<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>lesson-of-life &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/lesson-of-life/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "lesson-of-life"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 06:34:57 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[I am a feeling!! I am love itself! ]]></title>
<link>http://allyice.wordpress.com/2010/01/29/i-am-a-feeling-i-am-love-itself/</link>
<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 20:17:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>allyice</dc:creator>
<guid>http://allyice.wordpress.com/2010/01/29/i-am-a-feeling-i-am-love-itself/</guid>
<description><![CDATA[hy, my name is allyice. I&#8217;m not in love. I am the love itself. It is over. Things are clear. I]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>hy, my name is allyice. I&#8217;m not in love. I am the love itself.</p>
<p>It is over. Things are clear. I haven&#8217;t lost him, but he did lost me. I was told what I knew &#8230; we sometimes need to be told things we already know, but we don&#8217;t want to accept until we are told and everything becomes clear. I am a feeling. I am a thought. I am and have been used, but is ok &#8230; it is ok, as long as I am a feeling &#8230; I am not in love! not anymore &#8230; i am the love itself.</p>
<p>I didn&#8217;t told him I lost God &#8230;. for good &#8230; in the moment he left me. i knew it would have hurt him more then anything else &#8230; as mostly God is the reason we cannot be together &#8230; maybe he is right &#8230; it would be weird &#8230; he would always have discussions about God &#8230; and the way he worship&#8217;s Him &#8230;. I hated his God &#8230;. in the moment he hurt me &#8230; i am not a very religious person &#8230;.</p>
<p>I mustn&#8217;t be in love anymore &#8230;. I have became love itself. I am a feeling, and I am the most beautiful feeling! I will fill everyone&#8217;s harts with joy and love &#8230; and make every man and women happy! I am beautiful as love is! I am joyful as happiness is! I am every man and women in the world &#8230;. i am in every man and woman in the world.</p>
<p>I am love itself!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[He is Happy ... Do You?]]></title>
<link>http://feelfreetoexpress.wordpress.com/2010/01/29/he-is-happy-do-you/</link>
<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 07:12:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>aquapearl</dc:creator>
<guid>http://feelfreetoexpress.wordpress.com/2010/01/29/he-is-happy-do-you/</guid>
<description><![CDATA[We claim that we know the meaning of life and we know how to live. Here is any example. Think once m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>We claim that we know the meaning of life and we know how to live. Here is any example. Think once more&#8230;. do you know how to live? He is happy&#8230; Do you?</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/H8ZuKF3dxCY&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/H8ZuKF3dxCY&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[(memang) Nyata Adanya]]></title>
<link>http://fege.wordpress.com/2009/12/14/memang-nyata-adanya/</link>
<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 03:15:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>fege</dc:creator>
<guid>http://fege.wordpress.com/2009/12/14/memang-nyata-adanya/</guid>
<description><![CDATA[*postingan kali ini hanya untuk sampeyan-sampeyan yang percaya dengan adanya Tuhan*   Teman saya sed]]></description>
<content:encoded><![CDATA[*postingan kali ini hanya untuk sampeyan-sampeyan yang percaya dengan adanya Tuhan*   Teman saya sed]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[(Ingin) Nge-boss]]></title>
<link>http://fege.wordpress.com/2009/11/16/ingin-nge-boss/</link>
<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 06:27:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>fege</dc:creator>
<guid>http://fege.wordpress.com/2009/11/16/ingin-nge-boss/</guid>
<description><![CDATA[Sering kali beberapa keadaan yang serupa atau memiliki kemiripan terjadi secara berurutan dan terakh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sering kali beberapa keadaan yang serupa atau memiliki kemiripan terjadi secara berurutan dan terakh]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hidup ini terlalu singkat]]></title>
<link>http://inaimut.wordpress.com/2009/11/16/hidup-ini-terlalu-singkat/</link>
<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 02:03:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>inaaja</dc:creator>
<guid>http://inaimut.wordpress.com/2009/11/16/hidup-ini-terlalu-singkat/</guid>
<description><![CDATA[Pertama kali saya berjumpa dengan Akhwila dan Priskila saat pasangan Amerika itu ikut serta dalam ro]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Pertama kali saya berjumpa dengan Akhwila dan Priskila saat pasangan Amerika itu ikut serta dalam rombongan tur ke Eropah Barat yang saya pimpin, kejadiannya lebih kurang 12 tahun yang silam. Ketika itu mereka melakukan perjalanan dalam rangka memperingati ulang tahun emas perkawinan mereka. Selama 14 hari perjalanan mengunjungi 9 kota di 5 negara, pasangan yang sudah berusia diatas 70 tahun itu kerap menjadi perhatian saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bukan karena saya mengkhawatirkan kondisi phisik mereka yang mungkin kelelahan akibat perjalanan jauh, karena untuk ukuran kebanyakan orang seusianya, mereka tergolong cukup sehat dan lincah. Yang saya perhatikan justru bagaimana mereka tampak begitu menikmati setiap momen dalam perjalanan tersebut.  &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">Pengamatan &#8221; yang saya lakukan secara sembunyi sembunyi terhadap mereka, entah dengan mencuri pandang lewat kaca spion bis yang kebetulan mengarah langsung ke mereka, atau memperhatikan bagaimana mereka berunding untuk menentukan mau pergi kemana ketika acara bebas, membuat saya melhat ada sesuatu yang &#8221; berbeda &#8221; diantara keduanya dibandingkan dengan peserta lainnya. Keduanya tampak sangat ceria, yang terpancar jelas dari raut wajah mereka yang sudah dipenuhi keriput. Rasa penasaran saya atas pasangan ini belum sempat terjawab ketika perjalanan yang kami lakukan sudah harus berakhir. Seluruh rombongan berpisah untuk kembali ke tempat tinggal masing masing, sementara saya melanjutkan hidup saya seperti biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Setahun berikutnya, ketika saya ditugaskan untuk memimpin sebuah rombongan tur ke Eropah Timur, secara tak sengaja saya bertemu dengan pasangan Akhwila dan Priskila yang ternyata juga ikut dalam rombongan tur yang saya pimpin saat itu. Kali ini mereka melakukan perjalanan untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke 51. Lantaran sudah saling kenal sebelumnya, kami jadi cepat akrab. Sebenarnya, pada saat itu saya hanya menjadi tur leader pengganti. Diawal perjalanan, saya berterus terang kepada para peserta tur bahwa saya kurang paham dengan rute perjalanan kali ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Diluar dugaan, Akhwila secara diam diam berbicara banyak tentang saya kepada para peserta tur lainnya berdasarkan pengalaman yang dialaminya saat ikut serta dalam rombongan tur yang saya pimpin setahun yang lalu. Tentang bagaimana saya sudah menjadi pemimpin tur yang menurut dia sangat baik dan perhatian serta hal hal positip lainnya. Berkat dia pulalah, sebagian besar peserta tur jadi memiliki nilai positip terhadap saya. Konsekwensinya, saya jadi lebih tertantang untuk berbuat semaksimal mungkin, memberikan kwalitas layanan yang terbaik dan memuaskan. Pengalaman memimpin grup tur ke Eropah Timur saat itu adalah awal dari perjalanan karir saya sebagai pemimpin tur, namun justru disaat saya merasa banyak kemungkinan untuk melakukan kesalahan karena minimnya &#8221; jam terbang &#8221; dan penguasaan medan, hampir seluruh peserta tur malah memberikan dukungan positip atas apa yang saya lakukan pada saat itu sehingga saya merasakan situasi yang nyaman sepanjang perjalanan tersebut. Dan semua itu disebabkan karena berbagai pernyataan positip yang disampaikan oleh Akhwila.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Hidup ini terlalu singkat untuk dijalani, jika bisa membuatnya lebih indah, kenapa harus dijalani dengan air mata. Jika bisa memotivasi orang lain dengan pujian, mengapa kita harus menyampaikan dengan celaan ?&#8221;</em> demikian kata Priskila saat saya menyampaikan ucapan terima kasih atas &#8220;promosi&#8221; yang dilakukan suaminya terhadap saya. Prinsip hidup ini terlalu singkat yang dianut oleh Akhwila dan Priskila membuat saya merenung tentang makna hidup yang sudah saya jalani saat ini. Usia pernikahan yang mereka jalani hingga sanggup mencapai angka diatas 50 tahun adalah suatu hal yang langka, dan menurut saya perjalanan hidup mengarungi kehidupan selama 70 tahun lebih bukanlah waktu yang singkat pula.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kita tidak pernah tahu kapan hidup ini akan berakhir, kapan saat terakhir kita bakal bertemu dengan orang yang kita kasihi. Bisa saja terjadi, besok saya atau anda yang dipanggil Tuhan, dan alangkah menyesalnya kita ketika menyadari betapa banyak hal yang sebenarnya ingin kita capai, ternyata tidak pernah terwujudkan. Jika setiap saat kita berpikir bahwa hidup ini</em> te<em>rlalu singkat untuk dijalani, maka kita akan termotivasi untuk memberikan makna terbaik pada hari hari yang kita jalani saat ini, </em>demikian ucap Akhwila panjang lebar. Dan jika pada kenyataannya kita diberi anugerah untuk menjalani kehidupan ini lebih lama, bukankah hari hari yang sudah kita lalui bakal menjadi rangkaian kenangan yang indah. Selama kehidupan pernikahan kami, rasanya kami tidak sempat meributkan hal hal kecil karena waktu kami telah tersita dengan pemikiran bagaimana mengisi hari hari &#8220;pendek&#8221; kami dengan sebaik mungkin.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan Akhwila dan Priskila itu terus melekat dibenak saya hingga kini. Prinsip hidup yang mereka anut telah berhasil mempengaruhi jalan pemikiran saya, sehingga sejak saat itu saya menjalani kehidupan dengan lebih bersemangat. Ketika menikah beberapa tahun yang lalu, saya dan istri juga telah sepakat untuk menjalani kehidupan ini dengan prinsip &#8221; Hidup Ini Terlalu Singkat &#8220;. Setiap saat kami selalu berpikir bagaimana caranya agar dapat mengisi hari hari kami dengan sebaik mungkin. Peringatan hari ulang tahun saya dan istri, maupun ulang tahun pernikahan kami menjadi ajang untuk instropeksi diri tentang hari hari yang telah kami lewati bersama, sekaligus merencanakan apa yang akan kami lakukan untuk kurun waktu setahun kedepan. Kami menjadi lebih ekspresif dalam mengungkapkan isi hati dan perasaan masing masing dan tidak ragu ragu untuk saling mempersembahkan yang terbaik dan berupaya untuk saling membahagiakan satu dengan yang lainnya. Setiap ada konflik yang terjadi kami berupaya untuk menyelesaikannya sesegera mungkin. Perselisihan pendapat memang ada, namun kami berdua senantiasa mengupayakan agar persoalan yang kami hadapi tidak melebar dan meluas kemana mana. &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">Jika anda dapat membuatnya simpel, kenapa harus dipersulit &#8220;, begitu kata Priskila.  Apabila setiap saat kami mempertahankan prinsip yang sama dalam menjalani hidup ini, dan ketika kami dikaruniakan umur panjang untuk bisa merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke 10, 20 atau yang ke 30 atau mungkin yang ke 50, seperti Akhwila dan Priskila, wow&#8230;&#8230;, betapa bernilainya hari hari yang telah kami jalani selama ini, dan betapa banyak kenagan indah yang terukir sepanjang kehidupan kami. Dan kalau pun toh kami tidak dikaruniakan umur yang panjang, setidaknya kami berdua sudah pernah melewati hari hari yang indah bersama sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa bulan yang lalu, saya mendapatkan kiriman surat dari Priskila (kami sering berkirim surat sejak pertemanan kami di Eropah bertahun tahun yang lalu), di suratnya Priskila menceritakan bahwa Akhwila telah meninggal dunia, beberapa saat setelah ulang tahun pernikahannya yang ke 63. Herannya, saya tidak menangkap kesan kesedihan dalam surat tersebut. Bahkan dia mengatakan bahwa mereka sudah sejak lama bersiap siap menghadapi momen perpisahan yang tak terelakkan oleh manusia mana pun di dunia ini. Priskila mengungkapkan bagaimana beruntungnya mereka bisa melewati saat saat kebersamaan yang panjang, dan bersyukur atas begitu banyaknya peristiwa yang bisa mereka jalani berdua. Dan ketika memang &#8221; saat &#8221; itu tiba yang terungkap justru rasa syukur karena telah diberi banyak kesempatan untuk menjalani hari demi hari bersama dengan orang yang dicintai.</p>
<p style="text-align:justify;">- nn -</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gagal]]></title>
<link>http://inaimut.wordpress.com/2009/11/13/gagal/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 10:24:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>inaaja</dc:creator>
<guid>http://inaimut.wordpress.com/2009/11/13/gagal/</guid>
<description><![CDATA[Sejarah mencatat bahwa Wright bersaudara adalah orang yang pertama sekali berhasil menerbangkan pesa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Sejarah mencatat bahwa Wright bersaudara adalah orang yang pertama sekali berhasil menerbangkan pesawat. Meski demikian, mereka berdua sebenarnya bukanlah pelopor penelitian pesawat terbang. Pelopor pesawat terbang yang sebenarnya adalah Dr Samuel Langley yang sudah meneliti kemungkinan manusia terbang sejak tahun 1890 ( 13 tahun sebelum Wright menerbangkan pesawat ).</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa Dr. Samuel Langley justru tidak dikenal orang? Ternyata, setelah melakukan penelitian dan berulang kali mengalami kegagalan selama 13 tahun, akhirnya Langley menghentikan penelitiannya. Keputusan itu diambil Langley ketika tgl 8 Oktober 1903 setelah untuk kesekian kalinya percobaannya gagal. Tahukah kita, bahwa hanya selang dua bulan dari sikap putus asa Langley tersebut, pada tanggal 17 Desember 1903, Wright bersaudara berhasil menerbangkan pesawatnya!</p>
<p style="text-align:justify;">Patut disayangkan, bukan? Sedikit lagi Dr. Langley meraih kesuksesan, tapi sayang ia buru-buru berhenti karena tidak tahan menghadapi kegagalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jatuh bukan berarti gagal. Jatuh dan tidak berani bangkit, itulah gagal yang sebenarnya! Jangan pernah putus asa dan menyerah kalah. Kita tidak pernah tahu bahwa sebenarnya tinggal selangkah lagi kita meraih keberhasilan, jangan sampai hal tersebut urung terjadi hanya gara-gara kita memutuskan untuk berhenti lebih awal. Seorang juara bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh, melainkan dia yang selalu bangkit setiap kali gagal.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita semua pernah jatuh, yang membedakan hanyalah beberapa diantaranya menyerah kalah sementara yang lainnya berani bangkit kembali.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak orang gagal karena mereka tidak tahu betapa dekatnya mereka dengan kesuksesan &#8212; Thomas Alfa Edison &#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8221; Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.&#8221; ( Amsal 24 : 16 )</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-1227" title="6a00d83451b88369e200e54f13bad18833-800wi" src="http://inaimut.wordpress.com/files/2009/11/6a00d83451b88369e200e54f13bad18833-800wi.gif" alt="6a00d83451b88369e200e54f13bad18833-800wi" width="396" height="490" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menemukan Solusi]]></title>
<link>http://inaimut.wordpress.com/2009/11/13/menemukan-solusi/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 09:07:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>inaaja</dc:creator>
<guid>http://inaimut.wordpress.com/2009/11/13/menemukan-solusi/</guid>
<description><![CDATA[Konon, ketika Japan Railways East mendapat kontrak membangun kereta api super cepat antara Tokyo dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Konon, ketika Japan Railways East mendapat kontrak membangun kereta api super cepat antara Tokyo dan Nagano dan harus diselesaikan menjelang Olimpiade Musim Dingin 1998, mereka menghadapi suatu kendala besar. Terowongan yang dibangun perusahaan ini melalui pegunungan yang selalu saja terisi air. Sebuah tim insinyur dikerahkan untuk mendapat solusi terbaik. Mereka menyusun rencana detil dan membangun sebuah sistem pembuangan yang mahal untuk mengeluarkan air dari terowongan.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-1222" title="type-n700-train" src="http://inaimut.wordpress.com/files/2009/11/type-n700-train.jpg" alt="type-n700-train" width="440" height="330" /></p>
<p style="text-align:justify;">Sampai suatu hari, seorang pekerja yang sedang kehausan menemukan solusi yang tak terduga, ketika mengambil air untuk diminum. Ternyata air itu rasanya enak. Bahkan lebih enak dari air botol yang biasa ia bawa. Maka ia menyampaikan gagasan kepada atasannya untuk menjual saja air itu menjadi air mineral dalam botol. Kemudian dibuatlah air kemasan Oshimizu, yang dijual oleh perusahaan kereta api lewat mesin-mesin penjaja di stasiun-stasiun, dan juga bisa diantar ke rumah-rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Biaya yang sangat besar, dalam sekejap diubah menjadi keuntungan yang besar. Apakah ini suatu kebetulan? Jelas bukan. Kadang-kadang kita menemukan bahwa suatu kesulitan yang kita alami justru membawa keuntungan bagi kita pada akhirnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Penderitaan bisa berubah menjadi berkat tergantung bagaimana kita menanggapinya, secara positif atau negatif.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh, banyak dalam Al-Kitab, antara lain Yusuf dan Daniel, ada kesulitan, ada fitnahan, ada penderitaan, ada ancaman yang mereka alami, namun hasilnya mereka menjadi orang yang berhasil.</p>
<p style="text-align:justify;">Masalahnya bagaimana respon kita sesudah ada kesulitan, kita menerimanya dengan positif atau negatif. Kesukaran seringkali merupakan berkat yang terselubung. &#8221; Terpujilah Tuhan, sebab kasih setia-Nya ditunjukkan-Nya pada waktu kesesakan! &#8220;( Mazmur 31 : 22 ).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gotta live like we're dying]]></title>
<link>http://iceroseprincess.wordpress.com/2009/11/03/gotta-live-like-were-dying/</link>
<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 00:49:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>lisarosalina</dc:creator>
<guid>http://iceroseprincess.wordpress.com/2009/11/03/gotta-live-like-were-dying/</guid>
<description><![CDATA[Lyrics | The Script lyrics &#8211; Live Like We&#8217;re Dying lyrics Yes, we got to face it: in thi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://www.lyricsmode.com/" target="_blank">Lyrics</a> &#124; <a href="http://www.lyricsmode.com/lyrics/t/the_script/" target="_blank">The Script lyrics</a> &#8211; <a href="http://www.lyricsmode.com/lyrics/t/the_script/live_like_were_dying.html" target="_blank">Live Like We&#8217;re Dying lyrics</a></p>
<p>Yes, we got to face it: in this world, no one comes out alive.<br />Once we&#8217;ve established that fact and everyone understands the impact of it, we&#8217;ll move on to the next stage: what we&#8217;re doing with the time we&#8217;ve been given here?<br />
<blockquote>So if your life flashed before you<br />What would you wish you would&#8217;ve done?</p></blockquote>
<p>Don&#8217;t kid yourself that you have so much time, you can&#8217;t see how many stones of sand are left in your hourglass. Each second, without fail: we&#8217;re getting older and closer to dying.<br />It&#8217;s such a waste for us to just wither out and die, we have so much potential! We can learn everything, we can do anything as long as the heart agrees and the body is able. I&#8217;ve long believed that the world is such a big place to be stuck in one corner.<br />Wherever we go, whatever we do: God will provide, so why the hesitation?<br />I&#8217;ve never lost the hope that someday I&#8217;ll be able to tick off some items on my list. For me, the thing withholding me the most is the unavailability of money to squander on my dreamed adventures and the fact that I am such a coward to go at it alone. So friends, jom? We&#8217;ll overpower the ones that doubt us by our infallible belief that we can do it haha.<br />Some of the things on my bucket list (yes, very much like the movie but they did it when they&#8217;re so old, I was hoping that I won&#8217;t kick the bucket just yet :p)
<ul>
<li>To handle any machine that flies, with me in it. I&#8217;ve been contemplating to take flying lessons, I don&#8217;t really care if it&#8217;s a helicopter or a plane: as long as it flies. Hey, even a hot air balloon is ok <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </li>
<li>To play paintball. I&#8217;ve been jealous of the many people who had played. Seriously it&#8217;d be liberating to kill someone even with colorful balls of paint haha</li>
<li>To ride a go-kart and hopefully a F1 car too. I&#8217;ve been dreaming of this since I was a kid and I can still feel the rush in my dreams as I tackle the bend of the road. Gile hensem! haha</li>
<li>To learn diving and have a diver&#8217;s license. I got this chance when I was in uni but the fee then was out of my means. My ptptn is only for fees only, so xleh la berfoya-foya sangat <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . The closest I get to seeing the fishes up close is when I went snorkelling once in Pangkor. That was truly a dream vacation..</li>
<li>To go to Japan, Egypt, Greece and Korea. My friend once told me that the pyramids in Egypt and the Nile aren&#8217;t all that they are so hyped to be but still, I want to go there! haha</li>
</ul>
<p>So those are some of the top things in my list. I need some friend who&#8217;ll go with me! Jom laaaa&#8230;we&#8217;ll do some of the things in your list too ok? I promise <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ok getting back to the song, I&#8217;m interested with this phrase:<br />
<blockquote>And if your plane fell out of the skies<br />Who would you call with your last goodbyes<br />Should be so careful who we live out our lives<br />So when we long for absolution<br />There&#8217;ll no one on the line</p></blockquote>
<p>It is good advice not to burn bridges. You&#8217;ll never know when you have to cross the same river again. So in this life, try to be good to everyone and don&#8217;t cut the ties until there&#8217;s no hope of getting back again. What if in the future we have to ask for something from that person again? So forgive, but never forget. However, don&#8217;t keep those who bog you down. God did not create you so you&#8217;ll crawl through life. Just play your cards right: you don&#8217;t have to have everyone like you but you don&#8217;t need haters either. It&#8217;s a delicate balance: I&#8217;m still working on it myself.</p>
<p>Another thing is to keep your regrets at a minimum, because when you suddenly see yourself at the end of the line you don&#8217;t really have much time to redo or undo your conduct in life. When you gotta go, then you gotta go. You think the angel of death would stall his schedule just so that you can do that one little thing? Death is happening everywhere so you must understand how busy he is. So spare yourself the trouble and do things while you still can.</p>
<p>Say you love someone even when it hurts and give forgiveness to the ones that hurt you.<br />Give praise when it&#8217;s due and criticize only when it helps.<br />Be the one who build and not the the one who break.<br />These you do so that you&#8217;ll be the one to smile and not the one who cries.</p>
<p>p/s: I hope I&#8217;m not too thick-headed to take my own advice. C&#8217;mon, life don&#8217;t begin at any number, rather it begins when you want it to <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Weirdly toxic]]></title>
<link>http://iceroseprincess.wordpress.com/2009/11/02/weirdly-toxic/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 02:38:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>lisarosalina</dc:creator>
<guid>http://iceroseprincess.wordpress.com/2009/11/02/weirdly-toxic/</guid>
<description><![CDATA[Have patience with everything that remains unsolved in your heart. Try to love the questions themsel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><blockquote><p>Have patience with everything that remains unsolved in your heart. Try to love the questions themselves, like locked rooms and like books written in a foreign language. Do not now look for the answers. They cannot now be given to you because you could not live them. It is a question of experiencing everything. At present you need to live the question. Perhaps you will gradually, without even noticing it, find yourself experiencing the answer, some distant day.<br />
~Rainer Maria Rilke</p></blockquote>
<p>Honestly I don&#8217;t think I deserve this.<br />
I think I never played around with people before, but maybe this is just a lesson that life has in store for me.<br />
I have so much things in my mind and to be bogged down by stupid things like this is truly frustrating. So now I just gotta get it out my chest.<br />
My mouth feels dry, and my eyes too. I feel I should cry but that seem such a waste and I can&#8217;t get myself to cry anyway.<br />
&#8220;Ok, noted.&#8221;<br />
Seriously. How cold can you get? It&#8217;s like saying I don&#8217;t want to join a program.<br />
And I am definitely NOT mediocre. So I don&#8217;t deserve this kind of treatment.<br />
I&#8217;ve seen this coming, no use to talk with someone who&#8217;ll just misunderstand. Btw, I am not angry, I am just dissatisfied.<br />
&#8220;No hurt feelings ok&#8221;<br />
That reply is too objective for my taste. It&#8217;s like a reply that demote all that transpired into merely a business transaction. It downgrades all that I feel as something stupid and futile. So I joke around because being touchy feely with this type of people is useless. However, strangely I do forgive him. Because I know that he believes that what he&#8217;s doing is right. It&#8217;s like convincing suicide bombers that there is a better way to get what they want: they&#8217;ll never listen to you, they just go on and blow themselves up, and sometimes killing you too if you don&#8217;t get away. They have no bad intentions, in fact they&#8217;re very noble. It&#8217;s just that they are misled by their beliefs.<br />
&#8220;Boleh je jadi kawan saya&#8221;<br />
What do you mean? I keep giving you chances, but you never take them. Treat me like a human ok, I too have feelings. Before, I keep giving hints of how the system is self-serving and cold. I even took the trouble of trying to tell you I want out in the softest way possible that you&#8217;ll understand. I&#8217;m even prepared to elaborate if you cared to asked. I had hoped that we could still be friends, but this feels strangely one-sided. Macam aku je yang terhegeh-hegeh nak kawan ngan dia. Padahal it&#8217;s an honest offer of friendship. Even Frankenstein has more emotion I think. Or this is the only way he could think of replying? Can&#8217;t blame the guy, he probably has so much in his mind. So terima sajalah sebab ini saja yang rasanya reply paling sesuai bagi dia. Well, he is unaffected whether I want to go on or not.</p>
<p>*********<br />
Ok, I know I&#8217;ve been talking in riddles, so I summarize for those who aren&#8217;t in &#8220;the know&#8221;.<br />
I know this guy, for a couple of years in fact. During that time I fell once or twice but then no more because there were no positive reaction from that person. So I moved on. But then, out of the blue the guy told me that I managed to get on his list of candidates he is considering to marry. It made me somewhat happy, for a while. But then I am told that there are a total of 3 people (if I am not mistaken) that is being considered and to get through the test, one have to answer a set of &#8220;assessment&#8221; questions. The candidates can also ask questions and assess him to search for compatibility. All the candidates have the option to leave whenever they want and they too can have other candidates to consider besides him. He doesn&#8217;t care less.<br />
.<br />
.<br />
.<br />
Isn&#8217;t this weird?<br />
If this is considered normal, then the world is weirder than I thought.<br />
If this is in line with the teachings of Islam, why it downgrades women?<br />
So we are given the choice to proceed or not and to have other people also. Isn&#8217;t this akin to promoting infidelity and promiscousity? To be a player?<br />
You just have to look and ask around about the person. Ask the person whether she wants you, search for compatibility within the limits of Islam. Be true to your intention, keep your faith in the Almighty. Don&#8217;t go and tell all the &#8220;candidates&#8221; that they are all being considered among all other. Respect the dignity of a human being.<br />
Now that I&#8217;ve just gotten out of this toxic situation, the statements I put above are his only answers. Cold and detached as always.<br />
Haih&#8230;surely there are normal guys out there? Right? *unsure*</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The power of words]]></title>
<link>http://doodlebuddies.wordpress.com/2009/11/01/the-power-of-words/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 00:11:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>naush</dc:creator>
<guid>http://doodlebuddies.wordpress.com/2009/11/01/the-power-of-words/</guid>
<description><![CDATA[Two frogs A group of frogs were traveling through the woods, and two of them fell into a deep pit. W]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-149" title="Froggies" src="http://doodlebuddies.wordpress.com/files/2009/11/froggies.gif" alt="Froggies" width="211" height="350" /></p>
<h3><span style="text-decoration:underline;"><em>Two frogs</em></span></h3>
<h3>A group of frogs were traveling through the woods, and two of them fell into a deep pit. When the other frogs saw how deep the pit was, they told the two frogs that they were as good as dead. The two frogs ignored the comments and tried to jump up out of the pit with all their might. The other frogs kept telling them to stop, that they were as good as dead. Finally, one of the frogs took heed to what the other frogs were saying and gave up. He fell down and died.The other frog continued to jump as hard as he could. Once again, the crowd of frogs yelled at him to stop the pain and just die. He jumped even harder and finally made it out. When he got out, the other frogs said, &#8220;Did you not hear us?&#8221; The frog explained to them that he was deaf. He thought they were encouraging him the entire time.This story teaches two lessons:1. There is power of life and death in the tongue. An encouraging word to someone who is down can lift them up and help them make it through the day.</p>
<p>2. A destructive word to someone who is down can be what it takes to kill them.</p>
<p><em>Be careful of what you say. Speak life to those who cross your path. </em></p>
<p><em>The power of words&#8230; it is sometimes hard to understand that an encouraging word can go such a long way.</em></p>
<p><em> Anyone can speak words that tend to rob another of the spirit to continue in difficult times. </em></p>
<p><em>Special is the individual who will take the time to encourage another.</em></p>
<p>Author Unknown</h3>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sebuah catatan tentang Terkadang]]></title>
<link>http://inaimut.wordpress.com/2009/10/29/sebuah-catatan-terkadang-d/</link>
<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 07:49:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>inaaja</dc:creator>
<guid>http://inaimut.wordpress.com/2009/10/29/sebuah-catatan-terkadang-d/</guid>
<description><![CDATA[Terkadang, apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Terkadang, apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan itu. Tetapi, tetaplah berbuat baik selalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Terkadang, apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman-teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Terkadang, apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat.  Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Terkadang, apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.</p>
<p style="text-align:justify;">Terkadang , apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.</p>
<p style="text-align:justify;">Terkadang , kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Terkadang , engkau memberi yang terbaik dari apa yang engkau miliki tetapi bagi orang lain tidak pernah cukup. Tetap berikanlah yang terbaik.</p>
<p style="text-align:justify;">Terkadang, engkau menjaga cinta, tetapi ia yang engkau cinta tidak menjaganya. Teruslah menjaga cinta walau mungkin kadang terluka, karena pada saatnya kelak cinta kan berbahagia.</p>
<p style="text-align:justify;">Sadarilah bahwa berbuat baik itu ada di antara engkau dan Sang Khalik. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang engkau lakukan. Tetapi percayalah bahwa mataNya tertuju pada orang-orang jujur. Mata itu sanggup melihat ketulusan dari dasar hatimu yang terdalam.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-1219" title="images" src="http://inaimut.wordpress.com/files/2009/10/images.jpg" alt="images" width="150" height="148" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[5 Kemampuan]]></title>
<link>http://fege.wordpress.com/2009/10/19/5-kemampuan/</link>
<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 02:10:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>fege</dc:creator>
<guid>http://fege.wordpress.com/2009/10/19/5-kemampuan/</guid>
<description><![CDATA[Banyak orang bilang butuh kemampuan ini dan itu untuk bertahan hidup. Banyak orang bilang butuh komp]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Banyak orang bilang butuh kemampuan ini dan itu untuk bertahan hidup. Banyak orang bilang butuh komp]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Almost doesn't count]]></title>
<link>http://iceroseprincess.wordpress.com/2009/10/12/almost-doesnt-count/</link>
<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 02:16:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>lisarosalina</dc:creator>
<guid>http://iceroseprincess.wordpress.com/2009/10/12/almost-doesnt-count/</guid>
<description><![CDATA[*Warning! Post jiwang merepek! Keep out if you&#8217;ll question my state of mind* Today the air con]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-weight:bold;color:rgb(255,102,102);">*Warning! Post jiwang merepek! Keep out if you&#8217;ll question my state of mind*</span></p>
<p>Today the air cond in the lab is not working and it&#8217;s making my eyes heavy and threatening to close at any time. I really feel like a life-sized dumpling steamed in a giant steamer. If I am ever a dumpling, I want to be the pau-shaped plump yellow dumpling with little prawns in it. Ah, it&#8217;s making me hungry already (Oh, let me be strong in going through this diet thing..huhuhu).</p>
<p>Last night me and my family stayed out late as relatives came by to our house to look at my sister&#8217;s engagement preparations. Whole of yesterday and the day before we were all busy turning the house upside down to do spring cleaning. Award for the most dedicated person in cleaning goes to&#8230;.drumroll&#8230;.Lili! Yes, she is truly an Energizer bunny of cleaning, and it&#8217;s hard to keep up with her <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>After all the excitement calmed down in the wee hours of the morning, me and my aunt (but she is of the same age) lepak together and shared our stories. Naturally, given the setting, both of us reflected on our, erm, *cough* situation :p. I shared my weird story and she shared hers. Haha, btw, if u r reading this, thanks for last night, I needed to get that out of my chest <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Then she posed a question: how do married couples know that they&#8217;ve found the ONE? She said that everyone she asked gave the same answer: if you found it, you just know.<br />Bah! I contest that, lansung x saintifik. That is indeed an abstract answer to a specific question. However, I know it&#8217;s impossible to put in scientific terms something as irrational and magical as love.</p>
<p>But I wonder, is it possible to just know? How long is the probation period to get to know someone? And how, God help me, do we know that he is the ONE?<br />For the last question, it is common knowledge that not everybody&#8217;s tale get a happy ending. So instead of the one, maybe there&#8217;ll be a second or maybe even a third. So is there a possibility that the ONE does not exist, but only a false illusion that is akin to searching for the end of the rainbow?<br />Why not, instead of searching for the end of the rainbow you just enjoy the presence of the rainbow itself?<br />I believe that God is never cruel, He is The Just. So if things don&#8217;t work out, maybe it&#8217;s something you have to go through to prepare you for the more challenging days ahead. We will never know if that other person is meant for us only. What we can think about is whether that person is worth the fight? Is he worth the pain and cost to your soul? I don&#8217;t know and it is puzzling to myself that I still hang around to see what happens. Well, they said that faith and hope are the most frail but hardest to kill of all emotions.<br />I don&#8217;t know but  think that we cannot keep on fighting or guessing what is the other person&#8217;s attention. It is truly liberating to let go and trust that life in itself would flow as it is supposed to. It is exhausting to be on your guard always, always looking out your shoulder to exit at the first sign of rejection. When there is a desire to reach out, you fear that no one would be there. So you don&#8217;t. Hey, two can play that game right? Even if in the game of love, someone threw away the instructions <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> <br />It&#8217;s a good thing that the heart is guarded, no one has touched it yet. You have to be sure first to bet a part of that on the line. Well, as they say, almost doesn&#8217;t count.<br /><span style="font-family:Verdana;font-size:180%;"><span style="font-size:85%;"></span></span><br />
<blockquote><span style="font-family:Verdana;font-size:180%;"><span style="font-size:50%;">Almost heard you saying<br />You were finally free<br />What was always missing for you, baby<br />You&#8217;d found it in me<br />But you can&#8217;t get to heaven<br />Half off the ground<br />Everybody knows<br />Almost doesn&#8217;t count</p>
<p></span></span><span style="font-family:Verdana;font-size:180%;"><span style="font-size:50%;">I can&#8217;t keep on lovin&#8217; you<br />One foot outside the door<br />I hear a funny hesitation<br />Of a heart that&#8217;s never really sure<br />Can&#8217;t keep on tryin&#8217;<br />If you&#8217;re looking for more<br />Than all that I could give you<br />Than what you came here for</p>
<p>~Adapted from <span style="font-style:italic;">Almost doesn&#8217;t count</span> by Brandy</span></span></p></blockquote>
<p>So what now? I think I know my limits and I wonder how I got here. It breaks my heart to know that I am that gullible and naive. I have more urgent things in my list that I have to care of: my family and my PhD.<br />But maybe I&#8217;ll continue on this game, just to see what&#8217;ll happen next. Plus, it is a situation that no one I asked ever come across. So it&#8217;s a valuable lesson to pick up along the stony path of life. Maybe it is something that I have to go through and pray for the best. I&#8217;ve read somewhere that doa adalah penolak takdir.<br />So how to change your destiny when you don&#8217;t really know what&#8217;s best for you?<br />My friend, just pray to ask for what&#8217;s in your heart. I tell you, there&#8217;s someone listening and would give it to you in ways you wouldn&#8217;t understand or even want to. If you are near, then rest assured He&#8217;ll be nearer <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tengoklah dunia dari buku]]></title>
<link>http://oktamalandi.wordpress.com/2009/10/07/tengoklah-dunia-dari-buku/</link>
<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 12:56:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>oktamalandi</dc:creator>
<guid>http://oktamalandi.wordpress.com/2009/10/07/tengoklah-dunia-dari-buku/</guid>
<description><![CDATA[Beberapa hari ini aku mendapat privilege untuk menghabiskan beberapa buku yang menumpuk tak sempat t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Beberapa hari ini aku mendapat privilege untuk menghabiskan beberapa buku yang menumpuk tak sempat terjamah. Bagiku membaca itu seperti guilty pleasure karena saat membaca itu seringkali aku sampai lupa waktu dan melakukan hal-hal yang seharusnya menjadi tanggung jawabku. Tetapi dengan komitmen yang aku ambil sekarang maka justru membaca menjadi aktifitas utamaku.</p>
<p>Mulai dari 10 hari yang lalu saat aku berbelanja buku di Palasari, Outliers, First break all the rules, Arok dedes, Jalan raya pos, dan buku pinjaman Back &#8216;euro&#8217; packers membuat hari-hariku penuh dengan kegiatan satu ini. Bukan hanya menghabiskan buku-buku itu saja, tetapi kuliahku di sejarah pemikiran manajemen dan sains sosial membuat aktifitas membaca menjadi semakin dominan dalam agendaku 10 hari terakhir.</p>
<p>Bukan isi dari buku-buku itu yang ingin aku ceritakan disini, tetapi tentang aktifitas membaca itu sendiri. Sepanjang yang aku ingat, sejak kelas dua SD aku sudah sangat gemar membaca. Bahkan sejak kelas 2 itu aku sudah mulai membacai buku-buku diperpus sekolah, mulai dari Ramayana sampai Petualangan Winettoou yang sangat menginspirasi. Maka dapat dipastikan setiap istirahat dan sepulang sekolah aku ada di perpus itu dan kadang disambung dengan ke perpustakaan masjid raya di desaku untuk meneruskan membaca sampai sore. Tak jarang aku harus dijemput pulang oleh nenek karena khawatir cucunya belum terlihat dirumah sejak sore.</p>
<p>Hadiah terindah yang sampai sekarang aku ingat dari kedua orang tuaku adalah kumpulan ensklopedia widyapustaka pertama bagi anak2 dan khasanah pengetahuan pertama. semua ensklopedia itu membawaku menyeberangi semua ranah pengetahuan yang dan membuatku selalu terkagum-kagum tentang semua gambar dan fenomena alam yang tertulis di situ.  Dan sejak itu buku selalu menjadi rekreasiku yang paling utama.</p>
<p>Seiring dengan semakin</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Quit Quitting]]></title>
<link>http://islahulz.wordpress.com/2009/08/28/quit-quitting/</link>
<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 11:09:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>islahulzunjani</dc:creator>
<guid>http://islahulz.wordpress.com/2009/08/28/quit-quitting/</guid>
<description><![CDATA[In my schooling I learnt probably one of the biggest lessons in life &#8211; Never Quit.Here is an e]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>In my schooling I learnt probably one of the biggest lessons in life &#8211; Never Quit.Here is an extract from the speech i gave in my school assembly written by myself using some quotations.</p>
<p>All of us sometimes in life feel that we are the biggest failures, worthless, hopeless and go into depression, into a well which only gets deeper and deeper.</p>
<div id="attachment_36" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-36" title="Face challenges but dont quit" src="http://islahulz.wordpress.com/files/2009/08/gladiator.jpg?w=300" alt="Face challenges but dont quit" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Face challenges but dont quit</p></div>
<p>Let me tell you, failure is mere perception. For example, a boy comes third in his class is a success for another boy who stands third but for him it is a catastrophe. Now he has two options &#8211; easier one being to stop working hard and convincing himself that he can never reach the top, or the harder way, to toil and beat everyone in the race. Often we choose the easier option and make things worse. always keep in mind &#8211; The first time you quit its hard, the second time its easier and the third time you don&#8217;t even notice it.</p>
<p>What causes a person to quit? Negative thinking. It cripples a person&#8217;s life to one degree or another. It robs people of the opportunity to live uptop their full potential. To prevent it, just monitor your each and every thought and stop as soon as you see negative thoughts creeping. Remember great people DON&#8217;T KNOW how to quit!</p>
<p>An important thing- STAY AWAY FROM CRABS. There is a special technique of catching crabs. Food is kept in a cage and crabs are allowed to enter to eat the food. But after dinishing, they are not able to come out of an open cage. Do you know why? Because if one crab tries to come out of the cage, other crabs pull him down. Eventually he loses hope and falls back.<br />
Underachiever, people who themselves couldn&#8217;t do anything may stop you or discourage you from pursuing your dreams. Stay away from them, more importantly don&#8217;t be one of them. A good way to prevent losing hope is to set shorter goals leading successively to a bigger goal(Wait for me to blog on purpose of life). For example, you have to walk 10 kilometers on a road. Seems tough isn&#8217;t it! What winners do is they always aim to reach the next lamp post. Every time the goal seems easy and eventually we reach the finish line.</p>
<p>A simple yet wonderful technique to get rid of low feelings and to regain enthusiasm and energy is to enact how you would behave after achieving your dream. Jump over the bed and shout out as if you were just married to Megan Fox(actually i mean your goal). Imagine that real joy. It might seem funny but I assure you it really works.Your sleep shouldn&#8217;t be broken by nightmares rather by falling off the bed celebrating your dream.</p>
<p>Whenever you are depressed, confused or hurt, stand in front of the mirror and you will find the best person to solve your problems.</p>
<div id="attachment_37" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-37" title="Light of hope never vanishes" src="http://islahulz.wordpress.com/files/2009/08/aurora-borealis.jpg?w=300" alt="Light of hope never vanishes" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Light of hope never vanishes</p></div>
<p>I would like to conclude with a wonderful poem which has inspired me in my tough times.</p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;font-size:small;">When                things go wrong as they sometimes will,<br />
When the road you are trudging seems all uphill,<br />
When the funds are low and the debts are high,<br />
And you want to smile, but you have to sigh,</p>
<p>When care is pressing you down a bit,<br />
Rest, if you must, but do not quit.<br />
Life is queer with its twists and turns,<br />
As everyone of us sometimes learns,<br />
And many a failure turns about,<br />
When he might have won had he stuck it out.</p>
<p>Don&#8217;t give up though the pace seems slow -<br />
You may succeed with another blow.<br />
Success is failure turned inside out,<br />
The silver tint in clouds of doubt.</p>
<p>And you never can tell how close you are,<br />
It may be near when it seems so far.<br />
So stick to the fight when you&#8217;re hardest hit -<br />
It&#8217;s when things seem worst that you must not quit.</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;font-size:small;">-anonymous</span></p>
<div id="attachment_38" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-38" title="Celebrating Success" src="http://islahulz.wordpress.com/files/2009/08/march08winner.jpg?w=300" alt="Celebrating Success" width="300" height="223" /><p class="wp-caption-text">Celebrating Success</p></div>
<p><span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;font-size:small;">Thanks to all people who have made me learn this lesson(including those who were party to causing troubles).<br />
</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apa yang Kau Cari?]]></title>
<link>http://fege.wordpress.com/2009/08/27/apa-yang-kau-cari/</link>
<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 02:34:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>fege</dc:creator>
<guid>http://fege.wordpress.com/2009/08/27/apa-yang-kau-cari/</guid>
<description><![CDATA[Oleh-oleh setelah pulang dari Gramedia adalah referensi buku laris saat ini. Buku yang nampang di se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh-oleh setelah pulang dari Gramedia adalah referensi buku laris saat ini. Buku yang nampang di se]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Merenungkan Sejarah Al-Quran]]></title>
<link>http://inaimut.wordpress.com/2009/08/24/merenungkan-sejarah-al-quran/</link>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 09:14:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>inaaja</dc:creator>
<guid>http://inaimut.wordpress.com/2009/08/24/merenungkan-sejarah-al-quran/</guid>
<description><![CDATA[Bulan Ramadhan biasanya dianggap merupakan bulan puji-pujian terhadap kitab suci Al Quran. Di bulan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Bulan Ramadhan biasanya dianggap merupakan bulan puji-pujian terhadap kitab suci Al Quran. Di bulan yang suci ini, saya ingin merenungkan sejarah Alquran yang panjang, yang berproses, yang berjuang dengan berbagai tantangan zaman, hingga menjadi wujud dalam bentuknya yang kita kenal sekarang.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengkajian sejarah Alquran bukan hanya dimaksudkan untuk mengungkap dimensi-dimensi tersembunyi yang selama ini tak terpikirkan oleh umat Islam, tapi juga merupakan modal intelektual untuk memahami kitab suci yang hingga hari ini terus menjadi sumber inspirasi hukum dan moral kaum Muslim.</p>
<p>* * *</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Alquran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa Alquran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam.</p>
<p style="text-align:justify;">Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan Alquran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik, dan rekayasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Alquran dalam bentuknya yang kita kenal sekarang sebetulnya adalah sebuah inovasi yang usianya tak lebih dari 79 tahun. Usia ini didasarkan pada upaya pertama kali kitab suci ini dicetak dengan percetakan modern dan menggunakan standar Edisi Mesir pada tahun 1924. Sebelum itu, Alquran ditulis dalam beragam bentuk tulisan tangan (rasm) dengan teknik penandaan bacaan (diacritical marks) dan otografi yang bervariasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadirnya mesin cetak dan teknik penandaan bukan saja membuat Alquran menjadi lebih mudah dibaca dan dipelajari, tapi juga telah membakukan beragam versi Alquran yang sebelumnya beredar menjadi satu standar bacaan resmi seperti yang kita kenal sekarang.</p>
<p style="text-align:justify;">Pencetakan Edisi Mesir itu bukanlah yang pertamakali dalam upaya standarisasi versi-versi Alquran. Sebelumnya, para khalifah dan penguasa Muslim juga turun-tangan melakukan hal yang sama, kerap didorong oleh keinginan untuk menyelesaikan konflik-konflik bacaan yang muncul akibat beragamanya versi Alquran yang beredar.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi pencetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiyar yang luar biasa, karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah kodifikasi dan pembakuan Alquran sepanjang masa. Terbukti kemudian, Alquran Edisi Mesir itu merupakan versi Alquran yang paling banyak beredar dan digunakan oleh kaum Muslim.</p>
<p style="text-align:justify;">Keberhasilan penyebarluasan Alquran Edisi Mesir tak terlepas dari unsur kekuasaan. Seperti juga pada masa-masa sebelumnya, kodifikasi dan standarisasi Alquran adalah karya institusi yang didukung oleh &#8211;dan menjadi bagian dari proyek&#8211; penguasa politik. Alasannya sederhana, sebagai proyek amal (non-profit) , publikasi dan penyebaran Alquran tak akan efektif jika tidak didukung oleh lembaga yang memiliki dana yang besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia mencetak ratusan ribu kopi Alquran sejak tahun 1970-an merupakan bagian dari proyek amal yang sekaligus juga merupakan upaya penyuksesan standarisasi kitab suci. Kendati tidak seperti Uthman bin Affan yang secara terang-terangan memerintahkan membakar seluruh versi (mushaf) Alquran yang bukan miliknya (kendati tidak benar-benar berhasil), tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Alquran hanya dengan satu edisi, menutupi dan perlahan-lahan menyisihkan edisi lain yang diam-diam masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan sekitarnya).</p>
<p>Agaknya, tak lama lagi, di dunia ini hanya ada satu versi Alquran, yakni versi yang kita kenal sekarang ini. Dan jika ini benar-benar terwujud (entah kapan), maka itulah pertama kali kaum Muslim (baru) boleh mendeklarasikan bahwa mereka memiliki satu Alquran yang utuh dan seragam.</p>
<p style="text-align:justify;">Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan versi bacaan Alquran (qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan kitab suci ini. Edisi itu sendiri merupakan satu versi dari tiga versi bacaan yang bertahan hingga zaman modern. Yakni masing-masing, versi Warsh dari Nafi yang banyak beredar di Madinah, versi Hafs dari Asim yang banyak beredar di Kufah, dan versi al-Duri dari Abu Amr yang banyak beredar di Basrah. Edisi Mesir adalah edisi yang menggunakan versi Hafs dari Asim.</p>
<p style="text-align:justify;">Versi bacaan (qiraat) adalah satu jenis pembacaan Alquran. Versi ini muncul pada awal-awal sejarah Islam (abad pertama hingga ketiga) akibat dari beragamnya cara membaca dan memahami mushaf yang beredar pada masa itu.. Mushaf adalah istilah lain dari Alquran, yakni himpunan atau kumpulan ayat-ayat Allah yang ditulis dan dibukukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum Uthman bin Affan (w. 35 H), khalifah ketiga, memerintahkan satu standarisasi Alquran yang kemudian dikenal dengan “Mushaf Uthmani,” pada masa itu telah beredar puluhan &#8211;kalau bukan ratusan&#8211; mushaf yang dinisbatkan kepada para sahabat Nabi. Beberapa sahabat Nabi memiliki mushafnya sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain, baik dalam hal bacaan, susunan ayat dan surah, maupun jumlah ayat dan surah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibn Mas’ud, seorang sahabat dekat Nabi, misalnya, memiliki mushaf Alquran yang tidak menyertakan surah al-Fatihah (surah pertama). Bahkan menurut Ibn Nadiem (w. 380 H), pengarang kitab al-Fihrist, mushaf Ibn Mas’ud tidak menyertakan surah 113 dan 114. Susunan surahnyapun berbeda dari Alquran yang ada sekarang. Misalnya, surah keenam bukanlah surah al-An’am, tapi surah Yunus.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibn Mas’ud bukanlah seorang diri yang tidak menyertakan al-Fatihah sebagai bagian dari Alqur’an. Sahabat lain yang menganggap surah “penting” itu bukan bagian dari Alquran adalah Ali bin Abi Thalib yang juga tidak memasukkan surah 13, 34, 66, dan 96. Hal ini memancing perdebatan di kalangan para ulama apakah al-Fatihah merupakan bagian dari Alquran atau ia hanya merupakan “kata pengantar” saja yang esensinya bukanlah bagian dari kitab suci.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah seorang ulama besar yang menganggap al-Fatihah bukan sebagai bagian dari Alquran adalah Abu Bakr al-Asamm (w. 313 H). Dia dan ulama lainnya yang mendukung pandangan ini berargumen bahwa al-Fatihah hanyalah “ungkapan liturgis” untuk memulai bacaan Alqur’an. Ini merupakan tradisi populer masyarakat Mediterania pada masa awal-awal Islam. Sebuah hadis Nabi mendukung fakta ini: “siapa saja yang tidak memulai sesuatu dengan bacaan alhamdulillah [dalam hadis lain bismillah] maka pekerjaannya menjadi sia-sia.”</p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan antara mushaf Uthman dengan mushaf-mushaf lainnya bisa dilihat dari komplain Aisyah, isteri Nabi, yang dikutip oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Itqan, dalam kata-kata berikut: “pada masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200 ayat. Setelah Uthman melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti sekarang [yakni 73 ayat].” Pandangan Aisyah juga didukung oleh Ubay bin Ka’b, sahabat Nabi yang lain, yang di dalam mushafnya ada dua surah yang tak dijumpai dalam mushaf Uthman, yakni surah al-Khal’ dan al-Hafd.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah Uthman melakukan kodifikasi dan standarisasi, ia memerintahkan agar seluruh mushaf kecuali mushafnya (Mushaf Uthmani) dibakar dan dimusnahkan. Sebagian besar mushaf yang ada memang berhasil dimusnahkan, tapi sebagian lainnya selamat. Salah satunya, seperti kerap dirujuk buku-buku ‘ulum al-Qur’an, adalah mushaf Hafsah, salah seorang isteri Nabi, yang baru dimusnahkan pada masa pemerintahan Marwan ibn Hakam (w. 65 H) beberapa puluh tahun kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebetulnya, kendati mushaf-mushaf para sahabat itu secara fisik dibakar dan dimusnahkan, keberadaannya tidak bisa dimusnahkan dari memori mereka atau para pengikut mereka, karena Alquran pada saat itu lebih banyak dihafal ketimbang dibaca. Inilah yang menjelaskan maraknya versi bacaan yang beredar pasca-kodifikasi Uthman. Buku-buku tentang varian-varian bacaan (kitab al-masahif) yang muncul pada awal-awal abad kedua dan ketiga hijriah, adalah bukti tak terbantahkan dari masih beredarnya mushaf-mushaf klasik itu. Dari karya mereka inilah, mushaf-mushaf sahabat yang sudah dimusnahkan hidup kembali dalam bentuk fisik (teks tertulis).</p>
<p style="text-align:justify;">Sejarah penulisan Alqur’an mencatat nama-nama Ibn Amir (w. 118 H), al-Kisai (w. 189 H), al-Baghdadi (w. 207 H); Ibn Hisyam (w. 229 H), Abi Hatim (w. 248 H), al-Asfahani (w. 253 H) dan Ibn Abi Daud (w. 316 H) sebagai pengarang-pengarang yang menghidupkan mushaf-mushaf klasik dalam karya masahif mereka (umumnya diberijudul kitab al-masahif atau ikhtilaf al-masahif). Ibn Abi Daud berhasil mengumpulkan 10 mushaf sahabat Nabi dan 11 mushaf para pengikut (tabi’in) sahabat Nabi.</p>
<p style="text-align:justify;">Munculnya kembali mushaf-mushaf itu juga didorong oleh kenyataan bahwa mushaf Uthman yang disebarluaskan ke berbagai kota Islam tidak sepenuhnya lengkap dengan tanda baca, sehingga bagi orang yang tidak pernah mendengar bunyi sebuah kata dalam Alquran, dia harus merujuk kepada otoritas yang bisa melafalkannya. Dan tidak sedikit dari pemegang otoritas itu adalah para pewaris varian bacaan non-Uthmani.</p>
<p style="text-align:justify;">Otoritas bacaan bukanlah satu-satunya sumber yang menyebabkan banyaknya varian bacaan. Jika otoritas tidak dijumpai, kaum Muslim pada saat itu umumnya melakukan pilihan sendiri berdasarkan kaedah bahasa dan kecenderungan pemahamannya terhadap makna sebuah teks. Dari sinilah kemudian muncul beragam bacaan yang berbeda akibat absennya titik dan harakat (scripta defectiva). Misalnya bentuk present (mudhari’) dari kata a-l-m bisa dibaca yu’allimu, tu’allimu, atau nu’allimu atau juga menjadi na’lamu, ta’lamu atau bi’ilmi.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang lebih musykil adalah perbedaan kosakata akibat pemahaman makna, dan bukan hanya persoalan absennya titik dan harakat. Misalnya, mushaf Ibn Mas’ud berulangkali menggunakan kata “arsyidna” ketimbang “ihdina” (keduanya berarti “tunjuki kami”) yang biasa didapati dalam mushaf Uthmani. Begitu juga, “man” sebagai ganti “alladhi” (keduanya berarti “siapa”). Daftar ini bisa diperpanjang dengan kata dan arti yang berbeda, seperti “al-talaq” menjadi “al-sarah” (Ibn Abbas), “fas’au” menjadi “famdhu” (Ibn Mas’ud), “linuhyiya”menjadi “linunsyira”(Talhah), dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengatasi varian-varian bacaan yang semakin liar, pada tahun 322 H, Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban. Setelah membanding-bandingk an semua mushaf yang ada di tangannya, Ibn Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama, yakni Nafi (Madinah), Ibn Kathir (Mekah), Ibn Amir (Syam), Abu Amr (Bashrah), Asim, Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari Kufah). Tindakannya ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa “Alquran diturunkan dalam tujuh huruf.”</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, sebagian ulama menolak pilihan Ibn Mujahid dan menganggapnya telah semena-mena mengesampingkan varian-varian lain yang dianggap lebih sahih. Nuansa politik dan persaingan antara ulama pada saat itu memang sangat kental. Ini tercermin seperti dalam kasus Ibn Miqsam dan Ibn Shanabudh yang pandangan-pandangan nya dikesampingkan Ibn Mujahid karena adanya rivalitas di antara mereka, khususnya antara Ibn Mujahid dan Ibn Shanabudh.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimanapun, reaksi ulama tidak banyak punya pengaruh. Sejarah membuktikan pandangan Ibn Mujahid yang didukung penguasa itulah yang kini diterima orang banyak (atau dengan sedikit modifikasi menjadi 10 atau 14 varian). Alquran yang ada di tangan kita sekarang adalah salah satu varian dari apa yang dipilihkan oleh Mujahid lewat tangan kekuasaan. Yakni varian bacaan Asim lewat Hafs. Sementara itu, varian-varian lain, tak tentu nasibnya. Jika beruntung, ia dapat dijumpai dalam buku-buku studi Alquran yang sirkulasi dan pengaruhnya sangat terbatas.</p>
<p>***</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang bisa dipetik dari perkembangan sejarah Alquran yang saya paparkan secara singkat di atas? Para ulama, khususnya yang konservatif, merasa khawatir jika fakta sejarah semacam itu dibiarkan diketahui secara bebas. Mereka bahkan berusaha menutup-nutupi dan mengaburkan sejarah, atau dengan memberikan apologi-apologi yang sebetulnya tidak menyelesaikan masalah, tapi justru membuat permasalahan baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Misalnya, dengan menafsirkan hadis Nabi “Alquran diturunkan dalam tujuh huruf” dengan cara menafsirkan “huruf” sebagai bahasa, dialek, bacaan, prononsiasi, dan seterusnya yang ujung-ujungnya tidak menjelaskan apa-apa. Saya sependapat dengan beberapa sarjana Muslim modern yang mengatakan bahwa kemungkinan besar hadis itu adalah rekayasa para ulama belakangan untuk menjelaskan rumitnya varian-varian dalam Alquran yang beredar. Tapi, alih-alih menjelaskan, ia malah justru mengaburkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengaburkan karena jumlah huruf (bahasa, dialek, bacaan, prononsiasi), lebih dari tujuh. Kalau dikatakan bahwa angka tujuh hanyalah simbol saja untuk menunjukkan “banyak,” ini lebih parah lagi, karena menyangkut kredibilitas Tuhan dalam menyampaikan ayat-ayatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah kita mau mengatakan bahwa setiap varian bacaan, baik yang berbeda kosakata dan pengucapan (akibat dari jenis penulisan dan tatabahasa) merupakan kata-kata Tuhan secara verbatim (apa adanya)? Jika tidak terkesan rewel dan simplistis, pandangan ini jelas tak bertanggungjawab, karena ia mengabaikan fakta kaum Muslim pada awal-awal sejarah Islam yang sangat dinamis.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, bagaimana dengan keyakinan bahwa Alquran dari surah al-Fatihah hingga al-Nas adalah kalamullah (kata-kata Allah) yang diturunkan kepada Nabi baik kata dan maknanya (lafdhan wa ma’nan)? Seperti saya katakan di atas, keyakinan semacam ini hanyalah formula teologis yang diciptakan oleh para ulama belakangan. Ia merupakan bagian dari proses panjang pembentukan ortodoksi Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya adalah kalamullah yang bersumber dari tulisan2 suci dan kemudian mengalami berbagai proses “copy-editing” oleh para sahabat, tabi’in, ahli bacaan, qurra, otografi, mesin cetak, dan kekuasaan. Proses-proses ini pada dasarnya adalah manusiawi belaka dan merupakan bagian dari ikhtiyar.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya kira, varian-varian dan perbedaan bacaan yang sangat marak pada masa-masa awal Islam lebih tepat dimaknai sebagai upaya kaum Muslim untuk membebaskan makna dari kungkungan kata, ketimbang mengatribusikannya secara simplistis kepada Tuhan. Seperti dikatakan seorang filsuf kontemporer Perancis, teks &#8211;dan apalagi teks-teks suci&#8211; selalu bersifat “repressive, violent, and authoritarian.” Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah dengan membebaskannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Generasi awal-awal Islam telah melakukan itu, dengan menciptakan varian-varian bacaan yang sangat kreatif. Jika ada pelajaran yang bisa diambil dari sejarah pembentukan Alquran, saya kira, semangat pembebasan terhadap teks itulah yang patut ditiru.</p>
<p style="text-align:justify;">Luthfi Assyaukanie. Dosen Sejarah Pemikiran Islam di Universitas Paramadina, Jakarta, dan Editor Jaringan Islam Liberal.</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://islamlib.com/id/artikel/merenungkan-sejarah-alquran/" target="_blank"><span>http://islamlib.com/id/art</span><span> </span><span>ikel/merenungkan-sejarah-a</span>lquran/</a></p>
<div><a rel="nofollow" href="http://islamlib.com/id/artikel/merenungkan-sejarah-alquran/" target="_blank">http://islamlib. com/id/artikel/ merenungkan- sejarah-alquran/</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lesson of life]]></title>
<link>http://koppole.wordpress.com/2009/08/05/lesson-of-life/</link>
<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 17:07:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jordan Koppole</dc:creator>
<guid>http://koppole.wordpress.com/2009/08/05/lesson-of-life/</guid>
<description><![CDATA[I was at the corner grocery store buying some early potatoes. I noticed a small boy, delicate of bon]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">I was at the corner grocery store buying some early potatoes. I noticed a small boy, delicate of bone and feature, ragged but clean, hungrily apprising a basket of freshly picked green peas.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">I paid for my potatoes but was also drawn to the display of fresh green peas. I am a pushover for creamed peas and new potatoes.</div>
<div style="text-align:justify;">Pondering the peas, I couldn&#8217;t help overhearing the conversation between Mr. Miller (the store owner) and the ragged boy next to me.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;Hello Barry, how are you today?&#8217;</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;H&#8217;lo, Mr. Miller. Fine, thank ya. Jus&#8217; admirin&#8217; them peas. They sure look good.&#8217; </div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;They are good, Barry. How&#8217;s your Ma?&#8217;</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;Fine.. Gittin&#8217; stronger alla&#8217; time.&#8217;</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;Good. Anything I can help you with?&#8217;</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;No, Sir. Jus&#8217; admirin&#8217; th em peas.&#8217;</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;Would you like to take some home?&#8217;  asked Mr. Miller. </div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;No, Sir. Got nuthin&#8217; to pay for &#8216;em with.&#8217;</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;Well, what have you to trade me for some of those peas?&#8217;</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;All I got&#8217;s my prize marble here.&#8217;  </div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;Is that right? Let me see it&#8217; said Miller.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;Here &#8217;tis.. She&#8217;s a dandy.&#8217; </div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;I can see that. Hmm mmm, only thing is this one is blue and I sort of go for red. Do you have a red one like this at home?&#8217; the store owner asked.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;Not zackley but almost.&#8217;</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;Tell you what. Take this sack of peas home with you and next trip this way let me look at that red marble&#8217;. Mr. Miller told the boy.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;Sure will&#8230; Thanks Mr. Miller.&#8217;</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">Mrs. Miller, who had been standing nearby, came over to help me.</div>
<div style="text-align:justify;">With a smile she said, &#8216;There are two other boys like him in our community, all three are in very poor circumstances. Jim just loves to bargain with them for peas, apples, tomatoes, or whatever.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">When they come back with their red marbles, and they always do, he decides he doesn&#8217;t like red after all and he sends them home with a bag of produce for a green marble or an orange one, when they come on their next trip to the store.&#8217;</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">I left the store smiling to myself, impressed with this man. A short time later I moved to Colorado , but I never forgot the story of this man, the boys, and their bartering for marbles.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">Several years went by, each more rapid than the previous one. Just recently I had occasion to visit some old friends in that Idaho community and while I was there learned that Mr. Miller had died. They were having his visitation that evening and knowing my friends wanted to go, I agreed to accompany them. Upon arrival at the mortuary we fell into line to meet the relatives of the deceased and to offer whatever words of comfort we could.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">Ahead of us in line were three young men. One was in an army uniform and the other two wore nice haircuts, dark suits and white shirts&#8230;all very professional looking. They approached Mrs. Miller, standing composed and smiling by her husband&#8217;s casket.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">Each of the young men hugged her, kissed her on the cheek, spoke briefly with her and   moved on to the casket. Her misty light blue eyes followed them as, one by one, each young man stopped briefly and placed his own warm hand over the cold pale hand in the casket. Each left the mortuary awkwardly, wiping his eyes.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">Our turn came to meet Mrs. Miller. I told her who I was and reminded her of the story from those many years ago and what she had told me about her husband&#8217;s bartering for marbles. With her eyes glistening, she took my hand and led me to the casket.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;Those three young men who just left were the boys I told you about.</div>
<div style="text-align:justify;">They just told me how they appreciated the things Jim &#8216;traded&#8217; them. Now, at last, when Jim could not change his mind about color or size&#8230;.they came to pay their debt.&#8217;</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">&#8216;We&#8217;ve never had a great deal of the wealth of this world,&#8217; she confided, &#8216;but right now, Jim would consider himself the richest man in Idaho ..&#8217;</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">With loving gentleness she lifted the lifeless fingers of her deceased husband. Resting underneath were three exquisitely shined red marbles.</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">The Moral :</div>
<div style="text-align:justify;">We will not be remembered by our words, but by our kind deeds. Life is not measured by the breaths we take, but by the moments that take our breath</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengebom Bunuh Diri Tergiur 40 Bidadari]]></title>
<link>http://inaimut.wordpress.com/2009/07/26/pengebom-bunuh-diri-tergiur-40-bidadari/</link>
<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 14:30:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>inaaja</dc:creator>
<guid>http://inaimut.wordpress.com/2009/07/26/pengebom-bunuh-diri-tergiur-40-bidadari/</guid>
<description><![CDATA[Mendengar berita bom kembali menggoncang Indonesia, hati ku sedih dan terluka. Membaca artikel ini, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Mendengar berita bom kembali menggoncang Indonesia, hati ku sedih dan terluka. Membaca artikel ini, hatiku tambah miris. Menyedihkan banget, putera2 bangsa ini menjadi tak berpikir jernih&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengebom Bunuh Diri Tergiur 40 <span style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;border-bottom-style:dashed;border-bottom-width:1px;border-bottom-color:#0066cc;cursor:pointer;">Bidadari</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Jum&#8217;at, 24 Juli 2009 &#124; 11:08 WIB<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /></p>
<p style="text-align:justify;"><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />*TEMPO Interaktif*, *Jakarta- *Masuk surga dengan cepat, plus ditambah sambutan 40 bidadari. Inilah iming-iming yang biasanya ditawarkan ke para calon pengebom <span style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;border-bottom-style:dashed;border-bottom-width:1px;border-bottom-color:#0066cc;cursor:pointer;">bunuh diri</span> hasil rekrutan Noordin M Top. Iming-iming itu pulayang diberikan ke ZA, <span style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;border-bottom-style:dashed;border-bottom-width:1px;border-bottom-color:#0066cc;cursor:pointer;">salah satu</span> calon pengebom bunuh diri yang saat ini sedang diinterogasi polisi.</p>
<p style="text-align:justify;">ZA ditangkap di Cilacap Kamis kemarin. Kepada polisi, dia mengaku memang<span style="line-height:15px;"> </span>menjadi binaan Noordin, dalang pengeboman yang masih buron. Belum jelas berapa lama ZA mengenal Noordin. Namun menurut ZA, dalam merekrut calon pengebom, Noordin selalu memberi iming-iming bahwa dengan menjadi pengebom bunuh diri, dia dijamin masuk surga. ”Dan saat masuk surga, akan dijemput oleh 40 bidadari,” kata Kepala Polda Jawa Tengah Inspektur Jenderal <span style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;">Polisi</span> Alex Bambang Riatmodjo.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang perempuan akan menjadi istri dari si suami yang mendapatkan bidadari tersebut. ia akan menjadi ratu dari para bidadari yang ada. begitulah menurut <a rel="nofollow" href="http://www.kafemuslimah.com/article_detail.php?id=640" target="_blank">http://www.kafemusl imah.com/ article_detail. php?id=640</a></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi kalau ada istri menyakiti suaminya didunia maka akan ditegur oleh sang bidadari tersebut dan si bidadari akan berkata bahwa si perempuan (istri) tersebut hanyalah tamu saja dan kemudian sang suami akan ke surga dan menjadi milik para bidadari yang ada.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span>Janganlah seorang perempuan menyakiti suaminya di dunia, kalau tidak, maka bidadari-bidadari istrinya di syurga akan berkata kepadanya: Janganlah kamu menyakitinya, sesungguhnya ia adalah tamu bagimu yang sebentar lagi akan meniggalkanmu untuk berkumpul bersama kami. (HR. Ahmad dan Tirmidzi dari Mudz bin Jabal ra. Hadits shahih).</span></em></p>
<p>Dan hak para suami pula jika si suami terdapat luka pada kulitnya maka si istri menjilati luka yang ada tersebut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span>Hak suami terhadap istrinya adalah sekalipun seandainya terdapat luka pada kulitnya kemudian istri menjilatinya selama itu dapat memenuhi hak-hak suaminya maka lakukan. (HR. Hakim dari Abu Said Al-Khudri ra., hadits Shahih).</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Dan ada yang kurang dari jumlah bidadari yang ada. sebetulnya jumlah bidadari yang akan diberikan kepada mereka yang mati syuhada menurut hadits Abu Sa’id al-Khudri adalah berjumlah <a rel="nofollow" href="http://www.apakabar.ws/forums/viewtopic.php?f=1&#38;t=37028&#38;start=0" target="_blank">72 bidadari.</a> Dan para bidadari tersebut SELALU perawan, selalu wangi dan tidak pernah kentut. Kelihatannya inilah yang diyakini mereka yang berani mati bunuh diri.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada pula iming-iming lain agar calon pengebom yang umumnya warga desa dan<span style="line-height:15px;"> </span>berpendidikan rendah itu tertarik mengorbankan dirinya. Iming-iming utama memang tetap masuk surga. Tapi bila iming-iming ini tidak terlalu<span style="line-height:15px;"> m</span>enggiurkan, perekrut menambah bonus lain. Bonus itu, misalnya bahwa tidak hanya si pengebom yang masuk surga, tapi juga orang tuanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bonus seperti inilah yang antara lain diberikan <span style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;">Imam Samudra</span> saat dia<span style="line-height:15px;"> </span>harus<span style="line-height:15px;"> mer</span>ekrut pengebom bunuh diri untuk operasi pengeboman di Bali pada bulan Oktober 2002. Jauh sebelum pengeboman berlangsung, Imam Samudra – sudah dieksekusi di Nusakambangan pada Nopember 2008 – sebetulnya sudah<span style="line-height:15px;"> me</span>ndapatkan lima pengikut setia dari <span style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;">Banten</span>, daerah asalnya.<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /></p>
<p style="text-align:justify;">Begitu setianya mereka pada Imam, kelima orang ini menjalankan dengan<span style="line-height:15px;"> </span>patuh<span style="line-height:15px;"> p</span>erintah Imam untuk merampok toko emas Elita Indah di Serang, Banten. Perampokan berhasil. Mereka mendapatkan uang Rp 30 juta dan beberapa kilo emas batangan untuk membiayai operasi pengeboman Bali.</p>
<p style="text-align:justify;">Rupanya perintah merampok itu juga digunakan Imam untuk mengetes kesetiaan<span style="line-height:15px;"> </span>pengikutnya. Setelah mereka dianggap lulus, Imam masuk ke tahap<span style="line-height:15px;"> </span>berikutnya, yaitu meminta kelima pengikut itu menjadi pengebom bunuh diri di Bali.<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Pada tanggal 1 Oktober 2002, atau tiga minggu sebelum bom meledak di Kuta,<span style="line-height:15px;"> B</span>ali, Imam yang sedang berada di Solo untuk berkoordinasi dengan tim<span style="line-height:15px;"> </span>pengebom lain, memanggil kelima orang itu. Kelimanya datang ke Solo.<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Kepada mereka, Imam meminta kesediaannya untuk menjadi pengebom bunuh<span style="line-height:15px;"> </span>diri.<span style="line-height:15px;"> Ta</span>pi perintah ini rupanya dianggap terlalu berat. Kelima orang ini<span style="line-height:15px;"> </span>kemudian dengan berbagai dalih menolak. Imam pun mengeluarkan jurus pamungkas tadi. ”Kalian tidak hanya masuk surga, tapi orang tua kalian pun dijamin mendapat surga,” kata Imam. Akhirnya, hanya satu orang yang tergiur, yaitu Arnasan. Empat lainnya tetap menolak.</p>
<p style="text-align:justify;">Kelak, saat pengeboman Bali benar-benar dilaksanakan, Arnasanlah yang<span style="line-height:15px;"> </span>kemudian menarik detonator bom mobil di depan Paddy’s Club. Tubuhnya<span style="line-height:15px;"> han</span>cur berkeping-keping. Tapi tentu saja kita tak pernah tahu, apakah benar kemudian Arnasan masuk surga seperti dijanjikan Imam.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Parental Control Unit Failure.]]></title>
<link>http://lemanstherogue.wordpress.com/2009/07/18/60/</link>
<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 01:13:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>lemanstherogue</dc:creator>
<guid>http://lemanstherogue.wordpress.com/2009/07/18/60/</guid>
<description><![CDATA[Count on no one but yourself. When you want something accomplished, you really have to depend on onl]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><pre style="text-align:left;">
<pre>Count on no one but yourself. When you
want something accomplished, you really
have to depend on only you. Family means
nothing. Your needs or dreams don't mean
anything to them, and of course why
should they? Why should they care? Hmm?</pre>
<p>The Joy. The Sorrow.</p>
<p>Loyalty to the End.</pre>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Impian + Komitmen + Tindakan = Lentera Jiwa]]></title>
<link>http://oktamalandi.wordpress.com/2009/07/14/impian-komitmen-tindakan-lentera-jiwa/</link>
<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 11:41:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>oktamalandi</dc:creator>
<guid>http://oktamalandi.wordpress.com/2009/07/14/impian-komitmen-tindakan-lentera-jiwa/</guid>
<description><![CDATA[A dream is a seed of possibility planted in the soul of human being, which calls him to pursue an un]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><ol style="margin-left:.2472in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;margin-top:0;margin-bottom:0;font-family:Arial;font-size:11pt;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;"><em><strong><span style="font-family:Calibri;font-size:11pt;">A dream is a seed of possibility  planted in the soul of human being, which calls him to pursue an unique path  to realization of his purpose.</span></strong></em></p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Quote diatas  langsung menangkap perhatianku saat membaca<span> </span>resensi buku terbaru John C. Maxwell di SWA. Kata-kata yang sangat pas  dengan apa yg ingin aku tuliskan tentang kejadianakhir-akhir ini diantara aku  dan teman-temanku. Dalam waktu singkat dua sahabat terbaikku pergi ke tempat  yang jauh untuk meraih cita-citanya. Satu orang kembali pulang ke kampung  halamannya untuk berkarya disana, dan satu lagi pergi lebih jauh lagi untuk  mencari penghidupan yang lebih baik di negeri orang. Dua orang luar biasa yang  penuh dengan inspirasi, ketulusan, cinta dan semangat. Dua orang matahari yang  pernah mewarnai hari-hariku.</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Kejadian ini  menyadarkanku betapa beruntungnya mereka yang memiliki impian. Dan dua orang  sahabat ku adalah orang-orang yang sedang menjalani takdir dalam mewujudkan  impiannya. Kejadian ini juga menyadarkanku tentang perjalananku sendiri.  Perjalanan yang entah ujungnya akan ada dimana, tetapi sampai sejauh ini  sangat menyenangkan dan aku nikmati tiap detiknya. Dan sejauh ini, pelajaran  dari perjalanan yang telah aku lalui, ada dua hal yang membedakan apakah suatu  impian itu akan mewujud atau tidak, yaitu adanya proses memilih impian itu dan  mewujudkannya dengan segala konsekuensinya.<span> </span></p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Tidak ada hal yang  berharga yang diraih dengan mudah, begitu juga dengan impian. Pasti ada harga  yang harus dibayar untuk mewujudkannya. Dan hal yang akan meringankan dan  bahkan mendukung perjalanan meraih impian itu lebih ringan adalah adanya  teman-teman yang mendukung dan sikap yang benar dalam menghadapi segala yang  menghadang. Ada seorang teman yang bahkan menganggap bahwa dirinya setiap hari  selalu berkubang dalam &#8216;lumpur&#8217;, tetapi karena dia selalu ingat apa mimpi dia  dan perasaan bahwa akan selalu ada teman-temannya yang siap<span> </span>menerima nya saat dia sudah terlalu letih,  maka dia tetap bertahan di tempat kerjanya sekarang. Perjalanan meraih impian  hampir tidak ada yang mudah kawan, karena itu betapa beruntungnya jika kita  memiliki teman-teman yang selalu mendukung dan menerima . Disaat itu, maka  teman selayaknya harta<span> </span>paling berharga  yang dianugerahkan Tuhan pada kita.</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Aku juga semakin  percaya bahwa setiap orang itu punya impian, hanya saja banyak yang tidak  mempercayai hal itu bisa terwujud. Cara termudah untuk tahu apa mimpi kita  sebenarnya adalah mendengarkan dengan sungguh-sungguh suara hati kita dan  membuang segala keraguan.<span> </span>Sahabatku  yang memutuskan pulang kekampung halamannya dan<span> </span>membangun tanah yang membesarkannya itu  contoh dari hal itu. Saat hatinya berkata bahwa pilihan terbaik bagi hidupnya  adalah pulang dan membangun kampung halamannya, maka tanpa satu keraguanpun  dia memutuskan untuk mengambilnya dengan segala resikonya. Padahal banyak  sekali tawaran yang secara logika jauh lebih baik daripada keputusan pulang  itu. Dengan gelar MT-nya, kepintarannya, dan jaringannya selama dia di Bandung  sungguh suatu yang membuat iri jika pada akhirnya dia membuang semua  kesempatan dan memutuskan mengikuti apa yang dikatakan hatinya. Rasa iri  terhadap kualitas seorang manursia yang sangat percaya dan berani untuk  mewujudkan impiannya. Kualitas para orang-orang besar dan pengubah wajah dunia  dan peradaban.</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Pada akhirnya  semuanya kembali pada diri masing-masing bagaimana cara kita memaknai setiap  perjalanan, pertemuan, kejadian yang ada dalam hidup kita, karena akhirnya  hanya kita yang bisa memutuskan apakah impian kita akan hidup dan  menginspirasi orang lain untuk meraih impiannya atau sekedar terkubur mati  diantara tumpukan harapan-harapan kosong. Aku sudah memilih menghidupkan  impianku dan bersama kalian kawan, aku yakin jalan ini tidak akan berat untuk  dilalui.</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;font-size:11pt;"><br />
</span></p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;font-size:11pt;">- Inspirasi dari      Seto, Ilham, Kaka dan teman2ku semua, TERIMA KASIH, kalian adalah hadiah      terindah yang Tuhan berikan untukku. Ayo kita saling dukung kawan, karena kuyakin jalan kita akan lebih ringan jika ada banyak tangan yang mendukung -<br />
</span></p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
</ol>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gimana?]]></title>
<link>http://fege.wordpress.com/2009/07/01/gimana/</link>
<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 07:31:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>fege</dc:creator>
<guid>http://fege.wordpress.com/2009/07/01/gimana/</guid>
<description><![CDATA[Gimana ge? Gimana kalau seonggok potongan pertanyaan itu ditanyakan ke anda? Apa jawabmu saudara-sau]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Gimana ge? Gimana kalau seonggok potongan pertanyaan itu ditanyakan ke anda? Apa jawabmu saudara-sau]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bagaimana cara memancing Kepiting? ]]></title>
<link>http://inaimut.wordpress.com/2009/06/20/bagaimana-cara-memancing-kepiting/</link>
<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 14:11:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>inaaja</dc:creator>
<guid>http://inaimut.wordpress.com/2009/06/20/bagaimana-cara-memancing-kepiting/</guid>
<description><![CDATA[Artikel dari temen ku. Bagus untuk direnungkan. Beberapa waktu yang lalu, kalau tidak salah tahun 20]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">
<div style="font-family:times new roman,new york,times,serif;font-size:12pt;text-align:justify;">
<div>Artikel dari temen ku. Bagus untuk direnungkan.</div>
<div></div>
<div>Beberapa waktu yang lalu, kalau tidak salah tahun 2009 juga, saya berkunjung ke kota <span style="border-bottom:1px dashed #0066cc;background:transparent none repeat scroll 0 0;cursor:pointer;">Pontianak</span>, teman saya disana mengajak saya memancing Kepiting.</p>
<p>Bagaimana <span style="border-bottom:1px dashed #0066cc;">cara memancing</span> Kepiting?<br />
Kami menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke batang bambu itu, diujung lain tali itu kami mengikat sebuah batu kecil.</p>
<p>Lalu kami mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun menuju Kepiting yang kami incar, kami mengganggu Kepiting itu dengan batu, menyentak dan menyentak agar Kepiting marah, dan kalau itu berhasil maka Kepiting itu akan &#8216;menggigit&#8217; tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram <span>batu</span> atau tali dengan kuat sehingga kami leluasa mengangkat bambu dengan ujung tali berisi seekor Kepiting gemuk yang sedang marah.</p>
<p>Kami tinggal mengayun perlahan bambu agar ujung talinya menuju sebuah wajan besar yang sudah kami isi dengan air mendidih karena di bawah wajan itu ada sebuah kompor dengan api yang sedang menyala.</p>
<p>Kami celupkan Kepiting yang sedang murka itu ke dalam wajan tersebut, seketika Kepiting melepaskan gigitan dan tubuhnya menjadi merah, tak lama kemudian kami bisa menikmati Kepiting Rebus yang sangat lezat.</p>
<p>Kepiting itu menjadi korban santapan kami karena kemarahannya, karena kegeramannya atas gangguan yang kami lakukan melalui sebatang bambu, seutas tali dan sebuah batu kecil.</p>
<p>Kita sering sekali melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan, menghadapi masalah, kehilangan peluang,kehilangan jabatan, bahkan kehilangan segalanya karena MARAH .</p>
<p>Jadi kalau anda menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, lakukan penundaan dua tiga detik dengan menarik napas panjang, kalau perlu pergilah ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, agar murka anda mereda dan anda terlepas dari ancaman wajan panas yang bisa menghancurkan masa depan anda.</p>
<p>Nothing Great in the World has ever been accomplished without PASSION.</p></div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lesson of Life]]></title>
<link>http://lifeloveandlogic.wordpress.com/2009/06/10/lesson-of-life/</link>
<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 07:19:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>theSuda</dc:creator>
<guid>http://lifeloveandlogic.wordpress.com/2009/06/10/lesson-of-life/</guid>
<description><![CDATA[(Just a nice forward email.... credits to whoever created this) There was a man who had four sons. H]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><pre><strong><span style="color:#666699;"><em>(Just a nice forward email.... credits to whoever created this)</em></span></strong></pre>
<p>There  was a man who had four sons. He wanted his sons to learn not to judge things  too quickly. So he sent them each on a quest, in turn, to go and look at a  pear tree that was a great distance away. The first son went in the  winter, the second in the spring, the third in summer, and the youngest son  in the fall. When they had all gone and come back, he called them  together to describe what they had seen.</p>
<p>The first son said that the tree was ugly, bent, and twisted.</p>
<p>The second son said no it was covered with green buds and full of  promise.</p>
<p>The third son disagreed; he said it was laden with blossoms that smelled so sweet and looked so beautiful, it was the most graceful thing he had ever seen.</p>
<p>The last son disagreed with all of them; he said it was ripe and drooping with fruit, full of life and fulfillment.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-461" title="1" src="http://lifeloveandlogic.wordpress.com/files/2009/06/1.jpg?w=300" alt="1" width="300" height="225" /><img class="alignnone size-medium wp-image-463" title="2" src="http://lifeloveandlogic.wordpress.com/files/2009/06/2.jpg?w=300" alt="2" width="300" height="225" /><img class="alignnone size-medium wp-image-462" title="3" src="http://lifeloveandlogic.wordpress.com/files/2009/06/3.jpg?w=300" alt="3" width="300" height="225" /><img class="alignnone size-medium wp-image-464" title="4" src="http://lifeloveandlogic.wordpress.com/files/2009/06/4.jpg?w=300" alt="4" width="300" height="225" /></p>
<p>The man then explained to his sons that they all were right, because they had each seen but only one season in the tree&#8217;s life. He told them that you cannot judge a tree, or a person, by only one season, and that the essence of who they are and the pleasure, joy, and love that come from that life can only be measured at the end, when all the seasons  are up.</p>
<p>If you give up when it&#8217;s winter, you will miss the promise of your spring, the beauty of your summer, fulfillment of your fall.</p>
<p>Moral:</p>
<p>Don&#8217;t let the pain of one season destroy the joy of all the rest.</p>
<p>Don&#8217;t  judge life by one difficult season.</p>
<p>Persevere through the difficult patches and better times are sure to come some time or later&#8230;&#8230;.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Life of A Snail]]></title>
<link>http://cecillethestoryteller.wordpress.com/2009/05/20/life-of-a-snail/</link>
<pubDate>Wed, 20 May 2009 14:46:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>cecille</dc:creator>
<guid>http://cecillethestoryteller.wordpress.com/2009/05/20/life-of-a-snail/</guid>
<description><![CDATA[Last night, when I had parked my car in my boarding parking lot, I realized that my front tire almos]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Last night, when I had parked my car in my boarding parking lot, I realized that my front tire almos]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
