<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>keluarga-sharing-experience &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/keluarga-sharing-experience/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "keluarga-sharing-experience"</description>
	<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 02:48:15 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Saat si kecil ikut ber qurban]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/11/26/saat-si-kecil-ikut-ber-qurban/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 13:08:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/11/26/saat-si-kecil-ikut-ber-qurban/</guid>
<description><![CDATA[Pada waktu seperti ini, ingatanku melayang pada saat anak-anak masih kecil. Saat itu kedua anakku ma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Pada waktu seperti ini, ingatanku melayang pada saat anak-anak masih kecil. Saat itu kedua anakku masih sekolah di SD Negeri yang letaknya dekat kompleks perumahan tempat tinggalku. Sepulang dari sekolah, keduanya ikut madrasah di Al Ikhlas, yang jarak dari rumah cukup dekat. Setiap pergi dan pulang keduanya diantar jemput oleh si mbak dengan naik sepeda. Kadang pulangnya mereka sengaja masuk ke jalan yang lebih sepi, dan saat pulang anakku dan temannya, putra teman satu kompleks, sering membawa oleh-oleh, entah berupa ranting kering, dedaunan dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Pada saat hari Raya Idul Adha, biasanya kami berqurban melalui Bapekis (Badan Kerohanian Islam) yang ada di kantor, dan nanti hewan qurban akan disembelih di masjid  yang berlokasi di dekat tempat tinggal karyawan yang berqurban. Setelah anak-anak bisa memahami tentang manfaat berqurban, kami berniat melakukan qurban di masjid tempat anak-anak sekolah madrasah.  Kami membeli kambing melalui panitia, yang harganya didasarkan atas berat badan kambing tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu sore sepulang saya dari kantor, si kecil menangis sesenggukan sambil memeluk saya. Saya bingung, kemudian saya tanya pada si mbak, ada apa? Dan si mbak hanya menggelengkan kepalanya. Usut punya usut, ternyata si kecil nggak mau namanya digantungkan pada leher kambing. Karena banyak orangtua yang berqurban di sekolah madrasah tersebut, maka nama anak yang berqurban digantungkan pada leher kambing yang dibeli, untuk memudahkan saat penyembelihan kambing pada saatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Anak saya sedih&#8230;&#8221;<em> Bu, aku nggak mau namaku digantungkan pada leher kambing, kambingnya bulunya banyak&#8230;.dan jelek</em>&#8221; katanya sambil sesenggukan. Dalam hati saya geli, tapi saya harus memasang wajah datar, sambil menjelaskan pada anakku. Tapi dia masih terus menangis, dan baru diam setelah saya janji akan menyampaikan keberatannya pada ibu guru mengaji. Mungkin keduanya akan geli, jika mengingat betapa dulu dia sempat sedih sekali saat namanya dipasangkan pada leher si kambing yang akan jadi qurban.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi teman-teman yang merayakan Idul Adha, tak lupa kami mengucapkan</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat Hari Raya Idul Adha. Mohon maaf lahir batin, dan semoga ibadah qurban kita diterima oleh Allah swt. Amien</p>
<p style="text-align:justify;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Waktunya bersantai sejenak]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/11/19/waktunya-bersantai-sejenak/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 02:18:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/11/19/waktunya-bersantai-sejenak/</guid>
<description><![CDATA[Karena satu dan lain hal, seminggu ini saya menikmati cuti bersama keluarga. Tidak kemana-mana, hany]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Karena satu dan lain hal, seminggu ini saya menikmati cuti bersama keluarga. Tidak kemana-mana, hanya melakukan tugas rumah tangga sehari-hari, mengobrol bersama suami dan anak. Apanya yang aneh? Memang hal yang sangat biasa, namun tidak buatku, walaupun kesibukan setelah MPP sudah sangat berkurang (karena saya mengambil pekerjaan yang tidak <em>full time</em>), namun pada saat tertentu acara benar-benar padat. Kebetulan si mbak juga mesti pulang kampung karena 100 hari meninggalnya ibunya, sehingga saya benar-benar bisa menjadi ratu dapur.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Yahh, ratu dapur ini biasanya hanya bisa saya pegang saat Lebaran, di saat semua mbak pulang kampung. Saya benar-benar bisa melakukan kegiatan yang berkaitan dengan masak memasak, cuci mencuci dsb nya. Dan biasanya si sulung akan komentar&#8230;&#8221;Wahh, aku bisa tambah gendut nih kalau ibu yang masak, soalnya makan melulu&#8221;&#8230;Entah kalimat itu pujian, atau karena terpaksa menghabiskan makanan di meja makan karena tak tega melihat ibu sudah susah payah memasak.</p>
<p style="text-align:justify;">Si mbak berangkat ke Jawa Timur hari Sabtu sore, namun sebelumnya telah menyediakan masakan rawon, gudeg, serta ayam yang telah diberi bumbu sehingga tinggal di goreng atau dibakar. Jadi selama tiga hari tugas saya hanya menambahkan sambal dan memasak nasi menggunakan <em>rice cooker</em>. Lama kelamaan bosen juga, jadi kemarin mencoba masak soto, celakanya karena sudah lama lupa bumbunya, terpaksa sms si mbak, menanyakan apa bumbu soto.  Tapi hati ini senang melihat anak dan suami mau makan soto dengan lahap, walau sambal kemirinya kepedasan, maklum lama tak masak membuat perkiraan kurang tepat.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sela-sela mengurus pekerjaan rumah, saya masih bisa mengerjakan pekerjaan kantor, mengoreksi bahan laporan, mengirimkan kembali melalui email. Yang paling celaka, entah kenapa, aktivitas <em>blogwalking</em> saya menjadi tersendat, karena beberapa kali mencoba membalas komentar ternyata tak bisa masuk. Hanya beberapa komentar pada blog tertentu, seperti pada blognya EM, yang bisa masuk. Akhirnya, saya hanya <em>blogwalking</em> tanpa meninggalkan komentar. Mudah-mudahan di Jakarta nanti punya waktu membalas komentar teman-teman yang sudah datang ke blog ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Masalah lain, hujan yang terus menerus mengguyur kota Bandung membuat cuaca menjadi lebih dingin, terutama pada malam hari. Hujan ini juga membuat malas bepergian ke luar rumah, namun memang liburan kali ini untuk menikmati situasi rumah. Dan tak terasa saya telah berlibur 5 (lima) hari, dan tinggal 2 (dua) hari lagi. Mungkin saya akan mencoba menonton film 2012 (serem nggak ya), atau sekedar jalan-jalan menyusuri kota Bandung, atau melihat <em>Kickfest </em>di Sabuga, yang akan berlangsung sampai dengan hari Minggu tanggal 22 Nopember 2009.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Begitu cepatnya waktu berlalu]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/10/02/begitu-cepatnya-waktu-berlalu/</link>
<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 02:35:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/10/02/begitu-cepatnya-waktu-berlalu/</guid>
<description><![CDATA[Perempuan itu merenung di depan pintu, baru saja dia mengantarkan anak bungsunya, di pintu pagar hal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Perempuan itu merenung di depan pintu, baru saja dia mengantarkan  anak bungsunya, di pintu pagar halaman depan rumah. Masih terngiang dalam benaknya, saat si kecil yang suka berceloteh menceritakan kegiatan sehari-harinya, saat dia pulang dari bekerja.   Dan kakak nya, dengan gayanya yang khas, ikut meramaikan suasana, sehingga setiap sore atau malam menjadi hari-hari yang penuh dengan kegiatan saling menceritakan kegiatan hari itu. Namun kegiatan itu semakin berkurang, sejalan dengan karir perempuan tadi yang makin naik, yang  membutuhkan pengorbanan bagi keluarganya, karena kadang baru pulang ke rumah saat anak-anak nya sudah tidur. Perempuan itu kembali tersenyum, mengingat adegan demi adegan yang berkelebat dalam bayangan kepalanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Bandara Adisumarmo Solo, tahun 1989</p>
<p style="text-align:justify;">Perempuan itu masih ingat dengan jelas, saat dia mengajak kedua anaknya yang masih umur 7 dan 4 tahun, pulang ke kampung, dalam rangka selamatan 100 hari meninggalnya ibu kandungnya. Saat harus mengambil kopor di bagasi, perempuan  itu berpesan, agar si sulung menjaga adiknya. Betapa dia tersenyum, melihat si kakak sedang duduk  memeluk adiknya, sambil bercerita agar si adik tak ingin lari kemana-mana. Pada saat kesibukan menyiapkan acara selamatan, si sulung menemani adiknya, mengajarkan bermain organ sambil bernyanyi.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat adik telah semakin besar, dan mulai ikut latihan piano, pada suatu lomba yang diadakan oleh WIC Bandung, si kakak menggandeng tangan adik saat adik harus naik panggung, dan menampilkan kebolehannya. Dan betapa senangnya si kakak, saat adiknya termasuk yang mendapat hadiah piala, walau dia sendiri tak mendapatkan apa-apa. Kembali, perempuan tadi tersenyum,  mengingat betapa cepatnya waktu berlalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak terasa saat ini si bungsu semakin dewasa, dan segera menyelesaikan kuliah di Pasca Sarjana. Akankah si bungsu juga dapat meraih cita-citanya, sesuai yang diinginkannya? Jalan terjal masih menghadang, cobaan demi cobaan menerpa, dan kaki-kaki kecil si bungsu semakin kokoh dalam menghadapi berbagai rintangan tersebut. Selama belum ada garis <em>finish</em>, maka perjuangan layak dilanjutkan,  hanya orang yang penuh semangat juang dan bekerja sungguh-sungguh untuk  mendapatkan keinginannya yang akan berhasil. Bila ternyata hasil yang dicapai kurang memuaskan, atau bahkan terjadi kegagalan, namun dengan usaha sungguh-sungguh, kita akan tidak penasaran lagi, karena Tuhan tidak hanya memberikan satu pintu untuk dimasuki. Jika ada pintu yang tertutup, selalu ada pintu lain yang terbuka untuk kita masuki.</p>
<p style="text-align:justify;">Perempuan itu kembali merenung, dan berdoa, &#8220;<em>Ya, Allah, berikan jalan yang terbaik untuk anak-anakku. Lindungilah mereka, agar selalu berada di jalan yang Engkau ridhoi.</em>&#8221; Hari ini, tanggal 2 Oktober 2009,  <a href="http://narpen.wordpress.com/">si bungsu</a> tepat berumur 24 tahun, semoga engkau selalu bahagia anakku, dan tercapai apa yang kau cita-citakan.</p>
<p style="text-align:justify;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Syukurlah Mbak nggak jadi pulang]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/09/20/syukurlah-mbak-nggak-jadi-pulang/</link>
<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 13:53:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/09/20/syukurlah-mbak-nggak-jadi-pulang/</guid>
<description><![CDATA[Hari-hari menjelang Lebaran, merupakan hari yang membuat ibu rumah tangga makin sibuk. Sejak awal bu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Hari-hari menjelang Lebaran, merupakan hari yang membuat ibu rumah tangga makin sibuk. Sejak awal bulan Ramadhan, biasanya si mbak sudah berbagi tugas, siapa yang tak pulang kampung, agar masih ada yang bisa membantu membersihkan rumah.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Bulan Ramadhan kali ini rasanya berlalu sangat cepat, kesibukan yang makin padat, ditambah jalanan di Jakarta yang sering macet, membuatku sering terpaksa membatalkan puasa di tengah perjalanan. Jadi, saat bulan puasa isi tas bertambah, biasanya saya membawa permen, sehingga kalau pas jalanan macet dan saat waktu buka puasa masih dijalan, tinggal makan permen.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai seminggu sebelum Lebaran saya masih ada tugas ke luar kota, dan pekerjaan masih padat. Rencana semula salah satu si mbak akan berada di Jakarta, sedang satunya pulang kampung karena bertepatan dengan pengajian 40 hari ibunya si mbak yang baru saja meninggal. Ternyata keadaan membuatku harus berada di Bandung, menemani si bungsu, sedang rumah di Jakarta harus ada yang menunggu, maklum saat banyak yang pulang kampung kondisi lingkungan rumah memang &#8220;agak rawan&#8221; karena hampir semua tetangga juga pulang kampung. Dan karena setelah Lebaran ada beberapa kerjaan yang harus segera diselesaikan, maka saya membawa buku-buku dan bahan kerjaan dengan harapan bisa dikerjakan di sela-sela waktu bersilaturahmi. Walau dalam hati agak kawatir, karena jika si mbak pulang, maka waktu saya akan tersita untuk beberes rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat sampai Bandung, si mbak mendapat telepon dari saudara nya agar tak usah pulang, nanti saja pas 100 hari nya, karena selamatan terpaksa dimajukan. Rencana semula selamatan bertepatan dengan malam takbir an, namun kelompok pengajian keberatan, sehingga selamatannya siang hari. Dan karena Lebaran maju, maka selamatan juga dimajukan, padahal si mbak sudah beli tiket kereta api sebulan sebelumnya, yang tak mungkin lagi beli tiket baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, saya yang beruntung, paling tidak saya punya waktu untuk kegiatan sosial. Akhir-akhir ini memang banyak hal yang harus ditata ulang, dipikirkan kembali, serta banyak juga hal yang harus dikerjakan. Blogpun menjadi jarang di <em>up date</em>, apalagi berkunjung ke rumah teman-teman. Walau begitu, tak lupa, saya mengucapkan</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Selamat Idul Fitri&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">1 Syawal 1430 H</p>
<p style="text-align:justify;">Mohon maaf atas segala kekhilafan, baik yang disengaja maupun tak disengaja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan mungkin blog ini akan lebih banyak terlelap, tergantung kesibukan pemiliknya. Semoga kita masih dikaruniai kesehatan agar masih bisa menulis dan saling berkunjung dikala ada waktu dan kesempatan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saat terjadi gempa di Jakarta]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/09/02/saat-terjadi-gempa-di-jakarta/</link>
<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 13:20:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/09/02/saat-terjadi-gempa-di-jakarta/</guid>
<description><![CDATA[Jalan Sudirman yang langsung macet Hari Rabu, saya sedang asyik menyelesaikan pekerjaan, tak terasa ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_2861" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2861" title="Jalanan Sudirman Thamrin macet" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/09/jalanan-sudirman-thamrin-macet.jpg?w=300" alt="Jalan Sudirman yang langsung macet" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Jalan Sudirman yang langsung macet</p></div>
<p style="text-align:justify;">Hari Rabu, saya sedang asyik menyelesaikan pekerjaan, tak terasa jam telah mendekati jam 3 sore. Saya mempercepat pengetikan, agar jam 3 sore bisa pulang ke rumah, karena jalanan Jakarta semakin macet menjelang buka puasa, apalagi hampir setiap kantor memajukan jam kerjanya. Dan hari ini memang ingin pulang cepat, setelah kemarin rapat sampai malam, sekaligus berbuka puasa bersama klien.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Tiba-tiba saya merasa &#8220;agak melayang&#8221; dan kemudian kursi semakin bergoyang. Karena saya pernah menyebabkan salah satu roda kursi terlepas, saya pikir kemungkinan ada roda kursi yang kurang kuat. Namun, lama-lama kok semakin goyang, dan&#8230;.saat berdiri dari kursi, saya mau terjatuh, dan langsung berpegangan pada meja. Begitu keluar dari ruangan sambil merambat pada dinding, bosku langsung  teriak&#8230;.&#8221;<em>Bu, cepat turun</em>&#8220;.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya  melepas <em>handphone </em>yang kebetulan sedang di <em>charge</em> baterei nya, sambil sempoyongan nyaris terjatuh, dan terasa begitu sulit untuk memasukkan <em>handphone </em>yang masih menyatu dengan <em>charge </em>nya kedalam tas. Akhirnya tas hanya tertutup sebagian, saya menuju meja untuk mematikan komputer yang sedang menyala&#8230;namun goyangan makin kuat, saya nyaris terjatuh. Akhirnya saya lari tanpa sempat mematikan komputer, sambil berpegangan dinding hanya membawa tas tangan, dan sampai koridor sudah banyak yang menuju tangga darurat.</p>
<p style="text-align:justify;">Di depan saya persis ada wanita yang jalannya pelan sambil dipeluk laki-laki, yang rupanya sedang hamil. Orang-orang yang kuat, lari melewati saya disebelah kanan. Sambil gemetaran, saya turun pelan-pelan sambil berdzikir dan pasrah apapun yang terjadi. Di tangga, semua orang berdoa menurut agamanya masing-masing bahkan ada yang sambil menangis. Rasanya lama sekali turun tangga dari lantai 18 ke bawah, dan saya tak berani melihat sudah sampai lantai berapa, kawatir malah tak bisa jalan. Akhirnya sampailah kami di lantai satu, dan goyangan masih terasa walau lebih pelan dibanding di lantai atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya bernapas lega, dan teman merangkap bos saya langsung mengajak pulang. Karena buru-buru, teman yang satu malah lupa membawa kunci motor, dan mau naik kembali mesti menunggu karena kawatir ada gempa susulan. Jadi saya sekaligus pesan untuk mematikan komputer di meja saya. Tas yang berisi file dan buku-buku saya masih berantakan di meja, tapi saya segera ikut naik mobil. Sambil keluar dari halaman parkir, baru sadar kalau mesti mengabadikan situasi ini.</p>
<div id="attachment_2862" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2862" title="Semua berada diluar gedung" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/09/semua-berada-diluar-gedung.jpg?w=300" alt="Semua karyawan berhamburan keluar gedung" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Semua karyawan berhamburan keluar gedung</p></div>
<p style="text-align:justify;">Keluar dari halaman kantor, jalan Kebon Sirih terlihat padat kendaraan dan memasuki jalan Thamrin, kemacetan makin menjadi-jadi, rupanya semua ingin cepat-cepat pulang. Sepanjang perjalanan, terlihat gerombolan karyawan, ada yang bergerombol di halaman, dan banyak pula yang berada di pembatas jalan. Saya pikir, jika gempanya besar, orang yang berkantor di jalan Thamrin Sudirman yang penuh gedung tinggi, akan sulit menghindarkan diri jika gedungnya runtuh.</p>
<div id="attachment_2863" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2863" title="Jembatan semanggi langsung macet" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/09/jembatan-semanggi-langsung-macet.jpg?w=300" alt="Jembatan Semanggi yang langsung macet" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Jembatan Semanggi yang langsung macet</p></div>
<p style="text-align:justify;">Teman saya mengeluh pusing, dan anehnya saya malah merasa perut  terasa &#8220;agak kram&#8221;, mungkin karena turun tangga dari lantai 18 dalam keadaan tegang. Saya menilpon anak saya, dan ternyata <em>handphone</em> nya sulit dihubungi. Teman saya juga mencoba untuk menilpon, nggak bisa juga. Akhirnya saya mengabarkan melalui sms, tak lama kemudian si sulung sms, kalau dia aman karena berada di lantai dua  dan sedang ketemu klien ketika terasa ada gempa.</p>
<div id="attachment_2864" class="wp-caption aligncenter" style="width: 234px"><img class="size-medium wp-image-2864" title="Kantor lama saya sebelum pensiun" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/09/kantor-lama-saya-sebelum-pensiun.jpg?w=224" alt="Kantor saya sebelum pensiun" width="224" height="300" /><p class="wp-caption-text">Kantor saya sebelum pensiun</p></div>
<p style="text-align:justify;">Si mbak juga sms apakah saya baik-baik aja, karena di rumah Cilandak gempanya sangat terasa. Sampai rumah, rasanya lega, dan badan pegal semua. Tapi besok saya harus berangkat pagi-pagi, mampir kantor dulu untuk mengambil tas yang berisi file, baru kemudian menghadiri rapat di lokasi lain. Begitu sampai rumah si bungsu menilpon, dia yang saat itu sedang di lab, juga langsung lari ke bawah meninggalkan komputer nya di lab, dan kemudian setelah gempa reda, baru diambil lagi. Saat menilpon, dia sudah dalam perjalanan pulang ke rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga tidak banyak yang menjadi korban jiwa. Terasa sekali, betapa kita, hanyalah manusia biasa yang tak punya kuasa apa-apa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Foto diambil menggunakan <em>handphone</em> dari balik jendela mobil, sambil menyusuri jalan Sudirman Thamrin yang macet.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ngabuburit di Bandoengsche Melk Centrale]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/09/02/ngabuburit-di-bandoengsche-melk-centrale/</link>
<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 00:01:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/09/02/ngabuburit-di-bandoengsche-melk-centrale/</guid>
<description><![CDATA[Saya mendengar istilah itu pertama kalinya, saat kuliah di IPB, Bogor. Ngabuburit yang bisa diartika]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Saya mendengar istilah itu pertama kalinya, saat  kuliah di IPB, Bogor. Ngabuburit yang  bisa diartikan menunggu saat berbuka puasa, bisa sekedar jalan-jalan, maupun mengobrol atau membaca. Saya malah tahu arti ngabuburit dari <a href="http://bukamulut.blogspot.com/2006/09/ngabuburit.html">blog  ini</a>, yang bila saya kutip, arti ngabuburit sebetulnya berasal dari kata burit, yang berari sore. Jadi ngabuburit adalah menunggu sore. Karena  buka puasa adalah di sore hari, saat Maghrib, maka menunggu buka puasa akhirnya menjadi dikenal &#8220;ngabuburit&#8221;</p>
<p><!--more-->Akhir minggu kemarin saya menengok si bungsu di Bandung, yang lagi sibuk berkutat menyelesaikan thesis nya. Saya berangkat dari Jakarta hari Jumat, namun tak berani mengganggu si bungsu, hanya sekedar menemani dia bekerja di depan komputer, dan saya tiduran sambil membaca di dekatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Minggu siang si bungsu tanya, mau ketemu mbak R nggak? Mbak R ini adalah teman baik si bungsu, dia lah yang mengenalkan si bungsu pada <a href="http://narpen.wordpress.com/2009/08/05/dokter-gigi-gaul/">dokter gigi</a> di Bandung, suka jalan-jalan bersama, dan banyak hal lain. Memang sudah lama saya ingin ketemu R, mengucapkan terimakasih telah menjadi teman si bungsu selama ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami berjanji ketemu di toko buku Gramedia. Janji ketemu di toko buku sangat menyenangkan, karena jika salah satu belum datang, maka kita bisa berjalan-jalan sambil melihat-lihat buku, dan siapa tahu ada yang cocok. Dan betul&#8230;akhirnya saya membeli dua buku, karangan <em>Sidney Sheldon</em> yang sedang dicetak ulang lagi, untuk melengkapi koleksiku, dan novel terbitan <em>Harlequin</em>. Sedang si bunsgu membeli dua buku, keduanya karangan Bara Patirajawane (?)&#8230;..entahlah mungkin dia mau belajar memasak, untuk persiapan&#8230;.. Tak lama R datang, terlihat cantik dengan <em>blouse</em> kaos lengan panjang warna hitam dan gaun panjang, serta berjilbab.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami segera menuju ke <em>Bandoengsche Melk Centrale </em>(BMC), yang berada persis dibelakang masjid Al Ukhuwah, di jl. Aceh no.30 Bandung. Sampai di sana masih sepi karena belum jam 5 sore, dan memang disengaja, karena kawatir tak mendapat tempat. Mumpung masih sepi kami mengambil foto dulu untuk kenang-kenangan.</p>
<div id="attachment_2837" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"></dt>
</dl>
<p><span><img class="size-medium wp-image-2837" title="Rita-Ani-Enny" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/09/rita-ani-enny.jpg?w=225" alt="Rita-Narpen-Enny" width="225" height="300" /></span></p>
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><p class="wp-caption-text">Rita-Narpen-Enny</p></div>
<div id="attachment_2838" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><span><img class="size-medium wp-image-2838" title="Poppy dan Rira" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/09/poppy-dan-rira.jpg?w=225" alt="Poppy dan Rita" width="225" height="300" /></span><p class="wp-caption-text">Poppy dan Rita</p></div>
<p>Tak lama pelayan datang, menanyakan pesanan kami, yang akan disiapkan menjelang berbuka puasa.</p>
<div id="attachment_2839" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><span><img class="size-medium wp-image-2839" title="Makanan yang dipesan" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/09/makanan-yang-dipesan.jpg?w=300" alt="Makanan yang dipesan" width="300" height="224" /></span><p class="wp-caption-text">Makanan yang dipesan</p></div>
<p style="text-align:justify;">Dan sambil menunggu waktu buka, kami mengobrol berbagai hal, juga membaca bukunya Bara, yang narsis habis&#8230;..tapi menyenangkan baca bukunya. Pantesan Narpen suka, karena komentar Bara, sangat mirip celetukan dia sehari-hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak lama kemudian, para pengunjung berdatangan, bahkan akhirnya banyak yang tak kebagian tempat duduk, dan terpaksa menunggu antrian. Waktu buka tiba, dan kami segera melahap makanan setelah berdoa, dan  rasanya&#8230;sungguh nikmat. Mengapa kami makan disini? Gara-gara resto ini pernah diperkenalkan oleh Bara di acara TV, jadi kemungkinan rasanya enak. Setelah selesai makan, kami segera berdiri, dan ada pengunjung yang buru-buru mendatangi, rupanya dia belum kebagian tempat. Terlihat di wajahnya &#8230;sangat senang, rupanya dia membawa rombongan cukup besar&#8230;padahal waktu itu mendekati jam 7 malam. Kami berpisah di jalan, R pulang ke rumahnya di jalan Rajawali, sedang kami bertiga memanggil taksi ke arah Bubat. Sopir taksinya benar-benar slebor, sepanjang jalan ngomong terus menyatakan tak puas, dari jalanan yang rusak dan macam-macam, yang ujung-ujungnya minta jalannya agak memutar karena kalau lewat jl. Buah Batu macet, sedang kalau lewat jl Karawitan, jalannya rusak parah. Kami ikuti aja kemauannya, agar cepat sampai rumah, dan begitu tahu kita minta dari jalan Kliningan belok kiri ke Kayu Agung, dia mengomel lagi, katanya rugi&#8230;lho, kok bisa rugi? Kan menggunakan argo?</p>
<p style="text-align:justify;">Duhh saya kangen naik BB di jakarta, yang sopirnya santun, dan berdedikasi mengantarkan penumpang. Jumlah taksi BB di Bandung sangat dibatasi, karena mendapat tentangan dari taksi lain, tapi saya melihat bahwa pemilik perusahaan taksi lain kurang meningkatkan pelayanan, yang membuat penumpang akan memilih taksi BB.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sopir Taksi]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/08/28/sopir-taksi/</link>
<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 23:09:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/08/28/sopir-taksi/</guid>
<description><![CDATA[Minimal seminggu dua kali, saya naik taksi ke jurusan jalan Thamrin dari rumah. Dan karena nggak bis]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Minimal seminggu dua kali, saya naik taksi ke jurusan jalan Thamrin dari rumah. Dan karena nggak bisa menyetir, serta badan juga udah mulai dimakan usia, alat transportasi yang sering saya gunakan adalah  taksi, yang bisa di pesan dari rumah. Pekerjaan menyenangkan, tidak <em>full time</em>,  serta banyak sekali mendapat tambahan ilmu, yang sangat berguna bagi saya sebagai pengajar, dan saya bebas mengatur waktu kerja.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Agar tak bosan diperjalanan, saya terbiasa mengobrol dengan pak sopir, secara tak langsung mewawancara mereka dan mendengarkan tanggapannya. Di satu sisi acara mengobrol ini juga membuat pak sopir tak mengantuk, apalagi jika naik taksi pagi hari, yang malam sebelumnya pak sopir bergadang dijalanan mencari penumpang. Latar belakang pak sopir bermacam-macam, ada yang mantan pekerja di <em>Oil Company</em>, namun terpaksa menjadi sopir karena terkena PHK. Yang paling banyak adalah korban PHK tahun 1998. Akibatnya, saya tak jarang mendengar istilah yang awalnya membuat saya kaget&#8230;&#8221;<em>Bu, bagaimana kalau kita melewati jalan Fatmawati saja, karena lewat jl. Pangeran Antasari sering crowded sekarang, terutama jam pulang kantor</em>? Dari obrolan selanjutnya, saya  tahu ternyata sopir yang mengemudikan adalah seorang Sarjana, dan sambil berusaha mendapatkan pekerjaan lain, dia menjadi sopir taksi.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang paling menyenangkan jika sopir nya sopan, dan sangat menyayangi keluarga. Pak sopir yang mengantar minggu kemarin, adalah anak bungsu dari keluarga berpunya. Kakak-kakaknya sangat sedih, namun sopir B ini sangat menikmati pekerjaannya. Dia cerita, awalnya memang berat, karena sebelumnya dia bekerja di perusahaan kontraktor, memperoleh fasilitas memadai, dan mempunyai latar belakang pendidikan Sarjana Teknik. Isterinya saat ini bekerja sebagai sekretaris di perusahaan minyak. B cerita bahwa kakak-kakaknya menawarkan pekerjaan, namun dia ingin mandiri, dan ternyata Tuhan memberikan jalan melalui pekerjaan sebagai sopir taksi.</p>
<p style="text-align:justify;">B juga cerita, sekarang dia menyopir lebih suka malam hari karena jalanan lancar, tapi memang ada risikonya, karena itulah saudaranya sangat kawatir. Tapi B ini juga cerita, pekerjaan apapun sepanjang halal dan kita menikmati, maka hati juga bahagia. &#8220;<em>Hari ini, sehabis mengantar ibu, saya juga akan pulang kok, karena hasil yang  saya peroleh telah memadai</em>, &#8221; katanya. Anak B sudah dua yang lulus Sarjana dan telah bekerja, salah satunya bekerja di hotel JW Marriot Mega Kuningan. Hanya anak paling kecil yang masih kuliah.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa minggu yang lalu, B membawa penumpang, yang setelah masuk ke jok penumpang  langsung kaget melihatnya. <em>&#8220;B, ngapain kamu kok nyopir taksi</em>?&#8221; B menjawab dengan sopan bahwa memang ini pekerjaannya. Penumpang tadi menanyakan  lagi hal sama, dan B memberikan jawaban yang sama pula. Akhirnya penumpangnya bilang, &#8220;<em>B, aku Im teman mu kuliah dulu</em>.&#8221; Baru B kaget, karena Im tentu saja telah berubah setelah tak pernah bertemu sekian tahun. Ternyata Im ini kerja di perusahaan minyak, dan pekerjaan sering membawanya bertugas di daerah pedalaman, di laut, namun dia sangat menyenangi pekerjaannya. Pada akhirnya Im mengajak B untuk mencoba peruntungannya di perusahaan tempat Im bekerja. B langsung membuat surat lamaran, dan sertifikat lainnya seperti TOEFL dsb nya.  Betapa B sangat gembira, setelah test, hasilnya dia bisa diterima sebagai pekerja kontrak di perusahaan minyak tersebut. B  hanya akan menjadi sopir taksi sampai akhir bulan ini, karena mulai awal September dia bekerja di perusahaan minyak  dan akan ditempatkan di daerah Natuna. Dia sangat gembira karena berhasil mendapatkan pekerjaan bagus tanpa bantuan saudaranya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak terasa,  taksi telah sampai di gedung tempat saya bekerja, saya turun dari taksi sambil berucap. <em>&#8221; Makasih pak B, semoga krasan di tempat kerjanya yang baru</em>.&#8221; Pak B  menjawab sambil tersenyum, &#8220;<em>Terimakasih bu, doakan saya agar berhasil bekerja dengan baik.&#8221;</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Buka puasa bersama anak]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/08/25/buka-puasa-bersama-anak/</link>
<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 12:53:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/08/25/buka-puasa-bersama-anak/</guid>
<description><![CDATA[Bagi orangtua yang anak-anaknya sudah besar-besar dan tidak tinggal serumah, maka seringkali kita te]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Bagi orangtua yang anak-anaknya sudah besar-besar dan tidak tinggal serumah, maka seringkali kita terpaksa makan sahur dan berbuka sendirian. Betapa senangnya jika kita mempunyai kesempatan berbuka puasa dengan anak. Setahun yang lalu, saya nyaris setiap kali berbuka puasa dan sahur sendirian, karena anak  bungsu dan suami sebagian besar waktunya berada di Bandung, dan si sulung masih berada di luar negeri.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Kesempatan bisa berbuka bersama anak tentunya tak di sia-siakan. Suatu saat saya sempat mengunjungi anak ke Bandung, mengajaknya jalan-jalan ke  &#8220;<em>Paris van Java</em>&#8220;, suatu Mal di bagian Barat kota Bandung (jika dilihat dari tempat tinggal saya di Bandung). Saya teringat pengalaman saat mengajak anak-anak (saat itu anak-anak masih kecil), saya dengan pedenya mengajak mereka berbuka puasa di <em>Sizzler</em> (sekarang namanya <em>American Grill</em>), dan tanpa pesan tempat lebih dahulu. Begitu kurang dari 15 menit, semua restoran penuh, tak terkecuali <em>Sizzler</em>, masih ada dua pengunjung yang belum mendapat kursi. Saat itu restoran di Pondok Indah Mal masih terbatas dan belum ada PIM II.  Saya pikir paling-paling hanya menunggu 15 menit, toh makan tak perlu waktu lama, ternyata kami harus menunggu sampai 45 menit. Untungnya, <em>Sizzler </em>memberikan kudapan berupa makanan kecil yang disediakan di konter, sehingga anak-anak tak kelaparan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kali ini saya tak terlalu memilih, kami mencari restoran yang terlihat lumayan enak, dan masih ada kursi kosong. Pilihan jatuh pada &#8220;<em>Sushi Tei</em>&#8221; yang berada di bagian depan Mal PVJ.</p>
<div id="attachment_2814" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2814" title="Makanan yang di pesan" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/08/makanan-yang-di-pesan1.jpg?w=300" alt="Makanan yang dipesan, hanya boleh dipandangi, menunggu waktu berbuka puasa" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Makanan yang dipesan, hanya boleh dipandangi, menunggu waktu berbuka puasa</p></div>
<div id="attachment_2815" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><img class="size-medium wp-image-2815" title="Menunggu buka" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/08/menunggu-buka1.jpg?w=225" alt="Si bungsu sedang memandangi makanan yang dipesannya" width="225" height="300" /><p class="wp-caption-text">Si bungsu sedang memandangi makanan yang dipesannya</p></div>
<p style="text-align:justify;">Kami memesan makanan, dan minta dihidangkan 10 menit sebelum waktu berbuka puasa. Sambil menunggu waktu berbuka, kami mengobrol santai, yang berlangsung sangat menyenangkan. Dan tentu saja tak lupa saya memotret makanan yang disajikan, serta si bungsu yang lagi memandangi makanan (maklum belum boleh dimakan). Sayang hasil jepretan tak terlalu bagus, selain restoran lampunya temaran, juga menggunakan <em>Handphone</em> sederhana.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dokter gigi anak-anakku]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/08/21/dokter-gigi-anak-anakku/</link>
<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 03:48:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/08/21/dokter-gigi-anak-anakku/</guid>
<description><![CDATA[Membaca tulisan si bungsu disini, saya menjadi ingat percakapan dengan teman-temanku beberapa tahun ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Membaca tulisan <a href="http://narpen.wordpress.com/blog/">si bungsu </a>disini, saya menjadi ingat percakapan dengan teman-temanku beberapa tahun yang lalu. Kami, para ibu-ibu, paling sulit mengajak anak ke dokter gigi. Padahal, saat anak-anak ku masih di TK Negeri, telah dikenalkan dengan dokter gigi, yang setiap periode datang ke Sekolah Taman Kanak-Kanak untuk memeriksa gigi para murid TK. Mungkin juga karena dokter gigi yang kebetulan berpraktek di Puskesmas kompleks rumas dinas yang kami tempati adalah dokter perempuan, sehingga  kemungkinan lebih dekat dengan anak kecil.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Namun, dokter gigi yang datang ke sekolah hanyalah untuk pemeriksaan, sehingga saat gigi<a href="http://cacianqalbukunderemp.blogspot.com/"> si sulung </a>harus ditata, maka kami terpaksa mencari dokter gigi lain, yang juga praktek sore. Pilihan pertama adalah dokter gigi yang pernah  mengoperasi gigi bungsuku dan berpraktek di Ladogi. Kebetulan beliau juga berpraktek sore di rumahnya yang merupakan rumah dinas  untuk para dokter RS AL Mintoharjo. Betapa kagetnya kami (suami dan saya), saat si sulung (saat itu masih umur 7 tahun) menggigit tangan dokter gigi yang sedang memeriksanya, sampai dokternya menjerit. Kami pucat pasi, dan meminta maaf  berulang-ulang. Setelah itu kami tak berani untuk mengajak anak ke dokter.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai suatu ketika, saya mengobrol dengan tetangga yang juga satu kantor. Dia merekomendasikan dokter gigi spesialis untuk anak-anak, dan kebetulan adik seniorku di kantor. Dan&#8230;ternyata anak-anak menyukai nya. Betapa tidak? Dokter ini mengajak anak-anakku bermain lebih dulu, mula-mula anak-anak diajar cara menggosok gigi yang benar dengan alat peraga, dan dokter ini selalu cerita pada saat anak harus membuka mulut, dan bilang&#8230;&#8221;<em>Buka mulut ya, nggak lama kok, hitungannya nggak lebih dari sepuluh</em>&#8220;&#8230; katanya ambil mencowel pipi anakku. Tentu saja, sambil membersihkan gigi anakku, dia mendongeng, dan cerita macam-macam sehingga tahu-tahu gigi sudah bersih. Karena gigi anakku besar-besar dan tak teratur (keturunan  ibunya), maka sejak si bungsu masih usia 4 (empat) tahun, dokter gigi ini dengan telaten merawat gigi anakku, dan memasang kawat gigi. Sebelumnya anakku disuruh memilih mau pakai warna apa.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayang, terhadap si sulung hal ini tak berhasil, karena si sulung,   yang saat itu masih umur sekitar 7 tahun berkata&#8230; &#8220;<em>Tante, kalau buat cowok kan yang penting giginya sehat. Dan yang penting lagi bisa cari uang banyak nanti</em>.&#8221; Dokter gigi cuma geli, dan  mencubit pipi anakku&#8230;&#8221;<em>Ihhh kamu kok bandel sekali</em>.&#8221; Lucunya, saat si sulung ternyata gigi bungsunya nggak tumbuh juga, padahal mau melanjutkan ke luar negeri, maka dokter gigi ini yang merekomendasikan teman baiknya, seorang dokter bedah mulut, untuk mengoperasi gigi anakku. &#8220;<em>Nanti tante akan mendampingi dokter bedah mulut ini, jangan kawatir, dan dia temen baik tante kok</em>.&#8221; Si sulung percaya, dan karena empat gigi bungsunya ternyata tumbuhnya miring, jadi sekaligus di operasi semua, dengan bius total. Saat si sulung sadar, pertama kali yang ditanyakan adalah apa tante dokter menunggu dia selama operasi? Saya tersenyum, tanpa menjawab, ya tentu saja  tak ditunggu, kan operasi nya di RS Medistra dengan peralatan lengkap, dan dokter bedah mulut telah didampingi oleh dokter anestesi.</p>
<p style="text-align:justify;">Akibat promosi dari mulut ke mulut, akhirnya teman-temanku yang punya anak kecil, datang semua ke tempat prakteknya. Dan dokter gigi ini cuma ketawa aja&#8230;&#8221;<em>Gara-gara mbak nih, satu kantor kesini semua, padahal kan dokter gigi lain banyak</em>.&#8221; Saat si bungsu diterima di El ITB, setiap kali masih berobat ke dokter ini, sampai akhirnya dia bilang..&#8221;<em>Ani, kan di Bandung juga ada dokter gigi</em>.&#8221; Anakku cuma menggeleng.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhirnya anakku memang harus berpindah ke dokter lain, karena dokter gigi ini tak berumur panjang, saya menyesal karena tak tahu sebelumnya kalau beliau sakit, dan tahu-tahu telah mendapat kabar kalau sudah dipanggil oleh Allah swt. Dokter gigi ini periang, selalu tersenyum, bahkan kakak kandungnya sendiri tak tahu kalau ternyata dia telah menderita kanker payu dara stadium lanjut.</p>
<p style="text-align:justify;">Si bungsu pada akhirnya mengenal dokter gigi lain, gara-gara diajak  Rita (sekretaris jurusan Elektro?), yang  tentu saja sebelumnya dibumbui kalau dokternya keren, baik dan gaul. Dan kenyataannya, si bungsu sekarang ke dokter gigi tanpa di suruh lagi. Mungkin anda punya pengalaman berobat ke dokter gigi, dan tentu saja jika dokter gigi nya ramah, ditambah keren, pasti menjadi rajin berobatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nonton " Blind Pig Who Wants To Fly" di Teater Terbuka Salihara]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/08/02/nonton-blind-pig-who-wants-to-fly-di-teater-terbuka-salihara/</link>
<pubDate>Sun, 02 Aug 2009 01:56:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/08/02/nonton-blind-pig-who-wants-to-fly-di-teater-terbuka-salihara/</guid>
<description><![CDATA[Banyak sekali acara Seni dan Budaya di Salihara, yang selama ini tak sempat saya nikmati, karena ket]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Banyak sekali acara Seni dan Budaya di Salihara, yang selama ini tak sempat saya nikmati, karena ketiadaan waktu, juga akses kalau malam hari. Sebenarnya sih tak perlu kawatir, karena Salihara mudah dicapai dari rumah saya, juga taksi BB mudah dicari karena jalanan depan Salihara cukup ramai dilewati kendaraan. Sabtu ini badan lelah setelah beraktifitas seminggu, jadi rencana nonton siang hari batal, apalagi sang pengantar menghadiri acara undangan teman seangkatannya. Tapi si sulung berjanji mengajak nonton <em>8 th Q! Film Festival </em>yang berlangsung di Jakarta, 26 Juli sd 5 Agustus 2009.</p>
<p style="text-align:justify;">Malam itu setelah sholat Magrib, kami agak terburu-buru berangkat ke Salihara, karena menurut info film akan dimulai jam 7 malam. Ternyata acara untuk film yang ingin kami lihat, baru akan dimulai 7.30 pm, jadi ada waktu untuk keliling Salihara, terutama buat <a href="http://buleto.blogspot.com/">Poppy </a>yang baru pertama kalinya mengunjungi Salihara.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Film &#8220;<em>Blind Pig Who Want To Fly&#8221;</em> yang disutradarai Edwin, dengan produser Dede, di putar di teater terbuka, yang lantainya gabungan dari paving dan rumput.</p>
<div id="attachment_2681" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2681" title="Salihara_1_Agustus 020" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/08/salihara_1_agustus-020.jpg?w=300" alt="Layar tancap teater terbuka Salihara" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Layar tancap teater terbuka Salihara</p></div>
<p style="text-align:justify;">Terasa menonton film layar tancap, karena kami duduk-duduk di paving di bawah sehingga terasa akrab. Sebelum pertunjukan, panitia menjelaskan kalau dilarang makan, minum, serta merekam film.</p>
<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_2682" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2682" title="Salihara_1_Agustus 023" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/08/salihara_1_agustus-023.jpg?w=300" alt="Panitia (teknisi) sedang mempersiapkan pemutaran film" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Panitia (teknisi) sedang mempersiapkan pemutaran film</p></div>
<div id="attachment_2683" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2683" title="Salihara_1_Agustus 025" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/08/salihara_1_agustus-025.jpg?w=300" alt="Dede (Produser), Joko Anwar (kali ini berperan sebagai pemain) dan panitia (tak tahu namanya) sedang  menjawab pertanyaan penonton dalam acara Q &#38; A" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Dede (Produser), Joko Anwar (kali ini berperan sebagai pemain) dan panitia (tak tahu namanya) sedang  menjawab pertanyaan penonton dalam acara Q &#38; A</p></div>
<p style="text-align:justify;">Cerita film ini, menurut penjelasan Joko Anwar dan Dede, yang pada akhir pemutaran film, memandu acara  Q &#38; A (<em>Questions and Answers</em>), merupakan pengalaman Edwin masa kecilnya, ditambah berbagai  olah batin. Sayang Edwin sendiri tak bisa hadir, karena sedang menghadiri festival Film di Korea Selatan, yang antara lain juga sedang memutar film ini. Dan berita baiknya, Film ini mendapat<em> award</em> di <em>International Film Festival Rotterdam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Ringkasan ceritanya: Linda dan Cahyono bertemu dan menjalin persahabatan. Halim mengatakan pada Verawati, yang dulu atlet bulutangkis, dan selalu memakai kaos dengan nama Indonesia dipunggungnya&#8230;..(jadi ingat Mamik Prakoso dalam film &#8220;King&#8221;), bahwa Halim ingin masuk Islam, dan tak lama kemudian mengatakan ingin menikah lagi. Salma, yang menjadi perawat pada Halim (dokter gigi, namun sering berkaca mata hitam), ingin ikut &#8220;Planet Idol&#8221;. Opa meninggal, dan Linda menyebarkan abunya bersama Cahyono. Yahya dan Romi, yang merupakan pasangan gay, ingin mencoba penetrasi sex, yang akhirnya diuji cobakan pada Halim. Halim bersedia menolong karena ingin Salma bisa masuk &#8220;Planet Idol&#8221; sebuah acara yang <em>host </em>nya adalah Yahya. Cahyono yang selama ini selalu berjalan menunduk, dan tak bisa menjawab pertanyaan Linda mengapa berjalan menunduk, akhirnya belajar untuk berjalan dengan menengadah, yang rasanya tak nyaman. Film ini menggambarkan kaleidoskop pengalaman orang-orang di sekitar Linda, dengan berbagai agenda masing-masing. Saya akui, tak mudah untuk memahami cerita film ini, namun saya akhirnya belajar dari tanya jawab para penonton, film ini memang dibuat terbuka, sehingga masing-asing orang bisa menafsirkan sendiri. Sesi Q &#38; A sangat menarik, serius, santai, namun penuh tawa, karena penonton bebas menanyakan berbagai hal seputar film tsb yang berusaha jawab oleh Joko Anwar dan  Dede.</p>
<p style="text-align:justify;">Sepulang menonton, kendaraan kami tertutup kendaraan lain, jadi akhirnya memutuskan untuk duduk di teras restoran, pesan makanan kecil dan minum. Suasana restoran di Salihara ini yang menyenangkan, para pengunjung yang berbeda meja bisa saling berinteraksi, akhirnya kami bertiga gabung dengan mejanya Joko Anwar (sutradara film) dan Dede, serta Zig (tulisannya ?) yang selama ini sering membuat musik pengiring film yang disutradarai Joko Anwar. Saya baru tahu ternyata Joko Anwar, lulusan Mesin jurusan Penerbangan angkatan tahun 1994, yang berarti satu alumni dengan suami saya. Dede menyampaikan surprise nya, katanya jarang anak dan ibu hadir pada diskusi film, dan ini kali kedua dia melihat ibu dan anak akrab pada acara diskusi film. Pertama kali, dia ketemu dengan ibu (80 tahun) dan anak (40 tahun) yang datang ke acara festival film di Perancis. Saya cuma tersenyum mendengar komentar Dede.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak lama kemudian banyak sekali penonton berbondong-bondong keluar dari teater Salihara yang lain, diantara nya terdapat beberapa warga negara asing. Kemudian terlihat pak Goenawan Wibisono (Tempo), si sulung sempat mengobrol sebentar dengan beliau. Tak lama kemudian muncul mbak Leila Khudori (kritikus film dari majalah Tempo), yang kemudian bergabung di meja kami dan terlibat obrolan menyenangkan. Dan Joko Anwar bersedia mengambil foto kami (saya, si sulung dan Poppy) bersama mbak Leila Khudori.</p>
<div id="attachment_2684" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2684" title="Salihara_1_Agustus 026" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/08/salihara_1_agustus-026.jpg?w=300" alt="Foto bersama Leila Khudori (kritikus film dari majalah Tempo)" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Foto bersama Leila Khudori (kritikus film dari majalah Tempo)</p></div>
<p style="text-align:justify;">Malam itu kami ketemu dua orang populer dari Tempo, yaitu pak Goenawan Muhammad dan mbak Leila. Setelah sampai di rumah, saya baru tahu bahwa rombongan pak GM tadi ternyata baru selesai menonton &#8220;<em>Tolstoy&#8217;s Wife</em>&#8221; yang merupakan sebuah  drama berdasarkan buku harian terakhir <em>Countess Sonya Tolstoy</em>. Dan yang membuat surprise, ternyata diantara orang2 tersebut ada <em>Jennifer Claire</em>, yang baru saya tahu setelah membaca buku &#8220;<em>Festival Salihara 2009</em>&#8220;.  Bulan Agustus ini banyak sekali acara menarik, apalagi sehubungan perayaan kemerdekaan Indonesia. Pulangnya kami melewati daerah Kemang yang ditutup jalan nya, dan baru ingat bahwa sejak Jumat malam sedang diadakan acara &#8220;<em>Festival Kemang</em>&#8221; sampai hari Minggu ini. Sebetulnya pengin melihat, tapi badan sudah lelah, apalagi masih banyak tugas lain,  jadi kami memutuskan untuk meneruskan pulang ke rumah.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mencoba makanan di "Cafe Batavia"]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/07/20/mencoba-makanan-di-cafe-batavia/</link>
<pubDate>Mon, 20 Jul 2009 01:55:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/07/20/mencoba-makanan-di-cafe-batavia/</guid>
<description><![CDATA[Setelah lelah memutari 3 (tiga) museum, dua bersaudara yang sudah STW (Setengah Tuwo) ini melepaskan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Setelah lelah memutari 3 (tiga) museum, dua bersaudara yang sudah STW (Setengah Tuwo) ini melepaskan lelah di Cafe Batavia.</p>
<div id="attachment_2624" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2624" title="Cafe Batavia" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/cafe-batavia.jpg?w=300" alt="Cafe Batavia" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Cafe Batavia</p></div>
<p>Udara luar yang panas menyengat langsung terasa sejuk begitu memasuki pintu cafe, apalagi telinga mendengarkan sayup-sayup suara <em>gramophone</em> memperdengarkan lagu-lagu tempo doeloe.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Saya melihat sekeliling dengan kaget, karena cafe penuh sekali dan 90 persen merupakan tamu mancanegara.</p>
<div id="attachment_2626" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2626" title="Mejeng di cafe Batavia" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/mejeng-di-cafe-batavia.jpg?w=300" alt="Tamu asingpun memenuhi Cafe Batavia" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Tamu asingpun memenuhi Cafe Batavia</p></div>
<p style="text-align:justify;">Rasanya seperti  tak  ada bom meledak dua hari sebelumnya, karena saya membayangkan mereka akan diam di rumah atau melakukan kegiatan yang bukan di arena terbuka. Ternyata mereka biasa-biasa saja, dan tak nampak ada kekawatiran.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama kali mengetahui tentang Cafe ini dari majalah, yang menjelaskan bahwa menu yang ada adalah makanan Indonesia, yang telah disesuaikan dengan lidah internasional.</p>
<div id="attachment_2627" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2627" title="Tangga dan suasana dalam cafe Batavia" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/tangga-dan-suasana-dalam-cafe-batavia.jpg?w=300" alt="Interior Cafe Batavia" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Interior Cafe Batavia</p></div>
<div id="attachment_2628" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2628" title="Pintu kamar mandi" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/pintu-kamar-mandi.jpg?w=300" alt="Pintu kamar mandi" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Pintu kamar mandi</p></div>
<p style="text-align:justify;">Interior cafe penuh diberi pajangan foto-foto bintang film tempo doeloe, sampai ke toilet dan bahkan di pintu toiletpun terdapat foto bintang film, demikian juga di dalam toilet.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya memesan bubur ayam ikan asin (lagi-lagi bubur ayam&#8230;pasti deh Imelda ketawa&#8230;), ayam kampung mabuk, tim cakar ayam saus lada hitam, serta <em>juice</em> mangga.</p>
<div id="attachment_2629" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2629" title="Ayak kampung mabuk" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/ayak-kampung-mabuk.jpg?w=300" alt="Ayam kampung mabuk" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Ayam kampung mabuk</p></div>
<div id="attachment_2630" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2630" title="Tim cakar ayam saus lada hitam-dan minuman" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/tim-cakar-ayam-saus-lada-hitam-dan-minuman.jpg?w=300" alt="Bubur ayam ikan asin, Tim cakar ayam saus lada hitam, ayam kampung mabuk dan juice mangga" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Bubur ayam ikan asin, Tim cakar ayam saus lada hitam, ayam kampung mabuk dan juice mangga</p></div>
<p style="text-align:justify;">Ternyata bubur ayamnya banyak sekali&#8230;dan enak. Jadi, selesai makan, kami benar-benar merasa mabuk&#8230;.kata adik saya, kami mabuk gara-gara makan ayam kampung mabuk. Rasanya benar-benar menggoyang lidah, demikian juga <em>juice</em> mangganya, sedaap&#8230;.membuat badan terasa segar. Lama-lama kami merasa mengantuk, apalagi sambil mendengarkan suara <em>gramophone</em> yang terus berputar&#8230;.sudah waktunya pulang, walau pada akhirnya kami memutuskan untuk mampir di Grand Indonesia, sekedar melihat-lihat dan mampir beli buku di Gramedia buat para keponakan di Semarang.</p>
<p style="text-align:justify;">Jalanan lengang, taksi berjalan lancar&#8230;dan lagi-lagi mendengar keluhan sopir taksi bahwa pendapatan mereka setelah pasca ledakan bom di <em>JW</em> <em>Marriot</em> dan<em> Ritz Carlton</em> sangat merosot. Saya ikut sedih mendengarnya, semoga sepinya ini bukan karena warga Jakarta takut keluar rumah, namun karena <em>long week end</em>, yaitu adanya libur 3 (tiga) hari berturut-turut sehingga banyak yang menyempatkan diri keluar kota. Adik saya komentar, mungkin Mal nya sepi, karena musim sekolah baru saja mulai, sehingga prioritasnya berbeda.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jalan-jalan ke kota Tua di hari Minggu ]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/07/19/jalan-jalan-ke-kota-tua-di-hari-minggu/</link>
<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 12:25:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/07/19/jalan-jalan-ke-kota-tua-di-hari-minggu/</guid>
<description><![CDATA[Kemana akan mengajak jalan-jalan saudara di Jakarta? Sebelum ada ledakan bom di Hotel JW Marriot dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Kemana akan mengajak jalan-jalan saudara di Jakarta? Sebelum ada ledakan bom di <em>Hotel JW Marriot</em> dan Hotel <em>Ritz Carlton</em>, banyak pilihan. Kebetulan adik saya (dosen di UNDIP) menghadiri seminar di Jakarta yang diadakan oleh Dikti,  dan karena adik saya sudah lama nggak ke Jakarta, awalnya saya ingin mengajak ke Grand Indonesia, paling tidak ada beberapa toko buku di sana. Adanya bom, serta isu-isu yang ada, serta kekawatiran beberapa teman maupun keponakan, akhirnya saya mengajak adik mengunjungi &#8220;Kota Tua.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Perjalanan di hari Minggu yang cerah berjalan lancar, Jakarta sepi, entah karena <em>long week end</em>, yang memang biasanya Jakarta sepi ditinggal penghuninya untuk pergi ke Puncak maupun Bandung, atau karena adanya kekawatiran yang sama seperti saya. Pak sopir taksi mengeluh, terjadi penurunan penumpang taksi yang sangat signifikan pasca ledakan, karena banyak penghuni kota Jakarta yang menghindari Mal terutama yang mewah.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama kali kami mengunjungi Museum Seni Rupa dan Keramik, yang memperlihatkan berbagai keramik yang antara lain diperoleh dari keramik lokal dan keramik asing.</p>
<div id="attachment_2609" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2609" title="Keramik dari kapal tenggelam" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/keramik-dari-kapal-tenggelam.jpg?w=300" alt="Keramik yang berasal dari kapal tenggelam" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Keramik yang berasal dari kapal tenggelam</p></div>
<p>Paling banyak berasal dari Cina , dari dinasti Ming dan Ching.</p>
<div id="attachment_2610" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2610" title="Keramik dinasti Ching abad ke 7" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/keramik-dinasti-ching-abad-ke-7.jpg?w=300" alt="Latar belakang keramik dinasti Ching" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Latar belakang keramik dinasti Ching</p></div>
<p style="text-align:justify;">Museum ini juga memiliki 400 an karya Seni Rupa terdiri dari berbagai bahan dan teknik yang berbeda, seperti: patung, grafis, totem kayu, sketsa dan batik lukis.</p>
<div id="attachment_2611" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2611" title="Kapal roh" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/kapal-roh.jpg?w=300" alt="Kapal roh? (lupa judulnya)" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Kapal roh? (lupa judulnya)</p></div>
<p style="text-align:justify;">Juga ada beberapa koleksi lukisan yang penting bagi sejarah seni rupa di Indonesia. Di depan museum Seni Rupa dan Keramik juga terdapat meriam, sebagaimana di depan museum Fatahillah.</p>
<div id="attachment_2612" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2612" title="Meriam depan museum keramik-1" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/meriam-depan-museum-keramik-1.jpg?w=300" alt="Adik saya berpose di dekat meriam di depan Museum Keramik" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Adik saya berpose di dekat meriam di depan Museum Keramik</p></div>
<p>Ini kali ketiga saya mengunjungi museum Fatahillah, yang pada kali pertama pengunjung sangat sedikit.</p>
<div id="attachment_2615" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2615" title="Pengunjung sedang melepas lelah" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/pengunjung-sedang-melepas-lelah.jpg?w=300" alt="Pengunjung melepas lelah di taman belakang Museum Fatahillah yang cukup sejuk" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Pengunjung melepas lelah di taman belakang Museum Fatahillah yang cukup sejuk</p></div>
<p style="text-align:justify;">Pada minggu ini pengunjung lumayan banyak, yang menyenangkan banyak keluarga yang membawa anak-anaknya, maupun para remaja. Pada kunjungan pertama kali, saya dan si sulung bebas mengambil foto di dalam museum, namun kali ini foto hanya diperbolehkan dilakukan di luar museum.</p>
<div id="attachment_2614" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2614" title="Wisman dan wisdom sedang melihat-lihat museum" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/wisman-dan-wisdom-sedang-melihat-lihat-museum.jpg?w=300" alt="Turis mancanegara sedang mendengarkan penjelasan guide" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Turis mancanegara sedang mendengarkan penjelasan guide</p></div>
<p style="text-align:justify;">Banyak juga turis mancanegara yang mengunjungi museum ini, dan mereka terlihat serius mendengarkan penjelasan dari <em>guide</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari museum Fatahillah saya bersama adik meneruskan perjalanan ke museum wayang.</p>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:justify;">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-medium wp-image-2613" title="Di Dalang sedang memainkan wayang-di museum wayang" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/di-dalang-sedang-memainkan-wayang-di-museum-wayang.jpg?w=300" alt="Ki Dalang sedang memainkan wayang di Museum Wayang" width="300" height="224" /></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Ki Dalang sedang memainkan wayang di Museum Wayang</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;">Kebetulan ada pagelaran wayang, yang sebagian penontonnya adalah turis mancanegara. Sayang ki Dalang menggunakan bahasa Jawa dan sesekali bahasa Indonesia, sehingga jika ada turis asing dan tak memahami bahasa Indonesia akan sulit memahami jalan ceritanya. Pada saat ini museum wayang sedang mengalami perbaikan, gedung ini dibangun pertama kali pada tahun 1640 yang dipergunakan untuk gereja, dan pernah hancur pada saat terkena gempa bumi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayang saya tak sempat mengunjungi wisata kota tua yang lain, mungkin suatu ketika harus berangkat pagi-pagi agar bisa mengunjungi 10 lokasi wisata Kota Tua.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ketika keluarga kami mencontreng]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/07/08/ketika-keluarga-kami-mencontreng/</link>
<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 08:20:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/07/08/ketika-keluarga-kami-mencontreng/</guid>
<description><![CDATA[Hari Rabu, saat setiap warga negara Indonesia yang telah mempunyai hak pilih, menggunakan hak nya, a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Hari Rabu, saat setiap warga negara Indonesia yang telah mempunyai hak pilih, menggunakan hak nya, adalah hari dimana keluarga kecil kami dapat berkumpul. Untuk mengumpulkan empat orang dalam waktu dan tempat yang sama bukan hal mudah, apalagi masing-masing punya kesibukan sendiri-sendiri. Nahh&#8230;pada saat seperti ini, sayang kalau tak diabadikan. Apakah keluarga kami memilih capres yang sama? Jawabannya bisa ya, bisa tidak, karena kami masing-masing menghormati hak pilih, walaupun itu anak atau suami, atau isteri.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Pagi-pagi sekali si sulung sudah mandi, dan meninjau lokasi, padahal anggota keluarga yang lain belum mandi. Dan saat yang lain baru mandi, dia sudah selesai mencontreng dan menunjukkan jari tangannya yang ditandai dengan tinta.</p>
<div id="attachment_2579" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2579" title="TPS-20" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/tps-20.jpg?w=300" alt="TPS-20, tempat kami sekeluarga mencontreng" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">TPS-20, tempat kami sekeluarga mencontreng</p></div>
<p>Si sulung bahkan belum sarapan, saat pergi mencontreng di TPS 20, yang hanya berjarak 3 (tiga) rumah dari tempat tinggal kami.</p>
<p style="text-align:justify;">Kira-kira jam 9 pagi, setelah makan pagi bersama-sama, kami siap meninggalkan rumah untuk mencontreng. Dan mumpung keluarga lengkap, kami berempat foto bersama di depan rumah.</p>
<div id="attachment_2580" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2580" title="KeluargaHardjito di depan rumah" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/keluargahardjito-di-depan-rumah.jpg?w=300" alt="Ari-Ayah-Ibu-Ani di depan rumah" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Ari-Ayah-Ibu-Ani di depan rumah</p></div>
<p>Dua kali foto, dua kali pula si bungsu merem, apa boleh buat.</p>
<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_2581" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2581" title="KeluargaHardjitoMencontreng mulai mendaftar" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/keluargahardjitomencontreng-muai-mendaftar.jpg?w=300" alt="Ibu diikuti si bungsu dan ayah, mulai mendaftar" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Ibu diikuti si bungsu dan ayah, mulai mendaftar</p></div>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya si sulung yang membuat foto kegiatan ayah, ibu dan adiknya, sejak mendaftar sampai dengan selesai mencontreng.</p>
<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_2582" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2582" title="Si bungsu tersenyum di bilik" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/si-bungsu-tersenyum-di-bilik.jpg?w=300" alt="Si bungsu tersenyum, siap mencontreng, bersebelahan bilik dengan ayah dan ibu yang juga siap mencontreng" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Si bungsu tersenyum, siap mencontreng, bersebelahan bilik dengan ayah dan ibu yang juga siap mencontreng</p></div>
<p style="text-align:justify;">Setelah selesai mencontreng, kertas dilipat dan siap dimasukkan ke kotak suara.</p>
<div id="attachment_2583" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2583" title="Ayah dan si bungsu selesai menggunakan hak pilihnya" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/ayah-dan-si-bungsu-selesai-menggunakan-hak-pilihnya.jpg?w=300" alt="Si bungsu dan ayah selesai menggunakan hak pilih dan mencelupkan jari di tinta" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Si bungsu dan ayah selesai menggunakan hak pilih dan mencelupkan jari di tinta</p></div>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya untuk menunjukkan bahwa telah melakukan pencontrengan, maka jari tangan dicelupkan pada tinta.</p>
<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_2584" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2584" title="Tanda tinta di jari Narpen" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/tanda-tinta-di-jari-narpen.jpg?w=300" alt="Tanda tinta di jari si bungsu" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Tanda tinta di jari si bungsu</p></div>
<div id="attachment_2585" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2585" title="Tanda tinta di jari-bapak" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/07/tanda-tinta-di-jari-bapak.jpg?w=300" alt="Tanda tinta di jari Ayah" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Tanda tinta di jari Ayah</p></div>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana dengan anda? Apakah telah menggunakan hak pilih dan kewajiban sebagai seorang warga negara dengan baik? Setelah selesai, kami kembali ke rumah. Si bungsu segera kembali ke Bandung, padahal sebelumnya sudah pesan tiket untuk hari Kamis pagi. Berhubung dia harus segera menyelesaikan penulisan thesis, agar bisa mengejar persyaratan beasiswa, si bungsu mencoba mencari kendaraan yang ada untuk pulang ke Bandung. Syukurlah, tak lama kemudian saya mendapat sms, kalau dia bisa naik Citi Trans, sehingga hati saya terasa tenang.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Musim libur sekolah, nonton Film anak-anak dan ke Pesta Buku]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/06/29/musim-libur-sekolah-nonton-film-anak-anak-dan-ke-pesta-buku/</link>
<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 22:57:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/06/29/musim-libur-sekolah-nonton-film-anak-anak-dan-ke-pesta-buku/</guid>
<description><![CDATA[Judul di atas sebetulnya tak tepat buat saya, yang anaknya sudah besar-besar. Namun kesibukan yang a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Judul di atas sebetulnya tak tepat buat saya, yang anaknya sudah besar-besar. Namun kesibukan yang akhir-akhir ini bertambah, maklum saya menambah kegiatan dua kali seminggu dengan menerima tawaran seorang teman untuk membantunya, membuat libur akhir pekan yang dua hari menjadi bermakna.  Si sulung sudah pesan sejak dua minggu sebelumnya, ingin mengajak nonton Film anak-anak yang saat itu diprediksi bakalan menarik, yaitu &#8220;Garuda di Dadaku&#8221; dan &#8220;King&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Kedua film tadi mengisahkan sebuah persahabatan dan perjuangan seorang anak, dalam mencapai cita-cita nya. Kedua anak sebagai tokoh utama dalam kedua film tersebut, mempunyai seorang sahabat yang juga berfungsi sebagai motivator, yang setiap kali mendorong semangat teman karib nya jika sudah nyaris patah semangat. Film yang menarik dan layak ditonton oleh keluarga. Setelah menonton film ini, saya terhenyak, mengapa tak banyak film anak-anak yang dibuat, padahal kedua film ini membuatku benar-benar tersentuh. Dan melihat, betapa penuh sesaknya gedung bioskop, sampai banyak yang menunggu sambil duduk di gang-gang nya, ayah ibu dan anak-anak, bahkan ada yang berikut kakek neneknya. Salut buat Ari Sihasale (sutradara)  yang setiap kali menyuguhkan film anak-anak bermutu, sejak saya melihat film &#8220;Denias&#8221; dengan gambar-gambar pemandangan alam Papua yang indah itu. Juga buat  Ifa Isfansyah (sutradara), yang kata anakku sebelumnya dia bergerak di film independen. Saat menonton film ini berkali-kali saya menyeka mata, antara terharu, bangga, sayang dan perasaan yang campur aduk.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan saya mencoba menonton di Blok M Square yang harga karcisnya lebih murah (Rp.15.000,-), dibanding tempat lain, namun tempatnya tak kalah keren dengan bioskop di Mal terkemuka lain, entah karena masih promosi atau akan seterusnya. Yang jelas saya sudah bertahun-tahun tak ke blok M (kecuali ke tukang jahit di belakang Adiron Plaza alm). Sayang saya hanya sempat berkeliling sambil sekalian naik eskalator ke lantai 5 (lima), tempat bioskop berada, sehingga belum bisa menilai, apakah Blok M Square ini akan laku keras, seperti sebelumnya, yang merupakan tempat orang-orang, baik dari Jakarta maupun luar kota berbelanja. Saya teringat teman saya dari Bali, yang setiap kali ke Jakarta memborong baju untuk dipakai ke kantor sampai ber dus-dus di Pasar Blok M, yang katanya harga murah dan tak terlalu macet sebagaimana jika berbelanja di Tanah Abang.</p>
<p style="text-align:justify;">Selesai menonton dua film, kami (saya dan si sulung) segera berangkat ke Istora Senayan karena sejak tanggal 27 Juni 2009 s/d 5 Juli 2009 di gelar Pesta Buku. Sebagaimana biasanya, begitu melihat buku langsung kalap, apalagi ada diskon yang sampai 55%. Kapan lagi dapat buku murah, jika tak ada Pesta Buku seperti ini. Saya sempat sms <a href="http://www.penganyamkata.net/">DM </a>dan <a href="http://amaliaonearth.com/">Yoga</a>, kalau mau mencari buku karangan Gola Gong dimana, soalnya saya sudah berkeliling Mizan, tak ketemu buku nya. Dulu, pertama kali mendapat buku karangan Gola Gong saat ada pesta diskon di Gramedia Grand Indonesia. Kali ini saya mendapatkan  &#8220;Musafir&#8221;, &#8220;The Journey: From Jakarta to Himalaya&#8221;, &#8220;Aku Anak Matahari&#8221; di stan Penerbit Salamadani. Sayang buku &#8220;Balada si Roy&#8221; yang legendaris itu, sekaligus Yoga juga titip untuk beli jika ada, tak termasuk yang dipamerkan, dan jika berminat bisa mencari langsung di tempatnya di Serang. Kalau begitu, saya perlu menitip ke DM kalau suatu ketika pergi ke Serang untuk membelinya. Saya juga beli buku karangan &#8220;Dan Brown &#8221; dan &#8220;Ridwan Saidi&#8221;. Saya harus banyak menahan diri, karena seminggu sebelumnya si sulung kehilangan dompet lagi, yang berisi KTP, SIM A dan C, serta kartu ATM&#8230;dan lagi-lagi hilangnya ditaksi, sehingga kali ini dia mesti pinjam uang ibunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayang, pada saat Pesta Buku, hanya penerbit Gramedia dan beberapa penerbit besar yang membolehkan bayar pakai Kartu Kredit, padahal banyak penerbit lain yang  bukunya juga bagus-bagus. Si sulung begitu gembira ketemu komik yang harganya Rp.10.000,- (padahal biasanya Rp.50.000,-) sehingga rela membawa seluruh belanjaan kami buku di pundak dan kedua tangan nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Malam makin larut dan saya mesti segera pulang, untuk mempersiapkan koper, karena Senin mesti pergi ke luar kota untuk mengajar dan si sulung harus bekerja esok harinya. Masih ada kesempatan sampai tanggal 5 Juli 2009 (sayang saya masih ada di luar kota), bagi siapapun yang ingin memborong buku, dan diskonnya lumayan, bahkan ada yang sampai 70%. Mencari taksi dari Istora lumayan lama dan agak sulit, syukurlah setelah menunggu ada taksi Patra yang lewat, dan&#8230;.karena kehabisan uang saya terpaksa minta pak sopir mampir sebentar, agar saya bisa ke ATM di depan kantor cabang di Fatmawati untuk ambil uang buat belanja si mbak.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menonton "Batavia Art Festival 2009"]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/06/23/menonton-batavia-art-festival-2009/</link>
<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 23:20:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/06/23/menonton-batavia-art-festival-2009/</guid>
<description><![CDATA[Saya tak sengaja bisa menikmati Pasar Seni &#8220;Batavia Art Festival 2009&#8221; yang diadakan di ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Saya tak sengaja bisa menikmati Pasar Seni &#8220;<em>Batavia Art Festival 2009</em>&#8221; yang diadakan di halaman Museum Fatahillah, Kota Tua, Jakarta, pada hari Minggu tanggal 21 Juni 2009. Diperkirakan ada sekitar 74 tenda  memenuhi halaman museum, selain ada pentas musik dan pada malam hari di gelar layar tancep yang menayangkan film zaman dulu, seperti &#8220;<em>Dua Tanda Mata.</em>&#8221; Saya baru datang dari Bandung jam setengah satu siang, dan hanya sempat istirahat sebentar, langsung  ke museum, yang untungnya jalanan Jakarta pada hari Minggu tak terlalu padat di dalam kota.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Yang menarik, dari tenda yang ada, merupakan stan sejumlah museum di Jakarta, dan yang sempat kami masuki adalah Taman Arkeologi Onrust (mudah2an sempat memposting tersendiri), museum Bank Mandiri, Museum Monas, juga beberapa stan yang menjual buku dan alat-alat kuno.</p>
<div id="attachment_2474" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2474" title="Bingung-pilih mana ya" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/06/bingung-pilih-mana-ya.jpg?w=300" alt="Bingung memilih barang yang mau dibeli" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Bingung memilih barang yang mau dibeli</p></div>
<div id="attachment_2477" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2477" title="Museum Fatahilah di latar belakang" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/06/museum-fatahilah-di-latar-belakang.jpg?w=300" alt="Penonton asyik menonton musik-museum Fatahillah di latar belakang" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">        Penonton asyik menonton musik              (Museum Fatahillah di latar belakang)</p></div>
<p style="text-align:justify;">Anakku sempat membeli beberapa barang kuno, juga ketemu pengarang komik  (Wahyu Hidayat) yang menjual buku karyanya. Anakku membeli komik dengan judul &#8220;<em>BrastaSeta, Sang Penyembur Api</em>&#8221; yang merupakan Graphic Novel, dan langsung ditanda tangani oleh pengarangnya. Dari mas Wahyu ini, kami baru tahu bahwa pada tanggal 27 Juni s/d 5 Juli 2009 akan ada Pesta Buku di Senayan&#8230;.nahh siap-siap uangnya dari sekarang, karena biasanya kita bisa mendapatkan buku-buku murah.</p>
<p style="text-align:justify;">Siang itu matahari benar-benar bersinar terik, kami kemudian mampir di tempat jajanan dan mencoba ketupat Gloria dan minum air tebu, juga bisa langsung melihat proses pembuatan air tebu nya.</p>
<div id="attachment_2475" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2475" title="Lontong cap gomeh dan air tebu-2" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/06/lontong-cap-gomeh-dan-air-tebu-2.jpg?w=300" alt="Ketupat cap gomeh dan air tebu" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Ketupat cap gomeh dan air tebu</p></div>
<p>Dan dalam acara seperti ini,  selalu ada penjual kerak telor. Jajanan yang ada antara lain: Ketupat Gloria, Gado-gado Pintu Besar, Otak-otak Gang Kencana sejak 1963, Kerak telor, bercampur dengan penjaja makanan zaman sekarang seperti sosis dan minuman kesehatan.</p>
<div id="attachment_2476" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2476" title="Drumband mengelilingi museum" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/06/drumband-mengelilingi-museum.jpg?w=300" alt="Drumband dengan pakaian jadul" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">                   Drumband dengan pakaian jadoel                          (Foto diambil dari Kunderemp)                                 </p></div>
<p style="text-align:justify;">Di tengah makan, ada pawai drumband mengelilingi museum dengan berpakaian ala zaman dulu, anak sulungku langsung loncat berusaha mengambil foto, yang sayangnya tertutup oleh penonton yang berdesakan, sehingga kurang bagus hasilnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya hanya melihat-lihat sampai sore, malamnya si sulung kembali lagi, karena ingin menonton layar tancep yang menayangkan film-film tempoe doeloe. Dia penasaran, karena dulu saat kecil, dia tak memahami arti film tersebut.</p>
<div id="attachment_2478" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2478" title="Berbagai lukisan di atas jendela" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/06/berbagai-lukisan-di-atas-jendela.jpg?w=300" alt="Lukisan di atas kaca patri, di atas jendela tinggi" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Lukisan di atas kaca patri, di atas jendela tinggi</p></div>
<p style="text-align:justify;">Sambil pulang, saya memotret beberapa bangunan tua yang menarik. Ada bangunan yang di atas jendelanya, terdapat kaca patri, yang diberi lukisan berbagai binatang. Ada juga bangunan Bar zaman dulu yang sayang tak terawat.</p>
<div id="attachment_2479" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2479" title="Bar zaman dulu" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/06/bar-zaman-dulu.jpg?w=300" alt="Bar zaman doeloe" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Bar zaman doeloe</p></div>
<p style="text-align:justify;">Dan jika kita ingin berfoto, dengan latar belakang mobil kuno, juga tersedia di sana.</p>
<div id="attachment_2480" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2480" title="Mau bergaya foto pake mobil tua-asal sesuai harganya" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/06/mau-bergaya-foto-pake-mobil-tua-asal-sesuai-harganya.jpg?w=300" alt="Mau bergaya foto dengan latar belakang mobil kuno? Silahkan, asal cocok harganya" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Mau bergaya foto dengan latar belakang mobil kuno? Silahkan, asal cocok harganya</p></div>
<p style="text-align:justify;">Ingin berkeliling ke Kota Tua naik sepeda? Jangan kawatir, kita bisa menyewa sepeda dan ada pemandunya,  untuk berkeliling ke beberapa tempat menarik di Kota Tua. Rasanya saya harus mencoba suatu ketika, dan enaknya di hari Minggu, agar kendaraan tak terlalu ramai. Tapi masihkah saya lihai naik sepeda ya, karena rasanya sudah belasan tahun tak pernah naik sepeda lagi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keong Emas]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/06/15/keong-emas/</link>
<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 02:26:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/06/15/keong-emas/</guid>
<description><![CDATA[Star Trek di Keong Emas (Foto: Narpati) Selama ini saya belum pernah menonton film Star Trek bahkan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_2456" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><img class="size-medium wp-image-2456" title="KeongEmas 001" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/06/keongemas-0011.jpg?w=225" alt="Star Trek di Keong Emas (Foto: Narpati)" width="225" height="300" /><p class="wp-caption-text">Star Trek di Keong Emas (Foto: Narpati)</p></div>
<p style="text-align:justify;">Selama ini saya belum pernah menonton film Star Trek bahkan saat masih diputar di televisi. Namun terbujuk juga oleh si sulung, karena begitu inginnya dia mentraktir ibu menonton film ini di Teater Imax Keong Emas, Taman Mini Indonesia Indah.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Terakhir kali menonton di Teater Keong Emas adalah saat si sulung kelas 4 SD, saat itu menonton bersama keponakan-keponakan berjumlah 7 (tujuh) orang. Dan saat itu jika menonton di Teater Imax Keong Emas, antreannya mengular, sempat membuat patah semangat. Namun hasilnya benar-benar seimbang. Saat itu film yang ditayangkan adalah Indonesia Indah I (benarkah ini film pertama yang tayang?), yang menggambarkan keindahan negara Indonesia, lengkap dengan lautan serta ombak nya yang bergulung-gulung. Penggambarannya sangat indah, dilihat dari atas, terlihat sekali kalau bumi itu bulat, dan hal ini langsung membuat si sulung (yang memang berisik sejak kecil), langsung berteriak .&#8221; <em>Allahu Akbar. Ya, Allah, aku baru benar-benar yakin kalau bumi itu bulat</em>&#8220;. Dan dia langsung meneriakkan Adzan dengan kencang, sampai semua orang menengok ke arah rombongan kami. Adik ipar saya sampai menjawil tangannya dan bilang&#8230;&#8221;<em>Sssst&#8230;mas Ari, suaranya</em> <em>dipelankan ya</em>&#8230;&#8221; Itulah menonton film yang mengesankan buatku, walau air mukaku  merah padam karena malu,  untung tertutupi oleh ruangan yang gelap. Sejak itu saya belum pernah ke Taman Mini lagi, karena kesibukan kerja, dan jika liburan Lebaran (yang semua si mbak pulang kampung), maka adik2ku kumpul di Jakarta bersama keluarganya, dan saya lebih memilih menikmati menunggu rumah, sedang anakku bersama sepupunya, ikutan adik-adik ku menjelajah Jakarta.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebetulnya si sulung ingin menonton acara &#8220;nonton bareng&#8221; pada pagi hari, sayang dia tahu terlambat dan karcis untuk menonton bareng sudah habis. Dan karena sudah lama tak pergi ke Keong Emas, kami benar-benar buta, dan membayangkan antrean masih mengular seperti dulu, sehingga kami siap-siap kecewa jika tak mendapatkan karcis untuk pertunjukan jam 15.00 wib. Kami berangkat dari rumah jam 12.30 wib, dan sampai Keong Mas tak lama kemudian. Saat itu sudah terlihat antrean, dan saya melihat ada petugas yang berada dibelakang meja dengan tulisan VIP. &#8220;<em>Coba nak, kita tanya kesana dulu</em>,&#8221; saya mengajak anakku. Karcis VIP untuk pertunjukkan jam 15.00 wib sudah bisa dibeli, walau harganya cukup mahal. Saya ingin mencoba, seperti apa rasanya menonton dari  VIP. Ternyata untuk VIP tempat duduk nya di balkon, dan khusus untuk kursi yang ditengah tak dijual, karena diperuntukkan untuk tamu negara.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami lama juga menunggu acara, dan syukurlah ruang tunggu nya cukup dingin,  bisa menunggu sambil membaca dan mengobrol. Si sulung tanya, &#8220;<em>Ibu ingat enggak cerita keong Emas</em>?&#8221; Setelah kami berdua berpikir, baru teringat, bahwa keong Emas adalah jelmaan dari seorang puteri cantik yang terkena kutukan, yang nantinya akan ketemu seorang Pangeran yang kebetulan tersesat saat berburu ke hutan. Dalam dunia nyata, keong emas merupakan hama tanaman pertanian. Yahh, acara seperti ini, adalah kesempatan untuk saling menjajagi hati antara ibu dan anak, kami banyak mengingat cerita masa kecilnya (yang rupanya si sulung lupa pernah adzan kencang saat menonton pertama kalinya di Keong Emas).</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya menarik menonton film di Teater Keong Emas, namun saya melihat ternyata film Star Trek kurang lebar, karena tak semua gambarnya memenuhi layar lebar di teater Keong Emas. Saya membayangkan, andaikata film &#8220;<em>The Dark Knight</em>&#8221; di putar di Keong Emas, pasti seru sekali. Dan yang saya perhatikan, penjaga nya banyak sekali, sehingga saya juga berpikir apakah Keong Emas setiap bulan bisa menutupi biaya operasionalnya, hanya dari pendapatan pemutaran film nya. Walau di sekeliling teater Keong Emas ada arena permainan, tapi itu lebih banyak dikhususkan untuk anak-anak sampai remaja, yang kalau cuaca panas, tak semuanya tertarik untuk mengikuti. Untuk itu teater Keong Emas perlu juga melakukan terobosan untuk lebih banyak menayangkan film menarik, apalagi sekarang TMII lebih mudah dijangkau dari mana-mana, dan banyak akses masuk yang mudah jika naik kendaraan umum. Saat keluar dari teater Keong Emas, saya melihat taksi BB berjejeran, sehingga kekawatiran saya jika suatu ketika nggak bawa kendaraan pribadi, telah dapat diatasi. <a href="http://www.keongemas.com/">Keong Emas</a> juga perlu selalu meng<em> up</em> <em>date web</em> nya, karena saat mencari informasi tentang film yang akan dimainkan di Keong Emas, data nya masih bulan April 2009. Betapapun, ide pembuatan teater Imax Keong Emas menarik, namun perlu ada perbaikan dan juga peningkatan mutu, agar para pengunjung yang pernah datang ke sana ingin selalu datang kembali.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hubungan orangtua dan anak yang terkadang "sangat sulit"]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/06/08/hubungan-orangtua-dan-anak-yang-terkadang-sangat-sulit/</link>
<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 03:37:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/06/08/hubungan-orangtua-dan-anak-yang-terkadang-sangat-sulit/</guid>
<description><![CDATA[Kita tentunya menyadari, bahwa hubungan anak dan orangtuanya tidak selalu berjalan mulus, terutama p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Kita tentunya menyadari, bahwa hubungan anak dan orangtuanya tidak selalu berjalan mulus, terutama pada saat anak-anak beranjak remaja, dan sedang mencari jati dirinya. Saya pernah membahas <a href="http://edratna.wordpress.com/2009/06/05/ternyata-saran-mereka-tak-selalu-salah/">disini</a>, yang menceritakan betapa sulitnya posisi orangtua pada saat anaknya akan memilih jurusan di Perguruan Tinggi, yang terkadang pilihannya tadi didasarkan atas keinginan agar tetap bersama teman-temannya, padahal kompetensi masing-masing anak tak selalu sama.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Saya menyadari, saya sendiri harus mengakui, hubunganku dengan anak-anak seperti gelombang, yang terkadang naik turun. Namun, saya bersyukur, kesulitan apapun pada akhirnya dapat diatasi, walau terkadang saya terpaksa meminta jasa orang-orang lain, yang menurutku akan lebih banyak didengarkan anak. Pada saat seperti ini, kadang saran sebaik apapun dari orangtua akan dilanggar, malahan yang dilarang akan dilakukan. Diperlukan kedewasaan orangtua, untuk tidak mudah panik dan marah, yang berakibat  semuanya malah berantakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dua minggu sebelumnya, saya dan si sulung menonton dua film yang terkait dengan museum, yaitu &#8220;<em>Angel and Demon</em>&#8221; serta &#8220;<em>Night at the Museum</em>&#8220;, maka hari Minggu kemarin saya menonton 2 (dua) film komedi terkait dengan Capres, yang keduanya film Indonesia. Film pertama judulnya &#8220;<em>Capres</em>&#8221; yang merupakan singkatan dari Calo Presiden. Awalnya menarik, namun entah kenapa ceritanya kurang di <em>explore</em>, sehingga menurutku menjadi kurang greget, walaupun film ini tetap menarik untuk dilihat. Dan yang menyedihkan, dalam satu gedung (saya menonton jam 12 siang) hanya ada 5 (lima) penonton&#8230;.wahh serasa memiliki gedung bioskop. Mungkinkah kurang promosi? Padahal  ada beberapa petinggi negeri ini yang ikut bermain.</p>
<p style="text-align:justify;">Film kedua berjudul &#8220;<em>Queen Bee</em>&#8220;, 2 (dua) hari sebelumnya anakku sudah menonton, dan dia cerita bahwa film tadi menarik untuk ditonton karena menggambarkan hubungan yang rumit antara seorang ayah dan putrinya, yang masih remaja. Saya tertarik untuk menonton film ini, bukan saja tertarik atas pendapat anakku, namun bagiku juga merupakan kesempatan untuk berdiskusi dengannya. Dimaklumi, diskusi dengan anak, jika dilakukan sambil makan di cafe, akan lebih efektif hasilnya dibanding jika diskusi dilakukan di rumah, entah apa sebabnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Film Queen Bee garis besarnya sebagai berikut: Queenita Siregar, seorang gadis remaja dari kelas menengah ke atas. Selain gaul, Queen juga seperti remaja umumnya, mencoba berbisnis kaos bersama kedua sahabat nya, yang kemudian menjualnya ke distro. Di sekolah, Queen diminta sumbangan oleh panitia Fancy (benar nggak sih istilahnya?) di sekolah, karena dianggap Queen anak orang berada, padahal di satu sisi ayah Queen menekankan kedisiplinan,  pengeluaran uang  harus untuk hal-hal yang bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Queen semenjak  ibunya meninggal saat usianya 5 (lima) tahun, lebih dekat dengan Makcik, pengasuhnya yang telah ikut keluarga tersebut sejak dia masih kecil. Ayah Queen sibuk dengan politik, bahkan akhirnya menjadi calon Presiden. Sejak itu kehidupan Queen berubah, dan menjadi makin rumit. Adanya aparat keamanan yang disiapkan untuk melindungi Capres dan keluarganya makin membuat hidup Queen terkekang, terutama setelah aparat tadi juga membuntuti saat Queen kencan dengan pacarnya. Keinginan Queen sederhana, dia hanya ingin dekat dengan ayahnya dan tak ingin ayahnya menjadi Capres jika itu makin menjauhkan ayah dari Queen. Di satu sisi, sang ayah menganggap Queen masih gadis remaja, yang perlu dilindungi. Suatu ketika teman Queen membocorkan, bahwa Queen sebetulnya tertekan di sekolah, karena tak bisa ikut menyumbang acara sekolah. Sebagaimana Obama yang didukung oleh kaum<em> face booker</em>, maka disarankan agar ayah Queen juga menggunakan kaum muda, sehingga acara disekolah Queen bisa digunakan sebagai sarana menggaet kaum muda. Sayangnya, ternyata uang Rp.100 juta, oleh Queen tak diberikan pada panitia pesta sekolah, namun diberikan pada pacarnya (yang kerja di LSM), untuk disumbangkan ke masyarakat korban bencana. Disinilah, saat tim sukses mengecek di sekolah, ternyata panitia pesta sekolah tak menerima uang sesenpun dari Capres ayahnya Queen. Ayah sangat kecewa, demikian pula Queen, apalagi setelah tahu bahwa uang tsb digunakan untuk kepentingan pribadi pacarnya. Disini Queen berusaha meminta pertanggungjawaban pacarnya, dan menghilang dari rumah, membuat ayahnya, yang seharusnya datang di acara debat capres tak hadir di acara debat itu, namun memilih mencari anaknya yang hilang. Pada akhirnya, baik ayah dan anak, bisa saling memahami, bahwa keduanya saling mencintai.</p>
<p style="text-align:justify;">Film ini menurutku sangat menarik untuk ditonton, namun entah kenapa gemanya sangat kurang, sehingga penonton biasa-biasa saja. Memang dalam hal film juga diperlukan unsur marketing, karena tanpa marketing yang benar, film yang sebetulnya layak ditonton kurang peminat. Apalagi setelah saya lihat,  posternya menggambarkan cewek muda gaul, yang mengingatkan calon penonton pada film-film Indonesia lain yang lebih banyak mengetengahkan kaum remaja, semenjak sukses AADC. Saya bersyukur, si sulung termasuk maniak film, dan dia berusaha menonton film-film Indonesia, kecuali film yang berbau hantu-hantu an.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada kesempatan mengobrol dengan anakku, disitulah kami mencoba saling mengungkapkan isi pikiran bahwa sebetulnya orangtua menyayangi anaknya, walau terkadang cara menyayangi nya salah, atau tak diterima oleh pihak satunya. Saya juga mengatakan pada anakku, ibu juga minta maaf jika selama ini banyak melakukan hal-hal yang sebetulnya kurang cocok atau tak sesuai dengan keinginan anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai orangtua, kita memang harus percaya pada anak, namun kita juga memahami bahwa anak-anak terkadang masih lugu, dan tak memahami dunia tipu menipu, yang terkadang telah ada bahkan pada saat anak masih usia muda. Dan saya menjadi ingat, pertanyaan si bungsu mengapa kalau mas boleh, tapi saya tak boleh, dan saya selalu menjawab walau tidak dibedakan lagi oleh gender, namun tetap ada hal-hal yang berbahaya bagi anak gadis. Dan justru karena itulah, setelah tahu si bungsu sering ke warnet, yang membuatku kawatir karena tak mungkin si mbak membuntuti terus saat ke warnet, atas bantuan teman-teman (terutama yuniorku) saya belajar internet, dan mulai berlangganan internet di rumah, agar saya tak kawatir. Dan semakin menyenangkan, setelah akhirnya saya dapat berlangganan melalui kabel vision, karena biayanya <em>fixed</em>, sehingga teman-teman anakpun bisa ikut menggunakan warnet tanpa ada biaya tambahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai orangtua, kita memang harus bisa mengikuti kemajuan dan teknologi, agar bisa tetap bergaul dan bersahabat dengan anak. Dan jangan mudah putus asa jika hubungan tak berjalan mulus, percayalah, pada akhirnya si anak akan memahami bahwa orangtua menyayanginya, walaupun caranya mungkin membuat anak kurang nyaman.</p>
<p style="text-align:justify;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Light Stroke]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/05/05/light-stroke/</link>
<pubDate>Tue, 05 May 2009 01:36:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/05/05/light-stroke/</guid>
<description><![CDATA[Malam itu saya sulit tidur, entah beberapa hari terakhir perasaan tak nyaman terus melingkupi hati. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Malam itu saya  sulit tidur, entah beberapa hari terakhir perasaan tak nyaman terus melingkupi hati. Apalagi sejak seminggu terakhir,  burung bence (atau burung gereja ?) yang bersarang di pohon besar seberang rumah setiap malam selalu mencicit, membuat perasaan terasa aneh. Saya mengabaikan perasaan itu, dan menyalakan radio untuk menemaniku kerja, karena burung itu rumahnya memang di pohon seberang rumah. Bahkan burung gereja sering terjebak masuk dalam rumahku, jika pintu rumah terbuka.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Jumat dini hari, saya bangun untuk sholat Tahajud, berdoa sambil menunggu waktu  sholat  Subuh datang. Jam 4 pagi alarm berbunyi, saya teringat kalau <a href="http://narpen.wordpress.com/blog/">si bungsu</a> pagi ini mau berangkat ke Belitung bersama teman dan salah satu dosen nya. Saya telepon ke rumah Bandung, lama tak ada yang mengangkat. Si bungsu sudah bangun, tapi ayahnya sedang dikeroki, padahal rencana semula ayah mau mengantar si bungsu ke terminal bis Primajasa, yang akan berangkat ke Sukarno Hatta jam 5.30 wib. Saya meminta si bungsu untuk menilpon <em>Blue Bird</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak lama kemudian, si bungsu sms akan membatalkan kepergian ke Belitung, karena memilih mengantar ayahnya ke UGD di Rumah Sakit terdekat dari rumah. Saya berpesan, sebetulnya  ayah bisa diantar <a href="http://buleto.blogspot.com/">tantenya</a>, dan ibu akan segera berangkat dari Jakarta ke Bandung, sehingga si bungsu bisa tetap berangkat ke Belitung. Tapi si bungsu memilih untuk membatalkan kepergiannya ke Belitung, karena kawatir menyesal, dan memilih untuk mengantar ayahnya ke UGD.  Pagi itu saya berangkat naik travel ke Bandung dan terus menunju Rumah Sakit, tempat suami di rawat. Disitu  si bungsu dan Popy sedang menemani suami. Saat dokter spesialis mengunjungi suami, kami diskusi dan meminta pemeriksaan selengkapnya, termasuk MRI.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena di RS tersebut tak ada alat MRI, dengan ambulans Rumah Sakit tersebut, saya mengantar suami ke RS Sentosa di Kebon jati, dan ternyata dari hasil MRI, memang ada jejak terkena stroke ringan (saya lupa istilah kedokterannya). Jadi saya sejak Jumat menemani suami, tapi karena tugas2 yang menumpuk, suami juga gelisah dan ingin segera pulang ke rumah. Setelah tiga hari, dokter memperbolehkan pulang ke rumah, dengan pesan agar menjaga pola makan, dan istirahat yang cukup. Dan hari ini saya baru bisa mengakses internet, setelah kesibukan agak mereda, dan masih berada di Bandung. Mudah2an, semuanya sehat kembali, mohon maaf jika beberapa hari ini tak sempat membalas komentar maupun<em> blogwalking</em>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Deg-deg an]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/04/24/deg-deg-an/</link>
<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 14:05:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/04/24/deg-deg-an/</guid>
<description><![CDATA[Suatu sore yang cerah, saya duduk-duduk di teras rumah temanku. Kami mengobrol ngalor ngidul, apalag]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Suatu sore yang cerah, saya duduk-duduk di teras rumah temanku. Kami mengobrol ngalor ngidul, apalagi kami berteman sejak akhir tahun 70 an, walau tak selalu terus menerus ketemu karena kesibukan masing-masing. Untuk angkatan temanku, rata-rata memang telah mempunyai anak dewasa, banyak yang sudah punya cucu, paling tidak anaknya rata-rata pada tingkat mahasiswa.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Temanku lagi gundah, karena tahun ini adalah tahun yang menentukan, anaknya akan meneruskan kuliah dimana. Dan tentu saja, walau si anak sendiri sebetulnya telah mempersiapkan dirinya dengan baik, tapi bagi si ibu masih tidak cukup. Saya jadi ingat, bahkan sejak masuk SMP pun, saya selalu menyiapkan rencana cadangan buat anak-anakku, jika tak diterima di sekolah yang dituju. Apalagi saat lulus SMA, yang tentu persaingan masuk ke Perguruan Tinggi Negeri papan atas akan lebih heboh.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mbak, dulu anakmu bagaimana, saat mau masuk  ke PTN?&#8221; tanyanya</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ya, mereka mempersiapkan sejak kelas I, dan semakin ditingkatkan saat sudah kelas III SMA, ikut bimbingan di sekolah, maupun di luar sekolah, ikut <em>try out</em> dsb nya, &#8221; jawabku. Dari hasil <em>try out</em> beberapa kali itu, kita bisa melihat grafiknya, kira-kira anak cocok nya masuk ke mana.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hmm, begitu ya, anakku kok masih tenang-tenang aja,&#8221; katanya</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mungkin hanya terlihat tenang, agar ibunya tak kawatir, saya yakin kok, kalau anakmu juga sebetulnya mempersiapkan dirinya,&#8221; jawabku</p>
<p style="text-align:justify;">Dari obrolan ini, saya jadi mengingat masa lampau, memang bagi seorang ibu, kadang kekawatiran berlebihan, selalu menginginkan yang terbaik bagi putra putrinya. Namun di satu sisi, yang harus berusaha keras adalah anaknya, dan ibu hanya tinggal mengarahkan dari belakang, serta mendoakan agar cita-cita anaknya berhasil.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mbak, kok anakku kalau belajar nggak seperti aku dulu ya,&#8221; kata temanku lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lha memang situasinya berbeda,&#8221; jawabku.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya memahami kekawatiran temanku, yang dulu juga saya rasakan saat anak-anak mau memasuki Perguruan Tinggi, bahkan setelah diterima di PTN, saya berusaha mengikuti jadual kuliah anak-anakku, kapan masa ujian dan sebagainya. Bukan apa-apa, karena pada saat-saat seperti itu, saya bisa membantu dengan doa, sholat malam dan puasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Di satu sisi ada juga orang yang tenang-tenang saja, dan berserah diri, dalam arti kata jika anaknya tak bisa masuk PTN, berarti memang nasib. Saya terkadang ingin seperti ini, kenyataannya hati ini tak mungkin ditipu, jadi tetap saja senewen. Saya masih ingat, saat-saat menerima kabar bahwa si sulung maupun bungsu di terima di PTN yang diinginkannya. Saya langsung sujud syukur, bersyukur kepada Allah swt yang memperkenankan anakku diterima di PT yang diinginkannya. Betapa rasanya semua kelelahan selama setahun terakhir langsung sirna. Saya memahami temanku, betapapun terlihat tegar, dalam hati kecilnya pasti deg-deg an seperti saya dulu. Semoga putra temanku mendapatkan jalan yang terbaik.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin kita semua, sebagai orangtua merasakan seperti itu, ikut harap-harap cemas menunggu datangnya pengumuman apakah putra putri kita termasuk yang beruntung.</p>
<p style="text-align:justify;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mereka yang saling bahu membahu]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/04/21/mereka-yang-saling-bahu-membahu/</link>
<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 00:58:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/04/21/mereka-yang-saling-bahu-membahu/</guid>
<description><![CDATA[Pagi masih gelap gulita, namun ayam di kandang telah ramai berkotek, minta dikeluarkan dari kandangn]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Pagi masih gelap gulita, namun ayam di kandang telah ramai berkotek, minta dikeluarkan dari kandangnya. Beberapa ayam yang tidur di pepohonan, mulai meneriakkan suaranya. Saya masih malas bangun, hawa yang sejuk, membuat ingin kembali menarik selimut.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->&#8220;Ayo Nduk, bangun,&#8221; suara lembut ibu membangunkanku. Ibu membiasakan kami belajar pagi-pagi, karena saat pagi hari suasana yang tenang dan segar, membuat apa yang dibaca lebih mudah dipahami. Setelah belajar, sebagai anak sulung, saya mendapat tugas membeli lauk untuk makan pagi. Lauk yang disukai antara lain adalah tempe &#8220;cemindil&#8221; yaitu tempe yang belum rekat benar (belum jadi), dibungkus daun pisang dan daun jati, enak sekali dimakan hangat-hangat, ditemani nasi putih hangat dan sambal kecap. Jenis sarapan lain yang disenangi keluargaku adalah nasi pecel, yang juga dibungkus daun jati beserta daun pisang.</p>
<p style="text-align:justify;">Penjual tempe bungkus dan nasi pecel ini adalah para tetanggaku di kampung, di kota kecil, tempat saya dan adik-adik saya menghabiskan masa sekolah sejak SD s/d  SMA. Merupakan pemandangan biasa, melihat suami isteri saling bahu membahu, untuk menyiapkan barang dagangan nasi pecel. Isteri bertugas memasak, dan suami yang membantu menggotong barang dagangan ke meja yang diletakkan di pojok jalan kampungku. Pembeli kadang sudah menunggu sejak barang dagangan belum ada di atas meja. Dan, karena saat itu saya masih kecil, saya sering diminta untuk membantu membawa barang dagangan dari dapur ke meja di luar.</p>
<p style="text-align:justify;">Dipojokan jalan terdapat warung yang menjual kebutuhan sehari-hari yang dikelola oleh bu Amat. Pak Amat sendiri mempunyai kereta kuda (andong atau dokar), setiap hari membawa para pedagang yang membawa barang dagangan di kampungku ke Pasar Besar di yang terletak di kota. Siangnya pak Amat akan membeli barang kulakan *, yang akan dijual oleh isterinya di warung. Warung bu Amat ini laku sekali, dan bu Amat juga memperbolehkan orang mengambil barang dagangan tanpa membayar lebih dahulu, yang nanti akan dibayar saat para pegawai negeri menerima gaji. Disinilah keluargaku berbelanja, kadang menitip barang dagangan tertentu, jika tak sempat ke pasar sendiri, maklum Pasar Besar cukup jauh. Kadang-kadang jika hari Minggu, ibu menyuruhku berbelanja ke pasar, biasanya saya pergi bersama teman-teman anak tetangga, yang juga disuruh orang tuanya berbelanja ke pasar.  Seiring dengan pertumbuhan usia, saya bisa naik sepeda, sehingga jarang belanja di warung bu Amat, hanya kalau melewati warungnya saya mengangguk untuk menyapanya. Saya biasanya mampir ke Pasar Besar, setelah kegiatan sore hari, dan belanja untuk diolah keesokan harinya, maklum ibu juga bekerja di luar rumah, sehingga pada siang hari rumah dalam keadaan kosong.</p>
<p style="text-align:justify;">Kadang-kadang pada musim libur sekolah, ayah mengajak kami mengunjungi nenek di Randublatung, kota kecil dipinggir hutan jati, di dekat kota Cepu. Rute yang ditempuh, selepas kota Ngawi adalah memasuki hutan jati yang berkelok-kelok, yang nantinya akan langsung mencapai kota Randublatung. Jika pagi Subuh, berderet-deret orang menggendong bakul yang berisi barang dagangan, seperti daun jati, dan lain-lainnya. Mereka berangkat dari rumah sejak pagi masih gelap, dengan harapan nanti dapat mencapai pasar pada pagi harinya, dan hasil penjualan barang dagangan dibelanjakan kembali untuk bahan pangan di rumahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lingkungan kampungku, terbagi dua, daerah Ngrowo yang masih di dalam, penduduk pada umumnya bekerja di sawah, berdagang, dan beternak. Sedang yang dekat rumahku, disebut Ngrowo baru, penduduknya berasal dari pendatang, atau kalau sekarang  disebut keluarga muda, yang rata-rata bekerja sebagai pendidik (guru, dosen dll), polisi, tentara, dokter dan lain-lain. Adalah hal yang biasa melihat suami isteri bekerja di luar rumah, andaikata isteri tak bekerja di luar rumah, rata-rata mereka juga dapat menambah penghasilan keluarga sebagai penjahit, menjual makanan jadi (seperti abon, rempeyek, tempe kripik dll). Orangtuaku, yang keduanya bekerja di luar rumah, selalu menekankan agar anak perempuannya harus mempunyai penghasilan sendiri agar mandiri. Hal ini penting karena kehidupan pernikahan merupakan perjalanan yang panjang, dan banyak kerikil tajam yang harus dilalui. Dengan ibu yang bisa mendapatkan penghasilan sendiri, walau sedikit, akan memudahkan kelangsungan pendidikan anak-anak jika terjadi apa-apa di kemudian hari. Perempuan berpenghasilan ini tak harus bekerja di luar rumah, karena banyak cara untuk mendapatkan penghasilan, apalagi pada masa sekarang yang semakin mudah  dengan adanya komunikasi yang makin canggih.</p>
<p style="text-align:justify;">Kampungku saat ini sudah sangat berubah, sawah ladang telah hilang dan sebagai gantinya telah berdiri rumah-rumah, anak-anak para petani pada umumnya telah bekerja ke luar kota dan hanya sewaktu-waktu pulang ke kampung. Andong atau dokar telah lama digantikan dengan angkot, bahkan di kotaku terakhir kalinya saya mendengar telah di buka<em> Carrefour </em>di lokasi bekas terminal bis. Saya beserta adik-adik juga telah berladang di luar kota, jauh dari kampungku, namun hasil didikan ibu masih terngiang di telinga, bahwa sebagai perempuan tetap harus bisa mandiri, tanpa mengabaikan tugas dan kewajiban kita sebagai ibu yang bertanggung jawab mendidik anak-anaknya dan kelangsungan hidup keluarga.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">*kulakan= membeli barang dagangan, yang nanti akan diperdagangkan kembali</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hubungan yang saling menghormati]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/04/19/hubungan-yang-saling-menghormati/</link>
<pubDate>Sun, 19 Apr 2009 04:52:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/04/19/hubungan-yang-saling-menghormati/</guid>
<description><![CDATA[Membaca tulisan pak Armein Z.R. Langi, membuat saya teringat pada percakapan beberapa hari yang lalu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Membaca tulisan pak <a href="http://azrl.wordpress.com/2009/04/18/buta-dan-tuli/">Armein Z.R. Langi,</a> membuat  saya teringat pada percakapan beberapa hari yang lalu. Saat sedang mengajar, pada istirahat makan siang dan sholat, jika ada peserta perempuan dari luar kota, maka saya ikutan sholat di kamarnya. Dan senangnya, jika bisa nebeng sholat di kamar peserta, saya juga menjadi makin akrab dengan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Keakraban ini sangat menyenangkan karena saya bisa bertanya, apa yang sebetulnya diharapkan dari peserta saat ikut pelatihan seperti ini. Dan kali ini, kebetulan peserta pelatihan, ceweknya 4 (empat) orang&#8230;.dan setelah makan siang kita berkumpul di kamar Nani, karena yang lain memilih tidur di rumah saudara, dan bagi peserta dari Jakarta, tentu saja memilih pulang ke rumah masing-masing. Obrolan khas cewek pun terjadi, karena ada yang baru mau menikah beberapa bulan lagi, ada juga yang merencanakan setahun lagi. Bahkan ada satu orang, yang saat ikut pelatihan, terpaksa suaminya cuti karena anaknya masuk RS disebabkan demam tinggi. Si ibu yang terlanjur didaftarkan ikut pelatihan, tak mungkin membatalkan kepesertaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat itu hari Jumat, hari terakhir pelatihan selama lima hari, Ayi menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, dan berkata, &#8220;<em>Ahh akhirnya hari ini saya bisa tidur di rumah</em>.&#8221; Saya agak kaget, &#8220;<em>Lho, kenapa</em>?&#8221;<em> Iya bu, selama empat hari kemarin saya tidur di rumah sakit, dan hari ini kata suami, anak saya boleh pulang dari rumah sakit, sehingga saya bisa pulang langsung ke rumah</em>.&#8221; Saya terharu, mengingat betapa sang suami sangat mencintai isterinya dan mau bekerjasama menunggu anaknya di Rumah Sakit, karena isteri sedang ikut pelatihan. Saya bersyukur karena selama ini saya bisa berkarir dengan nyaman karena jika ada kondisi darurat suami mau mengulurkan tangan seperti suami Ayi.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun ada hal-hal sehari-hari yang kadang menimbulkan pertengkaran, seperti dikatakan pak Armein dalam blognya, bahwa sebaiknya isteri itu kadang-kadang &#8220;<em>buta</em>&#8221; dan suami itu kadang-kadang &#8220;<em>tuli</em>&#8220;. Isteri akan cenderung cerewet, atas barang-barang yang tak ditaruh pada tempatnya. &#8220;<em>Yah, tolong dong, kalau mau buka pasta gigi, mencetnya dari bawah dulu</em>,&#8221; kata si isteri. &#8220;<em>Yah, baju kotornya jangan ditaruh sembarangan dong, kan udah ada tempatnya</em>,&#8221; komentar isteri. Dan pasti hal-hal semacam ini akan mengagetkan saat memulai kehidupan baru, masalah sepele tapi kita sebagai isteri, kadang nggak boleh terlalu cerewet, dan suami juga harus memahami, bahwa isteri akan lelah setiap kali harus membereskan barang-barang yang berserakan, apalagi  jika isterinya juga bekerja di luar kantor.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam percakapan dengan peserta pelatihan, tiba-tiba ada yang nyeletuk, &#8220;<em>Bu, saya masih serumah dengan ayah ibu, karena saya anak bungsu. Saat suami melamar, ayah ibu mensyaratkan, lamaran diterima, asal mau tetap tinggal menemani bapak ibu</em>.&#8221; Kebetulan suami setuju, namun harus dipertimbangkan ada kemungkinan terjadi gesekan2 kecil. Seperti  yang dikatakan oleh Ayi, suaminya pernah ngambeg  hanya karena Ayi membeli kompor untuk orangtuanya tanpa konsultasi. Jadilah saya bak seorang penasehat perkawinan (gadungan) mengatakan, sebaiknya segala barang yang terlihat mata, kalau mau beli harus diskusi dulu antara suami isteri. Tapi barang yang tak terlihat, walau kadang mahal (perhiasan emas, berlian dsb nya),  jika dibeli oleh uang isteri sendiri (karena isteri bekerja), kemungkinan suami tak keberatan. Kenapa? Walau barangnya sederhana, hanya sebuah kompor, suami ingin ikut berperanan untuk membelikan buat ayah dan ibu mertua tercinta. Andai hanya isteri yang beli, sebetulnya tak masalah, tapi mertua akan lebih gembira jika menantu juga menunjukkan kasih sayang secara nyata.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya jadi ingat masa lalu, karena terbiasa bekerja (saat itu belum ada <em>hand</em> <em>phone</em>), pulang kantor dengan tenangnya mampir belanja dan lupa bilang sebelumnya kalau mau mampir. Dan suami yang hari itu kebetulan tidak lembur, di rumah kelimpungan, karena tak tahu isterinya ada dimana, dan mulai berpikir macam-macam, kawatir ada kecelakaan dsb nya. Sekarang komunikasi telah canggih, namun begitu kita melangkah ke gerbang pernikahan tetap harus ada beberapa aturan komunikasi yang disepakati berdua.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menunggu dengan hati berdebar]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/03/05/menunggu-dengan-hati-berdebar/</link>
<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 03:32:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/03/05/menunggu-dengan-hati-berdebar/</guid>
<description><![CDATA[Jakarta saat itu masih musim hujan, saya terbangun karena anjing tetangga menggonggong. Sejak sore s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Jakarta saat itu masih musim hujan, saya terbangun karena  anjing tetangga menggonggong. Sejak sore saya gelisah, sulit tidur, mungkin selain capek bekerja, juga banyak hal yang masih harus dipikirkan. Tak lama kemudian saya merasa mendengar ketukan pintu di lantai bawah, perasaanku makin tak enak, entah kenapa hati berdebar-debar tak karuan. Kemudian terdengar ketukan pintu kamarku, kubuka pintu, dan di depanku terlihat wajah si mbak tempat kost saya. Perasaanku makin tak nyaman, apalagi dibelakangnya terlihat bayangan adik bungsuku. Saya langsung menebak &#8220;<em>Ayah</em>?&#8221;, tanya saya berbisik. Adik saya mengangguk.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Saya terdiam, tapi kami harus bergegas. Ayah memang sudah sejak beberapa minggu ini terserang <em>stroke</em>, di hari menjelang pernikahanku. Saya dan adik segera mengabari calon suamiku, dan langsung menghubungi keluarga di kotaku. Tanpa perjanjian, tanpa kata, kami tahu apa yang ada di depan kami, bahwa pernikahan akan dipercepat.</p>
<p style="text-align:justify;">Syukurlah tiket pesawat Garuda jurusan Solo bisa didapat untuk tiga orang, dan sampai rumah saya hanya bisa memeluk ibu. Ibu menghiburku, karena  anak-anak ibu sudah keluar rumah, hanya ibu yang bisa menunggu ayah selama sakit. Semua sudah siap, dan kami menikah, tanpa pesta, diiringi tatapan sendu para tamu yang sebagian besar kerabat dan teman terdekat keluarga. Tapi saya percaya, ayah bahagia di alam sana, betapa ayah mendambakan  hari-hari seperti ini,  namun takdir berbicara lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini, tepat 28 tahun yang lalu, pada hari Kamis yang juga sama. Kemarin suami dan saya mengobrol, betapa banyak yang telah kami lalui bersama. Perjuangan meletakkan pondasi rumah tangga yang tidak mudah, pencampuran budaya keluarga yang berbeda, karakter yang sebetulnya jauh berbeda, tapi semua bisa disatukan untuk mencapai tujuan bersama. Masih kuingat, betapa malam-malam saya membawa  si sulung yang megap-megap  sulit bernafas karena sakit, dan suami sedang di luar kota. Terpaksa saya mencari taksi dan membawa si sulung mondar mandir jam 4 dini hari mencari dokter, dan baru berhasil menemui dokter jam 6 pagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kadang semua tak berjalan mulus, kadang kekeras kepalaan salah satu pihak, membuat kami bertengkar, namun di kala hati tenang dan kepala mendingin, kami berusaha kembali pada tujuan semula, mengapa kami mengambil keputusan hidup bersama. Perjuangan membesarkan anak juga merupakan perjuangan yang penuh air mata, apalagi kami dikaruniai anak yang &#8220;<em>istimewa</em>&#8220;, syukurlah setiap kali ada persoalan, kami berpaling kembali pada Tuhan,  berdoa memohon ampunan dan jalan keluarnya, dan itulah yang menguatkan kami.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami bersyukur, telah dapat mengantarkan anak-anak menyelesaikan kuliah, namun perjuangan dan doa orangtua tak pernah selesai. masih ada yang kami harapkan, semoga Tuhan memberikan perkenan Nya, karena betapapun besarnya usaha manusia, pada akhirnya Tuhan yang akan menentukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Akankah kami mendapatkan kabar gembira itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Jakarta, 5 Maret 2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lis dan Ari ]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/02/17/lis-dan-ari/</link>
<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 23:21:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/02/17/lis-dan-ari/</guid>
<description><![CDATA[Pre-wedding Jakarta, 17 Februari 2008 Tak terasa setahun telah berlalu Tepat setahun kalian berdua m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<div class="mceTemp">
<div id="attachment_1747" class="wp-caption alignnone" style="width: 210px"><img class="size-medium wp-image-1747" title="pre-wedding" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/02/pre-wedding.jpg?w=200" alt="Pre-wedding" width="200" height="300" /><p class="wp-caption-text">Pre-wedding</p></div>
<div id="attachment_1748" class="wp-caption alignnone" style="width: 222px"><img class="size-medium wp-image-1748" title="img_2775_resize" src="http://edratna.wordpress.com/files/2009/02/img_2775_resize.jpg?w=212" alt="Jakarta, 17 Februari 2008" width="212" height="300" /><p class="wp-caption-text">Jakarta, 17 Februari 2008</p></div>
<p>Tak terasa setahun telah berlalu</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tepat setahun kalian berdua mengarungi samudra kehidupan bersama</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tentu banyak pasang surut yang telah kalian lalui, dan semoga ikatan kalian semakin kuat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><!--more-->Memulai hidup baru, berarti telah memberikan komitmen kita pada seseorang. Acara penikahan sederhana maupun megah, hanya sedikit artinya, dibanding waktu yang akan dilalui bersama. Disini diperlukan adanya unsur pemahaman terhadap pasangan, dan pernikahan yang bahagia bukan hanya sekedar membalik telapak tangan, tapi melalui perjuangan bersama. Pernikahan perlu dipupuk, seperti ibaratnya tanaman, harus ada perawatan, pemupukan, penyemaian maupun penyiangan dari rumput dan tanaman liar lain yang mengganggu. Namun semua akan menjadi indah, apalagi bahagia itu bukan dicari, namun harus dibuat, bagaimana agar pasangan bisa saling membahagiakan. Tak ada rumus atau resep yang sempurna, karena hubungan setiap pasangan adalah unik, yang tak bisa diperbandingkan antara satu dengan lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Semoga, waktu kalian bersama, sejak Ari bisa menyusul<span> </span>sejak 7 (tujuh) bulan lalu, membuat ikatan kalian makin kuat. Pasti ada masa-masa surut, masa yang tidak menyenangkan, sebagai bagian dari saling memahami, tapi percayalah, jika bisa diatasi maka semua akan berakhir menyenangkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Selamat Ulang Tahun Pernikahan yang pertama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Semoga kalian bahagia&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pernikahan yang bahagia apabila kalian bisa saling mendukung dalam karir serta hal-hal lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> Jakarta, 17 Februari 2009</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ayah dan putri nya]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2009/01/15/ayah-dan-putri-nya/</link>
<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 10:14:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2009/01/15/ayah-dan-putri-nya/</guid>
<description><![CDATA[Hubungan seorang ayah dan anak perempuan pada umumnya memang dekat, bahkan anak perempuan dianggap m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hubungan<span> </span>seorang ayah dan anak perempuan pada umumnya memang dekat, bahkan anak perempuan dianggap mampu menjadi jubir (juru bicara) di rumah jika komunikasi anggota keluarga kurang berjalan lancar. Hal ini dapat dipahami, karena seorang ayah, entah kenapa, memiliki hubungan khusus dengan anak perempuannya. Namun di satu sisi, ayah juga sering tidak memahami keinginan, ataupun apa yang sedang dilakukan oleh<span> </span>anak perempuannya. Dan kadang rasa sayang dan kekawatiran ini bisa berubah menjadi beban, karena si anak merasa di monitor terus keberadaannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><!--more-->Saya sekedar <em>sharing</em> pengalaman yang terkadang menggelikan berkaitan dengan hubungan antara ayah dan anak perempuannya ini. </span>Kami mempunyai dua anak, <a href="http://cacianqalbukunderemp.blogspot.com/">si sulung </a>laki-laki dan <a href="http://narpen.wordpress.com/blog/">si bungsu</a> perempuan. Si sulung ini lasak, nggak bisa diam, pokoknya kalau dia datang, rumah akan langsung menjadi ramai. Dan kalau datang dari manapun, entah dari sekolah, atau dari kegiatan yang lain, dari cara membuka atau menutup pintu sudah terdengar, karena dia jarang membuka atau menutup pintu dengan pelan. Belum suaranya minta makan kepada si mbak, ataupun hal lainnya. Ini sangat berbeda dengan si bungsu, walau si bungsu ini juga nggak bisa diam, tapi tak bersuara, jadi kadang dia tak terlihat apa sudah ada di rumah atau belum, kecuali dilihat di kamarnya. Jika tak ada kegiatan di luar rumah, si bungsu asyik sendiri dikamarnya, dari mulai mengerjakan tugas, atau membuat berbagai kerajinan, membaca buku atau sekedar bermain dengan Jacky.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Suatu ketika, Jakarta hujan lebat, padahal itu adalah waktunya si bungsu, yang saat itu masih SMP, pulang dari sekolah. Saya langsung mengingatkan sang ayah untuk menjemput, karena kebetulan si ayah lagi di rumah, ayah dan si sulung langsung lari ke garasi, dengan maksud segera menjemput si bungsu. Langsung deh heboh, si mbak sudah membuka pintu garasi, syukurlah saya terpikir untuk menengok kamarnya. Ternyata…si bungsu sudah tidur pulas berselimut, dan saat dibangunkan kelihatan bingung. Rupanya dia datang pas hujan mau turun, dan karena capek langsung tidur, apalagi hujan mulai turun.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Si sulung meneruskan kuliah di Jakarta, sedang si bungsu di Bandung, sehingga lebih sering ketemu ayahnya, karena suami kerja di Bandung. Kadang si ayah lupa kalau anaknya sudah mahasiswa, di kira putrinya masih kecil. Suatu malam Minggu, kebetulan saya ada acara sehingga tak ke Bandung, sekitar jam 7 malam suami menelepon, menanyakan keberadaan si bungsu. Saya tanya ada apa, ternyata si bungsu ditelepon di dua nomor hapenya, semuanya sedang <em>off</em>. Terus saya tanya, memangnya kenapa. Ternyata sang ayah lagi berada di kawasan Dago, jadi jika si bungsu masih di kampus akan dijemput sekalian. Saya langsung komentar, kalau si bungsu sekarang sudah mahasiswa, apalagi ini malam minggu, lha saya waktu masih SMA aja dulu, kalau malam minggu boleh pulang lebih malam, karena ayah ibu tahu siapa saja teman-temanku dan yakin putrinya aman, tak melakukan suatu hal yang membahayakan. Akhirnya suami ketawa, dan rupanya lupa kalau anak perempuannya sudah besar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Si bungsu ini mandiri, dia lebih <a href="http://narpen.wordpress.com/2007/09/21/posisi-duduk-pada-angkot/">suka naik angkot</a> daripada dijemput pakai mobil pribadi, karena nggak suka saling menunggu (sama seperti sifat ibunya). Tapi kelemahan si bungsu, dia bisa tertidur di angkot, apalagi jika duduknya di sebelah sopir. Suatu ketika, sudah jam 10 malam, kembali suami menelepon, menanyakan kok si bungsu belum pulang. Kadang saya juga sebal dan pengin ketawa, lha suami dan si bungsu kan di Bandung, tapi kok setiap kali telepon saya di Jakarta, lha mana saya tahu? Saya mencoba menghubungi telepon genggamnya, tak dijawab, mungkin di <em>silent</em> dan dimasukkan di tas, dan dia tak berani menjawab karena masih dalam perjalanan naik angkot. Saya menghubungi teman-temannya di Comlab ITB (saya punya nomor hape teman2 si bungsu), ternyata si bungsu sudah pulang sejak jam 8 malam. Saya ikut deg2an, kemana ya anak itu? Karena kawatir, suami menunggu di jalan depan rumah plus si mbak dan sepupu (jadi serumah siap-siap di depan rumah semua), maksudnya jika ada apa-apa mobil sudah siap keluar. Ternyata tak lama kemudian si bungsu datang dengan tenangnya, dan ternyata dia tertidur di angkot, saat membuka mata kaget kok jalanan gelap, rupanya sudah di jalan Sukarno Hatta, Bandung. Si bungsu anaknya tenang, dia kemudian melanjutkan naik angkot, sampai di daerah yang lampunya terang, baru turun, dan putar lagi untuk naik angkot kembali ke rumah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Si bungsu lulus dan di wisuda pertengahan tahun 2007, kemudian dia mendapat beasiswa untuk melanjutkankuliah S2 di kampus yang sama. Kemarin, sang ayah bingung lagi di telepon, karena sudah jam 22.18 menit putrinya belum nongol di rumah, dan dihubungi hapenya mati. Hape mati ini merupakan penyakit yang tak pernah sembuh, kadang karena baterei habis, pulsa habis, atau di silent dan dimasukkan tas sehingga tak terdengar. Atau memang tak ingin ditelepon ayahnya ya? Saya mencoba menghubungi berkali-kali, nggak ada jawaban. Saya coba terus, dan kali kelima dia menjawab kalau sudah di depan rumah. Karena sudah di depan rumah saya tak menghubungi suami, dan besoknya suami kirim sms, yang isinya “<em>tibane wis mulih</em>”. Hahaha…padahal sebetulnya si bungsu pulang malam, dan datang diam-diam langsung masuk kamar sehingga ayahnya tak tahu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Padahal alasan sang ayah sederhana, kalau si bungsu berniat pulang malam tinggal sms si mbak, nanti dijemput. Tapi ya itu tadi, si bungsu memang lebih suka melakukan apa-apa sendiri, dan tidak mau tergantung pada orang lain.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pasangan yang saling menguatkan]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2008/12/30/pasangan-yang-saling-menguatkan/</link>
<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 00:02:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2008/12/30/pasangan-yang-saling-menguatkan/</guid>
<description><![CDATA[Pernahkah anda memperhatikan, bagaimana pasangan yang telah menikah lama saling berkomunikasi? Dan m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Pernahkah anda memperhatikan, bagaimana pasangan yang telah menikah lama saling berkomunikasi? Dan mengapa orang yang sudah pacaran lama, bahkan ada yang lebih dari lima tahun, tetapi setelah menikah, ternyata mengalami kegagalan? Saat masih tinggal di rumah dinas, setiap pagi saya melihat pasangan orangtua yang sering jalan pagi bersama, bergandengan tangan, dengan ibu yang melangkah tertatih-tatih dan kaki agak di seret, menandakan pernah stroke. Namun betapa hangatnya hati ini, jika melihat wajah keduanya yang jernih, dan selalu tersenyum. Saya membayangkan, betapa damainya jika mengalami masa tua seperti itu, saling menyayangi antara pasangan, dan anak-anak telah besar.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Namun saya juga sedih, melihat di sekitarku,  ada beberapa keluarga yang tak bisa mempertahankan pernikahannya, hanya gara-gara salah satunya tak kuat menghadapi cobaan, sehingga melarikan diri, dan akhirnya terdampar pada pelukan orang lain. Mengapa dalam ucapan kepada pasangan yang baru menikah, orang sering mengucapkan doa &#8220;selamat mengarungi samudra kehidupan&#8217;? Karena pada kenyataannya, dalam kehidupan pernikahan banyak sekali cobaan, badai yang terjadi, dan hanya pasangan yang saling menguatkan, serta punya komitmen kuat yang dapat mempertahankan pernikahannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>a. Setiap individu adalah makhluk &#8220;unik&#8221;</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kita perhatikan, tak ada orang yang benar-benar mempunyai sifat sama, bahkan bagi pasangan kembar siam. Bagi anak-anak yang dilahirkan dalam satu ayah dan ibu, tetap mempunyai sifat dan karakter yang berbeda, bahkan kadang perbedaan nya sangat menyolok. Apalagi jika hidup berpasangan dengan orang lain, maka kita hanya bisa hidup bersama, apabila kita saling memahami, dan mencoba mengerti seperti apa pasangan kita.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>b. Setiap individu mempunyai kekuatan dan kelemahan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kita sering lupa, kalau pacaran lama, dianggap sudah benar-benar mengenal sifat masing-masing. Jika kita mengenal teori &#8220;<em>Johari window</em>&#8220;, maka kita tahu ada bagian dari sifat kita yang dikenal oleh diri kita sendiri maupun orang lain. Tapi ada sifat kita yang kita sendiri tak kenal, tapi diketahui orang lain. Dan masih ada satu sifat tersembunyi, yang kita sendiri tak mengenalnya, demikian juga orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memahami &#8220;<em>Johari Window</em>&#8221; tersebut, maka kita mencoba untuk memahami kekuatan dan kelemahan kita sendiri maupun orang lain. Dan  menyampaikan kritik walaupun pada pasangan sendiri adalah tidak mudah, karena harus menunggu pada waktu dan suasana yang tepat, serta dilakukan dengan santun.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>c. Komitmen, kepercayaan, serta saling menguatkan </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang paling penting dalam kehidupan berpasangan? Paling utama adalah <strong>komitmen</strong>, bagaimana masing-masing pasangan menjaga komitmen yang telah diucapkan dan berusaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Bukankah pada saat kita mengatakan bersedia menikah, kita telah membahas apa tujuan kita menikah? Komitmen inilah yang setiap kali harus diingat, pada saat kita lagi dalam kondisi kurang nyaman dengan pasangan. Karena pada saat kita mendapat cobaan, reaksi masing-masing pasangan sangat berbeda, ada yang langsung stres, depresi, tak bisa melakukan apa-apa. Tapi ada pula yang langsung marah-marah, menyalahkan keadaan sekelilingnya. Pasangan yang memahami, dan mengerti bahwa kita di dunia ini sebetulnya adalah makhluk yang fana, akan segera mengajak pasangannya untuk mendekatkan diri pada Tuhan, memohon agar dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi, dan memohon pertunjuk Nya, karena bagi Tuhan tak ada hal yang sulit untuk diselesaikan. Dan inilah yang saya lakukan bersama suami, pada saat kami menghadapi persoalan, dan syukurlah selama ini kami pada akhirnya bisa melewatinya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kepercayaan, </strong>ini sangat penting. Kata inilah sebetulnya yang setiap kali harus diingat oleh masing-masing pasangan. Jangan pernah menodai kepercayaan pasangan kita. Namun sebaliknya, kita juga harus selalu percaya, <em>trust</em>, bahwa pasangan kita akan tetap setia, dan mencintai kita. Jika kita percaya, maka kita tak akan kawatir betapapun kadang kita harus berpisah kota atau negara, karena pekerjaan. Kita tetap bekerja dengan baik, karena percaya bahwa ada pasangan dan anak yang sedang menunggu kita. Dan jangan pernah merasa cemburu yang berlebihan, karena akan merusak hati kita sendiri. Perasaan cemburu itu wajar, tetapi harus dikelola, sehingga tidak menjadi merusak hubungan, serta menjadi kontraproduktif.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saling menguatkan. </strong>Kita menyadari bahwa sifat individu masing-masing pasangan sangat berbeda. Mungkin orang yang kita kenal baik, kuat, selalu bisa mengatasi persoalan, pada saat masih pacaran, menjadi berbeda pada saat telah menikah. Jangan panik, karena betapapun, setiap manusia pasti punya unsur takut. Disinilah gunanya, agar pasangan saling menguatkan. Jika salah seorang sedang sedih, tak percaya diri, maka pasangan diharapkan dapat membantu agar perasaan tersebut tak berkelanjutan. Banyak keluarga yang retak, karena pada saat mendapat cobaan, bukan saling menguatkan, tapi menjadi saling menyalahkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan yang paling sulit, apabila cobaan tersebut sedang mengenai kepala keluarga, isteri harus sangat berhati-hati dalam mendorong suami untuk bangkit kembali. Dorongan yang salah bisa menyebabkan pertengkaran, atau malah melarikan diri pada orang lain. Disini dibutuhkan isteri yang kuat, tak mengeluh, dan bisa melepaskan semua ego dirinya, dalam usaha membantu pasangan untuk kembali tegak, dan kuat seperti semula.</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa saya sendiri mengharapkan menjadi tua seperti ayah dan ibu temanku, yang masih bisa bergandengan tangan sambil tersenyum, walau ibu berjalan dengan susah payah, tapi suami tercinta menggandengnya dengan sabar dan sesekali berhenti jika terlihat sang isteri kelelahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembaca sekalian, <strong>selamat tahun baru</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga kita dapat membuat esok yang lebih baik daripada hari ini</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
