<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>interna &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/interna/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "interna"</description>
	<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 16:10:51 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[In eigener Sache]]></title>
<link>http://fuckinghotstuff.wordpress.com/2009/11/26/in-eigener-sache/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 18:29:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>FalkEbert</dc:creator>
<guid>http://fuckinghotstuff.wordpress.com/2009/11/26/in-eigener-sache/</guid>
<description><![CDATA[Den Artikel zu frustless.de und zum Socialweb-Marketing mussten wir leider entfernen. Sorry!]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Den Artikel zu frustless.de und zum Socialweb-Marketing mussten wir leider entfernen. Sorry!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pruebas acceso a la ESUBO]]></title>
<link>http://academiamgh.wordpress.com/2009/11/23/pruebas-acceso-a-la-esubo/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 23:51:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>academiamgh</dc:creator>
<guid>http://academiamgh.wordpress.com/2009/11/23/pruebas-acceso-a-la-esubo/</guid>
<description><![CDATA[Promoción Interna a Suboficiales Armada e Infantería de Marina PRUEBAS DE ACCESO A LA ESUBO &nbsp; E]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Promoción Interna a Suboficiales Armada e Infantería de Marina PRUEBAS DE ACCESO A LA ESUBO &nbsp; E]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PENYAKIT KELENJAR PARATIROID]]></title>
<link>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/penyakit-kelenjar-paratiroid/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 14:41:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>kadaverboy</dc:creator>
<guid>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/penyakit-kelenjar-paratiroid/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp; I. KELENJAR PARATIROID I.1 ANATOMI Secara normal ada empat buah kelenjar paratiroid pada manu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>
<p>&#160;</p>
<p>I.	KELENJAR PARATIROID</p>
<p>I.1	ANATOMI<br />
Secara normal ada empat buah kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak tepat dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutub inferiornya (Gbr. I.1). Namun, letak masing-masing paratiroid dan jumlahnya dapat cukup bervariasi, jaringan paratiroid kadang-kadang ditemukan di mediastinum.</p>
<p>Gambar I.1</p>
<p>Setiap kelenjar paratiroid panjangnya kira-kira 6 milimeter, lebar 3 milimeter, dan tebalnya dua millimeter dan memiliki gambaran makroskopik lemak coklat kehitaman. Kelenjar paratiroid sulit untuk ditemukan selama operasi tiroid karena kelenjar paratiroid sering tampak sebagai lobulusyang lain dari kelenjar tiroid. Dengan alasan ini, sebelum manfaat dari kelenjar ini diketahui, pada tiroidektomi total atau subtotals sering berakhir dengan pengangkatan kelenjar paratiroid juga.<br />
Pengangkatan setengah bagian kelenjr paratiroid biasanya menyebabkan sedikit kelainan fisiologik. Akan tetapi, pengangkatan pengangkatan tiga atau empat kelenjar normal biasanya akan menyebabkan hipoparatiroidisme sementara. Tetapi bahkan sejumlah kecil dari jaringan paratiroidyang tinggal biasanya sudah mampu mengalami hipertrofi dengan cukup memuaskan sehingga dapat melakukan fungsi semua kelenjar.<br />
Kelenjar paratiroid orang dewasa terutama terutama mengandung sel utama (chief cell) yang mengandung apparatus Golgi yang mencolok plus retikulum endoplasma dan granula sekretorik yang mensintesis dan mensekresi hormon paratiroid (PTH). Sel oksifil yang lebih sedikit namun lebih besar mengandung granula oksifil dan sejumlah besar mitokondria dalam sitoplasmanya (Gbr. I.2). Pada manusia, sebelum pubertas hanya sedikit dijumpai, dan setelah itu jumlah sel ini meningkat seiring usia, tetapi pada sebagianbesar binatang dan manusia muda, sel oksifil ini tidak ditemukan.<br />
Fungsi sel oksifil masih belum jelas, sel-sel ini mungkin merupakan modifikasi atau sisa sel utama yang tidak lagi mensekresi sejumlah hormon.</p>
<p>Sel darah merah                  Sel oksifil		Sel utama (chief cell)</p>
<p>Gambar I.2</p>
<p>I.2	SINTESIS DAN METABOLISME HORMON PARATIROID (PTH)<br />
Hormon paratiroid (PTH) manusia adalah suatu polipeptida linear dengan berat molekul 9500 yang mengandung 84 residu asam amino (Gbr. I.3). Strukturnya sangat mirip dengan PTH sapi dan babi. PTH disintesis sebagai bagian dari suatu molekul yang lebih besar yang mengandung 115 residu asam amino (prapo-PTH). Setelah prapo-PTH masuk ke dalam retikulum endoplasma, maka leader sequence yang terdiri dari 25 residu asam amino dikeluarkan dari terminal N untuk membentuk polipeptida pro-PTH yang terdiri dari 90 asam amino. Enam residu asam amino lainnya juga dikeluarkan dari terminal N pro-PTH di apparatus Golgi, dan produk sekretorik utama chief cells adalah polipeptida PTH yang terdiri dari 84 asam amino.<br />
Kadar normal PTH utuh dalam plasma adalah 10-55 pg/mL. Waktu paruh PTH kurang dari 20 menit, dan polipeptida yang disekresikan ini cepat diuraikan oleh sel-sel Kupffer di hati menjadi 2 polipeptida, sebuah fragmen terminal C yang tidak aktif secara biologis dengan berat molekul 2500.</p>
<p>Gambar I.3</p>
<p>I.3	EFEK HORMON PARATIROID<br />
PTH bekerja langsung pada tulang untuk meningkatkan resorpsi tulang dan memobilisasi Ca2+. Selain meningkatkan Ca2+ plasma dan menurunkan fosfat plasma, PTH meningkatkan ekskresi fosfat dalam urin. Efek fosfaturik ini disebabkan oleh penurunan reabsorpsi fosfat di tubulus proksimal. PTHjuga meningkatkan reabsorpsi Ca2+ di tubulus distal, walaupun ekskresi Ca2+ biasanya meningkat pada hiperparatiroidisme karena terjadi peningkatan jumlahyang difiltrasi yang melebihi efek reabsorpsi. PTH juga meningkatkan pembentukan 1,25 dihidroksikolekalsiferol, metabolit vitamin D yang secara fisiologis aktif. Hormon ini meningkatkan absorpsi Ca2+ dari usus, tetapi efek ini tampaknya disebabkan hanya akibat stimulasi pembentukan 1,25 dihidroksikolekalsiferol.</p>
<p>Gambar I.4</p>
<p>Efek hormon paratiroid terhadap konsentrasi kalsium dan fosfat dalam cairan ekstraselular<br />
Naiknya konsentrasi kalsium terutama disebabkan oleh dua efek berikut ini: (1) efek hormon paratiroid yang menyebabkan terjadinya absorpsi kalsium dan fosfat dari tulang, dan (2) efek yang cepat dari hormon paratiroid dalam mengurangi ekskresi kalsium oleh ginjal. Sebaliknya berkurangnya konsentrasi fosfat disebabkan oleh efek yang sangat kuat dari hormon paratiroid terhadap ginjal dalam menyebabkan timbulnya ekskresi fosfat dari ginjal secara berlebihan, yang merupakan suatu efek yang cukup besar untuk mengatasi peningkatan absorpsi fosfat dri tulang.</p>
<p>Absorpsi Kalsium dan Fosfat dari tulang yang disebabkan oleh hormon paratiroid<br />
Hormon paratiroid mempunyai dua efek pada tulang dalam menimbulkan absorpsi kalsium dan fosfat. Pertama merupakan suatu tahap cepatyang dimulai dalam waktu beberapa menit dan meningkat secara progresif dalam beberapa jam. Tahap ini diyakini disebabkan oleh aktivasi sel-sel tulangyang sudah ada (terutama osteosit) untuk meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat. Tahap yang kedua adalah tahap yang lebih lambat, dan membutuhkan waktu beberapa hari atau bahkan beberapa minggu untuk menjadi berkembang penuh; fase ini disebabkan oleh adanya proses proliferasi osteoklas,yang diikuti dengan sangat meningkatnya reabsorpsi osteoklastik pada tulang sendiri, jadi bukan hanya absorpsi garam fosfat kalsium dari tulang.</p>
<p>Fase cepat absorpsi kalsium dan fosfat (osteolisis)	Bila disuntikan sejumlah besar hormon paratiroid, maka dalam waktu beberapa menit konsentrasi ion kalsium dalam darah akan meningkat, jauh sebelum setiap sel tulangyang baru dapat terbentuk. Hormon paratiroid dapat menyebabkan pemindahan garam-garam tulang dari dua tempat didalam tulang:<br />
Gambar I.5</p>
<p>(1) dari matriks tulang disekitar osteosit yang terletak didalam tulangnya sendiri dan (2) disekitar osteoblas yang terletak disepanjang permukaan tulang. Pada membran sel osteoblas dan osteosit memiliki protein reseptor (Gbr I.4) untuk mengikat hormon paratiroid. Hormon paratiroid dapan mengaktifkan pompa kalsium dengan kuat, sehingga menyebabkan pemindahan garam-garam kalsium fosfat dengan cepat dari kristal tulang amorfyang terletak dekat dengan sel. Hormon paratiroid diyakini merangsang pompa ini dengan meningkatkan permeabilitas ion kalsium pada sisi cairan tulang dari membran osteositik, sehingga mempermudah difusi ion kalsium ke dalam membran sel cairan tulang. Selanjutnya pompa kalsium di sisi lain dari membran sel memindahkan ion kalsiumyang tersisa tadi kedalam cairan ekstraselular.</p>
<p>Fase lambat absorpsi tulang dan pelepasan kalsium dan fofat (aktivasi osteoklas)<br />
Suatu efek hormon paratiroid yang lebih banyak dikenal dan yang penjelasannya lebih baik adalah aktivasi hormon paratiroid terhadap osteoklas. Namun osteoklas sendiri tidak memiliki protein reseptor membran untuk hormon paratiroid. Sebaliknya diyakini bahwa osteoblas dan osteosit teraktivasi mengirimkan suatu sinyal sekunder tetapi tidak dikenali ke osteoklas, menyebabkan osteoklas memulai kerjanyayang biasa, yaitu melahap tulang dalam waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan.<br />
Aktivasi sistem osteoklastik terjadi dalam dua tahap: (1) aktivasi yang berlangsung dari semua osteoklas yang sudah terbentuk, dan (2) pembentukan osteoklas yang baru. Kelebihan hormon paratiroid selama beberapa hari biasanya menyebabkan sistem osteoklastikberkembang dengan baik, tetapikarena pengaruh rangsangan hormon paratiroidyang kuat, pertumbuhan ini berlangsung terus selama berbulan-bulan. Setelah beberapa bulan, resorpsi osteoklastik tulang dapat menyebabkan lemahnya tulang dan menyebabkan rangsangan sekunder pada osteoblasyang mencoba memperbaiki keadaan tulang yang lemah. Oleh karena itu, efek yang terakhir dari hormon paratiroid yang sebenarnya adalah untuk meningkatkan aktivitas dari osteoblastik dan osteoklastik. Namun, bahkan pada tahap akhir, masih terjadi lebih banyak absorpsi tulang daripada pengendapan tulang dengan adanya kelebihan hormon paratiroidyang terus menerus.<br />
Bila dibandingkan dengan jumlah total kalsium dalam cairan ekstraselular (yang besarnya kira-kira 1000 kali), ternyata tulang mengandung banyak sekali kalsium, bahkan bila hormon paratiroid menyebabkan peningkatan konsentrasi kalsium yang sangat besar dalam cairan ekstraselular, tidaklah mungkin untuk memperhatikan adanya efek yang berlangsung dengan segera pada tulang. Pemberian atau sekresi hormon paratiroid yang diperlama (dalam waktu beberapa bulan atau tahun) akhirnya menyebabkan absorpsi seluruh tulang yang sangat nyata dengan disertai pembentukan rongga-rongga yang besar yang terisi dengan osteoklas besar berinti banyak.</p>
<p>Efek hormon paratiroid terhadap ekskresi fosfat dan kalsium oleh ginjal<br />
Pemberian hormon paratiroid menyebabkan pelepasan fosfat dengan segera dan cepat masuk kedalam urin karena efek dari hormon paratiroid yng menyebabkan berkurangnya reabsorpsi ion fosfat pada tubulus proksimal.<br />
Hormon paratiroid juga meningkatkan reabsorpsi tubulus terhadap kalsium pada waktu yang sama dengan berkurangnya reabsorpsi fosfat oleh hormon paratiroid. Selain itu, hormon ini juga menyebabkan meningkatnya kecepatan reabsorpsi ion magnesium dan ion hydrogen, sewaktu hormon ini mengurangi reabsorpsi ion natrium, kalium dan asam amino dengan cara yang sangat mirip seperti hormon paratiroid mempengaruhi fosfat. Peningkatan absorpsi kalsium terutama terjadi di bagian akhir tubulus distal, duktus koligentes, dan bagian awal duktus koligentes.<br />
Bila bukn oleh karena efek hormon paratiroid pada ginjal yang meningkatkan reabsorpsi kalsium, pelepasan kalsium yang berlangsung terus menerus pada akhirnya akan menghabiskan mineral tulang ini dari cairan ekstraselular dan tulang.</p>
<p>Efek hormon paratiroid pada absorpsi kalsium dan fosfat dalm usus<br />
Hormon paratiroid sangat berperan dalam meningktkan absorpsi kalsium dan fosfat dari usus dengan cara meningkatkan pembentikan 1,25 dihidroksikolekalsiferol dari vitamin D.</p>
<p>Efek vitamin D pada tulang serta hubungannya dengan aktivitas hormon paratiroid<br />
Vitamin D memegang peranan penting pada absorpsi tulang dan pengendapan tulang. Pemberian vitamin D yang banyak sekali menyebabkan absorpsitulang yang sangat mirip dengan pemberian hormo paratiroid. Juga, bila tidak ada vitamin D, maka efek hormon paratiroid dalam menyebabkan absorpsi tulang sangat berkurang atau malahan dihambat. Mekanisme kerja vitamin D ini belum diketahui, tetapi diyakini merupakan hasil dari efek 1,25 dihidroksikalsiferol (yang merupakan produk utama dari vitamin D) dalam meningkatkan pengangkutan kalsium melewati membran sel.<br />
Vitamin D dalam jumlah yang lebih kecil meningkatkan kalsifikasi tulang. Salah satu cara yang dapat dipakai untuk meningkatkan kalsifikasi adalah dengan cara meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat dari usus. Akan tetapi, bahkan bila tidak ada peningkatan, absorpsi akan tetap meningkatkan proses mineralisasi tulang. Sekali lagi, mekanisme terjadinya efek ini tidak diketahui, tetapi mungkin disebabkan oleh kemampuan 1,25 dihidroksikolekalsiferol untuk menyebabkan timbulnya pengangkutan ion kalsium melewati membran sel.<br />
Sebagian besar efek hormon paratiroid pada organ sasarannya diperentarai oleh siklik adenosin monofosfat (cAMP) yang bekerja sebagai mekanisme second messenger. Dalam waktu beberapa menit setelah pemberian hormon paratiroid, konsentrasi cAMP di dalam osteosit, osteoklas, dan sel-sel sasaran lainnya meningkat. Selanjutnya, cAMP mungkin bertanggung jawab terhadap beberapa fungsi osteoklas seperti sekresi enzim dan asam-asam sehingga terjadi reabsorpsi tulang, pembentukan 1,25 dihidroksikolekalsiferol di dalam ginjal dan sebagainya. Mungkin masih ada efek-efek langsung lain dari hormon paratiroid yang efeknya tidak bergantung pada mekanisme second messenger.</p>
<p>Pengaturan sekresi paratiroid oleh konsentrasi ion kalsium<br />
Bahkan penurunan konsentrasi ion kalsium yang paling sedikit pun dalm cairan ekstraselular akan menyebabkan kelenjar paratiroid meningkatkan kecepatan sekresinya dalam waktu beberapa menit; bila penurunak konsentrasi ion kalsium menetap, kelenjar paratiroid akan menjadi hipertrofi, sering lim kali atau lebih. Contohnya, kelenjar paratiroid akan menjadi sangat besar pada Rikets, dimana kadar kalsium biasanya hanya tertekan sedikit; juga, kelenjar akan menjadi sangat besar saat hamil, walaupun penurunan konsentrasi ion kalsium pada cairan ekstraselular ibu sangat sulit diukur; dan kelenjar sangat membesar selama laktasi karena kalsium digunakan untuk pembentukan air susu ibu. Sebaliknya, setiap keadaan yang meningkatkan konsentrasi ion kalsium diatas nilai normal akan menyebabkan berkurangnya aktivitas dan ukuran kelenjar paratiroid. Beberapa keadaan tersebut meliputi: (1) jumlah kalsium yang berlebihan dalam diet, (2) meningkatnya vitamin D dalam diet, dan (3) absorpsi tulang yang disebabkan oleh faktor-faktor yang berbeda dengan hormon paratiroid (contohnya absorpsi tulang yang disebabkan oleh tidak digunakannya tulang itu).</p>
<p>Gambar I.6</p>
<p>Gambar I.7<br />
Kontrol dari hormon Paratiroid<br />
Sekresi dari hormon paratiroid tergantung dari suatu negative feed-back mechanism yang diatur oleh kadar ion kalsium dalam plasma. Juga ada hormon lain yang ikut mengatur kadar kalsium dalam serum yaitu calcitonin atau thyrocalcitonin. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar tiroid.<br />
Beberapa observasi menunjukan bahwa ada hubungan antara paratiroid dengan kelenjar-kelenjar endokrin lain. Umpamanya pernah didapat hiperplasia kelenjar paratiroid pada akromegali, sindrom Cushing, dan penyakit Addison. Hipofisektomi (pada binatang) menyebabkan involutiodari kelenjar-kelenjar paratiroid, sedangkan pemberian hormon pertumbuhan (GH), adrenokortikotropin (ACTH), ekstrak lobus anterior hipofisis dan steroid-steroid adrenal mengakibatkan hiperplasia dari kelenjar-kelenjar paratiroid. Tetapi mungkin pula bahwa perubahan kelenjar-kelenjar paratiroid adalah sekunder akibat perubahan kadar fosfat dalam serum yang disebabkan oleh hormon-hormon tersebut.<br />
Hiperplasia dari kelenjar-kelenjar paratiroid terdapat dalam keadaan-keadaan dimana ada tendens dari ion kalsium untuk menurun, umpamanya pada penyakit Rachitis (atau Osteomalacia), kehamilan, hilangnya kalsium dalam darah dan insufisiensi ginjal yang disertai retensi fosfor.</p>
<p>I.4	Laboratorium<br />
Menentukan jumlah hormon paratiroid dalamdarah dukar sekali. Karena itu aktivitas dari paratiroid dihitung dengn memeriksa perubahan-perubahan metabolisme dari zat-zat yang dipengaruhinya, yang terpenting adalah kalsium, fosfat dan fosfatase alakali.</p>
<p>1)	Percobaan Sulkowitch:<br />
Dengan memakai reagens dari Sulkowitch kita dapat memeriksa apakah jumlah kalsium dalam urin berubah. Pemeriksaan kuantitas ini penting untuk mengevaluasi sekresi kalsium oleh urin dan dengan demikian aktivitas dari paratiroid.</p>
<p>Jika pada percobaan Sulkowitch:<br />
a)	Tidak terdapat endapan maka kadar kalsium dalam plasma diperkirakan antara 5-7,5 mgr%.<br />
b)	Endapan yang sedikit (menyerupai fine white cloud) menunjukan bahwa kadar kalsium dalam darah normal.<br />
c)	Endapan yang banyak menunjukan adanya hiperkalsemia.</p>
<p>2)	Percobaan Ellsworth-Howard:<br />
Percobaan ini berdasarkan diuresis fosfor yang dipengaruhi oleh hormon paratiroid (baik yang endogen maupun yang eksogen) serta mekanisme reabsorpsi fosfor dalam tubuli ginjal.<br />
Pada percobaan ini hormon paratiroid disuntikan intravena dan kemudian diperiksa diuresis fosfat. Evaluasi adalah sebagai berikut:<br />
a)	Hipoparatiroidisme:<br />
Diuresis fosfat bertambah sampai 5-6 kali biasa.<br />
b)	Pseudohipoparatiroidisme:<br />
Diuresis fosfat bertambah hanya sedikit, paling banyak sampai 2 kali biasa. Ini disebabkan karena tubuli ginjal refrakter terhadap hormon paratiroid.<br />
c)	Hiperparatiroidisme:<br />
Diuresis fosfat tidak nyata bertambah.</p>
<p>3)	Percobaan kalsium intravena:<br />
Berdasarkan anggapan bahwa bertambahnya kadar kalsium serum mensupresi pembuatan hormon paratiroid. Evaluasi adalah sebagai berikut:<br />
a)	Normal:<br />
Kalsium serum meninggi dan diuresis kalsium berkurang.<br />
b)	Hipoparatiroidisme:<br />
Kalsium serum hampir tidak berubah tetapi diuresis kalsium bertambah.<br />
c)	Hiperparatiroidisme:<br />
Kalsium seru dan diuresis kalsium tidak berubah.</p>
<p>4)	Indeks aktivitas paratiroid:<br />
Prinsip indeks ini berdasarkan reabsorpsi tubuler dari fosfat anorganik yang diatur oleh hormon paratiroid. Karena itu rasio reabsorpsi tubuler dan filtrasi glomerulus dari fosfat akan menghasilkan suatu indeks dari aktivitas paratiroid. Evaluasi:<br />
a)	Normal:<br />
Indeks antara 0,5-0,75<br />
b)	Hipoparatiroidisme:<br />
Indeks = -1<br />
c)	Hiperparatiroidisme:<br />
Indeks = 0</p>
<p>II.	HIPOPARATIROIDISME</p>
<p>II.1	PENDAHULUAN<br />
Hipoparatiroid adalah gabungan gejala dari produksi hormon paratiroid yang tidak adekuat. Keadaan ini jarang sekali ditemukan dan umumnya sering sering disebabkan oleh kerusakan atau pengangkatan kelenjar paratiroid pada saat operasi paratiroid atau tiroid, dan yang lebih jarang lagi ialah tidak adanya kelenjar paratiroid (secara congenital). Kadang-kadang penyebab spesifik tidak dapat diketahui.</p>
<p>II.2	PREVALENSI<br />
Di luar negeri, terutama di Amerika Serikat kasus ini agak jarang ditemukan. Kira-kira 1000 kasus setahun yang dapat ditemukan menderita penyakit ini.<br />
Di Indonesia, penyakit ini juga agak jarang ditemukan. Kira-kira 100 kasus dalam setahun yang dapat diketahui.<br />
Wanita mempunyai resiko untuk terkena hipoparatiroidisme lebih besar dari pria.</p>
<p>II.3	ETIOLOGI<br />
Jarang sekali terjadi hipoparatiroidisme primer, dan jika ada biasanya terdapat pada anak-anak dibawah umur 16 tahun. Ada tiga kategori dari hipoparatiroidisme:<br />
1)	Defisiensi sekresi hormon paratiroid, ada dua penyebab utama:<br />
o	Post operasi pengangkatan kelenjar partiroid dan total tiroidektomi.<br />
o	Idiopatik, penyakit ini jarang dan dapat kongenital atau didapat (acquired).<br />
2)	Hipomagnesemia.<br />
3)	Sekresi hormon paratiroid yang tidak aktif.<br />
4)	Resistensi terhadap hormon paratiroid (pseudohipoparatiroidisme)</p>
<p>II.4	PATOFISIOLOGI<br />
Pada hipoparatiroidisme terdapat gangguan dari metabolisme kalsium dan fosfat, yakni kalsium serum menurun (bisa sampai 5 mgr%) dan fosfat serum meninggi (bisa sampai 9,5-12,5 mgr%).<br />
Pada yang post operasi disebabkan tidak adekuat produksi hormon paratiroid karena pengangkatan kelenjar paratiroid pada saat operasi. Operasi yang pertama adalah untuk mengatasi keadaan hiperparatiroid dengan mengangkat kelenjar paratiroid. Tujuannya adalah untuk mengatasi sekresi hormon paratiroid yang berlebihan, tetapi biasanya terlalu banyak jaringan yang diangkat. Operasi kedua berhubungan dengan operasi total tiroidektomi. Hal ini disebabkan karena letak anatomi kelenjar tiroid dan paratiroid yang dekat (diperdarahi oleh pembuluh darah yang sama) sehingga kelenjar paratiroid dapat terkena sayatan atau terangkat. Hal ini sangat jarang dan biasanya kurang dari 1 % pada operasi tiroid. Pada banyak pasien tidak adekuatnya produksi sekresi hormon paratiroid bersifat sementara sesudah operasi kelenjar tiroid atau kelenjar paratiroid, jadi diagnosis tidak dapat dibuat segera sesudah operasi.<br />
Pada pseudohipoparatiroidisme timbul gejala dan tanda hipoparatiroidisme tetapi kadar PTH dalam darah normal atau meningkat. Karena jaringan tidak berespons terhadap hormon, maka penyakit ini adalah penyakit reseptor. Terdapat dua bentuk: (1) pada bentuk yang lebih sering, terjadi pengurangan congenital aktivitas Gs sebesar 50 %, dan PTH tidak dapat meningkatkan secara normal konsentrasi AMP siklik, (2) pada bentuk yang lebih jarang, respons AMP siklik normal tetapi efek fosfaturik hormon terganggu.</p>
<p>II.5	MANIFESTASI KLINIK<br />
Gejala-gejala utama adalah reaksi-reaksi neuromuscular yang berlebihan yang disebabkan oleh kalsium serum yang sangat rendah. Keluhan-keluhan dari penderita (70 %) adalah tetani atau tetanic aequivalent.<br />
Tetani menjadi manifestasi sebagai spasmus corpopedal dimana tangan berada dalam keadaan fleksi sedangkan ibu jari dalam adduksi dan jari-jari lain dalam keadaan ekstensi. Juga sering didapatkan articulatio cubitti dalam keadaan fleksi dan tungkai bawah dan kaki dalam keadaan ekstensi.<br />
Dalam titanic aequivalent:<br />
1)	Konvulsi-konvulsi yang tonis atau klonis<br />
2)	Stridor laryngeal (spasme ) yang bisa menyebabkan kematian<br />
3)	Parestesia<br />
4)	Hipestesia<br />
5)	Disfagia dan disartria<br />
6)	Kelumpuhan otot-otot<br />
7)	Aritmia jantung<br />
Pada pemeriksaan kita bisa menemukan beberapa refleks patologis:<br />
1)	Erb’s sign:<br />
Dengan stimulasi listrik kurang dari 5 milli-ampere sudah ada kontraksi dari otot (normal pada 6 milli-ampere)<br />
2)	Chvostek’s sign:<br />
Ketokan ringan pada nervus fasialis (didepan telinga tempat keluarnya dari foramen sylomastoideus) menyebabkan kontraksi dari otot-otot muka<br />
3)	Trousseau’s sign:<br />
Jika sirkulasi darah dilengan ditutup dengan manset (lebih dari tekanan sistolik) maka dalam tiga menit tangan mengambil posisi sebagaipada spasme carpopedal<br />
4)	Peroneal sign:<br />
Dengan mengetok bagian lateral fibula di bawah kepalanya akan terjadi dorsofleksi dan adduksi dari kaki<br />
Pada ± 40 % dari penderita-penderita kita mencurigai adanya hipoparatiroidisme karena ada kejang-kejang epileptik. Sering pula terdapat keadaan psikis yang berubah, diantaranya psikosis. Kadang-kadang terdapat pula perubahan-perubahan trofik pada ectoderm:<br />
•	Rambut	: tumbuhnya bisa jarang dan lekas putih.<br />
•	Kulit	: kering dan permukaan kasar, mungkin terdapat pula<br />
vesikula dan bulla.<br />
•	Kuku	: tipis dan kadang-kadang ada deformitas.<br />
Pada anak-anak badan tumbuh kurang sempurna, tumbuhnya gigi-gigi tidak baik dan keadaan mental bisa tidak sempurna. Juga agak sering terdapat katarak pada hipoparatiroidisme.</p>
<p>II.6	DIAGNOSTIK<br />
?	Laboratorium:<br />
o	Kalsium serum rendah<br />
o	Fosfat anorganik dalam serum tinggi<br />
o	Fosfatase alkali normal atau rendah<br />
?	Foto Rontgen:<br />
o	Sering terdapat kalsifikasi yang bilateral pada ganglion basalis di tengkorak<br />
o	Kadang-kadang terdapat pula kalsifikasi di serebellum dan pleksus koroid<br />
o	Density dari tulang bisa bertambah<br />
?	EKG: biasanya QT-interval lebih panjang</p>
<p>II.7.	DIFERENSIAL DIAGNOSIS<br />
?	Hipokalsemia.<br />
Keadaan klinis yang disebabkan oleh kadar kalsium serum kurang dari 9 mg/100ml. Kedaan ini mungkin disebabkan oleh terangkatnya kelenjar paratiroid waktu pembedahan atau sebagai akibat destruksi autoimun dari kelenjar-kelenjar tersebut.<br />
Manifestasi klinik adalah tetani, serangan kejang, gangguan mental dan lesi ektodermal. Tetani dapat menyerang ekstremitas atas dan bawah, sehingga dapat terjadi spasme karpopedal, parestesia, dan terkadang stridor laringeal.kalau otot-otot pernapasan yang terkena maka dapat bermanifestasi sebagai gangguan pernapasan.<br />
Penderita hipokalsemia biasanya mengeluh mengalami beberapa gangguan jiwa, seperti: mudah tersinggung, emosi tak stabil, gangguan ingatan dan perasaan kacau.<br />
Hipoparatiroidisme idiopatik yang mengakibatkan hipokalsemia berkelanjutan dapat menimbulkan perubahan-perubahan pada kulit rambut, kuku, gigi, dan lensa. Kuku menjadi kasar, kering dan bersisik, dan dapat timbul alopesia dan rambut alis dan bulu mata yang berbecak atau hilang. Kuku menjadi tipis dan rapuh disertai alur transveral. Erupsi gigi terlambat dan tampak hipoplastik. Dapat timbul katarak dalam waktu beberpa tahun pada hipokalsemia yang tidak diobati.<br />
?	Insufisiensi ginjal kronik<br />
Pada keadaan ini kalsium serum rendah, fosfor serum sangat tinggi, karena retensi dari fosfor dan ureum kreatinin darah meninggi. Hal ini disebabkan tidak adanya kerja hormon paratiroid yang diakibatkan oleh keadaan seperti diatas (etiologi).</p>
<p>II.8	TERAPI<br />
Vitamin D dan suplemen kalsium merupakan terapi primer untuk penyakit ini tanpa mempedulikan penyebabnya. Kecuali jika penyebabnya adalah hipomagnesemia yang diterapi dengan suplemen magnesium.</p>
<p>III.	HIPERPARATIROIDISME</p>
<p>III.1.	PENDAHULUAN<br />
Hiperparatiroidisme adalah suatu keadaan dimana kelenjar-kelenjar paratiroid memproduksi lebih banyak hormon paratiroid dari biasanya. Pada pasien dengan hiperparatiroid, satu dari keempat kelenjar paratiroid yang tidak normal dapat membuat kadar hormon paratiroid tinggi tanpa mempedulikan kadar kalsium. dengan kata lain satu dari keempat terus mensekresi hormon paratiroid yang banyak walaupun kadar kalsium dalam darah normal atau meningkat.<br />
Gambar III.1</p>
<p>Jika jumlah hormon paratiroid yang disekresi lebih banyak daripada yang dibutuhkan maka ini kita sebut hiperparatiroidisme primer. Jika jumlah yang disekresi lebih banyak karena kebutuhan dari tubuh maka keadaan ini disebut hiperparatiroidisme sekunder.</p>
<p>III.2.	PREVALENSI<br />
Di Amerika Serikat sekitar 100.000 orang diketahui terkena penyakit ini tiap tahun. Perbandingan wanita dan pria sekitar 2 banding 1. Pada wanita yang berumur 60 tahun keatas sekitar 2 dari 10000 bisa terkena hiperparatiroidisme.<br />
Di Indonesia sendiri kira-kira sekitar 1000 orang diketahui terkena hiperparatiroidisme tiap tahun. Wanita yang berumur 50 tahun keatas mempunyai resiko yang lebih besar 2 kali dari pria.</p>
<p>III.3	ETIOLOGI<br />
Adenoma soliter (penyakit von Recklinghausen).Penyebab hiperparatiroidisme ini merupakan salah satu dari banyak hiperfungsi kelenjar.Secara umum bahwa kelainan kelenjar yang biasanya tunggal ditemukan ± 80 % dari pasien. Kelainan pada kelenjar biasanya neoplasma yang benigna atau adenoma dan yang sangat jarang adalah paratiroid karsinoma. Beberapa ahli bedah dan ahli patologis melaporkan bahwa pembesaran dari kelenjar yang multiple umumnya jenis adenoma yang ganda. Pada ± 15 % pasien semua kelenjar hiperfungsi; chief cell parathyroid hyperplasia, biasanya herediter dan frekuensinya berhubungan dengan kelainan endokrin lainnya.<br />
Multiple Endocrine Neoplasia (MEN). Hiperparatiroidisme yang herediter dapat terjadi tanpa kelainan endokrin lainnya tetapi biasanya bagian dari Multiple Endocrine Neoplasia syndrome. MEN 1 (Wermer’s syndrome) terdiri dari hiperparatiroidisme dan tumor dari pituitary dan pancreas, juga berhubungan dengan hipersekresi gaster dan ulkus peptikum (Zollinger-Ellison syndrome).</p>
<p>III. 4. 	PATOFISIOLOGI<br />
Adenoma adalah yang sering terdapat pada lobus inferior kelenjar paratiroid, tetapi hanya kira-kira 6-10 % kasus. Adenoma paratiroid bisa terdapat di thymus, tiroid, pericardium, esophagus bagian belakang. Adenoma biasa beratnya 0,5-5 gram tapi bisa juga beratnya 10-20 gram. Chief cells sering dominan pada hiperplasia atau adenoma. Adenoma kadang-kadang encapsulated berbentuk lingkaran dengan jaringan sekitar.Dengan hiperplasia chief cell, pembesaran bisa asimetrik yang terlihat sangat nyata.<br />
Karsinoma paratiroid biasanya karakternya tidak agresif. Daya hidup jangka panjang tanpa rekurens jika operasi yang dilakukan dalammengangkat kelenjar tanpa menimbulkan rupture dari kapsul. Karsinoma paratiroid yang rekuren biasanya tumbuhnya lambat dengan penyebarannya ke leher, dan operasi untuk koreksi ulang mungkin dapat dilakukan. Karsinoma paratiroid akan lebih agresif jika ada metastasis (ke paru, hepar, dan tulang) ditemukan pada saat permulaan operasi. Jika kadar kalsium antara 3,5-3,7 mmol / L (14-15 mg / dL) merupakan tanda awal adanya karsinoma dan tindakan yang harus dilakukan adalah mengangkat kelenjar yang abnormal dengan perhatian akan rupturnya capsul.<br />
Pada heperparatiroidisme, kelebihan jumlah sekresi PTH menyebabkan hiperkalsemia yang langsung bisa menimbulkan efek pada reseptor di tulang, traktus intestinal, dan ginjal. Secara fisiologis sekresi PTH dihambat dengan tingginya ion kalsium serum. Mekanisme ini tidak aktif pada keadaan adenoma, atau hiperplasia kelenjar, dimana hipersekresi PTH berlangsung bersamaan dengan hiperkalsemia. Resorpsi kalsium dari tulang dan peningkatan absorpsi dari usus merupakan efek langsung dari peningkatan PTH.<br />
Dalam non hiperparatiroid hiperkalsemia, tidak ada kompensasi ginjal dan traktus intestinal pada kalsium yang normal. Mekanisme ini tidak berlaku pada saat peningkatan PTH bersamaan dengan hiperkalsemia. Pada saat kadar kalsium serum mendekati 12 mg/dL, tubular ginjal mereabsorpsi kalsium secara berlebihan sehingga terjadi keadaan hiperkalsiuria. Hal ini dapat meningkatkan insidens nefrolithiasis, yang mana dapt menimbulkan penurunan kreanini klearens dan gagal ginjal. Peningkatan kadar kalsium ekstraselular dapat mengendap pada jaringan halus. Rasa sakit timbul akibat kalsifikasi berbentuk nodul pada kulit, jaringan subkutis, tendon (kalsifikasi tendonitis), dan kartilago (khondrokalsinosis).<br />
Vitamin D memainkan peranan penting dalam metabolisme kalsium sebab dibutuhkan oleh PTH untuk bekerja di target organ. Kadar vitamin D dalam tubuh dapat berkurang pada keadaan hiperparatiroid, yang mungkin mengurangi kadar kalsium dalam sirkulasi. Metabolisme vitamin D dapat menjadi gangguan pada gagal ginjal kronik, yang mana menghambat absorpsi kalsium dari traktus gastrointestinal. Penipisan kadar kalsium yang progressive dari tulang oleh PTH dan penurunan absorpsi gastrointestinal dari usus mengarah ke osteomalasia dan osteitis fibrosa cystica tahap lanjut ( sangat jarang dijumpai sekarang).<br />
Peranan fosfat serum juga sangt penting. Reabsorpsi tubular ginjal untuk fosfat berkurang karena PTH, awal untuk hiperfosfaturia dan penurunan kadar fosfat serum. Hipofosfatemia sebenarnya dapat memperburuk hiperkalsemia dengan meningkatkan sekresi bentuk aktif vitamin D di ginjal.</p>
<p>Gambar III.1</p>
<p>III.5. 	MANIFESTASI KLINIK<br />
Kebanyakan pasien dengan hiperparatiroidisme adalah asimtomatik. Manifestasi utama dari hiperparatiroidisme terutama pada ginjal dan tulang. Kelainan pada ginjal terutama akibat deposit kalsium pada parenkim ginjalatau nefrolitiasis yang rekuren. Dengan deteksi dini, komplikasi ke ginjal dapat berkurang pada ± 20 % pasien. Batu ginjal biasanya terdiri dari kalsium oksalat atau kalsium fosfat. Pada kebanyakan pasien episode berulang dari nefrolitiasis atau pembesaran kalikuli ginjal dapat mengawali obstruksi traktus urinarius, infeksi, gagal fungsi ginjal. Nefrolitiasis juga menyebabkan penurunan fungsi ginjal dan retensi fosfat.<br />
Manifestasi ke tulang dari hiperparatiroidisme adalah osteitis fibrosa cystica. Osteitis fibrosa cystica sangat jarang terjadi pada hiperparatiroidisme primer. Secara histologis, gambran patognomonik adalah peningkatan giant multinukleal osteoklas pada lakuna Howship dan penggantian sel normal dan sumsum tulang dengan jaringan fibrotik.<br />
Pada pasien disertai dengan gejala disfungsi sistem saraf pusat, nervis dan otot perifer, traktus gastrointestinal, dan sendi.<br />
Manifestasi dari neuromuscular termasuk tenaga otot berkurang (paroxysmal muscular weakness), mudah lelah, dan atrofi otot yang mungkin menyolok adalah tanda kelainan neuromuscular primer.<br />
Manifestasi pada traktus gastrointestinal kadang-kadang ringan dan termasuk kelainan abdominal yang agak susah didiagnosis, kelainan lambung dan pancreas. Pada MEN 1 pasien dengan hiperparatiroidisme ulkus duodenum mungkin akibat dari tumor pancreas yang meningkatkan jumlah gastrin<br />
Khondrokalcinosis dan pseudogout frekuensinya kurang pada hiperparatiroidisme yang di skrining dari beberapa pasien.<br />
Efek dari hiperkalsemia adalah sebagai berikut:<br />
•	Sistem saraf pusat:<br />
Perubahan mental, penurunan daya ingat, emosional tidak stabil, depresi, gangguan tidur, koma.<br />
•	Neuromuscular:<br />
Tenaga otot berkurang (paroxysmal muscular weakness), rasa sakit pada sendi dan otot akibat penimbunan kalsium, pruritus, dan pergerakan tangan yang abnormal pada saat tidur.<br />
•	Gastrointestinal:<br />
Ulkus peptikum, pankreatitis, nausea, vomiting, reflux, dan kehilangan nafsu makan.<br />
•	Kardiovaskular:<br />
Hipertensi.</p>
<p>•	Mata:<br />
Konjunctivitis, keratopathy.<br />
•	Kulit:<br />
Pruritus.</p>
<p>III.6.	DIAGNOSTIK<br />
?	Laboratorium:<br />
o	Kalsium serum meninggi<br />
o	Fosfat serum rendah<br />
o	Fosfatase alkali meninggi<br />
o	Kalsium dan fosfat dalam urin bertambah<br />
?	Foto Rontgen:<br />
o	Tulang menjadi tipis, ada dekalsifikasi<br />
o	Cystic-cystic dalam tulang<br />
o	Trabeculae di tulang<br />
?	PA: osteoklas, osteoblast, dan jaringan fibreus bertambah</p>
<p>III.7.	DIFERENSIAL DIAGNOSIS<br />
?	Hiperkalsemia<br />
Hiperkalsemia didefinisikan sebagai kadar kalsium darah lebih dari 10,5 mg/100ml. Banyak keadaan yang dapat menyebabkan hiperkalsemia, tetapi hiperparatiroid merupakan penyabab paling utama.<br />
Sekresi hormon paratiroid yang berlebihan menyebabkan terjadinya hiperklasemia, hipofosfatemia, dan peningkatan resorbsi tulang.<br />
?	Gagal ginjal kronik (Osteodistrofi ginjal)<br />
Pada ginjal akibat tingginya sekresi hormon paratiroid dapat mengakibatkan nefrokalsinosis yang akhirnya gagal ginjal kronik.<br />
Retensi fosfat menyebabkan penurunan kadar kalsium serum. Keadaan azotemia juga mengganggu pengaktivan vitamin D oleh ginjal, yang diperlukan untuk absorpsi kalsium dari usus. Kedua faktor tersebut cenderung mengakibatkan hipokalsemia. Hipokalsemia merangsang kelenjar paratiroid untuk mensekresi lebih banyak hormon paratiroid, yang mengakibatkan resorpsi kalsium dan fosfat tulang, meningkatkan ekskresi fosfat dan mengaktifkan vitamin D oleh ginjal. Akibatnya terjadi peningkatan demineralisasi otot rangka. Tempat-tempat yang sering mengalami endapan kalsium adalah didalam dan disekitar sendi mengakibatkan arthritis yang menimbulkan nyeri, didalam ginjal (nefrokalsinosis) mengakibatkan obstruksi</p>
<p>III.8.	HIPERPARATIROIDISME SEKUNDER<br />
Pada penyakit ini terdapat hiperplasia dan hiperfungsi dari kelenjar paratiroid. Sebab primer adalah keadaan hipokalsemia kronik yang disebabkan di antaranya oleh:<br />
?	Penyakit ginjal kronik karena<br />
?	Glomerulonefritis<br />
?	Pielonefritis<br />
?	Kongenital dari traktus urinarius pada anak-anak<br />
?	Kurang efektifnya PTH pada beberapa penyakit, yaitu pada:<br />
?	Defisiensi vitamin D<br />
?	Defek herediter darimetabolisme vitamin D<br />
?	Kelainan-kelainan gastrointestinal<br />
Penyakit-penyakit lain dapat juga menyebabkan hipokalsemia dan kemudian hiperparatiroidisme sekunder, misalnya:<br />
?	Osteogenesis imperfecta<br />
?	Paget’s disease<br />
?	Mieloma multiple<br />
?	Karsinoma dengan metastasis di tulang</p>
<p>III.9.	TERAPI<br />
?	Kausal:<br />
Tindakan bedah, ekstirpasi tumor.</p>
<p>?	Simptomatis:<br />
o	Hiperkalsemia ringan (12 mgr % atau 3 mmol / L):<br />
o	Hidrasi dengan infus<br />
?	Sodium chloride per os<br />
?	Dosis-dosis kecil diuretika (furosemide)<br />
o	Hiperkalsemia berat (&#62; 15 mgr % atau 3,75 mmol / L):<br />
?	Koreksi (rehidrasi) cepat per infus<br />
?	Forced diuresis dengan furosemide<br />
?	Plicamycin (mitramcin) 25 ug / kg BB sebagai bolus atau infus perlahn-lahan (1-2 kali seminggu)<br />
?	Fosfat secara intravena (kalau ada indikasi)<br />
?	Dialysis peritoneal, kalau ada insufisiensi ginjal.</p>
<p>Gambar III.3</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>? Ranakusuma Boedisantoso, Soewondo Pradana; Gangguan Metabolisme Kalsium; dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid I. Ed ke-3. Balai penerbit FKUI Jakarta 1999.<br />
? Ganong. F. William; Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, alih bahasa: dr. M. Djauhari. W, et al. Editor: dr. M .Djauhari.W, Ed 17, Penerbit EGC, Jakarta 1999.<br />
?	Guyton  A. C, Hall J.E; Textbook Of Medical Physiology, Ed 9. W.B.Saunders Company, Philadelphia, Pennslyvania 1996.<br />
? Holick M. F, Krane S. M; Introduction To Bone And Mineral Metabolism, in Harrison&#8217;s Principles Of Internal Medicine, Ed.15. McGraw-Hill Companies.<br />
?	Haznam W.M; Endokrinologi, Ed. 4. Percetakan angkasa offset, Bandung 1991.<br />
?	Lawrence M. T. Jr, Stephen J. McP, Maxine A. P; Current Medical Diagnosis And Treatment, McGraw-Hill Companies Inc. 2001.<br />
?	Price. S. A, Wilson. L. M; Pathophysiology. Clinical Concepts Of Disease Processes, Ed.4. Mosby Year Book, Inc.<br />
? Robins S. L, Kumar V, Buku Ajar Patologi II, alih bahasa: Staf Pengajar Laboratorium Patologi Anatomi FK Airlangga, -Ed. 4-. Surabaya: EGC.<br />
?	<a title="http://arbl.cvmbs.colostate.edu/hbooks/pathphys/endocrine/thyroid/pth.html" href="http://arbl.cvmbs.colostate.edu/hbooks/pathphys/endocrine/thyroid/pth.html">http://arbl.cvmbs.colostate.edu/hbooks/pathphys/endocrine/thyroid/pth.ht&#8230;</a><br />
?	<a title="http://www.endocrineweb.com/hyperpara.html" href="http://www.endocrineweb.com/hyperpara.html">http://www.endocrineweb.com/hyperpara.html</a><br />
?	<a title="http://www.endocrineweb.com/hypopara.html" href="http://www.endocrineweb.com/hypopara.html">http://www.endocrineweb.com/hypopara.html</a><br />
?	<a title="http://www.niddk.nih.gov/health/endo/hyper.html" href="http://www.niddk.nih.gov/health/endo/hyper.html">http://www.niddk.nih.gov/health/endo/hyper.html</a></p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM)]]></title>
<link>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/penyakit-paru-obstruktif-menahun-ppom/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 11:36:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>kadaverboy</dc:creator>
<guid>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/penyakit-paru-obstruktif-menahun-ppom/</guid>
<description><![CDATA[DEFINISI Penyakit Paru Obstruktif Menahun /PPOM (Chronic Obstructive Pulmonary Disease/COPD) adalah ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><table border="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="302" valign="top">DEFINISI<br />
Penyakit Paru Obstruktif Menahun /PPOM (<em>Chronic Obstructive Pulmonary Disease/COPD</em>) adalah suatu penyumbatan menetap pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh <em>emfisema</em> atau <em>bronkitis kronis</em>.</p>
<p>PPOM lebih sering menyerang laki-laki dan sering berakibat fatal.<br />
PPOM juga lebih sering terjadi pada suatu keluarga, sehingga diduga ada faktor yang dirurunkan.</p>
<p>Bekerja di lingkungan yang tercemar oleh asap kimia atau debu yang tidak berbahaya, bisa meningkatkan resiko terjadinya PPOM. Tetapi kebiasaan merokok pengaruhnya lebih besar dibandingkan dengan pekerjaan seseorang, dimana sekitar 10-15% perokok menderita PPOM.</p>
<p>Angka kematian karena emfisema dan bronkitis kronis pada perokok sigaret lebih tinggi dibandingkan dengan angka kematian karena PPOM pada bukan perokok.<br />
Sejalan dengan pertambahan usia, perokok sigaret akan mengalami penurunan fungsi paru-paru yang lebih cepat daripada bukan perokok. Semakin banyak sigaret yang dihisap, semakin besar kemungkinan terjadinya penurunan fungsi paru-paru.</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="302" valign="top">PENYEBAB<br />
Ada 2 (dua) penyebab dari penyumbatan aliran udara pada penyakit ini, yaitu emfisema dan bronkitis kronis.</p>
<p><strong>Emfisema</strong> adalah suatu pelebaran kantung udara kecil (<em>alveoli</em>) di paru-paru, yang disertai dengan kerusakan pada dindingnya.<br />
Dalam keadaan normal, sekumpulan alveoli yang berhubungan ke saluran nafas kecil (<em>bronkioli</em>), membentuk struktur yang kuat dan menjaga saluran pernafasan tetap terbuka. Pada emfisema, dinding alveoli mengalami kerusakan, sehingga bronkioli kehilangan struktur penyangganya. Dengan demikian, pada saat udara dikeluarkan, bronkioli akan mengkerut. Struktur saluran udara menyempit dan sifatnya menetap.</p>
<p><strong>Bronkitis kronis</strong> adalah batuk menahun yang menetap, yang disertai dengan pembentukan dahak dan bukan merupakan akibat dari penyebab yang secara medis diketahui (misalnya kanker paru-paru). Pada saluran udara kecil terjadi pembentukan jaringan parut, pembengkakan lapisan, penyumbatan parsial oleh lendir dan kejang pada otot polosnya. Penyempitan ini bersifat sementara.</p>
<p>Adanya bahan-bahan iritan menyebabkan peradangan pada alveoli. Jika suatu peradangan berlangsung lama, bisa terjadi kerusakan yang menetap.<br />
Pada alveoli yang meradang, akan terkumpul sel-sel darah putih yang akan menghasilkan enzim-enzim (terutama <em>neutrofil elastase</em>), yang akan merusak jaringan penghubung di dalam dinding alveoli.<br />
Merokok akan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut pada pertahanan paru-paru, yaitu dengan cara merusak sel-sel seperti rambut (<em>silia</em>) yang secara normal membawa lendir ke mulut dan membantu mengeluarkan bahan-bahan beracun.</p>
<p>Tubuh menghasilkan protein <em>alfa-1-antitripsin</em>, yang memegang peranan penting dalam mencegah kerusakan alveoli oleh neutrofil estalase.<br />
Ada suatu penyakit keturunan yang sangat jarang terjadi, dimana seseorang tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit alfa-1-antitripsin, sehingga emfisema terjadi pada awal usia pertengahan (terutama pada perokok).</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="302" valign="top">GEJALA<br />
Gejala-gejala awal dari PPOM, yang bisa muncul setelah 5-10 tahun merokok, adalah batuk dan adanya lendir.<br />
Batuk biasanya ringan dan sering disalah-artikan sebagai batuk normal perokok, walaupun sebetulnya tidak normal.</p>
<p>Sering terjadi nyeri kepala dan pilek. Selama pilek, dahak menjadi kuning atau hijau karena adanya nanah.<br />
Lama-lama gejala tersebut akan semakin sering dirasakan. Bisa juga disertai mengi/bengek.</p>
<p>Pada umur sekitar 60 tahun, sering timbul sesak nafas waktu bekerja dan bertambah parah secara perlahan. Akhirnya sesak nafas akan dirasakan pada saat melakukan kegiatan rutin sehari-hari, seperti di kamar mandi, mencuci baju, berpakaian dan menyiapkan makanan.<br />
Sepertiga penderita mengalami penurunan berat badan, karena setelah selesai makan mereka sering mengalami sesak yang berat sehingga penderita menjadi malas makan.</p>
<p>Pembengkakan pada kaki sering terjadi karena adanya gagal jantung.<br />
Pada stadium akhir dari penyakit, sesak nafas yang berat timbul bahkan pada saat istirahat, yang merupakan petunjuk adanya kegagalan pernafasan akut.</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="302" valign="top">DIAGNOSA<br />
Pada PPOM yang ringan, mungkin tidak ditemukan kelainan selama pemeriksaan fisik, kecuali terdengarnya beberapa mengi pada pemeriksaan dengan menggunakan &#60;&#62;I&#62;stetoskop. Suara pernafasan pada stetoskop juga terdengar lebih keras.<br />
Biasanya foto dada juga normal.</p>
<p>Untuk menunjukkan adanya sumbatan aliran udara dan untuk menegakkan diagnosis, dilakukan pengukuran volume penghembusan nafas dalam 1 detik dengan menggunakan <em>spirometri</em>.<br />
Pada penderita PPOM akan terjadi penurunan aliran udara selama penghembusan nafas.</p>
<p>Jika PPOM terjadi pada usia muda, dicurigai adanya kekurangan alfa-1-antitripsin, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar afa-1-antitripsin dalam darah.</p>
<p><img src="/Documents%20and%20Settings/Administrator/My%20Documents/Penyakit_Paru_Obstruktif_Menahun_PPOM_files/spirometri.jpg" alt="Spirometri" /></td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="302" valign="top">PENGOBATAN<br />
Karena merokok sigaret merupakan penyebab paling penting dari PPOM, maka pengobatan utama adalah berhenti merokok. Menghentikan kebiasaan merokok pada saat penyumbatan airan udara masih ringan atau sedang, akan memperlambat timbulnya sesak nafas. Tetapi, berhenti merokok pada stadium manapun dari penyakit ini, pasti akan memberikan banyak keuntungan.<br />
Penderita juga harus mencoba untuk menghindari pemaparan terhadap bahan iritan lainnnya di udara.</p>
<p>Unsur-unsur dari penyumbatan aliran udara yang bisa diperbaiki adalah kejang otot, peradangan dan peningkatan jumlah lendir. Perbaikan dari unsur-unsur tersebut akan mengurangi gejala-gejala.<br />
Kejang otot bisa dikurangi dengan memberikan <em>bronkodilator</em>, termasuk agonis reseptor beta-adrenergik (albuterol inhaler) dan <a href="http://medicastore.com/index.php?mod=obat_search&#38;selSub=0&#38;selJenis=0&#38;inpNamaObat=&#38;inpNamaGenerik=theophylline&#38;inpIndikasi=&#38;go=+go+"><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">theophylline</span></span></a> per-oral (melalui mulut) yang diserap lambat.<br />
Peradangan bisa dikurangi dengan memberikan corticosteroid, tetapi hanya 20% penderita yang memberikan respon terhadap corticosteroid.<br />
Tidak ada pengobatan terpercaya yang dapat mengurangi kekentalan lendir sehingga mudah dikeluarkan melalui batuk. Tetapi menghindari <em>dehidrasi</em> bisa mencegah pengentalan lendir. Minum cairan yang cukup untuk menjaga air kemih tetap encer dan bening. Pada PPOM yang berat, terapi pernafasan bisa membantu menghilangkan lendir di dada.</p>
<p>Terapi oksigen jangka panjang akan memperpanjang hidup penderita PPOM yang berat dan penderita dengan kadar oksigen darah yang sangat rendah.<br />
Oksigen diberikan 12 jam/hari. Hal ini akan mengurangi kelebihan sel darah merah yang disebabkan menurunnya kadar oksigen dalam darah, memperbaiki fungsi mental dan memperbaiki gagal jantung akibat PPOM.<br />
Terapi oksigen juga bisa memperbaiki sesak nafas selama beraktivitas.</p>
<p>Program latihan bisa dilakukan di rumah. Program ini bisa meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian penderita, menurunkan frekuensi dan lamanya perawatan di rumah sakit dan meningkatkan kemampuan berlatih meskipun fungsi paru-parunya belum pulih sempurna.<br />
Untuk melatih kaki bisa dilakukan latihan sepeda statis, naik-turun tangga dan berjalan.<br />
Untuk melatih lengan bisa dilakukan latihan angkat beban.</p>
<p>Untuk penderita dengan kekurangan alfa-1-antitripsin yang berat, bisa diberikan protein pengganti melalui pemberian protein melalui infus setiap minggu.<br />
Pencangkokan paru-paru bisa dilakukan pada penderita dibawah usia 50 tahun.</p>
<p>Pada penderita dengan emfisema yang berat, bisa dilakukan pembedahan yang disebut <em>operasi reduksi volume paru-paru</em>. Prosedurnya rumit dan penderita harus berhenti merokok setidaknya 6 bulan sebelum pembedahan dan menjalani program latihan intensif.<br />
Pembedahan akan memperbaiki fungsi paru-paru dan kemampuan berlatih.</p>
<p><strong>PROGNOSIS</strong></p>
<p>30% penderita PPOM dengan sumbatan yang berat akan meninggal dalam waktu 1 tahun, dan 95% meninggal dalam waktu 10 tahun.<br />
Kematian bisa disebabkan oleh kegagalan pernafasan, pneumonia, <em>pneumotoraks</em> (masuknya udara ke dalam rongga paru), <em>aritmia jantung</em> atau <em>emboli paru</em> (penyumbatan arteri yang menuju ke paru-paru).<br />
Penderita PPOM juga memiliki resiko tinggi terhadap terjadinya kanker paru.</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td width="302" valign="top">PENCEGAHAN<br />
Jika penderita mengalami influenza atau pneumonia, PPOM akan semakin memburuk dengan jelas. Karena itu, penderita PPOM harus mendapatkan vaksinasi influenza setiap tahun dan vaksinasi pneumokokus setiap 6 tahun atau lebih.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Acute Bronchitis]]></title>
<link>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/acute-bronchitis/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 11:04:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>kadaverboy</dc:creator>
<guid>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/acute-bronchitis/</guid>
<description><![CDATA[Acute bronchitis is one of the most common diagnoses made by primary care physicians in the United S]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Acute bronchitis is one of the most common diagnoses made by primary care physicians in the United States and accounts for nearly 10 million office visits per year. Acute bronchitis is a transient, self-limited inflammatory process of the upper respiratory tract, specifically the trachea and bronchi. Antibiotics are overprescribed to patients with acute bronchitis; this practice has raised significant concern related to the worldwide rise of antibiotic resistance, which is viewed as one of the world&#8217;s most pressing public health problems.</p>
<p>Acute bronchitis manifests as an acute respiratory illness of less than 3 weeks&#8217; duration, with or without sputum production. Acute bronchitis is a clinical diagnosis and must be distinguished from other respiratory diseases, such as pneumonia, acute exacerbation of chronic bronchitis (episode of worsening of symptoms and expiratory airflow obstruction in patients with chronic obstructive pulmonary disease), and the onset of asthma. Most cases of acute bronchitis occur in the fall and winter. The etiology of acute bronchitis is infectious, and viruses appear to be the cause of most cases. Influenzas A and B are the most common viruses isolated, although a wide variety of infectious agents have been identified, such as adenovirus, coronavirus, parainfluenza virus, respiratory syncytial virus, coxsackievirus, <em>Mycoplasma pneumoniae</em>, <em>Bordetella pertussis</em>, and <em>Chlamydia  pneumoniae</em>.</p>
<p>Diagnosis of acute bronchitis is based on findings of a prominent cough that may be accompanied by wheezing and sputum production. Most patients are otherwise healthy and without preexisting respiratory disease. Nonspecific constitutional symptoms may also be part of acute bronchitis. Appropriate management of acute bronchitis is essential because it is one of the most common illnesses that present to physicians in the outpatient setting. Antibiotics are often prescribed unnecessarily for acute bronchitis and other respiratory tract illnesses; these prescriptions may potentially lead to adverse events (i.e., allergic reactions and gastrointestinal side effects) and bacterial resistance. Other medications, such as inhaled bronchodilators and antitussives, are often prescribed for acute bronchitis despite questionable evidence to support their routine use.</p>
<p>Pathophysiology of acute bronchitis involves an acute inflammatory response involving the mucosa of the trachea and bronchi, resulting in injury to the respiratory tract epithelium. Sputum production is increased and bronchoconstriction (potentially resulting in airflow obstruction and wheezing) can occur. Positron emission tomography (PET) of a patient with acute bronchitis confirms that the primary inflammatory changes occur in the trachea and bronchi and not the remainder of the lower respiratory track.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="590" valign="top"><strong> </strong>
<p>&#160;</p>
<p><strong>CURRENT DIAGNOSIS</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="590" valign="top">1. Normal healthy adult with cough
<p>&#160;</p>
<p>2. Predominance of cough</p>
<p>3. Lasts 1 to 3 weeks</p>
<p>4. With or without sputum</p>
<p>5. Can be accompanied by other respiratory and constitutional   symptoms</p>
<p>6. Absence of abnormal vital signs and physical exam suggesting   pneumonia,particularly</p>
<p>Heart rate   &#62;100 beats per minute</p>
<p>Respiratory rate &#62;24 breaths per minute</p>
<p>Temperature &#62;100.4°F (38°C)</p>
<p>Lung findings suggest a consolidation   process</p>
<p><strong> </strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Diagnosis</strong></p>
<p>Cough, phlegm (which may be purulent as both bacteria and viruses can cause purulent sputum), and wheezing help differentiate acute bronchitis from upper respiratory infections such as pharyngitis and sinusitis. Acute bronchitis must be differentiated from acute bacterial pneumonia. The absence of abnormalities in vital signs (heart rate &#62;100 bpm, respiratory rate &#62;24 breath/min, oral temperature &#62;100.4°F [38°C] and physical examination of the chest) supports the diagnosis of acute bronchitis and makes the need for chest radiography unnecessary in most cases. The treatment and outcome of acute bronchitis and pneumonia are very different; a chest radiograph should always be obtained if there is uncertainty about the diagnosis. Chest radiography will demonstrate no lung infiltrates in a patient with acute bronchitis. In contrast, lung infiltrates are present in pneumonia. Pertussis or whooping cough should be considered in adults with cough in the setting of what appears to be an upper respiratory infection, even in those previously immunized. Typically, the cough of pertussis, unlike acute bronchitis, lasts for longer than 3 weeks. Other respiratory diseases, such as previously undiagnosed asthma, can also mimic acute bronchitis, although several features differentiate asthma from acute bronchitis (see Section 12). Rapid testing to diagnose influenza viruses A and B (the most common causes of acute bronchitis) as a cause of acute bronchitis should be considered given the availability of effective treatment if initiated in the first 48 hours.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Treatment</strong></p>
<p>ANTIBIOTICS,  INHALED  BRONCHODILATORS,  AND ANTITUSSIVES</p>
<p>Existing evidence does not support the routine use of antibiotics for uncomplicated cases of acute bronchitis. Although most cases of acute bronchitis are caused by viral infections, upwards of 60% of patients are prescribed antibiotic therapy, which is contributing to the rise of bacterial resistance to commonly used antibiotics. Meta-analyses examining the effectiveness of antibiotic therapy in patients without underlying lung disease suggest no consistent effect of antibiotics on the severity or duration of acute bronchitis. A recent study evaluated children and patients with colored sputum and found that they also did not benefit from antibiotics. This study also found that compared to other populations, the elderly were less likely to benefit from antibiotics. Smokers with acute bronchitis are even more likely to be prescribed antibiotics.</p>
<p>Their response to antibiotics was either equal to or worse than that of nonsmokers.</p>
<p><strong> </strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="590" valign="top"><strong> </strong>
<p>&#160;</p>
<p><strong>CURRENT THERAPY</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="590" valign="top">Antibiotics not routinely recommended
<p>&#160;</p>
<p>If influenza is highly probable and patient is presenting within   the first 48 hours, consider treatment with :</p>
<p>a.        Oseltamivir   (Tamiflu) 75 mg PO bid with food for 5 days   (influenza A/B)</p>
<p>b.        Zanamivir   (Relenza) 10 mg bid by inhalation for 5 days (influenza A/B) [*]</p>
<p>c.        Amantadine   (Symmetrel) 100 mg bid or 200 mg once daily for 5 days (influenza A) [*]</p>
<p>d.        Rimantadine   (Flumadine) 100 mg bid for 5 days (influenza A)</p>
<p>In patients with evidence of bronchial hyperresponsiveness,   consider treatment with</p>
<p>a.        β<sub>2</sub>-agonists   for 1 to 2 weeks</p>
<p>b.        Antitussives   in those with cough for 2 to 3 weeks</p>
<p>c.        Antipyretics   and analgesics as needed</p>
<p>d.        Smoking   cessation</p>
<p>Education: cough likely to last 3 weeks or more.</p>
<p><strong>&#8216; </strong>Due to emergence of antiviral resistance, use of these   agents has been discouraged by the CDC.</p>
<p><strong> </strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>One possible reason for overuse of antibiotics is the concern by physicians about patient satisfaction. Studies show that patients presenting to the doctor expecting antibiotics were more likely to be prescribed antibiotics; studies also suggest that satisfaction is more related to appropriate patient education than to receiving antibiotics. Patient education should include information regarding the duration of symptoms associated with acute bronchitis. It was found that patients presented on average after 9 days of cough and that the cough persisted for an additional 12 days after the physician visit. This information can impart a realistic expectation of illness duration to the patient.</p>
<p>If influenza is highly suspected and the patient presents within 48 hours of the onset of symptoms, rapid diagnostic testing and treatment should be considered. Both amantadine (Symmetrel) and rimantadine (Flumadine) are effective for influenza A, and neuraminidase inhibitors, inhaled zanamivir (Relenza), and oral oseltamivir (Tamiflu) are effective for influenzas A and B. If these medications are initiated within the first 48 hours of symptoms (and ideally within 30 hours), the duration of illness can be shortened.</p>
<p>The evidence supporting the use of inhaled bronchodilators for the treatment of the symptoms has been variable. Two small trials reported a shorter duration of cough with the use of inhaled ß-agonists; another study reported benefit in those with evidence of bronchial hyperresponsiveness. Current recommendations support the use of ß-agonists only in patients with evidence of bronchial hyperresponsiveness (wheezing or spirometry demonstrating a forced expiration volume in 1 second [FEV<sub>1</sub>] &#60;80%&#62;</p>
<p>Antitussive agents have not been shown to improve the acute or early cough but did show some improvements in cough lasting longer than 3 weeks. The current recommendations are to use antitussives, namely dextromethorphan (Benylin) or codeine, in patients with cough of 2 to 3 weeks&#8217; duration.</p>
<p>Acute uncomplicated bronchitis is most often a viral illness in which antibiotics are not routinely indicated. Patients presenting with an acute respiratory illness, who are younger than 65 years old without existing pulmonary disease or other significant comorbid illness, should have a thorough physical examination, including vital signs. If the vital signs are normal and physical examination of the chest is clear, pneumonia can most likely be ruled out. In patients who present within 48 hours of onset of symptoms, influenza should be considered as effective therapy is available for acute bronchitis caused by influenzas A or B. Otherwise, the evidence for treatment with antibiotics does not support their routine use. Bronchodilators should be considered in those with evidence of bronchial hyperresponsiveness; cough suppressants should be considered in those with 2 to 3 weeks of cough. Patient education is an integral part of the treatment, and patients should receive information that provides realistic expectations regarding the duration of cough.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sindrome Nefrotik]]></title>
<link>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/sindrome-nefrotik/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 09:21:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>kadaverboy</dc:creator>
<guid>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/sindrome-nefrotik/</guid>
<description><![CDATA[BAB I TINJAUAN TEORI A. Pengertian Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>BAB I</strong></p>
<p><strong>TINJAUAN TEORI</strong></p>
<ol>
<li><strong>A. </strong><strong>Pengertian</strong></li>
</ol>
<p>Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbuminemia dan hiperkolesterolemia. Kadang-kadang terdapat hematuria, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal ( Ngastiyah, 1997).</p>
<p>Penyakit ini terjadi tiba-tiba, terutama pada anak-anak. Biasanya berupa oliguria dengan urin berwarna gelap, atau urin yang kental akibat proteinuria berat ( Mansjoer Arif, dkk. 1999).</p>
<p>Nephrotic Syndrome merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh adanya injury glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik : proteinuria,  hypoproteinuria, hypoalbuminemia, hyperlipidemia dan edema (Suryadi, 2001).</p>
<p>Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai oleh:</p>
<ul>
<li>Peningkatan protein dalam urin secara bermakna (proteinuria)</li>
<li>Penurunan albumin dalam darah</li>
<li>Edema</li>
<li>Serum cholesterol yang tinggi (hiperlipidemia)</li>
</ul>
<p>Tanda – tanda tersebut dijumpai disetiap kondisi yang sangat merusak membran kapiler glomerulus dan menyebabkan peningkatan permiabilitas glomerulus (Sukiane, 2002).</p>
<ol>
<li><strong>B. </strong><strong>Etiologi</strong></li>
</ol>
<p>Penyebab sindrom nefrotik yang pasti belum diketahui, akhir-akhir ini dianggap sebagai suatu penyakit autoimun, yaitu suatu reaksi antigen – antibodi. Umumnya etiologi dibagi menjadi :</p>
<ol>
<li>Sindrom nefrotik bawaan</li>
</ol>
<p>Diturunkan sebagai resesif autosomal atau karena reaksi maternofetal. Resisten terhadap semua pengobatan. Prognosis buruk dan biasanya pasien meninggal dalam bulan-bulan pertama kehidupannya.</p>
<ol>
<li>Sindrom nefrotik sekunder</li>
</ol>
<p>Disebabkan oleh :</p>
<p>ü      Malaria kuartana atau parasit lainnya.</p>
<p>ü      Penyakit kolagen seperti lupus eritematosus diseminata, purpura anafilaktoid.</p>
<p>ü      Glumerulonefritis akut atau kronik,</p>
<p>ü      Trombosis vena renalis.</p>
<p>ü      Bahan kimia seperti trimetadion, paradion, penisilamin, garam emas, air raksa.</p>
<p>ü      Amiloidosis, penyakit sel sabit, hiperprolinemia, nefritis membranoproliferatif hipokomplementemik.</p>
<ol>
<li>Sindrom nefrotik idiopatik</li>
</ol>
<p>Tidak diketahui sebabnya atau disebut sindroma nefrotik primer. Berdasarkan histopatologis yang tampak pada biopsi ginjal dgn pemeriksaan mikroskop biasa dan mikroskop elektron, Churk dkk membaginya menjadi :</p>
<ol>
<li>Kelainan minimal</li>
</ol>
<p>Pada mikroskop elektron akan tampak foot prosessus sel epitel berpadu. Dengan cara imunofluoresensi ternyata tidak terdapat IgG pada dinding kapiler glomerulus.</p>
<ol>
<li>Nefropati membranosa</li>
</ol>
<p>Semua glomerulus menunjukan penebalan dinding kapiler yang tersebar tanpa proliferasi sel. Prognosis kurang baik.</p>
<ol>
<li>Glomerulonefritis proliferatif</li>
</ol>
<ul>
<li>Glomerulonefritis proliferatif esudatif difus. Terdapat proliferasi sel mesangial dan infiltrasi sel polimorfonukleus. Pembengkanan sitoplasma endotel yang menyebabkan kapiler tersumbat.</li>
<li>Dengan penebalan batang lobular.</li>
</ul>
<p>Terdapat prolefirasi sel mesangial yang tersebar dan penebalan batang lobular.</p>
<ul>
<li>Dengan bulan sabit ( crescent)</li>
</ul>
<p>Didapatkan proliferasi sel mesangial dan proliferasi sel epitel sampai kapsular dan viseral. Prognosis buruk.</p>
<ul>
<li>Glomerulonefritis membranoproliferatif</li>
</ul>
<p>Proliferasi sel mesangial dan penempatan fibrin yang menyerupai membran basalis di mesangium. Titer globulin beta-IC atau beta-IA rendah. Prognosis buruk.</p>
<ul>
<li>Lain-lain perubahan proliferasi yang tidak khas.</li>
</ul>
<ol>
<li>Glomerulosklerosis fokal segmental</li>
</ol>
<p>Pada kelainan ini yang mencolok sklerosis glomerulus. Sering disertai atrofi tubulus. Prognosis buruk.</p>
<ol>
<li><strong>C. </strong><strong>Patofisiologi</strong></li>
</ol>
<p>Terjadi proteinuria akibat peningkatan permiabilitas membran glomerulus. Sebagian besar protein dalam urin adalah albumin sehingga jika laju sintesis hepar dilampui, meski telah berusaha ditingkatkan, terjadi hipoalbuminemia. Hal ini menyebabkan retensi garam dan air.</p>
<p>Menurunnya tekanan osmotik menyebabkan edema generalisata akibat cairan yang berpindah dari sistem vaskuler kedalam ruang cairan ekstra seluler. Penurunan sirkulasi volume darah mengaktifkan sistem imun angiotensin, menyebabkan retensi natrium dan edema lebih lanjut.</p>
<p>Hilangnya protein  dalam serum menstimulasi sintesis lipoprotein di hati dan peningkatan konsentrasi lemak dalam darah (hiperlipidemia).</p>
<p>Menurunnya respon imun karena sel imun tertekan, kemungkinan disebabkan karena hypoalbuminemia, hyperlipidemia atau defisiensi seng.</p>
<p>Sindrom nefrotik dapat terjadi dihampir setiap penyakit renal intrinsik atau sistemik yang mempengaruhi glomerulus. Meskipun secara umum penyakit ini dianggap menyerang anak-anak, namun sindrom nefrotik juga terjadi pada orang dewasa termasuk lansia.</p>
<ol>
<li><strong>D. </strong><strong>Manifestasi Klinik</strong></li>
</ol>
<p>Gejala utama yang ditemukan adalah :</p>
<ul>
<li>Proteinuria &#62; 3,5 g/hari pada dewasa atau 0,05 g/kg BB/hari pada anak-anak.</li>
<li>Hipoalbuminemia &#60; 30 g/l.
<ul>
<li>Edema generalisata. Edema terutama jelas pada kaki, namun dapat ditemukan  edema muka, ascxites dan efusi pleura.</li>
<li>Anorexia</li>
<li>Fatique</li>
<li>Nyeri abdomen</li>
<li>Berat badan meningkat</li>
<li>Hiperlipidemia, umumnya ditemukan hiperkolesterolemia.</li>
<li>Hiperkoagualabilitas, yang akan meningkatkan resiko trombosis vena dan arteri.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ol>
<li><strong>E. </strong><strong>Komplikasi</strong></li>
</ol>
<p>ü      Infeksi (akibat defisiensi respon imun)</p>
<p>ü      Tromboembolisme (terutama vena renal)</p>
<p>ü      Emboli pulmo</p>
<p>ü      Peningkatan terjadinya aterosklerosis</p>
<p>ü      Hypovolemia</p>
<p>ü      Hilangnya protein dalam urin</p>
<p>ü      Dehidrasi</p>
<ol>
<li><strong>F. </strong><strong>Pemeriksaan Diagnostik</strong></li>
</ol>
<p>v     Adanya tanda klinis pada anak</p>
<p>v     Riwayat infeksi saluran nafas atas</p>
<p>v     Analisa urin : meningkatnya protein dalam urin</p>
<p>v     Menurunnya serum protein</p>
<p>v     Biopsi ginjal</p>
<ol>
<li><strong>G. </strong><strong>Penatalaksanaan Terapeutik</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Diit tinggi protein, diit rendah natrium jika edema berat</li>
<li>Pembatasan sodium jika anak hipertensi</li>
<li>Antibiotik untuk mencegah infeksi</li>
<li>Terapi diuretik sesuai program</li>
<li>Terapi albumin jika intake anak dan output urin kurang</li>
<li>Terapi prednison dgn dosis 2 mg/kg/hari sesuai program</li>
</ul>
<p style="text-align:center;"><strong>Pathway Sindrome Nefrotik<br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a href="http://kadaverboy.wordpress.com/files/2009/11/untitled.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-23" title="untitled" src="http://kadaverboy.wordpress.com/files/2009/11/untitled.jpg?w=284" alt="" width="284" height="299" /></a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>BAB II</strong></p>
<p><strong>ASUHAN KEPERAWATAN</strong></p>
<ol>
<li><strong>A. </strong><strong>Pengkajian</strong></li>
<li>Keadaan umum :</li>
<li>Riwayat :</li>
</ol>
<p>Identitas anak: nama, usia, alamat, telp, tingkat pendidikan, dll.</p>
<p>Riwayat kesehatan yang lalu: pernahkah sebelumnya anak sakit seperti ini?</p>
<p>Riwayat kelahiran, tumbuh kembang, penyakit anak yang sering dialami, imunisasi, hospitalisasi sebelumnya, alergi dan pengobatan.</p>
<p>Pola kebiasaan sehari – hari : pola makan dan minum, pola kebersihan, pola istirahat tidur, aktivitas atau bermain, dan pola eliminasi.</p>
<ol>
<li>Riwayat penyakit saat ini:</li>
</ol>
<p>v     Keluhan utama</p>
<p>v     Alasan masuk rumah sakit</p>
<p>v     Faktor pencetus</p>
<p>v     Lamanya sakit</p>
<ol>
<li>Pengkajian sistem</li>
</ol>
<ul>
<li>Pengkajian umum : TTV, BB, TB, lingkar kepala, lingkar dada (terkait dgn edema ).
<ul>
<li>Sistem kardiovaskuler : irama dan kualitas nadi, bunyi jantung, ada tidaknya cyanosis, diaphoresis.</li>
<li>Sistem pernafasan :  kaji pola bernafas, adakah wheezing atau ronki, retraksi dada, cuping hidung.<strong><em> </em></strong></li>
<li>Sistem persarafan : tingkat kesadaran, tingkah laku ( mood, kemampuan intelektual,proses pikir ), sesuaikah dgn tumbang? Kaji pula fungsi sensori, fungsi pergerakan dan fungsi pupil.<strong><em> </em></strong></li>
<li>Sistem gastrointestinal : auskultasi bising usus, palpasi adanya hepatomegali / splenomegali, adakah mual, muntah. Kaji kebiasaan buang air besar.<strong><em> </em></strong></li>
<li>Sistem perkemihan : kaji frekuensi buang air kecil, warna dan jumlahnya.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ol>
<li>Pengkajian keluarga</li>
</ol>
<p>ü      Anggota keluarga</p>
<p>ü      Pola komunikasi</p>
<p>ü      Pola interaksi</p>
<p>ü      Pendidikan dan pekerjaan</p>
<p>ü      Kebudayaan dan keyakinan</p>
<p>ü      Fungsi keluarga dan hubungan</p>
<ol>
<li><strong>B. </strong><strong>Diagnosa Keperawatan</strong>
<ol>
<li>Gangguan integritas kulit b/d edema dan menurunnya sirkulasi.</li>
<li>Resiko infeksi b/d terapi immunosuppresivedan hilangnya gama globulin.</li>
<li>Resiko kurangnya volume cairan (intravaskuler) b/d proteinuria, edema dan efek diuretik.
<ol>
<li>Resiko kelebihan volume cairan b/d retensi sodium dan air.</li>
<li>Kecemasan pada anak dan keluarga b/d hospitalisasi pada anak.</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>C. </strong><strong>Intervensi Keperawatan</strong>
<ol>
<li>Tujuan : integritas kulit terjaga.</li>
<li>KH : Tidak ada tanda kemerahan, lecet dan tidak terjadi tenderness bila disentuh.</li>
<li>Intervensi :</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol>
<li>Gangguan integritas kulit b/d edema dan menurunnya sirkulasi.</li>
</ol>
<ul>
<li>Mengatur atau merubah posisi setiap 2 jam atau sesuai kondisi.</li>
<li>Pertahankan kebersihan tubuh anak setiap hari dan pengalas tempat tidur.</li>
<li>Gunakan lotion bila kulit kering.</li>
<li>Kaji area kulit : kemerahan, tenderness dan lecet.</li>
<li>Support daerah yang edema dengan bantal.</li>
<li>Lakukan aktifitas fisik sesuai dengan kondisi anak.</li>
</ul>
<ol>
<li>Resiko infeksi b/d terapi imunosuppresive dan hilangnya gama globulin.
<ol>
<li>Tujuan : tidak terjadi infeksi</li>
<li>Kriteria hasil :</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ul>
<li>Hasil laborat ( leukosit ) dbn</li>
<li>Tanda- tanda vital stabil</li>
<li>Tidak ada tanda – tanda infeksi</li>
</ul>
<ol>
<li>Intervensi :</li>
</ol>
<ul>
<li>Mencuci tangan setiap akan kontak dengan anak</li>
<li>Kaji tanda – tanda infeksi</li>
<li>Monitor tanda – tanda vital</li>
<li>Monitor pemeriksaan laboratorium</li>
<li>Kolaborasi medis untuk pemberian antibiotik</li>
</ul>
<ol>
<li>Resiko      kurangnya volume cairan (intravaskuler) b/d proteinuria, edema dan efek      diuretik</li>
</ol>
<ol>
<li>Tujuan : cairan tubuh seimbang</li>
<li>Kriteria hasil :</li>
</ol>
<ul>
<li>Mukosa mulut lembab</li>
<li>Tanda vital stabil</li>
</ul>
<ol>
<li>Intervensi :</li>
</ol>
<ul>
<li>Monitor intake dan output ( pada anak &#60; 1ml/kg/jam)</li>
<li>Monitor tanda-tanda vital</li>
<li>Monitor pemeriksaan laboratorium (elektrolit)</li>
<li>Kaji membran mukosa mulut dan elastisitas turgor kulit</li>
<li>Kaji pengisian kembali kapiler (capilarry Refill)</li>
</ul>
<ol>
<li>Resiko kelebihan cairan b/d retensio sodium dan air</li>
</ol>
<ol>
<li>Tujuan : Volume cairan tubuh seimbang</li>
<li>Kriteria hasil :</li>
</ol>
<ul>
<li>BB stabil</li>
<li>Tanda vital dbn</li>
<li>Tidak ada edema</li>
</ul>
<p>c.   Intervensi :</p>
<ul>
<li>Monitor intake dan output, dan timbang BB setiap hari</li>
<li>Monitor tekanan darah</li>
<li>Mengkaji status pernafasan termasuk bunyi nafas</li>
<li>Pemberian deuretik sesuai program</li>
<li>Ukur dan catat ukuran lilitan abdomen</li>
</ul>
<ol>
<li>Kecemasan pada anak atau keluarga b/d hospitalisasi pada anak
<ol>
<li>Tujuan : kecemasan hilang</li>
<li>Kriterai hasil :</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ul>
<li>Orang tua tampak lebih santai</li>
<li>Orang tua berpartisipasi dalam perawatan dan memahami kondisi anak</li>
</ul>
<ol>
<li>Intervensi :</li>
</ol>
<ul>
<li>Anjurkan orang tua dan anak untuk mengekspresikan rasa takut dan cemas</li>
<li>Berikan penjelasan tentang penyakit Sindrom Nefrotik, perawatan dan pengobatannya</li>
<li>Ajarkan pada orang tua untuk membantu perawatan pada anaknya</li>
<li>Berikan aktivitas bermain yang sesuai dgn tumbang anak dan kondisinya.</li>
</ul>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Suryadi dan Yuliani, Rita. 2001. Praktek klinik <em>Asuhan Keperawatan Pada Anak</em>. Jakarta : Sagung Seto.</p>
<p>Ngastiyah. 1997. <em>Perawatan Anak Sakit</em>. EGC.</p>
<p>Mansjoer, Arif, dkk. 1999. <em>Kapita Selekta Kedokteran, edisi ketiga, Jilid 1</em>. Media Aesculapius.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Componentes de la Planificación Estratégica]]></title>
<link>http://asesoriascomunicacionales.wordpress.com/2009/11/19/27/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 23:52:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>asesoriascomunicacionales</dc:creator>
<guid>http://asesoriascomunicacionales.wordpress.com/2009/11/19/27/</guid>
<description><![CDATA[    El Plan Estratégico de Comunicación se compone de las siguientes fases: 1. INVESTIGACIÓN DEL ÁMB]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h3 style="text-align:center;"><span style="color:#333399;"><em></em></span> <img src="http://blog.guiasenior.com/images/estrategia_ajedrez2.jpg" alt="" /></h3>
<p style="text-align:center;"> </p>
<h3><span style="color:#333399;"><em>El Plan Estratégico de Comunicación se compone de las siguientes fases:</em></span></h3>
<p><span style="color:#333399;">1. INVESTIGACIÓN DEL ÁMBITO ACTUACIÓN, para saber cuáles son las características técnicas de nuestro público objetivo o potenciales receptores, a los que dirigir nuestras actividades, productos y servicios (datos cuantitativos y cualitativos).</span></p>
<p><span style="color:#333399;">2. REALIZACIÓN DE:</span></p>
<p><span style="color:#333399;">a) investigación interna, por medio de: encuestas, entrevistas y reuniones con empleados, mandos superiores e intermedios y sindicatos; observación de datos y análisis de resultados.<br />
Para: conocer la cultura corporativa; tener el apoyo incondicional de los empleados, mandos intermedios y sindicatos; fijar la opinión sobre la Imagen corporativa.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">b) Investigación externa, por medio de: encuestas y entrevistas a clientes, proveedores, público actual y potencial&#8230;<br />
Para: lograr la confianza del público al que nos dirigimos y potencias dicha Imagen corporativa.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">3. Determinación del POSICIONAMIENTO de la empresa o institución en el mercado, por medio de: investigación de cómo es su competencia; cómo se observa la organización en el exterior; cómo se perciben sus acciones, servicios&#8230;</span></p>
<p><span style="color:#333399;">4. Creación de un COMITÉ DE COMUNICACIÓN, formado por la Alta Dirección, Dirección de Comunicación, Consultor externo y Técnico especialista en cada tema a tratar: dirigido por un solo Portavoz de la organización; mentalice de la necesidad de Comunicación directa entre Alta Dirección, empleados y sindicatos; coordine todas las investigaciones; se reúna regularmente y en cualquier situación de crisis; realice las Comunicaciones, tanto internas como externas, centralizándolas a través de la consiguiente Dirección de Comunicación; selecciones los canales de difusión idóneos; planifique, diagnostique y aplique medidas concretas de Comunicación e Imagen corporativa; esté en contacto permanente con la Alta Dirección y los Medios de Comunicación.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">5. APLICACIÓN, CONTROL, SEGUIMIENTO Y EVALUACIÓN de acciones: búsqueda de canales idóneos internos y externos (notas de prensa, boletín informativo, revista informativa, dosieres informativos, discursos, cursos&#8230;); observación y evaluación de la fase de realización e incidencia de los mismos, en el público interno y externo que los recibe; encuestas que comprueben la existencia del Plan Estratégico; postest de resultados; redacción de recomendaciones/conclusiones prácticas, para aplicaciones posteriores sobre el clima de comunicación interna y externa de la empresa o institución.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">6. PLAN ESTRATÉGICO DE COMUNICACIÓN.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Una vez que hemos logrado definir nuestra política comunicativa u objetivos empresariales e institucionales y de Comunicación e imagen, faltando ahora concretar cómo los vamos a desarrollar por medio de un determinado Plan Estratégico de Comunicación, y siempre en colaboración con la Dirección de Comunicación del cliente o usuario que asesoremos:</span></p>
<p><span style="color:#333399;">•QUÉ: análisis de la situación del mercado a estudiar.<br />
•QUIÉN: analizar particularizadamente las necesidades de comunicación de nuestro cliente, dentro del Mercado.<br />
•CÓMO: realización del Plan Estratégico basado en:<br />
- Comunicación e Imagen (notas de prensa, ruedas de prensa, otras acciones informativas como participación en Ferias y congresos, realización de audiovisuales, elaboración de boletines informativos diarios, manual de imagen, revista informativa, informe anual-memoria&#8230;<br />
- Publicidad institucional (campaña publicitaria informativa que apoye las acciones informativas y de Comunicación por medio de: originales de prensa y revistas, locales, regionales, nacionales e internacionales; spots; cuñas; vallas; carteles; folletos; displays; y resto de soportes que ayuden a difundir los mensajes publicitarios establecidos en el Plan Estratégico de Comunicación.<br />
•CUÁNDO: el cliente irá definiendo sus necesidades, según observe la profesionalidad y calidad de nuestras acciones de Comunicación, tomando la confianza mutua que es necesaria en este tipo de actividad (confidencialidad).<br />
•DÓNDE: según estas necesidades concretas, iremos proponiendo y apareciendo en los Medios que consideramos oportunos, siempre previa consulta a nuestro cliente.<br />
•POR QUÉ: cuando hallamos actuado consecuentemente con esas determinadas necesidades, veremos que nuestros servicios han sido rentables al cliente.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Estas seis cuestiones que nos hemos planteado, podrían quedar concretadas en lo siguiente:</span></p>
<p><span style="color:#333399;">1. Definición del Plan Estratégico de Comunicación, que es más se adecue a cada cliente o usuario.<br />
2. Estudio de la Estructura interna y necesidades reales del mismo.<br />
3. Aconsejar los canales óptimos para dirigir bien al interior y exterior, su verdadera Imagen corporativa.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Muere atropellado por la limusina del vicepresidente de EE.UU.]]></title>
<link>http://sepuedesisequiere.wordpress.com/2009/11/12/muere-atropellado-por-la-limusina-del-vicepresidente-de-ee-uu/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 00:49:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>L3TRC</dc:creator>
<guid>http://sepuedesisequiere.wordpress.com/2009/11/12/muere-atropellado-por-la-limusina-del-vicepresidente-de-ee-uu/</guid>
<description><![CDATA[Eran dos coches del Servicio Secreto de EE.UU., incluyendo la limusina que suele utilizar el vicepre]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><strong>Eran dos coches del Servicio Secreto de EE.UU., incluyendo la limusina que suele utilizar el vicepresidente Joe Biden, los que atropellaron y mataron a un hombre este miércoles de madrugada en Maryland.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><strong>El hombre cruzaba la carretera, con el asfalto mojado por la lluvia, cuando fue arrollado por la limusina y un Chevrolet Suburban a las dos y media de la mañana.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><strong>Dos empleados del Secret Service conducían los vehículos, que acababan de recoger en Andrews Air Force Base, donde habían llegado en un avión militar. El agente Malcolm Wiley, portavoz del Servicio Secreto, señaló que no transportaban a nadie y que se dirigían al aparcamiento donde suelen guardarlos.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><strong>Precisamente el día anterior, durante una visita a Fort Lewis, había utilizado Biden la limusina, mucho más difícil de conducir que un automóvil normal. El sargento David Schlosser apuntó que los coches atropellaron al peatón en un cruce con semáforos, pero no está claro quién fue el culpable del accidente.</strong></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[My parents were awesome]]></title>
<link>http://thinkbing.wordpress.com/2009/11/12/my-parents-were-awesome/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 18:03:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>iela</dc:creator>
<guid>http://thinkbing.wordpress.com/2009/11/12/my-parents-were-awesome/</guid>
<description><![CDATA[(Mandei. Será que publicam?) Actually, they still are&#8230;]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignnone size-medium wp-image-804" title="tecaecaca" src="http://thinkbing.wordpress.com/files/2009/11/tecaecaca.jpg?w=272" alt="tecaecaca" width="272" height="300" /></p>
<p>(<a href="http://myparentswereawesome.tumblr.com/" target="_blank">Mandei</a>. Será que publicam?)</p>
<p>Actually, they still are&#8230;</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-805" title="SLZ-057" src="http://thinkbing.wordpress.com/files/2009/11/slz-057.jpg" alt="SLZ-057" width="376" height="283" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Admins...]]></title>
<link>http://coletivosoma.wordpress.com/2009/11/09/admins/</link>
<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 14:19:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>SOMA</dc:creator>
<guid>http://coletivosoma.wordpress.com/2009/11/09/admins/</guid>
<description><![CDATA[Mandem por aqui mesmo os e-mails cadastrados no WordPress pra eu enviar os convites. Abraços.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Mandem por aqui mesmo os e-mails cadastrados no WordPress pra eu enviar os convites.</p>
<p>Abraços.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Página!]]></title>
<link>http://coletivosoma.wordpress.com/2009/11/09/pagina/</link>
<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 14:18:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>SOMA</dc:creator>
<guid>http://coletivosoma.wordpress.com/2009/11/09/pagina/</guid>
<description><![CDATA[Atualizei uma mostra de página com o nome Festival do Rio. Seria possível, por exemplo, dentro dessa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Atualizei uma mostra de página com o nome Festival do Rio.<br />
Seria possível, por exemplo, dentro dessa página, criarmos duas outras (Fest Confessions e Making-of).</p>
<p>Sugiram.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Taí.]]></title>
<link>http://coletivosoma.wordpress.com/2009/11/08/tai/</link>
<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 18:20:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>SOMA</dc:creator>
<guid>http://coletivosoma.wordpress.com/2009/11/08/tai/</guid>
<description><![CDATA[Pra começar, vocês tem de criar uma conta aqui no WordPress, e então os convido pra serem admins. Po]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pra começar, vocês tem de criar uma conta aqui no WordPress, e então os convido pra serem admins. Poder total! Hehe.</p>
<p>Enfim, podemos postar por e-mail, comentar e publicar os vídeos em diversas páginas dentro do domínio.<br />
O blog está ligado ao Twitter do SOMA (procurem por coletivosoma ou soma_tz e adicionem), então qualquer postagem aqui aparecerá lá e qualquer postagem lá aparecerá aqui.</p>
<p>Vamos procurar criar as discussões por aqui. Em novos posts.<br />
Fica tranquilo de comentar.</p>
<p>Ah, aqui no domínio existe uma biblioteca de mídia. As trocas de arquivo podem ser por ali.</p>
<p>Quaisquer dúvidas ou sugestões, o canal já está aberto.</p>
<p>Bora.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ANEMIA APLASTIK]]></title>
<link>http://dokmud.wordpress.com/2009/11/07/anemia-aplastik/</link>
<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 23:20:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>dokmud</dc:creator>
<guid>http://dokmud.wordpress.com/2009/11/07/anemia-aplastik/</guid>
<description><![CDATA[PENDAHULUAN Anemia aplasik banyak ditemukan di seluruh dunia, tidak hanya di negeri yang sedang maju]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>PENDAHULUAN<br />
Anemia aplasik banyak ditemukan di seluruh dunia, tidak hanya di negeri yang sedang maju. Inseden dan angka kematian pada anemia aplasik dapat disebabkan oleh infeksi dan pendarahan, pengobatan sering kali memerlukan waktu yang panjang dan kejadian relaps setelah pengobatan sering terjadi.<!--more--></p>
<p>DEFENISI<br />
Anemia aplasik adalah suatu keadaan berkurangnya sel-sel darah pada darah tepi (pansitopenia), sehubungan dengan terhentinya pembentukan/ tidak terbentuknya sel hematopoetik di dalam sum-sum tulang (aplasia).</p>
<p>ETIOLOGI<br />
Anemia aplasik bisa berupa kelainan kongenital (genetik) bisa berupa kelainan yang di dapat. Sebagai kelainan kongenital anemia aplastik dibedakan menjadi dua kelompok :<br />
1.	Aplasia yang hanya mengenai salah satu dari sel. Misalnya :<br />
	Anemia hipoplastik kongenital (erithroblastopenia)→ seri eritropoetik<br />
	Agranulositosis, genetik infanital (agranulositosis) → seri granulopoetik<br />
	Amegakaryolite trombositopeni purpura → seri trombopoetik.<br />
2.	Aplasia yang mengenai seluruh seri hematopoetik dan biasanya disertai dengan kelainan kongenital. Misalnya :<br />
	Sindrom kongenital<br />
	Diskeratosis bawaan.<br />
	Anemia aplastik konstitusional tampa kelainan kulit atau tulang.<br />
Sedangkan anemia aplasik yang di dapat adalah yang berasal dari<br />
1.	Bahan-bahan kimia dan obat-obatan<br />
Seperti: Radiasi, benzen, bahan-bahan toxic seperti insektisida, obat-obatan      sitosantika, kloramphenicol, oksiperbutazon, sulfonamid.dll.<br />
2.	Virus<br />
Seperti: Hepatitis virus, sitomegalo virus, dengue, hespes simplex, robeola dan varicella.<br />
3.	Idiopatik<br />
Kelompok ini merupakan kelompok yang terbesar, hampir 50  % penderita anemia aplasik tergolong idiopatik, pengertian idiopatik tidak menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab, sekalipun sampai saat ini belum terbukti.</p>
<p>INSIDENS<br />
Anemia aplasik biasanya terdapat pada anak besar berumur lebih dari 6 tahun despresi sum-sum tulang oleh obat atau bahan kimia meskipun dengan dosis rendah tetapi berlangsung sejak usia muda secara terus-menerus, baru akan melihat pengarunya setelah beberapa tahun kemudian, misalnya pemberian kloramphenicol yang terlampau sering pada bayi (sejak umur2-3 bulan) baru akan menyebabkan gejala anemia aplasik setelah ia berumur lebih dari 6 tahun. Disamping itu pada beberapa kasus gejala sudah timbul hanya beberapa saat ia kontak dengan agen penyebabnya. </p>
<p>PATOGENESIS<br />
Hingga saat ini teori yang paling kuat di anut adalah kerusakan pluri potent stemsell, yaitu sel-sel primitive pada sum-sus tulang yang memiliki kemampuan ber differensiasi menjadi berbagai seri hematoepotik. Dan juga dikembangkan pula teori mengenai kerusakan micro environment yaitu kerusakan lingkungan sekitar sel-sel pluri potent sehingga menyebabkan hilangnya kemampuan sel tersebut untuk berdifferensiasi, apabila faktor yang merusak micro environment diperbaik, maka kemampuan sel-sel pluri potent akan meningkat kembali. Faktor-faktor yang merusak mikro environment dihubungkan dengan penekan secara imunulogi pada beberapa keadaan seperti anemia aplasik yang disebabkan oleh virus, patogenesis kemungkinan karena kurusakan pada organ-organ perifer. </p>
<p>GEJALA KLINIK<br />
Pada sebagian besar penderita anemia aplasik didapat gejala pertama adalah anemia dengan atau tanpa pendarahan. Sering pula disertai dengan demam dan tanda-tanda infeksi. Pendarahan dapat berupa purpura, epistaxia, bahkan dapat terjadi pendarahan gastrointestinal. Infeksi mudah terjadi karena adanya granulositopenia. Pembesaran kel limfe dan limpa tidak dijumpai karena sifatnya aplasia pada sistem hematopoetik, sering juga dijumpai adanya ukresi mulut dan tenggorokan. Keadaan anemia akan menyebabkan berbagai gejala seperti pucat, anorexia, lemah, sesak, jantung berdebar-debar dan bahkan bisa jatuh ke decompensasio cordis.</p>
<p>DIAGNOSIS<br />
Diagnosis anemia aplasik di tegakkan berdasarkan :<br />
1.	Gejala klinis	:	pucat, demam, pendarahan, tanpa hepatosplenomegali<br />
2.	Trias	:	anemia, leukopenia (Netropenia &#60;2500/mm3) dan trombositopenia<br />
3.	Pemeriksaan laboratorium.<br />
Gambaran darah :<br />
	Kadar heamoglobia menurut, bisa sangat rendah.<br />
	Eritrosit	:	normositik normokrom kadang-kadang bisa makrositik, anisositosis, piokilositosis dan dapat pula di jumpai sel darah muda.<br />
	Retikolosit	: 	biasa rendah tapi btsa normal.<br />
	Leukosit	:	leukopenic.<br />
	Trombosit 	: 	trombositopenic.<br />
	Hitung jenis	: 	limfositosis relatif.<br />
Diagnosa pasti dari Anemia Aplastik yaitu dengan melihat :<br />
Gambar sum-sum tulang :<br />
1.	Menurutnya aktivitas seluruh seri hematopoetik, sel mega karyolitic tidak di jumpai.<br />
2.	Banyak sel lemak, jaringan ikat dari sel-sel RES (sel Plasma Mast Cell, histosit cell).<br />
DIAGNOSA BANDING<br />
1.	Idiopatik Thrombocytopenik Purpura (ITP).<br />
2.	Leukemia Limfositik Akut.<br />
3.	Stadium pre leukemik dari leukemia akut.</p>
<p>KOMPLAKSI<br />
	LEUKEMIA AKUT</p>
<p>PENGOBATAN<br />
Ada 3 hal penting dalam penatalaksanaan penderita anemia aplastik<br />
1.	Pengobatan supportif  yang terdiri dari :<br />
•	Koreksi terhadap anemia.<br />
	Diberikan tranfusi.<br />
•	Atasi pendarahan<br />
	Diberikan platelet concentrate 0,1-0.2 unit/ kgBB, diulang bila perlu sampai pendarahan dapap diatasi → sering dipakai.<br />
	Prednison dapat digunakan sebagai tambahan untuk mengurangi kecenderungan pendarahan.<br />
2.	Cegah danatasi iflaksi<br />
•	Isolasi → dalam ruang suci hama<br />
•	Pengobatah infeksi dengan pemberian antibiotika → jangan berikan antibiotika yang dapat mendepresi sum-sum tulang (klorampnenicol).<br />
•	Pemberian granulosit sekitar 20 milliun setiap hari pada penderita dengan kadar granulositnya &#60; 200/mm3.<br />
3.	Pengobatan spesifik.<br />
•	Stimulasi dan regenerasi sum-sum tulang.<br />
	Diberikan preparat androgen yaitu testosteron, yangdapat diberikan secara oral 1-2 mg /kg BB / hari.<br />
•	Tranplantsi sum-sum tulang<br />
	Cara yang paling baik untuk anemia aplasik.<br />
•	Infusion of tetal liver cell.<br />
	Sel hati terus pada masa permulaan embrio karena banyak mengandung stem cell, dengan derajat kemampuan imenu yang rendah, sehingga baik digunakan sebagai transplantasi sum-sum 2 x / g.<br />
•	Antithymocire Globulin.<br />
	Sel-sel pluripotent yang tidak berfungsi sdisebabkan karena disekitarnya terdapat banyak T limposit yang menekan kemampuannya berdiferensiasi.</p>
<p>PROGNOSIS<br />
Proggnosis bergantung kepada :<br />
1.	Ganbaran sum-sum tulang (hipocellular).<br />
2.	Jumlah granulosityang lebih dari 2000 /mm3 menunjukan prognosis yang lebih baik.<br />
DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>1.	Salonder H, Anemia Aplasik dalam Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FKUI, Jakarta,1994 : 396 – 403 </p>
<p>2.	Baldy C.M, Anemia Aplasik dalam  Patofisiologi, Jakarta, 2000 : 234 – 3 </p>
<p>3.	corwin E.J, Anemia Aplasik dalam Buku Saku Patofisiologi, EGC, Jakarta :      122 – 2 </p>
<p>4.	Linch.D,et,all. Anemia Aplasik dalam Buku Atkas Bantu Hematologi Hipokrates, Jakarta 1995 : 25 – 8 </p>
<p>5.	Azwar.N. Anemia Aplasik dalam buku Catatan Kuliah Patologi Klinik, FK-UNBRAH, Padang 1995. </p>
<p>6.	Acang N.  Anemia Aplasik dalam buku Catatan Kuliah Ilmu Penyakit Dalam, FK-UNBRAH, Padang 1997.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Urtikaria]]></title>
<link>http://dokmud.wordpress.com/2009/11/07/urtikaria/</link>
<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 23:16:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>dokmud</dc:creator>
<guid>http://dokmud.wordpress.com/2009/11/07/urtikaria/</guid>
<description><![CDATA[Urtikaria termasuk penyakit alergi yang sering ditemukan pada praktek sehari-hari selain asma, alerg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Urtikaria termasuk penyakit alergi yang sering ditemukan pada praktek sehari-hari selain asma, alergi obat, alergi makanan, dan dermatitis. Urtikaria dijumpai pada kira-kira 10-20% dari populasi. Urtikaria ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya makanan, obat, faktor fisik, infeksi, psikis, keganasan, penyakit metabolik, dan kolagen. Pada keadaan akut umumnya mudah diketahui, sedangkan pada keadaaan kronik sukar ditemukan, bahkan 80-90% tidak diketahui penyebabnya.<br />
Disebut urtikaria akut bila keluhan terjadi kurang dari 6 minggu, umumnya terjadi pada usia anak-anak dan usia muda. Disebut urtikaria kronik bila gejala yang timbul lebih dari 6 minggu. Urtikaria kronik banyak ditemukan pada kelompok wanita usia pertengahan. Gejala urtikaria kronik sering berulang dan biasanya menghebat pada malam hari. Bila urtikaria kronik tidak hilang dalam 24 jam perlu dipikirkan kemungkinan vaskulitis urtikaria.<!--more--><br />
Patogenesis Urtikaria<br />
Urtikaria dan angioedema ialah suatu reaksi pada kulit yang mudah dilihat dan biasanya terlokalisasi, baik pada kulit (urtikaria), maupun di bawah kulit (angioedema) yang disebabkan peningkatan permeabilitas kapiler. Pada urtikaria peningkatan permeabilitas kapiler ini merupakan faktor yang penting. Keadaan ini dimungkinkan karena pelepasan histamin dari sel mast. Terjadi edema subkutan, umumnya pada jaringan yang longgar dan berisi sedikit ujung saraf, sehingga keluhan gatal pada angioedema lebih jarang ditemukan dibanding pada urtikaria. Kenaikan kadar histamin dalam darah vena akan lebih merangsang munculnya urtikaria. Di samping itu, beberapa mediator (seperti leukotrien) yang dihasilkan sel mast ikut berperan dalam terjadinya urtikaria.<br />
Imunologi Urtikaria<br />
Umumnya kasus urtikaria dan angioedema disebabkan oleh reaksi alergi. Keadaan ini disebabkan terfiksasinya Ig E pada sel mast, lalu akhirnya sel mast sendiri akan pecah karena rangsangan antigen dan menghasilkan beberapa mediator. Sedangkan pada urtikaria idiopatik dan urtikaria karena tekanan, peranan reaksi antigen-antibodi tersebut sedikit. Terstimulasinya sel mast untuk mengeluarkan mediator masih belum diketahui.<br />
Gambaran imunologi urtikaria secara umum adalah:<br />
1.	Urtikaria akut/angioedema adalah suatu bentuk kelainan di kulit karena reaksi anafilaksis.<br />
2.	Penyebab urtikaria karena alergi makanan dan obat umumnya melalui Ig E.<br />
3.	Urtikaria kronik adalah suatu keadaan non-imunologi yang penyebabnya tidak diketahui. </p>
<p>Klasifikasi dan Etiologi<br />
Banyak klasifikasi urtikaria yang diajukan, tetapi semuanya mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. Untuk memudahkan pemahaman, maka diambil sesuai dengan klasiifikasi yang dihubungkan dengan mekanisme urtikaria seperti pada tabel 1.<br />
Tabel 1. Klasifikasi urtikaria<br />
 Reaksi imunologi<br />
Reaksi anafilaksis (tipe I)<br />
Reaksi sitotoksik (tipe II)<br />
Reaksi kompleks imun(tipe III)<br />
Fisikal<br />
dermatografisme<br />
dingin<br />
panas<br />
kolinergik<br />
sinar<br />
tekanan<br />
gelombang<br />
aquagenic 	Reaksi anafilaktoid<br />
angioedema herediter<br />
hystamine liberator<br />
sensitiivitas terhadap aspirin<br />
Lain-lain<br />
urtikaria papular<br />
urtikaria pigmentosa<br />
mastositosis sistemik<br />
infeksi<br />
vaskulitis<br />
keganasan<br />
endokrin<br />
psikis<br />
idiopatik<br />
Tabel 2. Beberapa bahan yang sering menimbulkan pelepasan histamin<br />
kontras<br />
opiat: kodein, morfin<br />
antibiotik: klortetrasiklin, polimiksin, kuinin<br />
relaksan otot: kurare<br />
obat vasoaktif: atropin, amfetamin, hidralazin<br />
makanan: putih telur, tomat, udang, jeruk, strawberi<br />
Gambaran klinik<br />
Urtikaria sering terjadi secara multipel ynag dibatasi suatu daerah edematosa disertai perasaan gatal. Gambaran kelainan dapat berwarna keputihan yang dikelilingi kemerahan atau daerah kemerahan yang berubah jadi pucat bila dilakukan peregangan. Ukuran kelainan tiap individu sangat bervariasi dari beberapa milimeter sampai beberapa centimeter, bisa berbentuk sirkuler atau tidak beraturan. Umumnya gejala tersebut berlangsung antara 1-48 jam, sedangkan literatur lainnya kurang dari 24 jam (umumnya 12 jam). Lokaasi dapat di daerah kulit mana saja, paling sering pada daerah yang tertekan.<br />
Pada angioedema terlihat adanya pembengkakan yang non-pitting tanpa keluhan gatal. Predileksi yang tersering adalah di daerah muka, khususnya daerah periorbital dan perioral. Akan tetapi dapat juga terjadi pada mulut di daerah faring/laring.<br />
Gejala urtikaria dan angioedema ini mudah dikenal, bahkan oleh orang awam. Kedua gejala tersebut dapat ditemukan bersama-sama pada hampir setengah penderita. Rincian gambaran urtikaria kronik dan gejala kliniknya dapat dilihat pada tabel 3. Urtikaria kronik harus dibedakan dengan vaskulitis urtikaria seperti dalam tabel 4.<br />
Gambaran berbagai jenis urtikaria kronik<br />
Jenis urtikaria	Usia pasien	Gambaran klinik	disertai angioedema<br />
Kronik idiopatik	20-50	luas, generalisata, edema papuler atau wheal yang berwarna merah muda atau pucat, kadang anuler, kadang gatal	Ya<br />
Dermatografisme simtomatik 	20-50	gatal, wheal linier dikelilingi flare merah terang pada tempat garukan	Tidak<br />
Urtikaria fisik lain<br />
Dingin	10-40	gatal, pembengkakan yang berwarna pucat atau merah pada tempat kontak dengan permukaan dingin atau cairan	Ya<br />
Tekanan	20-50	pembengkakan yang berwarna merah, luas, gatal, dan nyeri pada daerah yang tertekan, berlangsung sampai 24 jam atau lebih	Tidak<br />
Solar	20-50	Pembengkakan yang berwarna merah atau pucat dan gatal pada daerah yang terpapar sinar ultraviolet atau sinar lainnya	Ya<br />
Kolinergik	10-50	gatal, wheal yang pucat atau merah muda, homomorfik pada badan, leher, atau tungkai	Ya</p>
<p>Pendekatan Diagnostik<br />
Cara yang paling baik untuk menentukan diagnosis adalah anamnesis yang rinci dan pemeriksaan jasmani yang teliti. Beberapa pertanyaan yang harus selalu diajukan untuk penyelidikan penyebab ialah hubungannya dengan:<br />
•	makanan<br />
•	obat-obatan, khususnya antibiotik, aspirin, tartazin, vitamin, pil KB dan obat topikal<br />
•	inhalan atau kontaktan<br />
•	pekerjaan/ bahan yang terpapar di pekerjaan<br />
•	infeksi, misalnya infeksi gigi atau sinusitis<br />
•	stres dan ansietas.<br />
Akan tetapi dengan cara tersebut kadang-kadang sukar untuk menentukan penyebabnya (kecuali pada urtikaria akut), sehingga memerlukan beberapa pemeriksaan penunjang dengan mempertimbangkan efektiviitas dan biaya. (lihat algoritma)<br />
Pengobatan<br />
Walaupun belum ada panduan yang disepakati bersama, khususnya dalam upaya pengobatan urtikaria kronik, beberapa langkah di bawah ini perlu diketahui.<br />
1.	Hindari bahan/obat/makanan yang merupakan penyebab.<br />
2.	Penderita dengan urtikaria kroniiik sebaiknya menghindari ACE-inhibitor, aspirin, obat antiinflamasi non-steroid lain.<br />
3.	Simtomatik: obat antihistamin (agonis reseptor H1)<br />
4.	Obat antagonis reseptor H2<br />
5.	Hindari pemberian steroid topikal dan antihistamin topikal.<br />
6.	Ada yang mengusulkan pemberian antagonis Ca (nifedipin) atau agonis b -2 adrenergik bersama-sama dengan antihistamin)<br />
7.	Steroid sistemik bila keadaan tersebut tidak menolong dengan dosis 30 mg pada pagi hari. Dosis diturunkan secara bertahap bila keluhan berkurang. Pemberian tidak lebih dari 3 minggu.<br />
Pengobatan tersebut umumnya memerlukan kajian ulang bila keluhan urtikaria muncul kembali.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ATHEROSKLEROSIS ]]></title>
<link>http://dokmud.wordpress.com/2009/11/07/atherosklerosis/</link>
<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 23:04:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>dokmud</dc:creator>
<guid>http://dokmud.wordpress.com/2009/11/07/atherosklerosis/</guid>
<description><![CDATA[Atherosklerosis adalah pengerasan dan penebalan dinding pembulu darah arteri akibat plaque dimulai d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Atherosklerosis adalah pengerasan dan penebalan dinding pembulu darah arteri akibat plaque dimulai dari lapisan intima bagian pembuluh darah paling dalam yang kemudian meluas juga ke lapisan media dari pembuluh darah yang terjadi karena proses pengendapan lemak, komplek karbohidrat dan produk darah, jaringan ikat dan calcium.<!--more--></p>
<p>Bila plaque yang terbentuk dalam pembuluh darah cukup besar, ditambah faktor-faktor resiko athelosclerosis masih terus berlanjut seperti kadar kolesterol tinggi, penyakit kencing manis yang tidak terkontrol, tekanan darah tinggi, merokok, kegemukan, kurang olah raga, stress, maka akan mudah terjadi penyumbatan karena terlepasnya plague yang berakibat fatal buat penderita.</p>
<p>Apabila yang mengalami sumbatan pembuluh darah yang cukup vital misalnya pembuluh darah koroner jantung atau pembuluh darah utama otak, maka dapat menyebabkan kematian mendadak, serangan jantung dan stroke.</p>
<p>Oleh sebab itu faktor-faktor resiko yang menyebabkan percepatan pembentukan atherosklerosis harus dikurangi atau dihilangkan dan pada kasus-kasus penderita yang telah mengalami gangguan pembentukan atherosklerosis yang cukup berat harus dilakukan upaya untuk mengurangi atherosklerosis tersebut sebelum terjadinya gangguan yang lebih fatal.</p>
<p>Ada beberapa panduan yang dapat dilakukan untuk menghindari pembentukan terjadinya atheroslerosis yaitu :</p>
<p>1. Pengaturan pola hidup berupa :</p>
<p>Mengendalikan stress<br />
. Mengatur pola makan dalam rangka menurunkan kadar kolesterol dan kadar gula dalam darah kita.<br />
Menurunkan berat badan yang berlebihan<br />
Olah raga yang teratur</p>
<p>2. Menggunakan Food suplemen tambahan yang telah diteliti kasiatnya</p>
<p>. Vitamin, mineral dan antioksidan<br />
. Garlic ( Bawang putih )<br />
. Omega 3, 6<br />
. Squalline<br />
. Mengkudu ( Buah noni )</p>
<p>Terapi Alternative</p>
<p> Terapi Khelasi<br />
 Kolon hydroterapi<br />
.Urine terapi </p>
<p>Bagi yang sudah terlanjur sakit seperti hipertensi, diabetes atau penyaki-penyakit akibat penyempitan pembuluh darah lainnya maka pengaturan pola hidup , penggunaan food suplemen dan terapi alternatif seperti yang diatas dapat dijadikan sebagai panduan tetapi disesuaikan dengan penyakit yang dideritanya disertai tetap mengkonsumsi obat medis secara teratur yang telah dianjurkan oleh dokter keluarganya. </p>
<p>Terapi khelasi</p>
<p>Terapi khelasi adalah metode pengobatan dengan menggunakan bahan utama EDTA ( Ethylene Diamine Tetracetik Acid ) dan nutrien lain yang dilarutkan dalam 500 ml larutan infus steril, kemudian dimasukan ke dalam tubuh langsung melalui pembuluh darah vena.</p>
<p>Terapi khelasi berasal dari kata yunani “ CHELE “ yang berarti capit , sehingga prinsip terapi khelasi ini adalah mencapit dimana yang dicapit disini adalah logam-logam berat yang banyak masuk kedalam tubuh manusia karena berbagai polusi seperti timah hitam, aluminium,merkuri,kadmium,dan bahan-bahan kimiawi lainnya.</p>
<p>Polutan tersebut dapat masuk kedalam tubuh kita dan beredar dalam pembuluh darah melalui polusi asap industri, makanan modern seperti makanan kaleng,bahan pengawet,bahan pewarna,bahan penyedap, dll.</p>
<p>Terapi khelasi ini lebih bersifat detoksifikasi atau menghilangkan dan menetralkan racun yang masuk kedalam tubuh kita yang mengakibatkan proses atherosklerosis tersebut.</p>
<p>Bahan – bahan polutan dalam tubuh yang telah dicapit oleh EDTA akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui ginjal sebagai urine dalam keadaan masih seperti aslinya tanpa dimetabolisme.</p>
<p>Keuntungan terapi khelasi :</p>
<p>- Memperbaiki fungsi organ tubuh secara alamiah dengan membersihkan zat-zat beracun dari dalam tubuh dan memperbaiki aliran darah.</p>
<p>- Memperbaiki organ – organ secara menyeluruh tidak hanya satu organ saja</p>
<p>- Vitalitas setelah khelasi meningkat.</p>
<p>- Biaya lebih ringan dibanding dengan operasi</p>
<p>Penyakit yang memberi respon yang baik terhadap khelasi antara lain :</p>
<p>Penyakit jantung koroner<br />
Pengerasan dan penyempitan pembuluh darah ( Atherosklerosis )<br />
Tekanan darah tinggi<br />
Kadar lemak darah tinggi<br />
Stroke<br />
Gangguan pembuluh darah tepi ( Kaki dingin, semutan , kram )<br />
Luka pada kencing manis<br />
Rematik dan perkapuran sendi<br />
Demensia senilis ( Pikun )<br />
Gangguan seksual ( Impotensia )<br />
Vitalitas menurun<br />
Penyakit parkinson </p>
<p>Cairan infus terapi khelasi yang telah disiapkan diberikan melalui infus pada  tangan penderita, selama infus penderita dapat duduk santai, mengobrol, membaca, menonton televisi dan apabila diperlukan dapat berjalan dengan membawa infus ( misalnya untuk kencing ). </p>
<p>Satu seri khelasi diberikan 20-30 kali terapi dilakukan 2 kali seminggu lama pemberian 3-4 jam. Karena ginjal menerima beban lebih berat untuk mengeluarkan sampah dan mineral yang masih diperlukan juga ikut terbuang keluar maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk memantau fungsi ginjal dan kadar mineral dalam tubuh minimal awal terapi dan setiap selesai 10 kali terapi.</p>
<p>Kolon Hidroterapi</p>
<p>Kolon hidroterapi adalah pengembangan yang lebih lengkap dari enema dan merupakan cara yang aman untuk mengeluarkan sisa-sisa makanan dan racun dari usus besar tanpa menggunakan obat-obatan tetapi hanya menggunakan air yang telah difilter sehingga bebas dari bahan kimia beracun dan disterilsasi dengan sinar ultra violet.</p>
<p>Efek pembersih dari kolon hidroterapi ini mengurangi stagnasi dan pembentukan bakteri patologis dalam usus besar akibat proses fermentasi dan membantu membuat keseimbangan flora di dalam usus sehingga mengoptimalkan kesehatan. Proses pengisian dan pengosongan air diulang 4 kali selama sekitar 1 jam terapi.</p>
<p>James A Wiltsie berpendapat bahwa pengetahuan kita mengenai fisiologi, patologi dan pengelolaan dari usus besar dapat berefek pada organ lain dan sistem dari tubuh kita, sehingga bila kita memperhatikan usus besar kita dengan baik maka secara tidak langsung menjadi sumber kesehatan bagi tubuh kita. Ketidak seimbangan fungsi usus ini dapat mengakibatkan penumpukan racun ( Toksin ) yang melalui sistem peredaran darah dan limfatik akan tersebar ke seluruh tubuh kita dan menimbulkan penyakit .</p>
<p>Terapi Urine</p>
<p>Terapi auto urine sudah dilakukan di India sejak 5000 th yang lalu. Masyarakat di Eropa juga sudah mengenalnya sejak 4000 th yang lalu sedangkan di Cina baru diketahui sejak 1700 th yang lalu dan Jepang baru 700 th yang lalu dan hingga kini masih dijalankan oleh sebagian masyarakat.</p>
<p>Saat ini terapi urine ini telah semakin banyak diteliti oleh dunia medis dan ditemukan banyak manfaat terapinya.</p>
<p>Pada tahun 1991 dr johann Abele menulis buku yang didalamnya ditulis kemujaraban air seni, kemudian ahli farmasi Ingeborg Allmann menulis buku kekuatan menyembuhkan terapi air seni karena dia menderita penyakit asma allergik yang tidak pernah sembuh dengan pengobatan konservatif lalu mencoba pengobatan alternatif yakni  terapi urine dan menjalani terapi selama 6 bulan dan penyakitnya benar-benar hilang. Dr Hasle dari swiss membahas secara ekstensif zat-zat yang terdapat dalam air seni kemudian DR iwan T. Budiarso, D.V.,M.,APU dalam bukunya Terapi auto urine dan pengalaman pribadinya dalam mengobati penyakit jantung koroner yang hasilnya sangat menakjubkan.</p>
<p>Berdasarkan data-data ilmiah tersebut sekarang urine terapi telah banyak dipakai untuk mengobati penyakit degeneratif.</p>
<p>Pengunaan terapi alternatif untuk mendukung terapi kedokteran konservatif dan pengaturan pola hidup boleh dilakukan oleh siapa saja , tetapi hendaknya benar-benar dipilih terapi yang paling cocok dan bermanfaat sesuai dengan kondisi saat itu.</p>
<p>Sumber :</p>
<p>Prescription for Nutritional Healing By: Phyllis A. Balch, cnc . James F. Balch, M.D Balch, MD<br />
Terapi Auto urine Oleh DR Iwan T Budiarso , D.V,M,.APU.<br />
Colon health the key to a vibrant life By Norman W. Walker, D.Sc.,Ph.D.</p>
<p>Dr. Albert GO Sumampouw/ www.medikaholistik.com/180102 </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Deteksi Dini &amp; Uji Penyakit Ginjal]]></title>
<link>http://dokmud.wordpress.com/2009/11/07/deteksi-dini-uji-penyakit-ginjal/</link>
<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 22:59:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>dokmud</dc:creator>
<guid>http://dokmud.wordpress.com/2009/11/07/deteksi-dini-uji-penyakit-ginjal/</guid>
<description><![CDATA[Secara anatomi, ginjal memiliki ukuran seperti kepalan tangan, dengan panjang 11-12 cm, lebar 5-7 cm]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Secara anatomi, ginjal memiliki ukuran seperti kepalan tangan, dengan panjang 11-12 cm, lebar 5-7 cm, dan tebal 2-3 cm. Ginjal terbentuk oleh unit yang disebut nephron yang berjumlah 1-1,2 juta buah pada setiap ginjal. </p>
<p>Unit nephron dimulai dari pembuluh darah kapiler yang bersifat sebagai saringan, disebut dengan glomerulus. Darah akan melewati glomerulus tersebut dan disaring sehingga terbentuk filtrat (urine yang masih encer) sekitar 170 liter per hari, kemudian dialirkan melalui saluran yang disebut dengan tubulus. Lalu urine akan dialirkan ke saluran ureter, kandung kemih, dan keluar melalui uretra.<!--more--></p>
<p>Ginjal adalah organ yang mempunyai pembuluh darah yang sangat banyak. Pada dasarnya, ginjal berfungsi menyaring atau membersihkan darah. </p>
<p>Aliran darah ke ginjal sekitar 1,2 liter/menit atau 1.700 liter/hari. Darah tersebut disaring menjadi cairan filtrat sebanyak 120 ml/menit atau 170 liter/hari ke tubulus. Cairan filtrat kemudian diproses di dalam tubulus hingga akhirnya keluar dari kedua ginjal menjadi urine sebanyak 1-2 liter/hari. </p>
<p>Fungsi ginjal adalah sebagai berikut:<br />
1.	Sebagai sistem filter atau saringan dan pembuangan sampah.<br />
2.	Menjaga keseimbangan cairan tubuh.<br />
3.	Produksi hormon yang mengontrol tekanan darah.<br />
4.	Produksi hormon erythropoietin yang membantu pembuatan sel darah merah.<br />
5.	Mengaktifkan vitamin D untuk memelihara kesehatan tulang.</p>
<p>Penyebab penyakit ginjal antara lain, yaitu:<br />
1.	Penyakit umum, seperti kencing manis, hipertensi, kolesterol tinggi, paru atau TBC, sifilis, malaria, hepatitis, pre-eklampsia, muntaber, perdarahan, dan luka bakar. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan gangguan pada ginjal.<br />
2.	Penyakit lokal pada ginjal, seperti penyakit pada saringan (glomerulus) atau glomerulonephritis, infeksi kuman, adanya kista di ginjal, benturan, terpukul, kanker malignancy, dan sumbatan batu ginjal atau tumor.</p>
<p>Gejala penyakit ginjal dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu:<br />
1.	Gejala akut, seperti mata bengkak, nyeri pinggang yang hebat, rasa sakit ketika buang air kecil, demam, dan sering buang air kecil.<br />
2.	Gejala kronis, seperti lemas, tidak nafsu makan, mual, muntah, bengkak, buang air kecil berkurang, gatal, sesak napas, dan anemia. </p>
<p>Penanganan pasien dengan penyakit ginjal dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:<br />
1.	Periksa, diagnosa atau pengenalan dini terhadap gagal ginjal.<br />
2.	Kontrol atau monitor progresivitas gagal ginjal.<br />
3.	Deteksi dan koreksi terhadap penyebab gagal ginjal yang masih dapat disembuhkan.<br />
4.	Melakukan intervensi pengobatan atau tindakan untuk memperlambat progresivitas gagal ginjal.<br />
5.	Hindari kerusakan tambahan pada ginjal, seperti obat atau jamu yang toksik terhadap ginjal.<br />
6.	Berikan terapi terhadap komplikasi gagal ginjal.<br />
7.	Rencanakan terapi pengganti ginjal.</p>
<p>Pemeriksaan Yang Perlu Dilakukan </p>
<p>Mereka yang rawan penyakit ginjal kronis perlu periksa ke dokter secara rutin untuk mengetahui secara detail keadaan kesehatannya. Misalnya pemeriksaan protein dalam air kencing, kalau hasilnya ternyata dua kali positif dalam pemeriksaan selama beberapa pekan, ini menunjukkan bahwa orang itu telah mengidap penyakit ginjal kronis. Karena ketika organ ginjal mengalami perusakan, protein akan masuk ke air kemih, dan merupakan pertanda dini terusaknya organ ginjal. </p>
<p>1.	Pemeriksaan creatinine darah, creatinine berasal dari sampah yang dihasilkan oleh kegiatan otot yang normal. Kalau seseorang mengalami gangguan ginjal, akan sulit membuang creatinine darah, sehingga akan mengendap dalam jumlah besar dalam darah. Berdasarkan taraf creatinine darah dokter dapat mengetahui fungsi ginjal penderita.<br />
2.	Periksa creatinine air kencing. Dari pemeriksaan itu dapat mengetahui kekentalan air kemih penderita.<br />
3.	Analisa air kemih. Untuk mendeteksi apakah terdapat darah, protein, nanah, gula atau kuman .<br />
4.	Pemeriksaan mikroalbumin dalam air kencing. Cara deteksi ini cukup sensitif.<br />
5.	Pemeriksaan rasio protein dan creatinine. Pemeriksaan ini dapat mengetahui jumlah pembuangan protein dalam air kemih selama 24 jam, tanpa harus mengumpulkan sampel air kemih selama 24 jam. </p>
<p>Untuk mengevaluasi fungsi ginjal dan menetapkan rencana pengobatannya, kadang masih diperlukan mengadakan pemeriksaan sebagai berikut:<br />
•	Glomerular filtration rate (GFR) atau jumlah air kencing yang difiltrasi ginjal per-jamnya. Cara ini dapat membantu dokter memastikan stadium penyakit ginjal penderita, dan merupakan cara terbaik untuk menilai fungsi ginjal.<br />
•	Pemeriksaan ultrasonik atau CT. Melalui pemeriksaan itu, dokter dapat melihat gambar ginjal dan saluran kemih penderita. Dapat terlihat jelas besar kecilnya ginjal penderita, terjadi atau tidak penyumbatan seperti ginjal batu atau tumor, ada tidak kelainan struktur ginjal atau saluran kemih.<br />
•	Biopsi ginjal. Dalam keadaan tertentu perlu diadakan pemeriksaan itu untuk mengamati strukturnya lewat mikroskop. </p>
<p>Langkah pengobatan yang harus diambil<br />
•	Bagi penderita penyakit kencing manis dan tekanan darah tinggi harus berobat dengan sungguh-sungguh menurut nasehat dokter.<br />
•	Mengurangi bobot badan berkelebihan lewat diet sehat dan olahraga yang teratur.<br />
•	Hindari minum obat pelerai nyeri dalam jumlah besar.<br />
•	Mengubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik seperti merokok, juga perlu membatasi penyerapan garam, arak dan protein.<br />
•	Bagi mereka yang terluka ginjalnya haruslah rajin berobat, seperti penyakit kencing manis, tekanan darah tinggi, lemah darah tinggi dan sejumlah komplikasi penyakit ginjal, antara lain anemia dan penyakit tulang. </p>
<p>Pengobatan penyakit ginjal parah </p>
<p>Penyakit ginjal yang tidak terdiagnosa tepat waktu atau tidak diobati secara intensif akan berkembang menjadi penyakit ginjal kronis yang pada akhirnya akan memicu gagal ginjal. Dalam pengobatan lebih banyak diambil cara cuci darah atau cuci peritoneum atau selaput perut. </p>
<p>Kalau cara-cara pengobatan itu tidak berhasil, dapat mencoba menerima operasi pencangkokan ginjal. Dan setelah pencangkokan itu berhasil, penderita masih perlu setiap hari minum obat anti reaksi penolakan, untuk mencegah terjadinya reaksi tersebut. </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemeriksaan Laboratorium Penderita Diabetes Mellitus ]]></title>
<link>http://dokmud.wordpress.com/2009/11/07/pemeriksaan-laboratorium-penderita-diabetes-mellitus/</link>
<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 22:51:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>dokmud</dc:creator>
<guid>http://dokmud.wordpress.com/2009/11/07/pemeriksaan-laboratorium-penderita-diabetes-mellitus/</guid>
<description><![CDATA[Pendahuluan Diabetes Melitus (DM) adalah kelainan metabolisme karbohidrat, di mana glukosa darah tid]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Pendahuluan </strong><br />
Diabetes Melitus (DM) adalah kelainan metabolisme karbohidrat, di mana glukosa darah tidak dapat digunakan dengan baik, sehingga menyebabkan keadaan hiperglikemia. 1,2 DM merupakan kelainan endokrin yang terbanyak dijumpai.3 Penderita DM mempunyai risiko untuk menderita komplikasi yang spesifik akibat perjalanan penyakit ini, yaitu retinopati (bisa menyebabkan kebutaan), gagal ginjal, neuropati, aterosklerosis (bisa menyebabkan stroke), gangren, dan penyakit arteria koronaria (Coronary artery disease).1,2,3<br />
Prevalensi DM sulit ditentukan karena standar penetapan diagnosisnya berbeda-beda. Berdasarkan kriteria American Diabetes Association (ADA), sekitar 10,2 juta orang di Amerika Serikat (AS) menderita DM dan yang tidak terdiagnosis sekitar 5,4 juta. Dengan demikian, diperkirakan lebih dari 15 juta orang di AS menderita DM. Sementara itu, di Indonesia prevalensi DM sebesar 1,5-2,3% penduduk usia &#62;15 tahun, bahkan di daerah Manado prevalensi DM sebesar 6,1%.4<br />
Pemeriksaan laboratorium bagi penderita DM diperlukan untuk menegakkan diagnosis serta memonitor Tx dan timbulnya komplikasi spesifik akibat penyakit. Dengan demikian, perkembangan penyakit bisa dimonitor dan dapat mencegah komplikasi.1,5,6 Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui jenis pemeriksaan pada penderita DM. <!--more--></p>
<p><strong>Klasifikasi dan Patogenesis Diabetes Melitus </strong><br />
DM adalah kelainan endokrin yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah.1,2,3 Menurut anjuran PERKENI yang sesuai dengan anjuran ADA 1997, DM bisa diklasifikasikan secara etiologi menjadi diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, diabetes dalam kehamilan, dan diabetes tipe lain.2,3,4 </p>
<p><strong>Diabetes Tipe 1 </strong><br />
DM tipe 1 atau yang dulu dikenal dengan nama Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM), terjadi karena kerusakan sel b pankreas (reaksi autoimun). Bila kerusakan sel beta telah mencapai 80&#8211;90% maka gejala DM mulai muncul. Perusakan sel beta ini lebih cepat terjadi pada anak-anak daripada dewasa.2,3 Sebagian besar penderita DM tipe 1 mempunyai antibodi yang menunjukkan adanya proses autoimun, dan sebagian kecil tidak terjadi proses autoimun. Kondisi ini digolongkan sebagai type 1 idiopathic. Sebagian besar (75%) kasus terjadi sebelum usia 30 tahun, tetapi usia tidak termasuk kriteria untuk klasifikasi.2 </p>
<p><strong>Diabetes Tipe 2</strong><br />
DM tipe 2 merupakan 90% dari kaaus DM yang dulu dikenal sebagai non insulin dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Pada diabetes ini terjadi penurunan kemampuan insulin bekerja di jaringan perifer (insulin resistance) dan disfungsi sel beta. Akibatnya, pankreas tidak mampu memproduksi insulin yang cukup untuk mengkompensasi insulin resistance. Kedua hal ini menyebabkan terjadinya defisiensi insulin relatif.2,3 Gejala minimal dan kegemukan sering berhubungan dengan kondisi ini, yang umumnya terjadi pada usia &#62; 40 tahun. Kadar insulin bisa normal, rendah, maupun tinggi, sehingga penderita tidak tergantung pada pemberian insulin.2 </p>
<p><strong>DM Dalam Kehamilan </strong><br />
DM dan kehamilan (Gestational Diabetes Mellitus &#8211; GDM) adalah kehamilan normal yang disertai dengan peningkatan insulin resistance (ibu hamil gagal mempertahankan euglycemia). Faktor risiko GDM: riwayat keluarga DM, kegemukan, dan glikosuria. GDM ini meningkatkan morbiditas neonatus, misalnya hipoglikemia, ikterus, polisitemia, dan makrosomia. Hal ini terjadi karena bayi dari ibu GDM mensekresi insulin lebih besar sehingga merangsang pertumbuhan bayi dan makrosomia. Frekuensi GDM kira-kira 3&#8211;5% dan para ibu tersebut meningkat risikonya untuk menjadi DM di masa mendatang.2 </p>
<p><strong>Diabetes Tipe Lain </strong><br />
Subkelas DM di mana individu mengalami hiperglikemia akibat kelainan spesifik (kelainan genetik fungsi sel beta), endokrinopati (penyakit Cushing’s, akromegali), penggunaan obat yang mengganggu fungsi sel beta (dilantin), penggunaan obat yang mengganggu kerja insulin (b-adrenergik), dan infeksi/sindroma genetik (Down’s, Klinefelter’s).2 </p>
<p>Pemeriksaan<br />
Untuk Dx DM: pemeriksaan glukosa darah/hiperglikemia (puasa, 2 jam setelah makan/post prandial/PP) dan setelah pemberian glukosa per-oral (TTGO).1,2,3,4,5,7<br />
Antibodi untuk petanda (marker) adanya proses autoimun pada sel beta adalah islet cell cytoplasmic antibodies (ICA), insulin autoantibodies (IAA), dan antibodi terhadap glutamic acid decarboxylase (anti-GAD). ICA bereaksi dengan antigen yang ada di sitoplasma sel-sel endokrin pada pulau-pulau pankreas. ICA ini menunjukkan adanya kerusakan sel. Adanya ICA dan IAA menunjukkan risiko tinggi berkembangnya penyakit ke arah diabetes tipe 1. GAD adalah enzim yang dibutuhkan untuk memproduksi neurotransmiter g-aminobutyric acid (GABA). Anti GAD ini bisa teridentifikasi 10 tahun sebelum onset klinis terjadi. Jadi, 3 petanda ini bisa digunakan sebagai uji saring sebelum gejala DM muncul.2<br />
Untuk membedakan tipe 1 dengan tipe 2 digunakan pemeriksaan C-peptide. Konsentrasi C-peptide merupakan indikator yang baik untuk fungsi sel beta, juga bisa digunakan untuk memonitor respons individual setelah operasi pankreas. Konsentrasi C-peptida akan meningkat pada transplantasi pankreas atau transplantasi sel-sel pulau pankreas.2 </p>
<p>Sampling untuk Pemeriksaan Kadar Gula Darah<br />
Untuk glukosa darah puasa, pasien harus berpuasa 6&#8211;12 jam sebelum diambil darahnya. Setelah diambil darahnya, penderita diminta makan makanan seperti yang biasa dia makan/minum glukosa per oral (75 gr ) untuk TTGO, dan harus dihabiskan dalam waktu 15&#8211;20 menit. Dua jam kemudian diambil darahnya untuk pemeriksaan glukosa 2 jam PP.2,3,4<br />
Darah disentrifugasi untuk mendapatkan serumnya, kemudian diperiksa kadar glukosanya. Bila pemeriksaan tidak langsung dilakukan (ada penundaan waktu), darah dari penderita bisa ditambah dengan antiglikolitik (gliseraldehida, fluoride, dan iodoasetat) untuk menghindari terjadinya glukosa darah yang rendah palsu.2,8,9 Ini sangat penting untuk diketahui karena kesalahan pada fase ini dapat menyebabkan hasil pemeriksaan gula darah tidak sesuai dengan sebenarnya, dan akan menyebabkan kesalahan dalam penatalaksanaan penderita DM. </p>
<p>Metode Pemeriksaan Kadar Glukosa<br />
Metode pemeriksaan gula darah meliputi metode reduksi, enzimatik, dan lainnya. Yang paling sering dilakukan adalah metode enzimatik, yaitu metode glukosa oksidase (GOD) dan metode heksokinase.1,2,8,9<br />
Metode GOD banyak digunakan saat ini. Akurasi dan presisi yang baik (karena enzim GOD spesifik untuk reaksi pertama), tapi reaksi kedua rawan interferen (tak spesifik). Interferen yang bisa mengganggu antara lain bilirubin, asam urat, dan asam askorbat.2,8<br />
Metode heksokinase juga banyak digunakan. Metode ini memiliki akurasi dan presisi yang sangat baik dan merupakan metode referens, karena enzim yang digunakan spesifik untuk glukosa.8 Untuk mendiagosa DM, digunakan kriteria dari konsensus Perkumpulan Endokrinologi Indonesia tahun 1998 (PERKENI 1998) 3,4,7<br />
Pemeriksaan untuk Pemantauan Pengelolaan DM<br />
Yang digunakan adalah kadar glukosa darah puasa, 2 jam PP, dan pemeriksaan glycated hemoglobin, khususnya HbA1C, serta pemeriksaan fruktosamin.2,3,4,7,10 Pemeriksaan fruktosamin saat ini jarang dilakukan karena pemeriksaan ini memerlukan prosedur yang memakan waktu lama.7 Pemeriksaan lain yang bisa dilakukan ialah urinalisa rutin. Pemeriksaan ini bisa dilakukan sebagai self-assessment untuk memantau terkontrolnya glukosa melalui reduksi urin.1,7 </p>
<p>Pemeriksaan HbA1C<br />
HbA1C adalah komponen Hb yang terbentuk dari reaksi non-enzimatik antara glukosa dengan N terminal valin rantai b Hb A dengan ikatan Almidin. Produk yang dihasilkan ini diubah melalui proses Amadori menjadi ketoamin yang stabil dan ireversibel.7,10,11 Metode pemeriksaan HbA1C: ion-exchange chromatography, HPLC (high performance liquid chromatography), Electroforesis, Immunoassay, Affinity chromatography, dan analisis kimiawi dengan kolorimetri.1,2,10,11<br />
Metode Ion Exchange Chromatography: harus dikontrol perubahan suhu reagen dan kolom, kekuatan ion, dan pH dari bufer. Interferens yang mengganggu adalah adanya HbS dan HbC yang bisa memberikan hasil negatif palsu.2,10<br />
Metode HPLC: prinsip sama dengan ion exchange chromatography, bisa diotomatisasi, serta memiliki akurasi dan presisi yang baik sekali. Metode ini juga direkomendasikan menjadi metode referensi.10<br />
Metode agar gel elektroforesis: hasilnya berkorelasi baik dengan HPLC, tetapi presisinya kurang dibanding HPLC. Hb F memberikan hasil positif palsu, tetapi kekuatan ion, pH, suhu, HbS, dan HbC tidak banyak berpengaruh pada metode ini.2<br />
Metode Immunoassay (EIA): hanya mengukur HbA1C, tidak mengukur HbA1C yang labil maupun HbA1A dan HbA1B, mempunyai presisi yang baik.2<br />
Metode Affinity Chromatography: non-glycated hemoglobin serta bentuk labil dari HbA1C tidak mengganggu penentuan glycated hemoglobin, tak dipengaruhi suhu. Presisi baik. HbF, HbS, ataupun HbC hanya sedikit mempengaruhi metode ini, tetapi metode ini mengukur keseluruhan glycated hemoglobin, sehingga hasil pengukuran dengan metode ini lebih tinggi dari metode HPLC.2,10<br />
Metode Kolorimetri: waktu inkubasi lama (2 jam), lebih spesifik karena tidak dipengaruhi non-glycosylated ataupun glycosylated labil. Kerugiannya waktu lama, sampel besar, dan satuan pengukuran yang kurang dikenal oleh klinisi, yaitu m mol/L.10 </p>
<p>Interpertasi Hasil Pemeriksaan HbA1C<br />
HbA1C akan meningkat secara signifikan bila glukosa darah meningkat. Karena itu, HbA1C bisa digunakan untuk melihat kualitas kontrol glukosa darah pada penderita DM (glukosa darah tak terkontrol, terjadi peningkatan HbA1C-nya ) sejak 3 bulan lalu (umur eritrosit). HbA1C meningkat: pemberian Tx lebih intensif untuk menghindari komplikasi 2,3,4,5,7,10,11<br />
Nilai yang dianjurkan PERKENI untuk HbA1C (terkontrol): 4%-5,9%.4 Jadi, HbA1C penting untuk melihat apakah penatalaksanaan sudah adekuat atau belum.1,18 Sebaiknya, penentuan HbA1C ini dilakukan secara rutin tiap 3 bulan sekali.4 </p>
<p>Pemeriksaan untuk Memantau Komplikasi DM<br />
Komplikasi spesifik DM: aterosklerosis, nefropati, neuropati, dan retinopati. Pemeriksaan laboratorium bisa dilakukan untuk memprediksi beberapa dari komplikasi spesifik tersebut, misalnya untuk memprediksi nefropati dan gangguan aterosklerosis.2,3,4,6,7 </p>
<p>Pemeriksaan Mikroalbuminuria<br />
Pemeriksaan untuk memantau komplikasi nefropati: mikroalbuminuria serta heparan sulfat urine (pemeriksaan ini jarang dilakukan).1,2,3,4,5,6,7,12,13,1,15,16 Pemeriksaan lainnya yang rutin adalah pemeriksaan serum ureum dan kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.4<br />
Mikroalbuminuria: ekskresi albumin di urin sebesar 30-300 mg/24 jam atau sebesar 20-200 mg/menit.2,3,6,14 Mikroalbuminuria ini dapat berkembang menjadi makroalbuminuria. Sekali makroalbuminuria terjadi maka akan terjadi penurunan yang menetap dari fungsi ginjal. Kontrol DM yang ketat dapat memperbaiki mikroalbuminuria pada beberapa pasien, sehingga perjalanan menuju ke nefropati bisa diperlambat.3,4,6 Pengukuran mikroalbuminuria secara semikuantitatif dengan menggunakan strip atau tes latex agglutination inhibition, tetapi untuk memonitor pasien tes-tes ini kurang akurat sehingga jarang digunakan. Yang sering adalah cara kuantitatif: metode Radial Immunodiffusion (RID), Radio Immunoassay (RIA), Enzym-linked Immunosorbent assay (ELISA), dan Immunoturbidimetry. Metode kuantitatif memiliki presisi, sensitivitas, dan range yang mirip, serta semuanya menggunakan antibodi terhadap human albumin.2,6,12,14 Sampel yang digunakan untuk pengukuran ini adalah sampel urine 24 jam.15 </p>
<p>Interpretasi Hasil Pemeriksaan Mikroalbuminuria<br />
Menurut Schrier et al (1996), ada 3 kategori albuminuria, yaitu albuminuria normal (200 mg/menit).2,17 Pemeriksaan albuminuria sebaiknya dilakukan minimal 1 X per tahun pada semua penderita DM usia &#62; 12 tahun.17<br />
Pemeriksaan untuk Komplikasi Aterosklerosis<br />
Pemeriksaan untuk memantau komplikasi aterosklerosis ini ialah profil lipid, yaitu kolesterol total, low density lipoprotein cholesterol (LDL-C), high density lipoprotein cholesterol (HDL-C), dan trigliserida serum, serta mikroalbuminuria.4,5,7,18 Pada pemeriksaan profil lipid ini, penderita diminta berpuasa sedikitnya 12 jam (karena jika tidak puasa, trigliserida &#62; 2 jam dan mencapai puncaknya 6 jam setelah makan).21<br />
Pemeriksaan untuk Komplikasi Lainnya<br />
Pemeriksaan lainnya untuk melihat komplikasi darah dan analisa rutin. Pemeriksaan ini bisa untuk melihat adanya infeksi yang mungkin timbul pada penderita DM.3<br />
Untuk pemeriksaan laboratorium infeksi, sering dibutuhkan kultur (pembiakan), misalnya kultur darah, kultur urine, atau lainnya. Pemeriksaan lain yang juga seringkali dibutuhkan adalah pemeriksaan kadar insulin puasa dan 2 jam PP untuk melihat apakah ada kelainan insulin darah atau tidak. Kadang-kadang juga dibutuhkan pemeriksaan lain untuk melihat gejala komplikasi dari DM, misalnya adanya gangguan keseimbangan elektrolit dan asidosis/alkalosis metabolik maka perlu dilakukan pemeriksaan elektrolit dan analisa gas darah. Pada keadaan ketoasidosis juga dibutuhkan adanya pemeriksaan keton bodies, misalnya aceton/keton di urine, kadar asam laktat darah, kadar beta hidroksi butarat dalam darah, dan lain-lainnya. Selain itu, mungkin untuk penelitian masih dilakukan pemeriksaan biomolekuler, misalnya HLA (Human Lymphocyte Antigen) serta pemeriksaan genetik lain. </p>
<p><strong>Kesimpulan </strong><br />
DM adalah kelainan metabolisme karbohidrat yang merupakan kelainan endokrin terbanyak.. Di Indonesia, prevalensi DM sebesar 1,5&#8211;2,3% penduduk usia &#62; 15 tahun, bahkan di Manado didapatkan prevalensi DM sebesar 6,1%.<br />
Penderita DM mempunyai risiko komplikasi yang spesifik, yaitu retinopati, gagal ginjal, neuropati, aterosklerosis, stroke, gangren, ataupun penyakit arteria koronaria. Pemeriksaan laboratorium DM: menegakkan Dx serta memonitor Tx dan timbulnya komplikasi. Pemeriksaan Dx: kadar gula darah puasa dan 2 jam PP, TTGO (lihat konsensus PERKENI 1998 ).<br />
Pemeriksaan monitor Tx: kadar glukosa puasa, 2 jam PP dan HbA1C, serta urinalisa rutin. Pemeriksaan yang mendeteksi kelainan nefropati dini: mikroalbuminuria (masih reversibel), dan yang rutin adalah serum ureum dan kreatinin untuk melihat fungsi ginjal. Pemeriksaan untuk memantau komplikasi aterosklerosis: profil lipid (kolesterol total, low density lipoprotein cholesterol/LDL-C, high density lipoprotein cholesterol (HDL-C), dan trigliserida serum), serta mikroalbuminuria.<br />
Pemeriksaan adanya komplikasi lain: darah dan urinalisa rutin (adanya infeksi), kultur urine maupun darah, elektrolit serta analisa gas darah, keton /aceton urine, asam laktat darah, insulin darah, dan lain-lain. </p>
<p><strong>Daftar Pustaka </strong><br />
1.	Dods R.F, Diabetes Mellitus, In Clinical Chemistry: Theory, Analysis, Correlation, Eds, Kaplan L.A, Pesce A.J, 3rd Edition, Mosby Inc, USA, 1996:613-640<br />
2.	Sacks D.B., Carbohydrates, In Tietz Fundamentals of Clinical Chemistry, Eds Burtis C.A, Ashwood E.R, 5th Edition, W.B. Saunders Company, USA, 2001:427-461<br />
3.	Foster D.W, Diabetes Mellitus, In Harrison’s Principles of Internal Medicine, Eds Fauci, Braunwald, Isselbacher, et al, 14th Edition, McGraw-Hill Companies, USA, 1998:623-75<br />
4.	Hendromartono, Consensus on The Management of Diabetes Mellitus (Perkeni 1998), In Surabaya Diabetes Update VI, Eds Tjokroprawiro A, Hendromartono, Sutjahjo A, Tandra H., Pranoto A., Surabaya, 1999:1-14<br />
5.	Kaplan, L.A., Laboratory Approaches, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A., 1987:94-96<br />
6.	Tabaei B.P., Al-Kassab A.S., Ilag L.L., et al, Does Microalbuminuria Predict Diabetic Nephropathy?, Diabetes Care, 24:9, 2001:1560-1566<br />
7.	Alberti K.G.M.N., Zimmet P., DeFronzo R.A., International Textbook of Diabetes Mellitus, Second Edition, John Wiley &#38; Sons Ltd., England, 1997:1027-1074<br />
8.	Kaplan, L.A, Carbohydrates and Metabolites, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A., 1989:850-856<br />
9.	Landt M., Glyceraldehide Preserves Glucose Concentrations in Whole Blood Specimens, Clinical Chemistry, 46:8, 2000:1144-1149<br />
10.	King, M.E., Glycosylated Hemoglobin, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A., 1987:113-116<br />
11.	Peterson, K.P., Pavlovich J.G., Goldstein D., et al., What is Hemoglobin A1c? An Analysis of Glycated Hemoglobins by Electrospray Ioni-zation Mass Spectrometry, Clinical Chemistry, 44:9, 1998:1951-1958<br />
12.	Gendler, S.M., Albumin, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A., 1987:1066-1073<br />
13.	Larson, T.S., Santanello N., Shahinfar S., O’Brien P.C., et al, Trend in Persistent Proteinuria in Adult-Onset Diebetes, Diabetes Care, 23:1, 2000:51-56<br />
14.	Mogensen C.E., Viberti G.C., Peheim E., Kutter D., et al, Multicenter Evaluation of Micral-Test II Test Strip, an Immunologic Rapid Test for the Detection of Microalbuminuria, Diabetes Care, 20:11, 1997:1642-1646<br />
15.	Newman D, Price C.P, Renal Function, In Tietz Fundamentals of Clinical Chemistry, Eds Burtis C.A, Ashwood E.R, 5th Edition, W.B. Saunders Company, USA, 2001:698-722<br />
16.	Pedrinelli R., Glampletro O., Carmassi F., Melillo E., et al, Microalbuminuria and Endothelial Dysfunction In Essential Hypertension, Lancet, 344, 1994:14-18<br />
17.	Yogiantoro M., Management of Diabetic Nephropathy, In Surabaya Diabetes Update VI, Eds Tjokroprawiro A, Hendromartono, Sutjahjo A, Tandra H., Pranoto A., Surabaya, 1999:63-68<br />
18.	Rifai N, Albers J.J., Bachorik P.S, Lipids, Lipoproteins and Apolipoproteins, In Tietz Fundamentals of Clinical Chemistry, Eds Burtis C.A, Ashwood E.R, 5th Edition, W.B. Saunders Company, USA, 2001:462-493<br />
19.	Naito, H.K., Cholesterol, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A., 1987:1156-1176<br />
20.	Naito, H.K., High-density Lipoprotein (HDL) Cholesterol, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A., 1987:1179-1192<br />
21.	Naito, H.K., Triglycerides, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A., 1987:1215-1226</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[alguém me segura]]></title>
<link>http://secadordecabelo.wordpress.com/2009/11/06/alguem-me-segura/</link>
<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 13:52:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>deedes</dc:creator>
<guid>http://secadordecabelo.wordpress.com/2009/11/06/alguem-me-segura/</guid>
<description><![CDATA[porque eu fico eufórica com as coisas mais banais da vida? coisas essa que né, se são banais, eu não]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>porque eu fico eufórica com as coisas mais banais da vida?<br />
coisas essa que né, se são banais, eu não deveria nem me abalar.</p>
<p>ai o que acontece: eu me pego eufórica e penso &#8216;não posso ficar assim&#8217;.<br />
e te contar que me policiar, me podar pra isso tá ficando cada vez mais fácil e jamais saberei o motivo.<br />
agora, se daqui pra frente for assim&#8230; não sei se diria &#8216;tranks&#8217;. é uma coisa nova, fato, que até me acostumar talvez eu sofra um pouco.<br />
sim, sofrer. porque a euforia é boa. mas o motivo pelo qual ela surge digamos que não é correto. é ai que vem a louca e resolve <em>não</em> se permitir sentir isso. ok, talvez eu deva ser menos dura comigo mesmo.<br />
ou não.<br />
tô agindo assim pra não começar a sonhar demais. não quero ir me envolvendo e dai depois de um tempo me pegar idiotamente apaixonada e dizer: mano, <em>fodel</em>.<br />
e acho que tô certa. se não tiver, eu vou saber só lá na frente. por enquanto eu vou agindo do jeito que eu achar certo, e não do jeito que fulano ou sicrano achar que é melhor.<br />
nas minhas confusões internas eu pedia &#8216;receita de bolo&#8217; de como agir, o que fazer, o que dizer pras pessoas e oi, não ME ajudou em nada. eu continuava perdida em mim. portanto, resolvi me fechar, pensar, me achar e dai sim, ver o que fazer de acordo com o que eu sou e o que eu me tornaria a partir da decisão tomada.<br />
e é assim que as coisas estão acontecendo: a cada situação eu tomo uma decisão que me torna uma pessoa, até agora, melhor, mais tranquila, menos ansiosa e mais clara <em><span style="text-decoration:line-through;">michael jackson feelings</span></em>.<br />
quando eu tiver de tomar uma decisão que, analisando, verei que não vai me ajudar em nada futuramente, eu simplesmente farei de outro modo que vá me beneficiar de alguma maneira.<br />
já deu de ficar me sacrificando pelo bem estar e felicidade dos outros.<br />
acho que finalmente cheguei num caminho bacana.<br />
24 anos depois. mas acredito que cheguei.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cursos de formación para personal de administración y servicios de la URJC.]]></title>
<link>http://universidadreyjuancarlos.wordpress.com/2009/11/02/cursos-de-formacion-para-personal-de-administracion-y-servicios-de-la-urjc/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 16:00:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>universidadreyjuancarlos</dc:creator>
<guid>http://universidadreyjuancarlos.wordpress.com/2009/11/02/cursos-de-formacion-para-personal-de-administracion-y-servicios-de-la-urjc/</guid>
<description><![CDATA[Del 2 al 10 de noviembre queda abierto el plazo de presentación de solicitudes para los cursos de fo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Del 2 al 10 de noviembre queda abierto el plazo de presentación de solicitudes para los cursos de formación interna:  “Curso Inicial de Universitas XXI. Gestión económica”, “Curso Avanzado de Universitas XXI. Gestión económica” y &#8220;Curso de Imagen Digital”. Todos ellos están dirigidos a el PAS de la URJC.</p>
<p><a href="http://www.urjc.es/comunidad_universitaria_bak/formacion_interna/cursos.html">http://www.urjc.es/comunidad_universitaria_bak/formacion_interna/cursos.html</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Zwei Plaketten und eine Partnerschaft]]></title>
<link>http://dianahoehne.wordpress.de/2009/11/01/zwei-plaketten-und-eine-partnerschaft/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 19:05:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>dianahoehne</dc:creator>
<guid>http://dianahoehne.wordpress.de/2009/11/01/zwei-plaketten-und-eine-partnerschaft/</guid>
<description><![CDATA[Wie uns die Emmy-Noether-Schule aus der Bredouille half und was sich daraus entwickeln könnte Nachde]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Wie uns die Emmy-Noether-Schule aus der Bredouille half und was sich daraus entwickeln könnte</strong></p>
<p>Nachdem wir „Schule ohne Rassismus – Schule mit Courage“ wurden und stolz die Plakette, die uns als solche auswies, ans Schulhaus hingen, wurde diese kurze Zeit später von Unbekannten gestohlen. Doch es dauerte nicht lange bis das Schild ersetzt wurde. Was war passiert?</p>
<p>Eigentlich hätten wir uns nach dem Diebstahl eine neue Plakette für viel Geld kaufen müssen, doch da kam uns die Emmy-Noether-Oberschule zu Hilfe. Das Gymnasium, was nach der Fusion der Nelly-Sachs- und der Linus-Pauling-Oberschule auf dem Gelände der Salvador-Allende-Schule entstanden war, schenkte uns eine neue Plakette. Weil das Linus-Pauling-Gymnasium bereits vor der Fusion ihren Titel erhielt und auch die Salvador-Allende-Schule eine Plakette hatte, konnten wir die Überzählige in Empfang nehmen.</p>
<p>Diese Unterstützung steht symbolisch am Anfang dessen, was eine langfristige Kooperation werden soll. Weiterhin sind bisher nur unsere Schule und die Emmy-Noether-Oberschule in der neu gegründeten „Treptow-Köpenick ohne Rassismus“-AG vertreten.</p>
<p>Die Schüler der Emmy-Noether-Oberschule sind bereit ihre Erfahrungen mit dem Projekt zu teilen. Der Schulsprecher schlägt zum Beispiel interessante AGs vor, die man vielleicht auch an unserer Schule zum Leben erwecken könnte.<br />
Zusammenarbeit der Schulen, vor allem aber der Schüler untereinander, ist wichtig, um nicht stehenzubleiben. Ein Schritt in diese Richtung ist gemacht, daran sollten wir weiterarbeiten, damit es schlussendlich heißt: „Archenhold-Oberschule <em>feat.</em> Emmy-Noether-Oberschule“.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Energie macht Schule]]></title>
<link>http://dianahoehne.wordpress.de/2009/11/01/energie-macht-schule/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 18:07:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>dianahoehne</dc:creator>
<guid>http://dianahoehne.wordpress.de/2009/11/01/energie-macht-schule/</guid>
<description><![CDATA[Eins steht fest: ohne Energie können wir nicht leben. Täglich werden wir mit ihr konfrontiert. Wir h]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Eins steht fest: ohne Energie können wir nicht leben. Täglich werden wir mit ihr konfrontiert. Wir haben auch eine ungefähre Ahnung davon, was Energie ist; schließlich treten wir fleißig in die Pedale, um mithilfe des Dynamos auch bei Dunkelheit Fahrrad fahren zu können. Doch wieviel Energie steckt in einem Apfel? Was bedeutet es, wenn ein Auto energetisch günstiger ist als ein anderes? Wieviel Liter Benzin muss ich trinken, um den Energiegehalt einer Tafel Schokolade zu mir zu nehmen?<br />
Dieser Sprung von nachvollziehbarer physikalischer Energie zu schon schwieriger fassbarer chemischer Energie fällt vielen schwer.</p>
<p>Die Grundidee des von Herrn Gramber unterstützten Projekts &#8220;Energie macht Schule&#8221; ist es, ein Gespür für jede Art von Energie zu finden. Dabei sind auch Vorschläge von Schülern gern gesehen. Denn selbst den Medien fällt es schwer, Energie klar verständlich zu machen.<br />
Langfristig soll sich unsere Schule dem fifty/fifty-Modell widmen. Dabei wird über einen Zeitraum von 2 Jahren der Energiehaushalt der Schule protokolliert, um ihn anschließend gemeinsam mit den Schülern auszuwerten. Hierbei sollen Maßnahmen zur Energieeinsparung gefunden werden. &#8220;Jeder an diesem Projekt teilnehmenden Schule werden 50% der durch bewusstes Nutzerverhalten eingesparten Energiekosten zur freien Verfügung gestellt&#8221;. Das Schulleben soll dabei aber nicht leiden: Wir werden also in Zukunft nicht im Winter mit dicken Jacken im Unterricht sitzen müssen, weil die Heizung abgestellt wird. Ziel ist es, nicht schlechter, sondern umweltbewusster zu leben und zu lernen.</p>
<p>Weitere Informationen unter www.fiftyfiftyplus.de</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[pela volta do blog!]]></title>
<link>http://thinkbing.wordpress.com/2009/10/29/pela-volta-do-blog/</link>
<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 23:01:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>marinarama</dc:creator>
<guid>http://thinkbing.wordpress.com/2009/10/29/pela-volta-do-blog/</guid>
<description><![CDATA[Um post condensado para compensar toda a ausência. - HÁ DE ODIAR-SE: 1. estampas de oncinha 2. estam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Um post condensado para compensar toda a ausência.</p>
<p>- HÁ DE ODIAR-SE:<br />
1. estampas de oncinha<br />
2. estampas de animais em geral<br />
3. hehehehe<br />
4. rs<br />
5. =) (ningém tem olhos assim)</p>
<p>-HÁ DE AMAR-SE* (os hormônios podem explicar essa minha felicidade ultimamente)<br />
1. The Big Bang Theory<br />
2. One, U2<br />
3. Strange Brew, Cream (do BBC Live Sessions)<br />
4. camisetas do <a href="http://www.sambaclub.com.br/club/index.php?pagina=colecao">sambaclub<br />
</a>5. pão com presunto e maionese</p>
<p>-SHAGGY LIST (nerd é o novo pretinho básico)</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-794" title="retratoscc216" src="http://thinkbing.wordpress.com/files/2009/10/retratoscc216.jpg?w=300" alt="retratoscc216" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:center;">(qualquer um das pontas, por favor)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CHA SOLICITA AL JUSTICIA DE ARAGÓN UN INFORME SOBRE LA DISOLUCIÓN DEL AYUNTAMIENTO DE LA MUELA]]></title>
<link>http://lamuelapositiva.wordpress.com/2009/10/27/cha-solicita-al-justicia-de-aragon-un-informe-sobre-la-disolucion-del-ayuntamiento-de-la-muela-2/</link>
<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 17:48:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Adrián Tello Gimeno</dc:creator>
<guid>http://lamuelapositiva.wordpress.com/2009/10/27/cha-solicita-al-justicia-de-aragon-un-informe-sobre-la-disolucion-del-ayuntamiento-de-la-muela-2/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/Pw4Svd_nPQY&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/Pw4Svd_nPQY&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CHA SOLICITA AL JUSTICIA DE ARAGÓN UN INFORME SOBRE LA DISOLUCIÓN DEL AYUNTAMIENTO DE LA MUELA]]></title>
<link>http://chavaldejalon.wordpress.com/2009/10/27/cha-solicita-al-justicia-de-aragon-un-informe-sobre-la-disolucion-del-ayuntamiento-de-la-muela-2/</link>
<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 17:46:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>chavaldejalon</dc:creator>
<guid>http://chavaldejalon.wordpress.com/2009/10/27/cha-solicita-al-justicia-de-aragon-un-informe-sobre-la-disolucion-del-ayuntamiento-de-la-muela-2/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/Pw4Svd_nPQY&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/Pw4Svd_nPQY&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
