<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>idul &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/idul/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "idul"</description>
	<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 19:51:43 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Hukum Seputar Qurban]]></title>
<link>http://hepyes.wordpress.com/2009/11/28/hukum-seputar-qurban/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 17:08:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>hepyes</dc:creator>
<guid>http://hepyes.wordpress.com/2009/11/28/hukum-seputar-qurban/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : M. Shiddiq Al Jawi Pengertian Qurban Kata kurban atau korban, berasal dari bahasa Arab qurban]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2></h2>
<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2009/11/periksa_hewanqurban.jpg"><img title="periksa_hewanqurban" src="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2009/11/periksa_hewanqurban.jpg" alt="undefined" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Oleh : M. Shiddiq Al Jawi</p>
<p><strong>Pengertian Qurban</strong></p>
<p><strong>K</strong>ata kurban atau korban, berasal dari bahasa Arab qurban, diambil dari kata : <em>qaruba </em>(fi’il madhi) &#8211; <em>yaqrabu</em> (fi’il mudhari’) &#8211; <em>qurban wa qurbânan</em> (mashdar).Artinya, mendekati atau menghampiri (Matdawam, 1984).</p>
<p>Menurut istilah, qurban adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah baik berupa hewan sembelihan maupun yang lainnya (Ibrahim Anis et.al, 1972). Dalam bahasa Arab, hewan kurban disebut juga dengan istilah <em>udh-hiyah</em> atau <em>adh-dhahiyah</em>, dengan bentuk jamaknya <em>al-adhâhi</em>. Kata ini diambil dari kata <em>dhuhâ</em>, yaitu waktu matahari mulai tegak yang disyariatkan untuk melakukan penyembelihan kurban, yakni kira-kira pukul 07.00 &#8211; 10.00 (Ash Shan’ani, Subulus Salam IV/89).</p>
<p>Udh-hiyah adalah hewan kurban (unta, sapi, dan kambing) yang disembelih pada hari raya Qurban dan hari-hari tasyriq sebagai taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah (Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah XIII/155; Al Jabari, 1994).</p>
<h3>Hukum Qurban</h3>
<p>Qurban hukumnya sunnah, tidak wajib. Imam Malik, Asy Syafi’i, Abu Yusuf, Ishak bin Rahawaih, Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm dan lainnya berkata,”Qurban itu hukumnya sunnah bagi orang yang mampu (kaya), bukan wajib, baik orang itu berada di kampung halamannya (muqim), dalam perjalanan (musafir), maupun dalam mengerjakan haji.” (Matdawam, 1984)</p>
<p>Sebagian mujtahidin -seperti Abu Hanifah, Al Laits, Al Auza’i, dan sebagian pengikut Imam Malik- mengatakan qurban hukumnya wajib. Tapi pendapat ini dhaif (lemah) (Matdawam, 1984).</p>
<p>Ukuran “mampu” berqurban, hakikatnya sama dengan ukuran kemampuan shadaqah, yaitu mempunyai kelebihan harta (uang) setelah terpenuhinya kebutuhan pokok (al hajat al asasiyah) -yaitu sandang, pangan, dan papan– dan kebutuhan penyempurna (al hajat al kamaliyah) yang lazim bagi seseorang. Jika seseorang masih membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka dia terbebas dari menjalankan sunnah qurban (Al Jabari, 1994) .</p>
<p>Dasar kesunnahan qurban antara lain, firman Allah SWT :</p>
<p dir="rtl">فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ</p>
<p><em>“Maka dirikan (kerjakan) shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.” (TQS Al Kautsar : 2).</em></p>
<p><em>“Aku diperintahkan (diwajibkan) untuk menyembelih qurban, sedang qurban itu bagi kamu adalah sunnah</em>.”(HR.At-Tirmidzi)</p>
<p><em>“Telah diwajibkan atasku (Nabi SAW) qurban dan ia tidak wajib atas kalian.” (HR. Ad Daruquthni) </em></p>
<p>Dua hadits di atas merupakan qarinah (indikasi/petunjuk) bahwa qurban adalah sunnah. Firman Allah SWT yang berbunyi “wanhar” (dan berqurbanlah kamu) dalam surat Al Kautas ayat 2 adalah tuntutan untuk melakukan qurban (thalabul fi’li). Sedang hadits At Tirmidzi, <em>“umirtu bi an nahri wa huwa sunnatun lakum”</em> (aku diperintahkan untuk menyembelih qurban, sedang qurban itu bagi kamu adalah sunnah), juga hadits Ad Daruquthni <em>“kutiba ‘alayya an nahru wa laysa biwaajibin ‘alaykum</em>” (telah diwajibkan atasku qurban dan ia tidak wajib atas kalian); merupakan qarinah bahwa thalabul fi’li yang ada tidak bersifat jazim (keharusan), tetapi bersifat ghairu jazim (bukan keharusan). Jadi, qurban itu sunnah, tidak wajib. Namun benar, qurban adalah wajib atas Nabi SAW, dan itu adalah salah satu khususiyat beliau (lihat Rifa’i et.al., Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar, hal. 422).</p>
<p>Orang yang mampu berqurban tapi tidak berqurban, hukumnya makruh. Sabda Nabi SAW:</p>
<p dir="rtl">مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah sekali-kali ia menghampiri tempat shalat kami.”</em> (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al Hakim, dari Abu Hurairah RA. Menurut Imam Al Hakim, hadits ini shahih. Lihat Subulus Salam IV/91)</p>
<p>Perkataan Nabi <strong>“fa laa yaqrabanna musholaanaa”</strong> (janganlah sekali-kali ia menghampiri tempat shalat kami) adalah suatu celaan (dzamm), yaitu tidak layaknya seseorang -yang tak berqurban padahal mampu– untuk mendekati tempat sholat Idul Adh-ha. Namun ini bukan celaan yang sangat/berat (dzamm syanii’) seperti halnya predikat fahisyah (keji), atau min ‘amalisy syaithan (termasuk perbuatan syetan), atau miitatan jaahiliyatan (mati jahiliyah) dan sebagainya. Lagi pula meninggalkan sholat Idul Adh-ha tidaklah berdosa, sebab hukumnya sunnah, tidak wajib. Maka, celaan tersebut mengandung hukum makruh, bukan haram (lihat ‘Atha` ibn Khalil, Taysir Al Wushul Ila Al Ushul, hal. 24; Al Jabari, 1994).</p>
<p>Namun hukum qurban dapat menjadi wajib, jika menjadi nadzar seseorang, sebab memenuhi nadzar adalah wajib sesuai hadits Nabi SAW :</p>
<p dir="rtl">مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلَا يَعْصِهِ</p>
<p><em>“Barangsiapa yang bernadzar untuk ketaatan kepada Allah, maka hendaklah ia melaksanakannya. Barangsiapa yang bernadzar untuk kemaksiatan kepada Allah, maka janganlah ia tidak melaksanakannya.” </em>(HR al-Bukhari, Abu Dawud, al-Tirmidzi<em>). </em></p>
<p>Qurban juga menjadi wajib, jika seseorang (ketika membeli kambing, misalnya) berkata,”Ini milik Allah,” atau “Ini binatang qurban.” (Sayyid Sabiq, 1987; Al Jabari, 1994).</p>
<h3>Keutamaan Qurban</h3>
<p>Berqurban merupakan amal yang paling dicintai Allah SWT pada saat Idul Adh-ha. Sabda Nabi SAW</p>
<p dir="rtl">مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ</p>
<p><em>“Tidak ada suatu amal anak Adam pada hari raya Qurban yang lebih dicintai Allah selain menyembelih qurban.” (HR. At Tirmidzi) (Abdurrahman, 1990)</em></p>
<p>Berdasarkan hadits itu Imam Ahmad bin Hambal, Abuz Zanad, dan Ibnu Taimiyah berpendapat,”Menyembelih hewan pada hari raya Qurban, aqiqah (setelah mendapat anak), dan hadyu (ketika haji), lebih utama daripada shadaqah yang nilainya sama.” (Al Jabari, 1994).</p>
<p>Tetesan darah hewan qurban akan memintakan ampun bagi setiap dosa orang yang berqurban. Sabda Nabi SAW :</p>
<p dir="rtl">يا فاطمة قومي فاشهدي اضحيتك فانه يغفر لك باول قطرة تقطر من من دمها كل ذنب عملته</p>
<p><em>“Hai Fathimah, bangunlah dan saksikanlah qurbanmu. Karena setiap tetes darahnya akan memohon ampunan dari setiap dosa yang telah kaulakukan…” (HR al-Baihaqi, lihat Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah XIII/165)</em></p>
<h3>Waktu dan Tempat Qurban</h3>
<h4>a.Waktu</h4>
<p>Qurban dilaksanakan setelah sholat Idul Adh-ha tanggal 10 Zulhijjah, hingga akhir hari Tasyriq (sebelum maghrib), yaitu tanggal 13 Zulhijjah. Qurban tidak sah bila disembelih sebelum sholat Idul Adh-ha. Sabda Nabi SAW:</p>
<p dir="rtl">مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ</p>
<p><em>“Barangsiapa menyembelih qurban sebelum sholat Idul Adh-ha (10 Zulhijjah) maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa menyembelih qurban sesudah sholat Idul Adh-ha dan dua khutbahnya, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya (berqurban) dan telah sesuai dengan sunnah (ketentuan) Islam.” (HR. Bukhari)</em></p>
<p>Sabda Nabi SAW :</p>
<p dir="rtl">كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ</p>
<p><em>“Semua hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah) adalah waktu untuk menyembelih qurban.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)</em></p>
<p>Menyembelih qurban sebaiknya pada siang hari, bukan malam hari pada tanggal-tanggal yang telah ditentukan itu. Menyembelih pada malam hari hukumnya sah, tetapi makruh. Demikianlah pendapat para imam seperti Imam Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad, Abu Tsaur, dan jumhur ulama (Matdawam, 1984).</p>
<p>Perlu dipahami, bahwa penentuan tanggal 10 Zulhijjah adalah berdasarkan ru`yat yang dilakukan oleh Amir (penguasa) Makkah, sesuai hadits Nabi SAW dari sahabat Husain bin Harits Al Jadali RA (HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud hadits no.1991). Jadi, penetapan 10 Zulhijjah tidak menurut hisab yang bersifat lokal (Indonesia saja misalnya), tetapi mengikuti ketentuan dari Makkah. Patokannya, adalah waktu para jamaah haji melakukan wukuf di Padang Arafah (9 Zulhijjah), maka keesokan harinya berarti 10 Zulhijjah bagi kaum muslimin di seluruh dunia.</p>
<h4>b.Tempat</h4>
<p>Diutamakan, tempat penyembelihan qurban adalah di dekat tempat sholat Idul Adh-ha dimana kita sholat (misalnya lapangan atau masjid), sebab Rasulullah SAW berbuat demikian (HR. Bukhari). Tetapi itu tidak wajib, karena Rasulullah juga mengizinkan penyembelihan di rumah sendiri (HR. Muslim). Sahabat Abdullah bin Umar RA menyembelih qurban di manhar, yaitu pejagalan atau rumah pemotongan hewan (Abdurrahman, 1990).</p>
<h3>Hewan Qurban</h3>
<h4>a.Jenis Hewan</h4>
<p>Hewan yang boleh dijadikan qurban adalah : unta, sapi, dan kambing (atau domba). Selain tiga hewan tersebut, misalnya ayam, itik, dan ikan, tidak boleh dijadikan qurban (Sayyid Sabiq, 1987; Al Jabari, 1994). Allah SWT berfirman:</p>
<p dir="rtl">لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ</p>
<p><em>“…supaya mereka menyebut nama Allah terhadap hewan ternak (bahimatul an’am) yang telah direzekikan Allah kepada mereka.” (TQS Al Hajj : 34)</em></p>
<p>Dalam bahasa Arab, kata bahimatul an’aam (binatang ternak) hanya mencakup unta, sapi, dan kambing, bukan yang lain (Al Jabari, 1994).</p>
<p>Prof. Mahmud Yunus dalam kitabnya Al Fiqh Al Wadhih III/3 membolehkan berkurban dengan kerbau (jamus), sebab disamakan dengan sapi.</p>
<h4>b.Jenis Kelamin</h4>
<p>Dalam berqurban boleh menyembelih hewan jantan atau betina, tidak ada perbedaan, sesuai hadits-hadits Nabi SAW yang bersifat umum mencakup kebolehan berqurban dengan jenis jantan dan betina, dan tidak melarang salah satu jenis kelamin (Sayyid Sabiq, 1987; Abdurrahman, 1990)</p>
<h4>c.Umur</h4>
<p>Sesuai hadits-hadits Nabi SAW, dianggap mencukupi, berqurban dengan kambing/domba berumur satu tahun masuk tahun kedua, sapi (atau kerbau) berumur dua tahun masuk tahun ketiga, dan unta berumur lima tahun (Sayyid Sabiq, 1987; Mahmud Yunus, 1936).</p>
<h4>d.Kondisi</h4>
<p>Hewan yang dikurbankan haruslah mulus, sehat, dan bagus. Tidak boleh ada cacat atau cedera pada tubuhnya. Sudah dimaklumi, qurban adalah taqarrub kepada Allah. Maka usahakan hewannya berkualitas prima dan top, bukan kualitas sembarangan (Rifa’i et.al, 1978)</p>
<p>Berdasarkan hadits-hadits Nabi SAW, tidak dibenarkan berkurban dengan hewan :</p>
<ol type="1">
<li>yang nyata-nyata buta sebelah,</li>
<li>yang nyata-nyata menderita penyakit (dalam keadaan sakit),</li>
<li>yang nyata-nyata pincang jalannya,</li>
<li>yang nyata-nyata lemah kakinya serta kurus,</li>
<li>yang tidak ada sebagian tanduknya,</li>
<li>yang tidak ada sebagian kupingnya,</li>
<li>yang terpotong hidungnya,</li>
<li>yang pendek ekornya (karena terpotong/putus),</li>
<li>yang rabun matanya. (Abdurrahman, 1990; Al Jabari, 1994; Sayyid Sabiq. 1987).</li>
</ol>
<p>Hewan yang dikebiri boleh dijadikan qurban. Sebab Rasulullah pernah berkurban dengan dua ekor kibasy yang gemuk, bertanduk, dan telah dikebiri (al maujuu’ain) (HR. Ahmad dan Tirmidzi) (Abdurrahman, 1990)</p>
<h3>Qurban Sendiri dan Patungan</h3>
<p>Seekor kambing berlaku untuk satu orang. Tak ada qurban patungan (berserikat) untuk satu ekor kambing. Sedangkan seekor unta atau sapi, boleh patungan untuk tujuh orang (HR. Muslim). Lebih utama, satu orang berqurban satu ekor unta atau sapi.</p>
<p>Jika murid-murid sebuah sekolah, atau para anggota sebuah jamaah pengajian iuran uang lalu dibelikan kambing, dapatkah dianggap telah berqurban ? Menurut pemahaman kami, belum dapat dikategorikan qurban, tapi hanya latihan qurban. Sembelihannya sah, jika memenuhi syarat-syarat penyembelihan, namun tidak mendapat pahala qurban. Wallahu a’lam. Lebih baik, pihak sekolah atau pimpinan pengajian mencari siapa yang kaya dan mampu berqurban, lalu dari merekalah hewan qurban berasal, bukan berasal dari iuran semua murid tanpa memandang kaya dan miskin. Islam sangat adil, sebab orang yang tidak mampu memang tidak dipaksa untuk berqurban.</p>
<p>Perlu ditambahkan, bahwa dalam satu keluarga (rumah), bagaimana pun besarnya keluarga itu, dianjurkan ada seorang yang berkurban dengan seekor kambing. Itu sudah memadai dan syiar Islam telah ditegakkan, meskipun yang mendapat pahala hanya satu orang, yaitu yang berkurban itu sendiri. Hadits Nabi SAW:</p>
<p dir="rtl">إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةً</p>
<p><em>“Dianjurkan bagi setiap keluarga dalam setiap tahun menyembelih qurban.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasa`i, dan Ibnu Majah) </em></p>
<h3>Teknis Penyembelihan</h3>
<p>Teknis penyembelihan adalah sebagai berikut :</p>
<p>Hewan yang akan dikurbankan dibaringkan ke sebelah rusuknya yang kiri dengan posisi mukanya menghadap ke arah kiblat, diiringi dengan membaca doa <strong>“Robbanaa taqabbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim.” (Artinya : <em>Ya Tuhan kami, terimalah kiranya qurban kami ini, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui</em>.)</strong></p>
<p>Penyembelih meletakkan kakinya yang sebelah di atas leher hewan, agar hewan itu tidak menggerak-gerakkan kepalanya atau meronta.</p>
<p>Penyembelih melakukan penyembelihan, sambil membaca : <strong>“Bismillaahi Allaahu akbar.”</strong> (Artinya : <em>Dengan nama Allah, Allah Maha Besar</em>). (Dapat pula ditambah bacaan shalawat atas Nabi SAW. Para penonton pun dapat turut memeriahkan dengan gema takbir “Allahu akbar!”)</p>
<p>Kemudian penyembelih membaca doa kabul (doa supaya qurban diterima Allah) yaitu : <strong>“Allahumma minka wa ilayka. Allahumma taqabbal min …”</strong> (sebut nama orang yang berkurban). (Artinya : <em>Ya Allah, ini adalah dari-Mu dan akan kembali kepada-Mu. Ya Allah, terimalah dari…. </em>) (Ad Dimasyqi, 1993; Matdawam, 1984; Rifa’i et.al., 1978; Rasjid, 1990)</p>
<p>Penyembelihan, yang afdhol dilakukan oleh yang berqurban itu sendiri, sekali pun dia seorang perempuan. Namun boleh diwakilkan kepada orang lain, dan sunnah yang berqurban menyaksikan penyembelihan itu (Matdawam, 1984; Al Jabari, 1994).</p>
<h4>Dalam penyembelihan, wajib terdapat 4 (empat) rukun penyembelihan, yaitu :</h4>
<p><strong>Adz Dzaabih (penyembelih)</strong>, yaitu setiap muslim, meskipun anak-anak, tapi harus yang mumayyiz (sekitar 7 tahun). Boleh memakan sembelihan Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani), menurut mazhab Syafi’i. Menurut mazhab Hanafi, makruh, dan menurut mazhab Maliki, tidak sempurna, tapi dagingnya halal. Jadi, sebaiknya penyembelihnya muslim. (Al Jabari, 1994).</p>
<p><strong>Adz Dzabiih, yaitu hewan</strong> yang disembelih.Telah diterangkan sebelumnya.</p>
<p><strong>Al Aalah, yaitu setiap alat</strong> yang dengan ketajamannya dapat digunakan menyembelih hewan, seperti pisau besi, tembaga, dan lainnya. Tidak boleh menyembelih dengan gigi, kuku, dan tulang hewan (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>Adz Dzabh, yaitu penyembelihannya itu sendiri</strong>. Penyembelihan wajib memutuskan hulqum (saluran nafas) dan mari` (saluran makanan). (Mahmud Yunus, 1936)</p>
<h3>Pemanfaatan Daging Qurban</h3>
<p>Sesudah hewan disembelih, sebaiknya penanganan hewan qurban (pengulitan dan pemotongan) baru dilakukan setelah hewan diyakini telah mati. Hukumnya makruh menguliti hewan sebelum nafasnya habis dan aliran darahnya berhenti (Al Jabari, 1994). Dari segi fakta, hewan yang sudah disembelih tapi belum mati, otot-ototnya sedang berkontraksi karena stress. Jika dalam kondisi demikian dilakukan pengulitan dan pemotongan, dagingnya akan alot alias tidak empuk. Sedang hewan yang sudah mati otot-ototnya akan mengalami relaksasi sehingga dagingnya akan empuk.</p>
<p>Setelah penanganan hewan qurban selesai, bagaimana pemanfaatan daging hewan qurban tersebut ? Ketentuannya, disunnahkan bagi orang yang berqurban, untuk memakan daging qurban, dan menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, dan menghadiahkan kepada karib kerabat. Nabi SAW bersabda :</p>
<p dir="rtl">فَكُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُو</p>
<p><em>“Makanlah daging qurban itu, dan berikanlah kepada fakir-miskin, dan simpanlah.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, hadits shahih)</em></p>
<p>Berdasarkan hadits itu, pemanfaatan daging qurban dilakukan menjadi tiga bagian/cara, yaitu : makanlah, berikanlah kepada fakir miskin, dan simpanlah. Namun pembagian ini sifatnya tidak wajib, tapi mubah (lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid I/352; Al Jabari, 1994; Sayyid Sabiq, 1987).</p>
<p>Orang yang berqurban, disunnahkan turut memakan daging qurbannya sesuai hadits di atas. Boleh pula mengambil seluruhnya untuk dirinya sendiri. Jika diberikan semua kepada fakir-miskin, menurut Imam Al Ghazali, lebih baik. Dianjurkan pula untuk menyimpan untuk diri sendiri, atau untuk keluarga, tetangga, dan teman karib (Al Jabari, 1994; Rifa’i et.al, 1978).</p>
<p>Akan tetapi jika daging qurban sebagai nadzar, maka wajib diberikan semua kepada fakir-miskin dan yang berqurban diharamkan memakannya, atau menjualnya (Ad Dimasyqi, 1993; Matdawam, 1984)</p>
<p>Pembagian daging qurban kepada fakir dan miskin, boleh dilakukan hingga di luar desa/ tempat dari tempat penyembelihan (Al Jabari, 1994).</p>
<p>Bolehkah memberikan daging qurban kepada non-muslim ? Ibnu Qudamah (mazhab Hambali) dan yang lainnya (Al Hasan dan Abu Tsaur, dan segolongan ulama Hanafiyah) mengatakan boleh. Namun menurut Imam Malik dan Al Laits, lebih utama diberikan kepada muslim (Al Jabari, 1994).</p>
<p>Penyembelih (jagal), tidak boleh diberi upah dari qurban. Kalau mau memberi upah, hendaklah berasal dari orang yang berqurban dan bukan dari qurban (Abdurrahman, 1990). Hal itu sesuai hadits Nabi SAW dari sahabat Ali bin Abi Thalib RA :</p>
<p dir="rtl">وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَازِرَ مِنْهَا شَيْئًا</p>
<p><em>“…(Rasulullah memerintahkan kepadaku) untuk tidak memberikan kepada penyembelih sesuatu daripadanya (hewan qurban).” (HR. Bukhari dan Muslim) (Al Jabari, 1994)</em></p>
<p>Tapi jika jagal termasuk orang fakir atau miskin, dia berhak diberi daging qurban. Namun pemberian ini bukan upah karena dia jagal, melainkan sedekah karena dia miskin atau fakir (Al Jabari, 19984).</p>
<p>Menjual kulit hewan adalah haram, demikianlah pendapat jumhur ulama (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid I/352). Dalilnya sabda Nabi SAW:</p>
<p dir="rtl">وَلَا تَبِيعُوا لُحُومَ الْهَدْيِ وَالْأَضَاحِيِّ فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَاسْتَمْتِعُوا بِجُلُودِهَا وَلَا تَبِيعُوهَا</p>
<p><em>“Dan janganlah kalian menjual daging hadyu (qurban orang haji) dan daging qurban. Makanlah dan sedekahkanlah dagingnya itu, ambillah manfaat kulitnya, dan jangan kamu menjualnya…” HR. Ahmad) (Matdawam, 1984).</em></p>
<p>Sebagian ulama seperti segolongan penganut mazhab Hanafi, Al Hasan, dan Al Auza’i membolehkannya. Tapi pendapat yang lebih kuat, dan berhati-hati (ihtiyath), adalah janganlah orang yang berqurban menjual kulit hewan qurban. Imam Ahmad bin Hambal sampai berkata,”Subhanallah ! Bagaimana harus menjual kulit hewan qurban, padahal ia telah dijadikan sebagai milik Allah ?” (Al Jabari, 1994).</p>
<p>Kulit hewan dapat dihibahkan atau disedekahkan kepada orang fakir dan miskin. Jika kemudian orang fakir dan miskin itu menjualnya, hukumnya boleh. Sebab -menurut pemahaman kami– larangan menjual kulit hewan qurban tertuju kepada orang yang berqurban saja, tidak mencakup orang fakir atau miskin yang diberi sedekah kulit hewan oleh orang yang berqurban. Dapat juga kulit hewan itu dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama, misalnya dibuat alas duduk dan sajadah di masjid, kaligrafi Islami, dan sebagainya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Kami ingin menutup risalah sederhana ini, dengan sebuah amanah penting : hendaklah orang yang berqurban melaksanakan qurban karena Allah semata. Jadi niatnya haruslah ikhlas lillahi ta’ala, yang lahir dari ketaqwaan yang mendalam dalam dada kita. Bukan berqurban karena riya` agar dipuji-puji sebagai orang kaya, orang dermawan, atau politisi yang peduli rakyat, dan sebagainya. Sesungguhnya yang sampai kepada Allah SWT adalah taqwa kita, bukan daging dan darah qurban kita. Allah SWT berfirman:</p>
<p dir="rtl">لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ</p>
<p><em>“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan daripada kamulah yang mencapainya.” (TQS Al Hajj : 37) [ ]</em></p>
<h3>DAFTAR PUSTAKA</h3>
<ul type="disc">
<li>Abdurrahman. 1990. Hukum Qurban, ‘Aqiqah, dan Sembelihan. Cetakan Pertama. Bandung : Sinar Baru. 52 hal.</li>
<li>Ad Dimasyqi, Muhammad bin Abdurrahman Asy Syafi’i. 1993. Rohmatul Ummah (Rahmatul Ummah Fi Ikhtilafil A`immah). Terjemahan oleh Sarmin Syukur dan Luluk Rodliyah. Cetakan Pertama. Surabaya : Al Ikhlas. 554 hal.</li>
<li>Al Jabari, Abdul Muta’al. 1994. Cara Berkurban (Al Udh-hiyah Ahkamuha wa Falsafatuha At Tarbawiyah). Terjemahan oleh Ainul Haris. Cetakan Pertama. Jakarta : Gema Insani Press. 83 hal.</li>
<li>Anis, Ibrahim et.al. 1972. Al Mu’jam Al Wasith. Kairo : Tanpa Penerbit. 547 hal.</li>
<li>Ash Shan’ani. Tanpa Tahun. Subulus Salam. Juz IV. Bandung : Maktabah Dahlan.</li>
<li>Ibnu Khalil, ‘Atha`. 2000. Taysir Al Wushul Ila Al Ushul. Cetakan Ketiga. Beirut : Darul Ummah. 310 hal.</li>
<li>Ibnu Rusyd. 1995. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid. Beirut : Daarul Fikr. 404 hal.</li>
<li>Matdawam, M. Noor. 1984. Pelaksanaan Qurban dalam Hukum Islam. Cetakan Pertama. Yogyakarta : Yayasan Bina Karier. 41 hal.</li>
<li>Rasjid, H.Sulaiman. 1990. Fiqh Islam. Cetakan Keduapuluhtiga. Bandung : Sinar Baru. 468 hal.</li>
<li>Rifa’i, Moh. et.al. 1978. Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar. Semarang : Toha Putra 468 hal.</li>
<li>Sabiq, Sayyid. 1987. Fikih Sunnah (Fiqhus Sunnah). Jilid 13. Cetakan Kedelapan. Terjemahan oleh Kamaluddin A. Marzuki. Bandung : Al Ma’arif. 229 hal</li>
<li>Yunus, Mahmud. 1936. Al Fiqh Al Wadhih. Juz III. Jakarta : Maktabah Sa’adiyah Putera. 48 hal</li>
</ul>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Khutbah Idul Adha 1430 H: Tunduk dan Berkorban Demi Tegaknya Syariah dan Khilafah]]></title>
<link>http://hepyes.wordpress.com/2009/11/28/khutbah-idul-adha-1430-h-tunduk-dan-berkorban-demi-tegaknya-syariah-dan-khilafah/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 17:03:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>hepyes</dc:creator>
<guid>http://hepyes.wordpress.com/2009/11/28/khutbah-idul-adha-1430-h-tunduk-dan-berkorban-demi-tegaknya-syariah-dan-khilafah/</guid>
<description><![CDATA[الله أكبر ×٩ ولله الحمد. إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em><strong> </strong></em></p>
<p dir="rtl">الله أكبر ×٩ ولله الحمد.</p>
<p dir="rtl">إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلَِّ عَلَى حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعَا بِدَعْوَتِهِ إِلىَ يَوْمِ الْقِيَامَةْ. قَالَ تَعاَلَى فِي كِتَابِهِ، وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْنَ:( إِنّا أَعطَينٰكَ الكَوثَرَ ﴿١﴾ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانحَر ﴿٢﴾ إِنَّ شانِئَكَ هُوَ الأَبتَرُ ﴿٣﴾ ). فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.</p>
<p dir="rtl"><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd, </em></strong><em> </em></p>
<p><strong><em>Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh</em></strong></p>
<p><a href="http://hepyes.wordpress.com/files/2009/11/img_0030.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-499" title="IMG_0030" src="http://hepyes.wordpress.com/files/2009/11/img_0030.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a>Hari ini kaum Muslimin di seluruh dunia kembali merayakan hari raya Idul Adha. Di hari yang agung ini, kaum Muslimin menggemakan <em>takbîr, tahmîd, tashbîh</em>, dan <em>tahlîl</em>; berbondong-bondong menunaikan shalat Id dan mendengarkan khutbah, kemudian diteruskan dengan penyembelihan dan pembagian hewan kurban. Selama hari tasyriq, alunan kalimat <em>thayyibah</em> itu pun masih akan terus terdengar. Pada saat yang sama di tanah Haram, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul memenuhi panggilan Allah, bersama-sama menunaikan ibadah haji dengan segala rangkaian manasiknya. Mereka berbaur menjadi satu tanpa dibatasi sekat kebangsaan, warna kulit dan aliran.<!--more--><em> </em></p>
<p>Realitas ini menunjukkan bahwa sesungguhnya umat ini adalah umat yang satu. Umat yang diikat dengan akidah yang sama, akidah Islam; dan diatur dengan hukum yang sama, yaitu hukum Islam; memiliki kitab yang sama, al-Quran; dan menghadap kiblat yang sama; Baitullah al-Haram.</p>
<p>Namun sayangnya, persatuan itu hanya sesaat dan terbatas dalam perkara ibadah ritual. Di luar itu, kondisib mereka amat memprihatinkan. Pertikaian, konflik, hingga pertumpahan darah sesama umat Islam masih menjadi problem serius yang belum teratasi. Ukhuwah Islamiyyah yang diperintahkan masih sebatas seruan dan persatuan baru menjadi dambaan. Mengapa ini bisa terjadi?</p>
<p>Jawabnya: Karena umat Islam saat ini tidak lagi hidup dalam satu kepemimpinan dan satu institusi negara. Padahal, selain dipersatukan oleh akidah, hukum, rasul, kitab, dan kiblat yang sama, umat Islam juga diwajibkan agar hidup dalam satu kepemimpinan dan satu institusi negara. Itulah khalifah, yang memerintah dengan syariah dalam satu wadah daulah Khilafah.</p>
<p><strong><em>Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh</em></strong></p>
<p>Sesungguhnya masalah kesatuan umat dalam kepemimpinan dan institusi negara ini merupakan masalah yang amat penting. Sedemikian pentingnya hingga perkara tersebut ditetapkan sebagai salah satu <em>al-q</em><em>adhiyyah </em><em>al-</em><em>mashîriyyah </em>(perkara utama) umat ini. Yakni, perkara yang mempertaruhkan hidup dan mati. Siapa pun yang berani memecah belah kesatuan umat dalam kepemimpinan ini harus ditindak tegas. Rasulullah saw bersabda:</p>
<p dir="rtl">مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ</p>
<p><em>Siapa saja yang datang kepada kamu sekalian —sedangkan urusan kalian berada di tangan seorang (khalifah)— kemudian dia hendak memecah-belah kesatuan dan jama’ah kalian, maka bunuhlah dia </em><strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Hadits ini amat jelas menunjukkan wajibnya umat Islam berada dalam satu kepemimpinan. Ketika mereka berada dalam satu jama’ah, di bawah kepemimpinan seorang khalifah, lalu ada orang lain yang datang ingin memecah persatuan dan jama’ah mereka, maka wajib dijatuhkan sanksi tegas: hukuman mati.</p>
<p>Kita semua telah menyaksikan betapa sengsaranya umat Islam ketika tidak hidup dalam satu kepemimpinan khilafah. Setelah tiga belas abad hidup dalam satu institusi daulah, kini kaum Muslim terpecah-belah dalam puluhan negara kecil. Umat yang dulu disegani ini pun berubah menjadi umat yang lemah. Keadaan ini diperparah oleh sikap rezim di negeri-negeri Islam yang tidak peduli terhadap Islam dan umatnya. Akibatnya, meskipun kaum kafir telah nyata-nyata menampakan permusuhan terhadap kaum Muslim, menumpahkan darah, menguras harta kekayaan, dan menginjak-injak kehormatan mereka, para penguasa itu hanya diam. Bahkan ketika Rasulullah saw dilecehkan dalam gambar-gambar kartun, al-Quran dihinakan dan mushafnya dimasukkan ke dalam WC di penjara Guantanamo, Islam dicerca sebagai agama teroris, dan Masjid al-Aqsha dikangkangi, dibakar, dan hendak dirobohkan oleh kaum kafir Yahudi, para penguasa itu pun tidak merasa terusik. Kondisi umat Islam benar-benar laksana buih yang diombang-ambing oleh gelombang. Sungguh amat menyedihkan!</p>
<p><strong><em>Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd, </em></strong><em> </em></p>
<p>Setiap hari raya Idul Adha, kita selalu diingatkan kisah tentang ketundukan, ketaatan, dan pengorbanan Nabi Ibrahim as dan putranya dalam menjalankan perintah Allah Swt. Ketika Nabi Ibrahim as diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail as, keduanya segera bergegas melaksanakan perintah Allah. Tak tampak sama sekali keraguan, keengganan, apalagi penolakan. Keduanya dengan ikhlas menunaikan perintah Allah Swt, meski harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga dan dicintai. Ibrahim rela kehilangan putranya, dan Ismail pun tak keberatan kehilangan nyawanya.</p>
<p>Ketundukan dan pengorbanan sesungguhnya telah menjadi tabiat para kekasih Allah (<em>khalilu-Llah</em>). Dalam menyebarkan risalahnya, <em>Qudwatun</em>â <em>wa uswatunâ </em>Rasulullah saw telah mempertaruhkan semua yang dimilikinya. Meskipun mendapatkan berbagai penentangan dan perlawanan, sama sekali tidak membuat beliau mundur. Bahkan beliau bersumpah tidak akan berhenti berjuang hingga Islam dimenangkan atau beliau binasa karenanya.</p>
<p>Ketundukan dan pengorbanan juga ditunjukkan oleh para sahabat. Lihatlah, peristiwa heroik yang ditunjukkan oleh generasi awal umat terbaik ini. Antara lain Muhaishah, sahabat Rasulullah saw yang mengikuti perintah baginda untuk membunuh seorang Yahudi dalam sebuah peperangan. Yahudi yang dibunuhnya itu tak lain adalah pedagang yang biasa memberi pakaian kepadanya. Kakak Muhaishah, yang belum memeluk Islam, yaitu Huwaishah marah kepada Muhaishah, adiknya, seraya memukul dan menghardiknya, <em>“Apakah kamu membunuhnya? Demi Allah, makanan di dalam perutmu itu berasal dari hartanya.” </em>Muhaishah pun menjawab, <em>“Demi Allah, sekiranya orang yang memerintahkan aku untuk membunuhnya, memerintahkan aku untuk membunuhmu, pasti aku akan penggal lehermu.” </em>Huwaishah bertanya lagi dengan nada heran, <em>“Demi Allah, kalau Muhammad memerintahkan kamu membunuhku, kamu akan membunuhku?” </em>Muhaishah menjawab dengan tegas, <em>“Benar.” </em>Padahal, kita adalah kakak-beradik. <em>Allahu Akbar. </em>Inilah manifestasi ketaatan generasi emas para sahabat Rasulullah saw.</p>
<p><strong><em>Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh</em></strong></p>
<p>Bercermin pada ketundukan mereka, kita pun patut bertanya kepada diri kita: Sudahkah kita memiliki ketaatan total kepada Allah dan Rasul-Nya? Tunduk dan patuh pada setiap perintah dan larangan-Nya? Atau sebaliknya, kita hanya mau tunduk kepada sebagian, namun menolak sebagian yang lain?</p>
<p>Ketika diperintahkan shalat, puasa, atau haji, barangkali kita segera bergegas mengerjakannya. Ketika dilarang berzina, mencuri, atau memakan babi, kita pun tak keberatan meninggalkannya. Semua ketetuan itu kita terima, tanpa sedikit pun mempersoalkan mengapa semua itu diwajibkan atau diharamkan. Akan tetapi, ketika diperintahkan Allah Swt untuk menerapkan syariah-Nya dalam bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan pidana mengapa di antara kita masih ada yang mempertanyakan, merasa keberatan, bahkan menyatakan penolakannya? Mengapa itu bisa terjadi? Bukankah akidah yang kita yakini menuntut kita untuk memiliki ketundukan dan ketaatan total kepada seluruh syariah-Nya?</p>
<p>Apakah kita tidak tahu bahwa beriman kepada sebagian dan ingkar sebagian lainnya dapat mengantarkan pelakunya kepada kekufuran, mendapatkan kehinaan di dunia, siksa yang peduh di akhirat? <strong>(lihat QS al-Baqarah [2]: 85, al-Nisa [4]: 150-151) . </strong></p>
<p>Apakah kita juga tidak sadar dengan kalimat <em>tawhîd</em><em> — </em><em>lâ ilâha illal-Lâh</em><em> — </em>yang kita ucapkan berulang-ulang itu? Ketahuilah, bahwa kalimat <em>tawhîd</em> itu bukan hanya berisi pengakuan tentang keesaan Allah Swt semata. Namun di dalamnya terkandung ikrar bahwa Allah Swt adalah satu-satunya <em>Ilâh </em>yang haq. Dialah satu-satunya Dzat yang berhak dan wajib disembah, diibadahi, dan ditaati. Konsekuensinya, kita harus tunduk dan patuh terhadap seluruh hukum-Nya. Ucapan yang keluar dari seorang Mukmin dalam merespon semua seruan-Nya hanyalah <em>sami’nâ wa atha’nâ. </em>Allah Swt berfirman:</p>
<p dir="rtl">إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ</p>
<p><em>Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung</em><strong> (QS al-Nur [24]: 51). </strong></p>
<p><strong><em>Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd, </em></strong><em> </em></p>
<p>Kita juga patut bertanya: sejauh manakah pengorbanan kita dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Swt? Sudahkah kita sanggup merelakan harta, jabatan, keluarga, bahkan jiwa dan raga kita demi menegakkan agama-Nya? Atau justru sebaliknya, kita masih merasa berat dan enggan melakukannya. Jangankan nyawa, berkorban dengan sedikit tenaga, pikiran, harta, dan waktu saja, kadang masih terasa sulit. Mengapa ini bisa terjadi? Bukankah kita dituntut untuk meletakkan kecintaatan kepada Allah Swt, Rasul, dan jihad di jalan-Nya melebihi segalanya <strong>(lihat QS </strong><strong>al-Taubah [9]: 24).</strong></p>
<p>Di antara kiat memupuk jiwa mudah berkorban adalah dengan memperkokoh keimanan kepada akhirat. Bahwa besarnya pengorbanan yang kita berikan di dunia, jauh lebih kecil dibandingkan dengan balasan yang bakal kita terima: surga beserta ragam kenikmatan di dalamnya. Sebaliknya, kesenangan mengabaikan perintah Allah Swt dan rasul-Nya hanya akan menjerumuskan pelakunya kepada siksa neraka yang amat dahsyat.</p>
<p>Keyakinan inilah yang mampu menjadikan kaum Muhajirin terasa ringan melangkahkan kaki meninggalkan harta dan keluarga untuk berhijrah ke Madinah. Keyakinan ini pula yang membuat kaum Anshar bersedia menyerahkan kekuasaannya kepada Rasululalh saw dan menerima saudaranya dari kalangan Muhajirin dengan rasa cinta. Juga karena keyakinan ini, kaum Muslim bersemangat melakukan <em>futûhât </em>sehingga wilayah kekuasaan Islam terbentang luas dalam waktu yang amat cepat.<em> </em></p>
<p><strong><em>Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh</em></strong></p>
<p>Telah 88 tahun umat Islam hidup tanpa Khilafah. Padahal, umat Islam hanya diberikan masa tenggang selama tiga hari hidup tanpa khalifah. Ini berarti, kewajiban mengangkat khalifah telah jauh melampaui batas waktu yang diperbolehkan. Keadaan ini harus melecut semangat kita untuk berjuang menegakkannya.</p>
<p>Maka, inilah saatnya kita berkorban. Tampil ke depan membawa panji-panji Islam. Berjuang dengan segenap daya dan kemampuan menyongsong kemenangan yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hari ini kita diperintahkan berkurban, semestinya menjadi <em>ibrah</em>, dalam memberikan pengorbanan kita yang lain. Tidak hanya berhenti pada penyembelihan kambing, sapi, atau unta. Namun pengorbanan harta, waktu, jiwa dan raga kita demi tegaknya agama Allah di muka bumi.</p>
<p>Sekaranglah saat yang tepat bagi kita untuk membuktikan ketundukan dan pengorbanan kita dalam berjuang menegakkan agama-Nya. Janganlah sia-siakan kempatan emas ini. Karena Allah Swt melebihkan derajat orang yang berjuang sebelum tegaknya daulah khilafah. Allah Swt berfirman:</p>
<p dir="rtl">لاَ يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى</p>
<p><em>Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik</em> <strong>(QS al-Hadid [57]: 10).</strong></p>
<p>Akhirnya, marilah kita berdoa semoga Allah Swt memberi kita kesabaran, kekuatan, dan kekompakan, serta memungkinkan kita berperan penting dalam upaya menegakkan dan memperjuangkan negara Khilafah.</p>
<p dir="rtl"><em> </em></p>
<p dir="rtl">اللَّهُمَّ يَا شَاهِدَ كُلِّ نَجْوَى، وَمَوْضِعَ كُلِّ شَكْوَى، وَعَالِمَ كُلِّ خَفِيَّةِ، وَمُنْتَهَى كُلِّ حَاجَةٍ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى أَخْشَاكَ كَأَنِّي أَرَاكَ، وَأَسْعِدْنِي بِتَقْوَاكَ، وَلاَتَشْقِنِي بِمَعْصِيَتِكَ، وَخِرْ لِي فِي قَضَائِكَ، وَبَارِكْ لِي فِي قَدَرِكَ حَتىَّ لاَ أُحِبَّ مَا أَخَّرْتَ وَلاَ تَأْخِيْرَ مَا عَجَّلْتَ، اللَّهُمَّ مَا أَخَافُ فَاكْفِنِيْ، وَماَ أَحْذَرُ فَقِنِيْ، وَفِي نَفْسِيْ وَدِيْنِيْ فَاحْرُسْنِيْ، وَفِي رِزْقِيْ فَبَارِكْ لِي، وَفِي أَعْيُنِ النَّاسِ فَعَظِّمْنِيْ، وَمِنْ شَرِّ الْجِنِّ وَالإِنْسِ فَسَلِّمْنِيْ، وَبِعَمَلِيْ فَلاَ تَبْتَلِنِيْ، وَبِنِعَمِكَ فَلاَ تَسْلُبْنِيْ، وَإِلَى غَيْرِكَ فَلاَ تَكِلْنِي، إِلَهِي إِلَى مَنْ تَكِلُنِي، إِلَى قَرِيْبٍ فَيَقْطَعُنِيْ، أَمْ إِلَى بَعِيْدٍ فَيَتَجَهَّمُنِيْ، أَمْ إِلَى الُمْسَتْضَعَفِيْنَ لِيْ وَأَنْتَ رَبِّي وَمَلِيْكُ أَمْرِيْ.. اللَّهُمَّ هَذَا حَالُنَا، وَهَذَا ضَعْفُنَا لاَيَخْفَى عَلَيْكَ ظَاهِرٌ بَيْنَ يَدَيْكَ، اللَّهُمَّ عَجِّلْ نُصْرَتَكَ بِقِيَامِ دَوْلَةِ الْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ التي تُطَبِّقُ أَحْكَامَكَ، وَتَحْرُسُ دِيْنَكَ وَأُمَّةَ نَبِيِّكَ، وَتَوَحَّدَتْ بِهَا كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، وَأَعَادَ الله بِهَا مَجْدَهَا، وَأَذَلَّ بِهَا الْكُفْرَ وَطُغْيَانَه. اللَّهُمَّ أَعِدْنَا فِي عِيْدِنَا الْقَادِمِ وَالْخِلاَفَةُ قَائِمَة بِإِذْنِكَ، فِي عَصْرِنَا هَذَا وَبِأَيْدِيْنَا..</p>
<p dir="rtl">وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وبارك وسلم..</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hukum Sholat Jumat Bersamaan Dengan Hari Raya (Idul Fitri / Adha)]]></title>
<link>http://hepyes.wordpress.com/2009/11/28/hukum-sholat-jumat-bersamaan-dengan-hari-raya-idul-fitri-adha/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 17:01:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>hepyes</dc:creator>
<guid>http://hepyes.wordpress.com/2009/11/28/hukum-sholat-jumat-bersamaan-dengan-hari-raya-idul-fitri-adha/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: KH. M. Shiddiq Al-Jawi 1. Pendahuluan Seperti kita ketahui, terkadang hari raya Idul Fitri ata]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong> </strong></p>
<p><strong>Oleh: KH. M. Shiddiq Al-Jawi</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Pendahuluan</strong></p>
<p><a href="http://hepyes.wordpress.com/files/2009/11/sholat-jumat.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-500" title="sholat-jumat" src="http://hepyes.wordpress.com/files/2009/11/sholat-jumat.jpg?w=300" alt="" width="300" height="240" /></a>Seperti kita ketahui, terkadang hari raya Idul Fitri atau Idul Adha jatuh pada hari Jumat. Misalnya saja yang terjadi pada tahun ini (2009), Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah 1430 H akan jatuh pada hari Jumat 27 Nopember 2009. Di sinilah mungkin di antara kita ada yang bertanya, apakah sholat Jumat masih diwajibkan pada hari raya? Apakah kalau seseorang sudah sholat Ied berarti boleh tidak sholat Jumat? Tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan semacam itu dengan melakukan penelusuran pendapat ulama, dalil-dalilnya, dan pentarjihan (mengambil yang terkuat) dari dalil-dalil tersebut.<!--more--></p>
<p>Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalat Jumat yang jatuh bertepatan dengan hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Dalam kitab <em>Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf Al A`immah </em>karya Imam Ad Dimasyqi, disebutkan bahwa :</p>
<p><em>“Apabila hari raya bertepatan dengan hari Jumat, maka menurut pendapat Imam Asy Syafi’i yang shahih, bahwa shalat Jumat tidak gugur dari penduduk kampung yang mengerjakan shalat Jumat. Adapun bagi orang yang datang dari kampung lain, gugur Jumatnya. Demikian menurut pendapat Imam Asy Syafi’i yang shahih. Maka jika mereka telah shalat hari raya, boleh bagi mereka terus pulang, tanpa mengikuti shalat Jumat. Menurut pendapat Imam Abu Hanifah, bagi penduduk kampung wajib shalat Jumat. Menurut Imam Ahmad, tidak wajib shalat Jumat baik bagi orang yang datang maupun orang yang ditempati shalat Jumat. Kewajiban shalat Jumat gugur sebab mengerjakan shalat hari raya. Tetapi mereka wajib shalat zhuhur. Menurut ‘Atha`, zhuhur dan Jumat gugur bersama-sama pada hari itu. Maka tidak ada shalat sesudah shalat hari raya selain shalat Ashar.”</em></p>
<p>Ad Dimasyqi tidak menampilkan pendapat Imam Malik. Ibnu Rusyd dalam kitabnya <em>Bidayatul Mujtahid </em>menyatakan pendapat Imam Malik sama dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Disebutkannya bahwa,<em>“Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat,”Jika berkumpul hari raya dan Jumat, maka mukallaf dituntut untuk melaksanakannya semuanya….”</em></p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa dalam masalah ini terdapat 4 (empat) pendapat :</p>
<p><em>Pertama</em>, shalat Jumat tidak gugur dari penduduk kota (<em>ahlul amshaar / ahlul madinah</em>) yang di tempat mereka diselenggarakan shalat Jumat. Sedang bagi orang yang datang dari kampung atau padang gurun (<em>ahlul badaawi / ahlul ‘aaliyah</em>), yang di tempatnya itu tidak dilaksanakan shalat Jumat, gugur kewajiban shalat Jumatnya. Jadi jika mereka –yakni orang yang datang dari kampung — telah shalat hari raya, boleh mereka terus pulang, tanpa mengikuti shalat Jumat. Inilah pendapat Imam Syafi’i. Ini pula pendapat Utsman dan Umar bin Abdul Aziz.</p>
<p><em>Kedua</em>, shalat Jumat wajib tetap ditunaikan, baik oleh penduduk kota yang ditempati shalat Jumat maupun oleh penduduk yang datang dari kampung. Ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Jadi, shalat Jumat tetap wajib dan tidak gugur dengan ditunaikannya shalat hari raya.</p>
<p><em>Ketiga</em>, tidak wajib shalat Jumat baik bagi orang yang datang maupun bagi orang yang ditempati shalat Jumat. Tetapi mereka wajib shalat zhuhur. Demikian pendapat Imam Ahmad.</p>
<p><em>Keempat</em>, zhuhur dan Jumat gugur sama-sama gugur kewajibannya pada hari itu. Jadi setelah shalat hari raya, tak ada lagi shalat sesudahnya selain shalat Ashar. Demikian pendapat ‘Atha` bin Abi Rabbah. Dikatakan, ini juga pendapat Ibnu Zubayr dan ‘Ali.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.Pendapat Yang Rajih</strong></p>
<p>Kami mendapatkan kesimpulan, bahwa pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, <em>rahimahullah</em>. Rincian hukumnya adalah sebagai berikut:</p>
<p><em>Hukum Pertama</em>, jika seseorang telah menunaikan shalat hari raya -yang jatuh bertepatan dengan hari Jumat- gugurlah kewajiban atasnya untuk menunaikan shalat Jumat. Dia boleh melaksanakan shalat Jumat dan boleh juga tidak.</p>
<p><em>Hukum Kedua</em>, bagi mereka yang telah menunaikan shalat hari raya tersebut, lebih utama dan disunnahkan tetap melaksanakan shalat Jumat.</p>
<p><em>Hukum Ketiga</em>, jika orang yang telah menunaikan shalat hari raya tersebut memilih untuk tidak menunaikan shalat Jumat, wajib melaksanakan shalat zhuhur, tidak boleh meninggalkan zhuhur.</p>
<p><em>Hukum Keempat</em>, mereka yang pada pagi harinya tidak melaksanakan shalat hari raya, wajib atasnya untuk menunaikan shalat Jumat, tidak dibenarkan baginya untuk meninggalkan shalat Jumat.</p>
<p>Keterangan mengenai masing-masing hukum tersebut akan diuraikan pada poin berikutnya, Insya Allah.</p>
<p><strong>2.1. Keterangan Hukum Pertama</strong></p>
<p>Mengenai gugurnya kewajiban shalat Jumat bagi mereka yang sudah melaksanakan shalat hari raya, dalilnya adalah hadits-hadits Nabi SAW yang shahih, antara lain yang diriwayatkan dari Zayd bin Arqam RA bahwa dia berkata :</p>
<p dir="rtl"><strong>صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ فَقَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ</strong></p>
<p><em>“Nabi SAW melaksanakan shalat Ied (pada suatu hari Jumat) kemudian beliau memberikan rukhshah (kemudahan/keringanan) dalam shalat Jumat. Kemudian Nabi berkata,’Barangsiapa yang berkehendak (shalat Jumat), hendaklah dia shalat.”</em> (HR. Al Khamsah, kecuali At Tirmidzi. Hadits ini menurut Ibnu Khuzaimah, shahih).</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurayrah RA bahwa Nabi SAW bersabda :</p>
<p dir="rtl"><strong>قَدْ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنْ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ</strong></p>
<p><em>“Sungguh telah berkumpul pada hari kalian ini dua hari raya. Maka barangsiapa berkehendak (shalat hari raya), cukuplah baginya shalat hari raya itu, tak perlu shalat Jumat lagi. Dan sesungguhnya kami akan mengerjakan Jumat.”</em> (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al Hakim juga meriwayatkan hadits ini dari sanad Abu Shalih, dan dalam isnadnya terdapat Baqiyah bin Walid, yang diperselisihkan ulama. Imam Ad Daruquthni menilai, hadits ini shahih. Ulama hadits lain menilainya hadits mursal).</p>
<p>Hadits-hadits ini merupakan dalil bahwa shalat Jumat setelah shalat hari raya, menjadi rukhshah. Yakni, maksudnya shalat Jumat boleh dikerjakan dan boleh tidak. Pada hadits Zayd bin Arqam di atas (hadits pertama) Nabi SAW bersabda “tsumma rakhkhasha fi al jumu’ati” (kemudian Nabi memberikan rukhshash dalam [shalat] Jumat). Ini menunjukkan bahwa setelah shalat hari raya ditunaikan, shalat hari raya menjadi rukhshah (kemudahan/keringanan).</p>
<p>Menurut Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, rukhshah adalah hukum yang disyariatkan untuk meringankan hukum azimah (hukum asal) karena adanya suatu udzur (halangan), disertai tetapnya hukum azimah namun hamba tidak diharuskan mengerjakan rukshshah itu.</p>
<p>Jadi shalat Jumat pada saat hari raya, menjadi rukhshah, karena terdapat udzur berupa pelaksanaan shalat hari raya. Namun karena rukhshah itu tidak menghilangkan azimah sama sekali, maka shalat Jumat masih tetap disyariatkan, sehingga boleh dikerjakan dan boleh pula tidak dikerjakan.</p>
<p>Hal ini diperkuat dan diperjelas dengan sabda Nabi dalam kelanjutan hadits Zayd bin Arqam di atas “<em>man syaa-a an yushalliya falyushalli</em>” (barangsiapa yang berkehendak [shalat Jumat], hendaklah dia shalat). Ini adalah manthuq (ungkapan tersurat) hadits. Mafhum mukhalafah (ungkapan tersirat) dari hadits itu -dalam hal ini berupa mafhum syarat, karena ada lafazh “man” sebagai syarat- adalah “barangsiapa yang tidak berkehendak shalat Jumat, maka tidak perlu shalat Jumat.”</p>
<p>Kesimpulannya, orang yang telah menjalankan shalat hari raya, gugurlah kewajiban atasnya untuk menunaikan shalat Jumat. Dia boleh menunaikan shalat Jumat dan boleh juga tidak.</p>
<p>Mungkin ada pertanyaan, apakah gugurnya shalat Jumat ini hanya untuk penduduk kampung/desa (<em>ahlul badaawi / ahlul ‘aaliyah</em>) –yang di tempat mereka tidak diselenggarakan shalat Jumat– sedang bagi penduduk kota (ahlul amshaar / ahlul madinah) —-yang di tempat mereka diselenggarakan shalat Jumat– tetap wajib shalat Jumat ?</p>
<p>Yang lebih tepat menurut kami, gugurnya kewajiban shalat Jumat ini berlaku secara umum, baik untuk penduduk kampung/desa maupun penduduk kota. Yang demikian itu karena nash-nash hadits di atas bersifat umum, yaitu dengan adanya lafahz “man” (barangsiapa/siapa saja) yang mengandung arti umum, baik ia penduduk kampung maupun penduduk kota. Dan lafazh umum tetap dalam keumumannya selama tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya. Dalam hal ini tidak ada dalil yang mengkhususkan (takhsis) keumumannya, maka tetaplah lafazh “man” dalam hadits-hadits di atas berlaku secara umum. (Lihat Imam Syaukani, <em>Nailul Authar</em>, 2/273)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.2.Keterangan Hukum Kedua</strong></p>
<p>Bagi mereka yang sudah shalat hari raya, mana yang lebih utama (afdhal), menunaikan shalat Jumat ataukah meninggalkannya ? Pada dasarnya, antara azimah (hukum asal) dan rukhshah kedudukannya setara, tak ada yang lebih utama daripada yang lain, kecuali terdapat nash yang menjelaskan keutamaan salah satunya, baik keutamaan azimah maupun rukhshah.</p>
<p>Namun dalam hal ini terdapat nash yang menunjukkan keutamaan shalat Jumat daripada meninggalkannya. Pada hadits Abu Hurayrah RA (hadits kedua) terdapat sabda Nabi “innaa mujammi’uun” (Dan sesungguhnya kami akan mengerjakan Jumat).</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa meskipun Nabi SAW menjadikan shalat Jumat sebagai rukhshah, yakni boleh dikerjakan dan boleh tidak, akan tetapi Nabi Muhammad SAW faktanya tetap mengerjakan shalat Jumat. Hanya saja perbuatan Nabi SAW ini tidak wajib, sebab Nabi SAW sendiri telah membolehkan untuk tidak shalat Jumat. Jadi, perbuatan Nabi SAW itu sifatnya sunnah, tidak wajib.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.3.Keterangan Hukum Ketiga</strong></p>
<p>Jika orang yang sudah shalat hari raya memilih untuk meninggalkan shalat Jumat, wajibkah ia shalat zhuhur ? Jawabannya, dia wajib shalat zhuhur, tidak boleh meninggalkannya.</p>
<p>Wajibnya shalat zhuhur itu, dikarenakan nash-nash hadits yang telah disebut di atas, hanya menggugurkan kewajiban shalat Jumat, tidak mencakup pengguguran kewajiban zhuhur. Padahal, kewajiban shalat zhuhur adalah kewajiban asal (<em>al fadhu al ashli</em>), sedang shalat Jumat adalah hukum pengganti (<em>badal</em>), bagi shalat zhuhur itu. Maka jika hukum pengganti (badal) -yaitu shalat Jumat- tidak dilaksanakan, kembalilah tuntutan syara’ kepada hukum asalnya, yaitu shalat zhuhur. Yang demikian itu adalah mengamalkan Istish-hab, yaitu kaidah hukum untuk menetapkan berlakunya hukum asal, selama tidak terdapat dalil yang mengecualikan atau mengubah berlakunya hukum asal.</p>
<p>Dengan demikian, jika seseorang sudah shalat hari raya lalu memilih untuk meninggalkan shalat Jumat, maka ia wajib melaksanakan shalat zhuhur.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.4. Keterangan Hukum Keempat</strong></p>
<p>Mereka yang pada pagi harinya tidak melaksanakan shalat hari raya, wajib atasnya untuk tetap menunaikan shalat Jumat. Tidak dibenarkan baginya untuk meninggalkan shalat Jumat. Dengan kata lain, rukhshah untuk meninggalkan shalat Jumat ini khusus untuk mereka yang sudah melaksanakan shalat hari raya. Mereka yang tidak melaksanakan shalat hari raya, tidak mendapat rukhshah, sehingga konsekuensinya tetap wajib hukumnya shalat Jumat.</p>
<p>Dalilnya adalah hadits Abu Hurayrah (hadits kedua) dimana Nabi SAW bersabda “fa man syaa-a, ajza-a-hu ‘anil jumu’ati” (Maka barangsiapa yang berkehendak [shalat hari raya], cukuplah baginya shalat hari raya itu, tak perlu shalat Jumat lagi). Ini adalah manthuq hadits. Mafhum mukhalafahnya, yakni orang yang tak melaksanakan shalat hari raya, ia tetap dituntut menjalankan shalat Jumat.</p>
<p>Imam Ash Shan’ani dalam <em>Subulus Salam </em>ketika memberi syarah (penjelasan) terhadap hadits di atas berkata : “Hadits tersebut adalah dalil bahwa shalat Jumat -setelah ditunaikannya shalat hari raya– menjadi rukhshah. Boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan. Tetapi (rukhshah) itu khusus bagi orang yang menunaikan shalat Ied, tidak mencakup orang yang tidak menjalankan shalat Ied.” (Imam Shan’ani, <em>Subulus Salam</em>, 2/112)</p>
<p>Jadi, orang yang tidak melaksanakan shalat hari raya, tidak termasuk yang dikecualikan dari keumuman nash yang mewajibkan shalat Jumat. Yang dikecualikan dari keumuman nash itu adalah yang telah shalat hari raya. Maka dari itu, orang yang tidak shalat hari raya, tetap wajib atasnya shalat Jumat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.Meninjau Pendapat Lain</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.1.Pendapat Imam Syafi’i</strong></p>
<p>Pada dasarnya, Imam Syafii tetap mewajibkan shalat Jumat yang jatuh bertepatan pada hari raya. Namun beliau menetapkan kewajiban tersebut hanya berlaku bagi penduduk kota (ahlul madinah/ahlul amshaar). Adapun penduduk desa/kampung atau penduduk padang gurun (<em>ahlul badawi</em>) yang datang ke kota untuk shalat Ied (dan shalat Jumat), sementara di tempatnya tidak diselenggarakan shalat Jumat, maka mereka boleh tidak mengerjakan shalat Jumat.</p>
<p>Sebenarnya Imam Syafi’i berpendapat seperti itu karena menurut beliau, hadits-hadits yang menerangkan gugurnya kewajiban shalat Jumat pada hari raya bukanlah hadits-hadits shahih. Sehingga beliau pun tidak mengamalkannya. Inilah dasar pendapat Imam Syafi’i. Menanggapi pendapat Imam Syafi’i tersebut, Imam Ash Shan’ani dalam <em>Subulus Salam </em>berkata :  “Asy Syafi’i dan segolongan ulama berpendapat bahwa shalat Jumat tidak menjadi rukhshah. Mereka berargumen bahwa dalil kewajiban shalat Jumat bersifat umum untuk semua hari (baik hari raya maupun bukan). Sedang apa yang disebut dalam hadits-hadits dan atsar-atsar (yang menjadikan shalat Jumat sebagai rukhshah) tidaklah cukup kuat untuk menjadi takhsis (pengecualian) kewajiban shalat Jumat, sebab sanad-sanad hadits itu telah diperselisihkan oleh ulama. Saya (Ash Shan’ani) berkata,’Hadits Zayd bin Arqam telah dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah…maka hadits tersebut dapat menjadi takhsis (pengecualian)…” (Imam Shan’ani, <em>Subulus Salam</em>, 2/112).</p>
<p>Dengan demikian, jelaslah bahwa Imam Syafi’i tidak menilai hadits Zayd bin Arqam tersebut sebagai hadits shahih, sehingga beliau tidak menjadikannya sebagai takhsis yang menggugurkan kewajiban shalat Jumat. Beliau kemudian berpegang kepada keumuman nash yang mewajibkan shalat Jumat pada semua hari (QS Al Jumu’ah ayat 9), baik hari raya maupun bukan. Tapi, Imam Ash Shan’ani menyatakan, bahwa hadits Zayd bin Arqam adalah shahih menurut Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>Dalam hal ini patut kiranya ditegaskan, bahwa penolakan Imam Syafi’i terhadap hadits Zayd bin Arqam tidaklah mencegah kita untuk menerima hadits tersebut. Penolakan Imam Syafi’i terhadap hadits Zayd bin Arqam itu tidak berarti hadits tersebut –secara mutlak– tertolak (mardud). Sebab sudah menjadi suatu kewajaran dalam penilaian hadits, bahwa sebuah hadits bisa saja diterima oleh sebagian muhaddits, sedang muhaddits lain menolaknya. Dalam kaitan ini Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam <em>Al-Syakhshiyyah Al-Islamiyah</em> Juz I berkata : “…(kita tidak boleh cepat-cepat menolak suatu hadits) hanya karena seorang ahli hadits tidak menerimanya, karena ada kemungkinan hadits itu diterima oleh ahli hadits yang lain. Kita juga tidak boleh menolak suatu hadits karena para ahli hadits menolaknya, karena ada kemungkinan hadits itu digunakan hujjah oleh para imam atau umumnya para fuqaha… ”</p>
<p>Maka dari itu, kendatipun hadits Zayd bin Arqam ditolak oleh Imam Syafi’i, tidak berarti kita tidak boleh menggunakan hadits tersebut sebagai dalil syar’i. Sebab faktanya ada ahli hadits lain yang menilainya sebagai hadits shahih, yakni Imam Ibnu Khuzaimah, sebagaimana penjelasan Imam Ash Shan’ani. Jadi, beristidlal dengan hadits Zayd bin Arqam tersebut tetap dibenarkan, sehingga hukum yang didasarkan pada hadits tersebut adalah tetap berstatus hukum syar’i.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.2.Pendapat Imam Malik dan Abu Hanifah</strong></p>
<p>Imam Malik dan Abu Hanifah tetap mewajibkan shalat Jumat, baik bagi penduduk kota (<em>ahlul madinah/ahlul amshaar</em>), maupun penduduk desa/kampung atau penduduk padang gurun (ahlul badawi). Ibnu Rusyd menjelaskan argumentasi kedua Imam tersebut :  “Imam Malik dan Abu Hanifah berkata, ‘Shalat hari raya adalah sunnah, sedang shalat Jumat adalah fardhu, dan salah satunya tidak dapat menggantikan yang lainnya. Inilah yang menjadi prinsip asal (al ashlu) dalam masalah ini, kecuali jika terdapat ketetapan syara’, maka wajib merujuk kepadanya…”</p>
<p>Dari keterangan itu, nampak bahwa Imam Malik dan Abu Hanifah juga tidak menerima hadits-hadits yang menerangkan gugurnya shalat Jumat pada hari raya. Konsekuensinya, beliau berdua kemudian berpegang pada hukum asal masing-masing, yakni kesunnahan shalat Ied dan kewajiban shalat Jumat. Dasar pendapat mereka sebenarnya sama dengan pendapat Imam Syafi’i.</p>
<p>Namun demikian, beliau berdua memberikan perkecualian, bahwa hukum asal tersebut dapat berubah, jika terdapat dalil syar’i yang menerangkannya.</p>
<p>Atas dasar itu, karena terdapat hadits Zayd bin Arqam (yang shahih menurut Ibnu Khuzaimah) atau hadits Abu Hurayrah RA (yang shahih menurut Ad Daruquthni), maka sesungguhnya hadits-hadits tersebut dapat menjadi takhsis hukum asal shalat Jumat, yakni yang semula wajib kemudian menjadi rukhshah (tidak wajib).</p>
<p>Dengan demikian, yang berlaku kemudian adalah hukum setelah ditakhsis, bukan hukum asalnya, yakni bahwa shalat Jumat itu menjadi rukhshah bagi mereka yang menunaikan shalat hari raya, dan statusnya menjadi tidak wajib. Inilah pendapat yang lebih tepat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.3.Pendapat ‘Atha bin Abi Rabah</strong></p>
<p>‘Atha bin Abi Rabbah berpendapat bahwa jika hari Jumat bertepatan dengan hari raya, maka shalat Jumat dan zhuhur gugur semuanya. Tidak wajib shalat apa pun pada hari itu setelah shalat hari raya melainkan shalat ‘Ashar.</p>
<p>Imam Ash’ani menjelaskan bahwa pendapat ‘Atha` tersebut didasarkan pada 3 (tiga) alasan, yaitu :</p>
<p>Pertama, berdasarkan perbuatan sahabat Ibnu Zubayr RA sebagaimana diriwayatkan Imam Abu Dawud, bahwasanya :</p>
<p dir="rtl"><strong>عِيدَانِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ فَجَمَعَهُمَا جَمِيعًا فَصَلَّاهُمَا رَكْعَتَيْنِ بُكْرَةً لَمْ يَزِدْ عَلَيْهِمَا حَتَّى صَلَّى الْعَصْرَ</strong></p>
<p>“Dua hari raya (hari raya dan hari Jumat) telah berkumpul pada satu hari yang sama. Lalu dia (Ibnu Zubayr) mengumpulkan keduanya dan melakukan shalat untuk keduanya sebanyak dua rakaat pada pagi hari. Dia tidak menambah atas dua rakaat itu sampai dia mengerjakan shalat Ashar.” (HR Abu Dawud).</p>
<p>Kedua, shalat Jumat adalah hukum asal (al ashl) pada hari Jumat, sedang shalat zhuhur adalah hukum pengganti (al badal) bagi shalat Jumat. Maka dari itu, jika hukum asal telah gugur, otomatis gugur pulalah hukum penggantinya.</p>
<p>Ketiga, yang zhahir dari hadits Zayd bin Arqam, bahwa Rasul SAW telah memberi rukhshah pada shalat Jumat. Namun Rasul SAW tidak memerintahkan untuk shalat zhuhur bagi orang yang tidak melaksanakan shalat Jumat.</p>
<p>Demikianlah alasan pendapat ‘Atha` bin Abi Rabbah. Imam Ash Shan’ani tidak menerima pendapat tersebut dan telah membantahnya. Menurut beliau, bahwa setelah shalat hari raya Ibnu Zubayr tidak keluar dari rumahnya untuk shalat Jumat di masjid, tidaklah dapat dipastikan bahwa Ibnu Zubayr tidak shalat zhuhur. Sebab ada kemungkinan (ihtimal) bahwa Ibnu Zubayr shalat zhuhur di rumahnya. Yang dapat dipastikan, kata Imam Ash Shan’ani, shalat yang tidak dikerjakan Ibnu Zubayr itu adalah shalat Jumat, bukannya shalat zhuhur.</p>
<p>Untuk alasan kedua dan ketiga, Imam Ash Shan’ani menerangkan bahwa tidaklah benar bahwa shalat Jumat adalah hukum asal (al ashl) sedang shalat zhuhur adalah hukum pengganti (al badal). Yang benar, justru sebaliknya, yaitu shalat zhuhur adalah hukum asal, sedang shalat Jumat merupakan penggantinya. Sebab, kewajiban shalat zhuhur ditetapkan lebih dahulu daripada shalat Jumat. Shalat zhuhur ditetapkan kewajibannya pada malam Isra’ Mi’raj, sedang kewajiban shalat Jumat ditetapkan lebih belakangan waktunya (muta`akhkhir). Maka yang benar, shalat zhuhur adalah hukum asal, sedang shalat Jumat adalah penggantinya. Jadi jika shalat Jumat tidak dilaksanakan, maka wajiblah kembali pada hukum asal, yakni mengerjakan shalat zhuhur. (Imam Shan’ani, <em>Subulus Salam</em>, 2/112)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4.Kesimpulan</strong></p>
<p>Dari seluruh uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa jika hari raya bertepatan dengan hari Jumat, hukumnya adalah sebagai berikut :</p>
<p><em>Pertama</em>, jika seseorang telah menunaikan shalat hari raya (Ied), gugurlah kewajiban shalat Jumat atasnya. Dia boleh melaksanakan shalat Jumat dan boleh juga tidak. Namun, disunnahkan baginya tetap melaksanakan shalat Jumat.</p>
<p><em>Kedua</em>, jika orang yang telah menunaikan shalat hari raya tersebut memilih untuk tidak menunaikan shalat Jumat, wajib atasnya melaksanakan shalat zhuhur. Tidak boleh dia meninggalkan zhuhur.</p>
<p><em>Ketiga</em>, adapun orang yang pada pagi harinya tidak melaksanakan shalat hari raya, wajib atasnya shalat Jumat. Tidak dibenarkan baginya untuk meninggalkan shalat Jumat. Tidak boleh pula dia melaksanakan shalat zhuhur.</p>
<p>Demikianlah hasil pentarjihan kami untuk masalah ini sesuai dalil-dalil syar’i yang ada. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>= = =</p>
<p>*M. Shiddiq Al Jawi, S.Si, MSI, adalah Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia dan pengasuh Pondok Pesantren Hamfara Yogyakarta.</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Abdullah, Muhammad Husain. 1995. <em>Al Wadhih fi Ushul Al Fiqh</em>. Cetakan Kedua. Beirut : Darul Bayariq. 417 hal.</p>
<p>Abu Abdillah As-Sa’dun, <em>Ijtima’ Al-I’dayni, </em>(Riyadh : t.p.), t.t. 12 hal.</p>
<p>Abu Hafsh Ar-Rahmani, <em>Tsalatsu Masa`il Fiqhiyyah</em>, (t.t.p. : t.p.), t.t. 33 hal.</p>
<p>Ad Dimasyqi, Muhammad bin Abdurrahman Asy Syafi’i. 1993. <em>Rohmatul Ummah (Rahmatul Ummah Fi Ikhtilafil A`immah)</em>. Terjemahan oleh Sarmin Syukur dan Luluk Rodliyah. Cetakan Pertama. Surabaya : Al Ikhlas. 554 hal.</p>
<p>Ash Shan’ani, Muhammad bin Ismail Al Kahlani. Tanpa Tahun. <em>Subulus Salam</em>. Juz II. Bandung : Maktabah Dahlan. 224 hal.</p>
<p>Ash Shiddieqi, T.M. Hasbi. 1981. <em>Koleksi Hadits Hukum (Al Ahkamun Nabawiyah)</em>. Jilid IV. Cetakan Kedua. Bandung : PT. Alma’arif. 379 hal.</p>
<p>An Nabhani, Taqiyuddin. 1953. <em>Asy Syakhshiyah Al Islamiyah. Juz Ketiga (Ushul Fiqh)</em>. Cetakan Kedua. Al Quds : Min Mansyurat Hizb Al Tahrir. 492 hal.</p>
<p>———-. 1994. <em>Asy Syakhshiyah Al Islamiyah</em>. Juz Pertama. Cetakan Keempat. Beirut : Darul Ummah. 407 hal.</p>
<p>Ibnu Khalil, ‘Atha`. 2000. <em>Taisir Al Wushul Ila Al Ushul</em>. Cetakan Ketiga. Beirut : Darul Ummah. 310 hal.</p>
<p>Ibnu Rusyd. 1995. <em>Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid.</em> Juz I. Beirut : Daarul Fikr. 399 hal.</p>
<p>Raghib, Ali. 1991. <em>Ahkamush Shalat</em>. Cetakan Pertama. Beirut : Daar An Nahdhah Al Islamiyah.132 hal.</p>
<p>Sabiq, Sayyid. 1987. <em>Fikih Sunnah (Fiqhus Sunnah).</em> Jilid 2. Cetakan Ketujuhbelas. Terjemahan oleh Mahyuddin Syaf. Bandung : PT. Al Ma’arif. 229 hal</p>
<p>Syirbasyi, Ahmad. 1987. <em>Himpunan Fatwa (Yas`alunaka fi Ad Din wa Al Hayah)</em>. Terjemahan oleh Husein Bahreisj. Cetakan Pertama. Surabaya : Al Ikhlas. 598 hal</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cerita setelah shalat ied..]]></title>
<link>http://wiranurmansyah.wordpress.com/2009/11/28/cerita-setelah-shalat-ied/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 10:48:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>wiranurmansyah</dc:creator>
<guid>http://wiranurmansyah.wordpress.com/2009/11/28/cerita-setelah-shalat-ied/</guid>
<description><![CDATA[Setelah gagal pulang ke rumah gara-gara ada sedikit insiden di kosan, akhirnya saya sholat ied di ka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Setelah gagal pulang ke rumah gara-gara ada sedikit insiden di kosan, akhirnya saya sholat ied di kampus. Iseng jeprat jepret abis sholat ngelihat anak kecil yang sedang mengumpulkan koran bekas sholat. Anyway, here the story goes&#8230;</p>
<p><img class="aligncenter" title="1" src="http://farm3.static.flickr.com/2689/4139884825_8cf6b7d3fd.jpg" alt="" width="500" height="332" /><!--more--></p>
<p><img class="aligncenter" title="2" src="http://farm3.static.flickr.com/2612/4139884967_5c77ee8d6c.jpg" alt="" width="500" height="332" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="3" src="http://farm3.static.flickr.com/2516/4139885223_4e30dd019a.jpg" alt="" width="500" height="332" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="4" src="http://farm3.static.flickr.com/2599/4140646030_87d36ae65d.jpg" alt="" width="500" height="332" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="5" src="http://farm3.static.flickr.com/2555/4140646360_a713cbd5c3.jpg" alt="" width="500" height="332" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="6" src="http://farm3.static.flickr.com/2576/4139886641_3cee1af6b5.jpg" alt="" width="500" height="332" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="7" src="http://farm3.static.flickr.com/2718/4139887893_ca8d8c0a15.jpg" alt="" width="500" height="332" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="8" src="http://farm3.static.flickr.com/2530/4140649054_481c8ef59f.jpg" alt="" width="500" height="332" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="9" src="http://farm3.static.flickr.com/2614/4139889061_53ac3ebc34.jpg" alt="" width="500" height="332" /></p>
<p>Thanks for reading!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Idul Adha, Haji, Kurban, Ketupat]]></title>
<link>http://wahyuatcmanado.wordpress.com/2009/11/27/idul-adha-haji-kurban-ketupat/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 02:29:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Wahyu</dc:creator>
<guid>http://wahyuatcmanado.wordpress.com/2009/11/27/idul-adha-haji-kurban-ketupat/</guid>
<description><![CDATA[Alhamdulillahirabbil &#8216;alamiin&#8230; Allah masih mempertemukan saya dengan hari raya Idul Adha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Alhamdulillahirabbil &#8216;alamiin&#8230; Allah masih mempertemukan saya dengan hari raya Idul Adha tahun ini. Walaupun tadi malam habis dinas malam, tadi pagi bisa bangun untuk ke masjid, tapi hampir telat, hehehe. Saya ucapkan selamat hari raya Idul Adha buat pembaca sekalian. Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kitas semua, Amiin.</p>
<div id="attachment_72" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://wahyuatcmanado.wordpress.com/files/2009/11/a330-garuda.jpg"><img class="size-medium wp-image-72 " title="A330 Garuda Indonesia Airlines" src="http://wahyuatcmanado.wordpress.com/files/2009/11/a330-garuda.jpg?w=300" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">A330 Garuda Indonesia Airlines</p></div>
<p>Tulisan saya kali ini berbobot ringan, hanya berbagi pengalaman saja, jangan terlalu serius <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Idul Adha di Indonesia identik dengan haji, kurban, dan ketupat. Bicara mengenai haji, kepadatan lalu lintas udara di Bandara Hasanuddin Makassar tidak banyak terpengaruh. Penerbangan haji menggunakan pesawat Airbus 330 maskapai Garuda Indonesia Airlines dari Makassar maksimal hanya 4 kali dalam sehari (jika salah mohon dikoreksi, selama saya dinas maksimal cuma kebagian 4 ekor <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ). Pesawat haji juga parkir di apron (tempat parkir pesawat, red) bandara lama sehingga pergerakan lalu lintas pesawat di darat untuk penerbangan komersil reguler pun tidak menemui hambatan. Diluar dari itu semua, saya bersyukur bisa membantu &#8220;proses naik haji&#8221; orang-orang yang ber-embarkasi di Makassar. Semoga mereka menjadi haji-haji yang mabrur. Amiin.<br />
<!--more--><br />
<div id="attachment_74" class="wp-caption alignleft" style="width: 211px"><a href="http://wahyuatcmanado.wordpress.com/files/2009/11/kurban.jpg"><img class="size-full wp-image-74" title="kurban" src="http://wahyuatcmanado.wordpress.com/files/2009/11/kurban.jpg" alt="" width="201" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">hewan kurban</p></div></p>
<p>Mengenai kurban, tahun ini (di Makassar) saya justru jarang menemui kambing sebagai hewan kurban. Dari beberapa aktivis masjid yang saya tanya, rata-rata hewan kurban berupa sapi. Di masjid terdekat dengan rumah saya, Al-Multazam, justru semua hewan kurbannya adalah sapi yaitu sebanyak 9 ekor. Apakah kambing sudah punah? Atau kambing mahal sehingga lebih menguntungkan bila menggunakan sapi sebagai kurban? Pertanyaan yang kurang penting. Yang jelas, semoga hewan kurban dapat diterima dan membantu bagi orang-orang yang berhak.</p>
<p>Yang terakhir ini bahsan yang paling enak, ketupat, hehe. Saya yakin semua orang di Indonesia mengetahui makanan berbentuk kotak dari bahan beras ini. Dapat terbayang lezatnya bila dicampur dengan opor ayam buatan istri tercinta. Tidak berbeda dengan ibu-ibu lainnya, istri saya juga membuat ketupat dan opor ayam. Tapi ada yang beda dengan ketupat di Makassar. Daun pembungkus yang biasanya menggunakan daun kelapa, aka. janur, ketupat disini menggunakan daun pandan. Ketupat pun jadi lebih beraroma dan menantang untuk disantap dengan opor ayam kacang merah. Bagaimana dengan pengalaman Anda di Idul Adha tahun ini? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Idul Adha, Kurban dan Gizi Bangsa]]></title>
<link>http://inprogres.wordpress.com/2009/11/26/idul-adha-kurban-dan-gizi-bangsa/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 10:05:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>inprogres</dc:creator>
<guid>http://inprogres.wordpress.com/2009/11/26/idul-adha-kurban-dan-gizi-bangsa/</guid>
<description><![CDATA[Kamis, 26 November 2009 | 02:54 WIB Oleh ALI KHOMSAN Idul Adha adalah demonstrasi bentuk pengorbanan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kamis, 26 November 2009 | 02:54 WIB Oleh ALI KHOMSAN Idul Adha adalah demonstrasi bentuk pengorbanan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hukum Sholat Jum’at Pada Hari Raya (Idul Fitri/Adha)]]></title>
<link>http://syukriy.wordpress.com/2009/11/25/hukum-sholat-jum%e2%80%99at-pada-hari-raya-idul-fitriadha/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 02:20:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>syukriy</dc:creator>
<guid>http://syukriy.wordpress.com/2009/11/25/hukum-sholat-jum%e2%80%99at-pada-hari-raya-idul-fitriadha/</guid>
<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamualaikum wr wb. Mau Tanya. Kata Ustadz di kampung saya, karena Idul Adha besok ja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pertanyaan: Assalamualaikum wr wb. Mau Tanya. Kata Ustadz di kampung saya, karena Idul Adha besok ja]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kurban Nabi Ibrahim dan Kurban Imam Husain]]></title>
<link>http://ejajufri.wordpress.com/2009/11/25/kurban-nabi-ibrahim-dan-kurban-imam-husain/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 17:51:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>ejajufri</dc:creator>
<guid>http://ejajufri.wordpress.com/2009/11/25/kurban-nabi-ibrahim-dan-kurban-imam-husain/</guid>
<description><![CDATA[Berulang kali Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih putranya sendiri yang merupakan perintah dan petunju]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Berulang kali Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih putranya sendiri yang merupakan perintah dan petunju]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Halal bihalal]]></title>
<link>http://sdialazhar14.wordpress.com/2009/10/05/halal-bihalal/</link>
<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 02:04:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>sdia14smg</dc:creator>
<guid>http://sdialazhar14.wordpress.com/2009/10/05/halal-bihalal/</guid>
<description><![CDATA[Menurut pandangan umum Halal bihalal, dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasana Idul Fi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Menurut pandangan umum Halal bihalal, dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasana Idul Fi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Idul Fitri 1430 H]]></title>
<link>http://guruiler.wordpress.com/2009/09/30/idul-fitri-1430-h/</link>
<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 14:54:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>rochmatsalim</dc:creator>
<guid>http://guruiler.wordpress.com/2009/09/30/idul-fitri-1430-h/</guid>
<description><![CDATA[Mbah Supi dan Cucu [caption id="attachment_337" align="alignleft" width="300" caption="Ian Belajar A]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_335" class="wp-caption alignleft" style="width: 460px"><img src="http://guruiler.wordpress.com/files/2009/09/snapshot125.jpg" alt="Mbah Supi dan Cucu " title="Mbah Supi dan Cucu" width="450" height="337" class="size-full wp-image-335" /></p>
<p><p class="wp-caption-text">Mbah Supi dan Cucu </p></div>[caption id="attachment_337" align="alignleft" width="300" caption="Ian Belajar Adzan"]<img src="http://guruiler.wordpress.com/files/2009/09/snapshot128.jpg?w=300" alt="Ian Belajar Adzan" title="Ian Belajar Addzan" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-337" />[/caption]
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[IDUL FITRI 2.0]]></title>
<link>http://sibermedik.wordpress.com/2009/09/21/idul-fitri-2-0/</link>
<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 15:16:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>sibermedik</dc:creator>
<guid>http://sibermedik.wordpress.com/2009/09/21/idul-fitri-2-0/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Selamat Hari Raya Idul Fitri ]]></title>
<link>http://wasisagus.wordpress.com/2009/09/20/hari-raya-idul-fitri/</link>
<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 08:29:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Wasis</dc:creator>
<guid>http://wasisagus.wordpress.com/2009/09/20/hari-raya-idul-fitri/</guid>
<description><![CDATA[Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H Minal Aidin Wal Faizin Mohon Maaf  Lahir Dan Batin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H Minal Aidin Wal Faizin Mohon Maaf  Lahir Dan Batin]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430H..]]></title>
<link>http://fajarbaguswp.wordpress.com/2009/09/20/selamat-idul-fitri-1-syawal-1430h/</link>
<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 02:56:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>jargus</dc:creator>
<guid>http://fajarbaguswp.wordpress.com/2009/09/20/selamat-idul-fitri-1-syawal-1430h/</guid>
<description><![CDATA[Hallo sobat, udah lama juga ni saya a nulis. jadi gatel, banyak yang mao di ceritain. karena sekaran]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Hallo sobat, udah lama juga ni saya a nulis. jadi gatel, banyak yang mao di ceritain. karena sekaran]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Salam Aildilfitri 2009 to All]]></title>
<link>http://madeinsabah.wordpress.com/2009/09/20/salam-aildilfitri-2009-to-all/</link>
<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 01:00:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>esharkj</dc:creator>
<guid>http://madeinsabah.wordpress.com/2009/09/20/salam-aildilfitri-2009-to-all/</guid>
<description><![CDATA[Wishing all Muslim readers Selamat Hari Raya Aidilfitri.. maaf zahir dan batin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Wishing all Muslim readers Selamat Hari Raya Aidilfitri.. maaf zahir dan batin]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Idul Fitri 1430H]]></title>
<link>http://togry.wordpress.com/2009/09/20/idul-fitri-1430h/</link>
<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 21:41:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>gRy</dc:creator>
<guid>http://togry.wordpress.com/2009/09/20/idul-fitri-1430h/</guid>
<description><![CDATA[Jika ada comment tak terbalas, Jika ada posting yg menyinggung, Jika ada maksud dari kata-kata yg sa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jika ada comment tak terbalas,<br />
Jika ada posting yg menyinggung,<br />
Jika ada maksud dari kata-kata yg salah,<br />
Saya mohon dibukakan pintu maaf yg sebesar-besarnya&#8230;<br />
Dihari yg suci ini dengan diiringi gema takbir trus berkumandang tiada henti, semoga kita semua dapat kembali Fitrah</p>
<p>Selamat IDUL FITRI 1430H<br />
mohon maaf lahir &#38; batin</p>
<p>*nb: hati-hati dijalan bagi para teman blogger yg pulang kekampung halamannya masing-masing &#38; jangan lupa pulangnya bawa oleh-oleh ya?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Allahu akbar wa lillaahil hamd ...]]></title>
<link>http://sdialazhar14.wordpress.com/2009/09/20/allahu-akbar-3x-allahu-akbar-wa-lillaahil-hamd/</link>
<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 21:02:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>sdia14smg</dc:creator>
<guid>http://sdialazhar14.wordpress.com/2009/09/20/allahu-akbar-3x-allahu-akbar-wa-lillaahil-hamd/</guid>
<description><![CDATA[Allahu akbar&#8230; Allahu akbar&#8230; Allahu akbar&#8230; Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Allahu akbar&#8230; Allahu akbar&#8230; Allahu akbar&#8230; Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Obama Mengucapkan Selamat Idul Fitri]]></title>
<link>http://walkmania.wordpress.com/2009/09/20/obama-mengucapkan-selamat-idul-fitri/</link>
<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 17:20:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>kyubi firefox</dc:creator>
<guid>http://walkmania.wordpress.com/2009/09/20/obama-mengucapkan-selamat-idul-fitri/</guid>
<description><![CDATA[Presiden AS Barack Obama Sampaikan Ucapan Selamat Idul Fitri. Seiring dengan berakhirnya bulan Ramad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Presiden AS Barack Obama Sampaikan Ucapan Selamat Idul Fitri. Seiring dengan berakhirnya bulan Ramad]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Selamat Idul Fitri 2009 (1430H)]]></title>
<link>http://nuclear2004.wordpress.com/2009/09/20/selamat-idul-fitri-2009-1430h/</link>
<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 17:09:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>nuclear2004</dc:creator>
<guid>http://nuclear2004.wordpress.com/2009/09/20/selamat-idul-fitri-2009-1430h/</guid>
<description><![CDATA[Keluarga kecil sederhana Nuklir 2004 mengucapkan selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Keluarga kecil sederhana Nuklir 2004 mengucapkan selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keputusan Hari Raya Idul Fitri 1430 H Jatuh Tgl 20 September 2009]]></title>
<link>http://lowayucybercomunity.wordpress.com/2009/09/19/keputusan-hari-raya-idul-fitri-1430-h-jatuh-tgl-20-september-2009/</link>
<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 01:44:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>lowayucybercomunity</dc:creator>
<guid>http://lowayucybercomunity.wordpress.com/2009/09/19/keputusan-hari-raya-idul-fitri-1430-h-jatuh-tgl-20-september-2009/</guid>
<description><![CDATA[Beberapa hari lagi kita harus berpisah dengan Bulan Ramadhan,bulan yang penuh berkah ,rahmat dan amp]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Beberapa hari lagi kita harus berpisah dengan Bulan Ramadhan,bulan yang penuh berkah ,rahmat dan ampunan dari Allah swt.</p>
<p>
<p style="text-align:left;">yang tentu saja kita akan memasuki bulan<br />baru yaitu bulan Syawal.yang sekaligus pada tanggal 1 syawal merupakan<br />hari raya ‘Idul fitri .</p>
<p>
<p style="text-align:left;">maka pada kesempatan ini kami InsyaAllah<br />akan menyampaikan tentang berita yang berkaitan erat dengan keputusan<br />ini dan akan berusaha mengupdate tulisan ini hingga pada hari H</p>
<p>
<p style="text-align:left;"><span id="more-2185"> </span></p>
<p>
<p style="text-align:left;">sudah jauh-jauh sebelumnya Organisasi<br />Massa,Muhammadiyah dan Persis sudah memutuskan bahwa 1 syawal 1430<br />bertepatan dengan tanggal 20 september 2009</p>
<p>
<p style="text-align:left;">berikut kutipannya:</p>
<p>
<p style="text-align:left;"><strong>Keputusan PP Muhamadiyah</strong></p>
<p>
<p>Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kamis (23/07/2009) melalui Maklumat Nomor : 06/MLM/I.0/E/2009</p>
<p>
<p>Selain penetapan 1 Ramadhan, Maklumat tersebut juga memuat penetapan<br />1 syawwal 1430 H jatuh pada hari Ahad Legi tanggal 20 September 2009</p>
<p>
<p><span style="text-decoration:underline;"> </span><strong><a href="http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_remository&#38;Itemid=394&#38;func=fileinfo&#38;id=134"><strong>Download File Maklumat</strong></a></strong></p>
<p>
<p><strong>Keputusan PP PERSIS</strong></p>
<p>
<p>Surat Edaran bernomor 2015/JJ-C.3/PP/2009 ini juga berisi tentang<br />penentapan hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha 1430 H. Keputusan yang<br />dihasilkan ini merujuk kepada Almanak Persis tahun 1430 H sebagai hasil<br />perhitungan dan Rukyat Persis yang isinya sebagai berikut:</p>
<p>
<p><strong>1. Awal Ramadhan 1430 H; tanggal 1 Ramadhan 1430 H jatuh pada hari Sabtu, tanggal 22 Agustus 2009 M. </strong>·<br />Ijtimak akhir Sya’ban 1430 H, hari Kamis tanggal 20 Agustus 2009 pukul<br />17.02’40” WIB.· Ketinggian Hilal waktu Maghrib di Pelabuhanratu:<br />-1°10’.42,2”, di Jayapura -3°25’53,7” <strong>2. ‘Iedul Fithri 1430 H; tanggal 1 Syawwal 1430 H jatuh pada hari Ahad, tanggal 20 September 2009 M. </strong>·<br />Ijtimak akhir Ramadhan 1430 H, hari Sabtu tanggal 19 September 2009<br />pukul 01.45’.42” WIB. · Ketinggian Hilal waktu Maghrib di Pelabuhan<br />Ratu: 5°24’8,3”, di Jayapura 3°28’14,0”</p>
<p>
<p><strong>Keputusan PBNU</strong></p>
<p>
<p>berdasarkan yang dirilis oleh situs resmi PBNU Kepastian hari raya<br />Idul Fitri atau tanggal 1 Syawal 1430 H masih menunggu hasil rukyatul<br />hilal yang diadakan pada saat Matahari terbenam pada 29 Ramadhan atau<br />19 November 2009. Hasil rukyatul hilal ini kemudian dilaporkan dalam<br />Sidang Itsbat atau penetapan bersama Departemen Agama.</p>
<p>
<p>Data dalam Almanak PBNU yang diterbitkan Pengurus Pusat Lajnah<br />Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) untuk Markaz Jakarta menunjukkan,<br />posisi hilal atau bulan sabit pada saat diadakan rukyatul hilal sudah<br />mencapai ketinggian 5,38 derajat di atas ufuk.</p>
<p>
<p>Berdasarkan kriteria <em>imkanur rukyah</em> atau visibilitas<br />pengamatan, hilal dalam ketinggian itu sudah mungkin untuk dirukyat.<br />Jika dapat dirukyat maka dipastikan sidang itsbat akan menetapkan<br />Ramadhan hanya 29 hari dan 1 Syawal jatuh pada 20 September 2009.</p>
<p>
<p>Namun demikian berbagai kemungkinan masih terjadi. Jika hilal tidak<br />terlihat, misalnya karena terhalang awan maka akan dipakai kaidah <em>istikmal</em><br />atau penyempurnaan bulan Ramadhan menjadi 30 hari sehingga tanggal 1<br />Syawal akan jatuh pada hari berikutnya, Senin 21 September 2009.</p>
<p>
<p>Menurut Ketua Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah NU KH Ghazalie<br />Masroeri, pihaknya akan mengkoordinir pelaksanaan rukyatul hilal di<br />sedikitnya 55 titik strategis seluruh Indonesia.</p>
<p>
<p>“Ada 99 kader perukyat nasional yang bersertifikat yang tersebar di<br />beberapa titik yukyat, juga para kiai dan ustadz yang biasa melakukan<br />rukyat. Semoga rukyat berjalan lancar,” katanya dihubungi <em>NU Online</em>, Jum’at (11/9).</p>
<p>
<p style="text-align:left;"></p>
<p><strong>PWNU Jatim Perkirakan Idul Fitri 20 September</strong></p>
<p>
<p>Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur memperkirakan<br />Idul Fitri 1430 Hijriah akan jatuh pada 20 September. Sedang pemerintah<br />memprediksi pada 21 September.</p>
<p>
<p>“Kemungkinan sama itu terjadi karena tinggi hilal berkisar 5-8 derajat dan tergolong <em>imkanur rukyat</em>,” kata koordinator Tim Rukyat PWNU Jatim, Sholeh Hayat, di Surabaya, Senin (14/9).</p>
<p>
<p>Namun, katanya, PWNU Jatim akan tetap menurunkan tim rukyatul hilal<br />di 9 lokasi, karena Nabi Muhammad memerintahkan berpuasa dan berbuka<br />dengan <em>rukyatul hilal </em>(melihat hilal atau bulan usia muda sebagai penanda pergantian kalender).</p>
<p>
<p>“Idul Fitri tahun ini sangat dimungkinkan bersamaan antara NU,<br />Muhammadiyah, dan pemerintah, karena indikasi ke arah itu cukup kuat<br />sekali,” katanya.</p>
<p>
<p>Indikasi kuat itu didukung <em>hisab </em>(perhitungan astronomis) ulama NU, Muhammadiyah, ahli hisab independen yang mencapai imkanur rukyat.</p>
<p>
<p>“Imkanur rukyat adalah kesepakatan Indonesia, Brunei Darussalam,<br />Malaysia, dan Singapura tentang ketinggian minimal untuk melihat hilal,<br />yakni minimal 2 derajat,” katanya.</p>
<p>
<p>Padahal, katanya, hasil hisab tahun ini menunjukkan bahwa <em>ijtimak </em>(pertemuan<br />rembulan dan bumi dalam satu garis untuk menandai awal kalender)<br />terkait akhir Ramadhan terjadi pada hari ke-30 puasa atau 20 September.</p>
<p>
<p>“Saat ijtimak itu, tinggi hilal pada hari Sabtu (19 September 2009)<br />setelah ghurub (matahari terbenam) antara 5-8 derajat, sehingga sudah<br />masuk kategori imkanur rukyat,” katanya.</p>
<p>
<p>Karena itu, katanya, PWNU Jatim memperkirakan Hari Raya Idul Fitri<br />akan bersamaan waktunya antara NU, Muhammadiyah, dan<br />pemerintah.[nu.or.id]</p>
<p>
<p><strong>Keputusan PP Al irsyad</strong></p>
<p>
<p>berdasarkan press release Pimpinan pusat Al irsyad-al Islamiyah<br />Ijtima’ pada hari Sabtu, 19 September 2009 pukul 01.40 WIB tingi hilal<br />mar’i pada saat matahari ghurub hari Sabtu 19 September 2009 ialah<br />6º03’.</p>
<p>Lama hilal di atas ufuk 25 menit Hasil hisab besarnya 0,007985</p>
<p>Jarak azimuth hilal dan azimuth matahari 7º09’44?.</p>
<p>InsyaAllah pada saat itu hilal dapat dirukyat.</p>
<p><strong><em> Tanggal 1 Syawal 1430 H jatuh pada hari Ahad 20 September 2009</em></strong></p>
<p>
<p><strong>Menag: Lebaran Mungkin 20 September</strong></p>
<p>
<p style="text-align:left;">Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 Hijriah<br />kemungkinan akan jatuh pada Ahad (20/9). Hal ini berarti lebih cepat<br />satu hari dari penetapan kalender masehi yang selama ini mencantumkan<br />Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Senin (21/9).</p>
<p>
<p>“Mudah-mudahan sama dengan Muhammdiyah, tanggal 20 (September)<br />lebaran,” kata Menteri Agama, Maftuh Basyuni, di gedung DPR, Jakarta,<br />Senin (21/9).</p>
<p>
<p>Namun, menurut Maftuh, penetapan 1 Syawal 1430 Hijriah tetap<br />menunggu hasil sidang Isbat yang akan dilaksanakan ada Sabtu (19/9).<br />Mengapa pemerintah memperkirakan 1 Syawal akan jatuh pada Ahad (20/9)?<br />Maftuh menjawab, pemerintah memperkirakan hilal sudah berada di atas<br />ufuk tiga sampa lima derajat pada tanggal 19 September. “Kecuali ada<br />mendung sehingga hilal tidak terlihat,” kata Maftuh.</p>
<p>
<p>Sidang Isbat sendiri, terang Maftuh akan dilaksanakan pada 19<br />September 2009 pukul 16.30 WIB. Guna melihat hilal, sidang isbat akan<br />menggunakan alat-alat canggih dari observatorium Boscha, LIPI, dan<br />Menkominfo. [republika]</p>
<p>
<p><strong>Ketua Mui : kemungkinan besar 1 Syawal jatuh pada Ahad, 20 September 2009</strong></p>
<p>
<p>Majelis Ulama Indonesia menyatakan dalam penetapan 1 Syawal selalu<br />berdasarkan sidang itsbat yang dilakukan Departemen Agama bersama<br />ormas-ormas Islam<br />
.</p>
<p>
<p>“Sidang itsbat akan dilakukan pada 19 September, berdasarkan 29<br />Ramadhan. Kami menunggu dari situ,” kata salah satu ketua Majelis Ulama<br />Indonesia (MUI), Ma’ruf Amin dalam keterangan pers di Kantor MUI, Jalan<br />Proklamasi, Jakarta, Selasa 15 September 2009.</p>
<p>
<p>Namun, tambah dia, kemungkinan besar 1 Syawal jatuh pada Ahad, 20<br />September 2009. “Karena hilal pada Sabtu malam sudah mencapai 3 derajat<br />sampai 5 derajat,” kata dia.</p>
<p>
<p>Kemungkinan juga tak ada perbedaan pelaksanaan hari raya Idul Fitri.<br />“Karena sudah di atas 2 derajat, kemungkinan semua akan menetapkan hari<br />Ahad adalah hari raya. Kemungkinan tak ada perbedaan,” tambah dia.</p>
<p>
<p>Dijelaskan Ma’ruf, perbedaan selama ini terjadi karena letak hilal.<br />“Perbedaan selama ini karena hilal di bawah dua derajat,” tambah dia.<br />Sementara, Ketua Umum MUI Umar Shihab mengatakan ahli hisab maupun ahli<br />rukyat punya argumen masing-masing dalam menetapkan 1 Syawal. ‘”Itu<br />menyangkut keyakinan, tidak bisa dipaksakan,” kata dia.</p>
<p>
<p>Namun, tambah dia, jika ada hisab jdan rukyat, jangan<br />dibesar-besarkankan perbedaannya. “Karena perbedaan bisa memecah belah<br />persatuan. Seharusnya perbedaan itu&#160; jadi hikmah dan berkah,” tutur<br />Umar.[vivanews]</p>
<p>
<p><strong>Keputusan Sidang Isbath</strong></p>
<p>
<p>untuk mengetahui hasil keputusan sidang Isbath dan menentukan 1<br />syawal 1430 maka kita harus menunggu hasil sidang Isbath tersebut pada<br />tanggal 19 september 2009</p>
<div class="zemanta-pixie"><img class="zemanta-pixie-img" alt="" src="http://img.zemanta.com/pixy.gif?x-id=9c586903-59fd-8239-8556-f58d1acf6f2f" /></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keputusan Hari Raya Idul Fitri 1430 H Jatuh Tgl 20 September 2009]]></title>
<link>http://yoyoxcomputer.wordpress.com/2009/09/19/keputusan-hari-raya-idul-fitri-1430-h-jatuh-tgl-20-september-2009/</link>
<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 01:44:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yoyox Computer</dc:creator>
<guid>http://yoyoxcomputer.wordpress.com/2009/09/19/keputusan-hari-raya-idul-fitri-1430-h-jatuh-tgl-20-september-2009/</guid>
<description><![CDATA[Beberapa hari lagi kita harus berpisah dengan Bulan Ramadhan,bulan yang penuh berkah ,rahmat dan amp]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Beberapa hari lagi kita harus berpisah dengan Bulan Ramadhan,bulan yang penuh berkah ,rahmat dan amp]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Idul Fitri. Shahih Muslim No.1922]]></title>
<link>http://hadissahih.wordpress.com/2009/09/18/idul-fitri-shahih-muslim-no-1922/</link>
<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 19:31:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadissahih</dc:creator>
<guid>http://hadissahih.wordpress.com/2009/09/18/idul-fitri-shahih-muslim-no-1922/</guid>
<description><![CDATA[Hadis riwayat Abu Said Khudhri ra., ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Tidak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Hadis riwayat Abu Said Khudhri ra., ia berkata:<br />
Aku pernah mendengar  Rasulullah saw. bersabda: Tidaklah patut berpuasa pada dua hari tertentu, yakni  Hari Raya Idul Adha  dan Hari Raya Idul  Fitri setelah puasa Ramadan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perhitungan Astronomi: Idul Fitri 20 September   ]]></title>
<link>http://tuxlin.wordpress.com/2009/09/16/perhitungan-astronomi-idul-fitri-20-september-lipi-usulkan-tokoh-ilmuwan-jadi-pahlawan-nasional-sepuluh-hewan-laut-berbahaya-2009-nokia-luncurkan-n97-mini-dan-n900-tablet-hebat-bakteri-bis/</link>
<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 15:56:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>tuxlin</dc:creator>
<guid>http://tuxlin.wordpress.com/2009/09/16/perhitungan-astronomi-idul-fitri-20-september-lipi-usulkan-tokoh-ilmuwan-jadi-pahlawan-nasional-sepuluh-hewan-laut-berbahaya-2009-nokia-luncurkan-n97-mini-dan-n900-tablet-hebat-bakteri-bis/</guid>
<description><![CDATA[Masyarakat diminta tidak tersesat dalam membaca kalender yang menyebutkan Idul Fitri 1430 Hijriah ja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Masyarakat diminta tidak tersesat dalam membaca kalender yang menyebutkan Idul Fitri 1430 Hijriah ja]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ucapan Selamat Idul Fitri Dalam Berbagai Bahasa Di Dunia]]></title>
<link>http://kenmoksha.wordpress.com/2009/09/15/ucapan-selamat-idul-fitri-dalam-berbagai-bahasa-di-dunia/</link>
<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 01:08:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>kenmoksha</dc:creator>
<guid>http://kenmoksha.wordpress.com/2009/09/15/ucapan-selamat-idul-fitri-dalam-berbagai-bahasa-di-dunia/</guid>
<description><![CDATA[Seminggu lagi bulan Ramadhan akan meninggalkan kita, dan Idul Fitri menjelang. Segenap umat Muslim d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><span id="ctl00_ContentPlaceHolder1_lblNews"><img class="alignleft size-medium wp-image-835" title="album-57557-l" src="http://kenmoksha.wordpress.com/files/2009/09/album-57557-l.jpg?w=225" alt="album-57557-l" width="86" height="114" />Seminggu lagi bulan Ramadhan akan meninggalkan kita, dan Idul Fitri menjelang. Segenap umat Muslim di seluruh penjuru dunia merayakan hari kemenangan ini dengan penuh suka cita. Dan sebagai tanda persaudaraan, sesama Muslim akan saling mengucapkan selamat atas perayaan hari besar ini, dan saling memaafkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Berikut ini adalah ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri dalam beberapa bahasa di dunia. Siapa tahu anda ingin mengucapkannya kepada teman anda di daerah lain atau di negara lain, yang ikut merayakannya.</p>
<p>Indonesia : Selamat Lebaran, Selamat Idul Fitri</p>
<p>Banjar : Salamat Bahari raya</p>
<p>Jawa : Sugeng Riyadin</p>
<p>Padang : Selamet Idul Fitri</p>
<p>Sunda : Wilujeng boboran siyam</p>
<p>Afghanistan : Kochnay Akhtar</p>
<p>Arab : Aid Mubarok</p>
<p>Bangladesh : Rojar Eid</p>
<p>Belanda : Eigendom Mubarak</p>
<p>Bosnia : Ramazanski Bajram</p>
<p>Bulgaria : Pritezhavani Mubarak</p>
<p>Chech : Vlastnictvi Mubarak</p>
<p>Cina : Guoyou Mubalake</p>
<p>Denmark : Ejet Mubarak</p>
<p>Finladia : Omistama Mubarakiin</p>
<p>Inggris : Happy Eid El Fitr</p>
<p>Israel : Bebe’lanat Mawba’rak</p>
<p>Itali : Proprieta Mubarak</p>
<p>Jepang : Chuuko Mubaraku</p>
<p>Jerman : Besitz Mubarak</p>
<p>Korea : Junggo mubarakeu</p>
<p>Kroasia : Vlasnistvu Mubarak</p>
<p>Kurdishtan : Cejna Remezanê</p>
<p>Malaysia : Salam Aidilfitri</p>
<p>Mesir : Ed Karim atau Eid Sahid</p>
<p>Nigeria : Sallah</p>
<p>Perancis : Fete de l’aid</p>
<p>Persia Iran : Eid-e-Sayed Fitr</p>
<p>Polandia : Wlasnosia Mubarak</p>
<p>Portugis : Mubarak propriedade</p>
<p>Rumania : Mubarak aflate in proprietatea</p>
<p>Rusia : Prinadlezhashchikh Mubarakj</p>
<p>Senegal : Korite</p>
<p>Spanyol : Mubarak, de propiedad</p>
<p>Swedia : Agda Mubarak</p>
<p>Turki : Ramazan Bayrami</p>
<p>Urdu India : Choti Eid</p>
<p>Yunani : Aneekoeen Moeemparak (www.wikimu.com)</p>
<p><em><strong>Sekalian nih bonus ucapan sms lebaran buat kamu&#8230;</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">#Sayup terdengar takbir berkumandang<br />
Tanda Ramadhan akan lewat<br />
Ampunan diharap, barokah didapat<br />
Taqobalallahu minna wa minkum<br />
Mohon maaf lahir dan bathin</p>
<p style="text-align:justify;">#Bila ada langkah membekas lara<br />
Ada kata merangkai dusta<br />
Ada tingkah menoreh luka<br />
Mohon maaf lahir dan bathin<br />
Selamat hari raya Idul Fitri 1430 H</p>
<p style="text-align:justify;">#Jika langkahku membekas lara,<br />
Kataku merangkai dusta;<br />
Lakuku menoreh luka;<br />
Dari jeritan lubuk bathinku<br />
Dengan ketulusan hatiku<br />
Komohonkan maaf lahir bathinku<br />
Taqobalallahu minna wa minkum<br />
Minal Aidin wal Faizin<br />
Mohon Maaf Lahir dan Bathin<br />
Selamat Hari Raya Idul Fitri<br />
1 Syawal 1430 H</p>
<p style="text-align:justify;">#Ijinkan saya bersajak<br />
Untuk LISAN yang tak terJAGA<br />
Untuk JANJI yang terABAIKAN<br />
Untuk HATI yang berPRASANGKA<br />
Untuk SIKAP yang meNYAKITKAN<br />
Di hari yang FITRI ini, dengan TULUS HATI<br />
Saya mengucapkan mohon MAAF LAHIR &#38; BATHIN<br />
Semoga ALLAH selalu membimbing kita<br />
Bersama di jalanNYA</p>
<p style="text-align:justify;">#Sejalan dengan berlalunya Ramadhan tahun ini<br />
Kemenangan akan kita gapai<br />
Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi<br />
Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa<br />
Dalam kesempatan hidup ada keluasan ilmu<br />
Hidup ini indah jika segala karena ALLAH SWT<br />
Kami sekeluarga menghaturkan<br />
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H<br />
Taqobalallahu minna wa minkum<br />
Mohon maaf lahir dan bathin</p>
<p style="text-align:justify;">#Ramadhan akan berakhir…Lebaran semakin dekat.<br />
Mohon maaf ya, kalau selama ber-MP ria, ada perilaku tak menyenangkan/berkenan dari sang Tuan Rumah.<br />
SELAMAT IDUL FITRI 1430 H, mohon maaf lahir dan bathin.</p>
<p style="text-align:justify;">#MTV bilang kalo MO minta maap g ush nunggu lebaran<br />
Org bijak blg kerennya kalo mnt maap duluan<br />
Ust. Jefri blg org cakep mnt maap gk prl disuruh<br />
Kyai blg org jujur Ga perlu malu utk minta maap<br />
Jd krn Mrs anak nongkrong yg jujur, keren cakep Dan baek<br />
Ya gw ngucapin minal aidzin wal faizin , mohon maaf lahir Dan batin ..</p>
<p style="text-align:justify;">#Apapun kalimatnya yang pentingkan maknanya,<br />
Gw gak bisa buat kalimat yang puitis, kan gw bukan pujangga. so,……<br />
Untuk Semua Konco-konco di blogdetik.com gw mo ngucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H, Mohon maaf Lahir dan Batin<br />
Maapin Yaaa</p>
<p style="text-align:justify;">#AQ jg pnya kta2 wat lbaran.!!Ni kata2 bwatan Q sndiri loCh…<br />
Ne kta2nya :<br />
“Allahu Akbar<br />
Allahu Akbar<br />
Allahu Akbar<br />
Suara takbir seakan menggisi kekosongan hati tuk sambut esok nan Fitri!!<br />
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI<br />
mohon maaf lahir batin!!<br />
Bagus xan??</p>
<p style="text-align:justify;">#“Menjelang Lebaran, Sebelum Sinyal Hilang, Sebelum Operator Sibuk, Sebelum SMS pending mulu, Saya mo ngucapin . Met Idul Fitri, Minal Aidzin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Bathin “</p>
<p style="text-align:justify;">#Rumaos diri seueur kalepatan, neda pangapunten anu sa ageung2na tina samudayaning boh nu dihaja atanapi nuteu dihajana WILUJENG BADARAYA LEBARAN.qur ( Bahasa planet mana qur? Aq ga tahu artinya neh)</p>
<p style="text-align:justify;">#Beningkan hati dg dzikir<br />
Cerahkan jiwa dg cinta<br />
Lalui hr dg senyum<br />
Tetapkan langkah dg syukur<br />
Sucikan hati dg permohonan maaf<br />
mEt hArI RaYa IduL fiTrI<br />
TaqobbaLallaHu minNa wA MinKuM<br />
Minal AidziN WaL FaidziN<br />
Mhn MaaF LahiR n BaTiN “;)</p>
<p style="text-align:justify;">Andai jemari tak sempat berjabat, andai raga tak dapat bertatap, seiring bedug yang menggema, seruan takbir yang berkumandang, kuhaturkan salam menyambut hari raya idul fitri, jika ada kata serta khilafku membekas lara, mohon maaf lahir dan batin..</p>
<p style="text-align:justify;">تقبل الله منا ومنك<br />
Selamat hari raya idul fitri 1429H.<br />
Mohon maaf lahir dan bathin ya..</p>
<p style="text-align:justify;">Taqobalallahu minna wa minkum<br />
Sebelum takbir berkumandang<br />
Sebelum ajal menjemput<br />
Sebelum jaringan over load<br />
Ijinkan kami memohon maaf lahir dan bathin</p>
<p style="text-align:justify;">Thia mengucapkan &#8220;SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H&#8221;. Taqaballaahu minna wa minkum, wa shiamana wa shiamakum. Minal aidin wal faidzin, Kullu&#8217;aamin wa antum bikhair..</p>
<p style="text-align:justify;">#HIDUP HANYA SEBENTAR#<br />
SEBENTAR senang<br />
SEBENTAR sedih<br />
SEBENTAR bokek<br />
SEBENTAR berduit<br />
SEBENTAR ketawa<br />
SEBENTAR lagi&#8230;<br />
$LEBARAN Idul Fitri$<br />
Mohon Maaf Lahir Batin</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kerendahan hati, Hendra mohon keikhlasan untuk memaafkan kesalahan diri. Taqabalallahuminawaminkum<br />
Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau saja di hari lalu tergores sebait kata salah atau mungkin sepenggal laku yang bela, aku berharap semoga di hari yang fitri ini terbuka pintu maaf bagiku. &#8220;MINAL AIDIN WALFAIDZIN&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ngaturaken sedaya kelepatan ing riyadin niki mugi-mugi Gusti Allah maringi barokah lan rahmanipun. Mangga kita lalekake ingkang sampun kalawingi.. ya intine ngunu lah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tenggelamnya surya ratapi berakhirnya Ramadhan, hening mencekam songsong kesucian. Taqoballallohu minna wa minkum, maaf semua khilafku, mari kita minta ampunan-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Fren, aku minta maaf atas semua kesalahan yang aku lakukan. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Minal aidin walfaidin, sepurane ya. Semoga kita sukses. Oke</p>
<p style="text-align:justify;">Jika jiwa sebening air, maka jangan keruhkan. Jika hati seputih awan, jangan mendungkan. Raih kemenangan dengan saling memaafkan. Selamat Idul Fitri. Mohon maafin Nita ya!</p>
<p style="text-align:justify;">Mari lengkapi kemenangan dengan saling memaafkan. Selamat Idul Fitri 1429H.<br />
Mohon keikhlasan untuk memaafkan segaka kesalahan yang pernah saya lakukan. Trims -Siswi-</p>
<p style="text-align:justify;">Andai jemari tak kuasat, setidaknya kata masih dapat terungkap. Taqobbal Allahu Minna Waminkum, Minal Aidzin wal Faidzin.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila ada kata terselip dusta, ada sikap membekas lara, dan langkah menoreh luka, semoga masih ada maaf tersisa. Selamat Idul Fitri. Minal Aidin wal Faidzin.</p>
<p style="text-align:justify;">Maafkan Yuyun ya Anang, mungkin selama berteman ada luput yang tak berkenan. Trims. Dan kuucapkan TaqobbAllahu minna waminkum. Semoga masih jumpa Ramadhan depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mata kadang salah melihat. Mulut kadang salah berucap. Hati kadang salah menduga. Maafkan segala kekhilafan. Mohon maaf lahir dan bathin. Selamat hari raya Idul Fitri 1429H. Maafin ya.</p>
<p style="text-align:justify;">Maaf aku tidak bisa berpuisi. Jadi langsung aja, intinya dengan tulus dan ikhlas Arif mengucapkan selamat Idul Fitri 1429H. Mohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan yang pernah tak perbuat.</p>
<p style="text-align:justify;">Assalamualaikum. Apa kabar? Minal aidzin wal faidzin. Taqobalallahu minna wa minkum. Semoga tali silaturahim kita tetap terjaga</p>
<p style="text-align:justify;">Beli es di warung bu Rima. Taruh di piring santap bersama. SMS sudah saya terima, teriring pula maksud yang sama. Minal Aidzin wal Faidzin.. Mohon maaf lahir batin..</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum HCl jadi basa, sebelum NaCl jadi manis, tanganku selalu tertengadah mengharap titrasi maaf dari buret hatimu. Met idul fitri mohon maaf lahir batin.</p>
<p style="text-align:justify;">Cangkem iki sering nggedabrus, utek iki sering mikir sing elek. Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir batin.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak selamanya mata memandang dengan ramah, hati menilai dengan jernih, dan mulut bicara dengan santun. Menjelang hari raya kuucapkan MET HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR BATIN.</p>
<p style="text-align:justify;">Suminaring surya enjang dinten riyadin, pethak cinandra resik ing wardaya. Mangayubagya dinten riyadin 1429H. Nyuwun agunging pangajsami lepat kawula kalian keluarga.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga menjadi jiwa yang fitri teriring doa Taqobalallahu minna waminkum taqobbal ya karim, ja&#8217;alanallahu waiyakum minal aidin walfaizin walmaghfurin.</p>
<p style="text-align:justify;">Seuntai kata sepenuh hati, maafkan khilaf, perteguh persaudaraan iman. Robbii.. eratkan hati kami untuk senantiasa taat kepadaMu. Met ied 1429H</p>
<p style="text-align:justify;">Mas, ngapunten ingkang kathah kangge sedayanipun kalepatan kula dhateng panjenengan. Arif ngaturaken sugeng idul fitri 1429 H. Mohon maaf lahir kaliyan batin.</p>
<p style="text-align:justify;">Ikan teri kesamber gledek. Idul fitri is come back. Ada anak pelihara kate, maafin kita sekeluarga ye. Buah jambu disayur lodeh. Kalo gak mau, ee e ee capek deh.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku mohon maaf atas semua kesalahanku. Baik yang disengaja maupun yang tidak, yang besar maupun yang kecil, yang masih ingat maupun yang sudah lupa.</p>
<p style="text-align:justify;">Cempluk mengucapkan mohon maaf lahir batin. Taqaballahu minkum. Selamat hari raya idul fitri 1429 hijriyah. Salam perjuangan, Cempluk, S.Blog</p>
<p style="text-align:justify;">Ramadhan telah usai, namun semangat ramadhan moga selalu ada di hati. Gema takbir telah dikumandangkan. Minal aidzin wal faidzin. Maaf atas segala kesalahan baik sengaja atau tak sengaja.</p>
<p style="text-align:justify;">Sugeng riyadin. TaqobbalAllahu minna waminkum.</p>
<p style="text-align:justify;">Aruming pangruwating jiwa, winayah ing lekasing ati suci, sumusul lumunturing nugraha jatining sedya. Sugeng ariyadi, nyuwun agunging samodra pangaksami.</p>
<p style="text-align:justify;">Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir bathin. Semoga persahabatan kita terus langgeng meski tak bisa bersua. Thanks for all.</p>
<p style="text-align:justify;">Assalamu&#8217;alaikum wr.wb. Taqabbalallahu minna wa minkum Allaahumma taqabbal yaa kariim. Selamat hari raya idul fitri 1429 H, mohon maaf lahir dan batin.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;&#8221;!J+!d 7np! eheJ !JeH fewe7aS<br />
&#8220;&#8221;u!feq J!He7 dv.vw uOHOw<br />
*balik dulu HPnya kalau mau baca <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /><br />
Taqaballahu minna wa minkum. Semoga spirit Ramadhan terus bersama kita di sebelas bulan berikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesalahan hati dan khilaf diri, terkadang hadir menyapa indahnya kebersamaan yang kita jalani. Selamat idul fitri 1429 h. Mohon maaf lahir dan bathin.</p>
<p style="text-align:justify;">Seputih cocain, sebening vodka, seharum daun ganja mari kita kembali ke fitrah. Minal aidin wal faidzin.</p>
<p style="text-align:justify;">One day before Ied, I wanna say: Forgive my sins, may our hearts purified from all mistakes, Happy Iedul Fitri Minal Aidzin wal Faidzin.</p>
<p style="text-align:justify;">u!+vq uvp J!Hv7 Â£vvw uoHow u!z!vÂ£ 7vm u!z!v 7vu!w .uv&#62;Â¡ Â£vvw!p &#38; sndvH!P snJvh 6h&#8217; n7v7 vsvw !Jvp uvHv7vs3&#62;Â¡ Hv7vpv vsop<br />
Bacanya dibalik ya..</p>
<p style="text-align:justify;">Sugeng dhalu, abdi badhe nyuwun ngapunten, saking kalepatan yang disengaja atau tidak disengaja mugi-mugi, amal kita sedaya diterima Allah SWT, amien.</p>
<p style="text-align:justify;">Rinenggo pudyo pudyaning satata kanthi perbawaning 1429 H dalem sakaluargi nyuwun sih lumebering samodra pangaksami lahir dumugi ing batos.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari waktu 00.00, ketika awan masih putih, saat air masih jernih, hati masih bersih. Manusia malah berlomba-lomba menggores noda-noda. Mari kembali ke waktu 00.00. &#8220;Minal &#8216;aizin wal faizin&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Allahuakbar..<br />
Ied al-fitri is approaching. Let&#8217;s embrace it with pure heart. From the bottom of my heart, I would like to ask an apology. Minal Aidzin Wal Faidzin.</p>
<p style="text-align:justify;">Segenap Keluarga Besar dan Karyawan aLayFANSCLUB inc. mengucapkan: Minal Aidzin Wal Faidzin<br />
Gue bener-bener minta maap banget<br />
Segera download DosaRemover v2.0 only @ AFC.com</p>
<p style="text-align:justify;">Mari jadikn DETIK ini sebagai titik balik untuk BERUBAH. Walaupun salah itu pasti, tapi bagi Anjaya minta MAAF adalah PILIHAN. Taqobollahu minna wa minkum. Tolong dimaafin ya..</p>
<p style="text-align:justify;">Teriring gema takbir memuji kebesaran Allah SWT, kami mengucapkan &#8216;Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin&#8217;</p>
<p style="text-align:justify;">Assalamualaikum. Saya haturkan selamat idul fitri, mohon maaf atas segala salah yang banyak saya sengaja atau tidak selama ini baik yang bersifat lahir atau batin. Semoga kita jadi lebih baik. AMIN!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
