<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>maqam &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/maqam/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "maqam"</description>
	<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 17:09:47 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[KEKELIRUAN  ADAB  KITA ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/28/kekeliruan-adab-kita/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 02:24:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/28/kekeliruan-adab-kita/</guid>
<description><![CDATA[Manusia adalah mesin penghancur diri sendiri yang terbaik. Inilah pelajaran dari sejarah manusia yan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/radhar-panca-dahana.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-3344" title="radhar panca dahana" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/radhar-panca-dahana.jpg?w=116" alt="" width="116" height="150" /></a>Manusia adalah mesin penghancur diri sendiri yang terbaik. Inilah pelajaran dari sejarah manusia yang manusia sendiri tampak keberatan menerimanya.</p>
<p>Namun, kenyataan lebih banyak membuktikan itu. Berbagai peradaban dunia pupus dan lenyap karena ulah manusia. Bahkan, berbagai bencana alam pelenyap peradaban itu dicari sebab atau mendapatrasionalisasi dati kedegilan makhluk berakal yang membanguin peradaban sendiri.</p>
<p>Tampaknya, itulah yang belakangan kita hadapi. Terkuaknya rekaman pembicaraan yang membongkar drama rekayasa hukum untuk memangkas KPK dan menahan dua komisariatnya seperti banyak puncak gunung kekeliruan peradaban manusia Indonesia. Sedikitnya ada tiga alasan.</p>
<p><em>Pertama</em>, bila rekaman itu sah dan benar, ia tak hanya membuktikan bagaimana selama ini sistem dan dunia hukum di Indonesia berlangsung lewat transaksi politik dan ekonomi. Kenyataan yang tak hanya menghina dan mengkhianati tujuan dan filosofi dasar dibangunnya sistem hukum, tetapi juga publik sebagai subyek dan obyek hukum itu sendiri.</p>
<p><em>Kedua</em>, kekeliruan mendasar itu selain menjadi refleksi bagi praksis kehidupan di segmen vital lain – ekonomi, politik, sosial, keamanan, dan lainnya – menunjukkan bagaimana realitas hidup ini dibangun melalui rekayasa semiotik yang menyembunyikan fakta sebenarnya di balik aneka lapisan makna berita-berita yang kita konsumsi tiap hari pada berita utama aneka media massa.</p>
<p><!--more-->Tragisnya, aneka lapisan tanda (semeio) yang tersembunyi itu tidak membawa kita pada makna yang lebih substansial dan kontemplatif, tetapi tidak lebih dari bongkaran kekerasan kekerasan dan kejahatan manusia yang kian mengerikan. Pengungkapan “kebenaran” melalui rekaman itu memberi lentera bagi pemahaman semiotik publik, tentang permainan keangkaraan apalagi yang masih tersembunyi dalam proses kenegaraan lainnya.</p>
<p>Kesadaran ini seharusnya membyka kita pada kekeliruan di tahap ketiga, di mana manusia Indonesia ternyata adalah pihak yang paling bertanggung jawab pada realitas semiotik yang gelap itu. Bila di permukaan (penanda pertama) manusia tampak cukup ideal dengan produk kulturalnya (seperti regulasi, UU, sistem, dan sebagainya), di lapisan makna berikutnya kita mendapati manusia yang sama, yang ternyata menjadi pengkhianat dan perusak utama produk kultural itu.</p>
<p><strong>Tradisi dua milenia</strong></p>
<p>Akan mencemaskan, bahkan mengerikan, bila pola yang sama ternyata tak berhenti di kalangan elite atau pengambil kebijakan (yang dipercaya dan mendapat fasilitas rakyat), tetapi juga berlangsung di berbagai lembaga lain, secara horizontal maupun vertikal. Di tempat yang bisa jadi kita menemukan diri ada di sotu sebagai pelaku. Inikah karakter dasar kita, sebagai manusia dan bangsa Indonesia ?</p>
<p>Kemungkinan jawaban untuk pertanyaan itu tidak dapat berbentuk pilihan ganda karena semua pilihan dapat benar. Jawaban lebih komprehensif berbentuk esaik, yang melukiskan aneka potensi dasar dari kultur masyarakat/manusia kepulauan yang amat fleksibel dan plastis. Ia bisa positif jika tuntutan dan kondisinya kondusif. Bisa pula bias dan deviatif bila ada keadaan negatif mendesak atau memaksa. Inilah kreativitas, yang selalu memiliki dua wajah (ambigu).</p>
<p>Maka, hal lebih krusial ketimbang tiga alasan kekeliruan adab itu adalah sebuah penegasan perlunya sebuah fondasi (sebuah sistem) nilai yang adekuat untuk mengereksi bangunan kehidupan (modern) yang megah. Dalam arti praktis, material, dan institusional. Dan penegasan ini secara wajar menggiring kita pada kebutuhan akan landasan kebudayaan yang harus dikonstruksi lebih dulu – dengan arsitektur yang kuat – sebagai fondasi gedung megah di atasnya. Bila tidak ingin, aneka bangunan hebat itu (misal sistem ekonomi, politik, hukum, dan sebagainya) rapuh dan rentan pada setiap guncangan pada dimensi apa pun.</p>
<p><strong>Manusia komunal</strong></p>
<p>Saya hanya hendak menyebutkan satu saja dari khazanah tradisi luar biasa itu, yaitu kesadaran manusia kepulauan ini, yang berlaku dalam tradisi di etnik atau subetnik mana pun di seluruh Nusantara, tentang keberadaan dirinya tidak sebagai individu bebas – secara idealis dan relistis – sebagaimana dipahami oleh perikehidupan material-pragmatis saat ini.</p>
<p>Namun, keberadaan itu selalu ada dalam ruang tertentu, dalam waktu tertentu, dalam konteks tertenti : konteks yang mengartikulasi kepentingan komunitas, dalam konteks komunalnya. Manusia adalah individu yang komunal. Demikianlah ekspresi dasar semua lapangan kebudayaan kiota : hidup sosial, ekonomi, artistik, hukum, dan seterusnya.</p>
<p>Apa pun yang dilakukan harus dalam referensi kepentingan komunal sehingga tanpa perlu diminta pertanggungjawabannya, seseorang akan menempatkan publik dalam modus dan tiap aksi eksistensialnya. Di sini publik, yang selalu diingkari, kembali mendapatkan jati dirinya. Dan penyimpangan, apa pun bentuk, tujuan atau maqam-nya, akan mendapat sanksi. Bahkan, sebelum publik atau hukum menjatuhkan dakwaannya.</p>
<p>Maka, di mana lagu peluang elite atau pengambil kebijakan menafikan peran kebudayaan dalam perikehidupan kita berbangsa dan bernegara ? Argumentasi dalam berbagai cara dan fakta, dan puluhan kali saya suarakan, di tengah ketidakpedulian yang ajek di kalangan mereka.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Kekeliruan Adab Kita, Radhar Panca Dahana &#124; Sastrawan<br />
Kompas, 05.11.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Musicians: more about those Eastern modes]]></title>
<link>http://secretarchivesofthevatican.wordpress.com/2009/10/13/musicians-more-about-those-eastern-modes/</link>
<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 13:31:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>vincemillett</dc:creator>
<guid>http://secretarchivesofthevatican.wordpress.com/2009/10/13/musicians-more-about-those-eastern-modes/</guid>
<description><![CDATA[You may have seen our earlier posts about various aspects of Middle-Eastern or other non-Western mus]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/f/f3/Ussakmakam-1.jpg" alt="stave ussak" /></p>
<p>You may have seen our earlier posts about various aspects of Middle-Eastern or other non-Western music and how they might be of interest to musicians who want to bring some new rhythms, tunings or melodic ideas into Western music, particularly electronica:</p>
<p><strong><a href="http://secretarchivesofthevatican.wordpress.com/2009/01/21/dubstep-meets-arabian-and-persian-music/">Dubstep meets Arabian and Persian music</a></strong></p>
<p><strong><a href="http://secretarchivesofthevatican.wordpress.com/2009/07/13/352/">Arabian rhythms for electronic dance music</a></strong></p>
<p><strong><a href="http://secretarchivesofthevatican.wordpress.com/2009/02/04/central-asian-drum-rhythms-for-drum-programmers/">Central Asian drum rhythms for drum programmers</a> </strong></p>
<p><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7c/Mugham_trio.jpg/150px-Mugham_trio.jpg" alt="mugham trio" /></p>
<p>Hopefully, you&#8217;ve found them useful. Well, here&#8217;s another blog article that looks at Eastern scales and melodies and has some useful links: <strong> <a href="http://snitra.wordpress.com/2009/07/02/premier-article-maqamati/">Maqamati</a></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Al-Imam Ali Khali’ Qasam]]></title>
<link>http://pondokhabib.wordpress.com/2009/09/13/al-imam-ali-khali%e2%80%99-qasam/</link>
<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 21:20:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>shafifah</dc:creator>
<guid>http://pondokhabib.wordpress.com/2009/09/13/al-imam-ali-khali%e2%80%99-qasam/</guid>
<description><![CDATA[Al-Imam Ali Khali’ Qasam [Al-Imam Ali Khali' Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Al-Imam Ali Khali’ Qasam [Al-Imam Ali Khali' Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibadah Haji]]></title>
<link>http://thenafi.wordpress.com/2008/12/12/ibadah-haji/</link>
<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 10:45:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
<guid>http://thenafi.wordpress.com/2008/12/12/ibadah-haji/</guid>
<description><![CDATA[Haji sebagai salah satu Rukun Islam mempunyai tujuan yang sangat mulia. Seringkali orang tidak memah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Haji sebagai salah satu Rukun Islam mempunyai tujuan yang sangat mulia. Seringkali orang tidak memahami apa tujuan ibadah haji, sehingga begitu pulang dari ibadah haji, tidak banyak didapatkan hikmah dan manfaatnya. Kalau kita kaji firman Allah di dalam Surah Al-Hajj ayat 27-28, Allah telah memaparkan hikmah dan manfaat ibadah haji yang sangat banyak, yaitu:<br />
<!--more--><br />
(27) Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, (28) supaya mereka menyaksikan berbagai manfa`at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. (Q.S. Al-Hajj: 27-28)</p>
<p>Allah menginformasikan, bahwa ibadah haji itu setiap tahun tidak pernah sepi dari manusia. Setiap tahun, jamaah haji akan datang berbondong-bondong dari seluruh penjuru dunia. Hal ini bisa kita lihat pada saat orang melaksanakan thawwaf. Yang namanya Baitullah (Ka’bah), selama 24 jam setiap hari tidak pernah kosong dari manusia yang beribadah, walaupun hanya satu detik. Jam berapapun kita ke Baitullah, di situ pasti banyak orang yang thawwaf, salat, tadarrus Alquran, zikir, dan sebagainya.</p>
<p>Untuk apakah kita berhaji? Paling tidak ada dua tujuan yang akan diraih oleh orang yang berhaji:</p>
<p>Pertama, agar jamaah haji mampu menyaksikan, bahkan merasakan secara langsung tentang manfaat-manfaat ibadah haji bagi mereka.</p>
<p>Kedua, banyak berzikir kepada Allah pada hari-hari tertentu.</p>
<p>Allah menjelaskan, bahwa ibadah haji itu banyak manfaatnya, antara lain:</p>
<p>Pertama, taqquyatul aqidah taqquyatul iman. Haji itu akan mampu menguatkan iman orang-orang yang beriman.</p>
<p>Jika kita belum pernah berhaji ataupun umrah, kita baru sampai pada ‘ilmul yaqin. Kita baru sekedar tahu adanya Ka’bah di Mekkah yang merupakan kiblat kita ketika salat. Kita baru sekedar tahu yang namanya Hijr Isma’il, maqam Ibrahim, dan sebagainya. Tapi itu baru sekedar tahu. Begitu kita pergi haji, bukan hanya ‘ilmul yaqin, tapi akan meningkat menjadi ‘ainul yaqin, bahkan haqqul yaqin. Karena kita bisa melihat langsung apa-apa yang tadinya kita hanya sekedar tahu. Ketika itulah kita akan meyucurkan air mata. Tidak ada orang yang tahan ketika bertemu dengan Ka’bah. Karena itulah, Allah berfirman:</p>
<p>Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (Q.S. Ali Imraan: 96)</p>
<p>Di sini Allah menggunakan kata-kata “Bakkah” yang merupakan nama lain dari Mekkah. Mengapa disebut Bakkah? Bakkah berasal dari kata-kata “Bakkin“, artinya orang yang menangis, karena banyak orang yang datang ke Mekkah, pasti menangis. Mungkin meratapi dosa-dosa yang telah lalu, mungkin terharu karena bisa datang ke Baitullah yang selama ini hanya diketahui dari cerita. Maka orang itu akan terenyuh hatinya, sehingga meneteskan air mata.</p>
<p>Jadi hikmahnya adalah memperkuat akidah dan keimanan kita.</p>
<p>Kedua, manfaat ibadah haji adalah ziyadatul ‘ibadah. Dengan ibadah haji maka kuantitas dan kualitas ibadah kita akan bertambah. Jika sebelum ibadah ibadah haji, ketika kita berada di kampung halaman kita, mungkin kita sering melalaikan ibadah. Ketika terdengar azan, mungkin kita tidak segera untuk salat. Tetapi ketika kita berhaji di Mekkah, hal seperti itu tentunya takkan terjadi. Di Masjidil Haram, sebelum waktu salat tiba, dua ataupun tiga jam sebelumnya kita sudah berada di Masjidil Haram. Bahkan untuk salat subuh yang biasanya dilakukan sekitar jam setengah lima, maka jam 2 ataupun jam 3 dinihari kita sudah harus berada di Masjidil Haram. Karena itulah, semangat ibadah ketika berada di sana itu begitu luar biasanya. Setiap waktu kita ingin thawwaf, salat sunnat, ingin membaca Alquran, karena kita yakin, bahwa salat satu rakaat di Masjidil Haram nilainya lebih baik dibandingkan 100 ribu rakaat di luar Masjidil Haram, sehingga motivasi kita sangat kuat sekali. Demikian juga ketika di Madinah, rasanya kita tidak ingin meninggalkan 40 waktu salat berjamaah di Masjid Nabawi, karena kita ingin mendapatan fadhilah dan keutamaan arbain di Madinah.</p>
<p>Maka dapat dipastikan, bahwa dengan ibadah haji ini, kuantitas dan kualitas ibadah kita akan meningkat, termasuk di dalamnya salat, infak dan sadaqah, zikir dan bacaan Alquran kita.</p>
<p>Ketiga, manfaatnya adalah tahsinul akhlaq (memperbaiki moral dan akhlak kita), karena sebelum kita berangkat haji, Allah telah memberi warning (peringatan) kepada kita:</p>
<p>(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (Q.S. Al-Baqarah: 197)</p>
<p>Rafats adalah hubungan suami istri, ucapan atau perbuatan yang mengarah kepada syahwat, juga ucapan-uacapan yang tidak baik. Maka setiap jamaah haji dalam dirinya telah tumbuh kesadaran untuk selalu menghindari perbuatan rafats.</p>
<p>Fusuq adalah pelanggaran di dalam ibadah haji. Walaupun kita bisa membayar dam berupa seekor kambing sebagai sanksi atas pelanggaran tersebut, tetapi kita mempunyai komitmen untuk tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran tersebut, yaitu agar haji kita mabrur, karena dengan haji mabrur tersebut seperti yang dikatakan oleh Rasulullah: al-hajjul mabrur laysalahu jaza’ illal jannah.</p>
<p>Jidala adalah berbantah-bantahan. Bahkan berbantah-bantahan pun tidak boleh. Oleh karena itulah, orang yang berhaji betul-betul latihan memperbaiki akhlaknya, tidak mau menyakiti hati orang lain, tidak mau melukai hati orang lain, bahkan tidak mau berbantah-bantahan karena takut akan merusak ibadah haji.</p>
<p>Inilah hikmah yang didapatkan, bahwa haji itu bisa memperkuat akidah kita, menambah kualitas ibadah kita, dan memperbaiki akhlak kita. Bahkan berhaji mempunyai hikmah akan menjadikan jamaah haji dan umrah menjadi orang-orang yang mulia, orang-orang yang lebih baik daripada sebelumnya.</p>
<p>Perhatikanlah, orang yang sudah berhaji dan berumrah pasti ada peningkatan kualitas iman, ibadahnya semakin baik, juga akhlaknya menjadi semakin baik, dan dia akan semakin mulia dan agung dibandingkan sebelumnya. Mengapa demikian? Karena setiap kita melihat Ka’bah, di situ antar jamaah akan saling mendoakan:</p>
<p>Ya Allah, Ka’bah ini begitu agung, begitu mulia, begitu berwibawa, maka tambahkanlah kemuliaan, keagungan, dan kewibawaannya. Dan mudah-mudahan setiap orang yang datang ke sini, baik untuk haji maupun umrah, yang mereka memuliakan dan mengagungkan Ka’bah, mudah-mudahan mereka kau tambahkan kemuliaan, keagungan, dan kebaikannya.</p>
<p>Jadi, antar jamaah saling mendoakan. Mustahil dari jutaan orang tersebut tidak ada yang makbul. Di sinilah hikmah dan manfaat ibadah haji.</p>
<p>Dengan ibadah haji dan umrah juga akan mampu menghapuskan dosa-dosa yang kita lakukan selama ini.</p>
<p>Rasulullah mengatakan: “Jamaah haji dan umrah itu adalah tamu-tamu Allah, sehingga Allah akan memuliakan. Jika mereka memohon ampunan, pasti dosa-dosanya akan diampunkan.“</p>
<p>Karena itulah, menurut Rasulullah: “Orang yang pergi haji, kemudian ia menjaga hajinya supaya mabrur, supaya baik, tidak melakukan rafats dan fusuq, maka ketika ia pulang akan seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya, yaitu tidak mempunyai dosa sama sekali.“</p>
<p>Di sinilah hikmahnya luar biasa. Bahkan lebih jauh lagi, karena jamaah haji dan umrah adalah tamu-tamu Allah, ketika mereka berdoa, maka akan dikabulkan oleh Allah. Doa itu akan diterima oleh Allah sangat tergantung kepada:</p>
<p>Pertama, yang berdoa siapa. Semakin ia dekat dengan Allah, maka doanya akan semakin mudah diterima. Karena itulah biasanya kita suka datang kepada para ulama, para awliya, mohon didoakan, karena beliau-beliau adalah orang-orang yang dekat dengan Allah. Semakin suci hati seseorang, maka doanya akan semakin mudah dikabulkan oleh Allah.</p>
<p>Kedua, doa itu akan diterima oleh Allah sangat dipengaruhi oleh waktu. Kalau waktu kita berdoa merupakan waktu mustajab, seperti waktu tengah malam, ketika kita sedang tahajjud, ketika orang lain tidur, maka Allah akan turun ke langit dunia menyampaikan rahmatnya, sambil mengatakan:</p>
<p>Barangsiapa yang berdoa, maka akan Ku-kabulkan, siapa yang istighfar maka akan Ku-ampunkan dosa-dosa.</p>
<p>Waktu Jum’at juga merupakan waktu yang mustajab. Waktu Hari Arafah juga merupakan waktu yang mustajab. Sehingga, kalau orang yang berdoa itu baik, shaleh, dan dekat dengan Allah, waktunya tepat, maka doanya akan sangat mudah diterima oleh Allah.</p>
<p>Ketiga, doa itu juga sangat dipengaruhi oleh tempat. Kalau kita berdoa di tempat yang mustajab, maka doanya akan lebih cepat dikabulkan oleh Allah. Jika kita berdoa di masjid yang merupakan tempat yang suci, jika kita berdoa di Padang Arafah, apalagi ketika wukuf, ketika kita berdoa di Masjidil Haram, ini merupakan tempat-tempat yang mustajab, apalagi di Multazam, di Maqam Ibrahim, di Hijir Ismail, yang itu merupakan tempat yang suci. Tempat yang biasa digunakan untuk beribadah, untuk mendekatkan diri kepada Allah, apalagi semacam qadha’ al-musyarafah dijadikan sebagai tempat beribadah, yang Nabi Adam, Nabi Ibrahim, dan semua nabi-nabi berdoa di situ, maka dapat dipastikan bahwa tempat itu adalah tempat yang sangat mustajab.</p>
<p>Ada suatu kisah nyata:</p>
<p>Seorang tabib yang kebetulan dia beragama Budha. Suatu ketika dia akan mengadakan pengobatan massal. Maka dia menyewa sebuah ruangan di hotel untuk pengobatan tersebut. Kemudian dia mencari tempat yang bagus. Pertama-tema dia masuk ke lobi, kemudian dia mencari ballroom, ternyata dilihatnya kurang bagus. Lalu dia naik ke lantai 2, dalam pandangannya ternyata kurang bagus. Sampai dia ke lantai 3, barulah dia mengatakan bahwa tempat itu bagus sekali, sehingga cocok untuk pengobatan. Kemudian dia menanyakan, mengapa tempat yang dimaksud itu auranya bagus. Dijelaskan oleh petugs hotel, bahwa di tempat itu kalau hari Jum’at digunakan untuk Salat Jum’at.</p>
<p>Ternyata tempat yang hanya seminggu sekali dipergunakan untuk beribadah itu mempunyai aura yang sangat bagus, berbeda dengan tempat-tempat yang lain. Apalagi Ka’bah Al-Musyarafah yang selama 24 jam setiap harinya selalu digunakan untuk beribadah, yaitu sejak zaman Nabi Adam hingga kini. Karena itulah, jika berdoa di tempat yang biasanya digunakan untuk beribadah, maka doa tersebut akan sangat mudah dikabulkan.</p>
<p>Inilah hikmah yang sangat besar bagi jamaah haji. Untuk itulah, jika kebetulan kita sedang berhaji, jangan lupa doakan diri kita masing-masing, keluarga kita, saudara-saudara kita, dan terutama bangsa dan negara ini juga kita doakan, mudah-mudahan mencapai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.</p>
<p>Tentunya masih banyak hikmah yang lain, seperti:</p>
<p>Dengan berhaji, kita bisa bersilaturahim kepada Umat Islam seluruh dunia. Sebab memang jika kita lihat, bahwa filosofi Islam itu banyak memerintahkan kita untuk menjalin ukhuwah dan silaturahim. Sebagai contoh, mengapa kita setiap hari diperintahkan untuk salat berjamaah? Karena dengan salat berjamaah, minimal selama sehari semalam lima kali kita bisa bersilaturahim dengan tetangga kita yang dekat, se-RT misalkan. Nanti seminggu sekali kita Salat Jum’at, mungkin ruang lingkup silaturahimnya akan semakin besar, se-RW atau mungkin se-kelurahan. Nanti setahun dua kali kita Salat Idul Fitri dan Idul Adha, kita salat di masjid yang besar ataupun di lapangan, di situ semakin banyak lagi jamaah yang hadir, sehingga silaturahim semakin luas. Kemudian, setahun sekali kita Umat Islam berhaji dan berumrah yang di situ kita bisa bersilaturahim dengan Umat Islam seluruh dunia, sehingga dengan silaturahim itu mungkin kita bisa mengadakan suatu kongres ataupun muktamar internasional untuk membicarakan problem Dunia Islam. Maka seharuasnya dengan ibadah haji akan bisa mengilhami untuk memperbaiki perekonomian Dunia Islam.</p>
<p>Kalau kita perhatikan, kita pergi haji dengan biaya yang sangat besar. Tapi sayang, biaya itu lebih banyak mengalir ke orang-orang non muslim. Sebagai contoh: kita pergi haji naik pesawat, bayarannya lumayan mahal. Kita sewa pesawat-pesawat ke negara-negara non muslim, karena kita belum punya sendiri. Yang pergi haji kita (orang Islam), boleh jadi pilot dan kru nya juga orang Islam, tapi yang mendapat keuntungan besar adalah yang punya pesawat yang kebanyakan adalah non muslim. Mengapa tidak kita pikirkan agar Dunia Islam mampu menyediakan pesawat untuk jamaah haji seluruh dunia, sehingga keuntungannya kembali lagi ke Negara Islam dan Umat Islam.</p>
<p>Kita semua pergi haji perlu kain ihram. Tapi sayang, yang mensuplay kain ihram malahan dari Negara Cina. Mengapa bukan Dunia Islam yang membuat kain ihram? Kita kan sebenarnya juga banyak pabrik-pabrik tekstil, tetapi mengapa kita tidak mampu untuk menciptakan kain ihram, sehingga seluruh kebutuhan jamaah itu terpenuhi oleh Dunia Islam.</p>
<p>Kita pergi haji semuanya memerlukan souvenir (oleh-oleh), seperti sajadah, surban, tasbih, dan sebagainya. Siapakah yang memproduksinya? Lagi-lagi, yang memproduksinya adalah Negara Cina. Mengapa kita (Dunia Islam) tidak bisa memproduksi souvenir-souvenir tersebut? Di sinilah seharusnya kita sebagai Umat Islam perlu memikirkan bagaimana kebutuhan Umat Islam, terutama untuk ibadah haji ini semuanya terpenuhi oleh Umat Islam.</p>
<p>Di sinilah mengilhami, agar haji juga bisa mendatangkan keuntungan ekonomi bagi kita Umat Islam. Selain itu mungkin juga keuntungan secara politis. Seandaikan seluruh jamaah haji yang ada di Arafah mereka menggunakan kain ihram semuanya, kemudian berdoa untuk kepentingan Dunia Islam, sungguh luar biasa pengaruhnya. Tidak ada agama yang seperti Agama Islam, yang bisa menghimpun umatnya dalam jumlah besar di waktu yang sama di tempat yang sama seperti di Padang Arafah. Itulah hikmah dari ibadah haji.</p>
<p>Tentunya, hikmah yang besar ini mulai dari: taqquyatul iman, ziyadatul ibadah, tahsinul akhlaq, istijabatud du’a, yang itu semuanya bisa kita raih dengan syarat dua hal:</p>
<p>Pertama, kita akan mendapatkan hikmah yang besar manakala ibadah haji dan umrah itu dilaksanakan dengan ikhlas. Mengapa demikian? Karena ibadah haji itu banyak godaanany. Menurut Imam Al-Ghazali di dalam Kitabnya Ihya Ulumuddin, bahwa orang yang pergi haji itu bisa jadi niatnya menyimpang. Ada di antara jamaah haji yang niatnya sekedar untuk berekreasi. Mungkin ada juga yang pergi haji untuk mencari peluang bisnis. Boleh kita mencari rizki, tapi niat utamanya tetaplah untuk beribadah haji, bukanlah untuk berbisnis. Boleh jadi orang yang beribadah haji itu sekedar untuk mendapatkan pujian.</p>
<p>Kedua, bahwa orang yang berhaji itu harus tahu ilmu mengenai tata cara ibadah haji. Mengenai hal ini sudah ada petunjuk dari Rasulullah (bukan sesuatu yang bisa kita karang-karang). Oleh karena itulah, kita mesti memahami proses ibadah haji. Bahkan bukan hanya sekedar pendekatan fiqh, tapi juga pendekatan tasawwuf, aqidah, dan juga filosofi. Sering kali orang yang berhaji tidak memahami filosofi dari ibadah haji, sehingga haji yang dilaksanakannya itu terkesan main-main. Mengapa kita harus mengelilingi Ka’bah (thawwaf), mengapa kita harus bersa’i (lari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwa), dan sebagainya, yang semuanya itu ada filosofinya, bukan hanya ritual belaka, dan bukan hanya sesuatu yang bisa kita samakan dengan aktivitas-aktivitas lainnya. Dengan memahami filosofinya, maka kita akan merasakan nikmatnya ibadah haji dan umrah, serta akan merasakan hikmahnya yang besar. Setelah pulang dari haji, maka kita juga akan menjadi orang yang baik.</p>
<p>Kalau kita renungkan, mengapa orang yang pergi haji dan umrah itu terlebih dahulu disunnatkan untuk mandi ihram?</p>
<p>Mandi ihram itu bukan hanya sekedar memandikan diri kita secara fisik. Dalam kajian tasawwuf, seorang yang mandi ihram harus niat membersihkan kotoran-kotoran jasmaniah, dan yang tak kalah pentingnya adalah membersihkan kotoran-kotoran rohaniah, karena kita akan menghadap Allah Yang Maha Suci. Sedangkan Allah tidak akan menerima, kecuali yang suci.</p>
<p>Jamaah haji juga harus memakai pakaian ihram. Bagi laki-laki memakai kain yang tidak berjahit. Mengapa jamaah haji itu harus memakai pakaian ihram? Bahwa dengan pakaian ihram itu kita harus menanggalkan simbol-simbol keduniaan. Sungguhpun kita seorang Raja yang biasanya menggunakan pakaian kebesaran, maka ketika berhaji, semua pakaian kebesaran itu harus dilepaskan, sehingga kita tidak menjadi orang yang sombong. Ketika menghadap Allah, kita harus melepaskan semua simbol-simbol duniawi, sehingga tidak ada bedanya antara penguasa dengan rakyat jelata. Dengan pakaian ihram kita juga disadarkan, bahwa itulah pakaian yang akan kita kenakan ketika kita wafat, yaitu yang kita bawa hanya dua helai kain kafan. Sehingga bagi yang menghayati ihram, maka mungkin ia takkan korupsi, karena semuanya tak ada gunanya. Ketika meninggal dunia, semuanya itu akan ditinggalkan, karena yang kita bawa hanyalah iman dan amal shaleh. Dengan ihram, kita juga disadarkan, bahwa di hadapan Allah kita ini semuanya sama.</p>
<p>Thawwaf juga memiliki filosofi tersendiri, yaitu mengandung pesan: innalillahi wa inna ilayhi raji’un. Kita semuanya hidup dimulai dari Allah, diciptakan oleh-Nya, kemudian kita hidup, yang ujung-ujungnya kita akan kembali lagi kepada Allah. Inilah gambaran dari thawwaf. Kita mulai dari Hajar Aswad, kemudian kita keliling, akhirnya kembali lagi ke Hajar Aswad sebagai titik akhirnya.</p>
<p>Sa’i memiliki makna untuk selalu berusaha. Ketika Allah ingin menjadikan Makkah al-Mukarramah sebagai pusat ibadah umat manusia, maka Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk pergi ke Mekkah dengan membawa istrinya (Hajar) dan anaknya yang masih bayi (Ismail). Ketika sampai di Mekkah, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk kembali lagi ke Palestina dengan meninggalkan istri dan anaknya di Mekkah sendirian. Sebagai seorang suami, tentunya perintah seperti ini begitu beratnya. Tetapi karena Nabi Ibrahim beriman kepada Allah, yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan anak dan istrinya, maka ketika diperintahkan oleh Allah untuk ke Palestina, Ibrahim pun mematuhi perintah Allah tersebut.</p>
<p>Ketika ditanya istrinya akan ke mana dia, ternyata Ibrahim tak bisa menjawab, karena dia tak tega untuk memberikan penjelasan. Ditanya kedua kalinya oleh istrinya, Ibrahim pun masih terdiam. Ketika ditanyakan oleh istrinya apakah hal tersebut merupakan perintah Allah, barulah Ibrahim menjawab, bahwa memang benar hal tersebut merupakan perintah Allah. Lalu istrinya mengatakan, bahwa kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka semua. Akhirnya Nabi Ibrahim berdoa:</p>
<p>Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (Q.S. Ibraahim: 37).</p>
<p>Pada hari-hari berikutnya, Hajar dan Ismail mulai kehabisan perbekalan. Makanan dan air sudah habis, air susunya pun sudah kering. Di sinilah Hajar sebagai seorang ibu yang bertanggungjawab kepada anaknya, dia berusaha mendapatkan air, sehingga ia pun lari dari Shafa ke Marwa. Dilihatnya di Bukit Shafa seakan-akan ada air, ia lalu mendekati, ternyata hanya fatamorgana. Dari Shafa ia lihat seakan-akan di Marwa ada air, lalu ia pun berlari lagi ke Marwa yang ternyata itu juga hanya fatamorgana. Sampai tujuh kali ia berlari-lari antara Bukit Shafa dan Marwa.</p>
<p>Di sinilah memberikan pelajaran kepada kita, bahwa hidup ini harus berjuang, bekerja keras, tidak cukup hanya berdoa. Walaupun istri dan anak seorang Nabi, untuk mendapatkan seteguk air pun, Hajar harus lari antara Shafa dan Marwa, yang ternyata itupun tidak ada hasilnya. Ternyata ketika Ismail meronta-ronta di sebelah Ka’bah, dihentakkan kakinya, di situlah keluar air zamzam yang hingga kini tak pernah kering waluapun diambil oleh manusia sedunia.</p>
<p>Hal ini memberikan pelajaran, bahwa boleh jadi sebagai orang tua kita berjuang untuk mendapatkan rizki, namun ternyata tidak berhasil, justru rizki itu datang lewat anak kita. Karena itulah, janganlah menyia-nyiakan anak, dan kita harus yakin bahwa anak itu membawa rizki dari Allah.</p>
<p>Jadi pelajaran haji ini begitu luar biasanya. Jika kita menghayati setiap ritual yang ada di dalamnya, maka kita akan mendapatkan pelajaran hidup yang begitu banyak.</p>
<p>Sa’i dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwa. Hal ini mengandung pesan, karena Shafa adalah simbol kebersihan hati (shafa’ul qalb), kita memulai usaha kita dengan ikhlas mengharap ridha Allah, kemudian berakhir di Marwa, yaitu mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.</p>
<p>Setelah itu kita tahallul sebagai simbol pelepasan dari dosa-dosa kita. Maka orang yang pergi haji itu disunnatkan untuk bercukur sebagai simbol melepaskan dosa-dosa, setelah itu kita disunnatkan memakai peci putih yang artinya pola pikir kita ini sudah bersih dan jernih, sehingga tidak ada lagi pikiran-pikiran negatif.</p>
<p>Jadi kalau kita renungkan, betapa banyaknya hikmah yang akan kita peroleh. Belum lagi ketika kita berada di Padang Arafah sebagai miniatur Padang Mahsyar. Di situlah kita akan menghayati bagaimana kehidupan manusia kelak di akhir zaman, ketika kiamat, kita semuanya akan berkumpul di Padang Mahsyar yang merupakan tempat yang panas yang di situ tidak ada naungan, kecuali naungan Allah. Dan di situ pula tempat Rasulullah menerima wahyu terakhir (Al-Maidah ayat 3).</p>
<p>Maka kalau kita renungkan, bahwa di Padang Arafah ini kita diperintahkan oleh Allah untuk “‘arafah” (untuk mengenal diri kita masing-masing), karena dengan mengenal diri kita, maka akan sampailah kita mengenal Allah.</p>
<p>Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu (Barangsiapa yang mengenal diri, maka dia akan mengenal Allah).</p>
<p>Di situ tidak ada perintah apa-apa kecuali wuquf, yaitu diam, duduk merenungkan diri, bermuhasabah akan apa yang telah kita jalankan selama ini, apakah umur kita sudah digunakan untuk mengabdi kepada Allah, apakah kita sudah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dan sebagainya. Maka, bagi yang menghayati wukuf di Arafah, dia akan kembali sebagaimana bayi yang baru dilahirkan.</p>
<p>Setelah itu Allah memerintahkan:</p>
<p>Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari `Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. (Q.S. Al-Baqarah: 198)</p>
<p>Masy’aril Haram adalah suatu masjid yang ada di Muzdalifah. Ini adalah tempat yang mustajab. Maka dalam hidup ini, setelah kita selesai beraktivitas, janganlah lupa untuk berzikir kepada Allah. Dalam kondisi apapun, berzikirlah kepada Allah. Jika dicermati, ternyata ayat Alquran yang paling banyak adalah memerintahkan untuk berzikir, yaitu ada 269 kali Allah memerintahkan kita untuk berzikir. Salat yang kita kerjakan sehari semalam (minimal 5 kali salat fardhu) itu tujuan utamanya adalah untuk berzikir kepada Allah. Ibadah haji tujuannya juga untuk berzikir kepada Allah. Begitu juga dengan ibadah-ibadah lainnya, termasuk juga rangkaian ibadah di dalam ibadah haji.</p>
<p>Jadi ternyata, hidup ini penuh untuk berzikir. Maka sungguh pun kita tidak pergi haji, maka dalam kondisi apapun kita selalu diperintahkan oleh Allah untuk berzikir. Dalam Surah Ali Imran ayat 190-191 disaebutkan bahwa berzikir itu dalam kondisi apapun, berdiri, duduk, maupun berbaring:</p>
<p>(190) Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (191) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imraan: 190-191)</p>
<p>Mudah-mudahan jamaah haji dari seluruh penjuru dunia diberikan keselamatan oleh Allah, baik jasmani ataupun rohaninya sehingga bisa beribadah dengan sempurna. Dan mudah-mudahan kita-kita semuanya pada tahun-tahun mendatang diberikan kesempatan oleh Allah untuk bisa berhaji dan berumrah bersama dengan keluarga kita yang semuanya untuk meraih izzul islam wal muslimin. []</p>
<p>Disarikan dari Kuliah Dhuha Ahad yang disampaikan oleh KH. Hamdani Rasyid, M.A. pada tanggal 9 November 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa &#8211; Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MURAQABAH; SINYAL DARI ALLAH]]></title>
<link>http://sufimuda.wordpress.com/2008/11/02/muraqabah-sinyal-dari-allah/</link>
<pubDate>Sun, 02 Nov 2008 08:37:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>SufiMuda</dc:creator>
<guid>http://sufimuda.wordpress.com/2008/11/02/muraqabah-sinyal-dari-allah/</guid>
<description><![CDATA[Saidi Syekh Sulaiman Zuhdi Al-Khalidi Ahli Silsilah ke-32 dalam kitabnya Ar Risalah Majemu’atul Khal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Saidi Syekh Sulaiman Zuhdi Al-Khalidi Ahli Silsilah ke-32 dalam kitabnya Ar Risalah Majemu’atul Khal]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adab of Visiting the Tomb/Maqam of a Saint]]></title>
<link>http://higherstations.wordpress.com/2008/10/01/adab-of-visiting-the-tombmaqaam-of-a-saint/</link>
<pubDate>Wed, 01 Oct 2008 21:46:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>higherstations</dc:creator>
<guid>http://higherstations.wordpress.com/2008/10/01/adab-of-visiting-the-tombmaqaam-of-a-saint/</guid>
<description><![CDATA[Questioner: “Like you said when you go to makam.. In order to ask for something, do we put our hands]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-73" title="Bismillahir Rahmanir Raheem" src="http://higherstations.wordpress.com/files/2008/09/bismillah.jpg?w=120" alt="" width="120" height="96" /></p>
<div class="storycontent">
<p><strong>Questioner:</strong> <em>“Like you said when you go to makam.. In order to ask for something, do we put our hands like in prayers? from the saints? or do we say respectfully… what is the proper protocol to ask from the saints?”</em></p>
<p>-</p>
<p><strong>Shaykh Abdul Kerim:</strong></p>
<p>You are not asking from the saint.   You are not asking from the saint.</p>
<p>You are asking from Allah, but you are asking for the behalf of that Saint. You are saying “Ya Rabbi! This is what my need is, but I know that I am not worthy. My worth is not reaching to you. Because of this one I am asking, this one is beloved to you! I am asking because of this one, that I came *here*!.”</p>
<p>That’s all.  You are not asking from a saint.</p>
<p>But, if you are asking, depending to your sincerity. If you are asking sincerely and if you don’t have any better knowledge than that. That is a different story. But if you are, like somebody like you, questioning so many times different things, and asking from the saint, then you are committing shirk that time.</p>
<p>Everything is depending to the levels of the people’s understanding. In India, the people they go and they believe one hundred percent that its going to happen from that saint, and it happens to them.</p>
<p>Try to change the minds of those people, you will invent confusion to them. So you leave them alone, don’t interfere. Is that the real way it is happening? No.</p>
<p>Everything happens through that one’s hand!</p>
<p>The living saint, the living saint also is not giving you something but is taking something from Allah and gives to you. But to you, you know that one. But to him, he is a servant, taking from Allah and giving.</p>
<p>Certain people you dont go confusing them. Understand?</p>
<p>Now according to the individuals faith, whichever side is working, you leave it. But if you are reaching to higher station of knowledge and you are going asking from that one… it is not too intelligent. Understanding?</p>
<p>Everything in the hand of Allah SubhanuatAllah. But Allah has given the treasury of the world to hand of one saint, if you are looking for that treasury, then you ask from that ones behalf and that one will give it to you. It is a different story, depending on peoples level of the faith.</p>
<p>Once upon a time, Khizr (AS) is passing from one area, and he is seeing a man going up to the mountain. And as soon as he reaches up to the mountain. He sits down, and puts his head between his leg and crawls down, rolling down all the way down, down to the mountain. He gets up and goes back up and goes down again.</p>
<p>Saying “Ya Rabbi, what is this servant is doing?”</p>
<p>Word is reaching to him, “He is worshiping”.</p>
<p>Saying “Ya Rabbi, you have taught us, you have sent us the Prophet, to teach us how to worship. This one doesn’t know, grow up in the mountain. So.. I may teach…”</p>
<p>Says, “Go and teach him, go and tell him that is the way, that to do, the right way.”</p>
<p>So Khizr came, and says to him “Welcome Salamu’alaikum,” “walaikumassalam”</p>
<p>Says, “What are you doing?”</p>
<p>“Worshiping”</p>
<p>He says, “But the prophet came to teach us how we are going to worship, and this is the better way of worshiping.”</p>
<p>So he watch and he says “Yeah, that’s good, I like it better.”  So he starts doing it.</p>
<p>And Khizr (AS) walking.. there is a sea.  Start walking on top of the sea going to the other side.</p>
<p>That one now he says “Allahuakbar” now is thinking, which one was I supposed to do first? To go to rukuh or go to sajdah first? He forgot instantly. So he’s thinking saying, “Instead of making wrong, let me run to catch that man to teach me the right way again. So he starts running after Khizr..</p>
<p>“Please, I forgot which one is first the ruku or the sajda?”</p>
<p>Khizr is looked at him, he is standing on top of the sea and he is standing with him (on the sea). He says to him, “You know what, go and do what you were doing. Don’t change anything!”.</p>
<p>The whole aim of this worshipness and everything that we are doing, we are trying to become a good servant of Allah. That one through that way, that he was doing, that he was so sincere, doing it for Allah’s sake, He already reached to that station. So Khizr looked, says, “don’t confuse yourself, all these years whatever you have learned and whatever you did, continue doing that sincere way!” He didn’t said to him “Oh, you are standing here with me”… said “Go and do it, live that way”.</p>
<p>So depending to individuals level of faith. If you are learning and knowing certain things then you are under obligation to follow that. But if you are a complete sincere person and doesnt have too much knowledge and you doing certain things… Ahir Zaman (End of Times)!</p>
<p>That is what Holy Prophet (S) saying, little that you know, continue doing that little. Continuously. Don’t go searching too much, because there will be confusion everywhere.</p>
<p>That is why people go around searching so much… in Turkish we say…”If you circle around too much you will step on the waste”. And that is what happens to so many people. There are not satisfied with finding something.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Taken from: <a href="http://www.yursil.com/blog/2007/08/proper-adaab-at-shrines-makaam/" target="_blank">http://www.yursil.com/blog/2007/08/proper-adaab-at-shrines-makaam/</a></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://higherstations.files.wordpress.com/2008/10/2227904062_4486dd5d47_b2.jpg"><a href="http://higherstations.files.wordpress.com/2008/11/2227904062_4486dd5d47_b.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-295" title="2227904062_4486dd5d47_b" src="http://higherstations.wordpress.com/files/2008/11/2227904062_4486dd5d47_b.jpg" alt="2227904062_4486dd5d47_b" width="450" height="337" /></a><br />
</a></p>
<p style="text-align:center;">[ Maqam of Sultanul Awliya, Shaykh Abdullah al-Faiz Daghestani (qs),</p>
<p style="text-align:center;">at the <a href="http://www.naksibendi.org/" target="_blank">Osmanli Dergahi</a>, New York]</p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yusuf gets green light to build cultural center]]></title>
<link>http://troubadourtribune.wordpress.com/2008/09/14/yusuf-gets-green-light-to-build-cultural-center/</link>
<pubDate>Sun, 14 Sep 2008 20:54:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Corey Blake</dc:creator>
<guid>http://troubadourtribune.wordpress.com/2008/09/14/yusuf-gets-green-light-to-build-cultural-center/</guid>
<description><![CDATA[YusufIslam.com announced Friday that Dr. Yusuf Islam (formerly Cat Stevens) has been granted unanimo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>YusufIslam.com announced Friday that Dr. Yusuf Islam (formerly Cat Stevens) has been granted unanimous approval of plans to build a cultural center in Brondesbury Park, London. The center will be called <a href="http://www.themaqam.com/" target="_blank">The Maqam</a>, and will &#8220;serve as a place where people from across Britain, regardless of faith or background, can come together to not only increase their understanding and enjoyment of Islam’s spiritual and material contribution, but to partake through interaction in the development of a vibrant British Muslim cultural identity&#8221;. Of the approval, Yusuf stated:</p>
<blockquote><p>I am delighted that the Council has given the green light to our plans. For many years now I have tried to build bridges between faiths and communities and promote a better understanding of Islam. This modern, interactive centre, focused on the monotheistic example of Prophet Abraham – known in Judaism, Christianity and Islam as the Father of the Prophets – will provide a focal point for our activities in trying to bring people together and spreading the message of peace and common understanding.</p></blockquote>
<p>Construction and fundraising have already begun, with a targeted grand opening in 2010.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bellydance Competitions: A Firsthand Account]]></title>
<link>http://meganhartmann.wordpress.com/2009/08/24/bellydance-competitions-a-firsthand-account/</link>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 03:54:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>meganhartmann</dc:creator>
<guid>http://meganhartmann.wordpress.com/2009/08/24/bellydance-competitions-a-firsthand-account/</guid>
<description><![CDATA[This weekend was a first in my short career as a bellydancer &#8212; I entered my first belly dance ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>This weekend was a first in my short career as a bellydancer &#8212; I entered my first belly dance competition, the 2009 MAQAM Challenge in the Pro Tribal Soloist category. I have talked about belly dance contests before (see my post &#8220;Contests and Certifications &#8212; What Are They Worth?&#8221;) where I discussed a Gilded Serpent article where Miles Copeland shares his thoughts about competitions.</p>
<p>A few weeks ago, I contacted Kimahri about entering the competition at the last possible second. I got signed up and I had only a few weeks to seriously start working on preparing. Luckily I had enough time to prepare and I could choreograph something really great I could be proud of, right?</p>
<p>&#8230;Um, wrong.</p>
<p>Between starting two jobs and life just getting in the way (a continuing problem emerging in my dance career <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  ), I completely ran out of time to prepare something. On the way down, I gave myself a pep talk &#8212; &#8220;You&#8217;ll be ok&#8230; sometimes you don&#8217;t do too badly just improv-ing,&#8221; &#8220;Well&#8230; it might be a learning experience. Maybe.&#8221; You know. Deeply encouraging self-talk.</p>
<p>Competition morning arrived. Mark and I left my parents house at 8:30 AM to arrive at the competition in Lombard, IL. My category was second. I got to compete against (and I speak completely honestly and genuinely) probably the best 5 tribal dancers I have ever seen in the Midwest &#8212; Susan Warner of Illinois, Ayperi of Madison, Jezminda of Illinois (my first tribal teacher!) Eliza of Illinois, and Mae the Bellydancer of Illinois. Not only were they all extraordinarily talented, but every single one of these women were just true professionals &#8212; everyone was so supportive of one another and it was a pleasure sharing the stage with these women. What I thought of the competition:</p>
<p>&#8211; Susan Warner was obviously an exceptionally well-trained ATS dancer who incorporated flawless cymbal work over perfect hipwork. She did an excellent job of conveying emotion, and I was impressed how she fused a solo performance with ATS technique. Beautiful posture, and overall Susan was just an incredibly genuine person. I praise her for using more patterns that just gallop, and at the one time I took a few eight counts to just focus on her hips, the girl was doing perfect zillwork over perfectly articulated three-quarter shimmies. The girl has SERIOUS skill.</p>
<p>&#8211; Ayperi danced with a sword, and I unfortunately did not get to see any of her piece because I was backstage behind a wing, but my family raved about her performance. This girl came all the way from Wisconsin and ended up carrying the first place trophy back home. I&#8217;m looking forward to getting my DVD to see her piece!</p>
<p>&#8211; Jezminda was THE girl who launched me into the tribal fusion world. I remember going to my first class with her and saying, &#8220;I&#8217;m a cabaret dancer&#8230; I&#8217;m not sure about this whole tribal thing.&#8221; After watching this girl dance, I was hooked (she also showed me my first Rachel Brice video!). What I really admire about Jezminda is 1) her incredible hip work and 2) her originality. Jezminda did a beautiful double fan dance that had Spanish elements and a ton of characterization &#8212; completely unique and unlike anything I&#8217;ve ever seen. This girl oozes stage presence!</p>
<p>&#8211; Eliza dances with the Chicago ATS troupe Jezebelly, who I became a fan of a few years ago after seeing them perform when Rachel Brice came to Chicago. What really sets Eliza part is her beautiful lines of her arms and posture paired with her spot-on technique. Her piece had some really well-played little sassy moments and characterizations. I felt like it was a very thoughtful and well-choreographed wor, truly impressive and just a lot of fun to watch. The audience agreed, and she walked away with the People&#8217;s Choice award and tied for second place.</p>
<p>&#8211; Mae the Bellydancer took gothic bellydance to a whole new level with her piece. Mae was hands-down the best facial and bodily storyteller I have ever seen. She did a beautiful piece that told a clear story, which I realy appreciated. I feel like belly dance technique is sometimes sacrificed in gothic bellydance while the dancer was focusing on telling the story &#8212; absolutely NOT the case with Mae. Not only was her piece technically impressive, but she incorporated a unique prop &#8212; she crafted a poi out a wooden ball and a thick rope, a very gothic take on poi. I was quite impressed.</p>
<p>So imagine how nuts I was going backstage &#8212; each performance was incredible, I don&#8217;t have anything prepared, and I didn&#8217;t know my music that well. Right before I went on, however, I had a huge moment of clarity. I looked into myself and I asked what I wanted to present, what I wanted to say, and how I wanted the audience to feel when I danced. I completely got in the most zen state I&#8217;ve ever been. When I walked onstage, any half-hearted efforts I had made at choreography left my head. I danced from my soul and shut off my mind competely, something I&#8217;ve never been able to do before. 30 seconds before the end of the piece, I remember turning to face the back, and I felt something I had never felt before in a piece: complete and utter exhaustion. I had given all of my energy and stregnth to that performance. I realized I didn&#8217;t care how I placed because I had given it everything I had. I was proud of how I did.</p>
<p>After some confusion, I discovered that I had gotten second place. I was really happy with how everyone did, and I feel like first place could really have gone to everyone. It was a tough, tough competition and I just feel honored to have had my first competition have been against such worthy competitors. Ladies, if you&#8217;re reading this, thank you for your inspiration and sharing your art and beauty onstage.</p>
<p>Thoughts to leave on:</p>
<p>&#8211; Hats off to Kimahri for organzing a professional, classy, good-paced competition. The awards were awarded after each category, and dancers got to take their scorecards and DVD of their performance that DAY. Talk about a smooth and high-class event!</p>
<p>&#8211; I think competitions can be a really positive experience or a really negative experience depending on how you approach it. If you go into it focused on ranking or awards you&#8217;re bound to either be disappointed or not get a lot of personal growth out of the event. To be honest, for awhile I was stuck in the mindset that I had to get first. But after I watched the other dancers, and I saw how all different we were, I realized&#8230; ranks aren&#8217;t the most important thing. All of those girls were talented, original artists &#8212; what matters is focusing on giving the best performance possible. It&#8217;s so easy to get wrapped up in the competion of it all. I was glad that what I took away from the event was pride in my work and inspiration from the girls I got to compete with.</p>
<p>Overall, I gained a lot from the experience and I&#8217;m glad everything happened exactly the way it did.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Why Playing Bass Can Open Doors Into Playing Music From Many Cultures]]></title>
<link>http://philwbass.wordpress.com/2009/07/21/why-playing-bass-can-open-doors-into-playing-music-from-many-cultures/</link>
<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 11:45:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>philwbass</dc:creator>
<guid>http://philwbass.wordpress.com/2009/07/21/why-playing-bass-can-open-doors-into-playing-music-from-many-cultures/</guid>
<description><![CDATA[Bass. Music is basically oom-pah or oom-pah-pah and we bassists are responsible for the oom. Truth i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://usera.ImageCave.com/feilik/LK/2008-263-3-27-50-8-2863088807_992fec9605.jpg.jpg" alt="Luna Kalamata go crazy" /><br />
Bass. </p>
<p>Music is basically oom-pah or oom-pah-pah and we bassists are responsible for the oom. Truth is in most styles of music it&#8217;s pretty similar. We play roots and roots and fifths in so many types of music.</p>
<p>It took me ages to realise that the skill in playing bass often came from playing the simple well rather than the complex adequately. The subtlety and sophistication comes in shape and tone of the notes and their length and dynamic shape. We are sound architects.</p>
<p>Bass is a listening mindset and a role where we endeavour to be as supportive as possible. This active listening and making things sound great is what makes many bassists excellent producers and it can also allow us to fit in seamlessly to many, many styles of music; much more so I&#8217;d argue than pianists, saxophonists, violinists, trumpeters etc.</p>
<p>I was excited growing up to see a page reproduced from Coltrane&#8217;s notebook of exotic scales he&#8217;d transcribed from hours of listening to musical styles from around the world. The exotic can be very exciting but musicians have to study hard and immerse themselves if they&#8217;re not going to sound patronising in a musical context from another culture. Respect for that culture and music is essential.</p>
<p>So when I get asked to play Romany music, or Turkish pop or Highlife I immerse myself into the music and listen actively for weeks until I have at least a feel for where the music is coming from. </p>
<p>I&#8217;ve been so lucky to have had opportunities to have played music from so many cultures. I&#8217;ve also spent many months or years studying musics that I love and have never had a chance to play: Middle Eastern music and North African Rai for example but they all saturate into the way I play jazz; as does the time I&#8217;ve spent immersed in Indian music.</p>
<p>As well as jazz, soul, reggae, soca, folk, rock, gospel, funk, free improv and the like I&#8217;ve had the chance to perform Afro-Cuban, Brazilian, Klezmer and Roma music and music and musicians from Ghana, South Africa, Zimbabwe, Senegal, Nigeria, Sierra Leone, Turkey, Greece, Bulgaria, Macedonia, Serbia, Hungaria and Romania.</p>
<p>London is just the ideal place to live to inhabit all these musical cultures too.</p>
<p>Excuse me, I have to go learn some Hawaiian music for a gig next week!</p>
<p>Oh, just time for a recommended site:<br />
<a href="http://www.maqamworld.com/">Maqam World is dedicated to helping musicians understand the maqam or modal system used in classical Arabic music.</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AL-MAQAM AL-MAHMUD]]></title>
<link>http://mashoori.wordpress.com/2009/06/10/al-maqam-al-mahmud/</link>
<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 14:20:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>mashoori</dc:creator>
<guid>http://mashoori.wordpress.com/2009/06/10/al-maqam-al-mahmud/</guid>
<description><![CDATA[OLEH: MUHAMMAD ASRIE BIN SOBRI وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَك]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center"><strong>OLEH: MUHAMMAD ASRIE BIN SOBRI</strong></p>
<p dir="rtl" align="center"><strong>وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“dan bangunlah pada sebahagian dari waktu malam serta kerjakanlah &#8220;sembahyang tahajjud&#8221; padanya, sebagai sembahyang tambahan bagimu; semoga Tuhanmu membangkit dan menempatkanmu pada hari akhirat di tempat Yang Terpuji.”</em></strong>  [al-Israa: 79].</p>
<p style="text-align:justify;">Ayat ke-79 Surah al-Israa di atas menunjukkan bahawa Nabi Muhammad s.a.w akan dikhususkan Allah Taala pada hari akhirat dengan ‘al-Maqam al-Mahmud’.</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Maqam adalah isim (kata nama) makan (tempat) yang diterbitkan daripada kalimah قام –يقوم bermaksud: ‘Berdiri’, maka al-Maqam membawa makna ‘tempat berdiri’, sedangkan al-Mahmud adalah isim maf’ul daripada kata kerja: حمد-يحمد maksudnya memuji, maka al-Mahmud adalah yang dipuji dan al-Maqam al-Mahmud adalah ‘Tempat berdiri yang dipuji’.</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Maqam al-Mahmud juga sabit bagi Nabi s.a.w melalui sabda baginda yang masyhur berkenaan doa selepas azan:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>من قال حين يسمع النداء اللهم رب هذه الدعوة التامة والصلاة القائمة آت محمد الوسيلة والفضيلة وابعثه مقاما محمودا الذي وعدته حلت له شفاعتي يوم القيامة</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“Sesiapa yang berkata ketika mendengar azan (setelah habis azan): ‘Ya Allah, Tuhan seruan ini dan solat yang akan didirkan, berikanlah kepada Muhammad al-Wasilah dan kelebihan dan bangunkan baginya Maqam yang terpuji yang Engkau janjikan kepadanya’, maka dia akan mendapat syafaatku di hari kiamat”.</em></strong> [al-Bukhari].</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Wasilah dalam hadis ini adalah suatu tempat dalam syurga yang dikhususkan untuk seorang sahaja daripada hamba-hamba Allah Taala yang beriman dan Nabi s.a.w berharap baginda akan memperolehnya dan memang selayaknya ia untuk baginda sebagaimana dalam hadis Muslim daripada Abdullah bin Amru r.a dan juga al-Bazzar daripada Abu Hurairah r.a [Rujuk Fathul Bari, Ibn Hajar al-Asqalani, 2/95].</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Maksud Sebenar al-Maqam al-Mahmud:</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kita jelaskan makna al-Maqam al-Mahmud ini dari segi bahasa, para Ulama telah berbincang juga dalam menentukan apakah sebenarnya maksud al-Maqam al-Mahmud ini dan mereka menyatakan ada dua maksud bagi al-Maqam al-Mahmud:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Pertama: Syafaat Nabi s.a.w iaitulah Syafaat al-Uzma</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kedua: Allah Taala akan mendudukkan baginda di atas Arasy pada di akhirat.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Berkata Imam Ibn al-Jauzi r.h:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>والأكثر على أن المراد بالمقام المحمود الشفاعة وقيل إجلاسه على العرش وقيل على الكرسي ووقع في صحيح بن حبان من حديث كعب بن مالك مرفوعا يبعث الله الناس فيكسوني ربي حلة خضراء فأقول ما شاء الله أن أقول فذلك المقام المحمود ويظهر أن المراد بالقول المذكور هو الثناء الذي يقدمه بين يدي الشفاعة ويظهر أن المقام المحمود هو مجموع ما يحصل له في تلك الحالة </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“dan kebanyakan Ulama menyatakan maksud al-Maqam al-Mahmud adalah Syafaat dan dikatakan baginda akan didudukkan di atas Arasy dan dikatakan di atas al-Kursi dan telah sabit dalam Sahih Ibn Hibban daripada Hadis Kaab bin Malik secara marfu’: “Allah akan membangkitkan manusia lalu Tuhanku memakaikan aku pakaian hijau maka aku akan bercakap apa yang Allah kehendaki untuk aku cakpakan maka itulah al-Maqam al-Mahmud”, dan nyata yang dimaksudkan perkataan yang disebutkan ini adalah puji-pujian yang baginda ucapkan sebelum meminta Syafaat dan demikian juga nyata di sini adalah al-Maqam al-Mahmud ini himpunan semua keadaan yang berlaku pada baginda ketika itu (di padang Mahsyar)”.</em></strong> [Aunul Makbud fi Syarhi Sunan Abi Daud, 2/163, Fathul Bari, 2/95].</p>
<p style="text-align:justify;">Telah sabit tafsiran al-Maqam al-Mahmud bahawa maksudnya Syafaat baginda sebagaimana dalam hadis:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>عن حُذيفة، قال: يجمع الناس في صعيد واحد، فيسمعهم الداعي، وينفذهم البصر، حفاة عراة كما خُلقوا، قياما لا تكلَّم نفس إلا بإذنه، ينادى: يا محمد، فيقول: لبيك وسعديك والخير في يديك، والشرّ ليس إليك، والمهديّ من هَدَيت، عبدك بين يديك، وبك وإليك، لا ملجأ ولا منجا منك إلا إليك، تبارك وتعاليت، سبحانك ربّ هذا البيت ؛ فهذا المقام المحمود الذي ذكره الله تعالى.</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“Daripada Huzaifah kata beliau: ‘Manusia dihimpunkan dalam satu kawasan, mereka akan mendengar seruan penyeru dan dilihat dalam keadaan berkaki ayam dan berbogel seperti mana mereka diciptakan awalnya, mereka diam berdiri tidak bercakap kecuali dengan izinNya. Kemudian Allah menyeru: Wahai Muhammad!. Maka baginda menjawab: Labbaik dan Sa’daik, segala kebaikan ditangnMu, dan kejahatan tidak disandarkan kepadaMu dan yang mendapat hidayah itu adalah orang yang Engkau hidayahkan, hambaMu berada di hadapanMu, dan denganMu serta untuMu, tiada tempat lari dan sembunyi melainkan kepadaMu, Maha Berkat dan Maha Tinggi Kamu, Maha Suci kamu Tuhan rumah ini’, inilah dia al-Maqam al-Mahmud yang dinyatakan Allah Taala”.</em></strong> [Tafsir al-Tabari, 17/526].</p>
<p style="text-align:justify;">Telah sabit Tafsiran alMaqam al-Mahmud ini dengan Syafaat daripada Ibn Abbas r.a, Ibn Masud r.a, Huzaifah bin al-Yaman r.a, Ibn Umar r.a, Salman al-Farisi r.a, Jabir r.a, al-Hasan dan riwayat Ibn Abi Najih daripada Mujahid. [Zadul Masir, Ibn al-Jauzi, 4/186].</p>
<p style="text-align:justify;">Telah sabit juga daripada Abu Hurairah r.a bahawa Nabi s.a.w ditanya berkenaan tafsir ayat ini berkenaan al-Maqam al-Mahmud lalu Nabi s.a.w menjawab: <strong><em>“Ia adalah al-Syafaah”</em></strong> [al-Tarmizi dan Ahmad, Hadis Sahih].</p>
<p style="text-align:justify;">Makna kedua al-Maqam al-Mahmud iaitu Allah Taala akan mendudukkan baginda di atas Arasy telah sabit daripada Mujahid melalui Lais, Abdullah bin Salam r.a, Ibn Abbas r.a daripada riwayat al-Dahhak. [Zadul Masir, 4/186].</p>
<p style="text-align:justify;">Maka dalam membicarakan al-Maqam al-Mahmud ini, terdapat dua akidah penting Ahli Sunnah wal Jamaah yang perlu dibincangkan iaitu: Syafaat Rasulullah s.a.w dan Duduknya baginda di atas Arasy atau Kursi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Pertama: al-Syafaah</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berkata al-Allamah al-Imam Nasir al-Sunnah wal Qami’ al-Bidaah Abu Jaafar al-Thahwi al-Hanafi r.h:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>وَالشَّفَاعَةُ الَّتِي ادَّخَرَهَا لَهُمْ حَقٌّ، كَمَا رُوِيَ فِي الْأَخْبَارِ</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“dan al-Syafaah yang disimpankannya untuk mereka (Umat Muhammad) adalah hak (benar) seperti mana yang diriwayatkan dalam Akhbar (hadis-hadis)”.</em></strong> [Syarah Akidah al-Tahawiah, Ibn Abil Izz al-Hanafi, 1/202, cet. Arab Saudi].</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Syafaah atau Syafaat bermaksud: <strong><em>‘Menjadi orang tengah dalam mendatangkan manfaat atau menolak mudarat’.</em></strong>[Syarah al-Aqidah al-Wasitiah, Muhammad bin Soleh al-Usaimin, Majmuk Fatawa wa Rasil al-Usaimin, 8/524].Makna Syafaat pada syarak tidak berbeza daripada makna bahasanya ini kerana Nabi s.a.w di mahsyar akan menjadi perantara antara makhluk dengan Allah Taala untuk memohon dimulakan Hisab dan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Syafaat itu sabit dengan al-Kitab dan al-Sunnah antaranya firman Allah Taala:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“..tiada sesiapa yang dapat memberi syafaat (pertolongan) di sisiNya melainkan dengan izinNya&#8230;”</em></strong> [al-Baqarah: 255]</p>
<p style="text-align:justify;">Penafian Allah Taala terhadap Syafaat yang tidak mendapat keizinan daripadaNya menetapkan adanya Syafaat yang diizinkan oelhNya Taala. [Syarah al-Aqidah al-Wasitiah, Syeikh Khalil al-Harras, m.s 288].</p>
<p style="text-align:justify;">Ini juga menetapkan bahawa di sana ada Syafaat yang benar dan ada Syafaat yang tidak benar. Maka Syafaat yang benar itu adalah Syafaat yang mendapat izin Allah Taala yang akan berlaku akhirat kepada Nabi Muhammad s.a.w dan orang-orang saleh. Adapun Syafaat yang tidak benar seperti kaum musyrikin yang menjadikan berhala-berhala mereka sebagai perantara antara mereka dengan Allah Taala seperti yang Allah Taala jelaskan sendiri dalam firmanNya:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“dan mereka menyembah yang lain dari Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan mudarat kepada mereka dan tidak dapat mendatangkan manfaat kepada mereka dan mereka pula berkata: &#8220;Mereka (yang Kami sembah itu) ialah pemberi-pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah&#8221;. Katakanlah (Wahai Muhammad): &#8220;Adakah kamu hendak memberitahu kepada Allah akan apa yang Dia tidak mengetahui adanya di langit dan di bumi (padahal Allah mengetahui segala-galanya)? Maha suci Allah dan tertinggi keadaannya dari apa yang mereka sekutukan.&#8221;</em></strong> [Yunus: 18].</p>
<p style="text-align:justify;">Kaum Musyrikin menjadi syirik kerana menjadikan berhala-berhala dan segala macam jenis sembahan mereka selain Allah Taala sebagai pemberi Syafaat kepada mereka di sisi Allah Taala dan mereka di akhirat akan terhalang mendapat Syafaat kerana Syafaat itu tempatnya di akhirat bagi mereka yang diizinkan oleh Allah Taala. Oleh sebab itu Allah menyatakan bahawa tindakan kaum musyrikin ini seolah-olah berlagak pandai hendak memberitahu kepada Allah yang berhala mereka dapat memberi Syafaat sedangkan Syafaat itu milik Allah jua dan Allah Maha Mengetahui bahawa Dia tidak akan mengizinkan Syafaat daripada semabahan mereka itu. [Rujuk Tafsir al-Tabari, 15/47, Tafsir Ibn Kasir, 4/356, al-Baghawi, 4/126].</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Taala dalam surah al-Zumar ayat ke-43 dan 44 telah menjawab syubhat kaum musyrikin yang beriman dengan Syafaat yang batil ini:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُونَ (43) قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (44)</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“Patutkah mereka (yang musyrik) mengambil yang lain dari Allah menjadi pemberi syafaat? Bertanyalah (kepada mereka): &#8220;Dapatkah yang lain dari Allah memberi syafaat padahal semuanya tidak pula mengerti (sebarang apa pun)?&#8221;  Katakanlah (Wahai Muhammad): &#8220;Syafaat itu semuanya hak kepunyaan Allah; Dia lah yang Menguasai Segala urusan langit dan bumi; kemudian kamu akan dikembalikan kepadanya (untuk menerima balasan).&#8221; </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Mujahid r.h dalam mentafsirkan ayat ini menyatakan bahawa ayat ini menunjukkan Syafaat itu hanya berlaku dengan izin Allah Taala jua dan Allah Taala tidak akan memberi izin Syafaat kecuali kepada yang dia redai sahaja dan hanya untuk mereka yang diperkenan Allah Taala jua.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun kaum musyrikin maka mereka bukanlah ahli untuk menerima Syafaat dan berhala mereka bukanlah makhluk yang diizinkan Allah Taala untuk memberi Syafaat sama ada di dunia mahupun di akhirat.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka perlu diketahui bahawa terdapat Syafaat yang batil dan terdapat Syafaat yang hak supaya tidak terkeliru dengan tohmahan kaum Sufiah bahawa Ahlis Sunnah wal Jamaah (Salafiah) menolak Syafaat atau tidak beriman dengan Syafaat kerana Ahlis Sunnah wal Jamaah hanya menolak Syafaat yang batil yang tiada nas daripada al-Quran dan al-Sunnah yang sahih bukan keseluruhan Syafaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun Syafaat yang sahih menurut Ahlis Sunnah wal Jamaah terdapat beberapa jenis Syafaat yang telah sabit dalam Nas yang sahih iaitu 8 jenis kesemuanya atas perincian yang dilakukan oleh al-Allamah Imam Ibn Abil Izz al-Hanafi r.h:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama:</strong> Syafaat al-Uzma yakni Syafaat terbesar yang menjadi kekhususan untuk Nabi Muhammad s.a.w sahaja iaitulah baginda s.a.w akan bertemu dengan Allah Taala di Mahsyar bermohon supaya Allah Taala memulakan prosiding perhitungan amal manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada hari kiamat di Padang Mahsyar, manusia akan berasa amat terseksa menanti permulaan bicara kerana matahari mendekat kepada mereka maka mereka mula mencari-cari siapakah yang dapat menolong mereka untuk menghadap Allah Taala supaya Dia Taala memulakan perbicaraan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka mulanya mendatangi Adam a.s namun Adam a.s menolak kerana malu dengan perbuatannya memakan buah yang dilarang dan baginda menyuruh mereka berjumpa Nuh a.s, namun setelah berjumpa Nuh a.s, baginda juga menolak kerana malu dengan permintaan baginda kepada Allah Taala untuk menyelamatkan anak baginda yang derhaka daripada karam seraya baginda mencadangkan supaya berjumpa Ibrahim a.s.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, Ibrahim a.s juga tidak dapat berbuat apa kerana malu dengan tindakan baginda melakukan beberapa helah, lalu baginda mencadangkan mereka bertemu dengan Musa a.s. Setelah bertemu dengan Musa a.s, baginda juga menolak kerana malu dengan tindakan membunuh Qibti dahulu. Baginda mencadangkan mereka berjumpa dengan Isa a.s dan setelah bertemu dengan Isa a.s namun Isa a.s menolak tanpa menyatakan sebarang alasan bahkan terus mencadangkan mereka berjumpa dengan Muhammad s.a.w.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah mereka mendatangi Nabi Muhammad s.a.w, lantas baginda pergi berjumpa Allah Taala yang sedang bersemayam (meninggi) di atas Arasy lalu baginda sujud lalu Allah Taala mengajarkan kepada baginda secara Ilham kata puji-pujian yang tidak lagi pernah diajar kepada sesiapa sebelum baginda dan belum juga baginda ketahui sebelum diberi ilham tersebut. Setelah baginda mengucapkan puji-pujian tersebut Allah Taala memberikan keizinan kepada baginda untuk memberi Syafaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Taala memulakan perhitungan amal dan memberikan kebenaran kepada baginda untuk memasukkan umat baginda yang mendapat kelebihan untuk masuk ke syurga tanpa Hisab ke dalam syurga. [Syarah al-Aqidah al-Tahawiah, 1/202-204].</p>
<p style="text-align:justify;">Daslam hadis al-Tarmizi dan Imam Ahmad menyatakan bahawa selepas mereka berjumpa dengan Nabi Muhammad s.a.w maka Nabi s.a.w telah berjumpa dengan Allah Taala untuk memohon Allah Taala memulakan Hisab kemudian dimulakanlah Hisab dan diserulah Muhammad s.a.w dan Umat baginda untuk dihisab terlebih dahulu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua dan Ketiga:</strong> Syafaat terhadap kaum yang sama timbangan amal kejahatan dan kebaikan mereka lalu baginda memberi Syafaat supaya mereka memasuki Syurga dan Syafaat terhadap kaum yang hendak dimasukkan ke dalam neraka tetapi dimasukkan ke syurga kerana syafaat baginda.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keempat:</strong> Syafaat baginda terhadap kaum yang memasuki Syurga di derjat rendah untuk dinaikkan ke pangkat tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kelima:</strong> Syafaat baginda terhadap umat baginda untuk memasuki Syurga tanpa Hisab sebagaimana dalam hadis Ukashah bin Muhsan r.a baginda mendoakan beliau termasuk dalam kalangan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keenam:</strong> Syafaat Nabi s.a.w untuk meringankan azab sebahagian orang kafir dalam neraka iaitulah bapa saudara baginda Abu Tolib sebagaimana dalam hadis:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَفَعْتَ أَبَا طَالِبٍ بِشَىْءٍ فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ قَالَ « نَعَمْ هُوَ فِى ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِى الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ ».</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>Daripada al-Abbas bin Abdul Muttalib bahawa beliau bertanya: “Wahai Rasulullah, adakah tuan memberi apa-apa manfaat kepada Abu Tolib kerana dia telah melindungimu dan memarahi untukmu?” Jawab baginda: “Ya, dia berada di permukaan neraka, jika bukan kerana aku tentulah dia berada di lapisan paling bawah dalam neraka”.</em></strong> [al-Bukhari &#38; Muslim].</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketujuh:</strong> Syafaat baginda untuk memasukkan manusia ke syurga kerana syurga tidak akan dibuka sehingga baginda memohon kepada Allah Taala untuk membukanya. Dalam hadis al-Tarmizi dan Ahmad sabda Nabi s.a.w:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>ثم آتى باب الجنة فآخذ بحلقة باب الجنة فأقرع الباب فيقال من أنت فأقول محمد فيفتح لي</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“Kemudian aku datang kepada pintu syurga dan mengetuknya lalu ditanya: Siapakah kamu? Maka jawabku: Muhammad. Maka pintu pun dibuka&#8230;”</em></strong> [al-Tarmizi dan Ahmad, Sahih].</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kelapan:</strong> Syafaat baginda untuk mengeluarkan kaum mukmin yang berdosa besar yang dimasukkan ke neraka untuk mengeluarkan mereka dan dimasukkan ke syurga. Sabda Nabi s.a.w:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>شَفَاعَتِى لأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِى</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya<strong><em>: “(Antara) Syafaatku adalah untuk mereka yang melakukan dosa besar daripada Umatku”. </em></strong>[Abu Daud, al-Tarmizi, dan Ahmad. Hadis Sahih].</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hadis al-Tarmizi dan Ahmad yang terdahulu setelah dibukakan syurga kepada baginda Nabi s.a.w, baginda berkata:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>فأرى ربي عز و جل وهو على كرسيه أو سريره فأخر له ساجدا وأحمده بمحامد لم يحمده بها أحد كان قبلي ولا يحمده بها أحد بعدي فيقال ارفع رأسك وقل تسمع وسل تعطه واشفع تشفع قال فارفع رأسي فأقول أي رب أمتي أمتي فيقال لي أخرج من النار من كان في قلبه مثقال كذا وكذا فأخرجهم ثم أعود فاخر ساجدا وأحمده بمحامد لم يحمده بها أحد كان قبلي ولا يحمده بها أحد بعدي فيقال لي ارفع رأسك وقل يسمع لك وسل تعطه واشفع تشفع فارفع رأسي فأقول أي رب أمتي أمتي فيقال أخرج من النار من كان في قلبه مثقال كذا وكذا فأخرجهم قال وقال في الثالثة مثل هذا أيضا </strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“Maka aku melihat Tuhanku Azza wa Jalla sedang Dia berada di atas kursiNya atau TakhtaNya maka aku sujud kepadaNya dan aku memujiNya dengan pujian yang belum pernah ada sesiapa memujiNya seperti itu sebelumku maka dikatakan (yakni Allah berfirman): ‘Angkatlah kepalamu dan katakanlah, akan didengari dan mintalah akan dipenuhi dan Syafaatkanlah akan diberikan izin untuk Syafaat’. Maka aku mengangkat kepalaku lalu aku berkata: ‘Wahai Tuhanku, umatku,umatku!’ Maka dikatakan: ‘Keluarkanlan sesiapa yang ada dalam hatinya iman seberat itu dan itu daripada neraka’. Maka aku keluarkan mereka’. Kata perawi: Demikian baginda berkata sebanyak tiga kali lagi”.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Daripada kesemua jenis syafaat ini, terdapat Syafaat yang khusus bagi Nabi kita Muhammad s.a.w dan ada yang berkongsi padanya kaum mukminin, Nabi-nabi, dan Malaikat sebagaimana dalam hadis:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: شَفَعَتِ الْمَلَائِكَةُ، وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ، وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ، فَيُخْرِجُ مِنْهَا قَوْمًا لَمْ يَعْمَلُوا خَيْرًا قَطُّ</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“Maka berkata Allah Taala: ‘Malaikat telah memberi Syafaat, para Nabi telah memberi Syafaat, dan kaum mukminin telah memberi Syafaat dan tiada yang tinggal (untuk memberi Syafaat) kecuali Yang Maha Mengasihani (Allah)’. Lalu Dia menggenggam segenggam daripada neraka dan dikeluarkan daripadanya kaum yang tiada amal kebaikan langsung (namun beriman)”.</em></strong> [Muslim].</p>
<p style="text-align:justify;">Syafaat yang khusus bagi Nabi s.a.w adalah Syafaat al-Uzma yakni Syafaat baginda kepada seluruh makhluk untuk memohon Allah Taala memulakan Hitungan Amal, Syafaat baginda untuk membuka pintu Syurga, dan Syafaat baginda kepada Abu Tolib untuk diringankan azab. [Syarah al-Aqidah al-Wasitiah, Khalil al-Harras, m.s 290].</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun Syafaat yang lain, berkongsi padanya antara baginda dengan para Nabi, Malaikat, dan kaum mukminin. Antara hadis lain menunjukkan syafaat selain baginda adalah:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>يُشَفَّعُ الشَّهِيدُ فِى سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“Seorang Syahid akan memberi Syafaat kepada 70 ahli keluarganya”.</em></strong> [Abu Daud, Sahih].</p>
<p style="text-align:justify;">Sabda Nabi s.a.w:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>يوضع الصراط بين ظهري جهنم عليه حسك كحسك السعدان ثم يستجيز الناس فناج مسلم ومجدوح به ثم ناج ومحتبس به منكوس فيها فإذا فرغ الله عز و جل من القضاء بين العباد يفقد المؤمنون رجالا كانوا معهم في الدنيا يصلون بصلاتهم ويزكون بزكاتهم ويصومون صيامهم ويحجون حجهم ويغزونا غزوهم فيقولون أي ربنا عباد من عبادك كانوا معنا في الدنيا يصلون صلاتنا ويزكون زكاتنا ويصومون صيامنا ويحجون حجنا ويغزون غزونا لا نراهم فيقول اذهبوا إلى النار فمن وجدتم فيها منهم فأخرجوه قال فيجدونهم قد أخذتهم النار على قدر أعمالهم فمنهم من أخذته إلى قدميه ومنهم من أخذته إلى نصف ساقيه ومنهم من أخذته إلى ركبتيه ومنهم من أزرته ومنهم من أخذته إلى ثدييه ومنهم من أخذته إلى عنقه ولم تغش الوجوه فيستخرجونهم منها فيطرحون في ماء الحياة قيل يا رسول الله وما الحياة قال غسل أهل الجنة فينبتون نبات الزرعة وقال مرة فيه كما تنبت الزرعة في غثاء السيل ثم يشفع الأنبياء في كل من كان يشهد أن لا إله الا الله مخلصا فيخرجونهم منها قال ثم يتحنن الله برحمته على من فيها فما يترك فيها عبدا في قلبه مثقال حبة من إيمان الا أخرجه منها </strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“al-Sirat (jembatan) akan direntang dibelakang Jahanam, atasnya terdapat duri-duri seperti duri-duri pokok Sa’dan kemudian manusia akan melaluinya. Terdapat yang selamat melaluinya tetapi telah dicederakan oleh duri-duri, ada yang terselamat tetapi menjadi tunggang terbalik kerana tertahan padanya. Apabila Allah Azza wa Jalla selesai daripada menghakimi antara para hambaNya maka kaum mukminin berasa mereka kehilangan beberapa orang yang pernah mereka kenal di dunia (yakni tidak mereka jumpa dalam syurga) yang dahulu pernah solat bersama, berzakat bersama-sama, berpuasa sama-sama, berhaji sama-sama, dan berjihad bersama-sama. Maka mereka berkata: ‘Wahai Tuhan kami, hamba-hambaMu yang dahulu pernah solat bersama kami, berzakat bersama kami, berpuasa dengan kami, berhaji dengan kami, dan berjihad dengan kami tetapi kami tidak dapat melihat mereka (dalam syurga)’. Lalu Allah berkata: ‘Pergi kamu lihat dalam neraka, siapa yang kamu jumpa maka keluarkanlah dia’. Kata baginda: ‘Maka mereka dapati mereka itu telah diambil neraka (dibakar neraka) sekadar amalan kejahatan mereka, ada yang dibakar sehingga tapak kaki, ada yang terbakar sampai setengah betis, ada yang sampai ke lutut, ada yang sampai ke pinggang, ada sampai ke buah dada, dan ada yang sampai ke leher tapi tiada yang dibakar mukanya. Lalu mereka dikeluarkan (oleh saudara-saudara se-Islam mereka) dan dilontarkan ke dalam Air al-Hayat. Ditanya kepada baginda: Apakah itu al-Hayat? Jawab Nabi s.a.w: ‘Air mandian Ahli Syurga, maka mereka akan tumbuh bagaikan pohon-pohon’. Dan berkata dalam lafaz lain: ‘Mereka itu tumbuh bagaikan tumbuhan dalam buih air yang mengalir’. Kemudian para Nabi akan memberi syafaat dan mengeluarkan semua yang mengucapkan ‘Lailahaillallah’ secara ikhlas (di dunia) daripadanya kemudian Allah Taala memberi rahmatNya kepada mereka yang berada dalamnya (neraka) lalu dikeluarkan semuanya orang yang ada dalam hatinya Iman walaupun seberat zarah”. </em></strong>[al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad, lafaznya bagi Ahmad].</p>
<p style="text-align:justify;">Beriman dengan Syafaat Nabi s.a.w, kaum mukminin, para al-Anbiya’, dan Malaikat kepada orang beriman yang melakukan dosa besar dan mengeluarkan mereka daripada neraka dan dimasukkan ke syurga merupakan salah satu prinsip akidah Ahlis Sunnah wal Jamaah dan kaum Bidaah seperti al-Muktazilah dan al-Khawarij mengingkarinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kaum Bidaah menyetujui Syafaah al-Uzma namun mereka mengingkari Syafaat bagi Ahli Kabair (pelaku dosa besar) sedangkan Syafaat baginda kepada pelaku dosa besar ini sabit juga dengan nas mutawatir yang mustahil diingkari orang yang waras akalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hasil perbincangan ini jelas kepada kita bahawa Syafaat itu berlaku di akhirat bagi mereka yang diizinkan Allah Taala. Adapun Syafaat bagi Nabi kita Muhammad s.a.w dan sesiapa jua di dunia tidak berlaku kerana bukanlah pada tempat. Kaum musyrikin apabila mereka tergesa-gesa hendak mendapatkan Syafaat semenjak di dunia dengan menjadikan berhala sebagai perantara antara mereka dan Allah Taala, maka mereka diharamkan daripada Syafaat di akhirat sebagaimana firman Allah Taala:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“maka tidak akan berguna kepada mereka sebarang syafaat pertolongan (Kalaulah ditakdirkan ada) sesiapa yang boleh memberikan syafaat itu.”</em></strong> [al-Muddassir: 48].</p>
<p style="text-align:justify;">Kaedah Fiqah ada mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>مَنْ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ عُوقِبَ بِحِرْمَانِهِ</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“Sesiapa yang tergesa-gesa mendapatkan sesuatu sebelum masanya dihukum dengan terus tidak mendapatkan perkara itu”.</em></strong> [al-Asybah wan Nazair, 1/247].</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Kedua: Allah Mendudukkan Nabi Muhammad s.a.w di atas Arasy</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Makna kedua bagi al-Maqam al-Mahmud adalah Allah Taala akan mendudukkan baginda Nabi Muhammad s.a.w di atas Arasy atau Kursi di padang Mahsyar sehingga semua Nabi-nabi menjadi cemburu kepada baginda.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ibn Jarir al-Tabari r.h telah membawakan tafsiran Mujahid r.h melalui riwayat Lais bin Abi Sulaim r.h:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>يُجْلسه معه على عرشه.</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“Dia mendudukkannya (Muhammad) bersamaNya di atas Arasy”.</em></strong> [Tafsir al-Tabari, 17/529].</p>
<p style="text-align:justify;">Imam al-Baghawi r.h juga mengeluarkan tafsiran yang sama daripada Abdullah bin Masud r.a dan Abdullah bin Salam r.a dan Ibn al-Jauzi r.h menyatakan juga terdapat riwayat daripada Ibn Abbas r.a daripada jalan al-Dahhak r.h. [Tafsir al-Baghawi, 5/121, Zadul Masir, 4/186].</p>
<p style="text-align:justify;">Ulama Ahlis Sunnah wal Jamaah dalam berhadapan masalah ini, mempunyai dua pendirian:</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama: Menerimanya dengan alasan sahihnya hadis-hadis berkenaan hal ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua: Menolak atas dasar daifnya hadis-hadis yang diriwayatkan dalam bab ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini berbeza dengan kaum Jahmiah yang menolak riwayat ini semata-mata menurut mereka ianya bertentangan dengan akal tanpa melihat kepada kesahihan atau kesabitan hadis. Ini berbeza dengan Ahlis Sunnah wal Jamaah yang mana jika ada di antara mereka tidak menerima bab ini adalah kerana kedaifan riwayat berkenaannya bukan kerana tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka atas makna inilah seharusnya difahami perkataan beberapa Ulama Ahlis Sunnah wal Jamaah terhadap mereka yang mengingkari masalah ini seperti perkataan Muhammad bin Ahmad bin Wasil r.h:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>من رد حديث مجاهد فهو جهمي</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“Sesiapa yang menolak hadis Mujahid maka dia adalah Jahmiah”.</em></strong> [al-Sunnah lil Khallal, m.s 277].</p>
<p style="text-align:justify;">Ulama Ahlis Sunnah wal Jamaah telah sepakat bahawa hadis berkenaan ini hanya sampai kepada Mujahid sahaja, adapun semua hadis yang marfu’ kepada Nabi s.a.w berkenaannya adalah batil. [al-Uluww lil Aliyyil Ghaffar, al-Zahabi, m.s 171].</p>
<p style="text-align:justify;">Namun telah sabit juga daripada Mujahid daripada Ibn Abi Najih dan Ibn Juraij bahawa maksud al-Maqam al-Mahmud adalah Syafaat sepertimana pendapat Jumhur Ulama Mufassirin sesuai dengan hadis-hadis yang marfu’ kepada Nabi s.a.w yang telah lalu sebutnya bahawa al-Maqam al-Mahmud adalah Syafaat baginda. [Tafsir al-Tabari, 17/527].</p>
<p style="text-align:justify;">Ibn Jarir al-Tabari r.h menyatakan bahawa makna yang paling tepat berkenaan al-Maqam al-Mahmud adalah Syafaat Nabi s.a.w sebagaimana yang sabit dalam hadis-hadis yang marfu’ [Ibid, 17/529]. Kemudian Ibn Jarir r.h mengulas:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>فإن ما قاله مجاهد من أن الله يُقعد محمدا صلى الله عليه وسلم على عرشه، قول غير مدفوع صحته، لا من جهة خبر ولا نظر، وذلك لأنه لا خبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولا عن أحد من أصحابه، ولا عن التابعين بإحالة ذلك.</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“Maka apa yang dikatakan oleh Mujahid bahawa Allah mendudukkan Muhammad s.a.w di atas Arasy adalah perkataan yang tidak dapat ditolak kesahihannya sama ada dari segi khabar atau nazar (akal) kerana tiada khabar daripada Rasulullah s.a.w dan daripada mana-mana Sahabat atau Tabiin yang memustahilkan perkara tersebut&#8230;”</em></strong> [Ibid, 17/531].</p>
<p style="text-align:justify;">Ibn Jarir r.h kemudian mengulas berkenaan ketidak mustahilan perkara ini dari segi akal bahawa Umat Islam sama ada yang mempercayai Allah Taala meninggi di atas Arasy atau yang mengingkarinya dengan takwil, kesemua mereka tidak memustahilkan Allah Taala mendudukkan Muhammad s.a.w di atas Arasy. [Lihat penjelasan beliau dengan panjang lebar dalam Tafsirnya: 17/532, al-Uluww lil Aliyyil Ghaffar, m.s 171].</p>
<p style="text-align:justify;">Kata beliau Umat Islam dalam masalah ini atas tiga pendapat:</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama: Allah Taala sebelum Dia menciptakan Arasy Dia tidak bersentuhan dengan sesuatu, kemudian setelah Dia menciptakan Arasy Dia kekal pada keadaanNya tidak bersentuhan dengan Arasy bahkan Dia ‘Bainah’ terpisah daripada Arasy. Maka menurut mereka sama ada Allah Taala medudukkan Muhammad atas Arasy atau tidak, tidaklah menjadi masalah kerana dalam apa jua keadaan Muhammad tidak sama dengan Allah Taala.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua: Kaum yang mengatakan Allah Taala tidak bersentuh dan tidak berpisah dengan sesuatu sama ada sebelum atau selepas Dia menciptakan Arasy (mereka ini kemungkinan besar adalah Ahli Kalam seperti Asyairah yang menafikan tempat), maka mereka ini menyatakan Allah wujud tanpa mengambil tempat maka tiada masalah jika Nabi s.a.w duduk di atas Arasy tidaklah menjadikan baginda seumpama Allah Taala.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga: Mereka yang berpandangan bahawa Allah Taala sebelum Dia mencipta Arasy Dia terpisah daripada segalanya kemudian setelah itu Dia duduk di atas Arasy bersentuhan denganNya. Maka Allah Taala itu menurut mereka terpisah daripada apa yang Dia hendak terpisah dan bersentuhan daripada apa yang Dia hendak bersentuhan. Menurut mereka juga tiada masalah jika Allah Taala mendudukkan Nabi Muhammad s.a.w kerana seperti mana baginda selama ini berpisah dengan pelbagai benda tidaklah menyamakan baginda dengan Allah yang terpisah dengan apa yang Dia hendak terpisah maka bersentuhan baginda dengan Arasy tidaklah juga menjadikan baginda menyamai Allah Taala yang bersentuhan dengan apa yang Dia hendak bersentuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Atas dasar ini kata Ibn Jarir sesiapa yang mengatakan asar Mujahid ini mustahil pada akal maka dia terkeluar daripada firqah-firqah Islam yang ada dan jadilah dia Jahmiah yang kufur dengan ittifaq Umat.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkata  Muhammad bin al-Husain r.h:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>اعلموا رحمنا الله وإياكم أن الله عز وجل أعطى نبينا صلى الله عليه وسلم ، من الشرف العظيم والحظ الجزيل ما لم يعطه نبيا قبله مما قد تقدم ذكرنا له ، وأعطاه المقام المحمود يزيده شرفا وفضلا ، جمع الله الكريم له فيه كل حظ جميل من الشفاعة للخلق والجلوس على العرش ، خص الله الكريم به نبينا صلى الله عليه وسلم </strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“Ketahuilah olehmu semoga Allah merahmati kami dan kamu juga bahawa Allah Azza wa Jalla memberikan kepada Nabi kita Muhammad s.a.w kemuliaan yang sangat besar dan keuntungan yang banyak yang tidak diberikan kepada seorang Nabi pun sebelum baginda yang telah lalu kami sebutkan dan Dia memberi kepadanya al-Maqam al-Mahmud yang menambahkan kemuliaan dan kelebihannya, Allah menghimpun kemuliaan pada baginda daripada Syafaat bagi semua makhluk (di Mahsyar) dan duduk di atas Arasy yang khusus bagi Nabi kita Muhammad s.a.w&#8230;”</em></strong> [al-Syariah, al-Ajuri, 3/206].</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ibn al-Qayyim r.h menyatakan beberapa Ulama Ahlis Sunnah wal Jamaah yang menerima riwayat bahawa Allah mendudukkan Nabi Muhammad s.a.w di atas Arasy sebagaimana dinaqalkan daripada Imam al-Marwazi r.h yang mengarang kitab khusus berkenaan masalah ini dan beliau begitu membela akidah ini. [Badai’ul Fawaid, 4/39].</p>
<p style="text-align:justify;">Syeikhul Islam Ibn Taimiah r.h juga menerima bahawa riwayat-riwayat dalam perkara ini menjadi hujah dan beliau memasukkannya sebagai salah satu kelebihan baginda Nabi s.a.w dan menjadi dalil kelebihan manusia yang soleh atas Malaikat. [Majmuk al-Fatawa, 4/374].</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, wallahua’lam, apa yang rajih pada kami adalah riwayat Allah Taala mendudukkan Nabi Muhammad s.a.w ini adalah riwayat yang tidak sabit bahkan daif lagi munkar (munkar pada Istilah hadis maksudnya riwayat orang daif yang berlawanan dengan riwayat orang siqah).</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat ini dipilih setelah penelitian yang mendalam dan keinsafan yang besar bahawa riwayat Lais bin Abi Sulaim daripada Mujahid ini tidaklah sahih kerana Lais bin Abu Sulaim adalah Daif dan imam-imam Jarah Takdil telah menyatakan bahawa riwayat beliau bukanlah hujah maka dalam keadaan ini, riwayat beliau daripada Mujahid menyalahi riwayat orang yang siqah daripada Mujahid sendiri seperti Ibn Abi Najih dan Ibn Juraij yang menyatakan makna al-Maqam al-Mahmud adalah Syafaat dan menyalahi pula hadis-hadis yang marfu’ yang sahih terutama dalam Sahih al-Bukhari Nabi s.a.w sendiri menyatakan makna al-Maqam al-Mahmud adalah Syafaat dan tidak menyatakan selainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Ibn Kasir r.h sehingga beliau langsung tidak mendatangkan riwayat Lais daripada Mujahid ini dan cukup sekadar mendatangkan riwayat yang banyak menunjukkan bahawa al-Maqam al-Mahmud adalah Syafaat tidak lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam al-Lalikai ketika membicarakan berkenaan al-Maqam al-Mahmud juga tidak membawa riwayat Mujahid ini bahkan cukup sekadar membawa riwayat tafsiran berkenaan Syafaat sahaja. Beliau menyatakan:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>سياق ما روي في أن المقام المحمود هو الشفاعة</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya: <strong><em>“Pada mendatangkan apa yang diriwayatkan bahawa al-Maqam al-Mahmud itu adalah Syafaat”.</em></strong> [Syarah Usul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaah, al-Lalikaie, 5/199].</p>
<p style="text-align:justify;">Jelas daripada pernyataan Imam besar Ahlis Sunnah wal Jamaah ini, al-Maqam al-Mahmud maksudnya hanyalah al-Syafaah tiada lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkenaan riwayat Abdullah bin Salam r.a berkenaan masalah ini sebagaimana kata Imam al-Zahabi r.h adalah tidak sahih sanadnya dan pada pandangan saya berat kemungkinan ketidak sahihan hadis ini berpunca pada Saif al-Sadusi (saya berusaha mencari terjemahnya namun tidak dijumpai maka kemungkinan besar dia ini majhul, wallahua’lam).</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga riwayat al-Dahhak daripada Ibn Abbas r.a juga sebagaimana kata al-Zahabi r.h tidak sahih, sanadnya gugur dan perawinya Umar bin Mudrik al-Razi adalah Matruk. [Rujuk: al-Uluww lil Aliyyil Ghaffar, m.s 93 dan 131].</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Marwazi r.h ada menyatakan bahawa selain al-Lais bin Abi Sulaim ada juga beberapa perawi lain meriwayatkan daripada Mujahid iaitu Atha’ bin al-Saib, Abu Yahya al-Qattat, dan Jabir bin Yazid. Namun kesemua mereka ini daif kerana Atha’ Mukhtalit (menjadi nyanyuk) 3 tahun sebelum kewafatannya, Abu Yahya daif, dan Jabir matruk. [Mukhtasar al-Uluww, al-Albani, m.s 15].</p>
<p style="text-align:justify;">Maka pendirian yang kami ambil di sini adalah jika sabit hadis ini daripada Mujahid dan lainnya bahawa Nabi s.a.w didudukkan di atas Arasy, maka kami berlapang dada untuk menerimanya, namun jelas pada kami sekarang bahawa riwayat-riwayat berkenaan ini adalah daif dan berlawanan dengan riwayat yang sahih dan lebih sahih bahawa al-Maqam al-Mahmud adalah Syafaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh itu, kami menyokong Syeikh Muhammad Nasir al-Din al-Albani r.h dalam penolakan beliau terhadap riwayat berkenaan masalah ini.Beliau telah menjelaskan masalah ini dengan baik sekali dalam Mukhtasar al-Uluww [m.s 13-18] dan dalam Silsilah al-Daifah [hadis no. 865].</p>
<p style="text-align:justify;">Walaubagaimanapun, perkara ini termasuk khilaf dalam furuk akidah yang tidak menjejaskan akidah seseorang muslim kerana mereka yang menerima hadis ini adalah kerana menurut ijtihad mereka yang menyatakan hadis ini sahih sedangkan mereka yang menolak daripada Ahlis Sunnah wal Jamaah adalah kerana mereka menilai hadis bab adalahb daif tidak berlaku hujah dengannya. Adapun mereka yang menolak semata-mata kerana akalnya yang tidak sihat tidak mampu menerima maka mereka semacam inilah dihukum sebagai Jahmiah kerana mendahulukan akal atas naqal.</p>
<p style="text-align:justify;">Atas dasar ini kita dapati Imam al-Zahabi r.h dalam al-Uluww pada dasarnya beliau sendiri beriktiqad hadis dalam masalah ini munkar (yakni pada istilah hadis) namun beliau tidak juga begitu berkeras mengingkari mereka yang menerima dan mensahihkannya kerana diriwayatkan tidak sedikit juga Ulama Ahlis Sunnah wal Jamaah yang menerima dan beriman dengan duduknya Nabi Muhammad s.a.w. di atas Arasy di Mahsyar.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tanbih:</strong> Sebagai penutup perbahasan, terdapat sebahagian kaum yang menggelar diri mereka al-Asyairah dan al-Maturidiah mengingkari perkara (Duduknya Muahmmad s.a.w di atas Arasy) ini semata-mata menurut mereka membawa kepada akidah Tajsim atau Tasybih (menyamakan Tuhan dengan Makhluk) sedangkan jika kita teliti penjelasan Ibn Jarir al-Tabari r.h bahawa umat Islam dalam masalah ini atas tiga jalan dan kesemua mereka sama ada yang menetapkan Istiwa’ atau menafikannya tidak ingkar akan perkara ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ibn al-Jauzi r.h sendiri merupakan seorang yang mentakwil Sifat Allah Taala walaupun beliau memusuhi al-Asyairah dalam masalah al-Quran namun beliau tidak mengingkari masalah ini bahkan beliau menyatakan dalam tafsirannya riwayat Mujahid ini tanpa sebarang pengingkaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga Imam al-Qurtubi r.h yang sering dibanggakan oleh al-Asyairah sebagai seorang daripada mereka, turut menyatakan bahawa daripada segi akal tidaklah mustahil Allah Taala mendudukkan Nabi Muhammad s.a.w di atas Arasy. [Tafsir al-Qurtubi, 10/311-312].</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Kesimpulan</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Al-Maqam al-Mahmud adalah Syafaat yang khusus bagi Nabi Muhammad s.a.w iaitulah Syafaat al-Uzma di Padang Mahsyar yang menyebabkan semua makhluk memuji baginda yang membantu mereka berjumpa Allah Taala untuk memohon dimulakan prosiding perhitungan amal.</p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat sebahagian Ulama Salaf yang percaya Nabi Muhammad s.a.w akan didudukkan di atas Arasy sehingga menjadikan semua Nabi dan Rasul cemburu kepada baginda dan dipuji oleh mereka. Namun, setelah diteliti, asar dan riwayat berkenaan perkara ini adalah daif tidak dapat didirkan hujah walaupun tidak mustahil pada akal.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka yang ingkar pada perkara ini (duduknya Muhammad s.a.w atas Arasy) kerana semata-mata tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka maka mereka adalah Jahmiah, adapun yang ingkar kerana ketidak sahihan asar berkenaannya, maka mereka adalah benar. Wallahua’lam.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Abraham's status (maqami ibrohim)]]></title>
<link>http://mentalbondageinthenameofgod.wordpress.com/2009/01/05/abrahams-status-maqami-ibrohim/</link>
<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 10:34:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Aidid Safar</dc:creator>
<guid>http://mentalbondageinthenameofgod.wordpress.com/2009/01/05/abrahams-status-maqami-ibrohim/</guid>
<description><![CDATA[The word maqam appears in the Reading a few times. Since the Reading explains itself, we just need t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify">The word <em>maqam</em> appears in the Reading a few times. Since the Reading explains itself, we just need to look at all the pertinent verses to understand the meaning of <em>maqam</em>.  The religionists say the meaning of <em>maqami-ibrohim</em> is the footprint immersed in the copper cast opposite the stone structure. If that were true, how would they explain <em>maqama-robbuka</em> or <em>Your Lord&#8217;s maqam</em> in 55:46? Can it mean <em>the footprint or station of your Lord</em>? The same word is used again in 79:40. In this passage it is written as <em>maqama robbihi</em> which means <em>status of their Lord</em>.</p>
<p align="justify">The verse breaks down thus:</p>
<pre><em>wa-am-maa</em>    and surely</pre>
<pre><em>man-khor-fa</em>  those who fear</pre>
<pre><em>maqama</em>       the status</pre>
<pre><em>robbihi </em>     of their Lord</pre>
<pre><em>wa-nahal</em>     and they refrain</pre>
<pre><em>naf-saa</em>      themselves</pre>
<pre>'<em>anil-hawa</em>   from their lust</pre>
<p align="justify">
<p align="justify">When translated, it can be rendered:</p>
<blockquote>
<p align="justify"><em>And surely, those who fear the status of their Lord, and they refrain themselves from their lust. (79:40)</em></p>
</blockquote>
<p align="justify">Perhaps the Muslims should ask their Arab masters whether they translate the same verse as:</p>
<blockquote>
<p align="justify"><em>And surely those who fear the footprints/station of their Lord and they refrain themselves from their lust. </em></p>
</blockquote>
<p align="justify">Such primitive thinking is an insult to our intelligence.</p>
<p align="justify">The same word is mentioned in 17:79 as an assurance from God that He will raise anyone of us to a higher status upon fulfilling certain commands. And it is this same word which is used in 2:125.</p>
<blockquote>
<p align="justify"><em>Wat-ta-khi-zu min-maqami Ibrahim </em>(2:125)</p>
<p align="justify">Take from the status of Abraham.</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p align="justify"><em>maqaman mah-mu-dan </em>(17:79)<em> </em></p>
<p align="justify">Raise you to an exalted status.</p>
</blockquote>
<p align="justify"><em>Maqam</em> therefore simply means the status or rank of a person. It is <em>not</em> a place.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
