<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>nabi-allah &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/nabi-allah/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "nabi-allah"</description>
	<pubDate>Fri, 24 May 2013 01:52:20 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Nabi Khidir as]]></title>
<link>http://bosdul.wordpress.com/2013/02/17/nabi-khidir-as/</link>
<pubDate>Sun, 17 Feb 2013 18:42:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>dutasekak13</dc:creator>
<guid>http://bosdul.wordpress.com/2013/02/17/nabi-khidir-as/</guid>
<description><![CDATA[Al-Khiḍir adalah seorang nabi misterius yang dituturkan oleh Allah dalam Al-Qur&#8217;an dalam Surah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://bosdul.files.wordpress.com/2013/02/nabi-hidir.jpg" alt="Nabi Khidir as" /></p>
<p style="text-align:justify;">Al-Khiḍir adalah seorang nabi misterius yang dituturkan oleh Allah dalam Al-Qur&#8217;an dalam Surah Al-Kahfi ayat 65-82. Selain kisah tentang nabi Khidir yang mengajarkan tentang ilmu dan kebijaksanaan kepada Nabi Musa asal usul dan kisah lainnya tentang Nabi Khidir tidak banyak disebutkan.<br />
Al-Khiḍr secara harfiah berarti &#8216;Seseorang yang Hijau&#8217; melambangkan kesegaran jiwa, warna hijau melambangkan kesegaran akan pengetahuan “berlarut langsung dari sumber kehidupan.” Dalam literature tasawuf, dikatakan bahwa Khidr memiliki telah diberikan sebuah nama, yang paling terkenal adalah Balyā bin Malkān.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bukunya yang berjudul “Mystical Dimensions of Islam”, oleh penulis Annemarie Schimmel, Khidr dianggap sebagai salah satu nabi dari empat nabi dalam kisah Islam dikenal sebagai ‘Sosok yang tetap Hidup’ atau ‘Abadi’. Tiga lainnya adalah Nabi Idris , Nabi Ilyas , dan Nabi Isa. Nabi Khidir hidupnya abadi hingga hari Kiamat, karena ia dianggap telah meminum air kehidupan. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Khidr adalah masih sama dengan seseorang yang bernama Elia.Ia juga diidentifikasikan sebagai St. George. Diantara pendapat awal para cendikiawan Barat, Rodwell menyatakan bahwa “Karakter Khidr dibentuk dari Jethro.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kisah literatur Islam, satu orang bisa bermacam-macam sebutan nama dan julukan yang telah disandang oleh Khidr. Beberapa orang mengatakan Khidr adalah gelarnya; yang lainnya menganggapnya sebagai nama julukan. Khidr telah disamakan dengan St. George, dikenal sebagai “Elijah versi Muslim” dan juga dihubungkan dengan Pengembara abadi. Para cendikiawan telah menganggapnya dan mengkarakterkan sosoknya sebagai orang suci, nabi, pembimbing nabi yang misterius dan lain lain</p>
<p style="text-align:justify;">Bahwa Nabi Khidir itu berumur panjang dan masih hidup sampai sekarang masih diyakini sebagian besar kaum muslimin pada umumnya, khususnya umat muslimin Islam tradisional di Indonesia.Kisah-kisah tentang Nabi Khidir ii terus menarik perhatian semua orang karena keunikannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut ini di tuturkan kisah asal mula Nabi Khidir bisa berumur panjang, walau semua itu tidak lepas dari kehendak Allah SWt.<br />
Kisah ini diriwayatkan ole Ats-tsa labi dari imam Ali, yang bermula dari Raja Iskandar Zulkarnain yang disebut The Great Alexander (Iskandar yang agung). Sebutan The Great Alexander kepada Raja Iskandar Zulkarnain karena beliau adalah seorang kaisar yang mampu menaklukkan dunia barat dan timur.Beliau disegani dan ditakuti orang di seluruh dunia pada zamannya.Walau demikian, posisi ini tidak menjadikan beliau sombong, beliau adalah salah seorang raja yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu ketika raja Iskandar Zulkarnain pada tahun 322 SM berjalan di atas bumi menuju ke tepi bumi (istilah ke tepi bumi ini disebut orang sebelum Columbus menemukan benua Amerika pada tahun 1492 pada saat itu anggapan orang bumi itu tidak bulat). Allah mewakilkan seorang malaikat yang bernama Rafa’il untuk mendampingi Raja Iskandar Zulkarnain.<br />
Di tengah perjalanan mereka berbincang-bincang dan raja Iskandar Zulkarnain berkata kepada malaikat Rafa’il : “wahai malaikat Rafa’il ceritakanlah kepadaku tentang ibadah para malaikat di langit.” Malaikat Rafa’il berkata:”ibadah para malaikat di langit di antaranya ada yang berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya. Ada yang sujud tidak mengangkat kepala selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya.” Mendengar keterangan ini Raja termenung. Dalam benaknya timbul keinginan bisa melakukan hal yang sama seperti malaikat. Niatnya hanya satu agar dapat beribadah kepada Allah. Lalu malaikat Rafa’il berkata: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber air di bumi, namanya Ainul hayat yang artinya sumber air hidup, maka barang siapa yang meminumnya seteguk,maka tidak akan mati sampai hari kiamat atau sehingga ia memohon kepada Allah agar supaya dimatikan.”<br />
Kemudian raja bertanya kepada malikat Rafa’il:” apakah kau tahu dimana tempat ainul hayat itu.” Malaikat rafa’il menjawab: “ Bahwa sesungguhnya Ainul hayat itu berada di bumi yang gelap.”Setelah raja mendengar keterangan dari malaikat Rafa’il tentang Ainul hayat, maka raja segera mengumpulkan alim ulama pada zaman itu. Raja bertanya kepada mereka tentang Ainul hayat itu tetapi mereka menjawab: kita tidak tahu kabarnya, namun ada seorang yang alim di antara mereka menjawab :” sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam AS, beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat itu di bumi yang gelap.” Dimanakah tempat bumi yang gelap itu ? Tanya raja. Dan dijawab, yaitu di tempat keluarnya matahari.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya kepada sahabatnya: “ kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap? Dan sahabat menjawab, yaitu kuda betina yang perawan. Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang masih perawan, lalu raja memilih di antara tentaranya yang sebanyak 6000 orang dipilih yang cendekiawan dan yang ahli mencambuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara mereka adalah Nabi Khidir AS berjalan di depan pasukannya. Setelah menempuh perjalanan jauh maka mereka jumpai dalam perjalanan,bahwa tempat keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat. Kemudian mereka tidak berhenti menempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun, sehingga sampai di tepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian seorang yang sangat cendekiawan mencegah raja masuk ke tempat gelap itu dan tentara-tentaranya berkata kepada raja. “ Wahai raja, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk ke tempat gelap ini karena tempat ini gelap dan berbahaya “. Raja berkata : “Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak “. Kemudian raja hendak masuk, maka mereka semua membiarkannya siapakah yang berani membantah perintah maharaja yang disegani dunia barat dan dunia timur. Kemudian raja berkata kepada pasukannya : “ Diamlah, kalian di tempat ini selama 12 tahun, jika aku bisa datang kepada kalian dalam masa 12 tahun itu maka kita pulang bersama, jika aku tidak datang selama 12 tahun maka pulanglah kembali ke negeri kalian.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian raja berkata kepada Malaikat Rifail : “ Apabila kita melewati tempat yang gelap ini apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita ? “. “ Tidak bisa kelihatan “ , jawab Malaikat Rifail : “ Akan tetapi aku memberimu sebuah mutiara, jika mutiara itu ke atas bumi maka mutiara tersebut dapat menjerit dengan suara yang keras dengan demikian maka teman-teman kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian” . Kemudian Raja Zulkarnain masuk ke tempat tersebut dengan didampingi oleh Nabi Khidir. Disaat mereka jalan Allah memberikan wahyu kepada Nabi khidir As, “ Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat itu Aku khususkan untuk kamu “. Setelah Nabi Khidir menerima wahyu tersebut kemudian beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya : “ Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang kepada kalian “.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu beliau berjalan menuju ke sebelah kanan jurang maka didapatilah oleh beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidir turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke “ Ainul Hayat “ ( sumber air hidup ) tersebut, dan beliau terus mandi dan minum sumber air hidup tersebut maka dirasakan oleh beliau airnya lebih manis dibanding madu. Setelah beliau mandi dan minum Ainul hayat tersebut terus menemui Raja Iskandar Dzulkarnain sedangkan raja tidak pernah tahu apa yang terjadi pada Nabi Khidir As yaitu pada saat Nabi Khidir melihat Ainul Hayat dan mandi.</p>
<p style="text-align:justify;">Raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama 40 hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat maka terlihat oleh Raja, bumi yang berpasir merah dan terdenganr oleh Raja suara gemericik di bawah kaki kuda. Kenudian Raja berkata kepada Malaikat Rafail “ Suara apakah yang gemerincing di bawah kaki kuda tersebut ? “, Malaikat Rafail menjawab : “ gemericik adalah suara benda apabila seseorang mengambilnya niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya niscaya ia akan menyesal juga. Suara gemericik itu membuat orang jadi penasaran namun semua orang ragu-ragu dalam mentukan sikapnya, mengambil benda itu atau tidak ?. Kemudian diantara pasukan ada yang mengambilnya namun hanya sedikit setelah mereka keluar dari tempat yang gelap itu ternyata bahwa benda tersebut adalah permata yakut berwarna merah dan jambrut yang berwarna hijau; maka menyesallah pasukan yang mengambil itu karena mengambilnya hanya sedikit, apalagi para pasukan yang tidak mengambilnya pasti lebih menyesal lagi kenapa mereka begitu bodoh tidak mengambil permata yang mahal harganya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah kisah asal mula Nabi Khidir berumur panjang. Bukti bahwa Nabi Khidir berumur panjang adalah dari adanya kisah-kisah yang menyebutkan bahwa beliau sudah ada sejak zaman Nabi Musa As, lalu beliau juga pernah bertemu dengan Rosullullah SAW dan bahkan pernah berguru Ilmu Fiqih kepada Imam Anu Hanifah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kisah Musa dan Khiḍr dituturkan oleh Al-Qur&#8217;an dalam Surah Al-Kahf ayat 65-82. Menurut Ibnu Abbas, Ubay bin Ka&#8217;ab menceritakan bahawa beliau mendengar nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya pada suatu hari, Musa berdiri di khalayak Bani Israil lalu beliau ditanya, “Siapakah orang yang paling berilmu?” Jawab Nabi Musa, “Aku” Lalu Allah menegur Nabi Musa dengan firman-Nya, “Sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu.”<br />
Lantas Musa pun bertanya, “Wahai Tuhanku, dimanakah aku dapat menemuinya?” Allah pun berfirman, “Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hamba-Ku itu.” Sesungguhnya teguran Allah itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa untuk menemui hamba yang shalih itu. Di samping itu, Nabi Musa juga ingin sekali mempelajari ilmu dari Hamba Allah tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Musa kemudiannya menunaikan perintah Allah itu dengan membawa ikan di dalam wadah dan berangkat bersama-sama pembantunya yang juga merupakan murid dan pembantunya, Yusya bin Nun.<br />
Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah batu dan memutuskan untuk beristirahat sejenak karena telah menempuh perjalanan cukup jauh. Ikan yang mereka bawa di dalam wadah itu tiba-tiba meronta-ronta dan selanjutnya terjatuh ke dalam air. Allah SWT membuatkan aliran air untuk memudahkan ikan sampai ke laut. Yusya` tertegun memperhatikan kebesaran Allah menghidupkan semula ikan yang telah mati itu.<br />
Selepas menyaksikan peristiwa yang sungguh menakjubkan dan luar biasa itu, Yusya&#8217; tertidur dan ketika terjaga, beliau lupa untuk menceritakannya kepada Musa Mereka kemudiannya meneruskan lagi perjalanan siang dan malamnya dan pada keesokan paginya,<br />
Nabi Musa berkata kepada Yusya` “Bawalah ke mari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (Surah Al-Kahfi : 62)</p>
<p style="text-align:justify;">Ibn `Abbas berkata, “Nabi Musa sebenarnya tidak merasa letih sehingga baginda melewati tempat yang diperintahkan oleh Allah supaya menemui hamba-Nya yang lebih berilmu itu.” Yusya’ berkata kepada Nabi Musa,<br />
“Tahukah guru bahwa ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak lain yang membuat aku lupa untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu kembali masuk kedalam laut itu dengan cara yang amat aneh.” (Surah Al-Kahfi : 63)</p>
<p style="text-align:justify;">Musa segera teringat sesuatu, bahwa mereka sebenarnya sudah menemukan tempat pertemuan dengan hamba Allah yang sedang dicarinya tersebut. Kini, kedua-dua mereka berbalik arah untuk kembali ke tempat tersebut yaitu di batu yang menjadi tempat persinggahan mereka sebelumnya, tempat bertemunya dua buah lautan.</p>
<p style="text-align:justify;">Musa berkata, “Itulah tempat yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. (Surah Al-Kahfi : 64)<br />
Terdapat banyak pendapat tentang tempat pertemuan Musa dengan Khidir. Ada yang mengatakan bahawa tempat tersebut adalah pertemuan Laut Romawi dengan Parsia yaitu tempat bertemunya Laut Merah dengan Samudra Hindia. Pendapat yang lain mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di tempat pertemuan antara Laut Roma dengan Lautan Atlantik. Di samping itu, ada juga yang mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di sebuah tempat yang bernama Ras Muhammad yaitu antara Teluk Suez dengan Teluk Aqabah di Laut Merah.</p>
<p style="text-align:justify;">Persyaratan belajar</p>
<p style="text-align:justify;">Setibanya mereka di tempat yang dituju, mereka melihat seorang hamba Allah yang berjubah putih bersih. Nabi Musa pun mengucapkan salam kepadanya. Khidir menjawab salamnya dan bertanya, “Dari mana datangnya kesejahteraan di bumi yang tidak mempunyai kesejahteraan? Siapakah kamu” Jawab Musa, “Aku adalah Musa.” Khidir bertanya lagi, “Musa dari Bani Isra’il?” Nabi Musa menjawab, “Ya. Aku datang menemui tuan supaya tuan dapat mengajarkan sebagian ilmu dan kebijaksanaan yang telah diajarkan kepada tuan.”</p>
<p style="text-align:justify;">Khidir menegaskan, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama-samaku.” (Surah Al-Kahfi : 67) “Wahai Musa, sesungguhnya ilmu yang kumiliki ini ialah sebahagian daripada ilmu karunia dari Allah yang diajarkan kepadaku tetapi tidak diajarkan kepadamu wahai Musa. Kamu juga memiliki ilmu yang diajarkan kepadamu yang tidak kuketahuinya.”<br />
Nabi Musa berkata, “Insya Allah tuan akan mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentang tuan dalam sesuatu urusan pun.” (Surah Al-Kahfi : 69)</p>
<p style="text-align:justify;">Dia (Khidir) selanjutnya mengingatkan, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Surah Al-Kahfi : 70)</p>
<p style="text-align:justify;">Perjalanan Khidir dan Musa</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah seterusnya Musa mengikuti Khidir dan terjadilah beberapa peristiwa yang menguji diri Musa yang telah berjanji bahawa baginda tidak akan bertanya sebab sesuatu tindakan diambil oleh Nabi Khidir. Setiap tindakan Nabi Khidir a.s. itu dianggap aneh dan membuat Nabi Musa terperanjat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kejadian yang pertama adalah saat Nabi Khidir menghancurkan perahu yang ditumpangi mereka bersama. Nabi Musa tidak kuasa untuk menahan hatinya untuk bertanya kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir memperingatkan janji Nabi Musa, dan akhirnya Nabi Musa meminta maaf karena kalancangannya mengingkari janjinya untuk tidak bertanya terhadap setiap tindakan Nabi Khidir.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya setelah mereka sampai di suatu daratan, Nabi Khidir membunuh seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannnya. Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Nabi Khidir tersebut membuat Nabi Musa tak kuasa untuk menanyakan hal tersebut kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir kembali mengingatkan janji Nabi Musa, dan beliau diberi kesempatan terakhir untuk tidak bertanya-tanya terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Khidir, jika masih bertanya lagi maka Nabi Musa harus rela untuk tidak mengikuti perjalanan bersama Nabi Khidir.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai disuatu wilayah perumahan. Mereka kelelahan dan hendak meminta bantuan kepada penduduk sekitar. Namun sikap penduduk sekitar tidak bersahabat dan tidak mau menerima kehadiran mereka, hal ini membuat Nabi Musa merasa kesal terhadap penduduk itu. Setelah dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khidir malah menyuruh Nabi Musa untuk bersama-samanya memperbaiki tembok suatu rumah yang rusak di daerah tersebut. Nabi Musa tidak kuasa kembali untuk bertanya terhadap sikap Nabi Khidir ini yang membantu memperbaiki tembok rumah setelah penduduk menzalimi mereka. Akhirnya Nabi Khidir menegaskan pada Nabi Musa bahwa beliau tidak dapat menerima Nabi Musa untuk menjadi muridnya dan Nabi Musa tidak diperkenankan untuk terus melanjutkan perjalannya bersama dengan Nabi Khidir.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya Nabi Khidir menjelaskan mengapa beliau melakukan hal-hal yang membuat Nabi Musa bertanya. Kejadian pertama adalah Nabi Khidir menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu miliki rakyatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kejadian yang kedua, Nabi Khidir menjelaskan bahwa beliau membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya hingga ke anak cucunya.<br />
Kejadian yang ketiga (terakhir), Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah yang dinding diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Didalam rumah tersebut tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik ini telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya. Dipercaya tempat tersebut berada di negeri Antakya, Turki.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya Nabi Musa as. sadar hikmah dari setiap perbuatan yang telah dikerjakan Nabi Khidir. Akhirya mengerti pula Nabi Musa dan merasa amat bersyukur karena telah dipertemukan oleh Allah dengan seorang hamba Allah yang shalih yang dapat mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak dapat dituntut atau dipelajari yaitu ilmu ladunni. Ilmu ini diberikan oleh Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Nabi Khidir yang bertindak sebagai seorang guru banyak memberikan nasihat dan menyampaikan ilmu seperti yang diminta oleh Nabi Musa dan Nabi Musa menerima nasihat tersebut dengan penuh rasa gembira.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat mereka didalam perahu yang ditumpangi, datanglah seekor burung lalu hinggap di ujung perahu itu. Burung itu meneguk air dengan paruhnya, lalu Nabi Khidir berkata, “Ilmuku dan ilmumu tidak berbanding dengan ilmu Allah, Ilmu Allah tidak akan pernah berkurang seperti air laut ini karena diteguk sedikit airnya oleh burung ini.”<br />
Sebelum berpisah, Khidir berpesan kepada Musa: “Jadilah kamu seorang yang tersenyum dan bukannya orang yang tertawa. Teruskanlah berdakwah dan janganlah berjalan tanpa tujuan. Janganlah pula apabila kamu melakukan kekhilafan, berputus asa dengan kekhilafan yang telah dilakukan itu. Menangislah disebabkan kekhilafan yang kamu lakukan, wahai Ibnu `Imran.”</p>
<p style="text-align:justify;">PRO DAN KONTRA KEBERADAAN NABI KHIDIR</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak kisah-kisah tentang Nabi Khidir yang ramai dibicarakan orang, banyak kontroversi tentang kemunculannya, sehingga hal itu mendorong rasa ingin tahu tentang hakikat sebenarnya. Ada yang menyatakan Nabi Khidir masih hidup, adapula yang menyatakan Khidir sekarang berdiam di sebuah pulau, ada pula yang menyatakan bahwa setiap musim haji Nabi Khidir rutin mengunjungi padang Arafah. Entah khidir siapa dan yang mana? Tapi yang jelas begitulah cerita dan dongeng yang berkembang di tengah masyarakat kita. banyak kalangan yang sangat mempercayai perkara-perkara tersebut dan banyak pula kalangan yang menyangkal keberadaan Nabi Khidir saat ini.<br />
Semua ini berpangkal dari kesalahpahaman mereka tentang hakekat Nabi Khidir. Terlebih lagi orang-orang ekstrim dari kalangan pengikut tarekat dan tasawwuf yang membumbui berbagai macam sejarah dan cerita tentang Khidir. Sebagian di antara mereka, ada yang mengaku telah bertemu dengan Khidir, berbicara dengannya dan mendapat wasiat dan ilham darinya. Misalnya di tanah air kita ini, ada sebagian orang yang mengaku telah bertemu dengan Khidir dan mengambil bacaan-bacaan shalawat, wirid-wirid dan dzikir dari Khidir secara langsung, tanpa perantara, atau melalui mimpi. Bahkan ada pula yang mengaku dialah Nabi Khidir -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Semua ini adalah keyakinan hati saja.<br />
Mengenai hidup atau wafatnya Khidir, orang-orang berselisih. Ada yang menyatakan dia masih hidup. Tetapi ada juga yang menyatakan bahwa dia telah lama meninggal berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan Sunnah. Ini merupakan pendapat para Ahli Hadits. Karena, tidak ada satupun nash yang shahih, baik dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dapat dijadikan pegangan bahwa Khidir masih hidup. Bahkan banyak dalil yang menyatakan ia telah meninggal.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita mengadakan riset ilmiah, maka kita akan mendapatkan Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa Nabi Khidhir telah meninggal dunia.<br />
Al-Allamah Ibnul Jauziy-rahimahullah- berkata, “Dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Khidir sudah tidak ada di dunia adalah empat perkara; Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ (kesepakatan) ulama’ muhaqqiqin, dan dalil aqliy”. [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 69)]<br />
Di antaranya dalil-dalil itu:</p>
<p style="text-align:justify;">Allah -Ta’ala- berfirman,<br />
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُو<br />
“Kami tidak menjadikan kehidupan abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal”. (QS.Al-Anbiya`: 34)</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Abul Faraj Abdur Rahman Ibnul Jauzy-rahimahullah- berkata, “Khidhir, jika dia itu seorang manusia, maka sungguh ia telah masuk dalam keumuman (ayat) ini tanpa ada keraguan. Seorang tidak boleh mengkhususkannya dari keumuman itu, kecuali dengan dalil yang shahih”. [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334), cet. Maktabah Al-Ma’arif]</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir-rahimahullah- menguatkan ucapan Ibnul Jauziy tadi seraya berkata, “Asalnya memang tidak boleh mengkhususkannya sampai dalil telah nyata. Sementara tidak disebutkan adanya dalil yang mengkhususkannya dari seorang yang ma’shum yang wajib diterima”. [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334), cet. Maktabah Al-Ma’arif ]</p>
<p style="text-align:justify;">Allah -Azza wa Jalla- berfirman,<br />
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا ءَاتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ ءَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ<br />
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab,“Kami mengakui”. Allah berfirman, “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. Al-Imran: 81)</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Hafizh Ibnu Katsir menukil dari Ibnu Abbas-radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata saat menafsirkan ayat ini, “Allah tidak mengutus seorang nabi di antara para nabi, kecuali Dia mengambil perjanjian padanya. Jika Allah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam- sedang nabi itu hidup-, maka ia (nabi itu) betul-betul harus beriman kepada beliau, dan menolongnya”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (1/565)]</p>
<p style="text-align:justify;">Jika Khidir masih hidup, tentunya ia tidak boleh menunda-nunda keimanannya kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Ia harus mengikuti Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, berjihad bersamanya dan menyampaikan dakwah beliau. Ini merupakan perjanjian Allah kepada seluruh para nabi dan rasul sebagaimana yang tersebut dalam QS. Al-Imran ayat 81 di atas.<br />
Ini menunjukkan kepada kita bahwa wajib bagi seorang nabi dan rasul untuk menolong dan beriman kepada Rasulullah Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Bahkan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- menegaskan bahwa andaikan Nabi Musa -’alaihis salam-, yang jauh lebih mulia dari Nabi Khidir masih hidup, maka ia harus mengikuti Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam- .</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,<br />
لَوْ أَنَّ مُوْسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِيْ<br />
“Andaikan Musa hidup, tentunya tidak mungkin baginya, kecuali harus mengikutiku”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/387), Ad-Darimiy dalam As-Sunan (1/115), Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (5/2), Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-Ilm (2/42), dan lainnya. Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (1589)]</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah dimaklumi, tidak ada satu pun riwayat shahih ataupun hasan -yang dapat menyebutkan bahwa Khidir pernah bertemu dengan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak pula pernah ikut bersama Rasulullah dalam berbagai peperangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,<br />
مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوْسَةٍ الْيَوْمَ تَأْتِي عَلَيْهَا مِائَةُ سَنَةٍ وَهِيَ حَيَّةٌ يَوْمَئِذٍ<br />
“Tidak ada satu jiwa pun yang hidup pada hari ini telah lewat 100 tahun, sedang ia hidup pada hari itu”. [HR. Muslim dalam Shahih- nya (4/1966)]<br />
Allamah Ibnu Baththal-rahimahullah- berkata menerangkan makna hadits ini, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya memaksudkan bahwa dalam jangka waktu ini suatu generasi telah punah”. [Lihat Fathul Bari (1/256) karya Al-Hafizh Ibnu Hajar]</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam Abu Abdillah Al-Qurthubiy-rahimahullah- berkata dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (11/41), “Sesungguhnya hadits ini termasuk dalil yang memutuskan tentang kematian Nabi Khidir sekarang”.<br />
Andaikan Nabi Khidir masih hidup, tentu ia akan datang kepada Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk menyatakan keislamannya dan akan menolong beliau dalam berdakwah dan berperang membela Islam. Tidak mungkin ada seorang Nabi pun yang masih hidup, lantas tidak datang kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk berbai’at, menyatakan keislamannya, dan berjihad bersama beliau.</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,<br />
اَللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكَ هَذِهِ الْعِصَابَةُ لاَ تُعْبَدْ فِيْ اْلأَرْضِ<br />
“Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Jihad, Bab: Al-Imdad bil Mala’ikah fi Ghazwah Badr (3/1383)]</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Al-Harraniy-rahimahullah- berkata ketika ditanya tentang hadits di atas, “Andaikan Khidir masih hidup, maka wajib baginya untuk datang kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan berjihad di hadapannya, serta belajar dari beliau (Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-). Sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda dalam perang Badar, “Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi”. Pasukan kaum muslimin waktu itu sebanyak 313 personil. Telah dikenal nama mereka, nama orang tua, dan qabilah mereka. Lantas dimanakah Khidir pada saat itu?” [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 68)]</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun dalil-dalil berupa hadits-hadits marfu’, dan mauquf yang menyebutkan tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini, maka hadits-hadits itu lemah, bahkan palsu, tidak bisa dijadikan hujjah dan dalil dalam menetapkan hukum, apalagi keyakinan (aqidah).</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam Ibrahim bin Ishaq Al-Harbiy -rahimahullah- berkata, “Tidak ada yang menyebarkan berita-berita seperti ini (yakni tentang hidupnya Khidir) di antara manusia, kecuali setan”. [Lihat Al-Maudhu’at (1/199) dan Ruh Al-Ma’aniy (15/321) karya Al-Alusiy]</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Munadiy berkata,“Aku telah mengadakan riset tentang hidupnya Khidir, apakah ia masih ada ataukah tidak, maka tiba-tiba kebanyakan orang-orang bodoh tertipu bahwa ia masih hidup karena hadits-hadits (lemah) yang dirwayatkan dalam hal tersebut”. [Lihat Az-Zahr (hal. 38)]</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Jauziy setelah membawakan beberapa hadits tentang hidupnya Nabi Khidir berkata, “Hadits-hadits ini adalah batil”. [Lihat Al-Maudhu’at (1/195-197)]</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata, “Hadits-hadits yang disebutkan di dalamnya tentang Khidir, dan hidupnya, semuanya adalah dusta (palsu). Tidak shahih satu hadits pun tentang hidupnya Nabi Khidir”. [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 67)]</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata setelah membawakan hadits dan kisah tentang hidupnya Khidir, “Riwayat-riwayat, dan hikayat-hikayat ini merupakan sandaran orang yang berpendapat tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini. Semua hadits-hadits yang marfu’ ini adalah dha’if jiddan (lemah sekali), tidak bisa dijadikan hujjah dalam urusan agama”. [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334)]</p>
<p style="text-align:justify;">Abul Khaththab Ibnu Dihyah Al-Andalusiy-rahimahullah- berkata, “Tidak terbukti tentang pertemuan Nabi Khidir bersama dengan seorang nabi, kecuali bersama Musa, sebagaimana Allah -Ta’ala- telah kisahkan tentang berita keduanya. Semua berita tentang hidupnya tak ada yang shahih sedikitpun berdasarkan kesepakatan para penukil hadits (ahli hadits). Hal itu hanyalah disebutkan oleh orang yang meriwayatkan berita tersebut, dan tidak menyebutkan penyakitnya, entah karena ia tidak mengetahuinya, atau karena jelasnya penyakit berita tersebut di sisi para ahli hadits”. [Lihat Az-Zahr An-Nadhir (hal. 32)]</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah beberapa dalil, dan komentar para ulama, semuanya menyatakan Nabi Khidir tidak hidup lagi atau sudah meninggal atau sudah gaib. Nyatalah kebatilan orang yang mengaku bertemu dengan Nabi Khidir untuk menerima ajaran di luar ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Bagaimana mungkin Khidir mengajarkan suatu ajaran di luar syari’at Nabi Muhammad -Shalallahu ‘alaihi wasallam-??! Itu pasti bukan Nabi Khidir, tapi setan yang ingin menyesatkan manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Hikmah kisah Khidir</p>
<p style="text-align:justify;">Dari kisah Khidir ini kita dapat mengambil pelajaran penting. Diantaranya adalah Ilmu merupakan karunia Allah SWT, tidak ada seorang manusia pun yang boleh mengklaim bahwa dirinya lebih berilmu dibanding yang lainnya. Hal ini dikarenakan ada ilmu yang merupakan anugrah dari Allah SWT yang diberikan kepada seseorang tanpa harus mempelajarinya (Ilmu Ladunni, yaitu ilmu yang dikhususkan bagi hamba-hamba Allah yang shalih dan terpilih)<br />
Hikmah yang kedua adalah kita perlu bersabar dan tidak terburu-buru untuk mendapatkan kebijaksanaan dari setiap peristiwa yang dialami. Hikmah ketiga adalah setiap murid harus memelihara adab dengan gurunya. Setiap murid harus bersedia mendengar penjelasan seorang guru dari awal hingga akhir sebelum nantinya dapat bertindak diluar perintah dari guru. Kisah Nabi Khidir ini juga menunjukan bahwa Islam memberikan kedudukan yang sangat istimewa kepada guru.</p>
<p style="text-align:justify;">sumber : <a href="http://teosufi.blogspot.com/2010/05/kisah-nabi-khidir.html" rel="nofollow">http://teosufi.blogspot.com/2010/05/kisah-nabi-khidir.html</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surah Maryam - Kisah Nabi Musa (Kuliah Maghrib - 4 Disember 2012)]]></title>
<link>http://almawaddahs7.wordpress.com/2012/12/04/surah-maryam-kisah-nabi-nuh-kuliah-maghrib-4-disember-2012/</link>
<pubDate>Tue, 04 Dec 2012 14:19:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>almawaddahs7</dc:creator>
<guid>http://almawaddahs7.wordpress.com/2012/12/04/surah-maryam-kisah-nabi-nuh-kuliah-maghrib-4-disember-2012/</guid>
<description><![CDATA[Penceramah : Ustaz Khairi Bismillah Surah Maryam &#8211; terdapat 10 org Nabi dlm surah ini Surah Ma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Penceramah : Ustaz Khairi</p>
<p>Bismillah</p>
<p>Surah Maryam &#8211; terdapat 10 org Nabi dlm surah ini</p>
<p>Surah Maryam, Ayat 51-53 : kisah berkenaan Nabi Musa</p>
<p>Kisah Nabi Musa &#8211; plg byk disebut dlm Quran, namanya disebut 136 kali dlm Quran</p>
<p>Sesungguhnya Nabi Musa ialah org yg ikhlas, dan juga rasul Allah dan nabi Allah.</p>
<p>Ayat 51 :::::&#62; Nabi Musa sbgai org yg ikhlas -<br />
- Org yg dipilih Allah, diikhlaskan dia<br />
- antara 5 Nabi &#8216;ulul azmi</p>
<p>Ayat 52 :::::&#62; Allah panggil Musa dr sebelah kanan bukit tursina (bukit ini terletak di antara madyan ke mesir)</p>
<p>Allah bg arahan pd Ibu nabi Musa utk menyusukannya sebelum dihanyutkan ke sungai &#8211; melawan arus!</p>
<p>Baginda dijaga dgn selamat di dlm istana. Penyusu yg terbaik dicari utk menyusu baginda &#8211; akhirnya ibu kandungnya terpilih utk menyusu baginda.</p>
<p>Nabi Musa pernah menumbuk seorg pemuda dlm pergaduhan, utk menyelamatkan dirinya, sehingga menyebabkan pemuda itu mati.</p>
<p>Baginda dinasihatkan utk keluar dari Mesir kerana ada pengikut firaun yg hendak membunuhnya.</p>
<p>40 mlm musa bercakap dgn Allah &#8211; hanya Allah yg tahu bagaimana cara mereka berkomunikasi.</p>
<p>Ayat 53 :::::&#62; Harun merupakan pilihan Allah, namanya disebut sbyk 14 kali dlm Quran</p>
<p>Harun lebih fasih percakapannya daripada Musa. Kedua2nya dimuliakan Allah.</p>
<p>Hadis : Nabi2 Allah hidup dlm kubur mereka, mereka sdg bersembahyang.</p>
<p>Nabi Musa menyuruh Nabi Muhammad minta pd Allah utk kurangkan jumlah solat fardhu dari 50x ke 5x ketika peristiwa israk mikraj. Nabi Musa berada di langit ke 6 pd ketika itu.</p>
<p>Kedudukan Nabi di 7 petala langit :<br />
Langit 1 &#8211; Adam<br />
Langit 2 &#8211; Isa dan Yahya<br />
Langit 3 &#8211; Yusuf<br />
Langit 4 &#8211; Idris<br />
Langit 5 &#8211; Harun<br />
Langit 6 &#8211; Musa<br />
Langit 7 &#8211; Ibrahim</p>
<p>Kisah yg terbaik (ahsanul qososi)  dlm Quran &#8211; kisah Nabi Yusuf</p>
<p>Wallahu&#8217;alam</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dialog Nabi Muhammad SAW dengan Iblis]]></title>
<link>http://vikolabravonew.wordpress.com/2012/11/22/dialog-nabi-muhammad-saw-dengan-iblis/</link>
<pubDate>Thu, 22 Nov 2012 12:58:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>vikolabravo44</dc:creator>
<guid>http://vikolabravonew.wordpress.com/2012/11/22/dialog-nabi-muhammad-saw-dengan-iblis/</guid>
<description><![CDATA[Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis supaya dia menghadap Rasulullah saw unt]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://vikolabravonew.files.wordpress.com/2012/11/muhammad-saw-3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-58" title="Nabi Muhammad SAW" alt="" src="http://vikolabravonew.files.wordpress.com/2012/11/muhammad-saw-3.jpg?w=300&#038;h=229" height="229" width="300" /></a>Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis supaya dia menghadap Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disukai maupun<!--more--> yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia.</strong></p>
<p><strong>Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras.”</strong></p>
<p><strong>Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya seperti ekor lembu.</strong></p>
<p><strong>Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah saw. Maka sambut Iblis (alaihi laknat),</strong></p>
<p><strong>“Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah, “Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.</strong></p>
<p><strong>Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang menemuiku?”</strong></p>
<p><strong>Taklimat Iblis, “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau adalah Khatamul Anbiya maka dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah aku berani menyembunyikannya.”</strong></p>
<p><strong>Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu.”</strong></p>
<p><strong>Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah satu peluangku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada seluruh umatku.</strong></p>
<p>&#160;</p>
<p>Pertanyaan Nabi (1):</p>
<p><strong>“Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan bagaimana aku terhadapmu?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara segala musuhku di muka bumi ini.”</strong></p>
<p><strong>Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena ketakutan. Sambung Iblis, “Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah.</strong></p>
<p><strong>Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu jugalah aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (2):</p>
<p><strong>“Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram.</strong></p>
<p><strong>Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.</strong></p>
<p><strong>Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (3):</p>
<p><strong>“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Semuanya itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun menjadi ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini beribadat bersama sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya.</strong></p>
<p><strong>Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali aku yang ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.</strong></p>
<p><strong>Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun aku masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga Hari Kiamat.</strong></p>
<p><strong>Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain aripada apa yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan carut-marut.</strong></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (4):</p>
<p><strong>“Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari manusia?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Pertama sekali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir juga ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, aku akan tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (5):</p>
<p><strong>“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, bagaimana keadaanmu?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Sebesar-besarnya kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah tulang sendiku. Maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya.</strong></p>
<p><strong>Setengah-setengahnya datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis sholatnya, hilang khusyuknya – matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya senantiasa mendengar orang bercakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud berlama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya senantiasa hendak cepat habis sholatnya, itu semua membawa kepada kurangnya pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (6):</p>
<p><strong>“Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah, bagaimana perasaanmu?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Jika mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa terbakarlah tubuhku, putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (7):</p>
<p><strong>“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (8):</p>
<p><strong>“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepadaku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasa.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (9):</p>
<p><strong>“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Seluruh sahabatmu juga adalah sebesar – besar seteruku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata: “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk.”</strong></p>
<p><strong>Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Tambahan pula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafadz Hadits-haditsmu.</strong></p>
<p><strong>Saidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan, “Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.</strong></p>
<p><strong>Saidina Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, “Barang siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid.”</strong></p>
<p><strong>Saidina Ali Abi Talib pun itu aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah golongan orang pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan kepalanya kepada sebarang berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu’ – dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata, “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya.” Tambahan pula dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (10):</p>
<p><strong>“Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Umatmu itu ada tiga macam. Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril a.s, “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat.” Yang kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke mana saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat.</strong></p>
<p><strong>Lalu aku goda agar minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (11):</p>
<p><strong>“Siapa yang serupa dengan engkau?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang belajar agama Islam.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (12):</p>
<p><strong>“Siapa yang mencahayakan muka engkau?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (13):</p>
<p><strong>“Apakah rahasia engkau kepada umatku?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (14):</p>
<p><strong>“Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah merasa kenyang.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (15):</p>
<p><strong>“Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (16):</p>
<p><strong>“Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (17):</p>
<p><strong>“Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka (mendusin) di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar, maghrib dan isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (18):</p>
<p><strong>“Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan sholat tengah malam.”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (19):</p>
<p><strong>“Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya”</strong></p>
<p>Pertanyaan Nabi (20):</p>
<p><strong>“Apa lagi yang memecahkan mata engkau?”</strong></p>
<p>Jawab Iblis:</p>
<p><strong>“Orang yang taat kepada kedua ibu bapanya, mendengar kata mereka, membantu makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda, ‘Syurga itu di bawah tapak kaki ibu’”.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Semoga bermanfaat </strong><strong> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&#160;</p>
		<div id="geo-post-57" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">-0.789275</span>
			<span class="longitude">113.921327</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TEGAR DI JALAN JIHAD]]></title>
<link>http://elbahry.wordpress.com/2012/01/23/267/</link>
<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 16:36:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>elbahry</dc:creator>
<guid>http://elbahry.wordpress.com/2012/01/23/267/</guid>
<description><![CDATA[JALUR KEBERANGKATAN (MENGENANG SYUHADA SOMALIA)  Al-akh al Mujahid Abu Yasir Al-Maqdisi hafidzahulla]]></description>
<content:encoded><![CDATA[JALUR KEBERANGKATAN (MENGENANG SYUHADA SOMALIA)  Al-akh al Mujahid Abu Yasir Al-Maqdisi hafidzahulla]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[রবিউল আউয়াল মুবারক]]></title>
<link>http://sunnibarta.wordpress.com/2012/01/13/%e0%a6%b0%e0%a6%ac%e0%a6%bf%e0%a6%89%e0%a6%b2-%e0%a6%86%e0%a6%89%e0%a7%9f%e0%a6%be%e0%a6%b2-%e0%a6%ae%e0%a7%81%e0%a6%ac%e0%a6%be%e0%a6%b0%e0%a6%95/</link>
<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 00:00:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abd Al Mustafa</dc:creator>
<guid>http://sunnibarta.wordpress.com/2012/01/13/%e0%a6%b0%e0%a6%ac%e0%a6%bf%e0%a6%89%e0%a6%b2-%e0%a6%86%e0%a6%89%e0%a7%9f%e0%a6%be%e0%a6%b2-%e0%a6%ae%e0%a7%81%e0%a6%ac%e0%a6%be%e0%a6%b0%e0%a6%95/</guid>
<description><![CDATA[  কুরআন হাদিসের আলোকে ঈদে মিলাদুন্নবী   ফাযায়েলে মিলাদুন্নবী (দঃ) জশনে জুলুছ মক্কা শরিফে মিলাদ মাহফি]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2><img src="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2007/05/mawlid.gif" alt="mawlid.gif" align="left" />  <a href="http://sunnibarta.wordpress.com/2007/04/14/eid-e-milad-un-nabi-%d8%b5%d9%84%d9%8a-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-%d8%b9%d9%84%d9%8a%d9%87-%d9%88-%d8%b3%d9%84%d9%85/">কুরআন হাদিসের আলোকে ঈদে মিলাদুন্নবী </a></h2>
<h2>  <a href="http://sunnibarta.wordpress.com/2007/04/05/fazail-e-miladun-nabi-%d8%b5%d9%84%d9%8a-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87-%d8%b9%d9%84%d9%8a%d9%87-%d9%88-%d8%b3%d9%84%d9%85/">ফাযায়েলে মিলাদুন্নবী (দঃ)</a></h2>
<h2><a href="http://sunnibarta.wordpress.com/2007/05/20/jashn-e-julush-2005-sirajnogorsri-mongol/">জশনে জুলুছ </a></h2>
<h2><a href="http://sunnibarta.wordpress.com/2007/12/30/makkah-milad/">মক্কা শরিফে মিলাদ মাহফিল</a></h2>
<h2><a href="http://sunnibarta.wordpress.com/2008/01/29/madina-milad/">মদিনা শরিফে মিলাদ মাহফিল</a></h2>
<h2><a href="http://sunnibarta.wordpress.com/2007/12/01/sabse-aula/">কবিতা/গজল &#8211; ছবছে আওলা ও আ’লা হামারা নবী</a></h2>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[সফর আল-মুযাফ্ফর]]></title>
<link>http://sunnibarta.wordpress.com/2009/01/29/safar/</link>
<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 23:50:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abd Al Mustafa</dc:creator>
<guid>http://sunnibarta.wordpress.com/2009/01/29/safar/</guid>
<description><![CDATA[     সফর চাঁদের শেষ বুধবার &#8211; আখেরী চাহার শোম্বা চতুর্দশ শতাব্দীর মুজাদ্দিদ &#8211; ইমাম আহমদ র]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="justify">
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a title="indian stamp dedicated to the great imam ahmad raza (RA)" href="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2008/02/alahazratstamp.jpg"></a></span></span></div>
<div><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a title="indian stamp dedicated to the great imam ahmad raza (RA)" href="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2008/02/alahazratstamp.jpg"></a></span></span></div>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a title="indian stamp dedicated to the great imam ahmad raza (RA)" href="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2008/02/alahazratstamp.jpg"></p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2008/02/alahazratstamp.thumbnail.jpg" alt="indian stamp dedicated to the great imam ahmad raza (RA)" /></div>
<p> </p>
<p> </p>
<p></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="center"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"> <img style="width:32px;height:15px;" src="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2007/05/adobe_logo.gif?w=60&#038;h=23" alt="pdf" width="60" height="23" /></span><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/02/chahar_shomba.pdf">সফর চাঁদের শেষ বুধবার &#8211; আখেরী চাহার শোম্বা</a></span></p>
<div></div>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="center"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><img style="width:36px;height:14px;" src="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2007/05/adobe_logo.gif?w=60&#038;h=13" alt="pdf" width="60" height="13" /><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/02/mujaddid_ala_hazrat.pdf">চতু<span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';">র্দশ শতাব্দীর মুজাদ্দিদ &#8211; ইমাম আহমদ রেযা (রাঃ)</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="center"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><img style="width:36px;height:13px;" src="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2007/05/adobe_logo.gif?w=60&#038;h=13" alt="pdf" width="60" height="13" /><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/02/ala_hazrat_porichiti.pdf">আ&#8217;লা হযরত ইমাম আহমদ রেযা (রাঃ)&#8217;র পরিচিতি</a></span></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[শাফাআত - মাক্বামে মাহমুদ]]></title>
<link>http://sunnibarta.wordpress.com/2008/02/02/shafaat/</link>
<pubDate>Sat, 02 Feb 2008 05:37:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abd Al Mustafa</dc:creator>
<guid>http://sunnibarta.wordpress.com/2008/02/02/shafaat/</guid>
<description><![CDATA[এখানে দেখুন]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/02/shafaat.pdf"><img width="607" src="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2008/02/shafaat.jpg?w=607&#038;h=573" alt="shafa’at - makam-e-mahmud" height="573" style="width:475px;height:185px;" /></a></p>
<p><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/02/shafaat.pdf"><font size="6" color="#000000" face="Vrinda">এখানে দেখুন</font></a><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/02/shafaat.pdf"><img width="60" src="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2007/05/adobe_logo.gif?w=60&#038;h=22" alt="pdf" height="22" style="width:34px;height:18px;" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[মিলাদ ও কিয়ামের বিধান]]></title>
<link>http://sunnibarta.wordpress.com/2012/01/13/milad-qiyam/</link>
<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 23:00:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abd Al Mustafa</dc:creator>
<guid>http://sunnibarta.wordpress.com/2012/01/13/milad-qiyam/</guid>
<description><![CDATA[মিলাদ ও কিয়ামের বিধান     মিলাদ ও কিয়ামের ইতিহাস     তাওহিদ সম্মেলন ও রিছালত সম্মেলন যুগে যুগে মিলাদ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:left;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="color:#0000ff;"><a href="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2008/03/milad-qiyam-bidan.jpg"><img class="alignleft" title="মিলাদ ও কিয়ামের বিধান" src="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2008/03/milad-qiyam-bidan.jpg?w=191&#038;h=291" alt="মিলাদ ও কিয়ামের বিধান" width="191" height="291" /></a></span></span></span></span></span></span></span></span></span><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/milad_qiyam_bidan.pdf">মিলাদ ও কিয়ামের বিধান</a></span></span></span></span></div>
<div style="text-align:left;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="color:#0000ff;"> </span></span></span></span></div>
<div style="text-align:left;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="color:#0000ff;"> </span></span></span></span></div>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="left"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/milad_qiyam_itihash.pdf">মিলাদ ও কিয়ামের ইতিহাস</a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="left"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="left"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="left"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/tawhidrisalat_seminar.pdf">তাওহিদ সম্মেলন ও রিছালত সম্মেলন</a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="left">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="text-decoration:underline;">যুগে যুগে মিলাদুন্নবী (দঃ) মাহফিল পালন/উদযাপন করা  হয়।বিভিন্ন ধরণে বিভিন্ন রকমে, যুগে যুগে  মিলাদুন্নবী (দঃ) উপলক্ষ্যে বৈশিষ্ট ইবাদত করা হয়।</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="left">
<ul>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/adam_milad.pdf">আদম (আঃ)&#8217;র যুগে মিলাদুন্নবী (দঃ)</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/ibrahim_milad.pdf">ইব্রাহিম (আঃ)&#8217;র যুগে মিলাদুন্নবী (দঃ)</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/isa_milad.pdf">ইসা (আঃ)&#8217;র যুগে মিলাদুন্নবী (দঃ)</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/nabi_milad.pdf">নবী করিম (দঃ)নিজের মিলাদ নিজেই পাঠ করেছেন</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/sahaba_milad.pdf">সাহাবাদের যুগে মিলাদুন্নবী (দঃ)&#8217;র মাহফিল</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/khulafa_milad.pdf">খোলাফায়ে রাশেদীনের যুগে মিলাদুন্নবী (দঃ)</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/other-proofs.pdf">অন্যান্য প্রামাণ্য দলীল</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/organised-milad-mahfil.pdf">আনুষ্ঠানিক মিলাদুন্নবী মাহফিলের ইতিহাস</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/ulema-ijma.pdf">উলামাগণের ইজমা</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/ek-nojor.pdf">মিলাদ ও কিয়ামের মূল ভিত্তি (এক নজর)</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/first-book.pdf">মিলাদের উপর লিখিত প্রথম স্বতন্ত্র কিতাব</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/muzaffar.pdf">বাদশাহ মুজাফ্ফর কেমন লোক ছিলেন.?</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/milad-fatwa.pdf">মিলাদুন্নবী বৈধতার ফতোয়া</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/qiyam_in_milad.pdf">মিলাদের মধ্যে কিয়াম</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/qiyam_prokar.pdf">কিয়ামের প্রকারভেদ</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/04/qiyam-birudi-dalil-jobab.pdf">কিয়াম বিরোধীদের অপব্যাখ্যামূলক দলীল খন্ডন</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/milad_fatwa2.pdf">ফাতোয়া</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/niroshon.pdf">সংশয় নিরসন</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/04/makka-madina-4fatwa-on-milad.pdf">মিলাদ কিয়াম সম্পর্কে মক্কা-মদিনার প্রাচীন ৪টি ফাতওয়া</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/03/sharshongkep.pdf">সারসংক্ষেপ</a></span></div>
</li>
</ul>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[QS : Al-An'am : 125 : sebagai Petunjuk Sains]]></title>
<link>http://islamsaintis.wordpress.com/2011/07/16/qs-al-anam-125-sebagai-petunjuk-sains/</link>
<pubDate>Sat, 16 Jul 2011 07:01:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>kilangffi</dc:creator>
<guid>http://islamsaintis.wordpress.com/2011/07/16/qs-al-anam-125-sebagai-petunjuk-sains/</guid>
<description><![CDATA[Al-An&#8217;am : 125 : Barangsiapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Al-An&#8217;am : 125 : Barangsiapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Zul-Qarnain dan Terbenamnya Matahari di QS. 18:83-86 ]]></title>
<link>http://islamsaintis.wordpress.com/2011/07/14/zul-qarnain-dan-terbenamnya-matahari-di-qs-1883-86/</link>
<pubDate>Thu, 14 Jul 2011 18:23:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>kilangffi</dc:creator>
<guid>http://islamsaintis.wordpress.com/2011/07/14/zul-qarnain-dan-terbenamnya-matahari-di-qs-1883-86/</guid>
<description><![CDATA[Zul-Qarnain dan Terbenamnya Matahari di QS. 18:83-86 http://www.muslimhope.com/ZulQarnain.htm “Merek]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Zul-Qarnain dan Terbenamnya Matahari di QS. 18:83-86 http://www.muslimhope.com/ZulQarnain.htm “Merek]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Inilah, ulasan alqur’an di majalah reader’s digest]]></title>
<link>http://hariini.org/2011/03/09/inilah-ulasan-alqur%e2%80%99an-di-majalah-reader%e2%80%99s-digest/</link>
<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 08:24:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bang_OL</dc:creator>
<guid>http://hariini.org/2011/03/09/inilah-ulasan-alqur%e2%80%99an-di-majalah-reader%e2%80%99s-digest/</guid>
<description><![CDATA[Seorang penulis terkenal di Amerika, James A. Michener menulis Artikel tentang Islam yang dimuat di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang penulis terkenal di Amerika, James A. Michener menulis Artikel tentang Islam yang dimuat di Readers’ Digest Edisi Mei 1955 dengan Judul “Islam, The Misunderstood Religion”<br />
” Qur’an boleh jadi adalah kitab yang paling banyak dibaca di…muka bumi, dan mungkin yang paling berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari dari ummat yang percaya kepadanya. Belum setua Kitab Perjanjian Baru, tertulis dalam gaya yang cemerlang, kitab itu bukan berupa puisi dan buka pula prosa, namun mengandung kesanggupan untuk membangkitkan gairah iman pada pendengar-pendengarnya.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Quran diwahyukan kepada Muhammad di antara tahun 610 dan 632 di kota Mekah dan Medinah. Orang-orang yang setia, menulisnya di atas lembaran-lembaran kertas, pelepah kurma dan tulang belikat binatang. Wahyu-wahyu yang pertama merupakan peyakinan-peyakinan yang cemerlang bahwa hanya ada Satu Tuhan Yang Maha Pemurah dan Pengasih</p>
<p>“Ialah Allah, Pencipta dan Pengatur. Segala yang di Langit dan Yang di Bumi menunjukkan kemuliaanNya, dan Ia Maha Kuasa dan Maha Bijaksana”<br />
Berita inilah yang mengusir patung-patung dewa, dan memberikan ilham kepada manusia untuk merevolusikan hidup mereka dan bangsa-bangsa mereka. Pada tahun-tahun kemudian, ketika Islam mulai memasuki wilayah-wilayah yang luas di tanah Arab, wahyu itu berhubungan dengan pengaturan masyarakat, hukumnya, prosedur-prosedurnya dan masalah-masalahnya. Banyak nama-nama yang dmuliakan dalam agama Kristen dan agama Yahudi nampak dalam Qur’an. Umpamanya lima surat yang paling penting berjudul Nuh, Yunus, Yusuf, Ibrahim dan Maryam. Tidak termasuk dalam satu judul tertentu tetapi memegang peranan-peranan yang sungguh penting ialah Isa, Adam, Daud, Musa, Luth dan Sulaiman.<br />
Qur’an itu jelas dikirimkan ke bumi untuk memberikan pembicaraan tentang kehidupan yang baik. Dalam salah satu bagian yang patut diingat, Qur’an memerintahkan<br />
“Kalau kamu berurusan dalam transaksi-transaksi yang termasuk didalamnya kewajiban-kewajiban di masa depan, tulislah perjanjian itu….. dan carilah dua orang saksi, sehingga apabila salah satu dari kedua orang ini salah, yang lain akan mengingatkan dia. Ini lebih adil dalam pandangan Allah, lebih cocok sebagai bukti, dan lebih mudah untuk mencegah keraguan di antara kamu sendiri”<br />
Kombinasi antara persembahan kepada Satu Tuhan ditambah dengan perintah prakteknya yang membuat Qur’an menjadi khas. Bangsa yang beragama Islam di Timur yakin bahwa negara mereka hanya akan diperintah dengan baik apabila hukumnya sejalan dengan Qur’an”</p>
<p>Source : VIVAnews. <a href="http://akangoleh.files.wordpress.com/2011/03/mantap2.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-3597" title="mantap" src="http://akangoleh.files.wordpress.com/2011/03/mantap2.gif?w=38&#038;h=20" alt="" width="38" height="20" /></a><a href="http://akangoleh.files.wordpress.com/2011/03/mantap3.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-3598" title="mantap" src="http://akangoleh.files.wordpress.com/2011/03/mantap3.gif?w=38&#038;h=20" alt="" width="38" height="20" /></a><a href="http://akangoleh.files.wordpress.com/2011/03/mantap4.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-3599" title="mantap" src="http://akangoleh.files.wordpress.com/2011/03/mantap4.gif?w=38&#038;h=20" alt="" width="38" height="20" /></a></p>
		<div id="geo-post-3596" class="geo geo-post" style="display: none">
			<span class="latitude">0.000000</span>
			<span class="longitude">0.000000</span>
		</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[গাউছুল আযম শায়খ আব্দুল কাদির জিলানী (রাঃ)]]></title>
<link>http://sunnibarta.wordpress.com/2009/04/07/ghausul-azam/</link>
<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 00:00:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abd Al Mustafa</dc:creator>
<guid>http://sunnibarta.wordpress.com/2009/04/07/ghausul-azam/</guid>
<description><![CDATA[কিছু কথা &#8211; অধ্যক্ষ আল্লামা এম, এ, জলিল গাউছুল আযম আব্দুল কাদির জিলানী (রাঃ)&#8217;র সংক্ষিপ্ত]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="alignnone size-medium wp-image-282" src="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2008/04/ghauseazam2.jpg?w=157&#038;h=225" alt="" width="157" height="225" /><img class="alignnone size-medium wp-image-283" src="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2008/04/qabr-gaus-ul-azam.jpg?w=231&#038;h=225" alt="" width="231" height="225" /></p>
<ul>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;color:#000000;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/04/kisu_kota.pdf">কিছু কথা &#8211; অধ্যক্ষ আল্লামা এম, এ, জলিল</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;color:#000000;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2007/10/ghausul_azam.pdf">গাউছুল আযম আব্দুল কাদির জিলানী (রাঃ)&#8217;র সংক্ষিপ্ত জিবনী</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="color:#000000;">কারামতে গাউছুল আযম </span><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/04/ghausul_azam_karamat.pdf"><span style="color:#000000;">১&#8230;</span></a><span style="color:#000000;">    </span><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/04/ghausul_azam_karamat2.pdf"><span style="color:#000000;">২&#8230;</span></a></span></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;color:#000000;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta.wordpress.com/2008/04/22/jilani/">কবিতা</a></span></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;font-family:'Siyam Rupali';"><span style="font-size:13.5pt;color:#000000;font-family:'Siyam Rupali';"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/04/ghaus_11names.pdf">গাউছুল আযমের ১১ নাম</a></span></span></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:medium;color:#000000;font-family:Siyam Rupali;"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/04/11_sharif_itihash.pdf">গেয়ারভী শরিফের ইতিহাস</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:medium;color:#000000;font-family:Siyam Rupali;"><a href="http://sunnibarta2.files.wordpress.com/2008/04/ghausul_azam_11sharif.pdf">গাউছুল আযম কিভাবে নবীগণের এই গেয়ারভী শরিফ পেলেন.?</a></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:medium;color:#000000;font-family:Siyam Rupali;"><a href="http://mac.abc.se/home/onesr/d/igs_b.pdf">The necessity of a kamil peer</a></span></div>
</li>
</ul>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[তোমরা যদি যাও মদিনা]]></title>
<link>http://sunnibarta.wordpress.com/2008/06/10/tumra-jodi/</link>
<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 22:20:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abd Al Mustafa</dc:creator>
<guid>http://sunnibarta.wordpress.com/2008/06/10/tumra-jodi/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<span class='embed-youtube' style='text-align:center; display: block;'><iframe class='youtube-player' type='text/html' width='640' height='390' src='http://www.youtube.com/embed/lnMGpw6cC1g?version=3&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;showinfo=1&#038;iv_load_policy=1&#038;wmode=transparent' frameborder='0'></iframe></span>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[يا نبى سلم عليك]]></title>
<link>http://sunnibarta.wordpress.com/2008/03/17/yanabi-salamu-alaika/</link>
<pubDate>Mon, 17 Mar 2008 02:13:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abd Al Mustafa</dc:creator>
<guid>http://sunnibarta.wordpress.com/2008/03/17/yanabi-salamu-alaika/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2008/03/ya-nabi-salaamu-alaika.jpg" title="ya nabi salaamu alaika."></a><img width="523" src="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2008/03/yanabi-salaamu-alaika.jpg?w=523&#038;h=3088" alt="يا نبى سلم عليك" height="3088" style="width:415px;height:889px;" /><a href="http://sunnibarta.files.wordpress.com/2008/03/ya-nabi-salaamu-alaika.jpg" title="ya-nabi-salaamu-alaika"></a></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
