<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>implikasi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/implikasi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "implikasi"</description>
	<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 05:31:43 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Melatih Nalar Logika Matematika: Implikasi dan Biimplikasi]]></title>
<link>http://apiqquantum.wordpress.com/2009/10/22/melatih-nalar-logika-matematika-implikasi-dan-biimplikasi/</link>
<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 06:45:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>apiqquantum</dc:creator>
<guid>http://apiqquantum.wordpress.com/2009/10/22/melatih-nalar-logika-matematika-implikasi-dan-biimplikasi/</guid>
<description><![CDATA[Mari berlatih lagi nalar logika matematika lagi. Agar semakin mahir, semakin mantap, dan berguna bag]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Mari berlatih lagi nalar logika matematika lagi. Agar semakin mahir, semakin mantap, dan berguna bag]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SATU TAHUN KRISIS ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/09/19/satu-tahun-krisis/</link>
<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 02:00:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/09/19/satu-tahun-krisis/</guid>
<description><![CDATA[September ini tepat setahun peristiwa krisis keuangan terjadi. Krisis ini merupakan yang terburuk di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2683" title="satu thn krisis 01" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/09/satu-thn-krisis-01.jpg?w=100" alt="satu thn krisis 01" width="100" height="150" />September ini tepat setahun peristiwa krisis keuangan terjadi. Krisis ini merupakan yang terburuk di dunia, tidak hanya ditandai kerugian finansial amat besar, tetapi juga kehilangan kepercayaan terhadap kerja mekanisme pasar.</p>
<p>Implikasi atas ketidakpercayaan terhadap sirkulasi mekanisme pasar itu menimbulkan konsekuensi besar, di antaranya animo pemerintah (dalam skala global) yang jendak ketat mengerangkeng institusi finansial. Jika kebijakan itu konsisten dilakukan, kita akan menjumpai pembalikan praktik ekonomi yang telah dilakukan tiga dekade lalu.</p>
<p>Sektor keuangan yang diberi ruang improvisasi besar sejak dekade 1980-an untuk menggerakkan aktifitas ekonomi mulai saat ini dpersempit geraknya hanya sebatas menafkahi kepentingan sektor riil, bukan menjadikan dirinya komoditas itu sendiri. Dalam beberapa aspek ini menjadi berita baik.</p>
<p><strong>Siklus bisnis</strong></p>
<p>Salah satu pusat persoalan ekonomi kapitalis yang amat mematikan adalah siklus bisnis yang menyebabkan konjungtur ekonomi naik turun. Dunia usaha merupakan jantung perekonomian yang mempertemukan dua sisi. Pada sisi permintaan, siklus bisnis yang menanjak menandai terjadinya kebutuhan tenaga kerja sehingga ekonomi ada pada level penuh. Pada sisi penawaran, konjungtur usaha yang mendaki mengindikasikan penambahan barang/jasa yang bisa dijual di pasar sehingga bertemu daya beli masyakat.</p>
<p><!--more-->Sayang, tidak selamanya warta bagus itu terjadi. Meminjam analisis Keynes, kapitalisme selalu memproduksi krisis “sistemik” berwujud tidak bertemunya penawaran (barang/jasa) dan permintaan akibat daya beli konsumen yang hancur. Pasar tidak akan pernah bisa mengangkat kembali perekonomian karena pokok soalnya adalah digerogotinya daya beli masyarakat.</p>
<p>Namun, Robert Lucas (pemenang Nobel Ekonomi 2005) pada 2003 memproklamirkan, pusat persoalan ekonomi itu dapat dijinakkan (Krugman, 2009). Salah satunya adalah dengan mengefektifkan peran bank sentral dan kebijakan fiskal (seperti diformulasikan Keynes) untuk mengembalikan siklus ekonomi ke zona pemulihan seandainya resei menghantam.</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2685" title="satu tahun krisis" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/09/satu-tahun-krisis.jpg?w=150" alt="satu tahun krisis" width="150" height="126" />Tampaknya, kejadian setahun terakhir ini menegaskan, siklus bisnis yang berujung krisis/resesi jauh dari usai. Penyebabnya bukan sekadar kemampuan mendesain kebijakan fiskal dan efektifitas bank sentral (sebagai punggawa kebijakan moneter), tetapi sumber krisis kian sulit diduga, tidak lagi disebabkan krisis sistemik akibat tidak bertemunya penawaran dan permintaan. Singkatnya, operasi sektor keuangan yang tanpa kerangkeng menjadi virus amat mematikan sendi dan siklus perekonomian.</p>
<p>Jadi, setahun terakhir ini ada dua hikmat penting yang sudah dibentangkan di depan mata pembuat kebijakan ekonomi.</p>
<p><em>Pertama</em>, siklus bisnis tidak hanya terjadi akibat terputusnya mata rantai antara “sisi penawaran: dan “sisi permintaan”, tetapi dapat mucnul dari keteledoran menjaga sektr keuangan sebagai institusi intermediasi yang memfasilitasi dunia usaha. Implikasinya, begitu institusi keuangan jebol, dunia usaha ikut terkapar karena keterkaitan sektor bisnis (yang memproduksi barang/jasa) begitu lekat dengan sektor keuangan.</p>
<p><em>Kedua</em>, pemulihan ekonomi dengan menggelontor stimulus fiskal dikombinasikan kebijakan moneter yang ketat, sebagian menghasilkan kinerja yang bagus. Setidaknya pemulihan ekonomi menunjukkan tanda lebih cepat dari yang diproyeksikan. Meski demikian, kecemasan yang harus diuji adalah implikasi terhadap beban anggaran pada masa depan.</p>
<p><strong>Fokus mikroekonomi<br />
</strong><br />
Deskripsi yang diuraikan di awal merupakan gambaran kebijakan pada level global, tetapi di setiap negara terlihat perbedaan yang beragam. Karena itu, kesimpulan umum yang dinyatakan itu juga berlaku terbatas kepada negara yang mengamalkan kebijakan itu.</p>
<p>Jika narasi itu dikaitkan dengan kebijakan di Indonesia, ada dua fakta perlu dikaji serius. <em>Pertama</em>, pemerintah juga mendesain stimulus fiskal besar, Rp 73,3 triliun, tetapi dengan tingkat penyerapan amat payah sehingga sulit mengaitkan pertumbuhan ekonomi yang masih bagus akibat stimulus fiskal.</p>
<p><em>Kedua</em>, berbeda dengan negara-negara maju, otoritas moneter di Indonesia cenderung menghadapi krisis keungan dengan meningkatkan bunga acuan acuan BI sehingga berimplikasi terhadap tingginya suku bunga (kredit). Dampaknya mengguncang sektir riil sehingga pertumbuhan ekonomi yang diraih bukan akibat desain kebijakan moneter.</p>
<p>Meski masih dugaan awal, kinerja ekonomi Indonesia selama setahun terakhir menunjukkan keterkaitan sektor bisnis yang tidak terlalu lekat dengan sektor keuangan, misalnya pelaku usaha mikro kecil dan menegah serta sektor pertanian, menjadi penyebab sebagian sektor rill tidak terlalu terguncang.</p>
<p>Dan daya beli masyarakat bisa dipelihara karena krisis keungan ini hanya menjangkau sebagian pelaku bisnis yang bersandar pasar internasional, yang sumbangan ekspor terhadap produk domestik bruto sekitar 28 persen. Meski demikian, jika realitas ini dijadikan argumen mengembalikan kebijakan ekonomi ke arah pasar domestik, kita akan memproduksi kesalahan lagi.</p>
<p>Terakhir, pemerintah perlu belajar, orientasi kepada kinerja ekonomi makro hanya menghasilkan fatamorgana sehingga lebih baik memperbaiki pemangku kebijakan pada level mikroekonomi ketimbang merawat pengambil kebijakan yang hanya cakap berwacana makroekonomi.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Satu Tahun Krisis, Ahmad Erani Yustika &#124; Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya ; Direktur Indef<br />
Kompas, 17.09.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PEMERINTAH HARUS FOKUS ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/09/18/pemerintah-harus-fokus/</link>
<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 00:49:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/09/18/pemerintah-harus-fokus/</guid>
<description><![CDATA[Pemerintah diharapkan lebih fokus dalam menetapkan kebijakan pembangunan industri. Industri berbasis]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2645" title="pemerintah hrs fokus 01" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/09/pemerintah-hrs-fokus-01.jpg?w=150" alt="pemerintah hrs fokus 01" width="150" height="144" />Pemerintah diharapkan lebih fokus dalam menetapkan kebijakan pembangunan industri. Industri berbasis pertanian dan energi seharusnya menjadi perhatian. Selain itu, empat dari 10 kluster industri unggulan harus dijadikan pendorong pertumbuhan ekonomi.</p>
<p>Demikian yang tercantum dalam Visi 2030 dan peta arah (roadmap) pembangunan industri 2010 – 2015 yang telah disusun Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Rekomendasi itu disampaikan kepada para pemimpin media masa di Jakarta, Selasa (15/9), untuk mendapatkan masukan.</p>
<p>Empat kluster yang dijadikan pendorong pertumbuhan itu adalah industri makanan dan minuman, industri tekstil dan produk tekstil serta alas kaki, industri elektronik, serta industri alat angkut dan komponen otomotif.</p>
<p>Menurut pengamat ekonomi Faisal Basri, perekonomian Indonesia sudah berada pada fase deindustrialisasi. Peran industri manufaktur mencapainya pada 2001 dengan kontribusi 27,7 persen dari produk domestik bruto (PDB).</p>
<p>Namun, sejak saat itu peran industri manufaktur terus menurun, hingga pada 2007 hanya 27,1 persen dari PDB. Namun, pada 2008 kembali meningkat menjadi 27,9 persen.</p>
<p><!--more--><img class="aligncenter size-full wp-image-2646" title="pemerintah harus fokus" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/09/pemerintah-harus-fokus.jpg" alt="pemerintah harus fokus" width="500" height="401" />Sektor industri manufaktur, kata Faisal, biasanya mengalami penurunan setelah mencapai 35 persen dari PDB. Penurunan prematur akan membawa implikasi pada penyerapan tenaga kerja.</p>
<p>“ Industri tidak berkembang karena tidak ada investasi dan tidak ada sokongan likuiditas, “ kata Faisal.</p>
<p>Menurut Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian, Riset, dan Teknologi Rachmat Gobel, pertumbuhan ekonomi 4 – 5 persen dan stabilitas politik saat ini seharusnya bisa menjadi modal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.</p>
<p><strong>Pasar potensial</strong></p>
<p>Menanggapi industri alat angkut yang termasuk dalam empat kluster industri yang seharusnya menjadi pendorong perekonomian, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor Joko Trisanyoto menyatakan, industri alat angkut hanya dapat berkembang bila diperkuat industri komponen.</p>
<p>“ Saya melihat industri komponen dalam negeri masih semu karena bahan bakunya masih impor, “ ujar Joko.</p>
<p>Situasinya berbeda dengan industri makanan dan minuman yang setiap tahun selalu menunjukkan pertumbuhan. “ Industri makanan dan minuman selalu tumbuh karena ada penopangnya sekitar Rp 1.000 triliun. Ini karena diversifikasi pangan terus terjadi, begitu harga bahan pangan naik, “ kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan.</p>
<p>Sementara industri tekstil, kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G Ismi, menghadapi serangan barang selundupan. “ Belum tuntas, industri terancam lagi dengan rencana kenaikan tarif dasar listrik, “ ujarnya.</p>
<p>Menurut Redaktur Pelaksana Metro TV Suryopranoto, dibutuhkan pembenahan yang komprehensif di sektor industri.</p>
<p>Adapun Wakil Pemimpin Umum Bisnis Indonesia Ahmad Djauhar menilai, visi industri dari masa ke masa hanya mengikuti selera pejabatnya. Tidak pernah ada rancangan besarnya.</p>
<p>Menanggapi peta industri yang disusun Kadin, Wakil Redaktur Pelaksana Kompas Andi Suruji mengingatkan, semestinya roadmap yang disusun Kadin memiliki komparasi dengan industri di luar negeri agar bisa menjadi pijakan untuk menentukan posisi industri Indonesia di tengah percaturan dunia. “ Kadin juga perlu pnya tim komitmen untuk menggiring implementasi roadmap ini, “ ujarnya.</p>
<p>Pengamat ekonomi Indef Iman Sugema meminta Kadin jujur pada rencana aksi yang akan dilakukan oleh Kadin sendiri. “ Tidak bisa hanya meminta sejumlah keinginan pada pemerintah. Saya memahami, problem dalam menentukan kebijakan adalah sinkronisasi antara industrialis dan pandangan tentang pengembangan industri, “ ujar Iman.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Pemerintah Harus Fokus – Kompas, 16.09.2009<br />
Grafik : Bestari</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penghijrahan belia ke bandar besar membawa implikasi negatif]]></title>
<link>http://mazlan66.wordpress.com/2009/05/23/penghijrahan-belia-ke-bandar-besar-membaca-implikasi-negatif/</link>
<pubDate>Fri, 22 May 2009 19:45:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid>http://mazlan66.wordpress.com/2009/05/23/penghijrahan-belia-ke-bandar-besar-membaca-implikasi-negatif/</guid>
<description><![CDATA[Penghijrahan belia ke kota, terutama ke bandar besar seperti Kuala Lumpur telah bermula sejak zaman ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">Penghijrahan belia ke kota, terutama ke bandar besar seperti Kuala Lumpur telah bermula sejak zaman awal kemerdekaan lagi. Suasana yang tidak &#8216;menghiburkan&#8217;, tidak menjanjikan peluang pekerjaan yang kukuh dan stabil serta dikongkong oleh sistem adat dan peraturan keluarga yang `menyakitkan&#8217; di desa menyebabkan golongan remaja menganggap kota sebagai salah satu destinasi yang harus dituju. Namun begitu, penghijrahan ke kota telah menimbulkan pelbagai implikasi negatif.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">Sebahagian besar remaja yang berhijrah ke kota hanya berjaya mengisi pekerjaan yang rendah tarafnya, rendah pendapatan dan kadangkala tidak mampu menampung kos hidup yang tinggi di bandar. Tegasnya, kerjaya kolar biru yang dapat dicapai oleh golongan belia ini tidak memungkinkan mereka mencapai status quo bandar yang diidamkan. Lebih malang lagi, apabila sesetengahnya tidak berjaya mengisi sebarang kerja. Tanpa sumber pendapatan yang kukuh dan kekal, gejala sosial berleluasa di bandar.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">Ramai anak muda yang berhijrah ke kota terbabit dalam kegiatan sosial yang tidak menguntungkan seperti budaya lepak, remaja tidak bermoral, perlakuan jenayah juvana dan jenayah besar seperti mencuri, merompak, merogol, membunuh dan sebagainya. Selain itu, tidak kurang pula yang terbabit dalam gejala penagihan dadah, pelacuran, perjudian dan sindiket jenayah serta kongsi gelap. Semua ini bukan sahaja menghambat kemajuan dan keharmonian bandar, malahan memaksa kerajaan menanggung beban yang amat besar untuk membanteras jenayah dan menyediakan kemudahan asas yang secukupnya bagi penghuni kota yang kian bertambah itu.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">`Ledakan penduduk&#8217; akibat penghijrahan ini semakin hebat menghimpit bandar yang berfungsi sebagai growth pole itu. Lantaran itu, is tidak dapat menyetarakan jumlah penduduk dengan keperluan asasnya. Akhirnya, wujud masalah petempatan yang kian meruncing dan berakhir dengan pertumbuhan petempatan setinggan dan kewujudan kawasan tepu, padat dan sesak yang mencemarkan sebahagian daripada imej kota di negara inn. Walaupun bandar utama di negara ini telahpun melancarkan banyak program penstrukturan semula dalam usaha merancang dan membangunkan bandar dengan lebih teratur, andainya penghijrahan belia ke kota terus rancak, masalah yang sama akan terus muncul dan menjalar dengan lebih hebat lagi.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">Perpindahan warga desa ke kota dengan sifatnya yang kekampungan kadangkala tidak berupaya mengiringi arus kemajuan dan corak hidup bandar. Lantaran, mereka mahu keselesaan dan kehidupan cara kampung, rumah setinggan menjadi pilihan utama dengan segala kekurangan. Akhimya, perpindahan ke kota sebenarnya tidak lebih daripada memindahkan kemiskinan desa ke kawasan kota.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">Penghijrahan golongan remaja ke kota banyak merugikan kawasan desa yang ditinggalkan. Tanpa golongan im, desa sebenamya tidak mempunyai tenaga kerja untuk dibangunkan. Sebagai golongan yang berilmu pengetahuan (walaupun sedikit), tenaga dan fikiran mereka cukup penting untuk merealisasikan segala bentuk pembangunan dan reformasi yang dianjurkan oleh kerajaan berbanding golongan tua atau ibu bapa mereka.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">Penghijrahan remaja keluar, terutama di kawasan yang mengalami masalah kekurangan penduduk bukan sahaja menyebabkan sektor ekonomi primer desa atau sektor separa-sekunder tidak mungkin dimajukan, malahan sumber ekonomi dan potensinya terbiar atau dibazirkan. Buktinya tanah sawah yang telah terbiar dan ladang getah tidak bertoreh kerana kekurangan tenaga kerja, terutamanya di kawasan berhampiran bandar besar dan bandar perindustrian.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;">Kesimpulannya, penghijrahan belia ke kota banyak menimbulkan implikasi negatif sama ada kepada kawasan kota yang dituju atau desa yang ditinggalkan. Oleh itu, wajarlah golongan remaja han ini memikirkan semula sama ada tindakan mereka berhijrah ke kota itu sesuatu yang menguntungkan diri, masyarakat dan negara. Mereka juga hares menimbangkan sama ada bekalan yang ada pada mereka cukup untuk menjalani kehidupan di kota atau sebaliknya.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Logika Matematika]]></title>
<link>http://mathbox.wordpress.com/2009/03/26/logika-matematika/</link>
<pubDate>Thu, 26 Mar 2009 14:27:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>ayasofa</dc:creator>
<guid>http://mathbox.wordpress.com/2009/03/26/logika-matematika/</guid>
<description><![CDATA[1) Apakah logika itu? Perhatikan ilustrasi berikut ini! Anda adalah seorang siswa SMK yang baru saja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><blockquote><p>1) Apakah logika itu?</p></blockquote>
<p>Perhatikan ilustrasi berikut ini!</p>
<p>Anda adalah seorang siswa SMK yang baru saja lulus sekolah dan langsung memulai berwirausaha dengan berdagang, yang sebagian modalnya Anda pinjam dari seorang teman. Anda berjanji, “Bila saya tidak rugi, saya akan melunasi semua utang saya sesegera mungkin”. Keadaan berikut ini, yang manakah Anda dapat dikatakan ingkar janji?</p>
<p>i) Anda tidak rugi dan Anda melunasi utang dengan segera</p>
<p>ii) Anda tidak rugi dan Anda tidak melunasi utang dengan segera</p>
<p>iii) Anda melunasi utang padahal anda rugi</p>
<p>iv) Anda melunasi utang dan Anda tidak rugi</p>
<p>Jelas bahwa tanpa logika, kita sering melakukan kesalahan dalam penarikan kesimpulan.<!--more--></p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita di hadapkan pada suatu keadaan yang mengharuskan kita untuk membuat suatu keputusan. Agar keputusan kita itu baik dan benar, maka terlebih dahulu kita harus dapat menarik kesimpulan-kesimpulan dari keadaan yang kita hadapi itu, dan untuk dapat menarik kesimpulan yang tepat diperlukan kemampuan menalar yang baik.</p>
<p><em>Kemampuan menalar</em> adalah kemampuan untuk menarik kesimpulan yang tepat dari bukti-bukti yang ada dan menurut aturan-aturan tertentu. Lalu apa kaitannya dengan logika?</p>
<p><em></em></p>
<p><em>Logika</em> adalah ilmu untuk berpikir dan menalar dengan benar. Secara bahasa, logika berasal dari kata “logos” (bahasa Yunani), yang artinya <em>kata, ucapan, pikiran. </em>Kemudian pengertian itu berkembang menjadi <em>ilmu pengetahuan</em>. Logika dalam pengertian ini adalah berkaitan dengan argumen-argumen, yang mempelajari metode-metode dan prinsip-prinsip untuk ,menunjukkan keabsahan (sah atau tidaknya) suatu argumen, khususnya yang dikembangkan melalui penggunaan metode-metode matematika dan simbol-simbol matematika dengan tujuan untuk menghindari makna ganda dari bahasa yang biasa kita gunakan sehari-hari.</p>
<p>2) Pengertian<strong> </strong>Pernyataan dan Bukan Pernyataan</p>
<p>Sebelum membahas pernyataan, terlebih dahulu kita bahas pengertian kalimat. <em>Kalimat </em>adalah rangkaian kata yang disusun menurut aturan bahasa yang mengandung arti.</p>
<p><em>Pernyataan</em> adalah kalimat yang mempunyai nilai benar atau salah, tetapi tidak sekaligus benar dan salah. (pernyataan disebut juga preposisi, kalimat deklaratif). Benar diartikan ada kesesuaian antara apa yang dinyatakan dengan keadaan yang sebenarnya.</p>
<p>Perhatikan beberapa contoh berikut!</p>
<p>1. Al-Quran adalah sumber hukum pertama umat Islam</p>
<p>2. 4 + 3 = 8</p>
<p>3. Frodo mencintai 1</p>
<p>4. Asep adalah bilangan ganjil</p>
<p>Contoh nomor 1 bernilai benar, sedangkan contoh nomor 2 bernilai salah, dan keduanya adalah <em>pernyataan</em>. Sementara contoh nomor 3 dan 4 adalah kalimat yang tidak mempunyai arti.</p>
<p>Sekarang perhatikan contoh di bawah ini!</p>
<p>1. Rapikan tempat tidurmu!</p>
<p>2. Apakah hari ini akan hujan?</p>
<p>3. Indah benar lukisan ini!</p>
<p>4. Berapa orang yang datang?</p>
<p>Kalimat di atas tidak mempunyai nilai benar atau salah, sehingga <em>bukan pernyataan.</em></p>
<p><em></em></p>
<p><em>Catatan:</em></p>
<p>Suatu pernyataan biasa kita simbolkan dengan huruf kecil <em>p,q,r,s, </em>dan sebagainya.</p>
<p>3) Kalimat Terbuka</p>
<p>Perhatikan contoh berikut ini!</p>
<p>1. yang duduk di bawah pohon itu cantik rupanya</p>
<p>2. seseorang memakai kacamata</p>
<p>3. <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image002" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image002.gif?w=76&#038;h=21" border="0" alt="clip_image002" width="76" height="21" /></p>
<p>4. <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image004" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image004.gif?w=59&#038;h=19" border="0" alt="clip_image004" width="59" height="19" /></p>
<p>Keempat contoh di atas belum tentu bernilai benar atau salah. Kalimat yang demikian itu dinamakan <em>kalimat terbuka</em>. Kalimat terbuka biasanya ditandai dengan adanya variabel (peubah). Jika variabelnya diganti dengan konstanta dalam semesta yang sesuai maka kalimat itu akan menjadi sebuah pernyataan.</p>
<p><em>Variabel (Peubah)</em> adalah lambang yang menunjukkan anggota yang belum tentu dalam semesta pembicaraan, sedangkan <em>konstanta </em>adalah lambang yang menunjukkan anggota tertentu dalam semesta pembicaraan.</p>
<p>Pengganti variabel yang menyebabkan kalimat terbuka menjadi pernyataan yang bernilai benar, disebut <em>selesaian </em>atau<em> penyelesaian.</em> <em></em></p>
<p>Contoh:</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image004[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0041.gif?w=59&#038;h=19" border="0" alt="clip_image004[1]" width="59" height="19" /></p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image007" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image007.gif?w=13&#038;h=15" border="0" alt="clip_image007" width="13" height="15" /> adalah variabel, 2 dan 8 adalah konstanta, dan <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image009" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image009.gif?w=37&#038;h=19" border="0" alt="clip_image009" width="37" height="19" /> untuk <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image011" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image011.gif?w=39&#038;h=19" border="0" alt="clip_image011" width="39" height="19" /> adalah selesaian.</p>
<p>Secara skematik, hubungan kalimat, pernyataan, dan kalimat terbuka dapat kita rumuskan sebagai berikut:</p>
<p><img style="border:0 none;display:inline;" title="clip_image012" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image012.gif?w=475&#038;h=192" border="0" alt="clip_image012" width="475" height="192" /></p>
<p><strong>Pernyataan Majemuk</strong></p>
<p>Logika merupakan sistem matematika artinya memuat unsur-unsur yaitu pernyataan-oernyataan dan <em>operasi-operasi</em> yang didefinisikan. Operasi-operasi yang akan kita temui berupa kata sambung logika<em> </em>(<em>conective logic</em>):</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image002[4]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0024.gif?w=15&#038;h=11" border="0" alt="clip_image002[4]" width="15" height="11" /> : Merupakan lambang operasi untuk negasi</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image004[6]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0046.gif?w=15&#038;h=13" border="0" alt="clip_image004[6]" width="15" height="13" /> : Merupakan lambang operasi untuk konjungsi</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image006" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image006.gif?w=15&#038;h=13" border="0" alt="clip_image006" width="15" height="13" /> : Merupakan lambang operasi untuk disjungsi</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image008" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image008.gif?w=20&#038;h=15" border="0" alt="clip_image008" width="20" height="15" /> : Merupakan lambang operasi untuk implikasi</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image010" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image010.gif?w=21&#038;h=15" border="0" alt="clip_image010" width="21" height="15" /> : Merupakan lambang operasi untuk biimplikasi</p>
<p>1) Negasi (Ingkaran) Sebuah Pernyataan<strong></strong></p>
<p>Dari sebuah pernyataan tunggal (atau majemuk), kita bisa membuat sebuah pernyataan baru berupa “ingkaran” dari pernyataan itu. “ingkaran” disebut juga “negasi” atau “penyangkalan”. Ingkaran menggunakan operasi uner (monar) “<img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image002[5]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0025.gif?w=15&#038;h=11" border="0" alt="clip_image002[5]" width="15" height="11" />” atau “<img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image012[4]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0124.gif?w=16&#038;h=11" border="0" alt="clip_image012[4]" width="16" height="11" />”.</p>
<p><em>Jika suatu pernyataan p benar, maka negasinya </em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image002[6]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0026.gif?w=15&#038;h=11" border="0" alt="clip_image002[6]" width="15" height="11" /><em>p salah, dan jika sebaliknya pernyataan p salah, maka negasinya </em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image002[7]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0027.gif?w=15&#038;h=11" border="0" alt="clip_image002[7]" width="15" height="11" /><em>p benar.</em></p>
<p><em></em></p>
<p>Definisi tersebut dinyatakan dalam tabel sebagai berikut:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="33"><em>p</em></td>
<td width="50"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image014" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image014.gif?w=28&#038;h=17" border="0" alt="clip_image014" width="28" height="17" /></td>
</tr>
<tr>
<td width="33">B<br />
S</td>
<td width="50">S</p>
<p>B</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>B = benar</p>
<p>S = salah</p>
<p>Perhatikan cara membuat ingkaran dari sebuah pernyataan serta menentukan nilai kebenarannya!</p>
<p>1. <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image016" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image016.gif?w=16&#038;h=17" border="0" alt="clip_image016" width="16" height="17" /> : kayu memuai bila dipanaskan (S)</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image014[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0141.gif?w=28&#038;h=17" border="0" alt="clip_image014[1]" width="28" height="17" /> : kayu tidak memuai bila dipanaskan (B)</p>
<p>2. <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image019" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image019.gif?w=12&#038;h=13" border="0" alt="clip_image019" width="12" height="13" /> : 3 bilangan positif (B)</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image021" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image021.gif?w=25&#038;h=13" border="0" alt="clip_image021" width="25" height="13" /> : (cara mengingkar seperti ini salah)</p>
<p>3 bilangan negatif</p>
<p>(seharusnya) 3 bukan bilangan positif (S)</p>
<p>2) Pernyataan Majemuk<strong></strong></p>
<p>Pernyatan majemuk adalah pernyataan baru yang dibentuk dengan merantgkaikan pernyataan-pernyataan tunggal dengan kata sambung logika.</p>
<p>Contoh: <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image023" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image023.gif?w=39&#038;h=17" border="0" alt="clip_image023" width="39" height="17" /> disebut konjungsi</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image025" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image025.gif?w=39&#038;h=17" border="0" alt="clip_image025" width="39" height="17" /> disebut disjungsi</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image027" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image027.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image027" width="47" height="17" /> disebut Implikasi</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image029" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image029.gif?w=48&#038;h=17" border="0" alt="clip_image029" width="48" height="17" /> disebut biimplikasi</p>
<p>3) Konjungsi (<img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image023[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0231.gif?w=39&#038;h=17" border="0" alt="clip_image023[1]" width="39" height="17" />)<strong></strong></p>
<p><em>Konjungsi dua pernyataan p dan q bernilai benar hanya jika kedua pernyataan komponennya bernilai benar. Dan jika salah satu atau kedua pernyataan komponennya salah, maka konjungsi itu salah. </em></p>
<p>Dengan tabel kebenaran</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="39"><em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image016[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0161.gif?w=16&#038;h=17" border="0" alt="clip_image016[1]" width="16" height="17" /></em></td>
<td width="37"><em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image031" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image031.gif?w=13&#038;h=17" border="0" alt="clip_image031" width="13" height="17" /></em></td>
<td width="62"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image023[2]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0232.gif?w=39&#038;h=17" border="0" alt="clip_image023[2]" width="39" height="17" /></td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">B</td>
<td width="62">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">S</td>
<td width="62">S</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">B</td>
<td width="62">S</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">S</td>
<td width="62">S</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Contoh:</p>
<p>1. <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image016[2]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0162.gif?w=16&#038;h=17" border="0" alt="clip_image016[2]" width="16" height="17" /> : 5 bilangan prima (B)</p>
<p><em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image031[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0311.gif?w=13&#038;h=17" border="0" alt="clip_image031[1]" width="13" height="17" /></em> : 5 bilangan ganjil (B)</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image023[3]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0233.gif?w=39&#038;h=17" border="0" alt="clip_image023[3]" width="39" height="17" /> : 5 bilangan prima dan ganjil (B)</p>
<p>2. <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image016[3]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0163.gif?w=16&#038;h=17" border="0" alt="clip_image016[3]" width="16" height="17" /> : <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image033" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image033.gif?w=73&#038;h=29" border="0" alt="clip_image033" width="73" height="29" /> (B)</p>
<p><em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image031[2]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0312.gif?w=13&#038;h=17" border="0" alt="clip_image031[2]" width="13" height="17" /></em> : <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image035" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image035.gif?w=67&#038;h=23" border="0" alt="clip_image035" width="67" height="23" /> (B)</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image023[4]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0234.gif?w=39&#038;h=17" border="0" alt="clip_image023[4]" width="39" height="17" /> : <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image033[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0331.gif?w=73&#038;h=29" border="0" alt="clip_image033[1]" width="73" height="29" /> dan <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image035[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0351.gif?w=67&#038;h=23" border="0" alt="clip_image035[1]" width="67" height="23" /> (B)</p>
<p>4) Disjungsi/ Alternasi (<img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image025[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0251.gif?w=39&#038;h=17" border="0" alt="clip_image025[1]" width="39" height="17" />)<strong></strong></p>
<p><em>Disjungsi dari dua buah pernyataan p dan q bernilai benar asal salah satu atau kedua pernyataan komponennya benar. Dan jika kedua pernyataan komponennya salah, maka konjungsi itu salah. (Disjungsi seperti ini disebut disjungsi inklusif)</em></p>
<p><em></em></p>
<p>Dengan tabel kebenaran</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="39"><em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image016[4]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0164.gif?w=16&#038;h=17" border="0" alt="clip_image016[4]" width="16" height="17" /></em></td>
<td width="37"><em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image031[3]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0313.gif?w=13&#038;h=17" border="0" alt="clip_image031[3]" width="13" height="17" /></em></td>
<td width="62"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image025[2]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0252.gif?w=39&#038;h=17" border="0" alt="clip_image025[2]" width="39" height="17" /></td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">B</td>
<td width="62">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">S</td>
<td width="62">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">B</td>
<td width="62">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">S</td>
<td width="62">S</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em></em>Contoh:</p>
<p>1. <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image016[5]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0165.gif?w=16&#038;h=17" border="0" alt="clip_image016[5]" width="16" height="17" /> : 1 akar persamaan <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image039" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image039.gif?w=41&#038;h=21" border="0" alt="clip_image039" width="41" height="21" /> (B)</p>
<p><em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image031[4]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0314.gif?w=13&#038;h=17" border="0" alt="clip_image031[4]" width="13" height="17" /></em> : -1 akar persamaan <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image039[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0391.gif?w=41&#038;h=21" border="0" alt="clip_image039[1]" width="41" height="21" /> (B)</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image025[3]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0253.gif?w=39&#038;h=17" border="0" alt="clip_image025[3]" width="39" height="17" /> : 1 atau -1 akar persamaan <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image039[2]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0392.gif?w=41&#038;h=21" border="0" alt="clip_image039[2]" width="41" height="21" /> (B)</p>
<p>2. <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image016[6]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0166.gif?w=16&#038;h=17" border="0" alt="clip_image016[6]" width="16" height="17" /> : Bogor di Jawa barat (B)</p>
<p><em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image031[5]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0315.gif?w=13&#038;h=17" border="0" alt="clip_image031[5]" width="13" height="17" /></em> : Bogor itu kota propinsi (S)</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image025[4]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0254.gif?w=39&#038;h=17" border="0" alt="clip_image025[4]" width="39" height="17" /> : Bogor di Jawa Barat atau ibu kota propinsi (B)</p>
<p>5) Implikasi/ Kondisional (<em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image027[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0271.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image027[1]" width="47" height="17" /></em>)<strong></strong></p>
<p><em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image027[2]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0272.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image027[2]" width="47" height="17" /></em> boleh dibaca: <em>p</em> maka <em>q</em></p>
<p><em>q</em> hanya jika p</p>
<p><em>p</em> <em>syarat</em> <em>perlu</em> untuk <em>q</em></p>
<p><em>q</em> <em>syarat cukup </em>untuk <em>p</em></p>
<p><em>p</em> disebut anteseden atau hipotesis</p>
<p><em>q</em> disebut konsekuen atau konklusi</p>
<p><em>Implikasi <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image027[3]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0273.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image027[3]" width="47" height="17" /> bernilai benar jika konsekuennya bernilai benar atau anteseden dan konsekuen kedua-duanya salah, dan bernilai salah jika antesedennya bernilai benar, sedangkan konsekuennya salah.</em></p>
<p><em></em></p>
<p>Dengan tabel kebenaran</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="39"><em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image016[7]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0167.gif?w=16&#038;h=17" border="0" alt="clip_image016[7]" width="16" height="17" /></em></td>
<td width="37"><em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image031[6]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0316.gif?w=13&#038;h=17" border="0" alt="clip_image031[6]" width="13" height="17" /></em></td>
<td width="63"><em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image027[4]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0274.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image027[4]" width="47" height="17" /></em></td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">B</td>
<td width="63">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">S</td>
<td width="63">S</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">B</td>
<td width="63">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">S</td>
<td width="63">B</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Contoh:</p>
<p>1. Jika <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image043" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image043.gif?w=57&#038;h=17" border="0" alt="clip_image043" width="57" height="17" />, maka <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image045" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image045.gif?w=55&#038;h=19" border="0" alt="clip_image045" width="55" height="19" /> (B)</p>
<p>(B) (B)</p>
<p>2. Jika manusia bersayap , maka kita bisa terbang (B)</p>
<p>(S) (S)</p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p>6) Biimplikasi atau Bikondisional (<img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image029[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0291.gif?w=48&#038;h=17" border="0" alt="clip_image029[1]" width="48" height="17" />)<strong></strong></p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image029[2]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0292.gif?w=48&#038;h=17" border="0" alt="clip_image029[2]" width="48" height="17" /> boleh dibaca: <em>p </em>jika dan hanya jika <em>q </em>(disingkat “<em>p</em> jhj <em>q</em>”)<em></em></p>
<p>jika p maka q<em>, </em>dan jika<em> q </em>maka<em> p</em></p>
<p><em>p </em>syarat perlu dan cukup untuk<em> q</em></p>
<p><em>q</em> syarat perlu dan cukup untuk <em>p</em></p>
<p><em>biimplikasi </em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image029[3]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0293.gif?w=48&#038;h=17" border="0" alt="clip_image029[3]" width="48" height="17" /><em> bernilai benar apabila anteseden dan konsekuen kedua-duanya bernilai benar atau kedua-duanya bernilai salah. Jika tidak demikian maka biimplikasi bernilai salah.</em></p>
<p><em></em></p>
<p>Dengan tabel kebenaran</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="39"><em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image016[8]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0168.gif?w=16&#038;h=17" border="0" alt="clip_image016[8]" width="16" height="17" /></em></td>
<td width="37"><em><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image031[7]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0317.gif?w=13&#038;h=17" border="0" alt="clip_image031[7]" width="13" height="17" /></em></td>
<td width="63"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image029[4]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0294.gif?w=48&#038;h=17" border="0" alt="clip_image029[4]" width="48" height="17" /></td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">B</td>
<td width="63">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">S</td>
<td width="63">S</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">B</td>
<td width="63">S</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">S</td>
<td width="63">B</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Contoh:</p>
<p>1. <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image043[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0431.gif?w=57&#038;h=17" border="0" alt="clip_image043[1]" width="57" height="17" /> jika dan hanya jika <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image045[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0451.gif?w=55&#038;h=19" border="0" alt="clip_image045[1]" width="55" height="19" /> (B)</p>
<p>(B) (B)</p>
<p>2. <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image048" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image048.gif?w=56&#038;h=19" border="0" alt="clip_image048" width="56" height="19" /> jika dan hanya jika <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image050" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image050.gif?w=53&#038;h=19" border="0" alt="clip_image050" width="53" height="19" /> (S)</p>
<p>(B) (S)</p>
<p><strong></strong></p>
<p><em></em></p>
<p><strong>Konvers, Invers, dan Kontraposisi</strong></p>
<p>Dari pernyataan berbentuk implikasi dapat kita turunkan pernyataan-pernyataan baru yang disebut invers, konvers, dan kontraposisi.</p>
<p>Implikasi : <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image002[12]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00212.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image002[12]" width="47" height="17" /></p>
<p>Inversnya : <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image004[8]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0048.gif?w=69&#038;h=17" border="0" alt="clip_image004[8]" width="69" height="17" /></p>
<p>Konversnya : <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image006[4]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0064.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image006[4]" width="47" height="17" /></p>
<p>Kontraposisinya : <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image008[4]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0084.gif?w=69&#038;h=17" border="0" alt="clip_image008[4]" width="69" height="17" /></p>
<p>Contoh:</p>
<p>Implikasi : Jika harimau bertaring, maka ia binatang buas</p>
<p>Inversnya : Jika harimau tidak bertaring, maka ia bukan binatang buas</p>
<p>Konversnya : Jika harimau binatang buas, maka ia bertaring</p>
<p>Kontraposisinya : Jika harimau bukan binatang buas, maka ia tidak bertaring</p>
<p>Dengan tabel kebenaran:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="38" valign="top"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image010[4]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0104.gif?w=16&#038;h=17" border="0" alt="clip_image010[4]" width="16" height="17" /><em></em></td>
<td width="35" valign="top"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image012[6]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0126.gif?w=13&#038;h=17" border="0" alt="clip_image012[6]" width="13" height="17" /></td>
<td width="50" valign="top"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image014[6]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0146.gif?w=28&#038;h=17" border="0" alt="clip_image014[6]" width="28" height="17" /></td>
<td width="49" valign="top"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image016[20]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image01620.gif?w=27&#038;h=17" border="0" alt="clip_image016[20]" width="27" height="17" /></td>
<td width="77" valign="top">Implikasi</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image002[13]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00213.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image002[13]" width="47" height="17" /></td>
<td width="84" valign="top">Invers</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image004[9]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0049.gif?w=69&#038;h=17" border="0" alt="clip_image004[9]" width="69" height="17" /></td>
<td width="76" valign="top">Konvers</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image006[5]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0065.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image006[5]" width="47" height="17" /></td>
<td width="102" valign="top">Kontraposisi</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image008[5]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0085.gif?w=69&#038;h=17" border="0" alt="clip_image008[5]" width="69" height="17" /></td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">B</td>
<td width="35" valign="top">B</td>
<td width="50" valign="top">S</td>
<td width="49" valign="top">S</td>
<td width="77" valign="top">B</td>
<td width="84" valign="top">B</td>
<td width="76" valign="top">B</td>
<td width="102" valign="top">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">B</td>
<td width="35" valign="top">S</td>
<td width="50" valign="top">S</td>
<td width="49" valign="top">B</td>
<td width="77" valign="top">S</td>
<td width="84" valign="top">B</td>
<td width="76" valign="top">B</td>
<td width="102" valign="top">S</td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">S</td>
<td width="35" valign="top">B</td>
<td width="50" valign="top">B</td>
<td width="49" valign="top">S</td>
<td width="77" valign="top">B</td>
<td width="84" valign="top">S</td>
<td width="76" valign="top">S</td>
<td width="102" valign="top">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="38" valign="top">S</td>
<td width="35" valign="top">S</td>
<td width="50" valign="top">B</td>
<td width="49" valign="top">B</td>
<td width="77" valign="top">B</td>
<td width="84" valign="top">B</td>
<td width="76" valign="top">B</td>
<td width="102" valign="top">B</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Dari tabel di atas terlihat bahwa implikasi mempunyai nilai kebenaran sama dengan kontraposisi, dan nvers dengan konvers i. Sehingga dapat kita katakan bahwa implikasi setara dengan kontraposisi dan invers setara dengan konvers. Bisa kita tulis:</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image022" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image022.gif?w=123&#038;h=17" border="0" alt="clip_image022" width="123" height="17" /></p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image024" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image024.gif?w=127&#038;h=17" border="0" alt="clip_image024" width="127" height="17" /></p>
<p><em>Catatan:</em></p>
<p><em>“<img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image026" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image026.gif?w=13&#038;h=13" border="0" alt="clip_image026" width="13" height="13" />” artinya ekivalen</em></p>
<p>Contoh:</p>
<p>Buatlah pernyataan yang setara dengan pernyataan: “jika ia benar-benar mencuri, maka pada saat pencurian harus berada di tempat ini.”</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Implikasi setara dengan kontraposisi. Maka pernyataan itu dapat diubah menjadi, “jika pada saat pencurian tidak berada di tempat itu, maka ia tidak mencuri.”</p>
<p><strong>Penarikan Kesimpulan (Inferensi)</strong></p>
<p>1) Pengertian Argumen</p>
<p>Perhatikan beberapa contoh argumen berikut ini!</p>
<p>1. Jika harga barang naik, maka permintaan barang turun (premis 1)</p>
<p>Harga barang naik (premis 2)</p>
<p>Jadi permintaan barang turun (konklusi)</p>
<p>2. Jika <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image002[18]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00218.gif?w=63&#038;h=21" border="0" alt="clip_image002[18]" width="63" height="21" />, maka <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image004[14]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00414.gif?w=57&#038;h=19" border="0" alt="clip_image004[14]" width="57" height="19" /> (premis 1)</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image002[19]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00219.gif?w=63&#038;h=21" border="0" alt="clip_image002[19]" width="63" height="21" /> (premis 2)</p>
<p>Jadi <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image004[15]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00415.gif?w=57&#038;h=19" border="0" alt="clip_image004[15]" width="57" height="19" /> (konklusi)</p>
<p>Dari contoh-contoh di atas, maka dapat kita rumuskan:</p>
<p>a) <em>Argumen </em>adalah serangkaian pernyataan-pernyataan yang mempunyai ungkapan-ungkapan pernyataan “penarikan kesimpulan”</p>
<p>b) Argumen terdiri dari dua kelompok pernyatan, yaitu <em>premis</em> (pernyataan-pernyataan sebelum kesimpulan) dan sebuah <em>konklusi </em>(kesimpulan).</p>
<p>2) Modus ponens, modus tollens, dan sillogisma</p>
<p>Sekarang kita akan membahas 3 bentuk argumentasi yang sah, yaitu modus ponens, modus tollens, dan sillogisma.</p>
<p>1. Modus ponens</p>
<p>Modus ponens disebut juga kaidah pengasingan.</p>
<p>Bentuknya sebagai berikut:</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image006[10]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00610.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image006[10]" width="47" height="17" /> (premis 1) berupa implikasi</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image008[10]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00810.gif?w=16&#038;h=17" border="0" alt="clip_image008[10]" width="16" height="17" /> (premis 2) berupa anteseden</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image010[6]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0106.gif?w=27&#038;h=17" border="0" alt="clip_image010[6]" width="27" height="17" /> (konklusi)</p>
<p>Keabsahan (sah atau tidaknya) sebuah argumen dapat dilihat melalui tabel kebenaran.</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image011[4]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0114.gif?w=240&#038;h=54" border="0" alt="clip_image011[4]" width="240" height="54" /></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="39"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image008[11]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00811.gif?w=16&#038;h=17" border="0" alt="clip_image008[11]" width="16" height="17" /></td>
<td width="37"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image014[8]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0148.gif?w=13&#038;h=17" border="0" alt="clip_image014[8]" width="13" height="17" /></td>
<td width="70"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image006[11]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00611.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image006[11]" width="47" height="17" /></td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">B</td>
<td width="70">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">S</td>
<td width="70">S</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">B</td>
<td width="70">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">S</td>
<td width="70">B</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Argumentasi ini sah karena untuk premis <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image006[12]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00612.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image006[12]" width="47" height="17" /> dan <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image008[12]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00812.gif?w=16&#038;h=17" border="0" alt="clip_image008[12]" width="16" height="17" /> benar, konklusi <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image014[9]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0149.gif?w=13&#038;h=17" border="0" alt="clip_image014[9]" width="13" height="17" /> juga benar.</p>
<p>Contoh:</p>
<p>Jika harga barang naik, maka permintaan barang turun</p>
<p>Harga barang naik</p>
<p>Jadi permintaan barang turun</p>
<p>3. Modus tollens</p>
<p>Modus tollens disebut juga kaidah penolakan.</p>
<p>Bentuknya sebagai berikut:</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image006[13]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00613.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image006[13]" width="47" height="17" /> (premis 1) berupa implikasi</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image018" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image018.gif?w=27&#038;h=17" border="0" alt="clip_image018" width="27" height="17" /> (premis 2) berupa negasi dari konsekuen</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image020" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image020.gif?w=37&#038;h=17" border="0" alt="clip_image020" width="37" height="17" /> (konklusi)</p>
<p>Keabsahannya diperlihatkan dengan tabel kebenaran berikut:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="39"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image008[13]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00813.gif?w=16&#038;h=17" border="0" alt="clip_image008[13]" width="16" height="17" /></td>
<td width="37"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image014[10]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image01410.gif?w=13&#038;h=17" border="0" alt="clip_image014[10]" width="13" height="17" /></td>
<td width="51" valign="top"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image022[6]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0226.gif?w=28&#038;h=17" border="0" alt="clip_image022[6]" width="28" height="17" /></td>
<td width="50" valign="top"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image018[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0181.gif?w=27&#038;h=17" border="0" alt="clip_image018[1]" width="27" height="17" /></td>
<td width="70"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image006[14]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00614.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image006[14]" width="47" height="17" /></td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">B</td>
<td width="51" valign="top">S</td>
<td width="50" valign="top">S</td>
<td width="70">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">S</td>
<td width="51" valign="top">S</td>
<td width="50" valign="top">B</td>
<td width="70">S</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">B</td>
<td width="51" valign="top">B</td>
<td width="50" valign="top">S</td>
<td width="70">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">S</td>
<td width="51" valign="top">B</td>
<td width="50" valign="top">B</td>
<td width="70">B</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Argumen ini sah, karena untuk premis <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image006[15]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00615.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image006[15]" width="47" height="17" /> dan <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image018[2]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0182.gif?w=27&#038;h=17" border="0" alt="clip_image018[2]" width="27" height="17" />benar, konklusi <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image022[7]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0227.gif?w=28&#038;h=17" border="0" alt="clip_image022[7]" width="28" height="17" /> juga benar.</p>
<p><em></em></p>
<p><em></em></p>
<p>Contoh:</p>
<p>Persamaan <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image025[12]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image02512.gif?w=101&#038;h=21" border="0" alt="clip_image025[12]" width="101" height="21" />, <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image027[12]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image02712.gif?w=41&#038;h=19" border="0" alt="clip_image027[12]" width="41" height="19" />, maka <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image029[12]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image02912.gif?w=16&#038;h=24" border="0" alt="clip_image029[12]" width="16" height="24" /> dan <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image031[18]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image03118.gif?w=17&#038;h=24" border="0" alt="clip_image031[18]" width="17" height="24" /> berlainan</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image029[13]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image02913.gif?w=16&#038;h=24" border="0" alt="clip_image029[13]" width="16" height="24" /> dan <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image031[19]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image03119.gif?w=17&#038;h=24" border="0" alt="clip_image031[19]" width="17" height="24" /> tidak berlainan</p>
<p>Jadi persamaan <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image025[13]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image02513.gif?w=101&#038;h=21" border="0" alt="clip_image025[13]" width="101" height="21" />, <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image033[6]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0336.gif?w=41&#038;h=20" border="0" alt="clip_image033[6]" width="41" height="20" /></p>
<p>4. Silogisma</p>
<p>Bentuknya sebagai berikut:</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image006[16]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00616.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image006[16]" width="47" height="17" /> (premis 1) berupa implikasi</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image035[6]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0356.gif?w=43&#038;h=17" border="0" alt="clip_image035[6]" width="43" height="17" /> (premis 2) berupa implikasi</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image037" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image037.gif?w=57&#038;h=17" border="0" alt="clip_image037" width="57" height="17" /> (konklusi)</p>
<p>Keabsahannya diperlihatkan dengan tabel kebenaran berikut:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="39"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image008[14]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00814.gif?w=16&#038;h=17" border="0" alt="clip_image008[14]" width="16" height="17" /></td>
<td width="37"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image014[11]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image01411.gif?w=13&#038;h=17" border="0" alt="clip_image014[11]" width="13" height="17" /></td>
<td width="35" valign="top"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image039[8]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0398.gif?w=12&#038;h=13" border="0" alt="clip_image039[8]" width="12" height="13" /></td>
<td width="50" valign="top"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image006[17]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00617.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image006[17]" width="47" height="17" /></td>
<td width="70"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image035[7]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0357.gif?w=43&#038;h=17" border="0" alt="clip_image035[7]" width="43" height="17" /></td>
<td width="70" valign="top"><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image042" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image042.gif?w=45&#038;h=17" border="0" alt="clip_image042" width="45" height="17" /></td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">B</td>
<td width="35" valign="top">B</td>
<td width="50" valign="top">B</td>
<td width="70">B</td>
<td width="70" valign="top">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">B</td>
<td width="35" valign="top">S</td>
<td width="50" valign="top">B</td>
<td width="70">S</td>
<td width="70" valign="top">S</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">S</td>
<td width="35" valign="top">B</td>
<td width="50" valign="top">S</td>
<td width="70">B</td>
<td width="70" valign="top">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">B</td>
<td width="37">S</td>
<td width="35" valign="top">S</td>
<td width="50" valign="top">S</td>
<td width="70">B</td>
<td width="70" valign="top">S</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">B</td>
<td width="35" valign="top">B</td>
<td width="50" valign="top">B</td>
<td width="70">B</td>
<td width="70" valign="top">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">B</td>
<td width="35" valign="top">S</td>
<td width="50" valign="top">B</td>
<td width="70">S</td>
<td width="70" valign="top">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">S</td>
<td width="35" valign="top">B</td>
<td width="50" valign="top">B</td>
<td width="70">B</td>
<td width="70" valign="top">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="39">S</td>
<td width="37">S</td>
<td width="35" valign="top">S</td>
<td width="50" valign="top">B</td>
<td width="70">B</td>
<td width="70" valign="top">B</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Argumen ini sah, karena untuk premis <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image006[18]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image00618.gif?w=47&#038;h=17" border="0" alt="clip_image006[18]" width="47" height="17" /> dan <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image035[8]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0358.gif?w=43&#038;h=17" border="0" alt="clip_image035[8]" width="43" height="17" /> benar, konklusi</p>
<p><img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image042[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0421.gif?w=45&#038;h=17" border="0" alt="clip_image042[1]" width="45" height="17" /> juga benar.</p>
<p>Contoh:</p>
<p>Jika <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image044" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image044.gif?w=83&#038;h=21" border="0" alt="clip_image044" width="83" height="21" />, maka <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image046" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image046.gif?w=72&#038;h=21" border="0" alt="clip_image046" width="72" height="21" /></p>
<p>Jika <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image046[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0461.gif?w=72&#038;h=21" border="0" alt="clip_image046[1]" width="72" height="21" />, maka <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image048[4]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0484.gif?w=67&#038;h=21" border="0" alt="clip_image048[4]" width="67" height="21" /></p>
<p>Jadi jika <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image044[1]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0441.gif?w=83&#038;h=21" border="0" alt="clip_image044[1]" width="83" height="21" />, maka <img style="display:inline;border-width:0;" title="clip_image048[5]" src="http://mathbox.files.wordpress.com/2009/03/clip-image0485.gif?w=67&#038;h=21" border="0" alt="clip_image048[5]" width="67" height="21" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MANFAAT SIMBOL IMPLIKASI DAN BIIMPLIKASI]]></title>
<link>http://matematikadasar.wordpress.com/2009/03/11/manfaat-simbol-implikasi-dan-biimplikasi/</link>
<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 05:17:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>matematikadasar</dc:creator>
<guid>http://matematikadasar.wordpress.com/2009/03/11/manfaat-simbol-implikasi-dan-biimplikasi/</guid>
<description><![CDATA[Setelah kita berlama-lama dalam bahasan logika matematika, akhirnya sampai juga pada penerapan palin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Setelah kita berlama-lama dalam bahasan logika matematika, akhirnya sampai juga pada penerapan paling utamanya. Yaitu dalam mengerjakan soal atau dalam proses pembuktian.</p>
<p>Penggunaan simbol yang tepat bisa lebih melancarkan komunikasi dalam matematika.</p>
<p>Dan juga, penggunaan simbol ini bisa digunakan untuk membongkar  soal-soal paradoks, yang banyak ditulis sebagai hiburan iseng orang matematika (termasuk dalam blog saya ini <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  )</p>
<p>Kita simak dulu beberapa contoh pendahuluan berikut:</p>
<p>Dalam aljabar, menambahkan atau mengurangi kedua ruas dengan sesuatu yang sama, adalah benar. Sehingga kita bisa mendapatkan :</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES">x </span><span lang="ES">= </span><span lang="ES">y </span>=&#62;<span lang="ES"> </span><span lang="ES">x </span><span lang="ES">+ </span><span lang="ES">z </span><span lang="ES">= </span><span lang="ES">y </span><span lang="ES">+ </span><span lang="ES">z</span><span lang="ES">…..(menambah kedua ruas)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">dan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES">x </span><span lang="ES">+ </span><span lang="ES">z </span><span lang="ES">= </span><span lang="ES">y </span><span lang="ES">+ </span><span lang="ES">z </span><span lang="ES">=&#62;</span><span lang="ES"></span><span style="font-family:Wingdings;" lang="ES"></span><span lang="ES"> </span><span lang="ES"> x </span><span lang="ES">= </span><span lang="ES">y (mengurangi kedua ruas)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES">Sehingga kita bisa menuliskannya dalam bentuk yang lebih singkat sebagai :</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">x </span><span lang="EN-US">= </span><span lang="EN-US">y &#60;=&#62;</span><span lang="EN-US"> </span><span lang="EN-US">x </span><span lang="EN-US">+ </span><span lang="EN-US">z </span><span lang="EN-US">= </span><span lang="EN-US">y </span><span lang="EN-US">+ </span><span lang="EN-US">z.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Akan tetapi, tidak semua langkah aljabar bisa di tulis bolak-balik seperti contoh di atas. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="ES"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="ES">Contoh 2:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES">x </span><span lang="ES">= </span><span lang="ES">y </span><span lang="ES">=&#62;</span><span lang="ES"></span><span style="font-family:Wingdings;" lang="ES"></span><span style="font-family:Wingdings;" lang="ES"><span> </span></span><span lang="ES"> </span><span lang="ES">x<sup>2</sup> </span><span lang="ES">= </span><span lang="ES"> </span><span lang="ES">y<sup>2</sup> </span><span lang="ES"> <span> </span>adalah benar </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US">sedangkan kalo dibalik arahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"> </span><span lang="ES"> </span><span lang="ES">x<sup>2</sup> </span><span lang="ES">= </span><span lang="ES"> </span><span lang="ES">y<sup>2 </sup></span><span lang="EN-US">, maka belum tentu </span><span lang="EN-US"> menyebabkan x </span><span lang="EN-US">= </span><span lang="EN-US">y</span><span lang="EN-US">,  ada kemungkinan lain yaitu x= -y . </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Sehingga tidak bisa kita tulis dalam biimplikasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="FI">Kesimpulan 1: </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Implikasi menunjukan kebenaran logis satu arah, sedangkan biimplikasi dua arah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">****</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Oke, itu dasarnya, mengenai kapan kita harus menggunakan notasi </span><span lang="ES"> </span>=&#62;<span lang="ES"></span><span style="font-family:Wingdings;" lang="ES"></span><span lang="FI"> dan </span><span lang="ES">&#60;=&#62;</span><span style="font-family:Wingdings;" lang="ES"></span><span lang="FI"></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="FI">Contoh 3:</span></strong></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="FI">Carilah nilai x yang memenuhi persamaan : </span></p>
<p><img src='http://l.wordpress.com/latex.php?latex=%5Csqrt%7B2x+%2B+1%7D%3D+%5C%2C%5Csqrt%7Bx%7D-5+&#038;bg=ffffff&#038;fg=000000&#038;s=0' alt='\sqrt{2x + 1}= \,\sqrt{x}-5 ' title='\sqrt{2x + 1}= \,\sqrt{x}-5 ' class='latex' /></p>
<p>Jawab :</p>
<p><img src='http://l.wordpress.com/latex.php?latex=%5Csqrt%7B2x+%2B+1%7D%3D+%5Csqrt+%7Bx%7D-5+&#038;bg=ffffff&#038;fg=000000&#038;s=0' alt='\sqrt{2x + 1}= \sqrt {x}-5 ' title='\sqrt{2x + 1}= \sqrt {x}-5 ' class='latex' /></p>
<p><img src='http://l.wordpress.com/latex.php?latex=%5CRightarrow+%5C%2C%5C%2C2x%5C%2C+%2B+%5C%2C1%5C%2C+%3D+%28%5Csqrt%7B+x%7D++-+5%29%5E2+&#038;bg=ffffff&#038;fg=000000&#038;s=0' alt='\Rightarrow \,\,2x\, + \,1\, = (\sqrt{ x}  - 5)^2 ' title='\Rightarrow \,\,2x\, + \,1\, = (\sqrt{ x}  - 5)^2 ' class='latex' /></p>
<p><img src='http://l.wordpress.com/latex.php?latex=%5CLeftrightarrow+%5C%2C2x%5C%2C+%2B+%5C%2C1%5C%2C+%3D+%5C%2Cx%5C%2C+-+10%5Csqrt+%7Bx%7D++%2B+25+&#038;bg=ffffff&#038;fg=000000&#038;s=0' alt='\Leftrightarrow \,2x\, + \,1\, = \,x\, - 10\sqrt {x}  + 25 ' title='\Leftrightarrow \,2x\, + \,1\, = \,x\, - 10\sqrt {x}  + 25 ' class='latex' /></p>
<p><img src='http://l.wordpress.com/latex.php?latex=%5CLeftrightarrow+%5C%2C%5C%2C10%5Csqrt+%7Bx%7D+%5C%2C+%3D+24+-+%5C%2Cx+&#038;bg=ffffff&#038;fg=000000&#038;s=0' alt='\Leftrightarrow \,\,10\sqrt {x} \, = 24 - \,x ' title='\Leftrightarrow \,\,10\sqrt {x} \, = 24 - \,x ' class='latex' /></p>
<p><img src='http://l.wordpress.com/latex.php?latex=%5CRightarrow+100%5C%2Cx%5C%2C+%3D+%5C%2C%2824+-+x%29%5E2+&#038;bg=ffffff&#038;fg=000000&#038;s=0' alt='\Rightarrow 100\,x\, = \,(24 - x)^2 ' title='\Rightarrow 100\,x\, = \,(24 - x)^2 ' class='latex' /></p>
<p><img src='http://l.wordpress.com/latex.php?latex=%5CLeftrightarrow+%2C100%2Cx%2C+%3D+%2C%2C576%2C+-+%2C48x+%2B+x%5E2+++&#038;bg=ffffff&#038;fg=000000&#038;s=0' alt='\Leftrightarrow ,100,x, = ,,576, - ,48x + x^2   ' title='\Leftrightarrow ,100,x, = ,,576, - ,48x + x^2   ' class='latex' /></p>
<p><img src='http://l.wordpress.com/latex.php?latex=%5CLeftrightarrow+%5C%2Cx%5E2++-+148x+%2B+576+%3D+0+&#038;bg=ffffff&#038;fg=000000&#038;s=0' alt='\Leftrightarrow \,x^2  - 148x + 576 = 0 ' title='\Leftrightarrow \,x^2  - 148x + 576 = 0 ' class='latex' /></p>
<p><img src='http://l.wordpress.com/latex.php?latex=%5CLeftrightarrow+%28x+-+4%29%5C%2C%28x+-+144%29+%3D+0+&#038;bg=ffffff&#038;fg=000000&#038;s=0' alt='\Leftrightarrow (x - 4)\,(x - 144) = 0 ' title='\Leftrightarrow (x - 4)\,(x - 144) = 0 ' class='latex' /></p>
<p><img src='http://l.wordpress.com/latex.php?latex=%5CLeftrightarrow+x%5C%2C+%3D%5C%2C4%5C%2C%5C%2C%5C%2Catau%5C%2C%5C%2C%5C%2Cx+%3D+144+&#038;bg=ffffff&#038;fg=000000&#038;s=0' alt='\Leftrightarrow x\, =\,4\,\,\,atau\,\,\,x = 144 ' title='\Leftrightarrow x\, =\,4\,\,\,atau\,\,\,x = 144 ' class='latex' /></p>
<p>(Perhatikan langkah-langkah ketika simbol implikasi dan biimplikasi muncul.)</p>
<p>Semua langkah di atas lengkap dan logis, yang pada akhirnya didapat jawaban : {4, 144}. Namun coba anda masukan ke dalam soal (persamaan awal). Maka hasilnya akan salah.</p>
<p>Kenapa terjadi demikian ?, apa yang salah ?</p>
<p>Nah ternyata, kuncinya terletak pada penggunaan simbol yang sedang kita bahas:  =&#62;  dan &#60;=&#62;.</p>
<p><strong>Gimana, sudah mulai tertarik ?, jika ya, kita bahas. Let’s Go !!!!!!!!</strong></p>
<p>Pada contoh 3 kita di atas. Tidak semua langkah terhubung dengan simbol biimplikasi (di sela-sela proses muncul simbol implikasi).  Artinya, kebenaran logis tidak berlaku dua arah. Sehingga memang tidak ada yang menjamin benar jika kita membalikan proses (memasukan nilai akhir ke dalam persamaan awal).</p>
<p><strong>Lalu apa yang terjadi sebenarnya ?</strong></p>
<p>Jika, setelah semua langkah kita logis, namun ketika dimasukan ke persamaan awal ternyata tidak memenuhi. Artinya kita bisa mengatakan ”soal contoh 3 tidak memiliki penyelesaian”.</p>
<p><strong>Kesimpulan 2:</strong></p>
<p>Jika muncul tanda implikasi, kita harus <em>cross check</em> setiap jawaban akhir. Karena tidak ada yang menjamin, artinya ada dua kemungkinan : memenuhi atau tidak . Dalam bahasa umum : soal punya penyelesaian atau tidak.</p>
<p><strong>NB:</strong> saya sarankan juga, langkah <em>cross check</em> ini menjadi kebiasaan, meskipun semua tanda yang muncul adalah biimplikasi, dengan tujuan kalo’-kalo’ ada langkah kita yang keliru, bisa langsung terlihat dan ditelusuri lagi keabsahannya perlangkah.</p>
<p><strong>Masih pengen contoh lagi ?</strong></p>
<p><strong>Contoh 4:</strong></p>
<p>Selesaikan sistem persamaan berikut :</p>
<p>2a – 5b = 3, dan 10b – 4a = -5</p>
<p>Jawab :</p>
<p>2a – 5b = 3, dan 10b – 4a = &#8211; 5</p>
<p>=&#62;  2(2a – 5b) + (10b -4a) = 2 x 3 + (-5)</p>
<p>&#60;=&#62;  4a – 10b + 10b- 4a = 1</p>
<p>&#60;=&#62; 0 = 1</p>
<p>Ini bukan pembuktian bahwa 0 = 1. (trik gini dah basi)</p>
<p>Ini hanya menunjukan bahwa symbol =&#62; yang tersisip dalam langkah-langkah, memutus mata rantai bolak-balik. Artinya tidak ada jaminan bahwa hasil akhirnya adalah sebagai solusi (lihat kesimpulan 1).</p>
<p><strong>Lalu artinya apa ?</strong></p>
<p>Karena kita tahu bahwa 0 = 1 adalah salah. Maka pasti soal juga salah, dengan kata lain : sistem persamaan di atas tidak punya penyelesaian. Atau dengan kata lain lagi: ” tidak ada nilai a dan b yang memenuhi sistem persamaan di atas ”.</p>
<p><strong>NB:</strong> pemahaman dasar ini sebagai fundamen bagi anda dalam memahami teknik pembuktian dengan cara ”kontradiksi”.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Semoga bermanfaat</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong></strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;color:black;font-size:small;"> <a href="http://matematikadasar.wordpress.com/"><strong><span style="text-decoration:underline;">Kembali ke Daftar Isi</span></strong></a></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pembahasan Logika Yang membingungkan (eps.3)]]></title>
<link>http://matematikadasar.wordpress.com/2009/03/02/pembahasan-logika-yang-membingungkan-eps3/</link>
<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 12:08:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>matematikadasar</dc:creator>
<guid>http://matematikadasar.wordpress.com/2009/03/02/pembahasan-logika-yang-membingungkan-eps3/</guid>
<description><![CDATA[Tulisan ini adalah kelanjutan dari “pembahasan logika membingungkan (eps.2)”. Tadinya saya akan memb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]&#62;--> <!--[endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]&#62;--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL">Tulisan ini adalah kelanjutan dari “pembahasan logika membingungkan (eps.2)”. Tadinya saya akan membahas penggunaan tanda </span><span style="font-family:Symbol;color:black;" lang="NL">→</span><span style="color:black;" lang="NL"> dan </span>↔<span style="color:black;" lang="NL"> (yang tidak lain berakar dari konsep implikasi dan biimplikasi) dalam pengerjaan/pembuktian matematika. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL">Saya memandang penting materi ini, mengingat ada kecenderungan dalam beberapa buku lokal yang kurang mengindahkan penulisannya, padahal disanalah letak fundamen ilmu matematika. (meskipun saya juga kerap lupa menuliskannya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL">Diharapkan tulisan nanti, bisa melengkapi apa yang selama ini luput dalam pembelajaran matematika di sekolah. Amin&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL">Doa’in aja gak ada kerjaan numpuk dadakan lagi dari tempat kerja <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> , soalnya materi ini perlu waktu, mengingat lumayan cukup sulit untuk bisa saya ulas dalam bahasa yang sederhana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL">Namun sebelum menginjak ke sana, rupanya masih ada sedikit bahasan yang saya pandang perlu untuk dikedepankan, karena bisa menjadi landasan untuk memahami pokok bahasan nanti. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL">Mengapa para matematikawan memilih menggunakan sistem logika “yang terbatas” bukannya logika keseharian (logika kognitif/dialektika).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Sekarang kita lanjutkan percakapan antara Saya dan Andi episode 3. </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Take 3 …. Siap…action ..!</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong> <!--more--></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Bro, lanjutin bahas logika yuk !. </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Oke</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Logika matematika yang kita pake sekarang berarti udah jadul banget ya ? </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jangan salah, kita baru bahas dasarnya saja, sekarang udah dikembangkan lagi. Salah satunya oleh <em><span style="color:black;">David Hilbert </span></em><span style="color:black;">dan <em>Wilhelm Ackerman </em>dalam<em> </em>bukunya <em>Principle of Theorical Logic</em></span> tahun 1928. Mereka memperkenalkan <em><span style="color:black;" lang="SV">First Order Predicate Logic</span></em><span style="color:black;" lang="SV">, </span><span style="color:black;">atau yang biasa dikenal dengan <em>kalkulus predikat . </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;" lang="SV"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;" lang="SV">First Order Predicate Logic </span></em><span style="color:black;" lang="SV">dianggap sebagai teori yang saat ini paling berpengaruh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Tapi ada catatan penting, pada tahun 1879, filsuf berkebangsaan Jerman yang bernama <em>Gottlob Frege </em>menerbitkan sebuah risalat yang berjudul <em>the Begriffsschrift </em>(“Concept Script”).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Karya ini dianggap sebagian kalangan sebagai asal muasal dari teori logika modern. Akan tetapi, dalam risalat milik Friege ini masih terdapat banyak kekurangan dalam beberapa bagian dan janggal dalam penotasiannnya. Walaupun demikian, penemuan Frege ini tetap diakui.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;">Lebih dalam dong</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Supaya kita fokus, lebih baik jangan dulu membahas itu, saya perkenalkan kulitnya saja. PR aja buat kamu cari nanti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;">Hemh..OK dech, lalu apa teori terbaru ini sudah mampu mengakomodir bahasa keseharian kita ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Setidaknya lebih baik dari pada logika klasik. Kalkulus Predikat memecah kalimat-kalimat ke dalam subjek dan argument-argumen, dengan berbagai cara yang berbeda-beda. Jadi analisis dan penyimbolan suatu kalimat lebih komplit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Untuk itu, kalkulus predikat bisa digunakan untuk memecahkan <em>problem of multiple generality </em>(masalah dalam berbagai keadaan umum) yang telah membingungkan sebagian besar ahli-ahli logika abad pertengahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Dengan menggunakan logika predikat ini, untuk pertama kalinya, para ahli-ahli logika bisa memberikan <em>quantifier </em>(penyimbolan)<em> </em>yang cukup umum untuk merepresentasikan semua argumen yang terdapat pada bahasa keseharian<em>.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;" lang="SV">Berarti bahasan logika udah beres dong ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV">Maksudnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;" lang="SV">Pemikiran manusia dalam bahasa keseharian udah bisa dipetakan kedalam notasi dan struktur matematika. Bahasa sederhananya ”sudah lebih logis bagi kalangan awam”.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV">Sayangnya belum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;" lang="SV">Lho ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI">Kalkulus Predikat memang telah berfungsi dengan baik dalam beberapa bidang, terutama dalam penalaran dan pengembangan matematika. Namun rupanya, aplikasi dalam sains kognitif dan kecerdasan buatan memperlihatkan banyak perbedaan mendasar dengan penalaran manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Maksudnya ?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Cara manusia menalar sangat kompleks untuk dipetakan. Mungkin ini ada sangkutannya dengan anugrah akal yang diberikan Tuhan memang spesial, terlalu dahsyat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Pantesan ada yang ngomong “memahami alam memang sulit, namun mempelajari manusia jauh lebih sulit. </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ya, kira-kira begitu</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Kendala sebenarnya apa sih bro?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI">Sebelumnya, untuk membedakan dengan logika matematika. Cara berpikir manusia dalam konteks keseharian, kita istilahkan dengan logika kognitif. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;" lang="FI"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI">Kendala yang dihadapi untuk memetakan pemikiran manusia:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;" lang="FI"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="color:black;" lang="FI">1.  <strong>Ketidakpastian</strong>. Seringkali manusia mengembangkan / memperbaharui pengertiannya, sehingga ada perbedaan seiring waktu (tidak konsisten). Kita ambil contoh kecil : kata ”sekolah ” sudah mengalami pergeseran/pengembangan, sehingga dikenal istilah-istilah baru : sekolah umum, sekolah berasrama (boarding school), kursus, pelatihan, belajar jarak jauh (sistem modul), dan yang terbaru adalah home schooling.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI">Sehingga jika ada yang mengatakan ”saya bersekolah”, tidak lagi selalu berarti ada kelas, banyak murid, ada Guru, papan tulis dsb.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="color:black;" lang="FI">2.  Dalam logika matematika, sebuah <em>term </em>majemuk (<em>compound term</em>) benar-benar diartikan sesuai dengan definisinya perkata. Sebaliknya, dalam pemikirian manusia, sebuah <em>term </em>majemuk bisa berarti lain. </span><span style="color:black;" lang="SV">Contohnya: apakah “panjang tangan” adalah benar-benar tangannya panjang ? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="color:black;">3. Dalam </span><span style="color:black;" lang="FI">logika</span><span style="color:black;"> matematika, sebuah pernyataan hanya bernilai benar atau salah, sedangkan manusia sering sekali menempatkan nilai kebenaran dari suatu pernyataan diantara benar dan salah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="color:black;" lang="NL">4.  Dalam logika matematika, nilai kebenaran suatu pernyataan tidak akan berubah. Akan tetapi, manusia sering memperbarui pengertian mereka setelah mendapatkan informasi baru. Contoh: konsep atom, yang sebelumnya dipercayai sebagai unsur terkecil dan tidak dapat diurai lagi sebagai konsep yang benar . Sekarang sudah tidak relevan lagi/salah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="color:black;" lang="NL">5.  Pada pemikiran manusia, proses penarikan kesimpulan kadang tidak bisa ditebak, bahkan </span><span style="color:black;" lang="FI">kadang</span><span style="color:black;" lang="NL"> penarikan kesimpulannya mengarah ke sesuatu yang sama sekali tidak didukung oleh informasi sebelumnya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI">Contoh</span><span style="color:black;" lang="NL"> :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL">“Jika </span><span style="color:black;" lang="FI">Robi</span><span style="color:black;" lang="NL"> rajin belajar, maka ayah akan membelikan sepeda “, ternyata Ayah tidak membelikan sepeda. Kesimpulannya ?. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL">Bisa jadi ada yang mengatakan “mungkin Ayahnya lupa”, atau “mungkin Ayahnya mengalami krisis keuangan ‘ dsb.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="color:black;" lang="NL">6.  Suatu kesimpulan yang dicapai manusia kadang tidak bisa ditelusuri dengan jelas. Mereka </span><span style="color:black;" lang="FI">kerapkali</span><span style="color:black;" lang="NL"> menggunakan kemampuan instuisi dalam mengambil keputusan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI">Contohnya</span><span style="color:black;" lang="NL">: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL">Kenapa anda memilih belokan ke kiri?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL">“feeling </span><span style="color:black;" lang="FI">aja</span><span style="color:black;" lang="NL"> “</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL">Jelas tak bisa dimodelkan alur logikanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="color:black;" lang="NL">7.  dll</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong><span lang="NL">Ya, sekarang ogut bisa lebih memaklumi, untuk mengembangkan ilmu matematika, para matematikawan membatasi diri pada logika matematika, yang lebih menitik beratkan pada struktur dengan pembatasan yang ketat. Kebayang kalo’ matematika dikembangkan menggunakan logika keseharian, bisa-bisa setiap tahun rumus matematika berubah.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;" lang="NL"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL">Yang pasti sih lumayan buat yang bikin buku </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;" lang="NL">Buku cetak atau elektronik ?, harus jelas dong!!, definisi buku juga kan udah diperbaharui.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="NL">Duuuh, yang dah belajar belajar logika. Tapi ya begitulah memang kalau pake logika kognitif. Misal ada tulisan pada tahun 1950-an :“ sayang sekali, berapa banyak pohon telah dimusnahkan, hanya untuk membuat sebuah buku propaganda murahan seperti ini?“, jaman sekarang mah jawabannya bisa jadi tidak satupun pohon.</span></p>
<div style="border:medium medium 2.25pt none none double 0 0 windowtext;padding:0 0 1pt;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><strong><span style="color:black;" lang="NL"> <span style="color:#ff0000;">Jadi premis-premis yang digunakan dalam pengembangan matematika, memang sudah dipilih/dibatasi secara hati-hati.  dengan syarat nilai kebenarannya tidak akan berubah sampai kapanpun  dan dimanapun?.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><strong><span style="color:black;" lang="NL"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL">Betul, untuk itu sebagian kalangan mengatakan bahwa matematika sebagai ilmu pasti. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><strong><span style="color:black;" lang="NL">Tapi banyak lho yang tidak setuju, di beberapa blog justru mempertanyakan tingkat kepastian ilmu matematika.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL">Kalo mengikuti bahasan dari awal, seharusnya kamu bisa maklum, pengertian yang ada dalam matematika sekali lagi dibenturkan dengan konteks sosial yang lebih umum. Misalnya pandangan bahwa “tidak ada yang pasti kecuali apa yang datang dari Tuhan”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL">Memang kalo tidak dipahami dalam konsteks apa sebenarnya para ahli menyatakan matematika sebagai ilmu pasti, ya jadinya begini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><strong><span style="color:black;" lang="NL">Bisa jadi memang begitu, tapi saya kira ada alasan lain. Para matematikawan kerap bersinggungan pendapat. Misalnya postulat kesejajaran dalam geometri Euclid yang dibantah, kemudian lahirlah geometri non-Euclid sebagai geometri yang dianggap lebih bisa diterapkan lebih luas. Misalnya dalam merumuskan masalah pergerakan planet, ruang dan waktu.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><strong><span style="color:black;" lang="NL"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL">Kalau kita coba pahami sebenarnya tidak ada yang salah. Semua produk yang berasal dari aksioma dan postulat geometri Euclid, kebenarannya tidak terbantahkan secara matematis. Karena dia mengkhususkan diri pada bidang datar (<em>plane geometry</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;">
<p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--> <!--[if gte mso 10]&#62;--> <!--[endif]--></p>
<div style="border:medium medium 2.25pt none none double 0 0 windowtext;padding:0 0 1pt;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL">Banyak fenomena alam yang mempunyai karakteristik seperti bidang Euclid. Atau setidaknya kita membatasi fokus kajian dari fenomena alam tersebut sehingga cocok dengan geometri Euclid. Untuk itu ilmu ini tidak bisa disebut usang atau gugur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL">Mengenai fenomena lain yang memunculkan gagasan/aksioma lain, kita anggap sebagai pelengkap, bukan pembantah. Dia mengambil kerangka baru untuk dikembangkan. Misalnya pemikiran bahwa alam semesta ini “bundar” seperti balon yang mengembang, atau seperti bentuk pelana yang terbuka. Tentu saja geometri bidang datar kurang cocok untuk digunakan dalam pengembangan teori ini. Di sini sebenarnya pokok permasalahannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><strong><span style="color:black;" lang="NL">Simpelnya masing-masing untuk kegunaan yang berbeda?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL">Ya, makanya, kita harus mengetahui benar maksud dan karakteristik masalah yang dihadapi. Lalu mencocokan konsep mana yang sesuai dengan karakteristik itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><strong><span style="color:black;" lang="NL">Berarti kalau begitu ilmu matematika sampai saat ini masih terus berkembang?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><strong><span style="color:black;" lang="NL"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL">Itu sudah pasti. Kalau tidak, apa saja kerjaan para profesor ?. Selama manusia memikirkan sebuah aksioma/landasan baru, selama itu pula matematika akan terus berkembang. Dalam hal ini, menambah cakupan pembahasannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><strong><span style="color:black;" lang="NL">Sip. Thanx bro, gak kerasa kita udah melebar terlalu jauh nih. Cukup dulu aja ya ? </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL">Oke dech.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="NL"><br />
</span></p>
</div>
</div>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;color:black;font-size:small;"> <a href="http://matematikadasar.wordpress.com/"><strong><span style="text-decoration:underline;">Kembali ke Daftar Isi</span></strong></a></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pembahasan logika membingungkan (eps.2)]]></title>
<link>http://matematikadasar.wordpress.com/2009/02/27/pembahasan-logika-membingungkan-eps2/</link>
<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 01:27:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>matematikadasar</dc:creator>
<guid>http://matematikadasar.wordpress.com/2009/02/27/pembahasan-logika-membingungkan-eps2/</guid>
<description><![CDATA[Sebelum saya jawab pertanyaan Bpk.Saepudin dan Hendry di comment pada postingan saya sebelumnya (pem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="SpellE">Sebelum</span> <span class="SpellE">saya</span> <span class="SpellE">jawab</span> <span class="SpellE">pertanyaan</span> <span class="SpellE">Bpk.Saepudin</span> <span class="SpellE">dan</span> Hendry <span class="SpellE">di</span> comment <span class="SpellE">pada</span> <span class="SpellE">postingan</span> <span class="SpellE">saya</span> <span class="SpellE">sebelumnya (pembahasan logika membingungkan eps.1)</span>. <span class="SpellE">Saya</span> <span class="SpellE"><span class="GramE">akan</span></span> <span class="SpellE">uraikan</span> <span class="SpellE">informasi</span> <span class="SpellE">tambahan</span> <span class="SpellE">sebagai</span> <span class="SpellE">landasan</span>, <span class="SpellE">supaya</span> <span class="SpellE">kita</span> <span class="SpellE">berpijak</span> <span class="SpellE">dalam</span> <span class="SpellE">kerangka</span> yang <span class="SpellE">sama</span>. <span class="SpellE"><span class="GramE">Mudah-mudahan</span></span><span class="GramE"> <span class="SpellE">tulisan</span> <span class="SpellE">ini</span> <span class="SpellE">mampu</span> <span class="SpellE">menjawab</span> <span class="SpellE">pertanyaan-pertanyaan</span> <span class="SpellE">tersebut</span>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Walaupun ada kemungkinan besar pada saat ini , kedua orang tersebut udah mengerti dengan sendirinya, saya akan bahas khusus buat yang masih remeng-remeng aja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="SpellE">sebelumnya lagi, ada hal lucu. Seorang</span> <span class="SpellE">teman</span> sampe <span class="SpellE">mengatakan</span> (<span class="SpellE">setelah</span> <span class="SpellE">membaca</span> <span class="SpellE">tulisan</span> <span class="SpellE">saya</span> <span class="SpellE">sebelumnya</span>) <span class="GramE">“ <span class="SpellE">berarti</span></span> <span class="SpellE">konsep</span> <span class="SpellE">logika</span> <span class="SpellE">harus</span> <span class="SpellE">dikritisi</span> <span class="SpellE">lagi</span> <span class="SpellE">atau</span> <span class="SpellE">malah</span> <span class="SpellE">diubah</span>”. <span lang="SV">Saya tersenyum sambil menggelengkan kepala, lalu menjawab: ” ya tidak lah, tulisan ini cuman amatiran. Lagi pula sebenarnya masalah yang sedang kita bahas ini bukan masalah baru, sudah dilangsir (dikemukakan) jauh berabad-abad lalu, malah konon sebelum masehi. Dan sekarang telah dianggap selesai oleh para ahli, cuman banyak dari kita yang tidak tahu, itu saja ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="SV">Jadi, pertanyaan semangat yang kritis ( hampir mirip dilontarkan hendry), memang telah membuat evolusi dalam bidang logika itu sendiri. Perlu diketahui bahwa logika, cakupannya tidak satu. Dengan kata lain, sistem logika yang dipelajari di tingkat SMA, itu hanya satu dari sekian banyak aliran logika. Berikut ringkasannya:</span></p>
<div class="Section1" style="text-align:justify;">
<table class="MsoTableGrid" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:29.4pt;padding:0 5.4pt;" width="39" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">No</span></strong></p>
</td>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:132pt;padding:0 5.4pt;" width="176" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><br />
<span lang="SV">Nama</span></strong></td>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:126pt;padding:0 5.4pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><br />
<span lang="SV">Tokoh yang mengembangkan</span></strong></td>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:93.3pt;padding:0 5.4pt;" width="124" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><br />
<span lang="SV">Awal lahirnya aliran</span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:29.4pt;" width="39" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">1</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:132pt;padding:0 5.4pt;" width="176" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Analitic (logika klasik)</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:126pt;padding:0 5.4pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Aristoteles</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:93.3pt;padding:0 5.4pt;" width="124" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">300 SM</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:29.4pt;" width="39" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">2</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:132pt;padding:0 5.4pt;" width="176" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Rasionalitasme</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:126pt;padding:0 5.4pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Plato,<br />
descartes, spinoza, leibniz</span></td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:93.3pt;padding:0 5.4pt;" width="124" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Abad ke-17 M</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:29.4pt;" width="39" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">3</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:132pt;padding:0 5.4pt;" width="176" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Empirisme</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:126pt;padding:0 5.4pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Hume, berkeley</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:93.3pt;padding:0 5.4pt;" width="124" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Abad ke-17 M</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:29.4pt;" width="39" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">4</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:132pt;padding:0 5.4pt;" width="176" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Modernisme</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:126pt;padding:0 5.4pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Immanuel Kant</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:93.3pt;padding:0 5.4pt;" width="124" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Abad ke-17 M</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:29.4pt;" width="39" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">5</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:132pt;padding:0 5.4pt;" width="176" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Dialektika</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:126pt;padding:0 5.4pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="DE">Aristoteles,<br />
Heraclitus, hegel, heisenberg, einstein, darwin, heisenberg</span></td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:93.3pt;padding:0 5.4pt;" width="124" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Abad ke-18</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:29.4pt;" width="39" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">6</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:132pt;padding:0 5.4pt;" width="176" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Logika matematika</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:126pt;padding:0 5.4pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="DE">Leibniz, boole,<br />
de morgan</span></td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:93.3pt;padding:0 5.4pt;" width="124" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Abad ke-19</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Terlihat jelas kan?, para ahli juga kerap bersinggungan pendapat. </span><span lang="SV">Lalu saling melengkapi apa yang dianggap kurang dengan cara mengkhususkan pokok kajian. </span><span lang="DE">Istilahnya berbagi kapling kali ya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="DE">Sebenarnya masih banyak lagi. Antara paham yang satu dan yang lainnya, ada yang saling bertentangan dan ada pula yang memiliki konsep dasar sama. Akan tetapi meskipun bertentangan bukanlah untuk saling dipertentangkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;" lang="DE">Berikut lanjutan percakapan saya dengan Andi episode 2, siap&#8230;.action !!!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;" lang="DE"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="DE"><!--more--></span><strong><span style="color:black;" lang="DE">Bisa diterangkan bro untuk apa dipertahankan banyak mazhab kaya gitu ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="DE">Ya, dengan banyaknya aliran yang dikemukakan, sebenarnya kita jadi lebih mudah. Tinggal pahami apa yang kita maksud, lalu cocokan aliran mana yang bisa mengakomodir maksud kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;" lang="DE">Jadi, jangan di dicampurkan?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="DE">Ya, jangan dong. </span><span style="color:black;" lang="SV">Misalnya : untuk persoalan sederhana, gunakan Logika klasik itu akan cocok. </span><span style="color:black;" lang="DE">Untuk menggali/membahas ilmu-ilmu tentang alam, pilih empirisme. Untuk pemahaman, pilih rasionalitasme. Dan untuk persoalan yang kompleks, dalam arti banyak kemungkinan yang terlibat, pilihlah dialektika, dsb. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="DE">Lalu logika sekarang yang kita bahas apa?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Logika matematika, dan dialektika. Karena umumnya masih kurang dipahami mengenai batas-batasnya. Dalam aksioma dasar logika matematika, disebutkan bahwa :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">A = A, <span> </span>(<em>The Law of Identity</em>) <span class="SpellE">hukum</span> <span class="SpellE">identitas</span>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:48pt;text-align:justify;"><span class="SpellE"><span class="GramE">secara</span></span> <span class="SpellE">sederhana</span> <span class="SpellE">Benar</span> <span class="SpellE">adalah</span> <span class="SpellE">benar</span>, <span class="SpellE">salah</span> <span class="SpellE">adalah</span> <span class="SpellE">salah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:48pt;text-align:justify;text-indent:-48pt;"><span class="GramE">A ≠ ~ A, (The law of the excluded middle), <span class="SpellE">mengandung</span> <span class="SpellE">arti</span> “<span class="SpellE">tidak</span> <span class="SpellE">mungkin</span> A <span class="SpellE">bisa</span> <span class="SpellE">bernilai</span> <span class="SpellE">benar</span> <span class="SpellE">tapi</span> <span class="SpellE">bisa</span> <span class="SpellE">juga</span> <span class="SpellE">bernilai</span> <span class="SpellE">salah</span> “.</span> <span lang="DE">Aksioma ini memfilter/menolak ambiguitas yang sering muncul. Misalnya dalam bahasa keseharian, mirip dengan ungkapan “mungkin begitu tapi mungkin juga tidak“.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Mirip dengan dengan contoh saya yang di pertanyakan hendry‚ dalam tulisannya “ <em>&#8230;Saya kurang setuju karena mungkin saja si penulis menganggap bahwa begini: Jika kambing tidak hidup, <strong>maka belum tentu bernafas.</strong> Mungkin saja dia beranggapan begitu.. Siapa yang bisa menduga?? &#8230;</em>“</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Dengan pisau analisis seperti itu, dia sudah melanggar dua aksioma di atas. Sehingga tanpa disadari bukan lagi sedang berada dalam wilayah logika matematika, melainkan sudah melompat ke wilayah dialektika. Menafikan batasan aksioma, berarti sudah beda alam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="DE">Tapi kan yang benar seperti itu, artinya selalu terbuka kemungkinan lain?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Nah itu juga yang disinyalir oleh Aristoteles, kurang lebih beliau senada dengan keberatan hendry. Selalu ada banyak faktor yang mempengaruhi keberlangsungan suatu fenomena. Aristoteles telah memberikan sepuluh kategori yang dapat menjadi bahan pertimbangan. </span><span lang="FI">Kita juga dapat menambahkan kategori-kategori lainnya untuk memastikan ketepatan penalaran kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Gak ngerti akh, kasih contoh dong?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Misal kamu mengatakan, ”saya suka minum coca-cola dingin”. Berarti jika suatu saat saya menyuguhkan minuman tersebut, kamu akan suka, betul?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Ya, lanjut!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Nah, misalkan kamu naik motor kehujanan, pas sampai di rumah aku, kamu kedinginan abis. Kemudian saya menyuguhkan coca-cola dingin, kamu langsung nolak. Kemudian saya bilang lho katanya kamu suka?. Kamu lalu jawab: iya, tapi gak dalam kondisi gini kali !!, gila aja lu!!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Pernyataan awal kamu sudah berubah menjadi tidak suka. Artinya kamu bisa suka, tapi bisa juga tidak suka, minum CC dingin, betul?.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Ya iya lah, tergantung kondisinya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Itulah yang saya maksud, <strong>tergantung kondisi</strong>, dalam bahasa Aristoles ”tergantung pada kategori/konteks tertentu”. Nah kategori ini bahasa lainnya adalah ”dialektika”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Oh, jadi dialektika kayak gitu toch ?.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Simpel nya sih iya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Lho kok..emang lengkapnya gimana?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Baca aja sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="FI">Ye..pelit, tapi gak apa. </span></strong><strong><span lang="SV">Sekilas dialektika kayaknya lebih kena ya daripada logika matematika ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Bukan begitu, anggaplah keduanya sebagai alat untuk keperluan yang berlainan. Dialektika memang lebih ”membumi” atau lebih mendekati bahasa natural kita sehari-hari yang mencakup aliran gagasan lebih kompleks. Beda halnya dengan logika matematika, dia dikhususkan pada masalah sederhana. Kalo dalam bahasa komputer, mirip-mirip kaya gini : antara bahasa tingkat rendah (assembly) dan bahasa tingkat tinggi (pascal, delphi, php etc). Semuanya masih dipake, namun programer akan merasa cocok dengan salah satu saja ketika membuat program khusus tertentu, dengan mempertimbangkan keefektifan, kemudahan dan kompleksitas program.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Arti bahwa logika matematika mencakup hal yang sederhana yang saya maksudkan adalah hanya mencakup unsur-unsur yang dibatasi secara ketat, seperti matematika ini. Pembatasan ini sangat ketat, sehingga jangan kaget jika kamu baca di buku ada kalimat kayak gini ” logika matematika hanya memperhatikan struktur saja, tanpa perduli masuk akal atau tidaknya suatu pernyataan”. Lebih lanjut malah ada buku yang menambahkan ”tanpa memperdulikan ada keterhubungan sebab akibat antara kondisinal dan konklusinya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Oh..pantesan di buku ada aja contoh aneh gak nyambung kayak gini : ” jika 1 + 2 = 5 maka matahari terbuat dari keju ” tapi dibahas dalam pokok bahasan logika, sebelumnya saya pikir untuk apa, kurang kerjaan aja bikin soal teh. Sekarang sih, lumayan nih agak remeng-remeng.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Ya, mungkin penulis sedang berupaya menyadarkan pembaca bahwa sebenarnya mereka sedang dibawa pada ”alam lain” yang berbeda dengan bahasa keseharian. Makanya soal-soal dibuat aneh kayak gitu. Seperti baca Harry Potter, banyak sekali makhluk-makhluk dan kejadian aneh yang dimunculkan. Tapi ketika penulis dan pembaca sama-sama sepakat bahwa mereka sedang berada di alam imajinasi penulis, bukan lagi dalam realitas keseharian, maka kamu gak bisa protes ke JK Rawling, misalnya ”tolong dibuktikan kalau sapu memang bisa terbang , dan tunjukan bukti arkeologis bahwa raksasa seperti Hagrid memang pernah ada!”. kalo ada orang seperti itu, aneh kan ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Ok, tapi waktu aku baca buku logika SMA, aku gak merasa sedang dibawa ke alam lain, pantesan aja bingung terus</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kalo aku nulis buku nanti, khusus buat kamu aku akan tulis di kata pengantar ” sebentar lagi anda akan memasuki memasuki alam lain, silahkan tinggalkan kepala anda di luar pintu ” <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Gila, lu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Canda kali <em>man</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Jadi, kalo sedang membahas soal logika matematika, jangan banyak asumsi/penilaian lain ya?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Ya, betul. Perhatikan saja struktur nya, ikuti kaidah, cukup. Untuk itu, premis-premis sering disimbolkan menjadi p , q , r dll. Diharapkan sedikitnya mengurangi semangat otak ”normal” kita untuk menilai dan menambahkan asumsi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Iya sih, kalo pake simbol gitu mah saya juga gak pernah ada masalah. Nah sekarang kembali ke pernyataan tentang kambing. Gimana?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Tentu saja. Kalo pernyataan itu kita temukan dalam buku atau soal yang memang sedang membahas logika matematika, mau tidak mau kita harus sepakat bahwa kondisi ” ketika kambing tidak hidup, dia bernapas” sebagai suatu yang benar. Dan konteks ini adalah sangat wajar. Karena sekali lagi kita sedang berada diwilayah ”aneh” logika matematika. Makanya kalo gak mau pusing<span> </span>ganti dengan ”jika p maka q” beres. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Tapi, jika pernyataan itu kita dengar dalam percakapan keseharian, misalnya dalam obrolan dengan teman, tulisan tabloid dsb, yang tidak ada sangkut paut dengan bahasan logika matematika. Nah, baru pendapat Hendry menjadi benar, yaitu ada kemungkinan yang ngomong memang bermaksud “Jika kambing tidak hidup, maka belum tentu bernafas”. Malahan kita bebas menambahkan asumsi-asumsi lain, gak ada batasan, tokh kita sedang diwilayah kehidupan normal. Jadi jangan kamu koreksi, ”seharusnya pake jika dan hanya jika dong !”, nanti malah di gampar, baru tau rasa lu <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Sip, thanx bro, tapi udah dulu akh. </span><span class="SpellE">Gua</span> <span class="SpellE">cabut</span> <span class="SpellE">dulu</span>, <span class="SpellE">mau</span> <span class="SpellE">kembali</span> <span class="SpellE">ke</span> <span class="SpellE">kehidupan</span> normal <span class="SpellE"><span class="GramE">gua</span></span></strong><span class="GramE"> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </span> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="SpellE">Yoi<span class="GramE">..sip</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="SpellE"><strong>Eh<span class="GramE">..tapi</span></strong></span><strong>, <span class="SpellE">penggunaan</span> <span class="SpellE">implikasi/biimplikasi</span> <span class="SpellE">dalam</span> <span class="SpellE">pembuktian</span> <span class="SpellE">matematika</span> <span class="SpellE">gimana</span> ?, <span class="SpellE">kita</span> <span class="SpellE">belum</span> <span class="SpellE">bahas</span>.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="SpellE">Ya<span class="GramE">..santai</span></span> <span class="SpellE">aja</span> kali, <span class="SpellE">kaya</span> yang <span class="SpellE">mau</span> pension <span class="SpellE">besok</span> <span class="SpellE">aja</span>, <span class="SpellE">lagian</span> <span class="SpellE">gua</span> <span class="SpellE">juga</span> <span class="SpellE">udah</span> cape  <span style="text-decoration:line-through;"><span class="SpellE">ngetik</span> <span class="SpellE">segini</span> <span class="SpellE">banyak</span></span>, <span class="SpellE">eh..<span class="GramE">maksudnya</span></span> <span class="SpellE">ngomong</span> <span class="SpellE">segini</span> <span class="SpellE">banyak</span>. <span class="GramE">Mending <span class="SpellE">bener</span>, <span class="SpellE">taunya</span> <span class="SpellE">banyak</span> <span class="SpellE">salah</span>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
</div>
<div class="Section1" style="text-align:justify;"><span class="SpellE"><span class="GramE"><strong>Oke</strong></span></span><span class="GramE"><strong> <span class="SpellE">dech</span>.</strong></span><strong> <span class="SpellE"><span class="GramE">Sekali</span></span><span class="GramE"> <span class="SpellE">lagi</span> <span class="SpellE">thanx</span>.</span> <span class="SpellE"><span class="GramE">Kalo</span></span><span class="GramE"> <span class="SpellE">salah</span> <span class="SpellE">mah</span> <span class="SpellE">wajar</span> bro. Tar <span class="SpellE">juga</span> <span class="SpellE">pasti</span> <span class="SpellE">ada</span> yang <span class="SpellE">ngoreksi</span>.</span> Lu <span class="SpellE"><span class="GramE">kan</span></span> <span class="SpellE">bukan</span> expert, <span class="SpellE">jadi</span> <span class="SpellE">nyantai</span> <span class="SpellE">aja</span>.</strong></div>
<div class="Section1" style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></div>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;color:black;font-size:small;"> <a href="http://matematikadasar.wordpress.com/"><strong><span style="text-decoration:underline;">Kembali ke Daftar Isi</span></strong></a></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pembahasan logika 'yang membingungkan'(eps.1)]]></title>
<link>http://matematikadasar.wordpress.com/2009/02/26/pembahasan-logika-yang-membingungkan/</link>
<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 01:02:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>matematikadasar</dc:creator>
<guid>http://matematikadasar.wordpress.com/2009/02/26/pembahasan-logika-yang-membingungkan/</guid>
<description><![CDATA[Suatu kali saya mendapatkan suatu keluhan: “kok mempelajari logika susah ya, katanya logika tapi mal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div class="Section1">
<p class="MsoNormal">Suatu kali saya mendapatkan suatu keluhan: “kok mempelajari logika susah ya, katanya logika tapi malah kadang tidak logis (tidak masuk akal)”.</p>
<p class="MsoNormal">Saya terus terang heran dengan pernyataan tersebut, pasti ada <em>miss  understanding</em> pikirku. Selidik punya selidik, ternyata yang jadi titik tekan adalah konsep implikasi, kita simak saja dulu, dua contoh yang kerapkali membingungkan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Contoh 1:</strong></p>
<p class="MsoNormal">“Jika hari cerah, maka amir pergi ke pasar”</p>
<p class="MsoNormal">Kondisi:</p>
<p class="MsoNormal">Hari cerah (B), Amir pergi ke pasar (B)………………bernilai benar</p>
<p class="MsoNormal">Hari cerah (B), Amir tidak pergi ke pasar (S)..…….…bernilai salah</p>
<p class="MsoNormal">Hari tidak cerah (S), Amir pergi ke pasar (B)…..…….bernilai benar</p>
<p class="MsoNormal">Hari tidak cerah (S), Amir tidak pergi ke pasar (S)…..bernilai benar</p>
<p class="MsoNormal">Yang jadi masalah terletak pada poin 3.Kenapa bisa menjadi benar, bukankah amir pergi ke pasar jika hari cerah?, sedangkan pada poin 3 hari tidak cerah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Contoh 2:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">“ Jika kambing hidup, maka dia bernapas ”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kondisi:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kambing hidup (B), dia bernapas (B) &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..bernilai benar</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kambing hidup (B), dia tidak bernapas (S)&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.bernilai salah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kambing tidak hidup (S) , dia bernapas (B) &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;bernilai benar</span></p>
<p class="MsoNormal">Kambing tidak hidup (S) , dia tidak bernapas (S) &#8230;.benilai benar</p>
<p class="MsoNormal">Yang jadi masalah pada poin 3. <span lang="SV">Masa kambing mati, tapi bernapas, bisa dikatakan benar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><!--more--><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<h2 class="MsoNormal"><strong>Oke kita bahas, siap ….?</strong></h2>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal">Misalkan ada yang bertanya pada saya, sebut saja Andi :</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-indent:-42pt;">Andi     : Saya ingin merangkai kalimat dari dua frase, namun bingung menetapkan kata hubung yang sesuai. <span lang="SV">Implikasi</span> atau biimplikasi ?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;">Frase 1:  hari cerah</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;">Frase 2 : Amir pergi ke pasar</p>
<p class="MsoNormal">Saya     : anda definisikan dulu kondisinya?</p>
<p class="MsoNormal">Andi     : maksudnya?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-indent:-42pt;"><span>Saya     :  anda harus tahu benar apa yang anda maksudkan. Misal, ketika hari cerah , dan amir pergi ke pasar, apakah anda menilai benar ?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Andi     : ya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Saya     : ketika hari cerah , dan amir tidak pergi ke pasar, apakah anda nilai benar ?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Andi     : tidak, saya nilai Amir berbuat salah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Saya     : ketika hari tidak cerah , dan amir pergi ke pasar, apakah anda nilai benar ?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Andi     : tidak, saya nilai itu juga salah. Amir hanya pergi ketika hari cerah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Saya     : ketika hari tidak cerah , dan amir tidak pergi ke pasar, apakah anda nilai benar ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-indent:-42pt;"><span>Andi     : ya, saya bisa memaklumi kondisi Amir, itu sesuai dengan yang disyaratkan, jadi bisa dibenarkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Saya     : oke kalo begitu, terdapat 4 kondisi yang telah anda definisikan:</span></p>
<table class="MsoTableGrid" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:48pt;" width="64" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">Frase<br />
1</span></td>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:48pt;padding:0 5.4pt;" width="64" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">Frase<br />
2</span></td>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:114.6pt;padding:0 5.4pt;" width="153" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">Nilai<br />
kebenaran</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">yang anda<br />
tentukan</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:48pt;padding:0 5.4pt;" width="64" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">B</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;border-right:1pt solid windowtext;width:48pt;" width="64" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">B</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:114.6pt;" width="153" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">B</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:48pt;padding:0 5.4pt;" width="64" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">B</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;border-right:1pt solid windowtext;width:48pt;" width="64" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">S</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:114.6pt;" width="153" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">S</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:48pt;padding:0 5.4pt;" width="64" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">S</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;border-right:1pt solid windowtext;width:48pt;" width="64" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">B</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:114.6pt;" width="153" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">S</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:48pt;padding:0 5.4pt;" width="64" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">S</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;border-right:1pt solid windowtext;width:48pt;" width="64" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">S</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:114.6pt;" width="153" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">B</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="FI">Nah, itu mirip dengan tabel kebenaran biimplikasi, sehingga jangan memakai konsep implikasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="FI">Kalimat anda seharusnya berbunyi:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="FI">” Hari cerah jika dan hanya jika Amir pergi ke pasar ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="FI">Atau yang lebih enak dimaknai, bisa juga anda tulis dalam bentuk lain:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="FI">”Amir pergi kepasar jika dan hanya jika hari cerah”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="FI">Dalam biimplikasi, keduanya identik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-indent:-42pt;"><span>Andi     : Lho, dalam soal di buku biasanya ditulis sebagai ” Jika hari cerah, maka Amir pergi ke pasar”, apakah itu salah?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Saya     : Tidak, itu tidak salah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Andi     : Lho, kok bisa ?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-indent:-42pt;"><span>Saya     : Jika ada orang lain yang menulis pernyataan seperti itu, berarti pada kondisi ke-3 ” ketika hari tidak cerah, namun Amir tetap pergi ke pasar” dia telah mendefinisikan atau menetapkannya sebagai sesuatu yang benar. Mungkin karena dia menghargai jerih payah usaha Amir, atau ada alasan-alasan lain yang menyebabkan dia membenarkannya. Jika kondisinya seperti ini, maka tabel kebenaran menjadi:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<table class="MsoTableGrid" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:47.4pt;" width="63" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">Frase<br />
1</span></td>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:48pt;padding:0 5.4pt;" width="64" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">Frase<br />
2</span></td>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:114.6pt;padding:0 5.4pt;" width="153" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">Nilai<br />
kebenaran</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">Yang anda<br />
tentukan</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:47.4pt;padding:0 5.4pt;" width="63" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">B</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;border-right:1pt solid windowtext;width:48pt;" width="64" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">B</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:114.6pt;" width="153" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">B</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:47.4pt;padding:0 5.4pt;" width="63" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">B</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;border-right:1pt solid windowtext;width:48pt;" width="64" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">S</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:114.6pt;" width="153" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">S</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:47.4pt;padding:0 5.4pt;" width="63" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">S</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;border-right:1pt solid windowtext;width:48pt;" width="64" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">B</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:114.6pt;" width="153" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">B</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:47.4pt;padding:0 5.4pt;" width="63" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">S</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-left:medium none;border-right:1pt solid windowtext;width:48pt;" width="64" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">S</span></p>
</td>
<td style="border-top:medium none;border-right:1pt solid windowtext;border-bottom:1pt solid windowtext;width:114.6pt;" width="153" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FI">B</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="FI">Nah, ini memang cocok dengan implikasi, sehingga wajar jika dia menulis ” jika hari cerah, maka Amir pergi kepasar&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-indent:-42pt;"><span>Andi     : Ohh&#8230;, jadi sebenarnya, semua tergantung pada pendefinisian awal pada setiap kondisinya ya ?.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-indent:-42pt;"><span>Saya     : Betul, jadi ketika anda mendapatkan pernyataan dalam soal ”Jika hari cerah, maka Amir pergi ke </span>pasar<span lang="FI">”, anda harus mafhum bahwa penulis soal, menganggap kondisi ke-3 sebagai sesuatu yang benar,<br />
seperti penjelasan di atas. Jangan mendefinisikan kembali menjadi versi anda sendiri, karena itu adalah hak dari orang yang membuat pernyataan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="FI">Bukankah kalimat hanya sebagai upaya orang untuk menyampaikan maksudnya ?, ya, maksud dari orang yang membuat kalimat  tentunya, bukan maksud dari pendengar atau pembaca.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="FI">Untuk lebih jelas lagi, mari kita simak contoh ke-2:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="FI">” Jika kambing </span><span>hidup, maka dia bernafas”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="SV">Dalam hal ini, berarti yang membuat pernyataan (penulis soal) berpendapat bahwa pada kondisi ke-3 : ”ketika kambing tidak hidup, namun dia bernafas” sebagai sesuatu yang benar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Andi     : Lho, itu kan aneh ?, menurut saya itu salah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-indent:-42pt;"><span>Saya     : </span>Ingat<span lang="SV">, yang mendefinisikan bukan anda, tapi penulis soal, karena dia yang mempunyai maksud.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Andi     : Tapi tetap saja saya pikir hal itu salah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-indent:-42pt;"><span>Saya     : Kalo anda sangsi, andaikan anda bisa bertemu dengan yang menulis pernyataan itu, anda bisa bertanya dulu apakah ketika kondisi-3, memang dia menilainya sebagai sesuatu yang benar ?. jangan-jangan dia juga malah sepakat dengan anda, bahwa ”ketika kambing mati, namun bernafas” sebagai sesuatu yang salah.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="FI">Nah, kalo’ kondisinya seperti itu, berarti masalah utamanya adalah : yang membuat pernyataan kurang mengerti, sehingga salah dalam memilih kata hubung logika. Anda tinggal mengoreksi bahwa kata hubung dia salah. Seharusnya, kalau maksud dia memang seperti itu, yang dipilih adalah ”jika dan hanya jika” bukannya ”jika..maka”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;"><span lang="FI">Lain halnya, jika dia memang memandang kondisi ke-3 sebagai sesuatu yang benar. Itumah emang orangnya aja aneh, atau  memang ada maksud lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="FI">Kesimpulan:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><span lang="FI">Jika ingin membuat pernyataan logika, harus tahu terlebih dahulu apa yang anda maksudkan, periksa setiap kondisi, kemudian cocokan dengan tabel kebenaran logika formal, sehingga tidak salah memilih kata hubung.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="FI">Jika mendapat pernyataan logika dalam soal, anda tidak perlu mengutak-atiknya lagi. Urusan kita tinggal mencocokan dengan tabel<br />
kebenaran yang baku. Terlepas masuk akal atau tidak pernyataan itu. Karena ada dua kemungkinan, yang nulis memang sengaja ngaco dengan tujuan tertentu, atau tidak sengaja ngaco (dia gak ngerti). Namun sekali lagi, itu pun bukan urusan anda. </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><span lang="FI">Artinya, ketika anda konsisten menjawab soal dengan menggunakan kaidah baku yang terdapat dalam logika formal, maka jawaban anda pasti akan dibenarkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><span lang="FI">Dimohon berhati-hati ketika mengajarkan logika formal dengan menggunakan kejadian sehari-hari, karena ada banyak perbebadaan dalam hal maksud dari beberapa istilah. (istilah matematika dan istilah yang digunakan sehari-hari), seperti kata ”atau”, dan<br />
”jika&#8230;maka”. </span><span lang="FI">Jangan sampai siswa mengeluh ” katanya logika, tapi kok gak logis”</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">KISAH BONUS:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sepasang kekasih bertengkar, karena kehadiran pihak ketiga (selingkuhan)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Juliet    : kamu pilih saya atau dia?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Romeo : dua-duanya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">!!! Plak !!!@!%#</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Secara matematika, pilihan Romeo tidak salah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kata hubung logika ”atau” bermakna : pilih satu atau dua-duanya.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">memilih Juliet &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;bernilai benar</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">memilih selingkuhan &#8230;&#8230;&#8230;..bernilai benar</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">memilih dua-duanya &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;bernilai benar</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">tidak memilih sama sekali&#8230;..bernilai salah</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Karena Romeo ditampar, berarti Juliet merasa kecewa/tidak setuju. Dalam hal ini, Romeo salah menafsirkan maksud dari Juliet, lebih disebabkan karena Juliet telah salah memilih kata-kata. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Alternatif kalimat : </span></p>
<ul>
<li><span lang="SV">Jika maksud Juliet hanya membenarkan Romeo ketika memilih dia, kalimat yang terlontar harusnya: </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> ” Pilih saya, putuskan cewek itu !”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<ul>
<li><span lang="SV">Jika Juliet hanya membenarkan Romeo ketika memilih selingkuhannya, kalimat yang terlontar harusnya: </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> ” Pilih dia saja, putuskan saya!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<ul>
<li><span lang="FI">Jika Juliet membenarkan dan ikhlas ketika Romeo</span><span lang="FI">memilih salah satu, kalimat yang terlontar harusnya: </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> ” pilih salah satu, antara saya dan dia”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="FI">Kesimpulan 2:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Kenali terlebih dahulu maksud anda sebenarnya, pilih kalimat yang tepat (tidak rentan salah tafsir). Dalam matematika, semuanya harus jelas, tidak ambigu. Istilah populernya ”well defined” terdefinisi dengan jelas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
</div>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;color:black;font-size:small;"> <a href="http://matematikadasar.wordpress.com/"><strong><span style="text-decoration:underline;">Kembali ke Daftar Isi</span></strong></a></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Logika Implikasi]]></title>
<link>http://ferdidolot.wordpress.com/2008/09/28/logika-implikasi/</link>
<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 07:01:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ferdiansyah Dolot</dc:creator>
<guid>http://ferdidolot.wordpress.com/2008/09/28/logika-implikasi/</guid>
<description><![CDATA[Jumat kemarin, seorang teman saya bertanya kepada teman saya yang lain. Pertayaannya adalah sebagai ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jumat kemarin, seorang teman saya bertanya kepada teman saya yang lain. Pertayaannya adalah sebagai berikut :</p>
<p><em>&#8220;Jika saya kasih uang satu juta rupiah ke kamu, maka kamu hanya kasih uang seribu rupiah ke saya, sepakat gak?&#8221;</em></p>
<p>Teman saya yang lain merasa heran , dan bertanya :</p>
<p><em>B:  &#8220;Bohong ya, serius gak nih?&#8221;</em></p>
<p><em>A:  &#8220;Serius!&#8221;</em></p>
<p><em>B: &#8220;Terus?&#8221;</em></p>
<p><em>A:  &#8220;Ya udah, seribu nya dulu sini&#8221;</em></p>
<p>Saya yang kebetulan duduk diantara mereka berdua mulai menyadari kalimat yang diucapkan teman saya tersebut, sampai akhirnya teman saya itu bertanya :</p>
<p>&#8220;<em>Kamu sudah tahu kan arah pertanyaan saya?</em>&#8220;</p>
<p>&#8220;Ya&#8221;, jawab saya.</p>
<p>Maksud dari pertanyaan tersebut adalah logika implikasi. Dalam buku Kenneth H. Rossen, Discrete Mathematics, Bab Logika Preposisi, disebutkan bahwa:</p>
<p>p -&#62; q == ~q-&#62;~p , namun p-&#62;q !=q-&#62;p</p>
<p>Jadi, jika si B memberi seribu, si A tidak wajib memberi 1 juta. (got it? )^_^</p>
<p>Jadi, lebih waspada ya terhadap kata-kata. ^_^</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Implikasi Karakteristik Peserta Didik Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan]]></title>
<link>http://exalute.wordpress.com/2008/07/28/implikasi-karakteristik-peserta-didik-terhadap-penyelenggaraan-pendidikan/</link>
<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 07:08:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Masyhuri Arifin</dc:creator>
<guid>http://exalute.wordpress.com/2008/07/28/implikasi-karakteristik-peserta-didik-terhadap-penyelenggaraan-pendidikan/</guid>
<description><![CDATA[IMPLIKASI KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN Implikasi Faktor Intelektu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[IMPLIKASI KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN Implikasi Faktor Intelektu]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
