Tags » Mblaq

[VID] 150122 – Lee Joon في برنامج Yonghwa’s ‘Hologram’

Source: Mnet
Re-up: AraBLAQies

**الرجاء عدم النقل خارج الموقع بأي شكل من الأشكال بدون ذكر إسم AraBLAQies**

Mblaq

[PICS] 150123 - Lee Joon في إحتفال رأس السنة الجديدة الخاص بوكالة Prain TPC

Source: Grey_with_Joon via MBLAQAttack
Re-up: AraBLAQies

**الرجاء عدم النقل خارج الموقع بأي شكل من الأشكال بدون ذكر إسم AraBLAQies**

Mblaq

FULL MOON

Full Moon

I

By.Alana

Lee Joon    and     Ji Yeon

M

Smut/Romance/Mistery

( BEWARE…!!! )

very thank you to Poster Chanel, Ladyoong…for the amazing Poster! 1,685 more words

Fanfiction

lovalana reblogged this on JUST ALANA and commented:

[caption id="attachment_283" align="aligncenter" width="500"]alana-copy1 Credit Poster by Ladyoong@ PosterChannel[/caption]    

FULL MOON

alana

Park JiYeon

And

Lee Joon

M

.

.


Ya, ini sudah di update di AFF, tapi yang belum baca silahkan baca!

Aku bagi jadi three shot , di AFF ada 7 chapter.

Enjoy the story !


Part 1

.

.

Joon menatap ke arah luar dari jendela kamarnya .  Dia sedang menekuni wajah langit yang menjadi sendu ketika tiba-tiba mendung melingkupi jagat raya. Hawa dingin menyapanya, dan satu persatu gerimis hadir. Ditutupnya daun jendela dengan hati-hati. Dan hawa di sekitarnya langsung berubah semakin dingin. Joon merapatkan hoody abu-abunya hingga menutupi leher. Ada apa dengan pemanas ruangan si rumah ini. Untuk kesekian kalinya dia menggerutu.

Rumah neneknya ini sudah terlihat tua. Bangunannya yang masih berwujud hanok merupaka peninggalan dari leluhur yang masih di rawat oleh neneknya. Dia tinggal sendiri di rumah ini. Kakek sudah lama meninggal, sementara anak-anaknya telah hidup diperantauan dan jarang sekali pulang.

Joon tersenyum. Sebenarnya dia juga tidak mengerti kenapa dia punya keinginan untuk pulang. Entahlahh? Joon tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Di dalam pikirannya langsung terbersit begitu saja tentang neneknya. Dan wajah gadis misterius itu yang muncul dalam mimpinya, atau entahlah. Mungkin nyata. Dia terus menari-nari di dalam pikiran Joon.

Beberapa hari lalu, saat malam itu Joon berada di apartementnya sendiri di Seoul. Dia baru saja pulang dari night club. Mungkin sekitar pukul dua dini hari. Kondisinya sudah bisa di pastikan mabuk. Hawa panas yang menguasainya membuatnya langsung mencopoti seluruh pakaiannya dan langsung melemparkan diri ke tempat tidur. Sesaat tak sadar akibat alkohol begitu kuat mengambil alih kesadarannya. Baunya begitu menyengat.

Saat itu dia merasa seperti ada seseorang yang berdiri di dekat jendela. Seorang perempuan, berwajah cantik dan tubuhnya sedang membelakangi cahaya bulan yang sedang bersinar dengan kekuatan penuh. Joon mengintip sosok itu dari matanya yang buram. Meakipun dia yakin perempuan itu ada, namun ketidaksadarannya membuatnya mengabaikan semua kejanggalan itu. Joon hanya tersenyum, sepertinya dia menyambut kehadiran sosok misterius itu dengan hangat. Dan mungkin juga karena efek dari rasa mabuknya yang membuat gairahnya menjadi tinggi.

Dia mendekat ke arah Joon yang tergeletak setengah telanjang.  Satu-satunya penutup tubuh yang masih melekat padanya hanyalah boxer yang masih dengan ketat membungkus bagian bawah tubuhnya. Sesuatu diantara selakangannya seperti memberontak menanggung keinginannya.

Joon memperhatikan perempuan yang semakin dekat dengannya itu dengan tatapan sendu. Antara sadar dan tidak dia merasa perempuan berambut panjang itu telah mendaratkan kecupannya. Bibirnya dingin, namun begitu manis. Joon mengulumnya,  menekan dengan perasaannya. Meskipun hanya sebuah kecupan ringan, namun seperti sebuah sihir, Joon merasa tubuhnya melayang

Tanpa kesadaran Joon meraihnya.  Tubuh itu. Memeluknya, memposisikannya di bawah kuasanya. Terdengar tawa ringan dari bibir manisnya. Tatap matanya begitu indah, bola matanya tampak syahdu dan sudut senyumannya menawarkan keinginan yang sama.

Joon mulai menyentuh wajahnya, menelusurinya dengan perasaan gamang. Dia telah terpikat olehnya. Oleh tatap mata yang akhirnya terlihat oleh Joon. Malam yang samar, dan wajah yang manis itu lekat dibenaknya. Menggigit bibir bawahnya.Seksi.  Rautnya manja mengisyaratkan hasrat ,berharap Joon segera berbuat  untuknya. Sebuah senyuman kecil menyungging di bibir Joon. Dia cantik, tatap matanya mistic, nalurinya tajam. Mendesah disetiap sentuhan. Semua pertanyaan tentang dari mana asalnya perempuan ini dan kenapa bisa berada di dalam apartementnya itu tidak membuat Joon gentar. Dia sudah bisa merasakan tubuh perempuan itu bergerak secara erotis dibawahnya, membuat Joon semakin bebas meneguk keindahannya.

Rintihan terdengar dari mulutnya yang terbuka. Dia begitu menggairahkan ketika mendesah diantara deretan giginya yang cemerlang. Tangan Joon semakin bebas meremas dan menyentuh dengan lembut. Buram. Pandanganya seperti diantara kabut. Ketika dia melihat wajah cantik itu menanggung keinginannya. Bisikannya merdu, seperti sebuah bentuk provokasi di dalam otaknya. Dan desah nafasnya menjadi semakin cepat, detak jantungnya memburu.

Sesaat kemudian, tubuh indah itu semakin erotis bergerak mengiringi cumbuan Joon . Desahan dan desahan, rintihan dan rintihan. Joon mengambil alih emosi yang meluap-luap itu dengan kecupan-kecupan lembut. Bibir dan lidahnya begitu mahir membahagiakan.

Joon berhenti ketika dia merasakan tubuh perempuan itu mengejang. Sebuah melody merdu terlontar dari bibir innocentnya. Sementar  a bagian pinggulnya terangkat beberapa kali dan tubuhnya bergetar. Apa yang dia rasakan tak bisa dilukiskan denga kata-kata. Bahkan tatap matanyapun sayu.  Dadanya naik turun demi mengimbangi deru nafasnya yang memburu. Joon tersenyum nakal melihat momen itu. Dia mendekati wajah cantik yang masih memerah itu. Bias kepuasan yang indah. Joon melekatkan bibirnya pada bibir mungil itu. Lembut.

Dekapan hangat yang semakin dirasakannya membuat perasaanya kian melambung. Tinggi. Bias indah cahaya bulan menuangkan makna tersendiri di hatinya. Perempuan misterius itu terpejam dalam kenikmatan. Joon sangat menyukainya. Bibirnya, kelembutannya yang misterius. Candu. Dan sebentar saja dia sudah memacu hasratnya dengan kuat. Kecepatannya seimbang. Joon tidak kuasa untuk tidak mendesah. Semakin kuat dan kuat hingga dia mendengar perempuan itu menyebut namanya dengan indah. Dikecupnya dahi  itu dengan lembut.  Beberapa detik kemudian Joon seperti tersentak. Tubuhnya bergetar hebat saat dia mengalami klimaksnya. Dan akhirnya  terkulai lemas di sisinya.

Tatapan mereka beradu. Melontarkan senyum kepuasan. Joon melihat wajah itu, merekamnya dan akhirnya terpejam kelelahan. Malam berlalu. Dan ketika dia terbangun, dia tidak mengingat kejadian itu. Yang tertinggal pada seprei putihnya adalah aroma sex yang begitu kuat. Joon menarik nafasnya dalam-dalam.

"Joon!". Sebuah panggilan menyadarkan lamunan laki-laki tampan itu. Suara neneknya terdengar dari luar kamar. Joon bergegas membuka pintu. Neneknya tersenyum padanya.

"Ada apa, Nek?"  tanya Joon kemudian

"Makan malam dulu."

"Iya, Nek!"

Joon melangkah di belakang neneknya menuju ruang utama. Di sana dia melihat sebuah hidangan tersedia di atas meja dengan rapi. Semua masakan itu terlihat sedikit istimewa. Joon merasa nafsu makanya muncul. Semula dia hanya mengira, neneknya akan menyediakan makanan desa yang mungkin rasanya jauh dari standartnya.

"Apa nenek yang memasak semua ini?" Joon duduk bersila di depan neneknya. Wanita tua berambut abu-abu itu menggeleng.

"Ada seseorang yang membantu nenek di sini. Nenek tidak sanggub lagi melakukan hal ini sendirian, Joon.". Jelas sang nenek dengan senyum bijaksananya. Joon menganghuk sambil menyumpit potongan telur dan kecambah di atas piring.

"Enak!"    Joon mengerutkan dahinya sambil memuji rasa masakan itu.

"Kalau begitu makanlah!". Ujar neneknya lembut.

Hujan di luar turun begitu derasnya. Angin-anginnya begitu keras menghantam lapisan dinding kayu di luar rumah. Joon merasa miris mendengarnya. Suasanannya benar-benar berbeda dengan di apartementnya, dimana dia merasa benar-benar aman dan nyaman tanpa rasa takut tempat tinggalnya akan runtuh karena hembusan angin kencang. Ini sungguh diluar keinginannya.

"Bagaimana keadaan ibumu di sana?". Neneknya kembali bertanya di sela-sela makan.

"Dia baik-baik saja. Sesekali aku mengunjunginya.". Joon mengatakan hal itu karena dia memang sudah tidak tinggal lagi bersama ibunya. Joon telah membeli sebuah apartement di daerah Gangnam. Ya, dengan kerja kerasnya selama ini akhirnya dia bisa meraih semua itu. Joon tersenyum bangga.

"Bagaimana dengan waniita?". Tanya neneknya menyelidiki.

"Wanita adalah hal terindah, Nek!". Joon menyeringai, mengerling nakal ke arah neneknya.

"Jangan lakukan itu pada Nenek! Dasar anak nakal!"  hardik neneknya sambil menahan gelaknya.

"Nenek adalah wanita tercantik dalam hidupku!"

"Lalu ibumu?"

"Dia yang kedua.". Joon melahap lagi nasi dan bulgogi hampir bersamaan. Joon sangat cekatan sekali menghadapi makanan enak. Mulutnya mengunyah-ngunyah dengan behagia.

"Siapa yang memasak ini, Nek?"  tanya Joon tentang bulgogi yang dia santap. Neneknya tersenyum.

"Seseorang. Nanti juga kamu akan tahu.". Joon merengut.

"Hum, teka-teki. Nenek ini senang sekali membuat cucunya penasaran. Memangnya dia itu seistimewa itu samapi harus dirahasiakan."

"Tidak. Nenek kan hanya menyuruhmu menunggu. Tidak menyembunyikannya. "

"Di mana dia?"

"Sedang keluar."

"Ditengah hujan begini !". Joon terbelalak kaget.

"Tadi belum hujan saat dia pergi."

"Apa nenek tidak khawatir kenapa dia belum pulang ?"   lelaki itu merasa sangat penasaran dengan seseorang yang dikatakan neneknya. Dia mungkin tersesat diantara kabut dan gelapnya malam. Apalagi ditambah derasnya hujan yang mengguyur desanya.

"Sedikit. Tapi Nenek yakin dia bisa menjaga dirinya."

Brakh!

Terdengar pintu depan terbuka kencang. Seseorang membukanya dengan terburu-buru. Joon tersentak kaget dibuatnya. Dia spontan menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang wanita berdiri dengan tubuh menggigil di depan pintu yang sudah tertutup kembali.  Wajah itu!  Joon tercengang demi mendapati pemilik wajah itu. Dia.

"Cepat keringkan badanmu! " hardik sang Nenek tiba-tiba.

"Joon ambilkan handuk dari lemari!" ujar neneknya memerintah.

Gadis itu basah kuyub. Keseluruhan dirinya basah, menciptakan siluet indah pada helai baju yang melekat pada tubuhnya. Joon sesekali berusaha untuk menilik bentuk wajah yang begitu lekat di benaknya. Wanita itu adalah...

"Joon, cepatlah sedikit!" hardik neneknya.

"Iya, Nek!".

Sebuah handuk berwarna maroon diambilnya dari dalam lemari dan langsung diserahkan ke arah neneknya.

"Berikan padanya! " perintah neneknya keras. Dia mungkin sedikit kesal atau mungkin marah. Pada wanita itu.

Joon menurut, dia melangkah mendekati wanita itu yang menyembunyikan wajahnya di balik rambut basahnya. Dia begitu cantik, putih dan mempesona. Bibirya mungil bernuansa pink. Joon berdebar-debar. Sementara wanita itu tampak malu karena mata Joon sejak tadi mengekspos tubuhnya .

Benarkah dia yang hadir di dalam mimipi Joon beberapa waktu lalu? Ataukah hanya kebetulan saja wajahnya mirip. Agh, sebuah kebetulan yang membahagiakan. Joon menyerahkan handuk itu ke arah wanita yang masih berdiri kedinginan itu. Kedua tangannya melingkar menutupi dadanya.  Kulit mulusnya menerwang diantara t-shirt basahnya.

"Cepat ganti bajumu!" ujar neneknya. Wanita itu membungkuk dan segera berlalu dari hadapan Joon. Dia masuk ke kamar di sebelah kamar Joon.

"Siapa dia, Nek?"

Joon mematung di tempatnya berdiri. Pikirannya sibuk menerka-nerka sosok gadis yang baru dilihatnya. Matanya masih menagih janji neneknya untuk mengatakan sesuatu padanya. Langkahnya tampak ragu ketika dia kembali duduk menghadapi makan malamnya. Nafsunya telah hilang. Berbagai kemelut membuntuti dirinya.

"Kenapa?". Neneknya mengindari tatapan cucunya.

"Siapa dia, Nek?"

"Gadis itu?"

"Ya."

"Nenek tidak tahu. Nenek hanya menemukannya ketika dia tergeletak pingsan di kebun aple Nenek di belakang sana. ". Ujar neneknya lirih. Dia tahu kalau gadia itu mungkin mendengar percakapan mereka.

"Apa tidak ada yang mencarinya? Mungkin dari desa sebelah?". Neneknya menggeleng.

"Lalu apa dia pernah mengatakan berasal dari mana dirinya?". Neneknya menggeleng lagi.

"Apa dia menunjukkan gelagat yang mencurigakan selama dia berada di sini? Sudah berapa lama hal itu terjadi, Nek?"

"Sudah hampir dua bulan ini."

"Namanya?".

Kali ini neneknya tersenyum. Pertanyaan Joon sudah mulai merepotkannya, sehingga dia memutuskan untuk berdiri, dan membereskan makanan dan piring-piring kosong di atas meja.

"Nenek akan buatkan teh gingseng dulu, tolong kau berikan padanya. Dia tidak akan berani keluar dari kamar selama kau berada di sini. "

Jadi dia adalah gadis pemalu. Berbeda sekali dengan sosok misterius yang pernah hadir dalam mimpinya, angannya atau agh, entahlah.

Joon melihat neneknya datang dengan membawa nampan berisikan satu gelas penuh teh. Menyerahkannya ke tangan cucunya dengan hati-hati.

"Berikan ini padanya!" perintah neneknya dengan suara tenang namun terdengar begitu tegas penuh arti. Mungkin nenekmya sedang mengisyaratkan sesuatu, munhkin juga dia menyuruh Joon untuk mencari tahu tentang gadis itu sendiri. Atau mungkin neneknya mengingnginkan Joon untuk segera menolongnya.

"Nenek mau melihat apakah Jung dan Young sudah makan malam."

Joon mengerti. Neneknya begitu khawatir dengan kedua orang paman yang selama ini menjaga kediaman neneknya.

Setelah melihat punggung neneknya berlalu, Joon mulai menarik nafas letihnya. Menghempaskannya dan menatap pintu kamar gadia itu yang tertutup rapat.

Perlahan kakinya menuju ke sana. Detak jantungnya berlomba dengan desah nafasnya yang seakan tersengal-sengal di dadanya. Gugub. Baru kali ini dia merasakan sesuatu yang tidak bisa dia jabarkan. Keringat dinginnya merembes dipori-porinya.

Tiba di depan pintu kayu itu, diam dan hanya menunggu sesuatu yang tidak jelas. Joon memejamkan matanya dan menari nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya dia mengetuk tiga kali.

Tok...tok...tok...

Suaranya hampir kalah dengan derasnya hujan di luar sana. Tidak ada sambutan. Joon merapatkan telinganya pada pintu, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana.  Namun gagal.

Sepertinya dia, gadis itu tidak memperdulikan Joon. Mungkin tidak menginginkan Joon mengganggunya. Hhh! Nyala dihatinya seperti padam. Tubuh tegabnya terkulai. Laki-laki itu menyeringai. Dia berbalik, berniat meninggalkan ruangan itu dengan ragu. Tapi kemudian dia mendengar pintu itu digeser terbuka. Spontan dia menoleh.

Dia menunduk, menyembunyikan wajahnya pada rambut yang tergerai. Tidak berani menatap Joon, hanya diam dan menunggu Joon mengatakan sesuatu.

"Hi..!". Joon menyapa lirih tanpa bergerak dari tempatnya berdiri. Gadis itu diam tidak berkata-kata. Joon merasa mungkin dia benar-benar pemalu. Gadis itu merapikan kemeja panjangnya yang agak tersingkap di bagian kerahnya. Menutupinya dengan tangan dan mengulum bibirnya. Lucu. Pikir Joon diam-diam.

"Nenek membuatkan teh untukmu." Joon menyerahkan nampan itu padanya, agak sedikit gemetar.  Gadis itu menerimanya dan membungkuk sedikit. Dia masuk ke dalam kamarnya, meletakan nampan itu di meja tanpa menutup pintu. Sehingga membuat Joon bingung.

Agak sedikit lama dia terdiam membelakangi Joon yang masih melihat dari luar kamar. Apa yang dia lakukan? Joon tidak berani mencari tahu. Tapi kemudian dia berbalik lagi ke arah Joon dengan wajah pucat. Joon tersentak kaget.

"Joon-ah!" panggil gadis itu. Hah! Kenapa dia memanggil Joon begitu? Gadis itu berjalan dengan lunglai lalu menghambur kepeluka Joon. Melingkarkan tangannya pada pinggang laki-laki yang tergugu bingung itu. Kedua tangan Joon terangkat ke atas dan tidak berani menyentuh tubuh yang memeluknya dengan kuat itu.

"Tolong aku!" bisiknya lirih. Gadis itu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Joon. Hangat.

"Apa? Aku..? Menolong apa?". Joon terbata-bata. Dia tidak mengerti dengan maksud gadis itu.

"Joon...?" ujarnya lagi.

Lalu tiba-tiba dia terkulai dipelukan Joon. Dengan cepat Joon menangkap tubuh yang lemasnya. Astaga! Dia demam!  Tangannya meraba kening gadis itu dan memastikan bahwa dia pingsan. Segera dibopongnya tubuh itu ke dalam kamar, direbahkannya pada kasur di lantai dan menyelimutinya dengan teliti. Dan saat itulah Joon baru bisa melihat dengan jelas wajahnya. Begitu indah, mempesona. Joon tersenyum.

Mungkin karena tadi dia kehujanan. Joon berjalan keluar dari kamar mengambil sesuatu untuk mengompres. Kenapa neneknya begitu lama berada di luar? Pikiran itu begitu saja terlintas dipikirannya ketika melewati pintu depan. Apa dia memang biasa seperti itu? Joon sama sekali tidak tahu tentang kebiasaan neneknya yang baru ditemuinya setelah beberapa tahun tidak bertemu. Mungkin sejak lulus dari sekolah menengah atas. Joon mengambil obat penurun panas dari kotak obat. Dan berjalan kembali ke kamar.

Dia masih tertidur di tempatnya. Pucat. Meskipun dia cantik, namun wajahnya terlihat pucat. Bibirnya yang mungil itu tidak terlihat segar. Joon mendesah. Sebenarnya siapa dia? Dan kenapa berada di sini?

Dengan sabar Joon mengompres kening gadis itu. Dia belum bisa memberikan obatnya karena dia masih pingsan. Tak urung Joon menunggu di sisinya. Matanya lekat menatap pada wajah gadisnya. Menelusuri setiap sudutnya dengan teliti. Tidak sedikitpun cacat tergores di sana. Tanpa sadar Joon tersenyum. Dia merasa lucu dengan dirinya yang ,engambil kesempatan dari situasi ini.

Hujan diluar sudah berhenti. Samar-samar didemgarnya angin masih bergemirisik diantara ranting-ranting pohon. Berbagai macam suara dari binatang malam mulai memeriahkan suasana. Joon tersentak sesaat. Dia baru saja tertidur atau melamun? Ketika menyadari dia sudah terbaring di sisi kasur yang...

"Kemana dia?". Joon melihat kasur itu telah kosong. Gadis itu sudah tidak berada di sana lagi. Sementara selimut justru menutupi tubuhnya. Laki-laki itu duduk dengan wajah yang bingung. Dan kenapa rumah ini terasa begitu sepi, dan semua lampu dipadamkan.

Langkahnya ragu menapak pada lantai kayu. Dia memperhatikan sekelilingnya yang samar-samar dengan perasaan gamang. Dimana neneknya? Jama berapa ini? Apa dia sudah tidur? Dan bagaimana dengan gadis itu. Apa demamnya sudah turun sehingga dia bisa berkeliaran lagi. Apa, berkeliaran? Sungguh praduga yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Berkeliaran di gelapnya malam? Joon menyeringai.

Langkahnya terhenti ketika dia melihat sesutu di pintu depan yang terbuka. Hah, terbuka! Joon bergegas menuju ke sana. Wajah malam yang pekat langsung menyapanya. Dia terkejut ketika sebuah bayangan menyeruak di hadapannya.

"Hhei...!" dia berteriak kaget. Dia mundur beberapa langkah ke belakang.

"Joon!" suara itu menyebut nama Joon.

"Siapa!" hardik Joon panik.

"Aku." jawab sosok yang masih berdiri di depan Joon. Sampai kesadarannya penuh Joon baru menyadari sosok itu adalah dia. Gadis itu.

"Apa yang kau lakukan di sini? Mana Nenek?"

"Dia sudah tidur."

"Lalu apa yang kau lakukan?"

"Aku sedang mencoba memperbaiki MCB. Tadi tiba-tiba lampu padam, aku pikir mungkin konslet. Tapi aku lihat saklarnya tidak hangus. Lalu aku menduga mungkin karena MCBnya. Beberapa waktu lalu kotak MCB ini dibuat sarang lebah liar. Aku takut mungkin ada kabel yang putus atau tidak tersambung dengan benar.". Ujar gadis itu menjelaskan.

Apa dia ini petugas PLN? Pikir Joon heran. Kenapa bisa tahu banyak tentang listrik. Dan kenapa dia jadi banyak bicara. Kenapa berbeda sekali dengan yang tadi.

"Apa bisa kau mengambilkan testpen itu!". Gadis itu menunjuk ke arah kotak yang tergeletak di samping Joon. Dan dia mengambil sesuatu di sana. Testpen? Bagaimana bentuknya?

"Bukan yang ini! Ini sih namanya Obeng plus."   What!Salah!

"Sudahlah biar aku ambil sendiri.". Gadis itu turun dari atas kursi dan mencari sendiri benda yang dia maksud, lalu kembali lagi ke atas kursi untuk memeriksa MCB itu. Seumur hidup Joon baru tahu, kalau benda itu namanya adalah MCB. Dia nyengir. Mungkin kalau kondisinya terang, dia tidak tahu bagaimana menyembunyikan wajahnya yang malu.

"Apa demammu sudah turun?" tanya Joon kemudian.

"Demam apa? Memangnya aku demam?"

"Kamu tadi pingsan. "

"Benarkah?"

"Aku yang...agh, sudahlah!". Joon tidak jadi mengatakan kalau dia yang mengompres gadis itu.

"Terima kasih." ujarnya tiba-tiba.

Joon tersenyum. Diperhatikannya gadis itu yang masih sibuk mengotak-atik kotak MCB.  Apa yakin dia bisa memperbaikinya.

"Bisa. Aku sangat yakin." jawab gadis itu. Hah! Apa dia bisa mengetahui isi pikiranku.

"Selesai! "  kemudian lampu mulai menyala. Hebat sekali dia. Puji Joon dalam hati.

"Terima kasih!". Ujarnya lagi. Kali ini dia tersenyum menatap Joon. Laki-laki itu terkesiap.

"Kau Bisa membaca pikiranku?"

Namun pertanyaan itu tidak dijawab. Dia berjalan menjauhi Joon menuju halaman terbuka. Mengamati malam dan langit. Diam. Lalu spontan menoleh ke arah Joon.

"Kau cepat masuk! " teriak gadis itu dengan nada tinggi.

Laki-laki itu tidak mengerti dengan teriakan itu. Dia tetap diam mematung ke arah gadis yang semakin kesal menatapnya tapi dia tidak bicara lagi.

Mata Joon mengikuti setiap geraknya. Duduk pada sebuah bangku diberanda dan menekuni gadis itu yang terdiam di tengah halaman.

Beberapa saat kemudian angin kencang berwarna hitam menderu-deru menghempasnya. Joon kaget, karena angin itu sepertinya hanya hadir untuknya. Dia melihat ke sekelilingnya dan dia tidak melihat pohon-pohon itu bergerak , bahkan tanaman semak dipinggir pagarpun tidak bergerisik. Mereka tampak tenang. Gadis itu terhempas jatuh ke tanah. Dia tertelungkup melindungi wajahnya dari hembusan angin yang bertubi-tubi menghajarnya.

Dengan segera laki-laki itu berlari untuk mendekatinya. Perasaan yang tak menentu melingkupi kepala dan hatinya. Dari mana datangnya angin itu. Kenapa tiba-tiba saja muncul dan membuat tubuh gadis itu jatuh.

"Kau tidak apa_apa?". Tanya Joon sambil membantu gadis itu bangkit.

"Sudah aku bilang kau harus cepat menyingkir dari sini! Aku tidak apa-apa? Cepatlah masuk ke dalam rumah! Jangan di tempat terbuka seperti ini!".

Teriak gadis itu sambil mendorong tubuh Joon menjauh. Namun Joon yang sama sekali tak mengerti justru memeluk gadis itu dan berusaha untuk membawanya menepi. Seketika itu juga dia melihat bayangan hitam menuju ke arahnya, bentuknya seperti gumpalan awan yang disertai dengan hawa dingin yang begitu membekukan. Joon tak mampu bergerak karena kekagetannya. Bayangan itu siap menyerang tbuh Joon yang kaku. Namun sekali lagi, gadis itu tiba-tiba berada di depan Joon, berusaha untuk melindunginya. Sehingga bayangan itu mengenai tubuh gadis di depannya yang terhempas jatuh di pangkuan Joon.

"Siapa dia? Mahluk apa itu?". Teriak Joon takut.

"Sudah aku bilang, kau jangan di sini! Masuklah!"

"Aku akan masuk jika kau juga masuk!". Ujar Joon keras kepala.

Mereka bertatapan dengan perasaan tegang. Gadis itu tidak mempunyai kata-kata lagi selain berlari dan menarik tangan Joon untuk mengikutinya. Dia tidak ingin bayangan hitam itu muncul lagi dan menyerang Joon.

Sebelum masuk ke dalam rumah. Gadis itu membuat sebuah tulisan pada tanah di depan pintu. Entahlah tulisan dengan aksara Cina yang Joon sendiri tidak mengerti artinya. Menutup mata sambil merapalkan sesuatu, mungkin sebuah mantra. Lalu menatap ke arah langit kembali. Sepertinya bentuk absurt itu sudah tidak akan muncul kembali.

"Jangan seyakin itu!". Katanya sambil menutup pintu dari dalam. Sekali lagi Joon terkesima.

"Kamu bisa membaca pikiranku."

"Namaku Jiyeon.". Ujar gadis itu tanpa memperdulikan perkataan Joon. Dia berlalu dan masuk ke dalam kamarnya. Tidak ada penjelasan apapun, dan hal itu hampir membuat Joon frustasi.

Joon kembali ke kamarnya dengan gelisah. Bayangan tentang kejadian yang baru saja terjadi itu masih menghantuinya. Sungguh sosok yang mengerikan. Kenapa hal-hal semacam itu masih ada. Sungguh tidak bisa dipikirkan dengan akal sehat. Baru kali ini dia menemui wujud aneh yang mungkin bukan berasal dari dunia ini. Dunia manusia. Tapi dia ada walaupun tidak terlalu nyata, tapi Joon melihatnya dengan matanya. Sangat jelas.  Dia menggerutu ketika melewati kamar gadis itu. Jiyeon. Joon sekarang mempunyai panggilan untuknya. Akhirnya.

Keringat membasahi sekujur tubuhnya, padahal udara masih begitu dingin. Mungkin karena hal aneh tadi, adrenalinnya terpompa habis,  mengakibatkan keringatnya tersaring keluar. Dia melepaskan t-shirtnya dan melemparnya begitu saja di lantai kamarnya. Merenungi wajah yang begitu lembut namun penuh misteri membuatnya merasa seperti berada di alam lain. Benarkah dia berada di rumah neneknya? Kenapa semua ini harus terjadi? Apakah ada kaitannya dengan keinginannya datang ke sini dengan kejadian yang baru saja terjadi tadi.

Brakh!

Pintu terbuka dengan tiba-tiba. Dia, Jiyeon sudah berdiri di sana tanpa rasa berdoaa. Joon berbalik sambil menutupi dadanya yang terbuka. Aish! Apa-apaan ini! Pekiknya dalam hati.

"Apa sudah jadi kebiasaan untukmu, masuk tanpa permisi dulu. Bagaimana kalau aku tadi sedang telanjang!"

"Kau harus segera pergi dari sini!" ujar Jiyeon dengan mimik serius. Dia sama sekali tidak risih melihat Joon yang hanya memakai celana pendek.

"Apa kau gila! Ini tengah malam !" Joon berkata dengan nada sedikit ngeyel.

"Besok pagi! "

"Memangnya kenapa?"

"Tidak usah tahu._

"Apa berhubungan dengan kejadian tadi?"

Jiyeon diam menatap Joon yang menuntut penjelasan. Rasa ragu meliputi wajah cantiknya. Dia seperti terdampar pada sebuah kenyataan yang harus dia hadapi. Joon. Bisiknya di dalam hati. Sosok laki-laki ini, dia sanggub membuatnya menjadi seorang dewi, namun hal itu tidak sebanding jika harus mengorbankan nyawa laki-laki ini. Jiyeon menarik nafasnya dalam-dalam. Dia berbalik untuk berlalu dari Joon.

"Kau tidak ingin menjelaskan apapun? Maka aku tidak akan pergi. Memangnya aku takut dengan hal itu?"

"Kau harus pergi!". Hardik gadis itu dengan suara yang sangat keras. Mata bulatnya seperti berapi-api. Nyalanya membuat nyali Joon mengendur.

Laki-laki itu bergegas menghampiri Jiyeon dan memegang pundak gadis itu dengan lembut. Dan dia terkejut ketika dia baru menyadari, ternyata ada tetes darah yang menitik dari hidungnya.

"Kau berdarah!" Joon menyentuh hidung itu dengan spontan. Tapi tangan Jiyeon menepisnya.

"Bukan masalah!" jawabnya singkat.

"Kau aneh." ujar Joon dengan tatapan dingin. Dia ingin sekali menyentuh wajah itu, membelainya dengan lembut. Dan memberikan perhatian tulus untuknya, namun semua itu dipatahkan oleh keangkuhan Jiyeon yang merasa dirinya tidak membutuhkan Joon sama sekali. Seolah-olah dia ingin mengatakan, bukan aku yang menjadi korban, tapi dirimu, Joon!

Joon berlalu dari hadapan Jiyeon tanpa pamit. Dia kesal karena akhirnya dia menurut pada gadis itu. Dan membiarkan emosinya bertalu-talu di jiwanya. Jiyeon terpaku menatap punggung laki-laki itu dengan desahan berat nafasnya.

Mata Joon masih sangat berat untuk terbuka ketika dia mendengar suara gaduh di dalam kamarnya. Dia bisa merasakan kalau ada seseorang sedang sibuk membenahi sesuatu dengan tergesa-gesa. Lalu langkah kakinya terdengar mwndekat ke arah Joon yang masih enggan untuk bangun. Dia masih sangat mengantuk. Hh, ya tentu saja, dia malas bangun. Kejadian semalam membuatnya jadi susah tidur.

"Bangunlah! Kau harus segera berangkat. Kereta akan datang satu jam lagi. Dan itu akan mebutuhkan waktu tiga jam lagi untuk menunggu kereta yang berikutnya datang kalau kita terlambat ke stasiun. ". Suara Jiyeon terdengar begitu memanipulasi Joon. Hh, ya tentu saja! Ujar Joon dalam hati. Dia membiarkan Jiyeon terduduik di sampingnya tanpa respon darinya.

"Joon!" panggilnya lembut. Aish, suaranya begitu merdu. Joon meresapi suara itu kedalam hatinya. Membayangkan perempuan yang pernah datang pada dirinya di malam itu. Suara itu hampir mirip dengan Jiyeon swandainya gadis itu mau lebih lirih lagi bersuara. Mendadak dia merasa keras. Agh, Sialan! Penyakit laki-laki. Kenapa harus selalu keras di pagi hari.

"Aku menunggumu diluar ! Cepatlah! Aku tahu kau sudah BANGUN!". Ujar Jiyeon dengan sedikit penekanan di akhir kalimat. Joon tersenyum mendengarnya. Dia tahu!

Joon beranjak dengan berat. Seluruh badannya seperti ditimbuni oleh kiloan beban yang membuatnya susah untuk bangun.

Dia mengintip dari balik matanya yang sipit ke arah jendela. Wajah pagi masih temaram. Jam berapa ini? Dia melayangkan pandangan ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul enam. Pantas saja maaih agak gelap. Ternyata masih terlalu dini untuk matahari.

Laki-laki itu menggapai handuk dan berjalan ke kamar mandi yang terletak diantara kamarnya dan kamar Jiyeon. Paling tidak dia harus menggosok giginya walaupun harapan untuk mandi itu sungguh terlalu tinggi. Ini sangat dingin sekali. Dan di rumah kuno ini mana ada pemanas air electric seperti di apartementnya.

Tapi ketika dia masuk ke dalam kamar mandi, dia sudah melihat satu ember penuh terisi air yang masih penuh dwngan kepulan uap air. Joon tersenyum senang. Pasti Jiyeon yang sudah menyiapkan ini untuknya. Good girl! Pujinya senang. Dia merasa istimewa sekali diperlakukan seperti ini.

Beberapa menit di dalam kamar mandi membuat badannya menjadi segar. Fiuh! Dia lega karena akhirnya dia akan segera kembali ke Seoul. Sungguh bertolak belakang sekali dengan seruannya semalam yang mengatakan kalau dia tidak akan pergi. Tentu saja dia tidak keberatan untuk pergi. Bukan karena dia takut dengan serangan mahluk gaib itu, terlebih karena dia harus kembali bekerja dan beraktifitas seperti biasanya.

Joon berdiri di depan pintu untuk berpamitan sekali lagi pada neneknya. Dia tidak melihat Jiyeon disekitarnya. Kemana dia. Mata Joon berkeliaran mencari sosok itu. Dia ingin sekali mengucapkan sesuatu padanya. Paling tidak bersalaman atau mungkin jika sedikit beruntung, dia bisa memeluknya dan memberikan kecupan dikening gadis itu.

"Ayo, kita harus segera berangkat!". Joon kaget dengan yang dilihatnya. Ternyata Jiyeon  sudah berada di jok sopir sebuah mobil pick-up di depan pagar. Dia bisa menyetir mobil. Tak urung membuat Joon memberikan penilaian extra pada Jiyeon.

Lambaian tangannya disambut ragu oleh neneknya yang menatapnya khawatir. Dia tdak mengatakan apa-apa. Apakah neneknya tahu tentang kejadian semalam? Joon mendesah. Di liriknya Jiyeon yang tengah berkonsentrasi pada jalanan menurun danmelingkar di depannya. Mereka sedang menuruni sebuah bukit.

"Apa nenek tahu?". Joon bertanya dengan nada resah.

"Sebenarnya tahu tapi dia lega akhirnya kau pergi dari sana."

"Apa kau yakin jika aku pergi dari sana, mahluk itu tidak akan datang lagi? Sebenarnya kenapa aku yang ,enjadi incarannya?". Jiyeon menarik nafasnya berat.

"Masalah itu sebenarnya sudah lama terjadi. Hal ini melibatkan kakekmu dan para pengikut sekte Bulan Hitam."

"What?!"

"Akuntahu kau pasti akan kaget. Nanti akan aku ceritakan sesampainya di kota."

"Seoul."

"Ya. Whatever!". Jiyeon menyeringai.

"Apa maksudmu dengan kita? Apa kau akan ikut denganku?". Joon merasa seperti ada angin yang begitu segar menerpanya. Sejuk.

"Kau jangan senang dulu!" ujar Jiyeon seperti mengerti Joon yang sedang merayakan rasa gembiranya.

"Tidak. Apa aku terlihat seperti senang? Aku yakin kau akan sangat merepotkan aku di sana."

"Kamu akan sangat senang aku repotkan! Percaya padaku."

Pembicaraan berakhir ketika mereka tiba di stasiun. Dan tepat ketika kaki mereka menapak di peron, kereta yang akan membawa mereka ke Seoul datang.

.

.

.

.tbc ke shot 2


 A/N.

Kelemahanku adalah banyaknya typos. Yang kadang aku males banget ngedit. Maaf ya!

  


[LYRICS] Romanized: MBLAQ (엠블랙) - Cry

A! Time is too slow for me baby
Listen this girl (Ah Ah)

heureuneun nunmure neol jiuryeo hae
(Ah Ah) kkaekkeutage neoui gyeoteul tteonal su bakke… 892 more words

Lyrics

[VID] 150110 - والدة Mir (MBLAQ) في برنامج MBC Human Documentary

Source: OMOMOMOMOMOMOM
Re-up: AraBLAQies

**الرجاء عدم النقل خارج الموقع بأي شكل من الأشكال بدون ذكر إسم AraBLAQies**

Mblaq

Varety Show Korea, Apa Menariknya?

Bukan rahasia lagi bahwa panggung hiburan dari Korea sudah mendunia. Hal ini dibuktikan dari konser artis-artis korea di berbagai belahan dunia yang selalu dipenuhi penonton serta drama-drama korea yang banyak dinikmati masyarakat, baik secara… 677 more words

Artikel

Like Tomorrow Won't Come - G.O Lyrics [romanized, english, hangul] (내일이 안 올 것처럼 - 지오) (Doctor Stranger OST)

neujeun achim changmun sairo nal kkaeuneun
haessalcheoreom nega salmyeosi dagawa
nuneul tteumyeon kkumingeolkka
heorak doen haengbogingeolkka
honja mallo jakkuman mureo

saranghae naeiri an ol geotcheoreom… 288 more words

Lyrics