<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>hamzah-haz &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/hamzah-haz/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "hamzah-haz"</description>
	<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 19:00:14 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Golkar: Perjalanan dari Masa Lampau ke Titik Nadir 2009 (1)]]></title>
<link>http://sociopolitica.wordpress.com/2009/10/26/golkar-perjalanan-dari-masa-lampau-ke-titik-nadir-2009-1/</link>
<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 08:13:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>sociopolitica</dc:creator>
<guid>http://sociopolitica.wordpress.com/2009/10/26/golkar-perjalanan-dari-masa-lampau-ke-titik-nadir-2009-1/</guid>
<description><![CDATA[“Sejak tahun-tahun awal setelah kemenangan dalam Pemilihan Umum 1971, telah terbukti bahwa sebagian ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong> “</strong><strong>Sejak tahun-tahun awal setelah kemenangan dalam Pemilihan Umum 1971, telah terbukti bahwa sebagian unsur ABRI –yang memiliki peranan historis dalam kelahiran Sekber Golkar di tahun 1964– telah lebih mengutamakan menjalankan agenda kekuasaan demi kekuasaan bagi kliknya sendiri, dan dalam waktu bersamaan menyingkirkan kolega-koleganya yang masih punya idealisme”. </strong></p>
<p>SEPANJANG perjalanannya dalam sejarah politik dan kekuasaan di Indonesia, Golkar –singkatan Golongan Karya– penuh dengan kemenangan dan ‘kejayaan’ politik. Angka keunggulan perolehan suara yang dicetak masih sejak pemilihan umum pertama pasca kekuasaan Soekarno, tak pernah di bawah 50 persen. Bahkan di era kepemimpinan Sudharmono SH dan Sarwono Kusumaatmadja, angka keunggulan Golkar mencapai 73,17 persen atau 62.783.680 suara pemilih dalam Pemilihan Umum 1987. Suatu pencapaian luar biasa. Dan ternyata menjadi lebih fantastis lagi di era Ketua Umum Harmoko pada Pemilihan Umum 1997, mencapai 74,51 persen. Namun pencapaian itu sekaligus menjadi penutup kisah ‘dunia fantasi’, karena Mei 1998 secara pahit Soeharto harus mengakhiri kekuasaannya yang telah berlangsung 32 tahun. Kemenangan besar Golkar di bawah Harmoko, ternyata hanya bagai gelembung sabun yang tak punya arti apa-apa sebagai jaminan kelanggengan kekuasaan Soeharto. Malahan Harmoko termasuk sebagai tokoh yang ikut berperan di barisan depan dalam suatu tragi komedi politik meninggalkan Soeharto, selain Ginandjar Kartasasmita bersama sejumlah <em>golden boys</em> Soeharto lainnya.</p>
<p>Pasca Soeharto, Golkar yang kemudian merubah diri menjadi Partai Golongan Karya, memulai fase perjalanan menuju titik nadir. Dalam Pemilihan Umum 1999, Akbar Tandjung yang menjadi Ketua Umum Golkar, bersama kawan-kawan seperti Fahmi Idris, Marzuki Darusman dan sejumlah tokoh ex HMI pendukung Akbar, masih mampu menjaga Golkar tak terhempas habis. Partai Golkar masih bisa mencapai angka 22,4 persen di urutan kedua setelah PDI-P Megawati Soekarnoputeri yang memperoleh 33,7 persen suara. Bahkan setelah dilanda isu <em>Buloggate</em>, Golkar dibawah Akbar masih sempat sedikit memperbaiki posisi sebagai pemenang Pemilu 2004 dengan memperoleh 21,58 persen, sementara PDI-P merosot ke tempat kedua dengan pencapaian 18,53 persen.</p>
<p>Namun adalah menarik, bahwa ‘benefit’ politik kemenangan 2004 itu tidak untuk Akbar Tandjung. Dalam konvensi Golkar untuk mencari calon presiden yang akan maju ke Pemilihan Umum Presiden, Akbar dikalahkan oleh Jenderal Wiranto yang kemudian maju ke Pemilihan Presiden bersama Solahuddin Wahid. Seorang calon peserta konvensi, Muhammad Jusuf Kalla (JK), membatalkan keikutsertaannya dalam Konvensi Golkar tersebut dan kemudian maju bersama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan jangkar utama pendukung, yakni Partai Demokrat yang baru saja didirikan menjelang pemilu. Dalam Pemilihan Umum 2004 itu, Partai Demokrat mencapai peroleh suara 7,45 persen dan berada di urutan kelima.</p>
<p>Merupakan fenomena menarik, bahwa pasangan SBY-JK yang didukung sebuah ‘partai kecil’ <em>newcomer</em> ini ternyata mengungguli Megawati-Hasjim Muzadi maupun Wiranto-Solahuddin atau Amien Rais-Siswono Judohusodo dan ‘<em>underdog’</em> Hamzah Haz-Agum Gumelar. Agaknya SBY-JK sedang berada dalam fokus harapan publik yang saat itu seakan-akan berada dalam musim kemarau yang kering dari kepemimpinan yang baik. Kala itu memang tokoh-tokoh lain dan partainya masing-masing tampil mengecewakan dalam sepakterjang politik beberapa tahun terakhir. PDI-P yang katanya partainya wong cilik, justru seakan meninggalkan wong cilik pendukungnya setelah berkuasa. Sementara itu, Golkar dilanda perpecahan, seperti misalnya antara Fahmi Idris-Marzuki Darusman cs dengan lingkaran pendukung khusus Akbar Tandjung. Ketika kalah dalam Pemilihan Presiden, Wiranto mengutarakan kekecewaan bahwa Golkar (Akbar dan kawan-kawan) mendukung dengan setengah hati. Tapi pada pihak lain, banyak orang menilai kegagalan Wiranto lebih banyak ditentukan oleh masih kuatnya kenangan publik terhadap rekam jejaknya di masa lampau ketika menjadi bagian dari penguasa militer. Dalam pada itu, dalam opini publik, Amien Rais dalam banyak hal pada setidaknya setahun terakhir dianggap terlalu ‘kelebihan’ bicara dan terpeleset karenanya.</p>
<p>Pemilihan Presiden 2009 sepenuhnya menjadi milik Susilo Bambang Yudhoyono. Walaupun, kesangsian terhadap kepemimpinan penuh keraguan SBY, bukannya kecil sepanjang lima tahun terakhir. Partai pendukung utamanya yang mengalami pelonjakan perolehan suara hampir tiga kali lipat dari pemilihan umum sebelumnya, dari 7,45 persen menjadi 20,8 persen, berkoalisi dengan sejumlah partai yang umumnya beraroma politik Islam, membawa SBY bersama Boediono menjadi Presiden dalam satu putaran dengan melampaui pencapaian suara di atas 60 persen. Pencapaian angka mayoritas mutlak oleh SBY ini dengan segera mengingatkan orang kepada pencapaian angka-angka mayoritas yang dicapai Golkar –dan tentu saja juga kepada Soeharto sebagai Ketua Dewan Pembina kekuatan politik berlambang pohon beringin itu– di masa lampau. Apalagi, kemenangan itu dibayangi oleh kuatnya kecurigaan adanya kecurangan dalam pelaksanaan pemiluhan umum. Ini sama dengan pengalaman Golkar masa Orde Baru, nyaris seluruh kemenangannya dianggap diperoleh melalui pemilihan umum yang penuh kecurangan. Tapi terlepas dari itu, tampaknya Partai Demokrat di bawah SBY sedang menjelma sebagai pengendali hegemoni kekuasaan seperti Golkar di masa lampau, apalagi kasat mata saat ini begitu banyak orang-orang eks Golkar yang menjadi bagian dalam tubuh partai tersebut. Dan sama seperti Golkar, Partai Demokrat sangat ditentukan arah, tujuan dan sepakterjang politiknya oleh Ketua Dewan Pembinanya, Susilo Bambang Yudhoyono, mirip dengan hubungan Soeharto dengan Golkar. Lebih dari itu, dalam persepsi banyak kalangan politik, belakangan ini SBY pun makin tampil dengan suatu pola kepemimpinan yang khas bernuansa pola kepemimpinan tradisional Jawa dan bukannya memilih pola kepemimpinan Indonesia atau setidaknya pola kepemimpinan Jawa yang lebih modern. Tapi tentu saja, persepsi seperti ini masih harus dianalisis lebih lanjut seraya menantikan kenyataan-kenyataan politik yang akan terjadi di masa mendatang ini.</p>
<p>Sementara itu, Partai Golkar sendiri –yang pada 20 Oktober 2009 ini berusia 45 tahun–  justru seakan sedang berjalan menuju titik nadir dan makin melemah dalam masa kepemimpinan Jusuf Kalla. Apakah akan menuju titik lebih rendah lagi pada pemilihan umum berikut, ataukah berhasil diselamatkan Aburizal Bakrie, masih merupakan pertanyaan. Pencapaian Golkar dalam Pemilihan Umum 2009 ini merupakan titik terrendah dalam sejarah kekuatan politik itu, yakni 14,4 persen. Bergabung dengan Partai Hanura (yang hakekatnya terisi dengan sebagian besar eks kader Golkar), Golkar pun hanya berhasil menempatkan Jusuf Kalla-Wiranto di urutan ketiga dalam Pemilihan Presiden dengan pencapaian yang juga hanya belasan persen.</p>
<p align="center"><strong>Momentum Historis dalam Kebekuan</strong></p>
<p>KELAHIRAN Sekber Golkar pada tahun 1964 yang merupakan cikal bakal Partai Golongan Karya, adalah untuk mendobrak kebekuan dan kegagalan kehidupan sosial politik di bawah demokrasi terpimpin masa Soekarno. Dalam dua kurun waktu sebelumnya, yakni masa demokrasi parlementer sesudah Pemilihan Umum 1955 dan masa demokrasi terpimpin 1959-1965, kekuatan sosial politik yang ada belum berhasil menjalankan fungsi selaku alat demokrasi yang pas untuk kebutuhan Indonesia. Kepartaian pada dua kurun waktu tersebut sangat ideologistis sehingga terlibat dalam kegiatan yang semata-mata untuk mempertahankan kepentingannya masing-masing.</p>
<p>Dalam rangka mempersiapkan diri untuk menghadapi Pemilihan Umum 1971, tercipta momentum bagi Golkar untuk memperbaharui kehidupan politik yang ideologistis menjadi kehidupan politik yang diperbarui dan modern. Penempatan diri sebagai kekuatan pembaharu itu membuat Golkar menjadi menarik bagi kekuatan-kekuatan baru dalam masyarakat kala itu, terutama kalangan cendekiawan di masyarakat serta kalangan intelektual muda yang masih mempunyai ikatan dan basis yang kuat di lingkungan perguruan tinggi. Bersama kalangan militer yang berpikiran pembaharu, sejalan dengan hasil Seminar Angkatan Darat II serta unsur birokrasi yang sudah diperbaharui pula oleh pemerintahan baru Pasca Soekarno, kaum cendekiawan tersebut menjadi bagian yang menopang Golkar sebagai kekuatan politik yang berpotensi melahirkan kehidupan politik yang lebih baik dan bisa diharapkan untuk menegakkan demokrasi dengan altruisme.</p>
<p>Menghadapi pola yang ideologistis, Golkar dengan topangan tiga unsur utamanya, telah mendorong ke depan Pancasila dan UUD 1945 sebagai perangkat dan tema tengah yang bisa diterima oleh mereka yang tidak punya ikatan-ikatan ideologis. Golkar menarik kaum abangan yang membutuhkan perlindungan baru setelah merosotnya PNI, sebagaimana ia juga menarik kalangan beragama Islam yang berpikiran moderat dan tidak ideologistis, serta masyarakat lain yang tidak beragama Islam. Kelompok-kelompok dalam masyarakat yang disebut terakhir ini, selama bertahun-tahun ada dalam kecemasan dan himpitan pertarungan antara kecenderungan komunistis dan kecenderungan fundamental dalam Islam. Terdapat pula kelompok dalam masyarakat yang merasa tertekan oleh kekuasaan totaliter yang tidak demokratis di masa Soekarno, menerima Golkar sebagai alternatif penyelamat.</p>
<p>Dengan dukungan kokoh karena daya tarik yang menjanjikan pembaharuan, Golkar memenangkan 34 juta suara dari 57 juta suara pemilih dalam Pemilihan Umum 1971, terlepas dari adanya ekses-ekses karena perilaku <em>overacting</em> dari sejumlah unsur pendukung Golkar. Kemenangan itu sendiri pada gilirannya mengalirkan lagi dukungan-dukungan baru untuk masa-masa berikutnya, mengikuti kecenderungan feodalistik dalam masyarakat, bahwa siapa yang berkuasa cenderung untuk menikmati dukungan-dukungan melimpah, kendati pun untuk sebagian besar dukungan itu bersifat temporer sejajar dengan <em>life time</em> dari kekuasaan itu sendiri. Suatu situasi kelimpahan dukungan serupa, tampaknya juga sedang dialami dan mengarus menuju SBY dan Partai Demokrat ketika menghadapi Pemilihan Umum 2009. Di sini, dalam situasi seperti itu, unsur kualitatif tidak lagi merupakan ukuran.</p>
<p>Sebenarnya, hanya dalam tempo yang tidak terlalu lama, dukungan berkualitas terhadap Golkar telah berakhir. Sejak tahun-tahun awal setelah kemenangan dalam Pemilihan Umum 1971, telah terbukti bahwa sebagian unsur ABRI –yang memiliki peranan historis dalam kelahiran Sekber Golkar di tahun 1964– telah lebih mengutamakan menjalankan agenda kekuasaan demi kekuasaan bagi kliknya sendiri, dan dalam waktu bersamaan menyingkirkan kolega-koleganya yang masih punya idealisme.</p>
<p>Peranan kaum cendekiawan yang potensil menjadi sumber modernisasi dalam kehidupan berpolitik, hanya ditempatkan sebagai pajangan untuk penciptaan opini. Kino-kino ‘pendiri partai’ yang seolah-olah representasi kaum sipil dari mula juga tak lain dari institusi-institusi yang dapat dikatakan kepanjangan klik-klik tentara di kalangan sipil. Dari waktu ke waktu pimpinan kharismatis dari Kino-kino faktual adalah para tentara atau mantan tentara. Sementara itu, kekuatan birokratis adalah kekuatan yang sangat tergantung kepada fakta siapa yang berkuasa, dialah yang berhak untuk mengendalikan kekuatan birokratis, cepat atau lambat. Maka kita melihat bahwa sepanjang puluhan tahun masa kekuasaan Soeharto, peranan dalam Golkar dipegang oleh kekuatan tentara (klik-klik tentara) dan kekuatan birokrasi (klik-klik birokrat). Sebagian dari klik-klik ini menjadi pelaku utama berbagai perilaku KKN, pelanggaran hak azasi manusia dan tindakan anti demokrasi’, ibarat hutang yang kelak ditagih rakyat.</p>
<p>Rekrutmen cendekiawan juga secara berangsur-angsur berubah dari pemikir menjadi rekrutmen perorangan cendekiawan yang dibutuhkan sebagai pemanis penampilan intelektual. Dan pada sisi lain, cendekiawan yang bergabung juga berangsur-angsur berubah menjadi perorangan-perorangan yang masuk untuk kepentingan khusus bagi dirinya, untuk target-target bisa terpilih jadi rektor atau terpilih mengisi jabatan-jabatan pemerintahan, sebagai Dirjen, Gubernur dan terutama sebagai Menteri Kabinet. Masa pengharapan untuk tampilnya Golkar menjadi kekuatan politik motor pembaharuan dan modernisasi yang kualitatif, tidak melampaui akhir 1973 dan praktis berakhir menjelang Pemilihan Umum 1977. Bahwa senantiasa masih hidup upaya-upaya menampilkan kaum cendekiawan atau unsur generasi muda yang berkualitas, harus diakui tetap terjadi secara insidental, semisal pada periode 1982 hingga 1987. Tetapi rekrutmen legislatif pada Pemilihan Umum 1987 dan sesudahnya membuktikan bahwa upaya seperti itu gagal samasekali. Kalau toh cendekiawan (tepatnya perorangan dengan atribut-atribut kesarjanaan) masuk, yang terbanyak hanyalah bahwa perorangan yang berhasil masuk itu tak terlepas dari kaitan unsur subjektif, seperti putera-puteri pejabat atau putera-puteri tentara, dan sebagainya.</p>
<p><strong><em>Berlanjut ke Bagian 2</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tak Ada yang Abadi, Hiduplah Sepenuhnya Hari Ini]]></title>
<link>http://nesia.wordpress.com/2009/05/26/tak-ada-yang-abadi-hiduplah-sepenuhnya-hari-ini/</link>
<pubDate>Tue, 26 May 2009 09:34:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>Toga Nainggolan</dc:creator>
<guid>http://nesia.wordpress.com/2009/05/26/tak-ada-yang-abadi-hiduplah-sepenuhnya-hari-ini/</guid>
<description><![CDATA[Dijadwalkan bertemu selama 30 menit, saya akhirnya ngobrol hampir 2 jam dengan beliau. Tampak betul,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dijadwalkan bertemu selama 30 menit, saya akhirnya ngobrol hampir 2 jam dengan beliau. Tampak betul,]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pak Boed yang Tidak Saya Kenal (3)]]></title>
<link>http://rusdimathari.wordpress.com/2009/05/25/pak-boed-yang-tidak-saya-kenal-3/</link>
<pubDate>Sun, 24 May 2009 20:25:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>rusdi mathari</dc:creator>
<guid>http://rusdimathari.wordpress.com/2009/05/25/pak-boed-yang-tidak-saya-kenal-3/</guid>
<description><![CDATA[Merujuk kepada Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2007 junto Perpres No. 111 /2007 tentang Daftar Neg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://bisniskeuangan-kompas-com.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1028" title="Boediono" src="http://rusdimathari.wordpress.com/files/2009/05/bb1.jpg" alt="Boediono" width="116" height="88" /></a>Merujuk kepada Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2007 junto Perpres No. 111 /2007 tentang Daftar Negatif Investasi, investasi asing pada bisnis telekomunikasi jaringan tetap (<em>fixline</em>) ditetapkan maksimal sebesar 45 persen. Namun Indosat rupanya merupakan pengecualian. Kali pertama Indosat dijual kepada STT (Temasek) 15 Desember 2002, menteri BUMN waktu itu dijabat oleh Laksamana Sukardi (sekarang menjadi petinggi di Partai Demokrasi Pembaruan, pecahan PDIP, yang sekarang juga merapat ke Yudhoyono) dan Boediono sebagai menteri keuangan.<!--more--></p>
<p>oleh <strong>Rusdi Mathari</strong><br />
Sebelum reformasi, tak ada yang memerhatikan nama Boediono, kecuali majalah <em>Ummat y</em>ang menjelang runtuhnya kekuasaan Soeharto di tahun 1998, pernah menempatkannya sebagai orang yang pantas menjadi Gubernur Bank Indonesia. Saat itu Boediono adalah Direktur II (Bidang Akuntasi) BI. Dia kemudian mulai menarik perhatian ketika Presiden B. J. Habibie melantiknya sebagai Kepala Bappenas.</p>
<p>Nama Boediono semakin menjadi perhatian, saat dia lantik Presiden Megawati sebagai menteri keuangan, Jumat 10 Agustus 2001. Habis masa jabatan Megawati, Boediono dipercaya menjadi Menko Perekonomian oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Lalu tahun silam, setelah dua calon Yudhoyono masing-masing Dirut Bank Mandiri Agus DW Martowardojo dan Wakil Dirut Perusahaan Pengelola Aset (metamorfosis BPPN) Raden Pardede— yang diajukan untuk menggantikan Burhanudin Abdullah sebagai Gubernur BI ditolak oleh anggota parlemen, Boediono dipilih oleh Yudhoyono untuk maju sebagai kandidat.</p>
<p>Hasilnya dalam uji kepatutan dan kelayakan di DPR, Senin 7 April 2008, Boediono mengantongi 45 suara dari 46 suara sah. Satu-satunya suara yang menolak Boediono adalah Dradjad Hari Wibowo, anggota DPR dari Fraksi PAN, yang kini bergabung menyokong pencalonan Jusuf Kalla-Wiranto. Boediono yang mendapat “restu” dari Senayan saat itu, untuk kali pertama telah menyelamatkan muka Yudhoyono.</p>
<p>Dengan menempati posisi penting dalam tiga pemerintahan era reformasi itu, Boediono nisacya memang banyak berurusan dengan seluk beluk keuangan negara, termasuk berurusan dengan BPPN dengan penjualan aset-asetnya. Bank Central Asia yang dijual kepada Farallon Capital Partners, 14 Maret 2002 adalah salah satunya.</p>
<p>Catatan tentang Boediono, akan tetapi tak hanya bersangkutpaut dengan aset-aset yang dikuasai BPPN. Rabu 28 April 2004, di depan Komisi IX DPR-RI, Boediono mengajukan usulan agar privatisasi sejumlah BUMN bisa dilakukan pada tahun itu. Ada 28 BUMN yang diusulkan Boediono untuk dijual, tujuh diantaranya diminta diprioritaskan pada tahun itu juga. Ketujuh BUMN itu adalah Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (Bank BNI), PT Tambang Timah, PT Aneka Tambang, PT Tambang Batubara Bukit Asam, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, dan PT Merpati Nusantara Airlines.</p>
<p>Kalangan DPR waktu itu mengingatkan agar Boediono, menunda penjualan semua BUMN itu. Alasannya, waktu privatisai dinilai kurang tepat karena menjelang pelaksanaan Pemilu Presiden 2004. Jika penjualan BUMN itu tetap dilakukan, orang-orang di Senayan mengkhawatirkan hasilnya kurang optimal. Pada tahun itu, yang akhirnya dijual adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk.</p>
<p>Sebanyak 30 persen saham BNI dilepas melalui penawaran umum kedua (<em>secondary public offering</em>). Ini adalah teknik “penjualan” yang paling aman, ketimbang penjualan melalui <em>strategic sale</em> yang sering menimbulkan lebih banyak penolakan.</p>
<p>Bank BNI semula merupakan bank terbesar di Tanah Air tapi sekarang hanya menempati urutan keempat dari sisi aset. Duduk di kursi Direktur Utama saat ini adalah Gatot Mudiantoro Suwondo yang menggantikan Sigit Purnomo. Gatot adalah suami dari adik perempuan Ani Yudhoyono.</p>
<p>Majalah <em>Trust</em> menulis, ketika menjadi direktur Bank Danamon, Gatot pernah dijadikan tersangka oleh polisi dalam skandal pembobolan bank itu sebesar Rp 110 miliar. Skandal itu melibatkan Edi Karsanto (pejabat di departemen keuangan). Oleh majalah yang sama disebutkan, sebagian dana itu disumbangkan untuk kepentingan pencalonan Yudhoyono pada Pemilu Presiden 2004 (lihat “<a href="http://www.majalahtrust.com/verboden/verboden/747.php">Misteri Rekening Edi Karsanto</a>,” <em>Trust</em>, 16-23 Agustus 2004). Namun sesuai catatan KPU, pada putaran pertama Pemilu Presiden 2004, Gatot “hanya” menyumbang Rp100 juta kepada pencalonan kakak iparnya itu.</p>
<p><strong>Temasek</strong><br />
Dalam hal penjualan BUMN itu, yang paling menimbulkan kontroversi tentu adalah penjualan 41,94 persen saham PT Indonesia Satelit Tbk. alias Indosat. Penjualan itu secara resmi terjadi pada Minggu, 15 Desember 2002. Terungkap dalam siaran pers Kementerian Negara BUMN hari itu, saham Indosat telah dijual kepada Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd. (STT) dan <em>share purchase agreement</em> telah diteken pada tanggal tersebut.</p>
<p>Belakangan diketahui pihak Singapura sebagai pembeli menggunakan mekanisme special vehicle yaitu STTC meskipun katanya saham STTC 99 persen dimiliki STT. Hal itu tentu saja menimbulkan kecurigaan alias kurang transparan. Misalnya, mengapa pihak pembeli bukan STT seperti yang diatur dalam <em>share purchase agreement</em> dan harus menggunakan <em>special vehicle</em>?</p>
<p>Yang mungkin menarik dari penjualan Indosat itu, adalah lobi-lobi tingkat tinggi yang lalu lalang mendahuluinya. Lobi-lobi itu terutama dilakukan oleh pejabat-pejabat dari STT dan Telkom Malaysia Bhd yang juga ikut tender. Lewat Temasek Holdings, induk usahanya, STT ketika itu dikabarkan mendekati Taufiq Kiemas, suami Megawati. Sementara pejabat Telkom Malaysia masuk melalui jalur Hamzah Haz, Wakil Presiden. Begitu sengitnya upaya lobi itu, Taufiq disebut-sebut mendesak Megawati untuk memilih Temasek.</p>
<p>Setidaknya begitulah yang pernah disebutkan oleh situs<em> laksamana.net</em>. Sempat berganti nama menjadi <em>parasindo.com</em>, situs <em><a href="http://www.laksamana.net/">laksamana.net</a></em> saat ini telah berganti berisi konten tentang asuransi.</p>
<p>Lalu ketika Temasek akhirnya menjadi pemenang, gelombang protes mewarnai penjualan Indosat. Pemerintahan Megawati waktu itu dinilai gagal melindungi aset-aset strategis, termasuk Indosat yang bergerak di bidang jasa telekomunikasi dan satelit.</p>
<p>Temasek adalah raksasa telekomunikasi berpengaruh di Singapura. Pemegang saham terbesar Temasek adalah Lee Hsien Liong, Menteri Keuangan Singapura— putra Lee Kuan Yew, bekas PM Singapura, yang mewakili pemerintah Singapura.</p>
<p>Di Indonesia, konglomerasi ini sudah cukup lama dikenal karena keterlibatan bisnisnya dengan sejumlah taipan dan usahanya memburu sektor telekomunikasi. Nama Temasek paling tidak sudah dikenal ketika membentuk PT Bukaka Sing Tel pada tahun 1996. Perusahaan ini, kala itu, memenangkan tender pembangunan 403 ribu sambungan baru selama tiga tahun dengan nilai Rp 1,1 triliun.</p>
<p>Lewat STT pula, pada tahun 2001 Temasek termasuk investor yang paling sigap menawar saham PT Telkomsel. Usaha itu kemudian berbuah dengan mengantongi saham operator seluler terbesar di republik ini sebesar 35 persen. Temasek yang menguasai saham STT sampai 67,65 persen, dengan kalimat lain, secara tidak langsung juga menggenggam 23,7 persen saham Telkomsel.</p>
<p>Bersama Cargill Golden Agri Resources, Temasek juga masuk dalam pengelolaan dan pengembangan perkebunan minyak kelapa sawit di Indonesia. Bisnis ini semula hanya dimonopoli konglomerat seperti Eka Tjipta Wijaya, yang antara lain bekerja sama dengan Liem Sioe Liong dan Ciputra.</p>
<p>Cargill adalah salah satu perusahaan pengolah minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Luas perkebunannya lebih dari dari 258 ribu hektar dengan 16 fasilitas penambangan minyak kelapa sawit mentah. Tak mengherankan karena itu, Cargill memiliki posisi dan reputasi kuat dalam perdagangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Karena keperkasaan Cargill itulah, Temasek tertarik terjun di pengelolaan kelapa sawit Indonesia. Temasek berharap dari kerjasama dengan Cargill bisa membuka pasar kelapa sawit, setidaknya di Asia.</p>
<p>Ketertarikan Temasek masuk ke Cargill, karena di sana juga ada saham Liem Sioe Liong. Nama yang dianggap oleh Temasek dianggap sebagai jaminan nomor wahid. Lewat Salim Group, Liem memiliki 20 persen saham Camerlin Group, di mana Temasek juga mempunyai saham besar di dalamnya.</p>
<p>Camerlin adalah sebuah perusahaan investasi global yang aset terbesarnya ditanam pada Southern Steel Bhddan Brierley Investments Limited. Keluarga Liem dan juga Suharto, bekas Presiden RI sama-sama memiliki 24,4 persen saham Brierley Investments, yang mayoritas sahamnya juga dimiliki oleh Temasek.</p>
<p>Di luar Indonesia, gurita bisnis Temasek juga melilit di banyak negara, termasuk di Belgia dan Filipina. Di Thailand dengan membeli saham Advanced Info Service, sebuah perusahaan seluler yang memiliki 9,75 juta pelanggan. Di Hong Kong, Temasek mengantongi kepemilikan saham APT Satelite, penyedia jasa satelit telekomunikasi untuk kawasan Asia Pasifik. Temasek juga masuk di India melalui Bharti Grup, perusahaan yang bergerak di sektor jasa telepon seluler, telepon tetap, hingga satelit. Keikutsertaan Temasek itu, semuanya lewat STT.</p>
<p>Lalu sejak Sabtu 7 Juni 2008, Indosat dijual oleh Asia Mobile Holding Pte.Ltd kepada Qatar Telecom alias QTel seharga Rp 16 triliun atau melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan harga penjualan Indosat kepada STT yang Rp 5 triliun. Asia Mobile merupakan anak perusahaan Temasek. Perusahaan itu merupakan kongsi yang didirikan oleh Qatar Telecom dan STT dengan sebagian besar sahamnya (75 persen) dimiliki STT.</p>
<p>Dengan kata lain dalam waktu lima tahun, modal Temasek bukan saja telah kembali tapi bahkan sudah menangguk untung berlipat. Jika rata-rata setiap tahun Indosat membukukan laba Rp 1 triliun bisa dibayangkan, keuntungan yang dikantongi oleh Temasek selama lima tahun.</p>
<p><strong>Indosat</strong><br />
Ada pun Indosat adalah perusahaan telekomunikasi yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia, Jakarta dan New York Stock Exchange, Amerika Serikat. Sebagai operator seluler terbesar kedua di Indonesia, Indosat menguasai 28,6 persen pangsa pasar seluler GSM atau lebih dari 36,5 juta pelanggan.</p>
<p>Setelah dijual kepada STT, berdasarkan laporan tahunan resmi yang dikeluarkan Indosat, pajak yang diterima negara dari Indosat diketahui terus menurun. Semula Rp 724 miliar (2004), lalu menjadi Rp 697 miliar (2005) dan akhirnya Rp 576 miliar (2006). Dalam surat somasi bernomor 134/SAA-AWA/VII/08, yang ditujukan kepaa STT, pengacara A. Wirawan Adnan dan Iwan Priyatno dari Law Firm Sholeh.Adnan &#38; Associates menyebutkan, penurunan itu ditengarai disengaja dan merupakan kejahatan sistematis akibat <em><a href="http://74.125.153.132/search?q=cache:QHzhmb1j600J:digilib.petra.ac.id/jiunkpe/jou/eakt/2000/jiunkpe-ns-jou-2000-98-039-1527-transfer_pricing-resource1.pdf+definisi+transfer+pricing&#38;cd=2&#38;hl=id&#38;ct=clnk&#38;gl=id">transfer pricing</a></em> sesama perusahaan induk Temasek.</p>
<p>Disebutkan dalam surat somasi itu, dalam tiga tahun tersebut, auditor eksternal Indosat juga menemukan transaksi derivatif yang dilakukan oleh Indosat sebesar US$ 275 juta atau sekitar Rp 2.5 triliun. Transaksinya meliputi 17 kontrak perjanjian dengan berbagai institusi keuangan. Antara lain Goldman Sachs Capital New York, Standard Chartered Bank Jakarta, JP Morgan Chase Bank Singapore, Merril Linch Capital, Barclays Capital London, ABN Amro Bank, dan HSBC.</p>
<p>Akibat transaksi itu, Indosat dikabarkan menderita kerugian hingga Rp 652 miliar selama tiga tahun dimaksud. Pemerintah sebagai pemegang saham 14,29 persen Indosat (minoritas), karena itu juga dirugikan Rp 93 milliar, dan negara berpotensi kehilangan pemasukan pajak sebesar 30 persen (setara Rp 196 milliar). Mengingat Indosat adalah perusahaan public, publik pun dirugikan Rp 283 miliar akibat transaksi tersebut.</p>
<p>Law Firm Sholeh.Adnan &#38; Associates adalah pengacara dari Marwan Batubara (Anggota DPD RI, Anggota ILUNI UI Jakarta), Chandra Tirta Wijaya (Anggota ILUNI UI Jakarta), Bagus Satrianto (Anggota ILUNI UI Jakarta), Venny Zano (Anggota ILUNI UI Jakarta), Ismed Hasan Putro (Pengurus Masyarakat Profesional Madani/MPM), Agus Salahuddin (Anggota ILUNI UI Jakarta) dan Taufik Amrullah (Pengurus KAMMI). Mereka mengeluarkan somasi, menyusul pernyataan Kuan Kwee Jee, Senior Vice President Strategic Relations and Corporate Communication STT yang dimuat <em>Investor Daily</em>, Kamis, 19 Juni 2008 berjudul “STT Tak Ingin Permalukan RI.”</p>
<p>Dalam wawancara itu, Kuan antara lain mengatakan, dalam lima tahun STT untung lima kali lipat dari saham Indosat. Dia mengatakan, banyak kalangan menilai, STT juga investor asing lainnya, meraih untung besar karena membeli perusahaan bagus di Indonesia tapi sebenarnya tidak melakukan apa-apa, hanya sekadar menaruh uang.</p>
<p>“Siapa bilang STT tidak melakukan apa-apa dan hanya menaruh modal. Kami melakukan banyak hal. Anda tahu, saat kami masuk di Indosat tahun 2002, perusahaan itu tidak bisa berkembang, tidak punya dana untuk ekspansi. Mau pinjam dana ke bank, <em>credit rating</em>-nya rendah, jadi sulit. Kami masuk lalu membenahi manajemen, memperbaiki struktur keuangan, dan melakukan banyak hal. Hasilnya anda lihat sendiri. Bagaimana keuangan Indosat tahun 2002 dibanding sekarang. Bagaimana lonjakan pelanggannya.,” Begitulah kutipan langsung dari Kuan.</p>
<p>Pernyataan Kuan menurut kantor pengacara itu bertolak belakang dengan fakta. Karena sebelum diambil-alih Temasek, Indosat sebetulnya merupakan BUMN yang terus berkembang sejak 1980. Dalam tiga tahun terakhir sebelum dijual, pendapatan Indosat terus tumbuh, masing Rp 2,992 triliun (2000), Rp 5,138 triliun (2001), dan Rp 6,767 triliun (2002).</p>
<p>Kini kepemilikan BUMN strategis itu sebagian besar sudah tidak di tangan pemerintah. Sejak Maret tahun ini QTel sebagai pemilik baru Indosat, telah melakukan pembelian atas 1.314.466.755 saham seri B, termasuk saham seri B yang mendasari American Depositary Shares dari Indosat. Kedua jenis saham itu mewakili 24,19 persen dari jumlah keseluruhan saham publik yang diterbitkan Indosat.</p>
<p>Dikutip oleh <em><a href="http://www.antara.co.id/arc/2009/2/26/qtel-kuasai-65-persen-saham-indosat/">Antara</a></em>, Ketua QTel Group, Sheikh Abdullah Bin Mohammed Bin Saud Al-Than mengatakan, penguasaan saham mayoritas di Indosat setelah <em>tender offer</em> sukses dilakukan serentak di Indonesia dan Amerika Serikat, sejak Kamis 26 Februari 2009. Tak lupa Al-Thani memastikan dengan tuntasnya akuisisi tersebut, Qtel akan menjadi salah satu 20 perusahaan telekomunikasi terbaik di dunia pada tahun 2020.</p>
<p>Dalam pembelian itu, Qtel menetapkan harga penawaran tender (<em>tender offer</em>) atas setiap lembar saham Indosat sebesar Rp 7.388. Harga tersebut setara dengan harga pembelian Qtel terhadap 40,81 persen saham Indosat dari STT, 22 Juni 2008. Dengan demikian, Qtel saat ini sudah menguasai 65 persen saham Indosat atau menjadi pemegang saham mayoritas.</p>
<p>Merujuk kepada Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2007 junto Perpres No. 111 /2007 tentang Daftar Negatif Investasi, investasi asing pada bisnis telekomunikasi jaringan tetap (<em>fixline</em>) ditetapkan maksimal sebesar 45 persen. Namun Indosat rupanya merupakan pengecualian. Kali pertama Indosat dijual kepada STT (Temasek) 15 Desember 2002, menteri BUMN waktu itu dijabat oleh Laksamana Sukardi (sekarang menjadi petinggi di Partai Demokrasi Pembaruan, pecahan PDIP, yang sekarang juga merapat ke Yudhoyono) dan Boediono sebagai menteri keuangan. (bersambung)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hamzah Haz: "Jangan Percaya Hasil Polling" ]]></title>
<link>http://setiyardi.wordpress.com/2009/04/07/hamzah-haz-jangan-percaya-hasil-polling-2/</link>
<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 12:07:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>adit20m</dc:creator>
<guid>http://setiyardi.wordpress.com/2009/04/07/hamzah-haz-jangan-percaya-hasil-polling-2/</guid>
<description><![CDATA[HAMZAH Haz, 64 tahun, kini makin sibuk. Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini tengah ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>HAMZAH Haz, 64 tahun, kini makin sibuk. Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini tengah berkampanye untuk pemilu presiden 5 Juli mendatang. Bersama Agum Gumelar, seorang pensiunan jenderal, Hamzah getol menyambangi (calon) konstituennya. &#8220;Kalau Allah mengizinkan, saya bisa menang,&#8221; ujar Hamzah, sangat percaya diri. </p>
<p>Hamzah memang harus memupuk kepercayaan dirinya. Maklum, &#8220;Si Peci Miring&#8221; kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat, ini bukan calon presiden yang populer. Pelbagai jajak pendapat (polling) selalu menunjukkan pasangan Hamzah-Agum menempati posisi nomor buncit. Mayoritas responden menilai duet Hamzah-Agum tak cukup kapabel untuk menuntaskan pelbagai persoalan bangsa. Soalnya, track record Hamzah selama menjadi wakil presiden dinilai tak memuaskan publik.<br />
<!--more--><br />
Mengapa Hamzah akhirnya maju ke pencalonan presiden? Benarkah Hamzah hanya menjegal Amien Rais? Bagaimana kansnya? Wartawan TEMPO Setiyardi mewawancarai Hamzah dalam beberapa kesempatan. </p>
<p>Berikut Kutipannya. </p>
<p><strong>Anda adalah calon presiden yang terakhir mendaftarkan diri. Mengapa Anda terlambat mengambil keputusan?<br />
</strong><br />
Tidak terlambat. Saya mengikuti perkembangan politik yang ada. </p>
<p><strong>Apa yang membuat Anda berani mencalonkan diri?<br />
</strong><br />
Prosesnya berlangsung sangat cepat. Pendaftaran saya hanya sehari sebelum batas akhir. Dewan Pengurus Pusat PPP menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada saya. Saya maju karena ini amanat dari Rapat Pimpinan Nasional PPP dan juga 9 juta pemilih PPP. </p>
<p><strong>Mengapa Anda memilih Agum Gumelar sebagai calon wakil presiden?<br />
</strong><br />
Pak Agum memiliki latar belakang militer dan nasionalis yang kuat. Beliau juga orang yang religius. Beliau tokoh dengan jaringan yang luas, mampu menembus batas-batas kelompok. Bagi saya, Pak Agum merupakan pasangan yang tepat. Saya dan Pak Agum dapat saling melengkapi. </p>
<p><strong>Benarkah Anda sebenarnya tak serius, tapi hanya menjegal calon lain demi Megawati?<br />
</strong><br />
Saya tidak seperti itu. Kalau memang mau main mata dengan Ibu Megawati, itu bisa dilakukan sekarang. Tapi cara-cara seperti itu tidak benar. Pak Mahfud Md. bilang saya menjegal Pak Amien Rais. Pernyataan itu juga tak perlu ditanggapi. Mungkin ini jalan saya untuk mendapat pahala. Yang rugi justru Pak Mahfud sendiri. </p>
<p><strong>Tapi memang Amien Rais paling dirugikan&#8230;.<br />
</strong><br />
Kalau mau menjegal, kenapa harus berpayah-payah? </p>
<p><strong>Pelbagai polling menunjukkan kans Anda paling kecil. Bagaimana?<br />
</strong><br />
Jangan terlalu percaya hasil polling itu. Yang ditanyakan dalam polling itu sangat sedikit. Tidak mewakili rakyat. Lagi pula belum tentu benar. Serahkan saja pemilu ini pada rakyat. Biar rakyat yang menentukan. Kalau memang Allah menghendaki, tentu saja saya dan Pak Agum bisa menang dalam pemilu presiden. </p>
<p><strong>Bukankah ada polling yang menggunakan metode statistik yang dapat dipertanggungjawabkan?<br />
</strong><br />
Tidak usah khawatir. Jumlah pemilih mencapai 150 juta. Sedangkan yang ditanya lewat polling cuma ribuan. Jadi kita tidak bisa tahu siapa yang akan menang nanti. </p>
<p><strong>ICW bilang Anda membagi-bagikan uang saat kampanye. Apakah itu untuk memenangkan pemilu?<br />
</strong><br />
Kalau membagikan uang, mungkin hanya untuk mengganti ongkos. Mana mungkin kami bisa membagikan ba-nyak uang. Kami ini duafa. </p>
<p><strong>Berapa total biaya kampanye Anda?<br />
</strong><br />
Itu tim sukses yang mengatur. Tapi kami akan banyak mengandalkan partisipasi para simpatisan. Saya dan Pak Agum juga menyumbang. Tapi jumlahnya sedikit. </p>
<p><strong>Kalau jadi presiden, apa yang akan segera Anda lakukan?<br />
</strong><br />
Kita harus membenahi kualitas sumber daya manusia kita. Itu persoalan utama yang harus diurus. Kualitas SDM kita masih tertinggal jauh dengan negara-negara maju. Untuk itu, saya akan memperbaiki sistem pendidikan kita. Saya akan membebaskan biaya pendidikan bagi anak SD sampai SMA. Mereka harus diberi kesempatan se-kolah secara gratis. </p>
<p><strong>Mungkinkah?<br />
</strong><br />
Jangan lupa, kita adalah negara kaya. Kekayaan alam melimpah. Kalau itu bisa dimanfaatkan, dan korupsi diberantas, sekolah tentu bisa diberikan secara gratis. </p>
<p><strong>Kalau Anda menang, benarkah Anda akan mengupayakan penerapan syariat Islam?<br />
</strong><br />
Bagi saya, ideologi Pancasila sudah final. Itu tidak bisa diganggu-gugat lagi. PPP memang sangat kental dengan Islam. Tapi Pancasila juga punya &#8220;Ketuhanan Yang Maha Esa&#8221;. Itu merupakan dasar untuk kita ber-habluminallah dan ber-habluminannas. Jadi, tidak ada masalah antara Pancasila dan Islam.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hamzah Haz: "Jangan Percaya Hasil Polling" ]]></title>
<link>http://setiyardi.wordpress.com/2009/04/06/hamzah-haz-jangan-percaya-hasil-polling/</link>
<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 16:48:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>adit20m</dc:creator>
<guid>http://setiyardi.wordpress.com/2009/04/06/hamzah-haz-jangan-percaya-hasil-polling/</guid>
<description><![CDATA[HAMZAH Haz, 64 tahun, kini makin sibuk. Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini tengah ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>HAMZAH Haz, 64 tahun, kini makin sibuk. Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini tengah berkampanye untuk pemilu presiden 5 Juli mendatang. Bersama Agum Gumelar, seorang pensiunan jenderal, Hamzah getol menyambangi (calon) konstituennya. &#8220;Kalau Allah mengizinkan, saya bisa menang,&#8221; ujar Hamzah, sangat percaya diri. </p>
<p>Hamzah memang harus memupuk kepercayaan dirinya. Maklum, &#8220;Si Peci Miring&#8221; kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat, ini bukan calon presiden yang populer. Pelbagai jajak pendapat (polling) selalu menunjukkan pasangan Hamzah-Agum menempati posisi nomor buncit. Mayoritas responden menilai duet Hamzah-Agum tak cukup kapabel untuk menuntaskan pelbagai persoalan bangsa. Soalnya, track record Hamzah selama menjadi wakil presiden dinilai tak memuaskan publik. </p>
<p>Mengapa Hamzah akhirnya maju ke pencalonan presiden? Benarkah Hamzah hanya menjegal Amien Rais? Bagaimana kansnya? Wartawan TEMPO Setiyardi mewawancarai Hamzah dalam beberapa kesempatan. </p>
<p>Berikut Kutipannya.</p>
<p><strong>Anda adalah calon presiden yang terakhir mendaftarkan diri. Mengapa Anda terlambat mengambil keputusan?<br />
</strong><br />
Tidak terlambat. Saya mengikuti perkembangan politik yang ada. </p>
<p><strong>Apa yang membuat Anda berani mencalonkan diri?<br />
</strong><br />
Prosesnya berlangsung sangat cepat. Pendaftaran saya hanya sehari sebelum batas akhir. Dewan Pengurus Pusat PPP menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada saya. Saya maju karena ini amanat dari Rapat Pimpinan Nasional PPP dan juga 9 juta pemilih PPP. </p>
<p><strong>Mengapa Anda memilih Agum Gumelar sebagai calon wakil presiden?<br />
</strong><br />
Pak Agum memiliki latar belakang militer dan nasionalis yang kuat. Beliau juga orang yang religius. Beliau tokoh dengan jaringan yang luas, mampu menembus batas-batas kelompok. Bagi saya, Pak Agum merupakan pasangan yang tepat. Saya dan Pak Agum dapat saling melengkapi. </p>
<p><strong>Benarkah Anda sebenarnya tak serius, tapi hanya menjegal calon lain demi Megawati?<br />
</strong><br />
Saya tidak seperti itu. Kalau memang mau main mata dengan Ibu Megawati, itu bisa dilakukan sekarang. Tapi cara-cara seperti itu tidak benar. Pak Mahfud Md. bilang saya menjegal Pak Amien Rais. Pernyataan itu juga tak perlu ditanggapi. Mungkin ini jalan saya untuk mendapat pahala. Yang rugi justru Pak Mahfud sendiri. </p>
<p>Tapi memang Amien Rais paling dirugikan&#8230;. </p>
<p>Kalau mau menjegal, kenapa harus berpayah-payah? </p>
<p><strong>Pelbagai polling menunjukkan kans Anda paling kecil. Bagaimana?<br />
</strong><br />
Jangan terlalu percaya hasil polling itu. Yang ditanyakan dalam polling itu sangat sedikit. Tidak mewakili rakyat. Lagi pula belum tentu benar. Serahkan saja pemilu ini pada rakyat. Biar rakyat yang menentukan. Kalau memang Allah menghendaki, tentu saja saya dan Pak Agum bisa menang dalam pemilu presiden. </p>
<p><strong>Bukankah ada polling yang menggunakan metode statistik yang dapat dipertanggungjawabkan?<br />
</strong><br />
Tidak usah khawatir. Jumlah pemilih mencapai 150 juta. Sedangkan yang ditanya lewat polling cuma ribuan. Jadi kita tidak bisa tahu siapa yang akan menang nanti. </p>
<p><strong>ICW bilang Anda membagi-bagikan uang saat kampanye. Apakah itu untuk memenangkan pemilu?<br />
</strong><br />
Kalau membagikan uang, mungkin hanya untuk mengganti ongkos. Mana mungkin kami bisa membagikan ba-nyak uang. Kami ini duafa. </p>
<p><strong>Berapa total biaya kampanye Anda?<br />
</strong><br />
Itu tim sukses yang mengatur. Tapi kami akan banyak mengandalkan partisipasi para simpatisan. Saya dan Pak Agum juga menyumbang. Tapi jumlahnya sedikit. </p>
<p><strong>Kalau jadi presiden, apa yang akan segera Anda lakukan?<br />
</strong><br />
Kita harus membenahi kualitas sumber daya manusia kita. Itu persoalan utama yang harus diurus. Kualitas SDM kita masih tertinggal jauh dengan negara-negara maju. Untuk itu, saya akan memperbaiki sistem pendidikan kita. Saya akan membebaskan biaya pendidikan bagi anak SD sampai SMA. Mereka harus diberi kesempatan se-kolah secara gratis. </p>
<p><strong>Mungkinkah?<br />
</strong><br />
Jangan lupa, kita adalah negara kaya. Kekayaan alam melimpah. Kalau itu bisa dimanfaatkan, dan korupsi diberantas, sekolah tentu bisa diberikan secara gratis. </p>
<p><strong>Kalau Anda menang, benarkah Anda akan mengupayakan penerapan syariat Islam?<br />
</strong><br />
Bagi saya, ideologi Pancasila sudah final. Itu tidak bisa diganggu-gugat lagi. PPP memang sangat kental dengan Islam. Tapi Pancasila juga punya &#8220;Ketuhanan Yang Maha Esa&#8221;. Itu merupakan dasar untuk kita ber-habluminallah dan ber-habluminannas. Jadi, tidak ada masalah antara Pancasila dan Islam.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kritik, Polemik, Konflik (II)]]></title>
<link>http://lifeschool.wordpress.com/2008/11/13/kritik-polemik-konflik-ii/</link>
<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 03:30:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>bhayu</dc:creator>
<guid>http://lifeschool.wordpress.com/2008/11/13/kritik-polemik-konflik-ii/</guid>
<description><![CDATA[Nah, kalau yang suka polemik, ini bisa Anda amati di media massa. Rupanya ini efek dari ‘ungkep’ (ba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal"><span lang="IN">Nah, kalau yang suka polemik, ini bisa Anda amati di media massa. Rupanya ini efek dari ‘ungkep’ (bahasa Jawa: ditutupi)nya kebebasan berserikat, berkumpul, berbicara dan mengeluarkan pendapat selama Orde Baru. Hampir semua orang merasa berhak mengutarakan pendapatnya. Malah, ada yang asal beda dengan yang sudah ada. Ini sebenarnya penyakit kejiwaan, karena keinginan untuk diakui dan didengarkan begitu tinggi, maka yang bersangkutan cenderung untuk menentang apa saja yang diutarakan orang lain. Seorang teman lama saya punya penyakit macam ini. Akan kentara kalau saya berikan contoh sebagai gambaran. Sebagai contoh, saya berkata baru pulang dari Solo, dan saya katakan di sana enak karena di kota itu tidak macet. Dia akan segera menukas, “Ah, sama saja. Solo sekarang juga macet.” Oke. Lantas <em>inner circle </em>saya yang asli Solo akan bilang, “Ya jelas tidak semacet Jakarta, yang punya mobil saja sedikit.” Dan ia dengan gaya yakin menukas secepatnya tanpa berpikir, “Macet mah di mana-mana sama. Di Jakarta, di Solo, macet ya macet.” <em>See</em>, orang itu begitu aneh dan mengesalkannya hingga saya memutuskan tidak menemuinya lagi kecuali terpaksa bertemu. Kasarnya nih, lebih tahu mana orang itu yang bukan orang Solo dengan <em>inner circle </em>saya yang asli Solo.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Di media massa, Anda akan lihat orang-orang kita mulai dari rakyat biasa sampai pejabat atau calon pejabat amat gemar berkonflik. Bersilang pendapat, adu kata dan argumen, hingga ancam-mengancam jelas-jelas menghabiskan energi bangsa. Satu polemik konyol di media massa yang masih saya ingat adalah saat Wakil Presiden di era pemerintahan Megawati Soekarnoputri Taufik Kiemas yaitu Hamzah Haz terpaksa berpolemik membela diri. Itu cuma karena soal sepele, iring-iringan atau konvoi resmi kendaraan kepresidenannya melewati jalur busway. Bahkan seorang Sutiyoso yang Gubernur DKI Jakarta dan <em>nota bene</em> adalah bawahan sang Wapres turut mengecam. Intinya jelas: siapapun tidak boleh lewat jalur <em>busway</em> selain <em>busway</em> (btw, kata <em>busway</em> kan salah kaprah ya?). Padahal, jelas itu bukan keputusan Wapres yang krusial, hanya kebijakan situasional dari Paspampres yang mengawalnya. <em>Wong</em> Wapresnya juga <em>ndak</em> <em>nyetir</em> sendiri <em>gitu lho</em>. Ujung-ujungnya, karena terdesak, Wapres minta maaf untuk hal sepele seperti itu. Luar biasa polemik yang terjadi saat itu karena berlangsung sekitar dua pekan di media massa. Capeek deeh!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Bila polemik yang berarti adu argumen tidak selesai atau tidak memuaskan salah satu atau malah semua pihak yang bertikai, maka akan melebar ke arah konflik. Dan inilah yang dipertontonkan dengan telanjang oleh orang-orang yang nafsu jadi pemimpin. Konflik-konflik dalam Pilkada adalah contoh ekstremnya. Dalam skala lebih kecil bahkan perkelahian antar preman karena rebutan lahan atau uang setoran pun masuk dalam konflik. Bila sudah dalam taraf konflik, penyelesaiannya akan lebih sulit karena melibatkan fisik. Tidak hanya dalam arti bentrok secara fisik, tapi juga implikasi hukum yang menyertainya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sebenarnya resiko konflik banyak, terutama kerugian material bahkan hingga ke kehilangan nyawa. Biar begitu, ternyata konflik tidaklah menyurutkan pihak-pihak yang bertikai untuk adu kuat. Karena memang, bila sudah terjadi konflik, yang terjadi sebenarnya adalah adu ego. Meski, tentu saja untuk justifikasi selalu dibawa masalah harga diri dan kehormatan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pasca jadi usahawan apalagi kini mencoba kembali terjun sebagai aktivis, tak jarang saya terpaksa berkonflik. Kebanyakan karena masalah administratif dan lebih sering dengan birokrasi. Tapi untuk soal ini sebenarnya yang diperlukan adalah keahlian plus kesabaran. Karena mental birokrat kita amat sangat feodal dan priyayi, kebanyakan dari mereka itu sangat anti kritik, tapi gemar berpolemik bahkan berkonflik. Untuk soal ini kapan-kapan saya akan ceritakan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Penyelesaiannya tidak sulit, yakinlah tindakan atau ucapan ktia sesuai prosedur dan kita bisa maju terus walau dihadang konflik. Dan tetaplah berpikiran positif. Kalau kita yang dikritik, maka sebenarnya itu adalah cermin dari orang lain untuk kita memperbaiki diri. Hanya saja Anda harus mampu memilih, mana yang relevan dan tidak. Yang terakhir, sebisa mungkin hindari polemik dan konflik. Namun, jangan menghindar bila ternyata akhirnya terbentur dengannya. Hadapi, karena itu ciri manusia yang berani menerima kritik dan juga sanggup mengkritik secara proporsional dan jantan.<br />
</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemerintah Menyerah, Kita Semua Pengecut, Maka Biarlah Sidoarjo Tenggelam…]]></title>
<link>http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/09/15/pemerintah-menyerah-kita-semua-pengecut-maka-biarlah-sidoarjo-tenggelam%e2%80%a6/</link>
<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 15:32:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>Robert Manurung</dc:creator>
<guid>http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/09/15/pemerintah-menyerah-kita-semua-pengecut-maka-biarlah-sidoarjo-tenggelam%e2%80%a6/</guid>
<description><![CDATA[Ironisnya, rakyat kita gampang sekali dihasut dan diadu domba untuk saling menyakiti : FPI menyerang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ironisnya, rakyat kita gampang sekali dihasut dan diadu domba untuk saling menyakiti : FPI menyerang]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aa Gym dimata Insan Sains]]></title>
<link>http://insansains.wordpress.com/2008/08/15/aa-gym-dimata-insan-sains/</link>
<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 10:40:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Insan</dc:creator>
<guid>http://insansains.wordpress.com/2008/08/15/aa-gym-dimata-insan-sains/</guid>
<description><![CDATA[Tulisan ini telah dimuat di www.pintunet.com (dengan sedikit revisi) Astaghfirullah…… rabbal baraaya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><em>Tulisan ini telah dimuat di www.pintunet.com (dengan sedikit revisi)<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Astaghfirullah…… rabbal baraaya…<br />
Astaghfirullah…… minal khathayaa… (2x)</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Barang siapa… Allah tujuannya…<br />
Niscaya dunia… akan melayaninya…<br />
Namun siapa… dunia tujuannya…<br />
Niscaya kan letih… dan pasti sengsara…<br />
Diperbudak dunia… sampai akhir masa…</em></p>
<p style="text-align:justify;">Entahlah berapa banyak orang yang mengenal syair diatas. Pun saya tak tahu berapa banyak orang yang tersentil dengan syair tersebut. Yang jelas saat menulis tulisan ini di malam yang sepi sambil mendengarkan nasyid tersebut tiba-tiba air mata saya berlinang, seakan-akan tersodorkan sebuah cermin yang memperlihatkan betapa wajah yang selama ini sibuk mengejar kebahagiaan, ternyata hanya memperpayah diri meraup kebahagiaan semu. Syair ini pula yang makin dimaknai makin menembus ke dasar hati terlebih mengorek-ngorek timbunan memori dimana sang penyair telah menorehkan sebuah kenangan manis bagi si penulis ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://insansains.wordpress.com/files/2008/08/aagym2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-415" src="http://insansains.wordpress.com/files/2008/08/aagym2.jpg" alt="" width="220" height="258" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Rasa kehilangan seorang mubaligh kelahiran tahun 1962 ini mulai menyeruak tatkala berita pernikahannya yang kedua dipaparkan media. Semenjak itu ceramah-ceramah segar yang aplikatifnya itu seakan-akan terbenam ditelan kemarahan orang-orang yang berpendirian bahwa rumah tangga adalah singgasana yang boleh dan hanya boleh diduduki untuk seorang suami dan seorang istri, tidak lebih (selain anak). Ah.. tapi saya tidak ingin mengulas <em>moment</em> ini terlalu jauh. Terlalu nekad jika saya ngotot hendak mengulas hal yang masih belum mempunyai titik pijak yang sama ini, ada bermacam-macam orang, bermacam-macam latar belakang pendidikan, bermacam-macam karakter, dan tentunya bermacam-macam cara pandang pula. Jadi lebih netral bagi saya untuk mengulas tokoh ini sebatas pengalaman saya bersua dengan beliau, tidak lebih!</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Jika kita berjalan melewati sebuah wilayah dimana para preman bergerombol, mabuk-mabukan, berjudi. Kira-kira apakah yang akan kita lakukan? Jangankan melewati, mungkin mendengar nama wilayahnya saja sudah membuat bulu kuduk kita merinding. Lain hal dengan ulama yang pernah mengenyam ilmu di Fakultas Teknik Elektro Jendral Ahmad Yani Cimahi ini, beliau malah mengontrak 2 kamar dari 20 kamar yang ada di wilayah &#8220;gembong berandal&#8221; tersebut. Dua kamar! Dan Aa menggunakannya untuk menimba ilmu agama bersama kawan-kawannya. Lalu siapa pula yang menyangka, Aa akhirnya berhasil mengontrak seluruh kamar, bahkan membeli kepemilikannya seharga 100 juta.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini, bangunan sederhana itu tidak terlihat lagi, kecuali telah menjadi bangunan suci, sebuah masjid, sentral menimba ilmu yang bernama <strong>Daarut Tauhiid.</strong> Betapa senangnya masyarakat sekitar kala mendengar akan dibangun sebuah mesjid disana, terlebih mereka membayangkan &#8220;tempat sialan&#8221; dan bangunan &#8220;sumber onar&#8221; yang tengah menemui ajal. Daarut Tauhiid dibangun oleh ribuan tangan dengan dana hasil <em>swadaya</em> (urunan) masyarakat sekitar. Ketulusan dan gotong royong itulah yang mungkin membuat mesjid ini tidak pernah sepi dari para pencari ilmu, baik yang datang dari pelosok Bandung, maupun dari ujung pulau sebelah sana. Tiap malam Jumat maupun malam Ahad, Daarut Tauhiid seakan menjadi sempit dibanjiri para penimba ilmu, bahkan tak sedikit yang bermalam di mesjid. Saya terkadang mesti datang lebih awal, agar bisa menempati &#8220;kavling&#8221; <em>favorite</em> saya di pojok kanan depan masjid tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali lagi ke tokoh utama yang ingin dibahas. Aa Gym yang merasa tidak nyaman dipanggil ustadz maupun kiai ini sungguh sederhana dalam kesehariannya. Pernah suatu ketika saya diamanahi menjadi panitia penerimaan tamu negara, dimana bapak <strong>Hamzah Haz</strong> yang kala itu menjabat sebagai wakil presiden RI, hendak berkunjung ke Daarut Tauhiid dan ke gubuk sederhananya Aa Gym. Panitia berencana mengganti tikar yang ada di rumah Aa dengan karpet yang sedikit lebih bagus, namun Aa malah berujar, &#8220;<em> Tidak perlu repot-repot menyusahkan diri, dan mempercantik apa-apa. Biarlah beliau tahu rumah Aa apa adanya. Lagi pula yang datang kan abdi masyarakat, lebih mulia bagi kita mempercantik diri ketika hendak berjumpa dengan Allah &#8220;</em> Nyess.. kata-kata Aa itu, membuat hati saya menjadi malu sendiri dengan apa yang saya perbuat.</p>
<p style="text-align:justify;">Belum 2&#215;24 jam rasa malu itu benar-benar sirna, sudah ditambah lagi perbuatan memalukan lainnya. Ketika itu terlihatlah Aa sedang berjalan mengantar bapak Hamzah Haz beserta rombongan pulang. Persis di depan saya, sebuah bungkus permen berwarna hijau tua tidur seenaknya di tengah jalan. Adalah aib bagi seorang santri Daarut Tauhiid melihat sampah sekecil apapun terlihat di pelupuk matanya. Maksud hati ingin mengambil, tapi apa boleh buat ternyata Aa menyabetnya lebih dulu dengan sigap. Saya pun dengan tangan masih menggelayut hendak menyentuh tanah hanya bisa terpana dengan mendongakkan pandangan tertuju pada bungkus permen sialan itu yang kini telah masuk jas kokonya Aa. <em>&#8221; Keduluan…! &#8221; </em>ujar kemenangan Aa sambil tersenyum. Sedetik kemudian Aa menepuk-nepuk pundak saya dan berpesan, <em>&#8220;Lain kali lakukanlah kebaikan lebih dahulu dibanding orang lain&#8221;</em>. Glegh… kata-kata itu langsung menghujam di hati saya. Sambil mengepalkan tangan dan berucap dalam hati, &#8221; InsyaAllah mulai saat ini, saya adalah orang pertama yang melakukan kebaikan &#8220;</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://insansains.wordpress.com/files/2008/08/aagym21.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-416" src="http://insansains.wordpress.com/files/2008/08/aagym21.jpg" alt="" width="145" height="205" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Saya rasa Anda, dan juga saya setuju bila dikatakan bahwa ceramah-ceramahnya Aa Gym begitu ringan dan aplikatif tentang akhlaq sehari-hari. Hal itulah yang mungkin membuat ceramahnya Aa digemari bukan hanya oleh kaum Muslimin sendiri, tapi juga oleh pemeluk agama lain. Pernah beberapa wartawan asing, sengaja datang, menyewa sebuah <em>cottage</em> di sekitar Daarut Tauhiid demi mendapatkan informasi tentang kehidupan Aa Gym. Beberapa diantaranya mengaku baru memahami Islam yang sesungguhnya setelah merekam gerak-gerik Aa, padahal Aa tidak pernah memberikan ceramah kepadanya melainkan sekedar mengijinkan pergi kemana Aa pergi, bahkan ada diantaranya yang mengucapkan dua kalimat syahadat yang langsung disaksikan Aa beserta jemaah yang hadir ketika itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak hanya itu, Aa punya ide-ide brilian dalam menyebarkan dakwahnya. Mulai dari membangun station radio AM, yang saat itu diberi nama Radio Ummat, kemudian dirasa kurang puas, dibangunlah pula station radio FM yang diberinama MQ FM, lalu beberapa tahun yang lalu Aa membuat station televisi MQ. Aa menyadari bahwa semua itu tidak terlepas dari kebutuhan dana dan biaya. Aa kemudian mengambil langkah strategis dengan membangkitkan perekonomian umat. Aa mulai membangun Swalayan bernama SMM DT, kemudian mendirikan PT. MQS, dan puluhan perusahaan yang Aa dirikan untuk menyokong dakwahnya tersebut. Jadi selain sebagai seorang ulama yang duduk berceramah, bisa dikatakan Aa pula seorang <em>entrepreneur</em> yang aktif membangun perekonomian. Bukan hanya memberikan dakwah-dakwah teoritis, tapi juga teladan praktis.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p style="text-align:justify;">Ujian popularitas pun akhirnya datang menghampiri, Aa yang dulunya takut terkenal, takut banyak orang yang secara tidak sengaja mengkultuskannya (datang ke ceramahnya sekedar keinginan bertemu si tokoh), dan juga takut berhadapan dengan kamera akhirnya mulai dikenal publik. Puluhan bahkan ratusan proposal permintaan pengisian pengajian tiap bulannya makin menggunung. Aa saat itu mulai kewalahan. Ditambah lagi, media mulai melirik Aa sebagai &#8220;objek&#8221; baru, penglaris tayangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesibukan Aa mulai menjadi-jadi. Mengisi ceramah seharian penuh, tidur sebentar, besoknya harus kembali memenuhi undangan dari sana sini, 1 hari 24 jam, 7 hari seminggu, tiada henti. Pernah dua kali saya memergoki Aa kecapean di belakang layar. Pertama, sepulang dari luar kota dimana setibanya di Daarut Tauhiid Aa langsung mengisi acara rutin yang diasuhnya. Tampak bibirnya yang kaku, matanya yang nanar dan suaranya yang parau. Kali yang kedua adalah saat acara MILAD Daarut Tauhiid di JHCC Senayan Jakarta. Di belakang panggung sebelum Aa memasuki podium, saya melihatnya benar-benar kelelahan. Namun Aa yang melihat raut muka saya sedang mengkhawatirkan keadaannya berkata menenangkan, <em>&#8221; Aa memang sedikit kelelahan, tapi inilah resiko berada di jalan dakwah. Tolong doakan ya! &#8220;</em>. Tak lama, rombongan team nasyid Raihan pun sekonyong-konyong datang menghampiri, dan Aa seakan mengubur kelelahan yang baru saja nampak jelas saya lihat, berganti menjadi sebuah senda gurau segar dengan para artis Malaysia itu. Dan saya pun yakin, tak banyak orang yang tahu bahwa saat beliau ceramah, bisa jadi saat itu beliau dalam kelelahan yang teramat sangat, namun selalu beliau tutupi dengan canda dan senyumnya.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, dibalik kearifan seorang Aa gym yang menjadi tokoh idola ke-2 dari 8 tokoh idola saya yang lainnya ini, ada pula satu tokoh yang perlu saya catutkan namanya disini. Yaitu tokoh yang menjadi penginspirasi dan pemotivator Aa. Dialah guru agama pertamanya Aa. <strong>Agung Gun Martin</strong>, seorang adik kandung yang lumpuh, cacat, dan hampir tuli. Sang adik yang kala itu dalam hal ilmu spiritual lebih tinggi dari kakaknya ini, tak pernah semalam pun lepas dari shalat wajib dan tahajudnya, meski bernafas saja sulit, sang adik tetap mendisiplinkan diri untuk pergi ke mesjid. Aa bahkan dengan setia menggendong sang adik yang hendak berangkat ke mesjid maupun ke kampus ini. Ada rasa penasaran yang menyeruak dalam hati Aa akan kesabaran dan sikap tak pernah mengeluhnya sang adik ini. Hingga pada suatu kesempatan Aa menanyakan langsung tentang berbagai kekurangan adiknya yang selalu ia hadapi dengan senyuman. Dengan ringan sang adik menjawab sambil tersenyum <em>&#8221; Aa.. untuk apa atuh mengeluh. Bukannya itu tidak akan mengubah keadaan. Lebih baik sabar saja. insyaAllah dapat pahala &#8220;</em>. Jawaban itu seakan-akan menjadi guntur yang memecahkan keangkuhan seorang Aa Gym. Ditambah lagi, adik yang dicintainya ini akhirnya harus meregang nyawa saat berada di pangkuan sang kakak, tak ayal lagi <em>moment </em>itu menjadi titik balik perubahan hidup seorang Aa Gym.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah sekelumit kisah yang bisa saya bagi dari pengalaman saya bersama dengan Aa Gym, tidak lama, sebab sejak tahun 2001 saya harus pindah ke Jakarta, dan beramal menurut bidang yang dianugerahkan kepada saya. Jika opini ini pun dilihat dan dibaca pula oleh Aa, maka pertama-tama saya ucapkan salam. Dan teriring doa untuk Aa, teteh-tetehnya, dan keluarganya semoga selalu diberkahi, diberikan kesehatan yang prima, dijauhkan dari fitnah, terutama diberikan kelapangan hati. Saya menghaturkan segala rasa syukur dan terima kasih atas ilmu-ilmu yang Aa bagikan, terlebih teladan yang Aa perlihatkan. Sungguh semua itu, menghujam dalam hati saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Terima kasih pula untuk media-media yang masih tetap istiqamah menyebarluaskan ceramah-ceramahnya Aa. Media yang tidak menjadikan agama sebagai tunggangan meraup keuntungan dan memutus kontrak saat ketenaran sang &#8220;aktor&#8221; mulai merosot. Cukuplah sebuah keuntungan itu dapat memberi jalan hidayah bagi yang mencarinya. Tidak perlu juga bagi kita memutus salah satu jalan hidayah hanya persoalan sepele. Seperti seorang pekerja yang dengan berbagai alasan tidak menyukai atasannya, tapi tetap lekat di perusahaan tersebut, karena atasan tersebut memberinya jalan rizki untuk menyambung hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">Kepada santri-santri Daarut Tauhiid dimana pun berada, tebarlah kebaikan dimana pun berada dan jadilah orang pertama yang berbuat kebaikan. Mudah-mudahan kita selalu ingat dengan tekad kehormatan kita yang pertama, untuk menjadi seorang muslim yang terpercaya sampai mati. Dan tiga pantangan yang akan selalu kita ingat, <strong>pantang mengeluh, pantang menyerah, dan pantang menjadi beban</strong>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Poligami dan Korban-korbannya]]></title>
<link>http://moendg07.wordpress.com/2008/06/09/poligami-dan-korban-korbannya/</link>
<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 15:08:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vara</dc:creator>
<guid>http://moendg07.wordpress.com/2008/06/09/poligami-dan-korban-korbannya/</guid>
<description><![CDATA[Kalau kita berbicara soal Islam, maka hampir otomatis yang dimaksud adalah peremuan berjilbab dan ke]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kalau kita berbicara soal Islam, maka hampir otomatis yang dimaksud adalah peremuan berjilbab dan ke]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Burhanuddin Abdullah Lima Tahun Lalu]]></title>
<link>http://rusdimathari.wordpress.com/2008/04/11/burhanuddin-abdullah-lima-tahun-lalu/</link>
<pubDate>Fri, 11 Apr 2008 03:59:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>rusdi mathari</dc:creator>
<guid>http://rusdimathari.wordpress.com/2008/04/11/burhanuddin-abdullah-lima-tahun-lalu/</guid>
<description><![CDATA[Berkali-kali lelaki itu terlihat mengisap dalam-dalam asap rokoknya. Menurut dia, merokok itu kebias]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://www.coloncancer.about.com"><img class="alignnone size-medium wp-image-613" style="float:right;margin:0 10px 10px 0;" src="http://rusdimathari.wordpress.com/files/2008/04/s31.jpg" border="0" alt="" width="150" height="113" /></a></p>
<h3>Berkali-kali lelaki itu terlihat mengisap dalam-dalam asap rokoknya. Menurut dia, merokok itu kebiasaan yang paling gampang dihentikan. Lima menit berhenti lalu merokok lagi. Dia memang perokok berat. Dalam sehari dia mengaku bisa menghabiskan 2-3 bungkus rokok. Bisa lebih, barangkali.</h3>
<p><!--more--></p>
<h3>Oleh Rusdi Mathari</h3>
<h3>ITULAH SALAH SATU KEBIASAAN BURHANUDDIN ABDULLAH, Gubernur Bank Indonesia: merokok. Mungkin akibat terlalu banyak mengisap asap rokok itu jugalah, warna bibir Burhanuddin terlihat lebih berwarna lebih pekat. “Berkali-kali saya di-rontgen tapi paru-paru saya tetap bersih. Tidak ada satu titik pun,” kata Burhanuddin dengan nada bicara kalem pada suatu hari pertengahan di bulan Februari 2003.</h3>
<h3>Hingga hari itu, bursa pencalonan Gubernur BI sedang menjadi isu panas di DPR-RI menyusul skandal keuangan yang melibatkan Gubernur BI, Syahril Sabirin. Tiga calon nama yang diajukan oleh Presiden Megawati, yaitu Burhanuddin, Cyrrilus Harinowo, dan Miranda Goeltom sudah mengerucut ke arah Burhanuddin bahkan sebelum pelaksanaan <em>fit and proper test</em>. Pada waktu itu Burhanuddin dianggap paling “mungkin” menjadi Gubernur BI, karena selain dianggap sebagai “orang dalam BI”, Burhanuddin juga didukung oleh Presiden Megawati dan Wakil Presiden Hamzah Haz. Kursi parlemen pada masa itu memang didominasi oleh PDI-P, partai Megawati. Ditambah dengan dukungan PPP (Hamzah Haz) dan PKB (Abdurahman Wahid), usaha Megawati mendudukkan Burhanuddin di puncak pimpinan BI hanya menunggu ketok palu.</h3>
<h3>Dukungan Megawati kepada Burhanuddin tentu bukan disebabkan karena keduanya pernah satu angkatan ketika berkuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung pada 1967. Bukan juga karena pernah menjalin hubungan ketika Megawati menjadi Wakil Presiden dan Burhanuddin menjadi Menko Perekonomian di zaman Presiden Abdurrahman Wahid. Megawati sesungguhnya memiliki calon sendiri, yaitu Edward Cornelis William Neloe, Direktur Utama Bank Mandiri. Neloe waktu itu bahkan dikabarkan, secara pribadi sudah dipanggil ke kediaman Megawati di jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat untuk membahas rencana pencalonannya sebagai Gubernur BI. Neloe memang dikenal sebagai bankir yang dekat dengan kalangan pemerintah terutama yang berasal dari PDI-P.</h3>
<h3>Ketika Megawati dilantik menjadi Presiden RI, Neloe merupakan bankir pertama yang menawarkan rumah dinas kepada Megawati untuk ditempati sebagai kediaman resmi Wakil Presiden. Rumah di Jalan Teuku Umar yang ditempati Mega, itu dulunya adalah rumah dinas Dirut Bank Exim. Ketika bom Bali meledak Oktober 2002 dan pemerintah mencanangkan program pemulihannya setelah itu, Neloe bahkan dipilih sebagai bendahara panitia pemulihan Bali. Dia antara lain kebagian tugas menyediakan dana untuk keperluan acara tersebut termasuk ongkos untuk acara sejumlah pertunjukan seperti F4 dari Taiwan, Luciano Pavaroti, dan Red Hot Chili Pepers.</h3>
<h3>Dalam suatu kesempatan, Neloe mengatakan kalau pun dirinya tidak masuk dalam bursa calon Gubernur BI, dia optimistis masih akan “dipakai” oleh pemerintahan Megawati. Paling tidak posisinya di Bank Mandiri yang pada waktu itu diisukan akan digantikan oleh Rudjito, Direktur Utama BRI— dipercaya oleh Neloe masih akan dijabatnya. “Tidak benar itu. Kalau memang iya, justru Pak Rudjito yang akan memasuki masa pensiun,” kata Neloe menjawab pertanyaan saya melalui telepon yang menanyakan kepada Neloe soal kabar dirinya akan dipensiunkan.</h3>
<h3>Megawati belakangan tak jadi mengusung nama Neloe sebagai kandidat Gubernur BI. Beberapa pengamat memberikan analisis bahwa Neloe persoalannya bukan hanya dianggap sebagai “orang luar BI” tapi juga dianggap sebagai bankir yang partisan (PDI-P) sehingga karena itu resistensi terhadap Neloe dari DPR dipastikan akan sangat besar. Salah satunya mungkin karena alasan itulah mengapa nama Burhanuddin kemudian disodorkan oleh Megawati, mendampingi Miranda dan Harinowo.</h3>
<h3>Dari tiga nama calon itu, nama Burhanuddin menjadi yang paling unggul disebabkan oleh beberapa alasan. Miranda sudah pasti akan tersingkir karena sebelum masa pencalonan itu dia telah mengundurkan diri bersama Anwar Nasution (Deputi Senior Gubernur BI) dari Dewan Gubernur BI menyusul memanasnya perseteruan Syahril Sahbirin dengan Gus Dur. Sementara Harinowo dianggap terlalu kuat memiliki citra sebagai representasi IMF. Dengan kalimat lain, Miranda dan Harinowo hanyalah dua nama calon penggembira dan pencalonan Burhanuddin oleh Megawati dalam beberapa hal, karena itu seharusnya dibaca sebagai ketiadaan calon lain dari Megawati yang bisa diterima oleh parlemen. “Mungkin <em>pantes-pantes</em>nya saya saja kali,” kata Burhanuddin mencoba merendah.</h3>
<h3>Selama dua minggu lebih, saya “berburu” Burhanuddin untuk mendapatkan kepastian tentang pencalonannya sebagai Gubernur BI pada waktu itu hingga sekretarisnya menghubungi saya, “Pak Burhanuddin bersedia diwawancarai.” Di sebuah kantor yang menjadi bagian dari Menara II, Bank Internasional Indonesia, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Burhanuddin menerima saya, Bogi Triyadi, Andi Reza Rohardian, dan Imam Wahyudi, pada 14 Februari 2003. Kami berempat ketika itu mewakili sebuah majalah sementara Burhanuddin adalah koordinator dari lima <em>financial controller</em> BPPN yang bertugas melakukan restrukturisasi Asia Pulp and Paper— perusahaan yang berada dalam satu grup dengan BII.</h3>
<h3>Pertanyaan pertama yang saya ajukan kepadanya menyangkut soal kepastian Presiden Megawati yang mencalonkan namanya sebagai Gubernur BI. “Saya hanya ditanya apakah bersedia menjadi calon Gubernur BI, lalu saya jawab bersedia dan akhirnya dibuatkan surat pencalonan. Saya sendiri tak pernah mengeluarkan surat resmi,” kata Burhanuddin.</h3>
<h3>Lelaki kelahiran Garut 61 tahun lalu yang pernah aktif di HMI dan PMII itu, lantas menjelaskan panjang lebar soal prioritasnya jika kelak ditetapkan menjadi Gubernur BI. Burhanuddin antara lain bermaksud menepis sangkaan orang bahwa BI adalah sarang penyamun dan lembaga yang arogan. Usaha itu bisa terwujud tergantung kepada kemauan para petinggi di BI, sejauh mana bersedia membuka diri. Kalau memang BI dianggap sebagai sarang penyamun, menurut Burhanuddin mestinya hal itu didahului dengan pemeriksaan dan selanjutnya dilakukan pembenahan. Untuk membuktikan kepada publik bahwa BI bukanlah negara di dalam negara, Burhanuddin juga menyatakan akan mengurangi arogansi BI melalui komunikasi yang baik dengan lembaga lain terutama dengan apa yang disebutnya sebagai komunitas moneter dan fiskal. “Menjadi Gubernur BI itu gampang,” kata Burhanuddin.</h3>
<h3>Mengakhiri wawancara, Burhanuddin difoto dalam berbagai gaya oleh fotografer Imam Wahyudi. Kami bertukar kartu nama dan nomor telepon seluler. Kepada saya Burhanuddin menjanjikan akan kembali bersedia diwawancara setelah kelak dia menjabat sebagai Gubernur BI. “Ya wawancara pertama saya sebagai Gubernur BI,” kata dia. Sebuah janji yang kemudian tak pernah ditepati oleh Burhanuddin. Berkali-kali saya mencoba menghubungi Burhanuddin lewat telepon seluler setelah dia kemudian benar-benar menjabat sebagai Gubernur BI tapi tak sekali pun ada jawaban. Pernah ada yang mengangkat tapi orang yang menjawab bukanlah Burhanuddin. Orang itu malah mengatakan bahwa nomor yang saya hubungi sudah bukan lagi punya Burhanuddin karena yang bersangkutan katanya sudah ganti nomor.</h3>
<h3>Dikurung di ruang tahanan Mabes Polri, di Jakarta Selatan sejak Kamis 10 April 2008 sebagai tersangka kasus suap dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia sebesar Rp31,5 miliar kepada sejumlah anggota DPR-RI— Burhanuddin saya bayangkan masih akan tetap mengisap asap rokok keretek filternya. Dalam-dalam— seperti ketika kali pertama saya mewawancarainya lebih dari lima tahun yang lalu. Prioritas utamanya kali ini, pastilah agar dia dibebaskan dari semua dakwaan jika kelak persidangan untuknya jadi digelar dan bukan lagi untuk menepis sangkaan orang bahwa BI adalah sarang penyamun.</h3>
<h3><em>*Artikel terkait &#8220;<a href="http://rusdimathari.wordpress.com/2008/02/18/sandyakalaning-bank-indonesia-sarang-penyamun/">Sandyakalaning Bank Indonesia (Sarang Penyamun)</a>,&#8221; &#8220;<a href="http://rusdimathari.wordpress.com/2008/02/26/karyawan-bi-calon-gubernur-bi-dan-gaji-bekerja-di-bi/">Karyawan BI, (Calon) Gubernur BI, dan Gaji Bekerja di BI</a>,&#8221;  &#8220;<a href="http://rusdimathari.wordpress.com/2008/03/03/kasus-blbi-kasus-penuh-hantu/">Kasus BLBI, Kasus Penuh Hantu</a>&#8221; dan &#8220;<a href="http://rusdimathari.wordpress.com/2008/04/07/nasi-kardus-rp-10-juta/">Nasi Kardus Rp 10 Juta.</a>&#8220;</em></h3>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AYAT-AYAT POLIGAMI: MENGAPA NORMATIF OKE, TAPI EMPIRIS REJEKTIF?]]></title>
<link>http://ajidedim.wordpress.com/2008/04/06/mengapa-poligami-normatif-oke-tapi-empiris-rejektif/</link>
<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 01:09:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>ajidedim</dc:creator>
<guid>http://ajidedim.wordpress.com/2008/04/06/mengapa-poligami-normatif-oke-tapi-empiris-rejektif/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: AJI DEDI MULAWARMAN   POLIGAMI&#8230; kata yang tak pernah habis dibahas dan dijalankan sepanj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><blockquote>
<p style="text-align:center;"><strong>Oleh: AJI DEDI MULAWARMAN</strong></p>
<p style="text-align:center;"> </p>
<p><strong>POLIGAMI</strong>&#8230; kata yang tak pernah habis dibahas dan dijalankan sepanjang sejarah kebudayaan manusia. Mengapa misalnya Islam sampai memberikan legitimasi &#8220;ayat&#8221; mengenainya, itu bukanlah wacana yang mengada-ada. Meskipun, ayat tersebut juga tetap memiliki pemaknaan yang beragam. Tetapi bila ditarik pada garis yang tegas, poligami memang merupakan takdir &#8220;unik&#8221; kemanusiaan.<!--more--></p></blockquote>
<p>Mengapa kemudian masyarakat mengalami dualisme pikiran dan realitas memahami poligami?</p>
<p> <a href="http://ajidedim.files.wordpress.com/2008/04/ayat2cinta.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-311" src="http://ajidedim.wordpress.com/files/2008/04/ayat2cinta.jpg" alt="" width="119" height="106" /></a> <a href="http://ajidedim.files.wordpress.com/2008/04/berbagi-suami.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-312" src="http://ajidedim.wordpress.com/files/2008/04/berbagi-suami.jpg" alt="" width="120" height="104" /></a><a href="http://ajidedim.files.wordpress.com/2008/04/suamitakutistri.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-313" src="http://ajidedim.wordpress.com/files/2008/04/suamitakutistri.jpg" alt="" width="125" height="101" /></a></p>
<p>Kalau media televisi dan film dapat dilihat sebagai representasi realitas, maka kita dapat melihat misalnya sitkom &#8220;Suami-suami Takut Istri&#8221; atau film &#8220;Berbagi Suami&#8221; . Belum lagi yang terbaru, &#8220;Ayat-ayat Cinta&#8221; yang fenomenal itu. Semuanya adalah representasi realitas masyarakat Indonesia.</p>
<p>Macam-macam bentuk penerimaan poligami. Lihat saja, salah satu kiai kondang terjerembab, mantan wakil ketua DPR-RI terguling dari posisinya, mantan wapres tetap menjalaninya dengan mekanisme &#8220;bayang-bayang&#8221;, atau bahkan pemilik warung makan ayam goreng <em>franchise</em> teguh menjalankannya,dll.</p>
<p><a href="http://ajidedim.files.wordpress.com/2008/04/aagym.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-307" src="http://ajidedim.wordpress.com/files/2008/04/aagym.jpg" alt="" width="99" height="126" /></a> <a href="http://ajidedim.files.wordpress.com/2008/04/puspowardoyo.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-308" src="http://ajidedim.wordpress.com/files/2008/04/puspowardoyo.jpg?w=400" alt="" width="144" height="126" /></a> <a href="http://ajidedim.files.wordpress.com/2008/04/hamzah-haz.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-310" src="http://ajidedim.wordpress.com/files/2008/04/hamzah-haz.jpg" alt="" width="90" height="125" /></a> <a href="http://ajidedim.files.wordpress.com/2008/04/zaenalmaarif.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-309" src="http://ajidedim.wordpress.com/files/2008/04/zaenalmaarif.jpg" alt="" width="91" height="126" /></a></p>
<p>Poligami bahkan telah menjadi alat untuk pembunuhan karakter seseorang dalam &#8220;ketokohan sosial&#8221;. Seorang yang memiliki reputasi sosial &#8220;baik&#8221; akan masuk dalam &#8220;kubangan&#8221; celaan, cemoohan, dakwaan negatif, dan lain-lain, ketika mereka mendeklarasikan poligami. Poligami dapat menjadi alat menggulingkan saingan politik. Poligami dapat menjadi alat &#8220;bulan-bulanan&#8221; seseorang lewat media karena dianggap tidak menjunjung persamaan gender. Poligami dapat menjadi &#8220;senjata makan tuan&#8221; siapapun yang mendekatinya.</p>
<p>Akhirnya, yang terjadi adalah maraknya perselingkuhan, pologami terselubung, perzinahan, ramainya lokalisasi, sampai pernikahan sirri, dan berbagai mekanisme &#8211; yang katanya &#8211; pelampiasan syahwat laki-laki mengatasnamakan poligami. Begitulah nasib poligami yang terakomodasi dalam Al qur&#8217;an kita yang suci.</p>
<p>Secara umum sebenarnya masyarakat kita secara empiris selalu berpendirian &#8220;abu-abu&#8221; melihat obyektifitas poligami. Pada posisi resmi untuk kepentingan wacana publik, rejeksi terhadap poligami tetap terjadi bahkan mendekati &#8220;virus&#8221;, tetapi pada posisi resmi untuk kepentingan publik yang marjinal, poligami diterima.</p>
<p>Bila ditarik lebih jauh, gagasan poligami, dalam domain Islam, merupakan bagian normatifitas nilai yang diterima. Tetapi, pola penerimaannya menjadi bias ketika telah menjadi realitas empiris masyarakat Muslim. Apakah kemudian konsumsi publik maupun tradisi, poligami diposisikan pada &#8220;ruang abu-abu&#8221;? Dalam Islam, posisi abu-abu biasanya diletakkan pada koridor <em>subhat.</em></p>
<p>Pertanyaannya kemudian, apakah benar realitas menjadi peran utama pergeseran makna poligami yang berada pada koridor &#8220;kebaikan&#8221; menjadi &#8220;<em>subhat</em>&#8220;? Ini yang saya juga masih tidak berani menjawabnya, mungkin saya salah menangkap &#8220;tanda-tanda&#8221; realitas maupun spiritualitas. Dan lebih penting lagi, saya &#8220;ternyata belum berani menerobos &#8220;tembok abu-abu&#8221; itu. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Ya karena saya belum punya kemampuan &#8220;nekat&#8221; kali ya&#8230; <em>Astaghfirullahaladzim</em>&#8230;<em>Wallahu&#8217;alam..</em>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Strategi Golkar Rangkul Keluarga Besar PNS ]]></title>
<link>http://slamethariyanto.wordpress.com/2005/12/01/strategi-golkar-rangkul-keluarga-besar-pns/</link>
<pubDate>Thu, 01 Dec 2005 16:44:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Slamet Hariyanto</dc:creator>
<guid>http://slamethariyanto.wordpress.com/2005/12/01/strategi-golkar-rangkul-keluarga-besar-pns/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Slamet Hariyanto Ditengah rapimnas Partai Golkar 2005, Jusuf Kalla melemparkan statemen politik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh Slamet Hariyanto Ditengah rapimnas Partai Golkar 2005, Jusuf Kalla melemparkan statemen politik]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Silatnas PPP dan Ancaman Muktamar Luar Biasa]]></title>
<link>http://slamethariyanto.wordpress.com/2005/02/24/silatnas-ppp-dan-ancaman-muktamar-luar-biasa/</link>
<pubDate>Thu, 24 Feb 2005 07:28:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>Slamet Hariyanto</dc:creator>
<guid>http://slamethariyanto.wordpress.com/2005/02/24/silatnas-ppp-dan-ancaman-muktamar-luar-biasa/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Slamet Hariyanto Konflik internal PPP sudah tidak bisa dihindari lagi setelah kelompok pro Sila]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh Slamet Hariyanto Konflik internal PPP sudah tidak bisa dihindari lagi setelah kelompok pro Sila]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hamzah Haz Muter-muter Akhirnya Maju Jadi Capres]]></title>
<link>http://slamethariyanto.wordpress.com/2004/05/13/hamzah-haz-muter-muter-akhirnya-maju-jadi-capres/</link>
<pubDate>Thu, 13 May 2004 05:40:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Slamet Hariyanto</dc:creator>
<guid>http://slamethariyanto.wordpress.com/2004/05/13/hamzah-haz-muter-muter-akhirnya-maju-jadi-capres/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Slamet Hariyanto Merasa dianggap cocok bekerja sama dengan Megawati dalam memimpin pemerintahan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh Slamet Hariyanto Merasa dianggap cocok bekerja sama dengan Megawati dalam memimpin pemerintahan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Parmusi Ambisi Merebut Ketua Umum DPP PPP]]></title>
<link>http://slamethariyanto.wordpress.com/2003/04/03/parmusi-ambisi-merebut-ketua-umum-dpp-ppp/</link>
<pubDate>Thu, 03 Apr 2003 14:40:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>Slamet Hariyanto</dc:creator>
<guid>http://slamethariyanto.wordpress.com/2003/04/03/parmusi-ambisi-merebut-ketua-umum-dpp-ppp/</guid>
<description><![CDATA[   Oleh Slamet Hariyanto   Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bakal menggelar Muktamar V bulan Mei 2]]></description>
<content:encoded><![CDATA[   Oleh Slamet Hariyanto   Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bakal menggelar Muktamar V bulan Mei 2]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Reformasi PPP dan Pemberontakan PPP Reforma]]></title>
<link>http://slamethariyanto.wordpress.com/2002/01/09/reformasi-ppp-dan-pemberontakan-ppp-reforma/</link>
<pubDate>Wed, 09 Jan 2002 06:53:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>Slamet Hariyanto</dc:creator>
<guid>http://slamethariyanto.wordpress.com/2002/01/09/reformasi-ppp-dan-pemberontakan-ppp-reforma/</guid>
<description><![CDATA[   Oleh Slamet Hariyanto Perpecahan PPP mulai menjurus ke arah serius di awal 2002 ini, hal itu dipa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[   Oleh Slamet Hariyanto Perpecahan PPP mulai menjurus ke arah serius di awal 2002 ini, hal itu dipa]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
