<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>mengeluh &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/mengeluh/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "mengeluh"</description>
	<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 02:17:51 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Disiplin waktu]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/24/disiplin-waktu/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 10:53:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/24/disiplin-waktu/</guid>
<description><![CDATA[Sebuah kata yang, agaknya, masih menadi sesuatu yang jarang diindahkan. Lihat saja ketika berada di ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sebuah kata yang, agaknya, masih menadi sesuatu yang jarang diindahkan. Lihat saja ketika berada di jalanan. Banyak sopir yang mengendarakan mobilnya dengan seenak jidat mereka, tidak memerdulikan keselamatan dirinya, penumpangnya, maupun lawan arahnya. Menyetir dengan ugal-ugalan dan berujung dengan kematian.</p>
<p><a href="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/terowongan.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-586" title="terowongan" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/terowongan.jpg?w=150" alt="" width="128" height="96" /></a>Disiplin, seharusnya diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Disiplin dalan mengatur waktu makan, akan menghindarkan anda dari penyakit maag. Disiplin dalam bekerja akan membuat anda bisa me-manage pekerjaan anda. Disiplin dalam mengelola keuangan, akan menghantarkan anda untuk tetap tersenyum di akhir bulan karena uang yang anda miliki masih ada.<!--more--></p>
<p>Bagaimana dengan waktu? Rupanya masih banyak yang belum disiplin waktu. Di negeri tercinta ini, agaknya disiplin waktu menjadi urusan nomer sekian. Tengok saja, istilah jam karet, mulur, dan molor, agaknya sudah menjadi sebuah hal yang lumrah. Waktu yang demikian penting dan hanya 24 jam sehari ini, akan berantakan jika anda tidak mengatur urusan dengan benar.</p>
<p>Agaknya kita harus cerdas dalam menyiasati waktu kita. Coba lihat agenda anda hari ini, apakah anda sudah menepati waktu anda  ketika punya janji dengan seseorang?  Atau malah anda yang memang sengaja mengulur waktu?</p>
<p>Susah memang jika ‘ngaret’ sudah menjadi kebiasaan, akan banyak hal yang akhirnya turut tertunda. Dalam janji berjanji dengan orang lain, Saya sendiri berprinsip  ‘lebih baik menunggu daripada ditunggu’. Tapi prinsip ini agaknya sering dijadikan senjata untuk teman-teman saya datang terlambat. (<em>Ahhh….kalau yang ditunggunya sudah kelewatan mah, tinggalkan saja!</em>)</p>
<p>Termasuk saya, rupanya masih banyak yang belum bisa menerapkan disiplin waktu.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[akhirnya ngomong juga :)]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/20/akhirnya-ngomong-juga/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 09:38:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/20/akhirnya-ngomong-juga/</guid>
<description><![CDATA[Namun tak kau lihat, terkadang malaikat Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan Namun kasih ini, si]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><pre>Namun tak kau lihat, terkadang malaikat</pre>
<pre>Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan</pre>
<pre>Namun kasih ini, silakan kau adu, malaikat juga tau</pre>
<pre>Aku kan jadi juaranya!</pre>
<p>Dee, malaikat juga tau</p>
<p>Setiap kali bermimpi , aku menunggu datangnya kamu</p>
<p>Setiap kali kutau, kau buat hatiku tersipu</p>
<p>Walau Cuma sekejap, tak bisa hilang, tak mungkin lenyap</p>
<p>Setiap kali terjadi, engkau membuat ku terpana</p>
<p>Yang aku mau hanya dirimu, kau seorang. Yang aku mau jadi milikmu.</p>
<p>Anggun-crazy</p>
<p>Agaknya hari ini menjadi sebuah hari yang cukup bersejarah sepanjang hidup saya.  Seorang laki-laki minder dengan segudang pengalaman pahit, telah menemukan jati diri sebagai laki-laki. Entah darimana datangnya keberanian itu, hingga akhirnya mengemukakan perasaan :” gw bilang langsung deh:  gw suka ama lo, tapi gw minder”</p>
<p>God, Thanks. Akhirnya apa yang saya pendam selama beberapa bulan ini, terbebas. Lepas.<!--more--></p>
<p>Walaupun jawaban dia masih abu-abu, ambigu, banyak makna. Tapi saya senang telah mengemukakan apa yang saya rasakan selama ini.</p>
<p>“kalo antara iya dan tidak, gimana dong??” itu jawaban dia melalui yahoo messenger.</p>
<p>Hmmm, tidak apa2. Saya tidak akan menanyakan apapun, atleast saya sudah tau sikapnya, dan itu resiko saya.</p>
<p>Ah, ternyata jawaban itu bukan jawaban klimaks dia. Ternyata dia menjawab “I Like u too, but I have no idea ke depannya seperti apa”</p>
<p>Ah, saya tidak peduli kedepannya seperti apa. Masa depan itu ditentukan hari ini bukan? Lagipula, kenapa saya harus pusing-pusing memikirkan masa depan, bukankah Alloh itu Maha Mengatur? Dan tidak pernah ada kejadian kebetulan di bumi ini?</p>
<p>Cianjur, 20 November 2009</p>
<p>HADI – free your mind!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Konflik di sebuah socialblog]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/20/konflik-di-sebuah-socialblog/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 23:55:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/20/konflik-di-sebuah-socialblog/</guid>
<description><![CDATA[Berawal dari terbongkarnya seorang tokoh fiktif, ceritapuri, di sebuah media socialblog, kini kasus ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Berawal dari terbongkarnya seorang tokoh fiktif, ceritapuri, di sebuah media socialblog, kini kasus tersebut merembet dan bergulir kemana-mana.</p>
<p>Fiktif, agaknya menjadi sebuah kata-kata sakti yang mampu menyihir orang supaya memiliki kecurigaan terhadap orang lain. Bahkan, satu orang teman, dengan terang-terangan menuduh teman yang lain. Demikian pula halnya dengan pandangan orang terhadap saya dalam kasus hoax ceritapuri ini, saya dipandang sebagai orang yang paling MARAH terhadap Puri dan tokoh pembuatnya.<!--more--></p>
<p>Ini bukan maksud untuk klarifikasi, karena, toh, tidak ada yang perlu saya klarifikasi. Orang mau memandang demikian, ya silakan. Mau memandang kebalikannya juga, silakan. Yang jelas, apa yang mereka perhatikan kepada saya, tidak lah benar adanya.</p>
<p>Saya tidak pernah marah sama tokoh ceritapuri. Kenapa? Karena, dari tokoh fiktif inilah saya belajar bahwa hidup ini harus disikapi dengan positif. Dari tokoh ini pula, saya mengetahui bahwa penyakit kanker payudara bukanlah penyakit yang dipandang sebelah mata. Adapun, dengan tokoh pembuatnya, Omand dan juga Fuad,  saya tidak pernah tuh marahin mereka. Kalaupun saya mengangkat profil mereka kedalam sebuah tulisan, semata-mata untuk memberitakan bahwa tokoh pembuat cerita puri itu ada. Tidak satu orang, melainkan tim. Dan saya akui, itu adalah luapan emosional saya terhadap omand dan juga fuad.</p>
<p>Dalam sebuah kesempatan, saya bahkan menelepon omand dan menanyakan motif dibalik semuanya. Mengabarkan kepada oman bahwa saya sudah memaafkannya, serta mensupport mereka berdua untuk hadir di kopdar yang diselenggarakan Mariska Lubis di Bandung. Saya katakan kepada omand dan juga fuad, bahwa ini adalah kesempatan dan peluang mereka untuk menyampaikan itikad kepada para anggota socialblog tersebut. Malah, saya bilang saya bersedia menjadi fasilitator untuk mereka.</p>
<p>Jadi, tidak ada amarah, tuh, yang saya utarakan kepada mereka.</p>
<p style="text-align:center;">****</p>
<p>Kini, kasus yang bergulir gara-gara kontroversi ini makin melebar. Apa yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik, menjadi konsumsi publik, dan mengundang banyak komentar. Popularitas polemik di “Negara” socialblog tersebut, hampir menyamai popularitas polemik di Negara tetangganya yang masih ramai membahas kasus cicak dan buaya. Energi semua anggotanya terfokus pada polemik seputar gelar-gelaran dan fiktif-fiktifan.</p>
<p>Pelebaran ini, dipicu oleh seorang pemancing. Dan sialnya, saya telah terpancing dengan menuliskan sesuatu untuk mengingatkannya. Sebuah kebodohan saya, yang  ternyata mengandung banyak hikmah.</p>
<p>Saya tidak mengerti, apa sih, sebenarnya maksud pelempar “pancingan” ini. Memberikan statement dari 3 lokasi yang berbeda dalam rentang waktu satu minggu ini. Saya mengutarakan ini karena telah menelusurinya melalui bantuan seorang teman menggunakan software pencari IP Address locator. Jakarta, Jateng, dan DIY, adalah tiga lokasi dimana ‘pemancing’ ini pernah memberikan komentarnya. Aneh!</p>
<p>Siapapun dan apapun yang ada di media socialblog tersebut, saya berharap, semoga polemik ini segera disudahi. Semoga, besok, anggota media socialblog tersebut berkenan hadir di kopdar yang diselenggarakan di Bandung. Dan semoga, orang yang terkena polemik tersebut dapat menjawab dan membahas tuntas tas tas tas tentang apa-apa yang mengundang kontroversi itu.</p>
<div id="attachment_574" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/etis-ngga-sih.jpg"><img class="size-medium wp-image-574" title="etis ngga sih" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/etis-ngga-sih.jpg?w=300" alt="" width="300" height="272" /></a><p class="wp-caption-text">etis </p></div>
<p>Cianjur,</p>
<p>20 november 2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kreatif2an, daripada ga ada kerjaan]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/19/kreatif2an-daripada-ga-ada-kerjaan/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 00:38:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/19/kreatif2an-daripada-ga-ada-kerjaan/</guid>
<description><![CDATA[Kreatif2an ah &nbsp; Dua tahun yang lalu, ketika saya belum terlalu sibuk bekerja (lebay, sekarang j]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kreatif2an ah</p>
<p>&#160;</p>
<p>Dua tahun yang lalu, ketika saya belum terlalu sibuk bekerja <span style="text-decoration:line-through;"><em>(lebay, sekarang juga ngga sibuk tuh, cuman sok sibuk aja hehehe</em></span>), saya iseng2 berhadiah melakukan sebuah inovasi atas bahan2 limbah di rumah saya.</p>
<p>Melihat gundukan Koran yang selalu saya beli setiap minggu, serta kertas2 bekas bimbingan skripsi yang Cuma dicoret seuprit di tiap halamannya, plus kardus/karton bekas mie dan alat2 elektronik yang segede bagong, saya berpikir keras kira2 apa yaaa yang bisa saya lakukan untuk menghilangkan barang2 ini. dibuang? Sayang… <span style="text-decoration:line-through;">dibakar</span>? Bukan solusi…</p>
<p>Aha.. dibuat bubur kertas! Tapi, gimana caranya?</p>
<p>Searching di gramedia, menjadi pilihan. Dan akhirnya menemukan sebuah buku tentang buburkertas. Teknik2 nya, cara bikinnya, dsb.</p>
<p>Iseng2 saya ikutin caranya, tapi kok susah ya. Ribet. Hasilnya pun tidak optimal</p>
<div id="attachment_566" class="wp-caption aligncenter" style="width: 234px"><a href="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/somecrea7compress.jpg"><img class="size-medium wp-image-566" title="Somecrea7compress" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/somecrea7compress.jpg?w=224" alt="" width="224" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">kreasi dari bubur kertas -dok.pribadi</p></div>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Akhirnya, saya beralih ke kardus/karton bekas alat2 elektronik yg agak tebal. Kotak tissue menjadi imajinasi saya kala itu. Saya buatkan pola nya, pola untuk wadah dan tutup tempat tissue. Saya bikin satu master polanya.</p>
<div id="attachment_564" class="wp-caption aligncenter" style="width: 287px"><a href="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/pola-tempat-tissue.jpg"><img class="size-medium wp-image-564" title="pola tempat tissue" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/pola-tempat-tissue.jpg?w=277" alt="" width="277" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">ini pola tempat tissuenya, jgn repot2 mbayangin, pelototin aja hehee</p></div>
<p>Setelah saya guntingi, saya rekatkan dengan lem lilin (lem tembak), lalu saya warnai dengan cat kertas.</p>
<p>Sedikit berkreasi dengan imajinasi, jadilah seperti ini.</p>
<div id="attachment_561" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/kotaktiisue3.jpg"><img class="size-medium wp-image-561" title="Kotaktiisue3" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/kotaktiisue3.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">kotak tisue kreasi saya - dok pribadi</p></div>
<div id="attachment_563" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/kotaktisue2.jpg"><img class="size-medium wp-image-563" title="kotaktisue2" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/kotaktisue2.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">kotak tissue buatan saya lagi - dok.pribadi</p></div>
<p>Juga seperti ini (cerminnya saya kumpulkan dari potongan cermin yang tidak terpakai)</p>
<div id="attachment_565" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/somecrea9-compress.jpg"><img class="size-medium wp-image-565" title="Somecrea9 compress" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/somecrea9-compress.jpg?w=300" alt="" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">pernik2 cermin - dok pribadi</p></div>
<div id="attachment_567" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/somecrea11compress.jpg"><img class="size-medium wp-image-567" title="Somecrea11compress" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/somecrea11compress.jpg?w=300" alt="" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">cermin cantik membuat anda makin cantik :p -dok.pribadi</p></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Search - Andai Kumiliki Semalam]]></title>
<link>http://dunialirik.wordpress.com/2009/11/18/search-andai-kumiliki-semalam/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 09:02:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>ringtonesz</dc:creator>
<guid>http://dunialirik.wordpress.com/2009/11/18/search-andai-kumiliki-semalam/</guid>
<description><![CDATA[Andai kumiliki semalam Dan bisa aku ubah menjadi esok Takkan kuubah apapun Kerna aku tahu engkau tet]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Andai kumiliki semalam Dan bisa aku ubah menjadi esok Takkan kuubah apapun Kerna aku tahu engkau tet]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Fitnah Dong!]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/12/jangan-fitnah-dong/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 15:12:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/12/jangan-fitnah-dong/</guid>
<description><![CDATA[Tergelitik dengan sebuah komentar dalam postingan dari Kang Pepih yang membekukan account seorang to]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tergelitik dengan sebuah komentar dalam postingan dari Kang Pepih yang membekukan account seorang tokoh fiktif, saya memberanikan menulis ini.<br />
***</p>
<p>Fitnah, katanya lebih kejam dari pada membunuh ya?  Logis sih, jika dalam ajaran agama, kita tidak diajarkan dan tidak diperbolehkan untuk memfitnah ,kan?  karena fitnah merupakan pembunuhan karakter. <!--more-->Menurut Wikipedia, fitnah merupakan komunikasi kepada satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan atas fakta palsu yang dapat mempengaruhi penghormatan, wibawa, atau reputasi seseorang. Kata “fitnah” diserap dari  bahasa arab, dan pengertian aslinya adalah “cobaan” atau “ujian”.<br />
Sedangkan menurut sumber bacaan di republika.com, Alquran menggambarkan fitnah adalah lebih kejam dan lebih besar daripada pembunuhan (QS Al-Baqarah [2]: 191,217). Fitnah di sini digambarkan sebagai usaha menimbulkan kekacauan … (sumber www.republika.co.id)</p>
<p>Dalam web pituturdotnet, fitnah  diartikan sebagai tuduhan suatu perbuatan kepada orang lain, dimana sebenarnya orang yang dituduh tersebut tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan.<br />
Sepertinya, jelas, dari kalimat diatas terkandung sebuah statement negative dan menjurus ke arah fitnah.  Dengan sangkaan dari statement diatas, sudah barang tentu ada upaya pembunuhan karakter seseorang yang berhati mulia.<br />
Ngomong-ngomong soal fitnah ini, saya ada sedikit pengalaman kala belajar agama dari seorang ustadz, dulu. Ketika itu, saya menemukan keganjilan dalam materi yang disampaikan sang ustad, usut punya usut, selidik punya selidik, akhirnya saya menemukan kecocokan antara beberapa bukti tidak tertulis saya dengan gerakan “negative” mereka. Ketika saya melempar ini ke forum, beberapa orang malah menyerang saya, karena memang saya tidak memiliki bukti fisik yang otentik.</p>
<p>Kembali ke ulasan komentar di postingan Kang pepih tersebut, agaknya komentator tersebut  harus turut meminta maaf kepada orang yang dia komentari. Karena hampir saja, apa yang komentator tersebut utarakan, menjadi fitnah karena tidak ada bukti otentik yang diberikan komentator tersebut.<br />
****<br />
Akhirnya melalui catatan ini, saya mengetuk hati semua orang untuk lebih sehat dalam berkomentar. Manfaatkanlah rumah kompasiana ini untuk mencari kawan sebanyak mungkin, bukan lawan. Jangan lah ‘menyerang’ untuk Sesuatu yang tidak kita tau. Jangan sampe, komentar kita malah jadi fitnah buat orang lain.<br />
Disini, di kompasiana ini, kita agaknya harus berlaku santun seperti halnya ketika berada di dunia nyata. Karena, paling tidak, jika kita berlaku santun maka penghuni kompasiana lainnya pun akan menanggapi kehadiran kita.</p>
<p>Salam,<br />
<a title="hadisome private blog...click it" href="../" target="_blank">Hadi</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rasa Adalah Pilihan]]></title>
<link>http://mastein.wordpress.com/2009/11/06/rasa-adalah-pilihan/</link>
<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 03:39:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>mas stein</dc:creator>
<guid>http://mastein.wordpress.com/2009/11/06/rasa-adalah-pilihan/</guid>
<description><![CDATA[“Kang, kalo punya istri kayak gini mungkin kita di rumah bakal sarungan terus ya? Ndak sempet pake c]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">“Kang, kalo punya istri kayak gini mungkin kita di rumah bakal sarungan terus ya? Ndak sempet pake celana.” Kata kang Noyo sambil mengangsurkan gambar di sebuah majalah dewasa.  Perempuan semlohai dengan tonjolan yang mantap di tempat-tempat yang tepat, kalo istilah saya, <em>mengilerkan</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata saya, “Mungkin Kang, tapi mungkin juga ndak. Kayaknya sih kalo beneran ini mbak-mbak sekseh kawin sama sampeyan, rasanya ya sama saja. Gambarnya menggoda, karena statusnya bukan milik sampeyan.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Mosok sih?”</p>
<p style="text-align:justify;">Saya bilang, “Mungkin.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kata simbah saya hidup itu <em>sawang sinawang</em>, masing-masing ngiler dengan yang dimiliki orang lain. <!--more-->Lupa bahwa dengan hukum <em>sawang sinawang</em> itu berarti tiap hal yang dimiliki memiliki potensi untuk membuat orang lain ngiler. Terlalu sibuk menaksir harga yang dipunyai orang lain sampai lupa menghargai yang telah didapat.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya bertanya pada seorang kawan saya yang sugih, memiliki beberapa usaha, punya beberapa mobil, “Gimana rasanya hidup sampeyan dengan semua harta yang sampeyan punya? Seneng? Sangat seneng? Atau sangat seneng sekali?”</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu dengan menilik kondisi saya yang cuma mengandalkan bayaran dari pabrik, kemana-mana masih nyemplak <a href="http://mastein.wordpress.com/2009/02/09/black-megapro/">si kuda hitam</a>, saya mengharap jawaban bahwa dia pasti sangat senang sekali dengan kehidupannya. Tapi ndak begitu jawabannya, kawan saya bilang level kesenangannya biasa saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Jawaban <em>sangat senang sekali</em> mungkin baru akan keluar saat saya, yang belum punya beberapa mobil ini ditanya, “Bagaimana seandainya sampeyan memiliki beberapa rumah dan mobil, serta 20 pom bensin?”</p>
<p style="text-align:justify;">Kenapa? Bukan karena rumah, mobil, dan pom bensinnya, tapi karena semua itu masih sebatas saya memandang, belum dalam jangkauan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada kata-kata yang mungkin terdengar klise:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">saya tidak selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu berusaha menyukai apa yang saya dapatkan</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Rasa adalah pilihan. Tergantung bagaimana sampeyan mengatur hati dan kepala. <a href="http://mastein.wordpress.com/2009/05/29/bersyukur-tanpa-pembanding/">Bersyukur adalah urusan sampeyan dengan Pencipta</a>, ndak usah liat kiri kanan, bandingkan diri sampeyan sendiri.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Konon suatu saat ada seorang petani miskin mengeluh kepada Mbah Kyai, “Mbah, saya ini kok sengsara tenan ya? sudah rumah sempit, anak banyak, mertua numpang. Sumpek bener saya di rumah!”</p>
<p style="text-align:justify;">Kata Mbah Kyai, “Besok pergilah ke pasar, belilah ayam 10 ekor, peliharalah.”</p>
<p style="text-align:justify;">Besoknya si petani datang lagi, “Waduh Mbah, makin sumpek saya. Sudah rumah penuh masih ketambahan ayam!”</p>
<p style="text-align:justify;">Kata Mbah Kyai, “Sampeyan besok ke pasar, beli kambing 2 ekor, peliharalah.”</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa hari kemudian si petani datang lagi, dan disuruh membeli serta memelihara seekor sapi. “Bagaimana kondisi sampeyan? Sudah membaik?” Tanya Mbah Kyai beberapa minggu kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Si petani yang makin kurus karena stress itu menjawab, “Membaik gimana Mbah?? Rumah saya sudah seperti kebun binatang! Belum lagi kepikiran utang buat beli sapi dan kambingnya!”</p>
<p style="text-align:justify;">Mbah Kyai tersenyum, “Besok sampeyan pergilah ke pasar, jual sapi sampeyan.”</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa waktu berlalu, Mbah Kyai ketemu si petani, wajahnya tampak agak lebih berseri, “Sekarang agak lumayan Mbah, rumahnya jadi lebih longgar.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kalau begitu besok sampeyan pergilah ke pasar, jual kambing sampeyan.” Kata Mbah Kyai.</p>
<p style="text-align:justify;">Selang berapa minggu kemudian setelah ayamnya dijual, Mbah Kyai bertemu dengan si petani, wajahnya segar. “Saran sampeyan memang manjur Mbah, rumah saya sekarang jadi nyaman!”</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kadang menerima apa yang ada membuat pilihan rasa menjadi lebih mudah.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pikirkanlah Sebelum Kamu Mengeluh]]></title>
<link>http://reeleks.wordpress.com/2009/11/05/pikirkanlah-sebelum-kamu-mengeluh/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 14:28:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>reeleks</dc:creator>
<guid>http://reeleks.wordpress.com/2009/11/05/pikirkanlah-sebelum-kamu-mengeluh/</guid>
<description><![CDATA[Hari ini&#8230;sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, Pikirkan tentang seseorang yang ti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Hari ini&#8230;sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,<br />
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.</p>
<p>Sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-apa<br />
Pikirkan tentang seseorang yang harus meminta-minta di jalanan.</p>
<p>Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,<br />
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.</p>
<p>Sebelum kamu mengeluh tentang pasangan mu.<br />
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup</p>
<p>Sebelum kamu mengeluh tentang nasib hidupmu,<br />
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat</p>
<p>Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,<br />
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul</p>
<p>Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu lalai<br />
Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di jalanan dengan apa adanya</p>
<p>Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,<br />
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan</p>
<p>Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,<br />
Pikirkan tentang pengangguran dan orang-orang cacat yang mencari pekerjaan seperti mu</p>
<p>Sebelum kamu menunjukkan jari telunjukmu untuk menyalahkan orang lain,<br />
Pikirkanlah, bahwa keempat jarimu yang lain menunjuk padamu dan tidak ada orang yang tidak pernah membuat kesalahan. </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cucian (deh) Loe, Jangan ditunda-tunda!]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/05/cucian-deh-loe-jangan-ditunda-tunda/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 13:57:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/05/cucian-deh-loe-jangan-ditunda-tunda/</guid>
<description><![CDATA[Sebagai seorang bujangan, seperti yang lain, saya lebih senang berada di luar rumah lebih lama ketim]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sebagai seorang bujangan, seperti yang lain, saya lebih senang berada di luar rumah lebih lama ketimbang berlama-lama di rumah. Selepas pulang dari bekerja, kadang saya tidak langsung pulang ke rumah melainkan berkunjung ke rumah saudara atau rumah temen.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Kehidupan yang balance antara keseharian dan pekerjaan belum bisa saya terapkan. Kadang, jika sudah sampe dirumah, maka saya akan melakukan aktivitas yang benar-benar memakan waktu dan tidak bisa diganggu. Online online..online online… (<em>dibaca gaya saykoji</em>)  Tapi beruntunglah saya, sejak mengenal kompasiana, energi untuk online tersebut dapat tersalurkan secara sehat. Namun, ya itu tadi, Belum balance. Pagi sebelum berangkat tersita dengan online, pulang kantor sampe malem online lagi. Maklum, kerjaan sebagai tukang ngider tidak memberikan kesempatan untuk duduk manis di depan komputer pada siang hari.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Seperti biasa, menjelang berangkat ke kantor saya baru mandi. Dan hari ini betapa terkejutnya saya manakala melihat pakaian kotor ditempatnya yang saya simpan di pojok kamar, baju kotornya sudah menggunung. Maaaaaaaaa, alamat bakalan nyuci besar hari ini hehehe.</p>
<div id="attachment_515" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://hadisome.wordpress.com"><img class="size-medium wp-image-515" title="Somecrea9" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/11/somecrea9.jpg?w=300" alt="Somecrea9" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi yang kagak nyambung ama tulisan, jangan protes ya hehheh</p></div>
<p><!--more--></p>
<p>Akhirnya, mau tidak mau, saya mencuci sambil mengomel kepada diri sendiri. Kenapa harus menunda-nunda nyuci sih, jadi kan banyak yang harus dicuci! Salah sendiri, batin saya menjawab.</p>
<p style="text-align:center;">****</p>
<p>Nah, ditengah2 kejengkelan saya mencuci saya berpikir Pelajaran apa yang bisa saya ambil dari situ? Setelah ditilik-tilik, ternyata ada dua hal:</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Pertama, saya tidak boleh menunda pekerjaan! </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Lihatlah tumpukan cucian tersebut. Makin hari akan makin banyak, dan mau tidak mau harus tetap dicuci jika ingin memakai pakaian yang bersih di esok hari. Makin ditumpuk, makin banyak yang harus dicuci. Berat nya!</p>
<p>Pun demikian dengan pekerjaan anda, sudah barang tentu anda harus mengerjakannya sedikit demi sedikit jika tidak ingin pekerjaan anda menumpuk dan tercecer dikemudian hari. Kata satu orang senior kantor saya, yang namanya pekerjaan itu tidak akan pernah ada habisnya. Jadi jika ditunda-tunda, makin banyaklah pekerjaan anda dikemudian hari. Dan ini membuat anda akan makin malas mengerjakannya. Tidak percaya? Tanya sama saya deh, saya udah sering membuktikannya hihihihii….. (secara emang saya ini pemalas gitu loh :p)</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Kedua, saya harus mulai rajin menabung. Bukan rajin berhutang!</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Filosofi yang terkandung dari menyimpan cucian, sehari satu pasang pakaian dan amunisinya, jika saya kaitkan dengan menabung tentu saja akan berhubungan erat. Sehari, dua hari, tiga hari dan seterusnya tentu akan terkumpul pakaian siap cuci yang menggunung. Nah, ketika objek yang saya simpan tersebut diganti dalam bentuk uang, suatu saat nanti uang saya akan menggunung juga seperti cucian kotor tersebut, bukan? Cihuy ngga sih?</p>
<p>Lain halnya dengan hutang, jika sehari dua hari kita terus pupuk berhutang kepada orang, atau bank, maka dikemudian hari hutang kita akan makin besar. Hihihhi, inilah salah satu  fenomena sebagian besar PNS di kota besar maupun kecil. CICIS, Cicil sana sini hihihihihihihihihi</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[khairukum 'anfa'ukum linnaas]]></title>
<link>http://lellatyasna.wordpress.com/2009/11/04/khairukum-anfaukum-linnaas/</link>
<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 04:22:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>lellatyasna</dc:creator>
<guid>http://lellatyasna.wordpress.com/2009/11/04/khairukum-anfaukum-linnaas/</guid>
<description><![CDATA[mengeluh sering membuat kita mendramatisir masalah seakan rencana dan keinginan kita lebih baik, pad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>mengeluh sering membuat kita mendramatisir masalah seakan rencana dan keinginan kita lebih baik, padahal Allah lebih tahu.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://lellatyasna.wordpress.com/files/2009/11/winter.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-7" title="Winter" src="http://lellatyasna.wordpress.com/files/2009/11/winter.jpg?w=300" alt="Winter" /></a></p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Menyerah, a la D'Massiv]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/03/jangan-menyerah-a-la-dmassiv/</link>
<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 12:09:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/11/03/jangan-menyerah-a-la-dmassiv/</guid>
<description><![CDATA[Tak ada manusia yang terlahir sempurna Jangan kau sesali segala yang telah terjadi Kita pasti pernah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Tak ada manusia yang terlahir sempurna</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Jangan kau sesali segala yang telah terjadi</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Seakan hidup ini tak ada artinya lagi</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Syukuri apa yang ada</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Hidup adalah anugerah</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Tetap jalani hidup ini</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Melakukan yang terbaik</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">…</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Tuhan pasti kan menunjukkan</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Kebesaran dan kuasa-Nya</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Bagi hamba-Nya yang sabar</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Dan tak kenal putus asa</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">Jangan menyerah jangan menyerah jangan menyerah….</span></p>
<p>Anda pasti sangat familiar dengan lirik lagu yang saya tulis diatas bukan? Sebuah lirik lagu dari grup band masa kini bernama D’Massiv. Lirik penuh makna yang  sangat dalam bila kita telaah dan kita aplikasikan kedalam hidup kita. Lirik yang sarat dengan pesan positif supaya kita terus berjuang dalam hidup kita. Tidak menyerah pada keadaan yang begitu-begitu saja. Tetap melakukan apapun yang terbaik selagi masih bisa.<!--more--></p>
<p>Begitu pula dengan seorang kawan kita, yang telah mendahului kita menghadap Sang Kuasa. Seorang inspirator yang tergabung di kompasiana meskipun hanya melalui lima tulisan. Seorang supporter dan penyuntik spirit yang luar biasa bagi teman-temannya yang juga mengalami hal yang sama.</p>
<p>Puriwati Purasari Andono</p>
<p>Demikian nama pahlawan muda yang telah menyadarkan kita bahwa semangat pantang menyerah dan bersikap positif harus terpatri dalam diri kita. Apa yang ada dalam syair lagu diatas, telah puri aplikasikan dalam hidupnya. Tiada penyesalan atas apa yang telah terjadi yang diberikan Tuhan YME. Cobaan berat tidak membuat Puri merasa tidak berarti.</p>
<p>Puri telah mampu melihat bahwa hidupnya adalah anugrah dengan melakukan yang terbaik. Berbuat sesuatu untuk menyemangati teman-temannya. Tidak mempedulikan rasa sakit yang bersemayam ditubuhnya.</p>
<p>Pun dengan anda, sesama teman yang mungkin kini tengah dirundung duka terkena penyakit, saya semangati untuk tidak menyerah. Bukankah hidup itu anugerah jika anda melakukan yang terbaik semampu yang anda bisa? Tuhan akan menunjukkan kuasa-Nya bagi anda yang bersabar dan tidak mengenal kata “Putus asa”, putus harapan!</p>
<p>Tetaplah optimis kawan.. coba telaah sepenggal lirik lagu jadul dengan judul ‘Optimis’ berikut ini.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;">Tak perlu malu</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;">Dan kecil hati apalagi frustrasi</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;">Terlampau keji bila terlintas hendak bunuh diri</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;">….</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;">Anggap derita sebagai cobaan dan satu pengalaman</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;">Yang mesti dapat kita hadapi dengan hati yang lapang</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;">….</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;">Setiap orang pasti punya satu masalah dan masalalu.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;">Teman hidup ini hanya satu kali, (bersyukurlah teman)</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;">Teman, untuk apa kita menyiksa diri</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;">Hadapilah semua, kenyataan yang ada</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;">Serta raihlah cita2, hidup bahagia..</span></p>
<p>Itu juga sudah berhasil Puri terapkan dalam hidupnya. Sebuah kesan optimis dapat saya lihat dari tulisan-tulisannya yang ingin menularkan kerangka berpikir bahwa Tuhan itu Maha Adil terhadap usaha yang telah anda jalani.</p>
<p>Ayo teman, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Minta lah dengan doa untuk kesembuhan anda, dan berikhtiarlah dengan terapi-terapi yang bisa menjadi jalan kesembuhan anda. Berlatihlah untuk menjadi seseorang yang ikhlas, karena ikhlas adalah sebuah terapi yang datang dari dalam.</p>
<p>Sebuah quotes yang saya kutip dari buku <strong><span style="text-decoration:underline;">Quantum Ikhlas</span></strong>-nya Erbe Sentanu :</p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#800080;">“ Aku memutuskan untuk selalu memilki kekuatan dan keyakinan diri. Karena aku percaya, aku yakin, aku beriman, bahwa hanya kekuatan Tuhan yang menciptakan seluruh isi alam semesta selalu mengalir dalam setiap keputusanku, pikiranku, serta dalam tindakanku. Sebab aku yakin bahwa sebenarnya aku hanyalah alat bagi Tuhan untuk mewujudkan rencana-rencana-Nya.”</span></strong></p>
<p>Semoga mengantar anda pada pemikiran dan sikap untuk ikhlas dan tidak menyerah.</p>
<p>Salam</p>
<p>Hadi</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tentang Masalah]]></title>
<link>http://mastein.wordpress.com/2009/11/02/tentang-masalah/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 07:33:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>mas stein</dc:creator>
<guid>http://mastein.wordpress.com/2009/11/02/tentang-masalah/</guid>
<description><![CDATA[Perhatian : tulisan ini sudah nangkring duluan di ngerumpi[dot]com, merupakan pencerahan yang saya d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><em>Perhatian : tulisan ini sudah nangkring duluan di <a href="http://ngerumpi.com">ngerumpi[dot]com</a>, merupakan pencerahan yang saya dapet dari <a href="http://soewoeng.com">Om Suwung</a>.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-989" title="panjar" src="http://mastein.wordpress.com/files/2009/11/panjar.jpg?w=300" alt="panjar" width="300" height="274" />Orang hidup tidak akan pernah lepas dari masalah, besar atau kecil, berat maupun ringan. Masalah orang hidup baru akan berhenti saat meninggal, tapi itupun bukan berarti masalah selesai, hanya berganti judul saja menjadi masalah orang mati.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengeluh itu manusiawi, yang bisa diterjemahkan secara terbalik kalau sampeyan ndak pernah ngeluh berarti sampeyan bukan manusia. Bolehkah mengeluh saat ada masalah? Tentu boleh, selama keluhannya tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. <em>*halah!* <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Masalah selalu memiliki dua aspek, rasa dan fakta. Fakta harus dihadapi dengan logika, tapi logika sering macet saat hati masih gundah oleh rasa. Untuk itulah kadang mengeluh itu perlu, menangis pun wajar, agar perasaan tersalur. Tentu jangan kebablasan, <a href="http://mastein.wordpress.com/2009/02/10/anda-suka-mengeluh/">mengeluhlah sewajarnya</a> lalu biarkan logika berkuasa.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Saya ingat jaman eSDe dulu ada tes kecil yang kadang diadakan di kelas, namanya <em>mencongak</em>. Biasanya ada sepuluh pertanyaan yang diajukan secara lisan oleh guru, itung-itungan sederhana seperti 6&#215;7, atau 8+12, yang harus dijawab para murid di selembar kertas secara cepat. Ndak akan sempat menghitung pakai jari sebelum pertanyaan berikutnya dibacakan. Sederhana, remeh kata sampeyan? Coba bayangkan itu di pikiran seorang anak kelas 3 atau 4 Sekolah Dasar, itu <em>masalah</em> yang menakutkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kelas 6 SD saya sering merasa mendapat perlakuan yang tidak adil dari guru saya. Entah benar atau tidak saya merasa guru lebih mengistimewakan beberapa siswa yang orang tuanya kaya. Saya sering merasa disindir karena ndeso <span style="text-decoration:line-through;">dan kere</span>, ndak mau ikut les (yang diadakan di rumah guru bersangkutan), dan beberapa perlakuan yang terkesan pilih kasih menurut saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Puncaknya saat pembagian raport catur wulan kedua saya <em>cuma</em> mendapat ranking 2, pertama kalinya seumur hidup. Saya nangis dan merobek raport (yang untungnya cuma potokopian) tersebut, saya merasa dizalimi. Remeh juga kata sampeyan? Ndak cuma sampeyan yang bilang begitu, buat saya sekarang, hal itu seharusnya ndak terlalu jadi masalah.</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu SMA saya pernah jatuh cinta sama adik kelas yang membuat saya mendadak jadi pujangga <del>sesat</del> sesaat. Mellow semellow-mellownya umat, ditolak pula! Saat-saat yang menyedihkan (saat itu) dan memalukan (kalo diinget-inget lagi sekarang). <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Buat sampeyan yang sedang bermasalah, ndak usah terlalu takut atau sedih. Yakinlah bahwa sampeyan akan naik kelas. Suatu saat nanti sampeyan akan mengingat hari ini sambil tersenyum <del>memalukan</del> malu-malu dan bilang, “Itu seharusnya bukan masalah.” <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':smile:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;"><em>*terima kasih untuk <a href="soewoeng.com">om Soewoeng</a></em><br />
<em>*gambar diambil dari <a href="http://i286.photobucket.com/albums/ll119/p32n_hermawan/special%20design/panjar.jpg">sini</a><br />
</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Mengeluh]]></title>
<link>http://reeleks.wordpress.com/2009/11/02/jangan-mengeluh/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 01:27:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>reeleks</dc:creator>
<guid>http://reeleks.wordpress.com/2009/11/02/jangan-mengeluh/</guid>
<description><![CDATA[Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sep]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.</p>
<p>Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.</p>
<p>Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di<br />
pekarangan sendiri. </p>
<p>Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, &#8220;Lulu, Lulu.&#8221; Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, &#8220;Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.&#8221;</p>
<p>Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut<br />
melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, &#8220;Lulu, Lulu&#8221;. &#8220;Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?&#8221; tanyanya keheranan.</p>
<p>Dokter kemudian menjawab, &#8220;Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.&#8221;</p>
<p>Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.<br />
Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. </p>
<p>Cerita terakhir adalah mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, &#8220;Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.&#8221; </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[untung gabung sama kompasiana]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/29/untung-gabung-sama-kompasiana/</link>
<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 14:36:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/29/untung-gabung-sama-kompasiana/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp; Beruntung! Itulah yang terlintas di pikiran saya manakala bergabung dan berkenalan dengan ang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#160;</p>
<p>Beruntung! Itulah yang terlintas di pikiran saya manakala bergabung dan berkenalan dengan anggota sebuah blog keroyokan <a title="kompasiana" href="http://kompasiana.com" target="_blank">kompasiana</a>. Saya yang memang terlambat mengetahui nikmatnya blogging seolah-olah semakin terpacu untuk menulis lebih baik lagi dengan susunan kata yang enak dibaca. Namun, inilah saya. Seorang putera daerah yang memiliki keterbatasan akses informasi sehingga tidak bisa setiap saat memantau perkembangan di kompasiana yang begitu pesat.</p>
<div id="attachment_473" class="wp-caption aligncenter" style="width: 145px"><a href="www.kompasiana.com"><img class="size-full wp-image-473" title="kompasiana" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/10/kompasiana3.jpg" alt="kompasiana" width="135" height="135" /></a><p class="wp-caption-text">logo lama kompasiana-foto diambil dari www.kompasiana.com</p></div>
<p><!--more--></p>
<p>Beruntung, sekali lagi saya katakan saya sangat beruntung. Betapa tidak, di rumah kompasiana ini saya bertemu dengan orang-orang hebat dan luar biasa dengan mudah. Tidak perlu ada jalur protokoler, basa-basi, puja-puji. Semua begitu natural dengan kelebihan mereka masing-masing. Dan luar biasanya, mereka semua begitu membumi, down to earth, jauh dari kata sombong. Sebut saja OmJay, seorang guru labschool yang mumpuni dibidang PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Semasa kuliah dulu, saya tidak mengambil penelitian ini untuk skripsi saya karena merasa ini adalah sesuatu yang tidak mudah tapi ditangan omjay, PTK menjadi sesuatu yang sangat renyah dan ditawarkan kepada guru-guru lainnya. Kemudian ada pak Prayitno Ramelan, semua juga sudah tau siapa beliau. Tulisan-tulisannya yang cerdas mengupas tentang dunia politik dan intelijen, selalu mengundang banyak komentar orang. Dan hebatnya, pak Pray-begitu beliau dipanggil-  selalu menjawab komentar-komentar yang masuk tanpa ada kesan menggurui. “kita sama-sama belajar.” Begitu jawab beliau ketika saya menyempatkan berkomentar pada tulisannya.</p>
<p>Mariska Lubis, seorang seksolog yang hampir berbarengan dengan saya registrasi di kompasiana, ternyata bukan orang sembarangan. Tapi, luarbiasanya dia begitu down to earth banget, selalu memberikan support-support positif kepada saya yang sama sekali baru di dunia blogging, tulis menulis.  Rukzzolangan, seorang generasi muda yang hi tech juga membimbing saya untuk menentukan spesifikasi jika ingin membeli notebook.</p>
<p>Ahhh, betapa harus bersyukurnya saya hehehe… tidak salah saya memilih bergabung di kompasiana.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Menyerah! Tetap Jalani Hidup untuk Melakukan yang Terbaik!]]></title>
<link>http://dickstar.wordpress.com/2009/10/23/jangan-menyerah-tetap-jalani-hidup-untuk-melakukan-yang-terbaik/</link>
<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 18:05:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>dickstar</dc:creator>
<guid>http://dickstar.wordpress.com/2009/10/23/jangan-menyerah-tetap-jalani-hidup-untuk-melakukan-yang-terbaik/</guid>
<description><![CDATA[Siapapun dari kita saya yakin pasti pernah merasakan stress, down, drop, galau dan kata-kata lainnya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Siapapun dari kita saya yakin pasti pernah merasakan stress, down, drop, galau dan kata-kata lainnya yang menggambarkan suasana hati yang sedang kacau. Begitu juga halnya dengan saya. Yang paling banyak “diserang” virus stress adalah orang-orang muda yang pertama kali bekerja. Kenapa? karena mereka sedang memasuki masa transisi yang paling krusial untuk mulai menentukan masa depannya kelak. Usia remaja ketika seseorang telah lulus kuliah dan memasuki dunia kerja merupakan usia rentan. Mereka yang kuatlah yang mampu menghadapi “ujian” ini.</p>
<p>Usia remaja memang selalu identik dengan “pencarian jati diri”. Memantapkan eksistensi yang mereka kejar.</p>
<p>Di kantor, terkadang “si A mengeluh Bosnya begini enakan jadi si C”, “si B mengeluh Bosnya <!--more-->begitu enakan jadi si C”, dan ketika si C bercerita mengenai keadaan kantornya, ternyata keadaannya jauh lebih parah dari keadaan di kantor si A dan si B. Tetapi si C tak pernah terlihat stress dan bermuram durja, karena dia sadar akan “posisi” dia di kantor dan tugas yang harus dia kerjakan.</p>
<p>Kadang juga saya berpikir ketika melirik ke arah perjalanan karir teman-teman, dan saya langsung mengumpat dalam diri, “kemampuan saya lebih dari dia, kenapa saya masih gini-gini aja sih?!”. STOP berpikir seperti itu! Justru terkadang itulah yang menyiksa saya secara lahiriah dan batiniah. Bagaimana tidak? setiap malam susah tidur, esokannya kondisi tubuh menjadi kurang fit. STOP menyiksa diri!</p>
<p>Orang tua saya selalu bilang, “orang cengeng dan manja gak punya tempat di dunia ini! kamu mau jadi cengeng atau manja?”. Wah, dengan secepat kilat saya langsung menyambarnya dengan jawaban, “Ya gaklah!”. Tapi sebenarnya secara tidak sadar, bahwa dengan sering mengeluh, saya itu termasuk ke dalam kategori cengeng dan manja itu tadi.</p>
<p>Sore tadi juga saya mendapatkan ilmu yang sangat berharga dari seseorang yang sudah saya anggap seperti orang tua saya sendiri. Beliau selalu bilang, “Jalanin aja, and do your best!” dan “Untuk apa kamu mikirin yang gak penting. Cetek kaya gitu, gak usah dipikirin!”. Dalam hati saya kadang berpikir, “gampang amat yaaa, semua dibilang cetek! Gak Orang tua saya, gak Bapak?!”. Tapi untuk siapa saja yang membaca tulisan ini, saya minta untuk berintrospeksi bahwa “apa yang sebenarnya menjadi masalah? siapa yang menjadi biang masalah?” dan silahkan temukan jawaban masing-masing sampai jawabannya membuat anda menarik nafas dalam-dalam.</p>
<p>Ilmu yang sangat mahal, tetapi dikemas secara sederhana oleh orang-orang di sekeliling saya yang sangat saya cintai. Terimakasih!</p>
<p>Semua manusia itu diciptakan berbeda-beda, oleh karenanya setiap individu punya cara masing-masing dalam menghadapi keadaan stress. Mengeluh (curhat) boleh saja, tapi tidak boleh terlalu sering, karena perilaku mengeluh itu sangat tidak baik dan akan terus menggerogoti tubuh kita secara perlahan-lahan dan semakin menjerumuskan kita tanpa ada jalan keluar. Beruntung mereka yang bisa mengeluh (curhat) kepada orang yang tepat dan mendapatkan pencerahan. Tapi bayangkan mereka yang mengeluh kepada orang yang “salah”, bukan pencerahan yang didapat melainkan “pemadaman”. Pemadaman semangat, pemadaman daya juang yang pada akhirnya bisa menjerumuskan mereka menjadi “sampah” masyarakat.</p>
<p>Siapa mau menjadi sampah masyarakat? Dengan lantang saya menjawab TIDAK MAU! Oleh karena itu, saya akan terus berjuang menghadapi manis pahitnya kehidupan ini. Tak peduli ujian itu datang dalam bentuk apapun, akan saya hadapi. Saya hadapi dengan senyuman. Orang-orang HEBAT selalu punya cara sendiri utk menata hatinya, meski berlawanan dengan apa yg ia terima dalam kehidupan. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini untuk melakukan yang terbaik kapanpun, dimanapun. Jangan menyerah.</p>
<blockquote><p>“Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasanya bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa (Jangan Menyerah by D’Massiv)”</p></blockquote>
<p>20 Agustus 2009 &#8211; ds</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nyaman, nya man!]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/21/nyaman-nya-man/</link>
<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 14:36:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/21/nyaman-nya-man/</guid>
<description><![CDATA[ilustrasi ajah Nyaman pada sebuah pekerjaan, atau hanya “menyaman-nyamankan” diri pada pekerjaan yan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_405" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://hadisome.wordpress.com"><img class="size-medium wp-image-405" title="ilustrasi nyaman" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/10/ilustrasi-nyaman.jpg?w=300" alt="ilustrasi ajah" width="300" height="278" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi ajah</p></div>
<p>Nyaman pada sebuah pekerjaan, atau hanya “menyaman-nyamankan” diri pada pekerjaan yang sedang anda hadapi saat ini?</p>
<p>Sepintas tiada beda, dua-duanya hampir sama. Sama-sama dijalani! Bedanya, nyaman beneran (mungkin) berdasarkan hati yang ikhlas dan senang, sedangkan menyaman-nyamankan hanya berusaha supaya tidak mengeluh, tidak terbebani dengan pekerjaan meskipun itu memang sebuah beban.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Ada sebuah obrolan yang menarik ketika tadi saya bertemu dengan Pak Lurah di kelurahan yang saya “pegang”. Obrolan kami, yang awalnya berputar-putar mulai dari masalah politik terkini hingga flashback sang lurah tentang kehidupan pekerjaannya, mengerucut ke sebuah tema tentang karir dan jabatan seseorang. Konsep ikhlas dalam menjabat sebuah jabatan, biasanya akan benar-benar diterapkan manakala kita sedang menjabat suatu posisi. Tapi apa yang terjadi ketika jabatan itu hilang? Menangis meraung-raung bahkan sampai menggugat Sang Maha Adil. Padahal, menurut obrolan Pak Lurah tadi, Jabatan itu tidak lebih dari sebuah titipan. Titipan yang datangnya dari Tuhan, yang harus dijaga dan dijalankan sesuai amanah. Seratus persen tepat! Saya setuju dengan statement nya.</p>
<p>Lalu apa yang terjadi dengan para pejabat di Indonesia? Seperti tulisan saudari <a title="linda jalil" href="http://public.kompasiana.com/2009/10/18/dua-menteri-menangis-di-depan-saya-karena-tidak-terpilih-lagi/" target="_blank">Linda Jalil</a> di kompasiana, tentang menteri yang menangis ketika jabatannya tidak diperpanjang, agaknya banyak yang belum sadar dan paham tentang jabatan yang hanya sementara ini. Jika saja semua paham, kayaknya tidak akan ada lagi seremonial nangis Bombay berliter-liter air mata karena kehilngan sebuah jabatan. Apalah arti sebuah jabatan jika tidak dijalankan dengan amanah?</p>
<p>Kembali ke nyaman pada pekerjaan, sepertinya bisa dipastikan ketika seseorang diberi jabatan, apalagi setingkat menteri atau anggota DPR, maka rasa nyaman akan segera menjadi kata kunci, meskipun kata nyaman tersebut menjadi sebuah repetisi yang memakai imbuhan me-kan karena lahan yang digarapnya adalah lahan kering hehehe. Semoga kita tidak seperti itu……</p>
<p>HADI-cianjur</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sekedar Refleksi!(sebuah tulisan untuk kompasiana.com-lagi)]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/17/sekedar-refleksisebuah-tulisan-untuk-kompasiana-com-lagi/</link>
<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 04:27:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/17/sekedar-refleksisebuah-tulisan-untuk-kompasiana-com-lagi/</guid>
<description><![CDATA[“….Kawan coba dengar apa jawabnya, ketika ia kutanya mengapa? Bapa ibunya telah lama mati, ditelan b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>“….Kawan coba dengar apa jawabnya, ketika ia kutanya mengapa?</p>
<p>Bapa ibunya telah lama mati, ditelan bencana tanah ini.</p>
<p>Sesampainya dilaut, kukabarkan semuanya</p>
<p>Kepada karang kepada ombak kepada matahari</p>
<p>Tetapi semua diam, tetapi semua bisu</p>
<p>Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit,</p>
<p>Barangkali disana ada jawabnya</p>
<p>Mengapa ditanahku terjadi bencana</p>
<p>Mungkin tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita</p>
<p>Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa</p>
<p>Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita</p>
<p>Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”</p>
<p>Coba deh, telaah lirik lagu Ebiet G.Ade yang saya tulis diatas. Kemudian resapi dan maknai baris demi baris liriknya. Masih relevan bukan dengan keadaan Bangsa kita sekarang? Padahal seingat saya, lagu ini adalah lagu lama dan populer kembali ketika bencana tsunami meluluhlantakkan bumi serambi mekah tahun 2004 lalu.</p>
<p>Sebelum menulis ini, saya menulis sebuah tulisan berjudul “etis ngga sih?” yang sedikit mengulas tentang keberadaan kita di dunia maya yang juga harus menggunakan tatakrama seperti halnya di dunia nyata. Saya tidak ingin menyerang siapapun dalam  tulisan ini, namun karena merasa “kasihan” dengan seseorang yang memposting kejadian bencana dikaitkan dengan tindakan mistis, maka lahirlah tulisan ini.</p>
<p><!--more-->Coba telaah sekali lagi 4 baris terakhir lirik lagu kang Ebiet. Disitu terkandung sebuah refleksi yang dalam kepada diri kita bahwasanya kejadian bencana ini terjadi karena kita terlalu sering berbuat dosa. Tidak mau munafik, bahwa saya juga memberikan kontribusi untuk terjadinya bencana mengingat dosa-dosa yang saya lakukan (dan tidak mungkin diumbar disini, dosa apa itu). Tapi alangkah sempitnya pikiran saya jika karena terjadinya gempa di beberapa kota di Indonesia yang berturutan dalam dua bulan terakhir ini, kemudian saya menyalahkan seorang pimpinan negeri saya yang sama sekali saya tidak tau keseharian pribadinya seperti apa. Bukannya saya pro terhadap beliau, tapi ketika ada sebuah doa yang mengancam (<em>deuhhh aming banget gak sih gue hahaha</em>) ternyata sisi kemanusiaan saya terketuk dan tergerak untuk memberitahu bahwa doa keburukan untuk orang lain itu tidak boleh. Bayangkan deh jika anda berdoa untuk keburukan saya, dan para malaikat memanjatkan doa yang sama untuk anda? Ngeri ngga sih jika apa yang anda panjatkan itu akhirnya menjadi boomerang bagi diri anda sendiri?</p>
<p>Sekali lagi, saya hanya berharap, yuk kita isi kompasiana kita dengan bacaan-bacaan yang bermanfaat dan edukatif. Mariska Lubis dengan seks-nya, Omjay dengan tema kependidikannya, pak JK, pak Chappy Hakim, pak Adang Daradjatun, Mbak Marissa haque, dan  tokoh-tokoh lainnya dengan kepakarannya masing-masing. Mari kita buat kompasiana kita sebagai perekat persatuan dan kesatuan. Bukankah hal besar dimulai dari hal kecil yang seolah-olah sepele? Bukankah jarak ribuan kilometer dimulai dari sebuah langkah kecil dulu?</p>
<p>Alangkah indahnya, jika semua anggota yang memposting disini tidak melakukan ulah yang bisa memprovokasi. Jangan sampai deh kompasiana kita dibredel karena ulah oknum-oknum <em>anu teu</em> <em>tanggel waler</em> alias tidak bertanggung jawab.  Termasuk komentar-komentarnya juga, jangan saling memojokkan. Bukankah kompasiana lahir untuk menjembatani hasrat menulis saudara-saudara semua?</p>
<p>CMIIW <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Salam hangat dari kota kecil berhawa sejuk</p>
<p>HADI</p>
<div id="attachment_382" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://hadisome.wordpress.com"><img class="size-medium wp-image-382" title="lilin" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/10/lilin.jpg?w=300" alt="hehe, ilustrasi doang ini mah (dok.pribados)" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">hehe, ilustrasi doang ini mah (dok.pribados)</p></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Etis Ngga Sih?! (sebuah tulisan untuk kompasiana)]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/17/etis-ngga-sih-sebuah-tulisan-untuk-kompasiana/</link>
<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 02:51:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/17/etis-ngga-sih-sebuah-tulisan-untuk-kompasiana/</guid>
<description><![CDATA[etis ngga sih kalo nulis yang tidak2?? Sebuah blog public yang hampir berulang tahun, kompasiana, me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_377" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://hadisome.wordpress.com"><img class="size-medium wp-image-377" title="etis ngga sih" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/10/etis-ngga-sih.jpg?w=300" alt="etis ngga sih kalo nulis yang tidak2??" width="300" height="272" /></a><p class="wp-caption-text">etis ngga sih kalo nulis yang tidak2??</p></div>
<p>Sebuah blog public yang hampir berulang tahun,<a title="ini blog kompasiana, klik kalo belum tau" href="http://www.kompasiana.com" target="_blank"> kompasiana</a>, memiliki banyak pembaca yang selalu mengakses setiap hari. Ada yang aktif  menulis, tapi tidak sedikit yang hanya berkomentar saja. Tidak jadi masalah buat saya sebagai pembaca, mungkin juga buat para admin kompasiana jika saja komentar tersebut dikemas rapi dalam tulisan yang santun dan halus. Mengemukakan ide adalah hak setiap orang dan pembaca kompasiana.</p>
<p><!--more-->Pagi-pagi (<em>saya menulis ini pagi2 hehe</em>) sambil menyantap sarapan mie buatan sendiri di hari libur ini, saya sudah membaca beberapa artikel kompasiana yang sehat. Tulisan<a title="Klik kalo mau baca" href="http://public.kompasiana.com/2009/10/17/menggugat-feodalisme-di-kompasiana-dalam-rangka-ultah/" target="_blank"> prof. Nurtjahjadi</a> yang mencerahkan, <a title="tulisan seorang Unang muchtar tentang MIYABI nya" href="http://public.kompasiana.com/2009/10/17/saya-pernah-membawa-dan-pergi-dengan-miyabi-dia-memang-lincah/" target="_blank">Mas Unang Muchtar</a> yang bikin keder (maaf mas, emang saya bingung), dan beberapa artikel sahabat kompasiana lainnya yang memberikan pencerahan dan juga ide buat saya. Tapi alangkah kecewanya saya bahwa ternyata masih ada orang (baca: Oknum) yang masih memojokan satu pihak, dan kebenarannya pun masih diragukan, memposting tulisannya. Bernada menyalahkan pihak tersebut, yang notabene adalah seorang yang dikenal publik, dan seolah-olah sang penulis tersebut lah yang benar dan bisa meramal setiap kejadian yang akan terjadi di Indonesia. Tulisannya yang berbau mistis, membuat saya agak ngeri sendiri dan membayangkan bagaimana seandainya sang penulis tersebut salah? Tentunya dia sudah menyebar fitnah yang keji bukan?</p>
<p>Semua punya hak yang sama untuk menulis di publikblog kompasiana. Tidak ada yang melarang-larang jika kita ingin menulis apa yang kita ingin tuangkan. Namun, menurut hemat saya, setiap penulis WAJIB mereview tulisannya dan berpikir kedalam “kira-kira tulisannya etis atau tidak jika ditampilkan di khalayak publik?”. Jika mengacu pada pepatah ‘rambut boleh sama hitam, isi kepala siapa yang tau’ agaknya kode etik harus tetap menjadi pertimbangan. Bayangkan saja, jika tulisan tak berdasar tersebut dibaca anak kecil atau remaja yang belum bisa memfilter kebenaran sebuah berita, bukan tidak mungkin kelak dikemudian hari mereka akan berpendapat bahwa sebuah kejadian alam terjadi karena adanya perjanjian syetan dengan manusia yang ingin meraih puncak kesuksesan. Jika ini terjadi, bukan tidak mungkin akan lahir sebuah generasi ateis yang tidak mempercayai lagi adanya Alloh SWT yang MAHA AGUNG. Terlalu ekstrim jika saya meminta kepada admin untuk tidak menampilkan tulisan yang mengandung unsure provokatif, karena saya tau setiap jamnya input tulisan ke kompasiana itu banyak.  Jadi untuk tetap menyehatkan rumah kompasiana ini, agaknya kita sebagai kasta paling rendah (meminjam istilah Prof.Nurtjahjadi untuk menyebut blogger public) untuk saling mengingatkan satu sama lain agar tidak terpancing provokasai satu pihak saja, serta tidak memprovokasi blogger pembaca di kompasiana.</p>
<p>Sebagai contoh kasus, saya pernah menerbitkan sebuah tulisan yang berisi rekaman percakapan mistis ketika gempa Cianjur terjadi. Karena belum banyak yang tau dengan rekaman tersebut, pikiran nakal saya tiba-tiba ingin  mempublikasikannya di notes facebook saya melalui bahasa tulis yang saya buat. Ternyata saya mendapat protes keras dari kakak saya yang kebetulan adalah seorang Polisi yang bertugas di polres Karangasem Bali yang kebetulan membaca tulisan saya, awalnya memang saya tidak terima dan merasa bahwa  kebebasan saya dihambat. Tapi setelah saya kaji ulang, ternyata memang benar, tulisan saya ini sudah melanggar etika untuk tampil di muka umum dan akan meresahkan masyarakat kita yang belum bisa membedakan antara mistis dan logis. Karena kesadaran itulah akhirnya saya menghapus postingan tersebut.</p>
<p>Pun demikian dengan teman-teman disini, agaknya blog pribadi akan menjadi tempat yang leluasa jika ingin menuangkan segala macam unek-unek yang tidak bisa tersampaikan langsung. Percayalah, meskipun blog anda belum terkenal, suatu saat nanti pasti akan ada yang mampir dan masuk ke blogweb anda. Jangan kotori rumah sehat kompasiana dengan tangan jahil anda. Berbagilah ilmu yang bermanfaat untuk sesama pembaca, niscaya anda akan mendapat tempat dihati para pembaca disini.</p>
<p>Terimakasih sudah membaca</p>
<p>Salam dari kota kecil berhawa sejuk di kaki gunung Gede-Pangrango</p>
<p>HADI</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengeluh, Menyerah dan Bangkit]]></title>
<link>http://whenkz.wordpress.com/2009/10/15/mengeluh-menyerah-dan-bangkit/</link>
<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 17:09:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>whenkz</dc:creator>
<guid>http://whenkz.wordpress.com/2009/10/15/mengeluh-menyerah-dan-bangkit/</guid>
<description><![CDATA[Saya suka sekali kata bijak satu ini, karena sering mengalaminya sendiri juga dan teman ternyata mem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Saya suka sekali kata bijak satu ini, karena sering mengalaminya sendiri juga dan teman ternyata memang bisa berpengaruh sangat besar. Berikut ini kalimat mutiaranya:</p>
<p><strong>Dalam kehidupan, manusia terkadang mudah mengeluh dan menyerah pada keadaan. Tapi dengan dorongan orang-orang yang kita cintai disekitar kita, semangat kita akan bangkit kembali dan meraih kemenangan</strong>.</p>
<p>Tambahan:<br />
Jadi, jika Anda sedang down maka gunakanlah teman dan mintalah orang-orang dekat untuk memberi motivasi dan dorongan kepada Anda. Sebaliknya jika Anda merasakan teman atau orang dekat Anda sedang mengalami hal itu, maka pastikan Anda memberikan suatu kontribusi. Kontribusi banyak sekali bentuknya termasuk memotivasi dan mendorong mereka untuk bangkit adalah kontribusi yang luar biasa harganya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[perjalanan yang pendek]]></title>
<link>http://likisuklam.wordpress.com/2009/10/15/perjalanan-yang-pendek/</link>
<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 16:16:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>likisuklam</dc:creator>
<guid>http://likisuklam.wordpress.com/2009/10/15/perjalanan-yang-pendek/</guid>
<description><![CDATA[hidup terlalu singkat untuk di tangisi, tetapi hidup ini memang paantas untuk ditangisi, hidup menja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>hidup terlalu singkat untuk di tangisi, tetapi hidup ini memang paantas untuk ditangisi, hidup menjadi sangat singkat, ketakutan datang sendiri, resah tak diundang, gundah gulana sepanjang hari, semua memang pasti berakhir semua pasti takut, takut akan keresahan yang tak datang lagi, gundah gulana yang tak menyertai dan takut dengan semua keyakinan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Menangis Mama]]></title>
<link>http://dianasihotang.wordpress.com/2009/10/15/jangan-menangis-mama/</link>
<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 02:32:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>dianasihotang</dc:creator>
<guid>http://dianasihotang.wordpress.com/2009/10/15/jangan-menangis-mama/</guid>
<description><![CDATA[Bu Sally segera bangun ketika melihat dokter bedah keluar dari kamar operasi. Dia bertanya dengan pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bu Sally segera bangun ketika melihat dokter bedah keluar dari kamar operasi. Dia bertanya dengan pe]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cianjur Dalam Gambar]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/11/cianjur-dalam-gambar/</link>
<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 05:31:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/11/cianjur-dalam-gambar/</guid>
<description><![CDATA[Tadi pagi coba2 bikin Windows Movie, dan inilah sebagian cianjur dalam gambar yang saya kemas dalam ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tadi pagi coba2 bikin Windows Movie, dan inilah sebagian cianjur dalam gambar yang saya kemas dalam bentuk video, foto-fotonya saya ambil secara amatiran, ada beberapa foto  yang dari internet hehhehe&#8230;</p>
<p>selamat menikmati yaaaaa&#8230;..</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/2BvFbag7ESM&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/2BvFbag7ESM&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[FLASHBACK 3- CERITA PRIBADI SEBUAH PENGABDIAN (SEASON 1-PART 3)]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/11/flashback-3-cerita-pribadi-sebuah-pengabdian-season-1-part-3/</link>
<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 23:14:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/11/flashback-3-cerita-pribadi-sebuah-pengabdian-season-1-part-3/</guid>
<description><![CDATA[rata-rata, jalanan ke cianjur selatan seperti ini ketika saya masih bertugas disana hehehe...(dok. p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_331" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://hadisome.wordpress.com"><img class="size-medium wp-image-331" title="nih jalan yang suka saya lalui (dok.pribadi)" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/10/jalankhaskidul.jpg?w=300" alt="rata-rata, jalanan ke cianjur selatan seperti ini ketika saya masih bertugas disana hehehe...(dok. pribadi)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">rata-rata, jalanan ke cianjur selatan seperti ini ketika saya masih bertugas disana hehehe...(dok. pribadi)</p></div>
<p>Ini adalah cerita ketiga kisah saya yang menerjang jalan berbatu, disebuah tempat pelosok Cianjur, yang masih di pulau Jawa, yang masih di Jawa Barat, yang masih berada di ujung paling selatan ibukota Negara Republik tercinta ini.</p>
<p>Kenapa saya memulai dengan prolog seperti diatas? Jika anda mengikuti part 1 dan 2, anda akan mengetahui ternyata pembangunan yang belum merata di negeri kita tidak hanya ke wilayah tengah dan timur saja, tidak hanya menyebrang pulau saja, tapi masih berada disatu pulau bahkan diujung yang berlawanan dengan Ibukota RI yang merupakan Pusat segala peradaban, kemajuan, uang, teknologi, politik dan Impian bagi para perantau.</p>
<p>Miris rasanya hati saya ketika mengetahui betapa tertinggalnya pembangunan ke daerah selatan provinsi Jawa Barat ini. Bandingkan dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang sudah menjadikan daerah pesisir selatannya sebagai sebuah kota otonom dengan wilayah yang tidak terlalu besar.<!--more--> Saya tidak perlu meminjam mata dan telinga untuk menyaksikan ketertinggalan wilayah selatan Cianjur, karena sepanjang 3 tahun saya bertugas ke selatan-lah saya benar-benar menyaksikannya dari dekat. Awal saya bertugas ke Kecamatan Leles, untuk mendapatkan sinyal HP, saya harus berada diluar bangunan. Sinyal yang paling bagus saat itu hanyalah Telkomsel. Bandingkan dengan keadaan di Jakarta pada saat yang sama-tahun 2006-!</p>
<p>Stop, cukup bermiris-mirisnya. Sekarang saya mau menceritakan pengalaman menarik saya-menarik versi saya, jadi anda jangan protes. Toh ini blog pribadi saya, biarpun ada yang bilang isi blog ini <em>teu pararuguh</em>, WHATEVER! Kalo suka, silakan kunjungi. Kalo ngga suka, tinggalkan!!!! Gak perlu berkomentar isi blog <em>teu pararuguh</em> segala, mending kalo blog komentator nya <em>pararuguh</em> hahahaha, sama juga, <em>teu pararuguh</em>!!! (aduh bingung, bahas apa si hadisome ini? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> )</p>
<p>Hari itu, sebuah hari di bulan ramadhan 2007. Saya berniat dan bertekad untuk berangkat ke Leles menggunakan motor karena saat itu saya sudah berpartner dengan seorang penyuluh pertanian, bernama Agi nurjaman, dan seorang karyawan kecamatan bernama Hendi Dradjat. Dua-duanya sesama orang Cianjur kota seperti saya hehe. Hari itu, agi dan hendi berboncengan satu motor, sedangkan saya membawa motor biru tidak layak pakai dari kantor saya tersebut. Nekad dan tidak ada pilihan lain. Motor bobrok saya pakai untuk jarak tempuh yang lebih jauh daripada Cianjur Jakarta!</p>
<p>Perjalanan dimulai pukul 8 pagi, beriringan dua motor. Cuaca agak panas, namun tidak menyurutkan kami untuk terus melaju. Satu jam, dua jam… terus kami melaju. Di kecamatan pagelaran, kami beristirahat disebuah mesjid untuk melaksanakan solat duhur dan sekedar melepas penat. Tidak lama, kami melanjutkan kembali perjalanan. Belum ada masalah dengan motor saya hingga di jalur patrol yang saat itu jalannya sudah mulai rata karena ada pengaspalan. Namun, ketika melalui perkebunan karet yang luas, kok kecepatan motor saya tidak bisa di over ke gigi besar. Ada yang salah dengan motor ini! demikian saya berpikir. Namun, karena kondisi jalan yang menurun, saya tetap melanjutkan perjalanan. Kang Agi dan Kang Hendi sudah berada jauh di depan saya dan tidak terlihat karena ditelan tikungan, sedangkan saya masih berusaha mengover-over gigi motor butut tersebut. Begitu memasuki jalan datar, kecepatan motor saya berkurang, dan makin melambat. Akhirnya saya menepi dan memeriksa apa gerangan yang terjadi. What!?!? Rantai nya putus, dan saya tidak mengerti bagaimana cara memperbaikinya. Duh, Kang agi dan Kang Hendi sudah melaju jauh pula. Akhirnya setelah berulang-ulang saya menelpon kang agi tidak diangkat-karena lagi mengendarai motornya- akhirnya kang Agi tau kalo saya sedang kesulitan. Atas nama solidaritas, mereka pun kembali lagi dan membantu saya. Kami bertiga sama2 kebingungan karena sambungan rantai yang putus itu tidak ditemukan. Analisanya, rantai sudah putus sekitar 2-3 Km sebelumnya. Akhirnya dengan mendorong motor, saya menuju sebuah perkampungan terdekat. Mungkin sekitar 0.5 Km.</p>
<p>“Oh panginten teeh dihaja pak (Oo saya pikir disengaja Pak)” demikian komentar pemilik bengkel yang sedang membetulkan rantai saya. Sengaja? Duh, alasan bodoh apa yang dimiliki seorang pengendara motor jika membiarkan rantai motornya putus dengan sengaja. Ah, dasar orang!</p>
<p>“Abdi tadi ge tos ningal, mung diantep we da sugan teh dihaja (saya juga udah liat dari tadi, Cuma ya saya biarin aja, kirain sengaja)” timpal seseorang di bengkel sederhana tersebut. Arrggghhhh, mau marah rasanya. Diotakatik beberapa lama, tidak kunjung berhasil akhirnya memaksa saya membeli rantai baru dan beruntung saya mendapatkannya dengan harga yang jauh lebih mahal.</p>
<p>Fiuhhhh, setelah berjuang habis-habisan melalui (lagi) jalan batu, saya pun tiba di Leles sekitar pukul 4. Kami segera mencari makanan untuk berbuka, dan Alhamdulillah masih dapat walaupun sangat sangat alakadarnya dan sederhana.</p>
<p align="center">########</p>
<p align="center">
<p>Senangnya karena sudah waktunya balik dari tempat tugas. Kami bertiga berangkat kamis jam 10an karena kecamatan sudah sangat sepi sebab  Karyawan-karyawan TKS lokal sudah tidak datang ke kantor menjadi alasan kami untuk segera meninggalkan Leles. Memilih jalan Ciburang untuk menuju Cianjur melalui Kadupandak, yang belum pernah saya lawati, atas ide kang Agi sekalian meninjau pembuatan jalan tembus baru. Baru sekitar 2 Km dari kecamatan, saya sudah mengalami ‘penderitaan’. Ban motor yang saya tumpangi bersama seorang pegawai kecamatan, gembos. Habisssss, tak bersisa.</p>
<p>Siang yang terik dan harus mendorong motor pula, jalanannya tanjakan dan batu pula…huaaaa betapa menderitanya saya hik hiks..</p>
<p>Namun, dibalik semua derita tersebut ternyata mengandung hikmah dan cerita yang bisa saya bagikan untuk anak cucu saya kelak.</p>
<p>(bersambung atau tamat ya?? Hmmm bersambung deh hehehe)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[FLASHBACK 2- CERITA PRIBADI SEBUAH PENGABDIAN (SEASON 1-PART 2)]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/08/flashback-2-cerita-pribadi-sebuah-pengabdian-season-1-part-2/</link>
<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 12:15:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/08/flashback-2-cerita-pribadi-sebuah-pengabdian-season-1-part-2/</guid>
<description><![CDATA[Sambungan dari part-1. Klik disini kalo pengen baca! Masuk musim penghujan, sungguh sangat tidak men]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sambungan dari part-1. <a title="cerita Part 1, klik aja biar seru bacanya!!!!" href="http://hadisome.wordpress.com/2009/10/06/flash-back-cerita-pribadi-sebuah-pengabdian-season-satu-part-1/" target="_blank">Klik disini kalo pengen baca!</a></p>
<p>Masuk musim penghujan, sungguh sangat tidak mengenakan ketika harus bertugas ke pelosok. Apalagi fasilitas kendaraan operasional kantor yang sangat tidak layak pakai membuat saya memilih menggunakan angkutan umum elf menuju ke tempat tugas bernama Leles tersebut.</p>
<p>Sungguh, bukan sebuah pengalaman yang menarik untuk diulang , namun karena ketiadaan fasilitas kendaraan akhirnya saya memilih moda transportasi beroda empat untuk menuju sebuah kampung bernama Leles tersebut. Setiap kali berangkat tugas, saya harus berjejal-jejal berbagi tempat duduk bersama penumpang lain warga asli Leles yang pulang dari Kota. Tidak hanya manusia yang menumpang angkutan ini, sepeda anak, sayuran, buah-buahan, bahan-bahan material, bahkan kambing dan ayam pun turut serta menjadi penghuni sarana transportasi tersebut, serta disimpan diatas atap mobil itu. Bahkan penumpang orang pun kadang naek ke atap kap mobil dan duduk disana, tidak peduli panas menyengat dan hujan gerimis, yang penting sampai! Karena jarangnya angkutan dari dan menuju ke Leles.</p>
<div id="attachment_319" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="alignright size-medium wp-image-323" title="moda transportasi Cianjur selatan" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/10/skulah.jpg?w=300" alt="moda transportasi Cianjur selatan" width="300" height="225" /><br />
<p class="wp-caption-text">beginilah moda transportasi menuju cianjur selatan</p></div>
<p>Tidak usah saya gambarkan bagaimana bentuk elf tersebut. Anda lihat saja angkutan pemulangan TKI, nah seperti  itulah gambarannya.<!--more--></p>
<p>Adalah satu hari dimana saya harus mengambil hasil pendataan rakyat miskin yang layak diberi kartu asuransi kesehatan untuk keluarga miskin –belakangan bernama Jamkesmas. Memang sebenarnya leading sector nya adalah dinas kesehatan, tapi entah kenapa ketika dilapangan dan berhubungan dengan pendataan petugas penyuluh KB lah yang kebagian proyek tanpa uang tersebut hehehe. Dua desa binaan yang saya pegang, tidak ada masalah ketika saya mengambil hasil di desa Pusaka sari yang merupakan ibukota kecamatan Leles. Stop, anda jangan membayangkan ibukota kecamatan seperti di kota. Yang dimaksud ibukota kecamatan disini hanya karena ada beberapa pertokoan grosir, pemberhentian elf terakhir, kantor desa, kantor kecamatan, puskesmas, dan sebuah MTs yang merangkap menjadi SMA disore hari nya. Desa binaan saya yang lain yaitu desa Karyamukti, berada di seberang sungai Cisokan yang cukup lebar. Yang menarik untuk diceritakan disini adalah akses untuk menuju Karyamukti.</p>
<div id="attachment_320" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-320" title="RAWASORO" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/10/rawasoro.jpg?w=150" alt="ilustrasi sungai" width="150" height="112" /><p class="wp-caption-text">ilustrasi sungai</p></div>
<p>Seperti saya bilang tadi, desa Karyamukti berada di seberang sungai Cisokan yang cukup lebar. Bukan sekali dua kali saya kesana. Meskipun belum ada jembatan penghubung antara Karyamukti dan Pusakasari, saya menyeberang dengan cara turun langsung ke sungai jika sedang musim kemarau. Toh Cuma semata kaki tinggi air sungainya. Jadi, no problemo! Tapi, hari itu adalah musim hujan. Musim dimana debit air sungai cisokan sedang tinggi-tingginya. Warga sekitar memilih menaiki rakit atau memutar ke desa sukamulya yang jaraknya lebih jauh untuk mencapai ibukota kecamatan. Lain dengan saya, karena diburu waktu dan memang deadline pengumpulan data adalah hari besoknya, maka tidak ada jalan lain selain memotong kompas menggunakan rakit. Saya bulatkan tekad!  Sepatu boot merek AP hasil pinjaman dari orang kecamatan saya pakai (karena belum pengalaman, saya tidak melapisi kaki saya dengan kaos kaki dan hasilnya hehehe bisa ditebak, kaki saya lecet-lecet). Kemudian sekitar 1 Km saya berjalan ke mulut sungai untuk menyeberang.</p>
<p>Ya Tuhan, airnya lagi pasang. Tidak ada orang yang sedang menggunakan rakit! Rakit ada disisi seberang sana. Saya pun termangu disisi sungai berwarna coklat tersebut. Bingung dan panik ketika melihat arus sungai yang deras yang mungkin setinggi pinggang saya jika saya nekad turun ke sungai untuk menyeberang. Akhirnya saya diam beberapa saat hingga seseorang dari seberang sana muncul, dengan berteriak lantang laki-laki tersebut menanyai saya yang berseragam lengkap seorang PNS.</p>
<p>“Pak, Bade kamana? (Pak, mau kemana?)” teriaknya</p>
<p>“Ka Karyamukti.” Jawab saya tak kalah lantang</p>
<p>“Kana rakit we, wios ku abdi di dorong da abdi ge petugas desa karyamukti (Naik rakit saja, biar saya yang dorong. Saya juga petugas desa karyamukti).” Jawabnya membuat saya setengah gembira.</p>
<p>Dengan sigap dan tanpa aba-aba, cebur cebur, dia turun ke sungai dan mendorong rakit tersebut hingga ke tepi dimana saya berdiri. Dia mengkomando saya untuk naik rakit tersebut, dan dia tetap mendorong. Lebih dari paha tinggi air di orang yang berperawakan lebih tinggi dari saya itu. Selesaikah kepanikan saya? Belum… arus air yang deras, ditambah ketidakbisaan saya berenang membuat nyali saya ciut. Ya Alloh selamatkan lah hamba hingga tepi sebelah sana. Pertolongan Tuhan datang disaat yang tepat, demikian kesimpulan saya setelah tiba di seberang sungai.</p>
<p>Ternyata penderitaan saya belum selesai, jalan tanah yang menjadi satu-satunya akses ke karyamukti sudah berubah menjadi lumpur yang sulit dilalui. Tanggung, sudah ¾ jalan, saya harus bisa mencapai rumah kepala desa, tempat saya bertemu dengan aparat desa yang akan menyerahkan data tersebut. Menyeret langkah dengan berat karena tumpukan tanah bercampur lumpur di  sepatu boot saya, akhirnya saya berhasil tiba di rumah sang kepala desa. Tidak perlu waktu lama untuk mengambil data tersebut karena sudah tersedia. Saya pun kembali menuju mess kecamatan, itu artinya saya harus melewati sungai itu lagi, naik rakit lagi! Beruntung, ketika saya menyeberang ada orang desa karyamukti yang juga akan menyebrang. Bedanya, rakit tersebut didayung dengan menggunakan galah bamboo, tidak didorong dengan tangan. Ini lebih menantang karena saya harus menjaga keseimbangan. Dengan penuh kecemasan, akhirnya saya pun berhasil menyelesaikan tugas itu dengan baik….. (bersambung)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Flash Back - Cerita pribadi sebuah pengabdian (season satu-part 1)]]></title>
<link>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/06/flash-back-cerita-pribadi-sebuah-pengabdian-season-satu-part-1/</link>
<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 12:39:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>hadisome</dc:creator>
<guid>http://hadisome.wordpress.com/2009/10/06/flash-back-cerita-pribadi-sebuah-pengabdian-season-satu-part-1/</guid>
<description><![CDATA[Ini adalah sebuah kisah rutinitas saya ketika harus bekerja menembus hutan belantara hanya  untuk se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ini adalah sebuah kisah rutinitas saya ketika harus bekerja menembus hutan belantara hanya  untuk sesuatu bernama “PENGABDIAN”.<!--more--></p>
<p>Adalah Leles, sebuah kecamatan nunjauh di ujung selatan sebuah Kabupaten di  Jawa Barat yang bernama Cianjur. Berjarak tempuh sekitar 125 km dari pusat pemerintahan Cianjur, tempat ini merupakan sebuah kecamatan pemekaran dari kecamatan induknya yang bernama Agrabinta (yang sering diplesetkan menjadi Argentina-saking jauhnya dari Cianjur hehehe). Untuk mencapai tempat ini diperlukan nyali yang besar dan tenaga yang ekstra kuat. Kenapa begitu? Saya mengalaminya sendiri dan akan saya ceritakan sebagai sebuah flashback awal mula perjalanan saya menjadi seorang pegawai pemerintahan.</p>
<p>Saya tidak menyangka sedikipun jika akhirnya saya harus menjadi sebuah bagian dari sistem birokrasi Negara tercinta ini. Meskipun hanya untuk scope kabupaten, tapi disinilah ternyata sebuah pengabdian dari seorang pegawai muda yang siap ditempatkan dimana saja (sesuai surat pernyataan bermaterai yang ditandatangi saya sendiri) dimulai. Hari itu, sebuah hari di bulan September 2006 saya melakukan perjalanan pertama ke wilayah selatan Cianjur. Tidak banyak informasi yang saya ketahui tentang wilayah selatan Kabupaten kelahiran saya tersebut, selain <em>” pakidulan mah jalanna muir, jalanna jiga jalan ka cai”</em>. Dengan diantar oleh saudara saya menggunakan motor, saya akhirnya mengetahui juga bahwa Kabupaten ini ternyata jauh lebih luas dibanding ibukota Negara RI. Perjalanan dimulai dari rumah saya tepat pukul enam pagi, tujuan pertama saya adalah kecamatan Pagelaran yang berjarak tempuh leihkurang 65 Km dari pusat kota. Menggunakan motor dengan kecepatan sedang, ternyata memakan waktu lebih dari dua jam (sebagai perbandingan, jarak Cianjur Bandung yang 63 Km bisa ditempuh ‘hanya’ dalam waktu 1,5 jam tanpa macet). Jalanan yang dilalui tidak selebar jalan-jalan protocol di sepanjang jalur provinsi, memiliki jalur unik karena berliku-liku sepanjang jalan dengan sisi-sisi berupa tebing atau bukit dan jurang disisi yang berlawanan, sehingga harus ekstra hati-hati bagi pemula seperti saya waktu itu. Permukaannya pun tidak rata, itulah pembenaran saya yang menempuh waktu lama untuk jarak yang hampir sama hehehe.</p>
<p>Tiba di pagelaran hampir pukul 9.00 WIB, akhirnya saya bertemu dengan atasan saya – yang akhirnya saya bekerja sama dengannya selama tiga tahun-. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, akhirnya kami (saya dan atasan saya) berangkat menuju kecamatan Leles, tempat tugas saya yang pertama sebagai penyuluh lapangan. Kami membawa motor masing-masing. Saya mengekor dibelakang atasan saya karena tidak tau rute yang akan dilalui. Sepanjang jalan, saya lebih banyak takjub melihat alam Cianjur selatan yang masih natural. Sawah gunung hutan kami lalui, belum ada keluhan yang keluar dari mulut pengeluh saya hingga akhirnya tiba di perempatan patrol . Dari perempatan inilah nyali dan fisik saya mulai diuji, betapa tidak… ternyata permukaan jalan yang dilalui tidak seperti permukaan jalan pada umumnya yang halus dan rata. Gundukan batu pecah berserakan! Itulah permukaan jalan yang saya lalui untuk mencapai kecamatan pemekaran tersebut. Ketika saya membaca papan penunjuk jalan, tertulis “AGRABINTAà30KM”. ya Alloh, masih jauhkah? Sementara jarak tempuh yang sudah saya lalui dari pagelaran menuju perempatan ini saja sudah hampir  dua jam, itu artinya hampir  60 Km.  Dan jika saya total dari Cianjur hingga perempatan ini saja sudah hampir 120 Km. “Bismillah” saya menguatkan diri.</p>
<div id="attachment_311" class="wp-caption alignleft" style="width: 295px"><img class="size-thumbnail wp-image-311 " title="cianjur dalam gambar" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/10/cianjur-dalam-gambar.jpg?w=150" alt="cianjur" width="285" height="212" /><p class="wp-caption-text">kurang lebih, inilah foto2 tempat yang saya lalu ketika akan &#39;mengabdi&#39; di tempat tugas hehe</p></div>
<p>Awalnya masih takjub dengan pemandangan yang saya lihat, hamparan luas tegalan alang-alang, alur sungai cibuni yang meliuk-liuk yang saya lihat dari ketinggian gunung bengbreng, hamparan pesawahan, dan pemandangan alami lainnya yang tidak mungkin saya lihat di kota membuat saya melupakan permukaan jalan yang tidak rata. Eksotik.</p>
<p>Jalan yang dilalui pun sepi. Hanya satu dua rumah penduduk yang saya lalui, sisanya adalah kebun karet, hutan jati, dan hutan yang kelihatannya memang sudah lama tumbuh diwilayah itu. Hampir menunjukkan adzan duhur, saya memasuki desa pertama kecamatan leles tersebut, namanya desa MANDALAWANGI. Disini keluhan saya, yang akhirnya menjadi keluhan khas ketika harus bertugas ke Leles, mulai muncul. “Duh.. ini jalan meuni gak ada habisnya.. jelek banget!!! Wajar kalo disebut susukan saat (sungai kering). Kok orang-orang betah ya tinggal disini?” demikian cerocos saya yang tidak terungkap alias hanya dalam hati. Di desa ini, ada sebuah SMP Negeri, dan ketika saya melewatinya anak2 SMP baru saja bubar. Banyak diantara mereka yang menunggu angkutan. Sekedar informasi, angkutan yang lewat bisa dikatakan super sanagta jarang, mungkin satu jam Cuma 1. Dan yang membuat saya menahan senyum adalah mereka sampai nekat naik ke atap angkutan tersebut saking  penuh sesaknya dan tidak ada lagi angkutan (mungkin baru muncul satu jam kemudian hehehe). Kasian juga yaaa, tapi yang patut saya acungi jempol adalah semangat mereka buat bersekolah. Setelah melewati Mandalawangi, akhirnya saya memasuki sebuah desa bernama HAMERANG. Desa ini masuk kecamatan tetangga leles, yaitu Cibinong. Sumpahhhh…jalannya butttttttuuuuuuuuuuuttttt pisan.</p>
<div id="attachment_313" class="wp-caption alignleft" style="width: 261px"><img class="size-thumbnail wp-image-313" title="liat permukaan jalannya..:p" src="http://hadisome.wordpress.com/files/2009/10/jalankidul1.jpg?w=150" alt="beginilah kira2 jalan yang saya lalui ketika akan 'bertugas'" width="251" height="187" /><p class="wp-caption-text">beginilah kira2 jalan yang saya lalui ketika akan &#39;bertugas&#39;</p></div>
<p>Ngeriiiiiii…. Jalan batunya lebih buruk dibanding pas perempatan patrol, tapi sebelas duabelas sama jalan Mandalawangi. Jalanan terus menurun dengan sisi kanan kiri berupa jurang. Huffff…</p>
<p>Tunggu!!! Saya melihat ada dua anak SMP yang sedang berteduh dibawah sebuah pohon rindang, dan ketika melirik jam ternyata sudah jam 2 lewat. Buset, mereka berjalan kaki dari sekolahnya??? Padahal jalur yang mereka lalui: 1) hutan belantara, 2) jalan batu, 3) jaraknya jauh, dari sekolah sampe ke pohon rindang tersebut hampir dua jam. Akhirnya kami berhenti dan menawari dua murid SMP tersebut untuk ikkut serta. Asli, saya masih kaku boncengin orang di jalan yang sungguh tidak pernah saya lalui. Naluri ‘jurnalis’ pun muncul, selama membonceng si anak saya mengajukan beberapa pertanyaan. Dan jawaban2 si anak membuat saya terenyuh dan makin bersyukur bahwa saya dilahirkan dilingkungan yang setidaknya lebih kota dibanding mereka. Bayangkan, mereka berangkat subuh2 untuk ke sekolah karena jarak sekolah dan rumah mereka sangat jauh. Berebutan angkutan elf bersama murid2 lain dan penumpang2 orangtua yang akan menuju ke Cianjur Kota. Masih syukur rebutan sama orang, kadang mereka harus duduk diatap kap mobil elf tersebut bersama beberapa ekor kambing atau beberapa hasil bumi yang akan dijual ke Cianjur. sedihnya! Kemudian, untuk pulang sekolah mereka melakukan hal yang sama. Bahkan jika tidak kebagian angkutan, mereka harus rela berjalan kaki menempuh puluhan kilometer melewati hutan belantara, bahkan katanya kadang ketemu biawak yang sedang berjemur. HEBAT, saya angkat jempol untuk semangat kedua anak Pelosok ini bersekolah. Tidak terasa,anak tersebut tiba ditujuan, yakni sebuah pangkalan ojek perkampungan bernama Tangkil. Tidak banyak rumah penduduk di kampong tersebut, tapi saya membandingkan setidaknya kampong ini ada kehidupan dibanding tempat mereka berteduh seebelumnya yang berupa semak belukra bagian sebuah belantara hutan alami. Dari Tangkil inilah petualangan sejati saya dimulai. Saya harus menuruni turunan curam bersisi tebing disebelah kiri dan jurang disebelah kanan dengan permukaan jalan yang lagi2 batu. Ngeri!</p>
<p>Akhirnya, keluhan2 kembali keluar dari mulut saya bercampur dengan dzikir menyebut nama-Nya karena takut melihat jurang yang dalam. Tidak terbayang bukan?!?!?  Setelah di total  dari perempatan patrol tadi, sudah hampir dua jam saya ber’adventure’ di jalan batu tersebut, dan saya belum sampai juga, sial!</p>
<p>Sabar! Hanya kata itu yang akhirnya menjadi kata penguat saya untuk tiba dilokasi kecamatan Leles. Hampir menjelang magrib saya tiba di mess kecamatan leles. Artinya hampir seharian saya berada dijalanan. Berangkat dari rumah pukul 6 pagi, dan tiba di tempat tujuan hampir pukul enam sore. Ketika saya tiba, Tidak ada orang yang tampak disana. Sepiiiiiiiii… perkampungan yang tidak dihunyi orang banyak, dan  ‘penderitaan’ pun bertambah sempurna ketika setelah magrib lampu mati. Informasi yang saya dapat, ternyata tegangan ke daerah tersebut sering sekali turun setelah magrib, dan mati lampu adalah hal yang biasa. Ya Alloh, beginikah sebuah pengabdian?</p>
<p>Inilah awal penggalan cerita saya bertugas di pedalaman sisi selatan sebuah Kabupaten di Jawabarat, Cianjur. (bersambung…..)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
