<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>mencari-tuhan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/mencari-tuhan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "mencari-tuhan"</description>
	<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 05:07:05 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Lelaki Langit]]></title>
<link>http://jiwamembumi.wordpress.com/2009/11/29/lelaki-langit/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 00:36:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jiwa Membumi</dc:creator>
<guid>http://jiwamembumi.wordpress.com/2009/11/29/lelaki-langit/</guid>
<description><![CDATA[Jika lelaki itu datang Hujanpun tiba Langit bergemuruh Lelaki langit aku katakan dia Mata lelaki itu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Jika lelaki itu datang Hujanpun tiba Langit bergemuruh Lelaki langit aku katakan dia Mata lelaki itu]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mencari Tuhan]]></title>
<link>http://depeholic.wordpress.com/2009/11/21/mencari-tuhan/</link>
<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 09:00:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Depeholic</dc:creator>
<guid>http://depeholic.wordpress.com/2009/11/21/mencari-tuhan/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp; Mencoba memahami Kristus untuk saya bukanlah masalah yang mudah. Sebagai seseorang yang hidup]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><a href="http://depeholic.wordpress.com/files/2009/11/contemplate-sun_blog.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-106" title="contemplate-sun_blog" src="http://depeholic.wordpress.com/files/2009/11/contemplate-sun_blog.jpg" alt="" width="252" height="170" /></a></p>
<p>&#160;</p>
<p>Mencoba memahami Kristus untuk saya bukanlah masalah yang mudah. Sebagai seseorang yang hidup dalam lingkungan Gereja, suatu saat saya tersadar bahwa Kristus yang tiap hari saya sebut nama-Nya, pada akhirnya toh sepertinya saya tidak mengenal Dia. Saya bersyukur bahwa kedua orang tua saya sudah mengajari saya untuk percaya kepada-Nya. Sehingga saya semakin diajak untuk mengenal siapa yang saya sembah. Namun, pada akhirnya saya menyadari bahwa percaya adanya Tuhan lebih mudah ketimbang percaya kepada Tuhan.</p>
<p>Setelah kesadaran itu muncul, saya pun mulai meragukan iman saya, agama saya, bahkan kepada Tuhan sendiri saya menjadi ragu. Tiba-tiba saya tidak bisa menerima Kristus sebagai Tuhan begitu saja. Namun, pergulatan saya dalam mencari Kristus tentu saja tidak berhenti sampai disini. Saya sadar bahwa tidak semua orang telah sampai pada tahap pemahaman seperti ini. Sehingga sulit bagi saya untuk membagikan permasalahan ini pada seseorang.</p>
<p>Otomatis pencarian saya akan Kristus berjalan terus-menerus melewati hari-hari yang panjang. Selama hampir tiga tahun saya berjalan tanpa arah dan menganut Kristus yang sama seperti kebanyakan orang. Kristus yang hanya dipahami tanpa mengenal siapa Dia sesungguhnya. Akhirnya, sambil tetap mencoba bertahan hidup, saya juga mencari Tuhan.</p>
<p>Pemahaman saya mengenai Kristus muncul ketika saya menyadari bahwa Ia juga hadir di tengah dunia. Namun, tetap saja Kristus masih menjadi misteri yang selubungnya belum bisa saya singkapi. Berangkat dari pertanyaan Yesus kepada Petrus: “Menurutmu siapakah Aku ini?”, sekiranya pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan kita dalam memurnikan panggilan kita dalam mengikuti Kristus. Tentu saja pertanyaan ini tidak akan mungkin kita jawab dalam waktu singkat. Mencari Kristus membutuhkan seluruh hidup kita sampai pada akhirnya kita bisa mengimani-Nya. Siapakah Kristus menurut saya? Saya “tidak tahu”.</p>
<p>Maka, tepatlah yang dituliskan A. Setyawan dalam bukunya yang berjudul <em>Orang Gila dari Nazaret </em>bahwa semakin kita berusaha untuk mengenal Allah, semestinya kita sadar bahwa semakin dahsyatlah misteri Allah bagi kita, semakin banyak hal yang tidak kita mengerti, dan semakin sulit rasanya mengenal Allah<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Oleh sebab itu, jangan pernah berhenti untuk berusaha mencari dan mengenal Kristus. Dia hadir ditengah-tengah kita dan menyampaikan kehendak-Nya disaat-saat yang tidak disangka-sangka. Tapi justru itulah kita harus selalu siap, sampai saatnya kita bisa menjawab pertanyaan Kristus dengan kata-kata kita sendiri.</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Setyawan, A., <em>Orang Gila dari Nazaret</em>. . Jogyakarta: Kanisius, 2005, hlm.234.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KELIMA UNSUR ALAM ADALAH WUJUD TUHAN]]></title>
<link>http://mankdira.wordpress.com/2009/10/16/kelima-unsur-alam-adalah-wujud-tuhan/</link>
<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 00:29:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>mankdira</dc:creator>
<guid>http://mankdira.wordpress.com/2009/10/16/kelima-unsur-alam-adalah-wujud-tuhan/</guid>
<description><![CDATA[KELIMA UNSUR ALAM ADALAH WUJUD TUHAN (FIVE ELEMENTS- THE FORM OF DIVINITY) WACANA BHAGAWAN SRI SATHY]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>KELIMA UNSUR ALAM ADALAH WUJUD TUHAN</strong></p>
<p><strong>(FIVE ELEMENTS- THE FORM OF DIVINITY) </strong></p>
<p>WACANA BHAGAWAN SRI SATHYA SAI BABA</p>
<p>Dapat dikatakan bahwa hati manusia melambangkan peryataan weda, ‘’ raso vai saha, ‘’ tuhan ada dalam bentuk hakikat’, jika manusia dapat melupakan segala kecemasannya dan tetap riang, walaupun ambisi dan keinginannya tidak terpenuhi.</p>
<p><strong>Perwujudan kasih. </strong></p>
<p>Setiap orang berkata bahwa tuhan bertanggung jawab atas penciptaan, pemeliharaan, dan pembinasaan dunia. Dalam wujud apakah tuhan berfungsi ketika melaksanakan ketiga kegiatan ini. Kelima unsur alam [tanah, air, udara, api, dan eter] merupakan wujud tuhan. Tiada apapun yang ada tanpa kelima unsur ini. Tuhan tidak mempunyai nama atau wujud tunggal. Kelima unsur alam merupakan (perwujudan] tuhan).</p>
<p>Ambillah tanah sebagai contoh. Segala kemampuan yang terkandung dalam ciptaan, ada secara laten di dalam [unsur] tanah. Bumi tidak dapat dilukiskan dengan gambar yang sederhana karena ada berbagai hal pada permukaannya seperti misalnya ; pegunungan, perbukitan, sungai, lautan, pedesaan, dan sebagainya. Akibatnya, bumi itu berat sekali.</p>
<p>Para ilmuwan menyatakan bahwa bumi itu berputar. Jika demikian, wajarlah kalau orang berfikir bahwa segala hal yang ada diatas bumi juga merasakan perputaran itu. Meskipun demikian, tidak demikian halnya.bumi memiliki kemampuan untuk menjaga agar semuanya tetap stabil, mantap, dan kokoh. Bayangkan, betapa akan menyedihkan keadaan penumpang kereta api, seandainya rel kereta apinya bergerak bersama dengan keretanya.</p>
<p>Bumi mengandung segenap kemampuan dan bahan yang dibutuhkan untuk kehidupan manusia serta semua makhluk lain. Ibu bumilah yang merupakan perwujudan segala kemampuan yang melindungi dan memelihara semua makhluk. Alam merupakan landasan utama untuk segala usaha manusia. Jika bumi tidak bergerak, segenap ciptaan akan berakhir.</p>
<p>Selama puluhan juta tahun yang terakhir, bumi telah mengalami berbagai perubahan yang menyebabkan permukaannya naik dan turun di berbagai tempat. Pada mulanya permukaan bumi itu rata. Kemudian hujan tercurah terus menerus selama puluhan juta tahun. Ini membuat permukaan bumi menjadi tidak rata dan menyebabkan terbentuknya samudra. Sebelum itu, tidak ada bentuk-bentuk perbedaan yang menyolok pada permukaann bumi.</p>
<p>Di bumi ini air ada dimana-mana. Meskipun demikian, ia tampak jelas dalam sungai-sungai, lautan, dan dalam tubuh manusia. Keringat memperlihatkan adanya air dalam badan manusia. Tanpa air dalam tubuhnya, manusia tidak dapat hidup sedetikpun. Air menopang kehidupan.</p>
<p>Unsur ketiga adalah api. Ini pun dimaksudkan untuk menopang dan memelihara kehidupan. Unsur api mempertahankan suhu tubuh manusia pada 37 derajat celcius dan ini penting untuk kesehatan. Selain itu, api juga ada dalam bentuk <em>jatharagni</em> ‘api pencernaan’ dalam tubuh manusia. Api juga terkandung dalam bebatuan dan akan tampak jika dua batu dibenturkan satu sama lain. Bahkan dalam pepohonan pun engkau dapat melihat adanya api. Jika dua cabang saling bergesek, akan timbul api. Bahkan di lautan pun terdapat api yang disebut <em>badabagni</em>.</p>
<p>Unsur keempat adalah udara. Ini merupakan [kebutuh-an] hidup segala makhluk. Udara tidak terbatas disuatu tempat tertentu dan memenuhi segala sesuatu. Unsur kelima adalah <em>aakasha’eter’</em> dan disebut <em>shabda brahman</em>. Dari unsur ini timbul tanah, air, api, dan udara. Kelima unsur ini memenuhi seluruh dunia dan mereka melindungi serta menopang kehidupan. Sesungguhnya mereka adalah [perwujudan] tuhan. Karena tidak mampu memahami kebenaran ini, manusia mengira bahwa ia dilindungi dan dipelihara oleh tuhan yang menurut anggapannya mempunyai suatu wujud tertentu dan tinggal di suatu tempat yang jauh. Sejumlah orang menyatakan bahwa tuhan memenuhi segala sesuatu, tetapi tidak terlihat. Ini hanya imajinasi mereka, bukan kenyataan yang sebenarnya.</p>
<p>Untuk menyadari dan menghayati tuhan, budha melakukan berbagai latihan rohani. Beliau mempelajari kitab-kitab suci, menemui tokoh-tokoh yang berilmu, dan mendengarkan wejangan mereka, tetapi beliau tidak merasa puas. Akhirnya beliau sampai pada kesimpulan bahwa kelima unsur alam merupakan wujud tuhan. Kelima unsur ini dalam bentuk yang halus ada dalam segala makhluk.</p>
<p>Orang-orang kita zaman dahulu menyebut aakasha sebagai atma.</p>
<p><em>Aakaasham gaganam shuunyam</em>. &#8211; ‘angkasa itu tidak terbatas dan tidak berwujud’</p>
<p>atma tidak mempunyai wujud tertentu.</p>
<p>Buddha mengerahkan segenap kemampuan beliau untuk menghayati atma. Beliau memalingkan pandangan kedalam batin dan menyelidiki sifat atma. Akhirnya beliau mendapat penampakan kecemerlangan atma. Kecemerlangan merupakan salah satu aspek api. Itulah sebabnya atma disebut <em>jyotih swaruupa</em> ‘perwujudan cahaya’. Seharusnya engkau merenungkan tuhan dalam bentuk cahaya.</p>
<p>Buddha memperhatikan banyak sekali perbedaan dan sifat keduniawian dalam kehidupan orang-orang. Mereka saling mengecam, memuji, atau menghormati. Buddha memperhatikan hal ini dan bertanya kepada dirinya sendiri. Siapa yang mengecam dan siapa yang dikecam. Siapa yang memuja dan siapa yang dipuja. Ketika melakukan penyelidikan seperti ini, beliau dapat melihat kesatuan dalam keanekaragaman. Kecenderungan buruk seperti kemarahan, iri hati, kebencian, dan sebagainya berkembang dalam diri manusia karena ia mengabaikan kemanunggalan dan hanya melihat keanekaragaman. Sesungguhnya tidak ada keanekaragaman.</p>
<p><em>Ekaatmaa sarvabhuutaantaraatmaa. </em>- ‘atma yang esa ada dalam semua mahluk’</p>
<p>di dunia ini hanya ada satu kekuasaan yang maha dasyat. Hal ini juga diketahui dan dirasakan oleh Einstein. Kemampuan tuhan ini tidak mempunyai [suatu]wujud tertentu seperti benda atau makhluk, tetapi meliputi seluruh ciptaan. Dari kemampuan tuhan ini timbulah segala kemampuan lain dengan berbagai nama dan wujud. Hanya ada satu kekuasaan yaitu atma. Atma yang esa ini ada dalam orang yang menuduh dan orang yang dituduh, orang yang memuja dan yang dipuja. Orang yang menyadari prinsip kemanunggalan ini tidak akan pernah membiarkan rasa marah atau iri timbul dalam dirinya. Buddha mengajarkan bahwa manusia hanya dapat membuang sifat-sifat jahat, jika ia menyadari prinsip kemanunggalan.</p>
<p>Ada berbagai perbedaan dalam badan dan pikiran, tetapi atma dalam semua makhluk itu sama. Sifat-sifat buruk seperti; ego, kemarahan, iri hati, suka membanggakan diri, dan sebagainya., timbul karena kelekatan pada tubuh. Karena itu, engkau harus membuang kelekatanmu pada tubuh.</p>
<p>Buddha adalah seorang pangeran. Beliau tidak kekurangan uang, kesenangan dan kemudahan, meskipun demikian beliau bersedia menempuh hidup sebagai seorang pertapa karena beliau telah membuang kelekatan pada tubuh.</p>
<h1>Bhikshaannam deharakshaartham, Vastram shiita nivaaranam &#8211; ‘makanan diperlukan untuk memelihara badan dan pakaian dimaksudkan untuk melindungi tubuh dari rasa dingin’.</h1>
<p>Prinsip atma itu sama baik pada orang kaya maupun orang miskin. Jika prinsip kemanunggalan ini telah kausadari, engkau [atau kesadaran<br />
kita,keterangan<br />
penerjemah] akan manunggal dengan tuhan. Itulah sebabnya <em>upanishad</em> menasihati manusia agar meningkatkan semangat kemanunggalan.</p>
<h1>Ekam sat vipraah bahudhaa vadanti -‘kebenaran itu satu, tetapi para cendikiawan menyebutnya dengan berbagai nama’.</h1>
<p>Tuhan merupakan perwujudan <em>sat, cit, aananda. Sat</em> adalah hal yang tidak berubah. <em>Cit</em> merupakan kesadaran yang menolong manusia mengetahui kebenaran. Jika <em>sat</em> dan <em>cit</em> bergabung, timbullah <em>aananda</em> ‘kebahagiaan jiwa’. Kebahagiaan jiwa ini tidak hanya ada dalam diri manusia, tetapi juga ada dalam unggas, margasatwa, dan serangga. Segala sifat yang ada dalam diri manusia juga ada dalam makhluk lain. Meskipun demikian,mereka tidak mampu mengungkapkan perasaannya karena mereka tidak mengetahui bahasa manusia. Walaupun atma itu satu dan sama, bahasa dan wujud berbeda-beda. Manusia terpengaruh oleh aneka perbedaan ini dan melupakan kemanunggalannya.<em>.</em></p>
<p>Selama manusia tenggelam dalam <em>bhrama</em> ‘khayal atau delusi’, ia tidak dapat mencapai <em>brahma</em> ‘tuhan’. Agar dapat mengatasi khayal ini, manusia harus memahami prinsip kelima unsur alam. Manusia yang memahami asas kelima unsur ini akan menyadari kemanunggalan yang mendasari semuanya.</p>
<p>Tuhan merupakan perwujudan kelima unsur alam. Beliau tidak mempunyai nama atau wujud tertentu. Namun, berlandaskan kitab-kitab suci dan pengalaman mereka sendiri, para cendekiawan menyatakan,</p>
<p>‘<em>daivam maanusha ruupena</em>.-‘ Tuhanlah yang mengambil wujud manusia ini.’</p>
<p>Weda menyatakan,</p>
<p><em>‘sahasra shiirshaa purushah sahasraakshah sahasra paad.’</em>- ‘tuhan memiliki seribu kepala, seribu tangan, dan seribu kaki.’</p>
<p>Ini tidak berarti bahwa tuhan adalah seseorang yang mempunyai seribu kepala, mata, dan kaki. Ini hanya berarti bahwa semua kepala, mata, dan kaki adalah milik beliau.</p>
<p>Nama dan wujud apa pun yang dianggap sebagai nama dan wujud tuhan, hanya didasarkan pada imajinasi dan lukisan seniman. Hal ini tidak berhubungan dengan kenyataa. Orang yang melukiskan tuhan dalam berbagai wujud adalah pelukis [ravi<br />
varma], dan orang yang menggambarkan beliau dengan berbagai cara adalah penyair [kavi<br />
varma]. Karena pelukis dan penyairlah maka timbul berbagai perbedaan. Janganlah engkau mengikuti apa yang dibayangkan oleh pelukis atau dikatakan oleh penyair.</p>
<p>Manusia harus membuang kelekatannya pada tubuh dan meningkatkan kelekatan pada atma. Hanya dengan demikianlah ia dapat menyadari kebenaran.</p>
<p><strong>Perwujudan kasih</strong>.</p>
<p>Kelima unsur alam ini penting dan diperlukan untuk kehidupan manusia.tidak mungkin ada kehidupan, jika salah satu dari kelima unsur alam ini tidak ada.manusia harus menghormati kelima unsur ini agar dapat mengetahui tuhan. Menghormati kelima unsur alam sama dengan menghormati tuhan. Engkau harus menggunakan kelima unsur ini hanya sebanyak yang diperlukan. Jika engkau memboroskan, menyia-nyiakan, atau menyalahgunakannya, itu sama saja dengan menyalahgunakan kemampuan tuhan. Misalnya saja, jika tidak perlu, jangan kaubiarkan kipas atau lampu menyala karena itu sama dengan menyalahgunakan kekuatan tuhan. Orang yang menyalahgunakan kelima unsur alam itu berbuat dosa.</p>
<p>Sebab utama penderitaan dan kesengsaraanmanusia yaitu ia menyalahgunakan kelima unsur alam. Jika engkau sudah menyadari bahwa unsur-unsur tersebut merupakan wujud tuhan, engkau akan menggunakannya dengan baik.</p>
<p>Ada puluhan juta sel dalam tubuh manusia. Setiap sel sarat dengan ketuhanan. Lidah mempunyai tiga puluh juta saraf perasa dan ada ratusan ribu berkas cahaya dalam mata kita. Semua ini memperlihaatkan kebesaran dan kemuliaan tuhan. Ada dikatakan, ‘tuhan bersinar dengan kecemerlangan puluhan juta matahari.’ Ini dapat dipahami secara sederhana. Disini kau lihat banyak lampu menyala. Akan tetapi, jangan kau lihat lampu itu dengan mata terbuka lebar. Matamu harus setengah terpejam. Jika hal ini kau lakukan, engkau akan melihat berkas-berkas cahaya yang memancar. Berkas-berkas cahaya ini tak lain adalah cerminan [refleksi] api, pantulan, reaksi, dan gema ketuhanan dapat dilihat dan dikenali dalam kelima unsur alam.</p>
<p>Aku telah menjelaskan semua ini dalam istilah-istilah ilmiah demi kepentingan para pelajar dan mahasiswa yang hadir disini. Dalam ilmu pengetahuan modern akan kau dapati bahwa tuhan sama sekali tidak disebut ataupun disinggung. Para ilmuwan beranggapan bahwa berbicara tentang tuhan itu menurunkan martabat mereka. Mereka menyanjung-nyanjung kemampuan cahaya, panas, laser, dan sebagainya. Sesungguhnya semua ini berasal dari kekuatan magnetis tuhan. Hal ini diakui oleh newton. Ia adalah ilmuwan hebat dan orang pertama yang mengungkapkan daya tarik bumi. Kemampuan [magnetis] ini tidak terbatas pada suatu tempat tertentu, tetapi ada disegala tempat. Inilah kemampuan tuhan, kemampuan atma.</p>
<p>Kemampuan atma ini disebut kesadaran dan dari kesadaran inilah timbul suara hati. Kesadaran meliputi segala sesuatu. Sebagaimana aliran listrik ada dalam setiap bola lampu, kesadaran ada dalam setiap tubuh dalam bentuk hati nurani.</p>
<p>Udara meliputi segala sesuatu, tetapi engkau tidak dapat melihat atau memegangnya, udara tidak berwujud, tetapi mengambil wujud balon, jika balon itu diisi dengan udara. Udara yang meliputi segala sesuatu ini dapat dibandingkan dengan kesadaran [semesta], dan udara didalam balon dapat dibandingkan dengan hati nurani. Sebagaimana engkau dapat meniup terus balon itu hingga pecah dan udara di dalam balon menyatu dengan udara diluar, demikian pula hati nurani menyatu dengan kesadaran [semesta], jika maanusia dapat mengatasi kelekatannya pada tubuh. Karena kelekatan pada tubuh, kemampuan kehendak manusia menjadi terbatas. Hanya tuhanlah yang memiliki kehendak bebas.</p>
<p>Newton menyatakan bahwa sifat daya tarik ini tidak berubah, tidak dapat diciptakan atau dihancurkan. Einstein juga seorang ilmuwan besar, tetapi tidak egoistis seperti ilmuwan biasa. Ia selalu memikirkan tuhan. Suatu kali sejumlah orang india mengunjungi einstein. Ia mengajak mereka keruang bacanya.mereka heran sekali ketika mendapati banyak kitab suci seperti <em>upanishad</em> dan <em>bhagawad gita</em> di rak bukunya. Cendekiawan sehebat einstein mempunyai kepercayaan dan rasa hormat yang besar pada <em>bhagawad gita</em> dan kitab-kitab suci lain.</p>
<p>Para cendekiawan modern hanya mengetahui bagian yang sangat kecil dari kenyataan, tetapi mereka menyombongkan diri seakan-akan mereka mengetahui segala-galanya. Begitu mendapat gelar ph.d. [s3] mereka merasa diri hebat sekali. Ilmuwan sejati adalah orang yang tidak mempunyai rasa keakuan dan rasa sombong.</p>
<p>Ilmuwan modern hanya mengetahui sedikit sekali dan penyelidikan serta penemuan mereka didasarkan pada pertanyaan, ‘apakah ini’ meskipun demikian, cendekiawan besar masa lampau mencari keterangan dan menyelidiki, ‘apakah itu’ ‘ini’ berkaitan dengan apa saja yang dekat dengan indra, sedangkan ‘itu’ menunjukan tuhan yang melampaui indra. Ilmu pengetahuan berada dibawah indra, sedangkan spiritualitas melampaui indra.</p>
<p>Orang-orang mengira bahwa seorang ilmuwan mengetahui segala sesuatu. Sesungguhnya, seorang ilmuwan yang tidak memiliki kerendahan hati dan keyakinan kepada tuhan, pengetahuannya kurang daripada anak sd. Orang yang tidak memiliki keyakinan sama sekali, bukan seorang ilmuwan. Dalam beberapa hal ia bahkan lebih rendah daripada binatang.</p>
<p><strong>Perwujudan kasih</strong>.</p>
<p>Tuhanlah yang mendasari ilmu pengetahuan dan kerohanian. Segala energi terpendam dalam diri manusia dan mempunyai potensi untuk tampil. Energi itu berasal dari makanan yang dimakannya. Asam dan jeruk nipis yang mengandung banyak keasaman. Jika dimakan dalam jumlah yang terbatas, mereka menguatkan badan. Akan tetapi, jika dimakan secara berlebih-lebihan akan merugikan kesehatan.</p>
<p>Kitab-kitab <em>upanishad</em> memberikan banyak ajaran yang suci kepada manusia. Ajaran ini mendekatkan manusia kepada tuhan. <em>Upa </em>berarti ‘dekat’, <em>ni</em> berarti ‘bawah’ <em>shad</em> berarti ‘duduk’. Sebagai murid, seseorang tidak boleh duduk setingkat dengan guru. Murid juga tidak boleh duduk terlalu jauh dari guru karena beliau berbicara dengan lembut. Karena itu, duduklah dekat pada beliau dengan patuh dan terima ajaran beliau. Inilah arti kata <em>upanishad</em>. Setiap huruf, kata, dan kalimat kitab <em>upanishad</em> mengandung arti mendalam yang tidak dapat dicari di kamus.</p>
<p>Suatu kali di istana krishnadevaraya diselenggarakan perdebatan yang diikuti oleh delapan cendekiawan istana. Mereka terkenal sebagai <em>ashta diggaja</em> ‘delapan gajah yang menjaga kedelapan penjuru angin’. Di antara mereka terdapat allasani peddanna, nandi thimmanna, raamaraaja bhushanudu, tenali raamakrishnudu. Peddanna mengajukan berbagai pertanyaan dan raamaraaja bhushanudu menjawabnya lengkap dengan arti dan tafsirannya. Raamakrishnudu memperhatikan acara ini dengan tenang.</p>
<p>Krishnadevaraya ingin tahu, siapa yang terbaik dari antara mereka. Beliau menghendaki agar mereka membuat sebuah kalimat bermakna yang terdiri dari lima huruf dan setiap huruf mempunyai arti yang sama dalam lima bahasa yang berbeda. ‘siapa yang dapat memberikan jawaban besok pukul tujuh lagi, akan diberi hadiah yang sesuai,’ demikian beliau tambahkan.</p>
<p>Karena tempat tinggal raamakrishna jauh letaknya, ia memutuskan akan bermalam di rumah saudara iparnya. Sebuah tempat tidur yang nyaman disiapkan baginya, tetapi ia tidak mau tidur disitu. Ia berkata, ‘saya harus memikirkan jawaban pertanyaan yang diajukan raja untuk besok pagi. Tempat tidur seperti ini pasti akan membuat saya segera terlelap. Karena itu, berilah saya sebuah balai-balai di kandang sapi.’</p>
<p>Ketika ia sedang berbaring di dipan itu, salah seekor lembu betina disitu melahirkan anak. Raamakrishna memanggil saudara iparnya memberitahukan hal ini. Saudara iparnya ingin tahu sapi yang mana yang telah melahirkan karena hewan itu telah diberinya aneka nama yang berbeda seperti misalnya; parvati, lakshmi, saraswati, dan sebagainya. Ia bertanya kepada raamakrishna, ‘<em>ye aav ra bava’</em> sapi yang mana itu, oh saudara ipar. Ketika mendengar ini, raamakrishna senang sekali karena ia telah menemukan jawaban pertanyaan raja. Diulangnya kalimat itu berkali-kali. Saudara iparnya mengira raamakrishna bertingkah laku aneh seperti itu karena kurang tidur.</p>
<p>Keesokan harinya raakrishna pergi ke istana raja dan mendapati bahwa tidak seorang pun menemukan jawab pertanyaan itu. Semuanya yakin bahwa tidak mungkinlah membuat kalimat semacam itu. Raamakrishna memuja tuhan sebagai ibu jagatraya. Ia berkata kepada raja bahwa dengan berkat ibu jagatraya, ia telah menemukan jawaban pertanyaan itu. ‘ye aav ra ba va,’ itulah jawabnya, demikian katanya. Semua yang hadir merasa bingung. Kemudian raamakrishna menjelaskan, <em>‘ye</em>, dalam bahasa marati, <em>aav</em>, dalam bahasa hindi, <em>ra</em>, dalam bahasa telugu, <em>ba</em> dalam bahasa kannada, dan <em>va</em> dalam bahasa tamil, mempunyai arti yang sama yaitu datanglah.’ Lima bahasa diwakili dalam kalimat ini. Malam sebelumnya raamakrishna merenungkan ibu jagatraya dengan tiada putusnya. Karena kecerdasannya dengan rahmat tuhanlah, maka ia menemukan jawaban itu.</p>
<p>Kelima unsur alam berhubungan dengan kelima prinsip kehidupan yaitu; <em>praana, apaana, vyaana, udaana, dan samaana</em> yang ada dalam setiap makhluk. Asas kehidupan ini meliputi seluruh ciptaan dari <em>chiima</em> ‘semut’ hingga brahma ‘sang pencipta’. Proses memanggil prinsip kehidupan ini disebut<em> praanopaasanaa [atau praanapratishthaa</em>].</p>
<p>Daya hidup ini merupakan landasan yang menopang segala makhluk hidup. Selama ada kehidupan didalam tubuh, tubuh itu <em>shivam</em> ‘membawa harapan baik’. Jika hidup sudah meninggalkan badan, tubuh itu menjadi <em>savam</em> ‘jenazah’. Hidup ditopang oleh kelima unsur alam. Karena itu, manusia harus memuja kelima unsur ini.</p>
<p>Buluh yang berbeda-beda dalam harmonium menimbulakan nada suara yang berlainan; <em>sa, ri, ga, ma, pa, da, ni.</em> Udara merupakan dasar bagi semua nada suara ini. Demikian pula ada satu kemampuan dasar dan segenap ciptaan timbul dari situ.</p>
<p>Shangkaraacharya menyelidiki sifat kemampuan dasar utama ini dan melukiskannya sebagai <em>shabda brahmamayi, charaacharamayi, jyotirmayi, vaaangmayi, nityaanandamayi, paraatparamayi, maayaammaayi, dan shriimayi</em>. ‘tuhan adalah suara premordial, beliau adalah segala yang bergerak dan lebam, beliau adalah kecemerlangan, kemampuan bicara, kebahagiaan kekal, beliau yang maha kuasa dan abadi, beliau adalah kemampuan maya, beliau adalah keselamatan.</p>
<p>Suara merupaka prinsip utama tuhan. Suara meliputi seluruh alam semesta. Itulah sebabnya tuhan disanjung sebagai <em>charaachara mayi.</em> Kemampuan tuhan ini ada dalam hati kita, diungkapkan dalam bentuk kemampuan bicara, dan disebut <em>vaang mayi.</em></p>
<p>Orang-orang berbicara mengenai tritunggal suci; brahma, wishnu, dan maheswara, tetapi tidak ada orang yang telah melihat mereka. Wujud yang dianggap sebagai wujud tritunggal itu didasarkan pada lukisan seniman dan tidak sesuai dengan kenyataan. Sesungguhnya trinitas; brahma, wishnu, dan maheswara masing-masing mewakili ibu, ayah, dan guru. Sebagaimana brahma menciptakan segala sesuatu, ibu melahirkan anak-anak. Ayah mengurus anak-anak itu, mendidik mereka, dan bertanggung jawab atas pemeliharaan mereka. Karena itu, ayah melambangkan aspek wishnu. Guru melambangkan maheswara karana beliau memusnahkan kebodohan dan menganugerahkan kebijaksanaan. Itulah sebabnya <em>weda</em> menyatakan, <em>‘matru devo bhava, pitru devo bhava, aachaarya devo bhava,</em>’hormati ibu, ayah, dan gurumu sebagai tuhan atau sebagai wujud tuhan yang kasat mata’. Dengan cara ini orang-orang kita zaman bahela mengajarkan dan menyebarluaskan berbagai aspek sifat ketuhanan.</p>
<p>Engkau harus meyakini pengalamanmu sendiri dan tidak terpengaruh oleh pendapat atau pandangan orang-orang lain. Pandangan orang yang didasarkan pada perasaannya dan setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda.</p>
<p>Sai mengatakan,’ya,’ kepada mereka yang berkata ‘ya,’ kepada beliau, dan mengatakan, ‘tidak,’ kepada mereka yang berkata,’tidak.’ya dan tidak berkaitan dengan perasaan seseorang, tetapi bagi sai segalana adalah ya,ya,ya. [puisi bahasa telugu]</p>
<p>Tuhan selalu berkata ya pada nilai-nilai sosial [saanghika], kebudayaan [<em>saamskritika], dan nilai-nilai yang abadi [<em>sanaatana</em>].</em></p>
<p><em>Segala hal yang berkaitan dengan dunia itu pasti akan berubah. Apa gunanya menaruh kepercayaannya pada tuhan dan merenungkan beliau karena tuhan itu tidak berubah dan abadi. Akan tetapi, orang yang bodoh tidak memahami cara-cara tuhan. Mereka salah menafsirkannya dan berbicara sesuka hatinya. Perkataan orang semacam itu jangan kauhiraukan. Manusia pasti akan hancur, jika ia bergaul dengan orang-orang jahat semacam itu. Karenaitu, ada dikatakan, dan siang malam lakukan perbuatan yang berpahala.</em></p>
<p><em><em>Tyaja durjana-samsargam,</em></em></p>
<p><em><em>Bhaja saadhu-samaagamam,</em></em></p>
<p><em><em>Kuru punyam ahoraatram</em>.</em></p>
<p><em>Jauhkan dirimu dari teman-teman yang tidak baik, bergaulah dengan teman-teman yang baik, dan siang malam lakukan perbuatan yang berpahala.</em></p>
<p><em>Tidak cukup jika engkau hanya menjauhkan dirimu dari teman-teman yang tidak baik. Engkau harus bergaul dengan teman-teman yang baik. Dalam kata <em>satsangha </em>‘pergaulan yang baik’<em>, sat</em> menunjukan hal yang tidak berubah yaitu tuhan.</em></p>
<p><em>Gula memberikan rasa manis pada apa pun yang dicampurkan padanya. Sifat ini tidak berubah. Karena itu<em>, sat</em> dapat diibaratkan dengan gula.</em></p>
<p><em><em>Cit</em> adalah <em>caitanya </em>‘kesadaran’ yang dapat diibaratkan dengan air. Jika gula dan air dicampur, kita mendapat sirup. Demikian pula, bila <em>sat</em> dan <em>cit</em> bergabung, hasilnya adalah <em>aananda</em> ‘kebahagiaan jiwa’. Biarlah prinsip kebenaran yang abadi menjiwai segala usahamu didunia ini. Hanya dengan demikianlah engkau dapat mencapai tuhan.</em></p>
<p><em><strong>Perwujudan kasih.</strong></em></p>
<p><em>Tidak ada manusia atau tempat yang bukan persemaayaman tuhan. Jangan pernah mengelabui dirimu sendiri dengan beranggapan bahwa tuhan ada disini dan tidak ada disana. Dimanapun engkau mencari, engkau dapat menjumpai tuhan disitu.</em></p>
<p><em><em>Sarvatah paanipaadam tat sarvato-kshi shiro-mukham, sarvataaah shrutimal-loke sarvam aavrtya tishthati.</em> Artinya,’ dengan tangan, kaki, mata, kepala, mulut, dan telinga memenuhi segala sesuatu, tuhan meliputi seluruh alam semesta’.</em></p>
<p><em>Kitab-kitab suci entah <em>quran, alkitab, grant sahib, atau bhagawad gita</em> semuanya menyatakan kebenaran ini. Semua agama menerima kesucian kelima unsur alam.</em></p>
<p><em>Manusia modern memecah belah kemanunggalan ini dan hanya melihat keaneka ragaman. Ini kesalahan yang serius. Ia harus berusaha melihat kemanunggalan yang ada dibalik keanekaragaman. Hanya dengan demikianlah ia dapat menyadari kebenaran. Karena tiadanya penghayatan kemanunggalan ini, permusuhan menemukan tempat untuk bercokol dalam hati manusia. Hati semacam itu sama sekali bukan hati, melainkan dapat disebut batu.</em></p>
<p><em>Tuhan memelihara semua makhluk. Ada beberapa katak yang terperangkap dalam bebatuan dan tidak bisa keluar sampai lama. Mereka baru bisa keluar ketika batu cadas itu pecah. Siapa yang memberi mereka makan ketika mereka terperangkap dalam batu-batu itu. Bahkan jika suatu tanaman diairi dan dipupuk secara teratur, tidak seorangpun dapat menjamin bahwa tanaman itu akan tumbuh menjadi sebatang pohon. Meskipun demikian, kita jumpai pepohonan yang sangat besar tumbuh di puncak perbukitan yang gersang. Siapa yang mengairi dan memupuk pohon-pohon itu. Siapa yang bertanggung jawab atas pertumbuhan mereka. Tuhan dan tuhan belaka. Beliau mengurus kebutuhan segala makhluk di seluruh dunia.</em></p>
<p><em>Tuhan sama sekali tidak membeda-bedakan, tetapi manusia mempunyai sikap membeda-bedakan semacam ini. Inilah penyakit terparah yang kini telah menjangkiti manusia. Ia menderita berbagai keraguan. Bahkan penyakit seperti kanker pun dapat disembuhkan, tetapi tidak demikian halnya dengan penyakit keraguan. Manusia membinasakan dirinya sendiri dengan keraguan.</em></p>
<p><em>Keadaan atau kelahiran sebagai manusia itu amat suci, bersifat ketuhanan, dan penuh kebahagiaan jiwa. Setelah mencapai kelahiran seluhur itu, mengapa manusia membiarkan kecemasan mengganggunya.</em></p>
<p><em>Ada orang-orang yang selalu bertampang sedih. Alangkah malangnya. Engkau harus selalu riang. Wajah yang tersenyum merupakan ungkapan sifat ketuhanan. Kebahagiaan adalah persatuan dengan tuhan. Manusia menderita dan sengsara karena ia menjauhkan diri dari tuhan. Apapun yang terjadi, manusia harus selalu bahagia. Ia harus membuang segala kecemasan dan menyambut kebahagiaan jiwa. Penting sekali para pelajar dan mahasiswa memahami kebenaran ini dan bertindak sesuai dengan pengertian tersebut.</em></p>
<p><em>Anak-anak-ku terkasih, para pelajar dan mahasiswa, usiamu [sekarang] merupakan masa yang paling menentukan dalam hidupmu. Mulailah awal, kemudian perlahan-lahan, dan tibalah dengan selamat. Engkau harus menempuh kehidupan spiritual sejak sekarang. Mungkin engkau bekerja dan memperoleh penghasilan, tetapi engkau harus memiliki kebulatan tekad untuk mengikuti jalan spiritual. Orang yang memiliki kehendak teguh seperti itu benar-benar mujur.</em></p>
<p><em>Buddha adalah seorang pangeran. Beliau menikmati segala kesenangan dan kemudahan hidup di istana. Namun, beliau meninggalkan segala-galanya, dan menjadi seorang pertapa, bukan.</em></p>
<p><em>Raama juga tidak kekurangan apa-apa. Namun, beliau tidak menaruh minat pada kesenangan dan kenikmatan. Jika ibu kausalyaa menghidangkan berbagai makanan yang lezat, beliau tidak mau makan sendirian. Beliau hanya mau makan bersama saudara-saudara beliau; lakshmana, bhaarata, dan shatrughna.</em></p>
<p><em>Hampir sepanjang waktu raama sibuk di alam beliau sendiri. Sering beliau tampak seakan-akan sedang menuliskan sesuatu di udara.suatu hari dasharatha mengundang resi vasishtha agar datang. Beliau mohon agar sang resi menjelaskan apa yang menyebabkan tingkah laku raama yang aneh itu. Resi vasishtha duduk bermeditasi selama beberapa waktu kemudian berkata, ‘’ini merupakan tanda-tanda sifat ketuhanan. Kadang-kadang beliau mungkin bercakap-cakap dengan makhluk lain’’. Raama tidak memiliki kelekatan pada tubuh. Beliau terikat pada diri sejati. Inilah makna ketuhanan yang sesungguhnya.</em></p>
<p><em>Ketika resi vishvaamitra minta agar dasharatha mengizinkan raama dan lakshmana menyertainya dan menjaga yajna yang diselenggarakannya, dasharatha sangat enggan mengabulkan permohonan itu. Meskipun demikian, raama langsung bersedia pergi bersama sang resi. Dasharatha merasa bahwa raama dan lakshmana yang masih muda remaja, mungkin akan takut kepada para iblis. Namun, raama berkata bahwa beliau sama sekali tidak mengenal rasa takut. Bahkan resi vasishtha dan resi vishwaamitra menasihati dasharatha, ‘’ jangan terkelabui oleh perasaan bahwa raama itu anak laki-laki biasa. Beliau adalah avatar penjelmaan tuhan’’.</em></p>
<p><em>Walaupun resi vishwaamitra menyanjung-nyanjung sifat ketuhanan sri raama di hadapan dasharatha, kemudian pandangannya terselubung tirai maya. Ketika mereka tiba di tepi sungan sarayuu, beliau berkata kepada raama, ‘’seumur hidup tuan pangeran, tuan belum pernah melihat iblis. Karena itu, saya akan mengajarkan dua mantra, bala dan atibala, kepada tuan pangeran agar tuan tidak mengantuk atau merasa lapar, sehingga tuan dapat bertempur melawan iblis-iblis itu tanpa rasa takut’’. Inilah [contoh] kemampuan maya. Orang yang tadinya memuji-muji sifat ketuhanan sri raama kemudian menganggap beliau sebagai anak laki-laki biasa dan mengajarkan mantra-mantra kepada beliau.</em></p>
<p><em>Apapun yang dilakukan tuhan ada alasannya. Beliau bertindak sesuai dengan waktu dan keadaannya. Jayammaa dalam ceramahnya berkata bahwa swami mengunjungi berbagai tempat yang jauh, tetapi tidak datang ke anantapur yang hanya 60 km jauhnya. Aku tidak mempunyai rasa suka atau tidak suka pada tempat yang mana saja. Waktulah yang penting bagi-ku. Aaku pasti akan datang pada saat yang tepat. Dahulu, aku biasa berkunjung ke anantapur seminggu sekali. Sekarang keadaannya sudah berubah. Kemanapun aku pergi, bakta yang sangat banyak jumlahnya datang berhimpun. Mobil-ku akan diikuti seratus mobil lain. Siapa yang akan menyediakan makanan dan naungan bagi mereka semua.swami akan merasa sedih, jika para bakta menderita karena mereka adalah cerminan swami sendiri. Selain itu tidak ada perlengkapan yang memadai untuk tempat tinggal-ku. Asrama mahasiswa di anantapur di maksudkan untuk gadis-gadis. Jadi bagaimana aku bisa tinggal disitu. Aku adalah manusia ideal dan ideal dalam segala aspek. Aku harus memberi teladan bagi seluruh dunia. Karena mempertimbangkan segala aspek semacam itu, belakangan ini aku tidak berkunjung kesana. Meskipun demikian, jika anak-anak itu datang kesini, aku berbicara kepada mereka dengan penuh kasih.</em></p>
<p><em>Mereka sedih karena aku tidak berkunjung kesana. Mereka meminta,’swami mohon swami datang setidak-tidaknya untuk sehari.’ Kukatakan kepada mereka bahwa aku pasti datang. Aku tidak akan pernah berkata kepada siapapun bahwa aku tidak mau datang. Itulah sifat-ku.</em></p>
<p><em>Aku salalu berkata,<em>’santosham, santosham</em>,’ bahagialah, untuksegala sesuatu. Kalau engkau berkata,’swami, perut saya sakit,’ aku akan berkata, ‘<em>santosham.</em>’jika seseorang berkata, ‘swami anak saya sudah meninggal.’ Kukatakan kepadanya, ‘<em>santosham</em>.’ Kata itu kuucapkan secara spontan. Apapun yang mungkin terjadi, aku selalu bahagia. Namun, tidak semua orang memahami hal ini. Suatu kali, seorang bakta wanita datang dan memberitahu aku bahwa suaminya telah meninggal. Kukatakan padanya, ‘<em>chaala santosham</em>.’ Sangat bahagia. Ia menjadi marah dan berkata, ‘swami, mengapa swami demikian bahagia, jika saya menangisi meninggalnya suami saya.’kukatakan kepadanya, ‘bu, aku selalu bahagia. Itulah sebabnya kukatakan demikian kepadamu.’engkau selalu mendapati aku tersenyum karena kebahagiaan adalah sifatku yang sejati. Aku tidak pernaah sedih.</em></p>
<h2><em>Kasih adalah wujud-ku</em></h2>
<p><em><em>Kebenaran adalah nafas-ku</em></em></p>
<p><em><em>Kebahagiaan jiwa adalah santapan-ku</em></em></p>
<p><em><em>Hidup-ku adalah amanat-ku</em></em></p>
<p><em><em>Perluasan adalah hidup-ku</em></em></p>
<p><em><em>Tiada alasan untuk kasih</em></em></p>
<p><em><em>Tiada musim untuk kasih</em></em></p>
<p><em><em>Tiada kelahiran,tiada kematian.</em></em></p>
<p><em>Inilah sifatku yang sesungguhnya, sifat-ku tidak akan berubah dalam keadaan apapun. Aku selalu penuh dengan kebahagiaan. Melihat keadaanku yang selalu sangat bahagia, banyak orang merasa iri. Mereka heran memikirkan, ‘bagaimana sai baba bisa selalu bahagia. Beliau mengurus banyak rumah sakit dan yayasan pendidikan. Beliau mempunyai demikian banyak tanggung jawab, tetapi tampaknya beliau sama sekali tidak khawatir’ apa perlunya merasa cemas. Apapun yang harus terjadi akan terjadi. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak-ku. Karena itu, aku sama sekali tidak merasa khawatir. Kecemasan tidak pernah menyentuh-ku sebelum ini atau akan mempengaruhi aku kelak. Aku selalu bahagia. Aku berusaha kelihatan sedih, jika berbicara dengan orang yang sedang menderita, tetapi aku tidak mampu berbuat demikian, karena kebahagiaan adalah sifat-ku.</em></p>
<p><em>Aku memerlukan banyak uang karena aku harus mengeluarkan milyaran rupiah untuk berbagai proyek kesejahteraan sosial yang kuselenggarakan. Meskipun demikian, aku tidak merasa cemas atau khawatir. Apa perlunya khawatir, jika segala sesuatu berlangsung sesuai dengan rencana-ku. Hal ini telah kusebutkan dalam amanat-ku pada hari <em>krishna ashtami, </em>‘agar pelayanan kesehatan dirumah sakit dan yayasan pendidikan [yang semuanya diberikan secara Cuma-Cuma] dapat terus berlangsung, setiap bulan diperlukan biaya milyaran rupiah. Selama aku masih ditubuh ini, tidak ada masalah [financial]. Setelah itu, siapa yang akan mengurusnya. Karena itu, aku hendak mendepositokan modal agar bunganya dapat digunakan untuk membiayai keperluan rumah-rumah sakit dan berbagai yayasan pendidikan.</em></p>
<p><em>Dewasa ini kita jumpai banyak swamiji dan maataaji pergi keluar negeri dan meminta-minta uang. Engkau dapat menyebut orang-orang semacam itu pengemis, bukan <em>orang besar</em>. Meskipun demikian, aku sama sekali tidak pernah meelakukan hal yang merendahkan martabat semacam itu. Demikian banyak orang datang kesini, tetapi aku belum pernah minta apapun dari siapapun. Orang yang meminta-minta sama sekali bukan [avatar] tuhan.</em></p>
<p><em>Pekerjaan-ku akan berlangsung walaupun aku tidak pernah meminta apa-apa. Dana yang diperlukan datang sesuai dengan kehendak-ku. Darimana dana itu datang. Pergi dan bertanyalah di bank. Mengapa bertanya kepada-ku. Aku tidak melibatkan diri-ku dalam masalah-masalah semacam itu. Aku hanya mempunyai satu keinginan,</em></p>
<p><em><em>‘sarve janaah sukhino bhavantu.’</em></em></p>
<p><em><em>‘semoga semuanya berbahagia’</em></em></p>
<p><em>kesedihan dan kecemasan menghantui mereka yang memiliki berbagai keinginan.namun, aku sama sekali tidak mempunyai keinginan. Itulah sebabnya aku selalu berada dalam kebahagiaan jiwa. Apapun yang ku kehendaki langsung terjadi. Karena itu, aku tidak perlu khawatir mengenai apapun.</em></p>
<p><em>Bhagawan menyudahi wacana beliau dengan kidung suci, ‘<em>hari bhajan bina sukha shaanti nahi, ‘ </em>tanpa menyanyikan nama tuhan, tiada kebahagiaan dan kedamaian’.</em></p>
<p><em>Diterjemahkan:</em></p>
<p><em>Dari wacana bhagawan pada hari ke-6</em></p>
<p><em>Perayaan dasara dipendava sai kulwant,</em></p>
<p><em>Prashanti nilayam,25 oktober 2001</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tuhan adalah hakikat kehidupan]]></title>
<link>http://mankdira.wordpress.com/2009/10/02/tuhan-adalah-hakikat-kehidupan/</link>
<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 02:59:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>mankdira</dc:creator>
<guid>http://mankdira.wordpress.com/2009/10/02/tuhan-adalah-hakikat-kehidupan/</guid>
<description><![CDATA[Tuhan adalah hakikat kehidupan [God is the esssence of life ] Apa perlunya menumpuk harta secara ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><pre><big><span style="font-family:Calibri;">Tuhan adalah hakikat kehidupan
[God is the esssence of life ]

Apa perlunya menumpuk harta secara berlebih-lebihan  lebih baik manusia
mengendalikan keinginnyadan merasa puas dengan penghasilan yang kecil. Di dunia yang bersifat dualitas
ini, tiada kebahagiaan mutlak atau kesengsaraan mutlak.

Salam Kasih

Sejak zaman dahulu kitab-kitab upanishad telah memberikan ajaran yang suci kepada manusia. Ini membuktikan
kekayaan budaya pusaka bhaarat. Amanat upanishad itu bersifat kekal dan abadi.
Mereka menyatakan,

‘’Rasovai saha’’.- ‘Tuhanadalah hakikat segala sesuatu’.

Sebagaimana gula ada dalam setiap tetes sirup, mentega terkandung dalam setiap tetes susu, demikian pula tuhan
meliputi setiap atom dan sel ciptaan ini. Meskipun demikian, tidak semua
manusia dapat memahami adanya tuhan dan asas yang suci ini. Tidak banyak orang
yang dapat memahami misteri tuhan yang meliputi segala sesuatu dari mikrokosmos
hingga makrokosmos.

Kitab-kitab upanishad mengungkapkan berbagai rahasia. Jika tidak demikian, hal itu tetap tidak akan di ketahui oleh
manusia. Sebagaimana manusia dapat merasakan manisnya tebu, pedasnya cabai,
asamnya jeruk nipis, dan harumnya bunga, adanya tuhan dapat dihayati dalam
segenap ciptaan. Tidak ada ilmuwan atau insinyur yang dapat memahami prinsip
keberadaan tuhan sebagai kesadaran dalam segala sesuatu. Semua  ini merupakan
bukti langsung akan adanya Tuhan. Manusia harus berusaha menyadari prinsip ini.

Engkau merasa diliputi kegembiraan yang meluap-luap bila melihat sungai yang mengalir deras, danau yang penuh air,
atau tanaman yang tumbuh subur di ladang. Semua itu merupakan bukti langsung
adanya tuhan. Meskipun demikian, manusia tidak mampu memahami hal ini.

Sejak lahir hingga ajal tiba, manusia memperoleh berbagai pengalaman. Namun, ia terkelabui oleh perasaan bahwa ia adalah pelaku
dan penyebab segala hal yang dialaminya. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak
memahami sifatnya sendiri yang sejati, dapat memahami prinsip tuhan yang
bersifat adikodrati

Segala hal yang dilihat, didengar,dialami, dan dinikmati seseorang menunjukkan adanya tuhan. Manusia harus
berusaha sekuat tenaga memahami asas ketuhanan. Kini manusia menyelidiki segala
seseuatu kecuali asas ketuhanan. Ia menggunakan waktu, berapa pun lamanya untuk
memahami hal-hal seperti komputer, televisi, telepon, dan sebagainya, tetapi
tidak dapat meluangkan waktu untuk mengetahui tuhan.

Upanishad menyatakan, ‘’ketahuilah dirimu sendiri’’. Jika engkau tidak tahu siapa engkau, bagaimana engkau bisa
mengetahui yang lain  manusia bertanya
kepada orang lain,’’siapakah anda’’. Tetapi tidak bertanya kepadanya dirinya
sendiri, ‘’siapakah aku’’.
Manusia modern berusaha mmengetahui apa yang sedang terjadi di dunia. Ia dapat
menceritakan secara rinci apa yang terjadi di amerika, inggris, pakistan, dan
sebagainya, tetapi ia tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam dirinya sendiri.
Jika ada orang yang bertanya kepadanya, ‘’siapakah anda’’. Ia memperkenalkan
dirinya dengan menyebutkan nama, pekerjaan, dan tempat tinggalnya. Orang yang
menyamakan dirinya dengan badan memberikan jawaban semacam itu. Meskipun
demikian, jawaban semacam itu bersifat dangkal dan tidak membuktikan kenyataan
yang sejati.

Bhagawadgita menyatakan:
‘’Kshetra-jnam  caa’pi maam viddhi’’.
‘Akulah[ kesadaran ] yang mengetahui dalam segala sesuatu’.

Engkau adalah kshetrajna ‘yang mengetahui’, bukan kshetra ‘tubuh’. Engkau menyebutkan nama, usia, pekerjaan,
dan tempat asalmu jika memperkenalkan diri. Meskipun demikian, semua ini hanya
berkaitan dengan badan, bukan penghuninya. Ini seperti memberikan nama dan
alamat rumah dengan mengabaikan orang yang tinggal di dalamnya. Tubuh itu dapat
diibaratkan dengan rumah dan engkau adalah penghuninya. Engkau tidak melakukan
usaha apa-apa untuk memahami kebenaran ini. Bila ada yang menanyakan
identitasmu, engkau harus berkata dengan penuh keyakinan, ‘’saya adalah atma’’.
Inilah jawaban yang benar.

Apa yang dimaksud dengan kata atma, atau kshetrajna  yang dimaksud yaitu
kesadaran [ caitanya ]. Weda menyebutnya sebagai aham ‘aku’. Asas aku ini
dimiliki oleh semua makhluk. Seandainya aku bertanya, ‘’siapakah ramayya’’
orang yang mempunyai nama itu akan berdiri dan berkata, ‘’saya’’. Entah ia
ramayya, krishnayya, govinda, atau siapa saja, setiap orang menyebut dirinya
sendiri, ‘’saya’’. Ini berarti setiap orang menyamakan prinsip ‘’saya’’ [ atau
rasa keakuan ] ini dengan nama yang diberikan kepada badannya. Orang
mengatakan, ‘’saya raama’’, ‘’saya krishna’’, ‘’saya govinda’’. Raama, krishna,
govinda kedengarannya berbeda, tetapi asas ‘’aku’’ [ atau rasa keakuan ] itu
sama dalam mereka semua. Ini menunjukan diri sejati setiap individu. Engkau
bukan tubuh, engkau adalah diri sejati yang bersemayam di dalamnya. Upanishad
melenyapkan keraguan manusia dengan memberikan amanat semacam itu.

Manusia memiliki sejumlah kemampuan yang tidak  dapat dilihat atau dipahami.
Orang-orang barat menyebut kemampuan adikodrati ini sebagai neotics. Ini dapat
dipahami sebagai kesadaran yang meliputi setiap makhluk dari kepala sampai
kaki. Kesadaran ini mempunyai kekuatan magnetis dan tidak dapat diciptakann
atau dimusnahkan.

Kesadaran tidak mempunyai kelahiran atau Kematian.
Kesadaran tiada awal atau Akhirnya.
Ia ada dalam segala makhluk
Sebagai saksi abadi.

ilmuwan besar, newton, menyatakan kebenaran yang sama. Ialah orang yang menemukan bahwa bumi mengandung kekuatan
magnetis. Daya tarik magnetis ini tidak terbatas di suatu tempat tertentu,
melainkan ada di seluruh bumi.

Einstein menyatakan bahwa materi,terpisah dari segala bentuk energi lainnya seperti misalnya energi magnetis,
dapat diubah menjadi energi listrik, yang pada gilirannya dapat diubah menjadi
energi cahaya dan energi panas. Dengan cara ini, kita dapat mengubah bentuk
energi, tetapi tidak seorang pun dapat menciptakan atau memusnahkannya.

Tidak seorang pun dapat memahami prinsip ketuhanan. Bagaimana manusia dapat menjelaskan proses lahirnya seekor
burung  siapa yang telah meletakkannya di
dalam telur dan bagaimana bayi burung itu tahu cara memecah telur lalu
keluar  sebatang pohon yang sangat besar
beserta segenap cabang dan buahnya terkandung dalam sebutir benih yang kecil
sekali. Bagaimana hal ini dapat dipahami  semua ini menunjukkan adanya tuhan.
Brahman ‘’Tuhan yang mahabesar’’ itu Lebih halus daripada yang terhalus, dan lebih
Luas daripada yang terluas. Belliau adalah Saksi abadi dan meliputi seluruh  alam Semesta
dalam bentuk atma, benih segala Ciptaan.

tidak seorang pun dapat menjelaskan proses keluarnya seekor burungdari telur dan pohon yang tumbuh dari sebutir
biji yang kecil sekali. Mungkin engkau menafsirkannya sesuai dengan
imajinasimu, tetapi interpretasi ini tidak benar.

Setetes air mengingatkan orang pada sungai gangga.
Mungkin orang berpikir bahwa ada perbedaan yang sangat besar antara setetes air
dengan sungai gangga, tetapi perbedaan itu hanya terletak pada kuantitasnya.
Tetes-tetes air hujan terkumpul membentuk aliran air. Aliran air yang banyak
membentuk sungai. Akhirnya semua sungai menyatu dalam lautan. Jadi, kita dapat
menyimpulkan bahwa lautan itu tidak lain adalah kumpulan tetesan air. Tuhan
bersemayam baik ddalam tetesan air maupun dalam samudra yang amat luas.

Sepercik api berkembang menjadi kebakaran yang besar.
Dalam ciptaan ini kita melihat sesuatu yang tidak mencolok mata kemudian
berubah menjadi luar biasa besar. Kita dapat memahami adanya tuhan dalam segala
perubahan yang terjadi di dunia. Bila engkau inggin melihat tuhan, engkau dapat
melihat beliau dalam segala objek di alam semesta ini.

Pashyannapi cha na pashyati muudho.
‘Orang yang melihat, tetapi tidak melihat [ mengerti ] adalah orang yang bodoh’.

Sepanjang waktu engkau melihat tuhan,
namun, engkau merasa belum melihat beliau. Adakah yang lebih bodoh daripada
ini  siapa yang bertanggung jawab atas
kelahiran dan pertumbuhan manusia  engkau
mengira hal itu disebabkan oleh makanan, tetapi siapa yang telah menciptakan
makanan  jikakau selidiki terus seperti
ini, akhirnya engkau akan menyadari landasan utamanya.

Panas sinar matahari mengubah air laut
menjadi uap yang membentuk awan. Ketika tertiup angin, awan itu mulai tercurah
sebagai hujan. Tetesan air hujan terkumpul membentuk aliran air. Aliran ini
membentuk sungai yang akhirnya menyatu dengan lautan. Dengan demikian kita
lihat bahwa sungai-sungai yang timbul dari lautan, akhirnya menyatu kembali di
dalamnya. Inilah yang dikatakan oleh wedanta, ‘’wajarlah jika manusia kembali
ke tempat asalnya’’.

Manusia tidak berusaha memahami
kebenaran ini. Manusia tidak mengetahui tempat asalnya maupuntempat ttujuannya.
Apa yang akan terjadi dengan sepucuk surat yang tidak mempunyai alamat pengirim
ataupun alamat tujuan  surat itu akan
dimasukkan ke tempat khusus untuk surat-surat yang tidak dapat disampaikan. [
Sesandainya manusia itu diibaratkan dengan surat ], ia harus tahu alamat
pengirimnya, atau setidak-tidaknya alamat tujuannya. Namun, kini manusia tidak
mengetahui kedua-duanya. Bagaimana nasib orang semacam itu  ia terperangkap
dalam lingkaran kelahiran dan
kematian.

Punarapi jananam
punarapi maranam - ‘Lahir dan mati berkali-kali’.

Inikah yang seharusnya dilakukan
manusia  manusia sudah lahir dan mati
entah berapa kali, tetapi ia tidak mengetahui tempat asal ataupun tempat
tujuannya. Orang semacam itu dapat diibaratkan dsengan pencuri. Mengapa
demikian  ini sebuah contoh. Seorang
pencuri menjalani hukuman penjara selama tiga bulan. Setelah masa tiga bulan
itu berlalu, pimpinan penjara memberitahu agar ia mengemasi barangnya dan
bersiap-siap karena besok ia akan dibebaskan. Pencuri itu menjawab, ‘’ pak,
mengapa saya harus membawa barang-barang saya  biarlah disini saja, toh saya
akan segera kembali ke sini lagi’’. Ini
berarti ia tidak mau membuang kebiasaannya mencuri.

[ Keadaan ] manusia modern dapat dikatakan sama seperti
ini. Ia tidak mengetahui tempat yang harus ditujunya, tetapi ia tahu bahwa ia
akan lahir lagi. Ia tidak menyadari betapa berharganya lahir sebagai manusia.

Atma merupakan tempat asal manusia dan jugatempat
tujuannya. Setelah mencapai kelahiran sebagai manusia, ia harusmengetahui
kebenaran ini.

Yato
vaacho nivartante, Apraapya
manasaa saha.- ‘Perkataan
dan pikiran tidak mampu memahami tuhan.

Manusia dapat mencapai tuhan dengan
melakukan berbagai perbuatan yang berpahala. Perbuatan jahat akan
menjerumuskannya ke neraka. Manusia harus melakukan perbuatan yang baik dan
berkata dengan penuh keyakinan bahwa ia akan menuju surga. Orang semacam itu
disayangi
tuhan. Tuhan mengasihi orang yang memiliki keyakinan. Jika engkau tidak yakin
bahwa sipolan adalah ibumu, engkau tidak dapat mencintainya.

Di
mana ada keyakinan, di situ terdapat
Kasih.
Di
mana ada kasih, di situ terdapat
Kedamaian.
Di
mana ada kedamaian, di situ terdapat
Kebenaran.
Di
mana ada kebenaran, di situ terdapat
Kebahagiaan.
Di
mana ada kebahagiaan, di situlah tuhan
Berada.

Orang yang tidak memiliki keyakinan
tidak akan pernah dapat memahami tuhan.

Yad
bhaavan tad bhavati. - ‘Sebagaimana
pikirannya, maka demikianlah
Hasilnya’.

Bagaimana orang yang tidak memiliki
keyakinan pada dirinya sendiri dapat mempercayai orang lain  apa gunanya hidup
seseorang, jika ia tidak
dapat mempercayai siapa pun. Karena itu, yang pertama dan terpenting, tingkatkan
kepercayaan pada dirimu sendiri. Bila engkau mempunyai kepercayaan pada diri
sendiri, engkau akan mencintai masyarakat. Orang yang mencintai masyarakat akan
dikasihi tuhan. Jika engkau tidak mencintai masyarakat, bagaimana engkau dapat
berharap masyarakat akan mencintai engkau.

Bangunlah rumah gadang kehidupanmu
pada fondasi yang kuat yaitu kepercayaan pada diri sendiri. Pada fondasi
kepercayaan pada diri sendiri, engkau dapat mendirikan dinding kepuasan batin.
Pada dinding kepuasan batin, engkau dapat memasang atap pengorbanan diri. Hanya
setelah itulah engkau dapat menempuh hidup dengan kesadaran diri sejati.

Diri sejati adalah atma. Orang yang
tidak memiliki kepercayaan pada diri sendiri itu seperti thomas si peragu. Ia
tidak dapat mencapai apa pun dalam hidupnya. Engkau harus meningkatkan
keyakinan yang teguh. Di dunia modern  ini orang-orang telah kehilangan mata
keyakinan. Orang yang tidak
memiliki keyakinan dapat diibaratkan dengan orang yang buta.

Kini manusia mempercayai segala hal
yang dibacanya di surat-surat kabar. Semua berita itu hanya gangguan belaka.
Setiap orang menulis sesuai dengan perasaannya. Engkau harus mendengarkan
berita yang timbul dari lubuk hatimu dan memupuk hubungan dari hati ke hati
dengan tuhan. Dalam surat kabar ada hal-hal yang baik maupun buruk. Akan
tetapi, sebagian besar berita itu hanya ibarat angin lalu. Banyak orang
terpengaruh oleh berita-berita semacam itu yang menghancurkman hidupnya.

Janganlah engkau mencemari hatimu
dengan memperhatikan hal-hal yang tidak suci. Di mana pun engkau berada,
keselamatanmu akan terjamin, jika kau jaga agar hatimu selalu murni.

Sebagaimana telah kukatakan kepadamu
pada awalmu wacana ini, manusia tidak memerlukan harta yang sangat banyak untuk
menyambung hidupnya. Jika aneka keinginan dikendalikan, bahkan penghasilan
kecil pun sudah cukup untuk menempuh hidup bahagia. Akan tetapi, kini manusia
tidak berusaha mengendalikan indranya. Agar bahagia, engkau harus menggunakan
indramu dengan sepatutnya.

Untuk apa engkau dianugerahi mata  apakah untuk melihat apa saja dan
segala-galanya  tidak. Mata dianugerahkan
agar enngkau memperoleh penampakan tuhan. Tahukah engkau mengapa engkau
dianugerahi kaki  apakah untuk keluyuran
kian kemari  tidak. Kaki itu dimaksudkan
untuk berjalan mengelilingi tempat suci. [ Di india orang mempunyai kebiasaan
berjalan mengelilingi tempat-tempat suci menurut arah jarum jam agar dapat
memperoleh manfaat maksimal dari pancaran atau radiasinya ]. Tahukah engkau
mengapa tuhan menganugerahi telinga  apakah untuk mendengarkan gosip yang tidak
berguna  tidak. Telinga itu dimaksudkan untuk
mendengarkan kisah kemuliaan tuhan.

‘’Kini
orang-orang bersedia mendengarkan
gosip
yang tidak berguna, tetapi bila kisah
suci
tuhan dituturkan, telinga mereka
tersumbat.
Orang-orang tidak pernah bosan
nonton
bioskop,tetapi merasa sulit sekali
memusatkan
pandangannya semenit saja
pada
wujud tuhan yang indah’’.

Perlulah manusia mengerti mengapa
tuhan menganugerahinya anggota badan. Ia harus menggunakan indranya dengan
baik. Inilah saadhanaa yang dilakukan dan disebarluaskan oleh buddha.

Pada mulanya buddha mempelajari
berbagai kitab suci, menemui banyak orang-orang yang berjiwa mulia [ mahatma ],
dan mendengarkan wejangan mereka. Namun, semua kegiatan itu tidak memberikan
kebahagiaan yang didambakannya. Kemudian beliau menghentikan semua latihan itu
dan mulai menyelidiki apakah beliau menggunakan indranya dengan baik. Beliau
sadar bahwa semua latihan spiritual akan sia-sia saja, jika manusia tidak
menggunakan
indranya dengan sepatutnya.

Pertama-tama beliau meningkatkan
samyak drishti ‘pandangan yang baik dan suci’. Ini membuka jalan ke arah samyak
bhaavam I ‘perasaan yang baik dan suci’, samyak vaak ‘perkataan yang baik dan
suci’, samyak karma ‘perbuatan yang baik dan suci’,dan samyak jiivitam
‘kehidupan yang baik dan suci’. Latihan spiritual yang sejati terletak pada
pengendalian indra. Inilah ajaran utama buddha.

Di shirdi ada seorang bakta bernama
chandubai patel. Mahalsapati, chandolkar, dan chandubai patel, termasuk dalam
kelompok yang sama. Chandubai patel adalah bakta yang baik sekali, ia juga kaya
raya. Suatu kali ada seorang pengusaha yang datang untuk menemuinya. Pada waktu
itu chandubai patel sedang berdoadi ruang puja. Pengusaha itu harus menunggu
lama untuk menemuinya. Ketika akhirnya chandubai patel keluar dari ruang puja,
usahawan itu bertanya kepadanya, ‘’patel, anda mempunyai segala kesenangan dan
kemudahan. Anda sehat, kaya, dan diberkati dengan anak-anak yang baik. Anda
tidak kekurangan apa-apa. Jadi, mengapa anda berdoa kepada tuhan’’ chandubai
patel menjawab, ‘’saya berdoa kepada tuhan bukan untuk kesehatan, kekayaan, dan
harta. Mengapa saya harus berdoa memohon hal-hal yang telah saya miliki  saya
bukan orang yang bodoh untuk melakukan
hal itu. Saya berdoa kepada tuhan memohon hal yang tidak saya miliki’’. Karena
heran mendengar jawaban ini, usahawan itu bertanya, ‘’adakah sesuatu yang tidak
anda miliki’’ chandubai berkata, ‘’saya memiliki segala kesenangan dan
kemudahan, tetapi saya tidak memiliki kedamaian hati dan kebahagiaan jiwa.
Tuhan adalah perwujudan kedamaian. Hanyan beliaulah yang dapat menganugerahkan
kedamaian. Karena itu, saya berdoa kepada tuhan agar dianugerahi kedamaian dan
kebahagiaan jiwa’’.

Kejadian ini menyadarkan usahawan
tersebut. Manusia harus berdoa kepada tuhan agar di anugerahi sesuatu yang
tidak di milikinya. Ia mempunyai segala sesuatu kecuali kedamaian dan
kebahagiaan jiwa. Ia dapat mencapai apa saja dalam hidupnya, tetapi hanya
tuhanlah yang dapat menganugerahinya kedamaian dan kekebahagiaan jiwa. Usahawan
tersebut mengakui kebenaran ini.

Sekadarr mengulag-ulang nama tuhan
tidaklah cukup. Engkau harus ikut serta dalam pekerjaan beliau. Suatu kali
vibhiishana bertanya kepada hanumaan, ‘’saya mengasihi sri raama dengan sepenuh
hati dan mengidungkan nama beliau selama 24 jam sehari. Mengapa sejauh ini
beliau belum melimpahkan rahmat beliau kepada saya’’. Hanumaan menjawab, ‘’oh
orang yang bodoh, tidak diragukan lagi anda mengidungkan nama raama, tetapi
apakah
anda ikut serta dalam pekerjaan beliau  sudah hampir sepuluh bulan sejak siitaa
dibawa ke langka. Adakah usaha
yang anda lakukan untuk membebaskannya’’. Mendengar nasihat hanumaan,
vibhiishana menemui raama dan mempersembahkan diri untuk mengabdi beliau.
Selain mengulang-ulang nama tuhan, engkau harus ikut serta dalam kegiatan
pelayanan.

Chandubai patel sebagai bakta baba
yang penuh sdemangat, sering berkunjung ke shirdi. Ia biasa membagikan makanan
kepada orang banyak dengan perasaan bahwa baba ada di dalam semuanya.

Iishvara sarva bhuutanam - ‘Tuhan
bersemayam dalam segala makhluk’
ia bahkan biasa membagikan makanan
kepada anjing-anjing. Tuhan ada sekalipun dalam seekor anjing. Orang yang
memiliki pandangan batin akan melihat tuhan biarpun di dalam seekor anjing.
Melihat anjing hanya sebagai anjing merupakan maya. Melihat tuhan di dalam
anjing merupakan moksa. Chandubai patel dapat melihat baba dalam segala
makhluk. Sedemikianlah keyakinan dan baktinya kepada baba.

Nana juga bakta baba yang sangat baik.
Ia menganggap baba sebagai hidupnya sendiri. Namun, ia memiliki tanggung jawab
tertentu dalam keluarganya. Shirdi baba telah memberitahu nana agar ia tetap
tinggal bersama keluarganya dan melaksanakan kewajiban serta tanggung jawabnya.

Pada suatu hari menantu perempuannya
yang hamil tua merasa sakit hendak bersalin. Nana berdoa dengan sepenuh hat
ikepada baba mohon perlindungan bagi menantunya. Ia tidak dapat meninggalkan
wanita itu dan pergi ke shirdi karena ia adalah satu-satunya pria dalam
keluarganya. Ia berdoa, ‘’baba, swamilah satu-satunya perlindungan kami’’. Baba
mendengar doanya. Beliau segera memanggil salah satu bakta beliau, memberinya
vibhuti, dan memberitahu agar ia pergi serta menyerahkan abu suci itu kepada
nana.

Secara normal akan diperlakukan waktu
setengah hari untuk mencapai desa tempat tinggal nana. Akan tetapi, dengan
kehendak beliau yang bersifat ketuhanan, baba membuat hal itu berlangsung
dengan cepat. Ketika orang itu tiba didesa nana, sebuah tongga ‘andong atau
kereta
yang ditarik kuda’ sudah menantinya. Dengan tongga itu ia pergi kt rumah nana.

Ia memberitahu nana, ‘’baba mengutus
saya ke sini’’. Beliau memberikan prashadam ‘makanan yang sudah diberkati’ ini
untuk menantu perempuan anda’’. Bukan main senangnya nana. Segera dimasukkannya
prashadam abu suci itu ke dalam air minum dan diberikannya kepada menantu
perempuannya. Dalam waktu semenit wanita itu melahirkan bayi laki-laki.

Ketika nana keluar untuk melihat,
ternyata tongga dan kusirnya sudah tidak ada. Ia pergi mencarinya diseluruh
desa, tetapi tidak dapat menemukannya. Kemudian ia sadar bahwa ini merupakan
permainan baba. Dinamainya cucu lelakinya itu ‘baba’. Baba melakonkan berbagai
drama semacam itu untuk menyelamatkan bakta beliau. Baba adalah aktor terbaik
dalam setiap drama.

Cara-cara
tuhan itu misterius. Pada suatu hari ketika kasturi, lokhanatham, dan surayya
berada disamping-ku, tiba-tiba aku meninggalkan tubuh-ku.

Mereka
adalah bakta yang penuh semangat dan percaya sepenuhnya kepada-ku. Setiap hari
mereka biasa menyertai aku hingga aku beristirahat pada malam hari. Ketika aku
meninggalkan raga, mereka mulai menitikkan air mata. Lokanatham bersujud
dikaki-ku dan mulai menangis sedih. Namun, kasturi mengerti bahwa aku sedang
pergi kesuatu tempat untuk menanggapi doa seorang bakta. Karena itu, ia
membesarkan hati mereka dengan berkata,’jangan menangis. Bahkan kalian harus
senang dengan kejadian ini. Pasti ada orang yang menangis [mohon pertolongan]
entah dimana.swami telah pergi untuk menghapus air mata bakta beliau.’

Setelah dua jam, aku kembali ketubuh-ku. Kemudian
kasturi mohon kepada-ku, ‘swami, kami tidak berhak mencegah swami pergi
menyelamatkan bakta swami. Tetapi, jika swami pergi, tolong jangan tinggalkan
badan swami seperti ini. Sebenarnya swami tidak perlu meninggalkan badan swami
dan pergi. Swami dapat tetap disini menyelamatkan bakta swami di seluruh dunia.
‘hari itu aku berjanji kepada kasturi dan surayya bahwa aku akan berbuat sesuai
dengan permohonan mereka. Kukatakan kepada mereka bahwa jika diperlukan mungkin
aku akan pergi meninggalkan tubuh-ku, tetapi akan tetap ada kehidupan dalam
badan-ku. Aku akan menepati janji-ku hingga hari ini. Peristiwa misterius
semacam itu sering berlangsung.

Di
ketiga loka ini kisah [permainan] tuhanlah yang paling menakjubkan dan suci.
Kisah itu bagaikan sabit yang memotong tanaman merambat perbudakan [pada aneka
keinginan dan kelekatan] duniawi

Tidak mungkinlah melukiskan kemuliaan tuhan.

Wedamenyatakan bahwa tuhan ada
dalam bentuk hakikat [rasa] di dalam setiap makhluk. Tanpa hakikat tuhan atau
rasa ini, manusia menjadi lemah niirasa. Orang yang menyadari ketuhanan yang
laten di dalam dirinya, tidak memerlukan pertolongan siapapun. Orang yang tidak
memiliki keyakinan ini menginginkan pertolongan orang lain. Tidak ada gunanya
menolong orang semacam itu. Itu ibarat menghias mayat.

Engkau harus memiliki kepercayaan yang teguh kepada
tuhan. Karena keyakinan semacam itulah, maka savitri dapat menghidupkan kembali
suaminya yang telah meninggal, chandramatii dapat memadamkan kebakaran hutan,
siita dapat keluar dari kobaran api tanpa terluka, dan damayantii dapat
mengubah pemburu yang jahat menjadi abu. Semua wanita yang setia kepada
suaminya dan berbudi luhur ini adalah putri bhaarat.

Sejak jaman dahulu bhaarat telah menjadi guru bagi
seluruh dunia.setelah lahir dan dibesarkan di negeri sesuci itu, sungguh
memalukan, jika bhaaratiiya ‘para putra bhaarat’ tidak mengetahui dan
tidak mengikuti kebudayaan mereka yang mulia.

Kini kelakuan sejumlah putra bhaarat bertentangan dengan
kebudayaan mereka. Mereka bertingkah laku seperti unggas dan hewan. Bagaimana
orang semacam itu dapat mencapai tuhan. Kini kelakuan manusia lebih buruk
daripada kelakuan binatang dan iblis.

Dalam ceramah sebelum ini, srinivas menyebut nama mahishaasura
mardhini ‘yang menghabisi iblis mahishaasura’. Kini kita menjumpai
banyak manishaasura ‘iblis dalam wujud manusia’. Manishi ‘manusia’bertingkah
laku seperti asura ‘iblis’. Mahishaasura mardhini adalah orang yang membinasakan
sifat-sifat iblis dalam dirinya sendiri dan berusaha meningkaatkan sifat-sifat
ketuhanan.

Salam kasih
Kalian tidak mengerti betapa sucinya sejarah bhaarat.
Kalau kalian tidak tahu, bertanyalah kepada-ku, akan kujelaskan, tidak hanya
artinya yang akan kujelaskan, tetapi aku juga akan menolong kalian. Namun,
tidak seorang pun bersedia mengajukan pertanyaan. Para mahasiswa membaca
seperti mesin, tanpa dipikirkan, dan mereka mempelajari berbagai hal dengan
menghafal. Mereka yang disebut sebagai orang terpelajar pun melakukan hal yang
sama. Apa gunanya memperoleh berbagai gelar, jika engkau tidak mampu memahami
hal-hal yang sederhana, mereka tidak berusaha mengetahui sifat-sifat ketuhanan
yang merupakan pembawaannya. Hanya orang yang memahami ketuhanannya dan
bertindak sesuai dengan pengertian itu dapat disebut manusia sejati. Buanglah
sifat-sifat kebinatangan dan sifat iblis dari dalam dirimu. Tingkatkan
kemurnian dan sifat ketuhanan. Kasih adalah dasar semua keutamaan ini.

Disarikan dari wacana Bhagawan  Shri Sathya Sai Baba pada hari ke-5 perayaan
dasara di Pendapa Sai Kulwant, Prashanti Nilayam, 24 oktober 2001.

Jay Shri Ram

shri danu

sources: HDnet
</span></big></pre>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[NEWSWEEK : Kini kita semua Hindu]]></title>
<link>http://mankdira.wordpress.com/2009/10/02/newsweek-kini-kita-semua-hindu/</link>
<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 00:56:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>mankdira</dc:creator>
<guid>http://mankdira.wordpress.com/2009/10/02/newsweek-kini-kita-semua-hindu/</guid>
<description><![CDATA[Om swastyastu, http://hindunesia.com/?p=380 Pandangan orang Amerika mengenai Tuhan dan Kehidupan ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Om swastyastu,</p>
<p><a href="http://hindunesia.com/?p=380">http://hindunesia.com/?p=380</a></p>
<p>Pandangan orang Amerika mengenai Tuhan dan Kehidupan beralih ke Hindu. Di edisi 31 Agustus 2009, majalah Newsweek mengatakan, “Kini Kita Semua Hindu.” Link sumber berita, bisa Anda dapatkan di akhir tulisan. Redaksi HINDUNESIA.com menerjemahkan untuk Anda:</p>
<p>Amerika bukanlah bangsa Kristen. Kita, memang benar, sebuah negeri yang didirikan oleh penganut Kristen, dan merujuk pada sebuah survey tahun 2008, 76 % dari kita terus memperkenalkan diri sebagai seorang Kristen (tetap, terhitung sebagai persentase terendah dalam sejarah Amerika). Tentu saja, kita bukanlah negara Hindu atau Muslim, atau Yahudi, juga bukan Wiccan. Lebih dari sejuta umat Hindu hidup di US, sedikit dari 1 milyar penganutnya di seluruh dunia. Akan tetapi polling data terakhir menunjukkan bahwa secara konseptual, setidaknya, kita perlahan tetapi pasti menjadi seperti penganut Hindu, dan lebih tidak serupa dengan orang-orang Kristen tradisional dalam hal cara kita berpikir tentang Tuhan, diri kita sendiri, satu sama lain, dan kekekalan.</p>
<p>Rig Veda, kitab suci Hindu yang paling tua, mengatakan hal ini: “Kebenaran adalah Satu, tetapi para orang bijak menyebutnya dengan banyak nama.” Seorang Hindu percaya bahwa ada banyak jalan menuju Tuhan. Jesus adalah sebuah jalan, Qur&#8217;an adalah jalan lainnya; semua adalah sama (Kesalahpahaman, mohon membaca catatan Redaksi). Yang paling tradisional, para penganut Kristen konservatif tidak pernah diajarkan berpikir seperti ini. Mereka belajar di sekolah minggu bahwa agama mereka adalah kebenaran, dan yang lainnya sebagai agama palsu. Jesus mengatakan,” Akulah jalan, kebenaran, sekaligus kehidupan. Tak seorangpun dapat menemui Bapa kecuali bersamaku.”</p>
<p>Orang-orang Amerika tidak lagi menerima doktrin ini (bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan). Menurut sebuah survey oleh Pew Forum tahun 2008, 65% orang Amerika percaya bahwa “banyak agama dapat menuntun kepada hidup yang kekal” — termasuk 37% orang-orang Injil berkulit putih, kelompok yang kemungkinan besar percaya bahwa penyelamatan adalah milik mereka sendiri. Juga, jumlah orang-orang yang mencari jalan spiritual di luar gereja semakin banyak. 30 % orang Amerika mangatakan dirinya “spiritualis bukan relijius,” menurut jajak pendapat NEWSWEEK tahun 2009, naik dari 24 % di tahun 2005. Stephen Prothero, guru besar agama di Universitas Boston, telah sejak lama menggambarkan kecenderungan orang Amerika terhadap agama yang “silakan pilih sendiri mau yang mana” sebagai “sangat berjiwa Hinduisme”. Anda tidak mengambil dan memilih dari agama-agama yang berbeda, karena mereka semua sama,” ia mengatakan. Bukan tentang nilai orthodox. Intinya adalah yang penting bisa hasilnya baik. Jika Yoga bekerja untuk Anda, bagus – dan jika pergi ke misa Katolik bekerja bagi Anda, bagus. Dan jika pergi ke misa Katolik plus yoga plus retret-retret Budha bekerja bagi anda, itu juga bagus.”</p>
<p>Kemudian timbulah pertanyaan apakah yang terjadi ketika Anda mati. Umat Kristen secara tradisional percaya bahwa tubuh-tubuh dan jiwa-jiwa akan disucikan, bahwa bersama mereka terdiri dari sang diri, dan bahwa di akhir waktu mereka akan dikumpulkan kembali dalam sebuah kebangkitan. Anda butuh kedua-duanya (tubuh dan jiwa), dengan kata lain, dan Anda butuh kedua-duanya selamanya. Penganut Hindu tidak mempercayai hal demikian. Pada saat kematian, tubuh dibakar diatas tumpukan bahan bakar (kayu), ketika roh terlepas. Dalam reinkarnasi, ajaran utama dalam Hinduisme, sang diri kembali dan kembali ke dunia dalam tubuh-tubuh yang berbeda. Sehingga inilah cara lain orang Amerika menjadi semakin Hindu: 24 persen orang Amerika mengatakan mereka percaya kepada reinkarnasi, merujuk kepada jajak pendapat (Harris poll) tahun 2008. Jadi kaum agnotis tentang takdir tubuh kita dibakar seperti halnya umat Hindu setelah mati. Lebih dari sepertiga orang Amerika kini memilih kremasi (ngaben), sesuai dengan Asosiasi Kremasi Amerika Utara, meningkat dari 6 persen pada tahun 1975. “Saya berpikir peran yang lebih besar dari agama untuk mengkaji beberapa interpretasi yang sebenarnya dari makna kebangkitan,” ujar Diana Eck, profesor perbandingan agama di Harvard. Jadi mari kita semua mengucapkan: “OM”. [sumber]</p>
<p>Catatan redaksi HINDUNESIA.com<br />
Pernyataan dibawah ini adalah sebuah kesalahpahaman yang sering terjadi di masyarakat:<br />
“Seorang Hindu percaya bahwa ada banyak jalan menuju Tuhan. Jesus adalah sebuah jalan, Qur&#8217;an adalah jalan lainnya; semua adalah sama.”</p>
<p>Dalam Hindu kita memang mengenal:<br />
“Dengan jalan bagaimanapun ditempuh oleh manusia ke arahku, semuanya aku terima dan memenuhi keinginan mereka, melalui banyak jalan manusia menuju jalanku, Oh Prtha” (Bhagawad Gita V-2) .</p>
<p>Yang dimaksud oleh Bhagawad Gita dengan berbagai jalan itu adalah Catur Yoga (Jnana, Karma, Bhakti, dan Raja Yoga), bukan melalui ajaran agama lain. Dan tidak benar bahwa semua agama sama. Karena dilihat dari tujuan hidup, dan sebagainya sangat jauh berbeda. Silakan membaca buku: Semua Agama Tidak Sama, ditulis oleh Ngakan Putu Putra, penerbit Media Hindu.</p>
<p>Om shanti shanti shanti Om</p>
<p>sources : HD Net</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[VIVEKACHUDAMANI: Senantiasa dalam Kebahagiaan Tertinggi.]]></title>
<link>http://mankdira.wordpress.com/2009/10/01/vivekachudamani-senantiasa-dalam-kebahagiaan-tertinggi/</link>
<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 08:10:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>mankdira</dc:creator>
<guid>http://mankdira.wordpress.com/2009/10/01/vivekachudamani-senantiasa-dalam-kebahagiaan-tertinggi/</guid>
<description><![CDATA[Senantiasa dalam Kebahagiaan Tertinggi. 542. “Sang bijak yang senantiasa ada dalam Kebahagiaan Terti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><pre><big><span style="font-family:Calibri;">Senantiasa dalam Kebahagiaan Tertinggi.

542. “Sang bijak yang senantiasa ada dalam Kebahagiaan Tertinggi ini
kehidupannya terkadang tampak seperti orang dungu dan terkadang tampak
seperti cendekiawan, terkadang tampak anggun bak seorang maharaja dan
terkadang seperti pengemis gila, terkadang lemah-lembut dan terkadang
pemarah, terkadang sengit dan terkadang manut-manut saja, terkadang
meremehkan dan terkadang sekedar acuh-tak-acuh.

543. “Kendati miskin, selalu berkecukupan; kendati tak punya bala-tentara,
selalu kuat-perkasa; kendati tak makan, selalu berpuas-hati; kendati tiada
tara, beliau selalu menatap semua dengan pandangan kesetaraan.

544. “Meski tampak bertindak, beliau bukanlah pelaku; meski merasakan
pahala, beliau bukanlah penikmat hasil perbuatan; kendati masih berjasad,
beliau tak terbatasi oleh jasad; kendati terkurung, beliau hadir
dimana-mana.

545. “Senang pun susah, baik pun buruk, tak menyentuh kedamaian hati dari
sang bijak yang telah mengenal Tuhan —yang tanpa tubuh tertentu namun selalu
hadir ini.

546. “Suka dan duka, baik dan buruk, ada bagi yang melekat pada jasad-kasar
berikut segenap objek-objek indriawinya. Bagaimana bisa ada konsekuensi baik
ataupun buruk bagi sang *muni[1] &#60;#_ftn1&#62;* bijak yang telah merontokkan
semua belenggu dan manunggal dengan Yang Sejati?”

sources : millis HD Net</span></big></pre>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[VIVEKACHUDAMANI: Bebas disini, saat ini, dan selama-lamanya1/3]]></title>
<link>http://mankdira.wordpress.com/2009/10/01/vivekachudamani-bebas-disini-saat-ini-dan-selama-lamanya13/</link>
<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 07:58:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>mankdira</dc:creator>
<guid>http://mankdira.wordpress.com/2009/10/01/vivekachudamani-bebas-disini-saat-ini-dan-selama-lamanya13/</guid>
<description><![CDATA[Bebas disini, saat ini, dan selama-lamanya. 547 - 548. “Saat gerhana, matahari seakan-akan ditelan b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><pre><span style="font-family:Calibri;"><big>Bebas disini, saat ini, dan selama-lamanya.

547 - 548. “Saat gerhana, matahari seakan-akan ditelan bayang-bayang gelap,
dan disangka memang demikian oleh mereka yang tak mengerti hukum alam.
Demikian pula halnya orang-orang bodoh yang menganggap —bahkan orang suci
nan agung yang telah memahami Tuhan dan tak terbelenggu lagi oleh tubuh dan
yang lainnya itu sekalipun— sebagai masih terkungkung dalam jasmani, hanya
lantaran masih terlihat demikian oleh mereka.

549. “Layaknya kulit luar seekor ular —yang telah berganti kulit— tampak
bergerak-gerak oleh tiupan angin, beliau yang telah melepas belenggu jasad
masih tampak bergerak kesana dan kemari digerakkan oleh tiupan daya-vital.

550. “Dan layaknya sebatang kayu timbul dan tenggelam dihanyutkan oleh air
sungai, demikianlah jasad beliau dibawa oleh kekuatan alam [*daivena*]
melewati
satu kenikmatan dan kenikmatan lainnya hingga habis jangka-waktunya di dunia
ini.”
*======================================
Dimana ada itikad baik, ada Kemuliaan, ada Kemurnian,
ada Kasih, ada Kesujatian, akan ada Tuhan.
Beliau tak tergantung pada kitab-kitab suci,
orang-orang suci ataupun tempat atau tanah suci manapun.
Beliau tak bisa dibatasi oleh ciptaan-Nya.

~anonymous 171201.</big>
</span></pre>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menunggu Tuhan]]></title>
<link>http://mankdira.wordpress.com/2009/09/30/menunggu-tuhan/</link>
<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 04:34:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>mankdira</dc:creator>
<guid>http://mankdira.wordpress.com/2009/09/30/menunggu-tuhan/</guid>
<description><![CDATA[Salam Kasih Pada musim penghujan yang lalu seperti biasa Jakarta selalu terendam oleh banjir, salah ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><strong>Salam Kasih</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada musim penghujan yang lalu seperti biasa Jakarta selalu terendam oleh banjir, salah satu tempat yang paling parah adalah daerah dibilangan Kampung Melayu, yang dilalui oleh Kali Ciliwung, yang terkenal karena setiap tahun selalu menjadi pengahantar  air hujan tersebut. Ada kisah menarik pada saat-saat megenangkan itu. Adalah seorang pemuda yang juga kost dibilangan kampung melayu,ia bekerja sebagai kuli panggul di pasar Jati Negara-maklum ia  tidak dapat menyelesaikan sekolah dasarnya karena sejak kecil menjadi piatu. Walau demikian ia tergolong pemuda yang taat beragama, ini terbukti ia tidak pernah meninggalkan kewajibannya untuk memuja Tuhan. Dan sebagai tanda cintanya kepada Tuhan pujaannya itu, dalam pikirannya telah terpatri kuat sebuah wajah yang ia yakini sebagai Tuhan. Pagi-siang sore-dan malam hari sebelum tidur ia selalu memuja Tuhan pujaannya dan yakin pada suatu saat pujaannya akan menampakkan diri dan menolongnya dari kesulitan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika memasuki musim penghujan, kali ciliwung setiap saat menjadi ancaman bagi warga dan pemuda ini. Suatu ketika tiba-tiba aliran air Kali Ciliwung naik tak seperti tahun-tahun sebelumnya hanya sebatas pinggang. Banjir kali ini bahkan suad hampir menelan atap tempat kostnya. Seluruh tetangga sudah mengungsi-tinggal pemuda ini mencoba bertahan karena yakin Tuhan akan menolongnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang tetangga mencoba mengingatkan….agar segera pergi dari rumah itu, tapi pemuda ini tetap bersikeras bertahan dan berdoa “ Tuhan Tolong saya”.   Air semakin tinggi, pemuda ini naik ke atas atap, tetangganya dengan bantuan rakit berusaha menolong pemuda ini dan mengajaknya meninggalkan rumah itu. “Aku masih menunggu Tuhan untuk menyelamatkanku…..jawab pemuda itu!”. Huja tak kunjung berhenti malah tambah lebat…..kemudian Tim Sar dengan perahu karet  juga berusaha menyelamatkan pemuda tersebut, tapi tetap menolaknya karena dia masih menunggu Tuhan untuk Menyelamatkannya. Sampai akhirnya rumah tersebut nyaris tersapu banjir, pemuda itu masih bersikukuh pada pendiriannya untuk menunggu Tuhan pujaannya. Sebuah Helikopter juga berusah menyelamatkannya. Tapi lagi-lagi ia menolaknya, katanya:” Aku masih menunggu Tuhan pujaanku!”</p>
<p style="text-align:justify;">Dari daerah hulu tiba-tiba datang gulungan arus yang cukup keras dan menghantam rumah tersebut hingga berkeping-keping, pemuda itu juga ikut terseret arus, karena tidak bisa berenang akhirnya tenggelam dan ditemukan mati di daerah Jakrta Utara.</p>
<p style="text-align:justify;">Di alam roh, roh pemuda ini baru bertemu dengan Tuhan pujaannya. Dan melontarkan nada protes, mengapa tidak datang menyelamatkannya ketika minta pertolongan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan menjawabnya: Aku sudah datang dan mengingatkanmu kalau hujan akan lebat dan Aku sudah sarankan agar kamu mengungsi tapi kamu menolaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk kedua kalinya Aku datang dengan rakit, dan mengajakmu mengungsi-kamu juga menolaknya</p>
<p style="text-align:justify;">Aku datang dengan perahu karet –kamu juga tidak mau Ku selamatkan</p>
<p style="text-align:justify;">Terakhir Aku datang dengan helikopter dan membujukmu untuk segera Kuangkut tapi engkau juga tidak mau.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi mengapa engkau datang dengan wujud tidak seperti yang ada dalam pikiranku?</p>
<p style="text-align:justify;">Sahabat…..</p>
<p style="text-align:justify;">Terkadang kita juga bisa seperti pemuda itu, membuat citra Tuhan sendiri-sendiri dan berusaha menolak perwujudan yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Perlu disadari bahwa Tuhan adalah Maha Segalanya, beliau menyusup, memenuhi segala entitas dari yang bergerak maupun tidak bergerak.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua rupa diresapi oleh Tuhan, Alam semesta beserta isinya adalah wujud kosmik dari Tuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Seandainya ada satu milyar manusia maka akan ada satu milyar wajah Tuhan. Jika kesadaran ini kita miliki maka kita akan dapat menerima setiap entitas sebagai pwerwujudan Tuhan. Dan saat itulah kita akan dapat mencintai yang lain sebagai saudara. Karena Tuhan adalah Bapak dan Ibu dari segala yang ada. Dan secara rohani semua mahluk adalah utusan Tuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<div><span style="font-weight:bold;color:#0000ff;"><em><span style="color:#00007f;">=======</span></em></span></div>
<div style="color:#ff007f;font-family:bookman old style,new york,times,serif;"><span style="font-weight:bold;"><em>&#8220;Your Hand On Works But Your Heart On God</em><em> &#8220;</em></span></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mencari Tuhan  di Penggorengan Pisang Raja]]></title>
<link>http://mankdira.wordpress.com/2009/09/30/mencari-tuhan-di-penggorengan-pisang-raja/</link>
<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 04:03:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>mankdira</dc:creator>
<guid>http://mankdira.wordpress.com/2009/09/30/mencari-tuhan-di-penggorengan-pisang-raja/</guid>
<description><![CDATA[Salam Kasih SORE hari terasa lezat jika disisipi beberapa potong pisang goreng dan teh manis hangat.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="EC_MsoNormal"><span style="font-size:10pt;color:blue;" lang="IN">Salam Kasih<br />
</span><span style="font-size:10pt;" lang="IN"><br />
</span><strong><span style="text-decoration:underline;">SORE</span></strong> hari terasa lezat jika disisipi beberapa potong pisang goreng dan teh manis hangat. Setelah lelah berdiri beberapa jam menyampaikan materi pelatihan, laju mobil mengantarkan saya ke sebuah warung gorengan yang tidak jauh dari komplek perhotelan mentereng di negeri ini. Kaca mata bisnis saya selalu saja senang memperhatikan geliat orang-orang yang berani menolong diri sendiri dan keluarganya melalui usaha halal dalam bentuk apapun. Melihat warung ini, saya mencoba mengkalkulasikan kira-kira berapa besar nilai bisnisnya. Bagaimana pengelolaannya, bagaimana pemasarannya, teknik jual si pelayan dan berbagai hal-hal teoritis lainnya.</p>
<p class="EC_MsoNormal">Seorang paruh baya menyodorkan sepiring pisang goreng ke hadapan saya sambil tersenyum ramah dan berbasa-basi mempersilahkan saya untuk mencicipinya sekaligus menanyakan minuman apa yang saya minati. Pemilik wajah yang begitu teduh dan damai itu bernama Sudiro yang akhirnya saya tahu bahwa panggilan akrabnya adalah Wak Diro.</p>
<p class="EC_MsoNormal">Menikmati pisang goreng terasa lebih hangat dengan obrolan ringan bersama Wak Diro. Dalam guyonan yang mengalir saya tahu ternyata Wak Diro adalah perantau asal Kudus yang sudah 16 tahun menjual gorengan pisang. Dalam satu hari ia bisa menghabiskan satu tandan besar dan hasil penjualannya bisa menyekolahkan ke empat anaknya hingga menjadi sarjana. Wak Diro rupanya jebolan fakultas teknik universitas negeri tertua di Jogjakarta, walau ia hanya bisa sampai<span style="font-size:11pt;" lang="IN"> semester 5.</span></p>
<p class="EC_MsoNormal"><strong><em><span style="color:#23b8dc;" lang="IN">“ Kenapa tidak bisnis yang lain Wak? Atau menjadi pegawai negeri?”</span></em></strong> tanya saya menyelidik. Belum sempat menjawab pertanyaan saya, ia membungkukan badan tanda permisi kepada saya karena datang satu mobil Kijang Inova baru yang mendekat. Ternyata mobil itu dikemudikan oleh istrinya yang mengantarkan sesuatu.</p>
<p class="EC_MsoNormal">Pikiran saya berputar tak tentu. Tanpa sadar saya sedang menakar kantong orang tua ini. <span style="color:blue;">&#8220;Seorang penjual pisang goreng mampu menguliahkan keempat anaknya hingga sarjana dan kini didepan mata saya, si Istri datang dengan mobil baru yang tidak murah harganya&#8221;.</span><span style="font-size:11pt;color:blue;" lang="IN"><br />
</span><span style="font-size:10pt;" lang="IN"><br />
</span><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN">Bukan cari uang</span></strong><span style="font-size:10pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="EC_MsoNormal">Sekali lagi saya jarah lagi semua sudut warung kecil itu. Penataan dagangan lumayan menarik, tetapi tidak istimewa. Kualitas produknya berupa gorengan juga terasa sama seperti pisang goreng ditempat lain. Atmosfir warung juga sama seperti warung-warung lain, walau yang ini terlihat lebih bersih dan terjaga. Sarana promosi sangat sederhana, hanya tulisan Pisang Goreng Panas yang ditulis tangan dengan kuas biasa. Daftar harga tercetak di selembar kertas terlaminasi yang ditempel di dinding sebelah kiri. Ada dua orang pegawai yang membantu menggoreng, membuat minuman dan melayani pelanggan sekaligus. Tetapi jumlah pembelinya silih berganti, tidak sederas air pancuran, tetapi datang satu-satu seperti tiada henti.<span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="EC_MsoNormal">Tak lama kemudian istri Wak Diro pergi, kata Wak Diro, istrinya harus mengantar beberapa kertas tisue ke lima cabangnya yang lain. Dan informasi itu membuat saya memilih untuk bertahan lebih lama demi mengetahui apa rahasia sukses bisnis ini.<span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="EC_MsoNormal">Setelah melewati beberapa basa-basi, lalu ia bertanya kepada saya,<strong><em> <span style="color:#c5000b;">&#8220;Mas, sampean apa percaya sama Tuhan?&#8221;</span></em></strong>. Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena saya tidak bisa<span style="font-size:11pt;" lang="IN"> memperkirakan kemana arah pemikirannya.</span></p>
<p class="EC_MsoNormal">Lalu tanpa menunggu jawaban saya, Wak Diro menjelaskan bahwa dalam 8 tahun terakhir Ia tidak lagi mencari uang semata, tapi Ia mencari Tuhan. <strong><em><span style="color:#c5000b;">&#8220;Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Tuhan&#8221;.</span></em></strong></p>
<p class="EC_MsoNormal">Seperti pengakuan kebanyakan manusia, Ia meyakini bahwa hanya Tuhan yang sanggup mengarahkan dirinya kepada kondisi apapun.<strong><em><span style="color:#c5000b;">&#8220;Mas, saya bukan jualan pisang goreng lho&#8221;</span></em></strong>, aku Wak Diro, <strong><em><span style="color:#c5000b;">&#8220;Saya ini sedang membantu orang-orang agar bisa memuja Tuhan dengan baik&#8221;.</span></em></strong> <span style="color:blue;">&#8220;Wow&#8230;&#8221; pikir saya, apakah penjual pisang goreng ini masih waras?</span></p>
<p class="EC_MsoNormal"><strong><em><span style="color:#c5000b;" lang="IN">&#8220;Saya ini senang membantu banyak orang dengan mengganjal perutnya agar setiap persembahyangan-nya berjalan dengan baik, &#8221; </span></em></strong>terang Wak Diro. <span style="color:blue;">Saya mulai memahami apa maksud kalimat Wak Diro sebelumnya</span>, <strong><em><span style="color:#c5000b;">&#8220;Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Tuhan&#8221;.</span></em></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="EC_MsoNormal">Kini saya paham, mengapa ia begitu ramah menyambut tamu-tamunya, kualitas gorengan tetap terjaga baik ukuran maupun takarannya dan ruangan kedai ini tetap terjaga kebersihannya. Jelas bukan karena sekadar mencari uang, tetapi Wak Diro sedang beribadah. Mencari karunia Tuhan. Seperti dijanjikan Tuhan ketika kita bersyukur, maka nikmat itu terus bertambah dan mengalir lancar.</p>
<p class="EC_MsoNormal">Saya benar-benar terbayang betapa saya dan banyak sahabat saya yang kerja mati-matian siang -malam hanya sekadar mencari uang. Bayangan itu begitu asam terasa setelah mendengar pengakuan Wak Diro itu. Betapa Wak Diro sudah menemukan kunci dasar sukses bisnis. Ia tidak sekadar menjual jajanan, ia muncul dengan alasan yang lebih mulia. Pisang goreng hanya media mendapatkan anugerah Tuhan. Semua bentuk kerja dan bisnis dikerjakannya dengan menghadirkan batin, tulus dan ikhlas.<br />
<span style="font-size:10pt;" lang="IN"><br />
</span><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN">Khawatir</span></strong></p>
<p class="EC_MsoNormal"><span style="font-size:10pt;" lang="IN"><br />
</span><strong><em><span style="color:#c5000b;" lang="IN">&#8220;Bagian saya adalah mempermudah puja bhakti orang lain, bagian Tuhan menjaga saya Mas&#8221;</span></em></strong> <strong><em><span style="color:#c5000b;">&#8220;Saya hanya pasrah dan memohon agar selalu dituntun Tuhan&#8221; </span></em></strong>aku Wak Diro. <strong><em><span style="color:#c5000b;">&#8220;Apapun langkah saya, saya percaya Tuhan akan menyelamatkan saya. Jika saya dibawa ke kubangan kebo sekalipun, saya tetap percaya kalau itu adalah kehendak Tuhan dengan maksud tertentu agar saya mendapatkan hikmah atas perjalanan itu&#8221;.</span></em></strong></p>
<p class="EC_MsoNormal">Menyelesaikan pisang terakhir, saya bertanya, <em><span style="color:#23b8dc;">&#8220;<strong>Wak, apakah sampean tidak khawatir dengan kenaikan BBM?&#8221;</strong></span></em>, dengan ringan Wak Diro menjawab, <strong><em><span style="color:#c5000b;">&#8220;Lha wong, saya sudah serahkan hidup saya ke Tuhan, kok mesti kuatir?&#8221;</span></em></strong>. Sambil mengulurkan uang kembalian ke saya, ia berujar, <strong><em><span style="color:#c5000b;">&#8220;Saya kan cuma kawulo, apakah pantes kalau saya ikut campur tangan &#8216;ngatur kerjaan Tuhan?&#8221;</span></em></strong></p>
<p class="EC_MsoNormal"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="EC_MsoNormal">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;0&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<div><span style="font-weight:bold;color:#0000ff;"><em><span style="color:#00007f;">=======</span></em></span></div>
<div style="color:#ff007f;font-family:bookman old style,new york,times,serif;"><span style="font-weight:bold;"><em>&#8220;Your Hand On Works But Your Heart On God</em><em> &#8220;</em></span></div>
<div style="color:#ff007f;font-family:bookman old style,new york,times,serif;"><span style="font-weight:bold;"><em>sources : milis Hdnet<br />
</em></span></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tuhan yang Diciptakan]]></title>
<link>http://denjiun.wordpress.com/2009/08/30/tuhan-yang-diciptakan/</link>
<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 19:15:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>denjiun</dc:creator>
<guid>http://denjiun.wordpress.com/2009/08/30/tuhan-yang-diciptakan/</guid>
<description><![CDATA[Ibn al-&#8217;Arabi (560-638/1165-1240), salah seorang Sufi terbesar, mengkritik orang yang memutlak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-medium wp-image-94" title="religion" src="http://denjiun.wordpress.com/files/2009/08/religion1.jpg?w=300" alt="religion" width="278" height="239" />Ibn al-&#8217;Arabi (560-638/1165-1240), salah seorang Sufi terbesar, mengkritik orang yang memutlakkan, atau, jika boleh, &#8220;menuhankan&#8221;, kepercayaannya kepada Tuhan, yang menganggap kepercayaannya itu sebagai satu-satunya yang benar dan menyalahkan kepercayaan orang lain. Orang seperti itu memandang bahwa Tuhan yang dipercayainya itu adalah Tuhan yang sebenarnya, yang berbeda dengan Tuhan yang dipercayai oleh orang lain yang dianggapnya salah. Ibn al-&#8217;Arabi menyebut Tuhan yang dipercayai manusia &#8220;Tuhan kepercayaan&#8221; (ilah al-mu&#8217;taqad), &#8220;Tuhan yang dipercayai&#8221; (al-ilah al-mu&#8217;taqad), &#8220;Tuhan dalam kepercayaan&#8221; (al-ilah fi al-i&#8217;tiqad), &#8220;Tuhan kepercayaan&#8221; (al-haqq al-i&#8217;tiqadi), &#8220;Tuhan yang dalam kepercayaan&#8221; (al-haqq al-ladzi fi al-mu&#8217;taqad), dan &#8220;Tuhan yang diciptakan dalam kepercayaan&#8221; (al-haqq al-makhluq fi al-i&#8217;tiqad).<!--more--></p>
<p>Kata i&#8217;tiqad data mu&#8217;taqad, yang dalam tulisan ini diterjemahkan dengan &#8220;kepercayaan&#8221;, berasal dari akar &#8216;-q-d, yang berarti merajut, membuhul, mengikat; mengikatkan dengan sebuah buhul; memasang, mengumpulkan, menggabungkan, mengunci; mengecilkan, menyempitkan, mengerutkan; mengarahkan, memusatkan; melengkungkan, melekukkan; bertemu, berkumpul; mengadakan pertemuan, mengadakan rapat, mengumpulkan; membuat perjanjian, mengikat kontrak. Kata i&#8217;tiqad sendiri, secara literal (harfiah) atau figuratif (majazi), berarti menjadi terikat atau tersusun dengan kuat. Maka i&#8217;tiqad, &#8220;kepercayaan&#8221;, adalah suatu &#8220;ikatan&#8221; yang diikat dengan kuat dalam kalbu atau pikiran, sebuah keyakinan bahwa sesuatu adalah benar.</p>
<p>Bagi Ibn al-&#8217;Arabi, &#8220;kepercayaan&#8221; adalah sebuah (peng)ikatan (binding) dan (pem)batasan (delimitation) Wujud Yang Tak Terbatas, Wujud Absolut (al-wujud al-muthlaq), yang dilakukan oleh dan berlangsung dalam subyek  Kepercayaan seorang hamba kepada Tuhannya ditentukan dan diwarnai oleh kapasitas pengetahuan sang hamba. Kapasitas pengetahuan itu tergantung kepada &#8220;kesiapan partikular&#8221; (al-isti&#8217;dad al-juz&#8217;i) masing-masing individu hamba sebagai bentuk penampakan &#8220;kesiapan universal&#8221; (al-isti&#8217;dad merupakan bentuk penampakan diri (tajalli) al-Haqq (yaitu Tuhan). Tuhan menampakkan diri-Nya kepada hamba-Nya sesuai dengan kesiapan sang hamba untuk mencapai pengetahuan tentang Tuhan yang akhirnya &#8220;diikat&#8221; atau &#8220;dibatasi&#8221; oleh dan dalam kepercayaannya sesuai dengan pengetahuan yang dicapainya. Dengan demikian, Tuhan yang diketahui oleh sang hamba adalah identik dengan Tuhan dalam kepercayaannya.</p>
<p>Dapat pula dikatakan bahwa Tuhan yang diketahuinya adalah identik dengan kepercayaannya. Tuhan memberikan kesiapan (al-isti&#8217;dad), sesuai dengan firman-Nya, &#8220;Dia memberi segala sesuatu ciptaannya&#8221; [Q. s.Thaha/20:50]. Maka Dia mengangkat hijab antara Dia dan hamba-Nya. Sang hamba melihat-Nya dalam bentuk kepercayaannya; jadi Tuhan adalah identik dengan kepercayaannya sendiri. Baik kalbu maupun mata tidak pernah melihat sesuatu kecuali bentuk kepercayaannya tentang Tuhan. Tuhan yang ada dalam kepercayaan itu adalah Tuhan yang bentuk-Nya diliputi oleh kalbu; itulah Tuhan yang menampakkan diri-Nya kepada kalbu sehingga Dia dikenal. Maka mata tidak melihat selain Tuhan kepercayaan.</p>
<p>&#8220;Tuhan kepercayaan&#8221; adalah gambar atau bentuk Tuhan, atau pemikiran, konsep, ide, atau gagasan tentang Tuhan yang diciptakan oleh akal manusia atau taklidnya. Tuhan seperti itu bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, Tuhan pada diri-Nya, Zat-Nya, tetapi adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia sesuai dengan kemampuan, pengetahuan, penangkapan, dan persepsinya. Tuhan seperti itu adalah Tuhan yang &#8220;ditempatkan&#8221; oleh manusia dalam pemikiran, konsep, ide, atau gagasannya dan &#8220;diikat&#8221;-nya dalam dan dengan kepercayaannya. &#8220;Bentuk&#8221;, &#8220;gambar&#8221;, atau &#8220;wajah&#8221; Tuhan seperti itu ditentukan atau diwarnai oleh pengetahuan, penangkapan, dan persepsi manusia yang mempunyai kepercayaan kepada-Nya. Apa yang diketahui diwarnai oleh apa yang mengetahui. Dengan mengutip perkataan al-Junayd, Ibn al-&#8217;Arabi berkata: &#8220;Warna air adalah warna bejana yang ditempatinya&#8221; (Lawn al ma&#8217; lawn ina&#8217;ihi). Itulah sebabnya mengapa Tuhan melalui sebuah hadits qudsi berkata: &#8220;Aku adalah dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku&#8221; (Ana &#8216;inda zhann &#8216;abdi bi). Tuhan disangka, bukan diketahui. Dengan kata lain, Tuhan hanya dalam sangkaan manusia, bukan dalam pengetahuannya. Tuhan tidak diketahui dan tidak dapat diketahui.</p>
<p>Menarik untuk memperhatikan lanjutan firman Tuhan dalam hadits qudsi yang dikutip ini, yaitu: &#8220;Maka hendaklah ia [sang hamba] bersangka baik tentang Aku&#8221; (Fal-yazhunn bi khayran). Tuhan menyuruh agar kita bersangka baik tentang Dia dalam setiap keadaan dan melarang kita bersangka buruk tentang Dia. Kita harus menjadikan sangkaan kita sebagai pengetahuan bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Penolong, dan Maha Pengampun. Kita tidak boleh bersangka bahwa Tuhan adalah &#8220;pengawas yang selalu mencari kesalahan&#8221;, &#8220;petugas keamanan yang kasar dan galak&#8221;, atau &#8220;tuan besar yang bengis&#8221;. Sangkaan baik tentang Tuhan mendorong kita untuk mendekati dan mencintai-Nya agar kita mendapat rahmat-Nya. Nabi s.a.w. berkata: &#8220;Rahmat Tuhan mendahului (mengalahkan) murka-Nya&#8221;. Sangkaan buruk tentang Tuhan membuat kita jauh dari-Nya, menyalahkan-Nya, dan akhirnya berputus asa. Tuhan tidak menyenangi orang-orang yang berputus asa.</p>
<p>Kritik Ibn al-&#8217;Arabi terhadap orang yang memutlakkan Tuhan dalam kepercayaannya, Tuhan yang diciptakannya dalam kepercayaannya, mengikatkan kita kepada kritik Xenophanes (kira-kira 570-480 SM), seorang filsuf Yunani, terhadap antropomorfisme Tuhan, atau tuhan-tuhan. Kritik tokoh dari Kolophon, Asia Kecil, ini berbunyi sebagai berikut: “Seandainya sapi, kuda, dan singa mempunyai tangan dan pandai menggambar seperti manusia, tentu kuda akan menggambarkan tuhan-tuhan menyerupai kuda, sapi akan menggambarkan tuhan-tuhan menyerupai sapi, dan dengan demikian mereka akan mengenakan rupa yang sama kepada tuhan-tuhan seperti terdapat pada mereka sendiri. Orang Etiopia mempunyai tuhan-tuhan hitam dan berhidung pesek, sedangkan orang Trasia mengatakan bahwa tuhan-tuhan mereka bermata biru dan berambut merah.” Sebagaimana dikatakan di atas, &#8220;Tuhan kepercayaan&#8221; adalah Tuhan ciptaan manusia.</p>
<p>Barangsiapa yang memuji ciptaannya memuji dirinya sendiri. Ibn al-&#8217;Arabi berkata: “Tuhan kepercayaan adalah ciptaan bagi yang mempersepsinya. Dia adalah ciptaannya. Karena itu, pujiannya kepada apa yang dipercayainya adalah pujiannya kepada dirinya sendiri. Itulah sebabnya mengapa ia mencela kepercayaan orang lain. Jika ia menyadari [persoalan yang sebenarnya], tentu ia tidak akan berbuat demikian itu. Tidak diragukan bahwa pemilik obyek penyembahan khusus itu adalah bodoh tentang itu karena penolakannya terhadap apa yang dipercayai oleh orang lain tentang Allah. Jika ia mengetahui apa yang dikatakan oleh al-Junayd, &#8220;Warna air adalah warna bejana yang ditempatinya&#8221;, ia akan memperkenankan apa yang dipercayai setiap orang yang mempunyai kepercayaan dan mengakui Tuhan dalam setiap bentuk dan dalam setiap kepercayaan”.</p>
<p>Teori Ibn al-&#8217;Arabi tentang &#8220;Tuhan kepercayaan&#8221; didasarkan pula kepada sebuah hadits Nabi s.a.w. tentang penampakan diri Tuhan (tajalli al-haqq) pada hari kiamat. Nabi menceritakan bahwa pada hari kiamat, Tuhan akan menampakkan diri-Nya kepada umat manusia dalam berbagai bentuk, yang tiap-tiap bentuk akan ditolak oleh setiap orang yang tidak mengenalnya dan akan diterima oleh setiap orang yang mengenalnya. Akhirnya, semua orang atau kelompok akan menyadari bahwa sebenarnya Tuhan yang menampakkan diri-Nya dalam berbagai bentuk itu adalah satu dan sama; itu juga, tidak lain. Pandangan Ibn al-&#8217;Arabi ini sesuai dengan larangan Nabi s.a.w. agar para sahabatnya tidak menyalahkan seorang awam yang pernah mengatakan kepada beliau di hadapan mereka bahwa Tuhan berada di langit, nun jauh di atas. Para sahabat mempersoalkan kepercayaan orang awam itu karena Tuhan berada di mana saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu, dan tidak berbentuk. Tetapi Nabi memandang bahwa &#8220;sangkaan&#8221; orang awam itu tentang Tuhan sudah memadai baginya. Nabi sendiri pernah berkata: &#8220;Kasihilah siapa yang di bumi, niscaya engkau akan dikasihi oleh siapa yang di langit&#8221; (Irham man fi al-ardi, yarham-ka man fi al-sama&#8217;).</p>
<p>Yang dimaksud dengan &#8220;siapayang di langit&#8221; dalam hadits ini adalah Tuhan. Tuhan berada di langit. Dengan alasan ini, dapat dikatakan bahwa Tuhan dalam kepercayaan Islam adalah &#8220;Tuhan Langit&#8221; (&#8220;the Sky God&#8221;), &#8220;Tuhan Surgawi&#8221; [karena surga berada di langit] (&#8220;the Heavenly God&#8221;), atau &#8220;Wujud Tertinggi Samawi&#8221; (&#8220;the Celestial Supreme Being&#8221;). Langit adalah simbol ketinggian, keagungan, keindahan, dan keabadian. Karena itu, langit dijadikan simbol Tuhan. Simbol bukan menunjukkan dirinya sendiri, tetapi menunjukkan sesuatu yang lain di luar dirinya. Simbol Tuhan bukanlah Tuhan, tetapi men unjukkan Tuhan. Tuhan dalam kepercayaan Islam adalah seorang &#8220;laki-laki&#8221;, atau, lebih tepatnya, disimbolkan dengan seorang &#8220;laki-laki&#8221;. Tuhan dalam kepercayaan Islam, seperti Tuhan dalam kepercayaan-kepercayaan Yahudi dan Kristen, adalah Huwa (&#8220;He&#8221;), bukan Hiya (&#8220;She&#8221;).</p>
<p>Tuhan dalam kepercayaan Islam selalu dipahami dengan kata-kata maskulin. (Pandangan yang menekankan aspek maskulin Tuhan atau memahami Tuhan sebagai &#8220;Tuhan Laki-Laki&#8221; seperti ini ditentang oleh teologi feminis radikal yang menekankan aspek feminine Tuhan atau memandang Tuhan sebagai &#8220;Tuhan Perempuan&#8221;). Dengan demikian, Tuhan dalam kepercayaan Islam, sebagaimana dalam kepercayaan-kepercayaan Yahudi dan Kristen, adalah seorang &#8220;person,&#8221; seorang &#8220;pribadi&#8221;. Itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa Tuhan agama-agama monoteistik atau teistik, termasuk Islam, adalah &#8220;personal&#8221;, &#8220;berpribadi&#8221;. Tuhan dalam arti ini bukan &#8220;impersonal&#8221;, bukan &#8220;tak-berpribadi&#8221;, dan, karena itu, Dia bukan &#8220;Itu&#8221; (&#8220;It&#8221;). Pengaruh kebudayaan terhadap bentuk atau tipe kepercayaan kepada Tuhan, terhadap &#8220;Tuhan kepercayaan&#8221;, dibuktikan oleh sejarah agama agama. Tuhan dalam kepercayaan orang-orang yang berkebudayaan patriarkal pastoral, yang berkebudayaan perayahan yang hidup dengan menggembala, berbeda dengan</p>
<p>Tuhan dalam kepercayaan orang-orang yang berkebudayaan matrial agrikultural, yang berkebudayaan peribuan yang hidup dengan bertani. Bapa Samawi atau Bapa Surgawi adalah Tuhan tipikal orang-orang nomad yang hidup dari hasil kawanan ternak mereka; kawanan ternak itu hidup di padang rumput, dan pada gilirannya padang rumput tergantung kepada hujan dari langit. Ibu Bumi atau Ibu Pertiwi adalah Tuhan tipikal para petani yang hidup dari hasil tanah atau bumi. Dalam kebudayaan patriarkal pastoral, biasanya bapa dan langit dijadikan sebagai simbol Tuhan. Dalam kebudayaan matriarkal agrikultural, ibu dan bumi sering dijadikan sebagai symbol Tuhan.</p>
<p>Agama-agama Semitik lebih cenderung kepada kebudayaan tipe pertama. Bukankah agama-agama Semitik, karena diturunkan dari langit, sering disebut &#8220;agama-agama samawi&#8221;, &#8220;agama-agama langit?&#8221; Dalam ketiga agama ini, karena &#8220;Tuhan berada di langit&#8221;, maka ungkapan-ungkapan simbolis, seperti &#8220;turun dari langit&#8221;, &#8220;naik ke langit&#8221;, dan &#8220;berada di langit&#8221;, lazim digunakan untuk melukiskan peristiwa-peristiwa sakral dan pengalaman-pengalaman spritual. Sekali lagi, semua deskripsi dan ungkapan ini adalah simbol (yang menunjukkan) Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Di mata kaum monoteis, kekeliruan kaum politeis terletak pada penuhanan mereka akan simbol-simbol</p>
<p>seperti langit, matahari, bulan, dan bumi. Kaum politeis tidak lagi sepenuhnya bertuhan kepada Tuhan, tetapi telah bertuhan kepada simbol-simbol.</p>
<p>Di mata Ibn al-&#8217;Arabi, orang yang menyalahkan atau mencela kepercayaan-kepercayaan lain tentang Tuhan adalah orang yang bodoh karena Tuhan dalam kepercayaannya sendiri, sebagaimana dalam kepercayaan-kepercayaan yang disalahkannya itu, bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, karena Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya tidak dapat diketahui. Orang seperti itu mengakui hanya Tuhan dalam bentuk kepercayaannya atau kepercayaan kelompoknya sendiri dan mengingkari Tuhan dalam bentuk-bentuk berbagai kepercayaan lain. Padahal Tuhan yang menampakkan diri-Nya dalam semua bentuk kepercayaan-kepercayaan yang berbeda itu adalah satu dan sama. Kritik Ibn al-&#8217;Arabi ini, jika harus konsisten, tertuju kepada setiap orang yang mencela kepercayaan-kepercayaan lain yang berbeda dengan kepercayaannya tentang Tuhan, baik dalam lingkungan orang-orang yang seagama dengannya maupun dalam lingkungan orang-orang yang berbeda agama.</p>
<p>Ibn al-&#8217;Arabi memperingatkan kita sebagai berikut: Maka berhati-hatilah agar anda tidak mengikatkan diri kepada ikatan (&#8216;aqd) [yaitu kepercayaan, doktrin, dogma, atau ajaran] tertentu dan mengingkari ikatan lain yang mana pun, karena dengan demikian itu anda akan kehilangan kebaikan yang banyak; sebenarnya anda akan kehilangan pengetahuan yang benar tentang apa itu yang sebenarnya. Karena itu, hendaklah anda menerima sepenuhnya semua bentuk kepercayaan-kepercayaan, karena Allah Ta&#8217;ala terlalu luas dan terlalu besar untuk dibatasi dalam satu ikatan tanpa ikatan lain, Dia berkata: &#8220;Kemana pun kamu berpaling, di situ ada wajah Allah&#8221;, [Q 2:115] tanpa menyebutkan arah tertentu mana pun.</p>
<p>Pengetahuan yang benar tentang Tuhan, menurut Sufi dari Andalusia ini, adalah pengetahuan yang tidak terikat oleh bentuk kepercayaan atau agama tertentu. Inilah pengetahuan yang dimiliki oleh &#8220;para gnostik&#8221; (al- &#8216;arifun). Karena itu, &#8220;para gnostik&#8221;, yaitu para Sufi, tidak pernah menolak Tuhan dalam kepercayaan, sekte, aliran, atau agama apa pun. Ini berarti bahwa Tuhan, bagi mereka, dalam semua kepercayaan, sekte, aliran, atau agama, adalah satu dan sama. Kata Ibn al-&#8217;Arabi, &#8220;Barangsiapa yang membebaskan-Nya [yaitu Tuhan] dari pembatasan tidak akan mengingkari-Nya dan mengakui-Nya dalam setiap bentuk tempat Dia mengubah diri-Nya.&#8221;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mencari TUHAN]]></title>
<link>http://hakadosh.wordpress.com/2009/08/27/mencari-tuhan/</link>
<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 08:18:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>parhobass</dc:creator>
<guid>http://hakadosh.wordpress.com/2009/08/27/mencari-tuhan/</guid>
<description><![CDATA[Banyak orang, katakanlah filsuf, agamawan/wati, mencari TUHAN. Dengan berbagai cara, termasuk di dal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Banyak orang, katakanlah filsuf, agamawan/wati, mencari TUHAN. Dengan berbagai cara, termasuk di dal]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ketika Jiwa Mencari Tuhan]]></title>
<link>http://silaturahmi.wordpress.com/2009/05/28/ketika-jiwa-mencari-tuhan/</link>
<pubDate>Thu, 28 May 2009 01:54:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>mas tyas</dc:creator>
<guid>http://silaturahmi.wordpress.com/2009/05/28/ketika-jiwa-mencari-tuhan/</guid>
<description><![CDATA[Berbahagialah jiwa- jiwa yang sedang mencari Tuhan, meski kadang dikatakan sebagai jiwa yang belum b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Berbahagialah jiwa- jiwa yang sedang mencari Tuhan, meski kadang dikatakan sebagai jiwa yang belum b]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Memahami Tuhan dengan keterbatasan]]></title>
<link>http://amatdotlim.wordpress.com/2009/05/23/memahami-tuhan-dengan-keterbatasan/</link>
<pubDate>Sat, 23 May 2009 18:00:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>limns</dc:creator>
<guid>http://amatdotlim.wordpress.com/2009/05/23/memahami-tuhan-dengan-keterbatasan/</guid>
<description><![CDATA[Waktu kecil selalu hadir dalam pikiranku tentang siapa diri ini,makhluk apa di balik kesadaran ini? ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Waktu kecil selalu hadir dalam pikiranku tentang siapa diri ini,makhluk apa di balik kesadaran ini? ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mencari Tuhan]]></title>
<link>http://erohan.wordpress.com/2009/05/08/mencari-tuhan/</link>
<pubDate>Fri, 08 May 2009 00:32:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>urangkutai</dc:creator>
<guid>http://erohan.wordpress.com/2009/05/08/mencari-tuhan/</guid>
<description><![CDATA[Ini cerita tentang seorang pemuda yang menginginkan pembuktian apakah benar Tuhan itu ada? Seorang p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ini cerita tentang seorang pemuda yang menginginkan pembuktian apakah benar Tuhan itu ada?</p>
<p>Seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ketanah air. Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, kiai atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya.<!--more--></p>
<p>Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut. Seorang Kyai yang paham tentan agama. Terjadilah pembicaraan antara pemuda dan sang Kyai.</p>
<p>Pemuda : Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?</p>
<p>Kyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda</p>
<p>Pemuda: Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.</p>
<p>Kyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya</p>
<p>Pemuda: Saya punya tiga buah pertanyaan, 1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya 2. Apakah yang dinamakan takdir 3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syetan Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?</p>
<p>Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras.</p>
<p>Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya?</p>
<p>Kyai : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya</p>
<p>Pemuda: Saya sungguh-sungguh tidak mengerti</p>
<p>Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?</p>
<p>Pemuda: Tentu saja saya merasakan sakit</p>
<p>Kyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?</p>
<p>Pemuda: Ya</p>
<p>Kyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu !</p>
<p>Pemuda : Saya tidak bisa</p>
<p>Kyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama, kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.</p>
<p>Kyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?</p>
<p>Pemuda: Tidak</p>
<p>Kyai : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?</p>
<p>Pemuda: Tidak</p>
<p>Kyai : Itulah yang dinamakan Takdir</p>
<p>Kyai : Terbuat dari apa tangan yang saya</p>
<p>gunakan untuk menampar anda?</p>
<p>Pemuda: kulit</p>
<p>Kyai : Terbuat dari apa pipi anda?</p>
<p>Pemuda: kulit</p>
<p>Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?</p>
<p>Pemuda: sakit</p>
<p>Kyai : Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api,Jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk setan</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.dedysuwandi.co.cc/?p=1" target="_blank">http://www.dedysuwandi.co.cc/</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bagaimana Manusia Mengenal Tuhannya]]></title>
<link>http://danangwirawan.wordpress.com/2009/01/12/bagaimana-manusia-mengenal-tuhannya/</link>
<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 04:28:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>dan</dc:creator>
<guid>http://danangwirawan.wordpress.com/2009/01/12/bagaimana-manusia-mengenal-tuhannya/</guid>
<description><![CDATA[Dalam kehidupan di dunia ini apakah kita dapat mengetahui sendiri arti hidup yang sebenarnya? Mungki]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dalam kehidupan di dunia ini apakah kita dapat mengetahui sendiri arti hidup yang sebenarnya? Mungki]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Persoalannya Bukan Siapa Tuhannya, Tapi Siapa yang Bertanya...  ]]></title>
<link>http://menjadinash.wordpress.com/2008/05/14/persoalannya-bukan-siapa-tuhannya-tapi-siapa-yang-bertanya/</link>
<pubDate>Wed, 14 May 2008 10:03:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>menjadinash</dc:creator>
<guid>http://menjadinash.wordpress.com/2008/05/14/persoalannya-bukan-siapa-tuhannya-tapi-siapa-yang-bertanya/</guid>
<description><![CDATA[Dalam salah satu seminar 2 harinya di Amerika Serikat, Idries Shah, seseorang yang perannya dalam me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dalam salah satu seminar 2 harinya di Amerika Serikat, Idries Shah, seseorang yang perannya dalam me]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mencari Tuhan]]></title>
<link>http://woelank.wordpress.com/2008/03/28/mencari-tuhan/</link>
<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 22:44:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>woelank</dc:creator>
<guid>http://woelank.wordpress.com/2008/03/28/mencari-tuhan/</guid>
<description><![CDATA[Mencari Tuhandi sela sela dedaunanantara kesunyiandan hujanserta kesendiriandan juga adzansampai aku]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Mencari Tuhan<br />di sela sela dedaunan<br />antara kesunyian<br />dan hujan<br />serta kesendirian<br />dan juga adzan<br />sampai aku pada bisikan,<br />&#8220;Tuhan ada dalam keimanan,<br />berhenti mencari dan temukan<br />ketenangan.&#8221;</p>
<p><a href="http://firabas.multiply.com/journal/item/363/Mencari_Tuhan">Fira Basuki</a> 27 Maret 2008</p>
<p><span><br /><span style="font-style:italic;">Setelah membaca gw jd mikir, sebenarnya gw selama ini mencari ga yah?</span></p>
<p><span style="font-style:italic;">apakah karena gw ngerasa kalo&#8230;.<br />&#8220;Tak Perlulah Mencari Tuhan. Kan Allah Maha Melihat dan Mendengar. Tanpa dicaripun Allah pasti sudah tahu apa saja yang kita lakukan, pikirkan, inginkan dan lain-lain. Tinggal dari kitanya saja sudah sesuai tdk dengan semua ajaran yang sudah ditentukan dan disuratkan oleh-Nya&#8221;<br />Ummm&#8230; gw bener ga yah?<br /></span><br /><span style="font-style:italic;">Langsung terpikirkan juga lagunya Ungu &#8211; Para Pencarimu</span><br /><span style="font-style:italic;"><br /></span></p>
<p>Abis itu iseng2 nyari di mbah google dengan keyword &#8220;Mencari Tuhan&#8221; n ini web yg no 1 keluar</p>
<p> http://blog.hafidz.web.id/2007/03/27/perjalanan-mencari-tuhan/</p>
<p>Bagus juga isi ceritanya, tapi kenapa link tulisan aslinya malah udah ke deface jd situs porno???</p>
<p>parah nih</p>
<div class="flockcredit" style="text-align:right;color:#CCC;font-size:x-small;">Blogged with the <a href="http://www.flock.com/blogged-with-flock" target="_new" title="Flock Browser">Flock Browser</a></div>
<p></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
