<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>nasehat-kehidupan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/nasehat-kehidupan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "nasehat-kehidupan"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 15:32:22 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Jangan biarkan dirimu hancur...sobat...!!! ]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/16/jangan-biarkan-dirimu-hancursobat/</link>
<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 12:07:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/16/jangan-biarkan-dirimu-hancursobat/</guid>
<description><![CDATA[Suatu ketika, ada seorang sahabat memulai kotbahnya dengan mengeluarkan selembar uang seratus ribu y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--> Suatu ketika, ada seorang sahabat memulai kotbahnya dengan mengeluarkan selembar uang seratus ribu yang baru. Kemudian dia bertanya &#8220;Siapa di antara kamu yang mau uang ini, jika diberikan ikhlas padamu?&#8221; Langsung saja yang mengangkat tangan banyak sekali.</p>
<p>Katanya lagi &#8221; Ya, ini akan saya berikan, tapi sebelumnya biar saya melakukan hal ini&#8221;. Sahabat tersebut meremas uang kertas seratus ribu itu, menjadi gulungan kecil yang kumal.</p>
<p>Kemudian dia buka lagi ke bentuk semula : lembaran seratus ribu, tapi sudah kumal sekali. Lalu dia bertanya &#8221; Siapa yang masih mau uang ini?&#8221; Tetap saja banyak yang angkat tangan, sebanyak yang tadi.</p>
<p>&#8220;Oke, akan saya kasih, tapi biarkan saya melakukan hal ini&#8221;. Dia menjatuhkan lembaran uang itu ke lantai, terus diinjak-injak pakai sepatunya yang habis berjalan di tanah becek sampai nggak karuan bentuknya. Dia tanya lagi&#8221; siapa yang masih mau?&#8221; Tangan-tangan masih saja terangkat. Masih sebanyak tadi.</p>
<p>&#8220;Nah, sahabatku, sebenarnya aku dan kau sudah mengambil satu nilai yang sangat berharga dari peristiwa tadi. Kita semua masih mau uang ini walau bentuknya sudah nggak karuan lagi. Sudah jelek, kotor, kumal&#8230; tapi nilainya nggak berkurang: tetap seratus ribu rupiah.</p>
<p>Sama seperti kita. Walau kau tengah jatuh, tertimpa tangga pula&#8230; tengah sakit, tengah hancur pula, atau kau gagal, nggak berdaya, terhimpit, dan merasa terhina, kecewa dan terkhianati, atau dalam keadaan apapun, kau tetap nggak kehilangan nilaimu&#8230; karena kau begitu berharga. Jangan biarkan kekecewaan, perasaan, ketakutan, sakit hati, menghancurkan kamu, harapanmu, atau cita-citamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu akan selalu tetap berharga, bagi dirimu, bagi diriku, bagi sahabatmu, bagi sahabat yang lain dan kau tetap sama dimata Tuhanmu. Dia, Tuhanmu, akan berlari mendekatimu, jika kau berjalan menuju-Nya. Aku pun sahabatmu akan melakukan hal yang sama, karena fithrah setiap diri kita akan mulia jika mencoba mendekati sifat2 Tuhan kita. Disanalah nilai dirimu berada.&#8221;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yang Pantas Bersedih ]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/yang-pantas-bersedih/</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 14:50:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/yang-pantas-bersedih/</guid>
<description><![CDATA[Umar bin Abdul Aziz Rohimahullah menangis ketika melihat seorang anaknya pada hari raya dengan pakai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Umar bin Abdul Aziz <em>Rohim</em>ahullah menangis ketika melihat seorang anaknya pada hari raya dengan pakaian yang usang. Anaknya berkata, “Apa yang membuatmu menangis, ya Amirul Mukminin?”</p>
<p>Umar menjawab, “Putraku, aku takut hatimu bersedih pada hari raya ini. Kamu melihat anak-anak yang lain memakai baju bagus, tetapi kamu memakai baju seperti ini.”</p>
<p>Anaknya berkata, “Ya Amirul Mukminin, yang patut bersedih adalah orang yang tidak memperoleh ridha Allah atau dia durhaka kepada ibu-bapaknya. Dan aku berharap Allah meridhaiku dangan ridhamu.”</p>
<p>Umar menangis. Dia memeluk dan mencium kening anaknya. Dia mendoakannya dengan kebaikan dan keberkahan. Maka dia termasuk orang terkaya sesudah bapaknya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Susah-Sedih-Bingung-Kesepian ]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/susah-sedih-bingung-kesepian/</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 14:49:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/susah-sedih-bingung-kesepian/</guid>
<description><![CDATA[- Ayah, aku sedang bersedih, bahkan aku dalam keadaan berkesusahan, sehingga aku merasakan kebingung]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal">- Ayah, aku sedang bersedih, bahkan aku dalam keadaan berkesusahan, sehingga aku merasakan kebingungan dan kesepian yang mendalam.<br />
- Anaku, apa yang menyebabkan engkau demikian?<br />
- Ayah, aku merasakan kesedihan-kesusahan-kebingungan dan kesepian yang tiada bersumber, mereka semua mendatangiku padahal aku tidak memiliki masalah untuk semua itu.<br />
- Anaku, kemana kau obati semua itu?<br />
- Ayah, sudah banyak orang yang kudatangi bahkan puluhan dokter dan tabib aku mintakan nasehatnya, tapi semua itu tidak menyelesaikan masalahku.<br />
- Anaku, untuk semua masalahmu itu, manusia tidak akan sanggup menyelesaikannya, engkau menyandarkan permasalahanmu kepada manusia, walau pun memang akan mengurangi rasa penderitaanmu.<br />
- Anaku, ketika kesedihan-kesusahan-kebingungan dan kesepian mendatangimu, hatimu telah kosong. Ibarat jasad membutuhkan makanan, sementara hatimu membutuhkan ilmu.<br />
- Anaku, tiada obat penawar yang dapat menyembuhkan penyakitmu itu, kecuali satu dialah ALLAH swt. Isilah hatimu dengan Asma-Nya, sesungguhnya semua penyakit mu itu bersumber karena kekosongan hatimu dalam mengingat-Nya. Sehingga setan datang kedalam hatimu dan membisikan berbagai penyakit kedalam hatimu hingga engkau merasakan semua itu.<br />
- Anaku, banyak orang merasakan kesedihan-kesusahan-kebingungan dan kesepian, bahkan membunuh dirinya sendiri, karena tidak bersandar kepada ALLAH swt. Padahal mereka tidak sendirian di dunia ini, banyak orang-orang disekelilingnya tapi penyakit itu tetap datang. Jika hal demikian telah datang maka seru lah ALLAH swt, karena engkau tidak sendiri di dunia ini. Jika semua masalah yang ringan atau yang berat tidak dapat kau selesaikan, maka hanya Dia-lah ALLAH yang dapat menyelesaikan. Semua perkara amatlah mudah disisi ALLAH.<br />
- Anaku, seberapa berat pun permasalahanmu hingga engkau tidak bisa berbuat apa-apa atau menghadapi jalan yang buntu. Maka perkara itu amatlah mudah bagi ALLAH. Untuk ukuran manusia terasa berat, tapi untuk ALLAH itu adalah perkara mudah, bukankah semua itu telah ALLAH atur segalanya.<br />
- Anaku, jangan kau biarkan hatimu kosong hingga setan menempatinya. Isilah hatimu dari kekosongan itu, serulah DIA-Allah setiap saat.<br />
- Anaku, ingatlah &#8230;.hanya dengan mengingat ALLAH hati menjadi tenteram (Q.S.Ar-Rad:38).<br />
Wallahu&#8217;alam Bishawab</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SURAT SAYANG DARI ALLAH ]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/surat-sayang-dari-allah/</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 14:47:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/surat-sayang-dari-allah/</guid>
<description><![CDATA[Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada KU, walaupun ha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada KU, walaupun hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur kepada-KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin &#8230;&#8230;</p>
<p>Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja &#8230;&#8230;.<br />
AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapa-KU, tetapi engkau terlalu sibuk&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian AKU Melihat engkau menggerakkan kakimu. AKU berfikir engkau akan berbicara kepada-KU tetapi engkau berlari ke telephone dan menghubungi seorang teman untuk mendengarkan kabar terbaru.</p>
<p>AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepadaKU.<br />
Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada-KU, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKU dengan lembut sebelum menyantap rizki yang AKU berikan, tetapi engkau tidak melakukannya &#8230;&#8230;.</p>
<p>Masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan berbicara kepadaKU, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.<br />
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yg ditampilkan. Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menontonTV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKU&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tanpa sepatahpun nama-KU, kau sebut &#8230;&#8230; Engkau menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.</p>
<p>AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. AKU sangat menyayangimu, setiap hari AKU menantikan sepatah kata, do&#8217;a, pikiran atau syukur dari hatimu.</p>
<p>Keesokan harinya &#8230;&#8230; engkau bangun kembali dan kembali AKU menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberi sedikit waktu untuk menyapa-KU &#8230;&#8230;..<br />
Tapi yang KU tunggu &#8230;&#8230;.. tak kunjung tiba &#8230;&#8230; tak juga kau menyapaKU.</p>
<p>Subuh &#8230;&#8230;..Dzuhur &#8230;&#8230;.Ashyar &#8230;&#8230;&#8230;.Magrib &#8230;&#8230;&#8230;Isya dan Subuh kembali, kau masih mengacuhkan AKU &#8230;..tak ada sepatah kata, tak ada seucap do&#8217;a, dan tak ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepada-KU&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Apa salah-KU padamu &#8230;&#8230; wahai Ummat-KU?????Rizki yang KU limpahkan, kesehatan yang KU-berikan, harta yang KU-relakan,makanan yang KU-hidangkan, anak-anak yang KU-rahmatkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepada-KU &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;!!!!!!!</p>
<p>Percayalah AKU selalu mengasihimu &#8230;..dan AKU tetap berharap suatu saat engkau akan menyapa-KU &#8230;..memohon perlindungan-KU &#8230;..bersujud menghadap-KU &#8230;&#8230;Yang selalu menyertaimu setiap saat &#8230;&#8230;..</p>
<p>Note: apakah kita memiliki cukup waktu untuk mengirimkan surat ini kepada orang &#8211; orang yang kita sayangi??? Untuk mengingatkan mereka bahwa segala apapun yang kita terima hingga saat ini, datangnya hanya dari ALLAH SWT&#8230;&#8230; semata.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seperti Rasul-Mu, Jadikanlah Rendah Hatiku]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/seperti-rasul-mu-jadikanlah-rendah-hatiku/</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 14:45:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/seperti-rasul-mu-jadikanlah-rendah-hatiku/</guid>
<description><![CDATA[Setiap pohon yang tidak berbuah, seperti pohon pinus dan pohon cemara, tumbuh tinggi dan lurus, meng]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h3><span style="font-weight:normal;"><!--[if gte vml 1]&#62;                    &#60;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/ruang03/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" alt="" width="400" height="300" /><!--[endif]--></span></h3>
<p><strong>Setiap pohon yang tidak berbuah, seperti pohon pinus dan pohon cemara, tumbuh tinggi dan lurus, mengangkat kepalanya ke atas, dan semua cabangnya mengarah ke atas. Sedangkan semua pohonnya yang berbuah menundukkan</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>kepala mereka, dan cabang-cabang mereka mengembang ke samping.</p>
<p>Rasulullah adalah orang yang paling rendah hati, meskipun dia memiliki segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang sekarang, dia seperti sebuah pohon yang berbuah. Menurut sebuah riwayat, beliau bersabda: “Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada semua manusia, untuk bersikap baik hati kepada mereka. Tidak ada Nabi yang sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku.<br />
Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya, ditanggalkan giginya, lututnya berdarah karena lemparan batu, tubuhnya dilumuri kotoran, rumahnya dilempari kotoran ternak. Beliau di hina, dan di siksa dengan keji. Namun beliau tetap saja berdoa, “Wahai Allah, Tuhan kami, bimbinglah umatku ke jalan yang lurus, sebab mereka tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan.</p>
<p>Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada orang-orang yang pernah menyiksanya: “Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan kulakukan terhadapmu?<br />
Mereka menangis dan berkata: “Engkau adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia.Nabi SAW bersabda:“Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian(HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi).</p>
<p>Abu Sufyan bin Harits, sepupu beliau, lari dengan membawa semua anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul SAW, maka Ali bin Abi Thalib ra bertanya kepadanya: Å“Hai Abu Sufyan, hendak pergi kemanakah kamu?Ia menjawab: “Aku akan keluar ke padang sahara. Biarlah aku dan anak-anakku mati karena lapar, haus, dan tidak berpakaian.Ã¢â‚¬Â� Ali Bertanya: “Mengapa kamu lakukan itu?� Ia menjawab: “Jika Muhammad menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi potongan-potongan kecil.Ali berkata: “Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf: &#8220;.Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).(Yusuf: 91).</p>
<p>Abu Sufyan pun kembali kepada Nabi SAW dan berdiri di dekat kepalanya, lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata: “Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).(Yusuf: 91).</p>
<p>Rasulullah SAW pun menengadahkan pandangannya, sedang air matanya membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya.</p>
<p>Rasulullah menjawab dengan menyitir firman-Nya: Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.(Yusuf: 92).</p>
<p>Wahai sahabatku¦<br />
Di dalam diri Rasulullah terdapat tanda-tanda kebesaran Allah. Aisyah ra mengatakan bahwa Rasulullah ibarat Al Quran yang berjalan. Setiap kata-kata yang keluar begitu menawan hati, melembutkan perasaan dan mengobarkan semangat juang. Segala tingkah lakunya mencerminkan kebaikan; pemaaf, santun, lemah lembut, banyak diam, banyak berpikir dan merenung, halus dalam bertutur kata, dan tegas dalam memegang prinsip kebenaran. “Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.(Al Qalam: 4).</p>
<p>Ya Allah Ya Tuhanku¦.<br />
Aku tertunduk di atas kursi ini, dengan perasaan penuh tak tentu; memohon, mengharap dengan rasa cemas, rindu yang sebenar-benarnya rindu, cinta yang sebenar-benarnya cinta, petunjuk yang sebenar-benarnya petunjuk. Jadikanlah aku hamba yang lemah lembut dalam bertutur kata, santun dalam berpesan, mengiringi ilmu dengan amal, tidak dengki dengan kebahagiaan manusia, dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan kemunafikan.</p>
<p>Wahai Allah Tuhanku¦<br />
Aku dipekaranganMu, ditanahMu, di rumah yang engkau bina dengan nikmatMu.Seperti Rasul-Mu, jadikanlah aku hamba yang rendah hati. </strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penyesalan]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/penyesalan/</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 14:44:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/penyesalan/</guid>
<description><![CDATA[Penyesalan, kesedihan, duhai… jiwa yang terdampar Di pulau asing dan terjerumus di jurang kelalaian,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal">Penyesalan, kesedihan, duhai… jiwa yang terdampar<br />
Di pulau asing dan terjerumus di jurang kelalaian, kemalasan</p>
<p>Berdiri dan tataplah langit<br />
Tengoklah ke sebelah kanan dan kirimu<br />
Apakah yang belum engkau raih</p>
<p>Bukankah selama ini engkau telah mengenyam berjuta-juta nikmat<br />
Oksigen gratis<br />
Cahaya dan panas matahari cuma-cuma<br />
Air yang terus memancar dari dalam perut bumi<br />
Tanpa perlu kau tukar dengan uang sepeserpun juga</p>
<p>Duduklah dan renungkan<br />
Apa yang selama ini kamu lakukan<br />
Beramal dengan ikhlas ataukah hanya sekedar mencari pujian<br />
Pujian dari manusia dan ketenaran di tengah-tengah mereka</p>
<p>Apakah engkau pernah menghitung<br />
Berapa kali engkau terjatuh dalam maksiat<br />
Secara sadar maupun yang kau anggap perkara<br />
Yang biasa dan sepele, toh banyak orang<br />
Yang juga melakukannya</p>
<p>Maha suci Allah !!!<br />
Al Qur&#8217;an ada di atas mejamu<br />
Buku-buku agama bertumpuk di sekelilingmu<br />
Alunan suara para qari&#8217; senantiasa terdengar di kanan dan kirimu</p>
<p>Masihkah engkau tak bergeming<br />
Dengan noda-noda hitam di dalam lubuk hatimu<br />
Ranjau-ranjau maksiat itu akan segera membinasakanmu<br />
Sadarilah, apa lagi yang kau tunggu</p>
<p>Apakah kau menunggu malaikat maut<br />
Menjemput dan memaksamu</p>
<p>Saudaraku, singsingkan lengan bajumu<br />
Tataplah masa depan<br />
Berharaplah kepada kemurahan Ar Rahman<br />
Marilah kita kembali tunduk kepada-Nya<br />
Mumpung pintu taubat masih terbuka dan memanggil-manggil<br />
Kita yang penuh salah dan dosa</p>
<p>Rasulullah saja, makhluk termulia<br />
Dalam sehari bertistighfar 100 kali kepada-Nya<br />
Lalu siapakah kita<br />
Apabila dibandingkan dengan seorang manusia<br />
Paling mulia di atas jagad raya<br />
Seperti beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</p>
<p>Akankah taubat itu kita tunda-tunda<br />
Jangan,<br />
sebab semakin kau tunda<br />
Maka penyesalan itu akan berubah menjadi bencana<br />
Siksaan berlipat ganda di dalam neraka<br />
Sampai si durhaka berkata<br />
Duhai, seandainya aku dulu hanya<br />
menjadi sebongkah tanah saja</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MINUM ARAK PUNCA SEGALA KEJAHATAN]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/minum-arak-punca-segala-kejahatan/</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 14:42:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/minum-arak-punca-segala-kejahatan/</guid>
<description><![CDATA[Dosa manakah, minum minuman yang memabukkan, berzina atau membunuh. Itulah teka-teki sebagai inti kh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal">Dosa manakah, minum minuman yang memabukkan, berzina atau membunuh. Itulah teka-teki sebagai inti khutbah Khalifah Ustman bin Affan r.a. seperti yang diriwayatkan oleh Az-Zuhriy, dalam khutbah Ustman itu mengingatkan umat agar berhati-hati terhadap minuman khamr atau arak. Sebab minuman yang memabukkan itu sebagai pangkal perbuatan keji dan sumber segala dosa.<br />
Dulu hidup seorang ahli ibadah yang selalu tekun beribadah ke masjid, lanjut khutbah Khalifah Ustman. Suatu hari lelaki yang soleh itu berkenalan dengan seorang wanita cantik.</p>
<p>Kerana sudah terjatuh hati, lelaki itu menurut saja ketika disuruh memilih antara tiga permintaannya, tentang kemaksiatan. Pertama minum khamr, kedua berzina dan ketiga membunuh bayi. Mengira minum arak dosanya lebih kecil daripada dua pilihan lain yang diajukan wanita pujaan itu, lelaki soleh itu lalu memilih minum khamr.<br />
Tetapi apa yang terjadi, dengan minum arak yang memabukkan itu malah dia melanggar dua kejahatan yang lain. Dalam keadaan mabuk dan lupa diri, lelaki itu menzinai pelacur itu dan membunuh bayi di sisinya.</p>
<p>&#8220;Kerana itulah hindarilah khamr, kerana minuman itu sebagai biang keladi segala kejahatan dan perbuatan dosa. Ingatlah, iman dengan arak tidak mungkin bersatu dalam tubuh manusia. Salah satu di antaranya harus keluar. Orang yang mabuk mulutnya akan mengeluarkan kata-kata kufur, dan jika menjadi kebiasaan sampai akhir ayatnya, ia akan kekal di neraka.&#8221;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lihatlah]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/lihatlah/</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 14:41:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/lihatlah/</guid>
<description><![CDATA[Kita bangun tidur di waktu subuh dan kemudian membasuh wajah dengan air wudlu yang segar. Sesudah me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kita bangun tidur di waktu subuh dan kemudian membasuh wajah dengan air wudlu yang segar. Sesudah melaksanakan sholat dan berdoa. Cobalah menghadap cermin di dinding. Di sana kita mulai meneliti diri :</p>
<p><strong>1.Lihatlah kepala kita! </strong></p>
<p>Apakah ia sudah kita tundukkan, rukukkan dan sujudkan dengan segenap kepasrahan seorang hamba fana tiada daya di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, atau ia tetap tengadah dengan segenap keangkuhan, kecongkakan dan kesombongan seorang manusia di dalam pikirannya?</p>
<p class="MsoNormal">
<p><strong>2. Lihatlah mata kita! </strong></p>
<p>Apakah ia sudah kita gunakan untuk menatap keindahan dan keagungan ciptaan-ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, atau kita gunakan untuk melihat segala pemandangan dan kemaksiatan yang dilarang?</p>
<p class="MsoNormal">
<p><strong>3. Lihatlah telinga Kita! </strong></p>
<p>Apakah ia sudah kita gunakan untuk mendengarkan suara adzan, bacaan Al Qur’an, seruan kebaikan, atau kita gunakan buat mendengarkan suara-suara yang sia-sia tiada bermakna?</p>
<p class="MsoNormal">
<p><strong>4. Lihatlah hidung Kita!</strong></p>
<p>Apakah sudah kita gunakan untuk mencium sajadah yang terhampar di tempat sholat, mencium istri, suami dan anak-anak tercinta serta mencium kepala anak-anak papa yang kehilangan cinta bunda dan ayahnya?</p>
<p class="MsoNormal">
<p><strong>5. Lihatlah mulut kita! </strong></p>
<p>Apakah sudah kita gunakan untuk mengatakan kebenaran dan kebaikan, nasehat-nasehat bermanfaat serta kata-kata bermakna atau kita gunakan untuk mengatakan kata-kata tak berguna dan berbisa, mengeluarkan tahafaul lisan alias penyakit lisan seperti: bergibah, memfitnah, mengadu domba, berdusta bahkan menyakiti hati sesama?</p>
<p class="MsoNormal">
<p><strong>6. Lihatlah tangan Kita! </strong></p>
<p>Apakah sudah kita gunakan buat bersedekah, membantu sesama yang kena musibah, mencipta karya-karya yang berguna atau kita gunakan untuk mencuri, korupsi, menzalimi orang lain serta merampas hak-hak serta harta-harta orang yang tak berdaya?</p>
<p class="MsoNormal">
<p><strong>7. Lihatlah kaki Kita! </strong></p>
<p>Apakah sudah kita gunakan untuk melangkah ke tempat ibadah, ke tempat menuntut ilmu bermutu, ke tempat-tempat pengajian yang kian mendekatkan perasaan kepada Allah Yang Maha Penyayang atau kita gunakan untuk melangkah ke tempat maksiat dan kejahatan?</p>
<p class="MsoNormal">
<p><strong>8. Lihatlah dada Kita! </strong></p>
<p>Apakah di dalamnya tersimpan perasaan yang lapang,sabar, tawakal dan keikhlasan serta perasaan selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Bijaksana, atau di dalamnya tertanam ladang jiwa yang tumbuh subur daun-daun takabur, biji-biji bakhil, benih iri hati dan dengki serta pepohonan berbuah riya?</p>
<p class="MsoNormal">
<p><strong>9. Lihatlah diri kita!</strong></p>
<p>Apakah kita sering tadabur, Tafakur dan selalu bersyukur pada karunia yang kita terima dari Allah Yang Maha Perkasa?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BERINTERAKSI MENURUT ISLAM ]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/berinteraksi-menurut-islam/</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 14:40:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/berinteraksi-menurut-islam/</guid>
<description><![CDATA[Begitu banyak buku-buku popular mengenai pengembangan diri, seperti karangan Dale Carnegie &#8216;Ho]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">
<p>Begitu banyak buku-buku popular mengenai pengembangan diri, seperti karangan Dale Carnegie &#8216;How to Win Friends &#38; Influence People&#8217; atau John C. Maxwell &#8216;25 Ways To Win With People&#8217; atau Stephen R. Covey dengan &#8216;The 7 Habits of Highly Effective People&#8217; atau berbagai terbitan Gramedia lainnya seperti &#8216;Cara memperingkatkan kemahiran Komunikasi Anda&#8217;.</p>
<p>Bagaimana cara &#8216;hidup lebih baik&#8217; dengan membina hubungan yang baik dengan orang lain di sekitarnya, begitulah ungkapan yang disampaikan. Bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain, mengasah kepekaan emosional, bertoleransi, selalu bersikap positif, tips-tips mendapat dan mempengaruhi teman, cara berkomunikasi yang baik, memahami lebih dahulu, dan sebagainya.</p>
<p>Menariknya, Islam sebagai agama yang sempurna, sudah mengajarkan semua itu, dengan Rasulullah SAW sebagai model utamanya. &#8220;<em>Innama bu&#8217;itstu liutammima makaarimal akhlaq</em>&#8221; &#8211; &#8220;Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq&#8221;, demikian sabda Rasulullah SAW. Akhlaq dalam seluruh bidang kehidupan. Bagaimana berinteraksi dengan orang tua, dengan sanak keluarga, dengan tetangga, dan seterusnya. Rasulullah SAW mengajar bagaimana cara berinteraksi dengan sesama muslim juga.</p>
<p><strong>Pertama, mencintai muslim lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri:</strong><br />
&#8220;Tidak beriman salah seorang di antara kamu sampailah dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri&#8221; (HR. Bukhari &#38; Muslim)</p>
<p><strong>Menyukai apa yang disukai muslim lain sebagaimana dirinya menyukai apa yang dia sukai, dan membenci apa yang dibenci muslim lain sebagaimana dirinya membenci apa yang dia benci:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan baik (sakit) demam dan tidak bisa tidur&#8221; (HR. Bukhari &#38; Muslim)</p>
<p><strong>Seorang muslim itu tidak menyakiti muslim lain dengan perbuatan atau perkataan:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya&#8221; (HR. Bukhari &#38; Muslim)</p>
<p><strong>Hendaklah bersikap tawaduk kepada setiap muslim dan tidak sombong kepadanya:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku hendaklah kamu tawaduk sehingga tidak ada orang yang membanggakan diri kepada yang lain&#8221; (HR. Abu Dawud &#38; Ibnu Maajah)</p>
<p><strong>Tidak menyampaikan berita atau mengadu domba kepada sebahagian yang lain tentang apa yang didengarnya daripada sebahagian yang lain:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Tidak akan masuk Syurga orang yang suka mengadu domba&#8221; (HR. Bukhari &#38; Muslim)</p>
<p><strong>Apabila marah kepada seseorang, maka tidak boleh menghindarinya lebih dari tiga hari:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Tidak boleh seorang muslim menghindari saudaranya lebih dari tiga hari, keduanya saling bertemu lalu saling berpaling. Sebaik-baik orang di antara keduanya adalah orang yang memulai mengucapkan salam&#8221; (HR. Bukhari &#38; Muslim)</p>
<p><strong>Melakukan kebaikan kepada setiap muslim semampunya dengan tidak membezakan antara keluarga dan yang bukan keluarga:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Abu Hurairah ra berkata bahawa Rasulullah SAW tidak pernah berbicara dengan seseorang melainkan beliau menghadapkan wajahnya ke wajah teman bicaranya lalu Rasulullah SAW tidak akan berpaling dari wajah seseorang sebelum dia selesai berbicara&#8221; (HR. Ath-Thabrani)</p>
<p><strong>Tidak masuk ke rumah muslim lain tanpa meminta izin. Jika sampai tiga kali tidak diizinkan, maka harus kembali (pulang):</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Meminta izin itu tiga kali. Yang pertama untuk menarik perhatian tuan rumah, kedua memperbaiki, dan ketiga agar memberi izin atau menolak&#8221; (HR. Bukhari &#38; Muslim)</p>
<p><strong>Menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Tidak termasuk dalam golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua dan tidak menyayangi anak kecil&#8221; (HR. Bukhari &#38; Abu Dawud)</p>
<p><strong>Selalu memberikan kegembiraan, bermuka manis, dan bersikap lembut kepada semua muslim:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Tahukah kamu kepada siapa api neraka diharamkan?&#8221; Para sahabat menjawab, &#8220;Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui&#8221;. Lalu Nabi SAW bersabda, &#8220;Kepada orang yang lemah lembut, yang selalu memudahkan, dan selalu dekat (akrab)&#8221; (HR. Tirmidzi)</p>
<p><strong>Janganlah berjanji kecuali bermaksud menepatinya:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Ciri-ciri orang yang munafik itu terbahagi kepada tiga; apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari, dan apabila diberi amanah dia berkhianat&#8221; (HR. Bukhari &#38; Muslim)</p>
<p><strong>Bersikap adil dan tidak melakukan sesuatu kepada muslim lain kecuali apa yang ia sukai untuk diperlakukan kepada dirinya sendiri:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Siapa yang ingin dijauhkan dari api Neraka dan masuk Syurga maka hendaklah dia mati dalam keadaan mengucap bahawa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan hendaklah dia memperlakukan orang lain dengan sesuatu yang disukainya jika dilakukan pada dirinya&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Mendamaikan sesama muslim yang bersengketa jika menemukan jalan (penyelesaian) ke arah itu:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kamu kerana sesungguhnya Allah akan memperbaiki hubungan di antara orang-orang beriman di Hari Kiamat&#8221; (HR. Al-Hakim)</p>
<p><strong>Menutup aib setiap muslim:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Menghindari tempat-tempat yang boleh mendatangkan fitnah demi untuk menjaga hati orang lain agar tidak berburuk sangka dan juga untuk menjaga lidah mereka agar tidak mengumpat:</strong><strong><br />
</strong>Diriwayatkan daripada Anas bin Malik ra bahawasanya Rasulullah SAW berbicara dengan salah seorang isterinya kemudian ada lelaki lalu dipanggil oleh Nabi SAW seraya berkata, &#8220;Ya Fulan, ini adalah isteriku Shafiyyah&#8221;.</p>
<p><strong>Membantu setiap muslim yang memerlukan pertolongan dan berusaha memenuhi pertolongan saudaranya itu sesuai kemampuannya:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Sesungguhnya aku diberi dan diminta. Sering diminta kepadaku pertolongan sedangkan kamu ada di sisiku, maka ikutlah memberi bantuan agar kamu diberi pahala dan Allah SWT memutuskan apa yang dicintai-Nya melalui kedua tangan Nabi-Nya&#8221; (HR. Bukhari &#38; Muslim)</p>
<p><strong>Mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum berkata kepada muslim lain dan menjabat tangan ketika memberi salam itu:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Jika salah seorang di antara kamu bertemu dengan saudaranya maka ucapkanlah, <em>Assalamu&#8217;alaikum warahmatulLah</em>&#8221; (HR. Abu Dawud, Tirmidzi &#38; an-Nasa&#8217;i)</p>
<p>&#8220;Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabatan tangan melainkan keduanya akan diampunkan (dosanya) sebelum mereka berpisah&#8221; (HR. Abu Dawud, Tirmidzi &#38; Ibnu Majah)</p>
<p><strong>Menjaga kehormatan jiwa dan harta saudaranya sesama muslim dari kezaliman orang lain apabila dirinya mampu membela dan menolong serta mampu memperjuangkannya sebab itu merupakan kewajiban baginya:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya maka dia akan terlindung dari api Neraka&#8221; (HR. Tirmidzi)</p>
<p><strong>Menjawab ucapan muslim lain yang bersin:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Seorang muslim yang bersin dijawab jika dia bersin tiga kali dan jika (lebih dari tiga kali) maka itu adalah penyakit flu&#8221; (HR. Abu Dawud)</p>
<p><strong>Memberi nasihat kepada setiap muslim dan bersungguh-sungguh ingin selalu memberikan kegembiraan ke dalam hati setiap muslim itu:</strong><strong><br />
</strong>&#8220;Sesungguhnya salah seorang di antara kamu adalah cermin bagi saudaranya, jika dia melihat sesuatu (pada saudaranya) maka hendaklah dia membersihkannya&#8221; (HR. Abu Dawud &#38; Tirmidzi)</p>
<p><strong>Melawat muslim yang sakit:</strong><br />
&#8220;Siapa yang melawat orang sakit bererti dia duduk di taman-taman Syurga, jika dia hendak berdiri, maka ditugaskan tujuh puluh ribu malaikat yang mendoakannya sampai malam hari&#8221; (HR. al-Hakim)</p>
<p><strong>Mengiringi jenazah orang muslim:</strong><br />
&#8220;Barang siapa yang mengiringi jenazah, maka akan mendapatkan pahala satu qirath. Jika dia berdiri sampai jenazah itu dikubur, maka dia mendapatkan pahala dua qirath&#8221; (HR. Bukhari &#38; Muslim)</p>
<p>&#8220;Satu qirath seperti (berat/besarnya) bukit Uhud&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p class="MsoNormal">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ANTARA SABAR DAN MENGELUH]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/antara-sabar-dan-mengeluh/</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 14:38:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/antara-sabar-dan-mengeluh/</guid>
<description><![CDATA[Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.<br />
&#8220;Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati.&#8221;<br />
Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, &#8220;Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini.&#8221;</p>
<p>Abu Hassan bertanya, &#8220;Bagaimana hal yang merisaukanmu ?&#8221;<br />
Wanita itu menjawab, &#8220;Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, &#8220;Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?&#8221;<br />
Jawab adiknya, &#8220;Baiklah kalau begitu ?&#8221;<br />
Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua.&#8221;</p>
<p>Lalu Abul Hassan bertanya, &#8220;Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?&#8221;<br />
Wanita itu menjawab, &#8220;Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka.&#8221;<br />
Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:<br />
&#8221; Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya.&#8221;</p>
<p>Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,:<br />
&#8221; Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang.&#8221;<br />
Dan sabdanya pula, &#8221; Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka.&#8221; (Riwayat oleh Imam Majah)<br />
Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[8 nasihat Umar bin Khattab ra]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/8-nasihat-umar-bin-khattab-ra/</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 14:36:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/8-nasihat-umar-bin-khattab-ra/</guid>
<description><![CDATA[1. barangsiapa meninggalkan ucapan yang tidak perlu, maka dia akan diberi hikmah 2. barangsiapa meni]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-size:14pt;color:green;">1. barangsiapa meninggalkan ucapan yang tidak perlu, maka dia akan diberi hikmah<br />
</span><span style="font-size:14pt;color:blue;"> 2. barangsiapa meninggalkan penglihatan yang tidak perlu, maka dia akan diberi kekhusyu’kan dalam hati<br />
</span><span style="font-size:14pt;color:green;"> 3. barangsiapa meninggalkan makan yang berlebihan, maka dia diberi kenikmatan beribadah<br />
</span><span style="font-size:14pt;color:blue;"> 4. barangsiapa meninggalkan tertawa yang berlebihan, maka dia akan diberi kewibawaan<br />
</span><span style="font-size:14pt;color:green;"> 5. barangsiapa meninggalkan humor, maka dia akan diberi kehormatan<br />
</span><span style="font-size:14pt;color:blue;"> 6. barangsiapa meninggalkan cinta duniawi, maka dia akan diberi kecintaan kepada akhirat<br />
</span><span style="font-size:14pt;color:green;"> 7. barangsiapa meninggalkan perhatiannya kepada aib orang lain, maka dia akan diberi kemampuan untuk memperbaiki aibnya sendiri<br />
</span><span style="font-size:14pt;color:blue;"> 8. barangsiapa meninggalkan penelitian tentang bagaimana wujud Allah, maka dia akan terhindar dari nifaq” </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Rasulullah SAW bersabda: </strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Manisnya iman tidak akan merasuk ke dalam hati seseorang hingga dia mahu meninggalkan sebahagian ucapan kerana takut dusta, meskipun dia itu jujur; dan mahu meninggalkan sebahagian sanggahan meskipun dia itu benar.” (HR Dailami)</p>
<p style="text-align:justify;">“Barangsiapa benar-benar bersabar dalam menghadapi masalah yang amat sulit, nescaya Allah akan menempatkannya di syurga Firdaus dan di dalamnya dia boleh memilih tempat di mana saja yang disukainya” (HR Abu Syaikh)</p>
<p style="text-align:justify;">“Siapa yang tergiur memenuhi syahwatnya (yang haram) namun dia mampu untuk menolaknya dan lebih mengutamakan penolakannya daripada memenuhi keinginan dirinya, maka dosa-dosanya diampuni” (HR Daraquthni)</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;color:blue;"> “Tidaklah seorang hamba mengucapkan suatu ucapan yang maksudnya hanya untuk membuat orang lain tertawa, melainkan sungguh dia telah jatuh ke dalam jurang yang ukuran dalamnya lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi; dan sungguh dia tergelincir kerana olah lisannya yang kadarnya lebih parah daripada ketergelinciran kedua kakinya” (HR Khara’ithi) </span></p>
<p style="text-align:justify;">“Diam adalah akhlaq yang terbaik, barangsiapa suka humor, tentu dia akan dihinakan” (HR Dailami)</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;color:#99cc00;"> </span><span style="font-size:18pt;color:#ff6600;">“Ada enam faktor yang boleh menghapus amal kebaikan: iaitu suka memerhatikan atau membicarakan aib orang lain, hati yang keras beku (tidak mahu menerima nasihat orang lain), cinta keduniaan, kurang memiliki rasa malu, panjang angan-angan, dan senantiasa berbuat zalim (kepada orang lain)” (HR Dailami) </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ANAK KECIL YANG TAKUT API NERAKA]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/anak-kecil-yang-takut-api-neraka/</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 14:21:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/12/anak-kecil-yang-takut-api-neraka/</guid>
<description><![CDATA[Dalam sebuah riwayat menyatakan bahwa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal">Dalam sebuah riwayat menyatakan bahwa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, ketika dia berjalan-jalan dia terlihat seorang anak kecil sedang mengambil wudhu&#8217; sambil menangis.<br />
Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, &#8220;Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?&#8221;<br />
Maka berkata anak kecil itu, &#8220;Wahai kakek saya telah membaca ayat al-Qur&#8217;an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, &#8220;Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum&#8221; yang bermaksud, &#8221; Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu.&#8221; Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka.&#8221;</p>
<p>Berkata orang tua itu, &#8220;Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalm api neraka.&#8221;<br />
Berkata anak kecil itu, &#8220;Wahai kakek, kakek adalah orang yang berakal, tidakkah kakek lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa.&#8221;</p>
<p>Berkata orang tua itu, sambil menangis, &#8220;Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?&#8221;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Siapakah Anda ?]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/09/siapakah-anda/</link>
<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 12:11:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/09/siapakah-anda/</guid>
<description><![CDATA[“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="color:#ffffff;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. Al-Infithar : 6-8 )</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffffff;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffffff;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Wahai manusia, siapakah Anda?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffffff;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Anda adalah makhluk rabbani, tiupan yang suci, ruh yang termasuk urusan Allah, Dia menciptakannya dengan tangan-Nya, Dia meniupkan ke dalam tubuhmu dari ruh ciptaan-Nya, yang mengutamakanmu atas kebanyakan makhluk-Nya, Dia memerintahkan malaikat untuk sujud kepadamu, yang mengajarimu semua nama, membebanimu amanah yang engkau sanggupi, menganugrahkan nikmat kepadamu baik yang lahir maupun batin, yang menundukkan untukmu semua yang ada di langit dan di bumi, yang memuliakan kamu dengan pemuliaan yang besar. Dia menciptakanmu dalam bentuk yang terbaik, melengkapimu dengan bekal paling sempurna, menganugrahimu pendengaran, penglihatan dan hati, menjelaskan kepadamu dua jalan dan menunjukimu kepada dua arah (kebaikan dan kejelekan), yang memudahkan jalan bagimu. Engkau dengan izin-Nya dapat menyelam di air, terbang di udara, menemukan arus listrik, zat atom, dan menganugrahkan dengan pikiran dan kemampuanmu untuk mengarungi penjuru langit. Apakah engkau melihat hal yang lebih agung, lebih besar, lebih suci dan lebih mulia ?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffffff;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffffff;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span>Usai kehidupan yang amat pendek ini, Anda adalah makhluk abadi yang tidak hancur. Anda akan dihidupkan dan dibangkitkan. Anda akan memulai kehidupan mulia di negeri kenikmatan yang penuh kesenangan. Apabila Anda memahami rahasia tugas Anda di dunia, lalu Anda mengikhlaskan amal hanya untuk raja yang berhak untuk disembah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffffff;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz-Dzariyaat: 56-57)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffffff;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffffff;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span>Kematian yang Anda takutkan, hanyalah sebuah perpindahan dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffffff;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS. Al-Ankabut: 64)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffffff;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="color:#ffffff;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span>Jasad ini hanyalah sebuah sangkar tempat Anda di tahan. Sebuah pakaian yang akan Anda lepas suatu ketika. Lalu Anda berjumpa dengan Hari Pembalasan.</span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nasehat Kehidupan]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/09/nasehat-kehidupan/</link>
<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 12:07:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/09/nasehat-kehidupan/</guid>
<description><![CDATA[Al-Hasan Al-Basri berkata : “Demi Allah saya tidaklah ta’ajjub (heran) dengan sesuatu seperti kehera]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#0000ff;"><span>Al-Hasan Al-Basri berkata : “Demi Allah saya tidaklah ta’ajjub (heran) dengan sesuatu seperti keheranan saya kepada seseorang yang tidak menganggap bahwa cinta dunia itu termasuk salah satu dosa besar, demi Allah sesungguhnya cinta kepada dunia adalah termasuk dosa-dosa besar, tidaklah cabang-cabang dosa-dosa besar itu melainkan dengan sebab cinta dunia? Tidaklah berhala-berhala disembah, Allah Subhanahu wa Ta’ala didurhakai melainkan karena cinta dunia ? (ya). Maka seorang yang mengetahui tidak akan mengeluh dari kehinaan dunia, dan tidak akan berlomba-lomba mendekatinya dan tidak akan putus asa karena jauh terhadap dunia&#8221;. Dan sebagian dosa-dosa besar adalah tumbuh dari cinta dunia : mencuri, zina, dengki, berdusta, sombong, berbuat riya (ingin di puji) dan selainnya adalah lantaran cinta terhadap dunia, dan saling menerkam dunia.</span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ungkapan Jiwa]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/05/ungkapan-jiwa/</link>
<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 16:30:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/05/ungkapan-jiwa/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Kepaqda-Mu Tuhan segala makhluk, aku menyampaikan keinginanku sekalipun aku adalah penjahat, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#0000ff;"><span style="font-style:italic;">&#8220;Kepaqda-Mu Tuhan segala makhluk, aku menyampaikan keinginanku<br />
sekalipun aku adalah penjahat, wahai Yang Maha Memberi dan Maha Menderma.<br />
saat hatiku mengeras dan jalan-jalannya menyempit<br />
aku jadikan pengharapanku akan maaf-Mu sebagai tangga<br />
Memang besar sekali dosaku, namun ketika aku bandingkan<br />
dengan maaf-Mu wahai Tuhanku, ternyata maaf-Mu lebih besar<br />
Engkau senantiasa Dzat yang Memaafkan dosa dan senantiasa<br />
Berbuat kebaikan walau pilihan-Mu Adam tergoda<br />
jika Engkau memaafkanku, maka Engkau memaafkan pembelot<br />
yang zhalim dan aniaya yang tidak terpisah dari dosa<br />
namun jika Engkau menghukumku, maka aku tidak putus asa<br />
Jika Engkau memasaukan diriku, karena kejahatanku, ke neraka jahannam<br />
maka kejahatanku besar, dulu kala dan baru<br />
sedangkan maaf-Mu, hai Dzat yang Memaafkan lebih agung dan besar&#8221;</span></span></p>
<p><span style="color:#333333;">&#8220;Aku puasa dari kesenangan dunia seluruhnya<br />
dan pada hari bertemu Engkau, itulah buka puasaku&#8221;</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Renungan Hidup]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/05/renungan-hidup-2/</link>
<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 15:46:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/05/renungan-hidup-2/</guid>
<description><![CDATA[Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp. 100.000, apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-size:12pt;" lang="IN">Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp. 100.000, apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!</span></p>
<p>Betapa lamanya beribadah pada Allah selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.</p>
<p>Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.</p>
<p>Betapa asyiknya apabila pertandingan basketball diperpanjang waktu ekstranya namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.</p>
<p>Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-Qur’an namun betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.</p>
<p>Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang duduk di deretan paling belakang di masjid.</p>
<p>Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; namum betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.</p>
<p>Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam Al-Qur’an; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.</p>
<p>Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci Al-Qur’an.</p>
<p>Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir, atau mengatakan apa-apa, atau berbuat apa-apa.</p>
<p>Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail, dan meyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api; namun kalau ada e-mail yang isinya tentang Kerajaan Allah betapa seringnya kita ragu-ragu, enggan membukanya dan mensharingkannya, serta langsung klik pada icon DELETE.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cukuplah Allah Saja Yang Menilai]]></title>
<link>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/05/renungan-hidup/</link>
<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 15:38:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamcinta</dc:creator>
<guid>http://islamcinta.wordpress.com/2008/07/05/renungan-hidup/</guid>
<description><![CDATA[Saudaraku yang kucintai, Ingin sekali rasanya kebersamaan ini tak pernah berakhir. Ingin sekali rasa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Saudaraku yang kucintai,<br />
Ingin sekali rasanya kebersamaan ini tak pernah berakhir.<br />
Ingin sekali rasanya iringan langkah kita tak pernah<br />
putus. Terus bersama dan beriring. Kita bahkan , selalu<br />
berharap agar Allah berkenan memasukkan kita ke dalam<br />
surga-Nya, bersama pula. Saudaraku, begitulah ungkapan<br />
yang muncul kala kita menjalin pertemanan, persahabatan,<br />
persaudaraan karena Allah Swt. Kita telah mengawalinya<br />
dengan keimanan, dan keimanan itu harusnya tetap<br />
memelihara kita sampai kehidupan abadi di akhirat.</p>
<p>Saudaraku,<br />
Semoga kita termasuk orang yang sungguh-sungguh bekerja<br />
untuk akhirat. Mungkin kita sudah terlalu hafal dengan<br />
perkataan bahwa kehidupan ini merupakan ladang bagi<br />
akhirat. Sudah terlalu sering kita mendengar bahwa hidup<br />
ini tak lain merupakan tempat ujian. Tempat menanam,<br />
menyemai, tempat bekerja, dan berjuang. Ia hanya<br />
persinggahan, sama sekali bukan akhir dari perjalanan.<br />
Atau dalam ungkapan Dr. Abdullah Azzam, tokoh legendaris<br />
jihad yang mati syahid di bumi Afghanistan : “Hidup<br />
ini adalah jihad. Dan umat ini tidak akan hidup kecuali<br />
dengan jihad.”</p>
<p>Saudaraku, jangan putuskan bait-bait doa kepada Allah agar<br />
tetap mengikat hati kita.<br />
Sepanjang kebersamaan ini, mungkin sudah banyak amal yang<br />
kita lakukan. Di antara kita banyak yang sudah mengalami<br />
letih, lelah, meneteskan peluh dan bahkan terluka, untuk<br />
sebuah kebaikan. Di antara kita juga, tak sedikit yang<br />
berlinang air mata untuk sebuah keyakinan. Mungkin kita<br />
merasa, telah mengukir dan menghiasi amal kita<br />
sebaik-baiknya untuk Allah swt. Ikhlas, bersih, tak ada<br />
tendensi. Tapi saudaraku, hati-hatilah. “Berapa<br />
banyak lentera yang mati tertiup angin. Berapa banyak amal<br />
ibadah yang dirusak pelakunya sendiri…” begitulah<br />
nasihat Muhammad Ahmad Rasyid dalam Al Awa-iq.<br />
Perhatikan perlahan-lahan, apa yang diungkapkan Fudhail<br />
bin Iyadh, tokoh salafushalih zaman Tabi’in, kepada<br />
mereka yang telah beribadah dan beramal shalih.<br />
“Iblis akan unggul atas manusia bila berhasil<br />
memunculkan salah satu dari tiga sifat yaitu: Kekaguman (ujub)<br />
kepada diri sendiri, melebih-lebihkan amal sendiri, dan<br />
kelupaan atas dosa-dosa yang dilakukan.”</p>
<p>Itulah tiga panah syetan untuk orang-orang yang beramal.<br />
Semuanya berawal dari rasa ujub, bangga atau kagum pada<br />
diri sendiri. Renungkanlah, saudaraku…<br />
Kita bisa saja mengatakan, “saya tidak ujub dengan<br />
amal-amal yang saya lakukan, saya tidak melebihkan amal<br />
yang saya lakukan, saya selalu berusaha mengingat-ingat<br />
dosa-dosa saya…” Tapi begitupun, jangan lengah.<br />
Karena semua itu belum menandakan jika kita selamat dari<br />
perangkap ujub yang lain. Para salafushalih yang mengerti<br />
tentang tabiat dan kecenderungan hati, tidak menghentikan<br />
pembahasan ujub sampai disini, ada banyak anak panah<br />
syetan yang harus diwaspadai.<br />
Dalam sekali makna yang terkandung dari nasihat Sofyan<br />
Tsauri rahimahullah yang mengingatkan kita tentang hal<br />
ini. Ia mengatakan “Kalau engkau tidak ujub dengan<br />
dirimu, engkau mungkin saja senang dengan orang yang<br />
memujimu dan mungkin juga senang bila dengan pujian itu<br />
orang-orang memuliakanmu dengan amalmu. Mereka melihat<br />
dirimu mulia dan engkau memiliki tempat tersendiri di hati<br />
mereka…</p>
<p>Saudaraku,<br />
Senang dengan pujian. Itulah yang dimaksud dengan nasihat<br />
Sofyan Tsauri. Inilah anak panah syetan berikutnya yang<br />
bisa merusak amal kita. Dan sedihnya, jarang orang yang<br />
bisa selamat dari bidikan syetan ini. Karena itu, Fudhail<br />
bin Iyadh memiliki pandangan tajam untuk menimbang dan<br />
menyikapi masalah ini. Ia mengatakan, “Sesungguhnya<br />
termasuk tanda-tanda kemunafikan adalah jika seseorang<br />
menyukai pujian yang tidak ada pada dirinya. Kemudian ia<br />
membenci orang yang tidak menyukai dirinya karena sesuatu<br />
yang memang ada pada dirinya. Sementara, ia juga membenci<br />
orang-orang yang mengetahui aib-aibnya…”<br />
Fudhail bin Iyadh sendiri, sangat berhati-hati soal<br />
pujian. Sampai-sampai diriwayatkan, andai Fudhail<br />
mendengar ada orang yang memujinya, kondisinya segera<br />
berubah menjadi aneh, nafasnya tersengal dan lisannya<br />
mengeluarkan kalimat-kalimat yang mencaci dirinya…</p>
<p>Saudaraku,<br />
Panah ujub tak menancap hanya sampai disini. Mungkin saja<br />
seseorang tidak ujub pada dirinya, dan tidak suka dengan<br />
pujian, tapi ada celah lain yang bisa menjerumuskannya<br />
dalam penyakit ujub. Apa itu? “Siapa yang mencaci<br />
dirinya sendiri di hadapan orang lain, sesungguhnya dia<br />
itu alamat riya,” Begitu kata Hasan Al Bashri. Itu<br />
juga termasuk bagian dari ujub, yang kerap tidak disadari<br />
oleh pelakunya. Berniat untuk merendahkan diri, tapi yang<br />
terjadi syetan justru membalik keadaannya menjadi ujub.<br />
Ada panah ujub yang lainnya, yakni jika kita cenderung<br />
senang bila mendapatkan orang lain melakukan kesalahan.<br />
Seperti diingatkan oleh Fudhail, “Di antara alamat<br />
munafik adalah bila seseorang senang mendengar kesalahan<br />
dan kekeliruan yang dilakukan orang lain.” Ini yang<br />
paling aneh dan paling sulit terdeteksi.</p>
<p>Saudaraku, renungkanlah<br />
Sesungguhnya Allah sudah terlalu banyak menutupi<br />
kekeliruan, keterpelesetan, kesalahan dan aib kita. Itu<br />
nikmat Allah yang harus kita syukuri. Dari sanalah kita<br />
bisa mengendalikan rasa kagum pada diri sendiri, mampu<br />
menyikapi pujian, tidak senang mendengar kekurangan orang<br />
lain dan semacamnya. Jangan sampai kita termasuk<br />
orang-orang yang disindir Khalid bin Shafwan,”Ada<br />
orang yang tertipu karena Allah menutupi aib-aibnya dari<br />
orang lain. Ada juga orang yang tertipu oleh baiknya<br />
pujian.” Khalid menambahkan, “Jangan engkau<br />
terkalahkan oleh ketidaktahuan orang lain terhadap dirimu<br />
yang kemudian memujimu, sementara engkau sangat mengetahui<br />
kondisimu sendiri.” (Ahmad Rasyid, Al Wa-iq, 52)</p>
<p>Saudaraku,<br />
Cukuplah hanya Allah yang mengetahui dan mengenal<br />
perbuatan baik yang kita lakukan. Seseorang bisa saja,<br />
mendapat nilai seratus dari manusia, namun sesungguhnya ia<br />
tak memiliki nilai apa-apa di sisi Allah. Sebaliknya,<br />
seseorang bisa saja mendapat nilai seratus di sisi Allah,<br />
namun ia seperti tak memiliki nilai apapun di hadapan<br />
manusia.<br />
Simaklah sebuah kisah dari seoarng tabi’in yang<br />
hidup di zaman Umar,</p>
<p><span style="font-size:12pt;" lang="IN"><span> </span>Ibnu Auf Ahmasi.”Ketika saya<br />
berada di hadapan Umar Bin Khattab, datanglah seorang<br />
utusan dari Nu’man bin Maqran, salah seorang<br />
komandan perang Nahawand. Ia melaporkan nama-nama kaum<br />
muslimin yang gugur di medan perang Nahawand. Ia<br />
menyebutkan nama mereka satu per<br />
satu…fulan…fulan…fulan dan seterusnya. Kemudian<br />
utusan itu mengatakan , “Selain itu, kami tidak<br />
mengenal nama-nama mereka…”<br />
Saat itu Umar segera mengatakan,”Akan tetapi Allah<br />
pasti mengenal mereka”. Dalam lafadz yang lain<br />
disebutkan perkataan Umar, “Akan tetapi Yang<br />
Memuliakan mereka dengan syahadah, pasti mengenali wajah<br />
dan keturunan mereka.” (Al Kharaj, Abi yusuf, 35)</span></p>
<p>Camkanlah, saudaraku, cukup hanya Allah yang paling berhak<br />
menilai dan menghitung amal kita…</p>
<p>Sumber : Tarbawi Press “Berjuang di Dunia, Berharap Pertemuan di Surga”</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
