<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>marketing-mix &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/marketing-mix/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "marketing-mix"</description>
	<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 05:32:39 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Deezer passe au premium : les nouveaux modèles économiques de la génération Y]]></title>
<link>http://lemarketingpourtous.wordpress.com/2009/11/25/deezer-passe-au-premium-les-nouveaux-modeles-economiques-de-la-generation-y/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 14:27:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>doublexlmarketing</dc:creator>
<guid>http://lemarketingpourtous.wordpress.com/2009/11/25/deezer-passe-au-premium-les-nouveaux-modeles-economiques-de-la-generation-y/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp; Deezer, plateforme d’écoute gratuite de musique sur Internet, lance une offre payante de mise]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#160;</p>
<p><a href="http://lemarketingpourtous.wordpress.com/files/2009/11/deezer.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-228" title="deezer" src="http://lemarketingpourtous.wordpress.com/files/2009/11/deezer.jpg?w=300" alt="" width="300" height="256" /></a></p>
<p><strong>Deezer, plateforme d’écoute gratuite de musique sur Internet, lance une offre payante de mise à disposition permanente de la musique. Le principe est simple : vous payez 9.99 € par mois, et vous avez accès à votre musique en permanence, sur différents supports (pc, i phone, black berry, …) et cela même si vous n’êtes pas connecté à Internet. Au-delà de l’innovation en terme de service, c’est un nouveau modèle économique que Deezer met en place.</strong></p>
<p>&#160;</p>
<p>Or, ce modèle économique est loin d’être novateur. On peut dire qu’il est né avec la génération « Y », cette catégorie de la population qui s’est développée avec les nouveaux usages d’Internet : blogs, réseaux sociaux, discussions en ligne, … En effet, nombreuses sont les plateformes sur Internet, à partir du moment où elles comportent une notion de partage (de fichiers, de musique, de connaissances ou d’informations anodines), qui proposent un service gratuit mais limité &#8230; qui est en fait un produit d’appel pour le service complet, payant. Parmi elles, nous pouvons citer Viadeo, last FM, ou encore le très connu Meetic.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Comment fonctionne en réalité ce modèle économique ? Les services non payants offrent des solutions basiques qui s’avèrent rapidement limitées dès que l’utilisateur se prend réellement au jeu. De plus, en s’inscrivant à ce genre de plateforme, l’utilisateur emmène avec lui plusieurs de ses connaissances. Ainsi, un phénomène de partage et de reconnaissance peut rentrer en jeu : « tiens j’ai écouté ça sur Deezer, sauvegarde le dans ta playlist » Problème, vous n’êtes pas abonnés… La pression sociale, culturelle ou même personnelle fait qu’au final, l’utilisateur passe à l’abonnement premium afin de s’insérer dans la communauté.</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[]]></title>
<link>http://andirecca.wordpress.com/2009/11/23/5/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 23:31:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>andirecca</dc:creator>
<guid>http://andirecca.wordpress.com/2009/11/23/5/</guid>
<description><![CDATA[Marketing Mix, yaitu bauran pemasaran yang terdiri dari 4 P: Product, Price, Promotion dan Place. Un]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://andirecca.wordpress.com/files/2009/11/books.jpeg"><img class="alignnone size-full wp-image-8" title="azzala'" src="http://andirecca.wordpress.com/files/2009/11/books.jpeg" alt="" width="51" height="80" /></a>Marketing Mix, yaitu bauran pemasaran yang terdiri dari 4 P: Product, Price, Promotion dan Place. Untuk perusahaan Jasa ditambah 2 P lagi, yaitu: People dan Process. Bagaimana penerapan bauran pemasaran pada pada produk dan jasa ? Serta apakah yang disebut dengan Triangle Marketing?</p>
<p><strong>a. Implementasi dalam Bauran Pemasaran pada Produk dan Jasa</strong></p>
<p>Pembahasan terhadap implementasi dalam bauran pemasaran (Marketing Mix ) pada produk dan dapat dilihat sebagai berikut:</p>
<ul>
<li><strong>Product</strong>. Yang penting diperhatikan dalam desain dan produk jasa adalah atribut yang menyertai, seperti : sistem, prosedur dan pelayanannya. Desain produk dan jasa juga memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan ukuran bentuk, dan kualitas.</li>
<li><strong>Price.</strong> Pengertian harga dalam produk dan jasa, berupa kontra prestasi dalam bentuk barang/ jasanya.</li>
<li><strong>Promotion.</strong> Kegiatan promosi pada produk dan jasa pada umumnya dilakukan melalui iklan di media masa, atau televisi. Konsep kegiatan promosi secara menyeluruh meliputi advertising, sales promotion, public relation, sales trainning, marketing research &#38; development.</li>
<li><strong>Place.</strong> Atau disebut juga saluran distribusi. Saluran distribusi produk dan jasa, berupa Kantor Cabang, yang secara langsung menyediakan produk dan jasa yang ditawarkan. Dengan semakin majunya teknologi, saluran distribusi dapat dilakukan melalui saluran telekomunikasi seperti telepon dan jaringan internet.</li>
<li><strong>People.</strong> Ciri bisnis bank adalah dominan nya unsur personal approach, baik dari jajaran front office, back office sampai tingkat manajerial. Para pekerja Bank dituntut untuk melayani nasabah secara optimal.</li>
<li><strong>Process.</strong> Meliputi sistem dan prosedur, termasuk persyaratan ataupun ketentuan yang diberlakukan oleh Bank terhadap produk dan jasa Bank. Sistem dan prosedur akan merefleksikan penilaian, apakah pelayanan cepat atau lambat. Pada umumnya nasabah lebih menyenangi proses yang cepat, walaupun bagi Bank akan menimbulkan risiko yang lebih tinggi. Penggunaan teknologi yang tepat guna serta kreativitas yang prima diperlukan, untuk suatu proses yang cepat namun aman.</li>
</ul>
<p><strong>b. Pemasaran produk dan jasa menggunakan Triangle Marketing.</strong></p>
<p>Di dalam memasarkan produk dan jasa , maka perusahaan berusaha memuaskan konsumennya, agar tidak berpaling pada pesaing. Di dalam konsep pemasaran produk dan jasa perbankan, dikenal istilah Triangle Marketing, yaitu meliputi berbagai kegiatan pemasaran, yang satu dan lainnya saling berinteraksi secara optimal.</p>
<p>Kegiatan pemasaran yang saling berinteraksi digolongkan menjadi tiga, yaitu:</p>
<ul>
<li> Internal Marketing (IM)</li>
<li>Eksternal Marketing (EM) dan</li>
<li>Interactive Marketing (ITM)</li>
</ul>
<p><em>Internal Marketing</em> adalah garis yang menghubungkan antara employee dan Perusahaan Jasa. Contoh : Agar bisa memasarkan produk Bank, maka Bank tidak boleh melupakan para karyawannya, mereka harus diberikan sosialisasi tentang produk dan jasa Bank apa saja yang dapat dipasarkan kepada nasabah. Dengan demikian para karyawan dapat memahami semua produk dan jasa yang ditawarkan Bank nya, dan dapat membantu memberikan informasi kepada nasabah jika diperlukan.</p>
<p><em>Eksternal Marketing</em> adalah garis yang menghubungkan antara nasabah dengan Bank. Hubungan langsung antara nasabah dan Bank pada umumnya melalui petugas front office atau Customer Service. Disini petugas front office akan berusaha memberikan penjelasan tentang prosuk dan jasa Bank secara terinci. Berhasil tidaknya nasabah membeli produk dan jasa bank, akan sangat dipengaruhi dari hasil pelayanan petugas yang berada di jajaran front office.</p>
<p><em>Interactive Marketing</em>, adalah garis yang menghubungan antara employee dan customer (nasabah). Disini employee atau karyawan, harus memahami produk dan jasa Bank nya, agar dapat ikut serta membantu program pemasaran, dan menjelaskan dengan menarik dan benar bila ada pihak luar atau nasabah yang ingin mengetahui produk dan jasa Bank di tempat karyawan tadi bekerja. Bayangkan apabila seorang nasabah ingin mencoba produk dan jasa Bank, dan bertanya pada karyawan yang bekerja di Bank tersebut, namun karyawan tersebut malah memberikan efek yang negatif, tentu nasabah tidak akan membeli produk dan jasa Bank di Bank tersebut.</p>
<p>Ketiga konsep tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat berdiri sendiri, dan saling terkait antara satu dan lainnya, agar terjadi layanan prima untuk mencapai tujuan dalam mempertahankan dan menarik para nasabah.</p>
<p><strong>c. Pemasaran berbasis lingkungan</strong></p>
<p>Pemasaran berbasis hubungan, tidak hanya memperlama jangka waktu nasabah dalam berhubungan dengan Bank, namun juga memperbesar aset nasabah yang ditanamkan pada Bank yang bersangkutan.</p>
<p>Persaingan yang makin ketat dalam pemasaran produk dan jasa perbankan, perlu fokus upaya pemasaran dengan tujuan untuk mempertahankan nasabah lama, melakukan cross selling (penjualan silang), untuk mendapatkan tambahan aset yang ditanamkan pada bank.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[EVALUASI HUBUNGAN STRATEGI MARKETING MIX DAN KEPUASAN PELANGGAN : STUDI KASUS PADA KUKU BIMA ENER-G]]></title>
<link>http://moko31.wordpress.com/2009/11/22/evaluasi-hubungan-strategi-marketing-mix-dan-kepuasan-pelanggan-studi-kasus-pada-kuku-bima-ener-g/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 07:17:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>moko31</dc:creator>
<guid>http://moko31.wordpress.com/2009/11/22/evaluasi-hubungan-strategi-marketing-mix-dan-kepuasan-pelanggan-studi-kasus-pada-kuku-bima-ener-g/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Iqbal ABSTRAK Persaingan di kategori minuman energi sangat ketat. Diperlukan suatu st]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Oleh: Muhammad Iqbal</p>
<p><strong>ABSTRAK</strong></p>
<p>Persaingan di kategori minuman energi sangat ketat. Diperlukan suatu strategi <em>marketing mix</em> yang handal untuk dapat tetap masuk maupun bertahan dalam persaingan tersebut. Kuku Bima Ener-G sebagai pendatang baru minuman energi menunjukkan eksistensinya dengan mengoptimalkan unsur 4 P <em>marketing mix</em> (Produk, Harga, Distribusi, Promosi) yang kompetitif. Sebagai hasilnya, Kuku Bima Ener-G dapat mereduksi pangsa pasar <em>market leader</em> minuman energi (Extra Joss). Bahkan Kuku Bima Ener-G kini telah meraih gelar “<em>Top Brand</em> 2008” minuman energi sebagai wujud kepuasan pelanggan.<!--more--></p>
<p><strong>Kata Kunci : Minuman energi, <em>Marketing Mix</em>, Kuku Bima Ener-G, Kepuasan</strong><strong> </strong><strong>Pelanggan</strong></p>
<p><strong>ABSTRACT</strong></p>
<p>Competition in energy drink category is very strict. That’s why there is a need to have a great marketing mix strategy in order to enter or survive in that competition. Kuku Bima Ener-G as a energy drink  new comer showed its excistency by optimizing competitive the 4 P of marketing mix tools (Product, Price, Place, Promotion). As the result, Kuku Bima Ener-G could reduce market share of energy drink market leader (Extra joss). Recently, Kuku Bima  Ener-G has gotten energy drink “Top Brand 2008” title as a reflection of customer satisfaction.</p>
<p><strong>Key Words : Energy Drink, Marketing Mix, Kuku Bima Ener-G, Customer</strong><strong> </strong><strong>Satisfaction</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Latar Belakang</strong></li>
</ol>
<p>Kesehatan adalah modal utama bagi kehidupan (Rahayu, 2005). Gaya hidup masyarakat Indonesia yang kini cenderung ‘<em>modern</em>’ menuntut manusianya harus selalu bugar dan ngejos sepanjang waktu (Sulhi, 2006). Di sebagian masyarakat, makanan atau minuman berenergi sudah menjadi suatu kebutuhan mutlak, terutama untuk mengembalikan stamina setelah melakukan pekerjaan berat atau menambah tenaga jika ingin melakukan suatu aktivitas tertentu (Simanjuntak dan Siagian, 2003<sup>a</sup>). Oleh karenanya, minuman kesehatan dalam hal ini <em>energy drink</em> (minuman berenergi) dapat menjadi salah satu pelengkap dari berbagai upaya untuk menjaga kesehatan dan stamina tubuh manusia.</p>
<p>Seiring berjalannya waktu, industri minuman kesehatan menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat seiring dengan meningkatnya tingkat kesejahteraan dan tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan tubuhnya (Sulhi, 2006). Permintaan akan produk-produk minuman suplemen itu juga terus meningkat. Extra Joss, Kratingdaeng, Hemaviton, Vit Up adalah di antara merek terkenal di industri minuman berenergi atau minuman suplemen. Persaingan di bisnis ini juga cukup gencar (Simanjuntak dan Siagian, 2003<sup>a</sup>). Meskipun demikian, peluang bisnis di sektor minuman suplemen (<em>energy drink</em>) tetap menggiurkan. Hal ini dikarenakan perputaran uang di bisnis ini tergolong sangat besar yaitu Rp 2-2,5 triliun per tahun (Hidayat, 2007<sup>a</sup>).</p>
<p>Kuku Bima Ener-G merupakan produk minuman berenergi (<em>energy drink</em>) yang diproduksi oleh PT Sido Muncul (www. PT Sido Muncul.com). Produk ini merupakan varian baru yang dikembangkan dari jamu Kuku Bima. Penetrasi harga oleh PT Sido Muncul dengan menetapkan harga 20 persen lebih murah dari produk sejenis lainnya saat l<em>aunching </em> produk ini pertama kalinya menjadikan Ener-G langsung menempati posisi tiga di bawah Extra Joss dan Hemaviton Jreng. Setiap bulannya sebanyak 8 juta sachet Ener-G diserap oleh pasar (Simanjuntak dan Siagian, 2003<sup>b</sup>). Perkembangan yang begitu pesat dari Kuku Bima Ener-G bahkan dapat mereduksi <em>market share</em> produk <em>market leader</em>-nya yaitu Extra Joss (Hartanto, 2007). Hal itulah yang kemudian memacu PT Bintang Toedjoe untuk lebih luas dalam memasarkan produk Extra joss sampai ke luar negeri dan lebih berinovasi dalam varian rasa produknya (Jahari, 2004).</p>
<p>Menurut Irwan (Presiden Direktur PT Sido Muncul), sekarang ada 12 merek <em>energy drink</em>, tetapi yang tidak bisa bertahan tidak kurang dari 8-9 merek. Sekalipun sudah beriklan banyak, tetapi jika tidak dibarengi dengan produk yang berkualitas, merek yang telah dikenal dan harga yang <em>reasonable,</em> tidak akan mampu bertahan di pasar (Simanjuntak dan Siagian, 2003<sup>b</sup>). Dengan demikian, dalam memasarkan suatu produk sangat diperlukan kepaduan 4P (<em>Product, Price, Place, Promotion</em>)  dalam strategi <em>marketing mix </em>dalam memenuhi kepuasan pelanggan<em>. </em>Hal inilah yang mendasari penulis untuk mengangkat tema mengenai strategi <em>marketing mix</em> yang dilakukan oleh PT Sido Muncul pada produk Kuku Bima Ener-G yang ternyata kini melejit secara cepat hampir sejajar dengan <em>market leade</em>r-nya dalam hal penjualannya (Hidayat, 2007<sup>a</sup>). Lebih lanjut, penulis ingin mengetahui hubungan antara strategi <em>marketing mix</em> dengan kepuasaan pelanggan Kuku Bima Ener-G.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Substansi Pembahasan</strong></li>
<li><strong>a. </strong><strong>Strategi <em>Marketing Mix</em> PT Sido Muncul pada produk Kuku Bima Ener-G</strong></li>
</ol>
<p>1). Produk (<em>Product</em>)</p>
<p>Kuku Bima Ener-G adalah merek dagang dari minuman energi produksi PT Sido Muncul. Produk minuman energi ini diluncurkan pada tahun 2004, Dalam peluncurannya, Kuku Bima Ener-G memecahkan mitos bahwa minuman energi selalu berwarna kuning, dengan rasa yang serupa. Berbagai varian Kuku Bima Ener-G terdiri dari macam-macam rasa dan warna, dengan kandungan yang tak jauh dari produk serupa, yakni kafein. (www. Wikipedia.com). Hingga kini Kuku Bima Energi telah memiliki 6 varian rasa: orisinal, anggur, jeruk, kopi, jambu, kopi, dan teh. Dua yang disebut belakangan baru diluncurkan pada 2007 (Hidayat, 2007<sup>a</sup>).</p>
<p><a href="http://moko31.wordpress.com/files/2009/11/kuku-bima.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-952" title="kuku bima" src="http://moko31.wordpress.com/files/2009/11/kuku-bima.jpg" alt="" width="414" height="308" /></a></p>
<p><strong>Gambar 1. Varian rasa Kuku Bima Ener-G</strong>. (a) Anggur, (b) Teh, (c)    Kopi, (d) Original. Komposisi :  Ekstrak Ginseng Panax Radix, Royal Jelly, Madu, Taurin, Vit B1, Vit B2, Vit B6, Vit B12, Taurin, Kefein (<a href="http://www.indonesia-herb.com/">www.Indonesia-herb.com</a>)</p>
<p>2). Harga (<em>Price</em>)</p>
<p>Saat pertama kali diluncurkan, Kuku Bima Ener-G memiliki harga 20 % lebih murah dibangingkan produk sejenisnya (Simanjuntak dan Siagian, 2003<sup>b</sup>). Di pasaran, satu kotak  produk Kuku Bima Ener-G berisi 6 sachet memiliki harga Rp 2.500,00. Untuk keluaran terbaru dengan bentuk sediaan botol 150 ml, Kuku Bima memiliki harga Rp 2.250,00 (Iqbal, 2008).</p>
<p>3). Distribusi (<em>Place</em>)</p>
<p>Kuku Bima Ener-G memperluas cakupan distribusinya ke toko-toko yang bukan sekadar berjualan jamu, seperti warung, rombong rokok, hingga outlet modern (Wulandari, 2008) Tidak kurang dari 100.000 pedagang jamu (baik yang menetap maupun keliling) pun ikut membantu distribusi produk ini (Hidayat, 2007<sup>a</sup>).</p>
<p>4). Promosi (<em>Promotion</em>)</p>
<p>Program promo yang dilakukan untuk pedagang yaitu memberikan kesempatan memilih hadiah emas murni ataupun barang-barang elektronik bagi pedagang yang mau mengambil 3 karton hingga 160 karton Kuku Bima Ener-G. Kampanye komunikasi Kuku Bima selalu berbalut CSR (<em>Corporate Sosial Responsibility)</em>. Mulai dari Mbah Marijan, Chris John, para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang pernah disiksa majikan di negeri jiran, hingga Laskar Mandiri (pengamen, pengojek, tukang semir sepatu, pedagang jamu gendong, pemulung, dan pengasong), digandeng menjadi model iklan Kuku Bima Ener-G. Untuk aktivitas merek lainnya, Kuku Bima kerap mensponsori program-program yang membidik pasar pria wanita di atas 24 tahun, dengan status sosial ekonomi C, D, dan E. Misalnya saja program olah raga tinju serta kompetisi menyanyi dangdut ”Stardut” yang tayang di TPI (Wulandari, 2008; Hidayat, 2007<sup>a</sup>). Selain itu, komunikasi melalui berbagai media juga dilakukan untuk memperluas upaya promosi (Hidayat, 2007<sup>b</sup>).</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li><strong>a. </strong><strong>Kepuasan pelanggan yang ditunjukkan dengan peningkatan <em>market share</em> Kuku Bima Ener-G </strong></li>
</ol>
<p>Sebagai pendatang baru dengan menawarkan diferensiasi dari beragam rasa, penjualan Kuku Bima Ener-G terus saja membengkak (Wulandari, 2008). Target penjualan pada tahun 2007 sebesar satu miliar sachet dapat terlampaui (Sriyono, 2008). Pada tahun  ini pula Kuku Bima Ener-G dapat merebut pangsa pasar sebesar 11,8 % yang menempati posisi ketiga <em>top brand </em>minuman energi yang ada. Pada bulan Juli 2008, penjualan Kuku Bima Ener-G menyentuh angka tertinggi, yakni 200 juta saset per bulan. Padahal, pada awal diluncurkan, Kuku Bima Ener-G hanya mampu terjual 5 juta saset per bulannya (Wulandari, 2008).</p>
<p><a href="http://moko31.wordpress.com/files/2009/11/kuku-2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-953" title="kuku 2" src="http://moko31.wordpress.com/files/2009/11/kuku-2.jpg" alt="" width="427" height="621" /></a></p>
<p><strong>Gambar 2. Peringkat pangsa pasar <em>top brand</em> minuman energi tahun 2007</strong>. Kuku Bima menempati posisi ketiga dengan pangsa pasar sebesar 11,8 % (Sumber : PT Bintang Toedjoe/AC Nielsen).</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>Maksud dan Tujuan</strong>
<ol>
<li><strong>a. </strong><strong>Maksud</strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Penulisan karya ilmiah ini dimaksudkan untuk megevaluasi hubungan strategi <em>marketing mix</em> Kuku Bima Ener-G dengan kepuasan pelanggannya.</p>
<ol>
<li><strong>b. </strong><strong>Tujuan</strong>
<ol>
<li>Mengetahui strategi marketing mix Kuku Bima Ener-G.</li>
<li>Mengetahui kepuasan pelanggan Kuku Bima Ener-G.</li>
<li>Memperluas pengetahuan mengenai marketing mix dan kepuasan</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>pelanggan, khususnya produk Kuku Bima Ener-G.</p>
<ol>
<li>Menjadikan kesuksesan Kuku Bima Ener-G sebagai pendatang baru</li>
</ol>
<p>minuman energi sebagai informasi bagi para marketer.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>TELAAH PUSTAKA</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Landasan Teori</strong></li>
<li><strong>a. </strong><strong><em>Marketing</em></strong><strong> dan Kepuasan Pelanggan</strong></li>
</ol>
<p>Pemasaran (<em>marketing</em>) memiliki definisi secara sosial maupun secara manajerial.  Secara sosial, pemasaran merupakan proses sosial yang melibatkan individu maupun kelompok untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yag bernilai dengan pihak lain. Sedangkan, dari sudut pandang manajerial pemasaran sering digambarkan sebagai ‘seni menjual produk’, tetapi penjualan bukan merupakan bagian paling penting dari pemasaran (Kotler dan Keller, 2008).</p>
<p>Kepuasan akan nilai dan manfaat merupakan satu aspek yang sangat penting dalam pemasaran itu sendiri. Jika suatu unit bisnis  mempunyai ciri khas yang dapat membuat masyarakat yang menjadi pengunjung puas, maka unit bisnis tersebut akan selalu dicari masyarakat. Hal ini dikarenakan ciri khas (<em>distinctiveness</em>) tersebutlah yang akan memupuk kepuasan pelanggan. Oleh karena itu, manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu untuk memilih pasar sasaran serta mendapatkan, mempertahankan, dan menambah jumlah pelanggan melalui penciptaan, penyampaian, dan pengkomunikasian nilai pelanggan memegang peran kunci dalam memenuhi kepuasaan pasar (Kotler dan Keller, 2008).</p>
<p>Kepuasan pelanggan adalah sasaran dan sekaligus menjadi alat pemasaran. Dalam segala keterbatasannya, pelanggan mengestimasikan tawaran mana yang akan menyerahkan nilai yang paling dirasakan dan bertindak berdasarkan estimasi tersebut. Tawaran yang sesuai dengan harapan pelanggan akan mempengaruhi kepuasan dan loyalitas pelanggan terhadap tawaran tersebut. Lebih lanjut, kepuasan pelanggan akan berhubungan dengan kustomisasi massal yaitu kemampuan perusahaan untuk memenuhi tuntutan setiap pelanggan-mempersiapkan produk, layanan, program, dan komunikasi yang dirancang secara individual berbasis massal (Kotler dan Keller, 2008).</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li><strong>b. </strong><strong><em>Marketing Mix</em></strong></li>
</ol>
<p>Upaya pemenuhan kepuasan pelanggan melalui penciptaan, penyerahan, dan pengkomunikasian nilai pelanggan kepada pasar sasaran yang terpilih merupakan kunci utama konsep pemasaran. Di dalam konsep pemasaran holistik mengakui bahwa “segala sesuatu bisa terjadi” pada pemasaran-dan bahwa pemasaran perspektif yang luas dan terpadu sering dibutuhkan. Empat komponen dari pemasaran holistik adalah pemasaran hubungan, pemasaran terpadu, pemasaran internal, dan pemasaran yang bertanggung jawab sosial (Kotler dan Keller, 2008).</p>
<p><em>Marketing mix</em> merupakan bagian dari pemasaran terpadu. Jika dilihat dari segi bauran pemasaran, <em>marketing mix</em> merupakan perangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mengejar tujuan perusahaannya melalui pemenuhan nilai bagi konsumen. McCharthy mengklasifikasikan marketing mix menjadi 4 kelompok besar (4 P), yaitu : produk (p<em>roduct</em>), harga (<em>price)</em>, tempat (<em>place</em>), dan promosi (<em>promotion</em>) (Kotler dan Keller, 2008).</p>
<p>Empat P menggambarkan pandangan penjual tentang alat pemasaran yang tersedia untuk mempengaruhi pembeli. Dari sudut pandang pembeli, setiap alat pemasaran dirancang untuk menyerahakan manfaat pelanggan. Robert Lauterborn mengemukakan bahwa empat P penjual berhubungan dengan empat C pelanggan. <em>Product</em> dipandang dengan memperhatikan kebutuhan dan keinginan konsumen (<em>Customer needs and wants</em>), <em>Price</em> disesuaikan dengan kemampuan konsumen (<em>Cost to customer</em>), Place yang memiiki kenyamanan (<em>Convenience</em>), dan <em>Promotion</em> yang dapat menjalin komunikasi timbal balik antara prosusen dan konsumen (<em>Communication</em>). Perusahaan yang menang nantinya adalah perusahaan yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan secara ekonomis, nyaman dan dengan komunikasi yang efektif (Kotler dan Keller, 2008).</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Objek Studi</strong></li>
</ol>
<ol>
<li><strong>Profil Perusahaan</strong></li>
</ol>
<p>PT. Sido Muncul bermula dari sebuah industri rumah tangga pada tahun 1940, dikelola oleh Ibu Rahkmat Sulistio di Yogyakarta, dan dibantu oleh tiga orang karyawan. Banyaknya permintaan terhadap kemasan jamu yang lebih praktis, mendorong beliau memproduksi jamu dalam bentuk yang praktis (serbuk), seiring dengan kepindahan beliau ke Semarang , maka pada tahun 1951 didirikan perusahan sederhana dengan nama SidoMuncul yang berarti &#8220;Impian yang terwujud&#8221; dengan lokasi di Jl. Mlaten Trenggulun. Dengan produk pertama dan andalan, Jamu Tolak Angin, produk jamu buatan Ibu Rakhmat mulai mendapat tempat di hati masyarakat sekitar dan permintaannya pun selalu meningkat.Dalam perkembangannya, pabrik yang terletak di Jl. Mlaten Trenggulun ternyata tidak mampu lagi memenuhi kapasitas produksi yang besar akibat permintaan pasar yang terus meningkat, dan di tahun 1984 pabrik dipindahkan ke Lingkungan Industri Kecil di Jl. Kaligawe,Semarang (www. PT Sido Muncul.com)</p>
<p>Guna mengakomodir demand pasar yang terus bertambah, maka pabrik mulai dilengkapi dengan mesin-mesin modern, demikian pula jumlah karyawannya ditambah sesuai dengan kapasitas yang dibutuhkan ( kini jumlahnya mencapai lebih dari 2000 orang).Untuk mengantisipasi kemajuan dimasa datang, dirasa perlu untuk membangun unit pabrik yang lebih besar dan modern, maka di tahun 1997 diadakan peletakan batu pertama pembangunan pabrik baru di Klepu, Ungaran oleh Sri Sultan Hamengkubuwono ke-10 dan disaksikan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan saat itu, Drs. Wisnu Kaltim (www. PT Sido Muncul.com).</p>
<p>Pabrik baru yang berlokasi di Klepu, Kec. Bergas, Ungaran, dengan luas 29 ha tersebut diresmikan oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia, dr. Achmad Sujudi pada tanggal 11 November 2000. Saat peresmian pabrik, SidoMuncul sekaligus menerima dua sertifikat yaitu Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) setara dengan farmasi, dan sertifikat inilah yang menjadikan PT. SidoMuncul sebagai satu-satunya pabrik jamu berstandar farmasi. Lokasi pabrik sendiri terdiri dari bangunan pabrik seluas 7 hektar, lahan Agrowisata ,1,5 hektar, dan sisanya menjadi kawasan pendukung lingkungan pabrik (www. PT Sido Muncul.com).</p>
<p>Secara pasti PT. SidoMuncul bertekad untuk mengembangkan usaha di bidang jamu yang benar dan baik. Tekad ini membuat perusahaan menjadi lebih berkonsentrasi dan inovatif. Disamping itu diikuti dengan pemilihan serta penggunaan bahan baku yang benar, baik mengenai jenis, jumlah maupun kualitasnya akan menghasilkan jamu yang baik.<br />
Untuk mewujudkan tekad tersebut, semua rencana pengeluaran produk baru selalu didahului oleh studi literatur maupun penelitian yang intensif, menyangkut keamanan, khasiat maupun sampling pasar. Untuk memberikan jaminan kualitas, setiap langkah produksi mulai dari barang datang , hingga produk sampai ke pasaran, dilakukan dibawah pengawasan mutu yang ketat. Seluruh karyawan juga bertekad untuk mengadakan perbaikan setiap saat, sehingga diharapkan semua yang dilakukan dapat lebih baik dari sebelumnya (www. PT Sido Muncul.com).</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li><strong>Visi dan Misi Perusahaan</strong></li>
</ol>
<p><strong>1).</strong> <strong>Visi</strong></p>
<p>Menjadi industri jamu yang dapat memberikan manfaat pada masyarakat dan lingkungan</p>
<p>&#160;</p>
<p>2<strong>). Misi</strong></p>
<p>a)    Meningkatkan mutu pelayanan di bidang herbal tradisional.</p>
<p>b)   Mengembangkan research/penelitian yang berhubungan dengan pengembangan pengobatan dengan bahan-bahan alami.</p>
<p>c)    Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya membina kesehatan melalui pola hidup sehat, pemakaian bahan-bahan alami dan pengobatan secara tradisional.</p>
<p>d)   Ikut mendorong pemerintah/instansi resmi agar lebih berperan dalam pengembangan pengobatan tradisional.</p>
<p>(www. PT Sido Muncul.com)</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li><strong>c. </strong><strong>Penghargaan (<em>Awards</em>)</strong></li>
</ol>
<p>Pada tahun 2003, Kuku Bima TL (jamu) tercatat pernah memperoleh penghargaan “<strong><em>Best Brand”</em></strong> yang diadakan rutin pada setiap tahunnya oleh Majalah SWA, yang dalam surveinya bekerjasama dengan dua lembaga penelitian pemasaran independen, yaitu Frontier Marketing &#38; Research Consultant dan PT. Capricorn Mars Indonesia, pada periode yang bebeda. Survei diadakan di lima kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Medan. Penghargaan “<strong>ICSA (<em>Indonesia Customer Satisfaction Award</em>) 2002</strong>” dalam konteks kepercayaan masyarkat pun telah digaet oleh Kuku Bima (kategori jamu dan obat kuat pria) (www. PT Sido Muncul.com). Sedangkan, Kuku Bima Ener-G mendapatkan penghargaan serupa berupa “<strong><em>Top Brand</em></strong> <strong>2008</strong>” dari Majalah Marketing yang bekerja sama dengan Frontier Consulting Group (Mahadi, 2008).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PEMBAHASAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Saat ini, dunia persaingan minuman energi sangat ketat. Hal ini dapat dilihat dari ‘perang’ minuman energi yang ditayangkan di televisi, baik dalam bentuk iklan, talkshow, dan termasuk membagi-bagikan hadiah khususnya dalam acara-acara olah raga. Tiga macam minuman energi <em>Top Brand</em> (Extra joss, Hemaviton, Kuku Bima Ener-G) seolah-olah bertempur tiada henti dalam upayanya mempengaruhi <em>mind set</em> pelanggan dan kemudian tergerak untuk membelinya. Jika diamati lebih jauh, produk yang stagnan (kurang inovasi), memiliki harga mahal, sulit diperoleh pelanggan, dan belanja iklan yang sedikit akan tergeser dari persaingan tersebut. Oleh karenanya, produk minuman energi berlomba-lomba mengoptimalkan strategi <em>marketing mix</em>-nya (<em>Product, Price, Place, Promotion</em>) dalam memenuhi kepuasan pelanggan yang kemudian secara automatis memberikan <em>feed back</em> positif berupa profit atau keuntungan bagi perusahaan.</p>
<p>Dalam hal ini, Kuku Bima Ener-G sebagai pemain baru dalam minuman energi menunjukkan keberhasilan strategi <em>marketing mix</em> yang dijalankannya. Menjadi pemain baru tentu tidaklah mudah. Salah satu <em>entry barrier</em> di kategori ini adalah komunikasi pemasaran. Tak heran jika Extra Joss sebagai <em>market leader</em> memiliki <em>budget</em> iklan yang lebih besar dibandingkan dengan pesaing lainnya yaitu sekitar 180 milyar (tahun 2006) (Hidayat, 2007<sup>a</sup>). Secara logika, tentunya jika suatu produk dengan <em>budget</em> iklan yang rendah, maka ia akan tenggelam oleh iklan <em>market leader</em>. Uniknya, Kuku Bima Ener-G yang memiliki <em>budget</em> iklan yang lebih rendah dibandingkan Extra Joss yaitu sekitar 30 milyar (tahun 2006) kini mampu menggerus pangsa pasar dari Extra Joss (Hartanto, 2007 ; Hidayat, 2007<sup>a</sup>). Oleh karenanya, Extra Joss seolah sedang “berduel” melawan Kuku Bima Ener-G. Duel yang dilakukan adalah pada bagaimana masing-masing produk optimal dalam unsur <em>marketing mix</em>-nya.</p>
<p>Ditinjau dari segi produknya (<em>Product</em>), Kuku Bima Ener-G dapat dengan cepat menerobos pasar  karena keberaniannya berinovasi. PT Sido Muncul merupakan pelopor pengubah <em>image </em>mengenai minuman energi yaitu produk minuman energi harus berwarna kuning dengan rasa yang agak masam. Sebagai langkah pengubah <em>image</em> tersebut, diproduksilah Kuku Bima dengan berbagai varian rasa. Dampak dari inovasi tersebut ternyata mendapat respon pasar yang sangat baik. Oleh karenaya, PT Sido Muncul semakin giat berinovasi dengan menambahakan varian rasa baru pada produknya. Di lain sisi, keberhasilan PT Sido Muncul dalam meluncurkan varian rasa akhirnya direspons PT Bintang Toedjoe.  Anak usaha  PT Kalbe Farma ini pun ini akhirnya meluncurkan Extra Joss varian rasa pada awal 2007 (Hidayat, 2007<sup>a</sup>).</p>
<p>Jika dipandang dari segi harganya (<em>Price</em>), Kuku Bima Ener-G ternyata memiliki harga yang lebih murah dibandingkan Extra Joss. Untuk produk dalam bentuk saset, Kuku Bima (Rp 2.500,00) memiliki harga yang lebih murah dibandingkan Extra Joss (Rp 3.500,00). (Iqbal, 2008). Hal ini tentunya memberikan kesempatan besar bagi pelanggan untuk lebih hemat dalam berbelanja dan tentunya menjadi daya tarik besar bagi mereka. Menjadi daya tarik memberi pengertian bahwa pelanggan akan lebih memilih Kuku Bima Ener-G yang khasiatnya tidak jauh berbeda dengan Extra joss. Jika pelanggan ingin Kuku Bima dalam bentuk cair (1 botol = Rp 2.250,00), maka pelanggan dapat memperolehnya dengan harga juga yang lebih murah dibandingkan produk Extra Joss cair (1 kaleng = Rp 3.500,00). (Iqbal, 2008). Dengan demikian, Kuku Bima memungkinkan memperoleh pelanggan yang lebih banyak. Hal ini karena target pasarnya menjadi luas baik anak muda, masyarakat menengah ke bawah, serta menengah ke atas. Pelanggan pun akan puas dengan harga yang lebih kompetitif tersebut.</p>
<p>Tinjauan dari segi distribusinya (<em>Place</em>), Kuku Bima Ener-G akan mudah sekali didapat oleh pelanggannya. Produk ini telah tersalur di berbagai tempat, baik itu warung, toko, swalayan, bahkan warung bubur kacang hijau (burjo) pun menyediakan Kuku Bima. Distributor unik dari Kuku Bima adalah para pedagang jamu. Jumlah pedagang ini cukup banyak sehingga di daerah-daerah sangat terpencil pun dapat terjangkau. Akibatnya, pelanggan pun mendapat kemudahan untuk memperolehnya. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh Extra Joss. Namun demikian, Extra Joss berusaha menjaga penurunan omset penjualannya  dengan mendirikan Warung Joss di berbagai daerah, meskipun pada dasarnya Extra Joss masih lebih unggul dalam hal distribusinya (Warjoss) (Shaleh, 2008).</p>
<p>Jika disorot dari segi promosinya (<em>Promotion</em>), sebenarnya konsep strategi yang dijalankan PT Sido Muncul tidak jauh berbeda dengan PT Bintang Toedjoe. Keduanya sama-sama menggunakan sosok <em>endorser </em>yang diasosiasikan dengan produk untuk memperkuat <em>brand </em>ekuitasnya. Keduanya juga sangat gencar meniklankan produknya di berbagai media. Hanya saja, pilihan <em>endorser</em>-nya yang berbeda. Meskipun PT Sido Muncul bukan perusahaan baru, mereka dalam posisi ingin merebut pasar minuman energi. Menjadikan Mbah Maridjan dan Chris John sebagai <em>endorse</em>r untuk mengorbitkan Kuku Bima Ener-G merupakan keputusan riskan yang diambil PT Sido Muncul. Chris John bisa kalah kapan saja. Demikian juga dengan Gunung Merapi, bisa meletus kapan saja. Namun, ternyata keputusan tersebut berbuah manis dikarenakan penjualan Kuku Bima justru meningkat hingga 300 %. Padahal biaya iklan yang dikeluarkan PT Sido Muncul lebih kecil dibanding biaya iklan PT Bintang Todjoe (Hidayat, 2007<sup>a</sup>). Sedangkan, untuk memikat hati grosir dilakukanlah program promo. Hal ini dimaksudkan agar grosir juga mendapat keuntungan (<em>margin</em> yang didapat besar) sehingga akan lebih termotivasi dalam menjual produk ini. Seharusnya PT Bintang Toedjoe yang <em>size</em> perusahaannya lebih besar (karena didukung Kalbe Farma) bisa memainkan peran yang lebih besar. Sayangnya, momentum tersebut  direbut PT Sido Muncul yang notabene skala perusahaannya jauh lebih kecil.</p>
<p>Selain dari faktor 4 P di atas, Kuku Bima Ener-G sebenarnya lebih mudah diterima pasar karena produk ini menggunakan merek yang telah dikenal konsumen, yaitu dari produk Kuku Bima TL (kategori jamu). Kuku Bima TL telah meraih beberapa penghargaan yaitu Best Brand dan ICSA (<em>Indonesia Customer Satisfaction Award</em>) 2002. Keseluruhan award yang telah dicapai tersebut memberi dampak positif pada Kuku Bima Ener-G. Hal ini karena Kuku Bima Ener-G tidak perlu bersusah payah untuk membangun <em>brand</em>. Dengan demikian, keputusan manajerial oleh pimpinan PT Sido Muncul untuk mengembangkan varian baru berupa produk minuman energi dengan mengekstensifikasi merek yang telah berkembang adalah tepat.</p>
<p>Dampak dari <em>marketing mix</em> yang dijalankan PT Sido Muncul pada Kuku Bima Ener-G benar-benar dapat terlihat ketika Kuku Bima Ener-G  menyandang gelar Top Brand 2008. Kuku Bima pun mampu memasok 65% dari total omzet PT Sido Muncul (Wulandari, 2008). Hal ini mengindikasikan bahwa <em>market share</em> Kuku Bima semakin meluas dan mereknya telah berhasil mempengaruhi perilaku pembelian pelangan. Artinya konsumen/pelanggan merasa nyaman dengan apa yang telah dilakukan produk tersebut untuk mereka, konsumen merasa sesuai dengan harga produk, konsumen mudah mendapatkan produk , serta produk senantiasa berada dalam <em>mind set</em> konsumen. Tak heran jika ternyata Sang market leader Extra Joss seperti menjadi Follower. Bukankah ini suatu strategi <em>marketing mix</em> yang hebat ? dengan tetap mengarah pada visi PT Sido Muncul untuk memberi manfaat kepada masyarakat dan lingkungan melalui pengembangan industri jamunya.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong>Kuku Bima Ener-G terlihat berhasil dalam mengoptimalkan<em> </em>strategi <em>marketing mix</em>-nya demi memenuhi kepuasaan pelanggan. Inovasi produk terus dilakukan dengan harga yang disesuaikan kemampuan pelanggan. Pelanggan pun diberi kemudahan untuk mengakses produk serta mudah dalam mengingat merek produk, tertutama dengan slogan “Roso-Roso” yang diasosiasikan dengan Mbah Maridjan.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>REKOMENDASI/SARAN</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dibalik semua kesuksesan yang telah diraihnya, Kuku Bima Ener-G harus selalu memperhatikan kompetitor-kompetitor yang ada. Ke depan, aspek <em>awareness</em> dan distribusi akan menjadi lebih kompetitif karena faktor kualitas yang seharusnya bisa menjadi diferensiasi utama akan semakin sulit dibedakan. Hal ini karena masing-masing minuman berenergi akan terus melakukan inovasi bahkan saling tiru-meniru. Hal inilah yang mendasari pentingnya komunikasi pemasaran.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>PUSTAKA</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hidayat, T., 2007<sup>a</sup>, Kala Market Leader Menjadi Follower, <em>Artikel</em>.</p>
<p>Hidayat, T., 2007<sup>b</sup>, Adu jos Bisnis Minuman Energi, <em>Artikel</em>.</p>
<p>Hartanto, T.P., 2007, The Emergence of Diversified Pharmaceutical Play, <em>Equity and Fixed Income Research</em>, Kalbe Farma.</p>
<p>Iqbal, M., 2008, Survei harga minuman energi Kuku Bima Ener-G dan Extra Joss di swalayan E-non, Lampung.</p>
<p>Jahari, T., 2004, <em>Luncurkan Varian Untuk Menghadang Lawan</em>, Kompas Cyber Media bekerja sama dengan majalah marketing.</p>
<p>Kotler, P., dan Keller, K.L., 2008, <em>Manajemen Pemasaran Edisi 12</em>, Cetakan III, Alih Bahasa oleh Benyamin Molan, 5-24; 177-183.</p>
<p>Mahadi, 2008, <em>Sido Muncul Dapat Penghargaan Top Brand</em>, Jambi Independent, Koran Pertama dan Terbesar di Provinsi Jambi.</p>
<p>Rahayu, T., 2005, Kadar Kolesterol Darah Tikus Putih (<em>Rattus Norvegicus</em> L.) Setelah Pemberian Cairan <em>Kombucha</em> Per Oral, <em>Jurnal Penelitian Sains  dan Teknologi</em>, <strong>Vol 6</strong>. No.2 :85-100.</p>
<p>Wulandari, D., 2008, <em>Jeli Membaca Kelemahan Pesaing</em>, MarketingXtra.</p>
<p>Shaleh, H., 2008, Pedagang Extra joss Dilatih Bisnis, <em>Artikel</em>.</p>
<p>Simanjuntak, Y., dan Siagian, N., 2003<sup>a</sup>, <em>Bisnis Minuman Berenergi Tetap Menggiurkan</em>, Harian Umum Sore Sinar Harapan promarketing.</p>
<p>Simanjuntak, Y., dan Siagian, N., 2003<sup>b</sup>, <em>Kuku Bima TL Raih Penghargaan IBBA 2004</em>, Harian Umum Sore Sinar Harapan promarketing.</p>
<p>Sriyono, J., 2008, <em>Merek Lokal Harus Bisa Jadi Tuan Rumah Di Negeri Sendiri</em>, Suara Karya <em>online</em>.</p>
<p>Sulhi, 2006, Jamu, Ya Jagalah Dirimu, <em>Artikel.</em></p>
<p>www. Indonesia-herb.com, diakses pada tanggal 13 Desember 2008.</p>
<p>www. PT Sido Muncul.com, diakses pada tanggal 12 Desember 2008.</p>
<p>www. Wikipedia. com, diakses pada tanggal 12 Desember 2008.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apres le coup de tête de Zidane, la main d'henry]]></title>
<link>http://lemarketingpourtous.wordpress.com/2009/11/19/apres-le-coup-de-tete-de-zidane-la-main-dhenry/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 15:55:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>doublexlmarketing</dc:creator>
<guid>http://lemarketingpourtous.wordpress.com/2009/11/19/apres-le-coup-de-tete-de-zidane-la-main-dhenry/</guid>
<description><![CDATA[Il y’a 4 ans, Zinedine ZIDANE était expulsé du terrain en pleine finale de la coupe du monde. Sa réa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Il y’a 4 ans, Zinedine ZIDANE était expulsé du terrain en pleine finale de la coupe du monde. Sa réaction avait provoqué une véritable polémique : quel genre de modèle peut être une star du football qui ne respecte pas les règles et, par-dessus tout, ne regrette pas son écart de conduite ? Depuis la situation s’est apaisée et Zizou est resté l’icône qu’il a toujours été. Toutefois, l’équipe de France a remis le couvert hier soir avec cette « heureuse » main de Thierry Henry. Certes la France a gagné ; mais qu’en est il de la bataille de l’image de marque ?</strong></p>
<p><a href="http://lemarketingpourtous.wordpress.com/files/2009/11/main-henry1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-223" title="main henry" src="http://lemarketingpourtous.wordpress.com/files/2009/11/main-henry1.jpg?w=204" alt="" width="204" height="300" /></a></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>En effet, à travers une équipe de football nationale, c’est une partie de la réputation d’un pays qui se joue. Par exemple, les Irlandais sont réputés pour leur esprit combatif qu’on retrouve dans de nombreuses disciplines (rugby, football, …). Avec le coup de tête de Zidane et la main de Henry, c’est à une réputation douteuse que s’accroche à la France. D’autant plus que les résultats précédents ne permettent pas de justifier un écart de conduite (ce qui était en parti le cas pour l’affaire Zidane). Imaginez l’incidence sur le comportement des supporters ? Des adversaires ? Des instances organisatrices comme la FIFA ?</p>
<p>Il en est de même dans les entreprises. Imaginez qu’un de vos salariés réalise des ventes avec des marges exorbitantes sur un de vos clients, et cela à son insu. Problème, le dit client se rend compte de « l’arnaque » lors d’une discussion avec un autre client de votre entreprise. Pour autant, le salarié impliqué dans l’affaire ne tente pas de corriger le tir. C’est la réputation de l’entreprise qui est alors en jeux. Les fournisseurs vont se méfier de vous : si vous faites cela aux clients, pourquoi pas aux autres. Les clients vont tous vérifier leurs contrats, tenter de renégocier les tarifs, et vont surtout véhiculer l’information comme quoi les méthodes de l’entreprise sont douteuses. Les partenaires vont peu à peu se désengager dans les relations d’affaires avec l’entreprise pour ne pas être associé à une mauvaise image de marque.</p>
<p>En effet, les actions de chacun, que ce soit de la production à la direction en passant par les vendeurs, ont une influence sur la réputation de l’entreprise auprès de l’ensemble des parties prenantes de l’entreprise.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Brand Yourself]]></title>
<link>http://saharconsulting.wordpress.com/2009/11/17/brand-yourself/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 00:17:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>saharconsulting</dc:creator>
<guid>http://saharconsulting.wordpress.com/2009/11/17/brand-yourself/</guid>
<description><![CDATA[The idea of  “BRAND” yourself posts came to me after giving a presentation/ workshop last Saturday n]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>The idea of  “<strong>BRAND</strong>” yourself posts came to me after giving a presentation/ workshop last Saturday named ” Empower Women Seminar” that was sponsored by “<strong>NOW: National</strong> <strong>Organization of Women</strong>, the Hollywood chapter”.  My part of the seminar covered the Marketing part discussing the power of  “Brand Yourself” for landing a job or getting a better one.</p>
<p> A brand is not limited to big companies like BMW, Coca-Cola or to artists like Paris Hilton,  Brad Pitt &#38; Angelina, we all have our own brands either we are aware of it or not.  A brand is how people around us perceive us, what do we transmit as a message to others about us, without even talking.</p>
<p>So let me start by deciphering what is “<strong>Brand Yourself</strong>” or “Personal Branding”.  Personal/ Self branding is simply positively grabbing someone’s attention by creating a unique unforgettable image.  <strong>Personal branding</strong>, by definition, is the process by which we market ourselves to others.</p>
<p>Imagine if you go to a store looking for a certain product, one is packaged in fancy colors and the other packaged in a simple white blend box, they both have the same functions and usage, the first one is a bit higher in price than the 2<sup>nd</sup> which one would you get? I personally will pick the one that catches my eye i.e. the colorful fancy package, even if I have to pay a bit more.  So Brand Yourself is about “Self packaging” It’s identifying the unique qualities, marketable skills, and organizational knowledge that someone possesses and building a reputation that captures the attention of others (clients, managers, prospects or future employers)</p>
<p>No matter how old we are, what titles we hold, what business we are in, we all need to understand the importance of self-branding, we all are the CEOs, and CMOs of  “<strong>Me, LLC.</strong>” need to be unique in who we are and how we stand out from the crowd.</p>
<p>                                     <a href="http://saharconsulting.wordpress.com/files/2009/11/self-branding4.jpg"><img class="size-full wp-image-127 alignnone" title="self branding" src="http://saharconsulting.wordpress.com/files/2009/11/self-branding4.jpg" alt="Brand Yourself" width="182" height="234" /></a></p>
<p> Each one of us needs to develop their own <strong>USP</strong> “Unique Selling Proposition” to communicate our <strong>brand</strong>, and develop &#8220;Brand Equity&#8221; &#38; &#8220;Brand Image&#8221; exactly as the big corporations do.  Now the question that presents itself is: “How do I brand myself, or how do I find my brand?”</p>
<p>The “<strong>My brand</strong>” exercise starts by thinking about 3 things you are very passionate about (loving chocolate is not one of them) and 3 things other people think you excel at.</p>
<p>It is a process that has 4 steps: <strong>DCCM</strong></p>
<ul>
<li>Discover: What is your brand (As described above)</li>
<li>Create: your USP</li>
<li>Communicate: Promote your USP</li>
<li>Maintain: keep adding new content and manage your brand reputation</li>
</ul>
<p>Your USP should be one concise sentence that best describes you, who you are, how unique are you, your biggest strength and how you can benefit anyone that hires you or your services (Clients or employers).  </p>
<p>For example a USP for a Marketing expert would be:</p>
<p>“I am an experienced Marketing expert strong in creating marketing campaigns and developing new business that have resulted in additional revenues of over $ 2.5M for my last company during the last 2 years.”</p>
<p>This sentence demonstrated who you are, your biggest strength and how you benefited your company.</p>
<p style="text-align:center;">Branding Yourself is all about leveraging marketing and its famous <strong>MIX: The 4 Ps</strong></p>
<p>1-     Product: YOU</p>
<p>2-     Promotion: what to use, which social media networks, which associations etc…</p>
<p>3-     Price: How much are you services worth or how should your salary be</p>
<p>4-     Place: Where to expand</p>
<p>Social Media tools have leveled the playing ground and have enabled us to reach amazing altitudes, at the cost of our time, but the ROI is way worthed.</p>
<p>I will be sharing in my next posts, the personal branding process, so you can think about what face you want to show to the world and how to brand position yourself to achieve your goals, and land your dream job, and how to become the hunted instead of the hunter</p>
<p>Cheers,</p>
<p>Sahar Andrade</p>
<p><a href="http://www.saharconsulting.com">www.saharconsulting.com</a></p>
<p><a href="http://www.linkedin.com/in/saharandrade">www.linkedin.com/in/saharandrade</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Quand débat et humour s’associent à des fins publicitaires]]></title>
<link>http://lemarketingpourtous.wordpress.com/2009/11/16/quand-debat-et-humour-s%e2%80%99associent-a-des-fins-publicitaires/</link>
<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 15:42:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>doublexlmarketing</dc:creator>
<guid>http://lemarketingpourtous.wordpress.com/2009/11/16/quand-debat-et-humour-s%e2%80%99associent-a-des-fins-publicitaires/</guid>
<description><![CDATA[Pc ou Mac ? Mac ou Pc ? Apple et Microsoft sont les acteurs emblématiques du marché de l’informatiqu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Pc ou Mac ? Mac ou Pc ? Apple et Microsoft sont les acteurs emblématiques du marché de l’informatique. Ainsi, des communautés d’utilisateurs se sont regroupées afin de faire valoir leur préférence sur tel ou tel système. C’est en 2006 que Apple décide de prendre le débat à son compte.</strong></p>
<p>Les Mac ont toujours eu une image de machines dédiées aux professionnels, notamment en comparaison avec leur puissance graphique. Toutefois, en 2001, Apple lance ce qui sera un des plus grands succès commercial et marketing : l’I Pod. Celui-ci touche une cible plus jeune et branchée « loisirs » que les pros qui font parti de l’univers Mac.</p>
<p>Apple décide donc de devenir une marque de jeunes, pour les jeunes et surtout faite pour eux. Elle s’approprie alors la comparaison éternelle avec Microsoft pour conquérir les utilisateurs de PC. Une vingtaine de courts spots Tv naquirent :</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/nVpFgyvBC2I&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/nVpFgyvBC2I&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p>En terme d’image l’opération fut un succès :</p>
<p>- buzz sur Internet ( = diffusion massive)</p>
<p>- réactivation du débat entre les utilisateurs de pc et de mac;</p>
<p>- appropriation d’une image jeune, « fun » et innovante.</p>
<p>Toutefois, attention de ne pas passer de l’humour à la délation (la publicité comparative n’étant que très peu tolérée).</p>
<p>Yoann Dupont – Chargé d’études</p>
<p>Double XL – Conseil en Marketing</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SEO An Hour A Day: Small Tasks That Make A Big Difference]]></title>
<link>http://developerrr.wordpress.com/2009/11/16/seo-an-hour-a-day-small-tasks-that-make-a-big-difference/</link>
<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 10:09:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>web developer</dc:creator>
<guid>http://developerrr.wordpress.com/2009/11/16/seo-an-hour-a-day-small-tasks-that-make-a-big-difference/</guid>
<description><![CDATA[SEO An Hour A Day: Small Tasks That Make A Big Difference by Rune Risom A great deal of effort and t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[SEO An Hour A Day: Small Tasks That Make A Big Difference by Rune Risom A great deal of effort and t]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[marketing: creating customer value and satisfaction, profitably]]></title>
<link>http://pureenlightenment.wordpress.com/2009/11/13/what-is-marketing/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 11:50:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>kycol</dc:creator>
<guid>http://pureenlightenment.wordpress.com/2009/11/13/what-is-marketing/</guid>
<description><![CDATA[Background to marketing It is my understanding that people often think about marketing as the advert]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Background to marketing It is my understanding that people often think about marketing as the advert]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Renault redémarre avec Gordini]]></title>
<link>http://lemarketingpourtous.wordpress.com/2009/11/13/renault-redemarre-avec-gordini/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 08:58:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>doublexlmarketing</dc:creator>
<guid>http://lemarketingpourtous.wordpress.com/2009/11/13/renault-redemarre-avec-gordini/</guid>
<description><![CDATA[Visiblement, le « revival » n’est pas l’apanage de l’audiovisuel (voir l’article « Quand l’audiovisu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Visiblement, le « revival » n’est pas l’apanage de l’audiovisuel (voir l’article « <a href="../2009/10/08/quand-l%E2%80%99audiovisuel-et-le-spectacle-jouent-au-phoenix/">Quand l’audiovisuel et le spectacle jouent au Phoenix</a> »). Un nouveau phoenix arrive dans le secteur de l’automobile : la griffe Gordini de RENAULT.</strong></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-212" title="Renault_Gordini" src="http://lemarketingpourtous.wordpress.com/files/2009/11/renault_gordini.jpg" alt="Renault_Gordini" width="289" height="139" /></p>
<p>Petit rappel : la griffe Gordini, se sont des versions sportives de certains modèles Renault. Ce type de voiture vit le jour en 1957 et s’associa à des modèles tels que la R8. Ses caractéristiques visuelles ? Couleur bleue et 2 bandes blanches sur la carrosserie (ça ne vous rappelle rien ? ;) ). La clio RS et la Twingo RS auront donc l’honneur de revêtir cette combinaison de course (sans modification de la motorisation) pour le plus grand plaisir des nostalgiques de la grande époque.</p>
<p>Quel intérêt me direz vous ?</p>
<p>Multiples en fait :</p>
<p>- Tout d’abord faire du relookage, cela coûtera toujours moins cher que d’inventer de nouveaux modèles. En effet, cela permet de donner une identité forte à un produit de base. C’est justement la tendance du moment qui est à l’achat de plus petits véhicules qui ont une personnalité forte (exemple : mini) ;</p>
<p>- La « french touch » à l’ancienne est à la mode. Par exemple, Citroën a aussi fait du neuf avec du vieux avec la griffe « DS ». ;</p>
<p>- L’intérêt principal est de concurrencer les modèles tels que la Mini qui sont fortement bien positionnés sur le marché des citadines et des petites voitures grâce à leur personnalité forte et leur côté rétro.</p>
<p>Philippe GRAVEZ – Directeur associé</p>
<p>Double XL – Conseil en Marketing</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Quand le débat idéologique passe par la case marketing]]></title>
<link>http://lemarketingpourtous.wordpress.com/2009/11/10/quand-le-debat-ideologique-passe-par-la-case-marketing/</link>
<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 15:50:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>doublexlmarketing</dc:creator>
<guid>http://lemarketingpourtous.wordpress.com/2009/11/10/quand-le-debat-ideologique-passe-par-la-case-marketing/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Il est des batailles qui durent des années, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-medium wp-image-209" title="optic2000-johnny" src="http://lemarketingpourtous.wordpress.com/files/2009/11/optic2000-johnny.jpg?w=225" alt="optic2000-johnny" width="180" height="240" /><img class="alignright size-full wp-image-210" title="atol-antoine" src="http://lemarketingpourtous.wordpress.com/files/2009/11/atol-antoine.jpg" alt="atol-antoine" width="201" height="248" /></p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Il est des batailles qui durent des années, des décennies, … Elles ont lieu sur des points de vue idéologiques, artistiques, … A un tel point que le marketing peut  se servir de la discorde dans les campagnes de publicité. On peut penser que c’est le cas avec nos deux célébrités françaises du milieu de la musique : Johnny et Antoine.</strong></p>
<p>Rappelez vous en 1966 (si vous étiez nés;) ), Antoine, hippie de son époque, et Johnny Halliday s’envoyaient des fleurs par chansons interposées. Antoine chantait « les élucubrations », auxquelles Johnny répondait par &#8220;cheveux longs et idées courtes&#8221;.</p>
<p>Aujourd’hui, les grands esprits du marketing se sont amusés à reprendre ce dialogue par chanson interposée. En effet, ce n’est pas pour rien que les opticiens ATOL et OPTIC 2000 se sont appropriés les services des 2 chanteurs dans leurs publicités respectives. La discorde entre les deux artistes est reprise implicitement à travers ces deux campagnes publicitaires.  Inconsciemment, nous associons une campagne à l’autre ce qui renforce leur impact.</p>
<p>D’autres entreprises ont utilisé ce phénomène de mémorisation par association avec une autre marque : Coca Vs Pepsi, Apple Vs Microsoft, …</p>
<p>Philippe GRAVEZ – Directeur associé</p>
<p>Double XL – Conseil en Marketing</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[How to make mobile part of your marketing strategy]]></title>
<link>http://damiensaunders.com/2009/11/09/how-to-make-mobile-part-of-your-marketing-strategy/</link>
<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 08:01:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Damien</dc:creator>
<guid>http://damiensaunders.com/2009/11/09/how-to-make-mobile-part-of-your-marketing-strategy/</guid>
<description><![CDATA[Should you be worried that you don’t have an iPhone app? Do you know if you’re website works on a mo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Should you be worried that you don’t have an iPhone app? Do you know if you’re website works on a mobile? what about mobile SEO? It is very important for CEO’s and CMO’s to add mobile to their communications and marketing strategy.</strong></p>
<p>The fact that most companies have yet to build a mobile website shows you are not alone and many companies want to know what they should do first. Build an app. Build a mobile strategy or do something. Considering each three …</p>
<p><strong>Build an app </strong></p>
<p>Answer Yes to these questions and you’ll know that building an app is right for you:</p>
<ol>
<li>Is your company always first to market?</li>
<li>Do you want to get some PR effect?</li>
<li>Interested in winning a Mobile or Advertising industry Award</li>
</ol>
<p>Choosing iPhone is the natural option for good PR or awards material. We build apps and games for iPhone and any other smartphones</p>
<p><strong>Build a strategy</strong></p>
<p>Want to understand mobile better, then consider how ‘mobile’ fits in your marketing mix. Could you get better PR? Leverage a viral campaign? Link mobile to your social media approach? Or want smartphone users to find your brand. We then suggest you build a mobile website and maybe build an app too.</p>
<p><strong>Do something</strong></p>
<p>Yes actually, doing something is a strategy – build a mobile friendly site, build an app and start to learn from them. Stay motivated and maybe expect the same results as the early web pioneers. Once you’ve done something you’ll still need to promote it.</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Strategi Marketing Dan Promosi : Pentingnya Mengenali Motif Pembelian Masyarakat]]></title>
<link>http://ranggachan.wordpress.com/2009/11/07/strategi-marketing-dan-promosi-pentingnya-mengenali-motif-pembelian-masyarakat/</link>
<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 19:21:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>ranggachan</dc:creator>
<guid>http://ranggachan.wordpress.com/2009/11/07/strategi-marketing-dan-promosi-pentingnya-mengenali-motif-pembelian-masyarakat/</guid>
<description><![CDATA[Strategi marketing, menjadi materi yang paling diiginkan menurut data survey blog ini. Secara umum s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a title="Marketing" href="http://ipan.web.id/category/marketing/" target="_blank">Strategi marketing</a>, menjadi materi yang paling diiginkan menurut data survey blog ini. Secara umum <a title="Strategi Marketing" href="http://ipan.web.id/category/marketig-dasar/" target="_blank">strategi marketing</a> harus dilandasi dari pemahaman manajer marketing, direktur pemasaran atau CEO akan arti pentinya motif pembelian seseorang terhadap produk atau layanan, karena motif tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan implementasi strategi marketing baik saat kegiatan produksi/pemasaran reguler/rutin  maupun isedentil misal ketika promosi, event, sponsorship dll.</p>
<p>Secara mendasar AH. Maslow, USA, telah menyusun sebuah hirarki keinginan manusia dalam 5 tingkatan:</p>
<p><strong>Fisik (Biologis)</strong><br />
1. Keinginan fisiologis (makan, minum, seks, dsb)<br />
2. Keinginan selamat (keamanan, proteksi, dan stabilitas keluarga)</p>
<p><strong>Sosial</strong><br />
3. Keinginan milik dan kecintaan (sebagai anggota kelompok, pengakuan dan kesenangan)<br />
4. Keinginan akan penghargaan (reputasi, prestise, kehormatan, dan kedudukan)</p>
<p><strong>Keterlibatan diri</strong><br />
5. Keinginan akan kenyataan diri (penyelesaian sendiri, dan melakukan apa yang cocok)</p>
<p>A. H. Maslow menggambarkan bahwa  keinginan utama manusia  berada pada tingkatan pertama, yaitu <strong>keinginan fisiologis</strong>, setelah keinginan pertama terpenuhi barulah  menginjak pada keinginan kedua yaitu <strong>Keselamatan</strong>, proses ini berjalan terus menerus sampai keinginan naomor lima, <strong>Keinginan dan kenyataan diri.</strong><br />
Memahami motif mendasar di atas sangat penting apalagi ditunjang dengan memperdalam informasi akan motivasinya syukur-syukur dengan riset motivasi, untuk memprediksi perilaku konsumen.<br />
Aplikasi dari Motif tersebut saya uraikan  dengan bahasa yang ringan dan awam:</p>
<p>Saya ambil contoh, anda seorang manajer pemasaran sebuah Agen Motor, selain anda ditarget dalam penjualan setiap bulan tentu anda juga harus memahami apa yang dibalik motif pemilihan pembelian motor tersebut, misal asuransi kehilangan, garansi 3 tahun, jaminan harga penjualan bekasnya tinggi, dll. Jika dikaitkan dengan teori Maslow maka motif pemilihan tersebut melambangan unsur fisik, yaitu tingkatan nomor 2, yaitu <strong>Keinginan selamat (keamanan, proteksi)</strong>.   Namun sebelum itu  Anda harus menentukan  motif sebelumnya, yaitu nomor 1, yaitu  <strong>Keinginan Fisiologis, </strong>misal pelanggan ternyata belum mampu membeli karena  belum cukup tabungan, karena beberapa faktor yang untuk memenuhi Keinginan Fisiologisnya, misal Makan, Pernikahan dll.  Sehingga tentu anda harus  jeli tawarkan kan dulu kemudahan dalam proses pembelian yang tidak  mengganggu motif pertama, misal kredit yang lunak, ringan atau DP yang ringan.  Tidak hanya sampai di situ, kemudahan dalam aspek administrasi dan jaminan dipermudah,juga sistem anter jemput, sampai ke pengurusan plat nomor, STNK dll. Agar konsumen tetap bisa mencari/memenuhi kebutuhan makan dan minumnya, namun juga tetap mampu membeli motor dengan tidak perlu repot dan nyaman “tapi tetap aman dan berasuransi” . Sehingga mungkin perusahaan-perusahaan  pesaing lain akan bertanya-tanya , kenapa yah banyak masyarakat membeli motor di perusahaan Anda yah, padahal motornya sama? DI kota saya ada loh dealer motor Honda yang laris banget, bikin ngiri dealer lainnya.</p>
<p>Contoh lain adalah, ketika anda seorang manajer pemasaran dalam bisnis atau wirausaha bidang web development/web design, maka tentu anda harus menentukan aspek apa saja yang diberikan ke konsumen selain web itu sendiri sebagai produk atau layanan anda, misal jaminan keamanan dari hacking, hosting yang stabil, jaminan garansi backup data, dll.  Namun itu baru menjawab Keinginan nomor 2. Untuk menjawab Keinginan nomor satu misal, konsumen tidak harus membayar hosting dalam 1 tahun di depan, misal menjadi bulanan, 3 bulanan, 6 bulanan, berilah kemudahan untuk meringkankan aspek motif 1 dan tetap bertransaksi karena motif  ke 2.</p>
<p>Sehingga tuntutannya adalah motif membeli dapat dikaitkan dengan hirarki keiginan manusia secara bertingkat, silahkan anda tentukan. Ketika anda ingin memberikan bonus, hadiah, reward SDM, maka  <strong>A.H Maslow </strong>telah memberikan gambarannya, tinggal anda memperdalam dengan riset anda.</p>
<p>Jangan lupa lakukanlah evaluasi secara rutin terhadap implementasi konsep pemasaran dengan motif pembelian di atas, dan jangan lupa “action”, lakukan dan lakukan . Karena semua ilmu, petunjuk, strategi, panduan yang benar tidak akan ada gunanya kalau anda tidak cepat-cepat melangkah dan berdiam diri.</p>
<div>
<div>
<p>link :</p>
<p>http://ipan.web.id/strategi-marketing-penting-nya-mengenali-motif-pembelian-masyarakat/</p>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengenal Teori Motivasi]]></title>
<link>http://ranggachan.wordpress.com/2009/11/07/mengenal-teori-motivasi/</link>
<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 19:09:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>ranggachan</dc:creator>
<guid>http://ranggachan.wordpress.com/2009/11/07/mengenal-teori-motivasi/</guid>
<description><![CDATA[Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara la]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">
<p id="main-title">Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain :</p>
<p><strong>1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)</strong></p>
<p>Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H.Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu :</p>
<ul>
<li> Fisiologis</li>
<li> Keamanan, keselamatan dan perlindungan</li>
<li> Sosial, kasih sayang, rasa dimiliki</li>
<li> Penghargaan, rasa hormat internal seperti harga diri, prestasi</li>
<li> Aktualisasi diri, dorongan untuk menjadi apa yang mampu ia menjadi.</li>
</ul>
<p>Menurut maslow, jika seorang pimpinan ingin memotivasi seseorang, maka ia perlu memahami sedang berada pada anak tangga manakah posisi bawahan dan memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itu atau kebutuhan dia atas tingkat itu.</p>
<p><strong>2. Teori Motivasi X dan Y</strong></p>
<p>Teori ini dikemukakan oleh Douglas McGregor yang menyatakan bahwa dua pandangan yang jelas berbeda mengenai manusia, pada dasarnya satu negatif (teori X) yang mengandaikan bahwa kebutuhan order rendah mendominasi individu, dan satu lagi positif (teori Y) bahwa kebutuhan order tinggi mendominasi individu.</p>
<p><strong>3. Teori Motivasi &#8211; Higiene</strong></p>
<p>Dikemukakan oleh psikolog Frederick Herzberg, yang mengembangkan teori kepuasan yang disebut teori dua faktor tentang motivasi. Dua faktor itu dinamakan faktor yang membuat orang merasa tidak puas atau faktor-faktor motivator iklim baik atau ekstrinsik-intrinsik tergantung dari orang yang membahas teori tersebut. Faktor-faktor dari rangkaian ini disebut pemuas atau motivator yang meliputi:</p>
<ul>
<li>- prestasi (achievement)</li>
<li>- Pengakuan (recognition)</li>
<li>- Tanggung Jawab (responsibility)</li>
<li>- Kemajuan (advancement)</li>
<li>- Pekerjaan itu sendiri ( the work itself)</li>
<li>- Kemungkinan berkembang (the possibility of growth)</li>
</ul>
<p><strong>4. Teori Motivasi kebutuhan McClelland</strong></p>
<p>Teori ini memfokuskan pada tiga kebutuhan, yaitu :</p>
<ul>
<li>- prestasi (achievement)</li>
<li>- Kekuasaan (power)</li>
<li>- Afiliasi (pertalian)</li>
</ul>
<p><strong>5. Teori Motivasi Harapan &#8211; Victor Vroom</strong></p>
<p>Teori ini berargumen bahwa kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dengan suatu cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu keluaran tertentu, dan pada daya tarik dari keluaran bagi individu tersebut.</p>
<p>Teori pengharapan mengatakan seorang karyawan dimotivasi untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia meyakini upaya akan menghantarkan ke suatu penilaian kinerja yang baik, suatu penilaian yang baik akan mendorong ganjaran-ganjaran organisasional, seperti bonus, kenaikan gaji, atau promosi dan ganjaran itu akan memuaskan tujuan pribadi karyawan tersebut.</p>
<p><strong>6. Teori Motivasi Keadilan</strong></p>
<p>Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa orang-orang dimotivasi oleh keinginan untuk diperlakukan secara adil dalam pekerjaan. Individu bekerja untuk mendapat tukaran imbalan dari organisasi</p>
<p><strong>7. Reinforcement theory</strong></p>
<p>Teori motivasi ini tidak menggunakan konsep suatu motif atau proses motivasi. Sebaliknya teori ini menjelaskan bagaimana konsekuensi perilaku dimasa yang lalu mempengaruhi tindakan dimasa yang akan datang dalam proses pembelajaran.</p>
<p>Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu, maka akan banyak menentukan  kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks <span style="color:#000000;">belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.</span></p>
<p>http://www.anneahira.com/motivasi/teori-motivasi.htm</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mobile Advertising Apps and Games]]></title>
<link>http://blog.mmchannel.com/2009/11/06/mobile-advertising-apps-and-games/</link>
<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 20:22:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>Damien</dc:creator>
<guid>http://blog.mmchannel.com/2009/11/06/mobile-advertising-apps-and-games/</guid>
<description><![CDATA[Mobile games provide media companies with an effective way to promote digital content, products and ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Mobile games provide media companies with an effective way to promote digital content, products and brands to vital segments of their base. </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Advergaming-on-the-fly makes it easy to develop your own game. With the net result of boosting brand impact from unique and engaging mobile game experiences.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&#160;</p>
<p>Games are a rapidly developing segment of the global mobile market. The impact from iPhone and improved handset capabilities mark an important turning point. This means more people buying smartphones or feature-phones.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Mobile has become a way to express your personality and lifestyle and more importantly to provide entertainment when hanging out with friends, waiting around or travelling. Advertisers and agencies benefit from advergaming with effective, measurable and non-intrusive solutions to connect with their audience when they are immerse in mobile leisure.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Mobile advergaming will&#8230;</p>
<p>-        Complement your advertising scope with a new medium with penetration indexes above other media like TV or radio.</p>
<p>-        Allow you to interact with the user: making phone calls, participate in a ranking online, send SMS or collect data.</p>
<p>-        Create advertising mixed with entertainment, as the advertiser&#8217;s brand appears throughout the game</p>
<p>-        Create a community around the brand, shared and connected with main social networks such Facebook.</p>
<p>&#160;</p>
<p>mmCHANNEL and its sister company Unkasoft are experienced partners for helping you to build your mobile apps, games or website. We’ve worked with over 100 household brands and their ad and creative agencies.</p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=Z6YyaegHfF4">Watch our short clip on Mobile Advergaming</a></p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/Z6YyaegHfF4&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/Z6YyaegHfF4&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Update your marketing &amp; comms strategy for mobile - what to do?]]></title>
<link>http://blog.mmchannel.com/2009/11/06/update-your-marketing-comms-strategy-for-mobile-what-to-do/</link>
<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 20:16:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>Damien</dc:creator>
<guid>http://blog.mmchannel.com/2009/11/06/update-your-marketing-comms-strategy-for-mobile-what-to-do/</guid>
<description><![CDATA[Should you be worried that you don’t have an iPhone app? Do you know if you’re website works on a mo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Should you be worried that you don’t have an iPhone app? Do you know if you’re website works on a mobile? what about mobile SEO? It is very important for CEO’s and CMO’s to add mobile to their communications and marketing strategy.</strong></p>
<p>The fact that most companies have yet to build a mobile website shows you are not alone and many companies want to know what they should do first. Build an app. Build a mobile strategy or do something. Considering each three …</p>
<p><strong>Build an app </strong></p>
<p>Answer Yes to these questions and you’ll know that building an app is right for you:</p>
<ol>
<li>Is your company always first to market?</li>
<li>Do you want to get some PR effect?</li>
<li>Interested in winning a Mobile or Advertising industry Award</li>
</ol>
<p>Choosing iPhone is the natural option for good PR or awards material. We build apps and games for iPhone and any other smartphones</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Build a strategy</strong></p>
<p>Want to understand mobile better, then consider how ‘mobile’ fits in your marketing mix. Could you get better PR? Leverage a viral campaign? Link mobile to your social media approach? Or want smartphone users to find your brand. We then suggest you build a mobile website and maybe build an app too.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Do something</strong></p>
<p>Yes actually, doing something is a strategy – build a mobile friendly site, build an app and start to learn from them. Stay motivated and maybe expect the same results as the early web pioneers. Once you’ve done something you’ll still need to promote it.</p>
<p>&#160;</p>
<p>For your next discussion on mobile advertising, apps and strategy – give mmCHANNEL a call. We’ll be happy to setup a workshop to help you get mobile.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Early Christmas lights: the recession's impact on holiday marketing]]></title>
<link>http://vantagepointblog.wordpress.com/2009/11/04/early-christmas-lights-the-recessions-impact-on-holiday-marketing/</link>
<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 19:37:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kalyn Kinomoto, Public Relations</dc:creator>
<guid>http://vantagepointblog.wordpress.com/2009/11/04/early-christmas-lights-the-recessions-impact-on-holiday-marketing/</guid>
<description><![CDATA[As I was walking through Target last week before Halloween, I was struck with disbelief—shelves were]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-396" title="target_logo" src="http://vantagepointblog.wordpress.com/files/2009/11/target_logo.jpg?w=122" alt="target_logo" width="80" height="99" />As I was walking through Target last week before Halloween, I was struck with disbelief—shelves were alreadystocked full of Christmas merchandise. Really? It wasn&#8217;t even November yet! I went there to try and find a happy medium of Halloween and Thanksgiving merchandise, but instead of finding jack o’-lanterns and turkeys, I saw lots of trees and lights. Now I realize that in order to adequately prepare the house (or my dorm room) for the upcoming holidays, I should plan ahead, but two months ahead? Were retailers selling Christmas merchandise this early last year?</p>
<p><!--more-->This ordeal made me think: How is this helping retailers’ marketing efforts? Is there a correlation in time between the industry’s need to stock shelves and the consumer’s need to purchase?</p>
<p>I read up in the news and found several articles about why retailers are stocking shelves with holiday items sooner than usual. The biggest reason? The recession.</p>
<p>Earlier this month, the National Retail Federation reported that holiday spending is predicted to drop one percent this year. While that decrease may not sound like a lot, when you consider how substantially holiday spending boost retail sales, one percent becomes significant.</p>
<p>So, companies like Target are trying their best to keep consumer spending up while the economy is down—especially as the holiday season approaches. They are stocking shelves early with holiday items to give customers a head-start, and dropping prices up to 50 percent on “Top Holiday Toys” for this year. While these are all elements of the common marketing mix (product, placement, promotion and price) and are done all the time, at Target, they were implemented sooner than usual—at least two weeks earlier than last year, according to a Reuters report.</p>
<p>In a <a href="http://pressroom.target.com/pr/news/seasonal-news/holiday/target-drops-price-on-holiday-toys.aspx" target="_blank">press release about holiday specials</a>, Target announced they’re cutting some toy prices up to 50%, as well as matching in-store prices to those of competitors to provide customers with a “budget friendly solution” to holiday shopping. They are also offering web-exclusive products for the holiday season, free holiday shipping with minimum purchases, as well as <a href="http://www.target.com/Gift-Giving/b/ref=nav_t_spc_14_0/179-2989306-6793438?ie=UTF8&#38;node=3112881#/video//" target="_blank">wish list and Gift Finder tools</a> to aid in customers’ purchasing experiences. All these things are wise moves for Target, and it’s good that they’re continuing to push their marketing strategy amidst the recession.</p>
<p>So while I’ll have to search the end-of-the-aisle clearance shelf for any fall decorations or candy, at least I know I can get a head start and a good deal on my Christmas shopping—if I head over to Target now.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Il filtro antiporno internet Davide 2.0]]></title>
<link>http://antoleo.wordpress.com/2009/11/04/il-filtro-antiporno-internet-davide-2-0/</link>
<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 18:26:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>Leonardo Antonicelli</dc:creator>
<guid>http://antoleo.wordpress.com/2009/11/04/il-filtro-antiporno-internet-davide-2-0/</guid>
<description><![CDATA[Da molti anni collaboro con l&#8217; Associazione Davide Onlus www.davide.it. Conosco personalmente ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Da molti anni collaboro con l&#8217; Associazione <strong>Davide Onlus</strong> <a href="http://www.davide.it/approfondimenti/filtro-antiporno.php" title="filtro antiporno Davide 2.0">www.davide.it</a>. Conosco personalmente Don Ilario ed i suoi ragazzi e tutti gli sforzi che fanno per sostenere il progetto Davide.<br />
Per chi non conoscesse ancora cosa è il filtro Davide 2.0 vi propongo questo filmato tratto da <strong>Tg2 Dossier</strong> di qualche mese fa.<br />&#160;<br />
<span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/tT2IZUrYFzw&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/tT2IZUrYFzw&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span><br />
Ritengo questo progetto molto importante e da padre purtroppo verifico giornalmente che si debba sempre più proteggere i nostri bambini dalle scempiaggini e dai pericoli che affliggono la rete.<br />
Dico purtroppo perchè sono innamorato del mio lavoro e ritengo la rete un enorme potenziale mezzo per l&#8217;umanità, ma come in tutte le cose c&#8217;è sempre il rovescio della medaglia.<br />
Quindi aiuto nel mio piccolo marginalmente il progetto Davide ed attualmente insieme ai ragazzi stiamo studiando come incrementare e migliorare il traffico proveniente dai motori di ricerca. <br />
L&#8217;uso dei filmati postati su YouTube è un ottimo mezzo per promuovere il proprio business ed è uno degli argomenti che maggiormente mi stanno appassionando in questo ultimo periodo.<br />
In un&#8217;appropriata dose di marketing mix e viral marketing, Youtube viene sempre più efficacemente utilizzato dalle aziende per autopromuoversi con bassi investimenti.<br />
In questo caso siamo molto fortunati perchè grazie a Mamma Rai abbiamo a disposizione un filmato con i controfiocchi, ma nella maggior parte dei casi bastano veramente pochi investimenti per creare e montare filmati di discreta fattura e poter aprire sul mondo la  propria impresa.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["En une heure de focus groupe avec 10 de vos clients, j'en connais plus que vous sur votre entreprise"]]></title>
<link>http://lemarketingpourtous.wordpress.com/2009/11/03/en-une-heure-de-focus-groupe-avec-10-de-vos-clients-jen-connais-plus-que-vous-sur-votre-entreprise/</link>
<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 12:42:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>doublexlmarketing</dc:creator>
<guid>http://lemarketingpourtous.wordpress.com/2009/11/03/en-une-heure-de-focus-groupe-avec-10-de-vos-clients-jen-connais-plus-que-vous-sur-votre-entreprise/</guid>
<description><![CDATA[Comme le disait Platon, « On peut en savoir plus sur quelqu&#8217;un en une heure de jeu qu&#8217;en]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Comme le disait Platon, « <em>On peut en savoir plus sur quelqu&#8217;un en une heure de jeu qu&#8217;en une année de conversation</em> ». C’est le principe du Focus Groupe de Double XL : créer un contexte favorable à la collecte d’informations pertinentes et exploitables par les dirigeants de PME.</strong></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Un Focus Groupe ?</strong></p>
<p>&#160;</p>
<p>Cet outil permet de recueillir le point de vue d’un public cible (clients, partenaires, fournisseurs, …) sur une entreprise,  concernant son image, ses produits/services, la qualité, son positionnement ou encore ses prix.</p>
<p>L’outil consiste à réunir différents profils caractéristiques du public cible et à animer un débat basé sur une thématique liée aux besoins en information du dirigeant d’entreprise.</p>
<p>Un Focus Groupe se déroule sur des sessions courtes (2 heures max) avec de petits groupes (10 personnes en moyenne, d’où l’intérêt de cibler les profils de participants).</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Un Focus Groupe, pourquoi ?</strong></p>
<p>&#160;</p>
<p>Le Focus Groupe présente de nombreux avantages, qu’ils soient au niveau de l’entreprise demandeuse qu’à celui de l’organisateur.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Le Focus Groupe permet d’engager son entreprise dans une démarche de qualité et de proximité vis-à-vis des clients. En récoltant les comportements intrinsèques des publics cibles vis-à-vis de l’entreprise, cette dernière peut agir sur son offre, sa communication ou encore sa stratégie dans le but de mieux répondre aux attentes du marché.</p>
<p>&#160;</p>
<p>De plus, le Focus Groupe s’avère être un outil simple dans sa mise en place : un fichier client (à jour), un téléphone, des lettres, une salle, un animateur, et le tour est joué. Cela fait du Focus Groupe une solution moins coûteuse et tout aussi pertinente que les études de marché et autres enquêtes de satisfaction. <strong>Il vous permet de confronter l’image que vous avez de votre entreprise avec celle de vos clients.</strong></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Un Focus Groupe, la méthode Double XL !</strong></p>
<p>&#160;</p>
<p>Le Focus Groupe se prête bien à la philosophie que nous entretenons chez Double XL : le Marketing Pour Tous. En parallèle d’un Focus Groupe, nous collectons des informations sur le marché ainsi que sur l’image de l’entreprise en Interne. Cette démarche permet de croiser les visions, d’obtenir l’image réelle de l’entreprise, et de dégager les opportunités de développement.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Pour plus d’informations, n’hésitez pas à consulter notre site Web : <a href="http://www.doublexl.fr/">www.doublexl.fr</a>, ou encore contactez nous par mail <a href="mailto:contact@doublexl.fr">contact@doublexl.fr</a></p>
<p>&#160;</p>
<p>Yoann Dupont – Chargé d’études</p>
<p>Double XL – Conseil en Marketing</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Marketing Ingredients and Giant Purple Dinosaurs]]></title>
<link>http://frankiemarketing.wordpress.com/2009/11/02/marketing-ingredients-and-giant-purple-dinosaurs/</link>
<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 00:22:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>frankie&#39;s marketing</dc:creator>
<guid>http://frankiemarketing.wordpress.com/2009/11/02/marketing-ingredients-and-giant-purple-dinosaurs/</guid>
<description><![CDATA[Marketing Ingredients and Giant Purple Dinosaurs Now that we have an understanding of the components]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;">Marketing Ingredients and Giant Purple Dinosaurs</p>
<p>Now that we have an understanding of the components of the marketing mix and the ingredients involved &#8211; <strong>what do we do now?</strong> Now, it&#8217;s time to put this puppy together and create a focus that makes your customers and prospects feel all warm and fuzzy inside, like a cup of steaming Starbucks white chocolate mocha on the frozen tundra of Lambeau Field.</p>
<p>If not warm and fuzzy, then your customers should stand up and take notice of you like a giant, funny looking, purple dinosaur standing on the street waving a sign to shop or he&#8217;ll eat you.</p>
<p>In examining the ingredients of your marketing mix, cross off those that don&#8217;t apply to you. (See previous post)</p>
<p>Highlight any of the ingredients where you have an advantage. This may be a price advantage over competitors or exemplary service. It could be that your product or service is available in more places than competitors. When doing this, keep your targeted prospective customers in mind.</p>
<p>Underline those components which may not be your advantage.</p>
<p>Let&#8217;s use a mortgage broker as an example:</p>
<p><strong>Competitive Advantages:</strong></p>
<p><span style="color:#993300;">Price &#8211; Packaged pricing advantage (i.e. free appraisal, credit report). </span></p>
<p><span style="color:#993300;">Product &#8211; More mortgage products available than local competitors</span></p>
<p><span style="color:#993300;">Place (Distribution) &#8211; Distribution channels through online loan applications. </span></p>
<p><span style="color:#993300;">Promotion &#8211; No advantage</span></p>
<p><span style="color:#993300;">People &#8211; Connections with top local Realtors</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Areas Without Advantage:</strong></span></p>
<p>Product &#8211; Length of time for loan approval (Service).</p>
<p>Price &#8211; None</p>
<p>Place (Distribution)- Limited local presence</p>
<p>Promotion &#8211; Limited online presence</p>
<p>People &#8211; Lack of connections to lower level Realtors</p>
<p>The next step is to brag! I&#8217;m not kidding. Take your highlighted advantages and write out what it is about these pieces of your business that make you better to do business with. Take your customer profile, your testimonials and see if your advantages match what your customers are saying about you.</p>
<p>Now that your head is like a hot air balloon floating off over the wine country and you&#8217;re thinking your just gonna start writing copy with your fancy dancy bragging, it&#8217;s time to come down to reality.</p>
<p>You do have a good framework from which to work. Take what you&#8217;re written, that customer profile and those testimonials and look for keywords or key phrases. Now you can carefully craft promotional copy that targets your customers, prospects and brags (professionally brags) about your business.</p>
<p>As you write this out, you can see how each ingredient in the marketing mix crosses over and blends together.</p>
<p>Where you have competitive disadvantages, you do not want to ignore those. With these, it&#8217;s imperative you take the necessary time to analyze those disadvantages and craft ways in which you can work them into the advantage part of the marketing mix.</p>
<p>Next up: Crafting  or changing a core message.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Strategie de marketing... de cariera]]></title>
<link>http://reverii.wordpress.com/2009/11/02/strategie-de-marketing-de-cariera-i/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 14:39:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>reverii</dc:creator>
<guid>http://reverii.wordpress.com/2009/11/02/strategie-de-marketing-de-cariera-i/</guid>
<description><![CDATA[In urma cu mai bine de doisprezece ani, studenta fiind, ma angajam, ca asistent de client service, i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[In urma cu mai bine de doisprezece ani, studenta fiind, ma angajam, ca asistent de client service, i]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[El Sistema de Distribución Comercial I]]></title>
<link>http://pegarda.wordpress.com/2009/11/02/el-sistema-de-distribucion-comercial/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 11:10:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>pegarda</dc:creator>
<guid>http://pegarda.wordpress.com/2009/11/02/el-sistema-de-distribucion-comercial/</guid>
<description><![CDATA[En el siguiente post, realizaré un desarrllo teórico de como esta configurado el sistema de distribu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[En el siguiente post, realizaré un desarrllo teórico de como esta configurado el sistema de distribu]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cible ou communauté il faut choisir.... ]]></title>
<link>http://blog5eagence.com/2009/11/02/marketing-mix-4c-communaute-client-cible/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 09:04:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>5eagence</dc:creator>
<guid>http://blog5eagence.com/2009/11/02/marketing-mix-4c-communaute-client-cible/</guid>
<description><![CDATA[Je vous ai déja fait cas de notre propre marketing mix des 4C pour Concept, Conversation, Communauté]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-327" title="communaute-web-centree-sur-bonnes-causes-L-1" src="http://5eagence.wordpress.com/files/2009/11/communaute-web-centree-sur-bonnes-causes-l-1.jpeg" alt="communaute-web-centree-sur-bonnes-causes-L-1" width="366" height="274" /></p>
<p style="text-align:justify;">Je vous ai déja fait cas de notre propre <em><a title="Marketing mix 4C 5e Agence" href="http://blog5eagence.com/2009/09/13/le-marketing-mix-4-p-est-il-toujours-dactualite/" target="_self"><em><span style="text-decoration:underline;">marketing mix des 4C pour Concept, Conversation, Communauté et Canaux</span></em></a></em>. Je souhaite aujourd&#8217;hui revenir sur la notion de communauté et des deux spécificités qui en découlent.</p>
<p style="text-align:justify;">La première concerne le fait d’avoir délibérément choisi d’inclure dans la méthodologie de notre mix le client et les cibles marketing.</p>
<p style="text-align:justify;">La seconde réside justement dans le fait de les considérer comme des communautés et non pas de les désigner comme des cibles ou des clients, ce qui du point de vue de la sémantique &#8211; et donc de l&#8217;esprit ! n&#8217;est pas une simple posture de mode !</p>
<p style="text-align:justify;">Ces deux spécificités sont finalement le fruit d&#8217;une même nécessité, celle de la cohérence par rapport à deux constats, celui de l’individualisation et celui du bouche à oreille digitalisé.</p>
<p style="text-align:justify;">Celui de l&#8217;individualisation tout d’abord, avec des dispositifs marketing qui tournent tous autour du client afin de le comprendre, d’attirer son attention, de le séduire, de le satisfaire, et surtout de le garder. C&#8217;est une démarche tellement nécessaire qu&#8217;elle commencé par conduire les marchés à fournir aux clients quelques solutions puis à en développer d’encore plus nombreuses, pour se diriger désormais vers <span style="text-decoration:underline;">sa propre solution</span> &#8230; La communication commerciale est déjà trés avancée dans ce domaine et nulle entreprise ne se passe désormais d&#8217;une base de donnée marketing qui permette d&#8217;individualiser ses messages et d&#8217;analyser le comportement de ses clients.</p>
<p style="text-align:justify;">Le deuxième constat concerne le bouche à oreille digitalisé. En 15 ans, les réseaux se sont installés, fournissant ainsi aux clients la possibilité de s&#8217;informer, de communiquer comme jamais. Dans plus de 65% des cas, ils consomment ou ne consomment pas en se connectant en communautés de toutes natures (familiales, amicales, experts, utilisateurs, lecteurs) qui échangent entre elles sur tous sujets qu’ils soient politiques, technologiques, philosophiques ou liés à la consommation.  Désormais ces communautés se retrouvent dans une nouvelle forme de collaboration/compétition sur la qualité de leurs échanges, la pertinence du fond, leur accessibilité, et surtout du nombre d&#8217;individus les rejoignant ou consultant leurs contributions.</p>
<p style="text-align:justify;">Mais ce n&#8217;est finalement que l&#8217;évolution la plus récente et la plus sophistiquée de l&#8217;élément le plus discriminant pour le succès d&#8217;un marketing de bouche à oreille (BAO). C&#8217;est de tout temps que les avis de sa famille, de ses amis, de ses collègues de travail sont décisifs sur l&#8217;opinion à l&#8217;égard d&#8217;une solution ou de l’achat effectif d’un produit. Une réalité communautaire qui précède largement celle du web.</p>
<p style="text-align:justify;">En conséquence, comment pourrions-nous faire acte de cohérence méthodologique sans inclure plus immédiatement le client dans le mix marketing (un client, un produit, un profil en base donnée) en le regardant sous l&#8217;angle de ses communautés ?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">David Siarri, Président 5e Agence</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Marketing Mix]]></title>
<link>http://floweronthefly.wordpress.com/2009/10/31/marketing-mix/</link>
<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 11:59:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>floweronthefly</dc:creator>
<guid>http://floweronthefly.wordpress.com/2009/10/31/marketing-mix/</guid>
<description><![CDATA[Otro error frecuente es crear un gran producto sin pensar en las necesidades de marketing mix. Es de]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Otro error frecuente es <strong>crear un gran producto sin pensar en las necesidades de <a title="Más información en Wikipedia" href="http://es.wikipedia.org/wiki/Mezcla_de_mercadotecnia" target="_blank">marketing mix</a></strong>. Es decir, las famosas cuatro “p”: Producto, Promoción, Precio y “Plaza”.</p>
<p>En estos dias estare subiendo el analisis basico asociado al lanzamiento de un producto iphone.</p>
<p>by <a href="http://josiasdelaespada.wordpress.com/2009/10/09/errores-frecuentes-del-emprendedor-novel/">http://josiasdelaespada.wordpress.com/2009/10/09/errores-frecuentes-del-emprendedor-novel/</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
