<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>jung-ji-min &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/jung-ji-min/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "jung-ji-min"</description>
	<pubDate>Sat, 25 May 2013 06:07:00 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Our Destiny Part 2]]></title>
<link>http://sexyfreesingle.wordpress.com/2012/07/30/title-our-dest-2/</link>
<pubDate>Mon, 30 Jul 2012 15:25:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>karinahae</dc:creator>
<guid>http://sexyfreesingle.wordpress.com/2012/07/30/title-our-dest-2/</guid>
<description><![CDATA[Title: Our Destiny Author: karinahae Main Cast: Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Park Haerin (OC), Jung Ji]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://sexyfreesingle.files.wordpress.com/2012/07/our-destiny3.jpeg"><img class="size-full wp-image aligncenter" src="http://sexyfreesingle.files.wordpress.com/2012/07/our-destiny3.jpeg?w=487&#038;h=679" alt="Image" width="487" height="679" /></a></p>
<ul>
<li>Title: Our Destiny</li>
<li>Author: karinahae</li>
<li>Main Cast: Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Park Haerin (OC), Jung Ji Min (OC)</li>
<li>Genre: Romance, Friendship</li>
<li>Length: Chapter</li>
<li>Rating: General</li>
</ul>
<blockquote>
<p align="center"><span style="color:#ff0000;">Previous Part: <a title="Part 1" href="http://sexyfreesingle.wordpress.com/2012/07/29/our-destiny-part-1/">Part 1</a><br />
</span></p>
</blockquote>
<p><strong>Part 2</strong></p>
<p>Aku melihat yeoja itu duduk di bangku yang biasanya ia duduki. Wajahnya pucat seperti biasanya, tapi tidak menghilangkan kecantikannya. Ia duduk sambil mengulas sebuah senyum. Aku balas tersenyum. Ternyata senyum bukan untukku, melainkan namja yang sedang melayaninya, Lee Donghae.</p>
<p>Hatiku mencelos. Dadaku sesak. Amarahku berkobar. Mataku memancarkan kilatan merah marah. Aku berusaha menenangkan diri, aku bisa apa? Siapa aku? Hanya seseorang waiter yang berkerja part-time disini. Dia itu tamu mu Kyuhyun, kendalikanlah emosimu.</p>
<p>Setelah aku berhasil mengendalikan emosiku ini, jadilah aku seperti ini, duduk seperti orang bodoh yang hanya menatap lurus wanita itu, ya Park Haerin, gadis yang sangat mempesona di mataku. Ia sepertinya tidak sadar kalau aku terus memperhatikannya sedari tadi, ia hanya asik memainkan ponselnya dan sesekali menyesap <em>coffee latte </em>nya.</p>
<p>Sebaiknya aku kembali bekerja sebelum <em>sajangnim </em>memarahiku.</p>
<p><strong>Haerin’s POV</strong></p>
<p>Aaah~ café ini sangat nyaman seperti biasanya. Donghae oppa menghampiriku dan menanyakan pesananku seperti biasanya.</p>
<p>“Haerin-<em>ah</em>, apakah kau mau pesan seperti biasanya?”, tanya Donghae <em>oppa</em> lembut</p>
<p>“Aku rasa tidak oppa, aku ingin <em>macchiato</em> dan <em>red velvet</em> untuk cakenya, <em>please</em>”, tuturku sambil tersenyum</p>
<p>“Baiklah Haerin, pesananmu akan siap dalam 10 menit”, kata Donghae <em>oppa</em> sambil mengulas sebuah senyum, lalu berjalan pergi</p>
<p>Aku melihat café ini berkeliling, lalu mataku terpusat pada seorang laki – laki, ia sedang menatapku intens, dan sepertinya sudah sejak tadi ia menatapku seperti itu. Hatiku beradu, jantungku memompa lebih cepat beratus kali lipat, pipiku bisa dipastikan sudah menjadi kepiting rebus sekarang. Ya, pria itu adalah Cho Kyuhyun.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Donghae’s POV</strong></p>
<p>Aku mengantarkan pesanan Haerin padanya, lalu berbalik untuk kembali ke dapur. Tapi, sebelum aku sempat melangkahkan kakiku, Haerin mencegatku dan berkata yang membuat mataku terbelalak</p>
<p>“<em>Oppa</em>, bolehkah <em>oppa</em> tanyakan nomor ponsel Cho Kyuhyun?”</p>
<p><em>MWO????!!!! </em>Mengapa anak ini meminta nomor ponsel Kyuhyun?Apakah ia menyukai Kyuhyun? Dia bahkan tidak menanyakan nomor ponselku sekali pun walaupun kami sudah bertemu puluhan kali.</p>
<p>“Hmm, ne, akan oppa tanyakan”</p>
<p>Aishh! Kenapa mulutku tidak selaras dengan apa yang ada di otakku? Aku seharusnya mengatakan bahwa aku sibuk dan tidak sempat berbicara dengan Kyuhyun. <em>Neo babo</em>, Donghae! Kau harusnya memperjuangkan cintamu, bukan merelakannya pada orang lain.</p>
<p align="center">&#8212;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Author’s POV</strong></p>
<p>Semua pelajaran mata kuliah sudah selesai, hari ini Haerin dan Ji Min berjalan keluar kelas mereka bersama – sama, sambil bercakap – cakap dari mulai tentang dosen yang menyebalkan sampai berbicara tentang ‘Si pelayan baru di café Apgeujong” dan menunjukkan beberapa fotonya kepada Ji Min, yang katanya Haerin dapatkan dari personal account jejaring sosial pribadi milik pria itu. Saking asiknya mereka bercakap – cakap, mereka sampai tidak tahu ada sepasang mata yang mengintai mereka dari jauh.</p>
<p>“Waah Haerin-<em>ah</em>, ini sudah jam 8 malam, aku rasa aku harus segera pulang kalau tidak mau <em>eomma</em> mengejarku dan memukuliku keliling kompleks seperti minggu lalu!”, kata Ji Min sambil muka cemberutnya</p>
<p>Haerin tertawa dengan manisnya, memilik dari sepasang mata tadi juga ikut tersenyum. Ya, senyum wanita ini memang sangat mempesona semua pria normal manapun, tak terkecuali yang satu ini.</p>
<p align="center">&#8212;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ji Min’s POV</strong></p>
<p>Aku meninggalkan Haerin sendirian di taman kampus kami, sebenarnya aku kasihan kepadanya, tapi bagaimana lagi? Daripada aku dipukuli <em>eomma</em> lagi? Itu kan sakit sekali tahu!</p>
<p>Ternyata berjalan di kampus sendiri pada jam segini seram juga, lain kali aku akan menunggu Haerin saja, aku lebih takut pada hal – hal gaib ketimbang dipukuli eomma terus – menerus. Perasaanku makin lama makin tidak enak saja, aku merasa ada mata yang mengikuti gerak – gerikku terus menerus.</p>
<p>Aku lalu melihat sebuah siluet mendekat kearahku, badanku bergetar, aku mulai berkeringat dingin, mulutku mengucapkan doa tak henti, mataku menutup refleks dan menunggu ajalku tiba.</p>
<p>Tepukan hangat terasa di bahuku, aku kaget setengah mati dan refleks melompat mundur, tak berani membuka mata. Aku berpikir keras, apakah ada hantu yang berdarah panas? Lagipula mengapa hantu bisa memegang manusia? Bukankah hantu itu menembus semua benda – benda duniawi? Pertanyaan – pertanyaan tersebut tak henti – hentinya menguasai pikiranku yang panik tak kepalang ini.</p>
<p>Aku memberanikan diri membuka mataku dan menatap sekelilingku, tidak ada siapa – siapa disana, atau karena ini sudah malam jadi aku tidak dapat melihat sekelilingku dengan jelas? Seseorang menepuk pundakku lagi, spontan aku menoleh kebelakang dan kaget setengah mati menemukan makhluk yang menyerupai manusia berdiri tegak disana.</p>
<p>“Tenang, aku bukan setan, aku ini manusia”, kata pria itu sedikit ketus</p>
<p>“<em>Nu… nuguseyo (kamu ini siapa)</em>?”, suaraku bergetar</p>
<p>“<em>Naneun Cho Kyuhyun ineyo (aku adalah Cho Kyuhyun)</em>, aku datang kesini untuk melihat <em>Haerin-ssi</em>, kau mengenalnya bukan? Bahkan kau bercakap – cakap dengannya lama sekali. Pasti kau ini <em>best-friend </em>nya bukan?”</p>
<p>“Aaaah, ini yang namanya Cho Kyuhyun, yang Haerin tunjukkan padaku fotonya tadi! Ternyata lelaki ini lebih tampan dilihat wujud aslinya dibandingkan di foto. Beruntung sekali Haerin menyukai orang seperti dia, sudah tampan, baik pula, dan aku yakin Kyuhyun-<em>ssi</em> juga menyukai Haerin, kalau tidak mengapa ia rela jauh – jauh datang dari café apgeujong hanya untuk melihatnya?”, ucapku dalam hati, sambil senyum – senyum sendiri karena membayangkan masa depan Haerin yang akan indah</p>
<p>“Mengapa kau senyam – senyum sendiri? Kau ini gila ya? Senyum mu itu seperti kuda tahu! Senyum Haerin jauh lebih mempesona dari pada kau!”, kata Kyuhyun jengkel</p>
<p>MMWWOOO??!!! Aku tidak salah dengar bukan? Ia mengatakan aku seperti kuda? Dia pikir dia siapa? Berani – berani nya berkata kurang ajar tentang diriku! Rupanya aku telah benar – benar salah 100% menilai orang ini hanya dari penampilannya saja.</p>
<p>“MWO?! Apa kau bilang? Daripada kau seper….”, kata – kataku terpotong dengan kedatangan pangeran berkuda putihku yaitu Lee Donghae. Pangeran memang selalu datang pada saat waktu yang tepat, bukan? Adegan ini terlihat seperti di film – film romatis yang sering aku dan Haerin tonton, hehehe.</p>
<p>“<em>Oppa, annyeong</em>! Apa yang <em>oppa</em> lakukan disini malam – malam begini? Apakah<em> oppa</em> datang untuk menjemputku?”, kataku dengan mata berbinar</p>
<p>“Hei, Ji Min. <em>Mianhae</em>, aku datang bukan untuk menjemputmu, melainkan untuk menjemput Haerin, hehehe, apakah merusak suasana kalian berdua?”, kata Donghae oppa dengan tampang tidak bersalah, sedangkan hatiku ingin keluar dari rongganya sekarang juga, aku sesak, ingin rasanya aku terjun kemanapun juga</p>
<p>Aku melihat Kyuhyun mengerutkan dahi, lalu memasang muka datar seperti biasanya kembali.</p>
<p>Aku rasa ia melihat butiran – butiran air mata mulai membasahi mukaku</p>
<p>“Aaahh<em>, ne, oppa</em>, kalau begitu aku akan pergi sekarang, <em>annyeong</em>”, kataku terburu – buru, ingin cepat – cepat pergi, sambil menahan tangis kepedihan ini.</p>
<p><strong>Donghae’s POV</strong></p>
<p>Ada apa dengan Ji Min? Ia terlihat sangat aneh tadi. Apakah ia sedang sakit? Hmm, sebaiknya nanti aku tanyakan hal ini pada Haerin saja.</p>
<p>Oh ya, aku lupa ada Cho Kyuhyun yang berdiri mematung sejak tadi, tanpa gerakan, tanpa suara sama sekali.</p>
<p>“Hei Kyuhyun<em>-ah</em>, kau kenapa?”, kataku berusaha terdengar sesimpatik mungkin, padahal aku tidak terlalu peduli dengannya.</p>
<p>“Aku? Aku tidak ada masalah, sekarang masalahnya ada pada Ji Min, kau yang memulai semua ini maka kau lah yang harus menyelesaikannya sendiri”</p>
<p>“Apa salahku pada Ji Min? Aku tidak menyakitinya sama sekali. Aku hanya menyapanya dan menjawab apa yang ia tanyakan, bukan?”, aku dikelebati rasa bingung seketika</p>
<p>“Terserah kau saja, <em>hyung</em>. Intinya aku tidak mau ada siapapun yang tersakiti. Sekarang, urusilah putrimu itu. Ia mungkin menunggumu di taman belakang”, kata Kyuhyun sambil berlari pergi, mungkin mengejar Ji Min? Dari nada suaranya ia terlihat tidak peduli dengan Haerin, padahal aku yakin hatinya berkata lain.</p>
<p><strong>Kyuhyun’s POV</strong></p>
<p>Aku tidak habis pikir dengan Donghae <em>hyung</em>, apakah ia tidak mengetahui kalau Ji Min menyukainya? Walaupun Ji Min belum mengatakannya secara langsung, mana mungkin Donghae <em>hyung</em> tidak tahu sama sekali? Aku saja yang tidak ada hubungannya saja bisa tahu dari tingkah laku Ji Min terhadap Donghae. Apakah Donghae hyung terlalu <em>babo</em>? Atau terlalu polos?</p>
<p>Peduli apa aku soalnya, yang penting sekarang adalah bagaimana caranya agar aku bisa mendekati Haerin. Bukan rasa simpatik ku yang muncul saat aku berlari mengejar Ji Min, aku mengejarnya karena aku ingin mendapat <em>image </em>baik didepan Ji Min, ya, sepertinya mulai sekarang aku harus baik kepada semua orang yang dekat dengan Haerin, aku akan memulainya dari Jung Ji Min, sehingga bisa mempermudahku untuk lebih dekat dengan Haerin. HAHAHA, kau memang <em>evil </em>sekali Cho Kyuhyun.</p>
<p><strong>Ji Min’s POV</strong></p>
<p>Tak sadar, air butiran – butiran kristal turun membasahi pipiku. Aku benar – benar malu, <em>neo babo babo babo </em>Ji Min! Bisa – bisanya kau berbicara pede seperti itu didepan orang yang kau sayangi itu! Tadi ada juga si <em>evilkyu</em>, jadi demi apapun seribu persen kemungkinan yang terjadi adalah anak setan itu akan mem<em>bully</em>-ku habis – habisan jika aku bertemu dengannya lagi. Huh, dunia memang menyebalkan.</p>
<p>Aku mendengar namaku dipanggil oleh seseorang. Tunggu, apakah itu suara seorang Cho Kyuhyun? Hah, dia? Mana mungkin dia mengejarku? Dia bahkan sangat ketus tadi dan tidak peduli padaku saat berbicara tadi.</p>
<p>Asal suara tadi semakin mendekat, aku semakin bisa mendengar jelas bahwa itu benar – benar suara milik Kyuhyun. Aku mulai menghapus air mataku, aku malu jika Kyuhyun harus melihat air mataku yang mungkin banyaknya sudah melebihi dari Sungai Han.</p>
<p>Dalam sejekap Kyuhyun sudah berada dihadapanku. Air mataku masih menetes, aku sedang berusaha sekeras mungkin untuk tidak terlihat lemah dihadapannya. Kuperhatikan wajahnya saksama, Ia terlihat begitu lelah, mungkin berlari untuk mengejarku sedari tadi. Napasnya terengah – engah, seperti orang yang baru saja menyelesaikan lari maraton. Air mukanya sedari tadi menunjukkan kalau ia benar – benar sungguh kasihan padaku.</p>
<p>Tiba – tiba tanpa kuketahui terlebih dulu setan mana yang merasuki tubuhnya, aku ditarik pelan – pelan, yang menjadikan posisi tubuhku menempel padanya, aku terlonjak, alisku berkerut heran, tapi semuanya sudah terlambat. Sekarang kepalaku berada dibawah kepalanya, maka dari itu ia dengan mudahnya ia mengusap rambutku, layaknya seorang <em>namjachingu-</em>ku, yang menjadikan tangisku semakin menjadi – jadi. Mengapa bukan Donghae oppa saja yang melakukan ini padaku?</p>
<p align="center"><em>To Be Continued</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Our Destiny Part 1]]></title>
<link>http://sexyfreesingle.wordpress.com/2012/07/29/our-destiny-part-1/</link>
<pubDate>Sun, 29 Jul 2012 11:04:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>karinahae</dc:creator>
<guid>http://sexyfreesingle.wordpress.com/2012/07/29/our-destiny-part-1/</guid>
<description><![CDATA[Title: Our Destiny Author: karinahae Main Cast: Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Park Haerin (OC), Jung Ji]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://sexyfreesingle.files.wordpress.com/2012/07/our-destiny.jpeg"><img class="size-medium wp-image-13 aligncenter" title="our-destiny" src="http://sexyfreesingle.files.wordpress.com/2012/07/our-destiny.jpeg?w=468&#038;h=656" alt="" width="468" height="656" /></a></p>
<ul>
<li>Title: Our Destiny</li>
<li>Author: karinahae</li>
<li>Main Cast: Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Park Haerin (OC), Jung Ji Min (OC)</li>
<li>Genre: Romance, Friendship</li>
<li>Length: Chapter</li>
<li>Rating: General</li>
</ul>
<p align="center">Please <strong>Rate</strong> and <strong>Comment</strong> ^^</p>
<p>Part 1</p>
<p><strong>Author’s POV</strong></p>
<p>Seorang wanita terlihat sedang menikmati pemandangan malam kota Seoul dari sebuah café di daerah Apgujeong. Wanita itu sesekali menyesap <em>coffee latte</em> yang ia pesan sambil memasukkan potongan – potongan kecil <em>cheese cake</em> kedalam mulut mungilnya. Wanita itu adalah Park Haerin, ya tidak salah lagi, siapa lagi yang rela keluar malam – malam hanya untuk menikmati segelas <em>coffee latte</em> dan sepotong <em>cheese cake</em> ditengah udara yang sedingin ini? Park Haerin, seorang mahasiswa jurusan kedokteran di KyungHee University, kedua orangtua nya tinggal di Jakarta karena urusan bisnis, jadilah Haerin tinggal di Seoul hanya seorang diri, maka dari itu ia seringkali kesepian karena ia juga tidak mempunyai seorang adik maupun kakak yang menemaninya</p>
<p>Haerin mempunyai seorang sahabat, namanya Jung Ji Min. Ji Min sangat terkenal di kampus, bukan hanya cantik, ia supel dan sangat mudah bergaul, maka dari itu semua mahasiswa senang kepadanya, tidak seperti Haerin yang lebih suka memilih diam dan menyendiri daripada bergaul dengan orang lain</p>
<p>Setelah kelas usai hari ini, Ji Min dengan terburu – buru berjalan ke meja Haerin, sahabatnya. Ia lalu mengulas sebuah senyum permohonan beserta puppy eyes nya</p>
<p>“Haerin-<em>ah</em>, ayo kita pergi ke café biasa, aku ingin sekali minum <em>coffee macchiato</em>, ayolah Haerin temani aku”, rengek Ji Min manja</p>
<p>“Ah, paling kau hanya ingin melihat barista yang kau bilang tampan bernama Lee Donghae itu bukan?”, tebak Haerin</p>
<p>“Hehehe itu juga salah satu alasanku sih”, ucap Ji Min malu</p>
<p>“Hahaha kau ini ada – ada saja, baiklah ayo kita pergi, <em>kaja</em>!”, kata Haerin</p>
<p><strong>Haerin’s POV</strong></p>
<p>Sore ini aku dan Ji Min pergi ke café yang sudah tidak asing lagi bagi kami di daerah Apgujeong. Terpaksa aku pergi kesini karena aku tidak tega menolak permintaan Ji Min. Kami berjalan memasuki café itu, tetapi aku mendapati suatu kejanggalan, pelayan café yang biasanya menyambut kami sewaktu datang, sekarang sudah tergantikan dengan sosok seorang pria bernama Lee Donghae. Ia mempersilahkan aku dan Ji Min duduk dan mulai mencatat pesanan kami</p>
<p>“Nona mau pesan apa?”, tanya Donghae sopan</p>
<p>“A..aku pesan satu <em>coffee macchiato</em> dengan <em>whipped cream</em>, untuk <em>cake</em> nya aku pesan <em>tiramisu</em>”, ujar Ji Min  gugup. Kulihat mukanya memerah, hahaha aku sudah mau tertawa terbahak – bahak kalau tidak takut dikira gila oleh orang lain.</p>
<p>“Kalau Nona ini mau pesan apa?”, tanya Donghae kepadaku</p>
<p>“Aku pesan satu <em>coffee latte</em> dan <em>cheese cake</em>”, jawabku singkat sambil menahan tawa</p>
<p>“Baik nona, pesanan Anda akan siap dalam 10 menit”, ujar Donghae sambil tersenyum</p>
<p>Setelah Donghae mencatat dan menghilang ke dapur, aku menggoda Ji Min sambil menyenggol – nyenggol bahunya</p>
<p>“Ji Min-<em>ah</em>, mukamu sudah merah seperti tomat saat Donghae menanyakan pesananmu! Bahkan dia sempat tersenyum ke arahmu! Beruntung aku masih bisa menahan tawa tadi, kekeke”, ledekku sambil tertawa – tawa kegirangan</p>
<p>“Yaaaa!! Park Haerin!! <em>Neo jugesseo</em>!! Nanti Donghae mendengarnya kalau kau bicara seperti toa begitu”, seru Ji Min sambil tersenyum sesekali</p>
<p>“Hahaha, buktinya kau masih senyum – senyum sendiri sampai sekarang! Sudah akui saja kau bukan hanya mengaguminya, tapi mulai menyukainya, iya kan?”</p>
<p>“Entahlah, aku  tidak yakin perasaan ini hanya sekedar mengaguminya saja ataukah aku mulai menyukainya, aku bingung Haerin-ah, <em>eottokhe</em>?”</p>
<p>“<em>If you like him, just fight for him</em>, Ji Min-ah”</p>
<p>Baru Ji Min membuka mulutnya untuk menjawabku, Donghae datang membawakan segelas <em>coffee latte</em> dan <em>macchiato</em> hangat, beserta cheese cake dan tiramisu pesananku dan Ji Min. Aku langsung menyantap habis kopi dan kue yang lezat itu.</p>
<p align="center">&#8212;</p>
<p>Aku dibangunkan oleh silaunya sinar matahari yang masuk ke kamarku pagi ini, aku melirik sekilas jam weker yang bertengger manis di sampingku</p>
<p>“<em>MWOYA</em>!!!! Sudah jam 10? Padahal aku ada kuliah jam 10.30!!! <em>Oh my God</em>!”, aku berteriak frustasi sambil mengacak – ngacak rambutku</p>
<p>Aku bergegas turun dari ranjang empukku ini dengan malas, namun apa daya, kalau tidak Kim <em>songsaengim </em>pasti akan membunuhku karena selalu datang telat dikelasnya. Aku baru akan bergegas masuk ke kamar mandi, saat sebuah suara membuatku kesal, suara ringtone <em>handphone</em>-ku, menandakan ada yang menelponku, ah ternyata Ji Min yang menelponku pagi – pagi, tambah merusak <em>mood</em>-ku saja orang ini. Lalu kuangkat telfonnya dengan suara malas</p>
<p>“<em>Wae</em>?”, bentakku marah</p>
<p>“Haerin-<em>ah</em>, kau dimana? Kau gila belum ada di kampus jam segini?”, aku melirik jam sekilas dan langsung terlonjak</p>
<p>“<em>MWOYA</em>!!!!? Ini sudah jam 10.15?! <em>Oh my</em>!”. Langsung ku tutup telfonnya dan berlari ke kamar mandi</p>
<p>Setelah 5 menit mandi kilat ku, aku terburu – buru berlari ke halte bus Apgujeong, aku tidak ingin terlambat ke kampusku yang berada di daerah Dongdaemun, distrik perbelanjaan di Seoul, mengingat betapa jauhnya jarak ke kampusku dari sini. Tiba – tiba ada seorang yang menepuk pundakku, aku terlonjak kaget saat melihat orang tersebut</p>
<p>“Haerin-<em>ssi, </em>ingat aku?”, kata orang tersebut</p>
<p>“D..Donghae-<em>ssi</em>? Ada apa?”, kataku takut – takut</p>
<p>“Syukurlah kau ingat aku, hmm.. aku kebetulan baru saja lewat daerah sini, apakah kau butuh tumpangan?”, kata Donghae menawari</p>
<p><em>Eottokhe</em>? Bus yang kutunggu belum juga datang dari tadi, apakah aku harus menerima tumpangan Donghae? Tapi dia ini orang asing, aku tidak tahu jelas siapa dia. Arghhh, tapi mau bagaimana lagi, waktu tidak bisa dikompromi</p>
<p>“Ah, apakah tidak merepotkan, Donghae-<em>ssi</em>?”, kataku malu – malu</p>
<p>“<em>Aniya, gwaenchana,</em>Haerin<em>-ssi”</em></p>
<p>“<em>Geurom</em> Donghae-<em>ssi</em>, kalau begitu aku ikut kau ya”</p>
<p>“Oke<em>, kaja</em>!”</p>
<p>Aku lalu masuk ke mobil hitamnya. Apakah pekerja part time bisa membeli mobil semewah ini? Ah, aku tidak ingin ambil pusing, toh mobil ini milik Donghae, bukan milikku.</p>
<p>Selama perjalanan tidak ada satu pun dari kami yang berniat membuka pembicaraan, sampai akhirnya Donghae membuka suara</p>
<p>“Haerin-<em>ssi</em>, kau mau kemana?”, tanya Donghae sedikit bingung</p>
<p>“Aku mau ke kampus Donghae-<em>ssi</em>, Kyunghee University, apakah kau tahu dimana? <em>Mianhae</em> merepotkanmu”, jawabku tak enak hati</p>
<p>“Ah, Kyunghee University, tentu saja aku tahu, itu searah dengan café tempat aku bekerja part time, bukan? Hahaha”</p>
<p>“<em>Ne</em>, Donghae-ssi, sekali lagi maaf merepotkanmu”</p>
<p>“<em>Aniya, gwaenchana </em>Haerin<em>-ya</em>, jangan panggil aku <em>Donghae-ssi</em>, itu sangat tidak kasual, panggil aku Donghae <em>oppa</em>!”</p>
<p><em>Mwo</em>??!! Aku sangat malu, apalagi aku belum terlalu mengenal orang ini. Jangan – jangan dia akan berbuat jahat kepadaku. Aish, bagaimana lagi, aku tidak enak sudah merepotkannya, baiklah….</p>
<p>“Aa..ah <em>ne,</em> Donghae <em>oppa</em>~”</p>
<p>“Nah, begini terdengar lebih baik, sebaiknya kau turun karena dari tadi kita sudah sampai Haerin-<em>ah</em>, nanti kau telat masuk kelas kalau tidak segera turun”</p>
<p>Aku melirik sekilas sekitarku… <em>MWO</em>??! Sudah sampai? Apakah aku terlalu asik melamun dari tadi sampai tidak sadar kalau sudah berada di kampus? Aku melihat jam ku memastikan aku belum telat untuk masuk kelas seperti yang dikatakan Donghae <em>oppa</em>… YAAAA!!!!! Ini sudah jam 10.30!!!! Aku harus buru – buru lari kekelas sebelum Kim songsaengim mengeluarkanku dari kelas.</p>
<p>“Aku duluan Donghae <em>oppa</em>, <em>kamsahamnida</em> atas tumpangannya, <em>annyeong haseyo</em>”</p>
<p>Lalu aku berlari meninggalkan Donghae <em>oppa</em> yang sedikit kebingungan melihat tingkahku.</p>
<p><strong>Donghae’s POV</strong></p>
<p>Aku lihat punggung wanita yang baru saja kuantar itu kian menjauh dan hilang dari pandangan mataku. Aku tersenyum melihatnya, Ya, tidak bisa kupungkiri aku memang sudah jatuh dalam pesonanya saat pertama kali ia datang ke café tempatku bekerja. Saat pandangan kami pertama bertemu, jantungku serasa kian melompat dari rongganya.</p>
<p>Maka dari itu aku selalu mengikutinya pulang, bahkan terkadang sampai mengamatinya seusai kuliah, berharap mengetahui tempat tinggalnya dan berusaha mengenalnya lebih jauh. Apakah kau tahu? Tadi itu adalah salah satu caraku mendekatinya, rumahku bukan dari dekat daerahnya, aku sengaja berangkat pagi – pagi untuk menjemputnya. Hahaha, usahaku sukses bukan?</p>
<p><em>I will definitely make her be my girl. </em></p>
<p><strong>Haerin’s POV</strong></p>
<p>Sepulang kuliah hari ini, aku berniat mengunjungi café tempat Donghae bekerja, aku ingin mengucapkan terimakasihku kepadanya sekali lagi.</p>
<p>Aku melangkahkan kaki memasukki café saat aku melihat sepasang mata memandangku, aku mengerutkan keningku, siapa orang ini? Apakah dia pelayan baru?</p>
<p>Donghae mempersilahkan aku duduk di bangku lalu seakan bisa membaca pikiranku, ia menjawab “Dia adalah pelayan baru Haerin-<em>ya</em>, menggantikan pelayan yang biasanya melayani kau”</p>
<p>“Namanya Cho Kyuhyun”, kata Donghae lagi</p>
<p>“Oh.. Ya sudah Donghae <em>oppa</em>, aku pesan biasa saja ya”</p>
<p>“<em>Ne</em>, Haerin-<em>ah</em>”</p>
<p>Aku mengingat – ingat tujuanku untuk datang ke café ini, hmm.. Bukankah untuk berterimakasih pada Donghae <em>oppa</em>? <em>MWO</em>??! Bahkan aku lupa untuk berterimakasih padanya karena memperhatikan seorang Cho Kyuhyun daritadi. <em>Mwo</em>? Aku memperhatikannya? Aishh, sekarang dia malah menatapku, mukaku pasti sudah merah seperti kepiting rebus sekarang. Aku lalu menghampiri Donghae <em>oppa</em> yang sedang meng-<em>input </em>pesananku ke komputer.</p>
<p>“Ada apa Haerin-<em>ah</em>?”</p>
<p>“<em>Aniyo oppa</em>, aku hanya ingin berterimakasih untuk tadi pagi, kalau tidak ada kau, aku tidak tahu bagaimana jadinya nasibku, <em>oppa gomawo</em>”</p>
<p>“<em>Gwaenchana </em>Haerin<em>-ah</em>”, katanya sambil mengacak – acak rambutku</p>
<p>Aku menatap Donghae oppa sambil mengerucutkan bibirku, aishh <em>oppa</em> ini, merusak rambutku saja! Donghae <em>oppa </em>malah tertawa saatku cemberut seperti itu, ah sebaiknya aku kembali saja ke mejaku, aku sebal dengan Donghae <em>oppa</em>! Huhh</p>
<p>Baru saja aku duduk kembali di bangku ku, seorang mengantarkan pesananku, ya pria tampan itu yang mengantarkan pesananku, Cho Kyuhyun, kalau aku lihat dari dekat, ia jauh lebih tampan, terlihat polos dan sangat <em>innocent</em>. Jantungku berdegup tak karuan, tubuhku hanya berjarak 10 senti darinya, semoga ia tidak mendengar degup jantungku ini, ah aku malu sekali,<em> eomma eottokhe</em>?</p>
<p>“<em>Masitge juseyo</em>”, ucap Kyuhyun membangunkanku dari alam lamunan, sambil tersenyum</p>
<p>“Aa..ah, ne <em>kamsa</em>.. <em>hamnida</em>”</p>
<p>Sial! Kenapa aku berbicara terbata – bata? Aku jadi seperti tertangkap basah memperhatikannya sedari tadi. Dan senyumnya itu, terlukis di wajahnya yang membuatnya semakin mempesona</p>
<p><strong>Kyuhyun’s POV</strong></p>
<p>Ah, sudah berkali – kali aku dimarahi oleh bosku karena kelalaianku bekerja, hari ini adalah hari pertama aku masuk kerja di sebuah coffee shop, aku sudah tidak betah bekerja disini. Kalau saja wanita itu tidak masuk ke coffee shop ini, mungkin sekarang aku sudah mengajukan surat pengunduran diri.</p>
<p>Ya, wanita itu, Donghae-<em>ssi</em>, rekan kerjaku memanggilnya Haerin. Apakah mereka sudah sedekat itu? <em>Oppa dan dongsaeng</em>? Seperti itukah hubungan mereka? Aku rasa Donghae mengharapkan sekedar lebih dari hubungan itu. Kyuhyun, kau harus cepat bertindak sebelum didulukan oleh Donghae!</p>
<p>Cara berjalannya, cara duduknya, caranya berbicara, semuanya begitu mempesona bagiku, wanita itu bak malaikat dimataku, aku tidak bisa berkata aku tidak jatuh dalam pesonanya, dari sejak kedua bola mata kami bertemu.</p>
<p><strong>Donghae’s POV</strong></p>
<p>Hari ini café sangat ramai, aku sangat lelah melayani tamu – tamu yang datang tak kunjung usai, sampai kulihat ada malaikatku datang ke café ini dengan senyuman mautnya, ah itu yang paling membuatku tak tahan melihatnya.</p>
<p>Ah, anak baru ini, Kyuhyun, ikut – ikutan menatapnya juga, aku rasa ia juga jatuh dalam pesona Haerin, karena memang wanita ini begitu sempurna dimata setiap kaum adam. Siapa pria yang tidak  akan tertarik dengan wanita <em>angelic</em> seperti dia? Aku harus menyusun rencana sebelum Haerin jatuh ke pesona Kyuhyun.</p>
<p><strong>Author’s POV</strong></p>
<p><em>Nunmuri chaollaseo gogael deureo<br />
Heureuji motage tto saljjak useo<br />
Naege wae ireoneunji museun mareul haneunji<br />
Oneul haetdeon modeun mal jeo haneul wiro</em></p>
<p>Lagu Good Day yang dinyanyikan oleh IU berkumandang dikamar Haerin pagi ini, menyadarkan Haerin dari alam mimpinya</p>
<p>Haerin melihat <em>handphone</em>-nya sekilas, mengecek siapa yang menelfon dipagi hari yang cerah seperti ini.</p>
<p>“<em>Yeobuseyo</em>”, sapa Haerin malas</p>
<p>“Haerin-<em>ah</em>, kita harus bertemu sekarang juga! Aku punya berita yang mengagetkan! Cepat kau ke kampus sekarang juga! <em>Ppaliwa</em>~”</p>
<p>“<em>Wae</em>? Aku masih ingin tidur, lagi pula aku tidak ada kelas hari ini”</p>
<p>“<em>It’s up to you, you’ll regret if you didn’t come</em>”</p>
<p>“Sudah cepat bicara saja sekarang di telfon, Ji Min-<em>ah</em>”</p>
<p><em>Tutt..Tutt..Tutt..</em></p>
<p>“Aishh, anak ini memang pintar sekali membuat orang penasaran. Huhhhhh”</p>
<p align="center">&#8212;&#8211;</p>
<p>Disinilah Haerin sekarang, Kyunghee University, mencari – cari Ji Min, temannya. Haerin sudah mencari ke setiap sudut ruangan, tapi hasilnya <em>nihil</em>. Tinggal satu tempat yang belum ia datangi, yaitu kantin. Haerin melangkahkan kakinya ke tempat itu, dan mencari – cari sosok Ji Min. Saat pandangannya menyapu seisi kantin, Haerin menemukan Ji Min sedang duduk bersama teman – temannya yang lain. Haerin lalu menepuk pundak Ji Min dan member isyarat untuk mengajaknya bicara empat mata.</p>
<p>“Ji Min-<em>ah</em>, kau bilang ingin membicarakan suatu hal penting denganku? Aku sudah rela meninggalkan kasur empukku hanya untuk mendengarkan celotehanmu, <em>malhaebwa ppaliwa</em>~”</p>
<p>“Kau ingat barista tampan bernama Lee Donghae itu, bukan? Aku kemarin membolos kelas Kim <em>songsaengim</em> demi mencari informasi tentangnya dari salah seorang pegawai café itu”</p>
<p>“<em>Mwo</em>?! Kau membolos kelas Kim <em>songsaengim</em>? Kau cari mati Jung Ji Min-<em>ssi</em>?”</p>
<p>“Habisnya mau bagaimana lagi, aku penasaran sekali dengan pria tampan itu”</p>
<p>“Lalu, sekarang kenapa kau menyuruhku kesini pagi – pagi begini? Hanya ingin memberitahukan itu?”</p>
<p>“<em>Wait</em>, Haerin-<em>ah</em>! <em>I have one more important news for you</em>”, ucap Ji Min sambil mengulas <em>evil smile</em>-nya.</p>
<p>“<em>Mwo</em>?! Apa lagi? <em>Malhaebwa</em>!”, kata Haerin tidak sabaran</p>
<p>“Lee Donghae adalah anak seorang pengusaha kaya. Kau tahu SJ <em>department store</em> bukan? Nah itu adalah milik ayah Donghae. Ia hanya bekerja part time karena ia ingin hidup mandiri, tidak tergantung pada orang tuanya”, cerita Ji Min menggebu – gebu</p>
<p>Haerin terlihat berpikir sejenak lalu membuka mulut membalas perkataan Ji Min.</p>
<p>“Oh, hanya itu saja?”, kata Haerin malas</p>
<p>“<em>Wae</em>? Kenapa kau tidak terkejut? Aku saja sangat kaget saat aku mendengarnya. Kau ini, tidak asik sekali”</p>
<p>“<em>I’ve already known”, </em>kata Haerin membuat Ji Min heran.</p>
<p><strong>Haerin’s POV</strong></p>
<p>Ah, Ji Min menyebalkan sekali, menyuruhku datang ke kampus pagi – pagi hanya untuk menceritakan yang tidak penting seperti itu. Pantas saja, saat aku menumpang mobilnya, perasaanku sudah tidak beres, ternyata Donghae adalah anak seorang pengusaha kaya. Tidak heran ia punya mobil yang mewah seperti itu.</p>
<p>Dimana aku sekarang? Di depan café di Apgujeong? <em>MWO</em>??!! Aku berjalan dari Kyunghee ke Apgujeong? Aishh, <em>neo babo</em> Haerin.</p>
<p>Apakah aku harus mampir sebentar ke café ini? Atau hanya langsung pulang ke rumah? Aku rasa segelas <em>coffee latte </em>dan <em>cheese cake</em> bukanlah hal yang buruk untuk memperbaiki <em>mood</em>-ku.</p>
<p align="center"><em>To Be Continue</em></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
