<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ibnu-khaldun &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/ibnu-khaldun/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ibnu-khaldun"</description>
	<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 05:19:29 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Makalah Diskusi Analisis Kebijakan Pendidikan Islam Kelompok 3]]></title>
<link>http://mpiuika.wordpress.com/2009/11/21/makalah-diskusi-analisis-kebijakan-pendidikan-islam-kelompok-3/</link>
<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 06:04:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>mpiuika</dc:creator>
<guid>http://mpiuika.wordpress.com/2009/11/21/makalah-diskusi-analisis-kebijakan-pendidikan-islam-kelompok-3/</guid>
<description><![CDATA[FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM Disusun Oleh: Fikry Ardiansyah dan Muhamm]]></description>
<content:encoded><![CDATA[FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM Disusun Oleh: Fikry Ardiansyah dan Muhamm]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Makalah Diskusi Perencanaan Pendidikan Islam Kelompok 2]]></title>
<link>http://mpiuika.wordpress.com/2009/11/21/makalah-diskusi-perencanaan-pendidikan-islam-kelompok-2/</link>
<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 05:34:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>mpiuika</dc:creator>
<guid>http://mpiuika.wordpress.com/2009/11/21/makalah-diskusi-perencanaan-pendidikan-islam-kelompok-2/</guid>
<description><![CDATA[LANDASAN DAN PRINSIP-PRINSIP PERENCANAAN PENDIDIKAN ISLAM (Oleh : Roi Widyastuti,,Rina Herlina, Yaya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[LANDASAN DAN PRINSIP-PRINSIP PERENCANAAN PENDIDIKAN ISLAM (Oleh : Roi Widyastuti,,Rina Herlina, Yaya]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Makalah Diskusi ANalisis Kebiajakan Pendidikan Islam Kelompok 2]]></title>
<link>http://mpiuika.wordpress.com/2009/11/08/makalah-diskusi-analisis-kebiajakan-pendidikan-islam-kelompok-2/</link>
<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 02:33:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>mpiuika</dc:creator>
<guid>http://mpiuika.wordpress.com/2009/11/08/makalah-diskusi-analisis-kebiajakan-pendidikan-islam-kelompok-2/</guid>
<description><![CDATA[RUANG LINGKUP PENDIDIKAN ISLAM Oleh : Linda Herdis Dan Deswati Ilmu Pendidikan Islam mempunyai ruang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[RUANG LINGKUP PENDIDIKAN ISLAM Oleh : Linda Herdis Dan Deswati Ilmu Pendidikan Islam mempunyai ruang]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Manajemen Pendidikan Islam]]></title>
<link>http://farhansyaddad.wordpress.com/2009/10/30/manajemen-pendidikan-islam/</link>
<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 03:10:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>abifasya</dc:creator>
<guid>http://farhansyaddad.wordpress.com/2009/10/30/manajemen-pendidikan-islam/</guid>
<description><![CDATA[PENGERTIAN, DAN FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM Oleh : A. Farhan Syaddad dan Agus Salim A. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>PENGERTIAN, DAN FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM</p>
<p style="text-align:center;">Oleh : A. Farhan Syaddad dan Agus Salim</p>
<p><strong><span style="color:#00ff00;">A. Pendahuluan</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan (Didin dan Hendri, 2003:1). Mulai dari urusan terkecil seperti mengatur urusan Rumah Tangga sampai dengan urusan terbesar seperti mengatur urusan sebuah negara semua itu diperlukan pengaturan yang baik, tepat dan terarah dalam bingkai sebuah manajemen agar tujuan yang hendak dicapai bisa diraih dan bisa selesai secara efisien dan efektif.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan Agama Islam dengan berbagai jalur, jenjang, dan bentuk yang ada seperti pada jalur pendidikan formal ada jenjang pendidikan dasar yang berbentuk Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), jenjang pendidikan menengah ada yang berbentuk Madrasah Alyah (MA) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), dan pada jenjang pendidikan tinggi terdapat begitu banyak Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) dengan berbagai bentuknya ada yang berbentuk Akademi, Sekolah Tinggi, Institut, dan Universitas. Pada jalur pendidikan non formal seperti Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak (TPA), Majelis Ta’lim, Pesantren dan Madrasah Diniyah. Jalur Pendidikan Informal seperti pendidikan yang diselenggarakan di dalam kelurarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan. Kesemuanya itu perlu pengelolaan atau manajemen yang sebaik-baiknya, sebab jika tidak bukan hanya gambaran negatif tentang pendidikan Islam yang ada pada masyarakat akan tetap melekat dan sulit dihilangkan bahkan mungkin Pendidikan Islam yang hak itu akan hancur oleh kebathilan yang dikelola dan tersusun rapi yang berada di sekelilingnya, sebagaimana dikemukakan Ali bin Abi Thalib <em>:”kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dihancurkan oleh kebathilan yang tersusun rapi”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Makalah sederhana ini akan membahas tentang pengertian dan fungsi-fungsi manajemen pendidikan Islam, sebagai pengantar diskusi pekuliahan Mata Kuliah Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Ibnu Khaldul Bogor.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;">B. Pengertian Manajemen Pendidikan Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari segi bahasa manajemen berasal dari bahasa Inggris yang merupakan terjemahan langsung dari kata management yang berarti pengelolaan, ketata laksanaan, atau tata pimpinan. Sementara dalam kamus Inggris Indonesia karangan John M. Echols dan Hasan Shadily (1995 : 372) management berasal dari akar kata <em>to manage</em> yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola, dan memperlakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ramayulis (2008:362) menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan hakikat manajemen adalah <em>al-tadbir</em> (pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata <em>dabbara</em> (mengatur) yang banyak terdapat dalam Al Qur’an seperti firman Allah SWT :</p>
<div>
<p style="font-size:25pt;font-family:’traditional;text-align:right;"><span style="color:#0000ff;">يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ مِنَ السَّمَآءِ إِلَى اْلأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةِ مِّمَّا تَعُدُّونَ</span></p>
</div>
<p style="text-align:justify;"><em>Artinya : Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (Al Sajdah : 05).</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dari isi kandungan ayat di atas dapatlah diketahui bahwa Allah swt adalah pengatur alam (manager). Keteraturan  alam raya ini merupakan bukti kebesaran Allah swt dalam mengelola alam ini. Namun, karena manusia yang diciptakan Allah SWT telah dijadaikan sebagai khalifah di bumi, maka dia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah mengatur alam raya ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara manajemen menurut istilah adalah proses mengkordinasikan aktifitas-aktifitas kerja sehingga dapat selesai secara efesien dan efektif dengan dan melalui orang lain (Robbin dan Coulter, 2007:8).</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan Sondang P Siagian (1980 : 5) mengartikan manajemen sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka mencapai tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila kita perhatikan dari kedua pengertian manajemen di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa manajemen merupkan sebuah proses pemanfaatan semua sumber daya melalui bantuan orang lain dan bekerjasama dengannya, agar tujuan bersama bisa dicapai secara efektif, efesien, dan produktip. Sedangkan Pendidikan Islam merupakan proses transinternalisasi nilai-nilai Islam kepada peserta didik sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian maka yang disebut dengan manajemen pendidikan Islam sebagaimana dinyatakan Ramayulis (2008:260) adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;">C. Fungsi-fungsi Manajemen Pendidikan Islam</span></p>
<p style="text-align:justify;">Berbicara tentang fungsi manajemen pendidikan Islam tidaklah bisa terlepas dari fungsi manajemen secara umum seperti yang dikemukakan Henry Fayol seorang industriyawan Prancis, dia mengatakan bahwa fungsi-fungsi manajemn itu adalah merancang, mengorganisasikan, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan. Gagasan Fayol itu kemudian mulai digunakan sebagai kerangka kerja buku ajar ilmu manajemen pada pertengahan tahun 1950, dan terus berlangsung hingga sekarang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu Robbin dan Coulter (2007:9) mengatakan bahwa fungsi dasar manajemen yang paling penting adalah merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan. Senada dengan itu Mahdi bin Ibrahim (1997:61) menyatakan bahwa fungsi manajemen atau tugas kepemimpinan dalam pelaksanaannya meliputi berbagai hal, yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mempermudah pembahasan mengenai fungsi manajemen pendidikan Islam, maka kami (kelompok 1) akan menguraikan fungsi manajemen pendidikan Islam sesuai dengan pendapat yang dikemukan oleh Robbin dan Coulter yang pendapatnya senada dengan Mahdi bin Ibrahim yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan, dan pengawasan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">1. Fungsi Perencanaan <em>(Planning)</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Perencanaan adalah sebuah proses perdana ketika hendak melakukan pekerjaan baik dalam bentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkan hasil yang optimal. Demikian pula halnya dalam pendidikan Islam perencanaan harus dijadikan langkah pertama yang benar-benar diperhatikan oleh para manajer dan para pengelola pendidikan Islam. Sebab perencanaan merupakan bagian penting dari sebuah kesuksesan, kesalahan dalam menentukan perencanaan pendidikan Islam akan berakibat sangat patal bagi keberlangsungan pendidikan Islam. Bahkan Allah memberikan arahan kepada setiap orang yang beriman untuk mendesain sebuah rencana apa yang akan dilakukan dikemudian hari, sebagaimana Firman-Nya dalam Al Qur’an Surat Al Hasyr : 18 yang berbunyi :</p>
<div>
<p style="font-size:25pt;font-family:’traditional;text-align:right;"><span style="color:#0000ff;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ</span></p>
</div>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl">
<p style="text-align:justify;"><em>Artinya : </em><em>Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ketika menyusun sebuah perencanaan dalam pendidikan Islam tidaklah dilakukan hanya untuk mencapai tujuan dunia semata, tapi harus jauh lebih dari itu melampaui batas-batas target kehidupan duniawi. Arahkanlah perencanaan itu juga untuk mencapai target kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga kedua-duanya bisa dicapai secara seimbang.</p>
<p style="text-align:justify;">Mahdi bin Ibrahim (l997:63) mengemukakan bahwa ada lima perkara penting untuk diperhatikan demi keberhasilan sebuah perencanaan, yaitu :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ketelitian dan kejelasan dalam membentuk tujuan</li>
<li>Ketepatan waktu dengan tujuan yang hendak dicapai</li>
<li>Keterkaitan antara fase-fase operasional  rencana dengan penanggung jawab operasional, agar mereka mengetahui fase-fase tersebut dengan tujuan yang hendak dicapai</li>
<li>Perhatian terhadap aspek-aspek amaliah ditinjau dari sisi penerimaan masyarakat, mempertimbangkan perencanaa, kesesuaian perencanaan dengan tim yang bertanggung jawab terhadap operasionalnya atau dengan mitra kerjanya, kemungkinan-kemungkinan yang bisa dicapai, dan kesiapan perencanaan melakukan evaluasi secara terus menerus dalam merealisasikan tujuan.</li>
<li>Kemampuan organisatoris penanggung jaawab operasional.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sementara itu menurut Ramayulis (2008:271) mengatakan bahwa dalam Manajemen pendidikan Islam perencanaan itu meliputi :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Penentuan prioritas agar pelaksanaan pendidikan berjalan efektif, prioritas kebutuhan agar melibatkan seluruh komponen yang terlibat dalam proses pendidikan, masyarakat dan bahkan murid.</li>
<li>Penetapan tujuan sebagai garis pengarahan dan sebagai evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil pendidikan</li>
<li>Formulasi prosedur sebagai tahap-tahap rencana tindakan.</li>
<li>Penyerahan tanggung jawab kepada individu dan kelompok-kelompok kerja.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam Manajeman Pendidikan Islam perencanaan merupakan kunci utama untuk menentukan aktivitas berikutnya. Tanpa perencanaan yang matang aktivitas lainnya tidaklah akan berjalan dengan baik bahkan mungkin akan gagal. Oleh karena itu buatlah perencanaan sematang mungkin agar menemui kesuksesan yang memuaskan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">2. Fungsi Pengorganisasian <em>(organizing)</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ajaran Islam senantiasa mendorong para pemeluknya untuk melakukan segala sesuatu secara terorganisir dengan rapi, sebab bisa jadi suatu kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dengan mudah bisa diluluhlantakan oleh kebathilan yang tersusun rapi.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Terry (2003:73) pengorganisasian merupakan kegiatan dasar dari manajemen dilaksnakan untuk mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsur manusia, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses.</p>
<p style="text-align:justify;">Organisasi dalam pandangan Islam bukan semata-mata wadah, melainkan lebih menekankan pada bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan secara rapi. Organisasi lebih menekankan pada pengaturan mekanisme kerja. Dalam sebuah organisasi tentu ada pemimpin dan bawahan (Didin dan Hendri, 2003:101)</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu Ramayulis (2008:272) menyatakan bahwa pengorganisasian dalam pendidikan Islam adalah proses penentuan struktur, aktivitas, interkasi, koordinasi, desain struktur, wewenang, tugas secara transparan, dan jelas. Dalam lembaga pendidikan Isla, baik yang bersifat individual, kelompok, maupun kelembagaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah organisasi dalam manajemen pendidikan Islam akan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan jika konsisten dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalanan organisasi yaitu Kebebasan, keadilan, dan musyawarah. Jika kesemua prinsip ini dapat diaplikasikan secara konsisten dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan islam akan sangat membantu bagi para manajer pendidikan Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari uraian di atas dapat difahami bahwa pengorganisasian merupakan fase kedua setelah perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pengorganisasian terjadi karena pekerjaan yang perlu dilaksanakan itu terlalu berat untuk ditangani oleh satu orang saja. Dengan demikian diperlukan tenaga-tenaga bantuan dan terbentuklah suatu kelompok kerja yang efektif. Banyak pikiran, tangan, dan keterampilan dihimpun menjadi satu yang harus dikoordinasi bukan saja untuk diselesaikan tugas-tugas yang bersangkutan, tetapi juga untuk menciptakan kegunaan bagi masing-masing anggota kelompok tersebut terhadap keinginan keterampilan dan pengetahuan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">3. Fungsi Pengarahan <em>(directing).</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pengarahan adalah proses memberikan bimbingan kepada rekan kerja sehingga mereka menjadi pegawai yang berpengetahuan dan akan bekerja efektif menuju sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam fungsi pengarahan terdapat empat komponen, yaitu pengarah, yang diberi pengarahan, isi pengarahan, dan metode pengarahan. Pengarah<strong> </strong>adalah orang yang memberikan pengarahan berupa perintah, larangan, dan bimbingan. Yang diberipengarahan adalah orang yang diinginkan dapat merealisasikan pengarahan. Isi pengarahan adalah sesuatu yang disampaikan pengarah baik berupa perintah, larangan, maupun bimbingan. Sedangkan metode pengarahan adalah sistem komunikasi antara pengarah dan yang diberi pengarahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam manajemen pendidikan Islam, agar isi pengarahan yang diberikan kepada orang yang diberi pengarahan dapat dilaksanakan dengan baik maka seorang pengarah setidaknya harus memperhatikan beberapa prinsip berikut, yaitu : Keteladanan, konsistensi, keterbukaan, kelembutan, dan kebijakan. Isi pengarahan baik yang berupa perintah, larangan, maupun bimbingan hendaknya tidak memberatkan dan diluar kemampuan sipenerima arahan, sebab jika hal itu terjadi maka jangan berharap isi pengarahan itu dapat dilaksanakan dengan baik oleh sipenerima pengarahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa fungsi pengarahan dalam manajemen pendidikan Islam adalah proses bimbingan yang didasari prinsip-prinsip religius kepada rekan kerja, sehingga orang tersebut mau melaksanakan tugasnya dengan sungguh- sungguh dan bersemangat disertai keikhlasan yang sangat mendalam.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">4. Fungsi Pengawasan <em>(Controlling)</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pengawasan adalah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna menjamin bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Bahkan Didin dan Hendri (2003:156) menyatakan bahwa dalam pandangan Islam pengawasan dilakukan untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah dan membenarkan yang hak.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pendidikan Islam pengawasan didefinisikan sebagai proses pemantauan yang terus menerus untuk menjamin terlaksananya perencanaan secara konsekwen baik yang bersifat materil maupun spirituil.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Ramayulis (2008:274) pengawasan dalam pendidikan Islam mempunyai karakteristik sebagai berikut: pengawasan bersifat material dan spiritual, monitoring bukan hanya manajer, tetapi juga Allah Swt, menggunakan metode yang manusiawi yang menjunjung martabat manusia. Dengan karakterisrik tersebut dapat dipahami bahwa pelaksana berbagai perencaan yang telah disepakati akan bertanggung jawab kepada manajernya dan Allah sebagai pengawas yang Maha Mengetahui. Di sisi lain pengawasan dalam konsep Islam lebih mengutamakan menggunakan pendekatan manusiawi, pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai keislaman.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Penutup</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Manajemen Pendidikan Islam adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak sekali para ulama di bidang manajemen yang menyebutkan tentang fungsi-fungsi manajemen diantaranya adalah Mahdi bin Ibrahim, dia mengatakan bahwa fungsi manajemen itu di antaranya adalah Fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila Para Manajer dalam pendidikan Islam telah bisa melaksanakan tugasnya dengan tepat seuai dengan fungsi manajemen di atas, terhindar dari semua ungkupan sumir yang menyatakan bahwa lembaga pendidikan Islam dikelola dengan manajemen yang asal-asalan tanpa tujuan yang tepat. Maka tidak akan ada lagi lembaga pendidikan Islam yang ketinggalan Zaman, tidak teroganisir dengan rapi, dan tidak memiliki sisten kontrol yang sesuai.</p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan sederhana yang telah kami (kelompoik1) persembahkan dihadapan anda sebagai bahan pengantar diskusi ini semoga bermanfaat adanya. Terimakasih</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Wallahu ‘alam.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;"><strong>Bahan Bacaan</strong></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ramayulis, <em>Ilmu Pendidikan Islam</em>, Kalam Mulia, Jakarta, 2008</li>
<li>Sondang P Siagian, <em>Filsafah Administrasi</em>, CV Masaagung, Jakarta, 1990</li>
<li>Didin Hafidudin dan Hendri Tanjung, <em>Manajemen Syariah dalam Prkatik</em>, Gema Insani, Jakarta, 2003.</li>
<li>Mahdi bin Ibrahim, <em>Amanah dalam Manajemen</em>, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 1997</li>
<li>Made Pidarta, <em>Manajemen Pendidikan Indonesia</em>, Rineka Cipta, 2004.</li>
<li>George R Terry, <em>Prinsip-prinsip Manajemen</em>, Bumi Aksara, Jakarta, 2006</li>
<li>Robbin dan Coulter, <em>Manajemen (edisi kedelapan), </em>PT Indeks, Jakarta, 2007</li>
<li style="text-align:justify;">UU sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003</li>
</ol>
<p>ditulis juga di :</p>
<p>http ://<a href="http://mpiuika.wordpress.com/2009/10/22/makalah-diskusi-mpi-kelompok-1/">mpiuika.wordpress.com</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Makalah Diskusi MPI Kelompok 2]]></title>
<link>http://mpiuika.wordpress.com/2009/10/25/makalah-diskusi-mpi-kelompok-2/</link>
<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 03:47:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>mpiuika</dc:creator>
<guid>http://mpiuika.wordpress.com/2009/10/25/makalah-diskusi-mpi-kelompok-2/</guid>
<description><![CDATA[FILSAFAT DAN TEORI MANAJEMEN PENDIDIKAN OLEH : J. Badruzaman, A. Khatib, dan Rizal Fauzi I.       FI]]></description>
<content:encoded><![CDATA[FILSAFAT DAN TEORI MANAJEMEN PENDIDIKAN OLEH : J. Badruzaman, A. Khatib, dan Rizal Fauzi I.       FI]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sains Dalam Kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun]]></title>
<link>http://hbis.wordpress.com/2009/10/24/sains-dalam-kitab-muqaddimah-ibnu-khaldun/</link>
<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 02:23:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bustamam Ismail</dc:creator>
<guid>http://hbis.wordpress.com/2009/10/24/sains-dalam-kitab-muqaddimah-ibnu-khaldun/</guid>
<description><![CDATA[Muqaddimah. Inilah karya monumental Ibnu Khaldun, seorang ilmuwan dan sejarawan agung pada abad ke-1]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a rel="attachment wp-att-2805" href="http://hbis.wordpress.com/2009/10/24/sains-dalam-kitab-muqaddimah-ibnu-khaldun/khaldun/"><img class="alignright size-full wp-image-2805" title="khaldun" src="http://hbis.wordpress.com/files/2009/10/khaldun.jpg" alt="khaldun" width="206" height="240" /></a>Muqaddimah. Inilah karya monumental Ibnu Khaldun, seorang ilmuwan dan sejarawan agung pada abad ke-14 M. Buku yang ditulis pemikir dari Tunisia, Afrika Utara itu tercatat sebagai karya yang sangat mengagumkan. Pengaruhnya begitru luar biasa, tak hanya mewarnai pemikiran  di dunia Islam, namun juga peradaban Barat.</p>
<p>Orang Yunani menyebut karya Ibnu Khaldun itu sebagai Prolegomena. Sejumlah pemikir sepakat bahwa Muqaddimah adalah karya pertama yang mengkaji  filsafat sejarah, ilmu-ilmu sosial, demografi, histografi serta sejarah budaya.  IM Oweiss dalam karyanya bertajuk Ibn Khaldun: A fourteenth-Century Economist menilai, Muqaddimah merupakan salah satu buku perintis ekonomi modern.</p>
<p>Selain itu, Ibnu Khaldun  dalam adikaryanya itu juga membedah dan mengupas masalah teologi Islam.  Yang  lebih menarik lagi, Ibnu Khaldun pun membahas sains atau ilmu pengetahuan alam dalam kitabnya yang sangat populer itu. Secara khusus, Ibnu Khaldun mengupas tentang studi biologi dan kimia dalam bab tersendiri mengenai ilmu pengetahuan alam.</p>
<p><strong><!--more-->Biologi</strong><br />
Teodros Kiros dalam karyanya Explorations in African Political Thought, mengatakan, dalam bidang biologi secara khusus Ibnu Khaldun membahas masalah teori evolusi. Menurut Khaldun, dunia ini dengan segala isinya memiliki urutan tertentu dan susunan benda. Ia mencoba mencoba mengaitkan antara penyebab dan hal-hal yang disebabkan, kombinasi dari beberapa bagian penciptaan dengan yang lain, dan transformasi dari beberapa wujud menjadi sesuatu yang lain.</p>
<p>Selain itu, Ibnu Khaldun juga membahas penciptaan dunia. Menurut dia, makhluk hidup berawal dari sebuah mineral kemudian berkembang dan berakal. Secara bertahap, kemudian berubah menjadi tanaman dan hewan. &#8220;Tahap terakhir mineral &#8221;terhubung&#8221; dengan tahap pertama dari tanaman, seperti tumbuhan dan tanaman tak berbiji,&#8221; tutur Ibnu Khaldun.</p>
<p>Tahap terakhir tanaman, lanjut dia, seperti pohon kelapa dan tumbuhan yang merambat (pohon anggur), terhubung dengan tahap pertama binatang, seperti keong (siput) dan kerang yang hanya memiliki kekuatan sentuh.</p>
<p>Menurut Ibnu Khaldun, dunia binatang kemudian semakin meluas menjadi berbagai jenis. Dalam proses penciptaan bertahap, hewan/binatang akhirnya mengarah ke bentuk manusia, yang mampu berpikir dan mengartikan. &#8220;Tahap tertinggi manusia dicapai dari dunia kera, di mana kedua kecerdasan dan persepsi ditemukan, namun belum mencapai tahap refleksi dan berpikir sebenarnya,&#8221; tutur Ibnu Khaldun.</p>
<p>Ibnu Khaldunternyata seorang penganut determinisme lingkungan. Dia menjelaskan bahwa kulit hitam itu disebabkan oleh iklim panas dari gurun Sahara Afrika dan bukan karena keturunan. &#8220;Dia justru menghalau teori Hamitic, di mana anak-anak Ham yang dikutuk oleh makhluk hitam, sebagai mitos,&#8221; jelas Chouki El Hameldalam karyanya  Race, slavery and Islam in Maghribi Mediterranean thought: the question of the Haratin in Morocco.</p>
<p><strong>Kimia</strong><br />
Menurut George Anawati, dalam bidang kimia, Ibnu Khaldun adalah seorang kritikus praktik kimia pada dunia Islam. &#8220;Dalam bab 23 berjudul Fi &#8216;Ilm al-kimya, ia membahas sejarah kimia, yang dilihat dari ahli kimia seperti Jabir ibnu Hayyan (721-815 M), dan teori dari perubahan logam dan elixir (obat yang mujarab) kehidupan. &#8221; ungkap Anawati dalam karyanya  Arabic Alchemy.</p>
<p>Anawati menambahkan dalam bab 26  Kitab Muqaddimah yang berjudul thamrat Fi inkar al-kimya wa istihalat wujudiha wa ma yansha min al-mafasid,  Khadlun  menulis sebuah sanggahan sistematis tentang kimia dalam sosial, ilmiah, filosofis dan dasar agama.</p>
<p>&#8220;Dia mengawali sanggahan pada dasar sosial, argumentasi bahwa banyak ahli kimia yang mampu mendapatkan penghasilan dari hidup karena pemikiran yang menjadi kaya melalui kimia dan akhirnya kehilangan kredibilitas,&#8221;  papar Anawati.</p>
<p>Ibnu Khaldun juga berpendapat bahwa beberapa ahli kimia terpaksa melakukan penipuan, baik secara terbuka dengan menggunakan sedikit lapisan emas/perak di atas perak/perhiasan tembaga maupun secara diam-diam menggunakan prosedur yang melapisi pemutihan tembaga dengan menyublimasi raksa. Meski begitu, ia mengakui bahwa ada saja ahli kimia yang  jujur.</p>
<p>Ibnu Khaldun juga mengkritisi pandangan dan teori tenteng kimia yang dicetuskan  al-Farabi, Ibnu Sina dan Al-Tughrai. &#8220;Ilmu pengetahuan manusia tak berdaya bahkan untuk mencapai yang terendah sekalipun, kimia menyerupai seseorang yang ingin menghasilkan manusia, binatang atau tanaman.&#8221;</p>
<p>Anawati mengatakan, dalam mengkritisi ilmu kimia, Ibnu Khaldun pun menggunakan sosial logikanya. Anawati menuturkan bahwa Ibnu Khaldun dalam kitabnya menegaskan bahwa kimia hanya dapat dicapai melalui pengaruh psikis (bi-ta&#8217;thirat al-nufus). Hal yang luar biasa menjadi salah satu keajaiban dari ilmu gaib/ilmu sihir (rukiat) &#8230; Mereka tak terbatas, tak dapat diklaim untuk mendapatkan mereka.&#8221;</p>
<p>Prof Hamed A EAD, dari Universitas Kairo dalam tulisannya bertajuk Alchemy in Ibn Khaldun&#8217;s Muqaddimah mengatakan bahwa Ibnu Khaldun mendefinisikan kimia sebagai &#8220;ilmu yang mempelajari zat yang mana generasi emas dan perak tiruan bisa diciptakan.&#8221;</p>
<p>Begitulah Ibnu Khaldun mengupas ilmu pengetahuan alam dalam karyanya yang sangat fenomenal, Al-Muqaddimah.</p>
<p><strong>Dibalik Penulisan Muqaddimah<br />
</strong><br />
lbnu Khaldun adalah seorang ilmuwan besar yang terlahir di Tunisia pada 27 Mei 1332 atau 1 Ramadhan 732 H.  Ia bernama lengkap Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad Ibn Khaldun Al-Hadrami Al-Ishbili. Selain dikenal sebagai pemikir hebat, ia juga seorang politikus kawakan.<img style="float:right;" src="http://www.republika.co.id/images/news/new2009/Muqaddimah.jpg" alt="" width="325" /></p>
<p>Setelah mundur dari percaturan politik praktis, Ibnu Khaldun bersama keluarganya memutuskan untuk menyepi di Qal’at Ibnu Salamah, sebuah istana yang terletak di negeri Banu Tajin, selama empat tahun. Selama masa kontemplasi itulah, Ibnu Khaldun menyelesaikan penulisan karyanya yang sangat fenomenal bertajuk Al-Muqaddimah.</p>
<p>&#8221;Dalam pengunduran diri inilah saya merampungkan Al-Muqaddimah, sebuah karya yang seluruhnya orisinal dalam perencanaannya dan saya ramu dari hasil penelitian luas yang terbaik,” ungkap Ibnu Khaldun dalam biografinya yang berjudul Al-Ta’rif bi Ibn-Khaldun wa Rihlatuhu Gharban wa Sharqan.</p>
<p>Buah pikir Ibnu Khaldun itu begitu memukau. Tak heran, jika ahli sejarah Inggris, Arnold J Toynbee menganggap Al-Muqaddimah sebagi karya terbesar dalam jenisnya sepanjang sejarah.</p>
<p>Menurut Ahmad Syafii Ma’arif dalam bukunya berjudul Ibnu Khaldun dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur, salah satu tesis Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah yang sering dikutip adalah: `’Manusia bukanlah produk nenek moyangnya, tapi adalah produk kebiasaan-kebiasaan sosial.”</p>
<p>Secara garis besar, Tarif Khalidi dalam bukunya Classical Arab Islam membagi Al-Muqaddimah menjadi tiga bagian utama. Pertama, membicarakan histografi mengupas kesalahan-kesalahan para sejarawan Arab-Muslim. Kedua, Al-Muqaddimah mengupas soal ilmu kultur.</p>
<p>Bagi Ibnu Khaldun, ilmu tersebut merupakan dasar bagi pemahaman sejarah. Ketiga, mengupas lembaga-lembaga dan ilmu-ilmu keislaman yang telah berkembang sampai dengan abad ke-14. Meski hanya sebagai pengantar dari buku utamanya yang berjudul al-Ibar, kenyataannya Al-Muqaddimah lebih termasyhur.</p>
<p>Pasalnya, seluruh bangunan teorinya tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah termuat dalam kitab itu. Dalam buku itu Ibnu Khaldun diantara menyatakan bahwa kajian sejarah haruslah melalui pengujian-pengujian yang kritis.</p>
<p>&#8221;Di tangan Ibnu Khaldun, sejarah menjadi sesuatu yang rasional, faktual dan bebas dari dongeng-dongeng,” papar Syafii Ma’arif. Bermodalkan pengalamannya yang malang-melintang di dunia politik pada masanya, Ibnu Khaldun mampu menulis Almuqaddimah dengan jernih. Dalam kitabnya itu, Ibnu Khaldun juga membahas peradaban manusia, hukum-hukum kemasyarakatan dan perubahan sosial.</p>
<p>Menurut Charles Issawi dalam An Arab Philosophy of History, lewat Al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang menyatakan dengan jelas, sekaligus menerapkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar sosiologi. Salah satu prinsip yang dikemukakan Ibnu Khaldun mengenai ilmu kemasyarakatan antara lain; &#8220;Masyarakat tidak statis, bentuk-bentuk soisal berubah dan berkembang.”</p>
<p>Pemikiran Ibnu Khaldun telah memberi pengaruh yang besar terhadap para ilmuwan Barat. Jauh, sebelum Aguste Comte pemikir yang banyak menyumbang kepada tradisi keintelektualan positivisme Barat metode penelitian ilmu pernah dikemukakan pemikir Islam seperti Ibnu Khaldun (1332-1406).</p>
<p>Dalam metodeloginya, Ibnu Khaldun mengutamakan data empirik, verifikasi teoritis, pengujian hipotesis, dan metode pemerhatian. Semuanya merupakan dasar pokok penelitian keilmuan Barat dan dunia, saat ini. &#8220;Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang berusaha merumuskan hukum-hukum sosial,” papar Ilmuwan asal Jerman, Heinrich Simon.(rpb) <a href="http://www.suaramedia.com/">www.suaramedia.com</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Filsafat Politik Ibnu Khaldun]]></title>
<link>http://chapoenx22.wordpress.com/2009/09/06/filsafat-politik-ibnu-khaldun/</link>
<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 23:22:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>chapoenx22</dc:creator>
<guid>http://chapoenx22.wordpress.com/2009/09/06/filsafat-politik-ibnu-khaldun/</guid>
<description><![CDATA[Ibnu Khaldun atau yang bernama lengkap waliyuddin Abdurrahman ibnu Muhammad ibn Muhammad ibnu Khaldu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ibnu Khaldun atau yang bernama lengkap <em>waliyuddin</em> Abdurrahman ibnu Muhammad ibn Muhammad ibnu Khaldun al-Hadlrami, yang dilahirkan di Kota Tunisia, Afrika, pada 1 Ramadhan 732 H tau bertepatan pada 13 Mei 1332. Khaldun sendiri merupakan nisbat dari nama nenek moyangnya, yang konon berasal dari daerah Arabia Selatan, yang kemudian berhijrah di wilayah Eropa, dalam hal ini di Carmona, Spanyol, yang saat ini pada masa kemenangan dan kejayaan pasukan Islam. Namun dimasa pendudukan pasukan Kristen, keturunan ibnu Khaldun mestilah berhijrah ke wilayah Ceuta, Afrika Utara, seorang nenek moyang ibnu Khaldun yang cukup terkenal dan berpengaruh, al-Hasan ibnu Muhammad, juga anaknya yang bernama Abubakar Muhammad. Dari silsilah keluarganya, nampak bakat intelektual dan pemikir yang kelak mengalir pada diri ibnu Khaldun.</p>
<p>Pendidikan agama sebagai awal pelajaran yang diberikan terhadap ibnu Khaldun, diperoleh langsung dari sang ayah, yang merupakan ahli Al-Qur’an, dan salah satu ahli tafsir, ahli bahasa arab, ilmu mantiq di zamannya. Namun, kematian ayahnya yang menjadi musibah bagi seorang pemuda yang baru beranjak remaja tersebut malah membuat ibnu Khaldun, kelak semakin termotivasi untuk menjadi orang besar, pemikir muslim yang tidak diragukan lagi kemampuannnya. Sebelum berkembang menjadi seorang pemikir, beliau memang cukup banyak belajar dari para syeikh, yang memang ahli dibidang ilmu, seperti; imam Syeikh Muhammad ibnu Sa’ad ibnu Burroh dalam bidang Al-Qur’an, syeikh Syamsuddin Muhammad ibnu Jabir ibnu Sulthon al-Wadiyasyi dalam bidang ilmu hadist, dll. Ibnu Khaldun merupakan seorang pemuda yang haus akan ilmu, sehingga dirinya senantiasa tidak mudah puas akan ilmu yang dia berhasil peroleh dari salah seorang gurunya, dia akan terus mencari.</p>
<p>Pada masa remajanya hingga usia 25 tahun ibnu Khaldun sebenarnya berada pada kondisi yang tidak stabil secara politis, dimana kekuasaan politik pemerintahan saat itu telah terjadi pergolakan, diantara beberapa penguasa yang umumnya merupakan bani-bani yang hendak meraih kekuasaan tertinggi. Ibnu Khaldun akhirnya melakukan hijrah ke daerah Fez, dari Tunisia, disana dia mulai menikah dan menghasilkan keturunan. Serta disana pemikiran bisa lebih berkembang. Beberapa kitab (buku) telah cukup banyak dibuat olehnya, terutama <em>muqaddimah</em>, yang cukup banyak membahas terkait problem sosial politik, dan merupakan kitab rujukan filsafat sejarah ibnu Khaldun.</p>
<p>Didalam muqaddimah, pada bab ke-3 dan ke-4, dimana disanalah nampak bahwa ibnu Khaldun mulai membahas masyarakat, kekuasaan, pemerintahan, pemimpin yang berkuasa, serta buah pemikirannya terkait negara dan kota, dan dari sana sebenarnya pemikiran filsafat politiknya mulai hidup. Ibnu Khaldun mengawali pembahasan terkait konsepsi masyarakat, dimana menurutnya adanya masyarakat merupakan suatu keharusan dimana manusia merupakan mahluk politis dan sosial yang sudah menjadi konsekuensi logis dan kebutuhan akan eksistensi masyarakat. Kemudian dari masyarakat akan terbentuk suatu sistem negara dimana negara berfungsi sebagai pelindung atas keberadaan masyarakat atau komunitas pada suatu wilayah</p>
<p>Kedepan, terdapat korelasi yang positif antara keberadaan masyarakat dan negara. Adalah suatu kenyataan, bahwa <em>daulah</em> (negara) dan <em>mulk</em> (kekuasaan wibawa) itu mempunyai hubungan yang sama terhadap <em>’umran</em> (peradaban atau masyarakat) sebagai hubungan bentuk dengan benda (Osman Raliby,1978). Ibnu Khaldun pun menguraikan problem terkait pemilihan seorang pemimpin atau dalam hal ini kepala negara, menurutnya mestilah berdasarkan syariat, serta memiliki kriteria yang harus dimiliki oleh seorang kepala negara, diantaranya: memiliki ilmu pengetahuan, berkeadilan, sanggup, kesehatan pancaindera, dan yang terakhir dan sebenarnya masih menjadi perdebatan, namun ibnu Khaldun memasukkan hal ini, keturunan bangsa Quraisy. Dalam hal ini ibnu Khaldun menamainya dengan sistem <em>imamah</em>.</p>
<p>Ibnu Khaldun sangat meyakini sekali, bahwa pada dasarnya negera-negara berdiri bergantung pada generasi pertama (pendiri negara) yang memiliki tekad dan kekuatan untuk mendirikan negara. Lalu, disusul oleh generasi ke dua yang menikmati kestabilan dan kemakmuran yang ditinggalkan generasi pertama. Kemudian, akan datang generasi ke tiga yang tumbuh menuju ketenangan, kesenangan, dan terbujuk oleh materi sehingga sedikit demi sedikit bangunan-bangunan spiritual melemah dan negara itu pun hancur, baik akibat kelemahan internal maupun karena serangan musuh-musuh yang kuat dari luar yang selalu mengawasi kelemahannya.(<a href="http://jacksite.wordpress.com/">http://jacksite.wordpress.com/</a>)</p>
<p>Ibnu Khaldun sendiri sempat merasakan pengalaman di dunia politik praktis, dari mulai Afrika Utara hingga pemerintahan yang terletak di Andalusia, namun dikarenakan terjadi problem politis yang menimpa dirinya hingga ibnu Khaldun sempat merasakan hidup didalam bui, akhirnya setelah itu dia lebih berkonsentrasi pada penulisan kitab-kitabnya, terutama kitan al-’Ibar, yang kemudian bernama Kitab al-’Ibar wa Diwanul Mubtada’ awil Khabar fi Ayyamil ‘Arab wal ‘Ajam wal Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar.</p>
<p>Selain di Tunis, Ibnu Khaldun pun melakukan perjalanan ke beberapa negara diantaranya Syiria, Mesir, dengan melakukan penelitian dan penulisan beberapa karya, yang kemudian menghasilkan karya monumental. Setelah pengangkatannnya menjadi hakim untuk beberapa kali, akhirnya beliau pun berpulang ke rahmat Allah SWT pada 17 Maret 1406, dan dimakamkan di pekuburan kaum Sufi, didekat kota Cairo.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p><em>v Osman Raliby.1978. </em><em>Ibnu Khaldun tentang Masyarakat dan Negara.</em> Penerbit Bulan Bintang: Jakarta<br />
<em>v Dr.Gaston Bouthoul. 1998. </em><em>Teori-Teori Filsafat Sosial Ibnu Khaldun. Penerbit Titian Ilahi Press: Yogyakarta</em><br />
<em>v <a href="http://dzikriii.multiply.com/journal/item/4">http://dzikriii.multiply.com/journal/item/4</a></em><br />
<em>v http://jacksite.wordpress.com/2007/04/17/biografi-ibnu-khaldun/</em><br />
<em>oleh widiyarto eko mahasiswa filsafat</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Konsep Ekonomi Ibnu Khaldun]]></title>
<link>http://chapoenx22.wordpress.com/2009/09/06/konsep-ekonomi-ibnu-khaldun/</link>
<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 23:18:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>chapoenx22</dc:creator>
<guid>http://chapoenx22.wordpress.com/2009/09/06/konsep-ekonomi-ibnu-khaldun/</guid>
<description><![CDATA[Ibnu Khaldun juga banyak memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu ekonomi. Tak heran, bila dia juga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>
<div>
<p>Ibnu Khaldun juga banyak memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu ekonomi. Tak heran, bila dia juga dijuluki sebagai `Bapak Ekonomi’. Gagas dan pemikiran tentang ekonomi Ibnu Khaldun telah mengilhami sejumlah ekonom terkemuka. Empat abad setelah Ibnu Khaldun berpulang, pemikirannya tentang ekonomi muncul kembali melalui Adam Smith serta David Ricardo.</p>
<p>Setelah itu, Karl Marx serta John Maynard Keynes juga banyak menyerap pemikiran Ibnu Khaldun. Salah satu pengaruh pemikiran Ibnu Khaldun yang diadopsi Karl Marx antara lain, mengenai dialektika yang saling mempengaruhi antara pemikiran dan dasar material. Selain itu, mengenai beberapa cara spesifik variabel ekonomi, khususnya dengan peran tenaga kerja dalam hubungan sosial.</p>
<p>Ibnu Khaldun begitu menghormati tenaga kerja sebagai salah satu dari dasar utama masyarakat dan diskusi tentang profit sebagai nilai yang didapat dari pekerjaan manusia. Pemikiran ekonomi Ibnu Khaldun menggabungkan hablum minallah dan hablum minnanas.</p>
<p><img title="Ibnu_Khaldun-03b" src="http://tonyoke.files.wordpress.com/2009/06/ibnu_khaldun-03b.jpg?w=400&#038;h=285#38;h=285" alt="Ibnu_Khaldun-03b" width="400" height="285" /></p>
<p>Ia mendefinisikan ekonomi secara sosial sebagai aktivitas ekonomi yang dipengaruhi oleh interaksi sosial dan sebaliknya mereka mempengaruhinya. Prespektif tersebut digunakan Ibn Khaldun dalam menganalisis nilai pekerja manusia, dalam arti mata pencaharian dan stratifikasi ekonomi sosial. Ibnu Khaldun juga berpendapat bahwa organisasi sosial adalah ’sesuatu yang diperlukan’ bagi usaha manusia dan keinginannya untuk hidup dan bertahan hidup ‘dengan bantuan makanan’. Untuk mencapai tujuan ini kemampuan individu saja tidaklah cukup.</p>
<p>Dalam Al-Muqqadimah, Ibnu Khaldun juga memberikan keutamaan, bukan eksklusif, posisi faktor ekonomi dalam sejarah. Aktivitas intelektual dari manusia, seni dan ilmu pengetahuan, sikap dan perilaku moralnya, gaya hidup dan selera, standar kehidupan dan adat didefinisikan Ibnu Khaldun melalui derajat atau tingkatan produksi.</p>
<p>Posted by tonyoke under <a title="Lihat seluruh tulisan dalam Konsep Ekonomi Ibnu Khaldun" rel="category tag" href="http://id.wordpress.com/tag/konsep-ekonomi-ibnu-khaldun/">Konsep Ekonomi Ibnu Khaldun</a><br />
<a title="Komentar pada Konsep Ekonomi Ibnu Khaldun" href="http://tonyoke.wordpress.com/2009/06/16/konsep-ekonomi-ibnu-khaldun/#respond">Leave a Comment</a></div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mencontoh pendidikan Rosullulah   ]]></title>
<link>http://meditekom.wordpress.com/2009/06/04/mencontoh-pendidikan-rosullulah/</link>
<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 08:48:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>inenthea</dc:creator>
<guid>http://meditekom.wordpress.com/2009/06/04/mencontoh-pendidikan-rosullulah/</guid>
<description><![CDATA[Jurnalnet.com (Jakarta): Derasnya serangan tsaqofah Barat seperti sikap hedonistik dengan implikasin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Jurnalnet.com (Jakarta):</strong> Derasnya serangan tsaqofah Barat seperti sikap hedonistik dengan implikasinya berupa gaya hidup hura-hura, konsumeristik, rakus, boros, cinta mode, pergaulan bebas, individualistik, kebebasan yang salah arah dan lepas kendali serta tampilan pada anak didik sebagai generasi permisif dan anarkis yang telah disebutkan diatas secara eksplisit wujudnya. Serangan tersebut berakibat pada pengaruh dan peran pendidik umat (guru) menurun drastic sehingga pendidik umat secara perlahan-lahan kehilangan kewibawaan dan keteladanan di tengah-tengah anak didik. </p>
<p>Akhirnya kita dihadapkan pada perkara inti yaitu bagaimana gambaran pola pendidikan Islam ? bagaimana pula sosok pendidik umat yang dibutuhkan untuk membangun kepribadian Islam pada anak didik kaum muslimin?. Pertanyaan ini akan mudah untuk dijawab jika kita memiliki pedoman yang jelas dan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah serta ber-azzam (bertekad kuat) untuk menggali dan mengeksplorasi khazanah Islam sebagai fundamendal pendidikan generasi muda yang handal. Karena sungguh didalam Al-Qur’an Sunnah telah dijelaskan dengan mendalam segala aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan. Maka dari itu penulis mencoba akan menguraikan pada penjelasan berikut ini.   </p>
<p><strong>ARAH DAN PILAR PENDIDIKAN ISLAM  </strong><br />
Kersakan yang lama ada pada pola pendidikan di negara Barat sepatutnya ditinggalkan oleh kaum muslimin. Kerusakan tersebut timbul dikarenakan tidak adanya muatan ruhiyah dalam penelitian dan pengembangan sains dan teknologinya. Sehingga dampak yang bisa dirasakan, pola pendidikan tersebut menghasilkan output berpikir dan bersikap berdasarkan pada prinsip materialisme dengan menanggalkan prinsip syari’at Islam. Dari sinilah problem sosial kemasyarakatan muncul dan kerusakan tatanan kehidupan. sebagaimana telah disitir dalam ayat berikut ini </p>
<p><em>“Telah nyata kerusakan didaratan dan dilautan oleh karena tangan – tangan manusia “.</em> (Ar-Rum:41).</p>
<p>Segala urusan dunia jika solusinya diserahkan pada hasil pemikiran manusia tanpa melibatkan hukum-hukum Allah didalamnya, maka solusi tersebut tidak bisa menuntaskan masalah. Sehingga yang terjadi adalah fenomena tambal sulam ataupun gali lubang, tutup lubang atas masalah yang ada. Maka dari itu jika ingin menyelesaikan masalah tanpa masalah termasuk pendidikan harus berujung pangkal pada Islam.</p>
<p>Islam diturunkan Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad tidak sekadar melakukan perbaikan akhlaq. Namun lebih jauh lagi, turunnya Islam menjadi penyempurna dari semua agama yang ada dan memuat semua tata aturan kehidupan secara paripurna. Islam menjelaskan aturan mulai dari masuk kamar mandi hingga masuk parlemen, mulai dari menegakkan sholat hingga menegakkan Negara Islam. Demikian pula, Islam menjelaskan secara total bagaimana kaidah pendidikan sesuai dengan Khitab As-Syaari’. Jadi sangat disayangkan jika kaum muslimin berpaling dari Islam malah meniru total pendidikan ala Barat karena silau dengan kemajuannya.   </p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” </em>(Al-Baqoroh : 208).  </p>
<p><em>“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata”(</em>QS.Al-Ahzab : 36)</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” </em>(QS.An-Nisa’: )     </p>
<p>Sepanjang sejarah dunia, Islam telah terbukti mampu membangun peradaban manusia yang khas dan mampu menjadi pencerah serta penerang hampir seluruh dunia dari masa-masa kegelapan dan kejayaannya +13 abad lamanya. Factor paling menentukan atas kegemilangan Islam membangun peradaban dunia adalah keimanan dan keilmuannya. Tidak ada pemisahan ataupun dikotomi atas kedua factor tersebut dalam pola pendidikan yang diterapkan. Sehingga generasi yang dihasilkan juga tidak diragukan kehandalannya hingga kini.   </p>
<p>Sebut saja tokoh Ibnu Sina sebagai sosok yang dikenal peletak dasar ilmu kedokteran dunia namun beliau juga faqih ad-diin terutama dalam hal ushul fiqh. Masih ada tokoh-tokoh dunia dengan perannya yang penting dan masih menjadi acuan perkembangan sains dan teknologi berasal dari kaum muslimin yaitu Ibnu Khaldun(bapak ekonomi), Ibnu Khawarizm (bapak matematika), Ibnu Batutah (bapak geografi), Al-Khazini dan Al-Biruni (Bapak Fisika), Al-Battani (Bapak Astronomi), Jabir bin Hayyan (Bapak Kimia), Ibnu Al-Bairar al-Nabati (bapak Biologi) dan masih banyak lagi lainnya. Mereka dikenal tidak sekadar paham terhadap sains dan teknologi namun diakui kepakarannya pula di bidang ilmu diniyyah.   </p>
<p>Kalau begitu pola pendidikan seperti apa yang mampu mencetak generasi islam berkualitas sekaliber tokoh-tokoh dunia tersebut? Penting kiranya menyatukan persepsi tentang pendidikan sesuai kaidah Syara’. Hakekat pendidikan adalah proses manusia untuk menjadi sempurna yang diridhoi Allah SWT. Hakikat tersebut menunjukkan pendidikan sebagai proses menuju kesempurnaan dan bukannya puncak kesempurnaan, sebab puncak kesempurnaan itu hanyalah ada pada Allah dan kemaksuman Rasulullah SAW. Karena itu, keberhasilan pendidikan hanya bisa dinilai dengan standar pencapaian kesempurnaan manusia pada tingkat yang paling maksimal. Setelah diketahui hakikat pendidikan maka berikutnya bisa dirumuskan tujuan dari pendidikan Islam yang diinginkan yaitu :  </p>
<p>Membangun kepribadian islami yang terdiri dari pola piker dan pola jiwa bagi umat yaitu dengan cara menanamkan tsaqofah Islam berupa Aqidah, pemikiran, dan perilaku Islami kedalam akal dan jiwa anak didik. Karenanya harus disusun dan dilaksanakan kurikulum oleh Negara.  </p>
<p>Mempersiapkan generasi Islam untuk menjadi orang ‘alim dan faqih di setiap aspek kehidupan, baik ilmu diniyah (Ijtihad, Fiqh, Peradilan, dll) maupun ilmu terapan dari sains dan teknologi (kimia, fisika, kedokteran, dll). Sehingga output yang didapatkan mampu menjawab setiap perubahan dan tantangan zaman dengan berbekal ilmu yang berimbang baik diniyah maupun madiyah-nya.<br />
Kedua tujuan dari pola pendidikan Islam bisa terlaksana jika ditopang dengan pilar yang akan menjaga keberlangsungan dari pendidikan Islam tersebut. Pilar penopang pendidikan Islam yang dibutuhkan untuk bekerja sinergis terdiri dari :</p>
<p><strong>Keluarga</strong><br />
Dalam pandangan Islam, keluarga merupakan gerbang utama dan pertama yang membukakan pengetahuan atas segala sesuatu yang dipahami oleh anak-anak. Keluarga-lah yang memiliki andil besar dalam menanamkan prinsip-prinsip keimanan yang kokoh sebagai dasar bagi si anak untuk menjalani aktivitas hidupnya. Berikutnya, mengantarkan dan mendampingi anak meraih dan mengamalkan ilmu setingggi-tingginya dalam koridor taqwa. Jadi keluarga harus menyadari memiliki beban tanggung jawab yang pertama untuk membentuk pola akal dan jiwa yang Islami bagi anak. Singkatnya, keluarga sebagai cermin keteladanan bagi generasi baru. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :</p>
<p>كلّ مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصّرانه أو يمجّسانه  </p>
<p>“Setiap anak dilahirkan atas fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak itu beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)<br />
رضى الرّبّ في رضى الوالدوسخط الرّبّ في سخط الولد    </p>
<p>“Ridho Tuhan terletak pada ridho orang tua, demikian juga kemurkaan Tuhan terletak pada kemurkaan orang tua.” (HR.Al-Bukhori no.6521)   </p>
<p><strong>Masyarakat</strong><br />
Pendidikan generasi merupakan aktivitas yang berkelanjutan tanpa akhir dan sepanjang hayat manusia. Oleh karena itu, pola pendidikan Islam tidak berhenti dan terbatas pada pendidikan formal (sekolah), namun justru pendidikan generasi Islami yang bersifat non formal di tengah masyarakat harus beratmosfer Islam pula. Kajian tsaqofah islam serta ilmu pengetahuan dan sarana penunjangnya menuntut peran aktif dari masyarakat pula. Ada beberapa peran yang bisa dimainkan masyarakat sebagai pilar penopang pendidikan generasi islami yaitu sebagai control penyelenggaraan pendidikan oleh negara dan laboratorium permasalahan kehidupan yang kompleks.    </p>
<p>خذاالحكمة ممن سمعتموها فانه قديقول الحكمة غير الحكيم وتكون الرمية من غير رام</p>
<p>“Ambillah hikmah yang kamu dengan dari siapa saja, sebab hikmah itu kadang-kadang diucapkan oleh seseorang yang bukan ahli hikmah. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?” (HR. Al-Askari dari Anas ra dalam kitab Kashful Khafa’ Jilid II, h.62))    </p>
<p>العلم ضالة المؤمن حيث وجده أخذه   </p>
<p>Hikmah laksana hak milik seorag mukmin yang hilang. Dimanapun ia mejumpainya, disana ia mengambilnya (HR. Al-Askari dari Anas ra)   </p>
<p><strong>Madrasah</strong><br />
Tempat untuk mengkaji keilmuan lebih intensif dan sistematis terletak pada Madrasah. Semasa Rasulullah SAW, masjid-masjid yang didirikan kaum muslimin menjadi lembaga pendidikan formal bagi semua manusia. Didalamnya tidak semata-mata membahas ilmu diniyah, namun juga ilmu terapan. Rasulullah menjadikan masjid untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam, tapi penyusunan strategi perang pun juga seringkali dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabat didalam masjid. Sedangkan dimasa modern saat ini pendidikan bisa dialihkan yang semula masjid ke tempat dengan fasilitas yang menunjang dalam proses pembelajaran lebih efektif baik itu sekolah maupun perguruan tinggi. Hal ini sah-sah saja dan tidak bisa dianggap sebagai upaya memisahkan anak didik dari masjid.    </p>
<p>Peradaban Islam mengalami puncak kegemilangan pada saat Bani Abbasiyah memegang tampuk kekuasaan dalam system pemerintah Khilafah Islamiyah. Sepanjang pemerintahan Khilafah Abbasiyah, perhatian sangat besar diberikan pada pengembangan ilmu pengetahuan dengan pola pendidikan islami. Sejarah mencatat berdirinya Bait Al-Hikmah sebagai madrasah dengan jenjang pendidikannya yang sistematis. Bait Al-Hikmah dibangun oleh Khalifah Al-Ma’mun yang dikenal sebagai khalifah pencinta ilmu pengetahuan. Dari Bait Al-Hikmah inilah lahir tokoh-tokoh muslim ternama yang telah disebutkan sebelumnya. Juga Bait Al-Hikmah lah menjadi mercusuar ilmu pengetahuan yang didatangi oleh semua orang dari segala penjuru dunia termasuk Barat. Dan munculnya Renaissance di Eropa terjadi setelah banyak orang Eropa menggali ilmu pengetahuan dari bait Al-Hikmah.   </p>
<p>Sistematika pendidikan islam yang bisa diterapkan dalam madrasah dikelompokkan secara berjenjang (marhalah) yang harus memperhatikan fakta anak didik di setiap tingkatan. Tentunya bobot yang diberikan disetiap tingkatan memiliki komposisi yang berbeda namun proporsional. Sedangkan keberhasilan sistematika pendidikan islami yang ada pada madrasah tergantung pada para tenaga pendidiknya. Perkembangan sikap dan pemahaman yang terdapat pada anak didik merupakan tanggung jawab terbesar pada para tenaga pendidik. Lebih dari itu, syakhsiyah Islamiyah yang dicita-citakan pada anak didik menjadi sempurna apabila para tenaga pendidiknya lebih dahulu memiliki syakhsiyah islamiyah tersebut dan mampu meningkatkan secara berkelanjutan. Madrasah meletakkan harapan besar kepada para tenaga pendidik untuk memberikan proses yang tidak sekadar transfer of knowledge tapi juga cultivate of spirit and value. Maka dari itu arti guru yaitu digugu dan ditiru benar-benar bisa terlaksana dan terjaga dengan baik. </p>
<p><em><strong>Sumber: </strong></em><br />
Arif Firmansyah (19/05/2008 &#8211; 11:02 WIB)<br />
<a href="http://www.hizbut-tahrir.or.id">http://www.hizbut-tahrir.or.id</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Khaldun]]></title>
<link>http://jamhari70.wordpress.com/2009/05/01/ibnu-khaldun/</link>
<pubDate>Fri, 01 May 2009 15:16:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jamhari</dc:creator>
<guid>http://jamhari70.wordpress.com/2009/05/01/ibnu-khaldun/</guid>
<description><![CDATA[Nama : Abdul Rahman Abu Zaid Waliyuddin b. Khaldun Al-Maliki al-Khadrami T/Lahir : 733H @ 1332M di N]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Nama : Abdul Rahman Abu Zaid Waliyuddin b. Khaldun Al-Maliki al-Khadrami<br />
T/Lahir : 733H @ 1332M di Naisabur<br />
M/Dunia : 808H @ 1406M<br />
Umur : 74 tahun </p>
<p>KETOKOHAN<br />
- Pakar Sejarah<br />
- Pakar dalam iImu Siosologi (Kemasyarakatan)<br />
- Ahli Falsafah </p>
<p>PENDIDIKAN<br />
- Mendapat pendidikan awal dari bapanya tentang asas-asas agama seperti al-Quran, Feqah, Hadith dan Tauhid.<br />
- Hafaz al-Quran sejak kecil<br />
- Apabila dewasa beliau belajar Lingustik Bahasa Arab (spt Nahu dan Saraf), Usuluddin dan Kesusasteraan.<br />
- Beliau juga mempelajari Mantiq, Sains, Falsafah, Matematik dan Sejarah dari beberapa orang ulama&#8217; terkemuka pada masa itu.<br />
- Guru beliau yang utama ialah Muhammad b. Abdul Muhaimin. Beliau juga turut berguru dengan Abu Abdullah Muhammad b.<br />
Ibrahim Al-Abla yang mengajarnya tentang Siosologi, pOlitik dan Pendidikan. </p>
<p>SUMBANGAN<br />
- Karya-karya beliau banyak mengaitkan sesuatu perkara dengan perkembangan rohani, akal dan akhlak. Di bidang ekonomi misalnya,<br />
beliau menganggap bahawa rezeki yang dikurniakan oleh Allah mestilah dibahagikan sama rat dan dibelanjakan kepada<br />
perkara-perkara baik untuk kesejahteraan umat sejagat.<br />
- Al-Muqaddimah merupakan karya beliau yang teragung.<br />
- Kitab lain yang penting ialah ;<br />
a) Al-Ibbar yang mnyentuh tentang ekonomi dan sejarah<br />
b) Al-Ta&#8217;rif yang menyentuh persoalan ekonomi. <img src="http://jamhari70.wordpress.com/files/2009/05/ibn-khaldun.jpeg" alt="ibn-khaldun" title="ibn-khaldun" width="92" height="110" class="alignleft size-full wp-image-102" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Khaldun : sang ilmuwan]]></title>
<link>http://extraordinaryrosi.wordpress.com/2008/11/26/ibnu-khaldun-sang-ilmuwan/</link>
<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 17:40:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>extraordinaryrosi</dc:creator>
<guid>http://extraordinaryrosi.wordpress.com/2008/11/26/ibnu-khaldun-sang-ilmuwan/</guid>
<description><![CDATA[Dunia mendaulatnya sebagai `Bapak Sosiologi Islam’. Sebagai salah seorang pemikir hebat dan serba bi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div class="entry">
<p>Dunia mendaulatnya sebagai `Bapak Sosiologi Islam’. Sebagai salah seorang pemikir hebat dan serba bisa sepanjang masa, buah pikirnya amat berpengaruh. Sederet pemikir Barat terkemuka, seperti Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Robert Flint, Arnold J Toynbee, Ernest Gellner, Franz Rosenthal, dan Arthur Laffer mengagumi pemikirannya.</p>
<p>Tak heran, pemikir Arab, NJ Dawood menjulukinya sebagai negarawan, ahli hukum, sejarawan dan sekaligus sarjana. Dialah Ibnu Khaldun, penulis buku yang melegenda, Al-Muqaddimah. Ilmuwan besar yang terlahir di Tunisia pada 27 Mei 1332 atau 1 Ramadhan 732 H itu memiliki nama lengkap Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad Ibn Khaldun Al-Hadrami Al-Ishbili. Nenek moyangnya berasal dari Hadramaut (Yaman) yang bermigrasi ke Seville (Spanyol) pada abad ke-8 M, setelah semenanjung itu ditaklukan Islam.</p>
<p>Setelah Spanyol direbut penguasa Kristen, keluarga besar Ibnu Khaldun hijrah ke Maroko dan kemudian menetap di Tunisia. Di kota itu, keluarga Ibnu Khaldun dihormati pihak istana dan tinggal di lahan milik dinasti Hafsiah. Sejak terlahir ke dunia, Ibnu Khaldun sudah hidup dalam komunitas kelas atas.</p>
<p>Ibnu Khaldun hidup pada masa peradaban Islam berada diambang degradasi dan disintegrasi. Kala itu, Khalifah Abbasiyah di ambang keruntuhan setelah penjarahan, pembakaran, dan penghancuran Baghdad dan wilayah disekitarnya oleh bangsa Mongol pada tahun 1258, sekitar tujuh puluh lima tahun sebelum kelahiran Ibnu Khaldun.</p>
<p>Guru pertama Ibnu Khaldun adalah ayahnya sendiri. Sejak kecil, ia sudah menghafal Alquran dan menguasai tajwid. Selain itu, dia juga menimba ilmu agama, fisika, hingga matematika dari sejumlah ulama Andalusia yang hijrah ke Tunisia. Ia selalu mendapatkan nilai yang memuaskan dalam semua bidang studi.</p>
<p>Studinya kemudian terhenti pada 749 H. Saat menginjak usia 17 tahun, tanah kelahirannya diserang wabah penyakit pes yang menelan ribuan korban jiwa. Akibat peristiwa yang dikenal sebagai <em>Black Death</em> itu, para ulama dan penguasa hijrah ke Maghrib Jauh (Maroko).</p>
<p>Ahmad Syafii Maarif dalam bukunya <em>Ibn Khaldun dalam pandangan Penulis Barat dan Timur</em> memaparkan, di usia yang masih muda, Ibnu Khaldun sudah menguasi berbagai ilmu Islam klasik seperti filsafat, tasawuf, dan metafisika. Selain menguasai ilmu politik, sejarah, ekonomi serta geografi, di bidang hukum, ia juga menganut madzhab Maliki.</p>
<p>Sejak muda, Ibnu Khaldun sudah terbiasa berhadapan dengan berbagai intrik politik. Pada masa itu, Afrika Utara dan Andalusia sedang diguncang peperangan. Dinasti-dinasti kecil saling bersaing memperebutkan kekuasaan, di saat umat Islam terusir dari Spanyol. Tak heran, bila dia sudah terbiasa mengamati fenomena persaingan keras, saling menjatuhkan, saling menghancurkan.</p>
<p>Di usianya yang ke-21, Ibnu Khaldun sudah diangkat menjadi sekretaris Sultan Al-Fadl dari Dinasti Hafs yang berkedudukan di Tunisia. Dua tahun kemudian, dia berhenti karena penguasa yang didukungnya itu kalah dalam sebuah pertempuran. Ia lalu hijrah ke Baskarah, sebuah kota di Maghrib Tengah (Aljazair).</p>
<p>Ia berupaya untuk bertemu dengan Sultan Abu Anam, penguasa Bani Marin dari Fez, Maroko, yang tengah berada di Maghrib Tengah. Lobinya berhasil. Ibnu Khaldun diangkat menjadi anggota majelis ilmu pengetahuan dan sekretaris sultan setahun kemudian. Ia menduduki jabatan itu selama dua kali dan sempat pula dipenjara. Ibnu Khaldun kemudian meninggalkan negeri itu setelah Wazir Umar bin Abdillah murka.</p>
<p>Ia kemudian terdampar di Granada pada 764 H. Sultan Bani Ahmar menyambut kedatangannya dan mempercayainya sebagai duta negar di Castilla, sebuah kerajaan Kristen yang berpusat di Seville. Tugasnya dijalankan dengan baik dan sukses. Namun tak lama kemudian, hubungannya dengan Sultan kemudian retak.</p>
<p>Dua tahun berselang, jabatan strategis kembali didudukinya. Penguasa Bani Hafs, Abu Abdillah Muhammad mengangkatnya menjadi perdana menteri sekaligus, khatib dan guru di Bijayah. Setahun kemudian, Bijayah jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, gubernur Qasanthinah (sebuah kota di Aljazair). Ibnu Khaldun lalu hijrah ke Baskarah.</p>
<p>Ia kemudian berkirim surat kepada Abu Hammu, sultan Tilmisan dari Bani Abdil Wad yang isinya akan memberi dukungan. Tawaran itu disambut hangat Sultan dan kemudian memberinya jabatan penting. Iming-iming jabatan itu ditolak Ibnu Khaldun, karena akan melanjutkan studinya secara otodidak. Ia bersedia berkampanye untuk mendukung Abu Hammu. Sikap politiknya berubah, tatkala Abu Hammu diusir Sultan Abdul Aziz.</p>
<p>Ibnu Khaldun kemudian berpihak kepada Abdul Aziz dan tinggal di Baskarah. Tak lama kemudian, Tilmisan kembali direbut Abu Hammu. Ia lalu menyelamatkan diri ke Fez, Maroko pada 774. Saat Fez jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, ia kembali pergi ke Granada buat yang kedua kalinya. Namun, penguasa Granada tak menerima kehadirannya.</p>
<p>Ia balik lagi ke Tilmisan. Meski telah dikhianati, namun Abu Hammu menerima kehadiran Ibnu Khaldun. Sejak saat itulah, Ibnu Khaldun memutuskan untuk tak berpolitik praktis lagi. Ibnu Khaldun lalu menyepi di Qa’lat Ibnu Salamah dan menetap di tempat itu sampai tahun 780 H. Dalam masa menyepinya itulah, Ibnu Khaldun mengarang sejumlah kitab yang monumental.</p>
<p>Di awali dengan menulis kitab <em>Al-Muqaddimah</em> yang mengupas masalah-masalah sosial manusia, Ibnu Khaldun juga menulis kitab Al-`Ibar (Sejarah Umum). Pada 780 H, Ibnu Khaldun sempat kembali ke Tunisia. Di tanah kelahirannya itu, ia sempat merevisi kitab Al’Ibar.</p>
<p>Empat tahun kemudian, ia hijrah ke Iskandaria (Mesir) untuk menghindari kekisruhan politik di Maghrib. Di Kairo, Ibnu Khaldun disambut para ulama dan penduduk. Ia lalu membentuk halaqah di Al-Azhar. Ia didaulat raja menjadi dosen ilmu Fikih Mazhab Maliki di Madrasah Qamhiyah. Tak lama kemudian, dia diangkat menjadi ketua pengadilan kerajaan.</p>
<p>Ibnu Khaldun sempat mengundurkan diri dari pengadilan kerajaan, lantaran keluarganya mengalami kecelakaan. Raja lalu mengangkatnya lagi menjadi dosen di sejumlah madrasah. Setelah menunaikan ibadah haji, ia kembali menjadi ketua pengadilan dan kembali mengundurkan diri. Pada 803 H, dia bersama pasukan Sultan Faraj Barquq pergi ke Damaskus untuk mengusir Timur Lenk, penguasa Mogul.</p>
<p>Berkat diplomasinya yang luar biasa, Ibnu Khaldun malah bisa bertemu Timur Lenk yang dikenal sebagai penakluk yang disegani. Dia banyak berdiskusi dengan Timur. Ibnu Khaldun, akhirnya kembali ke Kairo dan kembali ditunjuk menjadi ketua pengadilan kerajaan. Ia tutup usia pada 25 Ramadhan 808 H di Kairo. Meski dia telah berpulang enam abad yang lalu, pemikiran dan karya-karyanya masih tetap dikaji dan digunakan hingga saat ini.</p>
<p>***</p>
<p>Al-Muqaddimah Karya yang Abadi<br />
<strong> </strong></p>
<p>Setelah mundur dari percaturan politik praktis, Ibnu Khaldun bersama keluarganya menyepi di Qal’at Ibn Salamah istana yang terletak di negeri Banu Tajin selama empat tahun. Selama masa kontemplasi itu, Ibnu Khaldun berhasil merampungkan sebuah karya monumental yang hingga kini masih tetap dibahas dan diperbincangkan.</p>
<p>`’Dalam pengunduran diri inilah saya merampungkan Al-Muqaddimah, sebuah karya yang seluruhnya orisinal dalam perencanaannya dan saya ramu dari hasil penelitian luas yang terbaik,” ungkap Ibnu Khaldun dalam biografinya yang berjudul <em>Al-Ta’rif bi Ibn-Khaldun wa Rihlatuhu Gharban wa Sharqan</em>. Buah pikir Ibnu Khaldun itu begitu memukau. Tak heran, jika ahli sejarah Inggris, Arnold J Toynbee menganggap Al-Muqaddimah sebagi karya terbesar dalam jenisnya sepanjang sejarah.</p>
<p>Menurut Ahmad Syafii Ma’arif, salah satu tesis Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah yang sering dikutip adalah: `’Manusia bukanlah produk nenek moyangnya, tapi adalah produk kebiasaan-kebiasaan sosial.” Secara garis besar, Tarif Khalidi dalam bukunya <em>Classical Arab Islam</em> membagi Al-Muqaddimah menjadi tiga bagian utama .Pertama, membicarakan histografi mengupas kesalahan-kesalahan para sejarawan Arab-Muslim.</p>
<p>Kedua, Al-Muqaddimah mengupas soal ilmu kultur. Bagi Ibnu Khaldun, ilmu tersebut merupakan dasar bagi pemahaman sejarah. Ketiga, mengupas lembaga-lembaga dan ilmu-ilmu keislaman yang telah berkembang sampai dengan abad ke-14. Meski hanya sebagai pengantar dari buku utamanya yang berjudul Al-`Ibar, kenyataannya Al-Muqaddimah lebih termasyhur. Pasalnya, seluruh bangunan teorinya tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah termuat dalam kitab itu. Dalam buku itu Ibnu Khaldun diantara menyatakan bahwa kajian sejarah haruslah melalui pengujian-pengujian yang kritis.</p>
<p>`’Di tangan Ibnu Khaldun, sejarah menjadi sesuatu yang rasional, faktual dan bebas dari dongeng-dongeng,” papar Syafii Ma’arif. Bermodalkan pengalamannya yang malang-melintang di dunia politik pada masanya, Ibnu Khaldun mampu menulis Almuqaddimah dengan jernih. Dalam kitabnya itu, Ibnu Khaldun juga membahas peradaban manusia, hukum-hukum kemasyarakatan dan perubahan sosial.</p>
<p>Menurut Charles Issawi dalam An Arab Philosophy of History, lewat Al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang menyatakan dengan jelas, sekaligus menerapkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar sosiologi. Salah satu prinsip yang dikemukakan Ibnu Khaldun mengenai ilmu kemasyarakatan antara lain; `’Masyarakat tidak statis, bentuk-bentuk soisal berubah dan berkembang.”</p>
<p>Pemikiran Ibnu Khaldun telah memberi pengaruh yang besar terhadap para ilmuwan Barat. Jauh, sebelum Aguste Comte pemikir yang banyak menyumbang kepada tradisi keintelektualan positivisme Barat metode penelitian ilmu pernah dikemukakan pemikir Islam seperti Ibnu Khaldun (1332-1406).</p>
<p>Dalam metodeloginya, Ibnu Khaldun mengutamakan data empirik, verifikasi teoritis, pengujian hipotesis, dan metode pemerhatian. Semuanya merupakan dasar pokok penelitian keilmuan Barat dan dunia, saat ini. `’Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang berusaha merumuskan hukum-hukum sosial,” papar Ilmuwan asal Jerman, Heinrich Simon.</p>
<p><strong>hri-republika</strong></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Islamic world View...]]></title>
<link>http://milham.wordpress.com/2008/11/23/islamic-world-view/</link>
<pubDate>Sun, 23 Nov 2008 01:04:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>muhammadilham</dc:creator>
<guid>http://milham.wordpress.com/2008/11/23/islamic-world-view/</guid>
<description><![CDATA[Materi ini dismapaikan oleh Ahmad Rifan senior editor dari penerbit xxx (lupa namanya). Islamic worl]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Materi ini dismapaikan oleh Ahmad Rifan senior editor dari penerbit xxx (lupa namanya).</p>
<p>Islamic world view merupakan salah satu tema dari sekolah syariah yang diselenggarakan Fakultas Hukum UGM dari tanggal 21 Nov-21 des 2008. Alhamdulillah berkesempatan ikut walaupun jumlah kursi sangat terbatas (30 orang).</p>
<p>Pak Ahmad memulai kuliah ini dengan menyampaikan perkataan <a href="http://hbis.wordpress.com/2008/07/07/ibnu-khaldun-ilmuwan-besar-dari-tunisia/">Ibnu Khaldun</a>:</p>
<blockquote><p>&#8220;Salah satu elemen terpenting dalam suatu peradaban adalah ilmu pengetahuan. Bangkit, runtuh, dan berkembang suatu peradaban bergantung pada:</p>
<p>1. kemampuan berpikir manusia,</p>
<p>2. kemampuan berorganisasi untuk membentuk kekuatan politik, sosial, dan militer</p>
<p>3. kemampuan bertahan hidup &#8220;</p></blockquote>
<p>Kemudian Pak Ahmad menjelaskan lebih lanjut bahwa tradisi ilmu sudah dimulai dari periode Mekkah. Dimulai ketika wahyu pertama yang turun adalah: &#8220;Iqra. Bismi rabbika&#8230;..&#8221; Atau ketika zaid bin Tsabit diperintah Nabi SAW untuk mempelajari bahasa lain.</p>
<p>Para sahabat orang yang menghargai ilmu.</p>
<p>Suatu ketika Ibnu Abbas datang hendak menanyakan suatu perkara kepada Zaid bin Tsabit. Namun, beliau mendapati Zaid dalam keadaan tertidur. Maka beliau menunggu Zaid di depan pintu hingga tertidur juga. Ketika Zaid bangun, didatangilah ibnu Abbas tersebut. Lalu Zaid bertanya: &#8220;mengapa dia melakukan hal itu?&#8221; Ibnu Abbas berkata: &#8220;aku ingin jadi orang pertama yang menanyakan hal itu kepadamu.</p>
<p>Tradisi ilmu dan menyebarluaskannya sangat polpuler di kalangan sahabat. misalnya:</p>
<p>Suatu ketika Ibnu Masud berjalan di pasar bersama seorang sahabatnya. Kemudian datang sahabat mereka yang lain. Sahabat itu kemudian berbisik kepada sahabat ibnu masud tersebut. Ibnu Masud melarang mereka dan berkata; &#8220;janganlah kalian berbisk-bisik diantaraku, sementara aku dalam keadaan tersendiri. Aku mendengar nabi SAW bersabda: &#8220;Janganlah dua orang diantara kalian berbisik-bisik sementara ada seseorang diantara kalian. Karena itu akan menyakitkan hatinya.&#8221; Lalu ibnu Masud berkata: carikanlah aku oarang lain yang bisa aku ajak bicara.&#8221;</p>
<p>Tradisi Ilmu yang telah membangkitkan kembali islam.</p>
<p>Pak Ahmad mengatakan:</p>
<p>Ada buku bagus berjudul: &#8220;Beginilah Generasi Salahuddin Al-Ayubi&#8221;</p>
<p>Buku ini membahas tentang apa yang terjadi 50 tahun sebelum lahirnya Shalahuddin Al-Ayubbi.<!--more--></p>
<p>Ternyata, tradisi ilmu sudah sangat kuat sejak 50 tahun sebelum kelahiran Shalahuddin al-Ayubbi. Sehingga bisa dikatakan bahwa Shalahuddin adalah buah manis dari tradisi ilmu selama 50 tahun sebelumnya.</p>
<p>Orang mengidentikkan orang yang berilmu akan lemah, tidak memiliki kekuatan. Tapi lihatlah Shalahuddin Al-Ayubi yang menonjol dalam bidang militer, namun santun dalam bermuamalah.</p>
<p><strong>Inti pembahasan</strong></p>
<p>Inti pembahasan dimulai ketika Pak Ahmad menerangkan arti Islamic world view dari para ahlinya.</p>
<p>Sayyid Qutb mengatakan:&#8221; Islamic world view adalah akumulasi dari keyakinan yang asasi, terbentuk dari hati dan pikiran seorang muslim yang melahirkan gambaran tentag realitas dan kebenaran.</p>
<p>Pak Ahmad menjelaskan pengertian akumulasi:</p>
<p>merupakan jumlahan dari ilmu nyata dan ilmu ghaib. karena kedua-duanya adalah ilmu ilmiah dalam Islam.</p>
<p>misalkan pada hadits nabi SAW: <strong>&#8220;malaikat diciptakan dari cahaya, setan diciptakan dari api, dan anak adam diciptakan dari apa yang telah kami jelaskan.&#8221; (HR. Muslim)</strong></p>
<p>beliau mengatakan:</p>
<p>ilmu fisik (nyata) dan non fisik (ghaib) adalah sama ilmiahnya dalam islam.</p>
<p>malaikat dan setan adalah ilmu non-fisik karena tidak bisa kita pelajari dengan indra kita. tapi tetap kita harus mempercayai dan meyakininya sebagai ilmu.</p>
<p>Allah SWt berfirman:&#8221; bertaqwalah kepada Allah, maka Allah memberikan ilmu kepada kalian.&#8221;</p>
<p>Allah SWT bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan apa yang tidak bisa kamu lihat (al-Haqqah).</p>
<p>Dan dalam surat An-Naml Allah SWt berfirman: &#8220;Dan Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.&#8221;</p>
<p><strong>Ilmu Aqidah adalah yang terpenting dari semua ilmu. Dan dari sini Islamic World view dibangun.</strong></p>
<p>Lebih jelasnya sebagaimana perkataan Al-Maududi: &#8220;Islamic world View: Dimulai dari syahadat yang beimplikasi kepada seluruh kehidupan masyarakat.&#8221;</p>
<p>ilmu anak adam terbuat dari tanah adalah merupakan ilmu nyata, karena bisa kita lihat, raba, pegang dan rasakan. Dan bisa diteliti lebih lanjut.</p>
<p>Sementara, ilmu tentang malaikat yang terbuat dari cahaya dan setan adalah terbuat dari apiadalah ilmu ghaib. Tidak bisa dirasa indra manusia. Tapi kita tetap meyakini dan menganggap ilmu ini termasuk ilmiah. Karena sumber ilmiah umat muslim adalah alquran, as-sunah, dan ilmu pengetahuan duniawi.</p>
<p>Hal ini karena Islam syumul(menyeluruh) dan tidak parsial. Islam bukan hanya kepercayaan, bukan hanya tata nilai, bukan hanya cara berpikir. Tapi islam adalah supersistem yang mencakup semuanya.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Di akhir penutup kuliah ini Pak Ahmad menceritakan kisah Harun Ar-Rasyid dengan  seorang Dai.</p>
<p>Da&#8217;i tersebut datang ke ruangan Harun Ar-Rasyid lantas menyebutkan kebururkan Harun Ar-Rasyid.  Dai itu berkata:&#8221;Anda Zhalim, Anda Sombong, anda serakah, Anda tamak, dll&#8221;</p>
<p>Harun Ar-Rasyid berdiri dari tempat duduknya dan berkata:&#8221; Kamu menuduhkan keburukan kepadaku di IStanaku. Maka urusanmu tergantung keputusanku.</p>
<p>Harun Ar-Rasyid menghampiri Dai tersebut</p>
<p>Beliau bertanya:&#8221; Siapa yang lebih buruk antara Aku dan Firaun?&#8221;</p>
<p>Tidak ada yang lebih buruk dari seorang Firaun. Yg diceritakan Alquran tidak lain agar kita tidak mencontoh keburukannya.</p>
<p>Dai menjawab: &#8220;Tentu saja Fir&#8217;aun ya Khalifah.&#8221;</p>
<p>Kemudian beliau bertanya lagi: &#8220;Antara kamu dengan Nabi Musa Alaihi Salam siapakah yang lebih baik?&#8221;</p>
<p>Nabi Musa adalah seorang nabi, sementar dai tersebut hanyalah orang biasa.</p>
<p>Dai menjawab: &#8220;tentu saja Nabi Musa Alaihi salam.&#8221;</p>
<p>Beliau berkata lagi:&#8221; Jika Musa yang lebih baik dari kamu diperintah lemah lembut kepada Firaun yang lebih buruk daripadaku, Mengapa engkau tidak?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tujuan Pendidikan Menurut Ibnu Khaldun]]></title>
<link>http://farhanvsgnk.wordpress.com/2008/11/07/tujuan-pendidikan-menurut-ibnu-khaldun/</link>
<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 07:02:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>farhanvsgnk</dc:creator>
<guid>http://farhanvsgnk.wordpress.com/2008/11/07/tujuan-pendidikan-menurut-ibnu-khaldun/</guid>
<description><![CDATA[Halo, Blogger. Hari ini, Jumat 7 November mungkin merupakan hari yang tak jauh berbeda dari hari-har]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Halo, Blogger.</p>
<p>Hari ini, Jumat 7 November mungkin merupakan hari yang tak jauh berbeda dari hari-hari lainnya bagi Anda, namun bagi saya hari ini merupakan hari pertama saya untuk berhak menambahkan satu gelar pendidikan S1 di belakang nama saya. Fiuuhh..butuh kerja keras untuk mendapatkannya. Hasil ini tidak lekas membuat saya puas begitu saja, bagi saya pencapaian saya ini hanyalah awal atau salah satu modal dari pengarungan hidup yang sesungguhnya (di luar sana). Benar saja, belum beberapa jam saya menikmati gelar ini, datang sepucuk lembar di depan saya sebuah catatan lepas dari sebuah Masjid tempat saya melaksanakan solat jumat, artikel mengenai Tujuan Pendidikan. Uhh, seperti sebuah peringatan dari Tuhan setelah saya membacanya. Artikel ini, berisi tentang Tujuan Pendidikan menurut salah satu ilmuwan besar bernama <a href="http://jacksite.wordpress.com/2007/04/17/biografi-ibnu-khaldun/">Ibnu Khaldun</a>.  Bagi yang belum mengetahui siapa Ibnu Khaldun, link tersebut menuju kepada biografi beliau.</p>
<p>Entah ini berkah solat Jumat atau apa, tapi saya sangat bersyukur membaca artikel ini, karena bagi saya hal ini merupakan sebuah peringatan atas gelar yang saya dapatkan tepat sehari sebelumnya. Karena itu saya ingin menyadurkan artikel tulisan yang berjudul &#8220;Tujuan Pendidikan menurut Ibnu Khaldun&#8221; ini kepada Anda semua, Blogger. Semoga tulisan ini bermanfaat.</p>
<p><strong>Tujuan Pendidikan Menurut Ibnu Khaldu. </strong><em>Sebuah tulisan lepas dari Buletin Al Qalam, media kajian wawasan islam. 7 Nov 2008</em></p>
<p>Menurut Ibnu Khaldun menyatakan bahwa ilmu pendidikan bukanlah suatu aktivitas yang semata-mata bersifat pemikiran dan perenungan yang jauh dari aspek-aspek pragmatis di dalam kehidupan, akan tetapi ilmu dan pendidikan merupakan gejala konklusif yang lahir dari terbentuknya masyarakat dan perkembangannya dalam tahapan kebudayaan. Menurutnya bahwa ilmu dan pendidikan tidak lain merupakan gejala sosial yang menjadi ciri khas jenis insani. Di dalam kitab Muqaddimahnya Ibnu khaldun tidak memberikan definisi pendidikan secara jelas, ia hanya memberikan gambaran-gambaran secara umum, seperti dikatakan Ibnu Khaldun bahwa: <em>Barangsiapa tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan terdidik oleh zaman, maksudnya barangsiapa tidak memperoleh tata krama yang dibutuhkan sehubungan pergaulan bersama melalui orang tua mereka yang mencakup guru-guru dan para sesepuh, dan tidak mempelajari hal itu dari mereka, maka ia akan mempelajarinya dengan bantuan alam, dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang zaman, zaman akan mengajarkannya.</em></p>
<p>Dari pendapatnya ini dapat diketahui bahwa pendidikan menurut ibnu Khaldun mempunyai pengertian yang cukup luas. Pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar yang dibatasi oleh empat dinding, tetapi pendidikan adalah suatu proses, di mana manusia secara sadar menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman. Menurut Ibnu Khaldun bahwa secara esensial manusia itu bodoh, dan menjadi berilmu melalui pencarian ilmu pengetahuan. Alasan yang dikemukakan bahwa manusia adalah bagian dari jenis binatang, dan Allah SWT telah membedakannya dengan binatang dengan diberi akal pikiran. Kemampuan manusia untuk berpikir baru dapat dicapai setelah sifat kebinatangannya mencapai kesempuranaan, yaitu dengan melalui proses; kemampuan membedakan. Sebelum pada tahap ini manusia sma sekali persis seperti binatang, manusia hanya berupa setetes sperma, segumpal darah, sekerat daging dan masih ditentukan rupa mentalnya. kemudian Allah memberikan anugerah berupa pendengaran, penglihatan dan akal. Pada waktu itu manusia adalah materi sepenuhnya karena itu dia tidak mempunyai ilmu pengetahuan. Dia mencapai kesempurnaan bentuknya melalui ilmu pengetahuan yang dicari melalui organ tubuhnya sendiri. setelah manusia mencapai eksistensinya, dia siap menerima apa yang dibawa para Nabi dan mengamalkannya demi akhiratnya. Maka dia selalu berpikir tentang semuanya. Dari pikiran ini tercipta berbagai ilmu pengetahuan dan keahlian-keahlian. Kemudian manusia ingin mencapai apa yang menjadi tuntutan wataknya; yaitu ingin mengetahui segala sesuatu, lalu dia mencari orang yang lebih dahulu memiliki ilmu atau kelebihan. Setelah itu pikiran dan pandangannya dicurahkan pada hakekat kebenaran satu demi satu serta memperhatikan peristiwa-peristiwa yang dialaminya yang berguna bagi esensinya. Akhirnya dia menjadi terlatih sehingga pengajaran terhadap gejala hakekat menjadi sebuah kebiasaan (malakah) baginya. Ketika itu ilmunya menjadi suatu ilmu spesial, dan jiwa generasi yang sedang tumbuh pun tertarik untuk memperoleh ilmu tersebut. Merekapun meminta bantuan para ahli ilmu pengetahuan, dan dari sinilah timbul pengajaran. Inilah yang oleh Ibnu Khaldun dikatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan hal yang alami di dalam peradaban manusia. Adapun tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun, bahwa di dalam Muqaddimahnya ia tidak merumuskan tujuan pendidikan secara jelas, akan tetapi dari uraian yang tersirat, dapat diketahui tujuan yang seharusnya dicapai di dalam pendidikan. Dalam hal ini al-Toumy mencoba menganalisa isi Muqaddimahnya dan ditemukan beberapa tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Dijelaskan menurutnya ada enam tujuan yang hendak dicpai melalui pendidikan, antara lain:</p>
<p>1. Menyiapkan seseorang dari segi keagamaan, yaitu dengan mengajarkan syair-syair agama menurut al-Quran dan Hadits Nabi sebab dengan jalan itu potensi iman itu diperkuat, sebagaimana dengan potensi-potensi lain yang jika kita mendarah daging, maka ia seakan-akan menjadi fithrah.</p>
<p>2. Menyiapkan sesorang dari segi akhlak. Hal ini sesuai pula dengan apa yang dikatakan Muhammad AR., bahwa hakekat pendidikan menurutIslam sesungguhnya adalah menumbuhkan dan membentuk kepribadian manusia yang sempurna melalu budi luhur dan akhlak mulia.</p>
<p>3. Menyiapkan sesorang dari segi kemasyarakatan atau sosial.</p>
<p>4. Menyiapkan sesorang dari segi vokasional atau pekerjaan. Ditegaskannya tentang pentingnya pekerjaan sepanjang umur manusia, sedang pengajaran atau pendidikan menurutnya termasuk di antara ketrampilan-ketrampilan itu.</p>
<p>5. Menyiapkan sesorang dari segi pemikiran, sebab dengan pemikiran sesorang dapat memegang berbagai pekerjaan atau ketrampilan tertentu.</p>
<p>6. Menyiapkan sesorang dari segi kesenian, di sini termasuk musik, syair, khat, seni bina dan lain-lain.</p>
<p>Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan bukan hanya bertujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan akan tetapi juga untuk mendapatkan keahlian. Dia telah memberikan porsi yang sama antara apa yang akan dicapai dalam urusan ukhrowi dan duniawi, karena baginya pendidikan adalah jalan untuk memperoleh rizki. Maka atas dasar itulah Ibnu Khaldun beranggapan bahwa target pendidikan adalah memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja, karena dia memandang aktivitas ini sangat penting bagi terbukanya pikiran dan kematangan individu. Karena kematangan berpikir adalah alat kemajuan ilmu industri dan sistem sosial. Dari rumusan yang ingin dicapai Ibnu Khaldun menganut prinsip keseimbangan. Dia ingin anak didik mencapai kebahagiaan duniawi dan sekaligus ukhrowinya kelak. Berangkat dari pengamatan terhadap rumusan tujuan pendidikan yang ingin dicapai Ibnu Khaldun, secara jelas kita dapat melihat bahwa ciri khas pendidikan islam yaitu sifat moral religius nampak jelas dalam tujuan pendidikannya, dengan tanpa mengabaikan masalah-masalah duniawi. Sehingga secara umum dapat kita katakan bahwa pendapat Ibnu Khaldun tentang pendidikan telah sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam yakni aspirasi yang bernafaskan agama dan moral.</p>
<p>catatan: tulisan ini disadur dari buletin lepas suatu masjid pada waktu Solat jumat, 7 Nov 2008.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibn Khaldun Tentang Peradaban]]></title>
<link>http://refleksibudi.wordpress.com/2008/10/08/ibn-khaldun-tentang-peradaban/</link>
<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 02:30:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>Budiman</dc:creator>
<guid>http://refleksibudi.wordpress.com/2008/10/08/ibn-khaldun-tentang-peradaban/</guid>
<description><![CDATA[Ibn Khaldun, salah satu ilmuwan klasik Islam yang paling banyak dibicarakan di era modern. Muqaddima]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ibn Khaldun, salah satu ilmuwan klasik Islam yang paling banyak dibicarakan di era modern. Muqaddima]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Khaldun, Ilmuwan Besar dari Tunisia]]></title>
<link>http://investasiabadi.wordpress.com/2008/09/25/ibnu-khaldun-ilmuwan-besar-dari-tunisia/</link>
<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 06:04:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>SolusiBisnis</dc:creator>
<guid>http://investasiabadi.wordpress.com/2008/09/25/ibnu-khaldun-ilmuwan-besar-dari-tunisia/</guid>
<description><![CDATA[Ditulis oleh Ruswandi di/pada September 24, 2008 Dunia mendaulatnya sebagai `Bapak Sosiologi Islam’.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ditulis oleh Ruswandi di/pada September 24, 2008 Dunia mendaulatnya sebagai `Bapak Sosiologi Islam’.]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Karunia Kegagalan (M. Anis Matta Lc.)]]></title>
<link>http://nasruni.wordpress.com/2008/08/03/karunia-kegagalan-m-anis-matta-lc/</link>
<pubDate>Sun, 03 Aug 2008 03:25:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>nAsruni</dc:creator>
<guid>http://nasruni.wordpress.com/2008/08/03/karunia-kegagalan-m-anis-matta-lc/</guid>
<description><![CDATA[KARUNIA KEGAGALAN Kehidupan ini, sebenarnya lebih mirip pelangi ketimbang sebuah foto hitam putih. S]]></description>
<content:encoded><![CDATA[KARUNIA KEGAGALAN Kehidupan ini, sebenarnya lebih mirip pelangi ketimbang sebuah foto hitam putih. S]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Khaldun, Ilmuwan Besar dari Tunisia ...]]></title>
<link>http://hbis.wordpress.com/2008/07/07/ibnu-khaldun-ilmuwan-besar-dari-tunisia/</link>
<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 08:34:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bustamam Ismail</dc:creator>
<guid>http://hbis.wordpress.com/2008/07/07/ibnu-khaldun-ilmuwan-besar-dari-tunisia/</guid>
<description><![CDATA[Dunia mendaulatnya sebagai `Bapak Sosiologi Islam&#8217;. Sebagai salah seorang pemikir hebat dan se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;                                                                                                                                            &#60;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://hbis.wordpress.com/files/2008/07/i-khaldun.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-674" src="http://hbis.wordpress.com/files/2008/07/i-khaldun.jpg?w=124" alt="" width="124" height="88" /></a><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Dunia mendaulatnya sebagai `Bapak Sosiologi Islam&#8217;. Sebagai salah seorang pemikir hebat dan serba bisa sepanjang masa, buah pikirnya amat berpengaruh. Sederet pemikir Barat terkemuka, seperti Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Robert Flint, Arnold J Toynbee, Ernest Gellner, Franz Rosenthal, dan Arthur Laffer mengagumi pemikirannya. Tak heran, pemikir Arab, NJ Dawood menjulukinya sebagai negarawan, ahli hukum, sejarawan dan sekaligus sarjana. Dialah Ibnu Khaldun, penulis buku yang melegenda, Al-Muqaddimah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><!--more--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Ilmuwan besar yang terlahir di Tunisia pada 27 Mei 1332 atau 1 Ramadhan 732 H itu memiliki nama lengkap Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad Ibn Khaldun Al-Hadrami Al-Ishbili. Nenek moyangnya berasal dari Hadramaut (Yaman) yang bermigrasi ke Seville (Spanyol) pada abad ke-8 M, setelah semenanjung itu ditaklukan Islam.</span></p>
<p>Setelah Spanyol direbut penguasa Kristen, keluarga besar Ibnu Khaldun hijrah ke Maroko dan kemudian menetap di Tunisia. Di kota itu, keluarga Ibnu Khaldun dihormati pihak istana dan tinggal di lahan milik dinasti Hafsiah. Sejak terlahir ke dunia, Ibnu Khaldun sudah hidup dalam komunitas kelas atas.</p>
<p>Ibnu Khaldun hidup pada masa peradaban Islam berada diambang degradasi dan disintegrasi. Kala itu, Khalifah Abbasiyah di ambang keruntuhan setelah penjarahan, pembakaran, dan penghancuran Baghdad dan wilayah disekitarnya oleh bangsa Mongol pada tahun 1258, sekitar tujuh puluh lima tahun sebelum kelahiran Ibnu Khaldun.</p>
<p>Guru pertama Ibnu Khaldun adalah ayahnya sendiri. Sejak kecil, ia sudah menghafal Alquran dan menguasai tajwid. Selain itu, dia juga menimba ilmu agama, fisika, hingga matematika dari sejumlah ulama Andalusia yang hijrah ke Tunisia. Ia selalu mendapatkan nilai yang memuaskan dalam semua bidang studi.</p>
<p>Studinya kemudian terhenti pada 749 H. Saat menginjak usia 17 tahun, tanah kelahirannya diserang wabah penyakit pes yang menelan ribuan korban jiwa. Akibat peristiwa yang dikenal sebagai Black Death itu, para ulama dan penguasa hijrah ke Maghrib Jauh (Maroko).</p>
<p>Ahmad Syafii Maarif dalam bukunya Ibn Khaldun dalam pandangan Penulis Barat dan Timur memaparkan, di usia yang masih muda, Ibnu Khaldun sudah menguasi berbagai ilmu Islam klasik seperti filsafat, tasawuf, dan metafisika. Selain menguasai ilmu politik, sejarah, ekonomi serta geografi, di bidang hukum, ia juga menganut madzhab Maliki.</p>
<p>Sejak muda, Ibnu Khaldun sudah terbiasa berhadapan dengan berbagai intrik politik. Pada masa itu, Afrika Utara dan Andalusia sedang diguncang peperangan. Dinasti-dinasti kecil saling bersaing memperebutkan kekuasaan, di saat umat Islam terusir dari Spanyol. Tak heran, bila dia sudah terbiasa mengamati fenomena persaingan keras, saling menjatuhkan, saling menghancurkan.</p>
<p>Di usianya yang ke-21, Ibnu Khaldun sudah diangkat menjadi sekretaris Sultan Al-Fadl dari Dinasti Hafs yang berkedudukan di Tunisia. Dua tahun kemudian, dia berhenti karena penguasa yang didukungnya itu kalah dalam sebuah pertempuran. Ia lalu hijrah ke Baskarah, sebuah kota di Maghrib Tengah (Aljazair).</p>
<p>Ia berupaya untuk bertemu dengan Sultan Abu Anam, penguasa Bani Marin dari Fez, Maroko, yang tengah berada di Maghrib Tengah. Lobinya berhasil. Ibnu Khaldun diangkat menjadi anggota majelis ilmu pengetahuan dan sekretaris sultan setahun kemudian. Ia menduduki jabatan itu selama dua kali dan sempat pula dipenjara. Ibnu Khaldun kemudian meninggalkan negeri itu setelah Wazir Umar bin Abdillah murka.</p>
<p>Ia kemudian terdampar di Granada pada 764 H. Sultan Bani Ahmar menyambut kedatangannya dan mempercayainya sebagai duta negar di Castilla, sebuah kerajaan Kristen yang berpusat di Seville. Tugasnya dijalankan dengan baik dan sukses. Namun tak lama kemudian, hubungannya dengan Sultan kemudian retak.</p>
<p>Dua tahun berselang, jabatan strategis kembali didudukinya. Penguasa Bani Hafs, Abu Abdillah Muhammad mengangkatnya menjadi perdana menteri sekaligus, khatib dan guru di Bijayah. Setahun kemudian, Bijayah jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, gubernur Qasanthinah (sebuah kota di Aljazair). Ibnu Khaldun lalu hijrah ke Baskarah.</p>
<p>Ia kemudian berkirim surat kepada Abu Hammu, sultan Tilmisan dari Bani Abdil Wad yang isinya akan memberi dukungan. Tawaran itu disambut hangat Sultan dan kemudian memberinya jabatan penting. Iming-iming jabatan itu ditolak Ibnu Khaldun, karena akan melanjutkan studinya secara otodidak. Ia bersedia berkampanye untuk mendukung Abu Hammu. Sikap politiknya berubah, tatkala Abu Hammu diusir Sultan Abdul Aziz.</p>
<p>Ibnu Khaldun kemudian berpihak kepada Abdul Aziz dan tinggal di Baskarah. Tak lama kemudian, Tilmisan kembali direbut Abu Hammu. Ia lalu menyelamatkan diri ke Fez, Maroko pada 774. Saat Fez jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, ia kembali pergi ke Granada buat yang kedua kalinya. Namun, penguasa Granada tak menerima kehadirannya.</p>
<p>Ia balik lagi ke Tilmisan. Meski telah dikhianati, namun Abu Hammu menerima kehadiran Ibnu Khaldun. Sejak saat itulah, Ibnu Khaldun memutuskan untuk tak berpolitik praktis lagi. Ibnu Khaldun lalu menyepi di Qa&#8217;lat Ibnu Salamah dan menetap di tempat itu sampai tahun 780 H. Dalam masa menyepinya itulah, Ibnu Khaldun mengarang sejumlah kitab yang monumental.</p>
<p>Di awali dengan menulis kitab Al-Muqaddimah yang mengupas masalah-masalah sosial manusia, Ibnu Khaldun juga menulis kitab Al-`Ibar (Sejarah Umum). Pada 780 H, Ibnu Khaldun sempat kembali ke Tunisia. Di tanah kelahirannya itu, ia sempat merevisi kitab Al&#8217;Ibar.</p>
<p>Empat tahun kemudian, ia hijrah ke Iskandaria (Mesir) untuk menghindari kekisruhan politik di Maghrib. Di Kairo, Ibnu Khaldun disambut para ulama dan penduduk. Ia lalu membentuk halaqah di Al-Azhar. Ia didaulat raja menjadi dosen ilmu Fikih Mazhab Maliki di Madrasah Qamhiyah. Tak lama kemudian, dia diangkat menjadi ketua pengadilan kerajaan.</p>
<p>Ibnu Khaldun sempat mengundurkan diri dari pengadilan kerajaan, lantaran keluarganya mengalami kecelakaan. Raja lalu mengangkatnya lagi menjadi dosen di sejumlah madrasah. Setelah menunaikan ibadah haji, ia kembali menjadi ketua pengadilan dan kembali mengundurkan diri. Pada 803 H, dia bersama pasukan Sultan Faraj Barquq pergi ke Damaskus untuk mengusir Timur Lenk, penguasa Mogul.</p>
<p>Berkat diplomasinya yang luar biasa, Ibnu Khaldun malah bisa bertemu Timur Lenk yang dikenal sebagai penakluk yang disegani. Dia banyak berdiskusi dengan Timur. Ibnu Khaldun, akhirnya kembali ke Kairo dan kembali ditunjuk menjadi ketua pengadilan kerajaan. Ia tutup usia pada 25 Ramadhan 808 H di Kairo. Meski dia telah berpulang enam abad yang lalu, pemikiran dan karya-karyanya masih tetap dikaji dan digunakan hingga saat ini.</p>
<p><strong>Al-Muqaddimah Karya yang Abadi </strong></p>
<p>Setelah mundur dari percaturan politik praktis, Ibnu Khaldun bersama keluarganya menyepi di Qal&#8217;at Ibn Salamah istana yang terletak di negeri Banu Tajin selama empat tahun. Selama masa kontemplasi itu, Ibnu Khaldun berhasil merampungkan sebuah karya monumental yang hingga kini masih tetap dibahas dan diperbincangkan.</p>
<p>`&#8217;Dalam pengunduran diri inilah saya merampungkan Al-Muqaddimah, sebuah karya yang seluruhnya orisinal dalam perencanaannya dan saya ramu dari hasil penelitian luas yang terbaik,&#8221; ungkap Ibnu Khaldun dalam biografinya yang berjudul Al-Ta&#8217;rif bi Ibn-Khaldun wa Rihlatuhu Gharban wa Sharqan. Buah pikir Ibnu Khaldun itu begitu memukau. Tak heran, jika ahli sejarah Inggris, Arnold J Toynbee menganggap Al-Muqaddimah sebagi karya terbesar dalam jenisnya sepanjang sejarah.</p>
<p>Menurut Ahmad Syafii Ma&#8217;arif, salah satu tesis Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah yang sering dikutip adalah: `&#8217;Manusia bukanlah produk nenek moyangnya, tapi adalah produk kebiasaan-kebiasaan sosial.&#8221; Secara garis besar, Tarif Khalidi dalam bukunya Classical Arab Islam membagi Al-Muqaddimah menjadi tiga bagian utama .Pertama, membicarakan histografi mengupas kesalahan-kesalahan para sejarawan Arab-Muslim.</p>
<p>Kedua, Al-Muqaddimah mengupas soal ilmu kultur. Bagi Ibnu Khaldun, ilmu tersebut merupakan dasar bagi pemahaman sejarah. Ketiga, mengupas lembaga-lembaga dan ilmu-ilmu keislaman yang telah berkembang sampai dengan abad ke-14. Meski hanya sebagai pengantar dari buku utamanya yang berjudul Al-`Ibar, kenyataannya Al-Muqaddimah lebih termasyhur. Pasalnya, seluruh bangunan teorinya tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah termuat dalam kitab itu. Dalam buku itu Ibnu Khaldun diantara menyatakan bahwa kajian sejarah haruslah melalui pengujian-pengujian yang kritis.</p>
<p>`&#8217;Di tangan Ibnu Khaldun, sejarah menjadi sesuatu yang rasional, faktual dan bebas dari dongeng-dongeng,&#8221; papar Syafii Ma&#8217;arif. Bermodalkan pengalamannya yang malang-melintang di dunia politik pada masanya, Ibnu Khaldun mampu menulis Almuqaddimah dengan jernih. Dalam kitabnya itu, Ibnu Khaldun juga membahas peradaban manusia, hukum-hukum kemasyarakatan dan perubahan sosial.</p>
<p>Menurut Charles Issawi dalam An Arab Philosophy of History, lewat Al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang menyatakan dengan jelas, sekaligus menerapkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar sosiologi. Salah satu prinsip yang dikemukakan Ibnu Khaldun mengenai ilmu kemasyarakatan antara lain; `&#8217;Masyarakat tidak statis, bentuk-bentuk soisal berubah dan berkembang.&#8221;</p>
<p>Pemikiran Ibnu Khaldun telah memberi pengaruh yang besar terhadap para ilmuwan Barat. Jauh, sebelum Aguste Comte pemikir yang banyak menyumbang kepada tradisi keintelektualan positivisme Barat metode penelitian ilmu pernah dikemukakan pemikir Islam seperti Ibnu Khaldun (1332-1406).</p>
<p>Dalam metodeloginya, Ibnu Khaldun mengutamakan data empirik, verifikasi teoritis, pengujian hipotesis, dan metode pemerhatian. Semuanya merupakan dasar pokok penelitian keilmuan Barat dan dunia, saat ini. `&#8217;Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang berusaha merumuskan hukum-hukum sosial,&#8221; papar Ilmuwan asal Jerman, Heinrich Simon.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Empat Fase Kehidupan Ibnu Khaldun]]></title>
<link>http://muslimindonesia.wordpress.com/2008/06/07/empat-fase-kehidupan-ibnu-khaldun/</link>
<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 05:28:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>muslimindonesia</dc:creator>
<guid>http://muslimindonesia.wordpress.com/2008/06/07/empat-fase-kehidupan-ibnu-khaldun/</guid>
<description><![CDATA[Ibnu khaldun adalah ulama maliki, politisi, sekaligus seorang sosiolog ternama. Perjalanan hidupnya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ibnu khaldun adalah ulama maliki, politisi, sekaligus seorang sosiolog ternama. Perjalanan hidupnya ]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
