<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>lichen-planus &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/lichen-planus/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "lichen-planus"</description>
	<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 13:54:33 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Penyakit Mukosa Mulut : Lichen Planus ]]></title>
<link>http://yumizone.wordpress.com/2009/09/05/penyakit-mukosa-mulut-lichen-planus/</link>
<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 10:55:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>yumizone</dc:creator>
<guid>http://yumizone.wordpress.com/2009/09/05/penyakit-mukosa-mulut-lichen-planus/</guid>
<description><![CDATA[Penyakit Mukosa Mulut : Lichen Planus Crispian Scully, Marco Carrozzo Pendahuluan Oral Lichen Planus]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Penyakit Mukosa Mulut : Lichen Planus </strong></p>
<p>Crispian Scully, Marco Carrozzo<strong> </strong></p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Oral Lichen Planus (OLP) adalah penyakit yang umum dijumpai dan hanya mempengaruhi lapisan epithelium skuamosa berlapis. Penyakit ini terdapat diseluruh belahan dunia, mayoritas terjadi pada dekade usia kelima dan keenam, dan resikonya dua kali lipat pada wanita dibandingkan pria.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Penyebab dan Patogenesis</strong></p>
<p>OLP adalah penyakit autoimun mediasi sel T namun penyebabnya tidak diketahui secara pasti pada kebanyakan kasus. Peningkatan produksi sitokin TH1 merupakan kunci dan penanda awal terjadinya LP, yang diinduksi secara genetik, dan adanya polimorfisme genetik dari sitokin yang terlihat mendominasi, baik pada lesi yang berkembang hanya pada mulut(diasosiasikan dengan interferon-gamma (IFN-γ)) atau pada mulut dan kulit(diasosiasikan dengan tumor nekrosis faktor-alpha(TNF-α)). Sel T yang teraktivasi kemudian akan tertarik dan bermigrasi melalui epitelium mulut, lebih jauh akan tertarik oleh adhesi molekul interseluler (ICAM-1 dan VCAM), regulasi ke atas dari protein matriks ekstraseluler membran dasar epitelial, termasuk kolagen tipe IV dan VII, laminin dan integrin, dan kemungkinan oleh jalur sinyal CXCR3 dan CCR5. Sitokin disekresi oleh keratinosit misalnya TNF-α dan interleukin (IL)-1, IL-8, IL-10, dan IL-12 yang juga kemotaktik untuk limfosit. Sel T kemudian akan berikatan pada keratinosit dan IFN-γ, dan regulasi berkelanjutan dari p53, matriks metalloproteinase 1 (MMP1) dan MMP3 memicu proses kematian sel (apoptosis), yang akan menghancurkan sel basal epitelial.</p>
<p>Perjalanan  kronis dari OLP merupakan hasil dari aktivasi faktor nuklear mediator inflamasi kappa B (NF-κB), dan inhibisi dari jalur pengontrol faktor pertumbuhan transformasi (TGF-beta/smad) yang menyebabkan hiperproliferasi keratinosit yang memicu timbulnya lesi putih.</p>
<p><strong>Asosiasi dengan Penyakit Sistemik</strong></p>
<p>LP dapat diasosiasikan dengan banyak penyakit sistemik, beberapa telah dikonfirmasi, namun infeksi virus Hepatitis C (HCV) dapat memproduksi tanda ekstrahepatik yang termasuk satu diantaranya adalah LP. Sel T spesifik-HCV mungkin memiliki peranan dalam patogenesis pada beberapa kasus OLP. Dalam review sistematis terkini yang menyertakan studi terkontrol, proporsi manusia yang terinfeksi HCV lebih tinggi pada kelompok LP dibanding kelompok kontrol yaitu 20 dari  25 studi, dan pasien dengan LP memiliki resiko lima kali lipat lebih besar terinfeksi HCV dibanding kelompok  kontrol. Namun, hal ini tidak terlihat pada kasus yang terjadi di Inggris maupun Eropa Utara.</p>
<p>OLP yang terkait HCV diasosiasikan dengan HLA kelas II alel HLA-DR6 pada pasien Italia tetapi tidak pada pasien Inggris, hal ini dapat menjelaskan sebagian alasan bahwa heterogenitas geografis juga berpengaruh.</p>
<p><strong>Lesi Mulut</strong></p>
<p>OLP dapat muncul sebagai lesi kecil, putih, panjang seperti tali dan bertambah banyak (Gambar 1 dan 2), papula (Gambar 3) ataupun plak, dan dapat memicu penyakit keratotik seperti leukoplakia.  Lesi atrofik (Gambar 4) dan erosi (Gambar 5) adalah bentuk yang paling sering menimbulkan rasa sakit.</p>
<p>Bagian yang paling umum muncul lesi adalah mukosa bukal, lidah (terutama pada dorsum), gingiva, mukosa labial, dan tepi vermilion dari bibir bawah. Sekitar 10% dari pasien dengan OLP memiliki lesi yang hanya terbatas pada gingiva (Gambar 6). Lesi eritrematous pada gingiva menyebabkan gingivitis deskuamasi, tipe LP gingival yang paling umum, yang muncul dapat berupa plak ataupun papula kecil, putih, panjang seperti tali dan bertambah banyak, dan dapat menyerupai friksional keratosis maupun leukoplakia.</p>
<p>Lesi pada palatum, dasar mulut, dan bibir atas jarang terjadi. LP yang terisolasi pada satu tempat dalam rongga mulut selain di gingiva juga jarang terjadi, namun pada beberapa pasien pernah terlihat adanya lesi yang terisolasi pada bibir atau lidah saja. Lesi likenoid juga dapat terisolasi (lihat bawah).</p>
<p>OLP dapat secara klinis terlihat berbeda, namun pada banyak kasus tidak. Bentuk seperti plak dari LP dapat menyerupai leukoplakia, terutama leukoplakia verukosa proliferatif. Lesi putih berstriata, dengan atau tanpa erosi dapat menyerupai lupus eritrematosa. Pada kasus yang jarang dimana lesi putih tidak dapat terlihat dalam bentuk erosif atau terulserasi, maka lesi ini dapat sulit untuk dibedakan secara klinis dari penyakit vesikuloerosif lainnya misal pemphigus dan pemphigoid. Lesi terkadang dapat menyerupai karsinoma.</p>
<p><strong>Potensi Malignansi dari OLP</strong></p>
<p>Setidaknya terdapat tiga studi yang menggunakan kriteria diagnostik ketat yang menunjukkan bahwa terdapat resiko signifikan terjadinya transformasi malignansi dari OLP menjadi karsinoma sel skuamosa (SCC). Akumulasi dari sintase oksida nitrit terinduksi (iNOS) dengan 8-nitroguanine dan 8-okso-7, 8-dihdro-2-deoksiguanosine (8-oxodG) pada epitelium oral OLP kemungkinan menunjukkan kerusakan oksidatif dan nitratif DNA yang dapat menjadi dasar dari malignansi.</p>
<p>Resiko transformasi malignansi bervariasi antara 0.4 hingga 5% dalam periode waktu observasi dari 0.5 hingga 20 tahun, dan tidak dibatasi tipe klinis dari OLP atau perawatan yang diberikan. Namun, terdapat kemungkinan bahwa perawatan dengan agen imunosupresif secara teoritis dapat mengurangi kekebalan tubuh (lihat bagian dibawah Manajemen)</p>
<p><strong>Lesi Ekstraoral</strong></p>
<p>Pasien OLP dapat mengalami lesi yang mengenai kulit, tambahan kulit (<em>appendage</em>) dan mukosa lainnya.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kulit</span></p>
<p>Sekitar 15% dari pasien OLP memiliki lesi kutaneus. Lesi ini khususnya terlihat pada permukaan fleksor dari siku dan berupa eritrematous, bagian atas rata, pruritik, papula poligonal yang memiliki jalinan garis nyata (Wickham’s striae) pada permukaannya, dan berkembang dalam jangka waktu beberapa bulan hingga terlihat sebagai OLP. (Gambar 7)</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Tambahan Kulit (<em>Appendage</em>)</span></p>
<p>LP pada kulit kepala dapat menyebabkan alopecia dengan luka parut, lichen planopilaris. LP juga dapat terjadi pada kuku, sehingga menghasilkan kuku yang lebih tipis dan kasar dan belahan pada ujung distal dari kuku.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Mukosa ekstraoral</span></p>
<p>Lesi genital yang disebut sebagai sindrom vulvovaginal-gingival berkembang pada 20% dari wanita dengan OLP dan ditandai dengan rasa terbakar, sakit, tidak nyaman dan dispareunia. Lesi ini dapat menjadi ganas.</p>
<p>LP esofageal telah banyak didokumentasikan dengan baik dan relatif umum dijumpai pada pasien LP oral, namun LP pada ocular, urinary, nasal, laringeal, otic, gastric dan mukosa anal jarang terjadi.</p>
<p><strong>Reaksi Likenoid Oral</strong></p>
<p>Reaksi likenoid merupakan lesi yang secara klinis dan histologis terlihat sebagai OLP, namun memiliki etiologi yang dapat diidentifikasi. Faktor presipitasinya antara lain penyakit <em>Graft-versus-Host</em> kronis (cGVHD), beberapa material dental, dan berbagai macam obat.</p>
<p>Reaksi likenoid memiliki tendensi untuk muncul unilateral dan erosif, dan dalam pemeriksaan histologis dapat menunjukkan infiltrat limfositik yang lebih difus disertai sel plasma dan eosinofil dan dengan lebih banyak <em>colloid bodies</em> dibanding LP klasik.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Penyakit <em>Graft-versus-Host</em> kronis (cGVHD)</span></p>
<p>Transplantasi sel stem hematopoetic telah digunakan secara luas dalam perawatan penyakit hematological baik malignan maupun non-malignan, namun hal ini diasosiasikan dengan berbagai macam komplikasi, termasuk penyakit <em>Graft-versus-Host</em>. Reaksi likenoid oral sering terlihat pada penyakit <em>Graft-versus-Host</em> kronis (cGVHD).</p>
<p>Pasien yang memiliki transplantasi allogenik dan memiliki resiko tinggi berkembangnya malignan sekunder, secara khusus yaitu leukimia dan limfoma, juga memiliki resiko terjadinya karsinoma sel skuamosa dan beberapa karsinoma oral telah dilaporkan.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Material restorasi dental</span></p>
<p>Material dental dapat menjadi penyebab dari reaksi likenoid oral termasuk didalamnya adalah amalgam, resin komposit, kobalt dan emas. Reaksi ini dapat diduga sebagai lesi OLP apabila hanya terbatas pada mukosa yang berkontak rapat dengan, atau pada jarak dekat dengan restorasi tersebut. Terkadang dapat muncul unilateral.  Beberapa penulis menduga bahwa sensitisasi merkuri merupakan salah satu penyebab penting lesi ini, namun yang lainnya menemukan bahwa pada beberapa orang yang sensitif terhadap merkuri, tidak menunjukkan efek menguntungkan setelah pembuangan restorasi amalgam, yang mana dapat diduga bahwa ada faktor lain yang terlibat.</p>
<p>Sayangnya, tes sensitivitas kulit dan spesimen biopsi ternyata tidak dapat memprediksi respon dari pembuangan amalgam, namun reaksi terhadap tes kulit dengan penggunaan lebih dari satu jenis alergen merkuri dapat meningkatkan akurasi dari diagnosis.</p>
<p>Selain itu juga dilaporkan adanya transformasi menjadi malignan pada lesi likenoid yang terkait dengan restorasi.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Obat-Obatan</span></p>
<p>Reaksi likenoid yang diinduksi oleh obat paling sering dikarenakan NSAID (Non Steroida Anti Inflammatory Drugs) dan obat inhibisi enzim pengubah angiotensin. Beberapa obat lain juga dapat terkait dengan reaksi likenoid, namun hanya terdapat pada kasus tertentu saja.</p>
<p>Metode yang paling memungkinkan untuk mendiagnosis reaksi likenoid adalah dengan melihat apakah reaksi hilang segera setelah pemberian obat-obatan tersebut dihentikan dan apakah kembali ada apabila obat itu dikonsumsi lagi. Namun, hal ini terkadang tidak praktis dan memiliki potensi bahaya; mungkin membutuhkan beberapa bulan sebelum reaksi likenoid sembuh sehingga penghentian obat perlu dipertanyakan dan akan lebih terjamin dengan penggunaan substitusi obat.</p>
<p><strong>Diagnosis OLP</strong></p>
<p>OLP yang berupa lesi putih yang umum mungkin akan mudah didiagnosis dengan benar apabila terdapat lesi kulit ataupun lesi ekstraoral lainnya. Namun, biopsi oral disertai pemeriksaan histopatologis, keduanya direkomendasikan untuk mengonfirmasi diagnosa klinis dan khususnya untuk mengesklusi displasia dan malignansi.</p>
<p>Perlu diketahui, hasil pemeriksaan histopatologis OLP dapat bersifat subyektif dan, pada setengah dari beberapa kasus, terdapat korelasi buruk klinikopatologis. Pada kondisi ini, mungkin akan membantu dengan melakukan pemeriksaan imunofluorescence secara langsung, yang akan menunjukkan bentuk linear dari fibrin dan fibrinogen yang terdeposit pada membran dasar epitelial atau badan sitoid (<em>Russel bodies</em>), atau keduanya apabila tidak adanya deposisi fibrinogen.</p>
<p><strong>Manajemen OLP</strong></p>
<p>Perawatan LP bergantung pada gejala, perluasan dari keterlibatan oral dan ekstraoral secara klinis, riwayat medis, dan faktor lainnya. Pada kasus pasien dengan reaksi likenoid, faktor presipitasinya harus dieliminasi.</p>
<p>Pasien dengan OLP retikular dan asimptomatik lainnya umumnya tidak membutuhkan perawatan aktif. Luka mekanis atau iritan seperti tepi restorasi atau gigi tiruan yang tidak nyaman harus diberi perhatian serius dan perlu dibuat program untuk mengoptimalkan higienitas oral, terutama pada pasien LP gingival.</p>
<p>Pasien dengan lesi simptomatik juga membutuhkan perawatan ,biasanya dengan obat, terkadang dibutuhkan terapi bedah.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Perawatan Obat</span></p>
<p>Perawatan dengan agen topikal lebih diutamakan untuk mencegah efek samping. Namun, agen sistemik mungkin dibutuhkan apabila lesi telah meluas, atau terjadi penyakit yang bersifat <em>recalcitrant</em>. Obat untuk OLP umumnya bersifat imunosupresif dan beberapa dikembangkan khusus untuk penyakit oral, konsekuensinya, kurang adanya studi yang mencukupi mengenai penggunaannya. Pasien harus diberi peringatan mengenai pentingnya mengikuti instruksi yang ada, terutama pada instruksi obat yang terdapat tulisan, “hanya untuk pemakaian luar”</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kortikosteroid Topikal</span></p>
<p>Kortikosteroid topikal dengan potensial sedang seperti triamcinolone, steroid poten yang terfluorinasi seperti fluocinolone acetonide dan fluocinonide, dan steroid superpoten terhalogenasi seperti clobetasol, terbukti efektif pada kebanyakan pasien. Eliksir seperti dexamethasone, triamcinolone dan clobetasol dapat digunakan sebagai obat kumur untuk pasien dengan keterlibatan oral yang difus/ menyebar atau pada kondisi dimana sulit untuk mengaplikasikan medikasi pada bagian tertentu di dalam mulut. Tidak terdapat data yang definitif  untuk membuktikan steroid topikal dengan bahan adesif lebih efektif dibanding bentuk preparasi lainnya, walaupun telah digunakan secara luas.</p>
<p>Pasien harus dinstruksikan untuk mengaplikasikan steroid (ointment, spray, obat kumur atau bentuk lain)  beberapa kali dalam sehari, untuk menjaga agar obat tetap berkontak dengan mukosa selama beberapa menit, dan pasien harus menunda makan atau minum selama satu jam setelahnya.</p>
<p>Mayoritas studi menunjukkan bahwa kortikosteroid topikal lebih aman apabila diaplikasikan pada membran mukosa dalam interval waktu yang pendek, selama 6 bulan, namun terdapat potensi terjadinya supresi adrenal pada pemakaian dengan jangka waktu lama, terutama pada penyakit yang sudah kronis, sehingga membutuhkan follow up berkala dan penanganan yang lebih hati-hati. Supresi adrenal lebih sering terjadi pada pemakaian steroid sebagai obat kumur. Beberapa efek samping yang serius dapat muncul dari penggunaan kortikosteroid topikal, namun pada pasien OLP yang mengalami candidiasis sekunder, beberapa klinisi memberikan obat antifungal.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Agen Topikal Lainnya</span></p>
<p>Agen imunosupresan dan imunomodulator yang lebih poten seperti inhibitor calcineurin (ciclosporin, tacrolimus atau pimecrolimus) atau retinoid (tretinoin) dapat membantu. Ciclosporin dapat digunakan sebagai obat kumur namun mahal, kurang efektif dibanding clobetasol topikal dalam menginduksi perbaikan klinis OLP, walaupun dua jenis obat ini memiliki efek yang hampir sama dalam mengatasi gejala.</p>
<p>Tacrolimus, 100 kali lebih poten dibanding ciclosporin, menunjukkan efektifitas tanpa efek samping secara klinis pada beberapa studi klinis tanpa kelompok kontrol, namun mengakselerasi karsinogenesis kulit pada kulit sehingga <em>Food and Drug Administration </em>(FDA) membatasi penggunaannya. Saat ini, terdapat laporan yang menunjukkan kanker oral pada OLP yang diobati dengan tacrolimus.</p>
<p>Retinoid topikal seperti tretinoin atau isotretinoin telah cukup banyak digunakan pada pasien OLP, terutama bentuk atrofik-erosif, dengan perbaikan yang memuaskan namun retinoid memiliki efek samping dan kurang efektif jika dibanding kortikosteroid topikal.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Obat Sistemik </span></p>
<p>Beberapa kortikosteroid sistemik yang dianggap paling efektif untuk mengobati OLP, pada penelitian terkini menunjukkan tidak adanya perbedaan respon yang signifikan antara prednisone sistemik (1 mg/kg/hari) dengan clobetasol topikal pada bahan adesif dibandingkan dengan clobetasol saja. Kortikosteroid sistemik biasanya digunakan pada kasus dimana aplikasi topikal tidak berhasil, terdapat OLP recalcitrant, erosif atau eritrematous, atau pada OLP yang menyebar hingga kulit, genital, esofagus, dan kulit kepala. Prednisolone 40-80 mg tiap hari biasanya cukup untuk mendapat respon perbaikan; toksisitas yang mungkin timbul membuatnya hanya diresepkan apabila benar-benar dibutuhkan, pada dosis terendah, dan untuk jangka waktu terpendek yang paling memungkinkan. Harus diberikan pada jangka waktu yang mencukupi  (5-7 hari) kemudian dihentikan, atau dosisnya dapat dikurangi 5-10 mg/ hari secara gradual selama 2-4 minggu. Efek samping dapat diminimalkan apabila pasien dapat menoleransi total dosis yang sama pada hari lainnya.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Bedah</span></p>
<p>Reseksi direkomendasikan pada plak yang terisolasi ataupun erosi yang tidak menyembuh, karena dengan prosedur ini dapat diambil spesimen jaringan untuk konfirmasi diagnosis secara histopatologis, dan dapat menyembuhkan lesi yang terlokalisir, namun hanya beberapa data yang mendukung hal tersebut. Graft jaringan lunak dapat diberikan pada OLP erosif, dan OLP simptomatik akan hilang secara menyeluruh dengan perawatan graft gingival setelah follow up 3.5 tahun. Namun, bedah periodontal juga dilaporkan dapat memicu OLP.</p>
<p>Cryosurgery telah digunakan secara khusus pada OLP erosif yang resisten terhadap obat, tetapi lesi ini dapat berkembang pada bekas lesi yang telah sembuh ataupun sembuh dalam bentuk jaringan parut.</p>
<p>Laser juga telah digunakan untuk merawat OLP; laser karbon dioksida digunakan pada lesi multisentrik atau area yang sulit dijangkau, dan laser eksimer 308 nm dengan dosis rendah terbukti cukup menjanjikan pada tiga kali percobaan, namun perlu bukti lebih lanjut untuk membukti efektifitasnya pada OLP, sebagaimana pada kasus terapi fotodinamik.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Surveillance Kanker</span></p>
<p>Dari pembahasan di atas, terlihat bahwa pentingnya untuk memonitoring pasien dengan OLP pada jangka waktu lama.</p>
<p><a href="http://yumizone.wordpress.com/files/2009/09/gilut.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-524" title="gilut" src="http://yumizone.wordpress.com/files/2009/09/gilut.jpg" alt="gilut" width="447" height="579" /></a></p>
<p>di translate dari: klik <a href="http://yumizone.wordpress.com/files/2009/09/lichen-planus.pdf"> lichen planus</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Common Pigmentation Problems and Solutions in Skin of Color]]></title>
<link>http://dermahealthinstitute.wordpress.com/2009/08/31/common-pigmentation-problems-and-solutions-in-skin-of-color/</link>
<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 18:15:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>dermahealthinstitute</dc:creator>
<guid>http://dermahealthinstitute.wordpress.com/2009/08/31/common-pigmentation-problems-and-solutions-in-skin-of-color/</guid>
<description><![CDATA[BOSTON, July 29 /PRNewswire-USNewswire/ &#8212; As we age, brown spots and splotchy skin are all too]]></description>
<content:encoded><![CDATA[BOSTON, July 29 /PRNewswire-USNewswire/ &#8212; As we age, brown spots and splotchy skin are all too]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[What is the treatment for the skin disorder Lichen Planus?]]></title>
<link>http://homeopathicfaq.wordpress.com/2008/09/13/what-is-the-treatment-for-the-skin-disorder-lichen-planus/</link>
<pubDate>Sat, 13 Sep 2008 19:47:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>homeopathicfaq</dc:creator>
<guid>http://homeopathicfaq.wordpress.com/2008/09/13/what-is-the-treatment-for-the-skin-disorder-lichen-planus/</guid>
<description><![CDATA[Lichen planus is a fairly uncommon skin disorder. There is no known cause for this condition and the]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Lichen planus is a fairly uncommon skin disorder. There is no known cause for this condition and there is no cure. It is a theory that an immune disorder caused by an infection or allergic reaction to certain medicines causes the inflammatory cells to mistake skin cells for foreign cells and it attacks them. Thus leaving lesions on the skin. The lesions that are left by Lichen planus often appear on the insides of wrists, on the ankles, on the front of the legs and the lower back and neck. Less often they appear on the gentiles and in the mouth. The outbreaks can last for months or even years in most cases. The outbreaks can last longer if they are on the gentiles or in the mouth. These lesions look different from psoriasis, Lichen planus have more of a pattern to them that are lacy white or reticulate that is called Wickham&#8217;s striae.</p>
<p>Lichen planus is a chronic skin condition. Meaning that it is reoccurring. You may find raised skin that is colored brown to black and very itchy with an irregular shape (usually rectangular or polygonal). You may also see reddish-purple bumps that appear flat topped and shiny. The shininess is due to a very small scale like substance. Like any other rash the bumps start of in a small area and often spread to any other part of the body. Mostly the limbs are affected first but not all the time. The symptoms of Lichen planus include: small pink or purple bumps, raised itch skin, rash or ulcers in the mouth and blue areas on the tongue and/or cheeks, gentile itch and rash, rectum itching.</p>
<p>Lichen Planopilaris is the specific name given to lichen planus where hair lose is involved (most often the head). Lichen Planopilaris can cause permanent, scarring alopecia. 40% of scarring alopecia cases doctors will see are due to lichen planopilaris. Lichen planopilaris usually pops up in middle aged adults, but there are cases of lichen planopilaris reported as young as 13 years old. Lichen planopilaris usually resolves without treatment, but can recur years later</p>
<p>Homeopathy Lichenplanopilaris: The science of using homeopathic methods to treat Lichen planus on the scalp. The theory behind using Homeopathy to fight Lichen planus is that treating the skin condition externally does not work. Homeopathy treats it internally. Homeopathic theories state that the cause of any external disorder or condition is that there is an internal imbalance. So by treating the internal imbalance it helps with the external condition. So instead of using creams and rubs to help with this ailment try using oral medicines. There are many homeopathic treatments for Lichen planus. The homeopathic Lichen planus therapy is determined by a lengthy examination from a doctor. The exam will possibly include much of the following: family and personal history, emotional make-up, eating habits, lifestyle, and personality.</p>
<p>Some oral homeopathy Lichen planus medicines are Sulfur, Arsenicum and Borax (mainly for the mouth). When using homeopathic methods the use of external treatments are usually forbidden because homeopathic doctors believe in using the inside to help the outside. </p>
<p>About the Author<br />
Get Your FREE Real Healing Foods E-book http://www.realhealingfoods.com/realhealingfoodsEbook.htm </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aloe vera e Lichen planus]]></title>
<link>http://meristemi.wordpress.com/2008/04/16/aloe-vera-e-lichen-planus/</link>
<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 09:50:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Meristemi</dc:creator>
<guid>http://meristemi.wordpress.com/2008/04/16/aloe-vera-e-lichen-planus/</guid>
<description><![CDATA[Il Lichen Planus orale è una patologia non infettiva che colpisce sia uomini che donne prevalentemen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Il Lichen Planus orale è una patologia non infettiva che colpisce sia uomini che donne prevalentemen]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lichen Planus and vulvodynia ]]></title>
<link>http://bettersexblog.net/?p=37</link>
<pubDate>Fri, 28 Mar 2008 16:22:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bat Sheva Marcus LMSW, MPH, PhD</dc:creator>
<guid>http://bettersexblog.net/?p=37</guid>
<description><![CDATA[I just read a moving and sad article in Self Magazine about lichen planus and vulvodynia. A young wo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>I just read a moving and sad article in Self Magazine about <a title="lichen planus" href="http://www.aad.org/public/publications/pamphlets/common_lichen.html" target="_blank">lichen planus </a>and<a title="vulvodynia" href="http://www.mayoclinic.com/health/vulvodynia/DS00159" target="_blank"> vulvodynia</a>. A young women talks about her vaginal pain and how it has shamed her and ruined her sex life. Vaginal intercourse became excruciatingly painful and none of her gynecologists could see any problem and so everyone thought it was in her head. Over the years she became more and more avoidant and the lack of sexual contact with her partners ruined a number of relationships.</p>
<p>I have so many thoughts.</p>
<p>1. I think it was very brave of this woman to describe her situation which has caused her so much shame, self doubt and pain. I think it&#8217;s an article worth reading if you are in her situation. (Even though I&#8217;d argue that perhaps more could have been done to help the pain.)</p>
<p>2. I can&#8217;t help but wonder how many more women have been told that their pain is &#8220;in their heads&#8221; because a physician wasn&#8217;t able to identify the problem.  I wish more mds would be comfortable saying, &#8220;I&#8217;m sorry. I just don&#8217;t know.&#8221; As a practitioner it just makes me so mad. If I had a nickel for every women we have seen who we have been able to help through  physical/medical/behavioral interventions who had spent years in therapy with little to show if it, I&#8217;d be rich! I think most women have a gut feeling whether the problem is physical or psychological. We should trust them. And more often than not, pain is PHYSICAL.</p>
<p>3. Our view of sex as having to revolve around penile/vaginal intercourse is perhaps the single most limiting and misleading element  of our current sex education. There are many kinds of sex. There&#8217;s oral sex, manual sex, anal sex. There is sex using every potential part of your body. If you can&#8217;t have sex one way&#8230;. there are so many other ways!! Why does someone who can&#8217;t have vaginal intercourse feel as though she should be embarrassed to discuss this? And why does she feel like her sex life is over??? I had a patient who had vaginismus (a condition in which you can&#8217;t get a penis into the vagina.) She was married for 3 years when I saw her. (And yes, we helped her!)  She had one of the best sex lives I&#8217;ve seen. She was having sex with her husband about 3 times a week, in various way. She had an orgasm (or more) most every time they had sex.  She was having fun. Now&#8212; do I think she&#8217;s probably having more fun now that they are having vaginal intercourse? Yes. Probably. (Although she&#8217;s quite clear that intercourse is not her favorite sexual activity.) More options is usually better. BUT do I think someone&#8217;s sex life should be over because they can&#8217;t have vaginal intercourse?! No way. And I think we&#8217;d do ourselves, our daughters and our partners  a big service if we put vaginal intercourse into perspective.  Would her husband be having a grand old time if he was having sex 2 times a week with a happy, excited, willing partner who was the queen of blow jobs (kind of how she describes herself) , who brought him to orgasm with her tongue, her lips, her breasts, her feet, her butt, her anus? Would her husband be having a grand old time if hew was having sex 2 times a week with a happy, excited, willing partner who was having orgasms using his hand, a vibrator, his mouth. My guess is yes. Would he miss vaginal intercourse? Probably. Is that a price he would pay to be with a woman he loves? Would it be that be so very different from a guy who is heartbroken because his wife won&#8217;t go down on him and he loves oral sex? Perhaps not so very different.</p>
<p>So here&#8217;s advice if you (or your friend or your partner) has pain with intercourse. 1- Get help. 2- It&#8217;s probably not in your head 3- Try to build a fun, happy sex life anyhow. You can do it.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
