi’iin), juga harus berkonsekuensi melemahkan jarh dan ta’dil yang diberikan muhaddits tersebut kepadanya. Pemahaman macam apa ini ya ?....].</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ho ho ini bukti nyata kalau saudara nashibi itu terbiasa berhujjah dengan hal umum tak tentu arah. Perhatikan wahai pembaca <span style="text-decoration:underline;"><em>memang beda antara tautsiq dan thabaqah perawi</em></span> tetapi ini berlaku untuk selain sahabat karena<span style="text-decoration:underline;"><em> sahabat itu dalam kaidah ilmu hadis adalah adil dan tsiqah</em></span>. Tidak ada itu yang namanya sahabat dhaif bagi salafy. Kita bisa tanyakan pada penulis itu jika memang ada sahabat dhaif menurutnya. Jadi jika <span style="text-decoration:underline;"><em>seorang ulama menetapkan atau meyakini seseorang sebagai sahabat</em></span> maka orang itu pasti akan dikelompokkan atau dimasukkan dalam <span style="text-decoration:underline;"><em>kitab yang memuat perawi tsiqah</em></span>. Inilah yang dilakukan Ibnu Hibban, ketika ia memasukkan Ibnu ‘Aaisy dalam kitabnya <em>Ats Tsiqat</em> itu dengan alasan <span style="text-decoration:underline;"><em>menurutnya Ibnu ‘Aaisy adalah sahabat Nabi</em></span>. Saudara itu sok berkata keheranan <em>“pemahaman macam apa ini”</em> padahal betapa menyedihkan orang yang tidak mampu memahami hal mudah seperti ini. <span style="text-decoration:underline;"><em>Sahabat sekali lagi tidak melewati mekanisme jarh wat ta’dil mereka berdasarkan kesepakatan ulama adalah tsiqah dan adil</em></span>. Jadi thabaqah sahabat adalah thabaqah yang tsiqah menurut ilmu hadis.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>3. Tiga perawi tsiqah meriwayatkan darinya.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan ini pun tidak ada gunanya. Kita dapat mengatakan bahwa tiga perawi tsiqah telah meriwayatkan hadis darinya dimana jika kita melihat hadis yang dimaksud itu maka diketahui bahwa hadis Ibnu ‘Aaisy itu mudhtharib maka tidak ada gunanya pernyataan tiga perawi tsiqah meriwayatkan darinya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>4. Satu lagi saya tambah : Umumnya, penghukuman idlthirab pada satu hadits oleh muhadditsiin dimaksudkan terjadi pada perawi tsiqah (atau minimal shaduuq). Bahkan sebagian ulama yang mengkhususkan pembicaraan mudltharib ini hanya pada perawi-perawi tsiqaat (lihat Al-Jawaahirus-Sulaimaniyyah Syarh Al-Mandhumah Al-Baiquniyyah hal. 337). Karena jika idlthiraab ini terjadi atau berporos pada perawi dla’iif, maka ia sudah gugur dari segi asalnya dan ta’arudl atau perselisihan sanad setelah rawi tersebut tidak dianggap.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hujjah macam apa ini, kita tak perlu memperhatikan pernyataannya dengan kaidah umum yang justru memperluas pembahasan ini kemana-mana. Jika ia mengatakan<em> &#8220;sebagian ulama&#8221;</em> maka <em>&#8220;sebagian lain&#8221; </em>juga berkata lain. Bahkan Syaikh Al Albani sendiri mengakui kalau idhthirab bisa terjadi pada perawi dhaif <em>[lihat Shahih Shifat Shalat An Naby]</em> dan memang begitulah faktanya. <span style="text-decoration:underline;"><em>Idhthirab bisa terjadi baik pada perawi tsiqah, dhaif, atau majhul</em></span>.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Beberapa qarinah ini semua menunjukkan akan ke-‘adalah-an ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy. Dan ‘adalah itu tidak hanya diketahui dari tashrih ta’dil atau pujian yang diberikan oleh muhadditsiin pada seorang perawi. Ada banyak jalan/cara untuk mengetahui sifat ‘adl (ta’dil muhadditsiin) pada seorang perawi [bisa lihat selengkapnya dalam Al-Hadiitsush-Shahih wa Manhajul-‘Ulamaa’il-Muslimiin fit-Tashhih hal. 95-98 dan Al-Jawaahirus-Sulaimaniyyah Syarh Al-Mandhumah Al-Baiquniyyah hal. 55-60 – padanya ada beberapa jalan/cara, adayang maqbul, ada pula yang mardud].</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silakan dilihat, qarinah-qarinah tersebut hanya akan dipercaya oleh mereka yang memang awam dan tidak tahu menahu soal ini tetapi bagi mereka yang mempelajarinya dengan kritis akan terlihat betapa rapuhnya qarinah-qarinah yang ia pakai.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Ada yang lucu dari komentar teman Rafidlah kita ini. Ia mengatakan bahwa saya dengan seenaknya mengatakan bahwa hadits ‘Ibnu ‘Aaisy dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ini mursal. He….he… sungguh lucu bin aneh pernyataan ini. Ia sendiri dalam tulisannya terdahulu mengatakan bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy ini bukan seorang shahabat. Kali saja ia lupa dengan perkataannya :</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>“oleh karena itu hadits dengan sima’ langsung Ibnu Aaisy dari Rasul SAW itu memang keliru”.</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>“Pendapat yang benar mengenainya adalah dia bukanlah sahabat Nabi……”.<br />
Lah, …. kalau saya tanya padanya : “Dari mana Anda menyimpulkannya ?”. Jawaban Anda sekaligus jawaban bagi saya (sebenarnya ia melakukan tarjih dari pendapat para imam, namun sayangnya gak nyadar). Makanya sangat aneh statementnya pada saya ini… Jika ia sendiri mengatakan bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy bukan shahabat, tentu saja konsekuensi dari hadits yang ia bawakan dihukumi mursal. ‘Abdurrahman telah menggugurkan perawi antara dia dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.…………</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saudara nashibi ini sok mau memakai logika atau sok mau menyalahkan orang padahal ia tidak memahami posisi orang lain. Jika ia mau dengan benar memahami posisi saya maka penolakan saya akan status sahabat Ibnu ‘Aaisy tidak hanya bersandar pada keterangan ulama tetapi<span style="text-decoration:underline;"><em> statusnya yang majhul dan hadisnya mudhtharib</em></span> <em>[disinilah hujjah utama saya]</em>. Sedangkan ia sendiri adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>orang yang justru mengatakan Ibnu ‘Aaisy tsiqah dan menolak kalau hadisnya mudhtharib</em></span>. Maka tidak ada dasar baginya untuk menilai hadis Ibnu ‘Aaisy itu mursal. Halo tolong dibuka sedikit dong pikirannya agar bisa memahami hujjah orang lain. Begitulah ia, memahami hujjah orang lain dengan benar saja ia tidak mampu apalagi mau membahas dengan kritis. Silakan pembaca lihat tulisan saya yang membahas <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/31/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cnabi-saw-melihat-allah-swt-dalam-sebaik-baik-bentuk%E2%80%9D2/" target="_blank">kedudukan Abdurrahman bin &#8216;Aaisy Al Hadhrami</a>, disitu dengan jelas saya menunjukkan bahwa Ibnu &#8216;Aaisy hadisnya mudhtarib dan ia sendiri tidak dikenal kredibilitasnya maka dari itu saya menolak kalau ia dikatakan sahabat. Sungguh menyedihkan saudara nashibi itu, apakah ia begitu bodoh sehingga sulit memahami tulisan orang lain? atau ia sengaja membodoh-bodohi orang awam agar terpengaruh dengan perkataannya?. Ataukah ia sengaja berdusta untuk melemahkan lawan bicaranya?. Kalau anda penulis tidak mampu menjawab maka cukuplah diam saja dan jangan menjadi orang yang menyedihkan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Jika telah diketahui bahwa hadits ‘Abdurrahmaan bin ‘Aaisy itu mursal &#8211; jika ada riwayat yang menyambungnya (maushul) – maka ia dibawa kepada yang maushul. Riwayat mursal ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy tersebut adalah : Dari Khaalid bin Al-Lajlaaj, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Aayisy secara marfu’. Adapun riwayat maushul itu yang menyambung sanad Ibnu ‘Aaisy adalah : Dari Khaalid bin Al-Lajlaaj, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Aaisy, dari sebagian/seorang laki-laki dari shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara marfu’.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Gak ada alasannya <span style="text-decoration:underline;"><em>ia mau menyatakan hadis itu mursal</em></span> kalau ia mengakui <span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu ‘Aaisy itu tsiqah</em></span>. Hadis penyimakan Ibnu ‘Aaisy dari Rasulullah SAW adalah kesaksian Ibnu ‘Aaisy dan jika saudara itu mengakui ia tsiqah maka tidak ada alasan untuk menolak kesaksiannya. Seperti yang saya katakan jika Ibnu ‘Aaisy itu tsiqah maka <span style="text-decoration:underline;"><em>pernyataannya bahwa ia mendengar dari Rasulullah SAW adalah bukti kalau ia sahabat</em></span>. Nah kalau ia sahabat maka kesaksiannya jauh lebih berarti dari para ulama yang anda jadikan hujjah. Aneh ya kekacauan seperti ini tidak dimengerti oleh anda. Lucunya ulama panutan anda <span style="text-decoration:underline;"><em>Bukhari itu meragukan hadis penyimakan Ibnu ‘Aaisy dengan mengisyaratkan kalau itu kesalahan Walid padahal Walid telah dikuatkan dengan yang lain dan ini sebagai bukti kalau riwayat Walid itu memang terjaga</em></span>. Bukankah ini adalah petunjuk kalau pernyataan Bukhari itu bisa salah dan begitu pula dengan penshahihannya, ya bisa salah juga.<span style="color:#0000ff;"><em></em></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Terakhir, apakah perawi tsiqah bisa meriwayatkan hadits mursal ? Maka jawabnya adalah bisa, banyak contohnya. Pun, jika perawi tersebut menggunakan lafadh tahdits, walaupun kasus ini bisa dibilang sangat sedikit. Ini diakibatkan oleh kekeliruan sebagian perawinya. Contohnya :</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Aliy : Telah menceritakan kepadaku ayahku : telah menceritakan kepadaku Syu’bah, dari Abu Bisyr (ia berkata) : Aku mendengar Mujaahid menceritakan hadits dari Ibnu ‘Umar, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengenai tasyahud (dalam shalat) : …..(al-hadits)….</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Hadits ini ada dalam Sunan Abi Dawud no. 971. Hadits ini rijalnya adalah rijal Ash-Shahiih, Ad-Daaruquthniy (1/351) mengatakan : “Sanad hadits ini shahih”. Namun dalam Tahdziibut-Tahdziib, Imam Ahmad berkata : “Syu’bah mendla’ifkan hadits Abu Bisyr dari Mujaahid, ia berkata : “Ia tidak mendengar apapun darinya”. Asy-Syaikh Muqbil berkata : “Adapun tashrih dengan sima’ dari Mujaahid, maka hal itu kemungkinan berasal dari kekeliruan Abu Bisyr atau selainnya. Wallaahu a’lam” [lihat Al-Ahaaditsul-Mu’allah Dhaahiruhash-Shihah hal. 240].</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silakan saja anda menampilkan hadis-hadis seperti itu. Satu hal yang harus anda ingat dalam berhujjah dengan perkataan ulama adalah apa dasarnya ulama tersebut mengatakan seperti itu. Mari kita anggap Syu’bah dalam hal ini benar, saya katakan pernyataannya memang patut diperhatikan karena <span style="text-decoration:underline;"><em>Syu’bah sendiri mengenal bertemu dan berguru kepada Abu Bisyr</em></span>. Dalam hal ini Syu’bah punya kapabilitas untuk mengetahui keadaan sebenarnya Abu Bisyr. Lain ceritanya dengan hadis Ibnu ‘Aaisy di atas. <span style="text-decoration:underline;"><em>Mereka yang menolak status sahabat Ibnu ‘Aaisy atau menolak penyimakan Ibnu ‘Aaisy dari Rasulullah SAW</em></span> adalah para ulama yang terpisah jauh darinya dalam arti mereka tidak bertemu atau mengenal Ibnu ‘Aaisy. Alasan penolakan mereka hanya berdasarkan <span style="text-decoration:underline;"><em>penolakan mereka terhadap hadis penyimakan langsung Ibnu ‘Aaisy dari Rasulullah SAW dan adanya hadis dimana Ibnu ‘Aaisy meriwayatkan dengan perantara</em></span>. Oleh karena itu terdapat <span style="text-decoration:underline;"><em>ulama yang mengingkari mereka ini</em></span> seperti Ibnu Hajar yang dengan jelas menyatakan Ibnu &#8216;Aaisy sahabat setelah mengumpulkan berbagai riwayat penyimakan Ibnu ‘Aaisy dari Rasulullah SAW dan riwayat tersebut pada kenyataannya bukanlah kesalahan Walid seperti yang dikatakan Ibnu Khuzaimah dan Al Bukhari.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian mari kita anggap Syu’bah dalam hal ini keliru maka memang terdapat alasan untuk menyatakan ia keliru. Satu-satunya <span style="text-decoration:underline;"><em>kesaksian bahwa Abu Bisyr tidak mendengar dari Mujahid berasal dari Syu’bah sendiri</em></span> sedangkan <span style="text-decoration:underline;"><em>kesaksian Abu Bisyr mendengar dari Mujahid berasal dari kesaksian Abu Bisyr sendiri</em></span>. Mereka berdua sama-sama tsiqat tetapi Abu Bisyr jelas lebih mengetahui keadaan dirinya dibanding orang lain. Oleh karena itu pernyataan syu’bah tidaklah mutlak.</p>
<ul>
<li><em>Secara tarikh, Abu Bisyr memang sezaman dan memungkinkan bertemu dengan mujahid</em></li>
<li><em>Berdasarkan kesaksian Abu Bisyr sendiri dan dia tsiqah maka ia mengatakan dengan jelas telah mendengar dari Mujahid.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Jika pernyataan Abu Bisyr mendengar langsung dari Mujahid dikatakan salah maka ada dua kemungkinan</p>
<ul>
<li>Kesalahan tersebut berasal dari Abu Bisyr, hal ini musykil karena Abu Bisyr dengan jelas menyatakan ia mendengar langsung. Menyatakan kesalahan padanya sama halnya dengan menuduh ia berdusta.</li>
<li>Kesalahan tersebut berasal dari yang meriwayatkan dari Abu Bisyr yaitu Syu’bah. Kalau memang ia salah maka pernyataan Syu’bah disini jelas-jelas kontradiksi, di saat lain ia mengatakan Abu Bisyr mendengar dari Mujahid di saat lain ia mengatakan Abu Bisyr tidak mendengar dari Mujahid. Kalau memang Syu’bah yang salah, lantas kesaksian mana yang salah.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Hadis Abu Bisyr dari Mujahid tidak hanya dishahihkan oleh Daruquthni tetapi Bukhari juga telah memasukkan hadis Abu Bisyr dari Mujahid dalam kitab <em>Shahih</em>-nya [hadis no 2095, no 4056 dan no 4656]. Mungkin saja Abu Bisyr mendengar dari Mujahid dan pernyataan Syu’bah itu bisa dijamak dalam arti Syu’bah awalnya tidak mengetahui kalau Abu Bisyr mendengar hadis dari Mujahid tetapi setelah ia mengetahui Abu Bisyr mendengar dari Mujahid maka ia mengakuinya dan meriwayatkan hadis tersebut. Tentu saja ini sebuah kemungkinan tetapi kami tidak akan memusingkan hal itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali kepada hadis Ibnu ‘Aaisy jika saudara nashibi itu mau menolak <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis penyimakan langsung Ibnu ‘Aaisy dari Rasulullah SAW</em></span> maka apa dasarnya?. Kalau main asal comot perkataan ulama tanpa menelaahnya maka kita pun dapat main comot ulama yang menyalahkannya. Bahkan pernyataan Ibnu Hajar mengenai status sahabat Ibnu ‘Aaisy jauh lebih bernilai dibanding pernyataan ulama yang menyelisihinya seperti Bukhari dan Ibnu Khuzaimah. Walaupun menurut kami Ibnu Hajar tetap keliru karena tidak memperhatikan bahwa hadis tersebut mudhtharib.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Teman Rafidliy kita tetap berpendapat bahwa hadits ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy itu idlthirab. Telah saya sebutkan ada dua riwayat yang tersisa yang berputar/berporos pada ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy :</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>(1) Dari Khaalid bin Al-Lajlaaj, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Aaisy, dari sebagian/seorang laki-laki dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara marfu’.</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>(2) Dari Abu Salaam (Zaid bin Salaam bin Abi Salaam), dari ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy Al-Hadlramiy, dari Maalik bin Yakhaamir, dari Mu’adz bin Jabal secara marfuu’.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Memang saudara nashibi itu tidak bisa memahami hujjah orang lain dengan benar. Ia masih saja keras kepala dengan pernyataannya. Hadis tersebut tidak hanya seperti yang ia katakan, masih ada satu lagi hadis Ibnu ‘Aaisy yaitu <span style="text-decoration:underline;"><em>dimana ia menyatakan mendengar langsung dari Rasulullah SAW.</em></span> Kedudukan hadis tersebut tidak berbeda dengan kedua hadis ini. Mereka yang menolak hadis ini seperti Al Bukhari dan Ibnu Khuzaimah tidak memiliki hujjah apapun bahkan mereka terbukti keliru sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hajar bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>riwayat penyimakan Ibnu ‘Aaisy langsung dari Rasulullah SAW tidak hanya diriwayatkan Walid tetapi juga oleh yang lainnya sehingga riwayat tersebut memang terjaga dan tidak bisa ditolak begitu saja</em></span>. Jadi riwayat tersebut harus dimasukkan dalam pembahasan idhtirab hadis tersebut bukan seperti yang dikatakan saudara nashibi itu.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Untuk nomor 1, teman Rafidlah kita tetap memecahnya menjadi dua untuk lebih mengesankan ke-idlthirab-annya sesuai dengan yang ia inginkan, yaitu :</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>a. Dari Khaalid bin Al-Lajlaaj, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Aaisy, dari sebagian (ba’dlu) shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara marfu’.</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>b. Dari Khaalid bin Al-Lajlaaj, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Aaisy, dari seorang laki-laki dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara marfu’.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jangan melucu bung, hadis tersebut pada kenyataannya memang diriwayatkan dengan dua bentuk seperti itu. Anda mau menggabungkan ya silakan, tapi saya tetap menjadikannya seperti yang tertera dan diriwayatkan di dalam kitab hadis. Kami tidak perlu mengesankan apapun. Bagi mereka yang tahu <span style="text-decoration:underline;"><em>apa itu idhthirab</em></span> akan tahu dengan jelas bahwa hadis tersebut memang idhthirab dan kami tidak perlu meminta penerimaan anda akan hal ini. Kebenaran itu cukup jelas</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Dua riwayat di atas masing-masing berasal dari Khaalid bin Al-Lajlaaj. Dalam setiap bahasan hadits mudltharib disebutkan bahwa satu hadits tidak dikatakan mudltharib jika ia bisa ditarjih atau dijamak. Di sini jamak bisa dilakukan. Di atas saya telah menuliskan bahwa tidak ada pertentangan antara sebagian shahabat dengan seorang laki-laki dari kalangan shahabat. Lafadh seorang laki-laki dari kalangan shahabat termasuk bagian dari sebagian shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dalam ilmu ushul, itu termasuk bagian lafadh ‘aam dan lafadh khaash. Antara yang khaash dan ‘aam bukan merupakan bagian kontradiksi, sehingga tidak mengharuskan adanya idlthirab satu dengan lainnya.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tidak masalah, idhthirabnya itu tidak hanya bersandar pada kedua riwayat ini saja. Kedua riwayat lain yaitu periwayatan langsung dari Rasulullah SAW dan periwayatannya dari tabiin adalah bukti nyata bahwa hadis tersebut idhthirab.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Saya ulangi : Sanad ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy hanya ada dua, yaitu :</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>(1) Dari Khaalid bin Al-Lajlaaj, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Aaisy, dari sebagian/seorang laki-laki dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara marfu’.</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>(2) Dari Abu Salaam (Zaid bin Salaam bin Abi Salaam), dari ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy Al-Hadlramiy, dari Maalik bin Yakhaamir, dari Mu’adz bin Jabal secara marfuu’.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ho ho ho pengulangannya hanya menunjukkan segitu putus asanya saudara kita ini dalam berhujjah. Ia benar-benar tidak mau memasukkan hadis penyimakan langsung Ibnu ‘Aaisy dari Rasulullah karena hal itu sangat memberatkannya maka dari itu yang bisa ia lakukan hanyalah pengulangan dengan penuh putus asa.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Hadits di atas tampak oleh kita bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy menerima riwayat dari orang yang berbeda dan menyampaikannya kepada orang yang berbeda pula. Setelah menukil kalimat saya ini, teman Rafidlah kita itu berkata :</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>“Sungguh lucu kalimat ini. Jika syarat mudltharib adalah perawi sebelum dan sesudah Abdurrahman harus sama, maka sudah jelas ia bukan mudltharib, tetapi satu sanad yang utuh dan tsabit”.</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Halo….halo….. dalam kalimat mana saya mengatakan syarat mudltharib adalah perawi sebelum dan sesudah Abdurrahman harus sama ya ? Saya baca ulang tulisan saya di atas gak ada tuh kalimat yang dimaksud…. baik secara lafadh ataupun makna. Itu hanya karangan teman Rafidlah kita saja untuk membuat opini menguatkan pendapatnya yang salah.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Aneh sekali saudara nashibi itu, ia lebih sibuk dengan persepsinya sendiri soal penggunaan bahasa yang menurutnya tidak tepat. Kapan pula saya menuduhnya?. Lihat saya sudah cukup berhati-hati dengan menggunakan kata &#8220;jika&#8221; jadi jangan sok sensi amat. Pada esensinya anda itu sudah jelas ngawur sok mengatakan pendapat orang lain salah padahal pendapatnya sendiri sebenarnya yang salah. Main salah-salahan semua orang bisa, mempengaruhi orang dengan kata-kata sok ilmiah atau mentertawakan juga semua orang bisa. Bagi pembaca silakan cukup memperhatikan hujjah dan dasar baik saya ataupun dia dan silakan nilai dengan adil.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Saya mengatakan hal di atas sebagai qarinah saja (bukan syarat). Tidak lain karena hal itu sangat memungkinkan. Apalagi hadits itu sendiri sangat memungkinkan diriwayatkan dari banyak jalan sanad (bukan dengan sanad tunggal). Bukankah hadits tersebut diucapkan oleh kesaksian para shahabat saat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berada di masjid ? Maka, bukan hal yang aneh jika ada beberapa shahabat meriwayatkan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan kemudian beberapa diantaranya diriwayatkan melalui jalur ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy. Dari ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy ini, ia sampaikan kepada Khaalid bin Al-Lajlaaj dan Abu Salaam pada waktu yang berbeda.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jelas-jelas dia sebelumnya berkata <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">&#8220;</span></span><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Dua riwayat ini tidak mudltharib – walau berporos pada ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy – karena perawi sebelum dan setelah ‘Abdurrahman berbeda&#8221;</span></span>. </em>Dia justru menjadikan hal itu sebagai sebab bahwa riwayat tersebut tidak mudhtharib. Kita tanyakan pada pemilik kalimat ini, <span style="text-decoration:underline;"><em>apa buktinya hadis tersebut diriwayatkan oleh para sahabat</em></span>. Kita telah membuktikan bahwa tidak ada satu sanadpun yang tsabit bahkan dari satu orang sahabatpun. Kalau Cuma mau berdasarkan kesaksian Ibnu ‘Aaisy ya balik lagi ke awal hadisnya itu dhaif karena mudhtharib dan dia sendiri tidak dikenal.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Sebenarnya contoh yang saya berikan dari riwayat Az-Zuhri dalam Shahih Muslim cukup untuk membuat perbandingan dalam hal ini. Namun sayangnya – sebagaimana kebiasaannya – teman Rafidlah kita ini membuat ta’wil2 yang cukup mengherankan&#8230;.. (bisa banyak komentar diberikan, tapi gak usahlah…hemat kata).</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silakan para pembaca perhatikan, tidak ada ta’wil apapun yang saya buat. Saya mengomentari hadis Zuhri yang ia bawa itu dengan seobjektif mungkin. Saya katakan bahwa hadis Zuhri tidak ada nilai idhthirabnya dan kedudukannya jauh berbeda dengan hadis Ibnu ‘Aaisy. Bahkan saya menyindir saudara nashibi itu ketika membahas idhthirab Simmak dari Ikrimah. <span style="text-decoration:underline;"><em>Cara ulama menetapkan hadis Simmak dari Ikrimah idhthirab benar-benar sama persis dengan hadis Ibnu ‘Aaisy dan itu adalah bukti nyata kalau hadis Ibnu &#8216;Aaisy tersebut idhthirab</em></span>. Hal ini yang tidak digubris oleh saudara itu yah mungkin karena ia malu mengakui kalau dirinya keliru.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Saya pikir cukup pembicaraan tentang idlthirab ini, karena sudah jelas. Intinya mah, saya sangat tidak sependapat dengan perkataan teman Raafidliy kita ini. Saya tidak mengingkari keberadaan sebagian ulama yang mendla’ifkan hadits Ru’yah yang dibawakan oleh Ibnu ‘Aaisy ini dengan alasan adanya idlthiraab, sama seperti alasan yang disampaikan teman Rafidlah kita.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hujjah yang saya sampaikan juga sudah cukup. Pendhaifan tersebut memang berdasar justru penshahihan hadis tersebut yang terkesan asal-asalan. Saya pribadi jelas sangat tidak sependapat dengan saudara nashibi itu. Saya tidak mengingkari <span style="text-decoration:underline;"><em>keberadaan ulama yang menshahihkan hadis Ibnu ‘Aaisy</em></span>, yang saya ingkari justru <span style="text-decoration:underline;"><em>penshahihan mereka karena penshahihan mereka itu tidak berdasar.</em></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Kalaupun misal sanad hadits ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy ini dihukumi idlthiraab, maka ia tetap bisa dijadikan i’tibar, karena hal itu hanya menunjukkan kurangnya sifat dlabth dari ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy. Dua jalur sanad yang ia bawakan tetap bersanad dla’if. Tidak dapat dipastikan mana di antara dua sanad tersebut yang mahfudh (shahih). Bersamaan dengan itu, matan haditsnya hanya satu. Jika ada hadits lain yang menguatkan, maka hadits ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy secara keseluruhan bisa terangkat dari ke-dla’if-an (akibat idlthirab sanad) menjadi hasan atau shahih.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ini adalah hujjah terakhirnya yang bisa ia lakukan. Kami katakan hadis tersebut tidak dapat dijadikan I’tibar bahkan dengan mengumpulkan hadis-hadis tersebut kita dapati bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis tersebut mudhtharib dan munqathi’ kecuali hadis Simmak yang dhaif</em></span>. Sekali lagi saya meminta perhatian pembaca untuk melihat hadis-hadis tersebut. Yang menjadi keyakinan salafy itu adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>Allah SWT bisa dilihat di dalam mimpi dan Nabi SAW telah melihat Allah SWT didalam mimpi dalam sebaik-baik bentuk.</em></span> Sedangkan hadis yang menyebutkan soal mimpi hanya bersandar pada <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis Ibnu ‘Aaisy dan Ibnu Abbas yang mudhtharib dan munqathi’.</em></span> Jadi tidak bisa dijadikan hujjah.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Terus terang saya senyum2 geli melihat defense berlebihan yang dilakukan oleh teman Rafidlah kita ini dalam menutupi kekurangpengetahuannya. Dalam ucapannya terdahulu ia mengkritik Syaikh Al-Albani yang dianggapnya tidak konsisten ketika menjadikan riwayat Khaalid bin Al-Lajlaaj sebagai hujjah. Katanya, Syaikh Al-Albani biasanya tidak menghiraukan tautsiq yang hanya diberikan oleh Ibnu Hibban.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda mau senyum loncat-loncat juga nggak penting. Saya saja geli melihat pembelaan saudara yang naïf. Kenyataannya Syaikh Al Albani memang tidak menghiraukan tautsiq Ibnu Hibban terhadap seorang perawi. Dalam <em>Silsilah Adh Dhaaifah</em> banyak sekali contoh-contoh tentang itu.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Telah saya sanggah perkataan orang ini bahwa sikap beliau menggunakan riwayat Khaalid bin Al-Lajlaaj adalah sesuai dengan metode/manhaj yang telah ia terangkan sendiri. Makanya, sangat keliru jika teman Rafidlah kita ini ‘menyalahkan’ Syaikh Al-Albani, karena justru di sini beliau menunjukkan kesesuaiannya dengan manhaj beliau yang telah diterangkan dalam Tamaamul-Minnah. Ya,… berhubung ia tidak tahu metode yang diterangkan Syaikh Al-Albani, yang sesuai pun dianggap gak konsisten. He…he…he…</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Telah saya sanggah pula apa yang ia katakan sebagai metode Syaikh Al Albani karena <span style="text-decoration:underline;"><em>pada dasarnya konsisten atau tidak seorang ulama itu dilihat dari implementasinya ketika ia menilai suatu hadis</em></span>. Bukannya seperti dirinya yang dengan sok membawakan hujjah Syaikh Al Albani dalam <em>Tamamul Mina</em>h. Seorang ulama boleh saja berkata metode saya begini, metode saya begitu, tetapi pada kenyataannya yang kita lihat adalah <em>implementasinya ketika ia menilai hadis-hadis</em>. Dalam <em>Silsilah Ahadits Ad Dhaaifah</em> banyak keterangan kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>Syaikh memang menyatakan majhul hal kepada para perawi yang hanya mendapatkan tautsiq dari Ibnu Hibban walaupun telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat.</em></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Dan anehnya, kok tiba-tiba karena ingin membela diri &#8211; malu ngaku keliru – dengan menampilkan beberapa statement dari Syaikh Al-Albani yang ia anggap gak konsisten dengan manhaj beliau terhadap tashhih Ibnu Hibban. Lucu dan gak ada relevansinya jika dikaitkan dengan kritikannya pertama dan sanggahan saya terhadapnya.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya katakan tidak ada yang lucu dengan itu. <span style="text-decoration:underline;"><em>Syaikh Al Albani terbukti tidak konsisten dan bukti itu telah saya tunjukkan dengan contoh hadis-hadis dalam Silsilah Adh Dhaaifah</em></span>. Kalau anda bisa menukil dari <em>Tamamul Minah </em>maka mengapa pula saya tidak bisa menukil dari <em>Silsilah Ahadiits Adh Dhaaifah</em>. Kalau anda bilang metode Syaikh Al Albani itu yang ada pada <em>Tamamul Minah</em> maka saya katakan lalu yang ada dalam <em>Silsilah Adh Dhaaifa</em>h itu apa bukan pernyataan Syaikh Al Albani. Jadi ngawur sekali anda kalau mengatakan itu tidak ada relevansinya. Kutipan anda dari <em>Tamamul Minah</em> jsutru menguatkan pernyataan saya bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>Syaikh Al Albani tidak konsisten, ia menyalahi dirinya sendiri di dalam kitabnya yang lain</em></span>. Sebenarnya  yang sering tidak karuan dan melebarkan pembicaraan kemana-mana ya anda ini. Berhujjah dengan cara-cara yang menyedihkan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Tentang Ghailaan bin Anas Al-Kalbiy,……….. telah disebutkan bahwa Ibnu Hajar berkomentar dalam At-Taqriib : ‘maqbuul’. Ibnu Abi Haatim tidak menyebut padanya jarh ataupun ta’dil-nya. Beberapa perawi tsiqaat telah meriwayatkan darinya. Al-Mizziy menyebutkan perawi yang meriwayatkan darinya antara lain : Syu’aib bin Abi Hamzah, ‘Abdullah bin Al-‘Allaa’ bin Zabr, ‘Abdurrahmaan bin ‘Amr Al-Auzaa’iy, ‘Isaa bin Musaa Al-Qurasyiy, dan Manshuur Al-Khaulaaniy [Tahdziibul-Kamaal, 23/127].</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Nah,…kemudian teman Rafidlah kita ini – dengan segala kepercayan dirinya – mengatakan :</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>“Percuma saja saudara Penulis itu mengutip berpanjang-panjang karena pada kenyataannya Syaikh Al-Albani sendiri mengatakan kalau Ghailan bin Anas Al-Kalbi adalah seorang yang majhul haal….”.</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Saya jadi bertanya apakah yang bersangkutan paham tidak dengan manhaj Syaikh terhadap hadits mastuur (majhul haal) ? Mungkin yang bersangkutan salah paham dengan tulisan saya pada catatan kaki no. 15 : “maka terangkatlah status majhul haal-nya”. Mungkin beliaunya memahami dari perkataan saya ini, majhul haal-nya hilang. Padahal yang saya maksud status majhul haal nya terangkat adalah menjadi kuat dan bisa dijadikan hujjah, sebagaimana nukilan saya dari penjelasan Abu Haatim dalam Al-Jarh wat-Ta’diil (1/1/36) di atas. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini akan sedikit saya perbaiki kalimatnya agar tidak salah paham – dan itu tidak mengubah esensi hujjah saya.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lho anda sendiri apa tidak ingat mengapa terjadi pembahasan seperti ini. Itu kan karena anda yang gak karuan malah sibuk mengomentari<em> <span style="text-decoration:underline;">komentar keheranan saya soal syaikh Al Albani yang mengatakan hadis Tsauban shahih dengan syawahid</span>.</em> Anda mau membela syaikh anda tetapi apa sebenarnya yang sedang anda bela. Anda justru menyalahkan syaikh anda sendiri. Saya katakan sebelumnya dengan metode Syaikh Al Albani jelas-jelas mana mungkin hadis Tsauban menjadi shahih dengan syawahid. Mengapa? Karena</p>
<ul>
<li><em>Menurut Syaikh hadis Abdullah bin Shalih dari Muawiyah bin Shalih itu dhaif</em></li>
<li><em>Menurut Syaikh Ghailan bin Anas itu majhul hal</em></li>
<li><em>Menurut Syaikh Abu Yahya tidak dikenal</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Kemudian saya katakan apalagi kalau ditambah dengan <span style="text-decoration:underline;"><em>inqitha’ Abu Sallam dari Tsauban</em></span> maka tetaplah kedhaifannya berat. Lucunya anda ini gak tau juntrungannya malah membela Syaikh Al Albani membabibuta dengan sok ikut-ikutan heran akan keheranan saya. Lihat baik-baik Syaikh anda yang terhormat itu, sepertinya anda juga ikutan mewarisi inkonsistensi ulama yang anda ikuti.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Mengenai majhul haal ini (dan bagaimana posisi Syaikh Al-Albani terhadapnya), sebenarnya dulu telah saya ketika membahas hadits Maalik Ad-Daar. Tapi mungkin yang bersangkutan lupa. Ada baiknya saya ulang :</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Majhul haal, yaitu status perawi dimana yang meriwayatkan sebanyak dua orang atau lebih, namun tidak ada seorang pun yang men-tsiqah-kannya. Disebut juga mastur. Hadits atau riwayat dari perawi yang majhul haal atau mastur ini tidak ditolak dan juga tidak diterima secara mutlak. Jelasnya, apabila yang meriwayatkan darinya beberapa perawi tsiqah – meskipun tidak ada yang men-tsiqah-kannya – maka haditsnya/riwayatnya dapat diterima. Immaa derajatnya hasan atau shahih. Diterima riwayatnya karena yang meriwayatkan darinya sejumlah perawi tsiqah, yang mereka tidak meriwayatkan dari seorang perawi kecuali perawi tsiqah atau yang mereka angap tsiqah. Akan tetapi jika yang meriwayatkan darinya hanya perawi-perawi dla’if, maka riwayatnya tertolak dan haditsnya dla’if.</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Dan mohon maaf yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada teman Rafidlah kita jika pada tulisan di atas saya tidak maksimal menuliskan keterangan-keterangan dari Syaikh Al-Albani secara lengkap mengenai majhul haal. Hingga mengakibatkan teman kita yang terhormat ini buru-buru menyimpulkan. Salah lagi….ha…ha…ha….</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silakan saja tertawa, sama seperti dulu saudara nashibi itu tidak bisa menilai tanggapan orang dengan benar. Jika dalam hal inipun ia keliru memahami tulisan saya, maka mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya pikir tulisan itu lebih dari cukup untuk orang yang memang berpikiran dengan baik.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Aku (Al-Albani) katakan : Mungkin kejelasan keadaan perawi diperoleh dari adanya tautsiq dari seorang imam yang diakui tautsiq-nya. Dalam pernyataannya (Al-Haafidh) bahwa majhul hal adalah orang yang teriwayatkan haditsnya oleh dua atau lebih perawi, tetapi tidak ada pengakuan terpercaya. Aku katakan : Imam yang diakui tautsiq-nya, karena di sana ada ahli-ahli hadits yang tidak dapat diandalkan tautsiq-nya seperti berbedanya Ibnu Hibban dari tradisi/kebiasaan para ahli hadits pada umumnya. Ini akan saya jelaskan pada pedoman berikutnya.</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Memang benar bahwa riwayat majhul dapat diterima jika ada sejumlah besar perawi-perawi yang terpercaya meriwayatkan darinya hadits yang tidak mengandung unsur pengingkaran. Pendapat ini dianut oleh sejumlah ulama muta’akhkhirin seperti Ibnu Katsir, Al-‘Iraqiy, Al-‘Asqalaniy, dan yang lainnya. Lihat contohnya pada halaman 204-207” [selesai – lihat Tamaamul-Minnah, hal. 19-20].</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Setelah membaca ini, dimana letak kontradiksinya ? Sekarang, siapa yang lebih pantas dianjurkan untuk membaca kitab Syaikh Al-Albani dan kitab-kitab hadits lainnya ya ? saya…….</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Apa anda tidak membaca apa yang saya kutip. Jangan Cuma sibuk dengan kutipan anda saja. Saya tanya dengan anda ini <span style="text-decoration:underline;"><em>apa sebenarnya yang kita permasalahkan?</em></span>. Menurut saya ya <span style="text-decoration:underline;"><em>sikap inkonsistensi Syaikh Al Albani</em></span>, dan itu terlihat dari berbagai kitabnya tidak hanya satu kitab <em>Tamamul Minah</em> seperti yang anda kutip. Saya cuma mengutip pernyataan Syaikh Al Albani bahwa ia sendiri dalam <em>Silsilah Ahadiits Ad Dhaifah</em> tetap menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>majhul hal walaupun perawi tersebut dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hibban dan telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat</em></span>. Bukti bahwa Syaikh tidak konsisiten adalah sebagaimana yang saya katakan sebelumnya dalam kitab <em>As Sunnah Ibnu Abi Ashim</em> Syaikh menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>tsiqat kepada Khalid bin Al Lajlaaj</em></span> [lihat hadis no 388] padahal Khalid hanya ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban dan telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat. Kalau begitu maka posisi Khalid itu seharusnya majhul hal. Begitu pula saya katakan maka menurut metode syaikh Ghailan bin Anas itu majhul hal walaupun telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqah, dan memang itulah yang Syaikh tersebut katakan. Baik Khalid bin Al Lajlaaj maupun Ghailan bin Anas ya sami mawon kedudukannya tapi kok penilaiannya beda. Kalau anda masih bertanya dimana letak kontradiksinya?. Apa peduli saya, siapa yang banyak bicara maka telanlah sendiri akibat pembicaraannya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Akhirnya,… riwayat kedudukan Ghailaan di sini bukan perawi dla’iif. Ia bisa dipakai sebagai hujjah dengan keadaan-keadaan yang telah disebutkan oleh Syaikh Al-Albani.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya hanya menyatakan bahwa Ghailan bin Anas itu dikatakan sendiri oleh Syaikh sebagai majhul hal dan itu saya masukkan sebagai isyarat kelemahan dalam hadis Tsauban. Pernyataan majhul hal dalam hal ini termasuk pernyataan yang melemahkan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Mengenai Abu Shaalih, nampaknya teman Rafidlah kita tidak bisa menjawab hujjah yang saya sampaikan. Malahan, ia menggunakan metode kuno yang ia kira bisa membuat saya terkaget-kaget dengan menampilkan pendapat Syaikh Al-Albani atas Abu Shaalih. Tidak ilmiah…</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya katakan kepada saudara nasibhi itu, justru ia sendiri yang berhujjah dengan metode kuno yang membuat orang awam terpesona seolah-olah dengan perkataannya ia tampak benar. Kalau ia mengatakan hujjah saya tidak ilmiah maka yang harus ia katakan sebagai tidak ilmiah adalah Syaikhnya sendiri Syaikh Al Albani, syaikh dengan jelas mendhaifkan hadis Abdullah bin Shalih dari Muawiyah bin Shalih.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Hajar sendiri telah memberikan kesimpulan perincian jarh atas Abu Shaalih : ““Shaduuq (jujur) namun banyak salahnya. Tsabt dalam kitabnya, dan padanya terdapat kelalaian (ghaflah)”.</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Apa makna tsabt dalam kitabnya ? Tentu saja jika ia meriwayatkan melalui perantaraan (bantuan) kitabnya, maka haditsnya maqbul. Ini perincian yang sangat bagus. Dan di sini, ia meriwayatkan hadits Mu’awiyyah bin Shaalih dengan perantaraan kitabnya, karena ia mempunyai catatan-catatan hadits darinya. Oleh karena itu, haditsnya dari Mu’awiyyah tidak turun dari derajat hasan. Wallaahu a’lam.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saudara itu mengatakan ini perincian yang sangat bagus. Lha iya bagus karena sesuai dengan pembelaannya. Tumben-tumbenan ia taklid buta dengan pernyataan Ibnu Hajar padahal di saat lain ia mengatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>Ibnu Hajar termasuk ulama muta’akhirin dimana pernyataannya harus berdasarkan pernyataan ulama sebelumnya.</em></span> Silakan para pembaca lihat dalam biografi Abdullah bin Shalih, para ulama yang mencacatnya mengakui kalau <span style="text-decoration:underline;"><em>ia menulis hadis dari Laits dan itu tidak mencegah mereka untuk mengatakan bahwa hadisnya dari Laits mungkar.</em></span> Jadi walaupun hadis tersebut berasal dari tulisan Abu Shalih tetap saja tidak seenaknya dikatakan tsabit. Apalagi yang ia tulis dari Muawiyah bin Shalih yang bisa dikatakan tidak lebih mayshur dibanding riwayatnya dari Laits. Maka dari itu cukup wajar syaikh Al Albani tetap mendhaifkan hadis Abdullah bin Shalih dari Muawiyah bin Shalih walaupun syaikh juga menukil pernyataan Ibnu Ady seperti yang dikutip saudara nashibi tersebut.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Adapun Abu Yahyaa yang dikatakan tidak dikenal ini, maka ia sebenarnya adalah : Sulaim bin ‘Aamir Al-Kalaa’iy, Abu Yahyaa Al-Himshiy. Seorang tsiqah. Jadi tidak perlu dipersoalkan.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silakan buktikan perkataan anda itu?. Kalau memang hujjah anda dalam hal ini kuat maka tidak ada alasan bagi saya tidak menerimanya. Tetapi jika hujjah anda tersebut cuma klaim semata maka tidak ada artinya. Apakah orang yang anda sebut Sulaim bin Aamir itu meriwayatkan hadis dari Ghailan bin Anas Al Kalbi?. Ngomong-ngomong Syaikh Al Albani itu ternyata tidak sepintar anda, kok dia tidak tahu siapa itu Abu Yahya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Akhirnya, jelas sudah bahwa kelemahan hadits Tsaubaan hanya ada pada inqithaa’-nya saja. Ini kelemahan yang ringan. Sangat wajar jika Syaikh Al-Albani menghukumi shahih lighairihi. Dan sebaliknya, keheranan Anda menjadi tidak wajar karena ketidakvalidan metode penilaian Anda.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda ini lucu, mau menilai Syaikh Al Albani atau menilai saya. Kalau mau menilai Syaikh Al Albani maka nilailah dengan jujur. Saya lihat <em>pernyataan anda malah menyalahkan semua pernyataan Syaikh Al Albani</em> dan anda sendiri berhujjah dengan inqitha’ yang tidak disebutkan oleh Syaikh. Kemudian setelah itu dengan enaknya anda berkata <span style="text-decoration:underline;"><em>“sangat wajar jika Syaikh menghukumi shahih lighairihi”.</em></span> Tidak ada satupun alasan anda yang tegak dengan hujjah. Ghailan bin Anas terbukti majhul hal [menurut Syaikh Albani], Abdullah bin Shalih dhaif [dan penguatan anda itu hanya subjektif semata], Abu Yahya yang menurut anda Sulaim bin Aamir, maaf anda belum membuktikannya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;">Penolakan tahsin hadits Jaabir ini adalah yang paling tidak saya mengerti dari rekan Rafidlah kita ini. Sudah jelas sekali bahwa rukun sanad yang dibawakan oleh Ibnu Abi ‘Aashim di sini adalah rukun sanad yang dibawakan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (mulai pangkal sampai ujung sanad), yang tentu saja bukan berkualitas dla’if menurut standar penilaian Ahlus-Sunnah. Gak tahu kalau yang bersangkutan memakai standar penilaian Syi’ah.</span></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Begitulah saudara nashibi itu, jika memang ia terbiasa berhujjah dengan tuduhan maka silakan telan sendiri tuduhan itu. Anda itu lucu, yang saya katakan adalah <span style="text-decoration:underline;"><em>Simmak bin Harb itu dhaif,</em></span> tidak ada juntrungannya anda menukil rukun sanad. Mengenai Imam Muslim berhujjah dengan hadisnya, maka saya katakan <span style="text-decoration:underline;"><em>Imam Muslim saja berhujjah dengan hadis Ismail bin Abi Uwais yang dikenal dhaif.</em></span> Simmak dhaif dengan alasan yang sudah saya sebutkan. Kalau anda berkeras menolak dengan dalih hujjah Imam Muslim, ya silakan. Apa perlu saya ingatkan bahwa <em>jarh yang mufassar lebih didahulukan ketimbang ta’dil?</em>. Mau dikemanakan kaidah itu. Apa itu kaidah dari Syiah, kalau begitu bakar habis saja kaidah ilmu hadis itu. Terus ulama yang mendhaifkan hadis-hadis Simaak seperti Ibnu Mubarak, Shalih bin Muhammad, Nasa&#8217;i dan Ibnu Jauzi yang memasukkannya dalam <em>Ad Dhu&#8217;afa Wal Matrukin</em> no 1552 apakah mereka semua adalah orang yang mengikuti standar Syiah?. Makin lama diikuti bicara anda makin ngawur saja <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Memang benar bahwa sebagian ulama hadits telah melemahkannya dari sisi hapalannya. Tapi harus fair juga dong (dan ini harus disebutkan) bahwa para ulama lain memberikan tautsiq kepadanya.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jelas-jelas saya mengakuinya, kalau anda tidak membacanya maka buka mata anda lebar-lebar.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Pertanyaan sederhananya yang layak diberikan kepada teman Rafidliy kita ini : “Apakah semua riwayat yang dibawakan oleh Simaak bin Harb adalah dla’if ?”. Jika ia mendla’ifkan semua riwayat Simaak, maka berapa banyak hadits dalam Shahih Muslim yang akan berkualitas dla’if ? Jika ia menjawab tidak semua, maka mana saja yang tidak dla’if ? Kriterianya apa ? Kriteria ini generik, atau kriteria sesuai selera ? Saya tebak, yang bersangkutan akan kesulitan karena tidak punya standar yang jelas alias gelap. Apalagi melihat kenyataan Muslim dalam Shahih-nya sering meletakkan hadits Simaak dalam ushul riwayat.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda itu membaca tidak sih tulisan saya, kalau memang situ merasa risih yo wes kita terapkan seperti yang dikatakan Ibnu Hajar kepada Ibnu Abi Uwais yaitu <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis Simmak selain di kitab shahih adalah dhaif.</em></span> Kalau anda katakan kriteria ini sesuai selera lha apa pernyataan Ibnu Hajar terhadap Ibnu Abi Uwais [hadisnya selain dalam kitab shahih tidak bisa dijadikan hujjah] itu gak sesuai selera. Saya tebak andalah yang akan kesulitan melihat kenyataan Muslim dalam Shahih-nya telah berhujjah dengan hadis Ismail bin Abi Uwais.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Sangat aneh, ketika teman kita ini menyangkutkan pada hadits ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy yang ia klaim mudltharib – yang kemudian ingin menunjukkan bahwa Simaak dalam penyampaian hadits ini juga mudltharib. Jaka sembung makan kedondong…. Gak nyambung dong!</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">saya cuma menunjukkan kemungkinannya, tidak ada saya memastikan hadis Simmak yang ini mudhtharib. Daripada anda sibuk cuap-cuap membela salah satu alasan dhaif yang ada banyak pada Simmak lebih baik anda perhatikan hujjah anda riwayat Simmak dari Ikrimah mudhtharib. Dengan cara yang sama sebagaimana anda mengutip</p>
<blockquote><p><em><span style="color:#0000ff;">Ahmad bin ‘Abdillah Al-‘Ijliy berkata tentangnya : “…..Jaaizul-hadiits, kecuali dalam periwayatan hadits ‘Ikrimah. Terkadang ia menyambungkan sesuatu dari Ibnu ‘Abbas, dan terkadang ia berkata : ‘Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam’. Padahal (hadits/riwayat) itu hanyalah ‘Ikrimah yang menceritakan dari Ibnu ‘Abbas…”.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#0000ff;">Ya’quub pernah bertanya kepada ‘Aliy bin Al-Madiiniy : “Apa pendapatmu tentang riwayat Simaak dari ‘Ikrimah ?”. Ia menjawab : “Mudltharib”.</span></em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lihat baik-baik, dari kutipannya <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis Simaak dari Ikrimah dihukum mudhtharib karena Simaak terkadang meriwayatkan dari Ibnu Abbas, terkadang meriwayatkan dari Rasulullah SAW dan terkadang meriwayatkan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas</em></span>. Kalau penulis mengakui bahwa hal ini mudhtharib maka begitu pula seharusnya hadis Ibnu ‘Aaisy, <span style="text-decoration:underline;"><em>ia terkadang meriwayatkan dari Rasulullah SAW, terkadang meriwayatkan dari sahabat dan terkadang meriwayatkan dari tabiin dari sahabat dari Rasulullah SAW.</em></span> Apa ini gak nyambung juga <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif' alt=':roll:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Gampangnya, mari kita lihat kesimpulan dari para ahli hadits dari Simaak bin Harb ini. Ibnu Hajar mengatakan : “Simaak bin Harb bin Aus bin Khaalid Adz-Dzuhliy Al-Bakriy Al-Kuufiy Abu Mughiirah. Shaduuq. Riwayatnya dari ‘Ikrimah secara khusus adalah mudltharib. Di akhir umurnya hapalannya berubah. Kadangkala ia meriwayatkan dengan talqin<br />
Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang mudltharib adalah riwayatnya dari ‘Ikrimah. Sama dengan perkataan para imam sebelumnya. Adapun ikhtilath yang dialami oleh ‘Ikrimah terjadi pada akhir umurnya. Adapun talqin, maka ini tidak selalu.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tidak perlu main gampang-gampangan, Simmak dhaif karena hal-hal berikut</p>
<ul>
<li><em>Simaak sering melakukan kesalahan seperti yang dikatakan Ibnu Ammar dan Ibnu Hibban [Ibnu Hibban mengatakan ia banyak melakukan kesalahan].</em></li>
<li><em>Simaak hafalannya buruk seperti yang dikatakan Daruquthni</em></li>
<li><em>Simmak menerima talqin seperti yang dikatakan Nasa’i. An Nasa’i menyatakan kalau riwayatnya tidak bisa dijadikan hujjah jika menyendiri. [ia menyendiri meriwayatkan dari Jabir]</em></li>
<li><em>Simaak mengalami ikhtilath seperti yang dikatakan Al Bazzar dan Ibnu Hajar.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Kalau anda mengatakan ia tidak selalu menerima talqin, <span style="text-decoration:underline;"><em>lantas kapan anda bisa yakin ia sedang tidak menerima talqin?</em></span>. Kalau anda katakan ia ikhtilat di akhir umur lalu <span style="text-decoration:underline;"><em>apakah hadis ini diriwayatkan sebelum ikhtilath atau sesudah ikhtilath?</em></span>. Lantas bagaimana dengan pernyataan <span style="text-decoration:underline;"><em>hafalannya yang buruk</em></span> dan <span style="text-decoration:underline;"><em>banyaknya kesalahan yang ia buat</em></span>. Kalau mau menjawab jangan tanggung-tanggung atau memang merasa tidak mampu <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif' alt=':roll:' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Martabat shaduuq menempati peringkat keempat dalam tingkatan jarh wa ta’dil menurut Ibnu Hajar. Ini maknanya bahwa rawi tersebut baik ‘adalah-nya, namun sedikit kurang dalam ke-dlabith-annya. Karena itu, kadang-kadang ia diisyaratkan dengan lafadh laa ba’sa bihi atau laisa bihi ba’sun, yaitu riwayatnya diterima dan masuk dalam derajat hasan.</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Adz-Dzahabi mengatakan : “Shaduuq shaalih”. Dalam terminology Adz-Dzahabi (lihat Al-Muuqidhah hal. 81-82), lafadh mengindikasikan haditsnya jayyid, namun tidak menduduki puncak keshahihan. Ekuivalen dengan hasan.</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Ini kesimpulan yang sangat bagus yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi setelah melihat berbagai jarh dan ta’dil para imam kepada Simaak.<br />
Selain itu, sependek pengetahuan saya dari beberapa praktek yang dilakukan oleh Syaikh Al-Albani, murid-muridnya, dan juga dengan beberapa pihak yang sering kontra dengan mereka; semuanya tidak ada yang memutlakkan kedla’ifan pada Simaak.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tidak perlu berhujjah dengan hujjah yang menarik simpati orang awam. Pada esensinya anda tidak membahas dengan baik jarh yang saya tampilkan. Ismail bin Abi Uwais saja tetap dinyatakan shaduq oleh Ibnu Hajar walaupun ia didhaifkan oleh jumhur. Lagipula maaf ya saya tidak pernah memutlakkan pendhaifan Simmak. <em>Pendhaifan itu sangat beralasan </em>karena <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis ru’yah ini selain Simmak tidak ada yang tsabit, semuanya mudhtharib dan munqathi’ </em></span>sedangkan Simmak diketahui hafalannya buruk, melakukan banyak kesalahan<em>[bisa jadi ini kesalahannya]</em> menerima riwayat dengan talqin <em>[bisa jadi riwayat ini ia dapat dari talqin]</em> ditambah lagi ia terbukti hadisnya mudhtharib yaitu riwayat Ikrimah dimana ia terkadang menyambungkan hadis tersebut langsung ke Rasulullah SAW atau ke sahabat tanpa melalui Ikrimah. <em>[bisa jadi hadis ini ia sambung dari mana] </em>begitu pula ia sering memusnadkan hadis yang tidak dimusnadkan oleh yang lain <em>[bisa jadi hadis ini pula karena terbukti hadis yang lain munqathi’]</em>. Semuanya memang bisa jadi tetapi sangat beralasan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Intinya,…. pelemahan rekan Rafidlah kita atas hadits Jaabir karena Simaak bin Harb adalah pelemahan yang paling saya ingkari.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silakan melakukan pengingkaran. Saya tidak pernah terpikir mau memaksa anda menerima hujjah saya. Sudah saya duga anda sama seperti salafy yang lainnya yang tidak bisa menerima hujjah orang lain, seolah-olah ilmu hadis itu hanya milik anda dan ulama-ulama anda saja.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Apalagi – seperti kebiasanya – ia mencari dalih bahwa ada sebagian perawi dalam Shahihain yang mendapat jarh. Itu betul. Tapi menjadikan itu alasan untuk menolak riwayat Simaak, khususnya dalam rantai riwayat yang sama persis seperti yang digunakan Muslim dalam Shahih-nya adalah lemah dan rejected. Mengada-ada dan ujung-ujungnya kok ngasal (?)</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tidak tahu malu, yang pertama kali berhujjah pakai embel-embel perawi Muslim kan anda. Menjadikan itu sebagai alasan menerima hadis seorang perawi [walaupun terbukti jarh terhadapnya beralasan] adalah lemah, mengada-ada dan ujung-ujungnya ngasal. Bukhari dan Muslim itu bukan harga mati, siapapun yang tahu pasti tahu dan yang tidak tahu ya tidak tahu.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>1. Hadits ‘Abdurrahman bin ‘Aaisy adalah dla’if karena idlthiraab dalam sanad, tidak dalam matan. Maka di sini ia bisa dijadikan i’tibaar.</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>2. Hadits Ibnu ‘Abbas dla’if. Satu jalur karena inqitha’ dan jalur lain ghairu mahfudh (sebagaimana ditegaskan Ibnu-Jauziy). Sanad yang ghairu mahfudh (yaitu dari jalan Mu’aadz bin Hisyaam, dari ayahnya, dari Qataadah, dari Abu Qilaabah, dari Khaalid bin Al-Lajlaaj, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas secara marfu’) tidak bisa dijadikan i’tibar, sedangkan yang lain dapat dijadikan I’tibar.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kedua hadis ini baik hadis Ibnu ‘Aaisy dan hadis Ibnu Abbas terbukti mudhtharib, walaupun dikumpulkan bersama malah mempertegas idhthirabnya seperti yang dilakukan Daruquthni dalam <em>Al ‘Ilal</em>.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>3. Hadits Tsauban adalah dla’if karena inqitha’ dan kedla’ifan Abu Shaalih.<br />
5. Hadits Abu Umaamah dla’if karena adanya inqitha’ dan kedla’ifan Laits.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kedua hadis ini dhaif karena kedhaifan salah seorang perawinya dan sanadnya terputus. Walaupun dikumpulkan bersama tidak mengangkat sifatnya yang terputus dan sama-sama ada kedhaifan pada perawinya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;">4. Hadits Jaabir adalah dla’iif karena Simaak bin Harb.</span></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini bisa dibilang sanad paling kuat mengenai masalah ini dan ternyata kedudukannya pun dhaif. Kalau mau menguatkannya maka carilah sanad lain yang tidak terputus dan tidak mudhtharib karena kelemahan Simmak terkait dengan kedua hal itu seperti yang telah kami jelaskan. Ditambah lagi hadis ini tidak menjadi hujjah bagi salafy karena <span style="text-decoration:underline;"><em>tidak ada sedikitpun dalam kandungan matannya yang menyebutkan kalau peristiwa tersebut terjadi di dalam mimpi. </em></span>Kalau mau berhujjah jangan dengan gaya seenaknya tolong perhatikan matannya dengan cermat dan teliti.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Coba perhatikan kedla’ifan masing-masing dengan pikiran yang jernih. Nampak bahwa dengan kedla’ifannya ia tetap berstatus shahih lighairihi atau minimal hasan lighirihi. Perkataan bahwa hadits-hadits tersebut tidak bisa saling menguatkan hanyalah merupakan igauan semata, dan penerapan prinsip YPD (Yang Penting Dla’if). He….he….he….</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dimana letak shahih lighairihi atau hasan lighairihi?. Perkataan ngasal seperti itu juga bisa dikatakan orang lain. Hanya karena itu manjadi keyakinan anda dan mahzab anda maka dengan seenaknya anda pakai prinsip pokoknya harus shahih, walaupun sudah terbukti kedhaifannya yang tidak bisa saling menguatkan. Makanya kalau mau menjawab itu jangan tanggung-tanggung dan cobalah lebih ilmiah jangan bisanya menuduh sana sini. Akhir kata, silakan pembaca menilai sendiri tanpa dipengaruhi mahzab apapun, walaupun saya tidak terlalu berharap ada pengikut salafy or nashibi yang mau menerima karena pada dasarnya penyakit mereka itu sama semua. Sok merasa paling ilmiah dan benar sendiri <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dağlar yerinden oynardı…]]></title>
<link>http://umuthuzmeleri.wordpress.com/2009/11/15/daglar-yerinden-oynardi%e2%80%a6/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 22:28:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>La Reverie</dc:creator>
<guid>http://umuthuzmeleri.wordpress.com/2009/11/15/daglar-yerinden-oynardi%e2%80%a6/</guid>
<description><![CDATA[    “Varlık senin mârifetinin peşinde, erbâb-ı lisân Seni vasfetmekten âcizdir. Gel tevbemizi kabul ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[    “Varlık senin mârifetinin peşinde, erbâb-ı lisân Seni vasfetmekten âcizdir. Gel tevbemizi kabul ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Üstad Said Nursi'nin Manevi Hayata hizmetleri ]]></title>
<link>http://risaleoku.wordpress.com/2009/11/15/ustad-said-nursinin-manevi-hayata-hizmetleri/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 17:30:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahmetturkan</dc:creator>
<guid>http://risaleoku.wordpress.com/2009/11/15/ustad-said-nursinin-manevi-hayata-hizmetleri/</guid>
<description><![CDATA[Bedîüzzaman Hazretleri hayatını ‘eski Said’ ve ‘yeni Said’ olarak iki devreye ayırır. Genel olarak O]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bedîüzzaman Hazretleri hayatını ‘eski Said’ ve ‘yeni Said’ olarak iki devreye ayırır. Genel olarak O]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Barla, nârdan nûra hicretin adıdır ]]></title>
<link>http://risaleoku.wordpress.com/2009/11/15/barla-nardan-nura-hicretin-adidir/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 17:26:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahmetturkan</dc:creator>
<guid>http://risaleoku.wordpress.com/2009/11/15/barla-nardan-nura-hicretin-adidir/</guid>
<description><![CDATA[Satırlar sayfalara, sayfalar külliyâta harf harf, kelime kelime nakşedilirken, dudaktan kalblere, ka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Satırlar sayfalara, sayfalar külliyâta harf harf, kelime kelime nakşedilirken, dudaktan kalblere, ka]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KONU: HEYKEL VE CANLI RESİM ]]></title>
<link>http://tolgaokmen.wordpress.com/2009/11/15/konu-heykel-ve-canli-resim/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 10:49:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>tolgaokmen</dc:creator>
<guid>http://tolgaokmen.wordpress.com/2009/11/15/konu-heykel-ve-canli-resim/</guid>
<description><![CDATA[بِسْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيمِ Ca]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>بِسْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيمِ</p>
<p>Canlı Resmi Yapma Ve Bulundurma Yasağı</p>
<p>( Canlı Resim Bulundurmanın Haramlığı Ve Sûretleri Yok Etmeyi Emretmek)</p>
<p>1682. İbni Ömer radıyallahu anhümâ&#8217;dan rivayet edildiğine göre Resûlullah sallallahu aleyhi ve sellem şöyle buyurdu:<br />
&#8220;Bu sûretleri (resim ve heykelleri) yapanlar, kıyamet günü, ‘bu yaptıklarınıza can verin, haydi!’ diye azâb edileceklerdir.&#8221;</p>
<p>1683. Âişe radıyallahu anhâ şöyle dedi:<br />
Resûlullah sallallahu aleyhi ve sellem bir seferden dönmüştü. Ben de odamın önündeki sekiyi resimli bir perde ile örtmüştüm. Bunu görünce Resûlullah sallallahu aleyhi ve sellem&#8217;in yüzünün rengi değişti ve şöyle buyurdu:<br />
– &#8220;Ey Âişe! Kıyâmet günü Allah katında insanların en şiddetli azâba uğrayacak olanları, Allah&#8217;ın yarattığı şeyi taklide kalkışanlardır.&#8221;<br />
Bunun üzerine biz de o örtüyü kesip bir (veya iki) yastık yaptık.</p>
<p>1684. İbni Abbâs radıyallahu anhümâ, &#8220;Ben Resûlullah sallallahu aleyhi ve sellem&#8217;i şöyle buyururken dinledim&#8221; dedi:<br />
&#8220;Her sûret yapan cehennemdedir. Yaptığı her sûret için orada bir kişi yaratılarak ona cehennemde azâb edecektir.&#8221;<br />
İbni Abbâs, (kendisinden fetvâ isteyen ve tek işi resim yapmak olan kişiye) şöyle dedi:<br />
– Eğer mutlaka resim yapman gerekiyorsa, ağaçların ve cansız şeylerin resimlerini yap!&#8221;</p>
<p>1685. Yine İbni Abbâs radıyallahu anhümâ, &#8220;Ben Resûlullah sallallahu aleyhi ve sellem&#8217;i şöyle buyururken dinledim&#8221; dedi:<br />
&#8220;Kim dünyada bir canlı resmi yaparsa, kıyamet günü yaptığı resme can vermeye zorlanır. O ise, buna aslâ can veremez.&#8221;</p>
<p>1686. İbni Mes&#8217;ûd radıyallahu anh, &#8220;Ben Resûlullah sallallahu aleyhi ve sellem&#8217;i şöyle buyururken dinledim&#8221; dedi:<br />
&#8220;Kıyamet günü azâbı en şiddetli olanlar, sûret yapanlardır.&#8221;</p>
<p>1687. Ebû Hüreyre radıyallahu anh, &#8220;Ben Resûlullah sallallahu aleyhi ve sellem&#8217;i şöyle buyururken dinledim&#8221; dedi:<br />
&#8220;Allah Teâlâ:<br />
Benim yarattığım gibi yaratmaya kalkışandan daha zâlim kim vardır? Haydi bir zerre, yahut bir habbe veya bir arpa tanesini yoktan yaratsınlar (bakalım!), buyurdu.&#8221;</p>
<p>1688. Ebû Talha radıyallahu anh&#8217;den rivayet edildiğine göre Resûlullah sallallahu aleyhi ve sellem şöyle buyurdu:<br />
&#8220;İçinde köpek ve sûret bulunan eve melekler girmez.&#8221;</p>
<p>1689. İbni Ömer radıyallahu anhümâ şöyle dedi:<br />
Cebrâil aleyhisselâm, Resûlullah sallallahu aleyhi ve sellem&#8217;e geleceğini söylemişti. Gecikti. Resûlullah sallallahu aleyhi ve sellem çok üzüldü ve dışarı çıkınca Cebrâil ile karşılaştı ve gecikmesinden şikayetçi oldu. Bunun üzerine Cebrâil aleyhisselâm:<br />
&#8220;Biz melekler, içinde köpek ve sûret bulunan eve girmeyiz&#8221; cevabını verdi.</p>
<p>* Yukarıdaki hadis-i şeriflerden anlaşılan Resim ve Günümüzde Canlı Fotoğraf ile üç boyutlu heykel büst gibi şeyleri  İslam&#8217;da yasak oluşu ve tevhid inancını zedeleyen ve şirke düşüren konumda olmaları hasebiyle sert uyarılar ve tehdidlerle müslümanların bu tür şeylerden vazgeçmeleri istenmiştir. &#8221; Büyücülerde fotografla büyü yapar.&#8221; Putperestliğin yeniden ortaya çıkmasına sebep teşkil edecek olan canlı resimlerin bulunduğu tablolar her türlü fotoğraflar ve üç boyutlu heykel ve büstlerin evlerde bulundurulması kesinlikle haramdır. Fotograf saklanıcaksa bir albüm içinde muhafaza et. Sadece nüfus cüzdanı, ehliyet, pasaport gibi zaruri evraklarla , çocukların oyuncak bebeklerinin alım-satımı ve oynanması zaruret olduğu için haram sınırı dışındadır. Paralarda bulunan insan resimleri de caiz değildir.<br />
Dolayısıyla müslüman evine melek girmesini temin için ne resim, ne de büst, heykel gibi üç boyutlu canlı temsilleri evinde dükkanında ve bürosunda bulundurması haramdır. Avcı ve koyun köpeği (ziraat köpeği) haricinde de köpek besleyemez. Batı hayranlığıyla süs köpekleri taşımak pekçok para masrafına yol açar.  Onları beslemek müslümana yakışmayan kafir adetidir. Köpek beslemek yerine fakir, aç ve kimsesiz yetim çocuklara yardım et. ( Tolga)</p>
<p>RESIM VE KÖPEK BULUNAN EVE RAHMET MELEĞİ GİRMEZ</p>
<p>2804- Ebû Talha (r.a.)’den rivâyete göre, şöyle diyor: Rasûlullah (s.a.v.)’den işittim şöyle diyordu: “Köpek, resim ve heykel bulunan eve melek girmez.” (Buhârî, Bed-il Halk: 27; Müslim, Libas: 17)<br />
Tirmizî: Bu hadis hasen sahihtir.</p>
<p>2805- Rafî’ b. İshâk’ın haber verdiğine göre, şöyle demiştir: Ben ve Abdullah b. ebî Talha Ebû Saîd el Hudrî’yi hastalığı dolayısıyla ziyarete gitmiştik. Ebû Saîd el Hudrî dedi ki: Rasûlullah (s.a.v.) bize şöyle haber verdi: “İçinde resim ve heykel bulunan eve melekler girmez.” İshâk, resim mi heykel mi demişti diye şüphe ediyor.” (Müsned: 11326)<br />
Tirmizî: Bu hadis hasen sahihtir.</p>
<p>2806- Ebû Hüreyre (r.a.)’den rivâyete göre, Rasûlullah (s.a.v.) şöyle buyurmuştur: “Cebrail bana geldi ve dedi ki: Dün gece sana gelmiş idim. Bulunduğun eve girmeme bu güne kadar bir engel yoktu fakat evin kapısının örtüsünde insan resimleri olan bir perde vardı evin içerisinde de resim ve nakışlar bulunan bir duvar örtüsü vardı ve evde de bir köpek bulunuyordu. Şimdi emret kapı örtüsündeki resmin başı koparılsın o zaman o şekil bir ağaç şekline benzer. Duvar örtüsü için emret kesilsin o parçalarda yere atılıp çiğnenen minder yapılsın. Köpek için de emret o evden atılıp çıkarılsın. Rasûlullah (s.a.v.) bunların hepsini yaptı. Köpek, Hasan ve Hüseyin’in oynadıkları bir köpek yavrusuydu, emretti ve köpekte çıkarıldı.” (Nesâî, Ziyne: 17)<br />
Tirmizî: Bu hadis hasen sahihtir.<br />
Bu konuda Âişe ve Ebû Talha’dan da hadis rivâyet edilmiştir.</p>
<p>2574- Ebû Hüreyre (r.a.)’den rivâyete göre, Rasûlullah (s.a.v.) şöyle buyurmuştur: “Kıyamet günü Cehennem’den bir gurup yaratık çıkacaktır ki onun gören iki gözü işiten iki kulağı ve konuşan bir dili olacaktır ve şöyle diyecektir: Ben üç kişiye vekil tayin edildim, her inatçı zorbaya, Allah ile birlikte başkalarına ilahlık yakıştıranlara, resim ve heykel yapanlara.” (Müsned: 8076)<br />
Bu konuda Ebû Saîd (r.a.)’den de hadis rivâyet edilmiştir.<br />
Tirmizî: Bu hadis hasen garib sahihtir.</p>
<p>İSLAMİ ÖZEL GÜNLERDE (KADİR GECESİ) CEBRAİL ALEYHİSELAM ÖNDERLİĞİNDE MELEK&#8217;LER MÜMİN LERİ EVLERİNDE ZİYARET EDER ve MÜMİNLER İÇİN DUA EDER. EĞER EVDE CANLI RESİM, PUT, HEYKEL VEYAHUT KÖPEK VARSA EVE GİRMEZ. MÜMİNDE RAB ZÜLCELALDEN GELEN HAYIR DUASINDAN MAHRUM KALIR.</p>
<p>BAZILARI DEDİ ( EVLERİ HEYKEL DOLU ) AMAN CANIM NE OLUCAK BİZ ONU BİLİYORUZ TAPMIYORUZKİ. YOK ÖYLE BİRŞEY. HARAMI EVDE TUT. HZ. İBRAHİM PUTLARI BALTA İLE KIRDI. EN İRİSİNİN BOYNUNA ASTI. HZ. MUHAMMED KABEDEKİ 360 PUTU KIRDI MEKKE FETHİNDE.</p>
<p>EY LAİK PUTA TAPMA ( ANLAMLI GÜZEL, ÖĞRETİCİ BİR VIDEO, DOWNLOAD ET İZLE ) KIYAMET YAKIN SAPITMIŞ HIRİSTİYAN DÜZENİ. PUTA TAPTI. OKULLARA MESCİD.</p>
<p>VIDEO : http://www.zumodrive.com/share/1JYDNjg2ZD</p>
<p>VESSELAM&#8230;.</p>
<p>( EHLİ SÜNNET &#8211; NASRULLAH )<br />
SAHİB-UL HİLYE<br />
Tolga<br />
2010 </p>
<p>شيخ تلغ<br />
نكاح</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KONU: 810 SENELİK TÜRK KÜLTÜRÜ ( VIDEO'LARI DOWNLOAD ET İZLE ) ( SIR BİLGİ ve VIDEOLAR )]]></title>
<link>http://tolgaokmen.wordpress.com/2009/11/15/konu-810-senelik-turk-kulturu-videolari-download-et-izle-sir-bilgi-ve-videolar/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 09:45:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>tolgaokmen</dc:creator>
<guid>http://tolgaokmen.wordpress.com/2009/11/15/konu-810-senelik-turk-kulturu-videolari-download-et-izle-sir-bilgi-ve-videolar/</guid>
<description><![CDATA[بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ TARİHİ OLMAYAN BİR DEVLETİN, GELECEĞİ OLABİLİRMİ ?  ( TARİH KU]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</p>
<p>TARİHİ OLMAYAN BİR DEVLETİN, GELECEĞİ OLABİLİRMİ ?  ( TARİH KURAN, SÜNNET&#8217;E UYGUN ÖRF, ADET, GİYİM ve MEKANLARI KORUYARAK OLUR. )</p>
<p>RAB C.C EL-MUSAVVİR HER MİLLETE HER ŞEHRE BİR MİMARİ, BİR GİYİM TARZI, VERDİ. DÜNYADA GEZDİĞİN ZAMAN ÇEŞİTLERE VE KIYAFETLERE BAK. TAHİTİ&#8217;YE BAK, AFRİKA YERLİLERİNE, ESKİMOLARA, HANİ TÜRK&#8217;ÜN &#8221;TURK TURBAN&#8221; SARIKI, CÜBBESİ, SAKALI, ÇARŞAFI RENGİ GÜZELLİĞİ.</p>
<p>ÇEVİR KUŞAT TARİHİ YAK, KIYAFETİ DEĞİŞTİR, DİLİ DEĞİŞTİR, GÜL GİBİ MOLLALARI CAMİLERDE TARA. ( IRAK TAZE ÖRNEK )</p>
<p>SAPIK İNGİLİZ ve AMERİKA<br />
VIDEO : http://www.zumodrive.com/share/21t2ODgxOG</p>
<p>İSLAMIN SÜNNET KIYAFETİ VARKEN, NİYE KRAVAT, PAPYON, FÖTR, FRAK FRANSIZMIYIZ BİZ. ÇANKAYA ( HIRİSTİYAN ÇANINDAN GELME ADI ) O ŞEKİL ELE GEÇMİŞ MEMLEKET ) DEĞİŞTİR EZAN TEPESİ&#8230;.. ( ÖRNEK ) YILLAR BRÜKSELDEN MÜSLÜMAN HALKI YÖNET, ŞİMDİ EURO.</p>
<p>TÜRKÇE EZAN ( DİN KÜLTÜR BOZMA ) ŞEREFSİZ YAHUDİ OYUNLARINA ÖRNEK</p>
<p>VIDEO : http://www.zumodrive.com/share/21tlYzNlYW</p>
<p>ŞAPKA DEVRİMİ ( KİM ALLAHIN İNDİRDİĞİYLE HÜKMETMEZSE İŞTE ONLAR KAFİRLERİN TA KENDİLERİDİR. ( MAİDE SURE-İ CELİLE 44 AYET )<br />
VIDEO : http://www.zumodrive.com/share/1JYVMWIyMz</p>
<p>HIRİSTİYANLAŞTIRMA SÜRECİ. EĞİTİM SİSTEMİ.</p>
<p>UYAN MÜSLÜMAN !!! TARİHİNİ ASLI KORUMAZSAN, NEFSE, ŞEYTANA UYUP DÜNYAYA DÜŞERSEN, HAK DAN YÜZ ÇEVİRİRSEN. RAB DE KAVMİ YOK EDER YERİNE YENİSİ GETİRİR. ÖRNEK : SEMUD KAVMİ, LUT KAVMİ KURAN MİSAL DOLU ANLIYANA.</p>
<p>DÜNYANIN YARATILMA SEBEBİ SINAV. HAÇLI ORDU ve İSLAM ORDU LARI ARASINDA SAVAŞ HİÇ BİTMEDİ. BAK FİLİSTİN&#8217;E, AFGANİSTANA, IRAK&#8217;A, TÜRK HIRİSTİYANA UYDUĞU SÜRE HELAK.</p>
<p>ISLAM ve HAÇLI SAVAŞI BELGESEL 1 BÖLÜM<br />
VIDEO : http://www.zumodrive.com/share/1XSWYjMyZD</p>
<p>ISLAM ve HAÇLI SAVAŞI BELGESEL 2 BÖLÜM<br />
VIDEO : http://www.zumodrive.com/share/1XSXODdjZj</p>
<p>( EHLİ SÜNNET &#8211; NASRULLAH )<br />
SAHİB-UL HİLYE<br />
Tolga<br />
2010 </p>
<p>شيخ تلغ<br />
نكاح</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[İÇKİ ( HARAM ) KURAN-I KERİM - SÜNNET, HADİS]]></title>
<link>http://tolgaokmen.wordpress.com/2009/11/14/icki-kuran-kerim-sunnet-hadis/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 22:40:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>tolgaokmen</dc:creator>
<guid>http://tolgaokmen.wordpress.com/2009/11/14/icki-kuran-kerim-sunnet-hadis/</guid>
<description><![CDATA[بِسْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيمِ يَ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">بِسْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيمِ</p>
<p>يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ</p>
<p>219. Sana, şarap ve kumar hakkında soru sorarlar. De ki: Her ikisinde de büyük bir günah ve insanlar için bir takım faydalar vardır. Ancak her ikisinin de günahı faydasından daha büyüktür. Yine sana iyilik yolunda ne harcayacaklarını sorarlar. &#8220;İhtiyaç fazlasını&#8221; de. Allah size âyetleri böyle açıklar ki düşünesiniz.<br />
( BAKARA SURESİ )</p>
<p>بِسْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيمِ</p>
<p>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p>90. Ey iman edenler! Şarap, kumar, dikili taşlar (putlar), fal ve şans okları birer şeytan işi pisliktir; bunlardan uzak durun ki kurtuluşa eresiniz.  91. Şeytan  içki ve kumar yoluyla ancak aranıza düşmanlık ve kin sokmak; sizi, Allah&#8217;ı anmaktan ve namazdan alıkoymak ister. Artık (bunlardan) vazgeçtiniz değil mi?<br />
(MAİDE SURESİ )</p>
<p>SÜNNET</p>
<p>2246 &#8211; Hz. Enes (radıyallâhu anh) anlatıyor: &#8220;Resülullah (aleyhissalatu vesselam) hamrla ilgili olarak on kişiye lanet etti. &#8220;(Hammaddesinden şarap yapmak maksadıyla) sıkana ve sıktırana, içene ve sâkilik yapana, (imalathâneden veya depodan, toptancıdan perakendeciye veya müstehlike kadar) taşıyana ve taşıtana, satana ve satın alana, bağışlayana, bunun parasını yiyene.&#8221;    Tirmizî, Büyü 59, (1295); İbnu Mâce, Eşribe 6, (3381).</p>
<p>6962 &#8211; Ebu&#8217;d-Derda radıyallahu anh demiştir ki: &#8220;Dostum bana: &#8220;Şarap içme. Çünkü o her kötülüğün anahtarıdır!&#8221; diye tavsiyede bulundu.</p>
<p>6965 &#8211; Hz. Ebu Hureyre radıyallahu anh anlatıyor: &#8220;Resülullah aleyhissalâtu vesselâm buyurdular ki: &#8220;İçki müptelası (şarap düşkünü), (günah yönüyle) puta tapan gibidir.&#8221;</p>
<p>592 &#8211; Ömer İbnu&#8217;l-Hattâb (radıyallahu anh) anlatıyor: Ömer: &#8220;Allah&#8217;ım, şarap hakkında bize tatminkâr bir açıklamada bulun&#8221; diye dua etmişti ki Bakara suresinde bulunan şu ayet indi: &#8220;Sana içki ve kumarı sorarlar de ki: &#8220;İkisinde hem büyük günah ve hem insanlara bazı faydalar vardır. Günahları faydasından daha büyüktür.&#8221; (Bakara 219).</p>
<p>Bunun üzerine Ömer (radıyallahu anh) çağırıldı ve ayet kendisine okundu. Ömer yine: &#8220;Allah&#8217;ım şarap hakkında bize tatminkâr bir açıklamada bulun&#8221; dedi. Bir müddet sonra Nisa suresindeki: &#8220;Ey iman edenler! Sarhoşken ne dediğinizi bilene kadar, cünübken, -yolcu olan müstesna- gusledene kadar namaza yaklaşmayın&#8230;&#8221; (Nisa, 43) ayeti nazil oldu.</p>
<p>Ömer (radıyallahu anh) çağırıldı ve ayet kendine okundu. Ömer yine: &#8220;Allah&#8217;ım şarap hakkında bize tatminkar bir açıklamada bulun&#8221; dedi.<br />
Bir müddet sonra, Maide suresindeki ayet indi: &#8220;Ey iman edenler! İçki, kumar, putlar ve fal okları şüphesiz şeytan işi pisliklerdir. Bunlardan kaçının ki saadete eresiniz. Şeytan şüphesiz içki ve kumar yüzünden aranıza düşmanlık ve kin sokmak ve sizi Allah&#8217;ı anmaktan alıkoymak ister. Artık bunlardan vazgeçersiniz değil mi?&#8221; (Maide 90-91).</p>
<p>Ömer yine çağırılıp ayet kendisine okundu. Bu sefer &#8220;Evet Rabbimiz vazgeçtik, vazgeçtik&#8221; dedi. Tirmizi, Tefsir, Maide (3053); Ebu Davud, Eşribe 1, (3670); Nesâi, Eşribe 1, (8, 286, 287). Sahih<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>بِسْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيمِ</p>
<p>اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ</p>
<p>Allah inananların dostudur, onları karanlıklardan aydınlığa çıkarır. İnkar edenlerin ise dostları tağuttur. Onları aydınlıktan karanlıklara sürüklerler. İşte onlar cehennemliklerdir, onlar orada temelli kalacaklardır.*  ( BAKARA SURESİ 2/257 )</p>
<p>SATANI İÇENİ DÖV. (Tolga)</p>
<p>( EHLİ SÜNNET &#8211; NASRULLAH )<br />
SAHİB-UL HİLYE<br />
Tolga<br />
2010 </p>
<p>شيخ تلغ<br />
نكاح</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SETR-İ AVRET CİLBAB, BAŞARTÜ ( KURAN KERİM ) ( SÜNNET, HADİS )]]></title>
<link>http://tolgaokmen.wordpress.com/2009/11/14/setr-i-avret-kuran-kerim-sunnet-hadis/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 22:25:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>tolgaokmen</dc:creator>
<guid>http://tolgaokmen.wordpress.com/2009/11/14/setr-i-avret-kuran-kerim-sunnet-hadis/</guid>
<description><![CDATA[بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ KURAN-I KERİM بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 31. وَقُل ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;">بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</p>
<p><strong>KURAN-I KERİM </strong></p>
<p>بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</p>
<p><strong> 31.</strong> وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p><strong>31.</strong> Mümin kadınlara da söyle: Gözlerini (harama bakmaktan) korusunlar; namus ve iffetlerini esirgesinler. Görünen kısımları müstesna olmak üzere, zinetlerini teşhir etmesinler. <strong>Baş örtülerini</strong>, yakalarının üzerine (kadar) örtsünler. Kocaları, babaları, kocalarının babaları, kendi oğulları, kocalarının oğulları, erkek kardeşleri, erkek kardeşlerinin oğulları, kız kardeşlerinin oğulları, kendi kadınları (mümin kadınlar), ellerinin altında bulunanlar (köleleri), erkeklerden, ailenin kadınına şehvet duymayan hizmetçi vb. tâbi kimseler, yahut henüz kadınların gizli kadınlık hususiyetlerinin farkında olmayan çocuklardan başkasına zinetlerini göstermesinler. Gizlemekte oldukları zinetleri anlaşılsın diye ayaklarını yere vurmasınlar (Dikkatleri üzerine çekecek tarzda yürümesinler). Ey müminler! Hep birden Allah&#8217;a tevbe ediniz ki kurtuluşa eresiniz. <span style="text-decoration:underline;"><strong>NUR SURESİ – Ayet 31</strong></span></p>
<p><strong>60.</strong> وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاء اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحاً فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ</p>
<p><strong>60.</strong> Bir nikâh ümidi beslemeyen, çocuktan kesilmiş yaşlı kadınların, zinetleri (yabancı erkeklere) teşhir etmeksizin (bazı) elbiselerini çıkarmalarında kendilerine bir vebal yoktur. İffetli davranmaları kendileri için daha hayırlıdır. Allah işitendir, bilendir. <span style="text-decoration:underline;"><strong>NUR SURESİ – Ayet 60</strong></span></p>
<p><strong>59.</strong> يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً</p>
<p><strong>59.</strong> Ey Peygamber! Hanımlarına, kızlarına ve müminlerin kadınlarına (bir ihtiyaç için dışarı çıktıkları zaman) dış örtülerini üstlerine almalarını söyle. Onların tanınması ve incitilmemesi için en elverişli olan budur. Allah bağışlayandır, esirgeyendir. <span style="text-decoration:underline;"><strong>AHZAP SURESİ 59</strong></span></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>SÜNNET</strong></p>
<p>2663 &#8211; Ubeydullah İbnu&#8217;I-Esved el-Havlânî -ki Resülullah (aleyhissalatu vesselâm)&#8217;ın zevce-i pâkleri Meymüne (radıyallahu anhâ)&#8217;nin terbiyesinde idi anlatıyor: &#8220;Meymüne (radıyallâhu anhâ) üzerinde izar olmaksızın tek entari (dır&#8217;) ile başörtüsü giyinmiş olduğu halde namaz kılardı.&#8221;<br />
Muvatta, Salâtu&#8217;l-Cema&#8217;a 37, (1,142).</p>
<p>2664 &#8211; Muhammed İbnu Zeyd, İbnu Kunfuz&#8217;un annesinden yaptığı nakle göre, annesi Ümmü Seleme (radıyallâhu anhâ)&#8217;ye &#8220;Kadın, hangi giysiler içerisinde namaz kılmalı?&#8221; diye sormuştur. 0 da;<br />
&#8220;Başörtüsü ve ayağın üzerini örtecek kadar uzun entari içerisinde!&#8221; diye Cevap vermiştir.&#8221;<br />
Muvatta, Salâtu&#8217;l-Cemâ&#8217;a 36, (1,142); Ebü Dâvud, Salât 84, (639, 640).</p>
<p>5210 &#8211; Ümmü Seleme radıyallahu anhâ anlatıyor: &#8220;Cenab-ı Hakk&#8217;ın şu (mealdeki) kavl-i şerifleri indiği zaman, &#8220;Ey peygamber! Hanımlarına, kızlarına ve mü&#8217;minlerin hanımlarına söyle. Evlerinden çıktıklarında dış örtülerini üzerlerine alsınlar.. &#8221; (Ahzâb 59) Ensâr kadınları başlarında (siyah) örtüden kargalar taşıyor oldukları halde dışarı çıkarlardı.&#8221;<br />
Ebu Dâvud, Libas 32, (4101).</p>
<p>5211 &#8211; Hz. Aişe radıyallahu anhâ anlatıyor: &#8220;Esmâ Bintu Ebi Bekr radıyallahu anhümâ, üzerinde ince bir elbise olduğu halde Resülullah aleyhissalâtu vesselâm&#8217;ın huzuruna girmişti. Aleyhissalâtu vesselâm, ondan yönünü ters istikamete çevirdi ve:<br />
&#8220;Ey Esmâ! Kadın hayız yaşına girdi mi ondan sadece şunun ve şunun dışında hiçbir yerinin görünmesi câiz değildir!&#8221; dedi ve yüzü ile ellerine işaret etti.&#8221;<br />
Ebu Dâvud, Libâs 34, (4104).</p>
<p>5212 &#8211; Dihye el-Kelbi radıyallahu anh anlatıyor: &#8220;Resülullah aleyhissalâtu vesselâm&#8217;a (Mısır&#8217;dan), (beyaz renkli ve ince olan) kubâtî kumaşlar getirilmişti. Bana ondan bir kupon verdi ve:<br />
&#8220;Bunu ikiye böl, bir parçayı kendine kamîs yap, diğerini hanımına ver. Bununla kendine bürgü yapsın!&#8221; buyurdular. (Ayrılmak üzere Dıhye) geri dönünce:<br />
&#8220;Hanımına söyle, bunun altına bir astar koysun da bedenini vasfetmesin!&#8221; buyurdular.&#8221;<br />
Ebu Dâvud, Libâs 39, (4116).</p>
<p>377- Âişe (r.anha)’dan rivâyet edildiğine göre Rasûlullah (s.a.v.) şöyle buyurmuştur. “Hayız görecek yaşa gelen kadının namazı ancak başörtüsü ile kabul edilir.” (Ebû Dâvûd, Salat: 84, İbn Mâce, Tahara: 132)</p>
<p>( EHLİ SÜNNET &#8211; NASRULLAH )<br />
SAHİB-UL HİLYE<br />
Tolga<br />
2010 </p>
<p>شيخ تلغ<br />
نكاح</p>
<p style="text-align:justify;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[DOMUZGRİBİ;]]></title>
<link>http://alimsi.wordpress.com/2009/11/13/domuzgribi/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 20:08:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>alimsi</dc:creator>
<guid>http://alimsi.wordpress.com/2009/11/13/domuzgribi/</guid>
<description><![CDATA[Domuz  gribine ;,,, edirne kapıda  bir  cami  imamı  cuma  günü  hutbesinde,şöyle  demiş  önce   dok]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://alimsi.wordpress.com/files/2009/11/grip-asisi.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1352" title="grip-asisi" src="http://alimsi.wordpress.com/files/2009/11/grip-asisi.jpg" alt="grip-asisi" width="300" height="353" /></a>Domuz  gribine ;,,, edirne kapıda  bir  cami  imamı  cuma  günü  hutbesinde,şöyle  demiş  önce   doktora gidin,doktor  reçetesini  uygulatın,eve  gelince  evin  her bölümüne  birbaş  kuru soğan  soyun demiş,aslı varmı acaba !, bende uygulamaya  başladım,allahım  bu tür  veba  hastalıklarından  bizleri koru yarabbi,</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lagi, Nabi Muhammad Dihina! Siapa Bilang Beliau Pedofil?]]></title>
<link>http://ejajufri.wordpress.com/2009/11/13/lagi-nabi-muhammad-dihina-siapa-bilang-beliau-pedofil/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 15:05:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>ejajufri</dc:creator>
<guid>http://ejajufri.wordpress.com/2009/11/13/lagi-nabi-muhammad-dihina-siapa-bilang-beliau-pedofil/</guid>
<description><![CDATA[Bukan hal baru kalau Nabi Muhammad saw. dihina. Berbagai jenis penghinaan sudah beliau terima bahkan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bukan hal baru kalau Nabi Muhammad saw. dihina. Berbagai jenis penghinaan sudah beliau terima bahkan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ya Allah]]></title>
<link>http://syafiqaizatmf.wordpress.com/2009/11/13/148/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 06:53:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>aeizat</dc:creator>
<guid>http://syafiqaizatmf.wordpress.com/2009/11/13/148/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:x-small;"><img class="alignright size-full wp-image-150" title="4072730483_dea2a717e1_o" src="http://syafiqaizatmf.wordpress.com/files/2009/11/4072730483_dea2a717e1_o.jpg" alt="4072730483_dea2a717e1_o" width="480" height="515" /><br />
</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[]]></title>
<link>http://syafiqaizatmf.wordpress.com/2009/11/13/146/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 06:45:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>aeizat</dc:creator>
<guid>http://syafiqaizatmf.wordpress.com/2009/11/13/146/</guid>
<description><![CDATA[Dari Jabir bin Abdullah r.a katanya:”satu jenazah berlalu di hadapan Rasulullah s.a.w lalu baginda b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:x-small;">Dari  			Jabir bin Abdullah r.a katanya:”satu jenazah berlalu di hadapan  			Rasulullah s.a.w lalu baginda berdiri. Kami pun berdiri juga  			mengikut baginda. Kemudian kami berkata:”Ya rasulullah! Itu jenazah  			orang Yahudi.” Sabda baginda:”Kematian itu mengejutkan. Oleh itu  			bila kamu melihat jenazah (lalu) berdirilah.” (Hadis Riwayat Muslim) </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ölüm ]]></title>
<link>http://paradies.wordpress.com/2009/11/12/olum/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 23:26:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>paradies</dc:creator>
<guid>http://paradies.wordpress.com/2009/11/12/olum/</guid>
<description><![CDATA[Canlı, cansız her şeyin belli bir ömrü vardır. Allahü teâlâ, her şeyi, zamanı gelince yaratmakta, öm]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignright" src="http://ayavci.free.fr/Zalim/olum.png" alt="" width="262" height="197" /><br />
Canlı, cansız her şeyin belli bir ömrü vardır. Allahü teâlâ, her şeyi, zamanı gelince yaratmakta, ömrü bitince de, yok etmektedir. İnsanın ömrü de, çok kısadır. Sonsuz olan ahiret hayatında ise, insanın karşılaşacağı şeyler, dünyada yaşadığı hâle bağlıdır. Aklı başında olan, ileriyi görebilen bir kimse, kısa olan dünya hayatında, hep, ahirette iyi ve rahat yaşamaya sebep olan şeyleri yapar. Hadis-i şerifte; <strong>(Allahü teâlâdan haya ediniz. Başkalarına kalacak olan şeyleri toplamakla vaktinizi kaybetmeyiniz. Kavuşamayacağınız şeyleri ele geçirmek için uğraşmayınız. İhtiyacınızdan fazla binalar yapmakla hayatınızı harcamayınız)</strong> buyurulmuştur.</p>
<p>Ölümün her an geleceğini düşünmelidir. Zira AL-İ İMRAN / 185. ayet-i kerimerinde mealen; <strong>(Her canlı, ölümün tadını tadacaktır!) </strong>buyurulmuştur.<!--more--></p>
<p>Bunun için, her insan ölecektir. Ölümden kurtuluş yoktur. Hadis-i şerifte; <strong>(Ömrü uzun, ibadetleri de çok olana müjdeler olsun!) </strong>buyuruldu.</p>
<p>Sıhhatin, gençliğin ölüme mani olmadıklarını unutmamalıdır. Çocuklardaki ve gençlerdeki ölüm sayısının, yaşlılardaki ölüm sayısından çok olduğunu istatistikler göstermektedir. Çok hastaların iyi olup yaşadıkları, çok sağlam kişilerin çabuk öldükleri her zaman görülmektedir. Hadis-i şerifte; <strong>(Ölümü çok hatırlayınız. Onu hatırlamak, insanı günah işlemekten korur ve ahirete zararlı olan şeylerden sakınmaya sebep olur) </strong>buyuruldu.</p>
<p>Eshab-ı kiramdan Bera bin Azib hazretleri anlatır: “Bir cenazeyi götürdük. Resulullah efendimiz, kabir başına oturdu. Ağlamaya başladı. Mübarek gözyaşları toprağa damladı ve; <strong>(Ey kardeşlerim! Hepiniz buna hazırlanınız)</strong> buyurdu.”</p>
<p>Ahmed Gazali hazretleri, sık sık şöyle nasihat ederdi: “Şunu iyi bilin ki, insanlar bu alemde yolculuk halindedirler. Onların ilk konakları beşik, sonuncusu ise kabirdir. Hakiki vatan, ya Cennet veya Cehennemdir. İnsan ömrünün en kıymetli sermayesi vakitleridir. Şehveti ve şehevi arzuları, yolunu kesen eşkıyadır. Kazancı ve kârı; Cenneti ve oradaki ebedi nimetleri elde etmek, Allahü teâlânın rızasına ve cemaline mazhar olmaktır. Zarar ise; Cehennemde çeşitli azaplara maruz kalmak, Allahü teâlânın rahmet ve cemalinden uzaklaşmaktır. Kim hesapsız Cennete girmek isterse, vakitlerini Allahü teâlânın beğendiği şeylerle geçirsin. Kim ahirette, hasenat kefesinin ağır gelmesini isterse, vakitlerinin çoğunu ibadet ve taatla geçirsin.”</p>
<p>Abdülkadir Geylani hazretleri; “Hayatta olduğunuz müddetçe, ömrü fırsat biliniz. Bir müddet sonra hayat kapısı kapanacak, bu dünyadan ayrılacaksınız. Gücünüz yettiği müddetçe hayırlı işler yapmayı ganimet biliniz. Tevbe kapısı açıkken ve elinizde bu imkan varken bunu fırsat biliniz. Tevbe ediniz. Dua etmeye imkanınız varken, dua ediniz. Salih kimselerle beraber olmayı fırsat biliniz” buyurmaktadır.</p>
<p>Abdullah-ı Ensari hazretleri de buyuruyor ki: “Dünya ne demektir biliyor musunuz? Gönlüne gelen ve seni Allahü teâlâdan uzaklaştıran her şey, dünya demektir. Seni Ondan başka bir şey ile meşgul eden her şey de fitnedir. Bu kısa ömrü, Allahü teâlâdan uzaklaştıran şeylere yaklaşmakla geçiren, Ondan başka şeylerle meşgul olan kimse, ahiretini harap etmiş olur. Bu ise, akıl sahiplerinin yapacağı şey değildir.”</p>
<p>Netice olarak, ömür ne kadar uzun olursa olsun, ölüm yüz gösterince, o uzunluğun hiçbir faydası olmaz.</p>
<p><strong>Herkesin belli bir eceli vardır</strong></p>
<p>Allahü teâlânın takdirini, kimse değiştiremez. Ecel gelince, Azrail aleyhisselam, insanı nerde olursa olsun bulur. Ecel, ileri ve geri gitmez ve insanın ömrü değişmez. Herkes, eceli geldikte ölür. A’raf suresi 33. âyetinde mealen; <strong>(Ecelleri geldiği zaman, onu az zaman ileri ve geri alamazlar)</strong> buyuruldu.</p>
<p><strong>Ölmek Yok olmak mıdır?</strong></p>
<p>Ölmek, yok olmak değildir. Varlığı bozmıyan bir işdir. Mevt, rûhun bedene olan bağlılığının sona ermesidir. Rûhun, bedenden ayrılmasıdır. Mevt, insanın bir hâlden başka bir hâle dönmesidir. Bir evden, bir eve göç etmekdir. Ömer bin Abdül’azîz “rahmetullahi aleyh” buyurdu ki, (Sizler, ancak ebediyyet, sonsuzluk için yaratıldınız! Lâkin bir evden, bir eve göç edersiniz!). Mevt, mü’mine hediyyedir, nimetdir. Günâhı olanlara musîbetdir. Fakîrlere râhat, zenginlere azâbdır. Akl, Allahü teâlânın hediyyesidir. Cehâlet, doğru yoldan çıkmağa sebebdir. Zulm, insanın çirkinliğidir. İbâdet, gözün nûru olan, sevinc ve neş’edir. Allah korkusundan ağlamak, kalbin cilâsıdır. Kahkaha ile gülmek, kalbin zehridir. İnsan, ölümü istemez. Hâlbuki mevt, fitneden hayrlıdır. İnsan yaşamağı sever. Hâlbuki mevt, ona hayrlıdır. Sâlih olan mü’min, mevt ile, dünyânın eziyyet ve yorgunluğundan kurtulur. Zâlimlerin ölümü ile, memleketler ve kullar râhata kavuşur. Din düşmanlarından bir zâlimin ölümünde, hâtıra gelen eski bir beyti buraya yazmak uygundur. Beyt:</p>
<p>Ne kendi etdi râhat, ne âleme verdi huzûr,<br />
yıkıldı gitdi cihândan, dayansın ehl-i kubûr.</p>
<p>Mü’minin rûhunun bedenden ayrılması, esîrin habsden kurtulması gibidir. Mü’min öldükden sonra, bu dünyâya geri gelmek istemez. Yalnız şehîdler, dünyâya geri gelip, bir dahâ şehîd olmak ister. Dünyânın iyiliği gitdi. Kederleri kaldı. Bundan dolayı ölüm, her müslimân için hediyyedir. Bir adamın dînini, ancak kabri korur. Mü’minlere yapılacak ikrâmlardan birincisi, ölümdeki sevincdir. Mü’mini râhatlandıran, ancak Allahü teâlâya kavuşmakdır.</p>
<p>İnsan ölünce, ruhu bedenden ayrılır. İnsanın dünyada iken yaptığı iyi işleri, imanı ve güzel ahlakı, nurlar, ışıklar, bostanlar, çiçekler, köşkler, inciler şeklini alırlar. Cahilliği, sapıklığı, kötü huyları da, ateşler, karanlıklar, akrepler, yılanlar şeklinde görünürler. İmanlı ve iyi huylu ruh, nimetleri Cennetlere kendi götürmektedir. Kâfir ve fasık ruhlar da, ateşleri, azabları, kendisi birlikte götürür. Ruh, bu cisim aleminde kaldıkça, yüklendiği bu şeyleri anlayamaz. Bedene bağlılığı ve cisim alemine dalmış olması, onları anlamasına mani olur. Ruh, bedenden ayrılınca, bu engeller kalmaz. O zaman, kendinde bulunan iyi ve kötü yükleri, onlara uygun şekillerde görmeye başlar.</p>
<p>İnsanın dünyadaki hali, bir sarhoşa benzer. Ölmek, sarhoşun ayılması demektir. Sarhoşun yanına sevdiği kimseler toplanır, sevdiği hediyeler gelirse, yahut, koynuna akrepler, yılanlar girerse, hiçbirini duymaz. Ayılınca, bunları görür, anlar. Ruh da, bedenden ayrılınca, dünyada yaptıklarını, bu şekilde görür. Peygamber efendimiz; <strong>(İnsanlar uykudadır, ölünce uyanırlar)</strong> buyurmuştur</p>
<p><strong>İnsan, neden ölmek istemez?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>İnsan, ölümü değil yaşamayı ister ve sever. Halbuki ölüm, imanı olan için hayırlıdır. Çünkü salih bir mümin, ölüm ile, dünyanın eziyet ve yorgunluğundan kurtulmaktadır.</p>
<p>Ölen birini, mümkün olup dünyaya geri göndermiş olsalar, bu kimse melek gibi olurdu. Çünkü öldükten sonra olacakları bizzat yakînen gözleri ile görmüştür. Hal böyle olunca, o kimse bir daha günah işleyebilir mi? Bu fırsat, şu anda hayatta olanların elinde mevcuttur. Ölmeden önce sanki ölmüş gibi hareket etmek, günah işlememek, melek gibi olmak ve böylece de ahireti mamur etmek mümkündür. Dünya ve içindekiler, geçicidir, bir görünüştür ve bir gölge gibi, yavaş yavaş çekilmekte, geçip gitmektedir.</p>
<p>Uzun emel sahipleri, ibadetleri vaktinde yapamaz, tövbeyi terk ederler, kalbleri katı olur ve ölümü de hatırlamazlar. Çünkü böyle kimseler, hep dünya malına ve mevkiine kavuşmak için ömürlerini harcarlar, dünyalarını mamur edip ahireti unuturlar. Yalnız zevk ve sefalarını düşünürler. Bu sebeple ölümü ve ölmeyi istemezler, sevmezler.</p>
<p>Netice olarak, insanların ölmeyi istememesinin sebebi, dünyalarını mamur, ahiretlerini de harap etmelerindendir. Çünkü hiçbir insan, mamur, imar edilmiş olan bir yerden, harap olmuş bir yere gitmek istemez. Bişr-i Hafi hazretlerinin buyurduğu gibi:<br />
”Dünyayı seven, ölümü sevmez.”</p>
<p>İnsan öleceği zamanı bilseydi, aklı başından giderdi. İyi ki ölüm vakti gizlendi. Eğer gaflet olmasaydı, hiç kimse bir işine bakmazdı. Gaflet ve uzun emel, kötü olduğu kadar aynı zamanda iki büyük nimettir. Eğer bu ikisi olmasaydı, müslüman sokakta yürüyemez hale gelirdi.</p>
<p>Her gün ölüme yaklaşmaktasın. Ecelin geldi denilmeden ölüme öyle hazırlıklı ol ki, Azrail aleyhisselam gelince, (Az izin ver de, bende hakkı olanlarla helalleşeyim, oğluma telefon edeyim, şu işimi şöyle yapsın, kiminde borcum var, kiminde alacağım var. Bu işlerimi bir halledeyim) demek ihtiyacını hissetmemek gerekir. Vasiyeti her zaman hazır bulundurmalıdır.</p>
<p><strong>Ölümü Hatırlamak</strong></p>
<p>Ölümü hatırlamak, insanda bulunan hırs ateşini söndürür. Ölüm ve ölümü hatırlamak, kötülük yapmaya karşı bir frendir. Yani koşan insanı, yuvarlanan taşı durduran ve insana düşünme payı veren ancak ölümdür. Ölüm, Müslümanın tesellisidir ve dünyanın kahrına, sıkıntısına, bu teselli ile sabreder. Bunun için Müslümanın ölümü, hayattır, hem de sonsuz hayattır.</p>
<p>Ölümü hatırlamak, Allahü teâlânın sevgisinin bir işaretidir. Akıllı insan, ölümü ve ahireti düşünen, ona göre tedbir alan kimsedir. İnsan, ölüme hazırlanırsa, huyu güzel olur ve ölümü hatırladığı müddetçe, hasedi ve kıskançlığı terk eder. Reca bin Hayve hazretleri; “İnsan, ölümü hatırladığı müddetçe, hasedi, kıskançlığı terk eder” buyurmuştur.</p>
<p>Ölümü gerçekten tanıyan, bilen bir kimse, dünya sıkıntılarına aldırmaz, bunları kendine dert edinmez. Zira Ka’b-ül-Ahbar hazretleri; “Ölümü gerçekten tanımış bir kimseye, dünya bela ve musibetleri, dert ve sıkıntıları çok hafif gelir” buyurmaktadır.</p>
<p>Seyyid Abdülhakim Efendi buyurdu ki: Ölümü çok hatırlamak sünnettir. Çünkü, ölümü çok hatırlamak, emirlere sarılmaya ve günahlardan sakınmaya sebep olur. Haram işlemeye cesareti azaltır. Peygamber efendimiz buyurdu ki: “Lezzetleri yıkan, eğlencelere son veren ölümü çok hatırlayınız!”<br />
Muhammed Behaeddin-i Buhari her gün yirmi kerre, kendini ölmüş, mezara konmuş düşünürdü.</p>
<p>Hadis-i şeriflerde buyuruldu ki:<br />
“Ölümü çok hatırlayınız. Onu hatırlamak, insanı günah işlemekten korur ve ahirette zararlı olan şeylerden sakınmaya sebep olur.”<br />
“Gece gündüz ölümü hatırlayan kimse, kıyamet günü şehitler yanında olacaktır.”</p>
<p><strong>Ölüme Hazırlanmak</strong></p>
<p>Her Müslümanın, ölüme hazırlanması lazımdır. Bunun için de, tevbe etmelidir. Kul hakkı altında kalmamaya dikkat etmelidir. Yani, hakları sahiplerine verip helalleşmelidir. Allahü tealanın haklarını da ödemek lazımdır. Bu hakların en mühimi, başta namaz olmak üzere İslamın beş şartını yerine getirmektir.</p>
<p>İnsan, ölümü özüne sevdirmelidir. Çünkü ölüm, nasıl olsa gelecektir. Bir şey muhakkak olacaksa, onu olmuş bilmeli, ona göre tedbir almalı. İnsanın gideceği yer, bulunduğu yerden daha iyi ve güzelse, oraya gitmekte tereddüt etmez ve sevinir. Bu sebeple din büyükleri; “Gideceği yere inanan, iman eden ve bunu bilen bir insan, nasıl olur da ölümü istemez” buyurmuşlardır.</p>
<p>Dünya için çalışan kimseye, rahat yoktur. Rahat etmek için ölüme hazırlanmak lazımdır. Ölümü düşünen rahat eder. Yahya bin Muaz-ı Razi hazretleri; “Ölümü bir tabağa koyup çarşıda satsalardı, ahiret ehli, başka bir şeye bakmayıp onu satın alırdı” buyurmuştur.</p>
<p>Dünya için çalışan yorulur, ahiret için çalışan ise yorulmaz. Çünkü ahiret için çalışanın hedefi, Allahü teâlânın rızasını kazanmaktır. Abdürrezzak Ali Efendi buyuruyor ki:<br />
”Kalbi Allahü teâlânın sevgisi ile diri olanın ölümü hayattır. Kalbi nefsin arzuları ile ölmüş olanın hayatı ise ölüdür. Ölüm, ölmeden önce ölünüz, sırrına eren aşıklara rahmet, devlet, saadet ve izzettir.”</p>
<p>İnsanlar, kıyamet günü başlarına gelecek dertleri bilselerdi, dünyada dert diye bir şey tanımazlardı. İnsanların arasında meydana gelen bütün geçimsizlikler, ölümü unutmaktan kaynaklanmaktadır.<br />
Günün birinde iki elimiz yanımıza gelecek ve dünyadaki hayatımız sona erecektir. Bu bir hakikattir. Bu hakikat karşısında, hayat nedir, ölüm nedir diye düşünmeyen bir kimse olamaz. Hayatın ne olduğunu, dünyaya niçin geldiğimizi, ölümden sonra ne olduğunu bilmek ve öğrenmek, insan olmanın ilk şartıdır. Hayata niçin geldiğimizi, hayatın sahibinden daha iyi bilen olur mu? Zariyat suresinin 56. âyetinde mealen; <strong>(İnsanları ve cinnileri ancak, beni bilip itaat, ibadet etmeleri için yarattım) </strong>buyuruluyor.</p>
<p>İnsanların büyük çoğunluğunun, bu hakikati bilmedikleri, bilenlerin de, bu hakikate göz yumdukları veya ehemmiyet vermedikleri görülmektedir. Bu hakikati bilmemek veya bildiği halde, ona göre davranmamak, inanmamak, bir insan, bilhassa bir Müslüman için, en büyük felakettir. Çünkü Allahü teâlâ, kendi emirlerine inanmayanları sonsuz olarak, inanıp da yapmayanları ise, dilediği kadar Cehennemde yakacağını Kur’an-ı kerimde bildirmektedir. Nitekim Peygamber efendimiz; <strong>(Benim gördüğümü sizler görseydiniz, az güler, çok ağlardınız)</strong> buyurmuştur.</p>
<p>İmam-ı Gazali hazretleri bir talebesine hitaben buyuruyor ki:<br />
”Keyfine göre yaşa! Fakat bu yaşaman uzun sürmeyecek, bir gün elbette öleceksin. Gece gündüz düşündüğün, sımsıkı sarıldığın lezzetlerden elbette ayrılacaksın. Dünyanın nesini seversen sev, hepsine veda edeceksin! Elinden geleni yap! Fakat unutma ki, her yaptığının hesabını vereceksin!”</p>
<p>Doğarken sen ağladın çevrendekiler güldü. Öyle bir hayat yaşa ki, herkes ağlarken sen gülesin.</p>
<p>Azrail aleyhisselamla kardeş gibi görüşen Yakub aleyhisselam dedi ki:<br />
- Senden bir ricada bulunacağım. Ecelim yaklaşınca bana haber ver!<br />
<strong>- Sana birkaç haberci gelir.<br />
</strong>Bir müddet sonra Hazret-i Azrail yine gelir. Hazret-i Yakub sorar:<br />
- Ziyaretime mi geldin?<br />
<strong>- Canını almaya geldim.<br />
</strong>- Hani bana birkaç haberci gelecekti?<br />
<strong>- Sana haberci gelmedi mi? Saçların ağarmadı mı? Vücudun zayıflamadı mı? Dimdik duran belin bükülmedi mi?</strong></p>
<p>Dost dosta kavuşmak istemez mi?</p>
<p>Azrâîl “aleyhisselâm”, İbrâhîm aleyhisselâmdan rûhunu almak için izn istedikde, (Dost, dostun cânını alır mı?) dedi. Allahü teâlâ, Azrâîl “aleyhisselâm” ile haber gönderip, (Dost dosta kavuşmakdan kaçınır mı?) buyurunca, (Yâ Rabbî! Rûhumu hemen al!) diye düâ eyledi.</p>
<p>[İnsan öyle bir hayat yaşamalı ki, öldüğünde geride kalanlar bıraktığı izleri (hafızalarda bıraktığı hatıralar, eşyalar, yazılar, okuduğu kitaplar vs.) incelediğinde utanacağı hiçbir şey olmasın.]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[imam osman aşık  gönderdi]]></title>
<link>http://alimsi.wordpress.com/2009/11/12/imam-osman-asik-gonderdi/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 20:36:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>alimsi</dc:creator>
<guid>http://alimsi.wordpress.com/2009/11/12/imam-osman-asik-gonderdi/</guid>
<description><![CDATA[Efendimiz(sav);kıyamet günü imandan  sonra ilk  sual  namaz  olacak.; Büyük  bir alim  ölmüş münker ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Efendimiz(sav);kıyamet günü imandan  sonra ilk  sual  namaz  olacak.;</p>
<p>Büyük  bir alim  ölmüş münker  nekir  sorgu  sual etmiş  men  rabbuke(rabbin kim) diye  alim;seni gidi uyanık söylimde  öğren  demi demiş;,,,<a href="http://alimsi.wordpress.com/files/2009/11/kayuoncu.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1340" title="kayuoncu" src="http://alimsi.wordpress.com/files/2009/11/kayuoncu.jpg" alt="kayuoncu" width="500" height="375" /></a></p>
<p>zeki cennetoğlu,imam yakup cennetoğlu(yozgat) kemal cennetoğlu,Onur cennetoğlu;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bilakah Kiamat?]]></title>
<link>http://cintahakiki.wordpress.com/2009/11/12/bilakah-kiamat/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 13:40:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>cintahakiki</dc:creator>
<guid>http://cintahakiki.wordpress.com/2009/11/12/bilakah-kiamat/</guid>
<description><![CDATA[Rasullah SAW bersabda: Kiamat tidak akan terjadi sehingga bumi tidak terdengar lagi ucapan Lailahail]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Rasullah SAW bersabda:</p>
<p>Kiamat tidak akan terjadi sehingga bumi tidak terdengar lagi <strong>ucapan Lailahaillallah.</strong> Kiamat tidak akan terjadi sehingga di muka bumi tidak terdengar lagi <strong>ucapan Allah, Allah.</strong></p>
<p><em>Riwayat Iman Ahmad dan Muslim</em></p>
<p>Cuba kita renungi hadis ini. Kiamat tidak akan berlaku selagi bumi ini tiada seorang pun menyebut nama Allah atau lebih mudah difahami bahawa manusia ketika itu sudah tidak langsung beriman kepada Allah. Ia terjadi selepas penurunan Dajal, Iman Mahadi, dan Nabi Isa. Cuba kita bayangkan berapa lamakah kita di alam barzakh nanti menunggu sehingga berlakunya kiamat?</p>
<p><strong>Cukupkah amalan</strong> kita sekarang jika Allah ingin memanggil kita esok hari.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
