<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>hikayat-banjar &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/hikayat-banjar/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "hikayat-banjar"</description>
	<pubDate>Wed, 19 Jun 2013 18:47:12 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Sasirangan]]></title>
<link>http://siprabayaksa.wordpress.com/2012/05/14/sasirangan/</link>
<pubDate>Mon, 14 May 2012 13:58:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>siprabayaksa</dc:creator>
<guid>http://siprabayaksa.wordpress.com/2012/05/14/sasirangan/</guid>
<description><![CDATA[SASIRANGAN KAIN KHAS BANJAR (dulu dan kini) Sasirangan adalah kain khas Banjar. Dulu dipercaya mempu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>SASIRANGAN KAIN KHAS BANJAR (dulu dan kini)</strong></p>
<p><a href="http://siprabayaksa.files.wordpress.com/2012/05/sasirangan-b-masin.jpg"><img class="wp-image-45 alignleft" title="sasirangan (B.masin)" src="http://siprabayaksa.files.wordpress.com/2012/05/sasirangan-b-masin.jpg?w=219&#038;h=164" alt="" width="219" height="164" /></a></p>
<p>Sasirangan adalah kain khas Banjar. Dulu dipercaya mempunyai kekuatan gaib. Kalau ada orang sakit menahun maka sasirangan dijadikan laung (tutup kepala pria) atau serudung untuk yang wanita.<br />
<strong>Sejarah sasirangan.</strong><br />
Pada mulanya kain sasirangan disebut kain langgundi, yakni kain tenun berwana kuning. Ketika Empu Jatmika berkuasa sebagai raja di Kerajaan Negara Dipa pada tahun 1355-1362. Kain langgundi merupakan kain yang digunakan secara luas sebagai bahan untuk membuat busana harian oleh segenap warga negara Kerajaan Negara Dipa.<br />
Hikayat Banjar memaparkan secara tersirat bahwa di kawasan yang sekarang ini dikenal sebagai pusat kota Amuntai banyak berdiam para pengrajin kain langgundi. Keterampilan membuat kain langgundi ketika itu tidak hanya dikuasai oleh para wanita yang sudah tua saja, tetapi juga dikuasai oleh para wanita yang masih gadis belia. Paparan ini menyiratkan bahwa kain langgundi ketika itu memiliki pangsa pasar yang besar. Jika tidak, maka sudah barang tentu tidak bakal banyak warga negara Kerajaan Negara Dipa yang menekuninya sebagai pekerjaan utama.<br />
<!--more--><br />
Bukti bahwa di kota Amuntai ketika itu banyak berdiam para pembuat kain langgundi adalah paparan tentang keberhasilan Lambung Mangkurat memenuhi permintaan Putri Junjung Buih sebagai syarat kesediaannya untuk dijadikan raja putri di Kerajaan Negara Dipa.<br />
Menurut Hikayat Banjar, Putri Junjung Buih ketika itu meminta Lambung Mangkurat membuatkan sebuah mahligai megah yang harus selesai dikerjakan dalam tempo satu hari oleh 40 orang tukang pria yang masih bujangan. Selain itu, Putri Junjung Buih juga meminta Lambung Mangkurat membuatkan sehelai kain langgundi yang selesai ditenun dan dihiasi dalam tempo satu hari oleh 40 orang wanita yang masih perawan.<br />
Semua permintaan Putri Junjung Buih itu dapat clipenuhi dengan mudah oleh Lambung Mangkurat. Paparan ini menyiratkan bahwa di kota Amuntai ketika itu banyak berdiam para tukang pria yang masih bujang, dan para penenun wanita yang masih perawan. Jika tidak, maka sudah barang tentu Lambung Mangkurat tidak akan mampu memenuhi semua permintaan Putri Junjung Buih.<br />
Pada hari yang telah disepakati, naiklah Putri Junjung Buih ke alam manusia meninggalkan tempat persemayamannya selama ini yang terletak di dasar Sungai Tabalong. Ketika itulah warga negara Kerajaan Negara Dipa melihat Putri Junjung Buih tampil dengan anggunnya. Pakaian kebesaran yang dikenakannya ketika itu tidak lain adalah kain langgundi warna kuning basil tenuman 40 orang penenun wanita yang masih perawan (Ras, 1968 : Baris 725-735, Hikajat Bandjar)<br />
Merujuk kepada paparan yang ada di dalam Hikayat Banjar (selesai ditulis tahun 1635), kain langgundi sebagai cikal bakal kain sasirangan sudah dikenal orang sejak tahun 1365 M. Namun, sudah barang tentu kain langgundi yang dibuat pada kurun-kurun waktu dimaksud sudah tidak mungkin ditemukan lagi artefaknya. &#8230;&#8230;.<br />
(sumber : <a href="http://opinibanjarmasin.blogspot.com/2009/02/sejarah-kain-sasirangan.html" rel="nofollow">http://opinibanjarmasin.blogspot.com/2009/02/sejarah-kain-sasirangan.html</a>)<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Kain sasirangan semula juga dinamakan kain pamintan(berasal dari kosa kata Banjar pamintaan dalam bahasa Indonesianya berarti permintaan), karena pembuatannya berdasarkan permintaan calon pemakainya.<br />
Pakaian pamintaan yang dibuat dari kain sasirangan untuk wanita kebanyakan berbentuk kakamban (serudung); baju yang berbentuk kubaya dengan warna dasar kuning atau warna batang awak(warna kulit), untuk laki-laki kebanyakan dibuat berbentuk laung(tutup kepala) dan untuk anak-anak biasanya berbentuk baju,celana atau ayunan.<br />
Motif sasirangan tradisional antara lain motif naga balimbur, kambang cengkeh, dara manginang, bayam raja, halalang kasuluhutan, ramak sahang, turun dayang, iris pudah, sati gading, gelombang, karang, mayang urai, kelelawar.<br />
Motif lain adalah umbak sinampur karang, pancar matahari, teratai, banawati, kulat kuriikit, motif naga mendung, motif balimbur, motif putri manangis, motif bintang bahambur, motif ombak sinampur karang, dan motif kangkung keombakan.<br />
Dahulu pewarnaan kain sasirangan memakai pewarna alami. Misalnya buah pinang untuk menghasilkan warna coklat, temulawak untuk warna kuning, buah karabinting untuk warna merah dan sebagainya. Tetapi sekarang sudah memakai pewarna kimia seperti naptol.<br />
Kain sasirangan tradisional tetap bertahan sebagai kain pamintan dan berfungsi sebagai alat pengobatan. Sekarang para pengrajin sudah mengembangkan gaya, corak dan kegunaan kain sasirangn untuk berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari, seperti baju, kemeja, sergam sekolah, tas. namun beberpa kain sasirangan sekarang masih ada yang menggunakan corak atau motif tradisional.</p>
<p><a href="http://siprabayaksa.files.wordpress.com/2012/05/tas-sasirangan.jpg"><img class="wp-image-46 alignnone" title="tas sasirangan" src="http://siprabayaksa.files.wordpress.com/2012/05/tas-sasirangan.jpg?w=109&#038;h=147" alt="" width="109" height="147" /></a>Tas Sasirangan</p>
<p><img class="alignnone" title="kotak hantaran" src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/532961_371997956156285_100000382501948_1274080_309008892_n.jpg" alt="" width="109" height="82" /> <img src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/526083_371996822823065_100000382501948_1274078_1409763249_n.jpg" alt="" width="109" height="125" />kotak hantaran</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
