<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>makalah-narasumber &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/makalah-narasumber/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "makalah-narasumber"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 16:10:43 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Teknik Wawancara]]></title>
<link>http://lgsp.wordpress.com/2006/09/29/teknik-wawancara/</link>
<pubDate>Fri, 29 Sep 2006 13:23:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>lgsp</dc:creator>
<guid>http://lgsp.wordpress.com/2006/09/29/teknik-wawancara/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Fachrul Rasyid HF Interview atau wawancara adalah salah satu cara mendapatkan informasi bahan b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Oleh Fachrul Rasyid HF</p>
<p>Interview atau wawancara adalah salah satu cara mendapatkan informasi bahan berita. Biasanya dilakukan oleh satu atau dua orang wartawan dengan seseorang atau sekelompok orang yang menjadi sumber berita. Lazimnya dilakukan atas permintaan atau keinginan wartawan yang bersangkutan. Berbeda dengan Jumpa pers atau konverensi pers yang dilaksanakan atas kehendak sumber berita.</p>
<p>Beberapa Bentuk Wawancara :</p>
<p>1. News interview atau wawancara berita. Yaitu wawancara untuk bahan berita. Yang ingin diperoleh wartawan dalam wawancara ini bisa jadi sekedar tanggapan atau konfirmasi seorang ilmuwan, pejabat dan sebagainya tentang sesuatu yang berkaitan dengan berita yang akan atau telah ditulis.</p>
<p>Berapa catatan untuk News interview:<br />
a.Jangan mengajukan pertanyaan secara umum. Buatlah pertanyaan khusus, terarah<br />
   yang bersifat “menggali” untuk menghindari kesalahpahaman dan  mendapatkan<br />
   jawaban yang khusus, terinci langsung ke inti masalah.    </p>
<p>b.Wartawan pewawancara jangan terlalu banyak bicara. Berbicaralah sekedar menjaga<br />
   suasana pembicaraan jangan menjadi kaku. Atau untuk menghindari orang yang<br />
   diwawancarai keluar fokus pada angle yang diinginkan atau berbicara melebar ke<br />
   mana-mana sehingga waktu terbuang percuma.       </p>
<p>c.Wartawan pewawancara juga jangan berbicara di luar angle persoalan yang ditanya-<br />
   kan. Jangan menyertakan perasaan tidak senang yang bisa membuat orang yang<br />
   diwawancarai tersinggung.</p>
<p>    Sebaliknya, sering pula terjadi, sumber berita kadang berbicara menyakiti hati, bahkan<br />
    ada yang menggertak wartawan atau mengalihkan pembicaraan sehingga perhatian<br />
    wartawan bergser ke soal ain. Jika hal itu terjadi, wartawan harus mampu mengenda-<br />
    likan diri dan berusaha dengan cara baik dan sopan untuk kembali ke pokok<br />
    pembicaraan.   </p>
<p>d.Bersikaplah sopan terhadap orang yang lebih tua. Biasanya orang yang telah lanjut<br />
   usia, apalagi pernah populer, sering minta dipotret. Kadang, saat dipotret, orang lain<br />
   juga nimbrung minta difoto bersama. Karena itu layani dengan baik dan upayakan<br />
   secerdik mungkin sehingga bisa men dapatkan foto diri sang tokoh.   </p>
<p>e.Dalam wawancara model ini orang yang diwawancarai kadang tidak memberikan<br />
   keterangan yang sebenarnya alias palsu. Ini resiko mewawancarai orang yang<br />
   berksempatan mempersiapkan diri sebelum diwawancarai. Atau sebaliknya, karena tak<br />
   punya persiapan, tak menguasai atau kurang perhatian dan karena bukan ahli di<br />
   bidang yang ditanyakan wartawan. Biasanya orang yang sedang “ketakutan”, suka<br />
   memberikan informasi bohong.  </p>
<p>  Wartawan perlu berhati-hati menganalisa dan menyeleksi informasinya. Biasakan<br />
  mengecek kembali keterangan yang diberikan sumber itu atau mencari informasi yang<br />
  sebenarnya sehingga wartawan tidak terjebak menyiarkan informasi bohong. </p>
<p>2. Prepard question interview, wawancara yang pertanyaannya disiapkan terlebih dahulu. Artinya wartawan menyiapkan sejumlah pertanyaan untuk sumbernya. Boleh jadi pertanyaan itu disampaikan langsung oleh wartawan atau  ditinggalkan sehingga sumber berita bisa membaca dan menjawab sendiri pertanyaan tersebut. Cara itu disebut wawancara tertulis.</p>
<p>3. Wawancara telepon yaitu wawancara yang dilakukan lewat pesawat telepon. Lazim digunakan dalam keadaan mendesak. (Pada wawancara via telepon, wartawan tak menangkap suasana orang yang diwawancarai).</p>
<p>4. Personality interview atau wawancara pribadi. Seseorang, misalnya seorang tokoh penting didatangi secara khusus didatangi wartawan untuk mendapatkan pendapat atau informasi tentang sesuatu yang perlu dijelaskan secara panjang lebar.</p>
<p>Untuk wawancara model ini wartawan perlu mempersiapkan gambaran masalah dan butir pertanyaannya. Ini penting, untuk mendapatkan informasi dan pendapat yang diinginkan. Dan, dengan persiapan itu wartawan dapat mengendalikan pembicaraan sehingga tidak menyimpang ke mana-mana.  </p>
<p>Disamping itu wartawan juga harus arif membaca gelagat sumbernya sehingga tidak memancing amarah atau sumbernya tiba-tiba menutup diri atau menghentikan pembicaraan.</p>
<p>5.Wawancara dengan banyak orang.  Ini adalah wawancara yang dilakukan terhadap  banyak orang. Tujuannya untuk mengetahui pendapat umum tentang sesuatu. Bisa jadi tempatnya di jalanan, di pasar atau di tempat umum lainnya. Pertanyaannya mungkin satu dua. Misalnya meminta pendapat orang tentang suatu peristiwa. Resikonya, besar kemungkinan orang yang diwawancarai tidak tahu sama sekali tentang apa yang ditanyakan. Bagi sumber begini  wartawan haruslah memberi penjelasan sebelum bertanya. </p>
<p>6. Wawancara dadakan / mendesak.<br />
Wawancara mendadak dilakukan wartawan, misalnya, secara kebetulan bertemu sebuah sumber penting yang dianggap relevan dengan masalah yang sedang berkembang.  Entah itu saat pesta atau di rumah sakit dan sebagainya. Persoalan yang ditanyakan boleh jadi teringat seketika.</p>
<p>Jika hasil wawancaranya memberikan informasi penting, terbaru, pertama kali atau sesuatu yang kontroversial dan layak siar maka  wartawan dapat menulis hasil wawancaranya jadi berita menarik. </p>
<p>7. Group interview yaitu serombongan wartawan mewawancarai seorang, pejabat, seniman, olahragawan dan sebagainya. Wawancara model ini pada untung ruginya. Untungnya wartawan punya kesempatan berwawancara. Ruginya, jawaban atas pertanyaan khusus wartawan sebuah media akan didengar dan mungkin bisa jadi berita oleh wartawan lain.  </p>
<p>Sukses tidaknya wawancara selain ditentukan oleh sikap wartawan. Perilaku, penampilan dan sikap wartawan yang baik biasanya mengundang simpatik dan akan membuat suasana wawancara akan berlangsung akrab alias komunikatif.</p>
<p>Wawancara yang komunikatif dan hidup ikut ditentukan penguasaan  permas-alahan dan informasi seputar materi yang menjadi topik pembicaraan oleh wartawan. Artinya wartawan harus menguasai persoalan yang ia tanyakan. </p>
<p>Kemudian wartawan juga harus mampu membaca kondisi dan situasi psikologis sumber wawancara. Ini penting supaya pembicaraan mengalir dan sumber wawancara bergairah mengemukakan pendapatnya.<br />
Selanjutnya terserah anda.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sembilan Elemen Jurnalisme Bill Kovach]]></title>
<link>http://lgsp.wordpress.com/2006/09/29/sembilan-elemen-jurnalisme-bill-kovach/</link>
<pubDate>Fri, 29 Sep 2006 13:20:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>lgsp</dc:creator>
<guid>http://lgsp.wordpress.com/2006/09/29/sembilan-elemen-jurnalisme-bill-kovach/</guid>
<description><![CDATA[1. Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran 2. Loyalitas utama jurnalisme adalah p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>1.	Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran<br />
2.	Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga Negara<br />
3.	Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi<br />
4.	Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputannya..<br />
5.	Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari<br />
kekuasaan.<br />
6.	Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling-kritik dan menemukan kompromi<br />
7.	Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan<br />
8.	Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional<br />
9.	Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya. </p>
<p>INDEPENDENSI</p>
<p>Bagaimana dengan elemen ke-4 (Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputan/tulisannya)?<br />
Sebagai wartawan kita harus sebisa mungkin bersikap independen, tanpa takut dan tanpa tekanan, tanpa konflik kepentingan.<br />
Namun, dalam banyak kasus, kita para wartawan tidak pernah bisa independen se-independen-independennya. Kita bekerja untuk majikan yang punya kekuasaan dan uang. Atau mungkin kita punya saudara yang dekat kekuasaan. Bahkan jika kita bekerja di sebuah media yang dibiayai oleh donor asing, bisakah kita mengklaim independen?<br />
Kita mungkin bisa independen terhadap partai politik tertentu, tapi bisakah independen terhadap kepentingan bisnis tertentu; wartawan Kompas terhadap Gramedia Group; wartawan Bisnis Indonesia terhadap Sahid Group; wartawan Metro dan Media terhadap Surya Paloh Group, yang tidak hanya bisnisman tapi juga tokoh Partai Golkar?</p>
<p>Bill Kovach memberi jalan keluar untuk kemustahilan itu:<br />
&#8220;Jika wartawan/media memiliki hubungan yang bisa dipersepsikan sebagai konflik kepentingan, mereka berkewajiban melakukan full-disclosure tentang hubungan itu.&#8221;<br />
Tujuannya adalah agar pembaca waspada dan menyadari bahwa tulisan/liputan itu tidak independen-independen amat.</p>
<p>VERIFIKASI</p>
<p>Salah satu kata kunci dari semua elemen tadi adalah &#8220;disiplin verifikasi&#8221; untuk mencapai kebenaran</p>
<p>KOMPREHENSIF DAN PROPORSIONAL</p>
<p>Elemen ini hanya bisa dipenuhi jika wartawan tidak hanya menerima fakta yang terlalu mudah bisa diraih. &#8220;Wartawan harus menggali lebih jauh fakta-fakta dan menyusunnya dalam sebuah konteks.&#8221;</p>
<p>HATI NURANI WARTAWAN</p>
<p>Kebenaran kadang bersifat sangat elusif. Sangat sering kita wartawan dihadapkan pada keputusan yang harus ditimbang hati nurani, melalui dialog dalam diri kita.<br />
Wartawan yang independen adalah yang bisa exercise hati nurani itu tanpa tekanan dan tanpa iming-iming, termasuk tekanan atasan dan tekanan kehilangan pekerjaan.<br />
Jika seorang wartawan meyakini suatu kebenaran, tapi dia takut mengungkapkannya karena takut dipecat, misalnya, dia tidak independen (Dan kembali lagi ke elemen ke-4).</p>
<p>Lalu, di mana posisi kita sebagai wartawan saat ini? Jawabannya terpulang kepada masing-masing peserta. Selamat menjadi wartawan yang baik. (disarikan dari tulisan farid gaban)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Press, Today Challenge, and the Future]]></title>
<link>http://lgsp.wordpress.com/2006/09/29/press-today-challenge-and-the-future/</link>
<pubDate>Fri, 29 Sep 2006 13:05:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>lgsp</dc:creator>
<guid>http://lgsp.wordpress.com/2006/09/29/press-today-challenge-and-the-future/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: H. Sutan Zaili Asril A.Pers atau Press, Journalist, Reporter I.Press atau Pers 1.Lembaga kewar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Oleh: H. Sutan Zaili Asril</p>
<p>A.Pers atau Press, Journalist, Reporter</p>
<p>I.Press atau Pers</p>
<p>1.Lembaga kewartawanan, lembaga penerbitan/penyiaran/penayangan/lembaga vertualitas<br />
2.Lembaga Pers dan badan usaha pers – sebagai badan usaha  (business entities)<br />
3.Produk pers dalam bentuk: cetak; elektronik; televisi; maya (virtual)<br />
4.Karya jurnalistik sebagai produk  intelektual</p>
<p>a.	Produk jurnalistik berbentuk:<br />
1). Berita: straight news, hard news, spot news, talking news, news analysis, news profile,<br />
2). Deep reporting/laporan perjalanan/laporan kunjungan<br />
3). Feature, selalu berkaitan dengan manusia/kemanusiaan<br />
3). Profile: orang/figure/tokoh, wilayah, sektor, perusahaan, cabang tertentu;<br />
4). Opini: artikel/editorial atau tajuk rencana/ulasan atau komentar/kolom khas/pojok<br />
5). Karikatur</p>
<p>5.	Karya jurnalistik sebagai produk intelektual, yang menerapkan prinsip-prinsip moralitas dan akademis/methodologis;</p>
<p>6.	Pekerja pers: wartawan dan semua yang mendukung proses produksi pers/media;</p>
<p>7.	Manajemen pers: lembaga pers yang baik dikelola secara manajerial yang baik dan secara/oleh profesional di bidangnya.</p>
<p>II.	Journalist dan Reporter</p>
<p>1.	Journalist adalah wartawan<br />
2.	Reporter adalah juru berita<br />
B.	Pers Sebagai Indutsri</p>
<p>I.	Lembaga/badan usaha pers sebagai business entities dan industri</p>
<p>Harus dipahami/diterima, bahwa usaha media/pers (vetak, radio, televise, dan virtual) adalah kegiatan menghasilkan produk tertentu dan menjualnya, dan dari penjualan tersebut usaha media/pers menerima pendapatan. Dari pendapatan itu keseluruhan usaha media/pers dan harus pula memperoleh kelebihan/laba untuk kepentingan deviden (pemegang), pengembalian modal (terutama investasi dari pinjaman bank, dall), meningkatkan infrastruktur, dan meningkatkan kesejahteraan karyawannnya, serta memberikan kenyamanan tertentu kepada masyarakat konsumennya.</p>
<p>Memang masih ada sebagian wartawan/pimpinan pengelola usaha media/pers, bahwa penerbitan/penyiaran/penayangan/vertualiti yang dikelolanya bukan industri – mereka merasa tercederai rohaninya, karena kegiatan kewartawanan dikatakan sebagai bagian dari industri media/pers. Usaha kewartawanan memang kegiatan profesional di bidang intelektual yang menggunakan piranti teknis khusus/tertentu (jusnalistik ), tetapi, kegiatan kewartawanan berada di bawah usaha media/pers, yang sekarang sepenuhnya diatur oleh Undang-undang (UU) No. 1/1995 tentang Perseroan Terbatas, dan kegiatan pers oleh Undang-undang (UU) No. 40/1999 tentang Pers dan standar etis/teknis/professional oleh Kode Etik Jurnalistik.</p>
<p>II.	Pers dikelola secara manajerial, secara professional, dan oleh para professional di bidangnya</p>
<p>Konsekwensi usaha media/pers sebagai business entities/industrial, maka suka atau tidak suka harus dikelola secara business-like/manajerial, dan secara professional serta oleh professional di bidangnya, agar perjalanan usaha pers/media dapat/d diperhitungkan bekerja/berjalan sesuai diharapkan pemegang saham dan memenuhi harapan masyarakat konsumennya. Dan, manajemen (pengurus) dan semua SDM yang berada dalam struktur/semua staf harus menjalankan tugas-tugas sesuai job-deskripsi/focus tugas, system/mekanisme kerja dibakukan agar mencapai tujuan/sasaran/target masing-masing, yang akhirnya menjadi progress/performance usaha media/pers yang disampaikan kepada pemegang saham.</p>
<p>C.	Pers, Today challenge an Future</p>
<p>I.	Today Challenge</p>
<p>1.	Jumlah unit usaha pers berkembangbiak setelah Reformasi;</p>
<p>2.	Persaingan sangat ketat dan terjadi seleksi alamiah terhadap usaha pers – usaha pers/media yang tidak manajerial dan professional akan rontok;</p>
<p>3.	Sebagian SDM wartawan belum sepenuhnya professional – sebagian wartawan tidak memahami apa itu profesi wartawan;</p>
<p>4.	Sebagian wartawan sebagai SDM kunci dalam industri pers belum sepenuhnya menyadari kalau mereka bagian dari usaha/industri pers;</p>
<p>5.	Sebagian manajemen usaha pers masih lemah dalam marketing dan pengelolaan investasi/administrasi keuangan yang berdisiplin;</p>
<p>6.	Sebagian usaha pers/media belum mampu memenuhi skala usaha di bidang usaha pers secara minimal;</p>
<p>7.	Sebagian usaha media/pers tidak mendapatkan kue iklan secara minimal;</p>
<p>8.	Penerimaan karyawan pers relative masih rendah;</p>
<p>9.	Terjadi saling reduksi antara pers cetak, televise, radio, dan virtual, khususnya dalam memperebutkan kue iklan;</p>
<p>10.	Masyarakat semakin cerdas, dan pasar semakin menentukan dan mengadili semua produk media secara kejam;</p>
<p>II.	Pers in the Future</p>
<p>1.	Usaha pers yang mampu memenuhi kebutuhan dan melayani kepentingan masyarakatnya (pembaca, pendengar, pemirsa, dan netters) yang akan dipilih/memenangkan pasar, dan seterusnya harus mampu konsisten dan menjaga kepercayaan konsumen dan mitra/relasi bisnisnya;</p>
<p>2.	Uaha pers yang dikelola dengan manajemen yang baik (business-like) dan secara professional/oleh professional yang memenangkan persaingan;</p>
<p>3.	Setiap usaha pers yang memenuhi skala minimal saja yang memiliki peluang untuk survive;</p>
<p>4.	Keseluruhan SDM yang bergerak dalam usaha pers harus mengembangkan team-work yang solid/kohesif dan bekerja secara integratif;</p>
<p>5.	Pers yang ramah/peduli/melindungi kepentingan masyarakat konsumen dan mitra/relasi bisnis yang mampu membangun dan memiliki daya keunggulan lebih;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berita dan Seni Menulis Berita]]></title>
<link>http://lgsp.wordpress.com/2006/09/29/berita-dan-seni-menulis-berita/</link>
<pubDate>Fri, 29 Sep 2006 12:44:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>lgsp</dc:creator>
<guid>http://lgsp.wordpress.com/2006/09/29/berita-dan-seni-menulis-berita/</guid>
<description><![CDATA[Berita dan Seni Menulis Berita Oleh H.Darlis Syofyan 1. Berita SALAH satu isi suratkabar adalah beri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Berita dan Seni Menulis Berita Oleh H.Darlis Syofyan 1. Berita SALAH satu isi suratkabar adalah berita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berita adalah, cerita atau keterangan tentang kejadian atau peristiwa yang hangat. Dalam masyarakat kita, berita itu sudah menjadi kebutuhan. Buktinya, jika seseorang bertemu kawan, apalagi kawan lama, ucapan pembuka kata adalah, “Apo kaba (apa kabar)?”. Masih dalam KBBI, Kabar itu artinya berita. Kabar yang dimaksudkan adalah, berita yang harus disampaikan kepada kawan, dalam bentuk lisan. Tidak jauh beda sebenarnya bahasa lisan dengan bahasa tulisan. Walaupun dalam bahasa lisan, kita bisa memberikan pengantar yang panjang, dengan membumbui berbagai ilustrasi, kemudian baru sampai kepada isi. Namun berita yang disampaikan secara lisan itu akan lebih baik, jika kita juga memakai lead atau teras, apalagi jika kita beri judul. Misalnya ketika kawan bertanya apa khabar, langsung dijawab dengan memberi judul. “Kini ada kabar buruk. Rekan kita Amir meninggal karena kecelakaan, di jalan A.Yani, Payakumbuh pagi tadi. Ia mengendarai roda dua kemudian jatuh disenggol oplet, mayatnya di rumah sakit”. Jika kita tuliskan kabar singkat itu persis sebagai judul dan teras berita di suratkabar. Orang lebih enak mendengar berita singkat yang jelas seperti itu dibanding penyampaian yang dibumbui dengan pengantar dan cerita yang panjang. Misalnya ada cara orang menyampaikan berita lisan memulai dengan kata, ondeh kemudian dibumbui dengan kata gawat dan mengerikan, sudah lima menit ia bicara, penerima berita belum bisa mengambil sari informasi yang dibawa itu, kecuali sipendengar larut pula dalam ekspresi orang yang menyampaikannya, seperti sedih dan gemetaran serta seperti kehilangan akal. Dari peristiwa itu muncul pertanyaan, bagaimana menuliskannya dalam berita? Pertanyaan tersebut muncul, bagi mereka yang berminat untuk menulis sebuah berita di suratkabar. Orangnya mungkin kita semua yang berada di ruangan ini. Pengamalan saya menjadi wartawan 30 tahun, pertanyaan yang paling banyak diajukan kepada saya oleh rekan-rekan yang tidak menekuni suratkabar adalah, bagaimana cara menulis berita? Jawaban saya singkat saja, menulis berita itu adalah seni. Sebab salah satu arti seni adalah, keahlian membuat karya yang bermutu. Jadi menulis berita itu juga suatu keahlian. Karena dia seni, menurut saya tidak banyak pula orang yang mampu menguraikan cara menulis berita yang baik. Mungkin sama dengan belajar sepakbola. Ada memang teorinya dan sama seluruh dunia, tetapi kenapa Pele dari Brazil yang menjadi pemain dunia, kenapa tidak Joko Malis yang dari Indonesia? Bolanya sama bulat, lapangannya sama panjang dan buku pintarnya juga sama. Begitu pula dengan wartawan, ada yang baik penulisan beritanya ada yang sedang-sedang saja. Namun demikian untuk menuliskan sebuah berita, kita harus berangkat dari fakta-fakta dan mengikuti kaidah-kaidah yang harus di pegang oleh wartawan. Berita suratkabar hanya menyajikan fakta-fakta, tidak boleh beropini. Sedangkan berita di majalah, penekanan beritanya kepada analisis dan cendrung berbentuk feature, semua itu disebut karya jurnalistik. 2. Seni menulis berita Para pengamat pers cendrung membagi karya yurnalistik dalam bentuk tulisan menjadi tiga. 1. Stright News, berita terbaru yang dimuat di suratkabar yang juga disebut sebagai spot news ataupun breaking news. 2. News Feature , memperkaya straight news dengan human interest (kemanusian), ini cerita di balik peritiwa dengan mengungkapkan latar belakang dan persspektif dari berita tersebut. 3. Feature orang, media menyebutnya sebagai artikel kreatif, terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi in-formasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan, ini disajikan dengan bahasa yang khas. Berita tersebut terdiri dari; 1. Judul 2. Lead (teras berita) 3. Isi (batang tubuh) 1. Judul Kekuatan utama dari sebuah berita itu terletak di judulnya. Ketika seseorang melihat Koran di lapak penjualan, mata mereka tertuju kepada judul yang menarik, dari sanalah muncul hasrat untuk membaca berita itu dan tentunya diiringi dengan kerelaan untuk membuka dompet membeli suratkabar tersebut. Judul berita dibuat dengan kalimat pendek, tapi menggambarkan isi berita secara keseluruhan. Usahakan memakai kalimat aktif. Contohnya, “Truk Tabrak Amir dan Tewas”. Bandingkan dengan kalimat pasif, “Amir Tewas Ditabrak Truk”. Ada beberapa ukuran yang biasanya dipakai untuk membuat judul • Jangan padatkan semua di situ, hanya highlight saja. • Ringkas hanya tiga maksimal delapan kalimat • Buat aktif • Katanya sederhana, jika singkatan harus yang dimengerti orang • Merketable, judul itu hendaknya bersifat menjual • Attraction, mampu menarik calon pembeli • Intention, mendorong minat orang untuk mengetahui isinya. • Action, akhirnya mereka bereaksi untuk membeli suratkabar kita. 2. Lead (teras berita) Setelah judul, isi berita itu bisa dilihat pada lead dan teras berita. Dari lead itulah orang bisa memahami isi berita tersebut. Mereka yang sibuk, cukup hanya dengan membaca lead, mereka sudah tahu isi berita tersebut. Dan dari lead itu pulalah yang mendorong orang ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang berita tersebut. Kunci menulis lead adalah, 5 W + 1 H dan + 1 S. Lima W adalah, What (Apa), Where (Dimana), When (Kapan), Why (Mengapa), Who (siapa) . Satu H adalah How (Bagaimana) Satu S adalah security (keamanan). Lead ini, diambilkan dari yang paling menarik dari suatu peristiwa, sehingga wartawan menyebut juga lead itu sebagai kunci berita. Atau ada juga yang menyebut platuk berita. Bobot dan kepintaran wartawan dalam menyajikan berita akan terlihat pada kemampuannya dalam menuliskan lead berita. 3. Badan Berita Badan berita, penulisannya lazim disebut dengan teori piramida terbalik. Hal-hal yang pokok dan utama ditempatkan paling atas, sedangkan penjelasan serta keterangan tambahan yang berhubungan dengan berita tersebut dituliskan secara sistimatis dalam badan atau tubuh berita. Namun penulisan dalam badan berita itu harus terarah dan tidak boleh ke luar dari lead. Dalam piramida terbalik ini sengaja dibuatkan semakin ke bawah, berita tersebut semakin tidak penting. Ini membantu redaktur dalam memotong berita jika tempat tidak tersedia dengan cukup di halaman suratkabar. Namun pemotongan berita itu tidak akan merusak keutuhan informasi yang dibawa oleh berita tersebut. Mencari Berita Berita itu ada yang datang dari Tuhan dan yang dicari oleh wartawan. Datang dari Tuhan misalnya undangan acara dan bencana alam atau peristiwa kecelakaan yang menimpa diri manusia. Dan yang lain ada berita yang dicari oleh wartawan atau investigasi. Apapun berita itu jenisnya, yang harus di rinci betul adalah tentang Sumber. Harus jelas nama, umur dan jabatan atau peranannya dalam berita serta peristiwa. Terhadap data-data yang didapat harus dilakukan cek dan ricek bahan yang sudah didapat, hal ini juga harus dilakukan menyangkut akurasi waktu, tempat serta lamanya terjadi peristiwa. Terhadap hal ini sekarang wartawan sudah memakai istilah triple cek. Ada tujuh hal penting yang harus diperhatikan dalam menulis berita 1. Watawan harus memahami informasi yang mereka tulis 2. Tampilkan fakta-fakta yang mendukung 3. Jangan terlalu banyak klise hadirkan informasi yang spesifik yang dibutuhkan pembaca. 4. Organisasikan tulisan itu dengan baik 5. Gunakan tata bahasa, tanda baca dan ejaan secara baik 6. Tuliskan berita secara berimbang 7. Sadarilah bahwa kita menyampaikan informasi kepada pembaca yang membeli koran kita secara benar. Bahasa Gunakanlah bahasa Indonesia yang baik. Selalulah gunakan ejaan yang benar. Jika menulis berita, selalulah melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jika ada istilah asing atau bahasa daerah, tulislah dengan miring dan terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia**.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
