<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>konflik &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/konflik/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "konflik"</description>
	<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 12:18:08 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[MEMAHAMI  SIKAP  PRESIDEN ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/28/memahami-sikap-presiden/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 02:42:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/28/memahami-sikap-presiden/</guid>
<description><![CDATA[Presiden telah berbicara kepada rakyat terkait Bank Century dan sikap atas kasus Chandra-Bibit, Seni]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/hikmahanto-juwana.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-3332" title="hikmahanto juwana" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/hikmahanto-juwana.jpg?w=111" alt="" width="111" height="150" /></a>Presiden telah berbicara kepada rakyat terkait Bank Century dan sikap atas kasus Chandra-Bibit, Senin (23/11) malam.</p>
<p>Atas kasus Chandra-Bibit, ada tiga hal penting dari sikap Presiden.</p>
<p><em>Pertama</em>, bila tidak diteruskan ke pengadilan, kasus itu lebih banyak manfaat daripada mudaratnya. Alasannya, tidak cukup bukti dan memerhatikan aspek sosial. Dalam bagian ini, Presiden menyatakan tidak akan memasuki wilayah kepolisian dan kejaksaan. Namun, Presiden menginstruksikan agar Kepala Polri maupun Jaksa Agung melakukan penertiban dan pembenahan di instansi masing-masing.</p>
<p><em>Kedua</em>, perlunya tindakan korektif atas instansi penegak hukum, Polri, kejaksaan, dan KPK sehingga proses hukum dapat dipercaya dan memenuhi rasa keadilan.</p>
<p><em>Ketiga</em>, Presiden mencanangkan dilakukan pemberantasan mafia hukum.</p>
<p><strong>Memahami permasalahan</strong></p>
<p>Banyak pihak melihat kasus Chandra-Bibit sebagai konflik institusi, antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di satu pihak dan Polri serta Kejaksaan Agung di lain pihak. Tidak heran jika pada pertemuan di Komisi III DPR, para petinggi KPK, Polri, dan, kejaksaan diminta berfoto bersama agar masyarakat melihat tidak ada konflik pada institusi yang mereka pimpin.</p>
<p><!--more-->Di masyarakat pun, yang dinanti dari jawaban Presiden adalah pada institusi hukum mana Presiden akan memihak.</p>
<p>Padahal, kejaksaan, Polri, maupun KPK adalah institusi negara. Ketiga institusi ini merupakan anak kandung republik. Bahkan, Polri dan kejaksaan hingga akhir zaman tetap dibutuhkan keberadaannya dan tidak dapat dikerdilkan perannya.</p>
<p>Pokok kasus Chandra-Bibit adalah pada proses hukum yang dilakukan para pejabat hukum di kepolisian dan kejaksaan. Para pejabat adalah manusia, yang menduduki jabatan yang menentukan bagaimana institusi hukum dipersepsikan masyarakat.</p>
<p>Kini, atas sejumlah kasus, kepercayaan publik kepada pejabat, kepolisian, dan kejaksaan ada pada titik terendah. Sebaliknya, kepada KPK, kepercayaan publik amat tinggi. Karena itu, saat Chandra-Bibit disangka memeras dan menyalahgunakan wewenang, meski polisi dan jaksa yakin, masyarakat tidak yakin.</p>
<p>Publik merasa ada “rekayasa” yang dilakukan penyidik dan penuntut hukum atas Chandra-Bibit. Bukti tak cukup, tapi dipaksakan agar dimejahijaukan. Ini menimbulkan krisis kepercayaan terhadap proses hukum yang sedang berjalan.</p>
<p>Ketidakpercayaan publik inilah yang mendorong Presiden membentuk Tim Independen Verifikasi Fakta dan Proses Hukum atas Kasus Chandra-Bibit yang dikenal dengan Tim 8. Verifikasi proses hukum untuk dua hal mendasar. Presiden membutuhkan pendapat lain atas proses hukum yang sedang berjalan meski pendapat itu bukan tandingan dari yang dilakukan penyidik atau penuntut umum.</p>
<p>Kedua, Presiden perlu memvalidasi atas kecurigaan masyarakat. Validasi ini penting guna menepis distrust dan mistrust masyarakat terhadap penegak hukum.</p>
<p><strong>Proses hukum</strong></p>
<p>Dari sejumlah kasus yang muncul, proses hukum yang dilakukan para pejabat hukum kerap menjadi perbincangan masyarakat. Ini terjadi karena proses hukum yang dijalankan dianggap tidak sejalan dengan rasa keadilan masyarakat. Ini yang disampaikan dalam sikap Presiden. Salah satunya, perkara nenek Minah yang divonis 1,5 bulan kurungan karena mencuri tiga buah kakao.</p>
<p>Masyarakat bertanya, apakah para pejabat hukum harus memproses kejahatan yang dilakukan nenek Minah ? Apakah upaya yang dilakukan para penegak hukum setimpal dengan perbuatan yang dilakukan nenek Minah ? Apakah pihak yang melaporkan memiliki kepentingan untuk memastikan agar nenek Minah diberi ganjaran ?</p>
<p>Kejadian itu kerap terjadi pada masyarakat. Para sopir truk akan dicari-cari kesalahannya oleh oknum polisi lalu lintas agar memberi sejumlah uang. Demikian pula belakangan beredar istilah “ATM Berjalan” bagi oknum kejaksaan dan kepolisian yang melakukan proses hukum terhadap seseorang dalam kedudukan sebagai saksi, tersangka, maupun terdakwa.</p>
<p>Bahkan, pascapemutaran rekaman sadapan atas Anggodo Widjojo di Mahkamah Konstitusi, masyarakat kian paham bagaimana perkara dapat diatur oleh orang yang diduga sebagai makelar kasus. Makelar kasus bia membebaskan atau meringankan pelaku pidana yang seharusnya dihukum. Namun, makelar kasus juga bisa memastikan seseorang yang tidak seharusnya dihukum agar dihukum.</p>
<p>Ini semua menunjukan kenyataan di Indonesia ada persoalan dalam proses hukum, bahkan tidak terkecuali di KPK. KPK kerap dikritik karena melakukan proses hukum secara tebang pilih. Selain itu, KPK kerap melakukan penahanan pada tahap penyidikan dan penuntutan terhadap orang yang sebenarnya tidak perlu ditahan. Di sinilah isu pokok yang perlu didengar masyarakat saat Presiden menyampaikan keputusannya terkait kasus Chandra-Bibit. Keputusan Presiden sama sekali dan tidak seharusnya ditafsirkan sebagai Presiden akan berpihak pada institusi hukum mana.</p>
<p>Kini saatnya publik menanti sensitivitas Polri dan kejaksaan untuk menindaklanjuti apa yang menjadi sikap Presiden. Presiden juga telah menyampaikan langkah-langkah agar proses hukum bisa dipercaya dan paralel dengan rasa keadilan masyarakat.</p>
<p>Kasus Chandra-Bibit telah menjadi entry point agar ke depan publik memiliki kepercayaan pada proses hukum mulai dari hulu hingga ke hilir. Kepercayaan ini penting mengingat dewasa ini sistem hukum bukan sekadar ornamen atau pajangan belaka.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Memahami Sikap Presiden, Hikmahanto Juwana &#124; Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Indonesia, Mantan Anggota Tim 8<br />
Kompas, 24.11.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AKUNTABILITAS  DAN  PERUBAHAN ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/28/akuntabilitas-dan-perubahan/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 02:28:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/28/akuntabilitas-dan-perubahan/</guid>
<description><![CDATA[Pemerintahan bersih adalah syarat kemajuan suatu bangsa. Pemerintahan korup menyebabkan kemiskinan, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/haryatmoko.gif"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-3340" title="haryatmoko" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/haryatmoko.gif?w=116" alt="" width="116" height="150" /></a>Pemerintahan bersih adalah syarat kemajuan suatu bangsa. Pemerintahan korup menyebabkan kemiskinan, diskriminasi, dan konflik.</p>
<p>Indonesia masih terpuruk dalam sistem yang memudahkan penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Upaya perbaikan sistem dan pemberantasan korupsi menghadapi kendala karena sering kuat di gagasan, tetapi lemah merancang modalitas. Pilihan modalitas menentukan perubahan ke arah akuntabilitas. Padahal, upaya melembagakan akuntabilitas diperlukan.</p>
<p>Akuntabilitas harus mendapat prioritas karena mampu memperbaiki layanan publik. Upaya perbaikan sering mengalami kegagalan karena rancangan dan implementasi. Jika rancangan teruji, implementasi memerlukan momentum. Pilihan momentum ini cenderung diabaikan.</p>
<p>Kasus “cicak lawan buaya” seharusnya menjadi momentum pembaruan sistem penegakan keadilan. Karena tidak cepat bertindak, Presiden membiarkan lewat momentum pembaruan. Menolak campur tangan langsung karena menghormati proses hukum justru memberi kesan kentalnya muatan politik atas kasus itu. Padahal, pertaruhannya ialah akuntabilitas pelayanan publik dan penegakan keadilan.</p>
<p><strong>Akuntabilitas</strong></p>
<p>Akuntabilitas mendorong transparansi sehingga tindakan melawan hukum dan moral atau cara-cara tidak adil diketahui dan dikenai sanksi. “Akuntabilitas adalah nilai dasar sistem politik. Warga negara berhak mengetahui tindakan pemerintah karena kekuasaan itu mandat rakyat. Warga negara mempunyai satana untuk mengoreksi saat pemerintah melakukan sesuatu yang melawan hukum dan moral atau cara-cara tidak adil. Tiap warga negara berhak menuntut ganti rugi jika hak-hak mereka dilanggar pemerintah atau tidak mendapat layanan memadai yang seharusnya diterima&#8221; (B Guy Peters, 2007 : 15).</p>
<p><!--more-->Ada dua bentuk akuntabilitas menurut Guy Peters. <em>Pertama</em>, akuntabilitas sebagai tuntutan terhadap organisasi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan. Harus ada laporan terbuka terhadap pihak luar atau organisasi mandiri (legislator, auditor, publik) yang dipublikasikan. Peran Mahkamah Konstitusi menyingkap dugaan rekayasa kasus Bibit-Chandra amat bermakna. Bentuk akuntabilitas ini tidak lain adalah transparansi. Pengertian akuntabilitas yang pertama menekankan pentingnya institusi yang adil guna mendorong perilaku pejabat agar sesuai etika dengan memungkinkan pihak luar organisasi pemerintah mengidentifikasi, mempertanyakan, dan mengoreksi yang terjadi. Jadi kontrol dari luar memungkinkan mengorganisasi tanggung jawab melalui sanksi dan imbalan.</p>
<p><em>Kedua</em>, akuntabilitas dalam kerangka tanggung jawab, yaitu menjamin perilaku pejabat agar sesuai deontologi yang mengatur pelayanan publik. Akuntabilitas jenis ini lebih menekankan nilai-nilai yang telah dibatinkan sebagai pelayan publik sesuai tuntutan etis. Akuntabilitas ini menolong mempertajam makna tanggung jawab. Bentuk ini mengandaikan adanya sistem layanan publik yang telah terlembagakan secara baik. Kurangnya komitmen terhadap standar perilaku dan kelemahan dalam mengontrol kepentingan diri atau kelompok akan membahayakan sistem pelayanan publik yang sudah berjalan baik.</p>
<p><strong>Dilema moral dan politik</strong></p>
<p>Tampaknya pemerintah belum memiliki sistem pelayanan publik yang terlembagakan secara baik. Maka argumen menolak campur tangan langsung dalam proses hukum kasus “cicak lawan buaya” sebetulnya bentuk pengandaian keliru, seolah ada sistem yang sudah terlembaga secara baik. Pengandaian ini menjadi titik lemah karena, <em>pertama</em>, meski di tingkat wacana ada semangat melawan mafia peradilan, de facto perbaikan sistem penegakan keadilan dikurbankan dengan mempertahankan pejabat bermasalah.</p>
<p><em>Kedua</em>, mengandaikan komitmen standar perilaku pejabat, padahal kasus ‘cicak lawan buaya” sarat kepentingan. <em>Ketiga</em>, makelar kasus bukan kasus terpisah. Ia bagian reproduksi tindakan dan penguatan struktur busuk.</p>
<p>Dengan mereproduksi unsur-unsur struktural yang korup, pelaku memperkuat situasi yang memudahkan korupsi dan mengatur perkara. Struktur korup tidak lepas dari andil pelaku, dalam kesadaran refleksif dan praktis.</p>
<p>Dalam menyeleksi informasi, pelaku mengatur syarat-syarat sistem reproduksi. Artinya, apakah akan membiarkan berjalan seperti biasa atau mengubahnya (A Giddens, 1984 : 27 – 28). Pilihan bertindak Presiden atas kasus “cicak lawan buaya” bisa dilihat sebagai dilema moral dan politik : atau “membiarkan reproduksi struktur yang korup” dengan tidak campur tangan, atau “mengubah” guna penegakan keadilan meski kasus bisa berubah menjadi bumerang.</p>
<p>Pilihan pertama mengesankan pemerintah tidak serius. Upaya membangun sistem untuk menciptakan politik etis di kalangan penegakan hukum dan pelayanan publik akan dianggap pemanis bibir. Dampaknya akan melemahkan komitmen reformasi manajemen publik dan memperkuat ketidakpercayaan publik terhadap penegak hukum. Ketidakpuasan pun meluas, dan situasi kian buruk bila rekomendasi Tim 8 tidak diperhitungkan. Rekomendasi bia dianggap tindak lanjut proses akuntabilitas yang ingin menjawab tuntutan rasa keadilan masyarakat.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Akuntabilitas dan Perubahan, Haryatmoko &#124; Dosen Pascasarjana FIB UI, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta<br />
Kompas, 24.11.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BERHUKUM  DALAM  KEADAAN  LUAR  BIASA ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/28/berhukum-dalam-keadaan-luar-biasa/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 02:22:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/28/berhukum-dalam-keadaan-luar-biasa/</guid>
<description><![CDATA[Hukum dibuat dan bekerja berdasarkan asumsi bahwa yng dihadapi adalah keadaan normal. Apabila keadaa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/satjipto-rahardjo.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-3346" title="satjipto rahardjo" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/satjipto-rahardjo.jpg?w=119" alt="" width="119" height="150" /></a>Hukum dibuat dan bekerja berdasarkan asumsi bahwa yng dihadapi adalah keadaan normal. Apabila keadaan berubah menjadi tidak normal, hukum dihadapkan kepada kesulitan.</p>
<p>Hari-hari ini, Indonesia berada dalam keadaan yang tak biasa. Kasus Bibit-Chandra yang rumit dan melibatkan banyak institut hukum menyebabkan penyelesaiannya secara tradisional kurang berhasil. Fakta yang terjadi sulit untuk dimasuk-masukkan begitu saja ke dalam berbagai skema penyelesaian yang sudah disediakan, seperti the criminal justice system dan lain-lain.</p>
<p>Dibutuhkan semacam terobosoan. Maka, wajar apabila Presiden Yudhoyono yang bukan ahli hukum gamang ketika harus membuat putusan dalam situasi tidak biasa sekarang ini. Takut nanti dituduh intervensi dan ini dan itu. Sebuah tim, Tim 8, pun dibentuk untuk mendampingi Presiden menghadapi tantangan itu.</p>
<p><strong>Pintu-pintu darurat hukum<br />
</strong><br />
Sebenarnya sejak awal, pembuat hukum sendiri menyadari, ia membuat hukum berdasarkan asumsi situasi yang normal. Maka, untuk mengantisipasi terjadinya keadaan yang tidak selalu normal, hukum sudah menyediakan pintu-pintu untuk keluar dari keadaan darurat itu.</p>
<p><!--more-->Contoh, diskresi dalam kepolisian. Di sini seorang polisi diberikan hak istimewa untuk tidak menerapkan hukum yang seharusnya dilakukan atas dasar pertimbangan menyelematkan keadaan. Ini banyak terjadi dalam pengaturan lalu lintas. Contoh lain adalah hal untuk menyampingkan proses hukum yang sedang berjalan (deponeering). Hak itu hanya diberikan kepada Jaksa Agung berdasarkan pertimbangan untuk menyelamatkan kepentingan bersama yang lebih besar.</p>
<p><strong>Membuat dan mematahkan</strong></p>
<p>Dari uraian itu, ternyata pekerjaan hukum tidak hanya melakukan rule making (membuat dan menjalankan), tetapi sesekali – dalam keadaan tertentu – juga melakukan rule breaking (terobosan). Contoh tentang “pintu-pintu darurat” itu adalah di mana hukum melakukan terobosan terhadap peraturan, doktrin, dan lain-lain yang dibuatnya sendiri.</p>
<p>Dari aturan itu kita juga belajar, yang namanya hukum tidak selalu membuat suasana yang penuh ketertiban dan keteraturan (order), tetapi juga ketidakaturan (disorder). Di sisini hukum menyadari kekurangannya sehingga menyediakan berbagai mekanisme untuk menyelamatkan eksistensinya. Kalau sudah begini, kita harus mengatakan, yang teratur dan tidak teratur itu sama-sama ada dan berkelindan dalam hukum.</p>
<p>Terkait permasalahan luar biasa yang sedang dihadapi hukum di Indonesia, disarankan untuk tidak ragu-ragu mengambil langkah-langkah progresif. Hukum progresif adalah hukum yang membebaskan kita dari “belenggu kerangkeng hukum.”  Kita memang membutuhkan hukum, tetapi jangan sampai terjadi hukum itu justeru membelenggu kita.</p>
<p><strong>Belajar dari AS</strong></p>
<p>Amerika Serikat memberi contoh yang baik bagi kita tentang bagaimana membebaskan diri dari tradisi berhukum yang dirasakan membelenggu dinamika sosial yang berjalan. Dalam sejarah tercatat, pada suatu kurun waktu tertentu, AS bekerja keras membangun negerinya untuk menjadi negara modern.  Saat itu, berbagai praktik hukum dilakukan huna mendukung AS yang sedang bergerak dinamis. Apa pun dilakukan, bahkan kalau perlu prinsip, doktrin yang berkualitas universal, dipinggirkan. Saat itu Mahkamah Agung AS membuat berbagai putusan monumental utnuk membantu pembangunan AS, bahkan dengan cara-cara rule breaking (baca : menerobos) sekali pun.</p>
<p>Jika di dunia ada doktrin universal Trias Politica yang membuat pembatasan ketat antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif, demi kepentingan AS yang sedang membangun, doktrin besar itu dipatahkan. Dicontohkan bagaimana pengadilan membuat berbagai putusan, seolah duduk di kursi eksekutif (government by the judiciary).</p>
<p>Tentu saja, komunitas hukum dunia menjadi amat gusar. Namun, jawaban apa yang dilontarkan Negeri Paman Sam ? AS dengan gagah mengatakan, “ this is American development “  dan “ this is the American concept of law “.</p>
<p><strong>Hukum progresif</strong></p>
<p>Selama ini kita adalah murid-murid yang baik dan patuh terhadap cara berhukum yang umum digunakan bangsa-bangsa di dunia, termasuk asasnya, doktrin-doktrinnya. Tanpa disadari, kita telah membelenggu diri sendiri dengan menganggap bahwa kitatidak dapat keluar dari praksis yang sudah dipersepsikan sebagai berhukum secara universal.</p>
<p>Gagasan progresif diharapkan dapat membantu kita keluar dari kungkungan cara berhukum yang sudah dianggap baku. Di sini, hukum progresif membebaskan kita dari cara berhukum yang selama ini dijalankan.</p>
<p>Sudahlah, semua konflik yang terjadi dalam ranah hukum mulai saat ini harus kita hentikan. Tertalu mahal apabila kepentingan yang lebih besarm yaitu membangun dan menyejahterakan bangsa, harus dibayar dengan pengurasan energi untuk menyelesaikan kemelut hukum yang sedang terjadi.</p>
<p>Mulai sekarang kita dorong sepenuhnya agar Presiden sebagai kepala negara tidak ragu mengambil alih komando penyelesaian kemelut hukum yang sedang terjadi demi kepentingan bangsa yang lebih besar. Penyampingan terhadap doktrin, praksis hukum tradisional, dan lain-lain, kalau itu ada, kita pikirkan nanti.</p>
<p>Mudah-mudahan, di belakang hari nanti, kita berhasil membantu suatu teori hukum Indonesia yang memberikan pertanggungjawaban terhadap apa yang kita lakukan sekarang.<br />
Sumber  :</p>
<p>Berhukum dalam Keadaan Luar Biasa, Satjipto Rahardjo &#124; Guru Besar Emeritus Sosiologi Hukum Universitas Diponegoro, Semarang<br />
Kompas, 19.11.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Damai Darfur yang Tertunda]]></title>
<link>http://chairulakhmad.wordpress.com/2009/11/25/damai-darfur-yang-tertunda/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 16:20:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Chairul Akhmad</dc:creator>
<guid>http://chairulakhmad.wordpress.com/2009/11/25/damai-darfur-yang-tertunda/</guid>
<description><![CDATA[Perundingan antara pemerintah Sudan dan kelompok-kelompok perlawanan masih sulit terlaksana. Namun Q]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Perundingan antara pemerintah Sudan dan kelompok-kelompok perlawanan masih sulit terlaksana. Namun Q]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Patani Tak Henti Menumpahkan Darah]]></title>
<link>http://chairulakhmad.wordpress.com/2009/11/25/patani-tak-henti-menumpahkan-darah/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 16:17:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Chairul Akhmad</dc:creator>
<guid>http://chairulakhmad.wordpress.com/2009/11/25/patani-tak-henti-menumpahkan-darah/</guid>
<description><![CDATA[Darah Muslim tiada henti tertumpah di Thailand Selatan, namun dunia terus bungkam. Kekerasan yang me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Darah Muslim tiada henti tertumpah di Thailand Selatan, namun dunia terus bungkam. Kekerasan yang me]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Papua Tanah Damai" Visi Bersama Lintas Agama di Papua]]></title>
<link>http://pormadi.wordpress.com/2009/11/25/papua-tanah-damai-visi-bersama-lintas-agama-di-papua/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 06:29:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>pormadi</dc:creator>
<guid>http://pormadi.wordpress.com/2009/11/25/papua-tanah-damai-visi-bersama-lintas-agama-di-papua/</guid>
<description><![CDATA[JAYAPURA &#8211; &#8220;Menghormati martabat manusia adalah cara untuk membangun hubungan yang bebas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[JAYAPURA &#8211; &#8220;Menghormati martabat manusia adalah cara untuk membangun hubungan yang bebas]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perlindungan Terhadap Tawanan Perang (Prisoner of War)]]></title>
<link>http://purplelize.wordpress.com/2009/11/20/perlindungan-terhadap-tawanan-perang-prisoner-of-war/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 01:50:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>purplelize</dc:creator>
<guid>http://purplelize.wordpress.com/2009/11/20/perlindungan-terhadap-tawanan-perang-prisoner-of-war/</guid>
<description><![CDATA[Menindaklanjuti (halllaaah&#8230;bahasanya) tulisan gw sebelumnya tentang Hukum Humaniter Internasio]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Menindaklanjuti (halllaaah&#8230;bahasanya) tulisan gw sebelumnya tentang Hukum Humaniter Internasional dan Hukum Perang, bersama ini gw sampaikan pokok bahasan selanjutnya yaitu tentang tawanan perang (prisoner of war/POW).</p>
<p># Ruang lingkup perlindungan terhadap tawanan diatur dalam Pasal 4 Konvensi Jenewa III<br />
* Organized Resistance Movement = Gerakan Perlawanan Terorganisir, Co/ PLO<br />
* Detaining Power = Negara Penahan</p>
<p># Rights and Obligation of POW<br />
1. All combatants enjoy POW status from the moment they captured, POW under the care of detaining power.<br />
2. The detaining power is responsible for anything that happens to them (Pasal 12)<br />
3. Internment of POW is not intended to punish</p>
<p># Treatment of POW<br />
1. POW retain their legal status as member of armed forces.<br />
2. They are aloowed to wear uniform and they continue to be subordinate to their own officers who are also POW.<br />
3. POW must b e treated humanity at all time (Pasal 13).<br />
4. Any reprisal against POW is prohibited (Pasal 13)<br />
5. They must not be killed and they must be protected &#8220;particularly against acts of violance or intimidation and against insult and public curiousity&#8221;.<br />
6. The only information a POW is obliged to give is the following: full name, rank, date of birth, army regimental, personal or serial number or equivalent information. (Pasal 17)<br />
7. They can be commpelled to give further information.<br />
8. POW must be transfered as soon as possible out of the danger zone and brought to a place of safety.<br />
9. Tawanan harus ditahan dengan kondisi yang layak (dengan standar kehidupan tawanan tersebut).</p>
<p>&#8211;&#62; Tawanan harus seolah-olah merasa dalam kondisi normal jadi tidak merasa seperti ditawan. Pekerjaan yang diperbolehkan untuk dilakukan tawanan perang (Pasal 50) seperti pertanian, perdagangan yang tidak bersifat militer.</p>
<p># Law Applicable to POW<br />
1. POW are subject to the law of the country of detaining power (Pasal 82-108) =&#62; tunduk pada hukum negara penawan.<br />
2. Jadi bila ada keragu-raguan apakah sesorang termasuk kombatan atau bukan maka tetap dianggap sebagai tawanan perang sampai pengadilan berwenang memutuskan apakah ia kombatan atau bukan (Pasal 5 Konvensi Jenewa).</p>
<p># Repatriation<br />
- Ketika konflik berakhir para tawanan serta merta harus dibebaskan.<br />
- Tawanan perang dapat dibebaskan dengan alasan kesehatan (Pasal 118).<br />
- Tawanan perang tidak dapat dipaksa untuk kembali ke negara asalnya.</p>
<p># Perlindungan Penduduk Sipil<br />
Penduduk sipil =&#62; kategori orang-orang yang bukan tawanan perang seperti terdapat dalam golongan dalam Pasal 4 Konvensi Jenewa III (Pasal 50 Protokol I)</p>
<p># Ruang Lingkup Perlindungan<br />
Konvensi Jenewa IV dan Protokol I-II memberikan perlindungan terhadap penduduk sipil &#8211;&#62; General Rules Protocol all civilians under all.</p>
<p>* Circumstances:<br />
- Pasal 51 (1) Protokol I<br />
- Pasal 51 (2) Protokol I<br />
- Tidak boleh menempatkan objek sasaran militer di dekat penduduk sipil<br />
- Pasal 51 (5) Protokol I &#8211;&#62; indiscriminate attack<br />
- Menyerang penduduk sipil untuk alasan balas dendam adalah terlarang (Pasal 51 (6) Protokol I).</p>
<p># Ada 2 Daerah yang Dilindungi<br />
- Rumah Sakit (Pasal 14 Konvensi IV)<br />
- Daerah Netral (Pasal 15 Konvensi IV)</p>
<p>* Didirikan di daerah konflik &#8220;to shelter from the effect of war the following persons without distinction&#8221;<br />
a) wounded and sick combatant or non-combatant<br />
b) civilians persons who take no part in hostilities, and who, while they reside in the zones. Performs no works of a military caracter.<br />
* apabila para pihak yang bersengketa telah menyetujui daerah yang akan digunakan, administrasi, food supply, dan pengawasan dari neutralized zone &#8211;&#62; dibentuk agreement ditandatangani perwakilan kedua belah pihak.</p>
<p>- apabila ada orang dari negara netral berada di daerah konflik maka orang tersebut tidak memperoleh perlindungan.<br />
- tidak boleh ada penyeragaman hukuman.<br />
- berhak memperoleh pengadilan yang adil<br />
- tidak boleh ada intimidasi<br />
- perlindungan anak-anak<br />
* anak-anak tidak boleh dilibatkan dalam angkatan bersenjata maupun ikut aktif dalam peperangan<br />
* Optional Protocol CRC &#8211;&#62; anak-anak adalah orang yang berusia dibawah 18 tahun.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Konflik di sebuah socialblog]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/20/konflik-di-sebuah-socialblog/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 23:55:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/20/konflik-di-sebuah-socialblog/</guid>
<description><![CDATA[Berawal dari terbongkarnya seorang tokoh fiktif, ceritapuri, di sebuah media socialblog, kini kasus ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Berawal dari terbongkarnya seorang tokoh fiktif, ceritapuri, di sebuah media socialblog, kini kasus tersebut merembet dan bergulir kemana-mana.</p>
<p>Fiktif, agaknya menjadi sebuah kata-kata sakti yang mampu menyihir orang supaya memiliki kecurigaan terhadap orang lain. Bahkan, satu orang teman, dengan terang-terangan menuduh teman yang lain. Demikian pula halnya dengan pandangan orang terhadap saya dalam kasus hoax ceritapuri ini, saya dipandang sebagai orang yang paling MARAH terhadap Puri dan tokoh pembuatnya.<!--more--></p>
<p>Ini bukan maksud untuk klarifikasi, karena, toh, tidak ada yang perlu saya klarifikasi. Orang mau memandang demikian, ya silakan. Mau memandang kebalikannya juga, silakan. Yang jelas, apa yang mereka perhatikan kepada saya, tidak lah benar adanya.</p>
<p>Saya tidak pernah marah sama tokoh ceritapuri. Kenapa? Karena, dari tokoh fiktif inilah saya belajar bahwa hidup ini harus disikapi dengan positif. Dari tokoh ini pula, saya mengetahui bahwa penyakit kanker payudara bukanlah penyakit yang dipandang sebelah mata. Adapun, dengan tokoh pembuatnya, Omand dan juga Fuad,  saya tidak pernah tuh marahin mereka. Kalaupun saya mengangkat profil mereka kedalam sebuah tulisan, semata-mata untuk memberitakan bahwa tokoh pembuat cerita puri itu ada. Tidak satu orang, melainkan tim. Dan saya akui, itu adalah luapan emosional saya terhadap omand dan juga fuad.</p>
<p>Dalam sebuah kesempatan, saya bahkan menelepon omand dan menanyakan motif dibalik semuanya. Mengabarkan kepada oman bahwa saya sudah memaafkannya, serta mensupport mereka berdua untuk hadir di kopdar yang diselenggarakan Mariska Lubis di Bandung. Saya katakan kepada omand dan juga fuad, bahwa ini adalah kesempatan dan peluang mereka untuk menyampaikan itikad kepada para anggota socialblog tersebut. Malah, saya bilang saya bersedia menjadi fasilitator untuk mereka.</p>
<p>Jadi, tidak ada amarah, tuh, yang saya utarakan kepada mereka.</p>
<p style="text-align:center;">****</p>
<p>Kini, kasus yang bergulir gara-gara kontroversi ini makin melebar. Apa yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik, menjadi konsumsi publik, dan mengundang banyak komentar. Popularitas polemik di “Negara” socialblog tersebut, hampir menyamai popularitas polemik di Negara tetangganya yang masih ramai membahas kasus cicak dan buaya. Energi semua anggotanya terfokus pada polemik seputar gelar-gelaran dan fiktif-fiktifan.</p>
<p>Pelebaran ini, dipicu oleh seorang pemancing. Dan sialnya, saya telah terpancing dengan menuliskan sesuatu untuk mengingatkannya. Sebuah kebodohan saya, yang  ternyata mengandung banyak hikmah.</p>
<p>Saya tidak mengerti, apa sih, sebenarnya maksud pelempar “pancingan” ini. Memberikan statement dari 3 lokasi yang berbeda dalam rentang waktu satu minggu ini. Saya mengutarakan ini karena telah menelusurinya melalui bantuan seorang teman menggunakan software pencari IP Address locator. Jakarta, Jateng, dan DIY, adalah tiga lokasi dimana ‘pemancing’ ini pernah memberikan komentarnya. Aneh!</p>
<p>Siapapun dan apapun yang ada di media socialblog tersebut, saya berharap, semoga polemik ini segera disudahi. Semoga, besok, anggota media socialblog tersebut berkenan hadir di kopdar yang diselenggarakan di Bandung. Dan semoga, orang yang terkena polemik tersebut dapat menjawab dan membahas tuntas tas tas tas tentang apa-apa yang mengundang kontroversi itu.</p>
<div id="attachment_574" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/etis-ngga-sih.jpg"><img class="size-medium wp-image-574" title="etis ngga sih" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/etis-ngga-sih.jpg?w=300" alt="" width="300" height="272" /></a><p class="wp-caption-text">etis </p></div>
<p>Cianjur,</p>
<p>20 november 2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pandangan tentang Konflik dan Analisisnya]]></title>
<link>http://petikdua.wordpress.com/2009/11/18/pandangan-tentang-konflik-dan-analisisnya/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 13:13:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>petikdua</dc:creator>
<guid>http://petikdua.wordpress.com/2009/11/18/pandangan-tentang-konflik-dan-analisisnya/</guid>
<description><![CDATA[Konflik menurut teori dan konsep terdiri dari dua pandangan yakni dari pandangan tradisional tentang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Konflik menurut teori dan konsep terdiri dari dua pandangan yakni dari pandangan tradisional tentang konflik dan pandangan kontemporer tentag konflik.<br />
Adapun pandangan tradisional tentang konflik, yaitu:<br />
a.	Conflict, by and large is bad, and should be eliminated and reduced.<br />
b.	Conflict need not occur.<br />
c.	Conflict result from breakdowns in communication and lack of understanding, trust, and openless, between states.<br />
d.	People are essentially good, trust, cooperation, and goodness are given in human nature.<br />
Sedangkan pandangan kontemporer tentang konflik, yaitu :<br />
a.	Conflict is good and should be encouraged; conflict must be regulated, however, so that it doesn’t out of hand.<br />
b.	Conflict is inevitable.<br />
c.	Conflict results from a struggle for limited rewards, competition, and potential frustration of goals condition that are natural in organization.<br />
d.	People are not essentially bad, but are nevertheless driven by achievement self seeking and competitive interest.<br />
Setelah mengetahui kedua pandangan tentang konflik di atas, menurut saya pandangan yang saat ini sangat tepat dipahami dan dipakai sebagai pisau analisis untuk mengkaji lebih dalam tentang konflik adalah pandangan-pandangan kontemporer tntang konflik. Berikutnya, saya akan coba menganalisis lebih jauh tentang pandangan-pandangan ini dan memberikan beberapa bukti realita yang dapat meyakinkan dan memahamkan kita bahwa pandangan kontemporerlah yang paling tepat untuk memahami konflik dewasa ini.<br />
Conflict is good and should be encouraged; conflict must be regulated, however, so that it doesn’t out of hand<br />
(Konflik itu baik dan seharusnya dipupuk dan tertata baik, agar bagaimanapun, tidak diluar kendali kita)<br />
Bagi sebagian orang, ketika mendengar konflik, yang ada dipikirannya adalah suatu keadaan yang tidak aman dan tidak pernah diharapkan bagi siapa pun. Namun, tanpa kita sadari, pada dasarnya konflik itu baik. Bahkan menurut pandangan kontemporer tentang konflik, selain harus dipupuk, dalam berkonflik kita juga harus tertata baik. Konflik itu harus tertata baik agar kita sebagai pihak yang tengah berada di tengah konflik masih bisa menanganinya dan masih bisa mengendalikannya. Jadi, untuk pandangan kontemporer ini, konflik sebaiknya adalah sebuah hal yang tidak dihindari, karena dengan berkonflik, kita akan belajar bagaimana bisa berdamai.<br />
Sebagai bukti misalnya, Indonesia. Indonesia dalam memproklamirkan kemerdekaannya, bekonflik dengan pihak penjajah seperti Jepang. Namun, dengan diproklamasikannya kemerdakaan Republik Indonesia, bukan berarti konflik pun berakhir, melainkan ternyata Indonesia mendapatkan lagi cobaan dengan munculnya G30SPKI, selain itu juga ternyata masih ada Agresi Militer Belanda. Rantaian konflik yang masih saja timbul ini bukannya melemahkan Indonesia melainkan malah member Indonesia ruang untuk belajar lagi dan memberikan Indonesia pengalaman bagaimana sebaiknya menangani konflik seperti itu. Untuk hal seperti inlah yang dikatakan bahwa konflik itu baik dan sebaiknya dipupuk asal tidak diluar kendali aktr-aktornya.<br />
Conflict is inevitable<br />
(Konflik tidak dapat dihindari)<br />
Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang memiliki kemampuan untuk berfikir dalam keadaan sadar. Dan setiap detik dari hidup kita, kecuali tidur tentu, adalah keadaan yang sadar. Keadaan yang member kita potensi lebih untuk berfikir dan ketika kita berfikir, tentu akan selalu ada pergolakan batin dalam hati dan pikiran kita akan setiap hal yang kita citra. Nah, pergolakan batin seperti inlah yang disebut konflik. Dan konflik ini akan selalu ada selama kita masih sadar dan terus berfikir dan selama kita masih menjalin komunikasi dengan manusia lain, mengingat peluang munculnya konflik yang terbesar juga melalui interaksi.<br />
Contoh misalnya, bagi kita para wanita, apabila hendak keluar rumah, tentu ada pikiran-pikiran dalam hati tentang baju apa yang sebaiknya kita pakai, sepatu apa yang sebaiknya kita pakai, dan ketika sudah berada di luar dan bertemu dengan banyak orang, ada lagi pegolakan seperti bagaimana sebaiknya saya bersikap dalam komunitas ini, apa yang sebaiknya saya katakana kepada dia, dan apabila kita sampai pada keputusan untuk berkomunikasi dengan cara yang tidak disenangi komunikan kita, maka tentu akan timbul ketidakenakan antar kita dan komunikan kita. Nah, ini semua lah yang dikatakan dengan konflik. Dan setiap hal ini ada dalam keseharian kita, karena itu konflik sungguh tak dapat kita hindari selama kita masih hidup dlam bermasyarakat.<br />
Conflict results from a struggle for limited rewards, competition, and potential frustration of goals condition that are natural in organization.<br />
(Konflik berasal dari usaha untuk mendapatkan suatu hal atau keuntungan terbatas, kompetisi, dan suatu keadaan yang berpotensi gagal yang pada umumnya terjadi dalam setiap organisasi.<br />
Hidup ini tentu memiliki tujuan dan tujuan itu tentu adalah suatu hal yang perlu dan pantas untuk diperjuangkan. Semakin terbatas tujuan yang ingin kita dapatkan, maka akan semakin banyak pihak yang berjuang memperoleh tujuan tersebut. Sehingga terjadilah proses perebutan tujuan dalam hal ini kompetisi. Proses perebutan hasil dalam sebuah kompetisi inilah yang disebut konflik karena terdapat persaiangan antar siapa untuk mendapatkan apa.<br />
Misalnya saja perebutan wilayah antara Israel dan Palestina. Kedua pihak ini tengah berkonflik dalam sebuah kompetisi dalam memperebutkan wilayah yang terbatas dan berharga sifatnya karena memiliki nilai sejarah yang berarti bagi msing-masing kaum. Karena berawal dari perebutan wilayah yang kemudian menjadi kompetisi terbuka, mka muncullah konflik diantara mereka.<br />
People are not essentially bad, but are nevertheless driven by achievement self seeking and competitive interest.<br />
(Manusia itu pada dasarnya tidak buruk, namun demikian kadang memiliki hasrat-hasrat untuk mempertahankan diri dan mandiri juga keinginan untuk berkompetisi)<br />
Pada dasarnya manusia adalah baik, karena oleh Tuhan, manusia diberi anugrah akal untuk keudian menimbang baik dan buruknya suatu hal. Sehingga, hanya orang yang tidak berakal lah yang melakukan suatu kebodohan dan kesalahan dengan sengaja sehingga menimbulkan konflik. Kembali lagi, pada dasarnya manusia memang tidak buruk, tapi manusia memiliki pemahman dalam diri mereka masing-masing untuk selalu melakukan yang terbaik untuk setiap hal. Sikap yang seperti ini lah jika tidak dijaga dengan baik maka akan dengan sikap egois untuk mau menang sendiri dan pda akhirnya jika tidak dijaga dengan baik, maka akan bermuara pada suatu sikap iri hati dan memicu timbulnya konflik. Hal ini tidak hanya berlaku bagi individu saja, tetapi juga masyarakat, kelompok massa, bahkan negara.<br />
Hal ini bisa dilihat dari bagaimana Amerika Serikat dengan tujuannya yang sangat mulia yakni untuk mewujudkan sebuah tatanan dunia yang damai. Karena memang memiliki potensi yang lebih daripada yang lain di dunia internasional, maka secara tidak langsung Amerika pun bisa dikatakan adalah polisi dunia. Meski memiliki tujuan awal yang sangat mulia, namun dlam praktiknya, munculnya kadang-kadang hasrat unutk lebih mengedepankan hasrat egoisitas tidak dapat dihindari. Sehingga, meski memiliki niat yang baik, tapi unsure konflik memang mungkin akan selalu muncul. Karena selain akal, kita juga diberi hasrat untuk mengimbangi antara damai dan konflik.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengapa Banyak Sinetron di Televisi ...]]></title>
<link>http://4rdysama.wordpress.com/2009/11/17/mengapa-banyak-sinetron-di-televisi/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 08:24:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>pake_y</dc:creator>
<guid>http://4rdysama.wordpress.com/2009/11/17/mengapa-banyak-sinetron-di-televisi/</guid>
<description><![CDATA[MENGAPA BANYAK SINETRON DI TELEVISI Kita sudah muak dengan sinetron-sinetron di televisi yang melulu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[MENGAPA BANYAK SINETRON DI TELEVISI Kita sudah muak dengan sinetron-sinetron di televisi yang melulu]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Konflik???]]></title>
<link>http://gakmesti.wordpress.com/2009/11/16/konflik/</link>
<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 18:21:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>gakmesti</dc:creator>
<guid>http://gakmesti.wordpress.com/2009/11/16/konflik/</guid>
<description><![CDATA[Menurut Robbins (2006), konflik merupakan sebuah proses dimana sebuah upaya sengaja dilakukan oleh s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Menurut Robbins (2006), konflik merupakan sebuah proses dimana sebuah upaya sengaja dilakukan oleh seseorang untuk menghalangi usaha yang dilakukan oleh orang lain dalam berbagai bentuk hambatan (blocking) yang menjadikan orang lain tersebut merasa frustasi dalam usahanya mancapai tujuan yang diinginkan atau merealisasi minatnya. Konflik dapat muncul dari dalam diri sendiri (internal conflict) dan dari luar (external conflict). Dalam setiap konflik yang terjadi juga dapat memberikan pengaruh yang positif ataupun negatif terhadap permasalahan dan pengembangan diri tersebut. Adapun beberapa faktor penyebab terjadinya konflik antara lain :</p>
<p>a. Perbedaan cara pandang<br />
Perbedaan pandangan antar individu mengakibatkan konflik dan hal ini dapat menghambat perkembangan pekerjaan dan dapat mengakibatkan penurunan produktivitas.</p>
<p>b. Perbedaan tujuan<br />
Konflik juga terjadi karena adanya perbedaan tujuan dan kepentingan antara tujuan individu dalam tim dan tujuan tim atau perusahaan itu sendiri. Sebagai contoh, seorang yang memiliki tujuan untuk dapat memenuhi target jangka pendek akan mendapat masalah jika bekerja sama dengan rekannya yang lebih mendahulukan pencapaian tujuan perusahaan dalam jangka panjang, disini target yang dimaksud bukan merupakan target pencapaian dalam angka saja melainkan dari segi profitabilitas jangka panjang.</p>
<p>c. Perbedaan pemahaman<br />
Terjadinya suatu konflik dapat juga diakibatkan karena adanya perbedaan persepsi atau terjadinya miskomunikasi mengenai suatu hal, sehingga hal ini menimbulkan perbedaan pemahaman. Hal ini bisa terjadi karena perbedaan informasi yang didengar atau adanya distorsi dari penyampaian informasi tersebut. Pemahaman yang setengah-setengah, tidak tuntas tersebut, berpotensi menimbulkan masalah.<br />
Terdapat banyak cara yang dapat digunakan untuk mengatasi konflik yang terjadi. Berikut adalah cara-cara yang dapat dijadikan alternatif pemecahan konflik.<br />
a. Hindari sumber konflik<br />
Apabila dapat melakukan pekerjaan tanpa harus berinteraksi langsung dengan orang yang ”bisa menimbulkan konflik”, maka hal ini akan menguntungkan. Kita tidak perlu menguras tenaga, pikiran dan waktu untuk mencoba mengubah mereka ataupun mengubah diri kita sendiri. Kita tidak perlu bersusah payah mengatasi rasa kesal, ataupun marah yang muncul karena berurusan dengan mereka. Dengan demikian kita dan orang tersebut bisa melakukan pekerjaan masing-masing tanpa harus dipusingkan untuk menghadapi ketidakcocokan ataupun perbedaan-perbedaan menyolok lainnya yang bisa saja memiliki potensi yang besar sebagai penyebab konflik.</p>
<p>b. Netralisasi sikap<br />
Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi konflik adalah menetralisasi sikap terhadap orang-orang yang berpotensi menjadi sumber konflik. Kalaupun tidak bisa menghindari interaksi dengan orang-orang yang mungkin dapat menyebabkan konflik, yang dapat dilakukan adalah menetralisasi sikap terhadap orang-orang tersebut dengan mengabaikan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka yang menyebalkan. Sebaliknya, yang dapat dilakukan adalah memfokuskan perhatian pada kekuatan orang-orang tersebut dan mencari strategi ampuh untuk memanfaatkan kekuatan mereka untuk mendukung pekerjaan kita.</p>
<p>c. ”Ubah” sikap kita<br />
Kita mungkin tidak dapat mengubah sikap orang-orang yang tidak sepaham, tetapi yang dapat kita lakukan adalah mengubah sikap kita pada pengaruh negatif yang mereka timbulkan. Jika mereka mulai berulah, maka kita tidak perlu merasa terusik.</p>
<p>d. ”Blending”<br />
Cara lain yang diusulkan untuk mengatasi konflik yaitu dengan mengurangi perbedaan yang ada, mencari persamaan, dan berangkat dari persamaan tersebut. Kita bisa mencoba mengurangi perbedaan dengan bersama-sama berangkat menuju titik tengah. Cara lain adalah mencari titik persamaan dari sekian perbedaan yang ada. Maksudnya, jika ternyata kita memiliki perbedaan cara pandang tetapi memiliki tujuan akhir yang sama. Kita bisa memfokuskan pada tujuan yang sama tersebut.</p>
<p>e. ”Understanding”<br />
Alternatif lain dalam mengatasi konflik adalah mencari sumber masalahnya untuk kemudian memecahkan masalah tersebut bersama. Semua sikap ataupun tindakan serta keputusan yang dilakukan seseorang pasti ada alasannya.</p>
<p>Jadi apabila sedang menghadapi konflik, yang pertama kali harus dilakukan adalah mengidentifikasi sumber penyebab konflik dan memilih strategi yang tepat untuk mengatasi konflik tersebut sehingga dapat mengubah konflik menjadi kerja sama yang harmonis. Dengan kerja sama ini diharapkan dapat lebih berprestasi dan memperoleh banyak dukungan untuk berprestasi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[REFLEKSI ANAK INDIGO DALAM PEREMPUAN MENCARI TUHAN]]></title>
<link>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/refleksi-anak-indigo-dalam-perempuan-mencari-tuhan/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 06:17:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>metasastra</dc:creator>
<guid>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/refleksi-anak-indigo-dalam-perempuan-mencari-tuhan/</guid>
<description><![CDATA[Resti Nurfaidah &nbsp; Abstrak &nbsp; Anak indigo merupakan fenomena abad neew age, abad milenium. A]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em> </em></p>
<p><strong>Resti Nurfaidah</strong></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p>&#160;</p>
<p>Anak indigo merupakan fenomena abad <em>neew age</em>, abad milenium. Anak-anak tersebut kerapkali menunjukkan karakter yang cenderung aneh. Terkadang, kehadiran mereka kerapkali menjadi bumerang bagi lingkungan sekitarnya. Bahkan, mereka sering  dicap sebagai anak yang berperilaku  menyimpang. Terlebih lagi bagi orang tua yang tidak sabar cenderung membawa anak indigo ke pusat rehabilitasi mental. Salah satu sebab yang membedakan anak indigo dengan anak lainnya adalah mereka senantiasa menunjukkan perilaku yang aneh. Padahal, tanpa mereka sadari kebanyakan anak indigo memiliki intelegensi di atas rata-rata atau bahkan kemampuan yang belum tentu dapat dimiliki anak sebayanya. Sementara itu salah seorang psikoterapis senior di Indonesia mengatakan bahwa anak indigo merupakan anak yang abnormal karena terjadinya kerusakan pada sistem otak. Sehubungan dengan hal itu, anak indigo harus mendapatkan penanganan yang tepat sejak awal dan mereka harus dianggap sebagai anak biasa. Berbeda dengan kondisi di negeri ini,  Amerika menjadikan anak indigo sebagai aset yang sangat berharga. Di sana anak indigo dilibatkan dalam penanganan kasus kriminal. Semakin maraknya fenomena anak indigo tersebut, banyak penulis yang mengangkat hal itu ke dalam karya mereka. Salah satu di antaranya, dapat kita temukan dalam novel <em>Perempuan Mencari Tuhan</em> yang ditulis oleh Yudhistira. Novel tersebut bercerita tentang konflik antara anak indigo dan lingkungan sekitarnya. Lingkungan tersebut menunjukkan sikap tidak berterima kepada anak indigo.  Tokoh Ganet menjadi korban ketidakberterimaan atas kelebihan yang dimilikinya. Hal itu menimbulkan kekecewaan dalam diri Ganet dan ia tidak bisa menerima kondisi itu. Hal itu tanpa sengaja membawanya menuju pintu gerbang pencarian jalan menuju Tuhan. Sayang sekali, Tuhan Mahakuasa yang ingin ia temui didapatinya di penghujung ajalnya. Novel tersebut sarat dengan penyampaian konflik antara lingkungan dan anak istimewa itu.</p>
<p><em> </em></p>
<p>Kata kunci: anak indigo, ketidakberterimaan lingkungan, dan konflik<!--more--></p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><em>Abstract</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>Indigo children is one of the new age phenomenon. They sometimes showing as ones with some bad characters. Sometimes, their appearance is being a boomerang for their environtment. Even, they are accepted as children with psychological disorder. Most dispassionated parents take them to the mental rehabilitation center. One of the reasons is the indigo children always show their abnormal action. Whereas, they mostly have high standard of intelligence or the skill that not everyone can do. One of Indonesia senior psychiatrician said that actually the indigo children is abnormal ones because of their brain damage. Because of that, the indigo children must have right theraphy and are accepted to be normal ones. Meanwhile, another said that they can be useful  state asset as America does. There,  they are involved in the investigation of the crime. The reflection of indigo Children can be found in Perempuan Mencari Tuhan—a novel by Yudhistira. It is told us about the conflict between those indigo children and their environment. Bad acceptance emerges those conflict. Ganet, one of them, is a victim of unacceptance of her environment towards the skill that she has. She is very disappointed with it and can’t stand with the condition. This opens the gateway of exploring God, the Almighty that is at least she found in time with the coming her death. This writing is describing about the conflict of indigo children in the novel.</em></p>
<p>&#160;</p>
<p><em>Key word: indigo children, environment unacceptance, and conflict</em></p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>1. Pendahuluan</strong></p>
<p>Sejak peralihan ke era milenium, kasus kehadiran anak indigo semakin merebak di berbagai belahan dunia. Anak indigo adalah sebuah istilah baru yang dicetuskan oleh Nancy Ann Tappe, seorang konselor, pada tahun 1980-an, untuk cahaya berwarna perpaduan antara biru dan merah yang menyelimuti tubuh seorang anak (Bataviase:2007). Perpaduan kedua warna itu terletak tepat di kening bagian tengah, di antara kedua alis mata.</p>
<p>Anak indigo sekilas tampak sama dengan anak-anak pada umumnya. Namun, jika diperhatikan lebih saksama tampak jelas perbedaannya. Gaya pembicaraan mereka cenderung seperti orang tua, sulit beradaptasi dengan teman sebaya, dan peka terhadap hal-hal yang terjadi di luar kemampuan manusia pada umumnya. Menurut Tobler (dalam Bataviase:2007), anak indigo memiliki beberapa karakter berikut:</p>
<ol>
<li>mereka datang ke dunia dengan rasa ingin berbagi;</li>
<li>mereka menghayati hak keberadaannya di dunia ini dan heran bila ada yang menolaknya;</li>
<li>dirinya bukanlah yang utama, seringkali menyampaikan ‘siapa jati dirinya’ kepada   orang tuanya;</li>
<li>sulit menerima otoritas mutlak tanpa alasan;</li>
<li>tidak mau/sulit menunggu giliran;</li>
<li>mereka kecewa bila menghadapi ritual dan hal-hal yang tidak memerlukan pemikiran yang kreatif;</li>
<li>seringkali mereka menemukan cara-cara yang lebih tepat, baik di sekolah maupun di rumah sehingga menimbulkan kesan “non konformistis” terhadap sistem yang berlaku;</li>
<li>tampak seperti antisosial, terasing kecuali di lingkungannya, sekolah seringkali menjadi amat sulit untuk mereka bersosialisasi;</li>
<li>tidak berespons terhadap aturan-aturan kaku (mis.: “tunggu sampai ayahmu pulang”);</li>
</ol>
<p>10.  tidak malu untuk meminta apa yang dibutuhkannya (banyak teori yang membahas masalah ini).</p>
<p>Akibat segala kelebihan yang dimiliki mereka, anak indigo kebanyakan justru menghadapi posisi dan kondisi yang sulit dalam hidupnya. Gaya pikiran yang cenderung futuristik serta perilaku yang lebih dewasa daripada teman sebayanya, membuat anak indigo kerapkali mengalami ketidakberterimaan dari lingkungannya, termasuk lingkungan terdekat atau keluarga sekalipun.</p>
<p>Beberapa pakar metafisika dan psikiater menyatakan bahwa sistem pendidikan kita belum dapat mengakomodasi kebutuhan anak indigo sehingga mereka mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan guru dan teman-teman sebayanya. “Penolakan” yang bertubi-tubi itulah yang menyeret sebagian besar anak indigo pada frustasi. Emosi yang cenderung labil dan tiadanya tempat untuk mengaktualisasikan diri sepenuhnya mengakibatkan anak indigo cenderung mencoba cara alternatif yang negatif, misalnya menjadi pemakai obat-obatan terlarang atau penderita depresi.</p>
<p>Jika sistem pendidikan belum menerima keberadaan mereka, para pakar kejiwaan dan metafisika menyarankan bahwa diperlukan suatu wadah yang dapat menampung aktualisasi anak indigo yang pada umumnya dikaruniai satu atau banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak sebayanya. Sebenarnya kita selama ini menganggap bahwa anak indigo tersebut sama satu sama lain. Padahal, tidak demikian. Ada empat tipe anak indigo dengan kelebihan masing-masing. Tipe pertama adalah <em>tipe interdimensional,</em> yakni anak indigo yang memiliki ketajaman indra keenam. Ada pula <em>tipe artis</em>. Anak indigo dari tipe ini amat menonjol di bidang seni dan sastra. Lalu, ada <em>tipe humanis</em> yang mempunyai kelebihan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Biasanya mereka menggunakan kemampuannya untuk menolong orang lain. Tipe terakhir adalah <em>tipe konseptual</em>. Mereka amat menonjol dalam merancang suatu program, misalnya dalam rangka menyelamatkan perusahaan yang akan bangkrut atau membuat usaha baru yang <em>booming</em> dan mendatangkan keuntungan finansial bagi banyak orang. Selain keempat tipe tadi, kadar indigo setiap orang juga sangat berbeda. Sehubungan dengan hal itu, penanganan yang diperlukan bagi setiap anak indigo pun berbeda-beda (Megarini dalam Eriyanti, 2009:17).</p>
<p>Berdasarkan keempat tipe indigo tadi, sudah selayaknya anak indigo mendapatkan tempat yang tepat dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan, ada pula beberapa pakar yang menyatakan bahwa anak indigo dapat dijadikan sebagai aset negara, seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat. Lembaga pendidikan khusus anak indigo pun banyak didirikan di benua itu. Banyak pula anak indigo yang dilibatkan dalam tugas-tugas yang berkaitan dengan kriminal dengan mengandalkan kepekaan luar biasa yang dimiliki mereka.</p>
<p>Banyak perdebatan yang terjadi di kalangan pakar kejiwaan, psikologi, dan metafisika tentang kasus anak indigo tersebut. Sebagian mengatakan bahwa anak indigo merupakan anugerah illahi yang dapat dimanfaatkan demi kepentingan umum. Sementara itu, sebagian lain menyatakan bahwa kasus tersebut tidak lebih dari kasus kerusakan otak pada bagian tertentu, sedangkan yang lain berpendapat bahwa anak indigo adalah produk zaman baru yang mengemban misi tertentu. Misi anak indigo dalam pandangan pakar metafisika adalah manusia yang dilahirkan untuk mengemban perdamaian dunia. Selain itu, Suhalim (dalam Yaya) mengatakan bahwa anak indigo merupakan produk perubahan perputaran bumi. Pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1980-an, resonansi bumi sekitar 7,83 Hz. Pada tahun 2000 resonansi bumi menjadi 8,5-9 Hz, sedangkan pada tahun 2004 sudah mencapai 13,5 Hz. Secara teoretis getaran bumi yang semakin cepat akan membuat bumi semakin panas dan suhu ikut meningkat. “Kenaikan ini juga mengakibatkan perubahan yang cukup signifikan sehingga membutuhkan orang tertentu untuk menyeimbangkannya,” lanjut konsultan fengsui dan aura ini. Kelahiran anak-anak berbakat inilah yang akan membantu getaran bumi berjalan lebih <em>smooth</em>, lebih mulus. Kelahiran mereka ditujukan untuk mengubah tatanan dunia supaya menjadi lebih nyaman. Di lain pihak, ada pula yang berpendapat bahwa makhluk indigo muncul bukan tanpa sebab. Lucky (2007) menyatakan bahwa anak indigo muncul karena tiga sebab berikut, yaitu:</p>
<ol>
<li>berasal dari      keturunan yang masih memberlakukan sirik, misalnya menyimpan keris yang      dianggap memberi berkah dsb atau memelihara benda pusaka lainnya;</li>
<li>turunan dari kakek,      pokoknya ada keturunan keluarga yang juga indigo;</li>
<li>tidak turunan, tetapi      jin mencoba untuk mengikuti anak tsb.</li>
</ol>
<p>Uraian singkat tentang anak indigo tadi penulis jadikan dasar analisis pada sumber data, yaitu novel <em>Perempuan Mencari Tuhan</em> karya Dianing Widya Yudhistira. Analisis tersebut penulis jadikan sebagai pembuktian apakah uraian tadi dapat berterima atau tidak berterima dengan sumber data yang penulis ambil.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>2. Refleksi Anak Indigo Dalam <em>Perempuan Mencari Tuhan</em></strong></p>
<p>Novel <em>Perempuan Mencari Tuhan </em>karya Yudhistira (2007) bercerita tentang kematian seorang gadis belia bernama Clara. Kematian Clara ternyata berbuntut panjang. Pascakematiannya banyak menimbulkan peristiwa aneh yang dialami oleh keluarganya. Peristiwa aneh itu terus berlanjut sampai kelahiran Ganet—anak Zahra. Keponakan kecilnya itu ternyata terus dibuntuti oleh Clara. Beberapa pesan Clara disampaikan dengan baik oleh bocah kecil yang ajaib itu. Ganet mewarisi keanehan yang dimiliki oleh Zahra dulu. Salah satu tantenya, Laksma,  sangat meyakini Ganet sebagai reinkarnasi Clara terlebih dengan segala kemiripan yang dimiliki bocah itu. Nasib Ganet pun hampir sama dengan nasib tantenya yang sudah lama berpulang lebih dulu itu.</p>
<p>Novel itu diawali dengan peristiwa kematian Clara. Suasana kematian yang berjalan alot terungkap seutuhnya pada bagian itu. Nuansa kematian menyiratkan nuansa pucat dan kesedihan. Pada saat ajalnya itulah, Clara baru menyadari siapa Tuhan dan siapa <em>malaikatulmaut</em>, sosok yang sempat membuatnya sangat ketakutan dan mengunci mulutnya dari kalimat ilahiah. Dengan gigih Laksma—kakak yang selama ini selalu membencinya, yang menunggui Clara pada saat-saat terakhirnya itu—terus mendesakkan nama Tuhan ke telinga Clara. Clara mampu menghilangkan rasa takutnya dan berserah diri kepada Tuhan. Dengan <em>legowo</em> Clara menyerahkan desah napas terakhirnya teriring sebutan nama Tuhan di mulutnya.</p>
<p>Susah payah Laksma mengendalikan Clara. Hingga akhirnya nama Tuhan tereja di bibir Clara dengan terbata-bata. Sangat jelas bayang-bayang kematian Clara di mata Laksma. Wajah Clara begitu sunyi. Hening.senyap. (<em>PMT</em>:3)</p>
<p>&#160;</p>
<p>Namun, kematian Clara ternyata berbuah rangkaian peristiwa aneh yang dialami, terutama oleh keluarga terdekatnya. Beberapa peristiwa aneh tersebut, antara lain, adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Peristiwa aneh di pascapemakaman Clara: Kedua kaki Zahra seolah tertancap kuat pada kulit bumi. Bobot tubuhnya bertambah drastis sehingga Laksma tidak mampu menariknya saat mengajak pulang adik satu-satunya itu. Dinding pemakaman mendadak tumbuh meninggi dan menebal. Pepohonan di pemakaman juga mengalami hal yang sama, tumbuh kian menjulang tinggi hingga hampir menggaruk langit. Bunga kematian jatuh berguguran, menebarkan aroma wangi misterius di sekitar pemakaman, dan kunang-kunang hadir menghias malam. Kedua kakak beradik itu terjebak di pemakaman hingga akhirnya kelelahan dan tertidur pulas di tempat itu. Ibu yang menyusul ke tempat itu pun mengalami hal yang sama (hlm. 8—20).</li>
<li>Waktu berlalu sangat cepat: Peristiwa aneh di pemakaman tersebut rupanya telah menjebak ibu dan kedua anaknya itu selama satu minggu. Padahal, mereka merasa bahwa peristiwa itu hanya berlangsung semalam saja (hlm 22—25). Peristiwa yang sama juga dialami mereka setelah Ganet tumbuh dan bersekolah (hlm. 181—182).</li>
<li>Keindahan surga di kamar Clara: Zahra, yang tidak sempat memenuhi keinginan sang kakak, membawakan Clara syal dan selimut kesayangannya. Zahra juga melihat sebuah pemandangan yang sangat indah di kamar Clara (hlm. 27—29).</li>
<li>Keanehan Zahra hanya dirasakan oleh ibunya (hlm.35).</li>
<li>Peristiwa kotak sepatu: Laksma merasa heran karena kotak sepatu yang ia cari ditemukan tidak pada tempat semula ketika menyimpannya dulu (hlm. 46—47 dan 50).</li>
<li>Clara menjadi psikiater: Psikiater yang ditemui Zahra memiliki fisik yang identik dengan Clara. Namanya pun sama, Clara. Bahkan, psikiater itu mengatakan bahwa ia memang Clara, kakaknya sendiri. Namun, Zahra tidak menerima hal itu dan memilih hengkang dari hadapan wanita itu (hlm. 68—70).</li>
<li>Perubahan wajah pramugari: Dalam perjalanan ke kota rantau, Zahra mendapati wajah-wajah pramugari berubah menjadi wajah Clara. Perubahan itu terjadi berulang-ulang (hlm. 80).</li>
<li>Dekorasi kamar Clara di kamar Zahra: Zahra heran ketika melihat dekorasi kamar kosnya tidak ubahnya seperti kamar Clara di rumah (hlm. 83—83).</li>
<li>Mug Clara di kamar kos Zahra: Zahra merasa heran ketika ibu kos menyatakan bahwa seorang gadis telah mengantarkan gelas itu kepadanya (hlm. 84—85). Ketika Zahra kembali ke rumah, mug itu sudah ada di kamarnya (hlm. 108).</li>
</ol>
<p>10.   Berlipatnya jumlah anak tangga: Nenek menaiki tangga menuju kamar kos Zahra dengan perjuangan yang sangat berat ia merasa menaiki seratus anak tangga sementara setelah sampai dilihatnya ke bawah jumlah anak tangga itu hanya 13 buah (hlm. 94).</p>
<p>11.  Keanehan yang dialami suami Zahra, Bayu, selama kehamilan istrinya: Zahra tidak merasakan keanehan sedikit pun selama mengandung. Namun, rasa mual yang hebat justru dirasakan oleh Bayu. Selain itu, gerakan janin juga tidak dirasakan oleh Zahra, tetapi Bayu yang merasakan gerakan itu. Zahra tidak merasakan sakit saat akan melahirkan. Sebaliknya, Bayulah yang didera derita luar biasa menjelang kelahiran anaknya, Ganet (hlm. 114—118).</p>
<p>12.  Nama Clara tertulis di dada Ganet: Laksma menemukan tulisan nama Clara pada dada Ganet, keponakannya yang baru saja lahir. Ia teringat kembali pada tulisan nama yang sama yang digoreskan di dada Clara pascakematiannya (hlm. 120—123 dan 133).</p>
<p>13.  Perubahan wajah ibu ketika memangku Ganet: Wajah ibu berubah menjadi muda seperti saat ia baru melahirkan Clara dulu (hlm.126—127).</p>
<p>14.  Ganet bisa bicara saat masih berusia empat bulan: Laksma mendengarkan musibah yang akan menimpa suaminya dari mulut Ganet (hlm. 158—159).</p>
<p>15.  Setahun sekali Ganet tidur seharian: Zahra ingat Clara selalu berpuasa seharian saat hari ulang tahun dan baru makan pada pukul 12 malam menjelang pergantian hari. Tepat pada hari ulang tahun Clara, Ganet tertidur seharian dan baru terjaga tengah malam (hlm.162—163).</p>
<p>16.  Selera Ganet mirip dengan selera Clara: Ia sangat menyukai boneka kura-kura (hlm. 163—165). Dekorasi di kamar Ganet pun sama persis dengan dekorasi di kamar Clara (hlm. 207).</p>
<p>17.  Suara Ganet berubah menjadi suara Clara: Laksma mendengar sendiri perubahan suara Ganet (hlm.170—172).</p>
<p>18.  Ganet mampu memberikan informasi yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Hal itu terjadi ketika Zahra lupa kepada teman sekosnya dulu (hlm. 183—185).</p>
<p>19.  Daya nalar dan kepekaan Ganet terhadap peristiwa yang akan datang sangat tinggi. 192,  200, 205, 208—209, 212—213, 224—226, 237—240, 246—257).</p>
<p>20.  Ganet memiliki alibi: Ketika ibu gurunya menderita depresi karena musibah kecelakaan yang menimpanya, Ganet mengunjungi ibu gurunya itu dan turut menenangkannya. Padahal, pada saat yang sama Ganet tertidur pulas hingga denyut nadinya melemah. Ketika Ganet kembali, gadis kecil itu terjaga (hlm. 229&#8211;236). Ganet juga beralibi menemui Carol di dalam pesawat yang akan membawanya ke luar negeri. Padahal pada saat yang bersamaan Ganet tertidur pulas (hlm. 240—241).</p>
<p>21.  Jarak yang kian menjauh: Laksma mendadak menempuh jarak yang sangat jauh untuk menuju rumah Zahra hingga sangat kelelahan dan setengah linglung (hlm. 244—245).</p>
<p>22.  Masa hidup Ganet dan Clara sama: Ganet meninggal tepat ketika menginjak usia 13 tahun. Keduanya meninggal dalam kondisi pencarian jati diri Tuhan dan sebelumnya mengalami perjalanan rohani yang sama, di antaranya berkunjung ke neraka dan surga (hlm.271—281).</p>
<p>Selama hidupnya Clara sangat dekat dengan adiknya, Zahra. Sebaliknya, sang kakak, Laksma, tidak demikian. Kelahiran Clara seakan meretas benang kasih sang ibu kepadanya. Kondisi Clara yang lemah tentunya menuntut perhatian khusus sang ibu kepadanya. Laksma merasa tersisihkan. Ia tidak segan-segan melampiaskan kekesalannya itu kepada Clara dengan berbagai cara. Kelahiran Zahra dapat menghibur Clara karena ia memiliki sahabat berbagi suka dan duka. Demikian pula, Zahra sangat menyayangi kakaknya. Kematian Clara sangat ia sesali karena tidak sempat memberikan apa yang diinginkan sang kakak menjelang ajalnya. Zahra tidak dapat mendampingi Clara saat orang terkasih itu tiada. Suasana kepedihan Zahra tercermin dalam kutipan berikut.</p>
<p>Sejak itu hari-hari Zahra adalah seorang perawan yang tengah menunggu kereta api di stasiun terakhir. Tak satu pun kereta yang datang berhenti di depan Zahra. Kepergian Clara sangat membuat Zahra terpukul. Ia kehilangan saudara, kakak, teman, sahabat, ibu, guru, dan entah sebutan apa lagi. Sebab hanya kepada Clara, Zahra menemukan kedamaian. Kedamaian yang tak mampu ibu dan ayah Zahra penuhi. (<em>PMT</em>:31)</p>
<p>&#160;</p>
<p>Kematian Clara bukan merupakan akhir persahabatan mereka. Sepeninggal teman <em>curhat</em>nya itu, Zahra tidak pernah kehilangan Clara. Rupanya Zahra dikaruniai kepekaan yang luar biasa. Ia selalu berkomunikasi dengan Clara. Clara rupanya masih mencintai kehidupan di dunia dan enggan meninggalkan orang-orang yang ia cintai. Clara telah mendapat izin dari Tuhan untuk mengunjungi orang yang ia rindukan, Zahra. Jadilah komunikasi di antara keduanya berlanjut. Bahkan, Clara masih bisa mencicipi  masakan ibunya yang disisihkan Zahra untuknya. Kamar Clara pun masih dibiarkan seperti aslinya dan dirawat seperti saat Clara masih hidup.</p>
<p>Kelebihan yang dimiliki Zahra tersebut rupanya menuai reaksi pro dan kontra dari keluarganya. Ibu, nenek, dan kakaknya tidak mempercayai Zahra yang mampu berhubungan dengan Clara. Mereka menganggap bahwa Zahra bersikap sangat aneh sepeninggal Clara.</p>
<p>Nenek yang pernah memvonisnya tak waras. (<em>PMT</em>:92)</p>
<p>Keikhlasan ibu untuk melepaskan Clara terusik dengan tingkah aneh Zahra. (<em>PMT</em>:35)</p>
<p>“Berhentilah bersikap aneh,” ujar Laksma lagi. (<em>PMT</em>:65)</p>
<p>&#160;</p>
<p>Ibu telah berupaya keras untuk ‘menyembuhkan’ Zahra agar tidak <em>menceracau</em> tentang Clara, di antaranya membawa si bungsu kepada seorang psikiater.</p>
<p>Zahra sedikit gusar. Tak ada gunanya ia berlama-lama di depan psikiater ngawur itu. Ia tak mendapatkan apa-apa. Psikiater itu sama dengan nenek, ibu, dan Laksma. Jadi, untuk apa ia berlama-lama di situ. Serta merta ia beranjak dari duduknya. Berlalu dari ruangan itu. (<em>PMT</em>:70)</p>
<p>&#160;</p>
<p>Namun, hal itu tidak pernah berhasil. Zahra kembali seperti semula, senang berbicara dengan Clara dan menyendiri. Ibu yang akhirnya putus asa, mengalihkan kekecewaannya itu pada pekerjaannya, <em>workaholic</em>. Nenek juga tidak percaya kepada Zahra sampai akhirnya wanita tua itu melihat sendiri keajaiban yang dialami cucunya itu. Laksma sama sekali tidak mempercayai Zahra hingga akhirnya ia mendapati bahwa kelak keponakannya, anak Zahra yang bernama Ganet, dikaruniai tanda-tanda yang cenderung identik dengan Clara.</p>
<p>Reaksi negatif dari keluarga yang diterimanya membuat Zahra memutuskan untuk menarik diri dari lingkungannya. Ia cenderung mengurung diri di kamar seharian sepulang dari sekolah. Komunikasi dengan anggota keluarga lainnya menjadi hambar. Satu-satunya jalan adalah pergi ke kamar Clara dan menunggu kehadiran sang kakak yang mampu menutup rasa hampa dalam diri Zahra.</p>
<p>Puncak dari kekecewaan Zahra adalah keputusannya untuk hengkang dari rumah, meninggalkan nenek, ibu, dan Laksma. Meskipun harus bersitegang dengan ibunya, Zahra tidak bergeming. Ia bersikeras untuk melanjutkan sekolahnya di perantauan.</p>
<p>Perjalanan di pesawat adalah perjalanan yang panjang. Setiap kali pesawat menempuh kilometer, jarak tujuan terasa bertambah jauh. Entah mengapa di atas pesawat itu Zahra merasa sendirian di alam lepas. Awan putih dengan titik air bening menggumpal di kaca jendela pesawat. Pergi dari rumah tanpa restu dan dukungan ibu telah ia lakukan.</p>
<p>Meskipun Zahra ngeri dengan ancaman ibunya, ia tetap bertekad belajar di kota propinsi. Tabungan dan beasiswa yang ia punya cukup untuk membiayai kuliah hingga selesai, sedang untuk tinggal dan makan mau tak mau ia harus bekerja. Bekerja? Sebagai apa. Pekerjaan apa yang bisa dilakukan anak selepas SMU. (<em>PMT</em>:74)</p>
<p>&#160;</p>
<p>Pertemuan dengan Clara tiada terputus. Clara masih menemuinya. Namun, setelah pertemuannya dengan Bayu, lelaki yang mencintainya, Clara tidak lagi dapat menemuinya. Pada pertemuan terakhirnya dengan sang kakak, Zahra mendapat perintah dari kakak tercintanya itu untuk menerima pinangan Bayu. Clara mengatakan bahwa hanya melalui Bayulah ia dapat mengunjungi Zahra kembali.</p>
<p>Perkawinan Bayu dan Zahra membuahkan seorang bayi perempuan yang cantik bernama Ganet. Fisik dan seleranya sangat mirip dengan Clara. Kelahiran Ganet sama halnya dengan kematian Clara, sama-sama membuahkan peristiwa aneh. Ketika digendong oleh neneknya, wajah sang nenek berangsur-angsur menjadi muda kembali seperti saat ia melahirkan Clara dulu.</p>
<p>Diangkatnya Ganet pelan-pelan dengan penuh perasaan. Zahra melihat ada perubahan besar dalam diri ibu. Ia lihat pelan-pelan wajah ibu jauh lebih muda. Ibu seperti baru saja melahirkan, ya, ibu seperti baru melahirkan Clara. Ibu sangat cantik, berkulit bersih, matanya bersinar. Ibu mencium Ganet dalam-dalam dan menyebut nama Clara. Zahra tercengang. Ia dengar betul ibu menyebut nama Clara saat mencium Ganet. (<em>PMT</em>:127)</p>
<p>&#160;</p>
<p>Ketika Clara meninggal, Laksma dengan iseng menuliskan nama Clara di dada adiknya yang telah membujur kaku itu. Namun, setelah Ganet lahir, tanpa sengaja ia membuka baju bayi itu dan menemukan tulisan nama yang sama di dada keponakannya yang masih merah itu.</p>
<p>Pelan-pelan Laksma membuka baju si bayi. Ia menelisik ke dada si bayi. Deg, jantung Laksma berpindah tempat. Pada dada si bayi jelas-jelas tertera nama Clara dengan tinta warna hitam. Tinta yang sama ketika ia menorehkan nama Clara pada dada Clara. (<em>PMT</em>:120)</p>
<p>&#160;</p>
<p>Namun, keanehan tersebut hanya dapat dilihat oleh Laksma dan Zahra. Bayu dan ibu tidak melihatnya. Keanehan itu semakin berkembang seiring perkembangan tubuh Ganet. Ganet sudah dapat berbicara ketika menginjak usia empat bulan. Selain itu, kemampuan Ganet yang lain muncul seiring kemampuannya untuk berbicara. Ganet dapat menyampaikan peristiwa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.</p>
<p>“Jangan pergi.”</p>
<p>Laksma terkejut. Ia yakin  ucapan  yang baru saja ia dengar bukan berasal dari ibu. Laksma memandangi Ganet dengan keheranan yang luar biasa. Ia semakin terheran-heran dengan pembicaraan Ganet yang sangat lancar.</p>
<p>“Nenek tak bohong, Ganet yang minta bertemu dengan Tante.”</p>
<p>Laksma bengong.</p>
<p>“Ada sesuatu yang mesti Ganet sampaikan.”</p>
<p>Laksma menautkan kening.</p>
<p>“Akan ada kabar buruk datang. Kapal suami tante tertabrak karang. Seluruh awak kapal meninggal.”</p>
<p>“Ganet.”</p>
<p>“Ini benar, Tante.”</p>
<p>Dada ibu bergemuruh, sedang Laksma seperti ingin mati. Ganet mengatakan suaminya akan meninggal. Itu menyakitkan. (<em>PMT</em>:158—159)</p>
<p>&#160;</p>
<p>Kemampuan supranatural Ganet semakin berkembang seiring perkembangan usianya. Dengan spontan ia akan menyampaikan informasi futuristik kepada orang yang bersangkutan, di antaranya, keluarga teman kuliah ibunya, guru wali, tetangga, presiden, termasuk kerabatnya sendiri. Tentu saja informasi yang disampaikan Ganet mengundang pro dan kontra dari pihak yang bersangkutan. Ganet selalu dianggap mengada-ada, bahkan cenderung ditertawakan. Kata-kata Ganet dianggap angin lalu. Namun, ada pula yang menerima dan mengikuti kata-katanya. Salah seorang di antaranya adalah Sandra, teman ibu Ganet semasa kuliah dulu. Sandra dan kedua adiknya, Ester dan Carol, sudah tiga tahun lamanya tidak mengunjungi tanah kelahirannya dan makam ibu mereka. Ketika bertemu dengan Ganet, gadis kecil itu mengatakan bahwa makam ibunya sangat tidak terawat dan jika ketiga bersaudara itu tidak memperbaiki makam itu mereka akan tertimpa bencana. Semula Sandra tidak mempercayainya. Namun, akhirnya ia mencoba untuk mengikuti informasi anak ajaib itu. Diupayakannya untuk mengumpulkan dua saudaranya yang sama-sama supersibuk. Hanya Esterlah yang kurang memedulikan rencana itu. Sandra akhirnya berangkat sendirian dan memperbaiki makam ibunya serta rumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya dulu. Selanjutnya, Ganet mengabarkan kabar buruk kepada Ester bahwa Ganet mengatakan Ester akan kehilangan pekerjaannya. Tidak lama kemudian Ester mengalami hal itu. Lalu, Ganet menyarankan kepada Ester untuk melakukan sesuatu yang dulu sangat disukai oleh mendiang ibunya. Ester pun melakukan hal itu. Tidak lama kemudian Ester kembali mendapatkan panggilan kerja dari sebuah perusahaan. Ganet juga melakukan hal yang sama kepada Carol. Ketika Carol hendak bepergian dengan menggunakan kereta api, Ganet melarangnya dengan keras. Ganet melihat bayangan musibah tabrakan kereta api di pesawahan. Peristiwa itu sangat mengerikan. Carol pun terpaksa membatalkan kepergiannya  meskipun telah membeli tiket kereta. Ganet pun meminta Carol untuk tinggal sementara di rumah selama beberapa hari. Tidak lama kemudian Carol menyaksikan peristiwa itu di televisi.</p>
<p>Ganet merasa sedih dan sesal ketika kata-katanya tidak ditanggapi. Terlebih ketika pihak istana kepresidenan menganggapnya angin lalu. Ia menyampaikan bahwa ibu kota akan dilanda banjir besar yang luar biasa mengerikan. Padahal, saat itu negeri ini sedang dilanda musim kemarau panjang. Pihak istana menyepelekan kata-katanya. Ganet dilanda rasa sedih dan sesal yang sangat dalam. Ia pulang dengan tangan hampa. Tidak berapa lama kemudian hujan terus-menerus mengguyur ibu kota. Air yang melimpah ruah itu tidak mampu dikendalikan dan merusak hampir seluruh wilayah kota metropolitan itu. Bahkan, sang presiden yang sempat melecehkan gadis ajaib itu terpaksa harus kehilangan anggota keluarganya. Korban jiwa pun berjatuhan tiada terhingga. Ganet hanya dapat menyaksikan poeristiwa itu dengan penyesalan yang luar biasa. Hal itu membuatnya sakit. Kondisi Ganet memburuk sejak saat itu.</p>
<p>Selain dapat meramalkan hal-hal pada masa yang akan datang, Ganet juga mampu beralibi. Jika demikian, di kamar ia tampak seperti tertidur pulas. Namun, pada saat itu jiwanya sedang mengunjungi orang-orang yang ia perhatikan. Ketika guru walinya mendapat musibah, ia datang mengunjunginya di rumah sakit. Padahal pada saat yang sama Zahra dan Laksma menyaksikan gadis itu sedang tertidur lelap. Namun, denyut nadi Ganet melemah. Setelah nyawa Ganet kembali, kondisinya akan kembali seperti semula.</p>
<p>Kemampuan Ganet pun memiliki ambang batas. Ganet tidak dapat membaca pikiran ibunya. Pada saat itu Zahra sedang terhanyut ke alam penyesalan. Penyesalan yang selalu datang pada akhirnya. Ganet terus berusaha membaca isi benak ibunya, tetapi tetap tidak bisa. Gadis kecil itu baru menyadari kelemahannya setelah mendapat bisikan Clara bahwa kemampuannya hanya muncul dengan sendirinya.</p>
<p>Zahra dan Ganet merupakan anak indigo. Namun, kadar keindigoan mereka sangat berbeda. Zahra hanya dapat menembus alam Clara dan berkomunikasi dengan mendiang kakaknya itu. Namun, Ganet memiliki kadar keindigoan yang lebih besar, bahkan sangat besar untuk ukuran anak seusianya itu. Selain dapat berkomunikasi  dengan Clara, Ganet juga mampu menyampaikan hal-hal yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Sensitivitas Ganet sangat besar.</p>
<p>Sebagai anak indigo Zahra dan Ganet memiliki kesamaan, yaitu tidak mendapatkan tempat yang layak sebagai seorang anak indigo. Ketika Zahra mengatakan bahwa ia sering didatangi oleh Clara, anggota keluarganya yang lain menunjukkan reaksi kontra. Mereka menuduh bahwa Zahra sudah tidak waras, bertingkah aneh, dan pandai berhalusinasi. Karena tidak tahan dengan keanehan Zahra, ibu memutuskan untuk menjaga jarak dengan Zahra. Komunikasi dengan anggota keluarga lainnya pun terasa hambar. Akhirnya, Zahra pun menarik diri dan mengurung diri di kamar. Terlebih setelah keputusan ibu untuk mengubah kamar Clara menjadi gudang dilaksanakan. Puncaknya adalah larinya Zahra dari rumah dan melanjutkan kuliah di kota provinsi.</p>
<p>Ganet juga mengalami hal yang sama dengan Zahra, yaitu tidak mendapat tempat di hati keluarga terdekatnya, terutama ibunya. Satu hal yang sulit dimengerti, keanehan Ganet tidak akan tampak jika ayahnya, Bayu, berada di dekatnya. Ganet merasakan kesepian dan kesedihan yang justru dirasakan oleh Zahra. Ketika Zahra dianggap ‘tidak sembuh’ oleh ibunya, ia ditinggalkan wanita yang melahirkannya itu. Ibunya lebih memilih menjaga jarak dengan Zahra dan mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pekerjaannya. Ibu baru pulang larut malam saat Zahra telah tertidur. Zahra merasakan betapa orang-orang dekatnya, terutama ibunya, telah meninggalkannya. Padahal, saat itu ia sebenarnya sangat memerlukan kehadiran mereka.</p>
<p>Zahra menatap ibunya dengan penuh heran. Ada gerangan apa ibu menemuinya. Bukankah selama ini ibu seperti menghindar dari Zahra tanpa alasan yang jelas. Ya, sejak Clara orang yang paling dekat dengannya meninggal, ibu justru menjauh darinya. Padahal selama Clara meninggal Zahra sering kesepian dan kangen dengan ibu. Selalu ibu mengunjunginya meski hanya untuk merapikan selimut yang sesungguhnya sudah rapi. Dulu ada saja yang ibu katakan menjelang Zahra tidur. Sekarang tak terasa hampir satu tahun ibu telah meninggalkan kebiasaan yang hangat itu. (<em>PMT</em>:36)</p>
<p>&#160;</p>
<p>Apa yang dialami oleh ibunya dulu juga dialami oleh Zahra. Zahra tidak mampu menerima keanehan yang dimiliki oleh Ganet. Zahra memutuskan untuk kembali bekerja demi menghindarkan diri dari penglihatannya terhadap kelebihan pada diri Ganet. Zahra tidak menyadari bahwa Ganet juga merasakan kesedihan dan kesepian seperti yang pernah ia alami dulu. Bahkan, Ganet sangat membenci ibunya. Beruntung ia masih memiliki tempat untuk mencurahkan isi hatinya, yaitu Laksma. Laksma sangat memahami apa yang pernah terjadi pada diri Zahra dan kini pada diri keponakan kecilnya itu. Melihat kesibukan dan sikap Zahra, Laksma bersikeras untuk merawat Ganet sepenuh hati. Terlebih setelah ia kehilangan suaminya, perhatian Laksma sepenuhnya tercurah kepada gadis itu. Laksma tidak menginginkan Ganet membenci ibunya. Ia berjuang untuk melekatkan kembali ikatan di antara keduanya yang sudah kendur itu. Zahra kemudian menyadari hal itu. Ia berusaha untuk mendampingi putrinya meskipun selalu tampak kewalahan menghadapi keanehan putrinya itu. Zahra sebagai anak indigo tidak mampu menerima kodrat putrinya yang juga indigo. Seharusnya posisi Ganet lebih baik karena berada di dekat seseorang yang juga indigo. Namun, posisi Ganet sama saja dengan posisi Zahra dahulu. Sama-sama tidak nyaman.</p>
<p>Lingkungan sekitar Zahra dan Ganet senantiasa monoton, yaitu menghendaki keduanya untuk bertindak seperti anak normal lainnya. Zahra tidak menghendaki kemampuan Ganet untuk menyampaikan prediksi masa depan. Demikian pula anggota keluarga tidak menghendaki Zahra berbicara tentang pertemuannya dengan Clara.  Kelebihan yang dimiliki oleh Zahra dan Ganet tampak menjadi bumerang bagi orang-orang di sekitarnya. Khusus bagi Ganet, hal itu juga berlaku bagi orang-orang yang akan mengalami peristiwa yang diprediksinya.</p>
<p>Sikap lingkungan yang tidak berterima itu mendorong Zahra dan Ganet pada situasi yang sangat sulit. Zahra harus mengasingkan diri dari rumah dan anggota keluarganya. Lebih parah lagi, Ganet memburuk kondisinya ketika menyadari bahwa orang-orang yang  ia prediksikan nasibnya itu menolaknya dan, kemudian, mengalami kejadian yang sangat menyedihkan. Batin Ganet pun terkoyak hebat. Stamina Ganet memburuk.</p>
<p>Zahra dan Ganet sama-sama tidak mendapatkan penanganan yang baik dari keluarganya. Latar belakang keluarganya yang <em>broken home</em> dan tiadanya sosok sang ayah, mendorong Zahra menuntaskan kelebihan yang dimilikinya dengan menjauh dari kehidupan keluarganya. Ganet sedikit lebih beruntung. Ganet memiliki latar orang tua yang utuh. Namun, sang ayah tidak pernah mengetahui kelebihan yang dimilikinya. Komunikasi Zahra tentang hal itu tidak pernah terjadi dalam keluarga.  Namun, dukungan Laksma membuat Ganet memiliki sedikit celah untuk mengaktualisasikan kelebihannya itu. Zahra dan Ganet juga tidak digambarkan memiliki hubungan dengan teman-teman sebayanya. Mereka hanya digambarkan berkutat dengan lingkungan keluarga yang aggotanya  <em>notabene</em> usianya lebih tua.</p>
<p>Kurangnya pendidikan religi juga mendukung sikap negatif keluarga dan Zahra sendiri. Clara baru mengenali Tuhannya tepat ketika di penghujung hayatnya. Demikian pula Ganet. Gadis itu juga berusaha menelusuri arti Tuhan dan makna kebesaran-Nya tepat ketika ia meregang nyawa yang hanya sejengkal lagi itu. Sosok ayah yang tidak pernah tergambarkan dalam cerita justru mengundang misteri dan sejuta pertanyaan (kecuali kiriman bunga mawar sesaat pascakematian Clara). Bukan tidak mungkin jika ayah Zahra berlatar belakang keyakinan yang berbeda. Hal itu tercermin dalam nama Clara yang berbau nasrani, yaitu Theodora Clara Dewi. Sementara itu, nama Zahra dan Laksma tidak pernah terungkapkan. Bukan tidak mungkin perbedaan keyakinan itulah yang  menyebabkan terjadinya perpecahan di antara kedua orang tua tiga bersaudara itu. Hal itu pula yang memicu hambarnya pendidikan agama di lingkungan terkecil itu. Makna dan hakikat Tuhan tidak pernah tertanamkan sejak dini.</p>
<p>Ditinjau dari segi keturunan, Ganet memiliki garis indigo dari ibunya, Zahra. Sementara itu, tidak tertutup kemungkinan Zahra mengalami hal yang sama dari generasi sebelumnya.</p>
<p>Hembusan arus hidup globalisasi juga tercermin dalam novel ini. Gaya hidup yang cenderung serba cepat mendorong manusia menjadi mudah frustasi. Hal ini tercermin dari sikap ibu, Laksma, dan Zahra. Ibu tidak sabar dalam menghadapi kelebihan yang dimiliki oleh Zahra sehingga ikatan batin di antara keduanya menjadi hambar dan renggang. Laksma tidak sabar dalam menghadapi kondisi Clara yang sakit-sakitan. Bahkan, Laksma sempat menghendaki kematian adiknya itu. Zahra tidak sabar dalam menghadapi perilaku Ganet yang sebenarnya sama dengan dirinya. Zahra bersikap seperti ibunya, yaitu menghendaki perubahan pada diri orang lain dalam waktu cepat tanpa upaya dan kegigihan untuk menangani hal itu. Hubungan Zahra dan Ganet tidak ubahnya seperti hubungan Zahra dan ibu dulu. Perbedaannya ialah Ganet masih memiliki Laksma, sedangkan Zahra tidak mendapatkan pelabuhan <em>curhat</em> yang kasat mata seorang pun.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>3. Simpulan </strong></p>
<p>Novel <em>Perempuan Mencari Tuhan </em>merupakan rangkaian refleksi kehidupan anak indigo yang tidak mendapatkan penanganan secara tepat. Kelebihan yang dimiliki para indigo dalam cerita itu tidak mendapatkan tempat di lingkungan sekitarnya. Seperti dalam kisah indigo di dunia nyata, reaksi yang diterima dari lingkungan sekitar adalah reaksi kontra. Hal itu sangat menyulitkan kaum indigo untuk mengaktualisasikan kelebihan yang dimilikinya itu. Tidak tampaknya hubungan sosial dengan teman sebaya menyulitkan keseimbangan hubungan sosial sang indigo. Tokoh indigo dalam novel tampak terjerumus ke dalam dunia supranatural karena kurangnya latar pemahaman religi. Berkaitan dengan silsilah, teori yang mengatakan bahwa bakat indigo merupakan bakat turunan, juga terbukti. Ganet mendapatkan talenta indigo dari ibunya, Zahra.</p>
<p>Deraan arus globalisasi juga terasa kental dalam cerita. Arus tersebut cenderung mendorong manusia untuk mengembangkan gaya hidup cepat. Hal itu berimbas pada kejiwaan manusia. Manusia menjadi mudah depresi. Kesabaran menjadi prioritas nomor sekian. Hal itu tercermin dalam sikap tokoh ibu, Laksma, dan Zahra dalam menghadapi fakta yang ada. Lingkungan yang tidak berterima tersebut juga mudah mendorong anak indigo menjadi frustasi. Zahra dengan kepergiannya dan Ganet dengan sakitnya.</p>
<p>Beberapa karakteristik anak indigo seperti yang dikemukakan Tobler juga tercermin dalam cerita, di antaranya sebagai berikut: (1) Zahra dan Ganet memiliki kepekaan yang tinggi atau indera keenam, (2) Ganet mampu berfikir futuristik, (3) cenderung menarik diri dari lingkungan sekitar, dan (4) sering bersitegang dengan orang terdekat terutama ibu dalam mempertahankan prinsip tertentu.</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Bataviase. 2007. “Jiwa Tua Anak Indigo” dalam <a href="http://bataviase.wordpress.com/2007/04/30/jiwa-tua-anak-indigo/">http://bataviase.wordpress.com/2007/04/30/jiwa-tua-anak-indigo/</a> diunduh tanggal 16 Maret 2009 jam 15:34</p>
<p>Eriyanti. 2009. “Indra Keenam Anak Indigo” dalam suplemen “Geulis” <em>Pikiran Rakyat</em> edisi Minggu, 22 Februari 2009, halaman 17.</p>
<p><a href="http://dearlucky.blogspot.com/2007/08/anak-indigo-itu-hebat.html">http://dearlucky.blogspot.com/2007/08/anak-indigo-itu-hebat.html</a> diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:40</p>
<p><a href="http://forum.wintersat.com/science-n-art/1173-fenomena-anak-indigo.html">http://forum.wintersat.com/science-n-art/1173-fenomena-anak-indigo.html</a> diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:40</p>
<p><a href="http://www.indospiritual.com/artikel_anak-indigo--aset-negara-yang-harus-diperhatikan.html">http://www.indospiritual.com/artikel_anak-indigo&#8211;aset-negara-yang-harus-diperhatikan.html</a> diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:38</p>
<p><a href="http://kontaktuhan.org/news/news186/fr_26.html">http://kontaktuhan.org/news/news186/fr_26.html</a> diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:13</p>
<p>Mohammad, Herry  <em>et al.</em> 2004. Liputan khusus Gatra dalam <a href="http://209.85.175.132/search?q=cache:aXL0mG13XR8J:www.gatra.com/2004-05-9/artikel.php%3Fid%3D35187+ANAK+INDIGO&#38;cd=8&#38;hl=id&#38;ct=clnk&#38;gl=id&#38;client=firefox-a">http://209.85.175.132/search?q=cache:aXL0mG13XR8J:www.gatra.com/2004-05-9/artikel.php%3Fid%3D35187+ANAK+INDIGO&#38;cd=8&#38;hl=id&#38;ct=clnk&#38;gl=id&#38;client=firefox-a</a> diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:36</p>
<p>Rimba, Leonardo. 2005. “Anak Indigo dan Sistem Pendidikan Kita” dalam <a href="http://www.mail-archive.com/psikologi_net@yahoogroups.com/msg00170.html">http://www.mail-archive.com/psikologi_net@yahoogroups.com/msg00170.html</a> diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:34</p>
<p>Yaya. 2007.  “Anak-Indigo” dalam <a href="http://myhealthblogging.com/parenting/2007/08/23/">http://myhealthblogging.com/parenting/2007/08/23//</a> diunduh tanggal 16 Maret 2009 pukul 16:25</p>
<p>Yudhistira, Dianing Widya. 2007. <em>Perempuan Mencari Tuhan. </em>Jakarta: Republika.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[11. ISLAM DAN MANAJEMEN KONFLIK]]></title>
<link>http://naskahkultum.wordpress.com/2009/11/12/11-islam-dan-manajemen-konflik/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 02:56:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>naskahkultum</dc:creator>
<guid>http://naskahkultum.wordpress.com/2009/11/12/11-islam-dan-manajemen-konflik/</guid>
<description><![CDATA[Manusia cenderung untuk melakukan konflik, sebagaimana yang digambarkan dalam dialog antara Allah de]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Manusia cenderung untuk melakukan konflik, sebagaimana yang digambarkan dalam dialog antara Allah dengan para malaikat sewaktu akan menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi<!--more--> : <strong>“</strong><em>Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata, mengapa Engkau hendak menjadikan (khafilah) di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan engkau ? Tuhan berfirman : Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” </em>(al-Baqarah: 30).</p>
<p>Dialog tersebut mengisyaratkan bahwa ada dua bentuk konflik yang cenderung dibuat manusia yakni membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Dengan alasan inilah manusia diklaim malaikat sebagai makhluk konflik sedangkan mereka adalah makhluk suci karena selalu bertasbih dan mensucikan Tuhan.</p>
<p>Namun yang menarik adalah ketika Tuhan mengakhiri ayat itu dengan <em>“Aku Maha Tahu terhadap apa yang kamu tidak ketahui”</em>. Seakan mengisyaratkan adanya sesuatu dibalik penciptaan tersebut, dan ternyata memang manusia dibalik kelemahannya memiliki sejumlah kelebihannya yakni keahlian manusia memenej kekurangannya sehingga kelebihannya tetap ada dan tidak hilang.</p>
<p>Konflik yang sering timbul dikalangan manusia karena ketidakselarasan tujuan, perbedaan kepentingan karena latar belakang sosial yang berbeda, adanya kelangkaan, persaingan yang ketat dan perubahan-perubahan. Munculnya permusuhan, emosional dan kebencian sumbernya antara lain karena naluri agresif manusia yang ingin merusak pihak-pihak tertentu.</p>
<p>Konflik sebetulnya tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan, baik dalam skala besar maupun kecil, serius atau tidak. Tapi konflik harus dikendalikan antara lain dengan mencegah agar tidak berkembang diantaranya menyadari posisinya dibandingkan orang lain, menghilangkan prasangka buruk dan mengembangkan rasa kasih sayang. Dan yang paling penting adalah mencari kesamaan bukan mencari perbedanya.</p>
<p>Diantara petunjuk yang diberikan Islam dalam upaya menghilangkan konflik adalah firman Allah yang memerintahkan agar seorang muslim tidak menghina atau memperolok orang lain. Firman Allah : <em>“Hai orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain. Boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok”</em> (al-Hujurat:11).</p>
<p>Untuk mengatasi konflik hendaklah pihak yang saling bertikai melakukan islah atau perdamaian dan saling memaafkan. Jika tidak memungkinkan, maka hanya bisa bermohon kepada Allah agar dilindungi dari kejahatan lawan konflik yang tidak memiliki kesadaran itu.</p>
<p>Sementara itu untuk menekan timbulnya konflik, harus selalu dikembangkan rasa persatuan dan kesatuan, rasa kasih sayang dan kemanusiaan sesuai ajaran Islam, menumbuhkan kesadaran bahwa kita dengan orang lain itu adalah sama (tidak egois), dan besikap terbuka.</p>
<p>Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam memiliki petunjuk mengenai pengendalian konflik. Sebab agama ini menata semua aspek kehidupan dan aktifitas manusia agar selalu bernuansa kesatuan dan persaudaraan, serta kasih sayang.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Konflik Menahun Indonesia-Malaysia ; Analisis history, sosial budaya, dan geopolitik]]></title>
<link>http://petikdua.wordpress.com/2009/11/11/konflik-menahun-indonesia-malaysia-analisis-history-sosial-budaya-dan-geopolitik/</link>
<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 17:44:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>petikdua</dc:creator>
<guid>http://petikdua.wordpress.com/2009/11/11/konflik-menahun-indonesia-malaysia-analisis-history-sosial-budaya-dan-geopolitik/</guid>
<description><![CDATA[Indonesia dan Malaysia adalah negara serumpun dan bertetangga yang tidak pernah luput dari konflik y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Indonesia dan Malaysia adalah negara serumpun dan bertetangga yang tidak pernah luput dari konflik yang selalu menghiasi setiap hubungan diplomatiknya. Sebuah hubungan yang sangat unik karena semestinya, dengan logika kekeluargaan, pihak yang posisinya berdekatan itu semestinya saling mendukung dan membantu.</p>
<p>Jika ditinjau dari segi historis, sejak berdirinya negara Malaysia itu sendiri sesungguhnya telah diwarnai konflik dengan negara tetangga dan serumpunnya, negara kita Indonesia. Seperti yang kita tahu kemerdekaan Malaysia adalah ‘pemberian’ Inggris sebagai penjajahnya. Secara nama, Malaysia yang berasal dari kata Malaya itu tentu saja logikanya jika akan dibuat Negara tentu ya wilayah jajahan Inggris di Semenanjung Malaya. Pertamanya memang seperti itu dan Indonesia tidak mempermasalahkan bedirinya Malyasia itu. Negara Malaysia atau yang lebih tepatnya Federasi Malaysia adalah negara federasi gabungan dari beberapa kerajaan lokal di wilayah Semenanjung Malaysia. Kalimantan Utara yang terdiri dari tiga wilayah yaitu Sabah, Sarawak dan Brunei tidak termasuk ke dalam wilayah Malaysia namun masih tetap berupa koloni Inggris.</p>
<p>Namun ternyata Inggris memepunyai rencana lain tentang Malaysia. Inggris hendak menggabungkan Kalimantan sebelah Utara bersama wilayah Semenanjung Malaya dalam satu Negara bernama Malaysia. Terang saja Soekarno selaku Presiden Indonesia saat itu sangat marah dan tidak terima. Dalam hal ini, bukan Kalimantan Utara yang tidak masuk wilayah Indonesia itu yang menjadi masalah, melainkan keberadaan Negara itu justru akan mengancam kedaulatan Indonesia. Dibayang-bayangi oleh pengalaman pahit dari neoimperialisme dan neokolonialisme yang pernah dirasakan Indonesia, timbul kemudian pikiran yang tidak baik jika ada negara boneka Inggris yang terletak di dekat Indonesia.</p>
<p>Soekarno yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden RI tidak sembarangan beranggapan negative terhadap Malaysia negara boneka bentukan Inggris. Fakta memang membuktikan bahwa Indonesia mempunyai pengalaman yang tidak mengenakkan dengan percobaan neokolonialisme. Saat sekutu datang ke Indonesia, yang saat itu Indonesia sudah merdeka, dengan dalih melucuti Jepang ternyata sekutu diboncengi Belanda yang ingin kembali menjajah. Bukan tidak mungkin kelak Malaysia yang terletak di utara Kalimantan itu bisa diboncengi kepentingan Inggris.</p>
<p>Ketidaksetujuan itu pun ternyata juga dirasakan oleh rakyat di sekitar Kalimantan Utara. Peperangan terus saja berlanjut di wilayah itu dengan agenda mempertahankan wilayah. Melihat ketidaktenangan yang terus saja terjadi di wilayah ini, muncul kemudian inisiatif untuk merundingkan bagaimana baiknya kelangsungan wilayah itu antara calon anggota Malaysia, yakni Sabah, Serawak, dan Brunei Darussalam dan Indonesia dengan mediasi pemerintah Filiphina di Manila, 31 Juli 1963.</p>
<p>Perundingan yang dilaksanakan di Manila itu bermuara pada kesepakatan untuk memberi kebebasan pada wilayah Sabah, Serawak, dan Brunei untuk kemudian menetukan sendiri apakah mereka akan bergabung atau tidak dalam sebuah referendum. Namun, belum sempat ketiga wilayah itu memberikan pilihannya, Malaysia lebih dulu menyatakan secara pihak bahwa Sabah dan Serawak masuk menjadi bagian  negaranya. Karena ketidakadilan iniah kemudian Soekarno menjadi tidak simpati dan memutuskan untuk tidak mengakui kedaulatan Malaysia sebagai sebuah negara. Hal ini kemudian memuncak ketika Malaysia diterima menjadi anggota PBB pada tahun 1965. Melihat fenomena tersebut, Indonesia melalui Soekarno pada saat itu memutuskan untuk keluar dari PBB. Namun, suasana dalam negeri juga tengah tegang karena kasus PKI saat itu dan berakhir dengan digantikannya Soekarno oleh Soeharto, sehingga keluarnya Indonesia dari PBB ini pun tidak berlangsung lama. Ketika Soeharto menjadi presiden Republik Indonesia, Indonesia pun kembali masuk menjadi anggota PBB. Meski hanya sebentar, tapi ini cukup memberi gambaran dunia dan public internasional akan sikap Indonesia terhadap Malaysia saat itu.</p>
<p>Namun, tidak hanya dalam bidang politik saja yang mampu memunculkan konflik anatara Malaysia dan Indonesia. Sektor Budaya pun sering kali menjadi saasaran empuk potensi konflik. Kali ini konflik itu kerap kali muncul karena keragaman budaya leluhur. Mengingat Malaysia adalah negara dengan budaya luhur melayu, begitupun Indonesia, khususnya di Indonesia bagian barat. Karena budaya ini dimiliki oleh kedua negara yang berbeda, maka kebudayaan yang berada di wilayah ini disebut budaya daerah abu-abu ; <em>gray area. </em>Budaya yang berada di wilayah ini bisa dimiliki oleh kedua belah pihak, tapi tidak boleh diklaim secara sepihak. Yang kerap terjadi, khususnya akhir-akhir ini adalah seringanya terjadi klaim di satu pihak saja. Tidak hanya itu, seringkali juga Malaysia mengklaim budaya-budaya yang tidak berada di daerah abu-abu atau yang secara sangat jelas budaya yang sangat jelas merupakan milik Indonesia, misalnya saja tari pendet yang baru saja sangat gempar diberitakan di media dan angklung serta batik Indonesia. Belakangan juga didapati bukti bahwa lagu kebangsaan Malaysia yang berjudul <em>‘Negaraku’ </em>adalah lagu yang musiknya diadopsi dari salah satu lagu lawas Indonesia yang berjudul ‘<em>terang bulan’.</em> Sangat banyak hal-hal yang menjadi pemicu konflik dalam hal budaya ini karena jika kita bicara tentang budaya suatu negara, makas ecara tidak langsung kita tengah berbicara tentang identitas negara tersebut yang jelas berhubungan langsung dengan kedaulatan negara yang bersangkutan.</p>
<p>Sektor wilayah pun sering kali menjadi potensi pemicu konflik antara Malaysia dan Indonesia. Hal ini di picu oleh kasus perebutan pulau Sipadan dan Ligitan yang diperebutkan oleh Indonesia dan Malaysia pada tahun 2006 silam. Hingga kini, kasus ini telah selesai dengan keputusan bahwa Sipadan dan Ligitan merupakan milik Malaysia dengan pertimbangan Malaysia lah yang telah melakukan pembangunan  awal di wilayah tersebut. Tanpa disadari, ternyata jauh sebelum kasus ini naik ke permukaan, sudah sangat abnyak pulau-pulau di Indonesia yang dijual kepada Malaysia dengan harga yang relative cukup sangat murah hanya karena pembodohan atau penyelewengan yang menggelapkan mata nurani pihak yang bersangkutan. Terakhir potensi pemicu konflik yang menghiasi hubungan diplomatic Indonesia dan Malaysia adalah kasus Perairan Ambalat. Malaysia kembali secara sepihak membuat peta wilayah baru yang memasukkan Ambalat kedalam wilayah negaranya, tetapi Indonesia telah jauh lebih dulu meratifikasi wilayah ini sebagai wilayahnya dalam Unclos tahun 1982 silam. Terakhir diketahui bahwa Malaysia baru memusingkan diri untuk berusaha mendapatkan Ambalat semenjak didapatkannya potensi minyak bumi yang cukup menjanjikan untuk kemajuan ekonomi negara yang bersangkutan. Kembali masalah ekonomi dan politik.</p>
<p>Jika kita menganalisis lebih dalam mengenai konflik dewasa ini, memang telah terjadi pergeseran substansi konflik. Kini, aktor internasional tidak lagi dikatakan berperang hanya ketika mereka memegang senjata dan saling bersitegang dan saling membunuh, tetapi proses eksploitasi dan pemanfaatan pun bisa dikatakan berperang. Wajah konflik kini terah berubah. Kini kita berperang secara ekonomi dan politik dengan mengedepankan kegengsian antar potensi negara. Invasi-invasi kini tidak hanya beredar dalam bentuk tentara dan bom, melainkan invasi kini menyerang kita melalui kelaparan, kemiskinan, penyakit, dan pembodohan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Non Muslim Masih Sulit Memperoleh IMB Rumah Ibadah]]></title>
<link>http://pormadi.wordpress.com/2009/11/09/non-muslim-masih-sulit-memperoleh-imb-rumah-ibadah/</link>
<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 04:23:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>pormadi</dc:creator>
<guid>http://pormadi.wordpress.com/2009/11/09/non-muslim-masih-sulit-memperoleh-imb-rumah-ibadah/</guid>
<description><![CDATA[Masih sulitnya memperoleh surat Izin Mendirikan Rumah Ibadah (IMB) bagi Non-Muslim dan minimnya koor]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Masih sulitnya memperoleh surat Izin Mendirikan Rumah Ibadah (IMB) bagi Non-Muslim dan minimnya koor]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pernyataan Pers: Bencana Tsunami Keadilan]]></title>
<link>http://pormadi.wordpress.com/2009/11/05/pernyataan-pers-bencana-tsunami-keadilan/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 08:44:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>pormadi</dc:creator>
<guid>http://pormadi.wordpress.com/2009/11/05/pernyataan-pers-bencana-tsunami-keadilan/</guid>
<description><![CDATA[Pernyataan Pers BENCANA TSUNAMI KEADILAN Komite Darurat Keadilan, yang terdiri dari sejumlah organis]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pernyataan Pers BENCANA TSUNAMI KEADILAN Komite Darurat Keadilan, yang terdiri dari sejumlah organis]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perempuan Iran yang Pindah Agama Didakwa Murtad Menyebarkan Ke Kristenan]]></title>
<link>http://pormadi.wordpress.com/2009/11/05/perempuan-iran-yang-pindah-agama-didakwa-murtad-menyebarkan-ke-kristenan/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 08:21:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>pormadi</dc:creator>
<guid>http://pormadi.wordpress.com/2009/11/05/perempuan-iran-yang-pindah-agama-didakwa-murtad-menyebarkan-ke-kristenan/</guid>
<description><![CDATA[Hakim Iran menjatuhkan hukuman bagi dua tahanan perempuan yang pindah agama atas &#8220;kejahatan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Hakim Iran menjatuhkan hukuman bagi dua tahanan perempuan yang pindah agama atas &#8220;kejahatan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SBY dinilai lamban hentikan perseteruan Polri Vs KPK ?]]></title>
<link>http://answering.wordpress.com/2009/11/02/sby-dinilai-lamban-hentikan-perseteruan-polri-vs-kpk/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 18:04:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>id amor</dc:creator>
<guid>http://answering.wordpress.com/2009/11/02/sby-dinilai-lamban-hentikan-perseteruan-polri-vs-kpk/</guid>
<description><![CDATA[Perseteruan antara Polri-KPK memuncak pascapenahanan terhadap Wakil Ketua KPK Bibit Samad Rianto dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Perseteruan antara Polri-KPK memuncak pascapenahanan terhadap Wakil Ketua KPK Bibit Samad Rianto dan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kita bekerja untuk ISLAM]]></title>
<link>http://afiqizzudin.wordpress.com/2009/10/31/kita-bekerja-untuk-islam/</link>
<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 23:52:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>ibn Abd Rahim</dc:creator>
<guid>http://afiqizzudin.wordpress.com/2009/10/31/kita-bekerja-untuk-islam/</guid>
<description><![CDATA[Perbalahan, pertelingkahan dan konflik di antara persatuan, jemaah atau badan yang menggunakan nama ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Perbalahan, pertelingkahan dan konflik di antara persatuan, jemaah atau badan yang menggunakan nama ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[bila MIC dan PAS ada konflik.]]></title>
<link>http://artyboy.wordpress.com/2009/10/30/bila-mic-dan-pas-ada-konflik/</link>
<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 10:38:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>artyboy</dc:creator>
<guid>http://artyboy.wordpress.com/2009/10/30/bila-mic-dan-pas-ada-konflik/</guid>
<description><![CDATA[post ni aku buat bukan nak sokong mana-mana pihak o mana-mana macha dalam arena politik MALAYA yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>post ni aku buat bukan nak sokong mana-mana pihak o mana-mana macha dalam arena politik MALAYA yang makin..erk..kotork!</p>
<p>Kalau korang jenis yang amek tau apa perkembangan politik(which rasa aku tak sangat kot) korang akan perasan masalah yang dihadapi ngan dua parti politik gergasi MALAYA yang ada kat arus yang tak berapa nak sama yakni MCA dan PAS.</p>
<p><strong>Konflik MCA</strong><br />
aku tak berapa nak amek tau bila ni stat.So takde tarikh k.Sori.Well,bnde ni stat bila Chua Soi Lek(timbalan presiden MCA) telah di pecat dari parti atas alasan kes skandal SEKS dia dulu.Dia tak puas hati then wat seruan kat blog dia untuk wat EGM(somekind of mesyuarat tergempar) untuk buat pembaharuan la kira pada parti.DAn bila EGM tu da berjalan,hasilnya(seingat aku) Presiden Parti ngan dia-dia sekali kena halau.maaf kalau salah tapi ini seingat aku k.Kalau salah.aku sedia untuk dibetulkan.TQ!jadi resultnya,smpai sekarang MCA tenga bergolak.</p>
<p><strong>konflik PAS</strong><br />
ni semua stat lama dah.tak silap aku since kerajaan perpaduan UMNO-PAS ag dicadangkan.Tapi cuma skarang bahang dia btol-btol terasa sebab Mursyidul Am Pas,Nik Aziz Nik Mat cadangkan nak wat EGM gak atas tujuan nak bersihkan parti Pas dari mereka-mereka yang pada beliau dah hanco! </p>
<p><strong>reaksi UMNO</strong><br />
haha.<br />
aku gelak je tengok reaksi UMNO yang sangat-sangat la kontra bila dua benda ni jadi.Haha.<br />
Well,bila MCA dalam masalah yang kita tak payah sekolah tinggi pun tau sangat-sangatla teruk,UMNO boleh cakap lagi rilek,xde pape ni,give em some time nanti oklah tu.<br />
Tapi bila PAS pun nampak macam retak menanti belah(ikut mediala),UMNO dengan santainya cakap yang PAS ue memang tak lama lagi dah,dah ada perbalahan dalam parti coz da ada dua puak n mintak rakyat nilaikan sendiri.</p>
<p><strong>reaksi aku</strong><br />
aku sangatla kecewa.<br />
sangat-sangat kecewa dengan reaksi UMNO ni.Nampak sangat yang demi kuasa dorang bole defend parti yang sah-sah bukan Islam punya dan dengan senangnya condemn parti even parti tu orang ISLAM punya.Aku bukan nak jadi bias atau pupuk semangat assabiah tapi reaksi UMNO untuk masalah yang sama even dihadapi oleh dua pihak berbeza sangat mengecewakan aku.Kalau its a diff prob,its ok la kan.</p>
<p>well,itulah politik kan.Haha.n aku pun tak tau kenapa aku kena buang masa cakap pasal oramg politik ni.Most of them Are LIAR kan.So.watpe kisah,Anggap je pe dorang buat ue mcm drama.kita layan selagi boleh dan lwan kalau dah tak tahan.haha</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Muhabalah sesama muslim]]></title>
<link>http://answering.wordpress.com/2009/10/29/muhabalah-sesama-muslim/</link>
<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 02:00:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>id amor</dc:creator>
<guid>http://answering.wordpress.com/2009/10/29/muhabalah-sesama-muslim/</guid>
<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum&#8230; Ustadz, bagaimanakah hukum mubahalah itu sebenarnya? Bagaimana tata ca]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum&#8230; Ustadz, bagaimanakah hukum mubahalah itu sebenarnya? Bagaimana tata ca]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[INDIA - Kaum Religius Belajar Tangani Konflik dan Kekerasan]]></title>
<link>http://humorkristiani.wordpress.com/2009/10/28/india-kaum-religius-belajar-tangani-konflik-dan-kekerasan/</link>
<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 08:12:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>ag</dc:creator>
<guid>http://humorkristiani.wordpress.com/2009/10/28/india-kaum-religius-belajar-tangani-konflik-dan-kekerasan/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Bijay Kumar Minj NEW DELHI (UCAN) &#8211; Kaum Religius India menyelenggarakan serangkaian prog]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Oleh Bijay Kumar Minj</em></p>
<p>NEW DELHI (UCAN) &#8211; Kaum Religius India menyelenggarakan serangkaian program pelatihan untuk turut meningkatkan kualitas kepemimpinan umat mereka dan untuk menangani berbagai konflik dan kekerasan.</p>
<p>&#8220;Waktunya telah tiba bagi para pemimpin kita untuk diperlengkapi dengan lebih baik guna menangani berbagai konflik karena kita baru saja mengalami kekerasan sektarian di negeri ini,” kata Bruder Mani Mekkunnel, seorang anggota Tarekat Para Bruder Monfortan, sekretaris nasional Konferensi Religius India (CRI, Conference of Religious India).</p>
<p>Konferensi itu merupakan asosiasi nasional dari 822 superior dari 334 kongregasi religius di India.</p>
<p>Sekitar 450 religius pernah menghadiri program pelatihan CRI selama tiga tahun terakhir. Setiap program dengan judul &#8220;Call to leadership&#8221; berlangsung selama lima hari.</p>
<p>Program pelatihan terakhir yang diikuti oleh 22 peserta itu diselenggarakan di New Delhi 20-25 Oktober. Program itu dimaksud agar kaum religius dapat memimpin desa dan komunitas untuk memulai berbagai dialog lintas agama melalui berbagai program yang melibatkan semua agama.</p>
<p>&#8220;Yang kita butuhkan sekarang adalah para pemimpin aksi, bukan pengamat bisu,&#8221; kata Bruder Mekkunnel kepada UCA News. Kaum religius, lanjutnya, hendaknya menjadi pemimpin dalam menemukan penyelesaian terhadap berbagai persoalan seperti kekerasan dan sektarianisme.</p>
<p>Bruder Mekkunnel mengatakan, fanatisme agama yang tengah meningkat sekarang ini tidak membutuhkan &#8220;kepala sekolah, dokter, dan perawat yang baik” dari kaum religius, tetapi “para pemimpin yang baik.&#8221;</p>
<p>Gereja memiliki “banyak orang terdidik dan berkualitas,” katanya, namun banyak kali ketika dibutuhkan, “kita sangat menyesal karena tidak ada yang mau.&#8221;</p>
<p>Dia mencontohkan kekerasan anti-Kristen tahun lalu di Orissa, tempat sekitar 90 orang Kristen dibunuh dan 50.000 lainnya kehilangan tempat tinggal. “Tak seorang pun yang menuntun atau membela kita,&#8221; katanya.</p>
<p>Bruder R. Amaldas dari Kongregasi Hati Kudus Yesus, yang mengikuti program pelatihan terakhir, mengatakan kepada UCA News, pelatihan itu memberinya “suatu pemahaman akan spiritualitas religius modern.&#8221;</p>
<p>Pelatihan itu meyakinkan dia, katanya, bahwa “pertumbuhan spiritual” juga berarti tidak meninggalkan manusia dalam penderitaan. &#8220;Kita harus bersama mereka dalam kebahagiaan dan kesedihan mereka. Kita juga bahkan harus mengikuti cara mereka berdoa,” lanjutnya.</p>
<p>Program pelatihan itu memberi kesempatan untuk membicarakan skenario sekarang ini, apakah pertukaran atau peminjaman pandangan, kata Bruder Amaldas.</p>
<p>Suster Lilly Kuriakose, peserta lain, mengatakan bahwa sangat sering di banyak rumah pembinaan “kita mengikuti saja formula yang sudah jadi.” Ketimbang memberi para anggota baru “kebebasan untuk mengekspresikan diri mereka, kita menjejali mereka dengan apa yang kita miliki.&#8221;</p>
<p>Suster dari Tarekat Santo Carolus Boromeus itu mengatakan, program itu menekankan perlunya memberi kesempatan kepada orang untuk menemukan sendiri.</p>
<p>Yang paling disukai Suster Kuriakose adalah kelas-kelas tentang masalah hukum, yang memberi lebih banyak masukan menganai hak asasi manusia  kepadanya. &#8220;Paling tidak, kini saya tahu di mana dan siapa yang harus dihubungi jika menghadapi kasus pelanggaran hak asasi manusia,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Bruder Mekkunnel mengatakan, program itu meningkatkan keyakinan para peserta dan membuat mereka bersemangat untuk menyelesaikan berbagai masalah yang mereka hadapi di lapangan pekerjaan mereka.</p>
<p>&#160;</p>
<p>http://www.ucanews.com/2009/10/28/india-kaum-religius-belajar-tangani-konflik-dan-kekerasan/</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Konflik Palestina-Israel dan Peran PBB]]></title>
<link>http://nufri21.wordpress.com/2009/10/27/konflik-palestina-israel-dan-peran-pbb/</link>
<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 04:06:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>nufri</dc:creator>
<guid>http://nufri21.wordpress.com/2009/10/27/konflik-palestina-israel-dan-peran-pbb/</guid>
<description><![CDATA[Penduduk palestina sudah puluhan tahun hidup dalam perjungan untuk membela kedaulatannya, dan membel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Penduduk palestina sudah puluhan tahun hidup dalam perjungan untuk membela kedaulatannya, dan membela keadilan serta hak asasinya. Serangan dari Israel yang mendapat dukungan dari Amerika tidaklah membuat mereka mundur, buram dan takluk, bahkan justru dapat melahirkan semangat juang untuk membela Negara dan keadilan. <!--more--></p>
<p>Hal ini dapat di lihat ketika terjadi konflik dengan Israel, pejuang Palestina selalu menunjukkan semangatnya untuk melawan musuh dengan senjata yang tidak sebanding dengan senjata musuh. Namun meskipun keterbatasan senjata tidaklah membuat mereka berhati kecil, putus asa dan mudah menyerah, karena mereka tahu bahwa hal ini merupkan persoalan hak penduduk Palestina yang harus di pertahankan dan di bela. Israel tidaklah berhak merebut tanah palestina dan menginjak-ngenjak bangsa palestina </p>
<p>Konflik yang berkepanjangan ini tidaklah mudah di selasaikan, sebab hal ini persoalan yang harus di tangani dan di selesaikan secara internasional. Namun anehnya, konflik ini pada kenyataannya tidak pernah selesai bagaikan film serial yang terus bersambung; serial pertama selasai muncul serial kedua dan begitu seterusnya. Memang kadang terjadi perdamaian selang beberapa bulan atau beberapa tahun, namun kemudian meletus lagi. </p>
<p>Sekarang (bertepatan dengan tahun baru islam) terjadi lagi konflik yang cukup panas antara pejuang palestina dan Israel. Sejak konflik beberapa hari hingga sekarang, serangan Israel ke Gaza telah merengut nyawa sekitar 700 (tujuh ratus korban), yang mayoritas masyarakat sipil dan anak-anak di bawah usia. Udara di Gaza di selimuti dengan asap letusan bom-bom Israel, tumpahahan darahpun terus mengalir bagaikan mata air yang mengalir, sementara dunia hanya menjadi saksi. Alangkah kejamnya manusia yang selalu punya rasa dendam dan merebut hak orang lain, sungguh sangat biadabnya tindakan Israel itu dengan membabi buta.</p>
<p>Anehnya, konflik ini seakan-akan hanya menjadi tayangan PBB yang hendak di saksikan di layar TV tanpa ada yang protes. Padahal persoalan ini dapat di selesaikan hanya melalui PBB. Jika tidak maka konflik ini tidak akan pernah selasai. PBB hanya menjadi saksi bisu tanpa mengeluarkan sepatah katapun menengahi penyelesaian dan perdamaian. </p>
<p>Maklum PBB hanya di peralat oleh Amerika yang mendukung penuh terhadap Israel dan menjadi sebatas simbol ketika di hadapkan pada konflik Palestina-Israel. Penyelesaian lewat dua belak pihak” palestina-Israel” tidaklah akan menjamin secara penuh atas perdmaian di palestina. Oleh karena itu, sekarang PBB harus bertindak dengan cepat untuk menangani perdamaian itu dan harus tegas tanpa di tunda-tunda lagi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apa Pun yang Terjadi, Pelayanan Masyarakat Jangan Terganggu]]></title>
<link>http://inprogres.wordpress.com/2009/10/26/apa-pun-yang-terjadi-pelayanan-masyarakat-jangan-terganggu/</link>
<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 10:46:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>inprogres</dc:creator>
<guid>http://inprogres.wordpress.com/2009/10/26/apa-pun-yang-terjadi-pelayanan-masyarakat-jangan-terganggu/</guid>
<description><![CDATA[Konflik Kepala Daerah Sejak awal masa jabatannya, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dan Wakil Gubern]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Konflik Kepala Daerah Sejak awal masa jabatannya, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dan Wakil Gubern]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tak Sekadar Memaafkan]]></title>
<link>http://nurdiyanti.wordpress.com/2009/10/26/tak-sekadar-memaafkan/</link>
<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 10:29:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurdiyanti</dc:creator>
<guid>http://nurdiyanti.wordpress.com/2009/10/26/tak-sekadar-memaafkan/</guid>
<description><![CDATA[Mungkin ada di antara kita yang mendengar, “Duh, sulitnya memaafkan orang lain….” Memaafkan orang la]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Mungkin ada di antara kita yang mendengar, “Duh, sulitnya memaafkan orang lain….” Memaafkan orang la]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
