<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>narsisme &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/narsisme/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "narsisme"</description>
	<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 02:10:18 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[NARSISME]]></title>
<link>http://siproduser.wordpress.com/2009/11/19/narsisme/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 14:27:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ryan Arifiyanto</dc:creator>
<guid>http://siproduser.wordpress.com/2009/11/19/narsisme/</guid>
<description><![CDATA[Tentang Saya (Sedikit Narsis&#8230;) Pendidikan : SMA Negeri 39 Jakarta Universitas Pancasila Jakart]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tentang Saya (Sedikit Narsis&#8230;) Pendidikan : SMA Negeri 39 Jakarta Universitas Pancasila Jakart]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Momen ke Momen]]></title>
<link>http://willyyanto.wordpress.com/2009/11/05/momen-ke-momen/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 12:53:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>willyyanto</dc:creator>
<guid>http://willyyanto.wordpress.com/2009/11/05/momen-ke-momen/</guid>
<description><![CDATA[(Oleh: Willy Yanto Wijaya) Dalam hidup ini banyak sekali hal yang kita kejar. Apa saja yang bisa dik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignright size-full wp-image-154" title="chasing kite" src="http://willyyanto.wordpress.com/files/2009/11/chasing-kite1.png" alt="chasing kite" width="207" height="157" /></p>
<p>(Oleh: Willy Yanto Wijaya)</p>
<p>Dalam hidup ini banyak sekali hal yang kita kejar. Apa saja yang bisa dikejar, pasti kita kejar.</p>
<p>Mungkin sewaktu kecil, ketika terpesona melihat bianglala, kita mencoba mengejarnya, dari satu ujung ke ujung yang lain, penasaran di manakah ujung dari bianglala tersebut. Akan tetapi ketika kita semakin mendekati tempat asal munculnya si bianglala, eh tiba-tiba saja untaian 7 warna <em>tangga bidadari</em> tersebut semakin memudar, dan akhirnya hilang..</p>
<p>Tapi, ada kala, kita merasa bangga dan hebat, kala berhasil mengejar layangan yang terputus talinya, setelah mengerahkan segenap tenaga kita yang tersisa sembari berharap hembusan angin agar mereda dan menjatuhkan layangan tersebut.</p>
<p>Mungkin pernah juga kita mengamati balon yang melayang di udara, semakin lama semakin tinggi, sambil penasaran di mana balon tersebut akan kempes dan jatuh?</p>
<p>Demikian juga tiada bedanya ketika manusia beranjak dewasa. Mengejar asmara, kekayaan, kekuasaan dan ketenaran. Manusia menciptakan banyak sistem untuk memenuhi kepuasan mereka: sistem pacaran, sistem kerja/ perusahaan, sistem pendidikan (sekolah), sistem agama, sistem kepercayaan, sistem upacara, sistem jejaring sosial (seperti <em>facebook</em>), sistem penghargaan (piagam, piala), organisasi sosial, perkumpulan, dan sistem-sistem lainnya. Manusia menciptakan dunia abstrak agar mereka merasa eksis dan berharga, manusia menciptakan dunia khayal tempat melampiaskan hasrat-hasrat narsisme mereka.</p>
<p>Sistem-sistem ini sudah mulai diciptakan bahkan sejak peradaban itu sendiri mulai muncul. Sebagian dari sistem-sistem ini terus menerus diwariskan, sebagian lagi telah punah dan mati, dan tergantikan oleh sistem-sistem baru yang muncul. Patah satu, tumbuh seribu. Bukankah naluri pengejaran kita dan juga sistem-sistem yang kita tapaki sebagian besar hanyalah plagiat dari naluri dan sistem yang telah dilakoni oleh leluhur-leluhur kita?</p>
<p>Sementara itu panah waktu terus melesat. Lalu kemana kah eksistensi leluhur kita, dan juga diri kita sendiri, ketika panah waktu ini melesat 1000 tahun ke depan? Akh, rasanya mirip seperti benteng pasir di tepi pantai yang habis tersapu ombak&#8230;</p>
<p>Ketika sedang dalam hasrat panas-panasnya mengejar ini itu, tahu tahunya ombak besar telah siap menyapu habis semuanya&#8230; dimana lagi artinya pengejaran-pengejaran tersebut??</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>“Anda terkena kanker payudara,” kata dokter bedah dengan mimik serius di wajahnya. Saya hanya tertawa dan berkata, “Tidak, benjolan itu bukan apa-apa. Bukankah itu yang Anda katakan sebelumnya?” “Anda terkena kanker payudara,” ia mengulangi. Yang hanya dapat saya lakukan adalah melihat ke dalam matanya dan berkata, “Itu pasti hanya bercanda. Saya baru 27 tahun&#8230;” Selama ini saya mengira bahwa kanker payudara adalah penyakit orang-orang seusia ibu saya ataupun wanita yang memiliki riwayat penyakit ini di dalam keluarganya. Namun tanggal 24 Februari, enam minggu setelah ulang tahun ke-27 saya, saya memulai perang dengan tubuh saya.</p>
<p>Dokter saya terlihat pucat ketika dia memberitahukan kabar ini kepada saya. Saya menatap foto putrinya serasa berjam-jam, yang kelihatan mirip dengan saya – muda, rambut hitam, mata coklat. Seorang pengacara, saya diberitahu. Itu bisa saja dia, dia bisa saja saya. Tetapi itu bukanlah dia. Saya telah terkena penyakit yang tidak ada obatnya – hanya pengobatan yang bisa saja berhasil ataupun gagal. Tidak ada janji, tidak ada jaminan. Pada usia 27, saya telah memikirkan rentang hidup saya ke depannya. Hari sebelum biopsi (pemeriksaan), saya menginginkan sebuah keluarga, anak-anak, sebuah rumah, sebuah mobil. Sekarang, tiga jam sesudah biopsi, saya menginginkan seseorang untuk memberitahu saya bagaimana saya akan memberitahukan teman-teman saya bahwa mungkin saya tidak akan hidup melewati tahun ini.</p>
<p>Saya baru saja mengikuti reuni ke-5, dimana saya bertemu rekan-rekan yang sedang menapaki karir dan hidup mereka. Bagi kebanyakan dari kami di reuni tersebut, tahun ke-5 sesudah wisuda tampaknya adalah masa transisi. Kami akan membuat keputusan mengenai pilihan-pilihan arah hidup kami – memulai, mengakhiri, atau barangkali berpikir melanjutkan pendidikan, menikah, pindah&#8230; Saya tidak pernah mengira bahwa kurang dari setahun kemudian, saya akan mengambil keputusan hanya mengenai bagaimana saya akan bertahan hidup.</p>
<p style="text-align:right;">(Barnard: Musim Gugur 97)</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fragmen [Sebuah Cerpen]]]></title>
<link>http://esensi.wordpress.com/2009/08/25/fragmen-sebuah-cerpen/</link>
<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 03:31:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>frozen</dc:creator>
<guid>http://esensi.wordpress.com/2009/08/25/fragmen-sebuah-cerpen/</guid>
<description><![CDATA[. DILOMBAKAN dalam Sayembara Penulisan Cerpen Remaja 2009 Balai Bahasa Bandung. Meski (katanya) mera]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">DILOMBAKAN dalam <a href="http://balaibahasabandung.web.id/bdg/index.php?option=com_content&#38;task=view&#38;id=97&#38;Itemid=60" target="_blank"><span style="color:#ffffff;">Sayembara Penulisan Cerpen Remaja 2009 Balai Bahasa Bandung</span></a>. Meski (katanya) meraih posisi 10 besar/unggulan, tapi berada di urutan entah. Dan jelas, nasib cerpen ini tidak seperti cerpen lain yang masuk 5 besar. Mudah-mudahan ada “keinsyafan” dari pemerintah pusat yang memegang Balai Bahasa untuk mengucurkan dana selancar mungkin, sehingga Balai Bahasa bisa membukukan karya-karya terbaik yang masuk ke dalam satu antologi bersama. Berikut cerpennya…</p>
<p style="text-align:center;">.</p>
<p style="text-align:center;">.</p>
<p style="text-align:center;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Ayah&#8230; Ayah&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Beberapa berkas yang hendak kutandatangani, kubiarkan seketika. Aku selalu menjadi enggan meneruskan pekerjaan yang sedang kukerjakan, apapun itu, setiap kali kudengar suara kecil itu memanggilku &#8220;Ayah&#8221;. Segera kuletakkan pena di atas meja, dan kuarahkan pandangan ke pemilik suara yang selalu mampu menggoreskan senyum di bibirku itu. Kulihat ia berlari kecil dari ruang perpustakaan sembari membawa beberapa buku. Pasti ia menemukan hal baru lagi, pikirku.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Ya, Nak&#8230;,&#8221; sahutku sambil menyambutnya dengan senyum, mengecup keningnya, dan mendudukkan tubuhnya di atas pangkuanku.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Ini, Ayah. Di sini tertera pernyataan, bahwa sebelum akal, imanlah yang didahulukan. Dengan kata lain, nalar mengikuti iman. Tapi bagaimana mungkin kita mengimani apa yang belum diketahui dan diterima nalar?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Kuamati buku yang ia buka. &#8220;Menalar Tuhan&#8221;. Aku mengerutkan dahi. Buku berat terbitan Kanisius yang aku pun belum paham isinya hingga sekarang. Hmm&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Seingat Ayah, di situ dijelaskan, Nak, apa dan mengapanya&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Aku ingin mendengar pendapat Ayah sendiri&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Kuhela nafas dengan pelan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Dari perspektif Ayah sendiri?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Ya, dari perspektif Ayah sendiri!,&#8221; sahutnya dengan mata berbinar.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Haha&#8230; Oke, oke. Nah, coba, siapa penulis buku tersebut?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Franz Magnis Suseno&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Yang bener?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;<em>Lha</em> ini, di <em>cover</em>, tertera namanya, Ayah&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Kamu melihat langsung Romo Magnis menulis buku itu, dari awal hingga akhir?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Ia terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepala perlahan, oh, lucu sekali ekspresinya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Nah, bagaimana mungkin kamu percaya bahwa yang nulis adalah Romo Magnis, sedangkan faktanya kamu nggak tahu benar bahwa dia yang menulis&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Tt&#8230; tapi&#8230;,&#8221; ia tampak bingung.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Aku berusaha menahan tawa. Polos sekali dia.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Lah, Ayah menyederhanakan masalah. Pake analogi. Nggak mutu, wekk&#8230;,&#8221; kali ini ia pasang muka cemberut setelah menyadari jenis jawabanku, sambil melet-melet. Kekeke&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Tapi &#8216;kan yang penting esensinya bisa ketangkap,&#8221; aku berkelit sambil siul-siul.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Mmmm… Iya juga sih, ada banyak variabel yang mendukung bahwa sesuatu itu bisa kita imani adanya tanpa perlu pembuktian langsung&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Hmm&#8230; contohnya?,&#8221; aku tersenyum menyelidik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Contohnya? Hehe&#8230;,&#8221; tiba-tiba ia turun dari pangkuanku, dan berdiri agak menjauh. &#8220;Contohnya ya&#8230; adanya aku dan statusku sebagai putera kandung Ayah. Dengan melihat akta kelahiran, atau mengamati hasil tes DNA saja misalnya, itu sudah cukup. Tak perlu aku melihat proses nyata bagaimana Ayah dan Ibu dulu bertanding dua belas ronde di atas ranjang untuk &#8220;membuat&#8221; aku, selain mustahil diverifikasi karena tak ada mesin waktu untuk melihatnya, juga aku akan dianggap kurang ajar&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Demi mendengar &#8220;tanding dua belas ronde di atas ranjang&#8221; yang ia ucapkan tadi, langsung aku bangkit dari duduk. &#8220;Dassar tiddak ssoppaann!! Sini kamu!,&#8221; teriakku sembari secepat kilat menyerbu ke arahnya. Refleks, ia pun berlari, &#8220;Waw!,&#8221; sambil terbahak-bahak. Dan sial. Ia tak berhasil kukejar.</p>
<p style="text-align:justify;">.<br />
.<br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>Kau&#8230; lihat, Sya&#8230;? Anakmu, tuh. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>Hoho&#8230; jika aku berkata begitu, kau biasanya akan membalas, &#8220;Warisan genmu itu. Khas kamu, taukk!,&#8221; dan aku akan tertawa, sementara kamu sambil mesem akan mencubit pinggangku.</em></p>
<p>.<br />
.<br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Tapi Ayah, apakah status &#8220;percaya&#8221; bisa naik level menjadi &#8220;yakin&#8221;?,&#8221; anakku berseru dari ruang tengah, tiduran di sofa. Kali ini ia membuka Remembering God-nya Eaton. Kurapikan berkas-berkasku tadi, dan membawanya ke ruang tengah, sambil mengatur kembali nafas yang masih tersengal gara-gara aksi kejar-kejaran tadi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Kalaulah Ayah boleh memakai analogi lagi, bisa, Nak. Seumpama, kau mendengar bahwa David Blaine adalah seorang pesulap dunia. Engkau akan tetap &#8220;percaya&#8221; bahwa ia pesulap, karena engkau membacanya dari majalah, melihat atraksinya di acara televisi, atau mendengarnya dari obrolan orang-orang sekitar. Tapi begitu kau bertemu dan melihat aksi sulapnya langsung dengan mata kepalamu sendiri, maka posisi &#8220;belief&#8221;-mu akan berubah menjadi &#8220;yakin&#8221;, yakin seyakin-yakinnya bahwa ia memang benar-benar pesulap,&#8221; jawabku, sembari memasukkan berkas yang kubawa tadi ke dalam tas kerjaku yang tergeletak di sofa, di sebelah sofa yang sedang ia tempati.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Sedangkan dalam konteks ketuhanan, sampai saat ini Ayah masih berpendirian, bahwa dalam agama yang Ayah anut, level &#8220;percaya&#8221; kepada adanya Yang Ghaib saja sudah cukup, yang perlu diberi porsi perhatian lebih adalah, amal sosial yang konkret. Persoalan iman yang masuk ranah privat, tak perlu disinggung-singgung. Dan satu hal, ketika nalar sudah bertekuk lutut tak sanggup lagi mencari jawaban atas hal yang ia pertanyakan, maka ia akan menyerahkannya pada iman. Kurang lebih demikian menurut Ayah.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Hmm&#8230;,&#8221; ia mengangguk-angguk sambil memegangi dagu. Dan ketika pandangannya tertuju kembali ke buku di hadapannya, diam-diam, dengan perlahan, aku menyeret sebuah bantal yang tergeletak di sofa di dekatku.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Immanuel&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Ya, Ayah,&#8221; ia mendongak, dan—</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;BUKK!,&#8221; bantal yang kulayangkan kena di wajahnya dengan amat telak.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Yes! Kena kau, wahahaa&#8230;!&#8221; aku berteriak girang sembari berpose seperti Ksatria Bertopeng. Seketika ia balik membalas. Secepat itu pula aku berkelit.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Eit, gak kena, bweee&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Masih ada satu lagiii&#8230;!,&#8221; ia berteriak sambil secepat kilat melempar bantal lainnya. Dan&#8230; “Bukk!”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Ukh!,&#8221; sial—untuk yang ini aku tak sempat menghindar.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Wahahaaa&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Dan perang bantal pun tak terelakkan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Yahh&#8230; Aku terpaksa harus selalu begitu. Aku harus mengalihkan perhatiannya dari pertanyaan-pertanyaan seputar iman dan ketuhanan. Aku tidak mau ia berpikir lagi soal itu, dan berakhir seperti hari-hari yang lalu. Apalagi seperti di hari yang hitam itu.</p>
<p style="text-align:center;">.</p>
<p style="text-align:center;">.</p>
<p style="text-align:center;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>&#8220;Kalau memang Tuhan Maha Baik, kenapa Ibu harus pergi dengan cara seperti itu, Ayah? Ibu rajin ke gereja, berderma, dan bahkan ikut berbagai organisasi filantropi. Tapi kenapa Ibu harus dipanggil pulang dengan cara seperti itu? Dan Ayah tak sekalipun melalaikan shalat lima waktu, bahkan Ayah selalu mengeluarkan zakat mal tiap bulan hasil menyisihkan sebagian gaji Ayah. Tapi kenapa Tuhan harus memisahkan orang sebaik Ibu dari orang sebaik Ayah, dan meninggalkan aku pula? Aku tidak mau percaya Tuhan, Ayah. Aku tidak mau mempercayai sesuatu yang kontradiktif. Aku benci Tuhan. Bisakah kau memberi penjelasan, Ayah?&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Aku hanya terdiam seribu bahasa waktu ia</em><em>—</em><em>yang waktu itu masih berusia 4 tahun</em><em>—</em><em>mengajukan pertanyaan-pertanyaan retoris itu. Ketika jasad Farisya terbujur kaku, tak henti-hentinya ia menangis sambil menanyakan kebijakan Tuhan padaku. Orang-orang yang hadir dan turut berkabung hanya menunduk tak kuasa menatap pemandangan pilu tersebut. Tangis Immanuel yang meledak-ledak sambil tangannya memukul-mukul dadaku, isak tangis di sekeliling, aroma kematian yang tak kunjung enyah, dan bertubi-tubi pertanyaan &#8220;kenapa&#8221; yang juga menggedor kepala, benar-benar membuatku limbung. Yang bisa kulakukan hanyalah menggemakan istighfar berulang kali dalam batin, sambil sesekali menggigit bibir, meski pada akhirnya aku pun tak kuasa membendung air mata yang membuncah. Bapak, yang kulihat kaca matanya berembun, menghampiri, dan mengelus punggungku, juga rambut Immanuel. Ya, tentu beliaulah yang paling sedih, putri semata wayangnya pergi dengan cara yang memilukan.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Aku tahu, Ar!,&#8221; katamu dengan suara nyaring suatu ketika.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Kau&#8230; sudah menemukan nama yang menurutmu bagus buat anak kita?,&#8221; tanyaku.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Tak cuma bagus menurutku, tapi juga menurutmu,&#8221; balasmu sambil mengerling.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;O ya? Apa?,&#8221; tanyaku sambil menatapmu dengan penasaran.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Mohammad&#8230; Immanuel&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Seketika mataku berbinar, dan senyum mengembang di bibirku. Senyum menahan tawa, jelasnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Bagaimana? Hmm?,&#8221; tanyamu meminta persetujuan sembari tersenyum lebar hingga bisa kulihat barisan gigi putih cemerlangmu. Dan seketika meledaklah tawaku.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Itu nama hibrida paling aneh sekaligus yang paling mengagumkan yang pernah aku dengar, Sya&#8230;! Ide yang bagus! Huakakaka&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Kabar ini disampaikan dengan segera ke seluruh keluarga Farisya. Semuanya disuruh kumpul saat itu juga—berhubung selama setahun ini mereka juga ikut memeras otak untuk mencari nama yang baik untuk putera pertama kami. Dan ketika Farisya menyebutkan nama yang ia pilih itu, kontan semuanya terbahak-bahak. Tapi bukan tawa melecehkan, melainkan tawa gembira.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Perpaduan antara nama Sang Juru Selamat dengan nama Sang Uswatun Hasanah. Sungguh nama yang brilian! Kakek setuju, Nak! Kekekeke&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Kami doakan, semoga anak kalian ini akan memiliki pribadi setangguh Yesus dan pribadi secemerlang Muhammad,&#8221; ucap seorang Bibi Farisya mewakili keluarga.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Amiiin&#8230;&#8221; — koor semuanya bersuara.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Ah, nama sesat itu! Mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil!,&#8221; seorang keponakan yang masih duduk di bangku SMP, nyeletuk. Dan semuanya kembali tertawa, tak terkecuali ia sendiri. Huff&#8230; haha&#8230; Pemeluk agama yang berbeda bisa saling hidup berdampingan penuh suasana kehangatan seperti ini, sungguh tak ubahnya surga bagiku.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>&#8220;Ayah, Ayah&#8230;,&#8221; Immanuel berlari kecil menghampiriku.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>&#8220;Hei, Nak&#8230; Bagaimana, sekolahmu di hari pertama tadi?,&#8221; tanyaku sembari jongkok saat menjemputnya kali pertama ia sekolah.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>&#8220;Menyenangkan sekali, Ayah&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>Hmm&#8230; </em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>Jelas kulihat wajahnya menampakkan ekspresi lain kala itu.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>&#8220;Bener, menyenangkan?&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>&#8220;Beneran kok,&#8221; sahutnya sambil langsung memeluk tubuhku. Aku berpikir sejenak, bertanya-tanya sendiri. Hingga akhirnya aku balas memeluk tubuhnya erat-erat. &#8220;Begitu ya&#8230; Ayah tahu, Nak, kamu pastilah sedih, ketika semua teman-temanmu pergi ke sekolah bersama ibunya, hanya kamu satu-satunya yang diantar Ayah. Ayah tahu itu. Ayah tahu,&#8221; ucapku dalam batin.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>&#8220;Besok Ayah antar aku ke sekolah lagi, ya&#8230;&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>&#8220;Ya&#8230; Dengan senang hati, Nak&#8230;,&#8221; jawabku pelan. Nah, tinggal menunggu satu hal yang harus kudengar, sebagai tanda jika ia memang benar-benar sedang murung. Tempat kesukaannya. Ya&#8230; Itu. Jika ia dirundung sedih atau kecewa, ia pasti akan mengatakan itu.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>&#8220;Ayah, apa sekarang Ayah ada waktu luang?&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>&#8220;Untuk kamu, Ayah akan selalu meluangkan waktu. Ada apa, Nak?&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>&#8220;Kita&#8230; ke toko buku, yuk, ada buku yang ingin kumiliki&#8230;&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>Nah, kan&#8230; Benar dugaanku. Ia memang sedang—</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>&#8220;Ayah?&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>&#8220;Oh, i, iya, kita berangkat sekarang. Kebetulan Ayah juga ada beberapa daftar buku yang hendak dibeli&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>&#8220;Sip!&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Inilah hasil didikanmu, Sya. Ia tumbuh dan berkembang dengan daya kritis yang luar biasa untuk anak seusia dia. Kau tentu ingat, ketika usianya yang baru 4 tahun, ia sudah mengenal berbagai jenis buku. Warisan kutu-buku-mu itu betul-betul menurun padanya. Sekarang lihatlah di rumah seluas ini. Sejauh mata memandang, nyaris yang terhampar hanyalah buku dan buku. Jika engkau masih ada, Sya, mungkin makanan sehari-harinya masih tak akan jauh dari ensiklopedi-ensiklopedi ringan yang biasa kamu bacakan menjelang tidurnya. Tapi semenjak kepergianmu, kini engkau lihat, dari sekian puluh <em>genre</em> bacaannya, filsafat ketuhanan—terlebih yang menyangkut <em>teodice </em>(Keadilan Tuhan)—menjadi bacaan wajibnya. Di usia 5 tahun sekarang ia sekolah, ia sudah kenyang dengan buku-buku mumet seperti itu. Apa tidak mengerikan menurutmu, Sya?</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Hoh, mungkin kau sedang tertawa di sana. Yah, aku sih tak keberatan, senang malah, Immanuel menjadi kutu-buku kelas akut. Tapi masalahnya, aku kadang kerap tak bisa mengimbanginya jika ia mengajak diskusi seputar filsafat dan semacamnya. Pertanyaan-pertanyaan sulit yang ia ajukan pun, seringkali membikin aku tak bisa tidur nyenyak, apalagi kalau aku belum bisa memberi jawaban memuaskan. Jangan tertawa, Sya! Aku cuma malu saja, secara dulu waktu aku masih seusia dia, aku tak begitu akrab dengan buku bacaan. Dan ketika aku duduk di bangku SMP pun, bacaan wajibku masih tak jauh dari Dragon Ball, Doraemon, Kungfu Boy, atau apalah itu. Tapi dia? Si Immanuel kita? &#8220;Membongkar Derita—Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi&#8221;, &#8220;Menalar Tuhan&#8221;, &#8220;Remembering God: Reflections On Islam&#8221;, hingga &#8220;Sampar&#8221;-nya Camus dan &#8220;The Case for Faith&#8221;-nya Lee Strobel, apa tidak gila!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>O iya, ada berita baik lagi, Sya. Aku mendapat kabar dari St. Lukas, Immanuel dinyatakan loncat kelas ke kelas 6. Dan aku lega, ia tak mendapat kendala dalam hubungan sosialnya. Kondisi kognitif dan emosionalnya yang matang sepertinya selalu siap untuk ragam lingkungan yang bagaimana pun. Haha&#8230; Benar-benar persis ibunya.</p>
<p style="text-align:center;">.</p>
<p style="text-align:center;">.</p>
<p style="text-align:center;">.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Ayah&#8230;, mulai saat ini Ayah tak perlu khawatir jika aku menanyakan hal-hal seputar Tuhan. Aku tak akan menyinggung peristiwa kematian Ibu lagi, kok,&#8221; suara Immanuel membuyarkan sederet lamunanku.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Eh? Hah? A-, tadi kamu bilang apa, Nak?,&#8221; tanyaku, sekedar meyakinkan apa yang baru saja kudengar.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Ya&#8230; seiring bertambahnya pemahaman hidup yang kudapat, akhirnya sedikit demi sedikit aku mulai bisa menerima kehendak takdir. Dan aku sudah mendamaikan hatiku dengan keputusan-Nya. Jadi, Ayah tak perlu capek-capek mengalihkan obrolan seperti tadi. Aku sudah dewasa, Ayah!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Aku terdiam sejenak. Dan ketika sudah kucerna kalimatnya barusan, aku hanya bisa bergumam dalam batin. Whaa&#8230;ww. Kau-, kau dengar tadi itu, Sya, ia bilang apa? Tak hanya karena ia bisa membaca pikiranku, tapi pernyataannya itu tadi. <em>Gosh</em>! Aku benar-benar lega. Ya! Pikiranmu sudah dewasa melampaui usiamu. Kau membuat Ayah bangga, Immanuel. Kau memang sudah dewasa.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;BUKK!,&#8221;—seketika kulempar kembali bantal yang sedari tadi tergeletak rapi. Mendarat lagi di wajahnya dengan telak. &#8220;Dewasa dari Hongkong? Kamu itu masih bocah! Tidur saja kadang masih suka ngompol. Wahahaa&#8230;!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Dan ia meringis, tapi tak membalas.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Biarin, weekk&#8230;!,&#8221; dan kami sama-sama tertawa kembali.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Tapi ada satu hal yang mungkin belum bisa kuhadapi dengan lapang dan dewasa, Ayah&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Hmm&#8230; apa itu?,&#8221; tanyaku, sambil kulepas sandaranku dari sofa.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Yakni jika Ayah meninggalkanku sendirian&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Aku sontak terdiam. Dan Ia tersenyum. Perlahan aku berdiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Sini&#8230; Peluk Ayah, Nak&#8230;,&#8221; kataku sambil merentangkan tangan. Ia bangun, dan langsung menubruk tubuhku.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Jangan dulu meninggalkan Immanuel sendirian, ya&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>&#8220;Tentu, Nak&#8230; Sebab hanya kamu satu-satunya harta yang Ayah miliki. Ayah tak akan pernah meninggalkanmu sendirian. Tak akan,&#8221; sahutku sembari memeluknya erat-erat.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Ya&#8230; Aku harus berkata demikian. Persetan dengan Tuhan yang memang kuasa mencabut nyawaku setiap saat. Ini perkara batin Immanuel. Sudah cukup ia melihat fragmen-fragmen pahit yang tak seharusnya ia lihat di usianya yang masih kecil ini. Betapa tidak, setengah tahun pasca Farisya tewas karena peristiwa tabrak lari dua tahun lalu, Hotel Ritz Carlton di mana ketika Bapak dan keluarga berkumpul bersama Immanuel di salah satu kamar VIP-nya, menjadi sasaran peledakan bom.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Aku yang saat itu baru saja sampai di kantor, jelas menjadi blingsatan demi mendapat kabar tersebut dari beberapa kawan yang menelepon serentak. Sebelas anggota keluarga Farisya berada di daftar korban tewas dengan kondisi tubuh berantakan, dan puluhan korban lainnya bernasib serupa, sedangkan sisanya lagi masih bisa tertolong. Remuk batinku kala itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Allah Maha Besar! Kudapati kabar dari pihak kepolisian dan medis, ada seorang anak laki-laki yang selamat dari ledakan. Batinku langsung berteriak, “Immanuel!”, dan segera berlari ke rumah sakit di mana Immanuel dan beberapa korban lainnya dilarikan. Besar sekali rasa syukurku, aku masih diizinkan oleh-Nya untuk melihat dan memeluk Immanuel dalam keadaan masih hidup. Berceritalah ia padaku, bagaimana ia terlempar ke luar jendela dan jatuh dari lantai satu akibat ledakan, dan seketika hilang kesadaran. Meski nyawanya selamat dari teror mengerikan itu, namun satu lengan kirinya patah, dan kepalanya mengalami gegar otak ringan. Membutuhkan waktu setengah tahun untuk sembuh.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Tiga bulan pasca perawatan intensif di rumah sakit dan mulai diizinkan pulang, seminggu lamanya Immanuel diam di kamar, tak mau makan, tak berkata apa-apa, hanya menyisakan ekspresi wajah yang getir dan mata yang sayu, dan sesekali dengan spidolnya, ia menuliskan kalimat-kalimat satir penuh kebencian di keramik tempat ia duduk.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#ff0000;">SEKALI LAGI TUHAN YANG MAHA BAIK MEMISAHKANKU DARI ORANG-ORANG YANG KUSAYANG. DENGAN CARA YANG BEGITU MENGESANKAN. DAGING-DAGING YANG berhamburan, HANCUR LEBUR, DARAH BERMUNCRATAN DI MANA-MANA. DAN PANAS YANG MENERJANG. Entah tuhan macam apa kau ini…</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Untung saja seorang pendeta yang tak lain tetangga dekat, mengunjungi Immanuel, dan memberinya beberapa wejangan pendek. “Kau tak sendirian, anakku. Sang Immanuel pun sampai rela mengorbankan dirinya demi merasakan pahitnya penderitaan yang kita alami”. Immanuel untuk pertama kalinya mendongakkan kepala mendengar suara pak pendeta.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Dan jangan dilupakan, Nak, bahwa Muhammad Sang Uswatun Hasanah pun ditinggal mati ayah-ibunya, dan kakeknya, sejak ia masih kecil. Dan ketika dewasa ia banyak dimusuhi, diteror, hingga diasingkan. Kau beruntung masih punya Ayah. Kau tidak sendirian. Kau masih punya Ayahmu, Ayahmu, Ayahmu, dan kau masih punya kami,” seorang kyai ikut menyambung, yang juga kebetulan saat itu mampir. “Dan pasti engkau belum tahu, bahwa Ayahmu juga dulunya sudah yatim piatu sejak kecil. Hehe, pasti ayahmu menyembunyikannya. Jadi, kau masih beruntung, Nak,” imbuh sang Kyai. Immanuel terperanjat mendengarnya. Selama ini ia memang tak pernah menanyakan kakek-neneknya dari pihak aku.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Bbb… Benarkah itu Ayah&#8230;?,” ia bersuara untuk kali pertama dengan mata berair. Dan aku hanya bisa mengangguk, sambil tersenyum kecut. Yang aku ingat, ia langsung berlari menubrukku sambil berkali-kali minta maaf sembari sesenggukan. Dan aku hanya tertawa.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Ayah&#8230;,” lagi-lagi Immanuel membuyarkan lamunanku.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Ya&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Maukah Ayah menceritakan padaku bagaimana awal mula pertemuan Ayah dulu dengan Ibu, bahkan bisa sampai ke jenjang pernikahan. Padahal hingga saat ini pernikahan beda agama &#8216;kan masih kontroversial, dan sukar diterima masyarakat&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Kulepas perlahan pelukannya. Dan memegang kedua lengannya erat-erat.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Kau&#8230; benar-benar ingin tahu?,” tanyaku dengan mata berbinar.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Ya! Ya!,” sahutnya sambil mengangguk dengan semangat.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Ahahahaa&#8230; Ceritanya panjang, Immanuel. Awal pertemuan kami pun menggelikan, sangat-sangat menggelikan&#8230;,” kataku dengan tawa meledak.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Ceritakan padaku, Ayah! Ceritakan!”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Hahaa&#8230; Baik, baik&#8230; Akan Ayah ceritakan. Tapi kita ceritanya sambil di kamar saja yuk, sambil membuka-buka foto Ayah dan Ibu waktu masih muda dulu. Biar makin menarik”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Baik! Tapi Ayah harus gendong aku!,”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Haha&#8230; Ayok!,” kataku sambil langsung menggendongnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“GO!,” teriak Immanuel. Aku tak henti-hentinya tertawa.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Dan seharian itu, Sya, kami tertawa-tawa sambil membuka album-album kenangan kita dulu. Sesekali, Immanuel terbahak-bahak mendengar bagaimana konyolnya aku dulu mengejarmu. Sesekali, ia ber-”wuih” ria ketika kuceritakan betapa bejibunnya sainganku dulu yang sama-sama memperebutkan cintamu. Halah. Hahaha&#8230; Dan sesekali pula ia mengangguk dan ber-”ham-hmm-ham-hmm” ketika kulukiskan bagaimana sosokmu yang ayu dan lembut dulu, yang sanggup membuat siapapun selalu merasa sungkan kepadamu, dan pelajaran kehidupan apa yang aku petik selama kebersamaan kita dulu. Baru kali ini aku tahu betapa Immanuel terkagum-kagum mendengar kisah klise seperti itu. Haha…</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span><em>Kau… di sini, Sya&#8230;? Yah&#8230; entah kenapa, aku merasa, kalian&#8230; Bapak, Ibu, kakek, paman, bibi, semuanya, ada di sini. Seolah kita sama-sama berkumpul kembali seperti dulu. Sama-sama tertawa kembali. Dan entah kenapa aku memang seperti merasakan kehadiran kalian. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Ayah&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Ah, ya&#8230; Nak?”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Kenapa Ayah menangis&#8230;?”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Ah, oh, e-, tidak, tidak kenapa-kenapa, Nak. A-, ini&#8230; air yang bocor dari atap, menimpa mata Ayah,” aku jadi salah tingkah setelah sadar sebutir air mata jatuh, turun, menuruni lekuk pipiku yang kian cekung.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Bohong”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Yee&#8230; lihat aja, di luar ujan gede gitu, pasti bisa membikin atap kamar ini sedikit bocor&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Hehe&#8230; bisa aja bohongnya&#8230; Padahal mau nangis bombay juga gak apa-apa, kok&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Heh! Pantang seorang laki-laki menitikkan air mata, apalagi nangis bombay,” kataku sambil menjawil pipinya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Halah&#8230; alesannya&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>“Hahahaa&#8230;”</p>
<p style="text-align:center;">.</p>
<p style="text-align:center;">.</p>
<p style="text-align:center;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Dan ia ketiduran sebelum aku sempat bercerita tentang bagaimana perjuangan kita dulu, perjuangan mempertahankan cinta kita mati-matian meski terbentur oleh hukum agama, ya, Sya&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">&#8230;&#8230;&#8230;..</span>Ah, aku juga merasa ngantuk, Sya. Aku ingin tidur di pangkuanmu lagi seperti waktu kita pacaran dulu. Toh hujan belum juga reda, jangan dulu kembali pergi&#8230; []</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;"><em>Parijs van Java, Juni 2009, 18.53 PM<br />
ketika deras hujan menjadi rinai gerimis</em></p>
<p style="text-align:right;"><em><span style="color:#000000;">.</span><br />
</em></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ffffff;">Tulisan Terkait:</span></strong><br />
<span style="color:#ffffff;"><a href="http://esensi.wordpress.com/2008/08/28/kabar-buruk-dari-masa-depan/" target="_blank">Kabar Buruk dari Masa Depan &#8211; Sebuah Cerpen</a><br />
<a href="http://cabiklunik.blogspot.com/2009/08/cerpen-remaja-dari-suatu-lomba.html" target="_blank">Cabik Lunik: Cerpen Remaja dari Suatu Lomba</a></span></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Note:</strong> Sebetulnya ada satu lagi cerpen yang diikutsertakan, berjudul Immanuel. Berhubung cerpen tersebut maha-panjang, terdapat kolase dan banyak catatan kaki, maka terpaksa tak bisa diposting di sini. Mungkin lain waktu saya akan mem-publish-nya di Scribd. Dan tentu, sebagai mana tertera dalam <em>tags</em>, pemuatan cerpen ini tak lain dimaksudkan sebagai dokumentasi pribadi (selain sebagai bentuk <em>sharing</em> tulisan). Barangkali di antara pembaca yang kompeten dalam hal sastra dan bahasa, bisa memberi opini dan masukan, saya mengharapkannya, dan akan menerimanya dengan tangan terbuka.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Narsisme Boleh Saja]]></title>
<link>http://fadielajah.wordpress.com/2009/06/21/narsisme-boleh-saja/</link>
<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 17:34:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>fadielajah</dc:creator>
<guid>http://fadielajah.wordpress.com/2009/06/21/narsisme-boleh-saja/</guid>
<description><![CDATA[A : “Cantik banget kamu hari ini? Apalagi setelan nya pas banget tuh?” B : ”Loh baru tahu ya kalo ak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[A : “Cantik banget kamu hari ini? Apalagi setelan nya pas banget tuh?” B : ”Loh baru tahu ya kalo ak]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Asal Usul Kata Narsisme]]></title>
<link>http://koetaradja.wordpress.com/2009/06/03/494/</link>
<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 05:16:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>koetaradja</dc:creator>
<guid>http://koetaradja.wordpress.com/2009/06/03/494/</guid>
<description><![CDATA[Tahukah anda arti kata narsis dan asal-usulnya ? Narsisme atau Narsis artinya adalah perilaku memper]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tahukah anda arti kata narsis dan asal-usulnya ? Narsisme atau Narsis artinya adalah perilaku memper]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Manifestasi Narsisme]]></title>
<link>http://jumanrofarif.wordpress.com/2009/03/15/manifestasi-narsisme/</link>
<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 03:16:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Juman Rofarif</dc:creator>
<guid>http://jumanrofarif.wordpress.com/2009/03/15/manifestasi-narsisme/</guid>
<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, saya harus memotong rambut panjang saya. “Harus”, bukan karena kepatuhan terhad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Beberapa waktu lalu, saya harus memotong rambut panjang saya. “Harus”, bukan karena kepatuhan terhad]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[NARSIS]]></title>
<link>http://pakbossbp.wordpress.com/2009/02/20/narsis/</link>
<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 08:27:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>pakbossbp</dc:creator>
<guid>http://pakbossbp.wordpress.com/2009/02/20/narsis/</guid>
<description><![CDATA[Di Wikipedia Bahasa Indonesia, Narsisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Di Wikipedia Bahasa Indonesia, <em>Narsisme</em></strong> adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Istilah ini pertama kali digunakan dalam <a title="Psikologi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi">psikologi</a> oleh <a title="Sigmund Freud" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sigmund_Freud">Sigmund Freud</a> dengan mengambil dari tokoh dalam mitos <a title="Yunani" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yunani">Yunani</a>, Narcissus, yang dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam.</p>
<p>Sifat narsisisme ada dalam setiap manusia sejak lahir, bahkan Andrew Morrison berpendapat bahwa dimilikinya sifat narsisisme dalam jumlah yang cukup akan membuat seseorang memiliki <a title="Persepsi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi">persepsi</a> yang seimbang antara kebutuhannya dalam hubungannya dengan orang lain. Namun apabila jumlahnya berlebihan, dapat menjadi suatu kelainan kepribadian yang bersifat <a title="Patologi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Patologi">patologis</a>.</p>
<p>Di dunia maya atau internet, kesempatan untuk berbuat narsis mendapat tempat yang luas.<!--more-->Ambil contoh di Friendster (FS), website yang mempunyai anggota jutaan orang di seluruh dunia. Dimana para anggotanya bebas untuk berbuat narsis.Misalnya dengan upload photo yang bergaya bagai artis (dengan melihat kamera diatasnya, pake kacamata hitam, dengan pandangan mata yang dibuat &#8220;memanja&#8221;. Waduuuuhhhh&#8230;.. , belum lagi bahasa yang dipakai, orang lain harus terpaksa berpikir untuk memahami maksudnya!! benar benar tidak ada tujuannya. Memangnya kalo tidak bergaya dan berbahasa seperti itu akan hilang nafasnya??? hahahahahaa&#8230;&#8230;.</p>
<p>Makannya saja masih sama: NASI, minum juga : AIR, lalu kenapa narsisme menjadi kian menjadi????</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Narsisme Politik]]></title>
<link>http://harrysimbolon.wordpress.com/2009/01/18/narsisme-politik/</link>
<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 14:16:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>Harry Simbolon</dc:creator>
<guid>http://harrysimbolon.wordpress.com/2009/01/18/narsisme-politik/</guid>
<description><![CDATA[Akhir-akhir ini hampir di setiap tempat, tidak hanya di televisi, di koran, maupun di pinggir jalan,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Akhir-akhir ini hampir di setiap tempat, tidak hanya di televisi, di koran, maupun di pinggir jalan,]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[narsisme]]></title>
<link>http://jorumongso.wordpress.com/2008/11/20/narsisme/</link>
<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 17:24:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>jorumongso</dc:creator>
<guid>http://jorumongso.wordpress.com/2008/11/20/narsisme/</guid>
<description><![CDATA[dalam mitologi  yunani kuno, di kisahkan seorang dewa bernama narcis yang tampan rupawan terkena kut]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://jorumongso.files.wordpress.com/2008/11/narcisme.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-197" title="narcisme" src="http://jorumongso.wordpress.com/files/2008/11/narcisme.jpg?w=78" alt="narcisme" width="78" height="96" /></a>dalam mitologi  yunani kuno, di kisahkan seorang dewa bernama narcis yang tampan rupawan terkena kutuk karena ulahnya yang kurang empatik dalam menolak cinta dewi eco. akhirnya, meski ganteng, tak satu pun perempuan yang mencintainya.  narcis kemudian berkaca di air dan melihat dirinya sendiri yang tampan itu. jadilah dia mencintai dirinya sendiri.<!--more--></p>
<p>dalam kamus besar bahasa indonesia, narsisme didefinisikan keadaan mencintai diri sendiri secara berlebihan, mempunyai kecenderungan seksual dengan diri sendiri.</p>
<p>menurut  otto kernberg (<em>borderline condition and pathological narcissism: 1975</em>),  mencakup berbagai kombinasi dari upaya seseorang dalam mempertunjukan ambisi, fantasi-kemewahan, rasa rendah diri, atau ketergantungan secara berlebihan terhadap pengakuan dan penghormatan dari orang lain.<br />
jadi, termasuk nariskah bila kita suka memajang foto-foto kita bersama  publik figur (pejabat, artis, tokoh agama atau kelompok publik figur) di ruang kerja atau di ruang tamu? termasuk narsiskah kalau kita menaruh foto kita dan keluarga di desktop komputer di kantor? termasuk narsiskah kalau kita mengkalungkan aksesoris keagamaan, seperti tasbih, salib, atau lainnya, di mobil atau di leher? termasuk narsiskah kalau kita kemana-mana mendeklarasikan kesuksesan yang kita raih selama ini?</p>
<p>bila mengacu ke literaturnya, itu akan termasuk narsis apabila motif yang mendorong kita adalah  rasa takut, rasa kurang, atau rasa kosong, dan tujuannya adalah untuk mendapatkan pemenuhan dari luar (orang lain). misalnya saja kita sangat takut dikatakan orang miskin. supaya ini tidak terjadi maka kita menciptakan berbagai modus untuk mengelabuhi diri sendiri dan orang lain agar dibilang orang kaya, orang hebat, atau orang terpandang. narsisme seperti ini dalam kajian literaturnya dimasukkan ke dalam apa yang disebut <em>personality disorder</em>. namun jika motif dan tujuannya tidak seperti itu, mungkin saja tidak. misalnya kita menaruh foto sukses biar kita termotivasi saat mulai depresi. kita menceritakan kesuksesan agar orang lain bisa mengambil pelajaran dari pengalaman kita. ini yang di sebut narsis yang sehat (<em>healthy narcissism</em>) andrew marisson (<em>the underside of narcissism: 1997</em>)</p>
<p>inti dari narsisme adalah penolakan seseorang terhadap realitas dirinya secara tidak sehat (berbohong kepada diri sendiri), <em>denial of the true self</em>, kata alexader lowen. penolakan ini kita wujudkan dalam bentuk rasa cinta berlebihan terhadap bayangan yang kita ciptakan terhadap diri sendiri (s<em>elf-excessive love based on self image or ego</em> ). misalnya saja kita tidak bisa menerima realitas diri kita di kantor sebagai karyawan.  kita kemudian menciptakan bayangan tentang diri sendiri seolah-olah kita adalah pemilik, orang paling dipercaya, atau orang paling hebat di kantor itu. karena bayangan ini tidak / belum ada bukti pada diri kita, tentunya kita ingin mendapatkan pengakuan atau penghormatan dari pihak luar. keinginan itulah yang kerap membuat kita terlalu menonjolkan diri.</p>
<p>dalam kajian alexader lowen, seperti ditulisnya dalam <em>narcissism, denial of the true self (1997)</em>, ada lima tipe narsisme itu, yaitu:<br />
<em>phallic narcissistic character</em>, orang dengan karakter phallic narcissitic menginvestasikan energinya untuk merayu dan menarik perhatian. cirinya antara lain: pede, arogan, elastik, menunjukkan kehebatan, dan seringkali sangat memukau.<br />
<em>narcissistic character</em>, orang dengan karakter narsis, dikatakan punya image  hebat dan dasyat tentang dirinya. meminjam istilah lowen, t<em>hey are not just better, they are the best; they are not just attractive, they are the most attractive</em>. dalam kenyataannya, ada kasus-kasus di mana orang berkarakter narsis ini memang sukses, top, popular dan berprestasi karena dia mampu &#8220;bermain dengan baik&#8221; di panggung kehidupan. tapi biar bagaimana pun juga, tetap saja  image-nya lebih besar dari pribadi-nya.<br />
<em>borderline personality</em>, orang ini tidak nyata-nyata mendemonstrasikan kesuksesan, kehebatan, yang bisa saja didukung oleh prestasi riil; karena kekuatan ego nya lebih lemah, malah kerapkali di dominasi rasa minder, merasa rapuh, tidak mampu, di liputi keraguan yang besar. perasaan hebat dan spesial nya di simpan di dalam diri, jadi seperti memutar dan menonton film sendiri.<br />
<em>psychopathic personality</em>, orang dengan tipe ini dikatakan <em>extreme lack of human fellow feeling</em> &#8211; atau bahasa gaulnya <em>no heart feeling</em>, karena bisa mencuri, berbohong, menipu, merusak, bahkan membunuh dengan santai, tanpa dibebani rasa bersalah, atau takut jika ketahuan.</p>
<p><em>paranoid personality</em>, orang dengan tipe ini merasa dirinya begitu istimewa sampai-sampai tidak hanya menjadi pusat perhatian, plus jadi sasaran konspirasi orang-orang yang tidak suka padanya.</p>
<p>apa ada orang yang benar-benar bersih dari kelima tipe narsisme di atas? kalau benar-benar bersih mungkin terlalu sangat sulit ditemukan. hampir pada diri semua orang ada narsisme-nya. bedanya, ada yang terang-terangan dan ada yang disembunyikan. ada yang masih wajar dan ada yang sudah tidak wajar. ada yang masih tahu tempat dan waktu, dan ada yang sudah menyatu dengan kepribadian yang dibawa kemana-mana.</p>
<p>bedanya lagi, adalah soal <em>degree</em> atau skala penonjolan kehebatan-diri. mungkin ada yang masih wajar dalam arti belum sampai membuat seseorang keliru dalam memandang dirinya atau belum sampai pada tingkat yang sudah bisa mengundang kebencian orang lain dan ada yang sudah kebablasan.<br />
berbicara soal sebab-sebabnya, hampir tidak ditemukan sebab yang single untuk persoalan yang terkait dengan &#8220;ketidaknormalan&#8221; jiwa manusia. karena itu, kalau melihat ke literaturnya, sebab-sebab itu selalu dikelompokkan ke dalam dua sebab induk, yaitu sebab personal (psikologis), yang berarti terkait dengan bagaimana kita mengelola jiwa kita (<em>internal management</em>).<br />
cerita malin kundang menggambarkan bagaimana seseorang merefleksikan dirinya setelah melihat realitas di luar dirinya yang baru. misalnya saja dia berangkat dari kampung ke kota sebagai orang yang semula bukan siapa-siapa tetapi kemudian di kota dia menjadi sosok yang <em>who is who</em>. perubahan ini membuat dia narsis dalam arti menonjolkan kehebatan-diri secara berlebihan dan mengukur orang lain dari definisi kehebatan yang ia ciptakan berdasarkan fantasinya sendiri. sampai-sampai ibunya sendiri tidak diterima karena tidak hebat dan tidak keren. selain sebab personal, ada sebab yang disebut kultural atau sebab-sebab yang muncul dari faktor eksternal. termasuk sebab eksternal adalah pola asuh yang diterima dari kecil. sebuah keluarga yang mendefinisikan orang secara ekstrim (keluarga, tamu, tetangga, dst) dari sisi kaya-miskin, mewah-tidak mewah, atau menutupi kekurangan dengan cara mengelabuhi, akan sangat berpotensi melahirkan pribadi yang narsis. bahkan, mengistimewakan kedudukan anak di atas yang lain atas nama budaya dan tradisi, itu ibaratnya menabur bibit narsis.<br />
termasuk sebab eksternal juga adalah lingkungan dimana kita berada. tempat kerja, komunitas pergaulan atau masyarakat tertentu yang mendewakan budaya hedonisme (serba harus keren, mewah, dan serba materi) sangat mungkin mempengaruhi kita menjadi narsis. jangan heran kalau misalnya kita punya teman yang gaya hidupnya berubah karena lingkungan pergaulannya berubah.<br />
secara hukum alamnya, sebab-sebab eksternal (keadaan dan orang lain) itu hanya sebagai pendukung atau pemicu atas munculnya kepribadian yang narsis. artinya, lingkungan atau pola asuh tidak bisa dijadikan single predictor. ini karena, yang menjadi penyebab-penentu (<em>the most determinant factor</em>) adalah sebab internal atau diri kita.</p>
<p>kalau melihat clue-nya, narsisme (<em>unhealty narcissism</em>) itu terkait dengan sedikitnya tiga isu kejiwaan yang sangat mendasar.<em></em></p>
<p><em>pertama</em>, terkait dengan bagaimana kita meresponi suara penolakan diri atau denial of the self karena tidak puas terhadap diri sendiri (<em>dissatisfaction</em>). sebenarnya, rasa tidak puas terhadap diri sendiri akan positif kalau kita gunakan untuk memperbaiki diri atau memunculkan dorongan untuk berubah ke arah yang lebih baik. inilah yang disebut <em>&#8220;learning, growing, improving&#8221;</em>. jika kita sudah kehilangan dorongan untuk berubah, berarti proses <em>learning</em>-nya sudah berhenti dan ini sangat membahayakan, tapi akan negatif kalau itu kita gunakan untuk melakukan pertengkaran dengan diri sendiri (konflik diri) sampai membuat jiwa kita kosong (<em>feeling of empty</em>), kurang (<em>feeling of lack</em>), dan takut (<em>feeling of fear</em>). ini semua akan mendorong kita menempuh modus untuk mengelabuhi diri sendiri supaya bisa mengelabuhi orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan dan penghormatan dari fantasi yang kita ciptakan.<br />
<em></em></p>
<p><em>kedua</em>, terkait dengan bagaimana kita menutupi kekurangan, entah kurang kaya, kurang kompeten, kurang keren, kurang mewah, dan seterusnya. adanya rasa kurang pun ciptaaan tuhan. rasa kurang ini bisa kita gunakan untuk menjadi orang yang tawadlu (rendah hati), dekat sama tuhan atau juga bisa kita gunakan sebaliknya. jika rasa kurang itu mendapatkan respon positif, pasti yang akan muncul adalah motivasi plus, misalnya dorongan untuk penyempurnaan, dorongan untuk mengakui kehebatan orang lain, dorongan untuk berubah, dan seterusnya. tapi bila responnya negatif, akan sangat mungkin memunculkan motivasi minus, misalnya arogan tanpa alasan, membohongi orang lain untuk menutupi kekurangan, dan seterusnya.<br />
<em></em></p>
<p><em>ketiga</em>, terkait dengan sejauhmana kita melatih diri dalam mendengarkan suara naluri universal. meski teorinya agak sulit membedakan prilaku yang narsis dan yang bukan, tetapi semua manusia punya naluri universal yang bertugas menerima kebaikan dan menolak kejelekan, entah dari perbuatan kita sendiri atau dari perbuatan orang lain. kesombongan, penjolan diri berlebihan, atau penipuan diri itu pasti ditolak oleh naluri universal manusia. artinya, sejauh kita melatih diri untuk mendengarkan naluri universal kita, pasti kita akan lebih mudah &#8220;mengobati&#8221; benih-benih penyakit narsisme di dalam diri kita. untuk bisa mendengarkan, syaratnya adalah jangan terlalu lama atau selalu mendengarkan suara dari luar. idealnya, kita seimbang dalam mendengarkan suara dari dalam dan suara dari luar.</p>
<p>http://www.e-psikologi.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Selamat Tinggal Media Informasi, Selamat Datang Media Narsis]]></title>
<link>http://akuhayu.wordpress.com/2008/10/22/selamat-tinggal-media-informasi-selamat-datang-media-narsis/</link>
<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 04:36:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>akuhayu</dc:creator>
<guid>http://akuhayu.wordpress.com/2008/10/22/selamat-tinggal-media-informasi-selamat-datang-media-narsis/</guid>
<description><![CDATA[Mulanya, media diciptakan untuk menjawab kebutuhan manusia akan informasi. Memenuhi kebutuhan dasar ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Mulanya, media diciptakan untuk menjawab kebutuhan manusia akan informasi. Memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk mengetahui pengalaman-pengalaman yang terjadi di luar dirinya (Kovach dan Rosentiel, 2003). Hal ini berangkat dari keinginaan manusia untuk tahu semua hal, untuk mengurangi tingkat ketidakpastian, tapi (tetap) memiliki keterbatasan untuk melakukan itu.</p>
<p>Manusia tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di belahan dunia lainnya, kalau saja media tidak dicipta untuk &#8220;memotret&#8221; itu dan menyampaikannya ke khalayak.</p>
<p>Tapi itu duluuu (saya tulis dengan nada seperti yang ada di iklan)..</p>
<p><!--more--></p>
<p>Diskusi saya dengan salah satu kelompok asistensi mata kuliah etika komunikasi beberapa waktu lalu menggugurkan semua konsep yang dulu digagas.</p>
<p>Dalam diskusi tersebut, salah seorang peserta diskusi menceritakan pengalaman magangnya di salah satu televisi lokal. Menurut ceritanya, apa yang menjadi pekerjaan televisi lokal tersebut hanyalah duduk berongkang-ongkang kaki (oke, ini hiperbola dari saya) sambil menunggu ada &#8220;panggilan&#8221; dari orang-orang yang memiliki &#8220;hajat&#8221; yang menginginkan &#8220;hajatan&#8221;nya tersebut diliput, dengan membayar sejumlah uang tentu saja.</p>
<p>Hal ini, awalnya bisa saya maklumi, karena saya sadar keterbatasan televisi lokal dalam hal dana dan modal. Tapi yang membuat saya merasa tiba-tiba ingin kayang dan berguling roll depan dan roll belakang (maaf, saya sedang <em>lebai</em> akhir-akhir ini) adalah fakta bahwa itulah satu-satunya hal yang dilakukan televisi lokal tersebut.</p>
<p>Pemberitaan mereka berkutat pada <em>event centered news</em>, dan mending kalau event-event tersebut memiliki nilai-nilai dan signifikansi di masyarakat (publik), berita-berita tersebut hanya memuaskan keinginan nampang dari para panitia kegiatan.</p>
<p>Akibatnya, kebutuhan dasar akan informasi, justru tidak dipenuhi oleh media tersebut. Mereka (baca: media) memang menjawab kebutuhan, tapi hanya kebutuhan dari segelintir orang, itu pun bukan untuk mengurangi tingkat ketidakpastian, tapi untuk menegaskan adagium baru yang marak akhir-akhir ini: <em>aku tampil, maka aku ada</em>.</p>
<p>Mereka semakin tidak bisa mengolah realitas sosial dalam kapasitasnya yang mandiri (seperti istilah Ashadi Siregar), tapi sibuk dengan realitas psikologis dalam bentuknya yang berupa <em>talking news</em>. Mereka hanya menyampaikan bahwa ada acara ini, disini, jam ini, dan sebagainya, tanpa mencoba untuk memberitakan peristiwa-peristiwa lain yang berupa informasi jurnalisme, dan menjawab hak personal masyarakat serta kepentingan mereka dalam ranah komunikasi publik.</p>
<p>Akhirnya, saya cuma bisa menyimpulkan, bahwa virus narsis tidak hanya melanda orang-orang bertelepon genggam yang sibuk merekam setiap adegan dirinya (baik sendiri maupun dengan pasangan), tapi juga melanda media. Media kini ikut diposisikan sebagai bagian dari pendukung narsisme itu tadi.</p>
<p>Dengan fakta-fakta tersebut, mungkin sudah saatnya bagi kita untuk berkata:<em> &#8220;Se</em><em>lamat tinggal media informasi, Selamat datang media narsis&#8221;.</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Narsisme, Kagum pada Diri Sendiri]]></title>
<link>http://apasajalah.wordpress.com/2008/08/17/narsisme-kagum-pada-diri-sendiri/</link>
<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 08:52:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>retdew</dc:creator>
<guid>http://apasajalah.wordpress.com/2008/08/17/narsisme-kagum-pada-diri-sendiri/</guid>
<description><![CDATA[Pada umumnya dalam diri seseorang terdapat kecenderungan mengagumi diri sendiri. Hal ini berkaitan d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pada umumnya dalam diri seseorang terdapat kecenderungan mengagumi diri sendiri. Hal ini berkaitan dengan harga diri. Orang yang merasakan adanya hal-hal positif dalam dirinya sendiri tentu saja akan menyukai diri sendiri dan mengembangkan perasaan bahwa dirinya berharga.</p>
<p>Hal ini memberikan ketenangan batin dan merupakan sumber bagi kesehatan mental. Jadi, mengagumi diri sendiri dalam batas tertentu justru merupakan indikasi kesehatan mental.</p>
<p>Sayang, sebagian kecil dari kita memiliki kekaguman pada diri sendiri secara berlebihan. Sebutlah namanya Narsi. Ia seorang ibu berusia 50 tahun yang selalu menjaga penampilan, mengesankan dirinya sebagai seseorang yang anggun.</p>
<p><!--more--><br />
<strong>Butuh Pasokan Pujian</strong><br />
Melihat penampilannya, orang tidak akan mengira ibu ini memiliki ketergantungan sangat besar pada figur dewasa lain, yang dirasanya mampu memberikan pasokan cinta, perhatian, pujian, dan kebanggaan bagi dirinya (pasokan narsistik). Dengan figur dewasa lain yang tak cukup memberi kepuasan atas dorongan narsismenya, ia cenderung menghindar, bahkan memutuskan hubungan.</p>
<p>Ia sulit memahami orang lain, dan dalam perjalanan hidupnya ia telah ditinggalkan oleh orang-orang lain, termasuk keluarga besarnya. Berulang kali ia mengalami gejala depresi cukup berat, dengan keinginan melukai diri sendiri.</p>
<p>Beberapa konselor, baik psikolog maupun bukan psikolog, telah dimintai bantuan. Sayangnya, ia hanya mendengarkan hal-hal positif yang meningkatkan harga dirinya, dan sebaliknya selalu menolak masukan yang menunjukkan kekurangannya.</p>
<p>Tidak jarang ia memamerkan bagaimana komentar orang lain yang mengakui keunikan atau idealisme yang ia junjung tinggi. Hal itu dilakukannya ketika ia merasa harga dirinya terancam saat menerima masukan yang mengoreksi kebiasaan atau pola pikirnya.<br />
Tampak bahwa ia sangat bangga dan mengagumi dirinya sendiri. Ia menganggap semua kesalahan orang lain, bila ada hal yang tidak memuaskan narsismenya.</p>
<p><strong>Pengertian Narsisme</strong><br />
Narsisme merupakan salah satu bentuk gangguan kepribadian (personality disorder), merujuk pada pola-pola perilaku yang merusak hubungan dengan orang-orang lain di sekelilingnya.</p>
<p>Narsisme muncul dengan gejala utama rasa kagum yang berlebih-lebihan pada diri sendiri, merasa selalu berhasil dan unggul, selalu mencari perhatian dan pujian, dan tidak peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.</p>
<p>John C. Nemiah, MD, profesor psikiatri dari Harvard Medical School dalam bukunya Foundations of Psychopathology menjelaskan istilah narsisme: berasal dari kata Narcissus, nama seorang pemuda tampan dalam mitos Yunani kuno.</p>
<p>Konon suatu hari Narcissus menangkap citra wajahnya pada permukaan air yang tenang di hutan, dan sontak ia jatuh cinta pada diri sendiri. Selanjutnya ia putus asa karena tidak mampu memenuhi apa yang sangat diinginkannya; ia bunuh diri dengan sebilah belati. Dari tetesan darahnya yang jatuh di dekat air, tumbuhlah bunga yang sampai sekarang dikenal dengan nama Narcissus.</p>
<p>Dari penjelasan di atas, tergambar adanya kesulitan besar berhubungan dengan orang lain bila kita terlalu mengagumi diri sendiri. Kekaguman pada diri sendiri yang berlebihan membuat kita selalu lapar untuk memuaskan kebutuhan dan kepentingan diri sendiri, selalu mencari perhatian dan pujian, serta tidak peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.</p>
<p><strong>Bagaimana Terjadinya?</strong><br />
Kita semua memiliki tingkat harga diri bervariasi. Dalam rangka menemukan diri dalam keadaan berharga, seseorang mungkin harus merasakan bahwa dirinya dicintai orang lain, dirinya kuat dan berkemampuan, serta bahwa dirinya baik dan mencintai. Keyakinan bahwa diri tidak dicintai, tergantung, atau dalam keadaan buruk, menghasilkan rasa kehilangan harga diri, dan dapat berakibat depresi.</p>
<p>Menurut Nemiah, umumnya perasaan harga diri yang rendah dan depresi karena jatuhnya angan-angan ideal hanya berlangsung dalam waktu singkat. Dengan mudah kita dapat kembali merasakan ekspresi kasih sayang dan kenyamanan yang diberikan orang lain. Kita dapat ”belajar dari kegagalan” dan merencanakan bertindak lebih baik pada masa yang akan datang.</p>
<p>Kita dapat merefleksikan bahwa orang lain juga bisa melakukan kesalahan, dan tak seorang pun sempurna. Kesalahan adalah manusiawi. Kita mampu mengkritisi diri sendiri, tetapi pada saat yang sama juga bersikap toleran terhadap diri sendiri.</p>
<p>Pada orang tertentu, yang dibesarkan oleh orangtua yang menanamkan standar dan idealisme tidak realistis (sehingga menghasilkan perasaan tidak mampu dan ketergantungan), setelah dewasa ia akan mengembangkan ciri-ciri sifat seperti ketika masa kanak-kanak. Idealisme, tujuan, dan kebutuhan yang ada padanya seringkali melebihi kapasitas diri.</p>
<p>Kegagalan mengakibatkan perasaan tidak cakap, tidak berdaya, menderita harga diri rendah, dan depresi. Akibatnya ia secara eksesif (berlebihan) mengkritisi kelalaian-kelalaiannya.</p>
<p>Cinta, perhatian, dan kebanggaan dari orang lain merupakan hal yang sangat penting bagi harga dirinya, dan kebutuhannya akan hal tersebut tidak kunjung terpuaskan (terus kelaparan).</p>
<p>Menurut Nemiah, keadaan tersebut merupakan wujud ketergantungan oral (oral dependency). Dikatakan demikian karena elemen ketergantungan tersebut dan hambatannya dalam relasi dengan orang lain merupakan hasil dari periode masa kanak-kanak awal (bayi), yaitu ketika dorongan oral (refleks mengisap) berkembang dan anak sangat tergantung pada orangtuanya. Berkembangnya narsisme dapat berlangsung terus hingga seseorang dewasa.</p>
<p><strong>Lingkaran Setan</strong><br />
Pada penderita narsisme terdapat hubungan erat antara kebutuhan narsistik dengan kemarahan, bila kebutuhan itu tidak terpuaskan. Kita suatu saat bereaksi tidak setuju dan marah ketika gagal mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.</p>
<p>Pada orang yang mengalami gangguan kepribadian narsistik hal itu juga terjadi, tetapi dalam keadaan lebih rumit. Kebutuhan dan tuntutannya atas orang lain lebih kuat dan lebih sering dibanding orang dewasa yang berkepribadian matang.</p>
<p>Akibat adanya perasaan lemah, ketidakberdayaan, dan ketidakmampuan yang dialami secara intensif; dan seringnya terjadi ketidakpuasan (kekecewaan); ia mulai berharap, seringkali mencari, menyeberang ke orang lain, dan makin kuat sensitivitasnya terhadap penolakan.</p>
<p>Reaksi-reaksi kemarahannya sangat kuat. Akibatnya orang lain akan sangat marah kepadanya. Ini bertentangan dengan harapannya untuk menjadi orang yang baik dan mencintai, sehingga menambah perasaan ketidakcakapan, ketidakberdayaan, dan rasa bersalah.</p>
<p>Akibat selanjutnya, ia mulai terluka, terasing, dan mendorongnya menjadi orang yang sangat membutuhkan dukungan, yang selanjutnya menambah perasaan tidak aman dan kekecewaan. Penderita narsisme terjebak dalam lingkaran setan, di mana sebuah tindakan dapat membuat mereka semakin mengalami kesulitan.</p>
<p>Kondisi psikologis ambivalen (atau keadaan memiliki hubungan yang ambivalen dengan seseorang yang penting) seperti itu, jelas bukan keadaan yang nyaman.<br />
Nemiah juga menjelaskan bahwa penderita narsisme besar kemungkinannya menderita kesulitan emosional, bila dihadapkan pada kematian individu tempat dirinya bergantung dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan narsistiknya.</p>
<p><strong>Cara Keluar dari Lingkaran</strong><br />
Sesuai latar belakangnya dalam keluarga, Narsi adalah anak kesayangan orangtuanya. Segala kebutuhannya sampai saat berkeluarga, materi maupun nonmateri, selalu di-support orangtua. Ibunya adalah figur tempat ia bergantung, yang dapat memenuhi kebutuhan narsismenya.</p>
<p>Bersama Ibu ia selalu dapat melihat dirinya sebagai anak kesayangan yang manis dan sempurna. Namun, tanpa disadari, sebenarnya ia tidak memiliki kekuatan untuk berdiri di atas kakinya sendiri.</p>
<p>Sampai akhirnya ketika kedua orangtuanya meninggal, ia sungguh tidak berdaya. Dalam kesulitannya mengatasi problem emosi dan kesulitan berhubungan dengan orang lain, ia semakin masuk dalam lingkaran setan narsisme. Adakah cara untuk keluar dari lingkaran setan narsisme? Tentu saja selalu ada cara memutus lingkaran setan, yaitu dengan mengambil jalur lain; tidak mengikuti dorongan emosi atau dorongan bertindak yang diarahkan oleh narsisme.</p>
<p>Untuk itu diperlukan kesediaan mengamati gerak-gerik emosi dan keinginan-keinginan di balik perilaku kita dalam berhubungan dengan orang lain, supaya dorongan yang egoistis dan tidak realistis dapat dikenali. Selain itu juga harus mulai belajar berempati: membiasakan diri mengamati masalah dari perspektif orang lain. @</p>
<p>Sumber: Senior</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
