<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>masyarakat-adat &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/masyarakat-adat/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "masyarakat-adat"</description>
	<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 19:39:10 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[MERDEKA ATAU MATI]]></title>
<link>http://borneojarjua2008.wordpress.com/2009/08/17/merdeka-atau-mati/</link>
<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 02:45:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>HE. Benyamine</dc:creator>
<guid>http://borneojarjua2008.wordpress.com/2009/08/17/merdeka-atau-mati/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: HE. Benyamine Tekad yang membaja dalam memperjuangkan kemerdekaan adalah wujud betapa sangat p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: HE. Benyamine Tekad yang membaja dalam memperjuangkan kemerdekaan adalah wujud betapa sangat p]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MEMBAKAR DENGAN PENGETAHUAN ]]></title>
<link>http://borneojarjua2008.wordpress.com/2009/08/15/membakar-dengan-pengetahuan/</link>
<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 16:05:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>HE. Benyamine</dc:creator>
<guid>http://borneojarjua2008.wordpress.com/2009/08/15/membakar-dengan-pengetahuan/</guid>
<description><![CDATA[Kebakaran Hutan Dan Lahan Stigma Masyarakat Lokal Oleh: HE. Benyamine Musim kemarau telah tiba, yang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kebakaran Hutan Dan Lahan Stigma Masyarakat Lokal Oleh: HE. Benyamine Musim kemarau telah tiba, yang]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KEBAKARAN HUTAN ATAU BENCANA TERENCANA]]></title>
<link>http://borneojarjua2008.wordpress.com/2009/08/01/kebakaran-hutan-atau-bencana-terencana/</link>
<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 14:54:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>HE. Benyamine</dc:creator>
<guid>http://borneojarjua2008.wordpress.com/2009/08/01/kebakaran-hutan-atau-bencana-terencana/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: HE. Benyamine Kebakaran hutan dan lahan sangat mengkhawatirkan dan sangat merugikan dalam berb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: HE. Benyamine Kebakaran hutan dan lahan sangat mengkhawatirkan dan sangat merugikan dalam berb]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berjalan di Kalimantan Barat]]></title>
<link>http://yancearizona.wordpress.com/2009/07/27/berjalan-di-kalimantan-barat/</link>
<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 10:05:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yance Arizona</dc:creator>
<guid>http://yancearizona.wordpress.com/2009/07/27/berjalan-di-kalimantan-barat/</guid>
<description><![CDATA[Sudah lama tidak ngeblog. Tulisan terakhir tentang Peluncuran Buku Green Constitution lebih dari dua]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sudah lama tidak ngeblog. Tulisan terakhir tentang Peluncuran Buku Green Constitution lebih dari dua bulan yang lalu. Memang ada dua puisi setelah ulasan bedah buku Prof. Jimly itu. Tapi intensitas rata-rata 3 tulisan perbulan di blog sebelumnya mulai berkurang. Harus diakui bahwa facebook adalah salah satu penyebab menurunnya intensitas itu. Meskipun itu bukan penyebab utama dan satu-satunya. Kali ini ingin mencoba menulis lagi di blog.</p>
<p> </p>
<p>Tidak menulis di blog bukan berarti melewatkan aktivitas menulis. Dalam dua bulan terakhir ada satu tulisan yang dikirim untuk jurnal, mengadakan short research di Filipina lalu membuat laporan penelitian, dan ada beberapa outline tulisan. Nasib tidak baik ketika flashdisc rusak. Catatan perjalanan Filipina yang sengaja belum diupload hilang. Padahal sudah menulis belasan halaman pengalaman perjalanan di Filipina yang sangat penting. Kelak mungkin akan mengingat kembali dan menuliskannya.</p>
<p> </p>
<p>Kali ini ke Kalimantan Barat. Catatan perjalanan harus dimulai pada hari pertama. Hari ini, senin 27 Juli 2009. Ini kali keempat ke Kalimantan Barat. Daerah yang akan dituju adalah Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS). Aku jadi mengingat perjalanan pertama kali ke Kalimantan Barat lebih dari dua tahun yang lalu. Saat itu ada kegiatan Pelatihan Hukum Kritis di Kabupaten Sanggau untuk pegawai biro hukum se Kalimantan Barat. HuMa bekerjasama dengan LBBT dan Pemkab Sanggau menghadirkan Prof. Soetandyo Wignjosoebroto, Dr. Sidharta dan Bivitri Susanti. Itu kali pertama aku ikut dalam aktivitas HuMa di daerah.</p>
<p> </p>
<p>Ada cerita yang agak lucu waktu itu ketika salah satu perserta pelatihan mengatakan bahwa ”hukum kita memang sedang kritis sekarang. Sehingga memang perlu diadakan pelatihan hukum kritis.” Kalimat itu menggelitik karena kata ”kritis” yang dimaksudnya bukanlah cara berpikir argumentatif yang biasanya anti kemapanan, tapi yang ia maksud dengan ”kritis” adalah ”gawat”. Dengan kata lain, karena hukum kita sudah gawat, maka perlu diadakan pelatihan hukum untuk mengatasi kegawatan itu.. Ungkapan menggelitik itu kemudian sering menjadi bahan kelakar oleh teman-teman. Terlepas dari itu, sebenarnya adalah langkah penting ketika para pegawai hukum mau terlibat mengadakan dan menjadi peserta pelatihan demikian. Karena pembuatan hukum pada level lokal memang dituntut lebih banyak untuk berinteraksi dengan dinamika masyarakat dalam level yang tidak teralalu luas. Pembaruan hukum pada level lokal adalah salah satu arena penting pada era desentralisasi.</p>
<p> </p>
<p>Setelah itu, suatu kali juga kembali ke Kalimantan Barat. Waktu itu hanya di Pontianak dalam acara konsultasi publik perubahan UU Kehutanan. Sehari setelah acara itu adalah Hari Raya Idul Adha. Aku pernah mengalami Idul Adha di bagian barat Pulau Borneo ini. Sungguh tidak mudah mencari Masjid waktu itu untuk ikut sholat Idul Adha. Akupun mendapatkan Masjid terlambat ketika Sholat Id sudah dilangsungkan. Karena terlambat alias <em>masbuk,</em> banyak orang di Masjid memandang dengan sudut matanya. Aku tidak begitu mempedulikan karena aku tidak bermaksud terlambat.</p>
<p> </p>
<p>Kali ini aku datang pagi-pagi. Naik Pesawat Mandala. Aku baru tahu bahwa Terminal Tiga Bandara Soekarno Hatta sudah mulai beroperasi. Tempat keberangkatan dan kedatangan terminal 3 ini agak luas dan pintu masuk menuju pesawat hanya ada satu dengan ruang tunggu yang besar. Kalau tidak salah, terminal 3 inilah yang akan dijadikan khusus untuk kedatangan TKI dari luar negeri yang biasanya pada waktu mudik lebaran akan bejubun banyaknya. Lalu berangkat dan tiba di Pontianak.</p>
<p> </p>
<p>Naik taxi. Seperti sering dilakukan oleh supir dan penumpang, aku dan sang supir berbincang-bincang. Supir ini tidak begitu tua, dia bercerita kalau dia datang dari Sumatera, Lampung Selatan katanya. Aku berkata bahwa Ibu ku juga dari sana, tapi Lampung Utara. Lalu berceritalah kami tentang Lampung. Dahulunya supir taxi muda ini ke Kalimantan Barat untuk menjadi atlet angkat besi. Dia diajak oleh pelatih angkat besi dari Lampung yang melatih di Kalimantan Barat. Tidak salah. Lengan supir ini begitu berotot. 3 kali dia mendapat medali emas Porda. Pernah ikut turnamen nasional dan sekali turnamen internasional. Seorang atlet yang kemudian menjadi supir. Aku jadi bertanya dalam hati, dimana letak mobilisasi sosial bagi atlet ya? Apakah negeri ini sudah memikirkan atlet-atletnya. Banyak juga cerita atlet terkenal yang kemudian nasibnya turun drastis bahkan menuju titik nadir. Elias Pical, petinju yang tanggal lahirnya sama dengan ku, mungkin punya cerita juga tentang itu. Demikian juga dengan atlet bulutangkis dan sepak bola negeri ini. Yah! Cukup disinilah bercerita tentang atlet dan silahkan lanjutkan sendiri analisannya.</p>
<p> </p>
<p>Bagi saya seorang muslim, soal makanan di sini juga harus agak awas. Tidak mudah mengetahui suatu makanan halal atau tidak. Oleh karena itu perlu bertanya dan menghindari yang tidak halal. Ngomong-ngomong soal bertanya, Aku jadi ingat dengan Pak Gunawan Wiradi dalam acara workshop yang diadakan Lingkar Belajar Agraria (Libra) hari sabtu dua hari yang lalu. Pak Wiradi waktu itu menekankan soal pertanyaan penelitian (<em>research question</em>) dalam suatu proposal penelitian. Beliau bercerita bahwa pertanyaan penelitian harus dibangun berdasarkan fakta-fakta yang ada tentang objek yang akan diteliti. Fakta-fakta itu bisa dilihat dari dokumen atau tulisan yang penah ada terkait hal yang akan diteliti. Pertanyaan itu harus bunya basis fakta. Soal Pertanyaan Penelitian ini beliau berkata dengan mempelesatkan pepatah kuno negeri ini: <em>Malu bertanya sesat di jalan. Sesat bertanya malu di jalan!</em> Tidak banyak orang yang punya keahlian memelintir pepatah menjadi pepatah baru yang memiliki makna baru yang tidak kalah pentingnya.</p>
<p> </p>
<p>Kembali ke soal makan. Siang ini aku makan di Rumah Makan Padang. Menu yang aku pilih sop iga sapi asin. Memang sangat asin. Sebelum memesan aku bertanya, apakah itu benar-benar dari sapi. Setelah makan, pergi mencari kain sarung. Lupa bawa sarung. Padahal sarung barangkali salah satu kelengkapan orang-orang perantau. Dengan sarung, maka semakin mudah memasuki masjid. Masjid biasanya menjadi tujuan perantua yang tidak punya sanak famili atau kenalan di negeri rantau. Mencari sarung naik motor. Ditengah perjalanan hari hujan. Tepatnya hujan panas. Aku bertanya pada teman, bukankah saat ini belum musim hujan? Iya Benar, begitu jawab teman. Ah, aku tidak harus selalu mengaitkan fenomena hujan dengan perubahan iklim. Tidak boleh terlalu dini. Pengetahuan waktu sekolah dulu, musim hujan selalu datang pada bulan yang berakhiran ”ber” seperti september, oktober, november dan desember. Karena itulah siapkan ember.</p>
<p> </p>
<p>Danau Sentarum yang akan dituju kali ini terkait dengan perubahan iklim. Pada bulan ini, danau itu masih kering, bukan berarti tidak ada air disana. Danau Sentarum adalah hutan yang digenangi air. Pada musim kemarau air susut dan hutan semakin luas. Sedangkan pada musim hujan hutan ”tertimbun” air. Tentu ini unik, menantang, dan yakin akan banyak pelajaran dan pengalaman yang dialami disana. Sore ini aku berangkat ke sana. Huf, naik bus, lebih tepatnya minibus, dengan kelas ekonomi. Perjalanan sekitar 700 km dari Pontianak ini akan ditempuh kurang lebih sehari semalam. Itupun baru akan sampai di Putusibau, pusat pemerintahan Kabupaten Kapuas Hulu. Dari sana masih sekitar 100 km lagi ke Danau Sentarum. Mungkin naik bus, ojek atau jet. Itulah menariknya.</p>
<p> </p>
<p>Perjalanan kali ini untuk belajar bagaimana masyarakat mengelola hutan dan sumberdaya alam dengan aturan adat. Juga melihat bagaimana inisiatif dan tanggapan masyarakat dalam isu dan skema perubahan iklim yang akan diterapkan di sana. Danau Sentarum yang merupakan lahan gambut unik punya daya besar untuk menyerap dan menyimpan karbon. Karbon menjadi property baru dalam perundingan-perundingan perubahan iklim. Namun, harus juga dilihat pada tataran lokal, bagaimana masyarakat melihat karbon, iklim dan tekanan-tekanan proyek-proyek perubahan iklim yang sedang mereka alami. Apakah hak masyarkat atas sumberdaya alam diperhatikan dalam upaya-upaya perubahan iklim? Seharunya Ya. Masyarakat yang ratusan tahun hidup dengan alam bukanlah ancaman bagi alam. Ancaman kelestarian lingkungan seringkali datang dari luar, dari perusahaan tambang dan konsesi hutan. Sedangkan pengabaian hak masyarakat juga sering datang dari porgram-program konservasi, dan bisa jadi dari skema-skema mitigasi perubahan iklim yang sedang diujicoba. Perjalananan kali ini mencoba menyusun puzzle untuk mencari jawaban berbasis hak!</p>
<p> </p>
<p>Tidak terasa sudah 2,5 halaman dalam satu jam ini. Semoga ini pertanda semangat !</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pernyataan Oslo mengenai Hutan Tropis, Masyarakat Adat dan Perubahan Iklim]]></title>
<link>http://walhijabar.wordpress.com/2009/07/15/pernyataan-oslo-mengenai-hutan-tropis-masyarakat-adat-dan-perubahan-iklim/</link>
<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 03:14:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>walhijabar</dc:creator>
<guid>http://walhijabar.wordpress.com/2009/07/15/pernyataan-oslo-mengenai-hutan-tropis-masyarakat-adat-dan-perubahan-iklim/</guid>
<description><![CDATA[Lebih dari seratus peserta berasal dari 14 negara yang mewakili 50 organisasi suku asli dan masyarak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Lebih dari seratus peserta berasal dari 14 negara yang mewakili 50 organisasi suku asli dan masyarak]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sejengkal Tanah Setetes Keringat Segenggam Harapan]]></title>
<link>http://intsia.wordpress.com/2009/07/08/sejengkal-tanah-setetes-keringat-segenggam-harapan/</link>
<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 10:33:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>intsia</dc:creator>
<guid>http://intsia.wordpress.com/2009/07/08/sejengkal-tanah-setetes-keringat-segenggam-harapan/</guid>
<description><![CDATA[Tanah bagi suku Irarutu, memiliki arti kehidupan. Tanah mencerminkan kekuasaan, kewenangan, identita]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tanah bagi suku Irarutu, memiliki arti kehidupan. Tanah mencerminkan kekuasaan, kewenangan, identita]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[LARANGAN PEMBAKARAN LAHAN, TRAGEDI PENGETAHUAN]]></title>
<link>http://borneojarjua2008.wordpress.com/2009/06/25/larangan-pembakaran-lahan-tragedi-pengetahuan/</link>
<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 06:42:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>HE. Benyamine</dc:creator>
<guid>http://borneojarjua2008.wordpress.com/2009/06/25/larangan-pembakaran-lahan-tragedi-pengetahuan/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: HE. Benyamine Pengolahan lahan dilarang menggunakan cara pembakaran. Larangan ini berlaku bagi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: HE. Benyamine Pengolahan lahan dilarang menggunakan cara pembakaran. Larangan ini berlaku bagi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membangkitkan Kembali Kesadaran Kolektif Akan Nilai dan Norma Dasar Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah]]></title>
<link>http://masoedabidin.wordpress.com/2009/06/20/membangkitkan-kembali-kesadaran-kolektif-akan-nilai-dan-norma-dasar-adat-basandi-syarak-syarak-basandi-kitabullah/</link>
<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 05:25:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://masoedabidin.wordpress.com/2009/06/20/membangkitkan-kembali-kesadaran-kolektif-akan-nilai-dan-norma-dasar-adat-basandi-syarak-syarak-basandi-kitabullah/</guid>
<description><![CDATA[ADAT BASANDI SYARAK (ABS), SYARAK BASANDI KITABULLAH (SBK)  Membangkitkan Kembali Kesadaran Kolektif]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;">ADAT BASANDI SYARAK (ABS), SYARAK BASANDI KITABULLAH (SBK)</p>
<p align="center"> Membangkitkan Kembali Kesadaran Kolektif Akan Nilai dan Norma Dasar <em>Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah</em></p>
<p align="center">Untuk Membangun Manusia dan Masyarakat Minangkabau</p>
<p align="center">Yang Unggul Dan Tercerahkan</p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> <img class="aligncenter size-full wp-image-595" title="Puncak gonjong Rumah Gadang" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/puncak-gonjong-rumah-gadang.jpg" alt="Puncak gonjong Rumah Gadang" width="403" height="604" /></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>ABS SBK Merupakan Batu Pojok Bangunan Masyarakat Minangkabau Yang </strong>(Dulu  Pernah)<strong> Unggul Dan Tercerahkan</strong></p>
<p><em>Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah</em> merupakan hasil kesepakatan   (Piagam <em>Sumpah Satie Bukik Marapalam </em>di awal abad ke 19) dari  dua arus besar (”<em>main-streams</em>”) Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) Masyarakat Minangkabau yang sempat melewati konflik bersenjata yang melelahkan.</p>
<p>Sejarah membuktikan, kesepakatan yang bijak itu telah memberikan peluang tumbuhnya beberapa <img class="alignleft size-full wp-image-550" title="(JPEG Image, 227×269 pixels) Buya" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/jpeg-image-227c397269-pixels-buya.jpeg" alt="(JPEG Image, 227×269 pixels) Buya" width="227" height="269" />angkatan ”generasi emas” selama lebih satu abad berikutnya. Dalam periode keemasan itu, Minangkabau dikenal sebagai lumbung penghasil tokoh dan pemimpin, baik dari kalangan  alim ulama ”<em>suluah bendang anak nagari</em>” maupun ”<em>cadiak pandai</em>” (cendekiawan pemikir dan pemimpin sosial politik) yang berkiprah di tataran nusantara serta dunia internasional. </p>
<p>Mereka merupakan ujung tombak kebangkitan budaya dan politik bangsa Indonesia pada awal abad ke 20, serta dalam upaya memerdekakan bangsa ini di pertengahan abad 20.</p>
<p>Sebagai kelompok etnis kecil yang hanya kurang dari 3%  dari jumlah bangsa ini, peran kunci yang dilakukan oleh sejumlah tokoh besar dan elit pemimpin berbudaya asal Minangkabau telah membuat ”<em>Urang Awak</em>” terwakili-lebih (”<em>over-represented</em>”) di dalam kancah perjuangan dan  kemerdekaan bangsa Indonesia ini.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-561" title="Rumah gadang Minang" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/rumah-gadang-minang.jpg" alt="Rumah gadang Minang" width="450" height="300" /></p>
<p>Alhamdulillah, Minangkabau sebagai  kelompok etnis kecil pernah berada di puncak piramida bangsa ini (”<em>the pinnacle of the country’s culture, politics and economics</em>”). Putera-puteri terbaik berasal dari budaya Minangkabau pernah menjadi pembawa obor peradaban (”<em>suluah bendang</em>”) bangsa Indonesia ini.</p>
<p> <img class="aligncenter size-full wp-image-560" title="Group Ulama &#38; National Businees-2" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/group-ulama-national-businees-2.jpg" alt="Group Ulama &#38; National Businees-2" width="510" height="363" /></p>
<p>ABS-SBK merupakan landasan yang memberikan lingkungan sosial budaya yang melahirkan kelompok signifikan  manusia unggul dan tercerahkan. ABS-SBK dapat diibaratkan ”<em>Surau Kito</em>” tempat pembinaan ”<em>anak nagari</em>” yang ditumbuh-kembangkan menjadi ”<em>nan mambangkik batang tarandam, nan pandai manapiak mato padang, nan  bagak manantang mato ari, jo nan abeh malawan dunia urang, dan di akhiraik beko masuak Sarugo  ”. </em></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-562" title="Masjid Gantiang Padang" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/masjid-gantiang-padang.jpg" alt="Masjid Gantiang Padang" width="510" height="311" /></p>
<p>Namun, ”<em>kutiko jalan lah di alieh urang lalu</em>” dan ”alah <em>lupo kacang di kuliknyo</em>”, maka robohlah ”<em>Surau Kito</em>”. Dan beginilah sekarang nasib atau bagian peran yang berada di tangan etnis Minangkabau yaitu hanyalah sekadar ”<em>nan sayuik-sayuik sampai</em>” atau nyaris tak terdengar. Para penghulu ninik mamak, para ulama suluh bendang, dan para cerdik cendekia, menjadi sasaran keluhan dan pertanyaan umat banyak.<em> </em> </p>
<p> <img class="aligncenter size-full wp-image-563" title="Kota Tua di Muara Padang" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/kota-tua-di-muara-padang.jpg" alt="Kota Tua di Muara Padang" width="510" height="341" /></p>
<p><strong>Kota Tua di Sehiliran Batang Harau, Muara Padang &#8211; setua itu pula adat &#8211; yang bersiap akan dimasukkan  ke dalam  Museum, bila adat budaya yang luhur dengan nilai nilai syarak itu tidak  dipakai lagi oleh etnis Minangkabau&#8230;. atau adat dan syarak itu akan menjadi seakan ngarai yang runtuh &#8230;&#8230;, </strong></p>
<p><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-565" title="Lambah di Ngarai Sianok" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/lambah-di-ngarai-sianok.jpg" alt="Lambah di Ngarai Sianok" width="403" height="604" /></strong></p>
<p><strong>yang hanya akan dapat dinikmati dalam pandangan tapi tak akan mampu dimasuki karena generasi dari Masyarakat Adat Minangkabau itu sendiri sudah menjauh dari nilai-nilai adat istiadat leluhur mereka.</strong></p>
<p><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-564" title="Panorama Ngarai Bukittinggi" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/panorama-ngarai-bukittinggi.jpg" alt="Panorama Ngarai Bukittinggi" width="510" height="340" /></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p> </p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Masyarakat Madani Minangkabau adalah Masyarakat Yang Beradat Dan Beradab</strong></p>
<p><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-566" title="DSC05895" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/dsc05895.jpg" alt="DSC05895" width="510" height="382" /> </strong></p>
<p>Kegiatan hidup masyarakat dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (<em>”system”</em>) pada berbagai tataran (”<em>structural levels</em>”). Yang paling mendasar adalah ”<em>meta-environmental system” </em>yaitu tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH).</p>
<p style="text-align:center;"><strong><img title="Sawah selesai disabik" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/sawah-selesai-disabik.jpg" alt="Sawah selesai disabik" width="400" height="257" /></strong></p>
<p>PDPH ini memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan  masyarakat.  PDPH ini merupakan landasan pembentukan pranata sosial budaya yang melahirkan berbagai  lembaga formal maupun informal.</p>
<p><img title="Rumah Adat Bukittinggi" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/rumah-adat-bukittinggi1.jpg" alt="Rumah Adat Bukittinggi" width="400" height="267" /></p>
<p>Pranata sosial budaya (”<em>social and cultural institution</em>”) adalah batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”kesadaran kolektif” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama.  (“<em>humanly devised constraints on actions; rules of the game</em>.”). </p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-567" title="Silek Kesenian anak Nagari Minangkabau" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/silek-kesenian-anak-nagari-minangkabau.jpg" alt="Silek Kesenian anak Nagari Minangkabau" width="510" height="382" /></p>
<p>PDPH merupakan pedoman serta petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri  maupun bersama-sama. PDPH memberikan <strong>ruang</strong> (dan sekaligus <strong>batasan-batasan</strong>) yang merupakan <strong>ladang</strong> bagi <strong>p</strong><strong>engembangan kreatif potensi manusiawi</strong> dalam menghasilkan buah karya sosial, budaya dan ekonomi serta karya-karya pemikiran intelektual yang merupakan mesin perkembangan dan pertumbuhan masyarakat di segala bidang kehidupan.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-568" title="Sirieh di Carano, mananti tamu tibo" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/sirieh-di-carano-mananti-tamu-tibo.jpg" alt="Sirieh di Carano, mananti tamu tibo" width="510" height="286" /> </p>
<p>PDPH masyarakat Minangkabau yang dahulu itu (1800-1950) melahirkan angkatan-angkatan “generasi emas” adalah “<em>Adat Basandi Syarak</em>, <em>Syarak Basandi Kitabullah</em>”(ABS-SBK).  ABS-SBK adalah PDPH yang menata seluruh kehidupan masyarakat Minangkabau  dalam arti kata dan kenyataan yang sesungguhnya.</p>
<p><em>Meta-environment</em> yang dibentuk ABS-SBK sebagai PDPH membentuk lembaga pemerintahan ”<em>tigo tungku sajarangan</em>” yang menata kebijakan “<em>macro-level” (</em>dalam hal ini “<em>adat nan sabana adat, adat istiadat, dan adat nan taradat)  </em>bagi pengaturan kegiatan kehidupan masyarakat untuk kemaslahatan “<em>anak nagari</em>” Minangkabau.</p>
<p>Dengan demikian setiap dan masing-masing anggota pelaku kegiatan  sosial, budaya dan ekonomi  pada tingkat sektoral (<em>meso-level</em>) maupun tingkat perorangan (<em>micro-level</em>) dapat mengembangkan seluruh potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.  Maka dapat dinyatakan bahwa Masyarakat Minangkabau (dahulu itu, 1800-1950)  merupakan salah contoh dari Masyarakat Madani Yang Beradat dan Beradab.</p>
<p> <img class="aligncenter size-full wp-image-570" title="Prosesi Minangkabau 023" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/prosesi-minangkabau-0231.jpg" alt="Prosesi Minangkabau 023" width="510" height="382" /></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Masyarakat Ber-Adat Yang Beradab Hanya Mungkin Jika Dilandasi <em>Kitabullah</em></strong></p>
<p>Pokok pikiran ”<em>alam takambang jadi guru</em>” menunjukkan bahwa para filsuf dan pemikir Adat Minangkabau (Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, menurut versi Tambo Alam Minangkabau) meletakkan landasan  filosofis Adat Minangkabau atas dasar pemahaman yang mendalam tentang <strong>bagaimana bekerjanya alam semesta serta dunia ini termasuk manusia dan masyarakatnya</strong>. Mereka telah menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari <em>Nan Bana</em>”.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-571" title="Danau Diateh dari Danau Dibawah" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/danau-diateh-dari-danau-dibawah.jpg" alt="Danau Diateh dari Danau Dibawah" width="510" height="383" /></p>
<p>Konsep ”<em>Adaik basandi ka</em> <em>mupakaik, mupakaik  basandi ka alua, alua basandi ka patuik, patuik basandi ka Nan Bana, Nan Bana Badiri Sandirinyo</em>” menunjukkan bahwa sesungguhnya para filsuf dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah <strong>mengakui keberadaan</strong> dan <strong>memahami </strong>”<em>Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo”,</em> artinya kekuasaan dan kebenaran hakiki ada pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini dapat dimaknai sebagai landasan masyarakat bertauhid.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-573" title="DSC03901" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/dsc03901.jpg" alt="DSC03901" width="510" height="382" /></p>
<p>Adat Minangkabau dibangun di  atas ”Peta Realitas” yang  dikonstruksikan secara kebahasaan (”<em>linguistic construction of realities</em>”)  yang direkam terutama lewat bahasa lisan berupa pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun yang secara keseluruhan dikenal juga sebagai <strong>Kato Pusako</strong>. Lewat berbagai upacara Adat serta kehidupan masyarakat  se-hari-hari, Kato Pusako menjadi rujukan di dalam penerapan PDPH di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Dengan perkataan lain, Adat yang bersendi kepada “<em>Nan Bana</em>” adalah Peta Realitas sekaligus Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan Masyarakat Minangkabau.</p>
<p> <img class="aligncenter size-full wp-image-572" title="Gunung Merapi berselimut awan di sore hari" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/gunung-merapi-berselimut-awan-di-sore-hari.jpg" alt="Gunung Merapi berselimut awan di sore hari" width="509" height="382" /></p>
<p>Sangat sedikit catatan sejarah dengan bukti asli/otentik tentang bagaimana sesungguhnya bentuk dan keberhasilan masyarakat Minangkabau di dalam menjalankan Adat yang bersendikan <em>Nan Bana</em> itu.  Sejarah yang dekat (dua tiga abad yang silam) menunjukkan bahwa di dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat Minangkabau banyak ditemukan <strong>praktek-praktek yang kontra produktif</strong> bagi perkembangan masyarakat seperti judi, sabung ayam dan tuak dan lain-lain. Sejarah sebelum ABS-SBK juga belum mencatatkan peran signifikan tokoh-tokoh berasal budaya Minangkabau yang menjadi pembawa obor peradaban di kawasan ini.</p>
<p> <img class="alignleft size-full wp-image-574" title="MesjidKuno_2" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/mesjidkuno_2.jpg" alt="MesjidKuno_2" width="510" height="360" /></p>
<p>Sebaliknya, sesudah ABS-SBK, terjadi semacam lompatan kuantum (”<em>quantum leap</em>”) di dalam budaya Minangkabau, dengan bertumbuh-kembangnya manusia-manusia unggul dan tercerahkan yang muncul menjadi tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah kawasan ini. Bagaimana gejala itu bisa diterangkan?.</p>
<p> <img class="aligncenter size-full wp-image-575" title="CapRaja" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/capraja.jpg" alt="CapRaja" width="220" height="209" /></p>
<p>Masyarakat Minangkabau pra-ABS-SBK adalah Masyarakat Ber-Adat yang bersendikan <em>Nan Bana,  Nan Badiri Sandirinyo.</em> Sebagai buah hasil dari konstruksi realitas lewat jalur kebahasaan, hasil penerapannya di dalam kehidupan masyarakat se-hari-hari tergantung kepada sejauh mana ”peta realitas” itu memiliki ”hubungan  satu-satu” (”<em>one-to-one relationship</em>”) atau sama sebangun dengan Realitas yang sebenarnya (<em>Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo</em> itu). Terterapkannya berbagai perilaku kontra-produktip oleh beberapa bagian masyarakat menunjukkan bahwa ada kekurangan serta kelemahan dari Adat Minangkakau Sebagai Peta Realitas serta Petunjuk  Jalan Kehidupan Bermasyarakat itu. Kekurangan utama yang menjadi akar dari segenap kelemahan yang terperagakan itu adalah <strong>ada bagian dari Peta Realitas itu yang ternyata tidak sama sebangun dengan <em>Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo</em> itu</strong>.</p>
<p> <img class="alignleft size-full wp-image-586" title="Tuanku Imam Bonjol" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/tuanku-imam-bonjol.jpg" alt="Tuanku Imam Bonjol" width="276" height="300" /></p>
<p>Kekurangan utama (Peta yang tidak sama sebangun dengan Realitas) itu melahirkan beberapa kekurangan. Kekurangan turunan pertama adalah Adat Minangkabau Sebagai Peta Realitas <strong>tidak dilengkapi</strong> dengan Pedoman dan Petunjuk <strong>yang memadai</strong> tentang bagaimana ia seharusnya digunakan. Peta yang tidak dilengkapi dengan bagaimana menggunakannya secara memadai adalah tidak bermanfaat, malah dapat menyesatkan. Kekurangan selanjutnya, <strong>tidak dilengkapinya</strong> Adat Minangkabau Sebagai Peta Realitas itu dengan  Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan  <strong>yang memadai</strong>. Peta tanpa petunjuk jalan <strong>yang memadai</strong> tidak akan membawa kita ke mana-mana. Kekurangan selanjutnya, Adat yang menjadi Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan  itu  <strong>tidak dilengkapi</strong> dengan pedoman teknis perekayasaan perilaku (”<em>social and behavioral engineering techniques</em>”) <strong>yang memadai</strong> sehingga rumus-rumus dan resep-resep pembentukan masyarakat sejahtera berkeadilan berdasar Adat Minangkabau tidak dapat diterapkan.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-576" title="Pacu Jawi bukan Karapan Sapi" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/pacu-jawi-bukan-karapan-sapi.jpg" alt="Pacu Jawi bukan Karapan Sapi" width="510" height="307" /></p>
<p> Akar segala kekurangan serta sebab-musabab segala kelemahan berupa <strong>ketidak-lengkapan</strong> serta <strong>kurang-kememadai-an </strong>itu adalah  <strong>ketiadaan “hubungan satu-satu”  </strong>antara<strong> Peta Realitas </strong>dengan<strong> Realitas itu sendiri </strong>atau<strong> <em>Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo</em> </strong>itu.</p>
<p><strong> <img class="aligncenter size-full wp-image-579" title="Ummat" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/ummat.jpg" alt="Ummat" width="500" height="363" /></strong></p>
<p>Peristiwa sejarah yang menghasilkan Piagam <em>Sumpah Satie</em> <em>Bukik Marapalam </em>dapat diibaratkan bagaikan “<em>siriah nan kambali ka gagangnyo, pinang  nan kambali ka tampuaknyo</em>”.  Dari Adat yang pada akhirnya bersendikan kepada <strong><em>Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo, </em></strong>disepakati menjadi  “<em>Adat Basandi Syarak</em>, <em>Syarak Basandi Kitabullah</em>”(ABS-SBK). </p>
<p>Ketika Adat hanya bersendikan kepada <strong><em>Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo, </em> </strong> ada yang <strong>kurang dan hilang dalam tali hubungan keduanya</strong>, yaitu antara Adat sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan  dengan <strong><em>Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo</em></strong> itu yang kita urai-jelaskan tadi.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-578" title="H. Agus Salim" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/h-agus-salim.jpg" alt="H. Agus Salim" width="69" height="75" />Dengan diproklamasikannya <em>Adat Basandi Syarak Syarak</em>, dan <em>Syarak Bansandi Kitabullah </em>(ABS-SBK) maka tali hubungan antara Adat Sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan itu dibuhul-eratkan kembali dengan <strong><em>Nan Bana, Nan Sabana-bana Nan  Bana, Nan Sabana-bana Badiri Sandirinyo. </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Kitabullah </em></strong><strong>adalah Al-Quran</strong>.</p>
<p>Al Qur’an mengurai-jelaskan segala sesuatu  “<em>tafshiila li kulli sya’iin</em>” (Surat 12, Yusuf, ayat 111), atau dengan perkataan lain “Peta Realitas Lewat Kebahasaan” yang pasti memiliki hubungan satu-satu atau sama sebangun dengan Realitas itu (“<em>al-haqqu min amri Rabbika</em>”, Al Qur’an Surat al Baqarah. ). </p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-580" title="Al Quran Masjid Nabawi 1" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/al-quran-masjid-nabawi-1.jpg" alt="Al Quran Masjid Nabawi 1" width="509" height="382" /></p>
<p>Al Quran adalah juga  Petunjuk dan Pedoman Hidup Bagi Manusia Dan Penjabaran Rinci Dan Jelas Dari Petunjuk/Pedoman Serta Tolok Ukur Kebenaram. (“<em>hudal linnaasi wa bayyinatin minal huda wal furqaan</em>” Q.S 2, Al-Baqarah Ayat 184).</p>
<p> </p>
<p>Penerapan Al-Qur’an yang merupakan Ajaran Allah menurut Teladan Nabi Muhammad  s.a.w. (atau <em>Sunnah Rasulullah</em>) telah mentransformasikan masyarakat Jahiliyah empat belas abad yang lalu menjadi Pembawa Obor Peradaban. Selama tidak kurang tujuh dari abad, kebudayaan dan peradaban yang ditegakkan atas Ajaran Al Quran telah mendominasi Dunia Beradab. Kekalahan dan keterpinggiran yang terjadi sampai hari disebabkan berbagai faktor yang utamanya karena meninggalkan ke dua panduan hidup itu Al Quran dan Sunnah Rasulullah. (<em>Taraktu fi kuum amraiin, Al Quran wa sunnaturarasuul</em>,&#8230;&#8230;. al hadith, riwayat &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.).</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-581" title="DSC06120" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/dsc06120.jpg" alt="DSC06120" width="510" height="382" /> </p>
<p>Itu pulalah yang tampaknya terjadi dengan Masyarakat Minangkabau ketika menerapkan ABS-SBK secara “murni dan konsekwen”. Walau berada dalam lingkungan nasional dan internasional yang sulit  penuh tantangan, yaitu zaman kolonialisme  dan perjuangan melawan penjajahan, budaya Minangkabau yang berazaskan ABS-SBK telah terbukti mampu menciptakan lingkungan yang menghasilkan jumlah yang signifikan tokoh-tokoh yang menjadi pembawa obor peradaban di kawasan ini. Rentang sejarah itu membuktikan bahwa penerapan ABS-SBK telah memberikan lingkungan sosial budaya yang subur bagi seluruh anggota masyarakat dalam mengembangkan segenap potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.</p>
<p> <img class="aligncenter size-full wp-image-582" title="DSC06134" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/dsc06134.jpg" alt="DSC06134" width="510" height="382" /></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Krisis Budaya Minangkabau Merupakan Miniatur Dari Krisis Peradaban Manusia Abad  Mutakkhir</strong></p>
<p><strong> <img class="aligncenter size-full wp-image-584" title="Ruah Adat Minangkabau" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/ruah-adat-minangkabau.jpg" alt="Ruah Adat Minangkabau" width="510" height="514" /></strong></p>
<p>Budaya Minangkabau memang mengalami krisis, karena lebih dari setengah abad terakhir ini tidak melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki peran sentral di dalam berbagai segi kehidupan di tataran nasional apatah lagi di tataran kawasan dan tataran global. <strong>Budaya Minangkabau selama setengah abad terakhir ini gagal membentuk lingkungan sosial ekonomi yang subur bagi persemaian manusia serta masyarakat unggul dan tercerahkan</strong>. </p>
<p> </p>
<p>Dalam satu sudut pandang, krisis budaya Minangkabau  menggambarkan krisis  yang dihadapi Ummat Manusia pada Alaf  atau <em>Millennium</em> ke Tiga ini. Salah satu isu yang menjadi kehebohan Dunia akhir-akhir ini adalah isu Perubahan Iklim (“<em>Climate Change</em>”). Perubahan Iklim telah dirasakan sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan/keberlanjutan keberadaan Umat Manusia di bumi yang hanya satu ini. Perubahan iklim disebabkan oleh berbagai kegiatan manusia yang memengaruhi lingkungan sedemikian rupa sehingga mengurangi daya-dukungya sebagai tempat hidup dan sumber kehidupan manusia.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-587" title="Inyiek Canduang" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/inyiek-canduang.jpg" alt="Inyiek Canduang" width="200" height="245" /> Kemajuan ilmu yang dapat dianggap sebagai “Peta Alam Terkembang” telah menambah pemahaman manusia akan bagaimana bekerjanya alam semesta ini, sehingga “manusia mampu menguasai alam”. Penerapan ilmu dalam berbagai teknologi  telah meningkatkan kemampuan manusia untuk memanfaatkan alam sesuai berbagai keinginan manusia. Terjadinya Perubahan Iklim menunjukkan bahwa “penguasaan manusia terhadap alam lingkungan” telah menyebabkan perubahan yang tidak dapat balik (“<em>irreversible</em>”) terhadap alam itu sendiri.  Dan ternyata, Perubahan Iklim sangat mungkin mengancam keberadaan manusia di muka bumi ini.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-590" title="Buya Hamka dalam Dokumentasi Ed. Zulverdi" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/buya-hamka-dalam-dokumentasi-ed-zulverdi1.jpg?w=236" alt="Buya Hamka dalam Dokumentasi Ed. Zulverdi" width="236" height="300" />Dari sisi kemanusiaan, ada beberapa kemungkinan penyebab. Kemungkinan pertama,   mungkin Ilmu sebagai Peta Alam Terkembang tidak mampu memperkirakan terlebih dahulu apa yang sekarang telah menjadi Perubahan Iklim yang tidak dapat balik itu. Dengan perkataan lain Ilmu sebagai <strong>Peta Alam Terkembang  ternyata tidak sama dengan Realitas Di Alam Nyata</strong>. (Artinya ada “batas Ilmu”, yaitu wilayah dimana “<em>ignora mus et ignozabi mus</em>”, kita manusia tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu atau memiliki ilmu tentang itu.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-589" title="Mohd. Hatta" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/mohd-hatta.jpg?w=225" alt="Mohd. Hatta" width="225" height="300" />Kemungkinan kedua, para ilmuwan telah “lebih dahulu  memahami apa yang bakal terjadi”, namun <strong>tidak memiliki ilmu yang dapat diterapkan untuk merubah perilaku manusia dan masyarakat</strong>.  Jadi, Peta Ilmuwan tentang Manusia dan Masyarakat tidak sama dengan Realitas Di Dalam Diri Manusia Dan Masyarakat. Singkat kata, apa yang ada dalam <strong>benak manusia moderen (baik ilmu maupun isme-isme)</strong> yang menjadi <strong>kesadaran kolektif</strong> yang secara keseluruhan membentuk Pandangan Dunia dan Pandang Hidup (PDPH)  mereka ternyata <strong>tidak sama sebangun dengan Realitas</strong>. Dengan begitu, ketika PDHP itu menjadi <strong>acuan perilaku</strong> serta <strong>kegiatan</strong> perorangan dan bersama-sama, tentu saja dan pasti telah membawa kepada bencana, antara lain, berupa Perubahan Iklim yang kemungkinan besar tidak dapat balik itu.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-591" title="M. Natsir" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/m-natsir.jpg?w=229" alt="M. Natsir" width="229" height="300" />Manusia moderen sangat berbangga dengan berbagai <strong>isme</strong>-<strong>isme</strong> yang dikembangkannya serta <strong>meyakini kebenarannya</strong> di dalam memahami manusia serta mengatur kehidupan bersama di dalam masyarakat. Kapitalisme, liberalisme dan isme-isme lain telah menjadi semacam berhala yang dipuja serta diterapkan dalam kehidupan masyarakat di kebanyakan belahan Dunia. Hasil penerapan isme-isme itulah yang sekarang memicu berbagai krisis global di Millennium atau Alaf Ketiga ini. </p>
<p> </p>
<p>Jika kita merujuk kepada <em>Kitabullah</em>, yaitu Al-Qur’an, kita akan menemukan gejala dan sebab-sebab dari Perubahan Iklim yang mendera Umat Manusia. Salah satu ayat Al-Qur’an menyatakan ;</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-552" title="DSC03900" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/dsc03900.jpg" alt="DSC03900" width="510" height="382" /> </p>
<p>“&#8230;..<em>Telah menyebar kerusakan di muka bumi akibat ulah manusia” (Al Qur’an Surat&#8230; Ayat&#8230;&#8230;.). </em> <strong>Perilaku manusia-lah penyebab semua kerusakan itu</strong>. </p>
<p> </p>
<p>Dan penyebab perilaku merusak manusia ialah <strong>penyembahan berhala</strong>, berupa <strong>ilmu </strong>ataupun <strong>isme-isme</strong> <strong>yang ternyata tidak memiliki hubungan satu-satu dengan kenyataan di alam semesta termasuk di dalam diri manusia dan masyarakat</strong>.  Salah satu ayat dalam Al-Qur’an Surat 12, Yusuf , Ayat 40, sebagai berikut</p>
<p> “<em>Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) <strong>nama-nama</strong> yang <strong>kamu</strong> dan <strong>nenek moyangmu membuat-buatnya</strong>. Allah tidak menurunkan suatu <strong>keteranganpun</strong> tentang <strong>nama-nama</strong> itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”</em><em> </em>(QS 12, Yusuf : 40).</p>
<p><em> </em></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-592" title="Ibrahim Tan Malaka" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/ibrahim-tan-malaka.jpg" alt="Ibrahim Tan Malaka" width="192" height="300" />Keyakinan, yang tidak berdasar, akan kebenaran isme-isme itulah yang dapat digolongkan sebagai pemujaan manusia moderen. Manusia memiliki kemampuan terbatas untuk menguji kesebangunan antara apa yang ada dalam pikirannya dengan apa yang sesungguhnya ada dalam Realitas. Isme-isme itu serta keyakinan berlebihan akan keampuhan Ilmu hasil pemikiran manusia hanyalah sekadar ” nama-nama yang dibuat-buat saja” atau sama dengan <strong>khayalan manusia</strong> saja. Dan, disebutkan dalam Al-Quran bahwa jenis manusia yang demikian telah “mempertuhan diri dan hawa nafsunya”.</p>
<p><em> “ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? “ (QS.45, Al Jatsiah : 23).</em></p>
<p> </p>
<p><em> “ Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,</em><em> (QS25, al Furqan : 43)</em></p>
<p> </p>
<p><em> </em><em>“ …. </em><em>dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. sesung- guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim</em><em>. ” (QS.28 : 50)</em></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-553" title="Rumah Adat e. Datuak Batuah di Kamang" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/rumah-adat-e-datuak-batuah-di-kamang.jpg" alt="Rumah Adat e. Datuak Batuah di Kamang" width="509" height="382" /> </p>
<p>Dengan keterbatasan itu bagaimana manusia mungkin meneruka jalan keselamatan di alam semesta, paling tidak dalam  menjalani kehidupan di Dunia ini.  Al-Qur’an menyebutkan bahwa manusia tidak ditinggalkan di dalam kebingungan.</p>
<p> </p>
<p>(Rujukan Al Qur’an&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. Surat&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;).</p>
<p>Diturunkanlah para Rasul dengan membawa Kitab Suci, yang paling terakhir Al Qur’an sebagai  Peta Realitas serta Petunjuk dan Pedoman Hidup Bagi Manusia Dan Penjabaran Rinci Dan Jelas Dari Petunjuk/Pedoman Serta Tolok Ukur Kebenaram dalam menjalani hidup di bumi yang fana ini.</p>
<p> </p>
<p>Simpulannya, krisis global yang dihadapi manusia moderen disebabkan karena kebanyakan mereka mempercayai apa yang tidak layak diyakini berupa isme-isme karena mereka telah menuhankan diri dan nafsu mereka sendiri.  Kebanyakan manusia moderen telah menjauh dari agama langit, bahkan dari agama itu sendiri, dalam pikiran apalagi dalam perbuatan dan kegiatan mereka.</p>
<p> </p>
<p>Jika dikaitkan dengan kondisi dan situasi masyarakat Minangkabau di abad ke 21 ini, mungkin telah ada jarak yang cukup jauh antara <strong>ABS-SBK</strong> sebagai konsep PDPH (Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup) dengan  kenyataan kehidupan sehari-hari. Asumsi atau dugaan ini menjadi penjelas serta alasan kenapa budaya Minangkabau selama setengah abad terakhir ini gagal membentuk lingkungan sosial ekonomi yang subur bagi persemaian manusia serta masyarakat unggul dan tercerahkan</p>
<p> </p>
<p><strong>Masyarakat Unggul dan Tercerahkan Mampu Mencetak  SDM Unggul Yang Tercerahkan Yaitu  Para <em>Ulul Albaab. </em></strong></p>
<p> </p>
<p>Siapakah manusia unggul yang tercerahkan itu. Barangkali konsep yang menyamai serta t digali dari Al-Qur’an  adalah para “<em>Ulul Albaab”. </em>Dalam Surat Ali Imran, Surat ke 3, Ayat 190 s/d 194 , disebutkan sebagai berikut</p>
<p> “<em>Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,</em><em><sup>(3:190).</sup></em><em>(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): &#8220;Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.<sup>(3:191).</sup>Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim.<sup>(3:192).</sup>Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): &#8220;Berimanlah kamu kepada Tuhanmu&#8221;, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti<sup>.(3:193)</sup>Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.&#8221;<sup>(3:194)</sup></em></p>
<p><em><sup> </sup></em></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-593" title="Dahlan Djambek" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/dahlan-djambek.jpg?w=229" alt="Dahlan Djambek" width="229" height="300" />Bagi para “<em>uluul albaab</em>” seluruh gejala di alam semesta ini merupakan tanda-tanda.  Tanda-tanda merupakan sesuatu yang merujuk kepada yang lain di luar dirinya. Menjadikan gejala sebagai tanda berarti membuat <span style="text-decoration:underline;">makna</span> yang berada disebalik tanda itu. Proses menjawab pertanyaan itu disebut berpikir yang terarah.  Hasil berpikir adalah pikiran tentang sebagian dari kenyataan. Dengan perkataan berpikir akan menghasilkan semacam “peta bagian kenyataan” yang dipikirkan.</p>
<p> </p>
<p>Hikmah yang dikandung Al-Qur’an hanya dipahami oleh “<em>ulul albaab</em>” yaitu  mereka yang mau berpikir dan merenungkan secara meluas, mendalam tentang apa yang perlu dan patut dipahami dengan maksud agar  mengerucut kepada beberapa simpulan kunci.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-554" title="Batagak Pangulu di Kotogadang" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/batagak-pangulu-di-kotogadang.jpg" alt="Batagak Pangulu di Kotogadang" width="510" height="339" /></p>
<p>Para “<em>ulul albaab</em>” adalah mereka yang unggul dan tercerahkan, yang di dalam dirinya zikir dan fikir menyatu.  Zikir disini bukan sekadar mengingat Allah s.w.t dengan segala <em>Asmaul-Husna</em>-Nya, tapi harus dipahami lebih luas sebagai hidup dengan penuh kesadaran akan keberadaan Allah s.w.t dengan segenap aspek hubungan-Nya dengan manusia dan segenap makhluk Ciptaan-Nya. Fikir berarti membuat Peta Kenyataan sesuai dengan Petunjuk dan Ajaran Allah s.w.t. sebagaimana diurai-jelaskan oleh Al-Qur’an serta ditafsirkan dan diterapkan oleh Rasullullah lewat Sunnahnya sebagai Teladan Utama (<em>Uswatun Hasanah</em>).</p>
<p> </p>
<p>Simpulannya, penerapan ABS-SBK mengharuskan kehidupan perorangan serta pergaulan masyarakat Minangkabau berakar dari dan berpedoman kepada Al-Quran serta Sunnah Rasullullah. </p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-594" title="Rumah gadang di Bukittinggi" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/rumah-gadang-di-bukittinggi.jpg" alt="Rumah gadang di Bukittinggi" width="500" height="304" /></p>
<p>Hanya dengan demikianlah, ABS-SBK dapat membentuk lingkungan sosial-budaya yang akan mampu menghasilkan manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan yang berintikan para “<em>ulul albaab” </em>sebagai tokoh dan pimpinan masyarakat. Manusia seperti itulah barangkali yang dimaksudkan oleh Kato Pusako “<em>Nan Pandai Manapiak Mato Padang, Nan Indak Takuik Manantang Matoari, Nan Dapek Malawan Dunia Urang, Sarato Di  Akhiraik Beko Masuak Sarugo“.  </em></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p align="center">GAMBARAN BUDAYA  MINANGKABAU</p>
<p align="center">SEBELUM DAN SESUDAH ABS-SBK</p>
<p align="center"> </p>
<p align="center">Usulan bagi Satu Pendekatan</p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"> </p>
<p>Sebelum peristiwa Piagam <em>Sumpah SatieBukik Marapalam, </em>budaya Minangkabau dapat digambarkan lewat diagram di bawah ini.</p>
<p> </p>
<p align="center"> </p>
<p> </p>
<p>Filsul dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah mengakui dan memahami keberadaan <em>Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo. Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo </em> termasuk Alam Terkembang yang menjadi Guru.  Dari pemahaman bagaimana Alam Terkembang bekerja, termasuk di dalam diri manusia dan masyarakatnya, direndalah Adat Minangkabau. Konsep dasar Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat)  kemudian menjadi kesadaran kolektif berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) manusia dan  masyarakat Minangkabau.  Di samping itu, pengaruh kepercayaan lama serta Hindu dan Budha telah mewarnai tata-cara dan praktek penyembahan yang kita belum memiliki catatan yang lengkap tentang itu.</p>
<p> <img class="aligncenter size-full wp-image-555" title="DSC05847" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/dsc05847.jpg" alt="DSC05847" width="510" height="382" /></p>
<p>Konsep dasar PDPH (Adat Nan Sabana Adat) itu diungkapkan lewat Bahasa, terutama Bahasa Lisan (Sesungguhnya Minangkabau pernah memiliki tulisan berupa adaptasi dari Huruf Pallawa dari India  (pengaruh  agama Hindu/Budha). Keseluruhan pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun yang berisikan gagasan-gagasan bijak itu dikenal sebagai <strong>Kato Pusako. </strong>Kato Pusako itu yang kemudian dilestarikan secara formal lewat pidato-pidato Adat dalam berbagai upacara Adat. Sastera Lisan juga merekam Kato Pusako dala kemasan cerita-cerita rakyat, seperti Cindua Mato, dll.</p>
<p> </p>
<p>PDPH Masyarakat Minangkabau juga diungkapkan seni musik (saluang, rabab), seni pertunjukan (randai), seni tari (tari piriang), dan seni bela diri (silek dan galombang). Benda-benda budaya (karih, pakaian pangulu, mawara dll), bangunan (rumah bagonjong) serta artefak lain-lain mengungkapkan wakil fisik dari konsep PDPH Adat Minangkabau. sehingga masing-masing menjadi lambang dengan berbagai makna.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-557" title="ARAKAN" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/arakan.jpg" alt="ARAKAN" width="510" height="347" /></p>
<p>Konsep PDPH yang merupakan inti Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) memengaurhi sikap umum dan tata-cara pergaulan, yang lebih dikenal sebagai Adat nan Diadatkan dan Adat nan Taradat.</p>
<p> </p>
<p> <img class="aligncenter size-full wp-image-559" title="DSC05879" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/dsc05879.jpg" alt="DSC05879" width="510" height="382" /></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Peristiwa yang menghasilkan Piagam <em>Sumpah Satie Bukik Marapalam</em> telah merubah konstruksi gagasan dasar dan penerapannya dalam Adat Minangkabau.  Tampaknya dahulu itu tekah terjadi asimilasi (atau pemesraan) yang cukup padu antara Islam dengan Kitabullah serta Adat Nan Sabana Adat (Konsep Dasar Adat sebagai PDPH) yang selanjutnya memengaruhi Adat Nan Taradat dan Adat Istiadat.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-558" title="Manatiang sirih jo carano" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/06/manatiang-sirih-jo-carano.jpg" alt="Manatiang sirih jo carano" width="510" height="382" /> </p>
<p>ABS-SBK sekarang menjadi  konsep dasar Adat (Adat Nan Sabana Adat) diungkapkan, antara lain lewat Bahasa, yang direkam sebagai Kato Pusako.  ABS SBK memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan masyarakat. </p>
<p> </p>
<p>Barangkali langkah  yang perlu kita lalui adalah:</p>
<p>1)     Kompilasi</p>
<p>2)     Kategorisasi</p>
<p>3)     Kajian:</p>
<ol>
<li>Tema</li>
<li>Aspek kehidupan perorangan</li>
<li>Aspek-aspek kehidupan masyarakat</li>
<li>Simpulan: Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup Dasar Masyarakat</li>
</ol>
<p>(Bagaimana Adat Minangkabau menyatu-padukan aplikasinya dengan Kitabullah atau bagaimana Islam diamalkan dalam konteks budaya Minangkabau)</p>
<p>H Mas’oed Abidin, Jalan Pesisir Selatan V/496, Padang , Sumbar &#8211; Indonesia</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikalahan]]></title>
<link>http://yancearizona.wordpress.com/2009/06/05/ikalahan/</link>
<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 09:58:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yance Arizona</dc:creator>
<guid>http://yancearizona.wordpress.com/2009/06/05/ikalahan/</guid>
<description><![CDATA[When I look mist on the morning I feel fresh The mist here like the smoke in the city, fumes The wea]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><img class="size-full wp-image-484 aligncenter" title="Imugan Village" src="http://yancearizona.wordpress.com/files/2009/06/dsc02822.jpg" alt="Imugan Village" width="424" height="262" /></p>
<p style="text-align:center;">When I look mist on the morning</p>
<p style="text-align:center;">I feel fresh</p>
<p style="text-align:center;">The mist here like the smoke in the city, fumes</p>
<p style="text-align:center;">The weather colder than air conditioner in your office</p>
<p style="text-align:center;"> </p>
<p style="text-align:center;">Mizzle during the day</p>
<p style="text-align:center;">It’s not hampering peoples to do their routine</p>
<p style="text-align:center;">Youth always learn in academia</p>
<p style="text-align:center;">Their parent still made any jelly</p>
<p style="text-align:center;"> That is a system that they were rised</p>
<p style="text-align:center;">Be friend with nature</p>
<p style="text-align:center;"> </p>
<p style="text-align:center;">Nature give more than you can give back</p>
<p style="text-align:center;">Don’t you grab if you never contibute</p>
<p style="text-align:center;"> </p>
<p style="text-align:center;">Life will be gone like usualy</p>
<p style="text-align:center;">That is a system</p>
<p style="text-align:center;">Can be damage</p>
<p style="text-align:center;">And reparation autopoitecally</p>
<p style="text-align:center;"> </p>
<p style="text-align:center;">But human will be lose</p>
<p style="text-align:center;">If they aren’t trying to aware</p>
<p> </p>
<p style="text-align:right;"><strong><em>June 1, 2009</em></strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong><em>Imugan Village, Nueva Vizcaya, The Philippines</em></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peningkatan Pengamalan Agama dan Adat  dalam Kehidupan Bermasyarakat  di Kabupaten Agam, untuk penetapan arah kebijakan ke  dalam  lima perioritas pembangunan Kabupaten Agam, 2009 - 2010   ]]></title>
<link>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/04/13/peningkatan-pengamalan-agama-dan-adat-dalam-kehidupan-bermasyarakat-di-kabupaten-agam-untuk-penetapan-arah-kebijakan-ke-dalam-lima-perioritas-pembangunan-kabupaten-agam-2009-2010/</link>
<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 09:57:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/04/13/peningkatan-pengamalan-agama-dan-adat-dalam-kehidupan-bermasyarakat-di-kabupaten-agam-untuk-penetapan-arah-kebijakan-ke-dalam-lima-perioritas-pembangunan-kabupaten-agam-2009-2010/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin Disampaikan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:Agate-Normal;" lang="FR"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:normal;" align="right"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">Disampaikan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Agam tahun 2009 di Lubuk Basung, 24 – 25 Maret 2009,<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:normal;" align="right"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">merajut masukan utama bagi pemutakhiran rancangan RKPD dan Renja-SKPD, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:normal;" align="right"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">untuk penetapan arah kebijakan ke <span> </span>dalam </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">lima perioritas pembangunan Kabupaten Agam,<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">a. Mewujudkan tata pemerintahan yang baik dan bersih,</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">b. Mewujudkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan berkelanjutan </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">yang berwawasan lingkungan,</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">c. Percepatan pembangunan perkotaan,</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">d. Peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berwasan masyarakat madani,</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">e. Mewujudkan masyarakat yang mengamalkan norma agama dan adat ….. </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">dan plafond/pagu dana berdasarkan fungsi / SKPD.</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:Agate-Normal;color:#632423;" lang="FR"><img class="alignleft size-medium wp-image-416" title="pas-photo-buya" src="http://blogminangkabau.wordpress.com/files/2009/04/pas-photo-buya.jpg?w=244" alt="pas-photo-buya" width="244" height="300" />Pendahuluan</span></strong></p>
<p class="AyatBuku" style="margin-top:12pt;text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="AR-SA">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ</span></p>
<p class="ArtiAyatbuku" style="line-height:115%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa (orang) memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan&#8221;</span></strong><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">.</span></strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> </span><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-style:normal;" lang="FR">(Q.S. Al Hasyr : 18)</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Kita mulai bahasan dalam upaya mewujudkan idea menjadi realita di dalam membangun pemerintahan dan daerah Kabupaten Agam berbasis masyarakat <strong>madani</strong> yang <strong>mandiri</strong> dan <strong>berprestasi</strong>, untuk <strong>merajut hari esok</strong> <strong>Kabupaten Agam yang lebih baik</strong>, dalam <em>jangka pendek untuk tahun 2010</em>, dan berkelanjutan ke masa-masa berikutnya.</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span> </span>Perlu disadari bahwa membangun hari esok itu, mestilah lebih baik dari hari kemarin. Artinya ada kewajiban moral dan program bahwa <strong>geliat pembangunan</strong> di tahun 2010, mesti lebih baik dari tahun 2009 yang sedang kita tempuh atau segera akan ditinggalkan.</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Kewajiban moral ini terkait erat dengan perintah agama. Mempersiapkan masa depan yang lebih baik, seperti sinyal Al Qur’an Surat Al-Hasyar ayat 18 ini mengisyaratkan bahwa <strong>landasan berfikir</strong>, serta <strong>tempat bertolak</strong> (<em>starting point</em>) dari setiap gerak dan pentahapan pembangunan untuk mempersiapkan hari esok <strong>haruslah diisi dengan taqwa</strong>. </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Ini bermakna, bahwa Kabupaten Agam salah satu keping dari bingkahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang masih kukuh dengan fondasi landasan UUD 45, yang meletakkan Ketuhanan Yang Maha Esa di dalam menjaga kesatuan dan persatuan bangsa serta kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan keadilan sosial yang merata bagi seluruh rakyat di Indonesia, sebagai filosofi hidup bernegara dan berbangsa, yang memberi warna pada setiap kebijakan pembangunan di segala bidang, dan di Kabupaten Agam telah diterjemahkan dalam satu visi <em>Agam Mandiri dan Berprestasi yang Madani</em>. Konsekwensinya adalah tetap menjaga secara utuh landasan berfikir serta tempat bertolak « <strong>beriman kepada Allah</strong> ». </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Dengan demikian Pemerintah daerah dengan seluruh stake holder serta seluruh masyarakat di Kabupaten Agam mesti mempunyai <em>langkah antisipatif</em> terhadap kemungkinan apa yang terjadi esok, dengan kemampuan memprediksi, merancang, mempersiapkan dan meraih hari esok Kabupaten Agam yang <strong><span style="text-decoration:underline;">lebih</span></strong> <strong>baik</strong>, <strong>dinamis</strong>, <strong>mapan</strong>, <strong>produktif, berprestasi</strong> dari hari ini. </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Singkatnya mesti ada perbedaan dan peningkatan prestasi dari hari ke hari, dari tahun ke tahun yang terukur, sebagai konsekwensi dari keberlanjutan (sustainability) itu. Hari esok dapat berarti masa depan dalam kehidupan ini, di sini dan sekarang (here and now). Hari esok juga berarti yang hakiki yaitu akhirat. Tidak dapat tidak, wajib ada kemestian perencanaan, gerak dan perilaku pada seluruh sisi dan bidang yang mengarah kepada «<strong>Hari esok harus lebih baik dari hari ini.</strong>»</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Di dalam upaya <strong><em>peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berwawasan masyarakat madani</em></strong> di Kabupaten Agam, mestinya tumbuh <strong>sadar diri</strong> bahwa ada ikatan perjanjian dengan Allah SWT atau <strong><em>Mu’ahadah</em></strong> sebagai satu sikap pengakuan terhadap kekuasan Allah SWT (<em>tauhidic weltanschaung</em>).<em> Mu’ahadah</em> secara konkrit telah diikrarkan kepada Allah, yang terefleksi minimal 17 kali sehari dan semalam sebagai termaktub di dalam surat Al Fatihah ayat 5 yang berbunyi: “<strong><em>Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in</em></strong><em>”.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">[1]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></span></a> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:Agate-Normal;font-variant:small-caps;color:#632423;" lang="SV">Masyarakat Madani Beradat Dan Beradab</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Kegiatan hidup masyarakat dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (<em>”system”</em>) pada berbagai tataran (”<em>structural levels</em>”). Yang paling mendasar adalah tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya berupa <strong>Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup</strong> (<em>PDPH</em>), yang memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan<span> </span>masyarakat.<span> </span>PDPH ini merupakan landasan pembentukan pranata sosial budaya yang melahirkan berbagai<span> </span>lembaga formal maupun informal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Pranata sosial budaya (”<em>social and cultural institution</em>”) adalah batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”<strong>kesadaran kolektif</strong>” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">PDPH merupakan pedoman serta petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri<span> </span>maupun bersama-sama. PDPH memberikan <strong>ruang</strong> (dan sekaligus <strong>batasan-batasan</strong>) yang merupakan <strong>ladang</strong> bagi <strong>p</strong></span><strong><span style="font-family:&#34;">engembangan kreatif potensi manusiawi</span></strong><span style="font-family:&#34;"> dalam menghasilkan buah karya sosial, budaya dan ekonomi serta karya-karya pemikiran intelektual yang merupakan mesin perkembangan dan pertumbuhan masyarakat di segala bidang kehidupan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">PDPH masyarakat di Kabupaten Agam yang sejak dahulu telah melahirkan angkatan-angkatan “<strong>generasi emas</strong>” adalah “<em>Adat Basandi Syarak</em>, <em>Syarak Basandi Kitabullah</em>”(ABS-SBK).<span> </span>ABS-SBK adalah PDPH yang menata seluruh kehidupan masyarakat Minangkabau<span> </span>dalam arti kata dan kenyataan yang sesungguhnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan, generasi Minangkabau dengan filosofi <em>adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah</em> mampu berpegang pada sikap <em>istiqamah</em> (konsistensi). Fatwa adat menyebutkan, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“A<em>lang tukang tabuang kayu, </em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Alang cadiak binaso adat, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Alang alim rusak agamo, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Alang sapaham kacau nagari. </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Dek ribuik kuncang ilalang, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Katayo panjalin lantai, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Hiduik jan mangapalang, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Kok tak kayo barani pakai. </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Baburu kapadang data, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Dapeklah ruso balang kaki, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Baguru kapalang aja, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Bak bungo kambang tak jadi”. </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">Kalangan terdidik (<em>el-fataa</em>) di Minangkabau khususnya selalu hidup dalam bimbingan agama Islam. Dengan bimbingan agama dalam kehidupan, maka ukhuwah persaudaraan (<em>ruh al ukhuwwah</em>) terjalin baik. Kekerabatan yang erat menjadi benteng kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> Tamak dan loba akan mempertajam permusuhan. Bakhil akan meruntuhkan persaudaraan dan perpaduan. Setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:0;line-height:normal;margin:0 6.05pt 6pt 0;" align="right"><strong><span style="font-size:18pt;font-family:&#34;color:black;" dir="rtl"><span> </span></span></strong><strong><span style="font-size:20pt;font-family:&#34;color:black;" dir="rtl" lang="AR-SA">اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ<span> </span>وَالَّذِينَ كَفَرُوا<span> </span>أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ<span> </span>يُخْرِجُونَهُمْ<span> </span>مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-indent:0;line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"><span> </span>Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan.</span></em></strong><span style="font-family:&#34;color:black;"> <a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">Tata</span><span style="font-family:&#34;" lang="SV">nan nilai dan norma dasar sosial budaya (</span><em><span style="font-family:&#34;">Meta-environment</span></em><span style="font-family:&#34;">)<span> yang dibentuk </span>ABS-SBK sebagai PDPH <span>membentuk lembaga pemerintahan ”</span><em>tigo tungku sajarangan</em><span>” yang menata kebijakan “</span><em>macro-level” (</em><span>dalam hal ini “</span><em>adat nan sabana adat, adat istiadat, dan adat nan taradat) </em><span>bagi pengaturan kegiatan kehidupan masyarakat untuk kemaslahatan “</span><em>anak nagari</em><span>”, begitu pula di dapati di Kabupaten Agam. Dengan demikian setiap dan masing-masing anggota pelaku kegiatan<span> </span>sosial, budaya dan ekonomi<span> </span>pada tingkat sektoral (</span><em>meso-level</em><span>) maupun tingkat perorangan (</span><em>micro-level</em><span>) dapat mengembangkan seluruh potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Kabupaten Agam yang unggul dan tercerahkan.<span> </span>Maka dapat dinyatakan bahwa Masyarakat Kabupaten Agam harus tampil menjadi salah satu contoh dari Masyarakat Madani Yang Beradat dan Beradab.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-indent:0;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:Agate-Normal;font-variant:small-caps;color:#632423;">Masyarakat Ber-Adat Beradab Dilandasi <em>Kitabullah</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Pokok pikiran ”<em>alam takambang jadi guru</em>” menunjukkan bahwa para pemikir (filsuf) Adat Minangkabau (Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, menurut versi Tambo Alam Minangkabau) meletakkan landasan<span> </span>filosofis Adat Minangkabau atas dasar pemahaman yang mendalam tentang <strong>bagaimana bekerjanya alam semesta serta dunia ini termasuk manusia dan masyarakatnya</strong>. </span><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Mereka telah menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari <em>Nan Bana</em>” atau ayat kauniyah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Secara jujur, kita harus mengakui bahwa adat tidak mungkin lenyap, manakala<span> </span>orang Minangkabau memahami dan mengamalkan fatwa adatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">“Kayu pulai di Koto alam, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">batangnyo sandi ba sandi, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">Jikok pandai kito di alam, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">patah tumbuah hilang baganti”.</span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Secara alamiah (natuurwet) adat itu akan selalu ada dalam prinsip. Jika patah akan tumbuh (<strong>maknanya hidup dan dinamis</strong>), mengikuti perputaran masa yang tidak mengenal kosong. Setiap kekosongan akan selalu terisi, dengan dinamika akal dan kekuatan ilmu (raso jo pareso). Diperkuat sendi keyakinan, bahwa yang hilang akan berganti. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Di sini kita menemui kearifan menangkap perubahan yang terjadi, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">“sakali aie gadang, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">sakali tapian baralieh, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">sakali tahun baganti, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">sakali musim bakisa”.</span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Setiap perubahan tidak akan mengganti <em>sifat</em> adat. Penampilan adat di alam nyata mengikut zaman dan waktu. </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">“Kalau d balun sabalun kuku, kalau dikambang saleba alam, walau sagadang biji labu, bumi jo langit ado di dalam”.</span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> <span> </span></span></strong><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Keistimewaan adat ada pada falsafah adat mencakup isi yang luas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Konsep </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:#632423;" lang="SV">”<span>Adaik basandi ka</span> mupakaik, mupakaik<span> </span>basandi ka alua, alua basandi ka patuik, patuik basandi ka Nan Bana, Nan Bana Badiri Sandirinyo”</span></em></strong><span style="font-family:&#34;" lang="SV"> menunjukkan bahwa sesungguhnya para filsuf dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah <strong>mengakui keberadaan</strong> dan <strong>memahami </strong>”<em>Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo”.</em><span> Artinya, kekuasaan dan kebenaran hakiki ada pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. <strong>Ini dapat dimaknai sebagai landasan masyarakat bertauhid.</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Perputaran harmonis dalam </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">“patah tumbuh hilang berganti”</span></em></strong><span style="font-family:&#34;" lang="FR">, menjadi sempurna dalam </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">“adat di pakai baru, kain dipakai usang”.</span></em></strong><span style="font-family:&#34;" lang="FR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Adat tidak mesti mengalah kepada yang tidak sejalan. </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">Adat adalah aturan satu suku bangsa. Menjadi pagar keluhuran tata nilai yang dipusakai. Bertanggungjawab penuh menjaga diri dan masyarakat kini, jikalau tetap dipakai, dan akan mengawal generasi yang akan datang.</span></em></strong><span style="font-family:&#34;" lang="FR"> <span> </span></span><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Adat Minangkabau dibangun di<span> </span>atas ”Peta Realitas” yang dikonstruksikan secara kebahasaan (”<em>linguistic construction of realities</em>”)<span> </span>yang direkam terutama lewat bahasa lisan berupa pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun yang secara keseluruhan dikenal juga sebagai <strong>Kato Pusako</strong>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Lewat berbagai upacara Adat serta kehidupan masyarakat<span> </span>se-hari-hari, Kato Pusako menjadi rujukan di dalam penerapan </span><span style="font-family:&#34;">PDPH di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau dan menjadi Peta Realitas sekaligus Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan Masyarakat Minangkabau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Sesudah ABS-SBK, terjadi semacam <strong>lompatan kuantum</strong> (”<em>quantum leap</em>”) di dalam budaya Minangkabau, dengan bertumbuh-kembangnya manusia-manusia unggul dan tercerahkan yang muncul menjadi tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah kawasan ini. </span><span style="font-family:&#34;">Dengan <em>Adat Basandi Syarak Syarak</em>, dan <em>Syarak Bansandi Kitabullah </em>(ABS-SBK) maka tali hubungan antara Adat Sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan itu dibuhul-eratkan dengan Kitabullah yakni Al Qur’an. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Al Qur’an adalah Petunjuk/Pedoman Hidup Bagi Manusia Dan Penjabaran Rinci Dan Jelas Dari Petunjuk/Pedoman Serta Tolok Ukur Kebenaram. (“<em>hudal linnaasi wa bayyinatin minal huda wal furqaan</em>” Q.S 2, Al-Baqarah Ayat 184). Penerapan Al-Qur’an yang merupakan Ajaran Allah dan menurut Teladan Nabi Muhammad SAW (<em>Sunnah Rasulullah</em>) telah mentransformasikan masyarakat menjadi Pembawa Obor Peradaban. Selama tidak kurang dari tujuh abad, kebudayaan dan peradaban yang ditegakkan atas Ajaran Al Qur’an telah mendominasi Dunia Beradab. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Itu pulalah yang tampaknya terjadi dengan Masyarakat Minangkabau ketika menerapkan ABS-SBK secara “murni dan konsekwen”. Walau berada dalam lingkungan nasional dan internasional yang sulit<span> </span>penuh tantangan, yaitu zaman kolonialisme<span> </span>dan perjuangan melawan penjajahan, budaya Minangkabau yang berazaskan ABS-SBK telah terbukti mampu menciptakan lingkungan yang menghasilkan jumlah yang signifikan tokoh-tokoh yang menjadi pembawa obor peradaban di kawasan ini. <span> </span>Rentang sejarah itu membuktikan bahwa penerapan ABS-SBK telah memberikan lingkungan sosial budaya yang subur bagi seluruh anggota masyarakat dalam <span>mengembangkan segenap potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.</span></span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="text-indent:0;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:Agate-Normal;color:#632423;" lang="FR">Peningkatan kualitas sumberdaya manusia</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Sikap <strong><em>Mu’ahadah</em></strong><em> </em><span>yang mengikrarkan </span>janji yang mengandung ketinggian dan <strong>kemantapan aqidah</strong> bahwa tidak ada yang berhak untuk disembah dan dimintai pertolongan, hanya Allah SWT semata. B<span>erlanjut </span>dengan ucapan, “<em>Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya kuperuntukkan (ku-abdikan) bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam.”</em> Artinya, di dalam menetapkan prioritas pembangunan sumberdaya manusia yang berwawasan masyarakat madani di Kabupaten Agam wajib ada <strong>program pendidikan berbasis akidah</strong> (tauhidic weltanschaung) itu. </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Sadar sikap berakidah mesti di iringkan oleh <strong><em>Mujahadah </em></strong><span>yang </span>berarti bersungguh-sungguh dalam melaksanakan amal karya yang baik (shaleh) sebagai bagian dari ibadah. Konsekwensi logisnya dari sadar sikap ini sebagai pelaksanaan perintah Allah SWT, sekaligus menjadi <strong>amanat</strong></span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" dir="rtl" lang="FR"> </span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">serta <strong>tujuan</strong> di dalam pembinaan masyarakat hingga ke <strong>akar bawah di nagari-nagari</strong>. </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Dengan mengedepankan nilai-nilai ibadah, masyarakat di Kabupaten Agam didorong secara sadar untuk merasakan dirinya sebagai ‘<em>abdun</em> (hamba) yang senantiasa memiliki kewajiban untuk <strong>berbakti, bekerja sama, gotong royong, melaksanakan dan menjaga hasil-hasil pembangunan, </strong>menjadi bagian dari mengabdi kepada <em>Ma’bud</em> (Allah SWT Sang Khaliq). </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Mujahadah</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> mesti digerakkan menjadi sarana menunjukkan <strong>ketaatan, kepatuhan hukum</strong> yang mesti dipunyai setiap hamba Allah sebagai perwujudan keimanan, ketaqwaan dan kesalehan beragama. Karena itu Allah SWT selalu memerintahkan kesalehan peribadi dan sosial kepada manusia untuk selalu <strong>berdedikasi</strong> dan <strong>berkarya secara optimal,</strong> seperti dijelaskan di dalam Al Qur’an Surat At Taubah ayat: 5, </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">“Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepada kamu apa-apa yang telah kamu kerjakan.”</span></em></strong></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Mujahadah dalam realisasi tampak dengan ibadah dan karya (amal) shaleh. Upaya ini terkait konsistensi pada jalan kebenaran menuju <strong><em>ridha</em></strong> Allah SWT dan <strong><em>hidayah </em>(petunjuk),</strong> <strong><em>rusyda </em><span>(kecerdasan), </span></strong>dan <strong>keistiqamahan </strong>(<em>sustainability</em>), tidak terpukau bujuk rayu nafsu dan syetan yang terus menggoda. Situasi batin terjaga selalu <strong><em>musyahadah</em></strong> (mengakui) keagungan Ilahi, sehingga tak ada kewajiban yang dilalaikan dan tidak ada larangan Allah yang dilanggar, wujud ciri utama masyarakat madani <strong><em>‘ala nafsihi wa jawarihihi</em></strong><span> (pada diri dan lingkungan)</span>.</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Tidak dapat dibantah, bahwa “Barangsiapa menghias lahiriahnya dengan mujahadah, Allah akan memperindah rahasia batinnya melalui musyahadah.”<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> Maka dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang berwawasan masyarakat madani ini, mau tidak mau harus dipahami bahwa, « <em>Jiwa mempunyai dua sifat yang sering menghalanginya dalam mencari kebaikan. Pertama, <strong>larut dalam mengikuti hawa nafsu</strong>, dan kedua <strong>ingkar terhadap ketaatan</strong>. » </em></span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Karena itu, manakala jiwa telah ditunggangi oleh nafsu, maka yang dapat mengendalikannya hanyalah taqwa. Manakala jiwa bersikeras untuk tetap ingkar pada kehendak Tuhan, maka diperlukan upaya intensif mengembalikan dengan menolak keinginan hawa nafsunya. Manakala jiwa bangkit memberontak, maka untuk meredamnya hanya dengan ibadah. </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Patutlah disadari, bahwa bertahan dalam lapar (puasa) dan bertanggang (bangun malam di perempat malam), adalah sesuatu yang mudah. Sedangkan membina akhlak dan membersihkan jiwa dari sesuatu yang mengotorinya sangatlah sulit. Maka program utama pendidikan di Kabupaten Agam mesti menjangkau <strong>pendidikan akhlaq</strong> dan <strong>budi pekerti</strong>.</span></em></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Keberhasilan pendidikan berbasis akhlak dan budi pekerti dan sadar jiwa dengan <strong><em>Muraqabah</em></strong></span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> (merasa selalu diawasi oleh Allah SWT). Rasulullah SAW mengajarkan mengamalkan Muraqabah bahwa Allah SWT selalu menyaksikan segala yang diperbuat oleh hambanya. Artinya masyarakat selalu diarahkan kepada mawas diri (<em>Muraqabah</em>), yang dapat <strong>membentuk mental keperibadian</strong> menjadi <strong>manusia jujur</strong> dan <strong>ikhlas</strong> dalam melaksanakan segala sesuatu. Firman Allah SWT, </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang berada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan Tiada (pembicaraan antara) lima orang melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu.” </span></em></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">(Q.S. Al Mujaadilah : 7)</span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> </span></span><a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em></em></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:left;text-indent:0;margin:6pt -.15in .0001pt 0;" align="left"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:Agate-Normal;color:#632423;">Mewujudkan Masyarakat mengamalkan norma agama dan adat dengan Kecerdasan Spritual</span></p>
<p class="AyatBuku" style="text-align:justify;text-indent:.2in;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:20pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="AR-SA">إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لاَيَاتٍ لِأُولِي</span><span style="font-size:20pt;line-height:115%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:20pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="AR-SA"><span> </span>اْلأَلْبَاب ِ</span></p>
<p class="AyatBuku" style="text-align:justify;text-indent:.2in;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:20pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="AR-SA">الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</span></p>
<p class="ArtiAyatbuku" style="line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;" lang="FR">Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="FR"> <strong>(Q.S. Ali Imran: 190-191)</strong></span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="margin-top:12pt;line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Berbagai macam perkembangan mengarah pada modernisasi bermunculan diiringi pula bercorak rintangan dan tantangan menjadi penghalang pencapaian cita-cita mulia, yakni : <em>Hasanah fiddunya wal akhirah.</em></span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Setiap peribadi yang loyal terhadap komitmen tauhid bahwa « <em>Masa depan harus lebih baik dari masa ini » </em>mesti melihat berbagai rintangan dan cobaan yang menghadang sebagai ujian hidup yang menuntut kesabaran, agar semua yang ia lakukan akan bernilai ibadah di sisi Allah. Prinsip tauhid itu seringkali dibenturkan dengan kesulitan ekonomi, rendahnya tingkat pendidikan, kultur masyarakat yang mengalami degradasi moral, dan tantangan hidup lainnya.</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Perlu ada “ <em>kecerdasan spritual ” </em><span>guna</span> menjawab problematika kehidupan yang terbentang menjadi suatu kenyataan dan keniscayaan yang harus dihadapi. Pada prinsipnya siapapun<span> </span>yang ingin meraih sukses , kata kuncinya adalah harus memiliki <em>kecerdasan spritual. </em>Menumbuh kembangkan kecerdasan spritual diperlukan formula-formula strategis, antara lain ;</span></p>
<p class="NormalBuku" style="margin-left:45pt;text-indent:-.25in;line-height:115%;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span>1.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span> </span>Menjauhi Thaghut </span></em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">yang berarti menyembah selain Allah. <em>Thaghut</em><span> </span>merupakan kontra tauhid yang mesti dijauhi, karena dapat menimbulkan <em>‘split of personality’ </em>(pecah keperibadian) yang tidak akan mampu mengatasi suatu persoalan karena kehilangan asas yang akan menjadi tumpuan untuk berpijak. <em></em></span></p>
<p class="NormalBuku" style="margin-left:45pt;text-indent:-.25in;line-height:115%;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span>2.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span> </span>Meningkatkan Pengetahuan. </span></em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Satu pendapat yang mesti dihilangkan di masa ini adalah <em>dikotomi</em> (pemisahan) dalam pembagian ilmu agama dan ilmu umum. <em>The second world Comfrence Muslim Education</em> sejak <span> </span>1980 merekomendasikan bahwa<span> </span>perencanaan pendidikan di dasarkan kepada dua kategori, yaitu <em>ilmu abadi</em> yang diwahyukan yang diambil dari Al Qur’an<span> </span>dan Sunnah dan ilmu yang diperoleh dari hasil karya dan pengalaman manusia. Ilmu memegang peran cukup menentukan bagi siapapun yang ingin meraih kebahagiaan. Ilmu pengetahuan merupakan potensi dan mempunyai andil yang sangat besar dalam menentukan tingkat <em>kecerdasan spritual.</em></span></p>
<p class="NormalBuku" style="margin-left:45pt;text-indent:-.25in;line-height:115%;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span>3.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span> </span>Ittiba’ ahsanah. </span></em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Setiap peribadi madani yang berprestasi harus mengikis kebiasaan <em>taqlid</em></span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> secara membabi buta. Semua masyarakat Kabupaten Agam semestinya mampu merespon seruan-seruan yang mengajak kepada kebaikan secara reflektif dan selalu pro-aktif untuk mencegah kemungkaran. Kebiasaan positif ini apabila berlaku secara benar akan menumbuh-kembangkan benih-benih <em>kecerdasan spritual. </em>Sebaliknya, kurang tanggap terhadap <em>Ittiba’ ahsanah</em> ini, akan membunuh benih-benih <em>kecerdasan spritual. </em>Dan jadilah masyarakat madani di Kabupaten Agam mangsa dari <span> </span>“<em>Syarrud Dawwah”</em><span> yakni ajakan kepada keburukan<em>. </em></span></span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Agama dalam pandangan Islam adalah aturan-aturan yang diturunkan oleh Allah SWT untuk mengatur kehidupan manusia agar mereka dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Agama memberikan tuntunan yang jelas kepada manusia mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus dikerjakan dan mana pula yang harus ditinggalkan, mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan. Tuntunan agama memberikan arah yang benar yang harus ditempuh oleh manusia, baik urusan duniawi maupun untuk mempersiapkan diri menghadapi pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT di akhirat nanti.</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Satu kesimpulan mewujudkan masyarakat mengamalkan norma agama dan adat istiadat di Kabupaten Agam dengan mengamati formula di atas, dapat membantu menggali<span> </span>potensi <em>kecerdasan spritual </em><span>di</span> lingkungan masyarakat Kabupaten Agam. Untuk mencapai <em>kecerdasan spritual</em>, diperlukan niat tulus, sikap istiqamah. Di samping sudah ada modal lain seperti ketersediaan <em>material, alam, </em><span>didukung <em>kecerdasan tekhnikal </em></span>untuk memecahkan serta mencari solusi problematika kehidupan. Perlu dikembangkan sikap sadar <em>Muhasabah </em>berarti introspeksi diri, baik amal ibadah <em>mahdhah</em> maupun kesalehan berkaitan kehidupan di masyarakat (interaksi sosial). </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Muhasabah</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> dilaksanakan dengan cara meningkatkan <em>ubudiyah</em> <strong>mengelola waktu </strong>dengan produktif. </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">“Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali ia berseru, “Wahai anak cucu Adam, aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat”. </span></em></strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span> </span>Waktu terus berlalu, ia diam seribu bahasa, sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya. Allah SWT berkali-kali bersumpah dengan berbagai kata yang menunjuk pada waktu, seperti <em><span> </span>Wa Al Lail </em>(demi malam)<em>, Wa An Nahr </em>(demi siang), dan lain-lain.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Waktu adalah modal utama manusia. Apabila tidak dipergunakan dengan baik, waktu akan terus berlalu. Waktu tidak boleh berlalu begitu saja. Waktu adalah modal utama sebelum dapat memanfaatkan raw-materials dan capital akumulasi. Banyak sekali hadits Nabi SAW yang memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin. Namun banyak manusia yang lalai.</span></p>
<p class="AyatBuku" style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:20pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="AR-SA">نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا َكثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ</span></p>
<p class="ArtiAyatbuku" style="line-height:115%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang: Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” </span></strong><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">(H.R. bukhari melalui Ibnu Abbas r.a)</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Masyarakat madani yang berprestasi adalah masyarakat yang pandai menjaga waktu. Memanfaatkan dan segera dapat melakukan <em>Muaqabah</em></span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> artinya pemberian sanksi terhadap diri sendiri, manakala melakukan kesalahan atau lalai yang berakibat diri berbuat dosa maka ia segera mnghapusnya dengan melaksanakan amal yang lebih utama meskipun terasa berat. Kesalahann maupun dosa adalah kesesatan. </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Banyak program sederhana yang dapat dilaunching oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Agam sampai ke nagari-nagari, mendorong dan mengajar masyarakat menghargai waktu, dengan menggelar kursus-kursus keterampilan akan berdampak kepada <strong>peningkatan kecerdasan, peningkatan kemampuan, peningkatan sumber pendapatan</strong>, dan akhirnya berbuah kepada <strong>peningkatan keamanan</strong> dan <strong>kesejahteraan anak nagari</strong>.</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Program sederhana itu bertujuan agar anak nagari <strong>pandai mengaji </strong>(<em>murattal, qari</em>), <strong>pandai memasak</strong> (<em>kuliner</em>), <strong>pandai menjahit</strong> (<em>home industri, handy craft</em>), <strong>pandai berpidato</strong> (<em>persembahan, budaya, adat istiadat</em>), <strong>pandai bersilat</strong> (olah raga), <strong>pandai berdagang </strong>(<em>wiraswasta, entrepreneurships</em>), <strong>pandai menabung</strong> (<em>banking minded</em>) sesuai pepatah Minangkabau menyebutkan ; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-indent:0;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Agate-Normal;font-variant:small-caps;color:#632423;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-indent:0;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Agate-Normal;font-variant:small-caps;color:#632423;">Krisis Budaya Minangkabau Merupakan Miniatur Dari Krisis Peradaban Manusia Abad<span> </span>Mutakkhir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Budaya Minangkabau memang mengalami krisis, karena lebih dari setengah abad terakhir ini tidak melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki peran sentral di dalam berbagai segi kehidupan di tataran nasional apatah lagi di tataran kawasan dan tataran global. <strong>Budaya Minangkabau selama setengah abad terakhir ini gagal membentuk lingkungan sosial ekonomi yang subur bagi persemaian manusia serta masyarakat unggul dan tercerahkan</strong>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Di sisi lainnya, manusia moderen sangat berbangga dengan berbagai <strong>isme</strong>-<strong>isme</strong> yang dikembangkannya serta <strong>meyakini kebenarannya</strong> di dalam memahami manusia serta mengatur kehidupan bersama di dalam masyarakat. Kapitalisme, liberalisme dan isme-isme lain telah menjadi semacam berhala yang dipuja serta diterapkan dalam kehidupan masyarakat di kebanyakan belahan Dunia. Hasil penerapan isme-isme itulah yang sekarang memicu berbagai krisis global di Alaf Ketiga ini.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Jika kita merujuk kepada <em>Kitabullah</em>, yaitu Al-Qur’an, kita akan menemukan gejala dan sebab-sebab dari Perubahan Iklim yang mendera Umat Manusia. Salah satu ayat Al-Qur’an menyatakan, “&#8230;..<em>Telah menyebar kerusakan di muka bumi akibat ulah manusia”. </em><span> </span><strong>Perilaku manusia-lah penyebab semua kerusakan itu</strong>.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.9pt;line-height:normal;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:.9pt;line-height:normal;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-family:&#34;">Dan penyebab perilaku merusak manusia ialah <strong>penyembahan berhala</strong>, berupa <strong>ilmu </strong>ataupun <strong>isme-isme</strong> <strong>yang ternyata tidak memiliki hubungan satu-satu dengan kenyataan di alam semesta termasuk di dalam diri manusia dan masyarakat</strong>.<span> </span>Salah satu ayat dalam Al-Qur’an </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:.9pt;line-height:normal;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-family:&#34;">Surat 12, Yusuf , Ayat 40,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;line-height:normal;text-align:left;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;line-height:normal;"><span class="gen"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“<span>Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) <span>nama-nama</span> yang <span>kamu</span> dan <span>nenek moyangmu membuat-buatnya</span>. Allah tidak menurunkan suatu <span>keteranganpun</span> tentang <span>nama-nama</span> itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”</span></span></em></strong></span><span class="gen"><em><span style="font-family:&#34;"> </span></em></span><span class="gen"><span style="font-family:&#34;">(QS 12, Yusuf : 40).</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="gen"><em><span style="font-family:&#34;"> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:31.5pt;"><span class="gen"><span style="font-family:&#34;">Keyakinan, yang tidak berdasar, akan kebenaran isme-isme itulah yang dapat digolongkan sebagai pemujaan manusia moderen. Manusia memiliki kemampuan terbatas untuk menguji kesebangunan antara apa yang ada dalam pikirannya dengan apa yang sesungguhnya ada dalam Realitas. Isme-isme itu serta keyakinan berlebihan akan keampuhan Ilmu hasil pemikiran manusia hanyalah sekadar ” nama-nama yang dibuat-buat saja” atau sama dengan <strong>khayalan manusia</strong> saja. Dan, disebutkan dalam Al-Quran bahwa jenis manusia yang demikian telah “mempertuhan diri dan hawa nafsunya” dan mereka sesat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“ …. dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. sesung- guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. ” </span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">(QS.28 : 50)<em></em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Simpulannya, krisis global yang dihadapi manusia moderen disebabkan karena kebanyakan mereka mempercayai apa yang tidak layak diyakini berupa isme-isme karena mereka telah menuhankan diri dan nafsu mereka sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Kebanyakan manusia moderen telah menjauh dari agama langit, bahkan dari agama itu sendiri, dalam pikiran apalagi dalam perbuatan dan kegiatan mereka. Jika dikaitkan dengan kondisi dan situasi masyarakat Minangkabau di abad ke 21 ini, mungkin telah ada jarak yang cukup jauh antara <strong>ABS-SBK</strong> sebagai konsep PDPH (Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup) dengan<span> </span>kenyataan kehidupan sehari-hari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Asumsi atau dugaan ini menjadi penjelas serta alasan kenapa <span>budaya Minangkabau selama setengah abad terakhir ini gagal membentuk lingkungan sosial ekonomi yang subur bagi persemaian manusia serta masyarakat unggul dan tercerahkan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;">P<span style="color:black;">enerapan ABS-SBK mengharuskan kehidupan perorangan serta pergaulan masyarakat Minangkabau berakar dari dan berpedoman kepada Al-Quran serta Sunnah Rasullullah.<span> </span>Hanya dengan demikianlah, ABS-SBK dapat membentuk lingkungan sosial-budaya yang akan mampu menghasilkan manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan yang berintikan para “</span></span><em><span style="font-family:&#34;color:black;">ulul albaab” </span></em><span style="font-family:&#34;color:black;">sebagai tokoh dan pimpinan masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;">Manusia seperti itulah barangkali yang dimaksudkan oleh Kato Pusako </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;">“</span></em></strong><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Nan Pandai Manapiak Mato Padang, Nan Indak Takuik Manantang Matoari, Nan Dapek Malawan Dunia Urang, Sarato Di<span> </span>Akhiraik Beko Masuak Sarugo“.<span> </span></span></em></strong></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:9pt;text-indent:-9pt;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&#34;"><span> </span><em>Imam as Syaukani</em> dalam kitab tafsirnya ‘Fathul Qadir’ dan <em>Syeikh Ali As Shabuni</em> dalam kitab tafsirnya ‘<em>Shafwatut Tafaasir’.</em></span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.25in;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;color:black;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;color:black;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;line-height:115%;color:black;"> Pepatah Arab menyebutkan, <span dir="rtl" lang="AR-SA">اخاك اخاك ان من لا اخا له-<span> </span>كساع الى الهيجا بغير سلاح</span><span lang="AR-SA"> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:.25in;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="color:black;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;color:black;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="color:black;"> Al-Baqarah, 257</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:9pt;text-indent:-9pt;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&#34;"><span> </span>Ucapan <em>Syeikh Abu Ali Ad Daqqaq </em><span>dan juga </span>Imam Al Qusyairiy an-Naisaburi mengomentari tentang mujahadah di dalam kitab tasawufnya <strong>Risalatul Qusyairiyah</strong></span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:9pt;text-indent:-9pt;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&#34;"><span> </span><strong>Syeikh Abdul Kadir </strong>memberikan nasehat di dalam kitab <em>Al Fathu Arrabbaani wa Al Faidh Ar Rahmaani, “</em><em>Berlaku jujurlah engkau dalam perkara sekecil apapun dan di manapun engkau berada. Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus engkau realisasikan dalam hidupmu. Ia akan bermanfaat bagi dirimu sendiri. Ikatlah perkataanmu, baik yang zhahir maupun yang batin, karena malaikat senantiasa mengontrolmu secara zhahir. Allah SWT yang mengontrol hal di dalam batin. Seharusnya engkau malu kepada Allah SWT dalam setiap kesempatan dan seyogyanya hukum Allah SWT menjadi pegangan dalam keseharianmu. Jangan engkau turuti hawa nafsu dan bisikan syetan, jangan sekali-kali engkau berbuat riya’ dan nifaq, karena hak itu adalah batil. Kalau engkau berbuat demikian maka engkau akan disiksa. Engkau berdusta, padahal Allah SWT mengetahui apa yang engkau rahasiakan. Bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan, semuanya sama. Bertaubatlah engkau kepada-Nya dan dekatkanlah diri kepada-Nya (Bertaqarrub) dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.</em>” </span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="ParagraphBuku" style="margin-left:9pt;text-indent:-9pt;line-height:115%;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span> </span><strong>Malik bin Nabi</strong> dalam bukunya <strong><em>Syuruth An Nahdhah</em></strong> menulis tentang peran waktu ini.</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="margin-left:9pt;text-indent:-9pt;line-height:115%;"><span lang="FR"> </span></p>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menghadapi Tantangan Budaya Global]]></title>
<link>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/04/13/menghadapi-tantangan-budaya-global/</link>
<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 09:07:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/04/13/menghadapi-tantangan-budaya-global/</guid>
<description><![CDATA[Membangun Program Strategis bersinergis Menghadapi Tantangan Budaya Global Di Abad ke Duapuluh Satu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoTitle" style="margin-bottom:6pt;text-align:center;"><span style="font-size:19pt;font-family:&#34;color:black;">Membangun Program Strategis bersinergis</span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin-bottom:6pt;text-align:center;"><span style="font-size:19pt;font-family:&#34;color:black;">Menghadapi Tantangan Budaya Global </span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin-bottom:6pt;text-align:center;"><span style="font-size:19pt;font-family:&#34;color:black;">Di Abad ke Duapuluh Satu</span><strong><em> </em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:center;"><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;color:black;" lang="IN">oleh H. Mas&#8217;oed Abidin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span></p>
<h2 style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;" lang="IN">Pendahuluan</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Zaman senantiasa mengalami perubahan Begitulah Sunatullah. Yang Kekal hanyalah Sunnatullah, aturan yang telah ditetapkan oleh Allah, Maha pencipta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Memasuki <em>alaf ketiga </em>atau abad dua puluh satu, ditemui suatu kenya­taan, terjadinya lonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Ditandai dengan lajunya teknologi komuni­kasi dan informasi (information technology</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><img class="alignleft size-full wp-image-412" title="buya-depan-masjid-nabawi-4" src="http://blogminangkabau.wordpress.com/files/2009/04/buya-depan-masjid-nabawi-4.jpg" alt="buya-depan-masjid-nabawi-4" width="211" height="279" /></span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Suatu gejala yang disebut‑sebut sebagai arus <strong>globalisasi</strong>, &#8220;perdagangan bebas, per­saingan yang tinggi dan tajam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Era globalisasi ak</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">an terjadi perubahan‑perubahan cepat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dunia akan transparan, terasa sempit, dan seakan tanpa batas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu penget</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">ahuan dan teknologi.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;" lang="IN">Perubahan oleh Arus globalisasi</span></strong><strong> </strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">1. Menggeser P</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">ola Hidup Masyarakat. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dari agraris tradisional menjadi masyarakat industri modern. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dari kehidupan</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> berasaskan kebersa­maan, kepada kehidupan individualis. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dari lamban kepada serba cepat. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dari berasas nilai sosial menjadi konsumeris materi­alis. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dari tata kehidupan tergantung dari alam kepada kehi­dupan menguasai alam.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dari kepemimpi</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">nan formal kepada kepe­mimpinan kecakapan (profesional).</span></p>
<h2 style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;font-weight:normal;" lang="IN">2. Pertumbuhan Ekonomi. </span></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Globalisasi menyangkut langsung kepentingan sosial masing‑masing negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Masing‑masing akan berjuang memelihara kepentingannya, dan cenderung tidak akan memperhatikan nasib </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">negara‑negara lain. Kecenderungan ini bisa melahirkan kembali &#8220;<strong>Social Darwinism</strong>&#8220;. </span><span style="font-family:&#34;color:black;">Dan ini kita rasakan kini dampaknya ketika dunia dilanda ambruknya sistim ekonomi kapitalis yang berbuah dengan krisis financial global.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kondisi ini mirip dengan kehidupan so</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">sial budaya masyarakat jahiliyah, antara lain mengagungkan materi (berhala), mengabaikan kaedah-kaedah halal-haram, memutus hubungan silaturrahim, berbuat anarkis dan kegaduhan terhadap masyarakat (tetangga, bangsa,negara), yang kuat m</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">enelan yang lemah.<a name="_ednref4" href="#_edn4"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span>&#60;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="IN">[4]</span></span></span></span></span></a></span><a name="_ednref4" href="#_edn4"></a><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><a name="_ednref4" href="#_edn4"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span></a></span></p>
<h2 style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span></h2>
<h2 style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;" lang="IN">Dampak Globalisasi</span></h2>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Globalisasi membawa <strong>banyak tantangan</strong> (sosial, budaya, ekonomi, politik dan bahkan menyangkut setiap aspek kehidupan kemanusiaan. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Globalisasi juga menjanjikan <strong>harapan‑harapan dan kemajuan</strong>.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Harapan dan kemajuan yang menjanjikan, adalah pertumbuhan ekonomi yang pesat, sebagai alat untuk menciptakan kemakmuran masyarakat. Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Apa artinya semua ini?</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> Kita akan menjadi pasar raksasa yang akan diperebutkan oleh orang‑orang di sekeliling. Bangsa kita akan dihadapkan pada <strong><em>&#8220;Global Capitalism&#8221;</em></strong>. Kalau kita tidak hati‑hati keadaan akan bergeser menjadi <strong><em>&#8220;Capitalism Imperialism&#8221;</em></strong> </span><span style="font-family:&#34;color:black;">artinya </span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">kita akan terjajah di negeri sendiri tanpa kehadiran fisik si penjajah.</span></strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Globalisasi membawa <strong>perubahan perilaku</strong>, terutama pada generasi muda (para remaja). </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">3.1. Masalah Remaja</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 .9pt 6pt .5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dunia remaja kita akhir-akhir ini digoncangkan oleh fenomena kurang menggembirakan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Banyaknya <strong>tawuran pelajar</strong>, pergaulan <strong>a-susila</strong> dikalangan pelajar dan mahasiswa. Pornografi yang susah dibendung. Kalangan remaja dijangkiti kebiasaan <strong>bolos sekolah.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kesukaan terhadap<strong> minuman keras.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kecanduan terhadap<strong> ectasy (XTC), </strong><span> </span>menjadi <strong>budak kokain dan morfin. </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kesukaan judi </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">dalam <strong>urban popular culture, </strong><em>musro, world-wide sing,</em> dan sejenisnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Para remaja cenderung bergerak menjadi <strong>generasi buih</strong> terhempas dipantai menjadi <strong><em>dzurriyatan dhi’afan</em></strong><span> </span>suatu generasi yang bergerak menjadi “<strong>X-G</strong>” <em>the loses generation</em> dan tidak berani ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Penyimpangan perilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;">Apa </span></em></strong><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Penyebab </span></em></strong><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;">U</span></em></strong><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">tama </span></em></strong><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;">kesemuanya itu ?</span></em></strong><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;"> </span></em></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">Kalau ingin dirinci, antara lain</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">.<span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">hilangnya tokoh panutan, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">berkembangnya kejahatan orang tua, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">luputnya tanggung jawab lingkungan masyarakat, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">impotensi dikalangan pemangku adat, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">hilangnya wibawa ulama, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">profesi guru dilecehkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 .5in 6pt -.25in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 .25in 6pt .5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span> </span>3.2. <strong>Perilaku Umat</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Terjadi</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> pula</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> <em><span lang="IN">interaksi</span></em><span lang="IN"> dan ekspansi<em> kebudayaan</em> secara meluas. Di tandai dengan semakin berkembangnya pengaruh budaya, </span></span></p>
<h2 style="margin-left:58.5pt;text-indent:-.25in;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">pengagungan materia secara berlebihan (materialistik),</span></h2>
<h2 style="margin-left:58.5pt;text-indent:-.25in;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik),</span></h2>
<h2 style="margin-left:58.5pt;text-indent:-.25in;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik). </span></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;">Sebenarnya perilaku umat ini merupakan p</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">enyimpangan jauh dari budaya luhur</span><span style="font-family:&#34;color:black;">. Akibatnya dapat </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">memunculkan ; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">a. <strong>Kriminalitas, </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">b. Sadisme, </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">c. Krisis moral </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">secara meluas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Terjadinya <strong>dis-equilibrium, (hilangnya keseimbangan moral),</strong> dalam tatanan kehidupan bermasyarakat menyebabkan lahir krisis-krisis, </span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="IN">krisis nilai, menyangkut <em>etika individu dan sosial</em> berubah drastik, pada mulanya berpandangan luhur bergeser kencang kearah tidak acuh, dan lebih parah mentolerir </span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="IN">krisis konsep pergeseran pandang (view) cara hidup, dan ukuran nilai jadi kabur. Sekolahan yang merupakan cerminan idealitas masyarakat tidak bisa dipertahankan. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="IN">Krisis kridebilitas dengan <em>erosi kepercayaan.</em> Pergaulan orang tua, guru dan muballig dimimbar kehidupan<span> </span>mengalami <em>kegoncangan wibawa</em>. </span>K<span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="IN">risis beban institusi pendidikan terlalu besar.Tuntutan tanggung jawab moral sosial kultural dikekang oleh sisitim dan aturan birokrasi. Kesudahannya, membelenggu<em> dinamika</em> institusi, akhirnya impoten memikul beban tanggung jawab. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="IN">Krisis relevansi program pendidikan yang mendukung kepentingan <em>elitis non-populis</em>, tidak demokratis. Orientasi pendidikan beranjak dari mempertahankan <em>prestasi</em> kepada<em> orientasi prestise, keijazahan.</em>  </span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="IN">Krisis solidaritas, dan membesarnya kesenjangan miskin kaya, dan kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata, kurangnya idealisme generasi<span> </span>remaja tentang peran dimasa datang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Pergeseran budaya </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">d</span><span style="font-family:&#34;color:black;">engan </span><span style="font-family:&#34;color:black;"><span> </span><strong><span lang="IN">mengabaikan nilai-nilai agama</span></strong><span lang="IN"> </span></span><span style="font-family:&#34;color:black;">pastilah akan </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">melahirkan tatanan hidup </span><span style="font-family:&#34;color:black;">masyarakat dengan </span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">penyakit sosial</span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;"> (masyrakat) atau PEKAT yang</span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> kronis,</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-family:&#34;color:black;">di antaranya akan meruyak menjadi ; </span>Keg<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">emaran berkorupsi. </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Aqidah</span><span style="font-family:&#34;color:black;">nya</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> bertauhid namun akhlaknya tidak mencerminkan akhlak Islami. </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Melalaikan ibadah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 .9pt 6pt 31.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">3.3. <strong>Perilaku kehidupan<span> </span>non-science</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Di antaranya tampak</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> pula pada perangai </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">; </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Sangat berminat terhadap kehidupan <strong>non-science,</strong>  </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">asyik mencari <strong>kekuatan gaib</strong> belajar <strong>sihir. </strong></span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Mencari jawaban <strong>paranormal, </strong></span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">menguasai <strong>kekuatan jin</strong>, bertapa ketempat <strong>angker. </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Menyelami <strong>black-magic, </strong>mempercayai <strong>mistik.</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>f.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Tidak terkecuali menghinggapi juga para cendekiawan. Mencari dukungan melalui pedukunan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">P</span><span style="font-family:&#34;color:black;">erangai </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">sedemikian</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> ini telah</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> banyak melahirkan </span><span style="font-family:&#34;color:black;">peribadi yang terbelah (</span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">split personalities</span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">)</span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">,</span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;"> dengan sikap </span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">“too much science too little faith”, </span></strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">lebih banyak ilmu dengan tipisnya kepercayaan keyakinan agama, </span></em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">berkembangnya paham <strong>nihilisme</strong> budaya senang lenang (<strong>culture contenment</strong>)<em>.</em><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;">Keadaan di atas d</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">iperparah </span><span style="font-family:&#34;color:black;">lagi </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">oleh limbah budaya, antara lain; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">sensate-culture<a name="_ednref6" href="#_edn6"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span>&#60;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="IN">[6]</span></strong></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span></a></span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> yang selalu bertalian dengan <em>hedonistik.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Orientasi hiburan berselera rendah, <em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">3-S tourisme</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> <em>sun-sea-sex. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Gaya hidup <em>konsumeristis, rakus, boros, cinta mode.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Pergaulan <em>bebas sex,</em> <strong>ittiba’ syahawat</strong> (memperturutkan hobi nafsu syahawat). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>f.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kebebasan salah arah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>g.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Lepas dari kawalan agama dan adat luhur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>h.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Tampil dengan sikap <strong>permissif</strong> dan <strong>anarkis</strong>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Pada hakekatnya semua perilaku a-moral tersebut lahir karena <strong><em>lepas kendali dari nilai-nilai agama</em></strong> dan <strong>menyimpang jauh </strong></span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">dan </span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">keluar dari alur </span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">akhlak mulia, </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;">atau menjauh dari adat istiadat warisan leluhur dan budaya bangsa</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">.</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kondisi seperti itu telah memb</span><span style="font-family:&#34;color:black;">awa perubahan </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">buruk terhadap </span><span style="font-family:&#34;color:black;">generasi bangsa dan menjadikan </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">dunia pendidikan pada umumnya</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> mendapat cercaan</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">Jawaban untuk keluar dari problematika ini adalah ikatan sinerjitas antara Umarak dan Ulama</span></strong></p>
<h2 style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;font-weight:normal;"> </span></h2>
<h2 style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;" lang="IN">Membentuk Generasi Masa Depan</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Generasi muda akan menjadi <strong>aktor utama</strong> dalam pentas kesejagatan (millenium ketiga). Karena itu, generasi muda (remaja) harus dibina dengan budaya yang kuat berintikan <strong><em>nilai-nilai dinamik</em></strong> yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 .9pt 6pt .5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Generasi<strong> masa depan</strong> (era globalisasi) yang diminta lahir dengan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">budaya luhur</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> (tamaddun),</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">berpaksikan tauhidik</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">kreatif</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> dan<strong> dinamik</strong>, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">memiliki <strong>utilitarian ilmu</strong> berasaskan <strong>epistemologi Islam</strong> yang jelas, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">tasawwur</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> (world view) yang <strong>integratik</strong> dan <strong>ummatik</strong> sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan <strong>transparan</strong>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Perkembangan ke depan banyak ditentukan oleh peranan remaja sebagai generasi <strong>penerus</strong> dan <strong>pewaris</strong> dengan kepemilikan<span> </span>ruang interaksi yang jelas menjadi agen sosialisasi guna menggerakkan kelanjutan<span> </span><strong>survival</strong> kehidupan ke depan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kita memerlukan <strong>generasi yang handal</strong>, dengan beberapa sikap; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">daya kreatif dan inno­vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">memahami nilai‑nilai budaya luhur, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">siap bersaing dalam knowledge based society, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>f.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">punya jati diri yang jelas, hakekatnya adalah generasi yang menjaga <strong>destiny</strong>, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>g.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>h.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>i.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, yang memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Sangat dipahami, bahwa kekuatan hubungan<em> ruhaniyah spiritual emosional</em> dengan iman dan taqwa<em> akan </em>memberikan ketahanan bagi umat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Hubungan ruhaniyah ini akan <em>lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.</em></span><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span></em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Generasi ke depan wajib digiring menjadi <strong>taat hukum.</strong></span><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Upaya ini dapat dilakukan dengan cara ; </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">memulai dari</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> lembaga keluarga dan rumah tangga, memperkokoh peran orang tua, ibu bapak , </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">fungsionalisasi peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">memperkaya warisan budaya dengan setia mengikuti dan mempertahankan, bertumpu kepada cita rasa <strong>patah tumbuh hilang berganti</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">menanamkan <strong>aqidah shahih (tauhid), dan</strong> <strong>istiqamah</strong> pada agama yang dianaut, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>f.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Apabila sains dipisah dari </span></em><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">aqidah syariah</span></strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> dan </span></em><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">akhlaq</span></strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> akan melahirkan saintis tak bermoral agama</span></em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">, konsekwensinya <strong>ilmu banyak dengan sedikit kepedulian</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>g.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>h.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>i.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">teguh politik, kukuh ekonomi, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>j.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">melazimkan musyawarah dengan disiplin dan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>k.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya Islam<span> </span>yang benar. <strong>Sesuatu akan selalu indah selama benar</strong>. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. </span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Generasi yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada. </span></p>
<h3 style="text-indent:0;margin:0 .9pt 6pt .5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span></h3>
<h3 style="text-indent:0;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;" lang="IN">M</span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;">enghadapi Abad Keduapuluh satu</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">Alaf </span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Baru</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span><span style="font-family:&#34;color:black;">atau abad keduapuluh satu ini </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">ditandai oleh; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 63pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">mobilitas serba cepat dan modern, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 63pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">persaingan keras dan kompetitif, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 63pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">komunikasi serba efektif, dunia tak ada jarak seakan global village, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 63pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">akan banyak ditemui limbah budaya kebaratan westernisasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Alaf baru itu<span> </span>diyakini bahwa kehadirannya tak bisa di cegah. Bahkan sudah berada didepan mata. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Pertanyaan yang perlu dijawab segera: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Sudahkah kita siap mengha­dapi perubahan zaman yang cepat dan penuh tantangan ini? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Di antara jawabnya adalah, kita berkewajiban sesegeranya mem-per­siapkan generasi baru yang siap bersaing dalam era global terse­but. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih berkecenderungan individual menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang bercirikan kebersamaan dengan nilai asas &#8220;gotong royong&#8221;, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip <em>ta&#8217;awunitas</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;">Maka tidak dapat tidak, p</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">roses pembangunan SDM-SDU mesti ditempuh,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 31.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Tahap kesadaran </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">tinggi tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Langkah</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> ini</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> perlu dengan penggarapan secara sistematik dan pendekatan proaktif mendorong terbangunnya proses<span> </span>pengupayaan (<em>the process of empowerment</em>). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 31.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Tahap perencanaan</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> dengan rangka kerja yang <strong>terarah</strong>, terencana mewujudkan <strong>keseimbangan</strong> dan minat (motivasi) dan gita kepada iptek, keterampilan dan pemantapan siyasah.</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam peng-upayaan. Konsep-konsep visi, misi, selalu terbentur dalam pen-capaian oleh karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 31.5pt;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">3. Tahap aktualisasi </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">secara sistematis<strong> </strong><em>(the level of actualization)</em><strong>. </strong>Bila pendidikan ingin </span><span style="font-family:&#34;color:black;">kita </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">jadikan <strong>modus operandus </strong>di</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">samping<strong> kurikulum ilmu terpadu dan holistik, </strong>sangat perlu pembentukan<strong> kualita pendidik </strong><em>(murabbi)</em><strong> </strong>yang sedari awal mendapatkan pembinaan<strong>. </strong>Pendekatan <strong>integratif</strong> dengan mempertimbangkan seluruh aspek <strong>metodologis</strong> berasas <strong>kokoh tamaddun</strong> yang <strong>holistik</strong> dan bukan utopis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt .5in;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 .9pt 6pt 0;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;" lang="IN">Antisipasi Umat.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Umat mesti mengantisipasi dengan penyesuaian-penyesuaian agar tidak menjadi kalah. Dalam </span><span style="font-family:&#34;color:black;">menghadapi </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">persaingan beberapa upaya semestinya disejalankan dengan ;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Memantapkan watak terbuka, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Pendidikan moral <strong>berpaksikan tauhid</strong>, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar seperti tertera dalam <strong><em>QS.31, Lukman:13-17</em>.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Integrasi moral</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> yang kuat, berakhlak dan memiliki penghormatan terhadap orang tua, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">mempunyai adab percakapan ditengah pergaulan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>f.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">pendalaman ajaran agama <strong>tafaqquh fid-diin, </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>g.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang universal, <strong>tafaqquh fin-naas,</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>h.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">perhatian besar terhadap masalah sosial atau <strong>umatisasi</strong>, teguh memilih kepentingan bersama dengan ukuran moralitas taqwa,<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>i.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">responsif dan kritis terhadap perkembangan zaman, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>j.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>k.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">memacu penguasaan ilmu pengetahuan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>l.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">kaya dimensi dalam pergaulan <strong><em>rahmatan lil ‘alamin</em></strong> menampilkan kecerahan bagi seluruh alam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>m.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">iman dan ibadah, menjadi awal dari <strong>ketahanan bangsa</strong>.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Ketahanan umat bangsa terletak pada <strong>kekuatan ruhaniyah</strong> </span><span style="font-family:&#34;color:black;">dan </span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">keyakinan agama</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> dengan <strong>iman taqwa</strong> dan <strong>siasah kebudayaan</strong>. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Bila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka <strong>keberkatan langit dan bumi</strong> (<em>QS.7,al-A’raf:96</em>). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;">Ini juga dapat dicapai antara lain l</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">ewat pintu pendidikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Pendidikan yang akan dikembangkan adalah pendidikan akhlak, budi pekerti.</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> Kita dapat memahami bahwa pendidikan </span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Akhlak</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span><span style="font-family:&#34;color:black;">adalah, </span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">jiwa pendidikan</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">, <strong>inti ajaran agama</strong></span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">, </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;">dan<strong> </strong></span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">buah dari keimanan</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Maka akhlak karimah (budi pekerti sempurna) adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah diri dalam menerima ilmu-ilmu lainnya. <strong><em>Ilmu yang benar membimbing umat kearah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh (baik).</em></strong></span><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Untuk itu, beberapa model perlu dikembangkan; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">pemurnian <strong>wawasan fikir disertai</strong><span> </span><strong>kekuatan zikir,</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">penajaman<strong> visi,</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>3.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">perubahan melalui <strong>ishlah atau perbaikan,</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>4.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">mengembangkan keteladanan <strong>uswah hasanah, </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>5.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan <strong>warisan spiritual religi. </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>6.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Menguatkan <strong>solidaritas </strong>beralaskan pijakan iman dan adat istiadat luhur, “<strong><em>nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso</em></strong>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>7.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Intensif menjauhi kehidupan materialistis, “<strong><em>dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno</em></strong>”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">Mewujudkan model ini diperlukan sinerji antara Umarak dan Ulama. </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;">Setiap </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Muslim harus jeli (&#8216;arif) dalam menangkap setiap pergeser­an yang terjadi karena perubahan zaman ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;">Pemerintah dan Ulama Suluah Bendang di Sumatera Barat h</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">arus mampu menjaring peluang‑peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan. &#8220;<strong>Laa tansa nashibaka minaddunya</strong>&#8220;, artinya &#8220;jangan sampai kamu melupakan nasib/peranan dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Langkah-langkah ke depan</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> dalam bentuk nyata dari sinerjitas Umarak dan Ulama itu dapat dilakukan antara lain </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-20.25pt;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">pembinaan <strong>human capital</strong> melalui keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-20.25pt;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan <strong>berkualiti</strong>, <strong>memiliki jati diri</strong>, padu dan <strong>lasak</strong>, <strong>integreted</strong> inovatif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-20.25pt;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan generasi muda. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-20.25pt;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Langkah drastik mencetak ilmuan Muslim yang benar-benar beriman taqwa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-20.25pt;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Pembinaan minda wawasan generasi muda ke depan yang bersatu dengan akidah, budaya dan bahasa bangsa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-20.25pt;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>f.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Secara sungguh-sungguh mewujudkan <strong>masyarakat madani </strong>yang berteras kepada prinsip keadilan (equity) sosial yang terang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt .5in;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Sungguh suatu nikmat yang wajib disyukuri. <em>&#8220;Lain syakartum la adzidannakum</em>&#8220;, bila kamu mampu menjaga nikmat Allah (syukur), niscaya nikmat itu akan ditambah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Di sini peran yang amat crusial dari </span><span style="font-family:&#34;color:black;">Sinerjitas yang mesti terbangun antara Ulama dan Umarak didalam mengatasi kemelur penyakit masyarakat karena dampak Globalisasi ini dengan mengamalkan bimbingan </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Agama Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;"><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:right;" align="right"><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Padang, </span></em></strong><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;">Jumadil awwal 1430 H / April 2009 M</span></em></strong><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">.</span></em></strong></p>
<div>&#60;!&#8211;[if !supportEndnotes]&#8211;&#62;</div>
<hr size="1" />&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</p>
<div id="edn1">
<h4 style="margin-bottom:4pt;"><a name="_edn1" href="#_ednref1"></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Catatan</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"><span>&#60;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">[1]</span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> Perkembangan cyber space, internet, informasi elektronik dan digital, walaupun kenyataannya sering terlepas dari sistim nilai dan budaya sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang.</span></p>
</div>
<div id="edn2">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><a name="_edn2" href="#_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"><span>&#60;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">[2]</span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya, <em>the act of process or policy making something worldwide in scope or application</em> menurut pengertian The American Heritage Dictionary.</span></p>
</div>
<div id="edn3">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><a name="_edn3" href="#_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"><span>&#60;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">[3]</span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> Dimana dalam persaingan bebas bentuk apapun, yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri (Wardiman, 1997).</span></p>
</div>
<div id="edn4">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><a name="_edn4" href="#_ednref4"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"><span>&#60;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">[4]</span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> Ungkapan Ja’far Bin Abi Thalib, lihat Al Islam Ruhul Madaniyah, Musthafa al Ghulayaini, terungkap sebagai berkiut,<span> </span>&#8220;<em>Kunna nahnu jahiliyyah, na’budul ashnam, wa na’kulul maitah, wa nuqat-ti’ul arham, wa nusi-ul-jiwaar, wa nakkul ul qawiyyu minna dha&#8217;ifun minna,</em>&#8220;<span> </span>artinya: &#8220;Kami masyarakat jahiliyyah, yang kuat dari kami berke­mampuan menelan yang lemah di antara kami.&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">Kehidupan sosial jahiliyyah itu telah dapat diperbaiki dengan kekuatan Wahyu Allah, dengan aplikasi syari&#8217;at Islam berupa penerapan ajaran <em>tauhid ibadah</em> dan <em>tauhid sosial</em> (Tauhidic Wel­tanschaung). Ini suatu bukti <em>tamaddun</em> pendekatan historik yang merupakan keberhasilan masa lalu (the glory of the past), sesuai Firman Allah, <em>&#8220;Demikian itulah umat sebelum kamu. Bagi mereka amal usahanya, dan bagi kamu amal usahamu.&#8221; (Q.S. 2: 141)</em></span></p>
</div>
<div id="edn5">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><a name="_edn5" href="#_ednref5"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"><span>&#60;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">[5]</span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> Sebelum terjadinya krisis ekonomi, 1997-dampaknya masih terasa hingga hingga sekarang), dalam tiga dasawarsa (1967-1997) ini telah menikmati pertumbuhan ekonomi yang pesat. Bank Dunia menyebut sebagai &#8220;<em>The Eight East Asian Miracle&#8221;</em> yang berkembangan menjadi macan Asia bersama: Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, Thailand, Singapura, Malaysia.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;font-weight:normal;">Kini kita menghadap lagi Krisis Finansial Global, dampaknya lebih berbahaya dari krisis ekonomi 1997 itu, karena yang rusak adalah sistim ekonomi dunia, hilangnya kepercayaan dan kegunaan dari ekonomi kapilatalis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">Populasi Asean sekarang sejak tahun 2003 saat memasuki AFTA antara 350 – 500 juta (Ini perkiraan Adi Sasono, Cides, 1997). Bila pertumbuhan ekonomi ini dapat dipelihara, Insya Allah pada tahun 2019, saat skenario APEC,<span> </span>maka kawasan ini akan menguasai 50,7 % kekayaan dunia, Amerika dan Uni Eropa hanya 39,3% dan selebihnya 10 % dikuasai Afrika dan Amerika Latin (Data Deutsche Bank, 1994).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">Tetapi semua prediksi ini buyar oleh ambruknya sistim ekonomi ka[pitalis.</span></p>
</div>
<div id="edn6">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><a name="_edn6" href="#_ednref6"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"><span>&#60;!--[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">[6]</span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> Budaya sensate memuja nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sebatas yang di lihat (tonton), di dengar, dirasa, di sentuh, dicicipi, dengan tumpuan kepada sensual, erotik, seronok, kadang-kadang ganas, mengutamakan kesenangan badani (jasmani). Orientasinya hiburan melulu, terlepas dari kawalan agama, adat luhur, moral akhlak, ilmu dan filsafat, dan tercerabut dari budaya dan nilai-nilai normatif lainnya. Seni dibungkus selimut art for art’s sake, sensual, eksotik, erotik, horor, ganas, yang lazimnya melahirkan klub malam, night club, kasino dan panti pijat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">Budaya sensate ini dipertajam dampaknya dalam kehidupan remaja oleh budaya popular kekota (urban popular culture) yang hedonistik (mulai berkembang 1960), dan berkembang lagi US culture imperialisme (uncle Sam Culture) dan the globalization of lifestyle gaya hidup global, world wide sing (Madonna, Michael Jakson, dll) sejak tahun 1990 di pra kondisi globalisasi. </span></p>
<p class="MsoEndnoteText" style="margin-bottom:4pt;"> </p>
<p class="MsoEndnoteText" style="margin-bottom:4pt;"> </p>
<p class="MsoEndnoteText" style="margin-bottom:4pt;"> </p>
<p class="MsoEndnoteText" style="margin-bottom:4pt;"> </p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sifat Ibadurrahman yang Ketiga yaitu "Suka Shalat Malam"]]></title>
<link>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/04/10/sifat-ibadurrahman-yang-ketiga-yaitu-suka-shalat-malam/</link>
<pubDate>Fri, 10 Apr 2009 04:56:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/04/10/sifat-ibadurrahman-yang-ketiga-yaitu-suka-shalat-malam/</guid>
<description><![CDATA[وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا “]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;                                                                                                                                            &#60;![endif]--> <strong><br />
</strong></p>
<p class="AyatBuku" style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="AR-SA">وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:10pt;" align="center"><span style="font-size:9pt;">“<em>Dan pada sebagian malam hari, (shalat) tahajjudlah sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhamu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:10pt;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;">(Q.S. Al Israa: 79)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:10pt;" align="center"><span style="font-size:9pt;"> </span></p>
<p class="NormalBuku"><strong><span lang="FR">Sifat Ibadurrahman yang ketiga: Shalat Malam</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><span lang="FR"><img class="alignleft size-medium wp-image-406" title="mabit-mina-3" src="http://blogminangkabau.wordpress.com/files/2009/04/mabit-mina-3.jpg?w=241" alt="mabit-mina-3" width="241" height="300" /><strong>Pada malam hari <em>Ibadurrahman </em><span> </span>berada dalam keadaan antara sujud dan berdiri, yang berarti mereka sedang mendirian shalat (<em>Qiyamullail</em>). </strong></span></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Allah SWT berfirman: </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">“<em>Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” </em>(Q.S. Al Furqan: 64)</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Mereka diberi sifat sujud, karena mereka meletakkan kening di atas tanah, menghadap Allah. Dan mereka juga berdiri, membaca <em>Kalamullah</em>. </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Ibadurrahman melakukannya bukan mencari kehormatan di mata manusia, bukan untuk mencari ketenaran dan pujian, tapi mereka melakukannya karena mengharap ridha Allah dan rahmat-Nya serta karena takut akan azab-Nya.</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Di dalam riwayat banyak sekali yang menceritakan tentang keadaan Rasulullah SAW dalam</span><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;" dir="rtl" lang="FR"> </span><span lang="FR">melewati waktu malamnya. </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Salah satunya diriwayatkan bahwa suatu hari Ubaid bin Umair dan Atha’ bin Abu Rabbah mendatangi rumsh Sayyidah Aisyah r.a lalu mereka bertanya, </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">“<em>Beritahukanlah kepada kami sesutau yang paling menakjubkan yang engkau lihat pada diri Rasulullah SAW!” </em>Setelah diam beberapa saat, </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Aisyah menjawab<em>, “Suatu malam beliau berkata kepadaku, ‘Hai Aisyah, biarkan aku malam ini beribadah kepada Rabbku.” </em>Aku berkata, <em>“Demi Allah, aku suka selalu dekat dengan engkau, namun aku juga suka apa yang membuat engkau senang.”</em></span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Maka beliau bangkit, bersuci, lalu berdiri untuk mengerjakan shalat. Beliau terus menerus menangis, lalu beliau duduk dan masih tetap menangis hingga janggut beliau basah oleh air mata. Lalu beliau berdiri dan<span> </span>terus menangis hingga tanah di dekat beliau basah. Kemudian Bilal datang mengumandangkan Azan Subuh. </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Ketika melihat beliau menagis, Bilal menghampiri beliau seraya berkata, </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">“<em>Wahai Rasulullah, engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lampau dan dosa-dosamu yang akan datang.” </em></span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Beliau menjawab, “<em>Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?”</em></span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Begitulah waktu malam yang dilalui oleh Rasulullah SAW, dan begitu juga yang dilakukan oleh para sahabat beliau. </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Al Hasan bin Shaleh – salah salah seorang <em>fuqaha s</em></span><em><span>a</span><span lang="FR">laf </span></em><span lang="FR">– pernah memberikan seorang  pembantu perempuan kepada sekumpulan orang. </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Ketika memasuki sepertiga terakhir dari waktu malam, perempuan pembantu itu  bangun dan menyeru<span> </span>mereka, “<em>shalat, shalat!” </em><span> </span></span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Mereka bertanya-tanya, “<em>Apakah sudah subuh? Apakah fajar sudah terbit?” </em><span> </span></span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Perempuan pembantu itu<span> </span>balik bertanya, </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">“<em>Apakah kalian tidak shalat kecuali subuh saja?” </em></span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Mereka menjawab, </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">“<em>Memang, kami hanya biasa mengerjakan shalat fardhu.” </em><span> </span></span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Maka perempuan pembantu itu menemui Al Hasan dan memohon kepadanya dengan berkata, </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">“<em>Tuan telah menyerahkan  aku kepada sekumpulan orang yang tidak mendapatkan bagian apapun dari waktu malam mereka. Demi Allah aku memohon agar tuan mengambil aku kembali.”</em></span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Barangsiapa yang tidak mau melakukan shalat malam, maka hendaklah ia mendirikan shalat fardhu tepat pada waktunya dan tidak mengulur-ulur shalat subuh sehingga matahari hampir terbit  pula karena kesukaan tidur atau lebih suka tidur daripada mengabdi kepada Tuhannya.</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR"> Yusuf Al Qardhawy mengatakan, </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">“Pola hidup manusia sudah banyak yang rusak. Dulu mereka suka tidur lebih cepat dan bengun lebih cepat pula. Ketika berbagai macam perangkat dan fasilitas modern, media massa, TV, film, Video<span> </span>ada di mana-mana, maka mereka belum tidur hingga tengah malam, dan mereka pun<span> </span>kesulitan bangun lebih dini.”</span></strong></p>
<p class="ArtiAyatbuku"><strong><span lang="FR">“Disebutkan dari Nabi SAW, bahwa ada seseorang yang tidur sepanjang malam hingga pagi hari. Maka beliau bersabda, “Itulah orang yang dikencingi syeithan di bagian telinganya.” (H.R. Bukhari &#38; Muslim)</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Rasulullah SAW bersabda:</span></strong></p>
<p class="ArtiAyatbuku"><strong><span lang="FR">“Syeithan membuat tiga simpul tali di bagian<span> </span>belakang kepala salah seorang di antara kalian, yang pada setiap simpul tali ia bubuhkan stempel, ‘Malam masih panjang, maka tidurlah lagi’, Jika ia bangun dan menyebut nama Allah, maka simpul itupun terburai. </span></strong></p>
<p class="ArtiAyatbuku"><strong><span lang="FR">Jika ia wudhu’, maka satu simpul lagi terburai, </span></strong></p>
<p class="ArtiAyatbuku"><strong><span lang="FR">Jika ia mendirikan shalat, maka seluruh simpul terburai, sehingga dia menjadi bersemangat dan tentram jiwanya. Jika tidak, maka tertekanlah jiwanya dan (timbullah) malas.” </span></strong></p>
<p class="ArtiAyatbuku"><strong><span lang="FR">(H.R. Bukhari)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;"><strong><span style="font-size:9pt;">Simpul tali syeithan itu senantiasa ada di kepala setiap orang. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;"><strong><span style="font-size:9pt;">Karena itu Rasulullah SAW bersabda;</span></strong></p>
<p class="ArtiAyatbuku"><strong><span lang="FR">“Lepaskanlah simpul tali syeithan itu meskipun dengan dua rakaat.” (H.R. Ibnu Khuzaimah)</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Syaikh DR. Yusuf Al Qardhawy mengatakan, </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR"><em>“Shalat malam dapat dikerjakan seusai shalat Isya hingga waktu fajar. </em></span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR"><em>Kita bisa memilih bagian dari bentangangan waktu itu. </em></span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR"><em>Shalatlah menurut kesanggupan, bisa dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat, hingga dua belas rakaat, dan akhirilah dengan shalat witir, karena sesungguhnya akhir shalat malam itu dipersaksikan. </em></span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR"><em>Tuntunan yang paling sederhana dari setiap muslim ialah melaksanakan shalat fardhu. </em></span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR"><em>Tapi Allah mensifati Ibadurrahman, bahwa mereka adalah orang-orang yang sujud dan berdiri melaksanakan shalat di waktu malam (Qiyamullail), dan tidak mensifati mereka sebagai orang-orang yang hanya memelihara dan mendirikan shalat fardhu. </em></span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR"><em>Memang memelihara shalat fardhu merupakan satu tingkatan, tapi itu bukan tingkatan Ibadurrahman. Artinya, Ibadurrahman memiliki tingkatan yang lebih tinggi lagi.”</em></span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Abdullah bin Sallam berkata, </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">“Ketika pertama kali Rasulullah SAW menginjakkan kaki di Madinah, maka orang-orang berkerumun mengelilingi beliau, dan aku termasuk mereka yang ikut berkerumun. </span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Setelah aku amati kuperhatikan wajah beliau, maka aku tahu bahwa wajah itu bukanlah wajah pendusta. Perkataan yang<span> </span>pertama kali aku dengar dari beliau adalah : </span></strong></p>
<p class="ArtiAyatbuku"><strong><span lang="FR">“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalinlah hubungan persaudaraan dan shalatlah pada malam setelah manusia tidur, niscaya kalian akan masuk<span> </span>sorga dengan sejahtera.” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><em><span lang="FR">Allahi A’lam bi as Shawab</span></em></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Wassalam,</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><strong><span lang="FR">Buya H. Masoed Abidin</span></strong><em><span lang="FR"><br />
</span></em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sifat Ibadurarhman yang Kedua  adalah "MURAH HATI"]]></title>
<link>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/04/10/sifat-ibadurarhman-yang-kedua-adalah-murah-hati/</link>
<pubDate>Fri, 10 Apr 2009 03:38:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/04/10/sifat-ibadurarhman-yang-kedua-adalah-murah-hati/</guid>
<description><![CDATA[وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَك]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;                                                                                                                                            &#60;![endif]--></p>
<p class="AyatBuku" style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="AR-SA">وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ</span></p>
<p class="ArtiAyatbuku" style="text-align:center;" align="center"><span lang="FR">“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” <strong>(Q.S. Fushilat: 34)</strong></span></p>
<p class="NormalBuku"><strong><span lang="FR">Sifat Ibadurrahman yang kedua: Murah hati</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><span lang="FR">Sifat Ibadurrahman yang kedua adalah sifat Murah Hati saat bergaul dengan manusia, terutama dengan orang-orang yang jahil dan bodoh. Sebagaimana firman Allah SWT, </span></p>
<p class="AyatBuku" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="AR-SA">وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُو</span><strong><span lang="FR"><img class="alignleft size-full wp-image-403" title="jpeg-image-227c397269-pixels-buya" src="http://blogminangkabau.wordpress.com/files/2009/04/jpeg-image-227c397269-pixels-buya.jpeg" alt="jpeg-image-227c397269-pixels-buya" width="227" height="269" /></span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="AR-SA">نَ قَالُوا سَلامًا</span></p>
<p class="ArtiAyatbuku"><span lang="FR">“… dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata yang baik (yang </span><strong></strong><span lang="FR">mengandung keselamatan),” <strong>(Q.S. Al Furqan: 63)</strong></span></p>
<p class="ParagraphBuku"><span lang="FR">Mengucapkan kata-kata yang baik artinya membebaskan diri dari kata-kata yang mengandung dosa, celaan, fitnah dan rasa dendam. Tidak membals keburukan dengan keburukan yang sama, meskipun itu sanggup dilakukan dan punya hak untuk membalasnya.</span></p>
<p class="ParagraphBuku"><span lang="FR">Allah SWT berfirman:</span></p>
<p class="AyatBuku" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="AR-SA">وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ</span></p>
<p class="ArtiAyatbuku"><span lang="FR">“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling dari padanya dan mereka berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan</span><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;font-style:normal;" dir="rtl" lang="FR"> </span><span lang="FR">bagimu amal-amal kamu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil.” <strong>(Q.S Al</strong></span><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;font-style:normal;" dir="rtl" lang="AR-SA">-</span><span lang="FR">Qashash: 55)</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><span lang="FR">Ketika orang-orang jahil menyapa, maka <em>Ibadurrahman </em>mengucapkan perkataan yang baik, tidak melumuri lidahnya dengan kata-kata yang sia-sia, tidak meladeni dan menghindarinya. Karena mereka tidak mau waktu mereka terbuang hanya untuk melayani sesuatu yang tidak bermanfaat, bukankah waktu sangat berharga apalagi bagi <em>Ibadurrahman</em>. Begitulah <em>Ibadarurrahman, </em>mereka menjaga lidah, waktu dan umur, melindungi lembaran-lembaran kebaikan yang sudah ada dan mengisi dengan kebaikan-kebaikan yang lain, menghindari keburukan dan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat bagi mereka.</span></p>
<p class="ParagraphBuku"><span lang="FR">Nabi Isa a.s pernah berjalan</span><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;" dir="rtl" lang="FR"> </span><span lang="FR">melewati sekumpulan orang-orang Yahudi, lalu mereka melontarkan kata-kata<span> </span>yang tidak senonoh kepda beliau, tapi beliau menanggapi perkataan mereka dengan kebaikan. Maka ada beberapa orang bertanya kepada<span> </span>beliau, <em>“Orang-orang itu telah melontarkan kata-kata tidak senonoh kepada engkau, namun engkau justru mengatakan yang baik kepada mereka.”</em> Beliau menjawab, <em>“Segala sesuatu mengeluarkan apa yang ada di dalamnya.”</em></span></p>
<p class="ParagraphBuku"><span lang="FR">Anas bin Malik r.a pernah berkata; </span></p>
<p class="ParagraphBuku"><span lang="FR">“Jika ada yang mengucapkan kata-kata kasar kepadamu, misalnya dengan ungkapan, “Wahai orang zalim, fasik, pendusta, pembohong”, atau kata-kata lain yang tidak senonoh, maka hadapilah ia dengan berkata, “Kalau memang engkau berkata bahwa aku ini seperti yang engkau katakan, semoga Allah mengampuni kesalahanku. Jika engkau dusta atau mengada-adaatau memfitnah dengan kata-katamu itu, semoga Allah mengampuni kedustaanmu.”</span></p>
<p class="ParagraphBuku"><span lang="FR">Allah SWT berfirman: <em></em></span></p>
<p class="ParagraphBuku"><span lang="FR"><em>“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” <strong>(Q.S. Fushilat: 34)</strong></em></span></p>
<p class="ParagraphBuku"><span lang="FR">Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memerintahkan kita untuk tetap berlaku baik bahkan yang lebih baik kepada orang yang berbuat jahat kepada kita, agar dia dapat berbalik menjadi teman yang setia. Karena manusia itu hakikatnya selalu menjadi tawanan dari kebaikan. Jika kita berbuat baik kepada seseorang, maka kebaikan itu akan mengikat dirinya<span> </span>dengan diri kita, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair:</span></p>
<p class="ArtiAyatbuku" style="margin:6pt 15.35pt .0001pt 12pt;"><span lang="FR">“Tundukkan hati manusia dengan berbuat baik kepadanya. Karena hanya kebaikan yang dapat menundukkan hati manusia”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;"><span lang="FR">Dalam pembahasan sehari-hari, kita selalu menyebut dan menykapi dengan tidak senang seseorang yang disebut orang-orang yang jahil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;"><span lang="FR">Siapakah mereka yang disebut dengan orang-orang yang jahil itu? …</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;"><span lang="FR">Menurut Syaikh Yusuf Al-Qardhawy, jahil menurut Al Qur’an adalah setiap orang yang durhaka kepada Allah<em> Azza wa Jalla</em>, setiap orang yang memberi kekuasaan kepada hawa nafsu untuk<span> </span>mengalahkan kebenaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;"><span lang="FR">Dan setiap orang yang memberi kekuasaan kepada syahwat untuk mengalahkan akal sehatnya, dapat dikatakan jahil. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;"><span lang="FR">Orang-orang yang meremehkan, mengolok-olok<span> </span>masalah yang serius dan mengejek kebenaran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;"><span lang="FR">Begitupun setiap orang yang akhlaknya buruk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;"><span style="font-size:9pt;">Al Qur’an menceritakan ketika para wanita tertarik dan terpesona saat menatap wajah tampan Nabi Yusuf a.s, maka Nabi Yusuf a.s berkata, <em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:10pt;"><span style="font-size:9pt;"><em>“…Dan jika tidak Engkau hindarkan aku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk memenuhi keinginan mereka, dan tentulah aku termasuk orang-orang yang jahil.” </em></span><strong><em><span style="font-size:9pt;" lang="FR">(Q.S. Yusuf: 33)</span></em></strong></p>
<p class="ParagraphBuku"><span lang="FR">Al Qur’an juga menceritakan ketika Nabi Musa a.s memerintahkan kaumnya agar menyembelih sapi betina, maka mereka berkata, </span></p>
<p class="ParagraphBuku"><span lang="FR"><em>“Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” <strong>(Q.S. Al Baqarah: 67)</strong></em></span></p>
<p class="ParagraphBuku"><span lang="FR">Sebagai penutup marilah kita simak hadits Rasulullah SAW berikut ini:</span></p>
<p class="ArtiAyatbuku"><span lang="FR">“Bersabda Nabi SAW kepada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a, </span></p>
<p class="ArtiAyatbuku"><span lang="FR">“Wahai ‘Uqbah, maukah engkau aku beritahukan budi pekrti ahli dunia dan akhrat yang paling utama? </span></p>
<p class="ArtiAyatbuku"><span lang="FR">Yaitu: Melakukan silaturrahmi (menghubungkan kekeluargaan) dengan orang yang telah memutuskannya, memberi kepad orang yang tidak pernah memberimu, dan memaafkan orang yang pernah menganiayamu.” <strong>(H.R. Hakim)</strong></span></p>
<p class="ParagraphBuku"><em><span lang="FR">Allahu A’lam bi as Shawab</span></em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sifat Sifat Ibadurrahman, ]]></title>
<link>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/04/10/sifat-sifat-ibadurrahman/</link>
<pubDate>Fri, 10 Apr 2009 03:26:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/04/10/sifat-sifat-ibadurrahman/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Rendah Hati&#8221; Oleh : H. Mas&#8217;oed Abidin Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman ;]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#8220;Rendah Hati&#8221;</p>
<p>Oleh : H. Mas&#8217;oed Abidin</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman ;</p>
<p>“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang (Ibadurrahman) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (mengandung) keselamatan.</p>
<p>Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.<img class="alignleft size-full wp-image-400" title="jpeg-image-236c397290-pixelstangga-al-haram" src="http://blogminangkabau.wordpress.com/files/2009/04/jpeg-image-236c397290-pixelstangga-al-haram.jpeg" alt="jpeg-image-236c397290-pixelstangga-al-haram" width="236" height="290" /></p>
<p>Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.</p>
<p>Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.</p>
<p>Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan)  yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p>Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.</p>
<p>Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.</p>
<p>Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.</p>
<p>Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami …Anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami, penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam sorga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan-ucapan selamat di dalamnya.”</p>
<p>Firman Allah ini ditemui di dalam Alquranul Karim, Q.S. Al Furqan, ayat  63-75.</p>
<p>Ibadurrahman adalah hamba-hamba yang dinisbatkan kepada Allah semata (Ar Rahman) yang mengandung pengertian, bahwa mereka adalah hamba-hamba yang layak mendapatkan rahmat Allah dan mereka selalu berada dalam lingkup rahmat-Nya.</p>
<p>Mereka adalah orang-orang yang menyadari kekuasaan Allah dan memenuhi hak-hak-Nya, yang memurnikan agama karena Allah dan Allah memurnikan agama-Nya bagi mereka.</p>
<p>Dinisbatkannya mereka kepada Allah Yang Maha Rahman – sebagaimana yang dinyatakan langsung oleh Allah – oleh karena disana juga ada golongan-golongan hamba yang lain, seperti hamba syeitan, hamba taghut, hamba syahwat, hamba uang, hamba khamar, hamba narkoba, hamba birahi, hamba harta, hamba tahta, hamba wanita. Ibadurrahman mempunyai sifat dan tanda-tanda sebagaiman yang disebutkan Allah di dalam ayat-ayat di atas.</p>
<p>Sifat-sifat tersebut adalah:</p>
<p>1.	Tawadhu’ dan rendah hati</p>
<p>2.	Murah hati</p>
<p>3.	Mendirikan shalat malam (Qiyamullail)</p>
<p>4.	Takut neraka</p>
<p>5.	Sederhana dalam membelanjakan harta</p>
<p>6.	Tauhid</p>
<p>7.	Menjauhi tindak pembunuhan dan menghormati kehidupan</p>
<p>8.	Menjauhi zina</p>
<p>9.	Taubat Nasuha</p>
<p>10.	Tidak bersumpah palsu dan meninggalkan pekerjaan yang tidak bermanfaat</p>
<p>11.	Menyelami ayat-ayat Allah</p>
<p>12.	Memohon kebaikan bagi istri dan keluarganya.</p>
<p>Sifat Ibadurrahman yang pertama adalah  Tawadhu’, sebagaimana diungkap  oleh Al Qur’an bahwa mereka berjalan di muka bumi dalam keadaan rendah hati dan penuh tawadhu’.</p>
<p>Ibadurrahman bila berjalan di muka bumi dalam keadaan  rendah hati, tawadhu’ dan lemah lembut, berjalan dengan penuh kewibawaan dan kehormatan, tidak dengan sikap sombong dan semaunya sendiri, tidak merasa lebih tinggi dari siapapun, tidak menyeramkan dan tidak congkak.</p>
<p>Syaikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan maksud berjalan dengan rendah hati bukan berarti berjalan dengan cara membungku-bungkuk seperti orang sakit, sebab Rasulullah SAW tidak berbuat seperti itu, begitu pula para sahabat.</p>
<p>Sebagaimana yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib r.a, dari Nabi SAW, bahwa saat berjalan badan beliau bergerak-gerak seperti sedang meniti jalan menurun. Ini merupakan jalannya orang-orang yang penuh semangatdan pemberani, seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim di dalam Zadul Ma’ad .</p>
<p>Abu Hurairah juga pernah berkata, “Aku tidak melihat sesuatu pun yang lebih bagus dari pada Rasulullah SAW. Seolah-oleh matahari berjalan di muka beliau. Aku juga tidak melihat seseorang yang lebih jalannya daripada beliau, seakan-akan bumi menjadi turun di hadapan beliau. Kami sudah berusaha menyeimbangi beliau, tapi beliau seperti tidak peduli.”</p>
<p>Rasulullah tidak berjalan seperti orang sakit atau lamban.</p>
<p>Maksud dari kata-kata cepat di sini bukan berarti cara berjalan yang menghilangkan kewibawaan, yang berjalan terlalu cepat.</p>
<p>Artinya sedang-sedang saja, tidak terlalu cepat tidak terlalu lambat, sesuai dengan perawakan, umur dan kemampuan.</p>
<p>Rasulullah SAW juga para sahabat beliau telah menyontohkan kepada kita sikap tawadhu’ yang pada dasrnya adalah salah satu landasan sikap dan akhlak mereka.</p>
<p>Marilah kita simak kata-kata hikmah berikut ini yang terdapat dalam kitab Muzakarah fi manazili as Shiddiqin wa ar Rabbaniyyin; min khilali an Nushus wa Hikam Ibnu ‘Athaillah Sakandary, karya Syaikh Sa’id Hawwa:</p>
<p>“Barangsiapa yang beranggapan bahwa dirinya tawadhu’ pada hakikatnya dia orang-orang yang sombong, sebab anggapan tawadhu’ seperti ini tidak timbul kecuali lantaran rasa tinggi diri/tinggi hati.</p>
<p>Karena itu, jika engkau beranggapan bahwa dirimu telah tawadhu’ sebenarnya engkau adalah orang yang takabur (sombong).”</p>
<p>Allahu A’lam Bi As Shawab</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Masyarakat Ber-Adat Yang Beradab Hanya Mungkin Jika Dilandasi Kitabullah]]></title>
<link>http://masoedabidin.wordpress.com/2009/04/09/masyarakat-ber-adat-yang-beradab-hanya-mungkin-jika-dilandasi-kitabullah/</link>
<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 14:02:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://masoedabidin.wordpress.com/2009/04/09/masyarakat-ber-adat-yang-beradab-hanya-mungkin-jika-dilandasi-kitabullah/</guid>
<description><![CDATA[Pokok pikiran ”alam takambang jadi guru” menunjukkan bahwa para filsuf dan pemikir Adat Minangkabau ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:6pt 0 .0001pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Pokok pikiran ”<em>alam takambang jadi guru</em>” menunjukkan bahwa para filsuf dan pemikir Adat Minangkabau (Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, menurut versi Tambo Alam Minangkabau) meletakkan landasan<span> </span>filosofis Adat Minangkabau atas dasar pemahaman yang mendalam tentang <strong>bagaimana bekerjanya alam semesta serta dunia ini termasuk manusia dan masyarakatnya</strong>. </span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;" lang="SV">Mereka telah menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari <em>Nan Bana</em>”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;" lang="SV">Konsep ”<em>Adaik basandi ka</em> <em>mupakaik, mupakaik<span> </span>basandi ka alua, alua basandi ka patuik, patuik basandi ka Nan Bana, Nan Bana Badiri Sandirinyo</em>” menunjukkan bahwa sesungguhnya para filsuf dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah <strong>mengakui keberadaan</strong> dan <strong>memahami </strong>”<em>Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo”,</em><span> artinya kekuasaan dan kebenaran hakiki ada pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini dapat dimaknai sebagai landasan masyarakat bertauhid.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;" lang="SV">Adat Minangkabau dibangun di<span> </span>atas ”Peta Realitas” yang<span> </span>dikonstruksikan secara kebahasaan (”<em>linguistic construction of realities</em>”)<span> </span>yang direkam terutama lewat bahasa lisan berupa pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun yang secara keseluruhan dikenal juga sebagai <strong>Kato Pusako</strong>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;" lang="SV">Lewat berbagai upacara Adat serta kehidupan masyarakat<span> </span>se-hari-hari, Kato Pusako menjadi rujukan di dalam penerapan </span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">PDPH di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Dengan perkataan lain, Adat yang bersendi kepada “<em>Nan Bana</em>” adalah Peta Realitas sekaligus Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan Masyarakat Minangkabau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;" lang="SV">Masyarakat Minangkabau pra-ABS-SBK adalah Masyarakat Ber-Adat yang bersendikan <em>Nan Bana,<span> </span>Nan Badiri Sandirinyo.</em> Sebagai buah hasil dari konstruksi realitas lewat jalur kebahasaan, hasil penerapannya di dalam kehidupan masyarakat se-hari-hari tergantung kepada sejauh mana ”peta realitas” itu memiliki ”hubungan<span> </span>satu-satu” (”<em>one-to-one relationship</em>”) atau sama sebangun dengan Realitas yang sebenarnya (<em>Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo</em> itu). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;" lang="SV">Terterapkannya berbagai perilaku kontra-produktip oleh beberapa bagian masyarakat menunjukkan bahwa ada kekurangan serta kelemahan dari Adat Minangkakau Sebagai Peta Realitas serta Petunjuk<span> </span>Jalan Kehidupan Bermasyarakat itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;" lang="SV">Kekurangan utama yang menjadi akar dari segenap kelemahan yang terperagakan itu adalah <strong>ada bagian dari Peta Realitas itu yang ternyata tidak sama sebangun dengan <em>Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo</em> itu</strong>. </span></p>
<h1 style="margin-top:6pt;line-height:115%;"></h1>
<h1 style="margin-top:6pt;line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;">Membangun Masyarakat Minangkabau Masa datang</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Peristiwa sejarah yang menghasilkan Piagam <em>Sumpah Satie</em> <em>Bukik Marapalam </em>dapat diibaratkan bagaikan “<em>siriah nan kambali ka gagangnyo, pinang<span> </span>nan kambali ka tampuaknyo</em>”.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Dari Adat yang pada akhirnya bersendikan kepada <strong><em>Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo, </em></strong>disepakati menjadi<span> </span>“<em>Adat Basandi Syarak</em>, <em>Syarak Basandi Kitabullah</em>”(ABS-SBK).<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Filsul dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah mengakui dan memahami keberadaan <em>Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo. Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo </em><span> </span>termasuk Alam Terkembang yang menjadi Guru.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Dari pemahaman bagaimana Alam Terkembang bekerja, termasuk di dalam diri manusia dan masyarakatnya, direndalah Adat Minangkabau. Konsep dasar Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat)<span> </span>kemudian menjadi kesadaran kolektif berupa Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) manusia dan<span> </span>masyarakat Minangkabau.<span> </span>Konsep PDPH yang merupakan inti Adat Minangkabau (Adat Nan Sabana Adat) memengaurhi sikap umum dan tata-cara pergaulan, yang lebih dikenal sebagai Adat nan Diadatkan dan Adat nan Taradat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Peristiwa yang menghasilkan Piagam <em>Sumpah Satie Bukik Marapalam</em> telah merubah konstruksi gagasan dasar dan penerapannya dalam Adat Minangkabau.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Tampaknya dahulu itu tekah terjadi asimilasi (atau pemesraan) yang cukup padu antara Islam dengan Kitabullah serta Adat Nan Sabana Adat (Konsep Dasar Adat sebagai PDPH) yang selanjutnya memengaruhi Adat Nan Taradat dan Adat Istiadat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;"><span> </span><span><!--[if gte vml 1]&#62;                    &#60;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/BUYA/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.gif" alt="" width="576" height="432" /><!--[endif]--></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">ABS-SBK sekarang menjadi<span> </span>konsep dasar Adat (Adat Nan Sabana Adat) diungkapkan, antara lain lewat Bahasa, yang direkam sebagai Kato Pusako.<span> </span>ABS SBK memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21pt;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Maka Pemerintah Daerah di Sumatera Barat di dalam menghadapi tantangan kontemporer yang sedang menjajah hati budi umat khusus<span> </span>di Minangkabau (Sumatra Barat), dapat dilakukan dengan berapa agenda kerja, antara lain ; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:6pt 0 .0001pt 39pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>1.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Mengokohkan pegangan generasi Minangkabau dengan keyakinan dasar Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:6pt 0 .0001pt 39pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>2.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Menyebarkan budaya wahyu di atas kemampuan<span> </span>akal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:6pt 0 .0001pt 60pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Memperbanyak program meningkatkan hubungan umat dengan pengamalan Alquran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:6pt 0 .0001pt 60pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Melipatgandakan pengaruh sunnah Rasulullah<span> </span>dalam kehidupam masyarakat Minangkabau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:6pt 0 .0001pt 60pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Meningkatkan pengetahuan umat mengenai sirah Rasulullah SAW, dengan menggiatkan gerakan dakwah kultural di Ranah Minang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:6pt 0 .0001pt 60pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Menyuburkan amalan ruhaniah yang positif dan proaktif membangun masyarakat dengan<span> </span>bekalan tauhid ibadah yang shahih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:6pt 0 .0001pt 39pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>3.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Meningkatkan program menguatkan peran bundo kanduang yang telah membentuk sejarah gemilang di zaman silam di ranah bundo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:6pt 0 .0001pt 39pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>4.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Menampilkan sistem pendidikan akhlak Islami melawan aliran pendidikan<span> </span>sekular.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:6pt 0 .0001pt 60pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Menjauhi budaya pornografi dan pornoaksi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:6pt 0 .0001pt 60pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Menggandakan usaha melahirkan penulis-penulis Minangkabau yang dijiwai ajaran Islam sebagai realisasi syarak mangato adaik mamakai, dalam berbagai lapangan media.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:6pt 0 .0001pt 39pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>5.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Menggandakan bilangan ulama suluah bendang di nagari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:6pt .35pt .0001pt 39pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>6.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Melahirkan pendakwah pembangunan nagari dan adat budaya Minangkabau yang sesuai dengan Islam, sebagai implementasi dari ABSSBK di nagari-nagari, diiringkan dengan</span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;" lang="IN"> usaha pembentukan imam khatib, para mu’allim dan tuangku di nagari-nagari pada saat kembali menerapkan ABSSBK di tengah kehidupan masyarakat Minangkabau.. </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:115%;margin:6pt .35pt .0001pt 60pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Membuatkan anggaran belanja yang memadai di daerah-daerah menjadi sangat penting di dalam mendukung satu usaha yang wajib. </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:115%;margin:6pt .35pt .0001pt 60pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Meningkatkan keselarasan, kesatuan, kematangan dan keupayaan haraki Islami.</span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:6pt 0 .0001pt 39pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span><span>7.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Meningkatkan program untuk melahirkan masyarakat Minangkabau yang penyayang, saling menghargai, menghormati sesama, dan tidak aniaya satu sama lain. Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan sesuai <em>adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah </em><span>di Minangkabau</span>.</span></p>
<p class="MsoBlockText" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;"><span> </span>Generasi Minangkabau, mesti meniru kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati oleh lingkungannya.</span></p>
<p class="MsoBlockText" style="text-align:left;text-indent:.5in;line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt;" align="left"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Wassalamu ‘alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh, </span></p>
<p class="MsoBlockText" style="text-align:left;text-indent:.5in;line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt;" align="left"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Buya H. Mas&#8217;oed Abidin<br />
</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Binua Nahaya, Nasibmu Kini]]></title>
<link>http://blogklipingppshk.wordpress.com/2009/02/11/47/</link>
<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 04:14:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>blogklipingppshk</dc:creator>
<guid>http://blogklipingppshk.wordpress.com/2009/02/11/47/</guid>
<description><![CDATA[Binua Nahaya merupakan salah satu wilayah masyarakat adat yang ada di wilayah kecamatan Ngabang, tep]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Binua Nahaya merupakan salah satu wilayah masyarakat adat yang ada di wilayah kecamatan Ngabang, tepatnya meliputi kawasan kampung Nahaya, Damar, Tareng, Pagung, Pak Mayam, Kota Baru, Sebua dan wilayah sekitarnya. Sebagai sebuah kawasan masyarakat adat, Binua Nahaya hingga saat ini cenderung berubah terutama dari kontur kawasan, pola relasi serta roda perekonomian masyarakat. Kontur kawasan yang dulunya lebat ditumbuhi hutan (terutama diluar kawasan pemukiman) sekitar kampung dan berbagai kawasan sungai yang dapat diakses sebagai sumber pencari lauk (ikan) dan sumber air bersih, sekarang berangsur-angsur telah berubah. Kawasan hutannya kini telah banyak dibabat dengan telah masuknya upaya eksploitasi hutan secara legal dengan pembukaan lahan skala besar melalui perkebunan sawit. Demikian juga sungai, sebagai pemasok lauk dan air bersih beberapa diantaranya telah berubah fungsi dan tercemar. Katakanlah seperti sungai Ambuang dan beberapa sungai kecil lainnya. Sungai sebagai pemasok air keperluan keluarga juga dengan masuknya perkebunan sawit di kawasan tersebut cenderung terancam kebersihannya. Oleh karena di beberapa sungai dijadikan saluran akhir pembuangan zat-zat yang ada di kawasan perkebunan. Pencemaran sungai-sungai lainnya akan sangat mungkin terjadi. Padahal salah satu asset berharga bagi setiap kawasan di wilayah perkampungan adalah sungai sebagai sumber air untuk keperluan keluarga. Sedangkan pola relasi dan roda perekonomian dengan telah masuknya beberapa perusahaan yang ada juga mulai bergeser. Warga yang awalnya terbiasa dengan pengaturan jadwal kerja sendiri dengan bekerja menoreh karet dan pergi ke ladang serta ke hutan untuk mencari keperluan keluarga, kini sebagian diantaranya mulai diatur berdasarkan jadwal pihak perusahaan dengan bekerja pada perusahaan perkebunan. Kebun karet milik warga beberapa diantaranya juga telah diserahkan untuk areal perkebunan, demikian pula pola relasi antar masyarakat juga cenderung berubah. Peran pihak-pihak terkait, terutama tokoh masyarakat setempat baik yang tinggal maupun berada diluar kawasan Binua Nahaya juga mestinya tidak membiarkan kawasan hutan binua Nahaya terancam, yang pada gilirannya berdampak pada keberadaan Binua Nahaya dan warganya untuk jangka panjang. Peran masyarakat adat diwilayah setempat sangat menentukan arah Binua Nahaya. Demikian pula peran para pengurus adat dan pengurus desa beserta jajarannya. Momen pemilihan Temanggung Binua Nahaya yang sedianya akan diselenggarakan dalam waktu dekat, kiranya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memilih kepala Binua (Temanggung) yang benar-benar peduli pada masa depan dan pola relasi antar masyarakat serta yang tidak kalah pentingnya juga peduli pada tetap terjaganya lingkungan alam (hutan, tanah dan air) yang ada di sekitar Binua Nahaya. Siapapun yang terpilih sebagai Temanggung Binua Nahaya, sebaiknya memang dia yang mengerti soal adat dan tata nilai yang diberlakukan di wilayah adat setempat. Tidak ambisi, tidak berniat menggunakan jabatan Temanggung untuk kepentingan pribadi (mencari kekayaan, kedudukan, dll) dan berkomitmen serta memiliki niat tulus untuk mengabdikan diri bagi masa depan adat, hutan, tanah dan air warga setempat. Sosok tersebut baiknya tidak terikat oleh kepentingan pihak manapun dan sedianya juga bukan bagian dari pihak yang berperan turut serta “menggadaikan” hutan Binua Nahaya untuk dibabat. Mudah-mudahan nantinya Temanggung yang terpilih sanggup mengikhlaskan waktu dan tenaganya untuk berbuat yang terbaik bagi warga Binua. Karenanya, bagi mereka yang tidak punya biaya dan meskipun tidak memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, tentunya tidak salah bila diberi kesempatan yang sama. Jangan pula mereka ditakut-takuti dengan informasi yang tidak sewajarnya. Keberadaan hutan, tanah dan air perlu kepedulian bersama. Karena bila tidak ada yang peduli, maka yakinlah hutan, tanah dan air yang pernah menjadi kebangaan warga suatu ketika hanya akan menyisakan kenangan bagi generasi warga Binua Nahaya berikutnya. Bila hutan Binua Nahaya tidak ada lagi, tanah untuk bertani telah menyempit dan sungai pemasok lauk serta sebagai sumber pemasok air bersih telah tercemar, maka jangan pernah bangga dan tentu tidak ada gunanya lagi disebut sebagai Binua Nahaya. Karena salah satu hal yang esensial (mendasar) hadirnya pemerintahan Binua yang dikepalai seorang Temanggung menurut hemat saya adalah bagaimana hutan, tanah dan air sebagai bagian dari kesatuan masyarakat adat yang berbudaya dengan adat istiadatnya tetap terjaga, dihormati martabatnya. Bagaimana Nasib Binua Nahaya kedepan, akan sangat bergantung pada sikap warganya saat ini. Binua Nahaya, nasibmu kini berada pada setiap wargamu yang merindukan keberadaanmu yang asri seperti dulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Hendrikus Adam Warga biasa Binua Nahaya</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber : Pontianak Post, 11 Februari 2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Palanta Mak Sati]]></title>
<link>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/02/01/palanta-mak-sati/</link>
<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 06:17:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/02/01/palanta-mak-sati/</guid>
<description><![CDATA[Dunsanak sa palanta, ketek indak disabuikkan namo, gadang indak dipanggiakan gala. Sabalunnyo ambo m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dunsanak sa palanta, ketek indak disabuikkan namo, gadang indak dipanggiakan gala. Sabalunnyo ambo maminta maaf dek karano talambek mambaleh milis yang mananyokan identitas badan diri ambo oleh Kmd. Andrinof Chaniago. Kapado moderator paralu ambo jalehkan bahwa email ambo di milis iko indak dibajak urang, jadi pandapek nan ambo tulih, asli dari ambo nan banamo Noor Indones glr St. Sati. Ambo baru pulang dari kampuang di Agam dan indak mambuka email di sinan. Ambo berkenalan untuak memanfaatkan tehnologi komunikasi informasi dunia maya iko karano diperkenalkan oleh angku doto Abraham Ilyas (63 th), kutiko baliau membangun situs komunitas (th. 2002) di www.nagari.org /dan selanjutnyo www.nagari.or.id. Kutiko itu baliau maminta ambo untuak membangun komunitas dunia maya nagari Sitalang di Kab. Agam. Meskipun pembangunan nagari maya tersebut sampai kini masih menggunokan hosting gratis di www.geocities.com/ctalang, tapi kok urang mamasuakkan kato kunci Sitalang (nagari asa ambo) di google, alah bisa diketahui suku, nagari asa sarato foto ambo (walaupun gaek masih ngganteng lho, he, he..!). Jadi namo Noor Indones itu indak palasu doh. Induak bareh sorang sajo, dan anak ado 9 urang. Alhamdulillah kasadonyo alah tamat PT dan alah nikah. Kiniko 6 urang anak ambo badomisili/bakarajo di Sumatera, 2 urang di Jawa dan sorang di Japang. Iseng-iseng kok nak mengecek identitas diri ambo bisa ditanyokan ka Bapak Prof. Amran Halim, mantan Ka. Pusat Bahasa. Mulonyo ambo nak maurus/maninggakan pasan-pasan sabalun ambo mati hanyo untuak anak-kamanakan sajo di situs nagari Sitalang, tapi angku Abraham maminta ambo untuak mambuek semacam &#8220;palanta&#8221; di homepage di situs nan baliau tampilkan dan diagiahlah judul palanta tersebut diambiak dari gala ambo yaitu &#8220;Palanta Mak Sati&#8221;. Palanta barisi &#8220;guritiak&#8221; untuak proyek/pembangunan Sumbar. Bukankah kini jaman alah baganti jo jaman reformasi, siapopun buliah mangaluakan pandapeknyo asa indak menghujat. Ambo maraso… kok pemda Sumbar salah arah dalam mambuek proyek-proyek pembangunan…., tantu akan marusak anak-kamanakan sarato keturunannyo, khususnyo nan bamukim di nagari Sitalang nan Barajo Surang. Jadi kok amuah manalusuri isi tulisan ambo di palanta Mak Sati, lai ado alternatife lain nan ambo sampaikan di sinan tantangan pembangunan iko (selain galeh wisata). Sebagian Daftar Judul tulisan di bawah merupokan karangan ambo pribadi atau basamo jo angku Abraham Ilyas. Tampaknyo lai ado nan mambaco tulisan tersebut sesuai jo angko-angko nan tatulih di belakang judul. Kini permintaan ambo, kok lai kan ado nan ka mambantu ambo mambuek tulisan disaratoi paretongan jo angko-angko (proposal kecek rang kini), ba a caronyo badagang Carbon dari hutan ulayat dari nagari-nagari di sekitar danau Maninjau. Kabanyo negara maju basadio membantu masyarakat nan mamaliharo hutannyo (dalam rangka mengurangi pemanasan bumi). Kok lai ado dosen-dosen (di lua tampek ambo maaja) Pengamat kebijakan publik dan aktifis sosial di Jakarta sarato aktifis LSM nan bisa mambantu menghubuangkan nagari-nagari tersebut dengan masyarakat Uni Eropa, US, Australia dll. negara maju, tentunyo dolar, euro, yen akan datang ka kampuang. Indak paralu anak nagari diajai manjua jasa pijit-urut ka turis lai, karano mereka bisa mandapek modal untuak mamaliharo labah, bataranak itiak, kambiang jo Jawi dll secaro moderen. Nagari-nagari awak bisa mengantikan HD, Klink sebagai MLM nan manjajokan madu nan Rp. 250.000,- sa liter. Satantangan karajo ambo, dauluno guru bahasa Indonesia salamo 25 tahun, dimulai dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi dan intansi pemerintah di Palembang dan kini alah pansiun. Aktivitas sosial ambo tahun 1957 sampai 1960 memfasilitasi kegiatan-kegiatan perjuangan daerah bergolak di kota Palembang (penghubung di kota) dan kini dipacayoi dek kawan-kawan lamo manjadi sekretaris Forum Komunikasi Eksponen 66 SS) di sampiang sebagai ketua Seksi Pembinaan Adat Minangkabau BMKM sarato Pembina pengurus Ikatan Keluarga Agam dan Bukittinggi Palembang. Namo ambo Noor Indones, nan artinyo Cahaya Indonesia tantunyo merupokan niat/doa atau mukasuik atau Visi dari urang gaek ambo nan mengharapkan anaknyo manjadi orang Indonesia nan baik. Khusus untuak pambarian namo iko alah ditabuih dek baliau th. 1936 dengan manghuni pinjaro salamo 3 bulan. Komentar ambo tentang pembangunan ekonomi untuak nagari-nagari di salingka danau (agar disesuaikan dengan budaya), dimukasuikkan untuak menanggapi tulisan salah seorang anggota milis (penulis memperkenalkan dirinyo sebagai aktivis LSM) yang meminta tulisannya untuak dikomentari. Bak kato urang Minangkabau, baliau iko ibarat kayu gadang di tangah koto, nan bapucuak cewang ka langik, baurek limbago matan. Ureknyo tampek baselo, batangnyo tampek basanda. Dahannyo tagok, tampek bagantuang. Daunnyo rimbun tampek balinduang di ari paneh, bataduah di ari ujan. Babuah kato nan bana. Ka pai tampek batanyo, ka pulang tampek babarito, nan sarupo kecek urang: Bak antan mangko bak nangko Di nan dangkek basijingkek Di nan dalam basibanam Ka lurah manurun, ka bukik mandaki Nan ambo takuikkan, bak bunyi pantun: Puyuah nak urang Koto Nopan Bao bapikek lah daulu Guruah nan indak jadi ujan Bumi jo langik nan dapek malu. Demikianlah dari ambo, urang Gaek nan biaso mangaji dimulai dari alih, sarupo urang daulu manjalankan agamo batingkek-tingkek, dari syariat, dilanjuikkan ka thariqat, mangarati jo hakikat akhianyo basuo jo makrifat. Meskipun ambo alah gaek dalam usia, namun praktek ambo barulah satingkek memahami jo manjalankan syariat sajo dalam iduik iko, balain jo kabanyakan (!) urang mudo kini lansuang maraso dapek hakekat. Maaf dan hormat ambo, wollohuaklam. Noor Indones St. Sati Sebagian judul Karangan ambo lihek di www.nagari.org/palanta2.php atau di www.nagari.or.id/?moda=palanta2 Kelompok halaman : 1 2 Judul-judul di halaman: 1 Manggaleh, Badagang, Saudagar dan Budaya (993) Paradigma Minang Kabau unt. pedoman Pemb. Sumbar (1500) luak bapangulu, rantau&#8230;J&#8230;barajo (999) &#8230;tolonglah Ambo&#8230;.. ! (782) Gayuang basambuik, Kato bajawab (922) Kirimkan seiris dagingku unt. Ratu Wihelmina (1871) Manjajokan Bika baulek bakuliliang kota: Servis untuak wisatawan (1017) Bana sasuai, paham saukua Tanggapan unt. Sdr. Jakob Sumardjo (908) Rekomendasi WSIS untuk anak-kamanakan awak (1758) Surek unt. Gubernur: Jaan biakan sarupo Padi Salibu (1240) Evaluasi Industri Utak di Sumbar th. 2005 (617) Talampau Cadiak (661) Tuah Anjiang, cilako kudo (630) Beda Orang dengan Manusia (941) Nagari dan Kota (440) Peto ta ajan utak (606) Inilah Perasaan (388) Si Usuit tagia bagala (443) Gadih Desa Mangamuak (458) Si Usuik manjadi Provokator (376) Dalam batin bahakikat pulo (427) Pandai-pandailah ! (355) Buyuang Tasulo Kayie (366) Ingek Sabalun Kanai (356) Konsep Wisata di Agam (365) Pengemis Jalanan, surek untuak Mamak (351) The derivation of the word &#8220;Minangkabau&#8221; (318) Bacirabuik Lonte (2328) Pil Kada (326) Gilo Mancaliak Baruak Barayun (493) Kembali ke Hal. Utama</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tambo Kerinci]]></title>
<link>http://yancearizona.wordpress.com/2009/01/30/tambo-kerinci/</link>
<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 10:21:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yance Arizona</dc:creator>
<guid>http://yancearizona.wordpress.com/2009/01/30/tambo-kerinci/</guid>
<description><![CDATA[Takjub melihat ada satu link yang berisi Tambo Kerinci. Tadinya iseng saja searching dengan kata ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><a href="http://yancearizona.files.wordpress.com/2009/01/naskah-tanjung-tanah.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-433" style="margin-left:5px;margin-right:5px;" title="naskah-tanjung-tanah" src="http://yancearizona.wordpress.com/files/2009/01/naskah-tanjung-tanah.jpeg" alt="naskah-tanjung-tanah" width="150" height="100" /></a>Takjub melihat ada satu link yang berisi Tambo Kerinci. Tadinya iseng saja searching dengan kata &#8220;Tambo Kerinci&#8221;. Eh, ternyata ketemu. Digitalisasi ini tentunya tidak lepas dari kontribusi <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Uli_Kozok">Pak Uli Kozok</a>. Halaman ini hanya halte untuk menuju Tambo tersebut. Semoga bisa jadi bahan melakukan pengkajian bagi pengunjung yang berminat.</span></p>
<p align="center"><a href="http://www.hawaii.edu/indolang/manuscripts/Kerinci/Tambo/index.html"><strong>TAMBO KERINCI</strong></a></p>
<p align="center">disalin dari tulisan Jawa Kuno, tulisan rencong dan tulisan Melayu yang terdapat pada tanduk kerbau, daun lontar, buluh dan kertas dan kulit kayu, pusaka simpanan orang Kerinci</p>
<p align="center">oleh</p>
<p align="center">DR. P. VOORHOEVE</p>
<p align="center">taalambtenaar t.b.v.d Gouveneu van Sumatra</p>
<p align="center">dengan pertolongan</p>
<p align="center">R. NG. DR. POERBATJARAKA,</p>
<p align="center">toan H. VELDKAMP, controleur B.B. nyonya M.C.J. VOORHOEVE BERNELOT MOENS, goeroe A. Hamid</p>
<hr size="2" />The original text dating to 1942 was retyped and converted to bring it in line with the spelling conventions of the EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Evident typing mistakes have been corrected, but no other corrections were made unless indicated in the text.</p>
<p>Honolulu, 6 October 2006. Uli Kozok</p>
<p>UNTUK MENEMUKAN HALAMAN TAMBO, KLIK <a href="http://www.hawaii.edu/indolang/manuscripts/Kerinci/Tambo/index.html">DISINI</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penjelasan Filosofi, Penjabaran dan Implementasi ABS-SBK]]></title>
<link>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/01/28/penjelasan-filosofi-penjabaran-dan-implementasi-abs-sbk/</link>
<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 02:10:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/01/28/penjelasan-filosofi-penjabaran-dan-implementasi-abs-sbk/</guid>
<description><![CDATA[PENJELASAN FILOSOFI, PENJABARAN DAN  IMPLEMENTASI ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH    ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:center;margin:6pt 0 0;" align="center"><strong><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">PENJELASAN FILOSOFI, </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:center;margin:6pt 0 0;" align="center"><strong><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">PENJABARAN DAN<span>  </span>IMPLEMENTASI<br />
ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:14.2pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:4pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>   </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:14.2pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:4pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span><span>Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah</span> merupakan landasan dari sistem nilai pandangan hidup yang menjadikan Islam sebagai sumber utama dalam tata dan pola perilaku yang melembaga dalam masyarakat Minangkabau. Artinya, <span>Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah</span> adalah kerangka untuk<span>  </span>memahami keberadaan <span style="color:black;">insan Minangkabau </span>sebagai khalifah Allah di muka bumi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:4pt 0 0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Masyarakat Minangkabau sadar akan adanya pergeseran sistem nilai dan pola perilaku, sehingga Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah perlu digali, dihayati<span>  </span>dan diamalkan dalam kehidupan sebagai salah satu ikhtiar mempertebal semangat kebangsaan dalam tatanan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan<span>  </span>dalam pergaulan dunia. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:4pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:black;">Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi<span>  </span>Kitabullah </span>yang<span style="color:red;"> </span><span style="color:black;">menjadi sumber pencerahan bagi kebangkitan manusia Minangkabau berasal dari titik temu perpaduan antara sistem nilai adat dengan agama Islam. </span></span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:12pt;color:black;line-height:150%;">Maka mas<span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><img class="alignleft size-medium wp-image-386" title="hilton-hotel-makkah" src="http://blogminangkabau.wordpress.com/files/2009/01/hilton-hotel-makkah.jpg?w=228" alt="hilton-hotel-makkah" width="228" height="300" /></span></span></span>yarakat Minangkabau menggali kembali nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sebagai sumber pencerahan kebangkitan manusia Minangkabau dalam menghadapi masa depan yang penuh kompetisi yang dinamis antar bangsa, sehingga menciptakan alur perjalanan bangsa yang tidak linier. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:4pt 0 0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sistematika penggalian nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah kita rangkai dalam sub bab tentang: Filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,<span>  </span>Ilahiyah dan Insaniyah, Insan Minangkabau, Pola Interaksi Masyarakat Minangkau, dan Pelembagaan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah<span style="color:red;">.</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:4pt 0 0;"><span style="color:red;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:4pt 0 0;"><span style="color:red;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;line-height:150%;text-align:center;margin:6pt 0 0;" align="center"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV"><span><span style="font-size:small;">A.</span><span style="font:7pt &#34;">    </span></span></span><span style="font-size:small;"><strong><span lang="SV">FILOSOFI ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH</span></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:15.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah kerangka<span>  </span>pandangan hidup orang Minangkabau yang memberi makna hubungan antara manusia, Allah Maha Pencipta dan alam semesta. Sesungguhnya Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sebagai konsep nilai, yang kini menjadi jati diri orang Minangkabau, lahir dari kesadaran sejarah masyarakatnya melalui proses pergulatan yang panjang. Semenjak masuknya Islam ke dalam kehidupan masyarakat Minangkabau terjadi titik temu dan perpaduan antara ajaran adat dengan Islam sebagai sebuah sistem nilai dan norma dalam kebudayaan Minangkabau yang melahirkan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah bertujuan untuk memperjelas kembali jati diri etnis Minangkabau sebagai sumber harapan dan kekuatan yang menggerakkan ruang lingkup kehidupan<span>  </span>dan tolok ukur untuk melihat dunia Minangkabau dari ranah kehidupan berbangsa dan bernegara, dan dalam pergaulan dunia. </span></span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Islam masuk ke Minangkabau mendapati suatu kawasan yang tertata<span>  </span>rapi dengan apa yang disebut “adat”, yang mengatur segala bidang kehidupan manusia dan menuntut masyarakatnya untuk terikat dan tunduk kepada tatanan adat tersebut. Landasan pembentukan adat adalah “budi” yang diikuti dengan <em>akal</em>, <em>ilmu</em>, <em>alur</em> dan <em>patut</em> sebagai adalah alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Islam membawa tatanan apa yang harus diyakini oleh umat yang disebut <em>aqidah</em> dan tatanan apa yang harus diamalkan yang disebut <em>syariah </em>atau syarak. Syariat Islam lahir dari keyakinan Iman, Islam, Hakikat dan Makrifat serta tauhid.</span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="SV">Adat dipahami orang Minangkabau sebagai </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">suatu kebiasaan yang mengatur hubungan sosial yang dinamis dalam suatu komunitas, (seperti suku, kampung, dan nagari). <span> </span>Adat dipahami juga sebagai ujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai budaya, norma, hukum dan aturan yang satu sama lainnya berkaitan menjadi suatu sistem. Sebagai sebuah sistem nilai dan norma, adat mempengaruhi perilaku individu dan masyarakat yang mewujudkan pola perilaku ideal.<span>  </span>Dengan kemampuan dan kearifan, orang Minangkabau membaca setiap gerak perubahan yang akhirnya antara Adat dan Islam saling topang menopang seperti<strong><em>, “</em></strong><em>aur dengan tebing<strong>”</strong></em> membentuk sebuah konfigurasi kebudayaan Minangkabau. Titik temu antara Adat dan Islam, dapat dilacak melalui pandangan “teologis” terhadap alam semesta. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV">Proses perenungan dan penghayatan terhadap unsur-unsur kehidupan yang berpijak pada kemampuan dan intensitas pembacaan orang Minang terhadap alam. </span>Alam adalah segala-galanya bagi mereka. Dari alam mereka belajar, berguru, memperbaharui diri, dan lewat alam pula mereka menemukan inspirasi dan kekuatan hidup. Banyak ayat-ayat Tuhan mengenai alam, khusus ayat-ayat kauniyah, yang diperuntukkan bagi manusia sehingga melalui alam manusia dapat menemukan dirinya dan Sang Khaliqnya. Alam dipahami sebagai tempat lahir, tumbuh dan mencari kehidupan. Tetapi juga bermakna sebagai kosmos yang memiliki nilai dan makna filosofis. Pandangan orang Minangkabau terhadap alam terlihat dalam ajaran; pandangan dunia <em>(world view)</em> dan pandangan hidup <em>(way of life)</em> yang seringkali mereka tuangkan melalui <em>pepatah, petitih, mamangan, petuah, </em>yang diserap dari bentuk, sifat, dan kehidupan alam. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 -2.6pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 -2.6pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Nilai dasar dari Adat Bersendi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah nilai ilahiyah dan insaniyah yang mendapat legitimasi dari Adat dan Islam sebagai rujukannya. Nilai-nilai ilahiyah muncul dari proses pembacaan atas semesta “Alam Takambang Jadi Guru”. Allah, melalui penciptaan alam semesta memperlihatkan Kekuasaan-Nya. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 -2.6pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Alam dengan segala isinya memperlihatkan tanda-tanda akan diri-Nya agar insan sampai pengenalan kepada Allah yang telah menciptakan dirinya. “Seseorang baru bisa sampai mengenal Allah, apabila ia mampu membaca dan memahami “dirinya”. Proses pembacaan terhadap alam dan diri merupakan salah satu metode yang mengantarkan insan pada kesadaran akan hubungan dirinya dengan Allah, yang menciptakannya. Dalam tradisi orang Minangkabau yang mengajarkan alam semesta dengan segala isinya menjadi guru yang membimbing mereka memahami dirinya dan mencari sumber kekuatan dalam hidup. Ini merupakan<span>  </span>sumbangan adat Minangkabau dalam falsafah “Alam Takambang Jadi Guru” cermin hubungan manusia<span>  </span>dengan Allah Tuhan Maha Pencipta dan alam.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Secara teologis kekuatan ilahiyah berporos pada Sang Khalik. Dalam kehidupan kekuatan ilahiyah berperan sebagai pengembangan dan pemeliharan kualitas insaniyah melalui amal shaleh pancaran dari keimanan seseorang.<span>  </span>Dalam sistem Adat, semua nilai bertumpu pada kekuatan budi sebagai landasan perilaku dan perbuatan. Menurut pandangan Adat Minangkabau, semua tindakan dan kerja sosial diarahkan untuk peningkatan dan pengayaan kualitas diri untuk mendorong setiap individu dan masyarakat agar selalu mempertinggi, memperkuat dan memelihara harkat dan martabat kemanusiaan . </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 -2.6pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kedua kekuatan nilai-nilai ilahiyah dan insaniyah sebagai landasan nilai Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah memiliki prinsip-prinsip dasar sebagai patokan dalam<em> </em>kehidupan bermasyarakat.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span style="font-size:small;">1.</span><span style="font:7pt &#34;">      </span></span><span style="font-size:small;">Prinsip <strong>kebenaran,</strong> merupakan nilai dasar yang mutlak dalam pergaulan umat manusia pancaran dari hakikat “tawhid” dan menjadi ‘modal dasar’ dalam setiap jiwa insan sebagai khalifah-Nya. Tawhid atau jiwa ketuhanan adalah konsep penghambaan<span>  </span>dari pembebasan manusia dengan Allah. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kebenaran adalah nilai dasar tempat berpijak, bergerak dan berakhirnya semua kehidupan. Watak dasar insan yang hanif menuntun mereka untuk selalu berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran, melakukan yang benar dan mengarahkan semua kerja sosialnya pada kebenaran itu sendiri. Bagi orang Minang kebenaran merupakan sebuah usaha untuk menciptakan tatanan yang adil dalam kehidupan masyarakat.” Orientasi hidup pada kebenaran lahir dari kesepakatan dan pengakuan bahwa setiap manusia memiliki hak dasar yang sama yang menjadi pilar dari segala aktivitas kemanusiaan. <span lang="IN">Segala </span>kebijakan, keputusan dan <span lang="IN">kehidupan sosial </span>harus berdasarkan pada <span lang="IN">kebenaran</span> atau “nan bana<span lang="IN">. Kebenaran merupakan alas dari setiap produk sosial</span>, politik, hukum, ekonomi, budaya<span lang="IN">, </span>sekaligus menjadi harapan kehidupan yang berharkat dan bermartabat. Alurnya adalah “kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mufakat, mufakat barajo ka nan bana. Nan ‘bana tagak dengan sendiri”<span>  </span>– Al haqqu mir arrabihim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 33.4pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV"><span><span style="font-size:small;">2.</span><span style="font:7pt &#34;">      </span></span></span><span style="font-size:small;">Prinsip<strong> keadilan </strong>adalah bagian yang menggerakkan kehidupan manusia. Tanpa keadilan kehidupan masyarakat akan selalu goyah. Dengan keadilan akan terjamin kehidupan masyarakat yang sejahtera. <span lang="IN">Dengan keadilan Minangkabau akan meraih kembali harkat dan martabatnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. <span class="gen">Konsep adil adalah ciri taqwa, ajaran kemanusiaan yang harmonis yang didambakan oleh setiap manusia. Hakikat dari kebenaran, keadilan dan kebajikan penting bagi terciptanya kebangkitan Minangkabau.</span> Prinsip kebenaran </span>di<span lang="IN">gerakkan oleh nilai-nilai kebajikan. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 33.4pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV"><span><span style="font-size:small;">3.</span><span style="font:7pt &#34;">      </span></span></span><span style="font-size:small;">Prinsip <strong>kebajikan</strong><span>  </span>akan lebih bermakna jika ditopang oleh prinsip kebenaran dan<span>  </span>prinsip keadilan yang<span>  </span>melahirkan kehidupan insan yang lebih bermakna.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:18.2pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 -1.9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span>    </span>Kebenaran, keadilan dan kebajikan merupakan “<em>tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan</em>”. Kebenaran menjadi landasan teologis atau nilai dasar, sedangkan keadilan merupakan nilai operasionalnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Ketiga unsur ini merupakan perpaduan yang saling terkait dan terikat. Kebenaran tidak dapat berdiri sendiri tanpa ditopang nilai keadilan. Kebenaran dan keadilan akan bermakna apabila diikuti dengan nilai-nilai kebajikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Prinsip kebenaran, keadilan dan kebajikan menjadi pijakan dalam menerjemahkan nilai-nilai ilahiyah dan nilai-nilai insaniyah. Dalam Adat Bersendi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah terkandung juga beberapa prinsip di antaranya: adab atau budi, kejujuran, kemandirian, etos kerja, keterbukaan, kesetaraan, berfikir dialektis, kearifan, visioner, saraso-tenggang manenggang, sahino-samalu, saiyo-sakato, sanasib sapananggungan, sopan santun, kerjasama dan tolong menolong, keberagaman, kebersamaan,<span>  </span>dan tanggung jawab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dalam Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah juga terkandung prinsip dasar dan nilai operasional yang melembaga dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-22.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 19.8pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span><span style="font-size:small;">1.</span><span style="font:7pt &#34;">         </span></span></strong><span style="font-size:small;"><strong>adab dan budi</strong>, inti<span>  </span>dari ajaran adat Minangkabau, sebagai<span>  </span>pelaksanaan dari prinsip adat. “<em>indak nan indah pado budi, indak nan elok dari baso”</em> .Tidak ada yang indah dari pada budi dan baso basi. Yang dicari bukan emas, bukan pangkat, akan tetapi budi pekerti yang dihargai. Agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi (budi pekerti).<strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-22.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 19.8pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span><span style="font-size:small;">2.</span><span style="font:7pt &#34;">         </span></span></strong><span style="font-size:small;"><strong><span> </span>kebersamaan, </strong>lahir dari hasil musyawarah<strong><span>  </span></strong><em>bulek aia ke pambuluah, bulek kato ka mufakat</em>, yang dijabarkan “<em>dalam senteang ba-bilai, singkek ba-uleh”</em> sebagai pancaran iman kepada Allah swt. Di dalam masyarakat yang beradat dan beradab (madani) mempunyai semangat kebersamaam, <em>sa-ciok bak ayam, sadancing bak basi”.</em> Membangun kebersamaan dengan mengikutsertakan setiap unsur anggota masyarakat<span>  </span>di setiap<span>  </span>korong, kampung dan nagari di Minangkabau, sehingga semua yang dicita-citakan<span>   </span>tidak akan sulit diujudkannya.<strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-22.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 19.8pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span style="font-size:small;">3.</span><span style="font:7pt &#34;">         </span></span><span style="font-size:small;"><strong>keragaman</strong> masyarakat yang terdiri dari banyak suku<span>  </span>dan asal muasal dari berbagai ranah<span>  </span>bersatu dalam kaedah <em>“hinggok mancakam, tabang basitumpu”, </em>menyesuaikan dengan <strong><span>  </span></strong>lingkungan dan saling menghargai, <em>dima bumi dipijak, disatu langit dijunjung.</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-22.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 19.8pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span><span style="font-size:small;">4.</span><span style="font:7pt &#34;">         </span></span></strong><span style="font-size:small;"><em><span> </span></em><strong>kearifan</strong>, kemampuan menangkap perubahan yang terjadi, <em>sakali aia gadang, sakali tapian baralieh, sakali tahun baganti, sakali musim batuka,”</em> Perubahan tidak mengganti sifat adat. Perubahan adalah sunatullah. Setiap usaha untuk mencari jalan keluar dari problematika perubahan sosial, politik dan ekonomi menjauhkan fikiran<span>  </span>dengan menjauhkan dari hal yang tidak mungkin. Seorang yang arif tidak boleh melarikan diri dari perbedaan pendapat, karena pada hakekatnya perbedaan itu membuka peluang<span>  </span>untuk memilih yang lebih baik. <strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-22.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 19.8pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span><span style="font-size:small;">5.</span><span style="font:7pt &#34;">         </span></span></strong><span style="font-size:small;"><strong>tanggungjawab </strong>sosial yang adil, seia sekata menjaga semangat gotong royong. Semua<span>  </span>dapat merasakan dan memikul tanggung jawab bersama pula. <em>Saketek bari <span> </span>bacacah, banyak bari baumpuak</em>, Kalau tidak ada, sama-sama giat mencarinya, dan sama pula menikmatinya.<strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-22.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 19.8pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span><span style="font-size:small;">6.</span><span style="font:7pt &#34;">         </span></span></strong><span style="font-size:small;"><strong>keseimbangan</strong> antara<span>  </span>kehidupan rohani dan jasmani berujud dalam kemakmuran, <em>Munjilih di tapi aia, mardeso di paruik kanyang. </em><span> </span>Memerangi kemaksiatan, diawali dengan menghapus kemiskinan dan kemelaratan. <em>Rumah gadang gajah maharam, lumbuang baririk di halaman</em>, lambang kemakmuran.<strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-22.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 19.8pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span><span style="font-size:small;">7.</span><span style="font:7pt &#34;">         </span></span></strong><span style="font-size:small;"><strong>toleransi</strong> sesuai dengan pesan Rasulullah, bahwa sesungguhnya zaman berubah, masa berganti. Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat Minangkabau diarahkan kepada pandai hidup dengan jiwa toleran, Seorang yang arif tidak boleh melarikan diri dari perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat mendorong dan membuka peluang untuk memilih yang lebih baik di antara beberapa kemungkinan yang tersedia. (Hujarat ;13).<strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-22.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 19.8pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span><span style="font-size:small;">8.</span><span style="font:7pt &#34;">         </span></span></strong><span style="font-size:small;"><strong>kesetaraan</strong>, timbul dari sikap bermusyawarah yang telah hidup subur dalam masyarakat Minangkabau.<span>  </span>Sejalan dengan itu diperlukan saling tolong menolong<span>  </span>dengan moral dan buah pikir dalam <em>mempabanyak lawan baiyo (musyawarah),<span>  </span></em><span> </span>melipat gandakan teman berunding. Sikap musyawarah membuka pintu berkah dari langit dan bumi. Kedudukan pemimpin, <em>didahulukan selangkah, ditinggikan seranting</em>. <strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-22.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 19.8pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span><span style="font-size:small;">9.</span><span style="font:7pt &#34;">         </span></span></strong><span style="font-size:small;"><strong><span> </span>kerjasama</strong> mengutamakan<span>  </span>kepentingan orang banyak dengan sikap pemurah yang merupakan<span>  </span>sikap mental dan kejiwaan yang tercermin dalam mufakat. Mufakat bertujuan menegakkan kebenaran dengan pedoman tunggal, hidayah dari Allah.<strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-22.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 19.8pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span><span style="font-size:small;">10.</span><span style="font:7pt &#34;">     </span></span></strong><span style="font-size:small;"><strong>sehina semalu</strong>, dasar untuk memahami persoalan berdasarkan atas masalah seseorang dengan bersama dan bersama dengan seseorang. Dalam adat Minangkabau sesuatu hal adalah sebagian dari keseluruhan, yang satu bersangkut paut dengan lainnya, semuanya topang menopang walau hal sekecil apa pun.<strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-22.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 19.8pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span style="font-size:small;">11.</span><span style="font:7pt &#34;">     </span></span><span style="font-size:small;"><strong>tenggang rasa dan saling menghormat</strong>i adalah inti dari fatwa adat tentang budi atau akhlaqul karimah. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-22.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 19.8pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span style="font-size:small;">12.</span><span style="font:7pt &#34;">     </span></span><span style="font-size:small;"><strong>keterpaduan, </strong>saling meringankan dengan kesediaan memberikan dukungan dalam kehidupan.<strong> “</strong><em>barek sapikua, ringan sajinjiang</em>”, Kerja baik dipersamakan dengan saling memberi tahu sanak saudara dan jiran. “<em>Karajo baiak baimbauan, karajo buruak baambauan. </em>Apabila musibah menimpa diri seseorang, maka tetangga serta merta menjenguk tanpa diundang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 -2.6pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span>       </span></strong><span lang="SV"><span> </span>Prinsip-prinsip tersebut merupakan prinsip operasional yang melembaga di dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau. Jiwa ilahiyah menjadi pendorong bagi tindakan sebagai makhluk Allah yang mempunyai tanggungjawab sebagai khalifah. </span>Setiap kebijakan, keputusan dan tindakan berorientasi pada kebajikan dan kemashlahatan ummat; pengayom bagi yang kecil dan menjadi suluh bagi orang banyak. Jiwa insaniyah merupakan sebuah aksi kemanusiaan dalam melakukan transformasi sosial. Dalam kerangka inilah masyarakat Minangkabau ditempatkan dan berproses dengan amal saleh untuk<span>  </span>kemashalahatan umat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:24.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Nilai operasional menjadi kerangka acuan dalam menentukan arah dan corak kehidupan masyarakat Minangkabau. Sementara prinsip kebenaran, keadilan dan kebajikan menjadi semangat dan jiwa dalam segala tindakan, sikap dan watak orang Minangkabau. <span lang="SV">Watak dan sikap tersebut diungkapkan dalam <em>”hiduik baraka, mati bariman”</em>.<em> </em>Hidup berakal bermakna tidak ada kehidupan yang dilalui tanpa pertimbangan akal. Ikatan antara ’raso’ -rasa- yang timbul dari ’pareso’ &#8211; hati nurani- melahirkan<span>  </span>ketajaman pikiran, keseimbangan hakiki yang ingin dicapai oleh insan Minangkabau dalam<span>  </span>mengembalikan harkat dan martabat melalui akal dan budi.<strong><em> </em></strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:24.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bertolak dari pandangan falsafah tersebut, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah rujukan dalam merumuskan berbagai kebijakan terhadap kelangsungan hidup orang Minangkabau yang beriman, beradat, berbudaya, berharkat dan bermartabat. Dengan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Minangkabau membangun menuju masa depannya yang tidak boleh tercerabut dari kearifan dan nilai dasar serta nilai operasional tersebut. Artinya dengan segala kearifan Minangkabau melangkah ke masa depannya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:24.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.7pt;line-height:150%;text-align:center;margin:6pt 0 0 -2.6pt;" align="center"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">B.<span>  </span>ILAHIYAH DAN INSANIYAH</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:24.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Nilai yang terkandung dalam Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, adalah gambaran kehidupan yang ideal terhampar dalam alam pikiran Minangkabau, kehidupan yang lahir dari “roh” ilahiyah dan insaniyah. Dengan ‘roh ilahiyah” menemukan makna kehidupannya, dan melalui semangat insaniyah segala aktivitas kemanusiaan bernilai amal shaleh. Dengan kekuatan kedua nilai tersebut orang Minangkabau membentuk dan mengembangkan kehidupan sosialnya yang utuh, terpadu dalam sebuah tatanan yang harmonis dan penuh dengan keseimbangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:24.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Tuhan, Sang Khaliq dengan segala Iradah-Kehendak- dan Qudrat-Kuasanya-, telah mengalirkan sifat-sifat ketuhanan ke dalam diri manusia. Penitahan Tuhan kepada manusia sebagai khalifatullah di muka bumi menjadi bukti bahwa kehidupan manusia bertumpu pada Tuhan. Dalam kehidupan manusia, yang diridhai oleh Sang Khaliq,<span>  </span>amat diperlukan sebuah kesadaran kosmis bahwa ilahiyah adalah sesuatu yang melekat dalam dirinya. Dan, dalam hubungan ini sejatinya manusia, pemegang amanah sebagai khalifah, dituntut untuk senantiasa mencerminkan nilai-nilai ilahiyah dalam siklus kehidupan yang serba pendek ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:24.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Nilai-nilai ilahiyah dan nilai-nilai insaniyah merupakan mata air tempat mengalirnya nilai-nilai universal sebagai tenaga penggerak kehidupan. Kedua nilai tersebut<span>  </span>terpadu dalam diri manusia. Tidak satu pun dalil yang meniadakan kedua nilai ini dalam diri manusia, sebab manusia sebagai ciptaan Tuhan, sebenarnya terikat dengan segala sesuatu yang bersumber dan bermuara pada Allah Maha Pencipta. Dengan kata lain, jika manusia ingin memperlihatkan keberadaannya, maka ia selalu mempertahankan dirinya sebagai bagian dari struktur sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:24.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pada hakikinya, nilai ilahiyah dan insaniyah adalah kanal Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang memiliki muatan nilai-nilai kecil yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ketika kebenaran, keadilan dan kebajikan telah menjadi gagasan orang Minangkabau, maka nilai-nilai ilahiyah dan insaniyah akan mendorong membebaskan manusia dari <em>taghut </em>(berhala) individualistik yang selama ini menggerogoti nilai-nilai kebersamaan, kesetaraan, dan toleransi dalam mengembangkan kehidupan masyarakat Minangkabau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:24.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Nilai-nilai ilahiyah lahir dari proses pembacaan dan pemaknaan orang Minangkabau atas semesta dalam falsafah “Alam Takambang Jadi Guru”. Tuhan melalui penciptaan semesta dengan segala isinya memperlihatkan tanda-tanda Kekuasaan-Nya. Akhirnya manusia yang mampu membaca dan memahami “dirinya” akan mengenal Allah, Tuhan yang telah menciptakan “dirinya”. Proses pembacaan terhadap alam dan diri merupakan salah satu metode yang mengantarkan kesadaran manusia mengenal Tuhannya. Dalam tradisi Minangkabau alam semesta dengan segala isinya menjadi guru yang membimbingnya memahami dirinya sekaligus mencari sumber kekuatan dalam hidup. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:24.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Secara filosofis, dalam diri manusia mengalir “jiwa ketuhanan” yang menghubungkannya dengan Allah Maha Pencipta. Firman Tuhan dalam Surat Ar-Ruum ayat <span class="gen">30 yang menitahkan <em>agar manusia menghadapkan dirinya kepada agama yang hanif, dan menyuruh manusia agar tetap pada fitrah Tuhan yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu<span>, </span></em>menjadi isyarat tentang hubungan ini. Ayat ini, di samping menunjukkan<span>  </span>hubungan manusia dengan Tuhan, sementara nilai ilahiyah (fitrah) itu sendiri sesungguhnya berada dalam dirinya. Manusia akan tetap bergerak dalam dimensi ilahiyah melalui proses penghayatan secara terus menerus yang berujung pada pengembangan kualitas insaniyah manusia. </span>Tawhid atau keimanan adalah poros segala dimensi ilahiyah, sementara manusia adalah pusat dari insaniyah itu sendiri. Perpaduan keduanya terlihat dalam aktivitas kemanusiaan -amal shaleh- yang merupakan ceminan dari keimanannya kepada Tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:24.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Roh ilahiyah merupakan hakikat tawhid dan menjadi ‘modal dasar’ dalam setiap jiwa manusia yang telah dititahkan Tuhan sebagai khalifah-Nya. Hanya Tuhan pusat penghambaan, dan seluruh aktifitas sebagai khalifah pun yang tidak terlepas dari rasa terikat<span>  </span>kepada Tuhan. Tawhid adalah konsep penghambaan dan pembebasan manusia dari segala bentuk kungkungan. Pembebasan bermakna, bagaimana jiwa ilahiyah menjadi pendorong bagi tindakan manusia sebagai mahluk Tuhan yang mempunyai tanggungjawab sebagai khalifah. Setiap kebijakan, keputusan dan tindakan harus berorientasi pada kebajikan dan kemashlahatan ummat manusia; pengayom bagi yang kecil dan menjadi suluh bagi orang banyak. Kesimpulannya ialah, jiwa insaniyah merupakan sebuah perjanjian aksi kemanusiaan untuk melakukan perubahan sosial. Dalam kerangka inilah manusia Minangkabau ditempatkan, bergerak dan berproses dalam kaedah nilai ilahiyah dan insaniyah yang berorientasi pada amal shaleh dan kemashalahatan umat yang akhinya tercapai keindahan dalam hidup ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:24.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.5pt;line-height:150%;text-align:center;margin:6pt 0 0;" align="center"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">C.<span>  </span>KEBENARAN, KEADILAN, KEBAJIKAN DAN KEINDAHAN</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:33.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Orang Minangkabau berada dalam kehidupannya<span>  </span>yang serbaberagam. Keragaman bermakna pilihan yang paling sadar dari masing-masing orang Minangkabau dalam menentukan hidup dan kehidupan mereka. Dalam keberagaman makna, pada hakikinya, sesunguhnya aliran kehidupan itu mengalun dengan semangat dan nilai yang sama antar satu dengan yang lainnya. Sesuai dengan khittahnya, manusia terlahir dalam keadaan fitrah. Fitrah adalah sebuah potensi dasar manusia yang selalu cenderung kepada kebenaran, keadilan dan kebajikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:33.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kebenaran sebagai nilai dasar (fundamental) tempat berpijak, bergerak dan berakhir semua kehidupan. Watak dasar manusia yang hanif menuntun manusia untuk selalu berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran, melakukan yang benar dan menentukan arah yang tepat semua kerja sosialnya. Bagi orang Minangkabau kebenaran merupakan sebuah keniscayaan untuk menciptakan tatanan yang adil dalam interaksi antar masyarakat. Kebenaran atau “nan bana” dalam konteks sosial bermakna <span lang="IN">bahwa segala </span>kebijakan, keputusan dan <span lang="IN">siklus kehidupan sosial </span>harus berlandaskan<span>  </span>pada <span lang="IN">kebenaran. Kebenaran merupakan alas dari setiap produk sosial</span>; politik hukum, ekonomi, budaya<span lang="IN">, </span>sekaligus menjadi harapan dan impian tentang kehidupan madani yang beriman, mandiri dan bermartabat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:33.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Orientasi hidup pada kebenaran yang diatur dalam bentuk kesepakatan dan kearifan yang mengakui manusia mempunyai hak yang sama. Pengakuan itu adalah hak dasar yang menjadi pilar dari segala aktivitas kemanusiaan. <span lang="IN">Kebenaran dalam prakteknya senantiasa ditopang oleh nilai-nilai keadilan dan </span>nilai-nilai <span lang="IN">kebajikan.</span> K<span lang="IN">ebenaran, keadilan, dan kebajikan adalah sesuatu yang terus menurus dicari, karena manusia sangat rindu akan tatanan yang adil</span> dan <span lang="IN">dilaksanakan atas prinsip kebenaran yang </span>di<span lang="IN">gerakkan oleh nilai-nilai kebajikan. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="IN">Keadilan adalah sesuatu yang penting menopang kehidupan </span>orang <span lang="IN">Minang</span>kabau<span lang="IN">.<span>  </span>Keadilan menjadi </span>mesin penggerak dunia <span lang="IN">Minangkabau<span>  </span>sebagai sebuah entitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">D<span class="gen"><span lang="IN">alam konteks yang sesungguhnya, kebenaran merupakan sandaran keadilan. Orang selalu dituntut untuk selalu mentransformasikan suatu kebenaran</span>,</span><span class="gen"><span lang="IN"> dan dengan kebenaran itu pulalah manusia menjalankan keadilan. Jika kebenaran menjadi jalan bagi keadilan, maka kebajikan adalah </span>pakaian </span><span class="gen"><span lang="IN">yang akan membuat perjalanan hidup lebih indah dan mengagumkan.</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span class="gen"><span lang="IN">Baik Adat maupun Islam selalu mengajarkan dan mendorong orang untuk melakukan kebajikan karena </span></span><span lang="IN">kebajikan merupakan hal yang esensial bagi kehidupan manusia, tanpa kebajikan sepenuhnya kehidupan tidak lagi bermakna. Bagi orang Minangkabau, <span class="gen">kebajikan adalah cermin kehidupan yang akan mengantarkan hubungan sosial yang lebih integratif berbasis sumber daya manusia dan sumber daya alam. </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 -.9pt;"><span class="gen"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sebagai nilai dasar dari perpaduan yang terjadi antara Adat dengan Islam, kebenaran, keadilan, dan kebajikan akan melahirkan gugusan-gugusan nilai-nilai operasional struktur sosial dan kultural Minangkabau. Oleh karena itu penting menegaskan kembali hakikat dari kebenaran, keadilan dan kebajikan yang akan mendorong terciptanya kebangkitan dunia Minangkabau berdasarkan internalisasi dari nilai-nilai kearifan universal yang berasal dari perpaduan Islam dengan Adat.</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 2.25pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="IN">Prinsip-prinsip kebenaran, keadilan dan kebajikan yang lahir dari nilai ilahiah dan insaniah menjadi kerangka acuan dalam menentukan arah dan corak kehidupan. </span>Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sebagai kerangka filosofis orang Minangkabau menjadi semangat dan jiwa dalam tindakan, sikap dan watak orang Minangkabau. Berdasarkan “kebenaran, keadilan dan kebajikan” kemudian menggiring masyarakat Minangkabau menganut paham pada falsafah hidup yang tegas dan mengikat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 2.25pt;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.7pt;line-height:150%;text-align:center;margin:6pt 0 0 2.3pt;" align="center"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span lang="SV"><span><span style="font-size:small;">D.</span><span style="font:7pt &#34;">              </span></span></span></strong><strong><span lang="SV"><span style="font-size:small;">INSAN MINANGKABAU</span></span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV">Insan Minangkabau adalah orang yang siap menatap masa depan. Siap bergumul dan bergulat dalam zaman yang senantiasa berubah, sesuai ungkapan adat, <strong><em>”</em></strong><em>sakali aia gadang, sakali tapian<strong> </strong>berubah”</em>. </span><span lang="SV">Sesungguhnya, kesiapan dan keberanian orang Minangkabau menghadapi tantangan zamannya lahir dari kemampuan atas intensitas pembacaan terhadap semesta. <span>Pembacaan terhadap semesta merupakan sebuah proses yang senantiasa mengalir dalam siklus kehidupan manusia. </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV">Fasafah ”Alam Takambang Jadi Guru” menjadi titik sentral bagi orang Minangkabau dalam memaknai kehidupannya. Proses perenungan dan penghayatan terhadap materi-materi kehidupan, yang berpijak pada kemampuan dan intensitas pembacaan mereka terhadap alam, mempunyai makna yang dalam bagi orang Minangkabau. Alam adalah segala-galanya bagi mereka, sebagai tempat lahir, tumbuh dan mencari kehidupan, serta sebagai sebuah kosmos yang memiliki nilai dan makna filosofis. </span>Implikasi dari pemaknaan orang Minangkabau terhadap alam terlihat jelas dalam ajaran; pandangan dunia <em>(world view)</em> dan padangan hidup <em>(way of life)</em> yang seringkali mereka nisbahkan melalui <em>pepatah, petitih, mamangan, petuah, </em>yang diserap dari bentuk, sifat, dan kehidupan alam. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Falsafah ”Alam Takambang Jadi Guru”, sebagai pencerminan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menjadi anutan bagi orang Minangkabau, suatu konsep kemanusiaan yang ”egaliter” dalam sistem kodrat ”alam” yang dikotomis menurut alurnya yang harmonis. Pengertian alur yang harmonis dalam ”alam” ialah dinamika dalam sistem musyawarah dan mupakat berdasarkan ”alur” dan ”patut”, yaitu etika hukum yang layak dan benar. Sebagai masyarakat yang beragama, maka kebenaran yang benar berada di jalan Allah, Tuhan Yang Maha Esa.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 -.9pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pandangan kosmos ini pada akhirnya membawa mereka melihat keteraturan semesta bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, melainkan muncul melalui proses pergulatan antara pertentangan dan keseimbangan. Filsafat <em>‘Alam Takambang Jadi Guru’</em> mengandung pengertian bahwa setiap orang ataupun kelompok memiliki kedudukan sama, baik sebagai individu, maupun sebagai kelompok, sebagai hasil dari musyawarah. Pandangan ini mendorong untuk mandiri dan berkompetisi dalam meningkatkan martabat dan harga diri setiap individu. Dalam masyarakat Minangkabau yang komunal, setiap individu diberi peluang untuk mengembangkan diri atas dorongan kerabatnya sendiri.<span>  </span>Dia disegani, berwibawa dan berwawasan yang luas, “<em>ba alam lapang, ba padang laweh”. </em><span> </span>Berwawasan luas dan luwes. Prinsip ini,<em> gadang diambak, tinggi dianjung, </em><span> </span>suatu pengakuan menjadi besar dan tinggi karena lingkungan komunitasnya.<span>  </span>Sebaliknya ia pun harus membela masyarakatnya agar makin berharga dalam dan di luar lingkungannya. Lambat laun prinsip ini melembaga dalam diri setiap individu, bahwa<span>  </span>masyarakat itu merupakan milik dan bagian penting dari dirinya. <span class="gen"><span lang="IN">Demikianlah masyarakat Minangkabau menyikapi cara melihat dirinya dan melihat alam dan perubahannya.</span></span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Proses dialektika dipahami oleh orang Minang tidak sebatas pergulatan, tapi sebagai proses yang telah membentuk insan Minangkabau sebagai individu yang memiliki karakter, watak dan sikap yang jelas dalam menjalani siklus kehidupan. Di antara karakter itu adalah;</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:-33.9pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 33.4pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Pertama</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">, orang Minangkabau selalu menekankan nilai-nilai <strong><em>adab atau budi</em></strong>. Setiap individu dituntut untuk mendasarkan kekuatan budi dalam menjalani kehidupannya. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:-35.3pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 33.4pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Kedua</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">, <strong><em>etos kerja</em></strong> yang didorong oleh kekuatan budi, sehingga setiap individu dituntut untuk selalu melakukan sesuatu yang berarti bagi diri dan komunitasnya. Melalui semangat inilah kemudian mereka memiliki etos kerja yang tinggi. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:-35.3pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 33.4pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Ketiga</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">, <strong><em>kemandirian</em></strong>. Semangat kerja atau etos kerja dalam rangka melaksanakan amanah sebagai khalifah menjadi kekuatan bagi orang Minangkabau untuk selalu hidup mandiri, tanpa harus bergantung pada orang lain. “<em>Baa di urang, baitu di awak</em>” dan <strong><em>“</em></strong><em>malawan dunia urang<strong>”</strong></em> adalah sebuah filosofi agar individu dituntut untuk mandiri dalam memperjuangkan kehidupan yang layak. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:-35.3pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 33.4pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Keempat</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">, <strong><em>saraso, tenggang menenggang dan toleran</em></strong>. Kompetisi adalah sesuatu yang sah dan dibenarkan untuk mempertinggi harkat dan martabat, namun ada kekuatan rasa yang mengalir dari lubuk budi. Setiap invididu hidup bukan sekedar memenuhi kebutuhan pribadi, melainkan juga berjuang dan memelihara komunitasnya. Hidup dalam pergaulan sosial harus didasarkan pada kekuatan rasa. Rasa akan melahirkan sikap tenggang menenggang dan toleran terhadap orang lain dengan segala perbedaan yang ada. Etos kerja dan semangat kemandirian muncul dari lubuk “pareso” (akal pikiran), sedangkan sikap tenggang menenggang dan toleran muncul dari kekuatan “raso”(hati nurani). </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:-35.3pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 33.4pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Kelima</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">, <strong><em>kebersamaan</em></strong> yang menempatkan insan dalam posisi individu dan komunal yang memberi ruang untuk menjalin kehidupan bersama dalam kebersamaan. Selain penempatan seseorang dalam ranah individu dan masyarakat, kekuatan rasa, tenggang rasa dan toleran memperkuat munculnya kebersamaan dalam masyarakat Minangkabau. Kebersamaan itu sesungguhnya lahir dari pola penempatan seseorang dalam ranah individu dan masyarakat. Meskipun sebagai individu diberi ruang gerak untuk dirinya sendiri, namun ia harus bersikap saling tenggang menenggang dan menghargai setiap perbedaan yang ada. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:-35.3pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 33.4pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Keenam</em>,<span>  </span><strong><em>visioner</em></strong>, s<span lang="SV">emangat yang kemudian membuat orang Minang memiliki visi yang jelas dalam menjalani kehidupannya</span> Dari kekuatan budi, etos kerja yang tinggi, watak kemandirian, nilai saraso, tenggang menenggang, dan kebersamaan, orang Minang bergerak maju, dinamis, dan <span lang="SV">melihat ke masa depan. </span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;">Gugusan watak dan sikap di atas, akhir dari proses hidup dialektik yang terpercik dari falsafah<em>”hiduik baraka, mati barimanan</em>”. <em>”</em>Hidup ba raka<em>”</em> bermakna tidak ada kehidupan yang dilalui tanpa pertimbangan akal. Akal sesungguhnya bermakna ikatan antara ’rasa’ yang timbul dari hati nurani dengan <em>’pareso’ </em>yang lahir dari kedalaman pikiran. Keseimbangan hakiki yang ingin dicapai oleh setiap orang Minangkabau. Orang Minangkabau terus menerus bergulat dengan akal dan budi dalam mempercepat pencapaian harkat, martabat dan hakikat kebenaran dalam kehidupan. Selanjutnya, <em>”mati bariman ”</em> yang menjiwai manusia Minangkabau merupakan turunan yang integral dari proses <em>”hidup ba raka”.</em> Orang Minangkabau tidak rela meninggalkan generasinya sebagai kaum yang lemah dan mudah ditindas, baik moral, mau pun materiil. Mereka berpantang mati sebelum meninggalkan ”pusako”,<span>  </span>kebajikan yang ingin ditransformasikan, -baik dalam ucapan, sikap, dan tindakan-. sebagai bekal bagi keturunannya.<span>  </span>Sikap kejiwaan ini terhujam dalam dan menjadi pilar bagi orang Minangkabau.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Bagi orang Minangkabau, Tuhan Yang Abadi sebagai suatu realitas yang mengaliri kehidupannya sesungguhnya di dunia ini. Pilihan hidup ”<em>mati bariman</em>” adalah satu-satunya gerbang kebajikan yang sesungguhnya. Melalui penghayatan ini, orang Minangkabau selalu terdorong menciptakan tatanan dinamis, terbuka, seimbang dan kuat dalam membangun individu mandiri, berdaulat, beradab dan beriman untuk mewujudkan masyarakat madani yang memiliki harkat dan martabat yang tinggi.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:24.4pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV">Orang Minangkabau adalah pribadi yang selalu menuju kesimbangan dalam menjalin corak hidup dari iman, ilmu, dan amal. Ini makna sesungguhnya dari falsafah <em>”tali tigo sapilin, tungku tigo sa jarangan”</em>. </span>Akidah tauhid sebagai ajaran Islam dipupuk melalui baso basi atau budi dalam tata pergaulan di rumah tangga dan di tengah masyarakat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0 2.25pt;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dengan penjiwaan ini, orang Minangkabau adalah sosok pribadi dari masyarakat yang tidak gentar, bahkan amat sadar akan tantangan zamannya; mereka selalu menghadap ke depan, dan mereka tidak akan rela menyeret diri kembali ke belakang; mereka selalu terbuka terhadap setiap perubahan <em>”sakali aia gadang, sakali tapian barubah”. </em>Walaupun demikian orang Minangkabau tidak mudah terseret ke dalam arus yang menafikan kearifan kulturalnya <em>”walau duduak lah bakisa, tapi bakisa dilapiak nan sahalai, walaupun tagaklah barubah, nan tatap di tanah nan sabingkah”</em>. ”Zaman boleh berubah, tapi realitas tidak boleh tercerabut dari akarnya”. Diktum ini kian mempertegas hidup orang Minangkabau dalam sebuah nilai yang bermuara pada nilai-nilai kebajikan.</span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:center;margin:6pt 0 0;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">E. POLA INTERAKSI PERGAULAN MASYARAKAT MINANG</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dialektika berbagai kekuatan dan ragam kehidupan telah mengantarkan dunia Minangkabau pada tatanan harmonis dan berada dalam keseimbangan. Dialektika bagi orang Minangkabau dipahami sebagai sebuah konsep yang menempatkan orang berfikir dalam suatu totalitas. Dalam struktur sosial, terdapat hal-hal yang berbeda, namun kemudian menyatu membentuk struktur baru dalam kehidupan. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam amanah Allah menjadikan ”manusia dan jin semata untuk mengabdi padaNya”. Di samping itu sebagai khalifah, Allah pun mengamahahkan ”manusia yang dijadikanNya berkaum, bersuku dan berbangsa untuk saling mengenal satu sama lainnya.” Kedua ayat ini menjadikannya manusia Minangkabau berkeyakinan yang benar (tawhid), beragama yang taat dan berakhlaq yang mulia.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Hal ini diterapkan juga dalam sistem sosial adat Minangkabau yang matrilineal dan Islam yang patrineal, kemudian membentuk sistem sosial baru dalam kebudayaan Minangkabau, dengan bentuk: <em>Orang Minangkabau bernasab kepada ayah (sistem patrilineal), bersuku kepada ibu (matrilineal) dan bersako (pewarisan gelar) kepada mamak”. </em></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam sistem pewarisan, harta pusaka tinggi diwariskan kepada kemenakan (sistem matrilineal) dan pusaka rendah diwariskan kepada anak (sistem patrilineal). Orang Minangkabau mengamalkan hukum adat, hukum agama dan hukum negara (undang-undang). </span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Masyarakat Minangkabau selalu mengatur pola interaksi antara sesama manusia yang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh dan mengatur kehidupan yang sejahtera di bumi Tuhan. Kebenaran, keadilan dan kebajikan yang menjadi prinsip orang Minangkabau untuk mengatur proses dialektika lam persentuhan antara individu dengan individu, kelompok dengan kelompok, individu dengan kelompok, dan sebaliknya. Oleh karenanya orang Minangkabau dalam pergaulannya </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IN">bertindak dalam jalur moralitas bahwa hidup harus dijalankan dengan penuh semangat kekeluargaan.</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Perimbangan pembagian dalam menata antara ruang dan waktu untuk menjalani kehidupan terus mengalir pada wawasan (matra) yang lebih luas. Bahwa orang Minangkabau lebih mudah menyesuaikan diri<span>  </span>dalam melihat beragam corak dan perbedaan ragam kehidupan. Bagi orang Minang </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IN">perbedaan </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">– terutama perbedaan </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IN">pendapat</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">&#8211;</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IN"> adalah </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">hal yang lazim </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IN">sebagai proses dialekti</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">s. <em>Basilang kayu di tungku, mako api hiduik</em>. Silang pendapat merupakan benang merah untuk mencapai kesepakatan. Prinsip kebersamaan, baik secara moril maupun materil, terus mengalir dalam pola hidup yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau.<em> </em>Prinsip<span>  </span>diatur sedemikian rupa dalam menjalani proses hidup dan kehidupan sebagai makhluk yang selalu bersinggungan dengan makhluk lainnya yang tidak membedakan antara satu dengan yang lainnya. Prinsip ini melahirkan paham egaliterianisme bahwa manusia ditakdirkan sama derajatnya. Selain kebersamaan yang dijunjung tinggi, orang Minangkabau memahami bahwa dalam perbedaan perlu dikelola sedemikian rupa sehingga menciptakan suatu harmonisasi dalam </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IN">perbedaan dan perimbangan [</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">dialektika</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IN">]</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"> kehidupan yang kompleks. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Perbedaan merupakan suatu “keindahan tersendiri” bagi masyarakat Minangkabau dalam dialektika kehidupan yang selalu bersentuhan antara satu sama lain. Nilai estetis yang terkandung dalam perbedaan bahkan sangat dijunjung tinggi dan dianggap sebuah kewajaran yang memberikan warna dalam kehidupan yang dinamis. Kehidupan yang selayaknya hanya akan berjalan dengan adanya perbedaan yang harmonis dan saling melengkapi dalam proses bagaimana kehidupan itu dijalani. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Prinsip hidup yang tidak membedakan antara satu sama lain diperkokoh dengan keikhlasan dalam menerima perbedaan yang terjadi dalam dialektika kehidupan. Keikhlasan dalam menerima ragam perbedaan yang ada dalam masyarakat melahirkan kearifan melihat dan memahami sisi-sisi lain dari kehidupan yang berbeda. Di balik peristiwa itu tersirat berbagai makna dalam menjalani kehidupan yang terus mengalir dalam ruang dan waktu yang selalu berubah. Dalam perubahan ruang dan waktu ada proses pemaknaan alam dan lingkungan tersebut. Oleh karena itu, orang<span>  </span>Minangkabau berhati-hati, baik dalam berkata maupun berbuat, karena adanya kepekaan yang tinggi terhadap alam dan lingkungan. Orang Minangkabau mempertimbangkan segala sesuatu hingga taraf kemapanan yang sangat tinggi, namun tetap luwes dalam setiap masalah yang dihadapi. Maka menempatkan sesuatu tanggung jawab masing-masing merupakan perwujudan dari kearifan yang diserap dari lingkungan tersebut. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Hubungan sosial yang tercipta atas persentuhan antar satu sama lain dalam proses interaksi dalam bingkai etika yang mapan. Dalam hal ini, orang Minangkabau menempatkan budi sebagai </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IN">ajaran tertinggi Adat</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">nya</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IN">. Hanya dengan budi, pertalian yang akrab antar anggota masyarakat dapat diwujudkan. </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Tuhan </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IN">pun menyuruh manusia untuk berlemah lembut, tidak boleh berlaku kasar</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">. Maka bingkai dari semua interaki yang berjalan seiring dengan dinamika kehidupan adalah adab atau budi sebagai cerminan budaya yang menempatkan masing-masing orang bertanggung jawab tanpa membedakan antara satu sama lain. Hal tersebut terlihat, antara lain, dari tradisi dialog secara santun dalam bertutur kata dengan semua orang. Perkataan pun diatur dalam ritme dan intonasi yang berbeda terhadap semua orang sesuai dengan kapasitasnya. Pola komunikasi tersebut dibingkai dengan santun dan rasa empati.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Rasa santun dan empati terhadap semua orang melahirkan rasa tanggungjawab yang tinggi. Rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap sesama dalam kehidupan melahirkan sikap yang tanggap dalam kegoncangan atau turun naiknya kehidupan yang digambarkan sebagai roda pedati. Sehingga solidaritas antar sesama melahirkan sikap saling tolong menolong dalam kesulitan. Dalam kehidupannya, orang Minangkabau selalu berbagi sesama dalam semua kesempatan maupun kesempitan. Dalam hidup semua keuntungan untuk semua orang, dan semua kerugian ditanggung bersama. </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam hal tanggungjawab, orang Minangkabau meletakkannya dalam wilayah eksternal. Sementara memegang teguh prinsip disiplin dan keterbukaan dalam wilayah internal. Dalam kedua dimensi ini sesungguhnya orang Minang mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang terkait dengan dua dimensi tersebut pada wilayah individu dan masyarakat. Dengan jalinan antara kedua segi pertanggungjawaban yang dipikulkan di atas pundaknya, orang Minangkabau memelihara keselarasan perbuatan yang berkaitan masyarakatnya. Rasa tanggungjawab bermuara pada harga diri yang dipertahankan sampai titik darah terakhir. Artinya orang Minangkabau tidak mudah tergoda dengan segala iming-iming yang dijanjikan atas penyelewengan yang menguntungkan sepihak. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dalam mempertahankan prinsip harga diri, baik itu harga diri secara individu, maupun harga diri yang sifatnya kolektif (keluarga, suku dsb). Orang Minangkabau menanamkan pendirian yang teguh daripada menggadaikan harga diri. Harga diri bagi orang Minangkabau merupakan sesuatu yang tidak dapat ditakar dengan emas berbilang. Sehingga tidak ada tawar menawar dan tarik ulur dalam hal ini. Mempertahankan harga diri merupakan “ruh” untuk hidup di lingkungan sehingga etos kerja mereka sangat tinggi untuk mengumpulkan emas berbilang, nama terbilang. Usaha yang dilakukan dalam mendapatkan emas berbilang, nama terbilang, ketulusan dan keikhlasan dalam berusaha menjadi faktor pendukung utama dalam meningkatkan taraf hidup (ekonomi) agar harkat dan martabat mereka terjaga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:center;margin:6pt 0 0 36pt;" align="center"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span><span style="font-size:small;">F.</span><span style="font:7pt &#34;">      </span></span></strong><strong><span style="font-size:small;">PELEMBAGAAN ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV">Prinsip-prinsip dasar<span>  </span>tersebut merupakan prinsip operasional dari prinsip kebenaran, keadilan dan kebajikan. Prinsip-prinsip operasional dilembagakan ke dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah tidak semata sistem nilai konseptual, tapi yang lebih penting, bagaimana nilai-nilai tersebut dilaksanakan dalam kehidupan nyata. Sistem nilai yang berhubungan dengan struktur kultural berupa struktur kognitif (pengetahuan) dan afektif (perasaan). Penerapan nilai yang berhubungan dalam struktur sosial berupa hubungan antar manusia membentuk ”perilaku”. Bila berhubungan dengan kultural akan membentuk ”sifat mental” yang dapat mempengaruhi dan mengendalikan perilaku. Wujudnya dengan segala keadaan masyarakat </span>akhirnya membentuk “struktur mental” manusia yang menjadi anggotanya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dengan demikian, nilai-nilai yang terkandung dalam Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah diterapkan dan dilembagakan ke dalam struktur kultural dan struktur sosial masyarakat Minangkabau. Pelembagaan nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah harus menyentuh wilayah sosial empirik (pengetahuan dan pengalaman masyarakat) seperti struktur interaksi, struktur kepemimpinan, struktur musyawarah dan mufakat, struktur kepemilikan, struktur pewarisan, dan lain sebagainya. Ini berarti bahwa pranata sosial; pola kepemimpinan, musyawarah dan mufakat (struktur politik dan hukum), pola kepemilikan dan pewarisan (struktur ekonomi) serta pola interaksi (struktur budaya) mesti merujuk pada Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Konsekuensinya adalah bahwa sistem politik, hukum, ekonomi dan budaya hendaknya mencerminkan nilai-nilai budaya orang Minangkabau; atau institusi sosial dan kultural (tradisional) yang masih ada perlu direvitalisasi (dihidupkan kembali).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Oleh karena itu, konsep Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. dipahami sebagai:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span><em>Pertama</em>, konsep usaha Minangkabau untuk merumuskan ”siapa dirinya”, sebagai sebuah masyarakat madani yang beriman, beradat, berbudaya, berharkat, bermartabat, dan visioner. Hal ini berarti bahwa meninggalkan nilai-nilai falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah., berarti keluar dari ”Minangkabau”. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span lang="SV">Kedua</span></em><span lang="SV">, konsep ini berfungsi sebagai penentu tingkat hirarki nilai, Artinya secara kerohanian (transendental) yang dapat dipertanggung jawabkan. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span lang="SV">Ketiga</span></em><span lang="SV">, konsep ini<span>  </span>adalah landasan motivasi melakukan perubahan yang sekaligus menjadi standar dalam menentukan keabsahan setiap perubahan sosial yang akan dijalani.</span></span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ciloteh Lapau antara Dilaektika dan Dinamika Minangkabau]]></title>
<link>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/01/26/ciloteh-lapau-antara-dilaektika-dan-dinamika-minangkabau/</link>
<pubDate>Mon, 26 Jan 2009 04:23:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/01/26/ciloteh-lapau-antara-dilaektika-dan-dinamika-minangkabau/</guid>
<description><![CDATA[CILOTEH LAPAU ANTARA DIALEKTIKA DAN DINAMIKA MINANGKABAU Oleh : H.Mas’oed Abidin WILAYAH MINANGKABAU]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>CILOTEH LAPAU ANTARA DIALEKTIKA DAN DINAMIKA MINANGKABAU</p>
<p>Oleh : H.Mas’oed Abidin</p>
<p>WILAYAH MINANGKABAU</p>
<p>Masyarakat Minangkabau adalah salah satu suku bangsa di antara puluhan suku bangsa yang membentuk bangsa Indonesia. Masyarakat Minangkabau hidup di sekitar wilayah Sumatera Bagian Tengah, atau yang dalam Tambo Minangkabau disebutkan wilayah Minangkabau itu meliputi kawasan, “… dari Sikilang Aia Bangih sampai ka Taratak Aia Itam. Dari Sipisok-pisok pisau anyuik sampai ka Sialang Balantak basi. Dari Riak nan Badabua sampai ke Durian ditakiak (ditakuak)<img class="alignleft size-medium wp-image-381" title="past-photo-masoed-abidin" src="http://blogminangkabau.wordpress.com/files/2009/01/past-photo-masoed-abidin.jpg?w=218" alt="past-photo-masoed-abidin" width="218" height="300" /> Rajo”, (artinya, dari Sikilang Air Bangis sampai ke Taratak Air Hitam, dari Sipisok-pisok Pisau Hanyut sampai ke Sialang Belantak Besi, dari Riak yang berdebur sampai ke Durian Ditekuk Raja).</p>
<p>Orang Minangkabau menamakan tumpah darahnya dengan Alam Minangkabau, yang secara geografis wilayahnya berpusat di selingkar Gunung Merapi, di Sumatera Barat. Wilayah itu meluas menjadi Luhak dan Rantau. Wilayah Luhak terletak di nagari-nagari yang berada di sekitar Gunung Merapi, sedangkan wilayah Rantau berada di luarnya, yaitu di sekitar wilayah pantai bagian Barat dan Timur Minangkabau.</p>
<p>Dalam Tambo dikisahkan bahwa Alam Minangkabau mempunyai tiga buah Luhak yang disebut dengan Luhak Nan Tigo (Luhak yang Tiga). Terbagi kepada Luhak Tanah Datar, Luhak Agam dan Luhak Lima Puluh Kota. Dari Luhak tersebut, kemudian berkembang menjadi Luhak Kubang Tigobaleh, yang terletak di sekitar Gunung Talang, Kabupaten Solok sekarang.</p>
<p>Wilayah Rantau terletak di luar Luhak-luhak tadi. Semula rantau adalah tempat mencarikan hidup para penduduk, terutama dalam bidang perdagangan. Wilayah rantau, berubah menjadi tempat menetap turun temurun dari para perantau Minangkabau. Terjadilah pembauran dan pemesraan (asimilasi) antara nan datang mencengkam hinggap bersitumpu. Kemudian berkembang menjadi bagian dari pusat pemerintahan di Minangkabau dulu, yakni Kerajaan Pagaruyuang, yang mempunyai Basa Ampek Balai, berninik bermamak, berdatuk dan berpenghulu. Berlakukah pula di wilayah rantau itu, adat istiadat Minangkabau.</p>
<p>ISTILAH MINANGKABAU</p>
<p>Minangkabau lebih dikenal sebagai satu bentuk pusat kebudayaan dengan masyarakatnya yang berstatus matrilineal – atau keturunan menurut garis keibuan. Hubungan kekerabatan ini, adalah perpaduan dan pemesraan antara istiadat (urf) dan syariat agama Islam.</p>
<p>Garis matrilineal yang dianut adalah, bahwa anak yang dilahirkan bernasab kepada ayahnya, bersuku kepada ibunya, dan bersako terhadap mamaknya.</p>
<p> Hubungan kekerabatan seperti ini, mungkin tidak ada duanya di Indonesia. Sistem kekerabatan Minangkabau satu hal yang nyata, dan masih berlaku, walau perubahan terjadi di masa global ini. Kekuatan yang mengikat sistim kekerabatan Minangkabau, terlihat dari berbagai arah dan sudut pandang. Berpengaruh pada semua sisi kehidupan masyarakat Minangkabau.</p>
<p>Kekuatan kekerabatan itu misalnya, berpengaruh kuat pada aspek jiwa dagang masyarakatnya, mobilitas penduduknya, dengan kesukaan merantau ke negeri lain untuk mencari ilmu, mencari rezeki.</p>
<p>Sistim kekerabatan sedemikian itu pula, yang telah mendorong lajunya mobilitas horizontal dalam bentuk imigrasi, dan mobilitas vertical yang menuju kepada peningkatan kualitas.</p>
<p>JALINAN BAHASA DAN KEPERCAYAAN DI MINANGKABAU</p>
<p>Dari sisi kebudayaan dan berbagai hubungan perilaku, terbentuk hubungan jalin berkelindan antara Bahasa dan Kepercayaan orang Minangkabau. Pembauran dengan makna asimilasi adalah pemesraan antara dua unsur atau lebih dalam suatu wadah tertentu. Unsur yang satu menjadi bagian dari unsur yang lain, saling isi mengisi timbal balik. Salah satu bentuk pemesraan itu adalah bahasa dan kepercayaan dalam wadah kesusasteraan di Minangkabau. Penjiwaan dari kehidupan keseharian masyarakat Minangkabau, terasa ada pemesraan antara Bahasa dan Kepercayaan rakyat di Minangkabau. Perasaan itu terbawa kemana saja. Ada di ranah, dan terpakai di rantau. Di mana bumi dipijak di sana adat dipakai. Kaidah hidup ini adalah satu keniscayaan yang lahir dari keyakinan dari generasi berbudaya Minangkabau, di mana saja. Kata &#8220;percaya&#8221; berarti pendapat, itikad, kepastian dan keyakinan. Kepercayaan diartikan sebagai kebenaran yang diperoleh pikiran. Keyakinan adalah suatu kebenaran yang diperoleh jiwa, dikuatkan oleh pikiran. Kebenaran agama adalah keyakinan. Selanjutnya, kebenaran ilmu pengetahuan, filsafat dan intelektual adalah kepercayaan. Masalah kepercayaan adalah masalah manusia yang banyak berkaitan dengan kehidupannya. Sejarah kehidupan awal dari masyarakat manusia memberi pengetahuan kepada kita bahwa tiada suatu bangsapun yang hidup atau kelompok manusia yang tinggal pada suatu tempat yang tidak mengenal kepercayaan sebagai satu naluriah hidup yang vital. Kepercayaan timbul bersama dorongan-dorongan lain sebagai perlengkapan hidup manusia umumnya, seperti dorongan rohaniah manusia, yang selalu mengajar mereka untuk berbuat dan menyelesaikannya. Dorongan-dorongan dari dalam jiwa itu berkembang tiada hentinya (dinamis) pada setiap masalah demi masalah yang tidak akan henti-hentinya dalam hidup manusia. Naluri juga diartikan dengan dorongan hati atau keinginan yang berasal dari pembawaan yang menggerakkan untuk berbuat sesuatu. Naluri itu dapat pula disebut instink atau fitrah. Dorongan hati manusia dibedakan antara yang bersifat perasaan biologis dan yang bersifat perasaan rohaniah. Dengan demikian, berkepercayaan adalah salah satu dari perasaan rohaniah yang dapat juga disebut &#8220;perasaan keagamaan&#8221;. Maka dorongan-dorongan atau perasaan-perasaan yang bersifat biologis seperti dorongan untuk makan, mempertahankan diri, dan melangsungkan keturunan adalah keperluan jasmani. Selanjutnya kepercayaan adalah naluri atau dorongan hati secara fitrah lebih mutlak daripada yang lainnya. Agama adalah tuntunan dan tuntutan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan dan ketakutan. Dalam agama ada suatu ikatan antara manusia dengan kekuatan gaib. Agama dimaknai dengan aturan yang mengikat manusia atau ad-din atau syari’at (syarak). Kata religious dalam bahasa Latin berarti &#8220;mengikat&#8221;. Perilaku manusia terikat dengan pengabdian kepada kekuatan besar yang maha dahsyat atau kekuatan ghaib, baik dalam bentuk kultus maupun dalam sikap hidup keagamaan. Sumber utama kepercayaan atau rasa keagamaan ini adalah fitrah manusia yang merupakan anugerah Ilahi, dan melengkapi batin manusia melakukan kegiatan hidup sebagai makhluk yang lemah. Betapapun bersahajanya manusia ternyata kepercayaan membentuk tuntutan naluriahnya. Kepercayaan adalah salah satu dari kekuatan yang mengendalikan perasaan manusia. Kepercayaan menuntut adanya bentuk perbuatan nyata (amal) pada semua tindakan manusia. Pada tingkat ini dapat dirasa hubungan agama dengan kesadaran manusia ada keterikatan erat dengan tenaga di luar diri manusia itu, yang membuat alam nyata manusia, atau syarak mangato adaik mamakaikan. Fungsi naluri dari kepercayaan manusia kepada tenaga gaib itu membentuk keharusan menyatakan diri menjadi pengabdi dengan rasa rohaniah lahir dalam bentuk penghayatan pada berbagai tindakan dan ucapan. Tidak ada suatu macam agama yang tidak dimulai dengan kepercayaan. Di dalam agama Islam, dasar keagamaan disimpulkan atas enam pokok yang disebut dengan Rukun Iman, yaitu mempecayai adanya Allah, Malaikat, Kitab Suci, Pesuruh Tuhan, Hari Kemudian, dan mempercayai adanya kadar Tuhan atas yang baik atau yang buruk. Mengikuti pola rasa rohaniah manusia, maka berkepercayaan atau beragama adalah keperluan manusia yang harus dipenuhi, disamping keperluan pokok lainnya yang bersifat naluri. Kepercayaan bermula dalam tingkat penerimaan dari ilmu pengetahuan. Keyakinan berada pada taraf intensitas dari kepercayaan. Keyakinan selanjutnya meminta keharusan untuk melakukan aktivitas, sedangkan pada kepercayaan belum mempunyai keharusan untuk itu. Kepercayaan (syarak) itulah yang berasimilasi dengan bahasa dalam kesusasteraan Minangkabau.</p>
<p>ASIMILASI ANTARA TUTUR BAHASA DAN KEPERCAYAAN</p>
<p>Pemesraan antara bahasa dan kepercayaan, telah memperkaya Kesusasteraan Minangkabau, terutama kesusasteraan lama atau khazanah kesusasteraan lisannya.</p>
<p>Kesusasteraan Minangkabau sesungguhnya mempunyai pengertian yang dalam, yaitu &#8220;hasil bahasa Minangkabau yang indah&#8221;. Titik berat kesusasteraan Minangkabau bersifat lisan, terungkap dalam puisi dan prosa berirama. Tidak sedikit khazanah kesusateraan Minangkabau telah ditulis dalam tulisan-tulisan lama memakai huruf arab melayu.</p>
<p>Pemakaian huruf hijaiyah tersebut dalam mengungkapkan kosa kata melayu, adalah bagian dari pemesraan antara bahasa dan kepercayaan masyarakat Minangkabau yang beragama Islam.</p>
<p>Kesusasteraan tidak hanya sekadar hasil seni bahasa belaka. Kesusateraan adalah juga hasil pemikiran, hasil pengalaman, hasil merasa, bahkan hasil dari kehidupan seseorang atau masyarakat dan lingkungannya.</p>
<p>Kesusateraan adalah pula hasil bertutur kata, berciloteh dengan sadar, bukan dengan mimpi. Hasil sastera dapat disimak dalam kehidupan masyarakat pada suatu waktu, menjadi kebudayaan satu suku bangsa atau suatu bangsa.</p>
<p>Salah satu aspek yang amat berpengaruh membentuk kehidupan masyarakat adalah hubungannya dengan sesama, dan hubungannya dengan Penciptanya. Hubungan-hubungan itu tampak nyata di dalam bentuk kesusasteraan.</p>
<p>Kesusasteraan Minangkabau juga memberi jawaban pengaruh hubungan itu. Seperti tersua dalam ungkapan, “<strong><em>Kanan jalan ka Kurai, sasimpang jalan ka Ampek Angkek. Kok iyo pangulu ganti lantai, kok bapijak jan manjongkek. Adaik taluak timbunan kapa, Adaik lurah timbunan aie. Kok bukik timbunan angin, biaso gunuang timbunan kabuik. Adaik pamimpin tahan upek.”</em></strong></p>
<p>Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, selalu diperhatikan antara dua kekuatan, yang satu secara lahiriah sikap dalam diri insan bernyawa, dan yang kedua adalah kekuatan keyakinan theis (agama) yang mengatur nyawa itu.</p>
<p>Kesusasteraan lahir dan dibentuk oleh dua unsur, yakni unsur nyawa yang memiliki rasa dan periksa, dan unsur agama yang membimbing rasa dan periksa itu.</p>
<p>Budaya kehidupan yang dibimbing oleh keyakinan agama, melahirkan sikap malu. Budaya malu, membentuk masyarakatnya hidup dengan kehati-hatian, serta ingat dan hemat dalam bertindak. Selanjutnya sikap-sikap budaya seperti ini menumbuhkan dinamika dalam kehidupan. Tampak jelas dalam cara bertutur, berciloteh sampai ke lapau-lapau ataupun di surau-surau.</p>
<p>JIWA BAHASA DI MINANGKABAU</p>
<p>Keindahan akan tercipta, ketika hasrat timbul untuk mengembalikan keindahan yang abadi dengan ajaran agama dan keagungan nama Ilahi, ke dalam bentuk-bentuk karya sastera. Asimilasi antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan Minangkabau terasa kental sekali.</p>
<p>Mempersoalkan hubungan yang mesra antara bahasa sastera dan kepercayaan kepada kekuasaan Allah Subhanu wa Ta’ala, menjadikan karya sastera itu indah abadi.</p>
<p>Menggali mutiara milik bangsa yang kaya dengan pemesraan antara agama dan adat istiadat etnik, yang akan memperkuat ke tunggal-ikaan dari puncak-puncak kebudayaan bangsa Indonesia.</p>
<p>Mutiara terpendam yang dapat diselami adalah bahwa kesusasteraan yang hakiki membentuk keperibadian satu bangsa, amat terkait dengan keyakinan pencipta sastera dan pendukungnya, yang keduanya mengabdi kepada Ilahi.</p>
<p>Kesusasteraan Minangkabau adalah pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam satu ungkapan, adaik basandi syarak, menjadi kekuatan besar untuk meraih keberhasilan di setiap masa.</p>
<p>Pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan sudah tercipta. Kepercayaan adalah fungsi jiwa manusia, dan kemajuan ilmu pengetahuan, telah membawa perubahan-perubahan terhadap jiwa manusia yang kompleks, namun satu keniscayaan belaka bahwa konsepsi kehidupan manusia tergantung pada alat-alat yang ada pada manusia itu sendiri.</p>
<p>Pada masyarakat Minangkabau, fungsi jiwa dibangun oleh kepercayaan kepada Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Esa itu tampak nyata dalam setiap aspek kehidupan kebudayaannya dan riak kehidupan sasteranya. Terutama dalam sastera bertutur dan berciloteh.</p>
<p>Sifat umum masyarakat tradisional Minangkabau di masa ini masih terasa, dan sukar untuk melepaskan kepercayaan dalam kehidupan tradisi mereka.</p>
<p>Pada dasarnya manusia itu bersifat konservatif. Sukar melepaskan perhiasan hidup lama, ingin menyimpan pusaka lama. Di antara pusaka lama itu, banyak di antara kita yang ingin memeliharanya dalam keasliannya&#8221;.</p>
<p>Pengukuhan adat bersendi syariat menjadi sangat penting. Jika hal ini dapat tetap ujud dan terpelihara baik, akan banyak manfaatnya menyalurkan nilai-nilai yang berharga dari satu budaya daerah, hasil masa lampau ke dalam kebudayaan Indonesia modern.</p>
<p>Menggali khazanah kebudayaan lama Minangkabau, yang banyak tersimpan di dalam bahasa lisan, serta dan menaikkannya ke atas permukaan kehidupan, menjadi bahasa tulisan, niscaya akan memberi sumbangan besar di dalam memupuk kebudayaan nasional, sesuai dengan keperibadian bangsa Indonesia.</p>
<p>Untuk melakukan kompilasi dari nilai-nilai pusaka Minangkabau yang menjadi mutiara kehidupan berbudaya dengan adat bersendi syari’at, perlu dilakukan observasi yang dipertajam untuk menapak Minangkabau yang kuat di masa depan. Menuntut keharusan pula adanya penelitian historis, terutama diarahkan kepada penyelidikan bentuk-bentuk sastera lisan yang banyak terdapat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, seperti pidato-pidato adat yang masih dihayati dalam kehidupan nyata, serta sopan santun dan kearifan dalam berciloteh baik di lapau atau di surau.</p>
<p>Memang amat sukar untuk menentukan berapa jumlah pendukung kesusasteraan lisan Minangkabau itu. Berapa banyak yang masih tersisa di dalam khazanah golongan terkemuka dalam adat atau penghulu (ninik mamak). Serta berapa banyak yang sudah diidentifikasi kembali oleh golongan cerdik pandai, suluah bendang di nagari, atau mereka yang dapat dianggap mengetahui bentuk-bentuk kesusasteraan lisan itu.</p>
<p>Berlakunya <strong><em>adaik istiadat nan salingka nagari</em></strong>, telah memberi warna perlakuan pribadi dan masyarakatnya, di dalam berinteraksi sesama. Adat istiadat yang menjadi kebiasaan pada setiap nagari dan luhak, menjadi kekayaan amat berharga, terutama di nagari-nagari yang masih menjaga nilai-nilai utama yang luhur. Termasuk di dalam berciloteh bersama di lapau dan di mana saja.</p>
<p>PERILAKU BERBUDAYA DAN BERAKHLAK DALAM PENGGUNAAN BAHASA</p>
<p>Perilaku berbudaya dan berakhlak masih dihayati dalam keseharian mereka, disebabkan tetap berlakunya ketentuan syariat agama Islam dengan kuat. Dan terjaganya dengan baik fungsi-fungsi urang ampek jinih dalam lingkungan kekerabatan di nagari-nagari.</p>
<p>Faktor penghayatan lahiriah dalam melaksanakan adat bersendi syariat, akan lebih banyak berbicara daripada konsep-konsep yang bersifat teoritis. Kearah ini kompilasi harus mengarah.</p>
<p>Kehidupan bermasyarakat di Sumatera Barat sudah lama direkat oleh kentalnya hubungan kebersamaan (ta’awun) di dalam tataran budaya berat sepikul ringan sejinjing sebagai perwujudan nyata nilai-nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK).</p>
<p>Tataran budaya sedemikian telah terbukti dalam masa sangat panjang mampu memberikan dorongan-dorongan beralasan (motivasi) bagi semua gerak perubahan (reformasi) dari satu generasi ke generasi berikut di Ranah Bundo ini.</p>
<p>Bahkan telah pula terbukti menjadi modal sangat besar untuk meraih kemajuan di berbagai bidang pembangunan di daerah dan nagari, di dusun dan taratak. Serta memberikan sumbangan yang tidak kecil dalam mewujudkan persatuan bangsa dan kesatuan wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.</p>
<p>Adat Minangkabau yang disebut sebagai adat lama pusaka usang, artinya adatnya bukan baru dibuat atau baru disusun, tapi adat itu memang sudah lama dengan sifatnya yang luhur. Kemudian pusakanya yang usang berarti suatu peninggalan lama dari nenek moyang yang diwariskan kepada yang hidup sekarang.</p>
<p>Dari pelajaran adat dikatakan bahwa nenek moyang orang Minang membagi adat itu atas empat kategori, yakni : Adat nan sabananyo adat (Adat yang sebenarnya adat), Adat nan diadatkan (Adat yang diadatkan), Adat nan taradat (Adat yang teradat) dan Adat Istiadat.</p>
<p>Dari empat bagian adat tersebut ada adat yang berbuhul mati dan ada adat yang berbuhul sentak. Berbuhul mati artinya tidak dapat dibuka atau dicabut, sedangkan yang berbuhul sentak artinya dapat dibuka atau dicabut.</p>
<p>Adat yang berbuhul mati adalah adat yang sebenarnya adat yang tak akan berubah disebut tak lekang oleh panas, tak lapuk karena hujan, karena dia adalah undang-undang alam (natuurwet), natural law dan sunnatullah. Keyakinan bahwa Yang Maha Kuasa menciptakan alam raya dengan aturan nyata. Tak pernah berubah selamanya. Contoh nyata adat api menghanguskan, adat air membasahi. Tak pernah pula di antara keduanya yang bertukar peran atau bertimbang.</p>
<p>Adat nan Diadatkan yakni adat yang digariskan oleh nenek moyang orang Minang, seperti tokoh legendaris Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih nan Sabatang misalnya aturan-aturan yang dibuat orang dahulu dalam sistem kekerabatan menurut garis ibu (matrilineal). Pusaka turun ke kemenakan (maksudnya pusaka tinggi-sako dan pusako). Aturan nikah kawin (eksogami dan matrilokal), yang dalam fatwa adat disebut “sigai mencari enau. Enau tetap, sigai beranjak. Tepatan tinggal, bawaan kembali, suarang babagi, sekutu dibalah, kerbau tegak kubangan tinggal. Nikah dengan si perempuan, kawin dengan ninik mamak, sumando pada korong kampung”.</p>
<p>Adat nan teradat adalah hasil mufakat di dalam kaum, suku atau nagari tentang sesuatu masalah. Misalnya mufakat turun ke sawah, upacara nikah kawin dan lompat pagar (antar nagari), cara atau tata tertib penobatan Penghulu (Datuk), aturan sangsako, dan sebagainya.</p>
<p>Sedangkan yang dikatakan Adat istiadat adalah kebiasaaan yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Misalnya adat istiadat masuk puasa Ramadhan, Idul Fitri, kunjung berkunjung di hari baik bulan baik, jalang menjalang ketika ada musibah, baralek (pesta), membangun rumah gadang, menghela tonggak (tiang rumah gadang) dan sebagainya.</p>
<p>Pada dasarnya dalam empat kategori adat itu hanya Adat nan sabana adat yang tak akan berubah sedangkan yang lainnya dapat berubah dengan kata mufakat.</p>
<p>Hanya saja pada kategori Adat nan Diadatkan meski boleh berubah, namun Adat nan Diadatkan harus dilestarikan, dipelihara dan dilindungi agar tetap seperti sedia kala seperti adat Islami (adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Syarak mangato, adat mamakai, disebut juga adat sebatang panjang).</p>
<p>Sedangkan adat nan teradat dan adat istiadat lebih bersifat adat nan salingka nagari (selingkar nagari).</p>
<p>Terlihatlah di sini kearifan nenek moyang orang Minang bahwa dalam menghadapi putaran zaman yang akan berubah di masa datang maka adat Minang bersifat terbuka.</p>
<p>Berubahlah apa yang mestinya berubah, tapi ada yang tak akan berubah yakni Adat nan sabana adat yang sunnatullah, wet alam yakni yang datang dari Yang Maha Kuasa.</p>
<p>Dalam adagium adat disebutkan : <strong><em>“sakali aie gadang, sakali tapian baraliah”</em></strong> (sekali air bah datang, sekali pula tepian berubah). Yang berubah itu adalah lokasi tepian yang tadinya berlokasi di sebelah atas, kini beralih ke sebelah bawah. Namun yang tepian tidak berubah, sementara nilai dukung boleh berubah dengan kesepakatan bersama melalui musyawarah.</p>
<p>Tutur kata dalam budaya di Minangkabau menjadi bagian tak terelakkan di dalam mempertahankan budaya lama sekaligus juga menggali dan menampilkan ajaran tradisional yang relevan dengan tuntutan zaman yang sedang berubah.</p>
<p>Ungkapan tradisional itu dapat berarti pepatah, kato pusako, mamang, pituah, andai-andai, dan lain-lain.</p>
<p>Ungkapan tradisional tersebut ada yang berbentuk pantun, seloka, gurindam, dan sebagainya yang kadangkala dengan kalimat metafora sebagai bandingan atau kebalikannya. Semuanya bernilai nasehat, hukum, arahan dan ketentuan-ketentuan (norma).</p>
<p>Tapi ungkapan semata ada juga yang tidak bermuatan pepatah, pituah, dan lain-lain. Hanya kata melereng (kiasan) semata.</p>
<p>Ungkapan-ungkapan tradisional di Minangkabau ribuan banyaknya, berisi kearifan yang disindirkan, mencakup budi pekerti, seperti <em>“Nan kuriak iyolah kundi. Nan sirah iyolah sago, Nan baiak iyolah budi, Nan indah iyolah bahaso”</em>. Dalam ungkapan bahasa Indonesia berarti “yang kurik ialah kundi, yang merah ialah saga, yang baik ialah budi, yang indah ialah bahasa”.</p>
<p>Para tetua leluhur orang Minangkabau telah mengambil contoh pada buah kundi dan buah saga yang warnanya kurik (rintik) dan merah yang sifatnya tetap tidak berubah dalam warna merahnya dan kurik rintiknya.</p>
<p>Ungkapan tradisional ini mengiaskan bahwa budi baik dan keindahan bahasa tidak boleh tanggal dari diri pribadi anak turunan Minangkabau di manapun kita berada.</p>
<p>Sikap mulia akan menjadi buah tutur orang di mana saja. <em><strong>Talangkang karando kaco / Badarai carano kendi / Itu nan urang canggangkan./ Bacanggang karano baso / Bacarai karano budi / Itu nan urang pantangkan. </strong></em>Bila di turunkan di dalam bahasa nasional <em>Telengkang keranda kaca, berderai cerana kendi, itu yang orang canggangkan, bercenggang karena bahasa, bercerai karena budi, itu yang orang pantangkan.</em></p>
<p>Fatwa adat ini menasehatkan pandai-pandai menggunakan bahasa. Karena ucapan berbahasa yang mungkin dinilai kasar atau tak sepantasnya dapat berakibat persahabatan jadi bercanggang atau berjarak. Begitu pula halnya budi atau kelakuan (perangai) yang tak senonoh dan tidak pantas, dapat berakibat persahabatan atau hubungan pergaulan akan rusak dan bahkan perceraian satu sama lain.</p>
<p>Mengikat sebuah dinamika di dalam pergaulan tidak semata ada pada alur tutur kata. Juga pada tindak laku perbuatan. Di antaranya tepat janji. Tentang janji disebutkan dalam tutur ungkapan yang amat berarti, bahwa <strong><em>“indak nan taguah dari janji, indak nan kokoh dari buek”</em></strong> (tidak yang teguh selain janji, tiada yang kokoh selain dari buatan).</p>
<p>Selalu dalam ciloteh seharian dinasehatkan supaya teguh memegang janji, kokoh tak tergoyahkan terhadap apa yang sudah dibuat dan disepakati.</p>
<p>Di dalam ungkapan seharian disebutkan ; <strong><em>Nak luruih rantangkan tali Nak mulia tapati janji Nak kuek paham dikunci Nak tinggi paelok budi Nak kayo kuek mancari,</em></strong> dan sebagainya (Supaya lurus rentangkan tali Supaya mulia tepati janji Supaya kuat paham dikunci Supaya tinggi perbaiki budi Supaya kaya kuatlah berusaha/ mencari)</p>
<p>Di sebalik itu dituntut dialektika Arif dan Bijak seperti ; <em>Diagak mako diagiah</em> (buatlah perkiraan, baru dibagi) <em>Diukua mako dikabuang</em> (memotong sesuatu atau mengerat, membagi, hendaklah setelah diukur, tidak berlaku sembrono memotong/membagi begitu saja . Dianjurkan diukur dulu).</p>
<p>Kemudian dalam satu ciloteh semestinya dipakai satu kearifan dialektis, <strong><em>Malantiang manuju tampuak, Dima buah ka rareh, dan Mamahek manuju barih, Dima lubang ka tabuak, Barundiang manuju bana, Dima mufakat ka dibulati</em></strong>. Artinya dalam bahasa nasional, “<em>melempar menuju tampuak, kira-kira di mana buah itu jatuhnya</em>”, dan “<em>memahat menurut baris, kira-kira di mana lobang itu tembusnya</em>”, atau “<em>berunding berdasarkan kebenaran, sehingga rundingan membuahkan mufakat bulat</em>”.</p>
<p>Kearifan di dalam bertutur kata, baik itu di dalam ungkapan di lingkungan beradat, di balairung, di surau, di mana saja, ada satu kewajiban berhati-hati. Ungkapan petatah petitih mengingatkan itu semua. “<strong><em>Gabak dahulu makonyo hujan, Cewang di langik tando akan paneh, Ingek sabalun kanai, Kulimek sabalun habih</em></strong>”, atau “<strong><em>Ingek urang nan di ateh, Nan di bawah kok datang malimpok, Bajalan paliharo kaki, Bakato paliharo lidah</em></strong>”.</p>
<p>Dapat dicermati dari ungkapan berbahasa dan bertutur ada banyak mendapatkan pelajaran dari alam takambang jadi guru. Di antaranya “<em>mendung dahulu baru akan hujan, cerah di langit tanda hari akan panas</em>”. Atau ungkapan selanjutnya, “<em>ingatlah sebelum kena, berhemat sebelum habis</em>” sebagai satu dinamika kearifan. Kemudian di dalamnya tertera pula nasehat, “<em>ingat dan waspadalah orang yang sedang berkuasa di atas, karena yang di bawah dapat datang menimpa</em>”, serta “<em>kalau berjalan peliharalah kaki, kalau berucap kata pelihara lidah</em>”.</p>
<p>Di sini dapat dirasakan dialektika dan dinamika berucap atau berceloteh itu. Di samping dialektika ada dinamika kehidupan dengan mengedepankan kebersamaan seperti ungkapan, “<strong><em>Ka bukik samo mandaki, Ka lurah samo manurun</em></strong>” (ke bukit sama mendaki, ke kurah sama menurun), atau “<strong><em>Barek sapikua, Ringan sajinjiang</em></strong>” (Berat sepikul, Ringan sejinjing), dan “<strong><em>Malompek samo patah, Manyaruduak samo bungkuak</em></strong>” (Melompat sama patah, Menyeruduk sama bungkuk), serta “<strong><em>Talungkuik samo makan tanah, Tatilantang samo makan angin, Tarandam samo basah, Tarapuang samo hanyuik</em></strong>” (Tertelungkup sama makan tanah, Tertelentang sama makan angin, Terendam sama basah, Terapung sama hanyut).</p>
<p>Sebuah nilai keberadatan masyarakat adat yang dapat menumbuhkan dinamika di tengah pergaulan hidup.</p>
<p>Kehidupan masyarakat Sumatera Barat ke depan di Alaf Baru abad ke duapuluh satu dan seterusnya ini, mesti memacu dirinya dengan ajakan agar selalu menanam kebaikan-kebaikan yang makruf. Ajakan tersebut mesti pula dipagari rapat-rapat dari hal-hal yang merusak atau mungkarat.</p>
<p>Di dalam diri masyarakatnya semestinya ditanamkan kesadaran yang dapat menumbuhkan harga diri dengan sikap mental mau berusaha dengan giat bekerja (enterprising). Hal tersebut akan lebih mudah terbangunkan karena dialog yang santun, arif dan dinamis.</p>
<p>Pembangunan manusia Minangkabau sesungguhnya adalah mencetak insan yang dapat menolong diri sendiri (independent) serta mampu mereposisi kondisinya dalam mengatasi kemelut, kemiskinan dan ketertinggalan di berbagai bidang. Insya Allah masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat atau di perantauan akan selalu mendapatkan hak asasinya yang setara dengan kewajiban asasi yang telah ditunaikannya.</p>
<p>Sesungguhnya bimbingan aqidah bersendikan Kitabullah, atau kebiasaan adat telah mengajarkan bahwa tidak pantas bagi satu masyarakat yang hanya selalu menuntut hak tanpa dibebani keharusan menunaikan kewajiban.</p>
<p>Martabat satu kaum akan hilang bila yang ada hanya memiliki kewajiban-kewajiban tetapi tidak dapat menentukankan hak apa-apa. Karena itu, hak asasi manusia tidak akan pernah ujud tanpa di dahului oleh kewajiban asasi manusia. Hal ini sangatlah penting ditanamkan kembali dalam upaya mambangkik batang tarandam.</p>
<p>Kandungan Kitabullah mewajibkan kita untuk memelihara hubungan yang langgeng dan akrab dengan karib, baik terhadap tetangga maupun kerabat, sebagai kewajiban iman dan taqwa kita kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Firman Allah di dalam Kitabullah (Al Quran) menyebutkan, “<em>Sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak. Berhubungan baiklah kepada karib kerabat. Berbuat ihsan kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, dan tetangga yang hampir, tetangga yang jauh, dan teman sejawat serta terhadap orang-orang yang keputusan belanja diperjalanan (yaitu orang-orang yang berjalan dijalan Allah) dan terhadap pembantu-pembantu di rumah tanggamu. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri</em>” (QS.4, An-Nisak ayat 36).</p>
<p>Menumbuhkan harga diri, dan memperbaiki nasib secara keseluruhan dalam berbagai bidang, diyakini akan terwujud melalui ikhtiar yang terus menerus, disertai akhlak sabar tanpa kesombongan serta mampu melawan sikap mudah menyerah dan tidak mudah berputus asa.</p>
<p>Sikap jiwa masyarakat seperti ini seringkali dapat ditempa melalui dialog atau celoteh yang penuh dialektika dan dinamis, di antaranya di surau dan di lapau di Minangkabau, masa laloe. ***</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menguatkan Kedirian Tegakan Ta'aruf dan Egaliter]]></title>
<link>http://masoedabidin.wordpress.com/2009/01/18/menguatkan-kedirian-tegakan-taaruf-dan-egaliter/</link>
<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 05:09:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://masoedabidin.wordpress.com/2009/01/18/menguatkan-kedirian-tegakan-taaruf-dan-egaliter/</guid>
<description><![CDATA[Ta&#8217;aruf dan Egaliter Oleh : H. Mas’oed Abidin Sesunguhnya hidup bermasyarakat di manapun di du]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><strong>Ta&#8217;aruf dan Egaliter </strong></p>
<p style="text-align:center;">Oleh : H. Mas’oed Abidin</p>
<p style="text-align:center;">
<blockquote>
<p style="text-align:left;"><strong>Sesunguhnya hidup bermasyarakat di manapun di dunia ini keutuhannya akan  terjamin serta kebahagiaan akan tercipta manakala individu sebagai anggota masyarakat atau sebagai rakyat dan warga negara benar-benar mengakui dan sama-sama berusaha menghormati dan menegakkan supremasi hukum,  yang di ikat selalu dengan terpeliharanya hubungan vertical dengan Allah (hablum minallah) dan kuatnya hubungan horizontal dengan saling kenal mengenal (ta’aruf) sesama manusia (hablum minan-nas).</p>
<div id="attachment_460" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"></strong><strong><img class="size-medium wp-image-460" title="taushiyah-hilton-makkah" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/01/taushiyah-hilton-makkah.jpg?w=300" alt="Taushiyah di Hilton Makkah" width="300" height="200" /></strong><p class="wp-caption-text">Taushiyah di Hilton Makkah</p></div>
</blockquote>
<p><strong> Terjalinnya hubungan yang baik, sebagai bukti keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, akan menjamin keamanan di tengah hidup bermasyarakat. </strong></p>
<p><strong>Firman Allah telah menyerukan, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal satu sama lainnya. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal ” (QS.49, al Hujurat, ayat 13). </strong></p>
<p><strong>Keberhasilan masyarakat Minangkabau dalam menata hubungan kekeluargaan selama ini sangat ditunjang oleh penerapan nilai-nilai yang kita warisi dan tampak jelas dalam hubungan kekerabatan duduk sama rendah dan tegak sama tinggi. </strong></p>
<p><strong>Nilai-nilai adat yang bersendikan syara’ senantiasa mengutamakan pendekatan manusiawi dengan selalu memandang manusia menurut fithrah kesuciannya baik secara individu maupun kelompok masyarakat, yang disadari sesungguhnya memiliki segala kelebihan dan kekurangannnya, di antaranya dengan mengakui martabat (‘izzah) dan menghormati harga diri masing-masing. </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Hal ini dimungkinkan karena sejak awal telah tertanam pendidikan dengan aqidah agama dan ajaran tauhid yang berbuah pada akhlak sebagai intisari dari kandungan Kitabullah. </strong></p>
<p><strong>Karena itu mereka tidak takut dengan berjibun perubahan yang terjadi di tengah perputaran globalisasi sekalipun, karena ada benteng kokoh di dalam hati. </strong></p>
<p><strong>Semua nilai-nilai itu selalu terpelihara baik, selama prinsip saling menghargai satu sama lain, dan saling menghormati di tengah perbedaan-perbedaan pendapat yang berkembang harus selalu dipelihara bahkan ditingkatkan dalam hubungan kesaudaraan yang bersih dan ikhlas. </strong></p>
<p><strong>Kata basilang kayu dalam tungku di sinan api mangko nyo hiduik telah menjadi kelikat kehidupan dengan kemampuan tinggi bisa mengamalkannya di dalam katan ibadah sebagai mata rantai   penyerahan diri kepada Allah dalam arti tawakkal secara benar. </strong></p>
<p><strong>Sangatlah susah memungkiri bahwa sebenarnya nilai budaya Adat basandi syara’ dan syara’ basandi Kitabullah di Minangkabau sejak lama tmampu menjadi  alas dasar utama kehidupan berdemokrasi yang tumbuh dengan subur dan berkembang di tengah masyarakat ranah bundo di Sumatera Barat. </strong></p>
<p><strong>Kedudukan pemimpin di tengah masyarakatnya hanyalah karena di dahulukan selangkah dan di tinggikan seranting. </strong></p>
<p><strong>Ikatan itu bertambah kokoh dengan ikatan saling tolong menolong dan bantu membantu, baik dengan moril dan buah pikiran atau usul-usul yang berfaedah. </strong></p>
<p><strong>Sebagai pemimpin yang di dahulukan selangkah itu amat wajar bila dituntut harus memperbanyak lawan ba iyo dan bermusyawarah serta melipat gandakan teman berunding. </strong></p>
<p><strong>Kalau tidak demikian akan terasa sempitlah dunia ini, karena kemungkinan sekali akan dipenuhi oleh sikap saling dengki mendengki, halang menghalangi penuh curiga, apalagi bila telah berkembang menjadi saling memfitnah, yang akan berakibat kebinasaan dan kehancuran bersama pula. </strong></p>
<p><strong>Kita sama-sama meyakini bahwa Allah Tuhan Yang Maha Rahman akan selalu melindungi dan membukakan pintu berkah-Nya dari langit dan dari bumi selama masyarakat dan lembaga-lembaga pemerintahan di ranah bundo senantiasa teguh dalam menegakkan kebenaran dan keadilan serta kejujuran dalam rangka menunaikan amanat Allah dan menjalankan kepercayaan dari rakyat banyak. </strong></p>
<p><strong>Inilah inti kekuatan ruhani urang awak setiap masa bergelut dalam perubahan dan reformasi bahkan globalisasi karena yang dituju adalah membangun  diri dan nagari di Sumatera Barat, termasuk di abad ini.*** </strong></p>
<p>Padang, Januari 2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pandangan untuk Penjabaran Filosofi Adat Basandi Syarak, Syrak Basandi Kitabullah di Sumatera Barat]]></title>
<link>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/01/15/pandangan-untuk-penjabaran-filosofi-adat-basandi-syarak-syrak-basandi-kitabullah-di-sumatera-barat/</link>
<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 09:15:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/01/15/pandangan-untuk-penjabaran-filosofi-adat-basandi-syarak-syrak-basandi-kitabullah-di-sumatera-barat/</guid>
<description><![CDATA[[draft,HMA]&#8230; Penjabaran Filosofi ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH 1. .Apakah ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>[draft,HMA]&#8230;</p>
<p>Penjabaran Filosofi</p>
<p>ADAT BASANDI SYARAK,  SYARAK BASANDI KITABULLAH</p>
<p>1.  .Apakah &#8230;&#8230;</p>
<p>A.	FILOSOFI ADAT BERSENDI SYARAK, SYARAK BERSENDI KITABULLAH   Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” merupakan landasan dari sistem nilai yang menjadikan Islam sebagai sumber utama dalam tata dan pola perilaku serta melembaga dalam masyarakat Minangkabau.</p>
<p>Artinya, Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah adalah kerangka filosofis orang Minangkabau dalam memahami dan memaknai eksistensnya sebagai mahluk Allah. Sesungguhnyalah Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah yang kini menjadi indentitas kultural orang Minangkabau lahir dari kesadaran sejarah masyarakatnya melalui proses dan pergulatan yang panjang.</p>
<p>Semenjak masuknya Islam ke dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, terjadi titik temu dan perpaduan antara ajaran adat dengan Islam sebagai sebuah sistem nilai dan norma dalam kebudayaan Minangkabau yang melahirkan kesepakatan Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah.  Undang-undang alam yang dijadikan  oleh Tuhan atau  yang disebut sunatullah atau hukum Allah.</p>
<p>Dalam ajaran Islam, alam yang luas ini dengan segala isinya adalah ciptaan Allah swt dan menjadi ayat-ayat Allah (ayat kauniyah) sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya.</p>
<p>Manusia dengan segala potensi akalnya, dapat mengambil pelajaran dari ketentuan-ketentuan pada hukum alam.</p>
<p>Bahwa sesungguhnya  Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan proses pergulatan antara Adat, Islam dan Ilmu Pengetahuan adalah kerangka filosofis dalam memaknai ekstensi manusia sebagai Khalifatullah di dunia.</p>
<p>Filosofi Alam Takambang Jadi Guru, suatu konsep nilai ilahiah, insaniah dan semesta adalah permaknaan jalinan yang mengantarkan keberadaan manusia yang tidak terlepas dengan Sang Khalik, Maha Pencipta.  Sebagai pandangan terhadap dunia (world vieew) dan pandangan hidup (way of life) perlu mempercepat kesadaran kolektif yang memberi arah dan pegangan pergaulan sosial kemasyarakatan dalam dinamika perubahan zaman Sadar akan perubahan tatanan peradaban terhadap pergeseran sistem nilai dan pola prilaku umat manusia, maka Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato, Adaik Mamakai, menjadi ciri petanda bagi identitas kultural dan otoritas moral sebagai sumber norma tata kehidupan masyarakat Minangkabau dalam memperkokoh semangat Kebangsaan Negara Republik Indonesia.</p>
<p>Adat disebut juga ‘uruf, berarti sesuatu yang dikenal, diketahui dan diulang-ulangi serta menjadi kebiasaan dalam masyarakat.</p>
<p>Adat itu sudah tua usianya, dipakai turun temurun sampai saat ini, yang  menjadi jati diri (identitas) dan dianggap bernilai tinggi oleh masyarakat adat itu sendiri.</p>
<p>‘Uruf bagi orang Islam, ada yang baik dan ada yang buruk. Pengukuhan adat yang baik dan  penghapusan adat yang buruk, menjadi tugas dan tujuan kedatangan agama dan syariat Islam.</p>
<p>Dalil yang menjadi dasar untuk menganggap adat sebagai sumber hukum ialah ayat al Qur an, Surat al A’raf ayat 199 dan hadits Ibnu Abbas yang artinya “apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka pada sisi Allah juga baik di kalangan ahli fikih (hukum) Islam berlaku kaidah, adat itu adalah hukum.</p>
<p>Oleh karenanya semakin kokoh keyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar, haq dari Rabb untuk membina pribadi anak nagari di ranah Minangkabau.</p>
<p>Hukum  adat dan hukum Islam  menjadi pedoman hidup masyarakat Minangkabau sehari-hari, sehingga melahirkan filosofi hidup, “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,” yang melandasi tatanan hidup dalam berinteraksi antar sesama, antar masyarakat itu dan dengan alam sekitarnya, seperti  hutan tanah, air, flora, dan fauna.</p>
<p>Filsafah hidup ini dijadikan patokan atau pedoman dalam hidup berkaum, banagari dan  bernegara.</p>
<p>Pengaruh Islam terhadap adat Minangkabau tercermin dalam sarana nagari yang terdiri dari balairung (tempat para pemimpin nagari – penghulu dan imam khatib bermusyawarah- dan mesjid – tempat beribadah.</p>
<p>Dalam setiap struktur suku di nagari-nagari terdiri dari perangkat penghulu dan  perangkat Imam Khatib atau Malin.</p>
<p>Dalam arti umum, adat itu adalah norma dan budaya.</p>
<p>Norma adalah aturan-aturan dan budaya adalah kebiasaan. Sebagai norma, adat Minangkabau dilihat dari sudut yang baik yang terbentuk sejak adanya masyarakat Minangkabau dan dikembangkan sesuai dengan tantangan zaman.</p>
<p>Pola tingkah laku yang menjadi kebiasaan  masyarakat Minangkabau yang disebut limbago.</p>
<p>Dalam pengertian hukum, adat adalah pedoman atau patokan dalam bertingkah laku, bersikap, berbicara, bergaul, dan berpakaian..</p>
<p>Adat atau norma telah berjalan lama sekali dan turun temurun disebut tradisi, adalah tata cara memelihara hubungan baik antar sesama.</p>
<p>Bagi umat Islam, adat dapat menjadi sumber hukum apabila mengandung tiga syarat, yaitu:</p>
<p>a)	tidak berlawanan dengan dalil-dalil yang tegas dari al Quran atau hadist,</p>
<p>b)	telah menjadi  kebiasaan terus menerus berlaku dalam masyarakat,</p>
<p>c)	menjadi kebiasaan masyarakat umumnya.  Adat Minangkabau yang dinamis, menempatkan raso (hati, kearifan, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika), sebagai hasil dari falsafah, “alam takambang jadi guru.”</p>
<p>Artinya, adat Minangkabau mengandung unsur  adat dan ilmu.</p>
<p>Belajar kepada alam berarti mengambil pelajaran dari perjalanan hidup.        Dalam pengertian hukum, adat adalah pedoman atau patokan dalam bertingkah laku, bersikap, berbicara, bergaul, dan berpakaian..</p>
<p>Adat atau norma telah berjalan lama sekali dan turun temurun disebut tradisi, adalah tata cara memelihara hubungan baik antar sesama.</p>
<p>2.  Siapakah &#8230;..</p>
<p>B.	INSAN MINANGKABAU Insan Minangkabau adalah orang yang siap menatap masa depan. Siap bergumul dan bergulat dalam zaman yang senantiasa berubah, sesuai ungkapan adat, ”sakali aia gadang, sakali tapian berubah, namun tapian tatap itu juo”.</p>
<p>Sesungguhnya, kesiapan dan keberanian orang Minangkabau menghadapi tantangan zamannya lahir dari kemampuan mereka atas intensitas pembacaan mereka terhadap semesta.</p>
<p>Pembacaan terhadap semesta merupakan sebuah proses yang senantiasa mengalir dalam siklus kehidupan manusia.  Alam Takambang Jadi Guru, menjadi titik sentral bagi orang Minangkabau dalam memaknai kehidupannya.</p>
<p>Proses perenungan dan penghayatan terhadap materi-materi kehidupan yang berpijak pada kemampuan dan intensitas pembacaan mereka terhadap alam yang mempunyai makna yang dalam bagi orang Minangkabau. Alam adalah segala-galanya bagi mereka.</p>
<p>Alam bukan saja dimaknai sebagai tempat lahir, tumbuh dan mencari kehidupan, lebih dari itu, alam juga dimaknai sebagai kosmos yang memiliki nilai dan makna filosofis.</p>
<p>Pemaknaan orang Minangkabau terhadap alam terlihat jelas dalam ajaran; pandangan dunia (world view) dan padangan hidup (way of life) yang seringkali mereka nisbahkan melalui pepatah, petitih, mamangan, petuah, yang diserap dari bentuk, sifat, dan kehidupan alam.</p>
<p>Pandangan kosmos ini pada akhirnya membawa mereka melihat keteraturan semesta bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, melainkan muncul melalui proses pergulatan antara pertentangan dan keseimbangan. Filsafat ‘Alam Takambang Jadi Guru’ mengandung pengertian bahwa setiap orang ataupun kelompok memiliki kedudukan sama, tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain, baik sebagai individu, maupun sebagai kelompok.</p>
<p>Proses dialektika, pertentangan dan perimbangan oleh orang Minang tidak hanya sebatas pergulatan, tapi proses ini telah membentuk insan Minangkabau sebagai individu yang memiliki karakter, watak dan sikap yang jelas dalam menjalani siklus kehidupan.</p>
<p>Di antara karakter itu adalah;</p>
<p>Pertama, orang Minangkabau selalu menekankan nilai-nilai keadaban, di mana individu dituntut untuk mendasarkan kekuatan budi dalam menjalankan kehidupan.</p>
<p>Kedua, etos kerja. Didorong oleh kekuatan budi, maka setiap individu dituntut untuk selalu melakukan sesuatu yang berarti bagi diri dan komunitasnya. Dan melalui semangat inilah kemudian mereka memiliki etos kerja yang tinggi.</p>
<p>Ketiga, kemandirian. Semangat kerja atau etos kerja dalam rangka melaksanakan amanah sebagai khalifah menjadi kekuatan bagi orang Minangkabau untuk selalu hidup mandiri, tanpa harus bergantung pada orang lain. “Baa di urang, baitu di awak” dan “malawan dunia urang” adalah sebuah filosofi agar individu dituntut untuk mandiri dalam memperjuangkan kehidupan yang layak.</p>
<p>Keempat, serasa, tenggang menenggang dan toleran. Walaupun kompetisi sesuatu yang sah dan dibenarkan untuk mempertinggi harkat dan martabat, namun ada kekuatan rasa yang mengalir dari lubuk budi. Karena invdidu hidup bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan pribadi, melainkan juga berjuang dan memelihara komunitasnya, maka kekuatan rasa menjadi hal yang sangat penting artinya. Hidup dalam pergaulan sosial mesti didasarkan pada kekuatan rasa. Rasa akan melahirkan sikap tenggang menenggang dan toleran terhadap orang lain dengan segala perbedaan yang ada. Bila etos kerja dan semangat kemandirian muncul dari lubuk “pareso”, maka sikap tenggang menenggang dan toleran muncul dari kekuatan “raso”.</p>
<p>Kelima, kebersamaan. Penempatan insan dalam posisi personal/ individu dan komunal memberi ruang kepada orang untuk menjalin hidup secara bersama untuk kebersamaan. Selain penempatan seseorang dalam ranah individu dan masyarakat, kekuatan rasa, tenggang rasa dan toleran memperkuat munculnya kebersamaan dalam masyarakat Minangkabau. Kebersamaan itu sesungguhnya lahir dari pola penempatan seseorang dalam ranah individu dan masyarakat. Meskipun sebagai individu diberi ruang gerak untuk dirinya sendiri, namun ia harus bersikap toleran, saling tenggang menenggang dan menghargai setiap perbedaan yang ada.</p>
<p>Keenam,  visioner. Dari kekuatan budi, etos kerja yang tinggi, watak kemandirian, nilai saraso, tenggang menenggang, dan kebersamaan, orang Minang selalu dituntut untuk bergerak maju, dinamis, dan melihat ke depan.</p>
<p>Semangat inilah yang kemudian membuat orang Minang memiliki visi yang jelas dalam menjalani kehidupannya.</p>
<p>Akidah tauhid sebagai ajaran Islam dipupuk melalui baso basi atau budi dalam tata pergaulan di rumah tangga dan di tengah masyarakat.</p>
<p>Demikianlah masyarakat Minangkabau menyikapi cara mereka melihat sistem nilai etika, norma, hukum dan sumber harapan sosial yang mempengaruhi perilaku ideal dari individu dan masyarakat serta melihat alam perubahan yang lahir dari lubuk yang berbeda, antara adat dan Islam.</p>
<p>Kemampuan dan kearifan orang Minangkabau dalam membaca dan memaknai setiap gerak perubahan, antara adat dan Islam, dua hal yang berbeda, akhirnya dapat menyatu dan saling  topang menopang membentuk sebuah bangunan kebudayaan Minangkabau melalui Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah.</p>
<p>Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah pada akhirnya terpatri menjadi landasan serta pandangan hidup orang Minangkabau.</p>
<p>Manusia akan dapat mengambil iktibar atau pelajaran yang berharga untuk kehidupan bersama.</p>
<p>Ketentuan-ketentuan alam dijadikan sebagai dasar untuk menata kehidupan masyarakat Minangkabau, baik secara pribadi, bermasyarakat, maupun sebagai pemimpin.</p>
<p>Fenomena alam mengajarkan sikap, agar setiap perbuatan sesuai dengan hukum yang berlaku dan sesuai dengan nilai dasar kemanusiaan, seperti bulek aia di pambuluah, dan bulek kato di mupakat, bulat kata sesuai dengan kesepakatan.</p>
<p>Ajaran adat Minangkabau berlandaskan asas filosofi Alam Takambang Jadi Guru,  suatu  konsep   alam semesta, merupakan sumber “kebenaran” dan kearifan orang Minangkabau.</p>
<p>Alam semesta dipahami orang Minangkabau dari segi fisik dan sebagai sebuah tatanan kosmologis.</p>
<p>Dalam ayat-ayat kauniyah, Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, mengungkapkan beberapa rahasia-Nya melalui alam semesta.</p>
<p>Inilah yang kemudian menjadi titik temu perpaduan antara sistem nilai Adat dengan Islam. Oleh karena itu, tepat kiranya Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah, dikatakan sebagai sebuah kerangka berpikir (paradigma) filosofis budaya Minangkabau yang terpola dalam struktur pengetahuan, sikap dan perilaku sosial masyarakat Minangkabau.</p>
<p>3. Kapan &#8230;&#8230; ???</p>
<p>4.. Di mana &#8230; ???</p>
<p>Teori Taufik Abdullah: tentang dinamika sosial dan intelektual Islam di Indonesia, berawal ketika Islam “lulus dari ujian pemikiran Persia, Helenisme, India. Gelombang ini disebut Taufik Abdullah sebagai “dunia fana yang kosmopolitan”.</p>
<p>Kedua, “Islamisasi realitas”,</p>
<p>ketiga, gelombang akselarasi ortodoksi, khususnya melalui ortodoksi fikih.</p>
<p>Gelombang keempat modernisme dengan intektualisme bercorak politik dan pan islamisme; dan kelima gelombang neo-modernisme kontemporer.</p>
<p>Semenjak masuknya Islam ke dalam masyarakat Minangkabau, sesungguhnya telah terjadi beberapa kali gelombang dinamika sosial  dalam kebudayaan Minangkabau yang menjadi titik temu dan perpaduan antara ajaran adat dengan Islam sebagai sistem nilai dan norma.</p>
<p>Gelombang pertama, “Islamisasi realitas”, ketika Minangkabau berkenalan dengan ajaran Islam secara seporadis. Dalam Sejarah Asia Tenggara, mengatakan ada berita yang  menyatakan dua orang utusan dari kerajaan Melayu Darmasraya yang bernama Syamsuddin dan Chairuddin ke Cina (abad ke-12).</p>
<p>Sekurangnya ditandai pula dengan  pulangnya 11 orang dari Nusantara dari  naik haji ke Mekah al Mukarramah pada tahun 1060 Masehi. Sembilan di antaranya berasal dari Minangkabau dan dua di antaranya dari Sulawesi.</p>
<p>Pada saat itu, di daerah Rokan dan Indragiri ajaran Islam telah dianut di kalangan rakyat, namun tidak berkembang karena adanya  “counter action” dari dinasti T’ang dari Cina.</p>
<p>Kemudian kerajaan Kuntu Darussalam yang didukung kekuasaan Fatimiyah dari Mesir dapat dialahkan oleh Adityawarman, raja Pagaruyung keturunan Melayu.</p>
<p>Sementara itu pada saat itu penduduk Minangkabau yang sebagian besar telah menganut agama Islam tidak tersentuh oleh ajaran Budha yang dibawa Adityawarman.  Setelah itu Islam  tumbuh dalam gerakan “Islamisasi realitas” bersentuhan dengan adat Minangkabau.</p>
<p>Dinamika ajaran Islam makin membumi di Minangkabau.</p>
<p>Gelombang ketiga “akselarasi ortodoksi”, khusus melalui ortodoksi fikih”, ketaatan kepada ajaran agama, terutama terhadap  fikih. Pada gelombang ketiga itu setelah makin berkembangnya Islam di pedalaman Minangkabau, lahir Gerakan (Kembali) ke Syariat (1784 -1790) oleh Tuanku Nan Tuo diikuti oleh Gerakan Padri (1803-1832) sebagai generasi kedua dari gerakan itu. Muaranya pada rumusan “hukum adat bersendi syarak.</p>
<p>Dalam memahami perkembangan sejarah Minangkabau, setiap gelombang selalu ada usaha memperkuat landasan adat Minangkabau dengan syariat Islam.</p>
<p>Kehadiran Syekh Burhanuddin dari Ulakan bersama penghulu Ulakan kepada Basa Ampek Balai yang melahirkan kesepakatan bahwa adat dan ajaran Islam sama-sama terpakai di Minangkabau.</p>
<p>De Haan dalam TBGKW XXXIX mengulasnya bahwa ulama ini, (Syekh Burhanuddin) telah melibatkan rakyat dalam aksi politik agama, yang dikenal dengan adat bersendi syarak Pada awal Gerakan Pembaruan pada gelombang ketiga,  memang terjadi penyerangan terhadap nagari-nagari sekitar Bonjol sehingga Alahan Panjang menjadi basis perjuangan kepemimpinan agama yang disebut “Tuanku Nan Barampek” di bawah pimpinan Tuanku Imam.</p>
<p>Sesekali memang terjadi  kerusuhan, penyerangan dan perampasan nagari yang tidak melaksanakan ajaran pembaruan   Tuanku Imam sadar atas kekeliruan yang dilancarkan pada awal perang pembaruan agama, terutama sikap yang kurang baik dari para hulubalang setelah mendapat harta rampasan dan tawanan perang di Bonjol.</p>
<p>Hal ini disampaikan Tuanku Imam ketika bermufakat dengan Tuanku Mudo dan Tuanku Kadhi Basa. Tuanku Imam  menyatakan bahwa banyak hukum agama yang terlanggar pada saat mengalahkan nagari-nagari. Perampasan, pembakaran dan pembunuhan yang terjadi, merupakan suatu hal yang tak diingini dan dilarang agama Islam terhadap sesama muslim.</p>
<p>Atas kesepakatan itu Tuanku Imam dengan Tuanku Mudo dan Tuanku Kadhi, memutuskan agar mengirim surat kepada Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai untuk bermusyawarah lebih lanjut di Bonjol.</p>
<p>Musyawarah antara Tuanku Imam dengan Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai di Bonjol untuk mencari jalan keluarnya (1811) berkesimpulan  perlu dikirim anak kemenakan untuk mempelajari (hukum)– Kitabullah &#8211; ke Mekah, terdiri dari orang-orang pandai dan cerdas.  Tuanku Tambusai pergi bersama kemenakannya.</p>
<p>Tuanku Imam menunjuk Pakih Muhammad, kemenakannya, Pakih Malano kemenakan Tuanku Kadi, dan Tuanku Sayalu, kemenakan Tuanku Rao. Rombongan mengantar mereka sampai ke Barumun, dan kembali ke Bonjol sambil membawa barang dagangan berupa kain.  Setelah rombongan kembali dari Mekah, anak negeri mendapat penjelasan dan pengajaran baru tentang agama Islam.</p>
<p>Segala harta rampasan dikembalikan kepada pemiliknya karena tidak termasuk dalam katagori ghanimah, karena berasal dari sesama penganut agama Islam.</p>
<p>Semenjak itu, Hukum adat bersendi syarak, diterapkan kembali pada  tiap-tiap luhak dan nagari di Minangkabau, Rao dan Tambusai.</p>
<p>Kewenangan struktural dan fungsional  hakim adat dikembalikan kepada Basa dan penghulu andiko serta segala raja-raja. Artinya, Penghulu dan andiko melaksanakan hukum adat bersendi syarak. Perbantahan dalam hukum syarak- Kitabullah- diserahkan kepada Tuo Malin Nan Barampek yang terdiri dari Imam, Khatib, Malin dan Kadhi..</p>
<p>Rasa keadilan bermasyarakat tumbuh kembali. Penghulu didampingi imam khatib dan bilal di setiap suku di kampong dan nagari.</p>
<p>Secara strategis, untuk membangun masa depan Minangkabau yang sanggup menghadapi tantangan zaman diperlukan pelembagaan dan operasionalisasi dari gerakan yang terencana, terukur dan berkelanjutan, serta  mendapat dukungan sepenuhnya dari seluruh kekuatan sosial kemasyarakatan  yang difasilitasi oleh Pemerintah.</p>
<p>Keragaman pelaksanaan adat di setiap nagari melahirkan kata-kata: adat salingka nagari dan adat nan sabatang panjang.</p>
<p>Sedangkan nilai adat disebut adat nan babuhua sintak, adat nan babuhua mati, dan adat lamo pusako usang. Hubungan antar suku bangsa dalam masyarakat Indonesia telah menjalin kebudayaan yang bhinneka bentuknya.</p>
<p>Secara strategi hubungan itu berperan guna pembinaan dan pengembangan jati diri kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi ketika berhadapan dengan pengaruh asing yang tidak selaras dengan dasar falsafah hidup bangsa Indonesia, Pancasila. Ajaran adat bersendi syarak, inilah yang menjadi ciri penanda jati diri suku bangsa Minangkabau.</p>
<p>Bertolak dari pandangan filosofis di atas, Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah, harus dijadikan rujukan dalam merumuskan setiap kebijakan terhadap kelangsungan hidup orang Minangkabau yang beriman, beradat, berbudaya, berharkat dan bermartabat.</p>
<p>Dari landasan, prinsip dasar dan nilai operasional Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah tersebut orang Minangkabau harus membangun masa depannya. Oleh karena itu, Minangkabau sekarang adalah Minangkabau yang menuju masa depan, bukan Minangkabau yang kembali ke masa lalu, tetapi tetap dalam prinsip-prinsip nilai yang menjadi identitas kebudayaan Minangkabau yang  dinamis dan selalu mengalami perubahan, sesuai dengan ungkapan adat, bakisa di lapiak nan sahalai, baraliah di tanah nan sabingkah, walau baraliah sinan juo.</p>
<p>5. Mengapa &#8230;..</p>
<p>C.	ILAHIYAH DAN INSANIYAH.</p>
<p>Bila nilai, Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah, diurai satu persatu, maka terlihat gambaran sebenarnya dari kehidupan yang ideal dalam realitas alam Minangkabau, yakni kehidupan yang tidak luput dari nilai-nilai universal yang membentuknya.</p>
<p>Tepat kiranya dikatakan bahwa sesungguhnya Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah adalah ikatan moral yang berpijak pada realitas kultural dan sosial masyarakat Minangkabau.</p>
<p>Allah sebagai Sang Khaliq dengan segala Kehendak (Iradah), dan Kuasa-Nya (Qodrat) telah mengalirkan sifat-sifat ilahiyah ke dalam diri setiap insan.</p>
<p>Penitahan Allah kepada insan sebagai khalifatullah fil arḍ̣i merupakan bukti bahwa insan dan realitas kehidupan ini mesti bertumpu pada Allah.</p>
<p>Dalam mendorong siklus kehidupan yang diridhai oleh Sang Khaliq, amat diperlukan sebuah kesadaran semesta bahwa dimensi ilahiyah adalah sesuatu yang melekat dalam diri insan. Oleh karenanya, insan dalam mengemban amanah sebagai khalifah harus senantiasa mencerminkan nilai-nilai ilahiyah dalam siklus kehidupan ini.</p>
<p>Bila ditilik lebih jauh ke akar budaya Minangkabau, sesungguhnya nilai-nilai ilahiyah dan nilai-nilai insaniyah merupakan mata air tempat mengalirnya nilai-nilai luhur sebagai penggerak kehidupan.</p>
<p>Keberadaan manusia sebagai ciptaan Allah, terletak pada keterikatannya dengan Allah,  bahwa segala sesuatu bersumber dan bermuara pada-Nya.</p>
<p>Jika manusia berkehendak mempertahankan tugasnya sebagai khalifatullah di dunia, maka ia harus selalu memperlihatkan bahwa ia merupakan bagian dari struktur sosial yang menopangnya.</p>
<p>6. Bagaimana &#8230;&#8230;?</p>
<p>Islam masuk ke Minangkabau mendapati suatu kawasan yang tertata  rapi dengan apa yang disebut “adat”, yang mengatur segala bidang kehidupan manusia dan menuntut masyarakatnya untuk terikat dan tunduk kepada tatanan adat tersebut.</p>
<p>Landasan pembentukan adat adalah “budi” yang diikuti dengan akal, ilmu, alur dan patut sebagai adalah alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk.</p>
<p>Islam membawa tatanan apa yang harus diyakini oleh umat yang disebut aqidah dan tatanan apa yang harus diamalkan yang disebut syariah atau syarak.</p>
<p>Syariat Islam lahir dari keyakinan Iman, Islam, Hakikat dan Makrifat serta Tauhid.  Nilai-nilai ketuhanan, dan insaniyah merupakan landasan filosofi tempat berpijaknya Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah yang mendapat legitimasi dari Adat dan Islam sebagai rujukannya.</p>
<p>Nilai-nilai ketuhanan muncul dari proses pembacaan dan pemaknaan mereka atas semesta “Alam Takambang Jadi Guru”.</p>
<p>Allah, melalui penciptaan alam semesta memperlihatkan Kekuasaan-Nya. Alam dengan segala isinya memberikan tanda-tanda akan diri-Nya agar insan sampai pengenalan kepada Allah yang telah menciptakan dirinya. “Seseorang baru bisa sampai mengenal Allah, apabila ia mampu membaca dan memahami dirinya”, merupakan isyarat bahwa proses pembacaan terhadap alam dan diri merupakan salah satu metode yang menghantarkan insan pada kesadaran akan hubungan dirinya dengan Allah, yang menciptakannya.</p>
<p>Hal ini berhubungan dengan tradisi orang Minangkabau alam semesta dengan segala isinya menjadi guru yang membimbing mereka untuk memahami dirinya dan sekaligus mencari sumber kekuatan dalam hidup.</p>
<p>Suatu konsep pelaksanaan dari adat bersendi syarak, syarak basandi Kitabullah dalam  Fatwa adat Minangkabau menyatakan,  Nan  tuo dihormati, nan ketek  disayangi, samo gadang lawan baiyo.</p>
<p>Sopan santun dipahami sebagai sikap agar dapat hidup dengan tenang. Quran memberi petunjuk sopan santun dalam berkomunikasi, bertutur kata dan  bertegur sapa, baik terhadap orang tua, yang lebih muda, sama usia dan orang yang dihormati dan disegani. Sopan santun dalam berbicara disebut qaulan ma’rufa, qaulan sadida, qaulan karima, qaulan mansura, qaulan layina dan qaulan husna yang sering dilaksanakan dalam jalan nan ampek, cara berkomunikasi dalam setiap lapisan masyarakat,</p>
<p>1)	Sikap sopan terhadap seseorang yang  lebih tua  yang diharapkan bantuan serta bimbingannya, baik moral maupun materil. Dari seorang anak kepada guru, ulama, mamak, datuk, nenek, kakak atau orang-orang yang dihormati.</p>
<p>Sopan santun  dalam jalan mandaki sesuai dengan qaulan maisura, seperti tersebut dalam   Surat Al-Israk ayat 28. Dan, jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas, perkataan yang baik agar mereka jangan kecewa. Dalam pada itu kamu berusaha untuk mendapat rezeki dari Tuhanmu, sehingga kamu dapat memberikan kepada mereka hak mereka.</p>
<p>2)	Sikap sopan santun kepada seseorang yang lebih muda atau orang yang belum dewasa, seperti dari seorang penghulu kepada kemenakannya, dari ayah atau ibu kepada anaknya atau dari seorang guru kepada murid.</p>
<p>Kepada anak-anak yang belum sempurna pemikirannya berbicara dengan kata ma’rufa, perkataan yang benar yang mengandung arti membimbing dan mengarahkan mereka dengan kata yang jelas dan mudah dimengerti, sehingga membentuk kepribadiannya menjadi manusia dewasa yang beradat dan beragama. Hal ini didapat dalam  surat QS 4; 5-9; Annisa’ayat 5 ayat 9. Qaulan sadida atau perkataan yang benar berbicara  kepada anak cucu yang sama dengan kato manurun dalam adat Minangkabau. Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu, kaum kerabat, anak yatim dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikan shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali bagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling (QS 2;83).</p>
<p>3)	Sikap antara teman sebaya, maupun kepada semua bangsa, semua tingkat dan semua umur dengan ucapan yang baik.</p>
<p>Dalam jalan mandata, pembicaraan dapat lebih bebas, karena sipembicara dan lawan bicaranya berada dalam taraf dan tingkat yang sama. Al-Qur an menganjurkan agar sesama umat Islam, khususnya, terhadap  manusia umumnya, harus berkasih sayang dan dilarang bermusuhan. Hidup berkasih sayang harus selalu dibina dan silaturahmi harus ditumbuhkan. (QS 4;5 danQS 4,9), QS 2;83).</p>
<p>4)	Sikap terhadap orang yang disegani, dalam kerapatan adat, ucapan orang sumando kepada mamak tunganai, kepada mertua, atau ipar bisan. Orang harus pandai dan mahir dalam berkata-kata dengan ungkapan memperdalam akal pikiran dan perasaan, yang disebut tahu dibayang kato sampai, tahu di angin nan barasa, arif bijaksana. Orang seperti ini tahu ereang jo gendeang atau kata kiasan.</p>
<p>Dalam menghadapi para remaja yang mudah emosional, baik karena akibat minuman keras dan kebiasaan narkoba. Mereka harus dihadapi dengan perkataan layyina atau perkataan lemah lembut, tetapi mengena. Hal ini dapat disamakan dengan kisah perintah Tuhan kepada nabi Musa sewaktu berhadapan dengan Fir’aun, pembangkang.</p>
<p>Keempat sikap itulah”, yakni perlakuan dan pandangan terhadap kelompok lain. yang disebut’ tahu di ampek terdiri dari jalan mendaki, jalan menurun, jalan mendatar dan jalan melereng.</p>
<p>Jalan dimaksud adalah          Hidup dalam lingkungan norma-norma adat dan  mengikuti pola, acuan, bentuk, model aturan tersebut merupakan “pola” yang diwariskan nenek moyang menjadi “limbago” atau lembaga Sementara itu, menghadapi hubungan dengan kebudayaan asing yang tak terelakkan, bersama dengan pemangku adat lainnya masyarakat Minangkabau berupaya menyumbangkan nilai-nilai ajaran adatnya yang berlandaskan “Alam Takambang Jadi Guru”, suatu konsep krmanusiaan yang egaliter dalam sistem kodrat alam yang dikotomi  menurut alurnya yang harmoni.</p>
<p>Pengertian “alur yang harmoni” dalam filsafah alam ialah dinamika dalam sistem musyawarah dan mufakat berdasarkan ‘alur” dan “patut”, yaitu etika hukum yang layak dan benar. Dan sebagai masyarakat yang beragama, maka Kebenaran Yang Benar, berada di Jalan Allah, Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Demikianlah masyarakat Minangkabau melihat dirinya dan kiat melihat alam dan perubahan yang terjadi.</p>
<p>Ketika kebajikan, kebenaran, dan keadilan telah menjadi ekspresi insan Minangkabau, maka dapat dipastikan bahwa nilai-nilai ilahiyah dan insaniyah telah mendorong membebaskan insan dari taghut (berhala) dari orang yang mementingkan diri sendiri (individualistik) yang selalu menggerogoti nilai-nilai kebersamaan, kesetaraan, dan toleransi dalam mengembangkan kehidupan sosial masyarakat Minangkabau.</p>
<p>Secara filosofis, antara Allah dengan insan sebagai mahkhluk-Nya, adalah dua hal yang berbeda, namun antara keduanya terdapat garis penghubung. Garis itu adalah “jiwa ketuhanan” yang mengalir dari Allah ke dalam jiwa insan.</p>
<p>Firman Allah dalam Surat Ar-Ruum ayat 30 “Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” menjadi isyarat tentang hubungan ini.</p>
<p>Ayat ini bukan saja menunjukkan adanya hubungan insan dengan Allah, lebih jauh lagi dapat dimaknai bahwa dimensi ilahiyah (fitrah) yang dengannya insan tercipta sesungguhnya teraktualisasi dalam diri insan.</p>
<p>Insan sendiri akan selalu tetap bergerak dalam dimensi ilahiyah melalui proses internalisasi secara terus menerus.</p>
<p>Dari siklus inilah dapat dipahami bahwa dimensi ilahiyah sebenarnya bukan diperuntukkan untuk Allah sendiri, melainkan berujung pada pengembangan kualitas insaniyah.</p>
<p>Tawhid atau keimanan adalah poros segala dimensi ilahiyah, Sementara insan adalah pusat dari insaniyah.</p>
<p>Perpaduan keduanya terlihat dalam bentuk aktifitas amal shaleh yang sebenarnya merupakan pancaran  dari keimanannya kepada Allah Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah seyogianya tidak hanya  soal idea dan pengertian (konseptual), tetapi bagaimana nilai tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat (realitas sosial), karena sistem nilai selalu berhubungan dengan struktur sosial dan kultural.</p>
<p>Aspek kultural merupakan sesuatu yang bersifat mental yang dapat mempengaruhi dan mengendalikan perilaku dalam ujud fisik tertentu. Sedangkan aspek sosial dengan segala keadaan masyarakat dapat menentukan dan  membentuk  struktur mental insan yang menjadi anggotanya.</p>
<p>Dengan demikian pelembagaan nilai-nilai yang terkandung dalam Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah akan terlihat nyata dalam pranata sosial, seperti: pola interaksi, pola kepemimpinan, pola demokrasi, pola kepemilikan, pola perkawinan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Dengan sendirinya, nilai-nilai Ilahiyah dan insaniyah menjadi satu-satunya landasan nilai Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Nilai ketuhanan (Ilahiyah) dan kemanusiaaan (insaniyah) dalam Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah memiliki prinsip-prinsip dasar sebagai patokan atau ukuran penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat.</p>
<p>Prinsip dasar itu adalah:</p>
<p>Pertama, prinsip kebenaran. Kebenaran sesungguhnya merupakan nilai dasar yang mutlak dalam pergaulan sosial umat manusia.</p>
<p>Kedua, adalah prinsip keadilan. Prinsip dasar kebenaran dan keadilan merupakan nilai abstrak. Tapi dalam prakteknya, tampak sebagai bagian yang menggerakkan kehidupan manusia. Tanpa keadilan kehidupan sosial akan selalu goyah dan jika keadilan terjamin dan ditegakkan maka masyarakat akan sejahtera.</p>
<p>Ketiga, prinsip kebajikan. Jika prinsip kebenaran, ditopang oleh prinsip keadilan, maka kehidupan insan akan lebih bermakna apabila dari dua ranah ini melahirkan kebajikan. Kebenaran, keadilan dan kebajikan merupakan tali tiga sepilin, tungku tiga sejarangan. Bila kebenaran menjadi landasan teologis atau nilai dasar, maka keadilan merupakan nilai operasional.</p>
<p>Ketiga unsur ini merupakan perpaduan yang saling terkait dan terikat. Kebenaran tidak dapat berdiri sendiri tanpa ditopang nilai keadilan. Kebenaran dan keadilan akan bermakna apabila diikuti nilai-nilai kebajikan.</p>
<p>Dalam menerapkankan prinsip kebenaran, keadilan, dan kebajikan yang menjadi patokan dalam menerjemahkan nilai-nilai Ilahiyah dan nilai-nilai insaniyah, Dalam Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah juga terkandung beberapa prinsip dan nilai yang operasional,.</p>
<p>Prinsip dan nilai yang operasional yang melembaga dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau, , di antaranya:</p>
<p>1.	<strong>adab dan budi</strong>; budi adalah inti  dari ajaran adat Minangkabau. Budi adalah sebuah dasar untuk dapat melaksanakan prinsi adat. “indak nan indah pado budi, indak nan elok dari baso” (Tidak ada yang indah dari pada budi dan baso basi). Yang dicari bukan emas, bukan pangkat, akan tetapi budi pekerti yang dihargai. Agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi (budi pekerti)</p>
<p>2.	<strong>kebersamaan</strong>, terlihat dalam musyawarah, bulek aia ke pambuluah, bulek kato ka mufakat, yang dijabarkan “dalam senteang ba-bilai, singkek ba-uleh” sebagai pancaran iman kepada Allah swt. Di dalam masyarakat yang beradat dan beradab (madani) mempunyai semangat kebersamaam, sa-ciok bak ayam, sadancing bak basi”. Membangun kebersamaan dengan mengikut sertakan ninik mamak, alim ulama, Cadiak pandai dan Bundo Kandung di setiap  korong, kampung dan nagari di Minangkabau, semua yang dicita-citakan   tidak akan sulit meujudkannya.</p>
<p>3.	<strong>keragaman</strong>, masyarakat yang terdiri dari banyak suku  dan asal muasal dari berbagai ranah  bersatu dalam kaedah “hinggok mancekam, tabang basitumpu”,mencari ibu dan suku. Mengajukan hubungan baik, saling menghargai, dima bumi dipijak, disatu langit dijunjung”</p>
<p>4.	<strong>kearifan</strong>, mempunyai kemampuan menangkap perubahan yang terjadi, sakali aia gadang, sakali tapian baralieh, sakali tahun baganti, sakali musim batuka,” Perubahan tidak mengganti sifat adat. Perubahan adalah suanatullah.</p>
<p>Dengan kearifan dan optimisme yang tinggi, setiap usaha untuk keluar dari problematika perubahan sosial, politik dan ekonomi. Sebaliknya, menjauhkan fikiran  dengan menjauhkan dari hal yang tidak mungkin. Seorang yang arif tidak boleh melarikan diri dari perbedaan pendapat, karena pada hakekatnya perbedaan itu membuka peluang  untuk memilih yang lebih baik.</p>
<p>Pedoman menempuh kehidupan dikaitkan dengan kearifan bertindak dan memilih menghadapi tantangan tercakup dalam ungkapan adalah:</p>
<p>a.	Hendak kayo berdikit-dikit (hemat)</p>
<p>b.	Hendak tuah batabua urai (penyantun)</p>
<p>c.	Hendak mulia tapek-I janji (amanah)</p>
<p>d.	Hendak luruih, rantangkan tali (mematuhi aturan)</p>
<p>e.	Hendak buliah, kuat mencari (etos kerja yang tinggi)</p>
<p>f.	Hendak namo, tinggakan jaso (berbudi daya)</p>
<p>g.	Hendak pandai, rajin belajar (rajin dan berinovasi)</p>
<p>h.	Dek sakato mangkonyo ado (rukun dan partisipatif)</p>
<p>i.	Dek sakutu makonyo maju  (memelihara mitra usaha.)</p>
<p>j.	Dek ameh sagalo kameh (perencanaan masa depan)</p>
<p>k.	Dek padi sagalo manjadi (pelihara sumber ekonomi)</p>
<p>5.	<strong>tanggungjawab sosial yang adil</strong>, seia sekata menjaga semangat gotong royong. Semua  dapat merasakan dan memikul tanggung jawab bersama pula. Sedikit diberi bercecah dan banyak beri berumpuk, Kalau tidak ada, sama-sama giat mencarinya, dan sama pula menikmatinya</p>
<p>6.	<strong>keseimbangan,</strong> Prinsip hidup seimbang rohani dan jsmani yang berujud dalam kemakmuran, Munjilih di tapi aia, mardeso di paruik kanyang  Memerangi kemaksiatan, diawali dengan menghapus kemiskinan dan kemelaratan. Rumah gadang gajah maharam, lumbung baririk di halaman, lambang kemakmuran.</p>
<p>7.	<strong>toleran</strong>, seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat Minangkabau diarahkan kepada pandai hidup dengan jiwa toleran, sesuai dengan pesan Rasulullah, bahwa sesungguhnya zaman berubah, masa berganti. Seorang yang arif tidak oleh melarikan diri dari perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat mendorong dan membuka peluang untuk memilih yang lebih baik di antara beberapa kemungkinan yang tersedia. (Hujarat ;13)</p>
<p>8.	<strong>kesetaraan</strong>, timbul dari sikap berusyawarah yang telah hidup subur dalam masyarakat Minangkabau.  Sejalan dengan itu diperlukan saling tolong menolong  dengan moral dan buah pikir dalam memperbanyak lawan baiyo(musyawarah).  Kedudukan pemimpin, didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, dan karenanya perlu melipat gandakan teman berunding. Sikap musyawarah membuka pintu berkah dari langit dan bumi</p>
<p>9.	<strong>kerjasama</strong>, menyayangi dan mengutamakan  kepentingan orang banyak dengan sikap pemurah, yang merupakan  sikap mental, dan kejiwaan yang tercermin dalam mufakat. Mufakat bertujuan menegakkan kebenaran dengan pedoman tunggal, hidayah dari Allah.</p>
<p>10.	<strong>sehina semalu</strong>, adalah dasar dalam memahami persoalan berdasarkan atas disekeliling masalah seseorang dengan bersama dan bersama dengan seseorang. Mengadakan sistematik dalam adat Minangkabau adalah sulit, sebab sesuatu hal adalah sebagian dari keseluruhan, yang satu bersangkut paut dengan lainnya, semuanya tupang menopang, walau hal sekecil apa pun.</p>
<p>11.	<strong>tenggang rasa</strong> dan saling menghormati, adalah inti dari fatwa adat tentang budi atau akhlaqul karimah.</p>
<p>12.	<strong>Keterpaduan</strong>, “barek sapikua, ringan sajinjiang”, saling meringankan dengan kesediaan memberikan dukungan dalam kehidupan. Kerja baik dipersamakan dengan saling memberi tahu sanak saudara dan jiran. “Karajo baiak baimbauan, karajo buruak baambauan. Apabila musibah menimpa diri seseorang, maka tetangga serta merta menjenguk tanpa diundang.</p>
<p>13.	<strong>Sikap musyawarah</strong>, merupakan konfigurasi kolektivitas. Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mupakat.</p>
<p>Prinsip-prinsip tersebut merupakan prinsip operasional yang melembaga di dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau.</p>
<p>Jiwa ketuhanan merupakan suatu keterikatan yang terpercik dari hakikat tawhid, dan menjadi ‘modal dasar’ dalam setiap jiwa insan yang telah dititahkan Allah sebagai khalifah-Nya.</p>
<p>Sementara hakikat insaniyah sebenarnya terletak pada ikatan insan sebagai hamba dan khalifah Allah. Hanya Allah pusat penghambaan dan seluruh aktifitas kekhalifahan pun juga tidak boleh lepas dari rasa dan hubungannya dengan Allah.</p>
<p>Karena tawhid atau nilai ketuhanan adalah konsep pembebasan insan dari segala bentuk kungkungan dan dominasi, maka jiwa insaniyah sebenarnya adalah esensi penghambaan sekaligus esensi dari pembebasan insan.</p>
<p>Pembebasan di sini bermakna, bagaimana jiwa ketuhanan menjadi pendorong bagi tindakan insan sebagai mahluk Allah yang mempunyai tanggungjawab sebagai khalifah.</p>
<p>Setiap kebijakan, keputusan dan tindakan mesti berorientasi pada kebajikan dan kemashlahatan ummat insan; pengayom bagi yang kecil dan menjadi suluh bagi mayoritas.</p>
<p>Dalam realitasnya, jiwa insaniyah merupakan sebuah komitmen sekaligus aksi kemanusiaan melakukan transformasi sosial. Dan, dalam kerangka inilah selayaknya insan Minangkabau ditempatkan dalam bergerak dan berproses dalam kaedah nilai ketuhanan dan kemanusiaan yang amal shalehnya berorientasi pada kemashalahatan umat.</p>
<p>Orang Minangkabau dalam kehidupan yang nyata mengalirkan kehidupan mereka dalam dimensi makna yang beragam.</p>
<p>Keragaman dimensi makna yang menjadi arah dan tujuan kehidupan bukan sebuah hal yang tidak disengaja. Bahkan hal tersebut merupakan pilihan paling sadar masing-masing orang Minangkabau dalam menentukan hidup dan kehidupan mereka.</p>
<p>Dalam keberagaman makna, pada wilayah yang paling hakiki, sesunguhnya aliran kehidupan itu mengalun dalam jiwa dan nilai yang sama antar satu dengan yang lainnya. Sesuai dengan khittahnya, insan terlahir dalam keadaan fitrah.</p>
<p>Fitrah adalah sebuah potensi dasar dimana insan selalu cenderung kepada kebenaran, keadilan dan kebajikan.</p>
<p>Kebenaran adalah nilai fundamental yang menjadi dasar tempat berpijak, bergerak dan berakhirnya semua kehidupan.</p>
<p>Watak dasar insan yang hanif menuntun mereka untuk selalu berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran, melakukan yang benar dan mengarahkan semua kerja sosialnya pada kebenaran itu sendiri.</p>
<p>Bagi orang Minang kebenaran merupakan sebuah keniscayaan untuk menciptakan tatanan yang adil dalam interaksi antar masyarakat.</p>
<p>Kebenaran atau “nan bana” dalam hubungan sosial bermakna bahwa segala kebijakan, keputusan dan siklus kehidupan sosial harus berlandaskan dan mempunyai kecenderungan pada kebenaran.</p>
<p>Kebenaran merupakan alas dari setiap produk sosial; politik hukum, ekonomi, budaya, sekaligus menjadi harapan dan impian tentang kehidupan yang berharkat dan bermartabat.</p>
<p>Orientasi hidup pada kebenaran yang diatur dalam bentuk kesepakatan tidak tertulis menuntut suatu kearifan tersendiri bahwa manusia dalam kehidupannya mempunyai hak yang sama.</p>
<p>Pengakuan bahwa manusia memiliki hak yang sama adalah hak dasar yang menjadi pilar dari segala aktivitas kemanusiaan. Kebenaran dalam prakteknya tidak berdiri sendiri tapi ia senantiasa harus ditopang oleh nilai-nilai keadilan, dan nilai-nilai kebajikan.</p>
<p>Hakekat kebenaran, keadilan, dan kebajikan adalah sesuatu yang terus-menerus dicari, karena kenyataannya manusia sangat rindu akan tatanan yang adil, dan dijalankan atas prinsip kebenaran, yang digerakkan oleh nilai-nilai kebajikan.</p>
<p>Keadilan adalah sesuatu yang paling penting menopang kehidupan insan Minangkabau.</p>
<p>Tidak ada kehidupan yang sebenarnya bisa luput dari keadilan; keadilan adalah tonggak bagi kehidupan sosial.</p>
<p>Karena itu, semestinya kini ruh keadilan menjadi lokomotif dalam siklus kehidupan masyarakat Minangkabau. Dengan keadilan diharapkan Minangkabau kembali meraih harkat dan martabatnya sebagai sebuah entitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Dalam konteks yang sesungguhnya, kebenaran merupakan sandaran keadilan; orang selalu dituntut untuk selalu mentransformasikan suatu kebenaran dan dengan kebenaran itu pulalah insan menjalankan keadilan. Adil adalah ciri taqwa.</p>
<p>Konsep adil tidak menyangkut ajaran teologis semata melainkan ajaran kemanusiaan yang harmonis yang didambakan oleh siapapun dan bersifat universal.</p>
<p>Sebagai nilai dasar kebenaran, keadilan, dan kebajikan bagi kehidupan masyarakat Minangkabau yang terpancar dari perpaduan antara Adat dan Islam, akan melahirkan gugusan-gugusan nilai-nilai operasional bagi struktur sosial dan kultur Minangkabau. Karena itu menjadi penting menegaskan kembali hakikat dari kebenaran, keadilan dan kebajikan yang nantinya akan mendorong terciptanya kebangkitan Minangkabau berdasarkan internalisasi nilai-nilai Islam dan adat Minangkabau.</p>
<p>Prinsip-prinsip kebenaran, keadilan dan kebajikan yang lahir dari nilai ilahiah dan insaniah ini haruslah menjadi kerangka acuan dalam menentukan arah dan corak kehidupan insan Minangkabau.</p>
<p>Karena Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah adalah kerangka filosofis orang Minangkabau, maka prinsip kebenaran, keadilan dan kebajikan menjadi semangat dan jiwa dalam tindakan, sikap dan watak orang Minangkabau.</p>
<p>Berdasarkan keterikatan insan pada khittahnya “kebenaran, keadilan dan kebajikan” kemudian menggiring masyarakat Minangkabau manganut paham pada falsafah hidup yang tegas dan mengikat berdasarkan Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah Watak dan sikap di atas selain lahir sebagai keniscayaan dari proses hidup yang dilalui dengan pertentangan dan perimbangan, ia juga terpercik dari filosofi ”hiduik baraka, mati bakiro, balik ka Allah jo keimanan”.</p>
<p>”Hidup ba raka” bermakna tidak ada kehidupan yang dilalui tanpa pertimbangan akal. Akal dalam konteks sesungguhnya bermakna ikatan antara ’rasa’ yang timbul dari hati nurani dengan ’pareso’ yang lahir dari kedalaman pikiran.</p>
<p>Ada keseimbangan yang hakiki yang ingin dicapai oleh insan Minangkabau; orang Minangkabau terus melakukan pergulatan dengan akal, dan budi dalam rangka mempercepat pencapaian harkat, martabat dan hakikat kebenaran dalam kehidupan.</p>
<p>Selanjutnya, ”mati ba kiro” yang terjiwai oleh insan Minangkabau merupakan turunan atau malah menjadi sesuatu yang integral dari proses ”hidup ba raka”.</p>
<p>Dalam mempertahankan harga diri harus ditanamkan semangat lebih baik mati dari pada menggadaikan harga diri, baik secara individu, maupun yang sifatnya kolektif. Tidak ada tawar menawar dan tarik ulur meskipun nyawa taruhannya.</p>
<p>Bagi insan Minang ada puncak piramida yang tersirat dari realitas sesungguhnya dalam dunia ini, yaitu realitas Allah Yang Abadi yang mengaliri kehidupan.</p>
<p>Dengan demikian, pilihan puncak dari siklus hidup ”baliak ka Allah jo keimanan” adalah satu-satunya gerbang kebajikan yang sesungguhnya.</p>
<p>Melalui pemaknaan dan penghayatan seperti ini, orang Minangkabau selalu terdorong menciptakan tatanan dinamis, terbuka, dan kuat dalam membangun individu mandiri, dan beradab untuk mewujudkan masyarakat yang memiliki harkat dan martabat yang tinggi. Dengan demikian, insan Minangkabau adalah pribadi yang selalu menuju titik keseimbangan dan menjalin corak hidup dari iman, ilmu, dan amal.</p>
<p>Inilah makna filosofis sesunguhnya dari ”tali tigo sapilin, tungku tigo sa jarangan”.</p>
<p>Dengan penjiwaan ini, orang Minangkabau adalah sosok pribadi dan masyarakat yang tidak gentar, bahkan amat sadar akan tantangan zamannya; mereka selalu menghadap ke depan, dan mereka tidak akan rela menyeret diri kembali ke belakang; mereka selalu terbuka terhadap setiap perubahan ”sakali aia gadang, sakali tapian barubah, namun tapian tatap itu juo”.</p>
<p>Walaupun demikian orang Minangkabau tidak mudah terseret ke dalam arus yang menegaskan kearifan kulturalnya ”walau duduak lah bakisa, tapi bakisa dilapiak nan sahalai, walaupun tagaklah barubah, nan tatap di tanah nan sabingkah”.</p>
<p>Layaknya ”zaman boleh berubah, tapi realitas tidak boleh tercerabut dari akarnya”.</p>
<p>E. POLA INTERAKSI PERGAULAN MASYARAKAT MINANG</p>
<p>Kehidupan setiap orang adalah bagian dari kehidupan orang lain. Hal ini terurai sebagai sunnatullah, yang dibingkai dalam ruang dan waktu. Setiap orang bisa saja berada dalam ruang dan waktu yang berbeda.</p>
<p>Perbedaan atas ruang dan waktu, seyogianya melahirkan kearifan bagi orang Minangkabau dalam memaknai kehidupan, dan menjadi piranti dalam proses dinamika kehidupan yang selalu berubah.</p>
<p>Manusia Minangkabau mengenal dirinya dalam tiga segi hubungan, yakni hubungan bernasab kepada ayah, bersuku kepada ibunya, dan bersako kepada mamaknya.</p>
<p>Prinsip utama dalam kehidupan orang Minangkabau, kehidupan tidak hanya untuk diri sendiri sebagai individu yang tunggal, namun harus mempertimbangkan sebagai bagian kehidupan bersama dan menempatkan dirinya dalam hubungan di mana dia berada.</p>
<p>Dia insyaf akan  kedudukannya dalam setiap hubungan tersebut. Itu pulalah yang mendidiknya sadar akan kedudukannya, sehingga ia sanggup menjadi pemimpin kelak bila diperlukan.</p>
<p>Dalam mengatur kehidupan bersama, masyarakat Minangkabau menempatkan diri dalam dimensi nilai yang tertuang dalam kato pusako.</p>
<p>Kato pusako ini telah menjadi pegangan dalam mengatur pola interaksi antara sesama insan dalam kurun waktu yang panjang.</p>
<p>Dalam pergaulannya, orang Minangkabau selalu bertindak dalam jalur moralitas, karena berpantang melakukan hukum rimba dalam pergaulan.</p>
<p>Hidup harus dijalankan dengan semangat kekeluargaan. Karena itu pula, orang Minangkabau selalu harus bersikap adil dan seimbang.</p>
<p>Untuk menata ruang dan waktu dalam semangat keadilan dan berimbang, orang Minangkabau selalu mengembangkan diri dalam dimensi yang luas. Oleh sebab itu pula, orang Minangkabau sangat luwes dalam menjalani kehidupan yang penuh ragam.</p>
<p>Sebagai seorang Minangkabau, mengenal tiga hubungan kekerabatan, yakni <em><strong>bernasab kepada ayah, bersuku kepada ibu dan bersako kepada mamak.</strong></em></p>
<p>Perbedaan ketiga hubungan kekerabatan tersebut merupakan   prinsip dari dinamika kehidupan yang berakar pada pandangan alam takambang jadikan guru.</p>
<p>Dengan semangat kebersamaan, egaliterian bagi orang Minangkabau  merupakan dinamika dalam kehidupannya, sehingga ia dapat menempatkan dirinya dalam setiap hubungan kekerabatan tersebut.</p>
<p>Selain menjunjung kebersamaan, orang Minangkabau sangat memahami perbedaan sebagai fitrah manusia, yang perlu dikelola sedemikian rupa sehingga menciptakan harmonisasi dalam tataran kehidupan yang kompleks.</p>
<p>Merupakan sebuah keniscayaan, bahwa perbedaan merupakan suatu keindahan tersendiri bagi masyarakat Minangkabau.</p>
<p>Nilai estetis yang terkandung dalam perbedaan dianggap sebagai ikhtisar untuk saling melengkapi.</p>
<p>Prinsip hidup yang tidak membedakan antara satu sama lain, sehingga menumbuhkan sikap ikhlas menerima perbedaan sebagai kenyataan kehidupan.</p>
<p>Sikap ini kemudian melahirkan kearifan memahami sisi-sisi kehidupan yang beragam.</p>
<p>Di balik kearifan tersebut tersirat berbagai makna kehidupan yang mengalir dalam ruang dan waktu yang selalu berubah.</p>
<p>Hubungan sosial antar orang Minangkabau, diurai secara apik agar terjalin keharmonisan dalam bingkai etika yang mapan. Itu pula sebabnya, orang Minangkabau menempatkan budi sebagai ajaran tertinggi adatnya.</p>
<p>Hanya dengan budi, pertalian yang akrab antar anggota masyarakat dapat diwujudkan. Allah pun menyuruh insan untuk berlemah lembut, tidak boleh berlaku kasar.</p>
<p>Cerminan tersebut antara lain terlihat dari tradisi dialog secara santun dalam bertutur kata dengan semua orang.</p>
<p>Perkataan pun diatur dalam ritme dan intonasi yang berbeda terhadap semua orang sesuai dengan kapasitasnya, pola komunikasi tersebut tetap dibingkai dengan  rasa santun dan  empati.</p>
<p>Rasa santun dan empati terhadap semua orang melahirkan rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap realitas kemasyarakatan.</p>
<p>Rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap sesama dalam menjalani kehidupan melahirkan sikap yang responsif dalam fluktuasi kehidupan yang digambarkan sebagai roda pedati. Sehingga dengan demikian solidaritas antar sesama melahirkan sikap saling tolong menolong dalam kesulitan.</p>
<p>Dalam kehidupannya, orang Minangkabau selalu berbagi dan saling tolong menolong antara satu sama lain dalam semua kesempatan maupun kesempitan. Dalam hidup semua keuntungan untuk semua orang, dan semua kerugian ditanggung bersama.</p>
<p>Dalam hal tanggungjawab, orang Minangkabau meletakkan sesuatu pada tempat yang tepat pada wilayah eksternal dan memegang teguh prinsip kedisiplinan dan keterbukaan dalam wilayah internal.</p>
<p>Dalam dua dimensi ini sesungguhnya orang Minangkabau menempatkan tanggungjawab dalam memikul beban yang ditompangkan di atas pundak mereka.</p>
<p>Rasa tanggungjawab tetap berkelindan dalam dimensi ruang dan waktu yang termanifestasi dari bagaimana orang Minang mempertanggungjawabkan segala sesuatu terkait dengan dua dimensi tersebut pada wilayah individu dan masyarakat.</p>
<p>Dengan jalinan antara dua dimensi pertanggungjawaban atas amanah yang ditompangkan di atas pundaknya, orang Minangkabau memelihara keseimbangan dalam interaksi sosial kemasyarakatan.</p>
<p>Dan pada ujungnya rasa tanggungjawab bermuara pada harga diri.</p>
<p>Dalam mempertahankan harga diri merupakan prinsip menanamkan semangat lebih baik mati daripada menggadaikan harga diri. Baik itu harga diri secara individu maupun harga diri yang sifatnya kolektif (keluarga, suku dsb).</p>
<p>Selain itu harga diri bagi orang Minangkabau merupakan sesuatu yang tidak dapat ditakar dengan emas berbilang. Sehingga tidak ada tawar menawar dan tarik ulur dalam hal harga diri meskipun nyawa yang menjadi taruhannya.</p>
<p>Untuk mempertahankan harga diri yang merupakan “ruh” untuk bertahan hidup, orang Minangkabau berupaya mengumpulkan “emas berbilang”, dan “nama terbilang”.</p>
<p>Usaha yang dilakukan dalam mendapatkan emas berbilang, nama terbilang, ketulusan dan keikhlasan dalam berusaha menjadi faktor pendukung utama dalam meningkatkan taraf ekonomi agar harkat dan martabat mereka terjaga.</p>
<p>-1- Adat Bersendi Syarak sebagai Landasan Pembangunan Jangka Panjang</p>
<p>-2- Konsep Falsafah Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah</p>
<p>-3- Pandangan Ninik Mamak, Pemangku Adat tentang Adat Bersendi Syarak</p>
<p>-4- Adat Bersendi Syarak sebagai Pedoman Hidup Banagari</p>
<p>-5- Peranan Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Dalam menunjang Program Pembangunan</p>
<p>-6- Program Strategis dan Pengembangan Adat Bersendi Syarak                   	.</p>
<p>Pada dasarnya, hukum dan norma Islam  yang bersifat universal diterima oleh setiap lapisan masyarakat Minangkabau, dan disesuaikan pula dengan perkembangan zaman.</p>
<p>Pandangan hidup, adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, diterapkan dalam struktur suku sehingga perangkat suku terdiri dari penghulu (perangkat adat) didampingi imam khatib dan malin sebagai perangkat agama;</p>
<p>Sarana nagari, babalai dan bamunsajik, mempunyai balai-balai dan mesjid. Setiap nagari mempunyai balairung, tempat musyawarah perangkat nagari seperti penghulu, imam khatib dan cerdik pandai (kepemimpinan tungku tigo sajarangan).</p>
<p>Masjid dan mushalla menjadi pusat ibadah dan pendidikan agama bagi anak nagari.</p>
<p>Dalam norma hukum, masyarakat Minangkabau mematuhi hukum adat, hukum syarak, dan Peraturan/dan undang-undang negara.</p>
<p>Perkawinan  dilakukan menurut syariat Islam (ijab kabul), peresmiannya secara adat Minangkabau (disebut bersaluk adat) dan pencatatan menurut administrasi pemerintahan.</p>
<p>Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah menjadi ukuran di nagari dan di alam Minangkabau dalam menyelesaikan segala persoalan dunia dan akhirat.  Apa yang dikatakan oleh syarak itulah yang dipakai oleh adat,  syarak mangato, adat mamakai.</p>
<p>Pengaruh agama Islam melahirkan ungkapan adat, yaitu adat diisi, limbago dituang, syarak nan lazim, adat nan kewi, syarak nan lazim, syarak mandaki, adat manurun.</p>
<p>Kehidupan di Ranah Minang akan aman dan sentosa, bila kedua nilai adat dan syarak sama dilaksanakan oleh masyarakat.</p>
<p>1.	Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah diakui sebagai hak asal usul dan susunan asli.</p>
<p>2.	Falsafah Alam Takambang Jadi Guru sebagai pencerminan dari ciptaan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa yang menjadi anutan, jika bermain dengan alam, patah tumbuh hilang baganti, pusaka lama tidak berubah. Artinya, setiap yang bersifat instrumental dapat berubah, namun yang bersifat fundamental tak terganti.</p>
<p>3.	Ajaran Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah, pengakuan adanya kepemimpinan masyarakat Minangkabau dalam kesatuan Tungku Tigo Sajarangan yang terdiri dari Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cadiak Pandai,</p>
<p>Pedoman hidup masyarakat adat senantiasa didasarkan atas Tigo Sapilin: hukum adat, agama dan undang-undang.</p>
<p>1.	Nagari dihormati sebagai hak asal usul dan mempunyai hak-hak istimewanya sebagai wilayah hokum adat. Keberadaan secara hukumdiakui oleh Undang-Undang Dasar 1945.</p>
<p>2.	Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cadiak Pandai menerima kenyatan tentang adanya perubahan, namun berupaya tetap adat Minangkabau yang berisikan syariat yang berdasarkan Al Quran dan Sunah Rasul.</p>
<p>3.	Ninil Mamak pemangku adat senantiasa mendorong peningkatan kualitas anak kemenakan.</p>
<p>a.	di bidang sosial; mendorong pertumbuhan dan perkembangan semangat egaliter dan sikap mandiri yang kosmopolit</p>
<p>b.	di bidang pelestarian adat, ajaran Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah menjadi rujukan dari etika bagi seluruh system masyarakat, seperti sistem sosial, sistem politik, sistem hukum, pendidikan , dan lain-lainnya guna peningkatan sumber daya anak kemenakan dalam meningkatkan kemampuan menyerap ilmu dan teknologi, sosial, politik internasional.</p>
<p>c.	Di bidang ekonomi, meningkatkan usaha pemilikan modal serta usaha kebersamaan dengan memanfaatkan tanah ulayat sebagai penyertaaan modal pemberdayaan ekonomi kerakyatan dalam semua aspek kehidupan masyarakat yang dituangkan secara konkrit dalam rencana tindakan  dan dilaksanakan oleh tenaga-tenaga profesional di bawah badan hukum.</p>
<p>d.	Di bidang politik, mengikutsertakan seluruh anak kemenakan sebagai suatu mekanisme yang telah ditentukan dan disepakati. Dalam kaitan kekuasaan maka pemimpin dilihat sebagai orang “yang ditinggikan selangkah, ditinggikan seranting”. Dalam kepemimpinan alurnya adalah, “kemenakan beraja kepada mamak, mamak beraja ke penghulu, penghulu beraja ke mufakat, mufakat beraja kepada Yang Benar; Yang Benar berdiri dengan sendirinya.</p>
<p>e.	Di bidang pendidikan; meningkatkan kualitas anak kemenakan yang aktif kreatif dan mempunyai adatasi dalam perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi, dan sikap berdisiplin bagi peningkatan etos kerja berlandaskan pendidikan adat dan agama.</p>
<p>4.	Ninik Mamak pemangku Adat Minangkabau berpendapat bahwa nilai Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah berorientasi ke masa depan yang lebih baik, maupun benturan budaya luar yang tidak jelas arahnya, menyebabkan orang Minangkabau telah mengalami erosi nilai dan etika sehingga masa depan yang lebih baik akan menempuh jalan yang panjang dan berliku.</p>
<p>Oleh karena itu diperlukan suatu sikap dan keberanian moral dalam menetapkan garis kebijaksanaan dan peran adat Minangkabau dalam menangkal terjadinya erosi nilai tersebut   Adat Bersendi Syarak dipandang potensial sebagai pedoman hidup banagari, antara lain karena:</p>
<p>1.	Mengandung etika hukum yang rasional, seperti diungkapkan mamangan, “Hukum adat bersendi alur dan patut serta patut dan mungkin yang dibimbing kebenaran yang mutlak dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.</p>
<p>2.	Nilai budaya egaliter mengandung prinsip menghargai orang lain dan lingkungannya, sertam membangkitkan daya juang yang kompetitif tanpa merusak ekstensi di luar diri dan lingkungannya.</p>
<p>3.	Sikap masyarakat yang kosmopolit mendorong tingkat mobilitas, juga menyababkan mereka dapat menerima perubahan tanpa kehilangan nilai adatnya yang essensial.</p>
<p>4.	Dialektika alam mengajarkan untuk menerima perbedaan pendapat dan tingkat hidup dengan kemampuan berpikir dan berusaha.</p>
<p>5.	Alam demokrasi,”duduk sama rendah, tegak sama tinggi” mengajarkan bahwa setiap manusia adalah substansi fungsional menurut kodratnya masing-masing, karena itu setiap orang mempunyai hak yang sesuai dengan harkatnya sebagai manusia.</p>
<p>Nagari, sebagai tempat kediaman  mempunyai peraturan, hukum atau undang yang mengatur tingkah laku anggota  masyarakatnya.</p>
<p>Undang itu terdiri dari adat, agama (syarak), undang dan cupak. Sebagai norma, adat adalah beberapa ketentuan dan aturan dalam membimbing kehidupan manusia menurut patut dan mungkin. Agama, adalah peraturan yang ditetapkan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa untuk sekalian alam melalui Nabi Muhammad s.a.w.</p>
<p>Undang, peraturan  dan pedoman tindakan, maupun kesalahan yang dilakukan masyarakat.</p>
<p>1.	Melalui ajaran Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah ditumbuhkan kondisi kehidupan yang dinamis kreatif, baik yang berakar dari salingkar nagari, maupun bersumber nilai-nilai budaya baru.</p>
<p>2.	Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah berperan sebagai nilai spiritual dalam mengokohkan jati diri masyarakat Minangkabau yang fundamental sifatnya. Nilai-nilai baru, dari mana sumbernya yang bersifat instrumental dapat memperkaya imaji dan kreativitas adatitu sendiri.</p>
<p>3.	Program Kurikulum Muatan Lokal yang terpadu. adat dan agama, di sekolah perlu bagi menumbuhkan keyakinan akan harkat nasionalitas bangsa yang tinggi melalui metode yang aktif dan non verbalistis.</p>
<p>A 1	a. Program strategis secara menyeluruh haruslah   mendorong semangat mandiri dan kreativitas yang   kompetitif di bidang ilmu dan teknologi, ekonomi dan pengembanga sumber daya.</p>
<p>b.	 Penyelenggraannya dilaksanakan oleh tenaga-tenaga professional di bawah badan hukum</p>
<p>c.	 Kontinuitas pelestarian adat bersendi syarak secara menyeluruh di setiap lapisan masyarakat Minangkabau melalui pelatihan, penerbitan dan publikasi.</p>
<p>d.	  Kontinuitas pemberdayaan ekonomi kerakyatan/ syariah dengan memanfaatkan sumberdaya alam berupa tanah ulyat berlandaskan penyertaaan modal (syariah) yang normative dan koperasi.</p>
<p>e.	Peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui pendidikan, pengajaran, pelatihan dan teknologi  pengembangan adat dan kesenian tradisional seerta seni bela diri..</p>
<p>f.	Membentuk lembaga studi hukum tanah yang mempelajari  data sumberdaya alam yang akurat, status dan pemanfaatannya.</p>
<p>2.	Program tersebut adalah upaya memajukan Sumatera Barat dalam semua aspek kehidupan masyarakat banagari yang dituangkan secara konkrit dalam rencana tindakan.</p>
<p>B.          Menghadapi tantangan globalisasi, kiranya perlu dilakukan beberapa langkah stategis:</p>
<p><em><strong>Pertama,</strong></em> mengajak umat mengenal makna yang sebenarnya dari proses globalisasi serta implikasinya bagi kehidupan umat dan bangsa dalam berbagai aspeknya.</p>
<p>Globalisasi sebagai suatu proses pada akhirnya akan membawa seluruh penduduk bumi menjadi suatu “world society” dan “global society” harus dipandang dan dipahami sebagai proses yang tidak terhindarkan yang diakibatkan semakin majunya peradaban manusia  di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi.</p>
<p><em><strong>Kedua,</strong></em> dalam konteks Islam, umat harus diajak menyadari bahwa ajaran Islam dengan tegas dan gamblang sejak awal memandang umat manusia sebagai sutu kesatuan (ummatan waḥidah) yang dalam wacana globalisasi senantiasa merupakan ujungnya.</p>
<p>Kesadaran tentang umat manusia  ini pada dasarnya merupakan kelanjutan  dari ajaran tauhid tentang asal usul manusia. Umat Islam tidak perlu takut akan proses gloalisasi meskipun memang perlu waspada.</p>
<p>Kewaspadaan harus diujudkan dalam sikap dan peri laku kreatif dengan menggali tak kenal henti sari pati dan hikmah ajaran Islam untuk didakwahkan dan disumbangkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).</p>
<p><em><strong>Ketiga</strong></em> kita harus mengembangkan kehidupan yang “turn in” dengan tuntutan perkembangan di era globalisasi ini. Seiring dengan globalisasi ekonomi maka kekuatan suatu bangsa tidak lagi ditentukan oleh kekayaan alam tetapi akan semakin ditentukan oleh ketangguhan watak dan daya intelektualnya.</p>
<p>Tantangan besar saat ini adalah menata ulang masyarakat dengan nilai ketuhanan (tauhid) dan budaya (tamadun). Kehidupan Islam di tengah peradaban manusia menggiring masyarakat menuju madaniyah, modern, maju dan beradab.</p>
<p>Masyarakat madani menjadi anti tesis terhadap gradasi moral dan peradaban westernisasi. Masyarakat madaniyah memiliki  sikap cinta yang menjadi perekat antara pengalaman sejarah  dengan batas patut dan pantas.</p>
<p>Umat yang kuat dan sehat fisik, jiwa dan ide (pemikiran), serta sehat sosial, ekonomi, pendidikan dalam ruang lingkup yang integratif; memiliki cara hidup menurut ajaran Islam (syarak) dan pemikiran yng konstruktif (amar makruf) dan meninggalkan pemikiran destruktif.</p>
<p>Syarak mendorong ke arah perbaikan san peningkatan mutu dengan ilmu pengetahuan  (knowledge), budaya (culture base) dan agama (religious base).  Berdiri sendiri tanpa tergantung pada orang lain (self help), membantu dengan ikhlas karena Allah swt. (selfless help) dan saling kerja sama satu sama lain (mutual help).</p>
<p>[draft.HMA, utk Tim Kompilasi ABSSBK,2008/2009]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kiat Membina Rumah Tangga Sorga (Baiti Jananati) dengan bimbingan Kitabullah dan Adat di Minangkabau]]></title>
<link>http://masoedabidin.wordpress.com/2009/01/12/kiat-membina-rumah-tangga-sorga-baiti-jananati-dengan-bimbingan-kitabullah-dan-adat-di-minangkabau/</link>
<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 01:39:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://masoedabidin.wordpress.com/2009/01/12/kiat-membina-rumah-tangga-sorga-baiti-jananati-dengan-bimbingan-kitabullah-dan-adat-di-minangkabau/</guid>
<description><![CDATA[Binalah Rumah Tangga Sorga Berpedoman kepada Kitabullah Oleh : H. Mas’oed Abidin الحَمْدُ ِللهِ، نَح]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-bottom:3pt;text-align:center;line-height:115%;" align="center"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;text-transform:uppercase;font-style:normal;" lang="SV">Binalah Rumah Tangga Sorga </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-bottom:3pt;text-align:center;line-height:115%;" align="center"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;text-transform:uppercase;font-style:normal;" lang="SV">Berpedoman kepada Kitabullah</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-bottom:3pt;text-align:center;line-height:115%;" align="center"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;text-transform:uppercase;font-style:normal;" lang="SV"><br />
</span></p>
<h2 style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:normal!important;color:black;text-transform:uppercase;" lang="SV"> </span></h2>
<h2 style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;text-align:center;"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:normal!important;color:black;text-transform:uppercase;" lang="SV">Oleh : H. Mas’oed Abidin</span></h2>
</p>
<p class="MsoTitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:10.8pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:15pt;line-height:115%;font-family:&#34;text-transform:none;text-shadow:none;font-weight:normal;" lang="AR-SA"><br />
</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:15pt;line-height:115%;font-family:&#34;text-transform:none;text-shadow:none;font-weight:normal;" lang="AR-SA">الحَمْدُ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَسْتَهْدِيْهِ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالىَ مِنْ سُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مَنْ سَيِّئَا</span><span style="font-size:15pt;line-height:115%;font-family:&#34;text-transform:none;text-shadow:none;font-weight:normal;" lang="AR-SA">تِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَ مَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ<br />
</span>
</p>
<p class="MsoTitle" style="margin-bottom:3pt;text-indent:10.8pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:right;" dir="rtl"><span style="font-size:15pt;line-height:115%;font-family:&#34;text-transform:none;text-shadow:none;font-weight:normal;" lang="AR-SA">وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَدَّى الأَمَانَةَ، وَ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَ نَصَحَ لِلأُمَّةِ، وَ جَاهَدَ فيِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ،</span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:10.8pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:normal!important;color:black;text-transform:uppercase;" lang="SV">
<dt class="wp-caption-dt"></dt>
<p></span>
</p>
<p class="MsoTitle" style="margin-bottom:3pt;text-indent:11.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:right;" dir="rtl"><span style="font-size:15pt;line-height:115%;font-family:&#34;text-transform:none;text-shadow:none;font-weight:normal;" lang="AR-SA">اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّد، وَ عَلىَ آله وَصَحْبهِ. وَ أَحْيِنَا اللَّهُمَّ عَلىَ سُنَّتِهِ، وَ أَمِتْنَا عَلَى مِلَّتِهِ، وَ احْشُرْنَا فيِ زُمْرَتـِهِ، مَعَ الَّذِيْنَ أَنـْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ وَ حَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا. أَمَّا بَعْدُ.</span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:10.8pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:normal!important;color:black;text-transform:uppercase;" lang="SV">
<dt class="wp-caption-dt"></dt>
<p></span>
</p>
<p class="MsoTitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:center;text-indent:10.8pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:normal!important;color:black;text-transform:uppercase;" lang="SV">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-medium wp-image-388 aligncenter" title="copy-2-of-dsc03124" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/01/copy-2-of-dsc03124.jpg?w=300" alt="Buya ikut menyaksikan sebuah acara pernikahan" width="300" height="225" /></dt>
<p></span>
</p>
<p class="MsoTitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:11.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:center;line-height:115%;"><span style="font-size:15pt;line-height:115%;font-family:&#34;text-transform:none;text-shadow:none;font-weight:normal;" lang="AR-SA"> Ketika sebuah pernikahan dilangsungkan tidak dapat </span> lepas dari aturan Sunnah, sesuai hadist Rasulullah SAW, <strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:center;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">“an- nikahu sunnati, man raghiba ‘an sunnati falaisa minni”, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:center;line-height:115%;"><strong><em></em></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">artinya “nikah itu sunnahku, dan yang tidak mau mengikuti sunnahku, tidaklah termasuk umatku” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:center;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">(al Hadist). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:center;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Sasaran pernikahan adalah mendapatkan <em>kedamaian, kenyamanan </em>dan <em>ketenangan. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Rasa damai hanya dicapai dengan saling mencintai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Rasa bahagia akan tercipta dengan menguatkan rasa saling menghargai, dan saling pengertian antara kedua keluarga terutama di dalam mencapai tujuan pernikahan.</span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl">
<p class="MsoTitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl">
<p class="MsoTitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:13pt;line-height:115%;font-family:&#34;text-transform:none;text-shadow:none;font-weight:normal;" lang="AR-SA">Baiti Jananati, rumah tanggaku adalah sorgaku</span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:13pt;line-height:115%;font-family:&#34;text-transform:none;text-shadow:none;font-weight:normal;" lang="AR-SA"><span><br />
</span></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="AR-SA"><span> </span></span><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">”</span></strong><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan di- jadikanNya di antaramu</span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV"> rasa kasih<em> dan </em>sayang<em>. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”</em></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV"> </span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">(QS.ar-Rum : 21).<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Ayat ini memakai <em>dua kosa kata secara berurutan, </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV"><em></em><span>yakni </span></span><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">mawaddah,</span></em></strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV"> </span></em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">dan </span><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">rahmah</span></em></strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">.<span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Kedua-duanya berarti <strong><em>cinta, kasih </em>dan<em> sayang</em></strong>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">M</span></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">awaddah</span></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV"> <span>artinya <em>cinta</em> dan <em>ghairah</em> ketika masih usia awal dan saling ketertarikan antara keduanya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">R</span></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">ahmah</span></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV"> <span>adalah <em>cinta, kasih saying,</em> <em>kepedulian </em>karena pengalaman dalam perjalanan waktu dalam wadah <em>ketenteraman</em></span> (sakinah)<span>. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Nabi Muhammad SAW memberikan khutbah, di awali dengan kata singkat </span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" dir="rtl" lang="AR-SA">اتَّقُوا اللَّهَ</span></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV"> artinya <strong><em>bertaqwalah kepada Allah.</em></strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Tidak ada satu sistim peradilan di dunia ini yang bisa secara adil menetapkan seberapa besar rasa cinta seseorang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><!--[if !mso]&#62;--><br />
<span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><!--[if gte vml 1]&#62;                    &#60;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span><img class="aligncenter size-medium wp-image-397" title="dsc03288" src="http://masoedabidin.wordpress.com/files/2009/01/dsc03288.jpg?w=300" alt="dsc03288" width="300" height="225" />
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Kecuali dengan bertakwa dan ingat kepada Allah SWT pada tiap langkah kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Ayat pertama Surat an-Nisa’, cukup sebagai peringatan pada pernikahan yang suci ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:5.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Allah SWT telah mencipta semua keperluan kita dan telah memberi pula alat dan daya untuk mendukung hidup dengan hak dan kewajiban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US">Ananda Putra,</span><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> yang </span></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">baru saja mengucapkan <em>Ijab Kabul, i</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><em>Artinya telah terjadi <strong>timbang terima tanggung-jawab</strong></em> antara ayah bunda dari istri<span> </span>dengan<span> </span>diri ananda (suami). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Mulai detik akad nikah diucapkan, maka seorang lelaki  telah menjadi suami dari putri dalam keluarga di rumah ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Nan ka di-bao jadi kawan<span> </span>sa-iriang, tagak<span> </span>ka<span> </span>di-bao<span> </span>ba-iyo, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">duduak<span> </span>ka<span> </span>di-bao<span> </span>ba-rundiang.</span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Inilah tugas sumando di Minangkabau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:115%;text-align:center;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Allah SWT perintahkan kepada setiap suami, </span><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:115%;text-align:center;margin:6pt 0 3pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">wa ‘a-syiruu-hunna bil ma’ruf,</span></em></strong><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:115%;text-align:center;margin:6pt 0 3pt;"><strong><em></em></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">artinya </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">pergaulilah istrimu dengan dengan ma’ruf, lemah lembut</span></em></strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">.</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:115%;text-align:center;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Itulah janji yang diucapkan di dalam <em>sighat thalaq ta’lik.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;text-align:center;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Tanggung-jawab <strong>suami</strong> menurut hidayah Alquran sangat berat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:13pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" dir="rtl" lang="AR-SA">الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ</span><span style="font-size:13pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="AR-SA"> <span> </span></span><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Lelaki adalah pemimpin bagi kaum perempuan …</span></em></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV"> </span></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">(QS. an-Nisa’:34).</span></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Kaum lelaki bukan dictator. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-indent:2.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:13pt;line-height:115%;" lang="AR-SA">Seorang suami mesti<span> </span><strong><em>“menggauli isterinya dengan baik” </em>sesuai bimbingan Allah di dalam Alquran </strong><em>QS.an-Nisa’:19</em><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;text-align:center;"><strong><em><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="AR-SA"><span> </span></span></em></strong><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">“Hai orang-orang yang beriman, </span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa,<em> dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata, dan </em>bergaullah dengan mereka secara patut<em>. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” </em></span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">(QS.4, An-Nisa’ : 19).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;text-align:center;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:center;text-indent:5.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-indent:5.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:13pt;line-height:115%;font-family:HQPB4;" dir="ltr" lang="EN-US">Suami mesti memperlakukan perempuan dengan lembut.<br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-indent:5.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:13pt;line-height:115%;font-family:HQPB4;" dir="ltr" lang="EN-US">Hak-hak lelaki dan perempuan tidak ada perbedaan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;text-align:center;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span> </span>“ … dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma&#8217;ruf.” </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;text-align:center;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><br />
</span></em></strong>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:center;text-indent:5.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-indent:5.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Lelaki berkewajiban melindungi perempuan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-indent:5.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Di sini tugas dan kehormatan laki-laki yang diberikan Allah SWT.</span><span style="font-size:13pt;line-height:115%;font-family:HQPB1;" dir="ltr" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;text-align:center;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”</span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV"> (QS.al-Baqarah:228).</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;text-align:center;">
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;color:black;font-weight:normal;font-style:normal;" lang="SV">Betapa bijaksana Allah, memberikan tanggung jawab kepada lelaki memikul tugas menyeluruh membina rumah tangga.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;">
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-weight:normal;font-style:normal;" lang="EN-US">Ketahuilah bahwa suami adalah pemimpin di tengah rumah tangganya. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="line-height:115%;margin:6pt 0 3pt;">
<p class="MsoBodyText2" style="line-height:115%;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-weight:normal;font-style:normal;" lang="EN-US">Rumah tangga wajib di bina. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="line-height:115%;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-weight:normal;font-style:normal;" lang="EN-US">Masyarakat keliling mesti di tenggang. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="line-height:115%;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-weight:normal;font-style:normal;" lang="EN-US">Keduanya wajib di jaga.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:3pt;text-indent:6pt;line-height:115%;">
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:3pt;text-indent:6pt;line-height:115%;"><span style="line-height:115%;" lang="EN-US">Mancari kato mufakaik, ma-nukuak mano nan kurang, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt 6pt;"><span style="line-height:115%;" lang="EN-US">Mam-bilai mano nan senteng, ma-uleh sado nan singkek,</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt 6pt;"><span style="line-height:115%;" lang="EN-US">Man-jinaki mano nan lia, ma-rapekkan mano nan ranggang, Ma-nyalasai mano nan kusuik, Ma-nyisik mano nan kurang, Ma-lantai mano nan lapuak,<span> </span>mam-baharui mano nan usang. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="line-height:115%;margin:6pt 0 3pt;">
<p class="MsoBodyText2" style="line-height:115%;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-weight:normal;font-style:normal;" lang="EN-US">Keseimbangan berumah tangga masyarakat adat di Minangkabau  digambarkan dalam mamangan ;</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="line-height:115%;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-weight:normal;font-style:normal;" lang="EN-US"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:3pt;text-indent:6pt;line-height:115%;"><span style="line-height:115%;" lang="EN-US">Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:3pt;text-indent:6pt;line-height:115%;"><span style="line-height:115%;" lang="EN-US">Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;">
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Betapa agung Allah, yang mewajibkan suami<span> </span>musyawarah dengan istri, serta menggauli istri dengan lemah lembut setiap waktu.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;">
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:9.05pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 6.8pt 3pt 9.05pt;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="AR-SA">مَا كَانَ الرِّفْقُ فيِ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ</span><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="AR-SA"><span> </span></span><em><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" dir="ltr" lang="EN-US"><span>]</span></span></em><em><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="AR-SA">رواه الضياء عن أنس</span></em><em><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" dir="ltr" lang="EN-US"><span>[</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Lemah lembut dalam sesuatu (urusan) menyebabkan indahnya sesuatu dan jika lemah lembut itu telah dicabut dari sesuatu, niscaya yang akan tersisa adalah keburukan. </span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">(Diriwayatkan oleh Dhia dari Anas).</span></strong><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;">
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda,</span><span style="line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> <strong>“</strong></span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">sebaik-baik kamu adalah yang paling baik dengan keluarganya.”</span></em></strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;">
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Nilai martabat seseorang terletak pada akhlaknya. </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="FR"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:11.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="AR-SA">أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنِ إِيْمَانا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا<strong>َ</strong></span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;color:black;" lang="AR-SA"> </span><span style="font-family:&#34;color:black;" dir="ltr" lang="EN-US"><span>]</span></span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;color:black;" lang="AR-SA">رواه الطبراني و أبو نعيم</span><span style="font-family:&#34;color:black;" dir="ltr" lang="EN-US"><span>[</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">“<em>Sebaik-baik mukmin seseorang adalah yang paling sempurna akhlaknya”.</em> </span></strong><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">(HR. Thabarany dan Abu Nu’aim).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;">
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kewajiban suami, menjadi <strong>pelindung </strong>terhadap perempuan<strong>, </strong>karena<strong> Allah telah memberikan kelebihan kepada </strong>suami<strong> membelanjakan harta </strong>untuk membahagiakan istrinya<strong>.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:6pt -.85pt 3pt 0;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Umar bin Khattab RA</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">, menceritakan tentang bakti istrinya ;<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:6pt -.85pt 3pt 0;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">“I<span>striku, benteng bagiku dari api neraka. </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:6pt -.85pt 3pt 0;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span>Istriku, orang yang paling<span> </span>setia mendampingiku di saat senang dan susah. </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:6pt -.85pt 3pt 0;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span>I</span>striku yang membantu, menjaga, memelihara rumah dan hartaku. I</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:6pt -.85pt 3pt 0;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">striku adalah <span><span> </span>ibu dari anak-anakku. </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:6pt -.85pt 3pt 0;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span>S<span>aya tahu betul, betapa berat tugas ibu, mengandung, melahirkan, menyusukan, dan menjaga<span> </span>anak-anak. </span></span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:6pt -.85pt 3pt 0;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Selain itu, istriku <span>tanpa mengenal lelah, setiap hari mencuci pakaianku, dan memasakkan makanan untukku, dan anak-anakku. </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:6pt -.85pt 3pt 0;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Karena itu, aku selalu memaafkannya. Mungkin banyak hak-haknya yang belum sempat aku penuhi.” </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:0 -.9pt 3pt 0;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Begitu sahabat Nabi SAW mempergauli istri dan membina rumah tangga <strong>“<em>baiti jannati</em>”</strong> adalah sorgaku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:0 -.9pt 3pt 0;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kiat Umar bin Khattab ini mesti ditiru.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:0;line-height:115%;margin:6pt 0 3pt;">
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-indent:0;line-height:115%;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;color:windowtext;" lang="EN-US">Kebahagiaan rumah tangga hanya bisa di perdapat dengan saling pengertian dan musyawarah. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-bottom:3pt;text-indent:0;line-height:115%;">
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-bottom:3pt;text-indent:0;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;color:windowtext;" lang="EN-US">Hindarilah sifat menang sendiri dan memaksakan kehendak. <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Bina rumah tangga dengan penuh kasih sayang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Hindari sifat tertutup dan saling curiga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Hadapi masalah dengan bersama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:0 0 3pt 12pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako sampai nan di cito.</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;">
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kaedah hidup di Ranah Minang mengadatkan, </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt 18pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">”Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, </span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt 18pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan<span> </span>tali, </span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt 18pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso,</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt 18pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Handak pandai rajin balaja.” </span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;">
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;letter-spacing:-.15pt;" lang="SV">Suami dituntut ber</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">pendir­ian teguh dengan sifat‑sifat mulia. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Lembut hati, penyabar, penyayang sesama, dan teguh iman melaksanakan suruhan Allah. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;">
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Mampu memimpin keluarga dan masyarakat </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;letter-spacing:-.15pt;" lang="SV">dengan akhlak yang mulia,</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;letter-spacing:-.15pt;" dir="rtl" lang="SV"> </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;letter-spacing:-.15pt;" dir="rtl" lang="SV"><span> </span></span><span style="line-height:115%;font-family:&#34;color:black;letter-spacing:-.15pt;" lang="SV"><span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:9.05pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 2pt 3pt 0;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="AR-SA">إِنَّ مِنْ أَخْلاَقِ المُؤْمِنِ قُوَّةً فيِ دِيْنٍ وَ حَزْمًا فيِ لِيْنٍ وَ إِيْمَانًا فيِ يَقِيْنٍ وَ حِرْصًا فيِ عِلْمٍ وَ شَفَقَةً فيِ مِقَةٍ وَ حِلْمًا فيِ عِلْمٍ وَ قَصْدًا فيِ غِنًى وَ تَجَمُّلاً فيِ فَاقَةٍ وَ تَحَرُّجًا عَنْ طَمَعٍ وَ كَسْبًا فيِ حَلاَلٍ وَ بِرًّا فيِ اسْتِقَامَةٍ وَ نَشَاطًا فيِ هُدًى وَ نَهْيًا عَنْ شَهْوَةٍ وَ رَحْمَةً لِلْمَجْهُوْدِ.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Sesungguhnya, termasuk budi pekerti orang beriman ialah, kuat memegang agama, tegas bersikap, ramah lembut, beriman dengan keyakinan, merebut ilmu pengetahuan, membantu dengan kasih sayang, ramahtamah dalam berilmu, sederhana di waktu kaya, mampu bersahaja dikala miskin, memelihara diri dari tamak, berusaha di jalan yang halal, selalu berbuat baik, rajin menjalankan pimpinan yang benar, membatasi diri dari keinginan nafsu dan kasih sayang terhadap orang yang berkekurangan.</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:17.85pt;line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Inilah profil suami ideal itu. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-indent:17.85pt;line-height:115%;">
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-indent:17.85pt;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="SV">Suami yang berakhlak mulia akan mampu membentuk rumah tangga ideal (<strong><em>baiti jannati</em></strong>)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-indent:17.85pt;line-height:115%;">
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:9pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 2.1pt 3pt 0;" dir="rtl"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="AR-SA">أ</span><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="AR-SA">َرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ المَرْءِ: أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً، وَ أَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا، وَ خُلَطَاؤُهُ صَالِحِيْنَ، وَ أَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِي بَلَدِهِ </span><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Empat kebahagiaan dalam hidup manusia: istrinya perempuan yang saleh, anak-anaknya orang baik-baik, teman sepergaulannya orang-orang yang saleh, dan rezekinya diperoleh di negerinya. </span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">(Diriwayatkan oleh Dailami dari ‘Ali)</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US">Ananda Putri,</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> dengan akad nikah telah mengubah posisi menjadi seorang istri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Wahyu al-Quran menempatkan perempuan posisi <strong>azwajan</strong> (pasangan hidup, mitra sejajar dan setara) dengan hak dan kewajiban seimbang.</span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Perempuan, sumber </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">sakinah </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">(kebahagiaan). </span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Merajut kasih dan </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">rahmah. </span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Tenteram, dengan </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">mawaddah</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US"> kasih sayang.</span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Citra perempuan Minangkabau sangat sempurna diperankan pada posisi sentral </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">IBU =</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US"> <em>Ikutan Bagi Ummat.</em> </span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Ibu adalah </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">inti <em>keluarga</em></span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US"> yang disebut </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">bundo kanduang</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">. Perempuan adalah “</span><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">tiang negeri</span></em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">” (al Hadist). </span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Perempuan mendapat penghormatan mulia dalam hadist Rasulullah SAW, “</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">sorga terletak di bawah telapak kaki ibu” </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">(al Hadist). </span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:6pt 0 3pt;">
<p class="MsoSubtitle" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:6pt 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Kaum perempuan wajib menjaga marwah </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">(muruah)</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US"> dengan menjaga “</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">aurat</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">”, sebagai ujud ciri-ciri </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">feminim</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">. </span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Sifat feminim yang merupakan sumber kasih sayang, kelembutan, keindahan, dan sumber cahaya Ilahi, mempunyai potensi untuk menyerap dan mengubah kekuatan kasar menjadi sensitivitas, mengubah rasionalitas menjadi intuisi, dan mendorong seksualitas menjadi spiritualitas, sehingga memiliki daya tahan terhadap kesakitan, penderitaan dan kegagalan</span></em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">”.</span><span style="font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US"> </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US"><span> </span></span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Bahkan, “</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">hancurnya sebuah rumah tangga ideal akibat sikap istri terlalu maskulin</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">”.</span><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-weight:normal;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]&#8211;><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US"><span> </span></span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US">Tipe perempuan yang tidak boleh ditiru ;</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;line-height:115%;margin:0 0 3pt 17.85pt;">
<p class="MsoSubtitle" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;line-height:115%;margin:0 0 3pt 17.85pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US"><span>1.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">perempuan yang </span><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">kufur </span></em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">dan</span><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> khianat </span></em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">kepada suami, seperti isteri Nuh dan Luth, berakhir keneraka.</span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:13pt;line-height:115%;font-family:HQPB5;font-weight:normal;" dir="ltr" lang="EN-US"><span></span></span><span style="font-size:13pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US"> </span><em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">“ Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan, bagi orang-orang kafir. Keduanya, berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh, di antara hamba-hamba kami. Lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya): </span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">&#8220;Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk ( ke dalam jahannam itu)&#8221;.</span></em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"> (<span style="text-decoration:underline;">QS.66,at Tahrim :10</span>),<em></em></span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Nabi-nabi sekalipun, tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah,<span> </span>apabila mereka menentang ajaran agama.</span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;margin-left:17.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;margin-left:17.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;margin-left:17.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US"><span>2.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">perempuan yang </span><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">suka meninggalkan bengkalai </span></em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">dan </span><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">merusak rajutan</span></em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">,</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US"> seperti di siang hari dia menenun, di malam hari mengungkai kembali tenunan itu.</span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:HQPB5;font-weight:normal;" dir="ltr" lang="EN-US"><span></span></span><em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">“ Dan janganlah kamu menjadi seperti seorang perempuan, yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Kamu menjadikan sumpah </span></em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">(perjanjian)<em>-mu sebagai alat penipu di antaramu…,”</em></span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"> (<span style="text-decoration:underline;">QS.16, an-Nahl :92</span>).</span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US">Tiga Tipe Perempuan Perlu Ditiru <span> </span>; </span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:115%;margin:0 0 3pt 18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Selalu </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">menghindar dari kezaliman dan kemusyrikan.</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US"> Senantiasa berharap sorga, seperti Asiyah isteri Fir’aun ; </span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">“ Dan Allah membuat isteri Fir&#8217;aun, perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: &#8220;Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu, dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir&#8217;aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”</span></em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"> (<span style="text-decoration:underline;">QS.66 at-Tahrim : 11</span>).<em> </em></span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Sekalipun isteri seorang kafir, apabila menganut ajaran Allah dengan ketaatan, akhirnya, akan masuk ke dalam jannah.</span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;margin-left:17.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;margin-left:17.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span>b.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Selalu berupaya agar generasi yang lahir, menjadi zurriyat yang </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">memegang teguh amanah</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US"> Allah, seperti isteri ‘Imran ibu dari Maryam ;</span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">“ Dan (ingatlah), ketika isteri &#8216;Imran berkata: &#8220;Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau, anak yang dalam kandunganku ini, menjadi hamba yang saleh, dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui&#8221;. </span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"><br />
</span></em>
</p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Maka, tatkala isteri &#8216;Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: &#8220;Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan, dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan </span></em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">(padahal)<em>, anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya, aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya, serta anak-anak keturunannya, dengan (pemeliharaan) Engkau </em>(ya Allah)<em>,<span> </span>daripada syaitan yang terkutuk.&#8221;</em> </span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">(<span style="text-decoration:underline;">QS.3, Ali Imran : 35-36</span>),<em></em></span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Doa ibu muda ini makbul. </span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Maryam, melahirkan anak laki-laki yang sangat baik, mulia dan bermartabat, menjadi Nabi dan Rasul Allah untuk Bani Israil, yaitu Isa ibni Maryam.</span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;margin-left:17.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;margin-left:17.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span>c.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Selalu </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">memelihara faraj</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">, yakni Maryam itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">“ Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-kitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang </span></em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">(perempuan)<em> yang taat.” </em>(QS.66, Tahrim : 12)<em>.</em></span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"><em><br />
</em></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Tugas seorang ibu</span></em></strong><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> </span></em></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">rumah tangga tidak hanya sekedar menyiapkan makanan dan minuman. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Seorang ibu, adalah sumber <strong><em>sakinah</em></strong> yakni bahagia dan ketenangan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Seorang ibu di rumah tangganya, sangat dituntut bersifat <strong><em>kreatif, ulet, tabah, sabar</em></strong> dan <strong><em>mampu menghidangkan keindahan.</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><strong><em><br />
</em></strong></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Seorang perempuan, di Minangkabau, hati-hati melangkah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">“ boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. “</span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> (QS.2, Al Baqarah : 216)</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><br />
</span></strong>
</p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Ada kearifan, bahwa di balik sesuatu tersimpan sesuatu. Jangan terperdaya kepada yang tampak lahir semata. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Arif <span style="color:black;">melahirkan kewaspadaan dalam bertindak dan berperangai.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt 9pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Dalam awa akie mambayang,<span> </span>Dalam baiak kanalah buruak,</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt 9pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Dalam galak tangih kok tibo, <span> </span>Hati gadang utang kok tumbuah.</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt 9pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"><br />
</span></em></strong>
</p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Sejak awal, diperhitungkan apa mudharat dan manfaat dari suatu. Hati-hati dalam bertindak. Jangan perturutkan <em>hati gadang,</em> sehingga<em> </em>lupa nasehat orang tua-tua. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Dibalik gembira, bisa menanti <em>duka membawa tangis</em>. Sia-sia hutang tumbuh, kurang awas nagari kalah.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:115%;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;" lang="EN-US">masyarakat Adat di minangkabau </span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;" lang="EN-US">telah menetapkan kemuliaan sifat perempuan</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;font-weight:normal;" lang="EN-US">, </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"><span> </span></span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">”Adopun nan di sabuik parampuan, tapakai taratik dengan sopan. Mamakai baso jo basi. Tahu di ereang jo gendeang. </span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Mamakai raso jo pareso. Manaruah malu dengan sopan. </span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Manjauhi sumbang jo salah. Muluik manih baso katuju. </span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Kato baiak kucindan murah, pandai bagaua samo gadang. </span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Hormat kapado ibu bapo. </span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Khidmat kapado urang tuo-tuo, labiah kapado pihak laki-laki. Takuik kapado Allah, manuruik parentah Rasulullah. </span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Tahu di korong dengan kampuang, tahu di rumah dengan ranggo. </span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Tahu manyuri mangulindan. Takuik di budi katajua. </span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Malu di paham ka tagadai. Tahu di mungkin dengan patuik. Malatakkan sasuatu pado tampeknyo. </span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Tahu ditinggi dengan randah, bayang-bayang sapanjang badan.</span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Bulieh ditiru dituladan. </span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Kasuri tuladan kain, kacupak tuladan batuang.</span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Maleleh buliaeh dipalik, manitiak bulieh ditampuang.</span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Satitiak bulieh dilauikkan, sakapa dapek digunuangkan. </span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Iyo dek urang di nagari”.</span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;font-weight:normal;" lang="EN-US">Inilah<em>, </em>harkat perempuan di Ranah Bundo. </span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;font-weight:normal;" lang="EN-US">Mulia dan bermartabat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Perempuan Minang, </span><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">padu isi </span></em></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">dengan </span><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">lima sifat </span></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">utama; </span><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">benar,<span> </span>jujur, pandai, fasih terdidik, </span></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">dan<strong> bersifat malu.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:0 0 3pt 12pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek,</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:0 0 3pt 12pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek. </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:0 0 3pt 12pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso,</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:0 0 3pt 12pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo </span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">pareso. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:12pt;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:12pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Al hayak nisful iman = <em>malu adalah paruhan dari Iman</em></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">.<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Falsafah hidup beradat mendudukkan perempuan Minang, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:0 0 3pt 6pt;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">“<em>limpapeh rumah nan gadang, umbun puro pegangan kunci, </em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:0 0 3pt 6pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">umbun puruak aluang bunian, hiasan di dalam kampuang,</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:0 0 3pt 6pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">sumarak dalam nagari, nan gadang basa batauah, kok hiduik tampek ba nasa, kalau mati tampek ba niaik, ka unduang-unduang ka madinah, ka payuang panji ka sarugo.</span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">” </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Dalam siklus ini generasi Minangkabau lahir <strong>bernasab ke ayahnya, bersuku ke ibunya, dan bersako ke mamak </strong>atau memperoleh gelar sako dan pusako dari mamaknya. <strong><em>Ketek banamo gadang bagala.</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><!--[if gte vml 1]&#62;                    &#60;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"><!--[if gte vml 1]&#62;                    &#60;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/H772A~1.MAS/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.jpg" alt="" width="576" height="409" /><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Yang perlu di ingat ;</span></p>
<h1 style="margin-left:21.3pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;" lang="EN-US"><span>1.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US"><span> </span>Jangan cepat berputus asa. </span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:9.3pt;line-height:115%;margin:0 0 3pt 12pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Riak jo galombang adolah permainan lauik. </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:9.3pt;line-height:115%;margin:0 0 3pt 12pt;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Bagisia sampan jo pandayuang adaik nan alah biaso.</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:0 0 3pt 21.3pt;"><span lang="EN-US">Usah rusuah jo putuih aso. Kandalikan kamudi elok-elok, nak<span> </span>ja-an<span> </span>ma-antak karang, karam sampan karam nakodo, <span> </span>karamlah rumah tanggo ananda baduo.</span></p>
<h1 style="margin-left:21.3pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;" lang="EN-US"><span>2.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Minta selalu pertolongan dari Allah </span><span lang="EN-US">dengan shabar dan shalat. </span></h1>
<h1 style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-variant:normal!important;" lang="EN-US">Sesuai pesan Rasulullah SAW, <span> </span>“<em>Bila perlu perlindungan minta perlindungan kepada Allah. Bila engkau memerlukan pertolongan minta pertolongan dari Allah </em>“. </span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:115%;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"><span>3.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Jangan meminta kepada jimat yang dikeramat-keramatkan, apalagi kepada paranormal. Akibatnya bisa terseret kepada mensyarikatkan Allah, satu dosa besar, ujungnya doamu tidak akan dikabulkan Allah. </span></p>
<h1 style="margin-left:21.3pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;" lang="EN-US"><span>4.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Shalat yang lima waktu jangan dilalaikan apalagi di tinggalkan. </span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:0 0 3pt 21.3pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Doamu dinilai dari sini !!!. <strong><em></em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><span style="font-family:&#34;font-variant:small-caps;color:black;" lang="EN-US">Seorang istri mesti menjaga diri dan muruah-nya; </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:115%;margin:0 0 3pt 18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span>1.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Pakaiannya <strong><em>menutup aurat.</em></strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:0 0 3pt 18pt;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">M<span>amakai raso jo pareso, </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;margin:0 0 3pt 18pt;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Mampunyai malu dengan sopan. </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">“ Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: &#8220;Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka&#8221;. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> (QS.33, al Ahzab : 59).</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;margin-left:17.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;margin-left:17.85pt;text-align:justify;text-indent:-17.85pt;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span>2.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Tidak berkata keras, apalagi bersikap kasar sombong, <strong><em>di kacak batih bak batih, di kacak langan bak langan, </em></strong><span>yang </span>diarahkan kepada suami junjungan diri. </span><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:115%;margin:0 0 3pt 18pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:115%;margin:0 0 3pt 18pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"><span>3.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Jangan menolak panggilan suami kepada yang baik. Jangan berpuasa sunat tanpa seizin suami (kecuali puasa yang wajib). Jangan meninggalkan rumah tanpa seizin suami. Jangan berhias berlebih-lebihan untuk dilihat orang lain. Jangan lupa berbenah diri ketika suami pulang ke rumah. Jangan menerima tamu laki-laki yang bukan muhrim, di saat suami tidak di rumah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:115%;margin:0 0 3pt 18pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:115%;margin:0 0 3pt 18pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"><span>4.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Simpan rahasia rumah tangga dengan baik. <span> </span>Karena, suami istri adalah ibarat pakaian yang saling melindungi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">“.. mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka&#8230;”</span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> (QS.2, al-Baqarah : 187)<em></em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Menceritakan rahasia rumah tangga, adalah <strong><em>aib besar</em></strong>. Inilah pertanda kuatnya <strong><em>budi </em></strong>dan<strong><em> malu.</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Rasulullah SAW telah bersabda, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">“Seorang istri yang taat melakukan shalat 5 waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga diri (kehormatan faraj-nya), setia kepada suaminya, &#8212; dia akan di masukkan ke dalam sorga dari pintu mana saja yang dia ingini”</span></em></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">.</span><a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;color:black;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Alangkah mulia dan tingginya penghargaan Allah SWT bagi seorang istri. Bila ia mau mengamalkannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Dengan bekalan syariat agama Islam dan adat istiadat yang<span> </span>baik akan dapat dibina rumah tangga sakinah, <strong>“Baiti jannati”, </strong>yakni <strong>Rumah Tanga Sorga.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Pesan Rasulullah SAW, “ sinarilah rumah tangga kalian berdua, dengan shalat dan bacaan Alquran.” <em></em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Bismillah, dengan pedoman hidup ini layarkanlah bahtera hidup, hati-hati memegang kemudi, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Insya Allah terjejak tanah tepi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kami bersama mendoakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Semoga Allah akan senantiasa melimpahkan berkah yang banyak kepada ananda berdua yang telah mengumpulkan ananada berdua ke dalam kebaikan. Amin Ya Mujibas Sailina.</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US">Ucapan Selamat, </span></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">kepada kedua orang tua, ayah dan bunda yang berbahagia, karena telah menunaikan tanggung-jawab <em>patah tumbuah hilang baganti</em>, dari </span><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">mengazankan</span></em></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> anak ketika lahir,<strong><em> memberi nama yang baik </em></strong><span> </span>pada mereka, <strong><em>memberi makanan, pakaian baik-halal, </em></strong>dan <strong><em>pendidikan</em></strong> <strong><em>cukup,</em></strong> kemudian, <strong><em>mengantarkan kejenjang pernikahan,</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><strong><em><br />
</em></strong></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:11.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="AR-SA">اللَّهُمَّ اصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَ اهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَ نَجَّنَا مِنَ الظُّلُمَاتَ إِلىَ النُّوْرِ وَ جَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ،</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:11.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="AR-SA"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:11.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="AR-SA">اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فيِ أَسْمَاعِنَا و أَبْصَارِنَا وَ قُلُوْبِنَا وَ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَاتِنَا وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ، وَ اجْعَلْنَا شَاكِرِيْنَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِيْنَ ِبهَا قَابِلِيْنَ لَهَا وَ أَتِمَّهَا عَلَيْنَا.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:11.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="AR-SA"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:11.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="AR-SA">اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَ العَافِيَةَ فيِ دِيْنِنَا وَ دُنْيَاناَ وَ أَهْلِيْنَا وَ أَمْوَالِنَا،</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:11.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="AR-SA">رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:11.1pt;line-height:115%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;" lang="AR-SA"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:right;line-height:115%;margin:0 0 3pt;" align="right"><strong><em><span style="line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:right;line-height:115%;margin:0 0 3pt;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Padang, <span> </span>1430 <span> </span>H / 2009 M</span></em></strong></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="EN-US"> Hani’ah, HISKI, UNP-1997, dan Armiyn Pane, “Belenggu”</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-bottom:2pt;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span> </span>Hadist dari Anas bin Malik.</span></p>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ciloteh Lapau Antara Dialektika dan Dinamika Minangkabau ]]></title>
<link>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/01/08/ciloteh-lapau-antara-dialektika-dan-dinamika-minangkabau/</link>
<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 16:20:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/01/08/ciloteh-lapau-antara-dialektika-dan-dinamika-minangkabau/</guid>
<description><![CDATA[Ciloteh Lapau Antara Dialektika dan Dinamika Minangkabau Oleh : H.Mas’oed Abidin Buya Masoed Abidin ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0     false false false  IN X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;                                                                                                                                             &#60;![endif]--><br />
<!--[if gte mso 9]&#62;  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:6pt;line-height:115%;text-align:center;"><span style="font-size:24pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US">Ciloteh Lapau Antara Dialektika dan Dinamika Minangkabau</span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:6pt;line-height:115%;text-align:center;"><span style="font-size:24pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US"><br />
</span></p>
<h2 style="margin-bottom:6pt;line-height:115%;text-align:center;"><em><span style="line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Oleh : H.Mas’oed Abidin</span></em></h2>
<p><em><span style="line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><br />
</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"></span></p>
<div class="mceTemp">
<dl class="wp-caption alignleft">
<dt class="wp-caption-dt"></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Buya Masoed Abidin</dd>
</dl>
</div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:115%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US">Wilayah Minangkabau</span></strong><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US"><span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Masyarakat Minangkabau adalah salah satu suku bangsa di antara puluhan suku bangsa yang membentuk bangsa Indonesia. Masyarakat Minangkabau hidup di sekitar wilayah Sumatera Bagian Tengah, atau yang dalam Tambo Minangkabau disebutkan wilayah Minangkabau itu meliputi kawasan, “<em>… dari Sikilang Aia Bangih sampai ka Taratak Aia Itam. Dari Sipisok-pisok pisau anyuik sampai ka Sialang Balantak basi. Dari Riak nan Badabua sampai ke Durian ditakiak (ditakuak) Rajo”, </em>(artinya, dari Sikilang Air Bangis sampai ke Taratak Air Hitam, dari Sipisok-pisok Pisau Hanyut sampai ke Sialang Belantak Besi, dari Riak yang berdebur sampai ke Durian Ditekuk Raja). </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Orang Minangkabau menamakan tumpah darahnya dengan <em>Alam Minangkabau</em>, yang secara geografis wilayahnya berpusat di selingkar Gunung Merapi, di Sumatera Barat. Wilayah itu</span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span>
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-medium wp-image-363" title="anak-anak-jakarta-sukabumi-044" src="http://blogminangkabau.wordpress.com/files/2009/01/anak-anak-jakarta-sukabumi-044.jpg?w=186" alt="Buya Masoed Abidin" width="186" height="300" /></dt>
<p> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> meluas menjadi Luhak dan Rantau. Wilayah Luhak terletak di nagari-nagari yang berada di sekitar Gunung Merapi, sedangkan wilayah Rantau berada di luarnya, yaitu di sekitar wilayah pantai bagian Barat dan Timur Minangkabau. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Dalam Tambo dikisahkan bahwa <em>Alam Minangkabau</em> mempunyai tiga buah Luhak yang disebut dengan <em>Luhak Nan Tigo</em> (Luhak yang Tiga). Terbagi kepada <em>Luhak Tanah Datar, Luhak Agam</em> dan <em>Luhak Lima Puluh Kota</em>. Dari Luhak tersebut, kemudian berkembang menjadi Luhak <em>Kubang Tigobaleh</em>, yang terletak di sekitar Gunung Talang, Kabupaten Solok sekarang. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Wilayah Rantau terletak di luar Luhak-luhak tadi. Semula rantau adalah tempat mencarikan hidup para penduduk, terutama dalam bidang perdagangan. Wilayah rantau, berubah menjadi tempat menetap turun temurun dari para perantau Minangkabau. Terjadilah pembauran dan pemesraan (asimilasi) antara nan datang mencengkam hinggap bersitumpu. Kemudian berkembang menjadi bagian dari pusat pemerintahan di Minangkabau dulu, yakni Kerajaan Pagaruyuang, yang mempunyai <em>Basa Ampek Balai, </em>berninik bermamak,<span> </span>berdatuk dan berpenghulu<em>.</em> Berlakukah pula di wilayah rantau itu, adat istiadat Minangkabau.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US">Istilah Minangkabau</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Minangkabau lebih dikenal sebagai satu bentuk pusat kebudayaan dengan masyarakatnya yang berstatus <em>matrilineal</em> – atau keturunan menurut garis keibuan Hubungan kekerabatan ini, adalah perpaduan dan <em>pemesraan</em><a name="_ednref1" href="#_edn1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> antara istiadat (<em>urf</em>) dan syariat agama Islam. Garis matrilineal yang dianut adalah, bahwa anak yang dilahirkan <em>bernasab kepada ayahnya</em>, <em>bersuku kepada ibunya</em>, dan <em>bersako terhadap mamaknya</em>. Hubungan kekerabatan seperti ini, mungkin tidak ada duanya di Indonesia. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Sistim kekerabatan Minangkabau satu hal yang nyata, dan masih berlaku, walau perubahan terjadi di masa global ini. Kekuatan yang mengikat sistim kekerabatan Minangkabau, terlihat dari berbagai arah dan sudut pandang. Berpengaruh pada semua sisi kehidupan masyarakat Minangkabau. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kekuatan kekerabatan itu misalnya, berpengaruh kuat pada aspek jiwa dagang masyarakatnya, mobilitas penduduknya, dengan kesukaan <em>merantau</em> ke negeri lain untuk mencari ilmu, mencari rezeki. Sistim kekerabatan sedemikian itu pula, yang telah mendorong lajunya <em>mobilitas horizontal</em> dalam bentuk imigrasi, dan <em>mobilitas vertical</em> yang menuju kepada peningkatan kualitas.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US">Jalinan Bahasa dan Kepercayaan di Minangkabau</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Dari sisi kebudayaan dan berbagai hubungan perilaku, terbentuk<span> </span>hubungan jalin berkelindan antara Bahasa dan Kepercayaan orang Minangkabau. Pembauran dengan makna asimilasi<a name="_ednref2" href="#_edn2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span>adalah pemesraan antara dua unsur atau lebih dalam suatu wadah tertentu. Unsur yang satu menjadi bagian dari unsur yang lain, saling isi mengisi timbal balik. Salah satu bentuk pemesraan itu adalah bahasa <span> </span>dan kepercayaan dalam wadah kesusasteraan di Minangkabau.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Penjiwaan dari kehidupan keseharian masyarakat Minangkabau, terasa ada pemesraan antara Bahasa dan Kepercayaan rakyat di Minangkabau. Perasaan itu terbawa kemana saja. Ada di ranah, dan terpakai di rantau. <em>Di mana bumi dipijak di sana adat dipakai.</em><em> </em>Kaidah hidup ini adalah satu keniscayaan yang lahir dari keyakinan dari generasi berbudaya Minangkabau, di mana saja<em>.</em> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kata &#8220;percaya&#8221; berarti <em>pendapat, itikad, kepastian</em> dan keyakinan. Kepercayaan diartikan sebagai kebenaran yang diperoleh pikiran. Keyakinan adalah suatu kebenaran yang diperoleh jiwa, dikuatkan oleh<span> </span>pikiran. Kebenaran agama adalah keyakinan. Selanjutnya, kebenaran ilmu pengetahuan, filsafat dan intelektual adalah kepercayaan.<a name="_ednref3" href="#_edn3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Masalah kepercayaan adalah masalah manusia yang banyak berkaitan dengan kehidupannya. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Sejarah kehidupan awal dari masyarakat manusia memberi pengetahuan kepada kita bahwa tiada suatu bangsapun yang hidup atau kelompok manusia yang tinggal pada suatu tempat yang<span> </span>tidak mengenal kepercayaan sebagai satu naluriah hidup yang vital. Kepercayaan timbul bersama dorongan-dorongan lain sebagai perlengkapan hidup manusia umumnya, seperti dorongan rohaniah manusia, yang selalu<span> </span>mengajar mereka untuk berbuat dan menyelesaikannya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Dorongan-dorongan dari dalam jiwa itu berkembang tiada hentinnya (dinamis) pada setiap masalah demi masalah yang tidak akan henti-hentinya dalam hidup manusia. Naluri juga diartikan dengan dorongan hati atau keinginan yang berasal dari pembawaan yang menggerakkan untuk berbuat sesuatu.<a name="_ednref4" href="#_edn4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Naluri itu dapat pula disebut <em>instink</em> atau <em>fitrah</em>. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Dorongan hati manusia dibedakan antara yang bersifat perasaan biologis dan yang bersifat perasaan rohaniah. Dengan demikian, berkepercayaan adalah salah satu dari perasaan rohaniah yang dapat juga disebut &#8220;perasaan keagamaan&#8221;.<a name="_ednref5" href="#_edn5"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Maka dorongan-dorongan atau perasaan-perasaan yang bersifat biologis seperti dorongan untuk makan, mempertahankan diri, dan melangsungkan keturunan adalah keperluan jasmani. Selanjutnya kepercayaan adalah naluri atau dorongan hati<span> </span>secara fitrah lebih mutlak daripada yang lainnya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Agama adalah tuntunan dan tuntutan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan dan ketakutan.<a name="_ednref6" href="#_edn6"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dalam agama ada suatu ikatan antara manusia dengan kekuatan gaib. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Agama dimaknai dengan aturan yang mengikat manusia atau ad-din atau syari’at (<em>syarak</em>). Kata religious dalam bahasa Latin berarti &#8220;mengikat&#8221;. Perilaku manusia terikat dengan pengabdian kepada kekuatan besar yang maha dahsyat atau kekuatan ghaib, baik dalam bentuk kultus maupun dalam sikap hidup keagamaan. </span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Sumber utama kepercayaan atau rasa keagamaan ini adalah fitrah manusia yang merupakan anugerah Ilahi, dan melengkapi batin manusia melakukan kegiatan hidup sebagai makhluk yang lemah. Betapapun bersahajanya manusia ternyata kepercayaan membentuk tuntutan naluriahnya. Kepercayaan adalah salah satu dari kekuatan yang mengendalikan perasaan manusia. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kepercayaan menuntut adanya bentuk perbuatan nyata (<em>amal</em>) pada semua tindakan manusia. Pada tingkat ini dapat dirasa hubungan agama dengan kesadaran manusia ada keterikatan erat dengan tenaga di luar diri manusia itu, yang membuat alam nyata manusia, atau <em>syarak mangato adaik mamakaikan</em>.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Fungsi naluri dari kepercayaan manusia kepada tenaga gaib itu membentuk keharusan menyatakan diri menjadi pengabdi dengan rasa rohaniah lahir dalam bentuk penghayatan pada berbagai tindakan dan ucapan. Tidak ada suatu macam agama yang tidak dimulai dengan kepercayaan. Di dalam agama Islam, dasar keagamaan disimpulkan atas enam pokok yang disebut dengan Rukun Iman, yaitu mempecayai adanya Allah, Malaikat, Kitab Suci, Pesuruh Tuhan, Hari Kemudian, dan mempercayai adanya kadar Tuan atas yang baik atau yang buruk.<a name="_ednref7" href="#_edn7"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Mengikuti pola rasa rohaniah manusia, maka berkepercayaan atau beragama adalah keperluan manusia yang harus dipenuhi, disamping keperluan pokok lainnya yang bersifat naluri. </span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kepercayaan bermula dalam tingkat penerimaan dari ilmu pengetahuan. Keyakinan berada pada taraf intensitas dari kepercayaan. Keyakinan selanjutnya meminta keharusan untuk melakukan aktivitas, sedangkan pada kepercayaan belum mempunyai keharusan untuk itu. Kepercayaan (syarak) itulah yang berasimilasi dengan bahasa dalam kesusasteraan Minangkabau.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US">Asimilasi antara tutur Bahasa dan Kepercayaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Pemesraan antara bahasa dan kepercayaan, telah memperkaya Kesusasteraan Minangkabau, terutama kesusasteraan lama atau khazanah kesusasteraan lisannya. Kesusasteraan Minangkabau sesungguhnya mempunyai pengertian yang dalam, yaitu &#8220;<em>hasil bahasa Minangkabau yang indah</em>&#8220;. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Titik berat kesusasteraan Minangkabau bersifat lisan, terungkap dalam puisi dan prosa berirama. Tidak sedikit khazanah kesusateraan Minangkabau telah ditulis dalam tulisan-tulisan lama memakai huruf arab melayu. Pemakaian huruf hijaiyah tersebut dalam mengungkapkan kosa kata melayu, adalah bagian dari pemesraan antara bahasa dan kepercayaan masyarakat Minangkabau yang beragama Islam.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kesusasteraan tidak hanya sekadar hasil seni bahasa belaka. Kesusateraan adalah juga hasil pemikiran, hasil pengalaman, hasil merasa, bahkan hasil dari kehidupan seseorang atau masyarakat dan lingkungannya. Kesusateraan adalah pula hasil bertuitur kata, berciloteh dengan sadar, bukan dengan mimpi. Hasil sastera dapat disimak dalam kehidupan masyarakat pada suatu waktu, menjadi kebudayaan satu suku bangsa atau suatu bangsa. Salah satu aspek yang amat berpengaruh membentuk kehidupan masyarakat adalah hubungannya dengan sesama, dan hubungannya dengan Penciptanya. Hubungan-hubungan itu tampak nyata di dalam bentuk kesusasteraan. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kesusasteraan Minangkabau juga memberi jawaban pengaruh hubungan itu. Seperti tersua dalam ungkapan, “<em> Kanan jalan ka Kurai, sasimpang jalan ka Ampek Angkek. Kok iyo pangulu ganti lantai, kok bapijak jan manjongkek. Adaik taluak timbunan kapa, Adaik lurah timbunan aie. Kok bukik timbunan angin, biaso gunuang timbunan kabuik. Adaik pamimpin tahan upek.” <a name="_ednref8" href="#_edn8"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, selalu diperhatikan antara dua kekuatan, yang satu secara lahiriah sikap dalam diri insan bernyawa, dan yang kedua adalah kekuatan keyakinan <em>theis</em> (agama) yang mengatur nyawa itu.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kesusasteraan lahir dan dibentuk oleh dua unsur, yakni unsur nyawa yang memiliki rasa dan periksa, dan unsur agama yang membimbing rasa dan periksa itu. Budaya kehidupan yang dibimbing oleh keyakinan agama, melahirkan sikap malu. Budaya malu, membentuk masyarakatnya hidup dengan kehati-hatian, serta ingat dan hemat dalam bertindak. Selanjutnya sikap-sikap budaya seperti ini menumbuhkan dinamika dalam kehidupan. Tampak jelas dalam cara bertutur, berciloteh sampai ke lapau-lapau ataupun di surau-surau.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US">Jiwa Bahasa di Minangkabau</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Keindahan akan tercipta, ketika hasrat timbul untuk mengembalikan keindahan yang abadi dengan ajaran agama dan keagungan nama Ilahi, ke dalam bentuk-bentuk<span> </span>karya sastera. Asimilasi antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan Minangkabau terasa kental sekali. Mempersoalkan hubungan yang mesra antara bahasa sastera dan kepercayaan kepada kekuasaan Allah Subhanu wa Ta’ala, menjadikan karya sastera itu indah abadi. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Menggali mutiara milik bangsa yang kaya dengan pemesraan antara agama dan adat istiadat etnik, yang akan memperkuat ke tunggal-ikaan dari puncak-puncak kebudayaan bangsa Indonesia. Mutiara terpendam yang dapat diselami adalah bahwa kesusasteraan yang hakiki membentuk keperibadian satu bangsa, amat terkait dengan keyakinan pencipta sastera dan pendukungnya, yang keduanya mengabdi kepada Ilahi. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kesusasteraan Minangkabau adalah pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam satu ungkapan, <em>adaik basandi syarak,</em> menjadi kekuatan besar untuk meraih keberhasilan di setiap masa. Pengasimilasian antara bahasa dan kepercayaan dalam kesusasteraan sudah tercipta. Kepercayaan adalah fungsi jiwa manusia, dan kemajuan ilmu pengetahuan, telah membawa perubahan-perubahan terhadap jiwa manusia yang kompleks, namun satu keniscayaan belaka bahwa konsepsi kehidupan manusia tergantung pada alat-alat yang ada pada manusia itu sendiri.<a name="_ednref9" href="#_edn9"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Pada masyarakat Minangkabau, fungsi jiwa dibangun oleh kepercayaan kepada Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Esa itu tampak nyata dalam setiap aspek kehidupan kebudayannya dan riak kehidupan sasteranya. Terutama dalam sastera bertutur dan berciloteh. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Sifat umum masyarakat tradisional Minangkabau di masa ini masih terasa, dan sukar untuk melepaskan kepercayaan dalam kehidupan tradisi mereka. Pada dasarnya manusia itu bersifat konservatif. Sukar melepaskan perhiasan hidup lama, ingin menyimpan pusaka lama. Di antara pusaka lama itu, banyak di antara kita yang ingin memeliharanya dalam keasliannya&#8221;.<a name="_ednref10" href="#_edn10"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Pengukuhan adat bersendi syariat menjadi sangat penting. Jika hal ini dapat tetap ujud dan terpelihara baik, akan banyak manfaatnya menyalurkan nilai-nilai yang berharga dari satu budaya daerah, hasil masa lampau ke dalam kebudayaan Indonesia modern. Menggali khazanah kebudayaan lama Minangkabau, yang banyak tersimpan di dalam bahasa lisan, serta dan menaikkannya ke atas permukaan kehidupan, menjadi bahasa tulisan, niscaya akan memberi sumbangan besar di dalam memupuk kebudayaan nasional, sesuai dengan keperibadian bangsa Indonesia. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Untuk melakukan kompilasi dari nilai-nilai pusaka Minangkabau yang menjadi mutiara kehidupan berbudaya dengan adat bersendi syari’at, perlu dilakukan observasi yang dipertajam untuk menapak Minangkabau yang kuat di masa depan. Menuntut keharusan pula adanya penelitian historis, terutama diarahkan kepada penyelidikan bentuk-bentuk sastera lisan yang banyak terdapat dalam kehidupan masyrakat Minangkabau, seperti pidato-pidato adat yang masih dihayati dalam kehidupan nyata, serta sopan santun dan karifan dalam berciloteh baik di lapau ataau di surau. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Memang </span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">amat sukar untuk menentukan berapa jumlah pendukung kesusasteraan lisan Minangkabau itu. Berapa banyak yang masih tersisa di dalam khazanah golongan terkemuka dalam adat atau penghulu (ninik mamak) Serta berapa banyak yang sudah diidentifikasi kembali oleh golongan cerdik pandai, <em>suluah bendang di nagari,</em>atau mereka yang dapat dianggap mengetahui bentuk-bentuk kesusasteraan lisan itu. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Berlakunya <em>adaik istiadat nan salingka nagari</em>, telah memberi warna perlakuan peribadi dan masyarakatnya, di dalam berinteraksi sesama. Adat istiadat yang menjadi kebiasaan pada setiap nagari dan luhak, menjadi kekayaan amat berharga, terutama di nagari-nagari yang masih menjaga nilai-nilai utama yang luhur. Termasuk di dalam berciloteh bersama di lapau dan di mana saja.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US">Perilaku Berbudaya dan Berakhlak dalam penggunaan bahasa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Perilaku berbudaya dan berakhlak masih dihayati dalam keseharian mereka, disebabkan tetap berlakunya ketentuan syariat agama Islam dengan kuat. Dan terjaganya dengan baik fungsi-fungsi urang ampek jinih dalam lingkungan kekerabatan di nagari-nagari. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Faktor penghayatan lahiriah dalam melaksanakan adat bersendi syariat, akan lebih banyak berbicara daripada konsep-konsep yang bersifat teoritis. Kearah ini kompilasi harus mengarah. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kehidupan bermasyarakat di Sumatra Barat sudah lama direkat oleh kentalnya hubungan kebersamaan (<em>ta’awun</em>) di dalam tataran budaya berat sepikul ringan sejinjing sebagai perwujudan nyata nilai-nilai <em>Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah</em> (ABS-SBK). </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Tataran budaya sedemikian telah terbukti dalam masa sangat panjang mampu memberikan dorongan-dorongan beralasan (motivasi) bagi semua gerak perubahan (reformasi) dari satu generasi ke generasi berikut di Ranah Bundo ini. Bahkan telah pula terbukti menjadi modal sangat besar untuk meraih kemajuan di berbagai bidang pembangunan di daerah dan nagari, di dusun dan taratak. Serta memberikan sumbangan yang tidak kecil dalam mewujudkan <em>persatuan bangsa</em> dan <em>kesatuan wilayah</em> di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Adat Minangkabau yang disebut sebagai adat lama pusaka usang, artinya adatnya bukan baru dibuat atau baru disusun, tapi adat itu memang sudah lama dengan sifatnya yang luhur. Kemudian pusakanya yang usang berarti suatu peninggalan lama dari nenek moyang yang diwariskan kepada yang hidup sekarang. Dari palajaran adat dikatakan bahwa nenek moyang orang Minang membagi adat itu atas empat kategori, yakni : Adat nan sabananyo adat (Adat yang sebenarnya adat), Adat nan diadatkan (Adat yang diadatkan), Adat nan taradat (Adat yang teradat) dan Adat Istiadat. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Dari empat bagian adat tersebut ada adat yang berbuhul mati dan ada adat yang berbuhul sentak. Berbuhul mati artinya tidak dapat dibuka atau dicabut, sedangkan yang berbuhul sentak artinya dapat dibuka atau dicabut. Adat<span> </span>yang berbuhul mati adalah adat yang sebenarnya adat yang tak akan berubah disebut tak lekang oleh panas, tak lapuk karena hujan, karena dia adalah undang-undang alam (natuurwet), <em>natural law</em> dan sunnatullah. Keyakinan bahwa Yang Maha Kuasa menciptakan alam raya dengan aturan nyata. Tak pernah berubah selamanya. Contoh nyata adat api menghanguskan, adat air membasahi. Tak pernah pula di antara keduanya yang bertukar peran atau bertimbang. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Adat nan Diadatkan yakni adat yang digariskan oleh nenek moyang orang Minang, seperti tokoh legendaris Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih nan Sabatang misalnya aturan-aturan yang dibuat orang dahulu dalam sistem kekerabatan menurut garis ibu (matrilineal). Pusaka turun ke kemenakan (maksudnya pusaka tinggi-sako dan pusako). Aturan nikah kawin (eksogami dan matrilokal), yang dalam fatwa adat disebut “<em>sigai mencari enau. Enau tetap, sigai beranjak. Tepatan tinggal, bawaan kembali, suarang babagi, sekutu dibalah, kerbau tegak kubangan tinggal. Nikah dengan si perempuan, kawin dengan ninik mamak, sumando pada korong kampung</em>”. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Adat nan teradat adalah hasil mufakat di dalam kaum, suku atau nagari tentang sesuatu masalah. Misalnya mufakat turun ke sawah, upacara nikah kawin dan lompat pagar (antar nagari), cara atau tata tertib penobatan Penghulu (Datuk), aturan sangsako, dan sebagainya. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Sedangkan yang dikatakan Adat istiadat adalah kebiasaaan yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Misalnya adat istiadat masuk puasa Ramadhan, Idul Fitri, kunjung berkunjung di hari baik bulan baik, jalang menjalang ketika ada musibah, baralek (pesta), membangun rumah gadang, menghela tonggak (tiang rumah gadang) dan sebagainya. Pada dasarnya dalam empat kategori adat itu hanya Adat nan sabana adat yang tak akan berubah sedangkan yang lainnya dapat berubah dengan kata mufakat. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Cuma saja pada kategori Adat nan diadatkan meski boleh berubah, namun Adat nan diadatkan harus dilestarikan, dipelihara dan dilindungi agar tetap seperti sedia kala seperti adat Islami (adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Syarak mangato, adat mamakai, disebut juga adat sebatang panjang). Sedangkan adat nan teradat dan adat istiadat lebih bersifat adat nan salingka nagari (selingka nagari). Terlihatlah di sini kearifan nenek moyang orang Minang bahwa dalam menghadapi putaran zaman yang akan berubah di masa datang maka adat Minang bersifat terbuka. Berubahlah apa yang mestinya berubah, tapi ada yang tak akan berubah yakni Adat nan sabana adat yang sunnatullah, wet alam yakni yang datang dari Yang Maha Kuasa. Dalam adagium adat disebutkan : <em>“sakali aie gadang, sakali tapian baraliah” </em>(sekali air bah datang, sekali pula tepian berubah). Yang berubah itu adalah lokasi tepian yang tadinya berlokasi di sebelah atas, kini beralih ke sebelah bawah. Namun yang tepian tidak berubah, sementara nilai dukung boleh berubah dengan kesepakatan bersama melalui musyawarah. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Tutur kata dalam budaya di Minangkabau menjadi bagian tak terelakkan di dalam mempertahankan budaya lama sekaligus juga menggali dan menampilkan ajaran tradisional yang relevan dengan tuntutan zaman yang sedang berubah. Ungkapan tradisional itu dapat berarti pepatah, kato pusako, mamang, pituah, andai-andai, dan lain-lain. Ungkapan tradisional tersebut ada yang berbentuk pantun, seloka, gurindam, dan sebagainya yang kadangkala dengan kalimat metafora sebagai bandingan atau kebalikannya. Semuanya bernilai nasehat, hukum, arahan dan ketentuan-ketentuan (norma). Tapi ungkapan semata ada juga yang tidak bermuatan pepatah, pituah, dan lain-lain. Hanya kata melereng (kiasan) semata. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Ungkapan-ungkapan tradisional di Minangkabau ribuan banyaknya, berisi kearifan yang disindirkan, mencakup budi pekerti, seperti “<em>Nan kuriak iyolah kundi. Nan sirah iyolah sago, Nan baiak iyolah budi, Nan indah iyolah bahaso</em><em>”.</em><span> Dalam ungkapan bahasa Indonesia berarti “</span>yang kurik ialah kundi, yang merah ialah saga, yang baik ialah budi, yang indah ialah bahasa”. Para tetua leluhur orang Minangkabau telah mengambil contoh pada buah kundi dan buah saga yang warnanya kurik(rintik) dan merah yang sifatnya tetap tidak berubah dalam warna merahnya dan kurik rintiknya. Ungkapan tradisional ini mengiaskan bahwa <em>budi baik</em> dan <em>keindahan bahasa</em> tidak boleh tanggal dari dari diri peribadi anak turunan Minangkabau di manapun kita berada. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:21.25pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Sikap mulia akan menjadi buah tutur orang di mana saja. <em>Talangkang karando kaco / Badarai carano kendi / Itu nan urang canggangkan./ Bacanggang karano baso / Bacarai karano budi / Itu nan urang pantangkan.</em><em> </em><span>Bila di turukan di dalam bahasa nasional </span>Telengkang keranda kaca, berderai cerana kendi, itu yang orang canggangkan, bercenggang karena bahasa, bercerai karena budi, itu yang orang pantangkan. Fatwa adat ini menasehatkan pandai-pandai menggunakan bahasa. Karena ucapan berbahasa yang mungkin dinilai kasar atau tak sepantasnyadapat berakibat persahabatan jadi <em>bercanggang</em> atau berjarak.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:21.25pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Begitu pula halnya budi atau kelakuan (perangai) yang tak senonoh dan tidak pantas, dapat berakibat persahabatan atau hubungan pergaulan akan rusak dan bahkan<span> </span>perceraian satu sama lain. Mengikat sebuah dinamika di dalam pergaulan tidak semata ada pada alur tutur kata. Juga pada tindak laku perbuatan. Di antaranya tepat janji. Tentang janji disebutkan dalam tutur ungkapan yang amat berarti, bahwa “<em>indak nan taguah dari janji, indak nan kokoh dari buek</em>” (tidak yang teguh selain janji, tiada yang kokoh selain dari buatan). </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:21.25pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Selalu dalam ciloteh seharian dinasehatkan supaya teguh memegang janji, kokoh tak tergoyahkan terhadap apa yang sudah dibuat dan disepakati. Di dalam ungkapan seharian disebutkan ;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.45pt;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Nak luruih rantangkan tali</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.45pt;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Nak mulia tapati janji</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.45pt;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Nak kuek paham dikunci</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.45pt;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Nak tinggi paelok budi</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.45pt;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Nak kayo kuek mancari, dan sebagainya</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.45pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">(Supaya lurus rentangkan tali</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.45pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Supaya mulia tepati janji</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.45pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Supaya kuat paham dikunci</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.45pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Supaya tinggi perbaiki budi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.45pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Supaya kaya kuatlah berusaha /mencari)</span></strong></p>
<h2 style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:21.3pt;line-height:115%;"><strong><span style="line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">Disebalik itu dituntut dialektika </span><span style="line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Arif dan Bijak </span><span style="line-height:115%;font-family:&#34;font-weight:normal;" lang="EN-US">seperti</span><span style="line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> ; </span></strong></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Diagak mako diagiah</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> (buatlah perkiraan, baru dibagi)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt;line-height:115%;"><strong><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Diukua mako dikabuang</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"> (memotong sesuatu atau mengerat, membagi, hendaklah setelah diukur, tidak berlaku sembrono memotong/membagi begitu saja . dianjurkan diukur dulu). </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:21.25pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kemudian dalam satu ciloteh semestinya dipakai satu kearifan dialektis, <em>Malantiang manuju tampuak, Di ma buah ka rareh,<span> </span></em><span>dan </span><em>Mamahek manuju barih, Di ma lubang ka tabuak, Barundiang manuju bana, Dima mufakat ka dibulati. </em><span>Artinya dalam bahasa nasional, “</span>melempar menuju tampuak, kira-kira di mana buah itu jatuhnya”, dan “memahat menurut baris, kira-kira di mana lobang itu tembusnya”, atau “berunding berdasarkan kebenaran, sehingga rundingan membuahkan mufakat bulat”.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:21.25pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kearifan di dalam bertutur kata, baik itu di dalam ungkapan di lingkungan beradat, di balairung, di surau, di mana saja, ada satu kewajiban berhati-hati.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:3pt;text-align:justify;text-indent:21.25pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Ungkapan petatah petitih mengingatkan itu semua. “<em>Gabak dahulu makonya hujan, Cewang di langik tando akan paneh, Ingek sabalun kanai, Kulimek sabalun habih”, </em><span>atau “</span><em>Ingek urang nan di ateh, Nan di bawah kok datang malimpok, Bajalan paliharo kaki, Bakato paliharo lidah”. </em><span>D</span>apat dicermati dari ungkapan berbahasa dan bertutur adabanyak mendapatkan pelajaran dari alam takambang jadi guru. Di antaranya “ mendung dahulu baru akan hujan, cerah di langit tanda hari akan panas”. Atau ungkapan selanjutnya, “ingatlah sebelum kena, berhemat sebelum habis” sebagai satu dinamika kearifan. Kemudian di dalamnya tertera pula nasehat, “ingat dan waspadalah orang yang sedang berkuasa di atas, karena yang di bawah dapat datang menimpa”, serta “kalau berjalan peliharalah kaki, kalau berucap kata pelihara lidah”. Di sini dapat dirasakan dilaektika dan dinamika berucap atau berceloteh itu.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:21.25pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Di samping dialektika ada dinamika kehidupan dengan mengedepankan kebersamaan seperti ungkapan, “<em>Ka bukik samo mandaki, Ka lurah samo manurun” </em><span>(k</span>e bukit sama mendaki, ke kurah sama menurun<span>)</span><em>, </em><span>atau “</span><em>Barek sapikua, Ringan sajinjiang”</em><span> (</span>Berat sepikul, Ringan sejinjing<span>)</span><em>, </em><span>dan “</span><em>Malompek samo patah, Manyaruduak samo bungkuak”</em><span> </span>(Melompat sama patah, Menyeruduk sama bungkuk)<em>, </em><span>serta “</span><em>Talungkuik samo makan tanah, Tatilantang samo makan angin, Tarandam samo basah, Tarapuang samo hanyuik” </em><span>(</span>Tertelungkup sama makan tanah, Tertelentang sama makan angin, Terendam sama basah, Terapung sama hanyut). Sebuah nilai keberadatan masyarakat adat yang dapat menumbuhkan dinamika di tengah pergaulan hidup.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:21.25pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kehidupan masyarakat Sumatra Barat kedepan di Alaf Baru abad ke duapuluh satu dan seterusnya ini, mesti memacu dirinya dengan ajakan agar selalu menanam kebaikan-kebaikan yang <em>makruf.</em> Ajakan tersebut mesti pula dipagari rapat-rapat dari hal-hal yang merusak atau <em>mungkarat.</em> Di dalam diri masyarakatnya semestinya ditanamkan kesadaran yang dapat menumbuhkan harga diri dengan sikap mental mau berusaha dengan giat bekerja (<em>enterprising</em>). Hal tersebut akan lebih mudah terbanagunkan karena dialog yang santun, arif dan dinamis. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:21.25pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Pembangunan manusia Minangkabau sesungguhnya adalah mencetak insan yang dapat menolong diri sendiri (<em>independent</em>) serta mampu <em>mereposisi</em> kondisinya dalam mengatasi kemelut, kemiskinan dan ketertinggalan di berbagai bidang. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:21.3pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Insya Allah masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat atau di perantauan <span> </span>akan selalu mendapatkan hak asasinya yang setara dengan kewajiban asasi yang telah ditunaikannya. Sesungguhnya bimbingan aqidah bersendikan Kitabullah, atau kebiasaan adat <span> </span>telah<span> </span>mengajarkan bahwa tidak pantas bagi satu masyarakat yang hanya selalu menuntut hak tanpa dibebani keharusan menunaikan kewajiban.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:21.3pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Martabat satu kaum akan hilang bila yang ada hanya memiliki kewajiban-kewajiban tetapi tidak dapat menentukankan hak apa-apa. Karena itu, hak asasi manusia tidak akan pernah ujud tanpa di dahului oleh kewajiban asasi manusia. Hal ini sangatlah penting ditanamkan kembali dalam upaya mambangkik batang tarandam.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:21.3pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Kandungan Kitabullah mewajibkan kita untuk memelihara hubungan yang langgeng dan akrab dengan karib, baik terhadap tetangga maupun kerabat, sebagai kewajiban iman dan taqwa kita kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Firman Allah di dalam Kitabullah (Al Quran) menyebutkan, “ <em>Sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak. Berhubungan baiklah kepada karib kerabat. Berbuat ihsan kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, dan tetangga yang hampir, tetangga yang jauh, dan teman sejawat serta terhadap orang-orang yang keputusan belanja diperjalanan (yaitu orang-orang yang berjalan dijalan Allah) dan terhadap pembantu-pembantu di rumah tanggamu. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” </em>(QS.4, An-Nisak ayat 36)<em>.</em><span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:21.3pt;line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US"><strong>Menumbuhkan harga diri, dan memperbaiki nasib secara keseluruhan dalam berbagai bidang, diyakini akan terwujud melalui ikhtiar yang terus menerus, disertai akhlak sabar tanpa kesombongan serta mampu melawan sikap mudah menyerah dan tidak mudah berputus asa. Sikap jiwa masyarakat seperti ini seringkali dapaat ditempa melalui dialog atau celoteh yang penuh dialektika dan dinamis, di antaranya di surau dan di lapau di Minangkabau, masa laloe.</strong> ***</span></p>
<div><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="edn1">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-14.2pt;margin:6pt 0 .0001pt 28.4pt;"><a name="_edn1" href="#_ednref1"></a><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">Catatan Akhir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-14.2pt;margin:6pt 0 .0001pt 28.4pt;"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span> </span><span> </span>Di dalam buku &#8220;<em>Webster`s New World Dictionary</em>&#8221; dijelaskan bahwa kata asimilasi berasal dari kata &#8220;assmilatus&#8221; (Latin), yang berarrti <em>&#8220;to take up and make part of itself, or in self&#8221; </em>atau sebagai<em> &#8220;absorb and in</em>corporate&#8221; dan sebagai &#8220;<em>diges</em>t&#8221; (mengambil dan menciptakan unsur menjadi sebagian dari unsur lain,<span> </span>atau meresapkan lagi mempersatukan atau memcernakan), dalam Webster`s, <em>New World Dictionary of the American Language, Encyclopedie</em>, Edition I,</span></p>
</div>
<div id="edn2">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-14.2pt;margin:6pt 0 .0001pt 28.4pt;"><a name="_edn2" href="#_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span> </span><span> </span>E.Pino dan T.Wittermans dalam Kamusnya juga menulis arti asimilasi dengan &#8220;pencernaan, persamaan dan pemesraan&#8221;, (E.Pino and T.Wittermans, <em>English-Indonesian Dictionary, </em>J.B.Wolters, Jakarta). Demikian pula dalam <em>Kamus Indonesia Kecik</em> susunan K.St.Harahap mengatakan asimilasi sebagai &#8220;pemesraan&#8221; (E.St.Harahap, <em>Kamus Indonesia Ketjik</em>, IBOCO, Jakarta).</span></p>
</div>
<div id="edn3">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;text-indent:-14.15pt;"><a name="_edn3" href="#_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"> <span> </span>W.J.S.Poerwadarminta, <em>Kamus Umum Bahasa Indonesia</em>, Balai Pustaka,<span> </span>Jakarta 1985, hal.676</span></p>
</div>
<div id="edn4">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.4pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;"><a name="_edn4" href="#_ednref4"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span> </span><span> </span>Drs.Sidi Gazalba, <em>Mesjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam, </em>Pustaka Antara, Jakarta.</span></p>
</div>
<div id="edn5">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.4pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;"><a name="_edn5" href="#_ednref5"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span> </span><span> </span>Jaka, <em>Ringkasan Ilmu Mendidik 1</em>, Mutiara, Jakarta, 1953, hal,42;</span></p>
</div>
<div id="edn6">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:28.4pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;"><a name="_edn6" href="#_ednref6"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span> </span><span> </span>Drs.Mohd.Sjafaat, <em>Mengapa Anda Beragama Islam</em>, Wijaya, Jakarta, hal.2;</span></p>
</div>
<div id="edn7">
<p class="MsoEndnoteText" style="margin-left:1cm;text-indent:-14.15pt;"><a name="_edn7" href="#_ednref7"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span> </span>Al-Quran, <em>Surat An Nisa`, ayat 146</em>,<span> </span>dan <em>Hadist,</em> Riwayat Muslim;</span></p>
</div>
<div id="edn8">
<p class="MsoEndnoteText" style="text-indent:-14.2pt;margin:6pt 0 .0001pt 28.4pt;"><a name="_edn8" href="#_ednref8"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"> <span> </span>Dalam bahasa Indonesia, “<em>kanan jalan ke Kurai, sesimpang jalan ke Ampek Angkek. Jika penghulu akan menjadi lantai, kalau berpijak jangan menjungkat (maknanya istiqamah). Adat teluk timbunan kapal, adat lurah timbunan air. Kalau bukit timbunan angin, biasa gunung timbunan kabut. Adat pemimpin tahan umpatan</em>”. Hasil kesusateraan Minangkabau, yang mengungkapkan kerilaku pemimpin agar tidak cepat patah hati, selalu konsisten ini, dinyatakan bersajak dengan mengambil contoh kepada alam, sebagai satu kepercayaan yang kokoh terhadap sunnatullah.</span></p>
</div>
<div id="edn9">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-14.2pt;margin:6pt 0 .0001pt 28.4pt;"><a name="_edn9" href="#_ednref9"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"> <span> </span>Drs.Sidi Gazalba, <em>Tebaran Pikiran dalam Rangkaian Ketuhanan Yang Maha Esa, </em>Penerbit Agus Salim, Jakarta, yang di dalamnya juga mengutip ucapan dari Prof.Dr.Sumantri Harjoprakoso, bahwa kepercayaan adalah factor pembentuk kejiwaan manusia.</span></p>
</div>
<div id="edn10">
<p class="MsoEndnoteText" style="text-indent:-14.2pt;margin:6pt 0 .0001pt 28.4pt;"><a name="_edn10" href="#_ednref10"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"> <span> </span>Mohammad Hatta, <em>Kumpulan Karangan IV</em>, Balai Buku Indonesia, Jakarta,</span></p>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
