<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>kisah-kehidupan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/kisah-kehidupan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "kisah-kehidupan"</description>
	<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 00:03:01 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[AHLI BATU]]></title>
<link>http://adri12bc.wordpress.com/2009/11/17/ahli-batu/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 06:11:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>adri12bc</dc:creator>
<guid>http://adri12bc.wordpress.com/2009/11/17/ahli-batu/</guid>
<description><![CDATA[Hiduplah seorang ahli batu yang sangat terkenal di China. Hasil karyanya tersohor di segenap penjuru]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Hiduplah seorang ahli batu yang sangat terkenal di China. Hasil karyanya tersohor di segenap penjuru]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[A Love Story Off Lizard]]></title>
<link>http://adri12bc.wordpress.com/2009/11/17/a-love-story-off-lizard/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 06:07:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>adri12bc</dc:creator>
<guid>http://adri12bc.wordpress.com/2009/11/17/a-love-story-off-lizard/</guid>
<description><![CDATA[Ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang. Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang menc]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang. Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang menc]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Jika Aku Menjadi"]]></title>
<link>http://elang114.wordpress.com/2009/11/01/jika-aku-menjadi/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 18:04:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>elang114</dc:creator>
<guid>http://elang114.wordpress.com/2009/11/01/jika-aku-menjadi/</guid>
<description><![CDATA[TransTV : Jika Aku Menjadi Transtv menghadirkan tayangan yang tak hanya menghibur, tapi juga memberi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[TransTV : Jika Aku Menjadi Transtv menghadirkan tayangan yang tak hanya menghibur, tapi juga memberi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dimana Letak Bahagia Anda?]]></title>
<link>http://adri12bc.wordpress.com/2009/10/20/dimana-letak-bahagia-anda/</link>
<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 01:01:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>adri12bc</dc:creator>
<guid>http://adri12bc.wordpress.com/2009/10/20/dimana-letak-bahagia-anda/</guid>
<description><![CDATA[Ditulis oleh: Anne Ahira &#8220;Tempat untuk berbahagia itu ada di sini. Waktu untuk berbahagia itu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ditulis oleh: Anne Ahira &#8220;Tempat untuk berbahagia itu ada di sini. Waktu untuk berbahagia itu ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[apai sihat]]></title>
<link>http://abunyer.wordpress.com/2009/10/06/apai-sihat/</link>
<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 09:28:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>abunyer</dc:creator>
<guid>http://abunyer.wordpress.com/2009/10/06/apai-sihat/</guid>
<description><![CDATA[Inilah fakta-fakta yang terdapat pada bungkusan pallet Apai. Wow! sihat segar bugar Apai selepas ni]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:left;">Inilah fakta-fakta yang terdapat pada bungkusan <em>pallet</em> Apai. Wow! sihat segar bugar Apai selepas ni&#8230; dengan mata yang terang <span style="text-decoration:line-through;">tak payah buat spek lagi dah.</span> Tulang yang kuat&#8230;. <span style="text-decoration:line-through;"><em>boleh buat kerja berat.</em></span><img class="aligncenter size-medium wp-image-213" title="apai01" src="http://abunyer.wordpress.com/files/2009/10/apai011.jpg?w=300" alt="apai01" width="371" height="292" /></p>
<p style="text-align:left;">Tulang kuat, gusi sihat, gigi kuat, penglihatan sihat, darah sihat&#8230;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Catatan tentang "The Kop Comes to Asia 2009" (1)]]></title>
<link>http://kakap.wordpress.com/2009/09/10/catatan-tentang-the-kop-comes-to-asia-2009/</link>
<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 03:00:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kurnia K.P. Pratomo</dc:creator>
<guid>http://kakap.wordpress.com/2009/09/10/catatan-tentang-the-kop-comes-to-asia-2009/</guid>
<description><![CDATA[You&#8217;ll Never Walk Alone. Bagi kami bukanlah semata sebuah jargon, bisa jadi adalah pegangan hi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>You&#8217;ll Never Walk Alone</em>.</p>
<p>Bagi kami bukanlah semata sebuah jargon, bisa jadi adalah pegangan hidup, penanda pengikat kebersamaan kami, pengingat manakala kami <em>down</em> serta sebuah ikrar tentang optimisme dan kesetiaan.</p>
<p>Saat kemudian terdengar rumor bahwa Liverpool FC (LFC) merencanakan tur ke Asia, rasanya, siapa sih yang tak ingin mengikuti panggilan janji di hati tuk menemani kemana pun LFC pergi. Apalagi tak perlu jauh-jauh ke Anfield. Cukup ke Bangkok atau Singapura yang hanya sekejapan mata. Menunggu datang ke Jakarta pun malah Surabaya, entah kapan bisa terlaksana.</p>
<p>Sempat memendam keinginan itu, karena ada beberapa hal yang perlu didiskusikan dengan Bundanya Alvaro. Eh, ternyata malah Bundanya Alvaro yang menawari di suatu pagi akhir April. “Yah, tadi ada berita kalo Liverpool maen ke Asia Tenggara, apa Ayah ndak berangkat?”.</p>
<p>Ah, masih nyusun rencana gimana ngomongnya, eh, malah dapat lampu hijau duluan. <em>I love you full</em>, dah …</p>
<p>Serta merta, langsung mendaftarkan diri di <a href="http://www.big-reds.org">thread forum</a>. Nyari tiket, saking terburunya malah gak sempat mbanding-mbandingin, tau-tau tiket air asia jakarta-singapura pp, dah ke klik ok. Padahal di kemudian hari, nyesel juga. Satu, ada yang lebih murah lagi, dan yang lebih penting, tampaknya lebih banyak anak Bigreds yang ngambil jalur yang lain. Padahal salah satu alasan ngambil Jakarta-Singapura adalah supaya lebih banyak interaksi dengan Bigreds, maklum event Gathernas Jogja akhir tahun lalu, tidak bisa ikutan karena pas jadi suami siaga.</p>
<p>Lantas, woro-woro ke sekretaris dan kolega kantor buat jadi <em>person in charge </em>waktu ditinggal cuti ntar. “Emang kapan cuti, Kap?”</p>
<p>“Akhir Juli”</p>
<p>“Ya, ntar aja kalo sudah dekat. Masih tiga bulan lagi lho.” Alamak, bodohnya …</p>
<p>Sebulan kemudian, datanglah berita awal kekacauan itu. Acara kantor yang seharusnya diadakan akhir Juni, harus digeser ke akhir Juli karena ngikutin si Prancis yang bisanya datang ke Indonesia akhir Juli. Dan acara yang di Surabaya, jadinya pas tanggal 28. Sehari pas dengan tiket balik Singapura-Jakarta yang sudah di tangan. Alamak, terancam gagal berangkat deh. Walhasil, woro-woro yang penuh kebodohan beberapa waktu yang lalu, malah jadi senjata.</p>
<p>Pokoknya tetep cuti, kan dah jauh hari bilangnya, kataku.</p>
<p>Gak papa sih, asal semua beres sebelum ditinggal cuti, kata mereka.</p>
<p>Yee…</p>
<p>Terpaksa seminggu sebelum keberangkatan, harus membereskan beberapa detil acara. Saking fokusnya, jangankan forum yang hanya diintip sesekali, tiket Surabaya-Jakarta pp malah lupa kalo belum punya. Ternyata kemudian banyak kemudahan. Jumat pagi tanggal 24 yang seharusnya sudah dihitung cuti, ternyata masih harus ke kantor buat serah terima kerjaan dengan para person in charge. Tiket Surabaya-Jakarta pp, yang awalnya keliatan bakal berburu go show langsung di bandara, malah klir karena diurusi sekretarisnya bos.</p>
<p>Nyampai di Cengkareng, iseng ngontak bro uda Havid, salah satu anak Bigreds yang sempat dinas di Surabaya. (Oia, sempet kasak-kusuk sebelumnya, tidak banyak anak Bigreds Surabaya yang berangkat. Ada bro Anand, tapi sama keluarga, serta bro Ucha yang belum jelas jadi apa ndak). Untung ga jadi nyasar ke terminal 3 ternyata malah dapat info kalo anak-anak Bigreds yang pake Tiger Air lagi ngumpul di terminal 2E. Untung yang kedua, meski belum ketemu ama bro Havid, ternyata Bro Rizal, salah satu pentolan BigReds, masih mengingatku padahal cuma ketemu sekali pas nobar Champion versus Madrid leg 1 waktu dines Jakarta tempo hari, dan padahal saat itu aku masih pakai baju kantoran belum sempat ber-merah-ria. Untung yang ketiga, dikenalin bro Rizal dengan para ‘kaum tersesat’ yang naik air asia. Bro Ihsan dan bro Syarief. Ah, bener-bener You’ll Never Walk Alone, dah&#8230;</p>
<p>Ganti baju, tukar SGD seperlunya lantas bertiga menuju keberangkatan Air Asia. <em>(to be continued)</em></p>
<p><em>(kkpp, 03/08/2009) </em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Melihat Belitong]]></title>
<link>http://sudharmayudha.wordpress.com/2009/09/09/melihat-belitong/</link>
<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 02:50:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>sudharmayudha</dc:creator>
<guid>http://sudharmayudha.wordpress.com/2009/09/09/melihat-belitong/</guid>
<description><![CDATA[Sekali waktu saya berkeinginan melihat tanah kelahiran saya Belitong secara ‘zoom out’. Fokus mulai ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sekali waktu saya berkeinginan melihat tanah kelahiran saya Belitong secara ‘zoom out’. Fokus mulai dari titik paling jauh hingga sampai kepada titik yang paling dekat. Seperti anak kecil melihat semut dengan kaca pembesar. Atau seperti kameraman tivi yang men &#8217;shoot&#8217;  lampu mercu suar pulau Lengkuas dari atas batu di tepian pantai TanjongBingak.</p>
<p>Astagfirullah. Ternyata cerita orang-orang itu benar adanya. Mata saya tak berkedip begitu menyaksikan tanah Belitong dari kaca jendela  pesawat. Disana-sini sarat dengan pemandangan yang mengiris hati. Bumi Belitong tampak bagaikan serdadu yang baru saja terkena ranjau musuh, penuh dengan bekas luka menganga disana sini.</p>
<p>Kawan, ingin rasanya saya mengambil seonggok tanah dan tanaman hijau sebenyak mungkin lalu menjatuhkannya dari atas pesawat untuk  menutup bekas luka menganga di atas  tubuh pulau tercinta kami ini. Segera. Saat ini juga.</p>
<p>Dalam hati saya sangat menyesal mengapa harus melihat pemandangan yang mengharukan sekaligus menyebalkan seperti ini. Beruntung saya tidak bisa menerbangkan pesawat, sebab sekiranya bisa&#8211;demi menghilangkan rasa kecewa dan menutupi rasa malu&#8211;boleh jadi arah penerbangan akan saya belokkan ke rute lain.  Suatu wilayah daratan lain di Pulau Belitong dimana masih terdapat hutan yang masih hijau royo-royo misalnya,  sehingga<br />
durasi dari pemandangan menyakitkan dan memalukan itu tak terlalu lama  &#8216;dinikmati&#8217; oleh seluruh crew pesawat dan para penumpang.</p>
<p>Singkat cerita akhirnya turunlah pesawat yang membawa saya itu ke Bandara Hananjuddin. Oleh karena begitu fokus  dengan apa yang saya lihat diatas tadi, akhirnya saya sampai melupakan tujuan semula saya ke Belitong.</p>
<p>Tapi baiklah, itu tak penting. Saya kesampingkan niat saya, mencoba menepis ego. Saya pikir yang penting saya harus membuat Belitong indah setidaknya bila dilihat dari atas pesawat. Saya maklum sekali bahwa kesan  &#8216;orang luar&#8217; tentang Belitong setelah mendengar kisah kunjungan, melihat foto-foto, menonton acara tivi atau iklan pariwisata adalah indah, indah dan indah. Terus terang saya tak ingin kisah tentang Belitong saling berlawanan antara fakta keindahaan pesisir pantainya di satu sisi serta kenyataan lain yang mengecewakan di wilayah pedalaman atau wilayah hutan rimba. Demikianlah suara idealisme saya yang muncul sejak duduk dikursi pesawat tadi hingga terperangkap dalam kesibukan ruang kedatangan Bandara.</p>
<p>Sebagai orang Belitong asli, rasa primordial kedaerahan yang membumbung  pada ketinggian 24000 kaki hingga &#8216;landing&#8217; di aspal Bandara &#8211;yang Alhamdulillah  mulus dan tak ada luka menganga ini&#8211;terlanjur sudah  sedemikian  terusik oleh pandangan tak sedap tadi. Terus terang  saya bisa menjadi begitu sensitif atau  mudah tersinggung bila pulau tempat kelahiran saya ini dipandang sebelah mata dan dianggap biasa-biasa saja &#8216;hanya&#8217; gara-gara serangkaian bekas luka menganga tadi.</p>
<p>Hari itu saya jadi tak berselera untuk menikmati sepiring mie Belitong dan segelas air perasan jeruk kunci atau berbicara dengan siapapun. Tekad saya hanya ingin segera menambal luka menganga yang merusak  wajah Belitong ini  di tempat manapun yang dapat saya tempuh.</p>
<p>Dengan mencarter &#8216;uto&#8217; berangkatlah saya melakukan safari kunjungan kerja. Mirip rombongan  Penilik Sekolah melakukan inspeksi mendadak ke SD-SD Inpres.</p>
<p>Sampailah saya kelokasi pertama. Sebuah tambang terbuka, sebuah lokasi penambangan timah. Disini tak Nampak pohon-pohon besar. Disini nyaris tak terdengar suara dahan yang gemeretak di sapu angina. Disini tak ada kicau burung bernyanyi sambil berteduh  merayapi ranting pohon dengan jenaka. Nyaris tak ada. Sepi. Disini suara alam tertelan oleh  lolongan mesin semprot dan mesin hisap yang naik turun terbawa angin.  Sementara sang angin pun tak sempat singgah di sela-sela dedanunan ia berputar sebentar menyapa ilalang dan rumput kering. Atau sesekali menyapu debu.</p>
<p>Mata saya kembali tak berkedip. Ternyata &#8216;luka menganga&#8217; yang saya lihat dari ketinggian 24000 kaki tadi adalah tempat  menggantungkan hidup bagi suatu komunitas penambang timah Itu saya saksikan langsung dari ketinggi 20 kali dari dasar tambang atau 300 meter dari pusat kegiatan. Semakin dekat jarak saya dengan mereka maka semakin saya sadar bahwa saya tak mampu untuk menutup  &#8216;luka menganga&#8217; yang saya saksikan di ketinggian tadi. Bahkan akhirnya timbul pemikiran saya yang lain. Benar-benar 180 derajat berputar arah.</p>
<p>Ternyata luka menganga ini adalah tempat yang sangat menjanjikan bagi saya untuk memutar modal. Menangguk rezeki dan meruap untung. Ah mengapa tak terpikirkan oleh saya sejak awal keberangkatan tadi. Saya tertawa dalam hati. Sungguh, betapa saya lambat menangkap peluang usaha.</p>
<p>Untuk dan sungguh-sungguh saya  bersyukur lamunan saya segera berhenti disitu.  Pikiran saya tak sampai kemana-mana. Selanjutnya saya tertegun dan menarik nafas panjang demi melihat beberapa orang anak kecil yang tengah asyik memisahkan gumpalan pasir dengan butiran lain berwarna kehitaman dan berkilau oleh terik matahari. Sedemikian asyiknya anak-anak itu, sehingga mereka seperti tak merasakan sengatan matahari yang sedemikian terik membakar kulitnya. Lupa akan air dan lumpur kotor yang tak henti menggerus kulit kaki dan tangannya yang mulus sepanjang hari. Lupa akan sesuatu yang sesungguhnya sangat ia butuhkan. Pendidikan.</p>
<p>Kembali saya naik keatas. Disebuah pohon seukuran lengan dan satu-satunya masih tersisa disitu, diatas ketinggian 20 kaki dibawah lubang menganga tadi, saya duduk dan berdiam diri cukup lama dan tek lepas menatapi mereka satu demi satu. Tak terasa air mata saya meleleh perlahan. Akhirnya saya jadi mengerti, ternyata kehidupan ini bukan hanya untuk &#8216;dipandangi&#8217; . Membahas sebuah persolan hidup ternyata tak segampang seperti mengurai benang kusut. Yang mana bila sehelai benang kusut tak terurai maka cukup dengan potong dan campakkan. Lalu ambil bagian yang masih terpakai.</p>
<p>Mengulas sebuah persoalan hidup pun tak segampang berdakwah diatas mimbar atau berdebat di meja perundingan.  Banyak sudut yang harus dihitung, banyak arah yang harus dijalani dan banyak celah yg harus dilebarkan.  Pemandangan &#8216;luka menganga&#8217; yang oleh anak-anak kecil tadi disebut kulong itu makin lama makin menyadarkan  kemampuan saya dan siapa diri saya sebenarnya.</p>
<p>Segera saya bergegas kembali ke uto carteran untuk secepatnya tiba dirumah. Bertemu dengan orang tua dan keluarga, kembali ke niat saya semula pulang ke Belitong. Yaitu bersilaturahmi.</p>
<p>( Ditulis pada 29 Mei 2007 )</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mari bersyukur]]></title>
<link>http://halamanmaya.wordpress.com/2009/08/18/mari-bersyukur/</link>
<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 01:19:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>pembelajaranku</dc:creator>
<guid>http://halamanmaya.wordpress.com/2009/08/18/mari-bersyukur/</guid>
<description><![CDATA[Pagi ini seperti biasa,kubaca-baca berita tanah air sekedar untuk tahu kabar teranyar negeriku. Saat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pagi ini seperti biasa,kubaca-baca berita tanah air sekedar untuk tahu kabar teranyar negeriku. Saat]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pelajaran dari Benu dan Santoso]]></title>
<link>http://halamanmaya.wordpress.com/2009/08/14/pelajaran-dari-benu-dan-santoso/</link>
<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 10:41:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>pembelajaranku</dc:creator>
<guid>http://halamanmaya.wordpress.com/2009/08/14/pelajaran-dari-benu-dan-santoso/</guid>
<description><![CDATA[Hari itu Jumat. Seperti biasa, benu sudah siap-siap pergi ke masjid &#8216;langganan&#8217;nya untuk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Hari itu Jumat. Seperti biasa, benu sudah siap-siap pergi ke masjid &#8216;langganan&#8217;nya untuk]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Think of it]]></title>
<link>http://rodof.wordpress.com/2009/06/21/think-of-it/</link>
<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 05:52:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>rodof</dc:creator>
<guid>http://rodof.wordpress.com/2009/06/21/think-of-it/</guid>
<description><![CDATA[Yeah I am back to wrote something again here after a long break and at this moment i would like to t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Yeah I am back to wrote something again here after a long break and at this moment i would like to talk about life about what we do everyday.Sometimes people come into your life and you know right away that they were meant to be there, to serve some sort of purpose, teach you a lesson, or to help you figure out who you are or who you want to become.</p>
<p>You never know who these people may be, your neighbor, your coworker, a long lost friend, or a complete stranger. When you lock eyes with them, you know at that very moment they will affect your life in some profound way.</p>
<p>Sometimes things happen to you that may seem horrible, painful, and unfair at first, but in reflection you find that without overcoming those obstacles you would have never realized your potential, strength, willpower, or heart.</p>
<p>Everything happens for a reason. Nothing happens by chance or by means of good luck.</p>
<p>Illness, injury, love, lost moments of true greatness, and sheer stupidity all occur to test the limits of your soul. Without these small tests, whatever they may be, life would be like a smoothly paved,straight, flat road to nowhere. It would be safe and comfortable, but dull and utterly pointless.</p>
<p>The people you meet who affect your life, and the success and downfalls you experience, help to create who you are and who you become.</p>
<p>Even the bad experiences can be learned from. In fact, they are probably the most poignant and important ones.</p>
<p>If someone hurts you, betrays you, or breaks your heart, forgive them, for they have helped you learn about trust and the importance of being cautious when you open your heart. If someone loves you, love them back unconditionally, not only because they love you, but because in a way, they are teaching you to love and how to open your heart and eyes to things.</p>
<p>Make every day count. Appreciate every moment and take from those moments everything that you possibly can for you may never be able to experience it again. Talk to people that you have never talked to before, and actually listen.</p>
<p>Let yourself fall in love, break free, and set your sights high. Hold your head up because you have every right to. Tell yourself you are a great individual and believe in yourself, for if you don&#8217;t believe in yourself, it will be hard for others to believe in you.</p>
<p>You can make of your life anything you wish. Create your own life and then go out and live it with absolutely no regrets.</p>
<p>Most importantly if you Love someone tell him or her, for you never know what tomorrow may have in store.</p>
<p>Learn a lesson in life each day that you live. That&#8217;s the story of Life. </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Wardah]]></title>
<link>http://cermin.indosiar.com/2009/06/15/cerita-hidup-2/</link>
<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 08:47:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://cermin.indosiar.com/2009/06/15/cerita-hidup-2/</guid>
<description><![CDATA[Namanya Wardah. Saat itu ia baru kelas dua SMP. Usianya belum lagi empat belas. Di saat anak-anak se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Namanya Wardah. Saat itu ia baru kelas dua SMP. Usianya belum lagi empat belas. Di saat anak-anak se]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Love Is Blind]]></title>
<link>http://rodof.wordpress.com/2009/05/27/love-is-blind/</link>
<pubDate>Wed, 27 May 2009 13:14:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>rodof</dc:creator>
<guid>http://rodof.wordpress.com/2009/05/27/love-is-blind/</guid>
<description><![CDATA[There was a blind girl who hated herself just because she&#8217;s blind. She hated everyone, except ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>There was a blind girl who hated herself just<br />
because she&#8217;s blind.</p>
<p>She hated everyone, except her loving boyfriend.<br />
He&#8217;s always there for her.</p>
<p>She said that if she could only see the world, she<br />
would marry her boyfriend.</p>
<p>One day, someone donated a pair of eyes to her and<br />
then she can see everything, including her boyfriend.</p>
<p>Her boyfriend asked her, &#8220;now that you can see the<br />
world, will you marry me?&#8221;<br />
The girl was shocked when she saw that her<br />
boyfriend is blind too, and refused to marry him.</p>
<p>Her boyfriend walked away in tears, and later wrote<br />
a letter to her saying.<br />
&#8220;Just take care of my eyes dear.&#8221;</p>
<p>This is how human brain changes when the status<br />
changed.</p>
<p>Only few remember what life was before, and who&#8217;s<br />
always been there even in the most painful situations.</p>
<p>*****Moral of the story******</p>
<p>Today before you think of saying an unkind word -<br />
Think of someone who can&#8217;t speak.</p>
<p>Before you complain about the taste of your food -<br />
Think of someone who has nothing to eat.</p>
<p>Before you complain about your husband or wife -<br />
Think of someone who&#8217;s crying out to God<br />
for a companion.</p>
<p>Today before you complain about life &#8211; Think of<br />
someone who went too early to heaven.</p>
<p>Before you complain about your children &#8211; Think of<br />
someone who desires children but they&#8217;re barren.</p>
<p>Before you argue about your dirty house, someone<br />
didn&#8217;t clean or sweep -<br />
Think of the people who are living in the streets.</p>
<p>Before whining about the distance you drive &#8211; Think<br />
of someone who walks the same distance with their feet.</p>
<p>And when you are tired and complain about your job -<br />
Think of the unemployed, the disabled and those who wished<br />
they had your job.</p>
<p>But before<br />
you think of pointing the finger or<br />
condemning another -<br />
Remember that not one of us are without sin and we<br />
all answer to one maker.</p>
<p>And when depressing thoughts seem to get you down -<br />
Put a smile on your face and thank God you&#8217;re alive<br />
and still around.</p>
<p>Life is a gift, Live it, Enjoy it, Celebrate it and fulfill<br />
it.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Love Of Father]]></title>
<link>http://rodof.wordpress.com/2009/05/27/love-of-father/</link>
<pubDate>Wed, 27 May 2009 12:56:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>rodof</dc:creator>
<guid>http://rodof.wordpress.com/2009/05/27/love-of-father/</guid>
<description><![CDATA[When the young man went to college, he decided to try out for the football team as a &#8220;walk-on.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>When the young man went to college, he decided to try out for the football team as a &#8220;walk-on.&#8221; Everyone was sure he could never make the cut, but he did. The coach admitted that he kept him on the roster because he always puts his heart and soul to every practice, and at the same time, provided the other members with the spirit and hustle they badly needed. The news that he had survived the cut thrilled him so much that he rushed to the nearest phone and called his father. His father shared his excitement and was sent season tickets for all the college games. This persistent young athlete never missed practice during his four years at college, but he never got to play in the game.<br />
It was the end of his senior football season, and as he trotted onto the practice field shortly before the big play off game, the coach met him with a telegram. The young man read the telegram and he became deathly silent. Swallowing hard, he mumbled to the coach, &#8220;My father died this morning. Is it all right if I miss practice today?&#8221;</p>
<p>The coach put his arm gently around his shoulder and said, &#8220;Take the rest of the week off, son. And don&#8217;t even plan to come back to the game on Saturday. Saturday arrived, and the game was not going well. In the third quarter, when the team was ten points behind, a silent young man quietly slipped into the empty locker room and put on his football gear. As he ran onto the sidelines, the coach and his players were astounded to see their faithful teammate back so soon.</p>
<p>&#8220;Coach, please let me play. I&#8217;ve just got to play today,&#8221; said the young man. The coach pretended not to hear him. There was no way he wanted his worst player in this close playoff game. But the young man persisted, and finally feeling sorry for the kid, the coach gave in.<br />
&#8220;All right,&#8221; he said. &#8220;You can go in.&#8221;<br />
Before long, the coach, the players and everyone in the stands could not believe their eyes. This little unknown, who had never played before was doing everything right. The opposing team could not stop him. He ran, he passed, blocked and tackled like a star. His team began to triumph. The score was soon tied. In the closing seconds of the game, this kid intercepted a pass and ran all the way for the winning touchdown. The fans broke loose. His teammates hoisted him onto their shoulders. Such cheering you&#8217;ve never heard!</p>
<p>Finally, after the stands had emptied and the team had showered and left the locker room, the coach noticed that the young man was sitting quietly in the corner all alone.<br />
The coach came to him and said, &#8220;Kid, I can&#8217;t believe it. You were fantastic! Tell me what got into you? How did you do it?&#8221;<br />
He looked at the coach, with tears in his eyes, and said, &#8220;Well, you knew my dad died, but did you know that my dad was blind?&#8221; , The young man swallowed hard and forced a smile, &#8220;Dad came to all my games, but today was the first time he could see me play, and I wanted to show him I could do it!&#8221;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Buying Time Of Love]]></title>
<link>http://rodof.wordpress.com/2009/05/27/buying-time-of-love/</link>
<pubDate>Wed, 27 May 2009 12:48:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>rodof</dc:creator>
<guid>http://rodof.wordpress.com/2009/05/27/buying-time-of-love/</guid>
<description><![CDATA[The man came home from work late again, tired and irritated, to find his 5 year old son waiting for ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>The man came home from work late again, tired and irritated, to find his 5 year old son waiting for him at the door.</p>
<p>Daddy, may I ask you a question?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yeah, sure, what is it?&#8221; replied the man.</p>
<p>&#8220;Daddy, how much money do you make an hour?&#8221;</p>
<p>&#8220;That&#8217;s none of your business! What makes you ask such a thing?&#8221; the man said angrily.</p>
<p>&#8220;I just want to know. Please tell me, how much do you make an hour?&#8221; pleaded the little boy.</p>
<p>&#8220;If you must know, I make $20.00 an hour.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh,&#8221; the little boy replied, head bowed.</p>
<p>Looking up, he said, &#8220;Daddy, may I borrow $10.00 please?&#8221;</p>
<p>The father was furious. &#8220;If the only reason you wanted to know how much money I make is just so you can borrow some to buy a silly toy or some other nonsense, then you march yourself straight to your room and go to bed. Think about why you&#8217;re being so selfish. I work long, hard hours everyday and don&#8217;t have time for such childish games.&#8221; The little boy quietly went to his room and shut the door.</p>
<p>The man sat down and started to get even madder about the little boy&#8217;s questioning. How dare he ask such questions only to get some money.</p>
<p>After an hour or so, the man had calmed down, and started to think he may have been a little hard on his son. Maybe there was something he really needed to buy with that $10.00, and he really didn&#8217;t ask for money very often.</p>
<p>The man went to the Door of the little boy&#8217;s room and opened the door. &#8220;Are you asleep son?&#8221; he asked.</p>
<p>&#8220;No daddy, I&#8217;m awake,&#8221; replied the boy.</p>
<p>&#8220;I&#8217;ve been thinking, maybe I was too hard on you earlier,&#8221; said the man. &#8220;It&#8217;s been a long day and I took my aggravation out on you. Here&#8217;s that $10.00 you asked for.&#8221;</p>
<p>The little boy sat straight up, beaming. &#8220;Oh, thank you daddy!&#8221; he yelled. Then, reaching under his pillow, he pulled out some more crumpled up bills. The man, since the boy already had money, started to get angry again. The little boy slowly counted out his money, then looked up at the man.</p>
<p>&#8220;Why did you want more money if you already had some?&#8221; the father grumbled.</p>
<p>&#8220;Because I didn&#8217;t have enough, but now I do,&#8221; the little boy replied.</p>
<p>&#8220;Daddy, I have $20.00 now. Can I buy an hour of your time?&#8221; </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ku Tinggalkan Hatiku]]></title>
<link>http://rodof.wordpress.com/2009/05/08/ku-tinggalkan-hatiku/</link>
<pubDate>Fri, 08 May 2009 06:02:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>rodof</dc:creator>
<guid>http://rodof.wordpress.com/2009/05/08/ku-tinggalkan-hatiku/</guid>
<description><![CDATA[Wahai… kerudung malam di sinar lentera bulan, kali ini kau biarkan aku teteskan air mata yang kuhara]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>W<img alt="" src="http://www.sandrophoto.com/wp-content/themes/ubminim/images/digital-photography-3.jpg" class="alignright" width="336" height="336" />ahai… kerudung malam di sinar lentera bulan, kali ini kau biarkan aku teteskan air mata yang kuharap tak akan pernah jatuh ke pipi, kau diamkan hatiku yang terseret arus getir mendalam seolah-olah aku memang layak mendapatkannya setelah itu…kau caci..kau maki…dan tertawa atas kekalahanku…</p>
<p>Dosa apa yang telah kulakukan hingga tiada lagi keramahan dari malam untukku… kau tahu…. biasanya kau tilami aku dengan hangat selimut malammu ketika aku tidur dan kau bisikkan doa di telingaku sambil mengecup keningku sebelum aku jatuh terperosok dalam mimpi-mimpi indah tentangmu yang selalu membuatku tersenyum keesokan paginya…hariku menjadi sempurna kala itu….</p>
<p>Tapi….kenapa hanya ucap kosong dan hampa pandangan mata yang sekarang kau sampaikan lewat angin, tak sudikah kau untuk sekedar mampir di warung hatiku hanya untuk ucapkan selamat tinggal, hinakah aku hingga kau ludahi wajah ini dengan sederet diam dan segudang acuh.. wahai kerudung malam yang kini temaram di atas kepalaku….</p>
<p>Aku tak dapat membencimu karena aku selalu mendoakanmu untuk bahagia walau sakit bagi hati menerima ini… tak sanggup aku untuk sebentar saja luapkan marah kepada sinar-sinar yang mewakili namamu dan membangunkan aku dari tidur lelap yang sudah lama kunantikan selama bertahun-tahun….</p>
<p>Baiklah…mungkin ini saatnya aku membiarkan tubuh ini terhantam petir yang memang ditakdirkan untuk membelah ragaku demi hilangkan kesedihanku… juga mungkin ini saatnya bagiku untuk membiarkan ombak laut selatan menelan dan menggulungku hingga kepala dan tubuh ini terkoyak-koyak oleh karang tajam dan terjal di dasar lautnya guna hapuskan sebuah nama di patrian hati ini…</p>
<p>Kini saatnya aku ucapkan selamat tinggal…biar mimpiku pergi bersama iringan suara suling gembala di atas kerbau ketika hujan turun biaskan pelangi untuk jalanku menuju keabadian.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mari Belajar Bahasa Iban]]></title>
<link>http://rodof.wordpress.com/2009/05/08/mari-belajar-bahasa-iban/</link>
<pubDate>Fri, 08 May 2009 04:57:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>rodof</dc:creator>
<guid>http://rodof.wordpress.com/2009/05/08/mari-belajar-bahasa-iban/</guid>
<description><![CDATA[Bahasa Iban sebenarnya mudah dipelajari dari kebanyakan bahasa2 etnik yang wujud di Sarawak. Buktiny]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignright" src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs029.snc1/3178_77772049394_550109394_1572312_5807728_n.jpg" alt="" width="180" height="245" /></p>
<p>Bahasa Iban sebenarnya mudah dipelajari dari kebanyakan bahasa2 etnik yang wujud di Sarawak. Buktinya seperti di bawah:- ) Saya translate dr BM ke BI(Bahasa Iban)</p>
<p>Makan &#8211; Makai<br />
Berjalan &#8211; Bejalai<br />
Jalan &#8211; Jalai<br />
Pulang &#8211; Pulai<br />
Panjang &#8211; Panjai<br />
Mandi &#8211; Mandi (Bukan Mandai) Hehehehe..</p>
<p>Antara perkataan2 yang yang biasa digunakan dalam bahasa Iban adalah:-</p>
<p>Aku/Saya &#8211; Aku<br />
Kamu/Awak &#8211; Nuan, Dik, Kuak (Perkataan Kuak hanya biasa digunakan pada sesetengah tempat ja)<br />
Dimana &#8211; Dini<br />
Kemana &#8211; Kini<br />
Kesana &#8211; Kin<br />
Kesini &#8211; Kitu<br />
Nadai &#8211; Tiada<br />
Ada &#8211; Bisi<br />
Tiada &#8211; Nadai<br />
Bagaimana &#8211; Baka ni<br />
Berapa &#8211; Berapa<br />
Sudah &#8211; Udah<br />
Belum &#8211; Bedau</p>
<p>Bahasa Iban pun sepertimana Bahasa Melayu, Bahasa english ataupun mana2 bahasa yang wujud di dunia ini ataupn apa2 bahasa yang seangkatan dengannya yang pasti ada mempunyai kata penghubung.. Di antara kata2 penghubungnya adalah seperti:-</p>
<p>dan &#8211; enggau<br />
atau &#8211; tauka<br />
serta &#8211; sereta                      <img alt="" src="http://www.borneoheadhunter.com/images/img09.jpg" class="alignright" width="302" height="344" /><br />
tetapi &#8211; tang<br />
malahan &#8211; taja pen<br />
sambil -sambil<br />
kerana -laban<br />
agar &#8211; ngarap ka<br />
meskipun, walaupun &#8211; taja pen<br />
sekiranya &#8211; enti sema<br />
jika &#8211; enti<br />
semasa &#8211; benong<br />
setelah &#8211; pengudah.</p>
<p>Perkataan Mudah yang biasa digunakan:-</p>
<p>Apa khabar? &#8211; Nama berita?<br />
Siapakah nama anda? &#8211; Sapa nama nuan?<br />
Siapa datang dengan anda? &#8211; Sapa enggau nuan?<br />
Berapakah harga barang ni? &#8211; Berapa rega utai tu?<br />
Dimana ___ ? &#8211; Dini alai ____ ?<br />
Anda dari mana? &#8211; Ari ni penatai nuan?<br />
Sekarang pukul berapa? &#8211; Pukul berapa diatu?<br />
Sekarang pukul 5 &#8211; Diatu pukul 5<br />
Saya mahu pulang &#8211; Ka pulai dulu<br />
Selamat lemai &#8211; Selamat petang<br />
Selamat pagi &#8211; Selamat pagi<br />
Selamat tengah hari &#8211; Selamat tengah hari<br />
Selamat malam &#8211; Selamat malam<br />
Selamat datang &#8211; Selamat datai / Selamat nemuai<br />
Selamat berkenalan &#8211; Selamat bekelala<br />
Bagus &#8211; Manah<br />
Jahat &#8211; Jai<br />
Cinta &#8211; Pengerindu<br />
Kekasih &#8211; Sulu<br />
Rindu &#8211; Lelengau<br />
Sayang &#8211; Sayau</p>
<p>Sulu tambahkan lagi perkataan dr BM-Bahasa Iban seperti di bawah:-<br />
# aksi &#8211; aksi<br />
# almari &#8211; jemari<br />
# anggur &#8211; anggur<br />
# bahasa &#8211; jako<br />
# bandar &#8211; bandar/pasar<br />
# bangku &#8211; bangku<br />
# bendera &#8211; bendera<br />
# bihun &#8211; bihun<br />
# biola &#8211; biola<br />
# biskut &#8211; kuie<br />
# bomba &#8211; bomba<br />
# boneka &#8211; patung<br />
# buat &#8211; gaga<br />
# buku &#8211; bup<br />
# bumi &#8211; bumi<br />
# cakera padat &#8211; cd<br />
# cawan &#8211; jak/cangkir<br />
# dewan &#8211; diwan<br />
# duka &#8211; merampau/seilu-ilu/mawa<br />
# dunia &#8211; dunya<br />
# falsafah &#8211; perinsip<br />
# gandum &#8211; gandum<br />
# garfu &#8211; serempang/gerepu<br />
# gereja &#8211; gerija<br />
# guru &#8211; pengajar<br />
# had &#8211; limit<br />
# huruf &#8211; urup<br />
# ini &#8211; tu<br />
# jawab &#8211; jawab<br />
# jendela &#8211; penyenguk<br />
# Khamis &#8211; Ari Empat<br />
# kamus &#8211; kamus<br />
# kapal &#8211; kapal<br />
# katil &#8211; katil<br />
# kaunter &#8211; kaunter<br />
# kelmarin &#8211; kemarik<br />
# kemeja &#8211; baju<br />
# kepala &#8211; palak<br />
# kereta &#8211; krita/moto<br />
# komputer &#8211; komputer<br />
# kongsi &#8211; kunsi<br />
# kuda &#8211; kuda<br />
# kuil &#8211; kuil<br />
# kurma &#8211; kurma<br />
# lif &#8211; lip<br />
# limau &#8211; limau<br />
# lori &#8211; lori<br />
# maaf &#8211; sori/ampun<br />
# mahal &#8211; mar<br />
# makmal &#8211; makmal<br />
# mangga &#8211; mangga/empelam<br />
# manusia &#8211; mensia<br />
# mentega &#8211; mentiga<br />
# mee/mi &#8211; mi<br />
# meja &#8211; mija<br />
# misai &#8211; sumit<br />
# miskin &#8211; mensekin/merinsa<br />
# muflis &#8211; bengkerap<br />
# nujum &#8211; manang<br />
# paderi &#8211; paderi<br />
# pau &#8211; pau<br />
# pesta &#8211; pati<br />
# pita &#8211; tip<br />
# pintu &#8211; pintu<br />
# raja &#8211; raja<br />
# roda &#8211; roda<br />
# roti &#8211; kuie/roti<br />
# sabun &#8211; sabun<br />
# sains &#8211; sain<br />
# sekolah &#8211; sekula<br />
# sama &#8211; sama<br />
# sengsara &#8211; merinsa<br />
# sepatu &#8211; kasut<br />
# soldadu &#8211; sedadu<br />
# Syurga &#8211; Serega<br />
# syukur &#8211; sukur<br />
# singgah &#8211; berenti/belelak<br />
# suka &#8211; keran<br />
# tangki &#8211; tangki<br />
# tauhu &#8211; tahu<br />
# tarikh &#8211; ari bulan<br />
# teh &#8211; tih<br />
# teko &#8211; cangku<br />
# televisyen &#8211; tibi<br />
# tin &#8211; tin<br />
# tuala &#8211; kain mandik<br />
# tukar &#8211; tukar<br />
# untuk &#8211; ungkup<br />
# utara &#8211; penyambang<br />
# warna &#8211; warna<br />
# waktu &#8211; masa<br />
# wira &#8211; staring<br />
# zaman &#8211; jeman</p>
<p>sekian, terima kasih <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>rodof@boy</p>
<p>TAMBAHAN :</p>
<p>Bahasa Iban &#8211; aram</p>
<p>B.M.- JOM</p>
<p>Bahasa Iban &#8211; kitai</p>
<p>B.M.- kita (lebih drp 2 orang)</p>
<p>Bahasa Iban &#8211; tua</p>
<p>B.M.- kita berdua</p>
<p>B.M : Jom, minum petang!</p>
<p>Iban : Aram, ngirup lemai!</p>
<p>BM : Balik dulu</p>
<p>Iban : Mupuk dulu</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hati Yang Tak Pernah Patah]]></title>
<link>http://rodof.wordpress.com/2009/05/08/hati-yang-tak-pernah-patah/</link>
<pubDate>Fri, 08 May 2009 00:35:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>rodof</dc:creator>
<guid>http://rodof.wordpress.com/2009/05/08/hati-yang-tak-pernah-patah/</guid>
<description><![CDATA[Hati yang Takkan Pernah Patah “Aku Penat”, begitu tulisan yang terbaca di status Yahoo Messenger (YM]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Hati yang Takkan Pernah Patah “Aku Penat”, begitu tulisan yang terbaca di status Yahoo Messenger (YM) seorang sahabat, ku ajukan sebuah pertanyaan, “Kenapa awak penat?”, ku duga pasti ini mengenai kisah cinta, mungkin dia cuba mengelak dari seseorang lalu menbisukan diri seribu bahasa, maka mengalirlah kisah kasih yang tak sampai.</p>
<p>Pernahkan anda mencintai seorang lawan jenis sedemikian hebatnya, sampai-sampai merasa bahwa inilah cinta sejati anda? Pernahkah anda merasakan bahwa ada seseorang yang sedemikian menariknya dan merasa bahwa ia adalah orang yang paling tepat tuk bersama-sama mengarungi hidup? Dan pernahkan pula anda merasa bahwa ternyata, cinta anda bertepuk sebelah tangan, harapan-harapan anda pupus terhempas realiti, dan kesedihan anda begitu menguasai jiwa? Malam-malam terlewati disertai air mata yang mengalir, hari-hari dilalui dengan kehampaan yang menyelimuti, dan anda hidup di dunia bagaikan sesosok mahluk tanpa nyawa yang sanubari menekan rasa sakit di dalam hati akibat cinta yang tak seindah harapan.Patah hati memang telah lama menjadi sumber inspirasi. Entah telah berapa banyak karya-karya sastra yang dibangunkan berdasarkan pengalaman pahit cinta ini. Lagu-lagu tercipta dengan indah ketika sang pengarang sedang merasakan kepedihan patah hati; puisi-puisi terlantun menyedihkan bertebaran menemani sang penyair yang sedang dirundung kesedihan patah hati; novel maupun cerpen mengalir menuturkan pedihnya patah hati.  Sadari saudaraku, bahwa sesungguhnya tak pantas kita merasa patah hati. Hati seorang muslim itu terlalu lembut tuk bisa patah. Hanya meraka yang memiliki hati yang keraslah yang mungkin merasakan patah hati. Hanya mereka yang menempuh jalan yang berlikulah yang pantas tuk patah hati. Mereka yang telah berusaha menapaki jalan lurus, tidak seharusnya dan tidak boleh merasa patah hati.  Ketika kita telah mengajukan lamaran dan mengajak seseorang tuk menikah dan ditolak, maka tidak perlu ia merasa patah hati. Nah..tu dia telah menjalankan suatu ibadah, membuktikan niat suci dalam hati, dan berusaha menjalani sunnah dengan menikah, dan menjaganya dari cara-cara yang tidak direhdoNya.  Ada pelajaran yang sangat berharga dari Bilal bin Rabah, muadzin kecintaan Rasulullah SAW tentang meminang. Ketika ia bersama Abu Ruwaihah menghadap Kabilah Khaulan, Bilal mengemukakan: “Saya ini Bilal, dan ini saudaraku. Kami datang untuk meminang. Dahulu kami berada dalam kesesatan kemudian Allah memberi petunjuk. Dahulu kami budak-budak belian, kemudian Allah memerdekakan…,” kata Bilal. Kemudian ia melanjutkan, “Jika pinangan kami Anda terima, kami panjatkan ucapan Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah). Dan kalau Anda menolak, maka kami mengucapkan Allahu Akbar (Allah Maha Besar).”  Bukankah sebagai seorang muslim, ketika ia telah meniatkan suatu kebaikan maka Allah kan mencatatnya sebagai suatu amalan, apalagi kalau dia telah menjalankannya. Terlepas dari apapun hasilnya.  Dari Abdullah bin Abbas r.a. berkata: Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya Allah mencatat segala hasanat (kebaikan) dan sayyiat (kejahatan) kemudian menjelaskan keduanya maka barangsiapa yang berniat akan melakukan kebaikan lalu dikerjakannya maka akan dicatat untuknya sepuluh hasanat mungkin ditambah hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih dari itu. Dan apabila ia berniat akan melakukan sayyiat (kejahatan) lalu tidak dikerjakannya maka Allah mencatat baginya satu hasanat dan jika niat itu dilaksanakannya maka ditulis baginya satu sayyiat.” (HR. Bukhari &#8211; Muslim)  Setiap orang berhak tuk menerima atau menolak pinangan, baik laki-laki maupun perempuan. Dan sudah seharusnya kita bisa berbesar hati dan bersikap dewasa dalam menerima segala keputusan. Apalagi keputusan menikah yang merupakan salah satu hal yang sangat besar.  Allah swt berfirman,  Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (QS. An-Nisaa’: 21)  Kalimat “mitsaqon ghalidza” atau “perjanjian yang kokoh” yang digunakan, sama persis seperti yang digunakan pada ayat,  Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: “Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud”, dan Kami perintahkan (pula), kepada mereka: “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu”, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. (QS. An-Nisaa’: 154)  Maka dari itu, jika pertimbangan yang mesti dilakukan terlalu hati-hati, dan keputusan yang harus diambil merupakan keputusan yang mungkin terasa berat (diterima sebagian pihak), maka haraplah maklum.  Yap, itu semua kita jalani atas landasan cinta kepada Allah. Bukankah itu semua kita jalani atas niat karena Allah semata, demi meraih ridhoNya, tuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Maka dari itu, tiada alasan bagi kita tuk merasa patah hati.  Sungguh Allah sangat menyayangi hamba-hambanya yang beriman,  Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisaa’: 29)  Dan sungguh Allah adalah zat yang maha mengetahui lagi maha bijaksana. Dan sudah barang tentu, Ia kan memberikan kita, pilihan yang terbaik menurutNya.  Semoga kita bisa bercermin dari kisah nabi Yusuf AS, ketika beliau dihadapkan pada cobaan besar dan ujian yang berat, bukan hanya sehari maupun dua hari, namun tahunan, dengan pilihan-pilihan yang serba terbatas. Dengarkanlah bagaimana perkataan beliau,  Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Yusuf: 100)  Ingat satu perkara ni, “Pejuang Cinta Takkan Pernah Kalah”, karena orientasi cinta yang ada pada dirinya adalah orientasi cinta yang menembus awan dunia dan bermuara pada cinta kepada Rabbnya. Semoga kita bisa menjadi “Pejuang Cinta Sejati”…Amin  tah apa apa aku merepek meraban tengah pagi buta ni&#8230;..</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cerita teman ku]]></title>
<link>http://rodof.wordpress.com/2009/05/07/cerita-teman-ku/</link>
<pubDate>Thu, 07 May 2009 18:45:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>rodof</dc:creator>
<guid>http://rodof.wordpress.com/2009/05/07/cerita-teman-ku/</guid>
<description><![CDATA[Dalam aku duduk diam jer dalam bilik ni ada bagusnya aku ceritakan suatu kisah menarik tapi hampeh y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://rodof.wordpress.com/files/2009/05/sara13.jpg?w=300" alt="Gambar Hiasan" title="Gambar Hiasan" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-8" /></p>
<p>Dalam aku duduk diam jer dalam bilik ni ada bagusnya aku ceritakan suatu kisah menarik tapi hampeh yang pernah aku lalui bersama rakan rakan sewaktu kami sedang makan di satu kedai makan ni&#8230;.mana lah tahu boleh menghilangkan tension seseorang yang jauh tu&#8230;&#8230;begini ceritanya :~</p>
<p>Apakah lembap lah kawan aku ni zul namanya bila perempuan di depan mata dah bagi renspon tetapi dia tidak berbuat apa2. Kejadian ini berlaku semalam , di mana aku dan rakan2 aku biasanya pada waktu malam akan lepak di restoran yang suasananya happening dan penuh awek2 cun heheheh. Anyway semasa sedang berbual-bual ada 3 orang wanita bertudung duduk berhampiran dengan kami . Si Zul ni position dia memang cun , memang betul-betul ke arah salah seorang perempuan yang aku kira lawa berbanding yang lain.</p>
<p>Aku dan member lain cuba memberi semangat dan menyakat member sebelah aku ni dengan cuba membuat pelbagai pendapat dan andaian seperti rupanya cantik seperti Aisyah dalam filem Ayat-ayat Cinta supaya dia boleh bergerak ke arah meja perempuan itu dan memulakan perbualan (approach). Perkataan seperti ” Slumber jer apa nak takut “, “Pergi jer ” , ” kalau dia tak layan buat muka tebal je lah ” , “klu dia tak layan ko belah jer naik keta BMW ni baru dia tahu ” atau ” ko tinggalkan no hp ko pada dia jer”</p>
<p>Semasa cuba memberi semangat pada member aku , member aku yang lain memberi tahu nisbah 1/10 perempuan akan bagi renspons jika anda meninggalkan no phone anda bermakna 10 kali anda cuba dan sekali sahaja ada renspons. Dalam diam rupanya Si ZUl ni sedang bermain mata dengan perempuan itu. Orang cakap dari mata jatuh ke hati.</p>
<p>Masa berlalu dan mereka ingin beredar apabila mereka lalu di sebelah meja kami untuk ke kaunter bayaran aku dan member aku yang lain suruh Zul ni pergi bayarkan sekali siap dah hulurkan duit kepada Zul untuk pergi membayar, malangnya si Zul ni hanya melihat sahaja.</p>
<p>Semasa mereka beredar dari restoran untuk menuju ke parking , si wanita itu memaling kepalanya untuk memandang si Zul sebanyak 2 kali ini bermakna dia sudah bagi renspons yang baik dan aku dan member2 lain suruh Zul ni pergi kejarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr perempuan itu untuk dapatkan no phone dia or bg no phone. Malangnya si Zul tidak berbuat apa2 …….sayang sekali meninggalkan peluang sebegitu.</p>
<p>Perempuan itu pergi begitu sahaja dengan kenderaan Viosnya dan Zul hanya melihat kereta itu pergi begitu sahaja. Sayang sekali……..</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bayang-Bayang Berwarna]]></title>
<link>http://cermin.indosiar.com/2009/05/07/bayang-bayang-berwarna/</link>
<pubDate>Thu, 07 May 2009 04:53:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://cermin.indosiar.com/2009/05/07/bayang-bayang-berwarna/</guid>
<description><![CDATA[Aku menyusuri panasnya aspal menuju perempatan Adi Sucipto, Solo seorang diri. Kutengok jam digital ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Aku menyusuri panasnya aspal menuju perempatan Adi Sucipto, Solo seorang diri. Kutengok jam digital ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ternyata Ayah itu MENAKJUBKAN !!!]]></title>
<link>http://adri12bc.wordpress.com/2009/05/07/ternyata-ayah-itu-menakjubkan/</link>
<pubDate>Thu, 07 May 2009 02:21:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>adri12bc</dc:creator>
<guid>http://adri12bc.wordpress.com/2009/05/07/ternyata-ayah-itu-menakjubkan/</guid>
<description><![CDATA[Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kes]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kes]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Belajar Mensyukuri]]></title>
<link>http://rsdnie.wordpress.com/2009/03/25/belajar-mensyukuri/</link>
<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 10:06:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>rsdnie</dc:creator>
<guid>http://rsdnie.wordpress.com/2009/03/25/belajar-mensyukuri/</guid>
<description><![CDATA[Terkadang kita lupa bahwa hidup ini begitu indah&#8230;   Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Terkadang kita lupa bahwa hidup ini begitu indah&#8230;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semuapermen yang dilihatnya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Dia melihat gerbang bertuliskan &#8220;Selamat Jalan&#8221;.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Itulah batas akhir lembah permen lolipop.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Lelaki itu bertanya kepada Bob, &#8220;Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat.&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, &#8220;Permennya saya lupa makan!&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">&#8220;Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya.&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">&#8220;Kenapa kamu memanggil saya?&#8221; tanya Bob.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">&#8220;Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali!&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Bib bercerita panjang lebar kepada Bob.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">&#8220;Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Kami tertawa bersama.&#8221; Bib menambahkan.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;"><br />Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, &#8220;Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia.&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Ia pun berkata dalam hati, &#8220;Waktu tidak bisa diputar kembali.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">&#8221; Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;"><br />Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab, &#8220;Saya akan bahagia nanti&#8230; nanti pada waktu saya sudah menikah&#8230; nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri&#8230; nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya&#8230; nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya&#8230; nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar&#8230; &#8220;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;"><br />Pemikiran ¡nanti&#8217; itu membuat kita bekerja sangat keras di saat ¡sekarang&#8217;. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa ¡nanti&#8217; bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa ¡nanti&#8217; bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa ¡nanti&#8217; bahagia itu.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Ritme hidup yang sangat cepat&#8230; target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu&#8230; tetap semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;"><br />Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;"><br />Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran; memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-size:12pt;">Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:navy;font-family:Times New Roman;font-size:9pt;"><strong>[dari seorang sahabat]<br />
</strong></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SEBUAH RENUNGAN BUAT KITA ]]></title>
<link>http://luthfiarif.wordpress.com/2008/12/26/sebuah-renungan-buat-kita/</link>
<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 02:17:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>luthfiarif</dc:creator>
<guid>http://luthfiarif.wordpress.com/2008/12/26/sebuah-renungan-buat-kita/</guid>
<description><![CDATA[dari milis tetangga 25 tahun yang lalu, Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal">dari milis tetangga</p>
<p class="MsoNormal">
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"><br />
25 tahun yang lalu,</span></p>
<p>Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan  Kania harus<br />
tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil.  Wali kami pun wali<br />
hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai.  Tanpa sungkem dan<br />
tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat.  Tapi aku<br />
masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi.<br />
Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami<br />
sederhana, ingin hidup bahagia.</p>
<p>22 tahun yang lalu,</p>
<p>Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku.  Ya,<br />
keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan.<br />
Seorang putri, kunamai ia Kamila.  Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna,<br />
maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna.  Kulitnya masih merah,<br />
mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan<br />
aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua<br />
Kania tak mau menerima kami.  Ya sudahlah.  Aku tak berhak untuk memaksa dan aku<br />
tidak membenci mereka.  Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan<br />
berubah.</p>
<p>19 tahun yang lalu,</p>
<p>Kamila ku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat<br />
atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak<br />
&#8220;Horeee, Iya bisa terbang&#8221;.  Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya.  Kembang<br />
senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah.  Dan Kania tak jarang<br />
berteriak,&#8221;Iya sayaaang,&#8221; jika sudah terdengar suara &#8220;Prang&#8221;. Itu artinya, ada yang<br />
pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca.<br />
Terakhir cermin rias ibunya yang pecah.  Waktu dia melompat dari tempat tidur ke<br />
lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental.  Dan dia cuma bilang &#8220;Kenapa semua<br />
kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?&#8221;</p>
<p>18 tahun yang lalu,</p>
<p>Hari ini Kamila ulang tahun.  Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar<br />
bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak<br />
membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi ja di pemain bola seperti<br />
yang sering diucapkannya.<br />
&#8220;Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola!&#8221; tapi aku tidak suka dia<br />
menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola..<br />
Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore.  Dan seperti yang sudah<br />
kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu.<br />
&#8220;Horee, Iya jadi pemain bola.&#8221;</p>
<p>17 Tahun yang lalu</p>
<p>Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah aja.<br />
Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana<br />
Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya.  Yang aku tahu,<br />
hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari sekolah.  Kulihat anakku<br />
sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin<br />
ketengah jalan.<br />
Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan<br />
&#8220;Iyaaaa&#8221;.  Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya<br />
berhenti di atas dua kakiku.  Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi.  Ya<br />
Tuhan, bagaimana ini.  Bayang-bayang yang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki,<br />
bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke<br />
rumah konsumen.  Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata &#8220;Coba kalau kamu<br />
tak belikan ia bola!&#8221;</p>
<p>15 tahun yang lalu,</p>
<p>Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan.  Uang pesangon habis untuk ke rumah<br />
sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur.<br />
Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak.  Aku hanya bisa<br />
membelainya.  Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah.<br />
Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu<br />
Kania ia hendak mencari ke luar negeri.  Dia ingin penghasilan yang lebih besar<br />
untuk mencukupi kebutuhan Kamila.  Diizinkan atau tidak diizinkan dia a kan tetap<br />
pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia.</p>
<p>13 tahun yang lalu,</p>
<p>Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya<br />
setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi.  Aku harus mempersiapkan uang untuk<br />
Kamila masuk SMP.  Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya.  Dengan<br />
segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. aku bekerja<br />
serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku.  Aku<br />
miris, menghadapi kenyataan.  Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia<br />
ingin menikmati dunianya.  Tapi keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan.<br />
Tapi aku harus kuat.  Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.</p>
<p>10 tahun yang lalu,</p>
<p>Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku.  Dan Kamila hanya sanggup<br />
berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan<br />
hinaan teman sebayanya.  Anakku cantik, seperti ibunya. &#8220;Biar cantik kalo kere ya<br />
kelaut aje.&#8221; Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar.  Tapi anakku memang sabar<br />
dia tidak marah walau tak urung menangis juga. &#8220;Sabar ya, Nak!&#8221; hiburku. &#8220;Pak, Iya<br />
pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!&#8221; pintanya padaku.  Dan aku menangis.<br />
Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku.<br />
Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku,<br />
ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku.  Dia tidak pernah<br />
menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.</p>
<p>7 tahun yang lalu,</p>
<p>Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku.<br />
Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku<br />
sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya.  Dan itu pula yang mem buat aku<br />
takut.  Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia.  Sulit baginya<br />
mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP.  Haruskah aku melepasnya karena<br />
alasan ekonomi.  Dia bilang aku sudah tua, tenagaku habis dan dia ingin agar aku<br />
beristirahat.  Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal.<br />
Setelah itu dia akan pulang,<br />
menemaniku kembali  dan membuka usaha kecil-kecilan.  Seperti waktu lalu, kali ini<br />
pun aku tak kuasa untuk menghalanginya.  Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik<br />
saja.</p>
<p>4 tahun lalu,</p>
<p>Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang.  Hampir tiga tahun dia di sana.  Dia<br />
bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya.<br />
Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk.<br />
Matanya tak pernah siratkan sinar baik.  Dia juga dikenal suka perempuan.  Dan<br />
nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat.  Dia bilang dia sudah ingin pulang.<br />
Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu.  Lebaran tahun ini dia akan berhenti<br />
bekerja.  Itu yang kubaca dari suratnya.  Aku senang mengetahui itu dan selalu<br />
menunggu hingga masa itu tiba.<br />
Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan<br />
untuk salat tahajjud.  Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap<br />
bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk manghrib<br />
berbunyi.  Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku.  Dan aku bangga.</p>
<p>3 tahun 6 bulan yang lalu,</p>
<p>Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia, kabarnya<br />
anakku ditahan.  Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami<br />
majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini.<br />
Aku menangis, aku tak percaya.  Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh.<br />
Lagipula kenapa dia harus membunuh.  Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk<br />
menyelamatkan anakku dari maut.  Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku<br />
selesai.  Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis.  Aku hanya bisa memohon agar<br />
anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.</p>
<p>2 tahun 6 bulan yang lalu,</p>
<p>Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah.  Dan dia<br />
harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya.  Aku tidak bisa<br />
apa-apa selain menangis sejadinya.  Andai aku tak izinkan dia pergi<br />
apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola<br />
apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri.<br />
wahai Allah kuatkan aku.  Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia.<br />
Anakku ingin aku ada di sisinya di saat terakhirnya.  Lihatlah, dia<br />
kurus sekali.  Dua matanya sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa<br />
daya kakiku tak ada.  Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke<br />
arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.<br />
&#8220;Bapak, Iya Takut!&#8221; aku memeluknya lebih erat lagi.  Andai bisa<br />
ditukar, aku ingin menggantikannya. &#8220;Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?&#8221;<br />
&#8220;Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak.  Iya tidak mau. Iya<br />
dipukulnya.  Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati.<br />
Iya tidak salah kan, Pak!&#8221; Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku.<br />
Masa mudanya hilang begitu saja.  Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu<br />
menuntut agar anakku dihukum mati.  Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat.<br />
Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak<br />
mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada<br />
wanita itu.</p>
<p>2 tahun yang lalu,</p>
<p>Hari ini, anakku akan dihukum gantung.  Dan wanita itu akan hadir melihatnya.  Aku<br />
mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku.  Tapi aku tak<br />
ingin melihatnya.  Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana. Petugas itu<br />
membuka papan yang diinjak anakku. Dan &#8216;blass&#8221; Kamilaku kini tergantung.  Aku tak<br />
bisa lagi menangis.<br />
Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah<br />
kaki menuju jenazah anakku.  Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis.  Aku<br />
mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis<br />
wajah yang kukenal. &#8220;Kania?&#8221;<br />
&#8220;Mas Har, kau . !&#8221;<br />
&#8220;Kau &#8230; kau bunuh anakmu sendiri, Kania!&#8221;<br />
&#8220;Iya? Dia..dia . Iya?&#8221; serunya getir menunjuk jenazah anakku.<br />
&#8220;Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar.&#8221;<br />
&#8220;Tidak &#8230; tidaaak &#8230; &#8221; Kania berlari ke arah jenazah anakku. Diguncang tubuh kaku<br />
itu sambil menjerit histeris.. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan<br />
secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari tiang<br />
gantungan.  Bunyinya &#8220;Terima kasih Mama.&#8221;<br />
Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.</p>
<p>Setahun lalu,</p>
<p>Sejak saat itu istriku gila.  Tapi apakah dia masih istriku.  Yang aku tahu, aku<br />
belum pernah menceraikannya.  Terakhir kudengar kabarnya dia mati bunuh diri.  Dia<br />
ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila.  Kata pembantu yang mengantarkan<br />
jenazahnya padaku, dia sering berteriak, &#8220;Iya sayaaang, apalagi yang pecah, Nak.&#8221;<br />
Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah hatiku.  Mungkin orang tua kita memang<br />
benar, tak seharusnya kita menikah. Agar tak ada kesengsaraan untuk Kamila anak<br />
kita.<br />
Benarkah begitu Iya sayang?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
