<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>hidrografi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/hidrografi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "hidrografi"</description>
	<pubDate>Sat, 25 May 2013 05:39:08 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Pengamatan Pasang Surut (Pasut)]]></title>
<link>http://belajargeomatika.wordpress.com/2012/06/14/pengamatan-pasang-surut-pasut/</link>
<pubDate>Thu, 14 Jun 2012 15:16:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>belajargeomatika</dc:creator>
<guid>http://belajargeomatika.wordpress.com/2012/06/14/pengamatan-pasang-surut-pasut/</guid>
<description><![CDATA[Tujuan pengamatan pasang surut (pasut) secara umum adalah sebagai berikut (Djaja, 1989): Menentukan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tujuan pengamatan pasang surut (pasut) secara umum adalah sebagai berikut (Djaja, 1989): Menentukan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemeruman (Sounding)]]></title>
<link>http://belajargeomatika.wordpress.com/2012/06/14/pemeruman-sounding/</link>
<pubDate>Thu, 14 Jun 2012 15:13:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>belajargeomatika</dc:creator>
<guid>http://belajargeomatika.wordpress.com/2012/06/14/pemeruman-sounding/</guid>
<description><![CDATA[Pemeruman adalah proses dan aktivitas yang ditujukan untuk memperoleh gambaran (model) bentuk permuk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pemeruman adalah proses dan aktivitas yang ditujukan untuk memperoleh gambaran (model) bentuk permuk]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Definisi Hidrografi]]></title>
<link>http://belajargeomatika.wordpress.com/2012/06/14/definisi-hidrografi/</link>
<pubDate>Thu, 14 Jun 2012 15:08:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>belajargeomatika</dc:creator>
<guid>http://belajargeomatika.wordpress.com/2012/06/14/definisi-hidrografi/</guid>
<description><![CDATA[Kata hidrografi merupakan serapan dari bahasa Inggris ‘hydrography’. Secara etimologis, ‘hydrography]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kata hidrografi merupakan serapan dari bahasa Inggris ‘hydrography’. Secara etimologis, ‘hydrography]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Teknik Pengukuran Kedalaman]]></title>
<link>http://belajargeomatika.wordpress.com/2012/06/14/teknik-pengukuran-kedalaman/</link>
<pubDate>Thu, 14 Jun 2012 14:59:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>belajargeomatika</dc:creator>
<guid>http://belajargeomatika.wordpress.com/2012/06/14/teknik-pengukuran-kedalaman/</guid>
<description><![CDATA[Pengukuran kedalaman merupakan bagian terpenting dari pemeruman yang menurut prinsip dan karakter te]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pengukuran kedalaman merupakan bagian terpenting dari pemeruman yang menurut prinsip dan karakter te]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peta Batimetri]]></title>
<link>http://belajargeomatika.wordpress.com/2012/06/14/peta-batimetri/</link>
<pubDate>Thu, 14 Jun 2012 14:44:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>belajargeomatika</dc:creator>
<guid>http://belajargeomatika.wordpress.com/2012/06/14/peta-batimetri/</guid>
<description><![CDATA[Batimetri terdiri dari dua suku kata yaitu  ‘Bathy’ yang berarti kedalaman serta kata ‘Metry’ yang b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Batimetri terdiri dari dua suku kata yaitu  ‘Bathy’ yang berarti kedalaman serta kata ‘Metry’ yang b]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Survei Bathimetri]]></title>
<link>http://perhubungan2.wordpress.com/2011/12/15/survei-bathimetri/</link>
<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 05:07:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>bsm@iwftc</dc:creator>
<guid>http://perhubungan2.wordpress.com/2011/12/15/survei-bathimetri/</guid>
<description><![CDATA[Survei Bathymetri yang merupakan bagian penting dari kegiatan survei hidrografi memberikan informasi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Survei Bathymetri yang merupakan bagian penting dari kegiatan survei hidrografi memberikan informasi mengenai konfigurasi dasar dan penampang melintang sungai, mengetahui tingkat sedimentasi dan degradasi yang seluruhnya merupakan informasi dasar mengenai wilayah studi bagi para perencana.</p>
<p>Topografi dasar sungai dapat diketahui dengan cara sounding dari permukaan air misalnya dengan mengukur kedalaman air pada beberapa titik yang cukup. Jika pelaksanaan sounding merupakan bagian dari survei sungai, diperlukan ketepatan yang tinggi dalam penentuan posisi sounding dan kedalaman sounding harus dikorelasikan dengan level datum yang diketahui. Hal ini memungkinkan pekerjaan sounding dilakukan pada waktu yang berbeda.</p>
<p>Umumnya diambil sebagai tinggi datum adalah bidang yang berimpit dengan permukaan air yang mempunyai probabilitas tertentu. Untuk keselamatan pelayaran misalnya. Tinggi datum diambil permukaan air terendah sungai tersebut, sehingga pada periode kritis untuk pelayaran, navigator bisa mendapatkan informasi yang cukup dari peta sounding mengenai kedalaman yang cukup untuk pelayaran.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kalibrasi echosounder</span></strong><strong></strong></p>
<p>Disetiap awal dan akhir hari pengukuran, echosounder harus dikalibrasi dengan bar check.</p>
<p>Pengecekan dilakukan sebagai berikut :</p>
<p>Sebuah plat besi yang dipasang pada ujung tongkat berskala diturunkan ke dalam air sampai kedalaman tertentu di bawah transducer. Kedalaman plat besi yang diukur oleh echosounder harus sesuai dengan kedalaman sebenarnya di bawah permukaan air. Jika tidak sesuai, harus diadakan penyetelan pada pengatur kecepatan suara sehingga sesuai dengan berat jenis dan temperatur air, sampai pembacaan echosounder sesuai dengan kedalaman sebenarnya dari plat besi tersebut.</p>
<p>Perlu diperhatikan bahwa zeroline pada echosounder menunjukkan posisi transducer di bawah permukaan air.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Koreksi</span></strong><strong></strong></p>
<p>Jika zeroline ditempatkan pada skala nol koreksi total adalah jumlah kedalaman transducer di bawah permukaan air dan koreksi yang didapatkan pada kalibrasi echosounder.</p>
<p>Jika zeroline ditempatkan pada skala yang sama dengan kedalaman transducer di bawah air maka hanya perlu ditambahkan koreksi kalibrasi saja.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Reduksi</span></strong></p>
<p>Agar data kedalaman dapat dibandingkan satu dengan yang lain apabila sounding dilakukan pada waktu dan hari yang berbeda sehingga dipengaruhi perbedaan pasang surut, maka data kedalaman tersebut harus direduksi terhadap bidang referensi, misalnya MSL atau permukaan air terendah.</p>
<p>Perbedaan antara tinggi muka air pada saat pengukuran dengan bidang referensi disebut reduksi.</p>
<p>Kedalaman sounding ditambah koreksi dikurangi reduksinya disebut kedalaman peta.­</p>
<div id="attachment_108" class="wp-caption aligncenter" style="width: 550px"><a href="http://perhubungan2.files.wordpress.com/2011/12/koreksi-dan-reduksi_ed.jpg"><img class="size-full wp-image-108" title="Koreksi dan Reduksi" src="http://perhubungan2.files.wordpress.com/2011/12/koreksi-dan-reduksi_ed.jpg?w=540&#038;h=209" alt="" width="540" height="209" /></a><p class="wp-caption-text">Koreksi dan Reduksi</p></div>
<p>Pada perairan lepas cukup dipakai dua alat ukur tinggi air pada batas daerah sounding dan datum dapat ditransfer dan satu alat ukur ke yang lain. Reduksi diantara dua alat ukur tersebut didapat dengan interpolasi linier.</p>
<p>Pada daerah sungai pasang surut, perhitungan reduksi akan lebih sulit. Datum tidak selalu di bidang horisontal. Beberapa alat ukur harus ditempatkan sepanjang sungai dan Mean Level tiap alat ukur harus ditetapkan.</p>
<p>Posisi MSL pada alat ukur di muara (laut) harus dipindahkan pada masing-masing, alat ukur berikutnya dengan waterpas, dan bisa didapatkan beda tinggi antara ML dengan MSL pada masing-masing alat ukur. Reduksi dapat diperhitungkan terhadap MSL atau bidang referensi berupa muka air terendah.</p>
<div id="attachment_109" class="wp-caption aligncenter" style="width: 550px"><a href="http://perhubungan2.files.wordpress.com/2011/12/contoh-profil-penamp-sungai_ed.jpg"><img class="size-full wp-image-109" title="Contoh Profil Penamp Sungai" src="http://perhubungan2.files.wordpress.com/2011/12/contoh-profil-penamp-sungai_ed.jpg?w=540&#038;h=276" alt="" width="540" height="276" /></a><p class="wp-caption-text">Contoh Profil Penamp Sungai</p></div>
<p>Terlepas dari bidang referensi yang digunakan, masalah sebenarnya terletak pada reduksi untuk beberapa penampang melintang yang berada diantara dua alat ukur, karena terdapat perbedaan pada waktu dan beda tinggi pasang surut yang terjadi diantara dua alat ukur.</p>
<p>Satu cara yang digunakan adalah dengan menggambar perbedaan kurva pasang surut dengan bidang referensi (MSL atau datum) tiap-tiap alat ukur sounding selama periode dimana sounding dilakukan pada hari tertentu.</p>
<p>Reduksi dapat positif atau negatif jika MSL ditetapkan sebagai bidang referensi.</p>
<div id="attachment_110" class="wp-caption aligncenter" style="width: 550px"><a href="http://perhubungan2.files.wordpress.com/2011/12/reduksi-pasut_ed.jpg"><img class="size-full wp-image-110" title="Reduksi Pasut_ed" src="http://perhubungan2.files.wordpress.com/2011/12/reduksi-pasut_ed.jpg?w=540&#038;h=326" alt="" width="540" height="326" /></a><p class="wp-caption-text">Reduksi Pasut</p></div>
		<div id="geo-post-101" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">-3.025584</span>
			<span class="longitude">104.775782</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Survey Hidro-Oceanografi]]></title>
<link>http://henzfebriawan.wordpress.com/2011/06/17/survey-hidro-oceanografi/</link>
<pubDate>Fri, 17 Jun 2011 05:02:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>henzfebriawan</dc:creator>
<guid>http://henzfebriawan.wordpress.com/2011/06/17/survey-hidro-oceanografi/</guid>
<description><![CDATA[Survey hidro-oseanografi atau sering disebut site-survey merupakan salah satu kegiatan survey kelaut]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<pre>Survey hidro-oseanografi atau sering disebut site-survey merupakan salah satu kegiatan survey kelautan yang bertujuan untuk mengetahui topografi dasar laut, kenampakan bawah dasar laut dan mengetahui ada tidaknya objek-objek yang berbahaya di dasar laut.<br /><br />Tujuan survey hidro-oseanografi diantaranya untuk mendukung pekerjaan :<br />-    Rencana penentuan dan pemasangan jalur kabel dan pipa bawah laut<br />-    Pencarian pesawat dan kapal-kapal yang tenggelam<br />-    Penentuan pengeboran sumur minyak (well rig)<br />-    Operasi pencarian ranjau dan bahan peledak di bawah laut<br />-    Investigasi pipa dan kabel bawah laut, dll.<br /><br />Adapun kegiatan survey hidro-oseanografi meliputi :<br /><br />1. Survey Titik Kontrol Geodetik<br />Referensi titik kontrol geodesi yang merupakan bagian dari Jaringan Kerangka Kontrol Horizontal Nasional yang terletak di dekat atau di lokasi survei diperlukan untuk penentuan posisi DGPS menggunakan Shorebase Station (Reference Point) dan untuk verifikasi alat DGPS yang akan digunakan untuk survey.<br />Point of Origin untuk kerangka kontrol horisontal tersebut diperoleh dari instansi resmi, seperti Bakosurtanal. Jika diperlukan, penentuan point of origin dapat dilaksanakan sendiri, dengan referensi salah satu titik yang sudah ada, baik dengan mengadakan pengamatan GPS secara relatif maupun secara konvensional dengan melakukan pengukuran traverse. Jika titik referensi tambahan dibutuhkan, maka titik tersebut harus dibangun semi-permanen yang dapat mewakili daerah survei yang telah ditentukan.<br />Semua ketinggian (elevasi) dan kedalaman air, akan dihubungkan dengan suatu datum yang direferensikan ke Mean Sea Level (MSL) atau Chart Datum (Low Water Spring: LWS), atau datum tertentu yang sudah mendapatkan persetujuan. Semua elevasi dan kedalaman harus dihubungkan dengan benchmark tertentu yang terletak di darat, atau direferensikan kepada elipsoid tertentu yang ditentukan dengan GPS.<br /><br />2. Sistem Navigasi Survey<br />Penentuan posisi kapal survei dilaksanakan menggunakan GPS receiver dengan metode Real Time Differential (DGPS) dengan mengikuti prinsip survei yang baik dan menjamin tidak adanya keraguan atas posisi yang dihasilkan. Lintasan kapal survei dipantau setiap saat melalui layar monitor atau diplot pada kertas dari atas anjungan.<br />Sistim komputer navigasi memberikan informasi satelit GPS seperti: nomer satelit yang digunakan, PDOP dan HDOP. Elevation mask setiap satelit diset pada ketinggian minimum 10 derajat.<br />Bila DGPS yang digunakan menggunakan shore base station, satu GPS receiver dipasang di atas kapal survei dan satu lagi di atas titik berkoordinat di darat (shore base station). Selama akuisisi data, koreksi differential dimonitor dari atas kapal pada sistim navigasi.<br />Sistim komputer navigasi menentukan posisi setiap detik, dan jika perlu, logging data ke hardisk komputer dapat ditentukan setiap 1, 5 atau 10 detik sebagai pilihan.<br /><br />3. Pengamatan Pasang Surut Laut<br />Pengamatan pasang surut dilaksanakan dengan tujuan untuk menentukan Muka Surutan Peta (Chart Datum), memberikan koreksi untuk reduksi hasil survei Batimetri, juga untuk mendapatkan korelasi data dengan hasil pengamatan arus.<br />Stasiun pasang surut dipasang di dekat/dalam kedua ujung koridor rencana jalur survey dan masing-masing diamati selama minimal 15 hari terus-menerus dan  pengamatan pasang surut dilaksanakan selama pekerjaan survei berlangsung. Secepatnya setelah pemasangan, tide gauge/staff dilakukan pengikatan secara vertikal dengan metode levelling (sipat datar) ke titik kontrol di darat yang terdekat, sebelum pekerjaan survei dilaksanakan dan pada akhir pekerjaan survey dilakukan.
4. Survey Batimetri<br />Survei batimetrik dimaksudkan untuk mendapatkan data kedalaman dan konfigurasi/ topografi dasar laut, termasuk lokasi dan luasan obyek-obyek yang mungkin membahayakan.<br />Survei Batimetri dilaksanakan mencakup sepanjang koridor survey dengan lebar bervariasi. Lajur utama harus dijalankan dengan interval 100 meter dan lajur silang (cross line) dengan interval 1.000 meter.<br />Kemudian setelah rencana jalur kabel ditetapkan, koridor baru akan ditetapkan selebar 1.000 meter. Lajur utama dijalankan dengan interval 50 meter dan lajur silang (cross line) dengan interval 500 meter.<br />Peralatan echosounder digunakan untuk mendapatkan data kedalaman optimum mencakup seluruh kedalaman dalam area survei. Agar tujuan ini tercapai, alat echosounder dioperasikan sesuai dengan spesifikasi pabrik.<br />Prosedur standar kalibrasi dilaksanakan dengan melakukan barcheck atau koreksi Sound Velocity Profile (SVP) untuk menentukan transmisi dan kecepatan rambat gelombang suara dalam air laut, dan juga untuk menentukan index error correction. Kalibrasi dilaksanakan minimal sebelum dan setelah dilaksanakan survei pada hari yang sama. Kalibrasi juga selalu dilaksanakan setelah adanya perbaikan apabila terjadi kerusakan alat selama periode survei.<br />Pekerjaan survei Batimetri tidak boleh dilaksanakan pada keadaan ombak dengan ketinggian lebih dari 1,5m bila tanpa heave compensator, atau hingga 2,5m bila menggunakan heave compensator.<br /><br />5. Survey Topometri<br />Pada bagian koridor survey yang tidak dapat dicakup oleh survei menggunakan kapal, pengukuran profil dasar perairan dilaksanakan dengan metode topometrik untuk menjamin tidak terdapat kekosongan atas data yang diperlukan.<br />Detail topometri diukur menggunakan sistem DGPS Real Time  atau dengan alat Total Station yang didirikan di atas titik kontrol yang telah dibangun sebelumnya. Hasil survei topometrik direferensikan pada datum vertikal yang sama dengan hasil survei Batimetri.<br /><br />6. Survey Side Scan Sonar<br />Survei investigasi bawah air (side scan sonar) dimaksudkan untuk mendapatkan kenampakan dasar laut, termasuk lokasi dan luasan obyek-obyek yang mungkin membahayakan. Dual-channel Side Scan Sonar System dengan kemampuan cakupan jarak minimal hingga 75m digunakan untuk mendapatkan data kenampakan dasar-laut (seabed features) di sepanjang koridor yang sama dengan survei Batimetri. Skala penyapuan yang digunakan diatur sedemikian rupa sehingga terjadi overlap minimal 50% untuk area survei yang direncanakan.<br />Lajur-lajur survei side scan sonar dapat dijalankan bersamaan dengan pelaksanaan survei Batimetri dan/atau disesuaikan dengan kedalaman laut sehingga cakupan minimal tersebut dapat terpenuhi.<br />Apabila menggunakan towfish yang ditarik, panjang kabel towfish tersedia cukup agar tinggi towfish di atas dasar laut dapat dijaga kira-kira 10% dari lebar cakupan/ penyapuan yang dipilih. Towfish sebaiknya dioperasikan dari winch bermotor lengkap dengan electrical slip rings. Rekaman data sonar dikoreksi untuk tow fish lay back dan slant range. Apabila menggunakan towfish yang dipasang pada lambung kapal (vessel-mounted), sistim dilengkapi dengan heave compensator untuk mereduksi pengaruh gelombang.<br />Sistem yang digunakan mampu menghasilkan clear record dari keadaan dasar laut, identifikasi adanya wrecks, obstacles, debris, sand waves, rock outcrops, mud flows atau slides dan sedimen.<br />Kemungkinan adanya bahaya atau keadaan dasar laut yang perlu mendapatkan perhatian khusus dilakukan investigasi untuk memperjelas jenis dan ukuran bahaya tersebut. Investigasi tersebut dapat dilaksanakan dengan menjalankan lajur yang lebih rapat pada arah yang berbeda dengan lajur umum yang telah dijalankan sebelumnya.<br />Penentuan posisi menggunakan jarak atau waktu tertentu ditandai pada rekaman sonar. Data jarak antara towfish dan antena GPS, termasuk setiap perubahan jarak ini, harus dicatat secara tertib pada Operator’s Log selama survei berlangsung untuk keperluan pengolahan data lebih lanjut.<br /><br />7. Survey Sub Bottom Profiller<br />Tujuan dari Survei Sub-bottom Profiling (SBP) adalah untuk investigasi dan identifikasi lapisan sedimen dekat dengan permukaan dasar-laut (biasanya hingga 10m) dan untuk menentukan informasi penting yang berhubungan dengan stratifikasi dasar laut. Survei SBP dapat dilaksanakan bersamaan dengan survei Batimetri dan Side Scan Sonar.<br />Survei SBP dilaksanakan mencakup sepanjang koridor survey dengan lebar bervariasi. Lajur utama dijalankan dengan interval 100 meter dan lajur silang (cross line) dengan interval 1.000 meter. Kemudian setelah rencana jalur ditetapkan, lajur utama kembali dijalankan sebanyak 3 lajur dengan interval 50 meter, dimana satu lajur dijalankan tepat di tengah-tengah rencana jalur kabel.<br />System Parametric Subbottom Profiling (atau system lain yang dapat memberikan data sepadan) digunakan untuk mendapatkan rekaman data permanent secara grafis atas profil dasar laut dan perlapisan di bawahnya dengan penetrasi dan resolusi optimum di seluruh kedalaman sepanjang koridor rencana jalur kabel. Untuk mencapai maksud ini, peralatan dioperasikan sesuai dengan petunjuk pabrik dan diset untuk mendapatkan rekaman data optimum. Sub-bottom profiler memberikan rekaman data secara grafis dengan jelas pada skala dan resolusi yang jelas.<br />Jarak antara transducer/hydrophone dan antena GPS dicatat secara tertib pada Operator’s Log dan kemudian diperhitungkan pada saat pekerjaan interpretasi.<br />Survei Sub-bottom Profiling tidak boleh dilaksanakan pada cuaca berombak karena sangat mempengaruhi kualitas data, kecuali apabila menggunakan heave compensator. Kemungkinan terjadinya noise yang bersumber dari mesin atau kapal survei harus diupayakan seminimal mungkin dengan berbagai cara. Panjang kabel seismic source dan hydrophone (bila menggunakan sistem demikian) disediakan cukup sehingga memungkinkan diulur pada jarak yang dapat memberikan rekaman data optimum.<br /><br />8. Survey Magnetik<br />Survei magnetik dilaksanakan untuk mendeteksi adanya obyek-obyek metal pada atau dekat permukaan dasar laut yang mungkin akan membahayakan. Bahaya yang dimaksud antara lain berupa : wrecks, sunken buoys, steel cables maupun bahaya lain yang terdapat di area survei yang telah ditentukan.<br />Survei magnetik disarankan dilaksanakan bersamaan dengan survei Batimetri, dengan interval lajur survei sebagaimana menjalankan lajur-lajur batimetrik. Survei magnetometer tidak disarankan untuk dilaksanakan bersamaan dengan survei Side Scan Sonar karena dikawatirkan terjadi gangguan yang bersumber dari towfish Side Scan Sonar kecuali dapat dibuktikan memang tidak terjadi gangguan. Panjang kabel disediakan cukup agar dapat dioperasikan secara optimum sesuai dengan kedalaman air laut selama pelaksanaan survei. Untuk mendapatkan rekaman (secara grafis atau digital) yang memberikan anomali jelas dan pada skala optimum, sensor unit dipasang sedemikian rupa sehingga berada dalam jangkauan deteksi optimum.<br />Jika terdapat indikasi adanya obyek metal yang cukup signifikan di suatu area tertentu, maka dilakukan survei investigasi lebih lanjut dengan cara menjalankan lajur survei dengan interval lebih rapat.<br /><br />9. Pengukuran Arus<br />Pengamatan arus diperlukan dengan tujuan untuk mendapatkan data arah dan kecepatan arus. Data tersebut akan dikorelasikan dengan data pengamatan pasang surut.<br />Pengamatan arus dilaksanakan dengan 2 metode yaitu;<br />2 stasiun tetap yaitu pada perairan dekat kedua pantai di mana landing point akan ditempatkan selama sekurang-kurangnya 30 hari pengukuran pada 3 lapisan kedalaman sebesar 0.2, 0.6 dan 0.8m di bawah permukaan air.<br />Pengukuran dengan metode transek sepanjang jalur poros rencana survey selama sekurang-kurangnya 25 jam saat periode Spring Tide dengan menggunakan peralatan pengukur arus hidro-akustik.<br />Pembacaan atau pengumpulan data harus dilaksanakan dengan interval tidak lebih dari 60 menit.<br /><br />10. Survey Transpor Sedimen<br />Dinamika badan air dan dasar perairan di wilayah survei dikenal sebagai daerah dengan tingkat dinamisasi dasar perairan yang tinggi. Hal tersebut diperkirakan akibat aktifitas eksploitasi pasir di sekitar area survei. Perubahan kedudukan dasar laut akan berakibat pada perubahan kedudukan kabel yang telah digelar.<br />Survei distribusi sedimen di sepanjang jalur survey minimum dilakukan di tiga tempat mewakili pantai dan tengah-tengah antara keduanya. Pengukuran dilakukan dalam rentang waktu 30 hari. Peralatan utama berupa sediment trap (jebakan sedimen). Sedimen yang terjebak selanjutnya diukur dan diteliti di laboratorium mengenai total berat, ukuran sedimen (grain size) dan dominasi komposisi sedimen dalam arah dan volume sedimen per satuan waktu. Hasil ini nantinya akan digunakan dalam menentukan model arus untuk membentuk model traspor sedimen yang tepat.<br /><br />11. Pengadaan Data Gelombang<br />Pengadaan data gelombang laut dilakukan dengan 2 metode yaitu metode pengukuran langsung dan metode pengadaan data tidak langsung atau data sekunder.<br />Pada metode pengukuran langsung, pengamatan gelombang dilakukan dengan mengamati karakter gelombang pada kedua perairan dekat pantai. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan wave-staff atau peralatan perekam gelombang automatis (self recording).<br />Metode pengukuran tidak langsung dilakukan dengan pengumpulan data sekunder yang berasal dari dinas meteorologi setempat. Data tersebut dapat digunakan dalam pembangunan model gelombang.<br /><br />12. Pengambilan Contoh Tanah<br />Pengambilan contoh dasar laut (seabed sampling) dilaksanakan dengan menggunakan salah satu dari alat berikut: Grab Sampler atau Gravity Corer. Grab/ gravity coring dilaksanakan sepanjang rencana jalur survey hingga kedalaman maksimum 10m dari permukaan dasar laut, dan dengan interval jarak 2,0km atau di lokasi di mana terdapat perubahan litology yang signifikan yang diindikasikan dari hasil survei SSS ataupun survei SBP.<br />Pengambilan contoh tanah dilakukan dari atas kapal survei dan dilaksanakan setelah adanya hasil interpretasi sementara di atas kapal survei atas hasil survei Side Scan Sonar dan Sub-bottom Profiling.<br />Setiap pengambilan contoh tanah harus diusahakan agar memperoleh penetrasi optimum. Setiap kali contoh tanah telah diambil harus dicatat dan dideskripsikan secara visual di lapangan tentang: posisi, jenis, ukuran butir, warna, dan lain-lain yang berhubungan.<br /><br /><br /></pre>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengertian Pasang Surut]]></title>
<link>http://geotechnosains.wordpress.com/2010/07/06/pengertian-pasang-surut/</link>
<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 11:44:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://geotechnosains.wordpress.com/2010/07/06/pengertian-pasang-surut/</guid>
<description><![CDATA[Hidrografi (atau geodesi kelautan menurut pandangan awam) adalah ilmu tentang pemetaan laut dan pesi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Hidrografi</strong> (atau geodesi kelautan menurut pandangan awam) adalah ilmu tentang pemetaan laut dan pesisir.  Hidrografi menurut International Hydrographic Organization (IHO)  adalah ilmu tentang pengukuran dan penggambaran parameter-parameter yang  diperlukan untuk menjelaskan sifat-sifat dan konfigurasi dasar  laut secara tepat, hubungan geografisnya dengan daratan, serta  karakteristik-karakteristik dan dinamika-dinamika lautan. Secara etimologi,  Hidrografi berasal dari bahasa  Yunani yang terdiri dari kata “hidro” yang berarti air dan “grafi”  yang berarti menulis, hidrografi artinya gambaran permukaan bumi yang  digenangi air. (Sumber: Wikipedia)</p>
<p style="text-align:justify;">Wilayah di bumi terdiri dari dua bagian yaitu wilayah darat dan laut. Sebagian besar wilayah di bumi berupa lautan. Laut dibagi menjadi dua menurut sudut pandang hidrografi, yaitu:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>laut dangkal, yang dimaksud laut dangkal adalah semua      lauta yang meliputi landasan kontinen atau pada umumnya  semua permukaan yang memiliki kedalaman      kurang dari 200 meter.</li>
<li>laut dalam, yang dimaksud laut dalam adalahsemua massa air yang      terletak di bawah suatu kedalaman tetentu yang biasanya ditentukan pada ±      200 meter (Bakosurtanal,1986).<!--more--></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Salah satu fenomena yang terjadi di laut adalah pasang surut. Dari beberapa sumber disebutkan pengertian pasang surut (pasut), yaitu:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pasang      surut (Triatmodjo, 1999) adalah fluktuasi muka air laut karena adanya gaya      tarik benda-benda di langit, terutama matahari dan bulan terhadap massa      air laut di bumi.</li>
<li>Pasang      surut (Poerbandono, 1999) adalah fenomena naik turunnya permukaan air laut      yang terjadi secara periodic yang utamanya disebabkan oleh gravitasi bulan      dan matahari.</li>
<li>Pasang surut (Bakosurtanal, 1986)adalah gerakan      vertical dari air lautyang terjadi secara periodic yang disebabkan oleh atraksi      benda-benda langit (terutama bulan dan matahari) terhadapbumi, serta gaya-gaya      lainnya, seperti gaya berat dan gaya sentripetal.</li>
<li>Pasang surut (Pertamina, 1989) adalah perubahan gerak      relative dari materi suatu planet, bintang dan benda angkasa lainnya yang      diakibatkan aksi gravitasi benda-benda angkasa dan gaya yang berasal dari luar materi itu      berada.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Pengaruh gravitasi benda-benda langit terhadap bumi tidak hanya menyebabkan pasut laut, tetapi juga mengakibatkan perubahan  bentuk bumi (<em>bodily tides</em>) dan atmosfer<em> (atmospheric tides). </em>Istilah pasut laut dinyatakan dengan pasut yang merupakan gerak naik dan turun  muka laut dengan periode rata-rata sekitar 12,4 jam atau 24,8 jam. Periode pasang surut adalah waktu antara puncak atau lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya. Feomena lain yang berhubungan dengan pasut adalah arus pasut, yaitu gerak badan air menuju dan meninggalkan  pantai saat air pasang dan surut.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. <span style="color:#000000;">Gravitasi</span> bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (<em>bulge</em>) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari.</p>
<p style="text-align:justify;">Permukaan air laut dipakai sebagai tinggi nol. Kedalaman suatu titik di dasar perairan atau ketinggian titik di pantai mengacu pada permukaan laut yang dianggap sebagai bidang referensi (atau datum) vertikal. Karena posisi muka laut selalu berubah, maka penentuan tinggi nol harus ditentukan dengan merata-ratakan data tinggi muka air yang diamati pada rentang waktu tertentu. Data tinggi muka air pada rentang waktu teretntu juga berguna untuk keperluan peramalan pasut. Analisis data pengamatan tinggi muka air  juga akan berguna untuk mengenali karakter pasut dan fenomena lain yang mempengaruhi tinggi muka air laut. (Sumber: Unknown)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PASUT]]></title>
<link>http://geosig.wordpress.com/2010/03/12/pasut/</link>
<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 03:33:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>geosig</dc:creator>
<guid>http://geosig.wordpress.com/2010/03/12/pasut/</guid>
<description><![CDATA[Pasut laut (ocean tide) adalah fenomena naik dan turunnya permukaan air laut secara periodic yang di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pasut laut (ocean tide) adalah fenomena naik dan turunnya permukaan air laut secara periodic yang disebabkan oleh pengaruh gravitasi benda-benda langit terutama bulan dan matahari. Pengaruh gravitasi benda-benda langit terhadap bumi tidak hanya menyebabkan pasut laut, tetapi juga mengakibatkan perubahan bentuk bumi (bodily tides) dan atmosfer (atmospheric tides). Pasut merupakan gerak naik dan turun muka laut dengan periode rata-rata sekitar 12.4 jam atau 24.8 jam. Fenomena lain yang berhubungan dengan pasut adalah arus laut, yaitu gerak badan air menuju dan meninggalkan pantai saat air pasang dan surut.</p>
<p style="text-align:justify;">Permukaan air laut dipakai sebagai tinggi nol. Kedalaman suatu titik di dasar perairan atau ketinggian titik di pantai mengacu pada permukaan laut yang dianggap sebagai bidang referensi (atau datum) vertikal. Karena posisi muka laut selalu berubah, maka penentuan tinggi nol harus dilakukan dengan merata-ratakan data tinggi muka air pada rentang waktu tertentu juga berguna untuk keperluan peramalan pasut. Analisis data pengamatan tinggi muka air juga akan berguna untuk mengenali karakter pasut dan fenomena lain yang mempengaruhi tinggi muka air laut.</p>
<p style="text-align:justify;">Gravitasi bulan merupakan pembangkit utama pasut. Walaupun massa matahari jauh lebih besar dibanding massa bulan, namun karena jarak bulan yang jauh lebih dekat ke bumi disbanding matahari, matahari hanya memberikan pengaruh yang lebih kecil terhadap pembangkitan pasut di bumi. Rasio massa bulan : bumi adalah sekitar 1 : 85, sedangkan rasio massa bulan : matahari adalah sekitar 1 : 3,18 x 10<sup>5</sup>. Jarak rata-rata pusat massa bumi dengan pusat massa matahari adalah sekitar 98.830.000 mil, sedangkan jarak rata-rata pusat massa bumi dengan pusat massa bulan adalah sekitar 238.862 mil, akibatnya perbandingan gravitasi bulan dan matahari (masing-masing terhadap bumi) adalah sekitar 1 : 0,46.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Teori Pasut</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Fenomena pasut dijelaskan dengan ‘teori pasut setimbang’ yang dikemukakan oleh Bapak Fisika Klasik, Sir Isaac Newton pada abad ke-17. Teori ini menganggap bahwa bumi berbentuk bola sempuran dan dilingkupi air dengan distribusi massa ang seragam. Pembangkitan pasut dijelaskan dengan ‘teori gravitasi universal’, yang menyatakan bahwa: pada system dua benda dengan massa m1 dan m2 akan terjadi gaya tarik menarik sebesar F di antara keduanya yang besarnya sebanding dengan perkalian massanya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya:</p>
<p style="text-align:justify;">Pada system bumi-bulan, gaya-gaya pembangkit pasut (tide generating forces) adalah resultan gaya-gaya yang menyebabkan terjadinya pasut, yaitu gaya sentrifugal system bumi-bulan (F<sub>S</sub>) dan gaya gravitasi bulan (F<sub>B</sub>). F<sub>S</sub> bekerja dalam persekutuan pusat gravitasi bumi-bulan ang titik massanya teletak di sekitar <sup>3</sup>/<sub>4 </sub>jari-jari bumi dari titik pusat bumi. F<sub>S</sub> bekerja dengan kekuatan yang seragam di seluruh titik di permukaan bumi dengan arah yang selalu menjauhi bulan pada garis yang sejajar dengan garis yang menghubungkan pusat bumi dan bulan. Besar F<sub>B</sub> tergantung pada jarak pusat massa suatu titik partikel air di permukaan bumi terhadap pusat massa bulan. Resultan F<sub>S</sub> dan F<sub>B</sub> menghasilkan gaya pembangkit pasut di sekujur permukaan bumi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada titik P yang lokasinya terdekat dengan bulan dan segaris dengan sumbu bumi-bulan, gaya gravitasi bulan yang bekerja pada titik pengamatan tersebut lebih besar dibanding dengan gaya sentrifugalnya (F<sub>B</sub> &#62;<sub> </sub>F<sub>S</sub>). Di titik P badan air tertarik menjauhi bumi ke arah bulan. Seiring dengan menjauhnya lokasi titik pengamat terhadap bulan, gaya gravitasi yang bekerja pada titik di permukaan bumi pun akan semakin kecil. Di titik P’, gaya sentrifugal lebih dominan dibanding gaya gravitasi bulan (F<sub>B</sub> &#60; F<sub>S</sub>), sehingga badan air tertarik menjauhi bumi pada arah menjauhi bulan.</p>
<p style="text-align:justify;">Fenomena pembangkitan pasut menyebabkan perbedaan tinggi permukaan air laut pada kondisi kedudukan-kedudukan tertentu dari bumi, bulan, dan matahari. Saat spring, yaitu saat kedudukan matahari segaris dengan sumbu bumi-bulan, maka terjadi pasang maksimum pada titik di permukaan bumi yang berada di sumbu kedudukan relative bumi, bulan, dan matahari. Saat tersebut terjadi ketika bulan baru dan bulan purnama. Fenomena pasut pada kedudukan demikian disebut dengan spring tide atau pasang perbani.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat neap, yaitu saat kedudukan matahari tegak lurus dengan sumbu bumi-bulan, terjadi pasut minimum pada titik di permukaan bumi yang tegak lurus sumbu bumi-bulan. Saat tersebut terjadi di perempat bulan awal dan perempat bulan akhir. Fenomena pasut pada kedudukan demikian disebut dengan neap tide atau pasut mati. Tunggang pasut (jarak vertical kedudukan permukaan air tertinggi dan terendah) saat spring lebih besar dibanding saat neap.</p>
<p style="text-align:justify;">Gambar di atas memperlihatkan data pengamatan tinggi muka air terhadap waktu t (jam) selama 1 piantan atau 25 jam saat pasut perbani dengan tunggang pasut sekitar 2 meter dan 1 bulan atau 744 jam. Tipe pasut yang diperlihatkan tergolong harian ganda dengan jarak waktu dua posisi muka air tertinggi sekitar 6 jam. Pasut perbani dan pasut mati berjarak waktu sekitar 7 hari, sedangkan jarak waktu dua pasut perbani adalah sekitar 14 hari.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
