<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>kemacetan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/kemacetan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "kemacetan"</description>
	<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 06:15:23 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Jika Harus Naik Ojek Membelah Kemacetan Jakarta]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2009/11/28/jika-harus-naik-ojek-membelah-kemacetan-jakarta/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 17:09:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2009/11/28/jika-harus-naik-ojek-membelah-kemacetan-jakarta/</guid>
<description><![CDATA[Jam sudah menunjukkan pukul 18:15 waktu Pondok Indah Jakarta. Kendaraan yang akan mengantarkan saya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jam sudah menunjukkan pukul 18:15 waktu Pondok Indah Jakarta. Kendaraan yang akan mengantarkan saya menuju ke stasiun Gambir masih saja berjalan merayap, bahkan nyaris tidak bergerak. Jalan di depan Wisma Pondok Indah nampak demikian padatnya. Saya mulai gelisah. Pada tiket kereta api Argo Lawu yang akan saya tumpangi kembali ke Jogja malam itu jelas menunjukkan waktu keberangkatan jam 20:00 WIB.</p>
<p>Harus ada jalan keluarnya, kata hati saya. Sebab jika tidak, saya pasti akan ketinggalan kereta. Kalau sampai esok paginya saya belum tiba di Jogja, berarti saya tidak bisa sholat Idul Adha di kampung dan yang lebih saya khawatiri adalah kalau sampai saya gagal menjaga amanah dan komitmen untuk membantu Panitia Qurban di kampung saya.</p>
<p>Akhirnya saya putuskan turun dari kendaraan yang malam itu akan mengantar saya ke stasiun yang masih saja <em>mbegegek</em> (berhenti total) tertahan kemacetan parah. Segera saya menyeberang jalan untuk mencari taksi pada lajur jalan yang berlawanan yang tampak lebih lancar. Berdiri di pinggir jalan hingga lebih 15 menit ternyata tidak juga ketemu taksi kosong. Hati saya semakin gelisah disertai perasaan tegang. Tiba-tiba saya ingat kalau petang itu saya belum membatalkan puasa Arafah yang saya jalani. Saya lalu menuju tukang rokok di pinggir jalan membeli sebotol air mineral sekedar untuk membatalkan puasa saya. Sambil saya minta pendapat penjualnya tentang bagaimana cara tercepat menuju stasiun Gambir. Rupanya kalau perasaan sedang gelisah dan pikiran rada panik, kita sering tidak mampu berpikir jernah. Sampai perlu minta pendapat orang lain, siapapun dia termasuk tukang rokok pinggir jalan.</p>
<p>Solusi tukang rokok ternyata sederhana saja : “Kalau tidak ada taksi mending naik ojek, pak”, katanya. Ya, benar juga. Akhirnya usul itu saya setujui. Bapak penjual rokok pun berbaik hati membantu mencarikan ojek. Ketika saya tanya kira-kira berapa ongkosnya, dijawabnya sekitar 35 sampai 40 ribu rupiah. “Tapi ditawar saja, pak”, katanya lagi.</p>
<p>Pak tukang ojek meminta ongkos Rp 50.000,- sampai Gambir, setengah jam sampai katanya. Wah boleh juga, pikir saya. Tapi seperti saran tukang rokok tadi, saya pun menawar. Tawar-menawar berjalan rada alot (sudah tahu keadaan terdesak, masih juga gengsi untuk menerima begitu saja tawaran harga tukang ojek). Akhirnya kami sepakat dengan ongkos Rp 40.000,- Perasaan saya mulai agak lega, walau belum sepenuhnya. Ojek belum jalan tapi pikiran saya sudah membayangkan membonceng ojek malam-malam membelah kemacetan Jakarta.</p>
<p>Sebuah sepeda motor butut Suzuki Tornado yang spedo meternya sudah bolong ditutup plastik yang diplester, kedua kaca spion diganti kecil-kecil, lampu depan remang-remang dan suara mesinnya <em>mbeker-mbeker</em>…, segera meluncur menembus malam, menembus kemacetan Jakarta. Saya tidak ingat lagi jalan mana saja yang kami lalui malam itu, karena pandangan mata saya tajam ke depan mengikuti liak-liuknya sepeda motor yang saya boncengi sambil perasaan <em>full </em>tegang. Ya bagaimana tidak tegang, wong terkadang lampu merah diterobos, berpindah lajur asal <em>wesss</em>…. begitu saja, tidak perduli klakson kendaraan lain yang sedang melaju kencang di lajur yang dipotong.</p>
<p>Ketika sampai di kawasan Senayan, kami bertemu dengan kepadatan lalulintas lagi, sepeda motorpun mengendap-endap lalu tiba-tiba menyalip dengan cara menyusup celah sempit di antara dua buah bis yang sedang berjalan tidak terlalu cepat. “<em>Oedan</em>…”, kata saya dalam hati. Tiba di bundaran Hotel Indonesia, sepeda motor kembali beraksi dengan menambah kecepatan untuk mendahului bis kota dari sisi kanan dengan mencuri celah sempit di sudut antara moncong bis dengan separator jalan. <em>Wusss</em>…. berhasil, termasuk berhasil merobohkan dua buah <em>traffic cones</em> yang bentuknya menyerupai corongan warna oranye yang berada di ujung separator jalan sebelah kanan. “Huhhh….”, kata hati saya.</p>
<p>Mau saya tegur, saya khawatir nanti jalannya jadi pelan-pelan padahal saya berkepentingan untuk segera tiba di stasiun Gambir mengejar jadwal kereta Argo Lawu. Adrenain saya meningkat. Entah kenapa saya begitu menikmatinya. Sepeda motor pun kemudian melaju kencang menyusuri Jl. Thamrin ke arah utara menuju kawasan Monas, meski saya tidak sempat lagi memandang tugu itu. Lalu lintas mulai lancar dan tidak lagi merayap. Barangkali seperti itulah rasanya ikut balap <em>road race</em>.</p>
<p>Tiba di Jl. Medan Merdeka Barat, tiba-tiba tukang ojek mengajak bicara. Katanya : “Kita lurus pak”. Saya memang tidak terlalu hafal jalan-jalan di Jakarta. Tapi setahu saya kalau lurus berarti ke arah Kota, sedang stasun Gambir ada di sisi timurnya Monas. Spontan saya berteriak di tengah kebisingan lalu lintas : “Belok kanan, belok kanan….!”. Sepeda motor pun spontan memotong ke kanan tanpa tolah-toleh. “Huhhhh, lagi…..”.</p>
<p>Mulai <em>feeling</em> saya curiga, jangan-jangan tukang ojek ini tidak tahu dimana letak stasiun Gambir. Lalu saya tanya : “Bang, tahu stasiun Gambir kan?”. “Ya, tahu”, jawabnya meyakinkan.</p>
<p>Tiba di ujung Jl. Juanda, sepeda motor terus melaju kencang ke arah timur. Saya kembali curiga, tapi saya tepis keraguan saya. Mungkin dia tahu jalan pintas. Akhirnya, dugaan saya ternyata benar. Tukang ojek salah jalan hingga mutar-mutar kehilangan arah hingga ke kawasan Senen. “Wuahhh, <em>modar</em> aku!”.</p>
<p>“Bang, sebenarnya <em>lu</em> tahu stasiun Gambir <em>enggak sih</em>?”, tanya saya hendak memastikan. Jawabnya : “Tahu pak, tapi jalannya banyak berubah”. Sudahlah, hati saya mulai gemas. Ketika akhirnya tukang ojek itu beberapa kali tanya orang mencari arah yang benar, telinga saya mendengar yang ditanyakan bukan ‘stasiun Gambir’ melainkan ‘terminal kota’. “Aaahhhh…. <em>Guoblog</em>!”, kata saya <em>misuh-misuh</em>…, memaki dalam hati (heran, masih juga saya khawatir menyinggung perasaannya).</p>
<p><em>Lha kok</em> tiba-tiba berhenti dan bilang : “Bapak turun sini saja lalu menyeberang sana”, maksudnya saya disuruh naik taksi. <em>Wooo, wong edan tenan iki</em> (orang gila beneran ini). Langsung saya bentak : “Jalan terus dan ikuti perintah saya!”. Kalau urusan tersesat kemudian kembali ke jalan yang benar (maksudnya kesasar) rasa-rasanya saya cukup punya pengalaman dan ini menjadi sebagian dari keahlian saya.</p>
<p>Meskipun saya tidak familiar dengan kawasan itu, entah saya sedang berada di sebelah mananya apa saya pun tidak tahu, tapi yang jelas di kawasan Senen. Setidak-tidaknya saya bisa membaca tulisan petunjuk arah yang berupa rambu berwarna dasar hijau dan berwarna tulisan putih. Akhirnya tukang ojek saya komando dari belakang menemukan jalan yang benar. Puji Tuhan <em>wal-hamdulillah</em>, akhirnya saya sampai ke pintu gerbang keluar stasiun Gambir. Tobat<em> tenan</em> aku!</p>
<p>Begitu berhenti, tukang ojek yang semula saya pikir orang Jakarte (pakai huruf akhir ‘e’) dan saya panggil ‘Abang’, ternyata kemudian bilang begini : “<em>Dalane ora ceto, ora koyo nek awan pak</em> (jalannya tidak jelas tidak seperti kalau siang pak)”, katanya dalam bahasa Jawa. Spontan saya jawab : “<em>Lha wis ngerti aku nek awan serngengene cedak ngobong sirahmu</em> (lha sudah tahu saya kalau siang mataharinya dekat membakar kepalamu)”, kata saya sambil rada jengkel.</p>
<p>Segera uang Rp 50.000,- saya sodorkan sambil saya pesan : “<em>Turahane pek-en nggo tuku bensin</em> (sisanya kamu ambil buat beli bensin)”, lalu saya tinggal pergi bergegas menuju ke dalam stasiun. Hitung-hitung saya sudah diberi bonus diajak wisata malam keliling Jakarta…..</p>
<p>Yogyakarta, 27 Nopember 2009<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jakarta semakin padat]]></title>
<link>http://sakainget.wordpress.com/2009/11/26/jakarta-semakin-padat/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 14:47:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Saka</dc:creator>
<guid>http://sakainget.wordpress.com/2009/11/26/jakarta-semakin-padat/</guid>
<description><![CDATA[Menjelang Hari Raya Idul Adha tahun ini, kota Jakarta semakin padat. Sebenernya bukan hanya taun ini]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Menjelang Hari Raya Idul Adha tahun ini, kota Jakarta semakin padat. Sebenernya bukan hanya taun ini]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kang fauzi bowo “ apa kabar soal rencana mengatasi kemacetan di Jakarta ?, lagi – lagi pemprov DKI belum lakukan tugasnya?]]></title>
<link>http://wheresagaru.wordpress.com/2009/11/04/kang-fauzi-bowo-%e2%80%9c-apa-kabar-soal-rencana-mengatasi-kemacetan-di-jakarta-lagi-%e2%80%93-lagi-pemprov-dki-belum-lakukan-tugasnya/</link>
<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 04:55:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>wheresagaru</dc:creator>
<guid>http://wheresagaru.wordpress.com/2009/11/04/kang-fauzi-bowo-%e2%80%9c-apa-kabar-soal-rencana-mengatasi-kemacetan-di-jakarta-lagi-%e2%80%93-lagi-pemprov-dki-belum-lakukan-tugasnya/</guid>
<description><![CDATA[Anda mau lihat rupa ruas jalan di Jakarta yang mengerikan, silahkan anda berkendara pada jam – jam s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Anda mau lihat rupa ruas jalan di Jakarta yang mengerikan, silahkan anda berkendara pada jam – jam sibuk, baik berangkat maupun selepas jam kerja. Anda akan lihat betapa kemacetan sudah menjadi momok yang menakutkan bagi kita semua, hamper di setiap ruas jalan Jakarta kita terjebak dalam kemacetan panjang, belum lagi bila hujan turun, bisa di pastikan Jakarta yang tidak memiliki system drainase yang baik, akan membuat hamper di setiap jalanan akan berubah menjadi kubangan air. Dan anda siap – siap saja untuk menambah kesabaran karena biasanya akan di ikuti dengan kemacetan yang semakin mengila.</p>
<p>Saya yakin masyarakat Jakarta sudah mengalami stress dan depresi lahir batin apalagi kemacetan ini sudah begitu banyak menguras waktu, energy, ekonomi dan psikologi kita. Belum lagi munculnya masyarakat – masyarakat yang apatis dan hanya peduli dengan dirinya sendiri. Dan ditambah dengan semakin memburuknya pencemaran lingkungan.</p>
<p>Jakarta sudah terkena penyakit kronis, yang harus sudah di opname, dan di tangani oleh ahli dan spesialis tata kota yang lebih handal. Bagaimana tidak, Jakarta sebagai kota metropolitan tadi tidak mencerminkan sebagai kota metropolis. Tidak adanya system transportasi makro yang terintegrasi, tata ruang kota yang salah, ruang hijau yang sedikit, manajemen transportasi yang di kelola pemerintah dan swasta tidak berjalan sinergis, dan terukur, buruknya penyediaan alat trasportasi dan segala sarana dan prasarananya. Di tambah dengan buruknya pelayanan dan para pengemudi angkutan massal. Maraknya pedagang kaki lima yang mengambil bahu jalan, meledaknya jumlah kendaraan pribadi, baik roda empat atau dua, rusaknya ruas jalan di Jakarta. Begitu banyaknya yang harus di benahi. Sudah saatnya Jakarta di ambil alih oleh mereka yang bener – bener “AHLI” dan mengerti duduk persoalan dan berani mengambil langkah berani dan taktis untuk mengurangi dari kemacetan dan dampak yang di timbulkannya.</p>
<p>Tingginya tingkat kemacetan di Jakarta di sebabkan banyaknya jumlah kendaraan bermotor, data direktorat lalu lintas menyebutkan setiap harinya ada 4,7 juta kendaraan dan 2,6 jutanya roda dua, bisa anda bayangkan betapa banyaknya jumlah kendaraan sedangkan total panjang jalan di Jakarta hanya 7,5 juta km2, yang pada saat bersamaan menggunakan jalan yang sama pada jam dan hari yang sama.</p>
<p>Maka untuk kemacetan yang sudah di ambang batas kewajaran dan batas kesabaran kita semua, ada pertanyaan yang harus kita jawab, sebagai individu yang menggunakan jalan yang sama dan membayar pajak yang sama, siapa yang sebenarnya yang paling banyak menyumbang kemacetan di tiap ruas jalan Jakarta ?, kendaraan pribadi kah, baik roda empat atau dua, transportasi umum kah, pedagang kaki lima kah, ruas jalan yang rusak kah, fauzi bowo kah, pemprov DKI kah, atau siapa yang harus kita salahkan, dari berlarut – larutnya permasalahan ini …</p>
<p>Untuk kang fauzi, berapa lama lagi kah kami menunggu realisasi kampanye anda dulu ? bukankah anda selalu mengatakan “Jakarta serahkan kepada ahlinya”!, sekarang saya belum melihat keahlian anda untuk mengurangi kemacetan … hanya sekedar mengurangi … wallahualam …</p>
<p>Wassalam.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bus Angkutan Kota, Siapa takut!!]]></title>
<link>http://promotioninhealth.wordpress.com/2009/11/03/bus-angkutan-kota-siapa-takut/</link>
<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 03:10:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>alin aun</dc:creator>
<guid>http://promotioninhealth.wordpress.com/2009/11/03/bus-angkutan-kota-siapa-takut/</guid>
<description><![CDATA[Mobilisasi penduduk menjadi seperti pisau yang bermata dua. Di satu sisi mobilisasi sangat dibutuhka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Mobilisasi penduduk menjadi seperti pisau yang bermata dua. Di satu sisi mobilisasi sangat dibutuhka]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Angkot Ngetem Sembarangan]]></title>
<link>http://tiansetiawati.wordpress.com/2009/10/25/angkot-ngetem-sembarangan/</link>
<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 04:30:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>tiansetiawati</dc:creator>
<guid>http://tiansetiawati.wordpress.com/2009/10/25/angkot-ngetem-sembarangan/</guid>
<description><![CDATA[Nyaris tiada hari tanpa kemacetan di kawasan jalan Palmerah Barat perbatasan antara Jakarta Barat, J]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Nyaris tiada hari tanpa kemacetan di kawasan jalan Palmerah Barat perbatasan antara Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Jakarta Selatan. Keberadaan pasar tumpah di kawasan ini ditambah lagi angkutan kota yang ngetem seenaknya menjadi biang kemacetan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Percakapan Dua Pohon]]></title>
<link>http://ikankoi.wordpress.com/2009/10/01/percakapan-dua-pohon/</link>
<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 12:30:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>ikankoi</dc:creator>
<guid>http://ikankoi.wordpress.com/2009/10/01/percakapan-dua-pohon/</guid>
<description><![CDATA[Percakapan antara pohon tua dan pohon muda “Selamat dating di tempat yang paling kejam” kata pohon t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Percakapan antara pohon tua dan pohon muda “Selamat dating di tempat yang paling kejam” kata pohon t]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Agi Dan Kemacetan Di Setiabudhi]]></title>
<link>http://nebulakudankamu.wordpress.com/2009/09/24/agi-dan-kemacetan-di-setiabudhi/</link>
<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 10:40:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>harinugroho adhito</dc:creator>
<guid>http://nebulakudankamu.wordpress.com/2009/09/24/agi-dan-kemacetan-di-setiabudhi/</guid>
<description><![CDATA[Mirna merengek – rengek kepada orang tuanya, sambil menunjuk ke seberang jalan. Anak perempuan berus]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Mirna merengek – rengek kepada orang tuanya, sambil menunjuk ke seberang jalan. Anak perempuan berusia 10 tahun itu ingin membeli mainan bubble yang dijual di taman setiabudhi, Bandung. Orang tua Mirna tampaknya tidak menanggapi keinginan gadis cilik tersebut, karena terlalu sibuk dengan barang belanjaannya. Mirna pun mengeluarkan senjata andalan yang hampir dimiliki semua anak kecil, tangisan. Hoaaaaaaa… pyar, pecah tangis mirna. “Ya sudah sana beli, ditemenin kakak yah nyebrangnya” akhirnya ayah mirna pun turun tangan, sambil merogoh saku celana pendeknya. “Apa sih yang bagus dari gelembung busa sabun kayak gitu” ayah mirna menggerutu sambil memberikan uang kepada mirna.</p>
<div id="attachment_124" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-124" title="IMG_0021" src="http://nebulakudankamu.wordpress.com/files/2009/09/img_0021.jpg?w=300" alt="mainan bubble, mainan yang akan gw beli pada saat performance art" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">mainan bubble, mainan yang akan gw beli pada saat performance art</p></div>
<p>Agi Ahmad Fauzi, 22 tahun, yang akrab dipanggi dengan Agi, tentunya tidak bisa mendengar gerutuan dari ayah Mirna. Meskipun ia mendengar tampaknya ia tidak peduli, baginya barang dagangannya terjual, dan target utama operasinya adalah anak-anak, baik  yang merengek karena bosan menunggu orang tuanya berbelanja atau bosan karena macet. “biasanya sih anak – anak yang bosan karena macet, juga bosan karena menunggu orang tuanya berbelanja baju” ujar Agi tentang pembelinya. Pemuda  ini tahu benar memanfaatkan rasa bosan dari anak – anak, makanya menjual bubble ia lakoni secara rutin di hari sabtu dan minggu, atau hari besar lainnya, meskipun hanya menjadi pekerjaan sampingan. “sehari – hari saya bekerja di jasa keuangan, jualan kayak gini mah cuma sabtu minggu” tuturnya sambil tersenyum kecil.</p>
<div id="attachment_125" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-125" title="IMG_0019" src="http://nebulakudankamu.wordpress.com/files/2009/09/img_0019.jpg?w=300" alt="agi ahmad fauzi, punkrockish penjual bubble" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">agi ahmad fauzi, punkrockish penjual bubble</p></div>
<p>Agi berjualan di Taman Setiabudhi, yang terletak di  Jalan Setiabudhi depan restoran cepat saji terkemuka. Taman yang berbentuk segitiga dengan posisi memanjang dan agak menurun  ini menjadi semacam pembatas antara jalan setiabudhi dan Cipaganti. Pada saat lahan parkir Factory outlet penuh, maka sisi taman bagian jalan setiabudhi menjadi lahan parkir. Agi mendemonstrasikan bubblenya di bagian atas taman setiabudhi pada saat kemacetan berlangsung, berdiri dan melambaikan tongkatnya ke kanan dan ke kiri bagaikan tukang sihir, lalu ibarat sihir…..wuzzz….puluhan balon busa tercipta, mencoba memikat target pembelinya, yaitu anak-anak. Tampaknya kemacetan baik pada saat lebaran ataupun liburan lainnya berdampak positif buat Agi. Apalagi pada saat lebaran seperti ini, dimana warga dari kota lain tumpah ruah di kota kembang ini. Agi menuturkan bahwa pada saat-saat itulah dagangannya bisa laku keras. “Biasanya Cuma laku sekitar 10 sampai 20 per hari (sabtu /minggu), hari selasa kemarin (22/09) laku sampai 40, edan lah.”</p>
<p>Mainan bubble yang ia jual adalah cairan berbusa yang dikemas di dalam botol bekas air mineral, dilengkapi dengan tongkat pendek khusus untuk memainkannya, begitu tongkat tersebut dicelupkan ke dalam cairan tersebut, dan dilambaikan ke kanan,ke kiri, atas, bawah maka puluhan balon pun terbentuk. Bahan untuk membuat cairan ini tentunya bukan dari busa sabun biasa, menurutnya ini dibuat dari sejenis daun. Setiap paketnya (cairan busa + tongkat) dilabeli dengan harga 15 ribu rupiah untuk ukuran kecil, yang besar dengan harga 25 ribu rupiah. “Saya gak tahu gimana buatnya juga, ini mah ngambil dari orang” katanya.</p>
<p>Agi memang memanfaatkan momen lebaran sebagai peluang mendapatkan uang. Dalam pertempuran hiu – hiu Factory Outlet di Bandung seperti yang terletak di Jalan Setiabudhi, Riau, dan Dago yang menawarkan paket-paket khusus Lebaran. Agi ibarat ikan kecil yang meraup sisa makanan dari para konsumen Factory Outlet di Setiabudhi. “Saya sampai rela gak pulang ke Tasik, karena pengen cari uang, pengen mandiri istilahnya.Lebaran gini, keuntungan dari jualan ini melebihi gaji saya di perusahaan. Hehehehe.” ujar Agi menutup obrolan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mudik, Macet dan Marah]]></title>
<link>http://mykisah.wordpress.com/2009/09/16/mudik-macet-dan-marah/</link>
<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 05:56:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>binggocorp</dc:creator>
<guid>http://mykisah.wordpress.com/2009/09/16/mudik-macet-dan-marah/</guid>
<description><![CDATA[Lamat-lamat lagu lebaran mulai bergumam di hati masing-masing umat muslim. Lebaran sebentar lagi, le]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="aligncenter" src="http://satriadharma.files.wordpress.com/2007/10/macet.gif?w=257&#038;h=222" alt="" width="257" height="222" /></p>
<p>Lamat-lamat lagu lebaran mulai bergumam di hati masing-masing umat muslim. Lebaran sebentar lagi, lebaran sebentar lagi. Seperti ada sebuah perasaan yang berbeda pastinya. Itupun kalau yang ngerayain ikutan puasa loh. Kalau yang ga puasa biasanya, adem ayem aja. Perasaaan berbeda yang muncul tentunya beraneka macam. Karena bahagia bisa berkumpul mungkin atau karena selesai berjuang melawan yang membatalkan puasa alias hawa nafsu.</p>
<p>Dan sebagian lagi kebahagiaan yang muncul bagi para mudikers adalah perjalanan yang penuh kebahagiaan. Nah, yang ini nih perlu dibahas sedikit. Perjalanan yang sebentar bisa jadi lama dan merusak puasa tuh kalau tidak hati-hati. Seperti yang sudah-sudah dan yang pasti akan terus terjadi. Yaitu kemacetan, memang untuk daerah-daerah tertentu hal tersebut tidak terjadi , namun untuk daerah keluar jakarta misalnya, jangan harap kelenggangan bisa terjadi. Dimana bertemunya, para pengemudi bus, mudikers dengan kendaraan pribadi apalagi motor-motor yang pas mudik lupa aturan berkendara. Wuih, sudah pasti crowded a.k.a muacet. Tapi mudah-mudahan bagi anda yang dikaruniai kesabaran sedikit mendominasi, tidak perlu khawatir. Tapi bagi kita-kita yang nama tengahnya adalah &#8220;pemarah&#8221;, musti lebih pintar memanage hati pokoknya.</p>
<p>Mudik yang awalnya indah bisa menjadi malapetaka kalau kita menyepelekan hal ini. Bayangkan dalam keadaan lemas, laper dan haus, kemudian menggunakan kendaraan tanpa pendingin, macet di siang bolong, dan sesama pemudik ada yang  mulai menghardik dengan jurus-jurus yang menggoda kadar emosi yang berlatar lapar dahaga. Nah awal yang sepele bukan, berawal dari umpatan kecil, kemudian berlanjut dengan tensi yang lebih tinggi. Ujung-ujungnya para penghuni kebun binatang kebagian disebutkan satu persatu. Alhasil pengguna jalan yang merasa tersindir oleh ucapan itu, yang dalam keadaan lelah pula, menerima dengan melotot. Gayung bersambut, turunlah si pengendara motor dan menghampiri sang pelontar kata. Anda sudah tahu kan kelanjutannya?</p>
<p>Sudah pasti berakhir runyam ujung-ujungnya, masih mending apabila hanya salah paham dan minta maaf, kalau tidak otot bisa ikut-ikutan nimbrung. dan lets Get it On!</p>
<p>Untuk itu para saudara ku sekisah dan secerita, untuk mudik ini yuk mari kita lebih banyak bersabar lagi, sulit memang, tapi jika sudah ada dasar yang baik, mudah-mudahan akan selalu dibimbing lisan dan hati ini. Buat para mudikers sekalian, selamat mudik ya semoga selamat sampai ke tujuan dan bisa kembali lagi tahun-tahun berikutnya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Belajar Mencintai Bandung KEMBALI]]></title>
<link>http://myconnect.wordpress.com/2009/08/19/belajar-mencintai-bandung-kembali/</link>
<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 01:12:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>myconnect</dc:creator>
<guid>http://myconnect.wordpress.com/2009/08/19/belajar-mencintai-bandung-kembali/</guid>
<description><![CDATA[Akhirnya tgl 18 agustus mlm gw tiba dikota bandung lagi untuk mempersiapkan segala hal tentang perku]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Akhirnya tgl 18 agustus mlm gw tiba dikota bandung lagi untuk mempersiapkan segala hal tentang perkuliahan setelah sekitar 1,5 bulan gw berada di surabaya untuk Gladi. Tidak ada yang aneh sebetulnya cuma sudah tentu gw harus kembali membiasakan dengan suhu yang lebih dingin di kota kembang ini <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Tubuh gw jelas merasakan dampak perubahan ini setelah sebulan lebih didera suhu yang lebih &#8220;hangat&#8221; dan kadang juga panas kelewatan gitu.</p>
<p>Surabaya adalah kota kelahiran dan tempat gw dibesarkan tapi Bandung juga mempunyai cerita tersendiri dihati gw karena kota ini adalah kota tanah leluhur gw,kota dimana ketika gw sekeluarga di surabaya selalu saja ke bandung untuk mudik tiap tahunnya. Bokap gw asli orang bandung dan merantau ke surabaya. Tapi meskipun belasan tahun di surabaya,tetep aja logat sundanya ga pernah bisa hilang. Klo nyokap gw meskipun besarnya di kota kecil garut,tapi dulu ibunya(alm. Nenek gw) pindah ke garut gara2 peristiwa bandung lautan api.</p>
<p>Meninggalkan surabaya untuk kembali ke bandung selalu saja meninggalkan beberapa perasaan yang campur aduk rasanya. Mulai dari jauh dengan ortu dimana kalo dideketnya gw bisa dapat masakan2 yang nikmaaaaaat banget,dibuat khusus untuk gw,,,he3,,,meskipun gw tinggal dirumah sodara sih tapi tetep aja masakan mama emang TOP BGD.Perasaan berikutnya adalah &#8220;kerja keras&#8221;,berada di bandung = everyday hardwork karena disinilah tempat gw menimba ilmu di kampus ditambah juga kesibukan sebagai asisten lab,cobaan yang paling berat justru datang dari alam alias cuaca dinginnya yang bikin gw pengen selalu dibelakang selimut <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ok,tidak masalah,hal ini adalah cobaan nyata sebelum meneruskan cita2 gw berikutnya yaitu keliling dunia. Perasaan berikutnya adalah suatu kemarahan,ya kemarahan,kemarahan kepada kesemrawutan kota bandung yang ga beres2. Kira2 sampai kapan ini akan berakhir?ditengah kota dengan predikat &#8220;kota semrawut&#8221; (T_T) seperti inilah gw menimba ilmu. Inilah cobaan kedua terberat gw setelah cuaca dingin,sayangnya ini  yang paling sulit untuk segera diatasi karena melibatkan banyak &#8220;manusia&#8221;,sangat ironis jika dibandingkan dengan julukannya yaitu &#8220;kota kembang&#8221;,kembang yang mana?Bandung BERHIBER(Bersih Hijau Berseri),serius??</p>
<p>KEMBALI mencintai kota bandung adalah suatu keharusan bagi gw dengan segala kekurangannya, kota ini tetaplah tanah leluhur gw. Gw yang lama tinggal di surabaya aja kadang sedih melihat kota bandung seperti sekarang ini apalagi bokap gw yang lahir dan besar di bandung. Beliau sering bercerita tentang kota ini jaman dulu…kata yang sering terucap dari ceritanya adalah,,,HIJAU. Kesemrawutan berdampak pada kebersihan,kemudian lagi berefek pada ketertiban,kemudian berimbas lagi kepada lalu lintas….alamaaaaak….macet dimana-mana,ditambah jalanan rusak dan berlubang tapi tidak diperbaiki,traffic light rusak nunggu berbulan-bulan untuk diperbaiki.Knp harus seperti ini?Bandung terlalu mahal untuk &#8220;digadaikan&#8221; oleh segelintir &#8220;manusia&#8221; yang tidak bertanggung jawab.</p>
<p>Gw sekarang Cuma ada motor untuk transportasi soalnya mobil yang sebelumnya dipercayakan ke gw harus di servis dulu di surabaya. Ga tanggung2 rusaknya ternyata &#8220;lumayan&#8221; parah juga. Banyak yang harus di servis dan totalnya juga bisa sampai jutaan rupiah!!!! Yang paling berasa sih sepertinya di kupling dan shockbreaker. Kupling karena sering jalan ditanjakan(ini ma emang wayahnya dibenerin) dan shockbreaker karena jalanan bandung yang ga banget…ancur tenan…solusi kemacetan dan kerusakan jalanan di bandung….MOTOR OFFROAD…hehehehe. Klo inget waktu di surabaya,seandainya masuk jam7,gw biasa berangkat jam 7 kurang 15,naek mobil lagi. Padahal jaraknya sekitar 8km,klo di bandung dari pratista ke BSM aja bisa setengah jam!!!!kecuali kalo tau jalan2 tikusnya dan ga pke mobil. Temen gw yang baru pertama kali ke sby aja bilang gni &#8220;kok cepet yah?kyknya tempatnya deket&#8221;. Truz gw jawab &#8220;deket apaan?jauh kali,Cuma krn jalannya yang lurus truz ga macet aja,jadi berasa deket&#8221;.Masuk kuliah jam7 kudu berangkat jam6 ato bahkan kurang biar ga kena macet di kiara condongnya (T_T)</p>
<p>Gw tetep cinta dan salut dengan kota ini,terutama pada segelintir anak mudanya yang tetap kreatif meskipun dihantam oleh orang2 yang tidak bertanggung jawab dalam mengelola kota. Inget dulu anak2 skaters yang mungutin sampah dijalanan setelah bandung mendapatkan predikat kota sampah di tahun 2006,desainer kreatif pun banyak menghasilkan model pakaian yang keren2,musik juga…truz apalagi yah???hmmm….ga cukup dengan itu,,,masih pula kreatif di bidang kuliner.sip…Dengan kreatifitas seperti itu harusnya ga perlu lah anak2 muda ini ikutan geng motor dan membuat keributan dan kekacauan di kota indah ini.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jembatan Bululawang Kapan Selesai?]]></title>
<link>http://indonesianic.wordpress.com/2009/07/18/jembatan-bululawang-kapan-selesai/</link>
<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 17:45:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>hotelmalang</dc:creator>
<guid>http://indonesianic.wordpress.com/2009/07/18/jembatan-bululawang-kapan-selesai/</guid>
<description><![CDATA[Kemacetan panjang terjadi di daerah Kecamatan Bululawang, kemarin. Hal itu disebabkan pembangunan je]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://indonesianic.wordpress.com/files/2009/07/macet.gif" alt="Macet" title="Macet" width="200" height="129" class="alignleft size-full wp-image-6307" />Kemacetan panjang terjadi di daerah <a href="http://malangraya.web.id/tag/bululawang/">Kecamatan Bululawang</a>, kemarin. Hal itu disebabkan pembangunan jembatan yang menghubungkan antara <a href="http://malangraya.web.id/tag/gondanglegi/">Kecamatan Gondanglegi</a> dan Kecamatan Bululawang yang tidak kunjung selesai. Proyek  Dinas Binamarga Pemerintah Provinsi <a href="http://malangraya.web.id/category/jatim/">Jawa Timur</a> itu masih belum jelas kapan jembatan itu selesai.</p>
<p>Titik kemacetan berada di sekitar jembatan Desa Krebet Senggrong yang mencapai lima kilometer dari arah Bululawang namun sebaliknya dari arah Gondanglegi kemacetan tidak terlalu panjang.</p>
<p>Menurut Kepala Dinas Binamarga <a href="http://malangraya.web.id/category/kabupaten-malang/">Kabupaten Malang</a> M.Anwar, pekerjaan konstruksi milik Pemprov Jawa Timur tersebut bakal memakan waktu yang lama. Pasalnya, proses pembangunannya membutuhkan ketelitian serta perhitungan yang matang. “Jembatan itu tidak bisa diselesaikan cepat-cepat, perhitungan konstruksinya butuh waktu lama,” kata Anwar kepada Malang Post.<br />
(bie/eno/malangpost)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kemacetan, Dilema Kaum Urban]]></title>
<link>http://teguhmanurung.wordpress.com/2009/07/08/kemacetan-dilema-kaum-urban/</link>
<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 15:53:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>teguhmanurung</dc:creator>
<guid>http://teguhmanurung.wordpress.com/2009/07/08/kemacetan-dilema-kaum-urban/</guid>
<description><![CDATA[Beberapa bulan yang lalu para komunter yang tinggal di sekitar wilayah Jabotabek gempar. Pasalnya, t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Beberapa bulan yang lalu para komunter yang tinggal di sekitar wilayah Jabotabek gempar. Pasalnya, terminal bayangan UKI, tempat mereka biasa turun dan bertukar bus tidak difungsikan lagi. Alasannya, Bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) membuat jalur di sekitar UKI macet total setiap hari. Saya pun ikut merasakan. Biasanya waktu tempuh Bogor-UKI-Matraman, dalam waktu normal hanya 1,5 jam. Sekarang untuk mencapai Bogor-UKI lewat terminal Kampung Rambutan saja dua jam, dan harus menunggu 45 menit lagi untuk sampai Matraman, itupun sudah menumpang Bus Trans Jakarta. Ketika efisiensi waktu menjadi parameter utama kehidupan kamum urban, apakah kebijakan pemerintah ini sudah bijaksana? Ataukah masalah ini bukan bersumber pada kebijakan pemerintah, tetapi pada diri kaum urban itu sendiri? Potret kemacetan di Ibukota memang problematika yang dilematis yang harus segera dipecahkan.</p>
<p><strong>Usaha Pemerintah</strong></p>
<p>Potensi kepadatan penduduk dan segala permasalahan yang akan muncul memang telah diramalkan pemerintah. Tidak hanya diprediksi, Pemerintah pun telah berusaha mencari jalan keluar yang aplikatif.  Solusi awal yang telah ditelurkan pemerintah untuk mengatasi masalah kependudukan di kota yang hanya didesain untuk menampung 500.000 jiwa ini adalah mengalihkan konsentrasi massa ke kota-kota di sekitar Jakarta. Program ini dinamakan Jabotabek, atau disebut Jabodetabek sekarang. Kebijakan yang telah disusun rapi sejak 1950 oleh planolog Indonesia dan Belanda ini baru terealisasi tahun 1970, ketika proyek Jalan Tol Jagorawi mulai dikerjakan. Namun demikian, bukan berarti dalam jeda antara 1950-1970 pemerintah tidak berbuat apa-apa. Bang Ali, sebagai gubernur tersukses Ibukota, pernah membuat beberapa kebijakan untuk mengatasi ledakan penduduk di perkotaan, baik itu melalui Keluarga Berencana, KTP, perluasan wilayah dan lain sebagainya.<em> Toh</em>, program itu gagal total untuk mengatasi masalah ledakan penduduk. Bahkan, Bang Ali kemudian merelokasi kampung-kampung di Ibukota dari dana legalisasi judi. Hasilnya penduduk ibukota bertambah berpuluh-puluh kali lipat dan membuat Jakarta menjadi penuh sesak.</p>
<p>Setelah proyek Jabotabek secara efektif telah diberlakukan, terutama efektif sejak tahun 1976, memang terjadi pengaliran konsentrasi penduduk ke kota-kota satelit, macam Bogor, Bekasi, dan Tangerang. Namun, bukan berarti aliran penduduk ke Ibukota berhenti sama sekali. Mereka yang pindah ke kota-kota satelit nyatanya adalah penduduk kelas menengah yang telah mempunyai pekerjaan yang mapan. Kelas ini pindah karena penghasilannya memungkinkan mereka untuk mencari kenyamanan yang lebih di daerah sekitar Jakarta. Sebaliknya, sebagian besar penduduk Jakarta yang tidak terdidik dan terlatih, serta bekerja di sektor informal tinggal berjubel di bantaran kali atau kampung-kampung di Ibukota. Program Jabotabek pada satu sisi telah meringankan beban Jakarta, tetapi pada sisi lain juga telah menciptakan problem kemasyarakatan yang lebih kompleks.</p>
<p>Dalam berbagai survey disebutkan pengklasifikasian penduduk Jakarta dibedakan antara penduduk Jakarta siang hari dan malam hari. Pada siang hari tercatat jumlah penduduk berkisar 12 juta jiwa, sedangkan pada malam hari sekitar 8 juta jiwa. Dapat dibayangkan, pada jam masuk dan pulang kantor , terjadi transfer penduduk dari Jakarta ke kota-kota satelitnya sebesar 4 juta jiwa. Apa yang selanjutnya terjadi? Kemacetan di setiap sudut jalan Jakarta. Pemerintah pun sudah  berkali-kali mencari jalan keluar atas permasalahan ini, seperti ini perluasan jalan raya dan tol, jalur <em>three in one</em>, dan  penyediaan transportasi massal. Bahkan sejak awal, pemerintah sebenarnya ingin memaksimalkan fungsi kereta api listrik Jabotabek sebagai alat angkut massal yang utama, dibanding angkutan perkotaan, bus, apalagi mobil pribadi. Namun, apa daya, karena alasan  ketidakprofesional, kurang praktis dan rendahnya kenyamanan di dalam KRL, hanya sebagian kecil komunter yang memanfaatkan jasa ini. Sisanya lebih menikmati menumpang bus ber-AC, dan mengendarai kendaraan pribadi sambil menikmati suasana kemacetan Ibukota.</p>
<p><strong>Gengsi Kaum Urban</strong></p>
<p>Seberapa keras pun usaha pemerintah  untuk mengatasi berbagai permasalahan di Ibukota bila tidak diimbangi oleh kesadaraan masyarakat yang tinggal di dalamnya tentunya hasilnya tidak maksimal untuk mengatakan sia-sia. Akar permasalahan utama segala permasalahan di Ibukota bersumber pada perilaku, mentalitas, dan gengsi sebagian besar penduduk yang berdiam di dalamnya. Wajar, walaupun kaum urban telah menciptakan imej sebagai orang kota, namun sesungguhnya mentalitas yang mengakar dalam dirinya adalah perilaku orang desa. Wajar citra mereka sebagai kelas menengah baru dikenal dan dipelajarinya selama satu atau dua generasi. Jadi, didikan orang tua yang merupakan kombinasi gaya pedesaan dan perkotaan kadung tertanam dalam dirinnya. Pun tidak dapat dipungkiri, mentalitas sebagai bangsa terjajah masih terasa walaupun telah merdeka lebih dari 60 tahun. Sebagai orang yang telah merasa sukses, walaupun masih pada taraf gajian dan belum mampu mengaji orang, cukup gengsi memang bila seorang <em>manager</em> naik taksi, bus,  apalagi metromini. Bahkan seorang pegawai menegah di perusahaan swasta asing merasa harga dirinya terinjak-injak bila tidak membawa mobil pribadi ke kantor, walaupun harus terjebak kemacetan setiap harinya. Alasannya kepraktisan menjadi alibi utama untuk melakukan hal itu.</p>
<p>Gengsi mengalahkan rasionalitas dan warisan sebagai bangsa yang terjajah, dua hal inilah yang melemahkan mentalitas kaum urban pengais rejeki Ibukota. Dibutuhkan sinergi antara kebijakan pemerintah dan perilaku penduduk Jakarta. Tampaknya, sinergi ini masih jauh karena imej Jakarta masih dilihat sebagai objek yang harus dieksploitasi secara maksimal, walaupun itu harus merenggut kenyamanan orang lain dan lingkungan kota. Individualisme dan sikap acuh tak acuh sering ditolelir dengan mengatakan “Ini Ibukota, Bung!”. Gerak sejarah mentalitas penduduk Ibukota sekarang masih terhenti pada titik itu. Namun bukan berarti jarum sejarah tidak dapat digerakkan ke tahapan selanjutnya menuju perkembangan yang lebih beradab. Perlu kerja keras semua pihak yang tidak memakan waktu yang singkat.  Jangan pernah bermimpi untuk melihat perubahan yang instan. Upaya yang dapat dilakukan sekarang adalah membiasakan melakukan hal-hal beradab dengan mengedapankan prinsip rasionalitas dan kepentingan umum dibandingkan gengsi dan individualisme semata.  Mulailah dari lingkungan terkecil. Dengan begitu, percayalah seiring perjalanan waktu, perubahan ke arah yang positif akan terjadi secara gradual. Kelak, sejarah akan mencatat bangsa ini telah berubah menjadi masyarakat moderen yang rasional dan peka terhadap lingkungan sekitarnya. Semoga.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Betapa Seringnya Si Komo Lewat]]></title>
<link>http://tetapbergerak.wordpress.com/2009/06/22/betapa-seringnya-si-komo-lewat/</link>
<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 06:32:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>tetapbergerak</dc:creator>
<guid>http://tetapbergerak.wordpress.com/2009/06/22/betapa-seringnya-si-komo-lewat/</guid>
<description><![CDATA[Kini, bukan rahasia umum lagi kalau Jakarta sudah layaknya Showroom Mobil terbesar di dunia. Hampir ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kini, bukan rahasia umum lagi kalau Jakarta sudah layaknya Showroom Mobil terbesar di dunia. Hampir ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tips Mengurangi Kemacetan]]></title>
<link>http://jakartabebasmacet.wordpress.com/2009/06/20/tips-mengurangi-kemacetan/</link>
<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 15:27:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>jakartabebasmacet</dc:creator>
<guid>http://jakartabebasmacet.wordpress.com/2009/06/20/tips-mengurangi-kemacetan/</guid>
<description><![CDATA[Tuesday, 03 February 2009 10:14 Eri Kartiadi Problem kemacetan jalan akibat membludaknya jumlah kend]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tuesday, 03 February 2009 10:14		 		 			 			Eri Kartiadi</p>
<p>Problem kemacetan jalan akibat membludaknya jumlah kendaraan bermotor menjadi momok sehari-hari pengguna jalan. Tak sekadar membuang waktu tapi juga beragam problem lain seperti polusi udara yang menggangu kesehatan. Mungkinkah ini diatasi? Setidaknya kita bisa ikut serta mengurangi.</p>
<p>Berikut tips yang bisa kita lakukan untuk mengurangi masalah transportasi di kota Jakarta tercinta:</p>
<p><strong>Sukseskan gerakan Bike to Work (B2W)</strong></p>
<p>Masih ingat janji Gubernur DKI Fauzi Bowo? Dia akan menyediakan jalur khusus sepeda kalau pengguna sepeda semakin bertambah.Nah, jangan ragu untuk sesekali menggunakan sepeda untuk berangkat ke kantor Anda, minimal sekali seminggu seperti yang disarankan komunitas B2W.</p>
<p><strong>Prioritaskan penggunaan angkutan umum</strong></p>
<p>Sebisa mungkin bepergian menggunakan Transjakarta atau KRL daripada kendaraan pribadi. Bila tidak memungkinkan, kenapa tidak menerapkan sistem carpooling, baik Anda yang mengajak orang lain untuk menumpang di kendaraan Anda, atau Anda yang berinisiatif mencari tumpangan. Berangkat dan pulang kantor bareng pasti lebih seru. Cari tau bagaimana cara tebeng-menebeng dengan aman dengan bergabung dalam forum-forum serupa di internet.</p>
<p><strong>Cari sekolah yang dekat rumah</strong></p>
<p>Kalau masih memungkinkan, pilih sekolah untuk anak Anda yang dekat dengan rumah. Hal itu cukup positif agar anak Anda tidak perlu menghabiskan banyak waktu di jalan.</p>
<p><strong>Hang Out yang mudah diakses</strong></p>
<p>Carilah lokasi rapat atau sekadar kumpul-kumpul dengan teman yang lokasinya tidak jauh dari kantor atau rumah, Yang paling penting adalah mudah diakses dengan angkutan umum.</p>
<p><strong>Hindari perjalanan tidak penting</strong></p>
<p>Hindari melakukan perjalanan yang tidak penting dengan menggunakan kendaraan pribadi.</p>
<p><strong>Rute angkutan umum di undangan pesta</strong></p>
<p>Kalau membuat hajatan atau pesta, baik di rumah atau kantor, tidak ada salahnya juga mengajak atau meminta tamu untuk menggunakan angkutan umum. Sediakan informasi rute angkutan umum yang melalui lokasi pesta tersebut beserta waktu tempuhnya.</p>
<p>Jika masih tetap mau naik mobil pribadi, selalu ingat-ingat hal berikut:</p>
<p>Periksalah mesin kendaraan pribadi secara rutin mencegah mogok di jalan. Jangan lupa gunakan bahan bakar yang ramah ligkungan (misal: biosolar &#38; BBG). Saat Anda di jalan raya, dahulukan para pejalan kaki, sepeda dan kendaraan umum.</p>
<p>ika tidak dari diri kita sendiri, sebagai warga Jakarta, kapan lagi kota ini bebas dari kemacetan. Yuk, sekarang mulai dari diri sendiri.</p>
<p>source:</p>
<p>http://www.greenradio.fm</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[kalibantengku sayang kalibantengku malang]]></title>
<link>http://kalibanteng.wordpress.com/2009/06/01/kalibantengku-sayang-kalibantengku-malang/</link>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 07:44:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>diankurniasari</dc:creator>
<guid>http://kalibanteng.wordpress.com/2009/06/01/kalibantengku-sayang-kalibantengku-malang/</guid>
<description><![CDATA[Wilayah Studi : Kalibanteng Semarang Kota Semarang merupakan ibukota Provinsi dimana pusat perekonom]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Wilayah Studi : Kalibanteng Semarang Kota Semarang merupakan ibukota Provinsi dimana pusat perekonom]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kemacetan di Simpang Jalan]]></title>
<link>http://ikankoi.wordpress.com/2009/05/18/kemacetan-di-simpang-jalan/</link>
<pubDate>Mon, 18 May 2009 16:01:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>ikankoi</dc:creator>
<guid>http://ikankoi.wordpress.com/2009/05/18/kemacetan-di-simpang-jalan/</guid>
<description><![CDATA[Kemacetan yang ingin aku ceritakan ini adalah yang terjadi perempatan pasar genuk, jalan wolter mang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kemacetan yang ingin aku ceritakan ini adalah yang terjadi perempatan pasar genuk, jalan wolter mang]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Memprediksi kemacetan]]></title>
<link>http://tesarsp.wordpress.com/2009/05/17/how-to-predict-traffic-jam/</link>
<pubDate>Sun, 17 May 2009 09:34:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>M. Tesar Sandikapura</dc:creator>
<guid>http://tesarsp.wordpress.com/2009/05/17/how-to-predict-traffic-jam/</guid>
<description><![CDATA[View this document on Scribd This Paper will talk about how to predict traffic jam using information]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><object id="15561241" name="15561241" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=9,0,0,0" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" align="middle" height="500" width="100%">
<param name="movie" value="http://documents.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=15561241&access_key=key-27e6fxadg1fbs43zabzj&page=&version=1&auto_size=true&viewMode="><param name="quality" value="high"><param name="play" value="true"><param name="loop" value="true"><param name="scale" value="showall"><param name="wmode" value="opaque"><param name="devicefont" value="false"><param name="bgcolor" value="#ffffff"><param name="menu" value="true"><param name="allowFullScreen" value="true"><param name="allowScriptAccess" value="always"><param name="salign" value="">
<embed src="http://documents.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=15561241&access_key=key-27e6fxadg1fbs43zabzj&page=&version=1&auto_size=true&viewMode=" name="15561241_object" quality="high" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" play="true" loop="true" scale="showall" wmode="opaque" devicefont="false" bgcolor="#ffffff" menu="true" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" salign="" type="application/x-shockwave-flash" align="middle"  height="500" width="100%"></embed>
</object>
<div style="font-size:10px;text-align:center;width:100%"><a href="http://www.scribd.com/doc/15561241">View this document on Scribd</a></div>
<p>This Paper will talk about how to predict traffic jam using information theory and shannon entropy.</p>
<p>Tesar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BUSWAY ADALAH KEMACETAN ITU SENDIRI]]></title>
<link>http://anakkritikus.wordpress.com/2009/04/24/busway-adalah-kemacetan-itu-sendiri/</link>
<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 02:23:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>anakkritikus</dc:creator>
<guid>http://anakkritikus.wordpress.com/2009/04/24/busway-adalah-kemacetan-itu-sendiri/</guid>
<description><![CDATA[Transportasi merupakan kebutuhan masyarakat sehari-hari dalam melaksanakan aktifitas mereka, terutam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Transportasi merupakan kebutuhan masyarakat sehari-hari dalam melaksanakan aktifitas mereka,<br />
terutama mereka yang hendak ke kantor dan pergi ke sekolah atau perguruan tinggi. Dapat kita<br />
ketahui bahwa jakarta merupakan salah satu kota terpadat di indonesia, yang kemudian disusul<br />
dengan surabaya dan bandung.<br />
Dengan tingkat mobilitas yang tinggi membuat jalanan dikota jakarta menjadi penuh sesak atau kata<br />
lainnya macet. Hal tersebut biasa terjadi pada hari-hari kerja.<br />
Kemudian untuk mengurangi tingkat kemacetan di jakarta, pemerintah DKI jakarta membuat suatu<br />
sistem transpostasi baru yaitu BUSWAY. Sistem transportasi baru tersebut sangat bagus sekali dalam<br />
mengurangi kemacetan di ibukota jakarta.<br />
Tetapi didalam pelaksanaannya terdapat kesalahan yang sangat besar, dimana bukannya mengurangi<br />
tingkat kemacetan, malah membuat tambah macet jalanan di ibukota jakarta ini. Bayangkan saja,<br />
jalur yang digunakan adalah jalur jalan yang biasa dilewati oleh kendaraan, jalur yang tadinya<br />
ada 3 (tiga) kemudian yang satu digunakan untuk jalur busway dan membuat jalur biasa menjadi tinggal<br />
2 (dua), hal tersebut bukannya mengurangi tingkat kemacetan malah memperparah tingkat kemacetan<br />
yang ada di ibukota ini. Sebenarnya ide siapa yang harus menggunakan jalur umum untuk jalur<br />
busway, siapa yang mengusulkan, kalau kata orang batak &#8216;bodoh kali kau ini&#8217;.<br />
Dinegara yang menciptakan busway ini, saya lupa nama negaranya, pemerintah negara tersebut<br />
tidak menggunakan jalur kendaraan umum untuk jalur busway tetapi membuat jalur tersendiri<br />
untuk jalur busway. Sehingga tingkat kemacetan di negara tersebut berkurang drastis. bayangkan<br />
saja, ada jalur khusus untuk busway itu sendiri dan jalur umum tetap seperti semula.<br />
Tetapi di jakarta busway malah menggunakan jalur umum yang sudah ada, mengambil jalan pintas<br />
dalam membangun tanpa memikirkan dampak positif dan negatifnya.<br />
Bodoh benar pemerintah DKI jakarta ini, jika saya keliling jakarta, apalgi jika lewat jalan tol<br />
yang sudah ada sejak tahun 1950-1960an, tol-tol tersebut dibangun oleh orang belanda, saya<br />
sangat kagum sekali dalam pembangunannya. Apakah indonesia terutama jakarta sebagai ibukota<br />
tidak bisa membangun yang sistem transportasi yang sama bagusnya.<br />
Busway di jakarta sangat tidak efisien dalam pelaksanaannya, operasionalnya pun sama. Bahkan<br />
ada yang mesti antri sampai keluar tempat tunggu busway untuk naik busway doank, yak ampun,<br />
daripada kayak gitu mendingan gw naik kendaraan sendiri, kena macet enggap apalah, yang penting<br />
adem dan enggak capek mesti ngantri.<br />
kesimpulan besarnya, busway di jakarta ini adalah biang kemacetan itu sendiri, selain harus<br />
menggunakan jalur umum dalam pengoperasiannya, harus mengantri pada jam-jam sibuk, bahkan suka<br />
jalan diluar jalur busway itu sendiri, kinerja yang kurang baik, dan kebodohan pemerintah<br />
DKI jakarta dalam menyusun rancangan dan pengambilan keputusan dalam membangun busway tersebut.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penyebab Kemacetan Kota Metropolitan]]></title>
<link>http://tridrian.wordpress.com/2009/04/16/penyebab-kemacetan-kota-metropolitan/</link>
<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 09:12:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Tri Drian</dc:creator>
<guid>http://tridrian.wordpress.com/2009/04/16/penyebab-kemacetan-kota-metropolitan/</guid>
<description><![CDATA[Setelah mengalami hiruk pikuk Jakarta selama lebih dari 3,5 tahun dan mengalami hampir 9 bulan pulan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Setelah mengalami hiruk pikuk Jakarta selama lebih dari 3,5 tahun dan mengalami hampir 9 bulan pulan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[sepeda balap, macet..]]></title>
<link>http://airyz.wordpress.com/2009/03/18/sepeda-balap-macet/</link>
<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 11:12:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>wahyu am</dc:creator>
<guid>http://airyz.wordpress.com/2009/03/18/sepeda-balap-macet/</guid>
<description><![CDATA[Foto ini diambil menggunakan kamera mobile Sony Ericsson K530i Kesayangan pada Tanggal 14-03-2009. d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Foto ini diambil menggunakan kamera mobile Sony Ericsson K530i Kesayangan pada Tanggal 14-03-2009.</p>
<p>ditengah kemacetan lalulintas di kota semarang pada pagi hari.<br />
sepeda itu meluncur, meliuk-liuk bagaikan ikan pesut yang mencari mangsa (dalam kasus ini, sepeda tersebut mencari ruang untuk bernafas (halah) )<br />
<!--more--><br />
<img src="http://airyz.wordpress.com/files/2009/03/14-3-09-21.jpg" alt="14-3-09-21" title="14-3-09-21" width="500" height="666" class="alignnone size-full wp-image-43" /><br />
kemacetan yang terjadi di kota ini sudah sangat lumrah, dilihat dari volume kendaraan mbermotor/ mobil yang terus bertambah setiap hari,<br />
dengan tidak di sejajarkan dengan adanya pelebaran jalan (mau dilebarin kemana lagi coba?)  bahkan tidak ada ruang yang cukup bagi &#8220;bapak&#8221; pengendara sepeda balap tersebut.</p>
<p>tidak perlu menyalahkan orang lain, berkacalah pada diri kita sendiri.<br />
sudahkah kita taat pada tata tertib yang sudah berlaku? sudahkan kita menjadi pengendara yang baik, (jujur, kalau saya belum)<br />
jiwa muda saya masih menggelora (lebay mode : on), masih suka kebut &#8211; kebutan dijalan, masih sering melanggar lampu merah (maav pakpol :p).</p>
<p>mari, bersama menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.</p>
<p>sekian, akan berlanjut <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dibutuhkan Sistem Transportasi Pembasmi Kemacetan]]></title>
<link>http://catatancalonwartawan.wordpress.com/2009/03/10/dibutuhkan-sistem-transportasi-pembasmi-kemacetan/</link>
<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 12:41:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>denoan</dc:creator>
<guid>http://catatancalonwartawan.wordpress.com/2009/03/10/dibutuhkan-sistem-transportasi-pembasmi-kemacetan/</guid>
<description><![CDATA[Banyak masalah yang menyambangi kehidupan urban (kota) selain masalah kependudukan. Salah satunya ad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Banyak masalah yang menyambangi kehidupan urban (kota) selain masalah kependudukan. Salah satunya ad]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Transportasi Jakarta dan Komunitas Bersepeda]]></title>
<link>http://erkata.wordpress.com/2009/03/08/transportasi-jakarta-dan-komunitas-bersepeda/</link>
<pubDate>Sun, 08 Mar 2009 07:55:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Erkata Yandri</dc:creator>
<guid>http://erkata.wordpress.com/2009/03/08/transportasi-jakarta-dan-komunitas-bersepeda/</guid>
<description><![CDATA[Potret Transportasi Jakarta di tahun 2020 Sangat mengerikan sekali jika membayangkan apa yang akan t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Potret Transportasi Jakarta di tahun 2020</strong></p>
<p>Sangat mengerikan sekali jika membayangkan apa yang akan terjadi nanti dengan situasi transportasi di Jakarta pada tahun 2020, jika tidak banyak yang bisa kita perbuat untuk memperbaiki kondisi transportasi sekarang ini. Kemacetan parah terjadi dimana-mana. Orang-orang banyak yang stress dan bagi yang tidak kuat mungkin menjadi gila. Rumah sakit penuh dengan orang sakit saluran pernapasan, darah tinggi, bronchitis, dan asthma. Lebih menakutkan lagi akan terjadi penurunan IQ dan meningkatnya mati usia muda. Berdasarkan study yang dilakukan oleh WHO/UNEP pada tahun 1992, Jakarta termasuk 4 besar kota besar terpolusi di dunia. Lebih dari 70% pencemaran udara tersebut berasal dari emisi kendaraan bermotor. Dengan mengambil acuan emisi tahun 1998, tingkat polusi di Jakarta meningkat lebih dari 3 kali lipatnya pada tahun 2015. Tentu akan semakin menakutkan lagi pada tahun 2020 nanti.</p>
<p>Akibat kemacetan tersebut, Jakarta diperkirakan mengalami kerugian sebesar Rp 65 triliun pada tahun 2020 tersebut, dengan perincian Rp 28.1 triliun untuk operasioanal kendaraan dan Rp 36.9 triliun untuk kehilangan waktu akibat kemacetan. Angka tersebut tentu akan semakin membengkak jika kerugian akibat biaya kesehatan dan kerusakan lingkungan juga ikut ditambahkan. Sekedar gambaran saja, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Asian Development Bank (ADB), total biaya kesehatan akibat efek polusi yang ditimbulkan kemacetan pada tahun 2008  saja mencapai Rp 5.39 triliun. Itu artinya terjadi peningkatan sekitar 3 kalinya jika dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan pada tahun 1998. Sedangkan kerugian akibat kerusakan lingkungan mencapai Rp 5 triliun pada 2008. Semua angka kerugian di atas akan semakin menggelembung jika dimasukan juga kerugian akibat peluang bisnis yang hilang karena kemacetan. Sungguh luar biasa sekali.</p>
<p>Angka di atas adalah wajar dan pantas terjadi, dengan mencermati data pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta sekarang ini. Dengan mengambil perbandingan jumlah kendaraan bermotor di tahun 1994, sesuai dengan data yang dikeluarkan oleh Kepolisian RI, maka ada kenaikan sebesar 2.34 kalinya untuk sepeda motor dan 1.99 kalinya untuk mobil pribadi pada tahun 2004. Tentu akan semakin berlipat ganda lagi pada tahun 2020 nanti. Jika tidak ada sesuatu perubahan yang mendasar yang bisa kita lakukan untuk menghentikan pertumbahan kendaraan bermotor tersebut, maka apa yang kita takutkan dengan hal-hal yang di atas akan terjadi dengan pasti. Apakah kita akan tinggal diam atau berserah diri saja dalam hal ini?</p>
<p><strong>Apa yang salah dan apa yang seharusnya dilakukan</strong></p>
<p>Saya yakin, kita semua tidak menginginkan hal di atas akan terjadi, bukan? Masalah transportasi yang terjadi saat ini adalah potret dari dua kegagalan kita selama ini. Yang pertama adalah kegagalan kita untuk mengembangkan fasilitas transportasi umum modern yang massal, cepat, murah, dan aman. Yang kedua adalah kegagalan kita untuk menahan laju urbanisasi dan memeratakan pembangunan antara desa dan kota. Efek dari kedua kegagalan di atas semakin diperparah lagi dengan kegagalan kita dalam mengantisipasi dan mengendalikan pertumbuhan kendaraan bermotor yang sebesar 12% pertahun. Mau sampai kapan pertumbuhan sebesar itu dibiarkan terus? Penambahan jalan raya sebesar 8% pertahun pun masih belum kuat mengimbanginya. Mau berapa panjang lagi jalan akan disediakan untuk memanjakan pemilik kendaraan bermotor? Mau berapa banyak lagi rumah yang akan siap digusur? Pembebasan lahan dan penggusuran rumah sudah sering menjadi masalah yang lain lagi.</p>
<p>Berdasarkan hasil study yang dilakukan oleh JICA dan Bappenas yang dituangkan dalam Study on Integrated Transportation Master Plan for Jabodetabek 2004 (SITRAMP 2004), disitu sudah dijelaskan bahwa transportasi untuk Jabodetabek harus mengandalkan Kereta Api komuter, sedangkan Subway dan Busway adalah angkutan massal pelengkap. Melihat kenyataan yang ada di lapangan saat ini, baru Busway yang serius diwujudkan, walaupun dalam pembangunannya memperparah kemacetan dan tidak sedikit orang yang protes. Nah, tentu menjadi pertanyaan bagi kita mengapa justru Kereta Api sebagai yang utama malah seperti terbengkalai atau terlupakan? Sejauh mana keseriusan kita dalam menjalankan mastyer plan di atas? Kenapa lamban kita dalam implementasi? Dimana masalah kita sebenarnya?</p>
<p><strong>Fenomena komunitas bersepeda ke tempat kerja</strong></p>
<p>Mewujudkan sebuah infrastruktur transportasi umum modern yang massal, cepat, murah, dan aman memang bukan suatu pekerjaan yang mudah. Saya setuju. Bagaimana dengan mewujudkan jalur khusus untuk pesepeda? Apakah ini sulit juga? Sekarang ini, telah ada sekitar 3 komunitas rombongan bersepeda yang berangkat kerja ke Jakarta. Kelompok ini dikenal dengan Bike To Work atau disingkat B2W. Rombongan dari Depok mengusung nama RODEK yang merupakan singkatan dari Rombongan Depok. Rombongan dari Tangerang mengusung nama RANGER yang merupakan singkatan dari Rombongan Tangerang, dan Rombongan dari Bekasi tidak mau kalh dengan mengusung nama ROBEKS yang merupakan singkatan dari Rombongan Bekasi. Pada umumnya, komunitas ini adalah generasi muda usia produktif yang sadar akan masalah polusi dan isu pemanasan global. Jumlah mereka saat ini sudah mencapai lebih dari 3.000 orang dan menunjukan peningkatan anggota dari hari ke hari. Saya yakin, banyak diantara kita yang sering melihat mereka berombongan pagi-pagi menuju Jakarta.</p>
<p>Nah, pertanyaannya adalah, bagaimana sikap kita dengan hadirnya komunitas bersepeda ini? Bukankan komunitas ini berpotensi mengurangi pusing kepala kita dalam hal mengatasi kemacetan dan polusi udara? Bukankah kehadiran mereka merupakan suatu hal yang positif sebagai alternatif moda transportasi yang ada? Kalau jawabannya ya, mengapa belum ada langkah-langkah serius untuk mengakui keberadaan mereka? Bagaimana kita harus mengakuinya? Ada dua hal saja yang harus disediakan. Hal yang pertama adalah dengan menyediakan jalur khusus untuk bersepeda di jalan raya? Hal yang kedua adalah dengan menyediakan aturan khusus lalu lintas yang melindungi pesepeda.</p>
<p>Mengenai dua hal yang di atas, sebenarnya tidak usahlah kita berpusing-pusing kepala untuk memikirkannya. Semuanya bisa mencontoh dari apa yang sudah dilakukan oleh negara maju. Seperti umumnya di banyak kota di Eropa, disediakan jalur khusus dan aturan lalu lintas yang jelas. Jalur khusus ini kebanyakan dalam bentuk trotoar yang lebar yang berbagi dengan pejalan kaki. Batas dan hak masing-masing pejalan kaki dan pesepeda dipisahkan dengan garis atau warna trotoar yang berbeda. Sedangkan untuk aturan lalu lintas, sudah tentu yang pro untuk pesepeda. Harusnya memang begitu, lebih menghargai komunitas yang sadar akan lingkungan. Tanpa harus melakukan study banding yang mengeluarkan biaya dan waktu, hal ini sebenarnya dengan mudah sekali untuk dilakukan, asal kita memang punya niat yang tulus untuk itu.</p>
<p>Untuk penyediaan jalur khusus, bolehlah mengakui langkah maju yang sudah dibuat oleh Pemda DKI yang mengakui keberadaan komunitas berseda ini. Sudah ada “sepenggal” jalan khusus untuk bersepeda, seperti Jl. Yos Sudarso, Jl. Ahmad Yani, dan Jl. DI Panjaitan. Hari bersepedapun sudah beberapa kali diadakan, khususnya untuk di jalan Thamrin. Pertanyaannya, apakah hal tersebut sudah dianggap serius? Maaf sekali kalau saya menganggap itu belum serius. Untuk langkah awal ya boleh-boleh saja. Keseriusan kita mengakui keberadaan komunitas bersepeda ini tidaklah dinilai dengan hanya menyediakan sepotong jalan bersepeda dan sekedar mengadakan satu hari khusus bersepeda saja. Itu tidaklah cukup alias tidak ada apa-apanya. Itu adalah budaya basa-basi yang seharusnya sudah kita tinggalkan di jaman sekarang ini.</p>
<p>Lantas seriusnya bagaimana? Kalau kita serius, haruslah dimulai dari ujungnya. Ujung darimana rombongan tersebut mulai “menggenjot” pedal sepedanya. Harusnya disediakan mulai dari Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kalau kita mau memutar otak, sebenarnya ada potensi jalur bersepeda yang boleh dikatakan aman dan cepat, yaitu memanfaatkan jalur hijau di sisi jalan tol. Soal keamanan jalurnya, bisa dipikirkan dengan memberikan pembatas khusus dan bagus serta aturan yang jelas sebagai jalur khusus untuk bersepeda. Sisi jalan tol Bekasi – Jakarta, Cibubur – Jakarta, Meruya – Jakarta, bisa dimanfaatkan. Jika hal ini bisa diwujudkan, saya yakin akan semakin banyak yang akan tertarik untuk beralih menjadi “penggenjot pedal” yang anti macet dan ramah lingkungan daripada “penginjak gas” yang akrab dengan kemacetan dan polusi udara.</p>
<p>Ada hal menarik yang akan terjadi jika koridor Busway semakin lengkap dan komunitas bersepeda semakin diakuinya keberadaannya. Sepedapun bisa menjadi “feeder” yang dapat diandalkan untuk Busway. Bagaimana bisa? Di jaman yang serba mesin canggih ini, sepedapun tidak kalah hebat dalam melakukan inovasi. Sekarang ini sudah banyak tersedia sepeda yang bisa dilipat menjadi kecil dan ringan sehingga bisa ditenteng. Dengan standard lipat sepeda tertentu dan tanpa mengganggu kenyamanan penumpang yang lain, tidak ada alasan Busway untuk menolak penumpang bersepeda ini bukan? Dari rumah mereka menggenjot sepeda, lanjut naik Busway, turun dari Busway dilanjutkan kembali dengan menggenjot sepeda ke tempat tujuan yang semakin dekat.</p>
<p>Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa menyiapkan jalur khusus saja tidaklah cukup, masih harus dilengkapi dengan aturan hukum dan rambu-rambu lalu lintas yang melindungi komunitas bersepeda ini. Kalau aturan hukum dan rambu-rambu ini tidak disiapkan, akibatnya sudah bisa ditebak, akan semakin banyak nyawa pesepeda yang hilang secara sia-sia di jalan raya. Nyawa mereka tidak akan dihargai oleh pengendara kendaraan bermotor lainnya. Sebagai gambaran, pengendara sepeda motor saja sudah 3.3 orang meninggal per harinya se Jabodetabek pada tahun 2002. Bisa jadi nyawa yang hilang tersebut karena tidak dihargai oleh sesama pengendara sepeda motor atau bisa juga oleh kendaraan bermotor lainnya (mobil pribadi, bus, truk). Berdasarkan hasil perhitungan dari Departemen Perhubungan, bahwa kerugian materi secara total dari seorang yang meninggal akibat kecelakaan di jalan raya adalah Rp.327.338.384, maka janganlah kita semakin menambah kerugian yang sudah dijelaskan tadi dengan kerugian dari kematian ini. Sudah pasti akan semakin membengkak angka yang sudah “gemuk” itu. Berkaca dari kondisi saat ini dan jika hal ini tidak bias diantisipasi dari awal, jangan mengharap bersepeda akan membudaya di Jakarta.</p>
<p>Di negara Eropa, seperti di Jerman, dengan perlindungan lalu lintas yang ketat terhadap pesepeda, menimbulkan budaya penghormatan yang serius terhadap komunitas bersepeda ini. Jangankan menabrak, menyenggol mereka saja sudah menjadi masalah besar bagi kelangsungan ijin mengemudi bagi pengendara kendaraan bermotor. Jadi, dengan adanya aturan yang pro pesepeda tersebut, akan menimbulkan rasa aman dan percaya diri sehingga diharapkan akan semakin banyak orang yang beralih ke sepeda. Jadi, mengapa harus menunggu sampai banyak korban dulu sehingga kita baru mulai bergerak untuk membuat undang-undang yang melindungi keberadaan mereka di jalan raya? Sifat sadar belakangan inipun sudah harus kita buang jauh-jauh yang merupakan buah dari ketidakpekaan kita terhadap masalah yang ada.</p>
<p>Adalagi contoh menarik yang diberikan oleh Universitas Indonesia (UI) di Depok.  UI, dengan Rektor barunya yang pernah lama mengenyam pendidikan di Jerman, yang terkenal dengan kota-kota sepedanya, telah mencanangkan Kampus UI sebagai Kampus Sepeda dengan konsep kampus hijau yang bertaraf internasional. Saat ini, UI sedang dalam tahap penyelesaian akhir pembangunan jalur khusus sepeda kampusnya. Jalur khusus sepeda kampus yang pertama di Indonesia ini rencananya akan segera diresmikan pada Maret 2008 ini oleh Sang Rektor. Apa yang sedang dirintis oleh UI ini patut kita hargai bersama. Semoga hal ini bisa diikuti oleh kampus –kampus lainnya di Indonesia. Memang, sudah selayaknya kampus perguruan tinggi memberikan contoh kepada masyarakat lainnya betapa hebatnya bersepeda, pentingnya udara yang bersih dan hidup yang sehat serta betapa menakutkannya efek pemanasan global.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Sebenarnya yang dibutuhkan dari kita adalah kemauan untuk mewujudkan potensi dari bersepeda tersebut menjadi kenyataan. Kita tidak usah terlalu berkutat dengan infrastruktur transportasi yang serba canggih dan mega proyek, karena sampai kapanpun, kalau pesepeda tidak digalakkan di Jakarta, maka Jakarta akan menjadi kota yang tidak layak untuk ditinggali karena macet, polusi, dan lain sebagainya.  Potensi besar ada di depan mata yang diberikan oleh komunitas bersepeda ini. Kita harus sadar dengan potensi ini agar jangan sampai potensi ini nantinya meredup karena tidak diurusin dengan serius. Mungkin potensi sepeda “tidak layak dijual hasilnya secara politis”, tetapi amat layak bagi kita untuk “menghargai nyawa sesama dan meredam polusi serta pemanasan global”. Jika kita belum bisa buktikan untuk mapu membangun transportasi modern massal, cepat, murah dan aman tidak bisa, kemudian tidak mampu juga membangun infrastruktur untuk pesepeda yang mudah dan murah, lantas kita bisanya apa?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jalan Lingkar Selatan Pati]]></title>
<link>http://pentingbanget.wordpress.com/2009/02/10/jalan-lingkar-selatan-pati/</link>
<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 02:31:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>nset</dc:creator>
<guid>http://pentingbanget.wordpress.com/2009/02/10/jalan-lingkar-selatan-pati/</guid>
<description><![CDATA[ini foto2 kemaren, baru release hari ini. sedang dikerjakan jalan lingkar (ringroad) selatan Pati, j]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>ini foto2 kemaren, baru release hari ini. sedang dikerjakan jalan lingkar (ringroad) selatan Pati, jalan ini untuk memecah kemacetan di Pati kota. <a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0502/23/mur08.htm" target="_blank">inpoh lengkap ada disini</a> , ane cuma kasih foto doang&#8230; sori poto2nya kurang informatip</p>
<div id="attachment_21" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://pentingbanget.wordpress.com/files/2009/02/020909084951.jpg"><img class="size-medium wp-image-21" title="020909084951" src="http://pentingbanget.wordpress.com/files/2009/02/020909084951.jpg?w=300" alt="Maap ambil gambarnya kurang deket" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Maap ambil gambarnya kurang deket</p></div>
<div id="attachment_22" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://pentingbanget.wordpress.com/files/2009/02/020909091218.jpg"><img class="size-medium wp-image-22" title="020909091218" src="http://pentingbanget.wordpress.com/files/2009/02/020909091218.jpg?w=300" alt="020909091218" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">jalan lingkar selatan pati dalam tahap pembangunan</p></div>
<div id="attachment_23" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://pentingbanget.wordpress.com/files/2009/02/020909091303.jpg"><img class="size-medium wp-image-23" title="jalan lingkar selatan pati" src="http://pentingbanget.wordpress.com/files/2009/02/020909091303.jpg?w=300" alt="jalan lingkar selatan pati dalam tahap pembangunan" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">jalan lingkar selatan pati dalam tahap pembangunan</p></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Macet dan VIP]]></title>
<link>http://oneunitedearth.com/2009/02/07/macet-dan-vip/</link>
<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 09:01:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>one united earth</dc:creator>
<guid>http://oneunitedearth.com/2009/02/07/macet-dan-vip/</guid>
<description><![CDATA[Saya baru saja melewati kemacetan yang lumayan parah. Biasanya perjalanan pulang pergi bisa ditempuh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Saya baru saja melewati kemacetan yang lumayan parah. Biasanya perjalanan pulang pergi bisa ditempuh]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
