<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>menulis-kreatif &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/menulis-kreatif/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "menulis-kreatif"</description>
	<pubDate>Sat, 25 May 2013 00:02:54 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Tugas #7]]></title>
<link>http://astafameallgoods.wordpress.com/2010/05/29/tugas-7/</link>
<pubDate>Sat, 29 May 2010 05:34:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Tanti Prawidyasari</dc:creator>
<guid>http://astafameallgoods.wordpress.com/2010/05/29/tugas-7/</guid>
<description><![CDATA[Posted on 25 April, 2007 by sukab Saksi Mata Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Posted on 25 April, 2007 by sukab</p>
<h1><strong>Saksi Mata</strong></h1>
<p>Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba  udara. Dari lobang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari lobang mata itu.</p>
<p>Darah membasahi pipinya membasahi bajunya membasahi celananya, membasahi sepatunya dan mengalir perlahan-lahan di lantai ruang pengadilan yang sebetulnya sudah dipel bersih-bersih dengan karbol yang baunya bahkan masih tercium oleh para pengunjung yang kini menjadi gempar dan berteriak-teriak dengan emosi meluap-luap sementara para wartawan yang selalu menanggapi peristiwa menggemparkan dengan penuh gairah segera memotret Saksi Mata itu dari segala sudut sampai menungging-nungging sehingga lampu kilat yang berkeredap membuat suasana makin panas.</p>
<p>“Terlalu!”</p>
<p>“Edan!”</p>
<p>“Sadis!”</p>
<p>Bapak Hakim Yang Mulia, yang segera tersadar, mengetuk-ngetukkan palunya. dengan sisa wibawa yang masih ada ia mencoba menenangkan keadaan.</p>
<p>“Tenang saudara-saudara! Tenang! Siapa yang mengganggu jalannya pengadilan akan saya usir keluar ruangan!”</p>
<p>Syukurlah para hadirin bisa ditenangkan. Mereka juga ingin segera tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi.</p>
<p>“Saudara Saksi Mata.”</p>
<p>“Saya Pak.”</p>
<p>“Di manakah mata saudara?”</p>
<p>“Diambil orang Pak.”</p>
<p>“Diambil?”</p>
<p>“Saya Pak.”</p>
<p>“Maksudnya dioperasi?”</p>
<p>“Bukan Pak, diambil pakai sendok.”</p>
<p>“Haa? Pakai sendok? Kenapa?”</p>
<p>“Saya tidak tahu kenapa Pak, tapi katanya mau dibikin tengkleng.” (masakan khas Surakarta sop tulang belulang kambing-red)</p>
<p>“Dibikin tengkleng? Terlalu! Siapa yang bilang?”</p>
<p>“Yang mengambil mata saya Pak.”</p>
<p>“Tentu saja, bego! Maksud saya siapa yang mengambil mata saudara pakai sendok?”</p>
<p>“Dia tidak bilang siapa namanya Pak.”</p>
<p>“Saudara tidak tanya bego?”</p>
<p>“Tidak Pak.”</p>
<p>“Dengar baik-baik bego, maksud saya seperti apa rupa orang itu? Sebelum mata saudara diambil dengan sendok yang katanya untuk dibuat tengkleng atau campuran sop kambing barangkali, mata saudara masih ada di tempatnya kan?”</p>
<p>“Saya Pak.”</p>
<p>“Jadi saudara melihat   seperti apa orangnya kan?”</p>
<p>“Saya Pak.”</p>
<p>“Coba ceritakan apa yang dilihat mata saudara yang sekarang sudah dimakan para penggemar tengkleng itu.”</p>
<p>Saksi Mata itu diam sejenak. Segenap pengunjung di ruang pengadilan menahan napas.</p>
<p>“Ada beberapa orang Pak.”</p>
<p>“Berapa?”</p>
<p>“Lima Pak.”</p>
<p>“Seperti apa mereka?”</p>
<p>“Saya tidak sempat meneliti Pak, habis mata saya keburu diambil sih.”</p>
<p>“Masih ingat pakaiannya barangkali?”</p>
<p>“Yang jelas mereka berseragam Pak.”</p>
<p>Ruang pengadilan jadi riuh kembali seperti dengungan seribu lebah.</p>
<p>***</p>
<p>Hakim mengetuk-ngetukkan palunya. Suara lebah menghilang.</p>
<p>“Seragam tentara maksudnya?”</p>
<p>“Bukan Pak.”</p>
<p>“Polisi?”</p>
<p>“Bukan juga Pak.”</p>
<p>“Hansip barangkali?”</p>
<p>“Itu lho Pak, yang hitam-hitam seperti di film.”</p>
<p>“Mukanya ditutupi?”</p>
<p>“Iya Pak, cuma kelihatan matanya.”</p>
<p>“Aaaah, saya tahu! Ninja kan?”</p>
<p>“Nah, itu ninja! Mereka itulah yang mengambil mata saya dengan sendok!”</p>
<p>Lagi-lagi hadirin ribut dan saling bergunjing seperti di warung kopi. Lagi-lagi Bapak Hakim Yang Mulia mesti mengetuk-ngetukkan palu supaya orang banyak itu menjadi tenang.</p>
<p>Darah masih menetes-netes perlahan-lahan tapi terus-menerus dari lobang hitam bekas mata Saksi Mata yang berdiri seperti patung di ruang pengadilan. Darah mengalir di lantai ruang pengadilan yang sudah dipel dengan karbol. Darah mengalir memenuhi ruang pengadilan sampai luber melewati pintu menuruni tangga sampai ke halaman.</p>
<p>Tapi orang-orang tidak melihatnya.</p>
<p>“Saudara Saksi Mata.”</p>
<p>“Saya Pak.”</p>
<p>“Ngomong-ngomong, kenapa saudara diam saja ketika mata saudara diambil dengan sendok?”</p>
<p>“Mereka berlima Pak.”</p>
<p>“Saudara kan bisa teriak-teriak atau melempar barang apa saja di dekat saudara atau ngapain kek supaya tetangga mendengar dan menolong saudara. Rumah saudara kan di gang kumuh, orang berbisik di sebelah rumah saja kedengaran, tapi kenapa saudara diam saja?”</p>
<p>“Habis terjadinya dalam mimpi sih Pak.”</p>
<p>Orang-orang tertawa. Hakim mengetuk lagi dengan marah.</p>
<p>“Coba tenang sedikit! Ini ruang pengadilan, bukan Srimulat!”</p>
<p>***</p>
<p>Ruang pengadilan itu terasa sumpek. Orang-orang berkeringat, namun mereka tak mau beranjak. Darah di halaman mengalir sampai ke tempat parkir. Hakim meneruskan pertanyaannya.</p>
<p>“Saudara Saksi Mata tadi mengatakan terjadi di dalam mimpi. Apakah maksud saudara kejadiannya begini cepat seperti dalam mimpi?”</p>
<p>“Bukan Pak, bukan seperti mimpi, tapi memang terjadinya dalam mimpi, itu sebabnya saya diam saja ketika mereka mau menyendok mata saya.”</p>
<p>“Saudara serius? Jangan main-main ya, nanti saudara harus mengucapkannya di bawah sumpah.”            “Sungguh mati saya serius Pak, saya diam saja karena saya pikir toh terjadinya cuma dalam mimpi ini. Saya malah ketawa-ketawa waktu mereka bilang mau dibikin tengkleng.”</p>
<p>“Jadi, menurut saudara Saksi Mata segenap pengambilan mata itu hanya terjadi dalam mimpi?”</p>
<p>“Bukan hanya menurut saya Pak, memang terjadinya di dalam mimpi.”</p>
<p>“Saudara kan bisa saja gila.”</p>
<p>“Lho ini bisa dibuktikan Pak, banyak saksi mata yang tahu kalau sepanjang malam saya cuma tidur Pak, dan selama tidur tidak ada orang mengganggu saya Pak.”</p>
<p>“Jadi terjadinya pasti di dalam mimpi ya?”</p>
<p>“Saya Pak.”</p>
<p>“Tapi waktu terbangun mata saudara sudah tidak ada?”</p>
<p>“Betul Pak. Itu yang saya bingung. Kejadiannya di dalam mimpi tapi waktu bangun kok ternyata betul-betul ya?”</p>
<p>Hakim menggeleng-gelengkan kepala tidak bisa mengerti.</p>
<p>“Absurd,” gumamnya.</p>
<p>Darah yang mengalir telah sampai ke jalan raya.</p>
<p>***</p>
<p>Apakah Saksi Mata yang sudah tidak punya mata lagi masih bisa bersaksi? Tentu masih bisa, pikir Bapak Hakim Yang Mulia, bukankah ingatannya tidak ikut terbawa oleh matanya?</p>
<p>“Saudara Saksi Mata.”</p>
<p>“Saya Pak.”</p>
<p>“Apakah saudara masih bisa bersaksi?”</p>
<p>“Saya siap Pak, itu sebabnya saya datang ke pengadilan ini lebih dulu ketimbang ke dokter mata Pak.”</p>
<p>“Saudara Saksi Mata masih ingat semua kejadian itu meskipun sudah tidak bermata lagi?”</p>
<p>“Saya Pak.”</p>
<p>“Saudara masih ingat bagaimana pembantaian itu terjadi?”</p>
<p>“Saya Pak.”</p>
<p>“Saudara masih ingat bagaimana darah mengalir, orang mengerang dan mereka yang masih setengah mati ditusuk dengan pisau sampai mati?”</p>
<p>“Saya Pak.”</p>
<p>“Ingatlah semua itu baik-baik, karena meskipun banyak saksi mata, tidak ada satupun yang bersedia menjadi saksi di pengadilan kecuali saudara.”</p>
<p>“Saya Pak.”</p>
<p>“Sekali lagi, apakah saudara Saksi Mata masih bersedia bersaksi?”</p>
<p>“Saya Pak.”</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>“Demi keadilan dan kebenaran Pak.”</p>
<p>Ruang pengadilan jadi gemuruh. Semua orang bertepuk tangan, termasuk Jaksa dan Pembela. Banyak yang bersorak-sorak. Beberapa orang mulai meneriakkan yel.</p>
<p>Bapak Hakim Yang Mulia segera mengetukkan palu wasiatnya.</p>
<p>“Hussss! Jangan kampanye di sini!” Ia berkata dengan tegas.</p>
<p>“Sidang hari ini ditunda, dimulai lagi besok untuk mendengar kesaksian saudara Saksi mata yang sudah tidak punya mata lagi!”</p>
<p>Dengan sisa semangat, sekali lagi ia ketukkan palu, namun palu itu patah. Orang-orang tertawa. Para wartawan, yang terpaksa menulis berita kecil karena tidak kuasa menulis berita besar, cepat-cepat memotretnya. Klik-klik-klik-klik-klik! Bapak Hakim Yang Mulia diabadikan sedang memegang palu yang patah.</p>
<p>***</p>
<p>Dalam perjalanan pulang, Bapak Hakin Yang Mulia berkata pada sopirnya,“Bayangkanlah betapa seseorang harus kehilangan kedua matanya demi keadilan dan kebenaran. Tidakkah aku sebagai hamba hukum mestinya berkorban yang lebih besar lagi?”</p>
<p>Sopir itu ingin menjawab dengan sesuatu yang menghilangkan rasa bersalah, semacam kalimat, “Keadilan tidak buta.”* Namun Bapak Hakim Yang Mulia telah tertidur dalam kemacetan jalan yang menjengkelkan.</p>
<p>Darah masih mengalir perlahan-lahan tapi terus menerus sepanjang jalan raya samapi kota itu banjir darah. Darah membasahi segenap pelosok kota bahkan merayapi gedung-gedung bertingkat sampai tiada lagi tempat yang tidak menjadi merah karena darah. Namun, ajaib, tiada seorang pun melihatnya.             Ketika hari sudah menjadi malam, saksi mata yang sudah tidak bermata itu berdoa sebelum tidur. Ia berdoa agar kehidupan yang fana ini baik-baik saja adanya, agar segala sesuatu berjalan dengan mulus dan semua orang berbahagia.</p>
<p>Pada waktu tidur lagi-lagi ia bermimpi, lima orang berseragam Ninja mencabut lidahnya–kali ini menggunakan catut.</p>
<p>Jakarta, 4 Maret 1992</p>
<p><a href="http://sukab.wordpress.com/2007/04/25/saksi-mata/">http://sukab.wordpress.com/2007/04/25/saksi-mata/</a></p>
<p>Komentar : Saya memilih cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Saksi Mata” ini karena sangat menarik. Bahasanya sangat mudah dimengerti dan pastinya orang yang membaca cerpen ini akan ikut terbawa masuk kedalam cerita cerpen ini. Menurut saya cerpen ini sadis dan menjijikan karena berhubungan dengan congkel mata dan darah, tetapi dibalik itu semua cerpen ini tetap dituliskan dengan bumbu-bumbu humor. Saat membacanya otomatis kita akan tertawa karena kebodohan sang saksi mata. Ada pula amanat-amanat yang disampaikan oleh penulis di dalam cerpen ini, seperti “Bayangkanlah betapa seseorang harus kehilangan kedua matanya demi keadilan dan kebenaran. Tidakkah aku sebagai hamba hukum mestinya berkorban yang lebih besar lagi?”  dan “Keadilan tidak buta.”</p>
<p>Menurut saya akhir ceritanya menggantung, ini yang membuat pembaca bertanya-tanya. Mungkin penulis sengaja melakukannya karena ingin membuat cerpen ini bagian kedua atau sengaja mengakhiri cerita seperti itu agar para pembaca dapat mengimajinasikan dan mengarang sendiri cerita selanjutnya.</p>
<p>Karena banyaknya hal-hal menarik yang ditulis di cerpen ini, saat membacanya tidak akan terasa jika sudah berada di akhir cerita.</p>
<p>﻿</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tugas #6]]></title>
<link>http://astafameallgoods.wordpress.com/2010/05/29/tugas-6/</link>
<pubDate>Sat, 29 May 2010 05:29:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>Tanti Prawidyasari</dc:creator>
<guid>http://astafameallgoods.wordpress.com/2010/05/29/tugas-6/</guid>
<description><![CDATA[Sepotong Senja Untuk Pacarku Alina tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–deng]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sepotong Senja Untuk Pacarku</strong></p>
<p>Alina tercinta,<br />
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?</p>
<p>Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.</p>
<p>Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.</p>
<p>Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.</p>
<p>Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.</p>
<p>Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.</p>
<p>Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.</p>
<p>Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.</p>
<p>Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.<br />
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.<br />
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.</p>
<p>Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.</p>
<p>Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.</p>
<p>Alina sayang,<br />
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.</p>
<p>“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”</p>
<p>Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.</p>
<p>“Catat nomernya! Catat nomernya!”</p>
<p>Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.</p>
<p>Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.</p>
<p>“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”</p>
<p>Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.</p>
<p>Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.</p>
<p>“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”</p>
<p>Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.</p>
<p>Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.</p>
<p>Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.</p>
<p>Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.</p>
<p>“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.</p>
<p>Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.</p>
<p>“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”</p>
<p>Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.</p>
<p>Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.</p>
<p>Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.</p>
<p>Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.</p>
<p>“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”</p>
<p>Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….</p>
<p>Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.</p>
<p>Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.</p>
<p>Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…</p>
<p>Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.<br />
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.</p>
<p>Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.</p>
<p>Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.</p>
<p>Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.</p>
<p>Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.</p>
<p><em>–Cerpen Pililihan Kompas 1993</em></p>
<p><a href="http://sukab.wordpress.com/2007/05/31/sepotong-senja-untuk-pacarku/">http://sukab.wordpress.com/2007/05/31/sepotong-senja-untuk-pacarku/</a></p>
<p><strong>Komentar :</strong> Cerpen ini sangat menarik untuk dibaca karena menggunakan kata-kata dan kalimat puitis yang sangat penuh dengan keindahan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tugas #5]]></title>
<link>http://astafameallgoods.wordpress.com/2010/05/29/tugas-5/</link>
<pubDate>Sat, 29 May 2010 05:24:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>Tanti Prawidyasari</dc:creator>
<guid>http://astafameallgoods.wordpress.com/2010/05/29/tugas-5/</guid>
<description><![CDATA[RESENSI FILM “ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI)” TANTI PRAWIDYASARI/14478 Sutradara: Deddy Mizwar (co-di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#000000;"><strong>RESENSI FILM</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>“ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI)”</strong></span></p>
<p style="text-align:right;">TANTI PRAWIDYASARI/14478</p>
<p><strong><br />
</strong>Sutradara: Deddy Mizwar (co-director: Aria   Kusumadewa)<br />
Skenario : Musfar Yasin<br />
Pemain   : Reza Rahardian, Tika Bravani, Asrul Dahlan, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Jaja Miharja,Tio Pakusadewo<br />
Durasi     : 105 menit</p>
<p><a href="http://astafameallgoods.files.wordpress.com/2010/05/alni4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-45" title="alni4" src="http://astafameallgoods.files.wordpress.com/2010/05/alni4.jpg?w=390&#038;h=557" alt="" width="390" height="557" /></a></p>
<p>Satu lagi karya Dedy Mizwar yang telah ditayangkan di bioskop sejak tanggal 15 April, sebuah film yang sangat “Subahanallah” walaupun tanpa menggunakan efek-efek khusus, yang diperankan oleh orang-orang yang ternama dan mempunyai prestasi dalam dunia perfilman Indonesia, seperti Dedi Mizwar, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo, dan Reza Rahardian. Film ini mengangkat tema sosial tentang keadaan negeri ini yang sudah tidak karuan karena korupsi dan ketidakadilan.</p>
<p>Film ini berkisah tentang seorang pemuda lulusan sarjana manajemen, yang bernama Muluk (Reza Rahardian) yang sampai saat ini belum mendapat pekerjaan. Setiap hari dia berusaha melamar pekerjaan. Suatu hari di dalam pasar dia memergoki sekelompok anak pencopet yang sedang melakukan operasi, dia ikuti lalu dia tangkap anak itu, dan dia lepaskan lagi. Di lain tempat, ayahnya Muluk dan calon mertuanya Muluk sibuk berdiskusi tentang penting atau tidaknya pendidikan, ayahnya Muluk berpendapat kalau pendidikan itu sangat penting, lain halnya dengan calon mertua Muluk yang berpendapat bahwa pendidikan tidak penting, buktinya Muluk sendiri seorang sarjana manajemen sampai sekarang belum mendapat pekerjaan.</p>
<p>Suatu hari ia bertemu kembali dengan anak pencopet, lalu ia berkenalan dan diajak ke markasnya, timbullah ide dalam pikiran Muluk untuk bekerja membantu kumpulan pencopet itu mengelola keuangan hasil mencopet mereka, dengan syarat 10% hasil mencopet diberikan kepada Muluk, bos pencopet setuju. Tiap harinya pencopet-pencopet tersebut dibagi kedalam 3 kelompok, yaitu pencopet mall yang memakai pakaian bagus dan gaul, pencopet angkot yang memakai seragam SMP, dan pencopet pasar yang memakai pakaian seadanya. Dalam kurun waktu yang tidak lama, Muluk dapat mengelola keuangan dengan baik, uang yang dihasilkan dapat menjadi puluhan juta dan dapat membeli satu motor.</p>
<p>Saat Muluk ditanya oleh ayahnya dia sedang bekerja apa dan apa jabatannya, Muluk bingung harus menjawab apa karena dia takut ayahnya marah dia menerima uang dari pekerjaan kotor dan mengelola uang haram, lalu Muluk berbohong dan dia menjawab dia bekerja di bagian pengembangan sumber daya manusia. Lalu Muluk mengajak dua temannya yang menganggur untuk mengajar para pencopet, Syamsul seorang sarjana pendidikan yang sehari-hari hanya bermain kartu di pos ronda, dia mengajarkan menulis, membaca, dan lebih menekankan kepada pelajaran PPKn, dan Pipit yang sehari-hari sibuk didepan TV untuk mengikuti kuis-kuis dan mengirim undian berhadiah sekarang dia mengajarkan Agama, bagaimana sholat, bagaimana pentingnya kebersihan terutama kebersihan diri. Suatu hari ayahnya Muluk, ayahnya Pipit, dan calon mertua Muluk ingin melihat pekerjaan mereka, dan mereka mengetahui anak-anaknya bekerja dengan pencopet, lalu apa yang terjadi? Apakah mereka tetap bekerja dengan pencopet? Saksikanlah di bioskop kesayangan anda..</p>
<p>Film ini sangat saya rekomendasikan untuk ditonton, apalagi jika bersama-sama keluarga. Setelah menonton film ini, banyak sekali amanat yang kita dapatkan, untuk kita terapkan kedalam diri sendiri dan orang lain, kita musti lebih peduli dan perhatian kepada keadaan disekitar kita, dapat juga untuk bahan pelajaran kepada anak-anak kecil. Karena film ini disampaikan secara ringan dan penuh komedi, tanpa harus kita berpikir keras, diakhir film sangat mengarukan setelah fim berakhir terlihat orang-orang laki-laki maupun perempuan menyeka air mata mereka.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tugas #4]]></title>
<link>http://astafameallgoods.wordpress.com/2010/05/29/tugas-4/</link>
<pubDate>Sat, 29 May 2010 05:16:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>Tanti Prawidyasari</dc:creator>
<guid>http://astafameallgoods.wordpress.com/2010/05/29/tugas-4/</guid>
<description><![CDATA[Korean Drama God of Study Rabu, 21 April 2010                             Tanti Prawidysari/14478 Go]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h1>Korean Drama God of Study</h1>
<p>Rabu, 21 April 2010                             Tanti Prawidysari/14478</p>
<p><a href="http://astafameallgoods.files.wordpress.com/2010/05/12.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-40" title="12" src="http://astafameallgoods.files.wordpress.com/2010/05/12.jpg?w=208&#038;h=300" alt="" width="208" height="300" /></a></p>
<p>God of Study merupakan drama Korea yg mengambil cerita ato remake dari drama Jepang yg berasal dari manga populer berjudul Dragon Zakura yg bakalan menceritakan kehidupan SMA. Tokoh drama ini diperankan oleh beberapa aktris muda dan senior, sebut aja Kim Su Ro dan Bae Doo Na sebagai gurunya. Serta, Yoo Seung Ho(pangeran chun cu di Queen Seon Duk) , Jiyeon T-Ara (aktris yang mirip dengan Kim Tae Hee/ second Kim Tae Hee), Go Ah Sung (anak kecil di film The Host) dan Lee Hyun Woo (Kim Yushin kecil di Queen Seon Duk). Film ini juga dikenal dengan judul lain, yakni: Lord Of Studying dan Master Of Study.</p>
<p>Singkat cerita&#8230;SMU Byung Moon, adalah sebuah SMU yang terkenal sebagai SMU yang penuh dengan anak-anak bodoh, bermasalah dan pembuat onar. Setengah dari murid SMU itu di-drop out. SMU itu mengalami masalah finansial dan terancam tutup. Pemimpin SMU Byung Moon, Jang Pil Gyu, sedang koma di rumah sakit dan putrinya, Jang Ma Ri, yang mengantikan kedudukannya untuk mengelola SMU itu. Pengacara Kang Seok Ho ditawarkan untuk menyelesaikan kasus itu dan ia menerimanya.</p>
<p>Seorang pemuda kemudian memasuki ruangan untuk mengantarkan mie pesanan Kang Seok Ho. Ia meminta pemuda pengantar itu untuk mengirimkan 1 mie lagi untuk temannya, namun pemuda itu menolak. Kang Seok Ho menasehati pemuda itu habis-habisan. Pemuda Pengantar: Kau hanya memesan 1, aku tidak bisa mengantarkan pesanan yang hanya 1 buah. Kang Seok Ho: Kenapa tidak bisa? Tugasmu mengantarkan pesanan kan? Mau pesanannya 1 atau 2, kau harus tetap bertanggungjawab mengantar pesanan itu.</p>
<p>Keesokan harinya, ketika Kang Seok Ho hendak menuju SMU Byung Moon, ia bertemu lagi dengan pemuda pengantar mie. Pemuda itu menantangnya balapan motor dan Seok Ho menerima tantangan itu. Ketika sedang kebut-kebutan, pemuda itu ditilang oleh polisi sementara Seok Ho berhasil kabur. Tiba-tiba sebuah kertas menutupi helmnya dan ia nyaris menabrak. Ia berhenti dan melihat kertas itu. Ternyata kertas ulangan seorang siswa: Matematika, Gil Pul Ip, Nilai: 25.</p>
<p>Ketika direktur (putri pemimpin SMU Byung Moon) mengumumkan bahwa kemungkinan sekolah itu akan ditutup, para guru menjadi panik. Namun mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri dan takut menjadi pengangguran. Hanya Han Soo Jung-lah guru yang mengkhawatirkan nasib murid-muridnya. Guru-guru: Apa yang akan terjadi dengan sekolah kami? Apa kami akan kehilangan pekerjaan kami? Apa yang akan kita lakukan? Kenapa kau lakukan ini pada kami? Ini semua tidak boleh terjadi! Bla, bla, bla&#8230; Guru Han Soo Jung: Bagaimana dengan murid-murid kami? Apa mereka akan dipindahkan ke sekolah lain? Kita harus memperjuangkan nasib murid-murid.</p>
<p>Kang Seok Ho berkeliling SMU itu dan ia hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah dan kelakuan para muridnya. Tiba-tiba ia seperti melihat bayangan memori di kepalanya. Ia melihat bayangan beberapa pemuda berkelahi (sepertinya ia teringat pengalamannya sendiri). Para penduduk di lingkungan sekitar terus menerus komplain tentang para murid. Penduduk: Bagaimana bisa mereka disebut pelajar? Aku harus pindah dari sini. SMU Byung Moon hanya bisa membuat kepalaku pusing! Pergi dari sini! Kang Seok Ho teringat masa lalunya lagi (Seorang wanita berkata, &#8220;Kita tidak boleh mencampakkan Seok Ho&#8221; dan ia teringat dirinya berkelahi). Kemudian ia bertekad akan memperjuangkan nasib para murid SMU itu.</p>
<p>Drama ini memberikan pesan yang sangat bermakna kepada kita semua yang menontonnya..</p>
<p>yaitu&#8230;&#8230; <strong>JANGAN MUDAH MENYERAH,</strong><strong> </strong><strong>KITA DAPAT MENGUBAH TAKDIR JIKA KITA BERUSAHA DENGAN KERAS&#8230;.</strong></p>
<p>jadi bukan hal yang aneh, setelah kita menonton film ini sering muncul efek samping seperti tiba-tiba jadi anak yang rajin belajar..hehehehe&#8230;</p>
<p><a href="http://blog.unsri.ac.id/eskariyanti/hiburan-film-musik/.-.-.-korean-drama-god-of-study-.-.-/mrdetail/10780/">http://blog.unsri.ac.id/eskariyanti/hiburan-film-musik/.-.-.-korean-drama-god-of-study-.-.-/mrdetail/10780/</a></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Komentar :</span></strong></p>
<p>Dalam meresensi suatu film atau drama dapat subyektif, dapat juga obyektif. Resensi ini merupakan resensi yang obyektif, karena penulis berusaha untuk melihat realita apa yang terjadi dalam drama ini, dan tidak memihak salah satu peran yang dia sukai saja. Saya setuju dengan makna drama ini dan efek samping yang dapat diambil si penulis setelah menonton drama god of study ini. Drama ini sangat baik jika ditayangkan untuk anak-anak sekolah, apalagi pada saat akan menghadapi ujian.  Sayangnya, resensi drama diatas baru meresensi episode awal-awalnya saja. Jadi belum dapat menilai drama ini secara keseluruhan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[tugas #2]]></title>
<link>http://astafameallgoods.wordpress.com/2010/05/29/tugas-2/</link>
<pubDate>Sat, 29 May 2010 05:04:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Tanti Prawidyasari</dc:creator>
<guid>http://astafameallgoods.wordpress.com/2010/05/29/tugas-2/</guid>
<description><![CDATA[Angkot Jalur Zebra Tanti Prawidyasari/14478 Untuk pertama kalinya saya mencoba naik angkutan umum di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"><strong><strong>Angkot Jalur Zebra</strong></strong></span></h1>
<p style="text-align:right;"><span style="color:#000000;">Tanti Prawidyasari/14478</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Untuk pertama kalinya saya mencoba naik angkutan umum di Jogjakarta. Angkutan umum yang saya coba adalah angkot jalur zebra. Sebelumnya saya sudah pernah beberapa kali mendengar nama angkot jalur zebra ini. Dulu saya pikir angkot ini memang menyerupai zebra, dengan warna cat hitam-putih menyerupai warna zebra. Ternyata bayangan saya selama ini salah, warna mobilnya kuning dan sederhana. Lalu apa yang menyebabkan angkot tersebut diberi nama “angkot zebra”?</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Jum’at pagi teriknya matahari sudah menusuk kulit, saya berangkat menuju tempat mangkalnya angkot jalur zebra. Tempat mangkal angkot jalur zebra ini tidak jauh, tempatnya persis di depan gang rumahnya seorang mahasiswa jurusan B.Korea UGM yang bernama Okita tadastra. Saat angkot tersebut mangkal dan menunggu penumpang, mesinnya tidak dinyalakan, tidak seperti di Jakarta saat menunggu penumpang, supir menyalakan mesin dan meng-gas mesin mobilnya terus menerus. Lalu saya masuk ke dalam dan langsung duduk, keadaan disana tidak begitu berbeda dengan angkot yang ada di Jakarta. Yang membedakannya adalah bangku kecil yang ada di ujung dan diletakkan ditengah antara bangku panjang yang ada di kanan dan kiri. Entah orang sebesar apa yang muat duduk disana.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Lalu pak supir menyalakan mesin dan saya terus memperhatikan penumpang-penumpang yang lain. Rute angkot ini melewati perumahan-perumahan, karena rumah mereka berdekatan, otomatis penumpangnya saling mengenal satu sama lain. Saat perjalanan mereka asik mengobrol, pak supir pun ikut mereka ajak ngobrol. Suasana sangat ramai karena obrolan mereka masing-masing. Sampai-sampai tidak terasa kalau sudah hampir sampai kampus, setelah sampai lalu saya mengeluarkan uang, ternyata satu orang ongkosnya 3000 rupiah. Saya pikir-pikir kalau dikalikan dalam seminggu saja menghabiskan 42000, boros juga pulang-pergi naik angkot, padahal kalau naik motor untuk seminggu hanya mengisi bensin 10ribu-15ribu saja.</span></p>
<p>﻿</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tugas #1]]></title>
<link>http://astafameallgoods.wordpress.com/2010/05/29/tugas-1/</link>
<pubDate>Sat, 29 May 2010 04:57:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>Tanti Prawidyasari</dc:creator>
<guid>http://astafameallgoods.wordpress.com/2010/05/29/tugas-1/</guid>
<description><![CDATA[Imajinasi di Lampu Lalu Lintas Nama : Tanti Prawidyasari/ 14478 Ada 2 hal yang saya bayangkan ketika]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Imajinasi di Lampu Lalu Lintas</p>
<p style="text-align:right;"><span style="color:#000000;">Nama : Tanti Prawidyasari/ 14478</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;"><br />
Ada 2 hal yang saya bayangkan ketika mengendarai motor saat lampu merah. Pertama, di banyak perempatan jalan selalu di jaga polisi dan ada pos polisi. Karena saya sampai saat ini belum punya SIM selalu ada perasaan was-was dan takut terhadap polisi. Saya membayangkan bagaimana kalau tiba-tiba polisi tersebut menghampiri saya karena saya melewati garis atau melanggar lampu lalu lintas. Lalu apa yang akan terjadi setelah saya melewati lampu lalu lintas ini, apakah akan ada razia, apakah saya akan ditilang untuk kesekian kalinya.<br />
Yang kedua, bagaimana jika setelah melewati lampu lalu lintas di tengah-tengah perempatan mesin motor saya mati. Lalu orang-orang meneriaki saya, karena memperlambat jalannya kendaraan mereka. Pasti sangat malu saat itu. Atau saat mesin motor saya mati, kendaraan-kendaraan di belakang saya tidak dapat mengendalikan kendaraan mereka dan menabrak saya. Atau kendaraan dari arah yang berlawanan menabrak saya, pasti saya akan hancur berkeping-keping. Dan besoknya bisa jadi headline di koran Jogja.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sepotong Senja Untuk Pacarku]]></title>
<link>http://last90.wordpress.com/2010/05/27/sepotong-senja-untuk-pacarku/</link>
<pubDate>Thu, 27 May 2010 15:41:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>last90</dc:creator>
<guid>http://last90.wordpress.com/2010/05/27/sepotong-senja-untuk-pacarku/</guid>
<description><![CDATA[Alina tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, mataha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://last90.files.wordpress.com/2010/05/sepotong_senja_untuk_pacarku.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-108" title="Sepotong_Senja_untuk_Pacarku" src="http://last90.files.wordpress.com/2010/05/sepotong_senja_untuk_pacarku.jpg?w=152&#038;h=250" alt="" width="152" height="250" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Alina tercinta,<br />
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur  ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya  dalam keadaan lengkap?</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung,  pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat  di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada  juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang  berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku  mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski  aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah  kapan menjadi kenyataan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang  tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang  lebih dari sekedar kata-kata.</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata,  ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang  sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula  siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk  berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya.  Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah  dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber  dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti  bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.</p>
<p style="text-align:justify;">Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta.  Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit  kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama  seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik  cakrawala.</p>
<p style="text-align:justify;">Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana  aku mendapatkan senja itu untukmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang  terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu,  menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta  adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih  pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan  langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir  tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.<br />
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.<br />
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu  sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam  saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya  padamu.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu  akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu  bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang  panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada  sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari  memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah  semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu  bawa ke mana-mana.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang  berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah  hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.</p>
<p style="text-align:justify;">Alina sayang,<br />
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku  telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang  menunjuk-nunjuk ke arahku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”</p>
<p style="text-align:justify;">Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku  segera masuk mobil dan tancap gas.</p>
<p style="text-align:justify;">“Catat nomernya! Catat nomernya!”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku  sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina.  Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan  itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca  mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar.  Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam  mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal  maupun ke angkasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja  telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat  potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah  paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana  kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing?  Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di  toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah  waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak  pedagang asongan di perempatan jalan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”</p>
<p style="text-align:justify;">Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena  semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana.  Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari  dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua  orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan  tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah  penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang  suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah  senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi  itu memberi peringatan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap  berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja.  Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai  terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip  dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan  sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu  seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang  gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia  yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di  sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan  meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku.  Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah  kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya  cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh.  Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai.  Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap  sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan  untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka  menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan  akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang  terbuka.</p>
<p style="text-align:justify;">Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari  di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas  sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan  menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari  sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar  bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya  yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya  bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan  itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah  gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam  kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat  dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup  tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah  hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk  mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat  yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun  tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak  memancarkan kebahagian.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun  ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.</p>
<p style="text-align:justify;">Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun  ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin  benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus  membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu  ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama  dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah  pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa  cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan  aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi,  meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang  perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan  lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque,  tak ada marina.</p>
<p style="text-align:justify;">“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir  membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri  melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam  bahasa?”</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua  ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke  mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak  ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang  terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat  sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia  hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir  Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa  membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus  pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan  senja….</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau  Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala  itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri  dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku,  menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali  menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak  gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi  helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di  bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di  supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza  segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan  kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya  masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan  layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…</p>
<p style="text-align:justify;">Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.<br />
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang  dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas.  Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti  yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa  yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang  kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya  ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya  sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja  untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga  akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh  seseorang kepada pacarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah  sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin  membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu,  salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa  membanjiri permukaan bumi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk,  dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>–Cerpen Pililihan Kompas 1993</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>karya : Seno Gumira Ajidarma</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>sumber : </em><a href="http://sukab.wordpress.com/2007/05/31/sepotong-senja-untuk-pacarku/" rel="nofollow">http://sukab.wordpress.com/2007/05/31/sepotong-senja-untuk-pacarku/</a></p>
<p style="text-align:justify;">setelah membaca cerpen di atas ada beberapa hal terbersit yang sempat terpikirkan olehku..</p>
<p style="text-align:justify;">Sejujurnya saya tidak terlalu suka dengan cerita Sepotong Senja untuk Pacarku. Menurut saya cerpen dari Seno Gumira Ajidarma menggunakan imajinasi yang berlebihan. Saking berlebihannya, tokoh utama dalam cerita tersebut menjadi egois demi cinta. Dan juga menurut saya imajinasi ketika tokoh utama memotong senja pun terlalu berlebihan dan sangat egois. Selain itu pada bagian adegan kejar-kejaran dengan polisi pun terlalu berlebihan karena diimajinasikan dengan adegan film Hollywood, lagi-lagi berlebihan. Menurut saya imajinasi penulis bukan imajinasi rata-rata orang kebanyakan, oleh sebab itu imajinasi penulis tidak cocok dengan imajinasi saya. Tapi, itulah cerpen. Penulis bisa mengekspresikan dirinya melalui tulisan-tulisannya secara bebas. Setiap menulis sebuah tulisan pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka. Hal itu bukanlah hal yang aneh. Karena dalam dunia ini hanya ada hitam dan putih.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Resensi CHARLIE AND THE CHOCOLATE FACTORY]]></title>
<link>http://last90.wordpress.com/2010/05/27/charlie-and-the-chocolate-factory/</link>
<pubDate>Thu, 27 May 2010 11:38:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>last90</dc:creator>
<guid>http://last90.wordpress.com/2010/05/27/charlie-and-the-chocolate-factory/</guid>
<description><![CDATA[“Charlie and the Chocolate Factory” diadaptasi dari buku “Charlie and the Chocolate Factory” karya R]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://last90.files.wordpress.com/2010/05/charlie-and-the-chocolate-factory.jpg"><img class="alignleft  size-medium wp-image-95" title="Charlie And The Chocolate Factory" src="http://last90.files.wordpress.com/2010/05/charlie-and-the-chocolate-factory.jpg?w=263&#038;h=390" alt="" width="263" height="390" /></a>“Charlie and the Chocolate Factory” diadaptasi dari buku “Charlie and the Chocolate Factory” karya Roald Dahl. Dan dibuat versi film dengan arahan sutradara Tim Burton.</p>
<p>Untuk kesekian kalinya Tim Burton memasang aktor kawakan Johnny Depp untuk membintangi filmnya sebagai Willy Wonka, setelah <em>Edward Scissorhands</em> (1990), <em>Ed Wood </em>(1994), <em>Sleepy Hollow </em>(1999), <em>Corpse Bride </em>(2005), <em>Sweeney Todd</em> (2007), dan yang terakhir <em>Alice in the Wonderland</em> (2010).</p>
<p>Dikisahkan seorang anak dari sebuah keluarga miskin yang bernama Charlie Bucket (Freddie Highmore) yang sangat menyukai coklat. Tapi sayang, karena orang tuanya sangat miskin dan tak mampu membelikan coklat, Charli jarang memakan makanan favoritnya. Ibunya (Helena Bonham Carter) hanya sebagai ibu rumah tangga, sedangkan ayahnya (Noah Taylor) adalah buruh pabrik yang gajinya sangat kecil. Kakeknya, Joe (David Kelly) hanya gemar mengingat masa-masa bahagia sewaktu dia bekerja di pabrik coklat Wonka.</p>
<p>Suatu hari pemilik pabrik permen dan coklat Willy Wonka (Johnny Depp), yang tak pernah dilihat oleh seorangpun selama bertahun-tahun, mengumumkan perlombaan di seluruh dunia untuk lima anak yang akan mendapatkan kesempatan tur di pabriknya. Tiket emas telah disembunyikan di lima batang coklat produksi Wonka yang tersebar di seluruh dunia. Keberuntungan memihak Charlie. Charlie adalah salah satu dari lima anak mujur itu. Untuk tur berkeliling di pabrik Wonka, masing-masing anak hanya boleh ditemani oleh seorang wali dewasa. Charlie awalnya bimbang akan pergi dengan siapa, tapi pada akhirnya ia memilih Grandpa Joe sebagai walinya karena ia pernah bekerja untuk Wonka.</p>
<p>Di kerajaan gula-gula tersebut, lima anak yang berkesempatan untuk tur di pabrik Wonka pun bertemu. Berbeda dengan Charlie, anak lain adalah anak-anak nakal: Gluttonous Augustus Gloop (Philip Wiegratz) adalah German Junge yang hanya memikirkan akan memenuhi perutnya dengan gula-gula. Veruca Salt (Julia Winter) anak manja yang selalu cemberut dan suka mengamuk sewaktu-waktu saat ayah kayanya (James Fox) tak bisa memenuhi keinginannya. Violet Beauregarde (Annasophia Robb) ahli bela diri yang selalu bersaing di semua hal, bahkan dalam mengunyah permen karet. Yang terakhir si anak nakal Mike Teavee (Jordan Fry) yang memiliki pengetahuan yang dianggap superior lebih dari orang lain.</p>
<p>Sementara mereka mengikuti tur, mereka tak mengetahui bahwa diam-diam Wonka mempunyai rencana lain. Ia menjanjikan sesuatu untuk siapa saja yang amsih bertahan dalam tur itu sampai selesai.</p>
<p>Akhir dari cerita sebenarnya sangat mudah ditebak, orang yang tadinya sangat miskin menjadi kaya. Tetapi karena kepiawaian sang sutradara, adegan-adegan yang ditampilkan membuat kita tidak akan bosan menonton film ini. Karena ada banyak hal-hal fiktif yang sangat menarik untuk ditonton. Selain itu banyak sekali pesan moral yang disampaikan melalui film ini. Secara keseluruhan film ini sangat bagus dan layak untuk ditonton oleh kalangan semua umur.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yang Terjadi di Lampu Merah..]]></title>
<link>http://last90.wordpress.com/2010/05/27/yang-terjadi-di-lampu-merah/</link>
<pubDate>Thu, 27 May 2010 11:33:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>last90</dc:creator>
<guid>http://last90.wordpress.com/2010/05/27/yang-terjadi-di-lampu-merah/</guid>
<description><![CDATA[Setiap hari saya selalu menggunakan kendaraan umum untuk bepergian, biasanya saya menggunakan bis un]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Setiap hari saya selalu menggunakan kendaraan umum untuk bepergian, biasanya saya menggunakan bis untik sampai ke tempat tujuan. Ketika saya pergi ke kampus, bis yang saya tumpangi melewati beberapa perempatan dan pertigaan. Di pertigaan yang menghubungkan Jalan Glagahsari dan Jalan Kusumanegara, bis yang saya naiki terhenti karena lampu merah menyala. Bis pun berhenti sekitar 1 menit. Saya memperhatikan keadaan sekitar karena tidak ada lagi hal yang bisa saya lakukan. Ternyata, tidak semua perempatan di kota yang saya tinggali ini terdapat polisi lalu lintas, hal ini terbukti karena di perempatan ini tidak ada polisi yang sedang bertugas. Walaupun tidak ada polisi, warga mesyarakat tetap patuh terhadap peraturan. Kemudian saya memperhatikan ada seorang pengamen yang menyanyi dari mobil ke mobil sampai akhirnya menyanyi di bis yang saya tumpangi. Dengan gitar klasik yang dimilikinya, ia menyanyikan sebuah tembang lawas. Sejujurnya suaranya tidak terlalu enak didengar tapi ia menyanyi dengan penuh percaya diri. Saya salut akan hal itu. Saya ingin sekali tertawa karena suaranya yang unik. Tetapi, saya menyadari bahwa tidak ada orang yang bisa saya ajak tertawa bersama. Yang ada hanyalah orang-orang yang tidak saya kenal. Jika saya tertawa, orang-orang itu akan berpikir bahwa saya orang yang tidak waras. Akhirnya saya cuma bisa terdiam. Ketika pengamen itu selesai menyanyi, ia meminta bayaran, saya memberinya uang walau suaranya tidak terlalu bagus tapi ia cukup menghibur. Setelah itu ia turun dari bis. Tidak terasa 1 menit pun berlalu dan akhirnya lampu hijau menyala pertanda bahwa bis harus melanjutkan perjalanan kembali.</p>
<p style="text-align:left;">Setelah pertigaan yang menghubungkan Jalan Glagahsari tadi, bis terhenti lagi di perempatan Taman Siswa. Kali ini bis akan berhenti 106 detik, hampir 2 menit, lebih lama dari pertigaan sebelumnya. Di perempatan ini saya melihat pemandangan yang unik. Di siang hari ada 2 orang waria sedang bersenandung ria di pinggir jalan itu. Saya berharap bahwa mereka tidak menaiki bis ini karena sebenarnya saya takut dengan waria. Tapi harapan saya tidak terkabul, mereka mngamen di bis yang saya tumpangi. Dan hal bodoh yang saya lakukan adalah berpura-pura tidur. Dan syukurlah mereka tidak punya keberanian untuk membangunkan saya yang pura-pura tidur. Akhirnya mereka turun dan membagi uang yang mereka peroleh di pinggir lampu merah. Waktu berjalan begitu cepat, 2 menit tidak terasa telah dilewati. Berhenti selama hampir 3 menit di lampu merah membuat saya berpikir bahwa  banyak orang yang mencari sesuap nasi dengan berbagai cara. Ada yang mengamen, mengemis dan mengatur lalu lintas.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[meResensi resensi (bingung kan??)]]></title>
<link>http://last90.wordpress.com/2010/05/27/88/</link>
<pubDate>Thu, 27 May 2010 11:31:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>last90</dc:creator>
<guid>http://last90.wordpress.com/2010/05/27/88/</guid>
<description><![CDATA[Chris Weitz memiliki beberapa visi bagus dalam menampilkan beberapa bagian dari film ini ke layar le]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-89" title="new-moon" src="http://last90.files.wordpress.com/2010/05/new-moon.jpg?w=211&#038;h=277" alt="" width="211" height="277" />Chris Weitz <strong>memiliki beberapa visi bagus dalam menampilkan beberapa bagian dari film ini ke </strong><strong>layar lebar</strong>. Sebagai penonton yang belum pernah membaca novelnya, mungkin arti sebenarnya dari adegan itu tidak saya dapatkan secara lengkap, namun Chris Weitz tetap <strong>mampu menyajikan satu cerita utuh, yang telah mendapat rating kurang adil dimana-mana</strong>.</p>
<p>Menceritakan lanjutan dari kisah antara Edward Cullen dan Bella Swan, dan sejak awal, film ini sudah menampakkan plotnya, yaitu permasalahan mulai muncul diantara kisah kedua tokoh ini. Edward yang abadi dan keluarganya yang sebenarnya vampire, dengan Bella yang “mortal” dan dalam dirinya ingin bergabung menjadi salah satu dari Cullen.</p>
<p>Satu insiden kecil membawa film ini ke plot utamanya, pengenalan para werewolves dan hubungan Jacob-Bella. Weitz <strong>mampu mevisualisasikan be</strong><strong>berapa adegan secara khas, beberapa adegan yang cukup memorable,</strong> ketika Bella Swan patah hati setelah ditinggal Edward, adegan pengejaran Victoria di hutan, adegan Bella memburu ke arah Edward di jam lonceng, dan lainnya.</p>
<p>Keuntungan dari film kedua ini adalah, plot bisa langsung melewati bagian perkenalan, sehingga sutradara dan penulis bisa langsung memadatkan cerita sejak awal. Beberapa konflik langsung dimunculkan di awal. <strong>Plot yang cepat di awal ternyata melambat dan mulai bertele-tele ketika Bella patah hati.</strong></p>
<p>Yang membuat film ini terasa berat justru adegan romance yang memang plot utama film ini. Di setiap adegan romansa, baik antara Jacob dan Bella, maupun “yang sedikit” antara Edward dan Bella, <strong>film ini serasa ditarik da</strong><strong>n dipanjang-panjangkan</strong>. Mungkin ini yang ditunggu para fansnya, tetapi perlukah adegan-adegan itu ditarik panjang sehingga mendapat durasi film yang 2,5 jam?</p>
<p>Lain halnya dengan akting, <strong>semua tokoh utama tidak menampakkan akting yang baik</strong>. Hanya Michael Sheen yang mampu menarik perhatian ketika muncul di akhir film ini. Sementara Dakota Fanning tidak kebagian cukup banyak peran untuk bisa menunjukkan kemampuannya. Akting terparah ditunjukkan oleh para lelaki telanjang dada werewolves, yang tampaknya lupa berakting karena telanjang.</p>
<p>Chris Weitz mungkin telah berusaha menyertakan beberapa adegan yang bisa menarik untuk target demografik yang berbeda, <strong>namun ketidakseimbangan plot antara romance dan action, mungkin membuat frustasi para kritikus di luar sana, terutama yang sedang patah hati.</strong></p>
<p>Resensi di atas bukan gw yang ngeresensi tapi gw ambil dari</p>
<p><a href="http://www.flickmagazine.net/index.php?mact=News,cntnt01,detail,0&#038;cntnt01articleid=262&#038;cntnt01returnid=59" rel="nofollow">http://www.flickmagazine.net/index.php?mact=News,cntnt01,detail,0&#038;cntnt01articleid=262&#038;cntnt01returnid=59</a></p>
<p>menurut gw penulis resensi sudah cukup baik meresensikan film New Moon. Tapi sayangnya pendapatnya tentang resensi film ini diperlemah oleh ucapannya yang mengatakan bahwa ia belum pernah membaca bukunya. Sehingga dapat membuat para penonton sedikit tidak percaya dengan resensi yang ia tulis.</p>
<p>Kelebihan dan kekurangan dari film ini Ia sampaikan dengan baik. Seperti beberapa adegan yang dapat selalu dikenang Ia tulis di resensi ini. Selain beberapa kebaikan peresensi pun menulis banyak kekurangan. Plot yang bertele-tele dan adegan yang tidak terlalu bagus dari para pemeran diceritakan oleh peresensi secara langsung, sehingga calon penonton pun terpengaruh dengan resensi yang ia tulis.</p>
<p>Ketika membaca resensi ini secara keseluruhan, peresensi meresensikan film New Moon ini dengan cukup baik untuk memberitahu calon penonton bagaimana jalan cerita dan kelebihan dan kekurangan dari film ini. Walaupun peresensi belum membaca bukunya, tapi hal itu tidak mempengaruhi tulisannya dalam meresensi film. Karena yang ia lakukan bukan membandingkan buku dan filmnya.. tapi itu kan pendapat gw aja,, hehehe</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tips dan Trik Menghindari Copet di Bis]]></title>
<link>http://last90.wordpress.com/2010/04/07/tips-dan-trik-menghindari-copet-di-bis/</link>
<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 14:01:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>last90</dc:creator>
<guid>http://last90.wordpress.com/2010/04/07/tips-dan-trik-menghindari-copet-di-bis/</guid>
<description><![CDATA[Cuaca panas hari itu membuatku malas untuk pergi ke kampus. Jadi, aku sengaja untuk memperlambat keb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Cuaca panas hari itu membuatku malas untuk pergi ke kampus. Jadi, aku sengaja untuk memperlambat keberangkatanku ke kampus. Kuputuskan untuk berangkat setengah jam sebelum kelas dimulai. Padahal, aku tahu bahwa untuk sampai ke kampus, tidak mungkin bisa ditempuh dalam waktu setengah jam. Keberangkatanku dari rumah untuk sampai di kampus membutuhkan waktu 45 menit. Perjalanan yang kutempuh sedikit melelahkan, tapi cukup menyenangkan. Lalu aku menyetop bus jalur 7 sambil berharap bahwa bus yang aku tumpangi akan melaju dengan cepat. Dan keinginanku terkabul. Bus itu melaju dengan kencang karena tidak ingin disusul dengan bus yang ada di belakangnya.    Bus pun berhenti di Jembatan Janti. Aku berpikir, mengapa ya, supir bus ini harus berhenti cukup lama untuk mencari penumpang. Padahal, aku yakin di jalan nanti akan ada penumpang lagi. Tetapi itulah manusia, selalu merasa tidak puas dengan apa yang telah diperoleh. Beberapa penumpang pun naik. Ketika kuperhatikan, sebagian besar adalah penumpang bis dari Solo, yang kemudian berganti bis di bawah Jembatan Janti ini. Tinggal di Solo, tetapi bekerja atau belajar di Yogyakarta. Tak terbayang betapa melelahkannya perjalanan yang harus mereka tempuh setiap harinya. Hiruk pikuk di dalam bus membuat aku tak bisa memejamkan mata. Pengamen, pedagang asongan, penjual koran, atau pun penumpang yang mencari tempat duduk lalu lalang.Beragam<em> </em>profesi campur aduk di dalam bis tua ini, dan mereka harus berbaur menjadi satu.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah berhenti selama kurang lebih 10 menit, bus pun kembali melaju. Aku menengok keluar jendela. Hm, pantas saja. Sudah ada bus lain dengan jurusan yang sama mendekati area Jembatan Janti. Seakan menuntut haknya untuk mencari penumpang di tempat itu. Mungkin memang ada hukum tidak tertulis yang menyatakan bahwa sesama supir bus dengan jurusan yang sama tidak boleh saling mendahului. Dan, mungkin, ada pula aturan mengenai berapa lama bus harus berhenti untuk menunggu penumpang yang akan naik. Atau, solidaritas di antara sesama supir bus yang menyebabkan supir bus yang kutumpangi tahu diri. Ia memberikan kesempatan yang sama bagi bus di belakangnya untuk mencari penumpang. Aku tidak tahu.<strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong> Ketika bus sampai di Jalan Kaliurang, ada dua orang pria naik. Mereka mengenakan kaos, dengan ransel yang tergantung di pundak. Menilik dari penampilannya, kupikir mereka hanyalah mahasiswa yang biasa menggunakan bus jalur 7 ini, seperti halnya diriku. Jadi mereka kuabaikan saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika bus sampai di Fakultas Kedokteran, seorang mahasiswa kedokteran – aku tahu itu karena ia mengenakan jas co-ass – bersiap-siap hendak turun. Kedua ‘mahasiswa’ yang sebelumnya naik di Jalan Kaliurang pun ikut bergerak. Orang pertama mendahului mahasiswa kedokteran, lalu berdiri di depan pintu keluar. Dan orang kedua berdiri di belakang mahasiswa tersebut. Posisi mahasiswa berjas co-ass itu pun menjadi terjepit di antara dua orang.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://last90.files.wordpress.com/2010/04/19_ae_pick_pocketting01_4.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-113" title="COPET!!" src="http://last90.files.wordpress.com/2010/04/19_ae_pick_pocketting01_4.jpg?w=280&#038;h=214" alt="" width="280" height="214" /></a>Ketika mahasiswa kedokteran itu menyetop bus sambil berteriak, “Kiri!”, si orang pertama tidak langsung memberikan jalan agar mahasiswa kedokteran itu mudah keluar. Karena ternyata, pada saat yang bersamaan, orang kedua sedang beraksi, mencopet dompet mahasiswa malang tersebut. Aku melihat hal itu. Mereka berdua bukan mahasiswa! Mereka adalah pencopet. Tapi bibir ini mendadak kelu, tidak dapat berkata apa-apa. Bahkan untuk berteriak, “Copet!” pun aku tidak sanggup. Aku terlalu takut akan keselamatanku. Memang sedikit egois. Tapi, apa boleh buat. Akhirnya aku hanya berdoa semoga ada orang lain yang lebih berani dan menyadari hal itu lalu berteriak memperingatkan mahasiswa itu. Tiba-tiba, ketiga orang yang berdiri dekat pintu masuk bus hampir terjatuh akibat rem mendadak yang dilakukan oleh supir bus. Dan mahasiswa kedokteran itu merasa bahwa ada sesuatu yang ganjil. Dia langsung memeriksa saku belakangnya dan langsung menyadari bahwa dompetnya telah hilang. Dia pun mendamprat pencopet kedua, yang berdiri tepat di belakangnya. “Woi, lu copet ya?!”. Detik itu juga, pencopet kedua langsung mengoper) dompet tersebut ke pencopet pertama. Tapi mahasiswa kedokteran itu tidak menyadarinya. Lagi-lagi akupun melihat hal itu, tapi tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi ada seorang pelajar memberikan kode kepada mahasiswa kedokteran itu dan memberitahu bahwa dompetnya ada di pencopet pertama. Kemudian si mahasiswa kedokteran  membentak pencopet itu sambil memeriksa dengan paksa tas pencopet pertama. “Woi, kembalikan dompet <em>gue</em>!”. Dompet itu ditemukan di dalam tas pencopet pertama. Aksi pencopetan pun terbongkar. Si kenek bus – yang sepertinya sudah sangat akrab dengan situasi seperti ini – menyuruh mereka bertiga untuk cepat turun dan menyelesaikan permasalahannya di luar bus sehingga bus bisa melanjutkan perjalanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bus pun melanjutkan perjalanan. Saat itu, ada hal yang membuat aku terkejut. Supir bus itu berkata kepada keneknya “Aku <em>wis ngerti</em> dari tadi, makanya sengaja <em>ta’</em> <em>injek</em> rem mendadak.” Ternyata supir bus itu sudah hafal dengan wajah-wajah para pencopet! Tapi, kurasa supir itu berpikiran sama denganku. Demi keselamatan diri sendiri, lebih baik ia diam.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkaca dari pengalaman buruk di atas, aku ingin mengingatkan kepada pembaca agar berhati-hati dan selalu waspada ketika menggunakan kendaraan umum, terutama bus. Jagalah barang bawaan <span style="text-decoration:line-through;"> </span>anda di bus. Salah satu modus para pencopet – karena mereka jarang beroperasi sendiri – tersebut adalah merapatkan badannya dengan korban, atau mengapit korban di depan dan belakang ketika hendak turun dari bus. Dengan cara tersebut pencopet yang ada di belakangt korban bisa leluasa mengambil barang berharga korban, dan langsung mengoper ke temannya yang ada di depan korban. Sehingga ketika korban yang merasa dicopet mencoba memeriksa pelaku yang berdiri di belakangnya, barang bukti sudah lenyap.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa antisipasi yang bisa dilakukan adalah:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Jangan menaruh barang berharga – seperti ponsel, dompet – di bagian depan tas, di kantong, atau di tempat lain yang mudah dirogoh oleh pencopet.</li>
<li>Jika hendak turun dari bus, pastikan tas didekap di dada, tidak dibiarkan menggantung di samping badan atau di punggung.</li>
<li>Hati-hati jika ada orang yang merapatkan badannya ketika hendak turun dari bus. Apalagi jika kita merasa diapit dari dua sisi.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Mengutip pernyataan terkenal yang sering kudengar di televisi, kejahatan terjadi karena adanya kesempatan. Jadi, memang seharusnya kita yang waspada, agak tidak menjadi korban kejahatan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*ada juga link tips menghindari copet tapi di angkot,, lebih lengkapkap,, wkwkwk</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://eengsu.wordpress.com/2010/04/06/ciri-ciri-copet-dan-cara-menghindari-copet-diangkot/" rel="nofollow">http://eengsu.wordpress.com/2010/04/06/ciri-ciri-copet-dan-cara-menghindari-copet-diangkot/</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mau Kemana Kita?]]></title>
<link>http://last90.wordpress.com/2010/04/07/mau-kemana-kita/</link>
<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 14:00:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>last90</dc:creator>
<guid>http://last90.wordpress.com/2010/04/07/mau-kemana-kita/</guid>
<description><![CDATA[tugas essai yang gw kerjakan untuk memenuhi tugas mata kuliah menulis kreatif.. alaahhh.. silahkan d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>tugas essai yang gw kerjakan untuk memenuhi tugas mata kuliah menulis kreatif.. alaahhh.. silahkan dibaca hohoho.. semoga bermanfaat.. ^___^</p>
<p>Perkenalkan, Mush’ab bin Umair. Pemuda rupawan, pandai, dan bergelimang harta. Para pemuda iri padanya, para pemudi mengharapkannya. Penduduk Mekkah dapat menerka bahwa Mush’ab baru saja melewati suatu tempat, hanya dengan mencium jejak wewangian yang ditinggalkannya. Tetapi, ketika cahaya Islam menerpa, berubah pula ucap, laku, dan segala gaya hidupnya. Ia mengemban tugas sebagai duta pertama dalam Islam. Dan gugur sebagai pembela agama, dalam keadaan yang sangat bersahaja.</p>
<p>Kita juga mengenal seorang Kartini. Pada usia belia, nurani kritisnya mulai bertanya-tanya mengenai minimnya akses bagi kaum perempuan untuk memperolah pendidikan. Melalui surat-suratnya, terpancar tekad untuk memperjuangkan nasib kaumnya.</p>
<p>Elang Gumilang, seorang mahasiswa sebuah institut di kota hujan, Bogor,  berhasil meraih penghargaan tertinggi Wirausaha Muda Mandiri Indonesia 2007 kategori mahasiswa. Ia mengelola Perumahan Sehat Sederhana Griya Salak Endah. Di usia mudanya, ia mampu meringankan beban orang tua.</p>
<p>Sebagai mahasiswa semester 4, usia kita tak terpaut jauh dari figur-figur di atas. Mereka sudah mencatat prestasi yang menginspirasi. Prestasi yang akan dikenang sepanjang masa. Bagaimana dengan kita? Apa yang bisa kita lakukan? Jawabannya adalah: Apapun! Kita dapat melakukan apapun yang kita mau.</p>
<p>Mencermati kehidupan sehari-hari mahasiswa di Yogyakarta, ada beragam pilihan terhampar di depan mata. Sebagian memilih untuk menenggelamkan diri di perpustakaan. Berharap, tulisan-tulisan para intelektual terdahulu dapat memperkaya wawasan. Sebagian lain membunuh waktu di plaza. Jalan-jalan, berbelanja, atau sekadar cuci mata. Ada yang memilih terbang dari satu tempat hiburan malam ke tempat hiburan malam lainnya. Uji organoleptik beraneka warna dan rasa minuman. Seakan mencari tahu, minuman macam apa yang dapat menerbangkan pikiran ke angkasa. Haram? Tak jadi beban pikiran. Ada pula yang memilih beristirahat di tempat kos, ditemani pisang goreng hangat ditambah teh <em>nasgitel</em>, novel, atau film Korea bertemakan cinta.</p>
<p>Di laboratorium, berkumpul mahasiswa berjas putih berkutat dengan penelitian, yang mungkin suatu saat akan mengubah dunia. Di sudut koridor kampus, aktivis mahasiswa bergumul dengan rapat, agenda kerja, <em>event</em>, atau demonstrasi pembakar semangat. Mereka bergerak dengan keyakinan bahwa pemuda adalah agen perubah. Mereka mencoba melakukan perubahan yang positif di lingkungannya. Walaupun perbedaan yang tampak hanya sesenti, tak menjadikan mereka kecewa. Karena, esensinya terletak pada seberapa gigih mereka berusaha.</p>
<p>Mahasiswa-mahasiswa di atas telah mulai menuliskan lembar sejarah hidup yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Begitupun dengan kita. Pilihan hidup ada di tangan kita. Hendak kemana. Akan jadi apa. Baik. Buruk. Hitam. Putih.</p>
<p>Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Pepatah lama mengatakan, gajah mati meningggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama. Bagaimana kelak kita akan dikenang, ditentukan oleh apa yang kita lakukan sekarang. Saat ini. Yuk, berbuat sesuatu, selama masih ada waktu. Lakukan sesuatu yang berarti, karena siapa tahu&#8230; esok kita mati.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MAP OF LIFE ]]></title>
<link>http://veronikacloset.wordpress.com/2010/03/16/map-of-life/</link>
<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 21:50:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>Veronika Gunartati</dc:creator>
<guid>http://veronikacloset.wordpress.com/2010/03/16/map-of-life/</guid>
<description><![CDATA[Prolog : Orang mengatakan, “Rajah tanganmu mengungkapkan kisah hidupmu.” Seseorang yang lain mengata]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Prolog : Orang mengatakan, “Rajah tanganmu mengungkapkan kisah hidupmu.” Seseorang yang lain mengata]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Workshop "Cara Cepat Menulis Buku" 21 November - Kado buat Guru/Dosen]]></title>
<link>http://dodimawardi.wordpress.com/2009/10/25/workshop-cara-cepat-menulis-buku-21-november-kado-buat-gurudosen/</link>
<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 08:33:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>dodimawardi</dc:creator>
<guid>http://dodimawardi.wordpress.com/2009/10/25/workshop-cara-cepat-menulis-buku-21-november-kado-buat-gurudosen/</guid>
<description><![CDATA[Workshop ”CARA CEPAT MENULIS BUKU” METODE 12 PAS Angkatan ke-8 Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia kem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Workshop<br />
”CARA CEPAT MENULIS BUKU”<br />
METODE 12 PAS<br />
Angkatan ke-8</p>
<p>Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia kembali menggelar seminar menulis buku angkatan ke-8, dengan semangat lebih membara dan menggebu-gebu! Lagi pula, momentnya bertepatan dengan hari guru. Jadi workshop kali ini, memberikan kado spesial buat para guru/dosen, berupa diskon!</p>
<p>Waktu: Hari Sabtu  21 November  2009  pukul  09.00 sampai 17.00<br />
Tempat: Sekolah Menulis Kreatif  Indonesia, Plaza Tendean Lt 3.<br />
Jalan Kapten Tendean Mampang Jakarta Selatan.</p>
<p>Biaya pelatihan Rp 350.000 (umum), Rp 150.000 (mahasiswa, guru dan dosen).<br />
Early bird sampai dengan 15 November 2009  Rp 300.000<br />
Untuk member Profec berlaku biaya early bird.</p>
<p>Benefit:<br />
-	Memperoleh SERTIFIKAT (terutama untuk guru dan dosen)<br />
-	Mendapatkan MATERI dan CD tentang industri penulisan.<br />
-	Sejumlah EBOOK tentang penulisan, novel dan skenario.<br />
-	Diskon 20% kelas intensif kursus menulis di Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia.<br />
-	Makan siang dan cofee break.</p>
<p>Layanan purna workshop:<br />
-	Masuk milist para penulis.<br />
-	Dikenalkan ke penerbit terkemuka.<br />
-	Konsultasi seumur hidup. </p>
<p>Dalam workshop ini Anda akan memelajari:<br />
1.    Dasar-dasar Penulisan Buku.<br />
2.    Menghancurkan Blocking Mental.<br />
3.    Mengenal Industri Buku dan Penerbit<br />
4.    Cara Menembus Penerbit<br />
5.    Menemukan Ide Sesuai Selera Pasar<br />
6.    Merancang Kerangka Tulisan.<br />
7.    Mengenal METODE penulisan 12 PAS  </p>
<p>Pembicara:<br />
1.	Dodi Mawardi (Penulis/Pelatih Menulis, Dosen UI)<br />
2.	Aloysius Ari (Wakil GM Elex Media Komputindo)<br />
3.	Ning Harmanto (Penulis &#38; pemilik usaha ”Mahkota Dewa”)</p>
<p>Untuk Informasi dan pendaftaran Hubungi:<br />
Sdri. Emma  021-33556975    08158237831</p>
<p>Workshop ini didukung penuh oleh Profec Author Club (PAC)</p>
<p>Cara pembayaran:<br />
Paling lambat tanggal 18 November 2009,  ke rekening BCA an Rachmajanti no. 6070125836. Konfirmasi setelah melakukan pembayaran ke nomor di atas. </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Siapa Bilang Royalti Buat Penulis Terlalu Kecil?]]></title>
<link>http://dodimawardi.wordpress.com/2009/10/19/siapa-bilang-royalti-buat-penulis-terlalu-kecil/</link>
<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 04:06:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>dodimawardi</dc:creator>
<guid>http://dodimawardi.wordpress.com/2009/10/19/siapa-bilang-royalti-buat-penulis-terlalu-kecil/</guid>
<description><![CDATA[Royalti Menulis Kecil? Ah Massa! Oleh Dodi Mawardi Sekolah Menulis Kreatif Indonesia Setiap kali say]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Royalti Menulis Kecil? Ah Massa!</strong></p>
<p>Oleh Dodi Mawardi</p>
<p>Sekolah Menulis Kreatif Indonesia</p>
<p>Setiap kali saya bertanya kepada kolega tentang menulis buku, salah satu jawaban yang paling sering terlontar adalah “Royaltinya kecil sih.” Jawaban itu dianggapnya sebagai pembenaran terhadap kemasalannya dalam menulis. Atau keengganannya dalam menulis. Padahal mereka yang saya ajak atau dorong untuk menulis buku adalah mereka yang punya tingkat intelektualitas tinggi, berpengetahuan luas, memiliki keahlian dan kelebihan lainnya.</p>
<p>Sejumlah pakar pun seolah mengamini pendapat itu, seolah-olah memang benar, bahwa royalti penulis kecil. Mereka juga tidak segan menyalahkan penerbit yang dianggap sebagai perwakilan kaum imperialis atau pemilik modal. Benarkah demikian? Coba kita urai satu per satu dan kita bandingkan dengan negara lain atau industri lainnya.</p>
<p>Pertama, mari kita bandingkan dengan negara lain. Ternyata oh ternyata, di semua negara di dunia ini, royalti untuk penulis sama, yaitu berkisar antara 10 persen sampai 15 persen. Tidak lebih dan tidak kurang. Di Amerika, banyak penerbit yang menerapkan sistem royalti 10% untuk penulis pemula, atau untuk buku dengan angka penjualan sampai 5.000 eksemplar. Makin banyak jumlah buku terjual, prosentasi royaltinya pun bertambah sampai maksimal 15%.</p>
<p>Apakah sama dengan di Indonesia? Sama persis! Kira-kira memang sebesar itulah royalti yang diperoleh penulis. Emang mau dapat berapa sehingga angkanya menjadi besar? Oh, ada calon penulis sekali lagi calon penulis yang meminta 20% bahkan 25% atau lebih. Yeee, kalau mau sebesar itu terbitkan saja bukunya sendiri, tak usah memakai penerbit. Perlu kita ketahui bahwa keuntungan penerbit untuk sebuah buku tidak pernah lebih dari 15-20%. Malah banyak yang hanya mendapat 5-10%. Hasil penjualan habis untuk biaya produksi, rabat di toko buku, diskon untuk distributor dan royalti penulis.</p>
<p>Dari uraian pertama ini, sudah jelas keliru kalau menyebut royalti penulis kecil, karena di semua negarapun angkanya memang sebesar itu. Lalu kenapa penulis-penulis di Amerika atau negara lain lebih makmur dibanding di Indonesia? Hehe, jangankan penulis, di semua bidang lain pun memang keadaannya demikian bukan? Apakah artis Indonesia lebih makmur dibanding artis Amerika? Apakah olahragawan Indonesia lebih makmur dibanding atlet Amerika? Apakah penyanyi Indonesia lebih makmur dibanding penyanyi Amerika? Jawabannya sudah jelas, tidak!</p>
<p>Kondisi di sana sama sekali berbeda. Yang membuat penulis di Amerika bisa menikmati royalti besar karena jumlah buku yang terjual rata-rata lebih banyak. Kalau di Indonesia rata-rata hanya 3000 eksemplar, maka di Amerika rata-rata 10.000 eksemplar bahkan lebih. Pengeluaran orang Amerika untuk membeli buku jauh lebih tinggi dibanding orang Indonesia. Sebuah survey di negara itu menunjukkan bahwa rata-rata orang Amerika selama hidupnya membaca 1000 judul buku.</p>
<p>Kedua, mari kita bandingkan dengan industri musik yang juga banyak menggunakan sistem royalti. Secara kasat mata, tingkat kemakmuran artis jauh melebihi penulis. Kenapa bisa demikian? Apakah karena royalti mereka lebih besar? Perlu kita ketahui bahwa royalti penyanyi rata-rata hanya 5%. Penyanyi pendatang baru mungkin saja hanya dinilai 2,5% royalti. Sebaliknya penyanyi top, bisa mendapatkan maksimal 10%, sekali lagi maksimal. Jarang-jarang yang bisa mendapatkan royalti sebesar itu. Lalu kenapa mereka bisa lebih kaya dibanding penulis?</p>
<p>Ternyata jumlah kaset dan cd (sekarang ditambah ring back tone) jauh lebih besar daripada peredaran buku. Masyarakat Indonesia lebih menghargai karya musik dibanding karya tulis. Mereka rela mengeluarkan uang antara Rp 20.000 (kaset) sampai Rp 35.000 (untuk CD) dan Rp 7.000 (RBT/bulan). Sehingga jumlah edar sebuah album lagu, bisa menembus angka 50.000 (standar keberhasilan) sampai 2 juta copy. Jadi, wajar mereka makmur karena meski royaltinya hanya 5% tapi volumenya besar, sehingga nilainya juga besar.</p>
<p>Nah, sudah jelas bukan, uang yang didapatkan penulis cenderung sedikit bukan karena prosentase royaltinya yang kecil, melainkan karena jumlah peredaran bukunya yang masih minim. Kalau mau dapat royalti melimpah, tulislah karya yang disukai pembaca seperti Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, Change, Quantum Ikhlas dll.</p>
<p>Selamatmenjadi penulis!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kursus Menulis Intensif 3 Bulan Mulai 22 Oktober]]></title>
<link>http://dodimawardi.wordpress.com/2009/10/19/kursus-menulis-intensif-3-bulan-mulai-22-oktober/</link>
<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 03:51:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>dodimawardi</dc:creator>
<guid>http://dodimawardi.wordpress.com/2009/10/19/kursus-menulis-intensif-3-bulan-mulai-22-oktober/</guid>
<description><![CDATA[Masih dibuka! Kursus menulis intensif selama 3 bulan fiksi (novel dan cerpen) dan non fiksi (buku po]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Masih dibuka!<br />
Kursus menulis intensif selama 3 bulan fiksi (novel dan cerpen) dan non fiksi (buku populer) di Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia. Pendaftaran ditutup hari Kamis, 22 Oktober 2009. Kursus ini sangat intensif dan memaksa Anda untuk menghasilkan karya selama kursus, karena dibimbing oleh praktisi penulisan. Satu kelas kursus jumlah peserta maksimal hanya 10 orang.</p>
<p>Kursus menulis fiksi<br />
-	Setiap Kamis, jam 18.30 – 20.30 mulai 22 Oktober 2009.<br />
-	Mentor: E.S. Ito (penulis novel Negara Kelima dan Rahasia Meede) dan Jonru (pengelola situs penulislepas.com)<br />
-	Biaya kursus: Rp 2.500.000   (Sampai Oktober ini diskon 20%)</p>
<p>Kursus menulis non fiksi<br />
-	Setiap Jumat, jam 18.30 – 20.30 mulai 23 Oktober 2009.<br />
-	Mentor: Dodi Mawardi (penulis buku Belajar Goblok dari Bob Sadino dan pengelola Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia).<br />
-	Biaya kursus: Rp 2.500.000 (sampai Oktober ini diskon 20%).</p>
<p>Layanan selama kursus:<br />
-	Mendapatkan bimbingan intensif di kelas dan di luar kelas.<br />
-	Mendapatkan materi kursus yang lengkap.<br />
-	Gratis buku “Cara Mudah Menulis Buku Metode 12 PAS” karya Dodi Mawardi.<br />
-	Ruangan kelas yang sangat nyaman<br />
-	Gratis minuman dan makanan ringan</p>
<p>Layanan purna kursus:<br />
-	Konsultasi seumur hidup<br />
-	Karya peserta akan disalurkan ke penerbit bonafid (Elex Media, Penebar Swadaya, Tiga Serangkai dll).<br />
-	Jaminan karya diterbitkan!</p>
<p>Jangan sia-siakan kesempatan menulis buku sendiri dan belajar dari ahlinya.</p>
<p>Segera daftarkan ke:<br />
Emma 08158237831, 021-33556975<br />
Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia<br />
Plasa Tendean lt 3.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia Diresmikan]]></title>
<link>http://dodimawardi.wordpress.com/2009/09/02/sekolah-menulis-kretif-indonesia-diresmikan/</link>
<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 03:47:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>dodimawardi</dc:creator>
<guid>http://dodimawardi.wordpress.com/2009/09/02/sekolah-menulis-kretif-indonesia-diresmikan/</guid>
<description><![CDATA[Press Release: Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia Resmi Beroperasi 1 September Sekolah Menulis Kre@ti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Press Release: Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia Resmi Beroperasi 1 September</strong></p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-262" title="Suyukuran web pages 1" src="http://dodimawardi.files.wordpress.com/2009/09/suyukuran-web-pages-1.jpg?w=300&#038;h=224" alt="Suyukuran web pages 1" width="300" height="224" /></p>
<p>Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia (SMKI) resmi beroperasi 1 September kemarin, ditandai dengan syukuran sekaligus buka puasa bersama di Plasa Tendean lt 3 Jalan Tendean Mampang Jakarta Selatan. SMK Indonesia merupakan tempat kursus menulis pertama yang membuka kelas semi formal dan permanen di sebuah tempat strategis di kawasan Tendean Jakarta Selatan. Selama ini, tempat kursus atau pelatihan menulis lebih banyak diselenggarakan secara parsial dan lokasinya pun berpindah-pindah.</p>
<p>Sebelum menjadi SMK Indonesia, pengelolanya merupakan mentor dan penyelenggara pelatihan menulis di Profec (sebuah milist untuk kalangan profesional dan entrepreneur), yang sudah berkegiatan sejak Desember 2008. Perkembangan industri menulis yang semakin bergairah, membuat pengelola yakin untuk membangun Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia. Apalagi, pemerintah juga sedang menggalakkan pendidikan kejuruan berupa kursus. Klop.</p>
<p>Penulis buku laris <em>Sales Kaya Sales Miskin</em> – Tirta Setiawan mengungkapkan, harapan ke depan, sekolah ini akan menjadi sebuah akademi menulis pertama di Indonesia. Paling tidak bisa menjadi sebuah perguruan tinggi sekelas politeknik. Tirta melihat potensi ke arah tersebut terbuka lebar. Namun ia mengingatkan agar pengelola SMK Indonesia, tetap fokus menjalankan kegiatannya.</p>
<p>Hadir dalam cara syukuran tersebut beberapa penulis buku laris lainnya seperti Valentino Dinsi (Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian), Wahyu Saidi (penulis 31 judul buku), Freddy Pieloor (Jangan Beli Unit Link), dan  Lisa Kuntjoro (Super Champion). Selain itu, hadir pula Ketua Yayasan Puri Cikeas Marsekal (purn) Drs. Suratto, yang ikut mendukung berdirinya pusat kursus ini. Mereka sepakat Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia akan mampu menjadi salah satu tempat yang menelurkan penulis-penulis penyebar ilmu pengetahuan di negeri ini.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-263" title="Suyukuran web pages 2" src="http://dodimawardi.files.wordpress.com/2009/09/suyukuran-web-pages-2.jpg?w=300&#038;h=224" alt="Suyukuran web pages 2" width="300" height="224" /></p>
<p>Pusat kursus ini menyelenggarakan berbagai kelas menulis, yaitu menulis skenario sinetron, kursus menulis buku populer non fiksi, buku fiksi (novel/cerpen), kursus menulis untuk anak-anak, kursus untuk pensiunan, ibu rumah tangga, kursus menulis privat, <em>inhouse training/mentoring</em>, serta kelas menulis di internet/blog.</p>
<p>SMK Indonesia digawangi oleh penulis (spesialis penulis pendamping) Dodi Mawardi, dan didukung oleh sejumlah penulis senior sebagai tenaga pengajar, seperti Dono Indarto (penulis skenario), Jonru (penulisan fiksi), Joko Wibowo (Editor buku anak Elex Media Komputindo), Nyuwan SB (penulis dan editor Penebar Swadaya), Johannes Arifin Wijaya (penulis produktif) dan Ning Harmanto (penulis dan pengusaha Mahkota Dewa) dll.</p>
<p>Kunjungi:</p>
<p><a href="http://www.dodimawardi.com/">www.dodimawardi.com</a></p>
<p><a href="http://www.dodimawardi.wordpress.com/">www.dodimawardi.wordpress.com</a></p>
<p>Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia</p>
<p>Plasa Tendean Lt 3 Mampang Jaksel</p>
<p>021-33556975</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Semua Orang Punya Peluang Sama Menjadi Penulis Buku]]></title>
<link>http://dodimawardi.wordpress.com/2009/07/23/semua-orang-punya-peluang-sama-menjadi-penulis-buku/</link>
<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 14:51:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>dodimawardi</dc:creator>
<guid>http://dodimawardi.wordpress.com/2009/07/23/semua-orang-punya-peluang-sama-menjadi-penulis-buku/</guid>
<description><![CDATA[Semua Orang Punya Peluang Sama Menjadi Penulis Buku Industri penulisan khususnya penulisan buku, sam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Semua Orang Punya Peluang Sama Menjadi Penulis Buku</p>
<p>Industri penulisan khususnya penulisan buku, sama uniknya dengan industri musik. Kata mereka yang sudah lama berkecimpung di bisnis ini, ”Tidak ada perusahaan besar yang bisa membunuh perusahaan kecil.” Begitu pula sebaliknya, pikir saya. Tak ada perusahaan kecil yang akan mampu menggulung perusahaan kecil. Jika ditarik ke industri penulisan buku, maka kira-kira begini bunyinya, ”Tak ada penulis besar yang akan membunuh penulis kecil (pemula),” dan begitu pula sebaliknya.</p>
<p>Kira-kira lagi (karena tak ada yang pasti) begini analisisnya. Ketika kita memutuskan membeli sebuah kaset atau CD, apa yang menjadi pertimbangan utama? Jawabannya mungkin saja, penyanyinya, atau lagunya, atau liriknya atau alasan lainnya. Untuk yang fanatik, bisa jadi memilih karena penyanyinya. Tapi bagi mereka yang tidak fanatik, biasanya ”yang penting lagunya enak” yang menjadi alasan.</p>
<p>Demikian pula di industri penulisan buku. Apa sih yang menjadi alasan kita memutuskan membeli sebuah buku? Apakah karena penulisnya? Atau karena tema dan isinya? Atau mungkin karena judulnya yang provokatif dan sampulnya yang menarik? Ya, semua itu mungkin saja menjadi alasan. Sebuah survey di Amerika Serikat satu dekade silam, menunjukkan hasil yang membuat lega para penulis pemula.</p>
<p>Hasilnya adalah (kira-kira):</p>
<ol>
<li>40%      membeli buku karena TEMA-nya.</li>
<li>20%      membeli karena reputasi penulisnya.</li>
<li>Sisanya      membeli karena judulnya, disain sampulnya, tata letak halamannya dan      lain-lain.</li>
</ol>
<p>Kesimpulannya adalah laku atau tidaknya sebuah buku, penentu utama bukanlah reputasi penulisnya, melainkan temanya. Memang benar, keterkenalan penulis berpengaruh, tapi angkanya jauh di bawah kekuatan tema. Jika penulis berreputasi menulis tema yang tidak menarik, kemungkinan besar bukunya tidak akan laris. Sebaliknya, jika ada penulis baru yang mampu menghadirkan buku dengan tema menarik dan berkualitas, pastilah bukunya akan laku.</p>
<p>Sudah banyak contoh yang bisa menjadi pelajaran buat kita. Misal, Andrea Hirata penulis buku Laskar Pelangi. Buku itu adalah buku pertama yang ditulisnya dan langsung menjadi buku teramat laris. Padahal, siapa yang mengenal nama penulisnya sebelum buku itu meluncur? Atau Valentino Dinsi, penulis buku Jangan Mau Seumur Hidup jadi Orang Gajian. Itu adalah buku pertamanya yang langsung terjual lebih dari 200 ribu eksemplar selama lebih dari 3 tahun beredar.</p>
<p>Jadi, siapapun Anda dengan latar belakang apapun, sudah berpengalaman atau belum, punya peluang yang sama menjadi penulis buku laris! Yang penting ada kemauan untuk belajar dan berkarya.</p>
<p>Selamat menulis!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[3 Pasang Bapak-Anak Ikut Pelatihan Cara Cepat Menulis Buku]]></title>
<link>http://dodimawardi.wordpress.com/2009/03/29/3-pasang-bapak-anak-ikut-pelatihan-cara-cepat-menulis-buku/</link>
<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 17:03:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>dodimawardi</dc:creator>
<guid>http://dodimawardi.wordpress.com/2009/03/29/3-pasang-bapak-anak-ikut-pelatihan-cara-cepat-menulis-buku/</guid>
<description><![CDATA[Pelatihan Cara Cepat Menulis Buku Metode 12 PAS angkatan ke-6 yang didukung penuh oleh Profec Author]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pelatihan Cara Cepat Menulis Buku Metode 12 PAS angkatan ke-6 yang didukung penuh oleh Profec Author Club/Community, berlangsung lancar dan sukses pada hari Sabtu 28 Maret kemarin. Jumlah peserta yang ikut ambil bagian adalah 18 orang, plus 2 peserta kehormatan dari penerbit Penebar Swadaya dan satu peserta observer dari Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI).</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-170" title="Pelatihan Menulis Buku 28 Maret 2009" src="http://dodimawardi.files.wordpress.com/2009/03/image156.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Pelatihan Menulis Buku 28 Maret 2009" width="300" height="225" /></p>
<p>Yang menarik adalah ikut sertanya 3 pasang bapak-anak dalam pelatihan ini, salah satunya adalah pasangan member Profec bapak Sutopo dan mbak Oryza. Kehadiran mereka memberikan nuansa tersendiri dalam pelatihan ini.</p>
<p>Dari pelatihan ini panitia kembali mendapatkan 21 tema menarik, yang akan digarap oleh masing-masing peserta. Mulai dari tema tentang anak-anak sampai tema politik. Beberapa ide peserta seperti panduan efisien menggunakan pompa air, trik survival bagi Anda yang baru bercerai dan menengok calon bayi melalui USG, langsung mendapatkan respon positif dari penerbit Penebar Swadaya. Dengan kata lain, penerbit tertarik untuk menindaklanjuti ide-ide tersebut.  Artinya, pelatihan ini bukan sekedar teori melainkan sudah langsung praktik dan dihubungkan ke penerbit besar sekelas Penebar Swadaya. Selain Penebar, panitia juga akan membantu para calon penulis untuk berhubungan dengan penerbit lainnya seperti Elex Media Komputindo atau Tiga Serangkai.</p>
<p>Sebagai bukti keseriusan pelatihan ini dalam mencetak penulis baru, kami berikan mentoring intensif selama 12 pekan (sesuai metode 12 PAS). Dan kami baru akan mengadakan pelatihan serupa di Jakarta, 3 bulan mendatang, setelah selesai mentoring intensif terhadap alumni pelatihan angkatan ke-6 ini.</p>
<p>Satu orang cukup menulis satu buku seumur hidupnya&#8230;</p>
<p>Keep writing!</p>
<p>Dodi Mawardi</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
