<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>imam-nawawi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/imam-nawawi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "imam-nawawi"</description>
	<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 12:49:14 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Le jardin des vertueux (Riyâd As-Sâlihîn) رياض الصالحين للإمام النووي بالفرنسية]]></title>
<link>http://smahmed.wordpress.com/2009/12/19/le-jardin-des-vertueux-riyad-as-salihin-%d8%b1%d9%8a%d8%a7%d8%b6-%d8%a7%d9%84%d8%b5%d8%a7%d9%84%d8%ad%d9%8a%d9%86-%d9%84%d9%84%d8%a5%d9%85%d8%a7%d9%85-%d8%a7%d9%84%d9%86%d9%88%d9%88%d9%8a-%d8%a8/</link>
<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 19:08:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>smahmed</dc:creator>
<guid>http://smahmed.wordpress.com/2009/12/19/le-jardin-des-vertueux-riyad-as-salihin-%d8%b1%d9%8a%d8%a7%d8%b6-%d8%a7%d9%84%d8%b5%d8%a7%d9%84%d8%ad%d9%8a%d9%86-%d9%84%d9%84%d8%a5%d9%85%d8%a7%d9%85-%d8%a7%d9%84%d9%86%d9%88%d9%88%d9%8a-%d8%a8/</guid>
<description><![CDATA[Le jardin des vertueux (Riyâd As-Sâlihîn) Présentation complète de la donnée Titre: Le jardin des ve]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Le jardin des vertueux (Riyâd As-Sâlihîn) Présentation complète de la donnée Titre: Le jardin des ve]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KASIH SAYANG DAN RAHMAT ALLAH]]></title>
<link>http://aburedza.wordpress.com/2009/11/26/kasih-sayang-dan-rahmat-allah/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 14:06:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>aburedza</dc:creator>
<guid>http://aburedza.wordpress.com/2009/11/26/kasih-sayang-dan-rahmat-allah/</guid>
<description><![CDATA[KASIH SAYANG DAN RAHMAT ALLAH Dari Umar bin Alkhaththab رضي الله عنه, katanya: &#8220;Kepada Rasulul]]></description>
<content:encoded><![CDATA[KASIH SAYANG DAN RAHMAT ALLAH Dari Umar bin Alkhaththab رضي الله عنه, katanya: &#8220;Kepada Rasulul]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Imam Nawawi]]></title>
<link>http://alymerenung.wordpress.com/2009/11/21/imam-nawawi/</link>
<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 14:55:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Nur Ali Muchtar</dc:creator>
<guid>http://alymerenung.wordpress.com/2009/11/21/imam-nawawi/</guid>
<description><![CDATA[ini ada perkataan bijak dari Imam Nawawi: saat aku lelah menulis dan membaca di atas buku-buku kulet]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>ini ada perkataan bijak dari Imam Nawawi:</p>
<p><em>saat aku lelah menulis dan membaca<br />
di atas buku-buku kuletakkan kepala<br />
dan saat pipiku menyentuh sampulnya<br />
hatiku tersengat<br />
kewajibanku masih berjebah,<br />
bagaimana mungkin aku bisa istirahat?</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Ibnu Hajar Al-Asqolani dan Yahudi Tukang Minyak]]></title>
<link>http://fatwasyafii.wordpress.com/2009/11/03/kisah-ibnu-hajar-al-asqolani-dan-yahudi-tukang-minyak/</link>
<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 02:49:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid>http://fatwasyafii.wordpress.com/2009/11/03/kisah-ibnu-hajar-al-asqolani-dan-yahudi-tukang-minyak/</guid>
<description><![CDATA[Sebagian ahli tarikh (sejarah) menceritakan: Ibnu Hajar rahimahullah dulu adalah seorang hakim besar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">
Sebagian ahli tarikh (sejarah) menceritakan:
</div>
<div style="text-align:justify;">
Ibnu Hajar rahimahullah dulu adalah seorang hakim besar Mesir di masanya. Beliau jika pergi ke tempat kerjanya berangkat dengan naik kereta yang ditarik oleh kuda-kuda atau keledai-keledai dalam sebuah arak-arakan.
</div>
<div style="text-align:justify;">
Pada suatu hari beliau dengan keretanya melewati seorang yahudi Mesir. Si yahudi itu adalah seorang penjual minyak. Sebagaimana kebiasaan tukang minyak, si yahudi itu pakaiannya kotor. Melihat arak-arakan itu, si yahudi itu menghadang dan menghentikannya.
</div>
<p><!--more--></p>
<div style="text-align:justify;">
</div>
<div style="text-align:justify;">
Si yahudi itu berkata kepada Ibnu Hajar: “Sesungguhnya Nabi kalian berkata:
</div>
<div style="text-align:justify;">
(( الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ))
</div>
<div style="text-align:justify;">
Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir. (HR. Muslim)
</div>
<div style="text-align:justify;">
Namun kenapa engkau sebagai seorang beriman menjadi seorang hakim besar di Mesir, dalam arak-arakan yang mewah, dan dalam kenikmatan seperti ini. Sedang aku -yang kafir- dalam penderitaan dan kesengsaran seperti ini.”
</div>
<div style="text-align:justify;">
</div>
<div style="text-align:justify;">
Maka Ibnu Hajar menjawab: “Aku dengan keadaanku yang penuh dengan kemewahan dan kenimatan dunia ini bila dibandingkan dengan kenikmatan surga adalah seperti sebuah penjara. Sedang penderitaan yang kau alami di dunia ini dibandingkan dengan yang adzab neraka itu seperti sebuah surga.”
</div>
<div style="text-align:justify;">
</div>
<div style="text-align:justify;">
Maka si yahudi itupun kemudian langsung mengucapkan syahadat: “Asyhadu anla ilaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammad rasulullah,” tanpa berpikir panjang langsung masuk Islam.
</div>
<div style="text-align:justify;">
</div>
<div style="text-align:justify;">
Subhanallah, sangat menakjubkan hadits Rosulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam kisah ini&#8230;
</div>
<div style="text-align:justify;">
</div>
<div style="text-align:justify;">
<b>Bahan Renungan:</b>
</div>
<div style="text-align:justify;">
Imam An-Nawawi menjelaskan hadits ini: “Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir.”
</div>
<div style="text-align:justify;">
مَعْنَاهُ أَنَّ كُلّ مُؤْمِن مَسْجُون مَمْنُوع فِي الدُّنْيَا مِنْ الشَّهَوَات الْمُحَرَّمَة وَالْمَكْرُوهَة ، مُكَلَّف بِفِعْلِ الطَّاعَات الشَّاقَّة ، فَإِذَا مَاتَ اِسْتَرَاحَ مِنْ هَذَا ، وَانْقَلَبَ إِلَى مَا أَعَدَّ اللَّه تَعَالَى لَهُ مِنْ النَّعِيم الدَّائِم ، وَالرَّاحَة الْخَالِصَة مِنْ النُّقْصَان . وَأَمَّا الْكَافِر فَإِنَّمَا لَهُ مِنْ ذَلِكَ مَا حَصَّلَ فِي الدُّنْيَا مَعَ قِلَّته وَتَكْدِيره بِالْمُنَغِّصَاتِ ، فَإِذَا مَاتَ صَارَ إِلَى الْعَذَاب الدَّائِم ، وَشَقَاء الْأَبَد .
</div>
<div style="text-align:justify;">
“Maknanya bahwa setiap mukmin itu dipenjara dan dilarang di dunia ini dari kesenangan-kesenangan dan syahwat-syahwat yang diharamkan dan dibenci. Dia dibebani untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang terasa berat. Jika dia meninggal dia akan beristirahat dari hal ini. Dan dia akan berbalik kepada apa yang dijanjikan Allah berupa kenikmatan abadi dan kelapangan yang bersih dari cacat.
</div>
<div style="text-align:justify;">
Sedangkan orang kafir, dia hanya akan mendapatkan dari kesenangan dunia yang dia peroleh, yang jumlahnya sedikit dan bercampur dengan keusahan dan penderitaan. Dan bila dia telah mati, dia akan pergi menuju siksaan yang abadi dan penderitaan yang selama-lamanya.”
</div>
<div style="text-align:justify;">
(Syarah Shohih Muslim No. 5256)
</div>
<div style="text-align:justify;">
</div>
<div style="text-align:justify;">
Maka sepantasnya seorang mukmin bersabar atas hukum Allah dan ridha dengan yang ditetapkan dan ditaqdirkan oleh Allah. Semoga kita diberi taufik, kemudahan, dan al-afiat untuk menjalani kehidupan dunia ini.
</div>
<div style="text-align:justify;">
<span style="font-size:x-small;">(Sumber: Syarh Shohih Muslim dan lainnya)</span>
</div>
<div style="text-align:justify;">
</div>
<div style="text-align:justify;">
***
</div>
<div style="text-align:justify;">
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Namanya Bairuha']]></title>
<link>http://mencarimakna.wordpress.com/2009/10/30/namanya-bairuha/</link>
<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 09:13:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yudhy Herlambang</dc:creator>
<guid>http://mencarimakna.wordpress.com/2009/10/30/namanya-bairuha/</guid>
<description><![CDATA[Ya, namanya Bairuha&#8217;. Begitu indah dan memikat hati. Sejuk, rimbun, luas, menghadap ke masjid ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Ya, namanya Bairuha&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu indah dan memikat hati. Sejuk, rimbun, luas, menghadap ke masjid Nabawi di Madinah. Dan yang menjadikannya lebih istimewa lagi adalah karena Rasulullah saw yang mulia pernah memasukinya kemudian meminum airnya yang sejuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Bairuha&#8217; adalah nama sebuah kebun kurma yang sangat dicintai Abu Thalhah, pemiliknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi tiba-tiba kebun yang begitu prestisius, berlokasi strategis dan bernilai sejarah tinggi itu menjadi tak bernilai sama sekali di mata Abu Thalhah ketika turun ayat berikut:<!--more--></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">&#8221; Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebaikan, sebelum kalian menafkahkan dari sesuatu yang kalian cintai &#8220;</p>
<p style="text-align:right;">(Q.S. Ali Imran: 92)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Demi mendengar ayat di atas, Abu Thalhah segera bergegas menuju Rasulullah kemudian dengan serta merta menyerahkan Bairuha&#8217; beserta segala isinya kepada Rasulullah untuk dipergunakan sebagaimana apa yang diperintahkan Allah kepadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah yang bijak memuji tindakan Abu Thalhah ini tetapi menyarankan agar Bairuha&#8217; dibagi saja kepada kerabat Abu Thalhah yang lebih membutuhkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka dibagikanlah kebun itu kepada kerabat dan sepupu-sepupu Abu Thalhah yang berjumlah sekitar 70 orang. Masing-masing mendapatkan 200 pohon kurma!</p>
<p style="text-align:justify;">Kisah ini diriwayatkan oleh sahabat Anas ra dan dicantumkan oleh Imam Nawawi dalam Bab ke-37 Riyadhus Shalihin yang ditulisnya.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Mari belajar dari kisah di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin kita telah sering berinfaq selama ini. Tapi sudahkah ia infaq yang berkualitas? Atau sekedar infaq &#8220;seikhlasnya&#8221; yang tidak begitu ikhlas?!</p>
<p style="text-align:justify;">Mari ingat kembali apa yang biasa kita masukkan di kotak-kotak infaq masjid kala jum&#8217;atan tiba itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Adakah ia lembaran uang terbesar dalam dompet kita, atau sebaliknya? Yang paling baru cetakannya, atau yang paling kucel dan hampir robekkah ia?</p>
<p style="text-align:justify;">Atau mungkin kita terlalu sayang dengan yang lembaran-lembaran itu hingga rela bersusah payah merogoh kantong celana yang paling dalam untuk menemukan kepingan uang logam terkecil bekas kerokan untuk diinfaqkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak bosan-bosan kita ulang semboyan ini dalam kepala kita,  &#8221; tak apa kecil, yang penting kan ikhlas&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ikhlas itu harus. Semboyannya juga tidak salah. Yang salah adalah jika mengidentikkan ikhlas dengan yang kecil. Menyamakan ikhlas dengan iseng. Menganggap ikhlas itu tidak harus dengan perjuangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ikhlas adalah perjuangan untuk menjadi murni. Dalam bertindak, dalam berbuat, dalam berkata, dalam beramal, dalam berinfaq.</p>
<p style="text-align:justify;">Ikhlas itu sangat dekat dengan pengorbanan. Dan bukan pengorbanan namanya jika tidak perih dirasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lihat perbandingan berikut,</p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu sholat jum&#8217;at seorang pengusaha dengan aset milyaran dan penghasilan bulanan ratusan juta memasukkan lembaran seribuan ke dalam kotak infaq. Ikhlas lillaahi ta&#8217;ala.</p>
<p style="text-align:justify;">Di belakangnya,  seorang pedagang es cingcau dengan omzet duapuluh ribu perhari, dengan 3 anak dan satu istri, memasukkan selembar uang seribuan ke dalam kotak infaq. Ikhlas lillaahi ta&#8217;ala.</p>
<p style="text-align:justify;">Sama-sama ikhlas.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi apakah antum yakin nilai amal mereka juga sama di hadapan Allah yang Maha Kaya?! Tentu tidak sama!</p>
<p style="text-align:justify;">Jika sama saja, tentu Umar tidak perlu menyesal karena tidak sanggup menyaingi Abu Bakar yang berinfaq dengan seluruh hartanya, sedangkan ia hanya mampu berinfaq dengan separuh harta.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika sahabat rasulullah yang tidak diragukan keikhlasannya seperti Abu Thalhah, Umar, Abu Bakar berlomba kuantitas dalam berinfaq, tidakkah kita yang belum jelas kualitas ikhlasnya ini lebih berhajat untuk berinfaq sebanyak-banyaknya demi meraih ridha-Nya?</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita tengok ayat berikut ini,</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">&#8221; Bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai kemampuanmu.&#8221;</p>
<p style="text-align:right;">(Q.S. At Taghabun: 16)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mastatho&#8217;tum dalam ayat di atas, atau yang dalam bahasa indonesianya artinya &#8217;semampunya&#8217; sering dimaknai salah menjadi &#8217;semaunya&#8217; atau &#8217;seenaknya&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan dalih ayat di atas, seorang aktivis dakwah yang sedang malas berangkat ngaji, memaklumi dirinya sendiri dan memutuskan tiduran di rumah daripada ngaji. Menurutnya, kan taqwa itu sesuai kemampuan&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan dalih ayat di atas pula seorang kaya hanya berinfaq sekedarnya karena &#8221; takut  tidak ikhlas &#8221; kalau berinfaq lebih. Dalam hatinya, &#8221; Toh taqwa  itu sesuai kemampuan&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu itu salah. Sesungguhnya bertaqwa sesuai kemampuan berarti kita dituntut beramal sekuat tenaga kita, sebanyak potensi yang dikaruniakan Allah kepada kita. Bukan semau kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka yang berkemampuan A namun hanya mau melakukan B menanggung dosa selisih kualitas A dan B (dengan catatan A lebih baik dari B). Demikian menurut Ustadz Anis Matta dalam buku Model Manusia Muslim.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka marilah berlatih sejak saat ini untuk memberikan amal terbaik yang kita bisa dan berinfaq dengan yang terbaik dari yang kita cintai.</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan lupa, untuk memulai langkah besar perubahan itu dari lingkup terkecil kehidupan kita. Keluarga dan kerabat.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Software Ensiklopedi Hadits Plus - versi 1.0. Arabic &amp; Indonesia]]></title>
<link>http://ensiklopedihadits.wordpress.com/2009/10/27/software-ensiklopedi-hadits-plus-indonesiaan-version-versi-1-0/</link>
<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 17:34:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>ensiklopedihadits</dc:creator>
<guid>http://ensiklopedihadits.wordpress.com/2009/10/27/software-ensiklopedi-hadits-plus-indonesiaan-version-versi-1-0/</guid>
<description><![CDATA[Software Ensiklopedi Hadits Plus Versi 1.0 Arabic &amp; Indonesia klik gambar untuk tampilan penuh C]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Software Ensiklopedi Hadits Plus Versi 1.0 Arabic &amp; Indonesia klik gambar untuk tampilan penuh C]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membaca Al Quran Semasa Ziarah Kubur]]></title>
<link>http://aburedza.wordpress.com/2009/10/22/membaca-al-quran-semasa-ziarah-kubur/</link>
<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 15:16:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>aburedza</dc:creator>
<guid>http://aburedza.wordpress.com/2009/10/22/membaca-al-quran-semasa-ziarah-kubur/</guid>
<description><![CDATA[Jumaat sebelum menjelang Hari Raya Puasa baru-baru ini , khatib menyebut dalam kutbahnya ziarah kubu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Jumaat sebelum menjelang Hari Raya Puasa baru-baru ini , khatib menyebut dalam kutbahnya ziarah kubu]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bersalaman Dengan Non Mahrom]]></title>
<link>http://ulilabshor.wordpress.com/2009/10/20/bersalaman-dengan-non-mahrom/</link>
<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 21:59:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>ulil abshor annabiry</dc:creator>
<guid>http://ulilabshor.wordpress.com/2009/10/20/bersalaman-dengan-non-mahrom/</guid>
<description><![CDATA[Banyak hal menarik yang saya alami saat mudik bulan puasa tahun ini di Nabire, tanah kelahiran saya.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Banyak hal menarik yang saya alami saat mudik bulan puasa tahun ini di Nabire, tanah kelahiran saya.]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Terjemah Hadits Arbain]]></title>
<link>http://ruangdonlot.wordpress.com/2009/10/04/terjemah-hadits-arbain/</link>
<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 04:43:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>ruangdonlot</dc:creator>
<guid>http://ruangdonlot.wordpress.com/2009/10/04/terjemah-hadits-arbain/</guid>
<description><![CDATA[Hadits Arbain berisi 42 hadits pilihan, disusun oleh Imam Nawawi. Berisi banyak hal-hal mendasar yan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Hadits Arbain berisi 42 hadits pilihan, disusun oleh Imam Nawawi. Berisi banyak hal-hal mendasar yan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[an-Nawawi Bermanhaj Salafi]]></title>
<link>http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/09/24/an-nawawi-bermanhaj-salafi/</link>
<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 07:30:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
<guid>http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/09/24/an-nawawi-bermanhaj-salafi/</guid>
<description><![CDATA[Bismillah. Anda mungkin pernah mendengar bahwa Imam Nawawi rahimahullah memiliki beberapa penyimpang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bismillah.</p>
<p>Anda mungkin pernah mendengar bahwa Imam Nawawi rahimahullah memiliki beberapa penyimpangan dalam hal akidah asma&#8217; wa shifat.</p>
<p>Memang semua orang bisa saja terjerumus dalam kesalahan. Tidak terkecuali an-Nawawi. Namun, salah satu keajaiban takdir Allah ta&#8217;ala dan keagungan hikmah-Nya maka Allah akan menuntun hamba-hamba-Nya yang ikhlas mencari kebenaran untuk kembali meniti jalan-Nya yang lurus dan meninggalkan jalan yang menyimpang di akhir hidupnya. Begitulah yang dialami oleh an-Nawawi rahimahullah.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Jangan heran jika ternyata beliau berkeyakinan bahwa Allah itu di atas langit, tidak dimana-mana. Dan jangan kaget juga apabila ternyata beliau pun membantah akidah Asy&#8217;ari -suka menta&#8217;wil sifat- yang dibuktikan oleh para ulama memang sering beliau nukil dan diamkan di dalam karyanya yang sangat populer Syarh Shahih Muslim, salah satu kitab syarah terbaik yang pernah ada.</p>
<p>Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah telah memberikan penjelasan yang cukup bagus di dalam sebuah ceramahnya tatkala mengkaji Syarah Shahih Muslim dan beliau membawakan bukti sebuah kitab karya an-Nawawi di akhir hidupnya yang menunjukkan bahwa pada asalnya beliau mengikuti manhaj salaf dalam hal akidah asma&#8217; wa shifat. Silahkan mendownload ceramah Syaikh yang sudah dicetak dalam bentuk kitab -berbahasa Arab- tersebut di situs beliau di link berikut ini, semoga bermanfaat&#8230;</p>
<p><a href="http://www.mashhoor.net/inside/Books/nawawi.zip" target="_blank">http://www.mashhoor.net </a></p>
<p>Untuk mendengarkan rekaman ceramah Syaikh Masyhur silahkan buka link berikut ini</p>
<p><a href="http://www.mashhoor.net/inside/Lessons/m06-4-20.mp3" target="_blank"></a><a href="http://www.mashhoor.net/inside/Lessons/m06-4-20.mp3" target="_blank">http://www.mashhoor.net/inside/Lessons/m06-4-20.mp3</a> <!-- / message --> <!-- BEGIN TEMPLATE: ad_showthread_firstpost_sig --> <!-- END TEMPLATE: ad_showthread_firstpost_sig --> <!-- controls --></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Terjemah Riyadhus Shalihin jilid 1]]></title>
<link>http://bukuislamonline.wordpress.com/2009/09/15/terjemah-riyadhus-shalihin-jilid-1/</link>
<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 03:17:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>buku islam online</dc:creator>
<guid>http://bukuislamonline.wordpress.com/2009/09/15/terjemah-riyadhus-shalihin-jilid-1/</guid>
<description><![CDATA[Harga: Rp 130.000,- Pengarang: Imam Nawawi Penerbit: HIKMAH AHLUS SUNNAH Berat: 1,3 kg Deskripsi: Da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><img class="alignleft" src="http://www.sarana-hidayah.com/images/products/1664_1.jpg" alt="" width="140" height="207" />Harga:</strong> Rp 130.000,-<br />
<strong>Pengarang:</strong> Imam Nawawi<br />
<strong>Penerbit:</strong> HIKMAH AHLUS SUNNAH<br />
Berat: 1,3 kg</p>
<p><strong>Deskripsi:</strong><br />
Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam&#8221;. (QS. Al-Anbiyaa: 107) &#8221;Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.&#8221; (QS. Al-Qalam : 4) &#8221; Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa saja yang dilarangnya maka tinggalkanlah.&#8221; (QS. Al-Hasyr: 7) &#8221;Akhlak beliau adalah Al-Quran.&#8221; (HR. Muslim) Allah m dengan rahmat-Nya mengutus Nabi kita, Muhammad shalallahu alaihi wa salam . dengan membawa risalah yang agung. Menuntun umat manusia dari kegelapan jahiliyah menuju terangnya cahaya wahyu. Segala tindak tanduk beliau berjalan di atas bimbingan ilahi, menjadi uswah hasanah (suri teladan) bagi para pengikutnya. Akhlakul karimah atau budi pekerti yang mulia adalah sesuatu yang tiada ternilai. Menghiasi setiap insan yang berperilaku mulia. Semuanya telah diajarakan dan dicontohkan oleh makhlukyang paling mulia. Di tengah kerusakan moral yang melanda umat ini, buku ini bisa menjadi rujukan Anda untuk berakhlak dan berperilaku sebagaimana akhlak dan perilaku Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Bimbingan wejangan, dan perilaku junjungan kita Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam terangkum dalam buku ini untuk kita teladani bersama dalam semua sisi kehidupan. Niscaya, kebahagiaan dunia dan akhirat akan Anda dapatkan, insya Allah.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Download Kitab at-Tibyan dan Majalah Fatawa]]></title>
<link>http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/09/13/download-kitab-at-tibyan-dan-majalah-fatawa/</link>
<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 20:47:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
<guid>http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/09/13/download-kitab-at-tibyan-dan-majalah-fatawa/</guid>
<description><![CDATA[Alhamdulillah. Berikut ini link download terjemah kitab at-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur&#8217;an ka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Alhamdulillah. Berikut ini link download terjemah kitab at-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur&#8217;an karya Imam Nawawi rahimahullah. Semoga bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p><a href="http://www.ziddu.com/download/5625261/keutamaanmembacamengkajiquran.rar.html" target="_blank">http://www.ziddu.com</a></p>
<p>Dan bagi yang menghendaki e-book malajah Fatawa maka di bawah ini kami cantumkan link downloadnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua, amin.</p>
<p><!--more--></p>
<p><a href="http://downloads.ziddu.com/downloadfile/5598094/fatawa-vol02_I.zip.html" target="_blank">Fatawa Tahun I vol. 2</a></p>
<p><a href="http://www.ziddu.com/download/5598229/fatawa-vol03_I.zip.html" target="_blank">Fatawa Tahun I vol. 3</a></p>
<p><a href="http://www.ziddu.com/download/5598379/fatawa-vol04_I.zip.html" target="_blank">Fatawa Tahun I vol. 4</a></p>
<p><a href="http://www.ziddu.com/download/5598380/fatawa-vol05_I.zip.html" target="_blank">Fatawa Tahun I vol. 5</a></p>
<p><a href="http://www.ziddu.com/download/5598479/fatawa-vol06_I.zip.html" target="_blank">Fatawa Tahun I vol. 6</a></p>
<p><a href="http://www.ziddu.com/download/5598478/fatawa-vol07_I.zip.html" target="_blank">Fatawa Tahun I vol. 7</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Reflections, Day 12]]></title>
<link>http://760days.wordpress.com/2009/09/03/reflections-day-12/</link>
<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 15:11:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Living In Morocco</dc:creator>
<guid>http://760days.wordpress.com/2009/09/03/reflections-day-12/</guid>
<description><![CDATA[I&#8217;m surprised and not surprised that I don&#8217;t have much to reflect on today.  More than t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>I&#8217;m surprised and not surprised that I don&#8217;t have much to reflect on today.  More than the day before, I felt like yesterday was another non-Ramadan normal day.  I did work on my Qur&#8217;an notes, I read much more of <em>Realities of Submission</em>, I obviously wrote a lot of blog posts but I still feel the spirit is a bit lost for me in these days.  I can&#8217;t wait for it to return. </p>
<p>Another trip to Al Manal Mall didn&#8217;t do much to lift my spirits because I tried the new denim djellaba, but it felt uncomfortable in the heat.  It&#8217;s a lighter denim so I thought it would be fine, but it is a bit heavy for the still summer weather we have here.  Plus, the tailor made the sleeves wide instead of narrow fitting so it looks a bit ridiculous.  We are going to bring it back to him to have him make it the sleeves smaller and then I&#8217;ll hang it up until November when the weather begins to cool and the heavier fabric will be better.</p>
<p>I feel quite confused about music in Islam.  Yesterday, I read in <em>Realities of Submission</em> that a hadith says that all musical instruments are banned.  Then, on Ramadan Reminders with Sheik Yusef Estes last night, he breifly discussed music, which only left me more confused.  He basically said buying CD&#8217;s for the sake of memorizing the music had no value, and such time should be spent in memorizing the Qur&#8217;an instead.  I think that&#8217;s reasonable.  He said that if you are in an elevator or store where music is being played, that is something you can&#8217;t help and you did not intend to hear.  Also reasonable.  Then he said, music has its place at ceremonies such as weddings, but in that case it should not be played in excess and should be<em> nashid</em>.  I didn&#8217;t exactly know what <em>nashid</em> was, so I had to look that up.  Basically, it&#8217;s Islamically-oriented music (Wikipedia, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Nasheed">http://en.wikipedia.org/wiki/Nasheed</a>).  Reading the rest of that explanation it seems like there is debate about music in Islam.  Some say it&#8217;s not allowed at all, some say as long as it&#8217;s <em>nashid</em> and simple instruments are used or a capella, it&#8217;s okay.  Music is now so prevalent in so many cultures, including Morocco and other Muslim countries, and not all of it is <em>nashid</em>.  The number of video channels on the satellite is almost overwhelming.  Name any television show or movie where music is not present.  Yet, there are great artists like Yusef Islam (Cat Stevens) and Sami Yusef whereby we can enjoy great <em>nashid</em> music, but I still question if it&#8217;s &#8220;allowed&#8221;. </p>
<p>I guess it&#8217;s topics like this that remind me that even though I&#8217;ve been Muslim for over two years now, I still have so much to learn,  ponder, and decide for myself.  Luckily, I caught on to a good resource for additional learning last night where I can focus my efforts for the next couple of days.  <a href="http://fortyhadith.iiu.edu.my/">Forty Hadith </a>is a collection of just that many <em>hadiths</em> by Imam Nawawi.</p>
<blockquote><p>The collection has been known, accepted and appreciated by Muslim scholars for the last seven centuries.</p>
<p>Its significance lay in the fact that these selected forty hadiths comprise the main essential and fundamental concepts of Islam which, in turn, construct the minimum level of required revealed knowledge for every single Muslim. Since having good knowledge of the various fundamental aspects of the religion is key to a Muslim&#8217;s practice and application of Islam, this web site attempts to provide simple and practical commentaries to the collection of Imam Nawawi&#8217;s Forty Hadith.</p>
<p>Various principles are contained in these hadiths, such as belief, Muslim ethics and fiqh. As such, it is very important to have a good understanding of these hadiths based on scholarly interpretations. In addition, these commentaries also try to offer discussions on related contemporary issues pertaining to certain concepts mentioned in these hadiths.</p></blockquote>
<h3>Breaking Fast</h3>
<p>I almost took a picture of our <em>iftar</em> last night because I managed to present it on as many matching plates as we had and I thought it looked pretty special even though the meal was like many we&#8217;ve eaten before it.  Hommos made it to the table this time (one of my better batches I must add) which was a nice change.  I also made some Moroccan Cafe au Lait for that warm-liquid-in-the-belly-after-a-day-of-fasting feeling.</p>
<p>I&#8217;m sure this coffee drink has another name that I&#8217;m just not familiar with.  I&#8217;ve never been a fan of coffee despite a 5-year stint at Dunkin&#8217; Donuts, but every  now and then with a lot of cream, sugar, and some kind of infused flavor or syrup shots I&#8217;ll enjoy a cup.  My poor mother has been trying to get me to become an addict for years, but I&#8217;ll take my brown liquid caffeine fix in a cold red can over a cup of joe anyday.  That is, until I tasted this cafe au lait at my mother-in-law&#8217;s house.  It&#8217;s simple to make and can be extraordinary with just a pinch of an ecclectic spice mix.  </p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-827" title="Coffee 1" src="http://760days.wordpress.com/files/2009/09/coffee-1.jpg" alt="Coffee 1" width="500" height="396" /></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-828" title="Coffee 2" src="http://760days.wordpress.com/files/2009/09/coffee-2.jpg" alt="Coffee 2" width="500" height="375" /></p>
<p>I can&#8217;t even attempt to figure out all that goes into the mix, but I do recognize a few things very easily:</p>
<ul>
<li>Cinnamon (from bark)</li>
<li>Star Anise</li>
<li>Ginger</li>
<li>White Peppercorns</li>
<li>Sesame Seeds</li>
<li>Cardamom</li>
<li>Fennel Seed</li>
</ul>
<p>There&#8217;s some dried orange thing in there as well as a few other large dried somethings, all adding to the unique and intense flavor of the blend.  Very, very little is needed in the coffee, and for 10 DH you get a rather large supply (enough to fill a jelly jar) ground on site if you so wish.  Or, you can just ask for the blended coffee spice in the shop and they might have some already ground up.  It will still be quite fresh and was probably only ground a day or two before you found it. </p>
<p>To make the coffee, heat 1/2 liter of milk in a small sauce pan and add two heaped tablespoons of instant coffee and three sugar bricks.  Start with a few pinches, maybe 1/4 teaspoon of the spice and let it warm slowly.  Be careful not to bring it to a full boil or scorch the milk.  Test it for sugar and spice and add more if desired.  When hot, pour into mugs and serve with some nice croissants or m&#8217;semem. </p>
<h3>Also&#8230;</h3>
<p>I&#8217;m working on an article about the hijab, but there&#8217;s so much I want to say about it I&#8217;m taking my time with it.  I&#8217;m also finally getting to the Al Manal Mall article and Best Bites review of Brador Pizza Restaurant, so insha&#8217;Allah, I will post them soon!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Indahnya Berjalan ke Masjid :  “Meminta Cahaya”]]></title>
<link>http://wahyu2005.wordpress.com/2009/08/22/indahnya-berjalan-ke-masjid-%e2%80%9cmeminta-cahaya%e2%80%9d/</link>
<pubDate>Sat, 22 Aug 2009 03:43:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>wahyu2005</dc:creator>
<guid>http://wahyu2005.wordpress.com/2009/08/22/indahnya-berjalan-ke-masjid-%e2%80%9cmeminta-cahaya%e2%80%9d/</guid>
<description><![CDATA[Bogor.8/22/2009 5:58 AM Alhamdulillah…Segala Puji bagi Allah Rabb Semesta Alam. Pagi ini, atas hiday]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bogor.8/22/2009 5:58 AM</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-272" title="ka'bah" src="http://wahyu2005.wordpress.com/files/2009/08/kabah.jpg?w=150" alt="ka'bah" width="150" height="114" />Alhamdulillah…Segala Puji bagi Allah Rabb Semesta Alam. Pagi ini, atas hidayah Allah masih diberi kesempatan merasakan segar [dan dinginnya] udara pagi di hari pertama Ramadhan 1430 H.</p>
<p>Ramadhan selalu indah, menyejukkan jiwa. Berkah Ramadhan tak pernah berhenti menyapa…, satu di antaranya adalah bahwa langkah kaki kita terasa [lebih] ringan untuk berjalan ke masjid, dan umat Islam berbondong-bondong memakmurkan masjid di bulan suci ini [bahkan…seringkali kita menanti-nanti suara adzan]. Alhamdulillah…sebuah nikmat yang harus disyukuri.</p>
<p>Berjalan ke Masjid dan memakmurkannya adalah amal shalih yang mulia, dipenuhi “cahaya”. <strong>Imam Nawawi ra.</strong> dalam kitab <strong>Riyadhus Shalihin</strong> mencatat beberapa riwayat tentang <sup>1</sup>“<strong>Keutamaan Berjalan ke Masjid</strong>”, antara lain sbb :</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Abu Hurairah ra. Berkata, Nabi saw bersabda, </strong><em>“Barangsiapa di waktu pagi atau sore hari pergi ke Masjid, maka Allah menyediakan hidangan untuknya di surga di setiap pagi dan sore hari.” </em><strong>(Muttafaq ‘alaih)<!--more--></strong></li>
<li><strong>2. </strong><strong>Abu Hurairah ra. Berkata, Nabi saw bersabda, </strong><em>“Barangsiapa bersuci di rumahnya, lalu berjalan ke satu masjid untuk menunaikan satu shalat fardhu, maka satu langkahnya menghapus dosa dan satu langkah yang lain menaikkan derajatnya.”</em><strong> (HR. Muslim)</strong></li>
<li><strong>3. </strong><strong>Buraidah ra. Berkata, Nabi saw bersabda, </strong><em>“Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid di kegelapan malam. Telah disediakan cahaya yang terang benderang untuk mereka pada hari kiamat.”</em><strong> (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)</strong></li>
<li><strong>4. </strong><strong>Abu Hurairah ra. Berkata, Nabi saw bersabda, </strong><em>“maukah kalian aku tunjukkan apa yang menyebabkan Allah menghapus dosa dan meninggikan derajat kalian?” Para sahabat menjawab, “Tentu ya Rasulullah!”</em><strong> Rasulullah bersabda, </strong><em>“Menyempurnakan wudhu pada hal-hal yang tidak disukai [seperti pada waktu musim dingin], memperbanyak langkah ke masjid, dan menunggu shalat sesudah shalat. Inilah ketaatan sesungguhnya. Inilah ketaatan sesungguhnya.”</em><strong> (HR. Muslim)</strong></li>
<li><strong>5. </strong><strong>Abu Sa’id Al-Khudri ra. Berkata, Nabi saw bersabda, </strong><em>“Jika kalian melihat seseorang yang biasa ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia benar-benar beriman. </em><strong>Allah berfirman</strong><em>, ‘Sesungguhnya, yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.’”</em> <strong>(HR.Tirmidzi)</strong></li>
</ol>
<p>Subhanallah, betapa Allah memberikan keutamaan yang luar biasa [dan dahsyat] bagi hamba Nya. Semoga ringannya kaki kita ke masjid di bulan suci ini akan menjadi kebiasaan dan akhlak sepanjang masa. Menjadikan kita pemakmur masjid sejati.Amin</p>
<p>Sejatinya berjalan ke masjid adalah sebuah nikmat…yang akan membuat hidup kita bahagia dan dipenuhi “cahaya”. Rasulullah telah mengajarkan kepada kita sebuah do’a [yang perlu kita amalkan] yang sangat indah, ber”cahaya”, dan sangat kita butuhkan dalam menempuh perjalanan hidup [sebuah perjalanan hati].</p>
<p><sup>2</sup>Dari <strong>Abdullah bin Abbas ra.</strong> Berkata bahwa <strong>Rasulullah saw</strong>. Keluar menuju masjid, beliau bersabda,</p>
<p align="center"><strong><em>“Allahummaj’al fi qolbi nuran, wa fi bashari nuran, wa fi sam’I nuran, wa ‘an yamini nuran, wa ‘an yasari nuran, wa fauqi nuran, wa tahti nuran, wa amami nuran, wa khalfi nuran, waj’al li nuran”</em></strong></p>
<p><em>“Ya Allah, jadikan di hatiku cahaya, di mataku cahaya, di pendengaranku cahaya. Jadikanlah dari sisi kananku cahaya, dari sisi kiriku cahaya, di atasku cahaya, di bawahku cahaya, di belakangku cahaya, dan jadikanlah untukku cahaya.”</em> <strong>(HR.Bukhari)</strong></p>
<p><strong>Wallahu A’lam</strong>.Semoga bermanfaat.</p>
<p>Referensi :</p>
<ol>
<li>Said Al-khin, Mustofa, <em>et al</em>.2005. <strong>Syarah dan Terjemah Riyadhus Shalihin</strong> jilid 2.Jakarta: Al-I’thisom</li>
<li>Al Banna, Hasan.2005.<strong>Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin 2</strong> (terjemahan).Surakarta: Era Intermedia</li>
</ol>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Akan hadir Software Ensiklopedi Hadits]]></title>
<link>http://ensiklopedihadits.wordpress.com/2009/08/10/akan-hadir-software-ensiklopedi-hadits/</link>
<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 07:47:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>ensiklopedihadits</dc:creator>
<guid>http://ensiklopedihadits.wordpress.com/2009/08/10/akan-hadir-software-ensiklopedi-hadits/</guid>
<description><![CDATA[Insya Allah akan hadir Software Ensiklopedi Hadits dalam beberapa hari kedepan. Kandungan Kitab Hadi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Insya Allah akan hadir Software Ensiklopedi Hadits dalam beberapa hari kedepan. Kandungan Kitab Hadi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menyambut Ramadhan 1430 H]]></title>
<link>http://wahyu2005.wordpress.com/2009/08/02/menyambut-ramadhan-1430-h/</link>
<pubDate>Sun, 02 Aug 2009 00:17:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>wahyu2005</dc:creator>
<guid>http://wahyu2005.wordpress.com/2009/08/02/menyambut-ramadhan-1430-h/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Wahyu Nugroho bin Ahmad Bogor.(1/08/2009) Alhamdulillah sebentar lagi insya Allah kita akan ma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Oleh: Wahyu Nugroho bin Ahmad</p>
<p>Bogor.(1/08/2009)</p>
<p>A<img class="alignleft size-thumbnail wp-image-252" title="ramadhan-mubarak" src="http://wahyu2005.wordpress.com/files/2009/08/ramadhan-mubarak.jpg?w=150" alt="ramadhan-mubarak" width="150" height="104" />lhamdulillah sebentar lagi insya Allah kita akan masuk ke bulan Ramadhan yang penuh berkah. Tentu kita ingin Ramadhan tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin. Marilah sejenak kita kembali membaca “ilmu” terkait dengan Ramadhan dan ibadah puasa.</p>
<p>Dalam kitab <strong>R</strong><strong>iyadhus Shalihin, Imam Nawawi Rahimahullah</strong> mencatat beberapa riwayat terkait ibadah puasa dan bulan Ramadhan. Di antaranya adalah : <em> </em></p>
<p><em>1. </em>Abu Hurairah ra. Berkata, Rasulullah SAW bersabda “Allah Azza wa Jalla berfirman, <em><span style="text-decoration:underline;">‘Setiap amal perbuatan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.</span></em>’ Puasa itu adalah perisai. Jika seseorang dari kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan buruk. Jika seseorang memakinya atau memancing untuk bertengkar, hendaklah ia mengatakan, <em>‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’</em> Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bagi Allah, bau mulut orang yang sedang berpuasa lebih harum daripada bau minyak kesturi. Orang yang berpuasa mengalami dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya karena puasa (Muttafaq ‘alaih). Dalam riwayat Bukhari yang lain disebutkan, <em><span style="text-decoration:underline;">“Ia meninggalkan makan, minum, dan kesenangan syahwatnya demi Aku. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat.”</span></em> <em> </em></p>
<p><em><!--more-->2. </em>Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bershadaqah dua ekor kuda di jalan Allah, maka ia dipersilahkan masuk surga melalui semua pintu surga (seraya disapa), <em><span style="text-decoration:underline;">‘Hai hamba Allah, inilah yang baik.’</span></em> Barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang mengerjakan sholat maka ia dipersilahkan masuk surga melalui pintu ‘sholat’. Barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang berjihad maka ia dipersilahkan masuk surga melalui pintu ‘jihad’. Barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang berpuasa maka ia dipersilahkan masuk surga melalui pintu ‘Ar Rayyan’ (kesegaran). Barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang bershadaqah maka ia dipersilahkan masuk surga melalui pintu ‘shadaqah’.” Abu Bakar ra. Berkata, “Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, dari pintu mana saja tidaklah masalah. Lantas adakah orang yang dipanggil dari semua pintu itu?” Beliau menjawab, “Ada, dan aku berharap kamu termasuk di antara mereka”. (Muttafaq ‘alaih) <em> </em></p>
<p><em>3. </em>Abu Sa’id Al-Khudriy ra. Berkata Rasulullah SAW. Bersabda, <em>“Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari karena Allah, melainkan Allah akan menjauhkan dirinya dari neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun.”</em>(Muttafaq ‘alaih) <em> </em></p>
<p><em>4. </em>Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, <em>“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala kepada Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”</em> (Muttafaq ‘alaih) <em> </em></p>
<p><em>5. </em>Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, <em>“Jika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan diikat kuat.”</em> (Muttafaq ‘alaih) <em> </em></p>
<p><em>6. </em>Ibnu Abbas ra. Berkata, <em>“Rasulullah adalahorang yang paling pemurah, lebih-lebih pada bulan Ramadhan ketika ditemui Jibril. Setiap malam di bulan Ramadhan, Jibril datang untuk membacakan Al Qur’an. Saat ditemui Jibril, Rasulullah saw. Lebih pemurah daripada angin yang bertiup.” </em>(Muttafaq ‘alaih) <em> </em></p>
<p><em>7. </em>Aisyah ra. Berkata, <em>“Apabila sudah masuk 10 hari terakhir Ramadhan, Rasulullah selalu menghidupkan malam (dengan beribadah), membangunkan keluarganya dan mengikat sarungnya (tidak menggauli istrinya).”</em> (Muttafaq ‘alaih) <em> </em></p>
<p><em>8. </em>Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, <em>“Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan bohong dan melakukan kebohongan, maka Allah tidak membutuhkan dia meskipun meninggalkan makan dan minum.”</em> (HR. Bukhari)<em> </em></p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em></p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em></p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em></p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em></p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em></p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em></p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em></p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em></p>
<p>Menurut <strong>Ust. Sa’id Hawwa </strong>dalam kitab <strong>Tazkiyatun-Nafs (Intisari Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali</strong>), ibadah puasa dalam Tazkiyatun-nafs menduduki derajat ketiga setelah shalat dan zakat, karena di antara syahwat besar yang bisa membuat manusia menyimpang adalah syahwat perut dan kemaluan. Sedangkan puasa merupakan pembiasaan terhadap jiwa untuk mengendalikan kedua syahwat tersebut. Oleh sebab itu puasa merupakan factor penting dalam tazkiyatun-nafs.</p>
<p>Jika kesabaran termasuk kedudukan jiwa yang tertinggi maka puasa merupakan pembiasaan jiwa untuk bershabar. Dalam sebuah hadits disebutkan :</p>
<p>“Puasa adalah separuh keshabaran.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah, hadits hasan)</p>
<p>Allah telah menjadikan puasa sebagai sarana untuk mencapai derajat taqwa (QS. 2:183). Taqwa adalah tuntutan Allah kepada para hamba. Taqwa sama dengan tazkiyatun-nafs (Asy-Syams:7-10).</p>
<p>Berikut penjelasan Imam Ghazali terkait ibadah puasa :</p>
<p><strong>Rahasia Puasa dan Syarat-syarat Batinnya</strong></p>
<p>Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan:</p>
<ol>
<li><em>Puasa orang awan</em> : menahan perut dan kemaluan dari memperturutkan syahwat</li>
<li><em>Puasa orang khusus</em> : menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan semua anggota badan dari dosa</li>
<li><em>Puasa orang super khusus</em> : puasa hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran yang tidak berharga; juga menahan hati dari selain Allah secara total, dan puasa ini “batal” karena fikiran selain Allah dan hari akhir; karena fikiran tentang dunia kecuali dunia yang dimaksudkan untuk agama karena dunia yang dimaksudkan untuk agama sudah termasuk bekal akhirat dan tidak lagi dikatakan sebagai dunia. Ini merupakan tingkatan para Nabi, Rasul, Shiddiqin dan Muqarrabin.</li>
</ol>
<p>Puasa orang khusus adalah puasa orang-orang shalih yaitu menahan anggota badan dari berbagai dosa. Sedang kesempurnaannya ialah dengan 6 perkara:</p>
<ol>
<li><em>Menundukkan pandangan dan menahannya</em> dari berkeliaran memandang ke setiap hal yang dicela dan dibenci, ke setiap hal yang bisa menyibukkan hati dan melalaikan dari dzikrullah.</li>
<li><em>Menjaga lisan</em> dari bualan, dusta, ghibah, gunjingan, kekejian, perkataan kasar, pertengkaran, dan perdebatan; mengendalikannya dengan diam; menyibukkannya dengan dzikrullah dan tilawah Al Qur’an. Itulah puasa lisan</li>
<li><em>Menahan pendengaran</em> dari mendengarkan setiap hal yang dibenci karena setiap yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarknnya.</li>
<li><em>Menahan berbagai anggota badan lainnya dari berbagai dosa</em>, seperti menahan tangan dan kaki dari hal-hal yang dibenci, menahan perut dari berbagai syubhat pada waktu tidak puasa. Tidak ada artinya berpuasa, yaitu menahan makanaan yang halal, kemudian berbuka puasa dengan yang haram.</li>
<li><em>Tidak memperbanyak makanan yang halal pada saat berbuka puasa sampai penuh perutnya</em>. Karena tidak ada wadah yang paling dibenci Allah selain perut yang penuh dengan makanan halal. Bagaimana puasanya bisa bermanfaat untuk menundukkan musuh Allah dan mengalahkan syahwat jika orang yang berpuasa itu pada saat berbuka melahap berbagai macam makanan untuk mengganti berbagai makanan yang tidak boleh dimakannya di siang hari?</li>
<li><em>Hendaknya setelah berbuka hatinya”tergantung” dan “terguncang” antara harap dan cemas, </em>sebab ia tidak tahu apakah puasanya diterima atau ditolak. Hendaklah hatinya dalam keadaan demikian di akhir setiap ibadah yang baru saja dilaksanakan.</li>
</ol>
<p>Selain hal-hal diatas, penting bagi kita untuk mengetahui beberapa hukum fiqh terkait permasalah di seputar ibadah puasa Ramadhan. Saya  kutipkan beberapa “fiqh puasa” dari situs syariahonline.com [yang telah dikompilasi dalam file .chm].</p>
<p>(1)</p>
<p><strong>Sunnah Berjamaah Dalam tarawih </strong></p>
<p>Shalat tarawih pada bulan Ramadhan dengan berjamaah mengikuti satu imam adalah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA:</p>
<p><em>Sesungguhnya Nabi SAW shalat di masjid lalu orang-orang ikut shalat bersama mengikuti beliau, lalu pada malam kedua beliau shalat lagi dan orang-orang sudah banyak (yang ikut), kemudian orang-orang berkumpul pada malam ketiga atau keempat, tapi Rasulullah SAW tidak keluar menemui mereka. Ketika sudah pagi beliau bersabda: “Saya sudah melihat apa yang kalian lakukan, tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian kecuali karena aku takut kalau (shalat tarawih) itu diwajibkan atas kamu semua”.</em><strong> </strong>(Muttafaq Alaih)<strong>. </strong></p>
<p>Dan para ulama sepakat bahwa kejadian itu terjadi pada bulan Ramadhan. Ada juga hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Rahman bin ‘Abd Al-Qari, beliau berkata:</p>
<p><em>Suatu ketika saya keluar bersama Umar bin Khatthab pada bulan Ramadhan ke masjid ternyata orang-orang berpencar-pencar terpisah; Ada yang shalat sendirian, ada yang shalat lalu diikuti oleh beberapa orang, lalu Umar berkata: Saya punya pendapat seandainya saya dapat mengumpulkan mereka dengan satu imam tentu akan lebih baik, kemudian beliau bertekad untuk mengumpulkan mereka dengan imam Ubay bin Ka’ab. Kemudian saya keluar lagi brsama beliau pada malam yang lain, dan orang-orang sedang shalat berjamaah dengan mengikuti satu imam. Lalu Umar berkata: “Inilah bid’ah yang bagus, dan orang-orang yang tidur lebih baik dari pada yang ikut shalat malam ini (maksud beliau yang tidur di sore hari untuk bangun shalat tarawih di akhir malam), dan orang-orang saat itu shalat dipermulaan malam”.</em><strong> </strong>(HR. Bukhari).<strong> </strong></p>
<p>Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa shalat tarawih dari dahulu dilakukan dengan berjamaah, yaitu sejak masa pemerintahan Umar bin Khattab hingga sekarang ini. Shalawa tarawih berjamaah hanya sempat berhenti selama akhir masa hayat Rasulullah dan masa khilafah Abu Bakar yang hanya 2 tahunan itu.</p>
<p>Namun tidak apa-apa bagi anda untuk shalat tarawih di rumah karena tarawih itu sunnah, tapi jika anda shalat bersama imam di masjid tentu lebih utama sesuai dengan ajaran Nabi SAW kepada para sahabatnya ketika beliau shalat bersama mereka beberapa malam hingga sepertiga malam, ada salah satu sahabat yang mengusulkan kepada beliau:</p>
<p><em>“Seandainya engkau memberikan tuntunan shalat sunnah untuk sisa malam kita ini”.</em> Akhirnya Rasulullah bersabda: <em>“Barang siapa yang shalat bersama imam sehingga imam tersebut pergi (selesai shalat) maka Allah akan menulis bagi (ma’mum) tersebut shalat semalam suntuk”.</em><strong> </strong></p>
<p>(HR. Ahmad dan Ashabus Sunan dengan sanad hasan, dari hadits Abu Dzar RA)<br />
Pembagian Rakaat Tarawih</p>
<p>Yang paling masyhur adalah dengan mengerjakan dua rakaat dan salam. Sedangkan hadits yang menyebutkan empat rakat itu banyak dipahami sebagai empat rakat tapi diselingin salam. Jadi setelah melakukan shalat empat rakaat dengan dua salam, ada jeda waktu untuk sekedar istirahat. Baru kemudian diteruskan dengan empat rakaat lainnya tapi tetap dengan dua salam.</p>
<p>Tapi memang ada sebagian yang melakukannya dengan 4 raka’at sekaligus tanpa salam. Dalam hadits Bukhari riwayat ‘Asiyah ra dijelaskan bahwa cara Rasulullah SAW menjalankannya shalat malam adalah dengan melakukan tiga kali salam masing-masing terdiri dari 4 rakaat yang sangat panjang ditambah dengan 4 rakat yang panjang pula ditambah 3 rakaat sebagai penutup.</p>
<p>Namun untuk dua rakaat, dasarnya adalah hadits dari Ibnu Umar ra yang menceritakan bahwa seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang cara Rasulullah SAW mendirikan shalat malam beliau menjawab :</p>
<p><em>“Shalat malam didirikan dua rakaat-dua rakaat. Jika dia khawatir akan tibanya waktu shubuh, maka hendaklah menutupnya dengan satu rakat”.</em><strong> </strong>(Muttafaq ‘alaih ? Lihat Al-Lu?lu? wal Marjan : 432).<strong> </strong></p>
<p>Hal ini ditegaskan fi’liyah Rasulullah SAW dalam hadits Muslim dan Malik ra (Lihat Syarh Shahih Muslim 6/46-47;Allah SWT;-Muwaththa dalam Tanwir : 143-144).</p>
<p>Dengan demikian shalat malam termasuk tarawih dapat didirikan dengan dua rakaat dan ditutup dengan satu raka’at atau tiga raka’at dua kali salam atau empat raka’at-empat raka’at dan ditutup dengan tiga rakaat.</p>
<p>Shalat Tarawih Dan Malamnya Tahajud</p>
<p>Umumnya para ulama membedakan shalat tawarih dan tahajjud. Namun sebagian pendapat dari kalangan ulama memang ada yang menyamakan shalat tahajjud dengan shalat tarawih. Yang membedakannya menurut mereka hanyalah penamaannya saja. Yaitu bila di dalam bulan Ramadhan dinamakan dengan tarawih dan bila di luar ramadhan dinamakan dengan tahajjud atau qiyamullail.</p>
<p>Dasar pendapat mereka adalah keterangan dari hadits ‘Aisyah bahwa shalat malamnya Rasulullah SAW itu tidak lebih dari 11 rakaat baik di dalam ramadhan ataupun di luar ramadhan.</p>
<p><em>Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah di dalam ramadhan dan di luar Ramadhan dari 11 rakaat.</em><strong> </strong>(HR. Bukhari).<br />
Sedangkan menurut jumhur (mayoritas) ulama, ada perbedaan antara shalat tarawih dan shalat tahajjud dari segala sisinya. Tidak sebagaimana kalangan yang kami sebutkan, jumhur ulama mengatakan bahwa shalat tarawih memang sebuah jenis ibadah shalat sunnat khusus yang dilakukan hanya di bulan ramadhan dan dikerjakan setelah selesai shalat Isya’ berjamaah di masjid.</p>
<p>Sedangkan tahajjud adalah shalat sunnah yang dilakukan pada bulan ramadhan dan juga di luar bulan ramadhan. Dilakukan setelah bangun malam, artinya harus didahului dengan tidur sebelumnya. Melakukan shalat tarawih setelah shalat Isya’ sebanyak 23 rakaat di masa Umar ra adalah ijma’ para shahabat. Tidak ada seorang pun shahabat Rasulullah SAW yang menolaknya sehingga bisa dikatakan bahwa jumlah rakaat yang 23 itu merupakan ijma’ shahabat.</p>
<p>Dengan adanya kepastian riwayat tentang jumlah rakaat tarawih yang dilakukan oleh semua shahabat, maka kebanyakan ulama mengatakan bahwa rakaat tarawih itu adalah shalat khusus di bulan ramadhan selepas shalat isya? dengan 23 rakaat.</p>
<p>Namun ada juga yang mengatakan bahwa shalat bahwa shalat tarawih itu dilakukan dengan 11 rakaat meski tetap dilakukan selepas shalat Isya. Dalilnya adalah hadits berikut ini</p>
<p><em>Dari Malik dari As-Saib bin Yazid berkata,?Umar memerintahkan kepada Ubay bin Kaab dan Tamim Ad-Dary untuk mengimami orang-orang shalat tarawih dengan 11 rakaat. Terkadang imam membaca ratusan ayat sehingga kami bertekan pada tongkat saking lamanya. Kami tidak selesai dari shalat itu kecuali menjelang fajar. </em></p>
<p><em><br />
</em>Bahkan penduduk Madinah di masa lalu pernah mengerjakan shalat tarawih lebih dari 23 rakat. Yaitu mereka mengerjakan 36 rakaat terutama di masa Umar Bin Abdul Aziz.</p>
<p>Namun para ulama mengatakan bahwa 36 rakaat itu hanya berlaku buat penduduk Madinah saja karena mereka punya hak bermunafasah (bersaing) dengan penduduk Mekaah. Karena penduduk Mekkah menambah shalat mereka yang 23 rakaat dengan tawaf sehingga pahalanya lebih banyak. Untuk itu, khusus bagi penduduk Madinah, agar bisa menyaingi pahala orang Mekkah, mereka menambah bilangan rakaat menjadi 36. Tapi ini hanya berlaku untuk Madinah saja.</p>
<p>Hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak menambah dari 11 rakaat shalat malamnya di dalam Ramadhan dan di luar Ramadhan adalah dalam pengertian shalat witir atau shalat malam. Tidak termasuk shalat tarawih di bulan Ramadhan.</p>
<p>Tahajjud dan Witir<strong> </strong></p>
<p>Witir adalah shalat sunnah penuutp shalat malam, baik pada bulan ramadhan maupun di luar bulan ramadhan.</p>
<p>(2) <strong> </strong></p>
<p><strong>Syaithon Dibelenggu</strong></p>
<p><strong> </strong>Assalamu&#8217;alaikum Wr.Wb.</p>
<p>Ustad PKS yang insyaallah dirahmati Allah Swt. Saya pernah mendengar bahwa di dalam Bulan Suci Romadhon, pintu surga dibuka lebar2, pintu neraka ditutup rapat2 dan syaithon diborgol/dibelenggu. Apakah orang yang meninggal di dalam bulan tersebut sedangkan dia beriman apakah langsung masuk surga tanpa hisab, karena pintu surga terbuka sedangkan pintu neraka ditutup. Kalau syaithon diborgol mengapa kita masih sering tergoda oleh syaithon untuk berbuat yang tidak baik dalam berpuasa; malas, ghibah, membuang-buang waktu dll. Mohon penjelasan.</p>
<p>Jazakumullah khoiron katsiron, Wassalamu&#8217;alaikum wr.wb.</p>
<p>Hurin</p>
<p>Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh<br />
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.<br />
Tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa orang beriman bila wafat di bulan Ramdhanan langsung masuk surga tanpa hisab. Yang jelas-jelas disebutkan bisa masuk surga tanpa hisab adlaah orang yang syahid di jalan Allah SWT.</p>
<p>Hadis-hadis yang menyatakan bahwa syetan-syetan akan dibelenggu pada bulan Ramadhan adalah hadis shohih yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis, antara lain: Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Ahmad, Ibnu Huzaimah dan lain-lain.</p>
<p>Dari Abu Hurairoh Ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda<em>: “Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga akan dibukakan dan pintu-pitu neraka akan ditutup serta syetan-syetan akan dibelenggu”</em> (HR. Bukhori No. 1898 dan Muslim 1079)</p>
<p>Ada beberapa penjelasan dari para ulama mengenai maksud dari perkataan Rasulullah SAW bahwasanya syetan-syetan ?dibelenggu? pada bulan suci Ramadhan:<br />
Pertama:<strong> </strong><br />
Al-Hulaimi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan syetan-syetan di sini adalah syetan-syetan yang suka mencuri berita dari langit saja yang terjadi di waktu malam bulan Ramadhan karena pada jaman turunnya Al-Qur’an mereka pun terhalangi untuk melakukan hal tersebut dan dengan adanya “belenggu” tersebut, maka akan menambah penjagaan (sehingga syetan-syetan tersebut tidak mampu melakukannya lagi).</p>
<p>Kedua:<strong> </strong><br />
Syetan tidak bisa leluasa untuk mengganggu dan mencelakakan manusia tidak seperti biasanya, karena manusia sibuk dengan shaum, membaca Al-Qur’an dan berdzikir.</p>
<p>Ketiga:<br />
Yang dibelenggu hanya sebagiannya saja, yaitu syetan-syetan yang membangkang sebagaimana dijelaskan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Huzaimah, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim. <strong> </strong></p>
<p><em>Dari Abu Hurairoh Ra. Rasulullah SAW bersabda: “Pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dibelenggu. Yaitu syetan-syetan yang membangkang”</em><br />
Keempat:<strong> </strong><br />
Yang dimaksud dengan “dibelenggu” merupakan suatu ungkapan akan ketidakmampuan syetan untuk menggoda dan menyesatkan manusia.</p>
<p>Jika ada pertanyaan, mengapa masih banyak terjadi kemaksiatan pada bulan Ramadhan? Bukankan syetan-syetan yang biasa menggoda manusia telah dibelenggu? Berdasarkan pengertian diatas, para ulama menjawab pertanyaan tersebut dengan empat jawaban:</p>
<ol>
<li>Dibelenggunya syetan hanya berlaku bagi mereka yang      melakukan ibadah shaum dengan penuh keikhlasan.</li>
<li>Yang dibelenggu hanya sebagian syetan saja, yaitu      syetan yang membangkang sebagaimana dijelaskan di atas.</li>
<li>Yang dimaksud adalah berkurangnya tindak kejahatan atau      perilaku maksiat. Dan hal tersebut dapat kita rasakan meskipun masih      terjadi tindak kejahatan atau kemaksiatan tapi biasanya tidak sebanyak di      bulan-bulan lainnya.</li>
<li>Tidak mesti dengan dibelenggunya syetan maka      kemaksiatan akan hilang atau terhenti, karena masih ada sebab-sebab      lainnya selain syetan. Bisa jadi kemaksiatan tersebut timbul karena sifat      jelek manusianya, adat istiadat yang rusak, lingkungan masyarakat yang      sudah bobrok, serta kemaksiatan tersebut bisa juga disebabkan oleh      syetan-syetan dari golongan manusia. (Fathul Bari IV/ 114-115, ?Umdatul      Qari X/386 dan Ikmalul Mu?lim IV/6)</li>
</ol>
<p>Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,<br />
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.</p>
<p>(3)</p>
<p><strong>Niat Puasa Harus Setiap hari ?</strong></p>
<p>Niat untuk berpuasa pada prinsipnya adalah menyengaja dalam hati atau ketetapan di dalam hati kita bahwa esok hari saya akan melakukan puasa. Sedangkan pelafalannya seperti yang sering kita dengar bukanlah termasuk syarat dari niat. Sehingga bila di dalam hati kita terbersit untuk melakukan puasa, syahlah niat itu dan cukuplah dengan itu.</p>
<p>Syarat adanya niat ini hanya berlaku pada puasa wajib seperti ramadhan ini. Sedangkan pada puasa sunnah, tidak disyaratkan adanya niat sejak malamnya. Sehingga puasa sunnah bisa dilakukan dengan cara improvisasi. Artinya bila pada sejak pagi hingga siang hari seseorang kebetulan belum makan atau minum, maka kalau lantas berniat untuk puasa saja, boleh dilakukan. Dan hal itu sering terjadi pada diri Rasulullah SAW. Dimana beliau tidak mendapatkan makanan pada pagi hari, lantas beliau berniat untuk puasa saja.<br />
<em>Dari Aisyah RA. Berkata, Rasulullah SAW datang kepadaku pada suatu hari dan bertanya, “Apakah kamu punya makanan “. Aku menjawab,”Tidak”. Beliau lalu berkata,”Kalau begitu aku berpuasa”.</em> (HR. Muslim)<br />
Kedudukan niat ini menjadi sangat penting untuk puasa wajib. Karena harus sudah diniatkan sebelum terbit fajar. Dan puasa wajib itu tidak syah bila tidak berniat sebelum waktu fajar itu.</p>
<p>Sabda Rasulullah SAW :<br />
<em>Barang siapa yang tidak berniat pada malamnya, maka tidak ada puasa untuknya</em>. (HR. Tirmizy)</p>
<p>Sedangkan, apakah niat itu harus dilakukan setiap malam atau bisa dilakukan di awal ramadhan saja, maka para ulama berbeda pendapat :<br />
1. Jumhur Ulama : Harus Setiap Malam<br />
Menurut jumhur ulama, niat itu harus dilakukan pada setiap malam yang besoknya kita akan berpuasa secara satu per satu. Tidak bisa digabungkan untuk satu bulan.<br />
Logikanya adalah karena masing-masing hari itu adalah ibadah yang terpisah-pisah dan tidak satu paket yang menyatu. Buktinya, seseorang bisa berniat untuk puasa di suatu hari dan bisa berniat tidak puasa di hari lainnya.<br />
Oleh karena jumhur ulama mensyaratkan harus ada niat meski tidak perlu dilafazkan pada setiap malam hari bulan ramadhan.</p>
<p>2. Kalangan Fuqaha Al-Malikiyah : Boleh Niat Untuk Satu Bulan<strong> </strong><br />
Sedangkan kalangan fuqaha dari Al-Malikiyah mengatakan bahwa tidak ada dalil nash yang mewajinkan hal itu. Bahkan bila mengacu kepada ayat Al-Quran Al-Kariem, jelas sekali perintah untuk berniat puasa satu bulan secara langsung dan tidak diniatkan secara hari per hari.</p>
<p>Ayat yang dimaksud oleh Al-Malikiyah adalah :</p>
<p><em>“Siapa yang menyaksikan bulan (Ramadhan) itu hendaklah dia berpuasa”</em>(QS. Al-Baqarah : 185)</p>
<p>Menurut mereka, ayat Al-Quran Al-Kariem sendiri menyebutkan bahwa hendaklah ketika seorang mendapatkan bulan itu, dia berpuasa. Dan bulan adalah isim untuk sebuah rentang waktu. Sehingga berpuasa sejak hari awal hingga hari terakhir dalam bulan itu merupakan sebuah paket ibadah yang menyatu.</p>
<p>Dalam hal ini mereka membandingkannya ibadah haji yang membutuhkan masa pengerjaan yang berhari-hari. Dalam haji tidak perlu setiap hari melakukan niat haji. Cukup di awalnya saja seseorang berniat untuk haji, meski pelaksanaannya bisa memakan waktu seminggu.</p>
<p>(4)</p>
<p><strong>Puasa Untuk Lansia</strong></p>
<p>Orang yang sudah tua dan tidak mampu lagi untuk berpuasa, maka tidak ada kewajiban untuk berpuasa Ramadhan baginya. Cukup dengan membayar fidyah saja.</p>
<p>Dalilnya adalah ayat Al-Quran Al-Karim :</p>
<p><em>&#8230; Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah, : memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan , maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.</em> (QS. Al-Baqarah : 184)</p>
<p>Fidyah adalah memberi makan kepada satu orang fakir miskin sebagai ganti dari tidak berpuasa. Fidyah itu berbentuk memberi makan sebesar satu mud sesuai dengan mud nabi. Ukuran makan itu bila dikira-kira adalah sebanyak dua tapak tangan nabi SAW.</p>
<p>Sedangkan kualitas jenis makanannya sesuai dengan kebiasaan makannya sendiri.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Yang diwajibkan membayar fidyah adalah : </span></p>
<ol>
<li>Orang yang sakit dan secara umum ditetapkan sulit untuk      sembuh lagi.</li>
<li>Orang tua atau lemah yang sudah tidak kuat lagi      berpuasa.</li>
<li>Wanita yang hamil dan menyusui apabila ketika tidak      puasa mengakhawatirkan anak yang dikandung atau disusuinya itu. Mereka itu      wajib membayar fidyah saja menurut sebagian ulama, namu menurut Imam      Syafi`i selain wajib membayar fidyah juga wajib mengqadha` puasanya.      Sedangkan menurut pendapat lain, tidak membayar fidyah tetapi cukup      mengqadha`.</li>
<li>Orang yang meninggalkan kewajiban meng-qadha` puasa      Ramadhan tanpa uzur syar`i hingga Ramadhan tahun berikutnya telah      menjelang. Mereka wajib mengqadha`nya sekaligus membayar fidyah.</li>
</ol>
<p>Berapa ukuran fidyah itu ?<br />
Sebagian ulama seperti Imam As-Syafi`i dan Imam Malik menetapkan bahwa ukuran fidyah yang harus dibayarkan kepada setiap satu orang fakir miskin adalah satu mud gandum sesuai dengan ukuran mud Nabi SAW. Sebagian lagi seperti Abu Hanifah mengatakan dua mud gandum dengan ukuran mud Rasulullah SAW atau setara dengan setengah sha` kurma/tepung atau setara dengan memberi makan siang dan makan malam hingga kenyang.</p>
<p>(5)</p>
<p><strong>Penentuan Awal Dan Akhir Ramadhan</strong></p>
<p>Untuk menentukan awal Ramadhan, ada dua cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW yaitu :</p>
<ol>
<li>Dengan melihat bulan (ru`yatul hilal).Yaitu dengan cara memperhatikan terbitnya bulan di hari ke 29 bulan      Sya`ban. Pada sore hari saat matahari terbenam di ufuk barat. Apabila saat      itu nampak bulan sabit meski sangat kecil dan hanya dalam waktu yang      singkat, maka ditetapkan bahwa mulai malam itu, umat Islam sudah memasuki      tanggal 1 bulan Ramadhan. Jadi bulan Sya`ban umurnya hanya 29 hari bukan      30 hari. Maka ditetapkan untuk melakukan ibadah Ramadhan seperti shalat      tarawih, makan sahur dan mulai berpuasa.</li>
<li>(Ikmal) Menggenapkan umur bulan Sya`ban menjadi 30 hariTetapi bila bulan sabit awal Ramadhan sama sekali tidak terlihat, maka      umur bulan Sya`ban ditetapkan menjadi 30 hari (ikmal) dan puasa Ramadhan      baru dilaksanakan lusanya.Perintah untuk melakukan ru`yatul hilal dan ikmal ini didasari atas      perintah Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Abu Hurairah ra. :<em>Puasalah dengan melihat bulan dan      berfithr (berlebaran) dengan melihat bulan, bila tidak nampak olehmu, maka      sempurnakan hitungan Sya`ban menjadi 30 hari</em>.(HR. Bukhari dan Muslim).</li>
</ol>
<p>Sedangkan metode penghitungan berdasarkan ilmu hisab dalam menentukan awal Ramadhan tidak termasyuk cara yang masyru` karena tidak ada dalil serta isyarat dari Rasulullah SAW untuk menggunakannya.</p>
<p>Ini berbeda dengan penentuan waktu shalat dimana Rasulullah SAW tidak memberi perintah secara khusus untuk melihat bayangan matahari atau terbenamnya atau terbitnya atau ada tidaknya mega merah dan seterusnya. Karena tidak ada perintah khusus untuk melakukan rukyat, sehingga penggunaan hisab khusus untuk menetapkan waktu-waktu shalat tidak terlarang dan bisa dibenarkan.</p>
<p>Ikhtilaful Matholi`</p>
<p>Ada perbedaan pendapat tentang ru`yatul hilal, yaitu apakah bila ada orang yang melihat bulan, maka seluruh dunia wajib mengikutinya atau tidak ? Atau hanya berlaku bagi negeri dimana dia tinggal ? Dalam hal ini para ulama memang berbeda pendapat :</p>
<ul>
<li>Pendapat pertama adalah pendapat jumhur ulama<br />
Mereka (jumhur) menetapkan bahwa bila ada satu orang saja yang melihat      bulan, maka semua wilayah negeri Islam di dunia ini wajib mengikutinya.      Hal ini berdasarkan prinsip wihdatul matholi`, yaitu bahwa mathla` (tempat      terbitnya bulan) itu merupakan satu kesatuan di seluruh dunia. Jadi bila      ada satu tempat yang melihat bulan, maka seluruh dunia wajib mengikutinya.</li>
</ul>
<p>Pendapat ini didukung oleh Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal.</p>
<ul>
<li>Pendapat Kedua adalah pendapat Imam Syafi`i RA.<br />
Beliau berpendapat bahwa bila ada seorang melihat bulan, maka hukumnya      hanya mengikat pada negeri yang dekat saja, sedangkan negeri yang jauh      memeliki hukum sendiri. Ini didasarkan pada prinsip ihktilaful matholi`      atau beragamnya tempat terbitnya bulan.</li>
</ul>
<p>Ukuran jauh dekatnya adalah 24 farsakh atau 133,057 km. Jadi hukumnya hanya mengikat pada wilayah sekitar jarak itu. Sedangkan diluar jarak tersebut, tidak terikat hukum ruk`yatul hilal.</p>
<p>Dasar pendapat ini adalah hadits Kuraib dan hadits Umar, juga qiyas perbedaan waktu shalat pada tiap wilayah dan juga pendekatan logika.</p>
<p>Semoga bermanfaat.Amin</p>
<p><strong>Maraji’:</strong></p>
<p>Dr. Mustofa Said Al-Khin  <em>et al</em>.2005.<strong>Syarah</strong> <strong>dan Terjemah Riyadhus Shalihin Imam Nawawi</strong>. Jakarta    Al-I’thishom Cahaya Umat</p>
<p>Sa’id Hawwa.1998.<strong>Tazkiyatun Nafs [Intisari Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali]</strong>.Jakarta.Rabbani Press</p>
<p>Syariahonline.com</p>
<p><strong> </strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sunnah Memberi Salam Jikalau Memasuki Rumahnya]]></title>
<link>http://masjidassyakirin.wordpress.com/2009/07/01/sunnah-memberi-salam-jikalau-memasuki-rumahnya/</link>
<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 05:20:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>aburedza</dc:creator>
<guid>http://masjidassyakirin.wordpress.com/2009/07/01/sunnah-memberi-salam-jikalau-memasuki-rumahnya/</guid>
<description><![CDATA[Bab  135  Sunnahnya Bersalam jikalau Memasuki Rumahnya Allah Ta&#8217;ala berfirman maksudnya : ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bab  135  Sunnahnya Bersalam jikalau Memasuki Rumahnya Allah Ta&#8217;ala berfirman maksudnya : ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Riyadhus Shalihin (Imam Nawawi)]]></title>
<link>http://portalislam.wordpress.com/2009/06/22/riyadhus-shalihin-imam-nawawi/</link>
<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 07:59:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>abu althaf</dc:creator>
<guid>http://portalislam.wordpress.com/2009/06/22/riyadhus-shalihin-imam-nawawi/</guid>
<description><![CDATA[Download: [Imam Nawawi] Riyadhus Salihin.pdf [Imam Nawawi] Riyadhus Salihin 1.pdf [Imam Nawawi] Riya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="aligncenter" src="http://lh4.ggpht.com/_DmuD0_si55Q/SVHC7UGxRRI/AAAAAAAAANE/t4Vny0FfbdI/image6.png" alt="" width="332" height="480" /></p>
<p><strong>Download:</strong></p>
<p><strong><a href="http://www.ziddu.com/downloadlink/5239536/ImamNawawiRiyadhusSalihin.pdf">[Imam Nawawi] Riyadhus Salihin.pdf</a></strong></p>
<p><strong><a href="http://www.ziddu.com/downloadlink/5239527/ImamNawawiRiyadhusSalihin1.pdf">[Imam Nawawi] Riyadhus Salihin 1.pdf</a></strong></p>
<p><strong><a href="http://www.ziddu.com/downloadlink/5239530/ImamNawawiRiyadhusSalihin2.pdf">[Imam Nawawi] Riyadhus Salihin 2.pdf</a></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keutamaan Membaca dan Mengkaji Alquran (Attibyaan fi Aadabi Hamalatil Quran)]]></title>
<link>http://portalislam.wordpress.com/2009/06/22/keutamaan-membaca-dan-mengkaji-alquran-attibyaan-fi-aadabi-hamalatil-quran/</link>
<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 07:50:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>abu althaf</dc:creator>
<guid>http://portalislam.wordpress.com/2009/06/22/keutamaan-membaca-dan-mengkaji-alquran-attibyaan-fi-aadabi-hamalatil-quran/</guid>
<description><![CDATA[Download disini]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="aligncenter" src="http://galeri.myquran.org/main.php?g2_view=core.DownloadItem&#38;g2_itemId=19077&#38;g2_serialNumber=4" alt="" width="452" height="640" /></p>
<p><strong>Download <a href="http://www.ziddu.com/downloadlink/5239519/gkajiAl-QuranAt-TibyaanfiiAadaabiHamalatilQuran.pdf">disini</a></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Dowra 2009]]></title>
<link>http://asmakarif.wordpress.com/2009/06/21/the-dowra-2009/</link>
<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 20:01:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>asmakarif</dc:creator>
<guid>http://asmakarif.wordpress.com/2009/06/21/the-dowra-2009/</guid>
<description><![CDATA[&#8230; clickety click on the image for more information.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[&#8230; clickety click on the image for more information.]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
