<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>hadits &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/hadits/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "hadits"</description>
	<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 17:29:24 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[KISAH KEDUA: KISAH KEMATIAN NABIYULLAH ADAM ‘ALAYHI  SALAM]]></title>
<link>http://abuilyasku.wordpress.com/2009/11/27/kisah-kedua-kisah-kematian-nabiyullah-adam-%e2%80%98alayhi-salam/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 15:53:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Ilyas</dc:creator>
<guid>http://abuilyasku.wordpress.com/2009/11/27/kisah-kedua-kisah-kematian-nabiyullah-adam-%e2%80%98alayhi-salam/</guid>
<description><![CDATA[Sumber: Kisah-Kisah Shohih Seputar Nabi dan Rasul karya DR. ‘Umar Sulaiman al-Asyqor (Guru Besar Uni]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sumber: Kisah-Kisah Shohih Seputar Nabi dan Rasul karya DR. ‘Umar Sulaiman al-Asyqor (Guru Besar Uni]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KAJIAN AL-QURAN DAN AL-HADITS (Ke-43)]]></title>
<link>http://jofania.wordpress.com/2009/11/27/kajian-al-quran-dan-al-hadits-ke-43/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 05:08:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>jofania</dc:creator>
<guid>http://jofania.wordpress.com/2009/11/27/kajian-al-quran-dan-al-hadits-ke-43/</guid>
<description><![CDATA[KAJIAN AL-QURAN DAN AL-HADITS (Ke-43) Senin, 23 Nopember 2009 A’uudzubillaahi minash-shaithaanir-raj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[KAJIAN AL-QURAN DAN AL-HADITS (Ke-43) Senin, 23 Nopember 2009 A’uudzubillaahi minash-shaithaanir-raj]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dibayar di Akhirat]]></title>
<link>http://abuilyasku.wordpress.com/2009/11/26/dibayar-di-akhirat-2/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 03:48:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Ilyas</dc:creator>
<guid>http://abuilyasku.wordpress.com/2009/11/26/dibayar-di-akhirat-2/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Abu Faiz Manusia tidak bisa lepas dari bermu&#8217;amalah dengan sesama. Sedangkan Isla]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Ustadz Abu Faiz Manusia tidak bisa lepas dari bermu&#8217;amalah dengan sesama. Sedangkan Isla]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Taqwa]]></title>
<link>http://dtaalhasanah.wordpress.com/2009/11/25/taqwa/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 17:34:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>dtaalhasanah</dc:creator>
<guid>http://dtaalhasanah.wordpress.com/2009/11/25/taqwa/</guid>
<description><![CDATA[Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, tentu akan menghapusnya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Blog Qur'an dan Sunnah]]></title>
<link>http://rizaherbal.wordpress.com/2009/11/26/blog-quran-dan-sunnah/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 17:15:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>admin riza HERBAL</dc:creator>
<guid>http://rizaherbal.wordpress.com/2009/11/26/blog-quran-dan-sunnah/</guid>
<description><![CDATA[Qur&#8217;an dan Sunnah Blog ini berisi bermacam-macam info Islami. Setiap info pasti ada sumbernya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Qur&#8217;an dan Sunnah Blog ini berisi bermacam-macam info Islami. Setiap info pasti ada sumbernya ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sanad dan Matan Hadits]]></title>
<link>http://alauddinalbughury.wordpress.com/2009/11/25/sanad-dan-matan-hadits/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 05:23:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>alauddinalbughury</dc:creator>
<guid>http://alauddinalbughury.wordpress.com/2009/11/25/sanad-dan-matan-hadits/</guid>
<description><![CDATA[SANAD DAN MATAN HADITS Oleh : Abu Naufal Al-Bughury PENDAHULUAN Hadits merupakan sumber hukum kedua ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>SANAD DAN MATAN HADITS</strong></p>
<p><strong>Oleh : Abu Naufal Al-Bughury</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Hadits merupakan sumber hukum kedua dalam islam setelah al-Qur’an. Karena itu, hadits memiliki posisi yang sangat strategis bagi kaum muslimin dalam memahami, meyakini dan melaksanakan ajaran-ajaran agama. Namun, tidak seperti al-Qur’an yang periwayatannya bersifat qoth’I (absolut), sebagian hadits diriwayatkan dengan redaksional yang berbeda. Sejak jaman rasulullah saw pun tidak semua hadits terdokumentasikan. Dan, hadits pun sempat menjadi alat propaganda dalam perselisihan politik ummat islam. Karenanya, ummat islam pun diingatkan untuk bersikap kritis dalam menerima suatu hadits.</p>
<p>Ulama-ulama islam telah mengembangkan metodologi untuk menguji dan mengkritisi hadits-hadits yang berkembang di masyarakat. Di antaranya adalah dengan metodologi kritik sanad dan matan. Dengan kedua metodologi ini, kita dapat menilai standar akseptabilitas dimana suatu hadits bias dikatakan shahih, hasan, dhoif, mutawatir, ahad, maqbul, mardud, dan sebagainya. Di dalam forum ini, kami akan sebisa mungkin menjelaskan pemahaman kami mengenai sanad dan matan.</p>
<p><strong>SANAD</strong></p>
<p>Dalam Kamus Al-Mufid, sanad berarti menyandarkan, menegakkan sesuatu dengan kokoh. Sementara secara terminologi, menurut para ahli hadits, sanad ialah jalan yang menyampaikan kepada isi hadits. Menurut Mudasir, dalam bukunya <em>Ilmu Hadits</em>, sanad ialah “menyandarkan hadis kepada orang yang menyatakannya”. Jelasnya, sanad adalah jalur/silsilah periwayatan sebuah hadits dari orang yang pertama kali menceritakannya hingga sumber utamanya, yaitu nabi Muhammad saw.  Contohnya:</p>
<p>&#160;</p>
<p>Yang disebut sanad dalam hadits di atas adalah frasa yang berbunyi</p>
<p>&#160;</p>
<p>Dalam meneliti hadits, para ulama hadits bersikap sangat teliti mencermati setiap sanadnya. Pada masa Abu bakar r.a. dan Umar r.a. periwayatan hadis diawasi secara hati-hati dan tidak akan diterima jika tidak disaksikan kebenarannya oleh seorang lain. Ali bin Abu Thalib tidak menerima hadits sebelum yang meriwayatkannya disumpah. Meminta seorang saksi kepada perawi, bukanlah merupakan keharusan dan hanya merupakan jalan untuk menguatkan hati dalam menerima yang berisikan itu. Yang diperlukan dalam menerima hadis adalah adanya kepercayaan penuh kepada perawi. Jika sewaktu-waktu ragu tentang riwayatnya, maka perlu didatangkan saksi/keterangan. Kedudukan sanad dalam hadis sangat penting, karena hadis yang diperoleh/ diriwayatkan akan mengikuti siapa yang meriwayatkannya. Dengan sanad suatu periwayatan hadis dapat diketahui mana yang dapat diterima atau ditolak dan mana hadis yang sahih atau tidak, untuk diamalkan.</p>
<p>Sanad merupakan jalan yang mulia untuk menetapkan hukum-hukum Islam. Ada beberapa hadits dan atsar yang menerangkan keutamaan sanad, di antaranya yaitu: Diriwayatkan oleh muslim dari Ibnu Sirin, bahwa beliau berkata, <em>&#8220;Ilmu ini (hadits ini), adalah agama, karena itu telitilah orang-orang yang kamu mengambil agamamu dari mereka.&#8221; </em>Imam Syafi’i berkata,<em> &#8220;Perumpamaan orang yang mencari (menerima) hadits tanpa sanad, sama dengan orang yang mengumpulkan kayu api di malam hari.&#8221;</em></p>
<p>Perhatian terhadap sanad di masa sahabat yaitu dengan menghapal sanad-sanad itu dan mereka mempuyai daya ingat yang luar biasa. Dengan adanya perhatian mereka maka terpelihara sunnah Rasul dari tangan-tangan ahli bid&#8217;ah dan para pendusta. Karenanya pula imam-imam hadis berusaha pergi dan melawat ke berbagai kota untuk memperoleh sanad yang terdekat dengan Rasul.</p>
<p>Sebagai contoh, dapat disebutkan, untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota, menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits. Imam Muslim pun tak segan-segan bertanya kepada banyak ulama di berbagai tempat dan negara. Berpetualang menjadi aktivitas rutin bagi dirinya untuk mencari silsilah dan urutan yang benar sebuah hadits. Beliau, misalnya pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dalam lawatannya itu, Imam Muslim banyak bertemu dan mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Seperti ini lah antara lain Allah menjaga kelurusan dan kemurnian agama islam.</p>
<p>Salah satu jalur periwayatan hadits, bias dilihat berikut ini.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>MATAN</strong></p>
<p>Menurut Mudasir dalam bukunya <em>Ilmu Hadits</em>, kata matan menurut bahasa berarti ma irtafa’a min al-ardi (tanah yang meninggi). Sedangkan menurut istilah, matan adalah ujung sanad (qayah as sanad), dengan kata lain yang dimaksud matan ialah materi hadis atau lafal hadis itu sendiri. Contoh:</p>
<p>&#160;</p>
<p>Matan dalam hadits ini adalah:</p>
<p>&#160;</p>
<p>Ada dua jalan periwayatan isi hadits. Pertama, dengan kata-kata yang persis sama dengan apa yang diucapkan oleh rasulullah saw. Kedua, dengan menggunakan kata-kata yang disusun sendiri oleh sang periwayat, namun tidak mengubah makna yang disampaikan oleh rasulullah saw.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>KLASIFIKASI HADITS</strong></p>
<p>Berbagai pengorbanan telah dilakukan oleh para ahli hadits dalam meneliti hadits-hadits yang beredar di masyarakat. Penelitian ini untuk mengetahui validitas, faidah dan tingkatan hujjah suatu hadits. Mereka menyusun sejumlah klasifikasi hadits dengan beberapa tolak ukurnya, sehingga ummat islam dapat dengan mudah mengambil manfaatnya. Pada makalah ini, kami hanya akan menguraikan sebagian dari hasil klasifikasi para ahli hadits tersebut.</p>
<ol>
<li><strong>A. </strong><strong>Klasifikasi Hadits Menurut Kuantitas Perawi:</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Hadits Mutawatir, yaitu <em>suatu hadits tanggapan pancaindera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta. </em>Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir, yaitu segala berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera, seperti meriwayatkan tentang sifat-sifat manusia, baik yang terpuji maupun yang tercela, juga segala berita yang diriwayatkan oleh orang banyak (4,5, 20 orang), tetapi mereka berkumpul untuk bersepakat mengadakan berita-berita secara dusta.</li>
</ul>
<p>&#160;</p>
<p>Hadits mutawatir memberikan faedah ilmu dharuri, yakni keharusan untuk menerimanya secara bulat sesuatu yang diberitahukan mutawatir karena ia membawa keyakinan yang qath&#8217;i (pasti), dengan seyakin-yakinnya bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar menyabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti yang diriwayatkan oleh rawi-rawi mutawatir.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Hadits mutawatir dapat diklasifikasikan lagi menjadi mutawatir lafzi (redaksionalnya sama, walaupun dari perawi yang berbeda), mutawatir ma’nawi (berlainan redaksionalnya tetapi maknanya sama). Contoh hadits mutawatir: “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas nama-ku, maka tempatnya adalah neraka” (HR. Bukhari dan Iain-lain). Hadis ini diriwayatkan oleh lebih dari 70 sahabat dengan teks yang sama (bahkan menurut as-Suyuti, tidak kurang dari 200 sahabat yang meriwayatkannya).</p>
<ul>
<li>Hadits Ahad, yaitu s<em>uatu hadis yang padanya tidak terkumpul syarat-syarat mutawatir. </em>Para ulama sependapat bahwa hadis ahad tidak <em>Qat&#8217;i</em>, sebagaimana hadis mutawatir. Hadis ahad masih perlu diselidiki sehingga dapat diketahui maqbul dan <em>mardudnya</em>. Dan kalau temyata telah diketahui bahwa, hadis tersebut tidak tertolak, dalam arti maqbul, maka mereka sepakat bahwa hadis tersebut wajib untuk diamalkan sebagaimana hadis mutawatir.</li>
</ul>
<p>Contoh hadits ahad: Dari Amir al-Mukminin Abu Hafsh Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu beliau mengatakan : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan sesuai niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena menaati Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (Hadits ini diriwayatkan oleh dua orang imam ahli hadits yaitu Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari dan Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling sahih yang pernah disusun).</p>
<ol>
<li><strong>B. </strong><strong>Klasifikasi Hadits Berdasarkan Kualitas Sanad dan Matan</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Hadits Shahih. Hadits Sahih adalah hadits yang susunan lafadznya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat Quran, hadits mutawatir, atau ijma’, serta para rawinya adil dan dhabit. Syarat-syarat hadits shahih: Rawinya bersifat adil, sempurna ingatannya, sanadnya tidak terputus, tidak ber ‘illat, tidak janggal. Mengenai <strong>matan</strong>nya sebuah hadits dapat dikatakan shahih apabila: (1) Pengertian yang terkandung dalam <strong>matan</strong> tidak bertentangan dengan ayat Al-Quran atau hadits mutawatir walaupun keadaan rawinya sudah memenuhi syarat. (2) Pengertian dalam <strong>matan</strong> tidak bertentangan dengan pendapat yang disepakati (ijmak) ulama, atau tidak bertentangan dengan keterangan ilmiah yang kebenaranya dapat dipastikan secara sepakat oleh para ilmuwan. (3) Tidak ada kejanggalan lainya, jika dibandingkan dengan <strong>matan</strong> hadits yang lebih tinggi tingkatan dan kedudukannya.</li>
</ul>
<p>&#160;</p>
<p>Contoh hadits shahih: “<em>Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Yusuf, yang berkata telah mengkabarkan kepada kami Malik, dari Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Jabir bin Muth’im, dari bapaknya, yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw membaca surat At-Thur di waktu shalat maghrib” (HR. Bukhari, No 731). </em>Hadist ini dikatakan sahih karena:</p>
<p>1.              Sanadnya sambung, sebab perawinya mendengar langsung dari gurunya.</p>
<p>2. Perawinya adil dan cermat, sebab disebutkan Abdullah bin Yusuf adalah seorang terpercaya dan cermat, Malik bin Anas adalah imam yang hafidz, Ibnu Syihab az-Zuhri adalah ahli fiqh hafidz, Muhammad bin Jubair adalah orang terpercaya, dan Jubair bin Muth’im adalah seorang sahabat.</p>
<p>3.  Hadistnya tidaklah satu illat pun.</p>
<ul>
<li>Hadits Hasan, yaitu hadits hasan menurut ibnu Hajar adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, (tetapi) tidak begitu kuat daya ingatnya, bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat illat serta kejanggalan pada <strong>matan</strong><strong>n</strong>ya. Jadi perbedaan antara hadis shahih dan hadits hasan ini terletak pada syarat kedlabitan rawi. Pada hadits hasan kedlabitannya lebih rendah (tidak begitu kuat ingatannya) jika dibandingkan hadits shahih. Tingkatan hadits hasan berada sedikit dibawah tingkatan hadits shahih, tetapi para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan hadits hasan sebagai sumber ajaran Islam atau sebagai hujjah dalam bidang hukum apalagi dalam bidang Aqidah, ada yang menolak hadits hasan sebagai hujjah ada yang menerimanya sebagai hujjah baik untuk bidang hukum maupun bidang Aqidah, pendapat inilah yang paling banyak dianut.</li>
</ul>
<p>Contoh hadits hasan: Dari Abdullah bin Umar r.a. dari Nabi Saw bersabda: <em>&#8220;Sesungguhnya Allah SWT akan menerima taubat seorang hamba selama nafasnya belum sampai di tenggorokan (sakratul maut)&#8221;. (Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Tirmizi. Ia berkata: hadits ini hasan.)</em></p>
<ul>
<li>Hadits Dhaif. Hadits daif adalah hadits yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits sahih, dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadits hasan. Jadi hadits daif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadits sahih, melainkan juga tidak memenuhi syarat-syarat hadits hasan. Pada hadits daif itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadits tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.</li>
</ul>
<p>Contoh hadits dhaif :<em>“Rasulullah SAW melaknat wanita-wanita penziarah kubur dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai mesjid dan menerangkannya dengan lampu-lampu”.</em></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>PENUTUP</strong></p>
<p>Dalam mempelajari Hadis Nabi SAW, seseorang harus mengetahui dua unsur penting yang menentukan keberadaan dan kualitas Hadis tersebut, yaitu <em>al-sanad</em> dan <em>al-matan. </em> Kedua unsur Hadis tersebut begitu penting artinya dan antara yang satu dan yang lainnya saling berhubungan erat, sehingga apabila salah satunya tidak ada maka akan berpengaruh terhadap, dan bahkan dapat merusak, eksistensi dan kualitas dari suatu Hadis. Suatu berita yang tidak memiliki <em>sanad</em>, menurut ulama Hadis, tidak dapat disebut sebagai Hadis; dan kalaupun disebut juga dengan Hadis maka ia dinyatakan sebagai Hadis palsu (<em>Mawdhu</em>). Demikian juga halnya dengan <em>matan,</em> sebagai menentukan keberadaan <em>sanad</em>, karena tidak akan dapat suatu <em>sanad</em> atau rangkaian para perawi disebut sebagai Hadis apabila tidak ada <em>matan </em>atau materi Hadisnya, yang terdiri atas perkataan, perbuatan, atau ketetapan (<em>taqrir)</em>Rasul SAW.</p>
<p>Di dalam penilaian kualitas suatu Hadis, unsur <em>sanad </em>dan <em>matan </em> adalah sangat menentukan. Oleh karenanya, yang menjadi objek kajian dalam penelitian Hadis adalah kedua unsur tersebut, yaitu <em>sanad </em>dan <em>matan.</em></p>
<p><strong> Wallahul muwafiq ila aqwamit thariq</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hijrah dalam Keikhlasan]]></title>
<link>http://asysyifausakti.wordpress.com/2009/11/25/hijrah-dalam-keikhlasan/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 04:27:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>asysyifausakti</dc:creator>
<guid>http://asysyifausakti.wordpress.com/2009/11/25/hijrah-dalam-keikhlasan/</guid>
<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ الل]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي السَّفَرِ وَإِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (متفق عليه)</p>
<p>Dari Abdullah bin Amru bin Ash ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, &#8216;Soerang muslim adalah orang yang menjadikan muslim lainnya merasa selamat dari lisan dan tangan (perbuatannya). Sedangkan muhajir (orang yang hijrah) adalah orang yang meninggalkan segala yang dilarang Allah SWT. (Muttafaqun Alaih).</p>
<p><a href="http://asysyifausakti.wordpress.com/files/2009/11/hijrah.jpeg"><img src="http://asysyifausakti.wordpress.com/files/2009/11/hijrah.jpeg" alt="" title="hijrah" width="133" height="89" class="alignleft size-full wp-image-1230" /></a>Hadits ini merupakan hadits sahih yang diriwayatkan oleh hampir seluruh Imam Hadits, yaitu Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Turmudzi, Imam Abu Daud, Imam Ahmad bin Hambal, dsb. Dalam Imam-Imam kitab hadits yang enam (baca ; kutubus sittah), hanya Imam Ibnu Majah yang tidak meriwayatkan hadits ini. Dan hampir semua Imam ahli hadits sepakat akan kesahihan hadits ini.</p>
<p>Secara umum hadits di atas menggambarkan tentang dua hal besar; pertama karakter orang beriman, dan kedua makna hijrah. Kedua hal tersebut dirangkai dalam satu penjelasan singkat dari Rasulullah SAW melalui hadits di atas. Penjelasan pertama adalah bahwa karakter mendasar orang yang beriman (muslim), yaitu sebagai orang yang keberadaannya menetramkan orang lain. Artinya orang lain tidak merasa &#8216;terganggu&#8217; dengan kehadirannya, baik secara lisan maupun perbuatannya. Bahkan kehadirannya selalu dinantikan dan &#8216;dielu-elukan&#8217; oleh orang lain. Sikapnya terjaga, perilakunya terkontrol, ucapannya menyejukkan, ungkapannya menentramkan dan statementnya memajukan umat.</p>
<p>Sementara hal yang kedua, yaitu hakekat hijrah. Bahwa hijrah yang hakiki sesungguhnya bermakna meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Baik yang lahir (terlihat/ nyata/ rii) maupun yang batin (tidak nyata, perkara hati, ghaib). Namun untuk merealisasikan tujuan hijrah tersebut, seseorang dapat meninggalkan sebuah tempat (teritorial) menuju tempat yang lainnya jika di tempat yang awal ia tidak dapat melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT. Hijrah yang seperti ini dinamakan juga dengan hijrah makani. Sedangkan hijrah dalam arti yang lebih luas sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas, sering disebut juga dengan hijrah ma&#8217;nawi.</p>
<p>Dalam hijrah, komponen yang terpenting adalah &#8216;niat&#8217;. Hal ini dapat kita lihat dari kisah muhajir Ummu Qais. Dimana terdapat seorang shahabiah yang bernama Ummu Qais, yang ingin hijrah melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya dari Mekah ke Madinah. Namun pada saat yang bersamaan, terdapat seseroang yang &#8216;menyukai&#8217; Ummu Qais ini. Dan singkat cerita berhijrahlah pula orang tadi, namun dengan harapan dan tujuan untuk mendapatkan &#8216;cintanya&#8217; Ummu Qais.</p>
<p>Akhirnya Rasulullah SAW bersabda dengan sebuah hadits yang cukup masyhur, yaitu hadits tentang niat; &#8216;Bahwasanya segala amal perbuatan tergantung niatnya. Dan bahwasanya bagi setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang berhijrah karena mengharapkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya tersebut akan mendapatkan pahala keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang berhijrah karena kepentingan dunia, atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya tersebut akan mendapatkan apa yang telah diniatkannya&#8217;. (Muttfaqun Alaih)<!--more--></p>
<p>Makna Keikhlasan</p>
<p>Ikhlas berasal dari bahasa Arab, yang sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Dari bahasa asalnya, ikhlas berasal dari kata &#8220;akhlasha&#8221;, yang berarti bersih, murni dan jernih. Dari kata dasar ini, membentuk infinitifnya (masdar) menjadi &#8220;ikhlasan&#8221;. Sedangkan orang yang ikhlas adalah &#8220;mukhlis&#8221;:<br />
أخلص &#8211; يخلص &#8211; إخلاصا &#8211; وهو مخلص</p>
<p>Adapun dari segi istilahnya, para ulama memberikan ekspresi bahasa yang beragam, sesuai dengan kecendrungan dan spesialisasi mereka masing-masing.</p>
<p>• Al-Imam Al-Mar&#8217;asyi umpamanya, beliau mengemukakan bahwa ikhlas adalah kesamaan amalan seorang hamba yang dilakukannya secara dzahir dan bathin.</p>
<p>• Imam Abu Qasim al-Qusyairi membahasakannya dengan, &#8220;memaksudkan amalan dengan mensatukan tujuan dalam ketaatannya kepada Allah SWT.</p>
<p>• Sedangkan Imam al-Susy, mendefinisikannya dengan, &#8220;hilangnya rasa keikhlasan dalam amalan yang dilakukannya, karena orang yang merasa terdapat keikhlasan pada keikhlasannya, maka sesungguhnya keikhlasannya itu membutuhkan keikhlasan.&#8221;</p>
<p>• Dan seorang ulama kontemporer, yaitu Ali Abdul Halim Mahmud, mengemukakan bahwa hakekat keikhlasan adalah berlepas diri dari sesuatu selain Allah SWT, yaitu bersihnya perkataan, perbuatan, atau meninggalkan sesuatu hal dengan tujuan mencari ridha Allah dan pahala dari-Nya.</p>
<p>Apapun ungkapan yang mereka bahasakan dengan definisi yang mereka berikan, pada hakekatnya mereka semua memiliki kesamaan pandangan bahwa keikhlasan merupakan menfokuskan tujuan suatu amalan, hanya semata-mata untuk Allah dan kepada Allah, dengan menjauhkan diri dari tujuan-tujuan lain yang bukan kepada Allah.</p>
<p>Urgensi Keikhlasan</p>
<p>Dalam kehidupan yang dijalani oleh manusia, kiekhlasan memiliki posisi yang sangat penting. Karena tanpa keikhlasan, maka amalan seseorang diibaratkan seperti jasad yang tidak memiliki ruh lagi. Berikut adalah beberapa urgensi keikhlasan:</p>
<p>1. Ikhlas merupakan suatu perintah/ kewajiban dari Allah. (QS.98: 5) &#8220;Padahal mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan keikhlasan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.&#8221;</p>
<p>2. Keikhlasan merupakan bukti dan sarana ketaqwaan seseorang.</p>
<p>3. Kehidupan dan kematian akan dipersembahkan kepada Allah SWT. Dan bagaimana persembahan akan diterima, jika tidak dibarengi dengan keikhlasan?</p>
<p>4. Keikhlasan merupakan hal yang sangat diperlukan guna menjadi hamba yang terbaik amalannya, sebagai perealisasian cobaan yang Allah berikan pada insan. (QS.67: 2) &#8220;Yang menjadikan kamu mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.&#8221;</p>
<p>5. Ikhlas merupakan syarat pertemuan antara seorang hamba dengan Rab-nya baik di dunia maupun di akhirat. (QS.18 : 110) &#8220;Dan barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan jenganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.&#8221;</p>
<p>Ikhlas dan Riya&#8217;</p>
<p>Ketika mengkaji tentang keikhlasan, muncullah sebuah persepsi pentingnya menghindarkan amalan dari riya. Karena riya merupakan lawan kata dari ikhlas. Dan riya ini pulalah yang dapat menghancurkan keikhlasan seorang hamba yang telah sekian lama diusahakannya. Memahami riya meruapakan hal yang cukup urgen, guna membantu dalam peningkatan keikhlasan.</p>
<p>Berbeda dengan ikhlas, maka riya adalah memaksudkan amalan yang dilakukan seseorang guna mendapatkan keridhoan manusia, baik berupa pujian, ketenaran, atau sesuatu yang diinginkannya selain Allah SWT. Dr. Sayid Muhammad Nuh, menggambarkan adanya tiga sebab yang memotori timbulnya riya: Pertama karena ingin mendapatkan pujian dan nama baik di masyarakat. Kedua, kekhawatiran mendapat celaan manusia, dan ketiga, menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain (tamak). Ketiga hal ini didasari dari hadits, yang diriwayatkan Imam Bukhari:</p>
<p>عَنْ أَبِيْ مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ أَعْرَابِيًّا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهٌ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، الرَّجُلُ يُقَاتِلُ حَمِيَّةً، وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ، وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلذِّكْرِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةَ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ</p>
<p>&#8220;Dari Abu Musa al-Asyari ra, mengatakan bahwa seorang Badui bertanya kepada Rasulullah SAW, &#8220;Wahai Rasulullah SAW, seseorang berperang karena kekesatriaaan, seseorang berperang supaya posisinya dilihat oleh orang, dan seseorang berperang karena ingin mendapatkan pujian? Rasulullah SAW menjawab &#8220;Barang siapa yang berperang karena ingin menegakkan kalimatullah, maka dia fi sabilillah.&#8221; (HR. Bukhari)</p>
<p>Kemudian, hadits riwayat An-Nasai:</p>
<p>قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ غَزَا لاَ يَبْغِيَ إِلاَّ عِقَالاً فَلَهُ مَا نَوَى</p>
<p>&#8220;Barang siapa yang berperang hanya kerena kekang hewan, maka ia hanya akan mendapatkan apa yang diniatkannya.&#8221; (HR. Nasa&#8217;i)</p>
<p>Ungkapan dalam hadits pertama, tentang seseorang yang berperang supaya posisinya dilihat orang dan seseorang yang berperang supaya mendapatkan pujian, adalah sebagai indikasi penyebab riya yang pertama, yaitu ingin mendapatkan pujian dan nama baik di masyarakat. Kemudian ungkapan dalam hadits tentang seseorang yang berperang karena kekesatriaan, adalah indikasi dari penyebab yang kedua, yaitu kekhwatiran mendapatkan celaan manusia. Adapun dalam hadits yang kedua, adalah indikasi dari penyebab yang terakhir, yaitu menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain. Meninggalkan ketiga hal di atas adalah merupakan salah satu upaya guna menghadirkan keikhlasan dalam beramal, sekaligus menghindari dir dari sifat riya.</p>
<p>Riya Adalah Syirik Kecil</p>
<p>Riya&#8217; adalah syirik kecil; demikianlah ungkapan yang dikemukakan Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya. Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p>إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ، قَالُوْا وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ الرِّيَاءُ، يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ<br />
يَوْمَ الْقِيَامَةِ اذْهَبُوْا إِلَى الَّذِيْ تُرَاءُوْنَ فِي الدُّنْيَا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمُ الْجَزَاءَ (رواه أحمد)</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syirik kecil.&#8221; Para sahabat bertanya, &#8220;Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah SAW?&#8221;, Beliau menjawab, &#8220;Riya.! Dan Allah akan berkata pada hari kiamat, terhadap mereka-meeka yang riya, &#8216;pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu di dunia kalian rya&#8217;i, apakah kalian mendapatkan ganjaran dari mereka?&#8221; (HR. Ahmad)</p>
<p>Meskipun kecil, riya tetaplah bagian dari syirik yang harus disingkirkan jauh-jauh dari hati kaum mu&#8217;minin. Sesuatu yang kecil, bila dibiarkan tumbuh berkembang, maka lambat laun akan menjadi besar. Dan alangkah meruginya, jika sesuatu yang negatif yang demikian besarnya, ternyata bercokol di dalam hati orang mu&#8217;min. Sedangkan syirik merupakan dosa yang tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT.</p>
<p>Ciri-ciri Riya&#8217; dan Ikhlas</p>
<p>Terdapat sebuah ungkapan yang dikemukakan oleh seorang sahabat Rasulullah SAW yang sangat zuhud kehidupannya, beliau juga termasuk salah seorang dari empat khulafa&#8217; rasydin, yang juga mendapatkan berita gembira untuk masuk dalam surga Allah kelak. Beliau adalah Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib mengemukakan, tentang ciri-ciri riya&#8217; yang terdapat dalam jiwa seseorang:</p>
<p>قَالَ عَلِيٌّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ، لِلْمُرَائِيْ عَلاَمَاتٌ، يَكْسُلُ إِذَا كَانَ وَحْدَهُ، وَيَنْشَطُ إِذَا كَانَ فِي النَّاسِ، وَيَزِيْدُ فِي الْعَمَلِ إِذَا أُثْنَى، وَيَنْقُصُ إِذَا ذُمَّ</p>
<p>&#8220;Orang yang riya, terdapat beberapa ciri, (1) malas, jika seorang diri, (2) giat jika di tengah-tengah orang banyak, (3) bertambah semangat beramal jika mendapatkan pujian, (4) berkurang frekwensi amalnya jika mendapatkan celaan.&#8221;</p>
<p>Sedangkan orang yang ikhlas adalah kebalikan dari hal tersebut diatas. Adapun ciri-cirinya, diantaranya adalah;</p>
<p>1. Istiqamah/ istimrar dalam beribadah, baik ketika mendapatkan pujian ataupun ketika mendapatkan celaan atas perbuatannya tersebut.</p>
<p>2. Membenci atau menghindari diri dari popularitas. Karena amalnya semata-mata hanya karena ingin mendapatkan keridhaan Allah SWT.</p>
<p>3. Menyembunyikan amalan, dalam arti tidak menyengaja dalam mengerjakan suatu amalan agar dilihat orang lain.</p>
<p>4. Su&#8217;udzon terhadap diri sendiri, hingga tidak membanggakan amal pribadi. Artinya dirinya senantiasa merasa kurang sempurna dalam beramal. Sehingga ia selalu memperbaiki dengan amalan yang lebih baik lagi.</p>
<p>Assidqu fil Ikhlas</p>
<p>Pada intinya, keikhlasan menginginkan bagaimana seorang hamba mampu memberikan porsi ketawazunan (baca; keseimbangan) dalam amalannya antara yang dzahir dan bathin. Karena yang diinginkan dari ikhlas adalah adanya kesamaan dalam kedua amalan ini, baik yang dzhir (amalan yang terlihat oleh orang lain), maupun yang bathin (yang hanya diketahui sendiri oleh dirinya). Jika amalan dzahirnya melebihi amalan bathinnya, berarti terdapat indikasi keriyaan. Contoh amalan yang dilakukan secara bathin adalah senantiasa hati seseorang &#8220;basah&#8221; dengan dzikir kepada Allah, dimanapun dan kapanpun dia berada. Demikian juga dalam kesendirian-kesendiriannya, ia justru memperbanyak dzikir dan melakukan aktivitas ibadah, bukan malah merupakan kesempatan untuk berlaku maksiat.</p>
<p>Jika seseorang telah mampu menyeimbangkan antara kedua hal di atas, ini berarti telah terdapat indikasi keikhlasan dalam dirinya. Apalagi jika seseorang yang memiliki amalan bathin, jauh lebih banyak dan lebih besar frekwensinya daripada amalan dzahirnya, maka ia telah mencapai assidqu fil ikhlas (keikhlasan yang sebenar-benarnya).</p>
<p>Cara Menghadirkan Keikhlasan dan Menghindari Riya&#8217;</p>
<p>Para ulama berupaya memberikan berbagai jalan guna menemukan kiat-kiat agar terhindar dari keriyaan serta mampu menghadirkan keikhlasan dalam jiwa. Diantara cara yang mereka tawarkan adalah:</p>
<p>1. Menghadirkan sikap muraqabatullah, yaitu sikap yang menghayati bahwa Allah senantiasa mengetahui segala gerak-gerik kita hingga yang sekecil-kecilnya, bahkan yang tergores dan terlintas dalam hati sekalipun yang tidak pernah diketahui oleh siapapun. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengungkapkan, &#8220;..dan sempurnakanlah amal, karena Sang Pengawas (Allah) Maha Melihat.,</p>
<p>وَأَتْقِنِ الْعَمَلَ فَإِنَّ النَّاقِدَ بَصِيْرٌ</p>
<p>2. Seseorang perlu menyadari dan meyakini, bahwa dengan riya, seluruh amalannya akan tidak memiliki arti sama sekali. Amalannya akan hilang sia-sia dan akan musnah. Serta dirinya tidak akan pernah mendapatkan apapun dari usahanya sendiri.</p>
<p>3. Dirinya pun perlu menyadari, bahwa lambat launpun manusia akan mengetahui apa yang terdapat di balik amalan-amalan baik yang dilakukannya, baik di dunia apalagi di akhirat kelak.</p>
<p>4. Dirinya juga perlu meyadari pula bahwa dengan riya, seseorang dapat diharamkan dari surga Allah. Dalam hadits digambarkan, bahwa Rasulullah SAW menangis, karena takut umatnya berbuat riya&#8217;. Kemudian beliau berkata, &#8220;Barang siapa yang belajar ilmu pengetahuan bukan kerena mencari keridhoan Allah tapi karena keinginan duniawi, maka dia tidak akan mencium baunya surga.&#8221;</p>
<p>5. Banyak berdzikir kapada Allah SWT, terutama manakala sedang menjalankan suatu amalan, yang tiba-tiba muncul pula niatan riya. Hal ini sebaiknya segera diterapi dengan dzikir.</p>
<p>Inilah sekelumit hal mengenai keikhlasan, yang patut dihadirkan dan dijaga dalam diri tiap insan. Keikhlasan bukan hanya monopoli mereka-mereka yang pakar dalam ilmu keagamaan, atau mereka-mereka yang berkecimpung dalam keilmuan syar&#8217;iyah. Namun keikhlasan adalah potensi setiap insan dalam melakukan amalan ibadah kepada Allah. Bahkan tidak sedikit mereka-mereka yang dianggap biasa-biasa saja, ternyata memiliki keluarbiasaan dalam keimanannya kepada Allah.</p>
<p>Jika demikian halnya, marilah memulai dari diri pribadi masing-masing, untuk menghadirkan keikhlasan, meningkatkan kualitasnya dan menjaganya hingga ajal kelak menjemput kita.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam bis Shawab<br />
By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[2012 Kiamat]]></title>
<link>http://wahyuatcmanado.wordpress.com/2009/11/24/2012-kiamat/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 14:18:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>Wahyu</dc:creator>
<guid>http://wahyuatcmanado.wordpress.com/2009/11/24/2012-kiamat/</guid>
<description><![CDATA[Kali ini posting saya agak OOT (dari dunia penerbangan) soalnya saking maraknya film baru yang berju]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kali ini posting saya agak OOT (dari dunia penerbangan) soalnya saking maraknya film baru yang berjudul 2012 di mana-mana. Dalam film ini dikisahkan bahwa pada tahun 2012 terjadi sebuah bencana yang sangat dahsyat. Mulai dari gempa bumi, ups bukan, mungkin lebih ekstrim lagi bumi merekah dimana-mana, gelombang tsunami yang sangat-sangat-sangat besar menyapu seluruh permukaan bumi, dan lain sebagainya. Benarkah tahun 2012 nanti akan terjadi seperti ini? Apakah Anda percaya atau tidak? Yang jelas menurut pendapat saya, ambillah hikmahnya. Bagaimanapun juga sang pembuat film sedang untung besar karena di bioskop-bioskop selama seminggu (bahkan lebih) masih banyak sekali peminat film ini dengan dasar penasaran. Pembuat film ini sangat cerdas memadukan isu (namun ilmiah) yang sedang gencar dibicarakan ilmuwan saat ini dengan special effect yang sangat menarik. Apakah isu tersebut? Isunya adalah bahwa planet kita ini akan ditabrak sebuah planet misterius bernama planet x (planet ke 10) yang disebut juga planet nibiru. Silahkan searching di google dan youtube deh dengan keyword kata-kata tersebut. Kalo Anda baru tahu, Anda akan sama tekejutnya dengan saya ketika pertamakali melihat dan membaca ceritanya. Saya juga membaca sebuah ebook dari blog surabayamuda.com (judulnya: akankah bumi kiamat karena planet x) yang menjelaskan panjang lebar mengenai teori ilmiah dan ramalan suku maya tentang hal ini, dan semuanya berujung pada: 2012 kiamat!!</p>
<div id="attachment_38" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><a href="http://wahyuatcmanado.wordpress.com/files/2009/11/kehancuran.jpg"><img title="kehancuran" src="http://wahyuatcmanado.wordpress.com/files/2009/11/kehancuran.jpg" alt="2012 kiamat!!!" width="250" height="169" /></a><p class="wp-caption-text">2012 kiamat</p></div>
<p>Sebenarnya saya tidak ingin membahas mengenai film tersebut, atau kiamat akan terjadi tahun 2012 atau tidak. Yang jelas saya hanya mengingatkan kembali (bagi yang lupa) dan memberi tahu (bagi yang belum tahu) khususnya bagi Anda yang beragama sama dengan saya, Islam. Pertanyaan mengenai kiamat diatas akan terjawab dengan sangat mudah. Ingat pedoman kita adalah Al-Qur&#8217;an dan Hadits. Berikut saya akan memberikan beberapa hadits Rasulullah SAW tentang kiamat. Tapi sebelumnya saya mohon, jika ada kesalahan mohon tegur saya, dan bila ada tambahan silahkan disampaikan.</p>
<ol>
<li><em>Seorang Arab Badui bertanya, &#8220;Kapankah tibanya kiamat?&#8221; Nabi Saw lalu menjawab, &#8220;Apabila amanah diabaikan maka tunggulah kiamat.&#8221; Orang itu bertanya lagi, &#8220;Bagaimana hilangnya amanat itu, ya Rasulullah?&#8221; Nabi Saw menjawab, &#8220;Apabila perkara (urusan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.&#8221; (HR. Bukhari)</em></li>
<li><em>Mendekati kiamat akan terjadi fitnah-fitnah seolah-olah kepingan-kepingan malam yang gelap-gulita. Seorang yang pagi hari beriman maka pada sore harinya menjadi kafir, dan orang yang pada sore harinya beriman maka pada pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya dengan (imbalan) harta-benda dunia. (HR. Abu Dawud)</em></li>
<li><em>Belum terjadi kiamat sehingga orang-orang dari umatku kembali menyembah berhala-berhala selain Allah. (HR. Abu Dawud)<br />
</em></li>
<li><em>Belum terjadi kiamat sebelum seorang yang melewati kuburan berkata, &#8220;Alangkah baiknya sekiranya aku di tempat orang ini.&#8221; (Maksudnya, dia ingin mati dan tidak ingin hidup karena beban berat yang selalu dihadapinya). (HR Bukhari)</em></li>
<li><em>Belum akan terjadi kiamat sehingga anak selalu menjengkelkan kedua orang tuanya, banjir di musim kemarau, kaum penjahat melimpah, orang-orang terhormat (mulia) menjadi langka, anak-anak muda berani menentang orang tua serta orang jahat dan hina berani melawan yang terhormat dan mulia. (HR. Asysyihaab).</em></li>
<li><em>Belum akan kiamat sehingga tidak ada lagi di muka bumi orang yang menyebut : &#8220;Allah, Allah.&#8221; (HR. Muslim)</em></li>
<li><em>Belum akan datang kiamat sehingga seorang membunuh tetangganya, saudaranya dan ayahnya. (HR. Bukhari)</em></li>
<li><em>Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba membangun dan memperindah masjid-masjid. (HR. Abu Dawud)</em></li>
<li><em>Di antara tanda-tanda kiamat ialah ilmu terangkat, kebodohan menjadi dominan, arak menjadi minuman biasa, zina dilakukan terang-terangan, wanita berlipat banyak, dan laki-laki berkurang sehingga lima puluh orang wanita berbanding seorang pria. (HR. Bukhari)</em></li>
<li><em>Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba dengan bangunan-bangunan yang megah. (HR. Bukhari)</em></li>
<li><em>Belum akan tiba kiamat sehingga merajalela &#8216;Alharju&#8217;. Para sahabat lalu bertanya, &#8220;Apa itu &#8216;Alharju&#8217;, ya Rasulullah?&#8221; Lalu beliau menjawab,&#8221;Pembunuhan&#8230; pembunuhan&#8230;&#8221; (HR. Ahmad)</em></li>
<li><em>Belum akan tiba kiamat melainkan matahari akan terbit dari Barat. Jika terbit dari Barat maka seluruh umat manusia akan beriman. Pada saat itu tidak bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)</em></li>
<li><em>Belum akan tiba kiamat sehingga harta banyak dan melimpah, dan orang ke luar membawa zakat hartanya tetapi tidak ada yang mau menerimanya, dan negeri-negeri Arab kembali menjadi rerumputan hijau dengan sungai-sungai mengalir. (HR. Muslim)</em></li>
<li>Tibanya kiamat atas makhluk-makhluk yang jahat. (HR. Muslim). *Penjelasan: Saat kiamat tiba, tidak ada lagi orang yang beriman. Jadi yang ditimpa azab kiamat ialah orang-orang yang jahat.</li>
<li>Saat akan tiba kiamat, jaman saling mendekat. Satu tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti satu jam dan satu jam seperti menyalakan kayu dengan api. (HR. Tirmidzi). *Penjelasan: Jika kiamat tiba maka rotasi bumi makin cepat. Kalau rotasi sekarang 1000 mil per jam, maka dapat diperkirakan pada hari kiamat tujuh kali atau dua belas kali bahkan lebih.</li>
<li><em>Demi yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya. Tiada tiba kiamat melainkan telah merata dan merajalela dengan terang-terangan segala perbuatan mesum dan keji, pemutusan hubungan kekeluargaan, beretika (berakhlak) buruk dengan tetangga, orang yang jujur (amanat) dituduh berkhianat, dan orang yang khianat diberi amanat (dipercaya). (HR. Al Hakim)</em></li>
<li><em>Belum akan tiba kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan orang-orang Yahudi. Kaum muslimin membunuh mereka dan mereka bersembunyi di balik batu dan pohon-pohonan. Lalu batu dan pohon-pohon berkata, &#8220;Wahai kaum muslimin, wahai hamba Allah, ini orang Yahudi di belakang saya. Mari bunuhlah dia.&#8221; Kecuali pohon &#8220;Gharqad&#8221; yang tumbuh di Baitil Maqdis. Itu adalah pohon orang-orang Yahudi. (HR. Ahmad)</em></li>
<li>Orang-orang ahli (Laailaaha illallah) tidak akan mengalami kesepian tatkala wafat, saat di kuburan dan ketika dibangkitkan. Seolah-olah aku melihat mereka ketika dibangkitkan (pada tiupan sangkakala yang kedua). Mereka sedang menyingkirkan tanah (pasir) dari kepala mereka seraya berkata, &#8220;Alhamdulillah, yang telah menghilangkan duka-cita dari kami.&#8221; (HR. Abu Ya&#8217;la)</li>
<li>Kamu akan dibangkitkan pada hari kiamat tanpa sandal, telanjang bulat dan tidak dikhitan. Aisyah bertanya, &#8220;Ya Rasulullah, laki-laki dan perempuan saling melihat (aurat) yang lain?&#8221; Nabi Saw menjawab, &#8220;Pada saat itu segala urusan sangat dahsyat sehingga orang tidak memperhatikan (mengindahkan) hal itu.&#8221; (Mutafaq&#8217;alaih)</li>
<li>Didatangkan kebaikan-kebaikan (pahala) dan kejahatan-kejahatan (dosa) seorang hamba, lalu saling mengikis dan bila masih tersisa kebaikan (pahala) itu Allah akan melapangkannya untuk masuk surga. (HR. Bukhari)</li>
<li>Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan. (HR. Ahmad)</li>
<li>Amal seseorang tidak dapat menyelamatkannya. Seorang sahabat lantas bertanya tentang sabda tersebut, &#8220;Termasuk engkau juga, ya Rasulullah?&#8221; Rasulullah lalu menjawab, &#8220;Ya, aku juga, kecuali dikarunia Allah dengan rahmat-Nya. Walaupun demikian kamu harus berbuat yang benar (baik).&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)</li>
<li>Yang pertama diadili antara manusia pada hari kiamat ialah kasus pembunuhan. (HR. Muslim)</li>
</ol>
<p><em>Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) &#8211; Dr. Muhammad Faiz Almath &#8211; Gema Insani Press</em></p>
<p>Bacalah hadits-hadits diatas. Yang saya miringkan adalah yang berkaitan dengan tanda-tanda kiamat dan selain itu adalah yang berkaitan dengan kiamat. Dari hadits-hadits tersebut, beberapa diantaranya sudah kita temui saat ini, yang artinya tanda-tanda kiamat sudah bermunculan. Kita sudah dekat dengan akhir jaman.</p>
<p>Sebenarnya masih banyak yang lain yang berkaitan dengan kiamat, bahkan dari Al-Qur&#8217;an belum bisa saya masukkan disini. Jika Anda berkenan membagi ilmu berupa tulisan silahkan email ke saya untuk saya publish disini. Semoga bermanfaat! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>2012 kiamat? Wallohu&#8217;alam bishshawab.. Ambillah hikmahnya, paling tidak Anda akan lebih banyak mengingat mati sekarang. Semakin banyak mengingat mati (baca: kembali ke Sang Maha Pencipta) semakin baik untuk kita semua. Semoga kita semua mati dalam keadaan khusnul khatimah.. Amiin&#8230;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hari ini......]]></title>
<link>http://azhaararin.wordpress.com/2009/11/24/hari-ini-2/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:46:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>arin</dc:creator>
<guid>http://azhaararin.wordpress.com/2009/11/24/hari-ini-2/</guid>
<description><![CDATA[Kelas siang, TKJ, hufftttt&#8230;capekkk. sebenarnya sih seneng aja ngajar TKJ, tapi bukan murid2nya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kelas siang, TKJ, hufftttt&#8230;capekkk. sebenarnya sih seneng aja ngajar TKJ, tapi bukan murid2nya yang nakal, masaahnya ada di aku, sebagai gurunya, ga nguasai materi (bodo yaaahhhh)&#8230; tapi sebagai guru semua bisa ditutupi dengan &#8220;sok&#8221; bisa, Jaim deh&#8230;&#8230;.</p>
<p>Kelas ini adalah kelas yang paling aku suka, anak2nya pinter (cuma beberapa sihhh&#8230;), pendiam (tapi banyak juga yang jd trouble maker). Semua guru mengeluh bila sudah masuk kelas TKJ, ga perduli kelas X, XI mapun XII, penilaiannya mereka sama, kelas TKJ selalu &#8220;rame, ga bisa diatur, dannnnnnnnnnnnn &#8230;&#8230;&#8230;. (tanya deh sama guru2 yang lain tetntang TKJ.</p>
<p>bagaimanapun I Love my TKJ student&#8230;.. maafkan saya kl saya ga mampu di kelas kalian, minta ganti guru aja dehhhhhhh ya nakkkkk&#8230; please&#8230;&#8230;.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Orang Ihrom Haji yang mendapatkan Haid]]></title>
<link>http://mromi.wordpress.com/2009/11/24/orang-ihrom-haji-yang-mendapatkan-haid/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 02:55:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>mromi</dc:creator>
<guid>http://mromi.wordpress.com/2009/11/24/orang-ihrom-haji-yang-mendapatkan-haid/</guid>
<description><![CDATA[عن عائشة رضي الله عنها. قالت: خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم لا نذكر إلا الحج. حتى جئنا سرف ف]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:right;font-size:180%;line-height:150%;">عن عائشة رضي الله عنها. قالت:<br />
خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم لا نذكر إلا الحج. حتى جئنا سرف فطمثت. فدخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا أبكي. فقال &#8220;ما يبكيك ؟&#8221; فقلت: والله ! لوددت أني لم أكن خرجت العام. قال &#8220;مالك ؟ لعلك نفست ؟&#8221; قلت: نعم. قال: &#8220;هذا شيء كتبه على بنات آدم. افعلي ما يفعل الحاج غير أن لا تطوفي بالبيت حتى تطهري&#8221; قالت: فلما قدمت مكة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لأصحابه &#8220;اجعلوها عمرة&#8221; فأحل الناس إلا من كان معه الهدي. قالت: فكان الهدي مع النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وذوي اليسارة. ثم أهلوا حين راحوا. قالت: فلما كان يوم النحر طهرت. فأمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم فأفضت. قالت: فأتينا بلحم بقر. فقلت: ما هذا ؟ فقالوا: أهدي رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نسائه البقر  فلما كانت ليلة الحصبة قلت: يا رسول الله ! يرجع الناس بحجة وعمرة وأرجع بحجة ؟ قالت: فأمر عبدالرحمن بن أبي بكر، فأردفني على جمله. قالت: فإني لأذكر، وأنا جارية حديثة السن، أنعس فتيصيب وجهي مؤخرة الرحل. حتى جئنا إلى التنعيم. فأهللت منها بعمرة. جزاء بعمرة الناس التي اعتمروا</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;">Hadits riwayat ‘Aisyah Radhiyallahu’anha, ia berkata:</span><br />
<span style="color:#0000ff;"> “Kami berangkat bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, tiada sesuatupun dalam ingatan kami kecuali haji sehingga kami sampai di Syarifa, saya mendapatkan haid. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam masuk ketempat saya ketika saya sedang menangis. Beliau bertanya: “Mengapa engkau menangis? Saya menjawab: “Demi Allah! Sesungguhnya aku ingin, kiranya aku tidak berangkat tahun ini.” Beliau bertanya” “Apa sebabnya? Bisa jadi engkau haid?” Saya menjawab: “Ya!” Beliau berkata: “Haid ini adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah untuk puteri-puteroi Adam. Perbuatlah apa yang  diperbuat oleh orang yang mengerjakan haji, tapi jangan thawaf di Ka’bah sebelum engkau suci.” Setelah saya sampai di Mekkah, Rasulullah mengatakan kepada sahabat-sahabat: “Kerjakan umroh! Lalu orang-orang melakukan ihrom kecuali oragn yang membawa binatang untuk qurban. Orang yang membawa qurban hanya Nabi, Abu Bakar, Umar dan orang-orang yang mampu. Kemudian mereka ihrom diwaktu petang.  Setelah tiba hari nahar (10 Dzulhijah), saya telah suci, lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menyuruh saya untuk thawaf kemudian saya thawaf. Kemudian kami diberi daging sapi. Saya bertanya: “Apakah ini?” Mereka menjawab: “Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menyembelih seekor sapi untuk isteri-isteri beliau.” Ketika tiba malam waktu nahar, saya berkata: “Ya Rasulullah ! orang-orang kembali setelah mengerjakan haji dan umroh, saya hanya mengerjakan haji saja.” Lalu beliau menyuruh Abdurrohman bin Abu Bakar (saudara ‘Aisyah), memboncengkan saya diatas untanya. Setelah itu saya tidak ingat, saya hanya seorang gadis remaja dan suka mengantuk, maka muka saya terkena sandaran kendaraan sehingga kami sampai di Tan’im. Lalu saya ihrom untuk umroh dari situ, sesuai dengan orang-orang yang telah umroh.”</span></p>
<p style="text-align:right;font-size:180%;line-height:150%;">عن عائشة رضي الله عنها. قالت:<br />
خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم مهلين بالحج. في أشهر الحج. وفي حرم الحج. وليالي الحج. حتى نزلنا بسرف. فخرج إلى أصحابه فقال: &#8220;من لم يكن معه منكم هدي فأحب أن يجعلها عمرة، فليفعل. ومن كان معه هدي، فلا&#8221; فمنهم الآخذ بها والتارك لها. ممن لم يكن معه هدي. فأما رسول الله صلى الله عليه وسلم فكان معه الهدي. ومع رجال من أصحابه لهم قوة. فدخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا أبكى. فقال: &#8220;ما يبكيك ؟&#8221; قلت: سمعت كلامك مع أصحابك فسمعت بالعمرة (فمنعت العمرة) قال &#8220;ومالك ؟&#8221; قلت: لا أصلي. قال: &#8220;فلا يضرك فكوني في حجك. فعسى الله أن يرزقكيها. وإنما أنت من بنات آدم. كتب الله عليك ما كتب عليهن&#8221; قالت: فخرجت في حجتي حتى نزلنا منى فتطهرت. ثم طفنا بالبيت. ونزل رسول الله صلى الله عليه وسلم المحصب. فدعا عبدالرحمن بن أبي بكر فقال: &#8220;اخرج بأختك من الحرم فلتهل بعمرة. ثم لتطف بالبيت. فإني أنتظركما ههنا&#8221; قالت: فخرجنا فأهللت. ثم طفت بالبيت وبالصفا والمروة. فجئنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو في منزله من جوف الليل. فقال &#8220;هل فرغت ؟&#8221; قلت: نعم. فآذن في أصحابه بالرحيل. فخرج فمر بالبيت فطاف به قبل صلاة الصبح. ثم خرج إلى المدينة</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;">Hadits riwayat ‘Aisyah Radhiyallahu’anha, ia berkata:</span><br />
<span style="color:#0000ff;">“Kami berangkat bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dengan niat mengerjakan haji dibulan haji, kesucian haji dan malam-malam haji sehingga kami berhenti di Syarifa.  Lalu Nabi dating kepada sahabat-sahabatnya dan mengatakan: “Siapa diantara kamu yang tidak membawa binatang qurban dan dia ingin mengerjakan umroh, hendaklah diperbuatnya. Tetapi siapa yang membawa qurban, jangan begitu (melainkan terus ihrom untuk haji).” Sebagian dari orang yang tidak membawa qurban ada yang melakukannya (mengganti niat haji dengan umroh) dan ada yang tidak. Adapun Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, beliau membawa qurban demikian pula beberapa sahabat yang mempunyai kemampuan (membawa qurban). Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dating kepada saya dan kebetulan saya sedang menangis. Beliau bertanya: ”Apa sebabnya engkau menangis?” Saya menjawab: “Saya mendengar perkataan engkau kepada sahabat-sahabat engkau berkenaan dengan umroh.” Beliau bertanya : “Mengapa begitu?” Saya menjawab: “Saya sedang tidak sembahyang (haid).” Beliau berkata: “Itu tidak mengapa dan tetaplah engkau mengerjakan haji dan mudah-mudahan Allah memberikan kesempatan kepada engkau untuk umroh. Sesungguhnya engkau termasuk puteri Adam, telah ditetapkan untukmu apa yang ditetapkan untuk mereka (haid).” Lalu saya meneruskan haji sampai kami berhenti di Mina dan saya telah suci dari haid, kemudian kami thawaf  keliling Ka’bah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam berhenti di Muhashshab. Lalu beliau memanggil Abdurrahman bin Abu Bakar dan mengatakan: “Bawalah saudaramu (‘Aisyah) keluar tanah suci (Tan’im), maka hendaklah dia ihrom dari situ untuk umroh, kemudian itu thawaflah keliling Ka’bah, sedang aku menunggu disini.” Lalu kami berangkat dan ihrom (umroh) kemudian saya thawaf keliling Ka’bah dan (sa’i) antara Shafa dan Marwah. Kemudian kami kembali menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan beliau masih ditempat itu sampai tengah malam. Beliau bertanya: “Apakah engkau telah selesai (umroh)?” Saya menjawab: “Sudah!” Lalu beliau memberitahukan kepada sahabat-sahabat untuk berangkat. Beliau melewati Ka’bah dan thawaf keliling Ka’bah (thawaf wada’) sebelum sholat subuh. Kemudian beliau berangkat menuju Madinah.”</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Empat Berkah dari Langit]]></title>
<link>http://alfalimbany.wordpress.com/2009/11/24/empat-berkah-dari-langit/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 17:18:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Muslim Al Falimbany</dc:creator>
<guid>http://alfalimbany.wordpress.com/2009/11/24/empat-berkah-dari-langit/</guid>
<description><![CDATA[Diantara hadits palsu yang beredar di masyarakat adalah berikut ini. Konon kabarnya Nabi -Shallallah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Diantara hadits palsu yang beredar di masyarakat adalah berikut ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Konon kabarnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<h3 style="text-align:right;">إِنَّ اللهَ أَنْزَلَ أَرْبَعَ بَرَكَاتٍ مِنَ السَمَاءِ إِلَى اْلأَرْضِ فَأَنْزَلَ الْحَدِيْدَ وَالنَّارَ وَالْمَاءَ وَالْمِلْحَ</h3>
<p style="text-align:justify;">“Sesungguhnya Allah telah menurunkan empat berkah dari langit ke bumi; maka Allah menurunkan besi, api, air, dan garam”. [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (1/2/221)] <!--more--></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadits ini palsu</strong> , tak benar datangnya dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dalam sanadnya terdapat Saif bin Muhammad, seorang pendusta !! Karenanya, Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy -rahimahullah- menyatakan hadits ini palsu dalam Adh-Dho’ifah (3053).</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 70 Tahun II Rubrik Hadits Lemah. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>http://almakassari.com/artikel-islam/hadits/empat-berkah-dari-langit.htm</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Analisa Terhadap Klaim Syi’ah Atas Hadits Ghadir Khum bagian-3]]></title>
<link>http://alfanarku.wordpress.com/2009/11/23/analisa-hadits-ghadir-khum-bagian-3/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 16:52:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>alfanarku</dc:creator>
<guid>http://alfanarku.wordpress.com/2009/11/23/analisa-hadits-ghadir-khum-bagian-3/</guid>
<description><![CDATA[Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya yaitu : Analisa Terhadap Klaim Syi’ah Atas Had]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya yaitu : <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><a href="http://alfanarku.wordpress.com/2009/11/21/analisa-hadits-ghadir-khum-bagian-2/"><span style="color:#3366ff;">Analisa Terhadap Klaim Syi’ah Atas Hadits Ghadir Khum bagian-2</span></a></span></span> di mana dalam artikel ini diungkap kelemahan hujjah Syi’ah dalam usaha mereka menghubungkan ayat Al-Maidah : 67 dan Al-Maidah : 3 dengan peristiwa Ghadir Khum.<!--more--></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Mereka suka Bermain dengan ayat-ayat Al-Qur’an</strong></p>
<blockquote><p>Al-Islam.org (situs Syi’ah) berkata:</p>
<p><em>Di tempat ini, ayat Al-Qur’an berikut ini diturunkan :</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia… (Qur’an 5:67)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Kalimat terakhir pada ayat di atas mengindikasikan bahwa Nabi (s) begitu perhatian dengan reaksi dari umatnya ketika beliau menyampaikan risalah, tetapi Allah memberitahukan kepada beliau untuk tidak khawatir karena Allah akan melindungi beliau dari gangguan manusia.</em></p></blockquote>
<p>Ini adalah klaim yang sering diulang oleh Syi’ah, yaitu bahwa ayat 5:67 diturunkan sehubungan dengan penunjukkan Ali ra sebagai Khalifah; dengan kata lain, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam seharusnya tidak khawatir tentang reaksi buruk dari sahabat terhadap deklarasi mengenai Imamah ataupun Khilafah Ali ra.</p>
<p>Seperti kasus yang biasa terjadi, para da’i Syi’ah tidak mempunyai keberatan bermain-main dengan Al-Qur’an dan menggunakan Al-Qur’an sesuai kehendak mereka. Pada kenyataannya, ayat 5:67 tidak mungkin diturunkan dalam hubungannya dengan penunjukkan Ali ra, yaitu karena ayat tersebut ditujukan kepada Ahlul Kitab ( Yahudi dan Nashrani). Syi’ah mengambil ayat tersebut di luar konteksnya, tanpa mempertimbangkan ayat-ayat yang berada tepat sebelum dan sesudahnya. Mari kita lihat :</p>
<blockquote><p>66. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.</p>
<p>67. Hai Rasul, sampaikanlah <strong><em><span style="text-decoration:underline;">apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu</span></em></strong>. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.</p>
<p>68. Katakanlah: &#8220;Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.&#8221; Sesungguhnya <strong><em><span style="text-decoration:underline;">apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu</span></em></strong> akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.</p></blockquote>
<p>Jadi kita lihat bahwa ayat sebelum dan sesudahnya berbicara mengenai Ahlul Kitab, dan dalam konteks ini ayat 5:67 diturunkan, untuk meyakinkan kembali Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau seharusnya tidak takut terhadap kaum Yahudi ataupun Nashrani dan bahwa beliau seharusnya menyampaikan dengan jelas Risalah Islam dimana akan dibuat tertinggi di atas kaum Yahudi dan Nashrani. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam diceritakan dalam ayat 5:67 bahwa beliau tidak seharusnya takut gangguan atau niat buruk dari orang-orang ini, dan dalam ayat selanjutnya 5:68 Allah berfirman bahwa apa yang diturunkan kepada beliau hanya akan “menambah kedurhakaan dan kekafiran pada kebanyakan dari mereka”. Ini adalah sangat jelas bahwa kita sedang membicarakan kelompok manusia yang sama, yaitu orang kafir diantara ahlul kitab yang membuat gangguan dan yang menjadi keras kepala dalam kedurhakaan dan kekafiran. Kita akan melihat dengan semakin jelas hubungan kedua ayat tersebut dengan memperhatikan kata kunci (key words) korelasi antara ayat 67 dan 68, yaitu terletak pada <strong>مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ</strong> “<strong><em>apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu” </em></strong>. silahkan dilihat tulisan yang kami cetak tebal dan digaris bawahi di dua ayat tersebut.</p>
<p>Pada kenyataannya, seluruh bagian dari ayat-ayat tersebut membicarakan tentang Ahlul Kitab. Dimulai dari ayat 5:59 dan terus berlanjut sampai 5:86, mari kita perhatikan :</p>
<p><em><span style="color:#008000;">59. Katakanlah: &#8220;Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik ?</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">60. Katakanlah: &#8220;Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?.&#8221; Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">61. Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan: &#8220;Kami telah beriman&#8221;, padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (daripada kamu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">62. Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">63. Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">64. Orang-orang Yahudi berkata: &#8220;Tangan Allah terbelenggu&#8221;, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila&#8217;nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">65. Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">66. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.</span></em></p>
<p><strong><em><span style="color:#008000;">67. Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.</span></em></strong></p>
<p><em><span style="color:#008000;">68. Katakanlah: &#8220;Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.&#8221; Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">69. Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">70. Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">71. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam&#8221;, padahal Al Masih (sendiri) berkata: &#8220;Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.&#8221; Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">73. Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: &#8220;Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga&#8221;, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">74. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya ?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">75. Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">76. Katakanlah: &#8220;Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?&#8221; Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">77. Katakanlah: &#8220;Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.&#8221;</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">78. Telah dila&#8217;nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">79. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">80. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">81. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: &#8220;Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.&#8221; Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">83. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.).</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">84. Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?.&#8221;</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">85. Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).</span></em></p>
<p><em><span style="color:#008000;">86. Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka.</span></em></p>
<p>Sangat jelas sekali bahwa semua ayat-ayat di atas berbicara mengenai kaum Yahudi dan Nashrani, dan sungguh tidak masuk akal, kaum Syi’ah bisa “<em>Cut &#38; Paste</em>” ayat Al-Qur’an sesuai dengan keinginan mereka. Ini adalah bentuk manipulasi terhadap firman Allah dan sebuah dosa yang besar yang akan membawa mereka kepada kekufuran. Namun juga, anda akan masih temui kaum Syi’ah secara umum mengklaim bahwa ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan Pidato di Ghadir Khum dan penunjukkan Ali ra. Jadi ini adalah tujuan akhir dari da’i Syi’ah dengan memutar balikkan Al-Qur’an dan hadits untuk menciptakan dongeng imajinasi bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menunjuk Ali ra sebagai khalifah.</p>
<blockquote><p>Al-Islam.org berkata:</p>
<p><em>Di tempat ini, ayat Al-Qur’an berikut ini diturunkan :</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia… (Qur’an 5:67)</em></p>
<p>Beberapa referensi Sunni mengkonfirmasi bahwa turunnya ayat di atas terjadi tepat sebelum pidato Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam di Ghadir Khum:</p>
<p>(12)     Dan banyak lagi seperti Ibnu Mardawaih dan lain-lain.</p>
<p>(1)         Tafsir al-Kabir, oleh Fakhr al-Razi, komentar untuk ayat 5:67, jilid 12, hal 49-50, diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Al-Bara’ bin Azib, dan Muhammad bin Ali.</p>
<p>(2)         Asbabun al-Nuzul, oleh Al-Wahidi, hal 150, diriwayatkan dari Athiyah dari Abu Sa’id Al-Khudri.</p>
<p>(3)         Nuzul al-Qur’an, oleh al-Hafidz Abu Nu’aim diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri.</p>
<p>(4)         Al-Fushul al-Muhimmah, oleh Ibnu Sabagh al-Maliki al-Makki, hal 24</p>
<p>(5)         Durr al-Mantsur, oleh al-Hafidz As-Suyuthi, komentar terhadap ayat 5:67</p>
<p>(6)         Fathul Qadir, oleh as-Syaukani, komentar terhadap ayat 5:67</p>
<p>(7)         Fathul Bayan, oleh Hasan Khan, komentar terhadap ayat 5:67</p>
<p>(8)         Syaikh Muhi al-Din al-Nawawi, komentar terhadap ayat 5:67</p>
<p>(9)         Al-Sirah al-Halabiyah, oleh Nur al-Din al-Halabi, jil 3 , hal 301</p>
<p>(10)     Umdatul Qari fi Syarah Shahih Bukhari, oleh al-Ayni</p>
<p>(11)     Tafsir al-Nisaburi, jil 6, hal 194</p></blockquote>
<p>Para da’i Syi’ah telah berdusta, tidak ada cara lain untuk menggambarkan tentang mereka itu, mereka menjadi terkenal kejahatannya karena kutipan sepotong-sepotong mereka. Di atas, Syi’ah memberikan dua belas sumber, Kita tampilkan saja sumber yang pertama, sedangkan sumber-sumber yang lain pada dasarnya setelah diteliti sanadnya lemah dan tidak bisa dipakai sebagai hujjah. Dasar pertama yang mereka pakai adalah Tafsir Al-Kabir Imam ar-Razi, Syi’ah mencoba membodohi Sunni dengan membuat seakan-akan Imam ar-Razi percaya bahwa ayat 5:67 ini turun di Ghadir Khum. Pada kenyataannya, Imam Razi mengatakan hal yang sungguh berlawanan dengan apa yang ada dalam kitabnya.</p>
<p>Imam Razi menyebutkan berbagai macam pendapat orang mengenai turunnya ayat tersebut. Beliau mendaftar 10 kemungkinan ketika ayat tersebut turun. Hal yang sudah diketahui dengan baik bahwa kebiasaan para ulama mendaftar adalah pandangan atau pendapat yang paling penting ditempatkan pada urutan yang pertama sedangkan yang paling tidak penting ditempatkan pada urutan yang terakhir. Ini seharusnya menarik para pendusta Syi’ah untuk mengetahui bahwa Imam Razi menyebutkan Ghadir Khum tetapi beliau tempatkan di urutan yang paling akhir, artinya dalam pandangan beliau hal tersebut adalah pendapat yang paling lemah yang mungkin terjadi.</p>
<p>Kita akan menampilkan komentar dari Imam Razi satu demi satu :</p>
<blockquote><p><em>Para ulama tafsir menyebutkan banyak sebab turunnya wahyu tersebut :</em></p>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li><em>Ayat ini diturunkan sebagai contoh untuk Rajam dan Pembalasan sebagaimana yang disebutkan sebelumnya dalam kisah mengenai kaum Yahudi.</em></li>
<li><em>Sebab ayat ini diturunkan karena celaan dan olok-olok terhadap agama oleh kaum Yahudi, dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam hanya diam terhadap mereka, hingga ayat ini turun.</em></li>
<li><em>Ketika ayat berupa pilihan diturunkan, dimana bunyinya “wahai Nabi, katakan pada istri-istrimu” (QS 33:28), Nabi tidak menyampaikan ayat tersebut kepada mereka karena khawatir mereka akan memilih dunia, dan hingga ayat ini (5:67) turun.</em></li>
<li><em>Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Zaid dan Zainab binti Jahsiy ra, Aisyah ra berkata : barang siapa menganggap Rasulullah menyembunyikan sebagian dari apa yang diturunkan kepadanya, maka dia telah melakukan kebohongan yang besar terhadap Allah, Allah telah berfirman : “Wahai rasul sampaikanlah..” dan apakah Rasulullah menyembunyikan sebagian dari apa yang diturunkan kepadanya, beliau akan menyembunyikan juga firman-Nya :”Dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya” (33:37).</em></li>
<li><em>Ini diturunkan berkaitan dengan jihad, kaum munafik membencinya, sedangkan beliau selalu menahan diri untuk mendesak mereka untuk berjihad.</em></li>
<li><em>Ketika firman Allah sedang turun :”</em><em> </em><em>Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” (6:108), Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menahan dari mencaci sesembahan mereka, hingga ayat ini turun, dan Dia (Allah) berfirman : “Sampaikan.. “ kesalahan/kecaman tentang tuhan-tuhan mereka dan jangan sembunyikan, dan Allah akan melindungimu dari mereka.</em></li>
<li><em>Ayat ini diturunkan sehubungan dengan orang-orang Muslim yang benar, karena pada haji terakhir sesudah beliau mendeklarasikan aturan-aturan dan ritual haji, beliau berkata “ Sudahkan saya menyampaikan (nya kepadamu)? Mereka menjawab : Ya. Beliau berkata : Ya Allah saksikanlah.</em></li>
<li><em>Telah diriwayatkan beliau istirahat di bawah sebuah pohon dalam salah satu perjalanan beliau dan menggantungkan pedang beliau di pohon, ketika seorang Badui datang saat beliau sedang tidur dan menyambar pedang sambil berkata: “ Ya Muhammad, siapa yang akan melindungimu dari ku?” beliau berkata “Allah”, kemudian tangan Badui tersebut gemetar, pedang tersebut jatuh dari tangannya, dan dia membenturkan kepalanya ke pohon sampai otaknya terburai, kemudian Allah menurunkan ayat ini dan menjelaskan bahwa Dia akan melindungi beliau dari manusia.</em></li>
<li><em>Beliau selalu takut dengan Quraisy, kaum Yahudi dan Nashrani, maka Allah menghilangkan ketakutan ini dari hati beliau dengan ayat ini.</em></li>
<li><em>Ayat ini turun untuk menekankan keunggulan Ali ra, dan ketika ayat ini turun, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memegang tangan Ali dan berkata: “Siapa yang menganggap aku Maula, Ali adalah Maula-nya juga, Ya Allah jadikan teman orang-orang yang menjadikannya teman, jadikan musuh orang-orang yang memusuhinya. Tak lama kemudian, Umar menemuinya (Ali) dan berkata : “Ya Ibnu Abi Thalib! Selamat, sekarang anda adalah Maula-ku dan Maula setiap laki-laki dan wanita beriman.” Ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Bara’ bin Azib dan Muhammad bin Ali.</em></li>
</ol>
<p><em> </em></p>
<p><em>Anda seharusnya mengetahui kejadian dengan riwayat-riwayat ini banyak jumlahnya, ini lebih banyak sesuai untuk menjelaskan ayat tersebut Allah meyakinkan beliau perlindungan terhadap persekongkolan yang licik dari kaum Yahudi dan Nashrani dan memerintahkan beliau untuk mengumumkan pernyataan tanpa ada rasa takut kepada mereka. Hal ini karena konteks sebelum dan sesudah ayat ini menunjuk kaum Yahudi dan Nashrani; suatu hal yang tidak mungkin melemparkan sebuah ayat di tengah (dari ayat-ayat lain) sehingga asing terhadap apa yang ada sebelum dan sesudahnya.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>(Tafsir Al-Kabir, Fakhr al-Razi, di bawah komentar terhadap QS 5:67, jld 12, hal 49-50)</em></p></blockquote>
<p>Dengan kata lain, Imam ar-Razi menyebutkan 10 kemungkinan tetapi beliau menyatakan bahwa hanya satu pendapat yang kuat bahwa ayat tersebut turun tentang kaum Yahudi dan Nashrani dan karena inilah mengapa beliau menyebutkan kemungkinan tersebut di urutan yang pertama.</p>
<p>Sungguh ajaib, ensiklopedia Syi’ah penipu tidak menyebutkan bahwa Imam ar-Razi menyebutkan 10 kemungkinan dan menyatakan bahwa yang paling beralasan adalah pendapat pada urutan yang pertama? Alih-alih Syi’ah bertumpu pada kutipan sepotong, sungguh, mereka adalah orang-orang yang mencintai Taqiyah dan penipuan. Kami mengingatkan kepada kaum Sunni awwam untuk tidak terkesan oleh daftar referensi mereka yang panjang.</p>
<p>Sedangkan riwayat-riwayat yang lain yang disebutkan di atas, ternyata setelah diteliti sanadnya adalah bermasalah dan lemah. Tidak bisa dipakai sebagai hujjah, dan tampaknya kurang perlu jika dipaparkan di sini karena akan banyak memakan tempat.</p>
<p>Intinya, tidak satupun sumber Sunni yang terpercaya mengatakan bahwa ayat 5:67 turun di Ghadir Khum.</p>
<p>Sebagaimana yang kita ketahui dengan baik, peristiwa Ghadir Khum terjadi dekat dengan wafatnya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, ketika seluruh jazirah Arab telah ditundukkan oleh kaum Muslimin dibawah bimbingan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, termasuk di dalamnya Nashrani di Najran dan kaum Yahudi di Yaman. Lalu apa sebenarnya yang ditakutkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menyampaikan sesuatu ketika para pengikutnya telah bertambah banyak seratus kali lipat? Tidaklah masuk akal ayat ini diturunkan pada saat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berada pada puncak kekuasaannya. Tetapi lebih masuk akal, ayat ini diturunkan jauh pada awal-awal masa kenabian beliau ketika Islam masih sedang berjuang untuk bertahan, dengan menghadapi banyak musuh disekitarnya.</p>
<blockquote><p>Al-Islam.org berkata:</p>
<p><em>Segera setelah Nabi (s) selesai menyampaikan hal itu, ayat Al-Qur’an berikut ini turun :</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni&#8217;mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (Qur’an 5:3)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Ayat di atas mengindikasikan dengan jelas Islam tanpa menjelaskan kepemimpinan sesudah Nabi (s) tidaklah sempurna, dan penyempurnaan dari agama adalah pengumuman dengan segera mengenai pengganti beliau.</em></p></blockquote>
<p>Ini adalah bikinan Syi’ah yang lain, Al-Qur’an 5:3 diturunkan pada akhir pidato perpisahan di atas bukit Arafah, hal ini tercatat dalam shahih Bukhari, shahih Muslim, al-Sunan dan lain-lain :</p>
<blockquote><p><strong><em>“ini (ayat : </em><em>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu…”) turun pada hari Jum’at, pada hari Arafah…”</em></strong></p></blockquote>
<p>Ayat ini turun di Arafah tanggal 9 Dzulhijjah pada haji Wada` ketika beliau berdiri di Arafah. Dan saat itu adalah merupakan moment yang sangat tepat bagi penutupan risalah agama.</p>
<p>Adapun Ghadir Khum terjadi sepulang beliau dari haji Wada’ menuju Madinah, berarti jarak dengan turunnya ayat ke-3 ini adalah 9 hari. Lantas bagaimana mungkin ayat 67 di atas baru turun setelah Al-Maidah ayat 3 yang merupakan ayat Al-Qur’an yang terakhir/penutup yang turun kepada Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam?!.</p>
<p>Mengapa Al-Qur’an diam seribu bahasa sehubungan dengan penunjukkan Ali ra?, pasti, Allah akan telah menyebutkannya dalam Al-Qur’an jika hal tersebut sebuah perintah yang jelas, Mengapa Allah diduga menurunkan ayat 5:67 dan 5:3 seluruhnya untuk Ali ra dan keimamahannya, tetapi Allah tidak memilih dengan cara yang sederhana dengan memasukkan nama Ali dalam ayat-ayat tersebut dan membuat nya jelas bagi kaum muslimin bahwa Ali ra adalah pemimpin kaum muslimin selanjutnya yang ditunjuk dengan jelas? Dan yang lebih membingungkan, ayat-ayat tersebut sama sekali tidak berbicara soal khalifah maupun imamah. Sungguh hal yang menakjubkan bagaimana Syi’ah selalu mengatakan bahwa ayat-ayat ini berbicara mengenai keimamahan Imam Ali ra sedangkan Allah tidak pernah menyinggungnya sama sekali.</p>
<p>Satu lagi syubhat Syi’ah adalah bahwa setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan hadits ghadir khum di atas, Umar ra dengan serta merta memberi selamat kepada Ali ra, menurut Syi’ah hal itu menunjukkan bahwa Umar ra mengakui Ali ra sebagai pemimpin. Benarkah demikian?</p>
<p><em>Tak lama kemudian, Umar menemuinya (Ali) dan berkata : “Ya Ibnu Abi Thalib! Selamat, sekarang anda adalah Maula-ku dan Maula setiap laki-laki dan wanita beriman.” </em></p>
<p>Umar ra memberi selamat kepada Ali ra di sini tetap dengan tidak bergeser dari makna Maula yaitu sebagai teman yang dicintai, jika Maula di sini diartikan Pemimpin atau Khalifah, jelas hal ini tidak mungkin karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam masih hidup di tengah-tengah mereka saat itu, tidak ada 2 khalifah dalam saat yang sama dan wilayah yang sama. Apalagi jelas Umar ra mengatakan “<em>sekarang anda adalah Maula-ku dan Maula setiap laki-laki dan wanita beriman”</em> dan Umar ra tidak mengatakan misalnya “<em>Nanti (waktu yang akan datang) anda adalah Maula-ku dan Maula setiap laki-laki dan wanita beriman”</em> .</p>
<p>Sehingga terjemahan yang tepat adalah : “<em>sekarang anda adalah teman yang aku cintai dan teman yang dicintai oleh setiap laki-laki dan wanita beriman”. </em>Gambaran situasi saat itu adalah orang-orang sedang mengkritik dan menyakiti Ali ra, dan setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda seperti di atas, Umar ra langsung memberi hadiah kepada Ali ra mendahului orang-orang yang lain untuk menghiburnya dengan kata-kata yang baik yaitu berupa ucapan selamat, hal ini menunjukkan bahwa Umar ra sangat baik dalam memuji Ali ra, yang hal ini sangat bertolak belakang dengan klaim Syi’ah yang menggambarkan permusuhan antara Umar ra dan Ali ra. Menggambarkan Umar ra sebagai penindas Ali ra. Apakah kata-kata di atas pantas diucapkan oleh seorang yang membenci Ali ra sebagaimana yang diklaim oleh Syi’ah?.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pujian yang serupa kepada Sahabat yang Lain</strong></p>
<p>Pada kenyataannya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menyebut Ali ra sebagai Maula tidak dapat digunakan sebagai bukti untuk penunjukkan Ali ra sebagai khalifah. Banyak sahabat yang lain yang dipuji dengan gaya yang serupa, dan tidak ada seorangpun memahaminya bahwa sahabat tersebut ditunjuk dengan jelas sebagai imam-imam yang maksum. Mari kita lihat contoh, kita ambil hadits yang berhubungan dengan Umar bin Khattab ra.</p>
<blockquote>
<p dir="rtl">3686 &#8211; حدثنا سلمة بن شبيب حدثنا المقرئ عن حيوة بن شريح عن بكر بن عمرو عن مشرح بن هاعان عن عقبة بن عامر قال Y قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لو كان بعدي نبي لكان عمر بن الخطاب<br />
قال هذا حديث حسن غريب لا نعرفه إلا من حديث مشرح بن هاعان K حسن <em></em></p>
<p dir="rtl"><em>(5/619)</em></p>
<p>Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, bahwasanya Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda “<strong><em>Jika ada Nabi sesudahku, tentu yang akan menjadi Nabi adalah Umar bin Khaththab</em></strong><em>.”</em>[HR. Tirmidzi, 5/619 No. 3686]</p></blockquote>
<p>Apakah kemudian kaum muslimin ahlus sunnah yang dulu sampai sekarang memahami hadits di atas sebagai bentuk penunjukkan kepada Umar ra sebagai pengganti Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam? Padahal pujian Nabi shalallahu ’alaihi wasallam tersebut sudah cukup layak sekali untuk mengatakan bahwa Umar ra pantas sebagai khalifah sepeninggal beliau, Coba anda bandingkan dengan hadits Maula dalam hadits Ghadir khum di atas.</p>
<p>Demikian juga hadits di bawah ini</p>
<blockquote><p>3689 &#8211; حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ قَزَعَةَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ كَانَ فِيمَا قَبْلَكُمْ مِنْ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ فَإِنْ يَكُ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anh</em><em>u</em>, dari Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, “<strong><em>Pada umat-umat terdahulu ada beberapa orang </em></strong><strong><em>Muhadatsun (Orang yang menerima ilham)</em></strong><strong><em>. Dan jika ada satu</em></strong><strong><em> pada </em></strong><strong><em>umatku yang seperti itu</em></strong><strong><em>, maka <a title="sohabat:umar-khattab" href="http://www.sohabat.org/doku.php?id=sohabat:umar-khattab">Umar</a></em></strong><strong><em> adalah orangnya.</em></strong>” <strong>(</strong>Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (3689) dan Muslim(<em>Fadha&#8217;ilish-Shahabah/23</em>) pada bab ”<em>min fadha&#8217;ili </em><em><a title="sohabat:umar-khattab" href="http://www.sohabat.org/doku.php?id=sohabat:umar-khattab">Umar</a></em><em> radhiyallahu &#8216;anhu</em> (keutamaan Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>”. Diriwayatkan juga oleh Tirmidzi 5/622 No. 3693)<strong>)</strong>.</p></blockquote>
<p>Coba lihat juga hadits tentang Abu Bakar ra.</p>
<blockquote><p>وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلاً وَلَكِنْ أُخُوَّةُ اْْلإِ سْلاَمِ</p>
<p><strong><em>Kalau aku mengambil seorang kekasih, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai khalil (kekasih), tetapi persaudaraan Islam lebih baik</em></strong>. (HR. Bukhari dengan Fathul Bary, juz 7, hal. 359, hadits 3654; Muslim dengan Syarh Nawawi, juz 15 hal. 146, hadits 6120)</p></blockquote>
<p><strong><em>Al-Khullah</em></strong> adalah kecintaan yang paling tinggi. Para ulama menyatakan bahwa derajat <strong><em>khullah</em></strong><em> </em>lebih tinggi dari tingkatan <strong><em>mahabbah</em></strong>. Oleh karena itu seorang yang disebut sebagai <strong><em>khalil</em></strong>, lebih tinggi kedudukannya daripada <strong><em>habib</em></strong>. Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah bahwa Allah hanya mengambil dua orang manusia sebagai <strong><em>khalil</em></strong><em>,</em> yaitu nabi Ibrahim dan Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan masalah <strong><em>mahabbah</em></strong> Allah sering menyebutkan dalam al-Qur’an, Allah mencintai orang-orang yang beriman, sabar, berjihad di jalan-Nya dan lain-lain.</p>
<p>Oleh karena itu, berdasarkan hadits-hadits ini dan banyak hadits serupa lainnya berbicara tentang sahabat yang lain, kita lihat bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menyebut Ali ra sebagai Maula (teman yang dicintai) bukanlah merupakan penunjukkan nabawiah untuk menjadikannya khalifah karena ada banyak hadits-hadits pujian serupa yang ditujukan kepada sahabat selain Ali ra. Syi’ah menolak semua hadits yang berkaitan dengan apa yang mereka tidak sukai dan menerima hanya hadits-hadits yang berhubungan dengan Ali ra. Maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Syi’ah akan menerima riwayat hadits dari “Mickey Mouse” yang isinya pujian terhadap Ali ra dan menolak hadits-hadits pujian terhadap Abu Bakar ra ataupun Umar ra dan sahabat lainnya walaupun hadits–hadits tersebut diriwayatkan oleh imam Ali ra sendiri.</p>
<p>O iya satu lagi, mari kita lihat tambahan ke dua dari hadits Ghadir khum :</p>
<blockquote><p><strong><em>&#8220;Ya Allah, jadikan teman, orang-orang yang menjadi temannya, dan jadikan musuh orang-orang yang memusuhinya”</em></strong></p></blockquote>
<p>Bandingkan dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berikut ini mengenai Abu Bakar ra.</p>
<blockquote><p><strong><em>“…</em></strong><strong><em>Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian semua (sebelum mereka masuk Islam)</em></strong><strong><em>. Namun kalian malah berkata, ‘Kamu adalah pendusta’. Berbeda dengan Abu Bakar yang membenarkan (ajaranku). Dia telah membantuku dengan jiwa dan harta bendanya. Apakah kalian akan meninggalkan aku (dengan meninggalkan) sahabatku?” Rasulullah mengucapkan kalimat itu sebanyak dua kali. Sejak itulah Abu Bakar tidak pernah disakiti (oleh seorang pun dari kaum Muslimin. (HR. Bukhari)</em></strong><strong><em></em></strong></p></blockquote>
<p>Demikianlah, cara Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam membela sahabat-sahabat beliau yang memang mereka berhak untuk beliau bela pada kondisi yang memang memerlukan pembelaan beliau, baik itu Ali ra, Abu Bakar ra ataupun sahabat yang lainnya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kesimpulan :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Al-Qur’an surat Al-Maidah : 67 dan Al-Maidah : 3 turun tidak ada hubungannya dengan peristiwa Ghadir Khum dan tidak ada hubungannya dengan penunjukkan terhadap Ali radhiyallahu ‘anhu. Dan hadits-hadits mengenai keutamaan sahabat semacam Ghadir Khum juga banyak Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ucapkan kepada sahabat-sahabat yang lain, dan tidak ada di kalangan kaum muslimin ahlus sunnah menganggap hadits-hadits keutamaan semacam itu sebagai penunjukkan khusus kepada sahabat sebagai khalifah pengganti Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.  Wallahu A’lam biShowab.</strong></p>
<p>Artikel di atas ditulis dengan banyak mengambil faedah dan disadur secara bebas dari artikel <strong>Ibn al-Hashimi, <a href="http://www.ahlelbayt.com/">www.ahlelbayt.com</a> </strong>dan dari beberapa sumber yang lain.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Talqin Mayit Setelah Meninggal Dunia]]></title>
<link>http://alqiyamah.wordpress.com/2009/11/23/talqin-mayit-setelah-meninggal-dunia/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 14:09:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>ibnu salim</dc:creator>
<guid>http://alqiyamah.wordpress.com/2009/11/23/talqin-mayit-setelah-meninggal-dunia/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Muhtar as-Sidawi hafizhahullah Taqdim Kematian adalah suatu kepa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh : Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Muhtar as-Sidawi hafizhahullah Taqdim Kematian adalah suatu kepa]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apabila Hari Raya (’Id) Bertepatan dengan Hari Jum’at]]></title>
<link>http://kautsarku.wordpress.com/2009/11/23/apabila-hari-raya-%e2%80%99id-bertepatan-dengan-hari-jum%e2%80%99at/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 07:58:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>abukautsar</dc:creator>
<guid>http://kautsarku.wordpress.com/2009/11/23/apabila-hari-raya-%e2%80%99id-bertepatan-dengan-hari-jum%e2%80%99at/</guid>
<description><![CDATA[Pertanyaan : Jika datang ‘Idul Fithri pada hari Jum’at apakah boleh bagiku untuk shalat ‘Id namun ak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="padding-left:30px;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Pertanyaan : </strong></span></p>
<p>Jika datang ‘Idul Fithri pada hari Jum’at apakah boleh bagiku untuk shalat ‘Id namun aku tidak shalat Jum’at, atau sebaliknya?</p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Dijawab oleh Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah: </strong></span></p>
<p><!--more-->Apabila Hari Raya bertepatan dengan hari Jum’at maka barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘id berjama’ah bersama imam gugur darinya kewajiban menghadiri shalat Jum’at, dan hukumnya bagi dia menjadi sunnah saja. Apabila dia tidak menghadiri shalat Jum’at maka tetap wajib atasnya shalat zhuhur. Ini berlaku bagi selain imam.</p>
<p>Adapun imam, tetap wajib atasnya untuk menghadiri Jum’at dan melaksanakannya bersama kaum muslimin yang hadir. Shalat Jum’at pada hari tersebut tidak ditinggalkan sama sekali.</p>
<p>(Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan VIII/44)</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta` (Fatwa no. 2358)</strong></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Pertanyaan : </strong></span></p>
<p>Pada tahun ini bertemu dalam sehari dua hari raya, yaitu : Hari Jum’at dan ‘Idul Adh-ha. Manakah yang benar : Kita tetap melaksanakan shalat zhuhur jika kita tidak shalat Jum’at, ataukah kewajiban shalat zhuhur gugur apabila kita tidak shalat Jum’at?</p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Jawab : </strong></span></p>
<p>Barangsiapa yang melaksanakan shalat ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka dia diberi rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at pada hari tersebut, kecuali imam. Adapun imam, tetap wajib atasnya menegakkan shalat Jum’at bersama kaum muslimin yang hadir shalat Jum’at, baik yang sudah shalat ‘Id maupun tidak shalat ‘Id. Apabila tidak ada seorang pun yang hadir, maka gugurlah kewajiban Jum’at darinya, dan dia melaksanakan shalat Zhuhur.</p>
<p>(Para ‘ulama yang berpendapat demikian) berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami berkata :<br />
<strong>« شهدت معاوية بن أبي سفيان وهو يسأل زيد بن أرقم قال: أشهدت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عيدين اجتمعا في يوم؟ قال: نعم، قال: فكيف صنع؟ قال: صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: من شاء أن يصلي فليصل</strong>،»<br />
<em>“Aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Apakah engkau menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua ‘Id bertepatan pada satu hari?” Zaid menjawab, “Ya.” Mu’awiyah bertanya lagi, “Bagaimana yang beliau lakukan?” Zaid menjawab, “Beliau mengerjakan shalat ‘Id kemudian memberikan rukhshah (keringanan) untuk shalat Jum’at. Beliau mengatakan, Barangsiapa yang hendak mengerjakan shalat (Jum’at), maka silakan mengerjakan shalat (Jum’at).”</em> [1]</p>
<p>Juga berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya juga dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :<br />
<strong>« قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمعون »</strong><br />
<em>“Telah terkumpul pada hari kalian ini dua ‘Id. Barangsiapa yang mau maka itu sudah mencukupinya dari shalat Jum’at. Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id).” </em>[2]</p>
<p>Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa rukhshah (keringanan) tersebut untuk shalat Jum’at bagi barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘Id pada hari tersebut.</p>
<p>Sekaligus diketahui bahwa tidak berlaku rukhshah bagi imam, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tersebut, “Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id).” Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma :<br />
<strong>« أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما </strong>»<br />
<em>“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (”Id dan Jum’at).”<br />
</em><br />
Barangsiapa yang tidak menghadiri shalat Jum’at bagi yang telah menunaikan shalat ‘Id, maka tetap wajib atasnya untuk shalat Zhuhur, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban shalat Zhuhur bagi yang tidak shalat Jum’at.<br />
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.</p>
<p>Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta`<br />
Ketua               : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz<br />
Wakil Ketua     : ‘Abdurrazzaq ‘Afifi<br />
Anggota           : ‘Abdullah bin Ghudayyan<br />
Anggota           : ‘Abdullah bin Qu’ud.</p>
<p>* * *</p>
<p>Adapun dalam fatwo 2140, Al-Lajnah menyatakan sebagai berikut :</p>
<p>Apabila ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka gugur kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang telah menunaikan shalat ‘Id. Kecuali bagi imam, kewajiban shalat Jum’at tidak gugur darinya. Terkecuali apabila memang tidak ada orang yang berkumpul/hadir (ke masjid) untuk shalat Jum’at.</p>
<p>Di antara yang berpendapat demikian adalah adalah : Al-Imam Asy-Sya’bi, Al-Imam An-Nakha’i, Al-Imam Al-Auza’i. Ini adalah madzhab shahabat ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Sa’id, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhum dan para ‘ulama yang sependapat dengan mereka. … .</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah</strong></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Pertanyaan : </strong></span></p>
<p>Apa hukum shalat Jum’at jika bertepatan dengan hari ‘Id, apakah wajib menegakkannya atas seluruh kaum muslimin, ataukah hanya wajib atas sekelompok tertentu saja? Karena sebagian orang berkeyakinan bahwa apabila hari ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at berarti tidak ada shalat shalat Jum’at.</p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Jawab : </strong></span></p>
<p>Tetap wajib atas imam dan khathib shalat Jum’at untuk menegakkan shalat Jum’at, hadir ke masjid, dan shalat berjama’ah mengimami orang-orang yang hadir di masjid. Karena dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan shalat Jum’at pada hari ‘Id, beliau ‘alahish  shalatu was salam melaksanakan shalat ‘Id dan shalat Jum’at. Terkadang beliau dalam shalat ‘Id dan shalat Jum’at sama-sama membaca surat Sabbihisma dan surat Al-Ghasyiyah, sebagaimana dikatakan oleh shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma dalam riwayat yang shahih dari beliau dalam kitab Shahih (Muslim).</p>
<p>Namun bagi orang yang yang telah melaksanakan shalat ‘Id, boleh baginya untuk meninggalkan shalat Jum’at dan hanya melaksanakan shalat Zhuhur di rumahnya atau berjama’ah dengan beberapa orang saudaranya, apabila mereka semua telah melaksanakan shalat ‘Id.</p>
<p>Apabila dia melaksanakan shalat Jum’at berjama’ah maka itu afdhal (lebih utama) dan akmal (lebih sempurna). Namun apabila ia meninggalkan shalat Jum’at, karena ia telah melaksanakan shalat ‘Id, maka tidak mengapa, namun tetap wajib atasnya melaksanakan shalat Zhuhur, baik sendirian ataupun berjama’ah.</p>
<p>Wallahu Waliyyut Taufiq</p>
<p>(Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XII/341-342)</p>
<p>* * *</p>
<p>Dalam fatwanya yang lain, ketika beliau mengingkari pendapat yang menyatakan bahwa jika ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id gugur kewajiban shalat Jum’at dan shalat Zhuhur sekaligus, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan :</p>
<p>“Ini juga merupakan kesalahan yang sangat jelas. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan atas hamba-hamba-Nya  shalat 5 waktu dalam sehari semalam, dan kaum muslimin telah berijma’ atas kewajiban tersebut. Yang kelima pada hari Jum’at adalah kewajiban shalat Jum’at. Hari ‘Id apabila bertepatan dengan hari Jum’at termasuk dalam kewajiban tersebut. Kalau seandainya kewajiban shalat Zhuhur gugur dari orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengingatkan hal tersebut. Karena ini merupakan permasalahan yang tidak diketahui oleh umat. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat ‘Id dan tidak menyebutkan gugurnya kewajiban shalat Zhuhur, maka diketahui bahwa kewajiban (shalat Zhuhur) tersebut masih tetap berlaku. Berdasarkan hukum asal dan dalil-dalil syar’i, serta ijma’ (kaum muslimin) atas kewajiban shalat 5 waktu dalam sehari semalam.</p>
<p>Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melaksanakan shalat Jum’at pada (hari yang bertepatan dengan) hari ‘Id, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya dari shahabat An-Nu’man bin Basyir :<br />
<strong>« أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما »</strong><br />
<em>“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (”Id dan Jum’at).”<br />
</em><br />
Adapun apa yang diriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin Az-Zubair bahwa beliau melaksanakan shalat ‘Id kemudian tidak keluar lagi baik untuk shalat Jum’at maupun shalat Zhuhur, maka itu dibawa pada kemungkinan bahwa beliau memajukan shalat Jum’at, dan mencukupkan dengan itu dari mengerjakan shalat ‘Id dan shalat Zhuhur. Atau pada kemungkinan bahwa beliau berkeyakinan bahwa imam pada hari tersebut memiliki hukum yang sama dengan yang lainnya, yaitu tidak wajib keluar untuk melaksanakan shalat Jum’at, namun beliau tetap shalat Zhuhur di rumahnya. Kemungkinan mana pun yang benar, kalau pun taruhlah yang benar dari perbuatan beliau bahwa beliau berpendapat gugurnya kewajiban shalat Jum’at dan Zhuhur yang sudah shalat ‘Id maka keumuman dalil-dalil syar’i, prinsip-prinsip yang diikuti, dan ijma’ yang ada bahwa wajib shalat Zhuhur atas siapayang tidak shalat Jum’at dari kalangan para mukallaf, itu semua lebih dikedepankan daripada apa yang diamalkan oleh Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu. … .</p>
<p>(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XXX/261-262)</p>
<p>* * *</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah :</p>
<p>Kenyataannya masalah ini terdapat perbedaan di kalangan ‘ulama rahimahumullah. Pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh As-Sunnah, bahwa ….</p>
<p>Kita katakan, Apabila hari Jum’at bertepatan dengan ‘Id maka engkau wajib shalat ‘Id. Barangsiapa yang telah melaksanakan shalat ‘Id, maka bagi dia bebas memilih apakah dia mau hadir shalat Jum’at bersama imam, ataukah ia shalat Zhuhur di rumahnya.</p>
<p>Kedua, tetap wajib mengadakan shalat Jum’at di suatu negeri/daerah. Barangsiapa yang hadir maka dia shalat Jum’at, barangsiapa yang tidak hadir maka dia shalat Zhuhur di rumahnya.</p>
<p>Ketiga, pada hari itu shalat Zhuhur tidak dilaksanakan di masjid, karena yang wajib dilaksanakan adalah shalat Jum’at, sehingga tidak dilakukan shalat Zhuhur (di masjid).</p>
<p>Inilah pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh dalil-dalil As-Sunnah.</p>
<p>(Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb – Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)</p>
<p>* * *</p>
<p>[1] HR. Ahmad (IV/372), Abu Dawud 1070, An-Nasa`i 1591, Ibnu Majah 1310. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Madini, Al-Hakim, dan Adz-Dzahabi. Dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud – Al-Umm no. 981. (pent)</p>
<p>[2] HR. Abu Dawud 1073, Ibnu Majah 1311. dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud – Al-Umm no. 983.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=402" target="_blank">http://www.assalafy.org/mahad/?p=402</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sabar]]></title>
<link>http://ibnumajjah.wordpress.com/2009/11/23/sabar/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 22:00:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ibnu Majjah</dc:creator>
<guid>http://ibnumajjah.wordpress.com/2009/11/23/sabar/</guid>
<description><![CDATA[Nama ebook: Sabar-Riyadhus Shalihin Penulis: Imam An-Nawawi Asy-Syafi&#8217;i رحمه الله Format file:]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>
<div>
<p>Nama ebook: <strong>Sabar-Riyadhus Shalihin</strong><br />
Penulis:<strong> Imam An-Nawawi Asy-Syafi&#8217;i رحمه الله</strong><br />
Format file: chm, ukuran File: 87,3 kb, download <a href="http://www.mediafire.com/file/fnqm5mzmmj3/Sabar-Riyadhus Shalihin.chm" target="_blank">disini</a></p>
<p style="text-align:justify;">Pengantar:<br />
Sabar adalah kata yang mudah diucapkan, namun tidaklah mudah dalam merealisasikannya, Orang yang dapat merealisasikannya maka Allah akan bersamanya.<br />
Allah Ta&#8217;ala berfiman:</p>
<p>Ayat-ayat Al-Qur&#8217;an<!-- body {   margin: 5px 5px 5px 5px;   background-color: #ffffff; } /* ========== Text Styles ========== */ hr { color: #000000} body, table /* Font Style */ {  font-size: 12pt;  font-family: 'Traditional Arabic';  font-style: normal;  font-weight: normal;  color: #000000;  text-decoration: none; } span.rvts1 /* Heading */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  font-weight: bold;  color: #0000ff; } span.rvts2 /* Subheading */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  font-weight: bold;  color: #000080; } span.rvts3 /* Keywords */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  font-style: italic;  color: #800000; } a.rvts4, span.rvts4 /* Jump 1 */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  color: #000080;  text-decoration: underline; } a.rvts5, span.rvts5 /* Jump 2 */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  color: #000080;  text-decoration: underline; } span.rvts6 /* Font Hint */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  color: #a0a0a0; } span.rvts7 /* Font Hint Title */ {  font-size: 15pt;  font-family: 'Tahoma', 'Geneva', sans-serif;  font-weight: bold;  color: #696969; } span.rvts8 /* Font Hint Bold */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  font-weight: bold;  color: #a0a0a0; } span.rvts9 /* Font Hint Italic */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  font-style: italic;  color: #a0a0a0; } span.rvts10 {  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif; } span.rvts11 {  font-size: 20pt;  font-family: 'Traditional Arabic (Arabic)'; } span.rvts12 {  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  font-style: italic; } span.rvts13 {  font-size: 20pt; } span.rvts14 /* Font Style */ {  font-size: 16pt;  font-family: 'Tahoma', 'Geneva', sans-serif;  color: #ffffff; } span.rvts15 /* Font Style */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'MS Sans Serif', 'Geneva', sans-serif;  color: #808080; } span.rvts16 /* Font Style */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Verdana', 'Geneva', sans-serif;  font-style: italic;  color: #c0c0c0; } a.rvts17, span.rvts17 /* Font Style */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Verdana', 'Geneva', sans-serif;  font-style: italic;  color: #6666ff;  text-decoration: underline; } /* ========== Para Styles ========== */ p,ul,ol /* Paragraph Style */ {  text-align: left;  text-indent: 0px;  padding: 0px 0px 0px 0px;  margin: 0px 0px 0px 0px; } .rvps1 /* Centered */ {  text-align: center; } .rvps2 {  text-align: justify;  text-indent: 38px;  margin: 5px 0px 5px 0px; } .rvps3 {  text-align: right;  margin: 5px 0px 5px 0px; } .rvps4 {  text-align: right;  margin: 5px 0px 5px 0px; } .rvps5 /* Paragraph Style */ {  background: #9fbed0;  padding: 5px 5px 2px 5px;  margin: -5px -5px 18px -5px; } .rvps6 /* Paragraph Style */ {  text-align: center;  background: #e4e4e4;  margin: 20px 0px 0px 0px; } .rvps7 /* Paragraph Style */ {  border-color: #c0c0c0;  border-style: solid;  border-width: 1px;  border-right: none;  border-bottom: none;  border-left: none;  background: #ffffff;  padding: 3px 0px 0px 0px;  margin: 27px 0px 0px 0px; } --></p>
<p style="text-align:right;">اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ  اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Jadikanlah sabar  dan shalat sebagai penolongmu , sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang  sabar.&#8221; (al-Baqarah: 153)</p>
<p>Rasulullah bersabda:</p>
<p><!-- body {   margin: 5px 5px 5px 5px;   background-color: #ffffff; } /* ========== Text Styles ========== */ hr { color: #000000} body, table /* Font Style */ {  font-size: 12pt;  font-family: 'Traditional Arabic';  font-style: normal;  font-weight: normal;  color: #000000;  text-decoration: none; } span.rvts1 /* Heading */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  font-weight: bold;  color: #0000ff; } span.rvts2 /* Subheading */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  font-weight: bold;  color: #000080; } span.rvts3 /* Keywords */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  font-style: italic;  color: #800000; } a.rvts4, span.rvts4 /* Jump 1 */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  color: #000080;  text-decoration: underline; } a.rvts5, span.rvts5 /* Jump 2 */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  color: #000080;  text-decoration: underline; } span.rvts6 /* Font Hint */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  color: #a0a0a0; } span.rvts7 /* Font Hint Title */ {  font-size: 15pt;  font-family: 'Tahoma', 'Geneva', sans-serif;  font-weight: bold;  color: #696969; } span.rvts8 /* Font Hint Bold */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  font-weight: bold;  color: #a0a0a0; } span.rvts9 /* Font Hint Italic */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif;  font-style: italic;  color: #a0a0a0; } span.rvts10 {  font-size: 18pt;  font-family: 'Traditional Arabic (Arabic)'; } span.rvts11 {  font-size: 18pt;  font-family: 'Traditional Arabic (Arabic)';  color: #0000ff; } span.rvts12 {  font-family: 'Arial (Arabic)'; } span.rvts13 {  font-family: 'Arial', 'Helvetica', sans-serif; } span.rvts14 /* Font Style */ {  font-size: 16pt;  font-family: 'Tahoma', 'Geneva', sans-serif;  color: #ffffff; } span.rvts15 /* Font Style */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'MS Sans Serif', 'Geneva', sans-serif;  color: #808080; } span.rvts16 /* Font Style */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Verdana', 'Geneva', sans-serif;  font-style: italic;  color: #c0c0c0; } a.rvts17, span.rvts17 /* Font Style */ {  font-size: 10pt;  font-family: 'Verdana', 'Geneva', sans-serif;  font-style: italic;  color: #6666ff;  text-decoration: underline; } /* ========== Para Styles ========== */ p,ul,ol /* Paragraph Style */ {  text-align: left;  text-indent: 0px;  padding: 0px 0px 0px 0px;  margin: 0px 0px 0px 0px; } .rvps1 /* Centered */ {  text-align: center; } .rvps2 {  text-align: right;  margin: 5px 0px 5px 0px; } .rvps3 {  text-align: justify;  text-indent: 38px;  margin: 5px 0px 5px 0px; } .rvps4 /* Paragraph Style */ {  background: #9fbed0;  padding: 5px 5px 2px 5px;  margin: -5px -5px 18px -5px; } .rvps5 /* Paragraph Style */ {  text-align: center;  background: #e4e4e4;  margin: 20px 0px 0px 0px; } .rvps6 /* Paragraph Style */ {  border-color: #c0c0c0;  border-style: solid;  border-width: 1px;  border-right: none;  border-bottom: none;  border-left: none;  background: #ffffff;  padding: 3px 0px 0px 0px;  margin: 27px 0px 0px 0px; } --></p>
<p style="text-align:right;">وَعَنْ أبي يَحْيَى صُهَيْبِ بْنِ سِنَانٍ  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم :  «عَجَباً لأمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ  لَهُ خَيْرٌ ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأِحَدٍ إِلاَّ للْمُؤْمِن : إِنْ أَصَابَتْهُ  سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ  فَكَانَ خيْراً لَهُ » رواه مسلم ‏‏.‏</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Yahya, iaitu Shuhaib bin Sinan  رضي الله عنه, katanya:  Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda: &#8220;Amat mengherankan sekali keadaan orang  mu&#8217;min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya  dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seseorang pun melainkan  hanya untuk orang mu&#8217;min itu belaka, iaitu apabila ia mendapatkan kelapangan  hidup, ia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang  apabila ia ditimpa oleh kesukaran ia pun  bersabar dan hal ini pun adalah merupakan kebaikan baginya.&#8221; (Riwayat  Muslim)</p>
<p><a href="http://www.mediafire.com/file/fnqm5mzmmj3/Sabar-Riyadhus Shalihin.chm" target="_blank">Download Sabar-Riyadhus Shalihin</a><br />
Tulisan terkait:<br />
<a href="http://ibnumajjah.wordpress.com/2009/08/13/keutamaan-menuntut-ilmu-dan-mengajarkannya-karena-allah/" target="_blank">Keutamaan Menuntut Ilmu dan Mengajarkannya Karena Allah</a></p>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Para Ulama Ahlul Hadits]]></title>
<link>http://abuzahrakusnanto.wordpress.com/2009/11/22/para-ulama-ahlul-hadits/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 15:20:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuzahrakusnanto</dc:creator>
<guid>http://abuzahrakusnanto.wordpress.com/2009/11/22/para-ulama-ahlul-hadits/</guid>
<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman sahabat hingga sekarang yan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman sahabat hingga sekarang yan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AMAL TIDAK DAPAT MEMASUKKAN SESEORANG KE DALAM SURGA?]]></title>
<link>http://duduksebentar.wordpress.com/2009/11/22/amal-tidak-dapat-memasukkan-seseorang-ke-dalam-surga/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 14:27:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>duduksebentar</dc:creator>
<guid>http://duduksebentar.wordpress.com/2009/11/22/amal-tidak-dapat-memasukkan-seseorang-ke-dalam-surga/</guid>
<description><![CDATA[Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, nabi bersabda : ((لَنْ يَدْخُلَ ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, nabi bersabda :<br />
((لَنْ يَدْخُلَ أَحَدٌ الجَنَّةَ بِعَمَلِهِ)) قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ ((وَلاَ أَنا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَدني اللهُ بِرَحْمَتِهِ))<br />
 “Seseorang tidak akan masuk surga dengan amalnya”. Kemudian para sahabat bertanya, “Tidak pula engkau wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Tidak pula aku. Akan tetapi Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” (HR Bukhari, Muslim)</p>
<p>Benarkah amal tidak dapat memasukkan seseorang ke dalam surga?</p>
<p>Banyak sekali ayat Al Quran maupun hadits-hadits Nabi yang menjelaskan bahwa amal shalih merupakan sebab seseorang dimasukkan ke dalam surga. Namun dalam hadits di atas Nabi secara jelas mengatakan bahwa seseorang tidak akan masuk surga dengan amalnya. Tentu hal ini akan menyisakan pertanyaan, karena seolah-olah hadits ini bertolak belakang dengan keterangan-keterangan yang telah ada. </p>
<p>Amal tidak cukup untuk menebus surga</p>
<p>Secara bahasa, “seseorang tidak masuk ke dalam surga dengan amalnya” bisa memiliki dua makna :<br />
Surga sebagai ganti amal yang dilakukan, atau dengan kata lain surga ditukar dengan amal<br />
Seseorang masuk surga dengan sebab amal yang dilakukan<br />
Kedua hal di atas tentu saja berbeda. Makna pertama, surga adalah alat tukar atas amal. Andaikata amal hendak ditukar dengan surga, maka ini tidak mungkin. Bahkan seluruh amal seseorang tidak akan sanggup menyetarai satu nikmat saja. Jika untuk menukar nikmat dunia dengan amal saja tidak bisa, apalagi untuk menukar dengan yang lebih tinggi berupa surga, tentu lebih tak terbayarkan. Bahkan jika direnungi, amal baik seseorang di dunia itu sendiri merupakan keutamaan dan nikmat, apalagi jika amal shalih tersebut dilakukan secara kontinyu, maka dengan komputer atau kalkulator model mana kita bisa menghitung nikmat-nikmat itu?<br />
Jadi makna hadits sebagaimana dijelaskan oleh para ulama ialah bahwa seseorang tidak mendapat surga sebagai ganti dari amalnya yang ada di dunia, atau seseorang tidak masuk surga semata-mata karena amalnya. Akan tetapi Allah –dengan keutamaan dan rahmat-Nya- menjadikan amal yang dilakukan di dunia sebagai sebab bagi seseorang untuk masuk surga.<br />
Wallahu a’lamu bish showab</p>
<p>Rantau, 22 November 2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[E-book] Matan Hadits Arba'in An Nawawiyah with Audio]]></title>
<link>http://atstsurayya.wordpress.com/2009/11/22/e-book-matan-hadits-arbain-an-nawawiyah-with-audio/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 09:35:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>atstsurayya</dc:creator>
<guid>http://atstsurayya.wordpress.com/2009/11/22/e-book-matan-hadits-arbain-an-nawawiyah-with-audio/</guid>
<description><![CDATA[Berikut adalah E-book tentang “Matan Hadits Arba&#8217;in An Nawawiyah with Audio” :      ·  Matan H]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" title="graphic1" src="http://atstsurayya.wordpress.com/files/2009/03/graphic1.jpg?w=150" alt="graphic1" width="93" height="86" /></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;color:black;" lang="IN">Berikut adalah E-book tentang “Matan Hadits Arba&#8217;in An Nawawiyah with Audio” :</span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;color:black;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Symbol;color:black;" lang="EN-GB">     ·<span style="font-family:&#38;line-height:normal;">  </span></span><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;color:black;" lang="IN">Matan Hadits Arba&#8217;in An Nawawiyah with Audio<strong>&#124;<a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/atstsurayya/Ebook/Matan%20Arba_%27in%20An%20Nawawiyah%20%20with%20Audio%20v1.00.rar">Download</a></strong></span><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;color:black;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;color:black;" lang="EN-GB"> </span><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;color:black;" lang="IN"><span style="text-decoration:none;"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:8.5pt;line-height:150%;font-family:Verdana;color:black;" lang="IN">Untuk mendownload file dengan cara mengklik kiri pada kata <strong>Download</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Inilah Jawaban Ilmiah Atas Film 2012]]></title>
<link>http://kautsarku.wordpress.com/2009/11/22/inilah-jawaban-ilmiah-atas-film-2012/</link>
<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 18:22:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>abukautsar</dc:creator>
<guid>http://kautsarku.wordpress.com/2009/11/22/inilah-jawaban-ilmiah-atas-film-2012/</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Sofyan Chalid Bin Idham Ruray حفظه الله تعالى وغفر له ولوالديه ولجميع المسلمين Kiamat 2012 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Penulis: Sofyan Chalid Bin Idham Ruray<br />
<em>حفظه الله تعالى وغفر له ولوالديه ولجميع المسلمين</em></p>
<p>Kiamat 2012 mengguncang dunia, demikian headline di beberapa media massa akhir-akhir ini, ternyata isi beritanya tentang sambutan gegap gempita dari masyarakat dunia terhadap sebuah film yang bercerita tentang terjadinya kiamat pada tahun 2012. Film ini diangkat dari ramalan bangsa Maya kuno paganis yang berasal dari Meksiko, bahwa kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012.</p>
<p>Berbicara tentang ramalan kiamat sebenarnya bukan hal baru, banyak sekali paranormal dan tukang ramal sejak dulu telah menyesatkan masyarakat dengan ramalan waktu terjadinya kiamat, namun satu yang pasti: semua ramalan tersebut tidak pernah terbukti sama sekali. Anehnya masih banyak juga yang mau percaya, bahkan rela merogoh kocek hanya demi menonton film tersebut.<br />
<!--more-->Meski kami tahu, alhamdulillah kaum muslimin pada umumnya tidak mudah terpengaruh untuk percaya dengan ramalan-ramalan tersebut, bahkan ada seorang muslim yang sangat awam mengatakan, “kiamat di tangan Allah bukan di tangan orang-orang Hollywood”.</p>
<p>Akan tetapi kewajiban kita sebagai muslim untuk saling menasihati, mengingatkan saudara-saudara kita, ternyata ada bahaya besar di balik film tersebut, yaitu bahaya atas aqidah seorang muslim.</p>
<p><big><strong>Ilmu ghaib hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala</strong></big></p>
<p>Apa yang akan terjadi di masa depan temasuk perkara ghaib, tidak ada yang memiliki ilmunya, baik malaikat, manusia maupun jin, kecuali Allah Ta’ala. Ini adalah salah satu pokok keimanan yang harus diyakini oleh setiap hamba.</p>
<p>Maka termasuk kesyirikan:<br />
1. Apabila seorang mengaku mengetahui ilmu ghaib,<br />
2. Apabila seorang mempercayai ada selain Allah yang mengetahui ilmu ghaib.<br />
Karena pengetahuan tentang ilmu ghaib merupakan kekhususan bagi Allah Tabaraka wa Ta’ala. Sebagaimana yang Allah Ta’ala tegaskan dalam banyak ayat, diantaranya:</p>
<p>قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ</p>
<p>“Katakanlah, “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui hal ghaib, kecuali Allah Ta’ala” Dan mereka tidak mengetahui bilakah mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml: 65)</p>
<p>وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ</p>
<p>“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya melainkan Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan dan tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahui, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (lauhul mahfudz)” (QS. Al-An`am: 59)</p>
<p><big><strong>Hukum mempercayai ramalan</strong></big></p>
<p>Kewajiban setiap hamba untuk mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang mengetahui ilmu ghaib. Oleh karenanya, barangsiapa yang mempercayai ramalan dukun, paranormal, tukang ramal ataupun ramalan bintang tentang masa depan berarti dia telah menyekutukan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menegaskan:</p>
<p>مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم</p>
<p>“Barangsiapa yang mendatangi paranormal lalu membenarkan ucapannya, maka ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu’alaihi wa sallam-.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shohihut Targhib no. 3047)</p>
<p>Bahkan sekedar bertanya tanpa membenarkan atau mempercayai ucapan paranormal tersebut mengakibatkan tertolaknya sholat seseorang selama 40 hari, tanpa menggugurkan kewajiban sholat dari dirinya. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً</p>
<p>“Barangsiapa yang mendatangi paranormal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima sholatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim no. 5957)</p>
<p>Dan termasuk dalam hal ini apabila seorang membaca ramalan-ramalan bintang (zodiak), feng shui, primbon, dan semisalnya yang biasa tersebar di media massa dan ia mempercayainya maka itu adalah kesyirikan kepada Allah. Jika sekedar membacanya tanpa meyakininya maka termasuk dosa besar (lihat At-Tamhid Li Syarhi Kitabit Tauhid, Asy-Syaikh Sholih Alu Syaikh hafizhahullah, hlm. 489-490).</p>
<p><big><strong>Kapan terjadi kiamat termasuk ilmu ghaib, hanya Allah Tabaraka wa Ta&#8217;ala yang memiliki ilmunya</strong></big></p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa pengetahuan tentang waktu terjadinya kiamat adalah termasuk perkara ghaib, hanya Allah Ta&#8217;ala saja yang tahu kapan terjadinya kiamat, tidak ditampakkan kepada makhluk-Nya karena suatu hikmah. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا</p>
<p>“Mereka bertanya kepadamu tentang (kapan datangnya) hari kiamat. Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang kapan datangnya hari kiamat itu hanyalah di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (wahai Muhammad) boleh jadi hari kiamat itu sudah dekat waktunya.” (QS. Al-Ahzab: 63)</p>
<p>يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ</p>
<p>“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Rabbku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.” (QS Al-A’raf: 187)</p>
<p><strong>Bahkan malaikat yang paling mulia sekalipun, yaitu Jibril ‘alaihissalam dan Rasul yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam juga tidak mengetahui kapan terjadinya kiamat.</strong></p>
<p>Sehingga ketika Jibril datang dalam bentuk seorang laki-laki dan bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “kapan terjadinya kiamat”, sebuah pertanyaan untuk mengajarkan kepada para sahabat bahwa tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya kiamat kecuali Allah ‘Azza wa Jalla, maka dijawab oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: “tidaklah orang yang ditanya lebih tahu dari yang bertanya.” (sebagaimana dalam hadits yang panjang, yang dikenal dengan istilah hadits Jibril, diriwayatkan oleh al-Imam Muslim, lihat hadits Arba’in ke-2).</p>
<p><big><strong>Bentuk Kekafiran dari sisi lain: Mendustakan hadits-hadits tentang tanda-tanda kiamat</strong></big></p>
<p>Termasuk bagian dari rukun iman yang kelima, yaitu beriman dengan hari kiamat adalah mengimani terjadinya tanda-tanda kiamat. Hal tersebut telah dijelaskan dalam banyak ayat dan hadits yang shahih, bahkan sebagiannya mutawatir. Diantaranya dalam hadits Hudzaifah bin Asid al-Ghifari radhiyallahu’anhu:</p>
<p>اطَّلَعَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ فَقَالَ مَا تَذَاكَرُونَ. قَالُوا نَذْكُرُ السَّاعَةَ. قَالَ إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ. فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ -صلى الله عليه وسلم- وَيَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَثَلاَثَةَ خُسُوفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ.</p>
<p>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan kami ketika sedang berbincang-bincang. Beliau berkata, “Apa yang sedang kalian perbincangkan?” Kami menjawab, “Kami sedang berbincang-bincang tentang hari kiamat.” Beliau bersabda:</p>
<p>“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian melihat sepuluh tanda.” Lalu beliau menyebutkan, “<span style="color:#0000ff;">[1]</span> Dukhan (asap yang meliputi manusia), <span style="color:#0000ff;">[2]</span> Keluarnya Dajjal, <span style="color:#0000ff;">[3]</span> Daabah (binatang yang bisa berbicara), <span style="color:#0000ff;">[4]</span> terbitnya matahari dari barat, <span style="color:#0000ff;">[5]</span> turunnya &#8216;Isa bin Maryam ‘alaihimassalam, <span style="color:#0000ff;">[6] </span>keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, <span style="color:#0000ff;">[7,8,9]</span> terjadinya tiga longsor besar yaitu di timur, di barat dan di jazirah Arab, yang terakhir adalah <span style="color:#0000ff;">[10]</span> keluarnya api dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat berkumpulnya mereka”.” (HR. Muslim no. 7467)</p>
<p>Dari kesepuluh tanda-tanda kubro ini yang paling jelas pengingkarannya pada tanda yang kelima, yaitu tentang turunnya Nabi &#8216;Isa ‘alaihissalam, karena dalam hadits yang shahih diterangkan bahwa lama tinggal Nabi &#8216;Isa ‘alaihissalam di bumi adalah selama 40 tahun, kemudian beliau meninggal dunia dan disholati oleh kaum muslimin (sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2182).</p>
<p><strong>Sedangkan ramalan kiamat bangsa Maya akan terjadi pada 21 Desember 2012, berarti jaraknya tinggal 3 tahun lebih sedikit, padahal Nabi ‘Isa ‘alaihissalam akan tinggal di bumi selama 40 tahun. Ini jelas penyesatan dan pendustaan secara tidak langsung terhadap hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang mulia, satu dari dua wahyu Allah (al-Qur’an dan al-Hadits).</strong></p>
<p>Demikian pula, termasuk tanda kubro sebelum turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam, adalah diangkatnya Imam Mahdi sebagai pemimpin tunggal kaum muslimin dan beliau akan berkuasa selama 7 atau 8 tahun (dan Nabi &#8216;Isa ‘alaihissalam turun pada masa kepemimpinan beliau) (sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Hakim dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 711).</p>
<p>Juga tidak akan terjadi kiamat sebelum kaum muslimin mengalahkan kaum penjajah dan teroris sejati: yahudi. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِىُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِىٌّ خَلْفِى فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ. إِلاَّ الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ</p>
<p>“Tidak akan terjadi kiamat sebelum kaum muslimin memerangi orang Yahudi. Maka kaum muslimin membunuh mereka sampai orang Yahudi bersembunyi di belakang batu dan pohon; maka batu dan pohon itu berkata, “Wahai Muslim, wahai hamba Allah, inilah orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah,” kecuali pohon gharqad, karena sesungguhnya ia adalah pohonnya Yahudi.” (HR. Muslim no. 7523)</p>
<p>Sebagaimana kaum muslimin pada akhir zaman akan menundukkan semua kekuatan orang-orang kafir di muka bumi ini. Dan sudah dimaklumi bahwa pembuat film ini adalah seorang Yahudi, sehingga tidak berlebihan kalau kita bertanya-tanya, apakah ini gambaran ketakutan mereka kepada kaum muslimin, sekaligus ingin memadamkan semangat jihad plus mengkaburkan aqidah kaum muslimin!?</p>
<p>Dan masih banyak hadits lain tentang tanda-tanda kiamat yang mungkin didustakan dalam ramalan tersebut.</p>
<p>Sejatinya, ketika terjadi kiamat tidak ada lagi orang beriman di muka bumi ini, karena Allah Ta’ala telah mewafatkan semua orang yang beriman sebelum terjadinya kiamat. Sehingga yang menyaksikan terjadinya kiamat hanyalah orang-orang kafir, bahkan mereka adalah seburuk-buruknya manusia yang tersisa di muka bumi ini. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ</p>
<p>“Sesungguhnya diantara makhluk yang paling buruk (di sisi Allah) adalah orang yang masih hidup ketika terjadinya kiamat dan orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.” (HR. Ahmad, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hlm. 216)</p>
<p><strong>Faidah:</strong> Yang dimaksud dengan menjadikan kuburan sebagai masjid mencakup dua makna, pertama: shalat di pekuburan, kedua: membangun masjid di pekuburan (lihat I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Asy-Syaikh Sholih al-Fauzan hafizhahullah 1/298).</p>
<p><big><strong>Kesimpulan</strong></big></p>
<p>Mempercayai ramalan terjadinya kiamat pada tahun 2012 termasuk kesyirikan dan kekafiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu bagaimana mungkin seorang mukmin bisa terhibur dengan film, maupun acara-acara perdukunan seperti The Master dan lainnya yang berdasarkan pada sesuatu yang sangat dimurkai Allah!?</p>
<p>Padahal setiap mukmin tidak saja dituntut untuk menjauhi kekafiran, tapi juga dituntut untuk membenci kekafiran tersebut dan pelaku-pelakunya. Inilah satu permasalahan penting dalam aqidah seorang muslim yang dikenal dengan istilah al-wala’ wal bara’, kecintaan dan permusuhan. Bahwa cinta seorang mukmin kepada iman dan orang-orang yang beriman dan kebenciannya kepada kekafiran dan orang-orang kafir. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam telah memberikan teladan yang baik dalam hal ini:</p>
<p>قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian serta telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)</p>
<p>Sehingga termasuk kekafiran:<br />
1. Apabila seorang mencintai atau meridhoi kekafiran meskipun ia tidak melakukannya,<br />
2. Apabila seorang mencintai orang kafir karena kekafirannya.<br />
Adapun seorang yang mencintai orang kafir bukan karena kekafirannya, seperti karena dunia dan lainnya, maka tidak termasuk kekafiran, namun termasuk dosa besar (lihat Syarah Tsalatsatul Ushul, Asy-Syaikh Sholih Alu Syaikh hafizhahullah, hlm. 27)</p>
<p>Maka sangat dikhawatirkan, hadirnya kita untuk menonton dan mencari hiburan dari acara-acara kekafiran termasuk dalam bentuk meridhoi kekafiran tersebut.</p>
<p>Di sisi lain, menonton film tersebut minimalnya termasuk perbuatan sia-sia dan membelanjakan harta untuk kesia-siaan, padahal masih banyak hal-hal positif yang bisa kita lakukan untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Demikian pula jika kita renungkan sejenak, tentang harta yang kita keluarkan hanya demi suatu hiburan belaka, padahal di negeri kita sendiri terlalu mudah untuk bertemu peminta-minta setiap harinya di jalan-jalan negeri kita dan di belahan bumi lain banyak saudara-saudara kita kaum muslimin, seperti di Palestina, Afganistan, Iraq, dan lainnya yang sangat membutuhkan uluran tangan kita, karena sekedar untuk mendapatkan sesuap nasi terlalu sulit bagi mereka disebabkan penjajahan yang dilakukan oleh orang-orang kafir, sementara kita di sini, menghambur-hamburkan harta untuk hiburan yang tidak syar’i!?</p>
<p>Adapun bagi mereka yang ingin mengambil hikmah atau pelajaran dari film, novel, nyanyian (baca: nasyid) dan yang sejenisnya, ketahuilah itu termasuk tipu daya setan untuk menjauhkan kita dari al-Qur’an dan cabang-cabang ilmunya yang sangat banyak. Barangsiapa yang tidak bisa mengambil pelajaran dari al-Qur’an maka bagaimana mungkin ia bisa mengambil dari selainnya!?</p>
<p>Ingatlah, setiap detik yang kita lalui dan setiap harta yang kita belanjakan pasti akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ : عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ</p>
<p>“Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dimintai pertanggung jawaban tentang empat perkara, tentang umurnya ke mana ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan dan tentang badannya untuk apa ia pergunakan.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shohihut Targhib no. 126)</p>
<p>Oleh karenanya, yang paling penting bagi kita bukanlah mengetahui kapan terjadinya kiamat, tapi apa yang telah kita siapkan untuk menghadapi hari kiamat.</p>
<p>عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَتَى السَّاعَةُ قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا أَعْدَدْتَ لَهَا ». قَالَ حُبَّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ. قَالَ « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ</p>
<p>“Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasannya, seorang Arab dusun bertanya kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “kapan terjadinya hari kiamat”, maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “apa yang telah engkau siapkan untuk menghadapi hari kiamat”, ia menjawab, “kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”, maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “engkau akan bersama dengan yang engkau cintai”.” (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=204911456340" target="_blank">http://www.facebook.com/note.php?note_id=204911456340</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Analisa Terhadap Klaim Syi’ah Atas Hadits Ghadir Khum bagian-2]]></title>
<link>http://alfanarku.wordpress.com/2009/11/21/analisa-hadits-ghadir-khum-bagian-2/</link>
<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 11:55:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>alfanarku</dc:creator>
<guid>http://alfanarku.wordpress.com/2009/11/21/analisa-hadits-ghadir-khum-bagian-2/</guid>
<description><![CDATA[Artikel ini adalah tulisan ke dua yang merupakan sambungan dari artikel sebelumnya di blog ini yaitu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Artikel ini adalah tulisan ke dua yang merupakan sambungan dari artikel sebelumnya di blog ini yaitu  <a href="http://alfanarku.wordpress.com/2009/10/12/analisa-hadits-ghadir-khum-bagian-1/"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#3366ff;">Analisa Terhadap Klaim Syi’ah Atas Hadits Ghadir Khum bagian-1</span></span></strong></a> , pada tulisan bagian ke dua ini akan banyak dibicarakan mengenai definisi dari kata <strong>Maula</strong> dan apa makna yang tepat untuk kata Maula yang terdapat pada hadits Ghadir Khum.<!--more--></p>
<p><strong></strong> </p>
<p><strong>Siapa saja yang marah kepada Ali radhiyallahu &#8216;anhu pada saat itu?</strong></p>
<p>Kaum Syi’ah mengklaim bahwa hanya Khalid ra dan Buraidah ra yang marah kepada Ali ra.</p>
<blockquote><p><em>Taair-al-Quds, Admin of ShiaOfAhlAlBayt mengatakan :</em></p>
<p><em>Tak ada hadits yang menyebutkan pihak ketiga selain Khalid bin Walid dan Buraidah (atau Bara di riwayat tirmidzi) sebagai pengkomplain atau orang yang memulai mengkampanyekan kebencian kepada Imam Ali (as) sebagaimana dilaporkan dalam kejadian ini.</em></p></blockquote>
<p>Ini adalah kebohongan lain yang nyata dari Taair-al-Quds, kenyataannya, semua (atau paling tidak sebagian besar) pasukan Ali ra marah pada beliau. Bukan hanya satu atau dua orang dari pasukan saja. Syaikh Mufit menulis :</p>
<blockquote><p><em>Amirul mukminin as mengambil kembali baju besi tersebut dari orang-orang dan menaruhnya kembali ke karung-karung. Mereka (pasukan Ali as) merasa tidak puas kepada Ali karena hal itu. Ketika mereka datang ke Mekah, mereka komplain kepada Amirul Mukminin as berkali-kali. Rasulullah (s) berseru diantara orang-orang : “Hentikan lisanmu terhadap Alibin Abi Thalib, dia adalah seorang yang tajam untuk kepentingan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi, bukan orang yang menipu dalam agamanya…</em></p>
<p>(Kitab Al-Irsyad, oleh Syaikh Mufit, hal 121-122)</p></blockquote>
<p>Yang melakukan komplain terhadap Ali ra adalah sejumlah besar dan itu adalah kumpulan orang-orang yang merasa kecewa (bukan satu atau dua orang saja), dan Nabi shalallahu alaihi wassalam menyeru kepada orang-orang secara umum. Itu jelas mayoritas dari pasukan Ali ra yang kecewa terhadap dia karena dia menolak untuk mengijinkan mereka untuk memakai baju besi dari harta khumus. Oleh karena itu, adalah hal yang tidak benar, menyalahkan satu atau dua orang individu saja, tetapi yang benar dari kejadian tersebut bahwa Ali ra telah membuat marah seluruh pasukannya. Dan kita berlindung kepada Allah dari menyalahkan seseorang khususnya setelah Nabi shalallahu alaihi wassalam sendiri telah memaafkan Buraidah ra dan yang lainnya. Poin yang perlu digarisbawahi, bagaimanapun juga, banyak orang yang marah kepada Ali ra dan ini adalah alasan mengapa Nabi shalallahu alaihi wassalam harus membuat suatu deklarasi/pernyataan di Ghadir Khum untuk membebaskan Ali ra dari segala tuduhan dan bukan untuk menunjuk Ali ra sebagai pengganti beliau.</p>
<p><strong></strong> </p>
<p><strong>Tambahan-tambahan Palsu</strong></p>
<p>Taktik yang biasa digunakan Syi’ah untuk membodohi kaum Sunni yang awwam adalah dengan menyatakan yang pertama kali bahwa hadits Ghadir Khum adalah tercantum dalam Bukhari dan sebagian besar kitab-kitab Sunni terpercaya (seringkali dengan cara membuat kaum Sunni terkesan dengan menyebutkan banyak referensi), dan kemudian mereka mulai menukil dari versi-versi yang berbeda dari sumber-sumber yang samar dan tidak dipercaya yang menggambarkan Ghadir Khum dengan kejadian yang sangat berbeda dibandingkan dengan yang sesungguhnya dinyatakan dalam kitab-kitab yang shahih. Taktik membodohi orang ini disebut “acceptance by association”.</p>
<p>Kenyataanya, hanya ada dua tambahan pada hadits tersebut yang dipertimbangkan shahih dan itupun hanya oleh beberapa ulama saja. Untuk tujuan berdialog, bagaimanapun kami akan menerimanya sebagai shahih. Sekali lagi, dua tambahan tersebut tidak ada dalam shahihain tetapi tambahan-tambahan tersebut ada pada riwayat-riwayat yang berbeda dalam kitab-kitab yang lain. Sebagaimana para pelajar jurusan hadits mengetahuinya, bahwa hadits mempunyai berbagai macam tingkatan. Untuk hadits Ghadir Khum, yang tershahih adalah apa yang tercantum dalam shahih Bukhari :</p>
<blockquote>
<p dir="rtl">4350 &#8211; حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ سُوَيْدِ بْنِ مَنْجُوفٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيًّا إِلَى خَالِدٍ لِيَقْبِضَ الْخُمُسَ وَكُنْتُ أُبْغِضُ عَلِيًّا وَقَدْ اغْتَسَلَ فَقُلْتُ لِخَالِدٍ أَلَا تَرَى إِلَى هَذَا فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ يَا بُرَيْدَةُ أَتُبْغِضُ عَلِيًّا فَقُلْتُ نَعَمْ قَالَ لَا تُبْغِضْهُ فَإِنَّ لَهُ فِي الْخُمُسِ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ<em></em></p>
<p dir="rtl"><em>(5/163)</em></p>
<p><em>Diriwayatkan oleh Buraidah ra :</em></p>
<p><em>Nabi shalallahu alaihi wassalam mengirimkan Ali kepada Khalid untuk membawa harta Khumus (dari harta rampasan perang) dan saya membenci Ali, dan Ali selesai mandi junub (sesudah mencampuri seorang budak wanita yang merupakan bagian dari khumus). Saya katakan kepada Khalid “Tidak kah kamu melihat ini (Ali)?” ketika kami menjumpai Nabi shalallahu alihi wassalam, saya menyebutkan hal itu kepada beliau. Beliau (Nabi shalallahu alaihi wassalam) berkata, “Ya Buraidah! Apakah kamu membenci Ali?” Saya menjawab, “Ya” Beliau berkata, “Apakah kamu membencinya, untuk dia berhak lebih dari itu mengambil dari Khumus.”      </em></p>
<p><em>(Shahih Bukhari, Kitab Al-Maghazi, 5/163 No. 4350)</em></p></blockquote>
<p>Hadits di atas adalah versi Ghadir Khum yang diriwayatkan dalam shahihain, tanpa menyebutkan sama sekali kata “Maula”, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : untuk perkataan beliau shalallahu &#8216;alaihi wasallam “siapa yang menganggap aku Maula nya, Ali adalah Maula nya”, ini tidak terdapat dalam kitab Shahih (Bukhari dan Muslim), tetapi ini adalah satu dari kabar-kabar yang diriwayatkan oleh para ulama dan mengenai keshahihannya orang masih memperdebatkannya.”     </p>
<p>dua tambahan tersebut adalah :</p>
<p><strong>1)      </strong><strong>Tambahan pertama : “Man Kuntu Mawla fa’ Ali Mawla.”</strong></p>
<p><strong>2)</strong>     <strong>Tambahan kedua : “Allahummu wali man waalah wa ‘adi man ‘adaah.”</strong></p>
<p>Tambahan yang pertama secara umum diterima, dan yang kedua lebih lemah tetapi beberapa ulama berpendapat bahwa tambahan itu shahih. Sejauh yang diketahui, tambahan-tambahan yang lain tidak terdapat di kitab-kitab shahih bahkan maudu’ atau palsu. Umumnya, Syi’ah mengisi dasar argumentasi mereka atas dua tambahan ini, tetapi tidak diragukan setelah itu semua dibantah, mereka akan seringkali kemudian berlindung dengan menggunakan sumber-sumber yang tidak jelas untuk membuat tambahan-tambahan lebih lanjut seperti Nabi shalallahu alaihi wassalam mengatakan Ali ra adalah Washi, khalifah, Imam dan lain-lain. Itu semua adalah palsu, dan sejarah telah menjadi saksi kaum Syi’ah telah biasa membuat hadits-hadits palsu. Syi’ah dapat membuat daftar referensi tidak jelas yang begitu panjang tentang Ghadir Khum karena mereka sendirilah yang bertanggung jawab terhadap begitu banyaknya riwayat-riwayat palsu sehubungan dengan Ghadir Khum.</p>
<p>Kita telah melihat di atas versi Ghadir Khum dalam shahih bukhari dan dalam hadits tersebut sama sekali tidak tercantum tambahan kata “Maula”. Sedangkan tambahan kata “Maula” baru dapat ditemukan dalam variasi hadits dalam kitab-kitab yang lain seperti berikut ini :</p>
<blockquote>
<p dir="rtl">22995 &#8211; حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا الفضل بن دكين ثنا بن أبي عيينة عن الحسن عن سعيد بن جبير عن بن عباس عن بريدة قال Y غزوت مع علي اليمن فرأيت منه جفوة فلما قدمت على رسول الله صلى الله عليه و سلم ذكرت عليا فتنقصته فرأيت وجه رسول الله صلى الله عليه و سلم يتغير فقال يا بريدة ألست أولى بالمؤمنين من أنفسهم قلت بلى يا رسول الله قال من كنت مولاه فعلي مولاه K إسناده صحيح على شرط الشيخين <em></em></p>
<p><em>Buraidah ra meriwayatkan: “Saya menyerang Yaman dengan Ali dan saya melihat kekerasan hati dari dirinya, lalu ketika saya kembali menghadap Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan menyebut tentang Ali dan mengkritiknya, saya melihat wajah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berubah dan beliau berkata : “Ya Buraidah, Bukankah saya lebih dekat/lebih berhak atas orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri?” Saya jawab “Benar ya Rasulullah”, beliau berkata “Siapa yang menganggap aku Maula-nya maka Ali adalah Maula-nya juga”</em></p>
<p><em>(Musnad Ahmad 5/347 No. 22995) Syaikh Al-Arnauut mengatakan sanad hadits ini shahih sesuai dengan syarat Syaikhain, (An-Nasaa’i dalam Sunan al-Kubra 5/45 No. 8145), (Al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/119 No. 4578), Abu Nu’aim, Ibnu Jarir dan yang lainnya.</em></p></blockquote>
<p>Dalam versi lain yang sedikit berbeda :</p>
<blockquote><p><em>Buraidah ra menceritakan : “Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mengirimku ke Yaman bersama Ali dan saya melihat kekerasan hati dari dirinya, ketika saya kembali dan saya komplain tentangnya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengangkat kepalanya kepadaku dan bersabda : “Ya Buraidah! Siapa yang menganggap aku Mawla-nya maka Ali adalah Mawla-nya juga”</em></p>
<p> (Sunan al-Kubra 5/130 No. 8466, riwayat yang serupa dapat ditemukan dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah)</p></blockquote>
<p>Dalam riwayat-riwayat yang lain, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Allahummu wali man waalah wa ‘adi man ‘adaah” diterjemahkan “<strong><em>Ya Allah, jadikan teman, orang-orang yang menjadi temannya, dan jadikan musuh orang-orang yang memusuhinya” </em></strong>beberapa ulama telah meragukan keshahihan pernyataan ini, tetapi di sini kami akan menerima tambahan kedua ini sebagai shahih.</p>
<p>Hanya ada dua tambahan tersebut di atas pada hadits Ghadir Khum yang dapat dipertimbangkan shahih, dan oleh karena itu kami hanya akan berhubungan dengan dua tambahan tersebut saja.</p>
<p><strong></strong> </p>
<p><strong>Definisi Maula</strong></p>
<p>Syi’ah mengklaim bahwa kata “Maula” di sini adalah berarti “Pemimpin”. Ini adalah penterjemahan yang keliru dari kata tersebut yang mereka mengklaim bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah menunjuk Ali ra sebagai pengganti beliau. Pada kenyataannya, kata “Maula” – seperti kata dalam bahasa Arab yang lainnya- mempunyai banyak makna. Orang syi’ah yang awwam mungkin akan terkejut jika mereka mengetahui bahwa sesungguhnya definisi yang paling banyak digunakan untuk kata Maula adalah “pelayan” bukan “pemimpin”. Seorang mantan budak yang menjadi pelayan dan tidak mempunyai hubungan suku disebut sebagai seorang “Maula”, seperti Salim yang dipanggil Salim Maula Abu Hudzaifah karena dia adalah pelayan Abu Hudzaifah.</p>
<p>Hanya diperlukan membuka sebuah kamus bahasa Arab untuk menjumpai berbagai macam definisi dari kata “Maula”. Ibnu Al-Atsir mengatakan bahwa kata “Maula” dapat digunakan untuk mengartikan diantaranya : Tuan, Pemilik, Penolong, Pembebas, Yang membantu, Kekasih, Pendukung, Budak, Pelayan, Saudara Ipar, Saudara Sepupu, Teman dan lain-lain.</p>
<p>Sekarang mari kita uji lagi hadits tersebut :</p>
<p><strong><em>“Siapa yang menanggap aku sebagai maula-nya, maka Ali sebagai maula-nya, Ya Allah jadikan teman siapa saja yang jadi temannya dan jadikan musuh siapa saja yang memusuhinya”</em></strong></p>
<p>Kata “Maula” di sini tidak dapat diartikan dengan “pemimpin”, tetapi terjemahan terbaik untuk kata “Maula” adalah “seorang teman yang dicintai”. Ini jelas bahwa “Maula” di sini merujuk pada cinta atau hubungan yang dekat, bukan khalifah dan imamah. Muwalat (Cinta) adalah lawan dari Mu’adat (kebencian/rasa permusuhan). Definisi kata “Maula” tersebut adalah yang paling masuk akal sehubungan dengan konteksnya, karena kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan tiba-tiba berkata <strong><em>“Ya Allah jadikan teman siapa saja yang jadi temannya dan jadikan musuh siapa saja yang memusuhinya”</em></strong>.</p>
<p>Syi’ah mungkin menolak untuk percaya bahwa Maula di sini maksudnya adalah “teman yang dicintai atau sahabat” dan kenyataannya adalah kata ini tidak bisa diterjemahkan dengan cara yang lain karena tambahan kalimat yang kedua dari riwayat di atas adalah tentang pertemanan dengan-nya (Ali ra), bukan tentang dibawah aturan-nya (Ali ra) atau hal-hal yang seperti itu. Sungguh hal yang susah dipercaya, Syi’ah bisa menterjemahkannya dengan Khalifah atau Imam yang konteksnya tidak ada hubungannya dengan hal itu.          </p>
<blockquote><p>Al-Jazari berkata dalam al-Nihayah :</p>
<p><em>Kata Maula sering disebutkan di dalam hadits, dan ini adalah sebuah nama yang diterapkan pada banyak hal. Ini bisa merujuk pada seorang tuan, seorang pemilik, seorang pemimpin, seorang penolong, seorang budak yang merdeka, seorang pendukung, seorang yang mencintai sesama, seorang pengikut, seorang tetangga, saudara sepupu, seorang pendukung, saudara ipar, seorang budak, seorang yang telah berbuat baik. Sebagian besar makna-makna ini disebutkan dalam berbagai macam hadits, sehingga akan bisa dimengerti dalam aturan yang sedang diterapkan oleh konteks hadits dimana kata itu disebutkan.</em></p></blockquote>
<p>Imam Syafi’i berkata dalam hubungannya dengan kata Maula dalam hadits khusus Ghadir Khum ini:</p>
<blockquote><p><em>“Apa yang dimaksud dengan itu adalah ikatan (persahabatan, persaudaraan dan cinta) dalam Islam”.</em></p></blockquote>
<p>Allah berfirman dalam Al-Qur’an :</p>
<blockquote><p><strong><em>“Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir, tempat kamu ialah neraka, dialah tempat berlindungmu (Maula). Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali.” (QS 57:15)</em></strong></p></blockquote>
<p>Tidak ada penterjemah di bumi ini yang pernah menterjemahkannya dengan “Imam” atau “Khalifah”, yang akan menjadikan ayat tersebut menjadi tidak berarti. Neraka di atas disebut sebagai Maula untuk orang-orang kafir karena sangat dekatnya mereka dengannya, dan ini adalah definisi untuk kata Maula yang disebutkan dalam hadits Ghadir Khum (kedekatan yang sangat antara Nabi shalalalahu ‘alaihi wasallam, Ali dan kaum mukminin). Sesungguhnya, kata Maula berasal dari kata “Wilayah” bukan “Walayah”. Wilayah merujuk kepada cinta dan pertolongan, dan tidak dibingungkan dengan Walayah yang merujuk pada kepemimpinan.</p>
<p>Allah berfirman dalam Al-Qur’an :</p>
<blockquote><p><strong><em>Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung. (QS 47:11)</em></strong></p></blockquote>
<p>Ayat tersebut tidak merujuk pada makna Khalifah atau Imamah, tetapi lebih merujuk pada sebuah perlindungan dari Teman yang dekat, selain daripada itu, ayat ini akan menjadi tidak masuk akal. Para komentator Syi’ah tampaknya mengabaikan bagian kedua dari ayat ini dimana Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai Maula”. Apakah kalimat ini bisa diartikan bahwa orang-orang kafir tidak mempunyai pemimpin? Tentu saja orang-orang kafir juga punya pemimpin, seperti misalnya orang-orang kafir di Amerika dipimpin oleh George Bush sebagai pemimpin mereka. Al-Qur’an sendiri telah menyebutkan bahwa orang-orang kafir mempunyai pemimpin:</p>
<blockquote><p><strong><em>maka perangilah pemimpin-pemimpin (Imam) orang-orang kafir itu (QS 9:12)</em></strong></p>
<p><strong><em>Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin (Imam) yang menyeru (manusia) ke neraka (QS 28:41)</em></strong></p></blockquote>
<p>Sehingga ketika Allah berfirman “Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai Maula”, ini merujuk kepada makna sebuah perlindungan yang sangat dekat, bukan bermakna mereka tidak mempunyai pemimpin. Ayat ini tidak menggunakan Maula dalam pengertian Imam atau Khalifah sama sekali, tetapi lebih merujuk kepada makna sebuah perlindungan yang dekat.</p>
<p>Hadits Ghadir Khum dimaksudkan dalam hal yang sama. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menasehati orang-orang agar mencintai Ali ra dan dekat dengannya. Dan ini adalah apa yang sesungguhnya Abu Bakar ra, Umar ra dan Utsman ra lakukan (mereka menjadi sahabat Ali ra). Pada kenyataannya Umar begitu disayangi Ali ra yang dia telah menikahkan putrinya dengan Umar ra. Ali menjadi wazir dan orang kepercayaan ketiga khalifah tersebut, saling menyayangi dan mengagumi terjadi diantara tiga khalifah ra dan Ali ra. Dengan kata lain, hadits Ghadir khum tidak ada hubungannya dengan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menunjuk Ali ra sebagai pengganti beliau, tetapi untuk menghentikan kritikan orang-orang kepada Ali ra dan himbauan agar mencintainya.      </p>
<p>Allah berfirman dalam Al-Qur’an,</p>
<blockquote><p><strong><em>Sesungguhnya penolong (sahabat, teman yang dicintai) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya (sahabat, teman yang dicintai), maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (QS 5:55-56).</em></strong></p></blockquote>
<p>Dalam ayat ini Allah menunjuk semua orang-orang yang beriman sebagai Maula. Bagaimana bisa Syi’ah mengklaim bahwa kata Maula tersebut merujuk kepada khalifah atau imamah, konsekuensinya, berarti semua orang-orang beriman adalah imam atau khalifah?? (untuk ayat ini, Syi’ah membuat klaim dengan keterlaluan bahwa ayat ini merujuk kepada Ali ra saja, meskipun kenyataannya ayat tersebut mengacu kepada orang-orang yang beriman dalam bentuk plural atau jamak. Tidak diragukan, Ali ra sebagaimana orang-orang yang beriman lainnya termasuk yang dimaksud orang-orang yang beriman dalam ayat ini, tetapi tidak bisa ini ditujukan hanya kepadanya saja karena sangat jelas bentuknya adalah plural). Sesungguhnya, kata Maula di sini mengacu kepada cinta, kedekatan yang sangat, dan menolong. Pada kenyataannya, tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an dimana kata Maula digunakan untuk mengacu kepada Imamah atau Khalifah.</p>
<p>Pada ayat yang lain Allah berfirman :</p>
<blockquote><p><strong><em>yaitu hari yang seorang karib (Maula) tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya (Maulanya) sedikitpun.. (QS 44:41)</em></strong></p></blockquote>
<p>Apakah kata Maula dalam ayat tersebut dapat diterjemahkan seperti ini : “yaitu hari yang pemimpin tidak dapat memberi manfaat kepada pemimpinnya sedikitpun..” ? sungguh ini tidak masuk akal. Kita lihat pada ayat ini, Allah sedang berbicara mengenai dua orang dan keduanya disebut sebagai “Maula”, jika Maula diartikan sebagai pemimpin, hanya satu diantara mereka yang dapat disebut pemimpin dari yang lain. Tetapi jika Maula di sini diartikan sahabat atau karib, maka sungguh mereka dapat saling menjadi Maula diantara mereka dan secara bahasa adalah benar memaksudkan keduanya adalah sebagai Maula sebagaimana Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.</p>
<p>Kata Maula yang digunakan dalam hadits tersebut berarti sahabat atau karib; Dalam shahih Bukhari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :</p>
<blockquote><p><em>“Suku Quraisy, Al-Anshar, Juhaina, Aslam, Ghifar dan Asyja’ adalah para penolong terdekatku (Mawali), dan mereka tidak ada pelindung bagi mereka kecuali Allah dan Rasul-Nya”  </em></p></blockquote>
<p>Apakah kata “Maula” di sini berarti Khalifah atau Imamah? Apakah berbagai suku Arab  tersebut sebagai khalifah atau Imam atas Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam? Tentu saja tidak. Yang lebih masuk akal adalah mereka sangat dekat dan mencintai Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan dengan begitu mereka sebagai Mawali (jamak dari maula).</p>
<p><strong>Kesimpulan :</strong></p>
<p><strong>Kata Maula mempunyai banyak makna, untuk mengetahui makna yang tepat dari kata tersebut harus diperhatikan konteks saat kata tersebut diucapkan. Berdasarkan konteks yang ada, kata Maula yang disebutkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam di Ghadir Khum berarti “Sahabat dekat” atau “teman yang dicintai” atau “Karib” dan bukan Khalifah ataupun Imamah.</strong></p>
<p>Bersambung Insya Allah.</p>
<p>Wallahu a’lam</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Syarah Hadits Arba’in An-Nawawi — Pembahasan 005]]></title>
<link>http://jendelahidayah.wordpress.com/2009/11/21/syarah-hadits-arbain-005/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 23:12:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rosyadi Aziz Rahmat</dc:creator>
<guid>http://jendelahidayah.wordpress.com/2009/11/21/syarah-hadits-arbain-005/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Imam Abu Zakaria an-Nawawi HADITS KELIMA عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَة]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh Imam Abu Zakaria an-Nawawi HADITS KELIMA عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَة]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yang Hendak Berkurban Dilarang Potong Rambut dan Kuku]]></title>
<link>http://danangwirawan.wordpress.com/2009/11/20/yang-hendak-berkurban-dilarang-potong-rambut-dan-kuku/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 10:45:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>dan</dc:creator>
<guid>http://danangwirawan.wordpress.com/2009/11/20/yang-hendak-berkurban-dilarang-potong-rambut-dan-kuku/</guid>
<description><![CDATA[Yang Hendak Berqurban Dilarang Potong Rambut dan Kuku Postingan kemarin ada komentar yang mengingatk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Yang Hendak Berqurban Dilarang Potong Rambut dan Kuku Postingan kemarin ada komentar yang mengingatk]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tinjauan Hadits Posisi Makmum Jika Seorang Diri]]></title>
<link>http://abuahmad180690.wordpress.com/2009/11/20/tinjauan-hadits-posisi-makmum-jika-seorang-diri/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 09:50:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>abu ahmad alghuraba</dc:creator>
<guid>http://abuahmad180690.wordpress.com/2009/11/20/tinjauan-hadits-posisi-makmum-jika-seorang-diri/</guid>
<description><![CDATA[Dimanakah sebenarnya tempat berdiri ma&#8217;mum apabila seorang atau sendirian ..? Apakah di belaka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dimanakah sebenarnya tempat berdiri ma&#8217;mum apabila seorang atau sendirian ..? Apakah di belaka]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hadits 'Silsilah Mata Rantai Emas']]></title>
<link>http://alifnews.wordpress.com/2009/11/19/hadits-silsilah-mata-rantai-emas/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 15:34:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>alifnews</dc:creator>
<guid>http://alifnews.wordpress.com/2009/11/19/hadits-silsilah-mata-rantai-emas/</guid>
<description><![CDATA[Ya Ali ibn Musa ar Ridha as Suatu ketika Imam Kedelapan kita, Imam Ali ar-Ridha as melakukan perjala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ya Ali ibn Musa ar Ridha as Suatu ketika Imam Kedelapan kita, Imam Ali ar-Ridha as melakukan perjala]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
