<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>lee-donghae &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/lee-donghae/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "lee-donghae"</description>
	<pubDate>Tue, 21 May 2013 09:12:42 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[GOOD BYE MY LOVE]]></title>
<link>http://ffindo.wordpress.com/2013/05/12/good-bye-my-love/</link>
<pubDate>Sun, 12 May 2013 02:46:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>Lusy Zanita</dc:creator>
<guid>http://ffindo.wordpress.com/2013/05/12/good-bye-my-love/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp; Halo. Aku datang membawa sebuah ff, tapi bukan ff aku melainkan titipan dari salah satu reade]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ffindo.files.wordpress.com/2013/05/goodbye-my-love1.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-77913" alt="goodbye-my-love1" src="http://ffindo.files.wordpress.com/2013/05/goodbye-my-love1.png?w=467&#038;h=546" width="467" height="546" /></a></p>
<p>&#160;</p>
<p><b>Halo. Aku datang membawa sebuah ff, tapi bukan ff aku melainkan titipan dari salah satu readers FFindo</b>. <b>Jadi buat yang masih nungguin ff ku yang 5days, mohon sabar yaa ._.v</b></p>
<p>&#160;</p>
<p style="text-align:center;"> .</p>
<p align="center">Credit poster by <a href="http://springfanfiction.wordpress.com/" target="_blank">http://springfanfiction.wordpress.com/</a></p>
<p><b>Author :</b> Yunkyu</p>
<p><b>Main cast :</b> Lee Donghae, Soo Youn(OC), Lee Sungmin</p>
<p><b>Genre :</b> Sad Romance</p>
<p><b>Length :</b> One shot</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Desclaimer :</b> karakter soo youn adalah hasil dari imajinasi saya&#8230;sepenuhnya milik saya, sedangkan karakter yang lainnya saya hanya meminjam kepada tuhan. Direkomendasikan membaca ff ini sambil memutar lagu super junior m – goodbye my love, super junior m – Destiny, super junior – she’s gone atau dll..</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Author’s Note :</b> saya dapat inspirasi ceritan ini dari lagu super junior m – goodbye my love waktu saya lihat trans lagu ini, seketika langsung muncul ide di otak saya untuk membuat ff ini hehe&#8230;.lagunya lumayan membuat hati tersayat sih oke sampai sini dulu deh cuap cuap nya jangan lupa coment yah..menurut kalian bagaimana ff ini</p>
<p>&#160;</p>
<p align="center"><b>***</b></p>
<p><b><i> </i></b></p>
<p style="text-align:justify;"><b><i><!--more-->Kalau itu yang bisa membuatmu bahagia&#8230;.selamat tinggal~~~</i></b></p>
<p style="text-align:justify;"><b><i> </i></b></p>
<p style="text-align:justify;">Hangatnya cinta kita dulu, kasih penuh cinta menyatukan kita berdua dalam ikatan kasih cinta yang sangat kuat, dulu kita tak terpisahkan, dulu kau selalu ada disampingku memberi kekuatan tersendiri untuku, dulu hanya kau yang bisa membuatku tersenyum, dulu hanya kau lah yang membuatku sadar makna arti cinta itu sebenarnya, namun sekarang berbeda kini hanya dingin yang tersisa sering kali cangguh menyapa kita berdua layaknya orang asing. aku tidak tau pasti apa yang membuatmu berbeda seperti dulu, dulu saat kita bertemu kau selalu memperlihatkan senyuman manismu yang khas itu kepadaku, tapi sekarang kau berbeda tidak seperti orang yang dulu aku kenal, aku sangat mengenalmu sejak dulu, aku tau semua sifat – sifatmu aku tau dulu kau sangat mencintaiku aku pun sebaliknya tapi sekarang aku tidak yakin dengan perasaanmu kepadaku apakah kau tetap mencintaiku dengan setulus hatimu seperti dulu. Maafkan aku karena aku tidak bisa memberimu kebahagian dan kehangatan pelukanku kepadamu seperti dulu, aku mengerti kalau kau sudah mulai bosan denganku&#8230;aku rela meninggalkanmu dan membiarkanmu mendapatkan orang yang lebih baik dariku, aku tau sekarang aku sudah tidak pantas lagi bersanding denganmu aku tau sekarang kau malu memiliki namja chingu sepertiku yang hanya bisa terduduk dan berdiam diri dikursi roda saja dan hanya menunggu ajal datang memanggiku. Aku tau saat kejadian kecelakaan itu diamana mobilku terpental jauh kejurang saat aku menabrak pembatas jalan tol dan saat kecelakaan itu hampir merenggut nyawaku, saat kejadian 2 tahun silam dimana sebagian organ tubuhku suda tidak berfungsi  layaknya orang normal saat dokter memfonis kakiku lumpuh dan aku tau saat itu juga kalau kau sangat kecewa dengan keadaan ku yang sekrang ini, aku tau satu tahun terakhir itu kau mencoba iklas dan bertahan menerima keadaan ku seperti ini, aku tau saat itu kau mulai lelah, menyerah dan belajar untuk berhenti mencintaiku diam – diam dibelakangku. Dan saat aku memutuskan hubungan kita seketika waktu berhenti dengan kejam tanpa memyisakan kebahagian untukku, aku bisa melepasmu seperti ini karena aku sangat mencintaimu,dan saat aku melepasmu  aku mulai merasa lega dan aku tau kau juga merasakan apa yang aku rasakan&#8230;sedih sudah pasti tapi rasa lega lebih mendominasi hatiku saat itu, aku tau saat itu kau tidak bisa berbuat apapun disatu sisi kau masih mencintaiku tapi disatu sisi lain kau ingin meningggalkanku dan mendapatkan namja yang lebih sempurna dari pada aku, aku sangat mengerti jalan pikiranmu aku tau apa yang ada dipikiranmu saat kakiku difonis lumpuh oleh dokter aku tau kau pasti berfikir bagaiamana masa depanmu nanti bersama anak – anakmu  kalau kau masih tetap bersamaku, mengapa aku sangat mengetahui dirinya?, sudah kubilang aku sangat mengenalnya sejak dulu bahkan aku lebih mengetahui dirinya dibandingkan dia sendiri. Meskipun kau tidak pernah mengatakan kepadaku kau yang mengharapkan kebahagiaan baru, tapi aku sangat mengerti dirimu, meskipun sekarang kebahagiaanmu bukan kebahagiaanku lagi, tapi aku sangat bahagia saat kau mendapatkan kebahagiaan yang lebih indah dari masa lalu kita.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Selamat tinggal jika ini yang bisa membuatmu lebih bahagia.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Senyumku mengantarkanmu untuk pergi dariku dan mencari kebahagian baru yang lebih indah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dengan berjalanya waktu dengan mudah kau akan melupakanku dan masa lalu kita.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jangan khawatir dan tetaplah bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang&#8230;.aku selalu merasa bahagia asalkan  kau bahagia.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku selalu mengenang masa lalu kita yang sangat indah&#8230;tapi saat kau menangis aku tidak ingin mengenangnya, itu sangat menyakitkan untukku.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">My Love My Love&#8230;.selamat tinggal jika ini yang bisa membuatmu lebih bahagia.</p>
<p style="text-align:justify;">Lanjutkanlah kisahmu dan jangan menangis lagi untukku.</p>
<p>&#160;</p>
<p align="center"> <b>***</b></p>
<p>&#160;</p>
<p style="text-align:justify;">Lee donghae&#8230;mianhae oppa kalu aku sudah menyakiti hatimu, andai kau tau kalau sampai detik ini aku masih sangat menyayangimu dan menganggapmu sebagai oppa ku yang sangat aku sayangi, tapi bagaimanapun aku harus berjalan kedepan menggapai kebahagianku dimasa depan dengan orang yang baru&#8230;aku tau kau pasti manganggapku wanita jahat, tapi sekali lagi ini demi masa depanku oppa kau adalah masa laluku dan sungmin oppa adalah masa depanku dan anak – anakku kelak, hari ini adalah hari dimana aku dan sungmin oppa akan mengucapkan janji sehidup semati,hari ini aku akan menikah dengan sungmin oppa, semenjak kejadian satu tahun  yang lalu saat dongahe oppa memutuskan hubungan kita&#8230;sungmin oppa mulai datang dikehidupanku yang baru dialah orang yang membantuku menghapus sedikit demi sedikit rasa cintaku kepada donghae oppa, aku tau ini sangat kejam untuk donghae oppa, tapi ini adalah keputusan hidupku.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">‘’Soo youn-ahh..kaja sungmin sudah menunggumu dialtar’’ucap appa membuyarkan lamunanku</p>
<p style="text-align:justify;">‘’ne appa..chakaman’’jawabku sambil berdiri dari dudukku dan berjalan menuju appa didepan pintu ruang tunggu wanita tidak lupa dua orang yeoja kecil yaitu hyerin dan hyejin sepasang anak kembar dia adalah keponakanku mereka berdua mambantuku mengangkat gaun pengantinku yang  berekor lumayan panjang,</p>
<p style="text-align:justify;">‘’Ayo’’ lalu appa mengulurkan tanganya membantuku berjalan dan aku menerima uluran tangan appa tanpa ragu, aku dan appa berjalan menuju altar dan diiringi oleh dua malaikat kecil saat pandanganku terfokus kedepan altar aku melihat seorang pastor dan seorang  namja ber tuxedo putih yang sangat tampa namja itu tersenyum kepadaku, saat aku mengedarkan pandanganku ke arah kiri dan kanan aku melihat sosok namja yang sangat aku kenal berkursi roda ditempat duduk sebelah kanan gereja ini dia tersenyum kepadaku akupun tidak lupa membalas senyumnya aku tau dibalik senyumnya itu ia menyimpan kesedihan dan perih yang sangat dalam, ‘’mianhae oppa’’ batinku, aku terus berjalan diatas karpet merah menuju namja berpakaian tuxedo putih itu,  menatap lurus kedepan, langkahku sudah kian mendekati namja yang berdiri dihadapan sang pastor, tinggal beberapa langkah lagi aku sudah sampai disamping namja bertexedo itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menoleh sejenak dan melepaskan tanganku dari lengan waliku, menaiki satu tangga yang tidak terlalu tinggi didepan altar dan tidak lupa sungmin oppa mengulurkan tanganya kepadaku membantuku berjalan menuju hadapan sang pastor itu.  Tidak perlu waktu yang lama, perjanjian pernikahanpun dimulai. Semua bibir berhenti berbicara dam memfokuskan pandanganya kepada sepasang calon pengantin ini.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">‘’Tuan lee sungmin, apakah anda bersedia menerima cho soo youn dengan tulus dan hati yang iklas’’tanya sang pastor</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">‘’ya saya bersedia’’</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">‘’bersediakah saudara mengasihi,menghormati dan selalu setia kepadanya seumur hidup sampai maut memisahkan..?’’tanya sang pastor</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">‘’Ya, saya bersedia’’</p>
<p style="text-align:justify;">‘’Bersediakah anda menjadi ayah yang baik bagi anak- anak yang dipercayakan tuhan kepada anda dan mendidik mereka dalam imam kepada tuhan’’tanya pastor itu lagi</p>
<p style="text-align:justify;">‘’Ya, saya bersedia’’</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sang pastor berganti menatapku.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">‘’nona cho soo youn apakah saudara bersedia menerima lee sungmin dengan tulus dan hati yang iklas’’ tanya sang pastor kepadaku</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">‘’Ya, saya bersedia’’ jawabku dengan gugup</p>
<p style="text-align:justify;">‘’Bersediakah saudara mengasihi, menghormati dan selalu setia kepada suami anda seumur hidup sampai mau memisahkan’’</p>
<p style="text-align:justify;">‘’Ya, saya bersedia’’</p>
<p style="text-align:justify;">‘’bersediakah anda menjadi ibu yang baik bagi anak – anak yang dipercayakan tuhan kepada anda dan mendidiknya dalam iman kepada tuhan?’’ tanya pastor itu lagi</p>
<p style="text-align:justify;">‘’Y..a, ak..u bersedia’’aku berbicara gugup dan terputus – putus kemudian sungmin oppa menggenggam tanganku kuat membuatku menghilangkan rasa gugup itu. Aku merasakan pipiku panas dan krystal demi krystal air mata mengalir dimataku</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">‘’Dihadapan tuhan, bapak pastor atau imam, dan para saksi, serta umat yang hadir disini, saya lee sungmin dengan tulus hati memilih cho soo youn sebagai istri saya, saya berjanji akan selalu mencintainya sampai ajal yang memisahkan kita, saya berjanji untuk setia kepada istri saya dalam suka maupun duka dalam untung maupun malang, saya tetap mencintai istri saya sepanjang hidup saya, demikianlah janji saya dihadapan tuhan ini’’air mataku semakin deras menetes dipipiku, saat ini perasaanku sangat bahagia dan lega akhirnya aku memiliki suami yang rela mencintaiku dengan setulus hatinya sampai ajal memisahkan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sungmin oppa memasangkan cincin berlian itu dijari kiri manisku, aku menatap matanya dengan tatapan senduku, sungmin oppa bisa merasakan telapak tanganku yang sekarang sudah berkeringan dingin dan bergemetar. Kemudian akupun melakukan hal yang sama dengan sungmin oppa melingkarkan sebuah cincin berlian itu ke jari manis kirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu sungmin oppa mendekatkan wajahnya ke wajahku, lalu bibirnya ia daratkan ke keningku.</p>
<p>&#160;</p>
<p align="center"><b>***</b></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah acara pernikahan yang sakral itu selesai aku mengahampiri donghae oppa yang sedari tadi tersenyum kepadaku, au membantu mendorong kursi rodanya menuju tempat yang jauh dari keramaian.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">‘’apakah kau bahagia’’tanyanya kepadaku ia mendongakkan kepalanya kebelakang menatapku dengan senyumnya yang selalu dia lemparkan kepadaku</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">‘’Hmmm&#8230;menurutmu’’</p>
<p style="text-align:justify;">  ‘’Aku serius’’</p>
<p style="text-align:justify;">  ‘’Baiklah&#8230;ya&#8230;aku sangat bahagia, aku harap oppa juga bahagia melihatku seperti ini’’jawabku dan memberhentikah langkahku dan korsi roda itu dibangku taman gereja itu, aku duduk dibangku taman disamping  kursi rodanyanya</p>
<p style="text-align:justify;">‘’Tentu saja aku sangat bahagia melihatmu seperti ini sekarang, ingat kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku youn-ahh’’ucapnya masih dengan senyum yang selalu terukir diwajahnya&#8230;oppa jaebal jangan seperti ini jangan pura – pura tersenyum aku tau bagaimana perasaaan mu yang paling dalam sekrang aku tau kau sangat tersakti aku tau hatimu sekarang sangat perih, aku tau kau hanya pura – pura tersenyum didepanku.’’</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">‘’ini adalah takdir kita youn-ahh..kau adalah masa laluku dan sungmin adalah masa depanmu, berhenti melihat kebelakang dan mulai dari sekarang lihatlah kedepan. Walau bagaimu masa lalu kau berasamaku adalah masa lalu yang harus kau kubur dalam – dalam, tapi bagaiku masalaluku bersamamu akan selalu aku ingat sampai kapanpun, hanya masa lalu itulah dan kebahagianmu yang menbuatku bahagia sekarang ini, tapi hanya satu masa lalumu yang tidak ingin aku lihat, yaitu saat kau menangis aku tidak ingin mengingat saat – saat diamana kau menangis karenaku’’ aku masih terdiam, tanpa sadar pipiku terasa panas butiran – butiran krystal kembali membasahi pipiku, aku menumpahkan semua rasa sedihku kepadanya</p>
<p style="text-align:justify;">‘’uljima’’ucapnya dan kedua ibu jarinya menghapus air mata yang mengalir dipipiku</p>
<p style="text-align:justify;">‘’Mianhae oppa karena aku sudah menyakitimu’’ucapku menyesal menundukan kepalaku</p>
<p style="text-align:justify;">‘’Ini buakn kesalahkanmu, ini adalah takdir kita berdua yang sudah direncanakan oleh tuhan youn~ahh’’ucapnya sambil menatap mata sembabku</p>
<p style="text-align:justify;">‘’ne..oppa oh iya kapan oppa akan mencari yeoja chingu yang lebih baik dariku’’ucapku saat isakan tangisku sudah tidak terdengang di kupingnya.</p>
<p style="text-align:justify;">‘’Aku tidak tau apakah ada wanita diluar sana yang bersedia menerimaku dengan keadaan seperti ini’’</p>
<p style="text-align:justify;">‘’Oppa kenapa berbicara seperti itu, pasti akan ada wanita yang mau menerimamu  apa adanya’’</p>
<p style="text-align:justify;">‘’Aku belum berfikir sampai sejauh itu’’jawabnya menatap lurus kedepan bunga – bunga yang sangat indah itu</p>
<p style="text-align:justify;">‘’Oppa kamu..tau, sampai kapanpun aku akan selalu menyayangi oppa sebagai oppaku’’ucapku menatap lurus kedepan, donghae oppa menoleh kepadaku, aku masih manatap kosong kedepan</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">‘’Kenapa hanya sebatas oppa,kenapa kau tidak menyayangiku sebagai namja chingumu’’godanya</p>
<p style="text-align:justify;">‘’Yakk&#8230;oppa aku ini sudah bersuami’’Aku menoleh menatapnya dengan tatapan membunuh kepadanya</p>
<p style="text-align:justify;">‘’kau ini sensitif, aku hanya bercanda’’timpalnya lalu tanganya mencubit pipi kiriku’’</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ya seperti inilah keadaan kami berdua setelah berpisah, kami lebih memilih berpisah baik – baik dan memilih untuk menjadi teman dekat saat itu aku lebih memilih ia menjadi oppa ku, dan dia pun sebaliknya menganggapku sebagai dongsaeng yang sangat di sayanginya..dia selalu melindungiku walau sudah kusakiti tapi ia tetap menyayangiku dan tidak membenciku sedikitpun. Ini membuatku semakin merasa bersalah kepadanya&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">“Oppa, aku akan hidup bahagia bersama sungmin oppa.” Dia hanya tersenyum memandang lurus kedepan.</p>
<p>&#160;</p>
<p align="center"><b>***</b></p>
<p style="text-align:justify;">Soo Youn, andai kau tau sampai detik ini aku masih sangat-sangat mencintaimu, besok dan selamanya aku akan tetep mencintaimu&#8230;walau bnayak orang bilang kalau aku orang yang sangat bodoh masih saja mencintai seorang yeoja yang sudah menghianatiku, namun aku tidak peduli sasakit apapun kau menghianati aku akan tetep selalu mencintaimu sampai kapanpun sampai akhir nafasku. Karena kau adalah satu – satunya yeoja didunia ini yang memberikan kebahagiaan dimasa lalu kepadaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Hiduplah bahagia bersama pasanganmu, saat ini. Walau hati ini terasa sangat perih tapi aku akan mencoba selalu tersenyum didepnmu.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Saranghae Cho Soo Youn~ah.”</p>
<p align="center"><b>.</b></p>
<p align="center">.</p>
<p align="center">END</p>
<p align="center">.</p>
<p align="center">.</p>
<p>Mainhae yah kalau ceritanya aneh hehe… dan ga happy ending, aku sengaja buat donghae di ff ini yang menderita&#8230;soalnya kalau cewenya yang menderita udah banyak.</p>
<p>Dan maaf banget seribu maaf kalo feelnya ga dapet. Karena aku ini hanya author abal–abal yang belum punya banyak pengalaman, tapi aku ga akan berhenti di ff ini aja aku akan buat ff-ff selanjutnya maupun itu di blog pribadi atau aku titipkan kembali ke  FFindo J</p>
<p>&#160;</p>
<p>Buat eonnie <a href="https://twitter.com/lusyznt">Lusy</a> yang udah bantu aku post ff ini disini jeongmal gomawo /BOW/</p>
<p>&#160;</p>
<p>Jangan lupa coment yah </p>
<p>&#160;</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[130510 HeeChul évoque LeeTeuk / HeeChul mentions LeeTeuk]]></title>
<link>http://cheonsateukfrance.wordpress.com/2013/05/11/130510-heechul-evoque-leeteuk-heechul-mentions-leeteuk/</link>
<pubDate>Sat, 11 May 2013 11:09:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>cheonsateukfrance</dc:creator>
<guid>http://cheonsateukfrance.wordpress.com/2013/05/11/130510-heechul-evoque-leeteuk-heechul-mentions-leeteuk/</guid>
<description><![CDATA[(FR) HeeChul: &#8220;YeSung-ssi m&#8217;a demandé beaucoup de choses sur le service militaire&#8230;]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>(FR) HeeChul: &#8220;YeSung-ssi m&#8217;a demandé beaucoup de choses sur le service militaire&#8230; Puisque KangIn-ssi et LeeTeuk-ssi sont allés au service normal. Je sais où il va aller. Quand nous avons parlé de ça au dortoir&#8230; Comment survivre en société&#8230; Celui qui serait bien à l&#8217;armée&#8230; Serait SungMin-ssi. Il a l&#8217;air féminin mais il est très masculin&#8230;. SungMin-ssi&#8230; Je pense qu&#8217;il serait le seul à bien le faire&#8230; ShinDong-ssi aussi.. Et EunHyuk-ssi.. DongHae-ssi sera terrible à l&#8217;armée. Il ne serait pas capable de faire quoique ce soit seul.</p>
<p>fr: Saikai @천사특France</p>
<p>&#160;</p>
<p>(ENG) Heechul &#8220;Yesung-ssi asked me a lot about military service&#8230; Because Kangin-ssi and Leeteuk-ssi went as normal service. I know where he will be going. What we talked about in dorm&#8230; how to survive in society&#8230; the one who&#8217;d be good in army&#8230; it would be Sungmin-ssi. He looks feminine but he&#8217;s very manly&#8230;. Sungmin-ssi&#8230; I think he&#8217;d be only one to be good at it&#8230; Shindong-ssi too.. and Eunhyuk-ssi.. Donghae-ssi would be terrible in army. He wouldn&#8217;t be able to do anything alone.</p>
<p>Eng: NKSubs</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Destiny (Chapter 1)]]></title>
<link>http://littlebluelf.wordpress.com/2013/05/11/destiny-chapter-1/</link>
<pubDate>Sat, 11 May 2013 10:32:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Heart Kyu</dc:creator>
<guid>http://littlebluelf.wordpress.com/2013/05/11/destiny-chapter-1/</guid>
<description><![CDATA[Apgujeong, 3 Februari 2007 10.13 PM Ia menatap bangunan mewah di ujung pertokoan malam itu, menahan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Apgujeong, 3 Februari 2007 10.13 PM Ia menatap bangunan mewah di ujung pertokoan malam itu, menahan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[THINGS I KNOW ABOUT LOVE (1/?)]]></title>
<link>http://24kyuancho.wordpress.com/2013/05/11/things-i-know-about-love-1/</link>
<pubDate>Sat, 11 May 2013 09:18:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>24kyuanzainn24</dc:creator>
<guid>http://24kyuancho.wordpress.com/2013/05/11/things-i-know-about-love-1/</guid>
<description><![CDATA[Cast : choi sooyoung, cho kyuhyun, choi sulli, choi changmin, seohyun, im yoona, jung Jessica, lee h]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Cast 	: choi sooyoung, cho kyuhyun, choi sulli, choi changmin,    seohyun, im yoona, jung Jessica, lee hyemi(oc)<br />
Genre 	: romance, sad, friendship.<br />
Pg 	: semua umur<br />
Author 	: kyuanzainn</p>
<p>Part 1</p>
<p>Hanya suara isak tangis yang ada dalam ruangan yang berukuran 2*3 meter itu. Di sana terbaring lemah seorang gadis.<br />
“sayang, bangunlah. Apa kau tidak kasihan pada eomma?” terdengar isak tangis seorang wanita paruh baya.<br />
Perlahan, kelopak mata sang gadis bergerak. Sang eomma menatapnya dengan mata penuh harapan.<br />
“syoo……kau sadar, nak??” Tanya sang eomma senang.<br />
“eo….mma….” terdengar suara yang sangat lirih dari bibir yeoja yang bernama syoo itu.<br />
“terimaksih tuhan…… terimaksih, nak…… katakana apa yang kau inginkan..” ucap sang eomma dengan mata berkaca.<br />
“wa…..thhheeerrrr” ucap syoo dengan suara seperti tercekik.<br />
“mwo?”<br />
“hmmmm……watheeeeee”<br />
Dengan susah payah, syoo menjelaskan maksudnya pada sang eomma yang sama sekali belum memahami maksud dari perkataan sang anak. Sampai seorang suster yang entah sejak kapan berada dalam ruangan itu memberikan segelas air minum pada syoo.<br />
Dengan perlahan, syoo bangkit dengan di bantu oleh sang eomma untuk meminum air kehidupan itu sampai tandas tak bersisa.<br />
“kau mau lagi, nak?” Tanya sang eomma lagi. Yang hanya dibalas dengan gelengan kepala syoo.</p>
<p>Sementara itu di tempat lain, tampak suara isak tangis juga mengiringi kepergian seorang yeoja. Di sana tampak ramai dengan kehadiran keluarga sang yeoja. Wajahnya tersenyum manis di tengah kedukaan tas kepergiannya.<br />
“summer-ah……jeongmal……jangan tinggalkan eomma..” isak seorang wanita paruh baya yang tampak kacau dengan wajah bengkak.<br />
Sementara di pojokan kamar sang gadis, berdiri seorang namja dengan wajah kakunya. Tubuhnya tegap berdiri mematung di tempatnya. Tak ada air mata, tak ada sepatah katapun keluar dari matanya. Hanya terdengar deru suara napasnya yang terputus-putus.<br />
“ya!!!! Summer…!!!! Jinjja??? Kau harus bangun…pernikahanmu!! Pernikahanmu sebentar lagi. Dengarkan eomma sayang, kau akan jadi pengantin yang sangat cantik. Cantik sekali. Ayo sayang……kembalilah….eomma mohon…” isak sang eomma di tengah rasa frustasinya.<br />
“eomma……unnie sudah tiada” terdengar suara isakan kecil seorang yeoja dari sisi sang eomma.<br />
“diam kau sulli…..!!!! summer hanya<br />
tertidur” ucap sang eomma seraya mengelus lembut kepala summer.<br />
Semuanya hanya memandang miris kejadian tersebut, sampai ketika dokter bergerak hendak menutup jenazah summer dengan kain kafan, dengan histerisnya sang eomma berteriak memprotes perbuatan sang dokter.<br />
“apa yang kau lakukan? Dia anakku. Dia akan sembuh! Dia hanya tertidur.” Teriaknya di tengah rasa frustasinya seraya menatap sang dokter dengan tajam. Lalu melempar pandangannya pada sang suami yang sedari tadi hanya terdiam tak bersuara.<br />
“chagi……” terdengar suara sang suami. Sang suami hanya menggeleng dengan lemah, membuat sang istri terpekur. Dilihatnya sang calon menantu yang juga hanya terdiam tak bersuara.<br />
Kesempatan tersebut digunakan oleh sang dokter untuk menyelesaiakan tugasnya sebagaimana mestinya.</p>
<p>TELAH BERISTIRAHAT DENGAN DAMAI<br />
CHOI SUMMER</p>
<p>Semuanya hanya terdiam dalam kebisuan. Tampak area pemakaman yang dipenuhi dengan orang-orang yang melayat.<br />
Sampai dengan pemakaman sepi, hanya seorang saja berdiri di sana.<br />
Cho sungmin.<br />
“ aku mengerti, sayang. Aku ikhlas……”<br />
Sungmin menghembuskan napasnya kasar. Dan mendengus. Mencoba menahan perih di hatinya.<br />
“mian, kalau selama ini hanya bisa menyakitimu. Aku yang egois, dan sama sekali tidak peka dengan perasaanmu. Mianhe, mianhe, nae summer”<br />
Kali ini sungmin tak mampu membendung rasa perih di hatinya. Dia meraung sejadinya. Mengutuk waktu yang sama sekali tak berpihak padanya.<br />
“saranghae. Saranghae………”teriak sungmin seraya menggenggam gundukan tanah merah itu.</p>
<p>2 tahun kemudian…..<br />
“hyung……bogoshipo….”<br />
Seorang namja berperawakan tinggi dengan kulit yang putih pucat seraya memeluk seorang namja cute dengan postur tubuh tegap namun lebih pendek dari sang dongsaeng.<br />
“cho kyuhyun. Bersikaplah sewajar mungkin…” ucap sungmin seraya melepaskan pelukan sang dongsaeng yang dipangginya kyuhyun tersebut.<br />
“cish……kau berubah!! Kenapa kau jahat sekali??” ungkap kyuhyun serya menarik kopernya kasar.<br />
“aku ini hyungmu. Jadi bersikaplah yang sopan. Dan lagi, jangan pernah bertindak gegabah dengan tingkah lakumu yang konyol itu.”<br />
Setelah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, sungmin meninggalkan kyuhyun seorang diri di sana, berdiri mematung sendirian, seraya menatap punggung sungmin yang dengan cepat berlalu meninggalkannya.</p>
<p>KYUHYUN POV<br />
Aku menatap nanar punggung sungmin hyung. Benar kata eomma, hyung berubah. Sangat berubah.<br />
“ya tuhan……tolong kembalikan hyungku seperti sebelumnya. Ceria, semangat, da penuh perhatian……aku merindukannya” lirih kyuhyun sebelum menarik kembali kopernya menuju mobil yang sedari tadi menunggunya.<br />
“hyung, kenapa kau tidak menungguku?” tanyaku berusaha untuk mencairkan suasana yang menurutku sangat canggung.<br />
“……”<br />
Hyung hanya mendesah lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela seolah tak mendengar pertanyaanku.<br />
Dan aku? Aku hanya mampu tersenyum miris…<br />
Kau berubah, cho sungmin…….</p>
<p>SUNGMIN  POV<br />
Aq lagi-lagi menatap gambarnya.<br />
“chagia……neomu bogoshipoyo……” ucapku lirih lalu mengecup fotonya secara lembut. Seolah dia ada di sini. Di sampingku. Mengelus lembut kepalaku seperti dulu saat dia memanjakanku dengan belaian lembut tangannya di kepalaku.<br />
Masih kuingat dengan jelas, kata-kata terakhirnya sebelum menutup matanya. </p>
<p>Flashback</p>
<p><strong>“oppa, kau percaya dengan yang namanya renkarnasi?” summer menatapku lembut seraya mengelus lembut tapak tanganku.<br />
“hmmmm….bagaimana yah? Menurutmu sendiri?” tanyaku balik.<br />
“aku sepenuhnya percaya. Nanti jika aku pergi, aku mau oppa jangan menangis, tidak boleh meratap, dan berjanjilah untuk dengan segera mencari penggantiku” ucapnya lirih. Membuat genggaman tanganku di tangannya mengetat.<br />
“kau bicara apa?” hardikku<br />
“oppa, umurku tidak lama lagi. Dan jika oppa percaya dengan adanya renkarnasi, aku akan kembali. Kembali utuh di depan mata oppa. Aku janji. Dan takdir akan membawa kita kembali bersama” ucapnya sebelum menutup matanya beristirahat.</p>
<p>“aku berusaha, summer. Berusaha untuk percaya dengan semua ucapanmu. Akan adanya renkarnasi, tapi??? Apa takdir akan membawa kita untuk kembali bersama?” isak ku pilu seraya menatap bingkai foto summer.<br />
Masih kuingat dngan jelas bagaimana frustasinya diriku saat dokter mengatakan bahwa sudah tidak ada waktu lagi. Kebersamaan kita akan segera berakhir. Tak tahukah kau? Saat itu di tengah rasa keasakitanku, aku berpura-pura kuat. Berpura-pura menekan perasaanku?? </p>
<p>Flashback<br />
“gwenchanayo…….”</p>
<p>“kalau kau mau pergi. Semua orang ingin kau tinggal. Aku pun begitu. Aku ingin kau tinggal lebih daripada apapun yang kuinginkan di dunia ini….”<br />
Suara namja itu tercekat emosi. Dia berhenti sejenak, berdehem, menarik napas, kemudian melanjutkan.</p>
<p>“tapi itu kemauanku, kemauan keluargamu, kemauan sahabat-sahabatmu. Dan aku sepenuhnya mengerti, semua ini adalah kemamuanmu. Maka aku hanya ingin memberitahumu, bahwa aku mengerti jika kau pergi. Tidak apa-apa kalau kau harus meninggalkan kami. Tidak apa-apa jika kau ingin berhenti berjuang……”</p>
<p>“Aku masih dengan jelas mengingat setiap detail kebersamaan kita. Bahkan aku masih ingat setiap untaian kata yang kuucapkan ketika kau menderita akan sakitmu.”<br />
“ tidak bisakah kau hadir kembali? Hadirlah dan temani aku. Kita wujudkan takdir kita. Takdir yang telah mempertemukan kita……summer, summer, chagi……”</p>
<p>TBC</p>
<p>Hai semua………<br />
Aku muncul dengan part 1 yang menurutku sangat aneh. Karakter sungmin oppa yang dengan tiba2 kumunculkan. Ga nyangka kan? Aku juga*PLAKKK*<br />
EHMMMM<br />
Aku bingung mulai dari mana. Ini sama sekali di luar rencanaku. Tapi inilah yang muncul.<br />
Semoga ga ada yang bash the.<br />
Happy reading readerdulll….<br />
Anyeong.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Donghae Twitter Update]]></title>
<link>http://kimthalita.wordpress.com/2013/05/11/donghae-twitter-update-2/</link>
<pubDate>Sat, 11 May 2013 08:37:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Thalita</dc:creator>
<guid>http://kimthalita.wordpress.com/2013/05/11/donghae-twitter-update-2/</guid>
<description><![CDATA[Baru saja Donghae Super Junior memperbarui halaman di akun Twitter dia: Miliki hari yang ~~~~ bagus]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kimthalita.files.wordpress.com/2013/05/bj-f3c9cyaahfna.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-196" alt="BJ-F3c9CYAAHFNA" src="http://kimthalita.files.wordpress.com/2013/05/bj-f3c9cyaahfna.jpg?w=560&#038;h=420" width="560" height="420" /><!--more--></a></p>
<p>Baru saja <strong>Donghae Super Junior</strong> memperbarui halaman di akun Twitter dia:</p>
<blockquote><p>Miliki hari yang ~~~~ bagus <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p></blockquote>
<p>&#160;</p>
<p>Source:Donghae&#8217;s Twitter</p>
<p>Posted by:Thalita@kimthalita.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[THINGS I KNOW ABOUT LOVE (TEASER)]]></title>
<link>http://24kyuancho.wordpress.com/2013/05/11/things-i-know-about-love-teaser/</link>
<pubDate>Sat, 11 May 2013 02:35:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>24kyuanzainn24</dc:creator>
<guid>http://24kyuancho.wordpress.com/2013/05/11/things-i-know-about-love-teaser/</guid>
<description><![CDATA[Cast: choi sooyoung, cho kyuhyun, choi sulli, choi changmin, seohyun, im yoona, jung Jessica, lee hy]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Cast: choi sooyoung, cho kyuhyun, choi sulli, choi changmin, seohyun, im yoona, jung Jessica, lee hyemi(oc)<br />
Genre: romance, sad, friendship.<br />
Pg: semua umur<br />
Author: kyuanzainn</p>
<p>“gwenchanayo…….”</p>
<p>“kalau kau mau pergi. Semua orang ingin kau tinggal. Aku pun begitu. Aku ingin kau tinggal lebih daripada apapun yang kuinginkan di dunia ini….”<br />
Suara namja itu tercekat emosi. Dia berhenti sejenak, berdehem, menarik napas, kemudian melanjutkan.</p>
<p>“tapi itu kemauanku, kemauan keluargamu, kemauan sahabat-sahabatmu. Dan aku sepenuhnya mengerti, semua ini adalah kemamuanmu. Maka aku hanya ingin memberitahumu, bahwa aku mengerti jika kau pergi. Tidak apa-apa kalau kau harus meninggalkan kami. Tidak apa-apa jika kau ingin berhenti berjuang……”</p>
<p>Aloha………<br />
Aku dating lagi bawa ff yang baru………<br />
Ahh…..dadaku nyeri dan miris ngeliat siders. But gwencana.. aku maklum kok……<br />
Ini adalah bagian dari emosiku yang kuangkat naik ke permukaan. Ff ini sebenarnya adalah bagian dari novel dengan judul yang sama, dan teaser yang sama. Hanya saja, sampai sekarang, aku belum dang a mampu untuk membaca buku itu. Dan emosi jiwaku membimbingku untuk berimajinasi menciptakan cerita dengan judul yang sama ala saya sendiri.<br />
Semoga reader senang dengan ff yang sekarang.<br />
Author ucapkan<br />
HAPPY READING…….:)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[FF: Our Chance (Sequel Breakeven)]]></title>
<link>http://galuhtyaswijiastuti.wordpress.com/2013/05/11/ff-sequel-breakeven-our-chance/</link>
<pubDate>Sat, 11 May 2013 02:05:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Galuh Tyas W</dc:creator>
<guid>http://galuhtyaswijiastuti.wordpress.com/2013/05/11/ff-sequel-breakeven-our-chance/</guid>
<description><![CDATA[Warning : Don’t Copas Without My Permission. Tuhan melihatnya. Happy Reading all. Makasih buat yang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Warning : Don’t Copas Without My Permission. Tuhan melihatnya. Happy Reading all. Makasih buat yang]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Girls [Teaser 6]]]></title>
<link>http://himrasaki.wordpress.com/2013/05/10/girls-teaser-6/</link>
<pubDate>Fri, 10 May 2013 18:20:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ahnmr</dc:creator>
<guid>http://himrasaki.wordpress.com/2013/05/10/girls-teaser-6/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp; Coming Soon 25 Mei (insyaallah) (cat. saya lagi sok banget nih, bikin teasernya poster, bukan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://himrasaki.files.wordpress.com/2013/04/girls-donghae-selfposter.png"><img class="wp-image-324 aligncenter" alt="girls-donghae-selfposter" src="http://himrasaki.files.wordpress.com/2013/04/girls-donghae-selfposter.png?w=406&#038;h=560" width="406" height="560" /></a></p>
<p>&#160;</p>
<p>Coming Soon 25 Mei (insyaallah)</p>
<p>(cat. saya lagi sok banget nih, bikin teasernya poster, bukan potongan cerita. gimana ya? soalnya kalo cerita ntar nggak asik)</p>
<p>Awal cerita lihat di <a href="http://himrasaki.wordpress.com/2013/03/25/coming-soon/" target="_blank">coming soon</a></p>
<p><!--more--></p>
<p>Di sini Lee Donghae</p>
<p>Pria ramah yang suka tersenyum.</p>
<p>Aku cukup beruntung dalam hidup ini karena menjadi orang yang ramah dan selalu mensyukuri apa yang kupunya.</p>
<p>Tinggal di Seoul dan bekerja di perusahaan <i>advertising</i> terkemuka mungkin adalah keburuntungan paling baik dalam hidupku.</p>
<p>Hanya ada satu kesialan dalam hidupku yang paling kusesali dan rasanya aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Yaitu:</p>
<p>Tinggal di sebelah tiga perempuan pembuat onar -_-</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[FF Three Shoot] “Its Hard To Our Married” Part 3]]></title>
<link>http://zeehaekoreanlover.wordpress.com/2013/05/10/ff-three-shoot-its-hard-to-our-married-part-3/</link>
<pubDate>Fri, 10 May 2013 07:10:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>Lee Zeehae</dc:creator>
<guid>http://zeehaekoreanlover.wordpress.com/2013/05/10/ff-three-shoot-its-hard-to-our-married-part-3/</guid>
<description><![CDATA[Title: It’s Hard To Our Married Author: Lee Seul Rin (Lee Zeehae) Genre : Sad Married Life (Maybe),]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Title: It’s Hard To Our Married Author: Lee Seul Rin (Lee Zeehae) Genre : Sad Married Life (Maybe),]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[FF Three Shoot] “Its Hard To Our Married” Part 2]]></title>
<link>http://zeehaekoreanlover.wordpress.com/2013/05/10/ff-three-shoot-its-hard-to-our-married-part-2/</link>
<pubDate>Fri, 10 May 2013 06:07:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>Lee Zeehae</dc:creator>
<guid>http://zeehaekoreanlover.wordpress.com/2013/05/10/ff-three-shoot-its-hard-to-our-married-part-2/</guid>
<description><![CDATA[Title: It’s Hard To Our Married Author: Lee Seul Rin (Lee Zeehae) Genre : Sad Married Life (Maybe) R]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Title: It’s Hard To Our Married Author: Lee Seul Rin (Lee Zeehae) Genre : Sad Married Life (Maybe) R]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[FF Three Shoot] "Its Hard To Our Married" Part 1]]></title>
<link>http://zeehaekoreanlover.wordpress.com/2013/05/10/ff-three-shoot-its-hard-to-our-married-part-1/</link>
<pubDate>Fri, 10 May 2013 05:48:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Lee Zeehae</dc:creator>
<guid>http://zeehaekoreanlover.wordpress.com/2013/05/10/ff-three-shoot-its-hard-to-our-married-part-1/</guid>
<description><![CDATA[Title: It’s Hard To Our Married Author: Lee Seul Rin (Lee Zeehae) Genre : Sad Married Life (Maybe) R]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Title: It’s Hard To Our Married Author: Lee Seul Rin (Lee Zeehae) Genre : Sad Married Life (Maybe) R]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[What Should I do?]]></title>
<link>http://sideofardeliaini.wordpress.com/2013/05/10/what-should-i-do/</link>
<pubDate>Fri, 10 May 2013 05:33:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>ardeLiaini ~ ΛNJ</dc:creator>
<guid>http://sideofardeliaini.wordpress.com/2013/05/10/what-should-i-do/</guid>
<description><![CDATA[What Should I do? HaeSica Author                  :               Kanza Ardelia a.k.a ANJ Blog      ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[What Should I do? HaeSica Author                  :               Kanza Ardelia a.k.a ANJ Blog      ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[I (don't) CARE *3 (Sweet KyuSun)]]></title>
<link>http://hestikim.wordpress.com/2013/05/09/i-dont-care-3-sweet-kyusun/</link>
<pubDate>Thu, 09 May 2013 16:30:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>hestikim</dc:creator>
<guid>http://hestikim.wordpress.com/2013/05/09/i-dont-care-3-sweet-kyusun/</guid>
<description><![CDATA[I (don&#8217;t) CARE *3 Author: Hesti KimRating: PG 15+Cast   : Kim Chi Sun, Cho Kyuhyun and Other C]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/s720x720/945796_652069174808808_87857519_n.jpg" /></p>
<p>I (don&#8217;t) CARE *3</p>
<p>Author: Hesti Kim<br />Rating: PG 15+<br />Cast   : Kim Chi Sun, Cho Kyuhyun and Other Cast</p>
<p>maaf part ini kelamaan -_____-v kalo feelnya gk dapet maaf yaah T_T</p>
<p>HAPPY READING ^^</p>
<p>“Kau kesulitan memilih?” Heechul kembali memutar kursi kerjanya dan menatap Chi sun yang sedang membelalakkan bibir dan matanya. Hankyung juga ikut terkejut dengan pilihan Heechul. Ia cukup tahu bahwa Chi sun berprestasi dan sangat ingin kuliah di Universitas Tokyo. Universitas bergengsi yang masuk kedalam jajaran Universitas terbaik dari Benua Asia, Universitas paling prestisius di Jepang yang telah menghasilkan banyak politikus Jepang hebat.</p>
<p> </p>
<p>Chi sun merekatkan kepalan tangannya yang tersembunyi dibalik punggungnya. Ia benar-benar tidak tahu harus memilih yang mana. Kerja keras selama tiga tahun belajar di Hannyeong harus sirna karena hamil yang sedang ia alami. Sebuah cita-cita hidupnya untuk bisa menjadi Mahasiswa Universitas Tokyo, dan semua guru sudah bersepakat untuk mengajukan Chi sun untuk bisa mendapatkan Beasiswa penuh di Universitas Tokyo dengan imbalan Chi sun harus belajar lebih keras karena ia hanya butuh selangkah lagi untuk bisa mendapatkan tiket emas itu. bahkan ini lebih berharga dari emas.</p>
<p> </p>
<p>“Jawab Nona Kim!” Heechul terus mendesak gadis ini untuk berbicara, matanya tak mau lepas dari wajah Chi sun yang semakin ditenggelamkan.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Dilemma? Mungkin saja, keduanya adalah sesuatu yang berharga untuk hidupnya. Beasiswa itu bahkan sudah ada didepan mata, tapi janin ini? semangat yang Kyuhyun berikan membuatnya semakin menyayangi anak dalam perutnya, ia bahkan sudah janji untuk selalu menjaganya hingga ia lahir. Bagaimanapun Chi sun merasa khawatir dengan janin ini. Ibu mana yang senang membuang anaknya bahkan sampai harus membunuhnya. Bahkan ia tidak tahu apa-apa dan itu terlalu jahat jika Chi sun harus menyakitinya.</p>
<p> </p>
<p>“Baiklah! Aku akan lakukan apa yang anda inginkan.” Akhirnya Chi sun berbicara, sekalipun nadanya terdengar tidak rela. Yuri tersenyum pelan namun seakan menghina. Heechul menaikkan sebelah alisnya.</p>
<p> </p>
<p>“Apa itu?” Heechul dibuat sedikit bingung,</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“Aku…akan mengundurkan diri dari Sekolah ini,” balasnya yakin, wajah itu terangkat, matanya sembab. Ternyata berlama-lama menunduk Chi sun sudah menahan tangisnya karena harus merelakan masa depannya. Tapi jika harus membunuh anak ini? Chi sun bahkan tidak ingin terlihat hina lagi didepanTuhan. Ini titipan, dan mau tidak mau Chi sun harus menjaganya. Makhluk Suci.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“Hah! Benarkah?” Heechul tertawa tidak menyangka. Bukan hanya Heechul, tapi Hankyung dan Jungsoopun terkejut dengan pilihan Chi sun,tidak terkecuali Yuri.</p>
<p> </p>
<p>“Kim Chi sun kumohon! Berpikirlah dengan jernih. Ini semua menyangkut masa depanmu. Ini jalan yang harus kau pilih!” Hankyung meyakinkan Chi sun dengan segala upaya agar Chi sun tidak salah memilih.</p>
<p> </p>
<p>“Dan anak ini yang saya pilih. Dia juga masa depanku, aku tidak ingin menambah dosa dengan membunuhnya yang tidak tahu apa-apa…,”</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>BRAKK</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Pintu ruangan Heechul dibuka kasar. Semua mata menoleh kearahnya. Kyuhyun.</p>
<p> </p>
<p>“Tidak bisa!!!” teriaknya dengan wajah yang sudah memerah. Bahunya naik turun karena cukup lelah berlari dari kelas menyusul Chi sun yang sedang diintograsi Heechul selama lebih kurang 25 menit.</p>
<p> </p>
<p>“Ah! Itu pangeran berkudamu Nona Kim?” cibir Heechul membuat Kyuhyun semakin naik pitam.</p>
<p> </p>
<p>“Anda tidak bisa sembarangan mengeluarkan dia dari Sekolah ini. Apa anda tidak sadar bahwa Chi sun siswi berprestasi di Sekolah ini?” Kyuhyun berjalan pelan menghampiri orang-orang yang sedang memanas,</p>
<p> </p>
<p>“Peraturan tetap peraturan!” bentak Heechul tidak tahan. Ia berdiri angkuh dihadapan orang-orang yang ada didepannya.</p>
<p> </p>
<p>“Ini tidak adil! Anda sama saja membuang masa depan Chi sun.” Kyuhyun semakin meninggikan suaranya, membuat Heechul geram.</p>
<p> </p>
<p>“Ternyata anak-anak berprestasi di Sekolah ini seorang pemberontak. Cho Kyuhyun, jangan buat aku menarik beasiswamu di Oxford!” Dan kini Heechul mengancam Kyuhyun. Jungsoo menatap Kyuhyun lama dan dalam. Ia berharap Kyuhyun tidak sembarangan bicara, karena Heechul akan melakukan apa yang ia ingin lakukan jika sedang seperti ini. Kyuhyun hendak berjalan dengan segenap amarahnya, namun Chi sun sudah menahan laju kakinya. Kyuhyun berbalik dan menatap Chi sun bingung,</p>
<p> </p>
<p>“Sudahlah Kyu! Sudah seharusnya aku keluar dari Sekolah ini. Aku hanya sampah untuk Hannyeong, kembalilah ke kelasmu,” balasnya lembut meyakinkan Kyuhyun agar tidak masuk pada lingkaran permasalahan yang semakin membesar.</p>
<p> </p>
<p>“Memang sudah seharusnya! Tugasmu adalah mencari ‘<i>Appa’</i> untuk anakmu yang tidak berdosa itu.” Heechul menimpal dengan angkuhya. Kyuhyun tidak terima. Tindakah Heechul sudah sangat keterlaluan dimatanya. Keluar? Ditinggal sehari saja sudah membuat Kyuhyun tidak betah apalagi harus ditinggal selamanya dari Sekolah ini, sama dengan menancabkan jarum satu persatu pada jantungnya.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“TIDAK BISA!!!” Kyuhyun semakin menjadi. Yuri cukup terkejut melihat sikap Kyuhyun yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Amarahnya itu sudah menutup pikiran jernihnya. Dengan cukup kasar Kyuhyun menghempaskan tangannya yang masih digenggam Chi sun. Gadis ini cukup terkejut dengan sikap Kyuhyun yang tidak lembut seperti biasanya. Dengan terseok ia melangkah kehadapan Heechul yang masih berdiri dengan tangan yang dilipatkan didada. Kyuhyun terduduk lemah. Mengemis dihadapan Heechul.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“Aku mohon! Jangan Keluarkan dia dari Hannyeong. Beri dia kesempatan untuk Sekolah disini. Aku, Jungsoo <i>Seonsaengnim</i> bahkan Hankyung <i>Seonsaengnim</i> tahu kalau menggugurkan janin itu tindakan tercela. Apa kau bisa merasakan sakitnya seorang ibu membunuh anaknya?” dengan parau Kyuhyun terus meyakinkan Heechul dengan tenaga yang tersisa. Yuri menutup bibirnya karena berhasil terbuka. Ia sangat terkejut dengan tindakan Kyuhyun yang berlebihan menurutnya. Tidak terkecuali Chi sun. Tubuhnya bergetar melihat Seorang Cho Kyuhyun mengemis lemah dihadapan Heechul yang berpredikat sebagai Kepala Sekolah Hannyeong <i>Senior</i> <i>High</i> <i>School</i>. Air mata itu tumpah, ingin sekali ia menyusul Kyuhyun dan mengajaknya berdiri, tapi apadaya. Kakinya sudah tidak mampu lagi bergerak.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“Hidup itu penuh pilihan Cho. Dan gadismu memilih keluar dari Sekolah ini. Lagipula, dia sudah pantas menjadi ibu, biarkan dia mencari ayah untuk anaknya itu,” cibir Heechul entah untuk keberapa kalinya.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“AKU YANG SUDAH MENGHAMILINYA!” teriak Kyuhyun dengan tidak sadar. Rasa sakit mendengar gadis yang ia cintai dicela habis-habisan membuat Kyuhyun tidak terima. Heechul, Hankyung, Jungsoo, Yuri membulatkan matanya tidak percaya, bahkan siswa yang mengintippun ikut terkejut dengan mengatakan ‘<i>Mwo’</i> secara serempak.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“Kyuhyun!” bentak Chi sun lemah. Sekuat tenaga ia mendekati Kyuhyun agar tidak melakukan tindakannya lebih jauh, namun Kyuhyun tidak menghiraukannya. Wajah tampannya tetap menegadah memohon pada Heechul yang sekarang malah tertawa lepas seperti orang tidak waras.</p>
<p> </p>
<p>“Hahahaha. Kau rela berkorban demi gadis itu? ChoKyuhyun&#8230;,jangan kira aku tidak tahu. Anak baik sepertimu tidak mungkin melakukan itu semua. Aku cukup tahu itu Kyu….Bahkan gadis ini mampu merusak akal sehat seorang Cho Kyuhyun. <i>Daebak</i> !” Heechul bertepuk tangan dan bersikeras dengan egonya.</p>
<p> </p>
<p>“Ini semua nyata! Aku sudah menghamilinya. Kami melakukannya di Jeju, lebih tepatnya di <i>Resort</i> milik ayahku, kau puas Tuan Kim? Jika kau ingin mengeluarkan dia dari Sekolah ini, keluarkan aku juga, karena akulah yang sudah membuatnya hamil.” Kyuhyun masih tetap pada nafsu dan amarahnya yang tidak terkontrol. Chi sun benar-benar tidak bisa menahan tangisnya dan memaksa Kyuhyun untuk berdiri dari posisi yang sebenarnya tidak pantas untuknya ini.</p>
<p> </p>
<p>“Kyuhyun sudah cukup! Kumohon! Tuan Kim, ini tidak seperti apa yang kau kira. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan kehamilanku.” Chi sun membela, ia meluruskan pernyataan Kyuhyun yang sudah tidak benar. Kyuhyun menoleh,</p>
<p> </p>
<p>“Jungsoo, kita seperti melihat Drama di TV. Hahaha, seberapa besar cintamu untuk gadis ini sampai-sampai kau rela ingin keluar dari Sekolah demi dia?”</p>
<p> </p>
<p>“Memang seperti ini kenyataannya.” Kyuhyun menantang Heechul dengan tatapan angkuhnya. Kyuhyun merangkak dengan siku kakinya mendekat kearah Chi sun yang tidak terlalu jauh dari posisinya. Dengan sendu ia menatap perut yang cukup terlihat membulat. Tidak perlu waktu lama, ia memeluk pinggang Chi sun dan mecium perutnya hangat. Dari samping Heechul bisa melihat mata Kyuhyun tertutup seolah nyaman berada disana. Yuri bisa melihat dengan jelas tangan Kyuhyun yang merekat kuat dibelakang tubuh gadis itu.</p>
<p> </p>
<p>Chi sun menangis sejadi-jadinya. Tindakan Kyuhyun sudah membuatnya lemah tidak berdaya. Tidak sepantasnya Kyuhyun melakukan ini semua, bahkan ini bukan darah dagingnya tapi Kyuhyun malah menciumnya hangat seolah janin ini adalah anaknya. Bahkan sekarang, kepalanya diusap lembut disekitar perut Chi sun. Memberikan kelembutan untuk anak dalam perut gadisnya.</p>
<p> </p>
<p>“Kumohon Kyuhyun jangan seperti ini!” Chi sun bersikeras memaksa Kyuhyun untuk tidak melakukan ini semua. Kepalanya menggeleng lemah melihat Kyuhyun yang masih betah memeluknya. Ada sedikit kenyamanan yang Kyuhyun ciptakan tapi tidak seperti ini situasinya. Sejenak wajah Kyuhyun menegadah, bahkan ia masih bisa tersenyum manis disaat seperti ini, tapi itu sangat menyakitkan untuk Chi sun.</p>
<p> </p>
<p>“Jika aku bukan ayahnya, tidak mungkin aku melakukan ini semua. Aku memberinya susu itu karena aku sangat menyayangi dia dan anak ini. Aku ingin mereka hidup bahagia menemaniku nanti. Mereka terlalu berharga untukku.” Kyuhyun bergumam meyakinkan Heechul untuk kesekian kalinya. Semua orang yang mendengarnya cukup tersentuh dengan tindakan Kyuhyun.</p>
<p> </p>
<p>“Tidak Kyuhyun bukan seperti itu…, bangunlah Kyuhyun aku mohon!” perintahnya semakin melemah namun Kyuhyun seolah tidak mau tahu.</p>
<p> </p>
<p>“Tindakanmu itu sudah sangat keterlaluan. Keputusanku bulat. Kim Chi sun tetap keluar dari Sekolah ini.” Heechul berbicara tegas. Seolah apa yang ia lihat tidak mempan sedikitpun untuknya. Kyuhyun terkejut dan segera bangun dari posisinya, berdiri sejajar dengan Heechul, menghapus derajat mereka yang berbeda. Berbicara dari pria kepada pria.</p>
<p> </p>
<p>“Tapi aku yang sudah menghamilinya!!!”</p>
<p> </p>
<p>“Jangan berbohong untuknya!”</p>
<p> </p>
<p>“Aku tidak berbohong!”</p>
<p> </p>
<p>“Diam kau! Tindakanmu itu tidak sopan sekali, aku Kepala Sekolahmu!”</p>
<p> </p>
<p>“Keluarkan aku dari Sekolah ini.”</p>
<p> </p>
<p>“Tidak bisa! Kau tetap belajar disini. Keputusan ini sudah tidak bisa diganggu gugat. Selesaikan masalah pribadi kalian diluar. Ini lembaga, dan aku harus menetapkan peraturan yang ada.” Heechul mengakhiri pembicaraanya dengan berjalan meninggalkan orang-orang yang ada diruangan ini. Hankyung menyusul seolah ikut tidak terima. Yuri dengan kesal pergi meninggalkan Kyuhyun yang membeku ditempat.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Tatapan matanya kosong, darahnya terus berdesir karena jantungnya terus memompa dengan tempo cepat. Bahkan ia tidak membayangkan sebelumnya bahwa ini akan terjadi. Mengemis didepannya ternyata tidak membuat Heechul berubah pikiran. Keputusan itu amat sangat tidak bisa Kyuhyun terima, Kyuhyun sudah membuatnya terlihat hina didepan Heechul karena mengaku menghamili Chi sun namun, ingin sekali ia memecahkan kepala egois milik Heechul.</p>
<p> </p>
<p>Tangan kecil itu meraba, mengusap bahu Kyuhyun lembut. <i>Namja</i> ini sudah tahu bahwa sentuhan itu dari Chi sun. telinganya mendengar bahwa Chi sun sedang terisak, dengan cepat Kyuhyun berbalik. Mereka sama-sama terisak. Dunia memang terlalu kejam untuk Chi sun maupun Kyuhyun, tidak pernah mau berpihak untuk mereka. Dengan pelan Chi sun memeluk Kyuhyun agar berhenti  menangis dan berhenti untuk melakukan tindakan bodohnya.</p>
<p> </p>
<p>“<i>Eotteokheh</i>?” gumam Kyuhyun lemah, mantanya memandang kosong kearah pintu keluar. Sungguh! Ia tidak bisa sanggup menerima keputusan ini, apa jadinya seorang Kyuhyun tanpa Chi sun yang akan menemaninya di Sekolah luas ini. Bahkan ini akan menjadi sekolah terburuk dan terhina untuk Kyuhyun.</p>
<p> </p>
<p>“Sudah Kyuhyun kumohon! Jangan bertindak lebih jauh. Aku sudah bisa menerimanya jika harus keluar dari Sekolah ini. Yang paling penting saat ini adalah kau, belajar dengan baik dan ambil beasiswamu di Oxford.” Chi sun memeluknya hangat, Kyuhyun malah mematung dan tidak membalas pelukannya itu.</p>
<p> </p>
<p>“Aku tidak bisa! Bukan ini yang aku inginkan tidak seperti ini…!!”</p>
<p> </p>
<p>“Kyuhyun…, aku akan tetap bersamamu, jangan pernah merasa sendiri, aku akan selalu ada untukmu. <i>Jja</i>! Kita keluar, aku harus segera mengemas barang-barangku dikelas dan di loker.” Chi sun tersenyum dan mendorong tubuh Kyuhyun untuk bisa berjalan pergi meniggalkan ruangan laknat ini.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Kerumunan siswa dan siswi masih memadati sekitar ruangan Heechul, satu sama lain sibuk menanggapi masalah yang sudah mereka lihat, hingga akhirnya pintu itu terbuka dan seketika suasana menjadi sepi, mata itu sibuk melihat Kyuhyun dan Chi sun yang hendak keluar dari ruangan Heechul.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>BUKK</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Satu pukulan mendarat di tulang pipi Kyuhyun hingga tercipta goresan merah. Satu anak laki-laki dengan nafsunya memukul Kyuhyun,</p>
<p> </p>
<p>“Ternyata kau dalang permasalahannya? Kau tidak pantas berada disini Tuan Cho.”</p>
<p> </p>
<p>&#8220;Jaga Bicaramu Bodoh!&#8221; Kyuhyun memanas dan hendak mendekat namun,</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>BUKK</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Pukulan itu mendarat lagi namun beda tangan, ujung bibir Kyuhyun berdarah. Ternyata cukup banyak yang membenci Kyuhyun setelah mereka tahu bahwa Kyuhyun yang menghamili teman mereka, padahal itu semua tidak benar.</p>
<p> </p>
<p>“Aku tidak terima melihat temanku rusak oleh laki-laki bejad sepertimu.”</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>BUKK</p>
<p> </p>
<p>BUKK</p>
<p> </p>
<p>BUKK…mereka menghambur memukuli Kyuhyun dengan buas, Kyuhyun terkulai tak berdaya dan dengan senang hati membiarkan anak-anak yang kesetanan ini memukulinya sesuka nafsu mereka. Beberapa siswi menjerit namun beberapa juga malah menyoraki.</p>
<p> </p>
<p>“TIDAAAKKK!! BERHENTI KUMOHOOON!” Chi sun kalut. Teriakkannya sudah tidak mereka hiraukan, dengan gelisah ia mendekat kearah kerumunan untuk menyelamatkan Kyuhyun, namun teman-temannya sudah menariknya untuk menjauh.</p>
<p> </p>
<p>&#8220;KYUHYUUUUUNNNNN!!!” Teriak Chi sun memberontak. Sudah cukup anak-anak itu memukuli Kyuhyun, akhirnya mereka pergi meninggalkan Kyuhyun yang sudah berlumuran darah. Chi sun memaksa terlepas dan berlari mendekati Kyuhyun yang sedang merintih kesakitan disekujur tubuhnya.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“Kyuhyuuun! Bangunlah kumohoon! Maafkan akuuu ini semua salahku. Bangun Kyuhyuuun kumohoon!!!” Chi sun terus membantu Kyuhyun agar segera tersadar, air matanya jatuh lagi melihat dengan jelas pria yang ia cintai terluka ulah teman-temannya. Wajah tampannya sudah merah oleh darah yang mengalir dari hidung, bibir, dan mata Kyuhyun, untung saja tidak merusak penglihatannya. Tangannya lecet dan dengan lemah ia mengambil oksigen dalam-dalam karena salah satu anak laki-laki itu berhasil menginjak dada Kyuhyun, bahkan sampai ditendang kasar dan membuat pinggang Kyuhyun nyeri. semuanya remang, sakit itu malah tidak terasa dan semakin lama dunia semakin gelap. Hingga akhirnya dunia benar-benar gelap.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“Tolong aku kumohooon!” Chi sun berteriak meminta pertolongan.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>***</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Suasana yang tadi gaduh kini sepi dan sunyi. Matanya yang sakit dipaksa untuk terbuka, melihat keadaan sekarang setelah beberapa jam tertidur pulas.</p>
<p> </p>
<p>“Aw!” Kyuhyun meringis Karena Chi sun mengusap mata Kyuhyun yang memerah dengan kapas yang dibasahi air hangat, berniat membersihkan darah yang keluar dari luka itu, dengan segera Chi sun meniupnya agar tidak terasa perih.</p>
<p> </p>
<p>“Sedikit lagi!” perintahnya masih sambil meniup daerah mata Kyuhyun, dan dengan hati-hati mengusapkan kapas itu pada luka Kyuhyun.</p>
<p> </p>
<p>“Argh!” Kyuhyun meringis sedikit memberontak. Chi sun segera memegang tangannya dan meniup luka itu. Kyuhyun masih meringis.</p>
<p> </p>
<p>“Tenanglah! Lukanya sudah aku bersihkan.” Chi sun menempelkan Plester kepipi Kyuhyun yang lebam.</p>
<p> </p>
<p>“Dimana akuu?” gumamnya lemah dengan mata yang terbuka sedikit. Penglihatannya masih remang dan sulit mengenali ruangan ini. Kamar Chisun.</p>
<p> </p>
<p>“Ini kamarku. Donghae dan Sungmin yang mengantarkanmu kesini,” balasnya menaikkan selimut tebal bermotif menara Eifel sampai perut Kyuhyun.</p>
<p> </p>
<p>“Ah! Sakit!” Kyuhyun meringis karena tidak sengaja Chi sun menyentuh perutnya yang masih mual dan nyeri.</p>
<p> </p>
<p>“<i>Mianhae</i>…,” Chi sun mengusapnya lembut dan itu cukup membuat Kyuhyun nyaman, ”Ini semua…salahku. Kau harus tersiksa seperti ini, maafkan aku Kyuhyun maaf!” Chi sun terisak dengan wajah yang ditenggelamkan kekasurnya. Ia menangis sejadi-jadinya meratapi nasib Kyuhyun yang harus menerima kesakitan seperti ini. Dengan sekuat tenaga Kyuhyun tersenyum meskipun bibirnya masih sakit. Tangannya berjalan mengusap puncak kepala Chi sun dengan lembut.</p>
<p> </p>
<p>“Sudah. Ini memang harus terjadi, ini bukan salahmu. Aku yang terlalu egois dan mungkin ini hukuman untukku. Sudahlah kumohon <i>uljima</i> !”tangan Kyuhyun mencari dagu Chi sun agar bisa menegadah. Dengan cepat Chi sun memeluk tangan Kyuhyun,</p>
<p> </p>
<p>“Maafkan akuu!” balasnya masih saja terisak. Kyuhyun memutar tubuhnya hingga menyamping, tangan sebelahnya memeluk Chi sun susah payah karena masih merasa nyeri.</p>
<p> </p>
<p>“Kumohon jangan menangis lagi. Hey…lihat aku!”  perlahan Chi sun menatap wajah Kyuhyun yang penuh luka. Tangannya mengusap lembut pipinya yang licin oleh air mata. Dihapus jalan air mata itu dan mencubitnya pelan. Chi sun hanya bisa terdiam, tangisnya sudah mereda, menyisakkan sesenggukan pelan.</p>
<p> </p>
<p>“Kau jelek saat menangis, apa kau tidak kasihan dengan anakmu? Dia pasti sedang menangis melihat ibunya menangis konyol seperti ini. Aku tidak apa-apa sungguh. Aku…,” Kyuhyun menggantungkan kalimatnya, “Aku masih tidak bisa menerima keputusan itu.” Kyuhyun menutup matanya mengingat kejadian yang baru saja ia lewati.</p>
<p> </p>
<p>“Kyu…, kumohon! Jangan bertindak lebih jauh lagi. Sudah seharusnya aku keluar dari Sekolah itu.”</p>
<p> </p>
<p>“Bagaimana aku bisa Sekolah dengan semangat. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa aku nanti tanpamu,”</p>
<p> </p>
<p>“Bukan berarti kita mengakhiri hubungan kita kan?” Kyuhyun menoleh pelan, “Kau bisa bermain kesini pulang Sekolah. Pintu akan selalu terbuka untukmu, kau bisa menjengukku dan anak ini semaumu. Aku hanya ingin kau belajar dengan baik tanpa harus terbebani, bekerja keraslah untuk beasiswamu dan masa depanmu. Aku akan mendukungmu, aku janji !” paparnya meyakinkan Kyuhyun agar mau bersekolah lagi dengan semangat. Jangan sampai masalah ini mengganggu aktivitas Kyuhyun untuk menjalankan hidupnya seperti biasa.</p>
<p> </p>
<p>“Tapi…,”</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“Kumohon, demi aku! Dan…anak ini. Kau menyayanginya kan?” hibur Chi sun menuntun tangan lebar Kyuhyun untuk mengusap perutnya. Kyuhyun tersenyum dan mengangguk pelan mengiyakan apa yang sudah Chi sun katakan.</p>
<p> </p>
<p>“Kau terlihat tampan saat tersenyum.”</p>
<p> </p>
<p>“Jangan menggoda-_-“ Kyuhyun tahu bahwa Chi sun sedang bercanda. Wajah rusak dan lebam seperti ini tidak mungkin disebut tampan. Kyuhyun menebalkan bibirnya manja namun,</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>PLAKK</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“Jangan ditebal-tebalkan, aku tidak tertarik,” Chi sun memukul bibir Kyuhyun pelan. Pelan bagi Chi sun tapi tidak bagi Kyuhyun, <i>namja </i>ini meringis karena pukulan Chi sun berhasil menyentuh luka yang ada disudut bibirnya.</p>
<p> </p>
<p>“Kau harus tertarik .____.” Paksanya menarik seragam Chi sun.</p>
<p> </p>
<p>“Apa??” Chi sun menantang saat Kyuhyun menarik kemeja sekolahnya hingga mereka berdekatan. Keduanya terdiam. Chi sun cukup kebingungan melihat tingkah Kyuhyun, hingga akhirnya beberapa detik terbuang sia-sia karena tidak ada yang berani berbicara terlebih dahulu. Kyuhyun memiringkan kepalanya dan mendekatkan luka disudut bibirnya kearah Chi sun,</p>
<p> </p>
<p>“Obat untuk menyembuh lukanya mana??” Kyuhyun menggoda,</p>
<p> </p>
<p>“Salep? Obat merah? Atau apa?”</p>
<p> </p>
<p>“<i>Poppo</i> bodoh -_-“ semangat Kyuhyun menjadi turun karena apa yang ia maksud tidak sesuai dengan pemikiran Chi sun.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“<i>Aigoo</i> kau kira aku anak kecil? bagaimana ceritanya dengan mencium luka akan cepat sembuh?” Chi sun mengelak, lebih tepatnya menghindar dari modus Kyuhyun yang sangat membosankan,</p>
<p> </p>
<p>“Kau tidak tahu? saat bibir seseorang menyentuh luka seseorang akan ada enzim yang menempel diluka itu dan bisa menyembuhkan lukanya. Ayo cepat kenapa kau jual mahal sekali.” Kyuhyun memaparkan penjelasannya seperti seorang ahli. Kyuhyun menarik paksa pundak Chi sun agar mau mencium lukanya namun Chi sun memberontak, sekuat tenaga ia menjauhkan wajahnya dari wajah Kyuhyun.</p>
<p> </p>
<p>“Jangan mengarang Kyu, ini bukan pelajaran Shindong <i>Seonsaengnim</i>. Aku cukup tahu modusmu…,”</p>
<p>Terlambat. bibir mereka sudah bersentuhan lagi, tenaga Kyuhyun yang mendadak besar berhasil menarik perlawanan Chi sun untuk menghindar. Bahkan luka itu tidak tersentuh sedikitpun. Mereka malah mengadukan bibir mereka dengan sedikit paksaan dari Kyuhyun -_-</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“Kyuhyuuun :&#124;” Chi sun menarik hidung Kyuhyun hingga <i>namja </i>ini mengerutkan dahinya menahan sakit.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“Ampuuunn!! Bukannya kau suka?” Chi sun semakin menarik hidung itu saat Kyuhyun dengan entengnya mengatakan apa yang sudah ia lakukan dengan Chi sun,</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“SUKA APANYAA? Kau yang memaksaku!! Aku sudah tidak enak hati saat kau meminta permintaan anehmu itu.” Chi sun membela karena tidak terima dengan semua yang di katakan Kyuhyun.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“Tapi kau tetap suka kaan X)” Kyuhyun menggoda namun,</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>PLAKK</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“Ya!! Menyebalkaaan!!” Chi sun pergi meninggalkan Kyuhyun dengan wajah memerah menahan malu. Chi sun tidak akan sanggup jika ada seseorang yang mengolok-oloknya seperti ini, ia tidak akan tahan menahan malu dan wajahnya yang memerah seketika.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“<i>Omo</i>! Siapa tadi yang sudah menarik bibirku???” Kyuhyun menyahut dan itu masih terdengar oleh Chi sun,</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“Aaaaaahhh diam kaauuuu!!!” Dengan kesal ia melempar bantal Sofa yang ada diluar kamar. Melempar dengan segenap malu yang mencekiknya karena Kyuhyun. <i>Namja</i> ini malah tertawa lebar tanpa menghiraukan nyeri disudut bibir ataupun disekujur tubuhnya.</p>
<p> </p>
<p>TBC~</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[PHOTO] 130505 magazine "Date With" avec Kangin  [PIC] "Date With" magazine with Kangin  ]]></title>
<link>http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/photo-130505-magazine-date-with-avec-kangin-pic-date-with-magazine-with-kangin/</link>
<pubDate>Thu, 09 May 2013 15:45:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>frenchcammomiles</dc:creator>
<guid>http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/photo-130505-magazine-date-with-avec-kangin-pic-date-with-magazine-with-kangin/</guid>
<description><![CDATA[CR:eunsulee]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>CR:eunsulee</p>
<p><a href="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/bjwrxqcceai8lb0.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-626" alt="BJwRxqCCEAI8LB0" src="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/bjwrxqcceai8lb0.jpg?w=300&#038;h=300" width="300" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[STARM Magazine avec les Super Junior]]></title>
<link>http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/starm-magazine-avec-les-super-junior-2/</link>
<pubDate>Thu, 09 May 2013 15:40:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>frenchcammomiles</dc:creator>
<guid>http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/starm-magazine-avec-les-super-junior-2/</guid>
<description><![CDATA[cr:cloudsspring]]></description>
<content:encoded><![CDATA[
		<style type='text/css'>
			#gallery-599-2 {
				margin: auto;
			}
			#gallery-599-2 .gallery-item {
				float: left;
				margin-top: 10px;
				text-align: center;
				width: 33%;
			}
			#gallery-599-2 img {
				border: 2px solid #cfcfcf;
			}
			#gallery-599-2 .gallery-caption {
				margin-left: 0;
			}
		</style>
		<!-- see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php -->
		<div data-carousel-extra='{"blog_id":49816237,"permalink":"http:\/\/frenchcammomiles.wordpress.com\/2013\/05\/09\/starm-magazine-avec-les-super-junior-2\/","likes_blog_id":49816237}' id='gallery-599-2' class='gallery galleryid-599 gallery-columns-3 gallery-size-thumbnail'><dl class='gallery-item'>
			<dt class='gallery-icon portrait'>
				<a href='http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/starm-magazine-avec-les-super-junior-2/767691937-2/' title='767691937'><img data-liked='0' data-reblogged='0' data-attachment-id="600" data-orig-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676919371.jpg" data-orig-size="600,839" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="767691937" data-image-description="" data-medium-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676919371.jpg?w=214" data-large-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676919371.jpg?w=600" width="107" height="150" src="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676919371.jpg?w=107&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="767691937" /></a>
			</dt></dl><dl class='gallery-item'>
			<dt class='gallery-icon portrait'>
				<a href='http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/starm-magazine-avec-les-super-junior-2/767692008-2/' title='767692008'><img data-liked='0' data-reblogged='0' data-attachment-id="601" data-orig-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676920081.jpg" data-orig-size="600,838" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="767692008" data-image-description="" data-medium-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676920081.jpg?w=214" data-large-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676920081.jpg?w=600" width="107" height="150" src="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676920081.jpg?w=107&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="767692008" /></a>
			</dt></dl><dl class='gallery-item'>
			<dt class='gallery-icon portrait'>
				<a href='http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/starm-magazine-avec-les-super-junior-2/767692150-2/' title='767692150'><img data-liked='0' data-reblogged='0' data-attachment-id="602" data-orig-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676921501.jpg" data-orig-size="600,838" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="767692150" data-image-description="" data-medium-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676921501.jpg?w=214" data-large-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676921501.jpg?w=600" width="107" height="150" src="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676921501.jpg?w=107&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="767692150" /></a>
			</dt></dl><br style="clear: both" /><dl class='gallery-item'>
			<dt class='gallery-icon portrait'>
				<a href='http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/starm-magazine-avec-les-super-junior-2/767692189-2/' title='767692189'><img data-liked='0' data-reblogged='0' data-attachment-id="603" data-orig-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676921891.jpg" data-orig-size="600,838" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="767692189" data-image-description="" data-medium-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676921891.jpg?w=214" data-large-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676921891.jpg?w=600" width="107" height="150" src="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676921891.jpg?w=107&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="767692189" /></a>
			</dt></dl><dl class='gallery-item'>
			<dt class='gallery-icon portrait'>
				<a href='http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/starm-magazine-avec-les-super-junior-2/767692453-2/' title='767692453'><img data-liked='0' data-reblogged='0' data-attachment-id="604" data-orig-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676924531.jpg" data-orig-size="600,825" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="767692453" data-image-description="" data-medium-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676924531.jpg?w=218" data-large-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676924531.jpg?w=600" width="109" height="150" src="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676924531.jpg?w=109&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="767692453" /></a>
			</dt></dl><dl class='gallery-item'>
			<dt class='gallery-icon portrait'>
				<a href='http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/starm-magazine-avec-les-super-junior-2/767692568-2/' title='767692568'><img data-liked='0' data-reblogged='0' data-attachment-id="605" data-orig-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676925681.jpg" data-orig-size="600,835" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="767692568" data-image-description="" data-medium-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676925681.jpg?w=215" data-large-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676925681.jpg?w=600" width="107" height="150" src="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676925681.jpg?w=107&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="767692568" /></a>
			</dt></dl><br style="clear: both" /><dl class='gallery-item'>
			<dt class='gallery-icon portrait'>
				<a href='http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/starm-magazine-avec-les-super-junior-2/767692668-2/' title='767692668'><img data-liked='0' data-reblogged='0' data-attachment-id="606" data-orig-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676926681.jpg" data-orig-size="600,836" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="767692668" data-image-description="" data-medium-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676926681.jpg?w=215" data-large-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676926681.jpg?w=600" width="107" height="150" src="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676926681.jpg?w=107&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="767692668" /></a>
			</dt></dl><dl class='gallery-item'>
			<dt class='gallery-icon portrait'>
				<a href='http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/starm-magazine-avec-les-super-junior-2/767692894-2/' title='767692894'><img data-liked='0' data-reblogged='0' data-attachment-id="607" data-orig-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676928941.jpg" data-orig-size="600,825" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="767692894" data-image-description="" data-medium-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676928941.jpg?w=218" data-large-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676928941.jpg?w=600" width="109" height="150" src="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676928941.jpg?w=109&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="767692894" /></a>
			</dt></dl><dl class='gallery-item'>
			<dt class='gallery-icon portrait'>
				<a href='http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/starm-magazine-avec-les-super-junior-2/767693134-2/' title='767693134'><img data-liked='0' data-reblogged='0' data-attachment-id="608" data-orig-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676931341.jpg" data-orig-size="600,833" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="767693134" data-image-description="" data-medium-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676931341.jpg?w=216" data-large-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676931341.jpg?w=600" width="108" height="150" src="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676931341.jpg?w=108&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="767693134" /></a>
			</dt></dl><br style="clear: both" /><dl class='gallery-item'>
			<dt class='gallery-icon portrait'>
				<a href='http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/starm-magazine-avec-les-super-junior-2/767693219-2/' title='767693219'><img data-liked='0' data-reblogged='0' data-attachment-id="609" data-orig-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676932191.jpg" data-orig-size="600,834" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="767693219" data-image-description="" data-medium-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676932191.jpg?w=215" data-large-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676932191.jpg?w=600" width="107" height="150" src="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676932191.jpg?w=107&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="767693219" /></a>
			</dt></dl><dl class='gallery-item'>
			<dt class='gallery-icon portrait'>
				<a href='http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/starm-magazine-avec-les-super-junior-2/767693292-2/' title='767693292'><img data-liked='0' data-reblogged='0' data-attachment-id="610" data-orig-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676932921.jpg" data-orig-size="600,792" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="767693292" data-image-description="" data-medium-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676932921.jpg?w=227" data-large-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676932921.jpg?w=600" width="113" height="150" src="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676932921.jpg?w=113&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="767693292" /></a>
			</dt></dl><dl class='gallery-item'>
			<dt class='gallery-icon portrait'>
				<a href='http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/starm-magazine-avec-les-super-junior-2/767693362-2/' title='767693362'><img data-liked='0' data-reblogged='0' data-attachment-id="611" data-orig-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676933621.jpg" data-orig-size="600,833" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="767693362" data-image-description="" data-medium-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676933621.jpg?w=216" data-large-file="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676933621.jpg?w=600" width="108" height="150" src="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/7676933621.jpg?w=108&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="767693362" /></a>
			</dt></dl><br style="clear: both" />
			<br style='clear: both;' />
		</div>

<p>cr:cloudsspring</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Love Is Him Part Five]]></title>
<link>http://kyukuyukyu.wordpress.com/2013/05/09/love-is-him-part-five/</link>
<pubDate>Thu, 09 May 2013 15:39:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>kyukuyukyu</dc:creator>
<guid>http://kyukuyukyu.wordpress.com/2013/05/09/love-is-him-part-five/</guid>
<description><![CDATA[Love Is Him Part Five &nbsp; Title     : Love Is Him Author : @ biniYESUNG (Yerita) Cast     :]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><b>Love Is Him</b></p>
<p align="center">Part Five</p>
<p>&#160;</p>
<p>Title     : Love Is Him</p>
<p>Author : @ biniYESUNG (Yerita)</p>
<p>Cast     : &#8211; Kyuhyun Super Junior</p>
<p>- Donghae Super Junior</p>
<p>- Park Hyun Ra (you)</p>
<p>Genre  : Sad, Romance, Angst</p>
<p>Rating : PG-15</p>
<p>Length : Chaptered</p>
<p>&#160;</p>
<p>*Note : i think the idea of these stories with my own brain, with my own imagination. So I hope you guys will appreciate this with your comment and don’t copy my idea or this story. You can ask my permission to re-type my story J</p>
<p>Enjoy!! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p><i>Entah ini yang selama ini aku inginkan, atau yang selama ini aku takutkan akan terjadi.</i></p>
<p><i>Hal yang mungkin tidak pernah aku impikan.</i></p>
<p><i>Takdir buruk atau nasib baik entah apa yang harus ku lakukan.</i></p>
<p><i>Tersenyum dihadapan semua orang atau bersedih ketika aku hanya sendiri</i></p>
<p><i> <!--more--></i></p>
<p>Hari ini adalah hari dimana aku akan mengikat janji bersama dirinya.</p>
<p>Pria yang selalu ku dambakan akan menjadi suamiku kelak.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Mimpi yang menjadi kenyataan? Atau takdir yang memang menyatukan kita?</p>
<p>&#160;</p>
<p>Dengan menggandeng tangan calon ayah mertuaku, aku berjalan dengan pasti dan percaya diri.</p>
<p>Tentu dengan menyembunyikan kesedihan karena kehilangan dirinya dalam hidupku.</p>
<p>Dengan balutan gaun pengantin berwarna putih dan riasan indah di wajah dan diseluruh tubuhku, aku merasakan kebahagiaan yang sangat, bersamaan dengan penderitaan yang kualami beberapa saat ini.</p>
<p>Ya, aku memutuskan untuk menikah dengannya dan rela melepaskan orang lain yang sangat kucintai.</p>
<p>Kini aku berdiri di depan altar, bersama dengan pria itu.</p>
<p>Dengan senyuman manis di wajahnya, ia mengulurkan tangannya dan menggamit tanganku erat</p>
<p>&#160;</p>
<p>“apakah kalian siap? Kalian diharapkan mengikuti kata-kata saya” suara pendeta yang memulai acara pemberkatan ini seakan menyadarkanku dari pesona dirinya.</p>
<p>Dengan gamblang pendeta itu memulai kata-kata sacral yang kemudian diikuti oleh diriku dan juga mempelai pria ku. Cho Kyuhyun. Kalian terkejut? Akupun begitu.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“I, Kyuhyun Cho”</p>
<p>“Take you, Hyun Ra Park”</p>
<p>“To be my wedded wife”</p>
<p>“To have and to hold, from this day forward”</p>
<p>“For better and for worse”</p>
<p>“For richer, for poorer”</p>
<p>“In sickness or in health”</p>
<p>“To love and to cherish ‘till death do us part” dengan mantap dan senyuman teduh di wajahnya Kyuhyun <i>oppa</i> mengucapkan janji pernikahan kami dan diikuti olehku yang juga mengikat janji pernikahan dengannya, diakhiri oleh kata  “I do”</p>
<p>&#160;</p>
<p>Donghae <i>oppa</i>.</p>
<p>Dialah yang seharusnya menjadi mempelai pria yang berada disampingku dan mengucapkan janji pernikahan itu denganku.</p>
<p>Ia menghilang setelah kami melakukan segalanya untuk persiapan pernikahan.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Hanya video ini satu-satunya yang ia berikan saat terakhir bertemu denganku.</p>
<p>Ya, memori itulah rekaman terakhir tentangnya yang ada diotakku.</p>
<p>&#160;</p>
<p><i>“Hyun-ah.. aku ada hadiah kecil untukmu. Tapi jangan dibuka sekarang, di rumah saja, nanti. Oke?” </i><i></i></p>
<p><i>“</i><i>Ah, oppa.. apa yang ingin kau berikan. Aku penasaran”</i><i></i></p>
<p><i> </i></p>
<p><i>“</i><i>Sudahlah, nanti kau juga tahu. Nanti kau bisa buka hadiah itu, bersama si bodoh Kyuhyun keke” dengan terkekeh Donghae oppa memberikanku sebuah kotak dengan hiasan pita berwarna merah diatasnya.</i><i></i></p>
<p><i> </i></p>
<p><i>“Park Hyun Ra, kau tahu kan bahwa aku mencintaimu?</i><i> sesungguhnya kau tidak akan pernah tahu seberapa besar rasa itu. Dan aku akan menunjukkan rasa sayangku itu dengan hadiah ini”</i><i></i></p>
<p><i>“Hadiah yang sudah aku rancang sedemikian rupa, hanya untuk dirimu.” Dengan perlahan tapi pasti Donghae oppa mendekatkan wajahnya dan mencium keningku pelan, lembut, dalam, penuh perasaan.</i><i></i></p>
<p><i> </i></p>
<p><b><i>“</i></b><b><i>Nan hangsang dangsineul saranghamnida, Park Hyun Ra”</i></b><b><i></i></b></p>
<p><b><i> </i></b></p>
<p><i>Tidak banyak yang bisa aku lakukan, aku hanya tersenyum menatap Donghae oppa sebagai jawaban bahwa aku juga merasakan hal yang sama. </i><i></i></p>
<p><i>Walau kegiatan romantis kami ini hanya dilakukan di dalam mobil, ini benar-benar menyentuh hatiku. </i><i></i></p>
<p><i> </i></p>
<p><i>Ia memeluk diriku untuk beberapa saat sebelum ia mencium bibirku dalam dan lembut.</i><i></i></p>
<p><i> </i><i></i></p>
<p><i>Sampai akhirnya “YA! Kalian mesum sekali. </i><i></i></p>
<p><i>Apa tidak bisa mencari tempat lebih baik untuk bermesraan seperti itu?” suara Kyuhyun oppa merusak suasana romantis yang telah kami lakukan. </i><i></i></p>
<p><i>Iya, benar aku memang telah memilih, aku memilih Donghae oppa dan kami telah melakukan segala persiapan untuk pernikahan kami tiga bulan lagi. </i><i></i></p>
<p><i>Kyuhyun oppa? Ia tetap berada di sampingku </i><i>dan sedia setiap saat walau hanya untuk membawakan makan dan kembali bekerja lagi. </i><i></i></p>
<p><i>Atau menemaniku nonton dan tidak berkata apapun, tapi ia selalu ada untukku bahkan jika ada Donghae oppa.</i><i> Sepertinya keadaan ini menjadi kebalikan dari keadaan saat kami masih kuliah dulu.</i></p>
<p><i> </i></p>
<p><i>Aku dan Kyuhyun oppa tengah melambaikan tangan  mengiringi kepergian Donghae oppa yang menjauh meninggalkan rumahku dan menuju ke rumahnya. </i><i></i></p>
<p><i>“</i><i>Oppa, ayo temani aku membuka kado dari Donghae oppa”</i><i></i></p>
<p><i> </i></p>
<p><i>Sebuah video. Ya, lagi-lagi sebuah video. </i><i></i></p>
<p><i>Aku sangat berharap itu adalah video lamaran dari Donghae oppa. </i><i></i></p>
<p><i>Walaupun ia sudah melamarku dengan cara yang sudah sangat romantis dan mampu membuatku menitikan airmata, tapi aku masih ingin sesuatu yang lain.</i></p>
<p><i> </i></p>
<p><i>Tapi yang </i><i>kuharapkan ternyata salah besar dan berbanding terbalik.</i><i></i></p>
<p><i> </i></p>
<p><i>Di video itu, Donghae oppa berkat</i><i>a bahwa ia sangat yakin bahwa walaupun selama ini aku menjalin hubungan dengannya dan terlihat bahagia, hatiku akan selalu menjadi milik Kyuhyun oppa dan ia mempersiapkan segala macam dan bentuk pernikahan yang kusuka hanya untuk acara pernikahanku dan Kyuhyun oppa. </i><i></i></p>
<p><i> </i></p>
<p><b><i>“Park Hyun Ra, walaupun aku mencintaimu seperti apapun, aku meragukan kau bisa mencintaiku seperti apa yang kulakukan. Mari kita berpisah. Aku mengakhiri hubungan ini bukan karena tersiksa tidak mendapatkan cinta seperti apa yang kumau</i></b><b><i>”</i></b></p>
<p><b><i>“Tapi lebih kepada aku ingin kau berhenti bersedih dan menikahlah dengan pria impiannmu. Aku akan pergi, setidaknya sampai kau merasakan </i></b><b><i>kebahagiaan karena menikah dengan Kyuhyun. I love you always, Park Hyun Ra. Annyeong!!”</i></b></p>
<p><i> </i></p>
<p>“Hyunnie-ya. Apa kau bersedih?” dengan lembut Kyuhyun <i>oppa</i> menaruh telapak tangan kanan nya di pundak kananku.</p>
<p>Aku menatap wajahnya yang sangat tampan itu di pantulan kaca.</p>
<p>Ia terlihat lelah dan sedikit bersedih?</p>
<p>“Tidak mungkin aku bersedih di hari pernikahanku dengan orang yang kucintai, <i>oppa-ya</i>”</p>
<p>“Tapi kau akan lebih bahagia bila ada Donghae <i>hyung</i> disini, sekarang kan?” ucapnya sambil duduk di sebelahku dan membantuku melepas accesoris yang menempel di rambutku.</p>
<p>“Tentu saja <i>oppa</i>. Hari ini kebahagiaanku akan lengkap jika ada Donghae <i>oppa</i> disini. Bersama kita” mendengar tawa renyah Kyuhyun <i>oppa</i> bersatu dengan suara tawaku. Inilah impian yang selalu kuharapkan menjadi kenyataan beberapa tahun lalu, hidup bersama sebagai suami istri bersama Kyuhyun <i>oppa</i>.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Tapi aku berharap ada dia sekarang. Aku berharap dia yang ada bersamaku sekarang.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“tapi, aku tahu jika ada Donghae <i>hyung</i> sekarang, maka kau akan melupakanku dan memilih untuk pergi entah kemana bersamanya bukan?” dengan cibiran dan nada bercanda Kyuhyun <i>oppa</i> mengatakan itu.</p>
<p>Walau terlihat seperti bercanda aku tahu bahwa itulah yang sebenarnya ingin Kyuhyun <i>oppa</i> bicarakan dari hatinya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Aku terdiam dan terpaku dengan ucapan Kyuhyun <i>oppa</i>, sejenak aku merenung dan kemudian menatap wajah Kyuhyun <i>oppa</i> yang tidak kalah tampan dengan Donghae <i>oppa</i>, bahkan dilihat dari postur tubuh, ia lebih tinggi.</p>
<p>Mereka berdua baik.</p>
<p>Mereka berdua sempurna dimataku.</p>
<p>Tapi untuk saat ini, aku sadar bahwa aku mencintai Donghae <i>oppa</i>.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Bukan berarti aku tidak mencintai si pria tidak romantis di depanku ini, tapi Donghae <i>oppa</i> dengan segala cara yang dilakukannya, telah mendapatkan hatiku dan membawanya pergi bersamanya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Eoh. Aku mencintainya, <i>oppa</i>” dengan mantap aku mengatakannya sambil menatap Kyuhyun <i>oppa</i> tepat dimatanya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Apa kau mau menyudahi hubungan kita saja? Lalu aku akan membantumu mencari Donghae <i>hyung</i>? Kita bisa mencarinya bersama” dengan wajah yang terlihat tegar –walaupun mata Kyuhyun <i>oppa</i> mengatakan tidak karena ada cairan bening terlihat sudah siap meluncur keluar.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Aku menarik tangan kanan Kyuhyun <i>oppa</i> dan menangkupnya dalam dekapan kedua tanganku,</p>
<p>&#160;</p>
<p>“<i>Oppa</i>. Aku mencintainya bukan berarti aku harus memiliki dia. Walau aku juga tahu dia pasti mencintaiku, tapi disini sudah ada <i>oppa</i>. Sudah ada suamiku”</p>
<p>“Aku akan mencintaimu, dengan cara yang sama yang kulakukan selama enam tahun kita berpacaran. Aku rasa dengan begitu, Donghae <i>oppa</i> akan senang, kau akan senang, begitupun aku”</p>
<p>“Jadi jangan pernah ucapkan kau ingin bercerai denganku, apapun masalahnya, aku ingin kita bisa menyelesaikan dengan baik dan tanpa kata cerai” aku mencium punggung tangan kanannya dalam kemudian menaruhnya di wajahku.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Kalau begitu, aku akan mulai belajar untuk menjadi suami yang baik mulai dari sekarang, aku berjanji” ucapan yang membuatku merasa bahagia dan percaya bahwa pria ini akan membahagiakanku hingga akhir hayatku.</p>
<p>&#160;</p>
<p><i>15 years later</i></p>
<p>&#160;</p>
<p><i>Dengan kehadiran Cho Dong Hyun, hidup kami terasa semakin penuh dengan kebahagiaan.</i><i> </i><i></i></p>
<p><i>Memang sudah sangat telat bagi kami yang sudah menikah selama 5 tahun, tapi baru mempunyai keturunan.</i></p>
<p><i>Stres. </i></p>
<p><i>Itulah penyebab yang dokter anggap sebagai pemicu telatnya kami memiliki keturunan. Tapi Kyuhyun oppa tetap setia tanpa mengeluh sedikitpun akan kekuranganku ini. </i></p>
<p><i>Aku sangat mencintai Kyuhyun oppa.</i></p>
<p><i> </i></p>
<p>“aku merasa anak ini lebih pintar daripada anak seusianya, benar kan?” tiba-tiba suara itu datang memecah konsentrasiku yang sedang memperhatikan Kyuhyun <i>oppa</i> yang sedang berlarian bersama Dong Hyun seperti main kejar-kejaran.</p>
<p><i> </i></p>
<p>“O..<i>oppa</i>? Donghae <i>oppa</i>?” tanpa meminta ijin dariku, setetes air bening turun dari mataku dan meluncur indah ke pipi pucatku sesaat setelah menyadari siapa yang mengajakku berbicara.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Annyeong, Hyun Ra. Apa kau tidak ingin menyambut <i>oppa</i> mu ini kembali ke Seoul?” dengan merentangkan tangannya lebar, aku langsung masuk ke dalam dekapan Donghae <i>oppa</i>.</p>
<p>Yang kemudian kulepas untuk menatap wajah yang selama 15 tahun ini tidak kulihat.</p>
<p>Itu berarti Donghae <i>oppa</i> sudah berumur 40an? Tidak ada yang berbeda dari dirinya.</p>
<p>Ia tetap tampan dan sama seperti seseorang yang ada dalam video yang selalu ku tonton selama 15 tahun ini.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Siapa nama anak itu?” suara lembut dan manis nya memecah lamunanku.</p>
<p>“Siapa nama anakmu dan Kyuhyun?” kembali ia mengulang pertanyaan itu sambil mengelus rambutku seperti yang sering ia lakukan dulu.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Cho Dong Hyun, <i>hyung</i>. Cho adalah marga ku, Dong yah pasti dari namamu, dan Hyun untuk namaku dan nama Hyun Ra” tiba-tiba suara Kyuhyun <i>oppa</i> berada diantara kita. “<i>Hyung</i>, kau kemana saja? Hyun Ra dan aku sangat merindukanmu” Kyuhyun <i>oppa</i> memberikan tangan Dong Hyun kepadaku dan ia beralih ke Donghae <i>oppa</i> dan memeluknya kuat.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Aku mengurusi usahaku. Kau tahu sendiri beberapa tahun lalu adalah tahun yang berat untuk perusahaanku. Wah, bahaya sekali aku, dirindukan oleh istri orang, hm?” Donghae <i>oppa</i> membalasnya dengan candaan.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Tapi tanpa disadari kata-katanya memukul kesadaranku dan kerja otakku kembali membaik.</p>
<p>Aku adalah istri Cho Kyuhyun. Bukan Lee Donghae.</p>
<p>Selama ini pun aku sangat mencintai Cho Kyuhyun, lalu mengapa aku harus terkejut karena terlalu senang ketika Donghae <i>oppa</i> datang?</p>
<p>Jika seperti itu maka aku akan menghancurkan kepercayaan dan harkat Kyuhyun <i>oppa</i> sebagai suamiku.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“<i>Eomma</i>, ajjushi itu siapa? Teman <i>appa</i> ya?” dengan pelan Dong Hyun menggoyangkan tanganku dan bertanya tentang Donghae <i>oppa</i>.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“hm? Aku bukan ajjushi. Kau panggil aku <i>appa</i> ya, Dong Hyun?” sebelum aku menjawab pertanyaan itu, Donghae <i>oppa</i> sudah terlebih dahulu menjawab.</p>
<p>Kulihat wajah sumringah Kyuhyun <i>oppa</i> saat Donghae <i>oppa</i> berkata itu, seakan menyetujui apa yang Donghae <i>oppa</i> bilang.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Kyu, Hyun Ra, boleh kan aku memintanya memanggilku <i>appa</i>?”</p>
<p>&#160;</p>
<p>“jadi <i>appa</i> ku ada dua?” dengan wajah polosnya Dong Hyun berjalan menuju Donghae <i>oppa</i> dan memeluk Donghae seakan mereka sudah mengenal sejak lama.</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>Donghae <i>oppa</i> menjalani perannya sebagai <i>appa</i> Donghyun dengan baik. Ia selalu mengantar jemput Donghyun.</p>
<p>Kyuhyun <i>oppa</i> mau tidak mau mengijinkan Donghae <i>oppa</i>, dan berterimakasih karena sudah memperingan pekerjaannya.</p>
<p>Walau begitu, Donghae <i>oppa</i> akan langsung pulang tanpa mampir, karena banyak pekerjaan katanya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“<i>Hyung</i>, kau pasti lelah kan karena baru pulang dari meeting di Jeju? Bagaimana jika aku saja yang menjemput Donghyun? Hah? Jangan, nanti kau kelelahan <i>hyung</i>”</p>
<p>“Biar aku saja, hari ini juga hari pertama Donghyun di tahun pelajaran barunya, mungkin jam pulangnya sama dengan jam istirahatku, jadi aku bisa menjemputnya. Ne, hmm.. okay, bye <i>hyung</i>” kudengar Kyuhyun <i>oppa</i> berbincang dengan seseorang di sambungan telepon.</p>
<p>Lalu, Kyuhyun <i>oppa</i> mengakhiri pembicaraannya di telepon.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Donghae <i>oppa</i> tidak bisa menjemput? Biar aku saja yang menjemput Donghyun siang nanti, <i>oppa</i>” ucapku merapikan dasi Kyuhyun <i>oppa</i>.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Iya, lagian mana mungkin aku bisa merepotkan <i>hyung</i> terus? Ini sudah hampir satu tahun ia mengantar jemput Donghyun. Jangan sayang, kau pasti lelah sudah mengurus aku dan Donghyun, biar aku saja” dengan lembut Kyuhyun <i>oppa</i> mencium keningku</p>
<p>.</p>
<p>Memang kebahagiaanlah yang kurasakan selama menikah dengan pria ini.</p>
<p>Walau aku sering mengecewakan dirinya, tapi ia dengan sabar tetap menyayangiku sebagai istrinya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Aku memeluk Kyuhyun <i>oppa</i> erat “<i>Oppa</i>, hati-hati. Jangan ngebut, eo? Aku akan buat makanan spesial untukmu nanti malam”</p>
<p>“<i>Eomma</i> <i>appa</i>, aku sudah hampir terlambat tapi kalian malah bermesraan. Aku ingin cepat sampai di sekolah, aku ingin belajar” suara halus Donghyun membuatku melepas pelukan kami.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Arraseo, yeobo. Makananmu akan selalu spesial untukku” dengan mengecup bibirku singkat, setelah itu aku mengantar mereka sampai ke depan rumah dimana mobil kami terparkir.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Hari ini entah karena apa, aku merasa sangat merindukan Kyuhyun <i>oppa</i>. Mungkin karena itu, dari pukul 9 hingga waktunya makan siang ini aku menelepon Kyuhyun <i>oppa</i> hanya untuk memastikan bahwa dirinya baik-baik saja.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“<i>Oppa</i>, kau sudah makan siang?” dengan suara manja aku menelepon Kyuhyun <i>oppa</i> sambil melakukan pekerjaan rumah.</p>
<p>“<i>Oppa</i> berencana makan siang bersamamu dan Dong Hyun. Kau sempat kan?”</p>
<p>“<i>Oppa</i>.. kau jemput Dong Hyun dulu lalu kita bertemu di restaurant biasa, eum?”</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Anni. Kau tunggu dirumah. Aku akan menjemputmu. Sudah dulu ya, aku dalam perjalanan menjemput Dong Hyun”</p>
<p>“Eum. <i>Oppa</i>, kita telponan saja. Aku.. aku merindukanmu, bodoh” dengan manja dan malu-malu aku mengucapkan kalimat yang sangat langka untuk kuucapkan.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“<i>oppa</i> juga merindukanmu, bodoh. Tapi aku berjanji kita akan bertemu sebentar lagi, eum? I love you, Cho Hyun Ra” dan Kyuhyun <i>oppa</i> langsung memutuskan koneksi telepon kami.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Bahagia saat mendengar suara merdunya di telepon, berganti dengan rasa khawatir yang entah mengapa muncul sejak tadi pagi.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Firasat buruk yang kurasakan sejak pagi menjadi kenyataan.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Dia mengalami kecelakaan saat di perjalanan menuju sekolah Dong Hyun. Dan tidak ada yang memberitahuku sampai Donghae <i>oppa</i> menjemputku untuk pergi ke rumah sakit, bersama dengan Dong Hyun.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Kata petugas kepolisian, Donghae <i>oppa</i> adalah contact terakhir yang dihubungi oleh Kyuhyun <i>oppa</i>.</p>
<p>Padahal akulah yang terakhir berteleponan dengannya saat sebelum ia menjemput Donghyun.</p>
<p>Kini aku, Donghae <i>oppa</i> dan DongHyun sedang menunggu di depan kamar ICU, tempat dimana Kyuhyun <i>oppa</i> sedang meregang nyawa. Kondisinya masih kritis, kami belum diijinkan untuk melihat keadaannya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Hei, tenanglah.. dokter didalam pasti sedang menyelamatkan Kyu dengan segala upaya yang mereka bisa lakukan” Donghae <i>oppa</i> menggamit tangan kiriku pelan dan merangkul bahuku yang bergetar karena menangis.</p>
<p>Yang bisa kulakukan hanya diam dan memandang Donghyun yang duduk di depan pintu kamar ICU itu dan diam memandangi pintu itu, lalu beralih menatap Donghae <i>oppa</i>.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Mungkin <i>oppa</i> mengerti maksudku, ia langsung duduk disebelah Donghyun dan mengusap serta mencium pipi Donghyun seperti mengajaknya bercanda dan akhirnya mereka berdua tertawa lepas dan <i>oppa</i> membawa Donghyun pergi ke mesin minuman yang masih ada di jarak pandangku.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Ia –Donghae <i>oppa</i>- tidak melepaskan pandangannya kepadaku seakan memastikan aku baik-baik saja. Ia memang pandai bersandiwara.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Jelas-jelas tadi ia bersenang-senang bersama Donghyun, tapi kini pandangannya kepadaku sepertinya jauh lebih menyedihkan dibanding perasaanku menunggu suamiku sadar dari masa kritisnya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Aku kembali disibukkan dengan pemikiranku.</p>
<p>Cho Kyuhyun. Priaku, pria yang kucintai sedang meregang nyawa. Sedang berada di tengah, antara akan kembali bersamaku dan anak kesayangannya, atau kembali ke Tuhan yang dicintainya.</p>
<p>Aku menyerahkan segalanya yang terbaik pada Tuhan, karena aku tahu Kyuhyun <i>oppa</i> adalah anak Tuhan yang baik.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Tanpa sadar ini sudah malam hari, yang berarti aku sudah menunggu di depan pintu kamar ICCU ini sekitar kurang lebih 5 jam.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Ia meneleponku, tepat sebelum ia kecelakaan.” Dengan suara yang bergetar dan dengan menggendong Donghyun yang tertidur di pangkuannya, Donghae <i>oppa</i> memulai ceritanya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“ <i>‘Hyung, tolong aku jemputlah Donghyun, maaf mendadak, karena rasanya sulit mencapai sekolahan Donghyun tepat waktu, aku takut ia menunggu. Dan, tolong jaga Hyun Ra untukku’</i> dan ketika aku bertanya kenapa, ia sudah mematikan sambungan itu.</p>
<p>Aku bergegas langsung naik ke mobil tepat ketika teleponku berbunyi.”</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Kyuhyun meneleponku tapi suara orang lain lah yang terdengar, mengatakan bahwa ia sedang dilarikan ke rumah sakit” linangan airmata sudah siap meluncur turun dari mata indah Donghae <i>oppa</i>, begitupun dengan aku.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Hanya terdengar isak tangis untuk beberapa saat sampai akhirnya&#8230;.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Pasien sudah sadar dan ingin bertemu dengan tuan Lee Dong Hae terlebih dahulu, tapi sebaiknya kalian bertiga masuk bersama-sama saja, dokter bilang itu lebih baik” suster yang sejak tadi berada didalam kamar pun keluar dan memanggil kami.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Donghae <i>oppa</i> masuk terlebih dahulu dengan menggendong DongHyun yang tertidur.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Aku mengekori Donghae <i>oppa</i> tepat dibelakangnya dengan langkah yang lesu.</p>
<p>Bukan aku tidak ingin bertemu suamiku, tapi aku terlalu takut akan bayangan kehilangan dirinya secepat ini.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Hyun Ra, jangan sembunyi seperti itu. Apa kau tidak mau melihat <i>oppa</i>?” dengan suara pelan nya, Kyuhyun <i>oppa</i> memaksaku melihat dirinya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Yeobo&#8230; kemarilah” dengan suara nya yang merdu ia kembali memanggilku.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Ku langkahkan kakiku perlahan 4 langkah menuju ke tempat tidur Kyuhyun <i>oppa</i> dan menatap sendu wajahnya yang kini dipasangi selang dan segala macam mesin yang membantunya bernafas.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Donghae <i>hyung</i>, dilihat dari tempatku berada”</p>
<p>“Kau sungguh sangat cocok bila bersanding dengan Hyun Ra”</p>
<p>“Bahkan dengan menggendong DongHyun, kalian makin terlihat seperti keluarga bahagia”</p>
<p>“Hmm&#8230; aku tidak seharusnya menyerahkan Hyun Ra kepada dirimu kan, <i>hyung</i>?” dengan senyum meringis Kyuhyun <i>oppa</i> seakan memaksakan diri untuk mengatakan semuanya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“<i>Oppa</i>! Berhenti bicara sembarangan seperti itu”</p>
<p>“Kumohon istirahatlah. Aku ingin cepat pulang bersamamu dan Donghyun ke rumah” dengan wajah memerah menahan tangis karena mendengar ucapan Kyuhyun <i>oppa</i> aku hanya bisa membuang muka ke arah tembok kamar rumah sakit itu.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Benar kata istrimu Kyuhyun. Kau tidur saja. Aku akan berjaga disini malam ini. Biarkan Hyun Ra dan Donghyun pulang untuk istirahat” dengan suara parau Donghae <i>oppa</i> akhirnya membuka suara.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Dengarkan aku dulu, karena mungkin aku tidak akan sanggup berbicara lagi nanti”</p>
<p>Setelah Kyuhyun <i>oppa</i> berbicara, tak satupun dari kami yang mau menginterupsinya lagi. Kyuhyun <i>oppa</i> juga menarik tanganku dan menggenggam erat telapak tanganku.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Tapi aku tidak ada pilihan lain, <i>hyung</i>. Aku sudah memikirkan ini sejak 15 tahun lalu tepatnya saat kau memutuskan pergi dan memberikanku kesempatan membahagiakan Hyun Ra.”</p>
<p>“ Ia tidak akan pernah bahagia denganku. Aku sudah kalah sejak lama denganmu <i>Hyung</i>” dengan mata yang merah diiringi dengan airmata berjatuhan, aku dan Donghae <i>oppa</i> menatap Kyuhyun <i>oppa</i>.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“<i>Oppa</i>, bukan begitu. Kau salah paham. Aku bahagia bersama <i>oppa</i> dan Donghyun” aku kembali mencoba membuatnya tidak berpikiran yang macam-macam.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Kyuhyun. Sudah cukup. Aku dan Hyun ra juga tidak ingin mendengar ini. Ini saatnya kau tidur untuk menenangkan pikiranmu”</p>
<p>“Hal ini bisa kita bahas lain waktu. Kami ingin melihatmu cepat sembuh, Kyuhyun-ah” Donghae <i>oppa</i> mengatakan semua dengan nada dingin seakan lelah mendengar perkataan Kyuhyun <i>oppa</i> yang terdengar ngawur.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Anni. <i>Hyung</i>, apa kau tahu di usia pernikahan kami yang menjelang 15 tahun tapi mengapa anak kami masih umur jalan 10 tahun?”</p>
<p>&#160;</p>
<p>Kyuhyun <i>oppa</i> masih berusaha tenang dengan suara yang memberat karena kesulitan berbicara. Tapi ia terus mengatakan semua yang ingin ia ungkapkan perlahan-lahan.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“ Ia terbebani pikiran, <i>hyung</i> karena ditinggal olehmu. Ia sangat ingin bertemu denganmu sampai pikirannya itu mengganggu proses kehamilan dia.”</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Aku memang menerima dia apa adanya. <i>Hyung</i> yang tahu sendiri bagaimana aku mencintai dia selama ini kan?” kulihat Kyuhyun <i>oppa</i> menatap Donghae <i>oppa</i> yang menggangguk pelan dengan matanya yang memerah dan berair.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Tapi, dia mencintaimu lebih dari dia mencintaiku <i>hyung</i>. Aku sudah menemukan jawaban itu selama kami menjalani kehidupan pernikahan ini.”</p>
<p>&#160;</p>
<p>“ Dan aku juga tahu bahwa <i>hyung</i> mencintai dia, yah mungkin sama besar dengan bagaimana aku mencintainya.”</p>
<p>&#160;</p>
<p>Kami semua terdiam dan mendengarkan baik-baik apa yang Kyuhyun <i>oppa</i> coba katakan.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“ Maka dari itu aku menyerahkan Hyun Ra dan juga Donghyun kepadamu, anggaplah ia seperti anakmu sendiri, <i>hyung</i>”</p>
<p>&#160;</p>
<p>Kami bertiga terdiam dalam pikiran masing masing dan menahan isak tangis.</p>
<p>Aku masih tetap berada di posisiku semula. Berdiri tegap menatap tembok sambil menggenggam tangan Kyuhyun <i>Oppa</i> erat.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Tiba-tiba Donghyun terbangun dari gendongan Donghae <i>oppa</i>.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“<i>Appa</i>.. <i>appa</i> sudah bangun? Ayo kita pulang <i>appa</i>. <i>Appa</i> sakit ya? Kok hidung <i>appa</i> diselangi seperti itu?” dan Donghae <i>oppa</i> menurunkannya untuk mendekati Kyuhyun <i>oppa</i> tanpa berkata apapun.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“Iya, sayang. Besok kita pulang yah.” Sambil menitikan airmata Kyuhyun <i>oppa</i> menatap Donghyun.</p>
<p>&#160;</p>
<p>“ Sekarang Donghyun ajak <i>eomma</i> dan Donghae <i>appa</i> untuk pulang dulu. <i>Appa</i> kan sedang sakit, jadi <i>appa</i> akan menginap di rumah sakit” dengan sabar Kyuhyun <i>oppa</i> masih berusaha untuk menjawab pertanyaan Donghyun.</p>
<p>“Hyun Ra, bawalah Donghyun pulang. Tidak baik membiarkannya di rumah sakit lama-lama seperti ini” dengan suara berat, Donghae <i>oppa</i> berkata sambil menepuk bahuku pelan.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Dengan anggukan dari Donghae <i>oppa</i>, aku mendekati Kyuhyun <i>oppa</i> dan mencium dahinya penuh rasa sayang lalu menggandeng Donghyun untuk mengajaknya pulang ke rumah orangtua Kyuhyun <i>oppa</i>.</p>
<p>Aku ingin menemaninya di Rumah sakit hari ini.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Aku benar-benar merasa takut, entah apa yang ku takutkan.</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p align="center">-         <b>To Be Continued -</b></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fanart Kangin, Eunhyuk, RyeoWook et DongHae avec Iron Man]]></title>
<link>http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/fanart-kangin-eunhyuk-ryeowook-et-donghae-avec-iron-man/</link>
<pubDate>Thu, 09 May 2013 15:38:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>frenchcammomiles</dc:creator>
<guid>http://frenchcammomiles.wordpress.com/2013/05/09/fanart-kangin-eunhyuk-ryeowook-et-donghae-avec-iron-man/</guid>
<description><![CDATA[Fanart sur les photo de Kangin, Eunhyuk, RyeoWook et DongHae avec Iron Man Fanart about photo of Kan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Fanart sur les photo de Kangin, Eunhyuk, RyeoWook et DongHae avec Iron Man</p>
<p>Fanart about photo of Kangin, Eunhyuk, Ryeowook and DongHae with Iron Man</p>
<p>cr:rarasshii</p>
<p>-Britanny</p>
<p>&#160;</p>
<p><a href="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/proxy.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-597" alt="proxy" src="http://frenchcammomiles.files.wordpress.com/2013/05/proxy.jpg?w=240&#038;h=172" width="240" height="172" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Just Get Married [Chap 8]]]></title>
<link>http://koreanlovefanfict.wordpress.com/2013/05/09/just-get-married-chap-8/</link>
<pubDate>Thu, 09 May 2013 14:48:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>eunheehae</dc:creator>
<guid>http://koreanlovefanfict.wordpress.com/2013/05/09/just-get-married-chap-8/</guid>
<description><![CDATA[Chapter 8      Serbuan rasa sakit seketika menyesaki hati dan pikiranku. Aku hanya bisa tercengang a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><b>Chapter 8</b></p>
<p><b> </b></p>
<p style="text-align:center;"><b> <a href="http://koreanlovefanfict.files.wordpress.com/2013/04/just-get-married.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-698" alt="Just Get Married" src="http://koreanlovefanfict.files.wordpress.com/2013/04/just-get-married.jpg?w=394&#038;h=536" width="394" height="536" /></a></b></p>
<p style="text-align:center;"><b> </b><em>Serbuan rasa sakit seketika menyesaki hati dan pikiranku. Aku hanya bisa tercengang antara bingung dan sakit hati saat Eunhee mengendurkan cengkramannya di kerah bajuku dan gadis itu kembali jatuh tak sadarkan diri. Semua angan-angan yang sempat terkumpul dalam benakku mendadak sirna seketika. Seperti kepulan asap yang terus membumbung tinggi di udara. Hilang tanpa bekas.</em></p>
<p style="text-align:center;">(Lee Donghae)</p>
<p><b> </b></p>
<p><b> <!--more--></b></p>
<p><b>-Lee Donghae, Galleria Vittorio Imanuele, Milan-</b></p>
<p>“Kenapa kau menahanku? Bagaimana kalau dia tersesat?”</p>
<p>Entah sudah kali keberapa aku mengomeli Marilyn yang kini duduk di hadapanku sembari menyeringai lebar. Harusnya aku mengejar Eunhee, tapi adik sepupuku ini malah menahanku. Sudah cukup sesorean ini aku dibuat resah sampai hampir gila saat aku menyadari Eunhee menghilang dari kamar hotel. Padahal aku tahu ia tak membawa penunjuk jalan apapun. Bahasa Itali-nya pun sangat buruk. Menghubungi ponselnya pun percuma karena gadis itu tak membeli nomor baru untuk digunakan di Milan. Jangan sampai terjadi hal buruk lain pada gadis itu. Sial! Aku bahkan tak sempat mengganti pakaianku. Sebenarnya aku malu, tapi mau bagaimana lagi. Eunhee tak boleh menyadarinya. Aku nyaris saja membongkar semuanya saat tanpa sadar tubuhku bergerak otomatis untuk memeluknya. Aku kelewat bahagia setelah hampir mati mencarinya ke sana ke mari seperti orang gila.</p>
<p>“Oh, gadis itu sudah dewasa Oppa. Buktinya ia bisa jalan-jalan sendirian di Buono square tanpa kurang suatu apapun. Dia juga terlihat sangat riang saat menyapaku tadi. Kenapa kau masih mengkhawatirkannya? Kurasa Eunhee-ssi bisa mencari jalan pulang sendiri.”</p>
<p>Aku tercengang, bingung sekaligus baru menyadari sesuatu yang sedikit ganjil. “Kau&#8230; mengenal Eunhee? Aku ingat belum sempat mengenalkannya padamu?”</p>
<p>Marilyn tertawa tanpa beban. Seolah pertanyaanku hanya sebuah lelucon anak kecil. “Entah ini takdir atau bukan, tapi aku sempat berkenalan dengannya selepas belanja tadi,” jelas Marilyn sembari memundurkan tubuhnya untuk bersandar di kursi kafe berwarna biru yang ditempatinya. Atas desakan Marilyn, akhirnya aku setuju menemaninya makan di salah satu kafe  di sekitar Duomo Square setelah beberapa saat sebelumnya aku meminjam kartu kredit Marilyn—karena aku lupa tak membawa dompet—untuk membeli baju ganti. Tidak mungkin aku berjalan-jalan hanya dengan menggunakan pakaian tidur seperti tadi.</p>
<p>“Jadi&#8230; kalian&#8230;”</p>
<p>Kali ini Marilyn mengangguk. “Ya, tadi ia tak sengaja menabrakku. Dan kami pun berkenalan saat aku mengenalinya sebagai orang Korea.”</p>
<p>Aku mengangguk paham. “Kalau begitu, bagaimana menurutmu?”</p>
<p>Kulihat Marilyn mengernyit sebentar lalu gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “<i>Well,</i> aku menyukainya.” Senyumku melebar mendengar komentar Marilyn. “Hanya saja, kurasa penilaianmu salah tentang gadis itu.”</p>
<p>Aku mendengus. Mulai kesal dengan sikap sok tahu Marilyn yang tak pernah berubah sejak ia kecil dulu. Marilyn sepupuku, putri dari paman Jongsuk adik Appa yang menikah dengan wanita asal Kanada—Bibi Florence. Saat ia mengatakan sedang di Milan, aku langsung memintanya bertemu setelah beberapa saat sebelumnya menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Eunhee melalui email yang selalu rutin kami kirim.</p>
<p><i>Well</i>, dia memang tinggal jauh di Kanada. Tepatnya Seattle. Tapi hubunganku dan Marilyn tak pernah jauh. Video chatting, email, apapun itu. Selalu rutin kami lakukan. Apalagi saat ini sudah banyak sekali macam sosial media yang bisa kami gunakan, seperti Skype, Whatsapp, Line dan sebagainya. Tentu bukan hal sulit untuk melakukannya.</p>
<p>“Maksudmu?”</p>
<p>Marilyn berdeham lalu mencondongkan tubuhnya padaku. “Begini, di emailmu dulu kau mengatakan bahwa gadis itu sama sekali tak menyukaimu. Kalian menikah atas dasar perjanjian dan ia melakukannya hanya untuk kepentingan itu.”</p>
<p>“Benar,” Aku mengangguk. “Lalu&#8230; apa yang salah dari ceritaku itu?”</p>
<p>Kulihat Marilyn menggeleng sembari berdecak. “Kau itu bodoh atau bagaimana, Oppa?”</p>
<p>“Apa?” Aku melotot. “Kau mengataiku bodoh?”</p>
<p>Lagi-lagi Marilyn menggeleng pelan. Seolah aku ini orang paling bodoh di seluruh dunia. “Kau benar-benar tak menyadari kecemburuan gadis itu?”</p>
<p>“Eh?” Cemburu? Eunhee&#8230; cemburu?</p>
<p>“Kau pikir karena apa gadis itu kabur saat kau akan mengenalkanku padanya? Oh, ayolah Oppa. Anak TK berusia lima tahun saja tahu kalau dia cemburu.”</p>
<p>Aku terhenyak. Sejenak merasa bingung dengan informasi yang diberikan Marilyn. Tapi bila mengingat bagaimana sikap Eunhee tadi, ucapan Marilyn ada benarnya. Aku yakin Eunhee bukan gadis yang tak tahu aturan dengan memilih pergi begitu saja pada saat aku akan mengenalkan seseorang padanya. Tapi bila benar Eunhee cemburu, bukankah itu artinya&#8230; dia juga menyukaiku?</p>
<p>“Jangan terlalu banyak berpikir, sebaiknya berhenti bermain tarik ulur dengan istrimu itu. Tunjukkan saja kalau kau benar mencintainya.”</p>
<p>“Tapi—“</p>
<p>“Tapi apa lagi?” Marilyn menyeruput Ice Americanonya sembari mendesah bosan. “Jangan katakan kalau kau tak tahu bagaimana caranya.”</p>
<p>Aku terkekeh pelan sembari menggaruk belakang kepalaku. “Sebenarnya&#8230; aku belum terlalu yakin.” Kudengar Marilyn mendengus. “Jadi, aku butuh bantuanmu sekali lagi.”</p>
<p>“Oh, tidak. Bantuan apa lagi?”</p>
<p>Seringaiku melebar ketika membayangkan apa yang akan terjadi bila benar dugaan Marilyn sebelumnya. “Begini, besok pagi-pagi sekali aku akan mengajak Eunhee liburan ke Danau Como—“</p>
<p>“Tidak.”</p>
<p>“Aku belum selesai bicara.”</p>
<p>“Jawabanku tidak!” sungut Marilyn jengkel dan aku mengerutkan kening bingung.</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>Sembari mendengus, Marilyn menjawab pertanyaanku. “Kau pikir menyenangkan menjadi orang ketiga di tengah dua orang yang sedang kasmaran? Tidak, tidak, terima kasih.”</p>
<p>Aisshh&#8230; bagaimana ini? Aku benar-benar membutuhkan bantuan Marilyn. Hanya untuk meyakinkan diri bahwa memang benar Eunhee cemburu. “Ayolah&#8230;”</p>
<p>“Tidak, terima kasih. Lebih baik besok aku belanja di tempat lain saja.”</p>
<p>Oh, Demi Tuhan! Jahat sekali sepupuku ini. Bukankah hari ini dia baru saja belanja banyak? Aku melirik bungkusan yang Marilyn letakkan di kursi kosong sebelahnya. Kurang lebih ada lima bungkusan dari gerai yang berbeda di sana. Sebenarnya apa lagi yang ingin dibelinya?</p>
<p>Aha! Seperti ada lampu yang tiba-tiba menyala di atas kepalaku, aku menemukan ide cemerlang! “Bagaimana kalau LV terbaru yang—“</p>
<p>“Oke, deal!”</p>
<p>Aku mendengus antara senang dan jengkel saat tiba-tiba Marilyn mengulurkan tangannya padaku sebagai tanda persetujuan. Sial! Dia memang sama sekali tak berubah. Tetap matrealistik seperti dulu. <i>Well</i>, demi Eunhee apapun akan kulakukan.</p>
<p>“Tambah satu gaun Dolce Gabbana—“</p>
<p>“Apa?” Aku terbelalak lalu otomatis melepaskan tautan tangan kami. Dolce Gabbana? Desainer terkenal itu? Apa dia sudah sinting? “Bukankah barusan kau sudah setuju?” tuntutku mulai jengkel.</p>
<p>Marilyn menggeleng dengan gaya angkuh. “Aku hanya setuju untuk ikut. Kalau untuk sekalian memanas-manasi istrimu, kau harus membelikanku satu gaun Dolce Gabbana Houte Couture—”</p>
<p>“Kau gila?”</p>
<p>“Kalau begitu ya sudah. Aku ikut saja tanpa melakukan apapun. Jika perlu kuceritakan saja pada Eunhee bahwa aku sepupu—“</p>
<p>“Baiklah&#8230; baiklah, satu gaun. Tidak lebih. Puas?” tandasku pasrah dan kulihat Marilyn tersenyum lebar. Sial! Sebenarnya aku sedang membuat kesepakatan dengan sepupuku sendiri atau dengan pebisnis ulung?</p>
<p>“Oke, deal! Besok jam 8 pagi aku sudah menunggumu di lobby,” katanya riang, sama sekali berbeda dengan beberapa saat lalu.</p>
<p>Sial. Kartu kreditku bisa limit sebelum waktunya.</p>
<p><b>-Four Season Hotel, Milan-</b></p>
<p>Langkahku semakin cepat ketika tiba di lantai tiga hotel yang kutinggali. Rasanya sudah tak sabar untuk mengamati sendiri dugaan Marilyn. Sepulang dari kafe tadi, hatiku terus bertanya-tanya sekaligus menduga-duga apa yang sedang dilakukan Eunhee saat ini. Apakah gadis itu akan menangis semalaman? Memarahiku hingga menyuruhku tidur di sofa lagi? Atau&#8230; dia akan merajuk dan memukuliku karena meninggalkannya sendirian dan malah asyik ber’kencan’ dengan Marilyn.</p>
<p>Aku tak bisa menahan senyumku jika benar dugaan terakhirku terjadi. Ah, tapi itu terlalu berlebihan. Aku yakin Eunhee tak akan begitu saja mengakuinya padaku.</p>
<p>Dengan hati berdebar, aku memasukkan kartu ke pintu kamar hotelku dan beberapa detik kemudian pintu itu terbuka. Gelap. Hal pertama yang kulihat hanya kegelapan. Mendadak perasaanku jadi tak enak. Buru-buru aku menghidupkan lampu dan melangkah ke kamar. Kosong. Tak ada siapapun di sini. Kamar mandi juga begitu.</p>
<p>Seketika itu juga lututku lemas, dan membiarkan pantatku terlempar ke tempat tidur berlapis bed cover dari bahan wol terbaik yang bahkan posisinya belum berubah sejak sore tadi kutinggalkan. Itu artinya, Eunhee belum kembali ke kamar ini. Bagaimana bila Eunhee benar-benar tersesat? Atau&#8230; bisa saja dia memutuskan untuk kabur karena dibakar api cemburu? Ah, tidak, tidak, tidak. Barang-barangnya masih di sini.</p>
<p>Baru beberapa jam lalu ia kutemukan, dan sekarang gadis itu sudah kembali hilang. Sial! Apa belum cukup ia membuatku resah sesorean ini? Aku sadar, aku yang salah karena tak mengikutinya dan malah meladeni omong kosong Marilyn tentang kecemburuan Eunhee. Bila saja aku tahu—astaga!</p>
<p>Aku segera beranjak dari tempat tidur saat menyadari Eunhee mungkin tak bisa masuk karena gadis itu tak membawa kunci kamar ini bersamanya. Tapi bukankah ia bisa meminta petugas untuk memberinya kunci cadangan? Ah, lebih baik aku menanyakannya pada petugas hotel.</p>
<p>Aku tak ingat sempat berlari melewati lorong dan turun menggunakan lift, karena kini aku sudah tiba di depan meja resepsionis yang menatapku heran. “Ada yang bisa dibantu, Tuan?” tanya gadis berambut coklat keemasan itu ramah. Aku ingat dia resepsionis yang melayaniku siang tadi.</p>
<p>“Apa kau&#8230; melihat istriku? Maksudku&#8230; gadis yang bersamaku—“</p>
<p>“Ah, gadis bermantel coklat yang Tuan cari sore tadi?” Aku mengangguk cepat. “Tadi sore sekitar satu jam setelah Anda bertanya kepada saya tentang keberadaan Nona itu, kulihat dia masuk,” ceritanya dengan senyum yang terus-terusan tersungging di bibirnya. Pasti itu termasuk pelajaran etika untuk melayani pelanggan. “Aku ingat karena tak lama setelahnya, ia kembali lagi dan sempat duduk lama di sofa lobby.”</p>
<p>Jadi benar, Eunhee tak bisa masuk ke kamar? “Lalu?” tanyaku tak sabar.</p>
<p>“<i>Well</i>, sekitar setengah jam kemudian, gadis itu kembali ke atas. Apa Anda masih tak bisa menghubunginya?”</p>
<p>Aku melenguh pelan. “Belum,” kataku pasrah. “Dia tak mengaktifkan ponselnya selama di sini.”</p>
<p>Resepsionis itu terdiam. “Kenapa tidak Anda cari di sekitar hotel saja? Saya yakin istri Anda tidak pergi kemana-mana lagi. Karena setelah itu, dia tak keluar lagi.”</p>
<p>Tiba-tiba merasa bersemangat, aku tersenyum selebar yang kubisa. “Terima kasih, Nona Abree,” kataku sembari membaca <i>nametag </i>di seragam gadis resepsionis itu.</p>
<p>“<i>You’re welcome, Sir</i>.”</p>
<p>Tanpa menunggu diperintah, aku langsung melesat menyusuri semua tempat yang bisa kudatangi di setiap sudut hotel ini. Kakiku berhenti di depan Lounge setelah sebelumnya mencari Eunhee ke taman dan juga restoran. Gadis itu ada di sana. Persis di depan meja bartender dan tampak sedang menelungkupkan wajahnya di lipatan tangannya di atas meja. Jangan katakan Eunhee mabuk. Gadis ini&#8230; bukankah lebih baik dia mengisi perutnya dengan makan Pasta di restoran daripada menghabiskan waktu menunggu di Lounge berteman minuman keras?</p>
<p>Aku melewati beberapa orang yang sedang bebincang-bincang di beberapa meja dan menghampiri Eunhee. Kuangkat gelas kristal kecil yang setengah kosong di sampingnya dan mencium aromanya. Vodka.</p>
<p>“Sudah berapa gelas dia menghabiskannya?” tanyaku pada bartender yang sedang asyik melayani pelanggan lain.</p>
<p>“Euuungg&#8230; kalau tidak salah itu gelas ketiga.”</p>
<p>Sial! Apa yang dipikirkan Eunhee hingga ia memilih mabuk-mabukan di sini. Setelah membayarkan sejumlah yang diminumnya, aku meraih bahu Eunhee dan mengguncangnya sedikit. “Hee?!”</p>
<p>“Euuummhh&#8230;” Aku mengernyit ketika Eunhee mengangkat kepalanya. Gadis itu menatap aku seperti seseorang yang baru pertama kali melihatku. “Kau&#8230; siapa kau?” racaunya dengan kepala sempoyongan. Matanya setengah terpejam sedangkan telunjuk gadis itu mengarah padaku.</p>
<p>Aku menghela napas, lalu tanpa menjawab pertanyaannya aku meraih bahu Eunhee. “Ayo, kita kembali ke kamar.”</p>
<p>“Hey! Jangan sentuh aku!” teriaknya sambil berusaha menghindar. “Aku bisa melaporkanmu—“</p>
<p>“Lakukan saja!” potongku lalu membopong tubuh Eunhee dengan mudah di atas pundakku. Gadis itu meronta, tapi aku tak peduli. Dia harus segera kubawa ke kamar sebelum membuat keributan di tempat ini.</p>
<p>Aku mendesah lalu menggeleng pelan setelah kurebahkan Eunhee di kamar. Untung saja dia tak berteriak-teriak seperti orang gila selama di jalan tadi. Mungkin dia sudah kehabisan tenaga untuk melakukannya. Bayangkan saja, tiga gelas vodka untuk ukuran gadis sepertinya? Demi snack coklat kesayanganku, aku bahkan kalah kuat dengannya soal minum. Kulepas wedges bertali coklat yang dipakainya. Setelah meletakkan wedges itu di sisi tempat tidur, aku mendudukkan diriku di sisinya.</p>
<p>Eunhee pulas. Matanya terpejam rapat dan irama napasnya teratur. Apakah dia minum sebanyak itu karena marah padaku? Dia cemburu aku berpelukan dengan Marilyn, hingga membuatnya mabuk-mabukan seperti ini? Oh, jika benar begitu, rencanaku untuk menjadikan Eunhee milikku sama sekali tak sia-sia.</p>
<p>Aku mencondongkan tubuh untuk melihatnya lebih dekat. Menelusuri garis wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya, keningnya, pipinya, alisnya, dagunya. Dia tampak begitu polos saat sedang tidur begini. Tanpa sadar aku tersenyum dan menyapu titik-titik keringat di keningnya dengan ujung lengan kemejaku.</p>
<p>“Eunhee&#8230; seandainya kau tahu apa yang kurasakan untukmu.” Kusingkap poninya dan mengecup kening Eunhee pelan. Berhati-hati agar ia tak terbangun dan menimbulkan keributan. Aku menelan ludah ketika tatapanku tertuju pada bibir merah mudanya yang tampak begitu lembut. Seperti buah plum ranum yang siap disantap. Sial! Apakah sebuah kejahatan bila aku mengecupnya sekali saja?</p>
<p>Semalam aku tersiksa. Tak bisa tidur mendapati sosok tubuh hangat berada di sampingku. Bila saja aku bisa, aku ingin pindah saja ke sofa dan membiarkan diriku kedinginan tanpa harus berpikir yang macam-macam. Aku pria dewasa yang sehat, tentu sangat sulit menghadapi godaan menggiurkan semacam itu. Tapi aku menekan dalam-dalam keinginan itu, dan berakhir menyedihkan karena baru bisa tertidur setelah jam 3 dini hari. Akibatnya, siang tadi aku benar-benar ngantuk dan sekali lagi mendapati kesialan karena Eunhee meninggalkanku seorang diri seperti orang tolol. Menyedihkan!</p>
<p>Aku menatap Eunhee lagi. Dia istriku. Bukankah aku berhak atas dirinya? Tentu bukan masalah bila aku menciumnya. Ya, tidak ada yang akan menyalahkanku. Jadi untuk apa aku mempersulit diriku sendiri dengan berpura-pura sok suci padahal dalam hati terus berpikir bagaimana bila melakukannya.</p>
<p>Kutundukkan kepalaku semakin dekat, rasanya jantungku mulai berdebar cepat seiring semakin dekatnya jarak wajahku dengannya. Aroma vanila dan citrus bercampur bau menyengat alkohol menguar dari tubuh Eunhee. Aku mendekat lagi, sesenti demi sesenti. Semili demi semili.</p>
<p>“Uhuuuk!!!” Aku terkesiap dan otomatis menjauhkan diriku ketika tiba-tiba Eunhee terbatuk dan sebelah tangannya mencengkeram kerah bajuku. Matanya yang semula terpejam kini sedikit terbuka. Ia pun sudah beranjak dari posisi tidurnya. Sial! Apa dia akan meneriakiku? Seperti tadi pagi saat dia menuduhku dan ingin melaporkanku pada pihak keamanan?</p>
<p>“Lelaki brengsek! Menyebalkan! Sialan! Aku benci padamu!” Aku tertegun dan membiarkan tinju Eunhee menghantam dada dan bahuku beberapa kali. Tubuhku bergetar penuh antisipasi, berharap Eunhee akan mengatakan apa yang dirasakannya padaku. Bukankah seseorang yang sedang mabuk akan mengatakan apa yang ada di dasar pikirannya yang bahkan tak akan sanggup diucapkan dalam keadaan sadar. Dengan begitu, besok aku tak membutuhkan lagi jasa Marilyn dan kartu kreditku akan selamat dari jarahan gadis itu.</p>
<p>“Hee—“</p>
<p>Aku tersentak ke depan ketika dengan kekuatan tak terduga Eunhee menarik kerah bajuku hingga kini wajah kami berhadapan dalam jarak beberapa centi saja. Desah napasnya yang berbau alkohol membanjiri penciumanku. Aku ingat ada yang pernah mengatakan bahwa kekuatan orang mabuk bisa jauh lebih besar dari biasanya. “Jangan pernah menggangguku lagi, brengsek! Lelaki gila brengsek! Aku tak percaya lagi padamu, tolong menjauh dari hidupku, Woobin-ssi! Milan? Kau memang berjanji membawaku ke Milan. Tapi itu masa lalu!”</p>
<p>Serbuan rasa sakit seketika menyesaki hati dan pikiranku. Aku hanya bisa tercengang antara bingung dan sakit hati saat Eunhee mengendurkan cengkramannya di kerah bajuku dan gadis itu kembali jatuh tak sadarkan diri. Semua angan-angan yang sempat terkumpul dalam benakku mendadak sirna seketika. Seperti kepulan asap yang terus membumbung tinggi di udara. Hilang tanpa bekas.</p>
<p>Begitupun dia wanita. Tentu saja tak akan semudah itu bagi Eunhee untuk melupakan mantan kekasih yang dulu pernah sangat dicintainya. Dan aku terlalu naif untuk mengabaikannya. Tolol! Kapan Kim Woobin tak mengganggu hidupku lagi?</p>
<p>***</p>
<p>“Pusing sekali!”</p>
<p>Spontan aku membuka mata ketika mendengar suara Eunhee. Sudah pagi. Aku mengerjap pelan. Menggeliat dan beranjak duduk. Lama-lama aku jadi terbiasa tidur di sofa seperti ini.  “Sudah seratus persen sadar?” Aku bertanya sembari menguap.</p>
<p>“Eh?” Kulihat Eunhee terbelalak. “Kau tidur di sofa?”</p>
<p>Aku sengaja mendengus. “Terpaksa,” kataku penuh tekanan. “Aku tak akan bisa tidur karena kau sibuk meracau tidak jelas semalaman. Bahkan kau sempat memukuliku dan menganggap aku ini mantanmu itu.”</p>
<p>“Apa? Benarkah?” Eunhee melangkah mendekatiku dan matanya yang beriris hitam menatapku lekat-lekat. Ia akhirnya duduk di sofa gading di depanku. “A-apa aku benar-benar berbuat begitu? Tapi selama ini aku tak pernah—“</p>
<p>“Kau lupa kalau kau semalam mabuk setelah minum 3 gelas vodka di Lounge?” Aku sengaja membuat nada suaraku terdengar kesal dan kulihat Eunhee terkejut mendengarnya.</p>
<p>“Euumm&#8230; salahmu sendiri. Kenapa kau tak memberikan kunci kamar padaku,” katanya sembari memalingkan wajahnya dariku.</p>
<p>“Kenapa tak memintanya? Bagaimana aku bisa memberikannya padamu kalau kau main pergi saja. Bahkan sebelum aku sempat mengenalkan Marilyn padamu.”</p>
<p>Eunhee terkesiap. Raut kesal yang semula tampak di wajahnya mendadak sirna, berganti dengan pipinya yang bersemu. Dia menggemaskan sekali kalau sudah begini. “Maaf, aku&#8230; aku&#8230; mendadak sakit perut. Ya, sakit perut. Jadi terburu-buru pulang.”</p>
<p>Sakit perut? Aku berdecak. “Lagi pula, kau kan bisa meminta kunci cadangannya pada resepsionis?”</p>
<p>“Aku&#8230; tak bisa bahasa Italy,” Eunhee menjawab tapi ia masih belum mau memalingkan wajahnya padaku lagi. Dalam hati aku terkikik melihat betapa kikuknya Eunhee.</p>
<p>“Dia juga berbicara bahasa Inggris, Nona!” Aku mendengus sambil terus berdecak. “Jangan katakan kalau bahasa Inggrismu juga buruk, padahal kau bisa memesan vodka pada bartender itu.”</p>
<p>Eunhee terlihat kebingungan. Kepalanya berpaling ke sana ke mari dan bola matanya berputar cepat. Sedangkan salah satu kakinya bergerak-gerak ke atas ke bawah. “Aku tak&#8230; berbicara banyak pada bartender itu. Dia&#8230; dia menawarkan vodka dan—“</p>
<p>“Kau menerimanya?” selaku cepat.</p>
<p>“Begini, aku hanya—“</p>
<p>“Bukankah lebih baik kalau kau pergi ke restoran? Makan Pasta atau Maccaroni untuk mengisi perutmu daripada minum alkohol tanpa ditemani siapapun?”</p>
<p>“Apa itu urusanmu?”</p>
<p>Aku terkejut ketika mendengar suara Eunhee meninggi dan gadis itu sudah berdiri dari tempat duduknya semula. “Nona, kau lupa kalau aku suamimu? Ingat, kau tanggung jawabku selama di sini. Kalau terjadi sesuatu padamu, aku tak mau disalahkan.”</p>
<p>Ekspresi keras di wajah Eunhee memudar. “Baiklah. Aku janji tak akan merepotkanmu lagi,” katanya lalu pergi meninggalkanku sendiri. Entah mengapa, hal itu justru membuatku sakit melebihi saat ia marah tadi.</p>
<p>Aku menghela napas. Haruskah aku membatalkan rencanaku berjalan-jalan di Danau Como? Dugaan Marilyn seratus persen meleset. Eunhee hanya sakit perut makanya ia terburu-buru pergi dan mungkin ia tiba-tiba merindukan Woobin saat mengingat rencana mereka untuk berlibur ke Milan. Menyedihkan! Aku bahkan tak memiliki tempat sedikit pun di hatinya. Dan kalau saja aku tahu bahwa kota ini mengingatkan Eunhee pada Woobin, aku akan berpikir seribu kali untuk mengajaknya ke mari.</p>
<p>Kuraih ponselku dan menyambungkannya dengan wifi hotel. Oh, terlambat! Ada kiriman terbaru di kakaotalk dari Marilyn.</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><b>Oppa, aku menunggumu di Lobby. Kalau kau tak segera turun, aku yang akan naik ke kamarmu.</b></span></p>
<p>Sial! Dia bersemangat sekali kalau soal Louise Vuitton dan gaun Dolce Gabbana. Tidak. Kurasa aku tak perlu memberinya gaun Dolce Gabbana. Karena kini aku tak butuh bantuan darinya lagi.</p>
<p>Setelah dengan enggan memberitahu Eunhee untuk segera bersiap karena beberapa menit lagi harus berangkat ke Danau Como, aku sendiri mulai bersiap-siap. Aku sudah membalas kiriman Marilyn. Dan meminta gadis itu membatalkan rencana semula. Awalnya Marilyn menolak dan ngotot kalau dugaannya tak mungkin salah, tapi akhirnya adik sepupuku itu menyerah juga. Walau aku sedikit curiga karena ia memilih untuk tetap ikut. <i>Well</i>, sebenarnya tidak masalah. Mungkin dengan kehadiran Marilyn bisa memperbaiki suasana hati Eunhee yang pagi ini terlihat sangat buruk setelah pertengkaran konyol kami.</p>
<p>Aku memakai T-shirt lengan pendek berwarna putih dan sebuah jaket kulit hitam, jins hitam dan juga topi hitam. <i>Well</i>, tidak terlalu mencolok tapi nyaman. Kulirik Eunhee yang baru saja keluar dari kamar. Ia pun tampak santai dengan T-shirt lengan panjang berliris horizontal putih dan hitam, rok pendek selutut berwarna putih dan sebuah tas tangan. Memang bukan tas tangan merk terkenal seperti yang biasa dipakai Marilyn atau Eomma, tapi itu bukan masalah.</p>
<p><a href="http://koreanlovefanfict.files.wordpress.com/2013/05/15227_409541679144457_1377298983_n.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-731" alt="15227_409541679144457_1377298983_n" src="http://koreanlovefanfict.files.wordpress.com/2013/05/15227_409541679144457_1377298983_n.jpg?w=200&#038;h=300" width="200" height="300" /></a></p>
<p>“Ayo, kita berangkat,” kataku tapi anehnya Eunhee masih tak bergeming di tempatnya. “Ada masalah? Kau tidak mabuk darat juga, kan?”</p>
<p>Kulihat Eunhee terus memandangiku dari atas hingga bawah. Apakah ada yang salah dengan penampilanku? Kenapa sepertinya dia terkejut sekali melihatku berpakaian begini.</p>
<p>“Hee, kau kenapa—“</p>
<p>“Aku ganti baju du—“</p>
<p>“Hey, untuk apa kau ganti baju lagi?” Aku menyela tak sabar. Marilyn bisa marah-marah kalau terlalu lama menunggu di Lobby. Lagi pula, penampilan Eunhee tak ada yang salah. Kenapa ia harus mengganti pakaiannya?</p>
<p>“Aku&#8230;”</p>
<p>“Ayolah! Seseorang sedang menunggu di bawah. Kalau kau terlalu lama, dia bisa marah.”</p>
<p>“Seseorang?” Mata Eunhee melebar. Entah mengapa aku sedikit terhibur melihatnya begini.</p>
<p>Tanpa menjelaskan lagi, aku langsung keluar dari kamar dan berjalan menuju lorong. Kudengar langkah Eunhee mengikuti di belakangku.</p>
<p>“Lee Donghae, kau belum menjawab pertanyaanku,” katanya sambil terus mensejajari langkahku. Aku hanya tersenyum saja dan masuk dalam lift.</p>
<p>***</p>
<p>“Oppa, aku di sini!” Kulihat Marilyn yang memakai blus maroon yang dipadukan dengan denim selutut dan kacamata coklat besar melambai padaku. Aku bisa merasakan lirikan Eunhee yang berdiri di sampingku.</p>
<p>“Kau mengajaknya juga?” Samar-samar aku mendengar Eunhee bertanya.</p>
<p>“Yeah, dia memaksa ikut. Jadi kuajak saja. Kau keberatan?” Sejenak aku merasa bahwa apa yang dikatakan Marilyn benar saat menyadari tatapan kesal Eunhee, tapi beberapa detik kemudian semua itu sirna saat Eunhee menampilkan senyum terbaiknya.</p>
<p>“Sama sekali tidak. Aku senang bisa bertemu dengannya lagi. Ah, aku lupa mengatakannya padamu. Aku dan Marilyn sudah berkenalan.”</p>
<p>Aku melongo dan hanya bisa menganga ketika kulihat Eunhee mendahuluiku untuk menghampiri Marilyn. Kedua gadis itu saling menyapa dan terlihat sangat akrab. Aku bertukar pandang dengan Marilyn dan berkata melalui isyarat mataku ‘lihat-benarkan-apa-yang-kukatakan?</p>
<p>“Oh, Oppa. Kemarilah!” Aku terkesiap ketika Marilyn melambai padaku dan baru kusadari aku berhenti melangkah bahkan sebelum berada cukup dekat dengan mereka. “Kalian kompak sekali, hmm? Lihatlah! Nuansa Black-and-White. Oh, aku cemburu!” rajuk Marilyn manja sembari melingkarkan lengannya di lenganku tepat saat aku tiba di sisinya. Sial! Apa maksudmu Marilyn? Aku sudah bilang padanya bahwa rencana itu batal, kenapa dia masih—eh? Kurasakan Marilyn menyikut pinggangku dan refleks aku menatap Eunhee yang terlihat agak jengkel. Oh, ya. Aku ingat. Dia sempat mengatakan ingin mengganti pakaiannya. Aku baru menyadari sekarang, kalau ternyata pakaian kami memang cocok.</p>
<p>“Jadi berangkat sekarang?” Marilyn bersuara lagi dan aku nyaris mual mendengar nada merayu dalam suaranya itu. Tak kusangka pengaruh gaun Dolce Gabbana sangat besar. “Aku sudah tak sabar melihat pemandangan Danau Como yang kata sebagian besar orang begitu romantis.”</p>
<p>Aww&#8230; sial! Dia menginjak kakiku! “Euumm&#8230; oke, kita berangkat sekarang,” kataku sekali lagi melirik Eunhee yang semakin terlihat jengkel. Oh, semoga saja dugaan Marilyn benar!</p>
<p><b>-Como Lake, Italy-</b></p>
<p><a href="http://koreanlovefanfict.files.wordpress.com/2013/05/lake-como-italy_thumb1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-732" alt="Lake-Como-Italy_thumb1" src="http://koreanlovefanfict.files.wordpress.com/2013/05/lake-como-italy_thumb1.jpg?w=300&#038;h=225" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Memang benar indah. Perjalanan selama 50 menit dari pusat kota Milan ke Lombardy benar-benar terbayar setibanya kami di sebuah taman bunga indah di pinggir Danau Como. Bukan hanya aku yang terpesona dengan salah satu Danau terkenal di dunia ini, tapi juga Eunhee dan Marilyn yang tak hentinya menyapukan pandangan ke seluruh penjuru taman.</p>
<p>“Oppa, kau lihat benteng itu? Kalau tak salah, benteng itu peninggalan abad ke -19,” Marilyn bersuara, menarik perhatianku dan juga Eunhee untuk mengikuti arah telunjuknya. Tepatnya ke sebuah benteng yang berdiri megah di antara villa-villa penduduk. “Bagaimana kalau nanti kita ke sana?”</p>
<p>“Bukan ide buruk,” kataku sembari tersenyum.</p>
<p>“Eunhee-ssi, kau setuju?” Aku langsung melirik Eunhee yang sejak berangkat tadi menolak bertatap muka denganku. Ia juga sama sekali tak bersuara saat di perjalanan dalam taksi tadi.</p>
<p>“Baiklah,” balasnya pendek lalu melangkah menjauhiku dan Marilyn menuju pinggir danau.</p>
<p>Aku baru akan mengejarnya ketika Marilyn menarik lenganku. “Jangan dulu, Oppa,” tahannya sambil terkikik. “Lihat! Kau masih tak percaya padaku? Gadis itu diam-diam juga menyukaimu.” Seringai Marilyn melebar ketika mengatakannya.</p>
<p>“Tapi semalam dia masih menyebut mantan kekasihnya saat mabuk. Bukankah kata-kata orang mabuk adalah isi hati terdalam?”</p>
<p>Marilyn mendengus. “Silakan percayai apa yang ingin kau percayai. Percuma aku mengatakannya padamu kalau kau masih mempercayai satu hal yang menurutmu paling benar,” gerutu Mailyn. “ Ingat, aku di sini hanya ingin membantu.”</p>
<p>Aku terkekeh pelan. “<i>Well</i>, membantu dan mendapatkan LV juga gaun Dolce Gabbana impianmu.”</p>
<p>Marilyn mengangkat bahu tak peduli. “Tak ada yang gratis di dunia ini,” katanya lalu berlari meninggalkanku untuk menghampiri Eunhee. Sementara aku mengikuti di belakangnya dalam langkah-langkah santai.</p>
<p>Mencoba untuk mempercayai apa yang dikatakan Marilyn memang sangat menyenangkan. Tapi bila mengingat bagaimana Eunhee menyebut nama Woobin semalam, membuatku ingin sekali meninju mulut besar lelaki itu hingga tersungkur di tanah.</p>
<p>“&#8230; bagaimana?” Sayup-sayup kudengar suara Marilyn sebelum akhirnya Eunhee melirik dan untuk pertama kalinya ia menatapku. Wajah gadis itu pucat pasi. Seperti baru saja dihadapkan pada sesuatu yang sulit dan menyakitkan.</p>
<p>“Ada apa?” tanyaku bingung sembari mempercepat langkah lalu menatap Eunhee dan Marilyn bergantian.</p>
<p>“Aku mengajaknya naik ski air, scuba diving dan juga menjelajah danau ini dengan Feri. Tapi sepertinya Eunhee kesulitan memutuskan.”</p>
<p>Aku menghela napas, dan refleks melingkarkan lenganku di pinggang Eunhee. Semoga dia tidak pingsan lagi seperti di Venice dulu. Aku dan Eunhee kabur ke Milan untuk menghindari kendaraan Air di Venice, pasti ia jengah bila harus dihadapkan lagi pada feri dan kawan-kawannya. “Eunhee tak bisa naik transportasi air, Marilyn. Apapun itu.”</p>
<p>“Oh?” Marilyn menganga lalu beberapa detik kemudian dia terkekeh pelan. “Kenapa tak kau katakan sejak tadi?” tanyanya sembari bergurau. “Kalau begitu, kita jalan-jalan di gunung saja, bagaimana? Panjat tebing? Hang gliding?”</p>
<p>“Sepertinya jalan-jalan di gua wisata lebih baik.” Aku mencoba mengusulkan dan kulihat kedua gadis itu akhirnya mengangguk setuju. “Bersabarlah menghadapi Marilyn, Hee. Dia memang suka sekali menjelajah di hutan.”</p>
<p>“Apa katamu, Oppa?” Marilyn bersungut-sungut.</p>
<p>Aku terkikik pelan dan terkesiap merasakan tangan Eunhee yang dingin dalam genggamanku. Sebegitu traumakah dia dengan transportasi air. Hingga dengan memikirkannya saja, Eunhee sudah terlihat sangat ketakutan.</p>
<p>“Aku hanya mengatakan bahwa kau bersaudara dengan Monyet,” gurauku mencoba berkelakar dan kudengar Marilyn mendengus jengkel.</p>
<p>***</p>
<p>Aku menyendok <i>Granita</i><sup>1</sup>-ku dan mendesah nyaman saat campuran es, jeruk, susu dan wine itu masuk ke kerongkongan. Siang-siang begini, memang nyaman menikmati minuman dingin semacam Granita. Apalagi kami baru saja mengelilingi gua wisata yang untuk mencapainya saja kami  harus berjalan cukup jauh dan sedikit mendaki gunung. Tapi rasanya puas. Kami seperti berpetualang di alam terbuka.</p>
<p>Siang ini setelah puas berjalan-jalan, aku, Marilyn dan Eunhee memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran kecil yang terletak di desa San Felice del Benaco. Tempatnya memang tidak mewah, tapi banyaknya wisatawan yang berkunjung membuatku tak ragu lagi untuk mampir.</p>
<p>Ternyata hasilnya tak mengecawakan. Makanan tradisional Italia di tempat ini memang luar biasa lezat. Ah, aku mulai berpikir untuk menambahkan salah satunya ke daftar menu di kafe-ku.</p>
<p>Sebenarnya aku agak heran. Kupikir setelah menolak tawaran Marilyn untuk mencoba berbagai macam atraksi air akan membuat Eunhee lebih baik, tapi hingga kini gadis itu tetap terlihat pucat. Macaroni keju dalam piringnya pun masih utuh. Tak tersentuh sama sekali. Aku heran. Apa dia masih marah karena aku membawa serta Marilyn dalam perjalanan ini? Tapi, bukankah mereka sudah berteman cukup akrab?</p>
<p>“Hee, kau tidak apa-apa?”</p>
<p>Kulihat Eunhee terkejut dan buru-buru mendongak menatapku. “Baik.”</p>
<p>Lagi. Jawabannya hanya, baik, ya, senang, aku suka, terserah padamu. Ke mana perginya Eunhee yang suka mengomel dan cerewet itu?</p>
<p>“Ehm&#8230;” Marilyn berdeham pelan. “Aku ke toilet dulu,” katanya dan aku harus berterima kasih padanya karena memberi kami waktu untuk bicara berdua saja.</p>
<p>“Ada masalah yang mengganggumu?” tanyaku beberapa saat kemudian. Aku yakin ini bukan hanya masalah transportasi air.</p>
<p>Kudengar Eunhee menghela napasnya kasar. Untuk sejenak aku bisa merasakan suasana hening menggelisahkan. “Dia&#8230; ada di sini.”</p>
<p>Aku tersentak dan langsung menegakkan punggung. “Siapa?” tanyaku penuh antisipasi. Ini pasti bukan hal biasa. Melihat betapa takutnya Eunhee, ‘Dia’ yang dimaksudkan gadis itu pasti bukan sekedar kenalannya. “Hee?!”</p>
<p>“Mantan kekasihku&#8230; Kim Woobin.”</p>
<p>“Apa?” Aku menggertakkan gigi dan mengepalkan kedua tinjuku menahan emosi. Untuk apa dia datang ke mari? Mengacaukan bulan maduku? Oh, ayolah! Aku dan Eunhee sudah menikah. Tak mungkin ia masih berharap Eunhee bisa kembali padanya. “Kau&#8230; yakin?”</p>
<p>Kulihat Eunhee mengangguk. “Aku yakin itu dia. Sangat yakin. Tadi aku melihatnya sedang naik Feri di pinggir danau.”</p>
<p>Aku menggeleng pelan. “Kau pasti salah orang,” kataku mulai jengkel. Bisa saja Eunhee hanya mengada-ada. Karena dia terlalu merindukan lelaki itu, hingga semua lelaki jadi tampak sama seperti Woobin. Sial!</p>
<p>“Tidak. Sepertinya, semalam dia juga menghampiriku saat di Lounge.”</p>
<p>Tiba-tiba seperti ditimpa sebuah batu super besar dari puncak bersalju pegunungan Alpen, aku terbelalak lebar. “Kau&#8230; tidak sedang berhalusinasi?”</p>
<p>Eunhee bedecak jengkel. “Aku sangat serius!”</p>
<p>Sial! Kim Woobin&#8230; Benarkah kau di sini?</p>
<p><b>TBC</b></p>
<p>Ket:</p>
<p>[1] : Es serut buah khas Italia</p>
<p>Cuap2: Aaaaaaaaa!!!! Mian klo hasilnya makin aneh! *bow*</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[Ficlet] Of Proposal and an April Fool]]></title>
<link>http://sweetlydangerous.wordpress.com/2013/05/09/ficlet-of-proposal-and-an-april-fool/</link>
<pubDate>Thu, 09 May 2013 14:44:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>fikeey</dc:creator>
<guid>http://sweetlydangerous.wordpress.com/2013/05/09/ficlet-of-proposal-and-an-april-fool/</guid>
<description><![CDATA[—May 2013 -picture not mine- - “A beautiful story left incomplete. Oh, how he knocked me off my feet]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">—<i>May 2013</i></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sweetlydangerous.wordpress.com/2013/05/09/ficlet-of-proposal-and-an-april-fool/haesicaaa/#main" rel="attachment wp-att-533"><img class="aligncenter size-full wp-image-533" alt="haesicaaa" src="http://sweetlydangerous.files.wordpress.com/2013/05/haesicaaa.gif?w=500&#038;h=358" width="500" height="358" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><strong><em>-picture not mine-</em></strong></p>
<p>-</p>
<p align="center"><i>“A beautiful story left incomplete. Oh, how he knocked me off my feet.”<!--more--></i></p>
<p align="center"><i> </i></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika akhirnya Jessica Jung melongok ke dalam kamar berdominasi putih dan cokelat muda itu, sepasang mata teduh di atas ranjang telah lebih dulu menangkap sosoknya. Gadis itu memilih untuk diam di pintu, bersiap untuk menutupnya kembali jika sang pemilik ruangan enggan bertemu siapapun.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi siapa sangka bahwa senyuman hangat sang pemilik justru mengundang gadis itu masuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Jessica duduk di kursi, di samping ranjang. Untuk sesaat, ruangan itu hening, hanya terdengar tik-tok dari jam dinding yang menggantung di atas pintu, suara komentator pertandingan futbol dari televisi, dan adaptor penghasil udara pada akuarium di sudut ruangan. Jessica bahkan memilih untuk menunduk dalam-dalam.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku tahu kau menyimpan banyak pertanyaan di dalam kepalamu,” suara lelaki itu adalah yang pertama memecah keheningan. “<i>Spill it, </i>Jessie.”</p>
<p style="text-align:justify;">Gadis itu masih bungkam untuk beberapa detik ke depan. Maka, lelaki di sebelahnya menghela napas panjang sebelum mengutarakan sederetan kalimat yang telah disusunnya dengan sangat matang—sebagai persiapan tadinya, kalau-kalau keadaan seperti ini benar-benar terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">“<i>As you see, nothing happened, okay? I’m right here, with you. Breathing, listening to every single sound, I’d laugh out loud if you want to,</i>” lelaki itu mulai meracau. “Jessie, sekarang kau yang membuatku takut.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kau bahkan tidak peduli saat tadi aku hampir memotong tanganku sendiri begitu Heechul meneleponku soal keadaanmu,” Jessica menggumam, masih belum ingin mengangkat wajahnya. “<i>You’re freaking me out, okay, </i>Lee Donghae? <i>People die in an accident like this. What if you’re not gonna make it, what if I arrive at this place and you’re already gone, what if—</i>“</p>
<p style="text-align:justify;">“<i>Look, with that ‘what if-s’ game, it might as well be positive, right? What if I do make it, what if I’ll be okay, what if I’m not going anywhere right now?</i>” Donghae membiarkan tawa kecilnya mengisi seluruh ruangan. Satu tangannya yang bebas dari perban melilit terangkat, menyentuh kepala Jessica di sebelahnya, menepuknya pelan. “Aku tidak apa-apa, oke? Hanya perlu menginap di sini sampai semua aksesoris mumi ini boleh dilepas.”</p>
<p style="text-align:justify;">“<i>That means nothing.</i>”</p>
<p style="text-align:justify;">“<i>Why?</i>”</p>
<p style="text-align:justify;">Donghae terdiam, membiarkan Jessica meraih tangannya, lalu meremasnya pelan. Lelaki itu bahkan menahan napasnya di tenggorokan begitu akhirnya Jessica mengangkat wajahnya, menatapnya tepat di manik mata. Kadang Donghae lupa bahwa Jessica memiliki tatapan semenusuk itu. Ha. Julukan semasa dulu masih bertahan hingga sekarang rupanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ceritakan, apa yang sebetulnya terjadi?”</p>
<p style="text-align:justify;">Lelaki itu tersenyum kecil. Ia melempar pandangan ke arah televisi yang kini dipenuhi oleh layar hitam—ia tidak tahu Jessica sempat mematikannya sebelum ini. “Ceritanya panjang,” balasnya pendek.</p>
<p style="text-align:justify;">Jessica memutar bola matanya. “<i>Make it short,</i>” ujarnya, memaksa. “Lagipula, aku sudah mendengar sebagian ceritanya dari Heechul. Kau kelaparan, hendak menuju restoran cepat saji di seberang jalan, lalu kau membawa sepeda lipatmu karena letaknya lumayan jauh. Heechul bilang kau sedikit <i>oleng</i> dan akhirnya menubruk mobil yang diparkir sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.”</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk beberapa saat, Donghae melongo, memberikan tatapan yang penuh dengan ekspresi mengejek ke arah Jessica, singkat kata, lelaki itu menahan tawanya mati-matian. “Kau bercanda,” komentar Donghae akhirnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Gadis itu menggeleng. “Heechul yang menceritakan semuanya padaku,” katanya, menyangkal. Kini mengangkat tubuhnya dan duduk di pinggiran ranjang. “Jika ini bercanda, maka orang yang harus kau marahi adalah Heechul, bukan aku.”</p>
<p style="text-align:justify;">“<i>For God’s sake, </i>Jessie. Aku tidak menubruk mobil yang diparkir,” Donghae menghela napas keras-keras. “<i>I’m not that stupid, okay?</i> Dengar. Aku dan Heechul berhenti untuk mengisi bensin, lalu aku melihat bangunan toko hadiah di seberang, untuk itulah aku tu—“</p>
<p style="text-align:justify;">“Toko hadiah?” Jessica memotong ucapan Donghae. “Heechul bilang kau lapar dan melihat restoran cepat saji?”</p>
<p style="text-align:justify;">Donghae memutar bola matanya. “<i>Sooo? Is it so bad to lie?” </i>katanya. “Diam dan dengarkan. Semuanya baik-baik saja dalam perjalananku menuju ke sana. Aku bersiap untuk menyeberang jalan, ketika seorang gila yang mengemudi mengarahkan mobilnya kepadaku. Aku menghentikan sepedaku, tapi hal itu tidak menghentikan laju mobil yang masih dalam kecepatan tinggi…”</p>
<p style="text-align:justify;">Lelaki itu menghela napas. “<i>The next thing I knew, people crowded around me like crazy, especially </i>Heechul. Aku mencoba untuk menemukan benda yang kubawa dari toko hadiah, tapi… kau mau berharap apa jika benda serapuh itu terbanting secara paksa ke jalanan?”</p>
<p style="text-align:justify;">Jessica masih diam ketika cerita Donghae hampir mencapai bagian akhir. Gadis itu tidak banyak bertanya lagi sejak Donghae menyuruhnya diam dan mendengarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">“<i>Look, I remembered your birthday. That’s why I lied to him, so I would get a chance to go to that gift shop. I wanted to call you as soon as I reached the car, but that… never happened,</i>” lelaki itu tersenyum kecil. “Tapi setidaknya… aku bisa ada di sini. Aku di sini untuk merayakan hari ulang tahunmu, walaupun <i>yeah… </i>penampilanku seperti mumi begini. Kuharap kau tak marah.”</p>
<p style="text-align:justify;">Gadis itu mendesah pelan. “<i>I… hate you so much right now.</i>”</p>
<p style="text-align:justify;">“<i>I know.</i>” Donghae tersenyum miris, melempar pandangannya dari sosok Jessica.</p>
<p style="text-align:justify;">“<i>You ruined my night, okay, </i>Lee Donghae. <i>Is this what you called some perfect gift? I planned to go out with you, and Tiffany, and Key tonight and you ruined it. You’re half-alive, death may comes right to you, that surgery really freaking me out, and—</i>“</p>
<p style="text-align:justify;">“Jessie, <i>stop babbling</i>,” lelaki itu meraih tangan Jessica, menariknya, menggenggamnya erat di pangkuan. Tatapan matanya berangsur lesu saat gadis itu mulai menangis. Karena Donghae selalu tahu, Jessica benci menangis di hadapan orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">“<i>That’s the reason why I’m still half-alive, why I’m survived from the surgery. I want to be here for your birthday, okay? </i>Ini ulang tahun pertamamu yang kita rayakan sejak… setahun yang lalu,” Donghae berkata pelan, masih mencari-cari sepasang mata Jessica. “Dan aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya, tapi…”</p>
<p style="text-align:justify;">Jessica mengangkat sebelah alisnya, menatap linglung pada sosok Donghae yang kemudian mencari-cari sesuatu di sekitar nakas di sisi lain ranjang. Sementara lelaki itu tidak memperhatikannya, Jessica menarik napas dalam. Donghae benar, setidaknya ia masih ada di sini, malam ini, untuk merayakan hari ulang tahunnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sedetik kemudian, gadis itu hampir saja terjengkang dari posisinya jika saja Donghae tidak memeganginya. Satu tangan gadis itu terangkat, menutup mulutnya yang hampir menganga atas apa yang dilakukan lelaki itu padanya saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Donghae ada di sana, dengan senyum tenangnya seperti biasa, dengan gesturnya yang kadang kikuk, dengan segala kata-kata manis yang selalu membuatnya tersipu. Namun untuk kali ini, Jessica tidak memerlukan itu semua. Ia tidak perlu kata-kata manis seorang Lee Donghae untuk memberi jawaban berupa anggukan singkat, yang membuat lelaki di hadapannya tersenyum lega.</p>
<p style="text-align:justify;">Jessica tahu hari ini akan datang—Heechul bukan orang yang pintar menyimpan rahasia seseorang, omong-omong. Gadis itu hanya tidak pernah menyangka bahwa Donghae akan melakukannya di hari ulang tahunnya, di rumah sakit, dan dengan pakaian menyerupai mumi.</p>
<p align="center">***</p>
<p align="center"><i>—fin</i></p>
<p style="text-align:justify;">p.s: <em>actually, it has nothing to do with april fool&#8217;s day haha.. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>sooo, here&#8217;s the condition</em>. ada sedikit <em>miss</em> di <em>once bitten</em>, jadi kemungkinan part berikutnya bakalan di <em>suspend</em> sampe aku bertapa nyari jalan keluar dengan tetap pertahanin<em> chapter</em> 1 sama prolog yang udah di post.<em> I really hope that you don&#8217;t mind</em>, hehe.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>last</em>&#8230; aku baru sembuh dari <em>writer&#8217;s block</em>, cieh. semoga ini ff ngga maksa ._. kalo ada yang aneh dari penulisan atau apanya, salahin <em>writer&#8217;s block</em>nya ya *dirudal* dan ini part akhir dari ficlet-ficlet lepasan nona jung: <a title="One year later" href="http://sweetlydangerous.wordpress.com/2012/06/27/one-year-later/" target="_blank">one year later</a> -<a title="Chocolate Almond" href="http://sweetlydangerous.wordpress.com/2012/07/11/chocolate-almond/" target="_blank"> chocolate almond</a> -<a title="Jack" href="http://sweetlydangerous.wordpress.com/2013/01/18/jack/" target="_blank"> jack</a> -<a title="Invisible touch" href="http://sweetlydangerous.wordpress.com/2013/01/27/invisible-touch/" target="_blank"> invisible touch</a>. <em>wait for another series about this lovely couple,</em> hehe.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>and thank you for reading</em>! ;D</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
