<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>memaksa &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/memaksa/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "memaksa"</description>
	<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 09:08:07 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Mengosongkan Trash Secara Paksa]]></title>
<link>http://esetianto.wordpress.com/2009/06/22/mengosongkan-trash-secara-paksa/</link>
<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 02:32:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>e-k-o</dc:creator>
<guid>http://esetianto.wordpress.com/2009/06/22/mengosongkan-trash-secara-paksa/</guid>
<description><![CDATA[Ubuntu Linux memiliki sebuah kotak sampah, namanya Trash, yang mirip dengan kotak sampah di Windows,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ubuntu Linux memiliki sebuah kotak sampah, namanya Trash, yang mirip dengan kotak sampah di Windows,]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BAGAIMANA HUKUMNYA MEMAKSA ANAK PEREMPUAN MENIKAH]]></title>
<link>http://mykhadijah.wordpress.com/2008/09/30/bagaimana-hukumnya-memaksa-anak-perempuan-menikah/</link>
<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 03:58:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>mykhadijah</dc:creator>
<guid>http://mykhadijah.wordpress.com/2008/09/30/bagaimana-hukumnya-memaksa-anak-perempuan-menikah/</guid>
<description><![CDATA[Tak jarang, kita mendengarkan anak perempuan dipaksa menikah oleh orang tuanya. Bagaimana sesungguhn]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;">Tak jarang, kita mendengarkan anak perempuan dipaksa menikah oleh orang tuanya. Bagaimana sesungguhnya Islam  memandang hak perempuan dalam hal ini? Berikut fatwa ulama besar Saudi, Syaikh bin Baz Rahimahullah ketika ditanya mengenai hal ini..</p>
<p><!--more--></p>
<p>Pertanyaan.<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apakah boleh bagi seorang ayah memaksa putrinya menikah dengan lelaki yang tidak ia suka ?</p>
<p>Jawaban.<br />
Tidak ada hak bagi seorang ayah ataupun yang lain memaksa putrinya menikah dengan lelaki yang tidak disukainya, melainkan harus berdasarkan izin darinya, karena Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihin wa sallam telah bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya : Wanita janda tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai pendapat, dan wanita gadis tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai izin darinya. Para sahabat bertanya, &#8216;Ya Rasulullah, bagaimana izinnya ?&#8217; Beliau menjawab : &#8216;Ia diam&#8221;. [Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]</p>
<p>Di dalam redaksi lain beliau bersabda : &#8220;Dan izinnya adalah diamnya&#8221;</p>
<p>Redaksi lain menyebutkan.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan perempuan gadis itu dimintai izin oleh ayahnya mengenai dirinya, dan izinnya adalah diamnya&#8221;.</p>
<p>Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari &#8216;Aisyah ra, ia berkata, &#8220;Rasulullah bersabda, wanita gadis itu dimintai izin,&#8221; aku berkata, &#8220;Sesungguhnya wanita gadis itu hisa dimintai izin tetapi ia pemalu. Nabi menjawab, &#8220;Izinnya adalah diamnya.&#8221; Oleh karena itu ulama&#8217; mengatakan.&#8221; Sebaiknya wanita gadis itu diberi tahu bahwa diamnya itu berarti izinnya.&#8221;</p>
<p>Dari Khansa binti Khaddam Al Anshariyah, &#8220;Sesungguhnya ayahnya menikahkan dia, sedangkan dia seorang janda maka ia tidak suka pernikahan itu, kemudian datang kepada Rasulullah maka Rasulullah menolak pernikahannya (HR. Al Jama&#8217;ah kecuali Muslim).</p>
<p>Dari Ibnu Abbas RA, &#8220;Sesungguhnya ada seorang wanita (gadis) datang kepada Rasulullah kemudian menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dia, tetapi dia tidak suka (pernikahan itu), maka Nabi SAW menyuruh dia untuk memilih (dilanjutkan atau tidak).&#8221; (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)</p>
<p style="text-align:center;">Kesimpulannya : Islam memberikan hak kepada wanita untuk memilih menerima atau menolak suatu pinangan. Dan melarang orang tua untuk memaksa anak perempuannya menikah dengan lelaki yang tak disukainya</p>
<p style="text-align:left;">
Referensi : Al Manhaj.or.id dan media.isnet.org</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puisi di bulan November]]></title>
<link>http://firariswiyandi.wordpress.com/2008/05/29/puisi-di-bulan-november/</link>
<pubDate>Thu, 29 May 2008 10:34:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>fira riswiyandi</dc:creator>
<guid>http://firariswiyandi.wordpress.com/2008/05/29/puisi-di-bulan-november/</guid>
<description><![CDATA[Malam ini akan kukatakan rahasia yang terdalam Dimana Februari yang melelahkan, melupakan Januari ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Malam ini akan kukatakan rahasia yang terdalam Dimana Februari yang melelahkan, melupakan Januari ya]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Semuanya akan Indah, jika pada Waktunya]]></title>
<link>http://elfridatse2.wordpress.com/2008/03/24/semuanya-akan-indah-jika-pada-waktunya/</link>
<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 05:10:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>Elfrida</dc:creator>
<guid>http://elfridatse2.wordpress.com/2008/03/24/semuanya-akan-indah-jika-pada-waktunya/</guid>
<description><![CDATA[Ada waktu tuk berduka Ada waktu tuk bersuka Ada waktu tuk berdiam Ada waktu tuk berkata Di saat yang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ada waktu tuk berduka<br />
Ada waktu tuk bersuka<br />
Ada waktu tuk berdiam<br />
Ada waktu tuk berkata</p>
<p>Di saat yang ku alami<br />
Tak sperti yang ku ingini<br />
Di saat tiada jawaban<br />
Mengapa harus terjadi</p>
<p>Itulah cuplikan lagu yang dinyanyikan oleh Edward Chen.<br />
Dari lagu itulah, bisa mengingatkan kita tentang suatu variasi dalam hidup kita.<br />
Saat kita memiliki suatu masalah, kadang kita ingin sekali cepat2 keluar, namun kadang kita malah semakin terjerumus.<br />
Ada saatnya untuk kita susah, ada saatnya kita untuk senang.<br />
Kita tidak bisa cuma mengambil yang senangnya saja. Tetapi kita juga harus mau susah terlebih dahulu.<br />
Namun perlu kita ingat, bahwa jika kita menginginkan sesuatu, apapun itu, lebih baik kita menunggu waktu yang tepat untuk mendapatkannya, daripada kita memaksakan diri untuk segera mendapatkannya.<br />
Karena dengan begitu sesuatu itu akan terasa sangat indah dan kita bisa menikmati keindahannya.<br />
GBU all</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[“Peraturan ada untuk dilanggar!”]]></title>
<link>http://luqmanhasan.wordpress.com/2007/12/23/%e2%80%9cperaturan-ada-untuk-dilanggar%e2%80%9d/</link>
<pubDate>Sun, 23 Dec 2007 06:55:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>luqman hasan</dc:creator>
<guid>http://luqmanhasan.wordpress.com/2007/12/23/%e2%80%9cperaturan-ada-untuk-dilanggar%e2%80%9d/</guid>
<description><![CDATA[Saya sering membaca ataupun mendengar suatu kalimat yang berbunyi, “Peraturan ada untuk dilanggar!”.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal"><span>Saya sering membaca ataupun mendengar suatu kalimat yang berbunyi, “Peraturan ada untuk dilanggar!”. Hal itu terdengar menggelikan sekaligus membuat saya terheran-heran,. Apa sebenarnya maksud kalimat tadi?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya bertanya-tanya terhadap kalimat tersebut. Membacanya berulang kali hingga kulit antara dua alis ini mengkerut. Sampai saya menangkap ide yang melintas tepat di hadapan saya. Dan dengan cepat saya menangkap ide itu, dan merangkaikannya. Akhirnya saya membagi permasalahan ini dari dua sudut pandang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pertama adalah sudut pandang positif. Kalimat “Peraturan ada untuk dilanggar!” menggambarkan sifat dari sesuatu yang sudah lama kita kenal dengan “aturan”. Dalam hal ini, aturan digambarkan sebagai sesuatu yang memaksa, dan membatasi hak setiap individu. Kata “memaksa” ini adalah salah satu kata yang paling dibenci setiap manusia. Mereka ingin hidup tanda tekanan, mereka ingin berkreasi, berimajinasi sampai mencapai batas kepuasan, walapun kepuasan ini tidak pernah ada dalam diri manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Watak yang tak pernah puas ini yang membuat manusia untuk melanggar peraturan sebagaimana kalimat yang kita bahas ini. Watak tersebut jika disalurkan pada hal-hal yang positif, itu sangat baik, tapi jika pada hal yang negatif? Sayangnya lagi, “positif” dan “negatif” disini mengandung pemahaman yang semu dari setiap orang. Untuk itulah, jika dimaknai secara mendalam kalimat “Peraturan ada untuk dilanggar!” mengantarkan kita pada sifat dari aturan itu sendiri yang amat penting bagi kehidupan bermasyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kedua, dari sudut pandang yang bertolak belakang. Kalimat tersebut dapat memberikan sugesti bahwa kita mesti melanggar aturan. Nyata hal ini seolah melegalkan kita untuk melanggar aturan. Lebih mudah dimengerti <span> </span>daripada perspektif pertama tadi, bukan?</span></p>
<p><span>Hal itu tidak menjadikan kehidupan yang sadar hukum, melainkan kehidupan yang tanpa batas dengan mengatasnamakan “kebebasan” dan mengantarkan pada kekacauan sosial. Oleh karena itu salin kembali kalimat tersebut dengan, “Peraturan ada untuk ditaati!”.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
