<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>krecek &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/krecek/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "krecek"</description>
	<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 03:15:03 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Resep Masakan Krecek]]></title>
<link>http://superkitchen.wordpress.com/2009/01/04/resep-masakan-krecek/</link>
<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 08:41:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>superkitchen</dc:creator>
<guid>http://superkitchen.wordpress.com/2009/01/04/resep-masakan-krecek/</guid>
<description><![CDATA[No Resep Masakan 1 Sambal Goreng Tahu Krecek]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><table style="border-collapse:collapse;width:148pt;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="197">
<col style="width:19pt;" width="25"></col>
<col style="width:129pt;" width="172"></col>
<tbody>
<tr style="height:14.4pt;">
<td class="xl67" style="height:14.4pt;width:19pt;" width="25" height="19">No</td>
<td class="xl68" style="width:129pt;" width="172">Resep Masakan</td>
</tr>
<tr style="height:14.4pt;">
<td class="xl66" style="height:14.4pt;" height="19">1</td>
<td class="xl65"><a title="Permalink to Sambal Goreng Tahu Krecek" href="http://resep-masak.com/sambal-goreng-tahu-krecek.html">Sambal Goreng Tahu Krecek</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sambal Goreng Krecek Kacang Tolo]]></title>
<link>http://citarasa.wordpress.com/2008/09/05/sambal-goreng-krecek-kacang-tolo/</link>
<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 18:04:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>citarasa</dc:creator>
<guid>http://citarasa.wordpress.com/2008/09/05/sambal-goreng-krecek-kacang-tolo/</guid>
<description><![CDATA[Bahan: 200 gr krecek/kerupuk kulit/ rambak. 100 gr kacang tolo, cuci bersih. 50 gr kapri muda, buang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://citarasa.files.wordpress.com/2008/09/sambalgorengkrecekkacangtolo.jpg?w=225&#038;h=234" alt="Sambal Goreng Krecek Kacang Tolo" hspace="10" width="225" height="234" align="right" />Bahan:</p>
<ul>
<li>200 gr krecek/kerupuk kulit/ rambak.</li>
<li>100 gr kacang tolo, cuci bersih.</li>
<li>50 gr kapri muda, buang ujung-ujungnya.</li>
<li>1 papan petai, belah-belah.</li>
<li>250 cc santan kental  dari 1/2 butir kelapa.</li>
<li>500 cc santan encer dari 1/2 butir kelapa.</li>
<li>2 sdm minyak gareng, untuk menumis.</li>
</ul>
<p>Bumbu:</p>
<ul>
<li>1/2 butir bawang bambai, iris bulat tipis.</li>
<li>1 lembar daun salam.</li>
<li>1 cm lengkuas, memarkan.</li>
<li>20 buah cabai rawit merah utuh.</li>
<li>Garam dan gula, secukupnya.</li>
</ul>
<p>Bumbu dihaluskan:</p>
<p><!--more--></p>
<ul>
<li>6 buah bawang merah.</li>
<li>1 siung bawang putih.</li>
<li>5 buah cabai merah.</li>
<li>1/2 sdt terasi bakar.</li>
<li>1/2 sdt kacang tanah, sangrai.</li>
<li>1/2 sdt kemiri, sangrai.</li>
<li>1/2 sdt garam.</li>
</ul>
<p>Cara membuat:</p>
<ol>
<li>Tumis bumbu yang dihaluskan, daun salam, lengkuas, dan bawang bambai hingga harum.</li>
<li>Masukkan kacang tolo, tuang santan encer. Masak dengan api kecil hingga mendidih, diamkan agak lama hingga kacang tolo setengah matang dan santan mengental.</li>
<li>Tuang santan kental, masak dengan api kecil hingga mendidih. Diamkan sebentar hingga kacang tolo matang.</li>
<li>Masukkan krecek, kapri, petai, dan cabai rawit merah utuh, aduk rata. Beri garam dan gula, aduk rata. Angkat.</li>
</ol>
<p>Untuk: 4-5 orang.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menyantap Sate Padali Sebelum Masuk Sumur]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/12/menyantap-sate-padali-sebelum-masuk-sumur/</link>
<pubDate>Mon, 12 May 2008 13:00:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/05/12/menyantap-sate-padali-sebelum-masuk-sumur/</guid>
<description><![CDATA[Warung sate itu bernama Padali. Jangan salah, bahwa Padali itu bukan suaminya Bu Dali. Awalnya saya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft alignnone size-medium wp-image-300" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://yiskandar.wordpress.com/files/2008/05/img_0352_padali1.jpg?w=300" alt="" width="290" height="206" /></p>
<p>Warung sate itu bernama Padali. Jangan salah, bahwa Padali itu bukan suaminya Bu Dali. Awalnya saya juga mengira demikian (sebutan khas orang Sunda yang biasa menulis <em>Pa</em> untuk <em>Pak</em>). Padali adalah nama tempat atau kampung dimana warung itu berada.</p>
<p>Warung Sate Padali saya jumpai di rute perjalanan dari arah Labuan menuju Legon, dermaga penyeberangan ke pulau Umang, Pandeglang, Banten. Kira-kira 13 km sebelum masuk Sumur, perlu hati-hati (namanya juga mau masuk sumur&#8230;&#8230;). Di sana ada perempatan jalan kecil yang cukup padat kalau siang hari karena selain jalannya relatif sempit meski beraspal, tapi lokasinya berdekatan dengan pasar dan pusat kegiatan ekonomi masyarakat kampung Padali.</p>
<p>Untuk menuju ke Sumur, sesampai di perempatan Padali belok ke kanan. Tapi kalau mau mengisi perut dulu, ambil jalan lurus sedikit dan berhenti di sebelah kanan jalan. Sebuah spanduk warna putih bertuliskan cukup jelas memberitahu keberadaan Warung Sate Padali. Di daerah sepanjang rute ini memang tidak banyak pilihan warung makan. Setidak-tidaknya saya sudah berusaha mencarinya sejak dari kawasan Sumur dan belum menemukan yang pas di hati, hingga akhirnya ketemu warung sate Padali. Maka warung sate Padali bisa jadi pilihan di antara yang tidak banyak itu.</p>
<p>Apa menu yang ditawarkan? Menu unggulannya adalah sate kambing, sate sapi dan sop kikil kambing. Masih ada asesori tambahan yaitu <em>krecek</em> kambing. <em>Krecek</em> di sini bukan seperti <em>krecek</em>-nya orang Jogja yang disebut <em>koyoran</em> yang berbahan kulit sapi dan biasanya dimasak sambal goreng pelengkap gudeg atau sayur brongkos. <em>Krecek</em> kambing di sini adalah potongan-potongan jerohan kambing, seperti babat, usus, limpa dan kawan-kawannya, yang digoreng dan berasa gurih. Meski tersedia juga menu lainnya bagi yang tidak suka daging-dagingan.</p>
<p>Menyesuaikan dengan kondisi perut yang sudah mendendangkan irama macam-macam, maka malam itu saya memesan sate kambing, sopi kikil kambing, sedikit <em>krecek</em> kambing karena penasaran ingin mencoba rasanya, ditambah dengan petai bakar. Tidak terlalu lama untuk menunggu disajikan. Satenya disajikan dengan bumbu ganda, ada bumbu kecap dan ada bumbu kacang. Bumbu kacangnya sungguh sedap, agak manis dan agak pedas. Lebih sedap lagi ketika setusuk sate kambing panas dioleskan pada kedua bumbu yang dicampurkan. <em>Wuih&#8230;&#8230;</em>, sepertinya tidak sabar ingin segera menelan semuanya&#8230;&#8230;</p>
<p>Tapi namanya juga manusia, panjang ususnya tentu saja terbatas. Belum habis seporsi sate yang terdiri dari 10 tusuk, diselingi dengan <em>mengerokoti</em> kulit kikil kambing yang lunak dengan bumbu sopnya pas benar, masih diselingi dengan gigitan-gigitan <em>krecek</em> kambing, akhirnya ibarat lomba lari belum sampai garis <em>finish</em> sudah <em>klepek-klepek</em>&#8230;&#8230;., kecepatan terpaksa dikurangi. Perut <em>kemlakaren</em>&#8230;&#8230;., kekenyangan.</p>
<p>Paduan rasa dan bumbunya secara keseluruhan cukup memuaskan. Hanya sayangnya agak kurang pandai memilih daging, sehingga ada beberapa potong daging kambing yang kenyal dan alot dikunyah. Tapi, <em>it&#8217;s OK</em>. Harganya tidak semahal di kota. Di kawasan ini harga makanan relatif murah, meski lokasinya jauh dari mana-mana.</p>
<p>***</p>
<p>Penjual sate yang saya lupa menanyakan namanya dan mengaku berasal dari Purwakarta ini rupanya sudah sekitar empat tahunan berjualan sate di Padali. Kini warung satenya semakin ramai dikunjungi para pemakan (orang yang mencari makan di luar, maksudnya). Terutama sejak di dekat sana ada aktifitas ekonomi baru, yaitu usaha pertambangan emas di wilayah kecamatan Cibaliung.</p>
<p>Kawasan barat wilayah kabupaten Pandeglang yang selama ini dikenal sebagai daerah yang kurang subur untuk usaha pertanian, kini kehidupan ekonomi sebagian penduduknya menjadi agak terangkat. Terutama mereka yang mempunyai keterampilan untuk dididik menjadi tenaga kerja tambang. Kawasan itu juga menjadi lebih ramai dibanding sebelumnya, dengan adanya penduduk pendatang yang bekerja di tambang.</p>
<p>Sepasang suami-istri penjual sate itu pun kini bisa tersenyum gembira, tiga ekor kambing siap disembelih setiap harinya guna memenuhi permintaan penggemar satenya. Kalau daging sapinya cukup dengan membelinya di pasar.</p>
<p>Warung sate ini dari luar masih terlihat sangat sederhana dan terkesan <em>ndeso</em>, meja dan bangkunya juga seadanya, dan sebaiknya tidak dibayangkan seperti warung sejenis di kota. Namun saya yakin tidak lama lagi warung sate ini akan tampil beda, baik tampilan tempat maupun pelayanannya. Racikan bumbu sate dan sopnya cukuplah menjadi modal bagi kesuksesan warung <em>ndeso</em> ini kalau saja mereka pandai mengelola warungnya yang ada sekarang.</p>
<p>Belum lagi kalau pengunjung ke obyek wisata pantai Sumur, pulau Umang dan sekitarnya semakin ramai. Bolehlah pemilik warung sate ini berharap agar dalam perjalanan wisatanya orang-orang mau mampir menyantap sate Padali dulu sebelum masuk Sumur.</p>
<p>Yogyakarta, 11 Mei 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menyantap Sate Padali Sebelum Masuk Sumur]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/2008/05/12/menyantap-sate-padali-sebelum-masuk-sumur/</link>
<pubDate>Mon, 12 May 2008 08:18:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.wordpress.com/2008/05/12/menyantap-sate-padali-sebelum-masuk-sumur/</guid>
<description><![CDATA[Warung sate itu bernama Padali. Jangan salah, bahwa Padali itu bukan suaminya Bu Dali. Awalnya saya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Warung sate itu bernama Padali. Jangan salah, bahwa Padali itu bukan suaminya Bu Dali. Awalnya saya ]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
