<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>majalah-marketing &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/majalah-marketing/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "majalah-marketing"</description>
	<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 05:39:00 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Raih Service Quality Award 3 kali berturut-turut ; Telkomsel Pertahankan Kualitas Pelayanan Tertinggi]]></title>
<link>http://jowvykumala.wordpress.com/2009/05/08/raih-service-quality-award-3-kali-berturut-turut-telkomsel-pertahankan-kualitas-pelayanan-tertinggi/</link>
<pubDate>Fri, 08 May 2009 08:00:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>jov</dc:creator>
<guid>http://jowvykumala.wordpress.com/2009/05/08/raih-service-quality-award-3-kali-berturut-turut-telkomsel-pertahankan-kualitas-pelayanan-tertinggi/</guid>
<description><![CDATA[Jakarta, 8 Mei 2009 Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno (tengah) menerima Service Quality A]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jakarta, 8 Mei 2009</p>
<div id="attachment_480" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-480" title="SQA09-2" src="http://jowvykumala.wordpress.com/files/2009/06/sqa09-21.jpg?w=300" alt="Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno (tengah) menerima Service Quality Award 2009 dari CEO Center for Customer Satisfaction and Loyalty (CCSL) Yuliana Agung dan Pemimpin Redaksi Majalah Marketing P.J. Rahmat Susanta (7/5). Telkomsel kembali mempertahankan kualitas pelayanan tertinggi selama 3 tahun berturut-turut berdasarkan survey terhadap 2.400 responden." width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno (tengah) menerima Service Quality Award 2009 dari CEO Center for Customer Satisfaction and Loyalty (CCSL) Yuliana Agung dan Pemimpin Redaksi Majalah Marketing P.J. Rahmat Susanta (7/5). Telkomsel kembali mempertahankan kualitas pelayanan tertinggi selama 3 tahun berturut-turut berdasarkan survey terhadap 2.400 responden.</p></div>
<p>Telkomsel kembali mempertahankan kualitas pelayanan tertinggi selama 3 tahun berturut-turut dari ajang Service Quality Award 2009. Pengakuan ini semakin mengukuhkan Telkomsel sebagai service leader dengan tingkat kepuasan pelayanan tertinggi berdasarkan survey tehadap 2.400 responden.</p>
<p>Service Quality Award merupakan ajang bergengsi yang memberikan penghargaan bagi pelaku industri dengan tingkat kualitas pelayanan terbaik, di mana tahun ini terdapat 142 merek pelayanan dari 26 kategori yang disurvey oleh lembaga survei independen Carre-CCSL (Center for Customer Satisfaction and Loyalty) dan Majalah Marketing.</p>
<p>Pengukuran dilakukan berdasarkan lima parameter kepuasan secara ketat, yakni Accessibility, Service Process, People, Service Complaint Handling, dan Repair Work Quality yang selanjutnya diolah menjadi skor total bernama Indonesian Service Satisfaction Index (ISSI). Telkomsel meraih predikat tertinggi untuk kategori Selular GSM dengan nilai ISSI 3.9055, cukup jauh dibanding total rata-rata industri yang hanya 3.8794 dan 2 operator selular besar lainnya, yakni Indosat dan XL, yang masing-masing memperoleh nilai 3.8960 dan 3.8165.</p>
<p>Manager Corporate Communications Telkomsel Suryo Hadiyanto mengatakan, “Penghargaan ini bisa dikatakan sebagai raport pelayanan kami, yang diraih melalui sebuah proses panjang dalam upaya menghadirkan layanan terbaik berstandar internasional. Dalam hal ini, tentunya juga sekaligus menjadi tantangan bagi kami untuk terus meningkatkan mutu pelayanan, seiring tingginya kepercayaan pasar pengguna produk Telkomsel yang mencapai 73 juta pelanggan.”</p>
<p>“Penghargaan ini merupakan pengakuan pihak luar terhadap keseriusan kami dalam menghadirkan layanan berkualitas. Seperti kita ketahui sejak babakan selular berbasis mutu layanan yang digelar pemerintah tahun lalu, Telkomsel telah menyiapkan seluruh komponen infrastruktur layanannya termasuk kualitas jaringan dan pusat pelayanan pelanggan. Hal ini sekaligus mendukung upaya regulator dalam mewujudkan iklim kompetisi yang sehat berorientasi pada <em>quality of service</em> sehingga kemajuan industri ini akan menjadi manfaat nyata bagi para pengguna selular,” ungkap Suryo.</p>
<p>“Sebagai upaya memberikan kesempatan bagi masyarakat luas agar dapat menikmati layanan selular berkualitas, penggelaran jaringan Telkomsel hingga pelosok Indonesia selalu didukung dengan adanya titik-titik pelayanan pelanggan. Dengan demikian slogan kami yang berbunyi ‘Begitu Dekat Begitu Nyata’ akan dirasakan secara langsung oleh masyarakat,” tambah Suryo.</p>
<p>“Penghargaan yang diterima Telkomsel merupakan sebuah kepercayaan yang diraih melalui sebuah proses panjang dalam menghadirkan layanan terbaik. Dalam hal ini, apresiasi yang diberikan oleh berbagai pihak dalam bentuk penghargaan tentunya juga sekaligus menjadi tantangan bagi kami untuk terus berinovasi menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat dan  lingkungan bisnis,” papar Suryo.</p>
<p>Suryo menambahkan bahwa pusat pelayanan pelanggan menjadi sangat penting mengingat perannya sebagai garda depan perusahaan yang bersentuhan langsung dengan pelanggan. Di samping GraPARI, Telkomsel juga menghadirkan beragam pilihan akses pelayanan on-line 24 jam berupa: call center, website, email, dan SMS. Bahkan pelayanan pelanggan Telkomsel telah bersertifikasi manajemen mutu standar internasional ISO.</p>
<p>Telkomsel telah menghadirkan lebih dari 510.356 titik pelayanan sebagai upaya lebih dekat dengan pelanggan dan memberikan kemudahan akses pelayanan berupa: Call Center (4 area), GraPARI/Branch (68 buah), GeraiHALO (268), Plasa GraPARI (34), KiosHALO (2.633), Retail Nasional (22.267), Outlet Dealer Telkomsel (4.350), dan M Kios (480.732).</p>
<p>“Pada dasarnya Telkomsel terus berupaya menghadirkan layanan yang memenuhi lima parameter kebutuhan pokok pengguna selular, yakni jaringan yang luas, kualitas jaringan yang handal, kelengkapan fasilitas produk dan inovasi, kenyamanan pelayanan purna jual, dan tarif yang semakin terjangkau,” pungkas Suryo.</p>
<p>Dari sisi cakupan layanannya, Telkomsel merupakan operator selular dengan jangkuan terluas yang didukung lebih dari 27.500 BTS (Base Transceiver Station) yang menjangkau lebih dari 95 persen populasi Indonesia.  Di saat masih banyak operator lain masih berkutat melayani di pusat-pusat bisnis, layanan Telkomsel telah menjangkau hingga pelosok tanah air dari perkotaan hingga pedesaaan bahkan pulau terpencil sekalipun.</p>
<p>Telkomsel juga bermitra dengan 330 operator International Roaming di seluruh belahan dunia yang membuat pelanggan merasakan komunikasi yang tak terputus (seamless roaming) dan memandu industri selular Indonesia untuk Go International dengan menjadi salah satu pendiri Bridge Mobile Alliance (BMA) yang merupakan aliansi operator selular terbesar di Asia Pasifik.</p>
<p>Pada tahun 2009 ini, Telkomsel telah berhasil mendapatkan pengakuan terbaik untuk performansi produk dan layanan, yakni: <strong>Forsel Award</strong> (Operator GSM Favorit), <strong>Top Brand Award</strong> (simPATI dan kartuHALO), <strong>Call Center Award</strong>, <strong>Word of Mouth Marketing Award</strong> (simPATI dan kartuHALO), dan <strong>Service Quality Award</strong>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Joger, Sukses Berakrobat dalam Pemasaran ]]></title>
<link>http://bisniskunto.wordpress.com/2009/03/04/joger-sukses-berakrobat-dalam-pemasaran/</link>
<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 02:58:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>aakuntoa</dc:creator>
<guid>http://bisniskunto.wordpress.com/2009/03/04/joger-sukses-berakrobat-dalam-pemasaran/</guid>
<description><![CDATA[Oleh banyak kalangan, Mr Joger dikenal karena strategi pemasarannya yang paradoksal. Ia menciptakan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://www.beranda.net/images/joger.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.beranda.net/images/joger.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Oleh banyak kalangan, Mr Joger dikenal karena strategi pemasarannya yang paradoksal. Ia menciptakan produk bagus, tetapi justru menyatakan bahwa produknya jelek. Ia menjual produk, tetapi sekaligus melarang orang membeli produknya melebihi batas yang ia tentukan. Ia ingin pasarnya luas, tapi justru mengurangi 3 gerainya menjadi hanya 1 saja. Tetapi jangan salah, justru pendulum-pendulum yang berayun dari kiri ke kanan secara konsisten itulah yang meroketkan namanya.</p>
<p>Waktu menunjukkan pukul 09.00 WITA ketika saya meninggalkan penginapan di kawasan Tuka menuju Jalan Raya Kuta, satu-satunya outlet cenderamata khas Bali “Joger” pimpinan Mr Joger. Perjalanan sekitar 45 menit. Biasanya, pabrik kata-kata itu selalu buka pukul 10.00 WIJo (Waktu Indonesia bagian Joger). Namun, berdasarkan pengalaman pula, pintu outlet itu jarang buka tepat waktu. Bisa kurang, sering pula lebih.</p>
<p>Dan benar. Pagi itu, sebuah papan pengumuman menandakan bahwa kesabaran menunggu kembali diuji. Papan kecil itu bertuliskan, “Menurut kesepakatan kami, hari ini pukul 10.00 adalah pukul 10.50.” Sorenya, pukul 18.00 yang menandakan waktu tutup pun akan dikenakan perlakuan yang sama.  Itulah gaya Joger yang sangat terkenal berkat permainan kata-katanya. Karena identitas ini pula, orang tidak akan bersungut-sungut ketika menjumpai pintu outlet masih terkunci rapat pada waktu “seharusnya” ia buka. Justru sebaliknya, geli menertawakan diri sendiri karena merasa “dikibuli”.</p>
<p>Mengapa begitu? Karena Joger adalah bisnis kreativitas. Dalam bisnis seperti ini, diferensiasi dan inovasi adalah keniscayaan. Selalu tampil unik, dan demikian selalu diingat orang. Keunikan ini pulalah yang mengikat loyalitas konsumen pada produk-produknya. Maka tak heran, setiap pergi ke Bali, selalu saja ada orang yang titip untuk dibelikan produk Joger, entah kaus, gantungan kunci, mug, dan masih banyak lagi. Ini wajar, mengingat setiap hari Joger menelurkan minimal satu desain. Jadi, setiap hari selalu ada yang baru. Misalnya, angka “151204” menunjukkan tanggal suatu produk dihasilkan.  Bukan hanya pada produknya saja Joger unik.</p>
<p>Pada keseluruhan strategi yang dicetuskannya, Joger boleh dibilang melepaskan diri dari pakem pemasaran pada umumnya. Beberapa contoh bisa disebutkan. Pertama, sejak 1987, dua outlet “Toko Seni dan Batik Joger” di Denpasar ditutup, padahal keduanya untung. Beberapa “cabang”, yang dikelola kolega-kolega bisnisnya di berbagai kota pun ditarik. “…75% potential buyers kami adalah orang-orang Jakarta. Bayangkan saja bagaimana sibuknya kami kalau mau buka cabang di Jakarta yang penuh orang kaya itu? Dan yang lebih runyam lagi, kalau kami benar-benar buka cabang di Jakarta, tentunya orang-orang Jakarta yang biasanya ke Bali untuk mencari Joger tidak akan merasa perlu lagi buang waktu dan energi jauh-jauh ke Bali. Ini tentu akan mengurangi masuknya ‘devisa’ untuk Bali, hehehe…,” tulis Mr Joger dalam koran Joger Post Desa yang diterbitkannya secara sesuka hati.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://photos-241.friendster.com/e1/photos/14/27/12607241/177952041l.jpg" alt="" width="201" height="150" />Ya, sesuka hati, karena sejak edisi pertama yang diluncurkan 10 Juni 1998 itu, edisi keduanya baru keluar 10 Oktober 1999.  Sejak 1986, satu-satunya outlet yang dikelolanya hanyalah yang terletak di Jalan Raya Kuta dengan nama “Joger Handicraft Centre”. “Agar saya fokus pada bisnis ini,” ujar pemilik nama asli Joseph Theodorus Wuliandi ini. Dan sejak 1990 ia getol memperkenalkan nama baru “Pabrik Kata-Kata Joger”.  Kedua, sejalan dengan strategi itu, promosi yang digaungkannya pun justru bernuansa dispromosi, yakni justru tidak menonjolkan keunggulannya. Lihat tagline-nya “Bali Bagus. Joger Jelek”.</p>
<p>Anehnya, justru keberaniannya menjelek-jelekkan diri inilah yang menjadikan Joger sangat terkenal, sebab orang yakin bahwa produk yang dihasilkannya tidak jelek.  Ketiga, keunikan dalam strategi penjualan. Umumnya pedagang akan berusaha mengejar omzet atau nilai penjualan yang tinggi untuk mencapai keuntungan. Namun, tidak bagi Joger. Prinsip yang dianutnya bukan profit oriented, tapi happines oriented. Sampai dengan Desember tahun lalu, Joger mengenakan pembatasan pembelian item kepada setiap konsumennya tanpa kecuali. Maksimal 10 potong setiap transaksi. Sedangkan sejak Januari tahun ini, jumlah maksimal itu dinaikkan sedikit menjadi 12 piece. Strategi ini sangat berkaitan erat dengan filosofi dasar yang diimaninya, “Lebih baik sedikit tapi cukup daripada banyak tapi kurang,” katanya seraya menambahkan, “Saya berharap orang beli kepuasan, kebahagiaan, bukan beli barang.”</p>
<p>Meski begitu, kepada saya, Mr. Joger tidak mengelak untuk menjawab berapa keuntungan yang diperolehnya dari berjualan sekitar 10.000 item produk berbagai bentuk itu. Harga jual yang ditetapkannya berkisar 1,5 kali biaya produksi. Dari hasil akhir penghitungan itu, Mr Joger mengambil keuntungan 5,8%. “Saya tidak mau mengejar omzet. Saya mau mengontrol omzet,” cetusnya tanpa memerinci dari mana angka 5,8% itu diperoleh. Ia hanya menyebut istilah rentabilitet, perkalian tetap.</p>
<p>Salam Agung,</p>
<p><strong>AA Kunto A</strong></p>
<p>[artikel ini pernah dimuat di Majalah <em>Marketing</em> dan <em>Kompas.com</em>)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Raflles, Hospital Dengan Servis Hotel]]></title>
<link>http://aakuntoa.wordpress.com/2008/10/27/raflles-hospital-dengan-servis-hotel/</link>
<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 09:55:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>aakuntoa</dc:creator>
<guid>http://aakuntoa.wordpress.com/2008/10/27/raflles-hospital-dengan-servis-hotel/</guid>
<description><![CDATA[Suatu saat dapat tugas liputan ke negeri singa. Kapan ya di Indonesia model rumah sakit seperti ini ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignright" src="http://www.streetdirectory.com/stock_images/travel/simg_show/11392961340665/1/raffles_hospital/" alt="" width="267" height="176" /></p>
<blockquote><p><em>Suatu saat dapat tugas liputan ke negeri singa. Kapan ya di Indonesia model rumah sakit seperti ini berkembang untuk kalangan kebanyakan?</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:100%;"><strong><span style="font-weight:normal;">Beda dengan rumah sakit lainnya, Raffles  Hospital menerapkan konsep laksana hotel. Lantas, </span></strong><em><strong>experience</strong></em><strong><span style="font-weight:normal;"> apa yang mereka tawarkan?</span></strong><strong> </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:100%;">Banyak rumah sakit di Tanah Air yang mengklaim berstandar internasional. Namun, belakangan, seiring mencuatnya kasus-kasus dugaan malapraktik, klaim-klaim tersebut seolah dicibir. Tak heran bila makin banyak pasien yang “lari” berobat ke luar negeri. Salah satu negara yang menjadi tujuan utama mereka adalah Singapura. Dan menurut sumber MARKETING, sekitar 70 persen pasien internasional di rumah sakit-rumah sakit di Singapura datang dari Indonesia. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:100%;">Ada dua rumah sakit besar di Singapura yang sangat dikenal publik Indonesia, yakni NationalUniversity Hospital dan Mount Elizabeth. Faktor usia dan pengalamanlah yang membuat mereka dikenal. Reputasi mereka tak diragukan lagi. Pelayanan mereka sangat mengesankan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:100%;">Menyangkut reputasi dan pelayanan pasien, inilah ungkapan perasaan Irwanto yang dimuat Kompas, 17 Oktober 2004: “Di sana (Singapura-<em>red</em>) saya merasa diperlakukan sebagai manusia. Para dokter memeriksa dan mewawancarai saya secara teliti.” Irwanto adalah korban dugaan malapraktik yang dilakukan sebuah rumah sakit internasional di Jakarta Selatan. Separuh badan doktor psikologi ini lumpuh dan keadaan itu nyaris membuatnya kehilangan semangat hidup. Bersyukurlah ia datang ke Singapura. Bukan saja perawatan secara medis yang diperolehnya, melainkan juga secara psikis. Tidak saja badannya dipulihkan, jiwa kemanusiaannya pun kembali diutuhkan, kendati ia tetap lumpuh.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:100%;">Sekelumit kisah itu hanyalah sebagian dari alasan orang-orang Indonesia yang memilih menjalani perawatan medis di negeri jiran tersebut. Dan bukan hanya dua rumah sakit besar tadi yang menjadi tujuan. Kini mulai banyak rumah sakit baru yang tak kalah larisnya. Dengan konsep yang modern, rumah sakit-rumah sakit itu mulai dilirik. Salah satu yang bintangnya sedang bersinar adalah Raffles Hospital. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:100%;">Rumah sakit ini terletak di   North Bridge Road. Baru beberapa saat yang lalu di <em>lobby</em> dalam terpampang tulisan “Raffles Hospital”, itu pun atas permintaan pelanggan. Maklum, tanpa tulisan itu, orang akan terkecoh dengan tampilan rumah sakit yang mirip hotel. Sama sekali tidak ada “bau” rumah sakitnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:100%;">Menurut General Manager  Corporate Services  Raffles Hospital, Dr Prem Kumar Nair, rumah sakit tersebut memang menerapkan konsep seperti hotel. Malah, tanpa nada berseloroh, beberapa kali Dr Prem menyebut istilah “hospitel”. “<em>Hospital with hotel services</em>,” terangnya. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:100%;">Ia serius. Sejak MARKETING memasuki satu per satu bagian rumah sakit tersebut, nuansa pelayanan hotel memang sangat terasa. Bukan saja tata ruang yang nyaman dan fasilitas medis yang lengkap. Pelayanan yang disediakan pun sangat <em>customer based</em>. Service memang terasa sebagai kekuatan mereka. Soalnya, jika ditilik secara dalam, fasilitas yang ada tidak terlampau luar biasa. Boleh dibilang, hampir semua rumah sakit di negeri bersimbol “Merlion” ini memiliki standar yang sama. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:100%;">Mengingat sebagian besar pasien internasional rumah sakit tersebut berasal dari Indonesia, Raffles Hospital yang menyasar segmen atas ini menyiapkan petugas khusus yang bisa berbahasa Melayu. Mereka menamainya “interpreter &#38; secretarial service”. Dr Prem mengatakan, tujuan pelayanan seperti ini agar pasien merasa nyaman selama tinggal di sana, senyaman di rumah sendiri. Supaya pasien tidak merasa sakit. Sebaliknya, supaya termotivasi untuk sembuh.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:100%;">Saking <em>pengen</em> membuat pasien nyaman, di bagian pelayanan pasien internasional, disediakan berbagai jasa yang mempermudah pasien dan keluarganya selama di negeri itu. Mereka sangat paham tabiat orang Indonesia. Meski sakit, dalam benak pasien dan keluarga Indonesia tetaplah <em>traveling </em>dan<em>… shopping!</em> Oleh karena itu, di Raffles International Patients Centre tersebut terdapat pelayanan yang disebut “travel planning &#38; visitor information”. Mau <em>city tour?</em><em>Free of charge</em>. Gratis pula untuk pengurusan visa atau pengaturan tiket. Bahkan, untuk keluarga pasien yang belum sempat <em>check in</em> di hotel setibanya mereka di sana, disediakan <em>locker room</em> yang dapat memuat tas ukuran besar. </span> Gampang. Bisa mereka atur.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:100%;">Beda dengan Mount Elizabeth yang lokasinya dekat dengan Orchad Road –surga belanja orang Indonesia, Raffles Hospital dekat dengan Bugis Junction. Di sini terdapat stasiun MRT (Mass Rapid Transportation), yang memudahkan siapa saja untuk pergi ke mana saja. Menangkap kebutuhan itu, rumah sakit ini juga menawarkan “retail therapy”. Siapa tahu belanja dapat mensugesti pasien untuk sembuh.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:100%;">Pelayanan yang sangat <em>customized</em> ini memang menjadi visi Raffles Hospital untuk menjadikan pasien dan keluarganya sebagai <em>the very important person</em>. Dibenarkan Dr Prem, yang ingin ditonjolkan rumah sakit tersebut adalah <em>experience</em>-nya. Ini sesuai pula dengan tarif kompetitif yang ditetapkan di sana. </span></p>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-size:100%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Untuk semakin melekat di benak masyarakat Indonesia, Raffles Hospital gencar berpromosi. Di luar iklan, Raffles Hospital juga membuka kantor representatif di Jakarta. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan Jakarta Express, <em>travel agent</em> yang sukses membuat paket <em>medical check up</em> di rumah sakit ini dan berbelanja di Mustafa Center meraih penghargaan <em>Tourism Awards</em> dari Singapore Tourism Board sebagai “the most innovative marketing effort by foreign tour operator”. Tujuan kerja sama tersebut bukan saja untuk menarik minat pasien seperti Irwanto, namun juga mereka yang sehat, supaya mereka bisa merasakan bahwa sehat itu menyenangkan…<em>(AA Kunto A, <span style="font-weight:bold;">Majalah Marketing</span> November 04)</em></span></span></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bekerja, Selalu Menanam]]></title>
<link>http://aakuntoa.wordpress.com/2008/10/09/bekerja-selalu-menanam/</link>
<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 10:04:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>aakuntoa</dc:creator>
<guid>http://aakuntoa.wordpress.com/2008/10/09/bekerja-selalu-menanam/</guid>
<description><![CDATA[Ada yang sedang singgah di kepala. Tentang bekerja. 15 tahunan saya bekerja. Sejak di bangku sekolah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ada yang sedang singgah di kepala. Tentang bekerja.</p>
<p>15 tahunan saya bekerja. Sejak di bangku sekolah, saya sudah mencicipi dunia kerja. Meski kerja sederhana. Sewaktu SMP, saya sudah nyambi mendampingi pramuka sekolah lain menggelar perkemahan. 3 hari, saya diamplopi Rp 10.000. Girang  bukan main saat itu.</p>
<p>Saat SMA juga. Wesel Rp 36.000 saya cairkan di kantor pos atas jerih saya menulis di sebuah majalah ibu kota. Cukup untuk nraktir temen-temen makan bakso di kantin. Cukup pula untuk cerita di rumah pada ibu dan bapak. Malah, sangat besar nilainya ketika saya selalu menceritakan pengalaman itu sampai sekarang.</p>
<p>Sewaktu SMA itu pula, saya berkenalan dengan dunia kerja yang profesional. Lamaran saya menjadi wartawan di <em>Harian Bernas </em>diterima. Saat itu saya baru menyelesaikan kelas 1 secara tertatih-tatih setelah tidak masuk sekolah 2 bulan gara-gara kecelakaan lalu lintas. <em>Harian Bernas </em>memang menerima wartawan pelajar kala itu. Koran yang manajemennya dikelola oleh Kompas itu memberi kesempatan kepada pelajar mengelola satu halaman setiap hari minggu. Satu halaman penuh tanpa iklan! Setiap minggu, tidak boleh bolong! DAN TIDAK ADA SEPESER UANG PUN UNTUK PEKERJAAN ITU!</p>
<p>Nama rubrik yang kami asuh adalah <a href="http://yusranpare.wordpress.com/gema/"><em>Gema</em></a>. Semua wartawannya pelajar. Pekerjaan kami sama dengan wartawan dewasa lainnya: merencanakan, meliput, mewawancarai, mencari data, memotret, menulis, menyunting! Kalau luput dimaki. Sama! Kalau kerjaan belum selesai, sudah malam sekali pun, tidak boleh pulang. Sama!</p>
<p>Saya menikmati pekerjaan itu, meski di awal-awal harus tertatih-tatih. Bukan saja karena tidak punya pengalaman menulis dan bekerja di lapangan, melainkan karena kaki saya belum tegak untuk berdiri. Untuk berjalan saya masih pakai kruk penyangga. Sungguh-sungguh tertatih.</p>
<p>Syukurlah bahwa saya bersungguh-sungguh saat itu. Meski tidak dibayar, saya merasa menerima bayaran yang jauh lebih bernilai daripada nilai uang jika pekerjaan saya dihitung seperti karyawan profesional lainnya. Bayaran itu adalah KESEMPATAN. Kesempatan apa? Kesempatan untuk menanam. Menanam apa? Menanam kepercayaan. Kepercayaan apa? Kepercayaan bahwa saya punya kemauan, saya mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, dan&#8230; saya selalu terbuka untuk belajar.</p>
<p>Tidak hanya di Gema saya bekerja tak berbayar. Di <a href="http://balairungpress.com"><em>Majalah Balairung</em></a>-UGM, kampus saya kuliah, dan di <em>Sanggar Talenta</em>, Penerbit Kanisius, saya belajar menulis, juga menerbitkan buku tanpa diimbali duit. Tahun-tahun awal bekerja di <a href="http://kanisiusmedia.com"><em>Majalah Basis </em></a>dan <em>Majalah Utusan </em>pun sama. Jika saya butuh uang, terutama untuk membayar kuliah, saya menulis di media massa. Entah menulis opini, entah menulis resensi buku, atau reportase lainnya. Syukurlah, selama kuliah, saya mendapatkan kepercayaan dari <em>Harian Bernas </em>untuk menjadi kolumnis tetap di rubrik &#8220;Teropong&#8221;, bersama guru menulis saya <a href="http://opiniguru.blogspot.com">St Kartono</a>.</p>
<p>Seterusnya.</p>
<p>Ketika saya sampai di <a href="http://galangpress.com">sini </a>sekarang, saya berkaca ke belakang. Apakah ini buah yang saya petik dari benih yang saya tanam dulu? Ya, pasti. Kepercayaan yang satu persatu diletakkan di pundak saya, saya sadari sebagai simpul dari kepercayaan-kepercayaan kecil masa lalu yang bisa saya tuntaskan. Syukurlah jika seperti itu.</p>
<p>Apakah sekarang saya tidak lagi menanam? Tentu tidak.</p>
<p>Menanam sepanjang hayat. Jika tidak saya yang memanen, ya anak saya, keturunan saya, generasi sesudah saya.</p>
<p>Apa yang saya tanam sekarang? Tiada lain, bekerja semakin profesional, lebih mumpuni. Juga <a href="http://http://www.mail-archive.com/debritto@debritto.net/msg17360.html">menanam </a>perilaku: hormat kepada siapa pun, menghargai siapa pun, dan berempati kepada orang lain. Saya mengingatkan diri untuk tidak takabur. Roda hidup berputar. Siap di atas, siap di bawah. Siap di puncak, siap di ngarai. Siap memimpin, siap dipimpin.</p>
<p>Kepada teman-teman kerja, saya tidak jemu-jemu melontarkan refleksi itu. &#8220;Suatu saat kalian yang jadi pemimpin.&#8221; Saya siap dipimpin. Bisa karena mereka yang makin pintar, bisa karena saya kian tumpul.</p>
<p>Dengan benih-benih perilaku yang saya tanam, semoga saya selalu bisa bekerja sama dengan siapa pun, kapan pun, dalam peran apa pun.</p>
<p>Menanam sepanjang hidup. Bukan karena digaji tinggi, tetapi supaya belajar tiada henti.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CARA GILA MENJADI PENGUSAHA]]></title>
<link>http://mukhlisukses.wordpress.com/2008/04/26/cara-gila-menjadi-pengusaha/</link>
<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 10:50:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>mukhlisukses</dc:creator>
<guid>http://mukhlisukses.wordpress.com/2008/04/26/cara-gila-menjadi-pengusaha/</guid>
<description><![CDATA[Judul             : 10 Jurus Terlarang (Kok Masih Mau Bisnis Cara Biasa?) Pengarang      : Ippho San]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://mukhlisukses.files.wordpress.com/2008/04/10-jurus1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-53" src="http://mukhlisukses.wordpress.com/files/2008/04/10-jurus1.jpg?w=62" alt="" width="62" height="96" /></a></strong></p>
<p>Judul             : 10 Jurus Terlarang (Kok Masih Mau Bisnis Cara Biasa?)<br />
Pengarang      : Ippho Santosa<br />
Penerbit       : Elex Media Komputindo<br />
Tahun            : 2007<br />
Tebal             : xii + 145</p>
<p>By:Sigit Kurniawan<br />
Untuk maju dalam bisnis atau kegiatan apa pun, tidak jarang kita membutuhkan ide-ide sekaligus tindakan ‘gila.’ Kegilaan yang lepas dari standar baku sebuah proses usaha. Tak jarang kemajuan diperoleh dari cara-cara yang tidak biasa. Nah, dalam bukunya berjudul <em>10 Jurus Terlarang (Kok Masih Mau Bisnis Cara Biasa?)</em>, Ippho Santosa mengajak para pebisnis berani mengeksplorasi jalan-jalan bisnis alternatif yang tidak monoton alias biasa-biasa saja.<!--more-->10 jurus yang Ippho tawarkan dalam buku ini menjadi semacam <em>reminder</em> bagi mereka yang mau dan sedang menjalani bisnis. Dengan cara bertutur yang sangat personal, bahasa yang renyah dibaca, nukilan-nukilan para maestro bisnis, Ippho menyajikan satu bacaan yang enak sekaligus kental gizinya.  Banyak orang berbisnis dengan berbekal  ragam teori. Tapi, tanpa kreativitas dari pebisnis, bisnisnya tidak bakal berkembang. Apalagi dunia kontemporer menyuguhkan kejutan-kejutan baru dan ketidakpastian.  Oleh karenanya, diperlukan inovasi, kreativitas, dan terobosan-terobosan baru dalam memutar roda bisnis bila tidak ingin bisnisnya berakhir dengan kehancuran atau pailit.</p>
<p>Jurus pertama, memulai dengan yang kanan. Ippho mengajak pembaca mengoptimalkan peran otak kanan. Pakar psikologi Daniel Goleman hemisfer otak kanan merupakan otak emosional. Ini terkait dengan kecerdasan emosional (EQ) dan dekat dengan daya intuitif, kreatif, dan ekstensif.  Sementara, otak kiri merupakan otak rasional yang memuat daya analisis, kalkulasi, dan perincian. Mayoritas orang kuat otak kirinya. Sementara, mereka yang kuat otak kanannya boleh dibilang minoritas. Justru di dalam suatu yang tidak mengikuti arus besar (<em>mainstream</em>) inilah ‘kegilaan’ itu berada.  Seorang pebisnis yang visioner berani menggunakan intuisinya. Sering terjadi petunjuk-petunjuk bisnis di pasar tidak komplit. Intuisi sangat berperan di sini. Selain itu, kreativitas menjadi penting. Guru pemasaran Philip Kotler mengakui ampuhnya kreativitas dalam marketing jeniusnya. Terakhir, satu kemampuan otak kanan adalah berpikir meluas. Seorang pebisnis butuh gambaran meluas tentang bisnisnya, impiannya, dan visinya.</p>
<p>Jurus kedua, keberanian memiliki impian dan mengeksekusinya dalam tindakan. Ippho memaparkan beberapa teladan bisnis-bisnis maupun penemuan besar yang lahir dari sebuah impian. Sebut saja Walt Disney dengan Disneyland, Einstein dengan Teori Relativitasnya, Wright bersaudara dengan khayalan pesawat terbangnya. Tapi, impian akan tinggal impian bila tidak ada aksi. Untuk itu, Ippho membuat rumusan DNA, <em>dream and action</em>.</p>
<p>Jurus ketiga, terjun seperti <em>rollercoaster</em>. Ippho mengajak orang menyiasati kegagalan. Pebisnis tidak akan maju jika tidak berani gagal. Kegagalan itu bumbu dalam bisnis. Donald Thrump dan Robert Kiyosaki pernah pailit. Tapi, mereka cukup ‘keras kepala’ untuk meratapi kegagalan. Layaknya <em>rollercoaster</em>, bisnis mereka harus kembali naik.</p>
<p>Jurus keempat, berdamai dengan badai. Sering kali orang menemukan kelemahan dalam bisnisnya dan ia cenderung memilih meratapi ketimbang bangkit. John Foppe, seorang yang dilahirkan dalam keadaan tidak berlengan mampu mengatasi kelemahannya. Ia mampu mengendarai mobil pada usia 16 tahun. Kini, ia populer sebagai motivator kawakan di Zig Ziglar Corporation. Kuncinya tak lain adalah <em>passion</em>.</p>
<p>Jurus kelima, duduk sama rendah. Semangat kebersamaan dan kerjasama tim jadi penting dalam bisnis. Ippho menyebutnya dengan <em>team in love</em>. Cinta (love) di sini diurai berdasarkan opini Sigmund Freud yang membagi cinta dalam 4 unsur, yakni hormat (<em>respect</em>), perhatian (<em>care</em>), tanggung jawab (<em>responsibility</em>), dan pengetahuan (<em>knowledge</em>). Empat unsur ini penting dimiliki oleh seorang pebisnis.</p>
<p>Jurus keenam, gantilah gelar dan jabatan. <em>Personal branding</em> sangat penting dalam membuka relasi bisnis. Caranya bisa sangat nyentrik. Ippho memberi tips cara gila membuat gelar. Termasuk cara gila memanfaatkan dan menebar kartu nama untuk membangun jejaring bisnis. Tom Peters berpendapat kartu nama itu tak ubahnya seperti kemasan. Sedikit banyak dapat menentukan apakah produk layak dipercaya atau tidak. Satu lagi, Ippho mengajak bagaimana secara gila menyapa pelanggan agar bisa ‘terbuai’ pada tujuan bisnis kita.</p>
<p>Jurus ketujuh, masuk surga paling dulu. Dengan judul lucu ini, Ippho mau mengajak orang bermental pengusaha maupun pemimpin. Seorang pengusaha akan membuka peluang kerja. Seorang pemimpin yang bijak akan menciptakan pemimpin di bawahnya. Dengan begitu, pondasi bisnis akan semakin kokoh. Ippho juga menawarkan satu cara gila bagaimana pembeli bisa mengejar-ngejar penjual. Sebuah cara gila yang membuat rejeki datang menghampiri kita dan bukan kita yang susah payah mencari rejeki.</p>
<p>Jurus kedelapan, membiarkan kudeta. Dalam jurus ini, Ippho memberi cara gila membuat merek punya nilai komersial. Bahkan, pada taraf tertentu, membiarkan konsumen sendirilah yang ‘membajak’ merek tersebut. Menyitir gagasan kontroversial Alex Wipperfurth  dalam <em>Brand Hijack: Marketing without Marketing</em>. Baginya, merek adalah kanvas kosong. Konsumen dibiarkan mewarnainya. Bahkan, ‘membajak’ merek tersebut (<em>brand hijack</em>). Aplikasinya, bagaiman para pelanggan loyal membentuk sebuah komunitas merek dan mereka merekrut semakin banyak anggota lagi.</p>
<p>Jurus kesembilan, mewaspadai zaman Edan. Ippho menekankan pentingnya pandangan positif pada zaman yang berubah dengan cepat. Ia menangkap ada 5 tren bisnis kontemporer, yakni <em>pursuit spirituality, social marketing</em>, <em>people power, pursuit of simplicity, </em>dan <em>positivity insurection</em>. Pada saat ini, pebisnis pun mulai menggali inspirasi bisnis dari sumber-sumber spiritual. Pebisnis juga mulai memperhatikan isu-isu ekologi dan sosial kemasyarakatan dalam kebijakan bisnisnya. Konsumen punya daya pengaruh kuat. Konsumen menginginkan produk-produk yang mengusung kepraktisan. Para pebisnis mulai berfokus pada apa yang bisa dikendalikan di tengah dunia serba krisis ini.</p>
<p>Jurus kesepuluh, mati dengan tenang. Bisnis tidak hanya perkara mengeruk keuntungan. Ippho mengajak pebisnis untuk membuka diri pada kepedulian sosial dengan <em>passion</em> dan <em>compassion</em>. Intinya, bagaimana para pebisnis juga memerhatikan etika dalam bisnis. Berbisnis dengan hati (<em>conscience</em>) sekaligus berbisnis dengan hati-hati (<em>cautiousness</em>).</p>
<p>Nah, ide-ide yang tersebar di buku Ippho ini mungkin boleh dibilang tidak baru. Tapi, satu kelebihan Ippho adalah mampu menyajikan ide-ide kreatif dan bahkan kontroversial dalam satu lanskap yang memudahkan pembaca mampu membaca ide-ide itu dalam satu rangkaian utuh. Apalagi Ippho mampu memberi contoh kasus yang kontekstual dengan persoalan lokal. Gaya penuturan yang amat personal membuat pembaca seperti berbincang-bincang dengan Ippho sendiri. Bagi pebisnis, buku ini seperti sebuah ‘camilan’ bergizi yang layak dikonsumsi. Renyah dan menyehatkan.</p>
<p> <em>Sigit Kurniawan adalah seorang redaktur <a href="http://www.marketing.co.id">Majalah Marketing </a>dan pengasuh Meja Baca, sebuah weblog penggiat budaya membaca. </em></p>
<p><em>Di posting ulang oleh:Mukhlis,Owner <strong><span style="color:#ff0000;"><a href="http://www.griyaraihan.com">BM.Raihan</a></span></strong></em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
