<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ibu &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/ibu/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ibu"</description>
	<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 20:51:51 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[sabbana sabbaee, ibuku..]]></title>
<link>http://reinkhadija.wordpress.com/2009/11/30/sabbana-sabbaee-ibuku/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 16:43:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>reinkhadija</dc:creator>
<guid>http://reinkhadija.wordpress.com/2009/11/30/sabbana-sabbaee-ibuku/</guid>
<description><![CDATA[ibuku, perempuan antara ada dan tiada antara merah dan hitam antara jingga dan abu-abu antara putih ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><blockquote><p>ibuku, perempuan antara ada dan tiada<br />
antara merah dan hitam<br />
antara jingga dan abu-abu<br />
antara putih dan biru laut</p>
<p>antara kabut dan matahari pagi<br />
antara hujan dan ladang ilalang<br />
antara debur ombak dan gemericik sungai<br />
di hulu</p>
<p>ibuku, sabbaee<br />
di antara ada dan tiada<br />
sabbana..</p></blockquote>
<p><a href="http://reinkhadija.wordpress.com/files/2009/11/lost_in_the_rain_by_sherryetal.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-415" title="Lost_in_the_rain_by_sherryetal" src="http://reinkhadija.wordpress.com/files/2009/11/lost_in_the_rain_by_sherryetal.jpg" alt="" width="240" height="303" /></a></p>
<p>&#160;</p>
<p style="text-align:justify;">maafkan.. rein tak bisa berkisah tentang ibu dengan cara normal seperti yang dilakukan oleh teman-teman, karena ibu rein memang sulit untuk dikisahkan.. namun selalu yakin ibu tahu bahwa rein mencintainya, dalam ada dan ketiadaannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#3366ff;">seperti ibu pun mencinta, dalam ketiadaanku..</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Life is A Lot Simpler When What We Honor is Mother and Father Rather Than All Major Credit Cards!]]></title>
<link>http://zerolimitslife.wordpress.com/2009/11/30/life-was-a-lot-simpler-when-what-we-honored-was-mother-and-father-rather-than-all-major-credit-cards/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 14:34:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>zerolimitslife</dc:creator>
<guid>http://zerolimitslife.wordpress.com/2009/11/30/life-was-a-lot-simpler-when-what-we-honored-was-mother-and-father-rather-than-all-major-credit-cards/</guid>
<description><![CDATA[Seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun tengah kesal kepada ibunya yang tiga hari belakangan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun tengah kesal kepada ibunya yang tiga hari belakangan ini terus mengabaikan keinginannya untuk minta dibelikan kaos bergambarkan tokoh kartun favoritnya. Kata si ibu, kaos kakak sudah banyak dan baru sepuluh hari yang lalu ia dibelikan telpon genggam sederhana yang bentuknya mirip dengan model yang sedang naik daun  saat ini. Saat makan malam, si anak berulah dengan tak sesendokpun makanan masuk ke mulutnya. Ia sesenggukan dan lari menuju kamarnya di lantai atas. Biarlah, paling juga langsung tidur dan besok saat bangun pagi, ia telah melupakan masalahnya, begitu pikir sang ibu. Bergegas membereskan sisa sisa makanan dan piring kotor, ia terkejut mendapati putrinya turun lagi sambil membawa selembar kertas penuh berisi tulisan. Ia menyerahkan kertas tersebut kepada ibunya sambil merengut.</p>
<p>Di kertas itu tertulis demikian:</p>
<p><em>- Ongkos untuk bangun pagi selama seminggu: <strong>tiga puluh ribu</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Ongkos untuk mandi pagi tanpa air hangat: <strong>sepuluh ribu</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Ongkos untuk belajar selama enam jam di sekolah: <strong>lima puluh ribu</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Ongkos untuk  membantu mengasuh adik sore hari:<strong> dua puluh ribu</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Ongkos membukakan pagar saat ayah pulang kantor : <strong>dua ribu lima ratus</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Ongkos menyapu rumah saat Bibik sedang sakit: <strong>dua puluh ribu</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Ongkos disuruh ibu ke minimarket membeli dot adik: <strong>lima ribu</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Ongkos untuk tidur sendiri di kamar atas: <strong>tiga puluh lima ribu</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Denda karena ibu lupa membelikan majalah: <strong>dua ribu lima ratus</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Denda karena ibu tak mau membelikan kaos favorit: <strong>lima puluh ribu</strong><br />
</em></p>
<p><em>TOTAL UTANG IBU : <strong>&#8211;dua ratus dua puluh lima ribu rupiah saja&#8211;</strong><br />
</em></p>
<p><!--more--></p>
<p>Terperangah membaca tulisan tangan anaknya itu, sang ibu terduduk sambil mengerutkan kening. Lupa dengan cucian piringnya yang menumpuk, ia mengambil pulpen dan bersiap siap menuliskan sesuatu di bagian kertas yang masih kosong.</p>
<p>Lama ibu berpikir apa yang mesti ia tulis. Tak mungkin rasanya ia menasihati si kakak dengan kata kata panjang lebar karena pastilah putrinya itu belum paham. Setelah menimbang nimbang beberapa menit, si ibu akhirnya menuliskan jawaban seperti ini,</p>
<p><em>- Ongkos selama sembilan bulan kakak di perut ibu:<strong> nol</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Ongkos sakit perut sebelum melahirkan sampai kakak keluar dari perut ibu:<strong> nol</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Ongkos membawa kakak ke dokter saat tengah malam: <strong>nol</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Ongkos terbangun sepanjang malam saat kakak sakit:<strong> nol</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Ongkos memandikan dan membersihkan saat kakak pup: <strong>nol</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Ongkos merasa was was karena kakak sering jatuh dari tempat tidur: <strong>nol</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Ongkos mengajar kakak belajar jalan:<strong> nol</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Ongkos mengajar kakak bernyanyi:<strong> nol</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Denda karena kakak sering pipis di baju ibu:<strong> nol</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Denda karena kakak sering tidak menghabiskan makanan: <strong>nol</strong><br />
</em></p>
<p><em>- Denda karena kakak masih sering ngompol sampai kelas satu SD: <strong>nol</strong><br />
</em></p>
<p><em>TOTAL UTANG KAKAK: <strong>&#8211;nol rupiah saja&#8211;</strong><br />
</em></p>
<p>Oh ya, mumpung ibu ingat, sekalian saja ibu berikan bonus untuk anak ibu  berupa,</p>
<p><em>-Kasih sayang dan cinta ibu dan ayah sepanjang waktu</em></p>
<p><em>-Perhatian khusus saat kakak belajar naik sepeda mini (masih ingat kan?)</em></p>
<p>Usai menuliskan itu, si ibu menyerahkan kertasnya kepada si anak.  Menunggu beberapa saat, ia mendapati wajah putrinya pelan pelan bersemu merah dan  lama kelamaan kembali sesenggukan.</p>
<p>Ditulisnya di atas kertas tersebut,<strong><em> &#8216;IBU, MAAF YA. AKU SALAH SANGKA.&#8217;</em></strong></p>
<p>Si ibu membaca dan tersenyum sambil menuliskan jawaban yang berbunyi, <em><strong>&#8216;MAAFKAN IBU JUGA YA, KAK. BESOK HARI MINGGU, KAKAK  PASTI IBU BELIKAN KAOS. IBU TUNGGU GAJIAN DULU, SAYANG!&#8217;</strong></em></p>
<p>Kertas  disodorkan oleh sang ibu . Si anak seperti menahan nafas untuk beberapa lama hingga ia lantas kembali membuat jawaban  <em><strong>&#8216;TAK USAH, BU. UTANG IBU AKU ANGGAP LUNAS SELAMANYA. AKU SAYANG IBU!&#8217;</strong></em></p>
<p>Keduanya lantas berpelukan dan menangis penuh haru&#8230;</p>
<p>Maafkan saya, saya menyesal, saya mengasihimu, terima kasih.</p>
<p><em>Peace beyond all understanding</em>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kerinduan]]></title>
<link>http://buahhatibunda.wordpress.com/2009/11/30/kerinduan/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 05:45:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>itin79</dc:creator>
<guid>http://buahhatibunda.wordpress.com/2009/11/30/kerinduan/</guid>
<description><![CDATA[tiba tiba saja aku kangen dengan masa kanak kanak ku bersama ayah ibu dan adik adik ku. Tapi sekaran]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>tiba tiba saja aku kangen dengan masa kanak kanak ku bersama ayah ibu dan adik adik ku. Tapi sekarang aku sudah punya keluarga sendiri sudah punya seorang anak yang lucu, suami yang baik. Tempat tinggal yang jauh dari keluargaku membuat kadag kadang aku merasa begitu merindukan mereka (Ibu dan adik adik ku)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibu ]]></title>
<link>http://nurrahmanarif.wordpress.com/2009/11/29/ibu/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 23:32:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurrahman18</dc:creator>
<guid>http://nurrahmanarif.wordpress.com/2009/11/29/ibu/</guid>
<description><![CDATA[Suatu ketika ada seorang gadis yang sedang berjalan di tengah hujan. Hujan yang cukup lebat di pingg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Suatu ketika ada seorang gadis yang sedang berjalan di tengah hujan. Hujan yang cukup lebat di pingg]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibu, Bidadarikah Engkau? ]]></title>
<link>http://vyanrh.wordpress.com/2009/11/29/ibu-bidadarikah-engkau/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 14:22:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>vyanrh</dc:creator>
<guid>http://vyanrh.wordpress.com/2009/11/29/ibu-bidadarikah-engkau/</guid>
<description><![CDATA[Would you know my name, If I saw you in heaven. Will it be the same, If I saw you in heaven. I must ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Would you know my name,<br />
If I saw you in heaven.<br />
Will it be the same,<br />
If I saw you in heaven.<br />
I must be strong, and carry on,<br />
Cause I know I don&#8217;t belong,<br />
Here in heaven.</p>
<p>Would you hold my hand,<br />
If I saw you in heaven.<br />
Would you help me stand,<br />
If I saw you in heaven,<br />
I&#8217;ll find my way, through night and day,<br />
Cause I know I just can&#8217;t stay,<br />
Here in heaven.</p>
<div id="attachment_1121" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-1121" title="angel" src="http://vyanrh.wordpress.com/files/2009/11/angel.png?w=150" alt="" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Ibuku Bidadari</p></div>
<p style="text-align:justify;">Penggalan lagu &#8220;Tears in Heaven&#8221; dari Eric Clapton membawa aku menerawang jauh  ke langit ketujuh. Irama yang &#8220;melow&#8221; bergaung bersama diriku melayang menjumpai orang-orang yang kukasihi namun kini terpisah oleh kefanaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kulihat Ibuku, berpakaian serba putih tersenyum memandang hamparan luas tak bertepi. Di kiri kanannya bertebaran bunga-bunga indah bermekaran yang tak pernah kulihat dimuka bumi manapun.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedemikian dekatnya jarak aku dengan posisi dimana ibuku berdiri, kucoba menggapainya.. tak tergapai.. padahal begitu jelas dan tercium wangi bunga-bunga itu. Mama&#8230;, aku berseru memanggilnya..</p>
<p style="text-align:justify;">Mama&#8230; ini aku anakmu.. anak yang dahulu kau kandung dan kau lahirkan dengan mempertaruhkan nyawamu. Aku yang kau dulu kau timang, kau belai dengan seluruh cintamu.</p>
<p style="text-align:justify;">Mama.. ini aku anakmu.. yang dahulu hanya bisa menangis lapar akan air susumu atau ketika aku hanya menangis karena tidak dapat mengganti popok yang basah.</p>
<p>Apakah Ibu tidak merindukan aku?</p>
<p>Apakah karena kefanaan ini yang memisahkan kita?</p>
<p style="text-align:justify;">Ibuku tetap dengan diam hanya senyumnya yang semakin merebak diseluruh wajahnya yang semakin cantik, putih bersih dan bersinar tak menoleh sedikitpun kepadaku.</p>
<p style="text-align:justify;"> Aku semakin terpana, manakala tiba-tiba mucul sepasang sayap dipunggung Ibuku. Sayap yang putih dengan bulu-bulu halus berkilau bak berlapis perak murni. Sayap itu mengepak lembut menebarkan angun yang semerbak harum.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini sepasang sayap itu merentang, Ibuku menoleh kepadaku dan berkata &#8220;Vyan sayang, <strong><em>doamu</em></strong> sudah <strong><em>Tuhan dengar dan mengabulkan</em></strong>. Sekarang waktunya berpisah, cukup sekian saja perjumpaan kita. Pulanglah keduniamu. Kerjakan hal yang patut seperti yang selalu Mama ajarkan.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"> Aku tercekat tak dapat bicara sepatahpun, demikian lembut dan merdunya suara itu. Suara yang tak asing ditelingaku yaitu suara Ibuku, yang terus mengiang penuh dengan cinta kasih.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah berkata demikian, Ibukupun terbang mengepakkan sayap putihnya. Membumbung tinggi keangkasa yang hanya terlihat putih dimataku. &#8220;Mama, selamat jalan. Aku mencintaimu dan akan selalu kuingat nasehatmu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Terima kasih Tuhan, Kau kabulkan do&#8217;aku, dan telah Kau terima serta rawat Ibuku dalam sorgaMu. Aku menunggu masaku untuk Kau panggil pula. Amin.</p>
<p style="text-align:justify;">Artikel ini ditulis untuk memeriahkan Karnaval Blog oleh Kyaine GusKar dalam rangka menyambut Hari Ibu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Tulisan terkait:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://guskar.com/2009/11/20/karnaval-blog-minum-teh-bersama-ibu/">http://guskar.com/2009/11/20/karnaval-blog-minum-teh-bersama-ibu/</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cerpen: Surat Untuk Ibu]]></title>
<link>http://chemieingenieur.wordpress.com/2009/11/29/cerpen-surat-untuk-ibu-2/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 12:06:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>chemieingenieur</dc:creator>
<guid>http://chemieingenieur.wordpress.com/2009/11/29/cerpen-surat-untuk-ibu-2/</guid>
<description><![CDATA[Ini adalah cerpen pertama saya yang saya tulis di Negeri Sakura. Alhamdulillah, Ramadhan lalu, cerpe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-family:Alexandria;">Ini adalah cerpen pertama saya yang saya tulis di Negeri Sakura. Alhamdulillah, Ramadhan lalu, cerpen ini mendapat juara kedua. Yang membuat saya harus mawas diri, ternyata tata-bahasa di cerpen ini mendapat nilai yang kurang begitu memuaskan, jadi mungkin para pembaca pun harus bersabar untuk menyelesaikan membaca. Selamat Menikmati.</span></p>
<p><span style="font-family:Alexandria;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
</span></p>
<p>Perkenalkan, aku adalah seorang anak yatim. Ibu pernah cerita, ayah meninggal karena kecelakaan ketika aku berusia tiga tahun. Tak ada yang kuingat tentang ayahku selain selembar foto kami bertiga yang terpajang di atas televisi hitam putih di gubuk kami.</p>
<p>Kami berdua tinggal di sebuah rumah petak di belakang pasar. Kawasan tempat tinggal kami senantiasa hiruk pikuk dengan suasana pasar yang panas dan kotor. Untuk menafkahi kami berdua, ibu membuat kue-kue. Setiap pagi ia bangun jam tiga dini hari untuk membuat berbagai jajanan pasar. Ketika orang-orang lain termasuk aku masih tersesat di alam mimpi, ibu sudah harus menggoreng rempeyek dan membuat adonan kue dadar hijau. Setelah jadi, ibu harus menyetornya ke warung-warung dan ke pasar-pasar, dan kemudian ibu bekerja sebagai buruh pasar, dari pagi hingga petang. Di malam hari, selain mempersiapkan dagangan hari berikutnya, ibu harus memasak, mencuci baju-bajuku, dan mengurus rumah tangga. Begitulah ibuku setiap hari. Sambil merawatku, ia membanting tulang. Bagi dia, yang penting aku tetap bisa belajar, tanpa perlu menjadi anak jalanan seperti anak-anak tetangga lainnya. <!--more--></p>
<p>Aku tahu bagaimana payahnya ibu menopang rumah tangga kami. Aku tahu, beliau selalu tidur larut malam dan bangun awal. Itu semua pasti demi aku. Tapi aku yang saat itu masih kelas 3 SD tetap merasa tak puas. Aku selalu berpikir, &#8220;Kenapa kami tetap miskin, padahal ibu malam demi malam, siang demi siang menguras tenaga hingga terlihat lebih tua dari usianya?&#8221;. Ibu tak pernah mengajakku ke taman bermain. Ibu tak pernah memberiku uang saku untuk bermain bersama teman-teman. Bahkan ketika TV butut kami rusak, ibu tak meng-servis-kannya selama setengah tahun lebih.</p>
<p>Aku sering marah pada ibu, Pelajaran agama dan kata-kata pak Ustadz tentang berbuat baik pada orang tua sering tak lagi menempel di kepalaku. Kerap kukatai dia, &#8220;Hei&#8221;, atau &#8220;ribut!&#8221;, dan sederetan kata-kata kasar lain. Seolah ibu kini menjadi pembantu tua yang tak berharga di mataku. Tapi ibu memang aneh. Betapa pun durhakanya diriku saat itu, ibu tak pernah sekalipun marah padaku. Ibu tak pernah terlihat mendoakanku celaka seperti cerita Malin Kundang. Ia juga tak mengurangi jatah makanku, tetap selalu menjahit bajuku setelah aku berkelahi atau jatuh, dan membangunkanku yang malas di pagi hari.</p>
<p>Ketika aku menginjak kelas 6 SD, aku dipercaya oleh sekolah untuk menjadi peserta lomba lari tingkat kecamatan. Bukan bermaksud pamer, begini-begini saraf olahragaku termasuk unggul dibanding kawan-kawan sebayaku. Ibu saat itu menyempatkan hadir. Aku tahu itu berarti ibu harus bekerja dua kali lebih keras di hari lain. Namun apa daya, aku kalah. Di daftar hasil lomba, namaku berada di urutan 6, sementara panitia hanya memberi hadiah untuk juara I,II,III, harapan I dan II. Aku sangat sedih dan marah. Tapi ketika kami pulang dan tiba di rumah, ibu membelaiku sambil berkata dengan lembut,&#8221;Ngga usah terlalu dipikirkan,nak. Kamu tetap hebat, kok.&#8221; Itulah kata-kata sakti ibuku. Selalu beliau ucapkan ke telinga kananku dan selalu aku keluarkan lagi lewat telinga kiriku.</p>
<p style="margin-left:5pt;">Di sekolah, pun aku tak begitu pandai, bahkan boleh dibilang otakku termasuk yang tumpul. Nilai merah selalu tersenyum mengejek ketika aku membuka rapor-rapor semesterku. Namun ibuku memang aneh. Setiap melihat kertas hasil ulangan maupun raporku yang anjlok, kata-kata tadi sekali lagi terulang dibarengi dengan senyum diantara kerutan-kerutan wajah lelahnya.</p>
<p style="margin-left:5pt;">&#8220;Ngga papa, kamu tetap hebat,kok&#8221;.</p>
<p style="margin-left:5pt;">Dan langsung aku timpali, &#8220;Huh, apanya sih yang hebat? Ibu kan juga tahu aku tuh payah&#8221; . Namun kala itu ibu pun menjawab dengan halus tapi penuh percaya diri,</p>
<p style="margin-left:47pt;">&#8220;Suatu saat kamu pasti akan tahu, bahwa kamu memang hebat, nak.&#8221;</p>
<p style="text-align:center;margin-left:5pt;">***************************</p>
<p>Di bangku SMP, aku pernah sekali terlibat dalam tawuran dengan sekolah lain, dan apesnya aku tertangkap oleh kepolisian. Kala itu ibu disuruh datang, dan aku bisa melihat ibu memelas, memohon supaya para polisi membebaskanku. Dan di hari lain, saat aku sudah belajar di STM, sekali lagi aku berulah. Aku tertangkap basah bermain judi kartu di dalam lingkungan pagar sekolah. Dan lagi, ibuku datang, memelas, memohon supaya aku tetap dibiarkan sekolah di STM negeri itu. Mana ada sekolah yang mau menerima siswa yang pernah dikeluarkan gara-gara berjudi.</p>
<p>Namun hari itu agak berbeda. Hari itu, dengan penuh keprihatinan, Guru BK STM ku berkata pada ibuku.&#8221;Saya pikir, sebab anak ibu menjadi nakal seperti ini ada hubungannya dengan keadaan rumah tangga. Jadi mari kita bicarakan solusinya, bu.&#8221;, kata Guru BK. Seketika air muka ibuku berubah total. Dengan muka marah, dia berkata pada guruku, &#8220;Anak ini bukan anak nakal, pak!&#8221;. Mendengar suara ibuku, si Guru BK kehilangan kata-kata, dan Ibuku pun melanjutkan, &#8220;Apa yang diperbuat anak saya memang salah. Tanggung jawab itu juga ada di tangan saya sebagai orang tua. Tapi, tetap saja tak ada alasan menyebut anak ini anak nakal.&#8221; Aku yang dari tadi mendengarnya seperti merasa ditampar. Sekuat tenaga aku menahan air mata agar tak keluar dari pelupukku ini. Ibuku telah membuktikan kata-katanya, dia menganggap aku anak hebat. Dan hari itu, setelah tiba di rumah,aku mengunci kamar, dan menangis sejadi-jadinya.</p>
<p>Keesokan harinya, aku mulai mencoba mengubah diri. Aku berhenti merokok dan berpisah dari teman-teman anak nakal di sekolahku. Tapi ketidakcocokanku pada sekolah membuatku keluar dari STM, dan seperti biasa ibuku menghiburku,</p>
<p style="margin-left:5pt;">&#8220;Ngga papa, kamu tetap hebat,kok&#8221;.</p>
<p>Sejak keluar dari STM, aku bersumpah pada diriku sendiri untuk terus <em>fight</em> demi ibuku tercinta ini. Aku masuk ke sebuah bengkel las yang cukup besar, dan ada cukup banyak karyawan di sana. Saat-saat awal aku bekerja benar-benar saat tersulit bagiku. Aku yang memang dasarnya kurang pandai harus mengingat begitu banyak hal. Sering sekali aku dibodoh-bodohi oleh atasan karena mengulang kesalahan pengelasan yang sama berkali-kali. Entah bengkok, entah retak, ada saja masalah yang timbul. Namun ketika merasa <em>down</em>, di hatiku seolah-olah ibuku berkata,</p>
<p style="margin-left:5pt;">&#8220;Ngga papa, kamu tetap hebat,kok&#8221;.</p>
<p>Kalimat itu benar-benar sakti, setidaknya bagiku. Begitu teringat kata-kata ibuku yang semakin tua itu, rasa takut, rasa lelah, dan rasa malu pun sirna. &#8220;Pokoknya aku harus buktikan bahwa ibuku benar. Bahwa aku memang hebat!!!&#8221;, begitu pikirku, dan jika sudah seperti itu, pekerjaan apapun aku selesaikan.</p>
<p>Enam bulan sudah aku bekerja di bengkel las ini. Semangatku yang menggebu-gebu membuat hasil pekerjaanku akhirnya diapresiasi oleh atasan. Bahkan hasil lasku pernah dipuji secara langsung oleh perwakilan dari perusahaan pusat dari negeri Sakura yang sedang mengadakan kunjungan ke bengkel lasku. Konon mereka berencana men-<em>training</em> beberapa karyawan ke Jepang. Itu mimpi setiap dari kami para karyawan.</p>
<p>Atas keaadaan ini, aku bersyukur pada Tuhanku, dan berterimakasih pada ibuku yang sampai hari ini terus menyemangatiku. Ngomong-omong, ibuku sekarang masih melakukan kerjaan yang sama. Membuat kue, menyetornya ke warung-warung, dan menjadi buruh pasar. Sudah kubilang gajiku cukup untuk hidup kami berdua, tetapi ibu tetap bersikeras bekerja. Ibuku memang aneh.</p>
<p style="text-align:center;">*****************************</p>
<p>Suatu hari, ketika pekerjaan selesai dan aku sedang bersiap-siap untuk pulang, salah seorang manager yang aku kenal menghampiriku dan member berita, &#8220;Ibumu terkena kecelakaan. Segeralah pergi ke RSU.&#8221; Bagai disambar petir, aku berlari sekuat tenaga melewati jalan pintas menuju RSU yang berjarak 1.5 km dari bengkel. Tak ada waktu untuk menunggu angkutan umum yang datang setiap 15 menit sekali. Aku ingin bertemu ibu.</p>
<p>Setibanya di UGD RSU, lututku lemas. Yang kulihat hanyalah jasad ibuku yang sudah ditutup kain putih. Aku yang pernah kalah dalam lomba lari dulu waktu SD, harus kalah lagi atas malaikat maut yang mencabut nyawa ibuku. Aku menangis sejadi-jadinya.</p>
<p style="text-align:center;">**********************************</p>
<p>Atasanku berkata,</p>
<p><em>&#8220;Kore, yousetsu shite ne. Owattara kaette ii yo</em>.&#8221; (Tolong laskan yang ini. Kalau sudah, baru boleh pulang.)</p>
<p><em>Haik.<br />
</em></p>
<p>Aku segera menyelesaikan tugas itu, yang juga berarti pekerjaan terakhirku hari ini, Setelah kubereskan, aku pun bergegas pulang.</p>
<p>Hari ini pertengahan bulan Ramadhan. Teman-teman sesama <em>trainee</em> Indonesia yang tak bisa pulang kampung biasa menulis surat untuk orang tua mereka, atau menelepon keluarga. Tapi aku lain. Di jalan pulang, aku berhenti di sebuah taman dan duduk di sebuah bangku. Tanganku merogoh tas pinggangku, dan dari situ aku ambil selembar amplop. Di sampulnya tertulis, <em>Untuk Ibu</em>. Kuambil selembar A4 dari dalam amplop itu, kubaca lagi isinya untuk ke sekian kalinya.</p>
<p style="text-align:right;"><em>Kepada Ibu<br />
</em></p>
<p style="text-align:right;">
<p><em>Ibu, apa kabar? Bagaimana keadaan di alam sana? Apakah menyenangkan? Tentu aku selalu berharap begitu. Aku selalu berharap ibu menerima janji Allah untuk mendapatkan penghidupan yang layak setelah mati, sebagai  balasan atas kebaikan-kebaikan ibu yang luar biasa kepadaku<br />
</em></p>
<p><em>Ibu, setelah kematian ibu tepat 4,5 tahun lalu, maaf, aku lancang membuka buku harian ibu. Aku sedikit kaget. Di situ tertulis bahwa teryata engkau bukan ibu biologisku. Kau tulis juga bahwa ibuku yang asli telah meninggal tepat ketika aku dilahirkan, dan sebagai adik ibu asliku, bersama suamimu kalian berdua bertekad membesarkan aku. Dari kalimatmu, engkau juga sepertinya berencana memberitahukan hal itu kepadaku pada saat yang tepat.<br />
</em></p>
<p><em>Tapi ibu, sekalipun engkau bukan ibu biologisku, sebenarnya aku ingiiin sekali mengatakan ini langsung kepadamu,<br />
</em></p>
<p><em>&#8220;Ibu memang bukan ibu biologisku, tapi ibu tetap ibuku&#8221;<br />
</em></p>
<p><em>Untuk diriku yang nakal dan durhaka itu, ibu rela bekerja keras dari pagi hingga tengah malam. Ibu juga selalu dan selalu bilang,&#8221;Kamu tetap hebat,kok&#8221; di kala aku jatuh. Ibu tahu,kan, betapa kalimat itu telah menyokongku hingga kini??<br />
</em></p>
<p><em>Ibu, tahu tidak? Setengah tahun setelah kematian ibu, aku diberi anugerah oleh Tuhan untuk bisa ikut training di negeri Sakura selama tiga tahun. Dalam tiga tahun ini aku benar2 bekerja keras, dan aku telah memperoleh beberapa penghargaan atas lasku yang kualitasnya melebihi hasil kerja orang Jepang. Aku bertekad bahwa kemampuan ini akan aku ajarkan pada junior2ku di tanah air. Aku juga sudah menikah dengan seorang gadis jepang dan diantara kami berdua ada seorang anak perempuan yang lucu bernama Hikari. Aku berharap dia menjadi hikari (cahaya) sebagaimana ibu juga telah menjadi cahaya bagiku.<br />
</em></p>
<p><em>Aku telah tumbuh dewasa, ibu. Sebenarnya aku ingin ibu melihat diriku yang sekarang, dan aku ingin mendengar kata2 itu lag dari mulut ibu,<br />
</em></p>
<p><em>&#8220;Kamu tetap hebat&#8221;<br />
</em></p>
<p><em>Kata2 itu sama sekali bukan dusta, bu. Sayang sekali ibu tak bisa menyaksikan buktinya sekarang. Tapi yang jelas, itu berkat doa dan semangat dari Ibu. Kata2 &#8220;Kamu tetap hebat&#8221; sampai sekarang terus aku pakai, untuk memberi semangat anakku, istriku, dan rekan-rekan kerjaku<br />
</em></p>
<p style="text-align:right;"><em>Terima kasih ibuku, engkau bukan ibu biologisku, tetapi engkau tetap ibuku<br />
</em></p>
<p style="text-align:right;">
<p style="text-align:right;"><em>Wassalam<br />
</em></p>
<p>Kulipat kembali surat itu, kumasukkan lagi ke dalam amplop. Dari jauh, terlihat istri dan anakku yang memang berjanji menjemputku di akhir minggu ini. Rencananya, kami akan ikut ke acara buka puasa di SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo). Tangan-tangan mereka melambai-lambai ke arahku. Kubalas dengan senyuman, sambil bergumam pelan,</p>
<p>&#8220;Ibu, inilah anakmu yang hebat&#8221;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tongkat Bagi Ibuku]]></title>
<link>http://reeleks.wordpress.com/2009/11/29/tongkat-bagi-ibuku/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 23:51:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>reeleks</dc:creator>
<guid>http://reeleks.wordpress.com/2009/11/29/tongkat-bagi-ibuku/</guid>
<description><![CDATA[Hawa udara di Changchun , Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan memanggul sang ibu yang lumpuh ked]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div><img class="alignleft" title="Tongkat Ibuku" src="http://www.sahabatsurgawi.net/renungan_bermakna/images/makna_okt21.jpg" alt="" width="210" height="259" /> Hawa udara di Changchun , Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan memanggul sang ibu yang lumpuh kedua kakinya sambil menggendong putrinya yang berusia dua tahun buru-buru ke rumah sakit karena sang ibu terkena serangan jantung lagi. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan memandang mereka bertiga dengan mata terbelalak, semua takjub melihat seorang wanita yang kelihatannya kurus lemah justru memiliki tenaga untuk memanggul satu orang sambil menggendong satu lagi&#8230;&#8230;.</div>
<p>Menurut laporan &#8220;City Evening Post&#8221;, di pagi buta, 13 Pebruari 2008, Li Yuanyuan telah memakaikan baju bagi anak dan sang ibu yang baru sembuh dari sakitnya. Jam 10 pagi, Yuanyuan berjongkok di depan sang ibu, meletakkan kedua kaki ibu di pinggangnya lalu memanggul sang ibu, kemudian menggendong putrinya yang berdiri di atas tempat tidur.</p>
<p>Kedua tangan Yuanyuan dipakai untuk menyangga sang ibu, sedangkan sang ibu membantu merangkul cucunya mengitari leher Yuanyuan. Dengan cara inilah tiga orang tersebut saling berangkulan dengan susah payah keluar dari rumah sakit. Sang ibu telah lumpuh selama 21 tahun, selama 21 tahun itu pulalah Yuanyuan terbiasa memanggul sang ibu keluar masuk rumah sakit.</p>
<p>Ketika Yuanyuan berusia 7 tahun terjadilah sebuah kecelakaan lalu lintas yang benar-benar telah merubah kehidupannya. Karena kecelakaan ini ibunda mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang diperparah dengan menghilangnya sang ayah. Sejak saat itu, Yuanyuan menjadi tulang punggung rumah tangga. Karena tidak ada penghasilan Yuanyuan menghidupi keluarga dengan menjadi pemulung, uang hasil kerja kerasnya habis terpakai untuk mengurus sang ibu.</p>
<p>Rasa bakti Yuanyuan kepada orang tua sangat menyentuh hati para tetangga, banyak tetangga yang dengan sukarela memberi bantuan kepada sang ibu dan putrinya ini. Karena sepanjang tahun hanya mampu berebahan, otot kaki sang ibu sering kejang, sakitnya tak tertahankan.</p>
<p>Ada seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter tradisional tua, setiap hari membantunya memberikan terapi akupunktur terhadap ibu Yuan-yuan, bahkan mengajarnya menggunakan teknik akupunktur sederhana. Sejak berusia 11 tahun sampai sekarang, Yuanyuan sudah dapat menggunakan teknik akupunktur untuk meringankan rasa sakit ibunya.</p>
<p>Tiga tahun yang lalu, Yuan-yuan menikah, setahun kemudian, Yuanyuan melahirkan seorang putri. Namun di mana pun dan kapan pun, Yuanyuan tidak pernah meninggalkan sang ibu, dia dan suaminya bersama-sama memikul tanggung jawab mengurus sang ibu.</p>
<p>Meskipun rumah tangganya tidak terbilang kaya, mereka sangatlah puas. Sang ibu berkata, terkenang masa 21 tahun ini meskipun penuh penderitaan, namun dia sangat puas, dia merasa diri-nya sama dengan orang tua lain yang juga telah menikmati kehangatan keluarga.</p>
<p>Bagi Yuanyuan, selama 21 tahun ini, dia merasa dirinya sangat bahagia, karena dia adalah seorang anak yang masih memiliki seorang ibu.</p>
<p>&#8220;Saya rela menjadi tongkat ibu sepanjang hidupku.……&#8221; <em>(Dajiyuan/prm)</em></p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[My Story (1)]]></title>
<link>http://venus74.wordpress.com/2009/11/29/my-story-1/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 18:00:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>venus74</dc:creator>
<guid>http://venus74.wordpress.com/2009/11/29/my-story-1/</guid>
<description><![CDATA[Ayah menyalakan motornya di pagi itu. Sebuah motor RX King keluaran tahun lama, fasilitas dari kanto]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ayah menyalakan motornya di pagi itu. Sebuah motor RX King keluaran tahun lama, fasilitas dari kantornya. Ayah bekerja sebagai seorang collector, yang bertugas mengirimkan tagihan dan sekaligus  menagihnya dari para pelanggan. Tempatnya bekerja adalah sebuah pabrik pembuatan permen. Beliau sdh bekerja disana sejak aku lahir.</p>
<p>&#8220;Vin&#8230; Ayo cepet berangkat!!&#8221; Ayahku berteriak untuk kesekian kalinya.</p>
<p>&#8220;Sebentar Yah&#8230; anaknya lagi di kamar mandi tuh..&#8221;, Ibuku menyahut.</p>
<p>&#8220;Walah..walah&#8230; kebiasaan banget sih tu anak&#8230; &#8221; jawab Ayah misuh-misuh.</p>
<p>Suara motor ayah tidak kedengaran lagi. Kayaknya ayah balik duduk lagi.</p>
<p>Aku mendengarkan percakapan ayah ibu  di kamar sembari senyum-senyum&#8230; Hihihi&#8230; emang kebiasaan buruk&#8230; udah rapi jali mau berangkat, perut mules&#8230; terpaksa deh setor dulu, touch up lagi&#8230; Hehehehe&#8230; maafin Vini ya Yah&#8230;.</p>
<p>Aku melangkah terburu-buru ke teras rumah&#8230;.</p>
<p>&#8220;Ayo .. Ayah mesti kirim dokumen tagihan ke Bogor nih.. jadi pagi2 dah harus jalan&#8230;.&#8221; kata ayahku sembari menyodorkan helm kepadaku.</p>
<p>Aku mengangguk.</p>
<p>&#8220;Tumben nih pake helm Yah..?&#8221; tanyaku sambil meraih tangan Ibu, pamitan mau berangkat.</p>
<p>&#8220;Hiya&#8230; <em>wong</em> kemarin di jalan yang deket pabrik, ada polisi <em>mbrenti-in</em> orang-orang yang gak pake helm..&#8221; Ayah naik motor &#38; menyalakan kembali motornya.</p>
<p>Aku duduk di belakang dan berpegangan pada pinggangnya.</p>
<p>Melajulah motor tua itu memecah pagi.</p>
<p>Sepanjang jalan menuju pabrik, aku menikmati angin pagi yang sejuk&#8230;</p>
<p>Semenjak bekerja di perusahaan yang baru, aku diharuskan untuk pergi seminggu sekali ke pabrik di kawasan industri di daerah Purwakarta yang memakan waktu perjalanan kurang lebih 1,5 jam. Dari Jakarta <em>manut </em>dengan salah seorang boss yang juga pergi ke sana. Kebetulan bossku ini, namanya Pak Chris, tinggal berdekatan dengan pabrik tempat ayah bekerja, dan kebetulan juga salah seorang anak pemilik pabrik tempat ayah bekerja kenal dengan Pak Chris ini.</p>
<p>Jadilah ak dititipkan pada Pak Chris kalau mau berangkat ke pabrik oleh atasanku langsung : Pak Iyan. Nasib..nasiib&#8230; yaa.. apa boleh buat, anak bawang ya nurut saja&#8230;</p>
<p>Kurang lebih dua puluh menit kemudian, sampailah aku dan ayah di pabrik tempat ayahku bekerja. Beberapa pekerja menyapa ayah.</p>
<p>&#8220;Wooi.. pakpuh&#8230; pagi-pagi wis teko&#8230;&#8221; seorang pemuda berbaju kuning berteriak di pintu masuk. Ayah tersenyum.</p>
<p>&#8220;Kamu tunggu sini aja dulu ya&#8230;&#8221; Ayah menunjuk bangku panjang dengan gerobak mie ayam dan warung yang ada di depan pabrik.  &#8220;Mau minum dulu apa sarapan dulu&#8230; tuh didepan ada mie ayam. Enak lho&#8230;&#8221; Ayah berpromosi.</p>
<p>&#8220;Kamu dijemput jam berapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jam 7 Yah..&#8221; kataku sambil melirik Alba di tangan kiriku. Hmm.. masih ada 15 menit lagi. Mataku menoleh ke warung. Sebotol teh enak kali ya.. pikirku.</p>
<p>&#8220;Aku ke depan dulu ya.. mau minum&#8221;</p>
<p>Ayah mengangguk,&#8221;Ya sudah, Ayah ke dalam dulu, mau <em>ngabsen</em> skalian <em>ngambil</em> dokumen utk di kontra bon&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku mengangguk ke arah satpam yang memperhatikan di pintu masuk. Ayah kemudian bersalaman dengannya untuk kemudian hilang di balik pintu gerbang besi besar berwarna abu-abu.</p>
<p>Hampir setengah dari karyawan di pabrik ini adalah teman satu kampung Ayah di Jawa Timur sana. Dulu Ayah menjabat sebagai Personalia di pabrik, namun karena kevokalan ayah, direksi menurunkan jabatannya menjadi collector. Ayah sempat bersitegang dengan direksi, tapi toh dia akhirnya menerima demosi ini.</p>
<p>Maka tak heran jika banyak karyawan yang mengenal Ayah dan menghormatinya. Disamping beliau dulu personalia, pun juga karena Ayah adalah orang yang ringan tangan. Tak pandang siapa orangnya, bila orang lain memerlukan bantuannya, beliau akan turun tangan. Sehingga sebaliknya, ketika Ayah memerlukan bantuan dari rekan2nya, mereka tidak akan sungkan untuk membantu. Alhamdulillah.</p>
<p>Aku segera memesan 1 botol teh dan duduk di bangku panjang, dimana seorang Ibu setengah baya yang agak gemuk duduk sambil melap sendok dan garpu. Dia memperhatikan aku saat aku akan duduk. Tersenyum.</p>
<p>Pelan-pelan aku minum. Hhh&#8230; kayaknya Pak Chris terlambat nih. Gak apa-apa lah&#8230; sekalian beristirahat dan merapikan diri.</p>
<p>&#8220;Nunggu siapa dik&#8230;?&#8221; Ibu itu tiba-tiba bertanya sembari berdiri menuju gerobak mie-nya.</p>
<p>&#8220;Temen Bu&#8230;&#8221; sambil menaruh botol ke meja ak menjawab.</p>
<p>Seorang pemuda duduk di ujung bangku tempatku duduk dan memesan semangkuk mie ayam dari Ibu itu.</p>
<p>&#8220;Saya kira mau interpiu..&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Enggak Bu..&#8221;</p>
<p>&#8220;Tinggal dimana?&#8221; tanya Ibu itu. Tangannya mempersiapkan sawi dan mie untuk dimasukkan ke dalam panci.</p>
<p>Aku menyebutkan kelurahan tempat aku tinggal.</p>
<p>&#8220;Wah.. sama dong sama Pak Wiji&#8230;&#8221; katanya.</p>
<p>Dia menyebut nama Ayahku, &#8220;Iya bu&#8230; &#8220;</p>
<p>&#8220;Adik kenal Pak Wiji..?&#8221;. Ibu itu menoleh sebelum memberikan daging ayam ke mangkok pesenan Mas Mas tadi.</p>
<p>Aku mengangguk. Belum sempat aku berbicara lebih lanjut, si Ibu kemudian berkata &#8220;Saya kenal pak Wiji sudah lama lho&#8230; sejak masih muda. Kasihan dia&#8230;&#8221;  Si Ibu berjalan ke arah mas yang tadi dan menaroh pesanannya di meja. Aku mengernyitkan dahi. Kasihan..? <em>Emang</em> kenapa? tanyaku dalam hati.</p>
<p>Kembali dia ke gerobaknya dan membersihkan sisa-sisa minyak yang terjatuh.</p>
<p>&#8220;Kasihan.. sejak menikah belum dapat keturunan. Anak-anaknya yang 2 itu, yang sekarang tinggal sama dia kan bukan anaknya beneran&#8230;.&#8221;</p>
<p>Bagai petir di pagi hari yang cerah itu, aku terkaget. Tersedak.</p>
<p>Jantungku berdetak lebih cepat.</p>
<p>&#8220;Maksudnya Bu&#8230;?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Iya&#8230; semuanya itu boleh <em>pengasih</em> orang&#8230;. &#8220;</p>
<p>Lunglai rasanya kakiku. Aku rasanya tidak sanggup melangkah.</p>
<p>Aku mengatur napas dan mencoba menahan air mata yang mulai mengambang di mataku.</p>
<p>&#8220;Apa maksudnya Ibu ini tiba-tiba bercerita seperti ini&#8230;?&#8221;  Aku bertanya dan menangis dalam hati.</p>
<p>Aku seperti terlempar dari tempat yang sangat tinggi dan terhempas jatuh ke tempat yang tak berdasar. Rasanya sangat perih dan menusuk ke jantung.</p>
<p>Aku segera membayar minumanku, &#8220;Ibu permisi&#8230; temen saya sudah datang&#8230; makasih Bu&#8221; kataku berusaha tersenyum.</p>
<p>Aku harus segera meninggalkan warung itu, sebelum cerita-cerita lainnya meluncur dari mulut Ibu bawel itu. Astagfirullah.</p>
<p>Alhamdulillah tak lama kemudian Pak Chris dengan Corolla putihnya datang.</p>
<p>Dengan setelan sederhana, Pak Chris turun dari mobilnya dan menyapa,</p>
<p>&#8220;Sorry ya telat. Ada urusan sedikit. Sebentar, saya ke dalam dulu. Kebelet nih&#8230;&#8221; sambil tersenyum.</p>
<p>Aku pun ikut melangkah ke arah pintu gerbang. Disana Ayah sudah siap dengan tas slempangnya. Aku berusaha menata hatiku.</p>
<p>&#8220;Pamit ya Yah&#8230;&#8221; kataku sambil mencium tangannya. Air mataku hampir menetes.</p>
<p>&#8220;Ya&#8230; hati-hati..&#8221;</p>
<p>Aku melangkah menuju corolla putih yang tidak terkunci dan duduk di depan.</p>
<p>Sambil memasang seat belt, aku memandangi Ayah yang sudah bersiap berangkat.</p>
<p>&#8220;Ya Allah&#8230; apa benar yang dikatakan Ibu tadi kalau anak-anak Ayah, semuanya bukan anak kandungnya&#8230;? &#8221; Ak mengambil selembar tissue dan melap ujung mataku. Aku teringat sesuatu yang membuatku bertanya lebih dalam. Tapi semakin ak bertanya semakin perih rasanya hati ini.</p>
<p>Aku teringat kembali masa kecilku ketika  SD. Ketika sedang beristirahat, seorang teman menarikku ke pinggir lapangan. Ak sedang menikmati es sirop waktu itu.</p>
<p>Lina, temanku  berkata &#8220;Vin, kata nenek gue elo kan waktu bayi diambil dari rumah sakit Bunda. Ibu elo tuh bukan Ibu elo yang bener tau&#8230;..&#8221;</p>
<p>Aku tidak menanggapinya waktu itu, karena aku merasa itu cuma akal-akalan Lina saja untuk membuat aku menangis.</p>
<p>Dan moment itu berlalu begitu saja sampai saat ini aku tersadar&#8230; Adakah ini benar adanya&#8230;?</p>
<p>Adakah hubungannya dengan kejadian waktu SD itu?</p>
<p>Aku menahan tangis.</p>
<p>Pak Chris sudah menuju mobil dan aku berpura-pura tersenyum.</p>
<p>&#8220;Yuuuk kita berangkat&#8230;.&#8221; katanya sambil menyetir.</p>
<p>Aku masih menahan tangis&#8230;. Ya Allah, cobaan apa ini&#8230;.?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Beda Generasi]]></title>
<link>http://lifeschool.wordpress.com/2009/11/28/beda-generasi/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 04:26:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>bhayu</dc:creator>
<guid>http://lifeschool.wordpress.com/2009/11/28/beda-generasi/</guid>
<description><![CDATA[Peringatan: Ini agak pribadi, kalau mau membaca yang sifatnya analisis serius seperti analisa KPK, j]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="text-decoration:underline;">Peringatan</span>: Ini agak pribadi, kalau mau membaca yang sifatnya analisis serius seperti analisa KPK, jangan diteruskan membaca ya&#8230;. Daripada entar bosen&#8230; Hehehe</p>
<p>Semalam, saya bersama pasangan mengantarkan orangtua saya yang &#8216;tiba-tiba&#8217; ingin menonton. Ibu saya ingin menyaksikan film <em>Emak Ingin Naik Haji</em> yang sempat beliau lihat publikasinya di televisi dan membaca resensinya di koran. Yang tidak saya duga, ternyata film ini sudah turun saat kami sampai di Metropole XXI. Demi memenuhi keinginan beliau, akhirnya kami kejar film itu ke Atrium 21. Alhamdulillah dapat. Apa yang tidak saya duga, ternyata rampung menyaksikan film itu, di dalam mobil beliau mengajak lagi menonton film lain: <em>2012</em>. Kami pun kembali ke Metropole yang dekat. Tapi lagi-lagi kami kurang beruntung. Karena di Atrium kami sudah menonton di deretan C yang tiga dari depan, beliau tidak mau lagi menonton di depan, karena tiket tersisa tinggal di deretan A! Akhirnya, kami meluncur ke Grand Indonesia dan menonton di Blitz Megaplex di deretan tiga dari belakang. Cukup nyaman!</p>
<p>Anda mungkin sering mengajak orangtua Anda &#8216;ngelencer&#8217; macam ini. Tapi tidak dengan saya. Bukannya saya sok sibuk atau bagaimana, tapi mereka berdua termasuk kategori orang yang tidak doyan berwisata karena dianggap menghamburkan uang. Bagi &#8216;inner circle&#8217; saya, tentu tahu kalau keluarga saya alhamdulillah berkecukupan. Tapi kami sama sekali tidak bermewah-mewah. Agak miris buat saya karena teman-teman yang bukan &#8216;inner circle&#8217; mengira hidup saya sebagai anak tunggal keluarga berada bergaya hidup mewah. Padahal, sewaktu kuliah saja saya sempat bekerja serabutan seperti menjual kue dan jadi loper koran demi mendapatkan uang tambahan. Walau biaya kuliah dicukupi, tapi saya tidak mendapatkan uang lagi terutama untuk membiayai keperluan pribadi, misalnya untuk membeli buku, apalagi untuk pacaran. Ditambah pacar saya saat itu sangat menghabiskan uang. Hehe.</p>
<p>Jadi, agak mengagetkan buat saya ada permintaan mengajak jalan-jalan seperti kemarin. Dan dari pengalaman semalam, saya mendapatkan lagi satu pelajaran hidup: beda generasi. Memang perbedaan generasi membuat perbedaan banyak. Apalagi dengan karakter orangtua saya yang phlegmatis keduanya. Karakter kepribadian Ibu saya phlegmatis-sanguin dan Bapak saya phlegmatis-koleris, sementara saya koleris-sanguin-melankolis, tanpa phlegmatis sama sekali. Karakter phlegmatis ini, cenderung stagnan dan memandang hidup apa adanya. Mereka tidak &#8216;nek0-neko&#8217;, dengan implikasi jadi terkesan pasif.</p>
<p>Satu kejadian konyol tadi malam saya alami saat Ibu saya menolak berjalan-jalan mencari makan malam sambil menunggu pemutaran film <em>2012</em> yang masih 1,5 jam dari saat saya berhasil mendapatkan tiket pasca antrian panjang. Satu karakter khas phlegmatis. Akhirnya saya dan Bapak saya mencari makan dan dibungkus, pasangan saya menemani Ibu. Dan apa yang terjadi kemudian sungguh membuat saya malu: kami makan penganan yang sudah dibungkus itu di ruang tunggu bioskop Blitz Megaplex. Dan lagi-lagi, Ibu saya malah tidak mau makan sama sekali. Untung saja bioskop penuh sehingga kami &#8217;sukses&#8217;  menyelesaikan makan tanpa ditegur satpam. He!</p>
<p>FYI, orangtua saya tidak juga suka berjalan-jalan di hari libur, kecuali ada undangan yang hampir selalu ada tiap pekan. Mereka tidak suka ke mall. Kemarin adalah pengalaman pertama mereka datang ke Atrium dan Grand Indonesia. Anda boleh bilang mereka &#8216;ndeso&#8217;, terserah. Tapi memang begitulah mereka, perbedaan generasi membuat mereka &#8216;emoh&#8217; mengikuti alur zaman. Mereka nyaman hidup di dunia aman mereka sendiri yang telah dibangun bentengnya bertahun-tahun lamanya. Dalam soal interaksi dengan dunia luar, ayah saya yang pengusaha cum wartawan cum politikus tentu lebih santai. Beliau lebih tidak gagap saat harus mencerna kemodernan. Namun uniknya, saat harus berhadapan dengan gadget, Ibu saya lebih mudah menguasai ketimbang Bapak. Itulah uniknya mereka.</p>
<p>Di dalam bioskop, saya juga memperhatikan selera beliau yang beda sama sekali. Ibu saya adalah kategori penonton sinetron, saya malah pembenci sinetron. Saat menonton <em>Emak Ingin Naik Haji</em>, ia sama sekali tidak menangis, padahal kalau nonton sinetron yang dibintangi Naysilla, kalau tidak salah antara lain judulnya <em>Karunia</em>, ia bisa habis tissue berlembar-lembar. Sementara saya saudara, tidak malu mengakui bahwa saya menangis saat menonton film <em>Emak Ingin Naik Haji</em>, karena saya merasakan kerinduan yang sama dengan karakter si Emak. Rindu ingin berkunjung ke tanah suci, rindu ingin bertemu Tuhan saya. Di sini, walau Ibu saya sudah Hajjah dan saya belum, saya merasakan bahwa pemahaman agama saya yang kandidat magister agama ini memang berbeda dengan beliau.</p>
<p>Yang lucu, beda generasi (dan juga selera) muncul lagi saat menonton film <em>2012. </em>Bayangkan saudara, di tengah-tengah film dengan suara gemuruh penuh efek khusus itu, Ibu saya malah tertidur. Huaduh! Bingung saya. Padahal, filmnya sama sekali tidak membosankan. Tapi, mungkin bagi orangtua semacam beliau malah bingung mencerna jalan cerita filmnya. Terus terang, jalan ceritanya memang tidak sedahsyat efek khususnya.</p>
<p>Yah, begitulah LifeLearner, saya memahami bahwa memang setiap generasi punya zamannya sendiri. Di dalam mobil, saya malah diceritakan bagaimana suasana saat mereka muda dulu dimana bioskop masih langka. Dan memang masa muda ini adalah masa penuh gairah, maka reguklah sepuasnya dengan mengingat pula masa tua. Saya sendiri merasa, bahwa orangtua saya kurang banyak mereguk masa muda mereka. Itu mungkin karena masalah ekonomi. Dan pengalaman itu terus terbawa sampai sekarang dengan terus berhemat, satu tindakan bagus yang juga saya tiru. Bagaimanapun, selalu ada pelajaran dari tiap generasi. Demikan juga dari orangtua saya yang termasuk &#8220;flower generation&#8221; itu.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saya Memiliki Anak, Bolehkah Bekerja?]]></title>
<link>http://bukasumber.wordpress.com/2009/11/28/saya-memiliki-anak-bolehkah-bekerja/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 21:50:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>bukasumber</dc:creator>
<guid>http://bukasumber.wordpress.com/2009/11/28/saya-memiliki-anak-bolehkah-bekerja/</guid>
<description><![CDATA[Saya ibu dengan satu bayi putri. Saya bekerja sebagai PNS di Depdiknas. Mohon nasihatnya, setelah sa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Saya ibu dengan satu bayi putri. Saya bekerja sebagai PNS di Depdiknas. Mohon nasihatnya, setelah saya belajar Islam dengan manhaj Salaful ummah ini, timbul dilema antara melanjutkan karir atau mempersiapkan diri untuk keluar dari pekerjaan dan menjadi ibu yang full time di rumah. Masalahnya adalah saya kurang pandai bekerja di rumah, sekarang ini walau tak ada pembantu saya masih bisa mengurus rumah walaupun seadanya.</p>
<p>Khawatirnya jika saya tetap bekerja, akan bertentangan dengan surat Al Ahzab ayat 33 bahwa tempat wanita adalah rumahnya. Mohon nasihatnya ustadz, agar ana ikhlas bekerja tanpa pembantu dan mendapatkan yang lebih baik dari sekadar khadimat dengan dzikir sebelum tidur. Namun, bolehkah saya punya khadimat ya ustadz masalahnya jadi ada non-mahram di rumah kami. Jazaakumullah Khair wa Barakallahu fikum, Wassallam</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Ustadz Musyaffa Ad Darini,Lc. menjawab:</p>
<p>Bismillah, walhamdulillah wash shalatu wassalamu ala rasulillah, wa’ala alihi washahbihi wa man waalah, amma ba’du.</p>
<p>Semoga Allah mencurahkan rahmat, berkah dan taufiq-Nya kepada anda, karena semangat anda menetapi manhaj yang lurus ini, Amin. Agar lebih fokus dan mudah dipahami, jawaban pertanyaan anda kami jabarkan dalam poin-poin berikut ini:</p>
<p>Pertama: Islam adalah syariat yang diturunkan oleh Allah Sang Pencipta Manusia, hanya Dia-lah yang maha mengetahui seluk beluk ciptaan-Nya. Hanya Dia yang maha tahu mana yang baik dan memperbaiki hamba-Nya, serta mana yang buruk dan membahayakan mereka. Oleh karena itu, Islam menjadi aturan hidup manusia yang paling baik, paling lengkap dan paling mulia, Hanya Islam yang bisa mengantarkan manusia menuju kebaikan, kemajuan, dan kebahagiaan dunia akhirat. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ</p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rosul apabila dia menyerumu kepada sesuatu (ajaran) yang memberi kehidupan kepadamu“. (QS. Al-Anfal: 24).</p>
<p>Allah adalah Dzat yang maha pengasih, maha penyayang dan terus mengurusi makhluk-Nya, oleh karena itu Dia takkan membiarkan makhluknya sia-sia, Allah berfirman:</p>
<p>أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى</p>
<p>“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa ada perintah, larangan dan pertanggung-jawaban)?!” (QS. Al-Qiyamah:36, lihat tafsir Ibnu Katsir 8/283).</p>
<p>Oleh karena itulah, Allah menurunkan syariat-Nya, dan mengharuskan manusia untuk menerapkannya dalam kehidupan, tidak lain agar kehidupan mereka menjadi lebih baik, lebih maju, lebih mulia, dan lebih bahagia di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Kedua: Islam menjadikan lelaki sebagai kepala keluarga, di pundaknya lah tanggung jawab utama lahir batin keluarga. Islam juga sangat proporsional dalam membagi tugas rumah tangga, kepala keluarga diberikan tugas utama untuk menyelesaikan segala urusan di luar rumah, sedang sang ibu memiliki tugas utama yang mulia, yakni mengurusi segala urusan dalam rumah.</p>
<p>Norma-norma ini terkandung dalam firman-Nya:</p>
<p>الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ</p>
<p>“Para lelaki (suami) itu pemimpin bagi para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (yang lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (yang lelaki) telah memberikan nafkah dari harta mereka” (QS. An-Nisa: 34).</p>
<p>Begitu pula firman-Nya:</p>
<p>وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ</p>
<p>“Hendaklah kalian (para istri) tetap di rumah kalian” (QS. Al-Ahzab:33).</p>
<p>Ahli Tafsir ternama Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan perkataannya: “Maksudnya, hendaklah kalian (para istri) menetapi rumah kalian, dan janganlah keluar kecuali ada kebutuhan. Termasuk diantara kebutuhan yang syar’i adalah keluar rumah untuk shalat di masjid dengan memenuhi syarat-syaratnya” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/409).</p>
<p>Inilah keluarga yang ideal dalam Islam, kepala keluarga sebagai penanggung jawab utama urusan luar rumah, dan ibu sebagai penanggung jawab utama urusan dalam rumah. Sungguh, jika aturan ini benar-benar kita terapkan, dan kita saling memahami tugas masing-masing, niscaya terbangun tatanan masyarakat yang maju dan berimbang dalam bidang moral dan materialnya, tercapai ketentraman lahir batinnya, dan juga teraih kebahagiaan dunia akhiratnya.</p>
<p>Ketiga: Bolehkah wanita bekerja?</p>
<p>Memang bekerja adalah kewajiban seorang suami sebagai kepala rumah tangga, tapi Islam juga tidak melarang wanita untuk bekerja. Wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syaratnya dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syari’at.</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan: “Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bisnis, karena Alloh jalla wa’ala mensyariatkan dan memerintahkan hambanya untuk bekerja dalam firman-Nya:</p>
<p>وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ</p>
<p>“Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! maka Alloh, Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmu“  (QS. At-Taubah:105)</p>
<p>Perintah ini mencakup pria dan wanita. Alloh juga mensyariatkan bisnis kepada semua hambanya, Karenanya seluruh manusia diperintah untuk berbisnis, berikhtiar dan bekerja, baik itu pria maupun wanita, Alloh berfirman (yang artinya):</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ</p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang tidak benar, akan tetapi hendaklah kalian berdagang atas dasar saling rela diantara kalian” (QS. An-Nisa:29),</p>
<p>perintah ini berlaku umum, baik pria maupun wanita…</p>
<p>AKAN TETAPI, wajib diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan dan bisnisnya, hendaklah pelaksanaannya bebas dari hal-hal yang menyebabkan masalah dan kemungkaran. Dalam pekerjaan wanita, harusnya tidak ada ikhtilat (campur) dengan pria dan tidak menimbulkan fitnah. Begitu pula dalam bisnisnya harusnya dalam keadaan tidak mendatangkan fitnah, selalu berusaha memakai hijab syar’i, tertutup, dan menjauh dari sumber-sumber fitnah.</p>
<p>Karena itu, jual beli antara mereka bila dipisahkan dengan pria itu boleh, begitu pula dalam pekerjaan mereka. Yang wanita boleh bekerja sebagai dokter, perawat, dan pengajar khusus untuk wanita, yang pria juga boleh bekerja sebagai dokter dan pengajar khusus untuk pria. Adapun bila wanita menjadi dokter atau perawat untuk pria, sebaliknya pria menjadi dokter atau perawat untuk wanita, maka praktek seperti ini tidak dibolehkan oleh syariat, karena adanya fitnah dan kerusakan di dalamnya.</p>
<p>Bolehnya bekerja, harus dengan syarat tidak membahayakan agama dan kehormatan, baik untuk wanita maupun pria. Pekerjaan wanita harus bebas dari hal-hal yang membahayakan agama dan kehormatannya, serta tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan moral pada pria. Begitu pula pekerjaan pria harus tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan bagi kaum wanita.</p>
<p>Hendaklah kaum pria dan wanita itu masing-masing bekerja dengan cara yang baik, tidak saling membahayakan antara satu dengan yang lainnya, serta tidak membahayakan masyarakatnya.</p>
<p>Kecuali dalam keadaan darurat, jika situasinya mendesak seorang pria boleh mengurusi wanita, misalnya pria boleh mengobati wanita karena tidak adanya wanita yang bisa mengobatinya, begitu pula sebaliknya. Tentunya dengan tetap berusaha menjauhi sumber-sumber fitnah, seperti menyendiri, membuka aurat, dll yang bisa menimbulkan fitnah. Ini merupakan pengecualian (hanya boleh dilakukan jika keadaannya darurat). (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz, jilid 28, hal: 103-109)</p>
<p>Keempat: Ada hal-hal yang perlu diperhatikan, jika istri ingin bekerja, diantaranya:</p>
<p>1. Pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban utamanya dalam urusan dalam rumah, karena mengurus rumah adalah pekerjaan wajibnya, sedang pekerjaan luarnya bukan kewajiban baginya, dan sesuatu yang wajib tidak boleh dikalahkan oleh sesuatu yang tidak wajib.</p>
<p>2. Harus dengan izin suaminya, karena istri wajib mentaati suaminya.</p>
<p>3. Menerapkan adab-adab islami, seperti: Menjaga pandangan, memakai hijab syar’i, tidak memakai wewangian, tidak melembutkan suaranya kepada pria yang bukan mahrom, dll.</p>
<p>4. Pekerjaannya sesuai dengan tabi’at wanita, seperti: mengajar, dokter, perawat, penulis artikel, buku, dll.</p>
<p>5. Tidak ada ikhtilat di lingkungan kerjanya. Hendaklah ia mencari lingkungan kerja yang khusus wanita, misalnya: Sekolah wanita, perkumpulan wanita, kursus wanita, dll.</p>
<p>6. Hendaklah mencari dulu pekerjaan yang bisa dikerjakan di dalam rumah. Jika tidak ada, baru cari pekerjaan luar rumah yang khusus di kalangan wanita. Jika tidak ada, maka ia tidak boleh cari pekerjaan luar rumah yang campur antara pria dan wanita, kecuali jika keadaannya darurat atau keadaan sangat mendesak sekali, misalnya suami tidak mampu mencukupi kehidupan keluarganya, atau suaminya sakit, dll.</p>
<p>Kelima: Jawaban pertanyaan anda sangat bergantung dengan pekerjaan dan keadaan anda.</p>
<p>Apa suami mengijinkan anda untuk bekerja? Apa pekerjaan anda tidak mengganggu tugas utama anda dalam rumah? Apa tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan dalam rumah? Jika lingkungan kerja anda sekarang keadaannya ikhtilat (campur antara pria dan wanita), apa tidak ada pekerjaan lain yang lingkungannya tidak ikhtilat? Jika tidak ada, apa anda sudah dalam kondisi darurat, sehingga apabila anda tidak bekerja itu, anda akan terancam hidupnya atau paling tidak hidup anda akan terasa berat sekali bila anda tidak bekerja? Jika memang demikian, sudahkah anda menerapkan adab-adab islami ketika anda keluar rumah? InsyaAllah dengan uraian kami di atas, anda bisa menjawab sendiri pertanyaan anda.</p>
<p>Memang, seringkali kita butuh waktu dan step by step dalam menerapkan syariat dalam kehidupan kita, tapi peganglah terus firman-Nya:</p>
<p>فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ</p>
<p>“Bertaqwalah kepada Alloh semampumu!” (QS. At-Taghabun:16)</p>
<p>dan firman-Nya (yang artinya):</p>
<p>فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ</p>
<p>“Jika tekadmu sudah bulat, maka tawakkal-lah kepada Alloh!” (QS. Al Imran:159),</p>
<p>juga sabda Rasul -shallallahu alaihi wasallam- “Ingatlah kepada Allah ketika dalam kemudahan, niscaya Allah akan mengingatmu ketika dalam kesusahan!” (HR. Ahmad, dan di-shahih-kan oleh Albani), dan juga sabdanya:</p>
<p>إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ (رواه أحمد وقال الألباني: سنده صحيح على شرط مسلم)</p>
<p>“Sungguh kamu tidak meninggalkan sesuatu karena takwamu kepada Alloh azza wajall, melainkan Alloh pasti akan memberimu ganti yang lebih baik darinya” (HR. Ahmad, dan di-shahih-kan oleh Albani).</p>
<p>Terakhir: Kadang terbetik dalam benak kita, mengapa Islam terkesan mengekang wanita?!</p>
<p>Inilah doktrin yang selama ini sering dijejalkan para musuh Islam, mereka menyuarakan pembebasan wanita, padahal dibalik itu mereka ingin menjadikan para wanita sebagai obyek nafsunya, mereka ingin bebas menikmati keindahan wanita, dengan lebih dahulu menurunkan martabatnya, mereka ingin merusak wanita yang teguh dengan agamanya agar mau mempertontonkan auratnya, sebagaimana mereka telah merusak kaum wanita mereka.</p>
<p>Lihatlah kaum wanita di negara-negara barat, meski ada yang terlihat mencapai posisi yang tinggi dan dihormati, tapi kebanyakan mereka dijadikan sebagai obyek dagangan hingga harus menjual kehormatan mereka, penghias motor dan mobil dalam lomba balap, penghias barang dagangan, pemoles iklan-iklan di berbagai media informasi, dll. Wanita mereka dituntut untuk berkarir padahal itu bukan kewajiban mereka, sehingga menelantarkan kewajiban mereka untuk mengurus dan mendidik anaknya sebagai generasi penerus. Selanjutnya rusaklah tatanan kehidupan masyarakat mereka. Tidak berhenti di sini, mereka juga ingin kaum wanita kita rusak, sebagaimana kaum wanita mereka rusak lahir batinnya, dan diantara langkah awal menuju itu adalah dengan mengajak kaum wanita kita -dengan berbagai cara- agar mau keluar dari rumah mereka.</p>
<p>Cobalah lihat secuil pengakuan orang barat sendiri, tentang sebab rusaknya tatanan masyarakat mereka berikut ini:</p>
<p>Lord Byron: “Andai para pembaca mau melihat keadaan wanita di zaman yunani kuno, tentu anda akan dapati mereka dalam kondisi yang dipaksakan dan menyelisihi fitrahnya, dan tentunya anda akan sepakat denganku, tentang wajibnya menyibukkan wanita dengan tugas-tugas dalam rumah, dibarengi dengan perbaikan gizi dan pakaiannya, dan wajibnya melarang mereka untuk campur dengan laki-laki lain”.</p>
<p>Samuel Smills: “Sungguh aturan yang menyuruh wanita untuk berkarir di tempat-tempat kerja, meski banyak menghasilkan kekayaan untuk negara, tapi akhirnya justru menghancurkan kehidupan rumah tangga, karena hal itu merusak tatanan rumah tangga, merobohkan sendi-sendi keluarga, dan merangsek hubungan sosial kemasyarakatan, karena hal itu jelas akan menjauhkan istri dari suaminya, dan menjauhkan anak-anaknya dari kerabatnya, hingga pada keadaan tertentu tidak ada hasilnya kecuali merendahkan moral wanita, karena tugas hakiki wanita adalah mengurus tugas rumah tangganya…”.</p>
<p>Dr. Iidaylin: “Sesungguhnya sebab terjadinya krisis rumah tangga di Amerika, dan rahasia dari banyak kejahatan di masyarakat, adalah karena istri meninggalkan rumahnya untuk meningkatkan penghasilan keluarga, hingga meningkatlah penghasilan, tapi di sisi lain tingkat akhlak malah menurun… Sungguh pengalaman membuktikan bahwa kembalinya wanita ke lingkungan (keluarga)-nya adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan generasi baru dari kemerosotan yang mereka alami sekarang ini”. (lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, jilid 1, hal: 425-426)</p>
<p>Lihatlah, bagaimana mereka yang obyektif mengakui imbas buruk dari keluarnya wanita dari rumah untuk berkarir… Sungguh Islam merupakan aturan dan syariat yang paling tepat untuk manusia, Aturan itu bukan untuk mengekang, tapi untuk mengatur jalan hidup manusia, menuju perbaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat… Islam dan pemeluknya, ibarat terapi dan tubuh manusia, Islam akan memperbaiki keadaan pemeluknya, sebagaimana terapi akan memperbaiki tubuh manusia… Islam dan pemeluknya, ibarat UU dan penduduk suatu negeri, Islam mengatur dan menertibkan kehidupan manusia, sebagaimana UU juga bertujuan demikian…</p>
<p>Jadi Islam tidak mengekang wanita, tapi mengatur wanita agar hidupnya menjadi baik, selamat, tentram, dan bahagia dunia akhirat. Begitulah cara Islam menghormati wanita, menjauhkan mereka dari pekerjaan yang memberatkan mereka, menghidarkan mereka dari bahaya yang banyak mengancam mereka di luar rumah, dan menjaga kehormatan mereka dari niat jahat orang yang hidup di sekitarnya…</p>
<p>Sekian jawaban kami, wallahu a’lam… semoga bermanfaat dan bisa dimengerti… wassalam.</p>
<p>NB: Tentang hukum mengambil pembantu, insyaAlloh akan kami jawab di kesempatan lainnya.</p>
<p>Penulis: Ustadz Musyaffa’ Addariny</p>
<p>Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/saya-memiliki-anak-bolehkah-bekerja/" target="_blank">UstadzKholid.Com</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Being a mom...]]></title>
<link>http://shemurie.wordpress.com/2009/11/27/being-a-mom/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 01:55:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>shemurie</dc:creator>
<guid>http://shemurie.wordpress.com/2009/11/27/being-a-mom/</guid>
<description><![CDATA[Being a mom&#8230; a mother&#8230; seorang ibu&#8230; Setiap kali aku membayangkan menjadi seorang i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Being a mom&#8230; a mother&#8230; seorang ibu&#8230;</p>
<p>Setiap kali aku membayangkan menjadi seorang ibu, aku membayangkan bahwa aku bangun di saat sebelum subuh, membangunkan sang suami yang masih terlelap karena setelah semalaman letih bekerja&#8230; kemudian kami sholat subuh berjama&#8217;ah.. kemudian aku mulai mengumpulkan semua pakaian kotor.. mencucinya dengan mesin cuci&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  tinggal masukkin, selesai&#8230;</p>
<p>Kemudian mulai berkutak-kutik di dapur.. mm.. bikin nasi goreng dan mengoleskan roti tawar untuk bekal si jaka dan si putri&#8230; (nama anak pertama Jaka, nama anak kedua putri, nama anak ketiga &#8230; mm.. blm tau).</p>
<p>Ku bangunkan anak2 satu demi satu&#8230; membelai kening mereka dan mencium kening mereka&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  supaya saat mereka terbangun, mereka langsung melihat bidadari&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ku nyalakan tape di ruang tengah dan memilih lagu2 klasik yang lembut dan energic seperti Canon D&#8230;</p>
<p>Menyiapkan seragam kerja suamiku&#8230;. Dan ku dengar Jaka dan Putri mulai memanggil2ku menanyakan baju seragam mereka setelah dimandikan oleh ayah mereka. &#8220;Di dalam lemarinya mas jaka, di sebelah kanan&#8230; punya dek putri juga di dalam lemari.. tapi yg lemari pink ya&#8230;&#8221; jawabku sambil menggendong si bungsu yang masih berusia 10 bulan. Jaka sudah kelas 3 SD dan Putri baru saja masuk Paud (Pendidikan Anak Usia Dini)</p>
<p>Jam 7 Pagi&#8230; suamiku, dan kedua belahan jiwaku sudah siap di meja makan&#8230;. sarapan&#8230; Suamiku mengantar Jaka ke sekolahnya, sedangkan aku mengantar putri. Karena kebetulan arah kantor suamiku searah dengan sekolah Jaka, sedangkan sekolah putri hanya berjarak beberapa blok dari rumah kemudian aku berangkat ke kantor juga. Aku masuk kerja pukul 07.30 WIB. Sedang si Dede kecil ku titip ke ibu mertua. Saat jam 10-an, Putri pulang sekolah dijemput pembantuku. Sedangkan Jaka akan dijemput sopir kantor. Siang itu mereka habiskan waktu bersama sang nenek dan kakek. Sore hari, jam 16.00, suamiku menjemputku di kantor dan kamipun menjemput anak2 dari rumah nenek mereka&#8230;</p>
<p>Malamnya Aku memasak makan malam&#8230; selesai shalat maghrib berjama&#8217;ah, kami makan malam sambil mendengarkan celoteh jaka dan putri tentang sekolah mereka. Si Dede kecil masih tidur nyenyak di ranjangnya.</p>
<p>Selepas Isya, aku dan suamiku menemani belahan jiwa kami&#8230; suamiku mengajari si jaka berhitung, aku menemani sang putri bermain puzzle atau apapun yang dia suka.</p>
<p>Pukul 20.00 kedua belahan jiwaku tertidur, dan Dede kecil terbangun&#8230; sambil bercerita-cerita dengan suamiku di ruang kerjanya, aku menggendong Dede kecil hingga terlelap&#8230; Pukul 22.00 kami semua terlelap dengan Dede kecil kadang terbangun sesekali&#8230; Aku sangat bersyukur sekali dengan hidupku&#8230; ^^</p>
<p>xixixixixi&#8230;</p>
<p>semua wanita pasti punya impian yang sama&#8230; ingin menjadi ibu rumah tangga yang bahagia&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>*hoooaaammmhh.. bangun dari tidur&#8230;. mandi dulu ah&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pandangilah wajah ibumu]]></title>
<link>http://ninengonly.wordpress.com/2009/11/26/pandangilah-wajah-ibumu/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 16:23:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>afrianingsih</dc:creator>
<guid>http://ninengonly.wordpress.com/2009/11/26/pandangilah-wajah-ibumu/</guid>
<description><![CDATA[Ku beruntung hingga saat ini masih ditemani ibu. Ketika ada yang mengatakan pandanglah wajah ibumu k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ku beruntung hingga saat ini masih ditemani ibu. Ketika ada yang mengatakan pandanglah wajah ibumu ketika dia sedang tidur seolah-olah besok pagi matanya tak terbuka lagi.  Mata yang terpejam itupun mengisyaratkan kelelahan karena sudah melewati hari-hari yang melelahkan. Kadang ada kata maupun sikap yang menyinggung hatinya, yang kadang dipendamnya sendiri.</p>
<p>Mungkin rasanya masih belum sanggup jika memang mata itu tak terbuka lagi besok pagi. Memandang wajahnya dalam-dalam sungguh membuat air mata tak terbendung. Semoga besok pagi ku melihat mata itu terbuka dengan senyum dibibir. Masih belum banyak kebahagiaan yang diberikan untuk sang bunda. Bahkan dengan berkilo-kilo berlian pun, belum sanggup menganti semua apa yang telah diberikan ibu.</p>
<p>Ku masih beruntung hingga saat ini ada ibu yang selalu menghibur di kala susah. Rasanya, jutaan beban akan lenyap jika ibu telah mengulurkan tangannya. Puluhan tahun sudah ibu memberikan tangannya untuk selalu membantu. Bahkan dari masih segumpal darah pun ibu memberikan untaian kasih sayangnya.</p>
<p>Ku masih beruntung masih bisa memandangi wajah ibu dengan sepuas-puasnya. Melihat setiap garis-garis wajah yang sudah mulai terlihat. Walau ada ketakutan untuk tidak bisa terlepas dari genggaman ibu. Entah hanya dengan mendengar suaranya saja, itu sudah cukup memberikan kebahagiaan.</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sukses karena Hormati Ibu]]></title>
<link>http://santribuntet.wordpress.com/2009/11/26/sukses-karena-hormati-ibu/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 14:53:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>santribuntet</dc:creator>
<guid>http://santribuntet.wordpress.com/2009/11/26/sukses-karena-hormati-ibu/</guid>
<description><![CDATA[Ibu, Ummi, Mother atau apa saja panggilannya bila kita hormati dengan tulus serta melayaninya dengan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft" src="http://prayingtodarwin.files.wordpress.com/2008/12/mother_son.jpg?w=247&#038;h=335" alt="" width="247" height="335" />Ibu, Ummi, Mother atau apa saja panggilannya bila kita hormati dengan tulus serta melayaninya dengan tabah, niscaya akan membawa kedamaian dalam hidup. Dalam bahasa pesantren, anak yang berbakti kepada ibunya (orang tua) maka dia akan &#8220;sukses&#8221; lahir batin, dunia akherat. Mau Bukti?</p>
<p>Abu Yazid Al Bustami, seorang ulama yang sangat dihormati dikalangan para sufi dan generasi kini, banyak pula karangan kitabnya ternyata beliau sangat hormat dan bakti kepada ibunya.</p>
<p>&#160;</p>
<p><!--more-->Dalam sebuah kitab klasik dikatakan, kalau beliau itu sama sekali tidak mau membantah perintah sang Ibu. Saat beliau membaca ayat  <em>“Anisykurli waliwaalidaika ilaiyal Mashir”</em> yang artinya: “Hendaklah bersyukur kepadaKu dan kepada kedua orang tua (Ibu Bapakmu). Hanya kepadaKulah kamu kembali” (QS:Luqman 14)</p>
<p>Abu Yazid Al Bustomi kemudian meminta petunjuk kepada Ibunya dan dia berkata, &#8220;Ibu, hatiku gelisah setelah mendengar ayat Alloh itu. Aku tidak bisa membagi hatiku pada Ibu (orang tuaku) ataukah pada ALLOH, maka mintakanlah pada ALLOH agar kewajibanku bakti pada-NYA ditiadakan, agar dapatlah semata-mata aku berbakti kepadamu”.</p>
<p>”Tidak Yazid, kewajiban menghormat  kepadaku aku lepaskan, agar kamu bisa bebas beribadah kepada Allah subhanahu wata&#8217;ala, &#8221; jawabnya penuh bijak.</p>
<p>Sikap ulama salaf memang cukup aneh, salah satunya adalah memiliki kebiasaan tidak banyak memerintahkan atau menuntut kepada anak-anaknya. Sebab alasan para ulama salaf itu seandainya banyak perintah kepada anak atau banyak menuntut, maka sedikit saja si anak tidak menurut, sudah dikategorikan sebagai &#8220;anak durhaka.&#8221;  Bahkan dalam bahasa Al Quran, mengatakan &#8220;ah&#8221; (keluhan?) kepada orang tua adalah tindakan yang terlarang.</p>
<blockquote><p>&#8220;&#8230; Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.<em>” </em> (QS. Al-Israa: 23-24)</p></blockquote>
<p>Sebuah penelitian kecil di antara kawan-kawan saya yang merantau di kota, ada sedikit perbedaan di mana kawan yang begitu baik kepada orang tuanya, mereka cenderung lebih &#8220;sukses&#8221;. Kemuliaan itu ia dapatkan mungkin karena begitu bakti kepada ibunya. Disamping memang jalan untuk sukses itu ia raih dengan kerja keras. Namun kerja keras yang didukung oleh doa-doa sang ibu tentu sangat bernilai dibanding tanpa dukungan doa.</p>
<p>Kini kita bisa mengambil hikmah bahwa kata ulama kunci sukses hidup itu adalah bagaimana pandai-pandai bersyukur kepada Allah dan kepada orang tuanya. Sebaliknya, hidup yang &#8220;seret&#8221; bisa jadi muasalnya dari cara pandang  kepada  orang tua terutama ibu sebagai orang yang tidak layak dihormati. Wallahu a&#8217;lam</p>
<p>NB: Kepada pembaca blog saya, mohon maaf lama sekali saya berlibur tidak menulis. Juga kepada para tamu yang tidak direspon, saya sekali lagi mohon maaf. Jika mau YM atau Gtalk, silahkan di <a href="mailto:kurtubi@yahoo.com">kurtubi@yahoo.com</a> atau <a href="mailto:mkurtubi@gmail.com">mkurtubi@gmail.com</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[surat untuk mama...]]></title>
<link>http://fendhy.wordpress.com/2009/11/26/surat-untuk-mama/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 14:27:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>fendhy</dc:creator>
<guid>http://fendhy.wordpress.com/2009/11/26/surat-untuk-mama/</guid>
<description><![CDATA[Ma&#8230; apa kabarmu di sana&#8230;? semoga baik baik saja&#8230; Ma&#8230; taukah engkau disana ba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ma&#8230; apa kabarmu di sana&#8230;? semoga baik baik saja&#8230; Ma&#8230; taukah engkau disana ba]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mitos tentang Menyusui...]]></title>
<link>http://nieamore.wordpress.com/2009/11/26/mitos-tentang-menyusui/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 13:11:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>re_nie&quot;)</dc:creator>
<guid>http://nieamore.wordpress.com/2009/11/26/mitos-tentang-menyusui/</guid>
<description><![CDATA[nahh..ni beberapa pengetahuan untuk para ibu yang sedang menyusui..dan juga untuk calon ibu&#8230;.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#0000ff;">nahh..ni beberapa pengetahuan untuk para ibu yang sedang menyusui..dan juga untuk calon ibu&#8230;.&#8221;)<br />
semoga bermanfaat yaa&#8230;<br />
terimakasih kepada narasumber..AIMI..</span></p>
<p style="text-align:justify;">1. <span style="color:#ff00ff;">Kebanyakan wanita tidak bisa menghasilkan ASI yang cukup.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Hampir semua wanita menghasilkan ASI lebih dari cukup, bahkan sering kali timbul permasalahan seputar pasokan ASI yang terlalu berlebihan. Seorang bayi yang kenaikan berat badannya lambat, atau bahkan cenderung mengalami kehilangan berat badan, seringkali bukan disebabkan karena ibunya tidak cukup menghasilkan ASI, tetapi bayi tersebut tidak berhasil untuk mengeluarkan dan minum ASI yang dihasilkan oleh ibunya tersebut. Biasanya, hal ini disebabkan oleh pelekatan — yaitu posisi mulut bayi pada payudara ibu — yang kurang tepat. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang ibu baru untuk segera, pada hari pertama kelahiran, dipandu untuk melakukan pelekatan secara benar oleh seseorang yang benar-benar mengerti mengenai teknik pelekatan yang tepat.<br />
2. Normal kok kalau payudara/puting terasa sakit pada saat kita sedang menyusui.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Walaupun bukan sesuatu hal yang aneh jika pada hari-hari pertama menyusui seorang ibu akan merasa sedikit kurang nyaman pada payudaranya, tapi kondisi ini seharusnya hanya berlangsung selama beberapa hari saja, dan tidak boleh menjadi sedemikian parahnya sehingga seorang ibu menjadi takut untuk menyusui bayinya. Rasa sakit yang amat sangat pada puting ketika sedang menyusui menandakan bahwa bayi belum sempurna pelekatannya. Sakit atau lecet pada puting yang berlangsung selama lebih dari 3-4 hari tidak boleh diabaikan, harus dicari tahu penyebabnya. Membatasi waktu menyusu pada payudara juga bukan merupakan cara yang tepat untuk mencegah timbulnya puting lecet. Usahakan agar tindakan mengistirahatkan payudara dan puting sakit sebagai solusi yang terakhir.<br />
3. 3-4 hari setelah kelahiran bayi, ASI memang belum (cukup) keluar.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Seringkali memang nampak seperti demikian keadaannya karena posisi pelekatan bayi belum sempurna sehingga bayi tidak berhasil untuk minum ASI yang tersedia dalam payudara ibunya. Pada saat belum banyak ASI yang tersedia (memang normalnya demikianlah keadaannya untuk beberapa hari pertama), posisi pelekatan bayi harus sempurna sehingga bayi dapat mengeluarkan dan minum ASI dari payudara ibunya. Kalau tidak, maka sering terjadi “…tapi dia sudah menyusu selama 2 jam, kenapa yak kok masih lapar…”. Ketika pelekatan belum sempurna, bayi tidak dapat minum ASI pertama yang dihasilkan oleh ibunya, yaitu kolostrum. Siapapun yang menyarankan anda untuk memerah/memompa ASI anda untuk mengetahui berapa banyak kolostrum yang dihasilkan jelas tidak memiliki pengetahuan laktasi, dan sebaiknya abaikan saja sarannya. Ketika pasokan ASI ibu menjadi banyak, kadangkala bayi tetap dapat minum ASI walaupun pelekatannya kurang baik.<br />
4. Bayi harus menyusu pada setiap payudara masing-masing selama 20 (10, 15, 7.6) menit.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Namun demikian, harus dipastikan bahwa bayi tidak sekedar “ngempeng” pada payudara tapi benar-benar “minum” dari payudara. Apabila ternyata seorang bayi sudah berhasil minum ASI selama 15-20 menit dari satu payudara, kemungkinan besar dia tidak mau lagi minum dari payudara yang lainnya. Kalau dia hanya minum selama satu menit pada satu payudara, kemudian mengisap sebentar-sebentar atau bahkan jatuh tertidur, selanjutnya hal yang sama juga terjadi pada payudara yang lainnya, maka besar kemungkinan bayi akan tetap lapar. Seorang bayi akan menyusu dengan lebih baik, lebih efektif dan lebih lama apabila pelekatan mulut bayi pada payudara ibu telah benar.<br />
5. Bayi ASI membutuhkan tambahan cairan air putih ketika cuaca sedang panas.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! ASI mengandung seluruh cairan (air) yang dibutuhkan oleh bayi.<br />
6. Bayi ASI perlu tambahan asupan vitamin D.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Semua orang butuh vitamin D. Produsen susu formula memang menambahkannya pada produk mereka. Namun, bayi lahir dengan lever yang penuh dengan vitamin D, serta kebiasaan menjemur bayi setiap pagi juga membantu dia mendapatkan tambahan vitamin D melalui sinar ultra violet. Vitamin D sifatnya larut dalam lemak dan dapat disimpan oleh tubuh. Dalam keadaan tertentu, misalnya ketika ibunya sendiri ternyata menderita kekurangan vitamin D, maka memberikan tambahan suplemen vitamin D kepada bayi bisa dianggap perlu.<br />
7. Seorang ibu harus mencuci putingnya setiap kali sebelum mulai menyusui.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Pemberian susu formula kepada seorang bayi memang harus sangat memperhatikan faktor-faktor kebersihan, karena susu formula merupakan tempat yang baik untuk berkembang biak-nya bakteri dan juga rentan terhadap kontaminasi. Membersihkan/mencuci puting malah akan menghilangkan minyak-minyak alami yang melindungi puting dari resiko lecet karena puting kering.<br />
8. Dengan memompa/memerah ASI, seorang ibu bisa tahu berapa banyak ASI yang dihasilkan olehnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Seberapa banyak ASI yang berhasil diperah/dipompa tergantung pada banyak sekali faktor, termasuk tingkat stres seorang ibu. Seorang bayi yang menyusu dengan benar bisa mengeluarkan ASI dari payudara ibunya jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah ASI yang berhasil diperah/dipompa oleh ibunya sendiri. Jumlah ASI yang berhasil diperah/dipompa hanya bisa menjadi indikator terhadap seberapa banyak ASI yang bisa anda perah/pompa, bukan sebagai tolak ukur atas jumlah ASI yang bisa anda produksi secara keseluruhan.<br />
9. ASI tidak cukup mengandung zat besi untuk memenuhi kebutuhan bayi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! ASI mengandung zat besi dalam jumlah yang tepat untuk memenuhi kebutuhan bayi. Apabila bayi lahir cukup bulan, maka zat besi yang terdapat didalam ASI bisa memenuhi kebutuhannya sekurangnya untuk 6 bulan pertama. Susu formula mengandung terlalu banyak zat besi, dan zat besi yang ditambahkan dalam susu formula tersebut sangat sedikit yang terserap oleh usus bayi, sehinga sebagian besar kemudian dikeluarkan kembali lewat BAB bayi.<br />
10. Lebih gampang memberikan susu dengan botol dibandingkan bila menyusui secara langsung.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Namun demikian, seringkali proses menyusui menjadi sulit karena para ibu tidak mendapatkan bantuan praktis yang diperlukan pada saat pertama kali mulai menyusui bayinya. Suatu awal yang buruk memang dapat membuat proses menyusui menjadi sulit. Tetapi, kesulitan tersebut tentunya dapat diatasi. Kadangkala menyusui pada awalnya memang dirasakan sulit karena ibu tidak mendapatkan bantuan yang diperlukan sehingga timbul berbagai kesulitan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, berbagai kesulitan tersebut dapat diatasi dan menyusui menjadi semakin mudah.<br />
11. Menyusui membuat ibu tidak bebas beraktivitas.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Tergantung bagaimana anda memandangnya. Seorang bayi dapat disusui dimana saja, kapan saja sehingga sebenarnya lebih membebaskan bagi sang ibu. Tidak perlu menggotong segala macam peralatan pembuatan susu formula kemana-mana. Tidak perlu cemas memikirkan dimana dapat menghangatkan susu formula tersebut. Tidak perlu khawatir kesterilan proses pembuatan susu formula tersebut. Dan yang terpenting, ASI tetap dapat diperah/dipompa apabila ibu memang harus meninggalkan bayi dirumah.<br />
12. Tidak ada cara untuk mengetahui seberapa banyak ASI yang diminum oleh bayi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Memang tidak ada cara yang mudah untuk mengukur seberapa banyak ASI yang dikonsumsi oleh bayi, tetapi bukan berarti anda tidak bisa tahu apakah bayi anda cukup mendapatkan ASI. Pastikan bahwa posisi badan bayi pada saat sedang menyusu, serta pelekatan mulut bayi pada payudara ibu telah benar sehingga bayi dapat MINUM ASI dan bukan hanya ngempeng. Bayi BAK minimal 5-6 kali dalam sehari, dan selesai sendiri menyusunya dengan cara melepaskan sendiri dari payudara ibu. Bayi tampak, tenang, kenyang dan tidak rewel ketika selesai menyusu, dan setiap bulan ada kenaikan BB bayi yang wajar.<br />
13. Dewasa ini, susu formula hampir sama kandungannya dengan ASI.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Pernyataan bahwa susu formula sama kandungannya dengan ASI juga sudah pernah dipropagandakan produsen susu formula pada tahun 1900-an, bahkan jauh sebelumnya. Susu formula masa kini cenderung disama-samakan kandungannya dengan ASI, walau sebenarnya tidak. Setiap kandungan yang tidak terdapat dalam susu formula (tetapi terdapat dalam ASI) diputarbalikkan oleh produsen susu formula dan dianggap sebagai suatu nilai lebih. Intinya adalah, susu formula sama sekali berbeda dengan ASI, susu formula berusaha menyamakan diri dengan ASI walau dibuat berdasarkan pengetahuan yang sempit dan tidak menyeluruh tentang apa kandungan ASI sebenarnya. Susu formula tidak mengandung zat antibodi atau kekebalan tubuh, sel-sel hidup, enzim-enzim, dan tidak mengandung hormon. Dibandingkan ASI, susu formula mengandung lebih banyak zat aluminium, mangan, cadmium (sejenis logam berat), lead (sejenis timah hitam) dan zat besi. Susu formula juga mengandung jauh lebih banyak protein dibandingkan ASI. Kandungan protein dan lemak yang terdapat dalam susu formula juga berbeda dengan yang terdapat dalam ASI. Kandungan susu formula tidak berubah dari periode awal menyusui hingga akhir, dari hari pertama ke hari ketujuh ke hari ketigapuluh, dari satu ibu ke ibu lainnya, dari satu bayi ke bayi lainnya. ASI dibuat khusus hanya untuk bayi ANDA. Susu formula dibuat dan disamaratakan untuk semua bayi. Susu formula hanya mampu membuat bayi menjadi gendut, tetapi bayi tidak mendapatkan kandungan nutrisi dan zat gizi lainnya yang dibutuhkan, yang semuanya terdapat dalam ASI.<br />
14. Apabila seorang ibu menderita penyakit infeksi, maka dia harus berhenti menyusui.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Menyusui justru malah akan membuat bayi lebih tahan terhadap infeksi, dengan sedikit sekali pengecualian. Pada saat sang ibu mengalami demam (atau batuk, muntah, diare, ruam, dsb), sang ibu sudah menularkan infeksi tersebut ke bayinya jauh sebelum ibu tahu bahwa ibu sedang menderita sakit. Perlindungan terbaik bagi bayi yang mengalami infeksi adalah ASI. Apabila bayi menjadi ikutan sakit, maka bayi akan lebih cepat pulih bila bayi tetap mendapatkan ASI. Selain itu, mungkin saja sebenarnya sang bayi lah yang menderita infeksi dan menularkannya kepada ibunya, tetapi bayi tidak menunjukkan tanda-tanda sakit karena bayi terus minum ASI. Juga, infeksi payudara, termasuk di dalamnya rasa sakit dan pembengkakan pada payudara, bukan merupkan alasan untuk ibu berhenti menyusui. Bahkan, infeksi payudara akan cepat pulih apabila sang ibu terus menyusui, terutama menyusui dengan payudara yang sedang sakit.<br />
15. Apabila bayi menderita diare atau muntah-muntah, maka ibu harus berhenti menyusui.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Obat yang paling mujarab untuk infeksi saluran pencernaan bayi adalah ASI. Hentikan segala macam jenis asupan lainnya untuk sementara waktu, tetapi lanjutkan pemberian ASI-nya. ASI satu-satunya cairan yang dibutuhkan oleh bayi ketika dia sedang diare dan/atau muntah-muntah, kecuali dalam kasus tertentu yang sifatnya luar biasa. Bayi merasa lebih nyaman ketika sedang menyusu, ibu merasa lebih tenang ketika sedang menyusui.<br />
16. Apabila seorang ibu sedang mengkonsumsi obat-obatan, maka dia harus berhenti menyusui.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Hanya sedikit sekali jenis obat-obatan yang tidak aman untuk dikonsumsi selagi ibu sedang menyusui. Apabil ibu sedang minum obat, maka ASI akan mengandung sedikit sekali obat-obatan yang sedang diminum ibu tersebut. Walau begitu, apabila Anda cenderung takut untuk minum obat selama menyusui, ada baiknya Anda mencari obat alternatif yang lebih alami.<br />
17. Seorang ibu yang sedang menyusui harus sangat memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsinya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Seorang ibu yang menyusui memang sebaiknya mengkonsumsi jenis makanan yang mengadung gizi seimbang, tetapi tidak perlu mengkonsumsi jenis makanan tertentu atau bahkan menghindari beberapa jenis makanan. Seorang ibu yang menyusui tidak perlu minum susu untuk dapat menghasilkan susu. Seorang ibu yang menyusui sebaiknya mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Namun, apabila terdapat riwayat alergi di keluarga, misalnya alergi seafood dan alergi susu sapi, maka ibu menyusui perlu lebih hati-hati dalam mengkonsumsi jenis-jenis makanan tersebut.<br />
18. Seorang ibu yang sedang menyusui harus banyak makan untuk dapat memproduksi ASI yang cukup.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Seorang ibu mampu memproduksi ASI secara cukup, kecuali apabila seorang ibu masuk ke kategori sangat kurang gizi untuk periode yang cukup lama. Umumnya, bayi akan mendapatkan ASI sesuai dengan kebutuhannya. Banyak ibu yang khawatir apabila ia tidak banyak makan maka akan mempengaruhi produksi ASInya. Sebetulnya tidak perlu kuatir. Banyak / tidaknya makanan yang dikonsumsi ibu tidak berpengaruh terhadap kualitas maupun kuantitas ASI. Ada ibu yang makan lebih banyak selama menyusui, ada yang makan lebih sedikit, dua-duanya sah-sah saja dan tidak mempengaruhi ASI. Seorang ibu boleh saja makan makanan dengan gizi seimbang sesuai dengan seleranya.<br />
19. Seorang ibu yang sedang menyusui harus minum banyak cairan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Seorang ibu seharusnya minum sesuai dengan kebutuhan dan rasa hausnya. Ada beberapa ibu-ibu menyusui yang selalu merasa haus ketika sedang menyusui, namun ada juga yang tidak. Jangan terpaku pada ketentuan bahwa harus minum sekian gelas air per hari.<br />
20. Seorang ibu perokok sebaiknya memang tidak menyusui.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"> TIDAK BENAR! Seorang ibu yang tidak bisa berhenti merokok seharusnya tetap menyusui bayinya. Penelitian telah membuktikan bahwa ASI menurunkan resiko efek sampingan yang secara negatif ditimbulkan oleh asap rokok, seperti penyakit paru-paru pada bayi. Memang akan jauh lebih baik apabila ibu tidak merokok, namun jika ibu tidak bisa berhenti merokok, maka lebih baik ibu merokok dan menyusui daripada ibu merokok tapi memberikan susu formula kepada bayi. </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibu dan Kekasihku]]></title>
<link>http://bonekaretak.wordpress.com/2009/11/26/ibu-dan-kekasihku/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 11:04:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>boneka retak</dc:creator>
<guid>http://bonekaretak.wordpress.com/2009/11/26/ibu-dan-kekasihku/</guid>
<description><![CDATA[Ibuku begitu menyayangiku, sehingga terkesan protek dalam menjagaku. Kekasihkupun sangat menyayangik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ibuku begitu menyayangiku, sehingga terkesan protek dalam menjagaku. Kekasihkupun sangat menyayangik]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Wanita di Persimpangan Jalan: Kepala Rumah Tangga Perempuan atau Ibu Rumah Tangga]]></title>
<link>http://intansafitria.wordpress.com/2009/11/26/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 04:12:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>intansafitria</dc:creator>
<guid>http://intansafitria.wordpress.com/2009/11/26/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/</guid>
<description><![CDATA[Pengantar Pada tahun 1928 saat kongres pemuda para wanita juga ikut sehingga sumpah pemuda diucapkan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Pengantar</strong></p>
<p>Pada tahun 1928 saat kongres pemuda para wanita juga ikut sehingga sumpah pemuda diucapkan oleh pemuda dan pemudi.<strong> </strong>Semangat perjuangan ini terus berkobar di kalangan organisasi perempuan, sehingga mereka mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn1">[1]</a>.<a href="http://intansafitria.wordpress.com/files/2009/11/feminis2.jpeg"><img class="size-full wp-image-173 alignright" title="feminis2" src="http://intansafitria.wordpress.com/files/2009/11/feminis2.jpeg" alt="" width="155" height="130" /></a></p>
<p><a href="http://intansafitria.wordpress.com/files/2009/11/feminis.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-172" title="feminis" src="http://intansafitria.wordpress.com/files/2009/11/feminis.jpeg" alt="" width="141" height="128" /></a></p>
<p>Kongres Perempuan Indonesia (KPI) di Yokyakarta tersebut merupakan tonggak awal pergerakan modern kaum perempuan di Indonesia. Hasil dari Kongres Perempuan Indonesia I adalah dua hal yang sanpat penting dilakukan oleh perempuan Indonesia yaitu: meningkatkan harkat perempuan, dan ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Disamping itu kongres ini melahirkan organisasi perempuan yaitu Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI)<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn2">[2]</a> .</p>
<p><!--more--></p>
<p>Inilah puncak perjuangan wanita, dengan terselenggaranya kongres perempuan pertama tanggal 22 Desember 1928. Dan merupakan wujud peran serta perempuan dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan. Karenanya tanggal 22 desemser diperingati sebagai hari Ibu<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>Peringatan tersebut antara lain: dengan  memanjakan sang ratu rumah tangga, lomba, seminar, diskusi dan workshop. Pada hari istimewa itu  para ibu rumah tangga diberi’cuti’ tidak melakukan pekerjaan rutinnya yaitu urusan rumah tangga, bahkan ganti bapak-bapak yang mengerjakan dan melayaninya. Tidak jarang dalam diskusi, seminar dan workshop sebagai peringatan hari ibu, digulirkannya kembali ide-ide feminisme yang menuntut pekerjaan rumah tangga merupakan kewajiban bersama suami-isteri. <em>Sehingga muncul jabatan baru bagi wanita sebagai perempuan kepala keluarga dan bagi laki-laki sebagai bapak rumah tangga.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Feminisme: Peran Wanita  Sebagai Ibu Rumah Tangga bukan Kewajiban, tapi Bentukan Budaya.</strong></p>
<p><strong> </strong>Patriarkhi dipahami secara harfiyah yang berarti ”kekuasaan bapak”(<em>role of the father</em>) yaitu keluarga yang dipimpin dan dikuasai laki laki<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn4">[4]</a>. Dampak budaya patriarkhi pada pembagian peran adalah sebagai berikut suami berperan di sektor publik, produktif, maskulin dan kewajiban mencari nafkah utama. Sementara peran isteri di sektor domestik, reproduksi, feminin dan seandainya mencari nafkah, maka sebagai pencari nafkah tambahan<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn5">[5]</a>. <strong> </strong></p>
<p>Konstruksi sosial tentang gender menjadikan perempuan lebih memilih pekerjaan yang sifatnya melayani dan masih berkaitan dengan peran domestiknya di rumah tangga. Dengan demikian lapangan kerja juga mengalami segregasi atau pemilahan antara tugas laki-laki dan perempuan. Peran yang umum dipilih oleh perempuan pun menjadi guru, perawat, pekerja sosial, buruh sederhana, sekertaris dan lain sebagainya. Masyarakat juga lebih memandang laki-laki mampu menjadi insinyur, dokter, astronot dan lain-lain<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p>Perempuan dan laki-laki adalah hasil dari sebuah relasi sosial. Jika kita mengubah relasi sosial, maka kita mengubah kategori perempuan dan laki-laki.Selanjutnya akan mempengaruhi beban kerja. Pada masyarakat patrilineal dan androsentris, beban gender laki-laki lebih dominan daripada anak perempuan. Dan setiap masyarakat akan dipengaruhi faktor kondisi obyektif geografis, yang kemudian ikut menentukan sistem sosial budaya yang khas.</p>
<p>Adanya pemahaman bahwa peran gender diatas dapat dipertukarkan, baik bagi laki-laki maupun perempuan dan tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu yang bersifat kodrati yang hanya melekat pada jenis kelamin tertentu.</p>
<p>Dalam Jurnal HARKAT, disebutkan bahwa <strong><em>mayoritas yang menempatkan laki-laki sebagai pemimpin wanita dalam rumah tangga karena salah dalam menafsirkan surat an Nisa’ ayat 34. </em></strong></p>
<p dir="rtl">الرِّجالُ قَوّٰمونَ عَلَى النِّساءِ بِما فَضَّلَ اللَّهُ بَعضَهُم عَلىٰ بَعضٍ وَبِما أَنفَقوا مِن أَموٰلِهِم ۚ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِلغَيبِ بِما حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَالّٰتى تَخافونَ نُشوزَهُنَّ فَعِظوهُنَّ وَاهجُروهُنَّ فِى المَضاجِعِ وَاضرِبوهُنَّ ۖ فَإِن أَطَعنَكُم فَلا تَبغوا عَلَيهِنَّ سَبيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلِيًّا كَبيرًا <strong>﴿٣٤﴾</strong><strong> </strong></p>
<p>Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn7">[7]</a>[289] ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka)[290]<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn8">[8]</a>. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291]<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn9">[9]</a>, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn10">[10]</a>. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.</p>
<p>Selanjutnya penulis memaparkan pemahamannya tentang surat tersebut, merujuk pendapat Asghar Ali Engineer bahwa ayat tersebut bersifat deskriptif atau sosiologis.Bahwa turunnya ayat tentang <em>laki-laki menjadi pemimpin wanita dalam rumah tangga, pada masyarakat yang pada saat itu kaum laki-laki memiliki kelebihan dari wanita berupa harta dan menafkahkan hartanya kepada keluarganya</em>. Dan <strong><em>perintah itu sifatnya tidak wajib</em></strong> karena tidak berbentuk kata perintah atau ayatnya tidak berbunyi: ”<em>Kaum laki-laki wajib/harus menjadi pemimpin bagi wanita</em>”. Ayat yang tidak berbentuk perintah tidak bisa dianggap sebagai ayat yang normative/teologis dan preskriptif atau difahami sebagai perintah dan bisa dipakai sebagai pedoman<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn11">[11]</a>.</p>
<p>Karenanya menurut penulis artikel ini bahwa UU Perkawinan yang mengatur Peran suami dan isteri sudah tidah cocok dan penetapan peran suami sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah menciptakan <em>streotype</em><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn12">[12]</a>. Misalnya undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pasal 31 ayat 3 menyatakan bahwa ” Suami adalah Kepala Keluarga dan isteri adalah ibu rumah tangga . Dan pasal 34 ayat 1 menyatakan bahwa ”Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya”.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kepemimpinan Rumah Tangga Perspektif Islam</strong></p>
<p>Mengenai peraturan yang berkaitan dengan laki-laki dan perempuan, Alloh Dzat Pencipta manusia berikut kebutuhannya memberikan aturan yang adakalanya sama dan adakalanya berbeda. Terkait dengan kedudukan laki-laki dan perempuan sebagai manusia (insan), di dalam nash akan ditemukan adanya hak, kewajiban, peran dan fungsi yang sama antara laki-laki dan perempuan<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn13">[13]</a>.</p>
<p>Syari’at Islam memberikan kewajiban yang sama kepada laki-laki dan perempuan untuk menjalankan ibadah seperti shalat, shaum, haji dan zakat. Syari’at Islam telah memberikan hukum-hukum muamalat yang berhubungan dengan persoalan jual-beli, perburuhan, perwakilan, pertanggungjawaban berlaku sama untuk perempuan maupun laki-laki. Akan tetapi dilihat dari sisi kodratnya bahwa laki-laki adalah laki –laki dan perempuan adalah perempuan maka terdapat hukum yang berbeda seperti aurat perempuan, hukum tentang kehamilan, hukum tentang persusuan, wanita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dst, semuanya dibebankan pada perempuan bukan pada laki-laki. Sedangkan kepemimpinan yang mengandung kekuasaan pemerintahan, kepemimpinan keluarga, nafkah, jihad, batas aurat laki-laki dst, hukum-hukum ini dibebankan pada laki-laki tidak pada wanita.</p>
<p>Dalam rumah tangga, <strong>Allah memberikan <em>peran bagi suami adalah sebagai pemimpin rumah tangga</em></strong><em> </em>dan wajib memimpin, melindungi dan memberi nafkah kepada anggota keluarganya. Sedangkan <strong><em>peran istri sebagai ibu dan pengatur rumah tangga</em> </strong>yang bertanggug jawab mengatur rumah tangganya di bawah kepemimpinan suami<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn14">[14]</a>. Sebagaimana firman Allah surat an Nisa’ ayat 34 :</p>
<p dir="rtl"><strong>الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ </strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Dari ayat ini jelas bahwa Allah menetapkan peran suami sebagai <em>pemimpin rumah tangga</em> <strong>bukan karena</strong> <em>pertama,</em> <strong>وَبِمَا أَنْفَقُوا</strong> (dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka)<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn16">[16]</a>, sehingga saat isteri bekerja dan gajinya lebih besar, tidak menjadikan isteri sebagai pemimpin dalam rumah tangga. <em>Kedua,</em> penetapan <em>illat</em> suatu hukum tidak ditetapkan secara <em>aqli</em>, akan tetapi ditetapkan secara <em>syar’i.</em></p>
<p>Disamping itu terdapat nash lain yang tidak terdapat kata <strong>وَبِمَا أَنْفَقُو</strong>, tapi nash tersebut menunjukkan bahwa peran suami sebagai pemimpin rumah tangga dan isteri sebagai pengatur rumah tangga di bawah kepemimpinan suami. Sabda Rasulullah Saw:</p>
<p dir="rtl"><strong>وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهَا. (متفق عليه)</strong></p>
<p><em>“…</em>Dan wanita adalah penjaga tanggung jawab dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya<em>”.</em></p>
<p>Peran suami sebagai pemimpin keluarga juga ditunjukkan dengan banyaknya nash-nash yang mewajibkan keta’atan dan perizinan isteri kepada suami, karena keta’atan merupakan konsekwensi dari kepemimpinan<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn17">[17]</a>. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.</p>
<p dir="rtl"><strong>اتقي الله ولا تخا لفي زوجك </strong></p>
<p>Hendaklah engaku bertakwa kepada Allah dan tidak melanggar perintah suamimu.</p>
<p>Tentang perizinan Rasulullah pernah bersabda sebagai berikut:</p>
<p dir="rtl"><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn18"><strong>[18]</strong></a></strong><strong> </strong></p>
<p>Artinya: Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi Saw bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita berpuasa (puasa sunnah), sementara suaminya menyaksikannya, kecuali dengan izinya (HR. Bukhari)</p>
<p>Pergaulan suami-isteri perspektif Islam sangat harmonis, bagaikan dua sahabat (Shahabani) sebagaimana dikatakan Syekh Taqiyuddin an Nabhani dalam <em>Nidzam Ijtima’i fil Islam</em>, sehingga mampu mengantarkan keluarga <em>sakinah mawaddah warahmah</em>. Karena sekalipun kepemimpinan ada pada suami tidak menjadikan suami otoriter dan menzalimi isteri, karena relasi suami isteri bukan seperti komandan dengan prajurit atau terdakwa dengan polisi<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn19">[19]</a>.</p>
<p>Disamping itu pada saat beban isteri sangat banyak dan berat, sehingga isteri tidak kuat untuk mengerjakannya misalnya mengasuh balita 3-5 anak, masih harus mencuci, menyeterika, memasak dan lain lain. Maka bukan berarti dia harus tetap mengerjakan semua itu sampai sakit-sakitan, bahkan akhirnya sampai melalaikan kewajiban yang lain misalnya berdakwah. Akan tetapi pada saat itu, suami berkewajiban membantunya, untuk meringankan beban isteri. Bantuan itu baik dibantu dengan tangannya sendiri maupun dengan menggaji pembantu. Semuanya ini termasuk dalam cakupan pemberian nafkah secara ma’ruf. Sebagaimana firman Allah dal al Baqarah ayat 233:</p>
<p dir="rtl">
<p>Dan kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu <strong><em>dengan cara ma’ruf</em></strong>. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. <strong><em>Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya</em></strong> dan seorang ayah karena anaknya.</p>
<p>Inilah hukum yang adil, menyelesaikan masalah serta memulyakan wanita, agar lebih jelas simaklah mekanisme hukum keluarga sebagai berikut: di dalam Islam perempuan tidak diwajibkan bekerja untuk mencari nafkah, bahkan harus dinafkahi seumur hidup dengan mekanisme perwalian dan terakhir yang bertanggung jawab adalah negara untuk memenuhi kebutuhannya. Adapun hukum bekerja bagi perempuan adalah <em>mubah </em><em>(boleh)</em> baik di sektor yang membutuhkan intelektualitas dan profesionalisme kerja seperti rektor perguruan tinggi, kepala departemen kesehatan dan kepala rumah sakit sampai yang hanya membutuhkan tenaganya saja<a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn20">[20]</a>. Dan hasil kerjanya adalah milik perempuan itu sendiri, bukan milik keluarga, dan hanyalah <em>sunnah</em><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn21">[21]</a> untuk di shodaqohkan ke keluarga.</p>
<p>Akan tetapi Islam memberi tanggung jawab menjaga kehamilan, menyusui, mengasuh anak dan mengatur rumah tangga pada seorang ibu. Dari sini terlihat bagaimana indahnya hukum Islam tersebut, wanita diberi banyak pilihan: <em>Pilihan pertama</em>, memilih bekerja atau tidak bekerja dan mencurahkan waktunya untuk membentuk putra-putrinya menjadi <em>generasi khoiru ummah</em> serta senantiasa memperbaiki kerusakan –kerusakan yang ada di masyarakat, beramar ma’ruf nahi munkar. <em>Pilihan kedua</em>, bekerja yang tidak menghabiskan waktunya di tempat kerja, dengan syarat wajib menyelesaikan tugas utamanya sebagai <em>Ibu dan Pengatur rumah tangga .</em></p>
<p>Bisa kita bayangkan betapa dzalimnya peraturan yang mewajibkan wanita bekerja <em>(menanggung nafkah).</em> Karena pada faktanya perempuan yang hamil tidak bisa kehamilan tersebut dititipkan suaminya (<em>ditanggung berdua),</em> dan tidak semua perempuan hamil normal tidak ada masalah, akan tetapi terdapat pada mayoritas perempuan pada saat mengandung kondisi tubuhnya lebih lemah dan banyak masalah dari yang ringan seperti pusing-pusing dan muntah-muntah sampai harus <em>bed rest total.</em></p>
<p>Disamping itu tidak ada satupun manajemen perusahaan atau institusi yang mampu mencapai kesuksesan, pada saat pengelolaan SDM (Sumber Daya Manusia) tidak beres dalam menetapkan job description masing-masing SDM. Misalnya dua orang karyawan sama-sama menjadi manajer operasional. Hal ini tentu akan berdampak pada kinerja yang buruk.</p>
<p>Begitu pula saat peran ( hak dan kewajiban ) dalam keluarga tidak jelas misalnya wanita dan pria masing-masing punya hak untuk menikahkan dirinya sendiri, sama-sama punya kewajiban mencari nafkah, sama-sama punya hak menceraikan dan sama-sama wajib beriddah. Semuanya itu tidak sesuai dengan fithroh manusia. Jika sudah demikian tidak akan menentramkan hati dan memuaskan akal, maka pada gilirannya akan terjadilah hancurnya sebuah keluarga.</p>
<hr size="1" /><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref1">[1]</a> Modul Pelatihan Kesetaraan dan keadilan gender bagi organisasi masyarakat keagamaan, Jakarta, Kemntrian Negara Pemberdayaan Perempuan, 2006, hlm 13</p>
<p>&#160;</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref2">[2]</a> Tim Penyusun KPP,Bunga Rampai-panduan dan bahan pembelajaran pelatihan pengarus utamaan gender dalam pembangunan nasional,KPP,2003,hlm 17-18</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref3">[3]</a> Tim Penyusun KPP,Bunga Rampai-panduan dan bahan pembelajaran pelatihan pengarus utamaan gender dalam pembangunan nasional,KPP,2003,hlm 17</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref4">[4]</a> Ibid, hlm. 58</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref5">[5]</a> Ibid, 58-67</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref6">[6]</a> Ibid, 67</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref7">[7]</a> [289] Maksudnya: tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref8">[8]</a> [290] Maksudnya: Allah Telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref9">[9]</a>[291] <em>Nusyuz</em>: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref10">[10]</a>[292] Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama Telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref11">[11]</a> Nina Nurmila, “ Ketika Perempuan Mencari Nafkah” ,  <em>Jurnal HARKAT- Media Komunikasi Gender</em>, Jakarta, PSW UIN Syarif Hidayatullah ,Vol 2. No.2 April 2002, hlm.50-51</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref12">[12]</a> Ibid, 52-53</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref13">[13]</a> Abdurrahman Al Baghdadi, <em>Emansipasi Adakah Dalam Islam</em>, Jakarta, Gema Insani Press,1997</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref14">[14]</a> Taqiyuddin An Nabhani<em>, Nidzam Ijtima’i</em>, Beirut, Libanon, Darul Ummah, 2003, hlm.141-146</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref15">[15]</a> TQS an-Nisa : 34)</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref16">[16]</a> lihat surat annisa’ ayat 34</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref17">[17]</a> Taqiyuddin An Nabhani<em>, Nidzam Ijtima’i</em>, Beirut, Libanon, Darul Ummah, 2003, hlm.143</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref18">[18]</a> Hadis shaheh, diriwayatkan oleh Bukhari, hadis no. 4797</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref19">[19]</a> Ibid, hlm. 141-146</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref20">[20]</a> Abdurrahman Al Baghdadi, <em>Emansipasi Adakah Dalam Islam</em>, Jakarta, Gema Insani Press,1997</p>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref21">[21]</a> <em>Sunnah</em> adalah suatu amal jika dilakukan berpahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa.</p>
<p><strong>Oleh. Dra. Rahma Qomariyah, M.Pd.I<br />
</strong><strong>(Anggota DPP Muslimah HTI dan Ketua Lajnah Tsaqofiyah Muslimah HTI Pusat)</strong></p>
<p><strong>www.hizbut-tahrir.or.id<br />
</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[* 1 rindu...]]></title>
<link>http://gusmaya.wordpress.com/2009/11/26/1-rindu/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 18:00:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Em</dc:creator>
<guid>http://gusmaya.wordpress.com/2009/11/26/1-rindu/</guid>
<description><![CDATA[hujan&#8230; kau ingat kan aku tentang 1 rindu&#8230; di masa yang lalu saat mimpi masih indah bersa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[hujan&#8230; kau ingat kan aku tentang 1 rindu&#8230; di masa yang lalu saat mimpi masih indah bersa]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Terima kasih Ibu Ayah]]></title>
<link>http://nra402.wordpress.com/2009/11/26/terima-kasih-ibu-ayah/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 17:27:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>nRa</dc:creator>
<guid>http://nra402.wordpress.com/2009/11/26/terima-kasih-ibu-ayah/</guid>
<description><![CDATA[Terima kasih ibu... terima kasih duhai ayah Terima kasih ibu... terima kasih duhai ayah Lahir ku ked]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><pre>Terima kasih ibu... terima kasih duhai ayah
Terima kasih ibu... terima kasih duhai ayah
Lahir ku kedunia
Kudisambut penuh syukur
Bisikan azan ketelinga
Iqomah kalimat nan luhur
Lahir ku kedunia
Kudiasuh mengenal Allah
Ku diajar sebut namaNya
Juga nabi rasul mulia

Salam sayang ayah dan ibu
Mendidikku tak pernah jemu
Halalkanlah makan minumku
Maafkanlah salah silapku
Tanpa maaf dan juga restu
Hidupku jadi tak menentu
Tiada yang lebih bernilai
Dari pada pengorbanan yang suci itu
Tak berdaya aku membalasnya
Semoga aku jadi anak yang bertakwa

Terima kasih ibu... terima kasih duhai ayah
Terima kasih ibu... terima kasih duhai ayah
Jasamu oh ayah dan ibu
Akan kukenang selamanya
Hidup saling berkasih sayang
Membina keluarga bahagia

Pada Mu Allah aku berdoa
Pada Mu jua aku meminta
Rahmati ibu ... ayah tercinta
Ampunilah dosa-dosa mereka
Panjang umur, murahkan rezeki
Sejahtera dalam ketaatan
Semoga berbahagia didunia
Diakhirat memperoleh surga

Daku mengharap ridho ibu
Juga ridho darimu ayah
Hanya itulah yang kupinta
Agar hidupku lebih bermakna

Terima kasih ibu... terima kasih duhai ayah
Terima kasih ibu... terima kasih duhai ayah
</pre>
<p>by : Hijjaz</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MA...AKU DIMANDIIN YA...]]></title>
<link>http://webee88.wordpress.com/2009/11/26/ma-aku-dimandiin-ya/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 17:20:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>webee88</dc:creator>
<guid>http://webee88.wordpress.com/2009/11/26/ma-aku-dimandiin-ya/</guid>
<description><![CDATA[Ide cerita ini dikirim oleh Ini Ntik Ndudh dan copas dari pak didik gunawan Saya Tini, seorang ibu r]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ide cerita ini dikirim oleh Ini Ntik Ndudh dan copas dari pak didik gunawan</p>
<p>Saya Tini, seorang ibu rumah tangga, menurutku kehidupan keluarga kami baik2 saja. Meskipun kami sering bertengkar, tapi setelah suamiku mulai mapan dalam pekerjaannya dan saya juga mulai bekerja sekedarnya di suatu perusahaan kecil, keluarga kami tampak lebih baik dan kehidupan ekonomi keluarga lumayan berkecukupan. Sekarang kami tidak lagi pernah bertengkar, kalau saling marah, maka suamiku akan menghindar dan pergi kekantornya bekerja tanpa henti di kantor, baru pulang ke rumah setelah suasana hati kembali normal, kemudian mandi, dan kami kembali berdamai seperti biasa. Apalagi setelah lahir buah hati kami, seorang bayi laki2 yang tampan dan gagah, maka kami menjadi semakin rukun. Ketika masih dalam masa “cuti melahirkan” aku sendiri sebenarnya bisa mengurus anakku dengan santai, Tapi setelah masa cuti saya habis, maka saya harus mulai lagi bekerja setiap harinya sampai jam 14., sementara suami selalu berangkat pagi2 sekali dan pulang selepas maghrib. Aku ga bisa meninggalkan bayiku sendirian di rumah, dan mulai saat itu kami mulai berfikir untuk mencari pembantu RT, kami mendapatkan seorang pembantu yang sangat baik namanya bibi Atun. Dia terlihat sangat sabar mengurus anak. Kehidupan keluarga kami berjalan dengan tanpa gangguan. Pagi anakku diasuh oleh pembantu, setelah aku pulang kerja, jam 2 saya langsung mengambil alih mengurusi anak pangeranku. Saya sangat mempercayakan pengurusan anakku kepada bi Atun, dia terlihat sayang terhadap anakku dan tampaknya bi Atun ini suka memberi pendidikan yang baik terhadap anakku. Komunikasi mereka berjalan dengan baik, anakku sangat familiar dengan bi Atun. Anakku bernama Roni. Setelah berjalan bbrp tahun kemudian, kami dikaruniai lagi seorang putri cantik, namanya Reni.<br />
Pada saat lahirnya Reni, aku pindah kerja ke sebuah perusahaan yang lebih besar dan menjadi sekretaris direksi. Sejak saat itu, maka jam kerjaku menjadi bertambah dan aku hanya bisa pulang sore hari sama dengan suamiku. Tapi aku merasa santai2 saja, karena urusan rumah sudah sepenuhnya ditangani oleh bi Atun. Setiap harinya aku bisa ketemu dengan Roni Reni malam hari, kadang2 juga ayahnya pulang agak awal ikut bergabung, dan kami merasa bahagia.<br />
Ketika Roni mulai masuk SD, aku merasakan adanya kejanggalan di perkembangan pertumbuhan Reni, umur 2 tahun dia memang pandai berceloteh, akan tetapi kemampuan motoriknya tidak berkembang, dia belum bisa miring, belum bisa tengkurap apalagi merangkak….dan tentu saja belum bisa berjalan, tidak sebagaimana anak2 lain seumur dia. Aku pernah memeriksakan ke dokter, katanya memang ada kelainan di sistem syaraf motoriknya. Dan untuk penyembuhannya diperlukan kepastian diagnosis, seperti misalnya berbagai cek kesehatan, dan juga meliputi banyak test yang membutuhkan waktu tidak sebentar. Aku menjadi masghul dan merasa tidak nyaman atas kebutuhan waktu untuk test yang lama itu. Aku berfikir bagaimana aku harus meninggalkan pekerjaan, maka setelah menimbang-nimbang, si anak ini saya bawa pulang, niatku akan ku-pikir2 dulu tentang saran dokter tadi dan akan saya bicarakan dengan suami saya, sementara dalam perjalanan pulang itu si Reni terus saja berceloteh tanya ini itu dan terlihat sangat menikmati perjalanan ke dokter itu. Di dalam gendonganku Reni sempat berceloteh : “Ma… aku pengin dimandikan mama..” Aku anggap celoteh ini wajar keluar dari seorang balita dan anak bungsu, dia pastinya manja dan kolokan ingin diperhatikan ibunya. Spontan saja aku berjanji akan memandikannya besok hari minggu pas libur. Sesampainya di rumah aku ingin urusan ini dibicarakan bersama suamiku nanti malam. Saat malam tiba, kita berunding tentang masalah itu dan suami menyarankan aku mengambil cuti dari kantor dan aku sepakat. Keesokan harinya aku mengajukan permohonan cuti kepada bosku….tapi ternyata untuk kali ini aku tidak diijinkan cuti, karena kerjaan kantor sedang naik daun, dan peranku sebagai sekretaris di kantor itu belum tergantikan oleh tenaga lain. Lagi2 aku tercenung dengan keadaan ini, segera aku telp ke suamiku dan memberitahukan penolakan bos ku itu, suamiku menyarankan supaya aku konsultasi ke dokter, minta penangguhan waktu pemeriksaan. Dokter ternyata bilang bahwa pemeriksaan itu tidak terlalu mendesak, bisa dilakukan kapan saja. Aku menjadi merasa lega dan urusan mengenai kondisi putriku ini bisa di pending untuk sementara. Hari minggu aku memenuhi janjiku memandikan Reni, aku lihat dia sangat merasa senang dan menikmatinya, matanya kulihat ber-binar2 penuh kebahagiaan dan ceria. Dia minta aku bisa memandikan dia terus setiap harinya, hal yang tidak mungkin bisa aku lakukan, karena jadwal kantor yang sangat ketat. Aku hanya bisa memandikan pada hari2 libur….ternyata menurut bi Atun, Reni ini mulai menjadi rewel dan setiap hari selalu merengek minta dimandikan ibunya, dan sering menangis karena aku selalu saja tidak bisa memenuhi permintaannya. Aku menerima hal ini sebagai bagian yang wajar2 saja mengingat anakku bungsu ini manja dan suka minta perhatian dari orang2 di sekelilingnya. Aku suruh supaya bi Atun lebih meningkatkan kesabaran dalam menangani Reni.<br />
Dengan berjalannya waktu, kantorku semakin lama semakin berkembang maju sehingga menyeret aku pada kondisiku yang semakin sulit memikirkan RT-ku. Kadang2 di hari minggu pun aku harus bersiap diri dan melayani rekanan kantor seharian, sehingga kesempatan untuk bercengkarama dengan keluarga benar-benar semakin berkurang. Di rumahku sekarang, yang paling berperan mengurus RT ada pada bi Atun. Aku dan suamiku pada sibuk gila kerja, pulang ke rumah paling-paling hanya digunakan untuk tidur, tidak lagi terpikir bagaimana kondisi si anak2 dan tidak ada lagi komunikasi dengan mereka, kecuali sebentar ngomong dengan bi Atun memonitor situasi rumah seadanya dan mengarahkan ini itu. Setiap harinya sebelum matahari terbit, kami berdua telah ber-lumba2 bersiap diri berangkat ke kantor. Sementara bi Atun sendiri sudah jarang mengeluhkan kondisi Reni (mungkin karena maklum melihat kesibukan kami berdua), padahal ternyata sebenarnya Reni itu masih saja suka rewel dan menangis berkepanjangan minta perhatian. Pada suatu hari minggu, aku punya kesempatan libur dan ingin menebus janji2-ku sebelumnya untuk memperhatikan anak2-ku, akan tetapi Reni sepertinya ngambeg, tak mau lagi kupegang, dan dia terus2an menangis sehingga aku merasa jengkel dan tak nyaman. Setiap saat dia selalu berceloteh minta dimandikan mama, tapi asal kupegang hendak kumandikan, dia meronta2 dan menolak sambil menangis menjerit2. Sebetulnya situasi itu telah memunculkan sinyal ketidak-wajaran pada diri Reni, mengapa dia bersikap demikian, akan tetapi aku tidak menyadarinya. Aku masih bersikukuh bahwa sikapnya itu akibat karena dia sedang ngambeg, dasar anak manja.<br />
Suatu hari aku mendapat tugas kantor untuk pergi ke luar kota beberapa hari mendampingi Bos, tentang urusan RT ini, aku sudah atur semuanya kepada bi Atun dan aku pikir setiap saat nanti aku bisa telp ke rumah memonitor kondisi rumah.<br />
Hari ke 3 aku di luar kota, aku ditelpon bi Atun mengabarkan kalo Reni Demam, aku sarankan supaya diperiksakan ke dokter. Keesokan harinya aku dapat telpon lagi dari bi Atun, bahwa kondisi Reni semakin memburuk dan dia mondok di RS, aku diminta segera pulang. Kebetulan acaraku tinggal besok pagi dan aku besoknya bisa pulang. Aku telpon suamiku dan dia bilang dengan ringan, bahwa memang Reni mondok di RS, suamiku yang mengantar, aku diminta segera pulang. Aku janji besok aku pulang.<br />
Sesampai di rumah aku ngrasa situasi rumah terlihat tidak seperti biasanya, sangat lengang…sepi… dan tidak ada siapa2. Maka aku bergegas menuju ke RS tempat Reni dirawat.<br />
Disitu aku melihat Reni terbaring lemah ditunggui oleh bi Atun dan Roni, aku sangat terhenyak melihat keadannya yang ternyata sakitnya sedemikian parah. Tubuh Reni ditempeli berbagai peralatan medis pada di tubuhnya, badannya panas, di hidungnya tertancap selang oksigen dan selang untuk alat makan (Sonde), sementara di lengannya tertancap infus. Aku lihat dadanya ditempeli banyak kenop yang dihubungkan ke sebuah monitor yang memunculkan berbagai macam grafik berjalan dengan suara berirama. Aku juga melihat kateter muncul dari balik bajunya berisi cairan kekuningan. Kedua kaki dan tangannya terlihat kecil2, layu dan tak berdaya, mukanya pucat pasi dan tubuhnya panas. Kalau saja itu bukan sosok anakku, maka aku akan terkesan melihat sosok mainan boneka. Seketika itu juga aku segera tergopoh-gopoh mencari dokter untuk minta keterangan. Dokter menjelaskan bahwa kondisi Reni sebenarnya sangatlah jelek, boleh dikatakan dalam kondisi kritis. Kata dokter Reni menderita kelainan syaraf di otak yang mengakibatkan seluruh daya motoriknya tidak bekerja, bukan hanya anggota tubuh saja tapi juga reflek2 seperti kemampuan kencing, mengejan, BAB dan sejenisnya terganggu. Pikiran dan mentalnya juga terganggu dan menurut dokter ini Sebetulnya sudah terjadi agak lama dan tidak tertangani dengan semestinya. Hatiku langsung menangis mendengar kabar ini…ya Allah, sedemikian menderita anakku ini…. Aku langsung merasa bersalah telah menelantarkan anakku yang bungsu ini.<br />
Dokter bilang bahwa kemungkinannya untuk sembuh sangatlah tipis, kecuali ada mukjizat dari Allah. Dalam kegamangan pikiranku ini aku langsung menelpon suamiku, dan mengabarkan kondisi Reni sambil menangis, suamiku juga kaget setengah tidak percaya, karena hari pertama ketika dia mengantarkan ke RS, kondisi Reni terlihat baik2 saja, maka suamiku bilang akan segera meluncur ke RS.<br />
Sambil menunggu kedatangan suami, aku berdoa dengan se-khusyuk2nya, agar putriku ini diberi kesembuhan. Sekaligus minta ampun atas keteledoranku menelantarkan amanah yang telah diberikan Tuhan. Aku merasa bersalah dan merasa sangat menyesal, sambil meratap-ratap aku berdoa sampai keluar keringat dingin.<br />
Akhirnya suami datang dan kami berdua berunding panjang lebar untuk mengambil langkah yang bisa kami lakukan untuk menyelamatkan anakku Reni. Aku sendiri juga akhirnya telah mengambil keputusan untuk mengambil cuti dari kantor, demi untuk menjaga Reni. Tapi lagi2 si Bos kantor menolak dan tidak mengijinkannya sehingga mengakibatkan aku emosi dan kalap, sambil marah2 aku mengancam akan mengundurkan diri dari kantor. Karena si Bos tetap pada pendiriannya, maka aku segera membuat surat pengunduran diri…dan akhirnya sekarang aku sudah menjadi manusia bebas untuk sepenuhnya mengurusi Reni di RS.<br />
Di RS aku cerita ke Bi Atun tentang keputusan pengunduran diriku dari kantor, serta merta Bi Atun memelukku dengan perasaan yang tak bisa kuduga, ternyata dia merasa sangat lega mendengar keputusanku, mengingat dia tuh sebenarnya merasa sangat memelas melihat keadaan Reni yang terus2-an berceloteh minta dimandikan oleh mamanya. Aku ikut menangis jadinya, membayangkan betapa berhari-hari, berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun, anak ini sebenarnya sangat mendambakan uluran perhatian dan kasih sayang dari ibu (atau orang tuanya). Kulirik Reni yang terbaring, dari raut mukanya sudah tidak ada lagi bekas keceriaan dimukanya seperti ketika pertama kali tak mandikan dulu. Kulihat wajahnya terkesan seperti kecewa sangat (mungkin ini hanya perasaanku saja)…duuuhh anakku, ibumu telah mendzolimi kamu, ampunkan ibu ya nak….. tapi dia hanya diam saja seperti orang tidur. Beberapa hari terakhir ini acara dokter terhadap anakku sangatlah padat, mulai dari pengambilan darah, skanner otak, rongent, USG sampai echocardiography. Semua dilakukan dengan serba cepat. Anakku digledheg mondar mandir dari satu kamar ke kamar lain.<br />
Pada hari besok paginya, kulihat anakku matanya seperti bergerak berkedip, aku langsung membisikinya :”ini ibu sayang….kamu minta apa naak?”…. aku lihat bibirnya seperti bergerak bilang dengan suara sangat lemah hampir tak terdengar : “ma aku pengin dimandiin…”…. Duuhhh…. Ya Allah ya Robbi….Aku serasa tersungkur mendengar permintaannya, hanya satu permintaan ini yang menjadi angan-angannya, dan itu telah menjadi dambaannya. Aku segera saja menjawab akan memandikannya nanti, dibibirnya seperti membentuk sedikit senyum dan aku mendengar monitor di sebelah tempat tidur anakku berbunyi lebih cepat : thit thit thit thit…..<br />
Disaat itu aku tidak juga nyadar kalo sebenarnya anakku ini mengalami “lelaku” proses menuju kematian…..aku lihat bi Atun membisikkan kata2 Allah…Allah…. Berkali2 ke telinga anakku. Beberapa saat kemudian bunyi thit…. itu tiba-tiba berhenti dan bi Atun mengucapkan “Innalillahi wa inailaihi rojiuun….” sambil memeluk Reni dan menangis…. baru aku nyadar bahwa anakku telah meninggal. Serentak aku menjerit dan protes…hu…hu…hu…. ya Allah mengapa Tuhan benar2 memanggilmu …. mengapa aku tidak diberi kesempatan untuk menebus kesalahanku kepadanya.<br />
Sambil menangis keras aku bermunajad : “Ya Allah, aku telah mempertaruhkan dan melepas semua karierku demi untuk menjaga anakku, mengapa Kamu tetap memanggil anakku…hu…hu…hu…. pikiranku sangat kalut dan tidak bisa menerima keadaan ini.<br />
Di rumah seharian dan semalaman aku menangis terus tanpa henti, menyesal dan sungguh benar2 menyesal, sampai akhirnya jenazah akan dimandikan. Aku secara khusus minta agar akulah yang menuang air pertama kali dalam ritual memandikan itu. Maka dengan menguatkan hati, kuambil air segayung dengan sepenuh perasaan yang amat sangat pilu, sambil gemetaran kutuang air itu ke jasad anakku dan semua menjadi gelap, ternyata (ceritanya) belum kesampaian aku menuang air, aku sudah keburu pingsan tidak kuat menahan perasaan.<br />
Jadilah itu niatku memandikan anakku untuk yang terakhir kalinya, tapi tetap saja tidak kesampaian … ya Allah, ampunilah hambaMu.<br />
Sebuah penyesalan yang tiada tara……</p>
<p>sumber: <a title="sumber" href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=189991279617" target="_blank">http://www.facebook.com/note.php?note_id=189991279617</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KARYAWAN ASURANSI ASAL SWISS DIPECAT KARENA SAKIT TETAPI LOGIN DI FACEBOOK]]></title>
<link>http://trustcojateng.wordpress.com/2009/11/25/karyawan-asuransi-asal-swiss-dipecat-karena-sakit-tetapi-login-di-facebook/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 03:16:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>trustcojateng</dc:creator>
<guid>http://trustcojateng.wordpress.com/2009/11/25/karyawan-asuransi-asal-swiss-dipecat-karena-sakit-tetapi-login-di-facebook/</guid>
<description><![CDATA[Izin tidak bekerja karena mengaku sakit, dipergoki atasannya sedang aktif di Facebook. Seorang perem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>
<p>Izin tidak bekerja karena mengaku sakit, dipergoki atasannya sedang aktif di Facebook.</p>
<p>Seorang perempuan pekerja perusahaan asuransi asal Swiss kehilangan pekerjaannya setelah ketahuan membuka akunnya di situs jejaring sosial Facebook. Sebelumnya perempuan itu meminta izin tidak bekerja karena sakit.<!--more--></p>
<p>Kepada atasannya di Nationale Suisse, perempuan itu mengaku tidak bisa bekerja di depan komputer seperti biasanya karena ia harus berbaring di tempat gelap. Namun atasannya memergoki perempuan itu aktif di akun Facebook-nya.</p>
<p>Pihak Nationale Suisse menyatakan apa yang dilakukan pegawainya itu menghancurkan kepercayaan perusahaan. “Ini adalah pelanggaran kepercayaan, bukan sekedar aktivitas di Facebook, dan berujung pada pemutusan hubungan kerja,” ujar perusahaan itu melalui pernyataan resmi seperti dikutip situs stasiun televisi MSNBC.</p>
<p>Perempuan yang identitasnya tidak disebutkan ini mengaku dia membuka akunnya dari tempat tidur dengan menggunakan iPhone. Dia menuduh atasannya telah memata-matai dia dan teman-temannya dengan mengirim ajakan berteman dengan nama lain untuk melihat aktivitas online pegawai.</p>
<p>National Suisse membantah tuduhan itu dan menyatakan aktivitas pegawai tersebut di Facebook telah diketahui sejak akhir tahun lalu sebelum situs itu diblok perusahaan.</p>
<p><strong>Sumber :</strong> VIVAnews</p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga]]></title>
<link>http://muhamadilyas.wordpress.com/2009/11/25/bangga-menjadi-ibu-rumah-tangga/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 01:13:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>ilyas</dc:creator>
<guid>http://muhamadilyas.wordpress.com/2009/11/25/bangga-menjadi-ibu-rumah-tangga/</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Ummu Ayyub Muroja&#8217;ah: Ust Abu Ahmad Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Penulis: Ummu Ayyub<br />
Muroja&#8217;ah: Ust Abu Ahmad</p>
<p>Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?</p>
<p>Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita `menunjukkan eksistensi diri&#8217; di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.</p>
<p>Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama &#8220;Sekarang kerja dimana?&#8221; rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk &#8220;Saya adalah ibu rumah tangga&#8221;. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu &#8220;sukses&#8221; berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan &#8220;nasehat&#8221; dari bapak tercintanya: &#8220;Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.&#8221; Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.</p>
<p>Ibu Sebagai Seorang Pendidik</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al `Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta&#8217;ala yang artinya:</p>
<p>&#8220;Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. &#8221; (QS. Al-Ahzab: 33)</p>
<p>Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.</p>
<p>Sebuah Tanggung Jawab</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman, yang artinya:</p>
<p>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan- Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. &#8221; (QS. At Tahrim: 6)</p>
<p>Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang artinya: &#8220;Peliharalah dirimu dan keluargamu!&#8221; di atas menggunakan Fi&#8217;il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.</p>
<p>Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu `anhu berkata, &#8220;Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.&#8221; (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)</p>
<p>Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.</p>
<p>Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta&#8217;ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman, &#8220;Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.&#8221; (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, &#8220;Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.&#8221; (QS. At Tahrim: 6)</p>
<p>Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.</p>
<p>Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta&#8217;ala yang artinya:</p>
<p>&#8220;dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.&#8221; (QS asy Syu&#8217;ara&#8217;: 214)</p>
<p>Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), &#8220;Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. &#8221; (HR. Bukhari 2/91)</p>
<p>Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.</p>
<p>Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih</p>
<p>Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, &#8220;Mau untuk apa nak, tabungannya? &#8221; Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab &#8220;Mau buat beli CD murotal, Mi!&#8221; padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab &#8220;Mau buat beli PS!&#8221; Atau ketika ditanya tentang cita-cita, &#8220;Adek pengen jadi ulama!&#8221; Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi &#8220;pengen jadi Superman!&#8221;</p>
<p>Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?</p>
<p>Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.</p>
<p>Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!</p>
<p>Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.</p>
<p>Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?</p>
<p>Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?</p>
<p>Lalu…</p>
<p>Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata `cuma&#8217;? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam</p>
<p>Maroji&#8217;:</p>
<p>1. Dapatkan Hak-Hakmu, Wahai Muslimah oleh Ummu Salamah as Salafiyyah. Judul asli: Al-Intishaar li Huquuqil Mu&#8217;minaat<br />
2. Mendidik Anak bersama Nabi oleh Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Judul Asli: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl<br />
3. Majalah Al Furqon Edisi: 8 Tahun V/Rabi&#8217;ul Awwal 1427/April 2006</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Baby Bracelet]]></title>
<link>http://ayni925.wordpress.com/2009/11/25/baby-bracelet/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 23:38:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>ayni-silver</dc:creator>
<guid>http://ayni925.wordpress.com/2009/11/25/baby-bracelet/</guid>
<description><![CDATA[Code : GT-2 (Rp 93.500,-)]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><a href="http://ayni925.wordpress.com/files/2009/11/gt2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-591" title="GT2" src="http://ayni925.wordpress.com/files/2009/11/gt2.jpg?w=300" alt="" width="300" height="230" /></a><strong>Code : GT-2 (Rp 93.500,-)</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
