<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>muharrom &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/muharrom/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "muharrom"</description>
	<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 04:26:05 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Fatwa Para Ulama Seputar Asyura (1)]]></title>
<link>http://muhammadreza.wordpress.com/2009/01/07/fatwa-para-ulama-seputar-asyura-1/</link>
<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 15:28:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muhammad Reza</dc:creator>
<guid>http://muhammadreza.wordpress.com/2009/01/07/fatwa-para-ulama-seputar-asyura-1/</guid>
<description><![CDATA[Fatwa-fatwa Penting Seputar ‘Asyura` Hukum Bersandar Pada Kalender dalam Penentuan Shiyâm (Puasa) Ha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Fatwa-fatwa Penting Seputar ‘Asyura` Hukum Bersandar Pada Kalender dalam Penentuan Shiyâm (Puasa) Ha]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Syi'ah Menilai Muharram]]></title>
<link>http://berbagilentera.wordpress.com/2008/12/29/syiah-menilai-muharram/</link>
<pubDate>Mon, 29 Dec 2008 22:55:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>berbagilentera</dc:creator>
<guid>http://berbagilentera.wordpress.com/2008/12/29/syiah-menilai-muharram/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Abu Nu’aim Al-Atsari Berlebihan Mengenang Kematian Kepentingan kepada Muharram (Suro) t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Oleh: Ustadz Abu Nu’aim Al-Atsari</strong></p>
<p><strong>Berlebihan Mengenang Kematian</strong><br />
Kepentingan kepada Muharram (Suro) tidak dimonopoli oleh suku atau bangsa tertentu. Syi’ah umpamanya, -mayoritas di Iran, meskipun di Indonesia sudah meruyak di berbagai sudut kota dan desa-, memiliki keyakinan tersendiri tentang Muharram (Suro). Terutama pada tanggal 10 Muharram, mereka mengadakan acara akbar untuk memperingati dan menuntut bela atas meninggalnya Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib di Karbala. </p>
<p>Seperti dikatakan oleh Musa Al-Musawi tokoh ulama mereka : “Belum pernah terjadi sepanjang sejarah adanya revolusi suci yang dikotori kaum Syi’ah dengan dalih mencintai Husain” Perbuatan buruk itu setiap tahun masih terus dilakukan kaum Syi’ah, terutama di Iran, Pakistan, India dan Nabtiyah di Libanon. Peritiwa ini sempat menimbulkan pertikaian berdarah anyara Syi’ah dan Ahlus Sunnah di beberapa daerah di Pakistan yang menelan korban ratusan jiwa yang tidak bersalah dari kedua belah pihak. [Lihat Mengapa Kita Menolak Syi’ah, LPPI hal. 85]</p>
<p>Dikatakan pula : “Orang-orang Syi’ah setiap bulan Muharram memperingati gugurnya Imam Husain di Karbala tahun 61H, peringatan tersebut dilakukan dengan cara berlebih-lebihan. Dari tanggal 1 Muharram sampai 9 Muharram diadakan pawai besar-besaran di jalan-jalan menuju ke Al-Husainiyah. Peserta pawai hanya mengenakan sarung saja sedang badannya terbuka.<br />
<!--more--><br />
Selama pawai mereka memukul-mukul dada dan punggungnya dengan rantai besi sehingga luka memar. Acara puncak dilakukan dengan melukai kepala terutama dahinya sehingga berlumuran darah. Darah yang mengalir ke kain putih yang dikenakan sehingga tampak sangat mencolok. Suasana seperti itu membuat mereka yang hadir merasa sedih, bahkan tidak sedikit yang menangis histeris. [Lihat Mengapa Kita Menolak Syi’ah, LPPI, hal. 51]</p>
<p><strong>Mengapa Syi&#8217;ah begitu ekstrim ? </strong><br />
Karena ziarah ke kuburan Al-Husain merupakan amalan yang mereka anggap paling mulia. Dalam kitab mereka semisal Furu’ul Kafi oleh Al-Kulani, Man La Yahdhuruhul Faqiihu oleh Ibnu Babawih dan kitab lainnya, diriwayatkan : “… Barangsiapa mendatangi kubur Al-Husain pada hari Arafah dengan mengakui haknya maka Allah akan menulis baginya seribu kali haji mabrur, seribu kali umrah mabrur dan seribu kali peperangan bersama Nabi yang diutus dan imam yang adil”. </p>
<p>Dalam kitab Kamiluzaroot dan Bahirul Anwar disebutkan “ Ziarah kubur Al-Husain merupakan amalan yang paling mulia”, riwayat lainnya, “Termasuk amalan yang paling mulia adalah ziarah kubur Al-Husain”. Bahkan Karbala itu lebih mulia dibanding Makkah Al-Mukaramah. Karena Al-Husain dikuburkan di disana. [Lihat Ushul Madzhab Asy-Syiah Al-Imamiyah Al-Itsna Asyriyah Dr Nashir Al-Qifari, hal. 460-464]</p>
<p><strong>Larangan Ghuluw terhadap Orang Shalih</strong><br />
Demikian keyakinan Syi’ah, semua itu merupakan cerminan dari sikap ghuluw (berlebih-lebihan) mereka terhadap imamnya. Dan ini tidak aneh karena hal itu sudah menjadi tradisi mereka. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bersikap ghuluw kepada orang shalih, sabdanya.<br />
“Artinya : Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah (masjid)” [Hadits Riwayat Bukhari 435, Muslim 531]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi kabar tentang gereja yang ada di Habasyah (Ethiopia), dengan aneka ornamennya, lantas beliau bersabda. “Artinya : Mereka itu, apabila ada orang shalih meninggal, mereka bangun diatas kuburannya sebuah tempat ibadah dan membuat di dalam tempat itu gambar-gambar (patung-patung). Mereka itulah makhluk yang paling jelek disisi Allah” [Hadits Riwayat Bukhari 427 Muslim 528]</p>
<p>Bila pada bulan haram amalan shalih dibalas dengan berlipat demikian pula balasan bagi perbuatan maksiat, juga berlipat. Allahu a’lam</p>
<p>Dikutip sebagian dari :<br />
[Buletin Dakwah Al-Furqon Edisi 6 Th 1 Muharram 1422/Maret-April 2002. Diterbitkan Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat Ponpes Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu Gresik]<br />
Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/2036/slash/0</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1430 H]]></title>
<link>http://dhawi1986.wordpress.com/2008/12/29/selamat-tahun-baru-1-muharram-1430-h/</link>
<pubDate>Mon, 29 Dec 2008 11:32:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>dhawi1986</dc:creator>
<guid>http://dhawi1986.wordpress.com/2008/12/29/selamat-tahun-baru-1-muharram-1430-h/</guid>
<description><![CDATA[Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1430 H semoga seluruh umat Islam dapat memaknai makna Hijrah untuk dap]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignnone size-full wp-image-753" title="muharram" src="http://dhawi1986.wordpress.com/files/2008/12/muharram.gif" alt="muharram" width="282" height="145" /></p>
<p><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p>Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1430 H semoga seluruh umat Islam dapat memaknai makna Hijrah untuk dapat memaknai kehidupan ini dengan lebih baik&#8230;.</p>
<p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--><!--[if !mso]&#62;--><br />
Sudahkah aku menjauhkankah diri dari segala kekufuran? Sudah hijrahkah aku?</p>
<p>Sedangkan aku masih sering menunda sholatku, karena lebih mementingkan pekerjaanku, ngeBlog, nonton TV, membaca buku, tidur…</p>
<p>Bila ku bersedekah masih ada yang memberatkan dalam hati, masih ada rasa su’udzon kepada sang penerima sedekah. Dan juga masih sedikit, setitik garam dilautan… masih kuhitung rejeki ku, padahal kan rejekiku itu sudah Allah tetapkan untuk ku…<!--more--></p>
<p>Membaca Al Qur’an? masih lebih banyak aku membaca majalah atau membaca buku.</p>
<p>Puasa sunnahku masih jarang dan selalu harus di ingatkan dan dimotivasi.</p>
<p>Qiyammul Lail ku? masih belum kudapatkan kekusyu’an itu…</p>
<p>Dan sampai hari ini, masih belum dapat kusenangi hati kedua orang tuaku, dan masih kubebani mereka dengan kewajiban mereka terhadapku.</p>
<p>Ya Allah kau ciptakan Manusia termasuk aku, dengan penuh kemuliaan, tetapi setelah ku tercipta, ku jalani hidupku dengan kenistaan.</p>
<p>Ya Allah aku memang tidak semulia pada saat engkau ciptakan aku, tetapi apakah aku dapat terus berusaha untuk mendapatkan kemuliaan itu kembali dihadapanmu nanti di akhir hidupku?</p>
<p>Ya Allah berilah aku kesempatan untuk memperbaiki diriku ini dan lebih dapat mendekatkan diriku padaMU</p>
<p>Dalam lisanku sering ku ucapkan bahwa KAUlah satu-satunya sesembahanku, tetapi dalam keseharianku KAU sering ku tinggalkan demi sesembahan yang lain, dunia.. Astaghfirullah..</p>
<p>Ya Allah, jangan kau marah pada ku, jangan kau tarik hidayah ku…<br />
Aku tak tau apa yang harus kuperbuat bila kudapatkan marah MU dan tak kupunya lagi hidayah MU</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://dhawi1986.wordpress.com"><img class="size-thumbnail wp-image-754 aligncenter" title="muharram11" src="http://dhawi1986.wordpress.com/files/2008/12/muharram11.gif?w=128" alt="muharram11" width="356" height="171" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hukum Perayaan Maulid, Isra Miraj, Tahun Baru Islam]]></title>
<link>http://berbagilentera.wordpress.com/2008/12/25/hukum-perayaan-maulid-isra-miraj-tahun-baru-islam/</link>
<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 01:29:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>berbagilentera</dc:creator>
<guid>http://berbagilentera.wordpress.com/2008/12/25/hukum-perayaan-maulid-isra-miraj-tahun-baru-islam/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Berikut saya cuplikkan jawaban atas pertanyaan seputar ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz</strong></p>
<p>Berikut saya cuplikkan jawaban atas pertanyaan seputar perayaan-perayaan baru di sekitar kita. Seperti Perayaan Maulid, Isra Miraj, Tahun Baru Islam, dll. Semoga mencerahkan.</p>
<p><strong>Sungguh Islam Telah Sempurna! </strong><br />
Tidak diragukan lagi bahwa Allah telah menyempurnakan untuk umat ini agamanya dan menyempurnakan nikmatNya, sebagaimana firmanNya, &#8220;Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu. [Al-Ma'idah : 3]</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkan NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau menyampaikan semuanya dengan jelas dan Allah telah menyempurnakan hukum-hukum agama ini, maka tidak ada seorang pun yang boleh mengada-adakan sesuatu yang baru yang tidak disyari&#8217;atkan Allah dalam agamaNya, sebagaimana disabdakan Nabi, &#8220;Artinya : Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.&#8221;&#8216;[1] [Hadits ini disepakati keshahihannya, dari hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha]<br />
<!--more--><br />
Imam Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan pula, dari Aisyah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Artinya : Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak.&#8221;[2] Makna maka ia tertolak di sini adalah ditolak, tidak boleh dilakukan, karena hal itu merupakan penambahan dalam agama yang tidak diizinkan Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingkari orang yang melakukannya, sebagaimana firmanNya dalam surat Asy-Syura. &#8220;Artinya : Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari&#8217; atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah&#8221; [Asy-Syura :21]</p>
<p>Disebutkan pula dalam Shahih Muslim, dari Jabir Radhiyallahu ‘anha, bahwa dalam salah satu khutbah Jum&#8217;at beliau mengatakan. &#8220;Amma ba&#8217;du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat.&#8221;[3].</p>
<p>Dan masih banyak lagi hadits-hadits dan atas-atsar yang mengingkari perbuatan bid&#8217;ah dan memperingatkannya. Pada kesempatan ini tidak cukup untuk menyebutkan semuanya.</p>
<p><strong>Bagaimana hukum perayaan tersebut?</strong><br />
Perayaan-perayaan yang disebutkan dalam pertanyaan tadi tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau adalah manusia yang paling loyal dan paling mengetahui tentang syari&#8217;at Allah serta paling antusias untuk menunjuki dan membimbing umat ini kepada hal-hal yang bermanfaat bagi mereka dan mendatangkan keridhaan Rabbnya, dan tidak pernah juga dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum padahal mereka adalah golongan manusia terbaik dan paling mengetahui setelah para nabi serta paling antusias untuk melakukan setiap kebaikan. Juga tidak pernah dilakukan oleh para imamul huda pada abad-abad pertama yang diutamakan. </p>
<p><strong>Akar Masalah dan Solusinya</strong><br />
Semua itu dilakukan oleh sebagian muta&#8217;akhirin, sebagian mereka berpatokan pada ijtihad dan menganggap baik tapi tanpa hujjah, dan mayoritas mereka hanya meniru pada pendahulunya dalam melaksanakan perayaan-perayaan tersebut. Yang wajib atas semua kaum muslimin adalah menempuh jalan yang pernah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum serta mewaspadai setiap hal baru dalam agama Allah yang diada-adakan oleh manusia setelah mereka. Inilah jalan yang lurus dan manhaj yang benar, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.&#8221; [Al-An'am : 153]</p>
<p>Disebutkan dalam hadits shahih, dari Abdullah bin Mas&#8217;ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata. &#8220;Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuatkan suatu garis pada kami, lalu beliau mengatakan, &#8216;Ini jalan Allah.&#8217; Kemudian beliau membuat lagi garis-garis lain disebelah kanan dan kirinya, lalu mengatakan, ”Jalan-jalan ini, di atas setiap jalan ini ada setan yang mengajak kepadanya” [4]</p>
<p>Kemudian beliau membacakan ayat ini, &#8220;Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya.&#8221; [Al-An'am : 153]. Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya&#8221; [Al-Hasyr : 7]</p>
<p>Dari dali-dalil yang kami sebutkan tadi, jelaslah bagi kita, bahwa perayaan perayaan tersebut semuanya bid&#8217;ah, kaum muslimin wajib meninggalkannya dan mewaspadainya. Dan yang disyari&#8217;atkan bagi kaum muslimin adalah berusaha memahami agamanya, mempelajari peri kehidupan Nabi dan melaksanakannya di semua masa, tidak hanya pada hari kelahirannya saja. Apa yang telah ditetapkan Allah sudah cukup, tidak perlu ada penambahan hal-hal yang baru.</p>
<p><strong>Tentang Isro&#8217; Mi&#8217;roj dan Tahun Baru Hijriyyah&#8230;</strong><br />
Mengenai peringatan isra’ mi&#8217;raj, yang benar menurut para ahli ilmu bahwa hal itu tidak diketahui. Adapun riwayat yang menyatakannya semuanya merupakan hadits hadits lemah yang tidak benar berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang mengatakan bahwa isra&#8217; mi&#8217;raj itu pada malam 27 Rajab, ia keliru, karena tidak ada hujjah syari&#8217;iyah yang menguatkannya. Kalaupun misalnya tanggal itu diketahui, tapi merayakannya (memperingatinya) merupakan perbuatan bid&#8217;ah, karena merupakan tambahan dalam agama yang tidak diizinkan Allah. </p>
<p>Seandainya itu disyari&#8217;atkan, tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum sudah lebih dulu melaksanakannya dan lebih antusias daripada orang-orang setelah mereka. Demikian juga peringatan hijrah (tahun baru), seandainya perayaannya disyari&#8217;atkan, tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sudah lebih dulu melaksanakan, dan seandainya mereka melaksanakan, tentu beritanya sampai pula kepada kita. Tapi karena tidak ada berita tersebut, berarti perayaan itu perbuatan bid&#8217;ah.</p>
<p><strong>Harapan dan Doa Kami</strong><br />
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaiki kondisi kaum muslimin, menganugerahi mereka pemahaman dalam agama serta melindungi kami, anda sekalian dan mereka dari semua bid&#8217;ah dan semua perakara yang diada-adakan. Semoga semuanya dibimbing untuk meniti jalanNya yang lurus. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta yang mengikuti jejak langkah mereka dengan kebaikan hingga hari berbangkit.</p>
<p>Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/499/slash/0<br />
dikutip dari [At-Tahdzir Minal Bida’, hal. 46 - 49, Syaikh Ibnu Baz]<br />
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al Masa’il Al-Ashriyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]<br />
__________<br />
<strong>Foote Note</strong><br />
[1]. HR. Al-Bukhari dalam Ash-Shulh (2697). Muslim dalam Al-Aqdhiyah (1718).<br />
[2]. Al-Bukhari menganggapnya mu&#8217;allaq dalam Al-Buyu&#8217; dan Al-I&#8217;tisham. Imam Muslim menyambungnya dalam Al-Aqdhiyah (18-1718).<br />
[3]. HR. Muslim dalam Al-Jumu’ah (867).<br />
[4]. Ahmad (4131. Ad-Darimi dalam Al-Muqadimah (202).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Milad VI ... coming soon ...]]></title>
<link>http://albaiad.wordpress.com/2008/12/15/milad-vi-coming-soon/</link>
<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 17:20:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>albaiad</dc:creator>
<guid>http://albaiad.wordpress.com/2008/12/15/milad-vi-coming-soon/</guid>
<description><![CDATA[semarak Milad Pesantren Darul Ibadah Al-baiad Bismillah Tak terasa sudah hampir enam tahun usia Al-B]]></description>
<content:encoded><![CDATA[semarak Milad Pesantren Darul Ibadah Al-baiad Bismillah Tak terasa sudah hampir enam tahun usia Al-B]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puasa Sunnah]]></title>
<link>http://investasiabadi.wordpress.com/2008/10/25/puasa-sunnah/</link>
<pubDate>Sat, 25 Oct 2008 03:20:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>SolusiBisnis</dc:creator>
<guid>http://investasiabadi.wordpress.com/2008/10/25/puasa-sunnah/</guid>
<description><![CDATA[Segala pujian yang terbaik hanya milik Alloh Ta’ala yang telah mensyariatkan bagi hamba-Nya ibadah-i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Segala pujian yang terbaik hanya milik Alloh Ta’ala yang telah mensyariatkan bagi hamba-Nya ibadah-i]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hukum Memberi Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah]]></title>
<link>http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/17/hukum-memberi-ucapan-selamat-tahun-baru-hijriyah/</link>
<pubDate>Sun, 17 Feb 2008 08:37:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Umar</dc:creator>
<guid>http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/17/hukum-memberi-ucapan-selamat-tahun-baru-hijriyah/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Tanya : “Bagaimana hukum yang berkenaan dengan ‘ucapan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Tanya : “Bagaimana hukum yang berkenaan dengan ‘ucapan ]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
