<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>metode-ilmiah &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/metode-ilmiah/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "metode-ilmiah"</description>
	<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 02:31:07 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Pengertian Antropologi dan Ruang Lingkupnya]]></title>
<link>http://manshurzikri.wordpress.com/2009/11/27/pengertian-antropologi-dan-ruang-lingkupnya/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 14:11:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>manshurzikri</dc:creator>
<guid>http://manshurzikri.wordpress.com/2009/11/27/pengertian-antropologi-dan-ruang-lingkupnya/</guid>
<description><![CDATA[Pengertian Antropologi adalah semua hal tentang manusia, dan merupakan tanggung jawab antropologi un]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pengertian Antropologi adalah semua hal tentang manusia, dan merupakan tanggung jawab antropologi un]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[APA ITU METODE ILMIAH ???]]></title>
<link>http://tonizone.wordpress.com/2009/10/06/apa-itu-metode-ilmiah/</link>
<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 11:30:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>DJ. Freeze</dc:creator>
<guid>http://tonizone.wordpress.com/2009/10/06/apa-itu-metode-ilmiah/</guid>
<description><![CDATA[Metode ilmiah boleh dikatakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pert]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Metode ilmiah boleh dikatakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Karena itu, penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang dekat sekali, jika tidak dikatakan sama. Dengan adanya metode ilmiah, pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil umum akan mudah terjawab, seperti menjawab seberapa jauh, mengapa begitu, apakah benar, dan sebagainya.</p>
<p>Menurut Almadk (1939),” metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.”<br />
Metode ilmiah dalam meneliti mempunyai kriteria serta langkah-langkah tertentu dalam Metode ilmiah bekerja. seperti di bawah ini.<br />
<!--more--><br />
Kriteria<br />
1. Berdasarkan fakta<br />
2. Bebas dari prasangka<br />
3. Menggunakan prinsip-prinsip analisa<br />
4. Menggunakan hipolesa<br />
5. Menggunakan ukuran objektif<br />
6. Menggunakan teknik kuantifikasi</p>
<p>Langkah-langkah<br />
1. Memilih dan mendefinisikan masalah.<br />
2. Survei terhadap data yang tersedia.<br />
3. Memformulasikan hipotesa.<br />
4. Membangun kerangka analisa serta alat-alat dalam menguji hipotesa.<br />
5. Mengumpulkan data primair.<br />
6. Mengolah, menganalisa serla membuat interpretasi.<br />
7. Membual generalisasi dan kesimpulan.<br />
8. Membuat Laporan</p>
<p>KRITERIA METODE IMIAH<br />
Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:<br />
1. Berdasarkan fakta.<br />
2. Bebas dari prasangka (bias)<br />
3. Menggunakan prinsip-prinsip analisa.<br />
4. Menggunakan hipotesa<br />
5. Menggunakah ukuran objektif.<br />
6. Menggunakan teknik kuantifikasi.</p>
<p>6.1. Berdasarkan Fakta<br />
Keterangan-keterangan yang ingin diperoleh dalam penelitian, baik yang akan dikumpulkan dan yang dianalisa haruslah berdasarkan fakta-fakta yang nyata. Janganlah penemuan atau pembuktian didasar-kan pada daya khayal, kira-kira, legenda-legenda atau kegiatan sejenis.</p>
<p>6.2. Bebas dari Prasangka</p>
<p>Metode ilmiah harus mempunyai sifat bebas prasangka, bersih dan jauh dari pertimbangan subjektif. Menggunakan suatu fakta haruslah dengan alasan dan bukti yang lengkap dan dengan pembuktian yang objektif.</p>
<p>6.3. Menggunakan Prinsip Analisa</p>
<p>Dalam memahami serta member! arti terhadap fenomena yang kompleks, harus digunakan prinsip analisa. Semua masalah harus dicari sebab-musabab serta pemecahannya dengan menggunakan analisa yang logis, Fakta yang mendukung tidaklah dibiarkan sebagaimana adanya atau hanya dibuat deskripsinya saja. Tetapi semua kejadian harus dicari sebab-akibat dengan menggunakan analisa yang tajam.</p>
<p>6.4. Menggunakan Hipotesa</p>
<p>Dalam metode ilmiah, peneliti harus dituntun dalam proses berpikir dengan menggunakan analisa. Hipotesa harus ada untuk mengonggokkan persoalan serta memadu jalan pikiran ke arah tujuan yang ingin dicapai sehingga hasil yang ingin diperoleh akan mengenai sasaran dengan tepat. Hipotesa merupakan pegangan yang khas dalam menuntun jalan pikiran peneliti.</p>
<p>6.5. Menggunakan Ukuran Obyektif</p>
<p>Kerja penelitian dan analisa harus dinyatakan dengan ukuran yang objektif. Ukuran tidak boleh dengan merasa-rasa atau menuruti hati nurani. Pertimbangan-pertimbangan harus dibuat secara objektif dan dengan menggunakan pikiran yang waras.</p>
<p>6.6. Menggunakan Teknik Kuantifikasi</p>
<p>Dalam memperlakukan data ukuran kuantitatif yang lazim harus digunakan, kecuali untuk artibut-artibut yang tidak dapat dikuantifikasikan Ukuran-ukuran seperti ton, mm, per detik, ohm, kilogram, dan sebagainya harus selalu digunakan Jauhi ukuran-ukuran seperti: sejauh mata memandang, sehitam aspal, sejauh sebatang rokok, dan sebagai¬nya Kuantifikasi yang termudah adalah dengan menggunakan ukuran nominal, ranking dan rating</p>
<p>LANGKAH DALAM METODE ILMIAH<br />
Pelaksanaan penelitian dengan menggunakan metode ilmiah harus mengikuti langkah-langkah tertentu. Marilah lebih dahulu ditinjau langkah-langkah yang diambil oleh beberapa ahli dalam mereka melaksanakan penelitian.</p>
<p>Schluter (1926) memberikan 15 langkah dalam melaksanakan penelitian dengan metode ilmiah. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:<br />
1. Pemilihan bidang, topik atau judul penelitian.<br />
2. Mengadakan survei lapangan untuk merumuskan masalah-malalah yang ingin dipecahkan.<br />
3. Membangun sebuah bibliografi.<br />
4. Memformulasikan dan mendefinisikan masalah.<br />
5. Membeda-bedakan dan membuat out-line dari unsur-unsur permasalahan.<br />
6. Mengklasifikasikan unsur-unsur dalam masalah menurut hu-bungannya dengan data atau bukti, baik langsung ataupun tidak langsung.<br />
7. Menentukan data atau bukti mana yang dikehendaki sesuai dengan pokok-pokok dasar dalam masalah.<br />
8. Menentukan apakah data atau bukti yang dipertukan tersedia atau tidak.<br />
9. Menguji untuk diketahui apakah masalah dapat dipecahkan atau tidak.<br />
10. Mengumpulkan data dan keterangan yang diperlukan.<br />
11. Mengatur data secara sistematis untuk dianalisa.<br />
12. Menganalisa data dan bukti yang diperoleh untuk membuat interpretasi.<br />
13. Mengatur data untuk persentase dan penampilan.<br />
14. Menggunakan citasi, referensi dan footnote (catatan kaki).<br />
15. Menulis laporan penelitian.</p>
<p>Dalain melaksanakan penelitian secara ilmiah. Abclson (1933) mcmberikan langkah-langkah berikut:<br />
1. Tentukan judul. Judul dinyatakan secara singkat<br />
2. Pemilihan masalah. Dalam pemilihan ini harus: a). Nyatakan apa yang disarankan oleh judul. b). Berikan alasan terhadap pemilihan tersebut. Nyatakan perlunya diselidiki masalah menurut kepentingan umum. c). Sebutkan ruang lingkup penelitian. Secara singkat jelaskan materi. situasi dan hal-hal lain yang menyangkut bidang yang akan diteliti.</p>
<p>3. Pemecahan masalah. Dalain niemecahkan masalah harus diikuti hal-hal berikut: a).</p>
<p>Analisa harus logis. Aturlah bukti dalam bnntuk yang sistematis dan logis. Demikian juga halnya unsur-unsur yang dapat memecahkan masalah. b). Proscdur penelitian yang digunakan harus dinyatakan secara singkat. c) Urutkan data, fakta dan keterangan-keterangan khas yang diperlukan d). Harus dinyatakan bagaimana set dari data diperoleh termasuk referensi yang digunakan. e). Tunjukkan cara data dilola sampai mempunyai arti dalam memecahkan masalah. f). Urutkan asumsi-asumsi yang digunakan serta luibungannya dalam berbagai fase penelitian.</p>
<p>4. Kesimpulan</p>
<p>a). Berikan kesimpulan dari hipotesa. nyatakan dua atau tiga kesimpulan yang mungkin diperoleh b). Berikan implikasi dari kesimpulan. Jelaskan bebernpa implikasi dari produk hipotesa dengan memberikan beberapa inferensi.</p>
<p>5. Berikan studi-studi sebelumnya yang pernah dikerjakan yang berhubungan dengan masalah.</p>
<p>Nyalakan kerja-kerja sebelumnya secara singkat dan berikan referensi bibliografi yang mungkin ada manfaatnya scbagai model dalam memecahkan masalah. Dari pedoman beberapn ahli di atas, maka dapal disimpulkan balnwa penelitian dengan mcnggunakan metode ilmiah sckurang-kurangnya dilakukan dengan langkah-langkah berikut:</p>
<p>5.1. Merumuskan serta mcndefinisikan masalah</p>
<p>langkah pertama dalam meneliti adalah menetapkan masalah yang akan dipecahkan. Untuk menghilangkan keragu-raguan. masalah tersebut didefinisikan secara jelas. Sampai ke mana luas masalah yang akan dipecahkan Sebutkan beberapa kata kunci (key words) yang terdapal dalam masalah Misalnya. masalah yang dipilih adalah Bagaimana pengaruh mekanisasi terhadap pendapatan usaha tani di Aceh?<br />
Berikan definisi tentang usaha tani, tentang mekanisasi, pada musim apa. dan sebagainya</p>
<p>5.2. Mengadakan studi kepustakaan</p>
<p>Setelah masalah dirumuskan, step kedua yang dilakukan dalam mencari data yang tersedia yang pernah ditulis peneliti sebelumnya yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan. Kerja mencari bahan di perpustakaan merupakan hal yang tak dapat dihindarkan olch seorang peneliti. Ada kalanya. perumusan masalah dan studi keputusan dapat dikerjakan secara bersamaan.</p>
<p>5.3. Memformulasikan hipotesa</p>
<p>Setelah diperoleh infonnasi mengenai hasil penelitian ahli lain yang ada sangkut-pautnya dengan masalah yang ingin dipecahkan. maka tiba saatnya peneliti memformulasikan hipotesa-hipolesa unttik penelitian. Hipotesa tidak lain dari kesimpulan sementara tentang hubunggan sangkut-paut antarvariabel atau fenomena dalam penelitian. Hipotesa merupakan kesimpulan tentatif yang diterima secara sementara sebelum diuji.</p>
<p>5.4. Menentukan model untuk menguji hipotesa</p>
<p>Setelah hipotesa-hipotesa ditetapkan. kerja selanjutnya adalah merumuskan cara-cara untuk menguji hipotesa tersebut. Pada ilmu-ilmu sosial yang telah lebih berkembang. scperti ilmu ekonomi misalnva. pcnguji’an hipotesa didasarkan pada kerangka analisa (analytical framework) yang telah ditetapkan. Model matematis dapat juga dibuat untuk mengrefleksikan hubungan antarfenomena yang secara implisif terdapal dalam hipotesa. untuk diuji dengan teknik statistik yang tersedia.<br />
Pcngujian hipotesa menghendaki data yang dikumpulkan untuk keperluan tersebut. Data tersebut bisa saja data prime ataupun data sekunder yang akan dikumpulkan oleh peneliti.</p>
<p>5.5. Mengumpulkan data</p>
<p>Peneliti memerlukan data untuk menguji hipotesa. Data tersebut yang merupakan fakta yang digunakan untuk menguji hipotesa perlu dikumpulkan. Bcrgantung dan masalah yang dipilih serta metode pcnelitian yang akan digunakan. teknik pengumpulan data akan berbeda-beda. Jika penelitian menggunakan metode percobaan. misalnya. data diperoleh dan plot-plot pcrcobaan yang dibual sendiri oleh peneliti Pada metodc scjarah ataupun survei normal, data diperoleh dengan mcngajukan pertanyaan-pertanyaan kepada responden. baik secara langsung ataupun dengan menggunakan questioner Ada kalanya data adalah hasil pengamatan langsung terhadap perilaku manusia di mana peneliti secara partisipatif berada dalam kelompok orang-orang yang diselidikinya.</p>
<p>5.6. Menyusun, Menganalisa, and Menyusun interfensi</p>
<p>Setelah data terkumpul. pcneliti menyusun data untuk mengadakan analisa Sebelum analisa dilakukan. data tersebul disusun lebih dahulu untuk mempermudah analisa. Penyusunan data dapat dalam bentuk label ataupun membuat coding untuk analisa dengan komputer. Sesudah data dianalisa. maka perlu diberikan tafsiran atau interpretasi terhadap data tersebut.</p>
<p>5.7. Membuat generalisasi dan kesimpulan</p>
<p>Setelah tafsiran diberikan, maka peneliti membuat generalisasi dari penemuan-penemuan, dan selanjutnya memberikan beberapa kesimpulan. Kesimpulan dan generalisasi ini harus berkaitan dengan hipotesa. Apakah hipotesa benar untuk diterima. ataukah hiporesa tersebut ditolak.</p>
<p>5.8. Membuat laporan ilmiah<br />
Langkah terakhir dari suatu penelitian ilmiah adalah membuat laporan ilmiah tentang hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut. Penulisan secara ilmiah mempunyai teknik tersendiri.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Falsafah Bahasa dalam Tradisi Barat]]></title>
<link>http://nemuriuta.wordpress.com/2009/07/23/falsafah-bahasa-dalam-tradisi-barat/</link>
<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 15:08:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>nemuriuta</dc:creator>
<guid>http://nemuriuta.wordpress.com/2009/07/23/falsafah-bahasa-dalam-tradisi-barat/</guid>
<description><![CDATA[Pendahuluan Sejarah falsafah bahasa dalam tradisi Barat dimulakan oleh ahli-ahli falsafah Yunani sej]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-26" title="ludwig-wittgenstein" src="http://nemuriuta.wordpress.com/files/2009/07/ludwig-wittgenstein.jpg?w=300" alt="ludwig-wittgenstein" width="300" height="225" />Pendahuluan</strong></p>
<p>Sejarah falsafah bahasa dalam tradisi Barat dimulakan oleh ahli-ahli falsafah Yunani sejak abad ke-6 S.M. dengan Heraclitus sebagai pelopornya (Borgmann 1974: 7). Sesudah itu, muncul golongan sofis yang memperteguh uraian Heraclitus tentang kesatuan antara bahasa dengan realiti. Zaman Heraclitus dan golongan sofis itu dianggap sebagai zaman permulaan tumbuhnya pemikiran tentang falsafah bahasa. Bidang falsafah bahasa baru menjadi suatu kajian ilmiah pada abad ke-5 S.M. Tokoh penting yang menyemarakkan perkembangan falsafah bahasa sebagai kajian ilmiah ialah Plato, Aristoteles, dan kumpulan Stoik. Penerokaan bidang falsafah bahasa menjadi kian luas dan mendalam di tangan ahli-ahli falsafah Zaman Pertengahan. Tokoh-tokoh utamanya, antara lain, ialah John Buridan, Thomas Erfurt, dan Thomas Aquinas. Dalam rencana ini, dibincangkan pula perkembangan falsafah bahasa dalam tradisi Barat pada zaman moden.</p>
<p><strong>Tahap Kebangkitan Era Modern<br />
</strong></p>
<p>Pada pengkaji falsafah Barat sependapat bahwa era falsafah moden Barat bermula dengan Rene Descartes (1596-1650) yang terkenal dengan kaedah &#8220;Kesangsian Cartesian&#8221; dalam menjawab persoalan epistemologi tentang kebenaran ilmu (Lihat misalnya Bertrand Russell 1993: 666, Wolff (1992: 194), dan Borgmann 1974: 68). <!--more-->Secara ringkas, kebenaran sesuatu ilmu, menurut Descartes, tidak bergantung pada kehebatan, kegunaan, atau kelamaannya, tetapi bergantung pada kemampuan ilmu itu membenarkan hakikat dirinya tanpa sebarang keraguan. Kebenaran tanpa keraguan itu bermaksud bahwa ilmu itu sah secara sejagat untuk sesuatu bidang entiti yang tertentu. Asasnya ialah penjelasan saintifik yang memuaskan akal dan inilah asas tumbuhnya rasionalisme secara jelas dalam sejarah falsafah Barat. Descartes sebenarnya tidak menumpukan perhatian kepada falsafah bahasa atau bidang linguistik, tetapi beberapa penyataannya yang ringkas dan umum tentang bahasa memperjelas falsafahnya (Borgmann 1974: 69). Dalam karyanya <em>Meditations on First Philosophy</em> (1641), Descartes meragui kebenaran kesan pancaindera sebagai asas bahasa. Namun ia tidak membincangkan bagaimana kata-kata yang merujuk kepada kesan pancaindera, misalnya kata nama am dan kata kerja, tidak dapat dipercayai sebagai bukti adanya kesan pancaindera. Dalam karyanya yang lebih awal, yaitu <em>Discourse on Method</em> (1637), Descartes dengan tegas mengatakan bahwa bahasa bukan penyataan realiti yang khusus dan asas, sebaliknya hanya sebagai alat komunikasi atau alat untuk menyatakan sesuatu yang wujud. Oleh itu cereka dan historiografi tidak dapat dianggap sebagai karya bahasa, tetapi hanya penting daripada segi ketepatan laporannya saja. Pandangan Descartes ini sebenarnya memperteguh pandangan Plato tentang terpisahnya realiti daripada bahasa.</p>
<p>Gagasan Descartes yang lebih penting dalam konteks pembinaan teori bahasa pada zaman selanjutnya ialah keunggulan dan autonomi bahasa (Borgmann 1974: 70-72). Pada pendapatnya, bahasa manusia tidak tertakluk kepada fakta atau peraturan alam, sebagaimana manusia itu sendiri pun tidak tertakluk kepada alam. Ia berusaha membuktikan gagasan keunggulan dan autonomi bahasa dengan menonjolkan dua ciri penting bahasa manusia. Pertama, bahasa manusia bermula pada diri penuturnya, dan mempunyai fungsi yang unik dalam menyampaikan fikiran. Hal ini berbeda daripada ujaran &#8220;seakan-akan bahasa&#8221; yang dikeluarkan oleh mesin atau hewan yang tidak merupakan hasil penyataan diri pengujarnya, tetapi sebaliknya sebagai hasil atau gerak balas terhadap rangsangan tertentu (khususnya dalam kes &#8220;bahasa hewan&#8221;). Kedua, bahasa manusia dapat berfungsi dengan meluas dalam pelbagai situasi. Kedua-dua pandangan falsafah ini menjadi asas penting bagi Descartes untuk akhirnya menyimpulkan bahwa bahasa tidaklah lain daripada aktiviti akal, sesuai dengan falsafah rasionalisme yang diasaskannya. Pandangan Descartes, sebagaimana yang disebut di atas tadi, dalam pertengahan abad ke-20 telah mencetuskan kebangkitan teori bahasa yang revolusioner, dengan Noam A. Chomsky sebagai pelopornya. Teori bahasanya yang dikenal sebagai Transformasi-generatif dihubungkan dengan falsafah Descartes melalui istilah <em>Cartesian Linguistics</em> yang diciptakan oleh Chomsky sendiri. Bahkan salah sebuah buku chomsky yang penting berjudul <em>Cartesian Linguistics</em> (1966). Gagasan Descartes demikian berpengaruhnya kepada chomsky sehingga kemudian dapat digariskannya ciri-ciri penting <em>Cartesian Linguistics</em>, yaitu: Bahasa manusia bebas daripada kawalan rangsangan dan tidak semata-mata untuk fungsi komunikatif, tetapi lebih sebagai alat penyataan pemikiran dan sebagai gerak balas yang tepat kepada situasi baru. b. Bahasa memiliki dua aspek, yaitu aspek dalaman dan aspek luaran. c. Pengolahan rumus-rumus tata bahasa tidak tertakluk kepada data empiris. d. Yang penting dalam tata bahasa dan logika ialah bagaimana bahasa menampilkan dan menggabungkan idea-idea, bukan soal kaitan bahasa dengan realiti.</p>
<p>Sesudah Descartes, era kebangkitan zaman moden ditandai oleh kemunculan Giambattista Vico (1668-1744) yang berlainan pandangan daripada Descartes. Sementara Descartes menolak cereka, historiografi, retorika, dan filologi, Vico menganggap semua itu merupakan sumber makna dan gambaran &#8220;kuasa&#8221; bahasa. Sumber dan kaedah tradisional dalam pengajian bahasa itu dianggapnya lebih tinggi nilainya daripada teori saintifik dan uji kaji yang diketengahkan oleh Descartes sebagai asas kebenaran ilmu. Ia menolak pendapat bahwa hujah akal atau rasionalisme sebagai keseluruhan kaedah dalam epistemologi. Ia turut menolak pendapat bahwa realiti itu setakat apa-apa yang dapat diperhatikan, yang berlaku, dan apa-apa yang diuji kaji oleh manusia. Sebagai alternatif, ia menyarankan teori alam kemungkinan (<em>the realm of the probable</em>), untuk menjelaskan satu lagi realiti yang berkaitan dengan hal-hal dalam fikiran manusia, dalam akal penyajak, penulis, dan manusia lain yang mengungkapkan sesuatu kebijaksanaan di luar realiti fizikal. Domain tersebut berkaitan dengan sesuatu idea yang tidak dapat dipersoalkan ketentutan dan uraiannya secara objektif dan rasional (Lihat Borgmann 1974: 73-74 dan Hashim Musa 1994: 110-111). Berkaitan dengan hakikat dan asal-usul bahasa, Vico memperkenalkan <em>Sains Baru</em> yang bertujuan mengkaji kebenaran (yang teoretis dan sejagat) dan ketentuan (yang bersifat fakta dan sejarah). Asas sains baru Vico ialah prinsip bahwa ilmu sepenuh-penuhnya hanya dapat diperoleh melalui apa-apa yang dapat dilakukan oleh manusia. Ia menolak andaian adanya ilmu yang terpendam, seperti yang diandaikan oleh Socrates dan Plato tentang ilmu etika. Untuk mengetahui sesuatu, tidak diperlukan keseluruhan proposisi yang benar dalam fikiran seseorang; sebaliknya yang diperlukan hanya sebagian realiti. Bahasa, menurutnya, tidaklah lain daripada gerak balas terhadap apa-apa yang disingkap oleh bahasa, atau dengan kata-kata lain, bahasa dan dunia adalah seasal. Tentang perkembangan bahasa, Vico percaya adanya tahap bahasa yang wujud primordialnya bersama Tuhan dan pada tahap ini bentuk bahasa masih dalam keadaan mentah, yaitu belum terjelma dalam bentuk sistem bunyi dan tata bahasa yang nyata. Tahap selanjutnya ialah apabila makna disampaikan melalui isyarat yang menjadi asas bentuk bahasa yang lebih eksplisit dan cekap. Tahap akhir ialah permulaan bahasa ucapan yang berasaskan onomatopeia dan seruan.</p>
<p>Vico terkenal juga dengan gagasan Kamus Akal (<em>Mental Dictionary</em>) yang berkaitan dengan kemampuan bahasa mencerminkan kesinambungan kata-kata dalam konteks sejarah dan kesejagatan manusia. Gagasan kamus akal ini memberikan asas dan tujuan baru dalam kajian etimologi. Jean Jacques Rosseau (1712-1778) dan Johann Gottfried Herder (1744-1803) melanjutkan kajian Vico tentang asal-usul bahasa. Teori asal-usul bahasa Rosseau mengaitkan permulaan bahasa sebagai gerak isyarat deiktek dan peniruan serta laungan semula jadi; tetapi oleh sebab kurang cekapnya mekanisme itu sebagai alat perhubungan, unsur fonis kemudian menjadi dominan dalam bahasa manusia (Robbins 1993: 184). Kemurnian bahasa pada peringkat awal yang dianggap Rosseau bersamaan dengan muzik kemudian menghilang dalam proses bahasa memperoleh ciri kejelasan dan keobjektifan. Teori asal-usul bahasa Herder pula bertitik tolak daripada kepercayaan bahwa bahasa berpunca daripada manusia sendiri, bukan pemberian Tuhan, dengan alasan bahwa banyak unsur bahasa yang tidak selaras dengan logika (Wojowasito 1961: 56). Bagaimanapun, Herder menyangkal pendapat bahwa manusia mula berbahasa dengan membuat teriakan-teriakan emosi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Condillac, tokoh yang seiring pendapatnya dengan Rosseau. Herder setuju dengan Descartes bahwa bahasa manusia tidak lahir berdasarkan naluri sebagaimana halnya dengan &#8220;bahasa&#8221; hewan. Pada pendapatnya, kecerdasan manusialah, bukan onomatopeia, yang menimbulkan bahasa. Dengan kata-kata lain, Herder berpendapat bahwa bahasa merupakan bagian diri manusia secara tabii. Di England pada abad ke-18 muncul ahli falsafah tata bahasa sejagat yang bernama James Harris. Falsafah bahasanya terkandung dalam karyanya <em>Hermes or Philosophical Enquiry Concerning Language and Universal Grammar</em> (1751). Pada asasnya ia mendasarkan falsafahnya pada falsafah Aristotle, tetapi menekankan adanya perbedaan lahiriah pada pelbagai bahasa. Kemampuan manusia merangka idea-idea umum yang sejagat yang dilambangkan melalui kata-kata, menurut Harris, merupakan kurniaan Tuhan. Perhatiannya tentang fungsi bahasa berkaitan dengan fungsi penyampaian proposisi logis (Robins 1993: 189).</p>
<p>Sifat kesejagatan bahasa dan gagasan bahasa sebagai kurniaan Tuhan yang diyakini oleh Harris mendapat sokongan seorang lagi ahli bahasa Inggris yang sezaman dengannya, yaitu James Burnet atau Lord Monboddo. Bagaimanapun perhatiannya lebih tertumpu pada perkembangan sejarah sesuatu bahasa yang dipercayainya bermula dengan tahap primitifnya sebelum berkembang menjadi bahasa yang abstrak kosa katanya dan yang lengkap susunan tata bahasanya. Gagasan Monboddo yang penting ialah bahwa biarpun pada tahap primitif, idea sejagat tentang sesuatu telah ada sebelum kata untuk benda itu diciptakan. Perkembangan falsafah bahasa dalam kebangkitan zaman moden selanjutnya dikaitkan dengan kemunculan sarjana Jerman Wihelm Von Humboldt (1767-1835). Tema pokok tulisan-tulisannya berpaksi pada sifat kekreatifan bahasa, baik daripada segi tata bahasa mahupun daripada segi leksikalnya. Dengan adanya sifat kreatif pada bahasa, manusia dapat melahirkan sejumlah bentuk bahasa (misalnya ayat) yang tidak terbatas dengan berdasarkan sumber (rumus) yang terbatas. Gagasan inilah yang memberikan inspirasi kepada Chomsky satu abad kemudian apabila ia menakrifkan bahasa sebagai sehimpunan ayat (yang terbatas atau tak terbatas jumlahnya tetapi terbatas penjangnya) yang dihasilkan daripada unsur-unsur yang terbatas (Lihat Chomsky 1957: 13). Humboldt menegaskan bahwa kemampuan berbahasa yang kreatif ini merupakan suatu fitrah yang ada dalam akal setiap manusia. Gagasan ini dalam perkembangan falsafah bahasa selanjutnya dapat pula dikaitkan dengan hipotesis kenuranian bahasa (<em>innateness hypothesis</em>) yang mengandaikan bahwa setiap manusia sejak lahir telah dipersiapkan dengan alat pemerolehan bahasa (<em>language acquisition device &#8211; LAD</em>) yang memungkinkan ia menguasai sistem bahasa ibundanya. Sifat kreatif bahasa dan kemampuan setiap manusia memanfaatkan sumber bahasa (rumus) yang terhad inilah yang memungkinkan manusia senantiasa melahirkan ayat baru dan menyesuaikan bahasanya dalam pelbagai situasi yang berlainan. Berkaitan dengan itu, istilah <em>bahasa</em> bagi Humboldt merujuk kepada keupayaan penutur dan pendengar (<em>energeia</em>), bukan uraian yang tetap dan kaku yang dihasilkan oleh ahli bahasa (<em>ergon</em>). Gagasan ini dapat dikaitkan dengan penekanan Chomsky terhadap keupayaan berbahasa (<em>competence</em>) sebagai lawan pelaksanaan bahasa (<em>performance</em>). Humboldt terkenal juga dengan dikotomi bahasa dalam bentuk struktur semantiknya (<em>innere sprachform</em>) dan dalam bentuk lahirnya (<em>Lautform</em>). Struktur semantik ini pada dasarnya bersifat sejagat untuk semua bahasa, tetapi berbeda pada bentuk lahirnya (Lihat Wojowasito 1961: 76-80). Sekali lagi jelas pada kita bagaimana Chomsky memperkukuh gagasan Humboldt tentang hal ini melalui idea <em>struktur dalaman</em> dan <em>struktur luaran</em>. Dengan kuatnya dasar-dasar bahasa yang diketengahkannya serta pengaruhnya dalam pembinaan teori linguistik sesudahnya, maka tepat sekali penghargaan R.H. Robins (1993: 215) kepada Humboldt sebagai ahli fikir yang paling teliti tentang soal-soal linguistik am dalam abad ke-19. Bahkan A. Borgmann (1974: 84) dengan murah hati mengungkapkan bahwa pemikiran orang Barat tentang bahasa yang dimulakan oleh Heraclitus pada zaman pra-Socrates memuncak dan memperoleh fokusnya dengan penelitian bahasa oleh Wilhelm Von Humboldt pada abad ke-19.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tahap Perkembangan di Abad ke-20</strong></p>
<p>Kajian dalam bidang falsafah bahasa kemudian mendapat tempat yang utama dalam perkembangan falsafah analitis pada abad ke-20, malah ada sarjana yang meletakkan falsafah bahasa di tempat yang paling utama dalam keseluruhan kegiatan kajian falsafah (Lihat J.R. Searle 1990: 2). Hujah Searle mengapa dunia falsafah abad ke-20 didominasi oleh falsafah bahasa ialah bahwa kebanyakan ahli falsafah terkemuka pada abad ini, misalnya Russell, Wittgenstein, Carnap, Quine, Austin, dan Strawson pada dasarnya ialah ahli falsafah bahasa. Richard Rorty (1967) mengungkapkan dominasi falsafah bahasa pada abad ke-20 sebagai &#8220;giliran linguistik&#8221; (<em>linguistic turn)</em>, dengan pengertian bahwa pada umumnya falsafah pada abad ke-20 telah menjadi falsafah bahasa. Secara lebih khusus, persoalan bahwa realiti itu sesuatu yang mungkin hanya bererti jika kita pertama-tamanya menitikberatkan bahasa, yang melaluinya realiti dapat sampai kepada kita (Borgmann 1974: 91). Seorang ahli falsafah berbangsa Jerman, Ludwing Wittgenstein (1889-1951) yang terkenal dengan karyanya <em>Tractatus Logico-Philosophicus</em> (1921) dianggap sebagai pelopor &#8220;giliran linguistik&#8221; (lihat Borgmann 1974: 91). Walau bagaimanapun, Searle (1990: 2) berpendapat bahwa seorang ahli falsafah dan ahli matematik Jerman yang bernama Gottlob Frege merupakan ahli falsafah bahasa abad ke-20 yang mempelopori falsafah bahasa moden pada abad ini. Penemuan Frege yang utama dan terpenting dalam falsafah bahasa ialah perbedaan antara maksud (<em>sense</em>) dan rujukan (<em>reference</em>). Ia menjelaskannya dengan membincangkan penyataan persamaan &#8220;Bagaimanakah sesuatu penyataan yang benar yang berbentuk <em>a sama dengan b</em> dapat dikatakan mempunyai maklumat yang lebih daripada penyataan yang berbentuk <em>a sama dengan a</em>?&#8221; (Frege, 1952). Dalam bentuk ayat, dikatakannya bahwa penyataan <em>The Evening Star is the Morning Star</em> lebih bermaklumat daripada penyataan <em>The Evening Star is the Evening Star</em>, dengan penyataan yang pertama mewakili penyataan <em>a sama dengan b</em> dan penyataan yang kedua mewakili penyataan <em>a sama dengan a</em>.</p>
<p>Menurut Frege, hakikat adanya penyataan yang lebih bermaklumat daripada penyataan lain berkaitan dengan adanya unsur ketiga, selain <em>nama </em>dan <em>rujukan</em>, yaitu <em>maksud</em> nama itu yang secara khusus dan hanya secara khusus ini sahajalah merujuk kepada rujukannya. Maksudlah yang membekalkan wadah pemaparan (<em>mode of presentation</em>) sesuatu bentuk dan usaha merujuk kepada sesuatu rujukan selalunya tercapai melalui maksud. Dalam kes dua penyataan tadi, sebab mengapa penyataan yang pertama (<em>The Evening Star is the Morning Star</em>) lebih bermaklumat daripada penyataan yang kedua (<em>The Evening Star is the Evening Star</em>), walaupun kedua-duanya mempunyai rujukan yang sama ialah bahwa maksud <em>the Evening Star</em> berlainan daripada maksud <em>the Morning Star</em>. Sesudah Frege, perkembangan falsafah bahasa Barat ditandai oleh kemunculan Betrand Russell dan muridnya Ludwig Wittgenstein. Kedua-duanya menolak teori perbedaan antara maksud dengan rujukan yang dikemukakan oleh Frege. Pada mereka, teori tersebut sesuai hanya untuk kes yang sederhana dan tidak dapat memberikan gambaran hakiki tentang pertalian antara kata dengan dunia. Teori Russell tentang pertalian antara kata dengan dunia bertitik tolak daripada masalah ayat yang memiliki uraian pasti (<em>definite descriptions</em>) tanpa objek yang berkaitan. Ayat contoh yang dibincangkannya ialah <em>Raja Perancis botak</em> (Searle 1990: 6). Menurut Russell, ayat ini merupakan ayat yang bermakna tetapi bagaimanakah dapat dipastikan kebermaknaan ayat tersebut jika Raja Perancis tidak ada. Dengan demikian ayat itu tidak memerikan proposisi apa pun, dan selanjutnya tidak dapat disahkan benar tidaknya predikat ayat itu. Bagi Frege, sesuatu ayat mempunyai maksud walaupun subjeknya tidak ada rujukan. Sesuatu ayat mungkin tidak ada nilai kebenarannya, tetapi hal itu tidak menjadikannya ayat yang tidak bermakna. Hujah Frege ini berasas pada perbedaan maksud dengan rujukan yang telah dibincangkan sebelum ini. Bagi Russell, uraian pasti dan bahkan nama khas pun tidak merujuk kepada apa-apa. Katanya, secara bersendirian uraian pasti dan nama khas tidak bermakna. Soalan yang berbangkit ialah bagaimanakah kata berkaitan dengan dunia jika uraian pasti dan nama khas tidak merujuk kepada apa-apa pun. Jawab Russell ialah bahwa ada segolongan ungkapan yang sederhana sifatnya yang tidak dapat dianalisis lagi, yang secara logis mrupakan nama khas. Setiap ungkapan ini mewakili sesuatu benda tanpa mempunyai maksud atau makna apa pun selain mewakili benda saja (Searle 1990: 7-8).</p>
<p>Persoalan hubungan antara bahasa dengan realiti dihalusi oleh Wittgenstein melalui &#8220;teori gambar tentang bahasa&#8221; dalam karyanya <em>Tractatus</em>. Menurut sistem ontologi pegangan Wittgenstein, juzuk-juzuk asas alam ini ialah fakta-fakta, bukan objek-objek, kerana objek merupakan unsur fakta. Objek-objek memperoleh realiti melalui kombinasinya dalam fakta. Demikianlah, bahasa pada pandangan Wittgenstein selari dengan realiti. Nama berkaitan dan mempunyai makna dalam hubungannya dengan objek. Bagaimanapun, nama menjadi tidak bererti apabila wujud secara terasing, sebagaimana objek tidak bererti apa-apa jika tidak berpadu dengan objek lain dalam fakta (Borgmann 1974: 91-92). Nama mempunyai rujukan hanya dalam konteks proposisi, sebagaimana objek dalam konteks fakta. Proposisi berkaitan dengan fakta dan sesuatu proposisi mempunyai maksud apabila merujuk kepada sesuatu fakta. Nama dikaitkan dengan objek melalui konvensi. Proposisi dan fakta dikatakan berkaitan kerana memiliki persamaan logika, dengan logika difahami sebagai struktur atau susunan. Maksud Wittgenstein ialah bahwa sesuatu proposisi hanya terdiri daripada nama-nama, sedang logika atau susunannya tidak dapat dinamai atau dinyatakan, tetapi dapat dilihat kewujudannya. Demikianlah logika tentang alam ini pun terhad oleh sesuatu yang dapat difikirkan. Wittgenstein terkenal juga dengan gagasan &#8220;bahasa sempurna&#8221; (<em>perpicuous or ideal language</em>), yaitu bahasa yang sempurna daripada segi logikanya dan sempurna daripada segi pemeriannya (Borgmann 1974: 97-99 dan Hashim Musa 1994: 116). Gagasan ini terbit daripada pegangan Wittgenstein bahwa bahasa dan realiti adalah sejajar, sama seperti pegangan Heraclitus pada zaman pra-Socrates. Hakikat bahwa kata-kata dalam ayat disusun dengan cara tertentu menggambarkan hakikat bahwa objek-objek dalam alam diatur dengan cara tertentu juga (Searle 1990: 9). Bahasa yang sempurna dapat diperoleh melalui pembentukan spesifikasi yang menyeluruh ke atas item-item dan ciri-ciri bahasa itu. Proses spesifikasi ini dilaksanakan berdasarkan sintaksis dan semantik. Sintaksis terdiri daripada empat bagian, yaitu kosa kata yang menyenaraikan semua unit tata bahasa yang terkecil; pembentukan rumus-rumus yang menentukan cara unit-unit tata bahasa yang terkecil itu digabungkan; sehimpunan unsur gabungan yang disebut aksiom; dan akhirnya rumus-rumus yang menukarkan sesuatu bentuk gabungan kepada bentuk gabungan yang lain. Rumus-rumus ini disebut rumus-rumus taakulan (<em>rules of inference</em>). Proses sintaksis pada keempat-empat bagian ini menimbulkan konsep kalkulus, yaitu suatu sistem formal yang ketat yang dapat diterapkan, dengan pengertian dapat ditafsirkan. Kalkulus itu sendiri tidak mempunyai makna kerana tidak ada rujukannya kepada alam empiris atau alam nyata. Rujukan itu terbentuk melalui bagian kedua, yaitu semantik. Wittgenstein, kemudian, melalui karyanya <em>Philosophical Investigations</em> (1953) menyanggah gagasannya tentang logika dan kejelasan bahasa. Ia sedar bahwa bahasa memaparkan aspek-aspek yang lebih halus, bervariasi, dan terikat oleh konteks daripada yang dapat dilihat pada struktur formalnya. Percubaan Wittgenstein untuk menggambarkan wawasan yang luas tentang bahasa diungkapkannya melalui istilah &#8220;permainan bahasa&#8221; (<em>language-game</em>) dan &#8220;bahasa sebagai suatu bentuk kehidupan&#8221; (Borgmann 1974: 114). Rumusan tentang sikap Wittgenstein terhadap pentingnya bahasa biasa sebagai lawan bahasa falsafah ialah bahwa ragam bahasa tersebut merupakan sfera yang pokok dan unsur penyatu dalam kewujudan manusia (Borgmann 1974: 125). Perkembangan falsafah bahasa pada abad ke-20 kemudian mencakup senario yang lebih meluas apabila aspek keluhuran bahasa dibincangkan. Aspek keluhuran bahasa yang dimaksudkan itu ialah penampilan bahasa dalam kesusasteraan seperti drama dan puisi atau secara lebih luas dalam pidato politik, wacana falsafah, keagamaan, dan karya saintifik. Perbincangan tentang bahasa dalam konteks tersebut memperluas pandangan terhadap bahasa sekadar sebagai suatu sistem formal. Malahan karya sastera yang agung sebenarnya ialah perwakilan realiti bahasa. Antara tokoh yang membincangkan kesusasteraan sebagai bentuk keluhuran bahasa termasuklah Rene Wellek dan Austin Warren melalui buku mereka <em>Theory of Literature</em> (1949), Northrop Frye melalui bukunya <em>Anatomy of Criticism</em> (1957), serta Emil Staiger melalui bukunya <em>Basic Concepts of Poetics</em> (1946). Sebenarnya penekanan terhadap sastera sebagai suatu bentuk penampilan bahasa itu bukan fenomena baru kerana para sarjana sejak zaman Yunani telah mempelopori kajian retorik dan puisi sebagai sebagian kajian bahasa.</p>
<p>Perbincangan tentang falsafah bahasa pada abad ke-20 tidak sempurna jika tidak disebut perkembangan analisis terhadap struktur bahasa, atau lebih tepat lagi hakikat bahasa sebagai suatu sistem. Kecenderungan para sarjana linguistik pada abad ke-19 menumpukan minat dan perhatian terhadap linguistik sejarah dan perbandingan menyebabkan terabainya kajian terhadap struktur sesuatu bahasa tertentu yang amat penting bagi pengguna bahasa. Sejarah bahasa hanya memerikan evolusi bahasa tetapi tidak memerikan binaan bahasa yang perlu dikuasai oleh penggunanya. Inilah yang menyebabkan sarjana berbangsa Swiss, yaitu Ferdinand de Saussure (1857-1913) mengemukakan pandangan tentang pentingnya melihat bahasa sebagai sistem yang wujud pada sesuatu waktu atau zaman tertentu (Nik Safiah Karim 1985: 109).</p>
<p>Premis de Saussure yang paling penting ialah perhatian terhadap linguistik sinkronis sebagai lawan linguistik diakronis. Dengan penekanan terhadap linguistik sinkronis, ia berpendapat bahwa bahasa dapat dilihat dan dapat berfungsi sebagai suatu sistem komunikasi yang cukup lengkap untuk sesuatu masa tertentu (Robins 1993: 246). Kedua, de Saussure menegaskan perbedaan-perbedaan antara keupayaan berbahasa seseorang dengan fenomena atau data linguistik yang sebenarnya (ujaran). Hakikat bahasa yang pertama dan yang menjadi tunjang bahasa menurut pandangan de Saussure diistilahkannya sebagai <em>langue</em>, sementara manifestasi bahasa dalam bentuk ujaran disebutnya <em>parole</em>. Gagasan de Saussure tentang <em>langue</em> dan <em>parole</em> ini kuat pengaruhnya kepada ahli-ahli linguistik transformasi-generatif yang muncul kemudian. Apabila Noam A. Chomsky, yaitu pelopor aliran linguistik tersebut membicarakan peri pentingnya dibedakan kemampuan berbahasa (<em>linguistic competence</em>) daripada pelaksanaan bahasa (<em>linguistic performance</em>), maka dapat dikesan dengan jelas pengaruh pemikiran de Saussure dalam perkembangan linguistik sesudahnya. Ketiga, apa-apa <em>langue</em> hendaklah digambarkan dan diuraikan secara sinkronik sebagai sistem unsur yang saling berkaitan – leksis, tata bahasa, dan fonologinya. Bagi de Saussure, <em>langue</em> atau bahasa ialah bentuk, bukan isinya, sebagaimana permainan catur dilihat pada sistemnya. Dua dimensi yang disarankannya dalam meneliti sistem bahasa ialah dimensi sintagmatik (selaras dengan urutan ujaran) dan dimensi paradigmatik (dalam sistem unsur atau kategori kontrastif) (Robins 1993: 247). Konsep asas bahasa yang dikemukakan oleh Saussure yang kemudian dipegang oleh sekian banyak ahli bahasa sehingga kini ialah &#8220;bahasa sebagai sistem tanda-tanda atau lambang-lambang yang arbitrari dan digunakan untuk menyatakan idea-idea dan mempunyai aturan-aturannya sendiri&#8221; (Mangantar Simanjuntak 1987: 37). Takrif bahasa yang seumpama itu jelas digunakan dalam kebanyakan kamus linguistik dan menjadi asas pegangan sejumlah besar ahli bahasa sedunia, khususnya yang terpengaruh oleh linguistik struktur. Penekanan Saussure terhadap tanda-tanda ini berasaskan tanggapan beliau bahwa bahasa tidaklah lain daripada suatu cabang semiologi, yaitu sains tentang isyarat atau tanda yang mengkaji pelbagai sistem konvensi yang memungkinkan pelakuan manusia (termasuk bahasa) mempunyai makna dan dengan itu menjadi isyarat (de Saussure 1993: xiv). Dalam konteks inilah ia memprkenalkan istilah <em>signe</em> (tanda/lambang) yang terhasil daripada <em>signifie</em> (konsep) dan <em>signifiant</em> (penanda/bayangan bunyi). (Lihat Saussure 1993: 131-135 dan Mangantar Simanjuntak 1987: 37-40).</p>
<p>Demikianlah, Ferdinand de Saussure melalui buah fikirannya dalam <em>Course in General Linguistic</em> telah meletakkan asas linguistik struktur yang kemudian menimbulkan aliran pemikiran yang cukup dominan dalam linguistik moden. Oleh para sarjana yang setuju dengan penekanan kajian bahasa terhadap struktur bahasa, digelarlah de Saussure sebagai Bapa Linguistik Moden. &#8220;Linguistik Moden&#8221; yang dimaksudkan oleh pengikut-pengikut de Saussure ialah aliran linguistik yang bebas daripada kecenderungan sejarah dan yang menumpukan perhatian kepada struktur atau binaan bahasa semasa, serta bebas daripada keterikatan terhadap kesusasteraan dan pemikiran subjektif terhadap linguistik. Sebaliknya yang ditekankan ialah uraian bahasa sebagaimana adanya. Pendekatan linguistik yang menekankan uraian struktur bahasa inilah yang menyebabkan de Saussure dikatakan membawa aliran linguistik baru yang dikenal sebagai <em>linguistik struktur</em> atau <em>linguistik deskriptif</em> (Borgmann 1974: 144). Pendekatan ini diterima dengan meluas di Amerika Syarikat dan mengalami pengubahsuaian sehingga lahir linguistik struktur versi Amerika yang menampilkan ciri-ciri tersendiri, dengan Leonard Bloomfield (1887-1949) sebagai pelopornya. Yang paling ketara ialah pengabaian terhadap perbedaan antara pertuturan (yang bersifat empiris) dengan bahasa (yang sistematis dan abstrak) dan perhatian yang berat sebelah kepada pertuturan, atau lebih tepat lagi anggapan bahwa pertuturan itulah bahasa. Dalam Bagian 3.5 kelak akan dibincangkan bagaimana linguistik struktur ini memberikan kesan terhadap teori pendidikan bahasa. Tidak lama sesudah terbitnya <em>Course de Linguistique Generale </em>karya de Saussure, terbitlah beberapa buah buku lain yang mewakili linguistik sinkronis, misalnya <em>Language</em> oleh Otto Jerspersen, <em>Theory of Speech and Language </em>oleh A. Gardiner, <em>Sprachtheorie</em> oleh K. Buhler, dan dua buah buku oleh Hjelmslev (pemuka teori glosematik), yaitu <em>Principes de Grammaire Generale</em> dan <em>La Categorie des Cas</em> (Robins 1993: 258). Kesan dan pengaruh teori bahasa de Saussure yang cukup nyata dalam bidang fonologi telah menyemarakkan kajian terhadap bidang tersebut sehingga muncul nama-nama besar seperti A.J. Ellis, Sir Isaac Pitman (yang mengendalikan pembaruan abjad bahasa Inggris), C.R. Lepsius, Henry Sweet (ahli kajian fonetik bahasa Inggris lama, pertengahan, dan moden), dan Daniel Jones (yang terkenal dengan bukunya <em>Outline of English Phonetics</em>). Perkembangan yang dianggap paling menonjol dalam evolusi teori fonem berlaku dalam tahun 1920-an dan 1930-an sebagai kesan usaha ahli-ahli linguistik Praha seperti Roman Jacobson dan Trubetzkoy. Selain terkenal kerana teori fonologinya, aliran linguistik ini turut menggarap bidang lain seperti stilistik, sintaksis, dan morfologi (Robins 1993: 248-253). Paksi dunia linguistik kemudian beralih ke Amerika dengan Franz Boas, Edward Sapir, dan Leonard Bloomfield sebagai tokoh-tokoh awal dan utama yang menentukan aliran linguistik di benua tersebut. Di satu pihak, Boas dan Sapir melanjutkan gagasan Humboldt tentang eratnya kaitan antara bahasa dengan cara berfikir dan cara hidup masyarakat. Kedua-duanya menggabungkan disiplin linguistik dengan disiplin antropologi untuk menguraikan bahasa-bahasa orang Asli Amerika. Sapir pula mengkaji bahasa dalam hubungannya dengan kesusasteraan, muzik, antropologi, dan psikologi. Gagasan Sapir yang kemudian dikembangkan oleh muridnya Benjamin Whorf telah melahirkan hipotesis yang cukup terkenal, yaitu Hipotesis Sapir-Whorf. Secara ringkas, hipotesis tersebut menyarankan pengaruh dominan bahasa dalam menentukan pandangan hidup, pemikiran, dan kebudayaan sesuatu bangsa atau masyarakat. Hipotesis Sapir-Whorf ini kemudian menimbulkan kontroversi apabila dikritik oleh sebilangan ahli falsafah, ahli linguistik, ahli psikologi, ahli sosiologi, dan ahli antropologi. Antara tokoh yang menentangnya termasuklah Carroll, Farb, Brown, Lenneberg, dan Hall (Mangantar Simanjuntak 1987: 251-255). Bagaimanapun, tampaknya penentangan tersebut banyak berpunca daripada salah faham tentang konsep bahasa yang dihadkan pada pertuturan atau bahasa luaran, sesuai dengan pemahaman dan tanggapan kebanyakan ahli linguistik Barat tentang hakikat bahasa.</p>
<p>Di pihak yang berlainan pendekatan dengan Boas, Sapir, dan Whorf, Bloomfield menggunakan pendekatan deskriptif yang radikal kerana terpengaruh oleh fahaman positivisme daripada golongan behavioris atau ahli psikologi mekanis (Robins 1993: 259). Pada peringkat awal, Bloomfield menganalisis bahasa menurut prinsip-prinsip mentalisme yang selaras dengan teori psikologi Wundt. Ketika itu ia mengaitkan pelahiran bahasa sebagai pelahiran pengalaman yang luar biasa, terutama sebagai penjelmaan tekanan emosi yang sangat kuat (Mangantar Simanjuntak 1987: 17). Namun semenjak tahun 1925, Bloomfield telah meninggalkan psikologi mentalisme Wundt dan menganut teori psikologi behaviorisme Watson dan Weiss serta menerapkannya ke dalam teori bahasanya yang dikenal sebagai <em>linguistik struktur</em> atau linguistik taksonomik. Istilah linguistik struktur mengingatkan kita akan pengaruh de Saussure yang mengemukakan anjuran bahwa bahasa hendaklah dikaji daripada segi strukturnya. Istilah <em>taksonomik</em> pula menjelaskan cara Bloomfield melihat bahasa sebagai binaan yang terbentuk daripada unsur terkecil (fonem) hingga ke unsur yang terbesar (ayat). Pemikiran dan pendekatan Bloomfield terhadap bahasa tercantum dalam bukunya yang masyhur, yaitu <em>Language</em> (1935).</p>
<p>Sebagai behavioris dan mekanis, Bloomfield menekankan analisis formal melalui operasi dan konsep yang diuraikan secara objektif. Dia amat menekankan pengolahan bahasa secara saintifik yang ketat. Konsep sains yang dianutnya berasas pada empirisisme-reduksionisme yang menegaskan bahwa &#8220;sains hanya menangani peristiwa yang dapat dilihat pada zaman dan masa seseorang pemerhati atau dan semua pemerhati atau hanya untuk peristiwa yang ditempatkan dalam kordinat masa dan ruang&#8221; (Robins 1993: 265). Dengan kata-katanya sendiri, &#8220;ahli mekanis menuntut supaya fakta dikemukakan tanpa membuat andaian tentang fakta tambahan… saya percaya bahwa mekanisme ialah bentuk wacana saintifik yang perlu…&#8221; (Bloomfield 1993: x). Selaras dengan falsafahnya tentang bahasa sebagai &#8220;penggunaan yang sebenarnya&#8221; (Lihat Bloomfield 1993: 5), maka kajian terhadap bahasa tertumpu pada fonetik, analisis fonologi, dan tata bahasa formal yang berfokus pada morfologi. Kesemua aspek tersebut merupakan data bahasa yang dapat dilihat atau dicerap untuk tujuan analisis berdasarkan prosedur penemuan (<em>discovery procedure</em>) (Robins 1993: 265). Semantik, pada pandangan Bloomfield, merupakan bidang yang paling sukar untuk dikaji dengan berdasarkan kaedah saintifik. Tidak seperti fonem dan morfem, unsur-unsur semantik bukanlah sesuatu yang dapat diperhatikan dan tidak dapat juga dianalisis secara pembedahan formal untuk menunjukkan unsur yang dikatakan bahasa (sebagaimana halnya dengan fonem dan morfem). Makna sesuatu kata dan ayat, katanya, hanya dapat dianalisis dengan pelibatan pengetahuan di luar bahasa yang terlalu banyak, seperti persepsi, perasaan, penilaian, harapan, dan sebagainya. Keseluruhan Bab 9 bukunya <em>Language</em> (1935 dan 1992) berisi percubaan untuk menyakinkan pembaca bahwa makna merupakan sesuatu yang di luar kajian linguistik. Segala hujahnya itu tersimpul dengan kata-katanya bahwa &#8220;…penyataan tentang makna merupakan perkara yang lemah dalam kajian bahasa…&#8221; (Bloomfield 1992: 160). Pengisytiharan Bloomfield tentang sulitnya semantik dikaji secara saintifik dan empiris mengakibatkan hampir satu generasi ahli linguistik mengabaikan kajian semantik secara mendalam dan malah mengeluarkannya daripada kajian linguistik (Robins 1993: 266). Antara yang begitu patuh kepada dasar empirisisme Bloomfield itu termasuklah Bloch, Trager, dan Fries.</p>
<p>Teori bahasa Bloomfield yang berasaskan empirisisme-behaviorisme dan fisiologi serta menolak mentalisme-rasionalisme dan psikologi dapat difahami dengan lebih jelas jika kita mengikuti anekdotnya yang terkenal tentang &#8220;Jack dan Jill&#8221; (Bloomfield 1992: 24-29). Kelahiran bahasa, pada Bloomfield, merupakan hasil jaringan atau hubungan antara rangsangan dengan gerak balas, yaitu asas segala tingkah laku menurut behaviorisme. Dalam anekdot itu, Bloomfield menggambarkan Jack dan Jill yang sedang berjalan-jalan. Jill ternampak akan epal yang masak ranum pada pohon lalu berkata kepada Jack bahwa ia lapar dan ingin memakan epal itu. Jack pun memanjat pohon epal, memetik buahnya, dan memberikannya kepada Jill. Begitulah kira-kira gambaran Bloomfield, tentang bagaimana lahirnya pertuturan, bermula dengan suatu rangsangan dan berakhir dengan gerak balas. Dalam kisah Jack dan Jill, kata Bloomfield ada tiga bagian penting, yaitu peristiwa-peristiwa yang mendahului tindakan bertutur, pertuturan, dan peristiwa-peristiwa yang menyusuli tindakan bertutur. Peristiwa-peristiwa dalam bagian pertama berkaitan dengan penutur, yaitu Jill. Dia berasa lapar, beberapa ototnya sedang mengecut, ada cecair yang sedang dirembeskan, gelombang cahaya yang terpantul daripada epal yang merah menyambar pandangannya, dan dia nampak Jack ada di sisinya. Kesemua ini ialah <em>rangsangan penutur</em>. Bagian ketiga pula berkaitan dengan pendengar pertuturan Jill, yaitu Jack. Peristiwa Jack memanjat pohon, memetik epal, dan memberikannya kepada Jill ialah <em>gerak balas pendengar</em>. Yang menjadi perhatian Bloomfield ialah bagian kedua, yaitu pertuturan yang terdiri pula daripada tiga bagian. Pertama, penutur (Jill) menggerakkan pita suaranya, rahang bawah, lidah, dan lain-lain sehingga memaksa udara membentuk gelombang bunyi. Gerakan ini merupakan gerak balas penutur terhadap rangsangan dalam bagian prapertuturan tadi. Kedua, gelombang bunyi dalam udara di dalam mulut Jill menggerakkan udara di sekelilingnya menjadikannya gerakan gelombang yang serupa. Ketiga, gelombang bunyi dalam udara itu memukul gegendang telinga Jack dan menyebabkannya bergetar, lalu mendatangkan kesan kepada urat saraf Jack (Jack mendengar pertuturan Jill). Suara yang didengar itu menjadi rangsangan kepada Jack untuk menghasilkan gerak balas mengambilkan Jill epal.</p>
<p>Di Eropa, perkembangan linguistik deskriptif ditandai oleh kemunculan Mazhab linguistik London dengan John Rupert Firth (1890-1960) sebagai pengasasnya. Mazhab ini terkenal dengan gagasan bahasa sebagai susunan konteks-konteks. Bahasa dilihat sebagai terdiri daripada konteks fonologi, konteks morfologi, konteks leksikon, dan konteks situasi (Mangantar Simanjuntak 1987: 45). Gagasan konteks sebagai asas kajian linguistik yang diketengahkan oleh Firth ini terhasil daripada pengaruh ahli antropologi B. Malinowski yang mengajukan teori keperihalan keadaan (<em>context of situation</em>). Firth menekankan bahwa makna merupakan pokok kajian bahasa. Makna menghubungkan sesuatu unsur bahasa dengan konteks unsur itu. Pada tahap fonologi, makna sesuatu ayat dijelaskan oleh hubungan fonem-fonem dalam kata. Pada tahap leksikon, terdapat hubungan antara kata-kata dalam ayat.</p>
<p>Pada tahap morfologi, makna ayat dijelaskan oleh hubungan morfem dalam satu kata dengan morfem yang sama dalam kata lain dan hubungannya dengan kata itu. Pada tahap sintaksis, makna ayat ditentukan oleh jenis ayat yang digunakan. Akhirnya pada tahap konteks, makna ayat ditentukan oleh konteks situasi. Gagasan linguistik Firth kemudian dilanjutkan oleh M.A.K. Halliday yang terkenal dengan tata bahasa sistemik. Pengkaji-pengkaji sejarah linguistik Barat sebilangan besarnya mencapai kata sepakat bahwa suatu babak baru dalam disiplin linguistik atau suatu revolusi linguistik, menurut istilah Lyons (1970), telah berlaku dengan kemunculan teori linguistik transformasi-generatif yang dipelopori oleh Noam A. Chomsky pada tahun 1957, dengan monografnya <em>Syntactic Structures</em> dan diikuti oleh satu siri karya-karyanya yang lain. Secara khusus, teori Chomsky telah mendobrak teori Bloomfield yang cukup berpengaruh ketika itu. Dalam hubungannya dengan perkembangan falsafah bahasa Barat, teori Chomsky menandai suatu aliran pemikiran yang signifikan, kerana menampilkan sejumlah gagasan yang menentukan sikap dan tanggapan sejumlah besar ahli-ahli bahasa di seluruh dunia, termasuk di Malaysia, khususnya tentang hakikat bahasa sebagai aspek akal.</p>
<p>Menurut Robins (1993: 267-269), ada dua asas falsafah yang memperlihatkan pertentangan antara Chomsky dengan Bloomfield. Pertama, Chomsky (dan pengikut-pengikutnya juga) melihat bahasa &#8220;dari dalam&#8221;, yaitu berasaskan keupayaan penutur jati sesuatu bahasa untuk menggunakan dan memahami bahasanya sendiri. Hal ini berbeda daripada ahli empiris, sebagaimana yang diwakili oleh Bloomfield, yang melihat bahasa &#8220;dari luar&#8221;, yaitu berasaskan fenomena bahasa yang diperhatikan daripada penutur-penutur bahasa itu. Dalam konteks melihat bahasa sebagai keupayaan pengguna bahasa, Chomsky mengaitkan bahasa dengan akal dan menempatkan bahasa sebagai cabang psikologi kognitif. Asas kedua yang memperlihatkan kelainan teori Chomsky daripada teori Bloomfield ialah bahwa akal manusia bukan tabula rasa atau wadah kosong yang menunggu data dari luar. Sebagai rasionalis, ia menganggap bahwa akal telah dipersiapkan dengan program yang kaya dan agak terperinci untuk menerima, menafsirkan, menyimpan, dan menggunakan maklumat yang ditanggap oleh deria. Gagasan inilah yang mendasari konsep kenuranian bahasa yang dikembangkan dengan menyakinkan oleh Chomsky, walaupun gagasan tersebut telah dibincangkan sejak zaman Plato dan dibayangkan juga oleh Descartes pada abad ke-17. Berkaitan dengan gagasan ini, proses mental yang khusus yang berkaitan dengan keupayaan, tidak seperti bentuk pemelajaran yang lain, yaitu yang berkaitan dengan pelaziman tingkah laku. Sehubungan dengan itu, Chomsky percaya bahwa dalam akal manusia yang normal terdapat suatu alat pemerolehan bahasa yang sejagat sifatnya, yang diistilahkannya sebagai <em>Language Acquisition Device</em> atau singkatannya LAD. Untuk bahasa Melayu, dapat kita gunakan padanannya APB (Alat Pemerolehan Bahasa). Alat inilah yang memungkinkan semua kanak-kanak normal memperoleh bahasa pertamanya di luar kesedarannya dan tanpa pengajaran formal. Dalam hal ini, pendidikan formal yang diterima, seperti di sekolah, merupakan pengukuhan dan pengembangan potensi yang sedia ada pada kanak-kanak. Pegangan ini memperlihatkan pertentangan dengan pegangan empiris dan behavioris yang menganggap pemelajaran bahasa pertama menyamai bentuk pemelajaran yang lain (penguasaan kemahiran tingkah laku) dan berasaskan pengenalan pola melalui latih tubi.</p>
<p>Empat aspek teori Chomsky yang disebut oleh Oller dan Richards (1973: 32), sebagaimana yang dilanjutkan uraiannya oleh Mangantar Simanjuntak (1987: 52-59), yang begitu penting dalam perkembangan teori linguistik dan juga psikologi, khususnya dalam pendidikan bahasa ialah: a. Aspek kreatif penggunaan bahasa; b. Keabstrakan lambang-lambang linguistik; c. Kesejagatan struktur linguistik dasar; d. Peranan organisasi intelek nurani dalam proses kognitif atau mental. Berkaitan dengan aspek yang pertama, yang dimaksudkan ialah bahwa bahasa bebas daripada ikatan hukum rangsangan dan gerak balas sebagaimana yang diyakini oleh behavioris dan empiris. Sebaliknya bahasa bersifat kreatif dan inovatif. Setiap ayat dianggap bentuk bahasa yang baru dihasilkan oleh kecekapan penutur, bukan sebagai hasil rangsangan tertentu (sebagaimana yang berlaku dalam kisah Jack dan Jill dalam buku <em>Language </em>karya Bloomfield). Bahkan bentuk-bentuk tertentu yang dianggap pengulangan bentuk yang sedia ada seperti ucapan &#8220;Selamat pagi&#8221; tidak dianggap sebagai pengulangan mekanis, tetapi secara kebetulan sama dan oleh itu tetap dianggap hasil baru daripada keupayaan penutur. Hal ini, dapat dijelaskan dengan membandingkan pengungkapan &#8220;ucapan&#8221; oleh manusia dengan pengungkapkan ucapan oleh hewan yang telah dilatih mengajuk ucapan tertentu. Hewan mengeluarkan bunyi yang menyamai ucapan itu secara mekanis, dan besar sekali kemungkinannya bahwa ucapan &#8220;Selamat pagi&#8221; itu diucapkannya juga pada waktu-waktu lain yang menunjukkan ketiadaan sifat akal pada hewan. Chomsky percaya bahwa seseorang penutur ibunda sesuatu bahasa telah menuranikan tata bahasa generatif secara tidak sedar dan tanpa disedarinya juga ia telah menguasai segala milik tata bahasa tersebut. Tugas ahli bahasa ialah menemukan dan menerangkan milik-milik tata bahasa yang merupakan keupayaan linguistik nurani itu. Bahasa sebagai hasil fenomena rangsangan dan gerak balas ditolak sama sekali oleh Chomsky kerana bertentangan dengan gagasan kenuranian bahasa yang memungkinkan timbulnya ciri kreatif pada bahasa. Katanya:</p>
<p><em>&#8220;The notion that linguistic behavior consists of ‘response’ to ‘stimuli’ is as much a myth as the idea that it is a matter of habit and generalization.… This property of being innovative and stimulus free is what I refer to by the term ‘creative aspect of language use’ &#8221; (Chomsky 1966: 32). </em></p>
<p>Tentang keabstrakan lambang-lambang linguistik pula, yang dimaksudkan Chomsky ialah bahwa rumus-rumus bahasa yang menentukan bentuk-bentuk ayat dan penafsiran maknanya adalah rumit dan amat abstrak. Hal ini berkaitan rapat dengan pegangan Chomsky bahwa tata bahasa merupakan suatu konsep psikologi dan mental, dan lebih luas lagi bahasa ialah suatu proses akal. Oleh itu, penghasilan bahasa luaran (dalam bentuk pertuturan dan tulisan) yang berasaskan rumus-rumus bahasa yang ada dalam akal manusia tidak ada kaitannya dengan fenomena pancaindera yang menjadi pegangan ahli-ahli psikologi empirisisme atau behaviorisme. Adanya rumus-rumus abstrak yang memungkinkan pelahiran bahasa ini memperkukuh teori Chomsky bahwa bahasa merupakan bagian dalaman diri, bukan sesuatu yang datang dari luar oleh sebab adanya rangsangan tertentu. Selanjutnya, gagasan &#8220;kesejagatan linguistik dasar&#8221; menegaskan bahwa prinsip-prinsip abstrak yang mendasari tata bahasa generatif tidak dapat diperoleh daripada pengalaman dan latihan, melainkan daripada organisasi akal atau intelek. Adanya kesejagatan linguistik dasar inilah yang memungkinkan semua manusia yang normal memperoleh bahasa. Dengan kata-kata lain, setiap bahasa manusia diprcayai memiliki kesejagatan linguistik dasar ini, sehingga dalam masyarakat manapun seseorang itu lahir atau hidup, ia dapat menguasai bahasa masyarakat tersebut.</p>
<p>Kewujudan pelbagai bahasa manusia sebagai kenyataan logis daripada wujudnya pelbagai bangsa dan keturunan, menurut teori kesejagatan bahasa ini, rupa-rupanya kepelbagaian yang berteraskan suatu persamaan, bukan semestinya pada struktur luarannya, tetapi pada asas-asas yang menerbitkan bahasa manusia. Malahan kata Chomsky (1967: 6), sebagaimana yang dipetik oleh Steinberg (1990: 133), struktur dalaman sesuatu bahasa sama sahaja dengan struktur dalaman bahasa lain. Gagasan ini, sebagaimana yang telah dibincangkan sebelum ini, telah dikemukakan lebih awal oleh Humboldt pada abad 18/19. Aspek kesejagatan struktur linguistik dasar itu berkaitan rapat pula dengan peranan organisasi intelek nurani dalam proses kognitif. Seperti yang telah disebut, tata bahasa merupakan suatu sistem dalam organisasi intelek nurani manusia. Organisasi intelek nurani ini menjadi penggerak proses kognitif secara umum, dan menjadi asas pemerolehan bahasa secara khusus (Mangantar Simanjuntak 1987: 54). Dalam organisasi tersebut terdapat jagat-jagat linguistik (<em>linguistic universals</em>) yang dinamai Chomsky <em>tata bahasa sejagat</em>, yaitu milik sejagat bahasa manusia.</p>
<p>Sebagaimana roman Jakobson, Chomsky percaya bahwa wujud kesejagatan tertentu dalam hal fonologi, sintaksis, dan semantik bagi bahasa manusia, dengan pengertian unit-unit bahasa tersebut dapat ditakrifkan kewujudannya dalam mana-mana bahasa berdasarkan suatu teori linguistik yang umum (John Lyons 1970: 111). Contohnya, terdapat sehimpunan 20 fitur distingtif bagi fonologi bahasa manusia sedunia (misanya fitur penyuaraan yang membedakan <em>p</em> daripada <em>b</em> atau <em>t</em> daripada <em>d</em>, atau fitur kesengauan yang membedakan <em>b</em> daripada <em>m</em> dalam <em>bad</em> dan <em>mad</em>, dan <em>d</em> daripada <em>n</em> dalam <em>pad</em> dan <em>pan</em>). Kesejagatan fonologi, sintaksis, dan semantik ini (yang lebih sesuai disebut kesejagatan dasar, bukan kesejagatan khusus tentang unsur tertentu dalam bahasa) diistilahkan Chomsky sebagai <em>kesejagatan substantif</em>.</p>
<p>Suatu aspek lain yang penting dalam teori Chomsky ialah hakikat bahasa yang diwakili oleh struktur dalaman dan struktur luaran. Secara ringkas, struktur dalaman ialah struktur bahasa yang berada jauh dalam fikiran dan tidak dapat ditanggap oleh pancaindera, sedang struktur luaran ialah struktur yang dapat diamati atau diperhatikan. Pembedaan dua struktur ini dilakukan oleh Chomsky berdasarkan teori Descartes dan Port Royal yang juga tergolong sebagai mentalis. Penelitian terhadap dua aspek bahasa ini penting dalam konteks memahami bahasa sebagai wahana pelahiran atau penyataan makna (struktur dalaman) dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa yang tersusun menjadi ayat (struktur luaran). Mekanisme yang menghubungkan kedua-dua struktur, atau lebih tepat lagi yang menzahirkan struktur dalaman (proposisi, makna, dan fikiran) menjadi struktur luaran (ayat-ayat yang terdiri daripada frasa-frasa yang diwakili oleh representasi fonetik) ialah tata bahasa. Tata bahasa ini disebut tata bahasa transformasi-generatif, yaitu tata bahasa yang mentransformasikan dan menjana makna menjadi ayat. Walau bagaimanapun, dalam versi-versi tata bahasa generatif sesudah <em>Syntactic Structures</em> (1957), peranan transformasi tidak lagi merupakan mekanisme yang dititikberatkan. Bahkan versi tata bahasa generatif yang dikenal sebagai Tata Bahasa Frasa Struktur Umum (<em>Generalised Phrase Structure Grammar</em>) dan Tata Bahasa Fungsian Leksikal (<em>Lexical Functional Grammar</em>) sama sekali tidak membincangkan mekanisme transformasi (Robins 1993: 282). Namun, yang lebih penting dalam perkembangan falsafah bahasa ialah keutuhan teori Chomsky dalam menjelaskan persoalan-persoalan tersembunyi tentang hakikat bahasa.</p>
<p>Paksi falsafah bahasa dalam tradisi Barat, kemudian ditandai oleh kemunculan fungsionalisme yang berkembang daripada gagasan Firth seperti yang telah dibincangkan sebelum ini. Pemikiran tentang fungsionalisme sebagai reaksi terhadap rasionalisme-generatifisme secara nyata mula berkembang pada akhir tahun 1960-an (Brown 1987: 22) dengan berasaskan upaya untuk menyelami hakikat bahasa yang lebih mendalam. Golongan rasionalis-generatif dianggap oleh golongan fungsionalis baru mencecah aspek bentuk bahasa dan belum sampai di peringkat bahasa yang paling dalam, yaitu aspek makna dalam konteks fungsi bahasa. Linguistik generatif dikatakan tidak berhasil menangani aspek fungsi bahasa dan terbatas pada rumus-rumus yang mengawal bentuk bahasa semata-mata. Dell Hymes yang merupakan salah seorang pemuka pendekatan ini sepanjang tahun 1960-an menyelidik cara bagaimana ujaran-ujaran dapat ditakrifkan untuk menepati konteks sosial yang khusus. Ia menganalisis komponen-komponen khusus &#8220;peristiwa-peristiwa pertuturan&#8221; (1967) untuk menunjukkan bagaimana faktor seperti peserta (<em>participant</em>), latar (<em>setting</em>), babak (<em>scene</em>), bentuk mesej, topik, tujuan, dan pemilihan kod saling berinteraksi dalam pelahiran pertuturan.</p>
<p>Pendekatan analisis bahasa yang berasaskan etnografi ini kemudian menimbulkan gagasan <em>keupayaan komunikatif (communicative competence)</em> yang dianggap oleh golongan fungsionalis sebagai jauh lebih penting dan bermakna daripada gagasan <em>keupayaan linguistik </em>yang dicetuskan oleh Chomsky (Brumfit 1994: 25). Hal ini demikian, kerana di sisi meliputi keupayaan formal tentang bentuk bahasa, keupayaan komunikatif menjangkau pengetahuan tentang rumus-rumus penggunaan bahasa yang tanpanya rumus-rumus tata bahasa dianggap tidak ada gunanya sama sekali (Hymes 1971: 15). Seorang lagi tokoh yang senantiasa dikaitkan dengan fungsionalisme ialah M.A.K. Halliday. Di samping menolak dikotomi keupayaan berbahasa dan pelaksanaan bahasa yang digagaskan oleh Chomsky, Halliday berpendapat bahwa isu pokok dalam kajian bahasa perlu tertumpu pada situasi-situasi penggunaan bahasa (Halliday 1970: 145) yang dengan perkataan lain merujuk kepada fungsi bahasa dalam penggunaan. Pada hemat golongan fungsionalis hakikat bahasa yang sesungguhnya tidak lain daripada fungsi komunikatifnya, dengan segala variabilitinya (Brown 1987: 24). Bahasa tidak boleh dianggap sebagai hanya suatu sistem unsur-unsur formal yang bebas daripada fungsi-fungsi khususnya. Halliday (1973) menggariskan tujuh fungsi bahasa yang berlainan dalam memenuhi keperluan hidup manusia, yaitu:</p>
<p>a.<em> fungsi instrumental</em> yang digunakan untuk memanipulasi persekitaran bagi menyebabkan peristiwa-peristiwa berlaku. Ayat seperti &#8220;<em>Mahkamah mendapati kamu bersalah</em>&#8220;, &#8220;<em>Di atas garisan, sedia, mula</em>&#8220;, atau &#8220;<em>Jangan sentuh dapur itu</em>&#8221; dikatakan berfungsi instrumental. Ayat-ayat itu merupakan lakuan komunikatif yang menyatakan sesuatu keadaan tertentu. b.<em> Fungsi pengaturan (regulatory function)</em> yang merupakan kawalan peristiwa, boleh jadi dalam bentuk pengesahan, penolakan, kawalan tingkah laku, atau penyataan aturan dan undang-undang. Jika ayat &#8220;<em>Saya dapati kamu bersalah dan kamu dijatuhi hukuman penjara tiga tahun</em>&#8221; termasuk dalam fungsi instrumental, maka ayat &#8220;<em>Oleh sebab berkelakuan baik, kamu akan dibebaskan sesudah menjalani hukuman penjara sepuluh bulan</em>&#8221; tergolong dalam fungsi pengaturan. c.<em> Fungsi perwakilan (representational function)</em> yang merupakan penyataan fakta dan maklumat yang mewakili sesuatu hakikat atau realiti, seperti &#8220;<em>Bumi bulat</em>&#8221; dan &#8220;<em>Perdana Menteri berucap dalam majlis itu</em>&#8220;. d.<em> Fungsi interaksi (interactional function)</em> yang berperanan memastikan pengekalan masyarakat. Fungsi ini terlaksana jika pengguna bahasa menguasai pengetahuan tentang slanga, jargon, jenaka, cerita rakyat, kesantunan, dan unsur-unsur sosial lain dalam bahasa masyarakatnya atau dalam bahasa yang digunakannya. e.<em> Fungsi persendirian (personal function)</em> yang memungkinkan seseorang melahirkan perasaan dan reaksi. f.<em> Fungsi heuristik</em> yang berkaitan dengan penggunaan bahasa untuk pemerolehan ilmu, khususnya yang melibatkan jenis ayat tanya. g.<em> Fungsi imaginatif </em>yang memungkinkan bahasa digunakan untuk seseorang menghasilkan puisi, cereka, jenaka, ramalan, dan sebagainya.</p>
<p>Sebagai kesimpulannya, golongan fungsionalis menolak pendekatan melihat bahasa hanya sebagai sistem yang membayangkan keupayaan bahasa penutur unggul sesuatu bahasa yang menjadi tumpuan perhatian golongan rasionalis, dan sebaliknya menekankan aspek makna dan fungsi bahasa dalam penggunaan menurut situasi dan konteks.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Demikianlah perkembangan falsafah bahasa dalam tradisi Barat pada zaman moden yang diasaskan oleh Rene Descartes. Sebagaimana perkembangan falsafah bahasa dalam zaman-zaman sebelumnya, yaitu zaman awal pertumbuhan falsafah bahasa, zaman pengasasan kajian falsafah bahasa, dan zaman pertengahan, perkembangan falsafah bahasa dalam zaman moden tetap ditandai oleh sisi kontroversi antara pelbagai aliran pemikiran yang didukung oleh tokoh-tokoh tertentu. Biar apa pun tema yang dibincangkan, hal yang nyata ialah bahwa kesemua tema tentang falsafah bahasa yang dibincangkan itu berpusat pada persoalan hakikat bahasa.</p>
<p><strong>Bibliografi</strong></p>
<p>Alston, W.P. 1964. <em>Philosophy of Language</em>. New Jersey: Prentice Hall, Inc.</p>
<p>Awang Sariyan 1997. &#8220;Falsafah Pendidikan Bahasa: Kajian tentang Konsep dan Pelaksanaannya di Malaysia dengan Rujukan Khusus kepada Pendidikan Bahasa Melayu di Sekolah Menengah&#8221;. Disertasi Doktor Falsafah, Jabatan Pengajian Melayu, Universiti Malaya.</p>
<p>Bloomfield, L. 1933. <em>Language</em>. New York: Holt. Borgmann, A. 1974. <em>The Philosophy of Language</em>. The Hague: Martinus Nijhoff.</p>
<p>Brown, H.D. 1987. <em>Principles of Language Learning and Teaching</em>. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.</p>
<p>Chomsky, N. 1955. <em>The Logical Structure of Linguistic Theory</em>. Massachusetts: MIT Press.</p>
<p>Chomsky, N. 1957. <em>Syntactic Structures</em>. The Hague: Mouton.</p>
<p>Chomsky, N. 1959. &#8220;A Review of B.F. Skinner’s <em>Verbal Behavior</em>&#8221; dlm. <em>Language</em>, 35, No. 1 (26-58). Terdapat juga dalam Fodor, J.A. Dan Katz, J. (Ed.) (1964).</p>
<p>Chomsky, N. 1964. &#8220;Current Issues in Linguistic Theory&#8221; dlm. Fodor, J. A Dan Katrz, J.J. (Ed.) (1964).</p>
<p>Chomsky, N. 1965. <em>Aspects of the Theory of Syntax</em>. Massachussetts: MIT Press. Chomsky, N. 1966 (a). <em>Topics in the Theory of Generative Grammar</em>. The Hague: Mouton.</p>
<p>Chomsky, N. 1966 (b). <em>Cartesian Linguistics</em>. New York: Harper and Row.</p>
<p>Chomsky, N. 1967. &#8220;Recent contributions to the theory of innate ideas&#8221; dlm. <em>Synthese</em>, 17 (2-11).</p>
<p>Chomsky, N. 1968. <em>Language and Mind</em>. New York: Harcourt, Brace and World (edisi yang diperluas, 1972).</p>
<p>Chomsky, N. 1975 (a). <em>Reflections on Language</em>. New York: Pantheon.</p>
<p>Chomsky, N. 1975 (b). <em>The Logical Structure of Linguistic Theory</em>. New York: Plenum. Chomsky, N. 1979. <em>Language and Responsibility</em>. Sussex: The Harvester Press Ltd.</p>
<p>Frege, G. 1952. &#8220;Sense and Reference&#8221; dlm. <em>Philosophical Writing</em> (terj. P.T. Geach dan M. Black). Oxford: Blackwell.</p>
<p>Halliday, M.A.K. 1973. <em>Explorations in the Functions of Language</em>. London: Edward Arnold.</p>
<p>Halliday, M.A.K. 1975. <em>Learning How to Mean</em>. London: Edward Arnold.</p>
<p>Halliday, M.A.K. 1985. <em>Seminar on Language Across the Curriculum</em>. Singapore: Regional English Language Centre (RELC).</p>
<p>Hashim Musa 1994. <em>Pengantar Falsafah Bahasa</em>. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.</p>
<p>Hymes, D. 1964. &#8220;Directions in (etho-) Linguistic Theory, <em>American Anthropologist</em>, 66, 3 Part 2: 6-56.</p>
<p>Hymes, D. 1967. &#8220;Models of Interaction of Language and Social Setting&#8221; dlm. <em>Journal of Social Issues</em>, 23, 2: 8-28.</p>
<p>Hymes, D. 1971. <em>On Communicative Competence</em>. Philadelphia: University of Pennsylvenia Press.</p>
<p>Mangantar Simanjuntak 1987. <em>Pengantar Psikolinguistik Moden</em>. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.</p>
<p>Oller, C.K. dan J. Richards (Ed.) 1973. <em>Focus on the Learner: Pragmatic Perspectives for the Language Teacher</em>. Massachussetts: Newbury House.</p>
<p>Robins, R. H. 1993. <em>Sejarah Ringkas Linguistik</em> (terj. Noor Ein Mohd. Noor). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.</p>
<p>Russell, Bertrand 1912. <em>The Problems of Philosophy</em>. Oxford: Oxford University Press. Russell, Bertrand. 1993. <em>An Outline of Philosophy</em>. London: Routledge.</p>
<p>Russell, Bertrand. 1993. <em>Sejarah Falsafah Barat</em>. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.</p>
<p>Saussure, F. De. 1993. <em>Pengantar Linguistik Umum</em> (terj. Ajid Che Kob). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.</p>
<p>Searle, J.R. 1990. <em>Falsafah Bahasa</em>. (terj. Azhar M. Simin daripada <em>The Philosophy of Language</em> [1974]). Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.</p>
<p>Steinberg, D.D. 1990. <em>Psikolinguistik, Bahasa, Akal Budi dan Dunia</em> (terj. Azhar M. Simin daripada <em>Psycholinguistics, Language, Mind and World</em> [1982]). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.</p>
<p>Wolff, R.P. 1992. <em>About Philosophy</em>. Belmont, CA: Wadsworth.</p>
<p>Wojowasito, S. 1961. <em>Linguistik: Sejarah Ilmu (Perbandingan) Bahasa</em>. Jakarta: Penerbit Gunung Agung.</p>
<p style="padding-left:30px;">&#8212;&#8212;&#8212;- *Makalah yang cukup panjang ini disadur dari tulisan Awang Sariyan*</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Metode Ilmiah ]]></title>
<link>http://auliakornelia.wordpress.com/2009/05/31/metode-ilmiah/</link>
<pubDate>Sun, 31 May 2009 01:11:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>aulia</dc:creator>
<guid>http://auliakornelia.wordpress.com/2009/05/31/metode-ilmiah/</guid>
<description><![CDATA[Metode Ilmiah adalah suatu cara memecahkan masalah yang melalui langkah langkah ilmiah , diluar pers]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Metode Ilmiah adalah suatu cara memecahkan masalah yang melalui langkah langkah ilmiah , diluar persangkaan , kemungkinan ataupun dugaan. Dalam Sains perlu di adakannya pembuktian. Ketika seseorang mengungkapkan suatu ilmu maka dia tidak lagi menduga tetapi selalu disertai oleh bukti-bukti yang telah di amati.</p>
<p><!--more--><!--more--></p>
<p>Sedangkan jika belum dibuktikan maka ilmu tersebut masih  kita katakan sebagai teori</p>
<p>Dengan metode ilmiah, ketekunan dan ketelitian inilah sains berkembang, kemajuan tekhnologi  diberbagai bidang semakin pesat  pertanian, industri, kedokteran, ilmu dasarnya adalah Biologi.</p>
<p>Sebetulnya apakah  Biologi itu ?</p>
<p>Biologi mempelajari tentang kehidupan <em>Bio</em> artinya kehidupan <em>logos </em>artinya ilmu . Mempelajari segala sesuatu tentang kehidupan , proses kehidupan tersebut ( fisiologinya) susunan makhluk hidup,</p>
<p>( anatomi ) interaksinya dengan lingkungan ( ekosistem ) dan peningkatan kualitas kehidupan makhluk hidup tersebut ( kesehatan)</p>
<p>Sangatlah menarik jika kamu mempelajari biologi secara mendalam dan teliti, abad sekarang adalah abad biologi dimana para ilmuwanpun berfikir bagaimana menghasilkan makhluk hidup di dalam laboratorium, tentu saja itu sudah bisa dilakukan saat ini . menanam tidak semata-mata dari  biji, menanam dari daun, dari akar bahkan batang. Yang dalam waktu singkat dapat menghasilkan ribuan tanaman atau yang kita kenal dengan <em>kultur jaringan.</em></p>
<p>Bahkan manusia pun ada bayi tabung. Tetapi semua itu tentunya  bisa dilakukan dengan bahan yang ada di alam sendiri. Bahan yang ada pada makhluk hidup. Bahan kehidupan inilah yang tidak dapat diciptakan oleh manusia. Manusia hanya merekayasa saja.</p>
<p>Langkah-langkah metode Ilmiah</p>
<p>Adapun langkah-langkah metode ilmiah</p>
<ol>
<li>ada <em>masalah</em></li>
<li><em>mengumpulkan teori</em> atau pengetahuan      dasar tentang masalah tersebut</li>
<li>menduga      berdasarkan teori yang telah dikumpulkan atau kita namakan menyusun <em>Hipotesis</em></li>
<li>Melakukan      <em>eksperimen</em> atau percobaan untuk      membuktikan masalah tersebut<em> </em></li>
<li>Menarik      kesimpulan sementara <em> </em></li>
<li>Melakukan      eksperimen ulang<em> </em></li>
</ol>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li>Menarik      kesimpulan.<em> </em></li>
</ol>
<p><em> </em></p>
<p>Masalah</p>
<p>Misalnya Kesuburan tanaman</p>
<p>Anda ingin tahu tentang  mengapa ada tanaman tomat yang subur dan ada yang lebih subur. Jadi masalahnya adalah : <em>Kesuburan tanaman tomat</em></p>
<p>Mengumpulkan teori</p>
<p>Tentu anda harus bertanya kepada nara sumber  orang yang lebih tahu, berpengalaman , membaca buku, membaca artikel., pergi keperpustakaan,  surfing di internet mengenai kesuburan tanaman tomat.</p>
<p>Menarik Hipotesis</p>
<p>Berdasarkan hasil diskusimu, hasil bacaanmu misalnya ada yang</p>
<p>menyatakan tanaman subur kalau di beri pupuk yang cocok</p>
<p>Tanaman busuk kalau di siram terlalu banyak</p>
<p>Tanaman mati kalau  terkena asap pembakaran</p>
<p>Pernyataan yang sesuai dengan masalahmu adalah  tanaman subur kalau diberi pupuk</p>
<p>Anda dapat menyususn hipotesis</p>
<p>Tanaman tomat akan subur jika diberi pupuk ……..</p>
<p>Anda juga harus menentukan pupuk apa yang digunakan</p>
<p>Mulai dari masalah  sampai hipotesis jangan lupa untuk di tulis dengan rapi dan disimpan baik- baik karena tidak jarang catatan tersebut hilang sehingga menyulitkanmu untuk membuat laporan</p>
<p>Berikutnya untuk melakukan eksperimen tentunya anda harus mulai menyiapkan alat dan bahannya bahkan sampai menghitung perkiraan biaya yang akan dikeluarkan.</p>
<p>Tuliskan alat dan bahan yang anda perlukan untuk menguji tentang kesuburan tanaman tomat. Pilihlah alat dan bahan yang terjangkau dan ada disekitarmu. Tidak perlu semuanya yang baru.</p>
<p>Setelah semua alat dan bahan disiapkan</p>
<p>Anda dapat melakukan percobaan, dalam melakukan percobaan ini tentu saja anda siapkan minimal dua perlakuan terhadap tanaman</p>
<ol>
<li>1 pot      tanaman yang di beri pupuk</li>
<li>1 pot      tanaman yang tidak di beri pupuk</li>
</ol>
<p>Tetapi dalam melakukan percobaan kita perlu mengantisipasi kalau-kalau tanaman kita tersebut mati dan perlu kita lakukan lebih dari 1 kali untuk membuktikan apakah kejadian tersebut memang seperti yang kita coba  tidak terjadi sekali saja atau kebetulan. Atau dengan kata lain perlakuan yang sama menghasilkan hasil yang sama atau tidak jauh berbeda</p>
<p>Jadi sebaiknya kita menyiapkan lebih dari 1 pot  misalnya</p>
<p>3 pot tanaman yang di beri pupuk</p>
<p>3 pot tanaman yang tidak di beri pupuk</p>
<p>Langkah berikutnya tentu saja kita amati terus tanaman kita dan catat perubahannya setiap hari, jumlah daun , daun yang layu, l dan lebar daun.</p>
<p>Untuk lebar daun catalah 3 hari sekali</p>
<p>Amati tanamanmu selama 1 bulan</p>
<p>Lalu susunlah laporanmu.</p>
<p>Boleh disertakan foto dari tanaman tersebut agar laporanmu menjadi lebih baik.</p>
<p><em> </em></p>
<p>Komunikasi Ilmiah</p>
<p>Sebetulnya Hasil dari laporan pengamatan adalah komunikasi secara tertulis yang anda lakukan</p>
<p>Laporan tertulis yang baik berisi</p>
<ol>
<li>Masalah</li>
<li>Landasan      teori</li>
<li>Hipotesis</li>
<li>Eksperimen
<ol>
<li>alat       dan Bahan</li>
<li>cara       kerja</li>
<li>hasil       pengamatan</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>5.Pembahasan</p>
<p>Pembahasan berisi tentang mengapa hasil yang anda dapatkan menjadi demikian</p>
<p>Kalau tanamannya subur mengapa. Kalau tanamannya mati mengapa</p>
<ol>
<li>Kesimpulan</li>
<li> Saran</li>
<li>daftar      Pustaka</li>
</ol>
<p>berisi tentang sumber buku yang sudah anda baca untuk menulis laporan tersebut atau artikel lainnya.</p>
<p>Disamping laporan sebetulnya anda bisa menyebarluaskan tulisan ( yang berarti menyebarluaskan ilmu pengetahuan ) melalui mading yang ada di sekolahmu.</p>
<p>Dalam sains kemampuan berkomunikasi secara tertulis sangat diperlukan karena tak jarang hasil yang sangat bagus karena tak pernah di tuliskan atau disebarluaskan menjadi tidak bermanfaat.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bapak Metode Ilmiah Moderen]]></title>
<link>http://wahyuancol.wordpress.com/2009/03/03/bapak-metode-ilmiah-moderen/</link>
<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 13:44:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>wahyuancol</dc:creator>
<guid>http://wahyuancol.wordpress.com/2009/03/03/bapak-metode-ilmiah-moderen/</guid>
<description><![CDATA[Siapa penemu metode ilmiah moderen? Seringkali dikatakan bahwa metode ilmiah moderen ditemukan pada ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Siapa penemu metode ilmiah moderen? Seringkali dikatakan bahwa metode ilmiah moderen ditemukan pada ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Epistemologi (Filsafat Pengetahuan)]]></title>
<link>http://bermenschool.wordpress.com/2008/12/04/epistemologi-filsafat-pengetahuan/</link>
<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 11:27:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Asep Sofyan</dc:creator>
<guid>http://bermenschool.wordpress.com/2008/12/04/epistemologi-filsafat-pengetahuan/</guid>
<description><![CDATA[PEMBAGIAN PENGETAHUAN Saat ini pembagian pengetahuan yang dianggap baku boleh dikatakan tidak ada ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[PEMBAGIAN PENGETAHUAN Saat ini pembagian pengetahuan yang dianggap baku boleh dikatakan tidak ada ya]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[LOGIKA DALAM BERPIKIR]]></title>
<link>http://zulfaaa.wordpress.com/2008/11/21/logika-dalam-berpikir/</link>
<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 05:31:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>zulfaaa</dc:creator>
<guid>http://zulfaaa.wordpress.com/2008/11/21/logika-dalam-berpikir/</guid>
<description><![CDATA[Kemampuan manusia untuk menggunakan akal dalam memahami lingkungannya merupakan potensi dasar yang m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kemampuan manusia untuk menggunakan akal dalam memahami lingkungannya merupakan potensi dasar yang memungkinkan manusia berpikir. Dengan berpikir manusia menjadi mampu melakukan perubahan dalam dirinya. Oleh karena itu sangat wajar apabila berpikir merupakan konsep kunci dalam setiap diskursus mengenai kedudukan manusia di muka bumi, ini berarti bahwa tanpa berpikir, kemanusiaan manusia pun tidak mempunyai makna bahkan mungkin tak akan pernah ada.</p>
<p>Berpikir juga memberi kemungkinan manusia untuk memperoleh pengetahuan, dalam tahapan selanjutnya pengetahuan itu dapat menjadi pondasi penting bagi kegiatan berpikir yang lebih mendalam.</p>
<p>Dasar-dasar  pengetahuan merupakan ujung  tombak  berpikir  ilmiah. Dasar-dasar ini meliputi Penalaran dan Logika  (Cara  Penarikan  Kesimpulan). Penalaran yang dilakukan manusia menghasilkan pengetahuan yang dapat dikaitkan dengan kegiatan berpikir. </p>
<p>A.	Definisi Logika<br />
Logika berasal dari kata Yunani Kuno, λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. </p>
<p>Sebagai ilmu, logika adalah ilmu yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Ilmu yang dimaksud di sini adalah kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal sehat untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan yang logis. Logis artinya masuk akal. Pemikiran logis mampu menghasilkan ide,  gagasan, teori, dan sebagainya. Sementara Logika berpikir adalah hubungan antara pikiran dan keadaan, atau antara ide dengan materi (kenyataan yang ada). </p>
<p>Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya. </p>
<p>Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Logika biasanya digunakan untuk melakukan pembuktian.</p>
<p>Telah banyak definisi logika yang telah dikemukakan oleh para ahli yang pada umumnya memiliki persamaan, selain juga perbedaan. Dari sekian nanyak definisi itu dapatlah dikatakan bahwa logika adalah cabang filsafat yang menyusun, mengembangkan, dan membahas asas-asas, aturan-aturan formal dan prosedur-prosedur normatif, serta kriteria yang shahih bagi penalaran dan penyimpulan demi mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.</p>
<p>Jadi, logika dapat didefinisikan sebagai : pengkajian untuk berfikir secara sahih. Logika dipakai untuk menarik kesimpulan dari suatu proses berpikir berdasar cara tertentu, yang mana proses berpikir di sini merupakan suatu penalaran untuk menghasilkan suatu pengetahuan.</p>
<p>B.	Sejarah Perkembangan Logika<br />
Orang yang pertama kali menggunakan kata logika adalah Zeno dari Citium. Kaum Sofis, Socrates, dan Plato tercatat sebagai tokoh-tokoh yang ikut merintis lahirnya logika. Logika lahir sebagai ilmu atas jasa Aristoteles, Theoprostus dan Kaum Stoa. Logika dikembangkan secara progresif oleh bangsa Arab dan kaum muslimin pada abad II Hijriyah. Logika menjadi bagian yang menarik perhatian dalam perkembangan kebudayaan Islam. Namun juga mendapat reaksi yang berbeda-beda, sebagai contoh Ibnu Salah dan Imam Nawawi menghukumi haram mempelajari logika, Al-Ghazali menganjurkan dan menganggap baik, sedangkan Jumhur Ulama membolehkan bagi orang-orang yang cukup akalnya dan kokoh imannya. Filosof Al-Kindi mempelajari dan menyelidiki logika Yunani secara khusus dan studi ini dilakukan lebih mendalam oleh Al-Farabi.</p>
<p>Selanjutnya logika mengalami masa dekadensi yang panjang. Logika menjadi sangat dangkal dan sederhana sekali. Pada masa itu digunakan buku-buku logika seperti Isagoge dari Porphirius, Fonts Scientie dari John Damascenus, buku-buku komentar logika dari Bothius, dan sistematika logika dari Thomas Aquinas. Semua berangkat dan mengembangkan logika Aristoteles.</p>
<p>Pada abad XIII sampai dengan abad XV muncul Petrus Hispanus, Roger Bacon, Raymundus Lullus, Wilhelm Ocham menyusun logika yang sangat berbeda dengan logika Aristoteles yang kemudian kita kenal sebagai logika modern. Raymundus Lullus mengembangkan metoda Ars Magna, semacam aljabar pengertian dengan maksud membuktikan kebenaran &#8211; kebenaran tertinggi. Francis Bacon mengembangkan metoda induktif dalam bukunya Novum Organum Scientiarum . W.Leibniz menyusun logika aljabar untuk menyederhanakan pekerjaan akal serta memberi kepastian. Emanuel Kant menemukan Logika Transendental yaitu logika yang menyelediki bentuk-bentuk pemikiran yang mengatasi batas pengalaman. Selain itu George Boole (yang mengembangkan aljabar Boolean), Bertrand Russel, dan G. Frege tercatat sebagai tokoh-tokoh yang berjasa dalam mengembangkan Logika Modern.<br />
Poespoprojo tidak membahas asal-usul dan sejarah logika, begitu juga Olson. Posepoprojo membahas langsung pokok-pokok masalah dalam logika itu sendiri, sedangkan Olson tidak menyinggung sejarah logika sama sekali.</p>
<p>C.	Hukum Dasar Logika<br />
Ada empat hukum dasar dalam logika yang oleh John Stuart Mill (1806-1873) disebut sebagai postulat-postulat universal semua penalaran (universal postulates of all reasoning) dan oleh Friedrich Uberweg (1826-1871) disebut sebagai aksioma inferensi. Tiga dari keempat hukum dasar itu dirumuskan oleh Aristoteles, sedangkan yang satu lagi ditambahkan kemudian oleh Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716). Keempat hukum dasar itu adalah :<br />
1.	Hukum Identitas (Principium Identitatis/ Law of Identity) yang menyatakan bahwa sesuatu itu adalah sama dengan dirinya sendiri. Rumusnya P = P.</p>
<p>2.	Hukum Kontradiksi (Principium Contradictionis/ Law of Contradiction) yang menyatakan bahwa sesuatu itu pada waktu yang sama tidak dapat sekaligus memiliki sifat tertentu dan juga memiliki sifat tertentu itu. Rumusnya: tidak mungkin P = Q dan sekaligus P ≠ Q.</p>
<p>3.	Hukum Tiada Jalan Tengah  (Principium Exclusi Tertii/ Law of Excluded Middle) yang menyatakan bahwa sesuatu itu pasti memiliki sifat tertentu atau tidak memiliki sifat tertentu itu dan tidak ada kemungkinan lain. Jadi P = Q atau P ≠ Q.</p>
<p>4.	Hukum Cukup Alasan (Principium Rationis Sufficientis/ Law of Sufficient Reason) yang menjelaskan bahwa jika terjadi perubahan pada sesuatu, perubahan itu haruslah berdasarkan alasan yang cukup. Itu berarti tidak ada perubahan yang terjadi dengan tiba-tiba tanpa alas an yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Hukum ini merupakan pelengkap hukum identitas.</p>
<p>D.	Unsur-Unsur Logika<br />
Menurut tradisi, logika memiliki bagian-bagian sebagai berikut :<br />
1.	Term<br />
Term adalah gagasan atau sejumlah gagasan, terdiri dari term subjek (S), term predikat (P), dan term antara (M).</p>
<p>2.	Proposisi<br />
Proposisi disebut juga putusan, keputusan, judgement, pernyataan (statement) dalam bentuk kalimat yang merupakan rangkaian dari term-term yang dapat memiliki nilai benar atau salah. Proposisi adalah kegiatan atau perbuatan manusia dimana ia mengiakan atau mengingkari sesuatu tentang sesuatu. Proposisi menunjuk pada tegasnya pernyataan atau penyangkalan hubungan antara dua buah pengertian.<br />
Sebenarnya ada berbagai jenis proposisi, namun semuanya dapat disederhanakan menjadi empat jenis dengan lambang A, E, I, dan O.<br />
a.	A adalah proposisi universal afirmatif.<br />
b.	E adalah proposisi universal negatif.<br />
c.	I adalah proposisi partikular afirmatif.<br />
d.	O adalah proposisi partikular negatif.</p>
<p>3.	Penarikan Kesimpulan<br />
Ada dua macam penarikan kesimpulan, yaitu:<br />
Induksi merupakan suatu cara berpikir di mana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Contoh suatu pemikiran induksi yaitu : fakta memperlihatkan bahwa kambing mempunyai mata, gajah mempunyai mata, begitu pula singa, kucing dan binatang-binatang lainnya. Secara induksi dapat disimpulkan secara umum bahwa semua binatang mempunyai mata.<br />
Deduksi adalah suatu cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Contoh suatu pemikiran deduksi yaitu : contoh berikut memakai pola berpikir yang dinamakan silogisma, suatu pola berpikir yang sering dipakai dalam menarik kesimpulan secara deduksi.<br />
a.	Semua makhluk mempunyai mata 	(Premis mayor)<br />
b.	Si Ari adalah seorang makhluk	     (Premis minor)<br />
c.	Jadi, si Ari mempunyai mata	      (Kesimpulan)</p>
<p>E.	Macam-Macam Logika<br />
Secara prinsip, logika dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu:<br />
Logika alamiah, adalah hasil kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia sudah diperoleh sejak kita dilahirkan.</p>
<p>Logika ilmiah, adalah ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran (standar pemikiran). Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindari kesesatan pemikiran, atau untuk mengurangi kekeliruan.</p>
<p>Logika juga dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu : logika formal dan logika material.<br />
Logika formal, yang biasa disebut logika saja, adalah logika yang memberikan norma berpikir benar dari segi bentuk (form) berpikir. Logika formal adalah logika bentuk. Logikanya ialah agar diperoleh pengetahuan yang benar, maka bentuk berpikirnya harus benar. Apakah isinya benar atau salah, ini dibicarakan oleh logika material.</p>
<p>Logika material, adalah logika yang menbicarakan tentang kebenaran isi dari logika formal. Dalam logika dikenal perbedaan antara kesimpulan yang tepat dan kesimpulan yang benar. Kesimpulan yang tepat diperoleh bila bentuk berpikirnya benar (logika formal); kesimpulan yang benar berasal dari penyelidikan terhadap kesimpulan itu. Yang meneliti isi kesimpulan adalah logika material.</p>
<p>Jadi, ketepatan dibicarakan oleh logika formal, kebenaran isi dibicarakan logika material.</p>
<p>Secara ringkas, ide dan logika adalah hasil kreatifitas serta manipulasi pemikiran manusia yang didasari oleh akal sehat. Target dari kegiatan berpikir ini adalah untuk mencari jalan keluar (solusi), atau dapat juga berupa teori baru terhadap permasalahan yang membutuhkan pemikiran jernih.</p>
<p>F.	Kegunaan Logika<br />
1.	Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.</p>
<p>2.	Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.</p>
<p>3.	Memungkinkan orang melaksanakan disiplin intelektual yang diperlukan dalam melakukan analisis terhadap suatu kejadian. </p>
<p>4.	Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.</p>
<p>5.	Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis</p>
<p>6.	Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpkir, kekeliruan serta kesesatan.</p>
<p>7.	Membantu menginterpretasikan fakta dan pendapat orang lain secara memadai.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Konspirasisme]]></title>
<link>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2008/07/13/konspirasisme/</link>
<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 12:36:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kgeddoe</dc:creator>
<guid>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2008/07/13/konspirasisme/</guid>
<description><![CDATA[Konspirasisme ialah sebuah cara memandang dunia yang didasarkan pada teori konspirasi&#8212; suatu h]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Conspiracism"><i>Konspirasisme</i></a> ialah sebuah cara memandang dunia yang didasarkan pada <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Conspiracy_theory">teori konspirasi</a>&#8212; suatu hipotesis yang menggagaskan bahwa terdapat konspirasi-konspirasi yang menggerakkan dunia dari belakang layar. Menurut jurnalis kawakan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chip_Berlet">Chip Berlet</a>, konspirasisme adalah semacam metode pemikiran yang mengkambinghitamkan musuh dengan mendemonisasi mereka sebagai pihak yang bertanggung jawab akan upaya-upaya yang bertentangan dengan kemaslahatan masyarakat. </p>
<p>Lebih jauh lagi, konspirasisme menggiring para penganutnya untuk memandang para perumus teori-teori konspirasi yang bersangkutan sebagai <i>whistleblower</i> yang heroik; intelektual-intelektual bawah tanah yang berhasil membongkar borok-borok politik di saat media-media umum sudah tidak bisa dipercaya lagi. Dilihat dari sudut pandang ini, memang tidak berlebihan rasanya kalau konspirasisme adalah semacam masturbasi intelektual. <i>Oh, the vanity.</i>
</p>
<p><font size="4">
<p>Gramedia dan tumpukan buku-buku</p>
<p></font></p>
<p>Tidak sampai seminggu yang lalu, saya mengunjungi sebuah cabang <a href="http://www.gramedia.com/">Gramedia</a> dengan niat yang sebenarnya tidak terlalu jelas. Memang saya hendak membeli buku, namun waktu itu <a href="http://diary.satchdesign.com/?p=90">tidak ada rencana khusus mengenai buku apa yang akan dibeli</a>. Akibatnya, yang saya lakukan adalah berkeliling melihat-lihat sampai hampir setengah jam. Memang rasanya sangat lama, sebab kebetulan toko bukunya sendiri bisa dibilang cukup besar; sewaktu saya masih SMP, katanya cabang yang berlantai tiga ini adalah yang terbesar di Sumatra. Apa sekarang rekor itu masih dipegang, saya sendiri tidak tahu. Nah, setelah berputar-putar, pada akhirnya yang saya beli adalah satu kopi <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Rolling_Stone#International_editions"><i>Rolling Stone</i></a> dan dua volume <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ai_Kora"><i>Ai Kora</i></a>, namun ada sedikit cerita di balik itu.
</p>
<p>Ketika saya perhatikan, porsi bacaan agamis yang tersedia di toko buku tersebut memang cukup <i>intimidating</i> juga, walau memang sangat condong ke agama Islam (atau memang hanya Islam?). Ada banyak sekali novel-novel religius yang saya lihat, yang kelihatannya tersedia untuk bermacam-macam demografik. Ada beberapa yang secara gamblang sepertinya memang ditujukan untuk remaja-remaja <abbr title="Kerohanian Islam.">rohis</abbr> kelas <i>gawul</i> yang gemar <a href="http://sora9n.wordpress.com/2008/04/11/ani-culture-dan-jilbab/">meleburkan identitas keagamaan mereka dengan kultur pop</a>, ada yang <i>tone</i>-nya lebih dewasa, sampai yang diperuntukkan pada anak-anak.
</p>
<p>Saya sendiri tidak bisa dikatakan menyukai atau tidak menyukai tren ini; biasa saja, walau sempat terkesima juga dengan religiusitas bangsa ini. Namun yang sedikit mengganjal adalah majalah-majalah Islami yang terselip di antara serbuan buku-buku religius tersebut.</p>
<p align="center"><img src="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2008/07/majalahpedang.jpg" alt="" /></p>
<p>Kalau berbicara tentang media-media Islami, berbeda dengan media-media seperti novel atau buku, saya sedikit <a href="http://rosenqueencompany.wordpress.com/2008/05/29/hidayatullah-dot-com-mengadu-domba-umat/">waswas</a> dengan majalah. Konon, meninjau dari <a href="http://rosenqueencompany.wordpress.com/2008/05/29/hidayatullah-dot-com-mengadu-domba-umat/#comments">komentar-komentar yang masuk</a> di salah satu artikel saya dulu, agak susah mencari majalah Islam yang agak &#8217;sejuk&#8217;. Saya tidak terlalu tahu juga, sebab saya memang tidak berlangganan atau membaca majalah-majalah seperti itu secara rutin. Beberapa tahun lalu saya pernah membaca satu-dua majalah seperti <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sabili_(majalah)"><i>Sabili</i></a> dan sebangsanya, dan memang rasanya tidak terlalu sejuk. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Waktu saya kelas tiga SMA, meja saya di kelas dikelilingi oleh rekan-rekan yang beragama Kristen. Saya masih ingat bagaimana mereka pada waktu itu sedikit tersinggung dengan <i>headline</i> <i>Sabili</i> yang &#8217;seru&#8217; tentang &#8216;<a href="http://gunawanrudy.com/2007/12/11/isu-kristenisasi-via-audio-visual/">Kristenisasi</a> yang semakin marak&#8217;.</p>
<p>Nah, di majalah-majalah yang kebetulan saya temukan di toko tersebut, yang sempat saya lihat-lihat kovernya (sayangnya tidak dapat dibuka sebab dibungkus dengan plastik), jualannya juga serupa. Saya ingat salah satu tajuknya adalah; &#8220;<i>Media Sekular, Corong Suara Kaum Kafir</i>&#8221; atau sesuatu yang mirip seperti itu. Menyeramkan juga. Dan menjual tentunya. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Sayang saya lupa nama majalahnya apa, jadi tidak bisa memberi referensi. Ada juga yang berbunyi seperti &#8220;<i>&#8230;Membawa Kepentingan Asing</i>&#8221; dan sebangsanya; saya rasa Anda sudah bisa menangkap berita (?) macam apa yang disajikan.</p>
<p>Topik inilah yang saya rasa patut direnungkan. <b>Kegemaran media religi untuk menyajikan teori konspirasi</b>. Saya rasa ini menarik, sebab ada kecenderungan media berita (?) Islam untuk memanas-manasi umat supaya bersikap lebih paranoid terhadap dunia luar. Jadi bertentangan dengan cara bekerja media-media lain, seperti novel-novel, yang lebih tertarik memasarkan nilai-nilai yang dianggap luhur seperti keimanan dan cinta kasih, media-media berita (?) ini cenderung menakut-nakuti akan rangkaian berita (?) yang membahas konspirasi yang dilakukan agama lain, selain menyerukan supremasi golongan serta mengarahkan masyarakat menuju pemahaman yang lebih konservatif.</p>
<p>Yang lebih menyulitkan, umat Islam Indonesia sendiri tidak terbiasa dengan perbedaan pendapat dalam agama, ambiguitas doktrin, dan sudah terbuai dalam paradigma agama yang &#8216;pasti&#8217; di mana <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Schism_(religion)">skisma</a> tidak pernah terjadi. Jadi paham-paham yang berbenturan sekalipun, semuanya ditelan.</p>
<p>Jadi, tren teori konspirasi. Hanya ini. Adapun perkara tren religiusitas, novel-novel, dan lainnya, kita kesampingan dulu; barangkali bisa dibahas di lain kesempatan saja. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </p>
<p><font size="4">
<p>Teori konspirasi</p>
<p></font></p>
<p>Ah, saya yakin Anda sudah terbiasa dengan teori konspirasi religius sayap kanan; khas dan bahkan hampir jadi budaya. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </p>
<p>Formula teori-teori konspirasi ini sangat sederhana dan mudah ditebak, kok. Anda pun sebenarnya bisa membuat teori konspirasi Anda sendiri:</p>
<ol>
<li>Terdapat masalah/kejadian/peristiwa A.
</li>
<p></p>
<li>Walau tidak diberitakan secara luas di media massa, namun ternyata ada agenda tersembunyi di balik masalah/kejadian/peristiwa tersebut, yang dilakukan oleh satu, beberapa, atau semua elemen di bawah ini:
<ul>
<li><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_United_States">Amerika Serikat</a></li>
<li><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/State_of_Israel">Israel</a></li>
<li><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zionism">Zionisme</a></li>
<li><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Freemasonry">Freemasonry</a></li>
<li><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Liberal_theology">Kaum agama liberal</a> (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Liberal_movements_within_Islam">Islam liberal</a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Liberal_Christianity">Kristen liberal</a>, dst.)</li>
<li><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jew">Kaum Yahudi</a> (&#8220;<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/New_antisemitism">Jewsdidit!</a>&#8220;)</li>
<li>&#8220;<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Occident">Barat</a>&#8220;</li>
<li>Pemerintah lokal (Yang ternyata sudah &#8216;dibeli&#8217; atau &#8216;disusupi&#8217; organisasi-organisasi di atas)</li>
<li>&#8230;dan seterusnya.</li>
</ul>
</li>
<p></p>
<li>Jadi &#8220;kita&#8221; sebenarnya ada dalam bahaya, karena perlahan-lahan musuh-musuh di atas mulai menggerogoti &#8220;kita&#8221; dan pada akhirnya akan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Global_conquest">menguasai dunia</a>.
</li>
<p></p>
<li>Waspadalaaah&#8230; Waspadalaaah&#8230;!</li>
</ol>
<p>Hal ini tentu bisa dikaitkan ke berbagai macam kasus, tanpa kecuali:</p>
<ol>
<li><b>Peristiwa:</b> Telah berkembang sebuah aliran agama kecil yang dianggap sesat oleh badan yurisprudensi agama berotoritas.<br />
<br /><b>Teori konspirasi:</b> Aliran tersebut sengaja ditiupkan oleh musuh untuk merusak pemahaman umat agama yang bersangkutan, guna lebih mudah dimurtadkan. Orang-orangnya adalah intelektual tidak jujur yang telah dibayar oleh musuh.
</li>
<p></p>
<li><b>Peristiwa:</b> Kelompok terorisme religius ekstrim beraksi dengan meledakkan bom mobil.<br />
<br /><b>Teori konspirasi:</b> Semuanya sandiwara yang dilakukan untuk memperburuk nama agama yang dipermasalahkan.
</li>
<p></p>
<li><b>Peristiwa:</b> Ada logo produk/perusahaan/instansi yang mirip <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hexagram">heksagram</a>.<br />
<br /><b>Teori konspirasi:</b> <a href="http://coolblooded.wordpress.com/2008/06/07/simbol-zionis-di-banda-aceh/">Badan itu dimiliki/dikendalikan oleh pemerintahan Israel</a>. Hati-hati, karena tujuannya adalah mencari simpatisan di lingkungan lokal.
</li>
</li>
</ol>
<p>Yang seperti inilah yang banyak menghiasi halaman-halaman majalah-majalah berita (?) berhaluan religi kanan seperti yang saya sebutkan. Memang menjadi bacaan yang lebih sedap dan menarik, ketimbang, misalnya membaca tentang bagaimana kita mesti beriman dan berbuat baik sesama manusia, atau membaca ulasan acara pengajian. Itulah yang dimaksudkan sebagai masturbasi intelektual; kita bisa mengecap heroisme di situ. Sebab tiba-tiba semuanya jadi epik, segalanya menjadi medan perang. Desain segi enam yang mungkin sebetulnya hanyalah logo biasa, tiba-tiba bisa menjelma menjadi serbuan musuh. Dan kita seolah-olah diberi mandat untuk melindungi orang banyak dari marabahaya yang dibawa oleh serbuan yang dimaksud. Di sinilah ejakulasi intelektualnya.</p>
<p><font size="4">
<p>Apakah teori konspirasi itu salah?</p>
<p></font></p>
<p>Saya tidak akan dogmatik; teori konspirasi itu bisa saja benar. Mungkin para petinggi politik Israel memang mengirimkan agennya ke tiap pelosok di kolong jagad. Mungkin media massa dan pemerintah Turki memang <a href="http://scienceblogs.com/pharyngula/2008/01/well_fly_fishing_is_a_science.php">berkonspirasi menjatuhkan Harun Yahya</a>. Mungkin <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Pentagon">Pentagon</a> memang menyimpan robot raksasa <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mazinger_Z">Mazinger Z</a>. Mungkin presiden SBY memang merupakan alien yang dikirimkan oleh federasi <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Virgo_supercluster">Virgo supercluster</a> untuk mengendalikan rakyat Indonesia. Teori konspirasi bisa saja benar. Lantas mengapa menggunakan teori konspirasi adalah suatu kesalahan berpikir?</p>
<p>Untuk memahaminya, Anda perlu memahami konsep <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Occam's_razor"><i>Occam&#8217;s razor</i></a>, atau <a href="http://hermansaksono.com/2005/11/occams-razor-dan-tes-dna-dr-azhari.html">pisau Ockham</a>.</p>
<p>Pisau Ockham adalah prinsip berpikir yang pada konteks aslinya berbunyi; &#8220;<i>entia non sunt multiplicanda praeter necessitatem</i>&#8220;. Terjemahan bebasnya mungkin; &#8220;<i>jangan menambah-nambah di luar apa yang diperlukan</i>&#8220;. Tafsiran yang paling awamnya mungkin bakal berbunyi; jangan mengada-ada!</p>
<p>Akan lebih mudah untuk memahaminya melalui contoh. Seandainya, Anda dihadapkan pada persoalan berikut:</p>
<blockquote><p>Anda hidup berdua saja di apartemen kecil dengan pasangan Anda. Suatu ketika, Anda pulang dan mendapati kue yang Anda simpan di lemari es telah lenyap.</p></blockquote>
<p>Apa yang dapat Anda simpulkan?</p>
<p>Saya akan mengajukan dua kesimpulan untuk Anda;</p>
<blockquote><p><b>1:</b> Pasangan Anda telah memakannya.<br />
<b>2:</b> Ada maling yang masuk dan mengambil kue tersebut.
</p></blockquote>
<p>Di atas kertas, keduanya adalah mungkin. Namun menurut pisau Ockham, Anda mesti menyimpulkan kesimpulan yang paling sederhana terlebih dahulu. <u>Yang tidak menambah-nambah dalam berkesimpulan</u>. Dan itu ada pada pilihan yang pertama. Kalau setelahnya Anda mendapati bahwa lemari Anda sudah diobrak-abrik dan barang berharga Anda turut lesap, mungkin bolehlah Anda maju ke kesimpulan kedua.</p>
<p>Lebih menarik lagi, kita bisa menambah-nambah kesimpulan macam apa pun;</p>
<blockquote><p><b>3:</b> Seorang ilmuwan sinting dari masa depan menggunakan mesin waktu untuk pergi ke dapur Anda dan makan kue, lalu kembali ke masanya.</p></blockquote>
<p>Dengan mengabaikan pisau Ockham, secara logika maka akan sah untuk menganggap demikian. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Yang diabaikan di sini adalah mengambil kesimpulan yang terlalu jauh&#8212; kesimpulan yang lebih rumit membutuhkan bukti yang lebih rumit pula. Di sinilah kesalahan teori-teori konspirasi. Terlalu melompat-lompat dan bombastis dalam menarik kesimpulan. Misalnya bentuk heksagram pada logo <a href="http://www.indosat.com/">Indosat</a>. Akan lebih membumi untuk menarik kesimpulan bahwa logo itu hanyalah logo biasa saja; heksagram adalah bentuk yang jamak ditemukan. Lebih memenuhi kaidah berpikir yang benar untuk menyimpulkan bahwa logo itu dipilih karena alasan estetika dan pemasaran saja, ketimbang berpikir yang tidak-tidak kalau ternyata operator tersebut disokong oleh Israel. Lagipula kalaupun memang Israel mendukung Indosat secara sembunyi-sembunyi, kok malah dengan bodohnya memajang logo mereka dengan gamblang? Kalau saya jadi ahli propaganda, ya logo itu tidak akan saya buat mirip dengan logo Israel. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </p>
<p>Hipotesis ini mesti ditahan di situ sampai ada bukti-bukti lain; misalnya Indosat tiba-tiba menyajikan telepon gratis ke Israel. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Kalau melanggar batas itu, berarti hipotesis yang bersangkutan bertentangan dengan kaidah berpikir yang didasari metode ilmiah. Kalau hendak dipersingkat, maka translasi <i>layman</i>-nya adalah; teori konspirasi itu <i>terlalu dibuat-buat</i>. Berkesimpulan mesti didasari <u>bukti</u>, bukan &#8220;ke-bisa-saja-an&#8221;.</p>
<p>Adapun selain pisau Ockham, terdapat tiga konsep lain yang bisa dijadikan tes litmus untuk menguji teori konspirasi:</p>
<ol>
<li><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Fallacy"><i>Fallacy</i></a>. Yaitu kesalahan dalam berlogika.</li>
<li><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Methodology">Metodologi</a>. Apakah terstruktur atau malah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Texas_sharpshooter">dibuat-buat</a>?
<li><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Falsifiability">Testabilitas</a>. Kalau tidak bisa dibuktikan salah (misalnya, <i>&#8220;Ooh, bukti-bukti yang sudah ada sudah dimanipulasi&#8230;&#8221;</i>) maka sulit diterima sebagai hipotesis yang baik.</li>
</ol>
<p>Yang paling menggelikan adalah, beberapa penganut konspirasisme menuduh kritik bahwa &#8220;teori konspirasi tidak ilmiah&#8221; sebagai konspirasi para konspirator.</p>
<p><font size="4">
<p>Teori konspirasi itu berbahaya!</p>
<p></font></p>
<p>Pada tahun 2001, fotografer legendaris Brasil <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sebastiao_Salgado">Sebastião Salgado</a> turut serta dalam upaya pemberantasan polio di India. Kampanye pemberantasan itu berupa penyediaan imunisasi murah yang bisa didapat dengan harga yang betul-betul miring. Sang bayi mesti diimunisasi sebanyak dua kali&#8212; saya tidak terdidik dalam bidang kedokteran, jadi saya juga tidak begitu tahu kenapa, namun begitulah prosedurnya.</p>
<p>Kampanye-kampanye pemberantasan polio adalah sesuatu yang menggugah. Sesuatu yang membesarkan hati kita sebagai manusia&#8212; lihat saja pemberantasan polio di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/El_Salvador">El Salvador</a>. Konflik perang saudara pun terhenti sejenak kala itu; para prajurit yang berselisih menyetujui gencatan senjata sementara demi memberi ruang pada para petugas medis.</p>
<p>Bersama Salgado, adalah penulis senior <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Christopher_Hitchens">Christopher Hitchens</a>, yang kemudian menjadi tertarik mendokumentasikan gerakan yang luar biasa secara kecil-kecilan. Pada waktu itu ia tidak menyangka, ada cerita pahit yang kemudian mesti ia tuliskan pada akhir kampanye polio ini.</p>
<p>Yang terjadi adalah tragedi. Di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/West_Bengal">Bengal</a>, pada waktu itu penduduk sangat bersemangat menyambut kampanye ini&#8212; mungkin bersukacita mengetahui bahwa kaki-kaki kecil bayi-bayi mereka akan segera dibalut imunitas, dan mereka bisa melupakan kekhawatiran akan melihat anak-anak mereka terserang polio dan jatuh cacat. Para wanita penghibur yang biasanya dipandang nista, bekerja secara sukarela, berlari menyisir kota. Mereka memekik ke setiap rumah, mengajak supaya anak-anak dibawa ke pos imunisasi. Seekor gajah waktu itu diarak-arak berkeliling kota, supaya kampanye semakin meriah dan menarik perhatian. Kawasan ini adalah salah satu titik termiskin di dunia, dan mereka waktu itu melihat titik pencerahan di mana mereka bisa hidup dengan lebih baik.</p>
<p>Semuanya berjalan dengan baik&#8212; meriah, hangat, dan begitu luar biasa. Peristiwa menggugah seperti itulah yang membuat saya bisa merasakan rasa bangga yang dalam sebagai seorang manusia yang hidup di dunia. Meriah, hangat, dan luar biasa, memang, sampai sesuatu yang lebih luar biasa lagi terjadi.</p>
<p>Gerombolan kelompok garis keras berkoar-koar; kampanye polio tersebut adalah dusta. Imunisasi yang diberikan adalah obat yang diproduksi oleh &#8220;barat&#8221;, dimaksudkan untuk membuat generasi penerus mereka steril dan tidak mampu bereproduksi. Menurut mereka, &#8220;barat&#8221; berusaha untuk menghancurkan mereka dari dalam, jadi penduduk jangan sampai sudi menyodorkan anak-anak mereka untuk diracuni oleh para agen-agen jahat tersebut.</p>
<p>Setelah kampanye polio tersebut usai, Hitchens meninggalkan India dengan perasaan waswas. <i>Imunisasi polio mesti dilakukan dua kali</i>. Bagaimana kalau ada yang tidak menyertai imunisasi kedua karena terpengaruh tuduhan kelompok garis keras tadi? Pemberantasan polio mesti menyeluruh, kalau tidak, penyakitnya akan berkembang lagi dan semuanya akan jadi berantakan. Harap dicatat, tujuan proyek mahal ini adalah membebaskan Bengal 100% dari polio, dan apabila berhasil, maka pada tahun 2002 hanya tersisa tiga kawasan lagi di muka bumi yang tergolong terjangkit polio (salah satunya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Afghanistan">Afghanistan</a>). Akan menjadi kemajuan yang luar biasa bagi umat manusia.</p>
<p>Tahun 2005, Hitchens mendapatkan laporan akan hasil proyek tersebut. Dan semuanya ternyata memang berantakan.</p>
<p>Yang menakjubkan adalah, rupanya tidak hanya Bengal yang begitu bandel dan bengal. Ada kasus serupa terjadi di Nigeria, di mana bahkan ulama setempat membuat fatwa yang melarang orang tua Muslim mengimunisasikan anak mereka dengan alasan yang sama; </p>
<blockquote><p><i> [...] declared the polio vaccine to be a conspiracy by the United States against the Muslim faith [...]</i> </p></blockquote>
<p>Apa terdengar familiar? Catat: Nigeria sebelumnya tercatat bebas polio.</p>
<p>Pukulan terakhir yang akhirnya menghancurkan orang-orang yang bekerja keras untuk proyek ini adalah; tiga negara Afrika (saya tidak tahu pasti yang mana), ditambah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Yemen">Yaman</a>, yang juga telah bebas polio, kembali mengalami krisis setelah empat tahun. Penyebabnya adalah penyebaran yang terjadi ketika <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hajj">jamaah haji</a> Nigeria berbaur dengan jamaah haji dari empat negeri tersebut. Jamaah haji yang pergi mencari berkah, pulangnya malah membawa setitik bala.</p>
<p>Yang menyakitkan dari insiden ini adalah betapa semuanya sebenarnya tidak perlu terjadi. Teori konspirasi yang dibuat oleh para ekstrimis di India dan Nigeria kali ini betul-betul sudah keterlaluan. Harga yang harus dibayar terlalu mahal.</p>
<p><i>I detest the ignorants&#8217; conspiracy theories. I detest it with all my strength.</i></p>
<p><font size="4">
<p>Konspirasisme</p>
<p></font></p>
<p>Seperti yang saya ungkapkan, dasar pemikiran media-media seperti ini adalah konspirasisme. Konspirasisme meletakkan teori konspirasi sebagai denyut nadi pandangan politik mereka. Teori konspirasi berdasarkan pada penyalahgunaan pisau Ockham. Tentunya kemudian bisa disimpulkan bahwa pandangan politik yang ditawarkan oleh media-media berita (?) tersebut bakal bermuara pada religiusitas abal-abal yang hanya berupa kebencian pada orang luar dan supremasi sesat akan golongan sendiri.</p>
<p>Yang saya bingungkan adalah, sebenarnya tren teori konspirasi pada majalah-majalah berita (?) Islami tersebut adalah pertanda apa?</p>
<ol>
<li>Apa umat secara umum memang sudah berpikir seperti itu? Saya kok rasanya sangsi dengan kesimpulan ini. Di lingkungan saya, yang berpikir seperti itu, kalau ada pun, hanya rohis SMP. Atau saya terlalu naif?</li>
<li>Atau mungkin media memang didominasi oleh para penganut konspirasisme? Sebab penulis-penulis Islam yang moderat mungkin saja lebih tertarik pada literatur agamis ketimbang media berita (?) seperti <i>Sabili</i> dan kawan-kawan? Ini cukup masuk akal mengingat umat tidak terlalu terbiasa pada skisma dan perbedaan, sehingga berita (?) yang disajikan dilahap secara <i>take it for granted</i>.</li>
<li>Jangan-jangan media-media tersebut memang hanya versi religius dari media yang mengandalkan <i>headline</i> &#8220;wah&#8221;, seperti koran <i>Lampu Merah</i> atau tabloid <i>Lipstik</i>? Atau malah dikendalikan oleh pihak asing yang ingin menggiring opini publik? Tapi kesimpulan ini malah jadi teori konspirasi itu sendiri, ya? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  </li>
</ol>
<p>Adakah penjelasan lain? Bukan apa-apa, saya sendiri sejujurnya lumayan waswas. Sebab apabila dipikir-pikir, kok rasanya tidak terlalu <i>out of place</i> kalau &#8216;berita&#8217; (?) seperti &#8220;<i>imunisasi X adalah plot Amerika</i>&#8221; itu sampai ditemukan di kover <i>Sabili</i>. </p>
<p>Akan sangat menyesakkan apabila Indonesia yang sudah <a href="http://manusiasuper.wordpress.com/2008/07/11/berhenti-mencaci-indonesia/">remuk redam</a> ini mengalami kesialan yang sama dengan Nigeria atau Bengal. Saya tidak mau itu terjadi.</p>
<p align="center">.</p>
<p align="center">.</p>
<p align="center">.</p>
<p><i><b>kredit:</b> Gambar majalah &#8220;<i>Pedang</i>&#8221; (hanya fiksi) dari hasil pengolahan gambar.<br />
Sumber mentah dari <a href="http://www.pontianakpost.com/">Pontianak Post</a> dan <a href="http://www.freakingnews.com/">Freaking News</a>.</i></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[menyuarakan kebenaran]]></title>
<link>http://wiryanto.wordpress.com/2008/05/31/menyuarakan-kebenaran/</link>
<pubDate>Sat, 31 May 2008 02:33:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>wir</dc:creator>
<guid>http://wiryanto.wordpress.com/2008/05/31/menyuarakan-kebenaran/</guid>
<description><![CDATA[Judulnya koq kelihatan tendensius sekali ya, jika ada yang benar maka tentu ada yang salah. Betulkan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Judulnya koq kelihatan tendensius sekali ya, jika ada yang benar maka tentu ada yang salah. Betulkan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apakah yang dimaksud dengan Metode Ilmiah]]></title>
<link>http://dossuwanda.wordpress.com/2008/03/29/apakah-yang-dimaksud-dengan-metode-ilmiah/</link>
<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 16:43:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>dossuwanda</dc:creator>
<guid>http://dossuwanda.wordpress.com/2008/03/29/apakah-yang-dimaksud-dengan-metode-ilmiah/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : A. Nashrudin, S.IP, M,Si. (Dosen Stikom WJB Serang) Metode ilmiah boleh dikatakan suatu penge]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh : A. Nashrudin, S.IP, M,Si. (Dosen Stikom WJB Serang) Metode ilmiah boleh dikatakan suatu penge]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sains (IPA) Itu BUKAN ILMU PASTI!!!]]></title>
<link>http://haqiqie.wordpress.com/2008/03/24/sains-ipa-itu-bukan-ilmu-pasti/</link>
<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 01:09:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>Suluh</dc:creator>
<guid>http://haqiqie.wordpress.com/2008/03/24/sains-ipa-itu-bukan-ilmu-pasti/</guid>
<description><![CDATA[Sebenarnya ada tiga ide yang muncul di benak saya pagi ini. Yang pertama Ide yang muncul berkaitan d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sebenarnya ada tiga ide yang muncul di benak saya pagi ini. Yang pertama Ide yang muncul berkaitan dengan Saya dan Sejarah Filsafat, yang kedua berkaitan dengan Perbandingan dua buah Metode Sains atau Ilmu Pengetahuan Alam: Sains Yang Menemukan dalam Trial Error dan Sains Yang Menemukan dalam Rekayasa, Sedang yang ketiga adalah Sebuah Gugatan atas Pendapat Kebanyakan orang Indonesia khususnya di kalangan Pendidik yang mengatakan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam itu Ilmu Pasti. Ya, yang terakhir itulah yang akhirnya saya putuskan untuk saya tulis dan elaborasi kali ini, sedang dua yang awal menyusul akan menjadi tulisan saya berikutnya.</p>
<p><!--more-->Disini saya ingin membedakan dua definisi sains “yang mungkin” terlebih dahulu (menurut pemahaman saya sendiri tentunya) untuk memperjelas pembahasan saya selanjutnya. Pertama Sains atau IPA dipahami sebagai sebuah identitas yang melekat pada realitas disekeliling kita. Artinya adalah Sains atau IPA disini diletakkan pada kerangka dirinya sendiri lepas dari kaitan dengan Pengetahuan manusia. Sains dalam sudut pandang seperti ini bisa dianggap sebagai sebuah kepastian. Sains Itu Pasti karena Yang Ada itu Pasti. Realitas itu adalah kenyataan Pasti. Nah hanya dalam kerangka seperti inilah Sains itu sebuah kepastian. Tetapi disini Sains tidaklah menjadi Ilmu, Sains adalah entitas, Sains itu Alam, bukan hasil karya pemikiran manusia yang kemudian diberi nama sebagai Sains.</p>
<p>Yang Kedua Sains sebagai Ilmu buah karya dari pemikiran manusia yang ingin memperlajari Realitas (Alam dan Seisinya). Disini sains dipandang sebagai sebuah hasil karya, hasil perenungan, hasil penyelidikan. Sains sebagai Ilmu. Definisi kedua seperti inilah yang sesungguhnya ada dalam pandangan masyarakat umum saat ini, sejauh pengetahuan saya, ya, masyarakat Indonesia pada umumnya. Para pendidik atau guru-guru SMP, SMA juga menisbahkan sains pada definisi seperti ini.</p>
<p>Dengan definisi kedua terhadap sains tersebut maka, bisa saya katakan bahwa sangatlah keliru jika kita mengatakan bahwa Sains itu sebuah Ilmu Pasti. Mari kita telusuri lebih lanjut.</p>
<p>Saya tidak akan menolak jika anda mengatakan bahwa Sains itu Ilmu yang memperlajari sesuatu yang  bersifat Pasti atau Real atau Nyata, akan tetapi mengatakan bahwa yang Pasti Itu Ilmunya merupakan kesalahan yang tidak bisa ditolerir. Teori-teori Fisika sebagai sebuah Ilmu atau upaya pemahaman bukanlah merupakan Kepastian. Kategori-kategori dalam dunia Biologi bukanlah merupakan Kepastian. Semua Teori, Hukum dalam Fisika atau Biologi atau yang lainnya SELALU TERBUKA. Maksudnya terbuka disini adalah, Teori-teori, Hukum-hukum, Postulat-postulat, Asumsi-asumsi, dalam dunia sains bisa dirubah dan direvisi alias diperbaiki. ILMU FISIKA itu tidak Pasti, ILMU BIOLOGI itu tidak Pasti. Semuanya berubah seiring dengan perkembangan penyelidikan manusia.</p>
<p>Sebenarnya sangat mudah meruntuhkan dogma bahwa Sains itu ILMU PASTI dengan merujuk pada epistimologi Sains itu sendiri. Metode Ilmiah merupakan bukti bahwa Sains itu bukan Kepastian. Ia dituntut untuk melakukan percobaan dan pembuktian atas hipotesa atau hukum atau teori yang dimunculkannya. Sebuah pembuktian bisa membenarkan atau bisa malah menggugurkan (verifikas, falsifikasi dan sebagainya). Sesuatu yang bisa benar dan salah bukanlah sebuah kepastian. Sains tidaklah Pasti. Sains itu sama seperti dengan Ilmu Sosial atau yang lainnya yang sangat terbuka pada revisi atau perubahan.</p>
<p>Alam itu Pasti. Realitas itu Pasti, tetapi Sains tidak Pasti. Dengan demikian ada kerancuan ketika kita menyebutkan Sains itu ILMU PASTI (bisa juga dikatakan Ilmu Pengetahuan Alam itu ILMU PASTI). Yang pertama merujuk pada ALAM yang Pasti sehingga menjadi ILMU PASTI. PASTI = ALAM. Ini tidak salah sebetulnya. Namun dikarenakan proposisi ILMU PASTI bisa juga merujuk pada ILMU dalam dirinya sendiri itu yang PASTI maka terdapat dualisme pemahaman disini. Sedangkan yang saya ketahui selama ini ILMU PASTI ini sering dibenturkan dengan ILMU SOSIAL yang oleh sebagian orang juga dikatakan sebagai ILMU TIDAK PASTI.</p>
<p>Dengan merujuk ILMU PASTI versus ILMU TIDAK PASTI, sepertinya ILMU PASTI didefinisikan merujuk pada pemahaman yang keliru seperti yang saya jabarkan diatas. ILMU SOSIAL itu membahas manusia (dengan interaksinya) yang juga merupakan bagian dari realitas. Dengan demikian ILMU SOSIAL itu tidak bisa dikategorikan sebagai ILMU TIDAK PASTI (dengan definisi pertama). ILMU SOSIAL itu juga ILMU PASTI atau Ilmu yang membahas entitas manusia yang real dan pasti.</p>
<p>Sepertinya, sudah waktunya kiranya kita menjernihkan pemahaman yang keliru seperti ini. Sains cukup katakanlah dengan ILMU ALAM dan hindari penyebutan Sains sebagai ILMU PASTI.</p>
<p>Sekedar Memahami</p>
<p>Haqiqie Suluh</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SCIENTIFIC METHOD]]></title>
<link>http://indosandi.wordpress.com/2007/08/14/scientific-method/</link>
<pubDate>Tue, 14 Aug 2007 03:23:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>sandi</dc:creator>
<guid>http://indosandi.wordpress.com/2007/08/14/scientific-method/</guid>
<description><![CDATA[1. Observation/ experiment 2. Deduction 3. Hypotesis 4. Falsification (prinsip menyalahkan) Perhatik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[1. Observation/ experiment 2. Deduction 3. Hypotesis 4. Falsification (prinsip menyalahkan) Perhatik]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
