<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>maulid-nabi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/maulid-nabi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "maulid-nabi"</description>
	<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 21:07:02 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Idul Adha bersama Nasi Kebuli]]></title>
<link>http://syafaalqadri.wordpress.com/2009/11/29/idul-adha-bersama-nasi-kebuli/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 23:59:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muchamad Musyafa</dc:creator>
<guid>http://syafaalqadri.wordpress.com/2009/11/29/idul-adha-bersama-nasi-kebuli/</guid>
<description><![CDATA[Hahahaha&#8230;. Setelah tahun lalu gak sempat pulang ke Semarang akibat gak ada waktu libur yang cu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Hahahaha&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah tahun lalu gak sempat pulang ke Semarang akibat gak ada waktu libur yang cukup buat pulang, akhirnya tahun ini aku bisa menyempatkan diri untuk pulang ke Semarang walaupun cuma 3 hari lamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau idul fitri umiku masak ketupat  opor dan sambal goreng ati, seperti biasa kalau waktunya idul adha, umiku biasanya (kalo ada rejeki) memasak nasi kebuli kambing, masakan kesukaan satu rumah. Dan akhirnya tahun ini aku bisa menikmati masakan itu lagi setelah tahun lalu tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin kebanyakan orang masih banyak yang belum kenal dengan masakan yang satu ini, sedangkan aku sendiri bingung mau menjelaskannya. Berdasarkan hasil browsing, maka dapat disimpulkan bahwa :</p>
<p style="text-align:justify;">1.Bagi warga keturunan Arab, nasi kebuli merupakan hidangan wajib pada peringatan Maulid Nabi.  Mereka umumnya menyantap hidangan ini lengkap dengan olahan daging kambing.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Rasanya gurih dengan harum aroma kapulaga, cengkih, merica, dan juga kayu manis tajam namun tidak berlebihan</p>
<p style="text-align:justify;">Keluargaku tahu masakan ini dari keluarga abahku (ayahku) yang memiliki garis keturunan orang arab, nama AlQadri juga berasal dari keluarga abahku yang berketurunan arab. Emang sulit dipercaya kalo melihat fisikku yang jauh dari keturunan orang arab, hahaha&#8230; kebanyakan maen di sawah sih.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua ami-ku (pamanku dari pihak ayah &#8211; bahasa arab) suka dengan masakan ini, dan anehnya umiku yang keturunan jawa asli suka dengan masakan ini (jarang-jarang orang jawa suka ama nasi kebuli). Walaupun begitu dari tangan wanita jawa inilah aku merasakan nasi  kebuli terenak yang pernah aku makan jika dibandingkan nasi kebuli buatan istri ami-ku (bibiku). Pernah di kampus ada kantin yang menyediakan nasi kebuli ini, tapi rasanya masih kalah jauhlah.</p>
<p style="text-align:justify;">Penasaran ama rasa dan resepnya??? silakan googling sendiri yah&#8230; banyak kok yang situs-situs buka resep nasi kebuli.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://syafaalqadri.wordpress.com/files/2009/11/kebuli_0.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-767" title="kebuli_0" src="http://syafaalqadri.wordpress.com/files/2009/11/kebuli_0.jpg?w=300" alt="" width="300" height="268" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://syafaalqadri.wordpress.com/files/2009/11/weekend-kebuli.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-768" title="kebuli" src="http://syafaalqadri.wordpress.com/files/2009/11/weekend-kebuli.jpg?w=300" alt="" width="300" height="187" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kewajiban Mencintai Keluarga Rasulullah s.a.w :]]></title>
<link>http://juwani.wordpress.com/2009/11/10/kewajiban-mencintai-keluarga-rasulullah-s-a-w/</link>
<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 03:32:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>juwani</dc:creator>
<guid>http://juwani.wordpress.com/2009/11/10/kewajiban-mencintai-keluarga-rasulullah-s-a-w/</guid>
<description><![CDATA[Arkib Utusan 02/11/2009 Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN PERARAKAN sempena Maul]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Arkib Utusan 02/11/2009</strong><br />
<strong>Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN</strong></p>
<p><img src="http://www.utusan.com.my/pix/2009/1102/utusan_malaysia/Bicara_Agama/ba_03.1.jpg" alt="Perarakan Mengenang Nabi" /><br />
PERARAKAN sempena Maulidur Rasul adalah antara cara memupuk kecintaan terhadap Rasulullah SAW.</p>
<p>RATA-RATANYA masyarakat Islam keliru mengenai apakah pegangan sebenar Ahli Sunnah Wal Jamaah terhadap ahli keluarga Nabi SAW. Kekeliruan ini membuatkan ramai di kalangan kita tidak mahu menyentuh permasalahan mengenai hak-hak Ahli Bait barangkali kerana khuatir terlibat dengan fahaman puak Syiah dan Rafidhah.</p>
<p>Sebahagian yang lain menganggap ia bukanlah suatu permasalahan yang penting untuk diambil berat dan diperbahaskan dengan panjang lebar.</p>
<p>Walau apa pun alasannya, perbuatan dan perkataan salafussoleh serta ulama telah bersalahan dengan pendirian mereka. Pendapat salaf juga menjadi bukti dan hujah bahawa mereka tidak pernah meletakkan perbahasan mengasihi Ahli Bait sebagai perkara sampingan dan hal remeh-temeh.</p>
<p>Sebabnya, mereka sedar dengan sebenar-benar kesedaran bahawa mencintai dan memuliakan ahli keluarga Nabi SAW adalah perintah yang wajib dijunjung walau di mana mereka berada.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Benarkah Sholahuddin al-Ayyubi Pencetus Perayaan Maulid Nabi?]]></title>
<link>http://alqiyamah.wordpress.com/2009/10/26/benarkah-sholahuddin-al-ayyubi-pencetus-perayaan-maulid-nabi/</link>
<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 00:38:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>ibnu salim</dc:creator>
<guid>http://alqiyamah.wordpress.com/2009/10/26/benarkah-sholahuddin-al-ayyubi-pencetus-perayaan-maulid-nabi/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf hafidzahullah Alkisah Ada sebuah kisah yang cuku]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf hafidzahullah Alkisah Ada sebuah kisah yang cuku]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KILAS BALIK HIJRAH RASULULLAH SAW]]></title>
<link>http://albasanto.wordpress.com/2009/09/24/kilas-balik-hijrah-rasulullah-saw/</link>
<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 15:17:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>albasanto</dc:creator>
<guid>http://albasanto.wordpress.com/2009/09/24/kilas-balik-hijrah-rasulullah-saw/</guid>
<description><![CDATA[Refleksi Nilai-nilai Maulud Nabi dalam Bingkai Dakwah Hijrah dan Maulid Nabi Walaupun Nabi Muhammad ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--more-->Refleksi Nilai-nilai Maulud Nabi dalam Bingkai Dakwah<br />
Hijrah dan Maulid Nabi<br />
Walaupun Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada 12 Rabiulawwal, namun kelaziman di Indonesia hari lahir (mawlid) RasululLah diperingati dalam 3 bulan berturut-turut: Rabiulawwal, Rabiulakhir dan Jumadilawwal, yaitu dalam bulan ke-3, ke-4 dan ke-5 penanggalan Hijriyah. Bentuk peringatan itu juga bermacam-macam, seperti misalnya mulai dari bentuk membaca riwayat Nabi karya Ja&#8217;far Al Barzanji, ataupun dalam bentuk ceramah, sampai kepada diskusi-diskusi. Tidak ketatnya waktu dan bentuk peringatan itu dapat dimaklumi oleh karena dalam Al Quran memang tidak ada nash sharîh memperingati kelahiran RasululLah, demikian pula di dalam sunnah, beliau tidak pernah menyuruh ummatnya untuk aktivitas tersebut.<br />
Walaupun tidak ada dalam Al Quran maupun dalam sunnah Nabi, kelahiran RasululLah itu diperingati juga, karena dalam Al Quran dan sabda Nabi tidak ada larangan untuk memperingati maulid. Lagi pula sesungguhnya dalam peringatan itu disampaikan pesan-pesan yang bernilai Islam. Dan itu berarti peringatan mawlid itu merupakan sub-sistem dari sistem pendidikan Islam, yaitu pendidikan informal yang termasuk dalam jenis pendidikan lingkungan. Adapun pendidikan informal itu, suatu sistem pendidikan yang tidak menuntut persyaratan formal, baik bagi yang menyampaikan pesan, maupun khalayak yang akan menerima pesan. Demikian pula tidak ada kurikulum tertentu, juga tidak mesti pada tempat yang tertentu.<br />
Meskipun peringatan mawlid yang sifatnya informal itu tidak mempunyai kurikulum tertentu, namun biasanya ada dua tema sentral dari pesan-pesan dalam peringatan-peringatan itu. Yang pertama firman Allah:<br />
لقد كان لكم فى رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجوا الله و اليوم الآخر و ذكر الله كثيرا.<br />
&#8221; Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.&#8221; (Q.S. al-Ahzâb 33:21).<br />
Dan tema yang kedua adalah dari S. Al Anbiyaa&#8217; 157<br />
وما أرسلنك ألاّ رحمة للعلمين.<br />
&#8221; Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.&#8221; (Q.S. al-Anbiyâ&#8217; 21:107)<br />
Sebenarnya ada tema lain yang kurang begitu diperhatikan dalam peringatan maulid ini. Rasulullah SAW pada waktu hijrah tiba di Madinah dalam bulan Rabiulawwal. Dengan demikian dilihat dari segi bulan, yaitu Rabiulawwal, mawlid Nabi tidak dapat dilepaskan dari thema hijrah. Memang seperti kita telah maklumi bersama dilihat dari segi tahun, peristiwa hijrah itu dijadikan patokan perhitungan tahun dalam sistem Penanggalan Hijriyah. Akan tetapi RasululLah pada waktu hijrah tidaklah sampai di Madinah dalam bulan Muharram, melainkan dalam bulan Rabiulawwal, tepatnya tanggal 12 Rabi&#8217;ulawwal.<br />
Dalam menyambut maulid Nabi SAW, maka isi tulisan ini mengambil thema hijrah. Hijrah adalah suatu peristiwa yang sangat penting dalam da&#8217;wah risalah (message) RasululLah SAW. Perjuangan Nabi SAW untuk menegakkan kebenaran, membawa risalah, berlangsung dalam dua tahap, yaitu tahap Makkiyah dan tahap Madaniyah. Dalam tahap yang pertama yaitu di Makkah, adalah tahap pembinaan aqiedah, pembinaan pribadi Muslim. Ayat-ayat Al Quran yang diturunkan di Makkah, yang disebut dengan ayat-ayat Makkiyah, kalimatnya pendek-pendek berisikan materi keimanan. Dalam periode Makkah ini ummat Islam menjadi maf&#8217;ulun bih, obyek, bulan-bulanan. Yaitu ummat Islam hidup dalam suasana lingkungan yang penuh tekanan, siksaan dan terror. Keadaan lingkungan yang demikian itu ibarat palu godam yang menempa pribadi-pribadi Muslim di Makkah itu menjadi mantap aqiedahnya, tahan uji, tahan derita, bermental baja. Ujian akhir pembinaan aqiedah itu terlaksana 20 bulan sebelum hijrah, yaitu peristiwa Isra-Mi&#8217;raj RasululLah SAW. Keimanan ummat Islam di Makkah diuji, percaya atau tidak, beriman atau kafir terhadap peristiwa itu. Maka terjadilah kristalisasi ummat Islam. Ada yang lulus dalam ujian keimanan ini, tetapi tidak kurang pula kembali menjadi kafir. Ummat Islam secara kwantitas menurun, namun secara kwalitas meningkat. Mereka inilah yang menjadi kaum Muhajirin, orang-orang berhijrah, 20 bulan kemudian.<br />
Sebab-sebab Hijrah Kaum Muslim<br />
Peristiwa hijrah merupakan titik balik perjuangan RasululLah dan ummat Islam. Yaitu dari keadaan yang maf&#8217;ulun bih, obyek, di Makkah berbalik menjadi faa&#8217;il, subyek, pelaku di Madienah. Kaum Anshar di Madinah bersama-sama dengan kaum Muhajirin yang dari Makkah membina masyarakat dan Negara Islam di Madinah. Ayat-ayat Al Quran yang diturunkan di Madinah, yang disebut dengan ayat-ayat Madaniyah, kalimatnya panjang-panjang dan berisikan pedoman-pedoman tentang kehidupan bermasyarakat dan bernegara.</p>
<p>Keberhasilan Islam dalam mendirikan sebuah negara di tengah gurun yang penuh dengan kekufuran dan kebodohan merupakan hasil terpenting semenjak Islam memulai dakwahnya. Kaum meslimin dari mana-mana saling mengajak untuk berhijrah ke Yatsrib (Madinah). Hijrahnya mereka bukan semata-mata untukmejauhkan diri dari gangguan dan ejekan kaum musyrikin Quraisy, tetapi sekaligus merupakan usaha bersama untuk mendirikan masyarakat baru di daerah yang aman.<br />
Dalam mewujudkan tanah air baru bagi Islam, setiap muslim yang memenuhi syarat diwajibkan berperan serta dan berusaha sekuat tenaga untuk memperkokoh kedudukan dan mempertinggi kewibawaannya. Dengan demikian, hidup di Madinah pada masa itu dipandang sebagai kewajiban agama, karena tegaknya agama Islam tergantung pada kokohnya kedudukan kota tersebut.<br />
Kaum muslimin selalu berpegang tegung kepada risalah yang mereka yakini, yang sang penyampainya, Muhammad SAW, tidak pernah berhenti mengajak manusia ke jalan Allah. Mengenai hal itu AL-Qur’an menerangkan:<br />
“Katakanlah: &#8220;Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Q.S. Yusuf 10:108)<br />
Tatanan masyarakat yang diidealkan oleh para filosof dan telah diuraikan dalam banyak buku masih belum banyak menandingi tatanan masyarakat yang hendak diwujudkan oleh kaum Muhajirin dan Anshor. Mereka membuktikan bahwa keyakinan yang mantap telah menjadikan mereka setara dengan malaikat dalam hal kemurnian hati.<br />
Dengan seizin Rasulullah SAW, kaum muslimin dari Mekah dan berbagai daerah lainnya berbondong-bondong hijrah ke Madinah dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang mantap.</p>
<p>Ujian dalam Hijrah<br />
Hijrah bukanlah perpindahan tempat tugas seorang pegawai dari satu tempat ke tempat lain yang lebih jaun dan bukan pula perpindahan seorang pencari nafkah dari daerah gersang ke daerah subur. Hijrah yang dilakukan kaum muslimin ketika itu ialah pindahnya orang-orang yang telah hidup lama di tempat kelahirannya, untuk meninggalkan kepentingan pribadi dan kekayaannya, menuju suatu tempat dengan hati yang ikhlas. Mereka menyadari bahwa di tengah jalan mungkin mereka akan dirampok atau ditodong , bahkan direnggut nyawanya. Kecuali itu, hari depan yang mereka dambakan pun belum dapat dibayangkan dengan jelas. Demikian pula dengan kesukaran dan penderitaan yang akan mereka alami diperantauan. Sekiranya hijrah itu boleh disebut “petualangan,”tentu orang akan mengatakan: “Sungguh suatu petualangan yang nekad!.” Betapa tidak, mereka berangkat menempuh perjalanan jauh membelah gurun sahara membawa anak isteri dengan perasaan rela dan hati gembira.<br />
Akan tetapi iman yang sebesar gunung tak mungkin goyah. Iman kepada siapa? Iman kepada Allah pencipta langit dan bumi, Dzat yang berhak dipuji dan disyukuri oleh segenap hamba-Nya di dunia dan di akhirat. Dialah Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.<br />
Kesulitan sedemikian itu tidak akan dapat dipikul kecuali oleh orang-orang yang sungguh-sungguh beriman. Seorang penakut tidak akan sanggup memikul kesulitan seperti itu. Orang yang demikian itu termasuk mereka yang oleh Allah SWT disebut dalam firman-Nya:<br />
“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: &#8220;Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu&#8221;, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (Q.S. al-Nisâ’ 4:66)<br />
Orang-orang yang berhimpun disekeliling Rasulullah SAW di Mekah adalah orang-orang yang telah menyerap sinar hidayat, dan senantiasa membela kebenaran dengan hati yang tabah dan sabar. Mereka dengan lapang dada segera meninggalkan kampung halaman setelah mendapat aba-aba untuk berhijrah ke tempat di mana mereka akan dapat memperkuat agama Islam dan meyakini hari depannya yang cerah.<br />
Di antara orang-orang yang dini berhijrah ke Madinah ialah Abu Salmah, isterinya dan anaklelakinya. Ketika mereka sudah bertekad bulat untuk meninggalkan Mekah, sanak saudaranya dari pihak isterinya menahan isterinya dan berkata: “Jadi kau akan pergi dengan menelantarkan kami? Kami tidak akan membiarkanmu pergi membawa isterimu ke perantauan!”<br />
Akhirnya Salmah berangkat seorang diri ke Madinah bersama anak laki-lakinya. Setahun lamanya, sejak berpisah dengan suami dan anaknya, isteri Abu Salmah selalu menangis. Salah seorang kerabatnya merasa kasihan dan meminta kepada sanak saudaranya agar tidak lagi mengurung isteri Abu Salmah. Akhirnya mereka memperbolehkan isteri Abu Salmah untuk menyusul suaminya ke Madinah.<br />
Demikian pula ketika Shuhaib berhijrah ke Madinah, orang-orang Quraisy berkata kepadanya:<br />
“Dulu kau adalah seorang gelandangan, kemudian di tengah-tengah kami kau menjadi seorang yang berharta dan dapat meraih apa yang kau inginkan. Kini kau hendak pergi membawa hartamu. Tidak, itu tidak boleh terjadi!”<br />
Shuhaib balik bertanya: “Apakah kalau semua harta kekayaanku ku serahkan kepada kalian, kalian akan membiarkan aku pergi?”<br />
“Ya, tentu!” Sahut mereka.<br />
“Kalau begitu, sekarang juga seluruh harta kekayaanku kuserahkan kepada kalian.”<br />
Ia melaporkan peristiwa itu kepada Rasulullah SAW. Beliau menanggapinya dengan ucapan: Shuhaib mendapat laba.”<br />
Demikianlah cara kaum muslimin meninggalkan Mekahada yang berangkat dalam bentuk rombongan dan ada pula yang berangkat secara perorangan, sehingga Mekah hampir kosong dari orang-orang yang memeluk agama Islam. Kaum musyrikin Quraisy merasa bahwa agama Islam sekarang telah memiliki daerah dan perbentengan  sendiri yang sanggup melindungi keselamatan. Mereka takut mengahadapi tahapan penting dari proses dakwah risalah Muhammad SAW.<br />
Ketika itu Muhammad Rasulullah SAWmasih berada di Mekah. Bisa atau tidak beliau harus menyusul para sahabatnya, entah hari ini, entah esok. Beliau harus bersiap-siap sebelum datang gilirannya.</p>
<p>Hijrah Rasulullah<br />
Ketika Rasulullah SAW telah bertekad bulat untuk meninggalkan Mekah menuju Madinah, turunlah ayat firman Allah sebagai berikut:<br />
و قل ربّ أدخلنى مدخل صدق و أخرجنى مخرج صدق و اجعل لى من لدنك سلطنا نصيرا.<br />
“Dan katakanlah: &#8220;Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (Q.S. al-Isrâ’ 17:80)<br />
Tidak ada yang mengetahui siapa yang lebih berhak mendapat pertolongan dari Allah selain Rasulullah SAW. Walaupun demikian, kelayakannya mendapat bantuan Allah tidak membuat beliau ceroboh terhadap  suatu tindakan dan akibatnya.<br />
Beliau dengan teliti dan cermat merencanakan langkah-langkah pengamanan, baik bagi hijrah beliau sendiri maupun bagi rombongan lainnya. Menurut perhitungan beliau sendiri, beliau tidak akan meninggalkan suatu tempat tanpa alasan yang jelas. Sedah menjadi sifat beliau untuk mempertimbangkan sebab akibat dalam upaya meraih keberhasilan. Setelah itu, barulah beliau bertawakkal kepada Allah, sebab segala sesuatu tak mungkin terlaksana tanpa kehendak-Nya.<br />
Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah berlangsung secara wajar. Sebelumnya beliau minta kepada Ali bin Abi Thalib r.a. dan Abu Bakar ash-Shiddiq supaya tetap tinggal bersama beliau, sedangkan kaum muslimin yang lainberangkat lebih dahulu ke Madinah. Ketika Abu bakar ash-Shiddiq r.a. meminta izin kepada Rasulullah SAW hendak berangkat hijrah, beliau menjawab:<br />
“Jangan tergesa-gesa mungkin Allah akan memberikan kepadamu seorang sahabat.”<br />
Abu Bakar merasa bahwa yang beliau maksudkan dengan seorang sahabat adalah beliau sendiri. Karena itu, ia lalu membeli dua ekor unta, disembunyikan di dalam rumahnya dan diberi makan secukupnya sebagai persiapan kendaraan untuk berangkat berhijrah. Mengenai Ali bin Abi Thalib r.a., Rasulullah telah mempersiapkannya untuk memainkan peranan khusus dalam medan-medan bahaya.<br />
Sebagaimana telah diketahui, Rasulullah SAW merahasiakan keberangkatannya sehingga tak ada orang lain yang mengetahui kecuali beberapa orang dekatnya. Lagi pula beliau tidak memberitahukan seluruhnya kecuali hal yang penting-penting saja. Belau juga mengupah seorang pemandu yang sudah sangat mengenal gurun sahara untuk dimanfaatkan pengalamannya dalam usaha menghindari pengejaran.<br />
Disamping keluesan beliau dalam menyusun rencana perjalanan, beliau juga membayar harga unta yang dikendarainya. Beliau tidak mau membiarkan Abu Bakar secara sukarela membayar harga dua ekor unta, karena beliau sadar bahwa perjalanan hijrah itu merupakan bagian dari ibadah yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya dan jangan sampai dipenuhi syarat-syaratnya oleh orang lain.<br />
Rasulullah telah bersepakat dengan Abu Bakar mengenai rincian perjalanan yang akan mereka tempuh. Mereka berdua memilih gua untuk persembunyian mereka – yaitu gua di sebelah selatan yang menghadap ke Yaman – guna mengecoh para pengejarnya. Mereka jug amenetapkan beberapa orang yang perlu mereka hubungi selama berada di tempat persembunyian.. goa yang dimaksud adalah Gua Tsur, yang di dalamnya itulah risalah terakhir terlindungi oleh kesunyian, keterasingan dan keterpencilannya.</p>
<p>Era Baru Telah Dimulai<br />
Sebelum tiba di Madinah, berita tentang keberangkatannya bersama Abu Bakar r.a. telah tersiar ke Madinah. Setiap pagi penduduk kota itu banyak yang keluar rumah sambil memandang ke arah akan datangnya manusia besar. Bila terik matahari terasa membakar, mereka kembali pulang ke rumah masing-masing dengan tetap memendam harapan mereka.<br />
Pada tangga 12 Rabi’ulawwal, sebagaimana biasa, kaum Anshar banyak berkerumun di pinggiran kota Madinah menunggu-nunggu kedatangan beliau. Pada saat tengah hari di saat udara sedang panas-panasnya, ketika mereka hampir putus harapan dan hendak pulang ke rumah masing-masing, seorang Yahudi yang sedang naik ke atap rumahnya untuk suatu keperluan tiba-tiba melihat kepulan debu mendekati kota. Ia berteriak dengan suara keras:<br />
“Hai Bani Qailah, itulah dia sahabat kalian telah tiba, itulah dia datuk kalian yang sedang kalian tunggu-tunggu kedatangannya!”<br />
mendengar teriakan itu, kaum Anshar, dengan membawa senjatanya masing-masing, bergegas menjemput Rasulullah SAW. Kedatangan beliau di sambut dengan suara takbir yang mengumandang di seluruh kota Madinah. Hari itu Madinah benar-benar dalam suasana suka cita yang teramat sangat.<br />
Satu hal yang cukup menarik adalah bahwa penduduk Madinah pada umumnya belum pernah melihat Rasulullah SAW. Sehingga pada waktu beliau dating , mereka tidak dapat membedakan mana Abu Bakar r.a. dan mana Muhammad SAW.<br />
Demikianlah Rasulullah SAW dan kaum muslimin terdahulu menapaki haru biru perjalanan hijrah mereka. Mereka rela meninggalkan kota yang mereka cintai, harta dan karib kerabat mereka demi kesuburan aqidah yang telah tertanam di relung hati mereka. Sebagaimana seorang yang memiliki akidah tentu akan berperlaku sesuai akidahnya, dan merasa tenang bila akibahnya terjamin ketenteraamannya. Orang menggantungkan kebahagiaan kepada sesuatu yang menjadi idaman dan cita-citanya. Mereka melihat dunia berdasarkan perasaan dan pikiran yang mengendap di dalam jiwa mereka. Orang-orang berharap memperoleh kepemimpinan akan merasa puas atau kecewa,  menjadi giat atau malas tergantung pada jauh atau dekatnya harapan tersebut.<br />
Seseorang dengan kemampuan yang dimilikinya, memang berhak untuk memperoleh kedudukan tinggi.akan tetapi keinginan untuk memperoleh keduniaan dengan cara yang sangat bernafsu itu, hasilnya tergantung pada kehendak Allah SWT sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an:<br />
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (Q.S. al-Isrâ’ 17:18)<br />
Ada orang yang memuja kecantikan sehingga ia mengejar-ngejar wanita, dan ia merasa puas begitu ia bisa bersanding dengan pujaannya, kemudian setelah itu ia menjadi tenang dan tenteram.<br />
Ada juga seseorang yang mengejar-ngejar harta kekayaan sehingga seluruh waktunya, siang-malam, dihabiskan untuk melihat angka-angka di dalam buku catatannya, menghitung berapa banyak yang sudah berada di tangannya dan menaksir seberapa banyak yang akan diperolehnya lagi. Bahkan barangkali ia akan lupa makan dan minum karena tengelam di dalam naluti ingin menguasai kekayaan sebanyak-banyaknya hingga tertutuplah semua pintu hatinya.<br />
Di samping jenis manusia seperti tersebut di atas, kita masih dapat menemukan jenis lain, yaitu orang-orang yang tidak henti-hentinya memberikan pelayanan dan memelihara kemashlahatan umum. Mereka menghabiskan seluruh hidupnya untuk menegakkan kebajikan yang telah merasuk ke dalam kalbunya. Ia tidak akan tidur nyenyak jika belum menunaikan kewajibannya. Kesenangan terbesar baginya ialah kesempurnaan, dan kebahagiaan yang lebih besar adalah bila ia mampu memperolehnya.<br />
Para nabi dan rasul telah disumpah untuk melaksanakan tanggung jawab dan kepercayaan yang telah diamanatkan kepada mereka. Kemenangan dan kekalahan mereka, persahabatan dan permusuhan mereka, semua itu semata-mata diabdikan kepada nilai-nilai moril yang menjadi tujuan hidup mereka.</p>
<p>Penutup<br />
Demikian kilas balik perjalanan Rasulullah SAW dan kaum muslim dalam hijrah ke Madinah. sebuah fase baru dan penting dalam dakwah yang mulaiberkonsentrasi pada kehidupan sosial (mu&#8217;amalah), baik dalam lingkup keluarga kecil (rumah tangga), maupun dalam lingkup keluarga besar (negara dan bangsa).<br />
Hijrah Rasulullah SAW dan kaum muslim ini menyisakan sejuta nilai ideal dalam kehidupan. nilai-nilai tersebut tersebut terangkum semuanya ke dalam dua ayat al-Qur&#8217;an yang biasanya menjadi tema sentral dalam kajian Maulid Nabi, yakni<br />
1. Suri tauladan Rasulullah SAW. &#8221; Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.&#8221; (Q.S. al-Ahzâb 33:21).<br />
2. Rahmatan lil &#8216;alamin. &#8221; Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.&#8221; (Q.S. al-Anbiyâ&#8217; 21:107)<br />
Berikut ini akan kami petakan nilai-nilai luhur tersebut dalam beberapa poin-poin dakwah Islamiyah:<br />
1.    Al-Bannâ&#8217; (membangun), yakni dakwah yang dilakukan harus bersifat membangun, membangun individu, masyarakat dan negara.<br />
2.    Al-Rabbâniyyah (ketuhanan). yakni dakwah ini hanya semata-mata ditujukan sebagai pengabdian kepada Allah, bukan untuk hal-hal lain, apalagi keduniaan.<br />
3.    Al-Ukhûwwah (Persaudaraan). yakni dakwah bertujuan menggalang persatuasn dan kesatuan umat untuk berjalan di bawah panji-panji Allah.<br />
4.    Al-Jihâd wa al-Kifâh (Jihad dan optimalisasi beragama). dengan maksud tidak ada jalan dakwah yang tidak memiliki halangan dan rintangan, namun halangan dan rintangan tersebut harus dilalui dengan kerja yang sungguh-sungguh dan menyeluruh (all out).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tradisi pada perayaan Maulid nabi yang tetap dilestarikan warga masyarakat Pulau Bawean]]></title>
<link>http://nuanza.wordpress.com/2009/09/15/tradisi-pada-perayaan-maulid-nabi-yang-tetap-dilestarikan-warga-masyarakat-pulau-bawean/</link>
<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 07:59:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>nuanza</dc:creator>
<guid>http://nuanza.wordpress.com/2009/09/15/tradisi-pada-perayaan-maulid-nabi-yang-tetap-dilestarikan-warga-masyarakat-pulau-bawean/</guid>
<description><![CDATA[suasana maulid nabi Muhammada saw, yang selalu aku rindukan walau saya berada jauh dari kampung hala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>suasana maulid nabi Muhammada saw, yang selalu aku rindukan walau saya berada jauh dari kampung halaman &#8220;Bawean Tercinta&#8221;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[tazkiyatun-nufus]]></title>
<link>http://saifulloh435.wordpress.com/2009/07/10/tazkiyatun-nufus/</link>
<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 13:13:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>saifulloh435</dc:creator>
<guid>http://saifulloh435.wordpress.com/2009/07/10/tazkiyatun-nufus/</guid>
<description><![CDATA[Kategori:  Kebanyakan Manusia Tidak Berilmu Allah ta’ala berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia yan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!-- main-content--></p>
<div>
<p><a title="Ke kolom komentar" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kebanyakan-manusia-tidak-berilmu.html#comments"><br />
</a></p>
<p>Kategori: <a title="View all posts in Akhlaq dan Nasehat" rel="category tag" href="http://muslim.or.id/category/akhlaq-dan-nasehat"></a><a title="View all posts in Tazkiyatun Nufus" rel="category tag" href="http://muslim.or.id/category/tazkiyatun-nufus"></a></div>
<h3><a title="Permanent Link Kebanyakan Manusia Tidak Berilmu" rel="bookmark" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kebanyakan-manusia-tidak-berilmu.html">Kebanyakan Manusia Tidak Berilmu</a></h3>
<div id="post-587"><!-- img blog-->Allah <em>ta’ala</em> berfirman di dalam kitab-Nya yang  mulia yang  artinya, <em>“Itulah  janji Allah. Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi kebanyakan  manusia tidak mengetahui.”</em> (QS. Ar Ruum [30]: 6)</p>
<p>Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya, “Sedangkan  firman-Nya <em>ta’ala</em> <em>‘Itulah janji Allah. Allah tidak akan menyelisihi  janji-Nya.’</em> Artinya: Inilah yang Kami beritakan kepadamu hai Muhammad, bahwasanya Kami benar-benar akan memenangkan Romawi dalam melawan Persia, itulah janji yang benar dari Allah, sebuah berita yang jujur dan tidak akan meleset. Hal itu pasti terjadi. Karena ketetapan Allah yang telah berlaku menuntut-Nya untuk memenangkan salah satu kelompok yang lebih dekat kepada kebenaran di antara dua kubu yang saling memerangi. Dan Allah pasti akan memberikan pertolongan kepada mereka. <em>‘Akan tetapi kebanyakan manusia tidak  mengetahui’</em>, artinya mereka tidak mengetahui hukum kauniyah Allah serta perbuatan-perbuatan-Nya yang sangat cermat dan selalu bergulir di atas prinsip keadilan.” (<em>Tafsir  Al Qur’an Al ‘Azhim</em>, 6/168)</p>
<p><span> </span></p>
<p>Kemudian Allah <em>ta’ala</em> berfirman tentang mereka  -yaitu kebanyakan manusia- yang artinya, <em>“Mereka mengetahui sisi  lahiriyah kehidupan dunia, akan tetapi terhadap perkara akhirat mereka  lalai.”</em> (QS. Ar Ruum [30]: 7)</p>
<p>Ibnu Katsir kembali memaparkan, “Artinya kebanyakan manusia tidak memiliki ilmu kecuali dalam urusan dunia, tata cara menggapainya, tetek bengeknya serta perkara apa saja yang ada di dalamnya. Mereka adalah orang-orang yang cerdas dan pandai tentang bagaimana cara meraup dunia serta celah-celah untuk bisa mendapatkannya. Namun mereka lalai terhadap hal-hal yang akan mendatangkan manfaat untuk mereka di negeri akhirat. Seolah-olah akal mereka lenyap. Seperti halnya orang yang tidak memiliki akal dan pikiran.” (<em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>, 6/168)</p>
<p>Ibnu Abbas menjelaskan tentang makna ayat yang mulia ini, “Maksudnya adalah orang-orang kafir. Mereka itu mengetahui bagaimana cara untuk memakmurkan dunia akan tetapi dalam masalah-masalah agama mereka bodoh.” (<em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>, 6/168)</p>
<p><strong>Sekelumit Tentang Keutamaan  Ilmu</strong></p>
<p><strong>Pertama:  Meningkatkan Derajat</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman yang artinya, <em>“Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman dan diberikan ilmu di antara kalian beberapa derajat. Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”</em> (QS. Al Mujadilah [58]: 11).</p>
<p>Al Hafizh menjelaskan, “Ada yang mengatakan tentang tafsirannya adalah: Allah akan mengangkat kedudukan orang beriman yang berilmu dibandingkan orang beriman yang tidak berilmu. Dan pengangkatan derajat ini menunjukkan adanya sebuah keutamaan…” (<em>Fathul Bari</em>, 1/172).  Beliau juga meriwayatkan sebuah ucapan Zaid bin Aslam mengenai ayat yang  artinya, <em>“Kami akan mengangkat derajat orang yang Kami kehendaki.”</em> (QS. Yusuf [12]: 76). Zaid mengatakan, “Yaitu dengan sebab <a title="Kebanyakan manusia tidak berilmu" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kebanyakan-manusia-tidak-berilmu.html">ilmu</a>.” (<em>Fathul  Bari</em>, 1/172)</p>
<p>Ibnu Katsir menyebutkan di dalam tafsirnya sebuah riwayat dari Abu Thufail Amir bin Watsilah yang menceritakan bahwa Nafi’ bin Abdul Harits pernah bertemu dengan Umar bin Khattab di ‘Isfan (nama sebuah tempat, pen). Ketika itu Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Umar pun berkata kepadanya, “Siapakah orang yang kamu serahi urusan untuk memimpin penduduk lembah itu?”. Dia mengatakan, “Orang yang saya angkat sebagai pemimpin mereka adalah Ibnu Abza; salah seorang bekas budak kami.” Maka Umar mengatakan, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?”. Dia pun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia adalah orang yang pandai memahami Kitabullah, mendalami ilmu waris, dan juga seorang hakim.” Umar <em>radhiyallahu’anhu</em> menimpali  ucapannya, “Adapun Nabi kalian, sesungguhnya dia memang pernah bersabda, <em>‘Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sekelompok orang dengan sebab Kitab ini, dan akan merendahkan sebagian lainnya karena kitab ini pula.’</em> (HR. Muslim).</p>
<p><strong>Kedua: Nabi  Diperintahkan Berdoa untuk Mendapatkan Tambahan Ilmu</strong></p>
<p>Di dalam Kitabul Ilmi Bukhari membawakan sebuah ayat yang  artinya, <em>“Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”</em> (QS. Thaha  [20]: 114). Kemudian Al Hafizh menjelaskan, “Ucapan beliau: Firman-Nya <em>‘azza  wa jalla</em>, <em>‘Wahai Rabbku tambahkanlah kepadaku ilmu’</em>. Memiliki  penunjukan yang sangat jelas terhadap keutamaan ilmu. Sebab Allah ta’ala  tidaklah memerintahkan Nabi-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk meminta tambahan untuk apapun kecuali tambahan ilmu. Sedangkan yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i; yang dengan ilmu itu akan diketahui kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang mukallaf untuk menjalankan ajaran agamanya dalam hal ibadah ataupun muamalahnya, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, dan hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, menyucikan-Nya dari segenap sifat tercela dan kekurangan. Dan poros semua ilmu tersebut ada pada ilmu tafsir, hadits dan fiqih…” (<em>Fathul  Bari</em>, 1/172)</p>
<p><strong>Ketiga:  Perintah Bertanya Kepada Ahli Ilmu</strong></p>
<p>Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci memerintahkan untuk bertanya kepada mereka (ahli ilmu) dan merujuk kepada pendapat-pendapat mereka. Allah juga menjadikannya sebagaimana layaknya persaksian dari mereka. Allah berfirman yang artinya,<em> “Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu kecuali para lelaki yang Kami wahyukan kepada mereka: bertanyalah kepada ahli dzikir apabila kalian tidak mempunyai ilmu.’ </em>(QS. An Nahl [16]: 43). Sehingga makna ahli dzikir adalah ahli ilmu yang memahami wahyu yang diturunkan Allah kepada para nabi.” (<em>Al ‘Ilmu, fadhluhu wa  syarafuhu</em>, hal. 24)</p>
<p><strong>Keempat:  Kebenaran Akan Tampak Bagi Ahli Ilmu</strong></p>
<p>Ibnul Qayyim mengatakan, “Allah Yang Maha Suci memberitakan mengenai keadaan orang-orang yang berilmu; bahwa merekalah orang-orang yang bisa memandang bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi dari Rabbnya adalah sebuah kebenaran. Allah menjadikan hal ini sebagai pujian atas mereka dan permintaan persaksian untuk mereka. Allah <em>ta’ala</em> berfirman  yang artinya,<em> “Dan orang-orang yang diberikan ilmu bisa melihat bahwa  wahyu yang diturunkan dari Rabbmu itulah yang benar.” </em>(QS. Saba’ [34]:  6)<em>.”</em> (<em>Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu</em>, hal. 24)</p>
<p><strong>Kelima:  Segala Sifat Terpuji Bersumber dari Ilmu</strong></p>
<p>Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya seluruh sifat yang menyebabkan hamba dipuji oleh Allah di dalam al-Qur’an maka itu semua merupakan buah dan hasil dari ilmu. Dan seluruh celaan yang disebutkan oleh-Nya maka itu semua bersumber dari kebodohan dan akibat darinya…” (<em>Al ‘Ilmu,  fadhluhu wa syarafuhu</em>, hal. 128). Beliau juga menegaskan, “Dan tidaklah diragukan bahwasanya kebodohan adalah pokok seluruh kerusakan. Dan semua bahaya yang menimpa manusia di dunia dan di akhirat maka itu adalah akibat dari kebodohan…” (<em>Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu</em>, hal.  101)     <strong> </strong></p>
<p><strong>KebahagiaanIlmu</strong><strong> </strong>Ibnul Qayyim mengatakan, “Adapun kebahagiaan ilmu, maka hal itu tidak dapat kamu rasakan kecuali dengan cara mengerahkan segenap kemampuan, keseriusan dalam belajar, dan niat yang benar. Sungguh indah ucapan seorang penyair yang mengungkapkan hal itu,</p>
<p><em>Katakanlah kepada orang yang mendambakan </em><br />
<em>Perkara-perkara yang tinggi lagi mulia</em><br />
<em>Tanpa mengerahkan kesungguhan</em><br />
<em>Berarti kamu berharap sesuatu yang mustahil ada </em></p>
<p>Penyair yang lain mengatakan,</p>
<p><em>Kalau bukan karena faktor kesulitan</em><em><br />
Tentunya semua orang bisa menjadi pimpinan</em><em><br />
Sifat dermawan membawa risiko kemiskinan</em><em><br />
Sebagaimana sifat berani membawa risiko kematian</em><br />
(<em>Al ‘Ilmu,  fadhluhu wa syarafuhu</em>, hal. 111)</p>
<p>Beliau juga mengatakan, “Berbagai kemuliaan berkaitan erat dengan hal-hal yang tidak disenangi (oleh hawa nafsu, pen). Sedangkan kebahagiaan tidak akan bisa dilalui kecuali dengan meniti jembatan kesulitan. Dan tidak akan terputus jauhnya jarak perjalanan kecuali dengan menaiki bahtera keseriusan dan kesungguh-sungguhan. Muslim mengatakan di dalam Sahihnya, Yahya bin Abi Katsir berkata: ‘Ilmu tidak akan diraih dengan tubuh yang banyak bersantai-santai.’ Dahulu ada yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang menginginkan hidup santai (di masa depan, pen) maka dia akan meninggalkan banyak bersantai-santai’.” (<em>Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu</em>, hal.  112)        <strong> </strong></p>
<p>Inilah sekelumit pelajaran dan motivasi bagi para penuntut ilmu. Semoga yang sedikit ini bisa menyalakan semangat mereka dalam berjuang membela agama-Nya dari serangan musuh-musuh-Nya. Sesungguhnya pada masa yang penuh dengan fitnah semacam ini kehadiran para penuntut ilmu yang sejati sangat dinanti-nanti. Para penuntut ilmu yang berhias diri dengan adab-adab islami, yang tidak tergoda oleh gemerlapnya dunia dengan segala kepalsuan dan kesenangannya yang fana. Para penuntut ilmu yang bisa merasakan nikmatnya berinteraksi dengan al-Qur’an sebagaimana seorang yang lapar menyantap makanan. Para penuntut ilmu yang senantiasa berusaha meraih keutamaan di waktu-waktunya. Para penuntut ilmu yang bersegera dalam kebaikan dan mengiringi amalnya dengan rasa harap dan cemas. Para penuntut ilmu yang mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaannya kepada segala sesuatu. Bergegaslah, sambut hari esokmu dengan ilmu! Janganlah kau larut dalam arus kebanyakan orang yang tidak berilmu.</p>
<p>Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat bagi penulis dan pembacanya di hari yang tidak berguna lagi harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. <em>Wa shallallahu ‘ala  nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam walhamdulillahi Rabbil  ‘alamin. </em></p>
<p align="right">Wisma As  Sunnah, Sabtu 11 Jumadil Ula 1429</p>
<p style="text-align:left;"><!--more--><a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/adab-adab-muslim" target="_self">Adab-Adab Muslim. </a><a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/amar-maruf-nahi-mungkar" target="_self">Amar Ma&#8217;ruf Nahi Mungkar. </a><a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/isbal" target="_self">Isbal. cinta. </a><a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/lailatul-qadar" target="_self">Lailatul Qadar •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/manajemen-qalbu" target="_self">Manajemen Qalbu •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/manhaj" target="_self">Manhaj •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/maulid-nabi" target="_self">Maulid Nabi •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/mug" target="_self">Mug •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/muhammad-bin-abdul-wahab" target="_self">Muhammad bin Abdul Wahab •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/muslimah" target="_self">Muslimah •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/nasrani" target="_self">Nasrani •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/palestina" target="_self">Palestina •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/pemilu" target="_self">Pemilu •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/poligami" target="_self">Poligami •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/pondok-pesantren" target="_self">Pondok Pesantren •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/privat-bahasa-arab" target="_self">Privat Bahasa Arab •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/puasa" target="_self">Puasa •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/ramadhan" target="_self">Ramadhan •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/riba" target="_self">Riba •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/rumah-tangga-islam" target="_self">Rumah Tangga Islam •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/sahabat-nabi" target="_self">Sahabat Nabi •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/salaf" target="_self">Salaf •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/salafi" target="_self">Salafi •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/salafy" target="_self">Salafy •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/sekolah-tinggi-islam" target="_self">Sekolah Tinggi Islam •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/shalat" target="_self">Shalat •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/shalawat-nariyah" target="_self">Shalawat Nariyah •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/software" target="_self">Software •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/sufi" target="_self">Sufi •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/sunnah-fitrah" target="_self">Sunnah Fitrah •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/sururiyyah" target="_self">Sururiyyah •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/syafaat" target="_self">Syafaat •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/syaikh-ibnu-utsaimin" target="_self">Syaikh Ibnu Utsaimin •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/syirik" target="_self">Syirik •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/syura" target="_self">Syura •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/tafsir-al-quran" target="_self">Tafsir Al-Quran •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/takdir-allah" target="_self">Takdir Allah •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/tasawuf" target="_self">Tasawuf •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/tauhid" target="_self">Tauhid •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/tawakal" target="_self">Tawakal •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/tayammum" target="_self">Tayammum •</a> <a style="font-size:12px;" href="http://muslim.or.id/tag/valentines-day" target="_self">Valentine&#8217;s Day. sadarlah. cinta buta hati buta. kendaraanku.<br />
</a></p>
<p style="text-align:left;">Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar<br />
Artikel <a title="Kebanyakan manusia tidak berilmu" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/kebanyakan-manusia-tidak-berilmu.html">www.muslim.or.id</a></p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fatwa Ulama Besar Seputar Maulid]]></title>
<link>http://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-fatwa-ulama-besar-seputar-maulid/</link>
<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 04:12:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Ahmad As-Salafy</dc:creator>
<guid>http://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-fatwa-ulama-besar-seputar-maulid/</guid>
<description><![CDATA[Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk cinta kepada]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk cinta kepada Rasulullah <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em>. Bahkan tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em>, melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anak-anaknya, bahkan seluruh manusia. Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam- </em>bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;">لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anak-anaknya, dan seluruh manusia.&#8221; </em>[HR. Bukhariy (15), dan Muslim (44)]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu</strong> -<em>hafizhahullah</em>- berkata, <em>&#8220;Hadits ini memberikan faedah kepada kita bahwasanya keimanan tidak akan sempurna hingga seseorang mencintai Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.&#8221; </em>[Lihat <strong><em>Minhajul Firqatun Najiyah</em></strong> (hal. 111)]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Setelah kita mengetahui hal ini, lalu <strong>bagaimana cara mencintai Nabi</strong><em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em>? Cinta kepada Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em> adalah <strong>dengan mengikuti syari’at beliau.</strong> Tidaklah dibenarkan bagi seseorang untuk mengada-adakan suatu perkara baru dalam syariat beliau, dengan anggapan hal tersebut bisa mendekatkan diri kepada Allah atau suatu bentuk kecintaan kepada Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em> , atau itu adalah <em>bid’ah hasanah</em>. Padahal semua bid’ah dalam agama adalah sesat dan buruk !!</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Di edisi kali ini, kami akan bawakan fatwa ulama besar berkenaan dengan perkara yang dianggap oleh sebagian orang merupakan bentuk kecintaan kepada Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em>, padahal perkara tersebut tidak ada dasarnya sama sekali dalam syari’at yang mulia ini dan bukan pula bentuk kecintaan kepada Nabi -<em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>-, yakni <strong>perayaan maulid Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em> .</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong><strong><br />
</strong><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz</strong> (mantan mufti di sebuah negeri Timur Tengah), ditanya tentang hukum perayaan maulid Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em> .</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syaikh bin Baaz</strong><em>-rahimahullah-</em> menjawab, <em>&#8220;Tidaklah dibenarkan seorang merayakan hari lahir (maulid) Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan hari kelahiran lainnya, karena hal tersebut termasuk bid’ah yang baru diada-adakan dalam agama. Padahal sesungguhnya Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , para Khalifah Ar-Rasyidin dan selainnya dari kalangan sahabat tidak pernah melakukan perayaan tersebut dan tidak pula para tabi’in yang mengikuti mereka dalam kebaikan di zaman yang utama lagi terbaik. Mereka adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah, paling sempurna cintanya kepada Nabi dan ittiba’-nya (keteladanannya) terhadap syariat beliau dibandingkan orang-orang setelah mereka. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah shahih (sebuah hadits) dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;">مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak&#8221;. </em>[HR. Al-Bukhariy dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (2697) dan Muslim(1718)]</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Beliau juga bersabda, &#8220;Wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah ar rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Peganglah ia kuat-kuat dan gigit dengan gigi geraham. Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena semua perkara baru itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.&#8221; </em>[Abu Dawud (4617), At-Tirmidziy (2676), dan Ibnu Majah (42). Di-<em>shohih</em>-kan Al-Albaniy dalam <strong><em>Shahih Al-Jami’</em></strong> (2546)]</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Jadi, dalam dua hadits yang mulia ini terdapat peringatan yang keras dari berbuat bid’ah dan mengamalkannya. Allah -Ta’ala- berfirman, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya</em> .&#8221; (QS. <strong>Al-Hasyr</strong> :7).</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah -Ta’ala- berfirman, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.&#8221; </em>(QS.<strong>An-Nur</strong> :63).</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah -Ta’ala- berfirman, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.&#8221; </em>(QS.<strong>Al-Ahzab</strong> :21).</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah -Ta’ala- berfirman, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Pada hari Ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.&#8221; </em>(QS.<strong>Al-Maidah</strong> :3).</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
Membuat perkara baru -semacam maulid- ini akan memberikan sangkaan bahwa Allah -Ta’ala- belum menyempurnakan agama untuk umat ini, dan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- belum menyampaikan kepada umatnya apa yang pantas untuk mereka amalkan, sehingga datanglah orang-orang belakangan ini membuat-buat perkara baru dalam syariat Allah apa yang tidak diridhoi Allah, dengan sangkaan hal tersebut bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah. Padahal perkara ini –tanpa ada keraguan- adalah bahaya yang sangat besar, termasuk penentangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Padahal sungguh Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya; Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka dan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sungguh telah menyampaikan syariat ini dengan terang dan jelas. Beliau tidaklah meninggalkan suatu jalan yang bisa mengantarkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali beliau telah sampaikan kepada umatnya, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari sahabat Abdullah bin Amer -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,</p>
<p></em><strong><span style="font-size:medium;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;">إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِيْ إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ, وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, kecuali wajib atasnya untuk menunjukkan kebaikan atas umatnya apa yang ia telah ketahui bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang ia ketahui bagi mereka.&#8221; </em>[HR.Muslim dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (1844)]</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Suatu hal yang dimaklumi bersama, Nabi kita -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah Nabi yang paling utama, penutup para nabi dan yang paling sempurna penyampaiannya dan nasihatnya. Andaikata perayaan maulid ini termasuk agama yang diridhoi Allah, niscaya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- akan jelaskan kepada umatnya atau pernah melaksanakannya atau setidaknya para sahabat pernah melakukannya. Akan tetapi, tatkala hal tersebut tidak pernah sama sekali mereka lakukan, maka diketahuilah hal tersebut bukanlah dari Islam sedikit pun juga, bahkan dia termasuk dari perkara-perkara baru yang telah diperingatkan bahayanya oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebagaimana dalam dua hadits yang tersebut di atas. Hadits-hadits lain yang semakna dengannya telah datang (dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-), seperti sabda beliau dalam khutbah jum’at: </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;">أََمَّا بَعْدُ, فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-sebaik petunjuk adalah petunjuk Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, sejelek-jeleknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat.&#8221; </em>[HR.Muslim <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (867)]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Demikian fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baaz <em>-rahimahullah-</em>, Anda bisa lihat dalam kitab <strong><em>Majmu’ Fatawa As-Syaikhbin Baz</em></strong> (1/183), dan <strong><em>Al-Bida’ wal Muhdatsat</em></strong> (hal 619-621).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syaikh Abdul Aziz bin Baaz</strong> juga ditanya, <em>&#8220;Apa hukum menyampaikan nasihat atau ceramah pada hari maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-? </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syaikh bin Baaz</strong> menjawab,<em> &#8220;Amar ma’ruf nahi mungkar, memberikan bimbingan dan arahan kepada manusia, menjelaskan kepada mereka tentang agama mereka, dan memberikan nasihat kepada mereka dengan sesuatu yang bisa melembutkan hati mereka adalah perkara yang disyariatkan pada setiap waktu, karena adanya perintah untuk perkara tersebut datang secara mutlak, tanpa ada pengkhususan waktu tertentu. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah -Ta’ala-berfirman, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.&#8221; </em>(QS.<strong>Al-Maidah</strong> : 104).</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah -Ta’ala- berfirman, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.&#8221; </em>(QS.<strong>An-Nahl</strong> :125).</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah juga menjelaskan keadaan orang-orang munafik dan sikap para da’i (penyeru) di antara mereka, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Apabila dikatakan kepada mereka: &#8220;Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul&#8221;, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri. Kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: &#8220;Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna&#8221;. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka dengan perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.&#8221; </em>(QS. <strong>An-Nisa’</strong>: 61-63);<em> dan ayat-ayat lain. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
Jadi, Allah memerintahkan untuk berdakwah dan memberikan nasihat secara mutlak, tidak mengkhususkannya pada waktu tertentu. Sekalipun nasihat dan bimbingan ini semakin dianjurkan ketika ada tuntutan kepadanya, seperti khutbah Jum’at dan hari Ied, karena warid (datang)-nya hal tersebut dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .Demikian pula ketika melihat suatu kemungkaran, ini berdasarkan sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-,</p>
<p></em><strong><span style="font-size:medium;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;">مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ, فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ, وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ, وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.&#8221; </em>[HR.Muslim (49)]</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
Adapun pada hari maulid, maka di dalamnya tidak boleh ada suatu pengkhususan dengan suatu ibadah tertentu yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya, adanya nasihat, bimbingan, pembacaan kisah maulid, karena Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidak pernah mengkhususkan hal tersebut dengan perkara-perkara tersebut. Andaikan hal tersebut baik, niscaya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang paling pantas untuk (melakukan) hal tersebut. Akan tetapi nyatanya beliau tidak pernah melakukannya. Menunjukkan bahwa adanya pengkhususan-pengkhususan tersebut dengan ceramah, pembacaan kisah maulid atau selainnya termasuk perkara-perkara bid’ah. Telah shahih dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda,</p>
<p></em><strong><span style="font-size:medium;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;">مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak&#8221;. </em>[HR. Al-Bukhariy dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (2697) dan Muslim(1718)]</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Demikian pula halnya para sahabat, mereka tidak pernah melakukan hal tersebut, padahal mereka adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah dan paling bersemangat untuk mengamalkannya&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah</em></strong> (5591), dan <strong><em>Al-Bida’ wa Al-Muhdatsat wa ma laa Ashla lahu</em></strong> (628-630)]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jadi, maulid bukanlah sarana syar’i dalam beribadah dan mencintai Nabi -<em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>-. Tapi ia adalah ajaran baru yang disusupkan oleh para pelaku bid’ah dan kebatilan . Bid’ah perayaan hari lahir (ulang tahun) secara umum serta <strong>perayaan hari lahir Nabi</strong><em>-Shallallahu ‘alaihi wasallam-</em> (maulid) secara khusus, tidak muncul, kecuali pada zaman <strong>Al-Ubaidiyyun</strong> pada <strong>tahun 362 H</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ulama’ bermadzhab Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy</strong><em> -rahimahullah- </em>dalam <strong><em>Al-Bidayah wa An-Nihayah</em></strong> (11/127) berkata, <em>&#8220;Sesungguhnya pemerintahan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun yang bernisbah kepada Ubaidillah bin Maimun Al-Qoddah, seorang <strong>Yahudi</strong> yang memerintah di Mesir dari tahun 357 – 567 H, mereka memunculkan banyak hari-hari raya. Di antaranya perayaan maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-&#8221;.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sumber : </strong><em>Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 79 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;"></p>
<p>http://almakassari.com/?p=321</p>
<p></span></p>
<div style="text-align:justify;"><a title="printer-friendly page" href="http://darussalaf.or.id/myprint.php?id=1407" target="_blank"><img src="http://darussalaf.or.id/images/print.gif" alt="" /></a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kecerobohan Dan Atau Fitnah (?)]]></title>
<link>http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/07/02/kecerobohan-dan-atau-fitnah/</link>
<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 09:49:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ahmad Haes</dc:creator>
<guid>http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/07/02/kecerobohan-dan-atau-fitnah/</guid>
<description><![CDATA[Irena Handono. Seorang Ibu dua anak (dan sedang hamil anak ketiga) mengirim email yang isinya memint]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_1207" class="wp-caption alignleft" style="width: 238px"><a rel="attachment wp-att-1207" href="http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/07/02/kecerobohan-dan-atau-fitnah/irena-2/"><img class="size-full wp-image-1207" src="http://ahmadhaes.wordpress.com/files/2009/07/irena1.jpg" alt="Irena Handono." width="228" height="273" /></a><p class="wp-caption-text">Irena Handono.</p></div>
<p>Seorang Ibu dua anak (dan sedang hamil anak ketiga) mengirim email yang isinya meminta saya membuka situs <strong>eramuslim</strong> untuk membaca kasus yang belakangan (sekitar5 bulan) menimpa <strong>Hj. Irena Handono</strong>, seorang muslimah mantan biarawati yang sibuk berda&#8217;wah dan mendirikan <strong>Irena Center </strong>di Bekasi.</p>
<p>Kasusnya, dalam versi website <strong>Sabili </strong>adalah sebagai berikut.</p>
<h2><a href="http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&#38;view=article&#38;id=236:irena-handono-saya-siap-mubahallah&#38;catid=82:inkit&#38;Itemid=199">Irena Handono : Saya Siap Mubahallah </a></h2>
<p>Rabu, 01 Juli 2009 10:27</p>
<p>(Sehubungan) <span style="color:#0000ff;">Maraknya pemberitaan yang mengatakan bahwa Irena Handono -mantan biarawati yang kini aktif dalam pembinaan mualaf- terlihat keluar dari gereja di Singapura, berpakaian lengkap bak biarawati, maka digelarlah konferensi pers untuk mengklarifikasi tuduhan tersebut. Acara yang diprakarsai oleh Kafala Komunika ini berlangsung Rabu (1/7) di Maroush Restaurant, Hotel Crown Semanggi Jakarta.<!--more--></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><a rel="attachment wp-att-1180" href="http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/07/02/kecerobohan-dan-atau-fitnah/irena-handono-2/"><img class="alignright size-full wp-image-1180" src="http://ahmadhaes.wordpress.com/files/2009/07/irena-handono1.jpg" alt="" width="222" height="167" /></a>Acara ini dihadiri oleh sejumlah ulama dan perwakilan organisasi dakwah seperti Ketua MUI KH.Cholil Ridwan, Ketua Garda Umat Islam KH. Sulaiman Zachawerus, Tokoh Daarut Tauhid Hj. Ningrum Maurice, Pimpinan Komunitas Cinta Illahi Ust. Kemal Faisal Ferik, Indonesian Comercial Jockey M. Dive Novio, dan ketua Tim Advokasi Irena Handono M. Ichsan, SH serta sejumlah ulama lainnya.</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">Acara bertajuk “Mengenal Mubahallah sebagai Perangkat Sumpah Tertinggi Dalam Islam, sebuah studi kasus atas fitnah ustadzah Hj. Irena Handono” ini digelar sebagai bentuk upaya penolakan Irena Handono atas fitnah yang menimpa dirinya,</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">“Selama ini, saya diam saja selama 150 hari”, ujarnya.</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">Ia juga mengatakan siap bermubahallah kepada pihak-pihak yang memfitnah dirinya. “Ishlah hanya untuk orang-orang mukmin, jika kepada orang fasik kita dituntut untuk bermubahallah, itu kata Allah”, lanjutnya.</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">Atas saran dari beberapa ulama, ia juga mengajukan tuntutan ke pengadilan atas tuduhan pencemaran nama baik.</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">Mubahallah tersebut direncanakan akan digelar di Sekretariat Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) di Bandung pada Sabtu, 4 Juli 2009.</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">Irena Handono merupakan muslimah mantan biarawati yang kini aktif membina para muallaf melalui yayasannya Irena Center. Ia juga aktif menulis buku-buku mengenai upaya kristenisasi dan fitnah-fitnah yang menimpa Islam.</span></p>
<p><span style="color:#0000ff;">Irena dituduh oleh Diki Chandra, sekretaris jenderal forum ARIMATEA sebagai ‘penyusup’. Tuduhan ini bermula dari pernyataan Imam Safari yang mengaku melihat Irena Handono keluar dari salah satu gereja di Singapura. Tanpa mengklarifikasi masalah ini kepada Irena Handono, Diki Chandra lalu mempublikasikan berita tersebut melalui weblog atas nama Forum ARIMATEA. (Fiqi Listya)</span></p>
<p><strong><span style="color:#000000;">Saya, terus terang, tidak mempercayai &#8216;laporan&#8217; </span>ARIMATEA itu, terutama berdasar pengamatan atas sepak terjang dan pemikiran Irena sendiri, yang mengajak umat Islam memperbaiki pemahaman terhadap agama sendiri, dan tentu  tampak mustahil menjadi pendukung kebenaran &#8216;laporan&#8217; tersebut.</strong></p>
<p><strong>Bagaimana gerangan pemikiran Irena itu? </strong></p>
<p><strong>Salah satunya tercermin dalam tulisan di bawah ini.</strong></p>
<h2><span style="color:#008000;"></p>
<div id="attachment_1178" class="wp-caption alignleft" style="width: 206px"><a rel="attachment wp-att-1178" href="http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/07/02/kecerobohan-dan-atau-fitnah/irena-handono-buku/"><img class="size-full wp-image-1178" src="http://ahmadhaes.wordpress.com/files/2009/07/irena-handono-buku.jpg" alt="Salah satu buku Irena Handono" width="196" height="283" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu buku Irena Handono</p></div>
<p>Irena Handono: Korupsi-Pornografi Marak, Apakah Bukti Cinta Pada Rasul?</p>
<p></span></h2>
<p><span style="color:#008000;">Jumat, 21/03/2008 13:23 WIB</span></p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>eramuslim</strong>- Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bukti kecintaan terhadap Rasulullah seperti tradisi yang dilakukan masyarakat Indonesia, patut dipertanyakan, sebab negara yang berpenduduk mayoritas muslim ini dicatat dunia masuk peringkat kedua terkenal dengan pornografi. Dan dalam kejahatan korupsi masuk urutan peringkat tertinggi kelima didunia, dan kedua di Asia Tenggara.</span></p>
<p><span style="color:#008000;">&#8220;Mayoritas penduduk Indonesia muslim, tapi kenapa Indonesia selalu mempunyai rapot merah, itu menjadi pernyataan bagi kita, &#8220;ujar Penasehat Muslimah Peduli Umat (MPU) Hj. Irena Handono dalam tausyiah Peringatan Maulid Nabi Muhammad, di Masjid Abdullah, Jakarta Timur, Kamis(20/3).</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Ia mengatakan, kenapa Indonesia selalu masuk peringatan tertinggi untuk hal-hal yang negatif itu, disebabkan dua faktor yaitu secara internal, rata-rata umat Islam Indonesia, tetapi agama Islamnya keturunan atau yang biasa disebut Islam KTP.</span></p>
<p><span style="color:#008000;">&#8220;Karena merasa agama itu sebagai warisan tujuh turunan, jadi terbiasa malas mempelajari Islam, sehingga mereka tidak kenal dengan Islam, bahkan Rasulnya, &#8221; katanya.</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Sedangkan, faktor secara eksternal penyebab rapor merah selalu disandang oleh Indonesia, sebagai akibat skenario global untuk melemahkan Islam di tanah air melalui jalur budaya, pola perilaku yang sengaja melemahkan iman dan akidah umat Islam.</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Irena menegaskan, faktor eksternal itu harus terus diwaspadai oleh umat Islam, untuk merubahsupaya tidak terus menerus menjadi peringkat tertinggi untuk hal yang buruk. Sebagaimanasudah diingat oleh Allah SWTdalam firmannnya dalam surat Al-Baqarah: 120,<br />
di mana kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridho, sebelum umat Islam mengikuti mereka.</span></p>
<p><span style="color:#008000;">&#8220;Yahudi dan Nasrani tidak akan berhenti berjuangan untuk memurtadkan umat Islam dengan &#8216;milahnya&#8217;, yaitu melalui agama, budaya, dan pola pikir, ini yang dipakai untuk memurtadkan umat Islam, &#8221; tegasnya.</span></p>
<div id="attachment_1179" class="wp-caption alignright" style="width: 227px"><a rel="attachment wp-att-1179" href="http://ahmadhaes.wordpress.com/2009/07/02/kecerobohan-dan-atau-fitnah/irena-buku/"><img class="size-full wp-image-1179" src="http://ahmadhaes.wordpress.com/files/2009/07/irena-buku.jpg" alt="Buku lain Irena Handono" width="217" height="345" /></a><p class="wp-caption-text">Buku lain Irena Handono</p></div>
<p><span style="color:#008000;">Ia mengatakan, upaya perusakan akidah Islam saat ini sudah sangat nyata dilakukan, misalnya pada saat bencana alam umat Islam ditawarkan bantuan gratis yang dapat ditukar dengan iman dan akidah. Dan yang paling berbahaya budaya melalui tayangan televisi yang menonjolkan, kekerasan, syirik, dan pornografi. Serta budaya perayaan Valentine, yang akhir-akhir ini marak &#8216;dipuja&#8217; generasi muda Indonesia.</span></p>
<p><span style="color:#008000;">&#8220;Negeri ini akan hancur, kalau pemudanya rusak, memang yang menjadi sasaran mereka adalah generasi muda dan ibu mereka. Budaya asli mereka rusak dengan maksiat berkemas kasih sayang, &#8221; imbuh Anggota Forum Komunikasi Lembaga Pembina Muallaf (FKLPM) ini.</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Dalam kesempatan itu, Irena mengingatkan, umat Islam untuk bangkit dan tidak terlena dengan pengkikisan keimana dan akidah yang dapat menyebabkan kehancuran pada generasi di masa datang.</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Ia mengajak, untuk kembali memperlajari ajaran Islam secara benar, merapat barisan, dan bersatu untuk menghindari tipu daya yang akan memecah belah umat. (novel)</span></p>
<p><span style="color:#008000;"><strong><span style="color:#000000;">Setelah membaca majalah Sabili No. 25 TH. xvi 2 juli 2009/9 Rajab 1430 (yang sudah beredar jauh hari sebelumnya), saya menyimpulkan bahwa kasus Irena vs Dicky Chandra sudah selesai. </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#008000;"><strong><span style="color:#000000;">Tapi rupanya belum; karena berita di atas dan di bawah ini ternyata masih muncul.</span></strong> </span></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h2><span style="color:#000080;">Irena Handono Mengajak Diki Candra Mubahalah</span></h2>
<p><span style="color:#000080;">Rabu, 01/07/2009 15:20 WIB</span></p>
<p><span style="color:#000080;"><strong> </strong>Konflik antara Diki Candra dari lembaga Arimatea dengan Irena Handono sepertinya tak lagi bisa dibendung. Setelah kemarin kubu Diki melangsungkan konfrensi pers, hari ini (Rabu 1/7) kubu Irena yang mengundang wartawan untuk menyampaikan klarifikasi sekaligus penegasan soal langkah Irena untuk mengajak kubu Diki melakukan mubahalah.</span></p>
<p><span style="color:#000080;">Mubahalah, menurut KH Khalil Ridwan yang turut hadir di acara ini, merupakan salah satu sunnah Rasulullah saw. ketika dua pihak yang berseteru ingin menentukan siapa yang benar. Dan masing-masing pihak menyertakan keluarga mereka untuk siap mendapat murka Allah berupa adzabNya jika ternyata berada di pihak yang salah. “Ini pernah dilakukan Rasulullah terhadap dua orang nashara dari Najran yang merasa bahwa Rasul salah dalam soal agama. Ternyata, dua orang Najran itu mengundurkan diri karena takut,” jelas Ustadz Khalil yang juga salah seorang ketua Majelis Ulama Indonesia.</span></p>
<p><span style="color:#000080;">Dari pihak Diki, seperti yang tergambar dalam rekaman video yang diputar di acara Irena ini, ajakan mubahalah ini siap untuk ia ikuti.</span></p>
<p><span style="color:#000080;">Sedianya, mubahalah akan dilangsungkan pada tanggal 4 Juli mendatang di salah satu masjid di Bandung. Siap sebagai pengarah acara mubahalah ini adalah Ustadz Athian Ali yang sudah dikonfirmasi oleh pihak Irena Handono.</span></p>
<p><span style="color:#000080;">Kronologi konflik antara Diki Candra dengan Irena Handono yang keduanya sama-sama bergerak dalam lembaga kristologi dengan istitusi yang berbeda bermula dari surat pernyataan seseorang yang bernama Imam Safari. Pada tanggal 13 September 2008, Imam menandatangani sebuah surat pernyataan yang menyatakan bahwa ia melihat Irena Handono keluar dari sebuah gereja di Singapura dan mengenakan busana layaknya seorang biarawati. Dan surat pernyataan ini pun dipublikasi di website Arimatea.</span></p>
<p><span style="color:#000080;">Sejak itu, berbagai pihak termasuk salah seorang pengurus Majelis Ulama Indonesia melakukan konfirmasi kepada Irena. Apa benar Irena murtad? Bahkan, tuduhan tidak sekedar itu, malah berkembang menjadi intrik-intrik. Bahwa, Irena dituduh sebagai penyusup dan mempunyai sebuah misi untuk sengaja dimasukkan ke dalam kelompok Islam oleh pihak-pihak tertentu.</span></p>
<p><span style="color:#000080;">Akibat isu ini, beberapa mualaf yang memang sangat gandrung dengan ceramah-ceramah Irena Handono mulai mengalami goncangan. Bahkan, dua orang remaja yang baru masuk Islam, karena menemukan isu ini, dilaporkan kembali ke agama lama mereka alias murtad. “Akibat isu ini, saya dapat kabar bahwa dua remaja kembali ke agama lama mereka,” ujar Irena dengan nada miris.</span></p>
<p><span style="color:#000080;">Setelah seratus lima puluh hari pihak Irena diam terhadap tuduhan dan isu ini, akhirnya pada Mei lalu, tim pengacara Irena mengadukan Diki Candra selaku Sekjen Lembaga Arimatea dan seseorang yang bernama Imam Safari ke pihak polisi atas tuduhan pencemaran nama baik.</span></p>
<p><span style="color:#000080;">Sebelumnya, beberapa pihak dari lembaga dakwah Islam juga melakukan tabayun dan ishlah terhadap kedua belah pihak. Sayangnya, upaya ini mengalami jalan buntu. Atas nasihat dari beberapa ustadz, di antaranya KH Khalil Ridwan dan Athian Ali, akhirnya jalan mubahalah ini diambil.</span></p>
<p><span style="color:#000080;">Beberapa tokoh hadir di acara konferensi pers oleh pihak Irena Handono untuk memberikan kesaksian tentang pribadi Irena yang tidak mungkin seperti yang dituduhkan oleh isu tersebut. Di antara mereka Ningrum Maurice dari Daarut Tauhid, Nurdiyati Akma dari Muslimah Peduli Umat, Ratna Zuhry dari Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam, Kemal Faisal Ferik dari Komunitas Cinta Ilahi, dan KH Sulaiman Zachawerus dari Garda Umat Islam.</span></p>
<p><span style="color:#000080;"><strong><span style="color:#000000;">Sang ibu, pengirim emali tersebut, mungkin ingin saya menanggapi kasus ini, khususnya yang berkenaan dengan <em>mubahalah</em>. IsyaAllah, nanti saya akan menulisnya sedikit.</span></strong><br />
</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengistimewakan hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad Saw.]]></title>
<link>http://majlisdzikiralattas.wordpress.com/2009/05/26/mengistimewakan-hari-kelahiran-maulid-nabi-muhammad-saw/</link>
<pubDate>Tue, 26 May 2009 03:56:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>Majelis Ratib Al- Attas</dc:creator>
<guid>http://majlisdzikiralattas.wordpress.com/2009/05/26/mengistimewakan-hari-kelahiran-maulid-nabi-muhammad-saw/</guid>
<description><![CDATA[Al kisah dijaman Khalifah Harun ar Rasyid ada seorang pemuda yang mempunyai kelakuan buruk di kota B]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><a title="Permanent Link to Mengistimewakan hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad Saw." rel="bookmark" href="http://syafii.blogdetik.com/2009/05/23/mengistimewakan-hari-kelahiran-maulid-nabi-muhammad-saw/"><br />
</a></h2>
<div>
<p align="justify">Al kisah dijaman Khalifah Harun ar Rasyid ada seorang pemuda yang mempunyai kelakuan buruk di kota Bashrah, penduduk kota memandang rendah padanya, karena perilakunya itu. Hanya saja, pemuda ini mempunyai kebiasaan unik; setiap bulan Rabi’ul Awal tiba (bulan Maulid), dia menyambutnya dengan suka cita, membersihkan badan, memakai pakaian yang rapi, mengadakan walimah, dan membaca kisah maulid Nabi Saw. dalam acara itu.</p>
<p align="justify"><!--more--></p>
<p align="justify">Kebiasaan itu berlansung dalam waktu yang lama. Pada saat pemuda itu wafat penduduk kota mendengar suara dari angkasa; ‘wahai penduduk kota Bashrah datanglah, dan layatlah wali Allah Swt. Sebab dia memiliki kududukan terhormat disisi-Ku. Kemudian penduduk kota melayat, dan menghadiri pemakaman pemuda itu. Pada saat penduduk Bashrah tidur, mereka bermimpi melihat pemuda itu berjalan dengan gagahnya diatas hamparan kain sutra.Â  Pemuda itu ditanya, dengan apa engkau mendapat keutamaan ini? Dia menjawab dengan mengagungkan dan mengistimewakan hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad Saw.</p>
<p><em>Sumber <a href="http://www.habiblutfiyahya.net/Kolom-Hikmah/Mengistimewakan-hari-kelahiran-maulid-Nabi-Muhammad-Saw.html">Website Habib Lutfi Bin Yahya</a></em></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hukum Memperingati Perayaan Isra` Mi’raj]]></title>
<link>http://assalafi.wordpress.com/2009/05/10/hukum-memperingati-perayaan-isra-mi%e2%80%99raj/</link>
<pubDate>Sun, 10 May 2009 13:31:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kajian Islam Assunnah</dc:creator>
<guid>http://assalafi.wordpress.com/2009/05/10/hukum-memperingati-perayaan-isra-mi%e2%80%99raj/</guid>
<description><![CDATA[[ Edit Del ] إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ م]]></description>
<content:encoded><![CDATA[[ Edit Del ] إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ م]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hikmah Maulid Nabi Muhammad ]]></title>
<link>http://yahyaali.wordpress.com/2009/05/08/hikmah-maulid-nabi-muhammad/</link>
<pubDate>Fri, 08 May 2009 06:50:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>yahyaali</dc:creator>
<guid>http://yahyaali.wordpress.com/2009/05/08/hikmah-maulid-nabi-muhammad/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Auki Akbar, Ali Yahya, Anom Yusuf, Rizki Tian Bahari dan Rahmatan Zuhri PS SMPN-I Kota Bengkul]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center">Oleh:</p>
<p align="center">Auki Akbar, Ali Yahya, Anom Yusuf, Rizki Tian Bahari dan Rahmatan Zuhri PS</p>
<p align="center">SMPN-I Kota Bengkulu</p>
<p> <strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>            Maulid Nabi Muhammad, saw adalah sebuah upacara atau peringatan untuk mengenang lahirnya Nabi Muhammad, saw. Nabi Muhammad merupakan penyebar agama islam. Dalam hidupnya, dia memiliki perilaku yang baik, sehingga disebut sebagai uswatun hasanah (contoh teladan yang baik).</p>
<p>            Ide maulid nabi terjadi pada saat Salahudin (berasal dari suku Ayyub) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji. Ia menghimbau agar jemaah haji setelah kembali ke kampungnya masing-masing mensosialisasikan perayaaan Maulid Nabi. Salahuddin menyatakan bahwa mulai tahun 580 H (1184 M), setiap 12 Rabiul-awal, dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dan diisi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat juang umat Islam. Salahuddin ditentang oleh para ulama, sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama hanya ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid’ah yang terlarang.<!--more--></p>
<p> </p>
<p><strong>Dampak Maulid Nabi Muhammad saw</strong></p>
<p>            Salahuddin Al Ayyubi dalam literatur sejarah Eropa dikenal dengan nama Saladin berasal dari dinasti Ayyub (setingkat gubernur). Ia memerintah dari tahun 1174-1193 M atau 570-790 H. Ia bukanlah orang Arab melainkan dari suku Kurdi. Pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir. Daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suirah dan Semenanjung Arabia. Pada masa itu, dunia Islam sedang mendapatkan serangan gelombang demi gelombang dari berbagai bangsa Eropa (Perancis, Jerman, Inggris). Inilah yang dikenal dengan Perang Salib atau the Crusade. Pada tahun 1099 laskar eropa merebut Yerusalem. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan (jihad) (sama seperti sekarang), dan persaudaraan (ukhuwah) (sama sepaerti sekarang), sebab secara politis terpecah belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan, meskipun khalifah tetap satu, yaitu Bani Abbas di bagdad, sebagai lambang persatuan spiritual.</p>
<p>            Guna menghidupkan jihad umat Islam untuk merebut kembali Yerusalem, Salahuddin meminta persetujuan dari Khalifah di Bagdad yakni An-Nashir agar umat Islam di seluruh dunia merayakan hari lahir Nabi Muhammad saw. Menurut salahuddin semangat juang umat islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada nabi mereka. Ternyata ide yang dilontarkan salahuddin ini disambut baik oleh khalifah. Maka, pada musim ibadah haji bulan dzulhijjah 579 H (1183 M), salahuddin sebagai penguasa baramain (dua tanah suci, Mekah dan madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jamaah haji. Ia menghimbau agar jemaah haji setelah kembali ke kampungnya masing-masing mensosialisasikan perayaan Maulid Nabi. Salahuddin menyatakan bahwa mulai tahun 580 H (1184 M), setiap tanggal 12 Rabiul-Awal, dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dan diisi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat juang umat Islam.</p>
<p>            Salahuddin ditentang oleh para ulama, sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama hanya ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid’ah yang terlarang.</p>
<p>            Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan salahuddin itu menimbulkan efek yang luar biasa. Semangat umat Islam untuk berjihad bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa. Dibawah kepemimpinannya, perang salib diakhiri dengan sedikit korban. Tak seperti tentara salib yang menduduki Jerusalem dan membunuh semua muslin yang tersisa, pasukan Salahuddin mengawal umat Kristen dan memastikan jiwa mereka selamat  saat keluar Jerusalem. Begitulah akhlak Islam dalam perang yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.</p>
<p> </p>
<p><strong>Maulid Kotekstual</strong></p>
<p>            Berangkat dari latar belakang histories maulid tersebut, jelas bahwa maulid itu sangat bergantung kepada konteks. Jika dahulu Salahuddin berhadapan dengan tentara salib, bagaimana dengan kondisi umat Islam sekarang? Untuk itu diperlukan kejelian dalam melihat permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam saat ini.  Diantara persoalan besar yang dihadapi adalah kemelaratan, kemiskinan dan kebodohan serta perpecahan di tubuh umat Islam yang terkadang berakhir dengan konflik berdarah. Keempat persoalan tersebut adalah masalah klasik yang belum terpecahkan sampai detik ini. Adapun amsalah kontemporer yang dihadapi oleh umat adalah terorisme, kekerasan atas nama agama, tatanan dunia yang tidak adil, korupsi, narkoba, judi, pornografi, nepotisme, dan hal-hal lain yang berbau takhayul. Isu-isu ini semstinya diangkat oleh mubaligh, ustaz, da’I ke permukaan dan dibicarakan dalam peringatan Maulid Nabi. Syukur-syukur kita mampu menemukan jalan keluarnya. Adalah lebih baik, jika dari sebuah peringatan maulid kita dapat melahirkan sebuah aksi nyata atau program yang kongkrit yang bisa langsung dirasakan masyarakat seperti pemberdayaan di bidang pendidikan dan ekonomi. Pemberdayaan di dua bidang ini mempunyai peran sentral dalam menangkis umat dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Kebodohan dan kemiskinan umat Islam ini mesti secepatnya dihilangkan karena dua hal ini merupakan satu faktir utama yang menjerambabkan umat Islam dalam aksi kekerasan atau terorisme, perbuatan meluluhlantakan citra Islam sebagai agama damai di tengah percaturan politik global. Jika maulid tidak lagi kontekstual, tidak mempunyai daya pecut menggugah semangat juang kita untuk melakukan langkah kongkret bagi kemjuan dan kemakmuran, hanya sebatas emosional saja, sangat dikhawatirkan umat islam akan terlempar pada romantisme sejarah. Perlahan namun pasti kita pun mengkultuskan Nabi Muhammad saw sebagai orang suci yang memiliki keistimewaan ketuhanan. Padahal, Al Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Muhammad saw itu adalah manusia biasa (QS Al-Kahfi 18:110). Penegasan Al Qur’an ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad itu adalah manusia biasa seperti manusia lainnya. Hanya saja bedanya Nabi Muhammad saw itu mendapat wahyu dari Allah sebagai utusan Allah kepada umat manusia. Rasulullah berhasil melepaskan diri dari jerat hawa nafsu dan tampil sebagai insane al-kamil, manusia yang senantiasa hidup dalam tuntunan nilai-nilai Ilahi.</p>
<p> </p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>            Maulid nabi Muhammad bukanlah bid’ah yang terlarang karena dengan adanya Maulid Nabi itu masyarakat dapat memperkuat imannya. Saat ini, banyak manusia yang telah melakukan perbuatan tercela. Perbuatan tercela ini berasal dari ketidaktaatan manusia kepada Alalh swt. Salah satu cara untuk mempertahankan akhlak yang baik pada umat Islam adalah merayakan hal-hal yang bernuansa Islami seperti Maulid Nabi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Barzanji,Kitab Induk Peringatan Maulid Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam]]></title>
<link>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/04/24/barzanjikitab-induk-peringatan-maulid-nabi-shallallahu%e2%80%99alaihi-wa-sallam/</link>
<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 12:16:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuyahya8211</dc:creator>
<guid>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/04/24/barzanjikitab-induk-peringatan-maulid-nabi-shallallahu%e2%80%99alaihi-wa-sallam/</guid>
<description><![CDATA[Fenomena perayaan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah menjadi ritual yang sudah melekat p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Fenomena perayaan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah menjadi ritual yang sudah melekat pada sebagian –atau mungkin bahkan sebagian besar- kaum muslimin khususnya di Indonesia. Polemik bagaimana hukum perayaan maulid yang semakin terkesan sebagai hari raya kaum muslimin tambahan selain dua ‘Ied ini telah sering muncul ke permukaan. Namun jika kita berfikir dengan pikiran yang jernih tanpa fanatik kepada golongan manapun, niscaya kita akan mendapati persetujuan kita sendiri bahwa memang benar bahwa perayaan ini tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang muslim. Cukuplah sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang kita pegang dalam masalah ini, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda, <!--more-->“Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka tertolak” (Riwayat Muslim). </p>
<p>Rasulullah yang mulia shallallahu’alaihi wa sallam juga pernah bersabda,<br />
”Maka wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rhosyidin al-Mahdiyyin” (Riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi). </p>
<p>Maka dari sinilah muncul suatu kaidah yang agung, sebagaimana juga yang dikatakan Ibnu Katsir rahimahullah, “Lau kaana khoiron lasa baquuna ilaihi” yang artinya “Seandainya suatu perbuatan itu baik, niscaya para pendahulu kita (Shahabat, tabi’in, atau tabi’ut tabiin) telah melakukannya”. Dan kita tahu semua bahwa perayaan ini tidak pernah kita dapati terdapat dalam hadist Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ataupun atsar dari para shahabat radliyallahu’anhum sekalipun. Maka dengan penjelasan sederhana diatas seharusnya bisa menjadi renungan bagi kita semua atas amal-amal yang telah kita lakukan termasuk amal kita merayakan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, apakah telah ada contoh dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para Sahabatnya?. </p>
<p>Adapun kali ini kita tidak akan membahas panjang masalah hukum maulid ini, tetapi mari kita menelaah salah satu kitab yang sering dibacakan dalam perayaan maulid Nabi ini yaitu kitab Barzanji yang ternyata berisi berbagai penyelewengan agama yang mana sebagian besar kaum muslimin yang mengamalkannya masih memiliki pemahaman makna atau terjemah atas syair-syair tersebut yang dangkal. Artikel ini kami ambil dari pembahasan majalah as-Sunnah edisi 12 th XII Rabiul awwal 1439/Maret 2009. Semoga Bermanfaat.</p>
<p>“Ya Allah jauhkanlah aku dan kaum muslimin di Indonesia dari kesyirikan kepada-Mu baik yang nampak atau tidak, dan lindungilah kami dari amalan yang tertolak yang tidak ada syariatnya dari Mu dan dari Rasul-Mu shallahu’alaihi wa sallam.”</p>
<p>Barzanji,Kitab Induk Peringatan Maulid Nabi shallallahu’alayhi wa sallam<br />
Oleh. Ust. Zainal Abidin, Lc</p>
<p>Seputar Kitab Barzanji</p>
<p>Secara umum peringatan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam selalu disemarakkan dengan sholawatan dan puji-pujian kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, yang mereka ambil dari kitab Barzanji maupun Daiba’, ada kalanya ditambah dengan senandung Qasidah Burdah.Meskipun kitab Barzanji lebih populer di kalangan orang awam daripada yang lainnya, tetapi biasanya kitab Daiba’, Barzanji dan Qasidah Burdah dijadikan satu paket untuk meramaikan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang diawali dengan dengan membaca kitab Daiba’, lalu Barzanji, kemudian ditutup dengan Qasidah Burdah. Biasanya kitab Barzanji menjadi kitab induk peringatan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, bahkan sebagian pembacanya lebih tekun membaca kitab Barzanji daripada membaca al-Qur’an. Maka tidak aneh jika banyak diantara mereka yang lebih hafal kitab Barzanji bersama lagu-lagunya dibanding al-Quran. Fokus pembahasan dan kritikan terhadap kitab Barzanji ini adalah karena populernya, meskipun penyimpangan kitab Daiba’ lebih parah daripada kitab Barzanji. Berikut uraiannya:</p>
<p>Secara umum kandungan kitab Barzanji terbagi menjadi tiga:</p>
<p>Cerita tentang perjalanan hidup Nabi  shallallahu’alaihi wa sallam dengan sastra bahasa yang tinggi yang terkadang tercemar dengan riwayat-riwayat lemah.<br />
Syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan bahasa yang sangat indah, namun telah tercemar dengan muatan dan sikap ghuluw (berlebihan)<br />
Sholawat kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, tetapi telah bercampur aduk dengan sholawat bid’ah dan sholawat-sholawat yang tidak berasal dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. </p>
<p>Penulis Kitab Barzanji</p>
<p>Kitab Barzanji ditulis oleh Ja’far al-Barzanji al-Madani, dia adalah khatib di Masjidil Haram dan seorang mufti dari kalangan Syafi’iyyah. Wafat di Madinah pada tahun 1177H/1763 M dan diatara karyanya adalah Kisah Maulid Nabi Shalallahu’alahi wa sallam (Al-Munjid fii al A’laam, 125)</p>
<p>Sebagai seorang penganut paham tasawwuf yang bermahzab Syiah tentu Ja’far al-Barjanzi sangat mengkultuskan keluarga, keturunan dan Nabi Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam. Ini dibuktikan dalam do’anya “Dan berilah taufik kepada apa yang Engkau ridhai pada setiap kondisi bagi para pemimpin dari keturunan az-Zahra di bumi Nu’man”. (Majmuatul Mawalid, hal. 132)</p>
<p>Kesalahan Umum Kitab Barzanji</p>
<p>Kesalahan kitab Barzanji tidak separah yang ada pada kitab Daiba’ dan Qasidah Burdah. Namun, penyimpangannya menjadi parah ketika kitab Barzanji dijadikan sebagai bacaan seperti al-Quran. Bahkan, dianggap lebih mulia daripada al-Quran. Padahal, tidak ada nash syar’i yang memberi jaminan pahala bagi orang yang membaca Barzanji, Daiba’ atau Qasidah Burdah. Sementara, membaca al-Quran yang jelas pahalanya, kurang diperhatikan. Bahkan, sebagian mereka lebih sering membaca kitab Barzanji daripada membaca al-Quran apalagi pada saat perayaan maulid Nabi. Padahal Nabi Shallallahu’alahi wa sallam bersabda : “Barangsiapa membaca 1 huruf dari al-Quran maka dia akan mendapatkan 1 kebaikan yang kebaikan tersebut akan dilipatgandakan menjadi 10 pahala. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf. Tetapi, Alif 1 huruf, Laam 1 huruf, Miim 1 huruf .” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam shahihul jam’i hadist ke 6468)</p>
<p>Kesalahan Khusus Kitab Barzanji</p>
<p>Adapun kesalahan yang paling fatal dalam kitab Barzanji antara lain :</p>
<p>Pertama : Penulis kitab Barzanji menyakini melalui ungkapan syairnya bahwa kedua orang tua Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam termasuk ahlul iman dan termasuk orang-orang yang selamat dari neraka bahkan ia mengungkapkan dengan sumpah.</p>
<p>وَقَدْ أَسْبَحَاوَاللهِ مِنْ أَهْلِ اْلإِ يْمَانِ</p>
<p>وَجَاءَلِهَذَا فِي اْلحَدِيْثِ شَوَا هِدُ</p>
<p>وَمَالَ إِلَيْهِ الْجَمُّ مِنْ أَهْلِ الْعِرْفَانِ</p>
<p>فَسَلَّمْ فَإِنََّ اللهَ جَلَّ جَلاَلُهُ</p>
<p>وَإِنَّ اْلإِمَامَ اْلأَ شْعَرِيَ لَمُثْبِتُ</p>
<p>نَجَاتَهُمَانَصَّابِمُحْكَمِ تِبْيَانِ </p>
<p>“Dan sungguh kedua (orang tuanya) demi Allah Ta’ala termasuk ahli iman</p>
<p>Dan telah datang dalil dari hadist sebagai bukti-buktinya.</p>
<p>Banyak ahli ilmu yang condong terhadap pendapat ini</p>
<p>Maka ucapkanlah salam, karena sesungguhnya Allah Maha Agung.</p>
<p>Dan sesugguhnya Imam al-Asy’ari menetapkan bahwa keduanya selamat menurut nash tibyan (al-Quran).” (Lihat Majmuatul Mawalid Barzanji, hal 101)</p>
<p>Jelas, yang demikian itu bertentangan dengan hadist dari Anas radliyallahu’ahu bahwa sesungguhnya seorang laki-laki bertanya “Wahai Rasulullah, dimanakah ayahku (setelah mati)?” Beliau Shalallahu’alahisasalam bersabda “Dia berada di neraka.” Ketika orang itu pergi, beliau memanggilnya dan bersabda : “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka”. (HR. Muslim dalam shahihnya (348) dan Abu Daud dalam sunannya (4718))</p>
<p>Imam Nawawi berkata : “Makna hadits ini adalah bahwa, barangsiapa yang mati dalam keadaan kafir, ia kelak berada di Neraka dan kedekatan kerabat tidak berguna baginya. Begitu juga orang Arab penyembah berhala yang mati pada masa fatrah (jahiliyah), maka ia berada di Neraka. Ini tidak menafikan penyimpangan dakwah mereka, kaena sudah sampai kepada mereka dakwah Nabi Ibrahim ‘alahissalam dan yang lainnya.” (Lihat Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi. 3/74)</p>
<p>Semua hadits yang menjelaskan tentang dihidupkannya kembali kedua orang tua Nabi Shalallahu’alahisasalam dan keduanya beriman dan selamat dari neraka semuanya palsu, diada-adakan secara dusta dan lemah sekali serta tidak ada satupun yang shahih. Para ahli hadits sepakat akan kedhaifannya seperti Daruquthni, al-Jauzaqani, Ibnu Syahin, al-Khatib, Ibnu Asaki, Ibnu Nashr, Ibnul Jauzi, as-Suhaili, al-Qurtubi, ath-Tabhari dan Fathuddin Ibnu Sayyidin Nas. (Aunul Ma’bud, Abu Thayyib (12/324))</p>
<p>Adapun anggapan bahwa Imam al-Asyari berpendapat bahwa kedua orang tua Nabi beriman, harus dibuktikan kebenarannya. Memang benar, Imam Suyuthi berpendapat bahwa kedua orang tua Nabi Shallallahu’alahi wa sallam beriman dan selamat dari Neraka, namun hal ini menyelisihi para hafidz dan para ulama peneliti hadist. (Aunul Ma’bud, Abu Thayyib (12/324))</p>
<p>Kedua : Penulis kitab Barzanji mengajak para pembacanya agar mereka meyakini bahwa Rasulullah hadir pada saat membaca shalawat, terutama ketika Mahallul Qiyam (posisi berdiri), hal itu sangat nampak sekali di awal qiyam (berdiri) mambaca : </p>
<p>مَرْحَبًَايَامَرْحَبًَا يَامَرْحَبًَا</p>
<p>مَرْ حَبًَايَاجَدَّ الْحُسَيْنِ مَرْحَبًَا </p>
<p>“Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang wahai kakek Husain selamat datang”</p>
<p>Bukankah ucapan selamat datang hanya bisa diberikan kepada orang yang hadir secara fisik? Meskipun di tengah mereka terjadi perbedaan, apakah yang hadir jasad Nabi Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam bersama ruhnya ataukah ruhnya saja. Muhammad Alawi al-Maliki (seorang pembela perayaan Maulid-red) mengingkari dengan keras pendapat yang menyatakan bahwa yang hadir adalah jasadnya. Menurutnya, yang hadir hanyalah ruhnya.</p>
<p>Padahal Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam telah berada di alam Barzah yang tinggi dan ruhnya dimuliakan Allah Ta’ala di surga, sehingga tidak mungkin kembali ke dunia dan hadir di antara manusia.</p>
<p>Pada bait berikutnya semakin jelas nampak bahwa Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam diyakini hadir, meskipun sebagian mereka meyakini yang hadir adalah ruhnya.</p>
<p>يَانَبِنيْ سَلاَمٌُ عَلَيْكَ</p>
<p>يَارَسُوْل سَلَمٌُ عَلَيْكَ </p>
<p>يَاحَبِبُ سَلاَمٌُ عَلَيْكَ</p>
<p>صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْكَ </p>
<p>“Wahai Nabi salam sejahtera atasmu, wahai Rasul salam sejahtera atasmu.</p>
<p>Wahai kekasih salam sejahtera atasmu, semoga rahmat Allah tercurah atasmu.”</p>
<p>Para pembela Barzanji seperti penulis “Fikih Tradisional” berkilah, bahwa tujuan membaca shalawat itu adalah untuk mengagungkan Nabi Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam. Menurutnya, salah satu cara mengagungkan seseorang adalah dengan berdiri, karena berdiri untuk menghormati sesuatu sebetulnya sudah menjadi tradisi kita. Bahkan tidak jarang hal itu dilakukan untuk menghormati benda mati. Misalnya, setiap kali upacara bendera dilaksanakan pada hari Senin, setiap tanggal 17 Agustus, maupun pada waktu yang lain, ketiak bendera merah putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan, seluruh peserta upacara diharuskan berdiri. Tujuannya tidak lain adalah untuk menghormati bendera merah putih dan mengenang jasa para pejuang bangsa. Jika dalam upacara bendera saja harus berdiri, tentu berdiri untuk menghormati Nabi lebih layak dilakukan, sebagai ekspresi bentuk penghormatan kepada beliau. Bukankah Nabi Muhammad Shalallahu’alahisasalam adalah manusia teragung yang lebih layak dihormati dari pada orang lain? (Lihat Fikh Tradisional, Muhyiddin Abdusshamad (277-278))</p>
<p>Ini adalah qiyas yang sangat rancu dan rusak. Bagaimana mungkin menghormati Rasul Shallallahu’alahi wa sallam disamakan dengan hormat bendera ketika upacara, sedangkan kedudukan beliau Shalallahu’alahisasalam sangat mulia dan derajatnya sangat agung, baik saat hidup atau setelah wafat. Bagaimana mungkin beliau disambut dengan cara seperti itu, sedangkan beliau berada di alam Barzah yang tidak mungkin kembali dan hadir ke dunia lagi. Di samping itu, kehadiran Rasul Shalallahu’alahisasalam ke dunia merupakan keyakinan bathil karena termasuk perkara gaib yang tidak bisa ditetapkan kecuali berdasarkan wahyu Allah Ta’ala, dan bukan dengan logika atau qiyas. Bahkan, pengagungan dengan cara tersebut merupakan perkara bid’ah. Pengagungan Nabi Shallallahu’alahi wa sallam terwujud dengan cara menaatinya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya dan mencintainya.</p>
<p>Melakukan amalan bid’ah, khurafat, dan pelanggaran, bukan merupakan bentuk pengagungan terhadap Nabi Shallallahu’alahi wa sallam. Demikian juga dengan cara perayaan maulid Nabi Shallallahu’alahi wa sallam, perbuatan tersebut termasuk bid’ah yang tercela.</p>
<p>Manusia yang paling besar pengagungannya kepada Nabi Shallallahu’alahi wa sallam adalah para shahabat, sebagaimana perkataan Urwah bin Mas’ud kepada kaum Quraisy : “Wahai kaumku, demi Allah, aku pernah menjadi utusan kepada raja-raja besar, aku menjadi utusan kepada Kaisar, aku pernah menjadi utusan kepada Kisra dan Najasyi, demi Allah aku belum pernah melihat seorang Raja yang diagungkan oleh pengikutnya sebagaimana pengikut Muhammad. Tidaklah Muhammad meludah kemudian mengenai telapak tangan seseorang di antara mereka, melainkan mereka langsung mengusapkannya ke wajah dan kulit mereka. Apabila ia memerintahkan suatu perkara, mereka bersegera melaksanakannya. Apabila beliau berwudhu, mereka saling berebut bekas air wudhunya. Apabila mereka berkata, mereka merendahkan suaranya dan mereka tidak berani memandang langsung kepadanya sebagai wujud pengagungan mereka.” (HR. Bukhari : 3/187, no. 2731, 2732, al-Fath 5/388)</p>
<p>Bentuk pengagungan para shahabat kepada Nabi Shallallahu’alahi wa sallam di atas sangat besar. Namun, mereka tidak pernah mengadakan acara maulid dan kemudian berdiri dengan keyakinan ruh Rasul Shallallahu’alahi wa sallam sedang hadir di tengah mereka. Seandainya perbuatan tersebut disyariatkan, niscaya mereka tidak akan meninggalkannya.</p>
<p>Jika para pembela maulid tersebut berdalih dengan hadits Nabi Shalallahu’alahisasalam, “Berdirilah kalian untuk tuan atau orang yang paling baik di antara kalian” (Shahih HR. Bukhari-Muslim dalam shahihnya), maka alasan ini tidak tepat.</p>
<p>Memang benar Imam Nawawi berpendapat bahwa pada hadits di atas terdapat anjuran untuk berdiri dalam rangka menyambut kedatangan orang yang mempunyai keutamaan, (Lihat Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, juz XII, hal. 313). Namun, tidak dilakukan kepada orang yang telah wafat meskipun terhadap Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam. Bahkan pendapat yang benar, hadits tersebut sebagai anjuran dan perintah Rasul kepada orang-orang Anshar agar berdiri dalam rangka membantu Sa’ad bin Mu’adz radliyallahu’anhu turun dari keledainya, karena ia sedang terluka parah, bukan menyambut atau menghormatinya, apalagi mengagungkannya secara berlebihan. (Lihat Ikmalil Mu’lim bi Syarah Shahih Muslim, Qadhi ‘Iyadh, 6/105).</p>
<p>Ketiga : Penulis Barzanji mengajak untuk mengkultuskan Nabi Shallallahu’alahi wa sallam secara berlebihan dan menjadikan Nabi sebagai tempat untuk meminta tolong dan bantuan sebagaimana pernyataannya.</p>
<p>فِيكَ قَدْ أَحْسَنْتُ ظَنِّيْ</p>
<p>يَابَشِيْرُ يَانَذِيْرُ</p>
<p>فَأَغِثْنِيْ وَ أَجِن</p>
<p>يَامُجِيْرُمِنَ السَّعِيْرِ</p>
<p>يَاغَيَاثِيْ يَامِلاَذِيْ</p>
<p>فِيْ مُهِمَّاتِ اْلأُمُوْرِ </p>
<p>“Padamu sungguh aku telah berbaik sangka.</p>
<p>Wahai pemberi kabar gembira wahai pemberi peringatan</p>
<p>Maka tolonglah aku dan selamatkanlah aku.</p>
<p>Wahai pelindung dari neraka sa’ir.</p>
<p>Wahai penolongku dan pelindungku.</p>
<p>Dalam perkara-perkara yang sangat penting (suasana susah dan genting)”</p>
<p>Sikap berlebihan kepada Nabi Shallallahu’alahi wa sallam, mengangkatnya melebihi derajat kenabian dan menjadikannya sekutu bagi Allah Ta’ala dalam perkara ghaib dengan memohon kepada beliau dan bersumpah dengan nama beliau merupakan sikap yang sangat dibenci Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam, bahkan termasuk perbuatan syirik. Do’a dan tindakan tersebut menyakiti serta menyelisihi petunjuk dan manhaj dakwah beliau Shallallahu’alahi wa sallam, bahkan menyelisihi pokok ajaran Islam yaitu Tauhid. Nabi telah mengkhawatirkan akan terjadinya hal tersebut., sehingga beliau Shallallahu’alahi wa sallam bersabda : “Janganlah kamu berlebihan dalam mengagungkanku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan ketika mengagungkan Ibnu Maryam. AKu hanyalah seorang hamba, maka katakanlah aku adalah hamba dan utusan-Nya”. (HR. Bukhari dalam shahihnya 3445)</p>
<p>Telah dimaklumi, bahwa kaum Nasrani menjadikan Nabi Isa ‘alahissalam sebagai sekutu bagi Allah dalam peribadatan mereka. Mereka berdoa kepada Nabi-nya dan meninggalkan berdoa kepada Allah Ta’ala, padahal ibadah tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu’alahi wa sallam telah memberi peringatan kepada umatnya agar tidak menjadikan kuburan beliau sebagai tempat berkumpul dan berkunjung, sebagaimana dalam sabdanya : “Janganlah kalian jadikan kuburanku tempat berkumpul, bacalah shalawat atasku, sesungguhnya shalawatmu akan sampai kepadaku dimanapun kaum berada”. (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih (2042) dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Ghayatul Maram : 125)</p>
<p>Nabi Shallallahu’alahi wa sallam memberikan peringatan keras kepada umatnya tentang sikap berlebihan dalam menyanjung dan mengagungkan beliau. Bahkan, ketika ada orang yang berlebihan dalam mengagungkan Nabi Shalallahu’alahisasalam, mereka berkata : “Engkau Sayyid kami dan anak sayyid kami, engakau adalah orang terbaik di antara kami, dan anak dari orang terbaik di antara kami”, maka Nabi Shallallahu’alahi wa sallam bersabda kepada mereka : “Katakanlah dengan perkataanmu atau sebagiannya, dan jangan biarkan syaitan mengelincirkanmu.” (Shahih, disahhihkan oleh al-Albani dalam Ghayatul Maram 127, lihat takhrij beliau di dalamnya).</p>
<p>Termasuk perbuatan yang berlebihan dan melampaui batas terhadap Nabi adalah bersumpah dengan anma beliau, karena adalah bentuk pengagungan yang tidak boleh diberikan kecuali kepada Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu’alahi wa sallam bersabda : “Barangsiapa bersumpah hendaklah bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, jikalau tidak bisa hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari-Muslim dalam shahihnya 2679 dan 1646)</p>
<p>Cukuplah dengan hadist tentang larangan bersikap berlebihan dalam mengagungkan Nabi Shallallahu’alahi wa sallam menjadi dalil yang tidak membutuhkan tambahan dan pengurangan. Bagi setiap orang yang ingin mencari kebenaran, niscaya ia akan menemukannya dalam ayat dan hadist tersebut, dan hanya Allah-lah yang memberi petunjuk.</p>
<p>Keempat : Penulis kitab Barzanji menurunkan beberapa shalawat bid’ah yang mengandung pujian yang sangat berlebihan kepada Nabi Shallallahu’alahi wa sallam.</p>
<p>Para pengagum kitab Barzanji menganggap bahwa membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam merupakan ibadah yang sangat terpuji. Sebagaimana firman Allah Ta’ala</p>
<p>إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا  إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا </p>
<p>“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56)</p>
<p>Ayat ini yang mereka jadikan dalil untuk membaca kitab tersebut pada setiap peringatan maulid Nabi Shallallahu’alahi wa sallam. Padahal, ayat di atas merupakan bentuk perintah kepada umat Islam agar mereka membaca shalawat di manapun dan kapanpun tanpa dibatasi saat tertentu seperti pada perayaan maulid Nabi Shallallahu’alahi wa sallam.</p>
<p>Tidak dipungkiri bahwa bershalawat atas Nabi Shallallahu’alahi wa sallam terutama ketika mendengar nama Nabi Shallallahu’alahi wa sallam disebut sangat dianjurkan. Apabila seorang muslim meninggalkan shalawat atas Nabi Shallallahu’alahi wa sallam, ia akan terhalang dari melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan manfaat, baik di dunia dan akhirat, karena :</p>
<p>1) Terkena doa Nabi Shallallahu’alahi wa sallam yaitu sabda beliau : “Sungguh celaka bagi seseorang yang disebutkan namaku disisnya, namun ia tidak  bershalawat atasku.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya 2/254, At-Tirmidzi dalam Sunannya 3545 dan dishahihkanoleh al-Albani dal ‘Irwa : 6)</p>
<p>2) Mendapatkan gelar bakhil dari Nabi Shallallahu’alahi wa sallam, beliau bersabda : “Orang bakhil adalah orang yang ketika disebut namaku disisinya, ia tidak bershalawat atasku”. (Shahih, HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya 3546, Ahmad dalam Musnadnya 1/201, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam ‘Irwa : 5)</p>
<p>3) Tidak mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah Ta’ala, karena meninggalkan shalawat dan salam atas Nabi dan keluarganya. Nabi bersabda : “Barangsiapa membaca shalawat atasku skali, maka Allah Ta’ala bershalawat atasku 10 kali”. (HR. Imam Muslim dalam Shahinya 284)</p>
<p>4) Tidak mendapatkan keutamaan shalawat dari Allah Ta’ala dan para malaikat. Allah Ta’ala berfirman : “Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya memohonkan ampunan untukmu, supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya yang teramg dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”(QS. Al Ahzab 33:34)</p>
<p>Bahkan membaca shalawat menyebabkan hati menjadi lembut, karena membaca shalawat termasuk bagian dari dzikir. Dengan dzikir, hati menjadi tentram dan damai sebagaimana firman Allah Ta’ala : “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dangan mengingat Allah Ta’ala. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”.(QS. Ar-Ra’du 13:28). Tetapi dengan syarat membaca shalawat secara benar dan ikhlas karena Allah Ta’ala semata, bukan shalawat yang dikotori oleh bid’ah dan khurafat serta terlalu berlebihan kepada Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam, sehingga bukan mendapat ketentraman di dunia dan pahala di akherat, melainkan sebaliknya, mendapat murka dan siksaan dari Allah Ta’ala. Siksaan tersebut bukan karena mambaca shalawat, namun karena menyelisihi sunnah ketika membacanya. Apalagi, dikhususkan pada malam peringatan maulid Nabi Shallallahu’alahi wa sallam saja, yang jelas-jelas merupakan perayaan bid’ah dan penyimpangan terhadap syariat.</p>
<p>Kelima : Penulis kitab Barzanji juga meyakini tentang Nur Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam, sebagaimana yang terungkap dalam syairnya :</p>
<p>وَمَازَالَ نُوْرُالْمُسْطَفَى مُتَنَقِّلاًَ</p>
<p>مِنَ الطَّيِّبِ اْلأَتْقَي لِطَاهِرِأَرْدَانٍِ </p>
<p>“Nur musthafa (Muhammad) terus berpindah-pindah dari sulbi yang bersih kepada yang sulbi suci nan murni”</p>
<p>Bandingkanlah dengan perkataan kaum zindiq dan sufi, seperti al-Hallaj yang berkata : “Nabi Shallallahu’alahi wa sallam memilik cahaya yang kekal abadi dan terdahulu keberadaannya sebelum diciptakan dunia. Semua cabang ilmu dan pengetahuan di ambil dari cahaya tersebut dan para Nabi sebelum Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam menimba ilmu dari cahaya tersebut”.</p>
<p>Demikian juga perkataan Ibnu Arabi Attha’i bahwa semua Nabi sejak Nabi Adam ‘alahissalam hingga Nabi terakhir mengambil ilmu dari cahaya kenabian Muhammad Shallallahu’alahi wa sallam yaitu penutup para Nabi. (Lihat perinciannya dalam kitab Mahabbatur Rasulullah oleh Abdur Rauf Utsman (169-192))</p>
<p>Perlu diketahui bahwa ghuluw itu banyak sekali macamnya. Kesyirikan ibarat laut yang tidak memiliki tepi. Kesyirikan tidak hanya terbatas pada perkataan kaum Nasrani saja, karena umat sebelum mereka juga berbuat kesyirikan dengan menyembah patung, sebagaimana perbuatan kaum jahiliyah. Di antara mereka tidak ada yang mengatakan kepada Tuhan merek seperti perkataan kaum Nasrani kepada Nabi Isa ‘alahissalam, seperti ; dia adalah Allah, anak Allah, atau menyakini prinsip Trinitas mereka. Bahkan mereka adalah kepunyaan Allah Ta’ala dan di bawah kekuasaan-Nya. Namun, mereka menyembah Tuhan-Tuhan mereka dengan keyakinan bahwa Tuhan-Tuhan mereka itu mempu memberi syafaat dan menolong mereka. Demikian uraian sekilas tentang sebagian kesalah kitab Barzanji, semoga bermanfaat.</p>
<p>Disalin dari Majalah AS-SUNNAH Edisi 12 Th. XII Rabiul Awal 1430/Maret 2009 oleh Al-Ustadz Zainal Abidin, Lc</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi?]]></title>
<link>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/04/15/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi/</link>
<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 08:25:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuyahya8211</dc:creator>
<guid>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/04/15/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi/</guid>
<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjawab: Pertama, malam kelahiran Rasul shalla]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjawab:</p>
<p>Pertama, malam kelahiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Robi’ul Awwal dan bukan malam 12 Robi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Robi’ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis.<br />
<!--more--></p>
<p>Kedua, dari sisi tinjauan syariat maka merayakannya pun tidak ada dasarnya. Karena apabila hal itu memang termasuk bagian syariat Allah maka tentunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya atau beliau sampaikan kepada umatnya. Dan jika beliau pernah melakukannya atau menyampaikannya maka mestinya ajaran itu terus terjaga, sebab Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan Kami lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)</p>
<p>Sehingga tatkala ternyata sedikit pun dari kemungkinan tersebut tidak ada yang terbukti maka dapat dimengerti bahwasanya hal itu memang bukan bagian dari ajaran agama Allah. Sebab kita tidaklah diperbolehkan beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara-cara seperti itu. Apabila Allah ta’ala telah menetapkan jalan untuk menuju kepada-Nya melalui jalan tertentu yaitu ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka bagaimana mungkin kita diperbolehkan dalam status kita sebagai hamba yang biasa-biasa saja kemudian kita berani menggariskan suatu jalan sendiri menurut kemauan kita sendiri demi mengantarkan kita menuju Allah? Hal ini termasuk tindakan jahat dan pelecehan terhadap hak Allah ‘azza wa jalla tatkala kita berani membuat syariat di dalam agama-Nya dengan sesuatu ajaran yang bukan bagian darinya. Sebagaimana pula tindakan ini tergolong pendustaan terhadap firman Allah ‘azza wa jalla yang artinya,</p>
<p>الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي</p>
<p>“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Maa’idah: 3)</p>
<p>Oleh sebab itu kami katakan bahwasanya apabila perayaan ini termasuk dari kesempurnaan agama maka pastilah dia ada dan diajarkan sebelum wafatnya Rasul ‘alaihish shalatu wa salam. Dan jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama ini maka tentunya dia bukan termasuk ajaran agama karena Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Barang siapa yang mengklaim acara maulid ini termasuk kesempurnaan agama dan ternyata ia terjadi setelah wafatnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sesungguhnya ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia ini. Dan tidaklah diragukan lagi kalau orang-orang yang merayakan kelahiran Rasul ‘alaihis shalatu was salam hanya bermaksud mengagungkan Rasul ‘alaihis shalaatu was salaam. Mereka ingin menampakkan kecintaan kepada beliau serta memompa semangat agar tumbuh perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui diadakannya perayaan ini. Dan itu semua termasuk perkara ibadah. Kecintaan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah. Bahkan tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga dia menjadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan bahkan seluruh umat manusia. Demikian pula pengagungan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk perkara ibadah. Begitu pula membangkitkan perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga termasuk bagian dari agama karena di dalamnya terkandung kecenderungan kepada syariatnya. Apabila demikian maka merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah serta untuk mengagungkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu bentuk ibadah. Dan apabila hal itu termasuk perkara ibadah maka sesungguhnya tidak diperbolehkan sampai kapan pun menciptakan ajaran baru yang tidak ada sumbernya dari agama Allah. Oleh sebab itu merayakan maulid Nabi adalah bid’ah dan diharamkan.</p>
<p>Kemudian kami juga pernah mendengar bahwa di dalam perayaan ini ada kemungkaran-kemungkaran yang parah dan tidak dilegalkan oleh syariat, tidak juga oleh indera maupun akal sehat. Mereka bernyanyi-nyanyi dengan mendendangkan qasidah-qasidah yang di dalamnya terdapat ungkapan yang berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Rasul ‘alaihish sholaatu was salaam sampai-sampai mereka mengangkat beliau lebih agung daripada Allah -wal ‘iyaadzu billaah-. Dan kami juga pernah mendengar kebodohan sebagian orang yang ikut serta merayakan maulid ini yang apabila si pembaca kisah Nabi sudah mencapai kata-kata “telah lahir Al-Mushthafa” maka mereka pun serentak berdiri dan mereka mengatakan bahwa sesungguhnya ruh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir ketika itu maka kita berdiri demi mengagungkan ruh beliau. Ini adalah tindakan yang bodoh. Dan juga bukanlah termasuk tata krama yang baik berdiri ketika menyambut orang karena beliau tidak senang ada orang yang berdiri demi menyambutnya. Dan para sahabat beliau pun adalah orang-orang yang paling dalam cintanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kaum yang lebih hebat dalam mengagungkan beliau daripada kita. Mereka itu tidaklah berdiri tatkala menyambut beliau karena mereka tahu beliau membenci hal itu sementara beliau dalam keadaan benar-benar hidup. Lantas bagaimanakah lagi dengan sesuatu yang hanya sekedar khayalan semacam ini?</p>
<p>Bid’ah ini -yaitu bid’ah Maulid- baru terjadi setelah berlalunya tiga kurun utama. Selain itu di dalamnya muncul berbagai kemungkaran ini yang merusak fondasi agama seseorang. Apalagi jika di dalam acara itu juga terjadi campur baur lelaki dan perempuan dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. (Diterjemahkan Abu Muslih dari Fatawa Arkanil Islam, hal. 172-174).</p>
<p>***</p>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin<br />
Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hukum Perayaan Maulid Nabi]]></title>
<link>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/04/15/hukum-perayaan-maulid-nabi/</link>
<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 08:10:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuyahya8211</dc:creator>
<guid>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/04/15/hukum-perayaan-maulid-nabi/</guid>
<description><![CDATA[Perayaan Maulid Rasulullah dalam sorotan Islam Penulis: Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz Segal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Perayaan Maulid Rasulullah dalam sorotan Islam<br />
Penulis: Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz</p>
<p>Segala puji bagi Allah, semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya, serta orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah.</p>
<p>Telah berulang kali muncul pertanyaan tentang hukum upacara (ceremoni ) peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam ; mengadakan ibadah tertentu pada malam itu, mengucapkan salam atas beliau dan berbagai macam perbuatan lainnya.<!--more--></p>
<p>Jawabnya : Harus dikatakan, bahwa tidak boleh mengadakan kumpul kumpul / pesta pesta pada malam kelahiran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan baru (bid’ah ) dalam agama, selain Rasulullah belum pernah mengerjakanya, begitu pula Khulafaaurrasyidin, para sahabat lain dan para Tabi’in yang hidup pada kurun paling baik, mereka adalah kalangan orang orang yang lebih mengerti terhadap sunnah, lebih banyak mencintai Rasulullah dari pada generasi setelahnya, dan benar benar menjalankan syariatnya.</p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :<br />
” من أحـدث في أمـرنا هذا ما ليس منـه فهـو رد “، أي مـردود.<br />
“Barang siapa mengada adakan ( sesuatu hal baru ) dalam urusan ( agama ) kami yang ( sebelumnya ) tidak pernah ada, maka akan ditolak”.</p>
<p>Dalam hadits lain beliau bersabda :<br />
” عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة “.<br />
“Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al qur’an) dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru ( dalam agama ), karena setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” ( HR. Abu Daud dan Turmudzi ).</p>
<p>Maka dalam dua hadits ini kita dapatkan suatu peringatan keras, yaitu agar kita senantiasa waspada, jangan sampai mengadakan perbuatan bid’ah apapun, begitu pula mengerjakannya.</p>
<p>Firman Allah ta’ala dalam kitab-Nya :<br />
] وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا واتقوا الله إن الله شديد العقاب [<br />
“Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ia, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras siksaan- Nya” ( QS. Al Hasyr 7 ).</p>
<p>] فليحـذر الذين يخالفـون عن أمـره أن تصيبـهم فتنة أو يصيبـهم عذاب أليم [<br />
“Karena itu hendaklah orang orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau adzab yang pedih” ( QS. An Nur, 63 ).</p>
<p>] لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا [<br />
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap (rahmat ) Allah, dan ( kedatangan ) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah” ( QS. Al Ahzab,21 ).<br />
] والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز العظيم [</p>
<p>“Orang orang terdahulu lagi pertama kali (masuk Islam ) diantara orang orang Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan itu, Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepadaNya, serta Ia sediakan bagi mereka syurga syurga yang disana mengalir beberapa sungai, mereka kekal didalamnya, itulah kemenangan yang besar” ( QS, At taubah, 100 ).</p>
<p>] اليوم أكملت لكم دينكـم وأتممت عليكـم نعمتي ورضيت لكـم الإسلام دينا [<br />
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridlai Islam itu sebagai agama bagimu” ( QS. Al Maidah, 3 ).</p>
<p>Dan masih banyak lagi ayat ayat yang menerangkan kesempurnaan Islam dan melarang melakukan bid’ah karena mengada-adakan sesuatu hal baru dalam agama, seperti peringatan peringatan ulang tahun, berarti menunjukkan bahwasanya Allah belum menyempurnakan agamaNya buat umat ini, berarti juga Rasulullah itu belum menyampaikan apa apa yang wajib dikerjakan umatnya, sehingga datang orang orang yang kemudian mengada adakan sesuatu hal baru yang tidak diperkenankan oleh Allah, dengan anggapan bahwa cara tersebut merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa cara tersebut terdapat bahaya yang besar, lantaran menentang Allah ta’ala, begitu pula ( lantaran ) menentang Rasulullah. Karena sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya, dan telah mencukupkan ni’mat-Nya untuk mereka.</p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalahnya secara keseluruhan, tidaklah beliau meninggalkan suatu jalan menuju syurga, serta menjauhi diri dari neraka, kecuali telah diterangkan oleh beliau kepada seluruh ummatnya sejelas jelasnya.</p>
<p>Sebagaimana telah disabdakan dalam haditsnya, dari Ibnu Umar rodhiAllah ‘anhu bahwa beliau bersabda<br />
" ما بعث الله من نبي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينذرهم عن شر ما يعلمه لهم ".<br />
“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada mereka, dan memperingatkan mereka dari kejahatan ( hal hal tidak baik ) yang telah ditunjukkan kepada mereka” ( HR. Muslim ).</p>
<p>Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terbaik diantara Nabi Nabi lain, beliau merupakan penutup bagi mereka ; seorang Nabi paling lengkap dalam menyampaikan da’wah dan nasehatnya diantara mereka itu semua.</p>
<p>Jika seandainya upacara peringatan maulid Nabi itu betul betul datang dari agama yang diridloi Allah, niscaya Rasulullah menerangkan kepada umatnya, atau beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak, dikerjakan oleh para sahabat. Maka jika semua itu belum pernah terjadi, jelaslah bahwa hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali, dan merupakan seuatu hal yang diada adakan ( bid’ah ), dimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya agar supaya dijauhi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dua hadits diatas, dan masih banyak hadits hadits lain yang senada dengan hadits tersebut, seperti sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum’at nya :</p>
<p>" أما بعد، فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة ".</p>
<p>“Adapun sesudahnya, sesungguhnya sebaik baik perkataan ialah kitab Allah (Al Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan ( dalam agama) ialah yang diada adakan (bid’ah), sedang tiap tiap bid’ah itu kesesatan” ( HR. Muslim ).</p>
<p>Masih banyak lagi ayat ayat Al Qur’an serta hadits hadits yang menjelaskan masalah ini, berdasarkan dalil dalil inilah para ulama bersepakat untuk mengingkari upacara peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan memperingatkan agar waspada terhadapnya.</p>
<p>Tetapi orang orang yang datang kemudian menyalahinya, yaitu dengan membolehkan hal itu semua selama di dalam acara itu tidak terdapat kemungkaran seperti berlebih lebihan dalam memuji Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bercampurnya laki laki dan perempuan (yang bukan mahram), pemakaian alat alat musik dan lain sebagainya dari hal hal yang menyalahi syariat, mereka beranggapan bahwa ini semua termasuk bid’ah hasanah padahal kaidah syariat mengatakan bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia hendaknya dikembalikan kepada Al Qur’an dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :<br />
] يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا [<br />
“Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri ( pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( Al Qur’an ) dan Rasul ( Al Hadits), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama ( bagimu ) dan lebih baik akibatnya” ( QS. An nisa’, 59 ).</p>
<p>] وما اختلفتم فيه من شيء فحكمه إلى الله ذلكم الله ربي عليه توكلت وإليه أنيب [<br />
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah ) kepada Allah ( yang mempunyai sifat sifat demikian ), itulah Tuhanku, Kepada -Nya- lah aku bertawakkal dan kepada –Nya- lah aku kembali” ( QS. Asy syuro, 10 ).</p>
<p>Ternyata setelah masalah ini (hukum upacara maulid Nabi) kita kembalikan kepada kitab Allah ( Al Qur’an ), kita dapatkan suatu perintah yang menganjurkan kita agar mengikuti apa apa yang dibawa oleh Rasulullah, menjauhi apa apa yang dilarang oleh beliau, dan (Al Qur’an ) memberi penjelasan pula kepada kita bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama umat ini.</p>
<p>Dengan demikian upacara peringatan maulid Nabi ini tidak sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia bukan dari ajaran agama yang telah disempurnakan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala kepada kita, dan diperintahkan agar mengikuti sunnah Rasul, ternyata tidak terdapat keterangan bahwa beliau telah menjalankannya, (tidak) memerintahkannya, dan (tidak pula) dikerjakan oleh sahabat sahabatnya.</p>
<p>Berarti jelaslah bahwasanya hal ini bukan dari agama, tetapi ia adalah merupakan suatu perbuatan yang diada adakan, perbuatan yang menyerupai hari hari besar ahli kitab, Yahudi dan Nasrani.<br />
Hal ini jelas bagi mereka yang mau berfikir, berkemauan mendapatkan yang haq, dan mempunyai keobyektifan dalam membahas ; bahwa upacara peringatan maulid Nabi bukan dari ajaran agama Islam, melainkan merupakan bid’ah bid’ah yang diada adakan, dimana Allah memerintahkan RasulNya agar meninggalkanya dan memperingatkan agar waspada terhadapnya, tak layak bagi orang yang berakal tertipu karena perbuatan perbuatan tersebut banyak dikerjakan oleh orang banyak diseluruh jagat raya, sebab kebenaran (Al Haq) tidak bisa dilihat dari banyaknya pelaku (yang mengerjakannya), tetapi diketahui atas dasar dalil dalil syara’.<br />
Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman tentang orang orang Yahudi dan Nasrani :<br />
] وقالوا لن يدخل الجنة إلا من كان هودا أو نصارى تلك أمانيهم قل هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين [<br />
“Dan mereka ( Yahudi dan Nasrani ) berkata : sekali kali tak (seorangpun ) akan masuk sorga, kecuali orang orang yang beragama Yahudi dan Nasrani. Demikian itu (hanya) angan angan mereka yang kosong belaka ; katakanlah : tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang orang yang benar” ( QS. Al Baqarah, 111 ).</p>
<p>] وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله إن يتبعون إلا الظن وإن هم إلا يخرصون [<br />
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang orang yang berada dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah ; mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak lain hanyalah menyangka-nyangka” ( QS. Al An’am, 116 ).</p>
<p>Lebih dari itu, upacara peringatan maulid Nabi ini – selain bid’ah –tidak lepas dari kemungkaran kemungkaran, seperti bercampurnya laki laki dan perempuan ( yang bukan mahram ), pemakaian lagu lagu dan bunyi bunyian, minum minuman yang memabukkan, ganja dan kejahatan kejahatan lainya yang serupa.</p>
<p>Kadangkala terjadi juga hal yang lebih besar dari pada itu, yaitu perbuatan syirik besar, dengan sebab mengagung agungkan Rasulullah secara berlebih lebihan atau mengagung agungkan para wali, berupa permohonan do’a, pertolongan dan rizki. Mereka percaya bahwa Rasul dan para wali mengetahui hal hal yang ghoib, dan macam macam kekufuran lainnya yang sudah biasa dilakukan orang banyak dalam upacara malam peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam itu.</p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :<br />
" إياكم والغلو في الدين، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين ".<br />
“Janganlah kalian berlebih lebihan dalam agama, karena berlebih lebihan dalam agama itu telah menghancurkan orang orang sebelum kalian”.<br />
" لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم، إنما أنا عبد، فقولوا عبد الله ورسوله " رواه البخاري في صحيحه من حديث عمر رضي الله عنه.<br />
“Janganlah kalian berlebih lebihan dalam memujiku sebagaimana orang orang Nasrani memuji anak Maryam, Aku tidak lain hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : hamba Allah dan Rasul Allah” ( HR. Bukhori dalam kitab shohihnya, dari hadits Umar, Radliyallahu ‘anhu ).</p>
<p>Yang lebih mengherankan lagi yaitu banyak diantara manusia itu ada yang betul betul giat dan bersemangat dalam rangka menghadiri upacara bid’ah ini, bahkan sampai membelanya, sedang mereka berani meninggalkan sholat Jum’at dan sholat jama’ah yang telah diwajibkan oleh Allah kepada mereka, dan sekali kali tidak mereka indahkan. Mereka tidak sadar kalau mereka itu telah mendatangkan kemungkaran yang besar, disebabkan karena lemahnya iman kurangnya berfikir, dan berkaratnya hati mereka, karena bermacam macam dosa dan perbuatan maksiat. Marilah kita sama sama meminta kepada Allah agar tetap memberikan limpahan karuniaNya kepada kita dan kaum muslimin.</p>
<p>Diantara pendukung maulid itu ada yang mengira, bahwa pada malam upacara peringatan tersebut Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam datang, oleh kerena itu mereka berdiri menghormati dan menyambutnya, ini merupakan kebatilan yang paling besar, dan kebodohan yang paling nyata. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan bangkit dari kuburnya sebelum hari kiamat, tidak berkomunikasi kepada seorangpun, dan tidak menghadiri pertemuan pertemuan umatnya, tetapi beliau tetap tinggal didalam kuburnya sampai datang hari kiamat, sedangkan ruhnya ditempatkan pada tempat yang paling tinggi (‘Illiyyin ) di sisi TuhanNya, itulah tempat kemuliaan.</p>
<p>Firman Allah dalam Al Qur’an :<br />
] ثم إنكم بعد ذلك لميتون ثم إنكم يوم القيامة تبعثون [<br />
“Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian pasti mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan ( dari kuburmu ) di hari kiamat” ( QS. Al Mu’minun, 15-16 ).</p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :<br />
" أنا أول من ينشق عنه القبر يوم القيامة، وأنا أول شافع وأول مشفع "</p>
<p>“Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan / dibangunkan diantara ahli kubur pada hari kiamat, dan aku adalah orang yang pertama kali memberi syafa’at dan diizinkan memberikan syafa’at”.</p>
<p>Ayat dan hadits diatas, serta ayat ayat dan hadits hadits yang lain yang semakna menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mayat mayat yang lainnya tidak akan bangkit kembali kecuali sesudah datangnya hari kebangkitan. Hal ini sudah menjadi kesepakatan para ulama, tidak ada pertentangan diantara mereka.</p>
<p>Maka wajib bagi setiap individu muslim memperhatikan masalah masalah seperti ini, dan waspada terhadap apa apa yang diada adakan oleh orang orang bodoh dan kelompoknya, dari perbuatan perbuatan bid’ah dan khurafat khurafat, yang tidak diturunkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala. Hanya Allah lah sebaik baik pelindung kita, kepada-Nyalah kita berserah diri dan tidak ada kekuatan serta kekuasaan apapun kecuali kepunyaan-Nya.</p>
<p>Sedangkan ucapan sholawat dan salam atas Rasulullah adalah merupakan pendekatan diri kepada Allah yang paling baik, dan merupakan perbuatan yang baik, sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an :<br />
] إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما [<br />
“Sesungguhnya Allah dan Malaikat malaikatNya bersholawat kepada Nabi, hai orang orang yang beriman, bersholawatlah kalian atas Nabi dan ucapkanlah salam dengan penghormatan kepadanya” ( QS. Al Ahzab, 56 ).</p>
<p>Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :<br />
” من صلى علي واحدة صلى الله عليه بها عشرا “.<br />
“Barang siapa yang mengucapkan sholawat kepadaku sekali, maka Allah akan bersholawat ( memberi rahmat ) kepadanya sepuluh kali lipat.”</p>
<p>Sholawat itu disyariatkan pada setiap waktu, dan hukumnya Muakkad jika diamalkan pada ahir setiap sholat, bahkan sebagian para ulama mewajibkannya pada tasyahud ahir di setiap sholat, dan sunnah muakkadah pada tempat lainnya, diantaranya setelah adzan, ketika disebut nama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, pada hari Jum’at dan malamnya, sebagaimana hal itu diterangkan oleh hadits hadits yang cukup banyak jumlahnya.</p>
<p>Allah lah tempat kita memohon, untuk memberi taufiq kepada kita sekalian dan kaum muslimin, dalam memahami agama Nya, dan memberi mereka ketetapan iman, semoga Allah memberi petunjuk kepada kita agar tetap kosisten dalam mengikuti sunnah, dan waspada terhadap bid’ah, karena Dialah MahaPemurah dan MahaMulia, semoga pula sholawat dan salam selalu dilimpahkan kepada junjungan besar Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>(Dikutip dari الحذر من البدع Tulisan Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz, Mufti Saudi Arabia. Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia. Edisi Indonesia “Waspada terhadap Bid’ah”)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[7 Kerusakan Perayaan Maulid Nabi]]></title>
<link>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/04/14/7-kerusakan-perayaan-maulid-nabi/</link>
<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 13:17:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuyahya8211</dc:creator>
<guid>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/04/14/7-kerusakan-perayaan-maulid-nabi/</guid>
<description><![CDATA[Kerusakan pertama: Kebanyakan orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid terjatuh pada perbuatan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kerusakan pertama: Kebanyakan orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid terjatuh pada perbuatan syirik, yakni ketika mereka menyanyikan bait-bait syair (nasyid-nasyid atau qosidah) pujian kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dalam acara itu (yang sering di sebut sholawatan). <!--more--><br />
 ———————————————————<br />
Di Antara Sekian Kerusakan Perayaan Maulid Nabi</p>
<p>Buletin Dakwah AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi 15/Robi’ul Awal</p>
<p> Di dalam kitab beliau, Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah wat Thoifah Al-Manshuroh, Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menjelaskan kerusakan dan penyimpangan acara peringatan Maulid Nabi. Di antaranya adalah sebagai berikut:</p>
<p>Pertama: Kebanyakan orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid terjatuh pada perbuatan syirik, yakni ketika mereka menyanyikan bait-bait syair (nasyid-nasyid atau qosidah) pujian kepada Rasulullah dalam acara itu (yang sering di sebut sholawatan). Mereka mengatakan:</p>
<p>يا رسول الله غوثا و مدد يا رسول الله عليك المعتمد<br />
يا رسول الله فرج كربنا ما رآك الكرْبُ إلا و شرَد</p>
<p>“Wahai Rasulullah, berilah kami pertolongan dan bantuan.<br />
Wahai Rasulullah, engkaulah sandaran kami.<br />
Wahai Rasulullah, hilangkanlah derita kami.<br />
Tiadalah derita itu melihatmu, kecuali ia akan melarikan diri. “</p>
<p>Sungguh, seandainya saja Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam hidup dan mendengar nyanyian tersebut, tentu beliau akan menghukuminya dengan syirik besar (bahkan beliau pasti akan melarang mereka dari perbuatan tersebut). Mengapa? Karena pemberian pertolongan, tempat sandaran dan pembebasan dari segala derita hanyalah Allah Ta’ala saja.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:<br />
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ<br />
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan (siapakah pula) yang menghilangkan kesusahan….”(QS. An-Naml: 62).</p>
<p>Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah shollahu ‘alaihi wa sallam agar menyampaikan kepada segenap manusia:</p>
<p>قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلا رَشَدًا</p>
<p>“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula suatu kemanfaatan….” (QS. Al-Jin: 21).</p>
<p>Bahkan Nabi Muhammad shollahu ‘alaihi wa sallam sendiripun bersabda (dalam rangka memberi nasehat kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan juga umat beliau lainnya):</p>
<p>إِذَا سَأَلْتَ فَسْأَلِ اللَّهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ</p>
<p>“Bila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah). “ HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata: “Hadits ini Hasan Shohih”).</p>
<p>Kedua: Mayoritas perayaan maulid yang diadakan itu di dalam terdapat sikap Al-Ithro’ (berlebih-lebihan) dan menambah-nambah dalam menyanjung (memuji) Nabi shollallahu ‘alahi wa sallam. Padahal Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebut dalam sabda beliau:</p>
<p>لاَ تــطروْنِيْ كَماَ أطرتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقَوُلْوا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ</p>
<p>“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku tak lebih hanya seorang hamba, maka katakanlah (tentang aku) ‘Abdulllah (Hamba Allah) dan Rasul-Nya!’“ (HR. Al-Bukhari).</p>
<p>Kemudian dalam acara Maulid itu juga, sering dibacakan kitab Diba’ yang berisi sejarah perjuangan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam salah satu syair kitab ini menceritakan dan diyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Nabi Muhammad sholallahu ‘alahi wa sallam dari cahaya-Nya, lalu Ia menciptakan segala sesuatu dari Nur Muhammad (cahaya Muhammad).</p>
<p>Sungguh ini adalah ucapan dusta. Sebaliknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu justru diciptakan Allah dengan perantara seorang bapak dan ibu. Beliau adalah manusia biasa yang dimuliakan dengan diberi wahyu oleh Allah.<br />
Bahkan mereka juga menyenandungkan syair Diba’ yang menyatakan bahwa Allah menciptakan alam semesta ini kerena Muhammad. Inipun juga ucapan dusta, karena Allah Ta’ala justru berfirman:</p>
<p>وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ</p>
<p>“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. “(QS. Adz-Dzaariyaat: 56).</p>
<p>Ketiga: Dalam acara perayaan atau peringatan maulid Nabi itu banyak terjadi ikhthilat, (bercampur laki-laki dan wanita dalam satu tempat, tanpa adanya hijab/tabir pemisah diantara mereka), padahal ini diharamkan dalam syariat agama kita.</p>
<p>Keempat: Dalam penyelenggaraan acara maulid Nabi ini, sering terjadi sikap tabzdir (pemborosan harta), baik untuk biaya dekorasi, konsumsi, transportasi dan sebagainya yang terkadang mencapai jumlah jutaan. Uang sebanyak itu habis dalam sekejap padahal mengumpulkannya sering dengan susah-payah, dan sesungguhnya hal itu lebih dibutuhkan umat Islam untuk keperluan lainnya, seperti membantu fakir-miskin, memberi beasiswa belajar bagi anak-anak yatim dan sebagainya.</p>
<p>Kelima: Waktu yang digunakan untuk mempersiapkan dekorasi, konsumsi dan transportasi sering membuat lengah atau lalai para panitia peringatan maulid, sehingga tidak jarang mereka sampai meninggalkan sholat berjamaah dengan alasan sibuk atau yang lainnya.</p>
<p>Dan tak jarang pula acara peringatan Maulid itu berlangsung hingga larut malam, akibatnya banyak di kalangan mereka tidak sholat Subuh berjamaah di masjid (karena bangun kesiangan) atau bahkan ada yang tidak Subuh sama sekali.</p>
<p>Keenam: Merayakan maulid (hari kelahiran) adalah sikap tasyabbuh (meniru atau menyerupai) orang-orang kafir. Mengapa? Lihatlah, orang-orang Nasrani punya tradisi memperingati natal (hari kelahiran) Isa Al-Masih, dan juga hari Natal atau ulang tahun setiap anggota keluarga mereka. Lalu, umat Islam pun ikut-ikutan merayakan bid’ah tersebut. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mengingatkan kita:</p>
<p>مَنْ تَـشَـبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</p>
<p>“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka. “(HR. Abu Dawud, shahih).</p>
<p>Ketujuh: Sudah menjadi tradisi dalam peringatan maulid itu, bahwa di akhir bacaan maulid, sebagian hadirin berdiri karena mereka menyakini bahwa pada waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam hadir dalam majelis mereka. Sungguh ini adalah kedustaan yang nyata. Mengapa? Ya karena Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ<br />
“Dan di hadapan mereka (orang-orang yang telah mati) ada barzakh (dinding) sampai hari mereka dibangkitkan. “(QS. Al-Mu’minin: 100).</p>
<p>Yang dimaksud barzakh (dinding) pada saat tersebut adalah pembatasan antara dunia dan akhirat, sehingga tidak mungkin orang yang telah mati bangkit atau ruhnya yang bangkit.</p>
<p>Di samping itu, seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam masih hidup, tentu beliau tidak senang di sambut dengan cara berdiri menghormat beliau, sebagaimana dinyatakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:</p>
<p>“Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para sahabat daripada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Tetapi jika mereka melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka tidak berdiri untuk (menghormati) beliau, karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah membenci hal tersebut. “(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, shohih)</p>
<p>Maroji’:<br />
Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.</p>
<p>Sumber:<br />
BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi: 15 / Robi’ul Awal / 1425</p>
<p>(Dikutip dari situs http://www.darussalaf.org/index.php?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Definisi dan Sejarah Munculnya Perayaan Maulid]]></title>
<link>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/04/14/definisi-dan-sejarah-munculnya-perayaan-maulid/</link>
<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 13:12:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuyahya8211</dc:creator>
<guid>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/04/14/definisi-dan-sejarah-munculnya-perayaan-maulid/</guid>
<description><![CDATA[I. Pengertian Maulid. Maulid secara bahasa berarti tempat atau waktu dilahirkannya seseorang [Boleh ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>I. Pengertian Maulid.</p>
<p>Maulid secara bahasa berarti tempat atau waktu dilahirkannya seseorang [Boleh juga dikatakan maulid adalah mashdar (asal kata) bermakna kelahiran (al-wiladah). Ini disebut mashdar mim. [ed]]. Oleh karena itu, tempat maulid Nabi -Shollallahu alaihi wasallam- adalah Makkah. Sedangkan waktu maulid beliau adalah pada hari Senin bulan Rabi’ul Awwal pada tahun Gajah tahun 53 SH (Sebelum Hijriah) yang bertepatan dengan bulan April tahun 571 M. <!--more--></p>
<p>Adapun tanggal kelahiran beliau, maka para ulama berselisih dalam penentuannya. Dan cukuplah hal ini menjadi tanda dan bukti nyata yang menunjukkan bahwa Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, para sahabat beliau, dan para ulama setelah mereka, tidaklah menaruh perhatian besar dalam masalah hari maulid (kelahiran) Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-. Karena seandainya hari maulid beliau adalah perkara yang penting, memiliki keutamaan yang besar, dan memiliki arti yang mendalam dalam Islam, maka pasti akan ditegaskan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dalam hadits-hadits beliau, sebagai konsekuensi dari kesempurnaan Islam dan semangat beliau dalam menunjukkan kebaikan kepada ummatnya. Juga pasti akan dinukil dari para sahabat tentang tanggal kelahiran beliau sebagai konsekuensi sikap amanah mereka dalam menyampaikan ilmu. </p>
<p>Jadi, perbedaan pendapat para ulama tentang kapan tanggal maulid beliau menunjukkan bahwa tidak ada keterangan yang jelas dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan tidak pula dari para sahabat beliau -radhiyallahu ‘anhum- tentang masalah ini.</p>
<p>Perselisihan Pendapat Tentang Maulid (Hari Lahir) Nabi.</p>
<p>Ada beberapa pendapat dalam masalah ini, tapi yang paling masyhurnya adalah:</p>
<p><!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Maulid Nabi adalah tanggal 8 Rabi‘ul Awwal.</p>
<p>Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syaikh Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Wahhab sebagaimana yang akan datang, dan juga yang zhohirnya dikuatkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albany -rahimahullah- dalam kitab beliau Shohih As-Sirah An-Nabawiah hal. 13. Beliau berkata dalam ta’liq (catatan kaki), “Adapun waktu hari kelahiran beliau, telah disebutkan tentangnya dan tentang bulannya oleh beberapa pendapat. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab asal [Yakni kitab Sirah Rosulullahi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- wa Dzikru Ayamihi wa Ghozawatihi wa Saroyahu wal Wufud Ilaihi karya Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah-], dan semuanya mu’allaq, tanpa ada sanad yang bisa diperiksa dan diukur dengan ukuran ilmu mustholah hadits, kecuali pendapat yang mengatakan bahwa hal itu (hari kelahiran Nabi -pent.) pada tanggal 8 Rabi’ul Awwal. Karena (tanggal 8 ini telah diriwayatkan oleh Malik dan selainnya dengan sanad yang shohih dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dan beliau adalah seorang tabi’in yang mulia. Dan mungkin karena inilah, pendapat ini dikuatkan oleh para pakar sejarah dan mereka berpegang padanya, dan (pendapat) ini yang dipastikan oleh Al-Hafizh Al-Kabir Muhammad bin Musa Al-Khowarizmy dan juga dikuatkan oleh Abul Khoththob bin Dihyah …”.</p>
<p><!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Maulid Nabi tanggal 9 Rabi‘ul Awwal.</p>
<p>Pengarang Nurul ‘Ainain fii Sirah Sayyidil Mursalin berkata, hal. 6, “Almarhum Mahmud Basya seorang pakar ilmu Falak menguatkan bahwa hal itu (hari kelahiran Nabi) adalah pada Subuh hari Senin, tanggal 9 Rabi’ul Awwal yang bertepatan dengan tanggal 20 April tahun 571 Miladiyah dan juga bertepatan dengan tahun pertama dari peristiwa Gajah”.</p>
<p>Syaikh Shofiyyur Rahman Al-Mubarakfury -hafizhohullah- berkata dalam kitab beliau Ar-Rohiqul Makhtum [Kitab beliau ini meraih peringkat pertama dalam perlombaan mengarang Sirah Nabawiah yang diadakan oleh Rabithah Al-‘Alam Al-Islamy pada tahun 1399 H], hal. 54, “Pimpinan para Rasul dilahirkan di lingkungan Bani Hasyim di Mekah pada subuh hari Senin tanggal 9 bulan Rabi’ul Awwal tahun pertama dari peristiwa perang Gajah dan bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 bulan April tahun 571 M”.</p>
<p>Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid dan Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin -rahimahumallah-.</p>
<p>Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid -rahimahullah- berkata ketika menyebutkan tentang Abu Sa’id Al-Kaukabury [Dia adalah orang yang pertama kali merayakan maulid di negeri Maushil sebagaimana yang akan datang penjelasannya], “Dia mengadakan perayaan tersebut pada malam kesembilan (Rabi’ul Awal) menurut yang dikuatkan oleh para ahli hadits [Ucapan ini jangan dipahami bahwa ahlul hadits menguatkan bolehnya maulid, tapi maknanya bahwa ahlul hadits menguatkan bahwa hari kelahiran beliau pada tanggal 9.[ed]] bahwa beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dilahirkan pada malam itu (kesembilan) dan beliau wafat pada tanggal 12 Rabi’ul Awal menurut kebanyakan ulama” [Lihat kitab beliau Ar-Rasa`ilul Hisan fii Fadho`ihil Ikhwan hal. 49].</p>
<p>Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin -rahimahullah- berkata setelah menyebutkan konsekuensi kecintaan kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, “Maka ketika itu, jika bulan ini (Rabi’ul Awwal) adalah bulan diutusnya Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, demikian juga dia adalah bulan dilahirkannya Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- berdasarkan pendapat yang dinyatakan oleh para pakar sejarah. Hanya saja, tidak diketahui malam keberapa beliau dilahirkan. Pendapat yang paling bagus adalah yang menyatakan bahwa beliau dilahirkan pada malam ke 9 dari bulan ini (Rabi’ul Awwal) bukan malam ke 12. Berbeda halnya dengan pendapat yang terkenal di sisi kebanyakan kaum muslimin saat ini. Karena ini (yakni lahirnya beliau pada tanggal 12) tidaklah memiliki landasan yang benar dari sisi sejarah. Berdasarkan perhitungan para ahli falak belakangan, kelahiran beliau adalah pada hari ke 9 dari bulan ini …”. [Lihat Majmu Al-Fatawa (7/357) karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin, kumpulan Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaimany] </p>
<p><!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Maulid Nabi adalah tanggal 12 Rabi‘ul Awwal.</p>
<p>Muhammad bin Ishaq bin Yasar berkata sebagaimana dalam Siroh Nabawiyyah (1/58) karya Ibnu Hisyam -rahimahullah-, “Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal, tahun Gajah”.</p>
<p>Akan tetapi pendapat ini dilemahkan oleh Syaikh Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Wahhab -rahimahullah-. Dalam kitab beliau Mukhtashor Siratur Rosul, hal. 18, beliau menyatakan, “Beliau -‘Alaihis sholatu wassalam- dilahirkan pada tanggal 8 Rabi’ul Awwal. Qila (dikatakan) [Istilah qila (dikatakan) dengan bentuk kalimat pasif di kalangan para ulama biasa digunakan untuk melemahkan suatu pendapat, dan ini adalah perkara yang masyhur dan jelas bagi siapa saja yang menelaah kitab-kitab para ulama], “tanggal 10”, dan qila (dikatakan) : “tanggal 12”, pada hari Senin”.</p>
<p>Kami katakan: Berkaca pada semua perkataan dan pernyataan di atas, kita bisa lihat bahwa pendapat yang menyatakan bahwa Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dilahirkan pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal sama sekali tidak memiliki landasan hujjah (argumen) yang kuat. Dan pendapat yang paling mendekati kebenaran -insya Allah- adalah yang menyatakan bahwa Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dilahirkan pada tanggal 8 Rabi’ul Awwal karena adanya riwayat dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im -rahimahullah-, kemudian setelahnya adalah pendapat yang dikuatkan oleh para ahli hadits yang menyatakan bahwa beliau dilahirkan pada tanggal 9 Rabi’ul Awwal, wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.</p>
<p>I. Yang Pertama Kali Merayakannya.</p>
<p>Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz At-Tuwaijiry -hafizhohullah- berkata, “Yang pertama kali memunculkan bid’ah ini adalah Bani ‘Ubaid Al-Qoddah yang menamakan diri dengan Al-Fathimiyyun dan menyandarkan nasab mereka kepada keturunan Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu ‘anhu-. Padahal sebenarnya, mereka adalah pendiri dakwah bathiniyah. Nenek moyang mereka Ibnu Daishon yang dikenal dengan nama Al-Qoddah, seorang budak milik Ja’far bin Muhammad Ash-Shodiq dan salah seorang pendiri mazhab bathiniah di Irak. Kemudian dia pergi ke negeri Maghrib (Maroko) mengaku sebagai keturunan ‘Uqail bin Abi Tholib. Tatkala kaum ekstrim Syi’ah-Rafidhah bergabung ke mazhabnya, diapun mengaku sebagai anak Muhammad bin Isma’il bin Ja’far Ash-Shodiq dan mereka menerima hal tersebut. Padahal Muhammad bin Isma’il meninggal dalam keadaan tidak memiliki keturunan. Di antara yang mengikutinya adalah Hamdan Qirmith, yang (firqoh) Al-Qoromithoh disandarkan kepadanya.</p>
<p>Waktu terus berjalan hingga muncul dari kalangan mereka seseorang yang bernama Sa’id bin Al-Husain bin Ahmad bin Abdillah bin Maimun bin Daishon Al-Qoddah, yang kemudian mengubah nama dan nasabnya. Dia berkata kepada pengikutnya, “Saya adalah ‘Ubaidullah [Para pengikutnya kemudian dikenal dengan nama Al-‘Ubaidiyyun (pengikut Ubaidullah)] bin Al-Hasan bin Muhammad bin Isma’il bin Ja’far Ash-Shodiq” sehingga meluaslah fitnah (malapetaka)nya di Maghrib” [Al-Bida’ Al-Hauliyyah hal. 137-139].</p>
<p>Berikut perkataan beberapa ulama dalam mengingkari penisbahan mereka kepada ahlil bait (keturunan Rasulullah):</p>
<p>Ibnu Khallikan -rahimahullah- berkata sebagaimana dalam Al-Bida’ Al-Hauliyyah, hal. 139, “Pakar ilmu nasab dari kalangan muhaqqiqin mengingkari pengakuan dia (Ubaidullah) kepada nasab (ahlil bait) tersebut”.<br />
Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata, “Sesungguhnya pemerintahan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun yang bernisbah kepada Ubaidillah bin Maimun Al-Qoddah, seorang Yahudi yang memerintah di Mesir dari tahun 357 – 567 H, mereka memunculkan banyak hari-hari raya. Di antaranya perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-” [Al-Bidayah 11/127].<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata dalam Majmu’ Al-Fatawa (35/120), “Telah diketahui bahwa jumhur (kebanyakan) manusia mengingkari penisbahan mereka serta mereka (jumhur) menyebutkan bahwa mereka (Al-Ubaidiyyun) merupakan anak keturunan Majusi atau yahudi. Perkara ini masyhur berdasarkan persaksian para ulama dari berbagai kelompok ; Al-Hanafiah, Al-Malikiah, Asy-Syafi’iyyah, Al-Hanabilah, Ahlil Hadits, Ahlil kalam, pakar nasab, orang awwam dan selain mereka”.<br />
Pada tempat lain (25/120-132) beliau menyebutkan beberapa ulama yang lain seperti :</p>
<p>Ibnul Atsir Al-Maushily dalam Tarikhnya, beliau menyebutkan sesuatu yang ditulis oleh para ulama kaum muslimin dalam tulisan-tulisan mereka langsung dalam mengkritik penisbahan mereka.<br />
Ibnul Jauzy.<br />
Abu Syamah dalam kitabnya Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ wal Hawadits.<br />
Al-Qodhy Abu Bakr Muhammad bin Ath-Thoyyib Al-Baqillany dalam kitab beliau yang masyhur yang berjudul Kasyful Asrar wa Hatkul Astar. Dia menyebutkan bahwa mereka adalah dari keturunan Majusi.<br />
Al-Qodhy Abu Ya’la Muhammad bin Al-Husain Al-Farra`, seorang ulama’ Al-Hanabilah dalam kitab beliau Al-Mu’tamad.<br />
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghozaly dalam kitab beliau yang berjudul Fadho`ilul Mustazhharoh wa Fadho`ihul Bathiniyyah.<br />
Al-Qodhy Abdul Jabbar bin Ahmad Al-Hamadzany dan yang semisal dengannya dari kalangan ahli kalam Mu’tazilah.<br />
Kemudian, bid’ah perayaan hari lahir (ulang tahun) secara umum serta perayaan hari lahir Nabi (maulid) secara khusus, tidaklah muncul kecuali pada zaman Al-Ubaidiyyun pada tahun 362 H. Tidak ada seorangpun yang mendahului mereka dalam merayakan maulid ini. </p>
<p>Taqiyyuddin Al-Maqrizy -rahimahullah- berkata dalam Al-Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khuthoth wal Atsar (1/490) di bawah judul ‘Penyebutan Hari-Hari yang Dijadikan Sebagai Hari Raya oleh Khilafah Al-Fathimiyyun…’, “Khilafah Al-Fathimiyyun sepanjang tahun memiliki beberapa hari raya dan hari peringatan, yaitu : Perayaan akhir tahun, perayaan awal tahun (tahun baru), hari ‘Asyura`, perayaan maulid (hari lahir) Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, maulid Ali, maulid Al-Hasan, maulid Al-Husain, maulid Fathimah -radhiyallahu ‘anhum-, perayaan maulid (ulang tahun) khalifah saat itu, perayaan malam pertama dan pertengahan bulan Rajab, malam pertama serta pertengahan dari bulan Sya’ban, …”. </p>
<p>Juga telah berlalu keterangan dari Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam masalah ini ketika beliau mengingkari penisbahan mereka (Al-Ubaidiyyun) kepada ahlil bait.</p>
<p>Maka hal ini merupakan persaksian yang sangat jelas dan gamblang dari beliau berdua -padahal Al-Maqrizy adalah termasuk para ulama yang menetapkan dan membela penisbahan mereka kepada keturunan Ali bin Abi Tholib- bahwa Al-Ubaidiyyun adalah sebab turunnya musibah ini (perayaan bid’ah maulid) atas kaum muslimin serta merekalah yang membuka pintu-pintu perayaan bid’ah dengan berbagai macam bentuknya.</p>
<p>Pendapat ini (bahwa yang memulai perayaan maulid adalah Al-Bathiniyyah) telah dikuatkan oleh sejumlah ulama belakangan. Berikut nama-nama beserta perkataan mereka:</p>
<p>Mufti Negeri Mesir, Syaikh Muhammad bin Bukhoith Al-Muthi’iy -rahimahullah- berkata, “Termasuk perkara-perkara yang baru muncul dan banyak pertanyaaan tentangnya adalah masalah perayaan-perayaan maulid (ulang tahun). Maka kami katakan bahwa sesungguhnya yang pertama kali memunculkannya di Qohirah (baca: Kairo) adalah khilafah Al-Fathimiyyun dan yang pertama kali dari kalangan mereka adalah orang yang bernama Al-Mu’izz Lidinillah …” [Ahsanul Kalam fii ma Tata’allaqu bis Sunnah wal Bid’ah minal Ahkam hal. 44].<br />
Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqy -rahimahullah- berkata dalam ta’liq (komentar) beliau terhadap kitab Syaikhul Islam Al-Iqtidho`, hal.294, “… bahkan tidak ada yang memunculkan hari-hari raya kesyirikan ini kecuali Al-‘Ubaidiyyun yang ummat telah bersepakat akan kemunafikan mereka dan bahwa mereka lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani dan bahwa mereka adalah musibah atas kaum muslimin. Kaum muslimin menyimpang dari jalan yang lurus lewat tangan-tangan, dan susupan-susupan mereka serta sesuatu yang mereka masukkan ke dalam ummat ini berupa racun-racun Shufiyah (tashowwuf) yang busuk”.<br />
Syaikh Muqbil bin Hady –rahimahullah-, Syaikh Ahmad An-Najmy, dan Syaikh Sholih Al-Fauzan -hafizhohumallah- juga menetapkan hal yang sama sebagaimana akan datang perkataan mereka pada bab ketiga belas ketika menyebutkan perkataan para ulama tentang bid’ahnya perayaan maulid.<br />
Syaikh ‘Uqail bin Muhammad bin Zaid Al-Maqthiry Al-Yamany berkata, “Yang pertama kali memunculkannya -yaitu perayaan maulid- di Kairo adalah Al-Mu’izz Lidinillah Al-Fathimy pada tahun 362 H dan terus berlangsung sampai dihapuskan oleh Al-Afdhol, Panglima pasukan perang Badrul Jamaly pada tahun 488 H pada zaman pemerintahan Al-Musta’ly Billah. Tatkala khilafah Al-Amir bi Ahkamillah bin Al-Musta’ly berkuasa pada tahun 495 H, perayaan maulidpun kembali dirayakan” [Al-Maurid fii Hukmil Ihtifal bil Maulid hal 8-9].<br />
Nampak dari nukilan-nukilan tadi bahwa yang pertama kali mengerjakan amalan bid’ah ini (perayaan maulid) adalah Al-Ubaidiyyun alias Al-Fathimiyyun yang bermazhab bathiniyah. Mereka ini ingin mengubah agama kaum muslimin, memasukkan ke dalam agama Islam sesuatu yang bukan darinya, dan menjauhkan kaum muslimin dari agamanya yang sebenarnya. Karena menyibukkan manusia dengan melakukan berbagai amalan bid’ah adalah cara termudah untuk mematikan sunnah Nabi -Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- yang suci dan menjauhkan manusia dari syari’at Allah -Subhanahu wa Ta’ala- yang penuh dengan kemudahan.</p>
<p>Adapun yang dinukil dari sekelompok ulama seperti Ibnu Katsir, Ibnu Khallikan, dan As-Suyuthy dan diikuti oleh beberapa ulama belakangan seperti Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh dan Syaikh Hamud At-Tuwaijiry bahwa yang pertama kali merayakan maulid Nabi adalah raja Irbil Muzhoffaruddin Abu Sa’id Al-Kaukabury bin Abil Hasan Ali bin Bakatkin di akhir abad keenam atau awal abad ketujuh Hijriah, maka pernyataan mereka ini dibawa (baca: diarahkan maknanya) kepada perkataan Abu Syamah Abdurrahman bin Isma‘il Al-Maqdisy dalam kitabnya Al-Ba’its ‘ala Ingkaril Bida’ wal Hawadits hal. 31 ketika beliau berkata, “Sesungguhnya yang pertama kali merayakannya di Maushil adalah Syaikh Umar bin Muhammad Al-Mulla, salah seorang dari kalangan orang sholeh yang terkenal [Amalan orang yang dianggap sholeh ini menunjukkan kebodohan dia terhadap sunnah Nabinya -Shollallahu alaihi wasallam-. Demikianlah keadaan kebanyakan bid’ah, setan masukkannya ke dalam Islam dengan perantaraan orang-orang yang dianggap sholih, akan tetapi bodoh dan berpaling dari mempelajari agama Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, Wallahul Musta’an], yang kemudian diikuti (dalam merayakannya) oleh raja Irbil”.</p>
<p>Maka kita lihat, apa yang beliau sebutkan tentang orang yang pertama kali merayakannya hanya terbatas di negeri Maushil. Ini tidaklah menunjukkan bahwa yang pertama kali merayakannya secara mutlak adalah raja Irbil, karena telah berlalu bahwa yang pertama kali merayakannya adalah Al-Fathimiyyun dari kalangan Al-Bathiniyyah. Sehingga dengan demikian, pernyataan yang dinukil dari Ibnu Katsir dan yang mengikuti beliau ini tidaklah bertentangan dengan pembahasan yang telah kami terangkan di atas.</p>
<p>Termasuk perkara yang menguatkan bahwa Al-Ubaidiyyun Al-Fathimiyyun Al-Bathiniyyun telah mendahului raja Irbil dalam merayakan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah bahwa Al-Mu’izz Lidinillah yang bernama Ma’ad bin Abdillah Al-Fathimy datang ke Qohirah pada bulan Romadhon tahun 362 H. Sedang tahun itu merupakan awal pemerintahan mereka (Al-Fathimiyyun) di Mesir. Khalifah yang terakhir dari mereka adalah Al-‘Adhid Abdullah bin Yusuf, meninggal pada tahun 567 H. Adapun Muzhoffaruddin -Raja Irbil-, maka dia dilahirkan pada tahun 549 H dan meninggal tahun 630 H. Jadi, ini merupakan bukti nyata bahwa raja Irbil telah didahului oleh Al-Ubaidiyyun dalam merayakan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sekitar 2 abad sebelumnya, wallahu A’lam.</p>
<p>Untuk lebih memperjelas masalah, berikut kami sebutkan beberapa pemikiran bathiniyah beserta nukilkan beberapa komentar ulama tentang kebejatan mereka terhadap Islam dan kaum muslimin, yang mana pada gilirannya hal ini akan mengungkap hakekat dari perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- yang mereka munculkan:</p>
<p>Mereka meyakini bahwa Ali bin Abi Tholib adalah sembahan selain Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.<br />
Mereka melakukan tahrif ma’nawy (penyelewengan makna) terhadap ayat-ayat Allah -Subhanahu wa Ta’ala- (memalingkan makna ayat dari makna sebenarnya yang zhohir kepada makna yang tidak masuk akal, yang mereka anggap sebagai batin ayat tersebut). Ini merupakan sejelek-jelek tahrif. Contohnya mereka menafsirkan ayat:<br />
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa”. (QS. Al-Lahab : 1)</p>
<p>Mereka menafsirkan ‘dua tangan’ yaitu Abu Bakar dan Umar -radhiyallahu ‘anhuma-.</p>
<p>Mereka berkeyakinan bahwa semua syari’at dan aturan dalam Islam memiliki zhohir dan batin. Yang zhohir -menurut mereka- adalah kaifiyat/cara yang diamalkan oleh kaum muslimin pada umumnya. Sedangkan yang batin adalah suatu cara yang hanya diketahui oleh kalangan mereka sendiri dan hanya boleh diamalkan oleh orang-orang khusus yaitu mereka. Contohnya sholat lima waktu; zhohirnya adalah dengan mengerjakan sholat, sedangkan batinnya -dan hanya ini yang mereka amalkan- adalah mengetahui rahasia-rahasia mazhab mereka. Jadi, siapa yang telah mengetahui rahasia-rahasia tersebut, maka dia sudah dianggap melaksanakan sholat walaupun tidak melakukan gerakan-gerakan sholat. Puasa batinnya adalah menyembunyikankan rahasia-rahasia kelompok mereka. Batinnya ibadah haji -menurut mereka- adalah menziarahi kuburan guru-guru mereka, dan seterusnya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, maka apakah masih ada ajaran agama yang tersisa dengan keyakinan mereka ini ?!.<br />
Ibnu Katsir -rahimahullah- menyebutkan dalam Al-Bidayah wan Nihayah (11/286-287) bahwa pada tahun 402 H, sejumlah ulama, para hakim, orang-orang terpandang, orang-orang yang adil, orang-orang sholeh, dan para ahli fiqh, mereka semua telah menulis sebuah tulisan yang berisi pencacatan dan celaan pada nasab keturunan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun. Mereka menyebutkan dalam tulisan tersebut beberapa pemikiran sesat mereka, di antaranya: Mereka telah menelantarkan aturan-aturan, menghalalkan kemaluan (zina), menghalalkan khomer, menumpahkan darah, mencerca para nabi, melaknat Salaf (para sahabat Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan pengikutnya) serta mereka mengaku bahwa guru-guru mereka memiliki sifat-sifat ketuhanan.<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- pernah ditanya tentang mereka. Beliau menjawab bahwa mereka adalah termasuk manusia yang paling fasik dan yang paling kafir, dan bahwa siapa saja yang mempersaksikan keimanan dan ketakwaan bagi mereka serta (mempersaksikan) benarnya nasab keturunan mereka (kepada Ali bin Abi Tholib) maka sungguh dia telah mempersaksikan untuk mereka dengan perkara-perkara yang dia sendiri tidak mengetahuinya. Padahal Allah -Ta’ala- telah berfirman:<br />
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya”. (QS. Al-Isra` : 36)</p>
<p>Dan Allah -Ta’ala- berfirman:</p>
<p>“… Kecuali orang-orang yang bersaksi dalam keadaan mereka mengetahui (apa yang mereka persaksikan)”. (QS. Az-Zukhruf : 86)” [Majmu’ Al-Fatawa (22/120)].</p>
<p>Dari seluruh keterangan-keterangan di atas, telah nampak jelas bagi setiap orang yang menginginkan kebenaran bahwa perayaan hari maulid (ulang tahun) secara umum dan maulid Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- secara khusus bukanlah termasuk bagian dari ajaran Islam sama sekali. Hal ini kita bisa tinjau dari tiga sisi:</p>
<p>Perayaan maulid Nabi setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal sama sekali tidak memiliki landasan sejarah yang kuat sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid dan Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahumallahu Ta’ala- [Telah berlalu pernyataan kedua ulama ini ketika membawakan pendapat-pendapat dan khilaf para ulama seputar tanggal kelahiran Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-]. Jadi, bagaimana bisa dikatakan perayaan ini memiliki landasan/asal dari syari’at Islam ?!<br />
Perayaan Maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ini tidaklah muncul kecuali setelah berakhirnya zaman-zaman keutamaan (zaman para sahabat, tabi’in, dan yang mengikuti mereka). Maulid tidaklah pernah dikerjakan oleh para sahabat, tidak pula para tabi’in, serta tidak juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sebagaimana yang akan kami pertegas pada bab ketiga belas dalam buku ini.<br />
Sesungguhnya yang pertama kali memunculkan bid’ah maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ini adalah suatu kaum yang disepakati oleh seluruh ulama Islam tentang kekafiran dan kemunafikan mereka. Mereka adalah Al-Bathiniyyah yang ingin mengubah agama kaum muslimin dan memasukkan ke dalamnya perkara-perkara yang tidak termasuk dalam agama mereka.<br />
{Rujukan: Al-Qaulul Fashl fii Hukmil Ihtifal bi Maulidi Khairir Rasul hal. 64-72, Al-Maurid fii Hukmil Ihtifal bil Maulid hal. 7-9 dan Al-Bida’ Al-Hauliyah hal. 137-151}</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MAULID Tinjauan Sejarah dan Analisa Dampak Sejarah lahirnya Maulid]]></title>
<link>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/04/09/maulid-tinjauan-sejarah-dan-analisa-dampak-sejarah-lahirnya-maulid/</link>
<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 13:47:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuyahya8211</dc:creator>
<guid>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/04/09/maulid-tinjauan-sejarah-dan-analisa-dampak-sejarah-lahirnya-maulid/</guid>
<description><![CDATA[MAULID Tinjauan Sejarah dan Analisa Dampak Sejarah lahirnya Maulid Syaikh ‘Ali Mahfudzh dalam bukuny]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>MAULID</strong><br />
<strong><em>Tinjauan Sejarah dan Analisa Dampak<br />
Sejarah lahirnya Maulid</em></strong></p>
<p>Syaikh ‘Ali Mahfudzh dalam bukunya menerangkan, “Ada yang mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakannya ialah para Khalifah Bani Fahimiyyah di Kairo pada abad keempat Hijriyah. Mereka merayakan perayaan bid’ah enam maulid, yaitu: Maulid Nabi saw, Maulid Imam ‘Ali ra, Maulid Sayyidah Fathimah Az-Zahra radhiallahu ‘anha, Maulid Al-Hasan dan Al-Husein dan maulid Khalifah yang sedang berkuasa. Perayaan tersebut terus berlangsung dalam berbagai bentuknya sampai dilarang pada zaman pemerintahan Al-Afdhal Amirul Juyusy. Perayaan ini kemudian dihidupkan kembali di zaman pemerintahan Al-Hakim biamrillah pada tahun 524 Hijriyah setelah orang-orang hampir melupakannya. Dan yang pertama kali maulid Nabi dikota Irbil adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Said di abad ketujuh dan terus berlangsung sampai di zaman kita ini. Orang-orang memperluas acaranya dan menciptakan bid’ah-bid’ah sesuai dengan selera hawa nafsu mereka yang diilhamkan oleh syaithan , jin dan manusia kepada mereka.” [Al-Ibda’ fi madhiril ibtida’: 126].<br />
 Satu hal yang sangat penting untuk diketahui bahwa Kerajaan Fathimiyyah didirikan oleh ‘Ubaidillah Al-Mahdi tahun 298 H di Maghrib (sekarang wilayah Maroko dan Aljazair) sedangakan di Mesir kerajan ini didirikan pada tahun 362 H oleh Jauhar As-Shaqali. Para pendiri dan raja-raja kerajaan ini beragama Syi’ah Islmailiyah Rafdliyah. Kerajaan ini didirikan sebagai misi dakwah agama tersebut dan merusak Islam dengan berkedok kecintaan terhadap Ahlul Bait (keluarga Nabi saw). Maka jelaslah sudah bagi mereka yang memiliki bashirah bahwa perayaan maulid dipelopori oleh kaum Syi’ah.<br />
Hari lahir Nabi memang istimewa, akan tetapi…..<br />
<!--more--><br />
Tentang keistimewaan hari lahir Nabi saw, terdapat hadits shahih dari Abi Qatadah, beliau menceritakan bahwa seorang A’rabi (Badawi) bertanya kepada Rasulullah saw: “Bagaimana penjelasanmu tentang berpuasa di hari Senin? maka Rasulullah saw menjawab, ‘Ia adalah hari aku dilahirkan dan hari diturunkan kepadaku Al-Qur’an” [Syarh Shahih Muslim An-Nawawi 8 / 52]. Hari kelahiran Nabi adalah istimewa berdasarkan hadits tersebut, akan tetapi tidak terdapat dalam hadits tersebut perintah untuk merayakannya. Seandainya kita setuju dengan istilah “merayakan”, maka seharusnya kaum Muslimin merayakannya dengan berpuasa sebagaimana tersurat dalam hadits tersebut. Bukannya merayakan dengan berfoya-foya dan pesta arak-arakan seperti yang kita saksikan saat ini.</p>
<p>ANALISA DAMPAK PERAYAAN MAULID<br />
Praktek Kesyirikan yang tidak Disadari<br />
Kenyataan yang ada, bahwa pada sebagian kaum Muslimin dalam merayakan maulid mereka membacakan Barzanji, sebuah ritual membacakan puji-pujian kepada Nabi saw yang di dalamnya juga terdapat jentik-jentik kesyirikan dan pujian yang melampaui batas Syari’at terhadap Nabi saw (ithra’), namun mereka menganggap itu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini membuat sebuah praktek kesyirikan menjadi terselubung dalam nuansa yang dianggap ibadah. Lebih jelas lagi tentang hal ini kami cantumkan dalam rubrik “STUDI KRITIS” Tentang pujian yang melampaui batas, Rasulullah saw bersabda : “Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani berlebihan memuji putera Maryam. Aku tidak lain hanyalah seorang hamba, maka Katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya.” [HR. Bukhari dari ‘Umar ra]<br />
Inilah dampak yang terbesar dan tercantum di urutan pertama dari sekian kerusakan dalam ritual perayaan maulid. Karena perbuatan Syirik menghapus seluruh amal seorang hamba sebagaimana firman-Nya : “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepada kamu (Hai Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika engkau berbuat syirik niscaya akan hapus amalmu dan niscaya engkau termasuk golongan orang-orang yang merugi.” [QS. Az-Zumar : 65]. Kaum Muslimin yang terlibat dalam pembacaan Barzanji tersebut juga meyakini datangnya ruh Muhammad sehingga mereka menyambutnya dengan berdiri. Ini adalah I’tiqad yang keliru dan melampaui batas terhadap Nabi saw . Keyakinan seperti ini bertentangan dengan firman Allah : “Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” [Al-Mukminun : 15-16]. Bertentangan pula dengan sabda Rasulullah saw : “Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat nanti, Aku adalah orang yang pertama kali memberi Syafa’at dan orang yang pertama kali diterima Syafa’atnya” Berkata Imam Ibnu Baaz setelah membawakan dua dalil tersebut, “Ayat dan Hadits di atas serta nash-nash lain yang semakna bahwa Nabi Muhammad saw dan siapapun yang sudah mati tidak akan bangkit kembali dari kuburnya, kecuali pada hari kiamat. Hal ini merupakan kesepakatan para ‘ulama Muslimin, tidak ada pertentangan diantara mereka”. [At-Tahdziru minal Bida’ oleh Syaikh Abdul ‘Aziz Abdullah bin Baaz].<br />
Mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan Syari’at<br />
Ini dikarenakan Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menetapkan dalam Syari’at untuk beribadah dengan merayakan hari kelahiran Nabi. Perbuatan sebagian kaum Muslimin melakukan ritual dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak ada contohnya dari Rasulullah dan Sahabat jelas merupakan sikap mendahului Allah dan Rasulullah dalam menetapkan Syari’at. Sedangkan Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya&#8230;”[Al-Hujurat :1]. Maksudnya adalah, orang-orang Mukmin tidak boleh menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana pendapat Anda ? Jika Raja alam semesta ini menetapkan suatu aturan bagi kebahagian hambanya, kemudian Sang Raja menyatakan bahwa aturan-Nya itu telah sempurna. Lalu datanglah seorang hamba dengan membawa aturan baru yang dianggapnya baik bagi dirinya dan bagi hamba yang lain. Tidakkah ia (si hamba) tanpa disadari telah lancang menuduh aturan Sang Raja belum sempurna, sehingga perlu ditambahi ? Inilah hakikat Bid’ah, menyaingi bahkan mengambil hak Allah dalam menetapkan Syari’at. Padahal Allah berfirman: “Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka (aturan) agama yang tidak diizinkan Allah ?” [Asy-Syuura :21]. Kita tak akan pernah menemukan adanya perayaan hari ulang tahun Nabi oleh para Sahabat terekam dalam lembaran-lembaran kitab hadits yang shahih, karena memang itu tidak pernah terjadi pada masa Sahabat baik tabi’in, tabi’ut tabi’in dan bahkan tidak pernah terjadi pada masa Imam Syafi’ie (150 H &#8211; 204 H). Karena bid’ah maulid baru muncul pada abad ke-4 H. Kalau memang peringatan Maulid itu baik maka tentunya para sahabat telah mendahului kita melakukannya sebagaimana kata ulama : “walau kaana khairan lasabaquunaa ilaihi”<br />
Munculnya wujud rasa cinta yang keliru<br />
Perayaan maulid oleh sebagian kaum Muslimin dianggap sebagai bentuk ungkapan rasa cinta terhadap Nabi yang paling mulia Muhammad saw. Jika ini benar, siapakah diantara kita di zaman ini yang lebih dalam cintanya kepada Nabi ketimbang Sahabat ?. Tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali menjawab “Sahabatlah yang paling dalam cintanya kepada Nabi”. Jika memang demikian, lalu mengapa para Sahabat tidak mewujudkan rasa cinta kepada Nabi dengan cara merayakan hari kelahiran Nabi sebagaimana sebagian muslim di zaman ini ? Mengapa para Sahabat tidak mengarang bait-bait syair untuk memuji Nabi di hari kelahirannya ? Mengapa pula para Sahabat tidak membentuk “Panitia Lomba Maulid” untuk memeriahkan HUT manusia terbaik di muka bumi ini? “Tunjukkanlah bukti kalian, jika kalian orang-orang yang benar” [Al-Baqarah : 111].<br />
Sesungguhnya Ahlussunnah meyakini bahwa yang terpenting adalah bagaimana menjadi mukmin yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena ungkapan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya bisa juga diucapkan oleh orang-orang munafik, akan tetapi mereka bukan orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan mustahil mendapatkan kecintaan Allah kecuali dengan mengikuti Sunnah Nabi yang mulia. Allah berfirman : “Katakanlah ; ‘jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku (Muhamad)! Niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampunkan dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” [QS.Ali-‘Imran: 31].<br />
Bukannya kebaikan, justru sebaliknya<br />
Tidak asing telinga kita mendengar hentakan-hentakan musik yang hingar bingar pada setiap tahunnya di bulan Rabiul Awwal dalam aneka ragam perayaan maulid. Alunan-alunan musik tersebut tidak jarang disertai juga oleh pemuda-pemuda mabuk yang bergoyang bersama mengikuti irama lagu. Bahkan musik-musik tersebut diperdengarkan di rumah Allah yang di dalamnya digunakan untuk bersujud kepada-Nya. (hanya kepada Allah memohon pertolongan dari kerusakan ini). Allah berfirman : “Dan diantara manusia ada yang menggunakan “lahwal hadits” untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azdab yang menghinakan ” [Luqman : 6]. Ibnu Mas’ud ra menafsirkan lahwal hadits dalam ayat tersebut adalah “nyanyian atau lagu”. [lih. Tafsir Ibnu Katsier Surat Luqman].<br />
Jati diri Islam menjadi luntur, karena mengekor pada Nashrani<br />
Maulid pada hakikatnya meniru Nashrani dalam hal merayakan hari kelahiran Nabi Isa yang mereka sebut dengan Natal. Kita, ummat Muhammad dilarang keras menyerupai Yahudi dan Nashrani apalagi meniru-niru ritual agama mereka. Allah berfirman : “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka (Yahudi dan Nashrani) setelah datang kepadamu ilmu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim.” [Al-Baqarah :145]. Yang dimaksud ayat ini menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah “meniru sesuatu yang menjadi ciri khas mereka, atau yang merupakan bagian dari ajaran Agama mereka” [Iqtidha’ shirathal mustaqim T. / 63-64]. Rasulullah juga bersabda : “Barang siapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan kaum itu” [Ahmad dan Abu Dawud, shahih].<br />
Kecenderungan bersikap tabdzir (menghamburkan harta secara mubazzir)<br />
Bisa dibayangkan dana yang dikeluarkan oleh sebagian kaum muslimin yang merayakan maulid, andaikata dana-dana tersebut disedekahkan kemudian dikorbankan untuk berjihad di jalan Allah niscaya hal itu akan lebih bermanfaat ketimbang menggunakannya sebagai penyokong bid’ah yang tidak bernilai ibadah di sisi Allah. Bahkan diantara mereka ada yang sampai memberatkan diri untuk berhutang kepada saudara muslim lainnya. Ini adalah sikap mubazzir yang dapat menghantarkan kita menjadi saudara-saudara syaitan sebagaimana yang disebut oleh Al-Qur’an “…dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar pada Tuhannya” [Al-Isra’ :26-27].<br />
Membantu penyebaran hadits palsu<br />
Perlu diketahui bahwa banyak beredar di tengah ummat hadits-hadits tentang keutamaan merayakan hari kelahiran Nabi. Dan semuanya adalah palsu tidak ada keraguan padanya. Kami tidak akan menyebutkannya karena di sini bukanlah tempatnya. Di bulan Rabiul Awwal ini selalu disampaikan hadits-hadits tentang keutamaan maulid di atas-atas mimbar maupun pada saat acara perayaan dilangsungkan, ini tentu saja membantu menyebarkan kedustaan atas nama Rasulullah. Sedangkan Rasul bersabda :“Barang siapa mengatakan sesuatu atas namaku sesuatu yang tidak aku katakan maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dalam neraka.” [Hadits Hasan riwayat Ahmad].<br />
Persatuaan Islam yang semu<br />
Sebagian kaum Muslimin masih berusaha melakukan pembelaan terhadap perayaan maulid dengan berkata : “Ini adalah momen yang istimewa untuk mempererat ukhuwah, silaturahmi dan menyemarakkan sedekah antara saudara Muslim. Jadi tidak ada salahnya kita merayakan maulid dengan kemeriyahannya”. Untuk menjawab ungkapan ini kita kembali kepada kaidah yang sangat kokoh bahwa generasi pertama ummat ini adalah sebaik-baik generasi, berdasarkan hadits “Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (Sahabat), kemudian yang sesudahnya (tabi’in) kemudian yang sesudahnya (tabi’ tabi’in)” [HR. Bukhari]. Berangkat dari kaidah ini kita katakan bahwa para Sahabat adalah orang-orang yang paling kokoh ukhuwah dan silaturahminya terhadap saudara Muslim. Barisan shaf mereka rapat, bersambung dari bahu kebahu dari tumit ke tumit dan kokoh dihadapan Rabbul ‘alamin sewaktu mereka berdiri, ruku’ dan sujud. Jiwa-jiwa mereka bersatu di medan jihad. Begitu pula sedekah mereka tidak berbicara sebagaimana orang-orang di zaman ini. Dan tidaklah itu semua dikarenakan oleh perayaan maulid Nabi, tidak pula oleh aneka lomba dan permainan yang mereka adakan setiap Rabiul Awwal. Giliran kami yang bertanya, jika maulid adalah jembatan menuju persatuan Islam dan ukhuwah Islamiyah yang kokoh, lalu apa gerangan yang mengakibatkan kaum Muslimin sampai saat ini masih terkotak-kotak karena berpecah belah ? Padahal perayaan maulid telah berlangsung lebih dari sepuluh abad. Hanya kepada Allah kita kembali dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan dari badai syubhat dan syahwat yang menerpa.</p>
<p>Sumber Bacaan:<br />
- Idtidho Shitothol Muataqim<br />
- Tahdziiru Minal Bida’ </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MAULID TAHUN INI]]></title>
<link>http://mangajid.wordpress.com/2009/03/30/maulid-tahun-ini/</link>
<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 07:34:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mang Ajid</dc:creator>
<guid>http://mangajid.wordpress.com/2009/03/30/maulid-tahun-ini/</guid>
<description><![CDATA[Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di kampungku tahun ini agak berbeda. Dikatakan berbeda, karena m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di kampungku tahun ini agak berbeda.</p>
<p>Dikatakan berbeda, karena masyarakat di kampungku kali ini memperingatinya sampai 2 kali.</p>
<p>Peringatan yang pertama tepat pada tanggal 12 Rabiulawal menurut kalender, acaranya biasa seperti yang sudah-sudah, yaitu dengan pembacaan kitab Barjanji di mesjid  ( <em>baca</em> : <a target="new" href="http://mangajid.wordpress.com/2009/03/10/ketika-kitab-barjanji-dikumandangkan/">Ketika Kitab Barjanji Dikumandangkan</a> ), yang ke 2, diperingati tepat hari terakhir di bulan yang sama.<!--more--></p>
<p>Pada acara peringatan yang ke 2 inilah dikatakan berbeda, Dewan Kemakmuran Mesjid menyelenggarakan pengajian akbar dengan mengundang seorang Kyai yang cukup kondang.</p>
<p>Selain itu disebar undangan kepada majelis taklim di daerah sekitar, diperkirakan undangan yang akan datang sekitar 2000 orang, sehingga kursi yang disediakan pun hanya 2000 kursi.</p>
<p>Tapi&#8230;, <strong>Subhanallah&#8230;</strong></p>
<p>Masih banyak orang yang berdiri untuk mengikuti pengajian akbar tersebut&#8230;, di dalam mesjid penuh, teras mesjid penuh, dan teras rumah penduduk yang dekat mesjid pun penuh. </p>
<p><em>Ada rasa bangga dan haru dalam hati melihat semua ini.<br />
</em><br />
<strong>Walaupun masih ada beberapa orang muslim yang memperingati hari besar non Islam dengan semangat&#8230;, ternyata begitu banyak orang muslim yang antusias memperingati Maulid Nabi&#8230;, hari besar ummat Islam.<br />
</strong><br />
Di bawah ini penulis tampilkan beberapa foto saat acara peringatan berlangsung.</p>
<p>Sambil menunggu acara utama dimulai, beberapa siswa Mts menampilkan kesenian rebana dengan menyanyikan syair-syair Islami.<br />
<img src="http://mangajid.wordpress.com/files/2009/03/mld1.jpg" alt="mld1" title="mld1" width="400" height="284" class="aligncenter size-full wp-image-574" /></p>
<p>Para bapak dan para pemuda duduk khidmat di sebelah barat panggung.<br />
<img src="http://mangajid.wordpress.com/files/2009/03/mld2.jpg" alt="mld2" title="mld2" width="400" height="300" class="aligncenter size-full wp-image-575" /></p>
<p>Para ibu dan para pemudi tak ketinggalan anak-anak, berkelompok di sebelah timur panggung.<br />
<img src="http://mangajid.wordpress.com/files/2009/03/mld3.jpg" alt="mld3" title="mld3" width="400" height="300" class="aligncenter size-full wp-image-576" /></p>
<p>Ketika seorang mubaligh memimpin pembacaan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, suara pun bergemuruh&#8230;, sampai merinding tubuh ini.<br />
<img src="http://mangajid.wordpress.com/files/2009/03/mld5.jpg" alt="mld5" title="mld5" width="400" height="300" class="aligncenter size-full wp-image-579" /></p>
<p>Sang kyai pun menyampaikan wejangannya.<br />
<img src="http://mangajid.wordpress.com/files/2009/03/mld4.jpg" alt="mld4" title="mld4" width="400" height="300" class="aligncenter size-full wp-image-577" /> </p>
<p>Begitu banyak hikmah yang bisa dipetik dari acara tersebut.</p>
<p>Silaturahmi terjalin, ketika karib kerabat juga sahabat yang lama tak bertemu kembali berjumpa di tempat yang sama.</p>
<p>Bahkan para pedagang asongan pun ikut mendapatkan rezeki dari acara tersebut, dengan banyaknya anak-anak yang membeli dagangannya.</p>
<p>Semoga, peringatan Maulid Nabi ini membuat kita lebih akrab dengan sifat-sifat Rasulullah Muhammad SAW. Amin.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hukum Memperingati Maulid Nabi]]></title>
<link>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/03/28/hukum-memperingati-maulid-nabi/</link>
<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 08:09:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuyahya8211</dc:creator>
<guid>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/03/28/hukum-memperingati-maulid-nabi/</guid>
<description><![CDATA[Hukum Memperingati Maulid Nabi Penulis: Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah Sun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Hukum Memperingati Maulid Nabi</strong></p>
<p>Penulis: Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah</p>
<p>Sungguh banyak sekali pertanyaan yang diajukan oleh kebanyakan kaum muslimim tentang hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad sholallahu ‘alahi wa sallam dan hukum mengadakannya setiap kelahiran beliau.</p>
<p>Adapun jawabannya adalah : TIDAK BOLEH merayakan peringatan maulid nabi karena hal itu termasuk bid’ah yang diada-adakan dalam agama ini, karena Rasulullah tidak pernah merayakannya, tidak pula para Khulafaur Rasyidin dan para Sahabat, serta tidak pula para tabi’in pada masa yang utama, sedangkan mereka adalah manusia yang paling mengerti dengan As-Sunnah, paling cinta kepada Rasulullah, dan paling ittiba’ kepada syari’at beliau dari pada orang–orang sesudah mereka.<br />
<!--more--></p>
<p>Dan sungguh telah tsabit (tetap) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda : “Barang siapa mengadakan perkara baru dalam (agama) kami ini yang tidak ada asal darinya, maka perkara itu tertolak. “(HR. Bukhari Muslim).</p>
<p>Dan beliau telah bersabda dalam hadits yang lain : “(Ikutilah) sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk sesudahku. Peganglah (kuat-kuat) dengannya, gigitlah sunnahnya itu dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah perkara-perkara yang diadakan-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat. (HR. Tirmidzi dan dia berkata : Hadits ini hasan shahih).</p>
<p>Dalam kedua hadits ini terdapat peringatan yang keras terhadap mengada-adakan bid’ah dan beramal dengannya. Sungguh Alloh telah berfirman : “Apa yang telah diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. “(QS. Al-Hasyr : 7).<br />
Alloh juga berfirman : “Maka hendaknya orang yang menyalahi perintah-Nya, takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. “(QS. AN-Nuur : 63).</p>
<p>Allah juga berfirman : “Orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah. Dan Allah menyediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya ada sungai-sungai yang mengalir, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. “(QS. At-Taubah : 100).</p>
<p>Allah juga berfirman : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agamamu. “(QS. Al Maidah : 3). Dan masih banyak ayat yang semakna dengan ini.</p>
<p>Mengada-adakan Maulid berarti telah beranggapan bahwa Allah ta&#8217;ala belum menyempurnakan agama ini dan juga (beranggapan) bahwa Rasulullah belum menyampaikan seluruh risalah yang harus diamalkan oleh umatnya. Sampai datanglah orang-orang mutaakhirin yang membuat hal-hal baru (bid’ah) dalam syari’at Allah yang tidak diijinkan oleh Allah.</p>
<p>Mereka beranggapan bahwa dengan maulid tersebut dapat mendekatkan umat islam kepada Allah. Padahal, maulid ini tanpa di ragukan lagi mengandung bahaya yang besar dan menentang Allah dan Rasul-Nya karena Allah telah menyempurnan agama Islam untuk hamba-Nya dan Rasulullah telah menyempurnakan seluruh risalah sampai tak tertinggal satupun jalan yang dapat menghubungkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali beliau telah meyampaikan kepada umat ini.</p>
<p>Sebagimana dalam hadits shohih disebutkan, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali wajib atas nabi itu menunjukkan kebaikan dan memperingatkan umatnya dari kejahatan yang Allah ajarkan atasnya. “(HR. Muslim).</p>
<p>Dan sudah diketahui bahwa Nabi kita adalah Nabi yang paling utama dan penutup para Nabi. Beliau adalah Nabi yang paling sempurna dalam menyampaikan risalah dan nasehat. Andaikata perayaan maulid termasuk dari agama yang diridhoi oleh Allah, maka pasti Rasulullah akan menerangkan hal tersebut kapada umatnya atau para sahabat melakukannya setelah wafatnya beliau.</p>
<p>Namun, karena tidak terjadi sedikitpun dari maulid saat itu, dapatlah di ketahui bahwa Maulid bukan berasal dari Islam, bahkan termasuk dalam bid’ah yang telah Rasulullah peringatkan darinya kepada umat beliau. Sebagaimana dua hadits yang telah lalu. Dan ada juga hadits yang semakna dengan keduanya, diantaranya sabda beliau dalam khutbah Jum’at : “Amma ba’du, maka sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dan sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang di ada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat. “(HR. Muslim).</p>
<p>Ayat-ayat dan hadits-hadits dalam bab ini banyak sekali, dan sungguh kebanyakan para ulama telah menjelaskan kemungkaran maulid dan memperingatkan umat darinya dalam rangka mengamalkan dalil-dalil yang tersebut di atas dan dalil-dalil lainnya.</p>
<p>Namun sebagian mutaakhirin (orang-orang yang datang belakangan ini) memperbolehkan maulid bila tidak mengandung sedikitpun dari beberapa kemungkaran seperti : Ghuluw (berlebih-lebihan) dalam mengagungkan Rasulullah, bercampurnya wanita dan laki-laki, menggunakan alat-alat musik dan lain-lainnya, mereka menganggap bahwa Maulid adalah termasuk BID’AH HASANAH, sedangkan kaidah Syara’ (kaidah-kaidah / peraturan syari’at ini) mengharuskan mengembalikan perselisihan tersebut kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah, sebagaimana Allah berfirman :<br />
“ Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan Ulil Amri dari kalian maka bila terjadi perselisihan di antara kalian tentang sesuatu kembalikanlah kepada (kitab) Allah dan (sunnah) RasulNya bila kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya. “(QS. Ann Nisaa’ : 59).<br />
Allah juga berfirman : “Tentang sesuatu apapun yang kamu berselisih, maka putusannya (harus) kepada (kitab) Allah, “(QS. Asy Syuraa : 10).</p>
<p>Dan sungguh kami telah mengembalikan masalah perayaan maulid ini kepada kitab Allah. Kami mendapati bahwa Allah memerintahkan kita untuk ittiba’ (mengikuti) kepada Rasulullah terhadap apa yang beliau bawa dan Allah memperingatkan kita dari apa yang dilarang. Allah juga telah memberitahukan kepada kita bahwa Dia &#8211; Subhanahu wa Ta’ala &#8211; telah menyempurnakan Agama Islam untuk umat ini. Sedangkan, perayaan maulid ini bukan termasuk dari apa yang dibawa Rasulullah dan juga bukan dari agama yang telah Allah sempurnakan untuk kita.</p>
<p>Kami juga mengembalikan masalah ini kepada sunnah Rasulullah. Dan kami tidak menemukan di dalamnya bahwa beliau telah melakukan maulid. Beliau juga tidak memerintahkannya dan para sahabat pun tidak melakukannya. Dari situ kita ketahui bahwa maulid bukan dari agama Islam. Bahkan Maulid termasuk bid’ah yang diada-adakan serta bentuk tasyabbuh (menyerupai) orang yahudi dan nasrani dalam perayaan-perayaan mereka. Dari situ jelaslah bagi setiap orang yang mencintai kebenaran dan adil dalam kebenaran, bahwa perayaan maulid bukan dari agama Islam bahkan termasuk bid’ah yang diada-adakan yang mana Allah dan Rasulnya telah memerintahkan agar meningggalkan serta berhati-hati darinya.</p>
<p>Tidak pantas bagi orang yang berakal sehat untuk tertipu dengan banyaknya orang yang melakukan Maulid di seluruh penjuru dunia, karena kebenaran tidak diukur dengan banyaknya pelaku, tapi diukur dengan dalil-dalil syar’i, sebagaimana Allah berfirman tentang Yahudi dan Nasrani : “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata : ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani’. Demikianlah itu (hanya) angan-angan kosong mereka belaka. Katakanlah :’ Tunjukkanlah bukti kebenaran jika kamu adalah orang yang benar .” (QS. Al Baqarah : 111).<br />
Allah juga berfirman : “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. “(QS. Al An’aam : 116 ). Wallahu a’lamu bis-shawab.</p>
<p>Maroji’ :<br />
Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Ilyas Agus Su’aidi As-Sadawy dari kitab At-Tahdzir minal Bida’, hal 7-15 dan 58-59, karya Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baaz rahimahullah. Untuk lebih jelasnya lagi dapat dilihat dalam bebrapa rujukan berikut :<br />
1. Mukhtashor Iqtidho’ Ash Shirot Al Mustaqim (hal. 48-49) karya ibnu Taimiyah.<br />
2. Majmu’u Fataawa (hal. 87-89) karya Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin.</p>
<p>Sumber :<br />
BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi : 15 / Robi’ul Awal / 1425 HUKUM MEMPERINGATI Maulid Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>(Dikutip dari situs http://www.darussalaf.org/index.php?name=News&#38;file=article&#38;sid=628)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hakikat Kecintaan Kepada Nabi Muhammad <em>-Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-</em>]]></title>
<link>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/03/28/hakikat-kecintaan-kepada-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-ala-alihi-wasallam/</link>
<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 04:01:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuyahya8211</dc:creator>
<guid>http://abuyahya8211.wordpress.com/2009/03/28/hakikat-kecintaan-kepada-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-ala-alihi-wasallam/</guid>
<description><![CDATA[Hakikat Kecintaan Kepada Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- oleh Abu Muawiah K]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Hakikat Kecintaan Kepada Nabi Muhammad</strong><br />
<em>-Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-</em></p>
<p><em>oleh Abu Muawiah</em></p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku kaum muslimin -semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita bersama pada perkara yang Dia cintai dan Dia ridhai-, sesungguhnya Nabi kita Muhammad -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- memiliki banyak hak atas kita selaku ummatnya. Dan termasuk hak beliau yang terbesar adalah harusnya kita mencintai beliau dengan kecintaan yang tulus, karena kecintaan kepada beliau adalah tanda kesempurnaan iman. Beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- telah bersabda dalam hadits Anas bin Malik ?:<br />
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai saya menjadi lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya”. (HR. Al-Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44)<br />
<!--more--><br />
Imam Ibnu Baththal -rahimahullah- berkata, “Makna hadits ini adalah barangsiapa yang telah sempurna keimanannya, maka dia tentu mengetahui bahwa hak Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- lebih wajib atas dirinya daripada hak ayahnya, anaknya, dan manusia seluruhnya. Karena dengannyalah kita terselamatkan dari neraka dan diberikan hidayah menjauh dari kesesatan”. (Syarh Muslim (2/205) karya An-Nawawi -rahimahullah-.)<br />
Bahkan Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- telah bersabda kepada Umar ibnul Al-Khaththab ? tatkala Umar berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau adalah orang yang paling saya cintai di atas segala sesuatu kecuali atas diriku”, maka beliau bersabda:<br />
“Tidak -demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya- sampai saya menjadi yang paling engkau cintai walaupun atas dirimu sendiri”. Lalu Umarpun berkata, “Sesungguhnya sekarang -demi Allah- sungguh engkau lebih saya cintai daripada diri saya sendiri”. Maka Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- bersabda, “Sekarang wahai Umar”. (HR. Al-Bukhari no. 6257 dari Abdullah bin Hisyam ?)<br />
Oleh karena itulah, Allah ? telah mengancam orang-orang yang tidak menunaikan hak beliau ini dalam firman-Nya:<br />
“Katakanlah, “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, isteri-isteri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”. (QS. At-Taubah : 24)<br />
Maka dengan ini, Allah menghukumi orang-orang yang mendahulukan kecintaan terhadap dunia dibandingkan kepada Rasul sebagai orang yang fasik.</p>
<p>Ini adalah hak beliau dari satu sisi. Dari sisi yang lain beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- sungguh telah memperingatkan kita akan bahayanya sikap berlebihan, melampaui batas, dan ekstrim dalam mencintai dan menuji beliau, sehingga mengangkat beliau melebihi derajat yang Allah ? tempatkan beliau padanya. Beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- telah menegaskan:<br />
“Waspada kalian dari ghuluw (bersikap berlebihan, melampaui batas, dan ekstrim) dalam beragama karena tidak ada yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian kecuali karena ghuluw dalam beragama”. (HR. An-Nasa`i no. 3057 dan Ibnu Majah no. 3029 dari Ibnu Abbas ? dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1283)<br />
Beliau juga bersabda:<br />
“Jangan kalian berbuat ithra` (bersikap berlebihan, melampaui batas, dan ekstim) dalam memujiku sebagaimana kaum Nashrani berbuat ithra` dalam memuji (Isa) Ibnu Maryam. Karena sesungguhnya saya tiada lain kecuali adalah hamba-Nya, maka katakanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 3261, 6442 dari Umar -radhiallahu anhu-)<br />
Dan beliau telah mengingatkan para sahabatnya tatkala ada tanda-tanda ghuluw dalam memuji beliau. Sahabat Abdullah bin Asy-Syikhkhir ? bercerita:<br />
“Saya pernah ikut dalam rombongan Bani ‘Amir menuju Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-. Lalu kami berkata, “Engkau adalah Sayyid kami”, maka beliau bersabda, “As-Sayyid adalah Allah -Tabaraka wa Ta’ala-.” Kami berkata, “(Engkau) yang paling utama di antara kami dan yang paling tinggi kedudukannya di antara kami”. Beliaupun bersabda, “(Silakan) ucapkan perkataan kalian -atau sebahagian perkataan kalian- dan jangan sampai setan mempermainkan kalian.”. (HR. Abu Daud no. 4172 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Jami’ Ash-Shahih no. 3549)<br />
Dalam riwayat Ahmad dari Anas bin Malik, “… Saya adalah Muhammd hamba Allah dan Rasul-Nya. Saya tidak senang kalian mengangkat saya melebihi derajat yang Allah ? telah tetapkan untukku”.<br />
Oleh karena itulah, beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- melarang ummatnya untuk menjadikan kuburan beliau sebagai id (tempat yang sering dikunjungi) karena khawatir kuburan beliau akan disembah:<br />
“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan dan janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai id dan bershalawatlah kepadaku karena sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku dimanapun kalian berada”. (HR. Abu Daud no. 1746 dari Abu Hurairah dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Tahdzirus Sajid hal. 97)<br />
Bahkan beliau di akhir hidupnya telah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka ini telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid disebabkan ghuluw dalam mencintai dan mengagungkan mereka:<br />
“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid”. (HR. Al-Bukhari no. 425 dan Muslim no. 529, 531 dari Aisyah -radhiyallahu anha- dan semisal dengannya hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari no. 426 dan Muslim no. 530)<br />
Beginilah Nabi menuntun kita dalam mencintai diri beliau, karena beliau adalah nabi yang diutus untuk menegakkan syari’at Allah serta mendakwahkan tauhid dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah ?.<br />
Allah Ta’ala telah memerintahkan beliau untuk berkata:<br />
“Katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepada kalian dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan”. Katakanlah, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungi diriku dari (azab) Allah dan aku sama sekali tidak akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.” (QS. Al-Jin : 21-22)<br />
Beliau juga diperintah untuk mengatakan:<br />
“Katakanlah, “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raf : 188)<br />
Ketika ada orang yang berkata kepada beliau, “Apa yang Allah kehendaki dan yang engkau kehendaki wahai Rasulullah,” beliau langsung menegur orang tersebut dengan keras:<br />
“Apakah engkau hendak menjadikan saya sebagai tandingan untuk Allah ?!, bahkan hanya apa yang Allah kehendaki saja”. (HR. Ahmad no. 1742, 1863, 2430, 3077 dari Ibnu Abbas -radhiallahu anhu- dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 139, 1093)</p>
<p>Kemudian, ketahuilah -semoga Allah merahmati kita bersama-, sesungguhnya kecintaan kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- memiliki tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran cinta tersebut. Karena kecintaan kepada beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- bukanlah diukur dengan pengakuan dan ucapan belaka akan tetapi harus ada tindakan-tindakan yang membenarkan pengakuan tersebut agar seseorang tidak dianggap berdusta dalam pengakuannya tersebut. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penya`ir:<br />
“Setiap orang mengaku punya hubungan dengan si Laila, akan tetapi Laila tidak mengakui hubungan tersebut”.<br />
Maka di antara tanda-tanda tersebut adalah:<br />
1.    Berpedoman kepada beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua perkataannya, melaksanakan semua perintahnya, menjauhi semua larangannya, dan berakhlak sesuai dengan akhlaknya. Semua perkara tersebut dilakukan baik dalam keadaan senang maupun susah, baik ketika semangat maupun ketika tidak bersemangat.<br />
2.    Lebih mendahulukan dan mengutamakan syari’at beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- di atas hawa nafsunya dan keinginan syahwatnya.<br />
Allah ? berfirman:<br />
“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-Hasyr : 9)<br />
3.    Memperbanyak mengingat dan bershalawat kepada beliau khususnya ketika nama beliau disebut dengan shalawat-shalawat yang beliau sendiri telah ajarkan, bukan dengan shalawat-shalawat buatan yang kebanyakannya berisi ghuluw (sikap ekstrim dan berlebihan), bid’ah bahkan kesyirikan.<br />
Allah ? berfirman:<br />
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk beliau dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab : 56)<br />
Beliau -Shallallahu alaihi wasallam- sendiri telah bersabda:<br />
“Kecelakaan bagi seseorang yang mendengar namaku disebut di sisinya, lantas dia tidak bershalawat kepadaku”. (HR. At-Tirmidzi no. 3545 dari Abu Hurairah ? dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3510)<br />
4.    Mencintai siapa saja yang mencintai beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-, mencintai keluarga beliau, dan para sahabat beliau dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta memusuhi siapa saja yang memusuhi mereka.<br />
Allah ? telah menegaskan bahwa Dia meridhai para sahabat Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- dalam firman-Nya:<br />
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah : 100)<br />
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- juga telah bersabda:<br />
“Jangan kalian mencerca para sahabatku, jangan kalian mencerca sahabatku. Karena -demi yang jiwaku berada di Tangan-Nya- seandainya salah seorang di antara kalian memiliki satu gunung Uhud emas lantas dia menginfakkannya di jalan Allah maka tidak akan setara dengan sedekah satu mudd dari mereka (para sahabat) dan tidak pula setengahnya”. (HR. Al-Bukhari no. 3470 dan Muslim no. 2541 dari Abu Said Al-Khudri ? dan Muslim no. 2540 dari Abu Hurairah ?)<br />
Beliau juga bersabda:<br />
“Kaum Anshar, tidak ada yang mencintai mereka kecuali mukmin dan tidak ada yang membenci mereka kecuali munafik. Siapa saja yang mencintai mereka, maka Allah akan mencintainya dan siapa saja yang membenci mereka, maka Allah akan membencinya”. (HR. Al-Bukhari no. 3572 dan Muslim no. 75 dari Al-Barra` bin Azib ?)<br />
5.    Membenci siapa saja yang membenci Allah dan Rasul-Nya dan memusuhi siapa saja yang memusuhinya, serta menjauhi siapa saja yang menyelisihi sunnahnya dari kalangan para pelaku bid’ah dan orang-orang yang lebih mementingkan perkara-perkara yang menyelisihi syari’at beliau.<br />
Allah Ta’ala berfirman:<br />
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka”. (QS. Al-Mujadilah : 22)<br />
6.    Mencintai Al-Qur`an dan sunnah yang diturunkan kepada beliau serta mengamalkan sesuatu  yang dikandung oleh keduanya.<br />
Imam Sahl bin Abdullah At-Tasturi -rahimahullah- berkata, “Tanda mencintai Allah adalah dengan mencintai Al-Quran. Tanda mencintai Al-Qur`an adalah mencintai Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam. Tanda mencintai Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- adalah mencintai sunnah. Tanda mencintai sunnah adalah mencintai akhirat. Tanda mencintai akhirat adalah membenci dunia. Tanda membenci dunia adalah dengan tidak mempersiapkan apapun dari dunia kecuali bekal dan pengantar menuju akhirat”. (Disadur melalui Al-Bida’ Al-Hauliyah hal. 193.)</p>
<p>Source:</p>
<p>http://al-atsariyyah.com/?p=656</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tuan Rumah Kejatuhan Duren]]></title>
<link>http://majalahsekolah.wordpress.com/2009/03/27/tuan-rumah-kejatuhan-duren/</link>
<pubDate>Fri, 27 Mar 2009 11:46:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Majalah Kreasi Siswa SMAN 6 Surabaya</dc:creator>
<guid>http://majalahsekolah.wordpress.com/2009/03/27/tuan-rumah-kejatuhan-duren/</guid>
<description><![CDATA[Minggu, 15 Maret 2009 AKSI (Ajang Kreativitas dan Seni Islami) 2k9 oleh SKI – OSIS SMAN 6 Surabaya ,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Minggu, 15 Maret 2009 AKSI (Ajang Kreativitas dan Seni Islami) 2k9 oleh SKI – OSIS SMAN 6 Surabaya ,]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Biarkan Aku Memperingati Maulid Nabi]]></title>
<link>http://radensun.wordpress.com/2009/03/25/biarkan-aku-memperingati-maulid-nabi/</link>
<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 06:47:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Raden</dc:creator>
<guid>http://radensun.wordpress.com/2009/03/25/biarkan-aku-memperingati-maulid-nabi/</guid>
<description><![CDATA[“Biarkan aku memperingati Maulid.” Demikian kata Sa’id Ia menambahkan, “Mengapa engkau tidak memperi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[“Biarkan aku memperingati Maulid.” Demikian kata Sa’id Ia menambahkan, “Mengapa engkau tidak memperi]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
