<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>juni-2008 &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/juni-2008/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "juni-2008"</description>
	<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 18:15:32 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[TEMA SEKS DALAM LIMA NOVEL  YANG DITULIS OLEH NOVELIS PEREMPUAN INDONESIA]]></title>
<link>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/tema-seks-dalam-lima-novel-yang-ditulis-oleh-novelis-perempuan-indonesia/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 06:10:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>metasastra</dc:creator>
<guid>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/tema-seks-dalam-lima-novel-yang-ditulis-oleh-novelis-perempuan-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Nandang R. Pamungkas &nbsp; Abstrak Akhir-akhir ini dunia sastra Indonesia diwarnai oleh kemunculan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Nandang R. Pamungkas</strong><strong> </strong></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Akhir-akhir ini dunia sastra Indonesia diwarnai oleh kemunculan novel-novel yang ditulis oleh novelis perempuan. Novel-novel para novelis perempuan yang muncul antara tahun 2002—2004 pada umumnya secara gamblang menyampaikan berbagai hal tentang seks. Kehadiran <em>Larung</em> (Ayu Utami), <em>Ode untuk Leopold Von Sacher Massoch</em> (Dinar Rahayu), <em>Wajah Sebuah Vagina</em> (Naning Pranoto), <em>Garis Tepi Seorang Lesbian</em> (Herlinatien), <em>Tujuh Musim Setahun</em> (Clara Ng), di samping mengundang decak kagum karena memperlihatkan terkembangnya layar estetika baru juga menuai kritik. Semua itu tak lain karena dampak dari karya sastra yang telah mengeksplorasi tema seks dengan narasi yang vulgar, binal, dan sarkastik.</p>
<p>Dalam kelima novel tersebut penokohan perempuan dan tema seks begitu terasa mendominasi. Para perempuan dalam novel-novel tersebut semuanya dililit oleh permasalahan cinta dan seksual. Permasalahan tersebut di antaranya, perselingkuhan, penindasan, budaya patriarkat, dan feminisme. Bahkan, lebih dari itu seks menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan perempuan yang disuarakan oleh perempuan pengarang. Meskipun beberapa novel menjadikan laki-laki sebagai tokoh sentral, tetapi secara umum cerita melibatkan begitu banyak tokoh perempuan.</p>
<p>Dalam kelima novel tersebut kita juga melihat pergeseran cara pandang para tokoh perempuan terhadap eksistensi laki-laki. Para perempuan tersebut tidak lagi melihat laki-laki sebagai laki-laki, tetapi menjadi objek atau mangsa. Kata tersebut secara gamblang disuarakan dalam kelima novel tersebut.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kata Kunci: s</strong>eksualitas, penokohan perempuan<!--more--></p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><em>Abstract</em></strong></p>
<p>&#160;</p>
<p><em>At the recently,  the world of Indonesian literature has been coloured by the emergence of novels  written by the female novelist. Novels of the female novelists emerging between the year 2002—2004 generally explicitly write about various sex issues. The presence of Larung (Ayu Utami), </em><em>Ode untuk Leopold Von Sacher Massoch      (Dinar Rahayu), </em><em>Wajah Sebuah Vagina (Naning Pranoto) Garis Tepi Seorang Lesbian (Herlinatien), and Tujuh Musim Setahun (Clara Ng) not only raises good opinion since it shows the new aesthetics screen but also criticism. All of them are  impact of the literary work that exploite the theme of sex with the vulgar, rebellious, and sarkastic naration.</em></p>
<p><em>In the five novels, the characterisation of the woman and the theme of sex looks like dominated. The women in these novels are  troubled by the  love and sexual problem. This problems are affair, the suppression, the patriarchy culture, and feminism. Moreover, more than that,  sex becomes something that was very important in woman lifr expressed by women writer. Although several novels make  man the leading figure, the story generally  involves  so many leading figures of the woman.</em></p>
<p><em> In the five novels we also see the shift women’ way of thinking of the leading figures towards the men existence. These women no longer see the man as the man, but to the object or prey. These words were explicitly expressed in the five novels. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Key word: sexuality, the women characterisation </em></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>1. Pendahuluan</strong></p>
<p>Pada kurun waktu antara tahun 2002—2004 dunia sastra Indonesia diwarnai oleh banyak bermunculan novel yang ditulis oleh novelis perempuan. Di antara novelis perempuan tersebut ada yang sudah terlebih dahulu karyanya terbit dan dikenal, seperti Ayu Utami dan Naning Pranoto, ada pula yang merupakan wajah baru, seperti Jenar Maesa Ayu, Clara Ng, Herlinatiens, dan Dinar Rahayu.</p>
<p>Di antara novel-novel para novelis perempuan yang muncul antara tahun 2002—2004 itu terdapat beberapa novel yang secara gamblang menyampaikan berbagai hal tentang seks. Karya sastra Indonesia mutakhir, khususnya karya  prosa yang ditulis oleh penulis perempuan, beberapa tahun belakangan ini amat gandrung mengusung tema seks. Baca saja<em> Saman </em>dan <em>Larung</em> (Ayu Utami), <em>Jangan Main-main dengan Kelaminmu</em> (Jenar Maesa Ayu), <em>Ode untuk Leopold Von Sacher Massoch</em> (Dinar Rahayu), <em>Wajah Sebuah Vagina</em> (Naning Pranoto), <em>Garis Tepi Seorang Lesbian</em> (Herlinatiens), dan <em>Tujuh Musim Setahun</em> (Clara Ng) yang kehadirannya di samping mengundang decak kagum karena memperlihatkan terkembangnya layar estetika baru, sekaligus menuai banyak kritik. Semua itu tak lain karena dampak dari karya sastra yang telah mengeksplorasi tema seks dengan narasi yang vulgar, binal, dan sarkastik.</p>
<p>Pembicaraan mengenai aspek seksual dalam karya sastra menjadi topik yang menarik. Masalah seksual menjadi lahan subur yang tak pernah kering untuk dikaji sehingga tak pernah sepi dari perbincangan. Selain menarik, masalah seks juga merupakan suatu realitas kehidupan manusia yang selalu mengundang pro dan kontra dan tidak pernah menemui titik akhir.</p>
<p>Eksistensi seksual dalam karya sastra memang tidak bisa diabaikan karena merupakan aspek kehidupan manusia. Freud dalam Brower (1984:90) menegaskan bahwa seksualitas adalah bagian kehidupan karena mengandung seluruh eksistensi manusia itu sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Umar Kayam yang menyatakan bahwa masalah seksual merupakan satu soal kemanusiaan yang selalu akan mengganggu kehidupan manusia. Oleh karena itu, masalah seksual akan selalu dijumpai dalam kesusastraaan kapan saja. Tidak dapat dimungkiri bahwa aspek seksual akan dijumpai dalam jalur-jalur hubungan halus antara sastra dan hasrat seksual manusia meskipun dalam wujud yang paling halus dan implisit.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2. Pembahasan</strong></p>
<p>Kupasan dalam tulisan berikut difokuskan pada penggambaran tokoh dan penokohan perempuan dalam novel<em> Wajah Sebuah Vagina</em> (Naning Pranoto), <em>Larung</em> (Ayu Utami), <em>Ode untuk Leopold Von Sacher Massoch</em> (Dinar Rahayu), <em>Tujuh Musim Setahun</em> (Clara Ng), dan <em>Garis Tepi Seorang Lesbian</em> (Herlinatiens). Selain itu, akan dikaji pula perbandingan unsur-unsur seks yang terdapat dalam kelima novel tersebut.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.1 <em>Wajah Sebuah Vagina</em></strong></p>
<p>Novel <em>Wajah Sebuah Vagina</em> karya Naning Pranoto berlatar masa kisahan, Oktober 1982 s.d. Januari 1983. Tersebutlah seorang wanita bernama Sumira dari desa Mijil, Pulau Jawa, yang kemudian dikenal sebagai Mira. Ayah dan ibu Mira telah dibunuh pada tahun 1965 oleh “petugas keamanan negara” karena ayah Mira adalah seorang anggota Barisan Tani Indonesia yang masih dipayungi Partai Komunis Indonesia (PKI). Mira kemudian dirawat oleh neneknya. Sebagai seorang anak keturunan PKI, Mira mendapat bermacam hinaan pada masa sekolahnya. Hal yang paling parah adalah ketika ia lulus SD, dalam usia empat belas tahun, kegadisannya direnggut oleh Lurah Prakosa yang senang hidup berfoya-foya dan merusak gadis-gadis muda.</p>
<p>Tak tahan menanggung malu, Mira pergi ke Surabaya. Di Surabaya oleh Mbak Dinah—tetangga yang dikunjunginya—Mira dijadikan pelacur selama lima tahun di rumah bordil yang dikelolanya. Mira melanjutkan hidup dengan mengomersialkan vaginanya, dinikmati oleh siapa saja yang mampu membayar, dan terkadang menyiksanya. Selanjutnya, ia bertemu dengan Suhar, sopir taksi. Mira menikah dengan Suhar dan hidup serba kekurangan karena uang tabungannya habis untuk mengobati neneknya yang sakit, tetapi tidak tertolong.</p>
<p>Kondisi rumah tangga Mira agak lumayan ketika ia ikut menambah penghasilan dengan berjualan bir. Mira menjual bir kepada seorang penumpang taksi, langganan suaminya. Pembeli bir itu adalah orang “londo” yang bernama Mulder. Ia mengaku kepada Mira sebagai pedagang berlian dan emas batangan. Mira kemudian tergoda oleh kemewahan yang dijanjikan Mulder. Untuk pertama kalinya, bahkan Mira merasa diperhatikan dan dihargai oleh Mulder yang menganggapnya rembulan. Mira pun bersedia mengikuti ajakan Mulder pergi ke Afrika meninggalkan Suhar suaminya.</p>
<p>Mulder mengajak Mira untuk kawin lari dengan iming-iming akan membahagiakannya. Awalnya hubungan mereka berjalan baik. Akan tetapi, ketika Mulder membawa Mira ke Afrika, Mira dibuang ke sebuah lubang di tempat terpencil. Kemudian, banyak lelaki yang datang untuk memperkosa Mira, bahkan ada yang memasukkan benda keras ke dalam lubang kemaluannya. Perasaan Mira sangat sakit. Tubuhnya terasa sudah tidak berdaya lagi. Sampai akhirnya ia ditemukan oleh masyarakat Zulu, penduduk asli bumi Afrika. Mira diselamatkan dan ditolong oleh seorang ibu yang sudah tua, pemuka masyarakat Zulu. Ibu itu sangat baik, bahkan mengusahakan kesembuhan Mira dari penyakit di tubuhnya dan gangguan psikologis yang menyelimutinya. Ibu itu juga mengusahakan kepulangan Mira ke kampung halamannya di Indonesia dengan mencari bantuan ke kota.</p>
<p>Mira (Sumirah), salah satu tokoh utama dalam novel ini, menggambarkan model perempuan yang dapat menaklukkan sekaligus ditaklukkan laki-laki. Tepatnya, lebih banyak ditaklukkan daripada menaklukkan. Sebagai wanita udik dari Desa Mijil yang terpencil di Jawa Tengah, Mira mengalami ketertindasan yang sadis karena perilaku buruk pasangan hidupnya (mereka tidak menikah), yaitu seorang lelaki kulit putih berdarah Belanda.</p>
<p>Kesengsaraan hidup Mira sebetulnya berawal dari kesalahannya sendiri. Sosok Mira adalah potret perempuan yang mudah dirayu, mata duitan, selalu berangan-angan menjadi nyonya besar, dan gampang dibujuk dengan janji-janji yang mematikan. Hanya demi harta dan kemewahan, Mira tega meninggalkan suaminya, seorang sopir taksi, lalu memilih hidup bersama lelaki bule, bernama Mulder, pengusaha berlian yang menganiayanya di kemudian hari.</p>
<p>Di akhir babak kehidupannya, Mira bagaikan kapas yang ditindih runtuhan bukit yang amat berat. Ia mengerang dan berontak untuk membebaskan dirinya dari tindihan itu. Akan tetapi, ia tak berdaya. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, ia berusaha kembali ke alam sadar keperempuanannya. Dalam suasana sekeliling yang gelap dan kerongkongan yang tercekik, Mira mendengar sayup-sayup lagu kematian. Suara-suara itu membuat tubuhnya bergetar hebat. Bersamaan dengan itu ia mendesis: ”Gusti, beri aku waktu untuk memperbaiki diri. Gusti, beri aku waktu untuk menebus dosa-dosaku.” Ia mendesis lagi dengan lidah kaku membeku (hlm. 6).</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>2.2 <em>Larung</em></strong></p>
<p><em>Larung </em>terbagi dalam tiga bagian. Seperti kita ketahui, <em>Larung</em> merupakan bagian atau kelanjutan dari novel<em> Saman</em>. Bagian pertama mengisahkan Larung (seorang laki-laki) yang mencari cara untuk membunuh neneknya yang berusia lebih dari 100 tahun, tetapi tak juga mati. Larung menganggap bahwa neneknya memiliki kekuatan yang mistik luar biasa. Larung menganggap bahwa neneknyalah yang telah menyebabkan kematian ibunya. Kematian neneknya menjadi misteri (yang dilakukan secara eutanasia oleh  Larung). Dalam bab tersebut digambarkan juga betapa Larung merasakan luka sejarah yang dimilikinya karena ayahnya terlibat dalam G30S/PKI.</p>
<p>Bagian kedua menceritakan kehidupan empat sahabat, yaitu Laila, Shakuntala, Yasmin, dan Cok. Seperti kita ketahui, tokoh-tokoh tersebut merupakan tokoh-tokoh yang ada dalam <em>Saman. </em>Mereka pergi ke New York untuk menonoton Shakuntala menari. Akan tetapi, sesungguhnya mereka pergi membawa misi yang lain. Yasmin membantu Saman, kekasihnya, untuk mencari dukungan bagi gerakan demokrasi di Indonesia. Laila ingin bertemu pacar gelapnya, Sihar.</p>
<p>Bagian ketiga mengisahkan upaya Larung dan Saman untuk menyelamatkan Wayan Togog, Bilung, dan Koba. Mereka adalah para aktivis Solidaritas Wong Alit yang dituduh menjadi dalang kerusuhan peristiwa 27 Juli. Mereka menjadi buronan polisi. Karena pembelaan itu pulalah, Larung dan Saman terbunuh.</p>
<p>Cok adalah sosok yang digambarkan sebagai perempuan yang jujur, terbuka, sekaligus liar. Sejak SMA Cok telah terbiasa melakukan hubungan intim dengan pacar-pacarnya. Sahabatnya, Shakuntala, mendeskripsikan wajah Cok, seperti “muka orang yang sedang bersenggama,” sedangkan Yasmin, menjulukinya “Si Perek” (hlm. 83).</p>
<p>Cok pun sangat menikmati perselingkuhannya dengan Brigjen Rusdyan Wardana yang mudah dipermainkan. Selain menjadi <em>backing</em> usaha hotelnya, selingkuhannya itu pernah dimanfaatkan oleh Cok untuk meloloskan Saman saat menjadi buronan.</p>
<p>Laila adalah perempuan yang mencintai laki-laki yang sudah beristri, Sihar. Sementara itu, Sihar tampil sebagai tokoh yang penuh kebimbangan. Sihar berselingkuh dengan Laila, tetapi selalu berusaha untuk setia kepada istrinya. Istri Sihar adalah seorang janda yang sudah tak mungkin memberikan anak kepada Sihar karena ada masalah pada rahimnya. Dalam benak Laila, Sihar menyukai istrinya karena perempuan itu sangat berpengalaman dan memiliki birahi yang besar. “Kamu nafsu pada tubuhnya yang panas, meski rahimnya telah dingin (hlm. 124).</p>
<p>Dalam situasi cinta yang terombang-ambing, Shakuntala masuk lebih jauh ke dalam kehidupan Laila, mulai dari hanya mengobrol, menata rambut, hingga mengajar tango, dan sebagainya. Laila seperti menemukan Sihar dan Saman dalam diri Shakuntala. Mereka pun menjadi pasangan lesbian meski tak terikat dan Laila tetap mencintai Sihar. Shakuntala sering merasa ada dua jiwa dalam dirinya, seorang perempuan dan seorang laki-laki yang saling berbagi untuk sebuah nama yang tak mereka pilih (hlm. 134).</p>
<p>Shakuntala merasa bahwa ia menjadi perempuan karena kedua orang tuanya selalu mengatakan bahwa dirinya seorang perempuan. Padahal menurut Shakuntala, setiap manusia memiliki dua atau beberapa diri dalam diri mereka, sebagaimana yang dialami dan dirasakannya sendiri, menurutnya “manusia tidak terdiri dari satu” (hlm. 134).</p>
<p>Masa kecil Shakuntala diwarnai dengan berbagai aturan yang diterapkan ayahnya berdasarkan gender. Bagi ayah Shakuntala, lelaki tidak boleh menangis dengan alasan apa pun. Lelaki juga harus pandai memanjat pohon kelapa. Ayah menyimbolkan pohon kelapa sebagai menara tempat kakak lelakinya melindungi adik-adik perempuannya dari “para raksasa” (hlm. 137).</p>
<p>Ketika dewasa, Shakuntala bertemu dengan seorang pesinden. Ia berguru kepadanya. Bahkan, Shakuntala sering menginap di rumahnya. Hal inilah yang menjadi momentum Shakuntala untuk menemukan jati diri yang sesungguhnya. Suatu malam aku duduk di sebuah ruang dan mengagumi dia menyayi tanpa pengiring, jiwa lelaki dalam diriku muncul dari belakang tubuhku, seperti energi yang lepas. Aku tidak bicara kepadanya, tetapi si pesinden itu melihatnya, lalu mereka menembang bersama. Lalu, mereka berdekatan &#8230; (hlm. 149). Sejak itu, Shakuntala menjadi seorang lesbian.</p>
<p>Yasmin adalah gambaran perempuan yang ideal. Waktu di SMA, Yasmin adalah primadona. Ia gambaran perempuan yang selalu menjadi nomor satu dalam hal prestasi, kecantikan, maupun moral (hlm. 82). Akan tetapi, Yasmin yang oleh Cok disebut “si munafik” ternyata memiliki fantasi-fantasi liar.</p>
<p>Ketika memasuki dunia patriarkat, ia merindukan penghukuman dan mendambakan dominasi laki-laki. Kerinduannya itu bertentangan dengan citra yang dibangunnya selama ini, yaitu Yasmin yang mandiri selalu punya keputusan rasional, pengacara yang cukup dihormati, aktivis hak asasi manusia, juga istri dari lelaki bernama Lukas. Yasmin merasa berbeda dengan perempuan lain. Yang membedakan aku dari para wanita yang mengukuhkan patriarkat adalah aku melokalisasinya pada fantasi seksual. Mereka menerima dominasi pria sebagai suatu ide total dan murni, suatu yang ideal. Mereka menerimanya sebagai nilai moral, aku sebagai nilai estetik (hlm. 161).</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>2.3 <em>Ode untuk Leopold Von Sacher Massoch</em></strong></p>
<p>Jonggi adalah seorang lelaki yang selama bertahun-tahun menjadi korban penyimpangan seks kakaknya sendiri. Tidak hanya itu, saat masih kecil hingga remaja, Jonggi pun menjadi korban pelecehan dan pemerkosaan ibunya yang kesepian meskipun sesungguhnya, ibunya memiliki selingkuhan.</p>
<p>Saat megikuti tugas ayahnya yang seorang diplomat ke Klaskow, Jonggi diperkosa dengan beringas oleh lima “tante-tante” yang menginap di rumah konsulat jenderal. Jonggi kembali ke Indonesia untuk kuliah. Akan tetapi, ia sempat dihajar massa karena mencabuli seorang gadis, tetangganya, yang masih di bawah usia. Sambil kuliah, Jonggi&#8211;yang juga mengidap masokhisme dan senang disiksa terlebih dahulu sebelum bercinta&#8211;menjadi penari (striptis) di sebuah klub. Di sana ia bertemu Dinar, yaitu seorang lelaki yang mengoperasi alat kelaminnya dan memilih menjadi perempuan.</p>
<p>Penokohan perempuan dalam novel ini, sebagaimana pada novel sebelumnya, berbeda dengan stereotip yang ada. Tokoh wanita yang mendapat porsi besar dalam novel ini adalah Kartika. Kartika adalah seorang guru, kaya, dan kesepian. Suaminya sering tidak pulang. Anaknya sudah remaja dan punya kegiatan sendiri.</p>
<p>Masa kecil Kartika tak kalah perih. Ia, adik, dan ibunya sering menjadi korban dari tindak kekerasan ayahnya. Kata-kata sang ayah yang selalu kasar, siksaan terhadap ibu di depan matanya, hingga pelecehan yang dilakukan ayahnya kepadanya saat ia berada di kamar mandi, membuat Kartika selalu berdoa agar ayahnya cepat mati. Lalu, muncul Sudiro yang melamar Kartika dan kemudian menjadi suaminya.</p>
<p>Kartika bertemu dengan Jonggi di sebuah klub, tempat Jonggi menari. Ia membayar mahal untuk bisa menghabiskan waktu bersama Jonggi (hlm. 147). Tokoh perempuan lain adalah ibu Jonggi, istri Dicky Kalangi. Ibu empat anak ini terlalu sering ditinggal suaminya dengan alasan berbakti pada ibu pertiwi. Akhirnya, ibu Jonggi berselingkuh dengan Gunnar yang lebih muda darinya (hlm. 112).</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>2.4<em> Tujuh Musim Setahun</em></strong></p>
<p>Novel ini berkisah tentang persahabatan lima perempuan yang terjalin sejak di bangku SMU. Kelima perempuan tersebut adalah Lara, Selena, Mei, Phoebe, dan Iris. Lara adalah seorang perempuan yang energik dan sangat terobsesi dengan seks, Selena perempuan yang senantiasa menjaga keperawanannya, Mei (ibu rumah tangga) yang tak pernah merasa puas dengan berhubungan intim dengan suaminya, Phoebe perempuan yang sejak remaja merasa (menyimpang) menyukai sesama jenis, dan Iris perempuan yang merasa kecewa dengan semua lelaki yang pernah singgah dalam kehidupannya. Phoebe sempat menikah dengan Ben, tetapi menurutnya pernikahan yang berakhir dengan perceraiann tersebut, seperti neraka. Phoebe dan Iris kemudian menjadi pasangan yang keberadaannya dideklarasikan di media cetak.</p>
<p>Tokoh yang lain adalah Nata, salah satu kekasih Lara di dunia <em>cyber</em>. Lara dan Nata akhirnya melanjutkan hubungan mereka di dunia nyata, bahkan mereka sepakat menikah. Sebelumnya, Nata yang berdomisili di Boston adalah kekasih Nuna. Nuna meninggal setelah koma sekian lama akibat tertembak karena terjebak dalam peristiwa perang antargeng. Nata sangat terpukul dengan kematian Nuna. Ia pun berhalusinasi bahwa kupu-kupu yang sering dilihatnya adalah jelmaan Nuna. Tampaknya bagi Nata, Lara belum sepenuhnya dapat menggantikan Nuna. Nata akhirnya bunuh diri, terbang bagai kupu-kupu untuk pergi bersama Nuna yang telah menjelma kupu-kupu sejak lama.</p>
<p>Sementara tokoh Michael—selingkuhan Lara saat ia sudah bertunangan dengan Nata—juga berdomisili di Amerika (New York). Michael hidup dalam penyesalan karena pacarnya semasa SMA, yaitu Tania meninggal akibat aborsi ilegal yang dilakukannya. Selanjutnya, Michael mencari semacam penebus dosa atas apa yang telah dilakukannya terhadap Tania dengan aktif di LSM advokasi perempuan.</p>
<p>Novel ini terdiri atas tujuh bab yang masing-masing dapat berdiri sendiri dan memiliki tokoh sentral sendiri, tetapi satu sama lain tetap saling berkaitan. Tokoh cerita dapat diketahui karakternya dari pikiran, perasaan, dan tindakan para tokoh lainnya terhadap tokoh tersebut. Lara dapat dikatakan sebagai tokoh yang paling banyak diceritakan dalam novel ini. Ia seorang perempuan yang tak bisa diam. Bahkan, menurutnya kalau diam, ia masih terlihat seperti perempuan yang menari (hlm. 5). Pada saat SMU ia mempunyai pacar yang bernama Alfa. Mereka pernah menginap di puncak dan berhubungan melempaui batas.</p>
<p>Lara bertemu Nata di Amerika dan hubungan mereka berlanjut. Bahkan, mereka merencanakan pernikahan. Di sela-sela waktunya Lara masih sempat mengabarkan pada teman-temannya apa saja yang dilakukannya bersama Nata. Namun, bersamaan dengan hubungannya dengan Nata, diam-diam Lara juga menjalin cinta dengan Michael yang dijumpainya dalam perjalanan dari Singpura menuju ke New York (hlm. 88). Pada kesempatan lain ketika Mei bercerita (melalui <em>email</em>) bahwa ia tak pernah mencapai kepuasan setiap kali berhubungan dengan suaminya, Lara membalas: Pergunakan suamimu untuk kepuasanmu (hlm. 81).</p>
<p>Selena merupakan teman dekat Lara yang sejak kecil selalu diminta Lara untuk melindungi ‘kenakalannya’ dari kedua orang tuanya. Ketika Lara pergi ke puncak bersama Alfa, Selena sibuk mencari alibi bagi sahabatnya. Dalam hati, Selena merasa berdosa, tetapi tak kuasa melawan dominasi Lara. Selena mendambakan kehadiran seorang laki-laki dalam kehidupan remajanya, seperti teman-temannya, tetapi tak mengejar-ngejar cinta lelaki mana pun.</p>
<p>Mei menikah lebih dahulu daripada empat teman SMU-nya. Setelah hampir dua tahun menikah, lahir Jasmin. Namun, selama dua tahun pernikahan Mei yang dikatakan seorang pendiam itu mengaku tak pernah orgasme bila berhubungan dengan suaminya. Mei mengatakan hal itu lewat <em>email </em>yang dikirimnya kepada Lara (hlm. 70). Bagi Mei, seks yang dirasakannya sekarang hanyalah sesuatu yang rutin dan menyebalkan (hlm. 69).</p>
<p>Sementara itu, Kris yang memiliki toko komputer, berselingkuh dengan Dessy, manajer salah satu perusahaan yang pernah datang ke tokonya untuk memesan beberapa komputer. Mei yang tak pernah sedetik pun membayangkan bahwa Kris (akan) berselingkuh, tidak mengetahui jika suaminya dapat memberi Dessy sesuatu yang menurut Mei tidak pernah dirasakannya.</p>
<p>Phoebe adalah perempuan cerdas yang bergerak di bisnis bunga. Sejak usia tujuh belas tahun, sarjana akuntansi ini menyadari bahwa ia tidak tertarik kepada lelaki mana pun, tetapi tertarik kepada jenisnya sendiri. Aku menyadari kelainan pada diriku sejak aku berusia tujuh belas tahun. Kalau teman-teman sebayaku sudah mulai tertarik kepada lelaki, aku sama sekali beku (hlm. 174).</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>2.5 <em>Garis Tepi Seorang Lesbian</em></strong></p>
<p>Novel <em>Garis Tepi Seorang Lesbian</em> yang ditulis oleh Herlinatiens ini berkisah tentang nasib seorang perempuan yang sedang berjuang untuk jujur tentang orientasi seksualnya bahwa dirinya adalah seorang lesbian. Perempuan itu bernama Ashmora Paria. Banyak laki-laki ataupun perempuan yang jatuh cinta kepadanya, tetapi cintanya hanya untuk satu perempuan, yaitu Rie Shiva Ashvagosha.</p>
<p>Keduanya saling mencintai. Cinta baginya adalah nyawa yang berkesinambungan yang memberikan kekuatan diri untuk selalu hidup. Begitu luhur pandangan Paria tentang makna cinta. Namun, ketika berterus terang kepada keluarganya—kebetulan keluarga muslim yang taat—tentang orientasi seksualnya itu, ia dimarahi, dihujat, bahkan dikucilkan. Keluarganya melihat pilihannya itu sebagai pilihan yang tidak normal, sakit, bahkan menjijikkan.</p>
<p>Di tengah tekanan masyarakat heteroseksual itu Paria kehabisan kekuatan akan eksistensinya sebagai lesbian, apalagi kabar dari Rie tidak pernah kunjung datang. Cinta Paria hanya untuk Rie. Akan tetapi, demi keluarga ia mengambil keputusan untuk menikah dengan Mahendra, laki-laki ganteng, kantoran, dan kaya. Karena sepasang kekasih itu sama-sama wanita, sementara keluarga, agama, dan masyarakat melakukan segala sesuatu untuk mendukung cinta heteroseksual, kedua kekasih ini dikucilkan dari ornamen-ornamen masyarakat normal. Dalam kenyataan inilah alasan mengapa mereka berpisah. Rie menikah dengan seorang lelaki yang tidak dicintainya, demi cinta keibuan, agar tidak menyakiti hati ibunya yang sakit itu. Namun, seperti yang tersirat dalam cerita, kepedulian yang dirasakan kedua kekasih itu terhadap keluarga mereka tidak timbal-balik. Justru sebaliknya, mereka mengalami kekerasan secara fisik, sekaligus emosional, ketika mengungkapkan apa yang paling alami di dunia, yakni cinta seorang manusia terhadap manusia lain.</p>
<p>Masyarakat yang lebih luas juga menampik cinta ini atau memanfaatkannya untuk mendapat keuntungan material, sebagaimana halnya media. Interpretasi terkini dari agama juga tidak menyambut baik asmara mereka, tetapi memandangnya sebagai dosa.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>3. Simpulan</strong></p>
<p>Kultur patriarki telah melahirkan cara berpikir yang sangat diskriminatif, kemudian melembaga dalam sistem hukum, baik dalam bentuknya yang formal maupun tidak. Perempuan selalu saja menjadi korban kekerasan kaum lelaki. Secara disadari atau tidak, perempuan selalu menjadi pihak tak berdaya. Perempuan selain dianggap lemah secara fisik, didukung pula oleh pandangan masyarakat yang tidak adil terhadap perempuan sehingga hanya mampu melakukan pemberontakan dalam ilusinya. Akan tetapi, dalam kelima novel yang telah dibahas itu kita dapat melihat pergeseran cara pandang para tokoh perempuan terhadap eksistensi laki-laki. Para perempuan tersebut tidak lagi melihat laki-laki sebagai laki-laki, tetapi menjadi objek atau mangsa. Kata tersebut secara gamblang disuarakan dalam kelima novel tersebut.</p>
<p>Berdasarkan kelima novel tersebut, dapat disimpulkan bahwa seks sebagai bahasan. Bahkan, lebih dari itu seks menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan perempuan yang disuarakan oleh pengarang. Meskipun beberapa novel menjadikan laki-laki sebagai tokoh sentral, cerita tetap melibatkan banyak perempuan. Dalam <em>Larung</em> seks mendapat porsi besar. Cok dan kawan-kawan menggugat banyak hal tentang seks dan dominasi patriarkal, meski bahasan utama adalah lelaki bernama Larung dengan segala kemelut hidupnya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bandel, Katrin. 2006. <em>Sastra, Perempuan, Seks</em>. Yogyakarta: Jalasutra.</p>
<p>Brouwer, M. A. W. 1984. <em>Psikologi Fenomenologis</em>. Jakarta: Gramedia.</p>
<p>Herlinatiens. 2003. <em>Garis Tepi Seorang Lesbian</em>. Yogyakarta: Galang Press.</p>
<p>Ng, Clara. 2002. <em>Tujuh Musim Setahun</em>. Jakarta: Dewata Publishing.</p>
<p>Pranoto, Naning. 2004. <em>Wajah Sebuah Vagina</em>. Yogyakarta: Galang Press.</p>
<p>Rahayu, Dinar. 2002. <em>Ode untuk Leopold Van Massoch</em>. Jakarta: Pustaka Jaya.</p>
<p>Utami, Ayu. 2002. <em>Larung.</em> Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[RESENSI BUKU]]></title>
<link>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/resensi-buku/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 06:08:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>metasastra</dc:creator>
<guid>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/resensi-buku/</guid>
<description><![CDATA[MEMAHAMI STUDI KRITIK SASTRA Suroso, dkk. Kritik Sastra: Teori, Metodologi, dan Aplikasi Yogyakarta:]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong> </strong></p>
<p><strong>MEMAHAMI STUDI KRITIK SASTRA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Suroso, dkk. <em>Kritik Sastra: Teori, Metodologi, dan Aplikasi</em></p>
<p>Yogyakarta: Elmatera Publishing, 2009, 260 halaman</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sarip Hidayat</strong></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>1. Pendahuluan</strong></p>
<p>Menurut Rene Wellek (1989:37—46), kritik sastra merupakan bagian dari studi sastra bersama dengan teori sastra dan sejarah sastra. Sebagai bagian dari studi sastra, kritik sastra tidak terlepas dari sifat-sifatnya yang khas berupa kegiatan-kegiatan interpretasi, karakterisasi, cara pandang, dan evaluasi. Dalam praktiknya kritik sastra kadangkala tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan teori dan sejarah sastra. Ketiga bidang studi ini memang dapat dibedakan secara teoritis, namun dalam cara kerjanya tetap saja tidak dapat dipisah-pisahkan. Ada jalinan yang erat di antara ketiga bidang studi keilmuan tersebut. Artinya, teori sastra tidak dapat dipisahkan tanpa adanya hasil-hasil kritik dan sejarah sastra. Demikian pula, kritik sastra tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya teori dan sejarah sastra. Begitu juga dengan sejarah sastra yang tidak dapat disusun tanpa adanya sumbangan dari teori sastra dan kritik sastra.<!--more--></p>
<p>Sebagai sebuah studi, kritik sastra memiliki langkah kerja yang sistematis. Selain itu, ada berbagai ukuran yang dapat digunakan untuk mengkritisi karya sastra dan tentu saja metode menjadi bagian penting dalam penelaahan sastra, termasuk dalam kajian kritik sastra. Buku ini menghadirkan hal-hal tersebut.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>2. Pembahasan</strong></p>
<p>Buku ini berjudul <em>Kritik Sastra: Teori, Metodologi, dan Aplikasi</em>. Di tengah minimnya penerbitan buku-buku kritik sastra Indonesia, buku setebal 260 halaman ini hadir laksana oase yang menyejukkan hati. Buku ini seolah menjawab kekhawatiran tentang miskinnya tulisan-tulisan yang berorientasi kritik sastra. Buku yang ditulis secara keroyokan oleh tiga orang penulis dari latar belakang yang berbeda-beda ini menyajikan sejumlah persoalan di bidang kritik sastra.</p>
<p>Ada tujuh bahasan yang disajikan dalam buku ini. Ketujuh bahasan tersebut adalah (1) Posisi Kritik Sastra dalam Studi Kesusastraan, (2) Hakikat Kritik Sastra, (3) Aneka Ragam Kritik Sastra, (4) Tahapan Kritik Sastra, (5) Ukuran dalam Kritik Sastra, (6) Metode Kritik Sastra, dan (7) Beberapa Contoh Aplikasi Kritik Sastra.  Meskipun terkesan mengulangi pembahasan oleh para penulis buku kritik sastra terdahulu mengenai berbagai ragam dan metode kritik sastra, buku ini masih memberikan nuansa baru. Nuansa baru tersebut dapat kita amati dari beberapa bagian dalam buku ini yang menghadirkan langkah-langkah yang lebih praktis dalam menulis kritik sastra. Apalagi di bagian akhir buku ini disajikan pula beberapa contoh tulisan kritik sastra yang dapat menambah perbendaharaan kita mengenai cara menulis kritik terhadap karya sastra.</p>
<p>Buku ini diawali dengan perkenalan mengenai posisi teori, metodologi, dan aplikasi studi kesusastraan dalam arus budaya dan peradaban global. Tulisan perkenalan ini memudahkan kita memahami lebih lanjut mengenai hakikat atau dasar-dasar teori dan kritik, jenis, tahapan, ukuran, dan berbagai metode pendekatan sastra. Meskipun demikian, perkenalan ini belum membuat kita menjadi lebih mudah dalam mencari kritik sastra khas Indonesia yang selama ini kita idam-idamkan.</p>
<p>Dalam upaya memudahkan kita sebagai pembaca memahami berbagai ragam kritik sastra, penulis buku ini membaginya ke dalam beberapa ragam, yaitu berdasarkan bentuknya, berdasarkan metode penerapannya, berdasarkan pendekatan tertentu, berdasarkan orientasi teori kritik, berdasarkan aliran ergosentrik, berdasarkan kecenderungan umum kritik sastra, berdasarkan penulisnya, berdasarkan reinterpretasi global semua pendekatan, dan berdasarkan teori Edward W. Said.</p>
<p>Pada bagian selanjutnya, penulis buku ini menjelaskan beberapa tahapan dalam kritik sastra, yaitu tahap deskripsi, tahap penafsiran/interpretasi, tahap analisis, dan tahap evaluasi. Dalam paparan mengenai tahapan-tahapan ini diberikan pula beberapa contoh aplikasinya.</p>
<p>Beberapa ukuran dalam kritik sastra dijelaskan pula dalam buku ini. Ukuran-ukuran yang dijelaskan dalam buku ini adalah ukuran formal, ukuran moral, ukuran estetis, ukuran epistemis, kriteria, normatif, kriteria keaslian ekspresi, sistem norma tunggal, benar, baik, indah, paham/aliran penilaian karya sastra, dalil J. Elema, dan tolak ukur versi van Luxemburg.</p>
<p>Pada bagian Metode Kritik Sastra, penulis menjelaskan beberapa metode dalam kritik sastra, yaitu metode struktural, metode perbandingan, metode sosiologi sastra, dan metode estetika resepsi.</p>
<p>Buku ini diakhiri dengan beberapa contoh aplikasi kritik sastra. Ada sebelas contoh kritik sastra yang disajikan dalam buku ini. Contoh-contoh tersebut memiliki sudut pandang kritik yang berbeda-beda sehingga memperkaya kita dalam membuat tulisan kritik sastra di kemudian hari.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>3. Penutup</strong></p>
<p>Meskipun awalnya dimaksudkan sebagai buku pegangan bagi para mahasiswa yang mengontrak mata kuliah kritik sastra, buku ini dapat dijadikan pula sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan yang berharga bagi para dosen, seniman, sastrawan, dan ilmuwan sosial humaniora. Terlebih, buku ini menghadirkan pula beberapa gagasan, pikiran dalam bidang kritik sastra dari para kritikus sastra dunia, seperti Xenophanes, Heraclitus, Plato, Aristoteles, Aristophanes, Julius Caesar Scaliger, I. A. Richard, Rene Wellek dan Austin Warren, A. Teeuw, Edward W. Said, dan M.H. Abrams.</p>
<p>Jadi, sambil menunggu hadirnya tulisan atau buku mengenai kritik sastra Indonesia yang lebih relevan, mari kita membaca buku yang sangat bermanfaat ini.***MSH</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Z 266 T]]></title>
<link>http://mobildinas.wordpress.com/2008/11/06/z-266-t/</link>
<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 02:11:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>mobil dinas</dc:creator>
<guid>http://mobildinas.wordpress.com/2008/11/06/z-266-t/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://mobildinas.files.wordpress.com/2008/11/20080628_1413-buah-batu-2_r1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-283" title="20080628_1413-buah-batu-2_r1" src="http://mobildinas.wordpress.com/files/2008/11/20080628_1413-buah-batu-2_r1.jpg" alt="20080628_1413-buah-batu-2_r1" width="450" height="308" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[B 8793 DQ (PLN)]]></title>
<link>http://mobildinas.wordpress.com/2008/11/06/b-8793-dq-pln/</link>
<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 02:03:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>mobil dinas</dc:creator>
<guid>http://mobildinas.wordpress.com/2008/11/06/b-8793-dq-pln/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://mobildinas.files.wordpress.com/2008/11/20080628_1343-cihampelas_r.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-39" title="20080628_1343-cihampelas_r" src="http://mobildinas.wordpress.com/files/2008/11/20080628_1343-cihampelas_r.jpg" alt="20080628_1343-cihampelas_r" width="450" height="300" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[E 90 P]]></title>
<link>http://mobildinas.wordpress.com/2008/11/06/e-90-p/</link>
<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 02:01:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>mobil dinas</dc:creator>
<guid>http://mobildinas.wordpress.com/2008/11/06/e-90-p/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://mobildinas.files.wordpress.com/2008/11/20080608_1608-otista_r.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-36" title="20080608_1608-otista_r" src="http://mobildinas.wordpress.com/files/2008/11/20080608_1608-otista_r.jpg" alt="20080608_1608-otista_r" width="450" height="600" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[D 1084 D]]></title>
<link>http://mobildinas.wordpress.com/2008/11/06/d-1084-d/</link>
<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 02:00:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>mobil dinas</dc:creator>
<guid>http://mobildinas.wordpress.com/2008/11/06/d-1084-d/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://mobildinas.files.wordpress.com/2008/11/20080608_1501-pasar-baru_r.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-33" title="20080608_1501-pasar-baru_r" src="http://mobildinas.wordpress.com/files/2008/11/20080608_1501-pasar-baru_r.jpg" alt="20080608_1501-pasar-baru_r" width="450" height="337" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[B 8905 ES]]></title>
<link>http://mobildinas.wordpress.com/2008/11/06/b-8905-es/</link>
<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 01:58:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>mobil dinas</dc:creator>
<guid>http://mobildinas.wordpress.com/2008/11/06/b-8905-es/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://mobildinas.files.wordpress.com/2008/11/20080608_1441-otista-pasar-baru_r.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-28" title="20080608_1441-otista-pasar-baru_r" src="http://mobildinas.wordpress.com/files/2008/11/20080608_1441-otista-pasar-baru_r.jpg" alt="20080608_1441-otista-pasar-baru_r" width="450" height="337" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[D 1094 F]]></title>
<link>http://mobildinas.wordpress.com/2008/11/06/d-1094-f/</link>
<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 01:50:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>mobil dinas</dc:creator>
<guid>http://mobildinas.wordpress.com/2008/11/06/d-1094-f/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://mobildinas.files.wordpress.com/2008/11/20080607_1226-ibcc_r5.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-23" title="20080607_1226-ibcc_r5" src="http://mobildinas.wordpress.com/files/2008/11/20080607_1226-ibcc_r5.jpg" alt="20080607_1226-ibcc_r5" width="450" height="337" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Publicaties medewerkers juni - augustus 2008]]></title>
<link>http://martien128.wordpress.com/2008/09/26/publicaties-medewerkers-juni-augustus-2008/</link>
<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 11:57:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Martien Versteeg</dc:creator>
<guid>http://martien128.wordpress.com/2008/09/26/publicaties-medewerkers-juni-augustus-2008/</guid>
<description><![CDATA[In juni, juli en augustus zijn de volgende publicaties van medewerkers gesignaleerd: Aono, Junko. ‘R]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>In juni, juli en augustus zijn de volgende publicaties van medewerkers gesignaleerd:</p>
<ol>
<li>Aono, Junko. ‘Reproducing the Golden Age: Copies after Seventeenth-Century Dutch Genre Painting in the First Half of the Eighteenth Century&#8217;. In: <em>Oud Holland</em> 2008 nr.1 pp 1-34.</li>
<li>Boomgaard, Jeroen (ed.). <em>Highrise &#8211; common ground : art and the Amsterdam Zuidas Area</em>. Amsterdam, 2008.</li>
<li>Broekman, Inge en Helmers, H. ‘Het hart des Offraers&#8217;- The Dutch Gift as an Act of Self-Representation&#8217;. In: <em>Dutch Crossing</em> 2007 nr. 2 pp. 223-252.</li>
<li>Duijn. Esther E. van. [Boekbesprekingen van] ‘Gunnar Heijdenreich &#8220;Lucas Cranach the Elder &#8211; Painting Materials, Techniques and Workshop Practice&#8221; [en] Barbara Appelbaum &#8220;Conservation Treatment Methodology&#8221;. In: <em>Cr</em> 2008 nr.2 pp.39-40.</li>
<li>Esner, Rachel. [Boekbespreking van] ‘Stefan Borchardt: Heldendarsteller. Gustave Courbet, Éduard Manet und die Legende vom modernen Künstler&#8221;. In: <em>Sehepunkte</em> 2008 nr.6.</li>
<li>Kruijf, Anique C. de. <em>&#8216;Stof zijt gij&#8230;&#8217; Een deelinventarisatie van de reliekschat van de oud-katholieke Gertrudiskathedraal te Utrecht.</em> Utrecht, 2008.</li>
<li>Laarse, Rob van der. ‘Virtus en distinctie : de ridders van de Republiek.&#8217; In: <em>Virtus jaarboek voor adelsgeschiedenis</em>, 2007 pp.7-36.</li>
<li>Luijten, Ger. ‘Jan Piet Filedt Kok en het Rijksmuseum.&#8217; In: <em>Bulletin van het Rijksmuseum</em> 2008 nr.1-2 pp.4-11.</li>
<li>Marga van Mechelen, ‘Het plooibare park. Sonsbeek door de jaren&#8217;. In: <em>Metropolis M</em>, 2008 nr 3 pp. 42-49.</li>
<li>Rijsingen, Miriam van. ‘Science &#38; art : problem of framing in genesis&#8217;. In: <em>Simulacrum</em> 2007 nr.3-4 pp.4-7.</li>
<li>Ronnes, Hanneke. ‘Egodocumenten als onderdeel van het achtiende-eeuwse adelijke instrumentarium&#8217; [Boekbesprekingen]. In: <em>Virtus jaarboek voor adelsgeschiedenis</em>, 2007 p.176-182.</li>
<li>Stigter, Sanneke. &#8216;Living artist. living artwork? The problem of faded colour photographs in the work of Ger van Elk.&#8217; In: <em>Modern art, new museums : contributions to the Bilbao Congress</em>. Ashok Roy and Perry Smith. London, 2004.</li>
<li>Witte, Arnold. <em>The Artful Hermitage: The Palazzetto Farnese as a Counter-reformation &#8216;diaeta</em>. Rome, 2008.</li>
</ol>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anarki]]></title>
<link>http://rpohan.wordpress.com/2008/07/20/anarki/</link>
<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 11:55:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>rpohan</dc:creator>
<guid>http://rpohan.wordpress.com/2008/07/20/anarki/</guid>
<description><![CDATA[Sebuah tragedi dipertontonkan Selasa/24/06/08 lalu. Seribuan orang tengah marah memorak-morandakan f]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sebuah tragedi dipertontonkan Selasa/24/06/08 lalu. Seribuan orang tengah marah memorak-morandakan f]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemimpin Iklan]]></title>
<link>http://rpohan.wordpress.com/2008/07/20/pemimpin-iklan/</link>
<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 11:51:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>rpohan</dc:creator>
<guid>http://rpohan.wordpress.com/2008/07/20/pemimpin-iklan/</guid>
<description><![CDATA[BELAKANGAN ini para pemimpin atau calon pemimpin kerap melakukan iklan di media massa, cetak maupun ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[BELAKANGAN ini para pemimpin atau calon pemimpin kerap melakukan iklan di media massa, cetak maupun ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[So, 29.06 – Mi 02.07 Sydney]]></title>
<link>http://neuseelandabenteuer.wordpress.com/2008/07/10/so-2906-%e2%80%93-di-0207-sydney/</link>
<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 06:18:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>neuseelandabenteuer</dc:creator>
<guid>http://neuseelandabenteuer.wordpress.com/2008/07/10/so-2906-%e2%80%93-di-0207-sydney/</guid>
<description><![CDATA[Nach 3 Flugstunden kamen wir nach einer recht kurzen Nacht bereits um halb neun morgens in Sydney an]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Nach 3 Flugstunden kamen wir nach einer recht kurzen Nacht bereits um halb neun morgens in Sydney an. Anschließend ging es dann mit dem Taxi zu Santi, ihrem Mann Jerry und ihrem kleinen Sohn Jonathan. Santi ist die Schwester meiner Tante und wohnt schon seit einigen Jahren in Sydney und hat uns deshalb eingeladen für unsere Zeit in Sydney bei ihr zu wohnen. Nachdem wir uns ein wenig bei ihr zu Hause eingerichtet hatten waren wir dann zusammen mit der ganzen Familie beim Chinesen Mittag essen. Es gab von allem etwas, und wir probierten ziemlich viel aus, von Dim Sims bis zu frittierter Eiscreme =).</p>
<p class="MsoNormal">So gestärkt ging es dann mit dem Bus nach Downtown Sydney. Natürlich haben wir als erstes die Harbour Bridge und das Opera House bestaunt. Als nächstes stand ein Stadtviertel namens the Rocks auf dem Plan. Es ist ein ziemlich altes Stadtviertel direkt neben dem Hafen in dem viele kleine Geschäfte und Restaurants (sogar ein deutsches in dem es Brezeln und Weißbier gab) Platz gefunden haben. Glücklicherweise war auch noch Markttag, so dass wir über den Markt schlendern konnten und allerlei australische Köstlichkeiten umsonst probieren konnten.</p>
<p class="MsoNormal">Zum Schluss haben wir uns das Opera House dann noch ein wenig genauer angeschaut was bei dem tollen Sonnenschein, den wir in Sydney erwischt haben einfach genial war. Allerdings waren wir beide total müde vom frühen aufstehen, so dass wir wieder zurück zu Santi gefahren sind, wo wir mit leckerem indonesischen Essen empfangen wurden.</p>
<p class="MsoNormal">Am nächsten Tag ging es zunächst wieder zum Hafen namens Circular Quay. Von dort aus starteten wir unsere Tour über den Botanischen Garten, in dem es sehr viele interessante Sachen zu bestaunen gab. Z.b. flogen dort Papageien einfach so frei rum und an einer anderen Stelle hing ein ganzer Baum voller Fledermäuse. Nach einem kurzen Abstecher zu einem Aussichtspunkt namens Mrs Macquarie’s Chair, der ebenfalls im Botanischen Garten zu finden ist ging es weiter zum Hyde Park und der St. Mary’s Cathedral in der schon bald der Papst zu Besuch ist, da in Sydney ab 15. Juli der World Youth Day stattfindet. Weiter ging es über das Queen Victoria Building, einem sehr alten Gebäude in dem jetzt die nobelsten Geschäfte untergebracht sind, und die Town Hall zum Darling Harbour. Dort haben eines der beiden Lindt Cafés, die es in Sydney gibt besucht und eine leckere heiße Schokolade genossen. Nach einem Abstecher in Chinatown ging es noch auf den Obeservatory Hill um zum Abschluss des Tages den tollen Blick auf Darling Harbour und die Harbour Brigde zu werfen.</p>
<p class="MsoNormal">Am dritten Tag fuhren wir mit der Fähre nach Manly wo uns ein herrlicher Strand mit türkisfarbenem Wasser empfing. Wenn es nicht so windig gewesen wäre, wären wir sofort ins Wasser gesprungen, aber so war es uns einfach zu kalt. Deshalb sonnten wir uns einfach ein wenig am Strand und machten einen kleinen Spaziergang entlang der Küste um die Gegend einfach zu genießen.</p>
<p class="MsoNormal">Nachmittags sind wir dann per Bus noch nach Bondi Beach gefahren. Der Name hält wirklich was er verspricht. Der Strand ist wirklich wunderschön und lädt geradezu zum Surfen ein. Nach einem Kaffee am Strand ging es dann aber auch schon wieder zurück zu Santi wo es wieder leckeres Essen gab.</p>
<p class="MsoNormal">An unserem letzten Tag in Sydney waren wir nur noch ein wenig shoppen, bevor wir dann endlich unseren Mietwagen für unsere Tour nach Brisbane abholen konnten. Glücklicherweise wurden wir upgegradet und erhielten sogar ein größeres Auto als erwartet, nämlich einen kleinen weißen Mitsubishi Colt, der uns gleich gefiel. Nach einem Einkauf bei Aldi =) ging es dann an diesem Tag noch in Hunter Valley, einem bekannten Weinbaugebiet nahe Sydney.</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://neuseelandabenteuer.files.wordpress.com/2008/07/dsc04258.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-194" src="http://neuseelandabenteuer.wordpress.com/files/2008/07/dsc04258.jpg?w=300" alt="" width="250" height="188" /></a><a href="http://neuseelandabenteuer.files.wordpress.com/2008/07/dsc04294.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-195" style="margin-left:10px;margin-right:10px;" src="http://neuseelandabenteuer.wordpress.com/files/2008/07/dsc04294.jpg?w=300" alt="" width="250" height="188" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://neuseelandabenteuer.files.wordpress.com/2008/07/dsc04273.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-177" style="margin-top:10px;margin-bottom:10px;" src="http://neuseelandabenteuer.wordpress.com/files/2008/07/dsc04273.jpg?w=300" alt="" width="250" height="188" /></a><a href="http://neuseelandabenteuer.files.wordpress.com/2008/07/dsc04312.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-178" style="margin:10px;" src="http://neuseelandabenteuer.wordpress.com/files/2008/07/dsc04312.jpg?w=300" alt="" width="250" height="188" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://neuseelandabenteuer.files.wordpress.com/2008/07/dsc04320.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-179" style="margin-top:10px;margin-bottom:10px;" src="http://neuseelandabenteuer.wordpress.com/files/2008/07/dsc04320.jpg?w=300" alt="" width="250" height="188" /></a><a href="http://neuseelandabenteuer.files.wordpress.com/2008/07/dsc04326.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-180" style="margin:10px;" src="http://neuseelandabenteuer.wordpress.com/files/2008/07/dsc04326.jpg?w=300" alt="" width="250" height="188" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Letzten beiden Juni Wochen 2008]]></title>
<link>http://schnatter.wordpress.de/2008/06/29/letzten-beiden-juni-wochen-2008/</link>
<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 12:01:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>nmarwitz</dc:creator>
<guid>http://schnatter.wordpress.de/2008/06/29/letzten-beiden-juni-wochen-2008/</guid>
<description><![CDATA[Soooo.. nun nehme ich mir doch noch mal etwas Zeit Euch was zu schreiben. Bin gerade mit Michaela in]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Soooo.. nun nehme ich mir doch noch mal etwas Zeit Euch was zu schreiben.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bin gerade mit Michaela in Skype. Sie geht jetzt kochen. Fabian und Angi kommen zu Besuch.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">So bin neben bei etwas am Bügeln.. nach einem Tag sind hier alle Sachen immer gleich zerknittert. Hab’ mir heute so ein kleines ReiseBügelbrett gekauft.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aber fangen wir mal bei vorletzten Wochenende an (21./22.).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Am Samstag holte mich Capt. Narong mit seinem neuen Auto ab. Wir sind zusammen losgezogen um für mich ein neues Apartment zu finden. Das näher an Yogis Uni liegt und auch verkehrsgünstig für mich ist (Skytrain).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Wir hatten einige auf unserer Liste, die in der Woche abends schon geschlossen waren.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> <!--more--></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Das erste Apartment (Mablehouse) sollte später auch meine Wahl werden. Es ging schon gut los als wir auf den Hauseigenen Parkplatz gefahren sind, durch 3 Sicherheitstore.. es ist alles gut bewacht. Auf dem Überdachtem Parkplatz stand ein Porsche und andere Luxus Wagen.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Wir gehen in den ersten Stock zum Empfang. Wir werden sehr herzlich und freundlich empfangen. Eine angenehme Atmosphäre. Luxuriöse Möbel, angenehmer Stil.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Als erstes sehen wir den Pool, wie bei so vielen Apartment Häusern. Sollte zum Abkühlen reichen. Einen kleinen Fitnissraum haben sie auch.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dann geht es mit dem Fahrstuhl in den 8. Stock, als erstes sehen wir ein Apartment mit einem Schlafzimmer und einem Bad. Das Apartment ist super geschnitten, neue Möbel.. begehbarer Kleiderschrank/AnkleideRaum.. extra Raum mit Schminktisch für die Dame zum herrichten. Die Wohnung ist sehr hell mit genügend Fenstern.. zwei Balkone vom Schlafzimmer und vom Wohnzimmer. Die Küchenecke sollte auch zum Kochen reichen. Es gibt einen Esstisch und eine Sofaecke die zum verweilen einlädt.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Und man mag es kaum glauben dieses Apartment mit rund 70 qm ist billiger als das Apartment wo ich momentan untergebracht bin. Das Apartmenthaus hat einen Stern mehr als House by the Pond.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Die Gegend ist etwas abgelegener, an einer neuen Strasse. Wird dort wohl mehr asiatisches Essen geben. Dafür gibt es auch noch einen TuckTuck Service zum Skytrain jeden Tag von 7 – 14 Uhr.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Wir schauen uns noch ein paar andere Apartment an.. aber die sind nicht wirklich der Rede wert. Ich hab mich entschieden und kann es kaum erwarten um zu ziehen.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Am 5./6. Juli kann ich schon mal ein paar Sachen von mir in das neue Apartment bringen. Am 14. Juli geht dann die MietePeriode los und ich werde wohl umziehen. Direkt nach meinem Kurztrip nach Singapur.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Da wir gegen 11 Uhr los gezogen sind planen wir schon mal unser Mittag.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Wir fahren mit dem Auto zur Sahan Taksin bridge und parken in der Nähe bei einem Einkaufscenter. Laufen von dort zur Brücke und nehmen ein Boot zur Tammersat Uni.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Also wir testen den Weg den Yogi bald nehmen wird. Mit dem Boot fahren ist recht lustig und auch günstig. 15 Baht kostet der Spass pro Person. Bei der Uni angekommen gehen wir erst mal in die Bibliothek, ich will mir ein Bild verschaffen wo sich mein Liebster bald täglich so Rumtreibt. Die Bibliothek is riesig.. sie geht über 3 bis 4 Stockwerke. Überall sitzen Leute mit Laptops rum, gibt hier also Internet nehme ich mal an.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Nach dem Abstecher in die Welt der Bücher gehen wir vor dem Unigelände in ein Japanisches Fastfood Restaurant, Spezialität Nudeln.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ich esse Nudeln mit Shrimps, sehr lecker. In dieser Gegend gibt es unzählige Stande mit Essen und Waren.. hier wird Yogi sicher seinen Spass haben <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Wir laufen zur nächsten Bootsanlegestelle zurueck. Zwischen durch besuchen wir noch einen Tempel. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Wir verbringen einige Stunden unterwegs und ich bin richtig erledigt als ich zu Hause ankomme.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sonntag arbeite ich 8 Stunden an einer Präsentation für ein Meeting am Montag.. spanne etwas aus.. schaue ein paar DvDs und genieße mein Skype mit Euch.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Letzte Woche war wieder sehr arbeitsreich. Montag war das wichtige Meeting und es lief alles gut. Was gibt es zu berichten? Einen Morgen hab ich einfach kein Taxi gefunden.. bin also mit dem Motorbike und Skytrain gefahren.. bin genau gegen 8 Uhr Prong Phong Station angekommen.. da lief gerade Musik. Und ich schau mich um und realisiere das sich die Menschen um mich herum nicht bewegen. Automatisch bleibe auch ich stehen.. man weis ja nie was für eine Regel man verletzt wenn man weiter geht. Später erfahre ich das das die National Hymne oder ein nationales Lied war.. das wird jeden Tag um 8 Uhr morgens und 18 Uhr abends gespielt.. alles Thais müssen dann stehen bleiben.. so was wie das aufstehen im Kino wenn die König gezeigt wird.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Es gibt sogar Forderungen das um diese Uhrzeit auch alle Autos anhalten sollen.. das wurde aber noch nicht durch gesetzt.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Am Mittwoche fahren wir wieder nach Patajay in die Thailändische Werft. 3 Schiffe sind dort und wir gehen Software installieren.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Thor Confidence und Thor Wind liegen in der Werft und werden überholt.. sehen auch so aus als wenn sie das bitter nötig haben. Wir sind mit 9 Leuten angereist. Das Installationsteam besteht aus Sittipong, Sam, Capt. Somchai und mir. Es sind auch noch 3 Trainer dabei aber die machen glaub was anderes.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sam und ich gehen Thor Wind installieren. Leichter gesagt als getan, denn das Schiff liegt hinter dem andern, also müssen wir erst mal auf Thor Confidence und dann über das Schiff auf das nächste klettern. Ja es war eine richtige Kletterpartie und ganz schön dreckig.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Die Installationen laufen gut. Gegen 14:30 Uhr nehmen wir das Speedbot um zu Thor Venture zu fahren, so um die 20 Minuten dauert die Fahrt.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Hier klettern wir wieder die schöne Bugtreppe hoch&#8230; </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Auf dem Schiff angekommen, nach dem Sicherheitscheck wo man seinen Besucherausweis bekommt gehen wir erst mal in die Messe und essen Mittag.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Freight Reis with Chicken.. jamjam.. <span lang="DE">das ist mal was leckeres.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dann gehen wir ins Captains Office und installieren NS5. Gegen 17 Uhr kommen wir wieder an Land an.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Das ist ein langer Tag. Nun kommt der angenehme Teil des Tages. Wir fahren in ein Seafood Restaurant am Wasser mit Blick auf die Werft oder Hafen.. sieht jeden falls schön aus. Es wird reichlich bestellt und ich lass mir den Fisch und die Shrimps schmecken.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Die Heimfahrt ist lang und ich versuche zu schlafen. Gegen 22 Uhr bin ich endlich zu Hause.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Micha hat am letzten Wochenende bei Opa Skype installiert. Ich hab letzte Woche ein paar mal mit Ihm gesprochen. Echt super wie er das so alles hin kriegt. Da staunen meine Arbeitskollegen auch.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dieses Wochenende wollte ich mal etwas ausspannen nach dem Stress die Woche davor.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Gestern hab ich 3 DvD gesehen und gelesen. Achja und mit Euch über Skype gequatscht. Ist schon super mit Skype, da ist man sich doch etwas näher, auch wenn die Verbindung ab und zu etwas schlecht ist.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Heute hab ich mich dann aufgerafft und bin erst mal Wasser kaufen gegangen, das ist zu Fuß nur knapp 5 Minuten.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dann binich nach On Nute gefahren, hatte gehört das gibt es ein günstiges Einkaufscenter. Hab mir ein paar Kurzehosen und ein T-shirt gekauft und noch ein paar andere schöne Sachen. Achja und Lebensmittel. Das war wirklich günstiger als sonst. Da werde ich wohl noch mal hin gehen. Einen neuen kleinen Koffer hab ich leider nicht gefunden.. will einen kaufen für den Singapur Trip.. mein Koffer ist da zu groß für.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Naja muss ich noch mal wo anders schauen.<span style="background:white;"> Habe</span> letzte Woche schöne im Big-C gesehen.. ein Einkaufscenter beim Office.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Montag morgen bin ich zum Frühstück mit meinem Kollegen im Holday in um 8 Uhr verabredet.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">So nun reicht es aber.. Yogi müsste auch gleich in Skype on sein.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span lang="DE"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Yogi war kurz da. Hat sich nicht sehr gut angehört&#8230; wäre gern bei Ihm. Hoffentlich wir er nicht richtig doll krank <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </span></span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[My Relationship was Begin (29/06/08)]]></title>
<link>http://neverend29.wordpress.com/2008/06/29/my-relationship-was-begin-290608/</link>
<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 16:48:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>neverend29</dc:creator>
<guid>http://neverend29.wordpress.com/2008/06/29/my-relationship-was-begin-290608/</guid>
<description><![CDATA[Seneng banget gw hari ini.. akhirnya gw bener bener jadian sama &#8220;D&#8221; gw ga mau kalo suatu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Seneng banget gw hari ini..</p>
<p>akhirnya gw bener bener jadian sama &#8220;D&#8221;</p>
<p>gw ga mau kalo suatu saat harus kehilangan dia..</p>
<p>banyak banget hal yang udah dia lakuin buat gw..</p>
<p>dia bilang ke gw,dia bukan orang yang romantis..</p>
<p>tapi gw ngerasa seneng banget kalo deket dia</p>
<p>karena dia sering banget ngelakuin hal hal yang ga terduga..</p>
<p>termasuk di hari ini..</p>
<p>dia ngasih gw sebuah buku, dia bilang ke gw..</p>
<p>&#8220;Buku ini harus kamu isi,dan aku akan ambil pada tanggal yang sama tahun depan..&#8221;</p>
<p>dia mau gw tulis semua yang gw rasain selagi gw lg ga bersama dia..</p>
<p>biar dia bisa baca semua dan instropeksi untuk tahun berikutnya..</p>
<p>Hmm.. keyakinan yang besar banget kan??</p>
<p>padahal ga da yang tahu apa yang akan terjadi setahun kedepan..</p>
<p>itu yang gw suka dari dia..</p>
<p>Itu termasuk hal yang mengejutkan banget buat gw..</p>
<p>karena ga pernah nyangka seorang &#8220;D&#8221;, bisa mikirin sebuah ide kaya gitu..</p>
<p>karena yang gw tau dia cuek banget sikapnya..</p>
<p>gw cuma mau dia tau kalo gw sayaaaang banget sama dia..</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
