<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>loup &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/loup/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "loup"</description>
	<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 03:16:47 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[]]></title>
<link>http://justwm.wordpress.com/2009/12/16/1962/</link>
<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 09:23:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>justwm</dc:creator>
<guid>http://justwm.wordpress.com/2009/12/16/1962/</guid>
<description><![CDATA[View Pom&#8217;s book here. View her last movie &#8220;Loup&#8221;, trailer here. View here last tv ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://justwm.wordpress.com/files/2009/12/wm-models-just-wm-management-paris-mannequin-mannequinat-fashion-famous-model-agency-catwalk-defiles-mode-beauty-fashion-consulting-endorsement-beaute-agence-modeling-celebrite-cel81.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-1961" title="wm models just wm management paris mannequin mannequinat fashion famous model agency catwalk défilés mode beauty fashion consulting endorsement beauté agence modeling célébrité celebrity talent pom klementieff" src="http://justwm.wordpress.com/files/2009/12/wm-models-just-wm-management-paris-mannequin-mannequinat-fashion-famous-model-agency-catwalk-defiles-mode-beauty-fashion-consulting-endorsement-beaute-agence-modeling-celebrite-cel81.jpg?w=682" alt="" width="513" height="765" /></a></p>
<p><a href="http://justwm.wordpress.com/files/2009/12/wm-models-just-wm-management-paris-mannequin-mannequinat-fashion-famous-model-agency-catwalk-defiles-mode-beauty-fashion-consulting-endorsement-beaute-agence-modeling-celebrite-cel80.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-1960" title="wm models just wm management paris mannequin mannequinat fashion famous model agency catwalk défilés mode beauty fashion consulting endorsement beauté agence modeling célébrité celebrity talent pom klementieff 2" src="http://justwm.wordpress.com/files/2009/12/wm-models-just-wm-management-paris-mannequin-mannequinat-fashion-famous-model-agency-catwalk-defiles-mode-beauty-fashion-consulting-endorsement-beaute-agence-modeling-celebrite-cel80.jpg?w=682" alt="" width="514" height="771" /></a></p>
<p>View Pom&#8217;s book <a href="http://www.justwm.com/book.aspx?tl=index&#38;m=14">here.</a></p>
<p>View her last movie &#8220;Loup&#8221;, trailer <a href="http://www.allocine.fr/video/player_gen_cmedia=18928458&#38;cfilm=110671.html">here.</a></p>
<p>View here last tv show &#8220;Pigalle, la nuit&#8221;, trailer <a href="http://pigalle.canalplus.fr/video.php">here.</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cahaya untuk Hagistra  : Petualangan Vanda dan Loup]]></title>
<link>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/12/03/cahaya-untuk-hagistra-petualangan-vanda-dan-loup/</link>
<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 09:55:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>hawarihadi</dc:creator>
<guid>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/12/03/cahaya-untuk-hagistra-petualangan-vanda-dan-loup/</guid>
<description><![CDATA[PROLOG&#8220;Loup, sudahkah kau tulis bagian awalnya? Tulislah, biar aku yang melanjutkan.&#8221; Pi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><br style="font-family:Lucida Grande;" />    <br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">PROLOG</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">&#8220;Loup, sudahkah kau tulis bagian awalnya? Tulislah, biar aku yang melanjutkan.&#8221; Pinta Vanda pada sahabat karibnya. &#8220;Ah, kau!&#8221; Loup berurasa menepis topik. &#8220;Kau tak tahu lagi hendak kemana, sedangkan diriku yakin akan hal itu.&#8221; &#8220;Aku hanya berusaha. Kulanjutkan berjalan melewati tepian sungai bening dimana ikan-ikan kecilpun terlihat dengan jelas.” Seru Vanda sambil bergumam tak jelas. &#8220;Tapi kau harus keluar dari lamunanmu. Semua itu membuat mu hidup hanya di alam khayalmu, Vanda! Sesekali kita harus turun dan melakukan semuanya sendiri.” Loup tak mau mengalah dengan kata-kata Vanda. Tapi Vanda tak peduli ia lalu meneruskan membaca temuannya. &#8220;Dengar ini, Loup! Tertulis disini, bahwa pintu akan terbuka dengan sendirinya pada mereka yang bernurani besar dan berhati bersih. Keinginan yang besar akan membawanya kedepan gerbang dunia yang tak pernah gelap.&#8221; </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Tubuh kecil kurus Loup bersandar pada sebatang pohon mati. &#8220;Aku sepenuhnya percaya denganmu bahwa portal itu bisa saja ada, tetapi kita belum menemukan bukti kuat untuk mengemukakan ke orang-orang. Vanda, duniamu itu sungguh berbahaya. Yang kau pikirkan itu dapat membuat orang-orang sini kehilangan jati dirinya. Mereka sudah terbiasa dengan yang ada. Jangan dulu kau hancurkan mereka.&#8221; Kembali Vanda bersikeras, &#8220;Yang bisa kukatakan hanyalah mereka telah menjadi orang dewasa. Itu sebabnya mereka tidak percaya,tidak mau percaya tepatnya. karena itu tidak akan ada portal, tidak akan ada apapun untuk mereka&#8221;</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Sepotong percakapan itu tetap tergiang di benak Loup. Vanda, sahabatnya sedari kecil yang dulu selalu bermain Tali hurquins bersama di halaman belakang rumahnya, sekarang telah berubah menjadi wanita yang keras kepala. Kunjungannya ke perpustakaan Pak Londra di pojok kota Hagitsra, telah mengubahnya beberapa bulan belakangan. Ia sangat tertarik akan sajak-sajak kono yang ia temukan dari teka teki di buku dongeng anak-anak. &#8220;Buku itu datang kepadanya&#8221; ingat Loup. Dan ia adalah orang pertama yang diberi tahu tentang arti dibalik sajak itu. Beberapa ramalan di sajak itu telah terbukti benar. Sekarang sajak kuno itu membahas tentang dunia lain, yang tak pernah gelap.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Hagistra adalah kota terpencil dimana malam lebih banyak dari siangnya. Kota ini membutuhkan sinar matahari lebih lama untuk membuat penduduknya bersemangat untuk bekerja, Kota ini membutuhkan sinar matahari untuk membuat penduduknya sehat, lepas dari wabah wedh yang sebentar lagi akan mengubur sejarah kota ini dengan kematian anak-anaknya. Sekarang, impian Vanda mendapat secercah cahaya penuntun. Sebuah portal magis yang membuka jalan menuju Morps, kota yang tak pernah gelap.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Tapi tak semua pihak menginginkan sinar matahari. Banyak yang mengambil keuntungan dengan gelapnya Hagistra. Dan mereka tak ingin itu sirna hanya dengan harapan seorang bocah remaja. Vanda yang periang&#160; memberi tahukan temuannya itu pada semua orang. tak ada yang menanggapinya dengan serius. Hampir tak ada kecuali Loup, sahabatnya dan orang-orang yang sengaja menjaga kegelapan di Hagitsra. Mereka tak akan tinggal diam. Isu itu terlalu tajam untuk mereka lewatkan. Vanda dan khayalannya harus lenyap dari Hagistra</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">&#160;</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">BAGIAN 1</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">PERPUSTAKAAN PAK LONDRA</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Pak Londra adalah seorang laki-laki berperawakan tambun yang mulai bungkuk. Rambutnya berwarna keabu-abuan mulai rata oleh uban yang hanya menutupi bagian samping dan belakang kepalanya. Sedangkan bagian atasnya hanya ada kulit kepala yang putin bersih bersinar, tak ubahnya para profesor ahli roket. Hidung Pak Londra yang besar menyangga kacamata bulat berlensa bifokal, tempat ia menyembuyikan mata rabunnya. Kecerdikannya tampak jelas di matanya yang berwarna ungu gelap. </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Pak Londra sangat baik. Tiap awal gelap, yaitu setelah waktunya makan siang, ia selalu membuka perpustakaannya untuk umum. Banyak anak-anak yang datang untuk meminjam atau membaca buku dongeng dan halaman bergambar yang penuh warna. Kadang Pak Londra sendiri yang membacakan dongeng itu pada anak-anak sehingga mereka jatuh dalam alam dongeng yang tak ada habisnya.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Perpustakaan itu terletak di sebuah gedung tua gelap diantara pepohonan dan suasana tepi jalannya yang sangat sunyi. Lantainya berlapis karpet merah marun lapuk dan dindingnya dihiasi lukisan-lukisan para penulis ternama dari zaman ke zaman. Vanda tertarik pada tempat itu karena ia ingin mengetahui sedikit tentang dongeng. itu saja-awalnya. Sampai ia menemukan sebuah buku sajak bersampul kulit coklat tua di tepi kakinya saat hendak mengembalikan buku dongeng putri duyung berkaki tujuh ke rak-nya. Penuh rasa ingin tahu dibawanya buku itu ke meja baca. Dibukanya sampul coklat itu perlahan dan ternyata isinya sajak-sajak kuno. Tidak begitu mengerti tentang sajak, dibukanya kertas-kertas itu sambil lalu. Kemudian menutupnya dengan bosan.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Baru ia akan berdiri menuju meja Pak Londra untuk mengembalikan buku itu, seketika sebuah suara berat bertanya “Kau bisa melihat apa yang tertulis disana?”. Ternyata tadi adalah suara Pak Londra. Vanda menatap heran &#8211; tentu saja. Dengan mata penuh binar Pak Londra menatap Vanda lalu duduk di sampingnya. “Buku itu memilihmu. Buku itu datang padamu untuk dibaca.” Vanda mengerutkan kening kebingungan, dilihatnya lagi sampul buku itu, ternyata tidak ada judulnya. “Memangnya buku apa ini?” Tanyanya. Pak Londra kembali menatap Vanda dalam-dalam dan ada secercah pengharapan disana. “Jalan menuju kota yang tak pernah gelap”, ujar Pak Londra kemudian.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Terkadang Pak Londra tampil seperi petapa, tua, bungkuk dan berjangggut putih. Tapi kali ini nampaknya ia baru saja mengunjungi Ralph, tukang cukur langganannya sehingga ia tampak beberapa tahun lebih muda. Wangi kolonye tercium damai dari dagunya. Vanda selalu terbayang wujud kakek, bapak dari ibunya. Ia tak pernah bertemu dengan kakeknya. Kini, ia mendapat sosok Pak Londra sangat mirip dengan kisah-kisah yang diceritakan oleh ibunya dikala sebelum tidur. &#8220;Kakek sangat baik dan ramah pada semua orang. Dulu ia bekerja sebagai tukang kayu di Hagitsra. Dikala senjangnya Kakek membuatkan layang-layang untuk anak-anak kecil. Mereka bermain bersama di gurun rumput Roswelyn dimana rumah batu kakeknya berdiri dengan kokoh diantara lapangan rumput segar dan bunga Astride yang bertebaran&#8221; bisik ibunya yang mengantarkan Vanda kecil tidur. &#8220;Apa dulu siangnya lebih lama, Bu? Apa dulu banyak bunga yang mekar di musim semi?&#8221; tanya Vanda pada ibunya. &#8220;Tentu, sayang!&#8221; sahut ibunya cepat. &#8220;Kakekmu adalah generasi terakhir yang menikmati siang lebih dari lamanya tiga batang lilin tothy&#160; .”</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Vanda tau lilin tothy&#160; tidak lagi digunakan pada masa sekarang. Sekarang di Hagistra sudah tidak ada lilin tothy. Orang lebih suka membeli lentera minyak yang nyalanya dapat jauh lebih lama dari lilin tothy. Apa lagi lilin tothy&#160; selain mahal juga hanya bertahan sebentar. Mungkin hanya sewaktu dengan jika kau memasak sepanci air sampai mendidih. Tapi lilin tothy&#160; sangat indah nyalanya dan juga wangi. Wangi itu berasal dari Bunga Astride yang banyak mekar di Hagistra kala itu. Kini pun bunga itu jarang sekali ada yang mekar. Bunga itu membutuhkan cahaya matahari untuk hidupnya.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">&#8220;Jadi dulu kakek bisa membaca di halaman rumah tanpa lentera?&#8221; kembali Vanda kecil bertanya. Ibunya mengangguk dengan pandangan bulat penuh kasih padanya. &#8220;Kelak nanti kau akan mengalaminya kembali, dimana bunga Astride dengan anggunnya mekar diseluruh tanah Hagistra. Sekarang pejamkan matamu, besok sekolah.” Sambil mengecup kening Vanda, ibu kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapannya esok.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Lamunan Vanda disadarkan oleh pertanyaan yang terdengar diulang. &#8220;Kau bisa melihat apa yang tertulis disana?&#8221; kembali Pak Londra bertanya padanya. Vanda menggeleng. &#8220;Memangnya ada apa didalamnya? Hanya berisi sajak yang tak kumengerti. Aku lebih paham sajak cinta pengamen di pasar. Kata-katanya mudah dicerna. Bisanya mereka bercerita tentang kekasihnya yang pergi ke medan perang, atau tentang cinta yang tak kesampaian.” Belum juga menarik nafas, Vanda melanjutkan &#8220;Sedangkan di sajak ini semuanya tak beraturan, kadang bercerita tentang manusia, lalu pindah tentang cinta, dan melompat jauh tentang Tuhan. Aku tak begitu mengerti.&#8221; Vanda menarik nafas. &#8220;Siapakah yang menulisnya? Mengapa tak ada judul di sampulnya? Adakah yang pernah membacanya dan mengerti?&#8221;</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Pak Londra sangat hapal sikap Vanda yang selalu tidak puas dengan apa pun. Ia akan selalu bertanya tentang hal yang tak dimengertinya. Pak Londra sering kewalahan menjawab. Karena ia memiliki banyak buku di perpustakaannya, Vanda sering mengira Pak Londra tahu akan segalanya. &#8220;Jika kau sungguh terarik, bawalah buku itu pulang, mungkin kau dapat membacanya diwaktu senggang. Tapi jangan kau lupakan pelajaranmu. Mungkin sudah waktunya kau membaca buku selain dongeng bocah yang selalu kau pinjam dariku. Kau sudah remaja sekarang. Mungkin diluar saja ada remaja lelaki yang menunggumu keluar dari perpustakaanku yang pengap ini dan membawa seikat bunga untuk mengajakmu berdansa di hari ulang tahun kota ini minggu depan.” Goda Pak Londra. Muka Vanda bersemu merah karena malu. Tanpa menggubris godaan Pak Londra ia memasukkan buku tanpa judul itu ke tas pundaknya dan berlari ke arah pintu keluar. &#8220;Terimakasih Pak Londra! akan kubaca buku ini dirumah. Ku berjanji tak akan merusaknya. Sepertinya buku ini mahal, melihat dari sampul kulitnya.” Setengah berlari ia melangkah keluar meninggalkan Pak Londra yang tertawa terpingkal-pingkal mengodanya sampai terbatuk ketika ia melewati pintu utama perpustakaan itu.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Remaja lelaki apa? pikir Vanda. Ia tidak seperti remaja perempuan seumurnya yang pandai bersolek dan memakai gaun yang indah di sore hari. Ia terbiasa dengan celana panjang dan kaus buatan Ibunya yang berwarna mencolok, dimana ia dapat menempelkan kata yang ia inginkan. Kali ini ia menggunakan kaus kuning dengan emblem huruf yang berkata: S-I-N-A-R.</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Sementara itu dari balik kios buah, ada dua pasang mata yang mengawasi langkah Vanda keluar dari perpustakaan. Mereka telah berada disana selama hampir dua bulan lamanya. Kios buah itu tak pernah ada pembelinya karena buah yang dijualnya tidak begitu segar dan penjualnya yang tak acuh. Penjual itu pun tak ambil pusing. Ia memang ia tak berniat mencari pelanggan. Lokasi kios itu dibelinya dari seorang pemabuk yang bangkrut, yang kebetulan tepat menghadap pintu perpustakaan, sehingga ia dapat melihat siapa saja yang keluar masuk gedung itu. Si penjual buah dan kawannya mendapati tas Vanda yang kini mengembung penuh, tak seperti dikala ia masuk. Ia yakin buku sajak bersampul kulit coklat itu kini ada di dalam tas tersebut. Buku itu terlalu besar untuk buku dongeng atau kisah asmara yang biasa dipinjam oleh remaja seperti Vanda.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Si penjual mengangguk pada kawannya. Ia memberi kode untuk menguntit Vanda pergi. Segera kawan penjual itu melangkah terburu-buru. Tapi baru dua langkah kegaduhan terdengar. Ia baru saja menabrak seorang ibu gemuk dengan penuh belanjaan dan menjatuhkan semuanya kelantai. Ibu itu marah dan memegangi jaketnya sehingga ia tak dapat melangkah. Ibu itu menyuruhnya membantu mengambil belanjaannya dan mengganti telur angsanya yang pecah akibat ditabrak tiba-tiba oleh kawan si penjual buah. Kawan si penjual buah dengan malas memungut sayur els dan roti pita milik si nyonya pemarah itu sambil mencari-cari sosok Vanda yang telah menghilang di keramaian jalan. &#8220;Sial!” umpatnya. </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Vanda melangkah riang sambil bersiul menuju Lapangan Voltren, dimana ia yakin saat itu sahabatnya sedang bermain bola korgi bersama dengan kawannya yang lain. Vanda tak sabar ingin memberitahukan Loup apa yang ditemuinya di perpustakaan pak Londra.</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Loup menyilangkan kakinya di pinggir lapangan, berharap sebentar lagi bagiannya bermain bola korgi, sebab semakin sore langit semakin gelap dan tepat ketika makan malam membuat air liurmu terbit, gulita sudah menyelimuti Hagitsra. Pemandangan delapan remaja berlari mengejar pelari sambil menerka-nerka yang manakah dari mereka yang merupakan pengumpat, &#8211; yaitu orang yang membawa bola korgi kecil di tangan yang terkepal &#8211; merupakan pemandangan yang dapat dilihat setiap hari di lapangan Voltren. Permainan itu sama populernya dengan Karenlina. Wanita cantik bertubuh molek yang mampu memberi gosip macam apapun tentang dirinya setiap hari tanpa sekalipun berfikir bahwa orang akan bosan mendengarnya.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Dari jauh dilihatnya bayangan berjalan riang sambil bersiul-siul menuju lapangan yang agak lembap. “Vanda”, pikir Loup, matanya sekarang teralih pada seorang pelindung yang mendorong jatuh pemain lawan entah untuk melindungi pengumpat atau raja. Yang jelas pihak musuh sekarang mencurigai Walter sebagai orang yang cukup penting, entah pengumpat atau raja, melihat perawakannya yang langsing dan lincah kemungkinan besar ia adalah pengumpat, tapi tidak mustahil bahwa ia adalah raja. Vanda mendekat dengan kaus kuningnya yang mencolok mata &#8211; bahkan dalam gelap seperti ini. Vanda mengambil tempat disamping Loup, rumput basah menyapu bagian belakang celana longgarnya.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">&#8220;Loup! aku punya sesuatu untuk kau lihat!&#8221; ujar Vanda tanpa basa basi. &#8220;Hai, Vanda!” sapa Loup. Lelaki mana yang membuatmu berseri seperti itu? Apa Si Luthe yang pintar geometri lagi atau kali ini Jon, anak baru yang tampan? Vanda mengacuhkan pertanyaan sahabatnya. Vanda tahu bahwa Loup hanya mengejeknya. Tak mungkin Si Pintar Luthe mengajaknya ke pesta dansa, apa lagi Jon Si Tampan dari Becshire, kota besar yang maju, dimana tidak ada lagi tukang pedati membawa rumput untuk ternaknya. </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Jon dan Luthe sangat populer di sekolah. Vanda pun sempat suka pada keduanya – siapa yang tidak? &#8211; tapi tak sampai bermimpi bahwa salah satunya akan mengajaknya minum di kantin, apa lagi ke pesta dansa. Vanda terkenal dengan sebutan gadis aneh di sekolahnya. Sebutan itu Vanda tak salahkan. Dikala sedang musim rambut kepang, Vanda mengurai rambutnya. Dikala musim tas anyaman tikar, Vanda malah bangga dengan tas pundak peninggalan pamannya ketika berdinas di ketentaraan. Walau tas itu tak pernah ikut berperang, tapi Vanda merasa gagah memakainya. Gagah, bukan anggun. </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Vanda memang dikenal jarang bermain dengan perempuan sebayanya. Ia malah lebih sering bermain bersama Loup dan kawan-kawan laki-laki lainnya. Bermain bola korgi di lapangan Voltren, adalah salah satu kegemarannya. Tapi sejak beranjak remaja, Vanda mengurangi waktunya untuk bermain di lapangan itu. Ia lebih suka membaca dongeng-dongeng, terutama dongeng dari buku-buku yang dipinjamnya di perpustakaan Pak Londra.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">&#8220;Kau belum dapat giliran, Loup?” tanya Vanda. Loup menggeleng. &#8220;Tubuhmu terlalu kurus! itu sebabnya mereka tak mengajakmu. Larimu pun tak lebih kencang dari anak perempuan seperti aku.” Vanda balas mengejek sambil mencabut rumput jarum lalu menghisapnya. Rumput jarum disukai Vanda karena rasanya sedikit manis bila dihisap. &#8220;Aku tidak terlalu kurus! Aku hanya kurang gemuk sedikit.” umpat Loup. Lagi pula mereka baru mulai, dan aku terlambat sampai disini, jadi aku harus menunggu salah satu dari mereka yang kelelahan.” &#8220;Tetap saja kau kurus, sampai angin pun dapat menerbangkanmu keluar dari Hagistra.” Vanda terpingkal berguling di rumput basah. Tinggal Loup yang menekuk wajahnya kesal.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Seraya seorang anak yang bernama Rochie menghampiri dengan nafas yang terengah. Dia duduk di antara mereka. Loup mengencangkan tali sepatunya bersiap beranjak masuk ke lapangan. &#8220;Hendak kemana kau Loup?” tanya anak itu. &#8220;Aku memang letih, tapi kawan-kawan yang lain ingin Vanda bermain bersama kita. Sudah lama Vanda tak mampir kesini. Ia terlalu sibuk dengan buku dongengnya. Selagi ia ada, hendaklah ia bermain.” Terlihat beberapa anak berdiri di kejauhan menunggu Vanda dilapangan sambil melambaikan tangannya. Sementara sisanya masih asik berlari kesana-kemari. Sambil menunjuk Vanda, Rochie tumbang rebah kelelahan. Tinggal Vanda dan Loup yang berpandangan. Wajah Loup terlihat kesal sedangkan wajah Vanda bersemu menahan tawa. &#8220;Jika kau tertawa, aku kan penuhi bajumu dengan rumput ini!” ancam Loup. Tawa renyah Vanda seketika tergelak seraya berdiri lalu berlari meninggalkan Loup yang sudah bersiap mengejarnya dengan sejumput rumput basah yang dicabutnya tadi. &#8220;Awas, kau Vanda!” teriak Loup mengejar Vanda yang masih berlari sambil tertawa. Rochie yang masih kelelahan itu bangkit lalu berteriak pada Loup dan Vanda yang menjauh. &#8220;Lalu siapa yang menggantikanku bermain?” Tanpa jawaban dari Loup dan Vanda, Rochie dengan malas masuk kembali ke lapangan. Berlari terengah mengejar lawan yang dikiranya sebagai pengumpat.</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Vanda berlari meninggalkan lapangan kedalam hutan Kecil dimana burung Rangkong Merah bersarang di ujung pepohonannya yang&#160; rimbun. Hutan Kecil terbelah oleh sungai Hunt dari hulunya di tengah hutan ke Hagistra dan bermuara di laut. Kelelahan berlari dikejar Loup, Vanda berhenti di tepian sungai Hunt untuk meraih air dengan telapak tangannya. Airnya yang jernih bergelombang ketika tersibak oleh sentuhan tangannya. Diminumnya air itu sedikit lalu digunakan untuk membasuh wajahnya yang penuh dengan keringat. Seketika datanglah Loup entah dari mana. Loup tak berhasil memperlambat larinya. Ia menabrak Vanda yang sedang membungkuk di tepian sungai. Sedetik kemudian mereka berdua sudah berada di air. Basah. Tawa pun kembali tergelak dari keduanya.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">&#8220;Apa tadi yang ingin kau sampaikan padaku tadi?” tanya Loup sambil mengeringkan sepatunya yang basah bebatuan pinggir sungai. Bergidik kedinginan, Vanda berkata &#8220;Tadi aku ingin menunjukkan buku yang dipinjamkan Pak Londra kepadaku. Entah mengapa kurasa kau juga pasti akan tertarik. Namun sekarang buku itu basah tercebur bersama tasku. Kau harus bertanggung jawab. Kau harus mengeringkannya!” Vanda memercikkan air sungai ke muka Loup. &#8220;Mengapa aku? aku kan tak sengaja melakukannya!&#8221; bela Loup. Tapi Vanda telah menyerahkan tas itu padanya. Dan Loup pun menerimanya, sambil membuka tas itu dan mencari buku yang dibicarakan Vanda. Buku itu cukup besar untuk seukuran buku dongeng, apa lagi sajak. Buku itu seperti buku peta yang selalu dibawa Bu Noorlya ketika ia mengajarkan geografi di sekolah. Buku itu sangat mewah dengan sampul kulit coklatnya yang berkilau karena basah. Dan Loup langsung merasa bersalah.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">&#8220;Baiklah, Akan ku keringkan buku ini dirumah, tapi apa yang ingin kau tunjukkan? Buku ini kosong, tidak ada tulisannya, bahkan judulnya pun tidak ada.” Vanda langsung menoleh &#8220;Jangan kau berlagak seperti orang suci lagi. Kau telah melakukan kesalahan dan harus bertanggung jawab. Mana mungkin kubawa buku berat itu jika tidak ada apapun didalamnya? Bilang saja jika kau malas mengeringkannya.” “Tidak, aku tidak berbohong. Buku ini memang tidak ada judul di sampulnya, dan tidak ada tulisan apapun di dalamnya&#8221; Loup terus berkata demikian sambil membalik-balik halamannya. Bajunya telah dilepaskan untuk diperas agar airnya keluar. Badan Loup yang kurus itu terlihat mengerikan bagi orang normal, Tapi Vanda sudah terbiasa melihatnya. Loup memang kurus sekali, pikirnya, tapi ia masih manusia, bukan gagang sapu. </span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Sambil mengibaskan rambut pendeknya, Vanda berkata &#8220;Memang benar, buku itu tak ada judul di sampulnya, itu salah satu yang membuatnya menarik. Tapi didalamnya ada sajak-sajak aneh yang tak kumengerti. Kupikir kau ingin membacanya. Ayahmu kan guru bahasa di sekolah. Tentu kau pernah membaca sajak semacam itu dari lemari buku ayahmu.” “Isi apa?” Tanya Loup. “Lihat sendiri halaman-halaman ini! Tak ada satu hurufpun didalamnya.” Vanda meninggikan lehernya untuk mencari tahu yang Loup katakan. Sejenak ia tak percaya akan kalimat Loup. Anak itu terlalu sering menggodanya. Tapi kali ini ia mencoba memejamkan matanya sekali lagi, dan mulai merasa mual. Ia yakin tadi di perpustakaan Pak Londra ia membacanya. Bahkan Pak Londra pun melihat ia membacanya seraya menawarkan buku itu untuk dibacanya dirumah. Jadi tak mungkin buku itu tidak ada isinya. </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Vanda melangkah mendekat pada Loup. Ia usap permukaan halaman demi halaman buku itu. Kosong, pikirnya. Bagaimana mungkin? Benaknya kembali disuguhi pernyataan. Sementara Loup masih mengoceh tentang kebohongan yang dibuatnya. Walaupun dibesar-besarkan oleh Loup, Vanda diam tak melawan sedikipun tuduhan Loup. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia sangat yakin tadi, beberapa saat sebelumnya di perpustakaan Pak Londra ia masih membaca sajak aneh di lembaran buku itu, lembaran halaman yang sama.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Masih basah kuyup, Vanda dan Loup berjalan pulang. Buku di tas Vanda terasa berat ditambah dengan kandungan air yang meresap. Ia menitipkannya di bahu Loup. Walaupun kurus, Loup tetap lebih kuat darinya. “Aku masih yakin buku itu tadi ada isinya.” seru Vanda. Loup menimpali dengan kelakar “Mungkin tintanya luntur terbawa air sungai.” Vanda memukul bahu Loup “Tak mungkin. Semuanya sangat aneh.” Mereka saling mengejek sepanjang perjalanan pulang. Tak lama kemudian sampailah mereka di gerbang perumahan Vont kota Hagistra. Jejeran rumah itu terlihat rapi seperti di permainan petak yang menggunakan 5 dadu untuk memainkannya. </span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Rumah Loup dan Vanda bersebelahan. Kakek Loup dan Kakek Vanda adalah sahabat karib semasa perang. Ketika perang usai mereka bersepakat untuk membeli sebidang tanah di komplek perumahan Vont lalu membangunnya bersama. Vanda dan Loup adalah keturunan ketiga yang tinggal dirumah itu. Rumah Vanda berwarna hijau oleh pohon Anggur yang merambat luas. Pohon&#160; rambat itu sengaja dirawat oleh ayahnya sehingga menutupi bagian depan tembok rumahnya. Sedangkan rumah Loup berwarna merah, sesuai dengan bata yang digunakan untuk membangunnya. Didepannya tergeletak sepeda roda tiga milik adik sepupunya. Dan seember mainan pelastik yang basah karena hujan. Tandanya bibi Lisma dan Arka, sepupu Loup, sedang datang berkunjung.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Rumah Loup dicapai lebih dulu dibandingkan dengan rumah Vanda bila berjalan dari arah sungai. Sekarang mereka telah berada di depan rumah Loup. Vanda berpamitan dan meminta tas berserta isinya dikeringkan. Besok akan Vanda ambil kembali ketika bersama berangkat ke sekolah. Loup mengangguk setuju dan masuk ke halaman rumah bata merahnya. Ibunya muncul dipintu sambil berkacak pinggang. Loup tau ibunya marah karena bajunya basah dan kotor. Vanda mempercepat jalannya tak ingin dilihat oleh ibu Loup, nanti ia terkena omel juga, pikirnya.</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Seampainya di rumah, Vanda mendapati rumahnya sepi. Mungkin ayah masih bekerja di toko ikan yang terletak tak jauh dari rumahnya. Ibu mungkin sedang mengajak adik-adiknya ke taman bermain. Karena kota ini hampir selalu gelap, hampir tak ada beda malam dan siang. Ia melirik jam peninggalan kakeknya yang selalu dibawanya. Jam itu basah. &#8220;Untung jam ini tahan air.” gumamnya. Jam telah menunjukkan pukul 7.30. waktunya makan malam, ia keheranan mengapa ibu dan ayahnya belum ada dirumah. Vanda langsung menuju kamarnya untuk mandi dan berganti baju. “Syukurlah kalo ibu tak ada, setidaknya aku bebas dari omelan, tak seperti Loup yang sial itu.” benak Vanda berbicara. Ketika ia di kamar mandi, terdengar keriuhan di bawah. Ibu dan adik-adiknya sudah pulang, dan adiknya ingin menjemput ayah di toko. &#8220;Ah, pasti ibu membawa kue kesukaannya.&#8221; pikir Vanda. Ia membasahi badannya dengan air pancuran. Hangat.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Sementara itu Loup dengan pakaiannya yang basah dan kotor terus menaiki tangga kayu melewati perapian menuju kamarnya di loteng. Perapian di ruang makan sungguh menggoda Loup untuk berhenti sejenak dan menghangatkan kaki dan tangannya yang nyaris beku karena udara dingin ditambah pakaiannya yang basah karena Vanda. Loup menutup pintu kayunya yang berat dan menyelotnya agar tak ada yang bisa masuk. Loup membuka baju dan celana basahnya dan menggantinya dengan piyama kering. Agak gelap di loteng, hanya ujung tempat tidur Loup yang agak terang karena diatasnya ditaruhnya lampu hidup berupa sepuluh kunang-kunang hidup yang dimasukkan kedalam botol plastik yang diberi lubang untuk para kunang-kunang bernafas. Loup lebih senang menggunakan lampu hidup sebagai penerang ketimbang lentera minyak, walaupun ia membutuhkannya malam ini. </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Ia teringat buku Vanda yang basah dan harus dikeringkannya. Buru-buru diambilnya buku itu dari tas basah yang cuma digantung sembarang di depan jendela kamar, berharap angin bisa mengeringkannya esok pagi. Loup membuka buku bersampul coklat yang kosong itu, ditaruhnya dengan hati-hati diatas peti tua di pojok gelap ruangan. Diangkatnya lentera minyaknya dari meja kayu keropos berkaki pendek tempat Loup biasa membaca lalu menggantungkan kaitannya pada kawat yang sudah ada bahkan sejak jaman kakeknya kecil, kata ayahnya. Kawat itu ditarik kebawah agar lebih dekat ke bukunya, karena Loup butuh panasnya, bukan sinarnya. Lentera minyak itu kini bukan hanya menerangi buku dan peti tua, tapi juga seluruh kamar Loup.<br />
Sampai-sampai Loup bisa melihat sarang laba-laba di tepian atap loteng dekat tempat tidurnya. </span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Loup mengelus halaman pertama buku coklat itu. “Masih basah,” pikirnya. Lembaran usang dan kasar tersebut terasa dingin di ujung-ujung jarinya. Lembar kecoklatan itu kosong, seperti juga lembar-lembar lainnya dalam buku itu. Loup menggeleng heran, berpikir untuk apa ada sebuah buku di perpustakaan yang isinya tidak ada. Buku kosong adanya di toko buku dan tas-tas anak-anak sekolah. Itupun buku-buku baru, dengan lembaran putih bersih dan sampul warna-warni. Loup yakin Vanda tidak bercanda, tapi yang ada di hadapannya cuma buku usang yang basah dan kosong. Loup berjalan ke tepi jendela dan duduk sambil memandang langit yang cerah berbintang, jam segini tidak akan mudah melihat pemandangan apapun kecuali rumah-rumah yang menaruh lentera minyak di depan rumah mereka. Ia tidak bisa melihat perpustakaan Pak Londra, padahal letaknya tidak terlalu jauh, tapi perpustakaan itu selalu gelap. Lentera-lentera hanya dinyalakan di ruang baca dan hanya saat ada yang membaca. Loup tergoda untuk mengunjungi perpustakaan dan bertanya-tanya pada Pak Londra tapi tidak malam ini. Dilihatnya rumah Vanda yang terang benderang oleh deretan lentera pada tiap sudut rumah, hanya kamar Vanda yang selalu agak gelap, lampu hidup saja yang tergantung di dalam kamarnya, jadi Loup hanya bisa melihat siluet vanda dari lotengnya, seperti malam ini. Dipicingkannya matanya sedikit. Ada siluet jelas keluar dari kamar mandi yang terang masuk ke kamar yang gelap dan jadi bayangan hitam saja. Vanda kah? Tentu saja. Siapa lagi?</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Loup menelan ludahnya. Vanda memang sahabatnya tapi ia tetap wanita dan sudah lama Loup melihatnya sebagai wanita. Loup membuang muka, mencoba mengalihkan pikirannya pada tugas mengeringkan bukunya malam ini. Ia pun berjalan lagi ke pojok kamarnya tempat peti tua, buku basah dan lenteranya berada.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">“Tidak ada gunanya” pikir loup. Dibukanya lembar demi lembar halaman buku tua yang mulai mengering itu. tetap tidak tertulis apapun. Dibawanya buku tersebut mendekati lentera minyak dengan harapan ia akan bisa melihat puisi-puisi yang dikatakan oleh vanda. Tadinya ia berfikir, jika buku itu sudah mengering, puisi-puisi itu akan muncul dengan sendirinya. Seperti buku ajaib. Tapi ternyata tidak seperti itu. Putus asa dilemparkannya buku itu ke atas meja kayu. Jika hingga esok pagi Vanda tidak menemukan sebaris kata pun didalamnya, ia pasti akan marah padaku. Tapi saat ini tidak ada yang bisa dilakukan, jadi Loup memutuskan untuk tidur dan berharap keajaiban akan datang.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Diseberang utara, Vanda melihat kamar Loup yang masih terang benderang. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Loup membolak balikkan buku tua itu. Vanda tertawa membayangkan ekspresi keras kepala Loup saat ia berusaha mencoba membaca apapun yang tertulis disana. Tapi Vanda mulai mengerti, Loup tidak bisa menemukan apapun seperti halnya Lak Londra. “Jalan menuju kota yang tidak pernah gelap” begitu kata Pak Londra. Benarkah kota seperti itu ada? Vanda mencoba membayangkan rasa matahari di kulitnya. Tidak bisa.. hanya ada dingin yang membekukan. Mungkin karena aku sudah terlalu lama hidup dalam gelap, pikirnya. Tapi, bukankah hal yang menyenangkan jika Hagitsra bisa bercahaya lagi? Akankah senangnya bisa membaca di padang rumput tanpa harus membawa-bawa lentera? Dan tidak akan ada omelan lagi karena terlambat pulang. Dibuku itu pasti tertulis caranya pergi ke kota yang penuh cahaya dan mencari tahu bagaimana caranya membawa matahari ke hagistra. Mungkinkah Loup mau membantunya? </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Vanda mengulang adegan di lapangan tadi. Loup memang tidak tampan seperti Jon ataupun Luthe, akan tetapi Loup teman yang sangat menyenangkan. Hanya Loup yang tidak menganggapnya aneh di sekolahan. Loup selalu mendengarkan ocehan Vanda cerita dongeng yang baru saja ia baca dari buku yang ia pinjam dari perspustakaan Pak Londra. Dan sekarang walau selalu mengejek, Loup terlihat percaya waktu Vanda berkata ada puisi didalam buku itu. Vanda menyayanginya. Pasti Loup mau membantunya, seperti halnya Vanda yang bersedia melakukan apapun untuk sahabatnya itu.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Membawa mimpi tentang Loup dan hagistra yang hangat, Vanda tertidur.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Api di Lilin tothy&#160; yang sengaja dinyalakan di ruang baca Pak Londra bergoyang terkena semilir angin. Angin itu membuat wangi ekstrak bunga Astride menyeruak ke seluruh ruangan, membuat efek damai bagi yang menciumnya. Wangi itu seperti wangi bunga Lavender bercampur dengan mawar kuning kadang wangi lautan juga muncul dari hangatnya cahaya putih lembut yang dipijarkan. Beda dengan nyala api di lentera minyak, api lilin tothy&#160; tidak berwarna kuning, melainkan ungu terang yang tentram. Cahayanya nyaman sekali jika digunakan untuk membaca buku. Terkadang muncul percikan bunga api dari sumbu yang terbakar. Bunga api itu berwarna-warni, seperti kembang api di malam perayaan ulang tahun Hagistra.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Pak Londra masih menyimpan satu peti besar Lilin tothy&#160;&#160; londra. Ia mendapatinya di ruang bawah tanah perpustakaannya bersama dengan berbotol-botol kristal anggur buatan moyangnya yang tersimpan dengan rapi di rak-rak kayu. Ia sengaja menyimpan lilin tothy&#160; untuk kepeluan khusus. Sekarang entah kenapa hati Pak Londra sangat riang sekaligus gundah. Ia membutuhkan cahaya tentram dan wangi tothy&#160;&#160; yang menenangkan. Diletakkannya lilin tothy&#160;&#160; itu di pojok ruangan, di atas meja bundar disebelah kursi bersandaran tangan yang empuk dan terbalut kulit rusa. Ia pun seraya duduk diatasnya sambil membuka buku yang berjudul &#8220;Semangat, Sinar dan Serumpun Asa&#8221;. Buku itu tampak tua dengan debu halus di antara lembaran-lembarannya.</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Pak Londra memiliki sangat banyak buku. Tiap malam sebelum tidur, ia selalu menyempatkan membaca satu buku yang dipilihnya secara acak dengan mencabut sembarang kartu katalog dari lacinya. Kali ini laci katalog itu memilihkan buku itu untuknya. Buku itu berisi tentang tuturan seorang ibu yang menunggu anak dalam kandungannya untuk dilahirkan ke dunia. Pak Londra tiba tiba menaruh buku itu dimeja. Diurungkan niatnya untuk membaca buku itu. Cahanya ungu lilin tothy&#160; menerangi sampulnya, memantulkan kata kata yang tertulis dari sampulnya; SEMANGAT &#8211; SINAR &#8211; ASA</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Terbayang dibenak Pak Londra sosok riang Vanda tadi siang. Teringat pancaran mata bulat yang selalu penuh dengan pertanyaan. Pak Londra mulai tahu apa penyebab kegembiraan yang bercampur kegelisahannya itu. Kaus kuning Vanda tadi, S-I-N-A-R, Pak Londra melihatnya dalam ingatan. Pandangan mata itu, SEMANGAT, dan ASA nya untuk mendapat sesuatu yang lebih baik. Dan lebih dari itu, Vanda berkata bahwa ia dapat melihat isi buku itu, bahkan membacanya. Ia katakan padanya, buku itu berisi sajak yang tak dimengertinya. Sajak, ulangnya dalam hati. Seumur hidupnya Pak Londa menyimpan buku itu tanpa mengetahui isinya. Buku itu kosong, baik sampul maupun isinya. Ia tak tahu bagaimana buku itu bisa berada di perpustakaannya seperti kebanyakan buku yang ada disana. Ia sering bermimpi bahwa buku itu adalah penunjuk ke Kota yang tak pernah gelap. Selau terngiang di kepalanya bahwa buku itu berharga. Maka dari itu ia menyimpannya denganharapan suatu saat ia mengerti maksud dari mimpinya tersebut. Tapi ia ingat betul bahwa ia menaruhnya dengan rapi di ruangan kantor perpustakaan, bersama dengan buku-buku yang belum ia kumpulkan dengan subjek yang sama dengan buku lainnya. Buku itu ada di dalam lemari, di rak yang paling tinggi.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Bagaimana buku itu ada di Vanda? pikir Pak Londra. Ia selalu bilang ke anak-anak yang datang ke perpustakaannya, bahwa buku yang memilih pembacanya. Ia percaya itu. Tapi buku yang menghampiri pembacanya secara harfiah – terbang melayang ke pembacanya &#8211; tidaklah mungkin. Sambil berpikir, Pak Londra bangkit dan berjalan ke kantor perpustakaannya. Ia ingin memastikan apakah lemari itu rubuh, atau tak terkunci. Bagaimana buku itu sampai di tangan Vanda? Menepis pikiran anehnya Pak Londra mengira, mungkin buku itu memang terjatuh dari lemari lalu terbawa oleh anak-anak nakal yang suka mengoprek ruangan kantornya yang penuh lukisan.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Sesampainya di muka kantor, Pak Londra membuka pintunya yang berat. Ia mendapati ruang kantor itu rapi tak seperti bekas kedatangan sekelompok anak-anak nakal yang mengacak-acak atas mejanya. Tumpukan suratnya pun masih rapih tersusun diatas meja. Globe masih ditempatnya semula ketika ia menunjukkan letak kutub utara dan selatan pada Tim, anak sepupunya. Pandangannya beralih ke lemari temat ia menyimpan buku yang kini dibawa Vanda. Lemari itu kokoh dan tinggi terbuat dari kayu Elk yang terbaik yang pernah ia miliki. Karena lantainya agak miring, pintunya selalu terbuka dengan sendiri. Pak londa membeli kunci gembok agar lemari itu tertutup sedia kala. Terkejut Pak Londra ketika ia mendapati lemari itu masih terkunci dengan rapat. Ini mulai aneh, pikir Pak Londa sambil mengerenyitkan kulit dahinya.</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" />
<div class="flockcredit" style="text-align:right;color:#CCC;font-size:x-small;">Blogged with the <a href="http://www.flock.com/blogged-with-flock" style="color:#999;font-weight:bold;" target="_new" title="Flock Browser">Flock Browser</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[La Légende des nuées écarlates  (T.3) ]]></title>
<link>http://bdsnews.fr/2009/11/23/la-legende-des-nuees-ecarlates-t-3/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 02:23:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>Percevoir</dc:creator>
<guid>http://bdsnews.fr/2009/11/23/la-legende-des-nuees-ecarlates-t-3/</guid>
<description><![CDATA[      On entre avec bonheur, gourmandise, voire avidité dans certains albums de BD. D’autres, happen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><a href="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees-t1-cv.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3342" title="LegendesNuees t1 cv" src="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees-t1-cv.jpg?w=112" alt="" width="112" height="150" /></a>   <a href="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/couv_nuees_ecarlate_2.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3343" title="COUV_NUEES_ECARLATE_2" src="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/couv_nuees_ecarlate_2.jpg?w=112" alt="" width="112" height="150" /></a>   <a href="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/couv_legendenuees_t3.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3344" title="COUV_legendenuees_T3" src="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/couv_legendenuees_t3.jpg?w=112" alt="" width="112" height="150" /></a></p>
<p>On entre avec bonheur, gourmandise, voire avidité dans certains albums de BD. D’autres, happent leur lecteur, le subjugue avec puissance, fascination. C’est tout un univers alors qui s’impose : unique, superbe, envoutant !</p>
<p>Les trois albums de <em><strong>La Légende des nuées écarlates</strong></em> appartiennent à cette seconde catégorie tant le graphisme comme l’aventure sont forts et fascinants; quant à la mise en couleur, elle s’offre des blancs et des rouges saisissants…</p>
<p>Si vous avez échappé à « <em><strong>La ville qui parle au ciel</strong></em> » (septembre 2006), puis à « <em><strong>Comme feuilles au vent</strong></em> » (octobre 2008), la sortie du troisième et avant dernier album de cette série, « <em><strong>Le trait parfait</strong></em> », vous interdit maintenant de passer à côté de cette merveille d’aventure onirique sur fond de Japon moyenâgeux et fantastique.</p>
<p>La légende raconte qu’un jour, un petit garçon et son petit loup blanc avançaient péniblement dans la froideur neigeuse de la forêt de glace. Comme le louveteau allait mourir d’épuisement, le garçon se mutila et lui offrit son œil gauche afin de le nourrir. Caché non loin de là, un loup noir assistait à la scène. Le lendemain, l’enfant fut secouru par des villageois. Son petit loup avait disparu mais les villageois racontèrent aussi qu’ils l’auraient vu s’éloigner aux côtés d’un grand loup noir auquel il manquait un œil. L’enfant, lui, était sauf. Seul, son œil gauche brillait d’une lueur différente.</p>
<p> Ainsi s’esquissent, sur une toile blanche d’estampe, les liens mystérieux et rouge sang qui unissent Raido Caym, le rônin amnésique et manchot, la jeune marionnettiste Meiki, la fille du noble Fudo dont la mort semble avoir plongé son royaume dans une malédiction froide de neige.</p>
<p>Saverio Tenuta sait ainsi offrir à ses lecteurs une merveille de planches et de récit, avec tout la force du mythe, de l’humanité qui croisent leurs destinées sur fond de fidélité et de lâchetés.</p>
<p>A découvrir et à offrir… !!!</p>
<p><em><strong>La Légende des nuées écarlates</strong></em> (T.3 : « Le trait parfait ») de Saverio Tenuta édité aux Humanoïdes Associés en novembre 2009</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees-t1-pl1.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3346" title="LegendesNuees t1 pl1" src="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees-t1-pl1.jpg?w=111" alt="" width="111" height="150" /></a> <a href="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees-t1-pl-2.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3345" title="LegendesNuees t1 pl 2" src="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees-t1-pl-2.jpg?w=111" alt="" width="111" height="150" /></a> <a href="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees-t1-pl-3.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3347" title="LegendesNuees t1 pl 3" src="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees-t1-pl-3.jpg?w=111" alt="" width="111" height="150" /></a> <a href="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees-t1-pl-4.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3348" title="LegendesNuees t1 pl 4" src="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees-t1-pl-4.jpg?w=111" alt="" width="111" height="150" /></a></p>
<p style="text-align:center;"> <a href="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees-t2-pl1.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3350" title="LegendesNuees t2 pl1" src="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees-t2-pl1.jpg?w=114" alt="" width="114" height="150" /></a>    <a href="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees-t2-pl2.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3351" title="LegendesNuees t2 pl2" src="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees-t2-pl2.jpg?w=114" alt="" width="114" height="150" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees1.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3352" title="LegendesNuees1" src="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees1.jpg?w=112" alt="" width="112" height="150" /></a>        <a href="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees2.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-3353" title="LegendesNuees2" src="http://bdsnews.wordpress.com/files/2009/11/legendesnuees2.jpg?w=112" alt="" width="112" height="150" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Le cri du loup]]></title>
<link>http://didonity.wordpress.com/2009/11/22/le-cri-du-loup/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 18:44:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>didonity</dc:creator>
<guid>http://didonity.wordpress.com/2009/11/22/le-cri-du-loup/</guid>
<description><![CDATA[Le cri du loup surgit, Il n’existe plus de saison. La gloire du silence languit, Il n’y aura plus d’]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="///Users/tripnizen/Library/Caches/TemporaryItems/moz-screenshot.png" alt="" /><a href="http://didonity.wordpress.com/files/2009/11/loup.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-88" title="loup" src="http://didonity.wordpress.com/files/2009/11/loup.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Le cri du loup surgit,</p>
<p>Il n’existe plus de saison.</p>
<p>La gloire du silence languit,</p>
<p>Il n’y aura plus d’horizon.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Le cri du loup s’accroît,</p>
<p>Les nectars se tarissent.</p>
<p>La brillance du jour se noie,</p>
<p>Les anges se meurtrissent.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Le cri du loup s’affirme,</p>
<p>Les pensées ne sont plus.</p>
<p>Les mains tremblent, se briment,</p>
<p>Le corps a froid de son nu.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Le cri du loup s’attise,</p>
<p>Le sang bout et se brûle.</p>
<p>La bouche des mots se brise,</p>
<p>La langue des goûts s’émascule.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Le cri du loup s’égorge,</p>
<p>Le bonheur des souvenirs échoue.</p>
<p>L’âme de rouge se forge,</p>
<p>La faux assène son dernier coup.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Le cri du loup se meurt,</p>
<p>Les bourgeons sont éclos.</p>
<p>L’aube enterre sa peur,</p>
<p>Le monde œuvre à nouveau.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Le cri du loup n’est plus.</p>
<p>Les sourires s’irradient</p>
<p>Mais le cœur est rébus.</p>
<p>Du loup rugira encore le cri…</p>
<p>&#160;</p>
<p>Dido,</p>
<p>15/01/07</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Le loup, monstre et démon. T'en penses quoi ?]]></title>
<link>http://glandus75.wordpress.com/2009/11/17/le-loup-monstre-et-demon-ten-penses-quoi/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 13:55:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>glandus75</dc:creator>
<guid>http://glandus75.wordpress.com/2009/11/17/le-loup-monstre-et-demon-ten-penses-quoi/</guid>
<description><![CDATA[lire l&#8217;article]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://beaujarret.fiftiz.fr/blog/8599,le-loup-monstre-et-demon.html">lire l&#8217;article</a></p>
<p><img class="alignleft" style="margin-left:5px;margin-right:5px;" title="Le loup" src="http://beaujarret.fiftiz.fr/blog/images/b/e/beaujarret/123409173453.jpeg" alt="" width="500" height="304" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[New Over at Loup ]]></title>
<link>http://styleslam.wordpress.com/2009/11/12/new-over-at-loup/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 16:07:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>styleslam</dc:creator>
<guid>http://styleslam.wordpress.com/2009/11/12/new-over-at-loup/</guid>
<description><![CDATA[Loup by Danielle Ribner. Good news from the Loup camp! Designer Danielle Ribner will open an online ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_231" class="wp-caption aligncenter" style="width: 205px"><img class="size-medium wp-image-231" title="newsletter1of" src="http://styleslam.wordpress.com/files/2009/11/newsletter1of.jpg?w=195" alt="Loup by Danielle Ribner. " width="195" height="300" /><p class="wp-caption-text">Loup by Danielle Ribner.</p></div>
<p>Good news from the <a href="http://www.louponline.com/" target="_blank">Loup camp</a>!</p>
<p>Designer <strong>Danielle Ribner</strong> will open an online shop for her cute tennis brand very soon. By December you can get Loup delivered straight to your door, at least in the US. Stay tuned, Style Slam will update you as soon as we know more!</p>
<p>I hope they will be avaliable here in Europe too&#8230;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tous sauf un de Nadine Brun-Cosme et Anne-Isabelle Le Touzé]]></title>
<link>http://jeunesseapages.wordpress.com/2009/10/30/tous-sauf-un-de-nadine-brun-cosme-et-anne-isabelle-le-touze/</link>
<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 18:04:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>cjeanney</dc:creator>
<guid>http://jeunesseapages.wordpress.com/2009/10/30/tous-sauf-un-de-nadine-brun-cosme-et-anne-isabelle-le-touze/</guid>
<description><![CDATA[Genre : Album À partir de 4 ans Parution en Octobre 2009 -illustrations sous copyright des éditions ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><strong><span style="color:#800080;">Genre :</span> <span style="color:#0000ff;">Album</span><br />
<span style="color:#33cccc;">À partir de 4 ans</span><br />
<span style="color:#ff6600;">Parution en Octobre 2009</span></strong></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#008000;">-illustrations sous copyright des éditions Points de suspension-</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><strong><span style="color:#ff6600;"><br />
</span></strong></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><strong><span style="color:#ff6600;"><br />
</span></strong></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000080;"><a href="http://jeunesseapages.wordpress.com/files/2009/10/couv-tous-sauf-un.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-5931" title="Tous sauf un, aux éditions Points de suspension" src="http://jeunesseapages.wordpress.com/files/2009/10/couv-tous-sauf-un.jpg" alt="Tous sauf un, aux éditions Points de suspension" width="200" height="228" /></a></span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;padding-left:30px;"><span style="color:#ffffff;">-</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;padding-left:30px;"><span style="color:#000080;">« Depuis toujours, ce loup-là mangeait les moutons. Les bruns, les blancs, les maigres et les bien ronds. Dès qu’il en voyait un pointer le bout de son museau, c’était plus fort que lui : hop ! Il sautait dessus et l’avalait tout cru.<br />
Ce loup-là mangeait tous les moutons.<br />
Tous, sauf un. »</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000080;"><br />
</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000000;">Voilà un personnage principal bien planté : un loup &#8220;loup&#8221; jusqu’au bout des griffes, musclé, affamé, rapide et extrêmement carnivore, qui adore gober les moutons, effrayer les enfants et détruire les petites fleurs fragiles…</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000000;"><br />
</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000000;"><a href="http://jeunesseapages.wordpress.com/files/2009/10/tous-sauf-un3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-5935" title="le loup fait peur aux enfants" src="http://jeunesseapages.wordpress.com/files/2009/10/tous-sauf-un3.jpg" alt="le loup fait peur aux enfants" width="200" height="181" /></a><br />
</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;padding-left:30px;"><span style="color:#000000;"><br />
Mais, trois grains de sable se glissent dans ce rouage si bien huilé : un mouton refuse de se faire dévorer, un enfant refuse d’être effrayé et une petite fleur survit à toute entreprise de démolition…</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000000;"><br />
Voilà notre loup face à un problème, et même, face à trois problèmes ! Un mouton, un enfant et une fleur, qui le mettent en échec :</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000000;"><span style="color:#000080;"><br />
« Et bougre, ça l’énervait si fort ce[s] plus malin[s] que lui ! »</span></span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;padding-left:30px;"><span style="color:#000000;"><span style="color:#000080;"> </span><br />
Jusqu’au jour où le loup réussit à éliminer ces obstacles… Mais !?!&#8230;</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;padding-left:30px;"><span style="color:#000000;"> La suite est à lire dans <strong><span style="color:#000080;">Tous sauf un</span></strong> !<br />
</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000000;"><br />
C’est une très belle histoire que nous raconte <strong>Nadine Brun-Cosme</strong>. Écrivain, pédagogue et psychothérapeute de formation, elle touche ici des thèmes comme la compétition, la volonté de toute puissance et la frustration. Avec une construction efficace, ponctuée de phrases qui reviennent comme autant de petits refrains, elle amplifie le plaisir du lecteur-auditeur. Rien de plus gratifiant que d’anticiper des mots attendus (sans oublier le zeste de poésie que cela apporte). Et la morale de l’histoire, pleine de sagesse, montre que l’épanouissement passe aussi par une acceptation de nos propres limites…</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000000;"><br />
</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000000;"><a href="http://jeunesseapages.wordpress.com/files/2009/10/tous-sauf-un2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-5934" title="Le loup la nuit" src="http://jeunesseapages.wordpress.com/files/2009/10/tous-sauf-un2.jpg" alt="Le loup la nuit" width="200" height="176" /></a><br />
</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000000;"><br />
<strong>Anne-Isabelle Le Touzé</strong> illustre gaiment cette histoire avec des pages d’une apparente simplicité : les personnages sont explicites, cernés de noir. En y regardant de plus près, le travail des nuances, des colorations, des effets du décor, est très achevé. Rien de simpliste dans le feuillage des arbres, mais un jeu d’impressions, de traces et d’aquarelles qui donne une belle profondeur aux pages.</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;padding-left:30px;"><span style="color:#000000;"><br />
Si l’on ajoute à toutes ces qualités le travail soigné des <span style="color:#008000;"><strong>éditions Points de suspension</strong></span> et leur attachement à publier un album imprimé avec des encres végétales, sur du papier issu de forêts gérées durablement… </span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;padding-left:30px;"><span style="color:#000000;"><br />
</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000000;">Que demander de plus ?</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000000;"><br />
</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000000;"><a href="http://jeunesseapages.wordpress.com/files/2009/10/tous-sauf-un-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-5933" title="Tous sauf un !" src="http://jeunesseapages.wordpress.com/files/2009/10/tous-sauf-un-1.jpg" alt="Tous sauf un !" width="200" height="174" /></a><br />
</span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000000;"><br />
<strong><span style="color:#800080;">Tous sauf un</span> </strong>de<strong> Nadine Brun-Cosme </strong>et<strong> Anne-Isabelle Le Touzé<br />
Aux <a href="http://www.pointsdesuspension.com/" target="_blank"><span style="text-decoration:underline;">éditions Points de suspension </span></a></strong></span></div>
<div style="font-size:16pt;font-family:Times New Roman;text-align:left;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://jeunesseapages.wordpress.com/files/2009/10/tous-sauf-un-de-nadine-brun-cosme-et-anne-isabelle-le-touze.pdf"><img class="size-full wp-image-5875 alignleft" title="format pdf imprimable" src="http://jeunesseapages.wordpress.com/files/2009/10/imprimante-icone-copie.jpg" alt="format pdf imprimable" width="35" height="39" /></a><br />
</span></strong></span></div>
<p style="text-align:left;"><a href="http://tools.blogonet.fr/article.php"><span style="color:#000000;"> </span></a><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p style="text-align:left;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Une petite fille et sa grand mère ont disparu : on souçonne un loup récidiviste]]></title>
<link>http://tipaza.wordpress.com/2009/10/30/un-loup-devore-une-petite-fille-et-sa-grand-mere/</link>
<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 10:53:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>tipaza</dc:creator>
<guid>http://tipaza.wordpress.com/2009/10/30/un-loup-devore-une-petite-fille-et-sa-grand-mere/</guid>
<description><![CDATA[Une petite fille et sa grand-mère ont disparu: on soupçonne un loup récidiviste. Un  remake  de l]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Une petite fille et sa grand-mère ont disparu: on soupçonne un loup récidiviste.<br />
</strong></p>
<p style="text-align:left;">Un  remake  de l&#8217; histoire du petit chaperon rouge  ?</p>
<p style="text-align:left;">Certes ça ressemble à un fait divers : une victime innocente,  ravissante, naïve et obéissante. Une mère, une grand-mère, un petit village, un assassin calculateur, séducteur, lubrique et sanguinaire.</p>
<p style="text-align:left;"><img class="alignleft" style="margin:2px 5px;" title="gravure  de Gustave Doré" src="http://contes-perrault-enfants.com/img/chaperon.jpg" alt="" width="300" height="251" /></p>
<p style="text-align:left;">Rappelons les faits : dans un  village, une mère  envoie sa petite fille  porter une galette et un  pot de beurre  chez sa grand-mère  malade. Celle-ci  habite dans un village voisin. Il faut traverser une forêt pour y parvenir.  La mère inquiète de ne pas voir revenir la fillette  a alerté les secours. On n’a jamais retrouvé trace ni de  la fillette, ni de sa grand-mère. Que s’est il Passé ? Leur route a t-elle croisé celle  du loup? Un loup, déjà condamné pour plusieurs affaires de moeurs, est soupçonné.</p>
<p style="text-align:left;">Mais c’est un conte moral.   Peu importe le nom du village l’histoire  a pour but  de mettre en garde les petites filles  contre  les séducteurs rencontrés en chemin.   Les petites filles  ne devraient  pas s’éloigner  de chez elles,  ni parler au loup, ni poser des questions stupides.</p>
<p style="text-align:left;"><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/3aCsKFyjApo&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/3aCsKFyjApo&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Grand mechant loup : Test 1 ]]></title>
<link>http://tagadiane.wordpress.com/2009/10/24/grand-mechant-loup-test-1/</link>
<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 17:48:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>tagadiane</dc:creator>
<guid>http://tagadiane.wordpress.com/2009/10/24/grand-mechant-loup-test-1/</guid>
<description><![CDATA[Bon, comme on m&#8217; a mis au defi la derniere fois, je me suis mise a essayer de faire autre chos]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bon, comme on m&#8217; a mis au defi la derniere fois, je me suis mise a essayer de faire autre chose que de gentilles et adorables creatures.</p>
<p>Je me suis donc remise au loup, mais version &#8221; pas touche&#8221; et non version peluche :</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-1037" title="wolf-2" src="http://tagadiane.wordpress.com/files/2009/10/wolf-2.png" alt="wolf-2" width="400" height="266" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[L'odeur enivrante de la montagne]]></title>
<link>http://webclasse.wordpress.com/2009/10/23/lodeur-enivrante-de-la-montagne/</link>
<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 16:09:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>JFS</dc:creator>
<guid>http://webclasse.wordpress.com/2009/10/23/lodeur-enivrante-de-la-montagne/</guid>
<description><![CDATA[Décrire une image : une phrase créée aujourd&#8217;hui par nos 10 CE2, et qui leur a plu énormément ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;">Décrire une image :</p>
<p style="text-align:center;">une phrase créée aujourd&#8217;hui par nos 10 CE2, et qui leur a plu énormément !</p>
<p style="text-align:center;"> </p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1314" title="pere_castor_chevre_monsieur_seguin" src="http://webclasse.wordpress.com/files/2009/10/pere_castor_chevre_monsieur_seguin.jpg" alt="pere_castor_chevre_monsieur_seguin" width="475" height="417" /></p>
<p style="text-align:center;"> </p>
<h1><span style="color:#008000;">&#8221; Dans la montagne, au milieu des buissons, la chèvre de Monsieur Seguin traverse un torrent en sautant joyeusement sur les rochers. </span><span style="color:#008000;">&#8220;</span></h1>
<h1><span style="color:#008000;"> </span></h1>
<h1><span style="color:#008000;">23/10/09</span></h1>
<h1 style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"> </span></h1>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Passion ]]></title>
<link>http://purenrgy.wordpress.com/2009/10/23/passion/</link>
<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 12:11:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>purenrgy</dc:creator>
<guid>http://purenrgy.wordpress.com/2009/10/23/passion/</guid>
<description><![CDATA[(en Français plus bas) Photographer Jose Luis Rodriguez knows something about passion, dedication, p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:left;"><em>(en Français plus bas)</em></p>
<p style="text-align:left;">Photographer Jose Luis Rodriguez knows something about passion, dedication, persistence and patience! He just won the 2009 award for wildlife photography (<a href="http://news.bbc.co.uk/earth/hi/earth_news/newsid_8318000/8318226.stm" target="_blank">Source: BBC</a>) with his amazing leaping wolf photography! When you have a passion and you&#8217;re committed to live it, persistence, consistency and patience (it took him years to plan that picture!) will lead you to your destination.</p>
<p style="text-align:left;">Now go out and do life!</p>
<p style="text-align:center;">
<div id="attachment_66" class="wp-caption aligncenter" style="width: 280px"><img class="size-medium wp-image-66 " title="leaping wolf" src="http://purenrgy.wordpress.com/files/2009/10/46585508_wolf.jpg?w=300" alt="2009 award photography " width="270" height="191" /><p class="wp-caption-text">2009 award photography </p></div>
<p>&#8211;FRANCAIS&#8211;</p>
<p>Le photographe Jose Luis Rodriguez sait quelque chose de la passion, l&#8217;engagement, la persistance et la patience. Il vient juste de gagner le prix de la photo du monde sauvage avec sa superbe photo d&#8217;un loup en plein saut! Quand vous avez une passion et que vous êtes engagé à la vivre, la persistance, la consistance et la patience (Cette photo lui a pris des années de préparation!) vous guideront à votre destination.</p>
<p>Maintenant, sortez et VIVEZ!</p>
<p>Héloïse</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[A l'ombre d'un hôtel]]></title>
<link>http://agatha7.wordpress.com/2009/10/19/a-lombre-dun-hotel/</link>
<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 00:03:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Agatha</dc:creator>
<guid>http://agatha7.wordpress.com/2009/10/19/a-lombre-dun-hotel/</guid>
<description><![CDATA[Je lui ai soufflé un adieu si bas, qu&#8217;il ne l&#8217;a pas entendu. Mais en lisant ces quelques]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;">Je lui ai soufflé un adieu si bas, qu&#8217;il ne l&#8217;a pas entendu.</p>
<p style="text-align:center;">Mais en lisant ces quelques lignes, il saura&#8230;</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">On ne se retrouvera plus.</p>
<p>__________</p>
<p><em>A mon Loup : Merci de m&#8217;avoir aidée à me retrouver, il ne manque plus aucune pièce au puzzle. Baisers légers et chastes</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Festins (anonyme eskimo)]]></title>
<link>http://arbrealettres.wordpress.com/2009/10/16/festins-anonyme-eskimo/</link>
<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 05:17:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>arbrealettres</dc:creator>
<guid>http://arbrealettres.wordpress.com/2009/10/16/festins-anonyme-eskimo/</guid>
<description><![CDATA[L’oiseau a mangé le ver le renard a mangé l’oiseau Le loup a mangé le renard L’ours a mangé le loup ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:center;"><span style="font-style:italic;font-weight:bold;font-size:17px;font-family:Comic sans-serif;color:blue;"><br />
<a rel="attachment wp-att-5421" href="http://arbrealettres.wordpress.com/2009/10/16/festins-anonyme-eskimo/big05-f/"><img class="aligncenter size-full wp-image-5421" title="big05-f" src="http://arbrealettres.wordpress.com/files/2009/10/big05-f.gif" alt="big05-f" width="721" height="776" /></a><br />
L’oiseau a mangé le ver<br />
le renard a mangé l’oiseau<br />
Le loup a mangé le renard<br />
L’ours a mangé le loup<br />
L’homme a mangé l’ours<br />
Et le ver mangera l’homme<br />
Et tout va recommencer<br />
Le jour mangera la nuit<br />
La nuit mangera le jour</p>
<p>(anonyme eskimo)</p>
<p></span></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[tit loup !]]></title>
<link>http://tagadiane.wordpress.com/2009/10/15/tit-loup/</link>
<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 09:54:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>tagadiane</dc:creator>
<guid>http://tagadiane.wordpress.com/2009/10/15/tit-loup/</guid>
<description><![CDATA[aujourd hui , envie de faire de l&#8217; illu pour la jeunesse!]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignnone size-full wp-image-1019" title="lupus-copy" src="http://tagadiane.wordpress.com/files/2009/10/lupus-copy.png" alt="lupus-copy" width="400" height="578" /></p>
<p>aujourd hui , envie de faire de l&#8217; illu pour la jeunesse!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Un loup et un cuisinier]]></title>
<link>http://gperreault.wordpress.com/2009/10/15/unloupetuncuisinier/</link>
<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 03:53:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>Guillaume Perreault</dc:creator>
<guid>http://gperreault.wordpress.com/2009/10/15/unloupetuncuisinier/</guid>
<description><![CDATA[Une petite mise à jour sur ce qui me tient éveillé ces temps ci! Deux contrat avec le Centre franco ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Une petite mise à jour sur ce qui me tient éveillé ces temps ci!<br />
Deux contrat avec le Centre franco Ontarien de Ressources Pédagogiques (CFORP pour les intimes) avec qui je fait affaires depuis plusieurs années.</p>
<p>Le sketch et l&#8217;illustration vectoriel à mi chemin du Chef Pommerleau.<br />
J&#8217;attend l&#8217;approbation pour y ajouter la texture!</p>
<p><img alt="" src="http://farm3.static.flickr.com/2454/4012657041_d8bb884aea.jpg" class="alignnone" width="500" height="362" /><br />
<img alt="" src="http://farm3.static.flickr.com/2541/4012657083_97b41e5cbb.jpg" class="alignnone" width="500" height="310" /></p>
<p>Loup Filou et ses mésaventures, celui la terminer.<br />
Je suis bien content de la progression entre la case 3 à 5, c&#8217;est toujours vraiment intéressant travailler pour le CFORP!</p>
<p><img alt="" src="http://farm3.static.flickr.com/2588/4013428836_db704fbb73.jpg" class="alignnone" width="500" height="459" /><br />
<img alt="" src="http://farm4.static.flickr.com/3494/4012659163_f4061a659c.jpg" class="alignnone" width="500" height="469" /><br />
<img alt="" src="http://farm3.static.flickr.com/2593/4013426670_66ab18d80a.jpg" class="alignnone" width="500" height="400" /><br />
<img alt="" src="http://farm4.static.flickr.com/3132/4012659035_181788f235.jpg" class="alignnone" width="500" height="400" /><br />
<img alt="" src="http://farm3.static.flickr.com/2605/4013426556_0acd6239a1.jpg" class="alignnone" width="500" height="400" /><br />
<img alt="" src="http://farm3.static.flickr.com/2649/4012661469_7fc11b810c.jpg" class="alignnone" width="500" height="400" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Filia dolorosa [Dessins/Machine 2001-2004]]]></title>
<link>http://prohpudor.wordpress.com/2009/10/06/filia-dolorosa-dessinsmachine-2001-2004/</link>
<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 20:49:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>Adieu Maldone</dc:creator>
<guid>http://prohpudor.wordpress.com/2009/10/06/filia-dolorosa-dessinsmachine-2001-2004/</guid>
<description><![CDATA[Filia dolorosa [Dessins/Machine 2001-2004]]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://prohpudor.wordpress.com/files/2009/10/filia-dolorosadessins-machine-2001-2004.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-120065376" title="Filia dolorosa [Dessins/Machine 2001-2004]" src="http://prohpudor.wordpress.com/files/2009/10/filia-dolorosadessins-machine-2001-2004.jpg" alt="Filia dolorosa [Dessins/Machine 2001-2004]" width="381" height="537" /></a></p>
<p>Filia dolorosa [Dessins/Machine 2001-2004]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[J'invite le loup (Adonis)]]></title>
<link>http://arbrealettres.wordpress.com/2009/10/05/jinvite-le-loup-adonis/</link>
<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 06:07:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>arbrealettres</dc:creator>
<guid>http://arbrealettres.wordpress.com/2009/10/05/jinvite-le-loup-adonis/</guid>
<description><![CDATA[J&#8217;invite le loup pour qu&#8217;il lave le miroir des moutons qui ont oublié leur image. (Adoni]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:center;"><span style="font-style:italic;font-weight:bold;font-size:17px;font-family:Comic sans-serif;color:blue;"><a rel="attachment wp-att-4671" href="http://arbrealettres.wordpress.com/2009/10/05/jinvite-le-loup-adonis/mouton-loup/"><img class="aligncenter size-full wp-image-4671" title="mouton-loup" src="http://arbrealettres.wordpress.com/files/2009/10/mouton-loup.jpg" alt="mouton-loup" width="497" height="284" /></a></p>
<p>J&#8217;invite le loup<br />
pour qu&#8217;il lave le miroir<br />
des moutons qui ont oublié leur image.</p>
<p>(Adonis)</p>
<p></span></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peter Facinelli sur son Twitter.]]></title>
<link>http://maniatwilight.wordpress.com/2009/10/02/peter-facinelli-sur-son-twitter/</link>
<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 05:56:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>Sam</dc:creator>
<guid>http://maniatwilight.wordpress.com/2009/10/02/peter-facinelli-sur-son-twitter/</guid>
<description><![CDATA[C&#8217;est encore avec plaisir que l&#8217;on retrouve Peter Facinelli sur son Twitter où il nous i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[C&#8217;est encore avec plaisir que l&#8217;on retrouve Peter Facinelli sur son Twitter où il nous i]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sept mois plus tard]]></title>
<link>http://agatha7.wordpress.com/2009/09/29/sept-mois-plus-tard/</link>
<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 22:01:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>Agatha</dc:creator>
<guid>http://agatha7.wordpress.com/2009/09/29/sept-mois-plus-tard/</guid>
<description><![CDATA[Seins libres sous le pull ou la chemise Jupe Porte-jarretelles noires Bas couleur chair String minus]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1744" title="114528_main" src="http://agatha7.wordpress.com/files/2009/09/114528_main.jpg?w=300" alt="114528_main" width="300" height="300" /></p>
<ul>
<li>Seins libres sous le pull ou la chemise</li>
<li>Jupe</li>
<li>Porte-jarretelles noires</li>
<li>Bas couleur chair</li>
<li>String minuscule</li>
</ul>
<p> </p>
<ul>
<li>Cheveux noirs de jais, mi-longs</li>
<li>Yeux bridés</li>
<li>Petit nez</li>
<li>Bouche pulpeuse</li>
<li>Langue savoureuse</li>
</ul>
<p> </p>
<p style="text-align:center;">Le loup est de retour&#8230;</p>
<p style="text-align:center;"><strong><em>Qui</em></strong> va passer &#8220;à la casserole&#8221; ?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Danse avec les loups]]></title>
<link>http://gilgphoto.wordpress.com/2009/09/28/danse-avec-les-loups/</link>
<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 19:34:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>gilgphoto</dc:creator>
<guid>http://gilgphoto.wordpress.com/2009/09/28/danse-avec-les-loups/</guid>
<description><![CDATA[La vallée des loups , Courzieu (69) Large on black]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>La vallée des loups , Courzieu (69)</p>
<p><a href="http://bighugelabs.com/onblack.php?id=3962912707&#38;size=large">Large on black</a></p>
<p><a href="http://bighugelabs.com/onblack.php?id=3962912707&#38;size=large"><img class="alignnone" src="http://farm4.static.flickr.com/3133/3962912707_d26f27ecf1_o.jpg" alt="" width="480" height="320" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Un souvenir, c'est un peu comme un papillon]]></title>
<link>http://pythonscope.wordpress.com/2009/09/27/un-souvenir-cest-un-peu-comme-un-papillon/</link>
<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 08:45:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>pythoon</dc:creator>
<guid>http://pythonscope.wordpress.com/2009/09/27/un-souvenir-cest-un-peu-comme-un-papillon/</guid>
<description><![CDATA[Parce que ça vole, ça virevolte, ça disparaît ou ça réapparaît, ça se cache, c&#8217;est libre, au v]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><span style="font-family:calibri;color:#626262;">Parce que ça vole, ça virevolte, ça disparaît ou ça réapparaît, ça se cache, c&#8217;est libre, au vent, ça fait comme des étincelles de couleurs et c&#8217;est fragile comme la dentelle&#8230;<br />
</span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://pythonscope.wordpress.com/files/2009/09/4-souvenir_small.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-646" title="clic clic, ça s'agrandit" src="http://pythonscope.wordpress.com/files/2009/09/4-souvenir_small.jpg" alt="4.souvenir_small" width="420" height="637" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Un loup va se faire tuer suite à la décision du préfet de la Drôme !]]></title>
<link>http://bande2brute.wordpress.com/2009/09/09/un-loup-va-se-faire-tuer-suite-a-la-decision-du-prefet-de-la-drome/</link>
<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 19:25:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>3m1l13</dc:creator>
<guid>http://bande2brute.wordpress.com/2009/09/09/un-loup-va-se-faire-tuer-suite-a-la-decision-du-prefet-de-la-drome/</guid>
<description><![CDATA[Suite aux attaques répétées sur un troupeau du Vercors, le préfet a décidé qu&#8217;il fallait tuer ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignnone" src="http://www.carnivores-rapaces.org/Loup/loup.JPG" alt="" width="243" height="167" /> Suite aux attaques répétées sur un troupeau du Vercors, le préfet a décidé qu&#8217;il fallait tuer un loup !</p>
<p>Pourquoi tuer un loup, alors que c&#8217;est peut-être pas celui-là qui aura attaqué le troupeau ? Si le loup a attaqué, c&#8217;est parce qu&#8217;il ne trouve pas de quoi se nourrir dans la forêt que les humains détruisent, non ?</p>
<p>Laissons la nature suivre son cours sans tout gâcher!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
