<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>imam-ali-ra &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/imam-ali-ra/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "imam-ali-ra"</description>
	<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 01:14:02 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Seri Kebohongan "Syaikhul Islam" Ibnu Taymiah (4)]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2009/06/03/seri-kebohongan-ibnu-taymiah-2/</link>
<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 02:25:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2009/06/03/seri-kebohongan-ibnu-taymiah-2/</guid>
<description><![CDATA[Seri Kebohongan “Syaikhul Islam” Ibnu Taymiah (4) Imam Ali as. Banyak Menentang Nash Suci Persembaha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h3><span style="color:#008080;"><strong>Seri Kebohongan “Syaikhul Islam” Ibnu Taymiah (4)</strong></span></h3>
<p><strong><span style="color:#003366;">Imam Ali as. Banyak Menentang Nash Suci</span></strong></p>
<p><strong>Persembahan Untuk Blog <a href="http://haulasyiah.wordpress.com/" target="_blank"><em><span style="color:#0000ff;">-haulasyiah-</span></em></a> dan Wahabiyyun Salafiyyun</strong></p>
<p><span style="color:#003366;"><em>“Tulisan dibawah ini kami lengkapi dengan bukti scan dari kitab “Minhajus Sunnah” karya Ibnu Taymiah terbitan Saudi Arabia yang di Tahqiq oleh Dr. Muhammad Rasyad Salim”</em></span></p>
<p>Sepertinya politik “Menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan” sudah menjadi sikap pilihan unggulan Ibnu Taymiah dalam menyebar luaskan virus kebencian kepada Imam Ali as. di tengah-tengah kaum Muslimin, khususnya di kalangan para “Penyembah Pohon Terkutuk”.</p>
<p>Berbagai atraksi kepalsuan dan penipuan telah dilakukan Ibnu Taymiah demi mencapai tujuannya dalam menularkan penyakit kemunafikannya, <span style="color:#0000ff;">demdam kusumat dan kebenciannya kepada sahabat Nabi saw. paling berjasa dalam menegakkan, menyebarkan dan membela agama Islam bersama Rasulullah saw</span>… kebencian kepada Pendekar Islam Abadi yang dengan ketajaman pedang Dzul Fiqar-nya kepala-kepala para Aimmatul Kufri/gembong-gembong kekafiran ditebas dan kemudian arwah jahat mereka dikirim untuk menjadi bahan bakar api neraka Jahannam!</p>
<p>Kini Ibnu Taymiah menipu pembacanya dengan <span style="color:#0000ff;">menuduh Imam Ali as. telah banyak berfatwa dan bertindak menentang nash Al Qur’an dan Sunnah!</span></p>
<p><strong>Ia menulis dalam <em>Minhajus-Sunnah</em>-nya:</strong></p>
<p><strong><!--more--><br />
</strong></p>
<p><strong><a rel="attachment wp-att-328" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/2009/06/03/seri-kebohongan-ibnu-taymiah-2/minhaj_8_cover/"><img class="aligncenter size-full wp-image-328" title="minhaj_8_cover" src="http://ibnutaymiah.wordpress.com/files/2009/06/minhaj_8_cover.jpg" alt="minhaj_8_cover" width="452" height="613" /></a></strong></p>
<p><strong><a rel="attachment wp-att-329" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/2009/06/03/seri-kebohongan-ibnu-taymiah-2/minhaj_8_299_1-2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-329" title="Minhaj_8_299_1" src="http://ibnutaymiah.wordpress.com/files/2009/06/minhaj_8_299_11.jpg" alt="Minhaj_8_299_1" width="468" height="655" /></a><br />
</strong></p>
<blockquote><p><a rel="attachment wp-att-330" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/2009/06/03/seri-kebohongan-ibnu-taymiah-2/minhaj_8_299_1_crop1-2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-330" title="Minhaj_8_299_1_crop1" src="http://ibnutaymiah.wordpress.com/files/2009/06/minhaj_8_299_1_crop11.jpg" alt="Minhaj_8_299_1_crop1" width="468" height="194" /></a></p>
<p><em>“<span style="color:#000080;">Dan Syafi’i telah mengumpulkan dalam kitab</span> <strong>“Khlilaf Ali dan Abdullah”</strong> <span style="color:#0000ff;">satu juz besar ucapan-ucapan/pendapat-pendapat Ali yang ditinggalkan orang-orang/manusia karena bertentangan dengan nash atau makna nash</span>. Dan setelahnya Muhammad ibn Nasr al Marwazi mengumpulkan lebih banyak lagi. Sebab ia apabila berdebat dengan penduduk Kufah selalu berdalil dengan nash, lalu mereka mengatakan kami mengikuti pendapat Ali dan Ibnu Mas’ud. Maka ia mengumpulkan untuk mereka banyak pendapat Ali dan Ibnu Mas’ud yang mereka tinggalkan atau ditinggalkan manusia.” </em></p>
<p><strong>(Minhajus-Sunnah, Tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim  Jilid 8, hal. 299)</strong> <span style="color:#ff0000;"> -lihat scan diatas-</span></p></blockquote>
<p>*</p>
<p>Sebenarnya apa yang terjadi? <span style="color:#0000ff;">Apakah mereka menulis buku yang menghimpun pendapat-pendapat Imam Ali as. yang menentang nash?</span> Atau <span style="color:#0000ff;">mereka sedang menulis buku yang menghimpun pendapat dan fatwa-fatwa Imam Ali yang ditinggalkan penduduk Kufah?</span></p>
<p><strong>Di sini Ibnu Taymiah dengan terpaksa atau tanpa ia sadari telah membongkar kedok penipuan dan dustanya sendiri… Ia berkata:</strong></p>
<p><strong><a rel="attachment wp-att-331" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/2009/06/03/seri-kebohongan-ibnu-taymiah-2/minhaj_8_281_2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-331" title="Minhaj_8_281_2" src="http://ibnutaymiah.wordpress.com/files/2009/06/minhaj_8_281_2.jpg" alt="Minhaj_8_281_2" width="397" height="662" /></a></strong></p>
<p>.</p>
<blockquote><p><strong><br />
</strong></p>
<p><a rel="attachment wp-att-348" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/2009/06/03/seri-kebohongan-ibnu-taymiah-2/minhaj_8_281_2_crop_75-2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-348" title="Minhaj_8_281_2_crop_75" src="http://ibnutaymiah.wordpress.com/files/2009/06/minhaj_8_281_2_crop_751.jpg" alt="Minhaj_8_281_2_crop_75" width="379" height="84" /></a></p>
<p><em>“Dan Syafi’i dan Muhammad ibn Nshr al Marawzi telah menghimpun kitab besar tentang pendapat-pendapat Ali yang tidak diambil oleh kamum Muslim, sebab pendapat orang lain lebih mengikuti al Kitab dan Sunnah…”</em></p>
<p><strong>(Minhajussunnah, Tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim. Jilid 8, hal. 281) &#8211; </strong><span style="color:#0000ff;">Lihat Scan diatas</span></p></blockquote>
<p>&#160;</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Jadi jelas kan bahwa mereka menulis buku yang menghimpun pendapat-pendapat Ali yang tidak diambil oleh kamum Muslim…!! Sebab -kata Ibnu Taymiah- pendapat sahabat atau orang lain lebih mengikuti Al Qur’an dan Sunnah….</span> <span style="color:#0000ff;">Bukan Ali as. menyalahi Al Kitab dan Sunnah!</span> Perhatikan ia menggunakan shighat tafdhil (bentuk kata yang menunjukkan lebih)… Jadi di sini ia terpaksa tidak mengatakan bahwa Ali as. menentang al Kitab dan Sunnah, ia mengikuti keduanya…. hanya saja sahabat lain atba’/ lebih mengikuti keduanya.</p>
<p>Kendati dalam ucapannya kali ini ia terpaksa membuka kedok kepalsuan dan dustanya… akan tetapi karena kronisnya penyakit kedengkiannya kepada Imam Ali as. yag ia derita, maka “hati nurani” Ibnu Taymiah yang bening itu pun sanggup membiarkan pengakuan semu itu mengalir tanpa racun penipuan dan kedurhakaan… Sebab ternyata <span style="color:#0000ff;">al Marwazi sebenarnya menulis sebuah buku yang merangkum pendapat-pendapat Abu Hanifah yang menyalahi pendapat Imam Ali as. dan Ibnu Ma’sud!</span></p>
<p><em><strong>As Subki </strong></em>dan <em><strong>adz Dzahabi</strong></em> menukil dari Abu Ishaq asy Syîrâzi,</p>
<blockquote><p><em>“Sesungguhnya al Marwazi mengarang buku tentang masalah-masalah yang mana Abu Hanifah menyalahi Ali dan Ibnu Mas’ud ra..”</em> <strong><span style="color:#0000ff;">[1]</span></strong></p></blockquote>
<p><span style="color:#ff00ff;">Coba Anda perhatikan baik-baik kedurhakaan apa yang telah dilakukan Ibnu Taymiah terhadap Imam Ali as.!! Dimanakah sikap amanat yang diperintahkan agama bahkan terhadap musuh kita sekalipun?!</span></p>
<p>Karenanya, Allah SWT memerintahkan kita agar bertabayyun terhadap berita yang disampaikan orang fasik, sebab dikhawatirkan ia membawa berita palsu…Persis dengan kasus kita kali ini!! Sebab orang-orang fasik itu gemar memalsu dan atau memutar balikkan fakta!! Orang fasik gemar berdusta dan memalsu… Semoga laknat Allah atas orang-orang yang berdusta/Kadzibin!</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">Bukankah sikap ini bukti nyata kebencian Ibnu Taymiah terhadap Imam Ali as.?! </span></span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Masihkah Anda ragu bahwa Ibnu Taymiah adalah musuh Imam Ali as. yang tak henti-hentinya memuntahkan luapan kedengkian dan penghinaannya terhadapnya?!</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"> </span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*****************</span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><span style="color:#800000;">Sebagai tambahan, artikel terkait tentang hal ini pernah kami tulis di blog ini</span>:<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/16/imam-ali-as-banyak-menyimpang-dari-nash-nash-agama/" target="_blank"> -&#8221;Ibnu Taymiah: Imam Ali as Banyak Menyimpang dari Nash-nash Agama&#8221;</a></strong><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/16/imam-ali-as-banyak-menyimpang-dari-nash-nash-agama/" target="_blank"> -klik disini-</a></p>
<p><span style="color:#800000;">Ikuti terus artikel dalam rubrik ini pasti Anda makin kenal siapa Ibnu Taymiah  !!</span></p>
<p>.</p>
<p><strong><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">Catatan Kaki</span><br />
</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#0000ff;">_______________________________________</span><br />
</strong><br />
<span style="color:#0000ff;"><strong>[1] </strong></span>Thabqât asy Syafi’iyah,2/247, Siyar A’lâm an Nubalâ’,14/38 dari Thabqât asy Syafi’iyah; Asy Syîrâzi:106-107.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seri Kebohongan "Syaikhul Islam" Ibnu Taymiah (1)]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2008/12/04/seri-kebohongan-syaikhul-islam-ibnu-taymiah-1/</link>
<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 22:48:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2008/12/04/seri-kebohongan-syaikhul-islam-ibnu-taymiah-1/</guid>
<description><![CDATA[Dipersembahkan kepada haulasyiah dan wahhabiyyun salafiyun Sebelum anda membaca artikel kami dibawah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#333399;"><span style="color:#ff0000;">Dipersembahkan kepada</span><em> <a href="http://haulasyiah.wordpress.com/" target="_blank">haulasyiah</a></em> <span style="color:#ff0000;">dan wahhabiyyun salafiyun</span></span></p>
<p><span style="color:#000080;"><em>Sebelum anda membaca artikel kami dibawah ini, dan mengikuti pembuktian kami atas kebohongan Imam Besar Wahhabi/Salafy &#8220;Ibnu Taymiah&#8221;, kami ingin terlebih dahulu mengajak anda memperhatikan ucapan dan dusta Ibnu Taymiah dalam kitabnya &#8220;Minhajussunnah&#8221;.</em></span></p>
<p><span style="color:#000080;"><em>Untuk kenetralan ilmiah Kami Scan-kan kitab Ibnu Taymiah yang diterbitkan oleh Institusi Wahabi yaitu &#8220;Universitas al-Imam Muhammad bin Saud al-Islamiyah&#8221; yang berada di negara sarang wahabi/salafy &#8220;Saudi Arabia&#8221;.</em></span></p>
<p><span style="color:#000080;"><em>Buku ini diterbitkan 9 jilid dan di &#8220;tahqiq&#8221; oleh Dr. Muhammad Rasyad Salim, serta diberi kata pengantar oleh Dr. Abdullah bin Abdul-Muhsin at-Turky.<br />
_______________</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong>Kebohongan Ibnu Taymiah Tentang Hadis Turunnya Ayat al-Wilayah Untuk Imam Ali as. !</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><!--more--><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;"><strong>SCAN 1</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;"><strong><img class="size-full wp-image-105 aligncenter" title="ayat-wilayah1b_rsz2" src="http://ibnutaymiah.wordpress.com/files/2008/12/ayat-wilayah1b_rsz2.jpg" alt="ayat-wilayah1b_rsz2" width="299" height="421" /></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;"><strong><a rel="attachment wp-att-297" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/2008/12/04/seri-kebohongan-syaikhul-islam-ibnu-taymiah-1/minhaj_2_30_1/"><img class="aligncenter size-full wp-image-297" title="Minhaj_2_30_1" src="http://ibnutaymiah.wordpress.com/files/2008/12/minhaj_2_30_1.jpg" alt="Minhaj_2_30_1" width="336" height="490" /></a></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;">
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;"><strong><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<h2 class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:right;margin:0;">وَقَدْ وَضَعَ بَعْضُ الكَذَّابِيْنَ حَدِيْثًا مُفْتَرًى: أَنَّ هذه الآيَةَ نَزَلَتْ فِيْ عليٍّ لَمَّا تَصَدَّقَ بِخاتَمِهِ في الصلاةِ، و هذا كِذْبٌ بِإِجماعِ أهِلِ العِلْمِ بالنقْلِ، كِذْبَهُ بيِّنٌ مِنْ وُجوهٍ كَثِيْرَةٍ</h2>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em>“Para pembohong telah memalsukan hadis buatan bahwa ayat <strong> <span style="color:#ff0000;">“انما وليكم الله …” </span></strong>turun untuk Ali ketika ia mensedekahkan cincinnya dalam shalat, itu adalah bohong/palsu <span style="color:#0000ff;">berdasarkan kesepakatan para ulama dan Ahli Hadis</span>, dan kebohongannya telah tampak dari banyak sisi.”</em><span style="color:#000000;"><strong> </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#000000;"><strong>[Minhajussunnah Jilid 2, hal. 30]<span style="color:#ff0000;"> </span></strong><span style="color:#ff0000;">(lihat scan diatas)]</span></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#000000;">*</span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;"><strong>SCAN 2<br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;"><strong><img class="size-full wp-image-107 aligncenter" title="ayat-wilayah2b3b_rsz" src="http://ibnutaymiah.wordpress.com/files/2008/12/ayat-wilayah2b3b_rsz.jpg" alt="ayat-wilayah2b3b_rsz" width="329" height="462" /></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;"><strong><a rel="attachment wp-att-298" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/2008/12/04/seri-kebohongan-syaikhul-islam-ibnu-taymiah-1/minhaj_7_11_2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-298" title="Minhaj_7_11_2" src="http://ibnutaymiah.wordpress.com/files/2008/12/minhaj_7_11_2.jpg" alt="Minhaj_7_11_2" width="366" height="558" /></a><br />
</strong></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<h2 style="text-align:right;"><strong>قولُهُ: قَدْ أجْمَعَوا أنَّها نزَلَتْ فيِ علِيٍّ مِنْ أَعْظَمِ الدَعاوِيْ الكاذِبَةِ، بَلْ أَجْمَعَ أهْلُ العلْمِ بالنقْلِ على أنَّها لَمْ تَنْزِلْ في علِيٍّ بخُصُوصِهِ، أنَّ عليًّا لِمْ يَتَصدَقْ بِخاتَمِهِ في الصلاةِ، و أجمَعَ أهْلُ العلْم بالحديثِ على أنَّ القصَّةَ الْمروِيَّةَ في ذلِكَ مِن الكذبِ الموضوعِ….</strong></h2>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><br />
</strong><em>“Ucapannya bahwa ayat ini telah disepakati turun untuk Ali adalah paling dustanya pengakuan. <span style="color:#0000ff;">Bahkan para ulama ahli hadis telah bersepakat bahwa ia tidak khusus turun untuk Ali,</span> dan Ali tidak mensedekahkan cincinnya. <span style="color:#0000ff;">Para ulama ahli hadis telah bersepakat </span>bahwa kisah yang diriwayatkan tentang masalah itu adalah kobohongan dan palsu…&#8221;</em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><strong><span style="color:#000000;">[Mihajussunnah, jilid 7 hal. 11] </span></strong><span style="color:#ff0000;">(lihat scan diatas)]</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#ff0000;"><br />
</span></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong>*</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;"><strong>SCAN 3</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;"><strong><a rel="attachment wp-att-299" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/2008/12/04/seri-kebohongan-syaikhul-islam-ibnu-taymiah-1/minhaj_7_17_3/"><img class="aligncenter size-full wp-image-299" title="Minhaj_7_17_3" src="http://ibnutaymiah.wordpress.com/files/2008/12/minhaj_7_17_3.jpg" alt="Minhaj_7_17_3" width="391" height="556" /></a><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><a rel="attachment wp-att-300" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/2008/12/04/seri-kebohongan-syaikhul-islam-ibnu-taymiah-1/minhaj_7_17_3_crop/"><img class="aligncenter size-full wp-image-300" title="Minhaj_7_17_3_crop" src="http://ibnutaymiah.wordpress.com/files/2008/12/minhaj_7_17_3_crop.jpg" alt="Minhaj_7_17_3_crop" width="391" height="53" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em>&#8220;Dan jumhur umat tidak mendengar berita ini, dan tidak ada di kitab-kitab andalan kaum muslimin, tidak di kitab-kitab shahih, tidak di kitab-kitan sunan, dan tidak di kitab-kitab jamik&#8230;.&#8221;</em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#000000;"><strong>[Minhajussunnah, Jilid 7, hal. 17] -</strong></span> (lihat scan diatas]</span><strong><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong>Kebohongan Ibnu Taymiah Tentang Hadis Turunnya Ayat al-Wilayah Untuk Imam Ali as. !</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">Berdusta dan menipu, apalagi dalam urusan agama adalah sebuah kejahatan yang tak terampuni di samping mencoreng nama baik seorang. Andai seseorang tidak lagi percaya kepada Allah dan hari pembalasan serta mahkamah Ilahi, pastilah ia akan menahan diri dari berbohong jika ia seorang kesatria… Bukan pecundang! Sebab  kata pepatah Arabs, <em>“Al kadzibu habluhu qashîrun</em>/tali kebohongan itu pendek.” Cepat atau lambat kebohongan para pendusta akan terbongkar! Dan keterhinaan panjang akan selalu menyertainya!</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">Kali ini, kami akan menyajikan di hadapan Anda contoh-contoh dusta dan kebohongan serta penipuan yang dilakukan seorang Kesatria dari dusun Harrân yang oleh pemujanya digelari <em>Syeikh Islam!</em> Ia adalah Ibnu Taymiah, si “Jawara” yang selalu mendemonstrasikan sikap dusta <span style="color:#0000ff;"><em>-dengan mengatas-namakan ijmâ’ dan kesepatakan para ulama-</em></span> setiap kali ia berhadapan dengan nash-nash keutamaan Ahlulbait Nabi saw. dan khususnya Imam Ali as.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">Kebohongan demi kebohongan selalu ia sajikan kepada para pemujanya sebagai senjata ampuh menjatuhkan keutamaan Imam Ali as. di mata mereka!</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">Kali ini kami ajak pembaca menikmati menu spesial kebohongan hasil ramuan Ibnu Taymiah dalam menolak hadis shahih tentang turunnya ayat <em>al Wilayah</em> untuk Imam Ali as. ketika beliau mensedekahkan cincinya di saat shalat dalam keadaan ruku’ kepada seorang pengemis.<strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong>Teks Riwayat Asbâb Nuzul Ayat al Wilâyah:</strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="line-height:150%;">Diriwayatkan oleh para ulama bahwa Abu Dzar al-Ghifari menceritakan di hadapan halayak yang sedang berkumpul mendengarkannya,</span></p>
<blockquote>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="line-height:150%;"><em>“Aku telah mendengar Rasulullah saw. dengan kedua (telingaku) ini, (dan Abu Dzar menambahkan):…tulilah keduanya jika aku berdusta (kemudian katanya lagi) dan telah aku saksikan beliau dengan kedua mataku ini, dan butalah keduanya jika aku berdusta, “Sabda Rasulullah saw.: Ali adalah pemimpin kelompok orang-orang yang tulus, pejuang yang memerangi kaum kafir, jayalah siapa yang membantunya, hinalah siapa yang menelantarkan dukungan baginya!”</em></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><em><span style="line-height:150%;">Dan Abu Dzar melanjuntukan,” Suatu hari aku shalat bersama Rasulullah saw. maka masuklah ke masjid seorang pengemis dan tidak seorang pun memberinya sesuatu, pada saat itu Ali sedang shalat dalam keadaan ruku’ dan ia memberi isyarat dengan jari manisnya yang bercincin, lalu pengemis itu menghampirinya dan mengambil cincin itu dari jari Ali, Rasulullah menyaksikan hal itu dan beliau berdo’a dengan khusyu’nya kepada Allah, “Ya Allah sesungguhnya Musa telah memohon kepadamu:</span></em></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><em><span style="line-height:150%;">Berkata Musa, “Ya Tuhan-ku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun; saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Mengetahui (keadaan) kami”.(QS:20;25-35).</span></em></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><em><span style="line-height:150%;">Maka Engkau telah mewahyukan kepadanya:</span></em></p>
<p style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">قد أُوْتِيْتَ سُؤْلَكَ يَا</span><span style="line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">مُوْسَى</span><span style="line-height:150%;" dir="ltr"> ….</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="line-height:150%;">“<em>Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.”</em></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><em><span style="line-height:150%;">Dan aku, ya Allah –kata Rasulullah saw.- adalah hamba dan Nabi-Mu lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan jadikanlah untukku seorang wazir dari keluargaku; Ali, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku”. Abu Dzar berkata. ” Demi Allah, beliau belum sampai menyelasaikan ucapan (do’anya) melainkan Jibril al-Amin turun dengan membawa ayat ini”. </span></em><span style="line-height:150%;">Yaitu ayat:</span></p>
<h2 style="direction:rtl;text-indent:18pt;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:right;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">إِنمَّاَ وَلِيُّكُمُ اللهُ وَ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">رَسُوْلُهُ وَ الَّذِيْنَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَ يُؤْتُوْنَ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">الزَّكَاةَ وَ هُمْ رَاكِعُوْنَ * وَ مَنْ يَتَوَلَّ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ وَ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">الَّذين آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْغَالِبُوْنَ . (المائدة</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" dir="ltr"> 55-56</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">)</span></h2>
<p style="text-indent:18pt;line-height:150%;text-align:justify;"><em><span style="line-height:150%;">“Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk {kepada Allah}. Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut {agama} Allah itulah yang pasti menang. (QS:5;55-56)</span></em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">Hadis tentang sebab turun ayat tersebut di atas sebagai turun terkait dengan peristiwa di atas telah diriwayatkan oleh puluhan ulama dan ahli tafsir kenamaan dari berbagai jalur dan dishahihkan oleh banyak ulama.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">Di antara yang meriwayatkan hadis turunnya ayat tersebut untuk Imam Ali as. dalam peristiwa tersebut adalah:</p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;"><span style="line-height:150%;">1)<span style="font:7pt &#38;"> </span></span><span style="line-height:150%;">Al Hafidz Abu Bakar Ibnu Mardawaih al Ishbahani (W:416 H.) dari jalur Sufyan ats Tsauri dari Abu Sinan bin Said bin Sinan al-Barjani dari ad Dhahhak dari Ibnu Abbas. Jalur ini shahih dan para perawinya <em>tsiqah</em> ia juga meriwayatkan dari jalur lain yang ia katakana bahwa jalur ini tidak dapat dicacat dan ada jalur lain dari Ali as. Ammar dan Abi Rafi’ ra.</span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;"><span style="line-height:150%;">2)<span style="font:7pt &#38;"> </span></span><span style="line-height:150%;">Abu Said al Asyaj al Kufi (W:257 H.) dalam tafsirnya dari Abu Nu’aim Fadil bin Da’im dari Musa bin Qais al Hadhrami dari Salamah bin Kuhail. Jalur ini shahih dan para perawinyan <em>tisqah</em>, terpercaya.</span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;"><span style="line-height:150%;">3)<span style="font:7pt &#38;"> </span></span><span style="line-height:150%;">Jalaluddin as Suyuthi dalam tafsirnya <em>ad Durr al Manstur</em>.2,293 dari jalur al-Khatib, Abdul Razzaq, Abdu bin Humaid, Ibnu Jarir, Abu Syeikh, Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas. Dari jalur ath Thabarani, Ibnu Mardawaih dari Ammar bin Yasin. Dari jalur Abu Syeikh dan ath Thabarani dari Ali as. Dari jalur Ibnu Abi Hatim, Abu Syeikh, dan Ibnu ‘Asâkir dari Salamah bin Kuhail. Dan jalur Ibnu Jarir dari Mujahid, as Suddi dan Uthah bin Hakim. Dan dari jalur ath Thabrani, Ibnu Mardawaih dan Abu Nu’aim dari Abu Rafi’. Dan dalam kitab <em>Lubâb an Nuqûh</em>-nya hal. 93 dari jalur-jalur yang telah lewat, kemudian ia berkata, <span style="color:red;">”Dan ini adalah bukti-bukti yang saling mendukung”.</span> Dan dalam kitab <em>Jam’u al-Jawami’</em>-nya hal. 391 dari jalur al Khatib dari Ibnu Abbas dan hal. 405 dari jalur Abu Syeikh dan Ibnu Mardawaih dari Ali as. Dalam kitab <em>Iklîl</em>-nya hal. 93, ia mengutip komentar Ibnu al Furs bahwa (1) ayat itu menunjukkan bahwa gerakan yang sedikit dalam shalat tidak membatalkannya dan (2) shadaqah sunnah juga disebut zakat, karena sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan sedekah Imam Ali as. kepada seorang pengemis ketika beliau dalam keadaan ruku’.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="line-height:150%;">Dusta Ibnu Taymiah Yang Memalukan!</span></strong></p>
<h2 style="line-height:150%;text-align:justify;margin:auto 0;"><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;">Setelah Anda ketahui bersama dan juga dalam uraian panjang dan penuh data dalam artikel kami</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"> : <a title="Ayat Turun Untuk Imam Ali as. adalah Palsu!!" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/31/ayat-turun-untuk-imam-ali-as-adalah-palsu-2/"><span style="text-decoration:none;">Ayat Turun Untuk Imam Ali as. adalah Palsu!!</span></a></span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"> &#8230; datanglah Ibnu Taymiah mengatakan dengan tanpa rasa tanggung jawab agama dan etika bahwa seluruh hadis/riwayat tentang asbâb turunnya ayat itu untuk Imam Ali adalah kepalsuan belaka! Hanya para</span><span style="font-weight:normal;font-size:12pt;line-height:150%;"> <em>kadzâbûn</em>/para pendusta yang memalsu-malsu dongeng itu!</span><span style="line-height:150%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong> </strong></span></span></span></h2>
<h2 style="line-height:150%;text-align:justify;margin:auto 0;"><span style="line-height:150%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Perhatikan kepalsuan Ibnu Taymiah ini! Ia berkata: </strong></span></span></span></h2>
<blockquote><p><span style="line-height:150%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><a rel="attachment wp-att-301" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/2008/12/04/seri-kebohongan-syaikhul-islam-ibnu-taymiah-1/minhaj_2_30_1_crop/"><img class="aligncenter size-full wp-image-301" title="Minhaj_2_30_1_crop" src="http://ibnutaymiah.wordpress.com/files/2008/12/minhaj_2_30_1_crop.jpg" alt="Minhaj_2_30_1_crop" width="334" height="63" /></a><br />
</strong></span></span></span></p>
<p style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:right;" dir="rtl"><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">وَقَدْ وَضَعَ بَعْضُ الكَذَّابِيْنَ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">حَدِيْثًا مُفْتَرًى: أَنَّ هذه الآيَةَ نَزَلَتْ فِيْ عليٍّ لَمَّا تَصَدَّقَ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">بِخاتَمِهِ في الصلاةِ، و هذا كِذْبٌ بِإِجماعِ أهِلِ العِلْمِ بالنقْلِ، كِذْبَهُ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">بيِّنٌ مِنْ وُجوهٍ كَثِيْرَةٍ</span></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" dir="ltr">.</span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#000000;"><em><span style="line-height:150%;">“Para pembohong telah memalsukan hadis buatan bah</span></em><em>wa ayat </em><strong><em>“</em></strong><strong><em><span style="font-family:&#38;" dir="rtl" lang="AR-SA">انما وليكم الله</span></em></strong> …”<em> turun untuk Ali ketika ia mensedekahkan cincinnya </em></span><em><span style="line-height:150%;"><span style="color:#000000;">dalam shalat, itu adalah bohong/palsu berdasarkan kesepakatan para ulama dan Ahli Hadis, dan kebohongannya telah tampak dari banyak sisi.” </span><span style="color:#0000ff;"> </span></span></em></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#ff0000;"><strong><span style="line-height:150%;"><span style="color:#0000ff;">[perhatikan scan no. 1 diatas -dari kitab Ibnu Taymiah-]</span></span></strong><em><span style="line-height:150%;"> </span></em></span></span><a name="_ftnref1" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#38;"><span style="color:#ff0000;">[1]</span></span></span></span></span></a></p>
</blockquote>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;">*</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;">Dalam kesempatan lain ia juga memuntahkan luapan kebenciannya kepada Imam Ali as. dengan mengarang dusta dan kebohongan, sebagai berikut:</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><em><span style="line-height:150%;font-style:normal;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><br />
</span></span></em></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><em><span style="line-height:150%;font-style:normal;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><br />
</span></span></em></p>
<blockquote>
<p style="line-height:150%;text-align:right;"><a rel="attachment wp-att-302" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/2008/12/04/seri-kebohongan-syaikhul-islam-ibnu-taymiah-1/minhaj_7_11_2_crop/"><img class="aligncenter size-full wp-image-302" title="Minhaj_7_11_2_crop" src="http://ibnutaymiah.wordpress.com/files/2008/12/minhaj_7_11_2_crop.jpg" alt="Minhaj_7_11_2_crop" width="366" height="87" /></a></p>
<p style="line-height:150%;text-align:right;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">قولُهُ: قَدْ أجْمَعَوا أنَّها نزَلَتْ</span><span style="line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">فيِ علِيٍّ مِنْ أَعْظَمِ الدَعاوِيْ الكاذِبَةِ، بَلْ أَجْمَعَ أهْلُ العلْمِ</span><span style="line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">بالنقْلِ على أنَّها لَمْ تَنْزِلْ في علِيٍّ بخُصُوصِهِ، أنَّ عليًّا لِمْ</span><span style="line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">يَتَصدَقْ بِخاتَمِهِ في الصلاةِ، و أجمَعَ</span><span style="line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">أهْلُ العلْم بالحديثِ على أنَّ</span><span style="line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&#38;" lang="AR-SA">القصَّةَ الْمروِيَّةَ في ذلِكَ مِن الكذبِ الموضوعِ</span><span style="line-height:150%;" dir="ltr"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">….</span></span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:#000000;"><em><span style="line-height:150%;">“Ucapannya bahwa ayat ini telah disepakati turun untuk Ali adalah paling dustanya pengakuan. Bahkan para ulama ahli hadis telah bersepakat bahwa ia tidak khusus turun untuk Ali, dan Ali tidak mensedekahkan cincinnya. </span></em><em><span style="line-height:150%;">Para</span></em></span><em><span style="line-height:150%;"><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#000000;"> ulama ahli hadis telah bersepakat bahwa kisah yang diriwayatkan tentang masalah itu adalah kobohongan dan palsu….” </span><span style="color:#0000ff;"> </span></span></span></em></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="line-height:150%;"><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#0000ff;">[Perhatikan scan no. 2 dari -kitab Ibnu Taymiah-]</span></span></span><em><span style="line-height:150%;"><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#0000ff;"> </span></span> </span></em></span></span></strong><a name="_ftnref2" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#38;">[2]</span></span></span></span></a></p>
</blockquote>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;">*</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="line-height:150%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Siapa Si Pendusta Yang Sok Bicara Itu?</span></span></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="line-height:150%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Setelah Anda saksikan dengan mata kepala Anda sendiri bagaimana Ibnu Taymiah –imam dan pujaan kaum Wahhabi dan penyanjung pohon terkutuk-<span style="color:#0000ff;"> berbohong atas nama agama .. atas nama ilmu pengetahuan… atas nama ijma’ dan kesepakatan para ulama ahli hadis dll. Sementara itu antara klaim palsunya dan sikap para ulama ahli hadis seperti jauhnya antara langit dan bumi dan berlawanan arah bagaikan timur dan barat!!</span></span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="line-height:150%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Setelah itu semua masihkah Anda menanti darinya kejujuran… obyektifitas dalam bersikap terhadap Imam Ali as.?!</span></span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="line-height:150%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Mengapakah setiap kali ia menyandarkan kepalsuannya yang menipu itu <span style="color:#ff00ff;"><em><strong>kepada ijma dan kesepakatan ulama, ia tidak pernah menyebutkan pernyataan dan penegasan mereka?!</strong></em> </span>Atau bahkan sekedar menyebutkan nama-nama mereka?! Atau kalau sulit baginya hal demikian, mengapa ia tidak menyebutkan barang satu saja nama ulama yang sependapat dengannya dalam klaim palsu menipu penuh racun itu?! </span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="line-height:150%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Mengapa ia tidak pernah memaksa diri untuk menyebutkan nama-nama mereka?!</span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="line-height:150%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="text-decoration:underline;">Bukankah puluhan nama ulama dan ahli hadis serta ahli tafsir yang meriwayatkannya bukan ulama di mata Ibnu Taymiah? </span>Lalu siapakah ulama yang menurutnya jika mereka semua bukan ulama?!</span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="line-height:150%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Jika riwayat itu hanya diproduksi oleh para pembohong besar, lalu apa yang ia maksud dengan para pembohong besar itu adalah para ulama kepercayaan Ahlusunnah tersebut? </span></span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="color:red;line-height:150%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Papatah berkata: Guru kencing berdiri, murid kencing berlari…. Jika kaum Wahhabi menjadikan Ibnu Taymiah -pemuja pohon terkutuk- sebagai panutan mereka maka janganlah Anda heran apabila mereka juga gemar memalsu dan menipu seperti yang di-<em>uswah-</em>kan oleh <em>&#8220;Syaikhul Islam&#8221;</em>-nya para penyembah hawa nafsu. </span></span></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="color:red;line-height:150%;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><br />
</span></span></span></strong></p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#38;">[1]</span></span></span></a><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> Minhâj as Sunnah, Jilid 2, hal. 30 cetakan Saudi Arabia (sesuai scan diatas) atau 1/155. Cet. Dar al Kotob al Ilmiah, seperti dalam pengumuman kami. </span></span></p>
<p>&#160;</p>
<div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn2" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#38;">[2]</span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> <span style="font-size:small;">Minhaj as Sunnah, Jilid 7. hal. 11. Cetakan saudi Arabia (sesuai scan diatas) atau 4/4. Cet. Dar al Kotob al Ilmiah, seperti dalam pengumuman kami.</span></span></span></p>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berhati-hati]]></title>
<link>http://librarian0801.wordpress.com/2008/01/31/berhati-hati/</link>
<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 16:51:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>librarian0801</dc:creator>
<guid>http://librarian0801.wordpress.com/2008/01/31/berhati-hati/</guid>
<description><![CDATA[  Dengan kelemahlembutan kebutuhan akan dapat diperoleh, dan dengan berhati-hati akan mudah segala h]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Dengan      kelemahlembutan kebutuhan akan dapat diperoleh, dan dengan berhati-hati      akan mudah segala hal yang dikehendaki.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Pembuktian      adalah ketetapan.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Tergesa-gesa      dalam segala urusan akan menghasilkan kesusahan, penyebab utama      penyesalan, menghilangkan kekesatriaan, cela pada akal, dan bukti akan      kelemahan akidah.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Orang      yang memikirkan (sebelum melakukan sesuatu) berhasil mencapai tujuan atau      hampir, sedangkan orang yang tergesa-gesa menemui kegagalan atau hampir.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Barangsiapa      yang dalam urusannya berada pada posisi tidak memikirkan akibatnya, maka      dia telah menghadapkan dirinya pada musibah yang besar.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Menggerakkan      orang yang diam lebih mudah daripada mendiamkan yang bergerak.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Hindarilah      olehmu: “Aku duga…”, “Aku kira…”, dan “Aku berpendapat…”</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Tahanlah      dirimu dari suatu jalan jika engkau khawatir akan tersesat di dalamnya.      Sebab, menahan diri ketika ragu akan tersesat lebih baik daripada menaiki      sesuatu yang menakutkan.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Di      antara taufik itu adalah berhenti ketika ragu.</li>
</ul>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rendah Hati]]></title>
<link>http://librarian0801.wordpress.com/2008/01/31/rendah-hati/</link>
<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 16:48:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>librarian0801</dc:creator>
<guid>http://librarian0801.wordpress.com/2008/01/31/rendah-hati/</guid>
<description><![CDATA[                                                                                                    ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal"><span>                                                                                                       </span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Rendah      hati (tawadhu) adalah suatu kenikmatan yang tidak dimengerti oleh orang      yang dengki.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Sombong      terhadap orang-orang yang sombong adalah tawadhu itu sendiri.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Rendah      hati termasuk salah satu cara mendapatkan kemuliaan.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Rendah      hati membawa kepada keselamatan.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Tidak      ada nasab (yang lebih mulia) seperti rendah hati.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Buah      dari rendah hati adalah (mendapatkan) kecintaan.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Kerendahhatian      seseorang di saat dia memiliki kedudukan menjadikan perlindungan baginya      ketika dia mengalami kejatuhan.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Temuilah      orang-orang ketika mereka butuh kepadamu dengan keceriaan dan      kerendahhatian. Maka, jika engkau terkena suatu musibah dan keadaan buruk      menimpamu, lalu engkau bertemu dengan mereka, maka engkau telah aman dan      terlepas dari bahaya kehinaan karena kerendahhatianmu itu.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Orang-orang      golongan atas, jika mereka terdidik, mereka rendah hati; dan jika mereka      menjadi miskin, mereka menyerang.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Orang      yang rendah hati seperti jurang yang didalamnya berhimpun air hujan dan      air hujan lainnya, sedangkan orang yang sombong seperti bukit yang tidak      menetap didalamnya air hujannya dan air hujan yang lainnya.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Jika      engkau telah melakukan segala sesuatu, maka jadilah seperti orang yang      tidak melakukan apapun.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Etika Majelis]]></title>
<link>http://librarian0801.wordpress.com/2008/01/03/etika-majelis/</link>
<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 16:51:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>librarian0801</dc:creator>
<guid>http://librarian0801.wordpress.com/2008/01/03/etika-majelis/</guid>
<description><![CDATA[Jika engkau berada dalam suatu majelis, sedangkan engkau bukanlah orang yang berbicara di dalamnya, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Jika      engkau berada dalam suatu majelis, sedangkan engkau bukanlah orang yang      berbicara di dalamnya, dan bukan pula orang yang diajak bicara, maka      berdirilah (tinggalkan majelis itu)!</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Barangsiapa      bercampur dengan orang-orang alim, dia akan dihormati (oleh orang banyak);      dan barangsiapa yang bercampur dengan orang-orang yang rendah, dia akan      dihinakan.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Hendaklah      engkau duduk bersama orang-orang yang sudah banyak makan asam-garam      (berpengalaman dalam hidup) karena sesungguhnya majelis mereka ini dinilai      dengan harga yang paling mahal, sementara engkau mengambilnya dari mereka      dengan harga yang paling murah.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Janganlah      engkau menghadirkan dalam majelismu orang yang tidak serupa denganmu.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p align="center">***</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Teman dan Saudara]]></title>
<link>http://librarian0801.wordpress.com/2008/01/03/teman-dan-saudara/</link>
<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 16:41:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>librarian0801</dc:creator>
<guid>http://librarian0801.wordpress.com/2008/01/03/teman-dan-saudara/</guid>
<description><![CDATA[Janganlah engkau menyia-nyiakan hak saudaramu karena perselisihan yang terjadi antara engkau dan dia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b> </b></p>
<ul>
<li>Janganlah engkau menyia-nyiakan hak saudaramu karena      perselisihan yang terjadi antara engkau dan dia. Sebab, bukanlah saudara      yang engkau sia-siakan haknya.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Sebaik-baik saudaramu adalah yang membantumu, dan      yang lebih baik darinya adalah yang mencukupimu.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Tolonglah saudaramu dalam setiap keadaan (situasi      apapun) dan binasalah bersamanya dimana saja dia binasa.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Janganlah engkau menjadi orang yang lebih kuat dalam      memutuskan tali kekerabatan dengan saudaramu daripada menyambungnya.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Janganlah engkau memutuskan hubungan dengan saudaramu      kecuali setelah segala cara yang sudah engkau tempuh tidak dapat lagi      memperbaiki hubungan di antara engkau dengannya. Dan janganlah setelah      terjadi pemutusan ini, engkau mengikutkannya dengan umpatan terhadapnya      sehingga engkau menutup jalan baginya untuk kembali berbaikan denganmu.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Janganlah engkau mendiamkan saudaramu hanya      berdasarkan keraguan, dan janganlah engkau memutuskan hubungan dengannya      tanpa memberikan teguran terlebih dahulu.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Janganlah engkau menghukum saudaramu, meskipun dia      telah membuatmu malu.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Janganlah engkau merasa senang dengan banyaknya teman      selama mereka bukan orang-orang yang baik. Sebab, kedudukan teman seperti      api; sedikitnya adalah kenikmatan, sedangkan banyaknya adalah kebinasaan.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Orang yang paling gagal (dalam hidupnya) adalah orang      yang tidak mampu mendapatkan teman-teman, dan yang lebih gagal daripadanya      adalah yang menyebabkan perginya mereka yang telah didapatkannya itu.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Patuhilah saudaramu walaupun dia durhaka kepadamu,      dan sambunglah tali kekerabatan dengannya walaupun dia menjauh darimu.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Berhati-hatilah engkau dari banyaknya kawan karena      sesungguhnya hanya orang yang mengenalmu yang menyakitimu.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Pujilah yang bersikap terus terang kepadamu dan      menasihatimu bukan orang yang memujimu dan menjilatmu (mengambil muka).</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Jika engkau ingin berteman dengan seseorang, maka      lihatlah siapa musuhnya.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Jika temanmu menipumu, maka golongkanlah dia ke dalam      musuhmu.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Posisikanlah teman sebagai musuh dalam mengambil      perbekalan darinya, dan posisikanlah musuh seperti teman dalam menanggung      beban untuknya.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Korbankanlah hartamu untuk temanmu. Kepada kenalanmu      pertolonganmu dan kehadiranmu. Kepada orang banyak dengan keceriaan dan      belas kasihmu, dan kepada musuhmu dengan keadilanmu. Akan tetapi,      janganlah engkau mengorbankan agamamu dan kehormatanmu kepada siapa pun.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Temanmu adalah yang melarangmu (dari kemaksiatan),      sedangkan musuhmu adalah yang membujukmu (untuk mengerjakan kemaksiatan).</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Seburuk-buruk teman adalah yang menjadikanmu susah      karenanya.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Sebaik-baik teman, jika engkau tidak membutuhkannya,      dia akan bertambah dalam kecintaannya kepadamu; dan jika engkau      membutuhkannya dia tidak akan berkurang sedikit pun kecintaannya kepadamu.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Janganlah engkau berharap kepada orang yang menjauh      darimu.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Teman-teman yang buruk adalah seperti pohon api, yang      sebagiannya membakar sebagian yang lain.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Perjalanan adalah bagian dari siksaan, dan teman yang      buruk adalah bagian dari api.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Berhati-hatilah engkau dari teman yang buruk karena sesungguhnya      ia seperti pedang yang terhunus, ia terlihat bersinar dan akibatnya sangat      buruk (membinasakan).</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Janganlah sekali-kali engkau mendekati orang yang      engkau takutkan darinya keselamatan agamamu dan kehormatanmu.</li>
<li class="MsoNormal">Empat malapetaka, yaitu:
<ol>
<li class="MsoNormal">Tetangga yang buruk.</li>
<li class="MsoNormal">Anak yang buruk.</li>
<li class="MsoNormal">Istri yang buruk.</li>
<li class="MsoNormal">Rumah yang sempit.</li>
</ol>
</li>
</ul>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tentang Manusia]]></title>
<link>http://librarian0801.wordpress.com/2008/01/03/tentang-manusia/</link>
<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 16:38:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>librarian0801</dc:creator>
<guid>http://librarian0801.wordpress.com/2008/01/03/tentang-manusia/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp; Manusia adalah anak-anak dunia, dan tidaklah tercela seseorang yang mencintai ibunya (dunia).]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Manusia adalah anak-anak dunia, dan tidaklah tercela      seseorang yang mencintai ibunya (dunia).</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Manusia di zaman mereka banyak keserupaannya dengan      orang tua mereka di zaman mereka.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Manusia terbagi dalam dua golongan: yang meyakini      akan hilangnya (kematian) kekasih-kekasih mereka, atau tergesa-gesa dengan      kehilangan dirinya sendiri.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul></ul>
<ul>
<li class="MsoNormal">Manusia akan senantiasa menjadi musuh bagi hal yang      tidak diketahuinya.</li>
<li class="MsoNormal">Manusia terbagi dalam tiga golongan:(1)Orang zuhud yang tekun, (2) Orang yang sabar dalam memerangi hawa nafsunya, (3) Orang yang senang memperturutkan hawa nafsunya.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ul>
<li>Orang yang zuhud tidak membesarkan apa yang diberikan Allah kepadanya karena merasa gembira dengannya, dan tidak terlalu menyesal atas apa yang luput darinya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Orang yang sabar, nafsunya membujuknya kepada kesenangan dunia, lalu dia memandang kepada kesenangannya, maka dia mendustakannya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Adapun orang yang menyukai dunia, nafsunya membujuknya kepada kesenangan dunia, maka dia menyambutnya. Lalu dunia memerintahkannya agar menjadikan kesenangan dunia ini sebagai prioritas, maka dia pun mematuhinya. Akhirnya, dia mengotori kehormatan dirinya dengannya, merendahkan kemuliaannya, dan menyianyiakan akhiratnya.</li>
<li>Manusia terbagi dalam dua pekerja :</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;">&#160;</p>
<ol>
<li class="MsoNormal">
<ol>
<li class="MsoNormal">Pekerja yang bekerja untuk dunianya, yang dunianya       telah memalingkan pandangannya dari akhiratnya. Dia khawatir meninggalkan       kemiskinan kepada ahli warisnya, dan dia berusaha memastikan agar dirinya       terjamin dalam hidupnya. Maka, dia menghabiskan umurnya demi kemanfaatan       orang lain.</li>
<li>Orang yang bekerja di dunia ini untuk akhiratnya.       Maka dunia mendatangi dirinya tanpa ia harus bekerja. Dia memperoleh dua       keberuntungan sekaligus (dunia dan akhirat), dan dia memiliki dua bekal       seluruhnya. Maka, dia menjadi orang yang mempunyai kedudukan di sisi       Allah. Dia tidak memohon kepada Allah akan suatu kebutuhan (karena       kekayaan yang sudah diperolehnya) yang bisa jadi Allah akan menolak       permohonannya.</li>
</ol>
<ul>
<li>Manusia terbagi dalam dua golongan :</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol>
<li class="MsoNormal">
<ol>
<li class="MsoNormal">Orang yang mendapatkan sesuatu, namun dia merasa       cukup</li>
<li class="MsoNormal">Orang yang mencari sesuatu, namun dia tidak       mendapatkannya.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Cermin yang di dalamnya seseorang dapat melihat      akhlaknya adalah manusia. Sebab, dalam diri manusia, seseorang dapat      melihat kebaikan-kebaikan dari sahabat-sahabatnya dan keburukan-keburukan      dari musuh-musuhnya.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Manusia sedang tidur, jika mereka mati, mereka      bangun.</li>
</ul>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<ol></ol>
<ul>
<li class="MsoNormal">Orang yang paling jelek keadaannya adalah yang luas      pengetahuannya, kuat ambisinya, tetapi kecil kemampuannya.</li>
</ul>
<ol></ol>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Taymiyah Berbohong Atas Nama Sahabat dalam Mengutamakan Abu Bakar &amp; Umar atas Imam Ali as. (4) ]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/12/05/ibnu-taymiyah-berbohong-atas-nama-sahabat-dalam-mengutamakan-abu-bakar-umar-atas-imam-ali-as-4/</link>
<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 01:24:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/12/05/ibnu-taymiyah-berbohong-atas-nama-sahabat-dalam-mengutamakan-abu-bakar-umar-atas-imam-ali-as-4/</guid>
<description><![CDATA[Akar argumentasi mereka yang mengutamakan Khalifah Abu Bakar dan Umar atas Imam Ali as. adalah adany]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Akar argumentasi mereka yang mengutamakan Khalifah Abu Bakar dan Umar atas Imam Ali as. adalah adanya beberapa riwayat yang dinukil dari Ibnu Umar dan juga penukilan ucapan atas nama Imam Mulia Ali ibn Abi Thalib as. serta beberapa riwayat atas nama nabi Suci Muhammad saw. Dan kerenanya tidak sedikit mereka yang tertipu dengan gemerlapnya status semu penukila itu!</span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"><!--more--></span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Penukilan yang tidak akurat itu telah dijadikan Pedoman Kudus sementara orang yang tidak mungkin bias dan atau boleh diperdebatkan keotentikannya dan tidak akan pudar tinggak keakutananya.</span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Dari sini, kami memandang perlu utmuk menyemprnakan kajian dalam msalah ini dengan membahasnya di sini.</span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Kita akan awali dengan meneliti hadis Ibnu Umar, setelahnya kita akan lanjutkan dengan hadis atas nama Imam Ali as.dan sabda Nabi saw.</span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span><span style="font:7pt 'Times New Roman';">           </span></span></span></strong><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Hadis Ibnu Umar</span></strong></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Adapun tentang hadis Ibnu Umar yang mengatakan bahwa para sahabat mengutamakan Abu Bakar, kemudian Umar kemudian Utsman, dan setelahnya para sahabat Nabi saw. itu sama-sama dalam nilai dan keutamannya, adalah sebagai berikut ini.</span></p>
<p style="line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Diriwayatkan dengan sanad bersambung kepada </span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Ibnu Umar</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">, </span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">ia</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> berkata:</span></p>
<p style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:right;" dir="rtl"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَنُخَيِّرُ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">أَبَا بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانٍ رَضِيَ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">اللهُ عَنْهُمْ. (رواه البخاري)</span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">“Kami membanding-bandingkan yang terbaik di antara manusia di zaman Rasulullah saw. maka kami menganggap yang terbaik adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman bin Affan.” (HR. Bukhari)</span></em></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;" dir="rtl"></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Dalam redaksi lain diriwayatkan:</span></strong></p>
<p style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="rtl"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span> </span></span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">كُنَّا نَقُوْلُ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيٌّ أَفْضَلُ أُمَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">وَسَلَّمَ بَعْدَهُ أَبُوْ بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ. (رواه أبو داود في كتاب السنة باب التفضيل والترمذي وقال حديث حسن صحيح).</span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">“Kami mengatakan dan Rasulullah swa. masih hidup bahwa yang paling utama dari umat Nabi saw. setelah beliau adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman.”</span></em></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Dan Tirmidzi berkata: Hadits hasan sahih)</span></strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Dua riwayat di atas perlu dipertanyakan kesahihannya. Bahkan kepalsuan riwayat-riwayat seperti itu sudah tanpak nyata bagi Anda yang mau berpkir jernih dan kritis.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Meskipun hadis itu diriwayatkan oleh Imam Bukahri dalam kitab <em>Shahih</em>-nya, para ulama besar Ahlusunnah tidak sedikit yang meragukannya dan bahkan ada yang menolaknya. Mereka mengatakan bahwa Imam Bukhari salah dalam meriwayatkan hadis tersebut, karena beberapa alsaan:</span></p>
<p style="margin-left:0;text-indent:0;line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"><span>A)<span style="font:7pt 'Times New Roman';">               </span></span></span></strong><span dir="ltr"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">H</span></strong></span><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">adis tersebut bertentangan dengan akidah Ahlusunah sendiri yang meyakini bahwa urutan keutamaan sahabat Nabi adalah sebagai berikut, Abu Bakar, kemudian Umar kemudian Utsman kemudian Ali as. Ahlusunnah sepakat bahwa Ali adalah sahabat paling utama setelah ketiga sahabat di atas, yang masih diperselisihkan di antara mereka adalah apakah Ali lebih utama dari Utsman atau tidak? Jumhur Ahlusunnah (dan kini menjadi pendapat resmi yang dibakukan) adalah Utsman lebih utama. Dari sini dapat dimengerti mengapa Ibnu Abdil Barr dalam kitab <em>Istî’âb</em>-nya bersikeras menolak hadis Ibnu Umar, ia berkata, “Muhammad ibn Zakaria, Yahya ibn Abdurahman dan Abdurahman ibn Yahya berkata, Ahmad ibn Sa’id ibn Haram berkata, Ahmad ibn Khuld berkata, Marwan ibn Abdul Malik berkata, ‘Aku mendengar Harun ibn Ishaq berkata, ‘Aku mendengar Yahya ibn Ma’in berkata, ‘Barangsiapa mengatakan Abu Bakar, Umar dan Utsman dan Ali serta mengakui keutamaan Ali maka ia penganut sunnah.’ Lalu aku sebutkan kepadanya orang-orang yang berkata, ‘Abu Bakar, Umar dan Utsman, kemudian diam (tidak menyebut Ali dalam urutan keutamaan)’, maka ia marah dan berkata kasar tentahg mereka.’” Yahya sendiri menyakini Ali lebih <em>afdhal</em> dari Utsman. Abu Amr (Ibnu Abdil Barr) berkata, “Barangsiapa berpendapat seperti hadis Ibnu Umar, <em>‘Kami berkata di masa Rasulullah saw., ‘Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman kemudian diam</em> (maksudnya tidak mengutamakan Ali di atas sahabat lain) itulah yang diingkari oleh Yahya ibnu Ma’in dan ia berkata kasar tentang mereka. Sebab yang mengakatan demikian itu berpendapat bertentangan dengan apa yang disepakati oleh Ahulusunah dari kalangan <em>Salaf </em>dan <em>Khalaf</em> dari kalangan Ahli Fikih dan Ahli Hadis, sebab Ali adalah paling <em>afdhal</em>-nya sahabat setelah Utsman. Ini tidak diperselisihkan oleh mereka, yang mereka perselisihkan hanyalah apakah Ali lebih <em>afdhal </em>dari Utsman atau tidak, sebagaimana kalangan <em>Salaf</em> berselisih tentang mana yang lebih <em>afdhal</em>, Ali atau Abu Bakar?</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="margin-left:0;text-indent:0;line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"><span>B)<span style="font:7pt 'Times New Roman';">               </span></span></span></strong><span dir="ltr"><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">Andai disimpulkan bahwa sikap Ibnu Umar itu mewakili para sahabat dan Nabi pun telah mendiamkan dan dengan demikian hal itu berarti sunnah <em>taqrîriyah</em>, maka kesimpulan itu akan mempersulit para ulama yang meyakininya, sebab redaksi seperti itu jika dipahami demikian ia meniscayakan keharusan juga menerima anggapan tentang hukum dibolehkannya menjual <em>ummahatul awlâd</em> (budak yang telah melahirkan anak dari tuannya), sebab dalam hadis Jabir dan Ibn Sa’id disebutkan redaksi demikian:</span></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">كُنَّا نَبِيْعُ أُمَهاتِ</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">الأولادِ عل عَهْدِ رسولِ الله (ص).</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">“Kami di masa Rasulullah saw. menjual </span></em><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-style:normal;font-family:Batang;">ummahatul awlâd</span></em><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">.” </span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Padahal tidak satupun ulama yang membolehkan hukum tersebut.</span></p>
<p style="margin-left:0;text-indent:0;line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"><span>C)<span style="font:7pt 'Times New Roman';">               </span></span></span></strong><span dir="ltr"><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">Andai benar hadis itu telah diucapkan oleh Ibnu Umar, maka perlu dimengerti bahwa tidak sedikit sabahat yang bertentangan dengan pendapat Abdullah ibn Umar yang ia atas-namakan para sahabat. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa di antara para sahabat ada yang berpendapat seperti kaum Syi’ah dalam mengutamakan Ali di atas para sahabat lain ….</span></span><a name="_ftnref1" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Batang;">[1]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"> Dan kesaksian Ibnu Khaldun ini <em>‘…dan diantara para sahabat ada yang berpendapat seperti kaum Syi’ah…’</em> tentunya tidak tepat, sebab mereka bukan berpendapat seperti pendapat kaum Syi’ah, akan tetapi justru sahabat-sahabat mulia itulah yang dikiuti oleh golongan Syi’ah. Sebab mereka itu adalah generasi pertama Syi’ah. Jadi jelaslah bahwa di antara para sahabat Nabi saw. ada yang mengunggulkan Imam Ali di atas para sahabat lain! </span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="margin-left:0;text-indent:0;line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"><span>D)<span style="font:7pt 'Times New Roman';">               </span></span></span></strong><span dir="ltr"><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">Masalah <em>tafdhîl</em> di antara sahabat Nabi saw. sudah menjadi masalah politik dan sengketa kemazhaban di kalangan kaum Muslim sejak masa silam. Ia telah menjadi pilar doktrin Ahlusunah dan dijadikan pijakan dalam menilai seseorang. Jadi tidak menutup kemungkinan adanya kepentingan kemazhaban mendorong sebagian perawi untuk memalsu hadis tersebut atas nama Ibnu Umar, seperti pemalsuan-pemalsuan lain yang diilhami oleh fanatisme mazhabiyah! Sebab –seperti telah dimaklumi- pemalsuan demi mazhab adalah hal lumrah dilakukan para perawi tertentu. </span></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="text-indent:-0.75in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 -0.95pt 0 1in;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">Tentang Ibnu Umar </span></strong></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 -0.95pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"><span> </span>Ibnu Umar sendiri disinyalir kurang simpatik terhadap Imam Ali as. Banyak bukti yang menguatkan dugaan itu, di antara adalah:</span></p>
<p style="text-indent:0;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"><span>A)<span style="font:7pt 'Times New Roman';">               </span></span></span></strong><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">Ibnu Umar Tidak Sudi M</span></strong></span><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">embaiat Imam Ali as. dan Mengakuinya Sebagai Khalifatil Muslimin. </span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Al Hakim meriwayatkan, ‘… kemudian Ali as. mengutus orang untuk mendatangi Sa’ad ibn Abi Waqqash, Abdullah ibn Umar, Muhammad ibnMaslamah, (setelah mereka berkumpul) Ali berkata kepada mereka, ‘Telah sampai kepadaku dari kalian begini dan begitu.’…. Abdullah ibn Umar berkata kepada Ali, ‘Demi Allah dan demi kekerabatan, jangan paksa aku sesuatu yang aku tidak mengenalnya. Demi Allah aku tidak akan membaiatmu sehingga seluruh kaum Muslimin bersepakat berdasarkan apa yang disatukan Allah.”</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Sibthu Ibnu Jauwzi dalam </span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Tadzkirah</span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">-nya menegaskan ketidak-sudian Ibnu Umar membaiat Ali as., ia berkata, “Ibnu Jarir berkata, ‘Di antara yang engan membaiat Ali adalah Hassân ibn Tsâbit, Abu Sa’id al Khudiri, Nu’man ibn Basyir, Rafi’ ibn Khadij bersama beberapa orang lainnya, dan tentang<span>  </span>Zaid ibn Tsabit, Muhammad ibn Maslamah terdapat perbedaan. Dan menurut selain Ibnu Jarir yang tidak membaiat adalah Qudamah ibn Madz’un, Abdullah ibn Sallâm, Mughirah ibn Syu’bahm Abdullah ibn Umar, Sa’ad, Shubaib, Zaid ibn Tsabit, Usamah ibn Zaid, Ka’ab ibn Malik. Dan ada sekelompok lainnya melarikan diri ke </span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">kota</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> Syam, mereka itu disebut dengan kelompok </span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Utsmaniyah</span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">.<a name="_ftnref2" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:13pt;font-family:Batang;">[2]</span></span></span></span></span></a><span>   </span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="text-indent:0;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"><span>B)<span style="font:7pt 'Times New Roman';">               </span></span></span></strong><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Ia merelakan diri untuk membaiat Yazid dan mengakuinya sebagai yang laik menduduki jabatan sebagai Khalifah Rasulullah saw.</span></strong></span><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 1.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Banyak data-data sejarah yang membuktikan hal tersebut. Imam Bukhari meriwayatkan, bahwa Mu&#8217;awiyah berpidato dalam rangka meminta baiat setia dari umat Islam untuk Yazid putranya sebagai Khalifah sepeninggalnya, berita itu sampai kepada Abdullah ibnu Umar, ia datang menemui Ummul<span>  </span>Mukminin Hafshah saudarinya, ia berkata kepadanya: Perkara ini seperti telah Anda saksikan, tidak dijadikan untukku sedikitpun dari perkara ini (khilafah). Hafshah berkata: datangi, sesungguhnya mereka sedang menantimu. Saya khawatir jika kamu menahan diri (tidak berangkat) akan terjadi perpecahan. Hafshah memaksanya berangkat. Setelah orang-orang bubar, Muawiyah berkata, “</span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Barang siapa yang hendak berbicara hendaknya ia menampakkan tanduknya (dirinya). Kamilah yang paling berhak terhadap khilafah ini dari ia dan ayahnya. Habib ibn Maslamah berkata: Mengapa tidak kamu jawab!”</span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 1.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Ibnu Umar berkata, “Maka saya lepas selendang saya dan saya ingin berkata, ‘Yang lebih berhak atas perkara ini adalah orang yang telah memerangimu dan memerangi ayahmu atas dasar Islam.’ Lalu saya takut saya mengucapkan sesuatu yang akan memecah belah persatuan dan mencucurkan darah serta difahami selain yang saya maksud. Kemudian saya teringat apa yang disiapkan Allah di dalam surga (bagi yang meninggalkan dunia).’”</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 1.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Habib berkata, “Kamu telah dipelihara dan diselamatkan.”<a name="_ftnref3" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn3" title="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:13pt;font-family:Batang;">[3]</span></span></span></span></span></a></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 1.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Bahkan lebih dari itu, Ibnu Umar memaksakan sikapnya kepada orang-orang dekatnya yang terkait dengannya, seperti ditegaskan dalam banyak data sejarah. Ketika penduduk </span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">kota</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> suci Madinah yang terdiri dari sisa-sisa para sahabat Nabi saw. dari kalangan Anshar dan Muhajirin dan putra-putra mereka, -setelah mendapat keyakinan pasti akan kefasikan Yazid- sang Khalifah yang baru ditunjuk ayahnya, ketika delegasi penduduk Madinah menyaksikannya sendiri dengan mata kepala mereka- menolak kekhilafahan Yazid dan mengusir gubenur yang ditunjuk Yazid. Mereka melakukan pemberontakan atas kekuasaan Yazid yang dipimpin oleh putra-putra sahabat seperti<span>  </span>Abdullah putra Handhalah –yang digelari oleh Nabi saw. </span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Ghasîlul malaikah</span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> (yang dimandikan malaikat), Abdullah ibn Muthî&#8217; dan kawan-kawan. Setelah mampu meraih simpatik penduduk </span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">kota</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> Madinah dan mereka pun mempersiapkan pertempuran yang besar, datanglah Ibnu Umar kepada Abdullah ibn Muthî&#8217; seraya menegur bahwa sikap membatalkan baiat itu adalah sebuah pengkhianatan terhadap Allah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Nafi&#8217;, ia berkata, “Ketika penduduk Madinah mencopot Yazid ibn Mu&#8217;awiyah, Ibnu Umar mengumpulkan para pembantu dan putra-putranya, lalu ia berkata,</span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">&#8220;Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Kelak di hari kiamat akan dikibarkan bendera (sebagai tanda pengkhianataanya_pen) bagi setiap orang yang pengkhianat.’&#8221;</span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> Dan sesungguhnya kita telah memberikan baiat kepada orang itu (Yazid) atas dasar baiat Allah dan Rasul-Nya, dan saya tidak mengetahui ada pengkhianatan yang lebih besar dari seseorang yang telah berbaiat atas dasar baiat Allah dan Rasul-Nya kemudian mengobarkan peperangan atasnya. Dan saya tidak mengetahui seorang dari kalian melepas baiat (Kepada Yazid) dan memberi baiat kepada orang lain untuk khilafah melainkan itu artinya <u>putus hubungan dengan saya!</u>.</span><a name="_ftnref4" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn4" title="_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[4]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 1.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Imam Muslim dalam shahihnya, </span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Kitabul Imarah</span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> meriwayatkan dari Nafi&#8217; bahwa Ibnu Umar mendatangi Abdullah ibn Muthî&#8217; ketika terjadi peristiwa al Hurrah<a name="_ftnref5" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn5" title="_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:13pt;font-family:Batang;">[5]</span></span></span></span></span></a> pada masa Yazid ibn Mu&#8217;awiyah, lalu Ibnu Muthii&#8217; berkata: hamparkan untuk Abu Abdir Rahman (panggilan Ibnu Umar_pen) sandaran. Ibnu Umar berkata: saya datang bukan untuk duduk, akan tetapi saya datang untuk menyampaikan sebuah hadis yang saya dengan dari Rasulullah saw. beliau bersabda,</span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> “Barang siapa melapas tangan dari ketaatan maka ia akan menjumpai Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah baginya. Dan barang siapa mati sementara tiada ikatan baiat pada lehernya maka ia mati dalam kaadaan jahiliah.”</span></em><a name="_ftnref6" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn6" title="_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:13pt;font-family:Batang;">[6]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 1.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Sikap dan semangat Ibnu Umar untuk bergegas membaiat Yazid ibn Mu’awiyah itu sebenaranya dikarenakan ia khawatir mati jahiliyah, sebab katanya,</span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> barangsiapa bermalam tanpa ada ikatan baiat di lehernya, maka jika ia mati<span>  </span>maka ia mati jahiliyah</span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">. Jadi ia khawatir bermalam tanpa ada ikatan baiat kepada Yazid.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 1.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Ketika mensyarahi hadis Bukhari di atas, Ibnu hajar berkata, “Ketika Muawiyah mati, Ibnu Umar mengirim sepucuk surat kepada Yazid berupa baiat setianya untuk Yazid.” </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 1.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Selain bukti-bukti di atas, dapat ditambahkan di sini, bahwa Ibnu Umar ketika menyebut-nyebut para Khalifah yang saleh, ia menyebut Mu’awiyah dan Yazid, sementara itu ia tidak memasukkan nama Ali sebagai Khalifah! Baca </span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Tarikh al Khulafa</span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">’; as Suyuthi:167-168.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 1.3pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Jadi ringkas kata, hadis Ibnu Umar yang Anda sebutkan itu perlu Anda renungkan kembali.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></strong></p>
<p style="margin-left:0;text-indent:0;line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt 'Times New Roman';">                    </span></span></span></strong><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Tentang Hadis Imam Ali as.</span></strong></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Meraka juga mengandalkan riwayat nukilan dari Imam Ali as., seperti di bawah ini;</span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Dari Muhammad Ibn al Hanafiyah-putra Imam Ali as.-:</span></strong></p>
<p style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="rtl"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">قُلْتُ ِلأَبِي</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span>: </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهَ ?؟ قَالَ: أَبُو بَكْرٍ. قَلْتُ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span>: </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: عُمَرُ. وَخَشِيْتُ أَنْ يَقُوْلَ عُثْمَانُ. قُلْتُ: ثُمَّ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">أَنْْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلاَّ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. (رواه البخاري</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span>: </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">كتاب فضائل الصحابة باب 4 وفتح البارى 7/20)</span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">“Aku bertanya kepada bapakku, “Siapakah manusia yang terbaik setelah Rasulullah? Ia menjawab, “Abu Bakar.” Aku bertanya (lagi), “Kemudian siapa?” Ia menjawab, “Umar.” Dan aku khwatir ia akan berkata Utsman, maka aku mengatakan, “Kemudian engkau?” Beliau menjawab, “Tidaklah aku kecuali seorang dari kalangan muslimin.”</span></em></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> (HR. Bukhari, kitab<em> Fadlailus Shahabah</em>, bab 4)</span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Dalam riwayat lain Imam Ali as. dinukil mengancam untuk mencambuk orang yang mengutamakan dirinya di atas Abu Bakar dan Umar dengan cambukan seorang pendusta.</span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></strong></p>
<p style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="rtl"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span> </span></span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">لاَ أُوْتِيَ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">بِأَحَدٍ يُفَضِّلُنِيْ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ إِلاَّ جَلَّدْتُهُ حَدَّ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">الْمُفْتَرِيْنَ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span>.</span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">“Tidak didatangkan kepadaku seseorang yang mengutamakan aku di atas Abu Bakar dan Umar, kecuali akan aku cambuk dengan cambukan seorang pendusta.”</span></em></strong><a name="_ftnref7" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn7" title="_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[7]</span></span></span></span></span></a><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas ra. menceritakan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as. sebagai berikut:</span></strong></p>
<p style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="rtl"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">إِني لَوَاقِفٌ فِي قَوْمٍ نَدْعُو اللهَ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَقَدْ وُضِعَ عَلَى سَرِيْرِهِ، إِذَا رَجُلٌ مِنْ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">خَلْفِي قَدْ وَضَعَ مِرْفَقَيْهِ عَلَى مَنْكِبِي يَقُوْلُ: رَحِمَكَ اللهَ إِنْ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">كُنْتُ َلأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ ِلأَنِيْ كَثِيْرًا مَا</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">كُنْتُ أَسْمَعُ رَسُوْلَ اللهِ ? يَقُوْلُ: كُنْتُ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ،</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">وَفَعَلْتُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَانْطَلَقْتُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ،</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">فَإِنْ كُنْتُ َلأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللهُ مَعَهُمَا، فَالْتَفَتُّ فَإِذَا</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">هُوَ عَلِي بْنِ أَبِي طَالِبٍ. (رواه البخاري في فضائل الصحابة، باب من فضائل عمر)</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">“Sungguh aku berdiri di kerumunan orang yang sedang mendoakan Umar ibn al Khaththab ketika telah diletakkan di atas pembaringannya. Tiba-tiba seseorang dari belakangku yang meletakkan kedua sikunya di kedua pundakku berkata, ‘Semoga Allah merahmatimu dan aku berharap agar Allah menggabungkan engkau bersama dua shahabatmu (Yakni Rasulullah dan Abu Bakar) karena aku sering mendengar Rasulullah bersabda, ‘Waktu itu aku bersama Abu Bakar dan Umar…’ ‘aku telah mengerjakan bersama Abu Bakar dan Umar…’, ‘aku pergi dengan Abu Bakar dan Umar…’. Maka sungguh aku berharap semoga Allah menggabungkan engkau dengan keduanya. Maka aku menengok ke belakangku ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib. Hadis-hadis dari Ali ibn Abi Thalib.’”</span></em></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Entah apa alasan dan motivasinya, sehingga mendadak tumbuh semangat ganjil dari sebagian pihak untuk mengusung ucapan Imam Ali as. sebagai hujjah dan senjata ampuh untuk mendukung pandangan mereka yang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar lebih afdhal dan utama atas Imam Ali as. sendiri. Sementara itu semengat serupa atau dengan kualitas yang lebih rendah sekalipun tidak tampak dari mereka dalam menjadikan Ali as. Sebagai rujukan dan panutan dalam urusan agama!</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Tetapi terlepas dari itu semua, pembaca dapat meraba adanya ukiran palsu pada riwayat-riwayat seperti itu atas nama Imam Ali as. Coba pembaca renungkan ucapan palsu yang dinisbatkan kepada Imam Ali as. bahwa beliau akan mencambuk orang yang mengutamakan dirinya atas Abu Bakar dan Umar dengan cambukan seorang pembohong/pendusta! Ketika dikomfirmasi sumber hadis di atas, ternyata ustadz as Sewed menyebut<em><span style="font-family:Batang;"> Majmû Fatâwa</span></em>-nya Ibnu Taimiyah! Lagi-lagi<em><span style="font-family:Batang;"> Majmû Fatâwa </span></em>yang merangkum fatwa-fatwa musuh bebuyan Syi’ah untuk menghujat Syi’ah. Itu aneh kan?! Selain itu, di mana letak kebohongan dan dusta orang yang mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar itu?! Anggap benar doqma Ahlusunnah dan Wahabi bahwa Ali tidak lebih <em><span style="font-family:Batang;">afdhal</span></em> dari keduanya, tetapi apa itu beratrti dusta, ia hanya salah dalam berpendapat?! Bukankah masalah ini sifatnya <em><span style="font-family:Batang;">ijtihadiyah</span></em>, dan dasarnya bukan nash qath’i tetapi sesuatu lain seperti akan- disebtu nanti.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Lalu mengapa mereka yang membawa-bawa nama Imam Ali as. tidak menyadari akan hal ini? Apakah mereka hendak menuduh Imam Ali as. sebagai seorang yang bodoh dan “<em><span style="font-family:Batang;">ngawur</span></em>” dalam menetapkan sangsi hukum? Seperti kebiasaan <em><span style="font-family:Batang;">Syeikhul Islam</span></em>-nya kaum Wahabi yang tidak segan-segan menuduh Imam Ali as. sering berlaku ngawur?! Sedangkan hadis kedua yang dikutip dari riwayat Bukhari dari Imam Ali as. adalah riwayat yang patut mengundang kecurigaan, sebab:</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">Pertama,</span></strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">  hadis itu mengambarkan seakan Imam Ali as. adalah seorang asing atau orang yang sama sekali tidak dikenal atau tidak diperhitungkan oleh kaum Muslimin di Madinah saat itu; saat-saat menjelang dikebumikannya Khalifah Umar ibn al Khaththab… Jenazah Umar sudah diletakkan di atas keranda, lalu Ali menerobos barisan para pelayat… tidak seorangpun menggubrisnya… tiba-tiba Ali meletakkan kedua sikunya di atas pundak Ibnu Abbas untuk menyaksikan jenazah Umar… Subhanallah… alangkah asingnya Ima Ali di tengah-tengah kerumunan jama’ah kaum Muslimin yang sedang melayat Khalifah mereka?! Seakan beliau sebagai rakyat jelata di antara kaum Muslimin?! Demikinkah kalian menggambarkan hubungan Imam Ali dengan Khalifah kalian?! </span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">Kedua,</span></strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">  hadis ini dari sisi sanad bermasalah… ia dari riwayat al Walîd ibn Shaleh adh Dhabbi al Jazari an Nakhâs… Imam Ahmad tidak sudi menulis hadis darinya, sebab ia pendukung aliran ra’yu dan Imam Ahmad pernah menyaksikannya shalat, ternyata tidak becus shalatnya dalam pandangan Ahmad! Ibnu Hajar yang terpaksa mengungkap data rahasia ini tidak mampu mengelaknya, ia hanya mengatakan bahwa Bukhari hanya sekali ini saja meriwayatkan hadis darinya(!?) dan kata Ibnu Hajar, pada dasarnya, Bukhari sendiri tidak berhujjah dengannya, fa dzahara anna al Bukhari lam yahtajja bihi, maka tampaklah bahwa Bukhari sendiri tidak berhujjah dengannya.</span><a name="_ftnref8" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn8" title="_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Batang;">[8]</span></span></span></span></span></a><strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"> </span></strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">Ketiga,</span></strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">  redaksi yang digunakan dalam riwayat adalah menyalahi kaidah bahasa Arab yang baku… (saya tidak ingin mengungkapnya di sini, sebab ia secara tekhnis adalah sajian untuk kaum santri), dan Ibnu Hajar sendiri mengakuinya… kerenanya ia membela Bukhari dengan mengatakan, “</span><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">kan</span><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"> tidak semua redaksi hadis di atas dari jalur lain seperti ini juga, ia dengan radaksi yang benar.”</span><a name="_ftnref9" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn9" title="_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Batang;">[9]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"> Dan sepertinya si pemalsu lupa memaksukkan tambahan setelah kalimat, “…aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar” dan aku nanti juga dikuburkan bersama Abu Bakar dan Umar, dan kelak di surga juga sederajat dengan Abu Bakar dan Umar, dan dan …agar sekalian lengkap episode pemalsuannya, sehingga tidak perlu ada kata-kata di akhir episode ini (BERSAMBUNG).</span><span style="font-size:13pt;color:blue;line-height:150%;font-family:Batang;"> </span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Jika demikian adanya, adalah hal menggelikan kesimpulan ustadz as Sewed yang mengatakan, <em><span style="font-family:Batang;">“Hadist-hadits dari Ali bin Abi Thalib ini merupakan sebesar-besar dalil yang membuktikan kedustaan kaum Syi’ah Rafidhah yang mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar ra.”</span></em>Bukti apa wahai ustadz yang kamu maksud? Apa hadis-hadis palsu yang tidak jelas maknanya itu yang kamu maksud? <em><span style="font-family:Batang;">Mâ lakum Lâ ta’qilûn</span></em>?! <em><span style="font-family:Batang;">Afalâ Tatafakkarûn</span></em>?!</span></p>
<p style="margin-left:0;text-indent:0;line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt 'Times New Roman';">                    </span></span></span><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Tentang Hadis Nabi saw. </span></strong></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Selain itu, mereka juga mengandalkan hadis sabda Nabi saw. dari riwayat dari ‘Amr bin ‘Ash, seperti berikut ini:</span></strong></p>
<p style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="rtl"><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">أَنَّ رَسُولَ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">السَّلاَسِلِ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">عَائِشَةُ قُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ قَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ عُمَرُ</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">فَعَدَّ رِجَالاً</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span>.</span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">“Bahwasanya Rasulullah saw. telah mengutus pasukan dalam perang </span></em></strong><em><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">Dzatus Salâsil</span></em><strong><em><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">. Maka aku mendatanginya, dan bertanya kepadanya, “Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau saw. menjawab, “Aisyah.” Aku berkata, “Dari kalangan laki-laki wahai Rasulllah?” Beliau menjawab, “Ayahnya.” Aku berkata, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Umar.” Kemudian beliau menyebutkan beberapa orang.”</span></em></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> (HR. Bukhari dalam Fadhailil A’mal dan Muslim dalam Fadhailus Shahabah,4/1856 no. 2384)</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Adapun tentang hadis yang mereka atas-namakan Nabi suci saw. adalah tidak dapat diajukan sebagai bukti di sini, sebab:</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">Pertama,</span></em></strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"> Itu hanya riwayat Ahlusunnah sendiri. Sementara itu perbedaan dalam masalah ini adalah antara Syi’ah dan Ahlusunah, atau setidaknya melibatkan Syi’ah, sehingga hadis-hadis riwayat Ahlusunnah tidak cukup untuk diangkat sebagai dalil! </span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">Kedua,</span></em></strong><strong><em><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"> </span></em></strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"> Hadis pertama dari riwayat Amr ibn al ‘Ash, si penabur fitnah dan penasehat Mu’awiyah dalam merancang perang Shiffin… ‘Amr ibn al ‘Ash adalah musuh bebuyutan Imam Ali as., setelah sebelumnya getol memusuhi Nabi saw. dan sebagaimana disabdakan dalam hadis shahih bahwa barang siapa membenci Ali maka ia adalah seorang munafik.</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Dan dari sisi lain hadis itu disinyalir terputus mata rantai sanadnya, hal mana merusak kualitas hadis sahih yang mensyaratkan bersambungnya sanad, sebab Abu Utsman tidak mendengar dari ‘Amr ibn al ‘Âsh. Demikian dipastikan al Ismaili, sebagai dikutip Ibnu Hajar dalam <em><span style="font-family:Batang;">Fathu al Bâri</span></em>-nya.</span><a name="_ftnref10" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn10" title="_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Batang;">[10]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> Jadi sudikan kita menerima konsep agama kita dari seorang munafik?</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">Ketiga,</span></em></strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"> Selain itu hadis tersebut kisah penyampaian ucapan (yang dinisbatkan kepada Nabi saw.) adalah seusai perang Dzatus Salâsil, dimana Nabi saw. menunjuk ‘Amr ibn al ‘Âsh sebagai pimpinan dan panglima pasukan dalam peperangan itu yang membawai sahabat-sahabat besar, tidak terkecuali Abu bakar dan Umar,</span><a name="_ftnref11" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn11" title="_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Batang;">[11]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"> hal mana semua pasti menyimpulkan bahwa penunjukkan itu meniscayakan adanya keunggulan pada sisi ‘Amr yang tidak dimiliki Abu bakar dan Umar</span><a name="_ftnref12" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn12" title="_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Batang;">[12]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">… dan itu artinya ‘Amr menyandang keutamaan yang tidak disandang Abu bakar dan Umar… oleh sebab itu kuat kemungkinan perlu dilangsirkan edisi sabda yang menandingi bahkan mengusir anggapan seperti itu dari benak setiap yang membacanya… untuk itu edisi ini diluncurkan… dan untuk mempertegasnya dinisbatkannya hadis kepada ‘Amr –sang panglima yang membawahi Abu Bakar dan Umar-. </span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">Keempat,</span></em></strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;"> Hadis ‘Amr itu bertentangngan dengan hadis-hadis sahih yang sangat banyak jumlahnya yang menegaskan bahwa Ali as. adalah sahabat paling dicintai Nabi saw. Ibnu Hajar menyebutkan sebuah hadis dari Aisyah yang mengakui bahwa Ali lebih dicintai Nabi ketimbang Abu Bakar, ayahnya sendiri. Hadis itu diakui kesahihannya oleh Ibnu Hajar. Ibnu Hajar berkata, “Ahmad, Abu Daud dan an Nasa’i meriwayatkan, dan ia mensahihkannya dengan sanad dari Nu’man ibn Basyir, ia berkata, ‘Abu Bakar meminta izin masuk ke rumah Nabi saw., lalu ia mendengar suara keras Aisyah, ia sedang mengangkat suaranya seraya berkata:</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">لَقَدْ عَلِمْتُ أَنَّ</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">علِيًّا أَحَبُّ إليكَ مِنْ أبي</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">“Aku benar-benar telah tahu bahwa Ali lebih engkau cintai ketimbang ayahku.”</span></em><a name="_ftnref13" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn13" title="_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Batang;">[13]</span></strong></span></span></span></em></span></a><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Hadis ini memiliki nilai penting sebab ia adalah ucapan Aisyah sendiri, yang dalam hadis ‘Amr dikatakan sebagai yang paling dicintai Nabi saw., dan Nabi-pun men<em><span style="font-family:Batang;">-taqirir</span></em>/membenarkannya dan tidak meyalahkan Aisyah dengan mengatakan misalnya, ‘tidak benar ucapanmu bahwa Ali lebih aku cintai, tetapi engkau dan ayahmu-lah yang paling aku cintai’!<em><strong><span style="font-family:Batang;"> </span></strong></em>Jadi tidaklah beralasan pengunggulan hadis ‘Amr atas hadis Aisyah dengan mengatakan bahwa hadis ‘Amr memuat ucapan Nabi sa. Sementara hadis Aisyah hanya memuat <em><span style="font-family:Batang;">taqrîr</span></em> beliau saja! Sebab pada hadis Aisyah terdapat banyak pendukung eksternal dan internal.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Pendukung eksternal seperti:</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">(1) Perawinya yaitu Aisyah lebih utama di banding ‘Amr,</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">(2) Perawinya adalah yang terkait langsung dengan masalah yang dibicarakan, sedang dalam hadis ‘Amr ia tidak termasuk yang dinominasikan dalam pengunggulan.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">(3) Pada riwayat ‘Amr, periwayatnya adalah musuh bebuyutan Imam Ali as. sehingga sangat mungkin kedengkian dan permusuhan itu mendorongnya membuat-buat hadis atas nama Nabi saw., sementara Aisyah bukan seorang yang patut dicurigai mendukung dan membela Ali as. sehingga kecintaannya itu dikhawatirkan mendorongnya memalsu-malsu ucapan demikian.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">(4) Hadis ’Amr dan hadis-hadis lain yang semakna hanya diriwayatkan Ahlusunnah, tanpa Syi’ah, sementara hadis keunggulan Imam Ali dan bahwa beliau adalah sahabat paling dicintai Nabi saw. telah disepakati diriwayatkan oleh kedua belah pihak; Sunni dan Syi’ah.<strong><span style="font-family:Batang;"> </span></strong></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Bukti lain! Telah diriwayatkan dengan berbagai jalur periwayatan (sanad) bahwa Nabi saw. diberi hadiah seekor burung panggang, lalu beliau bersabda memohon kepada Allah SWT:</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">اللَّهُمَّ إئْتِنِي</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">بِأَحَبِّ خَلْقِكَ إلَيْكَ يَأْكُلُ مَعِيْ هَذَا الطَيْرَ</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span>.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">“Ya Allah datangkan kepadaku makhluk-Mu yang paling Engkau cintai agar makan bersamaku burung ini.”</span></em><a name="_ftnref14" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn14" title="_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Batang;">[14]</span></strong></span></span></span></em></span></a><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> </span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Lalu Ali datang dan Anas pun menolaknya dengan alasan bahwa Nabi saw. sedang sibuk tidak dapat menerima kehadiran siapapun, sementara itu Nabi saw. menantikan kedatangan Ali as. untuk makan bersama beliau hidangan tesebut, hinga ketiga kalinya, Ali meminta izin dan Nabi pun mendengar suara Ali, kemudian mempersilahkannya masuk dan menanyakan keterlambatannya. Ali berkata bahwa ia telah datang namun Anas menolaknya dengan alasan bahwa Anda sibuk. Nabi saw. menegur Anas atas ulahnya, setelahnya Ali makan bersama beliau hidangan tersebut.</span><a name="_ftnref15" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn15" title="_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Batang;">[15]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Dari hadis ini terlihat jelas bahwa Nabi saw. hendak menegaskan bahwa Ali as. adalah hamba yang paling dicintai Allah SWT.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Dan karenanya para ulama’ Ahlusunnah kebingungan menghadapi hadis ini, sebab ia dengan tegas mengatakan bahwa Ali adalah hamba paling dicintai Allah, dan itu artinya beliau lebih mulia dari Abu Bakar ash Shiddiq dan yang demikian itu bertentangan dengan keyakinan mereka! Maka sebagian dari mereka mengambil jalan pintas dengan menganggapnya hadis palsu, dengan demikian semuanya beres! </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></strong></p>
<p style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Benang Merah Masalah Tafdhîl </span></strong></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Adalah hal tidak berdasar ketika ada yang mengklaim bahwa masalah pengutamaan Abu Bakar dan Umar di atas Imam Ali as. adalah prinsip yang telah di-<em><span style="font-family:Batang;">ijma’</span></em>-</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">kan</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> sejak masa para sahabat Nabi mulia saw. dan ijma’ itu didasarkan pada nash-nash pasti tentangnya! Sebab dengan merunut benang kusut dalam masalah ini akan terlihat jelas:</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">Pertama,</span></em></strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">  bahwa masalah ini adalah bersifat ijtihadiyah. </span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-weight:normal;font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">Kedua,</span></em></strong><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:Batang;">  dasar pengutamaan itu adalah dilihat dari sisi bahwa mereka itu berkuasa menjadi Khalifah secara berurutan; Abu Bakar, kemudian Umar kemudian Utsman kemudian Ali, maka dari itu keunggulan mereka pun harus diurutkan persis seperti urutan kekhalifahan mereka! Ibnu Hajar menjelaskan dasar pengambilan keputusan itu oleh para ulama Ahlusunnah, setelah menyebutkan perbedaan dalam masalah itu, ia berkata:</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">فالْمسألَةُ إجتهادِيةٌ، و</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">مُستَنَدُها أنَّ هؤلآءِ الأربعةُ أختارَهُمُ اللهُ تعالى لِخلافَةِ نبِيِّهِ و</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">إقامَةُ دينِهِ، فَمَنزلَتُهُم عندَهُ بِحسَبِ ترتيبِهِمْ في الخلافَةِ، و الله</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">أعلم</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span>.<strong><span style="font-family:Batang;"> </span></strong></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Masalah ini bersifat ijtihadiyah, dan sandarannya adalah kerena mereka berempat telah dipilih Allah untuk kekhalifahan mengganti Nabi-Nya dan menegakan agama-Nya, maka kedudukan mereka di sisi-Nya sesuai dengan urutan kekhalifahan mereka. Allah a’lam.</span></em><a name="_ftnref16" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn16" title="_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Batang;">[16]</span></strong></span></span></span></em></span></a><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> </span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">Terlepas dari banyaknya klaim dalam ucapan Ibnu Hajar di atas yang sulit ia buktian kebenarannya, seperti:</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">A) bahwa Allah telah memilih mereka untuk jabatan kekhalifahan(?), apa maksud kata-kata beliau itu? Apa dasarnya, apa sekedar secara defakto mereka memerintah maka dengan serta merta kita berhak mengatakan bahwa Allah telah memilih mereka?! Lalu mengapa kita tidak mengatakan juga bahwa Allah telah memilih Mu’awiyah, Yazid sebagai Khalifah Nabi saw.? bukankah mereka juga telah mengenakan baju kakhalifahan seperti juga Abu Bakar dan Umar mengenakannya!</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">B) Kesimpulan loncat yang tidak ketemu tautan logikanya dengan mengatakan, <em><span style="font-family:Batang;">“maka kedudukan mereka di sisi-Nya sesuai dengan urutan kekhalifahan mereka” </span></em>kesimpulan ini ditegakan di atas dasar bahwa Allah telah memilih mereka untuk kehkilafahan(?) yang mustahil dapat ia buktikan.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">C) Apa kaitannya antara urutan kekhalifahan dengan urutan keutamaan? Bukankah mereka (kecuali Ibnu Taimiyah dan mereka yang mengikutinya) meyakini prinsip bahwa boleh jadi ada seorang yang lebih <em><span style="font-family:Batang;">afdhal</span></em> dari Khalifah yang berkuasa?, lalu kalau demikian, mengapa harus memaksa bahwa urutan keutamannya sesuai dengan urutan kekhalifahannya?. Kesimpulan itu adalah sebuah sabotase,<em><span style="font-family:Batang;"> mughalathah</span></em>, dan kesimpulan yang lebih umum/luas dari klaimnya, dalam istilah logika disebut <em><span style="font-family:Batang;">an Natîjah A’ammu min al Mudda’â</span></em>. Ijmâ’ Baru Terbentuk Belakangan! Selain itu semua, Ibnu Hajar (seorang tokoh terkemuka Ahlusunnah, bukan Wahabi) telah mengakui bahwa klaim adanya <em><span style="font-family:Batang;">ijmâ’</span></em> dalam masalah <em><span style="font-family:Batang;">tafdhîl</span></em> sejak masa para sahabat adalah tidak berdasar, ia hanyan isapan jempol para ulama yang tidak memiliki ketelian dalam mengkaji masalah ini. Setelah menyebutkan berbedaan pendapat dalam masalah ini, Ibnu Hajar berkata:</span></p>
<p style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">إِنَّ الإجماعَ إنْعَقَدَ</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">بِآخِرَةٍ بَيْنَ أهْلِ السنةِ أنَّ تَرْتِيْبَهُمْ في الفضْلِ كَترتيبِهِمْ في</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">الخلافَةِ، رضي الله عنهُم أجمعين</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span>.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;">“Ijmâ’ terbentuk belakangan di antara Ahlusunnah bahwa urutan keutamaan mereka sesuai dengan urutan mereka dalam Khilafah, semoga Allah meridhai mereka.”</span></em><a name="_ftnref17" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn17" title="_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Batang;">[17]</span></strong></span></span></span></em></span></a><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"> </span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Batang;"></span></p>
<hr SIZE="1" width="33%" align="left" />
<p style="text-indent:0;text-align:justify;margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><a name="_ftn1" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[1]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">Tarikh al Madzâhib al Islamiyah; Abu Zuhrah: 33. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[2]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span>  </span>Tadzkiratul Khawâsh:58. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref3" title="_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[3]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> Shahih Bukhari: <em>kitabul Maghazi</em>, bab <em>Ghazwah Khandaq, </em>5/140-141, hadis no.4108. (lihat Fath al Bâri, syarah Shahih Bukhari,15/287). Dan sebagian ulama&#8217; memahami bahwa peristiwa ini terjadi setelah kegagalan tim tahkim.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref4" title="_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[4]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> Shahih Bukhari, Kitabul Fitan, bab Idza Qala Inda Qaumin…( Lihat Fath al-Bari:27/79-82, hadis no.7111).</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref5" title="_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[5]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> <em>Al-Hurrah</em> tempat terjadinya pertempuran antara penduduk kota suci Madinah dengan pasukan Yazid, yang setelah kekalahan mereka, pasukan Yazid dibebaskan berbuat apa saja termasuk merampok harta, memperkosa putri-putri sahabat Nabi dan membunuh orang-orang sipil kota Madinah yang tidak berdosa. Sehingga diriwayatkan ratusan kaum lelaki dan wanita menjadi korban pembantaian berdarah dingin, sehingga tidak tersisa lagi sahabat Nabi saw. dan yang paling menyedihkan ialah banyak putri-putri sahabat yang diperkosa pasukan biadab atas seizin Yazid tersebut hamil, sampai-sampai ayah-ayah mereka ketika kemudian hari menikahkan putri-putri mereka tidak berani menjamin keperawanan gadis-gadis mereka.<span>  </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref6" title="_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[6]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> Shahih Muslim dengan syarah An-Nawawi, 12/240</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref7" title="_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[7]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> <strong><em><span style="font-weight:normal;font-family:Batang;">Majmu’ Fatawa</span></em></strong><strong><span style="font-weight:normal;font-family:Batang;">; Ibnu Taymiah,4/422 lihat juga <em>Imamatul ‘Udhma</em>:313.</span></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn8" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref8" title="_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[8]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> Fathu al Bâri14/178, pada syarah hadis no.3677.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn9" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref9" title="_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[9]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> Fathu al Bâri14/179.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn10" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref10" title="_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[10]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> Fathu al Bâri,16/195-196. Walaupun kemudian Ibnu Hajar menyimpulkan dengan tanpa dasar pasti adanya kebersambungan itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn11" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref11" title="_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[11]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> Fathu al Bâri,16/196 dan Sirah an Nabawiyah (dicetak di pinggir as Sirah al Halabiyah),2/231-232. Bahkan di </span><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">sana</span><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> sebutkan bahwa dalam peperangan itu tanpa ketidak mengertian Umar akan taktik peparangan yang aling m,endasar sekalipun.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn12" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref12" title="_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[12]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> Seperti yang juga disimpulkan ‘Amr sendiri. (baca Fathu al Bâri,16/196, bab<em><span style="font-family:Batang;"> Ghazwah Dzâtis Salâsil</span></em>.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn13" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref13" title="_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[13]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> Fathu al Bâri14/158-159.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn14" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref14" title="_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[14]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> <em><span style="font-family:Batang;">Sunan at Turmudzi</span></em> dengan syarah Al Mubarakfuuri, 10/240-241, bab 95, hadis 3820 dan ia berkata, ”Ini adalah hadis hasan.” <em><span style="font-family:Batang;">Al Bidayah wa An Nihayah</span></em>,7/357 dan ia menggolongkannya hadis hasan. Dan <em><span style="font-family:Batang;">At Taaj Al Jami’ Lil Ushul,</span></em>3/334.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn15" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref15" title="_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[15]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> Hadis riwayat At Turmudzi,10/223, bab87, hadis 3805. dan Khashaiâsh: 25, hadis 12 dengan tambahan: <em><strong><u><span style="font-family:Batang;">maka Abu Bakar datang, Nabi menolakknya masuk, Umar datang Nabipun menolaknya lalu datanglah Ali maka Nabi mengizinkannya</span></u></strong></em>. Dan dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Anas ibn Malik pembantu rumah tangga Nabi saw. berusaha menghalang-halangi Imam Ali as. untuk masuk menemui Nabi saw. dan ketika ditegur ia beralasan bahwa ia ingin kalau yang mendapatkan kemuliaan itu adalah seorang dari anggota sukunya. Dan sejarah mencatat bahwa di masa kekhilafahan Imam Ali as. ketika beliau berpidato dan meminta kesaksian dari para sabahat bahwa Nabi saw. pernah bersabda mengangkat Imam Ali di Ghadir Khum, lalu bangunlah beberapa orang sabahat yang bersaksi bahwa mereka mendengar Nabi bersabda demikian kecuali Anas dan beberapa sahabat lain enggan bersaksi dengan alasan berpura-pura lupa. Imam Ali mendo’akan mereka yang berpura-pura lupa agar tertimpa bala’ yang memalukan dan Anas terkena belang yang tidak dapat ia tutup-tutupi dengan kain serban sekalipun. Dan Anas mengakui bahwa belang itu adalah karena do’a Imam Ali as.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn16" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref16" title="_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[16]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> Fathu al Bâri,14/170.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn17" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref17" title="_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;">[17]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:Batang;"> Fathu al Bâri,14/169.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Taymiah Berbohong Atas Nama Sahabat Dalam Pengutamaan Abu Bakar&amp;Umar Atas Imam Ali as. (2)]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/10/31/ibnu-taymiah-berbohong-atas-nama-sahabat-dalam-pengutamaan-abu-bakarumar-atas-imam-ali-as-2/</link>
<pubDate>Wed, 31 Oct 2007 05:37:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/10/31/ibnu-taymiah-berbohong-atas-nama-sahabat-dalam-pengutamaan-abu-bakarumar-atas-imam-ali-as-2/</guid>
<description><![CDATA[Kedua, Ibnu Taymiah berkata, “Jika ada yang berkata, ‘apabila apa telah sahih dari hadis-hadis tenta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">Kedua</span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">, Ibnu Taymiah berkata, <em>“Jika ada yang berkata, ‘apabila apa telah sahih dari hadis-hadis tentang keutamaan Ali ra. seperti hadis “Aku akan serahkan bendera (pimpinan) kepada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya”, hadis “Tidakkah engkau puas bahwa kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa” dan hadis “Ya hanya merekalah Ahlubaitku, maka hilangkan rijs dari mereka dan secikan mereka sesuci-sucinya” … apabila semua itu bukan khashaish, keistimewaan khusus Ali, akan tetapi juga disekutu oleh orang lain dalam hal itu, maka mengapakah sebagian sahabat berandai-andai memilikinya, seperti yang diriwayatkan dari Sa’ad ibn Abi Waqqâsh dan Umar ibn al Khaththab?</em></span></font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><!--more--></span></font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></font><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Maka jawabnya adalah: Sesunguhnya pada yang demikian terdapat kesaksian dari Nabi saw. untuk Ali akan keimanannya baik secara batin maupun secara lahir, dan penetapan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya dan keharusan atas kaum Mukmini untuk mencintainya.</font></span></em><a name="_ftnref1" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:13pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[1]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Nah, sekarang, jika sahabat Umar, Sa’ad dan lainnya saja berandai-andai memiliki keutamaan seperti yang dimiliki Ali as., walaupun hanya satu saja, dan berangan-angan andai Nabi sa. Sudi memberikan kesaksian akan keutamaan bagi mereka seperti yang diberikan untuk Ali… bukankah itu semua pengakuan dari mereka bahwa Ali as. adalah lebi unggul dari mereka?! Adakah pengakuan melebihi apa yang mereka katakana?!</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Lalu dimanakah kesepakatan para sahabat, seperti yang diklaim Ibnu Taymiah itu?</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><font face="Times New Roman"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">Ketiga</span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">, Ternyata Ibnu Taymiha tidak berhenti di sini dalam mengakui adanya perselisihan dalam masalah ini, dan pengakuannya bahwa hanya Ali-lah yang telah mencapai kesempurnaan iman lahir-batin, akan tetapi ia lebih<span>  </span>jauh, pada lesempatan lain ia mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakana sebelumnya dalam masalah<em> tafdhîl</em> Abu Bakar dan Umar atas Imam Ali as.!! Berdasar hadis-hadis sahih dalam keyakinannya, Ibnu Taymiah mengatakan bahwa Ahlulbait Nabi saw. lebih utama dan lebih ungul darti seluruh kaum Muslimin dan yang paling utamanya mereka setelah Nabi saw. adalah Ali as.!!</span></font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></font><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Demikian Ibnu Taymiah menyimpulkan dair hadis-hadis sahih, tentunya ketika duduk merenung di keheningan suasana nun jauh dari pertikaian mazhabiah seperti ketika ia menulis buku <em>Minhaj as Sunnah</em>-nya. Dalam suasana jauh dari memperdebatkan masalah-masalah memazhaban, Ibnu Taymiah dengan lancar tanpa terseot-seot oleh fanatisme mazhabiah ia menegaskan keunggulan bani Hasyim atas suku-suku laion dari bangsa Quraisy, apalagi dari selainnya!</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ibnu Taymiah berkata, “Sesungguhnya bani Hasyim adalah paling unggulnya suku Quraisy, dan suku Quraisy adalah paling unggulnya bangsa Arab, dan bangsa Arab adalah paling unggulnya anak keturunan Adam, sebagaimana telah sahih dari Nabi saw. sabda dalam hads sahih, “Sesunggunhya Allah memilih keturunan Ismail, dan memilih Kinanah dari <span> </span>keturunan Ismail, dan memilih Quraisy<span>  </span>dari <span> </span>keturunan Kinanah, memilih bani Hasyim dari <span> </span>suku Quraisy.”<span>   </span></font></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Dalam Shahih Muslim dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda di Ghadir Khum, “Aku peringatkan kalian akan Ahlulbaitku! Aku peringatkan kalian akan Ahlulbaitku! Aku peringatkan kalian akan Ahlulbaitku!.”</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Dalam kitab-kitab Sunan disebeutkan bahwa Abbas mengeluhkan kepada beliau saw. bahwa sebagian orang Quraisy menghinakan mereka (bani Hasyim), maka beliau saw. bersabda, “Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, tiada akan masuk surga sehingga mereka mencintai kalian karena Allah dank arena kecintaan kekerabatnku.”…</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Dan apabila mereka itu paling afdhalnya makhluk maka tidak diragukan lagi bahwa amal-amal mereka adalah paling afdhalnya amal perbuatan! Maka paling afdhalnya mereka adalah Rasulullah saw. yang tiada tandingan dari kalangan manusia.</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Maka orang mulia dari kalangan mereka tentu lebih utama dari orang mulia dari suku-suku Quraisy dan bangsa Arab lainnya bahkan dari bani Israil dan selainnya.</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Kemudian Ali, Hamzah, Ja’far, Ubaidullah ibn Harits adalah orang-orang pertama yang memeluk Islam dari kalangan Muhajirin, jadi mereka lebih afdhal dari sahabat peringkat <em>thabaqah</em> kedua dari suku-suku lain. Oleh sebab itu ketika hari perang Badar, Nabi saw. memerintah mereka untuk tampil berdual menghadapi kafir Quraisy!</font></span><a name="_ftnref2" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:13pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[2]</font></span></span></span></span></span></a></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Demikianlah apa yang dikatakan Ibnu Taymiah dalam kitabnya <em>Ra’sul Husain</em>, adakah kesamaran pada kata-katanya? Bukankah ia sebagai sebuah pengakuan tegas bahwa Ahlulbait lebih utama dan lebih unggul?! Perhatikan kata-kata Ibnu Taymiah ini:<em> Maka orang mulia </em>fadhil<em> dari kalangan mereka tentu lebih utama dari orang mulia dari suku=suku Quraisy dan bangsa Arab lainnya bahkan dari bani Israil dan selainnya.</em> Dan <em>dan apabila mereka itu paling afdhalnya makhluk maka tidak diragukan lagi bahwa amal-amal mereka adalah paling afdhalnya amal perbuatan!</em></font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Dengan demikian ia semestinya menyahakan sesiapa yang menyalahi pendapat ini dalam maalah <em>tafdhîl</em>! Sebab pengutamaan Ahlulbait dan bani Hasyim bersifat<em> rabbani</em>, dari Allah SWT. Allah-lah yang berkehendak menetapkan keunggulan mereka atas semua manusia! Sementara pengunggulan selain Ali atas Ali as. adalah omongan orang! Tetapi mengapa justru Ibnu Taymiah berpendapat sebaliknya, ia menyerang dan menghujat sesiapa yang mengutamakan Ali atas para sahabat, termasuk Abu Bakar dan Umar, dan dianggapnya pendapat itu mencemooah para sahabat yang –katanya- telah mengutmakan Utsman atas Ali! Lalu apalagi mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar! Apakah Ibnu Taymiah lupa bahwa dengan sikapnya itu ia bertentangan dengan sabda Nabi suci dalam hadis isthifâ’ yang ia sahihkan sendiri?!</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Apakah pendapat segentir sahabat lebih diutamakan dari firman Alah dan sabda nabi-Nya?! Lalu apabila terjadi kontradiksi antara keduanya, manakah yang harus kita ambil, pendapat sahabat atau firman Allah dan sabda Nabi-Nya?! Apakah firman Allah dan sabda Nabi-Nya akan kita campakkan hanya kerena omongan segentir sdahabat?! Atau bahkan karena adanya <em>ijmâ’</em> fiktif<span>  </span>ala Ibnu Taymiah?</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Tidak Ada Tempat bagi Perbandingan!</font></span></strong></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Nash-nash keislaman; Alqur’an dan Sunnah telah menegaskan tanpa sedikit keraguan bahwa tidak ada tempat bagi membanding-bandingkan Imam Ali as. dengan sahabat-sahabat lain.</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ali as. telah ditetapkan kesuciannya olehn Allah SWT dalam ayat at That-hîr dan dikhususkan Nabi dalam hadis al Kisâ’.</font></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span dir="ltr"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ali as. adalah wali kaum Mukminin sebagaimana ditetapkan dalam ayat al Wilayah:</font></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span dir="ltr"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">إِنمَّاَ وَلِيُّكُمُ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ الَّذِيْنَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَ يُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَ هُمْ رَاكِعُوْنَ * وَ مَنْ يَتَوَلَّ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ وَ الَّذين آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْغَالِبُوْنَ . (المائدة 55-56).</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';"></span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">&#8220;Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk {kepada Allah}. Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut {agama} Allah itulah yang pasti menang. (QS:5;55-56)</font></span></em></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Dan dalam Khutbah Ghadir nabi saw. bersabda:</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">مَنْ كُنْتُ مَولاهُ فَعَلِيٌّ مولاهُ&#8230;</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';"></span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">“Barang siapa yang aku pemimpinnya maka Ali juga pemimpinnya… .”</font></span></em></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Maka semua orang masuk dalam keharusan menerima wilayah/ kepeminpinan tersebut!</font></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span> </span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Setiap Muslim/mukmin diperintah untuk berpegang teguh dengan ketaatan dan berwilayah kepada beliau as. sesuai dengan nash hadis Ghadir dan hadis Tsaqalain. Serta ratusan nash lainnya.</font></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span dir="ltr"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Dan apakah hadis Râyah menyisakan ruang bagi para pengacau untuk membanding-banding Imam Ali as. dangan selainnya?!</font></span></span><a name="_ftnref3" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn3" title="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:13pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[3]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font:7pt 'Times New Roman';"> <span dir="ltr"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">D</font></span></span></span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">i manakah tempat untuk membanding-bandingkan Ali as. dengan selainnya?! Sementara beliau as. adalah orang pertama yang akan melaporkan kasus penganiayaan umat terhadapnya kelak di hari kiamat, seperti diriwayatkan Imam Bukhari dala Shahihnya:</font></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span dir="ltr"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></span><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">أَنا أَوَّلُ مَنْ يَجْثُو بينَ يَدَيْ الرحمن للْخُصُومَةِ يومَ القيامَةِ.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';"></span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"><span> </span>“Aku orang pertama yang akan bertegak lutut di hadapan Allah Dzat Yang Maha Rahman di hari kiamat untuk melaporkan sengketa.” </font></span></em><a name="_ftnref4" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn4" title="_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[4]</font></span></strong></span></span></span></em></span></a></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"><strong><span style="font-family:'Poor Richard';"></span></strong><strong><span style="font-family:'Poor Richard';"><font size="3">Imam Ali as. Melerai Semua Perselisihan Dalam Masalah ini!</font></span></strong></font></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Setelah semua ini, coba kita perhatikan sabda Imam Ali as. yang akan memberikan ketarangan akhira dan keputusan penutup tentang mengunggulan. </font></span></p>
<p></font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ali as. bersabda:<span>  </span></font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"><span></span></font></span><a name="ind2" title="ind2"></a><span style="font-size:16pt;color:black;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';border:windowtext 1pt;padding:0;">لا يُقَاسُ بِآلِ مُحَمَّد(عليهم السلام)مِنْ هذِهِ الاُمَّةِ أَحَدٌ، وَلا يُسَوَّى بِهِمْ مَنْ جَرَتْ نِعْمَتُهُمْ عَلَيْهِ أبَداً.</span><span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;border:windowtext 1pt;padding:0;" dir="ltr"><span dir="ltr"></span><font face="Times New Roman"> </font></span></span><span><span style="font-size:16pt;color:black;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';border:windowtext 1pt;padding:0;">هُمْ أَسَاسُ الدِّينِ، وَعِمَادُ اليَقِينِ، إِلَيْهمْ يَفِيءُ الغَالي، وَبِهِمْ يَلْحَقُ التَّالي، وَلَهُمْ خَصَائِصُ حَقِّ الوِلايَةِ، وَفِيهِمُ الوَصِيَّةُ وَالوِرَاثَةُ، </span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span><em><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';border:windowtext 1pt;padding:0;">“Tidaklah dapat disbanding-bandingkan Âlu (keluarga suci) Muhammad as. dengan seorangpun dari umat ini dan tidaklah sama sekali layak disamakan dengan mereka sesiapa yang kenikmatan Allah atasnya itu lewat mereka. Mereka adalah pmdasi agama, pilar-pilar keyakinan. Kepada mereka orang yang berlebihan akan kembali, dan kepada mereka orang yang teledor akan menyusul. Hanya mereka yang memiliki kekhususan hak kewalian dan hanya pada merekalah wasiat dan pewarisan.”</span></em></span><span></span></font><a name="_ftnref5" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn5" title="_ftnref5"><span><span class="MsoFootnoteReference"><em><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';border:windowtext 1pt;padding:0;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:13pt;color:black;font-family:'Poor Richard';border:windowtext 1pt;padding:0;"><font face="Times New Roman">[5]</font></span></strong></span></span></span></em></span></span></a><span><em><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';border:windowtext 1pt;padding:0;"><font face="Times New Roman"> </font></span></em></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><em><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';border:windowtext 1pt;padding:0;"></span></em></span><span><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';border:windowtext 1pt;padding:0;"><font face="Times New Roman">Raslullah saw. juga bersabda:</font></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';border:windowtext 1pt;padding:0;"></span></span><span><span style="font-size:16pt;color:black;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';border:windowtext 1pt;padding:0;">نَحنُ بنُوا عبدِ المطَّلِب سادَةُ أهْلِ الجنَّةِ؛ أنا و حمزَةُ و علِيٌّ و جعْفَرُ و الحسنُ و الحسينُ و المهْدِيْ.</span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span style="font-size:16pt;color:black;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';border:windowtext 1pt;padding:0;"></span></span><font face="Times New Roman"><span><em><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';border:windowtext 1pt;padding:0;">Kam keluarga besar banu Abdul Muththalib adalah penghulu-penghulu<span>  </span>ahli surga; aku, Hamzah, Ali, ja’far, Hasan dan Husain serta al Mahdi.”</span></em></span><span></span></font><a name="_ftnref6" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn6" title="_ftnref6"><span><span class="MsoFootnoteReference"><em><span style="font-size:13pt;color:black;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';border:windowtext 1pt;padding:0;"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:13pt;color:black;font-family:'Poor Richard';border:windowtext 1pt;padding:0;"><font face="Times New Roman">[6]</font></span></strong></span></span></span></em></span></span></a></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&#160;</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">Ibnu Taymiah Berbohong Atas Nama Sahabat!</span></strong></span></font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></strong></span></font><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Seperti telah Anda baca sebelumnya bagaimana Ibnu Taymiah memastikan bahwa para sahabat, seluruh sahabat tanpa terkecuali telah bersepakat akan keunggulan dan keutamaan Abu Bakar dan Umar atas Imam Ali as., sementara klaim itu hanya sebuah kebohongan belaka, Dan mungkin karena alas an itu atau lainnya pada akhirnya ia menumbangkan sendiri klaim palsunya tersebut dalam kesempatan lain entah dengan sadar atau tidak! </font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ibnu Taymiah berkata:</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';"><span> </span><span>ما اختلفَ أَحَدٌ مِنَ الصحابَةِ و التابعين في تفضيْلِ أبي بكر و عمر و تَقْديمِهِما على جميعِ الصحابَةِ.</span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';"><span></span></span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">“Tidak seorangpun dari sahabat dan tabi’in berselisih bahwa Abu Bakar dan Umar lebih afdhal atas seluruh sahabat.’”</font></span></em><a name="_ftnref7" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn7" title="_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[7]</font></span></strong></span></span></span></em></span></a></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&#160;</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">Ibnu Taymiah Berbohong Atas Nama Ibnu Abbas <span> </span>ra.!</span></strong></span></font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></strong></span></font><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Sebagimana ia juga berbohong atas nama Ibnu Abbas ra., sahabat yang begitu dekat dan kental persahabatannya dengan Imam Ali as., seorang murid setia yang selalu menyebar-luaskan ilmu<span>  </span>dan fatwa-fatwa Imam Ali as. Ya, tidak sekali atau dua kali, dan tidak hanya dalam satu klaim atau dua klaim Ibnu taymiah berbohong atas nama Ibnu Abbas ra demi melecehkan dan mendiskriditkan Imam Ali as…. kali ini Ibnu Taymiah berbohong tentang sikap Ibnu Abbas ra. yang katanya lebih mengunggulkan dan mengutamakan Abu Bakar dan Umar di atas Imam Ali as., seperti telah anda simak bualannya pada lembaran-lembaran yang telah lalu.</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ibnu Taymiah berbual:</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">مَنْ عرفَ حالَ ابنِ عباسِ علِمَ أَنَّهُ كان يُفَضِّلُ أبابكر وعمرَ علَى عَلِيٍّ-رضِيَ اللهُ عنهُمْ-.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';"></span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">“Barangsiapa mengenal keadaan Ibnu Abbas<span>  </span>pasti ia mengetahui bahwa ia mengutamakan Abu bakar dan Umar atas Ali …” </font></span></em><a name="_ftnref8" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn8" title="_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[8]</font></span></strong></span></span></span></em></span></a></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Tidak cukup sampai di sini, mungkin karena kurang puas, Ibnu Taymiah mengatakan bahwa sikap Ibnu Abbas ra. itu adalah telah dinukil secara mutawâtir/pasti dan meyakinkan. Perhatikan kata-kata Ibnu Taymiah di bawah ini:</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">و المُتواتِرعَنهُ أنَّهُ كانَ يُفَضِلُّ عليهِ أبا بكرٍ و عُمَرَ, و َلَهُ مُعايَباتٌ يَعِيْبُ بِها عَلِيًّا و يَأْخُذُ عليهِ أشياءَ مِنْ أمورِهِ &#8230;</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';"></span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">“Dan yang mutawâtir darinya (ibnu Abbas ra.) bahwa ia mengunggulkan Abu Bakar dan Umar atas Ali. Dan ia memilii banyak celaan, ia mencela Ali dengannya dan menyalahkan Ali dalam banyak urusannya…”</font></span></em><a name="_ftnref9" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn9" title="_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[9]</font></span></strong></span></span></span></em></span></a></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Jadi jelas, tidak cukup mengatakan bahwa sikap Ibnu Abbas ra. itu telah diriwayatkan secara mutawâtir…. Ibnu taymiah menambahkan bahwa Ibnu Abbas ra. sebenarnya adalah seorang yang sangat berseberangan dengan Imam Ali as. dan banyak mencacat dan menyalahkannya dalam banyak hal dan urusan!</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">Ibnu Taymiah Berbohong Atas Nama Ahlulbait as.!</span></strong></span></font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></strong></span></font><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Tidak cukup berbohong atas nama sahabat-sabahat Nabi pengikut Ali as., Ibnu Taymiah memuaskan nafsunya dengan berbohong atas nama-nama harum keluarga Ali dan bani Hasyim untuk mendukung klaimnya, bukan sekedar mengunggulkan Abu Bakar dan Umar atas Imam Ali as. akantetapi lebih jauh lagi dalam mengakui keabsahan kekhilafahan Ali as.</font></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ibnu Taymiah berkata:</font></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">إِنَّ العِترَةَ لَمْ تَجْتَمِعْ على إمامَتِهِ ولا أَفضَلِيَّتِهِ، بلْ أَئِمَّةُ العترَةِ كابنِ عباس و غيرِهِ يُقَدِّمُوْنَ أبا بكر و عمر&#8230;.</span></p>
<p style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" dir="rtl" class="MsoNormal"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">و النَقْلُ الثابِتُ عَنْ جميعِ علماءِ أهلِ البيتِ من بني هاشم من التابعين و تابِعِيْهِمْ مِنْ وُلْدِ الحسينِ بنِ علِيٍّ و ولدِ الحسنِ و غيرِهِم كانوا يَتَوَلَّوْنَ أبا بكر و عمر ، و كانوا يُفَضِّلُونهُما على عَلِيٍّ، و النقولُ عنهم ثابِتَةٌ متواتِرَةٌ!</span></p>
<p><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';"></span><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">“Sesunggunhya Itrah (keluerda dekar Nabi saw.) tidak bersepakat atas keimamahan dan keunggulannya (Ali), bahkan para imam itrah seperti Ibnu Abbas dan lainnya mengutamakan Abu Bakar dan Umar (dalam imamah dan keunggulan)…. </font></span></em></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Dan penukilan yang pasti dari seluruh ulama Ahlulbait dari bani hasyim, baik dari generasi tabi’in atau setelahnya dari keturunan Husain dan keturunan Hasan dan selainnya, mereka telah sepakat mendukung kekhilafahan Abu bakar dan Umar dan mereka mengutakanan keduanya atas Ali. Penukilan ini dari mereka telah tetap/pasti dan mutawâtir.</font></span></em><a name="_ftnref10" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn10" title="_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[10]</font></span></strong></span></span></span></em></span></a></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><strong>(Bersambung)</strong></p>
<p><font face="Times New Roman"></p>
<hr SIZE="1" width="33%" align="left" /></font></p>
<p><a name="_ftn1" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[1]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> Minhaj as Sunnah,3/11-12.</font></span></p>
<p><a name="_ftn2" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[2]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> Ra’sul Husain:200-201.</font></span></p>
<p><a name="_ftn3" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref3" title="_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[3]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> Hadis ar Râyah dishahihkan Ibnu taymiah kendati ia mengingkarinya sebagai kekhususan Imam Ali as.</font></span></p>
<p><a name="_ftn4" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref4" title="_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[4]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> Shahih Bukhari, Kitab at tafsir, Tafsir surah al Hajj,6/124 dengan sanad dari Qais ibn ‘Ubbâd dari Ali ibn Abi Thalib ra.</font></span></p>
<p><a name="_ftn5" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref5" title="_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[5]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> Nahjul Balaghah, Khutbah no. 2.</font></span></p>
<p><a name="_ftn6" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref6" title="_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[6]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> Sunan Ibnu Mâjah,2/1368 hadis no4087. Semua perawi pada sanad hadis ini adalah <em>muwatstsqn</em> (diakui kejujurannya) kecuali Ali ibn Ziyâd, tidak ada komentar tentangnya baik mengapresisinya mauoun mencecatnya. Demikian dalam<em> Majma’ az Zawaid</em><u>.</u> </font></span></p>
<p><a name="_ftn7" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref7" title="_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[7]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> Minhaj as Sunnah,4/98.</font></span></p>
<p><a name="_ftn8" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref8" title="_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[8]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> Minhaj as Sunnah,3/213.</font></span></p>
<p><a name="_ftn9" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref9" title="_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[9]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> Minhaj as Sunnah,4/63.</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn10" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref10" title="_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[10]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> Minhaj as Sunnah,4/105.</font></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Turunnya ayat 274 surah al Baqarah Untuk Imam Ali as. adalah Bohong!]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/08/23/turunnya-ayat-274-surah-al-baqarah-untuk-imam-ali-as-adalah-bohong/</link>
<pubDate>Thu, 23 Aug 2007 02:21:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/08/23/turunnya-ayat-274-surah-al-baqarah-untuk-imam-ali-as-adalah-bohong/</guid>
<description><![CDATA[Satu lagi aksi unjuk kedengkian yang dipamerkan Ibnu Taymiah terhadap orang-orang suci. Kali ini sas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Satu lagi aksi unjuk kedengkian yang dipamerkan Ibnu Taymiah terhadap orang-orang suci. Kali ini sasarannya serangan penolakannya diarahkan kepada ayat Alqu’an yang mengabadikan kedermawanan Imam Ali as.</p>
<p>Ikuti ulasan di bawah ini.</p>
<p><!--more baca entri selanjutnya--></p>
<p><strong>Allah SWT berfirman:</p>
<p></strong><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right"><strong>الذينَ يُنْفِقُونَ أموالَهُمْ بالليلِ و النهارِ سِرًّا و علانِيَة فَلَهُم أجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ولا خَوْفٌ عليهم ولا هُمْ يَحْزِنُونَ</strong></p>
<p></font><em>Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2 [al Baqarah];274)</p>
<p></em>Para ulama dan mufassirin meriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas ra. bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Imam Ali as. ketika beliau mensedkahkan empat dirham di jalan Allah SWT. satu dirham dalam keadaan rahasia dan satu dirham dalam keadaan terang-terangan, satu dirham lagi di siang hari dan yang keempat di malam hari. Setelahnya Allah SWT menurunkan ayat tersebut di atas.</p>
<p>Ayat di atas dengan tafsiran sebab nuzûlnya dari Ibnu Abbas ra. telah diangkat oleh Allamah al Hilli sebagai bukti imamah Ali as. karena beliau- melalui ayat ini dapat dibuktikan sebagai- yang paling afdhal/termulia, kerenanya berhak menjabat sebagai Imam.</p>
<p>Turunnya ayat di atas untuk Imam Ali as. telah diriwayatkan banyak ulama besar Ahlusunnah, tidak terkecuali mereka yang sering dibanggakan Ibnu Taymiah, diantaranya: Abdur Razzaq, Abdu ibn Humaid, Ibnu Jarir ath Thabari, Ibnu al Mundzir, Ibnu Abi Hatim, ath Thabarani, Ibnu Asakir, Al Wahidi, Abu Nu’aim al- Isfahani, Fakhruddin ar Razi, az Zamakhsyari, Muhibbuddin ath Thabari, Ibnu al Atsîr, Jalaluddfin as Suyuthi, Ibnu Hajar al Haitami al Makki dll.</p>
<p>Inilah beberapa nama ulama besar dan kenamaan Ahlusunnah yang meriwayatkan atau menyebutkan hadis di atas dalam buku-buku berharga mereka, dan selain mereka masih banyak lainnya seperti al Hiskani, Ibnu al Maghazili asy Syafi’i, Ibnu al Jawzi dll. <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn1"><u><font color="#0000ff">[1]</font></u></a></p>
<p>Sanad-sanad jalur periwayatnya pun jelas dan telah mereka sebutkan dengan lengkap. Jadi bagi yang berminat meneliti dapat merujuknya langsung.</p>
<p>Setelah ini semua, coba kira-kira yang akan dikatakan Ibnu Taymiah yang gemar menolak keutamaan Imam Ali as. itu. Perhatikan keterangannya di bawah ini:</p>
<p><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right"><strong>أنَّ هذا كِذْبٌ ليسَ بثابِتٍ</strong><font face="Times New Roman"><strong>….</strong></font></p>
<p></font><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right"><strong>لَكنْ هذه التفاسِيْر الباطِلَة يقُولُ مِثْلَها كثيرٌ مِنَ الجهالِ</strong><font face="Times New Roman"><strong>…</strong></font></p>
<p></font><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right"><strong>فَتَبَيَّنَ أَنَّ الذي كذبَ هذا كان جاهِلاً بِدلالَةِ القُرْآنِ، و الجهْلُ في الرافِضَةِ ليسَ بِمُنْكَرٍ</strong><font face="Times New Roman">.</font></p>
<p></font><em>Ini adalah bohong, tidak tetap (palsu)…</p>
<p>Akan tetapi tafsir-tafsir batil ini, banyak orang-orang bodoh telah mengatakan (berpendapat) sepertinya…</p>
<p>Maka jelaslah bahwa yang berbohong dengan keboohongan ini adalah orang yang bodoh akan petunjuk Al Qur’an, dan kebodohan di kalangan orang-orang Rafidhah bukan hal aneh!<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn2"><u><font color="#0000ff">[2]</font></u></a></p>
<p></em>Inilah yang dikatakan Ibnu Taymiah, padahal seperti telah diketahui bahwa ia mensifati Ibnu Jarir ath Thabari, Ibnu al Mundzir, Ibnu Abi Hatim dengan sifat pujian sebagai ulama yang <em>wara’ </em>(hati-hati dalam agama), berlimu luas dan terpercaya. Dan mereka itu ternyata yang juga meriwayatkan hadis di atas!</p>
<p>Lalu apakah para penyanjung Ibnu Taymiah rela mengatakan bahwa para perawi hadis di atas, seperti Abdur Razzaq- guru besarnya Imam Bukhari-, Abdu ibn Humaid,-salah seorang penulis kitab Musnad yang terkenal-, Ibnu al Mundzir, Ibnu Abi Hatimdan ulama besar lainnya dikecam sebagai kadzabah (para pembohong) Juhhâl (orang-orang bodoh) dan yang aneh mereka dicap sebagai Rafidhah?!</p>
<p>Apakah setiap kali datang kebenaran yang tidak disukai hawa nafsunya, Ibnu Taymiah langsung mengecamnya dengan mengatakan, itu bohong! Para periwayatnya adalah orang-orang bodoh, pembohong dan Syi’ah Rafidhah dan celotehan bernada kecaman tanpa tanggung jawab lainnya?</p>
<p><em>Subhanallah! Apakah demikian kerakter seorang pewais para nabi? Apakah demikian pertangung jawaban seorang ulama di hadapan para pembaca karya-karyanya?</p>
<p></em>Sampai kapankah kita dapat mentolerir keganasan vonis-vonis zalim Ibnu Taymiah dalam menolak berbagai keutamaan Imam Ali as.?!</p>
<p>Apakah ada yang menganggap semua ini sekedar fitnah karena kebencian kepada <em>“Syiekhul Islam”</em>?!</p>
<p><u>CATATAN KAKI</p>
<p></u><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref1"><u><font color="#0000ff">[1]</font></u></a><font size="2"> Tafsir ad Durr al Mantsur,4/25, ar Riyâdh an Nadhirah,2/206, ash Shawâiq al Muhriqah:78, tafsir ar Râzi, tafsir az Zamakhsyari, tafsir Zâd al Masîr, tadzkirah al Khawâsh, al Manâqib dan Syawahid at Tanzîl. </font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref2"><u><font color="#0000ff">[2]</font></u></a><font size="2"> Minhâj as Sunnah,4/62-63.</font></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Taymiah Berbohong Atas nama Sahabat dalam Pengutamaan Abu Bakar dan Umar ra.(1)]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/08/09/ibnu-taymiah-berbohong-atas-nama-sahabat-dalam-pengutamaan-abu-bakar-umar-ra1-2/</link>
<pubDate>Thu, 09 Aug 2007 04:11:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/08/09/ibnu-taymiah-berbohong-atas-nama-sahabat-dalam-pengutamaan-abu-bakar-umar-ra1-2/</guid>
<description><![CDATA[Masalah tafdhîl (pengutamaan) di antara sahabat telah masuk dalam daftar masalah-masalah yang dipoli]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Masalah <em>tafdhîl</em> (pengutamaan) di antara sahabat telah masuk dalam daftar masalah-masalah yang dipolitisir oleh kepentingan kemazhaban. Ia menjadi ajang perbedaan dan perselisihan, bahkan pembid’ahan dan penyesatan. Para ulama dai berabagai mazhab; Ahlusunnah (dengan beragam kecenderungannya),  Mu’tazailah (dengan berbagai kelompoknya) dan Syi’ah (dengan cabangnya) telah melibatkan diri dalam mendiskusikan masalah ini.</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"> </span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Tetapi kali ini, kita akan melihat langsung pandangan Ibnu Taymiha dalam menyajikan dan menyikapi masalah ini.</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"><!--more--> </span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Pandangan Ibnu Taymiah dalam masalah<em> tafdhîl</em> perlu mendapat sorotan mengingat:</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">A)<span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Apa yang dilukiskan Ibnu Tyamiah dlam kanfas khayalannya tentang <em>tafdhîl </em>tidak pernah dikenal oleh para sahabat Nabi mulia saw. mereka tidak pernah mengenal apa yang dikatakan Ibnu Taymiah tentang ijmâ’ (konsensus) akan diutamakannya Abu Bakar atas Ali as… dan bahwa Abu Bakar, Umar dan Utsman lebih unggul/utama dari Ali as.</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">B)<span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Umar sendiri –sebagai satu-satunya sahabat yang paling bersemangat meleba Abu Bakar di pertemuan Saqifah, ketika ia berdiri di antara Abu Ubaidah ibn al Jarrâh dan Abu Bakar dan kemudian membelakanginya dan mengulurkan tangannya kepada Abu Ubadah seraya berkata, ‘ulurkan tanganmu, aku akan membai’atmu -… Umar ibn al Khaththab tidak pernah mengenal apa yang dilukiskan Ibnu Taymiah itu! Ketika itu Umar tidak mengenal bahwa Abu Bakar itu lebih unggul dan utama dari Abu Ubaidah…!</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">C)<span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Apa yang dilukiskan Ibnu Taymiah tentang tafdhîl tidak pernah di kenal oleh Mu’awiyah putra pasangan Abu Sufyan dan Hindun-penguyahj jantung paman kesayangan Nabi sa., Hamzah-… tidak pernah dikenal oleh Ibnu Abbas ra. </span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Apa yang dilukiskan Ibnu Taymiah total berbeda dengan kenyataan yang terjadi di tengah-tengah umat ini sejak maa para sahabat Nabi mulia saw.</span></p>
<p><strong><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Ibnu Taymiah Dan Klaim <em>Ijmâ’</em></span></strong></p>
<p><strong></strong><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Di sini dan demi kepentingan membela pendapatnya dan demi membodohi pembaca awam, Ibnu Taymiah mengaku-ngaku (seperti kebiasaanya dalam banyak kasus) telah terjadi <em>ijmâ’,</em> bahwa para sahabat telah bersepakat, tidak satupun berselisih! tentang pengutamaan Abu Bakar dan Umar atas Ali as dan seluruh sahabat, tanpa terkecuali!</span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Ketika membantah bukti yang dikemukanan allamah al Hilli bahwa Ali as. paling  utamanya sahabat, bahkan selurh makhluk setelah Nabi Muhammad saw…. ketika itu Ibnu  Taymiah bangkit membantahnya seraya mengatakan:</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">أَمَّا أَئِمَّةُ الْمسلمينَ المشْهورينَ فَكُلُّهُم مُتَّفِقُونَ على أنَّ</span></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';"> أبابكر وعمرَ أفضَلُ مِنْ عَلِيٍّ و عثمانَ. و نَقََلَ هذا الإجماعَ غيرُ واحِدٍ كما روَى البيهقِي في كتابِ مَناقِبِ الشافعي، قال: ما اختلفَ أَحَدٌ مِنَ الصحابَةِ و التابعين في تفضيْلِ أبي بكر و عمر و تَقْديمِهِما على جميعِ الصحابَةِ.</span></p>
<p><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">“Adapun para imam besar kaum Muslimin telah bersepakat bahwa Abu Bakar dan Umar lebih utama dari Utsman dan Ali. Dan ijmâ’ ini telah dinukil oleh banyak ulama’, sebagaimana al Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Manâqi sy Syafi’i, ia berkata, ‘Tidak seorangpun dari sahabat dan tabi’in berselisih bahwa Abu Bakar dan Umar lebih afdhal atas seluruh sahabat.’”<a title="_ftnref1" name="_ftnref1" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Baskerville Old Face';">[1]</span></strong></span></span></a></span></em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"> </span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Tidak hanya sekali ini Ibnu Taymiah ngotot bahwa telah terjadi <em>ijmâ</em> dalam masalah ini, dalam banyak kesempatan ia tidak henti-hentinya memekikkan suara sumbang tersebut dan dalam banyak lembar bukunya ia membubuhkan klaim itu!</span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Setelah menuduh beberapa ulama hadis Ahlusunnah -seperti Al Hakim, Abu Nu’aim, Ibnu Mardawaih, an Nasa’i dan Ibnu Abdil Barr sebagai Syi’ah dikarenakan meriwayatkan hadis-hadis tertentu tentang keutamaan Imam Ali as. dan kerena keengganan sebagian mereka meriwayatkan hadis tentang keutamaan Mu’awiyah-, Ibnu Tyamiah berkata:</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">لَكنْ تشَيُّعُهُ و تشَيُّعُ أمثالِهِ مِن أهلِ العلمِ بالحديثِ كالنسائي وابنِ عبدِ البرِّ و أمثالِهِما لا يَبْلُغُ إلى تفْضِيْلِهِ على أبي بكر و عمرَ. فلا يُعْرَفُ في علماءِ الحديثِ مَنْ يُفَضِلُهُ عليهِما، بَلْ غايةُ الْمُتَشّيِعِ منهُمْ أنْ يُفِضِّلُهُ على عثمانِ&#8230;</span></p>
<p><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Akan tetapi kesyi’ahannya dan  kesyi’ahan orang-orang semisalnya dari kalangan ahli hadis seperti an Nasa’i dan Ibnu Abdil Barr dan selainnya tidak sampai mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar. Maka tidak diketahui di antara ulama hadis ada seorang yang mengutamakan Ali di atas keduanya. Puncak yang diyakini seorang penyandang kesyi’ahan adalah mengutamakannya di atas Utsman… <a title="_ftnref2" name="_ftnref2" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Baskerville Old Face';">[2]</span></strong></span></span></a></span></em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"> </span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Tentang sikap Ibnu Abbas ra. dalam masalah <em>tafdhîl</em>, Ibnu Taymiah berkata:</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">مَنْ عرفَ حالَ ابنِ عباسِ علِمَ أَنَّهُ كان يُفَضِّلُ أبابكر وعمرَ علَى عَلِيٍّ-رضِيَ اللهُ عنهُمْ-.</span></p>
<p><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">“</span></em><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Barangsiapa mengenal keadaan Ibnu Abbas  pasti ia mengetahui bahwa ia mengutamakan Abu bakar dan Umar atas Ali …” <a title="_ftnref3" name="_ftnref3" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Baskerville Old Face';">[3]</span></strong></span></span></a></span></em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"> </span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Tidak cukup dengan kepalsuan yang ia utarakan atas nama Ibnu Abbas ra. seorang, ia menambah kepalsuannya dengan mengatakan bahwa para imam Ahlulbait as. dan keluarga khusus Nabi saw. telah mengutamakan Abu bakar atas Imam Ali as. (seperti nanti akan dibicarakan secara khusus)…</span><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"> </span></em></p>
<p><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Ikhtisar</span></em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"> kata,  semua nama orang besar ia bawa-bawa demi mendukung ijmâ’ yang ia lahirkan secara haram itu !!</span></p>
<p><strong><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Antara Ibnu Taymiah dan Ibnu Hazm al Andalusi</span></strong></p>
<p><strong></strong><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Setiap pengkaji yang teliti pasti menyimpulkan bahwa Ibnu Hazm jauh lebih teliti dan lebih mendekati kebenaran ketika ia membirakan masalah ini, walaupun Ibnu Hazm seorang yang “mati-matian” dalam mempertahankan pandangannya!! Hanya saja ia tidak sampai batas menolak data-data gamblang yang bertolak belakang dengan pandangannya. Pada pembukaan pembicaraannya, Ibnu Hazm berkata demikian:</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">ذَهَبَ بَعضُ أهلِ السنةِ و بعض المعتزلة و بعض المرجئة و جميعُ الشيعة إلى أَنَ أفضَلَ الأُمَّةِ بعدَ رسولِ اللهِ (ص) علِيُّ بنُ أبي طالبٍ.</span></p>
<p><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">“Sebagian Ahlusunnah, sebagian Mu’tazilah dan sebagian Murji’ah serta seluruh Syi’ah berpendapat bahwa Ali ibn Abi Thalib adalah paling afdhalnya umat ini setalah Rasulullah saw.”</span></em></p>
<p><em></em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Kemudian ia melanjutkan:</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">و قَدْ روينَا هذا القولَ نَصًّا عَنْ بَعْضِ الصحابَةِ (رضيَ اللهُ عنهم) و عن جماعَةٍ منَ التابعينَ و الفقهاءِ&#8230;</span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">و روينا عن نَحوِ عشرين من الصحابة أنَّ أكرمَ الناسِ على الله و رسولهِ عليًّ بنُ أبي طالبٍ.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"></span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"><em>“Dan telah kami riwayatkan pendapat ini seraca tegas dari sebagian sahabat –ra- dan sekelompok tabi’in dan fukaha (ahli fikih)…</em></span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"><em>Kami telah meriwayatkan dari kurang lebih dua puluh sahabat pendapat bahwa paling utamanya manusia di sisi Allah dan Rasul-Nya adalah Ali ibn Abi Thalib ra.”</em><a title="_ftnref4" name="_ftnref4" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Baskerville Old Face';">[4]</span></span></span></a></span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"> </span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Jadi, mana ijmâ’ produk Ibnu Taymiah itu? Ia tidak lebih sekedar khayalan dan angan-nagan bak fatamorgama dalam benak Anak Taymiah!!</span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Ijmâ <em>ala</em> Ibnu Taymiah sepertinya bagai lelucon bagi Mu’awiyah yang menegaskan adanya ijmâ’ lain yang justru bertola belakang dengan ijmâ’ Ibnu Taymiah! Mua’wiyah ternyata mengakui bahwa para sahabat besar, termasuk Abu Bakar dan Umar telah mengakui bahwa Ali lebih utama dan lebih unggul dari semua sahabat!!</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Dalam surat yang dilayangkan Mu’awiyah kepada Muhammad putra Khalifah Abu Bakar, ia menulsikan demikian:</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">قَدْ كُنَّا و أَبوكَ معنا في حياةِ نَبِيِّنا نرى حقَّ ابْنِ أبي طالبٍ لازِمًا لَنا، و فَضْلَهُ مُبَرَّزًا علَيْنَا، فلمَّا اخْتارَ اللهُ لِنبيِّهِ ما عندَهُ قَبَضَهُ إليهِ، فكانَ أبوكَ و فارُوقُهُ أوَّلَ مَنْ ابْتَزَّهُ و خالفَهَ، على ذلِكَ اتَّفَقَا و اتَّسَقَا.</span></p>
<p><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Dan kami dahulu bersama ayahmu di masa hidup nabi kami memandang hak putra Abi Thalib adalah tetap atas kami, dan keunggulannya nyata mengungguli kami , lalu ketika Allah memilihkan untuk nabi-Nya apa yang ada di sisi-Nya, Dia mematikannya, maka ayahmu-lah bersama rekannya adalah orang pertama yang merampas dan menentangnya, atas dasar itu mereka berdua bersepakat dan bekerja sama!!<a title="_ftnref5" name="_ftnref5" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Baskerville Old Face';">[5]</span></strong></span></span></a></span></em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"> </span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Dan ijmâ’ yang diakui Mu’awiyah di atas dapat pandangan Ibnu Abbas ra. adalah sebagai keyakinan yang mantap, dan ekerpastian yang tak diragukan. Data-data kehidupan Ibnu Abbas ra. adalah bukti nyata keyakinannya itu. Dengan tanpa gentar dan sedikitpun ragu-ragu Ibnu Abbas ra. meneriakkan suara haq itu di hadapan perusak konsep <em>Syura </em>(yang dibangakan Ahlusunnah sebagai konsep ideal Khilafah Islam)… Ya tanpa gentar Ibnu Abbas ra. menegaskannya di hadapan Mu’awiyah putra Abu Sufyân (pimpinan kaum Musyrikin dan kemudian menjadi pengayon kaum Munafikin)</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Ibnu Abbas ra. berkata:</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">كانَ و اللهِ عَلَمَ الهُدَى و كهْفَ التُقَى&#8230; خيرَ مَنْ آمَنَ و اتَقَى، و أفْضَلَ مَنْ تقَمَّصَ و ارتدَى، و أبَرَّ مَنْ اتعَلَ وَ سَعَى&#8230; , هُوَ أبو السبطَيْنِ، فَهَلْ يُقارِنُهُ بَشَرٌ؟! &#8230; فَعلى مَن اتقَصَهُ لَعْنَةُ اللهِ و العبادِ إلى يومِ التنادِ</span></p>
<p><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Demi Allah, Ali adalah panji petunjuk, hidayah, gua ketaqwaan… Dia sebaik-baik orang yang beriman dan bertaqwa, paling afdhal, utamanya orang yang bergamis dan memekai rida’, paling baktinya orang yang bersandal dan berjalan…  Dia adalah ayah bagi kedua cucu (Nabi saw.), lalu adakah yang menandinginya?!&#8230; Maka atas orang yang melecehkannya kutukan Allah dan kutukan hamba hingga hari kiamat.<a title="_ftnref6" name="_ftnref6" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Baskerville Old Face';">[6]</span></strong></span></span></a></span></em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"> </span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Kendati demikian, Ibnu Taymiah tetap saja tanpa sara tanggun jawab mengatakan bahwa siapa yang mengenal keadan Ibnu Abbas pasti ia tahu bahwa ia mengutamakan Abu Bakar dan Umar atas Ali!!<a title="_ftnref7" name="_ftnref7" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Baskerville Old Face';">[7]</span></span></span></a> (seperti akan kita bicarakan secara terpisah masalah ini)</span></p>
<p><strong><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Ibnu Taymiah Merobohkan Bangunan <em>Ijmâ’</em></span></strong><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"> </span></em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">S<strong>endiri</strong></span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Dalam ksempatan ini, saya belum bermaksud membumi-hanguskan klaim palsu Ibnu Taymiah!Saya hanya ingin membuktikan bahwa apa yang ia katakan telah terjadi ijmâ’ dan kesepakatan para sahabat, tabi’în, para imam Syi’ah dan keluarga dekat Nabi saw. tentang pengutamaan Abu Bakar dan Umar atas Imam Ali as. adalah klaim palsu berdasarkan ucapan Ibnu Taymiah sendiri!!</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Ini adalah sebuah contoh kontradiksi dalam pendapat dan klaim-klaim yang ia utarakan…</span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Memang,<em> man katsura kalâmuhu katsura khathauhu</em>!</span></p>
<p>Coba Anda perhatikan poin-poin di bawah ini:</p>
<p><em>Pertama</em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">, Jika di sana Ibnu Taymiah telah melontarkan klaim ijma atas tafdhîl Abu Bakar, Umar bahkan Utsman atas Ali as. dan tidak seorangpun yang menentang masalah ini… maka ketahuilah bahwa dalam kesempatan lain, ia mundur teratur dalam klaim itu&#8230;</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Sekarang ia mengatakan bahwa masalah tersebut adalah telah menjadi ajang perbedaan dan perselisihan sejak masa awal!</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Ketika Allamah Hilli mengatakan bahwa Ali adalah paling afdhalnya makhluk setelah Rasulullah saw….</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Ibnu Taymiah membantahnya dengan mengatakan:</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">وَ أيضًا فقولُهُ إنَّ عليّ بنَ أبي طالبٍ كان أفضَلَ الخلقِ بعدَ رسولِ اللهِ –صلى الله عليه (و آلهِ) و سلم دعْوَى مُجَرَّدَةٌ، تنازَعَ فيها الْمسلِمُون مِنَ الأولين  الآخرين.</span></p>
<p><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Adapaun ucapannya bahwa “Ali adalah paling afdhalnya makhluk setelah Rasulullah saw.” adalah tu adalah klaim belaka. Masalah itu telah diperselisihkan oleh jumhur kauim Muslimin, baik yang generasi pertama maupun yang terakhir!<a title="_ftnref8" name="_ftnref8" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Baskerville Old Face';">[8]</span></strong></span></span></a></span></em><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"> </span></em></p>
<p><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Subhanallah</span></em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">, di sana, di juz IV ia mengatakan telah terjadi <em>ijmâ’</em>, tidak ada yang memperselisihkan sama sekali masalah in… ternyata di sini, pada juz II halaman 119 ia mengatakan bahwa masalah itu telah menjadi ajang perbedaan dan perselisihan!! Apakah ia lupa apa yang ia tulis di juz II ini?</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Ataukah emosi dan fanatisme buta yang menjadikannya melupakan apapun yang ia ketahui tentang adanya perbedaan kaum Muslimin sejak masa sahabat Nabi saw. agar kemudian ia dengan leluasa memproduksi <em>ijmâ’</em> ?!</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Yang pasti Ibnu Taymiah telah merobohkan <em>ijmâ’</em> khayalannya sendiri!!</span></p>
<p><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Kedua</span></em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">, Ibnu Taymiah berkata, <em>“Jika ada yang berkata, ‘apabila apa telah sahih dari hadis-hadis tentang keutamaan Ali ra. seperti hadis “Aku akan serahkan bendera (pimpinan) kepada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya”, hadis “Tidakkah engkau puas bahwa kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa” dan hadis “Ya hanya merekalah Ahlubaitku, maka hilangkan rijs dari mereka dan secikan mereka sesuci-sucinya” … apabila semua itu bukan khashaish, keistimewaan khusus Ali, akan tetapi juga disekutu oleh orang lain dalam hal itu, maka mengapakah sebagian sahabat berandai-andai memilikinya, seperti yang diriwayatkan dari Sa’ad ibn Abi Waqqâsh dan Umar ibn al Khaththab?</em></span><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Maka jawabnya adalah: Sesunguhnya pada yang demikian terdapat kesaksian dari Nabi saw. untuk Ali akan keimanannya baik secara batin maupun secara lahir, dan penetapan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya dan keharusan atas kaum Mukminin untuk mencintainya.</span></em><a title="_ftnref9" name="_ftnref9" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Baskerville Old Face';">[9]</span></span></span></span></a><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"> </span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Nah, sekarang, jika sahabat Umar, Sa’ad dan lainnya saja berandai-andai memiliki keutamaan seperti yang dimiliki Ali as., walaupun hanya satu saja, dan berangan-angan andai Nabi sa. sudi memberikan kesaksian akan keutamaan bagi mereka seperti yang diberikan untuk Ali… bukankah itu semua pengakuan dari mereka bahwa Ali as. adalah lebi unggul dari mereka?! </span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Adakah pengakuan melebihi apa yang mereka katakana?!</span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Lalu dimanakah kesepakatan para sahabat, seperti yang diklaim Ibnu Taymiah itu?</span></p>
<p><em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Ketiga</span></em><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">, Ternyata Ibnu Taymiha tidak berhenti di sini dalam mengakui adanya perselisihan dalam masalah ini, dan pengakuannya bahwa hanya Ali-lah yang telah mencapai kesempurnaan iman lahir-batin, akan tetapi ia lebih  jauh, pada lesempatan lain ia mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakana sebelumnya dalam masalah<em> tafdhîl</em> Abu Bakar dan Umar atas Imam Ali as.!! Berdasar hadis-hadis sahih dalam keyakinannya, Ibnu Taymiah mengatakan bahwa Ahlulbait Nabi saw. lebih utama dan lebih ungul darti seluruh kaum Muslimin dan yang paling utamanya mereka setelah Nabi saw. adalah Ali as.!!</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Demikian Ibnu Taymiah menyimpulkan dair hadis-hadis sahih, tentunya ketika duduk merenung di keheningan suasana nun jauh dari pertikaian mazhabiah seperti ketika ia menulis buku <em>Minhaj as Sunnah</em>-nya. Dalam suasana jauh dari memperdebatkan masalah-masalah memazhaban, Ibnu Taymiah dengan lancar tanpa terseot-seot oleh fanatisme mazhabiah ia menegaskan keunggulan bani Hasyim atas suku-suku laion dari bangsa Quraisy, apalagi dari selainnya!</span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Ibnu Taymiah berkata, &#8220;</span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Sesungguhnya bani Hasyim adalah paling unggulnya suku Quraisy, dan suku Quraisy adalah paling unggulnya bangsa Arab, dan bangsa Arab adalah paling unggulnya anak keturunan Adam, sebagaimana telah sahih dari Nabi saw. sabda dalam hads sahih, <em>“Sesunggunhya Allah memilih keturunan Ismail, dan memilih Kinanah dari  keturunan Ismail, dan memilih Quraisy  dari  keturunan Kinanah, memilih bani Hasyim dari  suku Quraisy.”</em><em> </em> </span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Dalam Shahih Muslim dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda di Ghadir Khum,<em> “Aku peringatkan kalian akan Ahlulbaitku! Aku peringatkan kalian akan Ahlulbaitku! Aku peringatkan kalian akan Ahlulbaitku!.”</em></span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Dalam kitab-kitab Sunan disebeutkan bahwa Abbas mengeluhkan kepada beliau saw. bahwa sebagian orang Quraisy menghinakan mereka (bani Hasyim), maka beliau saw. bersabda, <em>“Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, tiada akan masuk surga sehingga mereka mencintai kalian karena Allah dank arena kecintaan kekerabatnku.”…</em></span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';"><strong>Dan apabila mereka itu paling afdhalnya makhluk maka tidak diragukan lagi bahwa amal-amal mereka adalah paling afdhalnya amal perbuatan!</strong></span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Maka paling afdhalnya mereka adalah Rasulullah saw. yang tiada tandingan dari kalangan manusia.</span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Maka orang mulia dari kalangan mereka tentu lebih utama dari orang mulia dari suku-suku Quraisy dan bangsa Arab lainnya bahkan dari bani Israil dan selainnya.</span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Kemudian Ali, Hamzah, Ja’far, Ubaidullah ibn Harits adalah orang-orang pertama yang memeluk Islam dari kalangan Muhajirin, jadi mereka lebih afdhal dari sahabat peringkat <em>thabaqah</em> kedua dari suku-suku lain. Oleh sebab itu ketika hari perang Badar, Nabi saw. memerintah mereka untuk tampil berdual menghadapi kafir Quraisy!<a title="_ftnref10" name="_ftnref10" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Baskerville Old Face';">[10]</span></span></span></a> </span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Demikianlah apa yang dikatakan Ibnu Taymiah dalam kitabnya <em>Ra’sul Husain</em>, adakah kesamaran pada kata-katanya? Bukankah ia sebagai sebuah pengakuan tegas bahwa Ahlulbait lebih utama dan lebih unggul?! Perhatikan kata-kata Ibnu Taymiah ini:<em> Maka orang mulia </em>fadhil<em> dari kalangan mereka tentu lebih utama dari orang mulia dari suku=suku Quraisy dan bangsa Arab lainnya bahkan dari bani Israil dan selainnya.</em> Dan <em>dan apabila mereka itu paling afdhalnya makhluk maka tidak diragukan lagi bahwa amal-amal mereka adalah paling afdhalnya amal perbuatan!</em></span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Dengan demikian ia semestinya menyahakan sesiapa yang menyalahi pendapat ini dalam maalah <em>tafdhîl</em>! Sebab pengutamaan Ahlulbait dan bani Hasyim bersifat<em> rabbani</em>, dari Allah SWT. Dan Allah-lah yang berkehendak menetapkan keunggulan mereka atas semua manusia!</span><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Sementara pengunggulan selain Ali atas Ali as. adalah omongan orang! Tetapi mengapa justru Ibnu Taymiah berpendapat sebaliknya, ia menyerang dan menghujat sesiapa yang mengutamakan Ali atas para sahabat, termasuk Abu Bakar dan Umar, dan dianggapnya pendapat itu mencemooah para sahabat yang –katanya- telah mengutmakan Utsman atas Ali! Lalu apalagi mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar!</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Apakah Ibnu Taymiah lupa bahwa dengan sikapnya itu ia bertentangan dengan sabda Nabi suci dalam hadis isthifâ’ yang ia sahihkan sendiri?!</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Apakah pendapat segentir sahabat lebih diutamakan dari firman Alah dan sabda nabi-Nya?! Lalu apabila terjadi kontradiksi antara keduanya, manakah yang harus kita ambil, pendapat sahabat atau firman Allah dan sabda Nabi-Nya?!</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Apakah firman Allah dan sabda Nabi-Nya akan kita campakkan hanya kerena omongan segentir sdahabat?!</span></p>
<p><span style="font-family:'Baskerville Old Face';">Atau bahkan karena adanya <em>ijmâ’</em> fikitif ala Ibnu Taymiah?</span><span style="font-family:'Poor Richard';"> </span></p>
<hr size="1" /><a title="_ftn1" name="_ftn1" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';">[1]</span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><span style="font-size:x-small;"> Minhaj as Sunnah,4/98.</span></span></p>
<p>&#160;</p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a title="_ftn2" name="_ftn2" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';">[2]</span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><span style="font-size:x-small;"> Minhaj as Sunnah,4/99.</span></span></p>
<p><a title="_ftn3" name="_ftn3" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';">[3]</span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><span style="font-size:x-small;"> Minhaj as Sunnah,3/213.</span></span></p>
<p><a title="_ftn4" name="_ftn4" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';">[4]</span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><span style="font-size:x-small;"> Al Fishal fi al Milal wa an Nihal,4/111.</span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a title="_ftn5" name="_ftn5" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';">[5]</span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><span style="font-size:x-small;"> Murûj adz Dzahab,3/12-13, Waq’at ash Shiffîn:118-120 dan Syarah Nahjil Balâghah,3/188.</span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a title="_ftn6" name="_ftn6" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span><span style="font-family:'Poor Richard';">Murûj adz Dzahab,3/63.</span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a title="_ftn7" name="_ftn7" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;font-size:x-small;"> Minhaj as Sunnah,3/213.</span></p>
<p><a title="_ftn8" name="_ftn8" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';">[8]</span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><span style="font-size:x-small;"> Minhaj as Sunnah,2/119.</span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a title="_ftn9" name="_ftn9" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span><span style="font-family:'Poor Richard';">Minhaj as Sunnah,3/11-12.</span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a title="_ftn10" name="_ftn10" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;font-size:x-small;"> Ra’sul Husain:200-201.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Semua Kota Besar Islam Telah Disinari Ilmu Nabi saw. dari Selain Ali!!(2)]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/31/31/</link>
<pubDate>Tue, 31 Jul 2007 00:57:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/31/31/</guid>
<description><![CDATA[Semua Kota Besar Islam Telah Disinari Ilmu Nabi saw. dari Selain Ali !! (2) Yaman Adapun ucapan Ibnu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h3><span style="color:#003366;">Semua Kota Besar Islam Telah Disinari Ilmu Nabi saw. dari Selain Ali !! (2)</span></h3>
<p><strong>Yaman</strong></p>
<p>Adapun ucapan Ibnu Taymiah bahwa, <em>“Aktifitas Mu’adz mengajar penduduk Yaman dan bermukinya di tengah-tengah mereka lebih lama di banding Ali, karenanya penduduk Yaman lebih banyak meriwayatkan dari Mu’adz dari pada dari Ali”</em></p>
<p><strong>Maka perlu diketahui bahwa ucapan itu mengandung banyak poin, yang semuanya palsu!</strong></p>
<p><strong></strong>1. Aktifitas Mu’adz mengajar pendudukYaman…</p>
<p>2. Mu’adz bermukinya di tengah-tengah penduduk Yaman…</p>
<p>3. Mu’adz lebih lama mengajar penduduk Yaman di banding Ali as. …</p>
<p>4. Mu’adz lebih lama tinggal di Yaman…</p>
<p>5. Penduduk Yaman meriwayatkan dari Mu’adz…</p>
<p>6.Yang mereka riwayatkan dari Mu’adz lebih banyak dari yang mereka riwayatkan dari Ali….</p>
<p>Untuk kesemua klaimnya di atas Ibnu Taymiah tidak memiliki bukti, dan hanya membuktikan kebodohan sikapnya, khususnya di hadapan ulama Syi’ah yang sedang ia hujat!! Bahkan banyak dasarnya yang tidak mampu dipertahankan berdasarkan data-data yang ada di tengah-tengah ulama Ahlusunnah sendiri.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Asal muasaal klaim Ibnu Taymiah adalah pengutusan Nabi saw. Imam Ali as. dan Mu’adz ibn Jabal ke Yaman. Yang perlu diketahui dalam hal ini ialah bahwa pemberangkatan Imam as. ke Yaman adalah berita yang disepakati Sunnah dan Syi’ah. Adapun pemberangkatan Mu’adz hanya diriwayatkan Ahslusunnah sendiri. Oleh sebab itu, Ibnu Taymiah adalah tidak benar berhujjah di hadapan orang-orang Syi’ah (Allamah al Hilli) yang sedang ia keritik dengan riwayat Ahlusunnah, ia mesti membawakan riwayat Syi’ah. Demikian etika berdialoq!!</p>
<p>Andai, riwayat itu diterima Syi’ah sekalipun, hal itu tidak menguntungkan Ibnu Taymiah barang sedikitpun, sebab seperti diketahui, pemberangkatan Imam Ali as. ke Yaman untuk tujuan pengajaran dan penyuluhan ajaran Islam, sementara pemberangkatan Mu’adz adalah untuk tujuan menutupi kebutuhan dunianya, sebagaimana disebutkan para ulama Ahlusunnah sendiri.</p>
<p>Adapun anggapan sementara kalangan bahwa pemberangkatan Mu’adz ke Yaman untuk tujuan qadha’ (peleraian masalah sengketa/menjadi qadhi), adalah anggapan yang tidak benar, tidak ada riwayat sahih yang melaporkan hal itu. Dasar mereka hanyalah sebuah hadis riwayat sementara ulama, sementara itu, Ibnu Hazm, misalnya dan beberapa ulama lainnya mencacat dan menolak dengan keras riwayat tersebut!</p>
<p>Jika demikian kenyatannya, bagaimana dapat dikatakan bahwa keberangkatan Mu’adz ke Yaman untuk tujuan pengajaran?! Apalagi dikatakan bahwa pengajarannya kepada penduduk Yaman lebih banyak dan dominan. Andai benar, bahwa disamping tujuan utama kepergiannya ke Yaman ia juga mengajar sebagian pengajaran maka dapat dipastikan bahwa apa yang ia sampaikan perlu disangsikan kebenarannya, sebab Mu’adz sendiri banyak tidak mengetahui hukum halal dana haram!</p>
<p>Dan anggaplah benar apa yang diklaim sebagian orang bahwa keberangkatan Mu’adz ke Yaman untuk tujuan pengajaran, maka tidaklah berdasar klaim bahwa pengajarannya lebih unggul dan berkaulitas dibanding pengajaran Imam Ali as., sebab seperti disepakati ulama besar Ahlusunnah bahwa Imam Ali as. jauh lebih afdhal, utama di atas Mu’adz dari segala sisinya. Oleh kerena itu, andai benar kenyataan bahwa Mu’adz tinggal di tengah-tengah penduduk Yaman selama Nabi Nuh as. di tinggal di tengah-tengah kaumnya, sementara Imam Ali as. hanya tingga sebentar, pastilah pengajara Imam Ali as. lebih unggul dan lebih bermutu, serta lebih membekas dan lebih banyak manfaatnya.</p>
<p>Bukankah para ulama Ahlusunnah melaporkan bahwa Nabi saw. sebelumnya telah mengutus Khalid ibn Walîd ke Yaman dengan tujuan mengajak penduduknya memeluk Islam dan menerangkan ajaran Islam, tetepi selama enam bulan Khalid tinggal di sana tidak satupun penduduknya yang tertarik dengan ajaran Islam yang diterangkan Khalid. Maka kemudian nabi saw. mengutus Imam Ali as. ke sana menyusul Khalid. Sesampainya di sana, Imam Ali as. menerangkan ajaran Islam, dan (di luar dugaan Ibnu Taymiah dan para pengagumnya) pada hari pertama itu, mereka menerima Islam dengan penuh kepuasan dan keyakinan!</p>
<p>Dan ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa penyampain orang yang memiliki keutamaan dan keunggulan, <em>fâdhil </em>lebih membekas dan berpengaruh di banding omongan orang yang tidak menyandang keutamaan, walaupun kita andaikan dia tinggal lebih lama!! Dari sini, jelaslah kesalahan membandingkan pengajaran Imam Ali as. dengan pengajaran lainnya, apalagi dengan pengajaran Mu’adz. Salahlah orang yang membanding-bandingkan Ahlulabit as. dengan orang-orang lain.</p>
<p><strong>Syuraih dan Lainnya Belajar Agama dari Mu’adz!</strong><strong> </strong></p>
<p>Adapun klaim Ibnu Taymiah bahwa Syuraih dan para pembesar tabi’in belajar agama,<em> tafaqqahû</em> dari Mu’adz adalah sebuah kepalsuan belaka, seperti kebohongannya dalam banyak kesempatan lain, Ibnu Taymiah dan para “penyembahnya” tidak mungkin mampu membuktikannya, berdasarkan konsep pembuktian ala Ahlusunnah apalagi ala Syi’ah!! Sebab anggapan itu hanya dilontarkan kecuali oleh Ali ibn al Madîni seorang, itupun dengan tanpa memastikan, ia hanya menukil dari seseorang yang<em> majhûl</em>, tidak diketahui jati dirinya.</p>
<p>Perhatikan apa yang ditulis Ibnu Hajar dalam <em>al Ishâbah</em>,</p>
<p><em>‘(Syuraih) menjabat sebagi qadhi di kota Kufah selama lima puluh tiga tahun, ia tinggal di Bashrah selama tuju tahun. Dan dikatakan bahwa ia belajar dari Mu’adz ketika ia berada di Yaman.”</em><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn1"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"> [1]</span></span></a></p>
<p>Coba Anda perhatikan laporan itu <span style="color:#0000ff;"><em>Dan dikatakan bahwa ia belajar dari Mu’adz ketika ia berada di Yaman</em></span>, siapa yang mengatakan? Demi Allah, ilmiahkah kita membuktikan sebuah klaim dengan data rapuh seperti itu?!  Bahkan kalau kita mau meluangkan sedikit waktu menelusuri buku-buku sejarah para tokoh dan perawi, kita akan menemukan beberapa data yang menafikan klaim mereka itu. Di antaranya, tidak disebutnya Syuraih dalam daftar para ulama yang meriwayatkan dari Mu’adz.  Andai benar klaim Ibnu Taymiah pastilah nama Syuraih akan disebut.<strong> </strong></p>
<p><strong>Coba Anda perhatikan keterangan para ulama tentangnya.</strong></p>
<p><strong>Ibnu Hibbân</strong> tentang Syuraih;</p>
<p><em>“Syuraih ibn Hârits al Qadhi al Kindi, sekutu mereka (bani Kindah), gelar kun-yahnya Abu Umayyah ada yang mengatakan Abu Abdurrahman,…, ia seorang qadhi. Ia meriwayatkan dari Umar ibn al Khaththab, darinya asy Sya’bi meriwayatkan. Wafat tahun delapan puluh delapan atau delapan pulu tujuh dalam usia seratus sepuluh tahun, ada yang mengatakan seratus dua puluh tahun. Ia menjadi qadhi selama tujuh puluh lima tahun, tidak pernah absen kecuali selama tiga tahun di masa kekacaaun ketika Ibnu Zubair memberontak.”</em> <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn2"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[2]</span></span></a></p>
<p><strong>An Nawawi berkata; </strong></p>
<p><em>“Ia mengalami masa hidup Nabi saw. teteapi tidak sempat berjumpa. Ada yang mengatakan menjumpainya. Yang masyhur adalah pendapat pertama. Yahya ibn Ma’in berkata, ‘Ia hidup di masa Nabi saw. tetapi tidak pernah mendengar apapun dai beliau.’ Ia meriwayatkan dari Umar ibn al Khaththab, Ali, Ibnu Mas’ud, Zaid ibn Tsabit, Abdurrahman ibn Abi Bakar dan Urwah al Bâriqi ra.”</em><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn3"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><em> </em>[3]</span></span></a></p>
<p><strong>Ibnu Hajar berkata;</strong></p>
<p><em>“Ia meriwayatkan dari Nabi saw. secara </em>mursalan<em> (dengan menggugurkan nama sahabat yang menjadi perantaraan riwayat) , dan juga dari Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Urwah al Bâriqi dan Abdurrahman ibn Abi Bakar.”</em> <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn4"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[4]</span></span></a></p>
<p><strong>Al Khazraji berkata;</strong></p>
<p><em>“Ia adalah salah satu ulama yang mulia dan cerdas. (Ia meriwayatkan) dari Ali, Ibnu Mas’ud. Darinya asy Sya’bi dan Abu Wâil meriwayatkan.”</em><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn5"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"> [5]</span></span></a></p>
<p>Dari kutipan pernyataan para ulama di atas tampak jelas bahwa nama Mu’adz tidak pernah disebut-sebut sebagai guru atau yang pernah ditimba ilmu oleh Syuraih. Dan ini adalah bukti pendukung yang cukup, andai perna meriwayatkan walau sekali saja pastilah namanya akan dicantumkan sebagai guru yang yang pernah ditimba ilmunya!</p>
<p>Ini semua terkait dengan klaim Ibnu Taymiah bahwa Syuraih beralajar agama, <em>tafaqqaha </em>dari Mu’adz. Adapun klaim bahwa para pembasar tabi’in belajar dari Mu’adz, maka ia sekedar klaim yang tak pernah mampu dibuktikan, tidak seorang pun yang pernah mengatakannya, baik pengucap yang<em> majhûl</em> atau yang dikenal!! Ia benar-benar kata-kata yang terucap dari Ibnu Taymiah dari bisikan teman dan <em>perewangan-</em>nya!</p>
<p><em>“</em><em>Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya”. (QS.43;36)</em></p>
<p><em>“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. (QS.6;112)</em></p>
<p>Adapun ucapannya (Ibnu Taymiah) bahwa:</p>
<h2>و لمَا قدِمَ عَلِيُّ الكوفَةَ كان شريح فيها قاضِيًا</h2>
<p><em>Ketika Ali datang ke kota Kufah, Syuraih sudah menjabat sebagai Qadhi.</em><em> </em></p>
<p>Adalah omongan yang tidak berguna sedikitpun. Lalu apakah hal itu membuktikan bahwa qadha’, keputusan-keputusannya yang ia putuskan sebelum kedatangan Imam Ali ke kota Kufah itu tidak salah?! Betapa banyak jaksa yang diangkat para penguasa sementara mereka itu adalah orang-orang bodoh!</p>
<p>Anggap omongan Ibnu Taymiah itu berguna, tetapi bukankah Syuraih termasuk yang meriwayatkan dari Imam Ali as.! dan ia berujuk kepadanya dalam memecahkan permasalahn yang rumit, seperti juga temannya; Ubaidullah al Salmani… Jadi Syuraih tidak dapat berpaling dari membutuhkan Imam Ali as.</p>
<p>Sedangkan omongan Ibnu Taymiah , “<em>Ia bersama Ubaidah al Salmani belajar agama dari selain Ali.”</em> adalah tertolak, sebab klaim bahwa Syuraih belajar dan mendalami agama dari selain Imam Ali as. adalah klaim tanpa bukti. Sementara itu, belajarnya Syuraih dari Mu’adz telah Anda ketahui tidak adanya bukti atasnya bahkan bukti-bukti yang ada justru menafikannya.</p>
<p>Dan kalau ada orang lain yang darinya Syuraih belajar dan mendalami agama, maka siapakah gerangan oran tersebut? Adapun klaim bahwa <em>Ubaidah al Salmani </em>belajar dan mendalami dari selain Imam Ali as. adalah kebohongan yang sangat konyol dari Anak Taymiah, sebab para ulama yang menyebutkan biografi dan sejarah hidup Ubaidah as Salmani telah bersepakat bahwa ia belajar dan mendalami agama dari Imam Ali as. dan Ibnu Mas’ud.</p>
<p><strong>Perhatikan komentar para ulama di bawah ini:</strong></p>
<p><strong>As Sam’ani berkata;</strong> <em>“Dia adalah termasuk murid-murid (Imam) Ali dan Ibnu Mas’ud. Hadisnya diriwayatkan dalam dua kitab Shahih (Bukhari &#38; Muslim)…</em></p>
<p><strong>Ahmad ibn Abdullah al Ijli berkata;</strong></p>
<p><em>‘Ubaidah al Salmani, ia bermata juling, salah seorang murid Ubaidah ibn Mas’ud yang mengajar Alqur’an dan memberikan fatwa. Syuraih apabila mengalami kesulitan, ia berkata, ‘Di sana ada seorang dari suku bani Salamah memiliki pengetahuan’ lalu ia mengutus mereka kepadanya (Ubaidah al Salmani). Ibnu Sîrîn paling banyak meriwayatkan darinya. Semua yang diriwayatkan Ibnu Sîrîn dari Ubaidah, selain pendapatnya, maka itu dari Ali. Ia wafat tahun tujuh puluh dua atau tujuh puluh tiga hijrah.”</em> <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn6"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[6]</span></span></a></p>
<p>Pernyataan serupa juga disampaikan <strong>al Mazi </strong>dalam <em>Tahdzîb al Kamâl</em>-nya. <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn7"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[7]</span></span></a></p>
<p><strong>An Nawawi berkata;</strong></p>
<p><em>“Ia dikenal bersahabat (berguru) kepada Ali. Darinya asy Sya’bi an Nakha’i, Abu Hudshain, Ibnu Sîrîn dan beberapa lainnya meriwayatkan. Ia pernah tinggal di Kufah dan berkunjung ke Madimah. Ia hadir di barisan Ali dalam peperangan melawan kaum Khawarij. Ia seorang murid Ibnu Mas’ud yang mengajarkan Alqur’an dan berfatwa. Dan adalah Syuraih apabila mengalami kesulitan, ia mengutus penanya kepada Ubaidah…”</em> <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn8"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[8]</span></span></a></p>
<p><strong>Ibnu Hajar berkata,</strong> <em>“Ia adalah murid Ali dan Abdullah (Ibnu Mas’ud).”</em> <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn9"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[9]</span></span></a>dll.</p>
<p><span style="color:#0000ff;">Dari keterangan di atas tampak dengan jelas bahwa Ubaidah <em>tafaqqaha</em>, mendalami agama dari selain Imam Ali as. seperti klaim Ibnu Taymiah adalah kebohongan dan fitnah yang tidak bertanggung jawab.</span> Sebab ia mendalami agama dari Imam Ali as. baik secara langsung maupun melalui murid beliau, Ibnu Mas’ud. Tetapi seperti perlu diketahui bahwa hal demikian tidak meniscayakan Ubaidah sebagai seorang dari Syi’ah Ali as. yang meyakini imamah dan kemakshumannya!</p>
<p>Dari sini dapat dimengerti bagaimana sikap keduanya yang tidak jarang berseberangan dengan pendapat Imam Ali as.! Memang Imam Ali as. dikarenakan kondisi umat yang sangat buruk dan tidak menguntungkan, beliau tidak memaksakan banyak hal agar secepatnya dirubah, karena khawatir menimbulkan kericuhan dan kekacauan di tengah-tengah umat, sementara kesatuan mereka demi menghadapi konspirasi dan persekonkolan kaum Quraisy untuk merongrong kekhilafahan beliau sangat diperlukan. Imam Ali as. bersabda, seperti diriwayatkan Ibnu Sîrîn dari Ubaidah:</p>
<h2 style="text-align:right;">أثقْضُوا كما كُنْتُمْ تَقْضُونَ فَإِنِّيْ أَكْرَهُ الإخْتلافَ، حَتَّى يكونَ الناسُ جماعَةً أَوْ أموتُ كما مات أَصْحابِيْ<span style="font-family:Times New Roman;">.</span></h2>
<p><em>“Berikan keputusan seperti dahulu kalian memberikan keputusan, karena sesungguynya aku tidak suka perselisihan, sehingga nanti manusia menjadi bersatu, jama’ah, atau aku mati seperti teman-temanku.”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn10"><strong> </strong></a></em><em><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn10"><strong><em></em></strong></a></em><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn10"><strong><span style="color:#0000ff;">[10]</span></strong></a><em> </em></p>
<p><em>Para pensyarah Bukhari telah menerangkan bahwa ucapan Imam Ali as. di atas berawal dari pendapat beliau yang bertentangan dengan pendapat Umar (Khalifah pendahu beliau) tentang anak dari hasil hubungan dengan budak wanita, Ali berpendapat ia boleh dijual, sementara menurut Umar tidak boleh. Imam Ali as. kemdian menarik pendapatnya karena khawatir timbul perpecahan!<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn11"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"> [11]</span></span></a></em><em> </em></p>
<p>Dari semua keterangan di atas dapat diketahui bahwa ilmu-ilmu Islam telah tersebar di seantero wilayah Islam melalui Imam Ali as. baik langsung mamupun melalui perantara murid-murid beliau, kendati kenyataan tersebut menjengkelkan Ibnu Taymiah dan para pemujanya, walhamdulillah.</p>
<p><em></em>____________________________</p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref1"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[1]</span></span></a><span style="font-size:x-small;"> Al Ishâbah,2/144.</span></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref2"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[2]</span></span></a><span style="font-size:x-small;"> Ats Tsiqât,4/352.</span></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref3"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[3]</span></span></a><span style="font-size:x-small;"> Tahdzîb al Asmâ’ wa al Lughât,1/243.</span></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref4"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[4]</span></span></a><span style="font-size:x-small;"> Tahdzîb at Tahdzîb,4/326.</span></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref5"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[5]</span></span></a><span style="font-size:x-small;"> Khulashah Tahdzîb at Tahdzîb:165.</span></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref6"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[6]</span></span></a><span style="font-size:x-small;"> Al Ansâb karya al Sam’ani. </span></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref7"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[7]</span></span></a><span style="font-size:x-small;"> Tahdzîb al Kamâl,19/266.</span></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref8"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[8]</span></span></a><span style="font-size:x-small;"> Tahdzîb al Asmâ’ wa al Lughât,1/317.</span></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref9"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[9]</span></span></a><span style="font-size:x-small;"> Tahdzîb at Tahdzîb,7/84.</span></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref10"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[10]</span></span></a><span style="font-size:x-small;"> Shahih Bukhari,5/81, bab fadhâil Ash-hâb an Nabi, Manâqib Ali.</span></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref11"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">[11]</span></span></a><span style="font-size:x-small;"> Cob abaca: Fath al Bâri,7/59, ‘Umdah al Qâri,16/218 dan Irsyâd as Sâri,6/118.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Semua Kota Besar Islam Telah Disinari Ilmu Nabi saw. dari Selain Ali!!(1)]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/28/semua-kota-besar-islam-telah-disinari-ilmu-nabi-saw-dari-selain-ali/</link>
<pubDate>Sat, 28 Jul 2007 03:30:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/28/semua-kota-besar-islam-telah-disinari-ilmu-nabi-saw-dari-selain-ali/</guid>
<description><![CDATA[Semua Kota Besar Islam Telah Disinari Ilmu Nabi saw. dari Selain Ali!! (1)Tidak cukup dengan mengata]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Semua Kota Besar Islam Telah Disinari Ilmu Nabi saw. dari Selain Ali!! (1)</strong><strong>Tidak cukup dengan mengatakan bahwa Ibnu Mas’ud dan para sahabat tidak pernah sedikitpun menimba ilmu dari Imam Ali as., … dan Ibnu Abbas ra. yang dikenal sebagai murid Imam Ali as. adalah sebuah kepalsuan belaka…., tidak cukup hanya itu, Ibnu Taymiah memekikkan suara sumbangngnya dengan mengatakan bahwa tidak satu pun kota-kota besar yang tersinari dengan cahaya ilmu Ali as. !! Sementara itu, para sahabat telah menyiraminya dengan ilmu-ilmu mereka… hanya Ali seorang yang ilmunya tidak sampai ke kota-kota tersebut!</p>
<p></strong>Perhatikan apa yang ia katakan dengan redaksi tegas tanpa sungkan ketika ia menolak hadis Madinatul Ilmi seperti di bawah ini:</p>
<p><!--more baca selanjutnya--></p>
<p>Ibnu Taymiah berkata:</p>
<p><font face="Times New Roman (Arabic)">فَعُلِمَ أنَّ هذا الحديثَ إنما افْتراهُ زنْدِيْقٌ جاهِلٌ ظّنَّهُ مَدْحًا و هُوَ يُطَرِّقُ الزنادِقَةَ إلى القَدْحِ في دينِ الإسْلامِ<font face="Times New Roman">.</font></font><font face="Times New Roman (Arabic)"> </font><em>“Maka diketahui bahwa hadis ini dipalsukan oleh seorang zindîq yang jâhil, ia menganggapnya sebagai pjian sementara itu ia membuka jalan bagi kauk zindiq lainnya untuk mencacat Islam… Kemudian hal itu adalah bertolak belakang dengan apa yang diketahui secara mutawatir, sebab seluruh kota-kota besar Islam telah sampai kepadanya ilmu para sahabat dari Rasulullah dari selain Ali”</em><em>Setelahnya ia berusaha membuktikan klaimnya diatas dengan mengatakan:</p>
<p></em><font face="Times New Roman (Arabic)">أَمَّا أهْلُ المدينَةِ و مَكَّةَ فالأمْرُ فيهما ظاهِرٌ، و كذلِكَ الشَّأم و البصرَة، فَإِنَّ هؤلآءِ لم يكونًوا يروُوْنَ عن علِيٍّ إلاَّ شيءئًا قليلاً، و إنما كان غالبُ علمِهِ في الكوفَةِ، و مع هذا فَأَهْلُ الكوفة كانوا يَعْلَمونَ القُرْآنَ و السنّةَ قبل أنْ يتولَّي عثمانُ فضْلآً عن عليٍّ ، ففُقهاءُ أهلِ المدينَةِ تعَلَّمُوا الدينَ في خلافَةِ عمَرَ. و تعْلِيْمُ معاذ لأَهْلِ اليمن و مُقامُهُ فيهم أكثرمِنْ عليٍّ، و لهذا روَى أهْلُ اليمن عن معاذ بن جبل أكثرَ مِمَا روَوْا عن علِيٍّ. و شُريح و غيرُهُ مِنْ أكابر التابِعِيْنَ إنما تَفَقَّهُوا على معاذ بن جبل، و لمَا قدِمَ عَلِيُّ الكوفَةَ كان شريح فيها قاضِيًا، و هو و عبيدة السليماني تفَقَّها على غيرِهِ، فانْتشَرَ علمُ الإسلامِ في المدائِِنِ قبلَ أنْ يَقْدَمَ عليٌّ الكوفةَ<font face="Times New Roman"> … </font></font><em>Adapun penduduk kota Madinah dan Mekkah, telah jelas urusannya. Demikian pula kota Syam dan Bashrah, mereka tidak meriwayatkan dari Ali melainkan sangat sedikit. Kebanyakan ilmu Ali hanya di kota Kufah, namun kendati demikian penduduk Kufah mereka telah mengetahui Alqur’an dan Sunnah sebelum Utsman memerintah, apalagi Ali. Para fukaha’ kota Madinah, mereka belajar agama di masa Khilafah Umar. Aktifitas Mu’adz mengajar penduduk Yaman dan bermukinya di tengah-tengah mereka lebih lama di banding Ali, karenanya penduduk Yaman lebih banyak meriwayatkan dari Mu’adz dari pada dari Ali. Syuraih dan para pembesar tabi’in lainnya mereka hanya belajar agama dari Mu’adz ibn Jabal. Ketika Ali datang ke kota Kufah, Syuraih sudah menjabat sebagai Qadhi. Ia bersama Ubaidah al Salmani belajar agama dari selain Ali. Dan ilmu Islam telah tersebar di kota al Madain sebelum kedatangan Ali ke Kufah…” <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn1"><strong><em><font color="#0000ff">[1]</font></em></strong></a></em><em>Demikianlah panjang lebar Ibnu Taymiah berusaha membuktikan bahwa seluruh kota-kota besar Islam itu telah mengenal Islam dan ajaran Alqur’an dan Sunnah bukan dari Imam Ali as., akan tetapi dari para sahabat lain. Ilmu Rasulullah saw. melalui selain Ali-lah dalam klaim Ibnu Taymiah yang telah menyinari seantero wilayah-wilayah Islam saat itu. Adapun ilmu Ali, ia hanya sekedar dongen dan nyanyian kebanggaan yang hanya dilagukan kaum Syi’ah saja!! Maka dengan demikian pastilah dalam penilaian Ibnu taymiah hadis Nabi saw. yang menerangkan bahwa Ali adalah pintu kota ilmu kenabian dan kerasulan adalah sebuah kepalsuan belaka… ia adalah produk kaum zindiq jahil!! Dan hanya membuka jalan bagi pencacatan atas kevalidan ajaran Islam!!</p>
<p></em>Ikhtisar kata, kaum Muslimin di berbagai penjuru kota besar Islam tidak pernah mendapat manfat dari ilmu Ali. Hanya penduduk Kufah saja yang menjadi tempat pelimpahan ilmu Ali… itupun tidak terlalu berguna sebab kenyataannya mereka telah rampung mengetahi Alqur’an dan Sunnah Nabi saw, jauh sebelum kedatangan Ali ke sana dan menjadikannay ibu kota pemerintahannya. Bahkan dua paka hukum Islam kota Kufah dan pembesar tabi’in, mereka belajar fikih dan agama bukan dari Ali, tetapi dari selain Ali yaitu Mu’adz!!</p>
<p>Demikianlah Ibnu Taymiah merampungkan argumentasinya!! (jika apa yang ia sebutkan itu dapat disebut sebagai argument).</p>
<p>Nah, sekarang mari kita perhatikan apa yang dikatakan Ibnu taymiah di atas dengan memperhatikan bukti-bukti dan data-dat sejarah akurat sebagaiaman diabadikan para ulama.</p>
<p>Kota-kota besar Islam di masa itu, seperti yang juga ia sebutkan adalah:</p>
<p>Al Madinah al Munawwarah… Makkah al Mukarramah… Syâm… Bashrah… Kufah dan Yaman.</p>
<p>§ <strong>Al Madinah al Munawwarah:</strong></p>
<p>Adapun Madinah, Imam Ali telah tinggal di sana hampir seluruh usia beliau. Dan seperti telah disebutkan sebelumnya, Ali as. adalah guru dan tempat rujukan para pembesar sahabat… apalgi tabi’în!</p>
<p>Adapun ucapan Ibnu Taymiah bahwa “<em>para fukaha’ kota Madinah, mereka belajar agama di masa Khilafah Umar(!)”</em> perlu dikomfirmasi maksudnya. Apakah mereka itu belajar kepada Khalifah Umar? Atau dari orang lain?</p>
<p>Ibnu Taymiah sangat licin dalam redaksi yang ia pilih. Ia mengatakan bahwa <em>para fukaha’ kota Madinah, mereka belajar agama di masa Khilafah Umar</em> . Ya, belajar agama di masa Khalifah Umar! Ia tidak berani menegaskan bahwa para fukaha itu belajar dari Umar! Sebab Ibnu Taymiah menyadari bahwa ia akan kerepotan untuk membuktikannya, karena Umar sendiri selalu berujuk kepada Imam Ali dalam memecahkan masalah-masalah rumit yang ia hadapi. Dan tidak jarang dilaporkan bahwa Umar salah dalam memaham atau memutuskan sebuah keputusan hokum. Beratapa sering beliau ra. mengakui ketidak-mampuannya. Umar berkata, ‘Semua orang lebih pandai dari Umar, sampai-sampai wanita-wanita di rumahpun lebih mengerti disbanding Umar.’ dll.</p>
<p>Jadi kalau benarucapan Ibnu Taymiah bahwa <em>para fukaha’ kota Madinah, mereka belajar agama di masa Khilafah Umar </em>pastilah mereka itu melajar dari Imam Ali as.! Jika para pembesar beraujuk dan belajar dari Ali as., apalagi para tabi’in. Itu sudah pasti!!</p>
<p>§ <strong>Makkah al Mukarramah</strong></p>
<p>Sedangkan kota Makkah, adalah kota kelahiran Imam Ali as. dan beliau tinggal di sana hingga Nabi saw. berhijrah. Dan setelah hijrah beliau sering datang ke kota makkah, lalu bagaimana dapat dikatakan bahwa ilmu beliau tidak sampai ke kota makkah?!</p>
<p>Selain itu, murid kesayangan beliau; Ibnu Abbas ra. ia tinggal di kota Mekkah dalam waktu yang cukup lama, beliau mengajarkan Alqur’an dan tafsir serta sunnah Nabi saw.. Ketika menyebutkan biografi Ibnu Abbas ra., adz Dzahabi berkata, “A’,asy dari Abu Wâil berkata, Ali menugaskan Ibnu Abbas utnuk mengurus pelaksanaan ibadah haji, ia berpidato andai sat itu di dengar oleh orang-orang Turki dan Ramawi pasti mereka memeluk Islam. Kemudian Ibnu Abbas membacakan surah an Nûr dan menafsirkannya.”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn2"><u><font color="#0000ff">[2]</font></u></a></p>
<p>Ibnu Sa’d meriwayatkan bahwa pada suatu hari Aisyah memandang Ibnu Abbas ketika itu ia bersama sekelompok orang di malam-malam musim haji dan mereka bertanya kepadanya, kemudian Aisyah berkata, “Dia adalah paling pandainya orang yang tersisa (masih hidup) tentang manasik haji.”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn3"><u><font color="#0000ff">[3]</font></u></a></p>
<p>Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dari Abdulah ibn Shafwân bahwa ketika ia melewati rumah Ibnu Abbas ra. ia menyaksikan sekelompok orang sedang belajar agama darinya, maka ia(Abdulah ibn Shafwân) menggubah bait-bait syair memojokkan Ibnu Zubair karena telah kehilangan kejayaan dengan simpatik yang diberika kaum Muslimin kepada Ibnu Abbas…. <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn4"><u><font color="#0000ff">[4]</font></u></a></p>
<p>Jadi telah tetaplah bahwa Ibnu Abbas ra. (murid Imam Ali as.) sebagai penyebar ilmu Islam; Alqur’an dan Sunnah di tangah-tangah penduduk kota suci Mekkah, sampai-sampai Ibnu Taymiah sendiri mengakui bahwa paling andainya orang tentang tafsir adalah penduduk kota Mekkah, sebab mereka belajar dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Orang yang paling pandai tentang tafsir dalah penduduk Mekkah, sebab mereka adalah murid-murid Ibnu abbas ra., seperti Mujahid, ‘Athâ’ ibn Abi Rabâh, Ikrimah-budak Ibnu Abbas-, Sa’id ibn Jubair, Thawûs dan selain mereka.”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn5"><u><font color="#0000ff">[5]</font></u></a></p>
<p>§ <strong>Syâm</strong></p>
<p>Adapun kota Syâm, maka yang paling pandai di antara penduduknya adalah Abu Dardâ’. Ia telah belajar dan menimba ilmu dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Mas’ud adalah seorang murid Imam Ali as. Adz Dzahabi berkata, “Abu dardâ’ adalah orang alimnya kota Syâm dan pengajar Alqur’an ibu kota Damaskus, ia adalah ahli fikih dan qaghinya mereka.”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn6"><u><font color="#0000ff">[6]</font></u></a></p>
<p>Al Muwaffaq ibn Ahmad meriwayatkan dari Abu dardâ’ sebagai mengatakan, “Para ulama itu ada tiga, seorang di kota Syâm, (maksudnya adalah dirinya sendiri), seorang di kota Kufah (Ibnu Mas’ud maksudnya), dan seorang lagi di kota Madinah (Imam Ali as. maksudnya). Yang di Syâm bertanya kepada yang di Kufah dan yang di Kufah bertanya kepada yang di Madinah, dan yang di Madinah tidak bertanya kepada siapa-siapa.”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn7"><u><font color="#0000ff">[7]</font></u></a></p>
<p>Muhibbuddin ath Thabari meriwayatkan dari Abu az Za’râ’ dari Abdullah, ia berkata, “Ulama dunia ada tiga, seorang di Syâm, seorang di Hijaz, dan seorang lagi di Irak. Adapun alimnya penduduk Syâm adalah Abu Dardâ’, orang alimnya penduduk Hijâz adalah Ali ibn Abi Thalib, sedangkan alimnya penduduk Irak adalah saudara kalian (Ibnu Mas’ud). Dan alimnya penduduk Syamdan orang alimnya penduduk Irak keduanya mebutuhkan kepada alimnya penduduk Hijâz, sementara alimnay penduduk Hijâz tidak butuh kepada kedunanya.”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn8"><u><font color="#0000ff">[8]</font></u></a></p>
<p>Selain itu, para ulama meriwayatkan bahwa Mu’awiyah –kendati ia adalah musuh utama Imam Ali as. yang mengobarkan api pemberontakan atas beliau as.- telah berujuk dan bertanya kepada Imam Ali as. dalam banyak kasus.</p>
<p>§ <strong>Bashrah</strong></p>
<p>Kota Bashrah bukanlah kota asing bagi Imam Ali as., berkali-kali beliau mengunjunginya dan berpidato di sana. Nasehat-nasehat dan wejangan-wejangan beliau kepada penduduk kota tersebut tidak samar bagi para ulama. Anda dapat merujuknya dalam buku-buku sejarah seperti Tarikh Thabari dan lainnya.</p>
<p>Sebagiama juga, tidak samar bagi parta sejarawan Islam bahwa Ibnu Abbas ra. pernah ditunjuk Ali as. sebagai Gubernur wilayah Bashrah, dan para penduduknya banyak berkesempatan menimba ilmu agama darinya.</p>
<p>Maka dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa ilmu Imam Ali as. telah sampai dan tersebar di kota Bashrah, melalui Ibnu Abbas juga sebagai murid kesayangan Imam Ali as.!</p>
<p>Al Madâini meriwayatkan dari Nu’aim ibn Hafsh, ia berkata, “Abu Bakrah berkata, ‘Ibnu Abbas datang ke kota kami bashrah, dan tiada di kalangan bangsa Arab yang menyamainya baik, fisik, ilmu, kemampuan menerangkan, ketampanan dan kesempurnaan.”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn9"><u><font color="#0000ff">[9]</font></u></a></p>
<p>Ibnu Sa’ad meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Sulaiman dari ayahnya, Hasan, ia berkata, “Orang yang pertama dikenal di kota bashrah adalah Abdullah ibn Abbas… ia seorang yang supel dan banyak ilmunya… Ia membacakan surah Al Baqarah lalu menafsirkannya ayat demi ayat.”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn10"><u><font color="#0000ff">[10]</font></u></a></p>
<p>Ibnu Hajar berkata, “Zubair meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Ibnu Abbas selalu meberi makan malam di bulan Ramadhan, ia adalah Amir kota Bashrah. Tidak berlalu bulan itu melainkan ia telah tuntas mengajarkan fikih/agama kepeda mereka.”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn11"><u><font color="#0000ff">[11]</font></u></a></p>
<p>Dari jelaslah bahwa ilmu Imam Ali as. telah tesebar luas di berbagai kota besar Islam, madinah, Mekkah, Syâm, Bashrah dan lainnya, walaupun tidak berarti mereka yang menimba ilmu dari belioau adalah para pengikut setia beliau dan yang mengaku kewalian dn imamah beliau as.</p>
<p>§ <strong>Kufah</strong></p>
<p>Adapun kota Kufah, yang kata Ibnu Taymiah bahwa ilmu Imam Ali kebanyakan hanya ada di Kufah, maka perlu Anda ketahui bahwa ilmu Imam ali as. adalah ilmu Rasulullah saw…. Andai seluruh ulama menimbanya dari lautan ilmu beliau pastilah cukup untuk mereka. Lalu bagaimana dikatakan bahwa kebanyakan ilmu beliau as. adalah di Kufah?! Mungkinkah mereka mampu menampung lautan kebanyakan ilmu Imam Ali as.?</p>
<p>Beliaulah yang bersabda, “Tanyakan kepadaku sebelum kalian kehilangan aku, sesungguhnya di antara rongga dadaku terdapat banyak ilmu… “seperti akan disebutkan pada artikel lain nanti, <em>insyaallah</em>.</p>
<p>Jika yang Ibnu Taymiah maksudkan bahwa yang tampak dari ilmu Imam Ali as. adalah di Kufah, maka sebenarnya ia salah, sebab kebanyakan ilmu beliau as. tampak di kota suci Madinah, bukan di Kufah! Rujuknya para sahabat besar, tidak terkecuali tiga Khalifah sebelum beliau as. dalam berbagai masalh rumit adalah berita masyhur, dan itu semua terjadi di kota Madinah. Di kota Kufah beliau tidak banyak memiliki kesempatan untuk memberikan bimbingan sebab beliau as. disibukkan dengan pemberontakan demi pemberontakan yang dipimpin sebagian sahabat!</p>
<p>Sedangkan kata-kata Ibnu Taymiah bahwa “<em>namun kendati demikian penduduk Kufah mereka telah mengetahui Alqur’an dan Sunnah sebelum Utsman memerintah, apalagi Ali” </em>sepertinya ia ingin mengatakan bahwa mereka telah belajar agama di masa kekhalifahan Umar, tetapi anggapan ini salah sebab:</p>
<p><em>Pertama, kota Kufah baru diramaikan kaum Msulimin pada tahun tujuh belas hijrah, sementara Umar wafat tahun dua puluh tiga hijrah, lalu bagaimana kita dapat menerima anggapan bahwa mereka mmapu mempelajari Alqur’an dan sunnah dalam kurn waktu sesingkat itu taitu enam tahun, padahal Umar sendiri baru untuk mampu mempelajari surah al Baqarahbutuh waktu selama dua belas tahun! seperti diriwayatkan para ulama, di antaranya as Suyuthi dalam <em>ad Durr al Mantsûr</em>-nya.<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn12"><u><font color="#0000ff">[12]</font></u></a></em><em> </em><em>Kedua, mereka yang datang ke kota Kufah sebagai utusan Khalifah Umar adalah Ammar ibn Yasir dibarengi Abdullah ibn Mas’ud. Jika yang dimaksud Ibnu Taymiah bahwa penduduk Kufah itu belajar dari kedua sahabat ini, maka tentunya hal itu merugikan stitmen Ibnu Taymiah sendiri! sebab keduanya adalah murid Imam Ali as. Maka dari tetaplah bahwa penduduk Kufah mengambil ilmu Ali as.</em><em>Banyak bukti dan data yang mengatakan bahwa penduduk kota Kufah belajar dari Ammar dan Ibnu Mas’ud. Ibnu Sa’ad melaporkan bahwa pada awalnya Ibnu Mas’ud berhijrah ke kota Himsh kemudian dipindahkan Umar ke Kufah. Umar menulis sepucut surat kepada mereka, “Sesungguhnya-demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya- aku lebih mementingkan kalian dengan mengutusnya kepada kalian, maka ambillah ilmu darinya!”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn13"><u><font color="#0000ff">[13]</font></u></a></p>
<p></em>Dalam riwayat lain dilaporkan, “Harits ibn Madhrab berkata, ‘Surat Umar ibn al Khaththab dibacakan di hadapan kami: <em>Amma ba’du</em>, aku telah mengutus kepada kalian Ammar ibn Yasir sebagai amir, dan Ibnu mas’ud sebagai pengajar dan pejabat pembatu… .”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn14"><u><font color="#0000ff">[14]</font></u></a></p>
<p>Ibnu Hajar melaporkan, “Dan Umar memberangkatkan Ibnu Mas’ud ke kota Kufah untuk mengajarkan kepada mereka urusan agama mereka, dan mengutus Ammar sebagai amir. Umar berkata, “mereka berdua adalah orang-orang pilihan dari sahabat (Nabi) Muhammad saw., maka berteladanlah dengan keduanya!”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn15"><u><font color="#0000ff">[15]</font></u></a></p>
<p>Dari semua ini jelaslah bahwa mereka belajar ilmu Imam Ali as. dari para murid dekat beliau, dan terbuktilah bahwa ilmu beliau telah menyebar di kota Kufah.</p>
<p>________________________</p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref1"><u><font color="#0000ff">[1]</font></u></a><font size="2"> Minhaj as Sunnah,4/139.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref2"><u><font color="#0000ff">[2]</font></u></a><font size="2"> Tadzkirah al Huffâdz,1/38.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref3"><u><font color="#0000ff">[3]</font></u></a><font size="2"> Ath Thabaqât,2/369.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref4"><u><font color="#0000ff">[4]</font></u></a><font size="2"> Anda saya persilahkan merujuk al Istî’âb, 3/937, dan akibat dari bait-bait syair itu Ibnu Zubair marah dan menampakkan kedengkiannya kepada Ibnu Abbas ra. serta berusaha melarangnya mengajar!!</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref5"><u><font color="#0000ff">[5]</font></u></a><font size="2"> Al Itqân fi ‘Ulûmil Qur’an,2/190.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref6"><u><font color="#0000ff">[6]</font></u></a><font size="2"> Tadzkirah al Huffâdz,1/24.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref7"><u><font color="#0000ff">[7]</font></u></a><font size="2"> Manâqib Amirul Mukminin:55.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref8"><u><font color="#0000ff">[8]</font></u></a><font size="2"> Ar Riyâdh an Nadhirah,2/199.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref9"><u><font color="#0000ff">[9]</font></u></a><font size="2"> Tadzkirah al Huffâf,1/38 dan al Ishâbah,2/322.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref10"><u><font color="#0000ff">[10]</font></u></a><font size="2"> Ath Thabaq6at,2/367.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref11"><u><font color="#0000ff">[11]</font></u></a><font size="2"> Al Ishâbah,2/325.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref12"><u><font color="#0000ff">[12]</font></u></a><font size="2"> <em>ad Durr al Mantsûr,1/21.</em></font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref13"><u><font color="#0000ff">[13]</font></u></a><font size="2"> Ath Thabaqât,3/175.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref14"><u><font color="#0000ff">[14]</font></u></a><font size="2"> Ath Thabaqât,3/255 dan riwayat serupa dapat dijumpai dalam al Istî’âb,3/992 dan140, Usdu al Ghabah,3/258, Tadzkirah al Huffâdz,1/14.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref15"><u><font color="#0000ff">[15]</font></u></a><font size="2"> Al Ishâbah,2/316 dan 506.</font></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Abu Hanifah, Malik dan Ahmad Lebih Mengerti Maksud Alqur’an dari Imam Ali as.!!! ]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/19/abu-hanifah-malik-dan-ahmad-lebih-mengerti-maksud-alqur%e2%80%99an-dari-imam-ali-as/</link>
<pubDate>Thu, 19 Jul 2007 04:09:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/19/abu-hanifah-malik-dan-ahmad-lebih-mengerti-maksud-alqur%e2%80%99an-dari-imam-ali-as/</guid>
<description><![CDATA[Abu Hanifah, Malik dan Ahmad Lebih Mengerti Maksud Alqur’an dari Imam Ali as.!!! Tidak hanya itu, da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Abu Hanifah, Malik dan Ahmad Lebih Mengerti Maksud Alqur’an dari Imam Ali as.!!!</p>
<p></strong>Tidak hanya itu, dalam kemampuan memehami pesan suci ilahi dalam ayat-ayat Alqur’an, Ali as. tidak becus, ia sering kali salah memahami pesar Tuhan, justru dalam masalah yang sanagt serius terkait dengan nyawa ribuan, bahkan mungkin tarusan ribu umat Islam. Dan karena kesalahan itu, puluhan ribu nyawa kamu Muslim melayang, dan akhirnya puluihan ribu janda hidup sengsara tanpa suami, ratusan ribu anak yatim hidup tanpa naungan kasih saying dan ayoman para ayah. Semua itu gara-gara kedangkalan pemahaman Ali dalam menagkap pesan ilahi. <em>Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn</em>.Apa yang saya katakana di atas dapat Anda temukan dengan sedikit perenungkan kalmat-kalimat Ibnu Taymiah di bawah ini, dan saya harap Anda sedikit bersabar mengikutinya:</p>
<p><!--more--></p>
<p><strong>Ibnu Taymiah berkata:</p>
<p></strong><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">فَإِنْ قال الذابُّ عن علِيٍّ: هؤلآء الذين قاتلهُم عليٌّ كانوا بُغاةً ، فقد ثبتَ في الصحيح أنَّ النبي (ص) قال لعَمار بن ياسر (رض): تقتلكَ الفِئَةُ الباغِيَةُ، و هم قَتَلُوا عمارًا<font face="Times New Roman">.</font></p>
<p></font><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">فَهَهُنا للناس أقوالٌ، منهم: مَن قَدَح في صحَّةِ حديثِ عمار<font face="Times New Roman">.</font></p>
<p></font><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">منهم مَنْ تَأَوَّلَهُ على أن الباغي: الطالبُ. و هو تأويلٌ ضعيفٌ<font face="Times New Roman">.</font></p>
<p></font><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">وَ أمَّا السَّلفُ و الأئِمَّةُ فيقولُ أكثَرُهُم، :أبي حنيفة و ملكِ و أحمد و غيرِهم: لم يُوجد شرطُ قتالِ الطائفة الباغية، لإإن الله لم يأْمُر بقتالها إبْتِداءً، بل أمر إذا اقتتلَتْ طائفتانِ أنْ يُصْلِحَ بينهُما، ثم إن بغَتْ إحداهُما</p>
<p align="right">على الأخرى قُوتِلَتْ التي تبغِيْ. و هؤلاء قُوتِلُوا إبْتِداءً قبلَ أنْ يبدَأُوا بقتالٍ، و لهذا كان هذا القتالُ عند أحمد و غيره –كمالكٍ- قتالَ فِتْنَةٍ، و أبو حنيفة يقول: لا يَجوزُ قتالُ البغاةِ حتى يَبْدَؤُوا بقتال الإمام. و هؤلاء لم يََبْدَؤُوهُ. و أما قتالُ الخوارج فهو ثابتٌ بالن و الإجماع<font face="Times New Roman">.</font></p>
<p></font>Jika pembela Ali berkata, ‘Mereka yang diperangi Ali itu adalah kaum <em>Bughât</em> (pemberontak), dan telah tetap dalam hadis sahih bahwa Nabi saw. bersabda kepada Ammâr ibn Yasir ra. bahwa ‘engkau akan dibunuh oleh kaum <em>Bhâghiyah’</em>, dan mereka itulah yang membunuh Ammâr.</p>
<p>Maka di sini ada banyak pendapat di kalaagan manusia (ulama):</p>
<p>Diantara mereka ada yang mencacat kesahihan hadis tentang Ammâr itu.</p>
<p>Ada yang mentakwilkannya bahwa maksud <em>Bhghi </em>adalah penuntut. Dan takwilan itu lemah.</p>
<p>Adapun kaum Salaf dan para imam kebanyakan mereka, seperti Abu Hanifah, Malik, Ahmad dan lainnya berkata, ‘syarat dibolehkannya memerengi kaum <em>Bhâghiyah</em> belum terpenuhi, sesungguhnya Allah tidak memerintahkan mendahului memerenagi mereka, akan tetapi memerintahkan agar jika ada dua kelompok saling berperang agar (penguasa) medamaikan mereka, kemudian jika ada satu yang menentang dan berbuat jahat kepada lainnya maka hendaknya mereka diperangi. Tetapi mereka itu langsung diperangi (oleh Ali), sebelum mereka memulai berperang. Oleh karena itu, peprangan itu dalam pendapat Ahmad dan lainnya –seperti malik- adalah perang fitnah. Abu Hanifah berkata, ‘Tidak boleh memerangi kaum <em>Bhâghiyah</em> sehingga mereka memulai memerangi imam (pemimpin)’, sementara, mereka (yang diperangi Ali) tidak mendahului memeranginya (Ali). Adapun peperangan malawan kaum Khawarij titu telah tetap bersandarkan nash dan ijma’.<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn1"><u><font color="#0000ff">[1]</font></u></a></p>
<p><strong>Dalam kesempatan lain Ibnu Taymiah kembali mengatakan:</p>
<p></strong><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">وَ أهلُ صفين لَمْ يبدَأُوا عليا بالقتال، و أبو حنيفة و غيره لا يُجوَِّزُون قتال البغاة إلاَّ أَنْ يبدأوا الإمام بالقتالِ<font face="Times New Roman">.</font></p>
<p></font>“Dan pasukan Shiffîn (pimpinan Mu’awiyah_pen) tidak mendahului memerangi Ali. Abu Hanifah dan para imam lain tidak membolehkan memerangin kaum Bughât kecuali jika mereka mendahului memerangi Imam.”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn2"><u><font color="#0000ff">[2]</font></u></a></p>
<p>Coba Anda perhatikan keterangan Ibnu Taymiah di atas, apa yang dapat Anda simpulkan darinya?</p>
<p>Ayat suci Alqur’an tidak membolehkan memerangi kaum <em>Bhâghiyah </em>sebelum mereka mendahuli memerangi. Sementara mereka yang diperangi Imam Ali dalam pertempuran Jamal (pemberontakan yang dipimpin oleh Aisyah, Thalhah dan Zubair) dan pertempuran Shiffîn (pemberontakan yang dipimpin oleh Mu’awiyah), <font color="#ff0000">mereka tidak mendahului memerangi Ali as., Ali-lah yang memulai memerangi mereka!! Jadi, di sini Ali berkalu zalim, sembrono terhadap nyawa-nyawa kaum Muslim, atau ia bodoh, tidak memahami maksud pesan Al qur’an tentang hukum memerangi kaum <em>Bughât</em>. </font>Dan para imam besar Ahlusunah yang mengatakan pendapat mereka seperti di atas, lebih mengerti maksud pesan Alqur’an!!</p>
<p>Selain itu, Anak Taymiah ini mengatakan bahwa kaum <em>Bughât</em> tidak mendahului menyerang dan melakukan pemberontakan terhadap kekhalifahan Imam Ali as. itu adalah perkara yang pasti dalam sejarah.</p>
<p>Padahal sejarah mencacat bagaimana Kaum <em>Nâkitsîn</em> (Thalhah, Zubair dan Aisyah) bersama pasukannya menyerang kota Bashrah yang merupakan wilayah kekuasaan Imam Ali as. dan mereka membunuh banyak orang kemudian merampas harta kaum Mslimin yang tersimpan di Kas Negara,<em> Baitulmal</em>!</p>
<p>Demikian komentar Ibnu Taymiah tentang maksud ayat hukum kaum <em>Bughât</em>.</p>
<p>Adapun tentang hadis yang disabdakan Nabi untuk Ammâr ibn Yasir yang gugur saat membela Ali melawan pasukan <em>Qâsithîn</em> (pemberontak yang dipimpin oleh Mu’awiyah), ia menyebutkan dua sikap, <strong><em><font color="#0000ff">pertama, </font></em></strong>mencacat kesahihannya, dan <strong><em><font color="#0000ff">kedua</font></em></strong>, mentakwilkannya. Sikap kedua ia katakan lemah. Sementara itu ia mendiamkan sikap pertama yang mencacat kesahihannya, padahal selamanya ia selalu mengandalkan kitab-kitab hadsi <em>Shahih</em> dalam berbagai kajiannya. Dan iapun dalam kesempatan lain menegaskan bahwa hadis ini telah diriwayatkan dengan banyak sanad dan diriwayatkan para ulama besar dalam kitab-kitab Shahih mereka, tidak terkecuali Bukhari dan Muslim dalam dua kitab <em>Shahih</em> mereka, serta ia akui bahwa para ahli ilmu tentang hadis telah mensahihkannya…<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn3"><u><font color="#0000ff">[3]</font></u></a> Lalu mengapa ia mendadak terdiam tidak menyalahkan mereka yang berusaha meragukan kesahihan hadis tentang Ammâr di atas? Jangan-jangan ia sependapat dengannya dan meminjam mulut-mulut mereka untuk mengubur hadis tersebut? Atau mungkin sedang menikmati keberanian mereka yang mencacat kesahihannya?</p>
<p><font color="#0000ff">Tentang pandangan konyol Ibnu taymiah tentang peperangan Imam Ali as. akan dibahas pada bagian lain nanti.</p>
<p>____________________________________</p>
<p></font><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref1"><u><font color="#0000ff">[1]</font></u></a> “Minhajus-Sunnah”: 2/204. Pada beberapa tempat Ibnu Taymiah mengulang-ulang klaimnya bahwa peperangan Imam Ali as. dalam pertempuran Jamal dan Shiffîn bukanlah peperangan <em>Ahlul Baghyi</em> (kaum pembangkang), seperti yang dibenarkan dalam ayat Alqur’an, akan tetapi ia adalah qitâlu fitnatin, peperangan fitnah, Nabi saw. tidak pernah memerintahkan untuk itu.Ibnu Taymiah berkata:</p>
<p><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">َ أَمَا قتالُ الجمل و صفين فهو قتال فتنَةٍ ليسَ فيهِ أمرٌ مِنَ اللهِ و رسولِهِ ولا إجماع الصحابةِ<font face="Times New Roman">.</font></p>
<p></font>Adapun peperangan Jamal dan Shiffîn ia adalah peperangan fitnah, tidak ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya dan tidak ada pula ijma’ dari para sahabat.” (Minhaj as Sunnah,2/233)Bahkan kata Ibnu Taymiah:</p>
<p><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">َوْ تركَ القتالَ لَكانَ أفْضَلُ و أصْلَحَ و خَيْرًا</p>
<p></font>“Andai Ali meninggalkan peperangan pasti lebih afdhal, lebih maslahan dan lebih baik.” (Minhajus-Sunnah,2/204).</p>
<p><font color="#008080">Ulasan tentang masalah ini akan saya bahas pada kesempatan lain, <em>Insyaallah</em></p>
<p>.</font><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref2"><u><font color="#0000ff">[2]</font></u></a><font color="#008080"> Minhajus-Sunnah: 2/233</font><font color="#008080">.<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref3"><u><font color="#0000ff">[3]</font></u></a><font color="#008080"> Minhajus-sunnah: 2/211 dan </font>232</p>
<p></font></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Taymiah: Imam Ali ra. Bodoh Akan Syari'at Dan Sunnah Nabi saw.]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/16/imam-ali-as-bodoh-akan-syari%e2%80%99at-dan-sunnah-nabi/</link>
<pubDate>Mon, 16 Jul 2007 07:41:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/16/imam-ali-as-bodoh-akan-syari%e2%80%99at-dan-sunnah-nabi/</guid>
<description><![CDATA[Imam Ali ra. Bodoh Akan Syari&#8217;at Dan Sunnah Nabi saw.Sebuah episode baru dalam dunia kebencian]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><font color="#ff0000">Imam Ali ra. Bodoh Akan Syari&#8217;at Dan Sunnah Nabi saw.</font></strong><strong><font color="#ff0000">Sebuah episode baru dalam dunia kebencian kepada manusia-manusia suci yang ditampilkan oleh seorang Anak Taymiah, <em>Syeikhul Islam</em>-nya kaum Wahabi, ketika ia dengan tanpa <em>sungkan-sungkan</em> menuduh Imam Ali ra. bodoh akan banyak hukum syari’at Islam dan sunah Nabi saw., bahkan sampai ajal menjemputnyapun ia (Ali) tidak mengetahuinya dan tidak merisaukan kebodohannya itu!!</p>
<p></font></strong>Sungghuh luar biasa adab Anak Taymiah kali ini.</p>
<p><em>Pasti anak-anak Wahabi ingusan menuduh saya membuat-buat kepalsuan atas nama Ibnu Taymiah dan mengancam saya agar mempetanggung jawabkan kebohongan saya!</em><strong>Baca sendiri tuduhan Ibnu Taymiah di bawah ini:</strong><strong><!--more baca selanjutnya--></p>
<p>Ia berkata:</p>
<p></strong><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">و علِيٌّ -رضيَ الله عنه- قَدْ خَفِيَ عليه منْ سُنَّةِ رسولِ الهِ (صلى الله عليه-و وآله- و سلم) أضْعافُ ذلِكَ، و منها ما مات و لم يَعْرِفْهُ<font face="Times New Roman">.</font></p>
<p></font><em>Ali ra. samar baginya dari sunah Rasulullah saw. berlipat dari yang samar (bagi Umar). Diantaranya ada yang tidak ia ketahuinya sampai ia mati… .<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn1"><u><font color="#0000ff">[1]</font></u></a></em><em>Setelah menegaskan bahwa Umar adalah sahabat terpandai setelah Abu Bakar, ia kembali menuding Imam Ali ra. sering beranggapan tentang suatu hukum akan tetapi kenyataannya tidak sepertti yang ia anggap, dan ia pun tetap bersikukuh menganggapnya begitu sampai mati dengan membawa anggapan keliru tersebut.</p>
<p></em>Ketika membela Umar karena anggapannya bahwa Nabi Muhammad saw. tidak wafat Ibnu Taymiah berkata:</p>
<p><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">و علِيٌّ قَدْ تَبَيَّنَ لَهُ أُمورٌ بِخلافِ ما كان يَعْتَقِدُه فيها أضعافُ ذلِكَ، بلْ ظَنَّ كثيرًا مِنَ الأحكامِ على خلافِ ما هِيَ عليه و ماتَ على ذلكَ<font face="Times New Roman">.</font></p>
<p></font><em>Dan Ali telah tanpak baginya banyak perkara yang berbeda dengan apa yang ia yakini sebelumnya, dan hal berlipat-lipat dari apa yang dianggap Umar. Bahkan ia (Ali) mengira-ngira hukum berbeda dengan apa yang semestinya, dan ia pun mati dengan membawa keyakinan itu.<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn2"><u><font color="#0000ff">[2]</font></u></a></em><em>Jadi sampai-sampai banyak hukum Islampun Ali tidak mengetahuinya dan beranggapan salah tentangnya dan anggapan salah itu sampai dibawa mati olehnya!</p>
<p></em>____________________________________</p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref1"><u><font color="#0000ff">[1]</font></u></a><font size="2"> Minhâjus-Sunnah: 3/139.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref2"><u><font color="#0000ff">[2]</font></u></a><font size="2"> Minhajus-Sunnah: 4/222-223.</font></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Taymiah: Tentang Ucapan Umar ‘Andai Bukan Karena Ali, Pasti Umar Celaka’]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/16/tentang-ucapan-umar-%e2%80%98andai-bukan-karena-ali-pasti-umar-celaka%e2%80%99/</link>
<pubDate>Mon, 16 Jul 2007 07:33:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/16/tentang-ucapan-umar-%e2%80%98andai-bukan-karena-ali-pasti-umar-celaka%e2%80%99/</guid>
<description><![CDATA[Ibnu Taymiah: Tentang Ucapan Umar ‘Andai Bukan Karena Ali, Pasti Umar Celaka’Ibnu Taymiah sedang ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><font color="#800000">Ibnu Taymiah: Tentang Ucapan Umar ‘Andai Bukan Karena Ali, Pasti Umar Celaka’</font><font color="#800000">Ibnu Taymiah sedang berhadapan dengan sebuah kenyataan tentang keunggulan ilmu Imam Ali ra. di atas para sahabat lain tidak terkecuali Khalifah Umar ibn al- Khaththab ra yang ia unggulkan di atas Ali ra. dengan dasar bualan-bualan palsu yang menggelikan kaum ibu sekalipun sedang ditinggal mati bayi kesayangannya.</p>
<p></font>Ia sedang berhadapan dengan kenyataan pahit yang tidak mungkin ia relakan tanpa menampakkan sikap sinis dan meremehkan dan andai bisa pasti ia bohongkan. Entah mengapa kali ini ia sedikit punya rasa malu untuk berbohong dengan mengatakan bahwa bukti itu adalah palsu!</p>
<p><!--more baca selanjutnya--></p>
<p>Bukti-bukti mutawatir telah mengabadikan bahwa dalam banyak kesempatan, ketika sedang menghadapi masalah pelik yang memusingkan, Khalifah Umar ra selalu mendapat bantuan penyelesaian dari Imam Ali ra. sehingga dengan jujur ia mengatakan:</p>
<p><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">لَوْ لاَ علِي لَهَلكَ عُمَرُ<font face="Times New Roman">.</font></p>
<p></font><em>&#8220;Andai bukan karena Ali pasti celakalh Umar!&#8221;</em>Sekali lagi saya katakana, Ibnu Taymiah sepertinya tidak suka dengan kejujuran Khalifah Umar. Benih-benih keragu-raguan-pun mulai ia tebarkan. <font color="#0000ff">Ibnu Taymiah berkata:</font><font color="#0000ff"> </font><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">هَذَا لا بُعْرَفُ أَنَ عُمرَ قالَهُ إلاَّ في قضِيَّةٍ واحِدَةٍ، إنْ صَحَّ ذلك، و كان عمر يقول مثلَ هذا لِمَنْ هو دُونَ عليٍّ<font face="Times New Roman">.</font></p>
<p></font><em>&#8220;Ucapan itu tidak diketahui dikatakan Umar, kecuali dalam satu kasus saja, itupun kalau benar. Dan Umar pun telah mengatakannya untuk orang yang lebih rendah dari Ali.&#8221;</em><em><font color="#ff6600">Penulis berkata: </font></p>
<p></em>Anda berhak bertanya terharan-heran, kedengkian apa yang sebenarnya terpendam di hati Ibnu Taymiah sehingga ia selalu menampakkan kegigihannya dalam menolak setiap keutamaan Imam Ali ra. atau meragukannya dengan tanpa alasan? Dalam hemat penulis membela Khalifah Umar ra. atau sahabat manapun tidak mesti dibarengi dengan kebencian kepada Imam Ali as. dan membohongkan berbagai keutamaan yang disandangnya. Namun berbeda dengan Ibnu Taymiah, seperti ia merasa kurang absah dalam membela para jujungannya kalau tidak dibarengi dengan melecehkan Imam Ali ra. Aneh!</p>
<p>Tetapi saya tidak akan mempermasalahkannya dalam hal ini. Saya hanya akan membuktikan ketidak benaran omongannya bahwa ucapan Khalifa Umar itu hanya ia ucapkan sekali saja dan dalam kasus semata wayang!</p>
<p>Dan karena Ibnu Taymiah mengatakan <em><font color="#0000ff">ucapan itu tidak diketahui dikatakan Umar, kecuali dalam satu kasus saja</font>, </em>maka untuk menghemat ruang dan tenaga, saya hanya akan menyebutkan dua kasus saja, walaupun sebenarnya terdapat puluhan kasus sehingga ucapan itu menjadi sedikian masyhur dari Khalifah Umar.</p>
<p><em><font color="#0000ff">Kasus Pertama, Abu Daud dalam kitab <em>Shahih</em>nya, <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm////l_ftn1"><u><font color="#0000ff">[1]</font></u></a></font></em><em><font color="#0000ff">dari Ibnu Abbas ra: Ada seorang wanita gila berzina, setelah tertangkap dan terbukti bersalah, Umar bermusyawarah, sanksi apa yang harus dikenakan ke atasnya, kemudian Umar menginstruksikan agar wanita itu dirajam, ketika sanksi hendak dilaksanakan, Imam Ali as. melihat kerumunan masa, lalu beliau bertanya, “Ada apa ini?” mereka menjawab, “Wanita gila dari suku fulan berzina dan Umar memerintahkan agar ia dirajam.” Imam Ali as. berkata, “Lepaskan dan pulangkan ia”. Lalu Imam Ali as. datang menjumpai Umar dan berkata, “Tidakkah kamu tahu bahwa sanksi hukuman tidak berlaku (dicabut) dari tiga golongan manusia, orang gila sehingga ia waras, orang yang sedang tidur sehingga ia terjaga dan anak kecil sehingga ia baligh dan berakal?” Umar menjawab, “Ya, saya tahu.” Jangan-jangan wanita ini adalah wanita gila<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm////l_ftn2"><u><font color="#0000ff">[2]</font></u></a> bani fulan, ia berzina ketika sedang datang gilanya. Maka Umar berkata:</p>
<p></font></em><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">لَوْ لاَ علِي لَهَلكَ عُمَرُ<font face="Times New Roman">.</font></p>
<p></font><em><font color="#ff0000">&#8220;Andai bukan karena Ali pasti celakalh Umar!&#8221;</font></em><em><font color="#ff0000">Cuplikan kejadian ini <font color="#0000ff">juga diriwayatkan oleh Bukhari </font>dalam kitab <em>Shahih-</em>nya, <em>Kitabul Muharibin</em>, bab <em>la yurjamu Al majnun wa Al majnunah, </em>Imam Ahmad dalam <em>Musnad-</em>nya,1/140 dan 154, Al Dârulquthni dalam <em>Sunan-</em>nya, <em>kitabul hudud</em>: 346, Al Muttaqi Al Hindi dalam <em>Kanzul-</em>nya,3/95, Al Munnawi dalam <em>Faidlul Qadir-</em>nya,4/356.</p>
<p></font></em><font color="#800080">Al Asqallani dalam <em>Fathu Bari</em>,15/131, <font color="#000000">menjelaskan bahwa kejadian itu diriwayatkan dari banyak jalur dengan redaksi yang sedikit berbeda-beda.</font></font><font color="#800080"><em><font color="#0000ff">Kasus Kedua, Abdurazzaq, Abdu ibn Humaid, Ibnu al Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Al Baihaqi, Muhibbuddin, Al Muttaqi al Hindi, ath Thabari dan Ibnu Abdilbarr meriwayatkan bahwa ada seorang wanita melahirkan bayinya setelah enam bulan melangsungkan pernikahannya, maka Umar hendak merajamnya (dengan anggapan bahwa kehamilannya adalah hasil perzinahan sebelum menikah), setelah ditegur Imam Ali as, beliau membatalkan keputusannya untuk merajamnya dan ia berkata:</font></em></p>
<p></font><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">لَوْ لاَ علِي لَهَلكَ عُمَرُ<font face="Times New Roman">.</font></p>
<p></font><em>&#8220;Andai bukan karena Ali pasti celakalh Umar!&#8221; <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm////l_ftn3"><u><font color="#0000ff">[3]</font></u></a></em><em> </em><em>Seperti telah saya katakan bahwa banyak kasus lain di mana Khlaifah Umar berkomentar tentang bantuan Imam Ali ra. dengan beragam redaksi seperti: ‘Semoga aku tidak dibiarkan setelahmu hai Ali’,<em>Semoga aku tidak dibiarkan menghadapi permasalah pelik tanpamu hai Ali’, semoga akun tidak berada di sebuah kota yang engkau tidak ada di situ’ </em>dll.</em><em>Dengan demikian Anda dapat tambahkan kebohongan Anak Taymiah ini ke dalam daftar panjang kebohongannya! Atau dalam daftar kebodohannya!</p>
<p></em>Selamat atas kaum Wahabi dan antek-antek mereka yang bermakmum kepada <em>Syeikhul Islam</em> yang gemar berbohong dan mengobral kebodohan!</p>
<p>____________________________</p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm////l_ftnref1"><u><font color="#0000ff">[1]</font></u></a><font size="2"> &#8220;Shahih Abu Dawud&#8221;: 28/148, bab Al Majnun Yasriq aw Yushib Haddan.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm////l_ftnref2"><u><font color="#0000ff">[2]</font></u></a> Yang dimaksud dengan “wanita gila”, adalah wanita yang mengidap penyakit jiwa, terkadang sembuh dan kadang-kadang datang gangguan tersebut dan sangat dimungkinkan bahwa ia berzina ketika gangguan itu datang kepadanya. Demikian ditegaskan dalam riwayat Al Munnawi.<font size="2"> </font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm////l_ftnref3"><u><font color="#0000ff">[3]</font></u></a><font size="2"> Ar Riyâdh an Nadhirah:,2/194 dan al Istî’âb,3/1103.</font></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Taymiah: Imam Ali as. Banyak Menyimpang dari Nash-nash Agama]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/16/imam-ali-as-banyak-menyimpang-dari-nash-nash-agama/</link>
<pubDate>Mon, 16 Jul 2007 07:25:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/16/imam-ali-as-banyak-menyimpang-dari-nash-nash-agama/</guid>
<description><![CDATA[Ibnu Taymiah: Imam Ali as Banyak Menyimpang dari Nash-nash Agama Ibnu Taymiah menuding Imam Ali as. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><font color="#993300">Ibnu Taymiah: Imam Ali as Banyak Menyimpang dari Nash-nash Agama</font></strong></p>
<p>Ibnu Taymiah menuding Imam Ali as. banyak menyimpang dari nash-nash Islam dalam fatwa-fatwanya, dan penyimpangannya sangat banyak dan mengerikan…</p>
<p>sampai-sampai –masih kata Ibnu Taymiah- asy Syafi’i mengumpulkannya dalam satu jilid tentangnya, begitu juga Muhammad ibn Nashr al Marwazi menulis buku besar yang memuat penyimpangan- penyimpangan Ali as. <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn1"><u><font color="#0000ff">[1]</font></u></a> Ia juga menuding bahwa Imam Ali as. telah memecahkan rekor terbanyak dalam pelanggaran nash Syari’at melebihi sahabat-sahabat lain, sementara Abu bakar tidak pernah barang sekalipun berfatwa menentang nash!! <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn2"><u><font color="#0000ff">[2]</font></u></a></p>
<p>Dalam kesempatan lain ia kembali mengatakan:</p>
<p><!--more baca selanjutnya--></p>
<p><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">و قَدْ جمعَ الشافِعِيُّ في كتاب خلافِ عليٍّ وعبدِ اللهِ مِنْ أَقوالِ عليٍِّ التي ترَكَها الناسُ لِمُخالَفَتِها النَّصَّ أو معنى النصِّ جُزْءً كبيرًا، و جمع بعده محمد بن نصر المَروزِيِ أكثَرَ مِنْ ذلكَ، فَإِنَّهُ أذَا ناظرَهُ الكُوفِيُّونَ يَحْتَجُّ بالنصوْصِ فَيَقُولونَ نحْنُ أَخَذْنا بقولِ علِيٍّ و ابن مسعودٍ، فجمعَ لَهُمْ أشياءَ كثيْرَةً من قول عليٍّ و ابن مسعودٍ تركوهُ أو تركهُ الناسُ<font face="Times New Roman">.</font></p>
<p>Dan Syafi’i telah mengumpulkan dalam kitab <em>Khlilaf Ali dan Abdullah </em>satu juz besar ucapan-ucapan/pendapat-pendapat Ali yang ditinggalkan orang-orang/manusia karena bertentangan dengan nash atau makna nash. Dan setelahnya Muhammad ibn Nasr al Marwazi mengumpulkan lebih banyak lagi. Sebab ia apabila berdebat dengan penduduk Kufah selalu berdalil dengan nash, lalu mereka mengatakan kami mengikuti pendapat Ali dan Ibnu Mas’ud. Maka ia mengumpulkan untuk mereka banyak pendapat Ali dan Ibnu Mas’ud yang mereka tinggalkan atau ditinggalkan manusia.<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn3"><u><font color="#0000ff">[3]</font></u></a></p>
<p></font><strong>Penulis berkata:</strong><strong>Demi Tuhan, perhatikan perbedaan antara dua ucapan/keterangan Ibnu Taymiah! Apakah Syafi’i dan al Marwazi sedang mengumpulkan fatwa-fatwa Imam Ali as. yang menyalahi nash baik Al Qur’an maupun Sunah, atau sebenarnya mereka sedang mengumpulkan pendapat-pendapat Imam Ali as. yang ditinggalkan dan ditentang kaum Muslim?</p>
<p></strong>Perhatikan omongan Ibnu Taymiah dalam kesemptan lain:</p>
<p><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">وَ قَدْ جمَعَ الشافِعيْ و محمد بن نصر المروزي كتابًا كبيرًا فيما لَم يَأْخُذْ بهِ المسلِمونَ مِنْ قولِ علِيٍّ<font face="Times New Roman"> …<em> </em></font></p>
<p>Dan Syafi’i dan Muhammad ibn Nshr al Marawzi telah menghimpun kitab besar tentang pendapat-pendapat Ali yang tidak diambil oleh kamum Muslim… <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn4"><u><font color="#0000ff">[4]</font></u></a></p>
<p></font>Dalam ucapannya kali ini ia tegas-tegas mengatakan bahwa Syafi’i dan al Marwazi sebenarnya sedang mengumpulkan pendapat-pendapat Imam Ali as. yang tidak dipakai oleh kaum Muslim. Lalu bagaimana di tempat lain ia mengatakan bahwa keduanya menghimpun buku yang merangkum pelanggaran-pelanggaran Ali teradap nash dalam fatwa-fatwa beliau as.?!</p>
<p>Selain itu, ia menisbatkan tidak mengambil pendapat-pendapat Imam Ali as. itu kepada kaum Muslim “<em>pendapat-pendapat Ali yang tidak diambil oleh kaum Muslim’,</em> sementara itu dalam ucapannya sebelumnya ia menisbatkannya kepada penduduk kota Kufah saja. Keduanya mengarang buku untuk membantah penduduk Kufah yang mengklaim mengikuti Ali dan Ibnu Mas’ud sementara itu mereka meninggalkan pendapat-pendapat keduanya, Imam Syafi’i dan al Marwazi menulsi buku tersebut dan merangkum pendapat-pendapat Imam Ali as. yang mereka tinggalkan.</p>
<p>Seperti juga ia tegaskan dalam kesempatan lain di bawah ini:</p>
<p><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">وَ قدْ جمَعَ الشافعي مِنْ ذلِكَ كتابًا فيه خلافُ علِيٍّ و ابن مسعودٍ لَمَّا كلن أهلُ العراقِ يُناظِرُوْنَهُ في المَسْأَلَةِ فَيَقُولُون: قال عليٌّ و ابن مسعود، و يَحْتَجُّوْنَ بقولِهِما، فجمَعَ الشافعي كتابًا ذكر فيه ما تَرَكُوْهُ مِ،ْ قول علي و ابن مسعود، و جمع بعده محمد بن نصر المروزي كتابا أكثر من ذلك<font face="Times New Roman">…</font></p>
<p>Dan Syafi’i telah mengumpulkan hal itu dalam sebuah kitab di dalamnya terdapat perbedaan Ali dan Ibnu Mas’ud, (demikian itu ia lakukan) ketika penduduk Irak berdebat dengannya dalam sebuah masalah, mereka berkata, ‘Ali dan Ibnu mas’ud berkata’ lalu mereka berhujjah dengan pendapat keduanya. Maka Syafi’i mengumpulkan sebuah buku dan ia menyebutkan di dalamnya pendapat-pendapat Ali dan Ibnu Mas’ud yang mereka tinggalkan. Setelahnya Muhammad ibn Nashr al Mirwazi mengumpulkan buku lebih besar darinya… .<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn5"><u><font color="#0000ff">[5]</font></u></a></p>
<p></font>Lalu, apakah cacat bagi Imam Ali as. ketika penduduk Irak atau seluruh kaum Muslim enggan mengambil pendapat beliau as.?</p>
<p><strong>Ibnu Taymiah Menipu!!</strong><strong>Tetapi kenyataan dalam masalah ini tidak seperti yang dikatakan Ibnu taymiah berulang kali dalam bukunya <em>Minhâj as Sunnah</em>. Ia benar-benar telah melakukan penipuan pablik dan kecurangan ilmiah. Sebab sebenarnya al Marwazi adalah menulsi sebuah buku yang merangkum pendapat-pendapat Abu Hanifah yang menyalahi pendapat Imam Ali as. dan Ibnu Ma’sud! As-Subki dan adz Dzahabi menukil dari Abu Ishaq asy Syîrâzi, “Sesungguhnya al Marwazi mengarang buku tentang masalah-masalah yang mana Abu Hanifah menyalahi Ali dan Ibnu Mas’ud ra..”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn6"><u><font color="#0000ff">[6]</font></u></a></p>
<p></strong>Inilah kenyataannya, dan darinya Anda dapat mengetahui sejauh mana kejujuran <em>Syeikhul Islam</em>-nya kaum Wahabi, Arab-arab Baduwi gurun sahara dan antek-anteknya di tanah air tercinta!! Dasar Penipu!! Sungguh memalukan! Andai ia tidak beriman kepada ancaman Allah dan Rasul-Nya atas para pembohong, apa ia tidak malu bahwa pada suatu saat kebohongan dan penipuannya akan terbongkar?</p>
<p>Adapun Syafi’i sebagaimana dikenal, beliau sangat menghormati Imam Ali as. sampai-sampai dituduh sebagai rafidhi. Bait-bait syair beliau adalah saksi nyata akan hali itu. Selain itu, seperti diriwayatkan bahwa ketika ia menjawab sebuah pertanyaan dengan sebuah jawaban, lalu ada yang mengukurnya bahwa fatwanya menyalahi fatwa Imam Ali as., ia berkata, “buktikan dengan jalur yang benar bahwa Ali berpendapat seerti itu, dan aku pasti akan letakkan pipiku di atas tanah dan aku katakana bahwa aku telah bersalah! <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn7"><u><font color="#0000ff">[7]</font></u></a></p>
<p>_________________________</p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref1"><u><font color="#0000ff">[1]</font></u></a><font size="2"> Minhâj as Sunnah ,4/135. </font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref2"><u><font color="#0000ff">[2]</font></u></a><font size="2"> Ibid.222.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref3"><u><font color="#0000ff">[3]</font></u></a><font size="2"> Ibid.222.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref4"><u><font color="#0000ff">[4]</font></u></a><font size="2"> Ibid.217.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref5"><u><font color="#0000ff">[5]</font></u></a><font size="2"> Ibid.4/265.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref6"><u><font color="#0000ff">[6]</font></u></a><font size="2"> Thabqât asy Syafi’iyah,2/247, Siyar A’lâm an Nubalâ’,14/38 dari Thabqât asy Syafi’iyah; Asy Syîrâzi:106-107.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref7"><u><font color="#0000ff">[7]</font></u></a><font size="2"> Fahrasat; Ibnu Nadîm:295.</font></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Ibnu Taymiah: Imam Ali as. Butuh Kepada Ilmu Abu Bakar, Sementara Abu Bakar Tidak Butuh Ilmu Ali!]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/16/imam-ali-as-butuh-kepada-ilmu-abu-bakar-sementara-abu-bakar-tidak-butuh-ilmu-ali/</link>
<pubDate>Mon, 16 Jul 2007 07:07:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/16/imam-ali-as-butuh-kepada-ilmu-abu-bakar-sementara-abu-bakar-tidak-butuh-ilmu-ali/</guid>
<description><![CDATA[Imam Ali as. Butuh Kepada Ilmu Abubakar ra, Sementara Abubakar Tidak Butuh Ilmu Ali!Dalam banyak kes]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><font color="#800080">Imam Ali as. Butuh Kepada Ilmu Abubakar ra, Sementara Abubakar Tidak Butuh Ilmu Ali!</font></strong><strong><font color="#800080">Dalam banyak kesempatan Ibnu Taymiah mengulang-ulang ucapannya bahwa Imam Ali membutuhkan ilmu Abu Bakar sementara Abu Bakar tidak membuthkan ilmu Imam Ali as. dan hal itu, kata Ibnu Taymiah adalah berita<em> ma’ruf</em> (terkenal).</p>
<p></font></strong>Ibnu Taymiah berkata:</p>
<p><font face="Times New Roman (Arabic)">فَعَلِيٌُّ تعَلَّمَ مِن أبي بكرٍ بعْضَ السُنَنِ، و أبو بكر لم يتَعَلَّمْ مِن علِيٍّ شَيْئًا<font face="Times New Roman">.</font></font><font face="Times New Roman (Arabic)">“Ali bejalar dari Abu Bakar sebagian sunah (tuntunan agama), sementara Abu Bakar tidak pernah belajar dari Ali barang sedikitpun.” <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn1"><u><font color="#0000ff">[1]</font></u></a></p>
<p></font>Yang ia maksud dengan <em>sebagian sunah</em> adalah tuntunan Salat Taubah, seperti ia sebutkan dalam kesempatan lain, “Adapun Abu Bakar, tidak pernah dinukil dari seorangpun bahwa ia telah mengambil faidah (ilmu) dari Ali barang sedikitpun. Dan yang telah dinukl bahwa Ali-lah yang telah mengambil faidah (ilmu) dari Abu Bakar, seperti hadis (tentang) Salat Taubah dan lainnya.” <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn2"><u><font color="#0000ff">[2]</font></u></a></p>
<p>Di sini ia menambahkan kata-kata <em>dan lainnya, </em>tetapi ia tidak menjelaskan apa itu?</p>
<p><!--more baca selanjutnya--></p>
<p>Dalam tempat lain ia menuliskan,<em> “Yang ma’rûf bahwa Ali telah mengambil ilmu dari Abu Bakar, seperti yang terdapat dalam Sunan dari Ali, ia berkata, ‘Aku, jika mendengar langsung dari Nabi sebuah hadis, Allah memberikan manfaat untukku dengan apa yang hendak Dia berikan. Dan jika ada yang menyampaikan hadis kepadaku, aku memintanya bersumpah, jika ia bersumpah aku percayai dia. Dan Abu Bakar menyampaikan hadis kepadaku ia jujur. Ia berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda, “Tiada seorang hamba mukmin berbuat dosa lalu ia bersesuci dengan baik kemudian salat, lalu memohon ampun kepada Alah, melainkan Allah akan mengampuninya.”</em> <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn3"><u><font color="#0000ff">[3]</font></u></a></p>
<p>Dalam tempat lain ia mengatakan, “Ali dan sahabat-sahabat lain meriwayatkan dari Abu Bakar, seperti dalam Sunan Ali berkata, “‘Aku, jika mendengar… “<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn4"><u><font color="#0000ff">[4]</font></u></a> kemudian ia menyebutkan riwayat yang telah dikutip di atas.</p>
<p>Itulah yang dimaksud dengan hadis Salat Taubah dalam Sunan yang diriwayatkannya dari Abu Bakar. Dan karena kejujuran Abu Bakar, Imam Ali as. tidak memintanya bersumpah akan kebenaran sabda tersebut!!</p>
<p>Dalam tempat lain Ibnu Taymiah semakin mengeneralisir kepengikutan dan tapak tilas Imam Ali as. kepada jejek Abu Bakar, ia berkata:</p>
<p><font face="Times New Roman (Arabic)"></p>
<p align="right">علِيٌُّ قد رَوَى عَنْهُ وَ احْتَذَى حَذْوَهُ وَ اقتدى بسيرَنَهِ<font face="Times New Roman">.</font></p>
<p></font><em>&#8220;Dan Ali telah meriwayatkan darinya (Abu Bakar) dan mengikuti jejaknya serta meniru.bersuri teladan dengan sirah (jalan hidup)nya.&#8221; <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn5"><u><font color="#0000ff">[5]</font></u></a></em><em>Inilah pernyataan Ibnu Taymiah tentang kebutuhan Imam Ali kepada ilmu Abu Bakar, dan inilah bukti yang ia ajukan untuk mendukung klaim palsunya itu.</p>
<p></em>Pelu diketahui bahwa dalam kitab-kitab hadis Ahlusunah tidak ada hadis lain yang diriwayatkan Imam Ali as. dari Abu Bakar selain hadis tentang Salat Taubah.. Dan saya tantang para <em>penyembah</em> pandangan-pandangan konyol Ibnu Taymiah untuk membawakan bukti lain selain riwayat di atas!</p>
<p>Jika demikian kenyataannya apa maksud ucapan Ibnu Taymiah <em>seperti hadis (tentang) Salat Taubah dan lainnya</em>?! Dan apa pula maksud <em>Dan Ali … telah mengukuiti jejaknya (Abu Bakar) serta bersuri teladan dengan sirah (jalan hidup)nya</em>?</p>
<p>Selain itu, riwayat hadis di atas hanya diriwayakan oleh seorang yang konyolnya ia tidak mempunyai riwayat lain di sepanjang kitab-kitab hadis Ahlusunah selain hadis riwayat di atas. Ia justru dikenal namanya karena meriwayatkan hadis tersebut. Al Mazzi berkata, “Asmâ’ ibn al Hakam al Fizâri –dan ada yang mengatakan al Sulami-; Abu Hassân al Kûfi. Telah meriwayatkan dari Ali ibn Thalib, “Aku, jika mendengar langsung dari nabi sebuah hadis, Allah memberikan manfaat untukku dengan apa yang hendak… “ Darinya diriwayatkan oleh Ali ibn Rabî’ah al Wâlibi.”<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn6"><u><font color="#0000ff">[6]</font></u></a></p>
<p>Adz Dzahabi berkata, <em>“Ia tidak memiliki hadis selain hadis ini.” </em><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn7"><u><font color="#0000ff">[7]</font></u></a></p>
<p>Coba perhatikan, bagaimana <em>Syeikhul Islam</em>-nya kaum Wahabi yang menari-nari kegirangan setelah menemukukan <em>bukti akurat</em> keunggulan Abu Bakar atas Ali dalam ilmu dan karenanya ia mengambil sebagian sunan/tuntunan agama darinya!! Dan tanpa henti ia mengulang-ulangnya dan menjadikannya sesuatu yang telah <em>ma’rûf</em>!!</p>
<p>Sementara itu apabila Anda mau rajin dan sedikit meluangkan waktu, Anda pasti akan mengetahui bahwa hadis itu hanya akan berporos pada perawi bermana Utsman ibn al Mughîrah. Demikian dikatakan Ibnu Adiy dalam <em>al Kâmil</em>-nya.<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn8"><u><font color="#0000ff">[8]</font></u></a></p>
<p>Para pakar telah banyak mendiskusikan hadsi ini, baik matan maupun sanadnya. Hadis itu telah di-<em>munkar-</em>kan oleh Bukhari <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn9"><u><font color="#0000ff">[9]</font></u></a> dan al ‘Uqaili <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn10"><u><font color="#0000ff">[10]</font></u></a>. Sementara itu al Mazzi berusaha membelanya dengan bantuan hadis-hadis lain yang kata Ibnu Hajar, ‘Semuanya <em>dha’if.</em>’ <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn11"><u><font color="#0000ff">[11]</font></u></a></p>
<p>Adapun Utsman yang menjadi perawi pilar dalam sanad hadis tersebut telah dikatakan oleh al Uqaili sebagai <em>munkarul hadis </em><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn12"><strong><em><font color="#0000ff">[12]</font></em></strong></a> (pembawa hadis-hadis <em>munkar</em>)<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn13"><u><font color="#0000ff">[13]</font></u></a></p>
<p>Sementara Asmâ sendiri telah digolongkan oleh Ibnu Jarûd dalam daftar para perawi <em>dha’if</em>. Al Bazzâr mengatakannya sebagai <em>majhûl</em> (tidak dikenal identitasnya).<a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftn14"><u><font color="#0000ff">[14]</font></u></a></p>
<p>Dari sini Anda dapat menilai siapa sejatinya Ibnu Taymiah itu dan seperti apa keadilan dan ilmu pengetahuannya…!!</p>
<p>Masihkah Anda menyalahkan para pembesar ulama Ahlusunah yang meminta penguasa di masanya agar menjebloskannya ke dalam penjara karena kesesatan pendapatnya?!</p>
<p>Anda perlu banyak tahu tentang siapa sejatinya Ibnu Taymiah itu. Oleh karenanya situs ini dibuat…</p>
<p>_____________________________________</p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref1"><u><font color="#0000ff">[1]</font></u></a><font size="2"> Minhâj as Sunnah, 4/135.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref2"><u><font color="#0000ff">[2]</font></u></a><font size="2"> Ibid. 4.161.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref3"><u><font color="#0000ff">[3]</font></u></a><font size="2"> Ibid, 3/128.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref4"><u><font color="#0000ff">[4]</font></u></a><font size="2"> Ibid. 4/137.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref5"><u><font color="#0000ff">[5]</font></u></a><font size="2"> Ibid. 4/207.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref6"><u><font color="#0000ff">[6]</font></u></a><font size="2"> Tahdzîb al Kamâl, 2/533.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref7"><u><font color="#0000ff">[7]</font></u></a><font size="2"> Mizân al I’tidâl, 1/256.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref8"><u><font color="#0000ff">[8]</font></u></a><font size="2"> Al Kâmil fi adh Dhu’afâ’, 4/85.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref9"><u><font color="#0000ff">[9]</font></u></a><font size="2"> Mizân al I’tidâl, 1/255.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref10"><u><font color="#0000ff">[10]</font></u></a><font size="2"> Tahdzîb at Tahdzib, 1/235.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref11"><u><font color="#0000ff">[11]</font></u></a><font size="2"> Ibid.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref12"><u><font color="#0000ff">[12]</font></u></a><font size="2"> Istilah <em>munkarul hadis</em> atau <em>majhûl </em>adalah istilah yang dipakai untuk mencacat seorang periwayat. Pencacatan denga kata-kata ini lebih parah dari sekedar kata-kata’ si fulan <em>dha’if</em>. (Baca; Hasyiah atas Syarh Matan Nukhbatul Fikar:154)</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref13"><u><font color="#0000ff">[13]</font></u></a><font size="2"> Adh Dhu’afâ’ al Kabîr, darinya Tahdzîb at Tahdzib, 1/235.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm//l_ftnref14"><u><font color="#0000ff">[14]</font></u></a><font size="2"> Tahdzib at Tahdzib,1/235.</font></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Taymiah: Ibnu Mas’ud dan Para Sahabat Tidak Pernah mengambil Ilmu dari Ali Sedikitpun!!]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/16/ibnu-mas%e2%80%99ud-dan-para-sahabat-tidak-pernah-mengambil-ilmu-dari-ali-sedikitpun/</link>
<pubDate>Mon, 16 Jul 2007 06:59:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/16/ibnu-mas%e2%80%99ud-dan-para-sahabat-tidak-pernah-mengambil-ilmu-dari-ali-sedikitpun/</guid>
<description><![CDATA[Ibnu Taymiah: Ibnu Mas’ud Dan Para Sahabat Tidak Pernah Megambil Ilmu Dari Ali Sedikitpun!! Pada seb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><font color="#800000">Ibnu Taymiah: Ibnu Mas’ud Dan Para Sahabat Tidak Pernah Megambil Ilmu Dari Ali Sedikitpun!!</font></strong></p>
<p><font color="#000000">Pada sebuah penyataannya, Ibnu Taymiah mengeluarkan sebuah stitmen sungguh berbahaya. Ia mengatakan bahwa Ibnu Mas’du dan sahabat-sahabat lain yang menjadi rujukan Ibnu Abbas itu tidak pernah sedikitpun mengambil ilmu dari Imam Ali as. </font></p>
<p><font color="#800000">Ibnu Taymiah berkata:</font></p>
<p><font color="#800000"> </font><font color="#800000"><font face="Times New Roman (Arabic)"><font color="#000000">ابنُ عباسٍ أَخَذَ عن ابنِ مسعودٍ و غيرِهِ من الصحابةِ الذين لَمْ يَأْخذوا عَن علِيٍّ شَيْئًا</font><font face="Times New Roman">.</font></font></font><font color="#800000"> </font></p>
<p><font color="#800000"><font face="Times New Roman (Arabic)"><em><font color="#000000">Selain itu, dalam tafsir, ia mengambil dari Ibnu Mas’ud dan sahabat-sahabat lain yang tidak pernah mengambil ilmu barang sedikitpun dari Ali …. “</font></em>  <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn1"><u><font color="#0000ff">[1]</font></u></a></font></font><font color="#800000"> </font></p>
<p><font face="Times New Roman (Arabic)">Kata-kata di atas adalah bualan palsu!!</font></p>
<p>Setiap orang yang mau merujuk keterangan para ulama tentang biografi Imam Ali as. pasti mengetahui bahwa para sahabat telah banyak belajar dari Imam Ali as. Anda dapat temukan banyak nama sahabat yang telah mengambil ilmu dan meriwayatkan dari Imam Ali as., sebagaimana juga dapat Anda temukan ketika membaca keterangan para ulama tentang biografi para sahabat.</p>
<p><!--more baca selanjutnya--></p>
<p>Dalam kesempatan ini saya hanya akan mengutip keterangan <strong>al hafidz al Mazzi </strong>yang mengatakan tentang Imam Ali as., “Beliau adalah salah seorang ulama rabbaniyyîn, pemberani yang tersohor, orang zuhud yang dikenal dan salah seorang yang awal memeluk Islam… adapun tentang ilmunya, maka beliau berada di tempat tertinggi. Beliau telah meriwayatkan dari Rasulullah saw. lima ratus delapan puluh enam (586) hadis. Bukhari dan Muslim telah bersepakat meriwayatkan dua puluh (20) hadis darinya, Bukhari meriwayatkan sendiri (tanpa Muslim) sembilan (9) hadis, sedangkan Muslim lima belas (15) hadis. Dan telah meriwayatkan darinya, tiga putra beliau; Hasan, Husain dan Muhammad ibn al Hanafiyah, <u>Ibnu Mas’ud</u>, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Musa, Abdullah ibn Ja’far, Abdullah ibn Zubair, Abu Sa’od, Zaid ibn Arqam, jabir ibn Abdillah….</p>
<p>Dan dari kalnagn Tabi’în banyak kalangan yang masyhur telah meriwayatkan dari beliau. Para ulama menukil dari Ibnu Mas’ud sebagai mengatakan, <em>“Kami berbincang-bincang bahwa paling alimnya penduduk kota Madinah tentang hukum (qadha’) adalah Ali.</em></p>
<p>Ibnu Abbas berkata, <em>“Ali telah dianugerahi sembilan persepuluh ilmu pengetahuan. Dan demi Allah ia telah bersekutu denagn kalian dalam satu persepuluh sisanya.”</em></p>
<p>Ia juga berkata, <em>“Jika telah terbukti tetap di hadapan kami ada ucapan Ali maka kami tidak akan beranjak berpindah kepada yang lainnya.”</em></p>
<p><strong>Kemudian al Mazzi menegaskan, </strong><em><strong>“</strong>Dan pertanyaan para pembesar sahabat dan rujuknya mereka kepada Ali dalam fatwa-fatwa dan pendapat-pendapatnya dalam berbagai kesempatan dan beragam masalah sulit, adalah berita masyhur.” </em><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn2"><u><font color="#0000ff"><strong>[2]</strong></font></u></a></p>
<p>Adapun tentang Ibnu Mas’ud, Anda dapat temukan penegasan para ulama bahwa ia meriwayatkan dari Imam Ali as. ketika mereka menyebutkan biografi keduanya. Dalam tahdzîb al Kamâl, ketika menyebutkan biografi Imam Ali as., ia menyebutkan para periwayat dari Ali as., “Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Abdul Qâri, Abdullah ibn Ali ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib, Abdullah ibn Umar ibn al Khtahthab, Abdullah ibn Amr ibn Hindin al Jamali, Abdullah ibn Mas’ud- dan ia wafat sebelum Ali-, Abdullah ibn Ma’qil ibn Qarrah al Muzani… .” <a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftn3"><u><font color="#0000ff">[3]</font></u></a></p>
<p>Dengan demikian Anda dapat melihat dengan jelas kepalsuan omongan Ibnu Taymiah yang dengan tanpa bukti menafikan dan mengecilkan peran agung Imam Ali dalam ilmu-ilmu Islam! Tetapi ini bukan keganjilan tunggal Ibnu Taymiah, lembaran-lembaran akan datang akan menyajikan untuk Anda berbagai sikap-sikap arogan Ibnu Taymiah! Nantikan!</p>
<p>______________________________</p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref1"><u><font color="#0000ff">[1]</font></u></a><font size="2"> Mihjajus-Sunnah, 155.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref2"><u><font color="#0000ff">[2]</font></u></a><font size="2"> Tahdzîb al Asmâ’ wa al Lughât,1/344-346.</font></p>
<p><a href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm/l_ftnref3"><u><font color="#0000ff">[3]</font></u></a><font size="2"> Tahdzîb al Kamâl,20/467.</font></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Taymiah: Semua Bukti Ilmu Ali ra. Palsu!!]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/06/19/semua-bukti-ilmu-ali-ra-palsu/</link>
<pubDate>Tue, 19 Jun 2007 02:27:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/06/19/semua-bukti-ilmu-ali-ra-palsu/</guid>
<description><![CDATA[Ibnu Taymiah: Semua Bukti Ilmu Ali ra. Palsu !! Tentang kedalaman ilmu dan pengetahuan Imam Ali as. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><span style="color:#008080;">Ibnu Taymiah: Semua Bukti Ilmu Ali ra. Palsu !!</span></h2>
<p>Tentang kedalaman ilmu dan pengetahuan Imam Ali as. yang telah terbukti berdasarkan Alqur’an dan Sunah suci Nabi saw., Ibnu Taimiyah membohongkannya… Seakan Imam Ali as. tidak pernah belajar apapun dari Nabi saw. dan seakan tidak ada seorang-pun yang sudi menimba ilmu-ilmu Islam dari Ali as.</p>
<p>Pasti Anda menganggap saya mengada-ngada dan memftinah Ibnu Taymiah.  Jadi baca dan perhatikan langsung pernyataannya di bawah ini.</p>
<p>Ibnu Taymiah berkata:</p>
<p><!--more--></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">لاَ نُسَلِّمُ أَنَّ عَلِيًّا كانَ أَحْفَظَ ِللْكِتابِ و السُّنَّةِ وَ أَعْلَمَ بِهِمَا مِنْ أَبِيْ بَكْرٍ و عُمَرَ ، بَلْ هُما أَعْلَمُ بالْكِتابِ و السُّنَّةِ مِنْهُ.</h2>
<p style="text-align:right;">
<p><em>“Kami tidak menerima bahwa Ali lebih paling hafalnya dan paling alim/pandainya orang tentang Al Kitab dan as Sunnah dibanding Abu Bakar dan Umar. Bahkan mereka berdua lebih pandai darinya tentang Al Kitab (al-Quran) dan Sunnah.” </em><span style="color:#0000ff;"><strong>[1] </strong></span></p></blockquote>
<p>Semua bukti tentang kedalaman ilmu Imam Ali as. ia tolak, tidak terkecuali ayat dan hadis Nabi saw. yang mengungkap ilmu Imam Ali as. ia bohongkan hanya dengan satu kalimat yang biasa ia andalkan dalam membangun kepalsuan dan kebohongannya, <em>‘Ia adalah hadis palsu berdasar ijmâ’ para ulama!!’ </em></p>
<p>Semua Bukti Qur’ani dan Sunnah Tentang Ilmu Imam Ali as. adalah Bohong !</p>
<p>Ayat Udzunun Wâiyah yang berbunyi:</p>
<p><em>“Agar Kami jadikan Peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.” </em>(QS. 69 [ al Hâqqah];12)</p>
<p>Ketika ayat tersebut di atas turun, Nabi saw. bersabda kepada Ali as.:</p>
<h2>سَأَلْتُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَهَا أُذُنَكَ</h2>
<p><em>Aku memohon kepada Allah agar Dia menjadikan telingmu sebagai telinga itu.</em></p>
<p>Lalu Ali berkata:</p>
<h2>فَمَا سَمِعْتُ شَيْئًا مِنْ رَسُوْلَ اللهَ صلى اللهُ عليهِ و آلِهِ فَنَسِْتُهُ.</h2>
<p>Maka aku tidak pernah lupa sesuatu apapun yang aku dengar dari Rasulullah saw.<span style="color:#0000ff;"><strong> [2] </strong></span></p>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Abu Buraidah al Aslami bertutur, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda kepada Ali:</p>
<h2>إِنَّ اللهَ أمَرَنِيْ أَنْ أُعَلِّمَكَ وَ أَنْ أُدْنِيَكَ وَ لاَ أَجْفُوَكَ ولا أُقْصِيَكَ</h2>
<p><em>Sesungguhnya Allah memerintahku untuk mengajarimu dan mendekatkanmu, dan agar tidak bersikap kasar kepadamu serta menjauhkanmu.</em></p>
<p>Lalu turunlah ayat:</p>
<p><em>Agar Kami jadikan Peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.</em> (QS. 69 [ al Hâqqah];12)</p>
<p>Dalam riwayat lain terdapat tambahan:</p>
<h2>وَ حَقٌّ علَى اللهِ أَنْ تَعِيْ</h2>
<p><em>Dan berhak atas Allah (untuk menjadikan)mu mengerti. </em></p>
<p>Dalam redaksi lain disebutkan:</p>
<h2>وَ حَقٌّ لَكَ أَنْ تَعِيْ</h2>
<p>Dan pantaslah engkau mengerti.</p>
<p><strong>Riwayat di atas dapat Anda jumpai dalam:</strong></p>
<p>1. Tafsir ath Thabari,29/56.2. Tafsir Fathu al Qadîr,5/282,3. Tafsir Ad Durr al Mantsûr,8/267 dan Lubâb4. Asbâb an Nuzûl; Al Wahidi:249.5. Manâqib Ali; Ibnu al Maghâzili asy Syâfi’i:319 hadis 364.</p>
<p>Selain apa yang saya sebutkan di atas masih banyak riwayat lain yang menerangkan sabda Nabi saw. kepada Ali ketika ayat ini turun.<br />
Kemudian datanglah Sang “Syeikhul Islam” dari lorong-lorong kampung Harrân dan dengan tanpa rasa tanggung jawab mengatakan:</p>
<h2>إِنَّهُ حَدِيْثٌ مَوْضُوعٌ بِإتِّفاقِ أهْلِ العِلْمِ.</h2>
<p><em>“Hadis ini palsu berdasarkan kesepakatan ahli ilmi (ulama).”</em> <span style="color:#0000ff;"><strong>[3] </strong></span></p>
<p>Ya Subhânallah! Alangkah beraninya ia dalam menvonis hadis sahih dengan satu goresan pena. Sepertinya pena itu tidak memiliki nilai mulia dan akan menuntut tanggungn jawab penggunanya?!</p>
<p>Hadis di atas telah diriwayatkan para tokoh tafsir dan hadis kenamaan Ahlusunnah seperti:</p>
<p>Ibnu Jarir ath Thabari dalam tafsirnya,</p>
<p>Abu bakar al bazzâr dalam Musnadnya,</p>
<p>Sa’id ibn Manshûr dalam Sunannya,</p>
<p>Ibnu Abu Hatim dalam tafsirnya,</p>
<p>Ibnu al Mundzir,</p>
<p>Ibnu Murdawaih,</p>
<p>Fakhruddin ar Razi,</p>
<p>az Zamakhsyari,</p>
<p>al Wahidi,</p>
<p>as Suyuthi dalam Ad Durr al Manstûrnya,</p>
<p>Dhiyâ’ al Maqdisi dalam al Mukhtârahnya,</p>
<p>Ibnu ‘Asakir dan al Haitsami dalam Majma’ az Zawâidnya.</p>
<p>Jadi, mereka telah sepakat meriwayatkan hadis palsu, maudhû’ tersebut.</p>
<p>Duhai besar rasa amanat dan tanggung jawab mereka sehingga mereka tidak mau ketinggalan bersepakat meriwayatkan hadis palsu!!<br />
Atau justru Ibnu Taimiah yang berbohong dan mengatasnamakan mereka, seperti kebiasaannya!!</p>
<p><strong>Hadis Ana madinatul Ilmi Wa Aliyyun bâbuha Palsu!</strong></p>
<p>Sebagaimana hadis <em>“Ana madinatul Ilmi Wa Aliyyun bâbuha”</em> juga tidak selamat dari vonis keji Ibnu Taimiah, ia mengatakan:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">وَ حديثُ أَنا مديْنَةُ العلْمِ و علِيٌّ بابُها أَضْعَفُ وَ أَوْهَى، و لِهذا إِنَّما يُعَدُّ مِنَ الْمَوضُوعاتِ وإِنْ رَواه التُرْمُذيْ، و ذكرهُ ابْنُ الْجَوْزِيْ و بَيَّنَ أَنَّ سائِرَ طُرُقِهِ مَوضوعَةٌ. و الكَذِبُ يُعْرَفُ مِنْ نَفْسَ مَتْنِهِ …</h2>
<p style="text-align:right;">ْ</p>
<p><em>Dan hadis Ana madinatul Ilmi Wa Aliyyun bâbuha adalah lebih lemah dan lebih rapuh (dari hadis Paling alimnya orang tentang qadhâ’ [keputusan hukum] adalah Ali).</em></p>
<p><em>Oleh karenanya ia digolongkan hadis-hadis palsu, maudhû’at walaupun ia diriwayatkan oleh at Turmudzi. Ibnu al Jauzi menyebutkannya dan menjelaskan bahwa seluruh jalur-jalurnya palsu. Bahkan kepalsuan tanpak dari matannya… .”</em></p></blockquote>
<p>Demikianlah Ibnu Taymiah, dengan hanya satu coretan pena menvonis palsu sebuah hadis sahih, bahkan ia tergolong paling sahihnya hadis dari sisi sanadnya dan paling kokohnya dari sisi kandungan. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila Ibnu Taimiah membohongkannya dan menggolongkannya sebagai produk kaum zindiq!!</p>
<p><strong>Oleh sebab itu saya merasa perlu mengajak pembaca melihat dari dekat sikap para ulama hadis Sunni tentang hadis tersebut.</strong></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Pertama</strong></span> yang perlu dikethui ialah bahwa hadis ini telah diriwayatkan oleh banyak sahabat Nabi saw., di bawah ini akan saya sebutkan nama-nama mereka berikut para perawi hadis mereka:</p>
<p><strong>1. Immam Ali ibn Abi Thalib as.</strong> Hadis riwayat beliau as. telah diriwayatkan oleh banyak ulama’ Ahlusunnah, di antaranya:</p>
<ul>
<li>A). Suwaid ibn Said Al Hadatsani.</li>
<li>B) Imam Ahmad ibn Hambal.</li>
<li>C) Abbad ibn YA’qub Ar Rawajani.</li>
<li>D) Imam At Turmudzi. E) Abu Bakr Al Baghundi.</li>
<li>F) Muhammad ibn Al Mudzaffar Al Wasithi.</li>
<li>G) Ibnu Syaadzaan Al Harbi.</li>
<li>H) Al Hakim Abu Abdillah AnNisaburi.</li>
<li>I) Ibnu Murdawaih.</li>
<li>J) Abu Nu’aim Al Ishbahani.</li>
<li>K) Abu Ghalib Muhammad ibn Ahmad ibn Sahl (Ibnu Busyrân).</li>
<li>L) Ibnu Maghzili Al Wasiithi.</li>
<li>M) Ahmad ibn Muhammad Al Ashimi.</li>
<li>N) Ibnu Al Atsir.</li>
<li>O) Ibnu Najjar Al Baghdadi.</li>
<li>P) Sibth Ibn Jawzi.</li>
<li>Q) Muhammad ibn Yusuf Al Kinji.</li>
<li>R) Muhibbuddin Ath Thabari Asy Syafi’i.</li>
<li>S) Syihabbudin Ahmad.</li>
<li>T) Jalaluddin As Suyuthi.</li>
<li>U) Nuruddin As Samhudi.</li>
<li>V) Ibnh Hajar Al Makki Asy Syafi’i.</li>
<li>W) Ali Al Muttaqi Al Hindi.</li>
<li>X) Ibrahim Al Washshabi Al Yamani.</li>
<li>Y) Syeikh ibn Abdullah Al Idrus Al Yamani.</li>
<li>Z) Ahmad Al Makki Asy Syafi’i.</li>
</ul>
<p><strong>2.Imam Hasan ibn Ali as</strong>. Hadis dari beliau as. telah diriwayatkan oleh Al Qanduzi Al Hanafi.</p>
<p><strong>3.Imam Husain ibn Ali as.</strong> Hadis dari beliau as. telah diriwayatkan oleh:</p>
<ul>
<li>A) Ibnu Mardawaih Al Isbahani.</li>
<li>B) Ibnu Busyran Al Wasithi.</li>
<li>C) Ibnu AL Maghazili.</li>
<li>D) Al Ashimi.</li>
<li>E) Ibnu Najjar Al Baghdadi.</li>
<li>F) Dan Al Qandizi Al Hanafi</li>
</ul>
<p><strong>4. Ibnu Abbas ra.</strong> Hadis darinya ra.. telah diriwayatkan oleh:</p>
<ul>
<li>A) ahya ibn Main.</li>
<li>B) Ibnu Fahd Al Baghdadi.</li>
<li>C) Abu Al Abbas Al Asham.</li>
<li>D) Ibnu Numair Al Qanthuri.</li>
<li>E) Ibnu Jarir Ath Thabari.</li>
<li>F) Abu AL Qasim Ath Thabarani.</li>
<li>G) Abu Syeikh Al Isbahani.</li>
<li>H) Al Hakim An Nisaburi.</li>
<li>I) Ibnu Murdawaih Al Isbahani.</li>
<li>J) Al Baihaqi.</li>
<li>K) Al Khathib Al Baghdadi.</li>
<li>L) Ibnu Abdil Barr Al Qurthubi.</li>
<li>M) Ibnu Al Maghazili.</li>
<li>N) Abu Ali Al Baihaqi.</li>
<li>O) Ahmad ibn Muhammad Al ‘Ashimi.</li>
<li>P) Akhthab Al Khawarizmi Al Makki.</li>
<li>Q) Ibnu Al Atsir.</li>
<li>R) Al Kinji Asy Syafi’i.</li>
<li>S) Al Hamawaini.</li>
<li>T) Jamaluddin Az Zarandi.</li>
<li>U) Ibnu Hajar Al Asqallani.</li>
<li>V) As Suyuthi.</li>
<li>W) As Samhudi.</li>
<li>X) Al Muttaqi Al Hindi.</li>
<li>Y) Al Munnawi.</li>
<li>Z) Dan puluhan lainnya..</li>
</ul>
<p><strong>5. Jabir ibn Abdillah al Anshari ra.</strong> Hadis darinya ra.. telah diriwayatkan oleh:</p>
<ul>
<li>A) Abdur Razzaq Ash Shan’ani.</li>
<li>B) Al Bazzar.</li>
<li>C) Ath Thabarani.</li>
<li>D) Al Qaffal Al Syasyi.</li>
<li>E) Ibnu As Saqqa Al Wasithi.</li>
<li>F) Al Hakim An Nisaburi.</li>
<li>G) Abu AL Hasan Al Aththar Asy Syafi’i.</li>
<li>H) Al Khathib Al Baghdadi.</li>
<li>I) Ibnu Maghazili.</li>
<li>J) Syirawaih Ad Dailami.</li>
<li>K) Syahr Daar Ad Dailami.</li>
<li>L) Ibnu ‘Asakir Ad Dimasyqi.</li>
<li>M) Al Kinji Asy Syafi’i.</li>
<li>N) Ali Al Hamdani.</li>
<li>O) Ibnu Al Jazari Asy Syafi’i.</li>
<li>P) Ibnu Hajar AL Asqallani.</li>
<li>Q) As Suyuthi.</li>
<li>R) As Samhudi.</li>
<li>S) Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki.</li>
<li>T) Al Muttaqi Al Hindi.</li>
<li>U) Al Munnawi.</li>
<li>V) Dan banyak selain mereka.</li>
</ul>
<p><strong>6. Abdullah ibn Mas’ud ra.</strong> Hadis darinya ra.. telah diriwayatkan oleh:</p>
<ul>
<li>A) Sayyid Ali Al Hamdani.</li>
<li>B) Syeikh Sulaiman Al Qanduzi Al Hanafi.</li>
</ul>
<p><strong>7. Hudzaifah ibn Yaman ra.</strong> Hadis darinya ra.. telah diriwayatkan oleh Ibnu Al Maghazli dan kemudian dikutip oleh Al Qanduzi.</p>
<p><strong>8. Abdullah ibn Umar.</strong> Hadis darinya ra.. telah diriwayatkan oleh:</p>
<ul>
<li>A) ATh Thabarani.</li>
<li>B) Al Hakim.</li>
<li>C) Ibnu Hajar Al Makki.</li>
<li>D) Syeikh Al Idrus Al Yamani.</li>
<li>E) Mirza Muhammad Al badkhisyani.</li>
<li>F) Syeikh Muhammad Ash Shabban.</li>
<li>G) Maulawi Muhammad Mubin Al Laknawi.</li>
<li>H) Maulawi Tsanaullah Pani Pati.</li>
<li>I) Maulawi Waliullah Al Laknawi.</li>
<li>J) Al Qanduzi.</li>
</ul>
<p><strong>9. Anas ibn Malik. </strong>Hadis darinya ra.. telah diriwayatkan oleh:</p>
<ul>
<li>A) Sayyid Ali Al Hamdani.</li>
<li>B) Syeikh Sulaiman Al Qanduzi Al Hanafi.</li>
</ul>
<p><strong>10. Amr ibn Al ‘Aash. </strong>Hadis darinya ra.. telah diriwayatkan oleh Akhthab Al Khawarizmi Al Makki.</p>
<h3><span style="text-decoration:underline;">Catatan:</span></h3>
<p>Dan dalam pernyataan sebagian ulama hadis tersebut telah disepakati oleh para sahabat Nabi saw. sebagai sebuah keutamaan dan keutamaan bagi Imam Ali as., seperti dalam penegasan Az Zarandi dalam “Nadzm Durar As Simthain”-nya ketika ia menulis sebuah judul : “Keutamaan lain yang diakui para sahabat dan mereka sambut riang, mereka menempuh jalan sepakat dan berjalan di atasnya”. <span style="color:#0000ff;"><strong>[4]</strong></span></p>
<p>Maka jika demikian adanya maka apakah dapat dibenarkan sikap penolakan terhadap hadis ini yang dilakukan sebagian orang yang mengaku taat mengikuti dan membela para sahabat Nabi saw.?!</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Kedua,</strong></span> hadis ini juga telah diriayatkan oleh banyak kalangan tabi’în, di bawah ini nama-nama mereka:</p>
<ol>
<li>Imam Ali Zainal Abidin ibn Husain as.</li>
<li>Imam Muhammad ibn Ali Al Baqir as.</li>
<li>Al Ashbugh ibn Nubatah Al Handhali Al Kufi.</li>
<li>Jarir Adh Dhabbi.</li>
<li>Al Harits ibn Abdillah Al Hamdani Al Kufi.</li>
<li>Sa’ad ibn Tharif Al Handhali Al Kufi.</li>
<li>Said ibn Jubair Al Asadi Al Kufi.</li>
<li>Salamah ibn Kuhail Al Hadhrami Al Kufi.</li>
<li>Sulaiman ibn Muhran Al Kufi (yang dikenal dengan nama Al A’masy).</li>
<li>‘Ashim ibn Dhmarah As Saluli Al Kufi.</li>
<li>Abdullah ibn Utsman ibn Khutsaim Al Qari Al Makki.</li>
<li>Abdurrahman ibn Utsman At Tamimi al Madani.</li>
<li>Abdurrahman ibn Usailah Al Muradi Abu Abdillah Ash Shanabaji.</li>
<li>Muijahid ibn Jabr Abu Al Hajjaj Al Makhzumi Al Makki.</li>
</ol>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Ketiga,</strong></span> hadis ini telah <span style="color:#0000ff;">disahihkan oleh puluhan ulama Ahlusunnah</span> yang berkopenten dalam penilaian hadis Nabi saw., di antara mereka adalah:</p>
<ol>
<li>Al-Hafidz Abu Zakaria Yahya bin Ma’in (W.233 H) sebagaimana disebutkan oleh al-Khatib, Abu al-Hajjaj dan Ibnu Hajar dan lain-lain.</li>
<li>Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari (W.310 H) sebagaimana dalam kitab Tahdzibul Atsar.</li>
<li>Abu Abdillah al-Hakim (W.405 H).</li>
<li>Al-Hafidz Abu Muhammad al-Hasan al-Samarqandi (W.491 H) dalam kitab Bahr al-Asamid.</li>
<li>Majduddin al-Fairuz Abadi (W.816 H) dalam al-Naqdu al-Shahih.</li>
<li>Jalaluddin al-Suyuthi (W.911 H) dalam Mam’i al-Jawami’.</li>
<li>Sayyid Muhammad al-Bukhari, seperti dalam kitab Tadzkirat al-Abrar.</li>
<li>Al-Amir Muhammad al-Yamani al-Shan’aa’i (W.1182 H) dalam kitabnya al-Raudhah al-Nadiyyah.</li>
<li>Al-Maulawi Hasanuzzaman.</li>
<li>Abu Salim Muhammad bin Thalhal al-Quraisyi (W. 652 H.}.</li>
<li>Abu al-Mudhaffar Yusuf bin Qazawaghli (W.654 H).</li>
<li>Al-Hafidz Shalahuddin al-Ala’i (W.761 H).</li>
<li>Syamsuddin Muhammad al-Jazari (W.833 H).</li>
<li>Syamsuddin Muhammad al-Sakhawi (W.902 H).</li>
<li>Fadlullah bin Ruzbahan al-Syirazi.</li>
<li>Al-Muttaqi al-Hindi (W.975 H).</li>
<li>Mirza Muhammad al Badkhisyani.</li>
<li>Mirza Muhammad Shadrul Alam.</li>
<li>Tsama’ullah Pani Pati al Handi.</li>
<li>Al Mawlawi Hasannuz Zamaan.</li>
</ol>
<p><strong><span style="color:#0000ff;">Keempat,</span> </strong>Selain mereka yang menegaskan kesahihan hadis ini, banyak <span style="color:#0000ff;">para ulama yang menggolongkannya sebagai hadis hasan </span>secara mutlak, atau pada sebagai jalur-jalurnya, -dan di antara mereka adalah para ulama yang telah saya sebut sebelumnya hal tersebut terjadi karena pada awal mula ia menggolongkannya hasan kemudian terbukti bahwa ia sahih atau karena pada sebagai jalurnya ia hasan dan pada sebagian lainhya sahih, seperti yang dinyatakan Al Kunji).</p>
<p><strong>Di bawah ini akan saya sebutkan nama-nama sebagian mereka:</strong></p>
<ol>
<li>At Turmudzi, sebagai dinayatakan Adbul Haq Ad Dahlawi dalam kitab Al Lama’ât-nya.</li>
<li>Al Kunji Asy Syafi’i. Tentang hadis riwayat Ibnu Abbas ia berkata, “Hadis hasan ’âlin (tinggi, pendek sanadnya).</li>
<li>Shalahuddin Al Ala’i.</li>
<li>Badruddin Az Zarkasyi, seperti disebutkan Al Munnawi dan Syeikh Hasanuz Zaman.</li>
<li>Majduddin Asy Syirazi dalam kitab Naqd ash Shahih.</li>
<li>Ibnu Hajar Al Asqallani dalam Fatawa-nya dana dalam jawaban beliau tentang stasus beberapa hadis kitab Mashabih As Sunnah karya Al Baghawi.</li>
<li>As Sakhawi dalam kitab Al Maqâshid Al Hasanah ketika mengomentari hadis Ibnu Abbas.</li>
<li>Jalaluddin As Suyuthi dalam Tarikh Al Khulâfâ’ dan buku-bukunya yang lain.</li>
<li>As Samhudi. Ia menyebut pensahihan Al Hakim dan keterangan Al ‘Ala’i dan Ibnu Hajar sebagai hadis hasan kemudian ia diam tidak berkomentar apapun tentangnya. Jadi dapat dipastikan bahwa paling tidak ia menyakininya sebagai hadis hasan.</li>
<li>Muhammad ibn Yusuf Asy Syami Al Shalihi dalam “Subul Al Huda wa Ar Rasyaad”.</li>
<li>Abu Hasan Ali ibn Arrâq dalam “Tanzîh asy Syari’ah”.</li>
<li>Ibnu Hajar Al Haitami Al makki dalam Shawâiq, Al Minah Al Makkiyah dan Tathhir al Janân.</li>
<li>Muhammad ibn Thahir al Tanti dalam Tadzkirah Al Maudhu’ât.</li>
<li>Mulla Ali Al Qâri dalam A Mirqât.</li>
<li>Al Munnawi dalam Faidh Al Qadîr.</li>
<li>Muhammad Al Hijazi Asy Sya’rani.</li>
<li>Abdul Haq Ad Dahlawi dalam Al Lama’ât.</li>
<li>Al Azizi dalam As Sirâj Al Munîr.</li>
<li>Ali ibn Ali Asy Syibramulisi dalam Taisîr Al Mathâlib As Saniyyah.</li>
<li>Az Zarqâni dalam syarah Al Mawâhib Al Ladduniyah.</li>
<li>Al Shabban dalam Is’âf Ar Raghibîn.</li>
<li>Asy Syawkani dalam Al Fawâid Al Majmû’ah.</li>
<li>Hasan ibn Ali Al Muhaddis dalam Tafrîj Al Ahbâb</li>
</ol>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Catatan: </strong></span></p>
<p>Pensahihan Ibnu Ma’in terhadap hadis ini menjadi pijakan bagi para ulama dalam menilai hadis tersebut dikarenakan Ibnu Ma’in adalah tokoh sentral dalam al jarh wa at ta’dîl. Pensahihan Ibnu Ma’in dapat Anda baca dalam kitan Tahdzîb al Kamâl, Tahdzîb at Tahdzîb, ketika menyebut biodata Abdus Salâm ibn Shalih al Harawi, dan Jam’u al Jawâmi’, Faidh al Qadîr, al Fawâid al Majmû’ah dll.</p>
<p>Adapun kepiawaian Ibnu Ma’in dalam menilah hadis, dan ketokohannya dalam bidang al jarh wa at ta’dîl dan ia adalah rujukan andalan dalam menilai kualitas perawi dan hadis maka Anda saya persilahkan merujuk biotada Ibnu Ma’in dalam buku rijal manapun, seperti Tahdzîb al Asmâ’ wa al Lughât,1/156, Wafayât al A’yân,6/139, Siyar A’lâm an Nubalâ’,11/71.</p>
<p>Yang mengherankan ialah bahwa Ibnu Taimiah sendiri mengakui bahwa Ibnu Ma’in adalah rujukan andalan dalam memilah hadis sahih dari hadis palsu. Antara lain <strong>Ibnu Taimiah</strong> berkata memuji,</p>
<p><em>“Dan tiada bagi seorang bagi mereka keahlian dan mengetahuan tentang sanad seperti yang dimiliki para imam hadis seperti Syu’bah, Yahya ibn Sa’îd al Qaththân, Abdurahman ibn Mahdi, Ahmad ibn Hanbal, Ali ibn Madîni, Yahnay ibn Ma’in, Ishaq, Muhammad ibn Yahya adz Dzuhali, al Bukhari, Muslim, Abu Daud, an Nasa’i, Abu Hatim ar Râzi, Abu Zar’ah ar Râzi, Abu Abdillah ibn Mandah, ad Darulquthni dan semisal mereka dari para imam, peneliti, penguasa dan penghafal hadis… .”</em><span style="color:#0000ff;"><strong> [5]</strong></span></p>
<p>Lalu mengapakah kali ini ia berpaling dan mencampakkan penilaian positif Ibnu Ma’in yang sangat ia puji dan ia banggakan?! Aneh! Tapi demikianlah Ibnu Taimiah. Ia akan berlapang dada menerima hadis apabila sesuai dengan hawa nafsunya dan dengan serta merta menolaknya apabila ia tidak cocok dan tidak sesuai seleranya.</p>
<p>Selain itu semua, hadis ini telah diriwayatkan oleh At Turmudzi dalam kitab Sunan-nya yang merupakan salah satu kitab hadis Shahih yang enam di kalangan Ahlusunnah dan Ibnu Ibnu Taimiah pun selalu membanggakannya dalam banyak kesempatan dalam Minhâj as-Sunnah-nya. Lalu mengapa ia sekarang mangatakan walaupun ia diriwayatkan oleh at Turmudzi?.</p>
<p>Demikian pula hadis ini telah diriwayatkan oleh al Hakim dalam kitab al Mustadrak-nya yang tidak jarang Ibnu Taimiah mengandalkan pensahihan al Hakim. Dengan demikian jelaslah bagi Anda siapa sejatinya Ibnu Taimiah itu!!!</p>
<h3>Hadis Aqdhâkum Ali palsu!!</h3>
<p>Salah satu hadis yang menunjukkan keluasaan ilmu Imam ali as. adalah sabda Nabi saw.:</p>
<h2>أَقْضاكُمْ عَلِيٌّ</h2>
<p><em>“Paling pandai qadha’ diantara kamu adalah Ali”. </em></p>
<p>Hadis di atas atau yang serupa dengannya, seperti Paling pandainya umat ini tentang qadha’ adalah Ali dan dengan redaksi lain yang semakna telah diriwayatkan oleh para imam hadis kenamaan Ahlusunnah. Anda saya persilahkan melihat langsung kitab Shahih Bukhari, kitabut tafsîr, bab Qauluhu (Mâ nansakh min âyatin aw nunsihâ). Imam Bukhari meriwayatkan pengakuan Khalifah Umar sebagai mengatakan:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:center;">أَقْضانا علِي.</h2>
<p style="text-align:center;"><em>“Ali adalah orang yang paling pandai qadha’ di antara kami”.</em> <strong><span style="color:#0000ff;">[6]</span></strong></p>
</blockquote>
<p>Ketika mengomentari hadis di atas, Ibnu Hajar menegaskan, ‘Demikian hadis ini dalam riwayat di atas ia mauqûf (berhenti pada Umar/ucapan Umar). Hadis ini juga telah dikeluarkan oleh at Turmudzi dan lainnya dari jalur Abu Qilâbah dari Anas marfû’an (sebagai sabda Nabi saw.) …</p>
<p>Adapun hadis “Ali adalah orang yang paling pandai qadha’ di antara kami” ia telah datang secara marfû’ dari Anas dengan redaksi Paling pandainya umat ini tentang qadha’ adalah Ali ibn Abi Thalib. Hadis ini diriwayatkan oleh al Baghawi dan juga dari jalur Abdurrazzaq dari Ma’mar secara mursal (dengan tidak menyebut lengkap sanadnya) … bahkan masih menurut Ibnu Hajar al Asqallani, hal itu sedemikain masyhur sehingga Ibnu Mas’ud bertutur, “Kami, penduduk kota Madinah berbincang-bincang bahwa Ali ibn Abi Thalib-lah yang paling mengerti qadha’ di antara kita.” <span style="color:#0000ff;"><strong>[7]</strong></span></p>
<p>Demikian juga kitab ad Durr al Manstûr menukil dari an Nasa’i, Ibnu Anbâri dan Dâlâlil an Nubuwwah-nya al Baihaqi, Ibnu Sa’ad dalam Thabaqât dari sahabat Abu Hurairah, begitu juga Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Al Hakim dalam Mustadrak-nya dan ia mensahihkannya, Ibnu Abdil Barr dalam al Istî’âb-nya, Ibnu al Atsîr dalam Usdul Ghâbah-nya, Abu Nu’aim dalam Hilyah-nya dan Muhibbuddin ath Tahabari dlam Riyâdh-nya.</p>
<p>Hadis tersebut telah diriwayatkan para ulama besar Ahlusunnah dalam kitab-kitab Shahih Sunan dan Musnad mereka. Lalu datanglah Anak Taimiah dan dengan tanpa malu mengatakan:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">هَذَا الحديثُ لَمْ يَثْبُتْ، و ليْسَ لَهُ إسْنادٌ تَقُوْمُ بِهِ الحجَّةُ…. و لَمْ يُرْوَ فِيْ السُنَنِ الْمَشْهُورةِ ولا المَسَانِيْدِ المعروفَةِ، لا بِإِسنادٍ صحيحٍ ولا ضَعِيْفٍ، و إنَّما يُرْوَى مِنْ طريقِ ما ُوَ مَعْرُوفٌ بالكذِبِ. ً</h2>
<p>Hadis ini tidak terbukti (pernah disabdakan Nabi saw.), ia tidak memiliki sanad (jalur) yang dapat tegak hujjah dengannya… ia tidak diriwayatkan oleh seorangpun dalam kitab-kitab Sunan yang terkenal, tidak juga dalam kitab-kitab Musnad. Tidak dengan sanad yang sahih maupun dha’if. Ia hanya diriwayatkan dari jalur perawi yang dikenal pembohong!.” <span style="color:#0000ff;"><strong>[8]</strong></span></p></blockquote>
<p>Coba Anda renungkan ocehan Anak Taymiah di atas dan setelahnya terserah Anda untuk menentukan siapa yang sedang berbohong dan mengada-ngada kepalsuan!</p>
<p>Atau bias jadi ketika menulis pasal di atas, ia tidak memiliki referensi yang cukup?! Atau memang demikian pengaruh jahat fanatisme membuta menjadikan penyandangnya buta mata hatinya sehingga mendustakan kebenaran ketika tidak berpihak kepadanya?!</p>
<p>Atau bisa jadi ia yakin bahwa kelak di kemudian hari kesesatannya akan didukung oleh sekelompok Arab Baduwi di sebuah kerajaan di Timur Tengah yang selalu menelan mentah-mentah ocehannya tanpa mengkomfirmasinya kembali sebab ia adalah “Sisa-Sisa Wahyu Langit” yang belum sempat diturunkan kepada para nabi terdahulu as.!</p>
<p>Inikah kualitas <em>“Syeikhul Islam” </em>Anda hai Arab-arab wahabi, dan antek-antek Baduwi shahra’ Saudi?!</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>__________________________</strong></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>[1] </strong></span>Minhaj as Sunnah,3/270.<br />
<span style="color:#0000ff;"><strong>[2] </strong></span>Tafsir Jâmi’ al Bayân; Ath Thabari, 29/55, Tafsir Ibnu Katsir,4/413, Tafsir Fathu al Qadîr; Asy Syaukani, 5/282, Nadzm Durar as Simthain, Az Zarandi al Hanafi: 92, Manâqib; Ibnu Maghazili: 265 hadis 312.<br />
<span style="color:#0000ff;"><strong>[3]</strong></span> Minhaj as Sunnah,4/140.<br />
<span style="color:#0000ff;"><strong>[4]</strong></span> Nadzm Durar As Simthain:113.<br />
<span style="color:#0000ff;"><strong>[5] </strong></span>Ibid.4/84, dan selain pernyataan di atas banyak pernyataan serupa ia sampaikan.<br />
<span style="color:#0000ff;"><strong>[6] </strong></span>Shahih Bukhari, Kitabul Tafsîr, bab Qauluhu “Mâ nansakh min âyatin aw nunsihâ.”,6/23.<br />
<span style="color:#0000ff;"><strong>[7] </strong></span>Fathu al Bâri Bi Syarhi Shahih aol Bukhari,17/18 ketika menerangkan hadis Bukhari 4481.<br />
<span style="color:#0000ff;"><strong>[8] </strong></span>Minhâj as Sunnah,4/138.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jihad Imam Ali ra. Tidak Ada Nilainya!!]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/06/18/jihad-imam-ali-ra-tidak-ada-nilanya/</link>
<pubDate>Mon, 18 Jun 2007 03:22:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/06/18/jihad-imam-ali-ra-tidak-ada-nilanya/</guid>
<description><![CDATA[Jihad Imam Ali as. Tak Bernilai Sedikitpun! Ketika Allamah al Hilli mengajukan bukti keberhakan Imam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Jihad Imam Ali as. Tak Berni</font></span></strong><strong><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">lai Sedikitpun!</font></span></strong></p>
<p style="text-indent:0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ketika Allamah al Hilli mengajukan bukti keberhakan Imam Ali sebagai Khlifah dengan mengatakan bahwa Imam Ali as. adalah paling beraninya umat manusia, dan dengan pedangnyalah Islam dapat tegak berjaya,dan beliau tidak pernah melarikan diri dari medan pertembpuran …, maka Ibnu Taimiyah sekan kerasukan setan, ia bangkit membantahnya.Ibnu Taymiah Melecehkan peran dan jasa Imam Ali dalam jihad. Munkinkah ada seorang yang waras dan berakal sehat serta beriman kepada Allah dan rasul-Nya meragukan itu semua?</font></span></p>
<p style="text-indent:0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Nikmati ocehan Ibnu Taymiah kali ini!!</font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><!--more--> </span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ibnu Taymiah berkata:”<em>Adapun ucapannya bahwa Imam Ali as. adalah paling beraninya umat manusia, ini adalah kebohongan, tetapi manusia paling berani adalah Rasulullah…”</em></font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Demi akal sehat dan harga diri Anda! Apakah sebenarnya Allamah al Hilli sedang mengklaim bahwa Imam Ali as. lebih berani dari Rasulullah saw. sehinga harus dijawab dengan jawaban di atas?!</font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Jawaban Ibnu Taimiyah di atas lebih mirip dengan jawaban kaum ediot ketimbang jawaban seorang alim yang berakal waras. Namun apa hendak dikata? Ia harus melakukannya sebab ia tidak mempu membuktkan bahwa Abu Bakar dan Umar lebih pemberani di banding Imam Ali as.</font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Tetapi ia tidak kehabisan akal untuk mengatakan, bahwa sebagaimana pembunuhan juga dapat dilakukan dengan doa, demikian juga keberanian itu bias jadi dengan keengganan berperang.</font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ibnu Taimiyah berkata, <em>“Jika kebenarnian yang dituntut dari<span>  </span>para pemimpin itu adalah keberanian hati, maka tidak diragukan habwa Abu Bakar lebih berani dari Umar, Umar lebih mereni dari Utsman dan Utsman lebih berani dari Ali, Thalhah dan Zubair… Pada perang Badr Abu Bakar bersama Nabi di tenda … “</em></font></span><a name="_ftnref1" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[1]</font></span></span></span></span></span></a><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Jadi jelasnya, Abu Bakar dll. tidak menyandang keberanian fisik, sebab keberanian yang dituntut dari para pemimpin adalah keberanian hati!! Oleh karena itu Abu Bakar dan Umar lebih pemberani dari Imam Ali as.</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Tidakkah Anda berhak bertanya- tentunya setelah mengalah dalam banyak hal yang ia katakan- mungkinkah keberanian fisik dalam menerobos medan pertempuran itu membutuhkan keberanian hati ?! jika benar mereka menyandang keberanian hati, lalu mengapakah medan pertempuran Badr, Uhud, Khandak, Khaibar dan Hunain tidak pernah menyaksikan kepahlawanan dan keberanian mereka. Mengapakah dalam banyak peperangan mereka melarikan diri?!</font></span><a name="_ftnref2" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[2]</font></span></span></span></span></span></a><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><font face="Times New Roman"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">Tetapi yang aneh adalah bahwa Ibnu Taimiyah tidak pernah mau mengakui peran dan jasa Imam Ali as. dalam berjihad bersama Rasulullah menegakkan </span><em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">Kalimatullah.</span></em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"> Jasa-jasa Imam Ali as. dalam pertempuran Badr, Uhud, Ahzab, Khaibar, Hunain dll. Ia ingkari dengan meminta agar ditangkan berita tentangnya dengan sanad yang </span><em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">mu’tabarah</span></em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">. </span></font></p>
<p align="justify"><font face="Times New Roman"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">Dan yang menggelikan bahwa ia menisbatkan peningkaran itu kepada ahli dan pakar sejarah Islam, </span><em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">ahlul ilmi bil maghazi wa as Siyar</span></em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">. Saya jadi tidak mengerti, siapa sebenarnya yang ia maksud dengan </span><em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">ahlul ilmi bil maghazi wa as Siyar</span></em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">, bukankan seluruh sejarawan Islam menyebut jasa-jasa Ali as. dalam peperangan-peperanga tersebut?! </span></font></p>
<p align="justify"><font face="Times New Roman"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">Atau jangan-jangan yang ai maksud adalah dirinya sendiri, dialah </span><em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">ahlul ilmi bil maghazi wa as Siyar</span></em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"> itu. Adapun para ulama dan pakar sejarah seperti Ibnu Sa’ad, ath Thabari dll. Tetntunta bukan pakar, selama mereka tidak memasok data yang merugikan Ali as. dan mendukung kesesatan Anak Taimiyah yang satu ini!!</span></font><font face="Times New Roman"><br />
<hr SIZE="1" width="33%" align="left" /></font></p>
<p><a name="_ftn1" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[1]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><font size="2"><font face="Times New Roman"> Ibid.8/79.</font></font></span></p>
<p align="justify"><a name="_ftn2" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[2]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><font size="2"><font face="Times New Roman"> Abu Bakar dan Umar telah melarikan diri dari pertempuran Uhud dan Khaibar. Berita lari mereka dalam pertempuran Uhud telah diriwayakan Imam Abu Daud ath Thayalisi, Ibnu Sa’ad, Al Bazzar, ath Thabarani, Ibnu Hibban, Ad Daruquthni Ibnu Asakir, Adh Dhiya’ al Maqdisi dll. Adapan dalam pertempuran Khaibar, berita rahasia tentangnya telah adabadikan Imam Ahmad, Ibn Abi Syaibah, Ibn Majah, Al Bazzar, ath Thabari, al Hakim, Al baihaqi, Adh Dhiya’ al Maqdisi, al Haitsami dll. Sedangkan dalam peperangan Hunani yang tetap bertahan bersama Nabi saw. hanya Ali as. Adapun dalam peperangan Khandak, maka sejarah mencacat bahwa “para penyandang keberanian hati” hanya bersembunyi di balik bebetuan kampun mereka, tidak ada yang menyahuti tantangan Amr ibn Abdi Wudd selain Ali as.</font></font></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibnu Taymiah Meragukan Iman dan Islamnya Imam Ali ra.  ]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/06/18/ibnu-taymiah-mergukan-iman-dan-islamnya-imam-ali-ra/</link>
<pubDate>Mon, 18 Jun 2007 02:13:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/06/18/ibnu-taymiah-mergukan-iman-dan-islamnya-imam-ali-ra/</guid>
<description><![CDATA[Imam Ali as. dalam Penilaian Ibnu Taimiyah Imam Ali as. Adalah pribadi agung yang tidak perlu diperk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><strong><span style="font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Imam Ali as. </font></span></strong><strong><span style="font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">dalam </font></span></strong><font face="Times New Roman"><strong><span style="font-family:'Poor Richard';">Penilaian Ibnu Taimiyah</span></strong><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"> </span></font></p>
<p align="justify"><font face="Times New Roman"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></font><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Imam Ali as. Adalah pribadi agung yang tidak perlu diperkenalkan di sini. Beliau adalah menantu Nabi saw… Sahabat yang besar jasanya dalam perjuangan Islam… Guru besar kemanusian dan keadilan setelah Rasulullah saw. Guru besar kezuhudan dan kerandahan hati… Contoh ketaatan dan pekasrahan kepada ketentuan Allah SWT. Sahabat yang datang ratusan bahkan ribuan hadis sahih sabda Nabi tentang keutamaannya.</font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Bagaiaman sejatinya Imam Ali dalam penilaian Ibnu Taimiyah?</font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ikuti ulasan di bawah ini… <span> </span></font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"><span><!--more--></span></font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"><span></span></font></span><span style="line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font:7pt 'Times New Roman';">     </span></span></span><strong><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Tentang Islam Ali as.</font></span></strong></p>
<p align="justify"><strong><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></strong><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Sesungguhnya Imam Ali as. Adalah sahabat pertama yang memeluk Islam berdasarkan bukti-bukti kuat dari sabda Nabi suci saw., pernyataan Ali as. Sendiri, dan pengakuan para sahabat dan tabi’in. hal itu merupakan keistimewaan khusus yang beliau miliki, tiada orang lain yang menyamainya.</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Tentunya kenyataan ini pahit buat Ibnu Taimiyah, ia berusaha membatalkannya dengan segala cara, agar tetap Abu Bakar orang yang pertama memeluk Islam, bukan Ali! Akan sayang, usahanya kacau, ia tidak tau apa yang harus ia utarakan untuk membatalkan keistimewaan ini.</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Perhatikan komentar-komentarnya tentang asalah ini, lalu bandingkan!</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ibnu Taimiyah berkata, “Ucapan Ali bahwa ‘Aku salat enam bulan sebelum orang-orang’ adalah hal yang telah diketahui kebatilannya dengan pasti, sebab antara masa islamnya Ali dan islamnya Zaid, Abu Bakar dan Khadijah hanya selisih satu hari, atau kurang lebih seperti itu. Lalu bagaimana dikatakan Ali salat enam beulan sebelum orang-orang?!”</font></span><a name="_ftnref1" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[1]</font></span></span></span></span></span></a><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Di sini ia mengakui bahwa Ali lebih dahlu memeluk Islam di banding Abu Bakar, dan ia tidak mengutarakan adanya perselisihan dalam masalah ini.</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Dalam kesempatan lain ia meragukan hal itu, ia mengatakan, “Mereka (para ulama) berselisih tentang orang yang pertama menyatakan Islam setelah Khadijah, jika ia adalah Abu Bakar lebih dahulu memeluk SIlam di banding Ali, maka telah tetaplah bahwa ia lebih awal bersahabat dengan Nabi, sebagaimana ia lebih dahulu dalam memeluk Islam. Jika Ali memeluk Islam sebelum Abu Bakar makatidak diragukan bahwa pershabata dengan Nabi Abu Baker lebih sempurna dan lebih berguna dari persahabat Ali dan orang semisalnya.”</font></span><a name="_ftnref2" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[2]</font></span></span></span></span></span></a><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Di sini ia tidak menegaskan siapa yang lebih dahulu antara keduanya, walaupun ia menegaskan klaim bahwa Khadijah lebih dahulu. Kemudian ia lebih mengunggulkan islamnya Abu Bakar atas islamnya Ali as.</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Dalam tempat lain lagi ia menegaskan bahwa Abu Bakar lebih dahulu memeluk Islam dan ia menisbatkannya kepada kebanyakan orang/ulama. Ia berkata, “Ucapan orang bahwa Ali orang pertama yang salat bersama Nabi adalah tertolak, akan tetapi kebanyakan orang menyalahi pendapat itu, dan Abu Bakar-lah yang pertama salat.”</font></span><a name="_ftnref3" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn3" title="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[3]</font></span></span></span></span></span></a><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Coba perhatikan kekacauan ini!</font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font:7pt 'Times New Roman';">         </span></span></span><strong><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ibnu Taimiyah Meragukan Keabsahan Islam Imam Ali as.</font></span></strong></p>
<p align="justify"><strong><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></strong><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Dan yang membuktikan kebencian dan permusuhannya kepada Imam Ali as. Adalah keraguan yang ia sebarkan seputar keabsahan islam Ali as.</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ibnu Taimiyah berkata, “Ucapannya (Allamah al Hilli ra.-pen)bahwa keistimewaan ini (bahwa Ali awal yang memeluk Islam-pen) tidak dimiliki oleh sahabat selain Ali tertolak. Sebab manusia masih berselisih tentang siapa yang pertama memeluk Islam, ada yang mengatakan, ‘Abu Bakar adalah yang pertama memeluk Islam dan ia lebih dahulu dari Ali’ ada pula yang mengatakan Ali adalah memeluk Islam lebih dahulu dari Abu Bakar. Tetapi Ali adalah masih bocah, dan islamnya seorang bocah masih diperselisihkan di antara para ulama. Sementara itu tidak ada perselisihan bahwa<span>  </span>islamnya Abu Bakar lebih sempurna dan lebih bermanfaat. Jadi beliau secara aklamasi lebih sempurna dalam kewaalanya, dan lebih awal secara mutlak berdasarkan pendapat lain. Lalu bagaimana dikatakan bahwa Ali lebih dahulu darinya tanpa hujjah yang menunjukkan hal itu?.” </font></span><a name="_ftnref4" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn4" title="_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[4]</font></span></span></span></span></span></a><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">T</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">idak cukup di sini, Ibnu Taimiyah terus berusaha membuktikan kekafiran Imam Ali as. sebelum beliau menyatakan keislamannya, dan berusaha meragukan keislamannya sebab beliau belum baligh.</font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Perhatikan apa kata Ibnu Taimiyah!</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Sebelum Allah mengutus Muhammad tidak seorangpun dari suku Quraisy yang beriman, tidak orang dewasa, tidak anak kecik, tidak pula wanita, tidak ketiga-tiganya tidak pula Ali!</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Jika ada yang berkata tentang orang-orang dewasa bahwa mereka menyembah berhala-berhala… Maka anak-anak juga menyembah berhala; Ali dan yang lainnya!</font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Jika ada yang berkata bahwa kekafiran anak kecil tidak seperti kafirnya orang yang sudah baligh… maka dikatakan (sebagai jawabnya) demikian juga keimanan anak kecil tidak seperti iamnnya orang dewasa.</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Mereka tetap baginya hokum keimanan dan kakafiran dalam keadaan baligh, begitu pula Ali tetap bagnya status kekafiran dan keimanan sementara ia belum baligh.</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Seorang bocah yang lahir dari kedua orang tua kafir diberlakukan atasnya kuhum kekafiran di dunia seperti disepakati kaum Muslim. Jika ia memeluk Islam sebelum baligh apakah dihukumi dengan hokum Islam sebelum bvaligh itu? Ada dua pendapat di antara ulama. Berbeda denga orang yang sudah baligh, ia diberlakukan hokum atasnya dengan sepakat di antara kaum Muslim.</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Jadi Islamnya tiga orang itu (Khadijah, Abu Bakar dan Zaid) telah mengeluarkannya dari kekafiran berdasarkan kesepakatan kaum Muslim. Adapaun Islamnya Ali, apakah dapat mengeluarkannya dari kekafiran? Masih ada dua pendapat. Bersadarkan mazhab Syafi’i islamnya bocah tidak mengeluarkannya dari kekafiran.!”</font></span><a name="_ftnref5" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn5" title="_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[5]</font></span></span></span></span></span></a><span style="line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span> </span></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font:7pt 'Times New Roman';">         </span></span></span><strong><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Keimanan dan Keadilan Ali as. Tidak Dapat Dibuktikan!</font></span></strong></p>
<p align="justify"><strong><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></strong><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ibnu<span>  </span>Taimiyah mengatakan: </font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">“Orang Rafidhi tidak mungkin dapat membuktikan keumanan dan keadilan Ali, dan ia adalah ahli surga, apalagi membutkikan imamahnya jika ia tidak menetapkan hal itu semua untuk Abu Bakar, Umar dan Utsman. Jika tidak, kapanpun ia hendak menetapkan semua itu untuk Ali seorang pastilah dalil-dalil tidak membantunya. Sebagaimana seorang Kristen tidak mampu membuktikan kenabian Isa al Masih tanpa (mengakui kenabian) Muhammad, pastilah dalil-dalil tidak membantunya.”</font></span><a name="_ftnref6" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn6" title="_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[6]</font></span></span></span></span></span></a><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"><span>  </span></font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">“Kaum Rafidhah tidak mampu membuktikan keimanan dan keadilan Ali. Jika mereka berhujjah dengan kemutawatiran berita tentang islam dan hijrahnya, maka sesungguhnya telah mutwatir pula islamnya Mu’awiyah, Yazid dan para penguasa bani Umayyah dan bani Abbas, demikian pula telah mutawatir salat, puasa dan jihad mereka melawan kaum kafir!.”</font></span><a name="_ftnref7" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn7" title="_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[7]</font></span></span></span></span></span></a><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Di sini Anda mungkin terheran membaca komentar di atas. Ali tidak dapat dibuktikan keislaman, keadilan, hijrah dan jihadnya. Apakah keimanan dan keadilan Ali perlu dibuktikan? Bagaimana keimanan Ali dibanding-bandingkan dengan keimanan Mu’awiyah, apalagi dengan Yazid dan para penguasa bani Umayyah dan bani Abbas?</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Adapun Mu’awiyah adalah orang yang memberontak dan memerangi Khalifah yang sah. Ia memerangi Imam Ali as. Yang telah disabdakan:</font></span></p>
<p align="right"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">حَرْبُ علِيٍّ حَربِيْ ، سِلْمُهُ سِلْمِيْ ، و طاعَتُهُ طاعتِيْ ، وَ مَنْ فَارَقَ علِيًّا فقد</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">فارقَنِيْ</span></strong></p>
<p align="justify"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';"></span></strong><span dir="ltr"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span dir="ltr"></span><font face="Times New Roman">“Perang melawan Ali adalah perang melawanku, damai dengan Ali adalah damai denganku, mentaati Ali adalah mentaatiku, dan sesiapa yang memisahkan diri dari Ali berarti ia memisahkan diri dariku.”</font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><font face="Times New Roman"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">Yang pasti, dan tiada keraguan tentangnya adalah bahwa Mu’awiyah adalah sangat membenci Imam Ali as. Dan Rasulullah saw. telah bersabda dalam hadis sahih sebagaimana diriwayatkan dan disahihkan puluhan ulama Ahlusunah, diantaranya Muslim, Ahmad dalam </span><em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">Musnad-</span></em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">nya, at Turmudzi dalam </span><em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">Sunan-</span></em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">nya dan an Nasa’i dalam </span><em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">Khashaish-</span></em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">nya, serta Abu Nu’aim dalam </span><em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">Hilyah-</span></em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';">nya.</span></font></p>
<p align="right"><font face="Times New Roman"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></font><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">لاَ يُحِبُّكَ إلاَّ مُؤْمِنٌ ولاَ </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">يُبْغِضُكَ إلا مُنافِقُ</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:'Simplified Arabic';">.</span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';" dir="ltr"></span><em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">“Tiada mencintaimu kecuali mukmin dan tiada membencimu kecuali munafik.”</font></span></em></p>
<p align="justify"><em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></em><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Jika demikian keadaan Mu’awiyah, apa bayangan Anda tentang Yazid dan lainnya?!</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Maka tidaklah salah apabila sebagian ulama menuduh Ibnu taimiyah sebagai seorang munafik tulen!!</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Lagi pula hadis-hadis riwayat kaum Syi’ah dalam masalah itu semua telah metawatir, ialah yang tegak sebagai bukti dan memaksa mereka tunduk pasrah menerimanya, tanpa butuh sedikitpun kepada riwayat-riwayat musuh-musuh Ahlulbait as.</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Memang dalam berargumentasi atas lawan-lawan diskusi, kaum Syi’ah selalu berhujjah dengan riwayat-riwayat Ahlusunnah, sebab hujjah akan tegak dengan riwayat-riwayat yang mereka akui kesahihannya atau disahihkan para tokoh rujukan mereka.</font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Dan demikanlah etika sehat berdialoq, tidak seperti sebagian kaum Sunni yang selalu mengajukan hadis-hadis riwayat mereka sendiri dalam berargumentasi atas kaum Syi’ah.</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Selain itu, saya tidak menegrti apa korelasi antara keimanan dan keadilan Imam Ali as. dengan keimanan dan keadilan tiga penadulunya yang ia sebutkan.</font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Apakah Ali dan mereka dianggap satu jiwa, yang tak terbayangkan adanya pembagian di dalamnya? Atau menganggapnya ada satu ruh yang mengalir dapa jiwa-jiwa mereka? Lalu berpengaruh terhadapnya baik dalam keimanan maupun kakafiran, sehingga menetapkan keimanan dapa sebagian keniscayakan tetapnya iman pada yang lainnya?</font></span></p>
<p align="justify"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Tapi, memang demikianlah Ibnu Taimiyah… Ia menikmati menyamakan keimanan Ali dan dengan Mu’awiyah dan Yazid.</font></span></p>
<p><font face="Times New Roman"><br />
<hr SIZE="1" width="33%" align="left" /></font></p>
<p><a name="_ftn1" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[1]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><font size="2"><font face="Times New Roman"> Minhaj as Sunnah,5/19.</font></font></span><a name="_ftn2" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[2]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><font size="2"><font face="Times New Roman"> Ibid.8/389.</font></font></span></p>
<p><a name="_ftn3" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref3" title="_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[3]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><font size="2"><font face="Times New Roman"> Ibid.7/273.</font></font></span></p>
<p><a name="_ftn4" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref4" title="_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[4]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><font size="2"><font face="Times New Roman"> Ibid.7/155.</font></font></span></p>
<p><a name="_ftn5" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref5" title="_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[5]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><font size="2"><font face="Times New Roman">Ibid.8/285. </font></font></span></p>
<p><a name="_ftn6" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref6" title="_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[6]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><font size="2"><font face="Times New Roman"> Ibid.1/162.</font></font></span></p>
<p><a name="_ftn7" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref7" title="_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[7]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><font size="2"><font face="Times New Roman"> Ibid.1/163..</font></font></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yang Memusuhi Imam Ali ra. Itu Orang Kafir dan Munafik adalah Isu Bohong!!!]]></title>
<link>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/06/18/yang-memusuhi-imam-ali-ra-itu-orang-kafir-dan-munafik-adalah-isu-bohong/</link>
<pubDate>Mon, 18 Jun 2007 02:56:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>Zainal Abidin</dc:creator>
<guid>http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/06/18/yang-memusuhi-imam-ali-ra-itu-orang-kafir-dan-munafik-adalah-isu-bohong/</guid>
<description><![CDATA[Ali as. Tidak Dimusuhi Kaum kafir dan Munafik!! Tentang peran Ali dalam membela Nabi saw. yang seuda]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="left" style="text-indent:-1in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 1.25in;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"><strong>Ali as. Tidak Dimusuhi Kaum kafir dan Munafik!!</strong></font></span></font></span></p>
<p><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman"></font></span>Tentang peran Ali dalam membela Nabi saw. yang seudah disepakati para ulama dan berita</font></span></p>
<p align="left" style="text-indent:-1in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 1.25in;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">tentangya lebih terang dari matahari di siang bolong….</font></span></p>
<p style="text-indent:0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Tapi apa kata anak Taymiah tentangnya? </font></span></p>
<p style="text-indent:0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">baca komentarnya di bawah ini!</font></span></p>
<p style="text-indent:0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><!--more--> </span></p>
<p><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Ibnu Taimiyah berkata tentangnya, “Tidak diketahui bahwa ia (Ali) dimusuhi kaum kafir dan munafik.”</font></span><a name="_ftnref1" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[1]</font></span></span></span></span></span></a><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Dalam kesempatana lain ia menegaskan, “Ali tidak pernah menyakitkan seorangpun dari mereka, tidak di masa jahiliyah tidak pula setelah datangnya Islam, dan Ali tidak pula pernah membunuh seorang dari kerabat mereka. Yang dibunuh Ali bukan dari kalangan suku-suku besar. Dan tidak seorang dari sahabat pun melainkan pernah membunuh juga.</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Dan Umar ra. Lebih keras sikapnya atas kaum kafir dan lebih bermusuhan di banding Ali. Ucapan Umar dan ermusuhannya tehadap mereka sudah dikenal.”</font></span><a name="_ftnref2" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[2]</font></span></span></span></span></span></a><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Penulis berkata, “Jadi Ali as. <em>tidak pernah menyakitkan kepada seorangpun dari mereka</em>, dan <em>yang dibunuh Ali bukan dari kalangan suku-suku besar’!.</em>Syukurlah Ibnu Taimiyah tidak mengatakan bahwa yang dibunuh Ali dalam membela Islam hanya para dubak yang tidak berharga!!</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Adapun Umar ra. <em>lebih keras sikapnya atas kaum kafir dan lebih bermusuhan, </em>dengan apa? Kapan? Ibnu Taimiyah tidak menjelaskan bahwa Umar ernah membunuh dan atau memerangi dengan gigih kaum kafir, sebab sepertinya ia menyadari kenyataan sebenarnya!!</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Tetapi di kesempatan lain ia dengan tanpa malu menegaskan, “Adapun ucapannya (al Hilli) bahwa Ali membunh kaum kafir dengan pedangnya, maka tidak diragukan lagi bahwa Ali hanya membunuh sebagian kaum kafir saja. Demikian pula dengan para sahabat yang terkenal dengan perannya, seperti Umar, Zubair, Hamzah, Al Miqdad, Abu Thalhah, al Bara’ ibn Malik dll. Ra. Tiada seorang dari mereka kecuali telah membunuh sekelompok dari kaum kafir dengan pedangnya.”</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Apa benar Umar pernah membunuh dengan pedangya sekelompok dari kaum kafir?</font></span><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Di sini, Ibnu Taimiyah harus pandai-pandai meramu jawaban, ia mengatakan, “Peparangan itu bias dengan doa sebagaimana juga dengan tangan.”</font></span><a name="_ftnref3" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn3" title="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[3]</font></span></span></span></span></span></a><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"></span></p>
<p style="text-indent:0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="line-height:150%;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">Jadi, rupanya Umar membunuh sekelompok kaum kafir dengan doa!! Luar biasa ampuhnya doa Khalifah kita!!</font></span><br />
<font face="Times New Roman"><br />
<hr SIZE="1" width="33%" align="left" /></font></p>
<p><a name="_ftn1" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[1]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><font size="2"><font face="Times New Roman"> Ibid.7/417.</font></font></span></p>
<p><a name="_ftn2" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[2]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><font size="2"><font face="Times New Roman"> Ibid.4/361.</font></font></span></p>
<p><a name="_ftn3" href="http://ibnutaymiah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref3" title="_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Poor Richard';"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Poor Richard';"><font face="Times New Roman">[3]</font></span></span></span></span></span></a><span style="font-family:'Poor Richard';"><font size="2"><font face="Times New Roman"> Ibid.4/480-484.</font></font></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
