<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>keanekaragaman-hayati &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/keanekaragaman-hayati/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "keanekaragaman-hayati"</description>
	<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 21:26:01 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Keanekaragaman Hayati]]></title>
<link>http://widiantogilangramadhan.wordpress.com/2009/10/26/100/</link>
<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 03:59:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>alfata2491</dc:creator>
<guid>http://widiantogilangramadhan.wordpress.com/2009/10/26/100/</guid>
<description><![CDATA[Keanekaragaman hayati menurut UU RI No.5 Th 1994 &#8220;Keanekaragaman di antara makhluk hidup dari ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Keanekaragaman hayati menurut UU RI No.5 Th 1994</p>
<p><em>&#8220;Keanekaragaman di antara makhluk hidup dari semua sumber, termasuk diantaranya: daratan, lautan dan ekosistem akuatik lain serta komplek-komplek ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamannya, mencakup keankeragaman di dalam spesies, antarspesies dan ekosistem.&#8221;</em></p>
<p><strong>Pentingnya keanekaragaman hayati</strong></p>
<p>Keanekaragaman hayati sangat banyak digunakan oleh manusia untuk berbagai kepentingan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Kepentingan ekonomi dan kesehatan</li>
<li>Kepentingan estetika dan rekreasi</li>
<li>Kepentingan ilmiah dan ekologi</li>
<li>Etika</li>
</ul>
<p>Karena banyaknya aneka ragam makhluk hidup tersebut, maka dibuatlah sistem klasifikasi untuk mekhluk hidup,,<!--more--></p>
<p><strong>Klasifikasi</strong></p>
<p>Tujuan mengapa Manusia melakukan klasifikasi terhadap keanekaragaman makhluk hidup adalah untuk memudahkan mempelajari makhluk hidup yang beranekaragam,.</p>
<p>Sistem klasifikasi yang digunakan oleh manusia ada 3 macam:</p>
<ul>
<li>Sistem Alami</li>
<li>Sistem Artifical (Sistem Buatan)</li>
<li>Sistem Filogenetik</li>
</ul>
<p><strong>SISTEM ALAMI</strong></p>
<p>Klasifikasi dilakukan berdasarkan banyaknya persamaan ciri morfologi yang dimiliki</p>
<p>Sistem ini dianut oleh Aristoteles dan Theophratus</p>
<p>Memiliki sifat sebagai berikut:</p>
<p>1. Mudah diidentifikasi</p>
<p>2. Sistemnya stabil</p>
<p>3. Semua organisme mungkin diidentifikasi</p>
<p><strong>SISTEM BUATAN</strong></p>
<p>Klasifikasi dilakukan berdasarkan adanya satu/sedikit persamaan ciri morfologi alat reproduksi, lingkungan dan daerah sebaran.</p>
<p>dianut oleh John Ray</p>
<p>Memiliki sifat:</p>
<p>1. Kurang teratur</p>
<p>2. Tidak ada tata nama</p>
<p><strong>SISTEM FILOGENETIK</strong></p>
<p>Diklasifikasikan berdasarkan dekatnya kekerabatan sejarah evolusi</p>
<p>Dianut oleh Darwin</p>
<p>yang dijadikan dasar klasifikasi adalah:</p>
<p>1. Morfologi</p>
<p>2. Karakteristik kromosom</p>
<p>3. Urutan DNA</p>
<p>4. Embriologi Perkembangan</p>
<p>5. Catatan Fosil</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[News: Kepunahan Masal Makin Dekat]]></title>
<link>http://onrizal.wordpress.com/2009/10/02/news-kepunahan-masal-makin-dekat/</link>
<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 13:50:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>onrizal</dc:creator>
<guid>http://onrizal.wordpress.com/2009/10/02/news-kepunahan-masal-makin-dekat/</guid>
<description><![CDATA[Waduh&#8230; Kepunahan Masal Makin Dekat KOMPAS/LASTI KURNIA Jejak keberadaan koloni terumbu karang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Waduh&#8230; Kepunahan Masal Makin Dekat KOMPAS/LASTI KURNIA Jejak keberadaan koloni terumbu karang ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Permasalahan dan Solusi Pengelolaan Lingkungan Hidup di Provinsi Bengkulu]]></title>
<link>http://drdbengkulu.wordpress.com/2009/06/19/permasalahan-dan-solusi-pengelolaan-lingkungan-hidup-di-provinsi-bengkulu/</link>
<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 09:01:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>drdbengkulu</dc:creator>
<guid>http://drdbengkulu.wordpress.com/2009/06/19/permasalahan-dan-solusi-pengelolaan-lingkungan-hidup-di-provinsi-bengkulu/</guid>
<description><![CDATA[Tulisan berikut ini mencoba mengungkapkan beberapa permasalahan lingkungan hidup di Provinsi Bengkul]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tulisan berikut ini mencoba mengungkapkan beberapa permasalahan lingkungan hidup di Provinsi Bengkulu. Yang ditulis oleh sdr. Urip Santoso ini hanya sebagian kecil dari permasalahan lingkungan hidup di bumi raflesia ini. Setelah anda membaca tulisan ini, tambahkan permasalahan lain yang mendesak harus segera diatasi. Mudahy-mudahan tulisan ini dapat kiranya menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi gubernur dalam membangun Bengkulu. Klik link berikut ini.</p>
<p><a href="http://uripsantoso.wordpress.com/2008/05/01/permasalahan-dan-solusi-pengelolaan-lingkungan-hidup-di-propinsi-bengkulu/">http://uripsantoso.wordpress.com/2008/05/01/permasalahan-dan-solusi-pengelolaan-lingkungan-hidup-di-propinsi-bengkulu/</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Profil Lingkungan Hidup Provinsi Bengkulu (Bagian III)]]></title>
<link>http://uwityangyoyo.wordpress.com/2009/06/12/profil-lingkungan-hidup-provinsi-bengkulu-iii/</link>
<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 03:20:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>uwityangyoyo</dc:creator>
<guid>http://uwityangyoyo.wordpress.com/2009/06/12/profil-lingkungan-hidup-provinsi-bengkulu-iii/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Prof. Urip Santoso 2.3. Hidrologi             Siklus hidrologi adalah suatu system alamiah dal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Oleh: Prof. Urip Santoso</strong></p>
<p><strong>2.3. Hidrologi</strong></p>
<p>            Siklus hidrologi adalah suatu system alamiah dalam proses-proses pengumpulan, pembersihan, dan pendistribusian air. Pada intinya siklus tersebut terdapat dua proses yang dikendalikan oleh energi sinar matahari yaitu evaporasi dan presipitasi.</p>
<p>Tabel 10 menyajikan neraca air di Propinsi Bengkulu tahun 2004. jumlah  hujan adalah sebanyak 4.531,5 juta m3.  Jumlah hujan ini tergolong cukup besar. Hal ini disebabkan oleh karena Bengkulu mempunyai curah hujan yang tinggi, sehingga hamper setiap hari terjadi hujan. Cadangan awal tahun sebesar 206.276,42 m3 belum termasuk pertambahan air selama satu tahun yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi.<!--more--></p>
<p> </p>
<p>Tabel 10.  Neraca air di Propinsi Bengkulu tahun 2004</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="190" valign="top">Jumlah air</td>
<td width="190" valign="top">Satuan</td>
<td width="190" valign="top">Jumlah</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Cadangan awal tahun</td>
<td width="190" valign="top">m3</td>
<td width="190" valign="top">206.276,42</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Jumlah hujan</td>
<td width="190" valign="top">Juta m3</td>
<td width="190" valign="top">4.531,5</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Pekerjaaan umum</td>
<td width="190" valign="top">Juta m3</td>
<td width="190" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Penambahan lain</td>
<td width="190" valign="top">Juta m3</td>
<td width="190" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Konsumsi</td>
<td width="190" valign="top">Juta m3</td>
<td width="190" valign="top"> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: SLHD Bengkulu (2005)</p>
<p> </p>
<p>            Beberapa DAS di Propinsi Bengkulu yang dapat dijelaskan antara lain DAS air Manjunto (Andal PT Agro Muko, 2005). Karakteristik fisik sungai Air Manjunto memiliki luas daerah aliran sungai seluas 56.250 hektar. Sebagian besar daerah aliran sungai ini masih berupa hutan primer dan hutan sekunder (24.610 ha), sebagian lainnya berupa kebun campuran (3.864 hektar) dan perkebunan besar swasta (4.472 ha). Panjang DAS Air Manjunto dari hulu sampai hilir lebih kurang 49,2 km dengan lebar DAS rata-rata 10 km. Bentuk DAS adalah memanjang dengan substratum dasar sungai umum berbatu dengan tebing sungai berupa dinding tanah. Debit rata-rata sungai ini (Desa Lalang Luas, Sub-DAS Manjunto) tercatat sebesar 19,17 m3/detik dengan debit air maksimum 89,72 m3/detik dan minimum 11,54 m3/detik.</p>
<p>            Karakteristik fisik sungai Air Selagan (Andal Agro Muko, 2005) memiliki luas DAS 78.125 ha. Sebagian besar DAS ini masih berupa hutan primer dan sekunder (36.249 ha), sebagian lainnya berupa DAS utama Air Selagan dari hulu sampai hilir 63,4 km dengan lebar DAS  rata-rata 16,2 km. Bentuk DAS adalah menjari dengan substratum dasar sungai Air Selagan umum berpasir dengan tebing sungai berupa dinding tanah. Lebar sungai Air Selagan di desa Pondok Kopi lebih kurang 80 meter dengan kedalaman sungai bervariasi 0,30-0,83 meter. Debit air maksimum tercatat 199 m3/detik dan debit  air minimum 0,58 m3/detik dengan rata-rata debit air bulanan berkisar 2,15 sampai 69,69 m3/detik.</p>
<p>            Karakteristik fisik sungai Air Dikit (Andal PT Agro Muko, 2005) memiliki luas DAS 26.875 ha. Sebagian besar DAS ini masih berupa hutan primer dan sekunder (11.618 ha), sebagian lainnya berupa DAS utama dari hulu sampai hilir 42,5 km dengan lebar DAS rata-rata 3,25 km. Bentuk DAS adalah memanjang dengan substratum dasar sungai umum berpasir dengan tebing sungai berupa dinding tanah. Lebar sungai Air Dikit di desa Air Dikit 52 meter dengan kedalaman sungai bervariasi 0,40-0,86 meter. Debit air maksimum tercatat sebesar 278 m3/detik dan minimum 10,93 m3/detik dengan rata-rata debit air bulanan 7,23 m3/detik.</p>
<p>            Karakteristik fisik sungai Air Bantal (Andal PT Agro Muko, 2005) memiliki luas DAS 42.500 ha. Sebagian besar DAs ini masih berupa hutan primer dan sekunder (36.000 ha), sedangkan lainnya berupa kebun campuran (1.220 ha) dan perkebunan besar swasta (3.787 ha). Panjang DAS utama dari hulu sampai hilir 60 km dengan lebar DAS 7,5 km. Bentuk DAS adalah menjari dengan substratum dasar sungai umum berbatu dengan tebing sungai berupa dinding tanah. Lebar sungai di desa Pondok Baru 73,50 meter dengan kedalaman sungai bervariasi 0,36-1,36 meter. Debit air maksimum tercatat 449,0 m3/detik dan minimu 0,74 m3/detik dengan rata-rata debit bulanan berkisar 16,96 m3/detik sampai 82,46 m3/detik.</p>
<p>            Karakteristik fisik sungai Air Teramang (Andal PT Agro Muko, 2005) memiliki luas DAS 77.500 ha. Panjang DAS utama adalah 72,5 km dengan lebar DAS 21,5 km. Bentuk DAS adalah parallel dengan substratum dasar sungai di desa Tunggang 42 meter dengan kedalaman 0,31-0,73 meter. Debit air maksimum 738,54 m3/detik, minimum 4,40 m3/detik dengan rata-rata debit air bulanan berkisar 7,15 m3/detik sampai 54,36 m3/detik.</p>
<p>            DAS Air Penanakan (Andal PT Famiaterdio Nagara, 2006) memiliki panjang aliran 8,36 km dengan luas tangkapan air 10,61 km2. Debit air sungai diperkirakan 5,8 m3/detik. Sungai Gesikan memiliki panjang 2,4 km dengan luas tangkapan air 8,4 km2. Debit air sungai 1,5 m3/detik. Sungai Seluma memiliki debit 25,0 m3/detik, dengan panjang sungai 80 km dengan luas tangkapan air 560 km2.</p>
<p> </p>
<p><strong>2.4. Udara                  </strong></p>
<p>        Tabel 11 dan Tabel 12 menyajikan kualitas udara di Propinsi Bengkulu  pada tahun 2006.  Suhu udara  di propinsi Bengkulu bervariasi. Suhu udara yang paling rendah adalah di Kabupaten Lebong dimana sebagian besar daerah ini merupakan kawsan TNKS, sedangkan yang paling tinggi adalah di Kabupaten atau Kota yang merupakan kawasan pantai. Propinsi Bengkulu mempunyai tingkat kelembaban yang tinggi. Kelembaban udara di Bengkulu berkisar antara 84% sampai 90%.</p>
<p>        Kecepatan dan arah angin akan mempengaruhi kesepatan perjalanan dan arah awan yang melintas di Propinsi Bengkulu. Kecepatan angina rata-rata bersisar anara 0,8 km/jam sampai 3 km/jam.</p>
<p>Tabel 11. Kualitas udara di Propinsi Bengkulu</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="125" valign="top">Parameter</td>
<td width="71" valign="top">Satuan</td>
<td width="93" valign="top"> Bengkulu</td>
<td width="94" valign="top">Kepahiang</td>
<td width="92" valign="top">Rejang lebong</td>
<td width="93" valign="top">Lebong</td>
</tr>
<tr>
<td width="125" valign="top">Kecepatan angina</td>
<td width="71" valign="top">Feet/mnt</td>
<td width="93" valign="top">100-200</td>
<td width="94" valign="top">100-200</td>
<td width="92" valign="top">100-200</td>
<td width="93" valign="top">50-100</td>
</tr>
<tr>
<td width="125" valign="top">Kebisingan</td>
<td width="71" valign="top">dBA</td>
<td width="93" valign="top">76,8</td>
<td width="94" valign="top">69,3</td>
<td width="92" valign="top">64,6</td>
<td width="93" valign="top">61,3</td>
</tr>
<tr>
<td width="125" valign="top">Sulfur dioksida</td>
<td width="71" valign="top">µg/Nm<sup>3</sup></td>
<td width="93" valign="top">120</td>
<td width="94" valign="top">114</td>
<td width="92" valign="top">96</td>
<td width="93" valign="top">104</td>
</tr>
<tr>
<td width="125" valign="top">Karbon monoksida</td>
<td width="71" valign="top">µg/Nm<sup>3</sup></td>
<td width="93" valign="top">13.000</td>
<td width="94" valign="top">11.000</td>
<td width="92" valign="top">10.000</td>
<td width="93" valign="top">10.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="125" valign="top">Nitrogen dioksida</td>
<td width="71" valign="top">µg/Nm<sup>3</sup></td>
<td width="93" valign="top">101</td>
<td width="94" valign="top">97</td>
<td width="92" valign="top">89</td>
<td width="93" valign="top">99</td>
</tr>
<tr>
<td width="125" valign="top">TSP</td>
<td width="71" valign="top">µg/m<sup>3</sup></td>
<td width="93" valign="top">135</td>
<td width="94" valign="top">102</td>
<td width="92" valign="top">97</td>
<td width="93" valign="top">112</td>
</tr>
<tr>
<td width="125" valign="top">Hidrokarbon</td>
<td width="71" valign="top">µg/Nm<sup>3</sup></td>
<td width="93" valign="top">70</td>
<td width="94" valign="top">50</td>
<td width="92" valign="top">50</td>
<td width="93" valign="top">50</td>
</tr>
<tr>
<td width="125" valign="top">Pb</td>
<td width="71" valign="top">µg/Nm<sup>3</sup></td>
<td width="93" valign="top">&#60;0,001</td>
<td width="94" valign="top">&#60;0,001</td>
<td width="92" valign="top">&#60;0,001</td>
<td width="93" valign="top">&#60;0,001</td>
</tr>
<tr>
<td width="125" valign="top">PM10</td>
<td width="71" valign="top">µg/Nm<sup>3</sup></td>
<td width="93" valign="top">100</td>
<td width="94" valign="top">68</td>
<td width="92" valign="top">64</td>
<td width="93" valign="top">72</td>
</tr>
<tr>
<td width="125" valign="top">PM2.5</td>
<td width="71" valign="top">µg/Nm<sup>3</sup></td>
<td width="93" valign="top">35</td>
<td width="94" valign="top">34</td>
<td width="92" valign="top">33</td>
<td width="93" valign="top">36</td>
</tr>
<tr>
<td width="125" valign="top">Hidrogen sulfide</td>
<td width="71" valign="top">µg/Nm<sup>3</sup></td>
<td width="93" valign="top">0,0</td>
<td width="94" valign="top">0,0</td>
<td width="92" valign="top">0,0</td>
<td width="93" valign="top">0,0</td>
</tr>
<tr>
<td width="125" valign="top">Amoniak</td>
<td width="71" valign="top">µg/Nm<sup>3</sup></td>
<td width="93" valign="top">0,0</td>
<td width="94" valign="top">0,0</td>
<td width="92" valign="top">0,0</td>
<td width="93" valign="top">0,0</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: Inventarisasi SDA &#38; LH Propinsi Bengkulu (2006)</p>
<p> </p>
<p>Tabel 12.  Suhu udara, kelembaban udara, SPM, kecepatan angin di Propinsi Bengkulu tahun 2005</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="114" valign="top">Bulan</td>
<td width="114" valign="top">Suhu udara (<sup>o</sup>C)</td>
<td width="114" valign="top">Kelembaban udara (%)</td>
<td width="114" valign="top">SPM (mg/l)*</td>
<td width="114" valign="top">Kecepatan angin (km/jam)</td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">Januari</td>
<td width="114" valign="top">24,0</td>
<td width="114" valign="top">88,3</td>
<td width="114" valign="top">45,043</td>
<td width="114" valign="top">2,15</td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">Februari</td>
<td width="114" valign="top">24,5</td>
<td width="114" valign="top">87,5</td>
<td width="114" valign="top">51,900</td>
<td width="114" valign="top">2,10</td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">Maret</td>
<td width="114" valign="top">24,5</td>
<td width="114" valign="top">86,3</td>
<td width="114" valign="top">64,048</td>
<td width="114" valign="top">2,00</td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">April</td>
<td width="114" valign="top">24,9</td>
<td width="114" valign="top">85,8</td>
<td width="114" valign="top">49,898</td>
<td width="114" valign="top">1,85</td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">Mei</td>
<td width="114" valign="top">24,3</td>
<td width="114" valign="top">87,0</td>
<td width="114" valign="top">43,253</td>
<td width="114" valign="top">2,10</td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">Juni</td>
<td width="114" valign="top">24,4</td>
<td width="114" valign="top">86,8</td>
<td width="114" valign="top">62,738</td>
<td width="114" valign="top">2,25</td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">Juli</td>
<td width="114" valign="top">25,4</td>
<td width="114" valign="top">85,3</td>
<td width="114" valign="top">53,222</td>
<td width="114" valign="top">2,05</td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">Agustus</td>
<td width="114" valign="top">23,7</td>
<td width="114" valign="top">86,3</td>
<td width="114" valign="top">43,184</td>
<td width="114" valign="top">2,25</td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">September</td>
<td width="114" valign="top">24,5</td>
<td width="114" valign="top">86,3</td>
<td width="114" valign="top">41,362</td>
<td width="114" valign="top">2,05</td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">Oktober</td>
<td width="114" valign="top">24,1</td>
<td width="114" valign="top">89</td>
<td width="114" valign="top">40,308</td>
<td width="114" valign="top">1,85</td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">Nopember</td>
<td width="114" valign="top">24,8</td>
<td width="114" valign="top">87,3</td>
<td width="114" valign="top">34,309</td>
<td width="114" valign="top">2,15</td>
</tr>
<tr>
<td width="114" valign="top">Desember</td>
<td width="114" valign="top"> </td>
<td width="114" valign="top"> </td>
<td width="114" valign="top">44,120</td>
<td width="114" valign="top"> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>*Data tahun 2004 untuk Kota Bengkulu</p>
<p>Sumber: Basis data lingkungan hidup daerah (2005)</p>
<p>       Berdasarkan tampilan pada table 11, maka kualitas udara di Propinsi Bengkulu masih dalam ambang batas normal. Hal ini disebabkan oleh karena aktivitas industri, jumlah kendaraan bermotor dan factor-faktor lain penyebab popusi masih tergolong rendah. Namun, sejalan dengan meningkatkan jumlah penduduk dan aktivitas manusia, maka diperkirakan kadar senyawa kimia udara akan semakin tinggi.</p>
<p><strong>2.5. Keanekaragaman Hayati</strong></p>
<p><strong>            </strong>Jenis flora dan fauna yang terdapat di kawasan wisata dan konservasi di Propinsi Bengkulu tertera dalam table di bawah ini. Taman wisata pantai panjang flora yang dominant adalah cemara laut dan fauna yang dominant adalah burung. Populasi cemara laut di taman wisata ini menurun drastic sebagi akibat dibangunnya jalan dua jalur. Namun telah ada upaya penanaman kembali cemara yang telah ditebang, tetapi sebagian besar mati karena tidak terawat.</p>
<p>            Cagar alam danau dusun besar terdapat flora endemic dan statusnya dilindungi yaitu anggrek pensil. Anggrek pensil jumlahnya sangat sedikit dan hamper punah. Oleh sebab itu perlu dilakukan konservasi agar tidak punah.</p>
<p> </p>
<p>Tabel 13a. Jenis flora dan fauna di kawasan wisata dan konservasi di Bengkulu</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="235" valign="top">Kawasan</td>
<td width="168" valign="top">Flora</td>
<td width="165" valign="top">Fauna</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Taman wisata pantai panjang</td>
<td width="168" valign="top">Cemara laut</td>
<td width="165" valign="top">Burung</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam danau dusun besar</td>
<td width="168" valign="top">Anggrek pensil (<em>Vanda hookeriana</em>), anggrek matahari, bakung, nipah, pulai, ambacang rawa, terentang, plawi, brosong, gelam, pakis, sikeduduk</td>
<td width="165" valign="top">Babi hutan, ular piton, kera ekor panjang, lutung, kutilang, siput, siamang, ikan (gabus, lele, gurami, sepat siam, kebakung, palau), kura-kura.</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Taman wisata alam bukit kaba</td>
<td width="168" valign="top">Pasang, umbel-umbelan, pandan duri, Rafflesia arnoldi, bunga bangkai.</td>
<td width="165" valign="top">Bunglon, tupai, berung tanah, monyet, musang, siamang, beruk, burung raja udang, burung robin, burung sirkawan, burung kutilang mas, burung elang, burung cekruk.</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam talang ulu I &#38; II</td>
<td width="168" valign="top">Bunga bangkai</td>
<td width="165" valign="top">Babi hutan, ular dan bangsa burung</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam air ketebat danau tes</td>
<td width="168" valign="top">Meranti, jelutung, kayu gadis, pulai, terentang, gelam.</td>
<td width="165" valign="top">Harimau, siamang, kera, ular, belilis, babi hutan, beberapa jenis ikan.</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam danau menghijau</td>
<td width="168" valign="top">Nipah, pakis, pandan, bamboo, meranti, pinus.</td>
<td width="165" valign="top">Belibis, burung hantu, burung enggang, kutilang, murai batu, punai, babi hutan, kera ekor panjang, kura-kura, dank an (gabus, lele, sepat siam, mujair).</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam pagar gunung I, II, III, IV &#38; V</td>
<td width="168" valign="top">Rafflesia arnoldi, bunga bangkai</td>
<td width="165" valign="top">Burung, ular.</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Taman wisata alam way hawang</td>
<td width="168" valign="top">Waru</td>
<td width="165" valign="top">Babi hutan, beruang madu, siamang, gajah, rusa.</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam pasar ngalam</td>
<td width="168" valign="top">Cemara laut, perdu, bakau, pinang</td>
<td width="165" valign="top">Babi hutan, rusa, kijang, kera ekor panjang, siamang, burung bangau, elang, karang laut, dan siput.</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam air alas</td>
<td width="168" valign="top">Cemara laut</td>
<td width="165" valign="top">Ular, babi, kera ekor panjang.</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Taman wisata alam lubuk tapi</td>
<td width="168" valign="top">Rafflesia arnoldi</td>
<td width="165" valign="top">Biawak, ular, jenis burung</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Taman buru semidang bukit kabu</td>
<td width="168" valign="top">Meranti, keruing, gadis, ketapang, pulai</td>
<td width="165" valign="top">Harimau Sumatera, babi hutan, beruang madu, simpai, siamang</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam pasar talo</td>
<td width="168" valign="top">Bakau, cemara laut, waru</td>
<td width="165" valign="top">Babi hutan, karang laut, burung pecuk ular, raja udang, dara laut, elang, biawak.</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam pasar seluma</td>
<td width="168" valign="top">Cemara laut</td>
<td width="165" valign="top">Babi hutan, kera, burung laut.</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Taman buru gunungnanu’ua</td>
<td width="168" valign="top">Ketapang, bintangur, kasai, beringin</td>
<td width="165" valign="top">Buaya, babi hutan, kerbau, sapi, biawak, burung beo.</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam teluk klowe</td>
<td width="168" valign="top">Bakau</td>
<td width="165" valign="top">Buaya, biawak</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam taba penanjung I dan II</td>
<td width="168" valign="top">Meranti, durian, gambir, bayur, terap, bunga bangkai</td>
<td width="165" valign="top">Babi hutan, siamang, monyet, owa, kuau,  jenis unggas.</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam kioyo I dan II</td>
<td width="168" valign="top">Merbau, kayu jambu, nehek, abihu, pakoran, rengas, beringin, bakau, kelapa</td>
<td width="165" valign="top">Babi hutan, biawak, tupai hutan, penyu, buaya, beo, elang laut, pergam dan punai.</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam muko-muko I dan II</td>
<td width="168" valign="top">Cemara laut, waru, beringin</td>
<td width="165" valign="top">Rusa, kijang, kancil, napu, siamang, beruk, simpai, kera ekor panjang, beo, murai batu, enggang papan, elang, pergam, punai.</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam sungai bahewo</td>
<td width="168" valign="top">Bakau, bayur, ketapang</td>
<td width="165" valign="top">Biawak, babi hutan</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">HPK fungsi khusus PLG Seblat</td>
<td width="168" valign="top">Meranti, medang, Rafflesia, bunga bangkai</td>
<td width="165" valign="top">Biawak, burung, rusa, kijang, kancil, napu, siamang, beruk, simpai, kera ekor panjang, tapir, gajah, harimau.</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Taman wisata alam air hitam</td>
<td width="168" valign="top">Cemara laut</td>
<td width="165" valign="top">Babi hutan, biawak</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam tanjung laksaha</td>
<td width="168" valign="top">Pinogo, merbau, kayu jambu, nehek, habihu, pakokor, rengas</td>
<td width="165" valign="top">Karangsemba, kima, kucung kucing, babi, ular, biawak, kura-kura darat, punai, dara laut, beo, bangau putih</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam air rami</td>
<td width="168" valign="top">Cemara laut, nibung, waru laut, ketapang.</td>
<td width="165" valign="top">Beruang madu, rusa, kijang, tapir, siamang, simpai, babi hutan, beo, enggang papan, murai batu, murai tanah, pergam, punai.</td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Cagar alam air seblat</td>
<td width="168" valign="top">Pinus, waru, beringin, cemara laut</td>
<td width="165" valign="top">Biawak, unggas, rusa, kijang, kancil, napu, siamang, beruk, simpai, kera ekor panjang.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p> </p>
<p>Table  13b. Jenis kura-kura yang ada di Bengkulu</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="190" valign="top">Nama</td>
<td width="226" valign="top">Habitat</td>
<td width="153" valign="top">Status</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Kura nanas (Heosemys spinosa)</td>
<td width="226" valign="top">Meskipun dilaporkan hidup di sungai yang dangkal, jenis ini banyak dilaporkan dari dalam hutan. Struktur tubuhnya juga menunjukkan bahwa jenis ini dapat hidup menahan kekeringan, karena perisainya jauh lebih tebal dan lebih kuat dibandingkan jenis kura-kura air tawar yang berukuran serupa. Kakinya yang bersisik tebal juga menunjukkan bahwa jenis ini mempunyai cukup perlindungan untuk hidup di daratan. Makanan utamanya adalah buah-buahan dan daun-daunan.</td>
<td width="153" valign="top">Jarang, belum dilindungi, mudah terancam punah</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Kura-kura garis hitam (Cyelemys odhamili</td>
<td width="226" valign="top">Habitat kura-kura garis hitam adalah sungai besar dan kecil dengan arus lambat sampai sedang. Pada siang hari, biasanya bersembunyi di daerah pinggiran sungai yang agak rimbun dengan tumbuhan air atau rumput-rumputan</td>
<td width="153" valign="top">Belum dilindungi</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Kura patah dada (Coura amboinensis)</td>
<td width="226" valign="top">Kura patah dada umumnya terdapat pada sungai besar maupun kecil dengan arus lambat sampai sedang dan juga sering dijumpai di sawah. Pada siang hari, biasanya bersembunyi di daerah pinggiran sungai yang agak rimbun dengan tumbuhan air atau rumput-rumputan. Makanannya terutama bahan tumbuh-tumbuhan tetapi juga ikan dan udang.</td>
<td width="153" valign="top">Belum dilindungi, mudah terancam punah</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Beiyogo (Notochelys platynota)</td>
<td width="226" valign="top">Tempat yang disukai adalah sungai berarus deras atau sedang. Makanan utamanya terdiri dari daun-daunan dan beberapa buah-buahan dan dikenal pula memakan siput dan udang</td>
<td width="153" valign="top">Belum dilindungi, mudah terancam punah, kurang data</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Baning coklat (Manouria emys)</td>
<td width="226" valign="top">Jenis ini hidup di daerah hutan dan dataran di daerah berketinggin sedang. Makanannya terutama terdiri dari daun-daunan, buah-buahan dan akar-akaran</td>
<td width="153" valign="top"><strong>Dilindungi, sudah terancam punah</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Labi-labi hutan (Dogania subplana)</td>
<td width="226" valign="top">Jenis ini umumnya ditemukan di sungai-sungai kecil dengan naungan terutama di dalam hutan</td>
<td width="153" valign="top">Tidak dilindungi, rawan</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Kura-kura pipi putih (Siebenrockiella crassiocollis)</td>
<td width="226" valign="top">Hidupnya di sungai-sungai kecil berarus lambat, daerah tergenang seperti rawa-rawa. Meskipun dilaporkan sebagai hewan karnovira, jenis ini makan baik ikan, udang, siput maupun buah-buahan dan daun-daunan. Jenis ini akan berhenti makan apabila ada jenis lain didekatnya, sehingga sebaiknya dipelihara tersendiri belum dilindungi, mudah terancam punah</td>
<td width="153" valign="top">Belum dilindungi, mudah terancam punah</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Bulus (Amyda cartilagenia)</td>
<td width="226" valign="top">Umumnya dijumpai di daerah yang tenang, berarus lambat. Bulus banyak ditemukan di kolam yang berhubungan dengan sungai atau danau dan oleh karena itu sering pula dianggap sebagai hama ikan yang dipelihara orang di dalam danau. Dalam keadaam umum, bulus selalu bersembunyi di dalam Lumpur atau di dalam pasir di dasar kolam atau sungai, sehingga sulit untuk ditemukan. Makanan utama terdiri dari daging/ikan, tetapi tidak menolak makanan sisa manusia</td>
<td width="153" valign="top">Tidak dilindungi, rawan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>           </p>
<p> </p>
<p>Informasi tentang keanekaragaman hayati di Propinsi Bengkulu masih belum lengkap dan terinci. Belum terdapat laporan dari dinas terkait tentang populasi flora dan fauna yang dilindungi. Diduga, populasi flora dan fauna yang dilindungi dari tahu ke tahun berkurang. Hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan laju pembangunan baik di sector perkebunan, industri, dan perumahan serta perkantoran dll.  Penurunan yang amat signifikan diperkirakan di Kabupaten Muko-muko, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur. Wilayah Kabupaten Lebong diperkirakan merupakan wilayah yang relative rendah penurunan keanekaragaman hayati  disebabkan pengawasan yang relative ketat terdapat kawasan lindung dan pembukaan perkebunan besar relative terbatas..</p>
<p>Tabel di bawah ini adalah jenis tumbuhan yang dlinduni yang terdapat di Propinsi Bengkulu. Spesies tumbuhan endemic yang terkenal dan unik adalah bunga terbesar di dunia yaitu Rafflesia arnoldi.  Terdapat tiga spesies di Propinsi Bengkulu yaitu <em>Rafflesia arnoldi</em>, <em>Rafflesia hasseltii</em> dan <em>Rafflesia aatjehensis</em>. Selain itu terdapat anggrek pensil (<em>Vanda hookeriana</em>) yang juga merupakan tumbuhan yang dilindungi dan endemic perairan Danau Dendam Tak Sudah.</p>
<p>Di Propinsi Bengkulu juga terdapat spesies bunga tertinggi di dunia yaitu <em>Amorphophallus titanium</em>.  </p>
<p> </p>
<p>Tabel 14. Jenis tumbuhan yang dilindungi yang terdpat di Propinsi Bengkulu</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="55" valign="top">No</td>
<td width="324" valign="top">Jenis</td>
<td width="190" valign="top">Nama local/Indonesia</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">1</td>
<td width="324" valign="top"><em>Amorphophallus bulbifer</em></td>
<td width="190" valign="top">Bunga bangkai jangkung</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">2</td>
<td width="324" valign="top"><em>Amorphophallus titanium</em></td>
<td width="190" valign="top">Bunga bangkai raksasa</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">3</td>
<td width="324" valign="top"><em>Amorphophallus campanulatus</em></td>
<td width="190" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">4</td>
<td width="324" valign="top"><em>Amorphophallus viridis</em></td>
<td width="190" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">5</td>
<td width="324" valign="top"><em>Rhizanthes zippellii</em></td>
<td width="190" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">6</td>
<td width="324" valign="top"><em>Rafflesia arnoldi</em></td>
<td width="190" valign="top">Rafflesia</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">7</td>
<td width="324" valign="top"><em>Rafflesia rnoldi var atjehensis</em></td>
<td width="190" valign="top">Rafflesia</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">8</td>
<td width="324" valign="top"><em>Rafflesia haseltii</em></td>
<td width="190" valign="top">Rafflesia</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">9</td>
<td width="324" valign="top"><em>Caryota sp</em></td>
<td width="190" valign="top">Palem raja</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">10</td>
<td width="324" valign="top"><em>Livistona spp</em></td>
<td width="190" valign="top">Palem kipas Sumatera</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">11</td>
<td width="324" valign="top"><em>Nenga gajah</em></td>
<td width="190" valign="top">Palem Sumatera</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">12</td>
<td width="324" valign="top"><em>Pinanga javana</em></td>
<td width="190" valign="top">Pinang</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">13</td>
<td width="324" valign="top"><em>Paphiolanthe hookeriana</em></td>
<td width="190" valign="top">Anggrek pensil</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">14</td>
<td width="324" valign="top"><em>Dendrobium sp</em></td>
<td width="190" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">15</td>
<td width="324" valign="top"><em>Paphiopedium sp</em></td>
<td width="190" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">16</td>
<td width="324" valign="top"><em>Nepenthes mirabilis </em>Druce<em> </em></td>
<td width="190" valign="top">Kantong semar</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">17</td>
<td width="324" valign="top"><em>Nepenthes ampularia </em>Jack<em> </em></td>
<td width="190" valign="top">Kantong semar</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">18</td>
<td width="324" valign="top"><em>Nepenthes aristolochioides </em>Jebb &#38; Cheek<em> </em></td>
<td width="190" valign="top">Kantong semar</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">19</td>
<td width="324" valign="top"><em>Nepenthes gracilis </em>Danser<em> </em></td>
<td width="190" valign="top">Kantong semar</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">20</td>
<td width="324" valign="top"><em>Dendrobium spp</em></td>
<td width="190" valign="top">Anggrek</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">21</td>
<td width="324" valign="top"><em>Shorea spp</em></td>
<td width="190" valign="top">Tengkawang</td>
</tr>
<tr>
<td width="55" valign="top">22</td>
<td width="324" valign="top"><em>Paphiopedium spp                                               </em></td>
<td width="190" valign="top">Anggrek</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: SLHD Propinsi Bengkulu (20050</p>
<p> </p>
<p>            Tabel di bawah ini mencantumkan jenis mamlia yang dilindungi yang terdapat di Propinsi Bengkulu. Sorotan lembaga intenaional terhadap kekayaan fauna di Propinsi Bengkulu terpusat pada populasi Badak Sumatera dan Harimau Sumatera. Diperkirakan populasi Badak Sumatera tinggal 4 ekor (SLHD Bengkulu, 2005). Diperkirakan 190 spesies mammalian hidup di Bengkulu. Di Propinsi Bengkulu terdapat 29 mammalia yang dilindungi. Menurut Whitten (1987) salah satu subspecies kera ekor panjang tergolong spesies endemic Bengkulu. Diperkirakan terdapat 580 spesies burung di Bengkulu. Salah satu daerah yang kaya burung adalah pulau Enggano dengan spesies endemic <em>Otus umbra</em> (Whitten, 1987).</p>
<p> </p>
<p>Tabel 15. Jenis mammalian yang dilindungi di Propinsi Bengkulu</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="43" valign="top">No</td>
<td width="336" valign="top">Jenis mammalian</td>
<td width="190" valign="top">Nama local/Indonesia</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">1</td>
<td width="336" valign="top"><em>Capricornis sumatrensis</em></td>
<td width="190" valign="top">Kambing hutan</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">2</td>
<td width="336" valign="top"><em>Cervus spp</em></td>
<td width="190" valign="top">Rusa</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">3</td>
<td width="336" valign="top"><em>Cuon alpinus</em></td>
<td width="190" valign="top">Ajag</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">4</td>
<td width="336" valign="top"><em>Cynogale benneti</em></td>
<td width="190" valign="top">Musang air</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">5</td>
<td width="336" valign="top"><em>Dicerorhinus sumatrensis</em></td>
<td width="190" valign="top">Badak Sumatera</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">6</td>
<td width="336" valign="top"><em>Elephas indicus</em></td>
<td width="190" valign="top">Gajah</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">7</td>
<td width="336" valign="top"><em>Felis bandia</em></td>
<td width="190" valign="top">Kucing merah</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">8</td>
<td width="336" valign="top"><em>Felis bengalensis</em></td>
<td width="190" valign="top">Kucing hutan</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">9</td>
<td width="336" valign="top"><em>Felis marmorota</em></td>
<td width="190" valign="top">Kuwuk</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">10</td>
<td width="336" valign="top"><em>Felis viverrinus</em></td>
<td width="190" valign="top">Kucing bakau</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">11</td>
<td width="336" valign="top"><em>Felis temmincki</em></td>
<td width="190" valign="top">Kucing emas</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">12</td>
<td width="336" valign="top"><em>Helarctos malayanus</em></td>
<td width="190" valign="top">Beruang madu</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">13</td>
<td width="336" valign="top"><em>Hylobatidae</em></td>
<td width="190" valign="top">Keran tidak beruntut</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">14</td>
<td width="336" valign="top"><em>Hystrix brachyuran</em></td>
<td width="190" valign="top">Landak</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">15</td>
<td width="336" valign="top"><em>Larsicus hosei</em></td>
<td width="190" valign="top">Tupai tanah bergaris</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">16</td>
<td width="336" valign="top"><em>Lariscus insignis</em></td>
<td width="190" valign="top">Tupai tanah</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">17</td>
<td width="336" valign="top"><em>Iomys horsfeldi</em></td>
<td width="190" valign="top">Tupai terbang ekor merah</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">18</td>
<td width="336" valign="top"><em>Manis javanica</em></td>
<td width="190" valign="top">Trenggiling</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">19</td>
<td width="336" valign="top"><em>Muntiacus  muntjak</em></td>
<td width="190" valign="top">Kidang, Muncak</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">20</td>
<td width="336" valign="top"><em>Neofelis nebulusa</em></td>
<td width="190" valign="top">Harimau dahan</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">21</td>
<td width="336" valign="top"><em>Nycticebus coucang</em></td>
<td width="190" valign="top">Kukang</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">22</td>
<td width="336" valign="top"><em>Panthera pardus</em></td>
<td width="190" valign="top">Macan kumbang</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">23</td>
<td width="336" valign="top"><em>Panthera tigris sumatrae</em></td>
<td width="190" valign="top">Harimau Sumatera</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">24</td>
<td width="336" valign="top"><em>Presbytis rubicunda</em></td>
<td width="190" valign="top">Lutung merah, kelasi</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">25</td>
<td width="336" valign="top"><em>Presbytis frontata</em></td>
<td width="190" valign="top">Lutung</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">26</td>
<td width="336" valign="top"><em>Presbytis thomasi</em></td>
<td width="190" valign="top">Rungka</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">27</td>
<td width="336" valign="top"><em>Tapirus indicus</em></td>
<td width="190" valign="top">Tapir</td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">28</td>
<td width="336" valign="top"><em>Tarsius spp</em></td>
<td width="190" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td width="43" valign="top">29</td>
<td width="336" valign="top"><em>Tragulus spp</em></td>
<td width="190" valign="top">Napu/Kancil</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p> </p>
<p>            Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) memiliki hampir 4.000 jenis flora dan 198 jenis fauna ini telah terancam punah dikarenakan adanya aktivitas manusia di TNKS, contohnya daerah TNKS di Bengkulu. Beberapa aktivitas manusia yang mengancam flora dan fauna antara lain illegal logging,  pembukaan lahan dan perburuan. Jika ini dibiarkan diperkirakan flora dan fauna langka pada tahun 2015 akan punah. Tekanan yang sangat kuat terhadap keanekaragaman hayati dalam skala lokal adalah pembinasaan habitat-habitat alamiah.</p>
<p> </p>
<p>Gambar 1. Peta Daerah Prioritas Konservasi di Sumatera.Foto: ©CI,GIS</p>
<p>Sumber: Rombang et  al. (2005)</p>
<p> </p>
<p>Berdasarkan daftar IUCN 2004 jumlah fauna terancam punah di Sumatera berdasarkan kelompok adalah 11 jenis ikan air tawar, 30 jenis burung, 9 jenis amfibi, 13 jenis reptilia dan 38 jenis mamalia.</p>
<p> </p>
<p> Gambar 2. Tapir TNBG, termasuk kategori kritis(c<em>ritically endangered). </em>Foto: ©CI,Camera Trap</p>
<p> </p>
<p>Target pada tingkat kawasan dinamakan dengan &#8220;<em>Key Biodiversity Areas&#8221; </em>(KBA’s; Daerah Prioritas untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati) yang merupakan daerah-daerah yang secara signifikan penting untuk konservasi keanekaragaman hayati dan secara nyata atau potensial untuk dikelola sebagai kawasan konservasi. KBA diidentifikasi berdasarkan kehadiran jenis-jenis flora fauna tertentu dimana konservasi pada skala kawasan diperlukan untuk menghindari terjadi kepunahan baik pada jangka pendek maupun jangka menengah yaitu: jenis-jenis yang berstatus terancam punah, sebaran terbatas atau berkelompok dalam jumlah yang signifikan (Rombang et al., 2005).</p>
<p>Terdapat 62 KBA yang diidentifikasi di Sumatera untuk jenis terancam punah dan sebaran terbatas bagi kelompok amfibi, mamalia, burung, reptilia, dan ikan air tawar. Jenis-jenis tersebut didasarkan pada keberadaannyaa secara pasti di dalam suatu area/kawasan tertentu. Batas kawasan KBA umumnya didasarkan pada batas kawasan konservasi yang dikombinasikan secara terbatas dengan informasi mengenai habitat dari spesies sasaran. Selain itu, 18 kawasan diidentifikasi sebagai kandidat KBA, atau juga dikenal sebagai kawasan prioritas untuk dilakukan penelitian lanjutan, sehingga dapat mengkonfirmasi keberadaan spesies target, maka kawasan ini akan menjadi kawasan prioritas untuk konservasi keanekaragaman hayati (KBA) (Rombang et al., 2005).</p>
<p>Sumatera merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia dan masuk kedalam kawasan <em>Hotspot</em> Sundaland. Perlu diingat bahwa kawasan KBA yang diidentifikasi ini didasarkan pada ketersediaan informasi pada saat proses ini dilakukan sehingga ada kemungkinan sejalan dengan bertambahnya informasi jumlah maupun skala prioritas KBA akan berubah (Rombang et al, 2005).</p>
<p><strong>Daerah Prioritas untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati: Sumatera</strong></p>
<p>1 Pulau Weh*</p>
<p>2 Ulu Masin</p>
<p>3 Jambo (Seulawah)</p>
<p>4 Danau Laut Tawar</p>
<p>5 Baleq+</p>
<p>6 Geureudong</p>
<p>7 Rawa Tripa</p>
<p>8 Leuser</p>
<p>9 Soraya</p>
<p>10 Trumon &#8211; Singkil</p>
<p>11 Lae Raso</p>
<p>12 Pulau Simeulue</p>
<p>13 Karang Gading Langkat Timur Laut*</p>
<p>14 Hutan Raya Bukit Barisan</p>
<p>15 Tuntungan*</p>
<p>16 Pesisir Timur Pantai Sumatera Utara</p>
<p>17 Danau Toba</p>
<p>18 Sicike-cike*</p>
<p>19 Sidiangkat</p>
<p>20 Rawa Tapus</p>
<p>21 Batang Toru</p>
<p>22 Angkola</p>
<p>23 Mareno</p>
<p>24 Batang Gadis</p>
<p>25 Pulau Nias*</p>
<p>26 Tana Massa*</p>
<p>27 Gunung Talakmau+</p>
<p>28 Malampah Alahan Panjang</p>
<p>29 Gunung Singgalang</p>
<p>30 Lubuk Selasih+</p>
<p>31 Kerinci &#8211; Seblat+</p>
<p>32 Pasir Ganting*</p>
<p>33 Rawa Lunang</p>
<p>34 Hutan Siberut Utara</p>
<p>35 Siberut</p>
<p>36 Pulau Sipora+</p>
<p>37 Pagai Utara</p>
<p>38 Pagai Selatan</p>
<p>39 Hutan Rawa Gambut Barumun Rokan</p>
<p>40 Siak Kecil</p>
<p>41 Hutan Rawa Gambut Siak Kampar</p>
<p>42 Kerumutan</p>
<p>43 Japura*</p>
<p>44 Tesso Nilo</p>
<p>45 Baturidjal</p>
<p>46 Bukit Baling</p>
<p>47 Bukit Tigapuluh</p>
<p>48 Pesisir Riau Tenggara</p>
<p>49 Bintan Utara</p>
<p>50 Kepulauan Lingga*</p>
<p>51 Pulau Natuna</p>
<p>52 Bukit Panjang &#8211; Bukit Siguntang*</p>
<p>53 Bukit Bakar &#8211; Bukit Gajah*</p>
<p>54 Pesisir Pantai Jambi</p>
<p>55 Sungai Batang Hari*</p>
<p>56 Berbak</p>
<p>57 Sipurak</p>
<p>58 Bukit Bahar &#8211; Tajau Pecah</p>
<p>59 Hutan Meranti</p>
<p>60 Merang</p>
<p>61 Sungai Sembilang</p>
<p>62 Tanjung Koyan-Selokan</p>
<p>63 Dataran Banjir Ogan Komering Lebak</p>
<p>64 Gumai Pasemah*</p>
<p>65 Pagar Alam+</p>
<p>66 Gunung Dempo</p>
<p>67 Dirgahayu Rimba</p>
<p>68 Gunung Sagu</p>
<p>69 Kemumu*</p>
<p>70 Tahura Bengkulu</p>
<p>71 Bukit Kaba*</p>
<p>72 Kepahiang*</p>
<p>73 Pulau Enggano+</p>
<p>74 Bukit Barisan Selatan</p>
<p>75 Rawa Tulang Bawang*</p>
<p>76 Way Kambas</p>
<p>77 Marawang</p>
<p>78 Bikang</p>
<p>79 Toboali</p>
<p>80 Pulau Belitung*</p>
<p> </p>
<p>Catatan:</p>
<p>+ Daerah Alliance for Zero Extinction</p>
<p>* Calon Daerah Prioritas untuk Konservasi</p>
<p>Keanekaragaman Hayati</p>
<p align="right"><em><strong>l</strong></em><strong> </strong></p>
<p><strong>2.6. Demografi</strong></p>
<p>            Junlah penduduk tahun 2004 dan 2005 tercantum pada Tabel 16. Jumlah penduduk Bengkulu tahun 2004 adalah sebesar 1.541.551 jiwa dan pada tahun 2005 meningkat menjadi 1.598.177.  Jumlah penduduk ini tergolong rendah jika dibandingkan dengan propinsi lain di Indonesia.</p>
<p> </p>
<p>Tabel 16. Jumlah penduduk 2004 dan 2005</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="190" valign="top"> </td>
<td width="190" valign="top">2004</td>
<td width="190" valign="top">2005</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Jumlah penduduk</td>
<td width="190" valign="top">1.541.551</td>
<td width="190" valign="top">1.598.177</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Kota</td>
<td width="190" valign="top">445.233</td>
<td width="190" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Desa</td>
<td width="190" valign="top">1.096.318</td>
<td width="190" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Pertumbuhan penduuk</td>
<td width="190" valign="top">1,98</td>
<td width="190" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Kota</td>
<td width="190" valign="top">4,62</td>
<td width="190" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">Desa</td>
<td width="190" valign="top">1,14</td>
<td width="190" valign="top"> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: SLHD Bengkulu (2005)</p>
<p>            Table 17 menampilkan jumlah dan laju penduduk Bengkulu periode 1930-2004.  Sampai dengan tahun 1980 terjadi peningkatan laju pertumbuhan, tetapi sejak periode 1980-1990 terjadi penurunan laju pertumbuhan dan terus menurun sampai pada tahun 2004 menjadi 1,98%.  Pada era 1970-1990 laju pertumbuhan di propinsi Bengkulu masih tinggi sebagai akibat tingginya angka kelahiran dan program <em>transmigrasi</em> dan mencapai puncaknya pada periode 1971-1980 dan periode 1980-1990.</p>
<p>            Peningkatan laju pertumbuhan penduduk  yang cukup tinggi ini tentunya menambah beban pembangunan untuk mencukupi kebutuhan sandang, papan, pangan, pendidikan dan kesehatan. Dengan demikian perlu adanya pengendalian laju pertumbuhan penduduk.</p>
<p>Tabel 17. Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk Propinsi Bengkulu</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="103" valign="top">Tahun</td>
<td width="181" valign="top">Jumlah Penduduk (jiwa)</td>
<td width="142" valign="top">Pertumbuhan (%)</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">1930</td>
<td width="181" valign="top">323.595</td>
<td width="142" valign="top">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">1961</td>
<td width="181" valign="top">406.249</td>
<td width="142" valign="top">0,74</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">1971</td>
<td width="181" valign="top">519.486</td>
<td width="142" valign="top">2,49</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">1980</td>
<td width="181" valign="top">768.064</td>
<td width="142" valign="top">4,39</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">1990</td>
<td width="181" valign="top">1.178.951</td>
<td width="142" valign="top">4,38</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">1995</td>
<td width="181" valign="top">1.409.117</td>
<td width="142" valign="top">3,53</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">2000</td>
<td width="181" valign="top">1.562.060</td>
<td width="142" valign="top">2,94</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">2001</td>
<td width="181" valign="top">1.592.926</td>
<td width="142" valign="top">2,98</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">2002</td>
<td width="181" valign="top">1.640.597</td>
<td width="142" valign="top">2,99</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">2003</td>
<td width="181" valign="top">1.517.181</td>
<td width="142" valign="top">2,07</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">2004</td>
<td width="181" valign="top">1.541.551</td>
<td width="142" valign="top">1,98</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: SLHD Bengkulu (2005)</p>
<p> </p>
<p>            Pencanangan Program Keluarga berencana yang dilakukan sejak tahun 1979 mampu menekan laju pertumbuhan penduduk hingga pada tahun 2004 menjadi hanya 1,98%.</p>
<p>            Tingkat kepadatan penduduk di Propinsi Bengkulu relative rendah yaitu pada tahun 1990 adalah 60 jiwa per km2, tahun 2000 adalah 79 jiwa, tahun 2003 adalah 77 jiwa dan tahun 2004 adalah 78 jiwa per km2. Namaun demikian, Kota Bengkulu yang merupakan ibukota propinsi mempunyai kepadatan penduduk yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya.</p>
<p>            Informasi mengenai struktur penduduk sangat diperlukan karena dapat menggambarkan keadaan penduduk secara lebih khusus. Tabel 17 menyajikan jumlah penduduk umur 10 tahun ke atas menurut tingkat pendidikannya. Wajib belajar 9 tahun telah dicanangkan oleh pemerintah Indonesia. Logikanya, tidak ada lagi penduduk diatas 10 tahun yang tidak sekolah. Namun pada kenyataannya di Propinsi Bengkulu masih terdapat penduduk yang tidak pernah sekolah yaitu sebanyak 53.169 jiwa pada tahun 2005, sedangkan yang tidak tamat sebanyak 285.954 jiwa. Ini tentunya harus menjadi perhatian yang serius bagi pemerintah daerah. Alasan utama bagi mereka yang tidak sekolah atau tidak tamat adalah biaya sekolah yang tidak dapat mereka jangkau. Logisnya, jika pemerintah mencanangkan 9 tahun wajib belajar, maka semua siswa wajib sekolah  diwajibkan sekolah tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun. Atau paling tidak, bagi yang tidak mampu seluruhnya dapat mengenyam pendidikan sampai SMP secara gratis  termasuk biaya buku, alat-alat sekolah dll.  Meskipun sudah  ada dana BOS, pada kenyataannya masih banyak sekolah yang memungut biaya komite dengan alas an uang BOS tidak cukup untuk biaya operasional. Hal ini tentunya perlu dicarikan jalan keluarnya. Langkah pertama adalah berapa kebutuhan nyata sebuah sekolah, dan langkah berikutnya adalah melakukan survey tentang penggunaan dana masyarakat oleh sekolah apakah itu merupakan kebutuhan standard atau sebenarnya bukan kebutuhan.  Langkah lain yang perlu dipikirkan adalah pengawasan penggunaan dana BOS dan dana masyarakat agar tidak terjadi penyelewengan.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Tabel 18. Jumlah penuduk 10 tahun ke atas menurut pendidikan</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="559">
<tbody>
<tr>
<td width="175" valign="top"> </td>
<td colspan="3" width="276" valign="top">
<p align="center">2004</p>
</td>
<td width="108" valign="top">
<p align="center">2005</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">Pendidikan</td>
<td width="96" valign="top">Kota</td>
<td width="96" valign="top">Desa</td>
<td width="84" valign="top">Total</td>
<td width="108" valign="top">Total</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">Tidak pernah sekolah</td>
<td width="96" valign="top">5.231</td>
<td width="96" valign="top">47.938</td>
<td width="84" valign="top">53.169</td>
<td width="108" valign="top">53.169</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">Tidak/belum tamat</td>
<td width="96" valign="top">46.272</td>
<td width="96" valign="top">239.742</td>
<td width="84" valign="top">286.014</td>
<td width="108" valign="top">285.954</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">SD/MIN</td>
<td width="96" valign="top">69.784</td>
<td width="96" valign="top">289.261</td>
<td width="84" valign="top">359.045</td>
<td width="108" valign="top">359.045</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">SLTP/MTs</td>
<td width="96" valign="top">79.929</td>
<td width="96" valign="top">161.301</td>
<td width="84" valign="top">241.230</td>
<td width="108" valign="top">241.221</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">SMU/MAN</td>
<td width="96" valign="top">89.106</td>
<td width="96" valign="top">92.709</td>
<td width="84" valign="top">181.815</td>
<td width="108" valign="top">181.815</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">SMK</td>
<td width="96" valign="top">28.017</td>
<td width="96" valign="top">20.664</td>
<td width="84" valign="top">48.681</td>
<td width="108" valign="top">48.681</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">D1/D2</td>
<td width="96" valign="top">6.749</td>
<td width="96" valign="top">8.263</td>
<td width="84" valign="top">15.012</td>
<td width="108" valign="top">15.012</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">D3/Sarjana Muda</td>
<td width="96" valign="top">8.581</td>
<td width="96" valign="top">2.450</td>
<td width="84" valign="top">11.031</td>
<td width="108" valign="top">11.031</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">D4/S1</td>
<td width="96" valign="top">21.495</td>
<td width="96" valign="top">4.340</td>
<td width="84" valign="top">25.835</td>
<td width="108" valign="top">25.835</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">S2 &#38; S3</td>
<td width="96" valign="top">670</td>
<td width="96" valign="top">0</td>
<td width="84" valign="top">670</td>
<td width="108" valign="top">670</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">Jumlah</td>
<td width="96" valign="top">355.834</td>
<td width="96" valign="top">866.668</td>
<td width="84" valign="top">1.222.502</td>
<td width="108" valign="top">1.222.433</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: SLHD Bengkulu (2005)</p>
<p> </p>
<p>Dari table 18 dapat dolah bahwa jumlah penduduk yang mengeyam pendidikan SMA ke atas adalah sebesar hanya 23%. Ini menunjukkan bahwa SDM di propinsi Bengkulu masih tergolong rendah. Rendahnya kualitas SDM tentunya berakibat kepada lambatnya laju pembangunan menuju manusia keutuhnya. Meskipun telah ada Program Bengkulu Kota Pelajar, namun pada kenyataannya program tersebut belum mampu menggenjot kualitas SDM di propinsi Bengkulu.</p>
<p> </p>
<p>Tabel  19.  Jumlah  siswa dan buta aksara di Propinsi Bengkulu</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="95" valign="top">Variabel</td>
<td width="95" valign="top">2002</td>
<td width="95" valign="top">2003</td>
<td width="95" valign="top">2004</td>
<td width="95" valign="top">2005</td>
<td width="95" valign="top">2006</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">Buta aksara</td>
<td width="95" valign="top">19.877</td>
<td width="95" valign="top">19.317</td>
<td width="95" valign="top">18.570</td>
<td width="95" valign="top">17.891</td>
<td width="95" valign="top">15.004</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">Siswa 4-6</td>
<td width="95" valign="top"> </td>
<td width="95" valign="top"> </td>
<td width="95" valign="top">7.876</td>
<td width="95" valign="top">1.300</td>
<td width="95" valign="top">17.106</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">Siswa 7-12</td>
<td width="95" valign="top"> </td>
<td width="95" valign="top"> </td>
<td width="95" valign="top">186.699</td>
<td width="95" valign="top">199.632</td>
<td width="95" valign="top">207.039</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">Siswa 13-15</td>
<td width="95" valign="top"> </td>
<td width="95" valign="top"> </td>
<td width="95" valign="top">59.139</td>
<td width="95" valign="top">67.595</td>
<td width="95" valign="top">74.795</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">Siswa 16-18</td>
<td width="95" valign="top"> </td>
<td width="95" valign="top"> </td>
<td width="95" valign="top">52.836</td>
<td width="95" valign="top">34.406</td>
<td width="95" valign="top">41.763</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: SLHD Bengkulu (2005)</p>
<p> </p>
<p>            Dari table 19 merlihat bahwa penduduk buta aksara masih relative tinggi, dimana jika pada tahun 2004 angka buta aksara sebanyak 18.570 jiwa, tahun 2005 menurun menjadi 17.891 jiwa dan pada tahun 2006 menurun menjadi 15.004. Ini menunjukkan bahwa  masih diperlukannya program-program paket untuk lebih menurunkan jumlah penduduk buta aksara. Fakta ini juga memberikan tanda bahwa SDM di Bengkulu masih rendah  dan harus ada program yang sungguh-sungguh dilaksanakan untuk menekan angka ini.</p>
<p> </p>
<p>Tabel 20.  Jumlah penduduk menurut umur</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="95" valign="top">Umur (th)</td>
<td width="95" valign="top">1990</td>
<td width="95" valign="top">2000</td>
<td width="95" valign="top">2003</td>
<td width="95" valign="top">2004</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">0-4</td>
<td width="95" valign="top">13,64</td>
<td width="95" valign="top">11,28</td>
<td width="95" valign="top">9,4</td>
<td width="95" valign="top">9,73</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">5-9</td>
<td width="95" valign="top">14,35</td>
<td width="95" valign="top">11,12</td>
<td width="95" valign="top">11,2</td>
<td width="95" valign="top">10,97</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">10-14</td>
<td width="95" valign="top">13,39</td>
<td width="95" valign="top">11,57</td>
<td width="95" valign="top">11,9</td>
<td width="95" valign="top">11,21</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">15-19</td>
<td width="95" valign="top">10,48</td>
<td width="95" valign="top">11,23</td>
<td width="95" valign="top">11,0</td>
<td width="95" valign="top">10,64</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">20-24</td>
<td width="95" valign="top">8,83</td>
<td width="95" valign="top">9,95</td>
<td width="95" valign="top">9,3</td>
<td width="95" valign="top">9,70</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">25-29</td>
<td width="95" valign="top">9,02</td>
<td width="95" valign="top">9,15</td>
<td width="95" valign="top">8,1</td>
<td width="95" valign="top">9,56</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">30-34</td>
<td width="95" valign="top">7,54</td>
<td width="95" valign="top">7,99</td>
<td width="95" valign="top">7,4</td>
<td width="95" valign="top">7,49</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">35-39</td>
<td width="95" valign="top">5,94</td>
<td width="95" valign="top">7,63</td>
<td width="95" valign="top">7,7</td>
<td width="95" valign="top">8,10</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">40-44</td>
<td width="95" valign="top">3,93</td>
<td width="95" valign="top">5,91</td>
<td width="95" valign="top">6,9</td>
<td width="95" valign="top">6,82</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">45-49</td>
<td width="95" valign="top">3,48</td>
<td width="95" valign="top">4,18</td>
<td width="95" valign="top">5,3</td>
<td width="95" valign="top">5,01</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">50-54</td>
<td width="95" valign="top">2,82</td>
<td width="95" valign="top">2,90</td>
<td width="95" valign="top">3,4</td>
<td width="95" valign="top">3,75</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">55-59</td>
<td width="95" valign="top">1,83</td>
<td width="95" valign="top">1,97</td>
<td width="95" valign="top">2,2</td>
<td width="95" valign="top">1,80</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">60-64</td>
<td width="95" valign="top">1,93</td>
<td width="95" valign="top">2,06</td>
<td width="95" valign="top">2,2</td>
<td width="95" valign="top">1,93</td>
</tr>
<tr>
<td width="95" valign="top">&#62;65</td>
<td width="95" valign="top">2,81</td>
<td width="95" valign="top">3,07</td>
<td width="95" valign="top">3,9</td>
<td width="95" valign="top">3,28</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>SLHD Propinsi Bengkulu (2005)</p>
<p> </p>
<p>            Tabel 20 memperlihatkan persentase  penduduk menurut umurnya. Pada tahun 1990 penduduk Bengkulu didominasi oleh kelomok umur 0-4 tahun, 5-9 tahun dan 10-14 tahun. Untuk tahun tahun berikutnya  struktur penduduk masih didominasi oleh kelompok umur tersebut di  atas walaupun telah terjadi perubahan dominasi diantara kelompok  tersebut. Perlu dicatat bahwa jumlah lansia (&#62;65 tahun) meningkat dari tahun ke tahun. Untuk itu ke depan perlu diperhatikan program-program yang terkait dengan kelompok umur ini.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Tabel 21. Komposisi penduduk dan angka beban ketergantungan 1990-2004 (%)</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="223" valign="top">Uraian</td>
<td width="72" valign="top">1990</td>
<td width="72" valign="top">2000</td>
<td width="72" valign="top">2002</td>
<td width="72" valign="top">2003</td>
<td width="57" valign="top">2004</td>
</tr>
<tr>
<td width="223" valign="top">Komposisi penduduk     0-14</p>
<p>     15-64</p>
<p>     &#62;65</td>
<td width="72" valign="top"> 41,38</p>
<p>55,81</p>
<p>2,81</td>
<td width="72" valign="top"> 33,97</p>
<p>62,96</p>
<p>3,07</td>
<td width="72" valign="top"> 33,04</p>
<p>63,52</p>
<p>3,45</td>
<td width="72" valign="top"> 32,58</p>
<p>63,52</p>
<p>3,91</td>
<td width="57" valign="top"> 31,91</p>
<p>64,80</p>
<p>3,28</td>
</tr>
<tr>
<td width="223" valign="top">Angka beban ketergantungan     YDR</p>
<p>     ODR</p>
<p>     DR</td>
<td width="72" valign="top"> 71</p>
<p>4</p>
<p>75</td>
<td width="72" valign="top"> 54</p>
<p>5</p>
<p>59</td>
<td width="72" valign="top"> 52</p>
<p>5</p>
<p>57</td>
<td width="72" valign="top"> 51</p>
<p>6</p>
<p>57</td>
<td width="57" valign="top"> 49</p>
<p>5</p>
<p>54</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: SLHD Bengkulu (2005)</p>
<p> </p>
<p>            Dari table 21 tampak jelas bahwa proporsi penduduk usia 0-14 tahun turun dari 41,38% pada tahun 1990 menjadi 31,91% pada tahun 2004. Pergeseran ini menunjukkan keberhasilan program Keluarga Berenca di Propinsi Bengkulu. Terjadi peningkatan proporsi usia angkatan produktif yaitu dari 55,81% pada tahun 1990 menjadi 64,80% pada tahun 2004. Peningkatan ini perlu diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan peluang kerja bagi mereka. Jika peluang kerja tidak ditingkatkan, maka akan terjadi peningkatan angka pengangguran yang pada gilirannya akan menimbulkan gejolak social yang negative.</p>
<p>            Dengan adanya perubahan komposisi penduduk, maka mempengaruhi angka beban ketergantungan. Pada tahun 2004 terlihat bahwa secara rata-rata tanggungan setiap 100 penduduk usia produktif telah menurun dari 75 pada tahun 1990 menjadi 54 penduduk tidak produktif pada tahun 2004. Begitu juga dengan rasio ketergantungan anak usia 0-14 tahun (YDR) menurun dari 71 menjadi 49 pada tahun 2004.</p>
<p> </p>
<p><strong>2.7. Demografi sosial</strong></p>
<p>            Dari table 22 dapat dibaca bahwa angka harapan hidup di Propinsi Bengkulu masih cukup  rendah yaitu hanya 67,40% pada tahun 2004 dan naik menjadi 68,80% pada tahun 2005. Lebih tragis lagi adalah bahwa kasus gizi buruk meningkat dari tahun ke tahun yaitu dari 108 dari pada thun 2002 menjadi 390 (sampai dengan Agustus 2005) pada tahun 2005. Pada tahun 2005, gizi buruk pada balita sebesar 6,97%, gizi kurang 19,59%, gizi normal 69,91% dan gizi lebih 3,53%. Angka harapan hidup yang rendah dan tingginya kasus gizi buruk ini disebabkan terutama oleh rendahnya tingkat pendapatan per kapita di Propinsi Bengkulu, dan sebab kedua adalah rendahnya pengetahuan tentang gizi. Untuk mengatasi hal tersebut, maka pemerintah perlu meningkatkan upaya-upaya yang berkaitan dengan peningkatan dan pemerataan pendapatan.</p>
<p> </p>
<p>Tabel 22. Angka harapan hidup dan kasus gizi buruk</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="475">
<tbody>
<tr>
<td width="151" valign="top">Variabel</td>
<td width="84" valign="top">2002</td>
<td width="72" valign="top">2003</td>
<td width="84" valign="top">2004</td>
<td width="84" valign="top">2005</td>
</tr>
<tr>
<td width="151" valign="top">Angka harapan hidup</td>
<td width="84" valign="top"> </td>
<td width="72" valign="top"> </td>
<td width="84" valign="top">67,40</td>
<td width="84" valign="top">68,80</td>
</tr>
<tr>
<td width="151" valign="top">Kasus Gizi Buruk</td>
<td width="84" valign="top">108</td>
<td width="72" valign="top">86</td>
<td width="84" valign="top">178</td>
<td width="84" valign="top">390</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber; Bappeda (2006)</p>
<p> </p>
<p>            Tabel 23 menunjukkan angka kesakitan dan lama sakit penduduk di Propinsi Bengkulu. Angka kesakitan pada tahun 2004 lebih tinggi jika dibandingkan dengan pada tahun 2003. Ini menunjukkan bahwa tingkat kesehatan penduduk proponsi Bengkulu menurun pada tahun 2004 jika dibandingkan dengan 2003. Yang lebih menarik adalah bahwa tingkat kesakitan penduduk desa lebih rendah daripada penduduk kota. Kondisi ini menandakan bahwa penduduk kota lebih sering terkena sakit jika dibandingkan dengan penduduk desa. Banyak factor yang menyebabkannya yaitu antara lain tingkat stress di kota lebih tinggi, pola hidup kota cenderung kurang sehat dll.</p>
<p> </p>
<p>Tabel 23. Angka kesakitan dan rata-rata lama sakit penduduk Propinsi bengkulu (%)</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" width="142" valign="top">Derajat kesehatan</td>
<td colspan="3" width="142" valign="top">Kota</td>
<td colspan="2" width="142" valign="top">Desa</td>
<td colspan="3" width="142" valign="top">Kota+Desa</td>
</tr>
<tr>
<td width="139" valign="top"> </td>
<td colspan="2" width="72" valign="top">2003</td>
<td width="72" valign="top">2004</td>
<td colspan="2" width="72" valign="top">2003</td>
<td colspan="2" width="72" valign="top">2004</td>
<td width="72" valign="top">2003</td>
<td width="69" valign="top">2004</td>
</tr>
<tr>
<td width="139" valign="top">Angka kesakitan</td>
<td colspan="2" width="72" valign="top">16,83</td>
<td width="72" valign="top">22,69</td>
<td colspan="2" width="72" valign="top">12,08</td>
<td colspan="2" width="72" valign="top">20,29</td>
<td width="72" valign="top">13,41</td>
<td width="69" valign="top">20,98</td>
</tr>
<tr>
<td width="139" valign="top">Lama sakit (hari)</td>
<td colspan="2" width="72" valign="top">6,12</td>
<td width="72" valign="top">5,69</td>
<td colspan="2" width="72" valign="top">6,08</td>
<td colspan="2" width="72" valign="top">5,92</td>
<td width="72" valign="top">6,09</td>
<td width="69" valign="top">5,85</td>
</tr>
<tr>
<td width="139"> </td>
<td width="3"> </td>
<td width="69"> </td>
<td width="72"> </td>
<td width="1"> </td>
<td width="71"> </td>
<td width="71"> </td>
<td width="1"> </td>
<td width="72"> </td>
<td width="69"> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: SLHD Bengkulu (2005)</p>
<p> </p>
<p>            Dari table 24 dapat dibaca bahwa penduduk yang terkena infeksi saluran pernafasan bagian atas yang berobat ke puskesmas adalah sebesar 23,18% dan sekaligus merupakan penyakit nomor satu yang menempa penduduk propinsi Bengkulu. Tingkat  kelembaban propinsi bengkulu sangat tinggi bahkan dapat mencapai 90%, yang mungkin ini merupakan salah satu sebab tingginya penyakit ISPA tersebut.</p>
<p> </p>
<p>Tabel 24.  Sepuluh penyakit terbanyak puskesmas  tahun 2005 (%)</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="235">
<tbody>
<tr>
<td width="151" valign="top">Penyakit</td>
<td width="84" valign="top">2005</td>
</tr>
<tr>
<td width="151" valign="top">Infeksi saluran pernafasan bagian atas</td>
<td width="84" valign="top">23,18</td>
</tr>
<tr>
<td width="151" valign="top">Febris</td>
<td width="84" valign="top">6,83</td>
</tr>
<tr>
<td width="151" valign="top">Malaria</td>
<td width="84" valign="top">5,60</td>
</tr>
<tr>
<td width="151" valign="top">Diare</td>
<td width="84" valign="top">4,68</td>
</tr>
<tr>
<td width="151" valign="top">Kulit alergi</td>
<td width="84" valign="top">4,25</td>
</tr>
<tr>
<td width="151" valign="top">Tekanan darah tinggi</td>
<td width="84" valign="top">3,85</td>
</tr>
<tr>
<td width="151" valign="top">Kulit infeksi</td>
<td width="84" valign="top">3,69</td>
</tr>
<tr>
<td width="151" valign="top">Radang sendi serupa rematik</td>
<td width="84" valign="top">3,68</td>
</tr>
<tr>
<td width="151" valign="top">Pulpa dan jaringan periapical</td>
<td width="84" valign="top">2,91</td>
</tr>
<tr>
<td width="151" valign="top">Gastritis</td>
<td width="84" valign="top">2,26</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: SLHD Bengkulu (2005)</p>
<p> </p>
<p><strong>2.8. Sosial Ekonomi</strong></p>
<p>PDRB propinsi Bengkulu jika dibandingkan dengan propinsi lain relative masih rendah. Salah satu sebabnya adalah 40,07% PPDRB didominasi oleh sector pertanian dengan serapan tenaga kerja di sector pertanian 68,39%. Ditambah lagi, produktivitas sector pertanian masih belum memenuhi standard produksi. Oleh sebab itu, secara ekonomi propinsi Bengkulu tertinggal dari propinsi lain. Sebab lain adalah rendahnya investasi dan rendahnya ekspor dari propinsi Bengkulu. Sebab lain adalah bahwa sector industri di propinsi Bengkulu masih belum berkembang, iklim usaha belum kondusif, sarana transportasi yang belum memadai serta system pelayanan yang belum mampu menarik investor.</p>
<p> </p>
<p>Tabel  25. PDRB dan pertumbuhan ekonomi</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="571">
<tbody>
<tr>
<td width="151" valign="top">Indikator</td>
<td width="84" valign="top">2002</td>
<td width="72" valign="top">2003</td>
<td width="84" valign="top">2004</td>
<td width="84" valign="top">2005</td>
<td width="96" valign="top">2006</td>
</tr>
<tr>
<td width="151" valign="top">PDRB (juta rupiah)</td>
<td width="84" valign="top">5.310.016</td>
<td width="72" valign="top">5.595.029</td>
<td width="84" valign="top">5.896.255</td>
<td width="84" valign="top">6.239.364,35</td>
<td width="96" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td width="151" valign="top">PDRB per kapita (Rp)</td>
<td width="84" valign="top">3.236.637</td>
<td width="72" valign="top">3.687.780</td>
<td width="84" valign="top">3.824.886</td>
<td width="84" valign="top">3.904.051</td>
<td width="96" valign="top">4.678.456 8*</td>
</tr>
<tr>
<td width="151" valign="top">Pertumbuhan ekonomi (%)</td>
<td width="84" valign="top">4,73</td>
<td width="72" valign="top">5,26</td>
<td width="84" valign="top">5,35</td>
<td width="84" valign="top">5,85</td>
<td width="96" valign="top">5,95*</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>* data sementara</p>
<p>Sumber: Bapeda Propinsi Bengkulu (2006)</p>
<p>           </p>
<p>            Sampai saat ini masalah kemiskinan di propinsi Bengkulu masih tetap menjadi masalah serius.  Dari table di bawah dapat dilihat bahwa jumlah keluarga pra sejahtera alas an ekonomi sebanyak 47.528 kelurga atau sebanyak  12,94%.</p>
<p> </p>
<p>Tabel 26. Jumlah keluarga miskin</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="284" valign="top">Klsifikasi keluarga</td>
<td width="284" valign="top">Jumlah</td>
</tr>
<tr>
<td width="284" valign="top">Tahap pra sejahtera alas an ekonomi</td>
<td width="284" valign="top">47.528</td>
</tr>
<tr>
<td width="284" valign="top">Tahap pra sejahtera alas an non-ekonomi</td>
<td width="284" valign="top">13.150</td>
</tr>
<tr>
<td width="284" valign="top">Tahap I  alas an ekonomi</td>
<td width="284" valign="top">79.970</td>
</tr>
<tr>
<td width="284" valign="top">Tahap I alas an non-ekonomi</td>
<td width="284" valign="top">49.644</td>
</tr>
<tr>
<td width="284" valign="top">KS Tahap II</td>
<td width="284" valign="top">117.683</td>
</tr>
<tr>
<td width="284" valign="top">KS tahap III</td>
<td width="284" valign="top">53.109</td>
</tr>
<tr>
<td width="284" valign="top">KL Tahap III plus</td>
<td width="284" valign="top">6.122</td>
</tr>
<tr>
<td width="284" valign="top">Jumlah</td>
<td width="284" valign="top">367.206</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: SLHD Bengkulu (2005)</p>
<p> </p>
<p>            Dari table 26 dapat disimpulkan bahwa masih banyak keluarga pra sejahtera di propinsi Bengkulu. Hal ini sejalan dengan rendahnya tingkat pendapatan per kapita di propinsi Bengkulu.</p>
<p>            Tabel 27 menunjukkan penduduk miskin di Propinsi bengkulu tahun 1993-2004. Pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin di Bengkulu sebesar 22,46% dari jumlah penduduk di Bengkulu. Angka ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan angka rata-rata penduduk miskin tingkat nasional yaitu sebesar 16,65% pada tahun yang sama.</p>
<p> </p>
<p>Tabel 27.  Penduduk miskin di propinsi Bengkulu</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="190" valign="top">Tahun</td>
<td width="190" valign="top">Jumlah (jiwa)</td>
<td width="190" valign="top">Persen</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">1993</td>
<td width="190" valign="top">173.100</td>
<td width="190" valign="top">13,11</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">1996</td>
<td width="190" valign="top">236.900</td>
<td width="190" valign="top">16,69</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">1999</td>
<td width="190" valign="top">302.300</td>
<td width="190" valign="top">19,79</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">2000</td>
<td width="190" valign="top">249.000</td>
<td width="190" valign="top">17,83</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">2001</td>
<td width="190" valign="top">308.500</td>
<td width="190" valign="top">21,65</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">2002</td>
<td width="190" valign="top">372.400</td>
<td width="190" valign="top">22,70</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">2003</td>
<td width="190" valign="top">344.200</td>
<td width="190" valign="top">22,68</td>
</tr>
<tr>
<td width="190" valign="top">2004</td>
<td width="190" valign="top">346.200</td>
<td width="190" valign="top">22,46</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: SLHD Bengkulu (2005).</p>
<p> </p>
<p>            Garis kemiskinan Propinsi Bengkulu tahun 2004 adalah Rp 115.569,- per kapita per bulan. Pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin adalah sebanyak 346.189 jiwa atau sebesar 22,46% dan penduduk fakir miskin 104.799 jiwa atau sebesar 6,8%. Jadi total penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan adalah 29,26%. Menurut TKPK BPM (2006) persentase keluarga miskin dan fakir miskin di propinsi Bengkulu pada tahun 2006 adalah sebesar 46%. Ini berarti terjadi peningkatan angka kemiskinan sebesar 16,74%.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><strong>2.9 Sosial Budaya</strong></p>
<p>        Pasal 1 butir 2 Undang Undang Benda Cagar Budaya (UURI No. 5 1992) menyatakan situs adalah lokasi yang mengandung benda cagar buadaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya. Kumpulan situs dapat dinyatakan sebagai kawasan cagar budaya. Kawasan Cagar Budaya (Pasal 1 Keppres No. 32 tahun 1990) adalah merupakan lokasi bangunan hasil budaya manusia bernilai tinggi maupun bentuk geologi alami yang khas. Dalam lingkup kota, bentuk benda cagar budaya dapat berupa satuan areal, satuan pandangan/landscape dan satuan fisik.</p>
<p>Di propinsi Bengkulu terdapat beberapa karya budaya yang perlu dilestarikan sekaligus dapat menjadi obyek wisata yaitu benteng Marlborough, rumah peninggalan bung karno, monument Parr dan Hamilton, museum negeri Bengkulu, makam Sentot Alibasyah, rumah Fatmawati, masjid jamik dll. Selain itu, terdapat tradisi dan perayaan, makanan khas Bengkulu, Kampung Cina dll yang semuanya itu dapat dikemas menjadi obyek wisata yang menarik. Namun dalam pembangunan kawasan wisata di Kota Bengkulu pada beberapa kawasan ini dapat mengubah bentuk dan kawasan aslinya serta dapat mengganggu/mengubah landscape, yang berarti dapat menjadi tujuan pelestarian budaya menjadi terganggu pula.</p>
<p>Untuk kasus sumber daya buatan yang berupa kota/kampong dan bangunan, dalam pelaksanaan konservasi perlu diperhatikan beberapa criteria bagian mana dari kota atau bangunan apa yang perlu dikonsevasi. Beberapa criteria tersebut antara lain adalah estetika, kejamakan, kelangkaan, peranan sejarah, memperkuat kawasan di dekatnya dan keistimewaan.</p>
<p>Prinsip-prinsip konservasi cagar budaya yan perlu diperhatikan antara laian adalah:</p>
<ol>
<li>konservasi dilandasi atas penghargaan terhadap keadaan semula dari suatu tempat dan sesedikit mungkin melakukan intervensi fisik bangunannya, supaya tidak mengubah bukti-bukti sejarah.</li>
<li>maksud dari konservasi adalah untuk menangkap kembali makna cultural dari suatu tempat dan harus bias menjamin keamanan dan pemeliharaannya di masa mendatang.</li>
<li>konservasi suatu tempat harus dipertimbangkan segenap aspek yang berkaitan dengan makna kulturalnya, tanpa menekankan pada salah satu aspek saja dan mengorbankan aspek lainnya.</li>
<li>suatu bangunan atau hasil karya  bersejarah harus tetap berada pada lokasi historisnya. Pemindahan seluruh atau sebagian dari suatu bangunan atau  hasil karya tidak diperkenankan, kecuali bila hal tersebut merupakan satu-satunya cara guna menjamin kelstariannya.</li>
<li>konservasi menjaga terpeliharanya latar visual yang cocok seperti bentuk, skala, warna, tekstur dan bahan bangunan. Setiap perubahan baru yang akan berakibat negative terhadap latar visual tersebut harus dicegah.</li>
<li>kebijaksanaan konservasi yang sesuai untuk suatu tempat harus didasarkan atas pemahaman makna cultural dan kondisi fisik bangunannya..</li>
</ol>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menanamkan Ideologi Lingkungan Pada Masyarakat Di Kawasan Penyangga Taman Nasional Way Kambas Menggunakan Media Hiburan Komik Fabel Dan Cergam Dalam Rangka Pelestarian Keanekaragaman Hayati]]></title>
<link>http://ideologilingkunganunila.wordpress.com/2009/06/01/menanamkan-ideologi-lingkungan-pada-masyarakat-di-kawasan-penyangga-taman-nasional-way-kambas-menggunakan-media-hiburan-komik-fabel-dan-cergam-dalam-rangka-pelestarian-keanekaragaman-hayati/</link>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 18:00:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>blog516</dc:creator>
<guid>http://ideologilingkunganunila.wordpress.com/2009/06/01/menanamkan-ideologi-lingkungan-pada-masyarakat-di-kawasan-penyangga-taman-nasional-way-kambas-menggunakan-media-hiburan-komik-fabel-dan-cergam-dalam-rangka-pelestarian-keanekaragaman-hayati/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Ida Nurhaida, Dra.M.Si Lembaga Penelitian Dibuat: 2008-01-03 , dengan 1 file(s). Keywords: MED]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><span style="color:#003399;">Oleh:  Ida Nurhaida, Dra.M.Si</span></strong><br />
Lembaga Penelitian<br />
<span style="color:#003399;font-size:xx-small;">Dibuat: 2008-01-03 , dengan 1 file(s).</span><br />
<strong>Keywords:</strong> MEDIA HIBURAN,KEANEKARAGAMAN HAYATI,TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS<br />
<strong>Subject:</strong> Masyarakat-aspek lingkungan</p>
<p><strong>Call Number:</strong> 307 Nur m c.1</p>
<p>Referensi klik <a href="http://digilib.unila.ac.id/go.php?id=laptunilapp-gdl-res-2008-idanurhaid-1170">disini</a> atau http://digilib.unila.ac.id/go.php?id=laptunilapp-gdl-res-2008-idanurhaid-1170</p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p>Kroniknya konflik manusia vs satwa liar (utamanya gajah dan harimau) di zona  penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK) merupakan muara (outcome) dari kemerosotan kesetimbangan ekologi di sana. Namun hubungan yang sifatnya abstrak itu umumnya sulit difahami oleh petani. Terlebih lagi untuk memahami hubungan konflik itu dengan persistennya kemerosotan hash panen maupun kemerosotan keanekaragaman hayati. Ini merupakan tantangan bagi para ahli komunikasi pembangunan untuk mengembangkan suatu strategi komunikasi yang tepat dikaitkan dengan persoalan ekonomi sebagai entry point dalam menanamkan ideologi lingkungan sebagai landasan utama mitigasi konflik secara hakiki. Untuk itu maka telah dilakukan penelitian ini dengan tujuan untuk: (i) menyingkap akar masalah utama dari konflik manusia vs satwa liar dan (ii) merancang strategi<br />
kampanye penanaman ideologi lingkungan dikaitkan dengan rencana<br />
pengembangan potensi ekonomi lokal untuk pemecahan masalah konflik dengan  satwa liar.</p>
<p>Penelitian ini dilakukan mulai Juni sampai September 2007 meliputi survai lapang  dan analisis di laboratorium. Pekerjaan lapang dilakukan di 4 desa yang banyak  mengalami konflik yaitu Braja Luhur, Braja Asri, Rantau Jaya Udik, berturut-turut  dominan dengan etnis Jawa, Sunda, Lampung dan Desa Braja Yekti yang  merupakan campuran Jawa, Bali, dan Sunda. Telah dikumpulkan data demografi,  data fisik dan sosial-ekonomi-budaya, termasuk pengetahuan lokal dari khalayak  tentang ekologi dan konservasi Keragaman nayati. Data dipetik melalui wawancara dan FGD dengan masyakat (20-30 orang per desa/dusun). Wawancara juga dilakukan kepada beberapa staf TNWK dan WCS (World Conservation Society), tokoh formal (kepada desa/dusun) maupun tokoh informal yang ada.</p>
<p>Untuk mengukur kemampuan literasi khalayak terhadap media penyuluhan, telah  dilakukan pengukuram readability mengadaptasi media yang telah dikembangkan  oleh Nurhaida dick (2005). Selain itu dikumpulkan berupa hasil-hasil penelitian  setempat yang relevan, dokumen perencanaan, monografi desa, dan terbitan  lainnya lain seperti buletin dan brosur. Data diekstrak dan ditabulasi secara  kualitatif maupun kuantitatif. Analisis terhadap akar utama masalah maupun  perumusan skenario pemecahannya dilakukan di Laboratorium Multi Media Jurusan llmu Komunikasi Universitas Lampung dengan cara brainstorming,  disikusi dan berdebat diantara tim peneliti.<br />
Simpulan yang dapat diambil dari penelitian tahun perianth ini adalah sebagai  berikut:<br />
(i) Akar masalah utama konflik manusia vs satwa liar berasal dari: (a) tidak terintegrasinya kebijakan program penempatan transmigrasi dengan program pengembangan pelestarian keanekaragaman hanyati di wilayah ini pada masa lalu yang sekarang bermuara pada jalin-menjalinnya (ramification) antara masalah sosial-ekonomi-budaya masyarakat setempat dengan masalah kemerosotan keragaman hayati dan kesetimbangan ekologi yang terus<br />
memperburuk konflik itu, dan (b) rendahnya pengetahuan, tingginya mitosmitos  dalam masyarakat (seperti empedu dan otak satwa untuk obat penyakit,  culah badak untuk obat kuat, kumis macan untuk penahan dingin, gading  gajah untuk kemakmuran), absennya kearifan lokal dalam menghadapi konflik, serta buruknya kinerja penyuluhan (akibat terbatas jumlah, frekuensi serta alat bantu penyuluhan) maka berujung pada gagalnya berbagai upaya mitigasi konflik yang pernah dilakukan di zona penyangga itu; dan<br />
(ii) Untuk mencapai penyelesaian secara menyeluruh maka perlu ditempuh 2 skenario penguatan mitigasi konflik, yaitu (a) perlu mendesain pola pertanian pada zona penyangga TNWK dengan mengukuhkan praktek wanatani  (agroforestry) karet, coklat, atau kopi di bawah tegakan tanaman kayu dengan  tanaman musiman berupa cabe (Capsicum annum), (b) perlu edukasi dan  mengenalkan inovasi tentang penangkalan serangan gajah dengan penggunaan  tali yang diolesi pasta cabe sebagai cara yang terbukti efektif di berbagai  belahan dunia, yang merupakan cara yang paling mungkin dilakukan pleb  masyarakat secara mandiri.<br />
Rekomendasi yang penting untuk dilakukan adalah:<br />
(i) Perlu dilakukan gerakan pelestarian keragaman hayati pada masyarakat zona penyangga TNWK yang mesti dipraktekkan sebagai bagian dari perkehidupan dan matapencahariannya sehari-hari petani, dan  (ii) Perlu melakukan revitalisai program penyuluhan dengan mengintensifkan  semua aset komunikasi yang tersedia, pengembangkan strategi yang tepat,  menguatkan kelembagaan yang ada serta menyediakan alat bantu atau media penyuluhan yang handal, murah dan mempunyai durabiltas yang panjang seperti media cetak yang sangat potensial misalnya komik, cergam, fotonovela  maupun fabel ataupun lainnya.<br />
(iii) perlu dilakukan upaya-upaya penguatan kelembagaan kepada semua<br />
stakeholder yang berkompeten terhadap kelestarian keanekaragaman hayati(utamanya di Propinsi Lampung) agar praktek-praktek tersebut segera dapattertanam dan membudaya di masyarakat zona penyangga TNWK.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Daftar Flora di Masigit Kareumbi]]></title>
<link>http://kareumbi.wordpress.com/2009/03/28/daftar-flora-di-masigit-kareumbi/</link>
<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 16:22:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>kareumbi</dc:creator>
<guid>http://kareumbi.wordpress.com/2009/03/28/daftar-flora-di-masigit-kareumbi/</guid>
<description><![CDATA[Berikut adalah daftar flora di Masigit Kareumbi berdasarkan catatan BKSDA dan wawancara dengan Pak J]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Berikut adalah daftar flora di Masigit Kareumbi berdasarkan catatan BKSDA dan wawancara dengan Pak Ja&#8217;i Suryana, warga lokal yang aktif tergabung dalam tim manajemen.</p>
<h3>Daftar dari buku BBKSDA:</h3>
<ol>
<li> Rasamala (<em>Altingia excelsa</em>)</li>
<li>Huru dapung (<em>Actinodaphne glomerata</em>)</li>
<li>Beurying (<em>Picus fistulosa</em>)</li>
<li>Jamuju (<em>Podocarpus imbricatus</em>)</li>
<li>Huru (<em>Machilus rimota</em>)</li>
<li>Puspa (<em>Schima wallichi</em>)</li>
<li>Manglid (<em>Magnolia blumei</em>)*</li>
<li>Mara (<em>Macaranga rhizinoides</em>)</li>
<li>Saninten (<em>Casianopsis argantea</em>)</li>
<li>Kitambaga (<em>Eugenia cupre</em>)</li>
<li>Huru      galitri (<em>Machilus sp.</em>)</li>
<li>Kibugang      (<em>Clerodenaron calamitosum</em>)</li>
<li>Kuray      (<em>Trema orientalo</em>)</li>
<li>Pasang      (<em>Quercus sp.</em>)</li>
<li>Cangcaratan      (<em>Nauclea subdica</em>)</li>
<li>Hamirung      (<em>Ficus sp.</em>)</li>
<li>Jarak      anak (<em>Castanopsis acuminatissus</em>)</li>
<li>Kihiyang      (<em>Albazia procera</em>)</li>
<li>Kondang      (<em>Ficus fariegata</em>)</li>
<li>Caruy      (</li>
<li>Suren      (<em>Toona sureni</em>)</li>
<p><!--more--></p>
<li>Kisieur      (<em>Xanthophylum laceatum</em>)</li>
<li>Sempur      (<em>Dilenia indica</em>)</li>
<li>Kiputri      (<em>Podocarpus</em>)</li>
<li>Bisero      (<em>Ficus hispida</em>)</li>
<li>Kibodas      (<em>Hamalium fomentasum</em>)</li>
<li>Kikembang      (<em>Michleia velutina</em>)</li>
<li>Dahu      (<em>Dacontomellum magiferum</em>)</li>
<li>Kananga (<em>Canangium      odoratum</em>)</li>
<li>Gadog      (<em>Bischopia javanica</em>)</li>
<li>Kiwalen      (<em>Ficus sp.</em>)</li>
<li>Pinanga      (<em>Gasearia coriaceae</em>)</li>
<li>Bambu      (<em>Bambusa sp.</em>)</li>
<li>Kiderewok      (<em>Grenia acuminata</em>)</li>
<li>Kijeruk      (<em>Acronychyia pedunculata</em>)</li>
<li>Salam      (<em>Euginia sp.</em>)</li>
<li>Jenti</li>
<li>Kiciat      (<em>Ficus septica</em>)</li>
<li>Teureup      (<em>Artocarpus integra</em>)</li>
<li>Misobsis      (<em>Albizia sp.</em>)*</li>
<li>Pingku      (<em>Dysoxylum sp</em>)</li>
<li>Tarisi</li>
<li>Gelam      (<em>Eugina sp.</em>)</li>
</ol>
<ul>
<li>kemungkinan ada ketidaksesuaian determinasi nama latin</li>
</ul>
<h3>Dari Wawancara dengan pak Ja&#8217;i Suryana (Nov-Des 2008):</h3>
<ol>
<li>Puspa</li>
<li>Jaranak</li>
<li>Saninten</li>
<li>Kiara</li>
<li>Pingku</li>
<li>Kiseumat</li>
<li>Huru</li>
<li>Cangkudu</li>
<li>Pasang</li>
<li>Kihiur</li>
<li>Maranginan</li>
<li>Ki Bawang</li>
<li>Ki Putri</li>
<li>Angrit</li>
<li>Ki Sireum</li>
<li>Ki Honje</li>
<li>TB</li>
<li>Ki Beusi</li>
<li>Ki Careuh</li>
<li>Hades</li>
<li>Minri</li>
<li>Ki Tambaga</li>
<li>Ki Huut</li>
<li> Jirak</li>
<li>Manjel</li>
<li>Ki Jambu</li>
<li>Jamuju</li>
<li>Ki Padali</li>
<li>Ki Hujan</li>
<li>Ki Tamiang</li>
<li>Ki Sauheun</li>
<li>Gadog</li>
<li>Ki Walet</li>
<li>Kukuran</li>
<li>Ki Jambe</li>
<li>Warukolot</li>
<li> Janguurang</li>
<li>Lame</li>
<li>Lemo</li>
<li>Kupai</li>
<li>Hamurung</li>
<li>Ki Jeruk</li>
<li>Ki Seeur</li>
<li>Hantap</li>
<li>Ki Tajuk</li>
<li>Ki Buah</li>
<li>Carik &#8211; Angin</li>
<li>Kawoyang</li>
<li>Ki Beunteur</li>
<li>Ki Kupa</li>
<li>Baros</li>
<li>Jeungjing</li>
<li>Ki Muhun</li>
<li>Kina</li>
<li>Ki Tesa</li>
<li>Ki Pangang</li>
<li>Rastania</li>
</ol>
<h3>Tambahan dari hasil pengamatan di lapangan di sekitar KW:</h3>
<ol>
<li>Pulus (<em>Laportea stimulans</em>)</li>
<li>Rumput Gajah Sulanjana (<em>Pennisetum purpureum</em>)</li>
<li>Rumput Afrika (<em>Cynodon nlemfluensis</em>)</li>
<li>Rumput Gajah taman (<em>Axonopus compressus</em>)</li>
<li>Damar (<em>Agathis sp.</em>)</li>
<li>Pinus (<em>Pine merkusii</em>)</li>
<li>Kayu Afrika/ Misobsis/ Sobsi (<em>Maesopsis eminii</em>)</li>
<li>Arbei hutan, 3 jenis (<em>Rubus spp.</em>)</li>
<li>Murbei (<em>Morus alba</em>)</li>
<li>Alang-alang (<em>Imperata cylindrica</em>)</li>
<li>Honje/ Bunga Kantan/ Combrang/ Unji (<em>Eltingera elatior</em>)</li>
<li>Kaliandra bunga merah (<em>Calliandra calothrysus</em>)</li>
<li>Kaliandra bunga putih (<em>Zapoteca tetragona</em>)</li>
<li>Antanan (<em>Centella asiatica</em>)</li>
<li>Rumput signal (<em>Brachiaria decumbens</em>)</li>
<li>Teklan (<em>Eupatorium riparium</em>)</li>
<li>Teklan lokal ?</li>
<li>Harendong bulu (<em>Clidemia hirta</em>)</li>
<li>Kopi (<em>Coffee arabica</em>)</li>
<li>Jati putih (<em>Gmelina arborea</em>)</li>
<li>Kirinyuh (<em>Chromolaena ordorata</em>) (<em>Eupatorium inulifolium</em>/ <em>E. ordorata</em>)</li>
<li>Saliara (<em>Lantana camara</em>)</li>
<li>Pisang (Musa sp.)</li>
<li>Kembang Dayang/ Bunga Dayang (<em>Cestrum nocturnum</em>?)</li>
<li>KiMenyan (<em>Styrax benzoin?</em>)</li>
<li>Tepus &#8211; edible flower (<em>Etlingera solaris</em>)</li>
<li>Tisuk (<em>Hibiscus macrophyllus</em>)</li>
<li>Uyun/ Mendong &#8211; bahan sapu, anyaman tikar</li>
<li>Ki Tega</li>
<li>Aren/ Kawung (<em>Arenga pinnata</em>)</li>
<li>Alpukat <em>(Persea americana</em>)</li>
<li>Nangka (<em>Artocarpus heterophyllus</em>)</li>
<li>Mahoni Daun Kecil (<em>Swietenia macrophylla</em>)</li>
<li>Rotan</li>
<li>Jamur Kuping</li>
<li>Jamur Supa Bulan/ Suung</li>
<li>Pakis Hutan</li>
<li>Pakis Sayur/ Vegetable Fern &#8211; edible (<em>Diplazium esculentum)</em></li>
<li>Kesemek (<em>Diospyros kaki</em>)</li>
<li>Pohpohan</li>
<li>Katuk</li>
<li>Bingbin</li>
<li>Ki Geunteul</li>
</ol>
<p>Mohon maaf apabila ada kesalahan penyebutan nama latin dan determinasi spesies. Bila ada rekan-rekan yang mengetahui vegetasi lain yang belum tercantum disini, silahkan kirimkan daftarnya melalui email ke kareumbi at gmail dot com.</p>
<pre>EOF. daftar flora di masigit kareumbi. last update 20090422 2207wib. manglayang at gmail dot com.</pre>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[keanekaragaman hayati]]></title>
<link>http://mariayovita.wordpress.com/2009/02/20/keanekaragaman-hayati/</link>
<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 08:28:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>maria yovita</dc:creator>
<guid>http://mariayovita.wordpress.com/2009/02/20/keanekaragaman-hayati/</guid>
<description><![CDATA[Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi ke-3 setelah Zaire dan Brazil. Nam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi ke-3 setelah Zaire dan Brazil. Namun kenyataannya, banyak di antara kita tidak menyadari anugrah yang diberikan Tuhan itu. Lebih menyedihkan lagi ada segelintir orang yang merusaknya demi kepentingan pribadi.</p>
<p>Keanekaragaman hayati dapat dikelompokkam menjadi tiga tingkatan, yaitu:</p>
<ol>
<li>Keanekaragaman tingkat gen</li>
<li>Keanekaragaman tingkat spesies/jenis</li>
<li>Keanekaragaman tingkat ekosistem</li>
</ol>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seberapa kaya negeri kita]]></title>
<link>http://axesite.wordpress.com/2009/02/06/seberapa-kaya-negeri-kita/</link>
<pubDate>Fri, 06 Feb 2009 03:22:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Septian Hadi</dc:creator>
<guid>http://axesite.wordpress.com/2009/02/06/seberapa-kaya-negeri-kita/</guid>
<description><![CDATA[Dikala kita melihat sedemikian besarnya negeri kita dipeta dunia Disaat kita mendengar sedemikian ba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dikala kita melihat sedemikian besarnya negeri kita dipeta dunia Disaat kita mendengar sedemikian ba]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ajang Prestasi - KEHATI Award 2009]]></title>
<link>http://indonesiaberprestasi.wordpress.com/2008/12/08/ajang-prestasi-kehati-award-2009/</link>
<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 06:23:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>indonesiaberprestasi</dc:creator>
<guid>http://indonesiaberprestasi.wordpress.com/2008/12/08/ajang-prestasi-kehati-award-2009/</guid>
<description><![CDATA[Deadline: 14 Desember 2008 Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) kembali menggelar KEHATI]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Deadline: 14 Desember 2008</strong></p>
<p>Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) kembali menggelar <strong><span>KEHATI </span>Award 2009</strong> yaitu ajang penghargaan bagi individu atau kelompok yang telah melakukan upaya-upaya pelestarian Keanekaragaman Hayati di Indonesia.</p>
<p><span>KEHATI</span> mengundang Anda untuk mencalonkan atau dicalonkan sebagai penerima penghargaan Kehati Award 2009.</p>
<p>Penghargaan diberikan bagi masing-masing kalangan berikut:</p>
<p>1.      <span>KSM</span>, LSM, kelompok masyarakat lokal</p>
<p>2.      badan pelayanan publik tingkat pusat dan daerah, instansi pemerintah</p>
<p>3.      dunia usaha, swasta, <span>BUMN</span>, BUMD, koperasi</p>
<p>4.      ilmuwan, akademisi, lembaga pendidikan, badan peneliti</p>
<p>5.      media massa, jurnalis, pekerja seni dan budaya</p>
<p>Untuk informasi lebih lanjut silakan menghubungi:<br />
Sdri. Ruby / Lili<br />
Telp.  (021) 718 3185,  718 3187 ext 131/126<br />
Email : award2009@kehati. or.id</p>
<p>Formulir dapat diperoleh di Sekretariat Panitia/Yayasan <span>KEHATI</span> atau dapat di download di  <a href="http://www.kehati.or.id" target="_blank">www.kehati.or. id </a></p>
<p>Pendaftaran paling lambat tanggal <strong>14 Desember 2008 (cap pos)</strong>.</p>
<p>Berkas pengajuan dikirimkan dalam amplop tertutup lewat pos atau jasa pengiriman ke :</p>
<p><strong>Panitia <span>KEHATI </span>Award 2009</strong></p>
<p><strong>d/a. Yayasan <span>KEHATI</span></strong></p>
<p><strong>Jl. Bangka <span>VIII </span>No. 3B</strong></p>
<p><strong>Pela Mampang</strong></p>
<p><strong>Jakarta 12720</strong></p>
<p>“  Lestarikan Keanekaragaman Hayati Indonesia “</p>
<p><span>PANITIA PELAKSANA</span><br />
<span>KEHATI AWARD 2009</span></p>
<p><strong>Sumber: <a href="http://infolomba.blogsome.com/2008/12/07/kehati-award-2009/" target="_blank">Info Lomba</a><br />
</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[konferensi international upaya pelestarian keanekaragaman hayati ke-9]]></title>
<link>http://javaneagle.wordpress.com/2008/06/23/konferensi-international-upaya-pelestarian-keanekaragaman-hayati-ke-9/</link>
<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 06:40:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>javaneagle</dc:creator>
<guid>http://javaneagle.wordpress.com/2008/06/23/konferensi-international-upaya-pelestarian-keanekaragaman-hayati-ke-9/</guid>
<description><![CDATA[Seperti yang diberitakan dari situs Departemen Kehutanan, Siaran Pers No. S.246/II/PIK-1/2008 Pada t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Seperti yang diberitakan dari situs Departemen Kehutanan, Siaran Pers No. S.246/II/PIK-1/2008 Pada t]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Flora dan Fauna yang Dilindungi di Kepahyang]]></title>
<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2008/06/23/flora-dan-fauna-yang-dilindungi-di-kepahyang/</link>
<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 01:49:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
<guid>http://uripsantoso.wordpress.com/2008/06/23/flora-dan-fauna-yang-dilindungi-di-kepahyang/</guid>
<description><![CDATA[Berikut ini flora dan fauna yang dilindungi di Kabupaten Kepahyang. Perlu dicermati data ini terutam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Berikut ini flora dan fauna yang dilindungi di Kabupaten Kepahyang. Perlu dicermati data ini terutama adanya babi rusa di Bengkulu. Apa benar babi rusa  ada di Bengkulu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Tabel 1. Flora yang dilindungi di Kebupaten Kepahiang </span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="width:406.65pt;border-collapse:collapse;margin:auto auto auto 4.35pt;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="542">
<tbody>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="width:28.55pt;height:13.5pt;background-color:transparent;border:windowtext 1.5pt solid;padding:0 5.4pt;" width="38" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:6pt 0;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">No.</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:windowtext 1.5pt solid;border-left:#ece9d8;width:198.1pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="264" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:6pt 0;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Nama Latin</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:windowtext 1.5pt solid;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:6pt 0;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Nama Lokal</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1.5pt solid;width:28.55pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="38" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">1.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:198.1pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="264" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Shorea sp</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Meranti </span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1.5pt solid;width:28.55pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="38" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">2.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:198.1pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="264" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Amorphopalus sp</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Bunga Bangkai</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1.5pt solid;width:28.55pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="38" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">3.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:198.1pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="264" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Raflesia arnoldi </span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Bunga Raflesia</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1.5pt solid;width:28.55pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="38" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">4.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:198.1pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="264" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Aquilaria malakensis</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kayu Gaharu </span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1.5pt solid;width:28.55pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="38" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">5.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:198.1pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="264" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Nengah gajah</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Palm Sumatera</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1.5pt solid;width:28.55pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="38" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">6.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:198.1pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="264" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dedrobium</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Angrek-anggrekan</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1.5pt solid;width:28.55pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="38" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">7.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:198.1pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="264" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Nephentes spp</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kantong semar</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1.5pt solid;width:28.55pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="38" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">8.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:198.1pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="264" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Phalaenopsis sumaterana</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1.5pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1.5pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Anggrek bulan sumatera</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kepahiang, 2007<!--more--></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em></em></p>
<div><em></em></div>
<p><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Tabel 2. Fauna yang Dilindungi di Kabupaten Kepahiang</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<table class="MsoNormalTable" style="width:406.05pt;border-collapse:collapse;margin:auto auto auto 4.35pt;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="541">
<tbody>
<tr style="height:12.75pt;">
<td style="width:34.65pt;height:12.75pt;background-color:transparent;border:windowtext 1pt solid;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:6pt 0;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">No.</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:windowtext 1pt solid;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:6pt 0;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Nama Latin</span></strong></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:windowtext 1pt solid;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:6pt 0;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Nama Lokal</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">1.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Babyrousa babyrussa</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Babi Rusa</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">2.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Felis bengalensis</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kucing Hutan</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">3.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Felis mormorota</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kucing kuwuk</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">4.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Neofelis diadra</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Harimau dahan</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">5.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Nycticebus coucang</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">malu-malu</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">6.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Phantera tigris Sumatrae</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Harimau Sumatera</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">7.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Cervus spp</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Rusa</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">8.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Helarctos malayanus </span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Beruang</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">9.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tragulas javanicus</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kancil</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">10.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Hylobates syndactylus </span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Siamang</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:12.75pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">11.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Gracula religosa</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:12.75pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Beo biasa</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">12.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Taphirus indiscus</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tapir</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">13.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Helarctos malayanus</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Beruang Madu</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">14.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Presbitis Melalophos</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Simpai</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">15.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Hylobatidae</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kera tak berbuntut</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">16.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Hystrix brachyura</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Landak</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">17.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Manis javanica</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Trenggiling</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">18.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mutiacus muntjak</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kijang, muncak</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">19.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mydaus javanensis</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sigung</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">20.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Accipitridae</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Burung alap-alap</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">21.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Bucerotidae</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Burung Rangkong</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">22.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pandionidae</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Burung Elang</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">23.</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Insecta</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Berbagai jenis serangga</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:13.5pt;">
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:34.65pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="46" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">24. </span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:191.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Elephas indicus</span></em></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:180pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;height:13.5pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="240" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">gajah</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kepahiang, 2007</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p></span></em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keanekaragaman Hayati di Propinsi Bengkulu]]></title>
<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2008/06/12/keanekaragaman-hayati-di-propinsi-bengkulu/</link>
<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 11:32:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
<guid>http://uripsantoso.wordpress.com/2008/06/12/keanekaragaman-hayati-di-propinsi-bengkulu/</guid>
<description><![CDATA[Urip Santoso Ketua Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas Bengkulu Jenis flora dan fauna yan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Urip Santoso<br />
Ketua Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas Bengkulu</p>
<p>	Jenis flora dan fauna yang terdapat di kawasan wisata dan konservasi di Propinsi Bengkulu tertera dalam table di bawah ini. Taman wisata pantai panjang flora yang dominant adalah cemara laut dan fauna yang dominant adalah burung. Populasi cemara laut di taman wisata ini menurun drastic sebagi akibat dibangunnya jalan dua jalur. Namun telah ada upaya penanaman kembali cemara yang telah ditebang, tetapi sebagian besar mati karena tidak terawat.<br /><!--more--><br />
	Cagar alam danau dusun besar terdapat flora endemic dan statusnya dilindungi yaitu anggrek pensil. Anggrek pensil jumlahnya sangat sedikit dan hamper punah. Oleh sebab itu perlu dilakukan konservasi agar tidak punah.<!--more--></p>
<p>Jenis flora dan fauna di kawasan wisata dan konservasi di Bengkulu<br />
1. Taman wisata pantai panjang: Cemara laut dan	Burung<br />
2. Cagar alam danau dusun besar: Anggrek pensil (Vanda hookeriana), anggrek matahari, bakung, nipah, pulai, ambacang rawa, terentang, plawi, brosong, gelam, pakis, sikeduduk, babi hutan, ular piton, kera ekor panjang, lutung, kutilang, siput, siamang, ikan (gabus, lele, gurami, sepat siam, kebakung, palau), kura-kura.<br />
3. Taman wisata alam bukit kaba: Pasang, umbel-umbelan, pandan duri, Rafflesia arnoldi, bunga bangkai,	bunglon, tupai, berung tanah, monyet, musang, siamang, beruk, burung raja udang, burung robin, burung sirkawan, burung kutilang mas, burung elang, burung cekruk.<br />
4. Cagar alam talang ulu I &#38; II: Bunga bangkai,	babi hutan, ular dan bangsa burung<br />
5. Cagar alam air ketebat danau tes:	Meranti, jelutung, kayu gadis, pulai, terentang, gelam, harimau, siamang, kera, ular, belilis, babi hutan, beberapa jenis ikan.<br />
6. Cagar alam danau menghijau	Nipah, pakis, pandan, bamboo, meranti, pinus.	Belibis, burung hantu, burung enggang, kutilang, murai batu, punai, babi hutan, kera ekor panjang, kura-kura, dank an (gabus, lele, sepat siam, mujair).<br />
7. Cagar alam pagar gunung I, II, III, IV &#38; V	Rafflesia arnoldi, bunga bangkai	Burung, ular.<br />
8. Taman wisata alam way hawang	Waru	Babi hutan, beruang madu, siamang, gajah, rusa.<br />
9. Cagar alam pasar ngalam	Cemara laut, perdu, bakau, pinang	Babi hutan, rusa, kijang, kera ekor panjang, siamang, burung bangau, elang, karang laut, dan siput.<br />
10. Cagar alam air alas	Cemara laut	Ular, babi, kera ekor panjang.<br />
11. Taman wisata alam lubuk tapi	Rafflesia arnoldi	Biawak, ular, jenis burung<br />
12. Taman buru semidang bukit kabu	Meranti, keruing, gadis, ketapang, pulai	Harimau Sumatera, babi hutan, beruang madu, simpai, siamang<br />
13. Cagar alam pasar talo	Bakau, cemara laut, waru	Babi hutan, karang laut, burung pecuk ular, raja udang, dara laut, elang, biawak.<br />
14. Cagar alam pasar seluma	Cemara laut	Babi hutan, kera, burung laut.<br />
15. Taman buru gunungnanu’ua	Ketapang, bintangur, kasai, beringin	Buaya, babi hutan, kerbau, sapi, biawak, burung beo.<br />
16. Cagar alam teluk klowe	Bakau	Buaya, biawak<br />
17. Cagar alam taba penanjung I dan II	Meranti, durian, gambir, bayur, terap, bunga bangkai	Babi hutan, siamang, monyet, owa, kuau,  jenis unggas.<br />
18. Cagar alam kioyo I dan II	Merbau, kayu jambu, nehek, abihu, pakoran, rengas, beringin, bakau, kelapa	Babi hutan, biawak, tupai hutan, penyu, buaya, beo, elang laut, pergam dan punai.<br />
19. Cagar alam muko-muko I dan II	Cemara laut, waru, beringin	Rusa, kijang, kancil, napu, siamang, beruk, simpai, kera ekor panjang, beo, murai batu, enggang papan, elang, pergam, punai.<br />
20. Cagar alam sungai bahewo	Bakau, bayur, ketapang	Biawak, babi hutan<br />
HPK fungsi khusus PLG Seblat	Meranti, medang, Rafflesia, bunga bangkai	Biawak, burung, rusa, kijang, kancil, napu, siamang, beruk, simpai, kera ekor panjang, tapir, gajah, harimau.<br />
21. Taman wisata alam air hitam	Cemara laut	Babi hutan, biawak<br />
22. Cagar alam tanjung laksaha	Pinogo, merbau, kayu jambu, nehek, habihu, pakokor, rengas	Karangsemba, kima, kucung kucing, babi, ular, biawak, kura-kura darat, punai, dara laut, beo, bangau putih<br />
23. Cagar alam air rami	Cemara laut, nibung, waru laut, ketapang.	Beruang madu, rusa, kijang, tapir, siamang, simpai, babi hutan, beo, enggang papan, murai batu, murai tanah, pergam, punai.<br />
24. Cagar alam air seblat	Pinus, waru, beringin, cemara laut	Biawak, unggas, rusa, kijang, kancil, napu, siamang, beruk, simpai, kera ekor panjang.</p>
<p>Jenis kura-kura yang ada di Bengkulu<br />
1. Kura nanas (Heosemys spinosa)	Meskipun dilaporkan hidup di sungai yang dangkal, jenis ini banyak dilaporkan dari dalam hutan. Struktur tubuhnya juga menunjukkan bahwa jenis ini dapat hidup menahan kekeringan, karena perisainya jauh lebih tebal dan lebih kuat dibandingkan jenis kura-kura air tawar yang berukuran serupa. Kakinya yang bersisik tebal juga menunjukkan bahwa jenis ini mempunyai cukup perlindungan untuk hidup di daratan. Makanan utamanya adalah buah-buahan dan daun-daunan.	Jarang, belum dilindungi, mudah terancam punah<br />
2. Kura-kura garis hitam (Cyelemys odhamili	Habitat kura-kura garis hitam adalah sungai besar dan kecil dengan arus lambat sampai sedang. Pada siang hari, biasanya bersembunyi di daerah pinggiran sungai yang agak rimbun dengan tumbuhan air atau rumput-rumputan	Belum dilindungi<br />
3. Kura patah dada (Coura amboinensis)	Kura patah dada umumnya terdapat pada sungai besar maupun kecil dengan arus lambat sampai sedang dan juga sering dijumpai di sawah. Pada siang hari, biasanya bersembunyi di daerah pinggiran sungai yang agak rimbun dengan tumbuhan air atau rumput-rumputan. Makanannya terutama bahan tumbuh-tumbuhan tetapi juga ikan dan udang.	Belum dilindungi, mudah terancam punah<br />
4. Beiyogo (Notochelys platynota)	Tempat yang disukai adalah sungai berarus deras atau sedang. Makanan utamanya terdiri dari daun-daunan dan beberapa buah-buahan dan dikenal pula memakan siput dan udang	Belum dilindungi, mudah terancam punah, kurang data<br />
5. Baning coklat (Manouria emys)	Jenis ini hidup di daerah hutan dan dataran di daerah berketinggin sedang. Makanannya terutama terdiri dari daun-daunan, buah-buahan dan akar-akaran	Dilindungi, sudah terancam punah<br />
6. Labi-labi hutan (Dogania subplana)	Jenis ini umumnya ditemukan di sungai-sungai kecil dengan naungan terutama di dalam hutan	Tidak dilindungi, rawan<br />
7. Kura-kura pipi putih (Siebenrockiella crassiocollis)	Hidupnya di sungai-sungai kecil berarus lambat, daerah tergenang seperti rawa-rawa. Meskipun dilaporkan sebagai hewan karnovira, jenis ini makan baik ikan, udang, siput maupun buah-buahan dan daun-daunan. Jenis ini akan berhenti makan apabila ada jenis lain didekatnya, sehingga sebaiknya dipelihara tersendiri belum dilindungi, mudah terancam punah	Belum dilindungi, mudah terancam punah<br />
8. Bulus (Amyda cartilagenia)	Umumnya dijumpai di daerah yang tenang, berarus lambat. Bulus banyak ditemukan di kolam yang berhubungan dengan sungai atau danau dan oleh karena itu sering pula dianggap sebagai hama ikan yang dipelihara orang di dalam danau. Dalam keadaam umum, bulus selalu bersembunyi di dalam Lumpur atau di dalam pasir di dasar kolam atau sungai, sehingga sulit untuk ditemukan. Makanan utama terdiri dari daging/ikan, tetapi tidak menolak makanan sisa manusia	Tidak dilindungi, rawan.</p>
<p>         Informasi tentang keanekaragaman hayati di Propinsi Bengkulu masih belum lengkap dan terinci. Belum terdapat laporan dari dinas terkait tentang populasi flora dan fauna yang dilindungi. Diduga, populasi flora dan fauna yang dilindungi dari tahu ke tahun berkurang. Hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan laju pembangunan baik di sector perkebunan, industri, dan perumahan serta perkantoran dll.  Penurunan yang amat signifikan diperkirakan di Kabupaten Muko-muko, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur. Wilayah Kabupaten Lebong diperkirakan merupakan wilayah yang relative rendah penurunan keanekaragaman hayati  disebabkan pengawasan yang relative ketat terdapat kawasan lindung dan pembukaan perkebunan besar relative terbatas..<br />
Tabel di bawah ini adalah jenis tumbuhan yang dlinduni yang terdapat di Propinsi Bengkulu. Spesies tumbuhan endemic yang terkenal dan unik adalah bunga terbesar di dunia yaitu Rafflesia arnoldi.  Terdapat tiga spesies di Propinsi Bengkulu yaitu Rafflesia arnoldi, Rafflesia hasseltii dan Rafflesia aatjehensis. Selain itu terdapat anggrek pensil (Vanda hookeriana) yang juga merupakan tumbuhan yang dilindungi dan endemic perairan Danau Dendam Tak Sudah.<br />
Di Propinsi Bengkulu juga terdapat spesies bunga tertinggi di dunia yaitu Amorphophallus titanium.  </p>
<p>Jenis tumbuhan yang dilindungi yang terdpat di Propinsi Bengkulu<br />
No	Jenis	Nama local/Indonesia<br />
1	Amorphophallus bulbifer	Bunga bangkai jangkung<br />
2	Amorphophallus titanium	Bunga bangkai raksasa<br />
3	Amorphophallus campanulatus<br />
4	Amorphophallus viridis<br />
5	Rhizanthes zippellii<br />
6	Rafflesia arnoldi	Rafflesia<br />
7	Rafflesia rnoldi var atjehensis	Rafflesia<br />
8	Rafflesia haseltii	Rafflesia<br />
9	Caryota sp	Palem raja<br />
10	Livistona spp	Palem kipas Sumatera<br />
11	Nenga gajah	Palem Sumatera<br />
12	Pinanga javana	Pinang<br />
13	Paphiolanthe hookeriana	Anggrek pensil<br />
14	Dendrobium sp<br />
15	Paphiopedium sp<br />
16	Nepenthes mirabilis Druce	Kantong semar<br />
17	Nepenthes ampularia Jack	Kantong semar<br />
18	Nepenthes aristolochioides Jebb &#38; Cheek	Kantong semar<br />
19	Nepenthes gracilis Danser	Kantong semar<br />
20	Dendrobium spp	Anggrek<br />
21	Shorea spp	Tengkawang<br />
22	Paphiopedium spp		Anggrek<br />
Sumber: SLHD Propinsi Bengkulu (20050</p>
<p>	Tabel di bawah ini mencantumkan jenis mamlia yang dilindungi yang terdapat di Propinsi Bengkulu. Sorotan lembaga intenaional terhadap kekayaan fauna di Propinsi Bengkulu terpusat pada populasi Badak Sumatera dan Harimau Sumatera. Diperkirakan populasi Badak Sumatera tinggal 4 ekor (SLHD Bengkulu, 2005). Diperkirakan 190 spesies mammalian hidup di Bengkulu. Di Propinsi Bengkulu terdapat 29 mammalia yang dilindungi. Menurut Whitten (1987) salah satu subspecies kera ekor panjang tergolong spesies endemic Bengkulu. Diperkirakan terdapat 580 spesies burung di Bengkulu. Salah satu daerah yang kaya burung adalah pulau Enggano dengan spesies endemic Otus umbra (Whitten, 1987).</p>
<p>Jenis mammalian yang dilindungi di Propinsi Bengkulu<br />
No	Jenis mammalian	Nama local/Indonesia<br />
1	Capricornis sumatrensis	Kambing hutan<br />
2	Cervus spp	Rusa<br />
3	Cuon alpinus	Ajag<br />
4	Cynogale benneti	Musang air<br />
5	Dicerorhinus sumatrensis	Badak Sumatera<br />
6	Elephas indicus	Gajah<br />
7	Felis bandia	Kucing merah<br />
8	Felis bengalensis	Kucing hutan<br />
9	Felis marmorota	Kuwuk<br />
10	Felis viverrinus	Kucing bakau<br />
11	Felis temmincki	Kucing emas<br />
12	Helarctos malayanus	Beruang madu<br />
13	Hylobatidae	Keran tidak beruntut<br />
14	Hystrix brachyuran	Landak<br />
15	Larsicus hosei	Tupai tanah bergaris<br />
16	Lariscus insignis	Tupai tanah<br />
17	Iomys horsfeldi	Tupai terbang ekor merah<br />
18	Manis javanica	Trenggiling<br />
19	Muntiacus  muntjak	Kidang, Muncak<br />
20	Neofelis nebulusa	Harimau dahan<br />
21	Nycticebus coucang	Kukang<br />
22	Panthera pardus	Macan kumbang<br />
23	Panthera tigris sumatrae	Harimau Sumatera<br />
24	Presbytis rubicunda	Lutung merah, kelasi<br />
25	Presbytis frontata	Lutung<br />
26	Presbytis thomasi	Rungka<br />
27	Tapirus indicus	Tapir<br />
28	Tarsius spp<br />
29	Tragulus spp	Napu/Kancil</p>
<p>	Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) memiliki hampir 4.000 jenis flora dan 198 jenis fauna ini telah terancam punah dikarenakan adanya aktivitas manusia di TNKS, contohnya daerah TNKS di Bengkulu. Beberapa aktivitas manusia yang mengancam flora dan fauna antara lain illegal logging,  pembukaan lahan dan perburuan. Jika ini dibiarkan diperkirakan flora dan fauna langka pada tahun 2015 akan punah. Tekanan yang sangat kuat terhadap keanekaragaman hayati dalam skala lokal adalah pembinasaan habitat-habitat alamiah.<br />
Berdasarkan daftar IUCN 2004 jumlah fauna terancam punah di Sumatera berdasarkan kelompok adalah 11 jenis ikan air tawar, 30 jenis burung, 9 jenis amfibi, 13 jenis reptilia dan 38 jenis mamalia.<br />
Target pada tingkat kawasan dinamakan dengan &#8220;Key Biodiversity Areas&#8221; (KBA’s; Daerah Prioritas untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati) yang merupakan daerah-daerah yang secara signifikan penting untuk konservasi keanekaragaman hayati dan secara nyata atau potensial untuk dikelola sebagai kawasan konservasi. KBA diidentifikasi berdasarkan kehadiran jenis-jenis flora fauna tertentu dimana konservasi pada skala kawasan diperlukan untuk menghindari terjadi kepunahan baik pada jangka pendek maupun jangka menengah yaitu: jenis-jenis yang berstatus terancam punah, sebaran terbatas atau berkelompok dalam jumlah yang signifikan (Rombang et al., 2005).<br />
Terdapat 62 KBA yang diidentifikasi di Sumatera untuk jenis terancam punah dan sebaran terbatas bagi kelompok amfibi, mamalia, burung, reptilia, dan ikan air tawar. Jenis-jenis tersebut didasarkan pada keberadaannyaa secara pasti di dalam suatu area/kawasan tertentu. Batas kawasan KBA umumnya didasarkan pada batas kawasan konservasi yang dikombinasikan secara terbatas dengan informasi mengenai habitat dari spesies sasaran. Selain itu, 18 kawasan diidentifikasi sebagai kandidat KBA, atau juga dikenal sebagai kawasan prioritas untuk dilakukan penelitian lanjutan, sehingga dapat mengkonfirmasi keberadaan spesies target, maka kawasan ini akan menjadi kawasan prioritas untuk konservasi keanekaragaman hayati (KBA) (Rombang et al., 2005).<br />
Sumatera merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia dan masuk kedalam kawasan Hotspot Sundaland. Perlu diingat bahwa kawasan KBA yang diidentifikasi ini didasarkan pada ketersediaan informasi pada saat proses ini dilakukan sehingga ada kemungkinan sejalan dengan bertambahnya informasi jumlah maupun skala prioritas KBA akan berubah (Rombang et al, 2005).<br />
Daerah Prioritas untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati: Sumatera<br />
1 Pulau Weh*<br />
2 Ulu Masin<br />
3 Jambo (Seulawah)<br />
4 Danau Laut Tawar<br />
5 Baleq+<br />
6 Geureudong<br />
7 Rawa Tripa<br />
8 Leuser<br />
9 Soraya<br />
10 Trumon &#8211; Singkil<br />
11 Lae Raso<br />
12 Pulau Simeulue<br />
13 Karang Gading Langkat Timur Laut*<br />
14 Hutan Raya Bukit Barisan<br />
15 Tuntungan*<br />
16 Pesisir Timur Pantai Sumatera Utara<br />
17 Danau Toba<br />
18 Sicike-cike*<br />
19 Sidiangkat<br />
20 Rawa Tapus<br />
21 Batang Toru<br />
22 Angkola<br />
23 Mareno<br />
24 Batang Gadis<br />
25 Pulau Nias*<br />
26 Tana Massa*<br />
27 Gunung Talakmau+<br />
28 Malampah Alahan Panjang<br />
29 Gunung Singgalang<br />
30 Lubuk Selasih+<br />
31 Kerinci &#8211; Seblat+<br />
32 Pasir Ganting*<br />
33 Rawa Lunang<br />
34 Hutan Siberut Utara<br />
35 Siberut<br />
36 Pulau Sipora+<br />
37 Pagai Utara<br />
38 Pagai Selatan<br />
39 Hutan Rawa Gambut Barumun Rokan<br />
40 Siak Kecil<br />
41 Hutan Rawa Gambut Siak Kampar<br />
42 Kerumutan<br />
43 Japura*<br />
44 Tesso Nilo<br />
45 Baturidjal<br />
46 Bukit Baling<br />
47 Bukit Tigapuluh<br />
48 Pesisir Riau Tenggara<br />
49 Bintan Utara<br />
50 Kepulauan Lingga*<br />
51 Pulau Natuna<br />
52 Bukit Panjang &#8211; Bukit Siguntang*<br />
53 Bukit Bakar &#8211; Bukit Gajah*<br />
54 Pesisir Pantai Jambi<br />
55 Sungai Batang Hari*<br />
56 Berbak<br />
57 Sipurak<br />
58 Bukit Bahar &#8211; Tajau Pecah<br />
59 Hutan Meranti<br />
60 Merang<br />
61 Sungai Sembilang<br />
62 Tanjung Koyan-Selokan<br />
63 Dataran Banjir Ogan Komering Lebak<br />
64 Gumai Pasemah*<br />
65 Pagar Alam+<br />
66 Gunung Dempo<br />
67 Dirgahayu Rimba<br />
68 Gunung Sagu<br />
69 Kemumu*<br />
70 Tahura Bengkulu<br />
71 Bukit Kaba*<br />
72 Kepahiang*<br />
73 Pulau Enggano+<br />
74 Bukit Barisan Selatan<br />
75 Rawa Tulang Bawang*<br />
76 Way Kambas<br />
77 Marawang<br />
78 Bikang<br />
79 Toboali<br />
80 Pulau Belitung*</p>
<p>Catatan:<br />
+ Daerah Alliance for Zero Extinction<br />
* Calon Daerah Prioritas untuk Konservasi<br />
Keanekaragaman Hayati</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PERMASALAHAN DAN SOLUSI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI PROPINSI BENGKULU]]></title>
<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2008/05/01/permasalahan-dan-solusi-pengelolaan-lingkungan-hidup-di-propinsi-bengkulu/</link>
<pubDate>Thu, 01 May 2008 02:17:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
<guid>http://uripsantoso.wordpress.com/2008/05/01/permasalahan-dan-solusi-pengelolaan-lingkungan-hidup-di-propinsi-bengkulu/</guid>
<description><![CDATA[Prof. Ir. Urip Santoso, S. IKom., M.Sc., Ph.D Ketua Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Prof. Ir. Urip Santoso, S. IKom., M.Sc., Ph.D</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ketua Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Bengkulu</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pendahuluan</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Masalah lingkungan yang dihadapi dewasa ini pada dasrnya adalah masalah ekologi manusia. Masalah itu timbul karena perubahan lingkungan yang menyebabkan lingkungan itu kurang sesuai lagi untuk mendukung kehidupan manusia. Jika hal ini tidak segera diatasi pada akhirnya berdampak kepada terganggunya kesejahteraan manusia.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Kerusakan lingkungan yang terjadi dikarenakan eksflorasi sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan. Kerusakan lingkungan ini telah mengganggu proses alam, sehingga banyak fungsi ekologi alam terganggu.<!--more--></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Masalah lingkungan tidak berdiri sendiri, tetapi<span>  </span>selalu saling terkait erat. Keterkaitan antara masalah satu dengan yang lain disebabkan karena sebuah faktor merupakan sebab berbagai masalah, sebuah faktor mempunyai pengaruh yang berbeda dan interaksi antar berbagai masalah dan dampak yang ditimbulkan bersifat kumulatif (Soedradjad, 1999). Masalah lingkungan yang saling terkait erat antara lain adalah populasi manusia yang berlebih, polusi, penurunan jumlah sumberdaya, perubahan lingkungan global dan perang.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Makalah ini berusaha menguraikan masalah pengelolaan lingkungan hidup di Propinsi Bengkulu serta kemungkinan alternatif solusinya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kerusakan Hutan</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Masalah utama lingkungan di Propinsi Bengkulu adalah masalah kerusakan hutan. Sebagai contoh di Kabupaten Lebong yang mempunyai hutan seluas 134.834,72 ha yang terdiri dari 20.777,40 ha hutan lindung dan 114.057,72 ha berupa hutan konservasi, sebanyak 7.895,41 ha hutan lindung dan 2.970,37 ha cagar alam telah mengalami kerusakan. Kerusakan hutan di kabupaten/kota lain di Propinsi Bengkulu lebih parah lagi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Kondisi kawasan hutan yang telah rusak tersebut disebabkan antara lain oleh adanya ilegal logging dan perambahan hutan.Perambahan hutan pada umumnya bertujuan untuk keperluan perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kopi dll. Bahkan TNKS juga tidak luput dari kegiatan ilegal logging. Hal ini dapat dibuktikan dengan gundulnya hutan di wilayah TNKS.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Kerusakan hutan di Bengkulu juga disebabkan oleh kebakaran hutan. Kebakaran hutan ini dari tahun ke tahun bertambah luas. Pada tahun 1997 luas kebakaran hutan seluas 2.091 ha dengan 31 titik api. Pada tahun 2006 sebagai akibat kemarau yang panjang kebakaran hutan di Bengkulu semakin luas yang mengakibatkan tebalnya asap di udara yang<span>  </span>dapat menimbulkan berbagai masalah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Penyebab kebakaran hutan dan lahan di Bengkulu antara lain adalah adanya peningkatan kegiatan pertanian seperti perkebunan, pertanian rakyat, perladangan, pemukiman, transmigrasi dll., terjadi secara alamiah seperti musim kemarau yang panjang, kecerobohan masyarakat dll. Dampak negatif kebakaran hutan dan lahan di Bengkulu antara lain adalah penurunan keanekaragaman hayati (ekosistem, spesies dan genetik), habitat rusak, terganggunya keseimbangan biologis (flora, fauna, mikroba); gangguan asap, erosi, banjir, longsor, terbatas jarak pandang; meningkatnya gas-gas rumah kaca, CO dan hidrokarbon, gangguan metabolisme tanaman dan perubahan iklim.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Sebab lain kerusakan hutan<span>  </span>di Propinsi Bengkulu antara lain: 1) persepsi masyarakat bahwa hutan masih terbatas untuk kepentingan ekonomi; 2) adanya konflik kepentingan; 3) laju perusakan hutan tidak sebanding dengan upaya perlindungan; 4) masih luasnya lahan kritis di luar hutan karena pengelolaan lahan secara tradisional dan praktek perladangan berpindah; 5) belum optimalnya penegakan hukum dalam percepatan penyelesaian pelanggaran/kejahatan di bidang kehutanan (al. Perambahan hutan, ilegal logging dll.).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Upaya untuk memulihkan hutan yang rusak adalah sebagai berikut:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(1)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">dalam jangka pendek adalah penegakan hukum. Hal ini sangat penting untuk mencegah praktek-praktek ilegal logging dan perambahan hutan yang semakin luas.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(2)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Hendaknya kegiatan pembangunan memperhatikan aspek lingkungan. Hal ini seringkali dilanggar oleh pelaksana pembangunan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(3)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Upaya penanaman kembali hutan yang telah rusak. Penghijauan telah dilakukan namun belum efektif memulihkan kondisi hutan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(4)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Dalam jangka menengah dapat dilakukan sosialisasi dan pendidikan lingkungan pada orang dewasa terutama yang tinggal di sekitar hutan lindung dan konservasi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(5)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Dalam jangka panjang pendidikan lingkungan menjadi salah satu pelajaran muatan lokal baik di SD, SMP, SLTA maupun di perguruan tinggi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Penurunan Keanekaragaman Hayati</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Sebagai akibat kerusakan hutan, pembukaan lahan, praktek pengolahan lahan yang kurang memperhatikan ekologi, pertanian monokultur dll., maka terjadi penurunan keanekaragaman hayati di Propinsi Bengkulu. Kegiatan monokultur dapat menyebabkan sebagian flora, fauna dan mikrobia musnah. Contohnya, kantong semar yang dahulu sangat banyak dijumpai di Bengkulu sekarang menjadi sedikit jumlah dan jenisnya. Kegiatan pembukaan lahan yang kurang ramah lingkungan seperti lahan disemprot<span>  </span>dapat menyebabkan telur-telur dan flora lainnya menjadi tidak berkembang. Satwa liar menjadi menurun dan kemudian masuk kriteria dilindungi. Satwa-satwa tersebut antara lain badak Sumatera, gajah Sumatera, harimau Sumatera, tapir, beruang madu, rusa sambar, napu, rangkong, siamang, kuao, walet hitam, penyu belimbing serta kura-kura. Ada delapan jenis kura-kura yang ada di Bengkulu yaitu kura nanas, kura garis hitam, kura patah dada, beiyogo, baning coklat, labi-labi hutan, kura pipi putih dan bulus. Baning coklat berstatus dilindungi dan sudah terancam punah. Flora langka yang ada di Bengkulu adalah <em>Raflesia arnoldi,</em> bunga bangkai dan anggrek pensil.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Upaya untuk mencegah punahnya flora dan fauna langka tersebut antara lain adalah:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(1)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">konservasi in-situ: upaya pelestarian flora dan fauna langka beserta ekosistemnya di kawasan konservasi. Luas hutan konservasi di Bengkulu adalah 426.203,23 ha.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(2)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">konservasi ex-situ: UNIB telah mencoba membiakan Raflesia alnordi dengan menggunakan kultur jaringan, tapi belum berhasil.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(3)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">program penangkaran satwa langka.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(4)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Penyuluhan tentang penangkaran satwa secara intensif.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(5)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang keanekaragaman hayati dan manfaatnya bagi masyarakat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(6)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Peningkatan kemampuan sumber daya manusia.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(7)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Memasukkan keanekaragaman hayati ke dalam kurikulum SD, SMP, SMU serta perguruan tinggi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(8)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Memperluas habitat satwa liar.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kualitas Air</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Pengolahan air di PDAM saat ini memerlukan cukup banyak tawas yang berfungsi sebagai pengikat partikel lumpur. Nilai zat padat tersuspensi dan nilai kekeruhan yang tinggi ini disebabkan oleh aktivitas lain di hulu sungai. Air yang digunakan oleh PDAM juga terindikasi tercemar batubara. Air sumur di daerah peternakan ayam mengandung banyak<span>  </span><em>E. coli</em> yang sangat tinggi. Praktek pemotongan liar juga masih marak dilakukan oleh masyarakat, sehingga dapat menurunkan kualitas air. Kerusakan hutan juga dapat menurunkan mutu air sebagai akibat peningkatan zat padat terlarut dan zat padat tersuspensi serta kekeruhan. Kerusakan hutan juga disinyalir sebagai salah satu sebab turunnya volume air di danau Dendam.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pengaruh Industri</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Meskipun industri di Bengkulu masih belum banyak tetapi perencanaan pembangunan industri selanjutnya harus memperhatikan aspek lingkungan. Selama ini, pembangunan industri kurang memperhatikan aspek lingkungan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Aktivitas industri yang paling besar di Propinsi Bengkulu adalah penambangan batubara dan indutri pertanian (perkebunan). Penambangan batubara mempengaruhi mutu air di DAS Bengkulu-Lemau, DAS Seluma Atas dan DAS Dikit Seblat. Pengaruh industri batubara antara lain meningkatkan zat padat tersuspensi, zat padat terlarut, kekeruhan, zat besi, sulfat dan ion hidrogen dalam air yang dapat menurunkan pH. Masalah ini dapat dikurangi dengan cara pengolahan limbah yang standard dan minimisasi kebakaran.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Perkebunan di Bengkulu terutama karet dan kelapa sawit. Akibat aktivitas ini terjadi peningkatan senyawa organik pada air, adanya sisa-sisa pestisida di DAS, peningkatan zat pada tersuspensi dan terlarut, peningkatan kadar amonia, peningkatan kadar minyak dan lemak, mempengaruhi pH dll. DAS yang terkena aktivitas ini adalah DAS Dikit Seblat, DAS Bengkulu-Lemau, badan sungai Pisang (Ipuh), sungai Betung (Muko-muko), sungai Simpang Tiga (Tais), sungai Bengkulu, dan sungai Sinaba (Ketahun).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Persampahan</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Secara garis besar, sampah dibedakan menjadi tiga jenis yaitu:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">1. sampah anorganik/kering</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Contoh: logam, besi, kaleng, plastik, karet, botol, dll yang tidak dapat mengalami pembusukan secara alamai.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">2. Sampah organik/basah</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Contoh: sampah dapur, sampah restoran, sisa sayuran, rempah-rempah atau sisa buah dll yang dapat mengalami pembusukan secara alami.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">3. sampah berbahaya</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Contoh: baterai, botol racun nyamuk, jarum suntik bekas dll.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Secara umum persampahan di Bengkulu belum menjadi masalah yang sangat serius. Namun sampah cukup menjadi masalah di lokasi-lokasi tertentu seperti pasar, terminal, pertokoan dan tempat-tempat lain yang padat penduduknya. Kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempat-tempat tertentu masih rendah, apalagi untuk mengolahnya. Di Propinsi Bengkulu setia[ rumah tangga menghasilkan limbah kira-kira sebanyak 0,8 kg/hari atau 288 kg per tahun.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Masalah sampah di Bengkulu antara lain:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(1)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">tempat sampah kurang tersedia cukup di lokasi-lokasi padat aktivitas.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(2)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Seringnya pencurian tempat-tempat sampah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(3)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">TPS kurang tersedia cukup.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(4)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Pengangkutan sampah dari TPS ke TPA kurang intensif.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(5)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Belum ada pengolahan sampah yang representatif.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(6)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Kesadaran masyarakat rendah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Di Bengkulu TPA masih jauh dari lokasi permukiman, sehingga belum menimbulkan masalah bagi penduduk. Tipe TPA di Bengkulu pada umumnya open damping setengah mengarah ke sanitary landfill. Ke depan, TPA<span>  </span>sebaiknya diarahkan sepenuhnya ke sanitary landfill, sehingga masalah yang ditimbulkan sampah dapat diminimisasi. Akan lebih baik, jika sampah telah dipisahkan dan diolah langsung di sumber-sumber sampah. Open dumping tidak dianjurkan karena sampah berinteraksi langsung dengan udara luar dan hujan. Open dumping mempercepat proses perombakan sampah oleh mikrobia tanah yang menghasilkan lindi. Lindi yang terkena siraman air hujan, mudah mengalir dan meresap ke lapisan tanah bawah, sehingga mencemari air tanah. Lindi merupakan sumber utama pencemaran air baik air permukaan, air tanah yang berpengaruh terhadap sifat fisik, kimi dan mikrobia air. Perombakan sampah secara aerobik menghasilkan lindi yang mengandung zat padat halus (Ca<sup>2+</sup>, Mg<sup>2+</sup>, K<sup>+</sup>, Fe<sup>2+</sup>, CL<sup>-</sup>, SO<sub>4</sub><sup>2-</sup>, PO<sub>4</sub><sup>3-</sup>, Zn<sup>2+</sup> dan gas H<sub>2</sub>S. Hal ini akan mencemari air sehingga kualitas air menurun. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tumpukan sampah di TPA merupakan media perkembangan mikrobia patogen dan non-patogen. Adanya bakteri pada air minum merupakan indikator pencemaran air. Bakteri dalam tanah bergerak secara vertikal dan horizontal. Bakteri mampu meresap 30 meter pada tanah berstektur halus dan bergerak horizontal sejauh 830 meter dari sumber kontaminan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Solusi permasalahan sampah antara lain sebagai berikut:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 54pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(1)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah pemukiman. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah umur, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, keadaan lingkungan permukimana.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 54pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(2)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Program pengelolaan sampah permukiman.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 54pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(3)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Dimasukkan ke dalam kurikulum SD, SPM, SMA.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 36pt;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Upaya yang telah dilakukan di Bengkulu:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 54pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(1)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">lomba semacam bangunpraja tingkat desa.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 54pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(2)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Pilot project pengolahan sampah. Sayang tidak berlanjut.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 54pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(3)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Program adipura.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 54pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(4)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Lokakarya tentang pengelolaan sampah kepada<span>  </span>kepala desa dan camat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 54pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(5)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Adanya Perda yang mengatur persampahan, tapi belum dijalankan secara efektif.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pelestarian Lingkungan</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Faktor-faktor yang perlu diperhatikan agar masyarakat berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan antara lain:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 54pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(1)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">tingkat pendidikan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 54pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(2)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Peningkatan penghasilan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 54pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(3)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Pengetahuan tentang kearifan lokal.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 54pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-size:small;">(4)</span><span>   </span></span></span><span><span style="font-size:small;">Penerapan sistem pertanian konservasi (terasering, rorak – tanah yang digali dengan ukuran tertentu yang berfungsi menahan laju aliran permukaan&#8211;, tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman, agroforestry, olah tanam konservasi – pengolahan yang tidak menimbulkan erosi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Daftar Pustaka</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-45pt;margin:0 0 0 45pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>Anonimus. 1998. Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia. KLH-UNDP. </span><span>Jakarta.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-45pt;margin:0 0 0 45pt;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Anonimus. 2004. Profil Kehutanan Kabupaten Lebong. Dinas Kehutanan Lebong. Bengkulu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-45pt;margin:0 0 0 45pt;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Armanto, M. E. dan E. Wildayana. 1998. Analisis permasalahan kebakaran hutan dan lahan dalam pembangunan pertanian dalam arti luas. Lingkungan dan Pembangunan 18 (4): 304-318.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-45pt;margin:0 0 0 45pt;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Rahmi, D. H. dan B. Setiawan. 1999. Perancangan Kota Ekologi. Dikti, P &#38; K. Jakarta.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-45pt;margin:0 0 0 45pt;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Soedradjat, R. 1999. Lingkungan Hidup, Suatu Pengantar. Dikti, P &#38; K. Jakarta.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-45pt;margin:0 0 0 45pt;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Soemarwoto, O. 1991. Indonesia Dalam Kancah Isu Lingkungan Global. Gramedia Pustaka Utma. Jakarta.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-45pt;margin:0 0 0 45pt;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Trihardi, B. 1997. Berbagai kegiatan yang dapat mempengaruhi kualitas air sungai di Propinsi Bengkulu: Penentuan titik-titik monitoring. Universitas Bengkulu. Bengkulu.</span></span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keanekaragaman Hayati]]></title>
<link>http://ngalauseribuharau.wordpress.com/2008/03/10/keanekaragaman-hayati-4/</link>
<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 11:25:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>bahtiar</dc:creator>
<guid>http://ngalauseribuharau.wordpress.com/2008/03/10/keanekaragaman-hayati-4/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src='http://ngalauseribuharau.wordpress.com/files/2008/03/picture-240.jpg' alt='Keanekaragaman Hayati' /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keanekaragaman Hayati]]></title>
<link>http://ngalauseribuharau.wordpress.com/2008/03/10/keanekaragaman-hayati-3/</link>
<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 11:25:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>bahtiar</dc:creator>
<guid>http://ngalauseribuharau.wordpress.com/2008/03/10/keanekaragaman-hayati-3/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src='http://ngalauseribuharau.wordpress.com/files/2008/03/picture-208.jpg' alt='Keanekaragaman Hayati' /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keanekaragaman Hayati]]></title>
<link>http://ngalauseribuharau.wordpress.com/2008/03/10/keanekaragaman-hayati-2/</link>
<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 11:24:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>bahtiar</dc:creator>
<guid>http://ngalauseribuharau.wordpress.com/2008/03/10/keanekaragaman-hayati-2/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src='http://ngalauseribuharau.wordpress.com/files/2008/03/picture-229.jpg' alt='Keanekaragaman Hayati' /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keanekaragaman Hayati]]></title>
<link>http://ngalauseribuharau.wordpress.com/2008/03/10/keanekaragaman-hayati/</link>
<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 11:22:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>bahtiar</dc:creator>
<guid>http://ngalauseribuharau.wordpress.com/2008/03/10/keanekaragaman-hayati/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src='http://ngalauseribuharau.wordpress.com/files/2008/03/picture-238.jpg' alt='keanekaragaman hayati' /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
