<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>islam-liberal &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/islam-liberal/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "islam-liberal"</description>
	<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 05:50:23 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[CERAMAH ISLAM LIBERAL &amp; PLURALISME DI JABATAN PENJARA ]]></title>
<link>http://abunuha.wordpress.com/2009/11/21/ceramah-islam-liberal-pluralisme-di-jabatan-penjara/</link>
<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 05:20:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Nuha</dc:creator>
<guid>http://abunuha.wordpress.com/2009/11/21/ceramah-islam-liberal-pluralisme-di-jabatan-penjara/</guid>
<description><![CDATA[Pada pagi khamis saya berada di Jabatan Penjara Pusat Kota Kinabalu, menyampaikan ceramah yang agak ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pada pagi khamis saya berada di Jabatan Penjara Pusat Kota Kinabalu, menyampaikan ceramah yang agak ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dedengkot JIL “Dihabisi” NU di Jawa Timur]]></title>
<link>http://un2kmu.wordpress.com/2009/11/03/dedengkot-jil-%e2%80%9cdihabisi%e2%80%9d-nu-di-jawa-timur/</link>
<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 09:29:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Tio Alexander™</dc:creator>
<guid>http://un2kmu.wordpress.com/2009/11/03/dedengkot-jil-%e2%80%9cdihabisi%e2%80%9d-nu-di-jawa-timur/</guid>
<description><![CDATA[Ulil Abshar Abdalah Dholalah, syaitan nirrajim dedengkot Jaringan Iblis Laknatullah Forum Tabayyun d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ulil Abshar Abdalah Dholalah, syaitan nirrajim dedengkot Jaringan Iblis Laknatullah Forum Tabayyun d]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bantahan JIL : Perkawinan Beda Agama Mutlak Boleh]]></title>
<link>http://kaahil.wordpress.com/2009/10/26/bantahan-jil-perkawinan-beda-agama-mutlak-boleh/</link>
<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 22:10:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>dr.Abu Hana :: أبو هـنـأ  ألفردان ::</dc:creator>
<guid>http://kaahil.wordpress.com/2009/10/26/bantahan-jil-perkawinan-beda-agama-mutlak-boleh/</guid>
<description><![CDATA[Membolehkan perkawinan antar agama secara mutlak Islam membolehkan seorang muslim menikahi wanita ah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Membolehkan perkawinan antar agama secara mutlak Islam membolehkan seorang muslim menikahi wanita ah]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hati-Hati Kerasukan JIL!]]></title>
<link>http://un2kmu.wordpress.com/2009/10/17/hati-hati-kerasukan-jil/</link>
<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 03:05:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>Tio Alexander™</dc:creator>
<guid>http://un2kmu.wordpress.com/2009/10/17/hati-hati-kerasukan-jil/</guid>
<description><![CDATA[Tokoh-tokoh JIL Kepala Badan Litbang Depag, Prof. Dr. Atho Mudzhar, menegaskan bahwa liberalisasi pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tokoh-tokoh JIL Kepala Badan Litbang Depag, Prof. Dr. Atho Mudzhar, menegaskan bahwa liberalisasi pe]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[JIL Menyerukan Pembaharuan Ala Pendeta]]></title>
<link>http://pikirancerah.wordpress.com/2009/10/14/jil-menyerukan-pembaharuan-ala-pendeta/</link>
<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 09:09:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>rramdhoni</dc:creator>
<guid>http://pikirancerah.wordpress.com/2009/10/14/jil-menyerukan-pembaharuan-ala-pendeta/</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri Segala puji serta syukur hanya milik Allah Ta’ala yang telah b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri Segala puji serta syukur hanya milik Allah Ta’ala yang telah b]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shock Culture]]></title>
<link>http://miftahrahman.wordpress.com/2009/10/14/shock-culture/</link>
<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 19:13:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>miftahrahman</dc:creator>
<guid>http://miftahrahman.wordpress.com/2009/10/14/shock-culture/</guid>
<description><![CDATA[Umat Islam saat ini sedang mengalami keterkejutan, seperti seorang yang dibangkitkan mendadak dari t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://miftahrahman.files.wordpress.com/2009/10/wpid-islam.jpg" alt="islam" /></p>
<p>Umat Islam saat ini sedang mengalami keterkejutan, seperti seorang yang dibangkitkan mendadak dari tidurnya dan dipaksa melihat pada kenyataan dunia yang sedang terjadi. Kesadaran secara mendadak telah mengakibatkan linglung, keadaan dimana antara sadar dan tidak sadar.</p>
<p>Sebelum peradaban modern muncul, umat Islam begitu terkungkung dalam egoisme keyakinannya, menganggap segala kebenaran mutlak milik dirinya sendiri. <!--more-->Namun jaman rupanya berubah, teknologi bermunculan seperti berlomba-lomba, keajaiban-keajaiban ilmu pengetahuan yang tidak pernah terpikirkan oleh umat Islam pada masa itu kemudian muncul secara nyata di hadapan mereka. Umat islam akhirnya dipaksa oleh jaman untuk mengakui keunggulan dan kemukjizatan teknologi dan dipaksa untuk sadar, kini dirinya telah tertinggal jauh oleh peradaban, ilmu pengetahuan dan teknologi itulah penyebabnya.</p>
<p>Namun yang menyakitkan hati umat Islam, dan yang menyebabkan mereka agaknya masih setengah hati  menerima ilmu pengetahuan baru adalah, keunggulan dunia modern dan teknologi-teknologi yang bermunculan itu ternyata dimunculkan oleh manusia-manusia dari dunia barat, sebuah dunia yang selalu dijadikan simbol kristiani oleh umat Islam, dengan begitu artinya, umat Islam dipaksa menanggalkan keyakinan mereka selama ini tentang fanatisme kebenaran mutlak yang ada di tangan mereka.</p>
<p>Usaha-usaha penafsiranpun dilakukan menanggapi keadaan dunia yang telah berubah ini. Mau nggak mau, umat Islam mesti mengikuti jaman.<br />
Dalam masa-masa &#8216;linglung&#8217; itulah, berbagai bentuk perselisihan penafsiran terjadi dimana-mana.<br />
Akibat daripada itu, umat Islam terpecah menjadi dua kelompok yang memegang peranan terpenting dalam menentukan bentuk muka Islam. Kelompok yang satu adalah kelompok yang menafsirkan ayat-ayat sucinya mengikuti perubahan jaman, dalam hal ini saya contohkan adalah Islam liberal, sedang kelompok yang kedua adalah kelompok yang menafsirkan ayat-ayat suci sedekat mungkin dengan teks aslinya.</p>
<p>Mereka masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan mereka harus mengakui kekurangan mereka itu, bukankah itu yang sangat kurang di sadari oleh masing-masing kelompok tersebut.</p>
<p>Sebenarnya ada lagi diantara dua kelompok itu ,kelompok itu tidak seekstrim kelompok yang menafsirkan ayat-ayat Alqur&#8217;an secara literer dan tidak sebebas kelompok liberal. Mereka lebih terbuka terhadap budaya luar yang berbeda tetapi juga masih sangat berhati-hati dalam penafsiran suatu ayat. Dalam skala yang lebih ekstrim (baca=rendah), disebut dengan(meminjam istilah dahulu), Islam Abangan. Orang-orang yang dikelompokkan kedalamnya, sebenarnya lebih condong ke arah Islam liberal, hanya latar belakang yang berbeda. Tapi kali ini saya tidak bermaksud membahas islam &#8216;pertengahan&#8217; ini.</p>
<p>Pada kelompok yang menafsirkan ayat-ayat Alquran sesuai dengan keadaan jaman, atau Islam Liberal atau apalah namanya, mereka tentu akan tampak lebih maju dari kelompok Islam yang lain, bahkan mereka mampu mencetak tokoh-tokoh Islam yang dapat disejajarkan dengan tokoh dunia yang lain. Hal ini tentu membawa citra baik bagi umat Islam. Namun kekurangan yang harus mereka terima adalah, mereka akan terus menerus menjalankan tafsiran-tafsiran baru seiring keadaan dunia yang dinamis, mereka akan di pacu untuk mengikuti jaman, selalu berubah dan terus berubah mengikuti dinamika jaman.<br />
Dan akibat selanjutnya adalah, mereka akan terus menerus menjadi pengikut bangsa pemegang kebudayaan dan ilmu pengetahuan serta teknologi modern, kecuali mereka mampu memegang kendali ilmu pengetahuan dan teknologi-teknologi tertinggi di dunia, dengan begitu negara lain yang akan menjadi pengikut mereka.</p>
<p>Akibat selanjutnya adalah, dimana masalah ilmu pengetahuan dan teknologi muncul, masalah itu muncul pula di dalam tafsiran mereka, modernisasi memunculkan masalah, masalah itupun akan otomatis muncul juga pada mereka, atau ketika dunia modern dengan bentuk yang seperti sekarang ini hancur, mereka akan hancur pula.</p>
<p>Berbeda dengan kelompok yang melakukan penafsiran sedekat mungkin dengan teks ayat suci. Mereka mungkin akan tertatih-tatih dalam mempertahankan dirinya dari gempuran-gempuran modernisasi. Mereka akan terus tersisih dan semakin tersisih, tetapi, inilah kelebihan mereka dibandingkan aliran liberalis, mereka akan tetap terus bertahan, meski jumlahnya sangat kecil. Namun jumlah yang sangat kecil itulah yang menyebabkan mereka diperhitungkan, hal-hal ekstrim mereka lakukan untuk menunjukan eksistensi mereka di tengah-tengah dunia yang semakin menjepit mereka. Mereka akan semakin ekstrim tatkala himpitan itu semakin kuat, untuk menunjukkan diri mereka kuat dan mampu bertahan. Mereka bisa dikatakan seperti ayat suci itu sendiri, akan selalu ada meski manusia seluruh dunia telah berpaling.</p>
<p>Perselisihan bukan lagi terjadi pada antar umat beragama tetapi terjadi pada kelompok intern umat itu sendiri. Masing-masing mengklaim dirinya paling tepat dalam penafsirannya terhadap ayat-ayat suci di kehidupan modern ini.</p>
<p>Lantas, harus memilih di posisi manakah kita?<br />
Tidak usah memilih, tugas seorang muslim hanyalah membuktikan bahwa Islam adalah Rahmat bagi alam. Mencintai kehidupan dan menjunjung tinggi toleransi serta berani mengakui kebenaran, yang datang dari mana atau siapapun, meski dari mulut binatang sekalipun. Mencintai ilmu pengetahuan dan menghargai penemunya, walaupun ia berasal dari orang yang berbeda keyakinan. Karena pada hakikatnya, semua yang ada di dunia adalah ciptaanNYA, tidak ada makhluk di dunia ini yang mampu mencipta sesuatu, meski iblis sekalipun. Tentang benar dan salah hanyalah soal efek atau dampak yang ditimbulkannya, dan manusialah yang menimbulkan dampak itu.<br />
Its Not The Gun  thats matter but Man Behind The Gun thats Important.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nikah Beda Agama (Hukum Islam VS Hukum Setan)]]></title>
<link>http://abiubaidah.wordpress.com/2009/10/08/nikah-beda-agama/</link>
<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 03:38:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://abiubaidah.wordpress.com/2009/10/08/nikah-beda-agama/</guid>
<description><![CDATA[Mengkritisi Argumentasi Kaum Liberal disusun oleh Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi Nikah beda agama dalam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Mengkritisi Argumentasi Kaum Liberal disusun oleh Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi Nikah beda agama dalam]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Haruskah Dikau Mencela Saudariku di Saudi???]]></title>
<link>http://abiubaidah.wordpress.com/2009/10/05/hadits-wanita-saudi/</link>
<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 03:50:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://abiubaidah.wordpress.com/2009/10/05/hadits-wanita-saudi/</guid>
<description><![CDATA[WANITA DI SAUDI ARABIA (Kritikan Tajam untuk  Jaringan Islam Liberal) disusun oleh: Abu Ubaidah Yusu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[WANITA DI SAUDI ARABIA (Kritikan Tajam untuk  Jaringan Islam Liberal) disusun oleh: Abu Ubaidah Yusu]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Islam Liberal dan Musyrikin Mekah ]]></title>
<link>http://pikirancerah.wordpress.com/2009/09/11/islam-liberal-dan-musyrikin-mekah/</link>
<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 06:40:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>rramdhoni</dc:creator>
<guid>http://pikirancerah.wordpress.com/2009/09/11/islam-liberal-dan-musyrikin-mekah/</guid>
<description><![CDATA[DR. Daud Rasyid, M.A. Wednesday, 12 December 2007 Sebelum kebangkitan Muhammad saw. sebagai utusan A]]></description>
<content:encoded><![CDATA[DR. Daud Rasyid, M.A. Wednesday, 12 December 2007 Sebelum kebangkitan Muhammad saw. sebagai utusan A]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kritik Reinterpretasi dan Liberalisasi Penafsiran]]></title>
<link>http://beritamaya.wordpress.com/2009/09/08/kritik-reinterpretasi-dan-liberalisasi-penafsiran/</link>
<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 15:17:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>iuans</dc:creator>
<guid>http://beritamaya.wordpress.com/2009/09/08/kritik-reinterpretasi-dan-liberalisasi-penafsiran/</guid>
<description><![CDATA[Kalangan JIL mengatakan al-Qur’an merupakan refleksi budaya primitif. Karena itu harus ditafsir ulan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kalangan JIL mengatakan al-Qur’an   merupakan refleksi budaya primitif. Karena itu harus ditafsir ulang. Imam   al-Ghazali mengatakan, penafsir al-Qur&#8217;an yang hanya menggunakan akal, tempatnya neraka</p>
<p>Dr. Syamsuddin Arif, M.A *)</p>
<p>Akhir-akhir ini kerap terdengar seruan perlunya penafsiran ulang alias   reinterpretasi al-Qur’an dan ajaran Islam. Alasan yang sering dikemukakan   antara lain karena kitab suci ini dikatakan merupakan refleksi dari dan   reaksi terhadap kondisi sosial, budaya, ekonomi dan politik masyarakat Arab   Jahiliyah abad ke-7 Masehi yang primitif dan patriarkis. Karena itu,   ayat-ayat al-Qur’an yang terkesan ‘menindas’ wanita, seperti membolehkan   poligami, menekankan superioritas suami, mengatur pembagian warisan, ataupun   yang terkesan tidak manusiawi <em>(barbarian)</em>, seperti ayat-ayat   jihad/qital dan hukum pidana <em>(hudud),</em> seperti soal potong tangan,   qishash dan rajam, semua ini perlu ditinjau dan ditafsirkan kembali agar   sesuai dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM) dan nilai-nilai   demokrasi, perlu direinterpretasikan agar sesuai dengan denyut nadi peradaban   manusia modern yang sedang dan terus berubah.</p>
<p>Lebih jauh dari itu, sebagaimana diserukan oleh <strong>seorang aktivis JIL</strong> belum   lama ini, Umat Islam harus mengembangkan suatu pemahaman bahwa penafsiran   al-Qur’an dan ajaran Islam oleh ulama atau golongan tertentu bukanlah yang   paling benar dan mutlak. Setiap orang dan golongan dihimbau agar menghargai   hak orang dan golongan lain untuk menafsirkan al-Qur’an dan ajaran Islam   “berdasarkan sudut pandangnya sendiri”. <strong>Tulisan ini bermaksud mengkritisi   gagasan perlunya reinterpretasi al-Qur’an dan liberalisasi tafsir tersebut   secara metodologis dan epistemologis. </strong></p>
<p><strong> Kritik Metodologis </strong></p>
<p>Para penyeru gagasan reinterpretasi al-Qur’an umumnya tidak menyadari bahwa   apa yang mereka kerjakan sebenarnya sangat rawan secara metodologis.   <strong>Menafsirkan al-Qur’an bukanlah perkara ringan dan sepele</strong>. Tidak sembarang   orang bisa dan bebas melakukannya. Nabi Muhammad SAW, yang kepadanya kitab   suci itu diwahyukan, pernah bersabda: “Siapa saja yang mengatakan sesuatu   mengenai al-Qur’an tanpa landasan ilmu <em>(bi-ghayri ‘ilm)</em> atau dengan   opininya sendiri (bi-ra’yihi), maka ia telah memesan tempat duduknya di   neraka” <strong>(HR Imam Tirmidzi)</strong>. Itulah sebabnya mengapa tokoh sekaliber Abu Bakr   as-Siddiq ra tidak mau banyak komentar ketika ditanya mengenai tafsir suatu   ayat. Jangankan melakukan re-interpretasi, membuat interpretasi saja beliau   tidak berani (Lihat: H. Birkeland, <em>Old Muslim Opposition against the   Interpretation of the Koran</em>, Oslo: Norske Videnskaps Akademi, 1955).</p>
<p>Apakah ini berarti kita tidak boleh menafsirkan atau menafsirkan kembali   al-Qur’an? Jawabannya tentu saja negatif. Interpretasi dan reinterpretasi   dibolehkan asalkan dengan ilmu dan tidak berdasarkan opini semata-mata.   <strong>Buktinya khazanah intelektual Islam sangat kaya dengan pelbagai kitab tafsir   hasil ijtihad para ulama dari abad ke abad</strong>. Diriwayatkan bahwa Nabi SAW   pernah mendoakan Ibn ‘Abbas agar dianugrahkan ilmu untuk memahami al-Qur’an.   Memang terbukti akhirnya saudara sepupu beliau ini dikenal paling banyak tahu   dan ahli dalam menafsirkan al-Qur’an. Dalam hadis lain dikatakan bahwa   al-Qur’an itu <em>dzu wujuuh</em>, mengandung banyak aspek, makna, intensi,   pendekatan dan sudut pandang, sehingga bisa dipahami dan ditafsirkan   macam-macam. Ada juga riwayat yang mengatakan bahwa setiap lafaz dari   al-Qur’an itu beraspek ganda: zahir dan batin, tersurat dan tersirat, literal   dan non-literal. Semua keterangan ini menunjukkan bahwa pada prinsipnya   al-Qur’an boleh saja ditafsirkan.</p>
<p>Jika menafsirkan al-Qur’an tidak dilarang, pertanyaan yang muncul kemudian   adalah: Apa batasan prasyarat “harus dengan ilmu dan tidak dengan opini”   dalam hadis tersebut di atas? Kapan seseorang dianggap layak untuk   menafsirkan al-Qur’an? Dan kapan suatu interpretasi dikatakan atas dasar   opini? <strong>Mengenai kualifikasi apa saja yang harus dimiliki oleh seorang   mufassir, literatur ulumul Qur’an dan usul fiqih sudah cukup menjelaskannya.</strong> Untuk layak menafsirkan al-Qur’an, anda harus menguasai bahasa Arab dan   literatur hadis secara mendalam dan komprehensif, tidak setengah-setengah   atau sepotong-sepotong. Jika prasyarat ini sudah terpenuhi, anda disarankan mengikuti   prosedur yang berlaku: menafsirkan suatu ayat dengan ayat lain, dan atau   menafsirkan ayat al-Qur’an dengan Sunnah/hadis Rasulullah SAW, dan atau   menafsirkannya dengan keterangan para mufassirin dari kalangan Sahabat,   Tabi‘in, dan para ulama salaf. Demikian ditegaskan oleh Imam as-Suyuti dalam   kitabnya, <em>at Tahbir fi ‘Ilmi t-Tafsir </em>(Beirut: Dar al-Fikr, 1996),   hlm. 128-9.</p>
<p>Lalu kapan suatu interpretasi dikatakan berdasarkan opini pribadi? Menurut   Imam al-Ghazali, jenis penafsiran yang dilarang dan dikecam ada tiga.   <strong>Pertama</strong>, jika anda menafsirkan al-Qur’an dengan pendekatan linguistik dsb   semata-mata, tanpa menghiraukan keterangan hadis dan riwayat sahih. <strong> Kedua</strong>,   jika anda sengaja melompati dan menafikan tafsir literal seraya membuat   tafsiran allegoris, seperti golongan Batiniyah yang mengatakan bahwa   kata-kata ‘api’ <em>(naar)</em> dalam QS 21:69 itu maksudnya kemarahan Raja   Namrud, bukan “si jago merah”. <strong>Ketiga</strong>,    apabila sebelum menafsirkan al-Qur’an   anda sudah terlebih dulu mempunyai gagasan, teori, pemikiran, ideologi,   keyakinan atau tujuan tertentu, lantas al-Qur’an anda tafsirkan sesuai dengan   dan menurut apa yang ada di kepala anda itu. Ini sama dengan meletakkan   gerbong di depan lokomotif <em>(putting the chariot before the horse).</em> Cara-cara menafsirkan al-Qur’an semacam ini masuk dalam kategori tafsir   dengan opini yang pelakunya diancam api neraka, terlepas dari maksud dan niat   baiknya, disadari ataupun tidak, sengaja maupun tanpa sengaja (Lihat: <em>Ihya’   ‘Ulumiddin</em>, Kairo, 1967, I:378-83).</p>
<p>Dalam konteks ini para penyeru reinterpretasi perlu mencermati lagi dua buah   hadis terkait sebagai berikut: “Siapa saja yang menyatakan sesuatu tentang   al-Qur’an berdasarkan opininya sendiri, kalaupun pendapatnya itu betul, maka   sesungguhnya ia telah melakukan kesalahan <em>(fa ashaaba faqad akhtha’a)”</em> (HR Imam Abu Dawud, no.3652), dan kedua: “Seorang hakim yang telah melakukan   ijtihad, jika kesimpulan ijtihadnya betul, maka untuknya dua pahala. Namun   jika kesimpulannya salah, maka baginya satu pahala” (HR Imam Bukhari dan   Muslim). Keterangan Nabi SAW ini sangat logis. <strong>Yang dinilai disini bukan   hanya hasilnya, tetapi juga cara kerjanya</strong>. Jika keduanya betul, diberikan   poin 2. Jika metodenya betul, walaupun hasilnya keliru, diberikan poin 1   (dapat pahala dan tidak berdosa). Jika prosedur penafsirannya sudah salah,   meskipun kesimpulannya betul (secara kebetulan!), maka poinnya 0 (pahalanya   hangus untuk menebus kesalahannya). Apalagi jika keduanya salah, maka poinnya   -2 (dosanya dua kali lipat).</p>
<p><strong> Kritik Epistemologis </strong></p>
<p>Persoalan mendasar yang juga luput dari wacana liberalisasi tafsir adalah   seputar status dan validitas suatu penafsiran. Ungkapan seorang pemikir   liberal, misalnya, bahwa penafsiran al-Qur’an dan ajaran Islam oleh ulama   atau golongan tertentu bukanlah yang paling benar dan mutlak, adalah <strong> pendapat   yang sangat rapuh secara epistemologis</strong>. Demikian juga seruan agar setiap   orang dan golongan berani menafsirkan al-Qur’an dan ajaran Islam “berdasarkan   sudut pandangnya sendiri” serta mau menghargai hak orang dan golongan lain untuk   membuat interpretasi sendiri. <strong>Jika dicermati secara seksama,   ungkapan-ungkapan semacam ini hanya menunjukkan kerancuan berpikir yang tak   disadari <em>(paralogism)</em> dan kekeliruan yang disengaja untuk mengecoh dan   menyesatkan orang lain <em>(sophism).</em></strong> <strong>Semuanya lahir dari sikap skeptis   dan bermuara pada relativisme epistemologis. </strong></p>
<p>Memang betul, ketika menafsirkan kitab suci, kita tidak boleh mengklaim itu   bahwa kita benar-benar telah memahami maksud firman Tuhan. Tidak boleh merasa   seolah-olah kita telah menangkap maksud kata-kata Tuhan yang sebenarnya.   Itulah sebabnya mengapa para ulama salaf selalu mengakhiri fatwa dan karya   mereka dengan kalimat: “Namun Tuhan lebih dan paling mengetahui apa yang   benar” <em>(wa Allahu a‘lam bi-s shawaab)</em>. Kalimat ini sering disalahpahami.   Para ulama salaf mengatakan ini bukan karena mereka ragu-ragu atau skeptis,   bukan pula karena mereka menganut relativisme. <strong>Dalam masalah keilmuan, ulama   salaf sangat tekun, teliti dan teguh berpendirian dan berargumentasi,   sebagaimana dapat dilihat dalam literatur fiqih</strong>. Kalimat   tersebut mereka ucapkan semata-mata karena ‘adab kepada Tuhan’ yang ilmuNya   meliputi segala sesuatu. Adapun dengan sesama manusia, sikap yang ditunjukkan   adalah kesanggupan menerima dan mengikuti kebenaran, dan bukan menampik atau   mempertahankan kebalikannya.</p>
<p>Apakah mungkin semua penafsiran harus diterima? Jawabnya tergantung, <strong>apakah   penafsiran tersebut dikemukakan oleh seorang ahli yang telah diakui   kepakarannya, atau oleh seorang mufassir amatir yang tidak bisa   dipertanggungjawabkan.</strong> Saya lebih bisa menerima tafsir Imam al-Qurthubi   ketimbang interpretasi seorang Mernissi atau Shahrour. Seruan tokoh liberal   agar Umat Islam merelatifisir setiap penafsiran, menurut saya, adalah na’if   dan tidak realistis. Na’if karena seruan tersebut akan berbalik seperti   bumerang, merelatifisir dan menggugurkan pendapatnya sendiri <em>(self-defeating)</em>.   Tidak realistis karena pada kenyataannya memang tidak semua penafsiran bisa   diterima, dan tidak semua penafsiran harus ditolak. Penafsiran yang dipandu   oleh ideologi tertentu dan interpretasi yang dipaksakan untuk menjustifikasi   suatu kepentingan tentu sulit untuk diterima.</p>
<p><strong>Gagasan liberalisasi tafsir juga tidak realistis dan perlu dicurigai</strong>. Orang   yang menyeru agar setiap orang dan golongan dibebaskan untuk membuat   penafsiran sendiri sebenarnya tidak menyadari bahwa tidak semua orang layak   dan berhak melakukannya, termasuk dirinya sendiri. Bahkan perlu dicurigai   jangan-jangan seruan itu sejatinya justru tuntutan agar dirinya yang masih   belum atau tidak layak itu pun diberikan hak untuk melakukan penafsiran. Bisa   dibayangkan apa yang terjadi jika pramugari berlagak menjadi pilot. Kata   peribahasa Jawa, <em>Aja rumangsa bisa, ning bisa rumangsa</em>, (jangan sot   tahu, tapi tahu dirilah, red).</p>
<p>Penulis adalah <em>Orientalisches Seminar, Universitas Frankfurt, Jerman<br />
Sumber: </em>http://nojil.8m.net</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kegagalan Islam Liberal dalam Memahami Ijtihad]]></title>
<link>http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/08/31/empat-kegagalan-islam-liberal-dalam-berijtihad/</link>
<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 00:51:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
<guid>http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/08/31/empat-kegagalan-islam-liberal-dalam-berijtihad/</guid>
<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih. Salawat lagi salam semoga terlimpah kep]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Segala puji bagi Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih. Salawat lagi salam semoga terlimpah kepada Nabi akhir zaman dan teladan terbaik bagi kemanusiaan, para sahabatnya dan segenap pengikut setia mereka. Amma ba’du.</p>
<p>Berikut ini adalah beberapa catatan penting tentang hakekat dan bahaya Islam Liberal yang kami himpun dari pengakuan mereka sendiri tentang ke-liberalan ajaran mereka. Kami akan menukil ucapan mereka kemudian mengomentarinya seperlunya, demi menjelaskan letak kekeliruan dan penyimpangan mereka dari shirathal mustaqim. Wallahul muwaffiq!</p>
<p><!--more--></p>
<p>Mereka mengatakan, <em>“Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bisa bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas atau secara keseluruhan, adalah ancaman atas Islam itu sendiri, sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).”</em> (Tentang Jaringan Islam Liberal)</p>
<p><strong>Pertama: JIL Gagal mendefinisikan ijtihad</strong></p>
<p>Pembaca sekalian, kita perlu mencermati kesalahpahaman mereka dengan sabar. Pertama, mereka mendefinisikan ijtihad sebagai ‘penalaran rasional atas teks-teks keislaman’. Gambaran mereka tentang ijtihad rupanya tidak sempurna. Bandingkanlah pengertian yang mereka ajukan dengan pengertian para ulama. Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani memaparkan, bahwa ijtihad secara terminologi adalah ‘mengerahkan segala kemampuan dalam rangka mengkaji dalil-dalil syari’at dengan tujuan menarik kesimpulan hukum syari’at’ (lihat Ma’alim Ushul Fiqh, hal. 464 cet. Dar Ibnul Jauzi).</p>
<p>Pengertian ijtihad versi para ulama ini lebih sopan dan lebih lengkap daripada pengertian ijtihad versi mereka. Hal itu dikarenakan pemaknaan ijtihad sebagai ‘penalaran rasional atas teks-teks keislaman’ mengandung indikasi pengagungan rasio di atas wahyu, bahkan merendahkan posisi wahyu hanya sebagai teks yang ‘bisu’ dan perlu ditundukkan kepada rasio. Padahal, sebagaimana kita pahami bersama bahwa standar kebenaran dalam Islam bukanlah rasio akan tetapi wahyu al-Qur’an dan as-Sunnah. Adapun akal atau rasio hanyalah sekedar alat untuk memahami, bukan standar atau pedoman untuk menghukumi.</p>
<p>Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Tidaklah suatu pendapat wajib diikuti dalam segala keadaan kecuali Kitabullah atau Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun segala sesuatu selain keduanya harus mengikuti keduanya.” (Jima’ al-‘Ilm hal. 11, sebagaimana tertera dalam Ma’alim Ushul Fiqh, hal. 68). Ucapan beliau ini benar-benar dibangun di atas kepahaman terhadap ajaran Islam, pokok maupun cabang-cabangnya. Hal itu selaras dengan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Kemudian apabila kalian berselisih tentang perkara apa saja maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan rasul (as-Sunnah)&#8230;” (QS. an-Nisaa’: 59). Oleh sebab itu Imam Ibnu Abdil Barr berkata, “Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya as-Sunnah dan al-Qur’an keduanya merupakan sumber pendapat akal/rasio dan standar baginya. Bukanlah rasio yang menjadi standar/timbangan yang menghakimi as-Sunnah. Akan tetapi as-Sunnah itulah yang menjadi standar yang menghakimi rasio.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, [2/173] sebagaimana tertera dalam Ma’alim Ushul Fiqh, hal. 73).</p>
<p>Inilah satu bukti nyata atas kegagalan Islam Liberal (untuk selanjutnya kami sebut dengan JIL) dalam memaknai ijtihad dan perendahan mereka terhadap sumber hukum agama Islam yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah.</p>
<p><strong>Kedua: JIL Gagal memahami dalil syari’at </strong></p>
<p>Kesalahpahaman berikutnya ternyata muncul dari kesalahpahaman yang pertama. Mereka menganggap bahwa penalaran rasional itulah yang akan ‘mempertahankan Islam di segala cuaca’. Itu tidak lain karena dalam pandangan JIL rasio adalah standar yang menghakimi teks atau dalil yang ada (mereka enggan memakai istilah dalil, pen). Sehingga ketika akal mereka tidak bisa menangkap maksud teks dalam konteks kekinian maka dengan mudahnya mereka akan mengubah kandungannya agar lebih sesuai dengan akal –versi mereka-, demikianlah yang mereka inginkan. Tindakan semacam ini tentu saja termasuk kejahatan kepada wahyu itu sendiri sebagaimana perilaku sebagian dari Ahli Kitab yang menyelewengkan ayat-ayat Kitab Suci mereka.</p>
<p>Sederhananya, ketika apa yang ditunjukkan oleh dalil tidak sesuai dengan hawa nafsunya maka merekapun menyimpangkan makna dalil itu agar selaras dan sejalan dengan hawa nafsunya. Tidakkah kita ingat firman dan teguran Allah di dalam ayat-Nya (yang artinya), “Tidaklah pantas bagi seorang mukmin lelaki maupun perempuan apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara ternyata masih ada alternatif pilihan lain dalam urusan mereka. Barang siapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah tersesat dengan amat sangat nyata.” (QS. al-Ahzab: 36)</p>
<p><strong>Ketiga: JIL Gagal memahami sikap para ulama</strong></p>
<p>Kesalahpahaman ketiga, JIL mengesankan kepada umat bahwa pintu ijtihad sekarang ini telah ditutup oleh para ulama. Padahal tidak demikian yang sebenarnya. Mengapa mereka menciptakan kesan demikian? Sebab dalam persepsi mereka hakekat dan ruh dari ijtihad itu adalah menjadikan akal/rasio sebagai hakim atas dalil-dalil al-Kitab maupun as-Sunnah, sebagaimana yang telah diterangkan di depan. Kalau itu yang mereka maksud dengan ijtihad, maka memang tidak salah jika para ulama menutup pintu ijtihad bagi orang-orang seperti mereka. Sebab ijtihad yang mereka lakukan tergolong ijtihad yang fasid/tidak sah. Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani berkata, “Ijtihad yang fasid itu adalah yang muncul dari orang yang tidak paham tentang al-Kitab dan as-Sunnah serta bahasa Arab, yaitu orang yang pada dirinya tidak terpenuhi syarat-syarat berijtihad, atau bisa juga muncul dari seorang mujtahid yang layak untuk berijtihad namun bukan pada tempatnya yaitu dalam perkara-perkara yang tidak diperbolehkan ijtihad di dalamnya.” (Ma’alim Ushul Fiqh, hal. 470)</p>
<p><strong>Keempat: JIL Gagal memahami kaidah ijtihad</strong></p>
<p>Kesalahpahaman keempat, JIL tidak memahami kaidah ijtihad. Hal itu tampak dari ucapan mereka, “Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).” Sesungguhnya ijtihad memiliki batasan-batasan, tidak semua persoalan agama boleh menjadi lahan ijtihad. Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani menjelaskan ijtihad itu diperbolehkan dalam empat keadaan, secara global sbb:</p>
<ol>
<li> Dalam suatu perkara yang tidak ada dalil tegas atasnya dan bukan sesuatu yang telah disepakati oleh para ulama</li>
<li> Di dalam dalil tersebut memang memungkinkan adanya perbedaan penafsiran/ta’wil yang tidak dipaksakan</li>
<li> Perkara yang menjadi lahan ijtihad bukan tergolong permasalahan aqidah</li>
<li> Perkara yang menjadi lahan ijtihad tergolong masalah baru (nawazil) yang baru terjadi di masa kini dan belum pernah terjadi di masa silam, atau dalam perkara yang secara umum bisa saja terjadi -tapi belum terjadi- sedangkan kebutuhan atasnya sangat mendesak (lihat lebih luas dalam Ma’alim Ushul Fiqh, hal. 475-478)</li>
</ol>
<p>Semoga para pemuda dan cendekiawan tidak terpengaruh oleh kesalahpahaman yang disebarkan oleh JIL dan kawan-kawannya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[DISKUSI AWAM VS LIBERAL: LIBERALIS DAN ORIENTALIS]]></title>
<link>http://dimasprat.wordpress.com/2009/08/24/diskusi-awam-vs-liberal-liberalis-dan-orientalis/</link>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 01:02:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>dimas</dc:creator>
<guid>http://dimasprat.wordpress.com/2009/08/24/diskusi-awam-vs-liberal-liberalis-dan-orientalis/</guid>
<description><![CDATA[Liberal, sesungguhnya adalah paham yang dangkal. Perpanjangan tangan orientalis ini, tidak berbeda d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Liberal, sesungguhnya adalah paham yang dangkal. Perpanjangan tangan orientalis ini, tidak berbeda d]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Faham2 Islam Liberal]]></title>
<link>http://yusupman.wordpress.com/2009/08/12/faham2-islam-liberal/</link>
<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 09:10:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>yusupman</dc:creator>
<guid>http://yusupman.wordpress.com/2009/08/12/faham2-islam-liberal/</guid>
<description><![CDATA[Islam Liberal Nama-nama yang terdaftar sebagai kontributor (penyumbang) Jaringan Islam Liberal dibaw]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Islam Liberal Nama-nama yang terdaftar sebagai kontributor (penyumbang) Jaringan Islam Liberal dibaw]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bahaya Firqah Liberal]]></title>
<link>http://nidauljannah.wordpress.com/2009/08/06/bahaya-firqah-liberal/</link>
<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 17:45:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>nidauljannah</dc:creator>
<guid>http://nidauljannah.wordpress.com/2009/08/06/bahaya-firqah-liberal/</guid>
<description><![CDATA[Abu Hamzah Agus Hasan Bashari PENDAHULUAN. Islam adalah dien al-haq yang diwahyukan oleh Allah Ta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--more-->Abu Hamzah Agus Hasan Bashari</p>
<p>PENDAHULUAN.<br />
Islam adalah dien al-haq yang diwahyukan oleh Allah Ta&#8217;ala kepada Rasul-Nya yang terakhir Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam .</p>
<p>&#8220;Artinya : Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.&#8221; [Al-Fath : 28]</p>
<p>Sebagai rahmat bagi semesta alam</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.&#8221; [Al-Anbiya :107]</p>
<p>Dan sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.&#8221; [Ali-Imran : 19]</p>
<p>Islam adalah agama yang utuh yang mempunyai akar, dimensi, sumber dan pokok-pokok ajarannya sendiri. Siapa yang konsisten dengannya maka ja termasuk Al-Jama’ah atau Firqah Najiyah (kelompok yang selamat) dan yang keluar atau menyimpang darinya maka ja termasuk firqaih-firqah yang halikah (kelompok yang binasa).</p>
<p>Diantara firqah halikah adalah firqah Liberaliyah. Liberaliyah adalah sebuah paham yang berkembang di Barat dan memiliki asumsi, teori dan pandangan hidup yang berbeda. Dalam tesisnya yang berjudul “Pemikiran Politik Barat” Ahmad Suhelani, MA menjelaskan prinsip-prinsip pemikiran ini. Pertama, prinsip kebebasan individual. Kedua, prinsip kontrak sosial. Ketiga, prinsip masyarakat pasar bebas. Keempat, meyakini eksistansi Pluralitas Sosio &#8211; Kultural dan Politik Masyarakat. [Gado-Gado Islam Liberal; Sabili no 15 Thn IX/81]</p>
<p>Islam dan Liberal adalah dua istilah yang antagonis, saling berhadap-hadapan tidak mungkin bisa bertemu. Namun demikian ada sekelompok orang di Indonesia yang rela menamakan dirinya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Suatu penamaan yang “pas” dengan orang-orangnya atau pikiran-pikiran dan agendanya. Islam adalah pengakuan bahwa apa yang mereka suarakan adalah haq tetapi pada hakikatnya suara mereka itu adalah bathil karena liberal tidak sesuai dengan Islam yang diwahyukan dan yang disampaikan oleh Rasul Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam , akan tetapi yang mereka suarakan adalah bid’ah yang ditawarkan oleh orang-orang yang ingkar kepada Muhammad Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam .</p>
<p>Maka dalam makalah ini akan kita uraikan sanad (asal usul) firqah liberal (kelompok Islam Liberal atau Kelompok kajian utan kayu), visi, misi agenda dan bahaya mereka.</p>
<p>SANAD (ASAL-USUL) FIRQAH LIBERAL<br />
Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18 dikala kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan gerakan pemurnian, kembali kepada al-Qur’an dan sunnah. Pada saat ini muncullah cikal bakal paham liberal awal melalui Syah Waliyullah (India, 1703-1762), menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai dengan kebutuhan penduduknya. Hal ini juga terjadi dikalangan Syi’ah. Aqa Muhammad Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan membukanya lebar-lebar.</p>
<p>Ide ini terus bergulir. Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi (Mesir, 1801-1873) memasukkan unsur-unsur Eropa dalam pendidikan Islam. Shihabuddin Marjani (Rusia, 1818-1889) dan Ahmad Makhdun (Bukhara, 1827-1897) memasukkan mata pelajaran sekuler kedalam kurikulum pendidikan Islam [Charless Kurzman: xx-xxiii]</p>
<p>Di India muncul Sir Sayyid Ahmad Khan (1817-18..) yang membujuk kaum muslimin agar mengambil kebijakan bekerja sama dengan penjajah Inggris. Pada tahun 1877 ja membuka suatu kolese yang kemudian menjadi Universitas Aligarh (1920). Sementara Amir Ali (1879-1928) melalui buku The Spirit of Islam berusaha mewujudkan seluruh nilai liberal yang dipuja di Inggris pada masa Ratu Victoria. Amir Ali memandang bahwa Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah Pelopor Agung Rasionalisme [William Montgomery Waft: 132]</p>
<p>Di Mesir muncullah M. Abduh (1849-1905) yang banyak mengadopsi pemikiran mu’tazilah berusaha menafsirkan Islam dengan cara yang bebas dari pengaruh salaf. Lalu muncul Qasim Amin (1865-1908) kaki tangan Eropa dan pelopor emansipasi wanita, penulis buku Tahrir al-Mar’ah. Lalu muncul Ali Abd. Raziq (1888-1966). Lalu yang mendobrak sistem khilafah, menurutnya Islam tidak memiliki dimensi politik karena Muhammad hanyalah pemimpin agama. Lalu diteruskan oleh Muhammad Khalafullah (1926-1997) yang mengatatan bahwa yang dikehendaki oleh al-Qur’an hanyalah system demokrasi tidak yang lain.[Charless: xxi,l8]</p>
<p>Di Al-Jazair muncul Muhammad Arkoun (lahir 1928) yang menetap di Perancis, ia menggagas tafsir al-quran model baru yang didasarkan pada berbagai disiplin Barat seperti dalam lapangan semiotika (ilmu tentang fenomena tanda), antropologi, filsafat dan linguistik. Intinya  Ia ingin menelaah Islam berdasarkan ilmu-ilmu pengetahuan Barat modern. Dan ingin mempersatukan keanekaragaman pemikiran Islam dengan keanekaragaman pemikiran diluar Islam. [Mu’adz, Muhammad Arkoun Anggitan tentang cara-cara tafsir al-Qur’an, Jurnal Salam vol.3 No. 1/2000 hal 100-111; Abd. Rahman al-Zunaidi: 180; Willian M Watt: 143]</p>
<p>Di Pakistan muncul Fazlur Rahman (lahir 1919) yang menetap di Amerika dan menjadi guru besar di Universitas Chicago. Ia menggagas tafsir konstekstual, satu-satunya model tafsir yang adil dan terbaik menurutnya. Ia mengatakan al-Qur’an itu mengandung dua aspek: legal spesifik dan ideal moral, yang dituju oleh al-Qur’an adalah ideal moralnya karena itu ia yang lebih pantas untuk diterapkan.[Fazhul Rahman: 21; William M. Watt: 142-143]</p>
<p>Di Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago) yang memelopori gerakan firqah liberal bersama dengan Djohan Efendi, Ahmad Wahid dan Abdurrahman Wachid  [Adiyan Husaini dalam makalah Islam Liberal dan misinya menukil dari Greg Barton, Sabili no. 15: 88]</p>
<p>Nurcholis Madjid telah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun l970-an. Pada saat itu ia telah rnenyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: “Rasanya toleransi agama hanya akan tumbuh diatas dasar paham kenisbian (relativisme) bentuk-bentuk formal agama ini dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya merupakan inti setiap agama” [Nurcholis Madjid : 239]</p>
<p>Lalu sekarang muncullah apa yang disebut JIL (Jaringan Islam Liberal) yang menghasung ide-ide Nurcholis Madjid dan para pemikir-pemikir lain yang cocok dengan pikirannya.</p>
<p>Demikian sanad Islam Liberal menurut Hamilton Gibb, William Montgomery Watt, Chanless Kurzman dan lain-lain. Akan tetapi kalau kita urut maka pokok pikiran mereka sebenarnya lebih tua dari itu. Paham mereka yang rasionalis dalam beragama kembali pada guru besar kesesatan yaitu Iblis La’natullah ‘alaih. (Ali Ibn Abi aI-’Izz: 395) karena itu JIL bisa diplesetkan dengan “Jalan Iblis Laknat”. Sedang paham sekuleris dalam bermasyarakat dan bernegara berakhir sanadnya pada masyarakat Eropa yang mendobrak tokoh-tokoh gereja yang melahirkan moto Render Unto The Caesar what The Caesar’s and to the God what the God’s (Serahkan apa yang menjadi hak Kaisar kepada kaisar dan apa yang menjadi hak Tuhan kepada Tuhan). Muhammad Imarah : 45) Karena itu ada yang mengatakan: “Cak Nur Cuma meminjam pendekatan Kristen yang membidani lahirnya peradaban barat” Sedangkan paham pluralisme yang mereka agungkan bersambung sanadnya kepada lbn Arabi (468-543 H) yang merekomendasikan keimanan Fir’aun dan mengunggulkannya atas nabi Musa &#8216; &#8216;Alaihissallam [Muhammad Fahd Syaqfah: 229-230]</p>
<p>MISI FIRQAH LIBERAL<br />
Misi Firqah Liberal adalah untuk menghadang (tepatnya : rnenghancurkan) gerakan Islam fundamentalis. mereka menulis: “sudah tentu, jika tidak ada upaya-upaya untuk mencegah dominannya pandangan keagamaan yang militan itu, boleh jadi, dalam waktu yang panjang, pandangan-pandangan kelompok keagamaan yang militan ini bisa menjadi dominan. Hal ini jika benar terjadi, akan mempunyai akibat buruk buat usaha memantapkan demokratisasi di Indonesia. Sebab pandangan keagamaan yang militan biasanya menimbulkan ketegangan antar kelompok-kelompok agama yang ada. Sebut saja antara Islam dan Kristen. Pandangan-pandangan kegamaan yang terbuka (inklusif) plural, dan humanis adalah salah satu nilai-nilai pokok yang mendasari suatu kehidupan yang demokratis.”</p>
<p>Yang dimaksud dengan Islam Fundamentalis yang menjadi lawan firqah liberal adalah orang yang memiliki lima cirri-ciri,yaitu.</p>
<p>[1]. Mereka yang digerakkan oleh kebencian yang mendalam terhadap Barat<br />
[2]. Mereka yang bertekad mengembalikan peradaban Islam masa lalu dengan membangkitkan kembali masa lalu itu<br />
[3]. Mereka yang bertujuan menerapkan syariat Islam<br />
[4]. Mereka yang mempropagandakan bahwa islam adalah agama dan negara<br />
[5]. Mereka menjadikan masa lalu itu sebagai penuntun (petunjuk) untuk masa depan.</p>
<p>Demikian yang dilontarkan mantan Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon [Muhammad Imarah : 75]</p>
<p>AGENDA DAN GAGASAN FIRQAH LIBERAL<br />
Dalam tulisan berjudul “Empat Agenda islam Yang Membebaskan; Luthfi Asy-Syaukani, salah seorang penggagas JIL yang juga dosen di Universitas Paramadina Mulya memperkenalkan empat agenda Islam Liberal.</p>
<p>Pertama : Agenda politik. Menurutnya urusan negara adalah murni urusan dunia, sistem kerajaan dan parlementer (demokrasi) sama saja.</p>
<p>Kedua : Mengangkat kehidupan antara agama. Menurutnya perlu pencarian teologi pluralisme mengingat semakin majemuknya kehidupan bermasyarakat di negeri-negeri Islam.</p>
<p>Ketiga : Emansipasi wanita dan</p>
<p>Keempat : Kebebasan berpendapat (secara mutlak).</p>
<p>Sementara dari sumber lain kita dapatkan empat agenda mereka adalah.<br />
[1]. Pentingnya konstekstualisasi ijtihad<br />
[2]. Komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan<br />
[3]. Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama<br />
[4]. Permisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara [Lihat Greg Bertan, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Pustaka Antara Paramadina 1999: XXI]</p>
<p>BAHAYA FIRQAH LIBERAL<br />
[1]. Mereka tidak menyuarakan Islam yang diridhai oleh Allah AzZa wa Jalla, tetapi menyuarakan pemikiran-pemikiran yang diridhai oleh Iblis, Barat dan pan Thaghut lainnya.</p>
<p>[2]. Mereka lebih menyukai atribut-atribut fasik dari pada gelar-gelar keimanan karena itu mereka benci kepada kata-kata jihad, sunnah, salaf dan lain-lainnya dan mereka rela menyebut Islamnya dengan Islam Liberal. Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman&#8221;. [Al-Hujurat : 11]</p>
<p>[3]. Mereka beriman kepada sebagian kandungan al-Qur’an dan meragukan kemudian menolak sebagian yang lain, supaya penolakan mereka terkesan sopan dan ilmiyah mereka menciptakan “jalan baru” dalam menafsiri al-Qur’an. Mereka menyebutnya dengan Tafsir Kontekstual, Tafsir Hermeneutik, Tafsir Kritis dan Tafsir Liberal</p>
<p>Sebagai contoh, Musthofa Mahmud dalam kitabnya al-Tafsir al-Ashri-li al-Qur’an menafsiri ayat (Faq tho &#8216;u aidiyahumaa) dengan “maka putuslah usaha mencuri mereka dengan memberi santunan dan mencukupi kebutuhannya.”  [Syeikh Mansyhur Hasan Salman, di Surabaya, Senin 4 Muharram 1423]</p>
<p>Dan tafsir seperti ini juga diikuti juga di Indonesia. Maka pantaslah mengapa Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>&#8220;Artinya : Yang paling saya khawatirkan atas adaalah orang munafik yang pandai bicara. Dia membantah dengan Al-Qur’an.&#8221;</p>
<p>Orang-orang yang seperti inilah yang merusak agama ini. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Artinya : Mereka mengklaim diri mereka sebagai pembaharu Islam padahal merekalah perusak Islam, mereka mengajak kepada kepada Al-Qur’an padahal merekalah yang mencampakkan Al-Qur’an”</p>
<p>Mengapa demikian ? Karena mereka bodoh terhadap sunnah. [Lihat Ahmad Thn Umar al-Mahmashani: 388-389]</p>
<p>[4]. Mereka menolak paradigma keilmuwan dan syarat-syarat ijtihad yang ada dalam Islam, karena mereka merasa rendah berhadapan dengan budaya barat, maka mereka melihat Islam dengan hati dan otak orang Barat.</p>
<p>[5].  Mereka tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam , para sahabatnya dan seluruh orang-orang mukmin. Bagi mereka pemahaman yang hanya mengandalkan pada ketentuan teks-teks normatif agama serta pada bentuk-bentuk Formalisme Sejarah Islam paling awal adalah kurang memadai dan agama ini akan menjadi agama yang ahistoris dan eksklusif (Syamsul Arifin; Menakar Otentitas Islam LiberaL .Jawa Pos 1-2-2002). Mereka lupa bahwa sikap seperti inilah yang diancam oleh Allah:</p>
<p>&#8220;Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudahjelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu&#8217;min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.&#8221; [An-Nisaa’ 115].</p>
<p>[6]. Mereka tidak memiliki ulama dan tidak percaya kepada ilmu ulama. Mereka lebih percaya kepada nafsunya sendiri, sebab mereka mengaku sebagai “pembaharu” bahkan “super pembaharu” yaitu neo modernis. Allah berfirman:</p>
<p>“Artinya : Dan bila dikatakan kepada mereka, &#8220;Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,&#8221; mereka menjawab, &#8220;Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.&#8221; Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka, &#8220;Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman,&#8221; mereka menjawab, &#8220;Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman.&#8221; Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. [Al-Baqarah 11-13]</p>
<p>[7]. Kesamaan cita-cita mereka dengan cita-cita Amerika, yaitu menjadikan Turki sebagai model bagi seluruh negara Islam. Prof. Dr. John L. Esposito menegaskan bahwa Amerika tidak akan rela sebelum seluruh negara-negara Islam tampil seperti Turki.</p>
<p>[8]. Mereka memecah belah umat Islam karena gagasan mereka adalah bid’ah dan setiap bid’ah pasti memecah belah.</p>
<p>[9]. Mreka memiliki basis pendidikan yang banyak melahirkan pemikir-pemikir liberal, memiliki media yang cukup dan jaringan internasional dan dana yang cukup.</p>
<p>[10]. Mereka tidak memiliki manhaj yang jelas sehingga gagasannya terkesan “asbun”  dan asal “comot” . Lihat saja buku Charless Kurzman, Rasyid Ridha yang salafi (revivalis) itupun dimasukkan kedalam kelompok liberal, begitu pula Muhammad Nashir (tokoh Masyumi) dan Yusuf Qardhawi (tokoh Ihwan al-Muslimin). Bahayanya adalah mereka tidak bisa diam, padahal diam mereka adalab emas, memang begitu berat jihad menahan lisan. Tidak akan mampu melakukannya kecuali seorang yang mukmin.</p>
<p>&#8220;Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengucapkan yang baik atau hendaklah ia diam.&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim] (Lihat Husain al-Uwaisyah: 9 dan seterusnya]. Ahlul batil selain menghimpun kekuatan untuk memusuhi ahlul haq. Allah ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung bagi sebagian yang lain. JIka kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.&#8221; [Al-Anfaal :  73]</p>
<p>Sementara itu Ustadz Hartono Ahmad Jaiz menyebut mereka berbahaya sebab mereka itu “sederhana” tidak memiliki landasan keilmuwan yang kuat dan tidak memiliki aqidah yang mapan. [Lihat Bahaya Islam Liberal: 40, 64-65]</p>
<p>[Disalin dari  Majalah As Sunnah Edisi 04/VI/1423/2002M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta. Jl. Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo – Solo 57183]<br />
______<br />
Maraji&#8217;<br />
[1]. Arifin, Syamsul, Menakar Otenisitas Islam Liberal, Jawa Pos, 1-2-2002<br />
[2]. Al-Hanafi, Ali Ibn Abi Al-Izz, Tahzdib Syarah Ath-Thahawiyyah, Dar Al-Shadaqah, Beirut, cet.I 1995<br />
[3]. Al-Mahmashani, Ahmad Ibnu Umar, Mukhtashar Jami Bayan Al-Ilmi wa Fadhlihi, Tahqiq Hasan Ismail, Dar Al-Khair, Beirut cet.I 1994<br />
[4]. Al-Uwaisyah, Hasan, Hashaid Al-Aisum, Dar Al-Hijrah<br />
[5]. Husaini, Adnan, Islam Liberal dan Misinya, Makalah Diskusi Di Pesantren Tinggi Husnayain Jakarta 8 Januari 2002<br />
[6]. Imarah, Muhammad, Perang Terminologi Islam Versus Barat, terjemahan Musthalah Maufur, Rabbani Press, Jakarta 19998<br />
[7]. Jaiz, Hartono Ahmad, Bahaya Islam Liberal, Pustaka Al-kautsar cet II, 2002<br />
[8]. Kurzman, Charless, Wacana Islam Liberal, Paramadina Jakarta 2001<br />
[9]. Majid, Nurcholis, Islam Kerakyatan dan Keindonesiaan, Mizan, Bandung cet III/1996<br />
[10]. Muadz, Muhammad Arkoum Anggitan Tentang Cara-Cara (Tafsir) Al-Qur’an, Jurnal Salam Umm Malang vol.3 No. 1/2000<br />
[11]. Ridawan, Nurcholis, Gado-Gado Islam Liberal, Majalah Sabili, No. 15 tahun IX, 25 Januari 2002<br />
[12]. Rahman, Fazlur, Metode dan Alternatif Neomodernisme Islam, terjemahan Taufiq Adnan, Mizan, Bandung 1987<br />
[13]. Syaqfah, M Fahd, At-Tashawwuf Baina Al-Haqqi wa Al-Khalq, Dar Al-Salafiyah cet III 1983<br />
[14]. Watt, Wiliam M. Fundamentalisme Islam dan Modernitas, terjemahan Taufiq Adnan, Raja Grafindo Persada Jakarta, cet I 1997<br />
[15]. Zunaidi, Abd Rahman, Al-Salafiyah wa Qadhaya Al-Ashr, Dar Isbiliya, Riyadh cet I 1998</p>
<p><em>Sumber</em><em>: http://www.almanhaj.or.id</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Download Ebook kontroversial : "Ilusi Negara Islam"]]></title>
<link>http://alhamdulillahmoderatislam.wordpress.com/2009/07/18/download-ebook-kontroversial-ilusi-negara-islam/</link>
<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 10:34:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>masdeed</dc:creator>
<guid>http://alhamdulillahmoderatislam.wordpress.com/2009/07/18/download-ebook-kontroversial-ilusi-negara-islam/</guid>
<description><![CDATA[. Terbitnya buku “Ilusi Negara Islam” menarik kontroversi pada berbagai pihak. Dalam buku tersebut, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" src="http://www.bhinnekatunggalika.org/images/cover-front-145.jpg" alt="" width="145" height="214" />.</p>
<p style="text-align:justify;">Terbitnya buku “Ilusi Negara Islam” menarik kontroversi pada berbagai pihak. Dalam buku tersebut, 2 organisasi Islam di Indonesia yaitu PKS dan HTI dituding sebagai gerakan yang bercita-cita mewujudkan negara Islam di Indonesia. Buku ini diterbitkan oleh the Wahid Institut dan kata pengantar diberikan oleh Mantan Ketua PP Muhammadiyah Prof. Syafii Maarif. Dalam buku ini juga disebutkan beberapa kelompok Islam lainnya sebagai kelompok Islam transnasional berbahaya.</p>
<p style="text-align:justify;">untuk mendownload selengkapnya klik <a href="http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/ilusi-negara-islam.pdf">disini</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TEKS KHUTBAH 19 JUN 2009]]></title>
<link>http://abunuha.wordpress.com/2009/06/21/teks-khutbah-19-jun-2009/</link>
<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 03:56:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Nuha</dc:creator>
<guid>http://abunuha.wordpress.com/2009/06/21/teks-khutbah-19-jun-2009/</guid>
<description><![CDATA[Selepas ceramah di LHDN sebelah pagi, sebelah tengahari saya naik mimbar pula di Masjid as-Sobirin, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Selepas ceramah di LHDN sebelah pagi, sebelah tengahari saya naik mimbar pula di Masjid as-Sobirin, ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tak Dak Sapa Yang Tanya, Saya Sendiri Yang Nak Jawab]]></title>
<link>http://darahmerdeka.wordpress.com/2009/06/17/tak-dak-sapa-yang-tanya-saya-sendiri-yang-nak-jawab/</link>
<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 11:02:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>`Izzat Anwari</dc:creator>
<guid>http://darahmerdeka.wordpress.com/2009/06/17/tak-dak-sapa-yang-tanya-saya-sendiri-yang-nak-jawab/</guid>
<description><![CDATA[Golongan liberal sebenarnya sayangkan Islam namun ada beberapa fahaman mereka yang perlu diteliti. N]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Golongan liberal sebenarnya sayangkan Islam namun ada beberapa fahaman mereka yang perlu diteliti. N]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ABABIL PUMPP Gesa Jangan Mempolitikkan Isu Kesesatan Liberalisme Sisters in Islam (SIS)]]></title>
<link>http://darahmerdeka.wordpress.com/2009/06/16/ababil-pumpp-gesa-jangan-mempolitikkan-isu-kesesatan-liberalisme-sisters-in-islam-sis/</link>
<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 08:18:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>`Izzat Anwari</dc:creator>
<guid>http://darahmerdeka.wordpress.com/2009/06/16/ababil-pumpp-gesa-jangan-mempolitikkan-isu-kesesatan-liberalisme-sisters-in-islam-sis/</guid>
<description><![CDATA[Kenyataan Media: ABABIL PUMPP Gesa Jangan Mempolitikkan Isu Kesesatan Liberalisme Sisters in Islam (]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kenyataan Media: ABABIL PUMPP Gesa Jangan Mempolitikkan Isu Kesesatan Liberalisme Sisters in Islam (]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[]]></title>
<link>http://pumpp.wordpress.com/2009/06/15/29/</link>
<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 08:53:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>`Izzat Anwari</dc:creator>
<guid>http://pumpp.wordpress.com/2009/06/15/29/</guid>
<description><![CDATA[Kenyataan Media: ABABIL PUMPP Gesa Jangan Mempolitikkan Isu Kesesatan Liberalisme Sisters in Islam (]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kenyataan Media: ABABIL PUMPP Gesa Jangan Mempolitikkan Isu Kesesatan Liberalisme Sisters in Islam (]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ABABIL PUMPP Gesa Jangan Mempolitikkan Isu Kesesatan Liberalisme Sisters in Islam (SIS)]]></title>
<link>http://ababil.wordpress.com/2009/06/15/ababil-pumpp-gesa-jangan-mempolitikkan-isu-kesesatan-liberalisme-sisters-in-islam-sis/</link>
<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 08:43:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>`Izzat Anwari</dc:creator>
<guid>http://ababil.wordpress.com/2009/06/15/ababil-pumpp-gesa-jangan-mempolitikkan-isu-kesesatan-liberalisme-sisters-in-islam-sis/</guid>
<description><![CDATA[Kenyataan Media: ABABIL PUMPP Gesa Jangan Mempolitikkan Isu Kesesatan Liberalisme Sisters in Islam (]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kenyataan Media: ABABIL PUMPP Gesa Jangan Mempolitikkan Isu Kesesatan Liberalisme Sisters in Islam (]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Siapa Bilang Komunis Sudah Mati : Cara Komunis Memikat Kaum Muda]]></title>
<link>http://kafilahsyuhada.wordpress.com/2009/06/15/siapa-bilang-komunis-sudah-mati-cara-komunis-memikat-kaum-muda/</link>
<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 08:12:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>kafilahsyuhada</dc:creator>
<guid>http://kafilahsyuhada.wordpress.com/2009/06/15/siapa-bilang-komunis-sudah-mati-cara-komunis-memikat-kaum-muda/</guid>
<description><![CDATA[Pikat kaum muda lewat seminar, kaderisasi, forum diskusi, film, hingga tempat tongkrongan mahasiswa,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="size-full wp-image-528 alignleft" title="komunis" src="http://kafilahsyuhada.wordpress.com/files/2009/06/komunis.jpg" alt="komunis" width="129" height="129" />Pikat kaum muda lewat seminar, kaderisasi, forum diskusi, film, hingga tempat tongkrongan mahasiswa, musisi, dan peminum khamr. Tanggal 11 Januari 2009. Bedjo Untung (62 tahun), mantan tahanan politik (tapol) peristiwa G 30 S/PKI, sibuk meladeni tamu di rumahnya di bilangan Kota Tangerang, Banten. Sekitar 25 orang tamu yang datang dari berbagai daerah di Indonesia bergelut dalam rapat tertutup sejak pagi hingga sore hari di rumah Bedjo. Tema rapat hari itu adalah membongkar kebohongan sejarah tahun 1965-1966.</p>
<p>Selain dihadiri para bekas tapol peristiwa G 30 S/PKI, rapat terbatas itu juga dihadiri sejumlah aktivis Hak Asasi Manusia (HAM). Para peserta adalah Bedjo Untung, Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965-1966 (YPKP); Mantan Letkol (Udara) Heru Atmojo, eks tapol PKI dari Paguyuban Korban Orde Baru; Sumarsih, ketua Jaringan Solidaritas Korban dan Keluarga Korban (JSKK); Casman, mantan anggota pasukan Cakrabirawa, serta para ketua YPKP daerah seperti Palembang (Sumatera Selatan), Semarang, Sulawesi, Bandung, dan Bekasi.<!--more--><strong>Agenda Rahasia</strong></p>
<p>Dari pertemuan itu, YPKP diketahui mempunyai sejumlah program kerja ke depan. Yakni, mengupayakan pencabutan TAP MPRS No.25/1966 tentang pembubaran PKI dan larangan penyebaran paham komunis/Marxisme- Leninisme, pencabutan pasal 32 dan 33 UUD 1945, serta penelusuran sejarah peristiwa 1965-1966.</p>
<p>Bedjo, sang empunya rumah, berbicara panjang lebar tentang pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Orde Baru dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) pimpinan mantan Presiden Soeharto. Lebih jauh, Bedjo bahkan mengklaim jatuhnya rezim Soeharto adalah buah keberhasilan usaha YPKP.</p>
<p>Dua pekan kemudian di tempat yang sama, pertemuan kembali digelar. Namun, rapat kali ini hanya dihadiri enam orang. Sumini Martono, mantan anggota Gerwani, ikut urun rembug.</p>
<p>Rupanya Polresta Tangerang mencium gelagat tidak beres ini. Polisi segera membubarkan rapat tersebut dengan alasan tidak memiliki izin.</p>
<p>&#8220;Sungguh sangat tidak masuk akal, dan sungguh sangat berlebihan,&#8221; ujar Bedjo menanggapi aksi aparat.</p>
<p>Gerakan Nasional Patriot Indonesia (GNPI), yang ikut mengintai jalannya pertemuan rahasia ini, menemukan sejumlah dokumen agenda rapat. Di antara agenda tersebut adalah penguatan organisasi, pembahasan internal ideologi komunis, pencabutan TAP MPRS/25 tahun 1966, penolakan Pancasila sebagai dasar negara, serta rencana rapat kerja nasional YPKP yang akan diadakan di Puncak, Jawa Barat, atau di SBSI Center, Cisoka, Tangerang.</p>
<p>Ketua Bidang Khusus GNPI, Firos Fauzan, dalam laporan yang ditujukan kepada Kapolri mengatakan, pihaknya telah bekerjasama dengan ketua RT, ketua RW, dan tokoh setempat untuk  menolak rapat yang digelar tanggal 25 Januari 2009 itu.</p>
<p>&#8220;Hasilnya, rapat tersebut dibubarkan oleh Polres Tangerang,&#8221; kata Firos yang juga pengurus Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia ini.</p>
<p><strong> Kado Buat Rakyat Indonesia</strong></p>
<p>Sebagai wadah resmi bekas tapol dan keluarga PKI yang terdaftar di Departemen Hukum dan HAM RI, YPKP memang giat menyerukan pelurusan sejarah peristiwa 30 September 1965.</p>
<p>Sejak tumbangnya Orde Baru, YPKP bersama sejumlah LSM HAM intens menggelar diskusi untuk menghapus stigma negatif para bekas tapol dan keluarga PKI yang dicap sebagai dalang peristiwa berdarah 30 September 1965 ini. Sasarannya meliputi masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, hingga tokoh masyarakat.  Salah satu caranya melalui pemutaran film dokumenter.</p>
<p>Sebuah film berjudul Kado Buat Rakyat Indonesia (KBRI) sudah merekapersiapkan untuk cuci tangan dari persitiwa G 30 S/PKI.  Film tersebut berdurasi sekitar satu jam, berisi kesaksian dan komentar bekas tahanan politik PKI, tokoh HAM, aktivis mahasiswa, bahkan tokoh Islam, tentang peristiwa 1965 yang juga menelan banyak korban dari pihak PKI itu.</p>
<p>&#8220;Ternyata PKI tidak bersalah,&#8221; ujar seorang mahasiswa seusai menonton pemutaran film tersebut di sebuah kampus di ibukota.</p>
<p>Dalam film ini, PKI memang diposisikan sebagai korban konspirasi rezim militer dan kaum kapitalis lokal yang disokong oleh Amerika Serikat.</p>
<p>Adanya pernyataan tokoh Nahdhatul Ulama, Yusuf Hasyim, dikutip secara tidak utuh dalam film ini. Yusuf dibuat seolah menyesali ribuan anggota PKI yang menjadi korban pembunuhan, tanpa menyinggung peran PKI yang mendalangi pembunuhan enam jenderal dan satu perwira TNI pada masa itu.</p>
<p>Selain cukup ampuh menghapus cap negatif tentang PKI, ternyata film ini juga digunakan sebagai alat kaderisasi organisasi-organisasi mahasiswa berhaluan &#8220;kiri&#8221; yang mengklaim diri mereka sebagai gerakan pro demokrasi. Organisasi mahasiswa itu antara lain Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Front Mahasiwa Nasional (FMN), Serikat Mahasiwa Indonesia (SMI), dan Front Nasional Mahasiwa Resistance (FMNR).</p>
<p>Ketua Umum LMND, Lalu Hilman Afriandi, mengatakan hingga saat ini film KBRI masih  digunakan pada program kaderisasi LMND. Selain lewat pemutaran film, rekrutmen kader juga dilakukan secara formal, yaitu melalui forum diskusi, advokasi isu mahasiswa, hingga tongkrongan (kumpulan) mahasiswa.</p>
<p>LMND sendiri kerap dicap sebagai gerakan kiri pengusung komunisme. Cap ini dilekatkan karena mereka gemar mengangkat isu-isu revolusi, pertentangan kaum buruh dan petani dengan kapitalisme. Namun, Lalu mengaku tidak menggubris tudingan tersebut. Malah, pria kelahiran Lombok yang cukup fasih menyitir ayat al-Qur`an ini mengatakan, ”komunisme bukan lagi sesuatu yang menakutkan bagi rakyat.”</p>
<p>&#8220;Stigma-stigma komunis seperti itu sudah lewat lah. Itu kan usaha Orde Baru mematahkan lawan politiknya,&#8221; ujarnya saat diwawancarai Suara Hidayatullah di kantor pusat LMND di kawasan Tebet, Jakarta, bulan lalu.</p>
<p><strong> Atheis pun Diajarkan</strong></p>
<p>Seorang sumber Suara Hidayatullah, bekas pengurus teras LMND Jakarta, mengatakan, melalui film KBRI mahasiswa diajak membenci penindasan. Tapi, tidak sampai di situ. Selanjutnya, secara berkesinambungan, kader-kader baru akan diajarkan ide-ide kiri melalui program pendidikan internal. Ide-ide kiri tersebut, misalnya, marxisme, sosialisme, komunisme, yang mendasari gerakannya pada filsafat materialisme dialektika historis yang anti Tuhan (atheisme).</p>
<p>Mahasiswa yang gemar mabuk-mabukan dan sebagian seniman, menurut sumber tadi,  sangat menggandrungi ideologi Marxisme. Sebab, ideologi ini menjadi dalih untuk lepas dari aturan-aturan agama.</p>
<p>Dalih yang digunakan untuk mengingkari tuhan adalah logika materialisme semata. &#8220;Contohnya, Tuhan tidak bisa dibuktikan secara rill, secara materi. Wujud, bentuk, ukuran, dan sifatnya tidak bisa dibuktikan oleh alat indera manusia,&#8221; ujar sumber yang juga mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini.</p>
<p>Agung, alumnus Universitas Bung Karno Jakarta yang sempat aktif di gerakan kiri, punya cerita lain. Dulu dia pernah ditanya seniornya tentang Tuhan. ”Kalau Allah maha kuasa, bisakah Allah menciptakan batu yang sangat besar, yang Dia sendiri tidak mampu memikulnya?”</p>
<p>Agung mengaku sempat terjebak oleh pernyataan itu. Karena pertanyaan itu, ia menjadi tak percaya adanya Tuhan (atheis).</p>
<p>Namun, sekarang dia mengaku bertaubat. Dia sadar bahwa pertanyaan yang dilontarkan senior itu salah. &#8220;Pertanyaannya yang salah. Allah subhanahu wata&#8217;ala terbebas dari sifat-sifat ketidakmampuan,&#8221; tukas Agung.</p>
<p>Doktrin filsafat materialisme atheis ala Marx bukan hanya diadopsi LMND saja. Hampir setiap gerakan yang mengatasnamakan kiri, sosialis, juga memakainya. Hal ini diakui oleh Thomas Fernando, senior Komite Aksi Rakyat Teritorial (KARAT) kepada Suara Hidayatullah.</p>
<p>&#8220;Iya. Saya menyaksikan banyak gerakan kiri  menanamkan ide atheisme Marx kepada kader-kader mereka,&#8221; ungkap Nando.</p>
<p>Meski model gerakan anarki yang dipakainya termasuk kiri, Nando tetap meyakini adanya Tuhan Sang Mahapencipta. Dia sendiri menjalankan shalat dan isterinya pun berjilbab.</p>
<p>&#8220;Anarki cuma cara atau alat pergerakan saja. Bukan sebagai ideologi,&#8221; katanya.</p>
<p>Disinggung tentang filsafat materialisme Marx yang diajarkan di LMND, Lalu, sang ketua umum, tidak menyangkalnya. Menurutnya, organisasi dengan 60 cabang tingkat kota di 21 provinsi yang dipimpinya ini mengajarkan semua aliran besar filsafat, tidak hanya filsafatnya Karl Marx.</p>
<p>Namun,  Lalu mengakui banyak ajaran Marx yang terbukti kebenarannya saat ini.  Teori pertentangan kelas, misalnya. &#8220;(Terbukti) pertentangan politik yang terjadi saat ini adalah perang ekonomi antara borjuasi dengan buruh. (Teori) ini cukup bisa dijadikan basis analisa,&#8221; katanya.</p>
<p>Menurut Lalu, masalah terberat dalam ajaran Marxisme adalah ketika bicara tentang Tuhan. Namun, baginya, masalah atheisme dalam ajaran Marx bukan inti persoalan. Yang penting baginya adalah ajaran Marxisme bisa dipakai untuk membedah persoalan sosial dengan sangat jelas. Dia pun mengaku tetap beragama dan bertuhan.</p>
<p>Seorang sumber Suara Hidayatullah mengakui, tidak semua aktivis kiri memahami dan meyakini ajaran atheis Marx.  Tapi biasanya, ketua umum nasional gerakan kiri berpaham atheis.</p>
<p>Memang tidak ada paksaan secara absolut kepada kader untuk menjadi penganut anti Tuhan.  &#8220;Itu karena mereka tidak berkuasa. Lain hal kalau mereka sudah berkuasa,&#8221; kata sumber tersebut.</p>
<p>*Riezky Andhika Pradana, Surya Fachrizal /Suara Hidayatullah</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lobi Yahudi dan Liberalisme di Indonesia ]]></title>
<link>http://indonesiaunderground.wordpress.com/2009/06/13/lobi-yahudi-dan-liberalisme-di-indonesia/</link>
<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 02:36:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>indonesiaunderground</dc:creator>
<guid>http://indonesiaunderground.wordpress.com/2009/06/13/lobi-yahudi-dan-liberalisme-di-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Disadur dari hidayatullah.com Lobi Yahudi dan Liberalisme di Indonesia oleh Adian Husaini Sekali wak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Disadur dari hidayatullah.com Lobi Yahudi dan Liberalisme di Indonesia oleh Adian Husaini Sekali wak]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Musawah Bukti SIS Sesat]]></title>
<link>http://ababil.wordpress.com/2009/06/12/musawah-bukti-sis-sesat/</link>
<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 12:38:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>`Izzat Anwari</dc:creator>
<guid>http://ababil.wordpress.com/2009/06/12/musawah-bukti-sis-sesat/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Muhammad `Izzul Islam bin Hasni (Ketua Unit Pemantauan) Usul yang dikemukakan oleh Dewan Muslim]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh Muhammad `Izzul Islam bin Hasni (Ketua Unit Pemantauan) Usul yang dikemukakan oleh Dewan Muslim]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[INILAH CONTOH PEMIKIRAN JIL YANG BERBAHAYA]]></title>
<link>http://kaahil.wordpress.com/2009/06/08/inilah-contoh-pemikiran-jil-yang-berbahaya/</link>
<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 22:57:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>dr.Abu Hana :: أبو هـنـأ  ألفردان ::</dc:creator>
<guid>http://kaahil.wordpress.com/2009/06/08/inilah-contoh-pemikiran-jil-yang-berbahaya/</guid>
<description><![CDATA[Bahaya Kebebasan Berpikir Oleh Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 95 Tahun II Beberapa hari yang lal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bahaya Kebebasan Berpikir Oleh Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 95 Tahun II Beberapa hari yang lal]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
