<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>kompeni &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/kompeni/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "kompeni"</description>
	<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 00:16:35 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Vereenigde Oostindische Compagnie (VoC)]]></title>
<link>http://rosmellix.wordpress.com/2009/09/16/vereenigde-oostindische-compagnie-voc/</link>
<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 02:08:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>rosmellix rosmelliac</dc:creator>
<guid>http://rosmellix.wordpress.com/2009/09/16/vereenigde-oostindische-compagnie-voc/</guid>
<description><![CDATA[Vereenigde Oostindische Compagnie The Dutch East India Company/Perserikatan Perusahaan Hindia Timur ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Vereenigde Oostindische Compagnie The Dutch East India Company/Perserikatan Perusahaan Hindia Timur ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kompeni Mandi Seminggu Sekali]]></title>
<link>http://alwishahab.wordpress.com/2009/03/11/kompeni-mandi-seminggu-sekali/</link>
<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 03:41:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>alwishahab</dc:creator>
<guid>http://alwishahab.wordpress.com/2009/03/11/kompeni-mandi-seminggu-sekali/</guid>
<description><![CDATA[Batavia pada masa VOC pernah dijuluki Venesia dari Timur. Venesia adalah kota di Italia yang dikelil]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Batavia pada masa VOC pernah dijuluki Venesia dari Timur. Venesia adalah kota di Italia yang dikelil]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[#131: Bagelen dan Mataram Kuno (Res:)]]></title>
<link>http://ayunara.wordpress.com/2009/03/10/131-bagelen-dan-tanah-mataram-res/</link>
<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 05:50:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusjohn</dc:creator>
<guid>http://ayunara.wordpress.com/2009/03/10/131-bagelen-dan-tanah-mataram-res/</guid>
<description><![CDATA[Judul: Bagelen dan Mataram Kuno Penulis: Radix Penadi Penerbit: Lembaga Study dan Pengembangan Sosia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#008000;"><strong><img class="alignright size-medium wp-image-424" title="bagelen" src="http://ayunara.wordpress.com/files/2009/03/bagelen.jpg?w=206" alt="bagelen" width="184" height="237" />Judul:</strong> Bagelen dan Mataram Kuno<br />
<strong>Penulis:</strong> Radix Penadi<br />
<strong>Penerbit:</strong> Lembaga Study dan Pengembangan Sosial dan Budaya<br />
<strong>Cetakan:</strong> 1988<br />
<strong>Tebal:</strong> 59 Halaman </span></p>
<p>Bagelen memiliki nilai dan karismatik sebagai sebuah wilayah. Wilayah yang luas -terdapat 20 kecamatan jika dibandingkan dengan kondisi administratif saat ini- dan terletak di Jawa Tengah bagian selatan (tepatnya di Yogyakarta) itu memiliki peranan yang sangat penting dalam sejarah tanah air. Operasi militer, perlawanan terhadap Kompeni, pembangunan candi (Prambanan dan Borobudur) merupakan beberapa bukti pentingnya wilayah tersebut.</p>
<p>Bukti-bukti kebesaran Bagelen tercatat sebagai berikut:<br />
1. di era Majapahit, Raja Hayam Wuruk pernah memerintahkan untuk menyelesaikan pembangunan candi makam dan bangunan para leluhur, menjaga serta merawatnya dengan serius (Negarakertagama);<br />
2. di era Demak, Sunan Kalijaga (anggota Wali Songo) mengunjungi Bagelen dan mengangkat muridnya, Sunan Geseng untuk berdakwah di wilayah Bagelen;<br />
3. di awal Dinasti Mataram, Panembahan Senopati menggalang persahabatan dengan para <em>kenthol</em> (tokoh-tokoh) Bagelen untuk menopang kekuasaannya.<br />
4. ditemukannya bukti-bukti sejarah, seperti Lingga (52 buah), Yoni  (13), stupa/Budhis (2), Megalith (22), Guci (4), Arca (38), Lumpang (24), Candi Batu atau berkasnya (8), Umpak Batu (16), Prasasti (3), Batu Bata (8), temuan lain (17), dan Umpak Masjid (20).<!--more--></p>
<p>Tapi pada akhirnya, Bagelen sebagai sebuah kawasan yang solid akhirnya terpecah seiring dengan ditandatanganinya <strong>Perjanjian Giyanti</strong> (<em>13 Februari 1755</em>) yang didesain oleh Kompeni Belanda untuk memecah Mataram menjadi dua kerajaan; Kasunanan Surakarta (Solo) dengan Sunan Paku Buwono III sebagai raja pertamanya, dan Kasultanan Yogyakarta dengan Sultan Hamengku Buwono I sebagai rajanya.</p>
<p>Sebagian masuk Solo, dan sisanya masuk Yogyakarta. Secara peradaban, Bagelen sudah terbelah.  Abad XIX (<em>1825-1830</em>), Bagelen ikut dalam Perang Jawa. 3000 prajurit Bagelen di bawah kendali Pangeran Ontowiryo menyokong perjuangan Pangeran Diponegoro yang terpusat di Tegalrejo, Magelang. Saking kuatnya perlawanan Bagelen, Kompeni Belanda sampai harus menggunakan taktik Benteng Stelsel, dengan mambangun 25 buah benteng di kawasan Bagelen.</p>
<p>Usaha Belanda untuk semakin memperlemah Bagelen dilanjutkan di tahun 1901. Tanggal 1 Agustus, Bagelen dihapus secara karesidenan dan dilebur ke dalam Karesidenan Kedu. Selanjutnya Bagelen hanya dijadikan sebagai sebuah kecamatan saja. Kemudian Belanda juga membangun jalur transportasi Purworejo-Magelang untuk memudahkan pengawasan. Belanda juga menempatkan batalion militer reguler dengan dibantu serdadu negro (Ambon?). Kebijakan ini sangat nyata untuk menghilangkan jati diri Bagelen sebagai sebuah kawasan yang sangat berakar.  Buku ringkas ini merupakan upaya penulis untuk melakukan rekonstruksi suatu aset nasional yang memiliki muatan lokal. Berikut penelusurannya:</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>LATAR BELAKANG MATARAM KUNO </strong></span></p>
<p>Di Jawa Tengah abad VIII &#8211; X, ada kerajaan besar, bernama Medang yang terletak di Poh pitu. Kerajaan ini luas, dikenal subur dan makmur. Pusat kekuasaan dibagi menjadi dua; Pertama, negara yang bersifat internasional dengan beragama Budha, diperintah oleh Dinasti Syailendra. Kedua, negara yang diperintah oleh sepupunya yang beragama Syiwa. Kedua kerajaan ini berada dalam satu istana, dan disebut <strong>Kerajaan Medang i Bhumi Mataram</strong>.  Berdasarkan prasasti berbahasa Melayu Kuno (Desa Sojomerto, Batang) memperkuat pendapat sejarawan Purbacaraka, bahwa hanya ada satu dinasti saja di Jawa Tengah, yakni Syailendra. Raja Sanjaya yang menganut Syiwa di kemudian hari menganjurkan putranya, Rakai Panangkaran untuk memeluk Budha.  Menurut catatan Boechori, epigraf dan arkeolog, Syailendra merupakan penduduk asli Indonesia. Hal ini juga diperkuat oleh prasasti Wanua Tengah III (Temanggung) yang memuat silsilah raja-raja Mataram lengkap dengan tahunnya.</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>ASAL-MULA RAJA SANJAYA DAN TANAH BAGELEN </strong></span></p>
<p>Berdasarkan prasasti Canggal (Sleman) menjelaskan: -ada sebuah pulau bernama Yawadwipa -negeri yang kaya raya akan padi, jewawut, dan tambang emas. -raja pertamanya : Raja Sanna. -setelah dia mangkat, diganti oleh ponakannya: Raja Sri Sanjaya  Menurut catatan seorang sejarawan, Raja Sanjaya mendirikan kerajaan di Bagelen, satu abad kemudian dipindah ke Wonosobo.   Sanjaya adalah keturunan raka-raka yang bergelar Syailendra, yang bermakna &#8220;<em>Raja Gunung</em>&#8220;, &#8220;<em>Tuan yang Datang dari Gunung</em>&#8220;. Atau, &#8220;<em>Tuan yang Datang dari Kahyangan</em>&#8220;, karena gunung menurut kepercayaan merupakan tempatnya para dewata.</p>
<p>Raja Sanjaya dikenal sebagai ahli kitab-kitab suci dan keprajuritan. Armada darat dan lautnya sangat kuat dan besar, sehingga dihormati oleh India, Irian, Tiongkok, hingga Afrika. Dia berhasil menaklukkan Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Kerajaan Melayu, Kemis (Kamboja), Keling, Barus, dan Sriwijaya, dan Tiongkok pun diperanginya (from &#8220;<em>Cerita Parahiyangan</em>&#8220;).</p>
<p>Area Kerajaan Mataram Kuno (Bagelen) berbentuk segitiga. Ledok di bagian utara, dikelilingi Pegunungan Menoreh di sisi Barat dan Pegunungan Kendeng di utara dan basisnya di pantai selatan dengan puncaknya Gunung Perahu (Dieng), di lembah Sungai Bagawanta (<em>Sungai Watukura, kitab sejarah Dinasti Tang Kuno 618-906</em>). Catatan dinasti Tiongkok tersebut diperkuat juga oleh Van der Meulen yang menggunakan kitab &#8220;<em>Cerita Parahiyangan</em>&#8221; dan &#8220;<em>Babad Tanah Jawi</em>&#8220;.</p>
<p>Bagelen merupakan hasil proses nama yang final. Bermula Galuh/Galih, menjadi Pegaluhan/Pegalihan, menjadi Medanggele, Pagelen, lalu jadilah Bagelen.   Dalam prasasti Tuk Mas (Desa Dakawu, Grabag-Magelang) yang menyebut adanya sungai yang seperti sungai Gangga, maka <em><strong>Medang i bhumi Mataram</strong></em> bermakna &#8220;<em>Medang yang terletak di suatu negeri yang menyerupai Ibu&#8221;</em> (lembah Sungai Gangga). Dieng diasumsikan sebagai Himalaya, Perpaduan Sungai Elo dan Progo disamakan sebagai Sungai Gangga, dan pegunungan Menoreh disamakan sebagai Pegunungan Widiya.</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>SILSILAH RAJA-RAJA MATARAM KUNO</strong></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-425" title="bagelen_1" src="http://ayunara.wordpress.com/files/2009/03/bagelen_1.jpg" alt="bagelen_1" width="477" height="342" /><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>(c)aGus John,</strong></span><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em>Lembah Ciangsana, 8 Maret 2009</em></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Asal Mula Pulau Bangka]]></title>
<link>http://mancung64.wordpress.com/2008/07/06/asal-mula-pulau-bangka/</link>
<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 10:22:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>mancung64</dc:creator>
<guid>http://mancung64.wordpress.com/2008/07/06/asal-mula-pulau-bangka/</guid>
<description><![CDATA[Sejarah mengungkapkan bahwa Pulau Bangka pernah dihuni oleh orang-orang Hindu dalam abad ke-7. pada ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://mancung64.files.wordpress.com/2008/07/bangka.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-31" src="http://mancung64.wordpress.com/files/2008/07/bangka.jpg?w=119" alt="" width="119" height="96" /></a>Sejarah mengungkapkan bahwa Pulau Bangka pernah dihuni oleh orang-orang Hindu dalam abad ke-7. pada masa Kerajaan Sriwijaya pula Bangka termasuk pula sebagai daerah yang takluk dari kerajaan yang besar itu. Demikian pula kerajaan Majapahit dan Mataram tercatat pula sebagai kerajaan-kerajaan yang pernah menguasai Pulau Bangka.<br />
Namun pada masa itu pulau Bangka baru sedikit mendapat perhatian, meskipun letaknya yang strategis ditengah-tengah alur lalu lintas setelah orang-orang daratan Asia maupun Eropa berlomba-lomba ke Indonesia dengan ditemukannya rempah-rempah. Kurangnya perhatian dari para bajak laut yang menimbulkan penderitaan bagi penduduknya.<br />
Untuk mengatasi kekacauan yang terjadi, Sultan Johor dengan sekutunya Sutan dan Raja Alam Harimau Garang. Setelah melakukan tugasnya dengan baik, juga mengembangkan Agama Islam ditempat kedudukannya masing-masing Kotawaringin dan Bangkakota. Namun sayangnya hal ini tidak berlangsung lama, kemudian kembali pulau Bangka menjadi sarang kaum bajak laut.<!--more--></p>
<p>Karena merasa turut dirugikan dengan dirampasnya kapal-kapalmya maka Sultan Banten mengirimkan Bupati Nusantara untuk membasmi bajak-bajak laut tersebut, kemudian Bupati Nusantara untuk beberapa lama memerintah Bangka dengan gelar Raja Muda. Diceritakan pula bahwa Panglima Banten, Ratu Bagus yang terpaksa mundur dari pertikaiannya dengan Sultan Palembang, menuju ke Bangka Kota dan wafat disana.<br />
Setelah Bupati Nusantara wafat, kekuasaan jatuh ketangan putri tunggalnya dan karena putrinya ini dikawinkan dengan Sultan Palembang, Abdurrachman (1659-1707), dengan sendirinya pulau Bangka menjadi bagian dari Kesultanan Palembang.<br />
Pada tahun 1707 Sultan Abdurrachman wafat, dan ia digantikan oleh putranya Ratu Muhammad Mansyur (1707-1715).</p>
<p>Namun Ratu Anum Kamaruddin adik kandung Ratu Muhammad Mansyur kemudian mengangkat dirinya sebagai Sultan Palembang, menggantikan abangnya (1715-1724), walaupun abangnya telah berpesan sebelum wafat, supaya putranya Mahmud Badaruddin menyingkir ke Johor dan Siantan, sekalipun secara formal sudah diangkat juga rakyat menjadi Sultan Palembang.</p>
<p>Tetapi pada tahun 1724 Mahmud Badaruddin dengan bantuan Angkatan Perang Sultan Johor merebut kembali Palembang dari pamannya.<br />
Kekuasaan atas pulau Bangka selanjutnya diserahkan oleh Mahmud Badaruddin kepada Wan Akup, yang sejak beberapa waktu telah pindah dari Siantan ke Bangka bersama dua orang adiknya Wan Abduljabar dan Wan Serin.<br />
Kemudian atas dasar Konversi London tanggal 13 Agustus 1814, Belanda menerima kembali dari Inggris daerah-daerah yang pernah didudukinya ditahun 1803 termasuk beberapa daerah Kesultanan Palembang. Serah terima dilakukan antara M.H. Court (Inggris) dengan K. Heynes (Belanda) di Mentok pada tanggal 10 Desember 1816.</p>
<p>Kecurangan-kecurangan, pemerasan-pemerasan, pengurasan dan pengangkutan hasil Timah yang tidak menentu, yang dilakukan oleh VOC dan Ingris (EIC) akhirnya sampailah pada situasi hilangnya kesabaran rakyat. Apalagi setelah kembali kepada Belanda. Yang mulai menggali timah secara besar-besaran dan ang sama sekali tidak memikirkan nasib pribumi. Perang gerilya yang dilakukan di Musi Rawas untuk melawan Belanda, juga telah membangkitkan semangat perlawanan rakyat di Pulau Bangka dan Belitung.<br />
Maka pecahlah pemberontakan-pemberontakan, selama bertahun-tahun rakyat Bangka mengadakan perlawanan, berjuang mati-matian utnuk mengusir Belanda dari daerahnya, dibawah pimpinan Depati Merawang, Depati Amir, Depati Bahrin, dan Tikal serta lainnya.</p>
<p>Kemudian istri Mahmud Badaruddin yang karena tidak serasi berdiam di Palembang diperkenankan suaminya menetap di Bangka dimana disebutkan bahwa istri Sultan Mahmud ini adalah anak dari Wan Abduljabar. Sejarah menyebutkan bahwa Wan Abduljabar adalah putra kedua dari abdulhayat seorang kepercayaan Sultan Johor untuk pemerintahan di Siantan, Abdulhayat ini semula adalah seorang pejabat tinggi kerajaan Cina bernama Lim Tau Kian, yang karena berselisih paham lalu melarikan diri ke Johor dan mendapat perlindungan dari Sultan. Ia kemudian masuk agama Islam dengan sebutan Abdulhayat, karena keahliannya diangkat oleh Sultan Johor menjadi kepala Negeri di Siantan.<br />
Sekitar tahun 1709 diketemukan timah, yang mula-mula digali di Sungai Olin di Kecamatan Toboali oleh orang-orang johor atas pengalaman mereka di semenanjung Malaka. Dengan diketemukannya timah ini, mulailah pulau Bangka disinggahi oleh segala macam perahu dari Asia maupun Eropa. Perusahaan-perusahaan penggalian timah pun semakin maju, sehingga Sultan Palembang mengirimkan orang-orangnya ke Semenanjung Negeri Cina untuk mencari tenaga-tenaga ahli yang kian terasa sangat diperlukan.</p>
<p>Pada tahun 1717 mulai diadakan perhubungan dagang dengan VOC untuk penjualan timah. Dengan bantuan kompeni ini, Sultan Palembang berusa membasmi bajak-bajak laut dan penyelundupan-penyelundupan timah. Pada tahun 1755 pemerintah Belanda mengirimkan misi dagangnya ke Palembang yang dipimpin oleh Van Haak, yang bermaksud untuk meninjau hasil timah dan lada di Bangka. Pada sekitar tahun 1722 VOC mengadakan perjanjian yang mengikat dengan Sultan Ratu Anum Kamaruddin untuk membeli timah monopoli, dimana menurut laporan Van Haak perjanjian antara pemerintah Belanda dan Sultan Palembang berisi :<br />
Sultan hanya menjual timahnya kepada kompeni<br />
Kompeni dapat membeli timah sejumlah yang diperlukan.<br />
Sebagai akibat perjanjian inilah kemudian banyak timah hasil pulau Bangka dijual dengan cara diselundupkan.<br />
Selanjutnya tahun 1803 pemerintah Belanda mengirimkan misi lagi yang dipimpin oleh V.D. Bogarts dan Kapten Lombart, yang bermaksud mengadakan penyelidikan dengan seksama tentang timah di Bangka.</p>
<p>Perjanjian Tuntang pada tanggal 18 September 1811 telah membawa nasib lain bagi pulau Bangka. Pada tanggal itu ditandatanganilah akta penyerahan dari pihak Belanda kepada pihak Inggris, dimana pulau Jawa dan daerah-daerah takluknya, Timor, Makasar, dan Palembang berikut daerah-daerah takluknya menjadi jajahan Inggris.<br />
Raffles mengirimkan utusannya ke Palembang untuk mengambil alih Loji Belanda di Sungai Aur, tetapi mereka ditolak oleh Sultan Mahmud Badaruddin II, karena kekuasaan Belanda di Palembang sebelum kapitulasi Tuntang sudah tidak ada lagi. Raffless merasa tidak senang dengan penolakan Sultan dan tetap menuntut agar Loji Sungai Aur diserahkan, juga menuntut agar Sultan menyerahkan tambang-tambang timah di pulau Bangka dan Belitung.</p>
<p>Pada tanggal 20 Maret 1812 Raffles mengirimkan Ekspedisi ke Palembang yang dipimpin oleh Jendral Mayor Roobert Rollo Gillespie. Namun Gillespie gagal bertemu dengan Sultan lalu Inggris mulai melaksanakan politik “Devide et Impera”nya. Gillespie mengangkat Pangeran Adipati sebagai Sultan Palembang denga gelar Sultan Ahmad Najamuddin II (tahun 1812).<br />
Sebagai pengakuan Inggris terhadap Sultan Ahmad Najamuddin II dibuatlah perjanjian tersendiri agar pulau Bangka dan Belitung diserahkan kepada Inggris. Dalam perjalanan pulang ke Betawi lewat Mentok oleh Gillespie, kedua pulau itu diresmikan menjadi jajahan Inggris dengan diberi nama “Duke of Island” (20 Mei 1812).</p>
<p>Sumber : Bangka ( AMCA :The Spirit of Budak Bangka )</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[GNW  di  Sarang  Kompeni]]></title>
<link>http://pathegalan.wordpress.com/2008/06/06/gnw-di-sarang-kompeni/</link>
<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 20:48:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>gunawanwe</dc:creator>
<guid>http://pathegalan.wordpress.com/2008/06/06/gnw-di-sarang-kompeni/</guid>
<description><![CDATA[Setelah beberapa hari berada di tempat ini baru sadar kalo ternyata ada banyak makanan Indonesia yan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://blogcoffee.net/img/Indonesia.jpg" alt="" width="63" height="41" /><img class="alignright" style="float:right;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/20/Flag_of_the_Netherlands.svg/800px-Flag_of_the_Netherlands.svg.png" alt="" width="57" height="38" />Setelah beberapa hari berada di tempat ini baru sadar kalo ternyata ada banyak makanan Indonesia yang diadopsi oleh pihak kompeni, baik itu karena hubungan masa lalu ataupun dibawa oleh Warga Suriname keturunan Jawa di sini. Tapi sayang rasa masakan indo-nya tetap gak karu-karuan, entah kokinya yang gak bisa masak ato lidah para menir belanda yang tidak bisa membedakan rasa.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari sedikit spik-spik dengan masyarakat sekitar diperoleh keterangan kalo memang tidak ada makanan khusus yang tipikal dari Belanda, mereka banyak “mengambil” dari tempat lain dan mengolahnya menjadi cita rasa belanda. Beberapa contoh makanan kita yang biasa bagi mereka (kaum londo) adalah :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Nasi goreng</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ajam smoor</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ajam pangang</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mihoen goreng</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bami goreng</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sambal boontje (buncis kali..!)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Atjar</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Foo yong hai</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tjap tjoy</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Loenpia</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kroepoek</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kalo dilihat ejaannya mirip dengan ejaan lama bhs indonesia, tulisannya memang asli seperti itu yang saya lihat.. mungkin lidah orang belanda agak keseleo kalo menyebutkan kata2 dalam bhs indonesia makanya nama makanannya agak nyerempet2 aneh dikit.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Nah, terus sekarang ada gak makanan dari Negeri Belanda yang diadopsi oleh masyarakat di Indonesia ?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ada tuh&#8230; Holland Bakery dan Martabak Holland<span> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">*Minggat*</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengganti Hari Libur]]></title>
<link>http://gresik.wordpress.com/2008/03/03/mengganti-hari-libur/</link>
<pubDate>Mon, 03 Mar 2008 15:32:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>peyek</dc:creator>
<guid>http://gresik.wordpress.com/2008/03/03/mengganti-hari-libur/</guid>
<description><![CDATA[Bisa jadi, tepa sliro itu hanya ada dalam ajaran moral, apalagi soal hormat menghormati antar umat b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div align="justify">
<div style="text-align:center;"><img src="http://gresik.wordpress.com/files/2008/03/libur-pengganti.jpg" alt="Libur" border="1" height="369" hspace="5" vspace="5" width="430" /></div>
</div>
<div align="justify">Bisa jadi, <i>tepa sliro</i> itu hanya ada dalam ajaran moral, apalagi soal hormat menghormati antar umat beragama, lha lihat saja <i>internal memo</i> di pabrik kumpeni itu, bagaimana <i>enteng</i>nya mengganti hari libur nasional yang sebagian besar adalah hari libur keagamaan di negeri ini.</div>
<div align="justify"></div>
<div align="justify">&#8220;Memang, kita ini memiliki banyak libur keagamaan, terlalu banyak bahkan!&#8221; begitu kata laki-laki yang sukanya bilang <i>&#8220;yes sir!&#8221;</i> tanpa <i>&#8220;no sir!&#8221;</i>, yang sedang berbagi meja dengan saya itu.</div>
<div align="justify"><i>This country has the third highest proportion of atheists and agnostics in the world, estimated to be between 43% and 80%</i>, begitu kata Zuckerman, jadi bukan mereka yang bikin aturan itu?, lantas, adakah priyayi bule ber-<a href="http://www.blankonlinux.or.id/" title="Hm..." target="_blank">blankon</a>?</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Awas, Kompeni Modern!]]></title>
<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/08/teuku-umar-vs-mafia-berkeley/</link>
<pubDate>Mon, 08 Oct 2007 01:04:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>ian</dc:creator>
<guid>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/10/08/teuku-umar-vs-mafia-berkeley/</guid>
<description><![CDATA[Masih ingat permainan Cublek-Cublek Suweng atau dongeng Ande-Ande Lumut? Dua itu adalah beberapa dar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://revolusibudaya.wordpress.com/files/2007/10/180px-umar_1.jpg" title="180px-umar_1.jpg"><img src="http://revolusibudaya.wordpress.com/files/2007/10/180px-umar_1.jpg" alt="180px-umar_1.jpg" align="right" height="186" width="158" /></a>Masih ingat permainan <em>Cublek-Cublek Suweng</em> atau dongeng <em>Ande-Ande Lumut</em>? Dua itu adalah beberapa dari warisan budaya tanah air yang sudah mulai tergerus jaman seiring makin seringnya lapisan bumi kita terguyur banjir. Permainan tradisional dan dongeng-dongeng lain pun semakin tipis tersisa di otak kita yang kini sudah dipenuhi oleh iPod, Paris Hilton, dan produk-produk milenium lainnya. Bagaimana pula dengan sejarah dalam buku PSPB yang kini telah berganti nama itu? Mungkin generasi muda kita juga sudah mulai melupakan cerita-cerita tentang bagaimana berkobarnya semangat para pahlawan berjuang memerdekakan negeri ini. Lebih parahnya, bahkan mungkin tidak hanya ceritanya tapi juga nama-nama para pahlawan negeri ini telah terhapus dari ingatan kita. Apakah ini menandakan kita mulai kehilangan semangat kebangsaan kita?</p>
<p>Tampaknya hal ini bukan hanya terjadi pada generasi muda kita melainkan juga pada generasi sebelum kita. Namun sebelum mencoba mengusik semangat kebangsaan generasi di atas kita, mari kita tengok kembali sebuah cerita seorang pahlawan yang cukup menarik dari Tanah Rencong. Ya, siapa yang tak kenal dengan Teuku Umar? <em>Well</em>, mungkin saja ada, tapi saya yakin hampir semua murid SD tahu siapa dia. Sejarah perang yang pernah dijalani Teuku Umar pastinya sudah banyak yang tahu. Saya tak akan menceritakan hal itu lagi karena memang bukan hal itu yang menggelitik nurani saya saat mendengarkan penjelasan seorang guru sejarah saat saya masih di sekolah dulu.<!--more--></p>
<p>Seperti biasa, sang guru mendongengkan kisah heroik sang pahlawan sampai pada suatu bagian yang menceritakan bahwa Teuku Umar sebagai prajurit yang tangguh pernah direkrut <em>Kompeni  </em>untuk menjadi <em>supervisor</em> sebuah gudang senjata yang dipakai untuk menjajah negeri ini. Karena Teuku Umar adalah seorang pribumi, <em>Kompeni </em>masih harus mengujinya dan melihat loyalitas dan totalitasnya terhadap <em>employer</em>. Suatu saat terjadi bentrokan bersenjata antara gerilyawan Indonesia dan <em>Kompeni</em>. Di saat itu, sebagai bawahan yang setia Teuku Umar ikut menembaki gerilyawan. Tentu saja Teuku Umar melakukan ini dengan sebuah rencana. Pahlawan kita ini bukan semata-mata berniat untuk turut menjajah negerinya sendiri, melainkan untuk meyakinkan <em>Kompeni</em> bahwa ia adalah telah benar-benar berada di pihak <em>Kompeni</em>. Dan benar saja, Teuku Umar semakin dipercaya untuk mengelola gudang senjata <em>Kompeni</em>. Suatu saat, tanpa sepengetahuan <em>Kompeni</em>, Teuku Umar yang bisa mengakses gudang senjata dengan mudah menyelundupkan senjata-senjata itu untuk pasukan gerilya sehingga mereka bisa menyerang balik <em>Kompeni</em>. Dengan ini meski Teuku Umar telah ikut menembaki bangsanya sendiri, ia melakukannya dengan penuh perhitungan demi kepentingan yang lebih besar.  Sampai di sini ceritanya berlanjut ke kehidupan modern paska kemerdekaan.</p>
<p><a href="http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&#38;menu=news_view&#38;news_id=8250" target="_blank" title="mafia1.JPG"><img src="http://revolusibudaya.wordpress.com/files/2007/10/mafia1.JPG" alt="mafia1.JPG" align="right" height="227" width="152" /></a>Singkatnya, dimulai di UI, terbentuklah suatu kelompok yang pada perkembangannya telah banyak mempengaruhi arah perjalanan bangsa ini secara makro, yang kemudian dikenal dengan <em>Mafia Berkeley</em>. Sumitro Djojohadikusumo yang, <em>purposely or not</em>, telah membuka jalan bagi <em>Kompeni </em>modern untuk menanamkan pengaruhnya di negeri ini. Melalui Ford Foundation mengalirlah dana untuk menyekolahkan orang-orang berpotensi negeri ini ke University of California Berkeley yang pada gilirannya memegang peranan penting dalam menentukan kebijakan-kebijakan ekonomi Indonesia. Sayangnya, kebijakan-kebijakan tersebut bukan ditujukan untuk kemajuan masyarakat banyak namun untuk mengeksploitasi kekayaan Indonesia. Berikut kutipan sebuah <a href="http://kau.or.id/index.php?option=com_content&#38;task=view&#38;id=59" target="_blank">artikel </a>di website KAU (Koalisi Anti Utang), &#8220;<em>Dalam masa studinya, sebagaimana ditulis David Ransom (</em>Ramparts<em>, Oktober 1970), kelompok ini dicekoki teori-teori liberal, yang percaya bahwa ekonomi berorientasi pasar adalah jalan terbaik untuk kemajuan Indonesia. Doktrin ini mengajarkan, Indonesia hanya bisa duduk sejajar dengan negara maju lainnya, jika mengintegrasikan diri ke dalam sistem kapitalisme global</em>.&#8221;</p>
<p>Dari apa yang terjadi di dua masa yang berbeda ini, kita juga bisa melakukan sedikit <em>compare-and-contrast</em> antara Teuku Umar dan <em>Mafia Berkeley</em> ini. Kesamaan: Teuku Umar dan <em>Mafia Berkeley</em> sama-sama pernah bekerjasama dengan pihak luar. Keduanya mengemban tugas penting dan menerima kepercayaan yang cukup besar di dalamnya. Perbedaan: Teuku Umar menggunakan kesempatan kerjasama ini sebagai sebuah jalan demi kepentingan bangsanya. Sedangkan <em>para Mafia Berkeley</em> malah keasyikan dengan ajaran guru-guru mereka sampai lupa bahwa sekembalinya ke tanah air mereka seharusnya memutar balik keadaan. Yang ada mereka justru keterusan mengeksploitasi bangsa sendiri lebih jauh. Kepatuhan terhadap guru mereka yang seharusnya hanya ada di meja belajar benar-benar teraplikasikan di lapangan. Di saat bangsa ini berjuang untuk menjadi sebuah negara yang benar-benar <em>independent</em> dan berdaulat, rencana akan dibubarkannya CGI dan juga pelepasan Indonesia dari IMF bukanlah hal yang menyenangkan bagi mereka. Hutang negara adalah salah satu jalan yang membuat mereka kaya. Sistem perekonomian di Indonesia telah dirancang sedemikian rupa dan disokong oleh kekuatan-kekuatan kapitalis Barat yang dengan cara apapun yang bertujuan untuk mengeruk kekayaan tidak hanya di Indonesia tapi juga di semua negara dunia ketiga.</p>
<p>Ironis memang, tapi itulah yang kita hadapi: segelintir bangsa sendiri yang diam-diam meracuni kita. Membedakan musuh yang <em>Kompeni </em>adalah mudah karena warna rambut dan seragam mereka berbeda. Membedakan bangsa sendiri yang bekerja sama dengan <em>Kompeni </em>itu yang sulit. Warna rambut, kulit, dan mata mereka sama seperti kita. Kita harus siap untuk menghadapi mereka secara intelektual. Jangan mudah kita mempercayai rayuan dollar. Jangan mudah kita terlena oleh bantuan luar negeri. Bohong kalau ada bantuan luar negeri yang tidak ditumpangi rencana dibalik dollar. Maka, kalau Teuku Umar dulu memakai rencong, senjata kita sekarang adalah ilmu pengetahuan. Yang kita perjuangkan masih sama: integritas bangsa ini. Jangan sampai segelintir mafia itu menguasai negeri ini (lagi). Awas, <em>Kompeni </em>Modern! Kalau sudah begini, Revolusi Budaya adalah jawabannya!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
