<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>menunduk &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/menunduk/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "menunduk"</description>
	<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 15:45:11 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Hari Ibu dan Saya]]></title>
<link>http://endangcinta.wordpress.com/2008/12/22/hari-ibu-dan-saya/</link>
<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 16:21:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>endangpurwani</dc:creator>
<guid>http://endangcinta.wordpress.com/2008/12/22/hari-ibu-dan-saya/</guid>
<description><![CDATA[Hari ini, seperti tahun-tahun yang lalu. Seperti hari-hari biasanya, hanya sebuah hari yang baru dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Hari ini, seperti tahun-tahun yang lalu. Seperti hari-hari biasanya, hanya sebuah hari yang baru dan akan berganti tepat dini hari nanti. Hingga pesan singkat seluler masuk,&#8221; Selamat Hari Ibu bagi semua ibu di Indonesia&#8221;. Dari seorang perempuan, seorang ibu.</p>
<p>Saya tertegun. Membalas pesan singkat,&#8221; Selamat Hari Ibu juga&#8221; &#8230;tanpa rasa. Tak ada bungah apalagi bangga. Tak ingin apa-apa. Apalagi ingin diistimewakan sesaat. Di sudut benak tercetus tanya,&#8221; apakah memang istimewa?&#8221;</p>
<p>Surat elektronik dengan bahasa bunga berbunga, puitis, ungkapan selamat. Dari para adam. Satu teman perempuan dan ibu menjawab,&#8221; Waaah&#8230;.hari ini betul merasa tersanjung&#8230;&#8221;. Saya, tertunduk malu. Bertanya-tanya sendiri tentang bagian mana yang harus disanjung. Tersipu mengingat apa yang sudah terasakan di setiap menit. Beragam jenis cinta dari lelaki yang sama, dan terlalu banyak lagi yang tak mungkin tersebutkan agar tak terkesan pamer. Makin malu.</p>
<p>Lelaki ini, yang selalu memberi&#8230;&#8230;..dia memberi lebih banyak. Saya, tak ada yang istimewa, tetap begitu. Keseharian, keharusan, bertahun namun masih juga tak pernah sempurna. Rasanya tak menandingi apa yang lelaki ini berikan. Maka begitulah mengapa saya malu, amat malu.</p>
<p>Saya perempuan, dan saya ibu. Maka begitulah nafas saya akan terhembuskan seperti setapak yang tergariskan. Tergariskan maka tak ada alasan untuk mengelak . Dan itulah mengapa tak istimewa. Ada atau tidak hari ini, begitulah kewajarannya. Dan memberi seharusnya membandingkan dengan dia yang memberi lebih banyak. Bukan menerima lebih besar. Dan semakin memikirkannya, maka semakin kuranglah rasanya bagian saya dalam memberi. Itulah mengapa malu.</p>
<p>Saya, cukup saja memahami dari sorot mata yang begitu mencintai&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ayat Kursi]]></title>
<link>http://endangcinta.wordpress.com/2008/05/27/ayat-kursi/</link>
<pubDate>Tue, 27 May 2008 00:09:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>endangpurwani</dc:creator>
<guid>http://endangcinta.wordpress.com/2008/05/27/ayat-kursi/</guid>
<description><![CDATA[Dengarkan saja&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.atau ikuti&#8230;.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Dengarkan saja&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.atau ikuti&#8230;.</strong></p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/D-NVjsnwZkw&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/D-NVjsnwZkw&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kamboja dan Tanah Merah Basah]]></title>
<link>http://endangcinta.wordpress.com/2008/05/26/kamboja-dan-tanah-merah-basah/</link>
<pubDate>Sun, 25 May 2008 23:23:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>endangpurwani</dc:creator>
<guid>http://endangcinta.wordpress.com/2008/05/26/kamboja-dan-tanah-merah-basah/</guid>
<description><![CDATA[Menatap pada pucuk-pucuk Kamboja di tepian atap, mata ini masih sayu. Berat sekali untuk tak ingin t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Menatap pada pucuk-pucuk Kamboja di tepian atap, mata ini masih sayu. Berat sekali untuk tak ingin terpejam. Ada selaksa rasa lelah menggantungi kelopak mata dan sisa tetes air kehilangan. Merah muda Kamboja tak mampu  mengangkat duka yang tertinggal di sudut hati ini. Dan meski tidur beberapa lama, tak mungkin mimpi buruk itu berganti menjadi kembali indah. Karena yang pergi akan tetap pergi.</p>
<p>Sudut hatiku terasa kosong. Semakin terasakan ada bagiannya yang tercerabut karena sebuah Kehendak yang Maha Mutlak. Aku menghitung jumlah kumpulan kepala yang bisa kusapa kutatap kucium, tak genap lagi. Belum satu tahun dan airmata belum mengering, kini harus tertumpah lagi. Ketentuan sudah menghampiri dan tak satupun bisa mengatakan kata tidak.</p>
<p>Matahari yang kutatap kini, mungkinkah menyampaikan pesanku untuk bertanya apa kiranya yang paling Dia inginkan dariku. Aku tak ingin menggugat karena aku menerima. Hanya aku masih terus mencari pada siapa segala pesanNya disampaikan melalui bunga-bunga yang mulai gugur. Untukku, mungkin untukku, begitu kata hati ini. Aku tak terbebani dengan segala yang mungkin memang ditinggalkan untuk kusentuh. Tapi tak mungkin kubantah kalau aku menangisi warisan yang dia tinggalkan untukku, dan pasti menangisi kepergiannya.</p>
<p>Kalau kutundukkan kepala ini mengingat detik-detik akhir yang ada, napas panjangku pasti tertarik tanpa sadar. Memang pesan itu untukku karena aku yang merasakan ketika langkah kaki ini begitu saja melangkah kesana. Semua tergerakkan hanya karena rasa cintaku pada dia. Dan tatapan matanya yang terakhir merintih padaku, tak sanggup kubalas dengan sempurna. Dan kini akan terbawa dalam benakku hingga akhir nanti.</p>
<p>Aku masih ingin berbincang cengkerama dekat dengannya, sebelum waktunya berputar disini usai. Entah konyol, entah tak waras&#8230;&#8230;..tapi aku ingin berbincang lagi untuk yang terakhir. Setelah itu, selamat jalan adalah satu-satunya kata yang kupunya untuknya dan tak akan kuganggu perjalanannya. Dan taburan bunga akan selalu ada di atas tanah yang masih merah basah ini&#8230;&#8230;..</p>
<p>Kamboja merah muda, sampaikan salam kasihku baginya bersama embun yang menyertaimu pengganti airmataku&#8230;&#8230;..</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
